Issuu on Google+

Guide Your Travel Time

Oktober - November 2013

Pesona Kecantikan Sipiso-piso Dari Desa Tongging

Hallstatt "Pearl Of Austria"

Yang Minim Diantara Belantara Hutan Beton


Advertorial

Atria Hotel & Conference Malang Hadir Untuk Menyempurnakan Kebutuhan Tamu Parador Hotels & Resort kembali melebarkan sayap dengan kehadiran properti baru, yakni Atria Hotel & Conference Malang. Berada di lokasi yang strategis pusat Kota Malang, Jalan Letjen S. Parman No. 87-89, menjadikan hotel bintang empat ini sangat mudah diakses. Dari Bandar Udara Abdul Rachman Saleh, Anda hanya menempuh waktu 30 menit. Dengan konsep bangunan bergaya modern, Atria Hotel & Conference tidak hanya menawarkan kenyamanan saja. Juga keistimewaan dan atmosfir menarik dapat kita rasakan saat menginap di hotel baru ini. Serta tampilan ornamen bernuansa coklat dan kuning keemasan menciptakan kesan mewah, hangat, dan nyaman. Properti baru Parador Hotels & Resort di

Atria Hotel & Conference Malang Jalan Letjen S. Parman No. 87-89 Malang – Jawa Timur Telepon (+62) 341 – 409 999/444 1123 Fax (+62) 341 – 412 888 E-mail: info@AtriaHotelMalang.com Website: www.Atria-HotelsandResorts.com

Hal. 2

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Malang ini menampilkan konsep seni batik, bernuansa khas Jawa. Atria Hotel & Conference Malang dilengkapi fasilitas 164 Deluxe Room, 5 Executive, dan 6 Suites. Dimana setiap kamar dilengkapi TV LED 32 inci dengan pilihan chanel lokal maupun internasional, Air Conditioner (AC), safety box, meja kerja, lemari pakaian, IDD telepon, minibar, tea & coffee maker, serta sofa pillow menu. Untuk semakin melengkapi kenyamanan para tamu, Atria Hotel & Conference Malang juga menyediakan sejumlah fasilitas lain, seperti coffee shop, lounge bar, free Wi-Fi berkecepatan tinggi, tavern & grill 24-hour room service, VIP Amenities, laundry & dry cleaning services 24-hour, doctor services (on call), traditional spa & wellness center, fitness center, outdoor

swimming pool, valet parking, serta fasilitas lain. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition), Atria Hotel & Conference Malang menyediakan 6 ruang pertemuan, business center, dan ballroom yang dapat menampung kapasitas hingga 1.500 orang. Semua fasilitas lengkap yang ada di Atria Hotel & Conference Malang ditujukan untuk memenuhi dan menyempurnakan kebutuhan Anda, baik itu dalam rangka berlibur, perjalanan bisnis, seminar, sampai pesta pernikahan.


Editor’s Note

Cover Lokasi : Air Terjun Sipiso-piso Photo : Lily S.

Wendy Stiawan (Yogyakarta Correspondent)

Ketika saya bertemu dengan teman baru, mereka akan bertanya “Kerja dimana,” lantas saya menjawab “Di media, majalah wisata”. Dan kebanyakan mengatakan enak ya bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata. Tidak ada yang salah dengan apa yang kenalan baru sampaikan, tapi mereka tidak tahu kendala yang terkadang dihadapi saat akan mengaplikasikan hasil berpetualang ke dalam tulisan. Saat deadline, memori saya seakan dipecut untuk mengingat kembali benang cerita travelling. Seru dan menjadi tantangan!. Bekerja sambil berwisata adalah hal menyenangkan. Karena kita dapat mengenal budaya masyarakat setempat, mencicipi kuliner yang menjadi khas daerah tersebut, dan paling menarik adalah melihat langsung dengan ‘mata telanjang’ keindahan wisata yang dikunjungi. Setiap daerah di tanah air memiliki keistimewaan dan menawarkan panorama berbeda, yang dapat memberi kekayaan pengetahuan kita. Di edisi Oktober-November 2013, Tourism Watch Magazine (TWM) menyajikan hasil jalan-jalan, seperti mengunjungi Pasar Terapung Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ada juga liputan Festival Kopi yang diadakan di Kota Gudeg, Yogyakarta. Serta rubric Destination yang mengulas keindahan kota kecil Hallstatt, Austria. Bagi pembaca yang ingin memperbaharui alat tekno, bisa membaca etalase yang kami tulis di rubriuk Gadget. Tentu tidak ketinggalan tulisan-tulisan menarik lain yang wajib dibaca. Tidak lupa segenap manajemen dan karyawan Tourism Watch Magazine mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 Hijriah bagi pembaca yang merayakan.

Dilarang keras meng-kopi atau mengambil data isi tulisan dan foto-foto dari Tourism Watch Magazine, tanpa izin dari pihak penerbit.

Selamat membaca & jalan-jalan…

Redaksi Tourism Watch Magazine menerima naskah jalan-jalan disertai foto-foto, atau memberikan saran dan ingin mendapatkan majalah secara rutin, silahkan email: tourismwatch.magazine@gmail.com

Hal. 4

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Contents

Mengintip Kemeriahan Tradisi Rasulan Di Gunungkidul

42-46

Di Gunungkidul ritual turun-temurun ini dinamakan tradisi Rasulan. Yakni upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas melimpah hasil pertanian, khususnya padi. Oleh masyarakat Gunungkidul, acara ini sebagai Hari Raya ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Melawan Arus Globalisasi Di Atas Sungai Barito Di Pasar Kuin, kita akan melihat pemandangan unik yakni manakala pedagang dan pembeli saling bertemu dengan menggunakan alat semacam galah yang bentuk menyerupai kail pancingan. Galah tersebut dipakai oleh pembeli untuk menikmati jajanan tradisional khas daerah tersebut.

28-31

Pesona Kecantikan Sipiso-piso Dari Desa Tongging

51-55

Cantik, keren, bagus banget, dahsyat kalimat yang tercetus ketika menginjakkan kaki di Desa Tongging, tempat keberadaan Air Terjun Sipiso-piso berada. Dari obyek wisata tanah Karo ini, saya juga bisa melihat panorama Danau Toba dari ketinggian. Sungguh menakjubkan dan memanjakan mata!

Yang Minim Diantara Belantara Hutan Beton Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih “menguntungkan” dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Untuk memperingati besar ‘jasa’ dari pohon yang tidak hanya sebagai ‘payung’ bagi manusia, Tourism Watch Magazine tergelitik mengulas minim ruang hijau sebagai ‘paru-paru’ kota.

Hal. 6

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

28-31


Contents

Hallstatt “Pearl Of Austria�

56-61

Hallstatt, Austria, Famous amazing and fascinating places in the world. It is a World Heritage Site list by UNESCO. Everything is just so cute: the vivid colors of houses, lovely window decorations and lots of flowers and trees which climb up on the house wall in very impressive shape.

Mengenal Dan Belajar Masa Lalu Di Festival Museum Museum selalu identik dengan benda-benda kuno, barangbarang antik atau peninggalan sejarah. Kita bisa mengenal sekaligus belajar dari masa lalu di sini. Dengan festival ini, diharapkan menjadikan museum menjadi tujuan semua kalangan.

12-16

The Ubud Monkey Forest, Wisata Alam Dan Pura

21-23

Di Ubud, Anda akan menemukan cara menikmati liburan yang berbeda ketika datang ke Bali. Nuansa begitu damai, sejuk, dan mengesankan. Monkey Forest bisa menjadi pilihan destinasi liburan Anda yang menawarkan wisata cagar alam dan kompleks candi, serta binatang lucu bernama kera.

Melukis Di Kanvas Bisnis Batik sekarang sudah tidak dimonopoli lagi oleh penduduk pulau Jawa, khususnya Pekalongan, Semarang, Jogja, dan Solo. kini, setiap daerah terus mengembangkan batik sebagai sumber penghasilan warga. Sejak batik diakui UNESCO pada 2009, sampai sekarang 'revenue'-nya telah mencapai Rp1 triliun.

67-68

Museum Karo Lingga, Sejarah Budaya Karo

24-26

DI Museum Karo Lingga, beberapa benda-benda tradisional Karo bisa dilihat, seperti seperti capah (piring kayu besar untuk keluarga), tongkat, kain tenun, topeng, mata uang, peralatan dapur, peralatan pertanian, alat-alat musik, berburu, upacara adat dan lain sebagainya, semua tertata rapi.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 7


Calendar Event

Oktober Event

Festival Raja Ampat

1 Oktober - 30 November

Pulau Jawa, Bali dan Lombok

Jakarta Marathon

Lihat Indonesia Roadtrip

Bali Backpacker bekerjasama dengan Taft Diesel Indonesia (TDI) untuk kedua kali akan menghelat Lihat Indonesia Roadtrip. Setelah pada 2012, berhasil melakukan perjalanan selama 35 hari menelusuri Pulau Sulawesi, tahun ini Lihat Indonesia Roadtrip akan menjelajahi tiga pulau, yaitu Jawa, Bali dan Lombok. Perjalanan akan dimulai pada awal Oktober hingga akhir November 2013.

5 - 7 Oktober

Bali

KTT APEC

Konvensi tingkat tinggi yang diselenggarakan di Indonesia ini mengangkat tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth". Tema tersebut guna menjawab tantangan situasi dunia yang tengah berada dalam pengaruh krisis keuangan dan ekonomi dunia. Selain itu, juga untuk mendukung kepentingan Indonesia guna membahas Attaining the Bogor Goals, Sustainable Growth with Equity, dan Promoting Connectivity.

15 - 19 Oktober

Kabupaten Asmat, Papua

Festival Budaya Asmat

Festival budaya ini akan diramaikan pameran ukiran kayu khas Asmat yang merupakan benda bernilai seni tinggi. Suku Asmat dikenal memiliki kemampuan membuat seni ukiran kayu yang mumpuni dimana mereka dapat langsung mengukir langsung tanpa menggambar sketsa terlebih dahulu. Bagi suku Asmat, ukiran kayu yang mereka buat erat kaitan dengan roh leluhur dan tidak semata diangap sebagai karya.

18 - 21 Oktober

Pantai Wisata Waisa, Raja Ampat, Papua

Festival Raja Ampat

Festival ini merupakan salah satu program yang didaulat oleh Pemerintah Daerah Raja Ampat, Papua Barat, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ). Tujuan perhelatan festival ini adalah untuk mempromosikan surga bawah laut, keindahan alam, budaya, dan semua keindahan alam dan budaya Raja Ampat.

18 - 21 Oktober

Kota Padang, Smatera Barat

Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME)

Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) didukung berbagai komponen pariwisata se-Tanah Air. TIME akan menjajakan "travel mart� internasional dengan konsep "business to business". Disinilah penjual produk wisata dan jasa di Indonesia dipertemukan dalam sebuah pasar internasional.

25 - 27 Oktober

Solo, Jawa Tengah

Festival Olahraga Rekreasi Nasional

Federasi Olahraga Rekreasi-Masyarakat Indonesia (FORMI) bekerjasama dengan Kementerian Olahraga dan Pemuda (Kemenpora) kembali akan menyelenggarakan Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) yang akan dilangsungkan di Solo. FORNAS merupakan kegiatan menggabungkan olahraga dan hiburan atau sportainment (sport and entertainment) yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kegiatan yang selain menarik, menyenangkan, juga menyehatkan.

27 Oktober

Jakarta

Jakarta Marathon

Event Jakarta Marathon diadakan dalam enam kategori lomba dan berskala internasional, diantaranya full marathon, half-marathon, 10K, 5K, kursi roda dan sprint untuk anak-anak. Jakarta Maraton akan melewati beberapa landmark wisata terkenal di Jakarta, seperti Monumen Nasional atau Monas, Masjid Istiqlal yang letaknya di seberang Gereja Katedral, Kota Tua dan area Bundaran Hotel Indonesia.

30 Oktober - 2 November

JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat

Indonesia Halal Expo

Indhex 2013 diperkirakan akan dihadiri lebih dari 40.000 pengunjung. Pameran ini menampilkan banyak sekali pelaku industri, yaitu importir dan eksportir, distributor, pengecer, pemasok, pemilik hypermarket dan supermarket, pelaku bisnis perhotelan dan pemilik restoran, department store, bahan makanan dan toko-toko, investor, industri jasa keuangan, lembaga perbankan, lembaga pemerintah, bisnis dan asosiasi perdagangan, lembaga sertifikasi halal, agen, pelanggan, dan tenaga ahli profesional.

30 Oktober

Birawa Assembly Hall, Bidakara Hotel, Jakarta

Jakarta Melayu Festival

Jakarta Melayu Festival 2013 akan menampilkan balutan musik orkestra mewah arahan Anwar Fauzi sebagai persembahan hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-68. Pentas musik melayu ini juga sebagai upaya mengangkat lagi citra musik melayu di Tanah Air terutama dikalangan anak muda. Anda akan menikmati suguhan musik dan lagu melayu yang tumbuh dan berkembang dimulai dari Aceh, Padang, Riau hingga ke Kalimantan, akan ada juga pentas tari khas melayu seperti Tari Zapin dan Tari Serampang Dua Belas.

30 Oktober

JIExpo, Kemayiran, Jakarta Pusat

Pariwisata Syariah Indonesia

Pengembangan Pariwisata Syariah meliputi empat jenis komponen usaha pariwisata, yaitu: perhotelan, restoran, biro atau jasa perjalanan wisata, dan spa. Selain itu, sarana penunjang pariwisata lainnya juga akan diikutsertakan. Tujuan diadakannya program ini adalah untuk menggaet wisatawan dalam maupun luar negeri, sekaligus untuk mendorong pertumbuhan entitas bisnis syariah di lingkungan pariwisata.

Hal. 8

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Calendar Event

November Event

Paju Gandrung Sewu

2 - 5 November

Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur

Musi Triboatton

Banyuwangi Tour de Ijen

Sebanyak 20 tim dari luar negeri dan 5 tim dalam negeri siap turun dalam ajang balap sepeda Banyuwangi Tour de Ijen (BTDI), dengan total hadiah mencapai Rp. 700 juta. Para peserta akan menempuh rute sepanjang 600 kilometer yang dibagi menjadi empat etape. Etape pertama dimulai dari kantor Pemkab Banyuwangi. Etape kedua dari Desa Jajag. Etape ketiga dari Kecamatan Kalibaru dan etape terakhir di sirkuit kota Banyuwangi.

16 November

Pantai Boom Banyuwangi

Banyuwangi Jazz Beach Festival

Kesuksesan Banyuwangi Jazz Festival 2012 yang dapat memberikan apresiasi tersendiri bagi pencinta musik jazz Banyuwangi, Pada tahun 2013 ini kembali diselenggarakan yang kali ini mengambil tema “Banyuwangi Beach Jazz Festival” yang dikemas secara berbeda. Beberapa artis yang akan ikut andil bagian adalah, Trio Lestari (Glenn Fredly, Shandi Sandoro, dan Tompi), Syaharani, Jendela Ide (Bandung), serta musisi jazz lokal Banyuwangi, dengan sentuhan musik tradisional Banyuwangi serta tarian Gandrung.

23 November

Pantai Boom Banyuwangi

Paju Gandrung Sewu

Paju Gandrung Sewu adalah tarian kolosal berjumlah 100 (seratus) orang dilanjutkan penampilan penari seblang lengkap dengan wiyogo, tukang paes dan sinden, penari sinden akan naik ke pentas dan akan dipaju oleh pawang dan disaat itu munculah gandrung marsan yang di ikuti oleh umbul umbul. Gandrung marsan akan menari di sekitar penari se¬blang dengan gagahan puncak di lanjutkan oleh podo nonoton dan visualisasi kekejaman Ko¬lonial.

24 - 29 November

Sungai Musi, Sumatera Selatan

Musi Triboatton

Musi Triboatton menggabungkan olah raga arung jeram, kano, dan lomba perahu tradisional. Perlombaan ini tentunya akan menjadi salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu terutama bagi wisatawan minat khusus. Lokasi kegiatan akan berlangsung di sepanjang Sungai Musi dan direncanakan melintasi rute sejauh 500 km yang dibagi dalam 5 level, dan melibatkan lima kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

26 November - 1 Desember

Bali

World Culture in Development Forum

World Culture in Development Forum akan mendiskusikan berbagai isu penting tentang budaya dan pembangunan. Tujuannya untuk mempererat persahabatan antar negara melalui hubungan kemasyarakatan, menciptakan peradaban dunia yang harmonis, dan mendiskusikan bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 9


News Event Shangri-La Hotel, Surabaya, Sukses Menyelenggarakan Race & Care 2013 Shangri-La Hotel, Surabaya, sukses menyelenggarakan Race & Care 2013, kegiatan CSR tahunan, lari 10KM dan 5KM. Bekerjasama dengan BK3S (Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial) yang telah diadakan pada Minggu (29/09/2013), dimulai pukul 06:00 – 11:00 WIB. Semua hasil dari kegiatan CSR untuk membeli tangan dan kaki palsu, bagi anak-anak dengan harapan memberikan mereka kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi. BK3S adalah lembaga yang menyelenggarakan berbagai program sosial yang menyertakan anak-anak, termasuk berkebutuhan khusus, tunadaksa. Rekanan yang turut membantu terselenggara Race & Care ini di antaranya, yakni Trane, Dilmah Tea, Emhasos, Imago, Bukaka Inti, Passiflora, Indo Piranti Mulia, BMI, Indodata Sejahtera, serta sponsor lain yang peduli terhadap sesama. Juga didukung media, seperti MAXX-M, Tourism Watch Magazine, JJK, Jalan-Jalan, Epicure, Hello Bali, Tempo, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, serta beberapa media lain yang membantu menginformasikan kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi. “Melalui kegiatan ini, Shangri-La Hotel, Surabaya, ingin mengajak warga agar menjaga kesehatan dan kebugaran, serta bersama-sama dengan perusahaan-perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR. Terutama membantu anak-anak dan sesama yang menderita tunadaksa dalam menjalani hidup yang lebih baik dengan kelengkapan anggota tubuh. Kami sangat bangga dapat menyelenggarakan kegiatan ini dan ingin mengucapkan terima kasih kepada semua perusahaan yang telah berpartisipasi dan menjadi sponsor. Kami juga berterima kasih kepada seluruh rekan media yang telah membantu menginformasikan acara ini kepada masyarakat luas mengenai pentingnya menjaga kesehatan untuk hidup yang lebih baik,” kata Martin Brenner, General Manager Shangri-La Hotel, Surabaya, dalam sambutan saat membuka acara. Sebagian besar perusahaan yang mensponsori acara juga ikut berpartisipasi dalam bazaar. 15% pendapatan yang dihasilkan dari total penjualan didonasikan untuk membeli tangan dan kaki palsu.

