Issuu on Google+

Vol. 3 Mar - Apr 2010

Why The Banks Fall Road to Wealth Dream Big

Growth Strategies

Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menjadi Tidak Kompeten

Economic Focus

CAFTA - Ancaman Atau Peluang w w w.m on e y nyo u m a ga zine.com

Rp. 25.000,-


wo rd sfrom t he

d i re c tor

c ontents 05 Special Feature Why The Banks Fall 10 Road to Wealth Dream Big

Special Feature

Pimpinan Perusahaan

Alex P. Chandra

Tim Redaksi Money & You Magz

I Pt Agus Ariawan

danielGABE

Ari Mustikawati

Public Relation

Annisa Era Putri

Desain & Fotografi

Kopi Panas Productions

Supported by:

Alamat Redaksi: PT. BPR SRI ARTHA LESTARI Jl. Teuku Umar 110 Denpasar T. (0361) 246706 F. (0361) 246705 E. redaksi@moneynyoumagazine.com marcomm@bprlestari.com Direct Sales & Marketing for Advertisement T. 0361 744 884

Setelah kejadian pailit yang menimpa sebuah bank swasta di Indonesia yang mengakibatkan sejumlah nasabahnya harus merelakan uang tabungan mereka raib begitu saja, saya rasa sangat tepat pada edisi kali ini untuk mengajak pembaca mencermati secara bijaksana dalam memilih bank untuk mempercayakan dana Anda di sebuah bank. Artikel yang dikupas secara detail mengenai mengapa bank dapat jatuh pailit, akan menjadi wacana yang dapat membantu anda memilih bank yang tepat. Dan tepat pula rasanya, jika saya mengajak Anda untuk menelaah lebih jauh apa itu CAFTA. Pada kesempatan kali ini, saya ingin pula menyampaikan bahwa mulai edisi Februari kami berganti nama menjadi M&I magazine karena hak penggunaan Money&You sudah dipakai disebuah institusi pendidikan di Amerika Serikat. Selamat membaca dan sampai edisi berikutnya.

05

Why The Banks Fall

13 Economic Focus CAFTA Ancaman Atau Peluang 16 The Interview: People Richard Susilo Pendiri Pandan College 18 Growth Strategies Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menjadi Tidak Kompeten

Road to Wealth Dream Big

10

20 Small Biz Home Biz Nyoman Aryana The Art of Bamboo Engraver 22 Green Business Karya-Karya Apik Dari Limbah 24 Smart Family Passive Income And Life Style, The Key Success Factor

Salam,

Growth Strategies

18

Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menjadi Tidak Kompeten

27 Leisure Jelajah Pesona Bawah Laut Nusa Lembongan 30 The Insider The Power of 8 Characters! 32 High-Tech Index 33 Literature QUANTUM LEAP 34 Front of Mind Bill Gates

Green Business

Karya-Karya Apik Dari Limbah Ilustrasi: Yana

Note: Kritik dan saran dapat dikirimkan ke: redaksi@moneynyoumagazine.com - Vol. 3 Mar - Apr 2010

22

35 Sneak Peek 36 After Hour

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

3


f

r eaders’cor ne r Lewat Small Biz Home Biz, saya jadi tau pengrajin-pengrajin Bali yang kreatif, beberapa saya kunjungi dan memang karya mereka bagus-bagus. Saya jadi bisa bekerjasama dengan mereka. Sukses selalu! Bp. Sutikno – Ubung Terimakasih Bapak Sutikno, kami berusaha menampilkan profil-profil usaha warga setempat yang prestasinya cukup baik dan mungkin beberapa masih kurang dikenal. Tujuan kami tentu saja menjembatani mereka dengan pengusaha lain seperti bapak. Sukses juga untuk Pak Sutikno! Tim redaksi.

Setelah membaca artikel Green Biz, saya jadi terinsipirasi mengolah bahan daur ulang untuk dijadikan barang baru yang kreatif. Siapa tahu saya bisa ikut-ikutan meraup untung lewat sampah. Dewi Sukmasari – Jimbaran Senang sekali kami mendengar ada satu lagi pengrajin Bali yang mau terlibat membuat kerajinan dari bahan daur ulang. Semoga berhasil! Tim redaksi.

Saya salah satu pengagum artikel-artikel ‘Road To Wealth’ yang ditulis oleh Bp. Alex P. Chandra. Artikel beliau benarbenar membuka mata saya tentang apa-apa saja yang harus saya lakukan agar bisa sukses. Bp. Leonard Subagya Terimakasih Pak Leornard. Kami berharap lewat artikel ini, kami dapat membangun semangat bapak dan berusaha. Tetap semangat! Tim redaksi

sp ecial eatu res

Seluruh Redaksi & Manajemen BPR Lestari mengucapkan

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932

Alex P. Chandra Direktur utama BPR Lestari

Why The Banks Fall i tahun 1992, selepas kuliah saya bergabung dengan D Bank Central Asia (BCA). Ketika itu industri perbankan sedang booming (selepas PAKTO 1988-nya Pak Sumarlin). Perkembangan pesat industrinya tidak didukung oleh tenaga-tenaga bankir yang handal, banyak bank kekurangan tenaga.

Pada musim seperti itulah di Indonesia mulai dikenal istilah Management Trainee. Bank merekrut fresh graduate (baca: lulusan baru) terbaik dari universitas-universitas terbaik, untuk dididik sendiri sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang merekrut. Di tengah situasi seperti itulah, saya yang lulus dari Fakultas Teknik Universitas Trisakti, Jakarta ‘masuk’ dalam industri perbankan. Karir saya melesat sejak lulus pendidikan. Pada tahun 1998, di usia yang belum genap 30 tahun, saya berhasil menjabat sebagai Branch Manager. Namun di tahun yang sama bencana datang - krisis ekonomi melanda. Di mulai dengan jatuhnya rupiah, bankrutnya perbankan dan runtuhnya perekonomian Indonesia yang ternyata lebih banyak bubblenya. Disusul kemudian dengan lengsernya Presiden Suharto dan bank-bank di Indonesia yang kelihatannya kuat, bankrut dan ditutup. Sebelum kejadian ini (krisis ekonomi melanda), saya tidak pernah membayangkan sebuah bank bisa ditutup dan bangkrut. Sebelum tahun 1998, tidak pernah terbayangkan seorang konglomerat bisa jatuh. I am lucky enough to witness such an event. Saya menyaksikan sebuah fenomena ekonomi yang sulit untuk dibayangkan oleh generasi yang tidak mengalaminya. Dan saya beruntung karena menyaksikannya di usia yang relatif muda (30 tahun). Saya menyaksikan “the banks fall”.

Readers Corner: reader@moneynyoumagazine.com Advertisement: marketing@moneynyoumagazine.com 4

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Saya pun berpikir, sejak kejadian 1998 itulah masyarakat menjadi trauma dengan perbankan. Tulisan saya kali ini berusaha menggambarkan secara logis ‘what is inside the bank’ (baca: apa yang ada di dalam sebuah bank) dan bagaimana sebuah bank itu ‘jatuh’. Semoga bisa bermanfaat untuk menyeleksi bank dan ikut secara cerdas menyikapi hal-hal yang terjadi di industri perbankan.

WHAT IS INSIDE Bank pada prinsipnya mempunyai pekerjaan mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit. Untuk mengumpulkan dana, bank menciptakan produk seperti tabungan dan deposito. Sedangkan untuk menyalurkannya ke masyarakat, bank menciptakan produk seperti Kredit Modal Kerja, KKB, KPR dan lain-lain. Ketika bank mengumpulkan dana melalui tabungan atau deposito, bank akan membayar bunga (misal) 7%. Ini modalnya, istilah kerennya cost of fund (biaya dana). Kemudian bank melepas kreditnya dengan bunga (misal) 12%, yang disebut sebagai lending rate. (baca: bunga pinjaman). Selisihnya yang 5% adalah keuntungan untuk bank atau Net Interest Margin. Bisnis perbankan adalah bisnis yang unik. Dasarnya adalah kepercayaan, kepercayaan dari masyarakat untuk menyimpan dananya di bank tersebut. Bayangkan, uang hasil jerih payah para nasabah diserahkan ke bank dengan hanya ditukar dengan kertas (bilyet) yang ditandatangani, atau hanya ditukar dengan catatan dalam bentuk buku. Tanpa adanya kepercayaan masyarakat yang mau menukar uangnya dengan bilyet atau buku catatan, tidak akan ada bank. Para bankir harus menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya dengan berbagai cara karena hidupmatinya tergantung kepada seberapa bank tersebut bisa dipercaya. Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

5


f

f

spec ial eature s BAGAIMANA BANK DAPAT DIPERCAYA ? Karena sudah dipercaya, bank harus menjaga amanahnya. Kredit-kredit yang dilepas harus mampu ditagih kembali supaya bisa mengembalikan dana masyarakat (yang mempercayakan dananya untuk disimpan). Bahkan tidak hanya bisa mengembalikan pokok pinjaman, bank juga harus mampu menagih bunga pinjaman agar bunga tabungan atau deposito yang dijanjikan kepada nasabahnya dapat dipenuhi. Disinilah sulitnya menjadi bankir. Ia dituntut harus mampu menyalurkan dana, namun tidak hanya menyalurkan saja. Kalau hanya menyalurkan dan tidak tertagih siapa pun bisa. Bankir yang baik, harus mampu meyakinkan bahwa pinjaman yang dilepasnya dapat ditarik kembali pokok dan bunganya. Oleh karenanya, dalam menyalurkan pinjaman, para bankir mengajukan berbagai persyaratan salah satunya, jaminan atau agunan (collateral) dari si peminjam. Collateral inilah yang digunakan sebagai cadangan jika si peminjam kemudian gagal bayar. Jadi janji seorang bankir adalah ia akan mampu membayar kembali dana milik masyarakat yang dikumpulkannya. Dan bahwa ia akan mampu memenuhi janjinya sebagaimana ia menandatangani bilyet deposito, bukan hanya janji kosong belaka. Janji itu diback-up dengan tagihan yang dimiliki oleh sang bankir kepada para peminjamnya dan tagihan itu diback-up dengan asset fisik yang memadai. Begitulah sistem sebuah bank bekerja.

R ESE R VE L I QU I D IT Y Hal lain yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang bankir adalah persediaan likuiditas (reserve liquidity). Artinya adalah sejumlah dana yang selalu ada dan setiap saat bisa ditarik jika ada penabung atau deposan yang menarik dananya. Jadi dari seluruh dana yang disimpan oleh para penabung dan deposan, tidak boleh seluruhnya dilepas oleh sang bankir. Harus ada yang disisakan untuk membayar deposandeposan yang mencairkan dananya. Besarnya reserve liquidity ini tergantung kepada masingmasing bank dan penilaian sang bankir terhadap prilaku nasabahnya. Sejumlah dana yang stand-by ini merupakan cost bagi sebuah bank. Misal reserve-nya Rp. 100 milyar, maka atas dana Rp. 100 milyar ini sang bankir harus membayar bunga kepada para deposannya, misal 7%. Jadi biaya bunga yang harus diberikan kepada deposannya Rp. 7 milyar setahun, sedangkan dana ini tidak bisa dilepaskan menjadi kredit, (misal) hanya disimpan di giro saja yang bunganya 2%, pendapatan bunganya hanya Rp. 2 milyar saja. Maka total biaya bankir tadi atas reserve liquidity-nya mencapai Rp. 5 milyar.

