Issuu on Google+

LIPUTAN UTAMA

SOSOK

POLITIK KITA

Kini universitas beserta sivitas akademinya seakan berada dalam fase paceklik hasil riset berkualitas dari segi kuantitas. Minat melakukan penelitian di luar skripsi dan tugas perkuliahan menjadi kering lantaran kegiatan riset tak mampu lagi membuat mahasiswa berpaling.

Bagi Melani, kekurangan pada dirinya merupakan suatu keunikan dan keistimewaan yang membuatnya menjadi mudah diingat orang lain. “Misalnya beberapa waktu lalu, temanku di masa SD menyapaku. Dia malah masih ingat sama aku, padahal aku sendiri tidak begitu ingat,” ujarnya.

“Sejauh yang saya tahu, semester pendek dianggap kurang menguntungkan karena semester pendek itu kan pendek ya, waktunya cuma dua bulan. Dari pemahaman tidak memadai, waktu pun tidak mencukupi,” ungkap Lukas S. Ispandriarno, Dekan FISIP UAJY.


Anathasius Warih Pemimpin Redaksi

Key In Belum Beres Key in bulan Agustus lalu memang sudah mengalami perubahan, namun (lagi-lagi) ada saja masalah. Seperti tidak mendapatkan kelas karena jadwal bertabrakan dengan mata kuliah lain atau karena kehabisan kelas, dan saya menjadi ‘korban’ karena tidak mendapatkan satu mata kuliah untuk dua semester ini. Sejak berkuliah di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta saya melihat dan merasakan ada satu masalah yang tidak menemui jalan keluar. Ketika bimbingan KRS, ada keluhan di mana dosen pembimbing berlaku cuek dan tidak membantu mahasiswanya. Lalu berlanjut ke masalah pokok, yaitu masalah key in, saya kecewa. Ketika mengetahui jadwal key in pukul 07.00 dan adu cepat untuk datang lebih awal agar bisa mendapatkan kelas, apakah harus

datang ke kampus jam 06.00 demi mendapatkan kelas. Belum lagi ketika sudah datang pagi-pagi tetapi kelas yang ingin diambil habis karena sudah keduluan oleh adik angkatan. Hal ini sering terjadi, namun sampai sekarang tetap menjadi lingkaran setan yang tidak kunjung usai. Sebagai mahasiswa, saya ingin agar cepat lulus, namun terhambat oleh mata kuliah yang belum diambil karena kehabisan kelas. Kasihan dan malu ketika ini harus terjadi dan dialami. Masak kita sudah membayar kuliah mahalmahal tetapi masih saja masalah ini tidak dapat teratasi? Indah Hardiani Prodi Ilmu Komunikasi , FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta Angkatan 2009

Steering Committee HMPS Komunikasi FISIP UAJY Pemimpin Umum Emerita R. Davita Pemimpin Redaksi Anathasius Warih Editor Gabriela Laras DS, Raymundus Rikang Redaktur Andreas Ryan Sanjaya, Maria Gladiolia Wangge, Gisela Ayu, David Eka Issetiabudi, Denita Matondang, Ignatius Eggi, Edo Karensa Reporter Emanuela Agra, I Gede Titah Pratyaksa, Itha Modhalina Sembiring, Ammyta Pradita, Prihartanto Dwi, Josephine Wulan, Tutut Lestari, Yosephina Laura, Kunti Damayanti, Lucia Sri Retno Pamungkas, Yanita Petriella, Condro Herbayu Artistik Purba Wirastama, Yohanes Januadi, Yudha Ardi e-mail mail.teraspers@gmail.com website http://teraspers.blogspot.com contact person Emerita Rosalinda Davita (+62 856 255 3155) alamat redaksi Jln. Babarsari No. 6 Yogyakarta 55281 Indonesia Kotak Pos 1086/YKBB

SUARA PEMBACA

E D IT ORIAL

Pemerintah secara resmi menetapkan tanggal 29 September sebagai Hari Sarjana Nasional. Setiap tahun begitu banyak mahasiswa yang meraih predikat tersebut. Namun, tak cukup hanya indeks nilai saja yang seharusnya dimiliki oleh paracalon sarjana, akan tetapi kompetensi yang komprehensif. Kompetensi yang dapat menjamin kualitas sarjana agar tak menjadi pengangguran intelektual. Banyak permasalahan yang dihadapi perguruan tinggi dalam rangka mewujudkan kompetensi pendidikan merata. Mulai dari biaya pendidikan yang semakin mahal, carut marutnya sistem perkuliahan, dan semakin maraknya plagiarisme seakan menjadi puncak gunung es permasalahan pendidikan tinggi kita. Sekelumit permasalahan tadi akan dibahas pada Teras edisi September-Oktober ini. Liputan Utama, redaksi akan melemparkan sebuah wacana mengenai minimnya minat meneliti di kalangan mahasiswa serta mengurai aliran dana sebagai modal penelitian dari berbagai sumber. Redaksi juga akan memberikan gambaran akan minat meneliti mahasiswa dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan di kampus UAJY. Rubrik Politik Kita mencoba mengupas sistem baru remedial yang mulai diterapkan pada semester gasal tahun 2011 ini. Beberapa kalangan menilai sistem ini merugikan angkatan atas karena menghambat kelulusan. Suara lain berpendapat sistem ini sebagai jalan cepat untuk menaikkan kuantitas nilai mahasiswa. Permasalahan-permasalahan tersebut tentu menuntut pembenahan progresif agar tercipta mahasiswa yang unggul dari segi kuantitas maupun kualitas. Terakhir, dari ruang redaksi Teras Pers memekikan‌ Salam Mahasiswa!


LIPUTAN UTAMA

Dana Penelitian Mahasiswa: Insentif atau Batu Sandungan? Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) Zuhal mengungkapkan bahwa dana riset (research and development) Indonesia merupakan yang terkecil di dunia. Oleh Andreas Ryan Sanjaya, Raymundus Rikang, Emanuel Agra

A

nggaran dana yang kecil ini kemudian dituding menjadi penyebab mandeknya daya saing dan kreativitas pihak-pihak yang sejatinya mampu memajukan ekonomi melalui inovasi dan penelitian. Apakah fenomena ini juga yang terjadi pada mahasiswa? Ditemui Teras Pers di ruangannya, Wakil Rektor I UAJY Ign. Pramana Yuda, M.Si., Ph.D, berkata,”LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat) UAJY sudah menyediakan dana untuk penelitian mahasiswa secara mandiri.” Dia menambahkan bahwa ada prosedur di dalamnya untuk mendapatkan dana penelitian. “Mereka (LPPM) punya program pelatihan untuk penulisan proposal, yang ikut dan memasukkan proposal akan diseleksi dan yang lolos akan mendapatkan pendanaan,” jelasnya. Namun, prosedur permintaan dana penelitian kepada LPPM ini tidak sesederhana yang tertulis. Faktanya adalah jumlah proposal penelitian yang dikirim oleh mahasiswa untuk mendapatkan dana penelitian sangat sedikit. ” Selama ini pelatihan selalu diumumkan secara terbuka di masing-masing program studi. Namun, saya tidak tahu apakah penyampaian ini sudah dilakukan secara efektif atau belum,” lanjut Pramana.

Dalam wawancara dengan Teras Pers, Ign. Pramana Yuda juga menegaskan bahwa penelitian pasti membutuhkan dana. Sebagai institusi perguruan tinggi, yang pada dasarnya erat dengan kegiatan penelitian, penyediaan dana tentu tidak hanya datang dari yayasan. Dari mana saja datangnya dana itu? Pramana mengatakan bahwa selain dana internal, mahasiswa juga bisa mendapatkan dana dari PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) Penelitian. Satu judul penelitian dapat memperoleh dana penelitian hingga Rp 10.000.000,00 meski tetap bergantung pada proposal yang diajukan. “Saat ini rata-rata mendapat dana Rp 7.000.000,00,” terangnya. Teras Pers kemudian mencari sumber lain untuk mengkonrmasi jumlah dana ini. Teras Pers menemui Petra Anderson (2008), Andre Binarto (2008), dan Dwi Kartika Sirait (2006), mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UAJY yang berhasil mengikuti Pekan Ilmiah Nasional 2011 di Makassar tanggal 18-22 Juli 2011 lalu. Menurut mereka penelitian

yang mengambil obyek penelitian iklan sebuah merk minuman energi versi Tari Sajojo ini mendapatkan dana yang cukup, “Kami mendapatkan dana utama dari DIKTI sekitar Rp 5 juta-an.” Ditanya berasal dari mana saja sumber dana penelitian di Universitas ini, Kepala Kantor Keuangan UAJY, Alb. Agus Triyogo menuturkan,” Untuk hal ini saya tidak begitu ingat detailnya. Kalo ditanya tahu atau tidak, saya itu tahu tapi harus buka-buka le. Jadi angka persisnya saya tidak begitu ingat.” Teras Pers menangkap Agus Triyogo enggan memberikan informasi lebih lanjut mengenai sumber-sumber dana penelitian ini dan berujar bahwa ada unit kerja yang memi-

september - oktober 2011 TERAS PERS

3


LIPUTAN UTAMA

liki informasi lebih detail daripada Kantor Keuangan perihal dana penelitian. Kantor Keuangan merupakan salah satu lembaga yang vital dalam perolehan dana penelitian, maka mahasiswa sebagai salah satu pihak yang berhak mendapatkan dana itu perlu tahu bagaimana prosedur yang dijalankan oleh lembaga ini. “Secara umum pemberian dana apapun itu, termasuk juga penelitian di dalamnya, adalah berdasarkan visimisi, renata, dan standar fakultas. Penjabaran detailnya cukup rumit”, katanya. Agus Triyogo menjelaskan bahwa Kantor Keuangan merupakan unit kerja yang hanya menurunkan dana yang memang sudah disetujui oleh unit-unit yang bernaung di bawah Universitas Atma Jaya Yogyakarta. “Prinsipnya adalah kami tidak secara langsung, katakanlah ‘memotong-motong’ anggaran karena yang sudah mengaudit adalah lembaga yang berkerjasama dengan kami. Hubungan kami berkenaan dengan dana adalah Kantor Keuangan dengan Fakultas atau Kantor Keuangan dengan Lembaga LPPM,” jelasnya. Dengan kata lain, Kantor Keuangan tidak memiliki wewenang untuk menentukan apakah suatu proposal penelitian bisa mendapatkan dana atau tidak. Lembaga ini hanya menurunkan dana atas proyek-proyek yang sudah disetujui oleh unit-unit kerja yang berada di bawah naungan universitas. Unitunit kerja inilah yang sebelumnya sudah melakukan audit sesuai dengan kebijakan yang mereka miliki. Lebih jauh lagi, Kantor Keuangan hanya mengurusi dana yang berasal dari yayasan atau universitas secara langsung. “Padahal dana penelitian itu tidak hanya universitas saja yang memberikan. Ada dari pemerintah, donatur, atau penelitian proyek (order research) yang dipesan oleh institusi lain,” tambahnya. Di akhir wawancara dia mengatakan bahwa penelitian-pene-

