Page 1

ÂŽ

MSC School Supellex House Gunawan Tjahjono Dusun Bambu Kalbis Institute Ampera Six Building Dusun Bambu Quest For tradition P.098

Gumawan Tjahjono Issue 09 Indesign luminary, P.064

Ampera Six building one enticing alternative, P.084

Kalbis Institute A Beacon of Knowledge, P.110

issue issue09. 01.2014 2011 ISSN 2089-0656


2

welcomeindesign

letter from the editor issue 09, 2014

Negara Indonesia baru saja menyelesaikan sebuah siklus demokrasi untuk memilih presiden dan wakil rakyat untuk lima tahun ke depan dan tahun ini adalah penyelenggaraan pesta demokrasi yang berbeda dari biasanya. Semua rakyat seperti bangun dari tidur panjang dan mulai menyuarakan pilihannya dengan lantang. Namun bagi dunia kreatif, ada lompatan yang luar biasa. Kebersamaan dan energi besar untuk mengekspresikan suara dan pilihan melalui cara kreatif membuat desain mampu menyusup ke dalam keseharian tanpa harus terlihat dipaksakan. Dinamika di antara para profesional desainer dan arsitek di Indonesia juga sangat beragam dengan pilihan mereka sendiri-sendiri. Namun tujuan dan visi yang sama membuat para arsitek dan desainer sedikit keluar dari diskusi tentang desain dan menyuarakan aspirasi politik mereka dengan beragam cara. Lagi-lagi beragam inisiatif yang muncul berangkat dari people power yang besar dan kreativitas yang luar biasa. Mungkin memang tidak ada pengaruh langsung terhadap karya arsitektur atau interior, tetapi suasana yang begitu mendukung untuk berlimpah ruahnya energi kreatif dan prospek masa depan yang lebih baik jelas membawa perubahan signifikan pada dinamika pelaku dalam industri desain di Indonesia. Kata inisiatif mulai banyak muncul sebagai perpanjangan tangan dari kreatif dalam merespons desain atau bahkan kehidupan perkotaan. Hal ini terlihat pada bagaimana pemerintah mendorong perubahan besar yang terjadi di Kota Tua Jakarta. Kepedulian untuk menghadirkan magnet baru di Kota Tua telah mendorong kerja sama beberapa perusahaan dengan Kantor Pos. Hasilnya adalah wadah ekspresi bagi beragam seniman seperti Heri Dono, Teguh Ostenrik, dan lainnya untuk memamerkan karya seni dan mengembuskan energi baru ke bangunan tua yang hampir tidak pernah digunakan lagi. Sejalan dengan berkembangnya dunia arsitektur dan desain di Indonesia, pengakuan publik internasional akan desain atau produk Indonesia juga mulai menguat. Dari Maison et Objet Asia hingga Venice Biennale Architecture yang terselenggara tahun ini menjadi ajang memamerkan kemajuan dan perkembangan desain yang tentunya semakin membuka mata dunia akan potensi industri dan pelakunya di Indonesia. Edisi kali ini hanya menghadirkan sedikit dari begitu besar potensi desain di Indonesia dan sekitarnya. Berangkat dari ketekunan, kesungguhan, dan observasi yang mendalam, desain dan kreativitas sudah seharusnya menjadi perwujudan rasa peduli kepada lingkungan dan sesama. Dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan yang erat, akan lebih banyak lagi kesempatan berkarya yang tidak boleh disia-siakan. Terus semangat berkarya! Sunthy Sunowo -managing Editor

indesignlive.co.id


4

contentindesign

2014

Issue 09 regulars

portfolio

013 EVOLVE Berita-berita singkat seputar orang, tempat, produk, dan gelaran

COMMERCIAL

064 INDESIGN LUMINARY Gunawan Tjahjono mengungkapkan bagaimana ia memandang arsitektur sebagai sebuah pembelajaran tanpa henti 068 ART Teguh Ostenrik mengekspresikan keluhuran makna hidup melalui karyanya 071 All In the Family Retota, sekeluarga berkecimpung dalam industri tenun serat alami

074 Hero, karya Atelier TT 080 Ampera Six Building, karya Chrystalline Artchitect Civic 084 Empire Damansara, karya Ong & Ong Resident 090 Villa Supellex, karya Jerry Van de Bergh

115 PULSE Steve J. Manahampi, arsitek Indonesia, menjelaskan tentang pentingnya memasyarakatkan arsitektur

094 Spiral House, karya Ivan Priatman, Archimetric

Lea Aziz mengisahkan perjalanannya meniti profesi desainer interior di tanah air

098 Dusun Bambu, karya Apta Design

Ren Katili berbagi antusiasme lewat penuturannya mengenai dunia arsitektur tropis Francis Surjaseputra dan misi besarnya bagi desain Indonesia

Hospitality

Education 104 MSC School, karya Samuel A. Budiono & Associates 110 Kalbis Institute, karya DYXY Architecture + Interiors

125 ZONE Nissa Maretta membahas signifikansi revitalisasi sebuah kota dari masa lalu Sunthy Sunowo membahas tentang rumah di lingkungan urban Indonesia Sunthy Sunowo mendeskripsikan konsep desain yang bersahabat dengan usia senja Ary Indra mengkaji peran arsitektur sebagai bagian sejarah dan saksi politik selama Venice Biennale Architecture 2014 135 SUSTAIN ICVR dan ICDS, dua konferensi internasional yang menyuarakan semangat kelestarian dunia 140 PS The Many Ways of Seeing, program yang memicu apresiasi terhadap keindahan sejak usia dini

Cover Outdoor meeting area Sirip Alumunium pada graha Hero memberi efek visual horizontal yang kuat pada bangunan sekaligus menjadi penghalau sinar matahari. (lihat hlm. 074-089). Foto: Danny SB indesignlive.ASIA


6

directoryindesign Indesign Indonesia bisa didapatkan di KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA Majalah Indesign Indonesia terbit setiap empat bulan dan tersedia di agen-agen majalah serta toko buku di Pulau Jawa, Bali, dan kota besar di Indonesia. Untuk berlangganan bisa menghubungi MPG Media Publishing atau mengirimkan email ke indesign.indonesia@mpgmedia.co.id

OBC Bega bega.com 070 Dauphin ptforum.co.id 124 Decorintex decorintex.com 011 Hafele hafele.co.id 134 Indobuildtech indobuildtech.com 009 Kokuyo kokuyo.com 044-45 MPG Media Publishing mpgmediapublishing.com 005 Nippon Paint nipponpaint.com 114 NPYDA npyda-indonesia.com 007 Playpoint Playpoint.asia 008 Sunbrella sunbrella.com 003 Supellex supellex.co.id IBC Toto toto.com 063 Wilkhahn indovickers.com IFC-001 Wisma Sehati wismasehati.com 010 Zeno zenoliving.net

indesignlive.co.id

Jakarta Bandung Semarang- Jogjakarta- Makassar Surabaya Malang- Denpasar Medan

Gramedia Kinokuniya Periplus Times Selected Hypermart Selected Carrefour Gramedia Books & Beyond Selected Hypermart Selected Carrefour Gramedia

Gunung Agung Aksara Books & Beyond TM Bookstore Selected Giant

Gramedia TB Uranus Books & Beyond Gramedia TB Toga Mas Gramedia Books & Beyond

Gunung Agung TB Toga Mas

Gunung Agung Toko Buku Djawa-Braga Selected Giant Gunung Agung

Gunung Agung Gunung Agung


8

Managing editor Sunthy Sunowo Editor Lisa Amelia writer Nissa Maretta Anindia Karlinda Bernadetta Tya Language Editor Arisa Imandari editorial Assistant Yuli Yanti art director Citra A. Widyastuti HEAD of advertising Sales Natalia Marisa Wijaya wijaya_natalia@yahoo.com Traffic Executive Helsa Widya Irawati Gunawan helsawidya@ymail.com

chairman & Inspiration-at-Large Julius Ruslan chief executive officer & publisher Denise Tjokrosaputro Associate publisher Grace Wong grace.wong@mpgmedia.co.id Publishing Manager Rochmadonie

Indesign Indonesia mengundang para pembaca untuk mengirimkan materi baik berupa tulisan maupun karya sebagai pertimbangan tim editorial. Materi dapat dikirimkan kepada bagian editorial Indesign Indonesia melalui email: Indesign. indonesia@mpgmedia.co.id atau indesignlive.co.id Indesign Indonesia diterbitkan di bawah lisensi dari Indesign Group Australia.

MARKETING Executive Retno Sulistia retno_sulistia97@yahoo.co.uk circulation Supervisor Nurmansyah

mpgmediapublising.com

Subscription Indra Aditya subscribermpg@gmail.com (62) 21 3199 1193

indesign indonesia Office PT. MEDIA DESAIN INDONESIA Jl. Palmerah Utara 55 Slipi, Jakarta 11910 INDONESIA Telp. +62 21-5366 7777 Faks. +62 21-5366 6767

Contributing Writers Ary Indra, Lavinia Elysia dan Lisa Amelia Contributing Photographers Lavinia Elysia, Ary Indra, Yosi Wyoso, Ganesha Antariksa, Muhammad Nuhrizal

Disclaimer Artikel yang dimuat dalam majalah ini telah melalui proses editorial dengan melibatkan para ahli di bidangnya. Isi majalah ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses pemeriksaan dan pendapat para ahli, dan hanya berfungsi sebagai pengetahuan. Konsultasikan masalah-masalah yang Anda hadapi kepada ahlinya demi mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dan akurat. Semua materi yang diterima akan menjadi hak milik kecuali ditetapkan lain, telah memiliki izin pemuatan foto dari pihak yang bersangkutan untuk digunakan sesuai keperluan. Hak Cipta & Izin Penerbitan Hak cipta dilindungi. Tidak ada bagian dari majalah ini yang diizinkan untuk dikutip ataupun diproduksi dalam format apa pun dengan atau tanpa sengaja tanpa izin dari perusahaan.


First Wire Lumbar Support Technology.

Wiring in new era

PT. SETSUYO ASTEC The0Plaza0Office0Tower/028th0Floor0JI.0M.0H.0Thamrin0Kav028-30/0Jakarta01035000 T0021-299218880|0F0021-29921889 sales_indonesia@kokuyo.com www.kokuyo.com/en/0|0www.kokuyo.com.my Japan | China | Hong Kong | Singapore | Malaysia | Thailand | India | Australia| Indonesia


10

CEO/Publisher Raj Nandan raj@indesign.com.au

INDESIGNLIVE.COM EDITOR Lorenzo Logi lorenzo@indesign.com.au

Editorial Director & indesign editor Paul McGillick editor@indesign.com.au

business development manager Marie Jakubowicz marie@indesign.com.au

Assistant Editor Alicia Sciberras alicia@indesign.com.au EDITORIAL ASSISTANT Philippa Daly philippa@indesign.com.au Operations Manager Adele Troeger adele@indesign.com.au pa to publisher / Subscriptions & marketing coordinator Elizabeth Davy-Hou liz@indesign.com.au

Deputy art director Emma Warfield emma@indesign.com.au senior Designer Frances Yeoland frances@indesign.com.au DESIGNER Alex Buccheri alex@indesign.com.au junior Designer Rollo Hardy rollo@indesign.com.au contributing dESIGNER Michelle Byrnes PRODUCTION MANAGER Sophie Mead sophie@indesign.com.au Advertising Traffic / production assistant Siobhan Markus siobhan@indesign.com.au Online Manager Radu Enache radu@indesign.com.au Online project manager Ramith Verdheneni ramith@indesign.com.au Web developers Ryan Sumners ryan@indesign.com.au Jesse Cai jesse@indesign.com.au

media executive Dana Ciaccia dana@indesign.com.au Financial Director Kavita Lala kavita@indesign.com.au Business Manager Darya Churilina darya@indesign.com.au Accounts Gabrielle Regan gabrielle@indesign.com.au Vivia Felice vivia@indesign.com.au Events and Marketing Tegan Richardson tegan@indesign.com.au Angela Boustred angie@indesign.com.au

Indesign encourages readers to submit suitable work for consideration by the Editor. Editorial submissions are to be made out to the Editor at the Sydney office. Indesign magazine is published under licence by Indesign Group. Head Office Level 1, 50 Marshall Street Surry Hills NSW 2010 (61 2) 9368 0150 (61 2) 9368 0289 (fax) indesignlive.com Melbourne Suite 11, Level 1, 95 Victoria Street Fitzroy VIC 3065 (61) 402 955 538 Singapore 4 Leng Kee Road, #06–08 SIS Building, Singapore 149596   (65) 6475 5228   (65) 6475 5238 (fax) indesignlive.asia

All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system, transmitted in any form or by any other means, electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise. While every effort has been made to ensure the accuracy of the information in this publication, the publishers assume no responsibility for errors or omissions or any consequences of reliance on this publication. The opinions expressed in this publication do not necessarily represent the views of the editor, the publisher or the publication. Contributions are submitted at the sender’s risk, and Indesign Publishing cannot accept any loss or damage. Please retain duplicates of text and images. Indesign magazine is a wholly owned Australian publication, which is designed and published in Australia. Indesign is published quarterly and is available through subscription, at major newsagencies and bookshops throughout Australia, New Zealand, South East Asia and the United States of America. This issue of Indesign magazine may contain offers or surveys which may require you to provide information about yourself. If you provide such information to us we may use the information to provide you with products or services you have. We may also provide this information to parties who provide the products or services on our behalf (such as fulfilment organisations). We do not sell your information to third parties under any circumstances, however these parties may retain the information we provide for future activities of their own, including direct marketing. We may retain your information and use it to inform you of other promotions and publications from time to time. If you would like to know what information Indesign Group holds about you please contact Nilesh Nandan (61 2) 9368 0150, (61 2) 9368 0289 (fax), subscriptions@indesign.com.au, indesignlive.com


2

indesignpromotion

CLIMBER

FREE FLAP

LINERO MOSAIQ

Didesain serupa karkas dengan rusuk-rusuk penutup, kabinet ini dilengkapi dengan sistem terbaru dari Kesseböhmer yang memungkinkan rusuk-rusuk penutup bergerak naik dengan elegan. Hadir dalam dua pilihan finishing kabinet dan empat warna kaca penutup, ‘Climber’ berhasil menciptakan standar baru sebuah kabinet dinding.

Definisi baru sebuah engsel kabinet dengan standar stay flap fitting menciptakan sebuah gerakan tanpa suara yang kokoh. Didukung dengan tiga pengaturan arah, variasi ketinggian kabinet, dan bukaan sudut hingga 1070 untuk memaksimalkan kenyamanan pengoperasian..

Selain memudahkan penataan, ‘Linero Mosaiq’ akan menjadi elemen dekorasi yang menarik, baik di dapur maupun kamar mandi. Sistem modular dalam rel aluminium linear menjadikannya fleksibel untuk di kombinasikan dan efisien untuk menyimpan setiap barang dalam satu jangkauan.

hafele.com hafele.com

hafele.com hafele.CO.id


indesignpromotion

1

Set the New Standard Dapur kini tak lagi identik dengan kesan kotor dan berantakan. Dapur kini haruslah tampil bersih, teratur, dan higienis karena di sanalah beragam makanan sehat dihasilkan. Untuk itu, diperlukan perangkat kabinet dan tempat penyimpanan yang didukung dengan fitting system yang baik untuk memudahkan pengorganisasian peralatan dapur serta bahan makanan yang lebih efektif juga efisien.

Häfele menangkap kebutuhan tersebut dan menterjemahkannya dalam berbagai inovasi kabinet dan fitting system yang mutakhir. Tak hanya menyelesaikan masalah, rangkaian produk Kesseböhmer dari Häfele terbaru ini, ‘Climber’, ‘Free Flap’, dan ‘Linero Mosaiq’, didesain dengan cermat dan presisi agar dapat menyesuaikan dengan beragam tema sekaligus menjadi elemen yang berharga di setiap dapur.

Untuk Informasi Hafele selanjutnya silakan kunjungi hafele.co.id

Head Office Taman Tekno BSD Blok A No.3 Serpong, Tangerang 15314 Phone +62 21 75878888 Fax +62 21 75877777 info@hafele.co.id

Bandung Jl. Karapitan No. 137B Bandung 40261 Phone +62 22 7307758 Fax +62 22 7307877 bdg@hafele.co.id

Bali Jl. Bypass Ngurah Rai 120i Kuta 80361 Phone +62 361 764278 Fax +62 361 759995 dpr@hafele.co.id

Semarang Jl. Majapahit 91 Ruko D Semarang 50167 Phone +62 24 76744466 Fax +62 24 76744433 smg@hafele.co.id

Surabaya Jl. Mayjend. Sungkono 176-178 Ruko Grand Sungkono Blok A8 Surabaya 60189 Phone +62 31 5680800 Fax +62 31 5670800 sby@hafele.co.id

Yogyakarta Jl. Janti No. 332 Banguntapan Bantul Yogyakarta 55281 Phone +62 274 4534893 Fax +62 274 4534361 yogya@hafele.co.id

Makassar Jl. Veteran Selatan No. 217B Makassar 90131 Phone +62 411 852522 Fax +62 411 852527 makassar@hafele.co.id


indesign

people places PRODUCTS events

BLURRED Boundaries “Ini bukanlah sebuah pancuran yang berlampu, melainkan sebuah lampu dan pancuran pada saat yang bersamaan,” ungkap Oki Sato, pendiri sekaligus creative director dari Nendo, tentang ‘LampShower’. Kreasinya untuk brand Axor ini sukses meruntuhkan dinding konvensional yang memisahkan kamar mandi dengan kamar tidur, ruang tamu atau ruang makan. Produk ini juga menjadi simbol ekspansi Axor—yang selama ini dikenal sebagai produsen perlengkapan kamar mandi—ke ranah produksi lampu. Misi mereka untuk “keluar dari zona nyaman” didukung oleh sistem produksi yang dilakukan dalam jumlah klaster kecil sehingga menyediakan ruang untuk bereksperimen dan mengkaji teknologi lebih jauh. Hasilnya adalah produk berpenampilan simpel dan kasual yang menawarkan sensasi unik. Cahaya lampu melankolis berpadu secara puitis dengan kucuran air, menciptakan efek yang menenangkan sekaligus “ajaib”. Selera humor sang kreator turut berperan dalam menghadirkan kegembiraan pada sebuah fungsi. Melalui produk ini, Nendo menyuarakan ajakan untuk mengubah cara manusia memandang hal-hal di sekitarnya dengan mengaburkan batasan, atau justru meredefinisi batasan itu sendiri. “I think that’s what design is all about,” tutup Sato. [Teks: Lisa Amelia] Nendo nendo.jp Hansgrohe hansgrohe-int.com

indesignlive.co.id

13


A Chant from Shanty Town Nipa Doshi dan Jonathan Levien mendeteksi adanya keindahan di antara kayu lapis, logam bergelombang, serta lembaran plastik dan kardus yang membentuk sebuah pemukiman kumuh, kemudian menuangkannya dalam bentuk kabinet. Dinamai ‘Shanty’, kabinet ini memiliki tampilan menyerupai jahitan tambal sulam dari latar-latar bergelombang dan beraneka warna. Bagian mukanya tampak seperti komposisi acak, namun sesungguhnya merupakan hasil dari perhitungan kapasitas penyimpanan yang dipertimbangkan dengan teliti. Keistimewaan lainnya terletak pada bentuk yang asimetris dan setiap pintu yang dapat dibuka dengan cara yang berbeda. Model kabinet yang bervariasi dapat ditemukan dalam koleksi yang didesain untuk brand BD Barcelona Design ini. [Teks: LA] Doshi Levien (44) 20 7739 3631 doshilevien.com BD Barcelona Design (34) 93 457 0052 bdbarcelona.com

A Collectible Ju-Ju Optimis dan aktual merupakan pendekatan yang selalu diterapkan oleh Studio Juju pada setiap kreasinya. Dalam kolaborasi dengan Industry+, studio yang dipelopori oleh Timo Wong dan Priscilla Lui, ini merancang sebuah lounge chair sederhana yang merupakan manifestasi dari perpaduan imajinasi dan fungsionalisme, di mana kreativitas yang “kekanak-kanakan� tampak dari garis-garis lugas yang membentuk kursi. Citra natural diperoleh dari material kayu ek atau walnut; sementara warna hijau toska yang diaplikasikan pada ash wood menimbulkan kesan tenang dan sejuk. [Teks: LA]

Studio Juju (65) 6336 1027 studio-juju.com wonder-glass.com


evolveindesign

Rule of Three Gaya Skandinavia, desain minimalis dan dominasi kayu adalah ciri khas Studio248 yang direpresentasikan melalui produk ini. Fungsi ganda yang ditawarkan juga merupakan buah kreativitas dari tim desain asal Thailand tersebut. Pelat baja dibentuk sedemikian rupa demi menciptakan sudut yang sempurna untuk tempat penyimpanan majalah; namun tetap menyisakan permukaan datar di atasnya, yang cukup untuk meletakkan barang-barang pribadi selagi membaca. Tiga kaki kayunya berperan sebagai penyangga yang stabil, dan pada saat yang sama menambahkan keunikan pada karakter ‘Three-legged Magazine Table’. [Teks: LA]

Studio248 studio248.com

Gabriel Lichauco Di negara asalnya, Filipina, Gabriel ‘Gabby’ Lichauco terkenal dengan brand Openstudio—studio desain dengan pendekatan multidisiplin yang didirikannya pada 2005. “Prinsip desain kami adalah keintuitifan dan keberlangsungan,” ujar desainer yang sempat menempuh pendidikan di Milan, Italia, ini. “Sumber inspirasi kami tidak terbatas dan kami menolak untuk menganut gaya tertentu. Eksperimen dan riset membantu kami untuk terus mengembangkan konsep.” Jika dicermati melalui karyakaryanya, Openstudio senantiasa menanamkan seni kerajinan tradisional Filipina ke dalam objek kontemporer. Seperti yang diterapkannya pada table fan ‘Blow’, sebuah kipas angin elektrik yang dibuat dari anyaman rotan; atau side table ‘Lace’, yang sekilas tampak normal seperti meja berselimut taplak berenda pada umumnya—hanya saja kali ini meja dan “taplak” merupakan satu kesatuan yang terbuat dari logam. Pada 2010, Lichauco kembali mendirikan sebuah brand bernama Emi Handmade yang tetap mengusung konsep serupa namun ditujukan bagi anak-anak. [Teks: LA]

