Page 1


IKLAN LAYANAN INI DIPERSEMBAHKAN OLEH PEWARA DINAMIKA • ILUSTRASI: 100TH KARTINII (REPRO: KALAM)


PE WA R A D I N A M I K A / A P RI L 2 0 1 8

T R A N S F O R M AT I F D A N PA R T I S I PAT I F

Pena Redaksi

APRIL 2010

Pewara April delapan tahun silam menyajikan liputan hiruk-pikuk komunitas religius yang hidup dan besar di kampus Karangmalang.

SALAM hangat dari segenap jajaran redaksi Pewara Dinamika untuk sivitas akademika Universitas Negeri Yogyakarta. Pada bulan keempat tahun 2018 ini kami melihat jadwal serangkaian acara menjelang Dies Natalis UNY yang sedemikian padat. Bulan April, seperti yang kita ketahui, tak terlepas dari seremoni nasional maupun internasional. Salah satu seremoni yang kami ulas di edisi kali ini bertemakan Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

14 tentang KIP akhirnya diketokpalu.

untuk diangkat khusus. Selain tema besar, seperti biasa, kami menyajikan berita teraktual tiap fakultas dan lembaga di bawah payung UNY. Warta itu kami harapkan sebagai tindakan untuk menjunjung tinggi nilai monumental.

Begitu banyak informasi saling sengkarut di era disrupsi. Keadaan ini membuat manusia terkondisikan untuk tergantung padanya. Namun, di luar sana, ketika otoritarianisme negara membatasi informasi, di Indonesia, kita patut bersyukur. Kenapa? Karena Republik Indonesia telah keluar dari tempurung hegemonik itu. Masyarakat Indonesia bisa leluasa menikmati informasi dalam rangka mengembangkan konstruksi pengetahuan yang dimiliknya. Ini anugerah besar era Revolusi Industri 4.0.

KIP berangkat dari dorongan besar akan demokratisasi informasi. Semua orang tentunya punya hak yang sama untuk mengakses sekaligus menikmati informasi. Narasi besar mengenai KIP, dengan demikian, didasarkan atas semangat itu.

Rubrik lain seperti fiksi dan nonfiksi tetap disajikan sebagai ekspresi intelektual sekaligus artistik. Opini ditulis sesuai lingkup keilmuan khusus yang diharapkan mampu menjawab problem termutakhir. Sedangkan sastra, baik rubrik Cerpen, Puisi, maupun Pojok Gelitik, diharapkan menjadi stimulus primer agar manusia tetap menghargai produk seni kebahasaan. Keduanya, dengan demikian, diharapkan memberi inspirasi bagi sidang pembaca.

Konsekuensi logis KIP mendorong UNY untuk membuka katup birokrasinya kepada khalayak. Siapa pun itu, tanpa pandang status sosial, agama, maupun ras, boleh mengakses informasi yang dimiliki kampus kependidikan di Karangmalang. Tentu dengan catatan tambahan: Digunakan sesuai nilai tanggung jawab dan kejujuran. Pada titik inilah kami melihat tema KIP begitu urgen

Meskipun terkesan sederhana, perjuangan untuk menggolkan KIP relatif panjang dan panas, dimulai sejak Reformasi 1998 dikibarkan. Ujungnya, pada 2008, Undang-undang Nomor

Potret peristiwa yang diwujudkan dalam bentuk kolase foto dimunculkan pada tiap rubrik agar memberi sentuhan visual dan bukti otentik sebuah acara. Akhir kata, selamat membaca. Salam.

SUSUNAN REDAKSI PENERBIT Universitas Negeri Yogyakarta IJIN TERBIT SK Rektor No. 321 Tahun 1999 ISSN 1693-1467 PENASEHAT Sutrisna Wibawa (Rektor UNY) PENGARAH Margana (Wakil Rektor I)

Edi Purwanta (Wakil Rektor II) Sumaryanto (Wakil Rektor III) Senam (Wakil Rektor IV) Setyo Budi Takarina (Kepala Biro UPK) Sukirdjo (Kepala Biro AKI)

PEMIMPIN REDAKSI Sismono La Ode

PIMPINAN UMUM Anwar Efendi

REDAKTUR PELAKSANA Budi Mulyono

PEMIMPIN PERUSAHAAN Riska

REDAKTUR ARTISTIK Kalam Jauhari

unyofficial

REDAKTUR SENIOR Basikin, Else Liliani, Lina Nur Hidayati, Sigit Sanyata SEKRETARIS REDAKSI Nunggal Seralati

@pewara_uny l @unyofficial

3

Satya Perdana (FIK) Haryo Aji Pambudi (FT) Pramushinta Putri D (PPS) Muhammad Fadli (FE) Dwi Budiyanto (FBS) Binar Winantaka (LPPMP) Agus Irfanto (LPPM) Tusti Handayani (Kampus Wates)

REDAKTUR Rony K. Pratama Ilham Dary Athallah Ratna Ekawati Dedi Herdito Khairani Faizah Febi Puspitasari FOTOGRAFI M Arif Budiman, Prasetyo Maulana, Heri Purwanto REPORTER Anton Suyadi (FIP) Witono Nugroho (FMIPA) Nur Laily Tri Wulansari (FIS) @unyofficial

ALAMAT REDAKSI Jl. Colombo No. 1 Kampus Karangmalang Universitas Negeri Yogyakarta 55281 Telp/Fax 0274 542185 E-mail: pewaradinamika@uny.ac.id Laman: www.uny.ac.id.

unyofficial


Daftarisi

WAWANCARA KHUSUS

Kementerian bersama seluruh guru dan masyarakat menyongsong abad ke-21 dengan kemampuan yang harus dikuasai. »36-38

ISTIMEWA

Diterbitkannya Surat Rektor soal Pejabat Pengelolal Informasi dan Dokumentasi (PPID) menandakan komitmen UNY terhadap KIP. KIP BERANGKAT DARI dorongan besar akan demokratisasi informasi. Semua orang tentunya punya hak yang sama untuk mengakses sekaligus menikmati informasi. Narasi besar mengenai KIP, dengan demikian, didasarkan atas semangat itu. UU KIP menandai babak baru. Ia berisikan kehendak kuat agar tiap manusia punya hak sama dalam mendapatkan informasi. Memperoleh informasi tanpa keterbukaan publik berarti sia-sia. UU KIP, karenanya, mendedah dua poros utama, yakni 4 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

“hak asasi informasi” dan “keterbukaan publik”— suatu wujud konkret dari spirit reformasi yang secara historis dibayar mahal dengan tumpah darah para aktivis. UNY gayung bersambut UU KIP. Ditekennya surat rektor soal Pejabat Pengelola Informasi dan Doku­mentasi (PPID) bertanggal 29 Mei 2017 oleh UNY menandai pembangunan sistem berikut aparaturnya agar KIP dimanifestasikan secara konkret. Kebijakan ini menjadi bukti komitmen UNY terhadap demokratisasi informasi.

3

PENA REDAKSI

5

REKTOR MENYAPA Keterbukaan Informasi Zaman Now

6 SURAT PEMBACA

8-40

LAPORAN UTAMA Selebrasi Informasi Abad Revolusi Industri 4.0 ∫ LDR YogyakartaBanjarmasin E-Learning 7in1

48-51

SOSOK Naraswari Kartini dari Madiun

41-47 BERITA Peran Ibu dalam Era Revolusi Industri ∫ Pengukuhan Guru Besar Pembelajaran Sastra Indonesia ∫ UNY Hibahkan Mesin dan Peralatan ke SMK Muhammadiyah III

54

RESENSI Sebatas Kenakalan bukan Kejahatan

55 BINA ROHANI Indahnya Bertegur Sapa dan Salam

56-57 CERPEN Slide

52-53

Opini Kesetaraan Agama dan Penghayat Kepercayaan

58 PUISI Candhik Ayu ∫ Yamato, Geger Surabaya


Rektor Menyapa Prof. Dr. SUTRISNA WIBAWA, M.Pd. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta ¬ Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa Jawa dan Filsafat Jawa Fakultas Bahasa dan Seni UNY

Keterbukaan Informasi Zaman Now

E

ra disrupsi teknologi saat ini, tak hanya mengubah pola produksi sumber daya konsumsi kita menjadi lebih masif ataupun le­ bih efisien layaknya yang terja­ di dalam revolusi industri sebelumnya. Kedatangannya yang keempat kali dalam sejarah umat manusia, menghadirkan per­ ubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat di segala lini. Tak terkecuali, para anak muda Indonesia yang berdasarkan data BKKBN pada 2017 lalu berjumlah 66,3 juta jiwa, atau nyaris 25% dari total penduduk Indonesia, adalah pemuda. Kita semua sepertinya sudah terbiasa mengumandangkan bahwa anak muda kelak akan memimpin dan menjadi tulang punggung bangsa. Namun yang kerap luput dalam pandangan kita adalah fakta bahwa anak muda tersebut juga membutuhkan bimbingan dan suri tauladan. Zaman now, yang bersifat nonlinear dan begitu kompetitif melintasi sekat-batas negara, membuat mereka nantinya perlu menyesuaikan perkembangan yang terjadi dengan cara mengembangkan pergaulan yang berwawasan global. Jauh lebih berat dari apa yang sedang kita hadapi saat ini, maupun kita hadapi di era sebelumnya. Untuk itulah, komunikasi dan saling memahami lintas generasi menjadi pen­ ting. Penyesuaian dengan zaman yang sedang berkembang menjadi sentral bagi kita, termasuk Universitas Negeri Yog­yakarta, guna memenuhi kebutuhan di zaman digital seperti sekarang. Sebagai amanat un-

dang-undang, keterbukaan informasi pu­ blik selayaknya tak sekedar dimaknai se­ba­gai kehadiran kita di kala masyarakat mem­butuhkan. Tapi juga menyesuaikan dan beradaptasi dengan medium yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi, tak terkecuali media sosial. Oleh karena itu UNY sejak 2017, saya selaku Rektor UNY telah memutuskan untuk membuat akun resmi UNY untuk media sosial. Tidak hanya membuat, tapi juga senantiasa mengkoordinasikan agar akun tersebut aktif, guna menggiatkan publikasi media sosial yang kerap digunakan masyarakat. Semua akun media sosial yang dimiliki UNY, baik Facebook, Instagram, Youtube, dan Twitter, diberi username unyofficial dan nama Universitas Negeri Yogyakarta. Dari situ, saya berupaya mengamati pola dan pesan komunikasi para warganet. Saya pun juga menyampaikan pesan dan informasi pelbagai kegiatan lewat akun pribadi saya di Instagram dan Facebook. Bagi saya, aktivitas menyapa para sivi­ tas akademika dan alumni UNY adalah penting. Karena tak hanya mampu menjadi salah satu instrumen silaturahmi maupun mengabarkan aktivitas kampus dan kebijakan UNY, ia juga meneguhkan bahwa saya dan kita semua sebagai institusi senantiasa menempatkan diri untuk cair di manapun tanpa menyisakan jarak. Apapun komentar di media sosial, langsung kami tindaklanjuti dengan respons cepat. Sembari, menghadirkan keterbukaan informa-

si dengan mengombinasikan institusi dan prosedur formal yang kita miliki. Untuk itulah, ruang rektor senantiasa terbuka untuk menerima tamu dari kalangan manapun. Bahkan tanpa perlu janjian, selama saya ada di ruangan. Selain itu, UNY lewat maklumat keterbukaan informasi publik, telah meneguhkan komitmen untuk menyediakan layanan informasi yang mumpuni dan terintegrasi. Tinggal klik website maupun datang ke Unit Layanan Terpadu, apapun yang dibutuhkan maupun hendak diketahui tentang UNY, bisa didapatkan tanpa perlu repot. Tidak ada informasi yang ditutup-tutupi, dan semua urusan dimudahkan. Legalisir ijazah dan transkrip nilai, misalnya, juga sudah kami integrasikan secara online sehingga alumni tidak perlu datang jauh-jauh ke Jogja jika berada di luar kota. Cukup klik di website ult. uny.ac.id, lalu tunggu proses pengiriman ijazah legalisir melalui kurir pengiriman yang dikehendaki alumni tersebut. Sedang­ kan membayar UKT, juga bisa dilakukan secara daring bahkan tanpa meninggalkan rumah. Daulat sebagai peringkat delapan universitas dengan pengelolaan keterbukaan informasi publik, telah kita raih pada tahun 2017 atas kerja-kerja keras tersebut. Akan tetapi, keterbukaan informasi tak boleh berhenti. Ia selayaknya menjadi cambuk bagi kita semua untuk lebih sema­ ngat menghadirkan diri di tengah-tengah seluruh sivitas dan masyarakat. Siap?  P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 5


 S U R AT P E M B A C A

Tak Kenal Maka Tak Sayang Banyak orang sudah tahu arti ungkapan “Tak kenal maka tak sayang”, yang merupakan peribahasa dengan arti sifat perangai seseorang tidak dapat diketahui pasti jika belum mengenalnya secara dekat. Akan tetapi, mungkin tidak banyak orang mengetahui bahwa prasangka juga bisa menjadi lawan peribahasa ini. Oleh MURNI mahasiswa dari Guangdong University of Foreign Studies, Tiongkok, sekarang semester keenam di UNY

Selama tujuh bulan belajar di Daerah Istimewa Yogyakarta, boleh dikatakan saya sudah cukup nyaman. Akan tetapi, tak bisa dihindari juga, saya kadangkadang menghadapi prasangka yang membingungkan pula. Prasangka di sini bukan berarti sesuatu yang jahat atau tidak bagus, hanya pemahaman yang tidak tepat. Prasangka itu bisa terdengar di pinggir jalan, ketika kami sedang berjalan. Sapaan seperti anyyeonghaseyo dan konnichiwa ini sering saya dengar dari bapak-bapak yang sedang istirahat di jalan atau pria-pria yang bertemu dengan kami. 6 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Sesekali disapa begini, kami sering menjawab dengan “Bukan, kami orang Tiongkok”. Kata teman Indonesia, muka orang Korea, Jepang dan Tiongkok sangat mirip, yaitu kulitnya putih dan matanya agak sipit. Alasan ini agak masuk akal, tapi saya masih merasa tidak enak ketika dianggap orang dari negara lain. Prasangka itu juga bisa terjadi ketika kami sedang naik mobil yang dipesan secara online. Setelah saya dan teman-teman berhenti sebentar dari diskusi yang hangat dalam mobil, “Mbak, ada apa? Mengapa kalian sepertinya bertengkar?” begitu sopir yang di depan berbisik dengan hati-hati. Kami baru menyadari bahwa suara kami terlalu keras dan dianggap

sedang bertengkar. Segera kami menjelaskan supaya tidak disalahpahami, namun sopir itu bertanya lagi, “orang Tiongkok ketika berbicara, suaranya selalu keras begini, ya?” Kami terpakasa harus menjelaskan lagi dengan tertawa pahit. Prasangka itu bisa terlihat di media sosial, misalnya Instagram. Kata teman saya yang juga dari Tiongkok, ada temannya yang di Medan menulis, “Hal ini

ZEROSUGAR.WORDPRESS.COM

tidak akan terjadi di Tiongkok,” dengan foto tentang seorang sopir mengembalikan dompet milik penumpang, yang tertinggal di mobil. Di bawah tulisannya juga ada kutipan “Iya, orang Tiongkok memang mata duitan”. Saya tidak tahu apa yang mereka pernah alami, namun prasangka itu memang kurang layak dilemparkan jika semua orang dari negara yang sama dianggap orang yang mata duitan. Pendek kata, setiap orang mempunyai kepribadian yang khusus, kekurangan dan keunggulan. Jika kita menilai seseorang hanya dari mukanya saja, atau orang yang sama negara dengannya, maka prasangka itu akan muncul. Untuk mengurangi prasangka, bagaimana kita saling mengenal dulu baru saling menilai? Karena itu, “tak kenal maka tak sayang”. Salam kenal.

Redaksi menerima tulisan untuk rubrik Bina Rohani (panjang tulisan 500 kata), Cerpen (1000 kata), Opini (900 ka­ta), Puisi/Geguritan/Tembang (minimal dua judul), dan Resensi Media (500 kata). Tulisan harus dilengkapi de­ngan iden­ti­tas yang jelas, nomor yang bisa dihubungi, pasfoto (khusus Opini), serta keterangan dan sampul media (khu­sus Re­sen­si Media). Tulisan dikirim me­la­lui pewaradinamika@uny.ac.id atau langsung ke kan­tor Humas UNY. Bagi yang dimuat, ho­nor dapat diambil di kantor Humas Universitas Negeri Yogyakarta.


PRAKASIT KHUANSUWAN

T I P S -T I P S

REDCHILENA.COM

Oleh MUHAMMAD SUKRON FITRIANSYAH Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY

S

etelah beberapa tahun hidup di rantau, kita (mahasiswa) ditunutut untuk serba mandiri. Mengurus cucian pakaian, memasak, hingga menata semua barang pribadi. Namun, tak jarang kamar kos yang berukuran 3x3 atau kurang sulit untuk menampung semua barang. Terlepas dari itu budaya malas—mungkin setelah melakukan rutinitas perkuliahan kita biasanya kelelahan— sehingga malas untuk merapikan kamar kos. Padahal tata letak, kerapian, dan kebersihan sangat penting dan mempengaruhi mood penghuninya. Berikut tipstips agar kamar kosmu tampak berkarakter.

1

Album foto. Jika kamu gemar berfoto ria bareng temanteman—foto liburan, foto keluarga, foto sama pacar, dan foto lainnya—bisa kalian pajang di kamar. Selain tampak kekinian, memajang foto bisa memutar balik ingatan kita atas kenangan sebelumnya. Momen itu tak perlu diulang, tetapi bisa kalian ingat dengan cara melihat foto demi foto yang terpajang tersebut. Ada beberapa cara untuk memajang foto seperti yang

Agar Kamar Kosmu Tak Biasa-biasa Saja lagi kekinian adalah menjepit foto dengan klip warna-warni di seutas tali atau dengan meng­ gunakan bingkai. Dengan begitu kenangan dalam foto bisa kalian lihat kapan saja tanpa harus membuka gawai terlebih dahulu.

2

Tanaman hias mini. Bagi kalian yang hobi bercocok tanam tips kedua ini sangat cocok untuk diterapkan di kamar kos. Seperti namanya, tanaman hias mini tak memerlukan ruang yang besar, sehingga kalian dapat menyim­ panya di mana saja. Tana­m­ an hias mini seperti kaktus mini, sukulen, bambu hoki, hing­ga sirih gading cukup mudah dida­pat­kan. Harganya terjangkau pula. Kemudian kalian juga tak usah khawatir soal perawatan. Tanaman hias mini tersebut tak memerlukan perawatan khusus. Seperti kaktus mini, ia hanya perlu disiram seminggu sekali. Cukup mudah jika kalian disibukkan dengan kuliah tapi tetap ingin kamar kos hijau. Eits, satu lagi kaktus mini bisa mengurangi radiasi dan memfilter udara.

3

Lukisan dan poster. Kalian punya bakat melukis? Nah,

sayang sekali jika bakat tersebut tidak tersalurkan. Kalian hanya membutuhkan kertas karton— bebas pilih warna, spidol, dan alat tulis lainnya untuk melukis. Untuk memacu semangat belajar kalian bisa melukis tokoh entah itu pahlawan maupun idola. Bisa juga melukis apapun yang kalian suka. Dengan begitu apa yang ada di otak kalian bisa tersalurkan dan memberikan sebuah kepuasan. Kalau tidak mempunyai bakat melukis bagaimana? Jangan berkecil hati. Sekarang cukup mudah mendapatkan poster— baik kertas biasa maupun dalam bentuk bingkai kayu. Cara tersebut bisa kalian lakukan untuk menghidupkan nuansa dalam kamar kos. Kalian bisa mengisinya dengan gambargambar kesukaan—bisa juga dengan quote motivasi hidup.

4

Buku. Siapa bilang buku hanya memenuhi tempat di kamar kos? Selain jendela pengetahuan, buku ternyata bisa dijadikan interior kamar kos. Caranya cukup mudah. Kalian cukup mencari rak buku. Bukan rak

yang biasa. Namun, carilah rak buku yang “tidak biasa”. Kemudian cari tukang rak yang bersedia mendesain rak gayamu. Di mesin pencari sangat banyak referensi rak buku. Jadi carilah yang sesuai seleramu: rak yang menempel di tembok atau rak berdiri.

