Skip to main content

BENANG MERAH YANG TERSILAP

Page 1


BAB

1: DEBU DAN BELUDRU

MERAH

Lampu sorot ballroom malam itu terasa menyengat, kontras dengan udara dingin pendingin ruangan yang membuat bulu kuduk Arin meremang. Di hadapannya, ratusan orang berdiri. Tepuk tangan bergemuruh saat kain hitam ditarik, meresmikan poster film adaptasi novel terbarunya.

Arin memegang gagang mikrofon dengan telapak tangan yang sedikit berkeringat. Menatap lautan manusia di depannya, ia teringat sudut perpustakaan sekolah yang berdebu tempat di mana ia dulu merajut mimpi-mimpi ini sendirian.

"Keberhasilan ini bukan milik saya pribadi," suara Arin mengalun lembut, memotong riuh penonton. "Tetapi milik setiap jiwa yang percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan."

Di baris terdepan, seorang gadis kecil berusia lima tahun melompat-lompat kecil sambil melambaikan tangan. Maura. Saat tatapan mereka bertemu, mata Maura menyipit hingga membentuk lengkungan bulan sabit yang sempurna salinan persis dari mata Arin sendiri.

Di samping Maura, seorang pria duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan lampu panggung yang tajam, tetapi posturnya yang kokoh selalu sanggup menjangkarkan kegelisahan Arin. Rama, suaminya.

. . . Seminggu setelah gala premier, rumah mereka berubah menjadi labirin kardus cokelat dan gulungan selotip. Keputusan sudah bulat: Jakarta. Menjual rumah lama ini adalah harga yang harus dibayar untuk mendukung karier Arin yang kian memuncak sekaligus mendekat ke pusat industri perfilman.

"Maura, jangan lari di dekat kaca!" seru Arin, menyeka pelipisnya dengan punggung tangan.

Langkah Arin membawanya ke gudang belakang. Di ruangan pengap yang luput dari perhatian selama bertahun-tahun itu, ia berharap menemukan tumpukan dokumen legalitas rumah. Alih-alih dokumen, jemarinya justru membentur permukaan kayu yang kasar di balik tumpukan koran apak.

Arin menarik kotak kayu tua itu keluar. Debu pekat langsung membubung, membuatnya terbatuk. Saat tutup kotak terangkat, engselnya berdecit ngilu. Dan di sana, jantung Arin seolah berhenti berdetak.

Di antara lipatan seragam putih abu-abu yang menguning, tergeletak sebuah buku harian bersampul beludru merah tua.

Kainnya sudah pudar dan menipis di bagian sudut, tetapi teksturnya langsung dikenali oleh ujung jemari Arin. Ini adalah buku yang ia tangisi kehilangannya sepuluh tahun lalu. Buku yang ia pikir tertinggal di kos-kosan lama saat ia pindah kuliah.

Arin duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin. Ia membuka halaman pertama. Bau kertas tua dan lembap menyeruak, melepaskan hantu-hantu memori yang selama ini ia kunci rapat. Di sana, tertulis sebaris kalimat dengan tinta yang mulai memudar tulisan tangan gadis remaja yang lugu:

"Katanya, ada benang merah tak kasat mata yang menghubungkan kita dengan seseorang di ujung sana. Meski kusut atau meregang, benang itu takkan pernah putus. Aku bertanya-tanya, di ujung benangku, siapa yang sedang menunggu?"

Tangan Arin bergetar. Bayangan masa SMA mendadak berputar tanpa ampun. Tawa riuh di kantin, debar jantung yang menyakitkan saat berpapasan di koridor, dan satu nama... nama yang sudah bertahun-tahun sengaja ia hapus dari doanya.

"Bunda? Sedang apa?"

Suara cempreng Maura memecah keheningan gudang. Arin tersentak, refleks menutup buku beludru itu seolah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan. Ia menoleh cepat ke ambang pintu.

Di sana Maura berdiri. Dan di belakang putrinya, Rama bersedekap, menatap lurus ke arah Arin dengan sepasang mata yang sulit diartikan.

Arin mendekap buku merah itu erat di dadanya. "Hanya menemukan masa lalu yang sempat terselip," jawabnya pelan.

BAB 2: BURUNG BANGAU KERTAS

Suara derit pintu gudang terdengar begitu keras di telinga Arin. Cahaya sore dari halaman belakang menerpa punggung Rama, membuat ekspresi wajahnya sulit dibaca.