4

TERAS PERS

september - oktober 2011

litian yang sudah disebutkan tadi harus melalui LPPM, “Nah, dana secara global yang tahu menahu pasti LPPM,”pungkasnya. Teras Pers selanjutnya menghubungi LPPM untuk melakukan konrmasi data di sana berkaitan dengan jumlah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan dari mana dana penelitian itu berasal. Sayangnya data yang kemudian diberikan hanya data penelitian mahasiswa dan dosen yang diberi dana oleh PKM Penelitian dan DIKTI, padahal menurut pernyataan Kepala Kantor Keuangan pasti ada dana yang berasal dari luar institusi itu. Pada tahun 2010, sebanyak 17 tim mahasiswa UAJY berhasil mendapatkan dana dari PKM Penelitian tersebut. Total jumlah dana yang didapat adalah sebesar Rp 103.515.000,00. Dana paling besar yang didapat berjumlah Rp 7.000.000,00, sedangkan yang terkecil berjumlah Rp 4.000.000,00. Dengan jumlah yang demikian, maka rata-rata seorang tim mendapatkan dana dari program tersebut hampir mencapai angka Rp 6.100.000,00. Angka rata-rata tersebut menurun pada tahun 2011. Jumlah tim yang mendapatkan dana adalah 32 tim dengan total dana yang diberikan PKM Penelitian sebesar Rp 179.900.000,00. Rata-rata setiap tim mendapat sekitar Rp 5.622.000,00. Penurunan rata-rata dana yang didapat ini sekitar Rp 500.000,00. Selain data yang telah disebutkan di atas, Teras Pers juga mendapatkan ketentuan dana yang dapat diturunkan untuk proposal penelitian yang lolos. Dana ini dikucurkan oleh LPPM secara mandiri, yang tentu saja bersumber dari universitas, dengan jumlah yang lebih kecil dari dana yang biasanya disediakan PKM Penelitian. Dalam ketentuan tersebut penelitian dibagi menjadi dua, yakni penelitian pustaka dan penelitian lapangan atau laboratorium. Penelitian tersebut kemudian dibagi lagi menjadi penelitian mandiri

dan penelitian kelompok, yang di dalamnya juga memuat jangka waktu penelitian selama 3 bulan dan 6 bulan. Menurut data tersebut, penelitian lapangan atau laboratorium yang dilakukan kelompok dengan dua anggota selama 6 bulan dapat memperoleh dana penelitian maksimal Rp 4.330.000,00. Dana tersebut merupakan angka terbesar yang ditemukan pada rincian dana yang ada di dalam data yang diperoleh. Di lain sisi, Teras Pers juga memperoleh data penelitian dosen yang didanai oleh DIKTI pada tahun 2006 sampai 2010. Menurut data tersebut, penelitian yang didanai DIKTI berjumlah 69 judul penelitian. Ratarata jumlah dana yang didapatkan pada setiap judul jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dana yang diperoleh mahasiswa melalui PKM Penelitian. Rata-rata setiap judul penelitian mendapat dana hingga Rp 27.400.000,00 dengan total dana yang diberikan DIKTI sebesar Rp 1.890.655.000,00. Judul penelitian yang mendapatkan dana terkecil dalam data tersebut adalah Rp 6.000.000,00 yang dilakukan pada tahun 2006 oleh Rini Setyastuti. Sementara judul penelitian yang mendapatkan dana paling besar dilakukan oleh Pramana Yuda pada tahun 2009 kemarin, dengan jumlah dana Rp 92.000.000,00. Data-data yang diperoleh di atas menunjukkan bahwa penelitian sebagai kekuatan akademis agaknya memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mahasiswa yang sering disebut sebagai calon ilmuwan tentu harus mencari cara untuk membangun geliat hasrat untuk meneliti di dalam kehidupan akademisnya. Dana menjadi hal vital yang tak bisa diabaikan untuk masalah ini. Namun, kata Pramana Yuda, “Jangan takut untuk meneliti hanya karena masalah dana. Pertama, dana bisa dicari. Kedua, kalau mau nekat, penelitian juga dapat berjalan dengan dana terbatas.” •


LIPUTAN UTAMA

Ketika Meneliti Tak Lagi Seksi Pengembangan penelitian adalah salah satu hal yang paling mendasar untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Riset tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat (Agnes Aristiarini, Kompas 3/8/2011). Oleh Raymundus Rikang, Emanuel Agra, Andreas Ryan Sanjaya

W

acana menyangkut pendidikan tinggi akhirakhir ini tidak jauh dari masalah semakin mahalnya biaya pendidikan, pelanggaran etis akademik, dan pemerataan akses pendidikan tinggi sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Namun sejatinya, aspek fundamental untuk membangun kualitas calon-calon sarjana adalah kegiatan riset yang kerap luput dari perhatian. Riset menjadi jembatan penting bagi mahasiswa untuk ‘membumikan’ teori yang mereka dapatkan di kelas dengan realitas sosial kemasyarakatan. Fakta inilah yang saat ini seakan dilupakan, justru mengarah pada ‘amnesia kolektif’ di antara mahasiswa, berkaitan den-

gan tanggung jawab riset sebagai salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat. Lagipula, penelitian menjadi hakikat sivitas akademika yang menempuh pendidikan di universitas, yang membedakannya dengan lulusan lain di tingkat akademi apalagi SMA. Kini universitas beserta sivitas akademinya seakan berada dalam fase paceklik hasil riset berkualitas dari segi kuantitas. Minat melakukan penelitiandi luar skripsi dan tugas perkuliahanmenjadi kering lantaran kegiatan riset tak mampu lagi membuat mahasiswa berpaling. Andaikan penelitian itu dilakukan secara rutin, data yang diperoleh Teras Pers melalui LPPM, menunjukkan dosen berada di barisan paling depan menyumbang jumlah riset di

10% Sangat berminat 39% Berminat 39% Cukup berminat 11% Tidak berminat 1%

Sangat tidak berminat

Seberapa besar minat melakukan penelitian? diagram 1

UAJY. Itupun bisa dikatakan sebagai bentuk tanggung jawab akademisi terhadap gelar akademiknya. Mahasiswa? Setidaknya semangat dan paradigma mereka terhadap penelitian tidak pudar. Namun apalah arti semangat dan paradigma tanpa pembuktian sahih hasil penelitian di lapangan yang terpantau paling tidak oleh LPPM. Hal itu tercermin dari survei yang dilakukan Teras Pers terhadap 120 responden di 6 fakultas yang ada di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tanggal 8-9 Agustus 2011. Survei ini mencoba untuk menemukan posisi kegiatan penelitian dalam konteks dinamika kemahasiswaan dewasa ini. Dari hasil survei tercatat hanya 10% responden yang mengaku ‘sangat berminat’ terhadap kegiatan penelitian, sedangkan tingkat ‘berminat’ dan ‘cukup berminat’ masing-masing memiliki persentase 39%. Menarik di sini adalah presentasi tersebut sebagian besar disumbangkan oleh mahasiswa/mahasiswi Fakultas Teknobiologi yang memang terkenal dengan tradisi riset yang kuat dan berprestasi. Sebanyak 11% responden mengaku tidak tertarik dengan kegiatan penelitian dengan berbagai alasan seperti kurangnya info penelitian (37%), prosedur penelitan yang rumit (38%), dan membuang-buang waktu (12%) (lihat diagram 2).

september - oktober 2011 TERAS PERS

5


LIPUTAN UTAMA

Survei dilakukan guna menggali alasan utama di balik minat melakukan penelitian. Sebanyak 68% responden sepakat bahwa kegiatan penelitian dilakukan untuk mengembangkan potensi penalaran. Sementara untuk 14 % responden menyatakan bahwa penelitian adalah hobi mereka, mengutip Rene Descartes dengan gubahan untuk responden ini adalah ‘saya meneliti maka saya ada’. Siapapun pihak yang berkepentingan terhadap masa depan kegiatan penelitian di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, baik itu rektorat, LPPM, dosen, atau bahkan mahasiswa bisa bernapas lega dengan fakta bahwa 95% responden masih menempatkan riset pada skala prioritas kompetensi seorang mahasiswa. Selebihnya sebanyak 5% menganggap riset bukan suatu hal yang sifatnya urgen untuk dilakukan pada saat kuliah dengan berbagai alasan, yakni bisa dilakukan pada saat skripsi atau tertarik dengan hal-hal lain di samping kegiatan meneliti. Akan tetapi, hasil survei yang Teras Pers lakukan beberapa waktu lalu terkesan paradoks bila menilik data yang dimiliki oleh LPPM sebagai unit kerja yang membawahi seluruh kegiatan penelitian sivitas akademika UAJY. Data menunjukkan hanya 17 judul penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UAJY selama tahun 2010. Lantas meningkat pada tahun 2011 yakni sebanyak 32 judul penelitian. Memang data tersebut adalah jumlah penelitian yang didanai oleh DIKTI dalam program PKM, namun angka itu adalah cermin bahwa budaya riset di kampus UAJY masih tergolong rendah. Dina Listiorini, Kepala Pusat Studi Kawasan Indonesia Timur yang dihubungi via telepon mengatakan bahwa fenomena minimnya riset yang dilakukan oleh mahasiswa perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak. “Yang jelas, jika memang ingin membangkitkan lagi gairah

6

TERAS PERS

september - oktober 2011

Alasan penelitian tidak diminati?