6

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

sp ecial eatu res Seorang bankir harus mampu menghitung secara cermat persediaan likuiditasnya ini. Jika kekurangan akan sangat berbahaya karena jika ada deposan yang mau mencairkan dananya sedangkan tidak ada dana yang siap dipakai karena semuanya sudah tersalurkan, maka dampaknya akan sangat mengerikan bagi sang bankir. Banknya bisa kehilangan kepercayaan yang merupakan fondasi seluruh kehidupan bisnisnya.

JA DI … KE N A PA A DA BA N K G AG A L

Sebaliknya jika persediaannya terlalu banyak, maka biayanya menjadi mahal. Banknya menjadi kurang mendapatkan keuntungan. Saya sendiri memilih untuk memiliki persediaan cash yang cenderung berlebihan. Saya memilih untuk kurang untung daripada kehilangan kepercayaan.

Ilustrasinya seperti ini: saya ingin membuat pabrik krupuk. Saya mengajukan ke pihak bank untuk mendapatkan pinjaman, (misal) Rp. 100 milyar. Bankir yang saya hubungi mengatakan bahwa self financing-nya minimal 30%. Jadi kalau total proyek pabrik krupuk saya itu Rp. 100 milyar, maka maksimal pinjaman saya hanya boleh Rp. 70 milyar.

BA NK TIDA K DA PAT GAGA L Jadi dengan selalu berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya, yaitu antara lain dengan selalu meyakinkan adanya back-up agunan yang memadai atas setiap kredit yang dilepas, bank tidak akan merugi. Sepanjang pengalaman saya (18 tahun), di retail bankin, tidak pernah saya rugi total atas hutang yang saya lepas. Rugi sedikit pasti pernah tapi jarang sekali. Ilustrasinya seperti ini. Ketika seseorang meminjam kepada bank (misal Rp. 500 juta), maka bank setelah menyeleksi calon debiturnya, antara lain bukan orang jahat dan memiliki kemampuan bayar (capacity to pay). Kemudian bank akan meminta sang calon debitur untuk menyerahkan agunan (collateral). Nilai agunan ini harus diatas nilai pinjamannya. Untuk nasabah retail, biasanya ia akan menyerahkan rumah tempat tinggalnya atau toko tempatnya bekerja. Dengan nilai pasar kira-kira berkisar antara Rp. 800 juta sampai dengan Rp. 1 milyar. Coba bayangkan dengan sistem seperti itu, bagaimana bank dapat merugi. Jika usaha si calon debitur gagal dan dia bankrut, dengan nilai agunan yang lebih tinggi daripada pinjamannya. Bank secara otomatis telah membentuk pola pikir seperti ini: daripada asset disita oleh pihak bank, si calon debitur akan berusahan mati-matian untuk mencari dana (misal meminjam dari teman atau keluarga) untuk membayar hutangnya yang ada di bank. Atau ia akan mencoba menjual rumahnya atau toko tempat tinggalnya tadi agar masih mendapat sisa setelah dikurangi hutangnya ke bank. Bank bisa merugi jika penyelesaiannya berlarut-larut, misalnya karena harus membayar biaya perkara yang mahal atau eksekusi yang mendapatkan perlawanan dari debitur. Kalau begitu yang terjadi, itu akibat kesalahan bank menilai ‘karakter’ sang debitur. Kalau si debitur tidak kooperatif, maka bisa terjadi lose-lose game. Bank akan rugi, debiturnya juga rugi. Yang menang para pengacara. Tapi bank merugi juga tidak akan rugi sepenuhnya. Paling tidak hanya 10% atau maksimal 20%. Kerugian yang lebih besar dari ini jarang terjadi di retail bisnis. Jadi dengan build in system seperti di atas, bank tidak dapat gagal. Bahkan jika kredit macetnya mencapai 100%-pun (artinya seluruh kredit yang dilepasnya macet), sepanjang kredit tadi diback-up dengan agunan yang memadai, maka bank tadi akan mampu membayar seluruh kewajibannya. Setidaknya yang diminta oleh bank adalah waktu untuk melikuidasi seluruh asset-asset-nya, menjual jaminanjaminan yang dikuasainya. Setelah jaminan-jaminan tadi terjual, semua deposan dan penabung akan mendapatkan kembali dananya.

Dengan penjelasan saya di atas, hanya ada satu cara bank menjadi gagal. Yaitu ketika kreditnya ternyata tidak dibackup dengan agunan yang memadai. Agunan atau collateral yang tidak memadai sering terjadi pada corporate loan (baca: pinjaman kepada perusahaan-perusahaan besar). Jumlah pinjamannya-pun nilainya besar, diatas Rp. 100 milyar.

Ada tiga jenis kredit yang beracun yang bisa membuat sebuah bank jatuh, yaitu kredit yang tidak didukung oleh collateral yang memadai (mark-up) atau tidak ada collateral sama sekali (clean) atau kredit yang akal-akalan, artinya tidak ada debiturnya, tidak ada agunannya atau fiktif. Jika sebuah bank banyak ‘dirampok dengan cara di atas’, ketika terjadi krisis atau lonjakan kredit macet, maka bank tersebut tidak akan mampu membayar para deposannya, sebagai akibat bank-pun jatuh. Kasus ini menimpa sebagian besar bank-bank nasional kita ketika krisis di tahun 1998.

Karena saya membuat proposal yang bagus disertai dengan penilaian dari para ‘appraisal’ bahwa total proyek saya mulai dari tanah, peralatan pabrik krupuk dan lain-lain mencapai Rp. 200 milyar. Bank tentu tidak mengetahui berapa harga mesinmesin impor yang akan saya beli? Bank pun tidak bisa mengkonfirmasi berapa sebenarnya harga peralatanperalatan pabrik tersebut? Bukankah merk produksi Jerman dengan merk Produksi Cina harganya bisa 1 banding 2. Bagaimana kalau yang saya beli adalah mesin rekondisi yang dikemas seolah-olah seperti baru? Dan seterusnya dan seterusnya. Banyak cara untuk mengelabui sang bankir. Karena nilai proyeknya Rp. 200 milyar dan berdasarkan SOP bank tersebut self financingnya 30%, maka bank akan mengucurkan pinjaman kepada saya sebesar Rp. 140 milyar. Uang tadi (Rp. 100 milyar) saya gunakan untuk membangun pabrik krupuk, yang Rp. 10 milyar saya sisakan untuk modal kerjanya. Sementara yang Rp. 30 milyar lagi saya pergunakan untuk buat membeli mobil impor Ferrari. Kalau pabriknya jalan dengan baik dan mendatangkan keuntungan, saya beruntung bisa membayar bunga bank dan melunasi pinjaman. Jika sebaliknya yang terjadi, saya tidak keberatan jika bank sewaktu-waktu mengambil alih pabrik dan peralatannya. Bank secara deskriptif, alih fungsi menjadi pengusaha krupuk. Sementara saya sudah memilki sebuah mobil mewah Ferrari, sebuah villa di Jimbaran Cliff dan apartemen di Jakarta. Contoh kasus seperti di ataslah yang banyak terjadi ketika krisis 1998. Ada dua faktor yang menyebabkan mengapa bank bisa dibobol begitu. Pertama adalah ketidak-tahuan sang bankir untuk menilai proposal sebuah proyek (kasusnya bisa beragam, pabrik krupuk adalah ilustrasi saja, bisa pabrik kimia, power plant dan sebagainya yang rumit-rumit). Yang kedua adalah karena adanya kerja sama dengan sang bankir. Sang bankir tutup mata saja dengan praktek-praktek markup seperti itu. Sang bankir yang sebenarnya adalah karyawan yang kontrak kerjanya terbatas ikut menikmati kucuran dana kredit banknya dalam berbagai bentuk. Tidak mengherankan, di tahun 1998 itu, kebanyakan kredit macet yang nilainya sangat tinggi dan tidak bisa ditagihkan terjadi di bank-bank plat merah. Di bank swasta, para direkturnya agak susah bermain karena pemiliknya mengawasi dengan ketat. Namun celakanya kemudian sang pemiliklah yang bermain. Dana bank dikucurkan untuk membiayai proyek-proyeknya sendiri. Dan proyeknya di mark-up setinggi-tingginya. Dan dalam banyak kasus kredit dikucurkan tanpa ada proyek atau collateral sekalipun (fiktif ).

PAG A R M A K A N TA N A M A N Seperti saya jelaskan di atas harta bank selain kredit adalah reserve liquidity-nya. Sisa dana yang tidak disalurkan dalam bentuk kredit ini, oleh sang bankir diparkirkan sementara dalam berbagai bentuk. Baik dipakai untuk membeli surat berharga pasar uang maupun di tempatkan pada bank lain, atau disimpan dengan membeli Sertifikat Bank Indonesia. Jika si pemilik menyalahgunakan kekuasaannya, dana tadi dapat diparkir di bank lain namun kemudian dana tadi tidak dapat ditarik kembali karena satu dan lain hal. Bisa karena memang ada konspirasi untuk melarikan dananya atau karena bank tempatnya menaruh dana kemudian yang gagal bayar. Kasus ini terjadi dengan Bank Dagang Bali yang penempatannya di Bank Asiatic sebesar Rp. 800 milyar yang ternyata bodong. Bank Asiatic gagal bayar, Bank Dagang Bali pun jatuh. Untuk kasus Bank Century, dana nasabah oleh sang bankir dibelikan surat berharga, yang mengeluarkan surat berharga adalah perusahaan yang didirikan oleh Robert Tantular cs. Akibatnya ketika Robert Tantular gagal bayar, bank pun ikut gagal.

H OW TO PI C K A BA N KE R ? Bank sebagai sebuah industri yang sudah tua, mengalami banyak perbaikan dari tahun ke tahun. Perbankan kita sekarang berbeda jauh dengan perbankan di tahun sebelum 1998. Para bankir yang mengelola bank-bank di Indonesia sekarang sudah merupakan jenis yang berbeda dengan Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

7


f

spec ial eature s bankir era tahun 90-an. Para pedagang kelontong (ini istilahnya Pak Kwik Kian Gie) sudah tidak lagi mendominasi perbankan Indonesia. Etika dan profesionalismenya sudah bagaikan bumi dan langit. Regulasi dan supervisinya pun sangat ketat sekarang ini. Saya mengalaminya sendiri bagaimana Bank Indonesia selalu mengawasi saya. Every breath I take, every move I make... pokoknya setiap gerak-gerik saya selalu dimonitor‌ menjengkelkan, tapi itu konsekuensinya menjadi seorang bankir. Bank sendiri sebenarnya sudah mempunyai build in system untuk tidak bisa gagal. Asalkan sistemnya tidak dikhianati (yang bisa mengkhianati sistemnya adalah para bankir dan pemiliknya). Bank tidak dapat dijatuhkan dari luar. Bank hanya bisa dijatuhkan dari dalam. Dirampok oleh para pemiliknya (insider). Oleh karenanya, sangat penting untuk mengamati siapa yang berada di belakang layar. Bagaimana prilaku manajemennya? Bagaimana track record-nya? Apakah konsisten selama ini? Bagaimana dengan integritasnya? Saya sendiri berpendapat bahwa bisnis bank adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Namun bisnis ini susah sekali membangunnya dan majunya perlahan-lahan, karena harus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat terlebih dahulu. Dan kepercayaan itu tidak didapat hanya dengan satu atau dua tahun. People see, than believe - ada bukti dahulu, baru orang percaya. Butuh puluhan tahun untuk membangun reputasi sebuah bank. Saya mengalaminya sendiri ketika membangun BPR Lestari. Walaupun saya mengenal banyak orang dan dikenal orang banyak ketika menjabat sebagai pimpinan BCA di Denpasar, namun ketika saya berusaha sendiri dengan bendera BPR Lestari tidak ada seorangpun yang mau ikut saya. Hampir tiga tahun lamanya saya berusaha tanpa mendapatkan satupun deposan yang bukan keluarga saya. Keluarga saya membantu karena kasihan melihat saya ketika itu. Bayangkan tiga tahun berusaha tanpa mendapat satu orang pun nasabah ! Sebuah perjuangan yang (kalau bisa) tidak mau saya ulang kembali.