5

Lukis tembok. Jika kalian mempunyai bakat terpendam dalam hal melukis, cobalah untuk menuangkannya di medium tembok. Bakat sudah ada. Tinggal bagaimana kalian pandai dalam merayu yang punya kos— untuk temboknya di buat lebih nyeni. Jika izin sudah dikantongi, mari siapkan peralatan seperti kuas dan cat. Gambarlah apapun yang ada di pikiran kalian. Buat semenarik mungkin. Kalian bisa melihat referensi dari mesin pencari. Dengan paduan warna dan imajinasi, segalanya akan tertuang dalam bentuk lukisan tembok. Lukisan tembok tentu saja akan membuat kalian lebih betah di kos dan memberikan nuansa yang tidak biasabiasa saja.  P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 7


Laporan Utama

DIGITALDATASHOW.COM

8 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8


Laporan Utama

SELEBRASI INFORMASI ABAD REVOLUSI INDUSTRI 4.0

A

Alvin Toffler, penulis buku Future Shock (1970), telah meramalkan dentuman informasi di tahun 2000. Futurolog asal negeri Paman Sam itu benar. Masuk ke periode milenum, dunia dibanjiri bejibun informasi tanpa kenal ampun. Gejalanya mulai mengemuka sejak awal 1990. Ditandai teknologi siber, internet, pada gilirannya, mendorong babak peradaban baru. Internet membawa iklim baru pada tiap sendi kehidupan manusia. Setengah abad lampau, pengetahuan ditempatkan eksklusif. Ia hanya dimiliki oleh segelintir orang yang berduit maupun berstatus ningrat. Kini pandangan semacam itu berubah drastis. Siapa pun punya potensi sama untuk mengakses pengetahuan. Hanya bermodal alat canggih bernama telepon pintar, orang dengan mudah mengakses tanpa terkecuali. Simptom mencari pengetahuan dengan modal kuota dan klik berdampak signifikan terhadap habituasi. Manusia menjadi subyek sekaligus obyek informasi itu sendiri. Pengetahuan seakan bebas dikendalikan, didistribusikan, bahkan dimonopoli oleh kekuasaan dalam skala singular dan plural. Di sini berlaku demokratisasi informasi. Di Indonesia, keran terbukanya informasi mulai menyeruak kuat sejak genderang Reformasi 1998 ditabuh. Di Senayan, tempat perdebatan konstitusi diujarkan dan disahkan, legalisasi hak asasi pengetahuan diwacanakan panas. Jamak anggota parlemen adu argumentasi hingga dini hari. Proses panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Undang-

undang Nomor 14 Tahun 2008 sebanyak 64 Pasal tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) diketokpalu. Publik sorak-sorai tanda syukur. UU KIP menandai babak baru. Ia berisikan kehendak kuat agar tiap manusia punya hak sama dalam mendapatkan informasi. Memperoleh informasi tanpa keterbukaan publik berarti sia-sia. UU KIP, karenanya, mendedah dua poros utama, yakni “hak asasi informasi” dan “keterbukaan publik”—suatu wujud konkret dari spirit reformasi yang secara historis dibayar mahal dengan tumpah darah para aktivis. Semua institusi negara wajib terbuka. Sebagai masyarakat sipil yang suaranya dilindungi konstitusi, posisi masyarakat sedemikian strategis untuk berhak mendapatkan informasi dari institusi negara. Jenis informasi itu juga tak sepenuhnya boleh didesiminasikan secara umum, karena, betapapun, ia tak terlepas oleh unsur-unsur kerahasiaan yang signifikansinya dilindungi rapat. UU KIP menyoal kenyataan ini: Kriteria informasi apa saja yang diperbolehkan atau tidak untuk diakses khalayak. UNY gayung bersambut UU KIP. Kampus kependidikan negeri di Kota Gudeg ini meresponsnya dengan mene­ken surat rektor soal Pejabat Pengelola Informasi dan Doku­ mentasi (PPID) bertanggal 29 Mei 2017. UNY membangun sistem berikut aparaturnya agar KIP dimanifestasikan secara konkret. Kebijakan ini menjadi bukti komitmen UNY terhadap demokratisasi informasi. RONY K. PRATAMA

PPE EWA WARRAADDI NI NAAMMI KI KAAMAAPRREI TL 2 0 1 8 9


Laporan Utama

Demokratisasi Informasi Kunci Globalisasi Kampus “Digitalisasi dan otomasi sebagai efek dari Revolusi Industri 4.0 membawa kabar baik. Semua institusi, terutama perguruan tinggi, terbuka luas untuk diakses informasinya. Masyarakat memanfaatkannya dengan bekal klik.” Oleh RONY K. PRATAMA Editor BUDI MULYONO

T

CASAGRANDEAZ.GOV

ahun ini tepat dua dasawarsa reformasi. Soeharto yang memimpin lebih dari tiga puluh tahun republik ini akhirnya lengser keprabon pada Mei, 1998. Kuasa Orde Baru di belakangnya turut tumbang. Meskipun kroni-kroninya masih langgeng di struktur pemerintahan selanjutnya. Senjakala Soeharto meniupkan angin segar, salah satunya, bagi keterbukaan informasi.

Euforia reformasi menjalar ke ruang-ruang diskusi mikro. KIP lahir dari cetusan pikiran kecil para aktivis LSM. Dimulai dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Memperoleh Informasi Publik (MSKMIP), terobosan itu sampai di telinga parlemen.

Orde Baru membawa panji sakral antara lain stabilitas tatanan. Efeknya memencar ke pelbagai ranah. Terutama soal demokratisasi informasi. Banyak informasi diayunkan penguasa secara sepihak agar tak terbeberkan luas. Bila terjadi sebaliknya, konstelasi buyar dan kemudian pecah. Keretakan ini diawasi Orde Baru. Betapapun tumbal harus disodorkan.

UU KIP No. 14 tahun 2008 terdiri atas 64 pasal. Ia berisi aturan supaya tiap Badan Publik terbuka kepada masyarakat. Yang paling utama harus membuka akses bila terdapat pemohon yang hendak mendapatkan informasi. Namun, bukan berarti semua data dapat diakses. Di sana juga diterangkan kriteria tertentu informasi yang boleh dibuka maupun tidak.

Soeharto lengser, Habibie naik takhta republik. Presiden Ketiga Republik Indonesia itu dengan sigap meneken kebijakan tak populer. Bahkan, kebijakan itu mulanya ditentang pucuk pimpinan sebelumnya. Kebebasan mendapatkan dan mengujarkan opini salah satunya. Ini membuka keran media massa. Sontak, setelah kebijakan itu diketok palu, puluhan media massa baru— baik daring maupun luring— menjamur tak terhindarkan.

Pada buku saku bertajuk Mengenal Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (2010) yang disusun tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH), dinyatakan jelas bagaimana UU KIP mengalami pasang-surut di Senayan.

Baru pada 2008 Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan. KIP ialah wujud yuridis dari perayaan demokratisasi informasi. Perjalanan untuk menggolkan UU cukup panjang. Hampir delapan tahun, 42 koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), berjuang tak kenal letih mewujudkan cita-cita kolektif itu. 10 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 5 Ayat 2), sedangkan yang kedua UU No. 24 Tahun 1992 soal Penataan Ruang (Pasal 4 Ayat 2). Orde Baru terlihat memberi ancangancang.

Ilustrasi pengelompokkan data secara manual

Pada mulanya dua undang-undang. Keduanya pijakan historis kenapa KIP perlu disusun. Yang pertama UU No. 23 Tahun 1997 tentang

Informasi serupa hak asasi yang tiap orang, meski beda latar sosial, agama, dan suku, punya kesempatan setara untuk menggayung informasi itu.

Sebelum disepakati nama final, UU ini disebut RUU Kebebasan Mendapat Informasi Publik. Dibantu DPR periode 1999-2004, UU tersebut turut menarasikan pascareformasi. Orientasi utamanya supaya terwujud tata kelola kepemerintahan yang baik, bersih, dan transparan. Sasaran mayornya tentu masyarakat umum sebagai komisaris utama Republik Indonesia. Setelah Sedekade Pekan terakhir April, R. Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), pidato dalam rangka Refleksi Satu Dekade Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik di Kemkominfo, Jakarta. Berambut pendek seleher dengan raut wajah yang sumringah, Niken berpesan secara lantang agar masyarakat turut aktif memaksimalkan peluang keterbukaan informasi. Baginya, informasi serupa hak asasi yang tiap orang, meski beda latar sosial, agama, dan suku, punya kesempatan setara untuk menggayung informasi itu. “Tujuan dari UU KIP ini adalah mengajak peran serta masyarakat dalam setiap keputusan badan publik baik berupa kebijakan, program dan lainnya. Masyarakat tidak hanya


Laporan Utama

COLIN ANDERSON

menjadi objek tapi menjadi subjek dalam pelaksanaan keterbukaan informasi,� tuturnya, seperti dilansir kominfo.go.id. Tiap 30 April, Hari Keterbukaan Informasi Nasional diperingati. Itu ditetapkan pemerintah semenjak 2015. Bagi pemerintah, khususnya di bawah Niken, hari monumental itu dijadikan momen reflektif. Evaluasi program dilakukan supaya terjadi perbaikan signifikan. Niken memandang komitmen, tekad, dan kerja sama mesti dilakukan semua pihak. Tak sekadar pemerintah, tapi juga segenap elemen bangsa. Dengan begitu, KIP termanifestasikan secara total. “Kontribusi adalah kuncinya,� tegas Niken. Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme bisa diberantas lewat internalisasi KIP. Menurut Niken, kuncinya dua: transparansi, dan akuntabilitas

penyelenggaraan badan publik. Keduanya, seperti ucapan Niken di depan puluhan wartawan, adalah kerja bersama. Tanpa ikatan erat yang harmonis, ia sebatas anganangan semata. Menengok Tetangga Dunia terlipat rapat dalam segi panjang layar telepon pintar. Internet serupa jendela baru yang siap membawa siapa pun berselancar ke penjuru negeri. Hanya berbekal sentuhan layar, masuk mesin

Komitmen, tekad, dan kerja sama mesti dilakukan semua pihak. Dengan begitu, KIP termanifestasikan secara total.

pencarian, ketik kata kunci tujuan, tabir informasi di semua negara terbuka menganga. Tren digitalisasi dan otomasi hasil dari peradaban Revolusi Industri 4.0 membuka sekat-sekat teritorial antarnegara. Negara kini bisa dimunculkan dalam tampilan layar. Keadaan ini membawa konsekuensi logis bagi habituasi penduduk dunia. Semakin terbuka informasi, semakin kuat antusias warga internet (warganet). Kecenderungan demikian ternyata membawa kesadaran masing-masing untuk saling berbagi pengetahuan. Mereka saling memberi dan menerima informasi. Jumlah informasi tak hingga. Tapi dapat tercatat sebagai jejak digital. Dorongan besar mencari informasi meninggalkan kesepakatan internasional. Tujuh bulan lalu, pada 28 September, warga dunia P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 11


Laporan Utama

TENNESSEAN.COM

memperingati The International Right to Know Day (Hari Hak untuk Tahu Sedunia). Disingkat HHTS. Peringatan ini telah digagas sejak tahun 2002. Titik tolak momen HHTS senapas dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Ia juga lahir atas semangat kebebasan untuk mengakses informasi umum. Indonesia melalui Kominfo ikut ambil bagian. Ini karena sejalan dengan orientasi reformasi dalam demokratisasi pengetahuan. Tahun lalu, Kominfo memutuskan tema ciamik dalam menyambutnya: Keterbukaan Informasi Publik Menjamin Kualitas Hidup yang Lebih Baik. KIP dan HHTS saling berpaut. Keduanya sama-sama berangkat dari hak untuk merayakan informasi. Sejalan dengan tema tahun lalu, keterbukaan informasi berdampak jelas bagi kualitas hidup manusia. Hal ini jelas sesuai prinsip kontemporer dalam disiplin ilmu komunikasi, yakni barangsiapa menguasai bejibun informasi maka ia akan menguasai dunia. “Memperoleh informasi dijamin oleh 12 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

konstitusi, sesuai dengan Pasal 28F dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur hak setiap orang untuk memperoleh dan menyampaikan informasi,” tulis Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo, seperti diakses dari kominfo.go.id. Mengantongi informasi adalah jalan pembuka bagi hak asasi lain. Kominfo menjelaskan lebih detail, yaitu hak atas hidup sejahtera, pendidikan, hidup aman, dan hak warga negara lain. Tanpa keempat hak tersebut khalayak terjebak pada kegelapan pengetahuan. Santiaji Nawacita Di bawah pemerintah Jokowi-

KIP dan HHTS (Hari Hak untuk Tahu Sedunia) saling berpaut. Sama-sama berangkat dari hak untuk merayakan informasi. Mengantongi informasi adalah jalan pembuka bagi hak asasi lain.

Kalla, KIP termaktub eksplisit dalam nawacita. Pernyataan tegas Jokowi, seperti dilaporkan Kominfo, menjelaskan soal komitmen pemerintah dalam pembangunan tata kelola. Mencapai tujuan pembangunan ini, menurut orang nomor satu itu, “dibangun dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.” Posisi KIP jelas strategis. Tanpa tata kelola yang transparan dan terbuka, pembangunan yang dimotori JokowiKalla bisa terhambat. Alasannya sederhana. Rakyat akan angkat topi kepada pemerintah bila keterbukaan informasi dalam pembangunan itu dibuka lebar. Jika demikian, tak ada dusta bagi pemerintah dan warga negara. “Hanya dengan pemerintahan yang terbuka maka akan terbangun legitimasi dan kepercayaan publik.” Delapan tahun lalu, tatkala diselenggarakan pertemuan antara presiden dan Bakohumas, lahir kesepakatan dinamakan Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2015. Isinya mengenai sinergi Kemkominfo dan masyarakat seputar intensitas komunikasi dan


Laporan Utama

P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2KALAM 0 1 8/ PEWARA 13


Laporan Utama

penyebaran informasi. Tak pelak Kominfo berperan penting dalam ejawantah KIP.

diumumkan meraih peringkat delapan dengan skor keterbukaan informasi sebesar 60,5.

mata nasional sekaligus melebarkan jalan bagi transparansi publik yang lebih baik.

Secara jelas, terdapat dua kesepakatan sesuai laporan Kominfo. Pertama, menguatkan pemahaman pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID) sesuai Permenkominfo No. 14 Tahun 2015. Kedua, memaksimalkan portal PPID sebagai pintu mayor informasi yang dikelola pelbagai instansi pemerintah.

Di bawah UNY diraih Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menempati posisi sembilan dengan nilai 56,94. Sedangkan di atas UNY, rangking tujuh, Universitas Lambung Mangkurat menyabet skor 62,4. Angin segar ini mengukuhkan posisi Kampus Karangmalang di

Tepat ketika diputuskan para pemenang, pelbagai perwakilan kemudian diundang ke Jakarta. Tanggal 21 Desember 2017, tiap representasi—sebanyak 64 badan publik—menerima penghargaan di Istana Negara. Jusuf Kalla, Wakil Presiden, menyerahkan hadiah secara langsung kepada tiga besar. Sepuluh besar diserahkan khusus oleh Tulus Subardjono, Ketua Komisi Informasi.

Kontribusi UNY Gayung bersambut datang dari kampus kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di bawah payung negara, dengan menggenggam status negeri, UNY sudah barang tentu menyambut baik KIP. Pada penghujung 2017, warta baik datang dari Komisi Informasi (KI) Republik Indonesia. UNY 14 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Pada penghujung 2017, warta baik datang dari Komisi Informasi (KI) Republik Indonesia. UNY diumumkan meraih peringkat delapan dengan skor keterbukaan informasi sebesar 60,5.

“Untuk menjamin adanya standar layanan informasi demi terlaksananya keterbukaan informasi publik di badan publik di indonesia, maka Komisi Informasi, baik di pusat maupun provinsi setiap tahunnya melakukan monitoring dan evaluasi (monev) atas pelaksanaan Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2010,” tutur


Laporan Utama

LEOWOLFERT

Tulus, sebagaimana dilansir komisiinformasi.go.id. Proses seleksi, menurut Tulus, ditetapkan Komisi Informasi sesuai Standar Teknis Layanan Informasi Publik. Hal ini diharapkannya supaya warga negara mendapatkan hak asasinya untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi dalam koridor pengembangan pribadi dan lingkungan institusinya. Memberi apresiasi kepada badan publik telah dilakukan sejak 2011. Selama tujuh tahun, penyelenggaraan tersebut mendapat atensi positif. Tujuan primernya tiada lain agar tercipta kualitas layanan yang mumpuni. Institusi terkait, menurut Tulus, harus berbenah lebih baik. Metodologi penilaian yang digunakan Komisi Informasi didasarkan atas Self-Assessment Questioner (SAQ ). Ia melakukan

penjurian pada pertengahan tahun. Namun, menurut data Komisi Informasi, nilai tahun 2017 mengalami penurunan ketimbang tahun sebelumnya. Dari 397 badan publik, sebanyak 156 responden yang mengembalikan SAQ. Artinya hanya sebesar 39,29% dari jumlah total. Walau secara kuantitatif anjlok, secara kualitatif dikatakan mengalami kenaikan signifikan. Seluruh kategori dinilai naik sebesar

Sutrisna mengharapkan agar keterbukaan informasi UNY bisa diakses masyarakat secara bebas dan bertanggung jawab. Informasi ini meliputi soal biaya, program studi, dan progres universitas.

12% daripada tahun 2016. Rerata angka yang dipaparkan Komisi Informasi itu dapat dijadikan parameter. Menyikapi perolehan nilai gemilang, Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, merespons bangga tapi tetap waspada agar terus berbenah. Menurutnya, nilai yang diperoleh itu menjadi bukti otentik betapa UNY mengikuti perkembangan zaman. “Keseriusan UNY membuahkan hasil. Tidak ada informasi yang ditutup-tutupi. Jadi, hal itu sepenuhnya untuk masyarakat,” ungkapnya, pada pekan kedua April. Sutrisna mengharapkan agar keterbukaan informasi UNY bisa diakses masyarakat secara bebas dan bertanggung jawab. Informasi ini, menurut orang nomor wahid di UNY itu, meliputi informasi soal biaya, program studi, progres universitas, dan lain sebagainya. “Semua tinggal klik. Semuanya beres,” tandasnya. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 15


Laporan Utama

Pelayanan Digital Tetap Sepenuh Hati UNY mendeklarasikan dirinya untuk menjunjung tinggi Keterbukaan Informasi Publik. Di jagat maya ia membuka pelayanan 24 jam. Semua berhak mengakses informasi secara bebas dan bertanggung jawab. Oleh RONY K. PRATAMA Editor BUDI MULYONO

P

asutri itu kini tinggal di Palembang. Keduanya ditugaskan pemerintah setempat untuk mengabdi di LPPMP dan salah satu sekolah favorit negeri di Palembang. Terbentang jarak ribuan kilometer dari Yogyakarta bukan berarti absen komunikasi dengan mantan kampusnya. Mereka samasama alumni Kampus Ungu, UNY. Yang satu jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, sedangkan satunya Pendidikan Seni Rupa. Syahdan, keduanya butuh legalisir ijazah. Instansi tempat kerja mereka mendesak minta kopian resmi tanda sarjana. Mustahil bila harus kembali ke Jawa segera. Selain menghabiskan banyak biaya, waktu mereka sudah habis di kantor. Belum lagi dikejar tenggat untuk menyelesaikan bejibun laporan dinas setempat. Ketika mendapat instruksi dari atasan itu, mereka langsung mengontak Indun Probo Utami, Kepala Bagian (Kabbag) Akademik pusat. Mereka mengenal Bu Indun, panggilan akrabnya, sejak masih berstatus mahasiswa FBS. Bu Indun langsung memberi solusi untuk mengajukan proses legalisir ijazah secara daring. Kebetulan pasutri itu alumni pertama yang mencoba sistem pelayanan baru berbasis internet itu. “Ya sudah, Mbak, sekarang dicoba saja. Berhasil atau tidak nanti setelah mengikuti prosedurnya,� kata Indun, 27 April di kantornya. Pasutri itu lekas mengakses laman Simfoni (Sistem Alumni UNY). Mengikuti langkah-langkah sampai tuntas, permohonan legalisir itu langsung tercatat secara digital di server admin. Tahap terakhir hanya membayar ongkos legalisir 16 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

POND5.COM

dan pengiriman via pos. Selebihnya menunggu sampai pengelola Simfoni memproses dan mengirimkannya ke alamat pemohon. Pelayanan akademik lewat daring menjadi kebijakan baru UNY dalam rangka Keterbukaan Informasi

Bila setengah dasawarsa sebelumnya segala hal harus manual, kini semua berbenah melalui pelayanan digital. Tak terkecuali UNY.

Publik (KIP). Selain simpel, pelayanan jarak jauh melalui jagat maya itu menghemat fulus. Bila setengah dasawarsa sebelumnya segala hal harus manual, kini semua berbenah melalui pelayanan digital. Tak terkecuali instansi pendidikan, termasuk kampus kependidikan yang berpusat di Karangmalang itu. Menurut Indun, selama ini telah melegalisir kurang dari seratus ijazah lewat daring. “Yang kemarin ada juga yang ke sini dari Ciamis. Tapi tak lewat online. Soalnya mau main ke Yogya,� tuturnya. Indun mengharapkan sistem berbasis daring ini bisa dimaksimalkan secara total. Walau pemohon berdomisili di sekitar kota pendidikan, ia akan menggenjot pengelolaan lewat satu pintu digital.


Laporan Utama

TEERAWUT MASAWAT

Banyak keuntungan, terutama di bidang akademik, bila pelayanan berbasis internet. Pasalnya, rekap keuangan langsung tercatat. Apalagi Bank Mandiri menjadi mitra pembayaran legalisir elektronik. Indun menuturkan kalau mekanisme demikian sangat menguntungkan pihak administrasi keuangan. Semua tercatat. Tak perlu ketar-ketir menghitung besaran biaya keluar dan masuk secara manual. Tak Hanya Struktural, Tapi Kultural Subbag Akdemik di bawah Indun menerapkan nilai tak sekadar struktural, tapi juga kultural. Ini senada dengan jargon Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, yaitu Smart and Smile. Melayani sepenuh hati menjadi kunci utama agar tercipta rasa hangat antara birokrasi dan

mahasiswa. Hal ini dimaksudkan juga untuk senantiasa menjaga tali silaturahmi. Pernah suatu ketika Indun menerima keluh-kesah seorang mahasiswa diploma Jurusan Ekonomi. Pada hari yudisium ia tak berangkat. Konsekuensinya, Surat Keputusan

Jargon Smart and Smile berarti melayani sepenuh hati menjadi kunci utama agar tercipta rasa hangat antara birokrasi dan mahasiswa.

(SK) harus dicabut. Namun, mahasiswa yang tak bersedia disebutkan namanya itu harus segera mendaftar program sarjana. Sedangkan SK wajib menjadi prasyarat pendaftaran. Ibunya langsung menghubungi Subbag Akademik. Ia memohon agar diberi kebijakan khusus karena mendesaknya waktu pendaftaran program lanjut. Indun lekas mengonfirmasikan problema itu ke atasan. Pihak pimpinan menyetujui. SK diberikan pada hari itu juga dengan catatan pemohon tetap mengikuti yudisium periode setelahnya. “Banyak contoh lain serupa anak FE tadi. Mau tidak mau kami harus menangani secara cepat. Kan ini P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 17


Laporan Utama

FRANZISKA WERNER

bukti keterbukaan informasi juga,” ujar Indun. Subbag tempat Indun mengabdi hanya salah satu dari sekian pelayanan di UNY yang semakin responsif. Pelayanan birokrasi yang tanggap cepat menjadi wujud nyata KIP di era Revolusi Industri 4.0. Satu Pintu Anggapan rumitnya mengurus permohonan di birokrasi tak lagi relevan di tahun 2018. Segenap narasi KIP yang disahkan konstitusi membawa angin baru bagi prosedur pelayanan. Maryanto, Kabbag Informasi, mengatakan kalau segala permohonan informasi sekarang dilayani lewat satu pintu. “Tinggal isi formulir permohonan. Lalu kami pertimbangkan,” ucapnya. Unit Layanan Terpadu (ULT) adalah pintu pelayanan itu. Pemohon, baik mahasiswa maupun dosen, sekadar mengikuti prosedur yang telah disediakan di laman ULT. Semua juga lewat internet. Tak sampai sepuluh menit permohonan itu 18 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

bisa dituntaskan. Sama seperti unit birokrasi lain, prosedur terakhir ialah menanti balasan apakah disetujui atau tidak.

mendapatkan data untuk riset, pihak informasi bisa menyediakan. “Tentu data itu harus digunakan secara baik dan bertanggung jawab.”

“Nanti kalau informasi sudah diajukan, kami (pihak informasi) akan menyiapkan data. Tentu semua itu berasaskan data mana yang boleh diakses atau tidak,” ujarnya. Maryanto mengilustrasikan betapa mudahnya mengurus informasi bagi mahasiswa yang hendak penelitian. Menurutnya, kalau mahasiswa ingin

Fungsi kehumasan berperan penting untuk menyediakan informasi dan menyinergikan relasi. “Humas menjadi salah satu elemen untuk mengenal ULT dan KIP kepada masyarakat umum. Pada prinsipnya, fungsi kehumasan menjadi bagian dari tugas seluruh sivitas akademika UNY,” menurut Anwar Efendi, Kepala Humas dan Protokoler UNY.