Prosedur riset yang rumit 38% Kurangnya info penelitian 37% Membuang waktu 12% Lain-lain 13% diagram 2

meneliti maka announcement penelitian harus terpadu, dari fakultas siapa yang mengurusi harus jelas, atau misalnya collecting hasil kerja mahasiswa di bangku kuliah lantas ditindaklanjuti menjadi penelitian yang lebih mendalam atau dijadikan buku itu sudah menjadi upaya untuk menggiatkan penelitian. Dimulai dari yang sederhana-sederhana saja dulu lah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kultur penelitian sekarang ini tidak bisa disangkal jika tergerus oleh budaya instan yang dianut oleh mahasiswa. “Mahasiswa sekarang itu mau yang serba praktis, mereka tidak mau berpikir, membaca literatur Bahasa Inggris tidak mau. Padahal dalam proses penelitian, kita dituntut lebih dari sekedar berpikir saja, namun juga harus kritis dan analitis. Ini yang mungkin menjadi salah satu faktor rendahnya minat penelitian mahasiswa,” jelasnya. Dina Listiorini berujar bahwa mayoritas mahasiswa kerap mengira bahwa penelitian merupakan suatu hal yang ‘besar’, dalam hal ini suatu fenomena yang kompleks. Padahal meneliti bisa berangkat dari hal-hal yang kecil. Hal senada diungkapkan Redemta Tete Bato, Koordinator Divisi Riset dan Pengembangan HMPS Sosiologi, bahwa ada sekian banyak hal masalah yang sangat menarik terjadi di sekitar kita, namun kerap kali luput karena kita terlampau jauh berpikirnya.

Bagaimanapun juga kita tidak dapat menyangkal bahwa proyek prestisius Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk menjadi universitas berkelas dunia telah ‘lepas landas’. Itu berarti kita sudah siap dengan segala konsekuensi, salah satunya adalah paradigma universitas kelas dunia sama dengan universitas berbasis riset. Peningkatan kegiatan penelitian tidak hanya dari dimensi kuantitas, dari segi kualitas juga mutlak diperlukan. Untuk itu gairah meneliti harus menjadi semacam gerakan moral bersama. Berangkat dari sebuah kesadaran kolektif, tidak hanya bagi mahasiswa namun juga dosen, untuk meningkatkan riset dari segi kuantitas dan kualitas. Di samping sebagai tanggung jawab dalam kerangka pengejawantahan tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian dan pengabdian khususnya bagi masyarakat. “Kuncinya hanya satu, yakni percaya diri kalau mereka bisa. Percaya diri kalau mereka mampu. Lantas dari situlah akan timbul semangat mau belajar karena saya yakin pengalaman mahasiswa itu luar biasa berwarna. Dan saya yakin kultur riset di kalangan mahasiswa lama kelamaan akan kembali,” ujar Dina Listiorini dengan mantap untuk menutup wawancara dengan Teras Pers. •


SUDUT

Kelompok Penelitian Mahasiswa: Oase di Tengah Gurun Pasir Di tengah fenomena kebanyakan mahasiswa untuk tak lagi menjadikan penelitian sebagai pengisi kesibukan mahasiswa, kita sejatinya masih melihat bahwa semangat riset masih tetap ada dalam diri mahasiswa. Oleh Emanuel Agra, Andreas Ryan Sanjaya, Raymundus Rikang

P

ertama, buktinya adalah kampus kita masih tetap memiliki kelompok mahasiswa yang secara konsisten menekuni riset sebagai pengisi kegiatan di samping kuliah. Kedua, kampus kita praktis tidak pernah absen mengirim kontingen di gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Setidaknya gambaran semangat itu nampak dalam Kelompok Studi Teknobiologi dan Kelompok Penelitian Sosiologi, yang masih tekun untuk melakukan penelitian. Kelompok Penelitian Sosiologi mengisi kegiatannya dengan berdiskusi tentang fenomena sosial dengan berbekalkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari kegiatan perkuliahan. Membaca fenomena sosial seperti ini dapat menelurkan ide gagasan mereka untuk melakukan penelitian. Kabar terbaru menyebutkan bahwa penelitian termutakhir dari Kelompok Penelitian Sosiologi sudah dimuat di Buletin Sosiologi dengan mengambil tema panti YAKKUM. Tidak jauh beda dengan Kelompok Penelitian Sosiologi, Kelompok Studi Biologi juga sangat variatif dan kreatif dalam mengemas kegiatan riset bagi mahasiswa yang tergabung di dalamnya. Kegiatan kelompok studi ini bersifat eksplorasi dan penelitian dikemas menjadi sebuah acara wisata ekplorasi. Sebuah kegiatan yang membawa kita selain wisata ke berbagai tempat yang dekat dengan alam, mereka

pun mencari sesuatu hal yang baru yang ada di alam sekitar mereka. Penemuan-penemuan yang mereka temukan selama dalam perjalanan itu mereka tuangkan dalam sebuah artikel yang akan dimuat di Teknobiologi Jurnalistik Club (TJC). Motivasi terbesar anggota Kelompok Penelitian Biologi ini adalah mencoba untuk membumikan teori yang diperoleh di bangku kuliah. Salah satu caranya adalah mengunjungi berbagai wisata lingkungan seperti mendaki gunung, susur hutan, atau kegiatan terbaru mereka yakni berkunjung ke pulau di Karimun Jawa. Saat mereka terjun langsung ke alam, mereka dapat menemukan hal-hal baru yang dapat mereka kembangkan menjadi sebuah penemuan baru lantas ditindaklanjuti di dalam ruang laboratorium. Penelitian yang dihasilkan pun semata-mata bukan demi kepentingan akademik belaka, namun juga digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Contoh terbaru yakni kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di Pantai Trisik mengenai penggunaan biopestisida yang diciptakan dari hasil riset mahasiswa pada tahun 2009 lalu. Tidak jauh berbeda dengan kendala klise tentang kegiatan penelitian dalam diri mahasiswa. Kelompok Penelitian Biologi juga kerap kekurangan sumber daya manusia yang berminat dan secara konsisten dan tekun menggeluti dunia riset.

“Namun demikian keadaannya, kami lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Meskipun teman yang ikut penelitian terbilang sedikit, namun mereka mengerjakannya dengan sungguh-sungguh,â€? jelas Paskalis selaku Bendara Kelompok Studi Teknobiologi. Kendala yang sama juga dialami Kelompok Penelitian Sosiologi. “Jumlah yang terlibat penelitian 10 orang, paling banyak adalah 6 orang. Namun, kami mencoba memulai dari yang sedikit ini, “ ujar Redemta Tete Bato, Koordinator Divisi Riset dan Pengembangan HMPS Sosiologi. Demta menambahkan bahwa ada tiga kondisi yang perlu didiorong agar minat riset tumbuh kembali. Pertama, tersedianya ruang publik merupakan ruang yang memungkinkan untuk terjadinya interaksi dan diskusi secara akademis serta terdapat pula suatu papan yang memajang hasil dari penelitian. Kedua, adanya apresiasi dari dosen yang menanggapi dan memberikan perhatian kepada mahasiswa yang melakukan penelitian Ketiga, adanya tugas-tugas penelitian kecil dari dosen untuk mendorong mahasiswa melakukan penelitian. Jadi, ketika iklim riset itu mulai muncul, mahasiswa tidak cenderung responsif dengan melakukan penelitian ketika ada kompetisi saja. •

september - oktober 2011 TERAS PERS

7


SOSOK

Keramahan dan Perjuangan Melani

“I know the price of success: dedication, hard work, and an unremitting devotion to the things you want to see happen.” (Frank Lloyd Wright, American Architect and Writer)

• Nama : Melania Rahadiyanti • Lahir : Pati, 29 April 1990 • Riwayat Pendidikan : < TK Strada Bhaktiwiyata Bekasi < SD Strada Bhaktiwiyata 1 Bekasi < SMP Tarakanita 4 Jakarta < SMA Stella Duce 1 Yogyakarta < Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Arsitektur (2008 – sekarang) • Orang tua : < FX Trisnadi (Ayah) < MA Sinung Rahayu (Ibu)

Oleh Gisela Ayu, Ita Sembiring, Yosephine Laura

J

ari-jemari Melani tampak terampil memainkan pensil di atas kertas. Goresan demi goresan membentuk sebuah sketsa nan indah. Perpaduan antara garis lurus dan garis lengkung menghasilkan sebuah rancang bangun yang unik. Di samping Melani terdapat seperangkat alat komputer yang tampak berlayar hitam, terbuka aplikasi AutoCAD dan ArchiCAD. Melani menghentikan aktivitasnya sejenak, ia duduk dan mulai bercerita tentang dirinya. “Saat ini pembelajaran arsitektur menjadi cukup mudah, sebab tidak seperti dulu yang masih menggambar dengan tangan di atas kertas dan meja yang besar,” tutur Melani. Ia menambahkan bahwa saat ini belajar arsitektur lebih kerap