Gabriel Lichauco (63) 917 530 2883 openstudiomnl.com

Chunky, Comfy, Comely Sofa bisa jadi merupakan pilihan favorit untuk sebuah centerpiece di ruang tamu. Meskipun begitu, memilih sofa yang berkarakter tidaklah mudah karena yang tersedia pada umumnya adalah sofa berbentuk persegi panjang. Sebagai tanggapan atas isu ini, Barnaba Fornasetti dan Nigel Coates memperkenalkan hasil kolaborasi mereka: sebuah modular sofa yang diberi nama ‘Combacio’. Sofa ini terdiri atas tiga “bongkahan” yang saling berhubungan dan dapat dikombinasikan dengan berbagai cara, sesuai kondisi ruangan di mana mereka ditempatkan. Sifatnya yang tidak kaku memungkinkan sofa ini untuk berbaur dengan objek-objek di sekelilingnya, namun secara alami tetap terlihat stand out. Varian warna dan motif pada kain pelapis sofa turut berperan dalam menonjolkan keunikan koleksi tekstil Fornasetti. [Teks: LA]

Nigel Coates nigelcoates.com Fornasetti fornasetti.com indesignlive.co.id

15


Real Marmoreal Desainer asal Inggris, Max Lamb, menggabungkan marmer dengan poliester demi menciptakan material yang lebih kuat dan tahan lama dibandingkan marmer pada umumnya. Perekayasaan material yang diadakan untuk merek desain Dzek ini dinamai ‘Marmoreal’, kemudian digunakan untuk membangun furnitur yang tampak melebur dengan latar berbahan serupa dalam sebuah instalasi yang dipamerkan pada perhelatan Salone del Mobile Milano 2014. Efek kamuflase yang direncanakan bisa dibilang “gagal”—bukannya menyamarkan, instalasi ini justru menarik perhatian karena warnawarnanya yang memikat. [Teks: LA] Max Lamb maxlamb.org Dzek (44) 77 3323 1973 dzekdzekdzek.com

The Modern Nomads Dalam rangka menyambut gaya hidup di masa depan yang bersifat mobile, digital, dan sustainable, Grohe menciptakan desain keran dan pancuran yang dikombinasikan dengan furnitur kamar mandi dari DuPont Corian. Dilengkapi dengan pengendali digital nirkabel, keran dan pancuran tersebut mudah untuk diaktifkan dari berbagai sudut kamar mandi. “Selain memberikan sentuhan sensual dan unsur emosional, figur dan material yang digunakan turut menciptakan produk yang kuat, namun tetap ringan dan fleksibel,” ujar Paul Flowers, Senior Vice President of Design dari Grohe. [Teks: LA]

Grohe grohe.com DuPont dupont.com


evolveindesign

The Spiffy Itisy ‘Itisy’ adalah sebuah konsol yang memiliki kemampuan untuk bertransformasi. Bagian atasnya yang terdiri dari permukaan-permukaan bundar dapat diatur menjadi beberapa formasi—sesuai selera dan kebutuhan—yang membentuk meja makan sehingga cukup memuat 4 orang. Mobilitas tersebut dimungkinkan berkat sendi-sendinya yang terbuat dari bola logam. Dua kaki berbahan dasar solid oak yang dipasangkan pada masingmasing meja kecil menciptakan kesan elegan pada setiap konfigurasi, sekaligus mengingatkan pada alat permainan tradisional, egrang. [Teks: LA]

Philippine Lemaire (33) 61 531 7941 philippinelemaire.com Ligne Roset ligne-roset.com

A Polite Shadow Denny Priyatna menunjukkan bahwa tidak perlu kekuatan super untuk dapat mengendalikan bayangan. Desainer yang terpilih sebagai salah satu dari enam Rising Asian Talents pada perhelatan Maison&Objet Asia 2014 ini menggabungkan ilmu fisika dan estetika pada karyanya, ‘Apolite Table Lamp’. Melalui ‘bola’ yang dibentuk dari garis melengkung yang terbuat dari besi dan rotan, lampu ini dapat memperkuat bayangan dengan bohlam jernih atau menipiskannya dengan yang buram. [Teks: LA]

Denny Priyatna (62) 815 932 6614 dennypriyatna.com

Distinguishable Diatom ‘Diatom’ adalah kursi yang sepenuhnya terbuat dari aluminium sehingga cocok untuk digunakan baik di dalam maupun di luar ruangan. Pada proses pembuatan kursi untuk brand Moroso ini, Ross Lovegrove selaku desainer mengadopsi teknologi aluminium-pressing modern yang biasa digunakan dalam industri otomotif. Pemanfaatan teknik CGI dalam perancangannya menciptakan lekuk yang ergonomis sehingga memungkinkan kursi ini untuk dapat ditumpuk secara tegak lurus. Material yang digunakan juga turut berperan dalam menghasilkan produk berbobot ringan dengan performa memuaskan yang 100% dapat didaur ulang. [Teks: LA]

Ross Lovegrove (44) 20 7229 7104 rosslovegrove.com Moroso moroso.it

indesignlive.co.id

17


The Twisted Woven Seolah menyerukan semangat musim semi, perpaduan motif bunga, buah, dan warna cerah yang diaplikasikan pada ‘Taffeta Sofa and Chair’ dengan mudahnya menarik perhatian. Terinspirasi oleh kerajinan penenun tekstil tradisional Indonesia, Alvin Tjitrowirjo selaku desainer mengedepankan struktur anyaman dalam kreasinya untuk brand inovatif Moooi; sekaligus membuktikan keterampilannya dalam berkarya dengan rotan dan mengaburkan batasan antara perabot di dalam dan di luar ruangan. [Teks: LA] AlvinT (62) 21 751 1709, (62) 21 769 4371 alvin-t.com Moooi moooi.com

Something Old, Something New, Something Lucent Kertas, logam, dan kayu—tiga material ini berkolaborasi dalam menampilkan gaya modern berbalut aura ketimuran pada ‘The New Old Table Light’. Pinggiran yang ramping pada produk rancangan KIMU Design ini menegaskan karakter tradisional dari lampion, sedangkan penggunaan bahan kayu mencerminkan kebaruan. Reflektor lampu bergaya industrial digabungkan dengan lampion kertas yang dapat diatur untuk menghasilkan intensitas cahaya yang bervariasi. [Teks: LA]

KIMU Design (886) 22 503 3651 kimudesign.com

A Set of Charms Federica Capitani mengusung tema minimalis dalam ‘Cha’, koleksi peralatan minum tehnya untuk Rosenthal Studio Line. Keseluruhan koleksi memiliki tampilan harmonis yang berasal dari detail dan kenunikan pada masing-masing objek. Badan, pegangan, dan mulut teko menyatu dalam kerangka berlengkung halus yang menimbulkan keistimewaan dan keindahan tersendiri. Titik-titik pada permukaan luar cangkir menciptakan ornamen relief rendah yang tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, namun juga memungkinkan penyebaran panas yang menjadikan cangkir nyaman untuk digenggam. Warna natural dan struktur sederhana pada mangkuk dan piringan kayu menambahkan kesan hangat pada koleksi ini. [Teks: LA]

Federica Capitani Design Studio (44) 79 1774 0280 federicacapitani.com Rosenthal rosenthal.de


evolveindesign

Hirata Brand asal negeri matahari terbit ini membagi makna kekeluargaan dengan menjadikan furnitur sebagai medium ekspresi. Ledakan angka kelahiran paska perang turut menghadirkan Hirata, tepatnya pada tahun 1963. Brand ini memposisikan diri sebagai pemanufaktur ranjang bayi demi memenuhi tuntutan yang tinggi. Baru pada akhir tahun 1960-an, mereka beralih menjadi produsen kursi dan meja makan. Seratus persen dirancang dan dibuat di Jepang, Hirata mempertahankan tingkat quality control bermutu tinggi dengan menjalankan semua proses secara internal – mulai dari penggagasan konsep, perancangan dan pemilihan material, hingga tahap produksi. Dengan sistem made-to-order, Hirata menawarkan berbagai variasi bahan kayu dan warna tekstil yang dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhan konsumen.

Aura kesederhanaan yang tersirat dari desain kursi dan meja makan buatan Hirata ditulangpunggungi oleh sebuah pemikiran bahwa waktu makan adalah momen kebersamaan yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga setiap harinya. Detail pada furnitur yang dihasilkan oleh tangan-tangan trampil turut berperan dalam menghidupkan kesan hangat dan bersahabat. Layak bagi orang-orang yang memiliki apresiasi terhadap hal-hal yang sekilas tampak lugas, namun menyimpan keindahan tersendiri. Kini koleksi Hirata dapat diperoleh melalui The Ewins Home – penyedia perlengkapan furnishing dari Singapura yang juga merupakan satu-satunya distributor di luar Jepang. [Teks: LA]

theewinshome.com

Arco

Topo

Naturally, wood is a beautiful material. Keindahan tersebut semakin ditonjolkan dengan penerapan desain modern pada ‘ARCO’ collection. Tepian kerangka kursi dengan sudut-sudut yang sengaja dipertegas membentuk figur yang kokoh namun tetap terkesan ramah dengan jok busa urethane berwarna cerah. Jok kursi berbahan kulit sintetis dengan warna hitam atau coklat tua turut tersedia untuk selera yang lebih maskulin.

‘TOPO’ collection yang beranggotakan meja, kursi, bench dan stool ini masih mengedepankan gaya kontemporer tanpa mengusik kecantikan alami yang dimiliki oleh kayu. Selain menimbulkan kesan laid-back, sudut rangka yang dibuat melengkung menjadikannya pilihan yang tepat bagi keluarga yang memiliki anak-anak.

theewinshome.com

theewinshome.com

indesignlive.co.id

19


CENTRE FOR DESIGN Bangunan tua yang dahulu adalah Biara Saint Anthony’s kini berubah di tangan multidisiplin tim di bawah pimpinan SCDA Architects menjadi wadah bagi beragam aktivitas yang berhubungan dengan desain di Singapura. Tidak banyak yang diubah pada tampilan eksteriornya, tetapi bangunan de­ ngan dominasi warna putih ini terlihat lebih anggun dan menarik. Bukan hanya karena upaya perawatan dan pelestarian yang luar biasa baik, tetapi juga karena impresi bangunan ini yang seperti memancarkan jiwa baru dengan fungsi baru di dalamnya. Dengan nama National Design Centre gedung ini mewadahi aktivitas The DesignSingapore Council, agensi nasional untuk desain yang berada di bawah Kemente­rian Komunikasi dan Informasi. National Design Centre merupakan wujud kepedulian dan kesadaran peme­ rintah Singapura akan betapa pentingnya peranan desain dalam pertumbuhan ekonomi dan membangun kualitas hidup yang lebih baik. Di bangunan ini, desain menjadi tuan rumahnya. Ruangruang yang ada diperuntukkan untuk beragam kegiatan dari pameran, workshop, hingga diskusi seputar desain yang nantinya akan memberikan kontribusi positif pada dinamika industri desain. Pembagian ruang di dalam bangunan ini cukup sederhana. Dengan berorien­ tasi pada satu void yang besar yang juga berfungsi sebagai atrium besar, semua

area sirkulasi dan ruang tersusun mengelilingi void utama. Penataan ini memungkinkan National Design Centre untuk mewadahi sebuah acara besar. Seperti pada malam pembukaannya yang mengundang hampir semua insan kreatif dalam industri desain di Singapura. Tepatnya pada tanggal 12 Maret 2014, National Design Centre secara resmi dibuka oleh Deputi Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Tharman Shanmugaratnam. Bagi industri desain di Singapura, hal ini menjadi salah satu langkah penting. Seperti yang disampaikan Deputi Perdana Menteri Tharman, “Kita melihat perusahaan Singapura menggunakan desain untuk berkompetisi dan meminpin pasar premium internasional. Kita harus mendukung dan mendorong perkembangannya di masa mendatang.” Sementara itu, Jeffrey Ho, Direktur Eksekutif DesignSingapore Council menyampaikan, “ Desain membantu bisnis untuk memahami perilaku dan kebutuhan konsumen, dan membawa bisnis mereka ke tahap lebih lebih lanjut.” Dengan semakin tingginya bisnis menyerap desain, apresiasi publik terhadap desain juga akan meningkat. National

Design Centre kemudian menjadi peng­ hubung untuk mengedepankan desain lokal. Ekosistem desain yang ada di Singapura kemudian bisa memanfaatkan kehadiran National Design Centre ini mengembangkan network, memamerkan karya, dan bersama mengeksplorasi nilai-nilai desain yang baik. “Lokasinya yang berada di tengah kota memudahkan akses bagi publik dan mahasiswa untuk lebih dalam mempelajari kualitas desain yang bagus,” jelas Robert Tomlin, Chairman DesignSingapore Council. Mengembangkan desain juga berarti mendukung eksplorasi dan inovasi. Dalam hal ini, DesignSingapore Council bekerja sama dengan The Infocomm Developement Authority (IDA) dan SPRING Singapore untuk mengembangkan IDA Labs@NDC dan Prototyping Lab@NDC yang akan memberikan desainer, perusahaan, dan bahkan publik akses terhadap peralatan untuk membangun prototype, menguji ide baru, dan mendorong terwujudnya produk dan servis yang baru. Bangunan National Design Centre ini terdiri dari lima lantai. Lantai 1 terdapat atrium, design galerry, Kapok; design concept store, prototypinglab@NDC,

dan design advisory. Naik ke lantai 2 akan menemukan design thingking and innovation academy, IDAlabs@NDC, design gallery, design resource centre, design studio, dan auditorium. Design studio juga terdapat di lantai 3 dan 5. Sementara, kantor DesignSingapore Council berada di lantai 4 dan terdapat roof terrace untuk kegiatan open air di lantai lima. Gedung yang terletak di area Bras Basah dan Bugis; 111 Middle Road ini memang terbuka bagi komunitas desain untuk menyelenggarakan seminar, pameran, workshop, dan beragam acara yang berhubungan dengan desain. Selain aktivitasnya, bangunannya sendiri memiliki banyak detail pre-war art deco dan post-war modern blok yang dikonservasi dengan baik oleh Urban Redevelopement Authority. National Design Centre merupakan one stop place yang tidak hanya menjadi hub antara setiap elemen dalam industri desain, tetapi juga bagi publik untuk lebih mengapresiasi desain sebagai bagian dari kekuatan untuk mengembangkan perekonomian negara. [Teks: Sunthy Sunowo]

designsingapore.org/ndc


evolveindesign

A GLIMPSE OF THE PAST

TRANSPARANT STAIRS Area tangga yang pada malam hari terlihat transparan, sementara pada siang hari sedikit tersembunyi di balik perforated screen..

Bangunan yang dahulunya adalah sebuah sekolah biarawan kemudian dirombak menjadi National Design Centre yang merepresentasikan dunia desain yang modern, tetapi eksterior bangunan tetap dikonservasi dengan baik dan justru mempertahankan detail-detail art deco yang seakan bercerita tentang masa lalu.

designsingapore.org/ndc

designsingapore.org/ndc

EXTRAVAGANT AUDITORIUM High ceiling pada auditorium mengadopsi material modern yang menampilkan kekontrasan elemen dengan desain jendela yang mempertahankan bentuk asli pada eksterior bangunan. Kemewahan fasilitas ini menjadi keunggulan yang mengakomodasi penyelenggaraan beragam varian acara.

designsingapore.org/ndc

A PLACE TO EXHIBIT Kali ini mmcitĂŠ mempersembahkan koleksi Urban Island-nya karya Lucie KoldovĂĄ dan Dan Yeffet, yaitu sebuah sistem baru dari furnitur urban dengan dudukan yang terbuat dari lapisan high-pressure. Bentuk unik yang berdasar pada geometris sederhana, dengan kombinasi tiga level ketinggian, menghadirkan sebuah perspektif baru pada furnitur di ruang publik.

designsingapore.org/ndc indesignlive.co.id

21


MAIN STAIRS Bagian utama yang menghubungkan atrium ke area galeri di lantai dua didominasi oleh balustrade hitam yang berkesan solid dan kontras. impresi ini sekaligus mengarahkan orang dan memberikan pengalaman meruang yang unik ketika mencapai di bordes dan membelok.

designsingapore.org/ndc

PERFORATED STEEL SCREEN Lapisan perforated metal menjadi screen pada komposisi kotak di atas atrium yang menjadi bagian ikonik dari bangunan National Design Centre. Efek yang dihasilkan oleh lapisan metal ini memberikan wajah yang berbeda ketika di malam hari menjadi lebih transparan.

designsingapore.org/ndc

ACTIVITY IN THE ATRIUM Selama Singapore Design Week 2014, area atrium mewadahi beragam aktivitas dari acara pembukaan NDC, hingga banyak talkshow untuk publik dan mahasiswa yang menarik perhatian dan peserta yang cukup banyak.

designsingapore.org/ndc


evolveindesign

SKYLIGHT Salah satu bagian yang paling impresif di dalam bangunan National Design Centre ini adalah bagaimana skylight didesain seperti lipatan-lipatan kaca yang begitu besar dan membawa sinar terang untuk menerangi area void setinggi tiga lantai di atas atrium.

designsingapore.org/ndc

LIGHTS AND SHADOWS Pada posisi matahari tertentu, area void dan atrium menghasilkan pemandangan yang menarik ketika cahaya dan bayangan membentuk komposisi pola yang artistik. dengan skala ruang yang cukup besar, bangunan ini dirancang dengan serius untuk menghargai desain dengan lebih mendalam.

designsingapore.org/ndc

THE ATRIUM Atrium menjadi bagian utama dari bangunan yang bersifat fleksibel dan adaptif. Berbagai acara dengan beragam format bisa dilaksanakan di area ini, selain juga memberi jeda di tengah agar semuanya bisa terlihat dan juga melihat.

designsingapore.org/ndc

indesignlive.co.id

23


The Pritzker Architecture Prize 2014 Laureate: Shigeru Ban Menyusul Toyo Ito, penghargaan bagi arsitek setara Nobel tahun ini kembali diberikan kepada arsitek asal Jepang, Shigeru Ban. Ini bukan hanya kali kedua, namun ini adalah ketujuh kalinya arsitek berkebangsaan Jepang mendapat apresiasi dunia melalui penghargaan The Pritzker Architecture Prize. Penghargaan ini sejak lama menjadi parameter penting dalam sejarah pergerakan arsitektur dunia. Dimulai sejak tahun 1979 oleh pasangan pengusaha, Jay A. Pritzker dan Cindy Pritzker, penghargaan ini diberikan bagi arsitek yang memiliki talenta, visi, komitmen, konsisten, dan berkontribusi nyata pada lingkungan. Ada tiga syarat dasar yang harus dimiliki oleh sang penerima penghargaan, yaitu firmness, commodity, dan delight, yang juga nampak medali perunggu yang khusus didesain oleh Louis Sullivan, pionir gedung pencakar

langit asal Chicago, Amerika Serikat. Philip Johnson menjadi arsitek pertama yang menerima penghargaan ini. Tak hanya medali, penerima penghargaan juga akan menerima sertifikat dan uang sejumlah 100.000 dolar AS. Shigeru Ban, arsitek kelahiran Tokyo 57 tahun yang lalu, telah membuktikan bahwa ia memiliki semua kompetensi tersebut dan lebih dari layak untuk mendapatkan Pritzker Architecture Prize tahun ini. Selama hampir 30 tahun ia berpraktik di Tokyo, New York , dan Paris, berbagai inovasi, khususnya dalam hal material dan struktur, ia ciptakan. Salah satunya nampak pada karya terbaru, Tamedia New Office Building di Zurich, Swiss, dengan bentang terpanjang mencapai 50 meter, yang keseluruhannya menggunakan

sistem struktur kayu. Bahkan ia mendapatkan sertifikat arsitektur dari Kementerian Konstruksi Jepang untuk struktur Paper Tube yang ia rancang. Tak hanya mendesain hunian, museum, instalasi, dan bangunanbangunan tinggi yang mengagumkan, Shigeru Ban, yang berguru pada John Hejduk, Bernard Tschumi, dan Peter Eisenman, juga termasuk orang yang berada di garis terdepan bersama para pengungsi di Rwanda, korban bencana di Jepang, Turki, India, Sri Lanka, Cina, dan Italia. Di tahun 2011, setelah gempa menghancurkan Selandia Baru, Ban merancang Cardboard Cathedral, yang menjadi simbol kebangkitan kota Christchurch. Sesuai namanya, gereja ini dibangun dengan kardus sebagai strukturnya.

Shigeru Ban, alumnus Universitas Cooper Union, adalah seorang profesor arsitektur di Universitas Kyoto sejak tahun 2011 dan hingga kini aktif menjadi dosen tamu di berbagai universitas arsitektur di seluruh dunia. Tak hanya menjadi panutan bagi generasi muda, khususnya arsitek, Shigeru Ban telah menjadi sosok humanis yang menginspirasi. “Aku melihat penghargaan sebagai keberanianku untuk tetap melakukan apa yang aku kerjakan—bukan untuk mengubah apa yang aku kerjakan, namun untuk mengembangkannya,� tutup Shigeru Ban [Teks: Bernadetta Tya]

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com


evolveindesign

Cardboard Cathedral, Christchurch, Selandia Baru, 2013

Tamedia New Office Building, Zurich, Swiss, 2013 Terletak di pusat Kota Zurich, Tamedia New Office Building dibangun sebagai kantor pusat dan studio radio perusahaan media Swiss, Tamedia AG. Berada di area seluas 1.000 m2 di tepi Kanal Sihl, Shigeru Ban menggunakan kayu untuk keseluruhan sistem konstruksi, termasuk untuk sambungan-sambungan.

Gereja yang terletak di Kota Christchurch ini dirancang oleh Shigeru Ban menggunakan modul-modul tabung kardus yang telah dilapis polyurethane, yang tak tembus air dan lapisan antiapi. Selain aman dari gempa, gereja ini menjadi simbol kebangkitan Kota Chrischurch setelah hancur karena gempa di tahun 2011.

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com

Naked House, Saitama, Jepang, 2000 Menarik mengamati karya-karya Shigeru Ban yang amat berbeda satu dengan yang lain, seperti yang nampak pada hunian yang terletak di tepi sungai ini. Rumah yang least privacy ini hanya memiliki satu ruang utama dengan ketinggian dua lantai dan 4 ruang pribadi yang dapat dipindahkan. Dinding luar terbuat dari dua lapis plastik fiber dan nilon untuk bagian dalam membuatnya nampak menyerupai rumah kaca yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar.

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com

Japan Pavilion, Expo 2000, Hannover, Jerman, 2000 Salah satu kekuatan desain Shigeru Ban terletak pada kemahirannya mengolah material, bahkan bekas sekalipun. Bekerja sama dengan arsitek Frei Otto, rancangannya pada Paviliun Jepang ini menjadi buktinya. Disusun dengan material tabung kertas daur ulang yang dapat dibongkar dan digunakan kembali, Shigeru Ban berhasil membangun sebuah struktur kubah dengan bentang terpanjang 73,8 m.