Festival Budaya Pasar Terapung Dan Festival Borneo 2013 Melestarikan Ikon Budaya Dan Pulau Kalimantan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar annual event bertajuk Festival Budaya Pasar Terapung dan Festival Borneo, pada 12-19 September 2013, di halaman kantor Gubernur. Pada penyelenggaraan festival yang telah berusia enam tahun ini menggunakan biaya Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) sebesar Rp. 700 juta. Annual event tahun ini mengangkat tema kebudayaan Pasar Terapung, yang telah kesohor hingga ke luar negeri. Festival Budaya Terapung dan Festival Borneo bagi pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dijadikan ujung tombak perkembangan pariwisata daerah, dalam memdatangkan wisatawan nusantara dan asing. Sekaligus ajang apresiasi perkembangan seni daerah se-kalimantan. Selain itu, kegiatan ini menumbuhkembangkan daya kreativitas seniman daerah pada pembentukan jati diri daerah. Rudy Arifin, Gubernur Kalimantan Selatan mengatakan, suatu festival budaya sejatinya digelar tidak hanya untuk menarik wisatawan. Akan tetapi lebih dari itu, betapa penting mengenal budaya daerah sendiri yang terkadang terlupakan oleh generasi muda. "Generasi muda Kalimantan mesti bangga karena daerahnya mempunyai ragam kesenian dan kebudayaan,” terang Rudy. Sementara itu, menurut Muhandas Herno Hendrawan, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata, Festival ini diikuti 42 sanggar kesenian se-Kalimantan, melibatkan hampir 1000 orang, serta 30 stan untuk pameran produk kerajinan dan kuliner daerah. Bagi masyarakat Banjarmasin yang berada di kawasan sungai Barito dan Martapura, pasar terapung merupakan ikon dari Provinsi Kalimantan Selatan guna menarik minat para wisatawan asing dan lokal. “Perlu diketahui, saat ini pasar terapung di Banjarmasin ada dua, yakni yang berlokasi di Kuin dan Lokbaintan. Dan, pasar terapung ini telah menjadi destinasi nasional,” ungkap, Muhandas.

Discovery Kartika Plaza Hotel Dianugerahi Indonesia Green Hotel 2013 Discovery Kartika Plaza Hotel dengan bangga menempati possisi ke-15 dalam Indonesia Green Hotel 2013. Penghargaan ini diserahkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Mari Elka Pangestu, berdasarkan penilaian terhadap industri turisme Indonesia yang menjaga tanggung jawab mereka dalam menjaga lingkungan, penghematan energi, dan menciptakan konsep ‘Green Hotel’ di dalam properti mereka. Penghargaan ini adalah bukti nyata bahwa Hotel Discovery Kartika Plaza menerapkan konsep ‘Green Hotel’ dan selalu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sebagai rencana jangka panjang yang akan terus diterapkan Indonesia Green Hotel award dibuat pada tahun 2011 dan diserahkan kepada pemenang penghargaan tersebut setiap dua tahun sekali. Menteri Pangestu dengan jelas menyatakan bahwa menciptakan konsep 'Green Hotel’ sangat penting semenjak pemanasan global dapat secara langsung menyerang kehidupan manusia saat ini.

Hal. 10

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


News Event

Malam Inagurasi Indonesia Hotel General Manager

Soft Opening Eastparc Hotel, Yogyakarta Awal bulan Oktober lalu, Eastparc Hotel Yogyakarta yang berada di jalan Laksda Adisucipto Km.6,5 Seturan, resmi beroperasi. Hotel yang dibangun diatas tanah seluas 1,2 hektar, memiliki tiga bagian dengan dua bangunan tinggi dan satu bangunan khusus untuk Junior Ballroom. Eastparc Hotel Yogyakarta akan menjadi salah satu hotel bintang lima baru yang akan ikut meramaikan industri perhotelan di Yogyakarta. Total kamar yang dimiliki oleh Eastparc adalah 193 kamar dengan tipe kamar Deluxe, Premier, Junior Suite, Executive Suite, Presidential Suite dan Eastparc Suite. Luas kamar standar sebesar 40m2 dan dilengkapi dengan fasilitas terbaik yang ditawarkan oleh hotel bintang 5 ini. Pada pembukaan bulan ini Eastparc menawarkan harga promo opening rate IDR 750.000,- nett/room/night untuk tipe Deluxe Room. Promo ini berlaku dari 1 Oktober sampai dengan 22 Desember 2013. Fasilitas lain yang ditawarkan oleh hotel ini ialah 20 meeting room dengan kapasitas mulai dari 10 hingga 82 orang. Tipe meeting room yang ditawarkan juga berbeda dan pertama di Yogyakarta yaitu konsep teater memiliki kapasitas 30-100 orang. Letaknya yang strategis juga memudahkan para tamu mengakses hotel ini. “Adapun Grand Opening ditargetkan bulan Desember tahun ini. Kendati merupakan hotel baru bintang 5 di Yogyakarta, namun Eastparc Hotel optimis dapat membidik pasar MICE dan Leisure baik lokal maupun international melewati fasilitas yang diberikan” ucap Erny Kusmastuti selaku General Manager Eastparc Hotel Yogyakarta.

Pada Jumat (08/9/2013) bertempat di Ballroom Hotel The Acacia, Jalan Kramat Raya No. 81, Jakarta, IHGM meresmikan berdirinya komunitas General Manager di Indonesia. Acara dihadiri sekitar 50 General Manager dari berbagai brand hotel di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Tengah, NTT, Riau dan propinsi lain. Hadir juga beberapa CEO hotel group dan pelaku pariwisata lain. Dalam acara tersebut, Chairman IHGM Angkoso Soekadari memberikan kata sambutan, pemaparan visi misi dan program kerja kepada seluruh peserta dan undangan. Kemudian dilanjutkan inagurasi para anggota, pengalungan medali, dan penyerahan sertifikat IHGM secara simbolik kepada anggota. Asosiasi ini berdiri sebagai wadah bagi General Manager di Indonesia untuk membangun networking dan meningkatkan kualitas profesionalitas, sehingga dapat bersaing dalam industri perhotelan global. Program ke depan IHGM, Angkoso Soekadari memaparkan; Penyelenggaraan workshop, penghargaan (Award) bagi individu berprestasi, acara Networking, program kerja sama antar hotel, Pengabdian Sosial (CSR) seperti memberikan lecture sebagai dosen tamu di berbagai pendidikan pariwisata dan juga sebagai referensi bagi investor ataupun group hotel untuk mendapatkan sumber daya General Manager yang handal dan dapat dipercaya. Sampai saat ini sudah lebih 50 General Manager yang terdaftar di komunitas IHGM, dan menargetkan 100 anggota sampai akhir 2013 dengan melihat tinggi antusias untuk menjadi anggota. Namun, tidak semua General Manager diterima menjadi anggota dikarenakan ada syarat yang harus dipenuhi. Untuk mengetahui syarat dan menjadi anggota IHGM dapat menghubungi Bustamar Koto di; Bustamar.koto@gmail .com atau gmjakarta@acacia-hotel.com, bisa juga mendownload di website www.indonesian-gmhotel.com.

B&B Café And Bar Grand Opening Pada hari Jumat, 6 September 2013, Bite & Beer Café atau B&B Café resmi dibuka. Kafe ini menambah tempat hiburan baru di Selatan Jakarta. B&B mengusung konsep desain rustic dipadu dengan gaya modern contemporary sesuai tren saat ini. Kafe berlokasi di area trendi ini menawarkan suasana santai, nyaman dan yang menarik lagi yakni dengan harga terjangkau. B&B Café didukung koneksi internet Wi-Fi dan sound system yang sangat baik. Untuk memenuhi kepuasan para pelanggan dan tamu, B&B Café menyajikan berbagai menu pilihan dari berbagai negara seperti Asia, Italian, dan Western. Beberapa program acara telah dibuat untuk memanjakan para tamu, seperti setiap Rabu malam dimeriahkan acara Stand-up comedy. Di Jumat sore hadir “Chilled-out” Bar cocktails dengan acoustics band yang menjadi pilihan hiburan Anda setelah lelah seharian bekerja. Dan menutup weekend musik dan lagu top 40 songs, RnB, electro, house music yang mainkan oleh resident DJ’s menemani Anda setiap Sabtu malam, yang akan membawa Anda ke dance floor. Untuk menikmati suasana santai dan mencicipi menu di B&B, datang saja ke Hotel Neo Melawai, Jalan Panglima Polim Raya No.15, Jakarta Selatan. Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan, dapat menghubungi telepon di 021-2966 1400.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 11


Mengenal Dan Belajar Masa Lalu Di Festival Museum

Agar menjadikan museum bukan hanya sebagai tempat menyimpan barang-barang kuno saja, namun tujuan wisata.

M

useum selalu identik dengan benda-benda kuno, barang-barang antik atau peninggalan sejarah. Semuanya terangkum dalam balutan masa lalu. Masa yang tidak akan kembali lagi. Meski demikian, perjalanan kita tidak bisa terlepas dari masa lalu. Begitu pula dengan nenek moyang bangsa Indonesia, terkadang tanpa disadari mempunyai kekayaan yang luar biasa. Nah, sekarang tinggal kita, mau menggali atau membiarkan kekayaan tersebut terkubur bersama masa lalu. Insiden hilangnya koleksi milik beberapa museum di Indonesia menunjukkan bahwa

1 Hal. 12

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

memang benda-benda yang disimpan mempunyai nilai yang istimewa. Baik menyangkut sejarah maupun nilai ekonomis. Beberapa museum yang pernah kehilangan koleksi di antaranya, Museum Radya Pustaka, Surakarta; Museum Sonobodoyo, Yogyakarta dan Museum Nasional, Jakarta. Dalam Festival Museum di Yogyakarta kali ini dapat disaksikan betapa agung peninggalan para pendahulu kita. Mulai dari peninggalan Kerajaan kuno sampai perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Selain itu, di era yang sudah modernpun perjuangan masih tetap diperlukan. Misalnya, benda peninggalan

seorang jurnalis yang konsisten memegang teguh profesionalisme. Dan patut kiranya untuk kita jadikan teladan. Menyaksikan Karnaval Museum Siang itu, Minggu, 8 September 2013, cuaca Yogyakarta cerah disertai udara yang panas. Terik matahari terasa menyengat seakan membakar kulit. Semakin menambah coklat warna kulit yang memang sudah sawo matang. Namun masyarakat Yogyakarta tampak riang gembira karena akan disuguhi pertunjukan yang menarik sekaligus bernuansa pendidikan. Hal ini sangat cocok buat para orangtua untuk


Tourism Festival - Museum

2 (1) Koleksi mobil klasik (2) Para penari meramaikan pembukaan karnaval museum

mengajak anak-anak mereka. Bukan hanya masya- rakat umum saja yang hadir, para mahasiswa juga bersiap-siap menyaksikan festival yang diadakan setahun sekali tersebut. Bundaran Universitas Gajah Mada (UGM) dipenuhi para pengunjung. Tadi pagi mereka telah menikmati Sunday Morning, sebuah bazaar yang diselenggarakan setiap hari minggu pagi di lingkungan kampus UGM, sore harinya mereka dapat menyaksikan karnaval Museum. Bukan acara wisuda yang mereka nantikan. Tetapi replika benda-benda koleksi Museum yang akan diarak sepanjang jalan. Rute yang ditempuh mulai dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Samirono, Bundaran UGM dan berakhir di Pusat Kebudayaan. Sepertinya para pengunjung sudah tidak sabar lagi. Mereka berkumpul dengan berjajar dipinggir jalan, menantikan sesuatu yang akan tiba. Beruntung, di sekitar bundaran yang kerap disebut dengan istilah Boulevard UGM itu banyak ditumbuhi pepohonan rimbun. Membuat lokasi teduh, terasa sejuk dan nyaman. Sebelum arak-arakan Museum dilaksanakan, pembukaan festival dimulai dari kampus UNY dan akan diarak menuju UGM. Beberapa personel kepolisian sudah tampak berjaga di sekitar bundaran. Begitu juga dengan keamanan kampus yang turut

serta mengamankan karnaval. Waktu hampir menunjukkan pukul tiga sore, seorang satpam kampus berdiri di pinggir jalan sambil mengamati situsi. Dengan lirih dia berkata, “Menurut keterangan kemarin, arak-arakan akan memasuki kampus pada pukul 14.45 WIB, tetapi sampai sekarang belum juga muncul. Barangkali ada keterlambatan pemberangkatan dari UNY“, terangnya kepada saya. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya terdengar sayup-sayup suara sirine kendaraan polisi. Dan benar, arak-arakan sudah terlihat bergerak pelan karena karnaval juga melibatkan para peserta yang berjalan kaki. Mobil milik polantas semakin mendekat, diikuti barisan para pejalan kaki, posisi dekat di belakang. Ada sedikit insiden yang terjadi, rupanya aparat yang mengamankan lalu-lintas kurang koordinasi dengan pengawal konvoi. Arak-arakan berhenti sejenak, menunggu jalur mana yang akan digunakan sebelum masuk kampus UGM. Sempat ada rencana di arahkan ke sebelah barat bundaran, supaya tidak mengganggu kendaraan lain. Namun akhirnya konvoi melalui timur bundaran. Barisan pertama yang berada dibelakang kendaraan foraider, mamakai seragam berwarna putih-putih sambil membawa lambang-lambang. Diantaranya, simbol Baramus, kampus UGM, UNY serta Pemerintah Provinsi DIY. Selanjutnya

disusul oleh barisan marching band yang memakai kostum hitam kombinasi biru. Mereka tampak serasi dan rapi. Rombongan berikut berasal dari museum Pakualaman. Di depan ada kereta kencana milik Keraton Yogyakarta yang ditarik oleh dua ekor kuda. Dalam karnaval ini terlihat juga helikopter serta pesawat koleksi milik museum TNI AU. Konon pesawat ini pernah digunakan oleh Presiden Sukarno. Ada yang menarik dari arak-arakan ini, yakni sekelompok muda-mudi yang memainkan tarian tradisional. Para fotografer sempat berebut tempat untuk mengambil gambar. Mereka menari beberapa saat untuk kemudian dilanjutkan dengan berjalan. Arak-arakan karnaval berakhir di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosumantri sekitar pukul 17.00WIB. Dilanjutkan dengan festival di dalam gedung. Pemaknaan Masa Lalu Untuk Membangun Karakter Bangsa Festival museum ini mengambil tema “Pemaknaan Masa Lalu Untuk Membangun Karakter Bangsa“, bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasumantri UGM. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Badan Musyawarah Musea (Barahmus) sebagai pendukung pelaksanaan, mempunyai harapan agar menjadikan museum bukan

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 13


Tourism Festival - Museum hanya sebagai tempat menyimpan barang-barang kuno saja, namun tujuan wisata. Barahmus merupakan sebuah lembaga yang berfungsi sebagai tempat musyawarah para pengelola Museum. Baik museum negeri maupun swasta. Acara festival ini dibiayai oleh dana APBD sebesar Rp 190 juta. Bapak Suwandi, salah seorang panitia pelaksana mengatakan festival ini diharapkan museum lebih dikenal oleh masyarakat. Lebih jauh beliau menuturkan, “Target diadakan festival tahunan ini untuk lebih terjun ke masyarakat. Supaya masyarakat lebih tahu dan mencintai museum. Jadi, bukan hanya sebagai tempat untuk koleksi barang-barang tetapi juga untuk pendidikan dan hiburan“, terang Pak Suwandi. Pak Suwandi menambahkan, masih ada sepuluh Museum yang paling digemari wisatawan, seperti Museum Gembira Loka, Museum Merapi, Museum Ulen Sentalu dan Keraton. Festival yang tidak memungut biaya bagi pengunjung ini, juga ditujukan untuk kalangan pelajar maupun mahasiswa dengan tagline “Museum Goes To Campus“, agar semakin dekat dengan generasi muda. Acara tersebut merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan untuk keenam kali. Dimulai sejak tahun 2007 oleh Dinas Kebudayaan DI.Yogyakarta. Adapun festival ini diikuti oleh tiga puluh lima museum di Yogyakarta. Serta didukung dari provinsi lain. Dengan jumlah 21 peserta. Yang berasal dari Yogyakarta yakni Museum Keraton, Sonobudoyo, Puro Pakulaman, Wayang Kekayon, tergabung dalam kelompok Museum Budaya. Ada lagi yang termasuk ke dalam kelompok Museum Perjuangan, yakni, Benteng Vredeburg, Pangsar Sudirman dan Sandi. Yang terakhir adalah kelompok Ilmu Pengetahuan, yaitu, Museum Tani, Bahari, Biologi dan Gembira Loka. Menurut Pak Suwandi, kedua puluh satu museum dari luar Yogyakarta ada yang tergabung dalam Mitra Pradja Utama (MPU) berjumlah sepuluh anggota. Juga dari Provinsi Lampung sampai Nusa Tenggara Timur. “Ada beberapa Museum dari Sumatera Utara, Museum Transportasi, terus Museum Pers dari Surakarta. Dan ada lagi beberapa yang bisa dilihat di gedung sebelah“, terang beliau. Festival Museum yang berada di Pusat Kebudayaan tersebut di bagi dalam dua lantai. Yang menempati lantai bawah dibagi lagi dalam dua ruang. Perserta yang berada di sebelah timur atau sisi kiri dari pintu masuk mempunyai konsep alur cerita. Konsepnya tidak menggunakan penyekat ruangan. Penataan museum berdasarkan life story sejarah. Di gedung ini kita disuguhi koleksi

Hal. 14

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

1

2

benda-benda klasik, seperti Sepeda Simplex milik Ibu Ruswo. Sepeda ini pernah dipergunakan oleh Komandan Sub Werhkreise 101 Letnan Marsudi selama Agresi Militer Belanda II. Ada pula meja beserta kursi yang pernah digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika membicarakan perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan Letkol Suharto pada bulan Januari di Kraton Yogyakarta. Begitu juga pesawat terbang WEL –I/RI-X koleksi museum TNI AU. Di tempat ini kita juga diperdengarkan iringan musik lagu perjuangan yang semakin

menambah suasana seakan kembali ke masa perjuangan. Sedangkan peserta yang berada di sebelah barat atau sisi kanan pintu masuk, ada yang menempati lantai bawah. Di antaranya, Museum Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Perumusan Naskah Proklamasi, Transportasi TMII, Karsi Indah Wonogiri, Basuki Abdullah, Nesgari Sumatera Utara, Monumen Nasional Pers Solo, Bayt Alquran dan Museum Istiqlal. Di lantai atas ditempati Museum yang tergabung dalam MPU dari Provinsi Jakarta, Jawa Timur, Bali, Dinas Pariwisata


Tourism Festival - Museum

(1) Sepeda Simplex yang dipergunakan Komandan Sub Werhkreise 101 Letnan Marsudi (2) Di meja ini Sri Sultan Hamengku Buwono IX membicarakan perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 (3) Koleksi topi yang pernah digunakan Bung Karno (4) Kamera milik Udin, wartawan Harian Bernas

3

4

DI.Yogyakarta, Museum Pos Indonesia Bandung, Museum Sri Baduga, BPSNT dan anggota MPU Provinsi Banten. Ada berbagai macam koleksi yang ditampilkan. Seperti koleksi kamera milik Udin, wartawan Harian Bernas yang telah meninggal dunia. Di samping kamera ada tas berbahan kulit warna hitam serta foto Udin disertai tulisan mengenai tanggal lahir maupun sekelumit kisah perjuangan beliau. Museum Pers juga mengoleksi plat koran Kedaulatan Rakyat cetakan pertama. Koran tersebut terbit pertama kali di

Yogyakarya pada tanggal 27 September 1945. Nama Kedaulatan Rakyat diambil dari UUD 1945 alinea 4 Suara Hati Nurani Rakyat. Serta Museum Istiqlal yang mengoleksi batu nisan di era Kerajaan Majapahit pada abad ke-15 yang berasal dari kompleks makam Troloyo. Meski hanya replika namun cukup menarik perhatian para pengunjung. Ada pula mushaf Al-qur’an yang pertamakali dicetak di palembang pada tahun 1848. Di lantai atas kita bisa melihat benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit koleksi Museum Provinsi Jawa

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 15


Tourism Festival - Museum

Mushaf Al-qur’an dicetak di palembang 1848.