Unit Layanan Terpadu (ULT) adalah pintu pelayanan itu. Pemohon, baik mahasiswa maupun dosen, sekadar mengikuti prosedur yang telah disediakan di laman ULT.

Anwar menjelaskan koordinasi ULT dan Humas. “Secara ideal layanan ULT nantinya mencakup keseluruhan layanan publik di UNY. Merujuk hal itu, maka ULT mencakup seluruh layanan publik yang ada di UNY dan melibatkan tenaga di semua unit kerja,” ungkapnya. Lebih lanjut dikatakan kalau fungsi ULT cenderung seputar aspek informasi, sedangkan Humas menjadi koordinator pelayanan sekaligus garda depan KIP. 


Laporan Utama

Melayani Satu Pintu, Melayani Sepenuh Hati Pembentukan Unit Layanan Terpadu (ULT), bagi Universitas Negeri Yogyakarta tak sekadar menyatakan kesanggupan dalam penyelenggaraan reformasi birokrasi dan layanan informasi publik sesuai asas keterbukaan dalam undang-undang. Ia juga bukti kesungguhan untuk melayani lewat satu pintu, dengan sepenuh hati di tengah era kemajuan teknologi.

Sinergi ditengah Keberagaman Berangkat dari usaha guna menjawab kebutuhan masyarakat pengguna informasi dan layanan yang berkenaan dengan eksistensi Universitas Negeri Yogyakarta, Anwar mengungapkan bahwa ULT terlahir sejalan dengan Grand Design Reformasi Birokrasi Indonesia 20102025 dalam Peraturan Pemerintah No 81 Tahun 2010, yang diturunkan dari Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Terpadu. Nomenklatur dari badan koordinasi tersebut berbeda-beda, sejalan dengan tugas pokok fungsi yang dimiliki instansi tersebut sebagai unit satuan kerja dalam kesatuan pemerintahan.

Oleh ILHAM DARY ATHALLAH Editor BUDI MULYONO

G

ood governance boleh jadi telah lama didengungkan. Begitu pula reformasi birokrasi, dengan terminologi reformasi sendiri yang menekankan perubahan secara bertahap dan berkelanjutan guna mengubah yang sudah ada menjadi lebih baik. Namun, menurut Suharnanik Listiana, Komisioner Bidang Advokasi, Sosialisasi, dan Edukasi Komisi Informasi Pusat (KIP) DIY, ia kerap menjelma sebagai pungguk yang merindukan bulan. Alasannya, karena segala perubahan tersebut akan memiliki daya dampak minimal jika tak diketahui maupun tersaji dengan mudah oleh masyarakat. Tak terkecuali mahasiswa yang dalam melakukan demonstrasi maupun mengajukan satu dua tuntutan, karena merasa belum menerima pelayanan yang baik. Oleh karena itu, Unit Layanan Terpadu (ULT) yang disebut Anwar Effendi, Kepala Kantor Humas Promosi dan Protokol (KHPP) UNY sebagai anak kandung dari reformasi birokrasi dan upaya segenap aparatur sipil negara untuk menghadirkan pelayanan yang lebih mudah dan tersentral kepada masyarakat, sudah selayaknya berduet dengan keterbukaan informasi publik. Terlebih lagi, salah satu aspek dari delapan area perubahan reformasi birokrasi ialah peningkatan pelayanan publik. Sinergi dalam peningkatan keterbukaan informasi publik dengan ULT adalah dua mata koin yang memiliki selayang pandang tak hanya untuk melayani masyarakat lewat satu pintu dan lebih mudah.

REALCLEARLIFE.COM

Tapi juga dengan sepenuh hati, sebagai bagian atas amanah masyarakat dan negara kepada Universitas Negeri Yogyakarta untuk menggelar pendidikan tinggi keguruan yang berkualitas dan dapat diandalkan. “Kuncinya adalah, pelayanan itu tersedia. Tapi belum diketahui dengan betul dan penyajian kita utamanya dalam menyajikan informasi publik, kerap belum baik. Kalau sinergi dan informasi tersedia, harapan kami tentu lebih baik sehingga bisa menjadi ikon reformasi,� ungkap Suharnanik.

Bagi Pemerintah Daerah, pusat pelayanan serupa biasa diberi nama Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Pada umumnya, ia berfokus pada sistem penyederhanaan pembuatan dokumen legal, pembayaran pendapatan negara baik pajak maupun bukan pajak (PNBP), dan penyederhanaan izin. Pemroresan investasi dan pengurusan lembaga bisnis juga mampu dilakukan oleh badan ini sehingga selain dapat memperoleh informasi mengenai prosedur, waktu, dan biaya para investor juga dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh perizinan dan non perizinan hanya dalam satu pintu. Langkah tersebut merupakan pelayanan yang efisien khususnya terhadap pelayanan perizinan, yang selama ini diakui sebagai proses yang berbelit dan panjang. Walaupun berbeda secara substansi, prosedur tersebut dihadirkan dengan tujuan yang sama dengan P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 19


Laporan Utama

Unit Layanan Terpadu UNY, maupun badan-badan lain dengan nomenklatur yang berbeda: Menjadi solusi prima bagi masyarakat dan pemegang keputusan lainnya. Serta diharapkan memiliki keunggulan berupa cepat, mudah, transparan, bebas dari biaya tidak resmi, memiliki kepastian hukum, serta pelayanan yang profesional karena sumber daya manusia yang ditempatkan di situ memang didedikasikan sebagai garis depan pelayanan (street level bureaucracy). “Jadi nomenklatur membuat namanya beragam. Di Kemristekdikti, namanya adalah Pusat Informasi Terpadu. Disingkat PINTU. Tapi, semuanya punya niat sama. Agar orang datang, dan segala urusan selesai di situ,� ungkap Anwar. Guna mewujudkan tuntasnya segala kebutuhan masyarakat, ULT memiliki lima tugas fungsi utama terkait dengan informasi publik di lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta. Yang pertama, ialah mengkoordinasikan pengelolaan 20 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

informasi tersebut di dalam seluruh lingkungan dan unit kerja. Untuk melakukan hal tersebut, sistem informasi berbasis daring kemudian dikembangkan agar disposisi maupun direktori informasi dapat diakses secara real time. Data mahasiswa misalnya, sebagai informasi publik yang paling banyak diminta sejak tahun 2016. Ketika perorangan maupun lembaga datang ke ULT untuk memohon informasi tersebut, maka data yang sebenarnya menjadi domain Biro Informasi dapat langsung disajikan kepada sang pemohon informasi di ULT. Jikapun data tersebut tidak tersedia secara real time, maka ULT berkewajiban untuk mencarikan data tersebut untuk disajikan kepada pemohon. Atau, mengarahkan pemohon informasi kepada unit kerja terkait yang sudah dipastikan oleh ULT memiliki informasi yang sedang dicarinya. Tujuannya, agar pemohon informasi tidak terkesan dilemparlempar atau malah diperumit, juga untuk memperoleh kepastian yang selama ini menjadi momok pelayanan birokrasi Indonesia.

“Idealnya memang ULT yang mengkoordinir dan menyajikan semuanya. Kami di Biro Akademik hanya mengirimkan data ke ULT, nanti dia yang berhadapan dengan pemohon. Idealnya demikian, namun kita masih menuju kesana,� ungkap Maryanto, Kepala Bagian Informasi UNY. Klasifikasi dan Menguji Informasi Tugas kedua yang diemban ULT ialah penyusunan dan klasifikasi atas informasi apa saja yang boleh disajikan bagi publik dan yang tidak. Untuk melakukan hal tersebut, ULT kemudian berkoordinasi dengan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di masing-masing institusi, serta personalia berbasis bidang-bidang yang ada di bawahnya sesuai dengan ketetapan rektor. Baik itu Bidang Pelayanan Informasi, Bidang Pengelolaann Informasi, Bidang Dokumentasi dan Arsip, serta Bidang Pengelolaan Website dan Bidang Pelayanan Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa. Di samping itu, tetap berkoordinasi dengan arahan Tim Pertimbangan


Laporan Utama

PELAYANAN ULT YANG MENGEDEPANKAN SMART AND SMILE.

yang lebih baik. Walaupun, rapat pimpinan tersebut tetap didampingi oleh rapat di masing-masing fakultas, maupun rapat koordinasi antara humas seluruh fakultas dengan humas rektorat. “Ini juga keniscayaan karena kami UPT Puskom tentu tidak memiliki hak mengatur unit kerja lainnya. Persuasif dan menghadirkan fasilitas memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah gerakan pimpinan. Alhamdulillah para pimpinan sangat concern untuk itu (menggerakkan keterbukaan informasi),” ujar Priyanto. Selain komunikasi, keharusan klasifikasi informasi yang berlangsung dalam rapat-rapat tersebut juga diungkapkan Anwar, terkait dengan tugas ketiga ULT yaitu melakukan uji konsekuensi terhadap informasi yang akan dikecualikan. Sejalan dengan amanat undang-undang, universitas berhak menolak penyediaan informasi dengan alasan-alasan tertentu. Misalnya, dalam Pasal 6 UU KIP yang menekankan bahwa badan publik tidak hanya berhak menolak informasi yang dikecualikan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tapi juga berhak menolak memberikan informasi publik apabila tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, maupun menolak informasi publik yang dapat membahayakan negara ataupun hakhak pribadi.

ARIF / HUMAS

Pelayanan Informasi yang terdiri atas para Dekan dan Wakil Rektor, Penanggungjawab yang terdiri atas Kepala Biro Akademik, Kepala KUIK, dan Wakil Rektor IV, serta Rektor sendiri sebagai Pengarah. Koordinasi tersebut kemudian berlangsung secara multilevel dan simultan. Di tingkat pengarah maupun tim pertimbangan pelayanan informasi, rapat pimpinan menjadi sarana untuk melakukan sinergi. Dari hasil rapat tersebut, para pimpinan dapat mengkomunikasikan dan mengkoordinir seluruh anak buahnya lebih lanjut agar bersinergi dengan sistem informasi yang hendak dihadirkan UNY.

Dari situlah, masing-masing data maupun informasi, dibuatkan daftar dalam SK Rektor termasuk data mana saja yang perlu dikecualikan. Masing-masing pengecualian harus dicantumkan alasannya dalam SK Rektor, serta berdasarkan pertimbangan yang matang melalui rapat koordinasi PPID. Dengan demikian, UNY sebagai institusi layanan publik tidak hanya mampu melakukan uji konsekuensi, tapi juga memenuhi tugas keempat yaitu menyediakan, mengumumkan, dan memberikan layanan informasi terbuka. Dengan keterbukaan informasi dan upaya pelayanan publik yang sinergis, ULT dengan koordinasi dengan PPID diharapkan dapat menyelesaikan sengketa informasi publik secara komprehensif. Karena dalam setiap pengambilan keputusan terkait dengan pelayanan dan penyediaan informasi, didasari atas pertimbangan legal yang baik serta sejalan dengan asas pelayanan Smart and Smile yang sedang digadanggadang oleh universitas. Termasuk, ungkap Suharnanik, mampu menyeimbangkan proses pelayanan secara optimal baik melalui platform daring maupun tatap muka luring. “Harapannya bahwa apapun platform yang digunakan masyarakat, baik daring maupun luring, bisa berimbang semua dan mampu menghadirkan komunikasi dua arah,” pungkas Suharnanik.

INFOGRAFIS SEPUTAR ULT UNY

Priyanto, Kepala UPT Puskom mengungkapkan keniscayaan terkait hal tersebut karena aparatur senantiasa mengikuti arahan maupun petunjuk dari masingmasing atasannya. Sehingga kemauan politik (political will) para atasan, dapat menjadi tauladan bagi institusi yang dipimpinnya untuk menerapkan keterbukaan informasi P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 21


Laporan Utama

Momentum Aspirasi Sivitas dan Khalayak Oleh ILHAM DARY ATHALLAH Editor BUDI MULYONO

L

ulut Wahyudi, builder motor yang cukup terkenal di Yogyakarta, Oktober lalu sempat berkeluh kesah di media sosial. Ia mengisahkan bagaimana bis rutin UNY jurusan Karangmalang-Wates, membuat persimpangan Ngabean yang kala itu cukup padat menjadi macet. Alasannya, karena bis tersebut tidak mengikuti marka batas jalan sehingga memakan jalur kendaraan yang lain. Bagi Lulut, hal tersebut cukup mengesalkan karena bis milik UNY, yang secara reputasi cukup termasyhur maupun terasosiasi dengan statusnya sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK), justru berbahaya dan mirip layaknya angkutan tidak resmi. “Kelakuannya kayak angkot omprengan,” ungkap Lulut dalam post media sosial yang kemudian menjadi viral, karena juga dibagikan netizen ke grup Facebook Info Cegatan Jogja. Hingga tulisan ini diturunkan, Lulut belum menanggapi permintaan wawancara dari Pewara Dinamika. Beberapa hujatan yang menyertai aduan Lulut di kolom komentar, tanpa disangka memperoleh tanggapan langsung dari UNY. Tak terkecuali dari Prof. Sutrisna Wibawa, Rektor UNY, yang langsung menindaklanjuti dengan pemberian pembinaan kepada sopir tersebut bersama dengan seluruh sopir bis UNY agar lebih tertib kedepannya. Lebih jauh lagi, lewat unggahan media sosial pribadi milik Sang Rektor maupun media sosial universitas, juga menghaturkan terima kasih atas laporan dan masukan dari Lulut, sekaligus permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini. Karena bagi Sang Rektor, masukan tersebut sangat berarti agar UNY bisa makin berkembang lebih baik kedepannya. “Saya berterimakasih atas laporan tersebut, dan itu memang tujuan kami semua termasuk saya untuk 22 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

CASAGRANDEAZ.GOV

aktif di media sosial. Mendekatkan diri kepada masyarakat dan mendengarkan langsung lewat alat zaman now ini. Mari beraspirasi,” ungkap Sutrisna. Sembari menyatakan senantiasa siap untuk menyerap dan mendengarkan aspirasi dari semua pihak, di tengah momentum keterbukaan informasi yang kini hadir di UNY sebagai salah satu badan publik. Tersedianya Beragam Medium Bagi sang rektor, anugerah peringkat kedelapan atas keterbukaan publik untuk kategori universitas yang berhasil disabet UNY pada tahun 2017 tersebut tidak hanya mendatangkan rasa syukur maupun kebanggaan bagi institusi yang dipimpinnya. Keseriusan atas keras UNY dalam menyerap aspirasi memang patut disyukuri. Tapi lebih dari itu, penghargaan yang diberikan secara langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana, juga diungkapkannya menjadi cambuk bagi UNY untuk menghadirkan keterbukaan publik yang lebih luas lagi.

Secara fundamental UNY dimiliki oleh masyarakat luas dan selayaknya diketahui maupun dimiliki dengan sepenuh hati oleh masyarakat.

Keluasan dalam keterbukaan informasi tersebut, terletak pada dua aspek. Yang pertama, aspek keterbukaan secara substantif sehingga seluruh sivitas dan masyarakat bisa mengetahui informasi yang dibutuhkan seputar UNY. Informasi tersebut bisa jadi tentang biaya kuliah maupun transparansi anggaran, program studi maupun akreditasi yang telah diperoleh oleh UNY, hingga pembiayaan lainnya maupun penyediaan fasilitas dan banyak lainnya. Seluruh hal tersebut, hendak disediakan UNY bukan hanya untuk memenuhi undangundang, tetapi sebagai perguruan tinggi yang didanai oleh uang pajak masyarakat. Karenanya, secara fundamental UNY dimiliki oleh masyarakat luas dan selayaknya diketahui maupun dimiliki dengan sepenuh hati oleh masyarakat. “Kita ini perguruan tinggi negeri, jadi (UNY) milik segenap bangsa, membangun rasa memiliki dengan keterbukaan publik, kemudian menjadi vital dan sentral dalam niatan kami. Sehingga apapun yang ada di universitas ini, dan masyarakat membutuhkan itu, bisa diakses oleh masyarakat,” ungkap Sutrisna. Aspek substansi tersebut kemudian dikehendaki oleh Sutrisna untuk dilengkapi dengan aspek keberagaman medium dalam menyampaikan aspirasi. Media sosial menjadi salah satu hal untuk itu. Secara personal, Sutrisna menyebutkan bahwa ia kerap mengunggah status maupun gambar ke media sosial pribadi yang dimilikinya. Juga gambar maupun video dengan caption yang tak disangka mengundang gelak tawa, maupun prestasi dan kegiatan inspiratif beberapa sivitas UNY agar bisa menjadi teladan bagi warganet. Sedangkan dalam beberapa kesempatan lainnya, Sutrisna juga membalas komentar maupun kiriman pesan dari pihakpihak yang melakukan kontak (engagement) kepadanya. Tak selalu untuk menjawab pertanyaan, tapi


Laporan Utama

FREEPIK.COM

juga menghaturkan terima kasih maupun sesekali bersenda gurau. Utilisasi media sosial juga dilakukan UNY secara institusi di bawah koordinasi Kantor Humas Promosi dan Protokol (KHPP). Atas koordinasi dan arahan Sutrisna, media sosial UNY mulai diintensifkan sejak Sang Rektor menjabat pada April 2018. UNY juga kini memiliki akun Instagram yang dioperasikan oleh institusi pada alamat @unyofficial, dan secara rutin mengunggah dan mempublikasikan kegiatan yang ada maupun terkait dengan universitas. Alasannya, sejalan dengan keaktifan Sutrisna di media sosial Instagram, guna membangun rasa memiliki dengan keterbukaan publik dan mewujudkan universitas yang dekat dan bisa diketahui seluruhnya oleh masyarakat. Anwar Effendi, Kepala KHPP UNY, mengungkapkan bahwa hal tersebut sejalan dengan tugas humas

sebagai salah satu elemen untuk mengenalkan maupun mengawal berjalannya Unit Layanan Terpadu dan Keterbukaan Informasi Publik. Walaupun pada prinsipnya, fungsi kehumasan menjadi bagian dari tugas seluruh sivitas akademika UNY dan sebagai institusi publik harus senantiasa melaksanakan layanan informasi publik sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. “Humas menjadi bagian terdepan dalam pengelolaan dan penyampaian

Utilisasi media sosial juga dilakukan UNY secara institusi di bawah koordinasi Kantor Humas Promosi dan Protokol (KHPP).

informasi publik tentang UNY. Walau pada prinsipnya, ini tugas seluruh sivitas,� ungkap Anwar. Lapor.go.id (LAPOR!), kanal website aspirasi dan pengaduan online yang diciptakan oleh pemerintah, juga bisa menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan aspirasi kepada UNY secara lebih terstruktur. Dibentuk secara terpusat sebagai perwujudan e-government dan secara institusi berada di bawah kewenangan Kantor Staf Presiden, Budhi Bestari, Kepala Perwakilan Ombudsman RI DIY, mengungkapkan bahwa masyarakat dapat mengakses LAPOR! melalui situs, SMS, media sosial, maupun aplikasi pada perangkat seluler. Setiap laporan yang diterima akan diverifikasi oleh administrator LAPOR! untuk diteruskan kepada instansi yang bersangkutan. Setiap laporan yang diterima akan diproses menjadi tiga jenis perlakuan, yaitu disetujui, ditunda, atau diarsipkan. Laporan yang disetujui merupakan P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 23


Laporan Utama

laporan yang sudah jelas atau merupakan aspirasi yang bagus, sehingga akan langsung diproses dan diteruskan lewat disposisi kepada institusi terkait untuk ditindaklanjuti. Sedangkan laporan yang ditunda keberlanjutan maupun disposisinya, merupakan laporan yang dirasa bagus tetapi belum jelas, sehingga perlu dilakukan konfirmasi kembali kepada pelapor. Selain itu, laporan yang diarsipkan merupakan laporan yang dirasa tidak jelas, laporan yang berulang atau sudah pernah dilaporkan sebelumnya, atau merupakan saran yang bersifat sangat umum sehingga tidak diproses lebih lanjut. Semua laporan yang masuk, juga dijadikan alat atau sarana untuk mengelola data aspirasi dari 24 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

masyarakat, dan memberikan masukan kepada presiden mengenai prioritas nasional saat ini. Hal tersebut dilakukan sejalan dengan Peraturan Presiden Indonesia Nomor 26 Tahun 2015 mengenai dasar hukum pembentukan kantor staf presiden yang menekankan pengelolaan isu-isu strategis,

UNY, melalui koordinasi humas sebagai bagian terdepan dalam pengelolaan dan penyampaian informasi publik, telah menerima dan menanggapi aspirasi yang disalurkan lewat portal LAPOR!

penyampaian analisis data, maupun penyediaan informasi strategis dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan. “Sehingga kalau laporannya untuk UNY, maka disposisi dilakukan admin LAPOR! ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), lalu ke UNY,� ungkap Budhi. Sejauh ini, Anwar mengungapkan bahwa UNY belum menerima cukup banyak aspirasi yang disalurkan melalui portal LAPOR!. Akan tetapi, UNY melalui koordinasi humas sebagai bagian terdepan dalam pengelolaan dan penyampaian informasi publik, diungkapkan oleh Anwar telah menerima dan menanggapi beberapa aspirasi yang telah disalurkan lewat portal tersebut. Salah satunya adalah


Laporan Utama

@CREATIVEART

pertanyaan seputar jadwal bis UNY maupun aspirasi terkait bis UNY yang sempat menjadi bahan pembicaraan masyarakat Yogya. “Semua kanal aspirasi tetap berjalan dalam kerangka fungsi kehumasan. Termasuk, kotak aspirasi maupun komunikasi dan pengaduan tatap muka secara langsung,” ungkap Anwar. Mimbar Akademik dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab Selain penyampaian aspirasi melalui ragam medium yang telah tersedia, komitmen universitas untuk memberikan dan menjaga kebebasan mimbar akademik di dalam kampus juga menjadi alternatif. Dialog tentang berbagai isu strategis yang bisa bermanfaat bagi kemajuan bangsa, berbagi pengetahuan, perspektif hingga

usulan, diungkapkan oleh Menteri Sekertaris Negara, Prof. Praktikno, penting untuk mewujudkan pengembangan ilmu pengetahuan di tengah posisi kampus sebagai zona netral akademik.

dialog isu-isu strategis, sampai curahan aspirasi di semua lini,” ungkap Pratikno di sela-sela Seminar Menuju Kesejahteraan dan Keadilan Papua Setelah 43 Tahun Pepera 1969 di UC UGM, Senin (09/04/2012).