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com

Paper Concert Hall, L’Aquila, Italia, 2011 Merespons gempa tahun 2009 di L’Aquila, Italia, Shigeru Ban mengajukan proposal rancangan sebuah gedung konser sementara untuk menghidupkan kembali kota yang terkenal akan nuansa musiknya yang kental. Sesuai namanya, bangunan ini dibangun dengan konstruksi material kertas yang mudah untuk dirakit.

pritzkerprize.com, shigerubanarchitects.com indesignlive.co.id

25


CREATIVITY SHOWCASE SingaPlural 2014 kembali diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya pada 12—16 Maret 2014 lalu untuk memamerkan elemen desain terbaik dari beragam kreativitas. Beragam spektrum desain kembali hadir melalui karya-karya beragam insan kreatif di Singapura. Periklanan, arsitektur, urban planning, arsitektur lanskap, interior, furnitur, desain grafis, dan fashion design menampilkan desain yang menarik dan juga memberikan kontribusi kepada kualitas ruang di sekitarnya atau kepada publik secara langsung. SingaPlural 2014 adalah acara utama dalam rangkaian Singapore Design Week 2014 yang terselenggara bersamaan dengan International Furniture Fair Singapore 2014, ASEAN Furniture Show, The Decor Show 2014, dan Hospitality 360°. Pelaksanaan acara ini didukung oleh DesignSingapore Council, International Enterprise (IE) Singapore, Singapore Tourism Board, SPRING Singapore, The National Parks Board, dan American Hardwood Export Council. Kegiatan dalamg rangkaian Singaplural sendiri terdiri dari ragam aktivitas, seperti 48 hours Challange dan 30 Life StoriesRemembering Parks berlokasi di Dhoby Ghaut Green.

Pelaksanaan acara yang tersebar di beberapa lokasi di Singapura ini memberikan sentuhan desain pada beberapa lokasi dan menjadi representasi dari perkembangan. “Perayaan desain selama seminggu ini menjadi dasar yang sempurna dengan menghadirkan karya terbaik dan terkini dari desainer internasional atau lokal yang terinspirasi oleh beragam tema, kesempatan kolaborasi, dan pengaruh desain,” jelas Mr Simon Ong, Chairman of Singaplural 2014. Dengan menghadirkan instalasi, ruang desain yang dikurasi dengan eksklusif, simposium, kompetisi, dan lainnya, SingaPlural 2014 menjadi ajang berkarya yang tidak hanya mengasah kepedulian dan kepekaan, tetapi juga merepresentasikan perkembangan pesat dalam industri desain untuk masa kini dan beberapa tahun ke depan. [Teks: SS]

singaplural.com

Joy comes in three Subrahmanian Madhvi, seniman keramik, mengekspresikan keinginan mendalamnya untuk menyentuh dan berinteraksi dengan sekitarnya dalam karya Threesome. Selayaknya kebebasan yang dimiliki setiap anak kecil ketika berpetualang di taman, desain yang mengedepankan elemen lingkaran ini mengajak pengunjung untuk merasakan, menyentuh, dan berbagi momen ‘hands-on’ antar lingkaran sosial masing-masing.

singaplural.com

Lightning struck Memanfaatkan batang kayu utuh untuk mencapai kekontrasan dengan material besi yang reflektif membuat karya Olivia Lee yang berjudul Struck ini terlihat ekspresif dan mendekati impresi tersambar petir.

singaplural.com


evolveindesign

Encountering nature Dalam usaha mengekspresikan pengalaman interaksi pertama dengan alam yang merangsang lima panca indera di masa kecil, Andrew Loh mewujudkan Log-Like Object yang mengambil bentuk batang pohon yang tersusun dari single pieces. Lewat kekayaan tekstur dan perwujudan kompleksitas pohon, pengalaman duduk menjadi element of surprise bagi para pengunjung..

singaplural.com

Caressing the water Yeo Chee Kiong, pemahat yang dikenal dengan permainan juxtaposition yang unik, mewujudkan The Flood, Her Rain & My Table yang terinspirasi dari suara hujan di taman yang menenteramkan dan begitu familer. Konsep ‘air mengalir’ diwujudkan dengan mengganti kerataan permukaan meja yang konvensional dengan permukaan bergelombang layaknya lapisan ‘air’.

singaplural.com

State of happiness Sun Yuli, salah satu pemahat dan pelukis ternama Singapura yang berlatar belakang arsitektur, terkenal dengan gaya desainnya yang menyuarakan “ekspresi dari pikiran abstrak berdasarkan prinsip metafisik”. Keunikan desainnya yang bermain dengan perpaduan influence ilmu topologi, geometri, arkeologi, hingga filosofi, melahirkan karya yang dinamainya Happily Together.

singaplural.com

Lively log Rodney dari NextOfKin Creatives memanfaatkan beragamnya tekstur kayu untuk kemudian menyusun potongan-potongan untuk membentuk bentuk log kayu pada karya yang dinamainya Log ini. Rongga-rongga di dalamnya menyerupai pori-pori batang pohon. Selain berfungsi sebagai bangku, lorong dan rongganya bisa menjadi tempat bermain interaktif.

singaplural.com

indesignlive.co.id

27


FURNITURE DESIGN AWARD 2014 Kompetisi desain tahunan berskala internasional ini telah menarik perhatian desainer untuk menghasilkan karya furnitur yang unik, inovatif, dan out of the box. Setiap tahunnya Singapore Furniture Industries Council menyelenggarakan kompetisi desain furnitur untuk menjaring bakat-bakat baru dari segala penjuru dunia. Kegiatan ini tentu saja mendapat respons luar biasa dari berbagai komunitas desain. Furniture Design Award 2014 telah memamerkan karya-karya terbaik pada 12 hingga 31 Maret 2014 yang lalu di National Design Centre, di galeri lantai 2. Kompetisi tahunan yang telah terselenggara sejak 2007 dan masuk ke tahun ke-8 ini semakin menarik para desainer agar mengeksplorasi imajinasi dan menantang diri sendiri untuk menghasilkan orisinalitas karya yang juga menerjang batas-batas kelaziman. Peserta dibagi dalam dua kategori, yaitu designer dan student. Pameran kali ini menghadirkan enam karya desainer dan enam karya mahasiswa yang menjadi nominasi pemenang. Pada kategori desainer tercatat Mirko Daneluzzo dari Italia yang merancang armchair Baboom. Francesca Lanzavecchia dari Italia merancang

pembatas ruang Bilik. Ben Cheng dari Kanada merancang Radian Chair. Trygve Faste dari Amerika yang merancang The link Shelf. Clement Zheng dari Singapura merancang Torus Lamp, dan yang terakhir adalah Neville Mars dari Belanda yang merancang Writer Bench. Orisinalitas dari setiap karya ini begitu kuat terasa melalui konsep yang terwujud dengan baik secara detail. Beberapa karya dengan sadar menyuguhkan kemudahan penyimpanan dan pengiriman dan juga efisiensi penggunaan material. Sementara itu, pada kategori mahasiswa, karya-karya yang masuk sangat beragam dan unik. Seperti karya Klaudia Kuhn dari Academy of Fine Srts di Gdansk, Polandia merancang Bawa; meja multi fungsi yang menstimulasi kreativitas, mendukung perkembangan imajinasi, dan kemampuan manual anak-anak. Xaveria Mo Xiaofei dari Lassalle College of The Arts, Singapura merandang ‘Does it fit?’ yang terinspirasi oleh dilema yang selalu dialami oleh desainer ketika berhubungan dengan kenyamanan. Jexter Lim dari National

University of Singapura merancang Nishigo. Koh Min Xiang dari ITE College Central, Singapura merancang Pamakid Lamp yang sangat atraktif. Agnieszka Klimowicz dari Polish-Japanese Institute of Information Technology, Polandia, merancang stool. Dan yang terakhir adalah Angel Chow Ka Yu dari The Hongkong Polytechnic University yang merancang PoochFam yang terinspirasi oleh anjing peliharaan. Ide-ide dan konsep yang dimiliki oleh para peserta kompetisi ini memang beragam, tetapi mereka menghadirkan orisinalitas dalam berbagai wajah dan juga detail-detail menarik yang tidak hanya membuat furnitur tersebut lebih efektif secara fungsi, tetapi juga terlihat menarik atau bahkan artistik dalam kesederhanaan. Standar inilah yang membuat Furniture Design Award menjadi kompetisi yang menghasilkan wacana yang luas dalam desain. [Teks: SS]

furnituredesigndna.com

Pamakid Lamp by Koh min xiang Lampu dengan bentuk berhirarki yang bisa disesuaikan dan diposisikan sesuai aksis poin. Produk yang dinominasikan dalam kategori mahasiswa ini memiliki bentuk dan kualitas cahayanya memberikan kualitas sculptural yang artistik.

singaplural.com


evolveindesign

poochfam by angel chow ka yi Produk yang sangat peduli terhadap hewan peliharaan.. Bagaimana furnitur mewadahi aktivitas yang dibutuhkan oleh pemilik rumah dengan hewan peliharaannya. Terdiri dari coffee table, lamp, mobi; uang juga mengakomodasi perubahan seperti perubahan dalam kehidupan.

singaplural.com

bawa by klaudia kuhn Furnitur yang memberikan stimulasi bagi kreativitas dan juga membangun imajinasinya. karya yang dimple dan memiliki natural form ini juga memungkinkan anak-anak untuk belajar warna dan bemtuk.

maison-objet.com

radiant chair by ben cheng Garis-garis radial tersusun rapi dari bilah besi yang kemudian diikat oleh garis kuat yang membentuknya. Furnitur ini dirancang agar terlihat kuat tetapi fleksibel. Dengan memanfaatkan beban, kursi memili bentuk sendiri untuk kenyamanan.

stool by Agnieszka Klimowicz Bentuknya terinspirasi dari seni origami d ari Jepang. Meskipun menggunakan material lacquered black steel dan birch plywood, bangku ini terlihat cukup kuat dan stabil. Produk yang disebut dengan ramah lingkungan ini memang tidak memiliki banyak bahan sisa dalam produksinya. .

singaplural.com singaplural.com

nishikigo by jexter lim Karya yang masuk nominasi sebagai salah satu mahasiswa, Jexter menjadi sangat terinspirasi oleh ikan koi. Kursi ini sangat fleksibel dengan tampilan yang candy bar, bangku ini bisa ditumpuk.

singaplural.com

indesignlive.co.id

29


ONLY IN 48 HOURS Hanya dalam waktu 48 jam tantangan ini dilontarkan kepada mahasiswa. Hanya dalam waktu 48 jam, beberapa tim dari berbagai institusi desain di Singapura berlomba-lomba merancang instalasi dan dekorasi. Kompetisi ini juga melibatkan lima retailer di Park Mall. Tim desain yang berpartisipasi ini tidak hanya merancang instalasi saja, tetapi juga harus mempertimbangkan eksistensi showroom yang bersangkutan dan bagaimana instalasi nantinya akan bisa menambah daya tarik untuk masuk ke dalam showroom. Berlomba dengan waktu, kelima tim dan lima retailer showroom akan mengalami perubahan yang juga bisa dinikmati oleh para pengunjung dan pembeli. Dalam waktu 48 jam, showroom mengalami perubahan dan memiliki tampilan baru yang juga memberikan pengalaman belanja yang berbeda kepada konsumen. Sementara itu, bagi para tim yang berkompetisi, selama 48 jam ini adalah tantangan untuk selalu kreatif, open minded, dan juga menjaga kerja tim yang efektif. Kelima retailer yang berpartisipasi adalah Bean Rester, Castilla, Hugo Kitchen, Ovas Vase Art and Sculpture, dan Jespirit Collections. Kelimanya menjadi lokasi bagi tim desainer dari Institute of Technical Education, SP Design School, Temasek Polytechnic, The Inspiration Design International School dan The Nanyang Academy of Fine Art. Tantangan desain 48 jam ini tentunya memberikan begitu banyak pengalaman bagi mahasiswa yang terlibat dalam tim

desain dari setiap institut desain yang diwakilinya. Dengan waktu yang terbatas dan dengan dana yang terbatas pula, semua ide dan konsep harus dieksekusi sendiri hingga mencapai keberhasilan. Ajang kompetisi ini dimenangkan oleh tim dari Temasek Polytechnic yang bekerja sama dengan retailer Hugo kitchen, sementara tim desain dari The Nanyang Academy of Fine Art menerima penghargaan Best Sensorial Experience atas karyanya di showroom Jespririt. Selain di Park Mall, 48 hour Challenge juga dilaksanakan di pelataran Robinson Orchard Road pada 10—11 Maret 2014 yang melibatkan dua tim desainer profesional dengan tema “Welcome to The Jungle with Swarowski�. Desain yang mengangkat tren global dan tribalisme sebagai ekspresi untuk merespons lingkungan sekitarnya. Dua tim desainer profesional ini melakukan transformasi pada bangunan kaca menjadi jendela pamer yang melibatkan pengalaman sensorial hanya dalam waktu 48 jam. Tantangan desain ini kemudian akan dinilai oleh perwakilan dari Swarowski, Robinsons, Singapore Furiture Industries Council, dan Textile &Fashion Federation of Singapore berdasarkan pada keseluruhan konsep kreatif, pengalaman sensorial, dan integrasi kristal Swarowski ke dalam desain. [Teks: SS]

floating fabrics Tim desain dari The Nanyang Academy Of Fine Art bekerjasama dengan retailer Jespirit membuat instalasi pada plafon di area pintu masuk ke dalam showroom untuk memberikan kesan mengalir dan menarik perhatian para pengunjung Park Mall.

singaplural.com

singaplural.com

the spoons Begitu banyak sendok plastik yang disusun dalam kolase untuk membentuk logo dan gambar yang membuat tampilan muka showroom Hugo Kitchen terlihat lebih menarik. Tim desain dari Temasek Polytechnic memenangkan kompetisi ini dan menunjukkan kreativitas yang optimal denngan memanfaatkan benda terbatas.

singaplural.com


evolveindesign

Clover Stool by VW+BS Dengan menaati kesahajaan furnitur khas pedesaan Cina, ‘Clover’ stool turut menggarisbawahi keindahan desain fundamental. Meskipun memiliki tampilan sederhana, kreasi VW+BS yang terbuat dari kayu ek dengan pengencang aluminium ini tetap memancarkan karakter unik, sembari mempertahankan sisi fungsional..

Mirror 14.1 by Ministry of Design

vwbs.co.uk

Entah untuk tujuan personal grooming, mengobati ketidakpercayaan diri, atau mengagumi fisik pribadi; bercermin merupakan kegiatan yang tidak asing bagi manusia. Demi menginvestigasi esensi dari ritual sehari-hari tersebut, Colin Seah dari Ministry of Design menciptakan ‘Mirror 14.1’ – sebuah objek artistik dalam rupa cermin berukuran besar, dengan bahan pelapis sewarna tembaga, serta lipatan diagonal yang menggambarkan refleksi diri.

Industry+ Delapan karya desainer asal Singapura disatukan dalam debut koleksi yang menyampaikan ekspresi kreatif melalui objek sehari-hari. Singapore Design Week yang diselenggarakan pada bulan Maret 2014 lalu menjadi saksi peluncuran Industry+, sebuah koleksi yang berisi produk terbaru dari desainer-desainer kontemporer asal Negeri Singa Putih. Nama-nama yang terlibat dapat dikategorikan sebagai yang terbaik di negerinya – mulai dari desainer yang banyak dinantikan seperti Studio Juju, OutofStock dan Hans Tan; hingga arsitek kenamaan seperti Colin Seah dari Ministry of Design, Koichiro Ikebuchi dan VW+BS. Koleksi perdana ini dikurasi oleh kedua pendiri Industry+, P.C. Ee dari Exit Studio dan Yoichi Nakamuta dari E&Y. Oleh mereka, para desainer ditantang untuk menginvestigasi peran dan pertalian sebuah desain dengan kehidupan sehari-hari. Sebagian merespon dengan desain

yang mempertanyakan jati diri, beberapa menjawab dengan kreasi yang menyetarakan figur dan fungsi, dan ada juga yang menanggapi dengan rancangan yang menitikberatkan intensitas dari proses desain itu sendiri. Dari segi metode pembuatan, teknik produksi yang diterapkan cenderung eksperimental dan dikombinasikan dengan keterampilan tangan setara seniman ahli. Hasilnya adalah beragam produk industrial dari percampuran seni dan desain yang tidak hanya cantik untuk dikoleksi, namun juga memiliki kualitas tinggi. Melalui pengembangan produk dan desain yang terorganisir inilah Industry+ mewujudkan upaya untuk menyukseskan karya desain dari Asia di panggung internasional. [Teks: LA]

modonline.com

Spring Tray by Hans Tan Terlahir dari printer tiga dimensi, ‘Spring Tray’ terdiri atas susunan pegas berbahan dasar nilon dengan ketebalan bervariasi yang dibentuk secara cermat. Sang desainer, Hans Tan, menyebutkan bahwa rancangan ini memperlakukan teknik 3D printing tidak hanya selaku metode prototyping, melainkan lebih sebagai proses kerajinan tangan. Karenanya, selagi menjalankan tugas sebagai wadah buah-buahan, penampan futuristik ini juga dapat menjadi objek dekorasi yang sedap dipandang.

hanstan.net

industryplus.com.sg indesignlive.co.id

31


Maison et objet 2014

Low Chair by Denny Priyatna

Gebrakan perdana Maison&Objet Asia sukses menanamkan semangat kreativitas dan elegansi yang diturunkan dari perintisnya di Paris. Maison&Objet Asia melaksanakan debutnya dengan gemilang di Singapura pada bulan Maret 2014 yang lalu. Pamerannya yang berlangsung selama empat hari berhasil mengumpulkan seluruh komponen furnitur, mempertemukan para tokoh di sektor terkait, menyingkap talenta-talenta tersembunyi, serta menstimulasi pasar dan menyuarakan kreativitas – semua di bawah satu atap Marina Bay Sands Convention Centre. Selain Singapura, para pengunjung yang hadir dalam event utama di perhelatan Singapore Design Week ini mayoritas berasal dari Jepang, Filipina, Australia, Thailand, Malaysia, Cina, Hong Kong, Korea Selatan dan Indonesia. Mr Philippe Brocart, Managing Director dari Maison&Objet mengungkapkan, “Maison&Objet Asia dirancang untuk menjadi sebuah pentas unik yang menyatukan berbagai brand dengan beragam pengunjung – mulai dari retailer hingga konsumen, desainer interior hingga arsitek, serta pembangun properti hingga pemilik hotel dan restoran.” Beliau pun menambahkan bahwa, “Dengan berpartisipasi di kegiatan Singapore Design Week, Maison&Objet Asia sukses menjadi bagian dari komunitas desain di Singapura.”

Di tengah kemeriahan acara, Kenneth Cobonpue dianugerahi sebagai Designer of the Year versi Maison&Objet Asia 2014. Ia terpilih di antara sejumlah desainer top dari Asia yang juga sukses menanamkan pengaruh kuat di bidangnya. Sementara itu, penghargaan The Rising Asian Talents turut dipersembahkan kepada enam desainer muda, yaitu Denny Priyatna (Indonesia), Lilianna Manahan (Filipina), Yu-Fen Lo (Taiwan), Melvin Ong (Singapura), Mike Mak (Hong Kong) dan Sittichai Ngamhongtong (Thailand). “Yang membedakan Maison&Objet Asia dengan event sejenis lainnya adalah hadirnya perpaduan antara pengunjung dan eksibitor dari Eropa dan Asia,” ujar Denny Priyatna, salah satu Rising Asian Talents yang berasal dari Indonesia. “[Event] ini bukan hanya [dinilai] dari aspek komersil, melainkan juga dari pertukaran budaya yang terjadi di sini. [Pengalaman] itulah yang, bagi saya, tak ternilai harganya. Event ini juga telah menyediakan sebuah kesempatan baik untuk saya. Saya berharap supaya event ini dapat terus berkembang di tahun yang akan datang.” [Teks: LA]

maison-objet.com/asia designsingapore.org

Denny Priyatna berkolaborasi dengan Aldin M. Algatia dalam menciptakan ‘J Low Chair’ yang sarat dengan injeksi tradisionalisme. Terinspirasi dari kebiasaan orang Indonesia yang dahulu lebih sering duduk di lantai atau bangku rendah saat melakukan sebagian aktivitas, desain kursi rotan ini merupakan pendefinisian kembali dari bangku tradisional yang oleh masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan jojodog.

dennypriyatna.com

Hemera Bamboo Lamp by Yu-Fen Lo Yu-Fen Lo menyatakan bahwa material favoritnya adalah bambu dari Taiwan yang kabarnya lebih kuat dan lentur dibandingkan bambu jenis lain. Lampu kreasinya, ‘Hemera’ – yang juga terbuat dari bambu – menggunakan teknik anyaman silang berongga yang memberi akses bagi cahaya untuk meloloskan suhunya dalam kadar yang nyaman. Materialnya yang sustainable juga menjadikan lampu ini cocok untuk ditempatkan di dalam maupun di luar ruangan.

pinyen-creative.com.tw


evolveindesign

Paper Pleats by Melvin Ong Fleksibilitas adalah hal yang tidak terpikirkan saat membicarakan soal kertas. Namun lewat instalasi yang dikreasikan oleh Melvin Ong, kualitas alami dari kertas ditunjukkan melalui lipatanlipatan cermat dan akurat khas origami yang dibentuk menjadi satu set tableware yang memikat. Selain menyajikan nilai estetika tinggi, instalasi ini turut membuka berbagai potensi menarik dari pemanfaatan seni melipat kertas.

desinere.com.sg

Y Stool by Sittichai Ngamhongtong Menurut Sittichai Ngamhongtong, desain adalah mengombinasikan beragam unsur demi menciptakan sesuatu yang baru dan menarik. Berangkat dari prinsip tersebut, ia merancang ‘Y Stool’ yang ketiga kakinya dapat dibongkar-pasang. Daya mobilitasnya yang tinggi membuat stool ini praktis digunakan, sementara tampilannya yang jauh dari kata pretensius berhasil memenuhi selera estetika.

Hua by Mike Mak Syair dari Cina yang menceritakan tentang siklus hidup bunga adalah sumber inspirasi yang melahirkan ‘Hua’. Dengan pengkajian yang lebih mendalam, Mike Mak menyimpulkan bahwa hal yang paling mewakili kebudayaan Cina adalah aksaranya yang khas dan banyak menyimpan makna khusus. Representasi seni kaligrafi tampak dari bentuk vas yang memeragakan ketebalan goresan kuas dan pengaplikasian warna hitam mengkilap yang melambangkan tinta.

mikemak.com

idson.tumblr.com

Asterisk Table Lamp by Lilianna Manahan Kesan klasik Asterisk didapat dari badan lampu yang dicor dengan kuningan, sementara bagian kepala yang dapat diputar memungkinkan arah dan tujuan cahaya untuk dikendalikan. Dengan cara kerja praktis dan tampilan yang manis, lampu kreasi Lilianna Manahan ini tepat untuk dijadikan sahabat dalam kegelapan.