Nah sekarang bank sudah berjalan dengan baik, orang-orang sudah mulai percaya, bisnisnya pun mulai menguntungkan. Dari hasil usahanya saya bisa naik mobil Mercedes. Bisa menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah-sekolah terbaik, bisa mengajak keluarga saya liburan ke Hongkong, bisa investasi di properti dan seterusnya. Pokoknya keluarga saya sejahtera, saya pun mulai bisa membantu orang lain. Memberikan beasiswa, menyumbang sejumlah uang kepada orang yang membutuhkan, membantu gereja dan lain-lain. Sepertinya tigak logis, jika saya kemudian harus membahayakan bisnis yang dibangun dengan susah payah dengan mengorbankan reputasi yang sudah diupayakan selama puluhan tahun, yang sudah memberikan kesejahteraaan bagi keluarga saya, keluarga para karyawan saya dan memberikan kontribusi bagi masyarakat Denpasar walaupun masih kecil. Sepertinya pun tidak logis jika kita menyembelih angsa yang bertelur emas hanya untuk mengambil emas-emas yang ada di dalam perutnya. Bukankah lebih masuk akal jika angsanya dipelihara dengan baik, diberi makan makanan lezat supaya bertelur lebih banyak lagi. Saya mengatakan kepada Pak Pribadi, direktur saya dan kepada seluruh karyawan BPR Lestari bahwa seluruh aktivitas bisnis saya tidak akan dibiayai oleh BPR Lestari. Biarkan Panin Bank, BCA, Bank Niaga dan yang lainnya yang menjadi partner saya. Dengan demikian tidak akan ada conflict of interest. Seluruh kredit yang dilepas harus berdasarkan analisa yang prudent (baca: bijaksana). Harus diback-up dengan collateral yang memadai sehingga kalau debiturnya gagal bayar, banknya tidak rugi. Kepada seluruh karyawan saya tegaskan bahwa saya bisa mentolerir kesalahan, namun saya tidak akan mentolerir integrity violation. Supaya tidak ada konflik yang menimbulkan mark-up, tidak boleh karyawan BPR Lestari menerima komisi atau tanda terima kasih apapun dari nasabah. Saya katakan, kalau ada kebutuhan dan masalah keuangan lebih baik didiskusikan atau meminta kepada saya, bukan mengeluh kepada nasabah. Dengan demikian, seluruh asset bank yang saya pimpin bukanlah asset bodong, melainkan asset yang benar-benar berharga. Sehingga walaupun terjadi krisis, saya tidak akan gagal membayar teman-teman yang sudah mempercayakan uangnya pada saya. Saya percaya dengan build in system yang ada, tanpa adanya pengkhianatan dari insider, sebenarnya bank will never fall. (Ilustrasi: Yana)

8

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

9


ro adto

w e al th

roa dto

w ealth

Ketidakmampuan kita untuk menentukan tujuan, apalagi cita-cita yang setinggi langit, sebenarnya hanyalah manifestasi dari ketakutan kita akan kegagalan. Kita takut menentukan target tinggi karena takut tidak akan dapat mencapainya, kemudian kita kecewa. Karena kita tidak mau kecewa, jadinya lebih baik jangan punya keinginan, apalagi cita-cita yang setinggi langit. Ketika kita tidak mempunyai rencana yang jelas, apa-apa saja yang ingin kita capai, bagaimana nasib kita 5 tahun ke depan, cita-cita jangka panjang kita, maka hampir persis kejadiannya dengan seorang yang ingin membangun rumah tanpa merancangnya terlebih dahulu. Kira-kira bagaimana nasibnya?

DreamBig Alex P. Chandra Direktur utama BPR Lestari

10

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

“Everything happened twice, the first is in our mind”

Segala sesuatunya tercipta dua kali. Kalau tidak tercipta di pikiran kita, tidak akan pernah tercipta secara kenyataan. When we make a goal, when we dream, dream big ! (baca: ketika kita memiliki cita-cita dan ketika kita bermimpi, mimpilah mimpi yang besar!). Ketika kita mulai merekonstruksi ‘akan menjadi apa kita nanti’, katakanlah dalam 5 tahun kedepan, dalam 10 tahun kedepan, dalam 15 tahun kedepan, atau bahkan 20 tahun kedepan, dream big. Buatlah cita-cita yang menginspirasi anda. Buatlah cita-cita yang membuat kita bersemangat bangun pagi hari, cita-cita yang menantang kita terus menerus. Ted Turner bos CNN pernah mengatakan, “set your goal so big that you can’t accomplish in a life time, so you will never get bored”. Artinya buatlah cita-cita setinggi langit yang tidak bisa kamu wujudkan seumur hidupmu, sehingga kamu tidak akan pernah menjadi bosan.

Kemudian diperparah lagi dengan lingkungan yang cenderung tidak mendukung kita bercita-cita setinggi langit. Bukanlah seringkali ada ungkapan “jangan terlalu tinggi berkhayal, nanti kalau jatuh sakit”. Keluarga dan lingkungan kita sebenarnya bukannya tidak mendukung kita, namun sebenarnya mereka sayang kepada kita, sehingga mereka takut kita kecewa kalau kemudian kita tidak berhasil meraih apa-apa yang kita impikan. Jadinya lebih baik ciptakan ekspektasi yang rendah saja. Yang pasti tercapai, yang gampang-gampang saja. Inilah yang kemudian melahirkan prestasi yang biasa-biasa saja. Salah satu road to wealth, salah satu rahasia untuk sukses adalah membuat gambaran yang jelas di pikiran kita apa yang ingin kita capai, kita ingin menjadi apa dan bagaimana. Kemudian sebagaimana seorang arsitek, mulailah kita membuat rencana-rencana. Semakin detil rencananya semakin mungkin si arsitek mewujudkan rumah yang diangankannya. Demikian pula dengan kita, semakin detil tujuan yang kita desain, semakin detil rencana yang kita susun, semakin besar kemungkinan kita mencapainya. Dan jangan takut untuk bermimpi besar.

egala sesuatunya tercipta dua kali, pertama kali tercipta di pikiran kita. Jika di pikiran-pun sudah tidak ada gambaran apa-apa yang ingin kita capai, sangat besar kemungkinan kita tidak akan mendapatkan apa yang kita cita-citakan.

S

Dia mengatakan karena menyaksikan ayahnya meninggal bunuh diri akibat depresi. Ayahnya cukup berhasil dengan bisnis billboard-nya. Namun merasa kosong karena di usia yang cukup muda sudah mencapai semua cita-citanya. Citacitanya terlalu rendah.

Saya akan sharing salah satu kalimat dari Donald Trump yang saya rasakan ‘menginspirasi’ diri saya. Dia mengatakan, “in some ways, it’s easier to buy a skyscraper than a small house. Either way, you’ll probably need financing. With the skyscraper, if you hit, a least you hit big. And if you don’t hit, what’s the difference between losing $100,000 or hundreds of millions of dollars? Either way, you’ve lost”.

Sama seperti seorang arsitek yang merancang rumah. Pertama kali dia harus merancangnya, menggambarnya di atas kertas kerjanya. Bayangkan apa jadinya, jika kita hendak membangun sebuah rumah, tapi tidak menggambarnya terlebih dahulu. Langsung saja ke lapangan, menggali pondasi, membangun tembok dan seterusnya. Kira-kira bagaimana jadinya rumah itu?

Jadi menurut Ted Turner, resep untuk anti depresi, untuk tujuan besar, untuk terus menerus berprestasi adalah membuat cita-cita yang sedemikian besarnya, sehingga seseorang tidak akan mampu mencapainya dalam rentang hidupnya. Jadi selalu ada tantangan, selalu ada jarak untuk dicapai, selalu ada buku untuk dibaca, selalu ada karir untuk dicapai.

Cukup menginspirasi bukan? Saya katakan kepada seluruh staf BPR Lestari, jangan takut pasang target tinggi, hidup jangan biasa-biasa saja, jangan takut menaruh cita-citamu setinggi langit. Kalau tidak mencapai langit, kita masih bisa pulang membawa bintang. Tidak dapat bintang, masih mencapai awan. Tidak sampai awan, minimal sampai setinggi pohon kelapa. (Ilustrasi: Yana) Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

11


f

economic o c u s

K

ejutan ekonomi awal tahun 2010 yang paling menyita perhatian adalah penerapan zona perdagangan bebas antara China dan ASEAN atau yang lebih dikenal dengan CAFTA. Sebenarnya perjanjian dagang ini disepakati pada akhir tahun 2001 di Brunei Darussalam namun tenggang waktu 10 tahun yang ditetapkan untuk antisipasi “serangan� ekonomi China kurang cukup mengingat bukan industri manufaktur dengan modal besar yang akan terpengaruh namun industri kecil dan menengah yang akan merasakan kedahsyatan persaingan dengan industri China, terlebih kurangnya sosialisasi pemerintah kepada UKM yang nantinya akan berdiri paling depan dalam pertempuran ekonomi moderen.

CAFTA

Ancaman Atau Peluang

Oleh Andrey Abad & Ari Mustikawati

Latar Belakang Pada KTT ASEAN ke-7 November 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, ASEAN menyetujui pembentukan CAFTA dalam waktu 10 tahun, yang dirumuskan dalam ASEAN-China Framework Agreement on Economic Cooperation yang disahkan pada KTT ASEAN berikutnya di Phnom Penh, Kamboja, pada November 2002. Akhir tahun 2006 diadakan pertemuan lanjutan yang dihadiri oleh para petinggi ASEAN dan China diselenggarakan di kota Nanning, Propinsi Guan Xi, China dengan salah satu agendanya adalah memantapkan visi bersama dalam rangka Pasar Bebas Kawasan China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA). China begitu percaya diri untuk menjadi poros ekonomi baru asia bahkan dunia. sejak reformasi ekonomi yang dicanangkan awal 1980 China memang seperti naga yang terbangun, menggeliat dan siap untuk menguasai dunia. hal ini terlihat dari

12

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

13


f

f

econ omic o c us pertumbuhan ekonomi yang sangat impresif, lebih dari 10% setiap tahunnya selama satu dasawarsa terakhir. China juga memiliki ketahanan devisa yang sangat kuat dibadingkan dengan Amerika Sekalipun yang saat ini masih terhempas dalam badai krisis. 2,2 triliun Dollar untuk menguasai dunia? bukan hal yang mustahil.

