Page 1

1

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN BERBAGI PENGETAHUAN SECARA AKTIF DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING PADA KEGIATAN TUTORIAL MATA KULIAH STATISTIKA DI KELOMPOK BELAJAR (POKJAR) UNIVERSITAS TERBUKA BANJARBARU By : Muhammad Qamaruzzaman, S.Pd, M.Si Mathematic Teacher of SMK Negeri 5 Banjarmasin and Tutor UT of Pokjar Banjarbaru e-mail : utomo1969@yahoo.co.id phone : 0511-7255278

Abstract The aim of this action research is increasing the activity and learning through the application of sharing knowledge actively learning model with guided discovery method on statistics courses tutorial at open university (UT) study group in Banjarbaru. The subject of this study were Students of UT at, Pendas S-1 class A of PGSD, who took an educational statistics courses (Pema 4210) semesters VII, 2011.1 registered. Action research activities divided students into small groups, and each time of the meeting, the tutor provides the Group Worksheet (LKK), which contains materials brief to be studied by each group. Tutor only facilitated groups who had barriers, with reminded to reread LKK, the tutor was not allowed to give a direct answer. During the research activities carried out by using LKK, it could be concluded that students really learned in groups, and they also helped each other between a group with other groups to discuss the material that was less controlled by them. The results showed the use of sharing knowledge actively learning model with guided discovery method, capable to provide assistance students in learning statistical material, and outcomes indicated that PGSD Pendas S-1 class A, who toke education statistics (Pema 4210) semesters VII, period 2011.1 were graduated 100 percent. (*) Abstract Penelitian tindakan ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan model berbagi pengetahuan secara aktif dengan metode penemuan terbimbing pada kegiatan tutorial mata kuliah statistika kelompok belajar Universitas Terbuka Banjarbaru. Subjek dari penelitian ini adalah Mahasiwa UT Pokjar Banjarbaru, Pendas S-1 PGSD kelas A, mata kuliah statistika pendidikan (PEMA 4210) semester VII, masa regestrasi 2011.1. Kegiatan tindakan penelitian dengan cara membagi mahasiswa dalam beberapa kelompok kecil, dan setiap kali pertemuan, tutor menyediakan Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang memuat iktisar materi yang harus dipelajari oleh satu kelompok. Tutor hanya memberikan fasilitasi kepada kelompok yang mengalami


2

kendala, dengan kembali mengingatkan untuk membaca ulang LKK tersebut, tutor tidak dibenarkan untuk memberikan jawaban langsung. Selama kegiatan penelitian dilakukan dengan menggunakan LKK, dapat disimpulkan mahasiswa belajar sungguh-sungguh dalam kelompoknya, dan mereka juga saling membantu antara satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk membahas materi yang kurang dikuasai mereka. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan model pembelajaran berbagi pengetahuan secara aktif dengan metode penemuan terbimbing, mampu memberikan bantuan pembelajaran materi statistik kepada mahasiswa UT, dan hasil akhir pembelajaran menunjukkan mahasiswa Pendas S-1 PGSD kelas A, mata kuliah statistika pendidikan (PEMA 4210) semester VII, masa regestrasi 2011.1 lulus 100 persen. A. Pendahuluan Satu diskusi yang menarik saat kegiatan Program Akreditasi Tutor Universitas Terbuka (PATUT) tahun 2011 di Hotel Batara Banjarmasin adalah diskusi antara instruktur / fasilitator program PATUT dengan peserta yang menjadi tutor UT nantinya, isi diskusi tersebut adalah bisakah tutorial Universitas Terbuka (UT) berjalan seperti yang ideal diharapkan oleh UT, yakni toturial adalah bantuan belajar yang diberikan kepada mahasiswa UT secara tatap muka, dan bukan kegiatan perkuliahan tatap muka seperti perkuliahan pada umumnya yang berlangsung di universitas konvensional. Diskusi ini menjadi menarik karena satu pihak UT sebagai penyelenggara program PATUT bersikeras, agar tutorial dijadikan sebagai bantuan belajar bagi mahasiswa mereka, sementara tutor-tutor yang menjadi orang terdepan dalam kegiatan tutorial berpendapat, hal tersebut tidak bisa dilaksanakan. Ada dua alasan yang mencuat, pertama, mahasiswa UT yang mengikuti tutorial sering tidak menyiapkan diri ketika kegiatan tutorial atau tidak belajar lebih dulu di rumah, akibatnya mereka mengharapkan mendapatkan materi perkuliahan ketika kegiatan tutorial dilaksanakan. Alasan kedua, materi pelajaran dianggap sulit oleh mahasiswa UT, terutama materi pelajaran matematika dan statistika, materi ini dianggap tidak bisa dipelajari sendiri oleh mahasiswa, sehingga memerlukan penjelasan konvensional oleh tutor terhadap materi tersebut. Dari diskusi tersebut, saya tertarik untuk melakukan satu percobaan tinddakan (action research), untuk menjembatani masalah tersebut, agar kesenjangan tersebut tidak terjadi. Satu sisi, tutor tidak terjebak menjadi penyaji materi, namun tutor mampu mengarahkan kegiatan tutorialnya menjadi bantuan belajar bagi mahasiswa, dan di sisi lain, mahasiswa UT yang mengikuti kegiatan tutorial ini benar-benar dirangsang kemampuannya untuk belajar mandiri dan belajar kelompok sesama mahasiswa UT. Dan model pembelajaran yang diambil adalah model pembelajaran berbagi pengetahuan secara aktif dengan ditunjang metode penemuan terbimbing.