"Bunda menemukan apa?" tanya Maura lagi, menarik-narik ujung daster Arin, tidak menyadari ketegangan yang merayap di udara.

Arin memaksakan senyum, meski bibirnya terasa kaku. "Hanya buku lama, Sayang. Maura ke depan ya, bantu Ayah cek mobil."

Maura bersorak kegirangan dan berlari keluar gudang melewati ayahnya. Kini, hanya tersisa Arin dan Rama. Keheningan di antara mereka terasa lebih berat daripada debu gudang.

"Buku apa itu?" tanya Rama datar. Ia melangkah masuk. Langkah sepatunya di lantai semen terdengar bergaung.

"Hanya... catatan harian waktu SMA," jawab Arin, mencoba terdengar santai sambil bangkit berdiri. Ia menyelipkan buku itu di sela-sela tumpukan map dokumen. "Aku pikir sudah hilang waktu pindah kos dulu."

Rama menatap tumpukan dokumen itu, lalu beralih menatap mata Arin. Selama sesaat, Arin merasa Rama bisa melihat langsung ke dalam kepalanya.

"Kamu terlihat pucat," kata Rama lembut, tangannya terangkat untuk mengusap debu di pipi Arin. Sentuhan itu hangat, seperti biasa, namun entah mengapa malam ini membuat Arin didera rasa bersalah. "Jangan terlalu lelah. Kalau pusing, istirahatlah. Biar aku yang selesaikan urusan kardus di sini."

"Terima kasih, Mas."

Arin membawa tumpukan dokumen termasuk buku harian itu masuk ke dalam kamar utama. Ia mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, ia kembali membuka buku merah itu. Ia melewati halaman-halaman yang berisi curhatan khas remaja, hingga jemarinya berhenti di sebuah halaman bertanggal 14 Februari 2014.

Di sana, ada sebuah sketsa pensil yang amatir: gambar seorang laki-laki yang sedang memakai tudung jaket, duduk di bangku paling belakang kelas. Di bawah gambar itu tertulis sebuah nama: Elian

Napas Arin tercekat. Nama yang diasosiasikan dengan aroma hujan dan tawa renyah di bawah halte bus saat hujan deras meredam suara mereka. Dinding kamarnya di masa sekarang seolah runtuh, digantikan oleh dinding semen sekolah yang dingin dua belas tahun lalu.

. . .

Hujan menderas di luar jendela kelas XII-A. Sebagian besar murid sudah pulang, menyisakan Arin yang masih sibuk merapikan buku perpustakaan untuk tugas piket. Di pojok kelas, Elian masih duduk di tempatnya.

Elian adalah tipe murid yang tidak terlihat jika Anda tidak mencarinya. Dia jarang bicara dan matanya selalu tersembunyi di balik poni rambutnya yang agak panjang.

"Kamu tidak pulang, El?" tanya Arin ragu-ragu.

Laki-laki itu mendongak. Matanya tajam, namun ada kesepian yang dalam di sana. "Hujan," jawabnya singkat. Suaranya serak.

Arin berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah roti cokelat ke atas meja Elian. "Buatmu. Menunggu hujan reda biasanya membuat lapar."

Elian menatap roti itu, lalu menatap Arin. Untuk pertama kalinya, Arin merasakan sengatan aneh di dadanya.

"Terima kasih," gumam Elian. Ia merobek secarik kertas dari buku tulisnya, melipatnya menjadi burung bangau kecil dan memberikannya pada Arin. "Jangan dibuka sampai kamu di rumah."

Malam itu di rumahnya, Arin membuka lipatan burung bangau kertas itu. Di dalamnya tertulis:

"Terima kasih rotinya. Aku tidak tahu benang merah itu nyata atau tidak, tapi jika ada, aku harap ujungnya terikat di jarimu." . . .

"Bunda? Makan malam sudah siap!" ketukan Rama di pintu kamar membuyarkan lamunan Arin.

Arin tersentak kembali ke realitas. Ia dengan cepat memasukkan buku merah itu ke laci paling bawah lemari pakaiannya, di bawah tumpukan syal, lalu menguncinya. Ia menarik napas panjang, merapikan rambutnya di cermin, dan membuka pintu untuk menemui keluarganya. Tapi di dalam kepalanya, suara hujan dua belas tahun lalu belum juga reda.