Kesiapan Indonesia Integrasi ekonomi ini akan melibatkan 1,29 miliar penduduk China dan 550 juta penduduk ASEAN dengan estimasi transaksi mencapai 4 milyar Dollar. Dapat dibayangkan

betapa besarnya dampak integrasi ekonomi ini, namun dilihat dari banyak segi China akan mendapatkan selisih keuntungan yang lebih besar mengingat kemampuan mereka dalam menekan ongkos produksi dari segi bahan baku dan buruh meskipun dalam hal teknologi kita tidak kalah. Dalam kesepakatan ini Indonesia mencantumkan 400 kategori produk yang disesuaikan dengan kerangka kesepahaman untuk menghindari persaingan tidak sehat dan menyangkut proteksi produk Indonesia yang termasuk dalam kategori sensitifitas tinggi seperti beras, kacang kedelai, dan jagung. Penghapusan tarif dalam perjanjian ini meliputi 5.250 kategori produk namun dalam pelaksanaannya dilakukan

14

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

economic o c u s secara bertahap, namun ada beberapa produk yang masih dikenakan hambatan tarif seperti minyak olahan, kayu, polyester, serat akrilik, karet alam, ban (karet), natrium sianida, gula olahan, pupuk kimia, tembakau dan rokok, serta kuota sekaligus tarif bea masuk ke China atas kakao senilai 10%. Hal ini menunjukkan ketidaksiapan infrastruktur perekonomian kita untuk bersain dengan China bahkan dengan sesama negara ASEAN seperti Malaysia yang sudah terlebih dahulu menghapus hambatan non tarif (non-trade barrier) untuk produk-produk andalan mereka terutama dari sektor perkebunan dan non-migas.

Jika dianalisis secara lebih seksama Indonesia sangat diuntungkan dengan pemberlakuan kawasan perdagangan bebas ini karena kita dapat memanfaatkan penghapusan tarif untuk mengimpor produk-produk China yang tentu saja tidak kita produksi ataupun akan menghabiskan biaya yang sangat tinggi jika kita memproduksinya seperti tekstil, mesin-mesin produksi, bahkan buruh. Indonesia dapat memafaatkan kemudahan birokrasi di China untuk berinvestasi di negeri tirai bambu yang memiliki sumberdaya alam dan manusia yang lebih besar dan murah dibandingkan harus berinvestasi di negeri sendiri,

kecil menegah yang ada di indonesia yang akan merasakan dampaknya secara langsung. Pemerintah seharusnya melakukan antisipasi untuk melindungi perekonomian rakyat seperti mempermudah birokrasi, peluang berusaha, dan insentif bagi UKM untuk mengembangkan industri mereka. Sosialisai dan pendidikan hukum juga sangat perlu untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual seniman dan industri kreatif karena seperti kita tahu bahwa desain dan ciri khas produk Indonesia adalah pembeda yang cukup signifikan dibanding produk industri negara lain.

Bangsa kita seharusnya memanfaatkan momentum ini untuk mengeksplorasi keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh negara lain, namun beberapa hal seperti kebijakan ekonomi biaya tinggi yang membuat produk kita tidak mampu bersaing di pasar internasional meskipun dari segi kualitas dapat dikatakan lebih unggul dari negaranegara ASEAN yang lain. Seperti contoh kelapa sawit dan timah yang seharusnya menjadi garda depan menggantikan migas yang terseok-seok akibat mismanagemen namun pada kenyataannya Malaysia lebih diperhitungkan karena mereka lebih mampu mengolah sumber daya alam secara benar dan efektif.

seperti kita tahu bahwa China menginvestasikan lebih dari 10 milyar Dollar untuk membangun infrastruktur telekomunikasi dan transportasi dan sekitar 15 milyar Dollar untuk biaya cadangan investasi. Namun kenyatan pahitnya adalah bukan industri-industri kecil dan menegah yang akan menikmati peluang ini namun industri-industri besar yang mampu bersaing secara modal dan kapital.

Kita cukup sadar bahwa Indonesia memiliki produk– produk unggulan yang seragam dengan negara ASEAN lainnya namun pemerintah harus jeli melihat potensi dan kreatifitas anak bangsa yang semakin tumbuh ditengah krisis global. Pemerintah jangan menutup mata bahwa industri kreatiflah yang nantinya akan menopang industri lainnya, karena secara sadar kita sedang berusaha berubah dari bangsa penghasil bahan baku dan pengguna bahan jadi menjadi bangsa pengolah bahan baku dan penghasil barang jadi, dan inilah yang harus menjadi fokus perhatian pemerintah saat ini karena kreatifitas yang akan menjadi modal dasar dalam bertahan ditengah gempuran dan persaingan ekonomi global. (Foto: Yana)

Memang dalam beberapa tahun terakhir ekspor keseluruhan Indonesia ke China sangat besar khususnya pada sektor non-migas seperti kelapa sawit, pulp, karet alam, balata, kopra, tembaga, dan bahan baku sumber daya alam lainnya sangat signifikan, namun tolak ukur tersebut akan berbanding terbalik dengan jumlah usaha

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

15


t heinter v i ew:

p e op l e

t heinter view: situ saya melihat bahwa pekerja Indonesia membutuhkan kemampuan bahasa jepang yang baik agar bisa memberikan pelayanan yang baik. Tahun 2009 ini hubungan Indonesia jepang sudah memasuki usia 50 tahun namun saya melihat bahwa hubungan kedua negara kurang harmonis karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang bahasa dan budaya Jepang. Menurut data dari Japan Foundation, pada tahun 2007 jumlah orang Indonesia yang bisa berbahasa Jepang hanya 270.000 dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 0,0012 persen. Bandingkan dengan bahasa Inggris yang sudah menjadi bagian dari kurikulum belajar siswa bahkan di tingkat Taman Kanak-kanak. Padahal nilai investasi Jepang di Indonesia sangat besar meskipun tidak sebesar pada masa pemerintahan Orde Baru yang mencapai 40 Milyar Dollar. Penurunan nilai investasi ini akibat minimnya orang-orang yang mahir berbahasa Jepang ditambah lagi tidak adanya menteri atau para pengambil keputusan yang berasal dari lulusan universitas di Jepang. Pada masa pemerintahan Suharto, jumlah lulusan Jepang yang duduk di kursi pemerintahan dan kabinet lumayan signifikan seperti Ginanjar Kartasasmita.

Richard Susilo Pendiri Pandan College Oleh Andrey Abad & Ari Mustikawati

B

agi anda yang berkecimpung di dunia pariwisata terutama yang memiliki target pasar Asia Timur, anda pasti tidak asing dengan sekolah jepang yang satu ini. Pandan College, pusat studi Jepang yang didirikan hampir 3 tahun yang lalu ini boleh dikatakan berkembang dengan pesat dan telah memiliki 2 sekolah lainnya di Jakarta dan Surabaya. Tapi tahukan anda dengan sosok Richard Susilo (RS)? pendiri sekaligus pemilik sekolah ini? Kami sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk melakukan interview singkat ditengah-tengah kesibukannnya melakukan workshop dan menjadi pembicara di berbagai pameran pendidikan. Inilah cuplikan wawancara kami: M&I: Langsung saja Pak Richard, mungkin bapak sudah berulang kali menjawabnya tapi kami harus menanyakan sekali lagi, “Apa tujuan Bapak mendirikan Pandan College?� RS: Pada Agustus 2007 Indonesia menandatangani Economic Partnership Agreement dengan Jepang , tapi 2 tahun sebelumnya saya sudah mengusulkan kepada kementrian tenaga kerja Jepang agar kita dapat mengirimkan perawat Indonesia untuk memberikan pelayanan profesional sebagai Penopang Lansia (kaigoshi) dan keperawatan (kangoshi). Dari

16

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Permasalahannya adalah pada komunikasi, karena komunikasi akan menghilangkan prasangka, kesalah pahaman, dan lebih jauh kita bisa berbicara dari hati ke hati. Pada pemerintahan orde baru, kebijakan ekonomi luar negeri yang memaksa kita untuk bekerja sama dengan jepang dan itu bukan hal yang buruk namun jika terjadi pergantian pemerintahan maka akan dipastikan berganti pula arah kebijakan luar negeri kita, disitulah masalah yang harus kita benahi. Kita tidak boleh tergantung dengan pemerintah untuk mempelajari dan berinteraksi dengan Jepang karena banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari kerjasama tersebut. Kita punya bahan baku, Jepang punya teknologinya, masa kita mau bergantung dengan negara lain untuk mengolah sumber daya alam kita sendiri? iya kan? M&I: Berbicara masalah teknologi dan kemajuan Jepang tentu tidak lepas dari etos kerja masyarakat Jepang yang sangat tinggi, menurut Bapak apakah mungkin hal itu diterapkan di Indonesia? RS: Tidak mungkin‌.tapi bukan tidak mustahil. Masalahnya kita tidak punya kemampuan untuk berubah. Kalau ingin maju harus ada kemauan, kerja keras dan disiplin terlebih dahulu. Kalau berubah untuk hal yang kecil saja tidak ada kemauan apalagi untuk hal yang lebih besar? M&I: (tersenyum) Perjalanan masih panjang ya, Pak, tapi kalau boleh jujur seberapa jauh gap Indonesia dan Jepang mengenai masalah-masalah seperti ini katakanlah teknologi , etos kerja dan kedisiplinan? RS: 30 Tahun‌gap teknologi kita dengan Jepang sekitar 30 tahun, jadi Jepang pada tahun 2009 sama dengan Indonesia tahun 1980. Untuk masalah etos kerja kita harus melihat latar belakang, kondisi masyarakat, budaya dan sumber

p eople

daya alamnya. Kita tidak memiliki kemauan keras untuk maju karena kita di nina bobo kan dengan keindahan dan kesuburan alam. Apa sih yang kita nggak punya? semua ada, tebar benih bisa langsung tumbuh, kaya lagu Koes Plus aja. Jepang sudah menjadi bangsa yang disiplin sejak ratusan tahun yang lalu. Kalau kita mau maju perubahan harus dari dasar, yaitu manusianya. Kita harus memulai dengan memberikan contoh yang baik kepada anak-anak dan lingkungan kita. Orang tua Indonesia itu nggak tegaan, bisa dibilang sangat memanjakan anak-anaknya tanpa berfikir dampaknya lebih lanjut. Saya kasih contoh, anak TK di Jepang pada umumnya setiap berangkat sekolah di bekali bento semacam makanan kotak dan uang saku 500 Yen. Makanannya dimakan di sekolah dan uangnya di tabung bukan dijajanin. Jadi setahun untuk anak TK saja sudah bisa mengumpulkan 200.000 Yen, hebat kan? Artinya dari kecil pendidikan keras sudah diterapkan. Anak kecil sekalipun sudah dibiasakan untuk menabung jadi nggak salah kalo Jepang itu negara yang memiliki minat menabung tertinggi di dunia. Selain itu orang Jepang gemar sekali membaca, dan kalau sudah selesai biasanya bukunya di berikan pada orang lain untuk dibaca. Hadiah terbaik bagi orang Jepang itu buku lho, bukan barang. Berbeda dengan di Indonesia, minat beli bukunya sih tinggi tapi cuman buat pajangan saja, bacanya ntar-ntar deh‌.(tertawa). Dahulu pada masa Orde Baru, Menkopolkan saat itu kalau tidak salah Sudomo pernah mencanangkan gerakan disiplin nasional. Disiplin harus dimulai dari keluarga, dan orang

tua harus menjadi contoh yang baik misalnya tepat waktu, disiplin, dan antri. Itu aja deh dulu....Orang tua Indonesia suka sekali bikin janji untuk anaknya tapi sedikit sekali yang ditepati, itu karena orang tua kita suka menyepelekan anak kita padahal dari perilaku seperti itu anak kita akhirnya terbiasa dengan berbohong, tidak tepat waktu, dan tidak disiplin. M&I: Kalau boleh dirangkum apa yang menjadi rahasia sukses Jepang? RS: Kedisiplinan dan kerja keras yang tinggi. Dahulu Jepang adalah negara yang miskin, tanahnya keras dan berkapur, masyarakatnya hidup menderita dan kelaparan namun tantangan itu yang membuat Jepang menjadi seperti sekarang. Ada sebuah cerita pada masa dimana terjadi krisis pangan di Jepang dimana seorang bayi harus dibunuh untuk menghindari kelaparan, dan orang tuanya membuat boneka (kokeshi) untuk mengingat anak mereka yang mati, tapi komersialisme pariwisata tidak tahu bahwa boneka kokeshi sebenarnya memiliki kisah yang memilukan. Jepang tidak memiliki sumber daya alam sama sekali namun Jepang memiliki teknologi yang dibutuhkan oleh negara lain untuk mengolah sumber daya alamnya, itu yang harus kita pelajari. Sebuah pelajaran yang berharga dari praktisi bisnis yang sesungguhnya tentang prinsip-prinsip hidup dan usaha. Meskipun telah belasan tahun tinggal di jepang, Richard Susilo tidak pernah sekalipun melupakan Indonesia dan beliau masih menaruh harapan yang besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. (Foto: Dedeth)