Timur. Terdapat replika arca Pradnya Paramita, yang diperkirakan sebagai penggambaran dari Ken Dedes. Ken Dedes merupakan permaisuri dari Ken Arok, Raja Singosari pertama pada tahun 1222-1227. Ada yang menarik ketika saya memasuki Museum Dinas Pariwisata DI.Yogyakarta. Kami diberi souvenir gratis berupa miniatur Candi Prambanan oleh penjaga pameran. Seorang pengunjung sempat ragu-ragu namun setelah mengetahui bahwa itu diberikan gratis ia segera menerimanya. Hari kedua atau sehari setelah kemarin dibuka, suasana festival belum dipadati pengunjung. Memang ada beberapa mahasiswa maupun masyarakat umum yang menyaksikan. Namun tidak terlihat para pelajar padahal tema kali ini ditujukan untuk kalangan pelajar. Sebagaimana disampaikan oleh ketua Baramus dalam siaran perss. Salah seorang peserta dari Museum Transportasi sempat mengeluhkan sepinya pameran kali ini. Dari pengalaman beliau, ketika mangikuti festival di tempat lain, pengunjung cukup ramai. “Tidak seperti yang pernah saya ikuti di kota lain mas. Hari ini sepi pengunjung“, terangnnya. Begitu pula dengan Bapak Sudiro, peserta dari MPU Bali. Ia merasakan sepi pengunjung festival. Bahkan ketika saya temui Pak Sudiro sedang bersantai di luar

Hal. 16

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

lokasi pameran. Meski begitu beliau berharap agar besok pengunjung bisa meningkat. Mengingat masih ada beberapa hari lagi. “Kemarin agak lumayan yang datang. Tetapi kalau sekarang agak berkurang sedikit “, kata beliau. Ketika dikonfirmasi ke panitia pelaksana mengenai kondisi pengunjung yang kurang ramai, Sekretaris Satu Bapak Suwandi menuturkan, bahwa sosialisasi sudah dilaksanakan maksimal. Tetapi karena berada dilokasi kampus, kemungkinan kurang terlihat oleh masyarakat umum. Sedangkan untuk para pelajar pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di Yogyakarta. “Yang jelas ini kita sudah koordinasi dengan Dinas Pendidikan. Terutama yang di Sleman dan Kota. Kita kroscek terus ke dua Dinas itu. Karena mereka yang punya wewenang untuk menyuruh anak-anak. Mungkin informasinya agak tersendat“, Pak Suwandi menuturkan. Meski demikian, festival tersebut mempunyai daya tarik tersendiri buat para pengunjung. Seperti yang dituturkan oleh Gatot Subroto, salah satu pengunjung dari Sleman. Ia mengaku cukup tertarik dengan koleksi benda-benda bersejarah di sini. Karena berkaitan dengan dunia pendidikan maupun sejarah bangsa Indonesia.”Kita bisa mengenal sekaligus belajar dari masa

lalu di sini “, terang mas Gatot. Tetapi Gatot juga berharap supaya koleksi yang dipamerkan lebih banyak lagi. Misalnya dengan menampilkan miniatur bangunannya. Sehingga akan lebih menarik lagi buat para pengunjung. Oleh karena itu festival Museum seperti ini sangat bagus untuk di gelar, bukan hanya di Yogyakarta namun juga di kota-kota di tanah air. Sehingga masyarakat umum maupun kalangan mahasiswa dan pelajar tidak melupakan sejarah sekaligus berwisata. (Teks & foto. Wendy S)


Tourism - Festival Kopi

1

K

opi merupakan tanaman unik. Ada banyak hal yang bisa kita gali dari buah yang satu ini. Dengan perlakuan yang berbeda maka akan kita dapatkan bermacam-macam sensasi. Misalnya, rasa kopi akan berbeda-beda, tergantung cara mengolah. Begitu juga perbedaan lahan tanam, menghasilkan kualitas bahkan jenis kopi yang bervariasi. Menurut para ahli, buah kopi yang ditanam di dataran tinggi akan menghasilkan kualitas biji kopi yang lebih baik dibandingkan yang di dataran rendah. Dengan alasan, hawa panas dataran rendah menyebabkan buah kopi menjadi cepat matang sehingga nutrisi yang diserap dari tanah dirasa belum cukup banyak. Bobotnyapun akan lebih ringan. Ada berbagai jenis kopi, dua di antaranya yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika. Rasa kopi juga bermacam-macam, bagi pencinta kopi yang lidahnya peka, dapat membedakan rasa tersebut. Ada kopi dengan rasa pahit, agak manis maupun asam. Meskipun belum dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain. Namun semua itu masih dalam balutan nama yang sama, kopi. Deretan Tenda Kopi di Pelataran Pendopo Ada pemandangan yang berbeda di pelataran depan pendopo Hotel Royal Ambarrukmo, Sabtu, 14 September 2013. Deretan tenda berwarna putih menghiasi lokasi yang terletak di antara Plaza dan hotel di Jl. Adi Sucipto, Yogyakarta

Hal. 18

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

tersebut. Sepintas dari jalan raya terlihat ujung tenda dengan bentuk kerucut berjajar memenuhi lahan yang tidak begitu luas. Biasanya kita hanya menyaksikan taman dengan pohon beringin serta deretan kendaraan yang sedang parkir. Tetapi kali ini banyak berdiri umbul-umbul yang bertuliskan ‘Indonesian Coffee Festival’. Di tempat ini di gelar festival kopi Indonesia untuk yang kedua kali. Di mana sebelumnya diselenggarakan di Bali tahun 2012. Indonesian Coffe Festival di Yogyakarta mengusung tema, ‘Kopi Tubruk The Local Lifestyle’. Menurut Ellyanthia Tambunan, selaku penyelenggara, tema tersebut diambil dengan tujuan untuk mengangkat kearifan lokal Indonesia dalam menikmati kopi. Kegiatan ini didukung Kementrian Pariwisata den Ekonomi Kreatif yang mempunyai kepentingan menjadikan kopi sebagai destinasi para turis. Selain itu mendorong agar kebiasaan minum kopi yang sudah menjadi lifestyle mempunyai nilai ekonomis. Yakni sebagai bagian dari ekonomi kreatif Indonesia. Festival dengan ikon kopi tersebut menarik perhatian para pengunjung Hotel maupun Plaza Ambarrukmo. Kalau biasanya mereka hanya melintas begitu saja namun kali ini dapat berhenti sejenak untuk menyaksikan produk kopi yang di pajang. Atau, bisa juga ngobrol dengan penjaga stan pameran yang rata-rata wanita. Beberapa stan yang mengikuti acara ini diantaranya, Klaster Kopi Arabika

Bali, Maharaja Coffee, Rollas Coffee, Coffindo, Pame Kopi, Gayo Kopi, Green Field, Jepara Muria Coffee, Blanco Diamontde, Stan Pertanian, BPD AEKI Jawa Barat dan Kopi Mace. Para peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Dan dianggap sebagai produk unggulan. Antara lain, kopi Papua, Aceh, Lampung, Luwak, Jawa, Bali, Flores serta Toraja. Mereka menempati tenda berwarna putih berderet di dua lokasi. Deretan pertama, berdekatan dengan halaman parkir hotel, memanjang dari timur ke barat. Sedangkan yang lain berderet dari utara ke selatan, berada di sebelah barat pendopo hotel. Acara semacam ini memang sangat cocok buat para pebisnis, ‘penggila’ kopi atau hanya sekadar penikmat seperti saya. Selain pengunjung dapat melihat-lihat stan pameran, di pendopo juga diadakan beberapa kegiatan yang bisa dikuti, seperti talk show atau coffee talk. Acara ini dihadiri beberapa pembicara yaitu, Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan serta Hermawan Kartajaya yang sekaligus moderator dalam talk show. Hadir juga pembicara lain yang berasal dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Pelaku industri kopi, prakitis kopi serta dari penyelenggara festival kopi Indonesia. Festival ini diselenggarakan untuk memperkenalkan produk-produk kopi di Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Serta mengajak stakeholder dari hulu sampai ke hilir untuk membicarakan masalah kopi. Dan selanjutnya membahas tentang perubahan stigma meminum kopi di Indonesia yang telah mengalami perkembangan. Setelah talk show selesai, dilanjutkan dengan demonstrasi para barista meramu kopi (dalam dunia kopi 2


Tourism - Festival Kopi

3

forum pertemuan antara petani dan pebisnis kopi, baik pedagang lokal maupun para eksportir. Bahkan para peramu atau barista. Selain itu, lanjut Wamen Pertanian, ajang festival kopi ini memunculkan semangat baru. Mengingat Indonesia pernah berjaya dengan hasil pertanian khususnya kopi. Dengan cara revitalisasi kopi, yang bisa diartikan sebagai mengganti pohon lama dengan pohon baru yang hasilnya lebih baik dan berorientasi kepada pasar(market). “Jadi ada pilihan di sana, apa Robusta apa Arabika itu soal nanti. Tapi paling tidak ada gerakan revitalisasi di kopi”, terang beliau. Kopi di Indonesia merupakan perkebunan yang relatif tua keberadaannya. Kira-kira sudah sejak empat ratus tahun yang lalu. Ironisnya, lahan untuk kopi tidak pernah tergantikan. Pohonnyapun sudah sangat tua, produktivitasnya semakin menurun, dibarengi dengan kualitas biji kopinya juga menurun. Oleh karena itu, semua stakeholder yang ada harus mempunyai pegangan yang sama. Di mana selama ini berjalan sendiri-sendiri. “Mungkin eksportir bisanya cuma mengekspor. Tapi dia nggak pernah mengembalikan. Bahwa untuk mengekspor itu dia kan butuh juga kan kualitas yang bagus. Padahal kualitas yang bagus itu hanya bisa dihasilkan oleh petani yang bagus juga, “ lanjut Wamen. Sehingga dengan blue print yang sama kejayaan kopi di Indonesia dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan kembali dikenal dunia. Cupping Kopi Produk Lokal

4

(1) Peserta festival kopi, Yogyakarta (2) Penari Bali menyambut kedatangan tamu (3) Stan Kujer kopi (4) Mesin roaster kopi

dinamakan brewing) menggunakan kopi produk lokal. Setelah selesai, para tamu undangan dipersilahkan untuk minum kopi bersama-sama. Wamen Pertanian, Rusman Heriawan juga meluangkan waktu untuk melihat-lihat stan pameran. Dalam kesempatan ini beliau memberikan penjelasan bahwa selama ini bisnis kopi dikuasai oleh para pelaku hilir. Sedangkan para petani perannya tidak menonjol. “Dari situ pemerintah menjadi lebih positif dalam menilainya,” terang Rusman kepada wartawan. Ia juga menambahkan bahwa festival ini juga bisa dijadikan sebagai

Mencicipi rasa kopi biasa dinamakan dengan istilah cupping. Sebelum icip-icip dimulai, kopi diolah dahulu oleh barista. Tempat demonstrasi barista di bagi menjadi dua. Ada yang menggunakan peralatan modern mesin espresso, atau dengan tradisional. Para barista mulai beraksi. Biji kopi yang sudah di roasting atau sangrai mulai ditumbuk. Para barista menyebut sebagai proses grinding. Selanjutnya diracik atau brewing dengan cara masing-masing. Yang mengunakan alat, tergantung dari klincahan memutar-mutar alat tersebut sampai biji kopi menjadi halus. Kemudian dilanjutkan dengan meracik. Kopi bisa dicampur dengan susu, cream atau murni saja. Tergantung selera yang akan meminum nanti. Setelah kopi bercampur dengan air maka dilakukan proses melukis atau dikenal dengan istilah latte art. Lukisan bunga dapat kita lihat di sana. Saya mencoba satu gelas kecil. Ada rasa

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 19


Tourism - Festival Kopi

3

sayang ketika melihat lukisan bunga indah di atasnya. Namun bagaimana lagi, kopi ini disajikan untuk diminum. Dari hasil racikan menggunakan mesin espresso, rasa kopi tidak terlalu mendominasi. Karena sudah dicampur dengan susu. Namun pada intinya tetap mempunyai sensai yang berbeda. Teksturnya agak lengket, sampai-sampai sedikit tersisa di bibir para penikmat. Sedangkan yang tanpa alat alias manual, setelah kopi di grinding, dimasukkan wadah yang dilapisi semacam kain halus, berfungsi sebagai penyaring dan ditumpangkan di atas teko transparan. Kemudian disiram dengan air panas. Maka kopi akan bercampur dengan air mendidih tadi tanpa disertai ampas karena sudah disaring. Setelah itu maka kopi siap untuk dinikmati. Saya penasaran untuk mencicipi bagaimana rasanya. Menurut barista, kopi tersebut berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Saya mengambil satu gelas kecil, hmmm....ada beberapa rasa yang saya sendiri agak bingung mendiskripsikan. Di situ kita bisa menemukan rasa pahit, asam dan agak asin juga. Berbeda dengan yang menggunakan mesin, rasa kopinya masih mendominasi. Seorang pengunjung yang juga ikut mencicipi mengatakan kalau kebanyakan minum bisa mungkin bisa pusing kepala. “Rasanya nendang, tapi kalau kebanyakan bisa pusing�, ungkapnya.

Hal. 20

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Keunggulan Kopi Produk Lokal Memasuki hari kedua, Minggu 15 September 2013, festival kopi agak sepi dari pengunjung. Barangkali karena acara terbagi dua. Ada yang mengikuti acara tour ke kebun kopi Telahab di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah serta perkebunan Banaran di Semarang. Salah satu produk kopi yang ditampilkan adalah Mace, yang berasal dari tanah Papua. Keunggulan terleatak pada ciri tradisional. Menurut keterangan penjaga stan, proses pengolahan dilakukan tanpa menggunakan alat. Yakni hanya dengan tangan. Mulai dari memetik, melepas kulit, menyangrai, menumbuk, sampai meracik kopi. Kata ‘Mace’ merupakan bahasa Papua, artinya Ibu. Mace juga merupakan nama panggilan kepada perempuan dewasa di Papua. Kata tersebut dipilih sebagai bentuk penghargaan kepada perempuan yang terlibat dalam proses budidaya serta proses produksi kopi Arabika di Pegunungan Tengah Papua. Ada lagi kopi Arabika yang berasal dari daerah Kintamani, Provinsi Bali. Di dataran tinggi Kintamani para petani bertani kopi dengan cara berkelompok, dinamakan Subak Abian. Menurut salah seorang penjaga stan yang bernama Bapak Rake, Subak Abian dilandasi oleh azas Tri Hita Kirana, yaitu kebahagiaan hidup diperoleh

dari adanya hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam. Oleh karena itu pengolahan kopi ini dilandasi prinsip-prinsip tadi. Terdapat banyak sekali keunggulan Kopi yang berasal dari pulau Bali ini. Misalnya, kopi yang ditanam dengan pupuk organik dan tanpa menggunakan pestisida. Urusan rasa, bisa dibilang seperti lemon tea. Atau perpaduan antara pahit dan asam. Kopi Arabika dari Kintamani mempunyai aroma seperti jeruk. Ajang festival kopi ini sangat menarik, karena kita dapat mengenal kekayaan produk lokal yang ternyata mempunyai kualitas mendunia. Selain itu kita juga dapat mencicipi berbagai rasa dari kopi yang disajikan. Yang lebih penting lagi bahwa festival ini dapat mendorong kopi Indonesia supaya lebih dicintai di negeri sendiri. Sehingga berdampak pada mengangkat kesejahteraan petani kopi. Daerah penghasil kopi juga bisa dijadikan sebagai kawasan agrowisata. Dan selanjutnya pencanangan eco tourism dan go green dapat tercapai. (Teks & foto. Wendy S)


Tourism - Ubud Bali

The Ubud Monkey Forest, Wisata Alam Dan Pura

K

alau yaman w tetap n ya ng ini n i u s h a a b n a ke Wisataw lompat yang me si kera

etika bertandang ke Bali, hilangkan terlebih dahulu, pemikiran bahwa menikmati liburan itu identik dengan air, pasir dan gelombang. Hilangkan pula hiruk pikuk hiburan tengah malam di Kuta, Legian, dan Seminyak. Cobalah bertandang ke destinasi Bali yang lain, seperti di daerah Ubud. Di Ubud, Anda akan menemukan cara menikmati liburan yang berbeda ketika datang ke Bali. Nuansa begitu damai, sejuk, dan mengesankan. Memang, destinasi Ubud kalah kondang dengan destinasi seperti Kuta, Legian maupun Seminyak. Akan tetapi kesan dan cara menikmati liburan begitu menyenangkan. Ketika di Ubud, Monkey Forest bisa menjadi pilihan destinasi pertama dalam check list liburan Anda, baru setelah itu ke destinasi lain. Monkey Forest atau Mandala Wisata Wenara Wana adalah cagar alam dan kompleks candi yang menyatu dengan alam, manusia dan binatang lucu yang bernama kera. Dapat Anda bayangkan, bisa bercengkerama dan bermain dengan kawanan kera yang bisa bersahabat dengan manusia. Jauh dari stigma, seekor kera yang jahil,

bahkan nakal seperti mengambil barang bawaan setiap pengunjung yang datang. Menurut data yang ada, hutan alam cagar budaya yang memiliki luas lebih dari 27 hektar dengan ditumbuhi 115 jenis pohon, telah berkembang kurang lebih 340 kera ekor panjang (Macaca fascicularis) (32 jantan dewasa, 19 jantan muda, 77 betina dewasa, 122 remaja dan 54 bayi). Ketika mengantri membeli tiket masuk, sejauh mata menerawang, Anda akan mendapatkan kesan sejuk dan rindang. Di area tiket sekawanan kera telah menyambut. Tingkah mereka lucu, walau terkadang sering membuat jantung berdebar karena ulahnya. Monkey Forest yang selalu dikunjungi 10.000 wisatawan per bulan ini, ada empat kelompok kera yang berbeda-beda dan masing-masing berlokasi di wilayah yang berbeda di dalam hutan taman ini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memasuki kawasan Monkey Forest, setiap pengunjung, diminta untuk berhati-hati dengan barang bawaan seperti perhiasan, kaca mata, tas plastik, botol dan mainan anak-anak. “Agar lebih aman, sebaiknya barang-barang bawaan tersebut dititipkan di tempat penjualan tiket saja,� ujar Nyoman kepada para

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 21


Tourism - Ubud Bali

Forest di Monkey erangan eb ny r pe hon besa Tangga arca & po dihiasi

Hal. 22

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

pengunjung yang baru datang. Selain itu, pengunjung diharapkan untuk tidak menyentuh, meraba, atau mempermainkan kera. Sebab, reaksi mereka tidak dapat diprediksi. Jika, kera menaiki Anda, jangan panik, lemparkan saja semua makanan dan berjalan berlahan-lahan menjauh. Sebab, kera mengira Anda membawa makanan kesukaan mereka. Wisatawan asing, asal Australia, Robert bersama keluarga, mulanya pun terkejut saat seekor kera naik ke punggung dan kepala. Sementara itu, tour guide yang ada disamping meyakinkan Robert untuk tidak panik, dan bertingkah seperti biasa. Lama-kelamaan, Robert bersama istri dan anaknya, malah senang bermainan dengan kera yang menaiki tubuhnya. Menurut tour guide, tidak selamanya kera yang menaiki punggung Anda itu akan berbuat jahil, seperti mencakar atau mengambil barang yang ada di kepala. Bisa jadi, kera tersebut, ingin mengajak bermain atau diraba seperti minta diperhatikan. Untuk itu, tour guide setempat, selalu menekankan kepada para pengunjung untuk bertingkah laku secara normal, ketika kera naik ke punggungnya.