3

B. Literature 1. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Pengertian belajar telah banyak dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi pada hakikatnya sama. Slameto (2003) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Dalyono (2007) belajar adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi di sekitar kita. Menurut Warsita (2008) belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi sampai ke liang lahat nanti. Jihad (2008) mengungkapkan belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelengaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Supriyono (2009) mengungkapkan belajar adalah sebagai konsep mendapatkan pengetahuan dalam praktiknya banyak dianut. Menurut Dimyati & Mudjiono (2006) belajar merupakan suatu proses yang melibatkan manusia secara orang per orang sebagai suatu kesatuan organisasi sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Orang yang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajarnya. Peristiwa belajar yang disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik dari pada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan (Tim MKPBM, 2001). Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang menghasilkan sejumlah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman sejak kecil sampai dewasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut Slameto (2003) adalah sebagai berikut: a. Faktor-faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. b. Faktor-faktor ekstern yaitu faktor yang ada di luar individu. 2. Pengertian Matematika dan Pengajaran Matematika Matematika itu adalah bahasa simbolik; matematika adalah bahasa numerik; matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional; matematika adalah metode berfikir logis; matematika adalah


4

sarana berfikir; matematika adalah logika pada masa dewasa, matetika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi pelayannya. Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran). Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. James dan James mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Johnson dan Rising mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada bunyi. Reys berpendapat matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni dan suatu alat. Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berfikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika (TIM MKPBM, 2001). Menurut Suprijono (2009) yang mengatakan bahwa pengajaran adalah proses, perbuatan, cara mengajarkan. Arti demikian melahirkan konstruksi belajar mengajar berpusat pada guru. Pengajaran matematika seyogianya mengoptimalkan keberadaan dan peran siswa sebagai pembelajar. Berlandaskan pada prinsip bahwa pengajaran matematika yang tidak hanya sekedar learning to know, melainkan juga learning to be, hingga learning to live together, maka pengajaran matematika seyogianya bersandarkan pada pemikiran bahwa siswa yang harus belajar dan semestinya dilakukan secara komprehensif dan terpadu (TIM MKPBM, 2001). Menurut Aburrahman dalam Jihad ( 2008) mengungkapkan hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah malalui kegiatan belajar. Menurut Juliah dalam jihad (2008) hasil belajar adalah sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan tidak dilihat secara fragmentasi atau terpisah, melainkan komprehensif (Suprijono, 2009). Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada


5

belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Ibrahim, dkk, 2008). Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang terbagi menjadi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil penilaian dari hasil belajar dapat berupa kualitatif maupun kuantitatif. 3. Model Pembelajaran Menurut Isjoni (2009) model pembelajaran merupakan strategi yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal. Supriyono (2009) mengungkapkan model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang lebih luas dan menyeluruh. Dalam hal ini suatu model pembelajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan, metodelogis, dan prosedur. Macam-macam model pembelajaran diantaranya model pembelajaran berdasarkan permasalahan (problem-based model of instruction), model pembelajaran langsung (direct instruction model), dan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning model). 4. Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Supriyono (2009) model pembelajaran kooperatif konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar


6

berupa prestasi akademik, toleransi, pengembangan keterampilan sosial.

menerima

keragaman,

dan

Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam Cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif. Hal-hal tersebut meliputi: • Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai • Para siswa yang tergabung dalam sebuah kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu (Tim MKPBM, 2001). Slavin (2010) mendefinisikan belajar kooperatif (cooperative learning) sebagai suatu teknik pembelajaran dimana siswa bekerja dalam suatu kelompok yang heterogen yang beranggotakan antara 4-6 orang. Heterogenitas anggota kelompok dapat ditinjau dari jenis kelamin, etnis, prestasi akademik maupun status sosial. Adapun unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Ibrahim dkk, 2000): • Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka ” sehidup sepenanggungan bersama ”. • Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri. • Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. • Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. • Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok. • Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. • Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Menurut Ibrahim dalam Isjoni (2009) pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu: • Hasil belajar akademik Dalam pembelajaran kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. • Penerimaan terhadap perbedaan individu


7

Tujuan lain model pembelajaran koperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas social, kemampuan, dan ketidakmampuannya. • Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki oleh para siswa sebagai warga masyarakat, bangsa dan Negara, karena mengingat kenyataan yang dihadapi bangsa ini dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang semakin kompleks, serta tantangan bagi siswa supaya mampu dalam menghadapi persaingan global untuk memenangkan persaingan tersebut. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah berbagi pengetahuan secara aktif, model ini memungkinkan anggota dalam kelompok untuk berbagai apa-apa yang diketahuinya terhadap sebuah materi pelajaran yang sedang dipelajari, begitu pula dengan anggota yang lain juga membagi pengetahuan, maupun pertanyaan-pertanyaan terhadap materi yang sedang dibahas oleh mereka. Sehingga muncul satu kegiatan, satu anggota mengisi celah kekosongan lainnya, dengan cara ini diharapkan kekosongan tersebut dapat teratasi 5. Metode pembelajaran Menurut Tim MKPBM (2001) ada beberapa metode pembelajaran yaitu: • Metode ceramah Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi yang terjadi satu arah dari pembicaraan kepada pendengar. •

Metode ekspositori Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam halnya terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus bicara.

•

Metode demonstrasi Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan metode ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demonstrasi aktivitas murid lebih banyak lagi dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru lebih berkurang lagi.

•

Metode Drill dan metode latihan Sesudah murid memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan bulat positif sampai 100, akhirnya mereka dituntut untuk dapat mengerjakannya dengan cepat dan cermat. Kemampuan mengenai fakta-fakta dasar menghitung ini tergantung pada ingatan. Cepat mengingat, kemampuan mengingat kembali dan kegiatan-kegiatan lain


8

yang bersifat lisan merupakan hal-hal yang perlu untuk “hafal�. Kemampuan-kemampuan demikian merupakan tujuan dari metode drill.


9

•

Metode Tanya jawab Suatu pengajaran disajikan melalui tanya jawab jika bahan pelajaran disajikan melalui tanya jawab. Dengan menggunakan metode ini siswa menjadi lebih aktif daripada belajar mengajar dengan metode ekspositori. Sebab, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru harus mereka jawab. Atau mungkin mereka balik bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas baginya. Meskipun aktivitas siswa semakin besar, namun kegiatan dan materi pengajaran masih ditentukan menurut keinginan guru.

•

Metode penemuan Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa. Dalam belajarnya ini menemukan sendiri sesuatu yang baru. Ini tidak berarti hal yang ditemukannya itu benar-benar baru sebab sudah diketahui oleh orang lain.