“Universitas harus selalu siap menjadi panggung. Mulai dari

Pratikno menambahkan sebuah kebebasan akademik membutuhkan kedewasaan dari semua pihak. Bukan hanya dari institusi negara maupun masyarakat tetapi juga warga kampus. Kebebasan mimbar akademik tersebut kemudian dapat dituangkan dalam gagasan penelitian maupun opini secara publik di media massa, maupun dalam diskusi ilmiah dan tukar gagasan terkait dengan posisinya sebagai sivitas akademika. Untuk itulah, Anwar mengungapkan bahwa UNY menyediakan insentif bagi dosen, tenaga akademik termasuk karyawan tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk

“Semua kanal aspirasi tetap berjalan dalam kerangka fungsi kehumasan. Termasuk, kotak aspirasi maupun komunikasi dan pengaduan tatap muka secara langsung,” ungkap Anwar.

P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 25


Laporan Utama

ISTIMEWA

mencurahkan idenya di media massa dibawah pengelolaan dan koordinasi Wakil Rektor I. Selain insentif, UNY juga secara rutin memberikan penghargaan bagi para dosen berprestasi, utamanya penulis artikel terproduktif yang sejalan dengan beberapa perlombaan di tingkat kementerian yang juga memberikan penghargaan serupa. Hal tersebut saling melengkapi dengan upaya UNY untuk mendorong sivitas akademika menumbuhkan budaya menulis dan diseminasi pengetahuan ke masyarakat. Sejalan dengan visi taqwa, mandiri, dan cendekia, pemberian intensif tersebut dilakukan dengan menggelar kegiatan pelatihan, workshop, pendampingan menulis, dan juga fasilitasi agar ilmu yang dimiliki sivitas berlangsung dalam tataran konkret. Baik dalam bentuk artikel populer, maupun dalam artikel ilmiah yang disokong oleh kepemilikan UNY atas tim publikasi ilmiah. 26 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

“Termasuk mahasiswa, juga diberi kesempatan seluas-luasnya untuk dapat aktif menulis di media massa. Tulisan yang dimuat juga diberi insentif. Di samping itu, tulisan mahasiswa di media massa juga digunakan sebagai pertimbangan pemberian beasiswa bagi yang bersangkutan dan juga menjadi poin tersendiri dalam seleksi (portofolio) untuk penentuan mahasiswa berprestasi,� ungkap Anwar. Walaupun demikian, Pratikno juga mengungapkan kebebasan

Sebagai anak muda, mahasiswa dianggapnya wajar jika belum sepenuhnya memahami cara menyampaikan pendapat dan aspirasi secara konstruktif dan mengedepankan tenggang rasa.

akademik dalam pandangan Sang Menteri membutuhkan kesediaan, kemampuan, serta tradisi dalam menyampaikan gagasan dan kritik secara argumentatif. Termasuk, mendengarkan gagasan yang berbeda dari pihak lainnya dan jangan sampai ada pendapat ilmiah maupun dalam kerangka mimbar akademik justru berujung dipidanakan. Hal inilah yang dalam pandangan Sumaryanto, Wakil Rektor III UNY, masih belum sepenuhnya dikuasai mahasiswa. Sebagai anak muda, mahasiswa dianggapnya wajar jika belum sepenuhnya memahami cara menyampaikan pendapat dan aspirasi secara konstruktif dan mengedepankan tenggang rasa. Padahal dalam upaya saling memahami, Sumaryanto mengibaratkan mahasiswa layaknya berada di tengah lapangan voli. Misal dalam pertandingan di mana lawan menerapkan super defense, smash yang keras justru takkan membuahkan hasil maksimal karena mereka telah mengharapkan dan


Laporan Utama

KALAM / PEWARA

mengantisipasi hal tersebut. Yang ada, justru tujuan masing-masing pihak tidak bisa terpenuhi karena tidak ada titik temu. Oleh karena itu, mahasiswa layaknya pemain voli, perlu memahami situasi, kondisi, dan tantangan yang dihadapi guna memetik prestasi setinggi mungkin. “Dan ini jadi tantangan kita juga untuk saling selaras. Intinya kita harus saling percaya wae lah. Pak WR ini wis tuwo. Orang tua itu tugasnya membimbing. Gak akan tega pada anaknya,” ungkap Sumaryanto. Upaya pembinaan tersebut kemudian dilakukan UNY dalam berbagai mekanisme, layaknya yang telah dilakukan kampus ini untuk membuka segala kanal aspirasi. Keterbukaan informasi dalam kerangka mimbar akademik dilangsungkan secara formal maupun datang langsung. Jika terkait dengan urusan akademik, Indun Probo Utami, Kepala Bagian Akademik menyatakan ia akan menanggapi apapun yang

disampaikan mahasiswa. Baik terkait dengan penyediaan dokumen mahasiswa, hingga pengaturan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan penilaian di dalam kelas.

mempertemukan para mahasiswa dengan koordinator MKWU maupun pengurus kelas, sehingga berhasil mengurai masalah tersebut dengan kesepakatan bersama.

Indun mengisahkan bahwa pernah ia menghadapi 40 anak yang membuat petisi dan menanda tanganinya, untuk menuntut salah satu dosen Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) memohon peninjauan kembali atas pemberian nilai. Menindaklanjuti hal tersebut, dosen terkait kemudian dicari dan dipertemukan. Termasuk

Senada dengan hal tersebut, Kepala Ombudsman RI Perwakilan DIY, Budhi Bestari, mengungkapkan bahwa mediasi dan pelayanan publik yang mumpuni secara internal menjadi penting untuk menghadirkan hak masyarakat. Keterbukaan informasi menurutnya, tak selayaknya dipandang sebagai upaya struktural dan melakukan apa yang diatur dalam peraturan maupun tugas pokok fungsi, tapi juga menyelipkan unsur humanisme dan totalitas kerja yang sejalan dengan aturan dan kebijakan terkait.

Keterbukaan informasi dalam kerangka mimbar akademik, mediasi, dan pelayanan publik yang mumpuni menjadi penting untuk menghadirkan hak masyarakat.

“Kami pun di Ombudsman jika ada masalah, upaya pertama yang dilakukan adalah mediasi. Sedini mungkin karakter atau penyikapan mahasiswa yang dirasa menggebugebu atau melewati batas kewajaran, pasti bisa dijembatani asalkan ko­ munikasi kita baik,” pungkasnya. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 27


Laporan Utama

Semua Beres di Unit Layanan Terpadu Oleh ILHAM DARY ATHALLAH Editor BUDI MULYONO

berlangsung secara integratif di unit kerja yang dipimpinnya. Termasuk lewat unit kerja yang berada di bawah koordinasinya, layaknya Sub Bagian Regitrasi dan Statistik, Akademik, dan Sarana Akademik.

J

ika Pegadaian punya slogan "Mengatasi Masalah Tanpa Masalah," Rektor UNY Prof. Sutrisna Wibawa meyakini bahwa Unit Layanan Terpadu (ULT) nantinya tak boleh sekedar mengatasi masalah dengan solusi jitu layaknya dilakukan institusi pinjaman lunak berjaminan tersebut. Sepanjang proses pelayanan masalah, para pengguna jasa sudah selayaknya dilayani secara cerdas, ramah, dan santun. Tak hanya berhenti di sana, pelayanan secara cerdas di banyak tempat sebagai akses atas kehadiran digitalisasi global di segala lini, juga selayaknya diterapkan ULT. Sehingga semakin membuat pengguna jasa nyaman dan tak perlu direpotkan dengan kehadiran birokrasi. Untuk itulah ULT, ditekankan oleh Sutrisna sejak awal perintisannya, menjadi bagian integral serta garis terdepan atas pelayanan yang berbasis jargon Smart and Smile. Sehingga UNY tak hanya harus berkomitmen mewujudkan ketersediaan informasi tanpa ada yang ditutup-tutupi, tapi juga memudahkan masyarakat menggapai manfaat yang dihadirkan institusi ini dengan makin mudah. Perintisannya hingga saat ini meraih anugerah peringkat kedelapan keterbukaan informasi publik dari Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, diharapkan menjadi momentum untuk menjalankan niatan pelayanan tulus, yang senantiasa ada dalam benak segenap aparatur kampus. "Karena kita ini perguruan tinggi negeri, milik segenap bangsa, dan harus terus menghadirkan yang terbaik pula bagi segenap bangsa. Kehadiran ULT kita dorong sebagai solusi jitu pelayanan. Tinggal datang ke ULT atau klik-klik website, semua beres," ungkap Sutrisna mantap. Beragam Pelayanan Disediakan Untuk menjadi Menara Air yang menghadirkan sumber kehidupan dan bukan menjelma laksana Menara 28 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Gading yang menyilaukan orang, Sutrisna mengungkapkan bahwa ULT adalah wujud komitmen guna menghadirkan Universitas Negeri Yogyakarta yang membumi. Untuk itu, pelayanan berbasis semboyan Smart and Smile dilaksanakan secara efektif dan efisien dengan cara yang terintegrasi dan multidimensional. Ada setidaknya lima kelompok besar pelayanan yang disediakan secara integratif di ULT. Yang pertama adalah pelayanan daring (e-service) untuk dosen, mahasiswa, dan alumni. Dengan membuka website ULT dan mengisi formulir daring yang telah disediakan, pihak-pihak yang bisa memperoleh 1) legalisir ijazah dan transkrip nilai online, 2) pendaftaran yudisium dan wisuda, 3) pengajuan cuti kuliah, dan 4) pengajuan izin tugas belajar dan cuti kepegawaian. Sebelum ada ULT, Indun Probo Utami, Kepala Bagian Akademik mengungapkan bahwa pelayanan tersebut sebelumnya juga telah

Prosedur untuk melakukan pelayanan berbasis online tersebut, dilakukan secara terintegrasi dengan sistem informasi alumni (simfoni).

Perubahan yang berlangsung dengan adanya keterbukaan informasi, adalah upaya pemenuhan yang sejalan dengan pasal 1 UU Keterbukaan Informasi no.14 tahun 2008 tentang penyediaan informasi baik tertulis, lisan, elektronik, dan nonelektronik. Pelayanan akses selama 24 jam, telah diwujudkan dalam bentuk legalisir online yang telah dirintis pada tahun 2017 dan diujicobakan awal tahun ini. "Kita sudah rintis online, dan senantiasa berupaya meningkatkan menjadi layanan satu pintu. Setidaknya jika ada urusan dan dikoordinasikan, mereka diarahkan dan dipandu menuju ke Bagian Akademik," ungkap Indun. Prosedur untuk melakukan pelayanan berbasis online tersebut, dilakukan secara terintegrasi dengan sistem informasi alumni (simfoni) yang telah dirintis oleh Ikatan Alumni UNY. Indun mengungkapkan bahwa dalam sistem tersebut, sudah ada ijazah dan kelengkapan lainnya dengan bentuk file .pdf. Sehingga untuk membuat legalisir ijazah, tinggal mencetak file .pdf tersebut dan memberi pengesahan, lalu mengirimkan berkas tersebut kepada pihak yang membutuhkan. Biaya kurir pengiriman serta fotokopi berkas dengan harga 100 rupiah per lembar dibebankan kepada pemohon layanan. "Yang pertama kali mencoba, guru di LPPMP Palembang. Pakai Pos Kilat Khusus dan tidak ada satu minggu sudah sampai di sana. Beres," kenang Indun. Sejak diujicobakan pada awal tahun, hampir 100 berkas legalisir telah dikirimkan per April 2018. Pelayanan kedua yang disediakan dalam ULT adalah formulir keterbukaan informasi publik. Dengan mengisi formulir tersebut,


Laporan Utama berkas untuk legalisir online, misalnya, hal tersebut ditetapkan melalui SK Rektor sesuai dengan item satuan harga yang berlaku. Beberapa biaya pelayanan informasi publik, layaknya penggandaan CD maupun pencetakan berkas lain, juga telah ditetapkan dalam SK tersebut. Sedangkan untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT), Sutrisna mengungkapkan bahwa penetapan hal tersebut dikategorikan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak, dan dalam penetapannya sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan maupun koordinasi atas kementerian tersebut.

ARIF / HUMAS UNY FREEPIK.COM

Anwar Effendi, Kepala Kantor Humas Promosi Protokol (KHPP) mengungkapkan bahwa semua pihak bisa mengakses informasi apapun seputar UNY. Beberapa informasi yang bisa diakses misalnya: statuta UNY, data mahasiswa, data primer seputar pendidikan dan pengajaran, jadwal perkuliahan dan penerimaan mahasiswa baru, akta mengajar, pengelolaan limbah, tata cara pengajuan izin, serta MoU maupun kesepakatan institusi yang melibatkan universitas. Hingga April 2018, Anwar mengungapkan bahwa sudah ada 38 pemohon informasi publik. Jenis permintaan informasi publik yang paling banyak dimohon adalah data mahasiswa. Sedangkan jenis pengguna informasi paling banyak adalah BEM/UKM. Berjumlah 66% dari total seluruh pengguna informasi publik pada tahun 20162018, Maryanto, Kepala Bagian Informasi UNY mengungapkan bahwa pada umumnya data tersebut diminta untuk keperluan riset maupun kebutuhan rekrutmen dan administrasi. Menambahkan hal tersebut, Indun juga mengungkapkan bahwa BEM/ UKM juga menggunakan informasi

MAHASISWA SEDANG MENYAMPAIKAN ASPIRASINYA KEPADA ULT

tersebut untuk penyampaian kritik secara konstruktif. "Itu hal baik. Organisasi mahasiswa itu sahabat saya karena dia kan kritis. Tidak dikritik, kita majunya kapan? Termasuk, penting bagi mereka mengetahui informasi sesungguhnya dan pencapaian yang sudah baik atas universitas ini," ungkap Indun. Kedua layanan tersebut, kemudian disediakan secara simultan dengan adanya informasi standar biaya pelayanan. Anwar mengungapkan bahwa daftar biaya pelayanan informasi publik maupun pelayanan di UNY, telah diatur berdasarkan peraturan yang berlaku. Dalam kaitannya tentang bea fotokopi

Semua informasi kita sediakan. Kecuali yang telah dikecualikan oleh SOP dan SK Rektor, karena urusan kerahasiaan.

Basis kebutuhan program studi dan kemampuan orang tua, juga menjadi konsiderasi dalam menentukan UKT. Dengan demikian, calon mahasiswa bahkan juga bisa memprediksi sendiri masuk golongan UKT mana mereka nantinya jika memutuskan mendaftar dan diterima di UNY. Walaupun, ungkap Indun, mahasiswa tak bisa menanyakan UKT yang harus dibayarkan temannya karena hal tersebut melanggar privasi dan termasuk dalam informasi yang dikecualikan sesuai dengan SK Rektor dan UU KIP. "Jadi kita sudah tahu (berapa nanti UKT yang harus dibayarkan), bahkan sebelum diterima di UNY karena sudah ada kategori-kategori pendapatan dan kita publikasikan secara terbuka dan berasas keadilan serta kemampuan orang tua," ungkap Sutrisna. Selain tiga layanan diatas, Indun mengungapkan bahwa UNY juga menyediakan arsip maupun dokumen hukum dan tata laksana universitas. Informasi tersebut meliputi akreditasi baik institusi maupun program studi, daftar maupun rekap dosen serta sumber daya manusia yang ada di universitas. Surat Keputusan, berbagai peraturan di UNY, dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan kegiatan sivitas, juga telah disediakan dan ditata rapi pada website Hukum dan Tata Laksana UNY, kumtala.uny. ac.id. Termasuk, Dashboard Produk Hukum yang disediakan unit teknis layanan konsultasi dan bantuan hukum (LKBH) UNY. "Semua informasi kita sediakan. Ada masalah apapun, kita openi. Kecuali memang yang telah dikecualikan oleh SOP dan SK Rektor, karena urusan kerahasiaan," pungkasnya. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 29


Laporan Utama

Terbuka, Bukan Berarti Buka-Bukaan Hadirnya Keterbukaan Informasi Publik bukan berarti semua orang bisa mengetahui apapun tentang Universitas Negeri Yogyakarta. Informasi tetap dibuka seluasluasnya, dan penyediaan data untuk riset terus disokong. Tapi privasi data pribadi dan kerahasiaan negara, senantiasa dijaga betul sejalan dengan amanat Undang-Undang.

CASAGRANDEAZ.GOV

Oleh ILHAM DARY ATHALLAH Editor BUDI MULYONO

J

ika ada satu hal yang ditakutkan Lord Acton kala menerbangkan pesawat luar angkasa Star Trek untuk menembus tak terbatas dan melampauinya, adalah imaji bahwa kekuasaan memberikan kecenderungan pada sang pemilik kekuasaan untuk menyalahgunakannya. Susan Strange dalam bukunya States and Market, kemudian mengejawantahkan bahwa sumber kuasa di era modern tak lagi sekedar kekuatan fisik layaknya jaminan keamanan. Kendali atas pengetahuan, yang pada era revolusi digital ini bisa diolah sedemikian rupa sebagai big data, dan mampu menghasilkan daya risak yang sama hebatnya. Kasus Cambridge Analytica yang melibatkan beberapa pengajar University of Cambridge dalam aksi culasnya mencuri data pengguna media sosial Facebook, telah membuktikannya. Kecerdasan yang mereka miliki tanpa disertai 30 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

kebijaksanaan dan pendidikan karakter, ternyata bisa menimbulkan kekacauan yang hebat lewat kemampuannya mempengaruhi pikiran warga di berbagai belahan dunia, untuk memilih sosok tertentu dalam pemilihan umum di masingmasing negara. Hal tersebutlah yang menurut Maryoto, Kepala Bagian Informasi UNY, menjadi refleksi bagi universitas untuk berhati-hati dalam menyediakan informasi kepada khalayak. “Jadi, bahwa penyediaan informasi seluas-luasnya kita lakukan dan memang kita pandang perlu. Tapi jangan sampai mengganggu privasi,

Bahwa penyediaan informasi seluas-luasnya kita lakukan dan memang dipandang perlu. Tapi jangan sampai mengganggu privasi.

apalagi informasi tidak digunakan semestinya. Kita komitmen terbuka, tapi bukan berarti buka-bukaan lalu mengumbar semua,� tegas Maryoto Keterbukaan yang Bertanggung Jawab Keterbukaan informasi, menurut Mahkamah Konstitusi ketika memutuskan permohonan pengujian Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) pada tahun 2015, telah menegaskan peran atas keberadaannya sebagai pilar penting Indonesia sebagai negara demokrasi, yang dilandaskan hak asasi setiap warga negara layaknya ditekankan dalam konstitusi negara. Tapi, bukan berarti hak asasi yang disediakan tersebut bisa mengganggu hak orang lain, apalagi menghasilkan keluaran yang tidak baik dan mengganggu keberlangsungan negara. Oleh karena itu, sejak disahkannya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik pada tahun 2009 dan diberlakukan setahun setelahnya, negara telah menekankan bahwa keterbukaan informasi bukan berarti semua pihak bisa memperoleh apapun informasi yang


Laporan Utama

FERESTER.COM

ia inginkan tanpa mengindahkan kaidah normatif dan legal. Informasi publik yang dikecualikan, sifatnya rahasia dan tidak dapat diakses oleh publik, adalah informasi yang telah ditetapkan dengan kriteria dan batasan-batasan tertentu sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Pasal 17 UU KIP. Hal ini sejalan dengan Pasal 6 UU KIP yang menekankan bahwa badan publik tidak hanya berhak menolak informasi yang dikecualikan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tapi juga berhak menolak memberikan informasi publik apabila tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, maupun menolak informasi publik yang dapat membahayakan negara ataupun hakhak pribadi. “Informasi yang ada di universitas, tak terkecuali UNY, juga punya potensi membahayakan hak-hak pribadi. Oleh karena itu, perlu hatihati,� ungkap Maryoto. Adanya informasi yang punya potensi membayakan hak pribadi tersebut, dimisalkan oleh Maryoto

layaknya penghimpunan nilai-nilai sebagai data primer dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya. Sebagai universitas Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK), analisa pedagogis dan pembelajaran kerap dilakukan untuk penelitian maupun tugas-tugas terkait perkuliahan. Permintaan atas daftar nilai mata pelajaran tertentu di sekolah tertentu, atau pada mata kuliah tertentu di kampus, sejauh ini memang tetap dilayani dalam kerangka kebebasan mimbar akademik.

ungkapnya, jika para peneliti tidak bertanggungjawab dan mengutilisasi data tersebut untuk fungsi yang tidak semestinya. Hal ini mirip dengan kasus yang terjadi dalam Cambridge Analytica, di mana data pribadi 87 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat pada awalnya dihimpun lewat tes kepribadian yang ditujukan untuk penelitian psikologi yang sifatnya akademik. Ketidakbijaksanaan peneliti dalam mengelola data, kemudian membuat privasi para pengguna Facebook tergadaikan oleh imbalan dengan jumlah uang tertentu.

Namun, akan menjadi riskan,

“Di situlah masalahnya. Kalau nilai itu dibocorkan, tidak digunakan semestinya, kan tidak etis. Kami terus berupaya agar data sedemikian rupa digunakan sesuai mestinya dan tujuannya, terus berpesan pada sivitas agar tanggung-jawab, dan pasti menolak kalau niatnya tidak benar seperti itu,� ungkap Maryoto.

Informasi yang ada di universitas, juga punya potensi membahayakan hakhak pribadi. Oleh karena itu, perlu hati-hati.