Pura Dan Air Suci Berkunjung ke kawasan Monkey Forest Anda bisa menjumpai obyek menarik lain dibalik rimbun hutan alam tersebut. Di area ini, terdapat Pura Dalem Agung Padangtegal serta Pura Madia Mandala. Tidak hanya itu, di hutan ini pun terdapat sebuah kolam suci dan candi lain yang digunakan untuk upacara kremasi. Monkey Forest dimiliki oleh warga desa Padangtegal dan Yayasan Wenara Wana Padangtegal sebagai pengelola, sekaligus juga bekerja untuk menjaga kesucian taman dan mempromosikan situs suci ini sebagai tujuan wisata. Masing-masing pura yang ada di dalam hutan lindung ini tidak hanya menawarkan arsitektur pura yang menawan. Setiap pengunjung dapat menemukan dan melihat prosesi atau ritual ibadah. Fenomena seperti ini, menjadi daya tarik wisatawan asing dan selalu diabadikan di kamera mereka. Untuk menjumpai, pura-pura dan taman suci ini pun tidak terlalu susah. Penunjuk arah telah diatur sedemikian rupa, dengan tujuan untuk memudahkan para wisatawan yang datang. Para pengunjung pun bisa menanyakan secara


Tourism - Ubud Bali

langsung ke tour guide tentang asal muasal juga fungsi dari pura dan taman suci ini. Setiap jalan yang menuju ke pura, para pengunjung disajikan sebuah pohon berikut akar yang besar menjulur ke bumi. Jembatan penyeberangan yang dibuat manusia berikut beberapa arca seolah menyatu dengan pesona dan kearifan alam yang ada di hutan ini. Nah setelah, puas berkeliling di kawasan Monkey Forest Anda pun dapat berbelanja souvenir yang ada di depan pintu masuk gerbang. Jaraknya hanya 100 meter. Beragam akesoris tradisional khas bali hingga produk logam berukirkan dewa dan binatang pun lengkap tersaji. Harga yang dijual ‘ramah’ dengan isi dompet Anda. Untuk sampai ke Monkey Forest cukup mudah. Jika bermalam di Kuta, Anda dapat menyewa mobil. Dari Kuta ke Ubud menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Sedangkan dari Bandara Ngurah Rai ke Ubud dapat ditempuh sekitar satu jam. Anda juga bisa menggunakan jasa travel agent yang menawarkan paket wisata ke Monkey Forest. (Teks & foto. Fatoer Doang)

ra aian ke m a r e k usat Titik p st ey Fore di Monk

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 23


Tourism Heritage

Museum Karo Lingga, Sejarah Budaya Karo

Hal. 24

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Tourism Heritage

Menyimpan benda-benda seni dan kerajinan Karo (insert) Tongkat dengan ukiran Karo

Setelah puas melihat dan memotret Desa Lingga, perkampungan Batak Karo yang memiliki rumah adat berusia 250 tahun dan merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Brastagi. Di tengah perjalanan, mendadak mata saya melihat bangunan menyerupai rumah adat. Di halaman depan tercantum tulisan Museum Karo Lingga, dan saya minta pengemudi mobil yang ditumpangi untuk singgah. Setelah mobil parkir di halaman luar, saya masuk ke dalam dan berjumpa dengan petugas museum. Museum Karo Lingga berupa rumah panggung sederhana terbuat dari kayu, bercat oranye dengan atap bertumpuk serta ornamen khas Karo. Pada bagian atas atap tertulis “Menjuah-juah�, yakni sebuah ucapan salam masyarakat setempat. Museum Karo Lingga berada tepat di depan Gereja Katolik St. Petrus, Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Museum ini berdiri tahun 1977, adalah G. H Mantik yang saat itu menjabat Pangkowilhan Kodam II Bukit Barisan, yang memprakarsai pembangunan tempat ini. Tepat pada, 6 Juni 1989, museum ini resmi dibuka untuk

umum dan di kelola Yayasan Museum Karo Lingga. Memang benda-benda yang menjadi koleksi dari museum ini tidak banyak, namun dapat menjadi gambaran dan

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 25


Tourism Heritage

informasi asal muasal kebudayaan Karo di masa lalu. Beberapa benda-benda tradisional Karo bisa dilihat, seperti seperti capah (piring kayu besar untuk keluarga), tongkat, kain tenun, topeng, mata uang, peralatan dapur, peralatan pertanian, alat-alat musik, berburu, upacara adat dan

Hal. 26

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

lain sebagainya, semua tertata rapi. Kehadiran Museum Karolingga dapat dikatakan melengkapi benda-benda di Pusaka Karo yang terletak di Jalan Perwira, Kota Brastagi. Tidak ada loket pembayaran tiket saat akan memasuki museum ini, alias gratis. Namun, apabila Anda ingin memberikan bantuan secara sukarela akan dicatat dalam buku pengunjung. Dana tersebut akan dipergunakan untuk merawat dan menjaga kolekasi benda-benda, bangunan, seta halaman museum. Kebersihan di tempat ini memang dijaga cukup baik, ini bisa dilihat dari penataan benda-benda, ketika hendak masuk terlebih dahulu saya melepas sepatu saat menaiki anak tangga yang terbuat dari bambu. Bagi Anda yang kebetulan sedang jalan-jalan di Kota Brastagi atau Kabanjahe tidak ada salah mampir untuk melihat dari dekat koleksi benda-benda yang menjadi catatan masa lalu budaya Karo. Museum Karo Lingga buka setiap hari Senin – Sabtu pukul 9 pagi hingga 4 sore. (Teks & foto. Lily. S)

Gundala atau topeng replika manuk sigurda-gurdi (insert) Koleksi patung


Melawan Arus Globalisasi Di Atas Sungai Barito


Tourism - Pasar Kuin

2

1

T

itik nadir sebuah pengharapan berujung pada kata Happy Ending. Mimpi untuk berlibur ke Kalimantan Selatan, atau tepat di salah satu ikon destinasi wisata nasional bernama Pasar Terapung kesampaian juga. Secara pribadi, saya mengenal destinasi ini dari salah satu televisi swasta di Indonesia, pada pariwara tersebut terdapat seorang perempuan sepuh sedang diatas perahu perairan sungai, lantas ia tersenyum dan menunjukan ibu jarinya ke para pemirsa. Saat itu, saya sedang di bangku kuliah semester pertama. Hasrat untuk berwisata ke daerah tersebut hingga sekarang terus terpendam. Baru sebulan kemarin, hasrat tersebut kesampaian, manakala saya mendapat telepon dari salah satu Direktur Promosi Dalam Negeri untuk meliput Festival Budaya Pasar Terapung dan Borneo yang diselenggarakan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tanpa pikir panjang, tawaran tersebut langsung saya terima dengan senang hati. Perasaan gembira pun membuncah saat usai menerima telepon tersebut. Segala persiapan langsung dikemas. Padahal, jadwal pemberangkatan ke destinasi tersebut masih dua hari. Hingga tiba pada hari pemberangkatan, bahkan ketika pesawat landing di Bandara Internasional Syamsudin Noor masih berasa mimpi, jika saya telah sampai di ibu kota provinsi dari destinasi tersebut. Sejurus kemudian, ketua rombongan trip kali ini mempersilahkan kami untuk

Hal. 30

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

beristirahat di salah satu hotel yang berada di ‘jantung’ Kota Banjarmasin. Sebelum mempersilahkan untuk rehat, saya sempat dibuat kaget, bahwa trip ke Pasar Terapung Kuin yang berada di atas Sungai Barito akan dimulai jam 03:30 dini hari dari hotel. Tapi itu tidak saya permasalahkan, meski hanya istirahat sekitar empat jam lebih. Yang terpenting esok hari kesampaian untuk melihat Pasar Terapung Kuin yang telah ada sejak jaman penjajahan Jepang. Morning call dari receptionist hotel pun berdering. Hanya dalam hitungan menit, saya dan tim lain telah berada di lobi hotel. Tak lama berselang, mobil jemputan datang, untuk mengantar ke dermaga Sultan Suriansyah, Kuin Utara, Banjarmasin. Dermaga tersebut, hanya berjarak 15 menit dari hotel kami menginap. Sangatlah mudah, untuk menemukan dermaga yang satu ini. Sebab, terdapat sebuah masjid besar ternama dan memiliki sejarah bagi masyarakat setempat. Sesuai penuturan nahkoda kapal setempat, bahwa hiruk pikuk niaga di atas Sungai Barito terjadi selepas umat muslim menunaikan Adzan Subuh, sedangkan, waktu yang dibutuhkan dari dermaga ke pusat perdagangan tradisional itu sekitar 1,5 jam dengan menggunakan perahu tradisional bermesin. Masih Menjaga Tradisi Leluhur Tepat usai Adzan Subuh, kami pun sampai di lokasi Pasar Terapung, yang

lebih kesohor dari Negara Thailand dan Vietnam. Langit di ufuk timur masih terlihat merona, menandakan bahwa pagi segera tiba. Perahu pedagang dan pembeli di atas Sungai Barito mulai berdatangan. Cara mereka (perahu pedagang) pun sangat unik, ada yang datang secara gerombolan dengan ditarik menggunakan perahu mesin. Menarik lagi, jika gerombolan perahu tersebut datang, masing-masing perahu langsung membentuk format huruf “V�. kamera yang telah di tanggalkan di bahu langsung keluar dan menangkap fenomena tersebut. Pancaran cahaya dari lampu tempel dan listrik, semakin membuat gambar berkarakter. 3

(1) Ufuk matahari terlihat merona menyinari pedagang Pasar Terapung Kuin (2) Para pedagang mulai bedatangan dari hulu sungai Barito (3) Untuk membeli makanan & jajanan harus menggunakan alat semacam kail yang disediakan pedagang

Pemandangan unik lain yang belum pernah saya temui manakala pedagang dan pembeli saling bertemu dengan menggunakan alat semacam galah yang bentuk menyerupai kail pancingan. Galah tersebut dipakai pembeli untuk menikmati jajanan tradisional khas daerah tersebut.


Tourism - Pasar Kuin

1

Konon, pada tempo dulu, baik pedagang maupun pembeli mempunyai sebutan masing-masing. Perahu jukung pedagang yang biasa menjual hasil produksi sendiri atau tetangga itu disebut Dukuh, sedangkan sang pembeli disebut Panyambangan. Namun, pada saat itu, transaksi yang menggunakan sistem barter atau Bapanduk tak terlihat. Rahmat, warga setempat yang telah berbelanja sayur mayur pagi itu mengatakan, dulu saat masih kecil, para pedagang ini tidak terpisah-pisah baik antara pedagang sayuran, buah-buahan, ikan dan yang lain. Tapi sekarang oleh pemerintah daerah dengan dalih mempermudah transaksi, dibuatlah zonaisasi antar pedagang. Pasar Terapung Kuin sekarang beda tampilannya dengan semasa dia belia. Jika dulu, lampu minyak tanah menjadi alat penerangan, sekarang telah menggunakan listrik dari tenaga diesel. Mereka berjualan pun lebih pagi, dimulai dari jam 04:00–08:00, sehingga barang yang di jual masih segar. Mati Enggan Hidup Pun Segan Jum’at pagi itu, nampak menjadi hari paling hoki bagi wisatawan maupun pelancong asal luar daerah dan luar negeri. Kami saat itu masih mendapati lebih dari 50 pedagang dan pembeli saling bertransaksi menggunakan jukung dan perahu mesin di atas Sungai Barito. Bahkan, kami sempat mencicipi secangkir kopi berikut jajanan tradisional setempat di atas geladak perahu.

Menurut Hasan-rekan Rahmat, hari ini tidak seperti bisaa, banyak pelancong, pedagang dan pembeli. Padahal, puncak keramaian Pasar Terapung Kuin ini terjadi setiap hari Sabtu dan Ahad. Bagi Hasan, nampak masyarakat setempat mulai gundah dengan perkembangan jaman. Setiap tahun jumlah pedagang dan pembeli terus menyusut. Meski belum seratus persen aktivitas berniaga diatas sungai Barito ini punah, membuat Hasan tetap merasa prihatin. Pada satu sisi, ia ingin terus menikmati fenomena berniaga yang tradisional ini. Akan tetapi Ia tidak bisa berbuat banyak, ketika para pedagang dan pembeli lebih memilih anak cucu untuk hidup layak sebagai pekerja kantoran atau di perusahaan. Para orang tua, lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Setelah itu, kedua orang tua mendidik sang anak untuk menjadi pekerja baik di tingkat institusi pemerintahan, maupun swasta. “Intinya, kedua orang tua generasi sekarang mendidik anak-anak untuk menjalani hidup yang lebih baik, agar tidak seperti mereka,� ucap Hasan dan Rahmat. Kondisi ekonomi dan perkembangan jaman-lah yang menuntut perubahan. Padahal, pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sendiri telah menjadikan tradisi Pasar Terapung sebagai ikon wisata daerah. Bahkan pemerintah pusat sendiri menjadikan Pasar Terapung sebagai tujuan wisata nasional. Mengingat sejarah keberadaan pasar terkait dengan budaya dan kondisi sosial yang begitu erat. Dari sisi promosi pariwisata sendiri, apalagi diera gadget, Pasar Terapung Kuin telah diuntungkan. Hampir dapat dipastikan, setiap wisatawan generasi sekarang merekam kegiatan tradisional ini ke media jejaring sosial yang mampu menembus dunia luar. Keampuhan media sosial seperti Instagram, Path, Twitter, hingga

Facebook, sudah tak dapat disangsikan lagi sebagai alat promosi yang efektif. Pertanyaan adalah sejauh mana peran pemerintah selaku regulator, apakah mampu mempertahankan tradisi tradisional Pasar Terapung Kuin, atau kita hanya dapat menyaksikan dari dokumentasi sisa-sisa kejayaan pasar ini dari media sosial melalui gadget yang dimiliki? (Teks & foto. Fatoer Doang)

3

(1) Selain menyediakan hasil bumi & jajanan, Pasar Terapung Kuin juga menjual kerajinan (2) Nikmati sensasi menyantap Soto Banjar di atas Sungai Barito (3) Santai dan sabar menanti sang ibu yang sedang bertransaksi

2

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 31


Profile

Chef Gatot Susanto

“Setiap Menu Ada Filosofi”

Hal. 32

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Profile

P

enampilan pria yang satu ini, hampir sama sekali tidak mencirikan seorang juru masak handal atau Chef, yang biasanya terlihat agak ‘gembul’. Tapi, jika kalau sudah berada di dapur, dan bertemu dengan sekawanan rempah-rempah, maka dia akan menjelma juru masak yang gesit, cekatan. Ia pun bisa menjadi sosok yang tak kenal kompromi dalam menciptakan menu terbaru. Wartawan Tourism Watch Magazine (TWM) berkesempatan berbincang santai dengan pemilik nama lengkap Gatot Susanto di Bianco D’Italian Restaurant, Atria Residences Paramount Serpong. Pakar menu ini mengatakan bahwa memasak diperlukan riset dan survei agar makanan yang akan disajikan untuk tamu itu unik, serta kualitas rasa masakan tetap terjaga. Ide awal yang ada dibenaknya saat itu adalah, ingin menciptakan suatu menu yang memang berbeda dengan Chef lain. Dan, tidak asal beda, apalagi asal buat. “Setiap menu yang saya buat harus melalui riset, survei, dan observasi, baru setelah itu, bertemu di dapur. Sehingga setiap menu yang saya bikin itu pasti ada data dan memiliki filosofi,” ungkap Gatot. Obrolan tentang ide penciptaan menu dengan Ayah satu anak ini kian menarik, manakala ia mengatakan, setiap masakan yang keluar dari dapur adalah representasi dari dirinya sendiri. “Saya memiliki prinsip, setiap makanan yang dibuat adalah muka, puisi, serta dan karya saya. Oleh karena itu, setiap menu yang dikeluarkan tentulah yang terbaik, secara tampilan maupun cita rasa,” tambah Gatot. Chef yang pada tahun 2001 meraih predikat Meat knowledge and Nutricion, Meat and Livestock, di Austarlia ini menuturkan, setelah berkelana ke berbagai negara seperti Jerman dan Australia, ia merasa berhutang kepada negerinya untuk mengangkat kuliner tanah air ke tingkat internasional. Sembari, meneguk secangkir kopi dihadapannya, pria yang pernah bekerja di Ms Deutschland, Germany ini kembali melanjutkan percakapan, Indonesia itu memiliki makanan yang berciri khas, berkarakter, dan tidak kalah dengan negara luar seperti China, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, maupun Eropa.