B i odata Nama lengkap : Richard Susilo Lahir : 15 Maret Pendidikan : MBA dari sekolah bisnis di California, Amerika Pertama kali ke Jepang : 1 Oktober 1983 (selama 1 tahun) Tinggal di Jepang sejak 1993 sampai sekarang Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

17


s

s

growth t rate gi e s

growth trategies

Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menjadi Tidak Kompeten I Made Wenten B.

“Pada akhirnya semua orang akan menjadi tidak kompeten”. Ini merupakan kalimat yang saya baca dari sebuah buku tentang Peter Drucker. Terus terang pertama kali membaca kalimat ini saya langsung berteriak “tidak setuju”. Dan saya rasa, Anda juga akan berpendapat demikian.

T

adi siang saya menghadiri acara demonstrasi ‘Core Banking System’ yang diadakan oleh salah satu bank swasta di Denpasar. Pada saat coffee break rekan satu tim dari BPR Lestari bertanya “Kenapa ya, bank yang dulu sangat besar kok bisa sekarang diambil alih?” Pertanyaan tersebut saya respon dengan jawaban “Organisasi akan terus berkembang apabila kompetensinya setingkat atau lebih tinggi dari tantangan yang dihadapnya. Baik dari sisi bisnis maupun dari sisi internal organisasi itu sendiri. Dan apabila organisasi tersebut terlambat mengembangkan kompetensinya sehingga tantangan yang dihadapi lebih tinggi dari kompetensi organisasi, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kemunduran.” Kita pun sebagai karyawan menghadapi hal yang kurang lebih sama dengan tantangan yang dihadapi sebuah organisasi. Kita sebagai karyawan akan memiliki karir yang bagus selama kompetensi kita setingkat atau lebih tinggi dari tanggung jawab yang kita pegang. Dan apabila kompetensi kita dibawah tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, maka bisa dikatakan kita telah mencapai titik puncak karir. Dan yaang selanjutnya terjadi adalah “kemunduran”.

18

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Kabid Support & Operation BPR Lestari

Setelah menjawab pertanyaan rekan saya, saya tiba-tiba teringat dengan kalimat yang di ucapkan Peter Drucker bahwa semua orang akan menjadi tidak kompeten. Secara spontan saya merasa merinding, “akankah dan kapankah saya akan menjadi tidak kompeten?”

Kenapa orang akan menjadi tidak kompeten? Kasus pertama, pada saat orang mulai meniti karir maka pada umumnya dia akan mendapat tugas dan tanggung jawab sebagai staff. Dan apabila perusahaan tempat dia bekerja menilai bahwa dia mampu menangani pekerjaannya dengan baik, maka perusahaan akan menilai bahwa dia sangat berkompeten. Kemudian jabatannya akan dinaikkan seiring dengan tanggung jawab yang kian bertambah. Dapat dikatakan bahwa karirnya meningkat. Selanjutnya perusahaan akan melihat kembali kinerja orang tersebut, apabila perusahaan kembali melihat bahwa orang tersebut menangani pekerjaan dengan baik maka karir dan tanggung jawabnya akan ditingkatkan lagi. Proses ini akan berlangsung terus sepanjang perusahaan memiliki jenjang karir yang luas, dan dengan catatan orang ini tetap kompeten dengan tanggung jawab yang senantiasa akan bertambah seiring dengan karirnya yang makin meningkat. Akan tetapi pada titik tertentu, setelah beberapa kali naik jabatan maka orang tersebut akan menemukan tanggung jawab dan tugas dimana

tingkat kompetensinya tidak lagi memadai. Artinya kemampuannya tidak mencukupi untuk memegang tanggung jawab dan pekerjaan yang baru. Pada kondisi seperti ini mulai terlihat bahwa orang ini seperti kedodoran. Mulai ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa terselesaikan. Pekerjaan yang dihasilkan menjadi dibawah standar yang diharapkan. Dan orang yang dulu dianggap sangat kompeten mulai dianggap tidak kompeten. Kasus kedua, kondisi lain yang mungkin terjadi adalah apabila seseorang telah menduduki tingkat manajemen tertentu, walaupun jabatannya tetap sama, namun karena organisasi dan bisnis berkembang maka rutinitas pekerjaan menjadi semakin kompleks. Jika sebelumnya pada saat organisasi dan bisnis tempat orang tersebut bekerja masih kecil, mereka bisa menangani pekerjaan dengan baik, bisa jadi pada saat pekerjaan semakin kompleks kompetensi mereka tidak memadai lagi. Dan pada titik ini orang juga akan menilai bahwa mereka tidak lagi kompeten. ‘Tidak kompeten’ hanya akan terjadi apabila kompetensi dibawah tingkat tanggung jawab. Pekerjaan, tanggungjawab, tantangan semakin lama akan semakin kompleks adalah hal-hal yang tak bisa kita hindari

“Every development is self development” Untuk menghindarkan diri dari label ‘tidak kompeten’, maka mau tidak mau yang kita harus lakukan adalah selalu mengembangkan diri kita untuk meningkatkan kompetensi. Kita harus menjaga agar tingkat kompetensi kita selalu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang kita terima. Setiap perusahaan pasti memiliki divisi Human Resource Department (HRD) yang bertanggungjawab untuk mengembangkan sumber daya manusia dalam perusahaan dan biasanya mereka memiliki programprogram pelatihan untuk menunjang kegiatan tersebut. Walaupun begitu orang yang paling bertanggungjawab dan berkepentingan terhadap kompetensi diri adalah kita sendiri. Kita sendiri yang paling bertanggungjawab untuk mengembangkan diri kita karena setiap pengembangan adalah pengembangan diri. Every development is self development. Disini saya sedikit nakal karena menakut-nakuti anda, sama seperti Peter Drucker menakut-nakuti saya dengan kalimat, “semua orang akan menjadi tidak kompeten”. (Ilustrasi: Yana) Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

19


small

b izhom e b i z

sm all pihak-pihak swasta yang bergerak di bidang pariwisata yang peduli dengan masalah ini seperti hotel, pihak tour, galeri dan restauran yang mengadakan pameran sekaligus workshop untuk menarik pengunjung dan tamu dan sebagai imbalan seniman seperti Nyoman mendapatkan ruang promosi yang memadai. Nyoman mengatakan bahwa krisis keuangan dunia saat ini sangat mempengaruhi omzet penjualan karyanya. Sebelumnya dia mampu memperoleh keuntungan bersih sampai 500.000 namun akibat keadaan ekonomi dunia yang lesu dia hanya mampu mendapatkan kurang dari setengahnya. Pasar Eropa sebenarnya masih memiliki minat yang tinggi namun sekali lagi media promosi yang kurang menyebabkan dia harus menunggu. Kerjasama dengan para pelaku usaha pariwisata tetap dilakukan mengingat inilah kanal promosi yang sangat strategis untuk pengembangan usahanya terutama dikawasan pariwisata Nusa Dua yang menurutnya sangat apresiatif dengan kerajinan bambu ini.

Oleh Andrey Abad & Ari Mustikawati menimbulkan panas dan itu yang digunakan untuk melukis bambu tersebut. Perbedaan menggunakan teknik panas dan ukir pisau adalah efek gradasi yang artistik dan permukaan bambu yang tetap halus. Boleh dikatakan Nyoman sangat menguasai teknik ini karena dengan hanya satu ukuran “kuas besi” dia bisa menciptakan efek tebal tipis dan gradasi lukisan yang halus.

B

ukan Bali namanya kalau tidak menghasilkan seniman-seniman kreatif yang selalu berinovasi dalam berkarya, salah satunya adalah Nyoman Aryana. Dengan memanfaatkan media bambu sebagai kanvas, seniman yang pernah diundang Departemen Koperasi Bali untuk melakukan pameran di Jakarta Convention Center pada 2008 lalu mengaku menekuni lukis bambu karena keunikan yang tidak dimiliki oleh media lain seperti durabilitas, tekstur, dan karakteristik yang original. Secara teknis pengerjaan teknik engraving terbilang sangat sederhana namun dibutuhkan ketelitian yang sangat tinggi karena tingkat kesalahannya nol. Sebelumnya Nyoman menggunakan dril/gerinda untuk “melukis” namun ongkos produksinya sangat tinggi karena untuk satu mata dril hanya mampu digunakan untuk mengukir beberapa potong bambu ukuran frame foto standard sampai akhirnya seorang teman memberikan ide untuk melukis menggunakan semacam solder yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu untuk “melukis” diatas bambu dengan hasil yang lebih otentik dan artistik. Proses pengerjaannya, “pena” yang digunakan merupakan kawat besi yang dialiri listrik sehingga

20

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Usaha yang ditekuni sejak tahun 2006 boleh dikatakan tidak membutuhkan modal yang besar namun mengalami kendala teknis seperti keterbatasan sumber daya manusia dan kemudahan kredit untuk pengembangannnya dirasa sangat kurang, karena menurut pria yang mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara formal ini proses birokrasi yang rumit dan sosialisasi yang minim dari pemerintah mengakibatkan dia tidak mampu untuk memenuhi permintaan pasar. Memang dari segi pengerjaan Nyoman mengaku belum bisa mempercayai orang lain untuk melukis tema tradisional Bali seperti barong, motif ukiran, maupun pemandangan, namun menurutnya tidak menutup kemungkinan jika dia akan mempekerjakan orang lain yang memiliki ciri khas dalam desain lukisan. Karya seni yang dihasilkan sangat bervariasi sepertoi gantungan kunci, hiasan meja, miniatur papan surfing, ballpoint, gelang, dan frame foto yang berkisar dari 30.000 sampai 180 ribu.

b izhomebiz

seperti hiasan pemanis meja atau rak saja. Oleh karena itu Nyoman mengaku hanya melakukan pameran-pameran yang memiliki orientasi ekspor. Nyoman berharap agar pemerintah proaktif dalam memfasilitasi pelaku usaha kecil dan menengah seperti dirinya agar mampu berinovasi dan bersaing dengan kerajinan atau usaha lain yang telah terlebih dahulu mandiri. Menurutnya pemerintah tidak membekali pengusaha kecil