Kenneth Cobonpue

studiomagee.com

Colored Clay Salah satu tren yang turut memeriahkan Maison&Objet Asia 2014 adalah produk-produk keramik. Penggunaan tanah liat yang diwarnai menjadikan objek keramik semakin menarik dan penambahan aksen material kuningan semakin memperunik penampilannya.

Seusai mempelajari bidang Industrial Design di Amerika Serikat dan Furniture Marketing & Production di Jerman, Kenneth Cobonpue kembali ke tanah kelahirannya di Filipina pada tahun 1996 untuk mengelola Interior Crafts of the Islands, Inc. (ICI), perusahaan yang didirikan oleh ibundanya yang juga seorang desainer, Betty Cobonpue. Dengan mengintegrasikan serat natural lokal dan material berteknik produksi inovatif, ia memberikan “sebuah alternatif bagi definisi negara Barat mengenai desain modern” yang membuatnya layak mendapatkan pengakuan global. Deretan penghargaan yang diperoleh membuktikan karya-karyanya sebagai pengejawantahan dari desain Asia yang ideal, mulai dari ‘Croissant Sofa’ hingga ‘Lolah Chair’. Dinobatkan sebagai Designer of the Year versi Maison&Objet Asia 2014 merupakan prestasi terbarunya.

kennethcobonpue.com indesignlive.co.id

33


Global Anticipation International Furniture Fair Singapore 2014 mengukuhkan namanya sebagai salah satu pionir utama di pasar global industri furnitur. International Furniture Fair Singapore (IFFS) atau ASEAN Furniture Show ke31 (AFS) yang digelar pada 13—16 Maret 2014 lalu memasang rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir, perihal keramaian pengunjungnya. Dengan total partisipasi 418 exhibitor dari 33 negara, rangkaian trilogi acara IFFS/AFS 2014, The DÊcor Show 2014, dan Hospitality 360o sukses diramaikan oleh kehadiran 22.496 trade visitor dan 97 delegasi buyer internasional dari 115 negara. IFFS diselenggarakan Singapore Furniture Industries Council (SFIC) lewat kerja samanya dengan MP International Pte Ltd. yang mengorganisasi pameran-pameran furnitur, ekshibisi, konferensi, dan pagelaran-pagelaran skala dunia.

Memiliki tiga dekade pengalaman under its belt sejak kemunculan perdananya di tahun 1981, IFFS/ AFS dinilai oleh para ahli di industri sebagai sumber platform dan ekshibisi desain utama di Asia yang mampu menjadi penyalur bagi perusahaan, baik regional maupun internasional, untuk menembus pasar global. Rangkaian acara yang diadakan secara bersama-sama ini menghadirkan variasi furnitur, furnishing, aksesori penghias, desain, dan fitting dari eksibitor berkualitas yang membawa kehadiran pengunjung dan pembeli yang sesuai dengan pasarnya. Para eksibitor mengerahkan kreativitas untuk menciptakan booth pameran yang unik dan istimewa dalam

usahanya menggugah perhatian para pengunjung. Keikutsertaan berbagai brand yang dikenal secara global dan didukung secara penuh oleh ragam paviliun dari mancanegara, menambahkan kekayaan visual dari Singapore EXPO ini. Kehadiran acara dan desain inisiatif seperti SingaPlural, Furniture Design Platform dan Furniture Design Award, menjadi aspek yang membentuk profil ekshibisi IFFS ini sebagai acara yang tidak terlewatkan dalam kalendar acara di industri. [Teks: Anindia Karlinda]

iffs.com.sg

Adjustable Comfort An Ni Le menghadirkan O Table, meja dengan nampan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan, mulai dari mainan anak-anak hingga sayur dan buah-buahan segar, yang dapat pula berfungsi sebagai kitchen side table. Sekrup pada gagang juga memungkinkan tinggi meja diatur sesuai pengguna, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

anniledesign.com


evolveindesign

Chimney Warmth Bagaimana rona cahaya yang terpancar lewat bahan elastis seperti Lycra? Hangat dan lembut, menyerupai kesan yang ditemukan pada cerobong asap. Chimney Lighting dari Matter & Matter untuk SWBK mengusung bentuk cerobong yang unik dengan pegangan berbahan kayu pada satu lubang yang didesain untuk memberi kebebasan pada pengguna, baik untuk menggantung lampu pada pengait, menggantung dengan kabel dari atap, ataupun mendudukannya pada lantai dan meja.

swbk.com

Waterside Pleasure Dinamakan Butterfly Lounger untuk bentuk atap kanopi yang menekuk dan melipat hingga menyerupai sepasang sayap, Jirachai Tangijngamwong yang mendesain untuk Deesawat, memanfaatkan batang-batang teak wood yang tahan lama sebagai penopang. Didesain sebagai tempat lounging untuk dua orang, kursi ini sesuai untuk area bersantai dan relaksasi di pinggir perairan, baik kolam renang, dermaga danau, hingga tepi pantai.

deesawat.com

Asymmetrical Perfection Meja tidak lagi harus berdiri di atas empat kaki. Craft Bro.Company, mengaplikasikannya pada DL-L Drawer yang hadir dalam perpaduan material kayu walnut, ebony, maple, dan brass dengan oil finish, dengan lampu meja dari kuningan, berdiri menghiasi salah satu sisi meja. Sebuah laci dihadirkan untuk memberi fungsionalitas penyimpanan yang berselaras dengan kegiatan yang diakomodasi sebuah meja drawer.

craftbrocompany.co.kr

Trinity Hammocks

Spring Freshness Membawa “aroma� segar musim semi ke dalam ruangan, stool ini mengombinasikan elemen arsitektural lewat detail handcrafted berupa rangkaian bunga yang merambat di satu sisi kakinya. Terbuat dari kayu mahogani Filipina, Spring Stool dari Open Studio yang berdiri di ketinggian 74.5 cm ini tersedia dalam tiga pilihan warna yang memukau, white, red, dan matte black.

Bersantai ataupun bercengkerama di atas hammock sekarang dapat dinikmati bertiga. Gilbert Tourville mewujudkan Trinity Hammocks dengan stainless steel dan pilihan bahan hammock berupa benang akrilik dengan teknik hand woven dan quilted. Bentuk Infinity membentuk frame dari tiga cincin yang mengekspresikan belitan simbol “tak terhingga�. Model Eternity yang terinspirasi dari bentuk tradisional gazebo taman, memasang kanopi heksagonal dan meja kayu jati berdiameter 21 inci yang diletakkan pada bagian tengah.

trinityhammocks.com

openstudiomnl.com indesignlive.co.id

35


GATEAWAY tO ASIAN FURNITURE PAMERAN FURNITUR DAN KERAJINAN TANGAN BERSKALA INTERNASIONAL TERBESAR, IFEX 2014, MENJADI MELTING POINT YANG MELINTASI BATAS NEGARA Indonesia, sebagai negara yang diberkahi kekayaan alam seperti bambu, kayu, hingga rotan, mampu memajukan sektor furnitur negara jika disertai manajemen terstruktur dan dukungan penuh pemerintah. Kesadaran akan kekayaan sumber daya alam inilah yang ikut mendukung Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) mengantar Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2014 dengan sukses ke tengah masyarakat pada 11—14 Maret lalu di JIExpo Kemayoran Jakarta. Dalam pembukaan oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat, dan Ketua AMKRI Sunoto, dinyatakan Indonesia menargetkan peningkatan kegiatan ekspor furnitur dan kerajinan tangan untuk meningkat 20% per tahunnya hingga mencapai total US$ 5 miliar dalam lima tahun ke depan. Tujuan

utama adalah menjadikan Indonesia negara terunggul dalam industri furnitur dan kerajinan tangan di tingkat regional, dan masuk sebagai satu dari lima negara terunggul di level internasional dalam kegiatan ekspor furnitur. Acara yang ditujukan menarik pembeli internasional dari 110 negara ini ramai diikuti oleh lebih dari 700 eksibitor. Seperti yang diutarakan Chris Eve, Wakil Ketua Senior UBM Asia, selaku penyelenggara acara dalam pembukaannya, IFEX diharapkan menjadi one-stop-solution bagi pembeli luar negeri yang mencari variasi desain inovatif, sekaligus para importer atau perwakilan dari hotel, restoran, department store, interior desainer, kontraktor, dan penyalur dalam sektor bersangkutan. IFEX juga khusus mengundang media internasional yang tergabung dalam International

Alliance of Furnishing Publications (IAFP) dalam usahanya menampilkan potensi dan kekuatan bidang furnitur dan kerajinan tangan dalam negeri, sekaligus memperkenalkan hasil karya generasi muda nasional. Usaha kedua tersebut menjadi sorotan khusus di IFEX 2014. Bertajuk Indonesia Designers, area yang terletak di Hall D seluas 700 m2 ini menampilkan 50 karya desainer kontemporer Indonesia. Pada area ini, ditampilkan karya-karya yang dinilai sesuai mewakili perkembangan desain dan kreativitas desainer dalam negeri terkini. Peran lain yang dijalankan adalah sebagai ajang sosialisasi value creation di mana cara pandang industri diarahkan untuk memahami bahwa nilai desain yang baik akan dapat menciptakan nilai lebih dalam mata rantai perdagangan dan industri mebel. Area yang sama dimanfaatkan untuk

memamerkan IFEX Design Statement, khususnya dalam bidang Contemporary Furniture dan Craft. Penyelenggara juga mengadakan Program Business Matching yang mempertemukan para desainer dan industri/manufaktur untuk kelancaran transaksi dan prospek kerja sama secara berkelanjutan. Sebagai pameran perdagangan furnitur berskala internasional terbesar, IFEX diharapkan dapat mengakomodasi interaksi langsung para desainer dan industri dengan pembeli luar negeri, demi dikenalnya Indonesia di dunia internasional serta keikut sertaan bersaing dalam skema perdagangan internasional di masa mendatang. [Teks: Anindia Karlinda/ Nissa Maretta]

ifexindonesia.com

INDONESIA DESIGNER Area yang terletak di selasar Hall D gedung JIE Expo Kemayoran ini telah mengundang banyak mata baik lokal dan internasional untuk melihat hasil karya para desainer dalam negeri yang layak diapresiasi. Ajang ini menjadi kesempatan emas bagi para desainer produk Indonesia untuk dapat menitikkan jejak dalam peta desain dunia. Hal ini karena pada gelaran IFEX 2014 hadir pula sejumlah jurnalis desain internasional yang memberitakan perkembangan desain produk di Indonesia.

ifexindonesia.com


evolveindesign

THE RISING BOTTLES Karya Agung Pramudya Wijaya ini lebih menitikberatkan kepada penggunaan ulang dari limbah botol kaca—yang menurutnya menyimpan banyak potensi dan peluang. Dengan cutting pada sisi tertentu dan dikombinasi dengan material lain seperti kayu, logam, plastik, dan lainnya, akan meningkatkan nilai estetis serta memberikannya sebuah fungsi baru. Seperti produk dekorasi rumah (vas) dan lampu duduk yang eklektik.

COCONIZATION Meski menggunakan batok kelapa sebagai piranti makan bukanlah hal baru, Adhi Nugraha tidak semerta-merta hanya menghaluskan cangkang buah kelapa. Detail pada gagang ‘coco-cup’ dan ‘coco-scoop’ memperlihatkan sebuah mutu dan desain terencana dengan apik. .

adhinugraha.com

ifexindoensia.com

BLUE CIRCLE

Indonesia memang bukan Cina yang terkenal dengan sebutan negara tirai bambu, tapi bisa dibilang bambu hampir selalu hidup di sekitar kita. Harry Mawardi adalah salah satu desainer muda yang kembali menaikkan nilai ekonomis barang berbahan dasar bambu. Salah satunya dengan mengombinasikan teknik ruji, anyaman, dan memberi sentuhan berbeda lewat kombinasi material keramik.

Selain menjadi wadah desainer profesional unjuk gigi, IFEX 2014 juga menyediakan ruang bagi para mahasiswa desain. Luthfi Ahmad Fikri, Muhammad Risfan Badrus Salam, Dhientia Andani, Anggita Ghassani Putri yang merupakan mahasiswa Desain Produk ITB, Bandung, mencoba bertolak pada tema Retro serta konsep cahaya mercusuar, Blue Standing Lamp dirancang untuk memberikan pencahayaan fokus, tidak bias.

bhek2design@gmail.com

luthfismail24@yahoo.com

SEE THROUGH BAMBOO

indesignlive.co.id

37


I.MADE: CELEBRATE FOR GRADUATES OF LASALLE COLLEGE INAGURASI PARA AKADEMIK LASALLE COLLEGE DENGAN MEMPERSEMBAHKAN DESAIN-DESAIN TERBAIK DALAM ACARA I.MADE. I.Made bukanlah sebuah nama gadget terbaru atau teknologi terkini dari perusahaan berlambang apel, melainkan singkatan dari Indonesia Made, yakni sebuah perayaan kelulusan LaSalle College Jakarta yang menampilkan desain-desain terbaik dari 152 lulusan melalui berbagai kegiatan menarik dan interaktif. Bertempat di The Hall, Senayan City, Jakarta, acara yang diadakan pada 12 April lalu ini menyuguhkan event yang terbagi dalam dua sesi. Pertama, upacara kelulusan yang dimulai pada pukul 15.30 dan kedua adalah acara fashion show yang berlangsung dari pukul 19.00. Adapun di sesi pertama, para lulusan LaSalle College diinagurasi secara resmi yang kemudian diikuti oleh pemberian penghargaan kepada para lulusan terbaik dari setiap program studi. Terdapat 152 mahasiswa yang diinagurasi saat itu, yang terdiri dari

5 mahasiswa program D4 Fashion Design dan Fashion Merchandising, 37 mahasiswa Fashion Design, 37 mahasiswa Fashion Business, 32 mahasiswa Artistic Make Up, 16 mahasiswa Digital Media Design, 18 mahasiswa Interior Design, dan 7 mahasiswa dari Jurusan Photography. Sementara itu, di sesi kedua, fashion show digelar untuk memamerkan koleksi terbaru dari para lulusan program Fashion Design di depan undangan. Sesi ini dibuka dengan Bala Turangga sebagai Opening Dance dari Eky Dance Company. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan koleksi runway yang terdiri dari 7 sequence, yaitu Sultanate, Vanity Fair, Retrospective, Cosmopolites, Thermo Dynamix, Kidswear Mini Collection, dan ditutup oleh koleksi dari Finalis Hempel Award, Febriyantin Athila. Tak hanya kedua sesi, di luar ruangan utama juga terdapat area ekshibisi yang

menampilkan pameran dari berbagai program, di antaranya artistic make up performance, pameran beberapa brand dari mahasiswa Fashion Bussiness, pameran digital media design, pameran fotografi, instalasi desain interior, furnitur, kerajinan tangan, dan maket sebuah bangunan. Douwes Lasmana selaku Head of Marketing & Communication mengungkapkan, “Tahun ini LaSalle College menampilkan mahakarya desainer muda terbaik, terinspirasi dari budaya Indonesia.� I.Made menjadi tema acara kelulusan LaSalle College yang terinspirasi dari Indonesia, negara dengan ribuan pulau indah dan kaya yang dikenal dunia karena keunikannya. Selamat kepada para lulusan! [Teks: Arisa Imandari]

lasallecollege.ac.id


evolveindesign

VISUAL EXPRESSION SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN DESAIN TERKEMUKA, LASALLE COLLEGE MEnunjukkan transformasi desain MAHASISWANYA KEPADA PUBLIK. Lembaga pendidikan desain saat ini bisa dibilang sedang naik daun. Bagaimana tidak? Perkembangan global seolah memberikan ruang tak terbatas bagi dunia seni dan desain. Hal ini tentunya membuka peluang bagi bibit-bibit muda yang nantinya akan turut meramaikan dunia desain baik lokal maupun internasional. Lasalle College adalah salah satu lembaga pendidikan terkemuka dari Kanada, dan telah berdiri di Indonesia sejak tahun 1997 yang menyediakan pendidikan desain berkualitas tinggi bertaraf internasional. Selama ini Lasalle selalu memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk unjuk gigi pada pameran yang kerap diselenggarakan oleh Lasalle. Ruang publik dan komersial seperti pusat perbelanjaan pun kerap menjadi lokasi pameran. Hal ini rasanya sangat baik. Dengan begitu, secara tidak langsung mengenalkan peran desain kepada khalayak. Tak hanya itu, bagi para mahasiswanya sendiri pun dengan turut menjadi peserta pameran diharapkan dapat

meningkatkan kepercayaan diri serta terpacu untuk menghasilkan karya dengan kualitas terbaik. Fluxibility, menjadi salah satu tema pameran Interior Design, Digital Media Design dan Photography yang berlokasi di atrium Plaza Senayan pada Februari 2014 lalu. Kolaborasi karya menjadi kata kunci dalam pameran ini, ekspresi visual menjadi inspirasi yang dapat ditampilkan dengan mengeksplorasi ragam media yang berbeda dan membiarkan kreativitas mengalir dengan sendirinya. Beragam karya dua dan tiga dimensi dapat dinikmati para pengunjung pusat perbelanjaan yang kian ramai dipadati pengunjung. Gelaran rutin dalam mempersembahkan karya mahasiswa ini menjadi komitmen LaSalle College Jakarta dalam mengenalkan kreativitas mahasiswanya kepada publik. [Teks: NM]

product showcase Salah satu yang cukup menarik para pengunjung ialah hasil karya dari jurusan Interior Design yang menghadirkan mulai dari prototipe model furnitur seukuran asli hingga miniatur. Berbagai karya dua dan tiga dimensi yang dipersembahkan sebanyak 43 mahasiswa, bertujuan agar para pengunjung dapat menentukan pemahamaan pribadi mereka dalam ekpresi visual.

lasallecollege.ac.id lasallecollege.ac.id

indesignlive.co.id

39


HOME DECORATION TALKSHOW Ruang yang nyaman ternyata juga membutuhkan penataan ulang atau perombakan dekorasi untuk kemBali segar dan memberikan energi dan semangat baru kepada penggunanya. Menghadirkan tatanan dekorasi interior baru memang sesekali dibutuhkan untuk bisa memberikan pengalaman meruang atau sekedar memberikan kualitas baru pada ruang. Vivere dengan serangkaian koleksi furnitur dan pernik interiornya menjadi alternatif yang baik untuk menemukan produk yang sesuai dengan tampilan interior ruang di hunian kita. Dalam rangka menyapa rekan dan kolega di Bali, Vivere bekerja sama dengan Livingetc Indonesia untuk menyelenggarakan talkshow yang berbicara tentang home decoration dengan mengangkat tema “Bring Smart Living to Your Space� dengan

menghadirkan pembicara desainer interior Kezia Karin dan Achmad Noe’man dengan moderator Resti Purniani, Editor in Chief Livingetc Indonesia. Acara yang juga didukung oleh IAI dan HDII Bali ini mendapat respons yang baik dari para desainer dan arsitek di pulau dewata ini. Vivere dengan produk-produknya menjadi representasi smart living yang menghadirkan produk-produk dengan desain modern yang tetap memiliki sentuhan Indonesia. Twist dan detail kecil dalam setiap produk vivere ternyata dirancang untuk memberikan kualitas interior yang unik. Hal ini dijelaskan oleh Achmad Noe’man yang juga

berbagi cerita tentang tren yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Smart living kemudian dijabarkan sebagai semangat untuk dengan lebih cermat menata ruang sehingga aktivitas terwadahi dengan baik, sementara itu mengubah tampilan atau suasana bisa dilakukan dengan sederhana tetapi memiliki efek maksimal. Bagi desainer dan arsitek acara ini kemudian juga menjadi ajang networking dan saling berbagi informasi. Sebuah sinergi yang semoga membawa hal positif di kemudian hari. [Teks: SS]

viverecollection.co.id


evolveindesign

FOOD AND HOTEL ASIA 2014 PENGUNJUNG DIMANJA OLEH BERAGAM PRODUK, KOMPETISI, SEMINAR, DAN KONFERENSI DALAM EKSHIBISI FOOD & HOSPITALITY TERBESAR DI ASIA.