Diadopsi Dari ‘Kitab’ Serat Centhini Kuliner Indonesia tempo dulu jumlahnya hampir ribuan jenis. Namun sayang, hal tersebut belum tergali dan ditampilkan kembali secara maksimal oleh juru ramu masakan handal Indonesia. Nama-nama kuliner yang terkesan ‘nyleneh’ dan bahkan belum familiar di kalangan masyarakat sebenarnya memiliki sejarah. Dengan antusias, Chef Gatot memberikan contoh, nasi thiwul, nasi jagung, nasi brontol, adalah contoh jenis makanan yang mengantarkan Indonesia pada suatu kemerdekaan. Ini sejarah kuliner Indonesia. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia memahami hal tersebut. Apalagi generasi muda sekarang. Untuk itu, setiap bulan Agustus, ia meramu sebuah menu yang mengangkat filosofi tentang semangat kemerdekaan. “Saya pernah merilis menu bertema tentang kemerdekaan, salah satu adalah Granat Muncrat. Kemudian, kuliner seperti thiwul, brontol yang diperbarui dengan cita rasa masa kini. Ternyata hasilnya cukup membuat hati saya gembira,” ujar Gatot. Chef yang memiliki hobi membaca berbagai literature, puisi, sejarah kebudayaan, serta traveling, mengaku bahwa setiap menu yang ia ciptakan dipengaruhi pada ‘kitab’ Jawa Kuno yakni Serat Centhini (1814-1823), yang ditulis oleh Raden Ngabei Ronggo Warsito. Menurut Ia, dalam kitab tersebut - yang mengatur perihal kuliner kuno, dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Mataram dan Jawa Timur. Diceritakan oleh Gatot, bahwa Serat Centhini segala jenis kuliner tempo dulu ini mampu menggambarkan betapa kaya jenis makanan Indonesia. Mulai dari menu kesukaan raja, menjamu tamu agung, hingga kuliner yang dikudap oleh masyarakat jelata. Dari kitab Serat Centhini, ia mengaku ingin mengangkat kembali keragaman kuliner tersebut dalam versi Chef Gatot. Hal ini pun ia buktikan dalam beberapa menu yang telah dihasilkan. Sebut saja Bebek Pulang Kampung, Ikan Sisa Nabi, Iga Kendil yang sempat di jadikan referensi beberapa chef hotel lain. Satu hal yang ia merasa bangga dengan khasanah kuliner Indonesia, bahwa masakan Indonesia memiliki bumbu sangat kuat. Mengingat Indonesia adalah penghasil rempah-rempah terbesar dunia. Ia mengatakan bahwa makanan adalah proses masakan yang telah ada sejak berabad-abad.

Gatot Susanto Age: 48 years Marital status: Married with 1 children Alamat : Tangerang, Banten. E-mail: exchef@atriahotelserpong.com Hobbies and Interest Reading, cooking and travelling Education background Mercubuana University, Jakarta IISIP Institute, Jakarta Experience 1. Atria Hotel and Coferences Paramount Serpong and Atria Residences Paramount Serpong, Executive Chef ( August 20’ 2012 - now) 2. Aston Marina Ancol Jakarta, Executive Chef, ( July 2008 - August 2011) 3. Aryaduta Sites, Semanggi, Jakarta, Executive Chef (2007 - 2008) 4. Aston Sudirman Hotel Jakarta, Head Chef (March 2007 - June 2008) 5. Ms Deutschland, Germany, ( March 2000 - February 2001) 6. The Dharmawangsa Hotel, Jakarta, (October 1997 - Mach 2000) 7. Ciputra Hotel, Jakarta, ( April 1994 October 1997) 8. Tss Fair Star, Sydney, Australia (1990 1993) Award and Certficate - Team Manager Black Box Competition, Jakarta Salon Qulinaire 2007 (Silver Medal Winner) - ServSafe, hygiene and sanitation (March 2006) - Smart Leadership - Meat knowledge and Nutrition (2001), Meat and Livestock, Austarlia. - Change De Rotesier - Employee Of The Year, 2003, Aston Hotel Sudirman. - Twice around Cape Horn 2000, MS Deutschland, Germany. - Award of Appreciation Chaine Des Rottisseurs Dinner, 1999, The Dharmawangsa Hotel. - Award Salmon Live Cooking, 1997, Jakarta Salon Qulinaire (Medal Winner)

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 33


Gadget

Sony’s SmartWatch 2, The World’s First Water-Resistant With NFC Connectivity Dunia dalam genggaman tangan semakin nyata. Ini dibuktikan dengan diluncurkan Sony SmarWatch 2 SW2. Jam tangan pintar tercanggih dari Sony Mobile Communications. Sony SmartWatch 2 merupakan layar kedua bagi smartphone Android yang dapat meningkatkan fungsi ponsel yang sudah ada. Dan juga menawarkan keunggulan baru yang unik. Teknologi terbaru jam pintar dari Sony ini, menggabungkan bentuk dan fungsi dalam desain yang mulus. Perangkat ini juga berguna sebagai jam tangan multifungsi, pengingat, antarmuka aplikasi Android dan remote control ponsel, semua menjadi satu. Jam ini untuk memenuhi kebutuhan setiap individu yang senang travelling, memiliki waktu kerja yang padat, sedang melakukan pertemuan bisnis maupun ketika berada dirumah. Untuk mempermudah dan berfungsi secara maksimal, download sejumlah aplikasi SmartWatch dan nikmati rangkaian fungsi yang unik, bahkan banyak yang lagi tanpa harus meraih ponsel. Jam tangan ini dapat membantu si pengguna dalam hal menerima panggilan telepon hanya dengan menyentuh pergelangan tangan. Kecanggihan lain adalah, dapat berfungsi sebagai peta untuk memeriksa rute perjalanan saat bepergian dengan menggunakan sepeda, secara cepat dan mudah menyesuaikan lagu dan volume pada pemutar musik, tanpa harus mengeluarkan ponsel, membaca email yang sudah di-download sebelumnya ketika sedang tidak terhubung dengan ponsel, hingga memonitor kegiatan fitness.

Hal. 34

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

XperiaZ Ultra Smartphone Full HD Tertipis Dan Terbesar Di Dunia Sony Mobile Communications kembali meluncurkan produk terbaru, Xperia Z Ultra, guna bersaing dengan platform smartphone lain. Ini merupakan revolusi terbaru dalam ranah smartphone Android di kelas premium berlayar besar. Xperia Z Ultra terbaru ini telah mengadopsi teknologi waterproof, ultra tipis dengan desain ringan sehingga dapat menikmatinya kapan saja, dan dimana saja. Produk baru ini merupakan smartphone pertama yang menggunakan TRILUMINOS Display for mobile Full HD yang ditenagai oleh engine gambar X-Reality for mobile terbaru dari Sony untuk mengantarkan pengalaman menonton paling mendalam yang dapat dibayangkan. Sebagai tambahan, Xperia Z Ultra juga memiliki prosesor Qualcomm Snapdragon 800 dengan CPU quad core 2,2GHz, 4G LTE dan HD voice untuk menyediakan pengalaman hiburan terkoneksi tanpa batas, performa baterai terkemuka dalam industri dan kecepatan mengagumkan. Menariknya lagi, Xperia Z Ultra ini memiliki layar sentuh Full HD 6,4” sehingga menciptakan palet yang lebih luas serta warna alami yang ada BRAVIA TV. Terobosan teknologi mencakup X-Reality for mobile—teknologi layar resolusi super pintar dari Sony—menganalisa setiap gambar dan memproduksi ulang piksel yang kurang, untuk mengoptimalkan kualitas hasil video super tajam.


Gadget

iwin MagicScan Scanner Ala “James Bond”

Picopad 7+ 3G Lebih Modis Dan Gaya Axioo kembali merilis produk terbaru. Kali ini dilabeli nama Picopad 7+ 3G. Permukaan bodi berwarna abu-abu dengan ornamen garis vertikal semakin mengesankan modis dan gaya. Beberapa teknologi terakhir pun dibenamkan dalam produk buatan Axioo ini. Pada produk Picopad 7+ 3G sang produsen telah membenamkan dual kamera yang telah terintegrasi. Pada bagian depan, terdapat kamera dengan kualitas resolusi 0.3 MPx, sedangkan pada bagian belakang memiliki kualitas 2.0 MPx. Kamera Picopad 7+ 3G memiliki banyak fitur menarik yang dapat Anda eksplorasi dan aplikasikan sendiri. Fitur-fitur menarik itu antara lain:“smile detection”, fitur ini secara otomatis mampu mengenali wajah dengan ekspresi tersenyum. Fitur “face beautifier”, yaitu fitur yang mampu mengolah hasil tampilan wajah subyek yang difoto menjadi lebih menarik. Kemudian ada juga fitur “HDR/High Dynamic Range”, yaitu mampu mereproduksi foto menjadi lebih kaya warna dan lebih dramatis. Picopad 7+ 3G ini mengusung teknologi OS Android Jelly Bean (4.2.2), yang mana di dalamnya, Axioo membenamkan processor quad core 1.2 GHz. Untuk tampilan grafis lebih memukau, Picopad 7+ 3G ini dilengkapi dengan GPU VR SGX 544. Dengan adanya prosesor berinti empat, maka aktifitas memainkan permainan HD dan memutar video HD dapat berjalan dengan lancar.

Ingin membuat atau memiliki duplikat dokumen berupa tulisan, gambar dari koran, dan majalah, yang pernah digunakan dalam salah satu film James Bond. iwin MagicScan menawarkan teknologi scanner portable untuk menscan data secara mudah dan aplikatif bagi penggunanya. Scanner canggih ini pun bisa dikoneksikan keperangkat lain seperti tablet dan personal computer (PC). Bagusnya lagi, hasil scan dapat dilihat dan dibaca dalam format JPG dan PDF. Ada dua jenis iwin MagicScan yang coba ditawarkan, jenis MST4E dan MST4ED. Untuk jenis MST4E fitur utama yakni lebar media scan ukuran A4, panjang hingga 1,2 meter, menggunakan 3 unit baterai ukuran AAA, port bisa menggunakan micro SD hingga 32 GB, fungsi OCR—JPG ke teks (notepad, word, excel), serta resolusi real optic mulai dari 300dpi – 900dpi. Jika dirasa kurang canggih, iwin MagicScan yang memiliki layar ukuran 1,4” ini masih menyimpan satu ‘senjata’ canggih lagi, yaitu jenis MST4ED. Fitur utama hampir sama persis dengan seri MST4E. Namun, pada MST4ED bisa dikombinasikan dengan portable scanner dengan docking station untuk hasil yang lebih maksimal. Jika scanner ditambah dengan docking station maka akan menjadi Auto-Feed Scanner. Dengan docking station ini, Anda tinggal memasukan alat publikasi, maka secara otomatis akan menscan sendiri. Jadi, Anda tidak perlu repot memegang benda yang akan di scan, kemudian menjalankannya secara manual. Scanner ini bisa dioperasionalkan ke sistem windows dan OSX.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 35


Camera Lens

Memoles Batu Menjadi Permata

1

M

atahari sudah terlihat tinggi. Para pemilik kios di Sentra Batu Permata, Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mulai terlihat hiruk pikuk. Disamping kanan kios batu permata, dibalik rerimbunan pohon beringin, terdapat kios yang sudah mulai menua. Meski demikian, di lantai 2 pada kios tersebut terdapat aktifitas para perajin batu permata, mulai dari pemoles, perajin hingga penyepuh cincin dan batu permata yang sudah mulai kusam. Fudin, Yadi, dan Andi, adalah segilintir orang yang masih menekuni pekerjaan yang telah puluhan tahun dirintis. Bahkan salah satu dari mereka mewarisi keahlian orang tua maupun sang kakek. Tangan-tangan mereka begitu terampil. Mata pun begitu tajam dalam memperhatikan detail batu permata yang dibawa oleh setiap konsumen yang datang. Dibalik bisingnya mesin Gerinda, Fudin yang telah 50 tahun menekuni profesi sebagai tukang gosok batu akik, selalu memperhatikan detail setiap batu yang ia haluskan. Meski terkesan dan terlihat sepele, namun Fudin mampu membuat batu akik menjadi kinclong, dan presisi. Padahal, tidak ada ukuran atau rumus agar batu akik yang digerinda itu berbentuk elips dan ukurannya sesuai dengan

Hal. 36

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

2

permintaan sang pelanggan. Fudin, menjalankan semua itu hanya berdasarkan feeling yang telah ia jalani puluhan tahun. Begitu hal ketika ia memperhatikan jenis batu akik dan permata yang ada digenggaman. Fudin bersikeras, jika jenis batu yang ia katakan tidak sesuai dengan apa yang konsumen

sebutkan. Meneliti dan menyebut jenis batu hingga turunan memanglah tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk satu jenis batu saja memiliki sedikitnya tiga turunan. Dan, masing-masing turunan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dari situlah, akan diketahui masing-masing


Camera Lens

3

jenis batu dan asalnya. Termasuk nilai jual dari batu tersebut. Bagi Fudin, maupun Andi, untuk mengenal berbagai jenis dan karakter batu permata tidaklah harus membutuhkan berbagai literature dan apalagi buku khusus tentang permata. Ketajaman retina mata dan pengalaman puluhan tahun pada batu permata sudah cukup bagi ia untuk membuktikan bahwa batu tersebut asli dari alam. Senada dengan Fudin, Andi pun mewanti-wanti kepada para konsumen agar tidak terkecoh dengan keaslian batu permata yang nama dan jenisnya beragam. Yadin menyebutkan, beberapa batu permata yang bernilai tinggi yakni Pirus, Blue Saphire, Mata Kucing, Yakut, serta Zamrud. Masing-masing batu tersebut, memiliki nilai jual tinggi, karena memiliki karakteristik berbeda-beda. Begitupula dengan jenis batu turunan. Bagi pemula dan yang kasat mata, Yadin menjelaskan, batu permata yang memiliki nilai jual tinggi itu tergantung dari tingkat kebeningan, serat maupun urat dari batu tersebut. Namun jika, konsumen tidak mau rumit, Andi menyarankan datanglah ke toko batu permata yang besar, kemudian belilah batu permata yang telah memiliki sertifikat dari

Lembaga Pengembangan dan Sertivikasi Batumulia (LPSB). Sebab, dalam rincian sertivikat LPSB, akan dijelaskan secara detail mulai dari berat, jenis batu permata, dan harga jual batu tersebut. Warna kesukaan pun ternyata turut mempengaruihi nilai jual batu permata tersebut. Tahapan sederhana untuk menafsirkan suatu harga batu permata bisa diawali dengan jenis warna, jika warna batu permata telah diketahui, berapa besar karatnya, baru setelah itu akan ketahuan harga jualnya. Mereka telah menekuni dan bergelut di bisnis batu permata, toh rejeki mereka tak seterang pekerjaan yang mereka jalani. Saat bukan musim liburan, dan tanggal muda, mereka hanya membawa uang penghasilan sebesar Rp. 150.000 per hari. Akan tetapi, jika musim sebaliknya, mereka bisa mengantongi penghasilan hingga Rp. 5 juta per hari. (Teks & foto. Fatoer Doang)

(1) Batu permata yang harga mencapai puluhan juta rupiah. (2) Batu akik berasal dari sungai di Martapura. (3) Meneliti dan menakar keaslian batu permata.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 37


Camera Lens

Alat pengukur Krat untuk batu permata.

Dibakar terlebih dahulu, agar batu akik yang dihaluskan tidak terlepas.

Setelah di proses dengan gerinda, batu dipasang ke kerangka cincin

Hal. 38

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Yang Minim Diantara Memoles Batu Menjadi Permata Belantara Hutan Beton

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 39


Camera Lens

1

2 (1) Pemerintah DKI Menunjukan Komitmen akan Ruang Terbuka Hijau di Waduk Pluit (2) Seorang Bocah asik bermain bola dengan sang Ayah di Taman Honda

Hal. 40

Pohon-pohon di muka bumi akan merayakan ‘Hari Jadi’, yakni tanggal 21 (Hari Pohon) dan 28 November (Hari Menanam Pohon Indonesia). Untuk memperingati besar ‘jasa’ dari pohon yang tidak hanya sebagai ‘payung’ bagi manusia, Tourism Watch Magazine tergelitik mengulas minim ruang hijau sebagai ‘paru-paru’ kota. Dalam Undang-undang No. 26 tahun 2007 telah diatur mengenai penataan ruang hijau atau biasa disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sebut saja Kota Jakarta. Meski program penghijauan dan semangat Go Green digaungkan di setiap sudut kota. Toh tetap saja RTH di Megapolitan sekelas Jakarta masih kurang. Bangunan-bangunan tinggi seolah hendak “mencakar langit”, justru tumbuh subur. Warga Jakarta pun seolah-olah hidup di “Hutan Beton”. Dalam Undang-undang tersebut dijelaskan, jumlah RTH yang ada disetiap Kota haruslah 30 persen dari luas kota tersebut. Padahal, fungsi ekologis RTH sudah banyak yang mengetahui. Semakin banyak RTH dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan mengatur iklim mikro. Ketentuan, luasan sekitar 30 persen RTH disetiap perkotaan merupakan hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992. Dan, consensus ini kembali dipertegas

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan. Nampaknya, realisasi atas 30 persen RTH disetiap kota besar sulit terealisasi. Keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih “menguntungkan” dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Hal ini semakin ditunjang dengan nilai harga tanah yang terus melambung tinggi. Di Kota Jakarta saja, harga tanah permeter mencapai jutaan rupiah. Alhasil, pemilik tanah pun lebih memilih menjual tanahnya ke konglomerat untuk dijadikan bangunan daripada dijadikan ruang terbuka hijau. Sejatinya, di Kota Jakarta itu memiliki RTH dalam bentuk taman yang jumlahnya mencapai 350 taman. Akan tetapi, pada kenyataannya hanya ada sekitar 10 - 15 taman yang cukup bagus. Sedikitnya, ada sekitar 10 taman yang cukup rindang dan telah menjadi aktivitas sosial warga sekitar. Diantaranya adalah, Taman Suropati, Taman Situlembang, Taman Menteng, Lapangan Banteng, Taman Monas di Jakarta Pusat. Sedangkan di Selatan Jakarta ada, Taman Ayodya, Langsat, Leuser, dan Puring. Untuk di Jakarta Barat ada Taman Srengseng Sawah, ditambah Hutan Kota di Joglo dan taman baru yakni Taman Kebon Pisang di daerah Tomang. Selain telah menjadi taman kota yang sejuk dan rindang, setiap warga banyak


Camera Lens yang memanfaatkan taman tersebut untuk berbagai kegiatan sosial di hari libur. Diantaranya adalah untuk jogging, diskusi, bertemunya beberapa komunitas seni, hingga pertunjukan seni dan hiburan pada malam hari. Agar Kota Jakarta tidak menjadi hutan beton, dibutuhkan suatu komitmen yang kuat untuk merealisasikan keberadaan RTH dari semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat hingga pemangku kepentingan lainnya. Kita sebagai warga Kota Jakarta, mestinya harus memberikan dukungan kepada para pemerhati dan atau komunitas lingkungan yang memang benar-benar bekerja secara nyata untuk memperjuangkan lahan hijau. Sebut saja Komunitas Peta Hijau dari Jakarta, mereka menggelar aksi nyata melalui Festival Taman, pada 28–29 September 2013, di Taman Cattleya, Jakarta Barat. Dalam festival tersebut, pihak penyelenggara ingin mengenalkan sekaligus mempopulerkan kepada masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan bersama di ruang terbuka hijau.