Lain halnya dengan pasar domestik yang sangat sulit ditembus karena meskipun permintaan tinggi namun harga yang disepakati masih sangat jauh dari nilai jual yang sebenarnya atau boleh dikatakan seni ini hanya dianggap

dengan kemampuan untuk memahami masalah birokrasi dan legalitas usaha untuk menjamin originalitas, HAKI, dan pengembangan usaha terlebih yang berkaitan dengan kreatifitas dan ide. Nyoman mengaku kurang paham dengan masalah hukum dan ijin usaha namun dia tetap yakin bahwa meskipun ada orang yang mengikuti langkahnya di bidang seni bamboo engraving ini dia tetap optimis bahwa karyanya memiliki ciri khas yang sulit untuk ditiru. (Foto: Yana)

Selain keterbatasan modal dan SDM, pemasaran juga menjadi masalah yang sulit karena media promosi yang kurang terlebih even-even pameran yang diprakarsai oleh pemerintah. Dia mengaku hanya 2 kali mendapatkan kesempatan untukberpartisipasi dalam pameran kerajinan yang diadakan oleh pemerintah. Beruntung masih ada Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

21


green

b us i ne s s

green

Karya-Karya Apik Dari Limbah Oleh Ari Mustikawati

P

ernah anda bayangkan bagaimana limbah kaca diolah menjadi karya seni yang cantik dan bernilai tinggi? Ditangan Wira Budiasa, seorang pengrajin di Denpasar, limbah kaca dapat beralih fungsi menjadi berbagai produk dengan nilai seni dan benda-benda fungsional lainnya yang menarik dan unik. Beberapa diantaranya adalah perlengkapan kamar mandi, mulai dari tempat sabun, shampoo, tempat sampah, sampai perlengkapan makan yang dapat mempercantik dapur dan meja makan Anda seperti piring dengan berbagai bentuk yang unik, gelas, vas bunga dengan berbagai ukuran hingga pajangan dengan ukuran besar dan tingkat kerumitan yang tinggi. Wira Budiasa, pemuda kreatif ini memulai usahanya enam tahun lalu yang ia awali dengan mengolah kaca dengan tangannya sendiri disebuah ruang kerja di sebelah kamar tidurnya di Denpasar. Bermodalkan intuisi seni yang tinggi, Budiasa mulai mengumpulkan karya-karyanya diselasela waktu luangnya sepulang bekerja. “Dulu saya masih bekerja, jadi saya hanya membuat kerajinan kaca jika saya

22

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

ada waktu luang saja, belum professional”, ia mengingatingat. Setelah beberapa karya selesai dikerjakan, Budiasa mulai memajangnya dirumah dan ternyata menarik minat beberapa pengunjung yang tak sengaja melihat. “Senang rasanya ada yang melihat karya saya saat itu”, demikian ungkap Budiasa mengenang awal-awal perjuangannya memulai usaha ini sambil duduk di ruang kerjanya yang sekarang memiliki showroom tempat semua karya-karya pengrajinnya dipajang dengan sangat apik. “Saya dulu mempekerjakan satu orang pegawai untuk mulai membuat daftar produk-produk saya ke komputer”, kata Budiasa mengawali ceritanya tentang awal mula usahanya mulai dilirik bisnis perhotelan. “Kebetulan ketika saya masih bekerja disebuah perusahaan keramik, saya kenal beberapa General Manager hotel-hotel bintang lima. Kemudian saya memberanikan diri saja menawarkan produk saya untuk keperluan hotelnya”, jelas Budiasa. “Saat itu penawaran pertama dari bisnis perhotelan datang dari The Chedi, tidak terbayang senangnya saya pada saat itu”, lanjutnya. Saat ini,

b u sin ess

selain tetap menekuni kerajinan dari kaca, tepatnya tiga tahun pertama bisnis kerajinannya dimulai, Budiasa mulai beralih untuk menggunakan limbah kaca yang banyak ia temukan di toko-toko penjualan kaca potongan untuk kebutuhan rumah tangga. “Banyak pengusaha toko kaca potongan yang tidak tahu mau dikemanakan sampah-sampah kaca yang ada di toko mereka”, ungkapnya. Saat itulah Budiasa berinisiatif untuk membuat kerajinan dengan bahan baku limbah kaca. Diikuti beberapa tahun kemudian ia mendirikan usaha penjualan kaca potongan yang limbahnya ia gunakan sebagai bahan baku kerajinannya sekarang. “Seperti rantai makanan”, jelasnya. “Saya membuka toko kaca supaya sisa

Cukup menarik bahwa usaha Budiasa sukses diawali dengan sistem pemasaran dari mulut ke mulut. “Para pengunjung hotel bintang lima yang membeli produk-produk saya banyak yang tertarik dan biasanya menanyakan kepada manajemen hotel, dimana mereka membelinya,” terang Budiasa. “Begitulah salah satu sistem pemasaran yang sampai saat ini masih saya pertahankan dan dirasa cukup ampuh. Tapi tentu saja saya tidak mengandalkan itu saja. Saya berusaha memasarkan melalui internet dan ikut pameran-pameran baik di dalam mau pun luar negri yang diadakan pemerintah daerah, pusat maupun swasta”, Budiasa menerangkan sambil sesekali mengingat-ingat bagaimana perjalanannya

potongan kaca dari toko saya itu bisa saya manfaatkan lagi, karena mengumpulkan limbah kaca dari toko-toko kaca lain pasti tidak cukup jumlahnya dan harus menunggu lama”.

ke Jakarta sampai ke Afrika Selatanuntuk memperkenalkan karya-karyanya ke pasar Internasional.

Setelah mapan dengan kerajinan kacanya, Budiasa mulai merambah jenis kerajinan lainnya. Ia memperluas usahanya dengan menciptakan beberapa produk dari MDF atau remahan kayu sisa yang ia dapat dari Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, ia pun memproduksi beberapa produk dari bronze. “Sekarang saya bisa menawarkan produk saya ke hotel-hotel satu paket, saya menjual produk amenities baik dari botol-botol sabun dan shampoo, tatakan gelas sampai tempat sampah dari kayu dan bronze”, Budiasa menjelaskan. Saat ini, genap enam tahun usahanya berjalan, Budiasa sudah mendapatkan banyak pelanggan tetap terutama dari bisnis perhotelan. Bahkan ia menjelaskan, usahanya yang ia beri nama Bali Bagus ini sudah menjadi supplier tetap perlengkapan hotel untuk group hotel Santika se-Indonesia dan beberapa hotel bintang lima lainnya di Bali bahkan pengusaha di luar negri seperti Prancis.

Budiasa menerangkan bahwa ia cukup puas dengan prestasi yang ia raih saat ini. “Saya sudah bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi 30 pegawai dan pengrajin saya. Lebih bangga lagi, melalui usaha ini saya bisa menyampaikan pesan kepada orang banyak bahwa saya bisa membuat karya yang bernilai dari limbah, ini bagian dari tindakan untuk menyelamatkan lingkungan”, lanjutnya. Ia saat ini sudah berhasil pula menjadi supplier tetap untuk beberapa hotel yang mengantongi sertifikat “Go Green”, sesuai dengan visi usaha yang ia geluti. (Foto: Dedeth)

Bali Bagus

Jl. Tukad Bilok No. 99Q Sanur T. 0361 7470214 www.balibagushomeware.com Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

23


f

f

smar t ami l y

s mar t amily

Alex P. Chandra

Direktur utama BPR Lestari

Passive Income And Life Style, The Key Success Factor Setiap orang mendambakan status financially free atau bebas secara financial. Arti financially free adalah dengan cara memiliki passive income (baca: pendapatan pasif ). Sementara yang dimaksudkan dengan passive income itu sendiri adalah pendapatan yang kita peroleh tanpa harus bekerja. Atau kalau meminjam istilah asset sebagaimana edisi sebelumnya (Februari, red.), bahwa asset adalah segala sesuatu yang masuk kedalam kantong kita, maka passive income adalah pendapatan dari asset kita.

J

adi seseorang dengan status financially free artinya tidak harus bekerja lagi, karena kebutuhan hidupnya atau gaya hidupnya mampu dibayai oleh asset-nya. Ia hanya bekerja karena ia ingin bekerja bukan karena harus bekerja.

24

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Bayangkan bahwa sebenarnya hampir sebagian besar diantara kita ‘tidak suka bekerja’. Bukan berarti malas, melainkan tidak suka dengan bidang pekerjaannya barang kali, tidak suka dengan lingkungan kerjanya, tidak cocok dengan atasannya yang kikir dan sebagainya. Namun bagaimanapun juga sebagian besar dari kita tetap harus bekerja, karena kalau tidak, maka hidup kita akan menderita; tidak bisa makan, tidak bisa bayar uang sekolah anak dan seterusnya. Bayangkan betapa indahnya dunia, jika kita tidak harus bekerja lagi, kecuali jika kita menginginkannya. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal kepada atasan kita yang kikir, bisa mengerjakan apa yang kita suka. Jika gemar meditasi, bisa bermeditasi sepanjang hari. Jika ingin terjun ke politik, bisa ikut partai tanpa perlu korupsi. Jika berminat bekerja untuk kegiatan sosial juga bisa berdedikasi secara penuh tanpa mengharapkan imbalan bahwa suatu saat akan mendapatkan proyek bisnis dari kegiatan sosial tersebut. What a wonderful world, betapa menyenangkannya hidup.

Faktor kunci kesuksesan untuk mencapai status financially free tadi ada dua; passive income dan gaya hidup (life style). Contoh, seseorang yang memiliki gaya hidupnya dengan biaya Rp. 10 juta setiap bulan, akan financially free jika ia mempunyai deposito (misal) Rp. 1,5 Milyar. Bunga dari deposito dengan nilai tersebut, kurang lebih Rp. 11 juta (setelah dipotong pajak) mampu membiayai gaya hidupnya tanpa harus bekerja. Tentunya seseorang dengan gaya hidup Rp. 100 juta membutuhkan lebih banyak lagi passive income. Banyak jenis asset yang bisa kita kumpulkan untuk mendapatkan passive income. Lain kali kita akan bahas jenis-jenis asset-nya apa saja. Untuk kali ini cukup diingat, bahwa setiap orang mampu menjadi financially free. Tinggal bagaimana mengatur gaya hidup dan kumpulkan asset yang menghasilkan passive income. (Ilustrasi: Yana)

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

25


l eisu re

Jelajah Pesona Bawah Laut Nusa Lembongan Oleh Ari Mustikawati

Anda ingin mencoba menyelam namun tidak bisa berenang? Sebagai inspirasi liburan akhir pekan Anda kali ini, M&I akan mengajak Anda berkunjung ke Nusa Lembongan, salah satu pulau kecil dari deretan tiga pulau yang terletak di sebelah tenggara Bali, untuk menikmati indahnya pesona bawah laut bersama Bali Marine Walk – cara menyelam paling aman tanpa harus pandai berenang.

26

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

27


l eis u re Perjalanan akan kita mulai dari Sanur. Pagi itu, saya ditemani serombongan tamu asing berkumpul bersama untuk menunggu kapal cepat yang akan membawa kami ke diving point di Nusa Lembongan. Lama penyebrangkan dari Sanur kami tempuh hanya dengan waktu kurang dari 40 menit saja. Sepanjang perjalanan yang saya disuguhkan indahnya pesona laut lepas, beberapa kali ombak menyambar-nyambar ke dinding kapal. Setibanya di lokasi penyelaman, sekitar 2 kilometer dari bibir pantai Nusa Lembongan, saya siap memulai eksplorasi pesona bawah laut Nusa Lembongan. Sebelum menyelam, saya dilengkapi dengan beberapa peralatan modern dan tentu saja saya dibekali instruksi yang memadai dari pemandu terlatih Bali Marine Walk.