Selain itu, informasi yang tidak dapat diberikan oleh badan publik juga terkait dengan informasi yang mungkin menimbulkan persaingan P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 31


Laporan Utama

usaha tidak sehat, rahasia jabatan, maupun informasi yang belum dikuasai maupun didokumentasikan. Untuk menetapkan apa saja yang dikecualikan dalam penyediaan informasi publik, pengecualian substansial kemudian dilakukan dengan sifat mutlak maupun kualifikasi tertentu yang diuji terlebih dahulu melalui pertimbangan konsekuensi bahaya dan kepentingan publik. Anwar Effendi, Kepala Kantor Humas Promosi dan Protokol sekaligus Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UNY menekankan, pengujian tersebut dilakukan melalui rapat dan koordinasi lintas sektor yang ada di UNY melalui struktur PPID. “Ada SK (Surat Keputusan) nomor 1.29 Rektor tentang pejabat PPID. 32 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Secara ideal layanan ULT (Unit Layanan Terpadu) nantinya mencakup keseluruhan layanan publik yang ada di UNY dan melibatkan tenaga serta koordinasi di semua unit kerja,� ungkap Anwar. Semua Pengecualian Beralasan Atas dasar hasil rapat koordinasi

Secara ideal layanan ULT (Unit Layanan Terpadu) nantinya mencakup keseluruhan layanan publik yang ada di UNY dan melibatkan tenaga serta koordinasi di semua unit kerja.

dan pertimbangan yang matang, alasan pengecualian kemudian diidentifikasi berdasarkan landasan substansi maupun legal formal yang ada dalam tata aturan perundangundangan. Alasan pengecualian pertama, yaitu informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan undang-undang, beberapa di antaranya terkait dengan informasi dokumen pengadaan barang/ jasa dari penyedia barang/jasa, laporan keuangan sebelum diaudit, laporan keuangan tahun berjalan, rincian harga perkiraan, dokumen penawaran pada proses kontrak pengadaan barang/jasa, hingga laporan pelaksanaan anggaran. Dokumen berbasis keuangan tersebut, menurut Suharnanik Listiana, Komisioner Bidang Advokasi, Sosialisasi, dan Edukasi Komisi Informasi Pusat (KIP) DIY,


Laporan Utama

VERITECH-SYSTEMS.COM

memang tidak diizinkan untuk diungkapkan di seluruh badan layanan publik. Universitas negeri, sebagai salah satu penerima dana negara dan melayani publik, kemudian tak luput dari hal tersebut. Walau bukan berarti masyarakat tidak boleh mengetahui penggunaan uang universitas. Pengadaan barang/ jasa bisa diketahui masyarakat secara daring maupun papan yang wajib dipasang di lokasi proyek. Sedangkan laporan keuangan bisa didapatkan masyarakat setelah tahun anggaran berakhir maupun telah diaudit oleh badan yang berwenang. “Termasuk juga bisa mengetahui rancangan anggaran belanja (RAB) universitas. Tapi untuk teknis dan dokumen-dokumen penting, memang tetap menjadi domain negara. Bahkan DPR pun

tidak boleh mengetahui maupun membahas mata anggaran satuan ketiga, menurut aturan Mahkamah Konstitusi. Sehingga ini tetap menjaga keamanan dan kerahasian di tengah transparansi yang kita usung,” ungkap Suharnanik. Selain itu, universitas juga tidak

Daftar Informasi Publik sesuai kategori dalam KIP tersebut, sudah diidentifikasi dan ada di SK (Surat Keputusan) nomor 4.4 kategori Layanan Publik yang ditetapkan oleh Rektor.

diizinkan oleh undang-undang mengungkap biodata dosen, staf, mahasiswa, serta mitra kerja, maupun soal, jawaban, nilai tes ujian masuk. Kecuali, sesuai dengan aturan UU KIP, dikecualikan dengan kualifikasi untuk dipublikasikan maupun dengan persetujuan pihakpihak yang terlibat dan sesuai dengan peruntukannya. Termasuk, dengan tetap memastikan bahwa publikasi informasi tersebut tak melanggar rahasia negara dan badan publik, rahasia pribadi/jabatan, maupun mengganggu kepentingan perlindungan HAKI dan persaingan usaha tak sehat. “Daftar Informasi Publik sesuai kategori dalam KIP tersebut, sudah diidentifikasi dan ada di SK (Surat Keputusan) nomor 4.4 kategori Layanan Publik yang ditetapkan oleh Rektor,” pungkas Anwar. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 33


Laporan Utama

Yang Dilarang, Yang Tak Terakses Khalayak tanpa terkecuali bisa mengakses informasi. Kecuali tiga puluh poin khusus, informasi itu dirahasiakan. Informasi sejatinya punya dua sisi saling bertolak: bermanfaat, atau menjadi bumerang.

Oleh RONY K. PRATAMA Editor BUDI MULYONO

I

ndun Probo Utami, Kepala Bagian (Kabbag) Akademik, mengingat-ingat dua pekan sebelumnya. Seorang ibu asli Wonogiri yang kala itu dinas di Jawa Barat meneleponnya. Ibu itu mengeluh. Besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya dianggap besar. Ia ingin melobi untuk diringankan. “Begini, kok uang UKT anak saya lima koma?” jelasnya kepada Indun pada suatu siang. Kemampuan diplomasi Indun langsung bekerja. Setelah diberi keterangan olehnya, ibu yang anaknya akan kuliah di UNY itu melunak. “Ibu Wakil Kepala Sekolah (Wakasek), ya?” tanya Indun. “Kok tahu?” jawab balik. Tanpa panjanglebar, isi telepon tersebut seputar besaran UKT berbanding lurus dengan timbal balik. Komunikasi bernuansa diplomatis itu berlangsung sekitar lima belas menit. Di era Keterbukaan Informasi Publik (KIP), peran komunikasi menjadi signifikan. Indun telah membuktikannya. Melalui penjelasan yang hangat, komunikan niscaya nyaman. Transparansi informasi, bagi Indun, mesti disampaikan secara kulturalpersonal. Ini bukti interaksi yang, menurut konsep Jawa, saling mengorangkan (nguwongke). Tapi tak semua informasi dapat diakses umum. Indun menuturkan sejumlah pengecualian berikut alasan pelarangannya. “Salah satunya seperti hasil rapat internal. Juga koordinasi rahasia antarpimpinan,” ucapnya. Di sana terlihat jelas betapa kedudukan informasi bisa berarti bebas diakses umum maupun dibatasi secara privat. 34 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

MAXKABAKOV

Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, telah menetapkan 30 poin informasi yang dilarang diakses. Ia tetapkan dalam Surat Keputusan Rektor Nomor 4.4 tanggal 4 Desember 2017. Bukan berarti informasi itu eksklusif,

Bukan berarti informasi itu eksklusif, melainkan bila dibeberkan malah bisa membahayakan dan merugikan jika informasi bersangkutan bocor.

melainkan bila dibeberkan, alihalih bermanfaat, malah realitasnya bisa membahayakan. Baik instansi maupun pribadi, keduanya samasama bisa dirugikan jika informasi bersangkutan bocor. Seperti pernyataan Indun, notulensi rapat dilarang diakses. Ini sesuai bunyi poin kelima, yakni “Dokumen notulen rapat berdasarkan sifat rapatnya.” Keterangan lebih lanjut, kenapa ia tak boleh dipublikasikan, yaitu “dilarang sesuai undangundang.” Penegasan undang-undang di sini menguatkan betapa hasil rapat dikategorikan bersifat rahasia. Mengumumkan laporan keuangan juga dilindungi dilarang sesuai undang-undang.


Laporan Utama Rektor UNY membuka Festival Dalang Cilik sebagai bagian dari rangkaian acara Dies Natalis UNY 2017

PXHERE.COM

“Selama itu belum diaudit atau diperiksa,” tutur indun. Selama ia masih diproses, informasi mengenainya haram dipublikasikan. Ia akan berubah ketika usai diaudit. Bila instansi perlu mendesiminasikan dalam rangka transparansi, ia sudah boleh disampaikan ke khalayak. Pada poin ke-12 terdapat alasan logis kenapa sebuah dokumen tertentu harus dirahasiakan. Alasannya mendesak karena begitu berpengaruh terhadap konstelasi nasional. Disebutkan, “Dapat membahayakan pertahanan dan keamanan/badan publik.” Ini khusus merujuk pada problem konfigurasi data, database pribadi,

dan akun berikut kata kunci khusus. Jika semuanya itu dibeberkan, kemungkinan besar akan disalahgunakan. Kecuali yang dilarang, Sutrisna terbuka pada demokratisasi

Kecuali yang dilarang, Sutrisna terbuka pada demokratisasi informasi. Menurutnya, keterbukaan kunci kemajuan sebuah perguruan tinggi.

informasi. Menurutnya, keterbukaan kunci kemajuan sebuah perguruan tinggi. Pendapat ini ia buktikan usai UNY menyabet peringkat delapan sebagai kampus negeri yang serius pada keterbukaan informasi. “Pokoknya apa yang ada di universitas ini bisa diakses masyarakat. Kalau butuh info tentang biaya, Prodi, capaian UNY, pembiayaan dan keuangan, tinggal klik secara online. Semua terbuka dan memenuhi undang-undang,” ucapnya. Sutrisna mengatakan kedudukan UNY sebagai kampus negeri yang juga berarti bagian dari masyarakat. Menurutnya, status itu harus berarti terbuka. Alias transparan kepada liyan. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 35


Laporan Utama

WAWANCARA KHUSUS Prof. Dr. MUHADJIR EFFENDY

Pentingnya Keterbukaan Informasi Pendidikan Abad ke-21 Di tengah era disrupsi digital, bukan hanya dunia pekerjaan dan tantangan bangsa yang berubah. Cara kita berkomunikasi, juga makin kompleks. Sehingga guru dan seluruh insan, serta institusi pendidikan, diharapkan oleh sang menteri, bersama-sama mampu menguasai kelihaian menyampaikan gagasan berbasis transparansi dan keterbukaan informasi sebagai kemampuan penting memajukan negeri pada abad ke-21.

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, Prof. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, kemudian berkisah di sela-sela Seminar Profesionalisme Guru Abad ke-21, yang digelar pada Sabtu (28/4) di Ruang Sidang Utama (RSU) Universitas Negeri Yogyakarta, seputar bagaimana Kementerian yang dinakhodainya bersama dengan seluruh guru dan masyarakat menyongsong abad ke-21 dengan kemampuan-kemampuan penting yang harus dikuasai. Bagaimana kita sebagai bangsa tidak terlena atas bayangan masa depan, dengan tetap belajar dari sejarah dan menghadapi dengan kesungguhan hati masalah konkrit yang ada di hadapan kita saat ini. Apa sebenarnya masalah terbesar yang dihadapi dunia pendidikan untuk menyongsong abad ke-21? Kalau ditanya apa masalah terbesar, pendidikan kita itu sebenarnya memang penuh masalah. Bisa ngomong seharian saya kalau bicara tentang masalah ini. Tapi yang paling penting dan ingin saya katakan adalah pemerintah sedang betul-betul bekerja keras untuk membangun Indonesia ini. Kita dalam kabinet kerja, dan semua institusi pendidikan sebagai bagian dari kerja negara untuk mewujudkan pendidikan sesuai dengan tujuan nasional dan visi misi Presiden, itu selalu bekerja keras. 36 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Permasalahan pendidikan tentu juga tidak bisa dilepaskan dari variabel lainnya. Tingkat kepercayaan publik kita misalnya, Gallup World Poll bahkan menyebut kita yang tertinggi di dunia, sebesar 80. Juga pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan upaya pemerintah untuk senantiasa menunaikan Nawacita. Itulah alasan Program Indonesia Pintar, Revitalisasi Pendidikan Kejuruan dan Keterampilan, Gerakan Literasi Nasional, Penguatan Pendidikan Karakter, Neraca Pendidikan Daerah, dan Peningkatan Kapasitas Guru. Dan di sini poin pentingnya, guru, yang menurut undang-undang mempunyai tempat mulia sebagai pekerjaan profesional, harus dikembangkan. Anggota profesi di dunia, yang jumlahnya terbesar, menurut saya adalah guru Indonesia. Menurut saya, mengurusi pendidikan itu mengurusi guru. Karena gurulah dengan segala kehormatannya, disumpah untuk mengabdi kepada ilmu, dan mengabdikan seluruh ilmunya untuk dunia keilmuan dan pekerjaannya. Guru di sini adalah kunci mengurai masalah pendidikan. Kalau ngurusi duit terus, kebijakan anggaran dan lain-lain, kapan mengurus pendidikannya? Lalu bagaimana keterbukaan informasi berperan untuk meningkatkan kualitas pendidikan?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 16 Tahun 2017 telah memiliki landasan bagaimana melayani Informasi Publik di Lingkungan Kementerian dan Kebudayaan. Penyediaan, penyimpanan, pendokumentasian, pelayanan, hingga pengamanan informasi publik, telah ditata dan dikembangkan sedemikian rupa. Namun ide keterbukaan informasi bukan sekadar untuk itu. Bagi guru, kemampuan keterbukaan informasi adalah kemampuan profesionalitas. Samuel Hattington menyebut ada tiga syarat pekerjaan profesional: keahlian, tanggung jawab sosial, dan kesejawatan (corporateness). Keahlian guru terletak pada kemampuan pengajarannya. Untuk bisa melakukan pekerjaan tersebut, membutuhkan pendidikan yang relatif lama dengan tingkat kesulitan yang relatif cukup tinggi. Sebagai ukuran, mereka yang tidak menempuh hal tersebut akan mengalami kesulitan dan pasti tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu. Sehingga, ya hanya orang tertentu saja yang bisa menjadi guru. Dan mereka kemudian bergabung dalam kesejawatan, ikatan dan korps-korps guru. Keahlian menjadi guru mumpuni, kemudian menjadi penting untuk mewujudkan profesionalitas lewat tanggung jawab sosial yang ia miliki. Ia mengajar, untuk orang yang diajar, dan mencintai pekerjaannya.


Laporan Utama Guru, paling mahir mengajar, tapi juga paling jago menyesatkan kalau dia tidak punya tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, kemampuan abad ke-21, termasuk merangkul masyarakat dan menekankan keterbukaan informasi, menjadi sangat penting. Agar guru senantiasa mencerdaskan semuanya.

cara nasional, yang nanti kita juga buat mulai dari seminar hingga naskah akademik dan kajiannya. Guru dalam tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa, harus punya panduan dan jaminan bahwa dalam tugasnya tersebut ia memiliki rasa aman maupun kesejahteraan yang mumpuni.

daerah, karena daerah punya preferensi tertentu dalam merekrut guru. Maupun beban keuangan daerah yang selama ini sudah habis tersedot untuk beban pegawai, di tengah adanya 740.000 guru honorer di sekolah negeri yang memiliki aspirasi untuk kita angkat sebagai PNS.

KALAM / PEWARA

INFONAWACITA.COM

Bagaimana kemudian membangun tanggung jawab sosial dalam agensi dan institusi pendidikan terkait? Ya kembali ke tiga syarat profesional tersebut. Termasuk utamanya, jaminan dan panduan bagaimana sebagai profesional menjalankan profesinya tersebut. Itulah mengapa, saya ingin sekali dengan UNY, tadi telah saya sampaikan (dalam Keynote Speech Seminar Profesionalisme Guru Abad ke-21), untuk dibantu pembuatan kode etik guru se-

Khusus yang bagian kesejahteraan, kami di Kemdikbud berkomitmen agar setiap tahunnya bisa merekrut 100.000 guru baru sebagai Pegawai Negeri Sipil tiap tahunnya. Itupun nanti angka riil di lapangan hanya sekitar 60.000 guru baru per tahun, karena setiap tahun kita menghadapi gelombang pensiun guru yang luar biasa besar. Dan tantangan di daerah luar biasa, misalnya penolakan pelantikan guru SM3T oleh

Untuk itulah yang paling penting, kita berupaya untuk mengurai masalah tersebut satu per satu, sehingga keberlanjutan menjadi penting. Kita ingin perubahan sistemik. Menteri boleh diganti, tapi kebijakan dan pemerintahan ini, harus berlanjut. Saya bisa pesan kok kalau pemerintahnya tetap, ke menteri pendidikan selanjutnya, agar perubahan struktural di bidang pendidikan dilanjutkan. Tapi kalau ganti pemerintah, ganti semuanya, kan sulit. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 37


Laporan Utama

AWS-DIST.BRTA.IN

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MUHADJIR EFFENDY menjawab pertanyaan anggota Komisi X DPR dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen Senayan

Lalu untuk kode etik guru nasional, bagaimana aplikasinya? Intinya saya secara pribadi sebenarnya kecewa, guru kita dalam tugasnya mengajar begitu mudah dikriminalisasi dan dipolisikan. Guru tempeleng murid, misalnya. Walaupun itu tindakan yang relatif tidak dapat diterima oleh beberapa pihak, guru melakukan hal tersebut dalam kapasitas pekerjaan yang sedang ia lakoni. Ada tanggung jawab sosial dan basis keahlian yang sedang ia tunaikan ketika melakukan tempeleng tersebut. Kode etik itu tentu bukan berarti kekebalan. Misalnya kalau guru di pasar, nempeleng orang, itu pidana. Ciri pekerjaan profesional itu membutuhkan aplikasi kode etik. Tapi yang menentukan kode etik, sekaligus hakim dan penentunya, adalah kesejawatan dan pelaku itu sendiri sebagai seorang guru. Misal, (kasus) dokter itu. Dokter Terawan dipandang malpraktik kan ikatan dokter sendiri yang memutuskan demikian. Untuk itu, kesejawatan menjadi penting untuk ditingkatkan dan kami di Kemdikbud berkomitmen untuk tahun depan meningkatkan anggaran asosiasi sekaligus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas organisasi layaknya Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 38 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Itulah kenapa kode etik guru sangat penting. Selama ini, sudah ada kode etik guru tapi sifatnya masih sporadis dan belum menjadi basis asosiasi profesinya. Dengan adanya kode etik ini, profesional guru akan terimbas implikasi. Menekankan profesionalitas bagi semua guru tanpa terkecuali, serta jaminan sekaligus tuntunan bagaimana menjalankan keprofesian berbasis asas-asas tertentu. Apa harapan Kemdikbud atas perwujudan profesionalitas lewat mekanismemekanisme tersebut? Ya kembali lagi dalam kaitannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Hal ini juga kita lakukan untuk menyikapi kecenderungan global dan kondisi yang dihadapi generasi milenial abad ke-21. Berlangsungnya revolusi industri keempat misalnya, menyajikan kita fenomena di mana kemajuan teknologi informasi tidak hanya mengubah dunia pekerjaan maupun tantangan bangsa kita dalam menyongsong kompetensi TIK maupun globalisasi dan daya saing manusia. Tapi juga cara kita berkomunikasi bahkan berpikir, karena generasi selanjutnya ini bersifat digital natives—aktif sebagai pengguna sosial media yang jika dimaanfaatkan akan mampu menjadi pembelajar cepat dan cerdas. Selain itu, semakin tegasnya fenomena abad ini sebagai

abad kreatif, juga menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi, hingga jejaring sebagai sumber daya strategis bagi individu, masyarakat, korporasi, dan negara. Untuk itu, pembangunan kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi, penting untuk siswa abad ke-21. Namun, jangan sampai imaji dan bayangan kita atas masa depan melupakan masalah yang ada saat ini maupun membuat kita menjadi ahistoris. Membandingkan pendidikan kita dengan Finlandia dan Singapura, misalnya, padahal itu tidak proporsional dan apple to apple. Bandingkan saja misalnya PISA, khusus daerah Yogyakarta dengan daerah lain. Saya yakin kualitas kota pelajar dengan lingkup lebih spesifik ini peringkatnya pasti lebih baik. Sehingga kalau saya ditanya pribadi, saya dan kita semua fokus saja menghadapi dengan kesungguhan hati masalah konkret yang ada di hadapan kita saat ini. Pemerataan dan kualitas pendidikan menjadi kunci. Fenomena masalah pendidikan abad ke-21 memang kompleks dan perlu kita sikapi, tapi masalah yang di depan kita saat ini juga perlu kerja keras kita semua. Keterbukaan informasi dan cara kita berkomunikasi, berperan penting untuk merangkul semua pihak; urusan pendidikan adalah urusan kita semua. 


Laporan Utama

P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 39


Laporan Utama

Atas Nama Medsos, Simsalabim, Hoaks Sirna Ajang sapa dan berbagi pengetahuan memenuhi dinding media sosial. Ia juga digunakan untuk klarifikasi informasi. Tiga pejabat UNY memaksimalkan kesempatan itu.

Oleh RONY K. PRATAMA Editor BUDI MULYONO

S

SAFETYKART.COM SAFETYKART.COM

utrisna Wibawa, pucuk pimpinan UNY, punya jurus jitu menghadapi hoaks. Berbekal aktif di media sosial—Facebook dan Instagram—ia pantau tiap linimasa. Suatu ketika viral pengumuman bodong. Isinya seputar jadwal masuk kuliah. Tapi diberi keterangan kalau kuliah dimundurkan. Alasannya tak jelas. Namun, isi surat pemberitahuan itu, begitu meyakinkan. Ada stempel paraf resmi berikut cap instansi. Beberapa menit surat itu viral, Sutrisna langsung membuat status. “Itu informasi tidak benar. Anak milenial ana-ana wae,” tulisnya. Surat bohong terlanjur menyebar segera disusul ke­te­rangan Sutrisna yang tak kalah viral. Klarifikasi itu dengan cepat dite­rima sivitas akademia UNY. Yang semu­la senang akhirnya tersenyum ke­cut. Sutrisna gerak cepat di jagat maya. Terobosan Sutrisna di dunia internet patut diacungi jempol. Ia ikut arus modern dengan memaksimalkan media sosial. Selain sebagai ajang tu­kar informasi, ia juga melakukan koor­di­nasi kultural. Metode ini ter­ nya­ta gayung bersambut. Terutama di­res­pons positif para mahasiswa yang juga termasuk generasi milenial itu. “Ajak satu kampus nonton, Pak. Hitung-hitung melepas stres,” komentar Alif Shonida, Pendidikan Bahasa Inggris, pada dinding Instagram Sutrisna. Alif aktif komentar di status Rektor UNY yang pekan ketiga April lalu menyoal film Infinity War—sebuah film besutan Marvel yang sedang menjadi buah bibir di antara milenial. Di tengah kesibukannya sebagai rektor, Sutrisna tak luput menyapa warganet yang sebagian be40 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

sar kuliah di UNY itu dengan ulasan populer. Pola dan metode komunikasi pejabat UNY di media sosial terbukti sukses. Selain Sutrisna, mantan Rektor UNY, seperti Rochmat Wahab dan Suyanto, juga aktif menebar inspirasi dan informasi. Suyanto (rektor periode 1999-2006), akhir April, menulis, “Bismillah, paparan di seminar Profesionalisme Guru Abad ke-21.” Di bawah status, foto horizontal memvisualkan Ruang Sidang Utama (RSU) berisi ratusan peserta seminar menyorotnya, ditampilkan apik. Dinding lain, Rochmat Wahab (rektor periode 2009-2017), minggu pertama April, mewartakan kegiatan

akademiknya sebagai pembicara tunggal. Saat itu ia mengisi Seminar Nasional bertajuk Mendunia Bersama Generasi Berpretasi yang Penuh Kreasi di Akademi Manajemen Administrasi (AMA) Yogyakarta. Rochmat menarasikan acaranya itu dalam rangka milad ke-18 AMA. “… maka untuk memenangkan kompetisi, mahasiswa harus memiliki The 21ST Century Skills,” tulisnya. Menengok dinding para punggawa rektor itu puluhan komentar saling bersambut. Baik mahasiswa, dosen, pegawai, maupun pakar lain, tak luput meresponsnya. Ini bukti betapa keterbukaan informasi bukan semata lewat dinding birokrasi yang ketat dan prosedural. 