8

TERAS PERS

september - oktober 2011

membuat rancangan dengan menggunakan program-program komputer, dan hanya sedikit saja sketsa yang digambar secara manual di atas kertas. Penerapan perkembangan teknologi di dunia pendidikan sangat membantu bagi Melani. Ia tidak perlu bersusah payah untuk menahan penggaris magnet di atas meja gambar menggunakan tangan kirinya yang kekurangan secara sik. Baginya kekurangan pada dirinya merupakan suatu keunikan dan keistimewaan yang membuatnya menjadi mudah diingat orang lain. “Menurutku, keistimewaan ini juga membuatku menjadi mudah diingat orang lain. Misalnya beberapa waktu lalu, temanku di masa SD menyapaku. Dia malah masih

ingat sama aku, padahal aku sendiri tidak begitu ingat. Jadi aku senang dengan keberuntungan ini,” kata Melani. Saat ditemui tim Teras Pers di kampusnya, ternyata Melani merupakan sosok yang bersahabat dan memiliki banyak teman. Kerap kali ia saling sapa dengan teman-teman kampusnya yang sedang melewati kami dengan ramah. Bagi sebagian orang, memiliki kekurangan secara sik merupakan suatu hal yang kurang menyenangkan. Terkadang ada perasaan rendah diri dan malu. Namun, perasaan seperti itu tidak tampak pada diri Melani. Dukungan dari kedua orang tua juga turut membantu Melani dalam melakukan kegiatannya seharihari, khususnya dalam menempuh


pusnya mengadakan kunjungan widya wisata ke beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Lombok cukup memberikan tambahan wawasan arsitektur dan menjalin koneksi untuk dirinya kelak. Masa Kecil Melani Melani kecil disekolahkan oleh kedua orang tuanya di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Strada Bhaktiwiyata Bekasi. Tidak seperti orang yang memiliki kekurangan secara sik yang sebagian besar bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Masa kecil Melani dihabiskan di Jakarta dan Bekasi, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya, Yogyakarta, ketika ia akan meneruskan pendidikan SMA. Suatu hal yang menurutnya menarik saat memasuki bangku SMA adalah teman-teman sekolah yang semuanya perempuan, karena merupakan sekolah homogen. Melani pun tidak memiliki kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-temannya, “Sewaktu pindah ke Jogja, nggak begitu kesulitan beradaptasi,” jelas Melani. “Paling cuma masalah bahasa, karena berbeda di Jakarta dengan di Jogja,” imbuhnya.

Keseharian Melani Kegiatan sehari-hari yang dijalani Melani tidak jauh berbeda seperti mahasiswa pada umumnya. Dalam kesehariannya, ia pulang pergi dengan bus dari rumahnya di kawasan Godean jika hendak pergi ke kampus atau ke tempat lain. Melani merasa bahwa selama ini orang-orang di sekitarnya selalu mendekatkan diri dengannya. Kebaikan orang-orang yang mau menerima dan bergaul dengannya membuatnya ingin membalas kebaikan mereka dengan selalu bersikap ramah dan baik terhadap siapa saja yang ada di sekitarnya Sifat terbuka serta ramah membuatnya memiliki banyak teman di dalam pergaulan. Melani berbaur dan bergabung dengan lingkungan sekitarnya seperti orang lain pada umumnya. Kegiatan kuliah, mengerjakan tugas-tugas kuliah, berbincang-bincang dengan temantemannya juga dijalankannnya dengan terbuka. Kondisi sik yang dimilikinya juga bukan sebagai penghalang besar untuk menempuh studi arsitektur di bangku kuliah. “Hidup itu harus berjuang,” pungkasnya. •

SOSOK

pendidikannya. Dalam pergaulannya sehari-hari, Melani tidak pernah beranggapan apakah dia akan diterima atau tidak di dalam sebuah lingkungan, yang diperlukan hanyalah berpikiran positif dan baik kepada semua orang. Melani mengaku belum pernah mendengar komentar negatif dari orang lain mengenai kondisi siknya. “Selama ini aku nggak pernah mendengar omongan orang yang negatif tentang aku. Tapi aku juga nggak tahu apa yang ada dipikiran orang lain tentangku. Aku bukan peramal. Yang penting aku positive thinking”, tutur anak sulung dari dua bersaudara ini. Ketika tim Teras Pers menanyakan kepada beberapa temannya, tim Teras Pers justru terkejut tentang bagaimana sosok Melani yang cerdas di perkuliahannya. Ketika ditanya mengenai prestasinya di bangku kuliah, Melani justru menyarankan kita untuk bertanya pada teman-temannya saja. Dia hanya bercerita kepada kami tentang Indeks Prestasi yang diperolehnya di semester pertama. “Di semester pertama aku memperoleh Indeks Prestasi 4,00. Ternyata aku bisa juga ya,” tutur Melani sambil tertawa. Prestasinya di bidang akademis ditunjukan dengan terpilihnya Melani sebagai mahasiswa Program Studi Arsitektur angkatan 2008 yang memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi sampai dengan semester genap 2010/2011 di kampusnya. Awalnya sempat ada keraguan bagi Melani untuk memilih jurusan arsitektur. Ia tidak begitu yakin apakah mampu menempuh kuliah arsitektur. Namun setelah melihat torehan prestasinya, ia menjadi lebih semangat meraih cita-citanya menjadi seorang arsitek. Ditambah lagi sharing bersama arsitekarsitek professional saat kam-

september - oktober 2011 TERAS PERS

9


DI SEKITAR KITA

Di Balik Kaca Gelap Biro Jasa Skripsi Bangunan itu lebih tampak seperti sebuah rumah biasa ketimbang bangunan yang dikhususkan untuk ruang usaha. Tidak ada penunjuk arah pasti untuk mencapai rumah ini. Tidak sampai sepuluh menit perjalanan menggunakan motor dari kampus FISIP UAJY, kita sudah mampu menemukannya karena berdiri persis di pinggir jalan dan terpampang jelas tulisan sebagai maksud penyedia jasa: â&#x20AC;&#x153;KONSULTAN SKRIPSI, OLAH DATA, dan MAKALAHâ&#x20AC;?. Oleh Maria Gladiolia, Stephani Arum Sari, Josephine Dwi Wulandari, Tutut Lestari

T

eras Pers mencoba untuk mencari tahu tiap detil usaha yang disediakan oleh biro jasa skripsi ini. Begitu melewati pintu masuk kaca berwarna hitam tidak banyak yang terlihat di dalamnya, hanya ada sebuah ruang tamu kecil dengan satu set sofa panjang berwarna coklat dengan meja kaca kecil, serta di ujung meja tersebut ada sebuah kursi bulat kecil yang biasa digunakan oleh pemilik. Tidak ada meja kerja atau komputer yang terlihat. Saat kami belum lama menunggu, keluar wanita paruh baya yang mempersilahkan untuk duduk. Wanita ini adalah pemilik biro jasa

10

TERAS PERS

september - oktober 2011

skripsi tersebut. Setelah beberapa saat, wanita ini pun menjelaskan tentang apa saja yang ditawarkan dari jasa ini kepada Teras Pers. â&#x20AC;&#x153;Kami menyediakan paket skripsi untuk para konsumen, dimulai dari pembuatan judul, hingga pada hasil akhir dari skripsi ini. Jadi, intinya kami lah yang mengerjakan skripsi dari para konsumen kami,â&#x20AC;? jelas wanita paruh baya ini membuka pembicaraan tentang jasanya. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, berkisar antara Rp. 2 juta untuk fakultas sosial, dan Rp. 3 juta untuk fakultas teknik arsitektur. Biaya jasa pembuatan skripsi ini dapat diangsur sebanyak tiga kali,

dengan uang muka Rp. 500 ribu. Biro jasa benar-benar mengerjakannya dari awal, mulai dari pembuatan topik dan judul, hingga ke hal yang paling kecil sekalipun. Biro juga menyediakan format hard copy sehingga konsumen hanya tinggal menjilid skripsi yang dipesan. Selain itu, sebelum dikonsultasikan dengan dosen pembimbing yang sesungguhnya, konsumen diberi kesempatan untuk berkonsultasi dengan pembimbing yang disediakan oleh biro, tanpa menambah biaya. Hal serupa juga dilakukan ketika konsumen akan menghadapi ujian pendadaran yakni biro menyediakan jasa


biro skripsi yang beredar bukan suatu ancaman berarti. “Masalah perizinan biro jasa skripsi tersebut, sudah ada yang lebih berwenang. Saya selaku dosen menilai wajar saja jika melakukan konsultasi atau meminta pendapat selain dari pembimbing. Masing-masing fakultas memiliki aturan yang berbeda,” jelas Endro Susilo lebih jauh. Menurutnya, di Fakultas Hukum sendiri, mahasiswa dapat berkonsultasi kepada dosen pembimbingnya paling banyak sepuluh kali. “Menurut saya, itu angka yang dirasa cukup baik untuk mahasiswa dan juga dosen pembimbingnya. Jika melayani banyak bimbingan, selain dosen yang capek, mahasiswa juga tidak mendapat energi yang positif dari dosennya akibat kelelahan bimbingan. Dosen pembimbing yang care jelas akan tahu proses si mahasiswa mulai dari pengajuan judul hingga eksekusi akhir. Lain lagi ceritanya jika dosen itu tidak care, sehingga tidak mengetahui apakah skripsi itu hasil tulisan dia sendiri atau bukan,” jelas Endro Susilo. Tidak jauh berbeda dengan yang dipaparkan Endro Susilo, Bonaventura Satya Bharata SIP, M.SI, Wakil Dekan III FISIP UAJY pun mengatakan bahwa ini semua kembali pada mahasiswa dan para dosen pembimbing itu sendiri. Jika di

antara mahasiswa dan dosen pembimbing bisa bekerjasama dengan baik, tentu niat untuk menggunakan jasa biro yang ditawarkan tidak akan ada. Sehingga, pada akhirnya nanti mahasiswa bisa memutuskan bagaimana mereka menyelesaikan skripsi mereka dengan baik. Memang tidak ada larangan untuk menggunakan biro jasa skripsi yang ditawarkan, namun sebaiknya para mahasiswa bisa bijak untuk menentukan pilihannya. Skripsi ini bukan hanya sebatas mata kuliah biasa, namun skripsi menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana kita mampu mengkaji dan menganalisis suatu fenomena, baik sosial maupun alam. Tentu semua ini akan kembali lagi pada keputusan mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswa melihat skripsi sebagai sarana untuk menguji apa yang telah diperolehnya selama duduk di bangku kuliah, maka mahasiswa akan lebih dapat terhindar dari kemungkinan menempuh cara-cara instan untuk lulus. Namun sebaliknya, jika skripsi hanya dipandang sebagai syarat untuk lulus, maka tidak menutup kemungkinan seorang mahasiswa akan mencari jalan pintas guna meraih predikat sarjana, meskipun dengan cara-cara yang tidak jujur seperti menggunakan jasa biro skripsi ini. •