5-world class competition Salah satu acara menarik di FHA 2014 ialah kompetisi kelas dunia yang diikuti oleh ribuan kompetitor dari seluruh dunia. Mereka menunjukkan kemampuan dan bakatnya dalam mengolah, menyajikan, dan mempresentasikan kuliner sekelas bintang 5 dunia.

foodnhotelasia.com

Food and Hotel Asia (FHA) memiliki awal yang sederhana di tahun 1978. Namun sekarang perhelatan ini semakin berkembang pesat yang bahkan disebut-sebut sebagai ekshibisi terbesar di Asia untuk industri food & hospitality. Dari pameran perdagangan kecil yang diadakan di tempat parkir sebuah hotel kini menempati seluruh 10 hall Singapore Expo dengan luas tak kurang dari 102.000 meter persegi. FHA 2014 baru saja selesai diselenggarakan pada 8—11 April lalu dengan menggandeng pameran Wine & Spirits Asia 2014. Ajang bienial ini diisi oleh 3.214 exhibitor dan 63 paviliun grup internasional. FHA sendiri dikenal karena event spesialnya yang dinamakan Food Asia, Hotel Asia, Bakery & Pastry, Hospitality Style Asia, dan Hospitality Technology. Menariknya, seiring dangan permintaan yang semakin meningkat, tahun ini FHA juga meluncurkan Speciality Coffee & Tea. Dalam perhelatan ini, FHA mengenalkan banyak sekali produk food & hospitality dari seluruh dunia sesuai kategori event. Selain dimanjakan oleh pameran produk food & hospitality, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai seminar dan workshop, seperti Bakery and Pastry Demonstration and Workshop,

Chocolate Demonstration and Workshop, Speciality Coffee & Tea Activities, dan pelatihan barista. Ada pula konferensi internasional yang mengedepankan pengetahuan dan informasi seputar industri terbaru, pengembangan, dan inovasi untuk menjamin keuntungan bagi pebisnis. Sementara itu, ribuan peserta menunjukkan bakat serta talenta mereka dalam kompetisi kuliner kelas dunia, mulai dari FHA Culinary Challenge 2014, FHA Barista Challenge 2014, FHA Latte Art Challenge 2014, hingga Asian Pastry Cup 2014. Antusiasme para peserta FHA dari tahun ke tahun memang semakin besar. Tak heran jika selama empat hari diadakan, area ekshibisi selalu dipenuhi pengunjung, dan berhasil memecahkan rekornya dengan 64.826 pengunjung dari lebih 100 negara/ wilayah baik masyarakat maupun pebisnis, lokal dan internasional. Jumlah ini naik 5,8 % dari event terdahulunya. Untuk menyambut antusias peserta, event ini pun akan kembali diadakan dengan acara dan exhibitor yang semakin menarik. Sampai jumpa di tahun 2016 mendatang! [Teks: AI]

foodnhotelasia.com indesignlive.co.id

41


DESAIN BERTUMBUH Kepekaan untuk merespons kampung kue di Surabaya dan industri terasi di Tuban membawa dua peserta Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang tahun 2014 ini memenangkan travel grant ke Tokyo. Kerja sama antara Aboday Design dan UPH untuk menyelenggarakan sa­ yembara telah memasuki tahun kedua. Tema Arsitektur Rimpang menjadi pilihan kali ini yang sekali lagi menan­tang para mahasiswa dari segala penjuru Indonesia untuk lebih peka melihat potensi di sekitarnya, menemukan obyek potensial, dan meresponsnya dengan desain. Dari total 35 peserta yang ikut serta tahun ini, dewan juri yang terdiri dari Ary Indra, Andra Matin, Agung Dwie, dan David Hutama memutuskan lima karya yang menjadi finalis dan berhak mendapatkan kesempatan untuk presentasi di depan dewan juri pada tanggal 7 Juli 2014 yang lalu. Kata Rimpang mungkin awalnya akan membingungkan, tetapi kata yang maknanya berhubungan dengan akar tanaman ini merepresentasikan sebuah pertumbuhan, yang organik dan tidak terencana. Arsitektur yang mempertemukan fungsi hunian dan usaha kecil akan memiliki karakter dan pertumbuhan seperti rimpang atau akar tanaman. Menyebar dan organik bersama dengan konteks yang terbangun disekitarnya. Harus disadari bahwa tema tahun ini cukup sulit karena melibatkan kerumitan tertentu yang mungkin membutuhkan observasi dan eksekusi desain yang memakan waktu cukup panjang. Keterbatasan waktu juga ikut menambah tingkat kesulitan untuk menyelesaikan tantangan tahun ini. Yang membanggakan adalah kelima finalis terpilih menyajikan hal yang berbeda dan semua datang dengan riset

mendalam untuk karyanya, sehingga setiap karya memiliki kekuatan ceritanya sendiri. Kelima finalis tersebut adalah Firdiansyah Fathoni dari Institut Teknologi Sepuluh November, Hikmatyar Abdul Azis dari Universitas Sebelas Maret, Evelyn Witono Putri dari Universitas Tarumanegara, Angga Dwi Susilohadi dari Institut Teknologi Sepuluh November, dan Reni Dwi Rahayu dari Universitas Brawijaya. Melalui mekanisme presentasi, para finalis mempertahankan ide dan argumennya di depan dewan juri dan penonton umum yang banyak datang dari beberapa perguruan tinggi di jakarta dan media. Dengan mempertimbangkan komprehensitas karya, topik yang diangkat, dan mengembalikan hakikat sayembara pada pencarian solusi tepat guna sehingga mungkin diterapkan, maka dewan juri memutuskan dua finalis yang memenangkan travel grant ke Tokyo. Kasus Kampung Kue Surabaya membawa Firdiansyah Fathoni dari Institut Teknologi Sepuluh November memenangkan hadiah travel grant, begitu juga dengan Reni Dwi Rahayu dari Universitas Brawijaya yang menarik perhatian juri dengan karya berjudul Smell Ended Village yang mengangkat kampung pembuat terasi di Tuban. Keduanya akan dibiayai untuk pergi ke Tokyo, Jepang selama seminggu pada bulan Oktober 2014 mendatang. [Teks: SS]

presentasi dari finalis Presentasi para finalis di depan dewan juri memberikan kesempatan kepada mereka untuk lebih dalam menjelaskan rancangannya dan dewan juri juga bisa lebih dalam mengapresiasi dan memahami kedalaman berpikir dan desain dari para finalis..

aboday.com, uph.edu

aboday.com

dewan juri Para dewan juri dari kompetisi ini berasal dari akademisi dan praktisi.

aboday.com, uph.edu

finalis dan pemenang Kelima finalis yang terpilih sudah menunjukkan kualitas karya yang bagus, sementara itu dua pemenang akan segera berangkat ke Tokyo untuk menjalani travel grant yang dimenangkannya..

aboday.com, uph.edu


evolveindesign

ATAP JAKARTA RUANG DALAM DAN LUAR SEOLAH MELEBUR DALAM SIMPOSIUM ATAP JAKARTA. Banyak yang terlupakan atau kadang juga tidak sadar akan kualitas ruang dan aktivitas tinggal pada hunian privat ternyata dapat memberi banyak nilai positif. Hampir setahun sudah rangkaian Atap Jakarta berjalan guna memahami kemungkinan apa yang dapat diolah dalam desain sebuah hunian masa depan di Jakarta. Rangkaian Monthly Seminar Series pun mencapai simposium pada April 2014. Arsitek sekaliber Sou Fujimoto, profesor Kei Minohara dan Adi Purnomo se­bagai pembicara seakan menjadi magnet para masyarakat arsitektur terlebih mahasiswa. Kei Minohara, se­bagai urban planner, memaparkan kondisi perkotaan negaranya zaman dahulu, dari segi budaya serta sosial yang memengaruhi penataan residential area. Adi Purnomo, arsitek dengan tingkat kepedulian terhadap alam, lingkungan, dan iklim sangat tinggi, menganalogikan proses rancang dengan tubuh manusia serta mengungkap persoalan immateriality and materiality. Adapun bintang pamungkas simposium ini, Sou Fujimoto, memaparkan tentang konsep ruang dalam— luar sebagai suatu koneksi antara nature dan architecture.

Dalam karya sohornya, Serpentine Gallery, Sou ingin megekspresikan soft impression pada material dan lanskap, mengindikasikan kedekatannya dengan alam. Pada tahap ini, antara ruang dalam dan luar mengabur dan melebur. Yang kemudian menarik, ia menceritakan bagaimana tempat kelahirannya, Hokkaido, sangat nyaman, dikelilingi oleh alam dan sangat berbeda dengan Tokyo yang padat dan “ramai” namun yang terjadi ia tetap merasa nyaman, “how the spaces are created are the same,” jelasnya. Bahwa alam terdiri dari berbagai elemen kecil seperti daun dan ranting sama halnya dengan “keruwetan” Tokyo terbentuk dari elemen kecil yang saling menyatu membentuk space nyaman dalam living environment penduduknya. Lalu, bisakah hal tersebut ditemukan di Kota Jakarta? Mungkin selain penjabaran akan ilmu pengetahuan tentang beragam kemungkinan yang dapat diterapkan kepada para praktisi, mahasiswa, dan media, ada hal lain yang juga tak kalah penting untuk disosialisasikan ke masyarakat Jakarta, kepekaan. [Teks: NM]

atap-jakarta.org

CULTURAL REVIVAL VIVERE KEMBALI MENGGAUNGKAN NASIONALISMENYA LEWAT KOLEKSI TERBARU. Setelah sebelumnya giat menggelar Vivere Connext – Emerging Designers pada 2013 sebagai bentuk kepedulian terhadap para desainer muda Indonesia, pada 10 Mei 2014 lalu, Vivere kembali menyuarakan misinya dalam melestarikan budaya tradisional Indonesia lewat koleksi artwork. Dayak menjadi tema budaya yang dipilih. Desain serta warna yang cerah dan tegas menurut Nadia Fitriyani selaku General Manager Marketing & Store PT Vivere Multi Kreasi dirasa sesuai untuk menampilkan karakter musim panas (spring/summer) yang akan datang. Koleksi Vivere Culture menampilkan artwork yang sarat akan nilai autensitas, kekhasan, serta orisinalitas budaya Dayak, Miniature Baby Carrier, alat

gendong bayi yang digunakan oleh suku Dayak Kenyah, Kalimantan Timur. Selain itu, terdapat koleksi artwork Dayak Digging Stick yang mana dapat menjadi dekorasi dinding bergaya etnik dengan mengombinasikan unsur estetika dan fungsi budaya ke dalam koleksi seri Dayak – Borneo. Kurang lebih terdapat 30 produk yang diluncurkan Vivere pada acara peluncuran VIVERE Culture yang digelar di showroom Vivere, Kemang Village, Jakarta. Sajian budaya tak luput daftar acara yang berlangsung. Para penari tradisional Dayak dan sejumlah makanan khas tradisional pun seolah menghadirkan atmosfer kebudayaan Indonesia yang kental. [Teks: NM]

viverecollection.co.id indesignlive.co.id

43


Photography Courtesy of Williwam Kalengkongan

THE SOCCER ISSUE

Jakarta’s Top Restaurants 2012-2013 Putting the ‘Fun’ in Functional Layers of Tranquility, An Elegant Way to Spend Holiday

INDONESIA / JUNI 2014

JUNI 2014

At home in the modern world

World Cup 2014 Bentley

BOLD COLOUR INSPIRATION

Oriental Style Hotels Rattan Pendant Lamps

Modern Resorts

NEYMAR JR.

In Between Nature and Contemporary Structure

BRAZIL’S GREATEST HOPE

PLUS

TED BAKER MIRANDA KERR CRISTIANO RONALDO CALIBRE DE CARTIER DIVER

Exotic Touch

Dan seluruh Brazil meletakkan harapannya di pundaknya

THE GREATEST SHOW ON EARTH

KEMBALINYA SI BANGSAWAN KE SIRKUIT BALAP

HARGA RP 60.000/LUAR JAWA RP 65.000

INSPIRATION IDEAS 10 Pilihan Furnitur Outdoor 7 Gaya Display Unik

SGD 7.90 (incl GST) RM 16.90 THB 175 PHP 250 HKD 60 IDR 59,500

JUNI 2014 RP. 55,000 LUAR JAWA RP. 58,000 ISSN: 2089-337X

May/June 2014

Young Guns

IDR. 80,000

14 of Asia’s Brightest Stars in Contemporary Design

ISSN 208 785 59

www.cremepublishing.com

A CRÈME Publication

Sensational


indesign

45

jakarta i singapore I hong kong

®

MSC School Supellex house Gunawan Tjahjono Dusun Bambu Kalbis Institute Ampera Six Building

Your Favourite Lifestyle, Travel, Jewellery, watches, Fashion, Property, Design Magazine is under one roof! www.mpgmediapublishing.com

ISSUE 09. 2014 ISSN 2089-0656

LOW

@ SURFACEASIAMAG The new Surface Asia —sleeker, sharper and focused on everything Surface is all about: global contemporary

DEDICATED TO LUXURY TIMEPIECES

JAN-JUN 2014

WatchTalk Antonio Calce Christian Selmoni Jerome Lambert

IDR. 100,000

BREGUET

Marine Tourbillon


Foreseeing The Future Dengan tema RE:THINK RE:CREATE Future Living 2030, Nippon Paint Young Designer Award 2014 tidak hanya memberi ruang untuk kreativitas, tapi juga kekuasaan dalam menentukan kualitas hidup di masa depan. Pernahkah membayangkan seperti apa tempat tinggal yang ideal dalam 10 hingga 20 tahun mendatang? NPYDA 2014 memberi kesempatan kepada arsitek dan desainer interior muda untuk memvisualisasikan (Re:think) komunitas yang ideal pada area yang sudah ada dan mengreasikannya (Re:create) menjadi hunian ideal di masa depan yang ramah lingkungan. Ajang tahunan NPYDA digelar dengan tujuan utama memotivasi mahasiswa desain interior dan arsitektur agar lebih kreatif, inovatif, dan profesional. Melalui ajang ini, bakat-bakat muda diharapkan mendapat pengalaman juga kesempatan tampil di ajang internasional untuk membanggakan Indonesia. Tahun ini, selain hadiah uang tunai sejumlah 15 juta rupiah serta 10 juta rupiah, pemenang Gold Award akan dikirim kembali ke Tokyo, Jepang, untuk menghadiri NPYDA Tokyo

Conference 2015 tingkat internasional yang diikuti 8 negara Asia lainnya: Cina, Jepang, Malaysia, Pakistan, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Hong Kong. Tahun 2013 yang lalu nama Indonesia berhasil memenangkan 2 buah award untuk masing-masing kategori ( jumlah total 4 award), dalam penjurian karya-karya pemenang Gold Award dari kesembilan negara. Prestasi yang membanggakan ini mengukuhkan kualitas anak muda Indonesia di mata internasional. Acara tahunan yang sudah diselenggarakan di Indonesia sebanyak 3 kali ini juga membuka peluang magang bagi pemenang Gold, Silver, dan Bronze Award di firma-firma terbaik seperti Aecom Design & Planning Indonesia, Andra Matin, Atelier Cosmas Gozali, Axon Sembilan Puluh, Djuhara + Djuhara, Ethospace, dan Ong & Ong. Karya para pemenang juga

berkesempatan tampil di Jakarta House Vision 2016 bersama Kenya Hara. Demi meningkatkan kesadaran publik akan ajang ini, diselenggarakan roadshow di universitas-universitas besar di empat kota (Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang). Pada roadshow di Fakultas Teknik Universitas Indonesia April lalu, terdapat pengarahan mengenai ajang NPYDA disampaikan oleh Ben, perwakilan dari Nippon Paint, diikuti product briefing cat Nippon Paint lewat tampilan foto dan video yang atraktif. Hadir pula Cosmas Gozali, selaku juri ajang NPYDA dan pendiri Atelier Cosmas Gozali yang memberi paparan seminar dengan topik “Succeeding in Architecture and Interior Design� menyorot lima poin yang dibutuhkan untuk mencapai sukses di kedua bidang, yaitu content, uniqueness, packaging, marketing, dan demand. Dalam setiap poin terdapat

sub persyaratan yang wajib dimiliki individu, sebagai contoh pada poin content yang mengharuskan adanya innovation, technical knowledge, regulation, contract, dan time management demi pencapaian diri yang memuaskan. Adapun roadshow di Universitas Trisakti, selain mempromosikan kegiatan sayembara ini, perwakilan dari Nippon Paint juga memberikan pengetahuan tentang beragam jenis cat beserta kegunaannya. Lebih lengkapnya, pada press conference, Irena Joesoeb selaku Head of Marketing Nippon Paint Indonesia menyatakan bahwa ajang NPYDA ini merupakan komitmen dan upaya Nippon Paint untuk memajukan dunia kreatif dalam negeri, dalam ranah desain interior dan arsitektur. [Teks: AK/NM]

npyda-indonesia.com


evolveindesign

npyda 2013 winners Raynaldo Theodore dan Rahmat Hidayat merupakan pemenang kategori Arsitektur dan Desain Interior, Nippon Paint Young Designer Award 2013. Keduanya berhasil memberikan konsep serta perwujudan terbaik akan tema tahun lalu, RE: THINK RE: CREATE yang berfokus kepada ruang dengan nilai historis dan budaya Indonesia menjadi sesuatu yang baru dan bermakna.

npyda-indonesia.com

trisakti roadshow Selain Unviversitas Indonesia, Nippon juga menyambangi Universitas Trisakti Jakarta untuk melakukan roadshow. Pentingnya pengenalan serta kepekaan dalam menggunakan beragam material untuk bangunan seperti cat menjadi salah satu topik yang dibahas dalam roadshow kali ini. Dengan adanya pengenalan dari kampus-ke-kampus, NPYDA mengharapkan antusiasme peserta dalam mengikuti kompetisi ini akan terus meningkat.

UI ROADSHOW Untuk tahun 2014, masih sama seperti sebelumnya, Nippon Paint mengadakan roadshow keliling universitas di seluruh Indonesia. Selain mengajak para mahasiswa untuk turut serta dalam kompetisi ini, Nippon Paint juga menghadirkan Cozmas Gozali, seorang arsitek ternama sekaligus juri NPYDA, untuk berbagi pengalaman cara sukses dalam dunia arsitektur dan desain interior.

npyda-indonesia.com npyda-indonesia.com

goes to japan Pemenang Gold Award baik dari kategori Desain Interior dan Arsitektur akan diberangkatkan ke Jepang untuk menghadiri NPYDA Tokyo Conference serta mengikuti workshop dengan Sadao Tsuchiya dan Kenya Hara (MUJI House) bersama berbagai arsitek dan desainer interior kelas dunia lainnya. Untuk tahun 2014 sendiri, para pemenang juga berkesempatan memamerkan karyanya dalam pameran Jakarta House Vision 2016.

npyda-indonesia.com

indesignlive.co.id

47


ALL AROUND EXPERIENCE Nama ‘experience’ ternyata memang memberikan begitu banyak pengalaman di dalamnya. Sebagai salah satu perusahaan yang diperhitungkan di Thailand, Siam Cement Group (SCG) memang telah begitu berkembang dari hanya memasarkan semen hingga sekarang telah memiliki banyak produk dan material untuk bangunan. Untuk memberikan informasi kepada publik dan para profesional, SCG membangun sebuah pusat informasi dan edukasi yang kemudian disebut SCG Experience. Bangunan yang terbuka untuk publik ini tidak hanya memberikan informasi seputar produk yang berada di bawah naungan SCG saja. Kata ‘experience’ dimaknai dengan sangat serius oleh SCG dan di dalam bangunan ini menjadi sebuah one stop source untuk mengenal bangunan. Di Thailand sendiri SCG Experience terdapat di dua lokasi, di kompleks Crystal Design Centre dan satu lagi terletak di Bangna. Dengan mengusung tagline The New Experience of Creative Living, bangunan tiga lantai ini menyediakan segala hal yang dibutuhkan untuk mengenal dan memahami produk SCG dan a-z tentang bangunan. Memasuki bangunan ini sudah mulai terasa aura edukasi yang sangat kental.

Segala penanda seperti memberikan informasi kepada pengunjung. Lantai satu menjadi tempat pertemuan publik dengan SCG sehingga terdapat customer service area yang akan memberikan informasi kepada pengunjung lebih lanjut. Bagi arsitek yang datang dengan kliennya, bisa memanfaatkan consultant zone atau cafe zone di lantai satu untuk mendiskusikan desain dengan klien sembari menunjukkan referensi dari magazine zone atau inspiration zone. Di lantai ini terdapat auditorium dan XP hall yang bisa mewadahi banyak orang sehingga SCG bisa menerima kedatangan komunitas desain atau mahasiswa untuk belajar dan memanfaatkan fasilitas di bangunan ini. Naik ke lantai dua akan mulai menemukan displai material lantai keramik dan produk sanitari yang disusun dan dirancang dengan sangat informatif dan atraktif. Pengunjung bisa melihat produk tersebut dari dekat, sekaligus melihat seberapa banyak tipe dan keragaman yang tersedia. Di lantai satu SCG lebih banyak memamerkan produk-produknya yang berhubungan dengan semen dan beberapa produk lain sebagai gambaran

global seperti apa SCG saat ini. Sebuah mezanin diperuntukkan untuk desain yang ramah lingkungan dan salah satu komitmen SCG untuk mengembangkan Elderly solution design. Mock up dan displai pemasangan produk SCG diperuntukkan bagi orang tua atau yang memiliki keterbatasan gerak bisa dilihat dan dipelajari dengan keterangan yang sangat jelas. Bagi mahasiswa, arsitek, desainer interior, dan profesional yang bergerak di industri desain akan menemukan begitu banyak fasilitas yang mendukung seperti perpustakaan di lantai dua. Beberapa fasilitas lain seperti designer club dan studio zone adalah ruangruang yang tersedia untuk mewadahi dinamika kerja mereka yang mungkin harus melakukan presentasi kepada kontraktor, proses desain multidisiplin, dan beragam aktivitas lainnya yang memberikan kenyamanan bagi anggota klub untuk bekerja. Sementara itu, di lantai tiga, SCG memamerkan rangkaian produk untuk atap, lantai, dinding, dan plafon. Di sini arsitek bisa membawa kliennya untuk menunjukkan proses dan bagian-bagian dari rumahnya yang terkadang tidak bisa

dijelaskan secara verbal. Sebuah mock up rumah yang dikuliti menunjukkan seperti apa bagian per bagian dari rumah seperti lantai, fondasi, dinding, atap, plafon, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat galeri material atap yang menunjukkan betapa banyak varian material atap yang ditawarkan. Dari yang mendekati bentuk material atap yang konvensional hingga yang memiliki lapisan khusus atau cukup ringan dan praktis untuk daerah yang sering gempa. Di setiap bagian dari SCG Experience ini memberikan pengalaman yang total berhubungan dengan rumah atau bangunan. Tidak hanya pengalaman dan informasi, tetapi bangunan ini juga memiliki fasilitas yang mewadahi kegiatan dan pertemuan profesional dengan klien yang mendukung majunya industri desain dan bangunan di Thailand selain merangkul konsumen untuk lebih memahami dan mengerti produk-produk di bawah SCG. [Teks: SS]

scgexperience.co.th


evolveindesign

the lobby lounge Area lobi dengan ruang duduk, inspiration area dan banyak fasilitas di lantai satu yang bisa dinikmati sembari duduk santai di sini..

scgexperience.co.th

kitchen mock up Untuk memberikan pengalaman yang komprehensif, terdapat berbagai mock up unterior dan juga kitchen untuk menunjukkan berbagai produk di bawah naungan SCG yang digunakan dalam setiap setting. Desainnya kemudian dikembangkan dari empat tren yang diformulasikan oleh SCG yang membedakan desain dan menyesuaikannya dengan karakter, cita rasa, dan kebiasaan seseorang.

scgexperience.co.th

library experience

Perpustakaan yang tenang, nyaman, dan dilengkapi oleh banyak koleksi yang berhubungan dengan desain sangat mendukung para profesional atau bahkan awam untuk datang dan mencari inspirasi. Perpustakaan ini merupakan bagian dari Designer’s Club yang memberikan fasilitas kepada anggotanya untuk menggunakan perpustakaan dan studio zone yang dirancang dalam tiga tipe, tipe lounge, tipe studio, dan terdapat meeting room yang bisa digunakan..