B E R I TA S i v i ta s a k a d e m i k a

ARIF / HUMAS

PERAN IBU DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI Seorang perempuan berkualitas mampu menempatkan dirinya dalam peran yang sangat penting, baik sebagai seorang ibu dalam mendidik generasi masa depan, maupun berperan di ranah publik, termasuk di Era Revolusi Industri 4.0. Namun, data terakhir per Februari 2017 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya terdapat 30% pekerja perempuan di bidang industri sains, teknologi, engineering, dan matematika.

Revolusi Industri 4.0 merupakan era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, inovasi, dan perubahan cepat yang berdampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, dan politik. Gejala ini di antaranya ditandai dengan banyaknya sumber informasi melalui kanal media sosial, seperti Youtube, Instagram, dan sebagainya. Demikian dikatakan Menteri Pemberdayaan Perempuan

Berita-berita lain dapat diakses pada laman www.uny.ac.id

dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, dalam Seminar Nasional “Peran Perempuan dalam Mendidik Generasi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Negeri Yogyakarta. Lebih lanjut dikatakan bahwa hadirnya Revolusi Industri 4.0 seharusnya dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh kaum perempuan, karena memiliki prospek menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian dari peradaban dunia. Pembicara dalam seminar tersebut, Siti

Irene Astuti, mengatakan bahwa wanita dalam keluarga harus menjadi wanita yang berkarakter yang tetap memiliki eksistensi dalam menjalankan peran sosialnya dengan optimal. “Wanita dalam abad ke-21 adalah wanita yang mampu mendidik dan membekali anakanaknya dengan soft-skills sehingga anak dapat berkembang potensi dirinya dan menjadi pribadi resilien yang memiliki daya adaptasi sosial dalam,” tutupnya. DEDY P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 41


Berita

PENGUKUHAN GURU BESAR PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA Paradigma sastra yang berbeda dengan agama, filsafat, dan sejarah, sehingga dalam mempelajari dan menyikapi sastra berbeda strategi, khususnya dalam menangkap pesan yang ada di dalamnya. Sastra bukan filsafat mengenai

Pembelajaran Sastra Indonesia pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Pidato berjudul Religiusitas dan Humanitas dalam Sastra Indonesia Modern itu dibacakan dihadapan rapat terbuka Senat di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Rabu (14/3). Suroso adalah

“Orang yang memiliki kesenangan dan kemampuan membaca sastra akan memiliki kecerdasan yang lebih atas perilaku manusia, pemahaman tempat, peristiwa, dan persoalan yang dihadapi manusia” papar Suroso. Sastra yang bersumber dari kehidupan manusia, mengandung nilai religi­usitas, nilai humanitas, dan univer­ salitas. Persoalan sejarah, keti­ dak­adilan, kejujuran, cinta kasih, pengorbanan, lingkungan hidup dan kemakmuran, yang me­le­kat dari tokoh sastra dan peris­tiwa­ nya menjadi pesan yang ti­dak terelakkan dalam wacana sastra. Orang yang memiliki nilai religiusitas dan humanitas, tidak

mengambil hikmah dari tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra tergantung dari pembacanya. Hal ini karena sastra bukan filter untuk memilah mana yang benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas, namun sastra menyampaikan fakta imajinatif. Walaupun disampaikan fakta-fakta sejarah, sosial budaya, psikologi, tetap saja dalam bingkai imajinasi dan pemaknaan ada dalam benak pembaca. Melalui politik pendidikan kesastraan, diharapkan bangsa Indonesia mampu memahami kebudayaan dan pikiran bangsanya, mampu berkepribadian Indonesia

ARIF / HUMAS

dikotomi benar salah, baik buruk, indah dan jelek. Sastra bukan pula sejarah yang berbicara tentang fakta masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Sastra bersifat imajinatif. Oleh karena itu, pembaca dipersilakan berimajinasi atas berbagai informasi dalam teks sastra. Namun demikian, karya sastra juga memenuhi prinsip unsur kemasukakalan (plausibility), keutuhan (unity), keseimbangan (balance), kebaruan (novelty). Sastra juga memiliki kemanfaatan (utile) dan kesenangan (dulce). Demikian diungkapkan Suroso dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang 42 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

guru besar UNY ke-135 dan Guru Besar FBS ke-28. Pria kelahiran Kediri, 30 Juni 1960 tersebut mengatakan bahwa selain menyampaikan ide dan persoalan yang terjadi di masyarakat, sastra juga menyampaikan pesan dengan media bahasa secara tidak langsung melalui tindakan, peristiwa yang dialami tokoh, penggambaran latar atau suasana dan jalan cerita. Sastra disampaikan dalam bahasa yang padat makna berupa puisi, dalam paparan wacana yang panjang dalam bentuk novel, dan dalam paparan dialog serta petunjuk lakuan dalam bentuk drama.

melakukan tindakan tercela. Sastra, walaupun secara tidak langsung dapat membentengi kegiatan amoral, namun juga menyampaikan nilai-nilai religiusitas dan humanitas. Sastra memberi pencerahan (insight) melalui tokoh, peristiwa, persoalan, dan latar religi dan budaya. Namun, keputusan

dan menghargai karya-karya kemanusiaan bangsa lain melalui penerjemahan karya sastra. Sastra akan mampu memberikan pencerahan manakala pembaca mendapatkan kemanfaatan dengan memahami ekspresi para tokoh, latar yang digambarkan, jalan cerita, dan tema yang ditulis pengarangnya. ENJ


Berita

PLC TUK HADAPI ERA REVOLUSI INDUTRI 4.0 er”. Kegiatan yang bersifat meningkatkan pres­ tasi akademik dilaksanakan selama ti­ga minggu, yakni 31 Maret, 7 April, dan 21 April 2018. Tujuan dari workshop tersebut adalah utnuk peningkatan kompetensi mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro dengan pemberian materi dan praktik langsung di laboraturium menggunakan modul trainer. Kompetensi yang dimaksud adalah keterampilan seorang mahasiswa yang ditunjukkan oleh kemampuannya dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai.

Himpunan Mahasiswa Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (HME FT UNY) menyelenggarakan agenda tahunan yaitu Workshop Elektro yang terbagi dalam dua kompetensi, bidang elektro dan mekatronika. Garin Alkautsar, ketua HME FT UNY, me­nuturkan bahwa tema yang diangkat adalah “Be Sooner Be Smart­

Workshop Elektro tersebut terbagi menjadi dua materi yaitu Workshop Instalasi Listrik dan Workshop PLC (Programmable Logic Controller). ARIF / HUMAS Workshop Intalasi Listrik dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2018 dengan mengusung judul materi “Instalasi Listrik dan Audit Energi & Praktik Basic Kendali Motor dengan Pengendali Magnetik”, yang disampaikan oleh Alex Sandria J. W., M. Eng. Workshop yang dilaksanakan di Laboraturium Instalasi Listrik tersebut mendapatkan antusias penuh dari peserta mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro. HUMAS FT

UPAYA PENGUATAN FUNGSI LABORATORIUM Upaya penguatan fungsi laboratorium di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY) terus menerus dilakukan, salah satunya dengan menyelenggarakan acara diskusi ilmiah dengan menghadirkan Els Bogaerts, Ph.D, dari Leiden University Belanda sebagai narasumber.

dengan pihak luar sehingga laboratorium dapat menjadi media income generating untuk mewujudkan kemandirian fakultas,”

Hal ini menurut Els Bogaerts dikarenakan segala bentuk konten yang diproduksi oleh beberapa stasiun televisi menjadi penyumbang budaya yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat dan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Els Bogaerts, terdapat tiga pokok temuan penting televisi sebagai aktor produksi budaya lokal, yaitu pihak-pihak yang merepresentasikan budaya tradisional, kontribusi media pada penampilan budaya, dan pihak-pihak yang memediasi program televisi. Diskusi ini berjalan menarik karena Els Bogaerts sendiri menampilkan beberapa konten iklan yang pernah disiarkan di televisi beberapa tahun yang lalu sehingga peserta bernostalgia dan terhibur dengan hal tersebut.

Acara diskusi dilaksanakan pada hari Jumat, (13/4) di Ruang Ki Hajar Dewantara FIS UNY. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama Forum Koordinasi Laboratorium FIS UNY bersama dengan Laboratorium Jurusan Administrasi Negara, Laboratorium Jurusan Ilmu Komunikasi, dan Laboratorium Jurusan Pendidikan Sejarah.

jelas Ketua Forum Koordinasi Laboratorium FIS UNY, Halili, S.Pd, M.A.

“Diskusi ini diharapkan dapat meneguhkan fungsi laboratorium sebagai academic sectors. Selain itu, dengan kegiatan ini dapat dibangun jaringan

Tema diskusi ilmiah kali ini adalah “Televisi dan Produksi Budaya Lokal”. Tema ini diambil karena televisi merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

menjadi pengendali masyarakat. Tema tersebut juga selaras dengan disertasi yang ditulis oleh Els Bogaerts mengenai perkembangan program televisi di Indonesia yang menggunakan produksi budaya lokal dalam kurun waktu 1988-2008.

Diskusi dihadiri oleh beberapa kalangan di antaranya mahasiswa, guru, pengamat, dan peneliti dari berbagai lembaga sekitar Yogyakarta. Diskusi kemudian ditutup dengan kesimpulan dan pemberian kenang-kenangan oleh Ketua Forum Koordinasi Laboratorium FIS UNY, Halili, S.Pd, M.A. HASNA/EKO P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 43


Berita

PENGEMBANGAN KERJA SAMA UNY DENGAN KJRI JEDDAH

ARIF / HUMAS

REKTOR MENERIMA AUDIENSI PENGURUS PWI

ARIF / HUMAS

“Saya dan UNY atau eks- IKIP memiliki personal attachment yang mendalam,” tutur Mohamad Hery Saripudin, Konsul Jenderal KJRI Jeddah. Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., Rektor UNY, menerima kunjungan delegasi KJRI Jeddah pada hari Rabu (18/4) di Ruang Sidang Senat Utama, UNY. Kunjungan ini dalam rangka pengembangan MoU antara KJRI Jeddah dengan UNY di bidang pengembangan SDM, serta MoA antara UNY dengan Sekolah Indonesia Jeddah sebagai wujud kepedulian terhadap kualitas pendidikan anak TKI/ekspatriat yang berada di wilayah kerja KJRI Jeddah. MoA tersebut berisi tentang kesiapan UNY untuk menerima lulusan dari sekolah Indonesia di wilayah KJRI Jeddah sebagai mahasiswa UNY dan penyelenggaraan Kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing dalam bentuk Training of Traineer (ToT) kepada para staf KJRI, guru SIJ/SIM dan mahasiswa. Rektor UNY pada kesempatan sebelumnya juga telah mengunjungi SIJ untuk memotivasi siswa kelas 12, serta memberi gambaran umum mengenai perguruan tinggi, juga memberikan pengarahan kepada guru SIJ. Sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, bahan dan mutu pembelajaran, KJRI akan menyampaikan rencana program pelatihan bagi guru SIJ dan SIM kepada UNY. “Kami akan terus meningkatkan kualitas tenaga pengajar di SIJ dengan cara peningkatan kapasitas untuk menghadapi tantangan ke depan, di mana para peminat pembelajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing telah meningkat dua kali lipat,” ungkap Saripudin. Dalam kesempatan ini juga para sivitas akademika UNY juga mengajukan pertanyaan kepada Bapak Konjen, di antaranya adalah peluang kerja sama dengan universitas dan sekolah lokal di Jeddah. Hal ini cukup sulit untuk ditindaklanjuti karena bentuk pemerintahan Arab Saudi yang cenderung tertutup dan semua bentuk kunjungan dan kerja sama internasional harus dimonitor oleh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. “Kami akan berusaha sekuat kami untuk membantu kerja sama di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ungkap Saripudin. Kunjungan ini ditutup dengan pertukaran cindera mata dan ramah tamah. Ke depan, diharapkan kegiatan kerja sama UNY dengan KJRI Jeddah terus terjalin dan dapat menjajaki bidang-bidang lain. ANDRE 44 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Sutrisna Wibawa, menerima audiensi Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Wilayah DI Yogyakarta, Kamis (26/4) di Ruang Rapat Pimpinan Rektorat UNY. Audiensi ini diselenggarakan dalam rangka membahas kerjasama antara UNY dan PWI terkait berbagai hal. Dalam kesempatan tersebut, Rektor menjelaskan bahwa UNY akan mengembangkan kompetensi tambahan dalam rangka menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Harapanya, mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi mampu menciptakan lapangan kerja (job creator). Untuk saat ini, beberapa prodi sudah menyelenggarakan komptensi tambahan, seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Mata Kuliah Pilihan Jurnalistik dan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Ke depan, juga akan dikembangkan kompetensi lain, misalnya kompetensi kehumasan dan kompetensi protokol. “Tidak hanya di jurnalistik saja, kami juga mewajibkan di semua program studi di UNY untuk menyelenggarakan kompetensi tambahan paling tidak ada satu hingga dua kompetensi sebagai

kompetensi tambahan,” terang Sutrisna Wibawa. Ditambahkan oleh Sutrisna Wibawa, agar pelaksanaan pembelajaran lebih berkualitas dan menghasilkan lulusan yang teruji kompetensinya, proses PBM harus melibatkan praktisi, yang dalam hal ini diwadahi organisasi yang menaungi Lembaga Sertifikasi Profesi seperti PWI. “Uji kompetensi akan dilakukan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sedang kompetensi jurnalistik tentu yang tepat melalui PWI sesuai profesinya. Ketua PWI DIY Sihono HT, dalam sambutan pengantarnya, mengatakan bahwa berkenaan dengan rencana penandatanganan kerjasama (MoU) antara PWI dan UNY sesuai dengan disampaikan tadi terkait kompetensi, sudah ada perancangan yang dibuat terkait kompetensi tersebut. “Ada sembilan kompetensi yang bisa disampaikan kepada mahasiswa nanti sebagai basic reporter, sehingga diharapkan mahasiswa akan tahu melalui materi teori dan praktik dunia jurnalistik/ kewartawanan mulai dari meliput, wawancara, menulis berita, editing, rapat redaksi, jumpa pers, jejaring dan lobi, usulan rubrikasi, dan lainnya,” kata Sihono. ARIF


Berita

DOK. HUMAS FIS

PELAKSANAAN SBMPTN 2018 PANLOK 46 YOGYAKARTA SBMPTN bertujuan untuk mencari dan menjaring calon mahasiswa yang diprediksi mampu menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan baik serta memberi peluang bagi calon mahasiswa untuk memilih lebih dari satu PTN lintas wilayah. Setiap program studi jenjang sarjana pada PTN yang telah mendapatkan izin pembukaan program studi oleh Menteri atau pihak yang berwenang wajib melaksanakan seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui SBMPTN. Penyelenggara SBMPTN 2108 Panitia Lokal 46 Yogyakarta adalah lima PTN, yakni UNY, UGM, UPN, UIN, dan ISI. Untuk tahun 2018 ini, Koordinator Panlok 46 adalah Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam

pelaksanaannya, khususnya untuk tempat/ruang ujian dan pengawas, Panlok 46 juga melibatkan PT/Sekolah mitra. Ujian Tulis SBMPTN dilaksanakan dengan dua model, yaitu Ujian Tulis Berbasis Cetak/UTBC (Paper Based Testing/PBT) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer/ UTBK (Computer Based Testing/ CBT). Untuk pelaksanaan UTBK, dengan pertimbangan kesiapan dan ketersediaan sarana prasarana, Panlok 46 Yogyakarta baru dapat menampung sejumlah 1.845 peserta ujian, dengan rincian: UNY = 470; UGM = 810; UIN = 240; UPN; 300; dan ISI = 25. Alokasi daya tampung SBMPTN, UNY, terdapat 56 program studi S1 dengan total kuota sebanyak

4690. Kuota untuk SBMPTN = 1648 (35%). UGM, terdapat 67 program studi yang ditawarkan dengan total daya tampung 7098, kuota SNMPTN = 2130, SBMPTN = 2842 (40%), dan SM = 2130. UIN, dari 41 program studi, terdapat terdapat 17 program studi (10 saintek dan 7 soshum) yang ditawarkan dengan total kuota SBMPTN = 526 mahasiswa. UPN, terdapat 21 program studi yang ditawarkan dengan total kuota sebanyak 1214 mahasiswa untuk SBMPTN (40%). ISI, dari 20 program studi, terdapat 17 program studi yang ditawarkan dengan total kuota SBMPTN = 414 mahasiswa (40%). Pendaftar SBMPTN sampai hari Rabu, 25 April 2018, pukul 07.30, sejumlah 35.930, dengan rincian (a) peserta UTBC = 34.085; dan (b) peserta UTBK = 1.845. Rincian pilihan kelompok tes untuk peserta UTBC, yaitu: (a) Saintek = 14.469; (b) Soshum = 17.087; (c) Campuran = 2.535. Rincian pilihan kelompok tes peserta UTBK, yaitu; (a) Saintek = 710; (b) Soshum = 955; dan (c) Campuran = 180.

Sebagai perbandingan, pendaftar SBMPTN 2017 sejumlah = 39.305, dengan rincian: (a) Saintek 16.743; (b) Soshum = 19.042; dan (c) Campuran = 3.520. Dengan pertimbangan waktu pendaftaran tersisa dua hari (sampai 27 April 2018), dari hasil simulasi jumlah pendaftar tiap hari, diprediksi jumlah pendaftar SBMPTN 2018 dapat mencapai jumlah sekitar 42.000 peserta. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Sebagai antisipasi kenaikan jumlah pendafar, Panlok 46 Yogyakarta menyiapkan 43.500 kursi. Panlok 46 terus berupaya mempersiapkan pelaksanaan SBMPTN 2018 agar dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Koordinasi di semua lini dan pencermatan pada setiap aspek/komponen terus dilakukan untuk mendukung kelancaran persiapan, pelaksanaan, dan kegiatan lanjutan pasca tes tulis SBMPTN. Panitia menyiapkan pendampingan dan pengawas khusus, bagi peserta yang berkebutuhan khusus. HUMAS UNY P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 45


Berita

DOK. HUMAS FT

SENTUHAN KREATIVITAS DALAM IMPLEMENTASI RIASAN INTERNASIONAL Program Studi Tata Rias Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar pagelaran rias pengantin barat di aula KPLT FT UNY (24/05-2018). Para mahasiswa menyulap aula KPLT bak arena pesta pernikahan lengkap dengan 46 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

catwalk untuk peragaan. Dengan mengusung tema "Buwaca Darpa Srikandi", mahasiswa Tata Rias menyuguhkan pagelaran rias pengantin internasional. Pengantin internasional ditandai dengan pilihan busana yang berwujud gaun panjang warna putih. Putih sendiri mengandung

arti kesucian serta memberi nuansa lembut. “Untuk riasan pengantinnya berkesan lebih sederhana dan segar, dengan penampilan yang natural namun tetap anggun dan elegan,” ujar Asi Trianti, M.Pd., Ketua Program Studi Tata Rias dan Kecantikan. Pagelaran rias ini merupakan rangkaian ujian praktik mahasiswa Rias untuk mata kuliah International Bridal's Make Up and Hair Styling. Selain untuk keperluan akademik, agenda ini juga sebagai ajang unjuk kompetensi para mahasiswa ke khalayak luas. “Di sini bisa dilihat sentuhan

kreativitas mahasiswa dalam mengimplementasikan riasan gaya internasional,” tambah Asi lagi. “Keberanian menampilkan karya di hadapan khalayak ini juga bertujuan untuk menunjukkan kemampuan selama belajar, serta menjaring kritik dan saran dari masyarakat maupun praktisi, demi peningkatan kemampuan mahasiswa sebelum nantinya terjun di dunia kerja maupun usaha rias kecantikan.” Pada event ini, para mahasiswa mampu mengembangkan potensi dan kreativitas dalam kreasi riasnya, sehingga pagelaran ini tersaji apik bak sebuah pagelaran rias pengantin yang sangat megah. HRYO


Berita

UNY HIBAHKAN MESIN DAN PERALATAN KE SMK MUHAMMADIYAH III YOGYAKARTA

PRODI PGSD FIP UNY RAIH AKREDITASI A Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar FIP UNY telah resmi memperoleh Akreditasi BAN-PT dengan nilai A. Hasil ini diperoleh selang satu bulan dari visitasi yang dilakukan oleh dua asesor BAN-PT yaitu Dr. H.Y. Suyitno, M. Pd dari UPI Bandung dan Dr. Yalvema Miaz, MA dari UNP Padang. Visitasi telah dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 15-16 Maret 2017 yang berpusat di kampus FIP UNY. Pada hari pertama, para asesor melakukan klarifikasi dan pengecekan data dengan para Tim Task Force PGSD serta jajaran Dekanat dan Tim Penjamin Mutu FIP UNY. PGSD telah mempersiapkan terkait visitasi reakreditasi ini secara matang. Pokok-pokok hal yang dinilai dari tim asesor

penilaian terhadap borang dan atau portofolio program studi/institusi beserta lampiran-lampirannya melalui pengkajian “diatas meja” (desk evaluation). Tahap kedua penilaian di lapangan (visitasi) untuk pembuktian atau validasi, dan verifikasi hasil desk evaluation berupa wawancara langsung terhadap Kajur (Ketua Jurusan) dan Sekjur (Sekretaris Jurusan), dosen, alumni dan mahasiswa. Melalui dua tahapan tersebut tim asesor dapat memberi penilaian dari aspek borang, portofolio dan hasil wawancara. Di hari kedua, kedua asesor berdiskusi dengan para dosen PGSD, para mahasiswa, dan alumni yang dilanjutkan dengan kunjungan di kampus Wates. Di akhir agenda

DOK. FBS UNY

Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta menghibahkan tiga mesin bubut dan satu mesin las listrik kepada SMK Muhammadiyah III Yogyakarta. Hibah ini ditandai dengan penandatangan naskah perjanjian dan berita acara hibah antara Wakil Rektor II Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Edi Purwanta dengan Kepala SMK Muhammadiyah III Yogyakarta, Drs. Suprihandono, M.M. di ruang sidang KPLT FT UNY (23/05).