BAB 3: PERTEMUAN DI RUANG KACA

Tiga bulan kemudian, hiruk-pikuk Jakarta resmi menjadi bagian dari hidup Arin. Rumah baru mereka di kawasan Jakarta Selatan sudah tertata rapi. Maura sudah mendapatkan sekolah TK barunya, dan Rama tampak sibuk dengan jaringan bisnisnya yang meluas di ibu kota. Semua tampak sempurna. Setidaknya dari luar.

Di laci lemari pakaian Arin, terkunci rapat di bawah tumpukan syal, buku harian beludru merah itu diam membisu. Arin tidak pernah membukanya lagi, tetapi keberadaannya di sana seperti detak jam yang konstan selalu mengingatkannya pada masa lalu.

Pagi ini, Arin melangkah memasuki gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Hari ini adalah rapat besar pra-produksi film adaptasi novelnya. Sebagai penulis naskah, ia memiliki hak suara untuk memilih kru inti, termasuk penata sinematografi yang akan menentukan visual filmnya.

"Mbak Arin, selamat datang!" sapa produser film, seorang wanita paruh baya yang enerjik bernama Mira. "Tim penyutradaraan sudah di dalam. Kita tinggal menunggu DOP (Director of Photography)-nya. Dia baru pulang dari pameran di Berlin."

Arin tersenyum profesional, merapikan blazer hitamnya, dan melangkah masuk ke ruang pertemuan berdinding kaca transparan itu. Ruangan itu menyuguhkan pemandangan jalanan Jakarta yang macet di bawah sana. Arin duduk di sebelah sutradara, membuka laptopnya, mencoba fokus.

Sepuluh menit berlalu. Pintu kaca ruang rapat bergeser terbuka.

"Ah, itu dia! Sini, El," panggil Mira antusias.

Jantung Arin berdegup kencang secara tidak wajar mendengar panggilan itu. Ia perlahan mendongak dari layar laptopnya.

Laki-laki yang berdiri di ambang pintu itu mengenakan kemeja linen hitam yang digulung hingga siku. Rambutnya tidak lagi menutupi mata, dipotong rapi dengan rahang yang tegas dan janggut tipis yang terawat. Namun, tatapan matanya tajam dan menyimpan kesunyian yang sama tidak berubah sedikit pun.

"Maaf saya terlambat, penerbangan dari Berlin sedikit terkendala," suara serak itu menyapa seisi ruangan.

Dunia di sekitar Arin mendadak senyap. Suara deru AC kantor dan gumaman orangorang di ruangan itu seolah diredam oleh air laut. Dua belas tahun. Laki-laki penyendiri di pojok kelas XII-A itu kini berdiri di hadapannya sebagai salah satu penata kamera terbaik di negeri ini.

"Arin," panggil Mira, membuyarkan lamunan Arin yang terasa seperti keabadian. "Perkenalkan, ini penata sinematografi kita untuk proyek ini. Elian Dirgantara."

Elian berjalan mendekati meja. Langkah kakinya yang mantap di atas karpet ruang rapat seolah menginjak-injak ketenangan yang sudah Arin bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun ini.

Elian berhenti tepat di depan tempat duduk Arin. Ia mengulurkan tangannya yang jenjang. Arin menatap tangan itu, lalu perlahan mengangkat tangannya sendiri untuk menyambutnya.

Saat kulit mereka bersentuhan, sengatan yang sama persis seperti dua belas tahun lalu di kelas yang diguyur hujan kembali menghantam dada Arin. Dingin, namun membakar.

Elian menatap lurus ke dalam matanya. Tidak ada senyum basa-basi di wajah pria itu. Hanya ada sebuah pengertian yang dalam, seolah Elian sedang membaca seluruh rahasia yang Arin sembunyikan di dalam lemari pakaiannya.

"Senang bertemu dengan Anda lagi... Penulis Arin," ucap Elian rendah.

Kata 'lagi' diucapkan Elian dengan penekanan yang sangat tipis, hampir tidak disadari oleh orang lain di ruangan itu, namun terdengar seperti dentuman meriam di telinga Arin. Benang merah itu tidak pernah putus. Ia hanya meregang sangat jauh, dan kini, benang itu ditarik kembali dengan kencang.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
BENANG MERAH YANG TERSILAP by tjaca fujifilm - Issuu