Komunitas Peta Hijau Jakarta pun sangat menyambut antusias terkait kebijakan dan komitmen Gubernur DKI Jakarta untuk serius memperluas ruang terbuka hijau berdasarkan titah undang-undang. Gubernur akan mengklasifikasi RTH dalam dua sekala, yakni 20 persen RTH dinikmati publik, dan 10 persen RTH untuk privat. (Teks & foto. Fatoer Doang)

(1) Siswa SD sedang mengikuti permainan & belajar Hemat Energi (2) Memanfaatkan sinar matahari sembari stretching di Taman Kebun Bibit

1

2

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 41


Memoles Batu Menjadi Permata

Mengintip Kemeriahan Tradisi Rasulan Di Gunungkidul


Tourism Cultural

s

uara gamelan sayup-sayup mengalun, nada-nada terdengar lembut dan serasi. Sebagaimana filosofi dalam budaya Jawa akan sopan-santun, unggah-unggguh, menerima apa ada serta tepo seliro atau saling menghormati. Semuanya dikemas menjadi hubungan sosial yang harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Rabu, 28 Agustus 2013, beberapa warga terlihat lalu-lalang, sibuk dengan tugas masing-masing. Warga Dusun Grogol, Gunungkidul sedang mengadakan ritual adat sedekah bumi, dimana hari ini bertepatan dengan Rabu Wage. Rasulan di dusun ini memang selalu dilaksanakan pada Rabu Wage dalam setiap tahun. Di daerah lain upacara ini juga disebut bersih desa. Dan, hampir di seluruh wilayah Jawa menamakan dengan istilah Budaya Merti Desa. Beragam istilah memang, namun memiliki makna yang sama. Di Gunungkidul sendiri, ritual turun-temurun ini dinamakan dengan tradisi Rasulan. Yakni upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas melimpah hasil pertanian, khususnya padi. Demikian keterangan yang disampaikan oleh Bapak Jumiyo, salah seorang tokoh dusun Grogol. Dengan berpakaian batik rapi serta rambut yang disisir kelimis ciri khas priyayi Jawa, beliau berkenan menerima saya di sela-sela kesibukan mempersiapkan acara. Karena begitu penting acara ini maka masyarakat Gunungkidul juga menganggap Rasulan sebagai Hari Raya ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi warga yang merantau ke luar kota, apabila pada saat lebaran tidak bisa mudik maka Rasulan ini menjadi gantinya. Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai tahun dimulai tradisi ini, namun bagi masyarakat Gunungkidul sudah merupakan ritual sejak nenek moyang mereka. Kembali Pak Jumiyo menuturkan, “Kalau catatan resmi kami tidak tahu. Tetapi yang jelas tradisi ini sebelum saya dilahirkan sudah berlangsung,” terang beliau. Bapak Jumiyo menambahkan, hasil pertanian yang telah melimpah patut disyukuri. “Rasulan tradisi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

1

atas karunia-Nya berupa rejeki,” tutur beliau. Mata pencarian masyarakat Grogol adalah bertani, keberhasilan panen dalam setiap tahun menjadi harapan besar bagi mereka. Oleh karenanya sangat baik sekali kalau mengadakan ritual yang sakral untuk mengungkapkan rasa syukur. Namun karena perkembangan jaman, mata pencarian masyarakat menjadi beragam. Ada yang berprofesi sebagai pegawai negeri, wiraswasta, beternak maupun buruh pabrik di kota. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap makna rasulan itu sendiri. Ungkapan rasa syukur tidak hanya ditujukan untuk mensyukuri hasil panen namun juga atas kesuksesan pada bidang lain. Kembali Jumiyo menuturkan, “Sekarang masyarakat sudah banyak yang berdagang atau menjadi pegawai maka rasa syukur itu untuk mereka juga.”

2

3

Menanti Penari Di Pasar Wage Matahari mulai terik, jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Warga pun mulai berdatangan. Acara dimulai dari Pasar Wage, yang merupakan satu-satunya di dusun ini. Ramai dagangan hanya ketika hari Wage, yakni nama hari dalam perhitungan kalender Jawa. Tua, muda, laki-laki maupun wanita semua berkumpul di depan Pasar Wage. Rasulan memang selalu menarik perhatian masyarakat setempat. Bahkan yang merantau di luar kota juga ikut pulang meramaikan acara ini. Trijuni adalah salah seorang warga yang bekerja di Kota Yogja. Sejak dua hari kemarin ia sudah berada di kampung karena ingin menunggu Rasulan. Ia berasal dari Kalimantan namun istrinya orang Gunungkidul. ”Saya selalu menyempatkan untuk menyaksikan. Selama menikah sudah tiga kali mengikuti acara ini,” terang Tri. Ada lagi Eko, seorang pengusaha bakso di Sleman, dia bersama anak dan istri juga pulang kampung untuk meramaikan rasulan. “Tempat saya deket dari sini kok mas, ya pasti pulang kalau ada Rasulan. Sekalian berkumpul sama sanak saudara di kampung,” kata Eko. Ada beberapa gunungan yang sudah sampai di Pasar Wage ketika saya datang. Gunungan merupakan bahan-bahan makanan dari hasil pertanian yang ditata

(1) Masyarakat antusias melihat Perayaan Rasulan di Pasar Wage (2) Gunungan (3) Tokoh Warok dalam tari Reog

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 43


Tourism Cultural

1

2

Hal. 44

berbentuk kerucut. Bagian bawah besar dan runcing atasnya. Bentuknya seperti gunung, sehingga disebut dengan istilah gunungan. Isinya berupa jagung, wortel, kacang panjang, jambu, cabai dan masih banyak lagi. Semua sayuran tersebut masih mentah karena baru dipetik dari ladang. Gunungan tersebut nanti akan menjadi rebutan masyarakat dalam puncak acara. Sayup-sayup terdengar suara gamelan serta gendang yang ditabuh agak keras. Suara gendang ini merupakan ciri khas dari kesenian reog yang berasal dari Ponorogo. Tetapi sekarang reog telah menasional, bukan hanya Ponorogo saja yang bisa memainkan kesenian para warok tersebut. Di Grogol juga terdapat kesenian reog. Sebelum pentas mereka bertugas menjemput gunungan yang telah disiapkan oleh masing-masing dusun. Tradisi rasulan kali ini diikuti enam dusun, mulai dari Grogol satu sampai enam. Gunungan yang disiapkan dijemput kelompok kesenian reog untuk diarak ke

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

pasar wage. Sebelum kembali menuju ke balai Serba Guna. Barisan paling depan berpakaian loreng warna merah dan putih serta memakai topeng, tampak menyeramkan. Mereka menari sambil berjalan, sementara penabuh musik berada di atas kendaraan bak terbuka. Tokoh ini dinamakan Bujangganong. Yang digambarkan dengan para prajurit yang lincah dalam bela diri namun jenaka, diperankan oleh anak-anak. Tokoh tersebut biasanya dinantikan para penonton karena mempunyai gerakan beladiri yang lentur dan artistik tentunya. Iring-iringan reog semakin menarik perhatian warga ketika di belakang munyusul barisan para warok. Dengan seragam serba hitam yang lengan dikombinasi warna merah turut menari pula. Tidak ketinggalan tali berwarna putih dikalungkan di leher. Tokoh warok diperankan lelaki dewasa yang bertubuh besar, menggambarkan orang yang bijaksana namun tegas. Dengan wajah


Tourism Cultural

(1) Pertunjukan tarian jatilan (2) Penari Jatilan menunggang kuda lumping (3) Penari Jatilan dengan karakter topeng

3

bermake up coretan warna hitam serta kain yang dililitkan dikepala—dinamakan udeng—mereka berjalan mengikuti para bujangganong. Tetapi ada yang berbeda, kesenian reog di Grogol tidak menghadirkan tokoh barongan atau dadak merak seperti kesenian reog asli dari Ponorogo. Selain reog ada juga kesenian jathilan dengan nama Manunggal Ngarso. “Kami asli dari Dusun Grogol. Dan sudah dimainkan secara turun temurun. Bahkan sebelum saya lahir kesenian ini sudah ada,“ terang salah seorang pemain. Dengan iringan gamelan mereka mulai menari.

Pakaian yang warna-warni semakin menambah semarak acara di Pasar Wage. Dengan tanpa mengenakan baju, tubuh para penari ini diberi warna hitam. Serta kepala mereka mengenakan rumbai-rumbai dari ijuk. Acara sempat berhenti sejenak karena banyak anak-anak yang menangis ketakutan. Setelah semuanya tenang tarian kembali dilanjutkan.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 45


Tourism Cultural

Saat Gunungan diarak

Serunya Berebut Gunungan Acara di Pasar Wage telah usai, sekarang dilanjutkan menuju Balai Serbaguna. Sebuah balai yang biasa digunakan untuk acara-acara kampung. Di depan bangunan tersebut terdapat lapangan yang luas. Terlihat kelompok kesenian mulai berjalan sambil mengiringi gunungan. Kembali arak-arakan dengan diiringi musik gamelan. Warga pun turut mengikuti iringan menuju ke balai. Cuaca semakin panas karena waktu menunjukkan sekitar pukul satu siang. Ternyata di sana sudah ada kesenian tayub dengan para panabuh musik serta dua orang penari. Hiburan ini sebagai pembuka acara seremonial yang akan dilaksanakan nanti. Setelah berjalan serta pertunjukan di Pasar Wage, para paserta Rasulan beristirahat dengan menikmati makanan yang telah dipersiapkan. Di

Hal. 46

antaranya ingkung ayam. Yakni ayam yang dimasak dengan cara dipanggang dengan bumbu layak makanan orang Jawa. Ingkung juga merupakan makanan khas ketika acara kenduri diadakan. Rangkaian acara kemudian diisi sambutan dari perangkat desa, dan ditutup dengan doa oleh tokoh masyarakat. Pada saat dibacakan doa inilah warga sudah berkumpul mengelilingi gunungan. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk berebut. Begitu doa selesai dibacakan, langsung masyarakat saling berebut mengambil bahan makanan. Sekilas agak berbahaya memang kerena harus berdesak-desakan. Terutama bagi orang yag sudah lanjut usia. Seperti yang berada di samping saya. Dua orang nenek yang berlindung di samping tenda. Mereka tidak berani masuk berdesak-desakan. Namun inilah yang menjadi daya tarik dari Rasulan. Sebuah tradisi yang masih kental

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

akan kebersamaan dan gotong-royong. Setelah semua isi gunungan habis, para pengusung membawa kerangka dari bambu yang telah kosong untuk di bawa pulang ke dusun masing-masing. Rasa puas tampak dari raut muka mereka karena sedekah bumi berhasil dilakanaklan dengan lancar. Acara kemudian dilanjutkan dengan hiburan dari kelompok seni. Sebagian penonton ada yang pulang namun banyak juga yang menyaksikan pertunjukan gratis tersebut. Acara tersebut berlangsung sampai larut malam. Dimana puncaknya akan ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Acara Rasulan ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Gunungkidul yang patut dilestarikan. Karena merupakan salah satu kekayaan kesenian sekaligus sebagai sarana memupuk tali silaturrahmi. (Teks & foto. Wendy S - Yogyakarta)


Memoles Batu Menjadi Permata

Menari Dengan Roh Leluhur 1


Tourism Cultural

P

entas seni budaya Kuda Kepang Banyumasan Satria Budaya di Sukapura Timur, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, belum dimulai. Penonton, sudah ramai memadati area halaman rumah penduduk. Para pemain dan penabuh gending kuda kepang sedang mempersiapkan diri. Didalam ruangan khusus, seseorang mempersiapkan sesaji, seperti membakar kemenyan, kembang tujuh rupa, dan perlengkapan lain. Sedangkan di ruang lain, para pemain kuda kepang mulai merias tubuh dan memakai kostum kebesaran dengan berbalut selendang warna-warni. Tak lama berselang, gending pun ditabuh. Pemain kuda kepang pun keluar dari sarangnya. Pertunjukan awal para penari kuda kepang biasa-biasa saja, tidak ada kesan ganas atau pun garang. Justru terbilang sukses memberikan tontonan ke para pengunjung yang sedari tadi menanti. Dalam berbagai literature budaya, Kuda Kepang atau juga disebut dengan Kuda Lumping, Jathilan, dan lain sebagainya, adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan muasal tarian ini. Konon, tari Kuda Kepang disebut juga tari kesurupan. Ada juga literature yang menyebutkan, bahwa tari ini menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, dalam melawan penjajah Belanda. Sumber lain pun ada yang menyebutkan, bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas, dari muasal tarian Kuda Kepang tersebut, seni tradisional ini mampu menampilkan sebuah tontonan yang menarik, lucu, dan mendebarkan. Betapa tidak mendebarkan, para pemain Kuda Kepang yang semula lemah gemulai mengikuti alunan gending, mendadak menjadi ganas, mata nanar, mulut penuh dengan kembang, gerakan badan menjadi tegang. Menurut Juardi, atau akrab disapa dengan Sijuk, ketika gending kuda kepang semakin cepat barnya, maka itu menandakan salah satu pemain kuda lumping sudah ada yang mulai kerasukan roh halus yang hadir dalam pagelaran Kuda Kepang tersebut. Siapa roh halus tersebut, tidak dapat dipastikan dan atau diketahui profilnya, jika tidak ditanya oleh sang pawang. Disinilah fungsi seorang pawang untuk menerjemahkan apa kemauan dari roh

Hal. 48

2

halus tersebut, termasuk berasal dari mana, serta tujuan merasuk ke wadah salah satu pemainnya. Pawang dapat menjadi mediator bagi penonton yang ingin mengetahui mengapa si pemain Kuda Kepang selalu bertingkah laku diluar nalar. Proses Kerasukan Sejati, si pelakon Kuda Kepang pun tidak sadar, kapan persis ia mulai kerasukan. Sebab proses kerasukan bukanlah kehendaknya. Semua terjadi diluar kuasanya. Pelakon Kuda Kepang hanya fokus dan meresapi tarian berdasarkan alunan gending setiap ketukan demi ketukan. Oleh karena itu, setelah mulai kerasukan, penontonlah yang mengetahui kejadian selanjutnya. Pelakon hanya dapat cerita usai pertunjukan itu selesai. Hal ini pun diakui oleh Sijuk. Saat dirinya bermain Kuda Kepang kemudian kerasukan alam sadarnya seolah melayang ke

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

3


Tourism Cultural angkasa. Bahkan, boleh dibilang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya. “Semua mengalir begitu saja. Tahu-tahu, saya hanya mendapat cerita saat mabuk tadi makan ayam hidup, beling, minum teh pahit, bahkan mengunyah kembang yang ada di bejana berisikan air,” ungkap Sijuk. Sijuk menambahkan, jika ada pelakon Kuda Kepang yang kerasukan, kemudian ketika ditanya oleh sang pawang hanya diam atau membisu, itu artinya pelakon tersebut “Njambul” alias berbohong atau pura-pura kerasukan. “Namun dapat dipastikan, dalam Kuda Kepang Banyumasan Satria Budaya, tidak ada pelakon yang berani Njambul disetiap pagelaran,” kata Sijuk. Satu hal yang perlu dicatat, disetiap Kuda Kepang yang sedang kerasukan bukan sembarang orang yang bisa dirasuki. Sebab, wadak (raga) pelakon belum tentu sesuai atau cocok dengan roh halus yang akan merasuk. Pada alam sadar, jika wadak pelakon tidak cocok, Ia akan merasa tidak kuat dan merintih, seolah minta dibebaskan dari kesakitan tersebut. Itu sebab, setiap kelompok seni tari Kuda Kepang memiliki tingkatan atau kasta, jika hendak dirasuki oleh roh halus dalam pagelaran tersebut. Bagi pemula, biasanya dirasuki oleh roh halus yang tidak terlalu ganas. Misalnya, hanya makan kembang tujuh rupa, menari dengan tingkah laku yang lucu, layakanya seekor kera. Berbeda dengan pelakon yang sudah senior, mereka biasanya dirasuki oleh roh halus yang bertingkah lebih ekstrim, seperti makan dan atau mengunyah beling, makan ayam hidup, hingga memanjat ke pohon kelapa tanpa tangga untuk kemudian mengambil buahnya, dikuliti, dipecah dengan kepala dan dimakan.