6. Metode Penemuan Terbimbing Pengajaran matematika yang umumnya bisa dilakukan, siswa menerima bahan pelajaran melalui informasi yang disampaikan oleh guru. Cara mengajar informatif ini dapat terjadi dengan menggunakan metode ceramah, ekspositori, demonstrasi, Tanya jawab, atau metode mengajar lainnya. Pada cara ini materi disampaikan hingga bentuk akhir, sedangkan cara belajar siswa merupakan belajar dengan menerima (reception learning). Misalnya, sifat komutatif perkalian disampaikan sebagai berikut: 2x3=6 3x2=6 Maka 2 x 3 = 3 x 2 Hasil kali dua bilangan adalah sama, jika urutannya dipertukarkan. Secara umum dikatakan: “Untuk setiap dua bilangn a dan b berlaku ab=ba� sifat ini disebut sifat penukaran (komutatif) untuk perkalian. Siswa mengetahui sifat komutatif perkalian hingga bentuk akhir, yang dinyatakan dengan ab=ba, karena diberitahu oleh guru. Lain halnya jika guru mengerjakannya dengan menggunakan metode penemuan. Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa. Dalam belajarnya ini menemukan sendiri sesuatu yang baru. Ini tidak berarti hal yang ditemukannya itu benar-benar baru sebab sudah diketahui oleh orang lain. Berbeda halnya dengan Descrates dulu mulamula merintis geometri analitik. Ia adalah orang pertama yang menemukan sesuatu yang baru, yaitu kaitan antara aljabar dan geometri dengan ditemukannya sistem koordinat. Kalau seorang anak SD sekarang dalam kegiatan belajarnya berhasil menemukan sendiri bentuk persamaan linier dan garis lurus yang melalui titik-titik tertentu dalam bidang koordinat, ia pun telah menemukan sesuatu yang baru. Tetapi baru disini adalah baru bagi dirinya saja, karena hal itu sudah dikenal orang.


10

Cara belajar dengan menemukan ini tidak merupakan cara belajar yang baru, cara belajar penemuan sudah digunakan puluhan abad yang lalu dan Socrates dianggap orang sebagai pemula yang menggunakan metode ini. Untuk merencanakan pengajaran dengan penemuan hendaknya diperhatikan bahwa: a. Aktivitas siswa untuk belajar sendiri sangat berpengaruh. b. Hasil (bentuk) akhir harus ditemukan sendiri oleh siswa. c. Prasyarat-prasyarat yang diperlukan sudah dimiliki siswa. d. Guru hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing saja, bukan pemberitahuan. Beberapa kekuatan dari metode penemuan adalah sebagai berikut: a. Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir. b. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat. c. Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasaan batin in mendorong ingin melakuan penemuan lagi hingga minat belajrnya meningkat. d. Siswa memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks. e. Metode ini melatih siswa untuk banyak belajar sendiri Beberapa kelemahan dari metode penemuan adalah sebagai berikut: a. Metode banyak menyita waktu. Juga tidak menjamin siswa tetap bersemangat mencari penemuan-penemuan. b. Tidak tiap guru mempunyai selera atau kemampuan mengajar dengan cara penemuan. Kecuali tugas guru sekarang cukup berat. c. Tidak semua anak mampu melakukan penemuan. Apabila bimbingan guru tidak sesuai dengan kesiapan intelektual siswa, ini dapat merusak struktur pengetahuannya. Juga bimbingan yang terlalu banyak dapat mematikan inisiatifnya. d. Metode tidak dapat digunakan untuk mengajarkan tiap topik. e. Kelas yang banyak muridnya akan sangat merepotkan gurunya dalam memberikan dan pengarahan belajar dengan metode penemuan. C. Metodologi Penelitian 1. obyek penelitian Obyek penelitian ini adalah mahasiwa UT Pokjar Banjarbaru, Pendas S-1 PGSD kelas A, mata kuliah statistika pendidikan (PEMA 4210) semester VII, masa regestrasi 2011.1 dengan jumlah peserta 17 orang. Dan kegiatan tutorial sebanyak 8 kali pertemuan, dengan model pembelajaran berbagi pembelajaran secara aktif didukung metode penemuan terbimbing melalui Lembar Kerja Kelompok (LKK).