DOK. HUMAS FIP

Dekan FT UNY, Dr. Widarto menjelaskan bahwa hibah ini bertujuan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar praktik kompetensi keahlian di SMK Muhammadiyah III Yogyakarta. “Kami berharap alat ini bisa meningkatkan proses pembelajaran akarta,” harap Widarto. “Total alat yang dihibahkan ini ditaksir sekitar 30 juta dan sebelumnya kami juga pernah melakukan kegiatan hibah seperti ini kepada SMK Diponegoro,” lanjutnya. Wakil Rektor II, Prof. Dr. Edi Purwanta, dalam sambutannya menuturkan bahwa kegiatan ini telah sesuai dengan amanat peraturan pemerintah no. 27 tahun 2014 tentang pengelolaan barang milik Negara serta Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang tata cara pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan barang milik negara. “Semoga kegiatan ini juga semakin mempererat hubungan kerjasama antara kampus dengan sekolah sehingga makin terjalin sinergi dalam usaha mencerdaskan anak-anak bangsa,” sebut Edi. Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah III Yogyakarta bersyukur atas hibah mesin dan alat dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. “Tentu ini merupakan berkah yang luar biasa bagi kami untuk meningkatkan kualitas pendidikan kami,” tuturnya. “Kami akan memastikan alat-alat ini termanfaatkan dengan sebaik-baiknya baik oleh para guru maupun siswa-siswa kami,” tutupnya. HRYO

terdiri dari visi misi program studi PGSD, administrasi dan kesekretariatan, kurikulum, sarana prasarana, kebijakan, penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penelitian, mahasiswa dan alumni. Akreditasi PGSD ini dinilai oleh tim asesor melalui dua tahap yaitu tahap pertama,

visitasi, para asesor banyak memberikan saran atas kekurangan-kekurangan yang diperoleh dari hasil visitasi demi kemajuan Prodi PGSD ke depannya. Dengan keluarnya nilai Akreditasi A, Prodi PGSD UNY bertekad akan senantiasa meningkatkan kualitas terutama dalam bidang Tri Darma Perguruan Tinggi dan mutu lulusan. FADHLI P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 47


Naraswari Ayu Alami KARTINI DARI MADIUN 48 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

KALAM / PEWARA


S O S O K D U TA W I S ATA

DOK. NARASWARI

Telah bersinar di Madiun dan Jawa Timur, Naras memilih menahan keterlibatannya di Puteri Indonesia 2018. Dekapan UNY yang begitu nyaman, membuatnya ingin menuntaskan terlebih dulu studinya di Sastra Inggris.

M

Oleh ILHAM DARY ATHALLAH

edia sosial awal tahun ini sempat riuh. Tak lain dan tak bukan, karena gelaran Puteri Indonesia 2018 mulai mengemuka. Nama-nama gadis tercantik negeri dengan penguasaan komplit atas kecerdasan dan budaya asalnya digadang-gadang untuk maju. Naraswari Ayu Alami, perempuan kelahiran Madiun, 1 Juli 1995 yang telah menjuarai Mbakyu Kota Madiun 2012, masuk dalam 10 Besar Raka-Riki Jawa Timur, serta aktif dalam kegiatan modelling serta MC, menjadi salah satunya. Tapi munculnya keriuhan tersebut, justru membuat Naras terganggu. Hiruk pikuk di media sosial tak hanya memunculkan dukungan bagi Naras untuk maju, namun sekaligus caci maki dan memojokkan Naras, karena memandangnya berseberangan dengan jagoan Puteri Indonesia yang sedang mereka dukung. Padahal, Naras ingin terlebih dulu menuntaskan apa yang selalu diminta oleh Drs. Bambang Supriyadi, sang ayah, sejak pertama kali Naras menginjakkan kaki di kampus Karangmalang:

fokus kuliah. Sehingga mematikan dan puasa media sosial hingga tiga minggu sejak gosip tersebut muncul, dilakukan Naras agar tak terganggu keramaian maya.

BERJIBUN KEGIATAN NARASWARI, mulai dari menjadi MC, fashion show, duta lalulintas, hingga menjemput tamu negara di bandara.

“Jadi jujur saja, yang menyebut nama saya itu memang hanya gosip, tapi memang ada sedikit niat saya (untuk ikut Putri Indonesia). Tapi Naras inginnya selesaikan dulu kuliah, toh kalau memang ikut dan rejekinya kebuka, sudah ada Allah yang mengatur,” ungkap Naras. April 2018 kala tim Pewara Dinamika bertemu dengan Naras, ia sedang menuntaskan janji itu lewat perintisan karya skripsinya dengan hati. Serta tetap mengabdikan kelihaiannya di atas panggung lewat kegiatan membawakan acara maupun

"Keapesan" Naras justru berkah yang menjadi pintu masuknya atas kegiatan modelling yang ia lakukan di kemudian hari.

menjadi bintang iklan di sela-sela pembuatan skripsi yang berjudul Symbols and Their Significances in Ibsen’s Lady From The Sea: A New Criticism Approach. Kartini “Klegen” Walaupun kerap disebut orang sebagai gadis yang relatif garang, Naras mengisahkan bahwa pertama kali dirinya melenggok lembut di atas panggung dimulai pada saat ia ditodong mengikuti kegiatan Kartini-Kartono di SDN 1 Klegen. 21 April, pada tahun 2000an, menjadi saksi ia berjalan dan melambai kepada temanteman SD dengan pakaian rasukan dan kain jarik/sinjang bermotif tradisional. Seperti teman-teman SDnya, Naras melakukan kewajiban tersebut dengan enggan dan berharap 21 April segera tuntas. Tapi apesnya, ia menang. Dan keapesan tersebut justru berkah yang menjadi pintu masuk Naras atas kegiatan modelling yang ia lakukan di kemudian hari. “Walaupun SD sempat vakum sebentar, tapi sejak kartini itu saya mulai berkecimpung di dunia sebagai model dan duta wisata,” P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 49


kenang Naras.

S O S O K D U TA W I S ATA

Kepercayaan diri seiring waktu tumbuh dalam diri Naras. Modelling kemudian menjelma sebagai hobi, karena mampu menghasilkan kemenangan dan juga uang saku tambahan yang bisa ia gunakan untuk jajan maupun kebutuhan tambahan. Naras mencoba menjadi mandiri dan tak memberatkan orang tua. Hingga akhirnya, menjadi serius dan profesional hingga aktif sebagai bintang iklan maupun model untuk brand tertentu. Pada saat menginjak bangku putih abu-abu di SMAN 2 Kota Madiun, apa yang berlangsung saat SD kemudian berulang. Naras yang kala itu duduk sebagai siswi kelas 1 SMA, kembali ditodong untuk mewakili pemilihan duta wisata kota. Pemaksaan yang kemudian disanggupinya karena tak berani dengan sang guru SMA. Pemilihan duta wisata kota itu, bertajuk MasMbakyu Madiun 2012. Dan nyaris sama dengan kisah waktu kegiatan Kartini-Kartono SD, Naras berhasil menyabet gelar juara pada ajang tersebut. “Alhamdulillah ternyata diamanahi juara 1. Walaupun dipaksa, akhirnya ikutlah. Mana berani dengan guru,� kenang Naras sembari terkekeh. Sejak saat itu, kiprah Naras dalam bidang modelling semakin meroket. Kompetisi demi kompetisi diikutinya di penjuru Jawa Timur, seiring dengan pundi-pundi uang yang diperolehnya dengan menjadi bintang iklan maupun MC dalam pagelaran tertentu. Salah satu kompetisi tertinggi yang pernah dijajakinya adalah Raka Riki Jawa Timur 2013 yang menjadi kelanjutan jenjang dari lomba Mas-Mbakyu Madiun yang ia ikuti sebelumnya. Kegiatan mulai dari pementasan, tanya jawab, hingga penggemblengan intensif dalam karantina ia lakoni dengan sepenuh hati. Walaupun secara prinsip, Naras sudah berbisik kepada hatinya sendiri untuk menerima segala hasil dalam lomba tersebut dengan lapang dada. Alasan atas hal tersebut, karena terkait dengan statusnya dalam lomba tersebut sebagai peserta paling muda. Ia masih duduk di kelas 2SMA. Sedangkan Raka Riki Jawa Timur, terbuka untuk segala jenjang pendidikan. Termasuk bagi mereka yang sedang menginjak bangku kuliah maupun telah bekerja. Asalkan di bawah umur 50 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

KALAM / PEWARA

sekitar 20an tahun, semua bisa mengikuti perlombaan tersebut dengan meniti jenjang kompetisi di tingkat kabupaten kota masing-masing. Sehingga hasil peringkat 10 besar yang ia dapatkan waktu itu, cukup disyukuri sebagai kerja keras yang ia telah lakukan selama ini.

presensi dan alpa dalam wujud rupa. Ia lebih sering melalangbuana ke Surabaya maupun keliling Jawa Timur alih-alih belajar di bangku kelas. Bahkan dalam catatan buku presensi, Naras ingat betul bahwa ia hanya masuk sekitar satu-dua hari setiap minggunya.

“Bahkan bisa dibilang waktu itu saya adalah peserta paling muda karena yang lain dari segi jam terbang lebih tinggi dari saya dan rata-rata sarjana atau bahkan kerja dan orang profesional di dunia pageant. Ya udah Naras jalanin aja dengan lapang dada. Nothing to lose, ya,� ungkapnya.

Ujian Tengah Semester pun pernah dilakoninya dalam bentuk daring seiring banyaknya ujian lain yang ia ikuti dengan cara susulan. Terkadang ia kerjakan di sela-sela istirahat makan siang pada harinya yang begitu padat, dan pernah sekali bahkan mengerjakan ujian di atas bus maupun di dalam ruang rias ketika sedang memasang konde dan sanggul.

Walaupun demikian, kerja keras yang dilakukan Naras tersebut mengorbankan sesuatu. Di sekolah, dirinya seakan hanya ada di buku

Walaupun sekolahnya sangat mendukung apa yang ditekuni Naras tersebut, tetap ada rasa bersalah dalam diri Naras


mendampinginya, Widowati, sang ibunda, bahkan mengambil cuti bersama ayah Naras selama tiga hari untuk menunggu sang putri yang sedang mengikuti ospek.

S O S O K D U TA W I S ATA

“Karena sempat homesick yang lumayan lama. Kan maksudnya anak rantau baru, temennya belum banyak, jadi sempet ngerasa sepi sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu ya bisalah. Karena di kampus acaranya banyak dan aku ikut juga,” terang Naras. Dari keturutsertaan dalam acara-acara kampus, Naras kemudian aktif sebagai MC dalam beberapa kegiatan intra kampus maupun di sekitaran Yogyakarta. Kegiatan yang pertama kali dilakoninya, adalah menjadi MC dalam Pelepasan Wisuda yang terwujud berkat ajakan dari Dr. Widyastuti Purbani, yang ketika itu masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Dalam wisuda tersebut, Naras dipasangkan dengan seorang MC yang juga asli Jawa Timur.

DOK. NARASWARI

sekeluarga. Hasil pembelajarannya di sekolah pun tak maksimal, karena Naras kerap harus ikut remedial karena tidak belajar. Oleh karena itu, ketika ia diterima di Universitas Airlangga sertaUniversitas Brawijaya dalam selek­si SNMPTN Rapor maupun tulis, ayahnya merasa khawatir jika sang putri masih dekat dengan pekerjaan mau­pun temantemannya di bidang modelling, sehingga akan jarang sekolah seperti di bangku SMA. “Jadilah saya masuk UNY, mendaftar Sastra Inggris lewat jalur prestasi. Saya yakin kemampuan Bahasa Inggris akan sangat perlu. Alhamdulillah, Papa Mama sangat mendukung,” ungkap Naras atas rezeki tak terduga di Karangmalang. Tetap Bersinar di Yogyakarta Kepindahannya ke Yogyakarta

kemudian mengubah banyak aspek kehidupan Naras layaknya yang diharapkan oleh kedua orangtuanya. Ketiadaan teman di bidang modelling maupun saudara, membuat Naras menjadi anak rantau yang harus memulai segala sesuatu dari nol. Dan sesuai harapan kedua orangtuanya: Menjadi lebih rajin ada di bangku kuliah dibanding ketika ia SMA. Untuk memastikan dan

NARASWARI, tengah, saat perlombaan Raka Raki Jatim 2013.

Selama belajar dengan tekun dan mengasah bakat dari panggung ke panggung, Naras juga yakin bahwa semua orang bisa menjadi MC, bahkan lebih hebat darinya.

Kecocokan di antara mereka berdua di atas panggung, kemudian membawa Naras dalam aktivitas memandu acara secara lebih intens di Yogyakarta lewat event organizer tertentu. Termasuk dalam beberapa kesempatan memandu acara yang dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X, misalnya dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-29, serta Jambore Nasional Asosiasi Kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera). “Tentu dengan tetap menjaga diri. Sudah jauh-jauh ke Yogya, kuliah tetap prioritas nomor satu,” ungkapnya yang kemudian menjadi pertimbangan ketika menolak maju dalam Puteri Indonesia 2018. Walaupun setelah lulus, Naras juga mempunyai sedikit impian untuk meniti karir kembali di bidang tersebut dengan menjadi wakil Jawa Timur. Selama belajar dengan tekun dan mengasah bakat dari panggung ke panggung, Naras juga yakin bahwa semua orang bisa menjadi MC. Bahkan, jauh lebih hebat dari dirinya. “Saya banyak bertemu teman, baik di dunia MC maupun kehidupan pada umumnya. Mereka punya bakat luar biasa, tapi masih ragu ke panggung. Intinya, kalau ngelihat aku dulu, flashback, nekat saja. Pasti bisa,” pungkas Naras. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 51


» Opini

Kesetaraan Agama dan Penghayat Kepercayaan Oleh PANGKI T. HIDAYAT alumnus S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNY anggota Forum Kolumnis Muda Jogja (FKMJ)

M

ahkamah Konstitusi (MK) me­ ngabulkan secara keseluruhan permohonan uji materi (judicial review) mengenai pasal 61 ayat (1) dan (2), serta pasal 64 ayat (1) dan (5) UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk) juncto UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang UU Adminduk. Permohonan itu diajukan oleh empat orang yang masing-masing mewakili penganut kepercayaan Parmalim (Kabupaten Toba Samosir), Komunitas Marapu (Sumba Timur), Ugamo (Bangsa Batak di Medan) dan Sapto Darmo (Jawa Tengah). Dalam putusannya, hakim MK berpendapat bahwa kata “agama” sebagaimana yang tercantum pada pasal 61 ayat (1) dan pasal 64 ayat (1) bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk penganut aliran kepercayaan.

Dengan dikabulkannya gugatan judici­al review tersebut, maka penghayat keperca­ yaan menjadi mempunyai kedudukan seta­ ra dengan agama-agama yang telah diakui secara resmi oleh pemerintah, khususnya dalam konteks administasi kependudukan. Sehingga, kini mereka tidak lagi harus mengosongkan kolom agama di KTP atau terpak­ sa mengisi kolom agama dengan agama resmi tertentu yang mereka sendiri tidak yakini. Tetapi, mereka bisa mengisi kolom agama dengan keterangan sebagai penghayat kepercayaan. Oleh karena itu, keputusan MK yang mengabulkan secara keseluruhan permohonan uji materi tersebut patut diapresiasi. Sebab, jamak disadari kesetaraan bagi setiap warga negara sejatinya adalah hak yang harus dipenuhi oleh negara. Terlebih dalam hal agama atau keyakinan, Pasal 29 Un-

dang-Undang Dasar (UUD) 1945 telah secara gamblang menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Maka, memberikan kesetaraan yang sepadan terkait agama ataupun kepercayaan bagi para penghayat kepercayaan memang sudah sepatutnya dilakukan oleh negara (pemerintah). Era Baru Terlepas dari itu, dikabulkannya permohonan uji materi atas pasal 61 ayat (1) dan (2) serta pasal 64 ayat (1) dan (5) UU Adminduk tersebut bukan tidak mungkin bisa menjadi era baru bagi para penghayat kepercayaan untuk dapat betul-betul mendapatkan perlakuan yang adil di segala lini kehidupan. Artinya, tidak mustahil berawal dari pengakuan penghayat kepercayaan dalam identitas di KTP, para penghayat kepercayaan bisa mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara yang setara dengan para penganut agama “resmi”. Jamak diketahui, selama ini para penghayat kepercayaan acapkali mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dalam pelbagai hal, bahkan oleh pemerintah sendiri. Dalam buku “Jalan Sunyi Pewaris Tradisi” misalnya, disebutkan bahwa para penghayat kepercayaan kerap dibenturkan dengan peraturan yang mendiskreditkan mereka. Di antaranya seperti Peraturan Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan, Penyalah­ gunaan, dan/atau Penodaan Agama dan Tap MPR Nomor IV/MPR/1978 tentang Ga­ ris-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang menyebutkan bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bukan merupakan agama. Alhasil, dikucilkannya para penghayat kepercayaan dari pergaulan sosial antar masyarakat di negara ini menjadi tidak bisa dihindari. Bahkan, tidak jarang sampai ada yang mengecap mereka sebagai aliran sesat, kafir hingga bid’ah. Pun bila merujuk argumentasi yang dikemukakan oleh para pemohon, ketidak­ adilan terpaksa harus rela mereka terima sekalipun pada hakikatnya mereka juga adalah warga negara Indonesia (WNI). Mengutip Nggay Mehang Tana selaku pemohon I dan seorang penganut kepercayaan Komunitas Marapu, mengatakan bahwa mereka kerap kesulitan untuk mendapatkan KTP dan akte

Dengan dikabulkannya gugatan judici­al review tersebut, maka penghayat keperca­yaan menjadi mempunyai kedudukan seta­ ra dengan agama-agama yang telah diakui secara resmi oleh pemerintah, khususnya dalam konteks administasi kependudukan. Sehingga, mereka tidak lagi harus mengosongkan kolom agama di KTP atau mengisi kolom agama secara terpaksa. 52 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8


REPUBLIKA.CO.ID

kelahiran bagi anak-anaknya. Sebabnya, pernikahan yang dilakukan antar pemeluk aliran kepercayaan Komunitas Marapu tidak diakui oleh negara. Hal senada dikemukakan oleh Pagar Demanra Sirait yang merupakan pemohon II yang juga penganut aliran kepercayaan Parmalim. Menurutnya, penganut Parmalim mendapatkan ketidakadilan (baca: dipersulit) dalam mengakses lapangan pekerjaan, hak jaminan sosial dan pelbagai dokumen kependudukan (KTP, Kartu Keluarga, Akte Pernikahan dan Akte Kelahiran). Dalam konteks ini, tentu saja banyak penghayat kepercayaan lain yang juga mendapatkan

diskriminasi serupa. Berdasarkan database Kemendikbud pada periode 30 Juni 2017, tercatat setidaknya ada sebanyak 138.791 aliran penghayat kepercayaan. Kecuali itu, terca­ tat pula ada 187 organisasi penghayat kepercayaan yang tersebar di 13 provinsi seluruh Indonesia. Segera Disosialisasikan Pemerintah, khususnya Kementererian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai pihak yang terdampak langsung atas putusan MK tersebut tentu harus segera melakukan sosialisasi ke seluruh jajaran di bawahnya. Sebab jika tidak segera dilakukan sosialisa-

Tanpa adanya kesetaraan pelayanan terkait adminduk, para penghayat kepercayaan ke­sulitan atau bahkan terdiskriminasi dalam usaha pemenuhan hak-hak hidup lainnya. Faktanya, tidak sedikit dari mereka yang ditolak ketika sedang mencari pekerjaan karena kekosongan identitas dalam kolom agamanya.

si, maka sudah pasti pelbagai bentuk tindak diskriminatif terkait adminduk bagi para penghayat kepercayaan masih akan terjadi. Padahal, seperti diketahui tanpa adanya kesetaraan pelayanan terkait adminduk, para penghayat kepercayaan akan mengalami ke­ sulitan atau bahkan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam usaha pemenuhan hakhak hidup lainnya. Faktanya, tidak sedikit para penganut penghayat kepercayaan yang ditolak ketika sedang mencari pekerjaan oleh instansi atau perusahaan tertentu karena kekosongan identitas dalam kolom agamanya. Dalam konteks itu pula, Kemendagri se­ patutnya juga menggandeng instansi-instansi lain dalam kerangka menyukseskan sosialisasi putusan MK mengenai uji materi pasal 61 dan 64 tersebut. Misalnya, dengan menggandeng Kemendikbud dan Kementerian Agama (Kemenag). Pasalnya, tidak bisa di­ ban­tah bahwa selama ini masih ada proses pembelajaran di sekolah-sekolah, baik yang dibawahi oleh Kemendikbud maupun Kemenag yang mengarah pada adanya pembentukan opini agama “resmi” dan tidak resmi. Dengan upaya itu, masyarakat diharapkan tak lagi terjebak pada pola pikir adanya agama “resmi” dan tidak resmi. Lebih­dari itu, perlakuan diskriminatif terhadap para penghayat kepercayaan pada setiap lini kehidupan bisa dihapuskan. P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 53