28

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

l eisu re Sesuai namanya Marine Walk, saya akan diajak berjalan-jalan di dasar laut oleh pemandu dengan menggunakan helm khusus yang memungkinkan saya dapat bernafas seperti layaknya ketika berada di daratan dengan wajah tetap kering.

warna dan bentuk. Ikan-ikan laut yang mengitari saya dapat leluasa saya sentuh. Sesekali saya semprotkan makanan ikan yang sudah disiapkan pemandu untuk memancing ikan-ikan laut keluar dari terumbu karang.

Dengan aba-aba pemandu, saya turun perlahan-lahan melalui tangga kapal dan mendarat dengan nyaman di dasar laut meskipun sesekali saya agak kesulitan mengatur nafas karena perubahan kondisi yang saya alami.

Puas berkeliling di dasar laut, saya pun melanjutkan ekplorasi saya dengan ber-snorkeling ria di sekitar kapal. Saya pun dapat menikmati indahnya bawah laut dari sudut yang berbeda. Jika sesekali mendongak, saya dapat melihat Nusa Lembongan yang terlihat asri dari kejauhan. Beberapa bangunan hotel dan villa tertata rapi berundak-undak dari bibir pantai naik ke arah desa.

Ketika mulai terbiasa menjejakkan kaki di dasar laut, saya mulai menikmati pemandangan luar biasa yang belum pernah saya alami sebelumnya. Di depan mata saya terhampar terumbu karang dengan berbagai

Selain snorkeling, aktivitas lain yang ditawarkan Bali Marine Walk adalah bermain kayak di pinggir pantai atau bersepeda mengelilingi pulau yang luasnya hanya 16 km persegi, melewati jalan berpasir dan rumahrumah penduduk yang sibuk menata rumput laut di halaman rumah mereka untuk dikeringkan. Menatap dari kejauhan, pesona pantainya yang elok dengan beberapa perahu kecil bersandar adalah lukisan panorama yang membuat saya lupa akan penatnya kota-kota diseberang sana.

Bali M arine Walk Jl. By Pass Ngurah Rai 544 Sanur T. +361 282654 / 8080282 www.bali-marinewalk.com

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

29


i

i

t he ns ide r

the n sider

The Power of 8 Characters! Oleh Ari Mustikawati

S

ebagai bagian dari serangkaian seminar yang ia lakukan di beberapa kota besar di Indonesia. Bulan Februari, tepatnya tanggal 13 bertempat di Aston Denpasar, para entrepreneur Bali mendapat kesempatan untuk menghadiri seminar ‘The Power of 8 Characters in Harmony For Success & Happiness’, yang dibawakan oleh salah satu motivator terbaik Indonesia

– Andrie Wongso dan Master of Motivation with angklung – Djoko Nugroho. Siang itu, Aston Denpasar dijejali ratusan entrepreneur dan calon pengusaha yang ingin mendapat suntikan motivasi dari 2 pakar dibidangnya. Dalam sesi seminar kali ini, Andrie Wongso memaparkan bahwa harmoni bisa menghadirkan kekuatan nyata dalam kehidupan dan menjadikan hidup kita sukses dan bahagia. Semua hal yang ada di dunia ini diciptakan penuh dengan keseimba-ngan atau dualism; di mana ada yin dan yang, hitam dan putih, baik dan buruk. Seminar ini disertai pula dengan pelajaran singkat memainkan angklung oleh Djoko Nugroho, master of inspirational by angklung. Melalui pelatihan singkat dan instruksi Djoko Nugroho, peserta seminar diminta untuk memainkan alat musik tersebut untuk mengiringi lagu-lagu dengan penuh harmonisasi dan mampu memberikan moti-

30

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

vasi. Dengan cara ini, Djoko Nugroho mengajak para peserta untuk konsentrasi dan fokus pada tujuan hidup yang ingin kita raih. Terbukti, meskipun hampir semua peserta belum pernah memainkan angklung dan setiap peserta hanya memegang angklung dengan satu nada saja, dengan instruksi Djoko dan konsentrasi penuh, mereka dapat memainkan berbagai macam lagu dengan harmonisasi yang indah. Pertanyaan kemudian muncul, kenapa seminar motivasi ini menggunakan media angklung, Djoko Nugroho menuturkan bahwa angklung mengandung 8 nilai yang dapat kita terapkan untuk mencapai sesuatu tujuan yang kita idamidamkan, yaitu: keyakinan akan sesuatu, komitmen, disiplin diri, syukur, berani, ulet, sabar dan tegar. Selain itu, Andrie Wongso menambahkan, banyaknya klaim terhadap budaya Indonesia oleh negara tetangga membuktikan bahwa dibutuhkan tindakan nyata masyarakat Indonesia dalam melestarikan budaya bangsa. Angklung sengaja dipilih untuk menjalin harmoni karena alat musik yang terbuat dari bambu ini adalah cerminan upaya untuk mengapresiasikan dan melestarikan budaya bangsa kita. Hal ini juga terkait dengan pendaftaran alat musik bambu khas Jawa Barat ini ke UNESCO pada 26 Agustus 2009 sebagai warisan budaya asli Indonesia. Semoga budaya bangsa kita tetap terjaga dan melalui seminar ini akan lahir entrepreneurentrepreneur yang tangguh dan sukses. (Foto: Yana)

S

esaat setelah memberikan seminar 8 character di hotel Aston Denpasar, kami menyempatkan diri untuk melakukan interview singkat. Dalam interview tersebut muncul satu kata kunci yang harus disampaikan kepada para pengusaha Bali yaitu: Krisis Keyakinan! Berikut interview selengkapnya M&I : Bagaimana Bapak melihat diri anda saat ini? AW : Ketika saya melihat diri saya sendiri, saya merasa sangat bangga, sangat puas dengan apa yang telah saya lewati dan yang terjadi atas diri saya. Saya sudah melewati sekolah kehidupan dan saya telah lulus dengan baik dan hingga hari ini saya terus menyebut diri saya sebagai Oleh Daniel Panggabean “pembelajar”. Kesengsaraan, kesulitan hidup dan ketidakmampuan di masa lalu telah menjadikan saya menjadi seperti saat ini dan saya akan terus melakukan pekerjaan seperti ini, yaitu memotivasi dan membakar semangat bangsa Indonesia untuk semakin maju

Lebih Dekat Bersama Andrie Wongso

parah. Sangat sedikit dari masyarakat kita yang memiliki mental yang baik. Keadaan ini akan membuat Indonesia akan sulit melewati krisis. Jika bersungguhsungguh paling tidak diperlukan 20 tahun lagi bangsa ini untuk dapat keluar dari krisis M&I: Bagaimana dengan Bali? AW : Menurut saya Bali jauh lebih baik dari kondisi Indonesia pada umumnya. Terorisme yang terjadi dua kali sudah menjadi bukti bahwa Bali memiliki potensi yang sangat besar.

Pengusaha Bali Krisis Keyakinan!

M&I Bagaimana Bapak Melihat Indonesia saat ini? AW: Indonesia selain mengalami kesenjangan sosial ekonomi yang sangat tinggi juga mengalami kesenjangan “kekayaan mental” yang sangat

M&I : Apa persoalan yang paling kritis yang harus dibenahi para pengusaha Bali

AW: Kata kuncinya adalah keyakinan. Krisis keyakinan menjadi persoalan paling utama bagi para pengusaha di Bali. Masalah terorisme, masalah persaingan global, banyaknya kompetisi langsung dengan para expatriat seharusnya tidak menjadikan kita kehilangan kepercayaan diri tapi seharusnya menjadi tolak ukur atau energi untuk kita mampu berkembang dan memiliki kemampuan lebih. (Foto: Yana)

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

31


t

l ite ratu re

high - ec h i nd ex

Leica D-Lux 4 Best Classic Professional Pocket Camera

S

ang legendaris dunia fotografi LEICA mengeluarkan produk terbaru dari seri D-Lux yaitu seri 4. Sebuah camera compact dengan desain klasik khas Leica tampil secara fisik tak jauh berbeda dengan seri 3 tapi dengan kemampuan dan hasil yang lebih advance. Dengan teknologi lensa terbaru LEICA DC VARIOSUMMICRON lens 1:2.0-2.8/5.1-12.8 ASPH membuat kamera ini memiliki aperture yang tinggi sekaligus rendah. Hingga kamera ini dapat merekam objek dengan kecapatan tinggi juga memiliki kemampuan luar biasa dalam merekam kondisi pencahayaan seadanya.

Kamera pocket ini memiliki resolusi 10.1 megapixel dan dapat mengambil gambar dengan berbagai format; 4:3/3:2/16:9. Dilengkapi dengan LCD Monitor 3� dengan resolusi 460.000 pixel sehingga foto dapat dilihat dengan kualitas terbaiknya.

QUANTUM LEAP Dr. Ir. Ciputra

32

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Direktur BPR Lestari

Bagaimana entrepreneurship dapat mengubah masa depan Anda dan masa depan bangsa?

S

ebagai entrepreneur (baca: pelaku bisnis) Bpk. Ci, begitulah sapaan akrab Ciputra selalu bertanya, �mengapa Indonesia yang begitu besar masih tertinggal secara Ekonomi dari Singapura, Taiwan, Korea, Hongkong, Jepang, Amerika Serikat dan negara maju lainnya? Apa yang telah ditelusuri oleh Bpk. Ci ternyata hasilnya sangat mengejutkan karena Indonesia terlalu sedikit mempunyai entrepreneur. Menurut penelitian, David McClelland mengemukakan bahwa suatu negara akan makmur apabila mempunyai entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah pendukduk. Pemerintah indonesia mencatat bahwa jumlah pelaku bisnis indonesia memang mencapai 50 juta orang, tetapi pelaku bisnis yang sebenarnya hanya 0,18% (400.000) dari seluruh populasi pelaku bisnis, selebihnya adalah pebisnis subsisten. Indonesia memerlukan 12 kali entrepreneur lebih banyak dari yang ada hari ini. Sebagai perbandingan Singapura memiliki entrepreneur 7,2% dari total penduduk, Amerika Serikat memiliki entrepreneur sebanyak 2,2% dari jumlah penduduknya. Ternyata masalah kemiskinan di Indonesia dapat ditelulusuri. Bpk. Ci merupakan salah satu putra terbaik Indonesia yang sangat konsisten untuk memberantas kemiskinan, Bpk. Ci memilih jalur pendidikan entrepreneurship untuk mengentaskan kemiskinan struktural. Pak Ci menuliskan pokok-pokok pemikiran sekaligus implementasi bagaimana cara memajukan bangsa indonesia melalui jalur entrepreneurship seperti tertuang dalam bukunya yang berjudul Quantum Leap. Gagasan utama Bpk. Ci dalam bukunya Quantum Leap adalah pendidikan entrepreneurship sebagai sebuah strategi penting membangun masa depan bangsa. Bpk. Ci sampai hari ini selalu berkeliling indonesia untuk membangun bangsa dan negara dengan mengajak masyarakat untuk menjadi seorang entrepreneur. Bagaimana caranya mengalami sebuah lompatan katak dari kemiskinan menuju kemakmuran dan sanggup melakukan kegiatan sosial untuk membantu sesama.