DI SEKITAR KITA

simulasi pendadaran. Hal yang lebih mengejutkan adalah di dalam simulasi ujian pendadaran ini biro menyediakan dosen penguji, yang berdasar penuturan pemilik biro berasal dari beberapa universitas terkemuka di Yogyakarta. Tidak hanya sampai di situ saja, biro juga memberikan garansi untuk mengerjakan revisi setelah pendadaran asalkan tidak bongkar total atau dengan kata lain membuat dari awal. Lantas untuk menghindari kecurigaan dari pihak luar sebelum semuanya dijalankan, biro membuat sebuah tanda tangan kontrak yang isinya kurang lebih soal saling menjaga rahasia satu sama lain. Entah ini merupakan sebuah jasa yang ilegal atau tidak, setiap orang yang menggunakan jasa ini tentu memiliki alasan mereka tersendiri kenapa mereka lebih memilih untuk menggunakan jasa seperti ini. Megya Rosetyana (24), mahasiswi FISIP UAJY, mengatakan bahwa memang kurang baik rasanya jika menggunakan jasa orang untuk menyelesaikan skripsi yang sebenarnya merupakan tanggung jawab dari mahasiswa itu sendiri. Selain karena ini merupakan tanggung jawab, harga yang ditawarkan juga tidak murah, sehingga sangat disayangkan apabila kita lebih memilih untuk menggunakan jasa dalam mengerjakan skripsi ini. Namun kembali lagi pada mahasiswa itu sendiri, terkadang banyak halangan yang membuat mereka memilih untu menggunakan jasa seperti ini. “Saya tidak mendengar sendiri, namun yang saya tahu dari teman saya yang merupakan istri pengguna, bahwa karena adanya kesibukan profesinya sebagai anak band yang harus manggung dimana-mana, salah seorang mahasiswa PTS jurusan arsitek ini memilih untuk menggunakan jasa seperti ini agar tidak terbengkalai antara kerja dan kuliahnya” papar Megya. Endro Susilo FX.,SH.,LLM, Wakil Dekan I Fakultas Hukum UAJY, mengutarakan bahwa adanya

september - oktober 2011 TERAS PERS

11


DJENDELA RANA

T

Tepat di pinggir jalan namun tak terasa bising

Berbagi Keceriaan di TPA Beringharjo Teks Ammyta Pradita Foto Ammyta Pradita, Prihartanto

Mencoba tidur di pangkuan ibu Nunik sang pengasuh

12

TERAS PERS

september - oktober 2011

erinspirasi dari observasi ibuibu PKK yang melihat bahwa keadaan di Pasar Beringharjo tidak memungkinkan untuk para buruh maupun pedagangnya membawa anak mereka saat bekerja, pada tahun 1994 didirikanlah sebuah tempat penitipan anak (TPA) untuk menampung anak- anak yang ditinggal oleh orang tuanya bekerja di pasar. Menempati bekas gedung Belanda milik Pemerintah Kota Yogyakarta yang memiliki luas bangunan 291,25 m² dan sejumlah wahana permainan di sebelah utara gedung, bangunan yang terletak di seberang Mirota Batik Malioboro ini memiliki langit- langit tinggi, tempat ini terasa sejuk meski berada di tengah kota. TPA ini tiap tahunnya membuka pendaftaran untuk menerima anak- anak baru sebanyak 60 orang. Menurut salah satu pengasuh, Ibu Nunik, â&#x20AC;&#x153;Kami memfokuskan menerima anak- anak buruh pasar dengan kondisi ekonomi menengah ke

Tak ada ibu, aku makan bersama teman


bawah yang mengalami kesulitan untuk menemani anaknya karena pekerjaan mereka. Kami juga memfokuskan untuk menerima anak dengan usia minimal 2 tahun dan maksimal 4 tahun dengan memprioritaskan mereka yang lebih muda untuk diterima di tempat ini.â&#x20AC;? Hal ini dikarenakan lebih mudah untuk mendidik anak usia dini dengan menanamkan nilai- nilai dasar pembentuk kepribadian yang sesuai dengan peraturan yang mereka miliki. Keceriaan dan tawa tak hilang dari wajah anak- anak meski mereka berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah dimana orang tua mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menemani mereka bermain. Di tempat ini mereka tidak hanya bermain namun juga mendapat pembelajaran untuk mengembangkan sisi kreativitas mereka dengan beberapa bentuk permainan mendidik yang telah disediakan. â&#x20AC;˘

Semua permainan disediakan untuk mengasah kreativitasku

Berbagi keceriaan dan kebersamaan

DJENDELA RANA

foto Di sini aku bermain dengan teman-temanku

september - oktober 2011 TERAS PERS

13


POLITIK KITA

Remedi : Kebijakan dan Strategi Baru Tertangkap adanya perubahan dalam sistem perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta . Bila biasanya mahasiswa akrab dengan penawaran Semester Pendek, bisa dipastikan beberapa bulan ke depan tidak lagi dapat dijumpai. Oleh Denita Br Matondang, Anathasius Warih, Kunti Damayanti, Edo Karensa

L

ebih kurang selama dua tahun desas-desus pergantian sistem Semester Pendek yang menjadi bagian dari kurikulum selama ini menarik perhatian seluruh penghuni kampus. Hal tersebut karena berkaitan dengan jangka waktu proses perkembangan akademik dari masing-masing mahasiswa. Akhirnya, palu keputusan diketok oleh universitas pada pertengahan tahun lalu, sekaligus menyerahkan mekanisme pelaksanaannya kepada masing-masing fakultas. “Program Remedi adalah proses untuk memperbaiki hasil belajar mahasiswa, yang dilaksanakan dua kali setahun, setiap akhir semester,” kata Ign. Pramana Yudha, Warek I UAJY. Adanya pergantian sistem didorong oleh hasil evaluasi yang menunjukkan ketidakefektifan semester pendek. “Sejauh yang saya tahu, semester pendek dianggap kurang menguntungkan karena semester pendek itu kan pendek ya, waktunya cuma dua bulan. Dari pemahaman tidak memadai, waktu pun tidak mencukupi,” ungkap Lukas S. Ispandriarno, Dekan FISIP UAJY. Menurutnya proses kuliah membutuhkan kualitas yang tak mungkin didapat hanya dengan semester pendek selama dua bulan. Proses perkuliahan terbilang panjang. Tak

14

TERAS PERS

september - oktober 2011

hanya proses transfer ilmu, melainkan juga aplikasinya, seperti paper dan praktek lapangan, dan ini tak dapat dipenuhi dalam semester pendek. Waktu yang singkat memunculkan keraguan atas kualitas perkuliahan dalam semester pendek yang bisa dicapai. Lebih jauh lagi Lukas S. Ispandriarno berujar bahwa sistem remedi jangan digeneralisasi dalam semua kondisi. Bagi mahasiswa angkatan atas yang mengulang, jelas proses yang mereka ikuti lebih lama dengan jaminan kualitas pemahaman akan semakin dalam karena mengikuti secara penuh pengulangan selama satu semester. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mahasiswa baru. Remedial bisa dianggap sebagai langkah instan untuk memperbaiki nilai. Ketika mereka pada akhir semester mendapat nilai Cpada mata kuliah yang bukan prasyaratdapat memperbaikinya hanya dengan mengulang ujian, meskipun tidak mungkin mendapat nilai A. Selama dua minggu proses remedial tersebut hanya berisikan ujian, tidak ada pertemuan antara mahasiswa dengan dosen dalam kuliah, jelas Dekan FISIP lebih jauh. Karenanya, remedial memang efektif untuk memperbaiki nilai mahasiswa. Namun apakah juga efektif pada tingkat pemahaman mahasiswa

dibandingkan dengan dua bulan proses perkuliahan pada semester pendek? “Waktu di semester pendek itu seh aku lebih gampang nangkep pelajarannya, tergantung dosennya juga kali ya?” kata Ratih Kusumanigrum (2009) menanggapi sistem baru ini. Apa yang bisa kita harapkan dari ujian ulangan dengan soal berbeda dari ujian akhir sebelumnya untuk memperdalam aspek kognitif dan afektif? Perkuliahan semata-mata hanya mencari hasil dengan predikat minimal B, bukan pada proses yang berlangsung untuk memperoleh kualitas ilmu. Pada tataran ini, sesungguhnya mahasiswa memiliki pilihan atas proses kuliah di perguruan tinggi sekaligus menjadi tantangan bagi dirinya sendiri. Mereka memiliki hak untuk memilih, apakah ingin memperdalam kembali materi kuliah selama satu semester atau mengikuti sistem remidi dengan ujian ulangan seminggu kemudian? Mencari predikat nilai atau mencari ilmu. Pragmatis atau idealis. Semua kembali kepada masing-masing individu. Biaya Remedi sendiri, sebagaimana tertuang dalam “Aturan Program Remedi UAJY Tahun 2011/2012” yang diterima oleh mahasiswa bersamaan dengan pengambilan Buku Pedoman Akademik beberapa waktu lalu bahwa dengan membayar satu SKS untuk setiap


mendapatkan pengetahuan afektif, kognitif, dan psikomotorik yang ‘sebaik-baiknya’ dari fakultas. Sebaliknya, mahasiswa juga harus menjalani proses perkuliahan tersebut dengan ‘sesungguh-sungguhnya’. Selain itu, dengan perbaikan nilai dengan jangka waktu yang relatif cepat, yaitu dua minggu, di sisi lain kebijakan ini akan menimbulkan kecenderungan mahasiswa menggunakan sarana remedial daripada menunggu setahun untuk mendapatkan kelas demi memperdalam mata kuliah tertentu. Kecenderungan memilih remedial

ini secara tidak langsung membuat alur kuliah mahasiswa lebih ‘mulus’ karena tak akan ada banyak pengulangan mata kuliah. Minimnya pengulangan mata kuliah oleh mahasiswa akan jadi kabar baik. Kuota mahasiswa untuk satu angkatan tidak akan banyak digunakan oleh kakak angkatannya untuk mengulang. Sistem key-in yang dirasa sulit untuk mendapatkan kelas jelas akan berkurang. Rasio dosen – mahasiswa pun secara tidak langsung akan membaik. Banyaknya mahasiswa yang mengulang jadi masalah yang terus-menerus berulang dari tahun ke tahun