scgexperience.co.th

indesignlive.co.id

49


scg at architect fair 2014 Perhelatan Architect Fair di IMPACT Muang Thong Tani, Bangkok, Thailand menjadi salah satu momentum bagi Siam Cement Group dalam merayakan 100 tahun eksistensi dalam bisnis semen dan bahan bangunan di Asia. Pameran yang diselenggarakan pada tanggal 29 April hingga 4 Mei 2014 ini merupakan pameran teknologi bangunan yang diselenggarakan oleh The Association Siamese Architect (ASA) dan gaungnya telah menarik perhatian arsitek dan pelaku bisnis untuk datang ke pameran ini. SCG selaku salah satu perusahaan bahan bangunan terbesar di Thailand ikut serta dalam perhelatan internasional ini dan menghadirkan paviliun yang sangat lengkap untuk memberikan informasi lengkap kepada publik tentang pencapaian, komitmen, dan kualitas produk SCG. Dalam konferensi pers di SCG Pavilion, Direktur Brand SCG CementBuilding Material Anuvat Chalermchai menyampaikan upaya SCG untuk membaca tren yang berkembang sekarang dan masa mendatang. Konsep Universal Desain mereka usung sebagai payung besar yang menaungi inisiasi SCG untuk memrediksi empat tipe tren yang akan berkembang di masa mendatang. Kata “universal�

menjadi wujud kesadaran untuk peduli kepada anak-anak, ibu hamil, orang cacat fisik, atau orang tua lanjut usia. Seperti “elderly solution� yang membantu konsumen untuk menyadari pentingnya desain yang peduli sehingga semua bagian dari bangunan akan mudah diakses dan digunakan. SCG mendefinisi kecenderungan tren yang juga dibedakan berdasarkan selera, kebiasaan, dan karakter personal. Empat kategori tren yang dikembangkan oleh SCG adalah urbaneast, lullaby, experiment dan reVALs. Keempatnya memiliki definisi berdasarkan selera, semangat, dan karakter setiap orang yang kemudian didefinisikan secara kualitas desain. Urbaneast berarti nuansa kemewahan kaum urban yang memiliki sentuhan filosofi oriental. Lullaby adalah keceriaan dan atraktif, tetapi bisa juga muncul dalam desain sebagai ekspresi keramahan. Experiment mengombinasikan pemikiran ilmiah dalam pendekatan interpersonal yang cerdas, sementara ReVALs merupakan

definisi baru di dunia desain bagi generasi muda yang penuh semangat, inspirasi, kreativitas, dan memiliki tanggung jawab sosial. Keempat tren ini kemudian dimasukkan dalam sebuah program agar para pengunjung bisa memilih dan mengetahui mereka masuk ke dalam kategori apa. Selama konferensi pers, hasil definisi oleh program tersebut bisa ditukarkan dengan mocktail yang sesuai dengan karakter. Selain itu, semua tren diwujudkan dalam intepretasi desain kamar mandi yang dipamerkan dalam paviliun. Konsep Universal Design yang dijabarkan dalam desain paviliun SCG di Architect Fair ini juga memamerkan beragam solusi desain untuk masa depan. Seperti Eldercare Solution yang berangkat dari riset dan upaya mempelajari ruang gerang orang berusia lanjut. Melalui desain yang ramah bagi mereka, kemandirian bisa didukung dengan kesinambungan dan keamanan. Dalam pameran kali ini mock up kamar mandi dengan set up lengkap

memberikan gambaran yang jelas untuk orang berusia lanjut atau pengguna kursi roda. Kepedulian pada energi diwujudkan pada The NEST, rumah pertama di ASEAN yang menggunaka energi plus yang ideal untuk iklim tropis. SCG di sini mengombinasikan teknologi smart, eco, dan care dalam penerapan teknologi balance sehingga dari rumah energi ini bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Selain itu, SCG juga mengembangkan teknik konstruksi yang lebih praktis agar bangunan juga menjadi lebih ramah terhadap lingkungan. Seluruh produk di bawah naungan SCG dipamerkan di dalam paviliun dan ditampilkan dengan lebih atraktif. Beberapa bagian dari paviliun menghadirkan detail dan bagian dari produk tersebut sehingga paparan dan display dalam paviliun SCG ini mampu memberikan pengalaman berbeda dan lebih informatif. [Teks: SS]

scg.co.th


evolveindesign

scg’s new products for indonesia TIGA PRODUK SEMEN UNGGULAN DARI SCG DIPERKENALKAN KEPADA MASYARAKAT INDONESIA DALAM AJANG INDOBUILDTECH EXPO. Usai sudah terlaksananya pameran bahan bangunan terbesar di Indonesia, Indobuildtech Expo, di Jakarta Convention Center pada 11 hingga 15 Juni silam. Dalam acara ini, beragam brand berlomba-lomba mengenalkan produk terbaru termasuk produk unggulan me­ reka kepada pengunjung, dari pebisnis hingga masyarakat umum, tak terkecuali brand Siam Cement Group (SCG). Meskipun baru perdana mengikuti event ini, SCG sebagai konglomerat bisnis terkemuka di ASEAN begitu antusias mengambil bagian dari ajang berskala internasional ini. Pada Indobuildtech Expo tahun ini SCG memperkenalkan tiga produk semen andalannya untuk Indonesia. Ketiga produk ini diluncurkan sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi penyedia solusi terkemuka di industri

semen dan bahan bangunan di Indonesia pada 2020 mendatang. Adapun ketiga produk semen ini adalah SCG Cement PCC (Portland Composite Cement), SCG Smartblock (beton ringan aerasi), dan Jayamix oleh SCG Super Concrete (formula baru untuk beton cor). SCG Cement PCC menjadi salah satu produk utama dari SCG yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia melalui pabrik semen greenfield di Sukabumi—pabrik semen SCG pertama di Indonesia yang baru dibangun akhir tahun lalu. Diakui unggul karena semen yang khusus digunakan untuk dinding ini memiliki kualitas premium dan cocok untuk peletakan batu bata maupun plester. Fitur yang dimiliki semen ini tak hanya produknya yang cepat kering, juga memiliki daya rekat yang kuat, mudah diplester, dan mempunyai per-

mukaan yang halus. Produk ini sendiri mulai dijual di pasar Indonesia pada Juli 2014. Begitu Atthapol Phongcharoensuk selaku Branding & Marketing Manager SCG Cement-Building Materials mengatakan. Produk unggulan lainnya yang ditampilkan adalah SCG Smartblock. Produk ini merupakan blok beton ringan yang sepuluh kali lipat lebih baik daripada blok beton pada umumnya sehingga mampu menghemat hingga 30% konsumsi energi dalam rumah tangga. Produk selanjutnya adalah Jayamix oleh SCG Super Concrete. Produk ini dibuat dengan formula baru dari beton cor yang memiliki flowability lebih baik, yakni kemampuan untuk mengalir dengan lebih baik sehingga proses pengerjaan dan penuangan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat.

Selain menampilkan ketiga produknya, dalam ajang ini Jayamix oleh SCG juga memperkenalkan pengiriman beton terbaru mereka, Jayamixni. Ini merupakan layanan yang memungkin­ kan pelanggan untuk memesan dengan jumlah kecil dan melakukan pengiriman ke tempat-tempat dengan jalan yang sempit, seperti gang, perumahan, dan daerah perkantoran yang sebelumnya sulit untuk dicapai. Namun tak perlu khawatir, karena layanan ini tak akan mengurangi kualitas produk SCG. Melalui partisipasi dalam pameran ini, SCG menujukan sejumlah produk dan layanan inovatif ini akan segera tersedia di Indonesia. Dengan begitu, visi dan misi perusahaan juga akan terealisasikan. [Teks:AI]

scg.co.th

indesignlive.co.id

51


The Ten Years of Passions Sebuah dedikasi Aedi dalam satu dekade berkarya. Satu dekade sering kali dijadikan sebuah tolok ukur, dalam hal ini AEDI— sebuah studio desain interior dan produk ternama di Indonesia, berhasil melewati satu dasawarsa dalam mewujudkan seluruh passionnya ke dalam karya baik desain interior ataupun produk. Sebagai tanda apresiasi kepada dunia desain yang telah digeluti, Eko Prihaseno dan Audrey Bernanda, selaku desainer prinsipal dari AEDI menggelar sebuah ekshibisi dengan tajuk “AEDI 10 Years of Passions”. Ekshibisi ini menjadi ‘anniversary’ sekaligus proyek bagi desainer muda Indonesia untuk berkarya serta membuka kesempatan mengenal dunia konsumen, tetapi juga mengenal desainer lain dari luar negeri. Dikurasi secara langsung oleh Eko Priharseno, didukung oleh ARTE Wallpaper, PT Artec dan L’Avenue, pameran turut mengundang Feung Dharmajiva (Pat), Product Developer dari HAPP, perusahaan produksi desain di Thailand. Menurutnya, sebagai pelaku di bidang produksi, sangat penting bagi para desainer untuk paham dan mengetahui jalannya proses produksi sebuah desain.

Ini menjadi menarik karena selama ini para desainer—terutama yang masih muda—seolah berjuang seorang diri mengikuti berbagai kompetisi untuk mengenalkan desainnya ke khalayak luas, khususnya di dunia desain internasional. Hal ini bisa disebabkan banyak faktor, kurangnya wadah atau informasi untuk menyokong para desainer sehingga untuk bersaing atau menyejajarkan diri di kancah desain internasional menjadi sulit. Oleh karena itu, Eko Priharseno ingin menggalang semangat baru pada para desainer muda Indonesia bersama desainer muda dari negara tetangga untuk dapat saling berbagi berbagai macam ilmu dan memperluas networking dalam dunia desain. Sebanyak 20 desainer dari Indonesia, Thailand, hingga Mexico City, berkolaborasi menampilkan produkproduk dan karya yang inovatif. Aedi sebagai mentor juga partner akan terus menggali potensi para desainer muda untuk berusaha maju bersama ke ranah desain internasional. [Teks: NM]

aedishop.com

CERAMIC WEARS Jewellery buatan anak bangsa ini tidak hanya menarik karena menggunakan material serta teknik pengolahan keramik yang apik, tapi hasil karya ini telah mengudara hingga ke perhelatan internasional, Tokyo Designers Week 2013. Agate Series dari KAR ini memakai teknik agateware pada keramik, sebuah teknik percampuran warna langsung dengan tanah, mirip dengan teknik marbling, menonjolkan tekstur dan warna yang unik serupa batuan Agate.

kar-jewellery.com

leaning fruit bowl

PLEASURED IN WOOD

Desainernya, Jakkapun Charinratana dari Studio 248 terinspirasi oleh bentuk topi tradisional nelayan di Cina—bentuk unik dengan kualitas craftsmanship yang baik, menginterpretasikan cara hidup yang sederhana. Wadah buah ini merupakan perwujudan teknik tenun tradisional ke dalam sebuah bentuk modern lewat material yang kontras seperti besi dan kayu, batu marmer dan besi atau terakota dan besi.

Annisa Lutfia dan Arya Lisantho adalah desainer di balik Aljir Fine Crafts. Mengusung keunggulan material kayu, mereka memfokuskan ke produk kitchenware. Saat ini kayu yang digunakan memang impor dengan kualitas terbaik, namun kedua desainer ini sedang melakukan pengerjaan menggunakan kayu lokal khas Indonesia.Bali berikut budaya dan masyarakatnya adalah sumber inspirasi produk-produk Aljir.

studio248.com

aljirfinecrafts.com


evolveindesign

MATCH OF URBAN HOUSES Menanggapi masalah umum dalam kehidupan ruang tinggal di kota sekarang ini, ARBBI Desain Award 2014 memilih tema Rumah Urban Indonesia yang mengedepankan penerapan arsitektur secara ekologis, sains, dan antopometri untuk dilombakan. Perhelatan Mega Build 2014 di Jakarta Convention Centre pada bulan Maret lalu menjadi tuan rumah bagi acara kolaborasi MPG Media dengan Asosiasi Ritel Bahan Bangunan Indonesia (ARBBI). Majalah Indesign Indonesia bekerja sama dengan ARBBI menampilkan talkshow bertemakan Urban House pada tanggal 18 April 2014, dengan pembicara yang terdiri dari Sunthy Sunowo selaku Senior Editor majalah Indesign Indonesia, Ary Indra dari konsultan arsitektur Aboday dan Wiyoga Nurdiansyah dari SUB. Pembahasan di dalam talkshow yang berdurasi satu jam ini mencakup topik rumah urban, atau khususnya bagaimana penerapan desain interior dan arsitektur yang efektif hingga mampu menyikapi masalah kehidupan di perkotaan yang

sudah kronis, seperti luas lahan yang semakin terbatas, dan kompleksitas hidup manusia di ruang yang sederhana. Talkshow dilengkapi dengan penayangan karya-karya para finalis Sayembara Desain Rumah Urban Indonesia, yang menjadi tema dari ARBBI Desain Award 2013. Sayembara yang pendaftarannya dibuka pada September 2013 dan ditutup awal tahun 2014 ini membuka kesempatan bagi para mahasiswa tingkat S1 dari jurusan arsitektur dan desain interior, untuk berkompetisi, baik secara perorangan maupun kelompok. Ary Indra dan Wiyoga Nurdiansyah turut berpartisipasi sebagai juri dalam kompetisi tahun ini, ditemani Hendry Sjarifudin dari Profesional Industri Bahan Bangunan.

Seusai talkshow, acara berlanjut ke pengumuman pemenang ARBBI Awards 2013 yang terbagi ke dalam 6 kategori. Ady Madya Nugraha dan Yaniar Satrio Pratomo dari Universitas Bina Nusantara berhasil membawa pulang uang tunai sebesar 25 juta rupiah sebagai pasangan juara 1, sementara Bindi Raditya Purnama dari Institut Teknologi Bandung menenteng predikat juara 2 dengan uang tunai sebesar 20 juta rupiah, diikuti juara 3, Cherya Mayndra Nurfeta dari Universitas Gajah Mada dengan uang tunai 15 juta rupiah. Aris Nuryahya Ilham (Institut Teknologi Nasional), Muhammad Friza Pahlevi (Universitas Katolik Parahyangan), dan Aseptian Affiano (Universitas Gajah Mada) secara berurutan mengambil tempat pemenang nominasi 1-3, dan

membawa pulang 5 juta rupiah. Melihat antusiasme dan hasil karya para pemenang dari ajang tahunan yang mengusung tema-tema kreatif dan aktual yang berbeda di setiap kesempatannya ini, harapan ARBBI Desain Award untuk dapat menjembatani pemahaman antara dunia arsitektur dengan masyarakat kota tampaknya sudah memasuki proses perwujudan yang tepat. [Teks: AK]

arbbi.org arbbidesainaward.com

indesignlive.co.id

53


Prolific Quest pameran akbar Mega Build 2014 memberi solusi untuk pencarian yang lebih bermakna, lewat pembangunan awareness akan tren terbaru dan ilmu desain interior dan arsitektur. Sudah tersediakah suatu wadah yang menjadi tempat berkumpul para pelaku usaha di mana mereka dapat saling berbagi dan memantau tren, baik dalam desain maupun bahan bangunan, solusi, sistem, dan teknologi terbaru? Untuk menjawab, Reed Panorama Exhibitions (RPE) menghadirkan Mega Build Expo 2014 yang sebelumnya tampil dengan nama Renovation and Constr uction Expo (RENEX), sebagai pameran bahan bangunan, konstruksi, arsitektur dan interior desain terlengkap di Indonesia. Mengambil tempat di Jakarta Convention Centre, pameran ini dihelat dari tanggal 17 hingga 20 April yang lalu. Acara tahunan yang sudah diselenggarakan ke-13 kalinya ini menghadirkan lebih dari 500 brand, baik lokal maupun internasional, yang dilengkapi dengan 5 paviliun luar negeri, yakni Singapura, Malaysia, Korea, Cina, dan Taiwan.

Pihak RPE melakukan pengembangan konsep di tahun 2014 ini guna memudahkan para pengguna dan pembeli dalam menemukan bahan bangunan yang dibutuhkan. Seperti yang diungkapkan Steven Chwee, selaku Project Director REP pada konferensi pers Mega Build, peserta pameran dibedakan ke dalam zona expo tersendiri, yaitu Bathroom & Kitchen Expo, Roof & Flooring Expo, Door & Windows Expo, Renovation & Construction Expo, Lighting Expo, serta KERAMIKA yang fokus pada industri dan teknologi keramik. Tahun ini dalam rangka menjadi media partner, Indesign Indonesia, Livingetc Indonesia, dan Dwell Asia juga berpartisipasi dalam kegiatan pameran dengan pemasangan booth pada area Megabuild di Hall A, yang bekerja sama dengan Kokuyo. Pada tahun ini, RPE turut mewujudkan misi mentransformasi

setiap event menjadi wadah edukasi lewat kerja samanya dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang melahirkan Architect Design Week dan dengan Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) yang menghadirkan Pasar Design. Beragam program edukasi seperti workshop, talk show, dan konferensi disuguhkan demi memenuhi kebutuhan para pelaku usaha, profesi terkait, hingga masyarakat umum akan interkoneksi antarsatu sama lain serta wawasan khusus di bidang arsitektur. Mega Build ditujukan menjadi platform yang sempurna untuk menemukan peluang bisnis, memperluas pangsa pasar dan membuka jalan ke tengah pertumbuhan sektor pembangunan dan kosntruksi di Indonesia. Dengan serangkaian kesempatan yang ditawarkan, pengunjung dari berbagai latar belakang profesi, baik pelaku usaha

seperti kontraktor, pengembang, supplier, distributor, arsitek, desainer interior, hingga masyarakat umum, mampu menemukan lebih dari apa yang mereka cari. Tidak sekadar kebutuhan materiil yang terpenuhi, tetapi juga awareness akan siklus tren terbaru, dan yang tidak kalah penting, pemahaman pribadi akan pentingnya aspek arsitektur dan desain interior dalam pembangunan. Pengalaman menghadiri pameran yang berlangsung selama empat hari ini pun menjadi pencarian paling berbuah. [Teks:AK]

megabuild.co.id hdii.org iai-jakarta.org


evolveindesign

COTTO

Metric Kitchen Dengan desain stand terbuka dan akses yang memudahkan pengunjung, Metric Kitchen mengisi kategori kitchen appliances pada Hall A pameran Mega Build. Seri best seller dan terbaru ditampilkan dengan display kitchen set yang atraktif..

metrickitchen.com

KIA Sebagai perusahaan penghasil keramik wall tiles berkualitas tinggi sejak tahun 1968, KIA hadir meramaikan pameran KERAMIKA 2014. Booth stand KIA menampilkan koleksi keramik terbaru, didekorasi dengan elemen tanaman yang menggugah perhatian para pengunjung Hall B. Barisan-barisan tiles dengan tampilan warna lebih bervariasi dalam motif floral dan retro tampak menghiasi dinding dan meja-meja yang tersedia.

Kehadiran COTTO yang tergabung dalam stand KIA menampilkan produk tiles yang beragam. Mosaic Tile membawa koleksi 22S, Glazed Porcelain Tile menampilkan koleksi Abruzzo dan Pebble Rock, sementara Glazed Wall Tile memamerkan koleksi Cement Wood, dan Homogeneous Tile menghadirkan The Time Series, Touch Series, dan Plank Series. Koleksi Glass Tile tidak kalah menarik dengan variasi motif dan gradian warna, dari cerah hingga gelap. Yang istimewa dari koleksi COTTO inii adalah penggunaan teknik digital printing yang menonjolkan kerealistisan tekstur dan ilustrasi..

cotto.co.th

Roman Roman hadir dalam pameran KERAMIKA 2014, memperkenalkan koleksi baru Roman Granit Grande dengan ukuran 90x45 cm yang dilengkapi teknologi digital technical. Koleksi yang dipamerkan mencakup seri wall tile berukuran 25x50, dMontura dan dStrenna, dan koleksi-koleksi menarik lainnya seperti Hybrida, Fortezza, Pier, Parottia, Ottawa dan Venier-Quetico.

romanceramics.com

kiaceramics.com

Niro Granite Mengusung tema Modern European House, Niro Ceramic Indonesia menampilkan koleksi terbaru porcelain tile (Niro Granite) dan saniter (Orin). Produk-produk material flooring terbaru mencakup seri digital print Bloomsbury, l’Pietra yang menawarkan desain motif dan warna unik, serta seri bebatuan Quartzite yang sesuai untuk pemasangan di lantai, dinding dan atap. Selain tiles, koleksi saniter terbaru dari ORIN juga turut dipamerkan, salah satunya AVOCA Black Series yang mengedepankan black coated material dengan finishing satin matte black.

nirogranite.co.id

indesignlive.co.id

55


Technology goes to Bali Dengan tujuan menumbuhkembangkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan material lokal, Debindo kembali menggelar Bali Indobuildtech Expo 2014. Pulau Dewata kali ini tidak hanya memanjakan Anda dengan keindahan alamnya, tapi juga menghadirkan pameran building material terbesar di Indonesia. Tahun 2014 ini sudah menjadi kali kelima Bali Indobuildtech Expo 2014 digelar. Bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel-Bali, event tahunan ini selalu menjadi ajang pertemuan bagi para pemain industri material bangunan, teknologi infrastruktur seperti pabrikan, distributor, toko bahan bangunan di area Bali dan Nusa Tenggara. Dalam kesempatan ini, acara yang digelar dari tanggal 19—23 Februari 2014 menjadi tempat bertukar informasi bagi para arsitek lokal dan internasional juga konsultan, kontraktor, serta pelaku bisnis bangunan.