4

5

Mengenal Sosok Roh Halus Proses kerasukan atau “mabuk” dalam Kuda Kepang pun datangnya berbeda-beda. Tergantung roh halus seperti apa yang akan merasuki. Di Kuda Kepang Banyumasan Satria Budaya, Sukapura ini ada bermacam-macam roh halus yang merasuk ke setiap pelakon. Sijuk menyebutkan, beberapa roh halus tersebut diantaranya adalah, Barung Klinting, Singo Barong, Kakine (kakek), Ninine (Nenek), Singo Lodro, Mbah Enjo dan lain sebagainya. Para roh halus itu pun tidak datang dari satu wilayah. Bahkan jauh dari wilayah yang dianggap kramat di desanya. Barung Klenting misal, menurut kepercayaan Kuda Kepang Satria Budaya,

(1) Para penari kuda kepang Banyumasan Satria Budaya (2) Alunan gending mengiringi kuda kepang Banyumasan Satria Budaya (3) Menari gemulai & lincah dengan atribut selendang warna warni (4) Kuda Kepang Banyumasan Satria Budaya (5) Menari dengan tingkah laku lucu, layak seekor kera

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 49


Tourism Cultural roh halus ini berasal dari Gunung Selamet, Jawa Tengah. Pada kasta roh halus di pertunjukan Kuda Kepang ini, roh tersebut mewakili suatu karakter yang ganas. Sebab, setiap wadak yang dirasuki, biasanya memakan beling, ayam hidup yang kemudian menghisap darahnya. Begitu halnya dengan roh halus Singa Barong. Saudara muda dari Barong Klinting ini pun jika ‘mabuk’ memiliki kebiasaan yang hampir sama. Cuman, Barong Klinting tidak terlalu ekstrim dibandingkan saudara tuanya. Singo Barong pun tidak asal masuk ke wadak pelakon Kuda Kepang yang pemula. Roh halus selanjutnya adalah, Singo Lodro yang berasal dari Gunung Merapi, Yogyakarta. Kemudian juga ada Mbah Enjo, yang berasal dari pantai laut selatan—yang terkenal daya magis yang kuat. Dan roh halus sebagai pengayom, ada Kakine dan Ninine. Karakter roh halus yang terakhir ini, diyakini sebagai ‘pawang' untuk rekan-rakannya tersebut. Jika salah satu roh halus tersebut tidak mau keluar dari wadak si pelakon Kuda Kepang, maka Kakine dan Ninine ini yang mengusir mereka. “Menurut cerita dari rekan dan saudaranya yang menonton, dalam satu pagelaran, saya pernah dirasuki oleh Barong Klinting, Singo Barong, dan kakine secara bergantian. Kata mereka, (penonton) saya pernah memperlihatkan tingkah seperti kakine untuk membantu mengeluarkan salah satu halus yang merasuk ke teman saya,” ucap, Sijuk. Mengakhiri percakapan, Sijuk berpesan, hendaklah berlaku arif disaat menonton pertunjukan seni tari Kuda Kepang. Sebab, roh halus pun bisa terganggu oleh tingkah iseng penonton. “Setiap menonton Kuda Kepang jangan bersiul dengan keras. Sebab, roh halus tersebut merasa bagai ditampar pas di telinga, Ia merasa panas. Dan pada tingkatan paling ekstrim, roh tersebut, melalui wadak pelakon Kuda Kepang akan mencari sipelaku hingga ketemu, yang berujung pada perkelahian. Untuk itu, jangan bertingkah aneh yang dapat merusak tontonan seni tradisi leluhur ini. (Teks & foto. Fatoer Doang)

(1) Saat proses kerasukan dialami pelakon (2) Pelakon yang telah dirasuki roh halus

Hal. 50

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

1

2


Jelajah Tanah Air

Pesona Kecantikan Sipiso-piso Dari Desa Tongging

W

aktu menunjukkan pukul 9 pagi, saat saya bersama sepupu yang berdomi- sili di Kota Medan berangkat menuju Berastagi. Setelah menempuh waktu 3 jam perjalanan, kami tiba di kota berhawa sejuk Berastagi. Puas berwisata di pasar Berastagi dan sekitar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Tongging, yang berada di Kecamatan Merek, tepat sebelah utara Danau Toba. Dengan jarak tempuh sekitar 45 Km dari Kota Berastagi. Jika bosan jalan-jalan ke Danau Toba dan mencari tempat wisata lain, saya akan mengajak pembaca melihat keindahaan Air Terjun Sipiso-piso. Sebelum masuk, terlebih dahulu kami harus membayar tiket Rp.10.000 per mobil. Bersyukur saat tiba ke obyek wisata ini, tidak sedang hujan. Kalau sampai terjadi, sia-sia perjalanan saya tidak dapat melihat serta memotret keindahan Air Terjun Sipiso-piso. Banyak bus, mobil pribadi, dan motor parkir di halaman komplek wisata air terjun ini. Nomor plat kendaraan yang mendominasi yakni BK, dari Kota Medan.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 51


Jelajah Tanah Air

Hal. 52

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Jelajah Tanah Air

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 53


Jelajah Tanah Air

Menatap Elok “Ratusan Pisau� Tajam Jatuh Dari Puncak Bukit

(atas) Dapat melihat keindahaan Danau Toba (bawah) Toko-toko yang menjual cenderamata

Hal. 54

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Saat kali pertama menginjakan kaki ke obyek wisata yang berada di wilayah Tongging, Kabupaten Karo, saya dibuat terpukau akan pesona kecantikan yang tersaji depan mata. Tampak dari atas ketinggian 800 meter dari permukaan laut (dpl), deras air mengalir turun dengan tajam. Sipiso-piso begitu nama obyek wisata alam yang menjadi kebanggaan masyarakat tanah Karo. Dari informasi yang saya peroleh, Air Terjun Sipiso-piso adalah salah satu yang tertinggi di Indonesia yakni sekitar 120 meter. Yang mana sumber air berasal dari sungai bawah tanah sebuah goa di dekat kawah Danau Toba. Deras air-air yang berjatuhan dari bukit berketinggian ini diperumpamakan layak berbilah-bilah pisau yang tajam. Selain itu, jurang yang curam jika dilihat dari puncak bukit membuat orang setempat menyebutnya piso dari Tanah Karo. Asal muasal nama Sipiso-piso, diambil dari bahasa Batak yang berarti pisau-pisau. Air yang deras mengalir membelah bukit tinggi lalu jatuh dari atas bukit ke dasar

sehingga terlihat seperti pisau-pisau tajam berwarna putih yang menghujam kedasar bumi. Atas bukit dan sekeliling diberi tembok dengan pagar teralis untuk memberi keamanan. Sebelum turun ke bawah, saya menyusuri area sebelah kiri yang terdapat tangga mengarah ke pemandangan lain. Saya menyaksikan landskap gagahnya Danau Toba serta pemukiman penduduk. Juga terdapat gazebo dan bangunan gedung yang tidak terawat, alias kotor akan tangan-tangan usil yang mencoret dinding. Terlepas dari itu, memang benar setiap sudut perbukitan air terjun ini sungguh elok dipandang mata. Merasakan Kesegaran Air Terjun Sipisopiso Nah, saat saya mempersiapkan stamina untuk turun ke bawah menyusuri punggung bukit melalui ratusan tangga kecil. Sayang sudah datang ke tempat ini, namun tidak menyempatkan bermain Air Terjun Sipiso-piso. Menuruni ratusan tangga, cukup membuat napas saya ngos-ngosan. Setalah berjalan 1 kilometer, saya singgah


Jelajah Tanah Air

10 menit di pos peristirahatan untuk melemaskan kaki sejenak. Harus berhati-hati menuruni tangga, karena kondisi batu licin, jarak antar batu berjauhan, serta tanah yang berlubang. Jika tidak hati-hati kita bisa terjatuh, karena di sebelah terdapat jurang yang menganga curam. Setelah menempuh waktu satu jam lebih, akhirnya saya tiba di bawah air terjun. “Harga” atas kelelahan terbayar dengan melihat dari dekat si ‘pisau’ dan merasakan semburan air. Indah dan segar sekali!. Suara deburan air terjun terdengar jelas di telinga dan arus sungai yang deras tersaji jelas di depan mata Ternyata dibawah sudah ada beberapa wisatawan domestik dan tiga turis mancanegara yang menyaksikan dari dekat Air Terjun Sipiso-piso. Semburan air yang begitu deras yang menghantam batu-batuan yang ada dibawah sebuah pemandangan cantik. Dan bersiap-siaplah Anda terkena hempasan air terjun. Di bawah saya melihat wisatawan menceburkan diri ke air terjun, mencemplungkan kaki, atau sekadar membasuh wajah. Namun ada juga yang asyik berfoto dipinggir air terjun. Air Terjun Sipiso-piso sangat jernih. Jika Anda membawa kamera

khusus tipe DSLR, harus melindungi lensa saat mengambil foto, karena jangan sampai terkena hempasan air yang jatuh di bebatuan yang akan mengena kamera. Lagi-lagi saya dibuat takjub akan keindahan alam dari Desa Tongging ini. Pemandangan tinggi bukit dan rimbun pepohonan, yang dibarengi dengan suara gemuruh percikan ribuan butiran air. Pekerjaan berat selanjut adalah saya harus menaiki ratusan tangga untuk kembali ke puncak bukit. Ya hitung-hitung bisa membakar 100 kalori dan sekembali saya ke Jakarta, berat badan menyusut 3 kg. Untuk memberi rasa aman dan nyaman wisatawan yang datang ke Air Terjun Sipiso-piso, sekiranya pemerintah setempat menata lebih apik kawasan wisata ini, seperti menyediakan tong-tong sampah, memberi tiang penyangga pada tangga menuju ke bawah air terjun, serta menyediakan toilet yang lebih manusiawi. (Teks & foto. Lily. S)

Setiap sudut elok dipandang mata

Akses Transportasi & Akomodasi Air Terjun Sipiso-piso Berada di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatra Utara. Dari Medan, bisa menggunakan kendaraan pribadi mobil atau motor. Dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Dapat juga menggunakan bus dari Medan tujuan Kabanjahe, kemudian dilanjutkan lagi dengan angkutan kecil atau ojek. Dapat melalui Berastagi (70km dari Medan) atau Kabanjahe (78 km dari Medan). Bawa baju ganti apabila Anda berniat turun ke bawah air terjun serta air putih dalam botol. Pilihan menginap di Desa Tongging atau Kabanjahe, dengan biaya antara Rp 150.000 – 500.000 / malam

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 55


Hallstatt

“Pearl Of Austria”

1


Destination - Hallstatt

2

3

(1) The swan in Lake Hallstatt (2) Hallstatt, amazing & fascinating places (3) Hallstatt train station (4) Panoramic views gothic architecture (5) Street corner in Hallstatt


Destination - Hallstatt

4

H

allstatt, Located between Salzburg and Graz, in the Salzkammergut Lake District of Austria. Hallstatt is a village in the Salzkammergut, a region in Austria. It is situated in a national road linking between Salzburgh and Graz. It is a World Heritage Site list by UNESCO in December of 1997. Hallstatt, Austria, Famous amazing and fascinating places in the world. Hallst채tter lake (or Lake Hallstatt) in Salzkammergut Austria. Surface area of approximately 8.55 square kilometers and has a maximum

depth of 125 meters. The lake is very popular for tourists and scuba divers. I came to Hallstatt from Graz by train. It was quite a long trip as I had to change 3 different trains and it took about 5 hours to get there. It was because I went on Sunday so the train ran not so often. However, I did not mind about that as this trip was worth it. The scenes along the way from Graz to Hallstatt are so pretty, especially under the early summer weather: sunny and cool. The train brought me to the other side of Hallstatt village, from there I had to take a boat to the village. At first glance, I thought I was in the middle of nowhere as the train station was very small and seemingly in the remote areas: lots of trees and not so many people. However, taking a few steps down to the lakes, I was really astonished by such a special beauty of that village, something I had never ever seen before: a picturesque and quaint town leaned on steep mountains and mirror-look-like lake. This is exactly

5

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 59


Destination - Hallstatt

1

heaven on the earth! So breathtaking and peaceful!. I felt escaping from the chaotic world and up to the air for that moment! You can enjoy the typical Austrian beauty: green, natural and fairy tale. The train went through countryside areas of upper Austria region, passing huge grass fields, super mountains and pure lakes. Hallstatt is quite small. It took me only about 30 minutes to go around the village. No word can be used to describe enough its beauty. It is something unique you cannot find anywhere else. It is the mixture of antique European and Asian architecture styles. Cars are not allowed here from May to October, 10am to 5pm. Everything is just so cute: the vivid colors of houses, lovely window decorations and lots of flowers and trees which climb up on the house wall in very impressive shape. It was very quiet here even though there were quite many tourists at that time. I could even hear the birds singing and the sounds of the waterfall clearly. So cool! I guessed I was quite lucky that I could experience Hallstatt under different kinds of weather just within few hours. When we came, it was sunny and a little bit hot. The

Hal. 60

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

whole village was glorious under that sunshine, so enchanted. Then came a light rain and a little bit colder but the village did not look gloomy at all. The rain made everything fresher. Hallstatt is famous for salt products with the oldest salt mine in Europe. I was relatively regretting that we did not have enough time to hike up to the salt mine as the last train left quite early. Hallstatt is also known for ice caves. When in Hallstatt, be sure not miss out on visiting the Cultural Heritage Museum and the Beinhaus (“Bone House”). There are many things to do in Hallstatt and we will only name a few: boating, hiking, surfing, visiting the salt mines and the ice caves. During the summer, FKK nude beach is very popular. The only one bad thing about Hallstatt that many people have complained. The train station had not updated the train schedules and had not corrected the platform numbers of the trains so that we had trouble to find the right train. Otherwise, the trip was just perfect! Just like the canvas of an impressionist painting explodes of vibrant colour, movement and light, so does the scene of

one of earth’s most resplendent treasures, Hallstatt, renowned as the “Pearl of Austria”. Become one with the flowing energy of serenity, surrounded by a visual drama of a misty alpine landscape, forests, rivers and steep topography of inset valleys. Tall narrow houses stacked on a mountainous slope give in to the panoramic views of late gothic architecture charm of the town square below. Time stands still in this magical place that honours the finest things in life: a delightful cup of coffee, a tasty Apfelstrudel and a lovely stroll in nature. Let’s come to Hallstatt and correct the definition of heaven in your own dictionary. Otherwise, the trip was just perfect!!. (Foto istimewa)


Destination - Hallstatt

2

(1) SOne of heritage hotels in Hallstatt (2) Hallstatt town square (3) Doll souvenir

3

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 61


Tourism Culinary Berburu Kuliner Di Kawasan Bendungan Hilir Kawasan Bendungan Hilir atau familiar dengan sebutan Benhil ini, menjelang siang setiap sudut menawarkan aroma kudapan yang menggoda bagi siapa pun yang melintas. Dan perlu dicatat pula, kawasan kuliner Benhil ini tidak hanya mengeluarkan menu andalan saat bulan Ramadhan. Hari-hari seperti biasa pun tetap ada. Untuk menemukan beberapa menu terbaik dan unik, Majalah Tourism Watch akan mencoba memberikan dua referensi kedai makan yang nyaman dan bercitarasa tinggi. Sehingga menjadi referensi istimewa ketika santap siang maupun usai pulang kantor tiba. Tentunya dengan menu dan bahan utama yang berbeda.

Warung Soto Mie Sarodja Jangan panik, jika menjelang makan siang, kedai makan Warung Soto Mie Sarodja dibanjiri oleh pria dan wanita dengan pakaian rapih. Dan, ada pula yang berdasi. Magnet dari kedai ini adalah soto mie yang memang benar-benar khas, pas di lidah serta isi dompet. Soto Mie Sarodja ini berada persis di depan SD Bendungan Hilir, atau di Jalan Danau Tondano, Pejompongan, Jakarta Pusat. Sebenarnya, kedai makan yang satu ini tidak terlalu besar, hanya diisi tiga meja sederhana dan gerobak. Untuk itu, datanglah lebih awal bila ingin mencicipi kudapan yang terbuat dari mie. Secara tampilan menu, tidak ada yang beda dengan soto mie lain di Jakarta. Akan tetapi, setelah kena dilidah, rasa bumbu dari kuah begitu beda dan berkarakter. Bumbu yang digunakan dihasilkan dari bahan rempah-rempah yang ada di Indonesia, mulai dari bawang merah, bawang putih, kunyit dan bumbu rempah lain. Peranan jeruk limo saat bertemu di kuah menjadikan soto mie di kedai ini berbeda. Sebagai teman kuah dalam satu porsi soto ini adalah mie, potongan risoles, sayur kol, daun bawang, tomat, kentang dan irisan tetelan daging sapi. Adapun rasa lain dari kesedapan kuliner ini yaitu kuah soto dipadu dengan kaldu sapi murni dari potongan daging tanpa lemak, sehingga kuah yang dihasilkan terasa segar. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati menu yang selalu buka antara jam 9 pagi-20.000 ini, hanya dengan Rp 20.000, sudah mendapat satu porsi soto mie dalam porsi besar dan mengenyangkan walau tanpa nasi. Sedangkan untuk minuman, dibanderol antara Rp. 3.000–6.000.

Hal. 62

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Rasakan Gurih Gudeg Pejompongan Jika kangen dengan kuliner Gudeg, tak perlu ke jauh-jauh datang ke Kota Yogyakarta. Di Jalan Bendungan Hilir Raya Raya Blog G II/15, Jakarta pun ada. Meski sang pemilik bukan asli orang Yogja, namun racikan yang disajikan begitu terasa gudegnya. Menu gudeg mungkin sudah biasa. Tapi, di kedai makan yang satu ini Anda akan menemukan perbedaannya. Secara tampilan, dapat dipastikan hampir sama dengan gudeg-gudeg yang lain, baik yang ada di Jakarta maupun kota asal. Namun, setelah menyantap Anda akan menemukan kompisisi rasa pedas dan manis yang begitu seimbang. Untuk menu di Kedai Makan Gudeg Pejompongan, tak ubahnya gudeg dari Yogjakarta, pedas dan manis begitu terasa di lidah. Pilihan rasa cukup banyak tersedia, mulai dari gudeg ampela, komplit, ayam, telor, tahu, sampai yang campur juga ada. Jika masih dirasa kurang komplit, menu seperti krecek, tempe bacem serta buntil bisa menjadi teman dari makanan khas Yogja tersebut. Untuk gudegnya sendiri terasa beda, sedikit manis dan gurih, bentuknya pun tidak terlalu manis dan lembek dibanding pada umumnya. Jika bertandang ke kedai ini, cobalah nikmati tahu dan tempenya. Anda akan menemukan sensasi dua rasa, manis dan asin pada penganan tersebut. Secara keseluruhan, kedai makan Gudeg Pejompongan yang buka dari jam 07.00–22.00 ini mampu menyajikan dua rasa secara proporsional. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati kudapan khas masyarakat Yogjakarta ini, hanya dengan Rp. 18.000/porsi untuk gudeg biasa dan secangkir es Jeruk hanya Rp. 6.000.


Tourism Culinary Kudapan Malam Di Pecenongan Lokasi kuliner di tanah Batavia tidak hanya di Sabang dan Benhil. Dipusat Jakarta, tidak jauh dari kawasan Pasar Baru ada terdapat lokasi wisata kuliner malam hari yang kalah menarik dari kedua wilyah tersebut. Kawasan kuliner ini pun miliki ikatan sejarah kuliner bagi etnis tertentu. Untuk cita rasa dan selera Anda dapat memilih di sepanjang jalan Pecenongan. Untuk menemukan beberapa menu terbaik dan unik, Majalah Tourism Watch akan mencoba memberikan dua referensi kedai makan yang nyaman dan bercitarasa tinggi. Sehingga menjadi referensi istimewa ketika bersantap malam usai pulang kerja bersama kolega bisnis Anda. Tentunya dengan menu dan bahan utama yang berbeda.