berkaitan dengan sistem key-in. “Kalau yang mengulang hanya lima atau sepuluh itu normal tapi kalau yang mengulang banyak dan terjadi penumpukan ya bisa jadi bahan evaluasi untuk mata kuliah yang bersangkutan,” ungkap Lukas S. Ispandriarno. Akreditasi B yang diraih Prodi Ilmu Komunikasi disinyalir karena tidak seimbangnya rasio dosen dengan mahasiswa. Saat ini mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi berjumlah 1.406 mahasiswa dengan dosen aktif sebanyak 19 dosen, sedangkan Prodi Sosiologi memiliki 112 mahasiswa dengan 6 dosen aktif. Dengan kata lain perbandingan dosen dan mahasiswa antara Prodi Ilmu Komunikasi dan Sosiologi adalah 1:74 dan 1:18,7. Kebijakan remedial ini bisa jadi merupakan siasat untuk menyeimbangkan rasio mahasiswa dengan dosen. Prodi Ilmu Komunikasi memiliki peminat yang terus-menerus bertambah dari waktu ke waktu. Peningkatan tersebut harus diimbangi dengan jumlah dosen yang memadai. Apabila mahasiswa yang mengulang, jelas ini mengganggu alur kuliah mahasiswa lain karena ada kemungkinan kehabisan kelas karena jumlah dosen dan daya tampung yang terbatas. Menyeimbangkan rasio dosen dan mahasiswa juga jadi wacana jangka panjang yang perlu dipikirkan terkait kebijakan remedial ini. Dengan remedial yang cenderung praktis bagi dosen dan mahasiswa, apakah prodi mampu menjamin kualitas pemahaman mahasiswa? Atau jangan-jangan kebijakan ini menghindari adanya mahasiswa yang mengulang demi menyeimbangkan rasio dosen dan mahasiswa? Memang tampak terlalu jauh, namun yang penting disadari dari sekarang adalah jangan sampai kebijakan ini jadi cara pragmatis untuk menyeimbangkan rasio dosen dan mahasiswa. •

september - oktober 2011 TERAS PERS

POLITIK KITA

mata kuliah, setiap mahasiswa mendapatkan hak untuk mengikuti ujian dan tidak ada perkuliahan tatap muka. Sementara ketika di semester pendek dengan membayar jumlah SKS untuk setiap mata kuliah, mahasiswa mendapatkan minimal 13 kali pertemuan tatap muka dan 2 kali ujian (UTS dan UAS). Bagaimana dengan keseimbangan antara kuantitas pertemuan, biaya, proses, dan hasil yang diterima antara remedi dan semester pendek sebagai mahasiswa? Bila si A, mahasiswa angkatan 2009, maka supaya bisa mengikuti satu mata kuliah remedi si A harus membayar Rp 110.000,00 untuk satu kali ujian. Ketika dia mengikuti semester pendek maka harus membayar Rp 330.00,00 (3 SKS) untuk minimal 13 kali pertemuan dan 2 kali ujian. Jika biaya ujian remedi dan biaya dua kali ujian di semester pendek disamaratakan sebesar Rp 110.000,00 per ujian, maka biaya satu kali pertemuan tatap muka di semester pendek adalah sekitar Rp 8.462,00. Sementara itu, jika dibandingkan dengan kebijakan remedi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mahasiswa wajib membayar Rp 50.000,00 dan mahasiswa berhak atas tiga kali pertemuan membahas materi dan soal-soal sebelumnya dan satu kali ujian dalam program remedi yang fakultas mereka tetapkan. “Seimbang atau enggaknya tergantung kebutuhan masing-masing mahasiswanya juga, dianya mau lulus cepet atau emang mau mendapatkan ilmu, ya kan?” kata Daisy Herapuspitasari (20), mahasiswi FISIP angkatan 2009. Kita juga perlu merenungkan kembali perihal hak sebagai mahasiswa yang dihadapkan pada biaya dari remedi atau semester pendek di atas . Setelah berkewajiban membayar biaya konstribusi akademik, sebagai mahasiswa kita seharusnya

15


OPINI

Menumbuhkan Iklim Riset Mahasiswa melalui PKM Kemeriahan yel-yel dari ratusan mahasiswa UGM dan Unibraw sangat mendominasi malam penganugerahan itu. Rombongan dari UAJY yang hanya kurang dari sepuluh orang hanya bisa saling menatap galau. Namun, kami percaya hari itu bukanlah hari kehancuran, justru sebagai awal kebangkitan UAJY untuk bisa berbicara banyak di level nasional. Oleh Pupung Arin *)

D

emikian sepenggal kisah keikutsertaan saya bersama dua orang rekan sekelompok dari Ilmu Komunikasi FISIP UAJY dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2008 yang bertempat di Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang. Sebuah pengalaman baru bagi saya mengikuti ajang kompetisi nasional dengan konsep â&#x20AC;&#x2DC;festivalâ&#x20AC;&#x2122; dan berlangsung berhari-hari. Walaupun akhirnya tidak menjadi juara, namun keikutsertaan ini mampu membuka mata kami, rombongan dari UAJY, bahwa ternyata atmosfer riset sudah begitu kuat di kampus lain. Ketika itu PIMNAS didominasi mahasiswa dari UGM, UI, UNAIR, Unibraw, IPB, dan ITS yang memang sudah memiliki tradisi lama dalam ajang tersebut, sedangkan UAJY seingat saya hanya diwakili mahasiswa dari FISIP dan Fakultas Teknobiologi, masing-masing satu dan dua kelompok. Ajang PIMNAS sebenarnya merupakan muara dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang rutin diadakan setahun sekali oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Setiap tahun, dosen dan Wakil Dekan III sudah memberikan pengumuman kepada

16

TERAS PERS

september - oktober 2011

mahasiswa, baik secara kolektif ketika mengajar di kelas atau secara individu. Namun, setiap tahun pula dosen kerap menghadapi barriers to entry dalam membujuk mahasiswa membuat proposal penelitian PKM. Rekan-rekan mahasiswa langsung merasa tidak sanggup dengan berbagai alasan, antara lain karena beban tugas kuliah dan skripsi yang sudah banyak menyita waktu dan energi. Sebenarnya hambatan ini dapat dilalui dengan baik bila

mahasiswa mengetahui strategi dan tips dalam pembuatan proposal PKM. Kelompok mahasiswa tidak harus membuat proposal penelitian dari awal atau dari nol. Mahasiswa bisa menggunakan tugas-tugas mata kuliah yang berbasis riset sederhana untuk diajukan sebagai proposal PKM. Beberapa mata kuliah yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa FISIP, antara lain Metode Penelitian Komunikasi, Metode Penelitian Sosial, Analisis Isi dan Framing, Analisis Wacana, Riset Humas, dan sebagainya. Menurut penuturan Ketua LPPM UAJY, Djarot Purbadi, strategi ini sudah mulai digunakan oleh rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Teknologi Industri (FTI) UAJY. Beliau mengatakan, pada tahun 2010 FTI mengirimkan 100 proposal dan berencana akan memasukkan lebih banyak lagi proposal di tahun 2011 ini. Saluran lain bagi mahasiswa dalam membuat proposal adalah melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa dapat menggunakan proposal dan laporan hasil kegiatan KKN tersebut untuk diajukan sebagai proposal PKM. Bila kemudian proposal tersebut diterima,


PKM dan PIMNAS, terutama dalam aspek akademis. Ketika mengambil studi lanjut, saya dipaksa untuk lebih banyak membuat karya tulis ilmiah dengan mengedepankan cara berpikir kritis. Kemudian harus mempertanggungjawabkan karya tulis tersebut di depan rekan-rekan mahasiswa dan dosen. Proses pembuatan tugas mata kuliah berbasis riset, PKM, dan skripsi selama di FISIP UAJY sedikit banyak telah menempa saya untuk terbiasa berpikir ilmiah, kritis dan skeptis. Manfaat lain dari mengikuti PIMNAS, kita menjadi tersadar bahwa selama ini mahasiswa FISIP masih kerap menjadi jago kandang dengan hanya berkutat di kegiatan kemahasiswaan dalam lingkup UAJY. Kita masih kurang banyak terlibat dalam kegiatan yang bersifat akademis nonkuliah, baik di dalam kampus atau antaruniversitas. Saya juga tidak bisa menampik manfaat sampingan dari PIMNAS, yaitu besarnya nilai dana hibah dari Dikti, memperluas jaringan pertemanan dan bisa jalan-jalan gratis menuju kota diselenggarakannya PIMNAS. Pihak fakultas juga jelas akan banyak diuntungkan dengan keikutsertaan mahasiswanya di ajang PKM dan PIMNAS. Selain nama almamater yang semakin diperhitungkan di lingkup perguruan tinggi nasional, gelaran ini juga akan menambah poin akreditasi bagi program studi.