Debindo Group, sebagai penyelenggara, memang merancang Bali Indobuildtech Expo sebagai acara pengembangan dari event serupa yang bisa dibilang selalu sukses diselenggarakan di kota-kota besar Nusantara seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Makassar. Tujuan yang diusung oleh Debindo ialah memberikan informasi komprehensif mengenai perkembangan industri dan teknologi material bangunan kepada masyarakat dalam dan luar negeri. Tak ketinggalan pula menjadikan acara ini sebagai peluang bagi pemain industri konstruksi muda, seperti mahasiswa, akademisi, serta desainer muda untuk lebih memahami wawasan akan bahan bangunan agar

dapat diaplikasikan dalam desain yang lebih baik. Bali Indobuildtech 2014 diikuti oleh 60 perusahaan pabrikan dan distributor bahan bangunan yang memasarkan berbagai produk bahan bangunan dengan “branch� ternama. Selain menyuguhkan beragam pameran material, sebagai media partner, Livingetc juga tidak ketinggalan turut berpartisipasi mengadakan talkshow tentang desain. Ada pula kegiatan pendukung lain seperti display karya mahasiswa arsitektur, talkshow, workshop, dan konsultasi desain gratis dengan para arsitek dan desainer interior. [Teks: NM]

indobuildtech.com


evolveindesign

future green EXPO Inovasi BERAGAM PRODUK DAN MATERIAL ramah lingkungan pada indobuildtech 2014 Keberlanjutan sebuah gelaran bisa dbilang komitmen serius untuk mencapai sebuah tujuan. Tak hanya mengacu dari aspek ekonomi dan perdagangan, Indobuildtech Expo 2014 yang diadakan Juni lalu di Jakarta Convention Center menjadi wahana promosi dan interaksi langsung antara produsen dan konsumen sehingga terbuka peluang pengembangan bisnis. Acara yang diselenggarakan oleh PT Debindo Unggul Buana Makmur (DEBINDO Group) senantiasa mendapat dukungan dari Kementarian Pekerjaan Umum, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dari asosiasi, KADIN Indonesia, HDII, IAI, INKINDO, ASPERAPI serta MD Media juga turut mendukung gelaran rutin ini. Masih mengusung aspek inovasi serta unsur ramah lingkungan lewat produkproduk yang dipamerkan, selama pameran berlangsung juga digelar berbagai acara pendukung bekerjasama dengan berbagai asosiasi profesi dan industri di

considering the smart living Masih mempromosikan sekaligus mengedukasi masyarakat lewat Smart Living Concept, Hafele memperkenalkan rangkaian produknya seperti Kitchen Island, Wardrobe Storage dengan fitting LOOX System serta yang menjadi favorit para pelanggan, koleksi ABUS, guna memaksimalkan keamanan pada hunian.

hafele.co.id

Indonesia. Hal ini tentu selaras dengan tujuan penyelenggaraan Indobuildtech Expo , yaitu turut mendorong kemajuan industri dan teknologi material bangunan, lewat aneka kegiatan yang bersifat bisnis dan edukasi di JCC. Kegiatan tersebut antara lain berupa Workshop Arsitektur (11 Juni 2014), Forum INKINDO (12 Juni) bersama, Indonesia Exhibition Forum bersama ASPERAPI, Design Summit bersama Himpunan Disain Interior Indonesia (13 Juni), Seminar Arsitektur (13 Juni) bersama Ikatan Arsitek Indonesia, Architect Gathering (14 Juni), dan Forum Arsitektur Indonesia (FAA, 15 Juni 2014), dan beberapa kegiatan pendukung lainnya. Selain dihadiri oleh para professional anggota asosiasi terkait, para pengunjung yang ingin memperluasan wawasan dan mendapatkan masukan informasi professional dapat pula mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. [Teks: NM]

Perusahaan global spesialis di bidang pengelolaan energi, Schneider Electric, meluncurkan produk panel SM6 jenis terbaru bernama New SM6. Sebagai dedikasinya terhadap solusi pengelolaan energi pada jaringan tegangan menengah. Keunggulan panel listrik New SM6 terbaru ini adalah Internal Arc yang mengalami peningkatan sebagai stand-alone, dari 12,5kA/1s menjadi 16kA/1s. Internal Arc sendiri merupakan proses terjadinya arc (busur api) di dalam panel saat terjadi gangguan, misalnya gangguan hubungan singkat. Desain dimensi panel lebih rendah.

indobuildtech.com

schneider-electric.com

Perfect distribution

indesignlive.co.id

57


DESIGN WEEK FOR ALL MENJADI PROGRAM RUTIN, IAI DESIGN WEEK 2.1 HADIR masih menjembatani DUNIA ARSITEKtur DAN MASYARAKAT UMUM.

imb online Lewat talkshow ini, IAI berusaha mengenalkan kepada publik tentang sistem online pengurusan Izin Mendirikan Bangunan yang telah diluncurkan oleh Dinas P2B DKI Jakarta. Layanan ini telah dimulai per 1 Februari 2014, memanfaatkan sistem Oracle ini dijalankan oleh pihak P2B DKI Jakarta dibantu dengan rekanan konsultan swasta penyedia sistem, Dinas Inkominfo DKI dan perusahaan provider.

iai-jakarta.org

forum ruang kreatif & pertumbuhan kota Sebuah forum diskusi bersama Sofian Sibarani dari Aecom, Gunawan Tjahjono ketua TPAK, Ir. Sarwo Handayani, MSi, Deputi Gubernur DKI Jakarta, Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, serta Steve J. Manahampi selaku moderator. Diskusi ini menyoroti ketersediaan serta keberadaan ruang publik kota sebagai elemen penting pada pertumbuhan dan pengembangan sebuah kota. .

Kebutuhan masyarakat akan desain saat ini mungkin masih dipandang sebagai kebutuhan tersier, yang tak jarang memunculkan paradigma akan eksklusivitas tersendiri bagi kalangan tertentu. Padahal apa yang sejatinya dibawa oleh sebuah desain merupakan solusi dari permasalahan yang ada, entah pada sebuah produk, bangunan, hingga kota. Hal ini dapat ditumbuhkan dengan beragam cara. IAI Jakarta sebagai Asosiasi profesi Arsitek cabang Jakarta mencoba mendekatkan “desain dan arsitektur� lewat acara Design Week. Kali ini, bekerja sama dengan Reed Panorama, Design Week 2.1 berkolaborasi pada pameran Mega Build Indonesia 2014 dari 17 hingga 20 April lalu di Jakarta Convention Center (JCC). Beragam program digalangkan sebagai satu upaya IAI mewujudkan apa yang menjadi visi dan misinya. Program-progam seperti pemutaran film, lomba mural, dan Instagram serta beberapa talkshow sengaja dibuat untuk masyarakat umum

iai-jakarta.org

fun bike Aktivitas yang melibatkan gerak tubuh seperti fun bike menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari acara Design Week. Acara ini diakhiri dengan Open House salah satu rumah karya Arsitek di Jalan Birah, Blok S, Jakarta Selatan. yanya adalah pemenang utama Sayembara Rusunawa di Jatinegara Barat.

iai-jakarta.org iai-jakarta.org

agar dapat turut berpartisipasi. Untuk program bagi calon arsitek profesional, terdapat rangkaian program penataran yang telah dilaksanakan sebelumnya di Gedung Kemang 89, lalu pada event Mega Build, IAI Jakarta menggelar serangkaian seminar dan workshop sambil mendatangkan para biro konsultan arsitek dari negara tetangga untuk dapat mempelajari standar kerja internasional. Ini diakui Steve, Ketua IAI Jakarta, sebagai program kerjanya untuk menghadapi serta membekali para arsitek Indonesia dalam menghadapi Pasar Bebas Asean 2015 sehingga acara ini diharapkan tidak saja mampu menjadi sarana sosialisasi profesi arsitek dan IAI Jakarta sebagai organisasi, namun juga sarana membangun Jakarta menjadi kota yang lebih baik dengan cara memasyarakatkan desain dan arsitektur lewat gelaran Design Week 2.1. [Teks: NM]


evolveindesign

REWIND THE MARKET DESAINER MUDA KINI DAPAT MEMPERKENALKAN KARYANYA SERTA mengenal SELERa konsumen LEWAT AJANG PASAR DESAIN. Pameran menjadi sebuah gelaran yang memang menargetkan agar kedatangan banyak pengunjung, selain untuk mengenalkan, menjual pameran juga menjadi wadah memamerkan karya kepada khalayak. Dalam event besar Mega Build Indonesia 2014 yang bertarget kepada pelaku industri bangunan, arsitek dan desainer interior, Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) bekerja sama dengan Reed Panorama Exhibitions (RPE) dalam menghadirkan kembali “Pasar Desain”. Tajuk “Rewind” dipilih sebagaimana kembali memamerkan beberapa karya

yang telah diunjukkan pada gelaran serupa di tahun 2013. Namun tidak hanya itu, masih ada beragam produk menarik yang dibawa oleh Pasar Desain. Rina Renville selaku chairman Pasar Desain by HDII memaparkan bahwa dengan hadirnya Pasar Desain di tempat publik berkolaborasi dengan acara publik seperti Mega Build dapat menjadi tempat para desainer Indonesia untuk menampilkan sambil langsung berjualan produk dengan desain inovatif orisinal dan sarat akan budaya lokal Indonesia. [Teks: NM]

hdii.org

rocking light Salah satu produk yang ada di Pasar Desain 2013 adalah Rubbo dari Eclo-Id. Lini lokal ini menawarkan lampu meja dengan desain imajinatif. Pada koleksi perdanya, Kanima Lamp series, Eclo-Id mengambil binatang sebagai inspirasi bentuk. Penggunaan material alami seperti kayu sungkai, pinus, dan sawo juga menjadi satu hal yang diperhitungkan dalam desain Eclo-Id.

eclo-id.com

STUDENT CORNER Tidak hanya para desainer profesional saja yang mempertunjukkan hasil produknya, bekerja sama dengan beberapa universitas, Pasar Desain by HDII juga memberi ruang “pamer” bagi para mahasiswa sebagai apresiasi juga bentuk pemicu para calon desainer agar menghasilkan kualitas desain produk atau furnitur yang baik.

HELLO HOME Sebagai pendiri Hello Home, Lia Susetio merintis bisnis produk home décor yang merupakan kerajinan tangan. Ragam corak dan motif playful serta paduan warna-warna cerah pada produk seperti cushion, coaster, karpet dan lainnya merupakan ciri produk Hello Home.

hdii.org hellohome@outlook.co.id

indesignlive.co.id

59


The Rarest Kind of Pearl berlatarkan sejarah phuket sebagai pusat pertambangan dan atmosfer kontemporer yang memikat urbane travelers, Indigo Pearl “berbicara” dalam keunikan yang mewah. Sejarah panjang keluarga Na-Ranong dalam industri pertambangan timah yang mewarnai masa lalu Phuket mendorong kelahiran Indigo Pearl Resort sebagai percampuran warisan historis dan visi keluarga. Berlokasi di pantai utara Phuket dengan jarak hanya 10 menit dari Phuket International Airport, resor ini ditujukan menjadi tempat berlabuh bagi para wisatawan dan penjelajah yang mencari pengalaman liburan unik. Tangan emas Bill Bensley, arsitek dan desainer interior, dan John Underwood, seniman untuk karya seni dan furnishing di dalam resor, berhasil mewujudkan konsep industrial berdesain moderen yang kaya akan detail ke dalam performa Indigo Pearl. Untuk memenuhi varian kebutuhan pengunjung, disuguhkan fasilitas dan ruang rekreasi berupa 3 kolam renang luar, on-site dive centre, pusat kebugaran, lapangan tennis, ‘TinBox’ kids’ club, salon kecantikan, Moo’s Kitchen—sekolah memasak Thailand,

paket tur wisata serta fasilitas acara dan konferensi. Hasrat untuk bertualang kuliner juga terpenuhi melalui 10 jenis tempat makan dan minum dengan variasi hidangan dan jam buka yang beragam. Restoran Black Ginger yang mengapung di atas laguna menawarkan kelezatan masakan Thailand, Rivet menawarkan daging bakar dan seafood dengan cita rasa Asia, dan Tongkah Tin Syndicate membawa masakan italia dan minuman whisky dari berbagai belahan dunia dalam desain ruangan postmodern. Sentuhan antik dari era pertambangan timah dan seni industrial turut mewarnai ruangan dan paviliun resor. Premium Pearl Bed Suites hadir dalam bentuk ruang terbuka, dengan perpaduan lantai kayu dan bebatuan serta balkon yang membuka pada kolam renang dan perkebunan resor, sementara Pool Pavilions tampil dengan living area yang luas, atap tinggi, dan kolam renang di tengah pepohonan palem pada

halaman pribadi. Desain ruangan yang elegan dengan warna hangat ditemukan dalam D-Buk Suites, dengan multimedia centre yang sesuai untuk kebutuhan keluarga dan area duduk dengan akses langsung ke taman kecil dan private spa. “Permata” unggulan dari Indigo Pearl ditemukan pada Coqoon Spa yang mencakup 6 ruang perawatan, kamar spa dengan kolam renang tersendiri, steam room, sauna, dan Vichy rain shower. Bersemayam di tengah hutan tropis, ambiance yang ditawarkan sempurna untuk memanjakan jiwa dan pemulihan raga. Indigo Pearl sudah selayaknya surga di bumi bagi para “pecandu” unique luxury yang mempertemukan unsur masa lalu dengan masa depan. Pengalaman menginap pun menjadi cerminan tersendiri akan kreativitas dan sense of style dari individu-individu yang istimewa. [Teks: AK]

indigo-pearl.com

TREETOP nest Coqoon Spa menghadirkan ‘Nest’, ruang perawatan di ketinggian 10 meter yang diselimuti kerindangan pepohonan beringin. Struktur menyerupai kepompong dan sarang burung dari tenunan ranting yang gigantis, memberikan pengalaman ‘bersarang’ yang dekat dengan alam.

indigo-pearl.com


evolveindesign

A Majestical Sojourn “Blend of history and modernity” dituangkan lewat desain KHUSUS yang tak kurang dari istimewa, menghadirkan SUASANA AGUNG TANPA PERBANDINGAN. Bersemayam di jantung Chinatown Singapura, New Majestic Hotel hadir mengedepankan desain kebudayaan lokal dan seni ke dalam rumah toko tradisional. Hotel yang mengusung percampuran eklektik dari unsurunsur heritage ini menghadirkan lobi berkonsep terbuka yang disertai furnitur periode kolonial Singapura di tahun 1920-1960an. Keunikan desain menjadi kunci persamaan dari 30 ragam kamar yang ditawarkan. Sesuai namanya, The Mirror Room menampilkan cermin yang melapisi dinding dari atap hingga kepala tempat tidur, The Loft Room yang bermodel kamar loteng dengan atap setinggi 6 meter, memasang tempat tidur yang mengambang di udara. Dalam menghadirkan keistimewan visual yang tak tertandingi, hotel ini memamerkan artwork mural yang didesain khusus untuk living space pada setiap kamar, dari mural ikan mas besar yang bermain dengan dimensi ruang hingga pesan anamorfis yang dipasang terbalik hingga hanya terbaca ketika tamu berbaring pada sudut khusus di kasur.

Apresiasi tinggi akan desain turut disalurkan melalui kerja sama dengan Asian Art Options yang memungkinkan sembilan seniman lokal untuk menorehkan napas orisinal mereka ke dalam dekorasi kamar, juga proyek khusus untuk melahirkan 5 kamar berkonsep. Perancangan dekorasi interior kamar ‘Fluid’, ‘WORK’, ‘Wayang’, ‘Untitled’, dan ‘The Pussy Parlour’ ini ditangani oleh 5 profesional di bidang kreatif berbeda, yang dibebaskan memilih penataan ruangan, warna dinding, hingga pemilihan lantai sesuai konsep yang ingin diproyeksikan. Kentalnya unsur sejarah dan cita rasa Singapura menjadikan hotel ini pilihan tepat untuk para wisatawan yang mencari petualangan dan pengalaman menginap unik. Kehadiran New Majestic Hotel diharapkan menjadi pemimpin dari genre hotel “New Asia” di mana sejarah berbaur dengan modernitas dan desain internasional berpadu dengan inspirasi lokal, yang menjadi produk terdepan pada abad terkini. [Teks: AK]

newmajestichotel.com

Lobby Lobi hotel memperlihatkan desain dari The Space Program, sebuah proyek global untuk lokasi kota tertentu, yang bertujuan menghidupkan ruangan ordinary menjadi pengalaman unik menyusuri suasana yang separuh museum, toko, dan instalasi.

newmajestichotel.com

Fluid Room Wykidd Song, perancang baju dan anggota duo Song+Kelly21, bersama teman arsiteknya Greg Elliott, melahirkan ‘Fluid’. Kamar yang mengusung modernitas ini mentransformasi garis ruangan yang kaku ke dalam desain lengkungan garis yang ‘mengalir’.

Terinspirasi dari sutradara Cina legendaris Zhang Yimou yang membesut Raise the Red Lantern dan Judou, Glen Goei, seorang sutradara film dan teater, merancang ‘Wayang’. Keseluruhan desain kamar diselimuti warna merah, seperti pada lampu dan dinding berlapiskan sutra merah yang dilengkapi papan panel kaligrafi berdesain khusus.

newmajestichotel.com

newmajestichotel.com

wayang room

indesignlive.co.id

61


62

evolveindesign

Garden Structure Designs Oleh Ifengspace Penerbit Basheer 209 halaman hardcover, IDR 476.000 (62) 21 5790 0055 kinokuniyajkt.wordpress.com Diresensi oleh Bernadetta Tya Ruang dibentuk oleh ruang dalam dan ruang luar. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan ketika mendesain sebuah bangunan karena keduanya akan saling bersinergi. Bagi awam, ruang luar kerap hanya identik dengan tanaman atau taman. Namun tidak bagi seorang perancang lanskap profesional. Bagi seorang perancang taman atau arsitek lanskap, setiap elemen, baik vegetasi, pencahayaan, maupun sebongkah batu harus diperhitungkan secara detail untuk menciptakan sebuah komposisi ruang luar yang atraktif. David Keegan, desainer dan prinsipal David Keegan Garden Design & Lanscape Consultancy, mengungkapkan pada pengantar di buku ini, bahwa desain lanskap yang baik adalah sebuah desain yang mampu memberikan ikatan emosi dan menghadirkan harapan hidup. Lalu bagaimana mewujudkannya? Jawabanjawaban itu dapat ditemukan di dalam buku setebal 209 halaman ini, walaupun untuk menemukannya pembaca harus dapat memilah sendiri kebutuhan akan jawaban tersebut. Terbagi dalam tiga kategori utama: Garden Walls, Fences, dan Pergolas and Pavilion, buku ini menawarkan inovasi dan inspirasi dari perancang-perancang lanskap di seluruh dunia. Karena menyasar para profesional di bidang desain lanskap, setiap bahasan dilengkapi dengan gambar-gambar pra-rancangan dan foto-foto detail dalam 6 halaman penuh. Salah satu proyek paviliun yang cukup menarik adalah Orquideorama di Colombia oleh Plan B Arquitectos, JPRCR. Tak sekadar mengombinasikan vegetasi, sang arsitek juga harus memenuhi kebutuhan akan ruang publik. Modul-modul berbentuk heksagonal kemudian muncul sebagai solusi yang ditawarkan oleh sang arsitek. Karena berupa modul yang mudah dibongkar pasang, ditambah dan dikurangkan, ruang yang tercipta menjadi organik dan fleksibel menyesuaikan kebutuhan ruang dan kapasitas. Tidak adanya ruang mati berarti juga penghematan anggaran. Pendekatan ini sekaligus menjawab tantangan untuk tetap mempertahankan vegetasi eksisting. Ini hanya salah satu contoh inspirasi cerdas dari ke-49 proyek lanskap lain yang dapat ditemukan dalam buku yang dikemas modern ini. indesignlive.co.id

TIHANY: Iconic Hotel and Restaurant Interiors

Arsitektur Bastar: Arsitektur Belanda Mencari Arsitektur Indonesia

Oleh Adam D. Tihany, Thomas Keller Penerbit Rizzoli 256 halaman softcover, IDR 713.000 (62) 21 5790 0055 kinokuniyajkt.wordpress.com Diresensi oleh Bernadetta Tya

Oleh Priyo Pratikno 230 halaman softcover, IDR 90.000 (62) 274 588 783 kanisiusmedia.com Diresensi oleh Bernadetta Tya

Beberapa tahun terakhir ini profesi chef tengah naik daun, khususnya di Indonesia. Ditandai dengan menjamurnya acara bertema masak-memasak, liputan wisata kuliner, dan ajang pencarian bakat seorang chef awam. Dapat diprediksi, ini akan berbanding lurus dengan pertumbuhan bisnis restoran, yang akhirnya akan melahirkan banyak restaurateur baru. Di Amerika, profesi ini telah lama dikenal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa formula terbaik sebuah restoran yang sukses pasti dibidani oleh seorang celebrity chef penerima Michelin Star dan seorang restaurateur handal. Salah satu pemain lama yang patut disimak adalah Adam D. Tihany, pria kelahiran 1948 yang memiliki latar pendidikan seorang arsitek. Pada prolog, ia mengisahkan perjalanannya dari Yerusalem menuntut ilmu ke Milan dan mencoba peruntungannya di Kota “Big Apple” New York; perjuangannya mendapatkan sebuah proyek; hingga kemudian menemukan profesi spesifik yang sejalan dengan passion yang ia miliki, seorang restaurateur. Berawal dari proyek desain interior restoran yang ia kerjakan, ia kemudian memilih untuk mengalami sendiri dengan membangun restoran pertamanya, La Coupole, di tahun 1980. Hingga akhirnya ia lebih dikenal sebagai seorang restaurateur. Dalam pengantar Thomas Keller, chef Amerika yang mengenal Tihany sejak 1986, mengatakan “Adam Tihany not only sees the world in design, he sees it better than anyone else.” Bagi seorang restaurateur yang telah berkarya lebih dari 30 tahun, 15 restoran yang ditawarkan adalah jumlah yang sedikit. Kekecewaan ini akan terobati dengan foto-foto restoran yang murah hati dan pilihan proyek yang terkurasi dengan baik dalam ulasan hingga 26 halaman. Satu yang menarik adalah Aureole di Las Vegas. Tihany merancang sebuah kabinet penyimpanan anggur raksasa sebagai vocal point. Menilik tahun perancangan, ini termasuk terobosan yang berani. Beberapa karya inspiratif lain dengan beragam tema dihadirkan untuk mendeskripsikan sosok Adam Tihany , yang seperti ia tulis dalam prolog “And I think that’s the best description of Tihany style. I have no style.”