“Ayam Kodok” Kedai Garden Mendengar nama menunya saja sudah menggelitik. Apalagi, melihat tampilan dan cita rasa yang disajikan. Dijamin mampu menggoyang lidah setiap yang bertandang ke Kedai Garden. Seperti hal saya, setiap pendatang baru di ranah kuliner, pasti menanyakan muasal nama tersebut “Ayam Kodok”. Menurut juru masak di Kedai Garden, asal nama makanan ini karena bentuk yang utuh saat disajikan dihadapan Anda. Alih-punya alih, bentuknya pun sepintas mirip dengan kodok atau katak. Sembari menunggu hidangan tersaji, ternyata proses pengolahan memakan waktu yang cukup lama. Ritualnya pun cukup panjang. Pertama ayam dibumbui dengan kecap, garam, dan gula merah. Kemudian, digoreng setengah matang. Setelah itu direbus selama dua jam dengan campuran jahe, lengkuas dan cabai. Usai direbus ayam kembali digoreng hingga matang. Kesan gosong pasti akan keluar dari mulut Anda. Sebab memang demikian tampillan dari kuliner ini. Ternyata, warna hitam yang terkesan gosong tersebut karena terjadi proses asimilasi atau campuran kecap yang diberikan sebelum digoreng. Waktu daging ayam masuk ke mulut dan menyentuh lidah, daging ayam terasa empuk, dan jauh dari rasa gosong seperti yang ditampilkan. Selain empuk, ternyata rasa daging ayam juga manis dan gurih. Dan, tidak hanya itu, daging terasa wangi jahe, sehingga membangkitkan nafsu makan. Harus diganjar dengan harga yang cukup mahal bila ingin menikmati kuliner ini, harga per porsi Rp. 75.000. Kedai Garden buka setiap hari dari pukul 17:00 – 02.00 dini hari.

Martabak 65A, Cita Rasa Premium Kuliner bernama Martabak yang konon muasalnya dari Bandung ini, justru berjaya di tanah si Pitung. Persis berada di Jalan Pecenongan Raya No 65A Jakarta Pusat, terdapat kedai makanan martabak, dengan sebuah tagline bertuliskan “Your legendary Martabak is Here”. Martabak Bandung asli dari Pecenongan ini memang sudah mafhum dikalangan pecinta kudapan manis. Nama kedai santap Martabak 65A diambil dari nomor jalan, ternyata membawa hoki bagi siempunya. Di tempat ini, menyediakan menu martabak mulai dari martabak manis dengan isi cokelat toblerone dan juga selai cokelat nutella, hingga martabak ketan hitam. Alhasil, martabak 65A bisa dikategorikan kelas “premium” dan tetap saja diburu walaupun harga cukup mahal. Kedai makan bercitarasa manis ini telah ada sejak tahun 1970, tidak hanya terkenal dengan martabak manisnya. Varian rasa tersedia disini, seperti martabak telur, isi ayam dan sapi, sampai dengan isi kornet serta ayam jamur. Jangan terperanjat, bila melihat ukuran martabak dikedai ini. Pasalnya, ukurannya lebih besar dari kedai martabak yang lain. Sekedar referensi, ada dua jenis martabak yang bisa menjadi pilihan untuk dinikmati, yaitu martabak manis dan gurih. Martabak dengan rasa manis nampaknya paling favorit dikedai ini. Sebab, martabak tersebut, berisi coklat, keju, kacang mede dan disiram dengan susu kental manis untuk menambah rasa manis legit. Harganya untuk satu loyang sebanding dengan ukuran yang jumbo, yaitu antara Rp.77.000 hingga Rp.97.000. Istimewakan.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 63


Tourism Culinary

Seru Octoberfest Di Mercure Jakarta Simatupang Octoberfest adalah festival minum bir terbesar di dunia yang telah berkembang menjadi pesta makanan dan minuman, pertunjukan musik bahkan karnaval. Festival asal negeri Jerman ini selalu dinanti dan sukses mendatangkan sekitar 7 juta wisatawan pada saat festival berlangsung. Dibulan Oktober ini, Mercure Jakarta Simatupang membawa kemeriahan Octoberfest dengan menyajikan menu makanan asal negeri Jerman di Restoran Graffiti dan Bir khas Jerman di Slam – Sky Lounge & Bar. Kelezatan Kuliner Khas Jerman Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati hidangan lezat khas negeri Bavaria tersebut, restoran Graffiti turut menyema- rakkan Octoberfest dengan sajian khas Jerman. Dimulai dengan sajian terkenal seperti Wiener Schnitzel yang merupakan potongan tipis daging sapi muda dilapisi tepung roti. Sajian selanjutnya yang mesti dicicipi adalah Grill Veal Bratwurst. Di Jerman sosis dikenal dengan nama Bratwurst, Brat berarti daging cincang dan Wurst adalah kantung atau dibungkus. Jadi, jangan sampai tidak mencicipi hidangan sosis Jerman ini yang disajikan dengan salad kentang dan selada segar. Selain kedua sajian diatas, masih ada Pan Seared Salmon dan Breaded Fish Fillet yang wajib dicoba. Kini waktunya untuk mencicipi hidangan pencuci mulut, seperti Apple Strudle atau Apfelstrudel dikenal sejak abad 18 dan merupakan adaptasi dari kuliner Timur Tengah, yakni Turki. Kue ini enak dimakan hangat dan disajikan dengan es krim rasa vanili. German Food Festive ini berlangsung selama 20 hari mulai dari tanggal 7 hingga 27 Oktober 2013 hanya di Restoran Graffiti.

Hal. 64

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013


Entertainment

BOOKS RANTAU 1 MUARA

Alif merasa berdiri di pucuk dunia. Bagaimana tidak? Dia telah mengelilingi separuh dunia, tulisannya tersebar di banyak media, dan diwisuda dengan nilai terbaik. Dia yakin perusahaan-perusahaan akan berlomba-lomba merekrutnya. Namun Alif lulus di saat yang salah. Akhir 90-an, krisis ekonomi mencekik Indonesia dan negara bergolak di masa reformasi. Satu per satu, surat penolakan kerja sampai di pintunya. Kepercayaan dirinya goyah, bagaimana dia bisa menggapai impiannya? Secercah harapan muncul ketika Alif diterima menjadi wartawan di sebuah majalah terkenal. Di sana, hatinya tertambat pada seorang gadis yang dulu pernah dia curigai. Ke mana arah hubungan mereka? Dari Jakarta, terbuka cakrawala baru. Alif meraih beasiswa ke Washington DC, mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki teman-teman baru di Amerika. Hidup berkecukupan dan tujuan ingin membantu adik-adik dan Amak pun tercapai. Life is perfect, sampai terjadi peristiwa 11 September 2001 di World Trade Center, New York, yang menggoyahkan jiwanya. Kenapa orang dekatnya harus hilang? Alif dipaksa memikirkan ulang misi hidupnya. Dari mana dia bermula dan ke mana dia akhirnya akan bermuara? Mantra ketiga “man saara ala darbi washala� (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan) menuntun perjalanan pencarian misi hidup Alif. Hidup hakikatnya adalah perantauan. Rantau 1 Muara bercerita tentang konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan, tentang pencarian belahan jiwa, dan menemukan tempat bermuara. Muara segala muara. Penulis: A. Fuadi Harga online: Rp. 68.000,-

Cashflow Quadrants dan The Secret, mustahil diterapkan tanpa aktivasi otak kanan. Fakta pun membuktikan bahwa kesuksesan 80 persen ditentukan oleh otak kanan. Celakanya, mayoritas orang kuat otak kirinya. Oleh karena itulah orang sukses menjadi minoritas. Dan inilah solusinya, Right Book, yang membongkar tuntas misteri otak kanan. Dilengkapi dengan:

13 Wasiat Terlarang!

- Right test untuk menguji otak kanan - Right tip untuk mengoptimalkan otak kanan - Right CD untuk mengasah otak kanan - Right persons, tokoh-tokoh sukses bermodalkan otak kanan - Right consulting, konsultasi gratis dengan penulis Penulis: Ippho Santosa Harga online: Rp. 70.380

Buku ini akan membantu mengenal tubuh Anda. Dengan mengenal tubuh sendiri, Anda akan

Sehat Tanpa Dokter memiliki kekuatan untuk mengubah, memelihara, menghias, dan memperkuat. Dalam setiap bab,

akan di jelaskan anatomi organ tubuh. Untuk melakukannya, Anda akan dibawa ke dalam dan memperlihatkan bagaimana organ-organ tubuh beroperasi dan saling berhubungan satu sama lain. Buku ini tidak ditulis dengan gaya bahasa dokter serta memperlakukan Anda seolah-olah murid kelas empat SD. Buku Sehat Tanpa Dokter ini akan menyederhanakan ilmu pengetahuan: diungkapkan secara sederhana. Dari sana, akan dijelaskan pada Anda bagaimana membuat organ-organ berfungsi dengan lebih baik, sehingga dapat mencegah penyakit dan menjalani kehidupan yang lebih sehat dan awet muda. Juga akan ditunjukkan bagaimana penyakit bermula, bagaimana penyakit itu memengaruhi tubuh, dan bagaimana dapat belajar untuk menghindari serta mengatasi masalah dan kondisi yang dapat mengancam, tidak hanya kehidupan, tetapi juga kualitas hidup Anda. Penulis: Mehmet C. OZ, M.D. & Michael F. Roizen, M.D Harga online: Rp 58.650,-

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 65


Entertainment

MOVIE Film Suspense Horror Thriller Sequel terbaru "Insidious Chapter 2", kelanjutan dari chapter pertama tentang mengungkap rahasia misterius masa kecil. Mengikuti cerita angker keluarga Lambert yang berusaha untuk mengungkap rahasia masa kecil misterius, yang telah meninggalkan mereka dalam bahaya karena terhubung ke dunia roh. Setelah menyelamatkan putra mereka, Dalton dari roh jahat dalam film pertama. Keluarga Lambert kembali menguak misteri masa kanak-kanak Josh Lambert (Patrick Wilson). Selain itu keluarga mereka juga kembali dihantui kejadian-kejadian aneh yang bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya.

Insidious: Chapter 2

Pemain: Patrick Wilson, Rose Byrne, Lin Shaye, Ty Simpkins, Barbara Hershey, Danielle Bisutti Sutradara: James Wan Produser: Jason Blum, Oren Peli Jenis Film: Horor

Prisoners

Sejauh mana Anda akan melindungi keluarga Anda? Keller Dover (Hugh Jackman) sedang menghadapi mimpi terburuk dari setiap orangtua. Putrinya yang berusia enam tahun, Anna (Erin Gerasimovich), hilang bersama teman sebayanya, Joy. Keller Dover dan seorang detektif berhasil menangkap seorang pengendara mobil yang diduga sebagai penculik anaknya. Namun karena kekurangan bukti, sang pengendara pun dilepaskan dari tuduhan tersebut. Kecewa karena hal tersebut, Keller Dover yang diperankan oleh Hugh Jackman pun menangkap pengendara tersebut dengan tangannya sendiri dan menanyakan keberadaan anaknya. Namun semakin banyak pertanyaan yang dijawab oleh sang tersangka, Dover Keller semakin kehilangan jiwanya. Tapi sampai mana ayah yang putus asa ini mencoba melindungi keluarganya?. Pemain: Hugh Jackman, Maria Bello, Jake Gyllenhaal, Melissa Leo, Paul Dano, Viola Davis Sutradara: Denis Vileneuve Produser: Kira Davis & Broderick Johnson, Jenis Film: Thriller, Drama

Film ini menceritakan perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu yang berperan sebagai orang tua tunggal bagi kedua anak laki-lakinya, Delta Santoso (Vino G Bastian) dan Iqbal (Rizky Hanggono). Sang Ibu, Sriyani (Happy Salma), gigih mewujudkan mimpinya untuk menghantar putranya menjadi manusia yang menghargai ilmu, kerja keras, dan kejujuran. Sang Putra kesayangan, Delta, tumbuh menjadi laki-laki yang memiliki cita-cita, memenuhi mimpi ibundanya dan membalas kasih sayang orang orang terdekat yang mengayominya tanpa pamrih, dengan kata lain, Delta adalah laki-laki yang tidak pernah bisa lepas dari sosok ibundanya. Keteguhan Sriyani menanamkan penting nilai pendidikan, memperjuangkan harapan, dan pengorbanannya yang tanpa pamrih dan tanpa kesedihan, membuat film ini menjadi sebuah film yang dipersembahkan untuk para Ibu, dan para calon Ibu. Pemain: Vino G. Bastian, Happy Salma, Rizky Hanggono, Endy Arfian, Mamiek Prakosa Sutradara: Endri Pelita Produser: Erna Pelita Jenis Film: Drama

Hal. 66

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Air Mata Terakhir Bunda


Tourism Business

K

Melukis Di Kanvas Bisnis

ran bisnis seolah terbuka lebar, manakala Batik disahkan sebagai warisan Budaya Tak-benda Warisan Manusia atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh badan PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO) pada tahun 2009. Masing-masing daerah di pelosok tanah air pun ‘latah’ membuat batik. Batik sekarang sudah tidak dimonopoli lagi oleh penduduk pulau Jawa, khususnya Pekalongan, Semarang, Jogja, dan Solo. Meski, tak dapat dibantah, bahwa pebatik dari luar daerah masih memiliki kaitan dengan negeri asal, Pulau Jawa. Akan tetapi, satu hal yang perlu digaris bawahi, kini, setiap daerah terus mengembangkan batik sebagai sumber penghasilan warga. Dalam sebuah Forum Budaya Dunia (WCF) di Bali, bulan Oktober tahun lalu,

Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, sejak batik diakui UNESCO pada 2009, sampai sekarang 'revenue'-nya telah mencapai Rp1 triliun. Catatan manis ini, penjualan produk untuk pasar dalam dan luar negeri juga diperoleh dari pembelian hak cipta. Hal ini pun nampaknya diamini oleh Sri Lestari, salah satu pebatik asal Laweyan, Solo yang kemudian memutuskan untuk berbisnis batik di Sleman, Yogyakarta. Sri Lestari pemilik brand batik Allusan mengaku sejak usaha dirintis pada tahun 2005 mulai berkembang setelah disahkan Batik oleh UNESCO. Saat itu, Sri hanya memiliki modal tidak terlalu besar, namun ia konsisten dengan bahan dan motif batik yang digunakan, pembuatan pun masih menggunakan tangan manusia. Itu sebab, untuk satu lembar batik Allusan bisa mencapai, Rp. 6,5 juta. Bahan baku dari

kain sutera, motif dan pengerjaan yang masih tradisional membuat batik itu bernilai tinggi. Peluang Bisnis Batik Pemerintah Pusat dan Daerah pun mulai menggalakan gerakan cinta batik dengan langkah setiap hari Jum’at para pegawai berplat merah wajib mengenakan Batik. Belum lagi, setiap institusi pendidikan mulai SD hingga SMU pun diberlakukan wajib menggunakan batik pada hari-hari tertentu. Peluang pasar semakin membengkak, manakala desainer-desainer muda dengan ide kreatif mampu mematahkan stigma mengenakan batik bukan berarti Oldies atau Jadoel. Itu sebabnya, dalam dua belakangan muncul gerakan Batik is Cool yang diprakarsai oleh para desainer muda.

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

Hal. 67


Tourism Business

‘Virus’ batik pun mewabah, ke ranah sepakbola. Para perajin batik asal Laweyan, Jogja, dan Pekalongan pernah terkena imbas. Daerah-daerah tersebut kebanjiran order baju batik baik lengan panjang maupun pendek, bermotifkan klub-klub sepakbola yang masuk dalam top five dimasing-masing liga seperti Inggris, Italia dan Spanyol. Seperti dikatakan oleh Ade Roma Doyoatmodjo, pemilik Batik Putro Hadi dari Laweayan, Solo, dalam sebulan mampu menjual hingga 500 – 600 batik motif bola ke luar daerah pulau Jawa, seperti Kalimantan, Medan, Riau, serta kota-kota lain. Padahal harga batik bermotif klub bola termurah adalah Rp. 45.000 – 300.000 per potong. Tergantung bahan baku dan cara pembuatannya. Tren Motif Batik Jika tren motif batik begitu mewabah dikalangan anak muda melalui klub kesayangan, sebenarnya itu adalah salah satu cara agar anak muda mulai mengenal, memakai, dan mencintai batik sebagai gaya hidup. Toh nyatanya, omset dari motif batik klub sepak bola begitu mengesankan. Bukan berarti pula, motif batik

Hal. 68

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013

tradisional tidak memiliki kans bisnis dimata konsumen. Sri Lestari misalnya, Ia tetap konsisten pada motif-motif tradisional, seperti parang rusak, kawung, tumbar pecah, serta sido mukti. Kesetiaannya terhadap motif kuno pun berbuah manis. Ia mengaku jika pertama kali membuka bisnis batik, omset yang diperoleh hanya dibawah angka Rp. 10 juta. Akan tetapi, kini meraih omset hingga Rp. 490 juta. Bahkan telah menembus pasar luar negeri. Begitu juga Umi S. Adi Susilo pebatik dari Semarang yang masih setia dengan motif batik tradisional. Selain itu, dengan mengangkat motif batik tradisional sama hal ikut melestarikan budaya daerahnya. Sebab, dalam selembar kain batik memiliki makna dan cerita sejarah dalam guratan canting sang pebatik. Hingga sekarang, Umi telah memiliki lebih dari 219 motif batik yang telah didaftarkan pada Direktorat Jenderal Hak dan Kekayaan Intelektual (HKI). Guna mempermudah pemaknaan, Umi pun membagi motif-motif batik Semarangan tersebut dalam lima ikon, yakni ikon Bangunan. Kedua yaitu Sejarah, motif diantaranya adalah Cheng Ho dan Marabunta. Ikon ketiga, yaitu kuliner, seperti motif Lumpia, Mie Kopyok, dan

Tahu Gimbal. Keempat, flora dan fauna, mulai dari Merak Njeprak, Merak Mlerok Latar Asem, dan Cattleya. Dan yang terakhir adalah ikon kombinasi klasik kontemporer yakni motif Parang Tugu Muda, Sido Roning Asem, dan Ceplok Cattleya. “Beberapa karya dari motif batik ini, mencatatkan pendapatan hingga Rp100 Juta dengan total produksi sekitar 1.000 yard batik” jelas Umi. (Teks & foto. Fatoer Doang)


Potrait

Hypnotized By The Fishermen Of Inle Lake, Myanmar

"Welcome to Inle Lake" sign, you see fisherman using a traditional drop-net that is unique to Myanmar. They also employ an interesting one-legged paddle technique, Balancing stork-like on one leg, wrapping the other around a single long oar, moving his boat forward with an awkward-looking but effective push, dip and pull, leaving both hands free to tug in a pale green fishing net Inle Lake is a freshwater lake located in the Nyaungshwe Township of Taunggyi District of Shan State, part of Shan Hills in Myanmar (Burma). The lake is at 1328 metres above sea level. Inle is one of the most popular tourist destination in the Shan State. The lake dwellers are one-legged rowers. They are well-known for it. They are called as "Inthar" meaning people of the lake. The floating water hyacinth are the major products of this region. Many hand made products such as bags, baskets are made from water hyacinth.The Inthars also make their living by fishing. (Foto istimewa)

Hal. 70

TOURSIM WATCH MAGAZINE . Oktober - November 2013



Twm oktober november 2013