Memang di tahun-tahun yang lalu sosialisasi PKM masih kurang begitu menggema luas di kampus Theresa ini. Namun ke depannya, Bonaventura Satya Bharata selaku Wakil Dekan III sudah mulai merancang cara agar mahasiswa terpacu untuk mengajukan proposal PKM, antara lain dengan melakukan sosialisasi dan pembekalan bagi mahasiwa dan dosen pembimbing proposal PKM. Saya turut bangga ketika mendengar kabar dari salah satu dosen FISIP UAJY, Anita Herawati, yang mengatakan bahwa dalam ajang PIMNAS 2011 di Universitas Hasanuddin, perwakilan dari FISIP UAJY berhasil memperoleh juara favorit. Hal itu menunjukkan kita telah melakukan banyak kemajuan pada keikutsertaannya di PIMNAS. Tahun ini, Dikti sudah mulai membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengirimkan proposal dengan batas waktu pengumpulan proposal tanggal 10 Oktober 2011. Mari kita mulai menyusun proposal atau membongkar arsip tugas kuliah terdahulu untuk disusun kembali menjadi proposal PKM. Kita tunjukkan bahwa FISIP UAJY tidak hanya jago kandang, namun juga mampu berbicara banyak di level nasional. â&#x20AC;˘

OPINI

mahasiswa sudah mempunyai satu poin positif karena anggota kelompok PKM berasal dari mahasiswa lintas jurusan dan lintas angkatan. Strategi berikutnya mahasiswa harus paham berbagai jenis PKM yang diadakan oleh Dikti sehingga mampu memilih jenis kegiatan yang sesuai dengan kekuatan mahasiswa, yang dalam hal ini adalah mahasiswa FISIP. Setiap tahun Dikti menawarkan 5 domain PKM yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKMT), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M), dan PKM-Penulisan Ilmiah (PKM-I). Dari kelima jenis kegiatan tersebut, mahasiswa FISIP bisa lebih fokus untuk menyasar proposal di bidang PKM Penelitian atau PKM Penulisan Ilmiah yang selama ini menjadi kekuatan mahasiswa ilmu sosial. Namun, selama mampu dan siap, tidak menutup kemungkinan bagi mahasiswa untuk mengikuti jenis kegiatan PKM lainnya. Beberapa strategi tadi kiranya dapat menjadi pelecut semangat mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk mengirimkan semakin banyak proposal penelitian. Karena dengan banyaknya proposal yang masuk, maka semakin besar pula peluang kita untuk lolos ikut sampai ke gelaran PIMNAS. Banyak manfaat yang kemudian saya rasakan setelah mengikuti

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Duduk Santai, Ngobrol Serius,

Tertawa Lepas, Kritik Pedas... bebaskan semua yang ada dalam pikiran!

september - oktober 2011 TERAS PERS

17


NAPAK TILAS

Sudut Sunyi Ruang Referensi Sunyi dan tidak ada lalu-lalang mahasiswa ketika Teras Pers bertandang ke Ruang Referensi milik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) yang terletak di lantai empat gedung satu. Oleh Ignatius Eggi, Lusia Sri Retno, Titah Pratyaksa

H

embusan angin yang terdengar menambah kesan sunyi di sekitar ruang referensi. Hanya ada beberapa orang yang ditemui di dalam ruangan, masing-masing sedang sibuk melakukan aktivitas. Ketika Napak Tilas masuk ke dalam, sontak beberapa mahasiswa mengarahkan pandangan kepada kami. Beberapa mungkin heran dengan kedatangan kami yang hendak melakukan liputan. Maklum saja, ruang referensi memang biasanya didatangi oleh mahasiswa yang sedang menyusun, baik proposal maupun laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan skripsi. Meskipun presentase mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir dengan rujukan skripsi-skripsi di ruangan ini jauh lebih sedikit daripada

18

TERAS PERS

september - oktober 2011

yang merujuk pada KKL. Padahal ruang referensi ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengurus KKL, namun juga bagi semua mahasiswa yang membutuhkan referensi bacaan. Keberadaan ruang referensi sebenarnya tidak lepas dari mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan. Sejak FISIP UAJY masih berada di kampus I di Mrican, ruang referensi pun sudah ada. Pada tahun 1995 ruang referensi pertama kali dibangun, fungsi awalnya untuk menyimpan laporan KKL yang dipisah dengan skripsi juga menampung buku sumbangan dari alumni dan tamu. Waktu itu ruang referensi bisa dikatakan sebagai ruangan insidental karena diadakan dalam keadaan mendesak, saat pihak fakultas membutuhkan ruang tambahan

untuk menyimpan laporan KKL mahasiswa yang bisa digunakan kembali sebagai sumber bacaan dan rujukan. Ketidaktersediaan ruang kala itu menjadi alasan utama mengapa ruang referensi hanya memanfaatkan space yang dirasa layak dijadikan ruangan baru. Tidak ada persiapan khusus dalam pengadaan ruang referensi. Dekan FISIP, Lukas S. Ispandriarno, dalam sesi wawancara dengan Teras Pers mengutarakan pendapat mengenai laporan KKL. â&#x20AC;&#x153;Laporan KKL itu jika dibaca, didiskusikan lagi, sangatlah menarik,â&#x20AC;? ujarnya. Meski fungsi ruang referensi yang sangat besar, bukan berarti tanpa masalah. Tidak adanya tata kelola yang baik menjadikan ruang referensi hanya sebagai ruang yang dapat dikatakan musiman, yang akan diserbu mahasiswa saat mata kuliah KKL ditawarkan. Permasalahan yang ada bukan baru-baru ini terjadi, melainkan sudah sejak tahun awal dibentuknya ruang referensi. Bila pada tahun 1995 permasalahan selalu mengacu pada keterbatasan lahan, apakah masih sama pada tahun 2005tahun di mana gedung FISIP selesai dibanguntidak adakah tempat yang lebih luas? Tidak adakah penawaran yang lebih baik dalam penentuan luas ruang referensi di Gedung Teresa? Setelah gedung FISIP UAJY


2010

2011

Januari

-

131

157

Februari

-

425

224

Maret

-

218

210

April

-

173

144

Mei

-

124

142

Juni

-

65

148

Juli

-

72

76

Agustus

-

179

101

September

64

101

-

Oktober

172

150

-

November

151

75

-

Desember

82

40

-

TOTAL

469

1753

1202

berpindah ke Babarsari, pada akhirnya ruang referensi mendapatkan penjagaan. Pada awalnya ruang referensi dijaga oleh mahasiswa PSSB sebagai wujud bakti atas apa yang mereka dapatkan. Namun, seiring dengan semakin besar kebutuhan akan student sta, semakin sedikit mahasiswa yang menjaga hingga tidak ada sama sekali. Tugas menjaga ruang referensi kemudian dilimpahkan kepada staf Tata Usaha (TU). Wanto dan Haryono adalah dua orang yang kerapkali menjaga ruang referensi. Pihak fakultas tidak memperkerjakan karyawan baru mengingat waktu berkunjung ke ruang referensi hanya 1,5 jam, dari pukul 12.00- 13.30 WIB. Selain data jumlah pengunjung yang diperoleh, Teras Pers mengamati lebih lanjut ruang referensi. Rak untuk menaruh laporan KKL ternyata tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Masalah utama yang kemudian ditemukan adalah tidak adanya indeks yang dapat membantu dalam pencarian laporan KKL. Merujuk pada data pengunjung di atas, bisa disebutkan bahwa kehadiran mahasiswa di ruang

referensi cukup besar. Karenanya, fasilitas yang memadai menjadi penting di sini, yang menjadi kunci bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi fakultas. Lebih lanjut Lukas S. Ispandriarno menyatakan bahwa seiring de-ngan pembangunan gedung FISIP 2, maka teremban pula tugas untuk mendesain ulang ruanganruangan yang ada di FISIP UAJY, termasuk ruang referensi. Ruang referensi akan ditata kembali supaya dapat menarik minat mahasiswa secara keseluruhan. Teras Pers berharap semangat pembaharuan ini bisa terlaksana sehingga mampu menciptakan situasi yang lebih kondusif bagi perkembangan ruang referensi.•

P

ada tanggal 14 Oktober hingga 12 November 996 Masehi, untuk pertama kalinya raja, para kawi dan rakyat mendengarkan pembacaan kisah Mahabarata yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kuno. •

KRONIK

2009

Sumber: Buku Tamu Ruang Referensi. Diakses 23 Agustus 2011

Jumlah pengunjung ruang referensi

T

anggal 8 September 1965 merupakan awal dari gerakan pemberatasan buta aksara di seluruh dunia. Para menteri pendidikan berkumpul di Teheran dan mengusulkan kepada UNESCO untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Aksara Internasional. •

H

ari Sarjana diperingati pada tanggal 29 September. •

M

enurut data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah sarjana (S-1) yang menganggur 409.900 orang. Pada tahun 2008, jumlah pengangguran terdidik meningkat, yaitu menjadi 626.200. •

T

anggal 28 September 2002 merupakan cikal bakal dari hari hak untuk tahu yang diperingati secara internasional. Ide besar yang melandasi pemikiran ini adalah untuk memunculkan kesadaran global akan hak individu dalam mengakses informasi pemerintahan dan mekampanyekan bahwa akses terhadap informasi adalah hak asasi manusia. •

september - oktober 2011 TERAS PERS

19


SENI & SASTRA

Lika-Liku Cinta Semester Pendek Oleh David Eka Issetiabudi Ilustrasi oleh Yusuf Rendy

S

udah habis hujan di bulan Juni, begitu juga dengan masa perkuliahan semester genap ketigaku. Sebenarnya sudah mulai muak ku mengikuti proses penuh lika-liku ini. Mengi-ngat setiap semesternya aku selalu luput mendapatkan hasil yang memuaskan. Merana dan selalu menggalau hari-hariku. Entah me-ngapa, tapi aku terus mencoba dan tak pernah putus asa untuk selalu mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika melihat ke belakang, sebenarnya tidak sedikit persiapan dan pengorbanan yang kulakukan untuk meraih sesuatu. Kedua orang tuaku pun tak pernah luput untuk mendoakan keberhasilanku. Se-