11

2. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan tindakan penelitian dengan cara a. Membagi mahasiswa dalam beberapa kelompok kecil, maksimal 4 orang. Karena jumlah mahasiswa sebanyak 17 orang, maka ada 5 kelompok dalam kelas A tersebut. b. Setiap kali pertemuan, tutor menyediakan Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang memuat iktisar materi yang harus dipelajari oleh satu kelompok, kemudian didiskusikan bersama dalam kelompok tersebut, kemudian diberikan soal-soal yang berkaitan dengan materi ini. c. Tutor hanya memberikan fasilitasi kepada kelompok yang mengalami kendala, dengan kembali mengingatkan untuk membaca ulang LKK tersebut, tutor tidak dibenarkan untuk memberikan jawaban langsung. d. Setiap kelompok, kemudian mempresentasekan materi mereka di depan kelas, dan menjelaskan materi yang telah dipelajari kepada kelompok lain, bila kelompok lain bermasalah. e. Bila materi dalam satu modul tidak bisa diselesaikan dalam satu pertemuan, maka materi dibagi beberapa kelompok, dan setiap kelompok yang sudah menguasai materi tersebut diminta untuk memberikan penjelasan materi kepada kelompok lain yang berlainan materi. f. Selama kegiatan tutorial, diadakan 3 kali pengambilan nilai tugas tutorial yang berdasakan hasil evaluasi tes, disesuaikan dengan materi yang telah dikuasai. g. Nilai tutorial, merupakan gabungan dari nilai tugas tutorial dan tugas mandiri dengan rumus NT = ( 3P + 7TT) : 10, dengan ketentuan P adalah nilai tugas mandiri, TT adaah tugas Tutorial. h. Nilai Tutorial (NT) bukanlah jaminan bagi mahasiswa untuk bisa lulus tes akhir (final tes) pada mata kuliah statistik, nilai NT tidak akan diperhitungkan bila nilai FT tinggi atau bagus. Namun nilai NT akan dipertimbangkan sebagai pembantu bila FT mahasiswa rendah. 3. Indikator Keberhasilan Kegiatan ini dikatakan mencapai keberhasilan yang ideal, apabila semua mahasiswa (100%) lulus dalam Final Tes yang digelar oleh UT, pada akhir semester nantinya. Dan tidak ada mahasiswa (0%) pada mata kuliah ini yang mengulang Final Tesnya. Rumor yang berkembang selama ini, menyatakan seringkali mahasiswa UT terpaksa harus mengulang untuk mata kuliah statistik ini, karena susah lulusnya. D. Hasil Penelitian 1. Jalannya Penelitian


12

Selama kegiatan penelitian dilakukan dengan menggunakan LKK, dapat disimpulkan mahasiswa belajar sungguh-sungguh dalam kelompoknya, dan mereka juga saling membantu antara satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk membahas materi yang kurang dikuasai mereka. Mengingat waktu pelaksanaan tutorial terbatas hanya 120 menit, mahasiswa melanjutkan diskusi mereka melalui media lainnya, seperti sms, maupun media telepon, untuk berdiskusi membahas materi statistik di luar jam tutorial. 2. Hasil Akhir Mahasiswa Indikator keberhasilan program ini diperlihatkan dengan tidak adanya mahasiswa yang mengulang ujian untuk materi ini, dan berdasarkan hasil wawancara kepada mahasiswa tersebut, hasil akhir mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut ini : No. 1. 2. 3. 4. 5.

Uraian Jumlah Persentase Lulus 17 100 Tidak Lulus 0 0 Dapat Nilai A 0 0 Dapat Nilai B 2 11,8 Dapat Nilai C 15 88,2 Source : Interview person by person

Keterangan

E. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Kegiatan tutorial bisa dilaksanakan secara ideal yakni memberikan bantuan pembelajaran kepada mahasiswa UT, dan bukan kegiatan pembelajaran konvensional. 2. Penggunaan model pembelajaran berbagi pengetahuan secara aktif dengan metode penemuan terbimbing, mampu memberikan bantuan pembelajaran materi statistik kepada mahasiswa UT 3. Mahasiwa UT Pokjar Banjarbaru, Pendas S-1 PGSD kelas A, mata kuliah statistika pendidikan (PEMA 4210) semester VII, masa regestrasi 2011.1 lulus 100 persen, dan tidak ada yang mengulang ujian untuk mata kuliah ini.

abstrak simposium  
abstrak simposium  

abstrak simpoisum yang diminta panitia

Advertisement