Resensi

SEBATAS KENAKALAN BUKAN KEJAHATAN REMAJA

M

elipat Agustus merupakan sebuah novel kan dunia yang mampu menjawab rasa penasaranyang memiliki tokoh utama seorang bernya mampu dikemas secara tersembunyi dan baginMELIPAT AGUSTUS Penulis: Muhammad Qadhafi âˆŤ nama Agus. Tokoh utama ini menghidupya kreatif karena memenuhi rentang imajinasinya. Penerbit: Gambang Buku kan cerita dengan kebiasaan-kebisaan Toleransi pembicaraan dunia yang reman-reBudaya, Cetakan I, DAgustus sehari-harinya yang dalam realita masyarmang dalam novel ini sangat tinggi. Bagi yang tidak 2017 âˆŤ Tebal: 214 halaman akat kita akan disebut ‘nakal’. terbuka dengan dunia tersebut pastilah akan menySosok Agus dalam novel karya Muhamingkirkan novel ini dan menganggapnya sebagai mad Qadhafi dideskripsikan secara lugas sebagai reprenovel yang tidak layak dibaca. sentasi perilaku remaja yang penasaran di usianya. Agus, Akan tetapi, novel ini dengan jujur sudah menelanjangi realidalam imaji karya penulis yang akrab disapa Dhafi ini ta bahwa sosok Agus ada di mana-mana. Agus dalam novel ini hamenggemari film porno, bacaan porno, serta penasaran dengan nyalah cerminan dari salah satunya. berbagai pengetahuan mengenai seks. Novel ini dengan gamblang membicarakan persoalan rasa Dalam imaji karya Dhafi, Agus tidak mudah puas hanya dengan penasaran remaja pada seks dengan terbuka. Novel ini dengan tesatu atau dua kali pengalaman ketika membicarakan film porno gas mengatakan seks tidak bisa tidak dibicarakan secara gamblang, dan hal-hal lain berbau seks yang dianggap tabu di kalangan maskarena jika tidak akan jadi berbahaya untuk generasi yang penayarakat sekitar untuk dibicarakan secara gamblang. Dalam buku saran akan hal itu. ini sosok Agus tidak mewakili sifat baik atau buruk anak-anak seNovel ini memperlihatkan bagaimana Agus mampu mengonusianya, ia menjadi salah satu representasi saja dari tindakan retrol dirinya ketika ia bisa menemukan teman diskusi tentang dunia maja di usianya yang ingin memenuhi rasa penasarannya. seks. Peran teman diskusi secara langsung maupun tidak langsung dalam novel ini menjadi salah satu contoh cara menanggulangi tinPergaulan Remaja dakan kebablasan remaja seperti Agus dengan seks. Noval Melipat Agustus menyinggung pergaulan remaja yang seringkali bebas dengan caranya sendiri. Agus digerakkan oleh Kontrol Seksualitas dan Pornografi dalam Dunia Pendidikan rasa penasaran bergabung dengan pergaulan yang membuatnya Kita semua sudah sering mendengar kasus pemerkosaan sismengenal seks, film porno, dan bacaan-bacaan porno lainnya yang wa oleh teman sekelas atau oleh guru kepada murid. Memang bebagi anak-anak seusianya tidak boleh disentuh karena melanggar nar bahwa persoalan ini merupakan masalah kepribadian, nanorma sosial. mun masalah kepribadian masih mampu untuk Agus pada awal cerita dideskripsikan sedikontrol ketika lingkungan sosialnya memberibagai sosok remaja yang polos, namun seiring kan kesempatan baginya untuk bicara secara pertumbuhan pubertasnya, Agus mulai bertanterbuka dan mendapatkan ilmu pengetahuan ya-tanya soal seks dan ia bertemu dengan temanyang tepat lengkap dengan baik dan buruknya. teman yang memiliki rasa penasaran yang sama Novel ini membicarakan kekurangan dundengan dunia seks. ia pendidikan kita yang mana malu-malu unHal positif dari pergaulan yang diambil oleh tuk memberikan kesempatan pada guru dan Agus ialah perilaku mereka tidak melanggar humurid membicarakan pornografi dan seksualkum dengan memaksa perempuan untuk melitas secara terbuka. Dengan nada sarkasme, isi akukan hubungan seks di luar kemauan mereka. novel ini memberitahukan pilihan untuk tidak Ada emansipasi dan hak-hak perempuan yang membicarakan seksualitas dan pornografi bisa disinggung cukup tegas di dalam novel ini. menjadi pilihan fatal di mana anak-anak remaEkspresi yang diperlihatkan Agus dan ja bisa menjadi brutal dengan caranya sendiri. teman-temannya tersebut merupakan secuil Pendidikan seksualitas dan pornografi jurealitas yang coba diangkat oleh penulis untuk ga bisa menjadi pencegah anak-anak beperilamenunjukkan rasa penasaran seharusnya diku seks bebas karena mereka telah memahami jawab sampai tuntas agar tidak menyebabkan akibat-akibatnya. Kurangnya pengetahuan tenpelanggaran hukum dikemudian hari. tang seks bisa menyebabkan anak memiliki rasa Aspek Sosial dan Seksualitas Dunia Remaja penasaran yang tinggi terhadap seksualitas dan Novel yang masuk ke dalam kategori 18+ ini melakukannya tanpa pikir panjang juga tanpa menjiwakan aspek sosial sebagai latar belakang pengaman. Dampak panjangnya, akan menimpersoalan yang dihadapi Agus di kehidupan sehari-harinya. Agus bulkan masalah sosial seperti pemerkosaan, aborsi, hamil di luar bukan bocah yang bisa duduk tenang ketika rasa penasaran senikah, sampai pada terdampak penyakit seksual. dang merongrong perasaannya, ia akan mencari tahu sampai terNovel ini memperingatkan anak remaja seperti Agus bukanjawab. Di sisi lain, dunia pendidikan yang jadi wadahnya belajar lah anak nakal yang harus dicambuk atau dipukuli ketika ketadi usia remaja dengan rasa penasaran yang sedang naik-naiknya, huan mencari tahu tentang seksualitas dan meliht film porno, meltidak mampu memenuhi keingintahuannya, jadilah Agus memiainkan harus diajak untuk bicara, diskusi mendalam mengenai lih pendidikan di luar sekolah sebagai jalan keluar. topik tersebut. Ketika seorang anak sudah mulai penasaran denIa bertemu dengan persoalan sosial di masyarakat, memasuki gan dunia seksualitas artinya anak tersebut sudah mulai harus dunia esek-esek yang dikemas secara transparan. Agus menemudiberi wawasan mengenai seksualitas. MUTAYASAROH

54 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2018


Bina Rohani

Indahnya Bertegur Sapa dan Salam

R

asulullah SAW telah memberikan kabar bahwa ada satu di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah ketika salam sudah tidak diucapkan kecuali kepada orang-orang yang dikenal saja. Hal tersebut telah serupa dengan realitas kaum muslimin sekarang ini. Kaum muslimin yang idealitasnya bisa membudayakan salam justru sekarang banyak yang telah mengganti kalimat salam tersebut dengan kalimat-kalimat yang sama sekali jauh dari tuntunan sunnah dan mengucapkan salam hanya kepada orang tertentu saja. Ajaran agama Islam benar-benar sangat mulia dan indah. Salah satu buktinya ialah adanya ajaran bertegur salam. Dengan bertegur salam, hidup akan terasa

gurusi masalah urusan ritual saja, akan tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat, hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang sunnah, tetapi menjawabnya adalah wajib. Alquran tegas menyatakan dalam firman Allah SWT, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86). Penghormatan dalam Islam ialah dengan mengucapkan assalamu’alaikum. Islam mengajarkan budaya tegur salam dengan

lebih indah seindah nama Islam itu sendiri, sehingga terjalinlah komunikasi dua arah yang akan merekatkan hubungan silahturrahim sejak dini. Dapat dilihat saja, fenomena konflik di masyarakat selama ini sesungguhnya kerap kali muncul akibat minimnya tegur salam. Seolah-olah baik diri sendiri ataupun orang lain tidak perlu tegur salam kalau tidak ada perlunya saja. Kalau saja setiap pihak mau membudayakan tegur salam dan tidak mementingkan rasa egois diri sendiri, tentu persoalan yang muncul tidak akan melebar ke mana-mana. Saling berprasangka tidak baik berbalut sikap enggan bertegur salam itu hanya akan meluapkan amarah. Ajaran Islam sungguh tidak hanya men-

ucapan, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ucapan ini memang tampak sepele, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Adapun yang dianjurkan mengucapkan salam ialah sesuai hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ketika Allah telah menjadikan Adam, maka Allah memerintahkan: Pergilah kepada para Malaikat dan ucapkan salam kepada

Oleh TIKA MUTIANI Mahasiswa UIN Walisanga Semarang

P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2018 5 5

mereka yang tengah duduk. Dengarkanlah jawaban salam mereka, karena itu akan menjadi ucapan salam bagi kamu dan anak cucumu kelak!” Maka pergilah Nabi Adam dan mengucapkan: Asalaamu`alaikum. Para Malaikat menjawab: Assalaamu‘alaika warahmatullaah. Mereka menambah warahmatullaah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadis di atas sangat jelas bahwa ucapan salam berasal dari manusia pertama, yaitu dari Nabi Adam as, yang kemudian diikuti oleh umat muslim di seluruh dunia hingga sampai saat ini. Islam mewajibkan apabila muslim bertemu dengan sesama muslim agar selalu mengucapkan salam, dengan ucapan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi barakatuh.” yang bermakna “Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan berkah kepadamu”. Betapa luar biasanya doa dari orang yang mengucapkan salam tersebut. Namun, umat manusia saat ini telah berada di zaman teknologi yang serba canggih. Beberapa perangkat modern itu saat ini telah sangat umum digunakan untuk membangun kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Namun, patut untuk disayangkan bahwa kerap kali muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam yang mulia itu menjadi “Askum”, “Kumlam”, “Lekum”, “Asw”, “Aslm”, dan singkatan-singkatan lain yang mirip dengan kata-kata tersebut. Yang paling sering adalah “Ass”. Kalimat ini umumnya disampaikan lewat layanan pesan pendek (SMS) di media jejaring sosial di internet. Maksud dari penyingkatan itu sendiri tentu hanya untuk mempermudah penyampaian pesan. Akan tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justru berakibat kepada penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa. Misalnya pada kalimat “Ass”, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang yang bodoh, bokong. Pada dasarnya pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara dengan kata-kata buruk seperti itu. Namun, sebaiknya mengucapkan salam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ini adalah salah satu ajaran dalam Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan. Sudah semestinya sebagai umat muslim kita harus bisa meninggalkan kebiasaan yang jauh dari tuntunan ajaran Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bishawab. 


Cerpen

Slide

D i bawah jembatan layang ini, aku sedang berkutat dengan anak jalanan. Di sekolah sosial yang aku dirikan dengan Fitri, teman satu kampusku. Kami tergerak karena hati kami tidak mau tinggal diam melihat pendidikan anak jalanan yang terabaikan.

Kendati demikian, anakanak tetap anak-anak. Canda tawanya mengudara, mengubah murung menjadi ceria. Di sinilah mereka tinggal bersama dengan kerasnya hidup mencari makan dan lembutnya hidup di masa kanak. Mereka selalu ceria walau terkadang mereka tak tahu, hari ini mereka bisa makan atau tidak. Jogja telah merangkak menuju senja.

Pacitan, 13 April 2017 Langit telah menuju senjakala. Aku memandang motor bututku. Motor Yamaha V80 berwarna hitam dan putih. Motor yang body-nya semua terbuat dari besi sehingga berat yang menyebabkannya semakin tak bisa lari. Tapi motor inilah yang menjadi sumber penghasilan kedua setelah mengajar. Memang selain menjadi guru honorer kala malam aku menjadi tukang ojek yang mangkal di perempatan dekat gapura desa.

“Mas? Ndak ngojek?” tanya Asmi, istriku. “Belum, Dek motor tua kita sedang merajuk, tidak mau jalan.”

56 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Oleh LATIF PUNGKASNIAR alumni mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNY angkatan 2007, saat ini bekerja sebagai editor dan sedang menyelesaikan novel pertamanya, Cerebro

“Ya sudah, Mas Tanto istirahat saja. Mungkin tidak cuma motornya yang harus diajak istirahat, tapi Mas juga. Bagaimana tadi di sekolah?” “Yah, masih seperti biasa. Aku ndak tau kenapa anak-anak sekarang bandel-bandel, bahkan tadi saja pas jam pelajaranku yang masuk cuman tiga belas orang. Padahal jam sebelumnya, jam Pak Watino yang galak itu. Semua murid masuk.” “Mas yang sabar ya,” ujar Asmi menguatkanku. Aku hanya mengangguk lemah. “Kopinya masih, Dek?” tanyaku sekedar basa-basi, biasanya jika ditanya seperti itu istriku langsung membuatkan kopi untukku. “Masih mas, tapi kelihatannya tinggal sedikit, jadi mungkin tidak terlalu kental. Apa mau Asmi belikan dulu di warung?”

duduk di kelas tiga SD itu. “Tidak ada masalah Mas, semua berjalan lancar-lancar saja.” Dia berujar dengan tenang, tetapi aku menangkap sedikit ekspresi gugup di wajahnya. Aku segera mencium adanya ketidakberesan. “Benar, tidak ada masalah, Dek?” tanyaku selidik. Mukanya memerah lalu tersenyum malu, mungkin karena tadi berusaha menutupi sesuatu dariku. “Uang buku Hanum yang Mas kasih kemaren belum Asmi kasih. Habis undangan jagong banyak banget, Mas, ini kan musim orang kawinan. Makanya uang buku Hanum, Asmi pakai dulu.” “Ya sudah tak apa, Dek,” ujarku maklum seraya tersenyum.

Beberapa menit kemudian, istriku keluar lagi dengan membawa segelas kopi yang benar-benar bening, tapi aku diam saja. Aku tak mau melukai perasaannya.

Istriku juga tersenyum. Seperti inilah, dengan gaji honorer yang hanya empat ratus ribu, aku harus membagi keperluan makan, biaya sekolah anak, dan sewa rumah sepetak. Belum lagi untuk mengisi amplop jagongan yang datang seabrek jika musim orang punya hajat. Memang beginilah risiko menjadi guru, apalagi di desa seperti ini. Undangan pernikahan datang membanjir bahkan dari beberapa nama yang tidak dikenal sekalipun semua menganggap guru adalah orang terpandang dan pantas untuk diundang.

“Gimana sekolahnya Hanum, Dek?” aku menanyakan putri semata wayangku yang kini

Jika dipikir, apa mungkin aku bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga jika hanya

“Ndak usah Dek, seadanya saja,” jawabku. Aku tak mau merepotkan istriku, aku tahu dia pasti akan menghutang lagi di warung Yu Darsi. “Ya sudah, tunggu sebentar ya, Mas.”

mengandalkan gaji guru honorer ini? Dulu pernah Istriku mencoba buka warung, dengan modal pinjaman dari bank. Tetapi Yu Darsi, pemilik warung sebelah rumah mencakmencak tidak terima, karena merasa tersaingi. Makanya sekarang warung Istriku tutup. Daripada ribut, katanya. Aku kembali merenung tentang semua ini, aku yang ngojek sampai dini hari dan suka terkantuk-kantuk saat mengajar di kelas pagi harinya. Sebenarnya ngojekku itu mempengaruhi kinerjaku sebagai guru. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa bertahan hidup kalau tidak nyambi ngojek seperti ini. Aku juga maklum jika saat mengajar yang tertinggal di kelasku hanya beberapa murid saja. Mungkin mereka bosan hanya mengerjakan tugas dariku tanpa aku beri penjelasan terlebih dahulu dan kadang jika rasa kantuk benar-benar meraja di mataku, aku tinggal muridmuridku itu tidur. Aku mendesah panjang. “Maafkan Bapak anak-anak, Bapak melakukan itu semua hanya untuk bertahan hidup.” Pacitan kini menjadi malam. Jakarta, 14 April 2017 Suatu siang yang panas, di sebuah ruangan yang aku tempati, ruangan kebanggaanku sebagai kepala sekolah sebuah SMA swasta di Kota Metropolitan. Aku memang mengincar jabatan ini, tidak hanya untuk prestise tetapi juga untuk uang.


Setidaknya seperti siang ini, di ruangan ini. Bersama calon guru yang datang kepadaku dengan segepok uang. “Jadi bagaimana, Pak?” tanyanya basa-basi. “Semua bisa diatur dengan uang tiga puluh juta ini,” jawabku sembari menghitung lembarlembar uang. Sengaja aku minta uang tunai agar tidak repot aku melihat rekeningku. Lagi pula, dengan pembayaran cash seperti ini malah memperkecil kecurigaan orang-orang padaku.

tenang, dan damai. Kicauan burung-burung juga menyertai kami belajar di sebuah SD Negeri. Tapi, jangan heran. Di sekolah kami hanya ada tiga ruang kelas, dan lebih hebat lagi hanya ada satu guru yang memberi kami pelajaran. Aku adalah seorang anak Papua yang ingin maju. Tapi apa yang kudapat tak seperti apa yang aku inginkan. Tak ada fasilitas yang memadai di sini. Tidak seperti kata guru kami yang

sabarlah saja, Basik.” Acap kali jawaban Mama hanya membuatku semakin kecewa. Lalu seiring waktu berjalan aku mulai bersyukur karena dahulu aku tidak bisa membaca tapi sekarang sudah agak bisa membaca dan aku yakin, bisaku hanya bersyukur belum bisa menuntut. Indonesia, 2 Mei 2017 Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Rista, Fitri, bersama

“Jadi mulai kapan Pak saya bisa mengajar?” “Jika Saudara mau, Saudara bisa berkerja di sini mulai minggu depan. Oh iya, jangan lupa Kamis besok Saudara ke sini untuk tes. Hanya untuk formalitas saja, Saudara sudah jelas diterima.” “Terima kasih banyak Pak, saya pamit dulu,” ujarnya seraya mengulurkan tangan, kujabat tangan itu dan tersenyum. “Hati-hati di jalan,” ucapanku hanya dijawab dengan anggukan kecil dan senyum yang mengembang. Lalu dia menghilang di balik pintu. Selepas kepergian calon guru itu, ruangan ini kembali sepi. Memang nikmat hidup seperti ini. Tidak perlu lembur, uang selalu datang tak diundang, memang aku tak pernah meminta tapi selalu saja uang ini berdatangan saat anak yang seharusnya tinggal kelas, orang tua mereka yang kaya raya pasti memberiku uang tanpa aku meminta. Lalu aku mati-matian memperjuangkan agar anak mereka bisa naik kelas. Aku akan berkeliling sekolahan dulu, mengawasi para guru yang sedang mengajar. Aku segera melangkah keluar, tulisan nama di bajuku berkilat terkena sinaran mentari, di sana tertera Drs. Soekir, M.Pd. Papua, 15 April 2017 Di alam Papua yang hijau,

TABLOIDJUBI.COM

berasal dari Jawa. Sekolah di Jawa lengkap fasilitasnya dan gedungnya bagus-bagus. Aku tahu gedung sekolah di Jawa besar-besar karena waktu itu guru kami memperlihatkan gambar sekolah di sana pada kami. Suatu kali, waktu aku bertanya kepada Mama, kenapa aku tak bisa mendapatkan pendidikan yang sama seperti orang Jawa. Mama hanya berkata, “Orangorang di Jawa sedang sibuk dengan urusan negara jadi kita masih kurang ditengok. Kau

anak-anak jalanan didikannya mengadakan upacara seadanya. Bendera merah putih itu berkibar anggun di ujung galah bambu. Melihat semangat para anak didiknya, ada rasa haru mengelegak di hati Rista. Kapan akhirnya mereka mendapatkan pengajaran yang layak? ujarnya lirih hanya dalam hati. Di sudut lapangan Pacitan, tempat diberlangsungkannya upacara Hardiknas, tampak Tanto menguap terus-menerus. Dia berusaha keras menahan

kantuk yang menyerang. Bayangkan saja tadi malam dia menarik ojek hingga jam tiga pagi. Karena ojekan malam itu sepi dan Hanum sudah merengek-rengek minta uang bukunya agar segera dibayar. Di sudut itu, dia berjuang, tak hanya antara terjaga dan tidur. Tapi pertaruhan hari ini keluarganya bisa makan nasi hasil hutangan atau nasi dibayar tunai. Soekir memberikan amanat pada upacara peringatan Hardiknas di sekolah yang dia pimpin, dia berapiapi dalam pidatonya, dia mengajak semua elemen sekolah untuk memajukan pendidikan. Mulutnya berkoar selaksa semangat Ki Hadjar Dewantara yang meneriakkan pemajuan pendidikan. Padahal malaikat di sebelah kirinya tahu apa yang ada di lubuk pikirannya yang terdalam. Uang. Simson Basik, telanjang kaki. Tapi tangan itu memberi hormat yang sempurna kepada Sang Saka yang berkibar tanpa cela menantang cakrawala. Tanpa patah semangat, Basik mengikuti upacara di sekolah barunya, sekolah yang lebih memadai daripada sekolahnya yang dulu. Tapi untuk sampai ke sekolah yang sekarang diperlukan dua jam perjalanan darat yang di tempuh dengan berjalan kaki. Walaupun kapal di kakinya semakin tebal, dia tetap tersenyum. Semua ini dia lakukan untuk kemajuan dirinya, dan pulaunya, dan negaranya. Di angkasa Indonesia tergaung sebuah suara yang hanya terdengar oleh nurani: “Seorang pengajar itu harusnya, Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).”  P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8 57


PUISI TEMBANG G E G U R I TA N

Yamato, Geger Surabaya Jaman kuna, jaman penjajah ing Nuswantara Kawula padha rekasa, priyayi suka parisuka Dlamakan dadi sandhal, kahanan Goni dadi sandhangan Gogik dadi pangananan Urip nelangsa, mayit pating belasah Jaman sinebut bakayaro bakayaro Jaman Nipon, telung taun antarane Saniskara angel upa Dikira dewa, sangsaya memala Landa lunga, gentine adoh beda Gegere Kutha Surabaya Yamato geger kewala Pra taruna wani ing jurit gedhe ”Warna biru, suwek gendera” ”Abang putih, iku Indonesia” ”Abang getihku” ”Putih balungku” ”Abang putih, iku nyata, sandhi warna” ”Indonesia”

Candhik Ayu Sumurat cahya rahina Srenenge mesem wayahe mulih Lih rahina ginanti seumebyak aruming dalu La kae, lintang rembulan cahya endah Cumlorot teja kadya esemmu Mulat sarira ayu Yuwana slamet kasembadanmu Mugya Gusti paring piwelas Lestari kanggo sliramu, Candhik Ayuku * APRIYANTO DWI SANTOSO alumnus Pendidikan Bahasa Jawa, FBS UNY

POJOK GELITIK

Ada Apa Dengan April? Umarmadi: Yo, apa yang Sampeyan ketahui tentang April? Umarmoyo: April itu ya salah satu nama bulan selain Januari, Februari, Maret, Mei Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Novem­ ber, dan Desember. Umarmadi: Kalau itu sih sudah tahu. Bukan itu! Umarmoyo: April selalu dikenang oleh kaum wanita di negeri ini. 58 P E WA R A D I N A M I K A A P R I L 2 0 1 8

Umarmadi: Kenapa?

antara wanita dan pria.

Umarmoyo: Pada bulan April ada sosok wanita yang dianggap tokoh emansipasi wanita yang selalu diperingati hari kelahirannya

Umarmadi: Tapi, ya jangan kebablasan, tetap harus bisa pulang pada harkat dan martabatnya sebagai wanita.

Umarmadi: Siapa itu?

Umarmoyo: Misalnya?

Umarmoyo: Kartini. Raden Ajeng Kartini.

Umarmadi: Wanita ya jangan “rondha”. Ntar ada orang rondha malah di-rondhain.

Umarmadi: Tahulah! O ya ... emansipasi ... tahu nggak? Umarmoyo: Persamaan dan kesamaan hak

Umarmoyo: Oke! Hebat mana wanita dibanding pria?

Umarmadi: Tahulah! Lebih hebat wanita. Karena, wanita bisa hamil, pria tidak bisa. Umarmoyo: Oke! Sampeyan tahu nggak siapa nama asli Ibu Kita Kartini? Umarmadi: Siapa sih? Nggak tahu! Umarmoyo: Dengar nih lagu ini ... // Ibu kita Kartini / putri sejati / putri Indonesia / HARUM namanya// Umarmadi: ............??? EMA R '18


#SeminarNasional #PeranWanita #RevolusiIndustri4.0

FOTO-FOTO: M ARIF BUDIMAN


Sedang dikerjakan

peRInGkaT

a i s e Indon peRInGkaT

peRInGkaT

#kamibagian #UNY #Smart&Smile

a r a g g n e AsiaT

HERGITA SYI VADILLA (kiri) Mahasiswa Psikologi UNY (angkatan 2015) Diajeng Kota Jogja 2017 ROMANDHA EDWIN (kanan) Mahasiswa Akuntansi UNY (angkatan 2015) Dimas Kota Jogja 2017

@unyofficial

FOTO: KALAM JAUHARI

Asia Versi

4icu

W W W . U N Y . A C . I D

Pewara Dinamika April 2018  
Pewara Dinamika April 2018  
Advertisement