20

TERAS PERS

september - oktober 2011

jenak ku berpikir, apakah semua yang kudapatkan saat ini merupakan kutukan Ilahi? Ataukah selama ini aku sudah masuk pada lembah kenistaan... arhhh! Sebenarnya dalam ku menjalani setiap semesternya, tak ada aturan bahkan syaratsyarat yang kulewatkan. Sering kali ku mengeluh di hadapan sang Khalik, ”Duh Gusti, kenapa kesialan dan kegagalan selalu Engkau lekatkan di pundak-ku, kenapa aku selalu diluputkan dari sebuah keberhasilan?” Dengan sedikit berkaca-kaca, selalu kuulangi curhatanku semimengeluh ini seminggu tiga kali. Kegagalan yang menimpaku kali ini memang berbeda dari yang terdahulu. Mencoba mengevaluasi dalam beberapa waktu ke depan rupanya memang harus kulakukan. Sebelum semester ganjil keempat kujalani, ada beberapa bulan untuk aku menyiapkan segala macam amunisi untuk menghadapinya. Semester pendek, yap... semester sisipan terak-hir bagiku. Harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dan rasa putus asa tampaknya sementara ini harus kubuang jauh

jauh dari benakku. Semester pendek, sebenarnya dapat dikatakan teman sekaligus musuh bagiku. Dia menolongku saat kujatuh, pada akhirnya membuatku candu akan bantuannya. Setelah beberapa kali melewati waktu bersama ”Si Pendek”sebutan kesayangan untuk semester pendek, aku mulai mengenalnya dan nyaman bersamanya. Saat ku merana dan galau, dia hadir sebagai bintang kejora, dia tak pernah bosan walaupun aku melewati proses yang sama berulang kali saat Si Pendek hadir. Perjalanan ini, sesekali membuatku menyesal karena terus mengeluh pada sang Ilahi, padahalsebenarnyapertolonganNya hadir lewat Si Pendek. ”Tuhan maaan hambaMu yang tak sering bersyukur ini, mohon dimaklumkan ya, Tuhan,” seruku ketika ingat bahwa Tuhan tidak tidur saat mengawasiku. Si Pendek memang nampak seperti perpanjangan tangan dari Yang Maha Kuasa, seringkali ku tersipu malu jika sudah saatnya bertemu Si Pendek. Pertemuanku dengan Si Pendek kali ini nampak berbeda, karena di saat mendatang aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dia akan pergi jauh, entah ke mana. Mungkin tugasnya dirasa sudah selesai. ”Pendek, di saat terakhir engkau menemani, aku malah limbung untuk bercinta denganmu. Mengi-


kulupakan perjumpaan dan kisahkisah kita. Untuk kehadiranmu yang terakhir ini, aku cukup menyesalkannya. Padahal sebenarnya Si Pendek mampu memberikan kenikmatan untuk mahasiswa lain, yang memerlukan kasih sayang seper-timu. Tak ada yang mampu menggantikanmu dan maaf aku pergi tanpa memberikan salam. Hal ini kulakukan agar kita tidak terlalu sakit. Selamat tinggal Si Pendek. Sebuah sajak kuberikan untukmu.

SUDUT MATA Mata terbuka Telinga mendengar Datang dan pergi tapi tak pernah kau berubah Tapi nampak beda di hari ini Kau berlaku sangat kaku Nampak bagai semuanya sudah kau atur Santai, anggun, cermat, itulah dirimu Namun ketegangan terlihat pada raut mukamu hari ini Ada apa? Kau diam jika ku bertanya Tingkah lakumu semakin aneh jika ku memperhatikanmu Baiklah jika itu maumu, akan ku acuhkan dirimu! Ku mulai babak baru Ada atau tidak ada dirimu bukan urusanku lagi Tidak ada lagi sesuatu yang kutanam akan dirimu Semua berjalan biasa, seperti terbit dan terbenanmnya matahari

Nampak berat memang di awal Tapi maaf, semuanya telah berlalu dan aku sudah benar mengaggapmu pergi Walau kehadiranmu tetap ada Datang dan pergi seperti biasanya Matahari pagi hadir, nampak cerah nampak indah Kali ini terasa berbeda, Kau tidak hadir Kau mengkhianati dirimu untuk tidak melakukan rutinitasmu Berbeban beratkah dirimu, Atau kehadiranmu sudah tidak diperlukan? Ayolah, hadirkan lagi aura itu Hadirkan lagi semangat mentari itu Kau diam Tak datang Dan pada akhirnya kuyakin Kau pun tak mempedulikan ku Salam, Pemuja rahasiamu dan pengguna setiamu. Terima kasih atas segala kebaikanmu...

september - oktober 2011 TERAS PERS

SENI & SASTRA

ngat misteri KKN, KKL, kepanitiaan INISIASI, COMMINFEST, dan FIAT TV menggodaku untuk bergumul dengan mereka,â&#x20AC;? ungkapku seraya bersedih. Tawaran yang diberikan pihak lain bukan berarti lebih baik ketimbang tawaran Si Pendek. Jika dibandingkan, Si Pendek juga tak kalah hebat. Mengingat dia memberikanku tiga kesempatan untuk mengulang kegagalan terdahulu. Dan semuanya bisa disulapnya menjadi keberhasilan yang tertunda. Hebat bukan? Namun, karena kegagalan terdahulu terlalu banyak, aku bingung mau memperbaiki yang mana. Lebih baik tidak usah, kalau kata pepatah â&#x20AC;?sing wis yo uwisâ&#x20AC;? jadi let it ow saja lah. Mungkin bisa dikatakan aku melewatkan momentum di mana aku bisa lebih dekat dengan Si Pendek, hubunganku bisa kembali dekat dan lebih intim tapi kulewatkan begitu saja. Hemm, ini adalah keputusan sulit bagiku, satu sisi aku membutuhkan diriku maju, namun disisi lain, aku membiarkan Si Pendek pergi tanpa memberi kesan romantis sedikit pun. Kuakui, terasa nyaman dekat dengan Si Pendek, ku merasa kehadirannya berguna untukku. Begitu pula dia, mengingat kehadiranku membuatnya tidak kesepian. Sudah kuputuskan, aku meninggalkan Si Pendek begitu saja. Mungkin banyak yang menganggap aku manusia tak tahu diri. Tapi inilah pilihanku, pilihan di mana kumencoba untuk bersyukur atas segala kegagalanku dan mencoba sesuatu yang baru, semoga Dewi Fortuna berpihak kepadaku. Untuk mudah melupakan Si Pendek, aku merantau ke ibu kota. Tampak ironis, kehadiran Si Pendek untuk terakhir kali ku sia-siakan. Malah ku enyah dari kehidupannya tanpa mempersilakannya untuk memberikanku sebuah peluang demi keberhasilan yang tertunda. Ku berusaha tegar untuk kisah yang telah kita lalui. Tak pernah

21


RESENSI

Mengenal Sjahrir, Pejuang Kemerdekaan yang Terlupakan Nama Sutan Sjahrir tak cukup banyak tertulis di catatan sejarah. Sjahrir hanya dikenal dalam periode perjuangan kemerdekaan dan masa setelahnya, itupun kurang mendalam. Berangkat dari alasan itulah buku Mengenang Sjahrir ini pun muncul. Oleh Edo Karensa

B

uku ini berisi tulisan-tulisan mengenai Sjahrir yang dipandu oleh editor Rosihan Anwar. Dr. Mohammad Haa, Hamengkubuwono IX, TB Simatupang, IJ Kasimo, Mochtar Lubis, dan Rm YB Mangunwijaya adalah nama-nama yang ikut menyumbangkan tulisan mengenai sosok yang tiga kali menjabat jadi Perdana Menteri Indonesia. Diakuinya wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura secara de facto oleh Belanda dalam Perjanjian Linggarjati dianggap Sjahrir sebagai hasil maksimal dan merupakan batu loncatan yang berharga menuju kemerdekaan penuh. Pemikiran realistis Sjahrir yang berperan sebagai pemimpin delegasi di masa itu nyatanya tak mampu dipahami oleh rakyat dan pemimpin revolusi lainnya karena tidak mencapai tujuan utama revolusi. Kemampuan diplomasinya berperan besar dalam upaya mencapai kemerdekaan dan perjuangan setelahnya. Tahun 1947, gagasan politik bebas aktif Indonesia berhasil disampaikan olehnya dengan baik dalam Asia Relation Conference, di New Delhi, India. Di tahun yang sama, ia berhasil menampik tudingan Menteri Luar Negeri Belanda, Van Kleens, di depan Sidang Dewan Keamanan PBB yang menyebut Indonesia identik dengan mikrofon radio alias tidak punya apa-apa. Sjahrir mampu menyelamatkan wajah Indonesia dengan

22

TERAS PERS

september - oktober 2011

berargumen Indonesia telah memiliki lembaga pemerintahan, tentara, dan teritori. Peran penting Sjahrir bagi Indonesia dalam diplomasi dan perundingan internasional perlahan-lahan dilupakan. Diplomasi dianggap sebagai ‘kecelakaan sejarah’, sedangkan pemimpin revolusi lainnya menganggap kemerdekaan meminjam istilah Daniel Dhakidae merupakan hasil perang. “Sjahrir menjadi korban politik pengabaian, politic of neglect oleh teman seperjuangannya, Soekarno, dilakukan dengan berbagai cara. Tujuan utamanya, menghapus ketokohan Sjahrir dari collective memory bangsa Indonesia,” tulis Brigia Isworo Laksmi dalam buku ini. Karir perpolitikan Sjahrir berakhir ketika Soekarno menudingnya berkonspirasi untuk membunuh Presiden RI pertama itu. Sjahrir menderita stroke saat dirinya mendekam di penjara, dibawa ke Swiss untuk berobat, namun akhirnya meninggal di sana. Ia menjadi tahanan politik yang tak pernah diadili hingga meninggal. Buku ini tak hanya menceritakan perjalanan kehidupan dan politik Sjahrir saja, namun juga menangkap semangat, karakter, dan sosok ideologis Sjahrir. Perwujudan atas pemikiran Sjahrir muncul dalam tindakan-tindakan yang dilakukan dalam hidupnya. Sultan Hamengkubowono IX bahkan menyebut Sjahrir memiliki pemikiran politik

Editor : Rosihan Anwar Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Terbit : Maret 2010 Tebal : 508 halaman Ukuran : 15 x 23 cm

yang bertingkat secara intelektual sehingga sukar dipahami dan diikuti oleh rakyat banyak. Tak melulu bicara soal Sjahrir dan kehidupannya, buku ini juga mampu membidik relevansinya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Rocky Gerung menulis keterkaitan politik pedagoginya dengan demokrasi di Indonesia sekarang ini. Sementara itu, Sabam Siagian menulis dengan sistematis pokok pemikiran Sjahrir yang mampu menjadi sumber inspirasi bangsa. Antologi ini bisa menjadi sarana apik untuk mengenang Sjahrir dan mungkin penting untuk mengenal Sjahrir secara utuh. •


â&#x20AC;&#x153;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadianâ&#x20AC;? (Pramoedya Ananta Toer)


online

Kunjungi http://teraspers.com


TERAS PERS #14