Kamera ini sangat ergonomis dan seperti kamera pocket umumnya juga sangat “easy to use�.Namun demikian kamera ini tetap dapat dioperasikan dengan sistem manual dan yang lebih menarik adalah kamera ini dilengkapi dengan sistem perekaman gambar dengan software Capture One yang dapat mengkonversikan data RAW. Selain itu dapat dipakai untuk merekam video dengan HDTV format.

Pribadi Budiono

Strategi Quantum Leap sebagai sebuah formula untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Pendidikan ini patut dilaksanakan dalam bentuk pelatihan jangka pendek bagi mereka yang menjelang menganggur atau sedang menganggur, atau dalam bentuk pendidikan jangka waktu panjang (pendidikan umum, yang saat ini dibangku sekolah). Sejak dini tetapi seluas mungkin, pendidikan ini diajarkan kepada generasi muda secara sistematis dan bertahap. Bpk. Ci menekankan mendidik peserta agar menjadi manusia

yang mampu menciptakan kerja bagi diri sendiri. Ini tidak mustahil, meski harus diakui tidak mudah. Kita harus berani melangkah keluar dari hal yang umum. Kita masuk dalam paradigma baru termasuk didalamnya meninggalkan cara pembelajaran yang tidak mendorong imajinasi kreatif. Apa kuncinya? Bpk. Ci menyampaikan dengan tegas bahwa kunci rahasianya adalah entrepreneurship. Apa yang dimaksud Pak Ci, tentang enterpreneur? Entrepreneur adalah mereka yang mengubah sampah menjadi emas. Mereka yang selalu berjuang mengkontribusikan kebaikan dan kesejahteraan kepada masyarakat dan tidak mau berhenti untuk menyerah, meski mereka masih muda, belum berpengalaman, sudah berkali-kali jatuh dalam kegagalan, bahkan sudah berada di ujung senja usia. Enterpreneur tidak pernah mati ataupun memudar. Tiga kunci rahasia entrepreneurship Bpk. Ciputra, yaitu; penciptaan peluang, melakukan inovasi dan engambil resiko yang terukur. Mengikuti pemikiran Ciputra, pemerintah tidak lagi bertugas menciptakan lapangan kerja, tetapi menciptakan manusiamanusia pencipta lapangan kerja. Pembangun para pelaku bisnis. Perubahan harus dimulai, di Bappenas pemerintah harus memikirkan ulang pradigma pembangunannya. Di sekolah-sekolah kurikulum yang menyiapkan anak didik menjadi tenaga siap kerja diubah menjadi manusia pencipta kerja. Itulah tantangan yang dilontarkan dalam pemikiran Bpk. Ciputra. Itu pulalah latar belakang pemikiran Entrepreneurship Ciputra, yang digali dari Ciputra tentang bagaimana mempersiapkan diri menjadi entrepreneur dan bagaimana indonesia membangun entrepreneur. Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

33


f rontof

Bill Gates J

ika edisi sebelumnya kami mengupas kisah singkat orang nomor satu dibalik perusahaan Apple Inc, kali ini kami akan mengangkat sekelumit biografi rival berat Steve Job – Bill Gates. Ia adalah pendiri Microsoft bersama rekannya Paul Allen, yang dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di dunia pada tahun 1995 – 2007 dan 2009. Bill Gates lahir dengan nama lengkap William Henry Gates III di Seattle, Washington Amerika Serikat pada tanggal 28 Oktober 1955. Bill adalah anak kedua dari keluarga menengah keatas, pasangan Willian H. Gates, Sr dan Mari Maxwell Gates, yang merupakan keturusan Inggris, Jerman, Skotlandia dan Irlandia. Sejak duduk d i b a n g k u sekolah, tepatnya pada usia 13 tahun di Lakeside School, Gates kecil sudah menunjukkan ketertarikannya pada pemograman komputer. Ia menulis program komputer (saat itu masih GE system) pertamanya “an implementation of tic-tac-toe”, yang memungkinkan pemain games ini untuk beradu dengan pemain lawan (komputer). Selanjutnya, bersama 3 orang teman sekolahnya; Paul Allen (salah satu pendiri Microsoft Inc.), Ric Weiland dan Kent Evans, mereka seringkali mengutak-atik program komputer milik Computer Center Cooperation (CCC) di sekolahnya. Menyadari bakat tersebut, CCC’s software kemudian memperkerjakan empat siswa cerdas ini untuk mengerjakan payroll program dalam sistem pengoperasian yang diberi nama COBOL. Pada usia 17 tahun, bersama dengan Allen, ia membentuk Traf-O-Data, sebuah program yang dapat digunakan sebagai traffic counters dengan Intel 8008 sebagai prosesornya. Gates lulus dari Lakeside School

34

s ne a kpeek

m i nd

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

pada tahun 1973 dengan nilai yang nyaris sempurna – SAT 1590 dari 1600 dan IQ 170. Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Hardvard. Selama menjalani studi di Harvard, ia kemudian bertemu dengan Steve Ballmer, yang nantinya akan menjadi CEO di Microsoft Inc. Pada tahun 1975, Gates dan Allen memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan ‘software computer’, bekerjasama dengan IBM, yang kemudian berhasil meluncurkan 86-DOS yang kemudian disempurnakan dalam MS-DOS, program komputer yang user friendly (baca: mudah dioperasikan). Kemudian disusul oleh Microsoft Windows pada tahun 1985 dan terus

Green Miles

(1999) Sutradara : Frank Darabont Writer : Stephen King dan Frank Darabont Pemain : Tom Hanks, Michael Clarke Duncan Film berlatar belakang tahun 30-an ini menceritakan kisah 5 orang pegawai sipir yang bekerja di sebuah penjara khusus untuk narapidana hukuman mati, salah seorang diantaranya adalah Paul Edgecomb (Tom Hanks). Mereka dilatih dan ditugaskan untuk mengantarkan narapidana mati ke tempat kursi listrik dan melihat mereka meregang nyawa. Film ini diawali dengan kedatangan seorang narapidana tertuduh kasus pemerkosaan dan pembunuhan 2 orang gadis cilik, John Coffey (Michael Clarke Duncan) - seorang pria kulit hitam bertubuh besar dengan tinggi 8 kaki. Ia dapat menyembuhkan orang sakit, salah satu diantaranya adalah Paul, bahkan menghidupkan kembali seekor tikus yang sudah mati. Mukjizat yang dimiliki John membuat Paul merasa ganjil atas kasus yang dituduhkan kepadanya. Merasa berhutang dengan John, Paul berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi atas kasus John Coffey. Tanpa diduga, suatu hari datang seorang narapidana terhukum mati yang dilihat melalui mata batin John adalah pembunuh dan pemerkosa 2 gadis kecil yang sebenarnya. John kemudian memaksa Paul menggenggam tangannya agar Paul dapat menyaksikannya sendiri melalui mata batin John. Benar saja apa yang dikatakan Coffey, namun Coffey sama sekali tidak berniat untuk pergi atau kabur dari penjara meskipun Paul menyarankannya dan bersedia menanggung resikonya. Sebelum hukuman mati Coffey dilakukan, Coffey mengatakan sebagian mukjizatnya telah diberikan kepada Paul. Mukjizat yang membuat Paul berumur lebih panjang daripada manusia pada umumnya, hingga ia kesepian dan menderita.

Sherlock Holmes (2009) Sutradara : Guy Ritchie Writer : Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham Pemain : Robert Downey Jr, Jude Law

berkembang sampai sekarang dengan programprogram yang lebih user friendly seperti Microsoft Window XP, Vista dan lain sebagainya. Selama karirnya di Microsoft, Gates menjabat sebagai CEO dan terkenal sebagai filantropis dengan mendirikan Yayasan Bill & Melinda Gates pada tahun 2000, yang mendonasikan uang dalam jumlah besar ke beberapa organisasi sosial dan pembiayan penelitian ilmiah. Ditengah kesuksesan Microsoft Inc yang terus meroket, Gates memutuskan mundur dari perusahaan yang ia dirikan pada tahun 2006 dan mendedikasikan diri secara penuh bersama istrinya Melinda di yayasan yang mereka dirikan untuk melakukan berbagai macam kegiatan sosial hampir di seluruh dunia.

Detektif fiktif berkebangsaan Inggris rekaan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes kali ini diangkat kelayar lebar dengan sentuhan segar gaya Guy Ritchie – sang sutradara. Tokoh Sherlock Holmes digambarkan bertubuh atletis, berwajah flamboyan dan pandai berkelahi. Dan Robert Downey berhasil membentuk pencitraan Sherlock Holmes yang nyentrik dan terkesan macho. Dalam film ini, Sherlock Holmes bersama rekannya Dr. Watson (Jude Law) berhadapan dengan Lord Blackwood (Andy Garcia) – tokoh dibalik kasus pembunuhan berantai beberapa gadis muda sebagai bagian dari ritual paganisme dianut Blackwood. Pada awal scene, ditunjukkan bahwa Lord Blackwood telah berhasil ditangkap oleh Holmes dan kawankawan, dan kemudian dihukum gantung. Namun siap sangka ia bisa bangkit dari kubur dan beberapa pembunuhan pun terjadi lagi. Kejadian ini membuat Homes dan Dr. Watson kewalahan, namun inilah awal petualangan mereka, bergabung kemudian Irene Adler (Rachel McAdams) – tokoh wanita pujaan Holmes dimulai. Untuk menyingkap kasus ini, Holmes harus melakukan perkelahian tangan kosong yang memperlihatkan ketangkasan bela dirinya dan kemahiran tembak menembaknya. Seperti bisa diduga, film ini berakhir dengan meninggalnya Lord Blackwood ditangan Holmes dan terbongkarnya kasus Blackwood atas analisa Holmes yang tajam dan cermat. Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

35


af ter

h ou r

Bisnis-Bisnis

LUNA MAYA S

iapa tak kenal Luna Maya, artis kesohor yang lagi di puncak ketenarannya. Hampir setiap orang mengenal dia sebagai selebriti dengan sederet acara TV, film sinetron dan film layar lebar yang digelutinya. Semuaorang pasti kenal dialah pujaan hati sang vokalis Peter Pan. Kisah cintanya bak cerita sinetron dan belum lama terjadi perseteruan dengan para wartawan infotainment gara-gara statusnya di tweeter. Namun siapa yang tahu gadis kelahiran Bali, 26 Agustus 1983 ini juga pandai berbisnis. Dimasa puncak kariernya sebagai artis diamdiam ia merintis beberapa usaha. Mulai dari Butik dengan label namanya LM for Hardware dengan produk khususnya Jeans & T-Shirt yang dibukanya di Plaza Semanggi Jakarta. Hingga kemudian di akhir tahun lalu ia merintis sebuah Kafe bernama 7 Sins di Jalan Diponegoro, Bandung. Nampaknya bisnis ini tidak hanya alat “aji mumpung�-nya saja lantaran dia sedang di puncak karier, semua sudah cukup matang dipersiapkan. Terbukti bisnis-bisnis Luna Maya ini berkembang cukup baik. Kita lihat saja gebrakan apa lagi yang akan dibuat si cantik dari Bali ini. Mudah-mudahan isu tentang bahwa ia akan membuka kafe di Bali akan terealisasi tahun ini.

36

- Vol. 3 Mar - Apr 2010

Vol. 3 M ar - Apr 2 0 1 0 -

37


38

- Vol. 3 Mar - Apr 2010


M&I magz ed 03