Tak dapat disangkal, buku arsitektur terbitan Indonesia masih lebih sedikit dibandingkan dengan terbitan luar negeri. Di antara sedikitnya buku arsitektur Indonesia, masih sulit ditemukan buku arsitektur yang mengupas dengan detail sebuah langgam atau teori tertentu. Dahaga tersebut sedikit terobati dengan hadirnya buku ini, Arsitektur Bastar. Diawali dengan kisah dari karya sastra ternama karya G. Francis, Njai Dasima, penulis yang juga seorang pengajar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta berusaha mengemukakan latar belakang munculnya langgam akibat perkawinan silang ini. Menurutnya, Arsitektur Bastar lahir akibat perlawanan akan Politik Etis pada masa penjajahan Belanda yang telah mengalami sebuah proses adaptasi kultural dengan budaya setempat, dalam konteks ini adalah budaya Jawa, budaya Indonesia. Maka arsitektur yang dihasilkan pun seakan memiliki karakter ganda, modern sekaligus tradisional, kebarat-baratan namun juga ketimurtimuran, teknologis tapi juga ontologis. Mengapa digunakan istilah bastar? Bastar berasal dari istilah Inggris, bastard, yang berarti tidak asli, dan istilah Jawa adaptasi dari Belanda, blasteran, yang berarti perkawinan. Penjelasan yang cukup panjang mengenai latar belakang dan arti Arsitektur Bastar berujung pada sosok pelopor Arsitektur Bastar asal Belanda, Herman Thomas Karsten. Penjelasan panjang khas akademisi di bagian awal buku menjadi logis ketika hendak menganalisis dan mengkritisi karya-karya Karsten yang tersebar di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Latar belakang keilmuannya di sekolah arsitektur Delft Belanda, proses adaptasi bahasa arsitektur dengan Henri Maclaine Pont, dan pernyataan perlawanannya terhadap Politik Etis yang terlihat dari garis-garis rancangannya. Jika hendak mencari kekurangan buku ini, itu ada pada foto-foto karya Karsten, yang dihadirkan dalam warna hitam-putih dan ukuran kecil. Rasanya tidak sebanding dengan proses pengambilan gambar objek yang tersebar di tiga kota berbeda. Sedikit kekurangan yang tertutupi oleh gagasan yang besar sang penulis dalam buku ini patut diapresiasi.


indesignpromotion

Wilkhahn In The City Perkembangan teknologi memungkinkan para profesional untuk terhubung dan mengakses segala hal dari balik meja komputer. Perubahan ini memunculkan sebuah definisi baru akan bekerja. Bekerja tak melulu dilakukan di kantor. Home office bahkan menjadi solusi efektif bagi para pekerja di kota-kota besar, tak terkecuali Jakarta. Baik bekerja di kantor maupun di rumah, memiliki perangkat kerja yang baik menjadi syarat mutlak. Wilkhahn, perusahaan furnitur asal German, menjadikan kebutuhan tersebut menjadi titik tolak pengembangan desain untuk lingkungan kerja yang lebih baik selama lebih dari 100 tahun. Salah satu produk terbarunya adalah kursi kerja “On”. Kursi kerja generasi terbaru yang ergonomis dan didukung dengan pengaturan tiga dimensional yang dinamis. Tak hanya kursi kerja, Wilkhahn juga menyediakan varian furnitur yang beragam. Mulai dari kursi bar, set kursi dan meja untuk konferensi, hingga kursi lounge yang tak hanya sempurna untuk lobi dan lounge kantor namun juga sesuai untuk hunian. Produk andalan Wilkhahn pertama untuk Indonesia ini diperuntukkan bagi fungsi konferensi. Didesain oleh duo Markus Jehs dan Jürgen Laub, “Graph” menawarkan solusi bekerja yang lebih nyaman nan elegan. Hadir dalam pilihan fabrics dan kulit yang klasik dengan sandaran tangan berdetail krom yang impresif, “Graph” didukung dengan tiga titik pengaturan yang akan menghubungkan fisik dan mental untuk selalu aktif. Sesuai namanya, kualitasnya menyerukan sebuah pernyataan akan desain grafis yang mewah dan harmonis, yang dibuktikan dengan enam penghargaan yang berhasil diraih. Salah satunya adalah Reddot Design Award di tahun 2012. Wilkhahn kini telah hadir di Indonesia, tepatnya pada tanggal 6 Juni lalu dalam acara Wilkhahn Party. Dalam acara tersebut juga diperkenalkan produk pertama yang akan ditawarkan bagi pasar Indonesia, yaitu Wilkhan Graph dan sekaligus menandai kerjasama antara Indovickers sebagai distributor tunggal dengan Designclopedia di tengah kota yang nantinya memajang Wilkhahn di antara koleksi premium furniturnya.

Untuk Informasi selanjutnya silakan kunjungi wilkhahn.com , Designclopedia.com, indovickers.com Telepon +62 21 39830105 +62 21 8626385

Designclopedia.com

63


luminaryindesign

teks nissa maretta pORTRAIT GANESHA ANTARIKSA

gunawan tjahjono Sebuah pembelajaran tanpa henti adalah ARTI Arsitektur bagi seorang gunawan tjahjono

indesignlive.co.id

65


“Dalam mendesain.. selalu memiliki kepekaan terhadap konteks... setiap desain itu amat spesifik.” Prof. Ir. Gunawan Tjahjono M.Arch, P.hD

ikenal sebagai guru besar Fakultas Arsitektur sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, Prof. Ir. Gunawan Tjahjono M.Arch, P.hD justru sempat mengenyam pendidikan sipil sebelum akhirnya tercemplung ke Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia tahun 1965. Dan memang, dari hasil psikotes, Gunawan Tjahjono sudah disarankan untuk mengambil bidang kreatif. Walau pergolakan politik pada 1965 sedikit menghambat proses pembelajarannya, Gunawan sempat mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu arsitektur di Delft, Belanda, namun terhalang soal kesehatannya yang pada waktu itu sedikit terganggu. “Ya, akhirnya saya selesaikan pendidikan arsitektur di UI, lalu ketika itu Prof. Suwondo meminta saya menjadi asisten untuk mengajar di kampus,” kenang Gunawan. Perjalanan kariernya dalam dunia arsitektur sedikit banyaknya menyangkut ke ranah pendidikan. Menjadi angkatan serta lulusan pertama Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, pria yang lahir di Medan, 68 tahun silam ini memulai karier se­bagai asisten dosen, “Selain di UI, tahun 1976 saya juga mulai mengajar di Universitas Tarumanegara, tapi sambil bekerja sebagai praktisi di sebuah perusahaan juga,” jelasnya. Ketika ditanya apa yang membuatnya konsisten untuk terus mengajar, ia menerangkan ada banyak unsur ketidaksengajaannya. “Dari pengalaman

D

Paling ATAS Gedung

Rektorat Universitas Indonesia merupakan salah satu karya Gunawan Tjahjono yang menunjukkan lokalitas Indonesia

halaman sebelah ATAS Saat ini Prof. Ir.

Gunawan Tjahjono juga memimpin proyek Masterplan UI yang baru, dikerjakan bersama Tim Penataan Lingkungan Kampus UI

ATAS kanan

Prof. Ir. Gunawan Tjahjono selaku Duta Holcim Awards Asia Pacific bersama para juri lain

hidup, dilihat-lihat kalau dalam bidang pendidikan, selalu lebih mujur ketimbang profesi lainnya,” kelakarnya seraya tertawa. “Tetapi saya masih jadi praktisi, membangun rumah sendiri ‘kan juga tetap praktik, sekarang saya lebih banyak menangani proyek masterplan ketimbang bangunan,” tambahnya. Urban Design menjadi jurusan yang ia pilih ketika memutuskan untuk melanjutkan studi di UCLA tahun 1980. Mungkin karya Gunawan tidak selalu hadir dalam lembar-lembar publikasi yang kerap menyanjung sang arsitek, tetapi sebagai bukti, masterplan kampus UI Depok serta gedung rektorat adalah satu dari sekian proyek Gunawan yang setidaknya telah berdiri sekian puluh tahun dan mewadahi fungsinya dengan baik. Tidak hanya itu, Gunawan yang aktif menjadi ketua TPAK (Tim Penasihat Arsitektur Kota) selalu menguji desain-desain yang akan dibangun di ibu kota, kepekaannya dalam melihat sebuah rancangan juga kerap mengantarnya menjadi juri sayembara desain nasional bahkan internasional. Baginya, sekolah arsitektur menjadi awal sebuah dialog, “Kita hidup di dalam suatu lingkungan yang sering kali didesain dan diintervensi oleh manusia, seperti ruang yang selalu ditata sehingga ada makna personal yang menjadi ‘dialog’ kepada ruang tersebut,” ujar Gunawan yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Pembangunan Jaya. Mempelajari ilmu arsitektur bisa dibilang tidak sekadar mengerti keteknisan pembangunan gedung, sebaiknya perlu diikuti dengan pemahaman dalam banyak aspek, sebuah dialog dengan topik yang beragam. Sebagai dosen, Gunawan menilai bahwa saat ini cukup sulit untuk menetapkan standarisasi pendidikan arsitektur yang mumpuni di Indonesia. “Susah, ya, karena arsitektur itu tidak bisa diajarkan, tapi dipelajari. Tidak ada jaminan sekolah arsitektur yang baik dapat menghasilkan seorang arsitek yang baik pula.” Rasanya permasalahan ini tidak hanya dialami pada bidang arsitektur semata, pendidikan nasional negeri ini seperti sedang mengerjakan pecahan teka-teki yang masih dalam tahap “trial & error” hingga dapat mencapai sebuah sistem pendidikan yang tepat dan sesuai membangun pola pikir. Gunawan lantas memberi sebuah gambaran lewat buku Mario Salvatori, seorang structure engineer yang banyak men-


luminaryindesign

gajar arsitektur. Bahwa di salah satu bukunya beliau menulis, “There’s no best school of architecture, there are good architects. Therefore, architecture can not be taught but can be learned”. Gunawan merasa pendidikan aristektur di Indonesia sebaiknya dapat menggodok suatu program pembelajaran yang memungkinkan muridnya untuk belajar arsitektur sebanyak mungkin. “Walaupun menurut rekan saya, Thomas Kvan, akademisi dan praktisi di Universitas Melbourne, jika Anda mengikuti buku Vitruvius, Ten Books of Architecture, perlu sekitar 26 tahun untuk menjadi seorang arsitek, ‘kan lama sekali,” tuturnya. Profesi arsitek secara tidak langsung menuntut agar dapat terkoneksi dengan cabang keilmuan lainnya yang berhubungan, mulai dari engineering, kesehatan lingkungan, hingga astronomi. Namun harus ada kepekaan dari dalam diri yang terlatih. Untuk mencapai hal itu, Gunawan merombak sedikit metode yang ­kiranya saat ini adalah pengajaran biasa, menjadi pembelajaran. “Kita di sini, mahasiswa cenderung dibantu, dikoreksi, kalau di luar negeri sana, dibantu ketika sudah tahu maunya apa,” terang Gunawan yang sempat menjadi dosen tamu di Melbourne. Self acquisition knowledge, lewat logbook, Gunawan mengajak para muridnya mencatat jurnal akan pengalaman visual seharihari. Sebuah metode pembelajaran sederhana yang melatih pola pikir dan kepekaan. Metode bertanya dari seorang filsuf ternama, Socrates, juga kerap diterapkan kepada murid-muridnya. Alami, rasakan, catat, bertanya, dan mencari sendiri ilmu pengetahuan tersebut, lalu diskusi dan tanya jawab. Inilah pendidikan, bukan sekadar mentransfer ilmu pelajaran, namun mendidik untuk memahami sebuah pembelajaran. Safitri Ahmad adalah satu dari sekian banyak murid Gunawan yang mempunyai kesan mendalam dan me­ nuangkannya ke dalam sebuah buku berjudul Gunawan Tjahjono: Seorang Pendidik. Menurut Fitri, dosennya itu mendidik dengan cara mengembangkan sikap kritis di dalam diri mahasiswa. Mahasiswa, dikondisikan untuk dapat memiliki keingintahuan besar terhadap sesuatu yang menjadi minatnya sehingga menyebabkan mereka selalu “bertanya” dan mencari “jawaban” atas pertanyaan yang mereka buat sendiri. Gunawan menjadikan dirinya “partner” diskusi dalam mempertajam pertan-

yaan serta memberikan saran buku yang harus dibaca, “Bahkan hingga mengacak-acak cara berpikir semula, namun itu agar para muridnya mendapat pemahaman dan cara pandang baru,” terang Safitri. Rupanya hal ini memang terkait dengan pola pikir dalam merancang. Bagi Gunawan, desain adalah kegiatan instruktif yang memerlukan prediksi akan berbagai macam konsekuensi namun satu yang ia tekankan, “Kalau saya pribadi, dalam mendesain, ingin selalu memiliki kepekaan terhadap konteks karena buat saya tiap desain itu amat spesifik,” Gunawan beropini. Ia kemudian mencontohkan bangunan tambahan pada Gereja Theresia di Menteng, Jakarta Pusat, tidak harus menjadi “anak baru” di sebuah lingkungan eksistingnya. Karakter membaca sebuah konteks, diusung Gunawan ke dalam desain rancangannya. Safitri sebagai penulis buku tentang Gunawan pun merasakan hal yang sama, “Ada karakter yang kuat dari masingmasing bangunan. Karya Pak Gun (sebutan beliau) itu memperhatikan perilaku dan kegiatan penghuninya. Beliau memikirkan bagaimana seseorang atau sekelompok orang menggunakan ruang dan gerakan di dalam ruangan,” jelas Fitri. Memang sudah sepatutnya hal-hal sesederhana tersebut tertanam dan melekat pada tiap pola pikir arsitek, dan tentunya hal tersebut akan dapat diraih bila ditanamkan sejak mulai mengenyam pendidikan arsitektur. Kata “arsitek” dan “pendidik” adalah kata-kata yang tepat ditujukan bagi guru besar Fakutas Teknik UI ini. Lewat karyanya, Gunawan mencoba menerangkan kepada para pengamat, (baik dari kalangan arsitektur maupun umum sekalipun) untuk dapat peka dalam membaca konteks dengan sekitarnya. Dengan memahami sebuah konteks dan menjadikannya pembelajaran serta dalam sebuah rancang bangun karya arsitektur adalah harapan agar para cikal-bakal arsitek ini tumbuh menjadi para arsitek profesional yang membangun negeri dengan baik.

Gunawan Tjahjono 1975 1976 1978 1983

Lulus kuliah di Arsitektur Universitas Indonesia. Mulai mengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Tarumanegara Mendapat Honorable Mention (sebagai ketua tim dari Universitas Indonesia) pada Sayembara Pengembangan kawasan Urban di Pasar Baru, Jakarta, Indonesia. Lulus Master of Architecture di UCLA, jurusan Urban Design. 1989 Lulus Ph.D di Univercity of California, Berkley, Amerika Serikat. 1993 Mendapatkan penghargaan sebagai Dosen Berprestasi Peringkat I, Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1994-KINI Anggota TPAK (Tim Penasehat Arsitektur Kota). 1995-2007Anggota Tim Penataan Lingkungan Kampus (TPLK), Universitas Indonesia 1997-KINI Anggota Tim Sidang Pemugaran Provinsi DKI Jakarta. 1998-2008 Anggota Dewan Keprofesian Arsitek, IAI. 2002 Diangkat menjadi Guru Besar Arsitektur Tetap Universitas Indonesia. 2004-KINIKetua Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK) 2004 Pemenang Sayembara desain untuk perluasan Pasturan Gereja Theresia, Menteng. 2005 Membuat persiapan Building Intensity Technical Guidelines untuk Departemen Tenaga Kerja 2006 Mengerjakan Masterplan Taman Nusa Cultural Center di Gianyar, Bali. 2007 Mendapat Anugeraha Sewaka Winayaroka, Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas 2008 Anggota Juri Regional se-Asia Pasifik untuk Holcim Award for Sustainable Construction 2008 Anggota dalam revitalisasi Masterplan Kampus Universitas Indonesia, Depok 2009 Ketua Juri untuk Kompetisi Sustainable Construction dari Holcim Indonesia 2010 Mendesain Masterplan untuk Universitas Negeri Menado 2011-KINI Rektor Universitas Pembangunan Jaya

Universitas Pembangunan Jaya (62) 21 745 5555

indesignlive.co.id

67


ANSWERING THE WAVE Keseharian sederhana sebuah wajan menjadi salah satu contoh keluhuran makna hidup yang diungkap dalam instalasi seni. amai dipadati pengunjung, antusias akan gelaran Fiesta Fatahillah pada Maret lalu memberi napas baru pada Plaza Taman Fatahillah. Sebagai “tanda” peresmian program revitalisasi Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah gedung di seberang Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) turut dipermak untuk menghaturkan sajian seni kontemporer yang dapat dinikmati masyarakat Jakarta. Memang sejak pertama kali dibangun tahun 1928, bangunan tersebut sudah difungsikan sebagai gedung pos yang melayani keperluan komunikasi dari Batavia ke seluruh Indonesia, dan saat ini gedung yang menjadi pilot project program revitalisasi Kawasan Kota Tua ini menambahkan Galleria Fatahillah. Sebuah fungsi galeri seni kontemporer pada lantai dua. Seni, hal universal yang seharusnya dapat dinikmati, melebur ke dalam beragam kondisi serta menjadi media ekspresi bahkan menyampaikan pesan—komunikasi, interaksi tentang kehidupan. Terpasang dengan apik dalam latar dinding berwarna hijau toska, tersusun karya seni yang sepintas terkesan acak dan tidak beraturan, namun menjadi karya dekoratif yang menangkap pandangan mata ketika menginjakkan kaki pada Galleria Fatahillah. Lewat karyanya, Answering My Own Wave, seniman Teguh Ostenrik menyapa para pengunjung. Seni yang masih sering dianggap “asupan” eksklusif ini pun tampak membaur dengan ruang duduk di depannya, menyambut ramah dan seakan menularkan rasa optimis untuk Kawasan Kota Tua. Jika pada awalnya tidak ada yang menyangka medium yang digunakan seniman lulusan Fine Art, Hochschule der Kunste, Jerman Barat, adalah wajan (penggorengan), rasanya wajar. Bagaimana tidak, wajan yang identik dengan rupa hitam dan hangus telah berdeformasi menjadi imaji visual yang baru, meregang batas bentuk dan fungsinya sebagai alat memasak. Hingga akhirnya mencapai sebuah bentuk peluhuran tertinggi sebagai karya seni. Dr. Oei Hong Djien, selaku ketua advisory bidang seni untuk galeri seni ini mengungkapkan, “Seni adalah sesuatu yang biasa dan mengubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujarnya. Answering My Own Wave merupakan seri kedua setelah Wok with Me, instalasi dari Teguh Ostenrik dengan medium wajan yang sebelumnya pernah dipamerkan pada 2009 di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Ada filosofi yang cukup

R

mendalam tersirat pada susunan wajan milik Teguh, yaitu penghormatan terhadap kegunaan benda sederhana yang acap kali disepelekan, dicampakkan, bahkan dilupakan. “Kadang kita lupa kalau dalam sehari kita makan 3 kali. Dan peran wajan begitu berjasa untuk menyiapkan hidangan yang akan kita santap,” terang pemilik studio seni rupa Bilik 3 Dharma. Bagaimanapun, sang seniman berusaha memaparkan bahwa sesungguhnya wajan adalah alat yang asalnya dari negeri Cina ini memiliki nilai luhur dalam kehidupan manusia. Sebuah nilai tambah, nilai positif yang diwujudkan Teguh ke dalam alat masak sederhana sesungguhnya juga menjadi sentilan diri untuk selalu menghargai hal-hal kecil seperti udara segar, air bersih, termasuk makanan yang disantap setiap harinya. Karya Teguh Ostenrik menghadirkan sebuah kesederhanaan yang bernilai. Keindahan tak terus berkutat pada medium ataupun keegoisan karya itu sendiri, tetapi juga membagikan indahnya kepada ruang yang dihinggapi. Ia pun melihat bahwa peran serta posisi karya seni dalam sebuah ruang seperti karya sastra yang menyimpan beragam pesan tersurat dan tersirat. “Tugas seniman seperti saya, adalah membaca interaksi ruang-ruang yang tersirat sehingga muncul permukaan-permukaan baru di antara ruang yang kasat mata” papar Teguh. Ia mengaku ada getaran ruang yang ia rasakan pada Galleri Fatahillah yang dirancang oleh arsitek Andra Matin, “Secara spontan saya berpikir pada wajan-wajan yang akan saya olah sebagai hasil sublimasi seniman terhadap ruang yang ditawarkan oleh arsitek” akunya. Buat Teguh, hadirnya karya seni bukan semata sebagai dekorasi guna memepercantik ruang namun haruslah muncul karena ada pemikiran yang mendalam saat menjawab keberadaan ruang yang ditawarkan. Karya ini mungkin dapat menjadi pemicu baik kepada seniman, para pembangun, arsitek dan juga seluruh warga Jakarta untuk dapat merenungkan sebuah “harta karun” dalam tiap-tiap hal yang mungkin terlantar, seperti Kawasan Kota Tua.

Nissa Maretta adalah Writer Indesign Indonesia.


ARTindesign

Teks Nissa Maretta Fotografi DOK. PENULIS

indesignlive.co.id

69


Design: Martin Ballendat

70

LITTLE PERILLO – FRESH DESIGN IN COOL COLOURS!

Indonesia distributor: PT Forum Indonesia Jalan Bendungan Hilir Raya No. 14D Jakarta 10210, Indonesia

Phone: + 6221 2510 666 Fax: + 6221 2510 777 Internet www.ptforum.co.id

Dauphin HumanDesign® Australia Pty Ltd., 2 Maas Street, CROMER NSW 2099 / Australia, Phone +61 2 8006 2850, E-mail asia-pacific@dauphin.com.au, Internet www.dauphin-group.com


ALL IN THE FAMILYindesign

T

idak hanya berhubungan dengan hasil akhirnya, tetapi keluarga ini mengulik dan mengembangkan tenun serat alami di Indonesia untuk diakui dan digunakan oleh banyak desain di mancanegara. > Edisi ini k ami bercerita tentang REtota indesignlive.co.id

71


WEAVING PAST AND FUTURE ermula dari bisnis kecil yang dimulai oleh sang Ibu, Aryantie Saryanto, untuk menjual behan tenun serat alami ke rumah-rumah dan beberapa hotel di Indonesia. Bisnis yang mulai diinisiasi sejak tahun 1988 ini berkembang dari situasi eksplorasi tenun serat alami masih sangat terbatas. Sejalan dengan waktu, bisnis menjadi semakin berkembang dengan konsumen yang berkisar dari perseorangan hingga hotel-hotel berbintang lima di Jawa. Bapak Saryanto Sarbini yang masih berkecimpung dalam bisnis yang lain kemudian mulai melirik tenun serat alami ini. Justru ketika desainer interior dari Hyatt Jakarta dan Yogyakarta menyarankan untuk tidak hanya menjual produk, tetapi ikut serta dalam mengembangkan industrinya. Sejak itu, Retota mulai tumbuh berkembang menjadi bisnis yang membina pengrajin untuk memenuhi tuntutan konsistensi dan kualitas yang dibutuhkan agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Dari hanya memiliki konsumen perseorangan, berkembang menjadi konsumen korporasi, dan kemudian akhirnya mengekspor produknya untuk pasaran Jepang dan Amerika. Order dari Jepanglah yang semakin mendorong bisnis keluarga ini untuk juga memperhatikan kualitas bahan baku dan produksi tenun serat alami. Nama Retota Sakti kemudian menjadi merek yang sampai saat ini begitu melekat di kalangan konsumen setianya. Dari nama putra dan putrinya yaitu Noor Mareliani Sari (Rely), Muhammad Rianto (Tommy), dan Taufaniari (Taufan), nama Retota didapatkan. Sampai hari ini, produknya bisa ditemukan di Chic Mart, Kemang, dan beberapa outlet lainnya. Retota kemudian mulai lebih dikenal oleh publik ketika rajin ikut serta dalam pameran Kerajinan Indonesia Dalam Interior pada tahun 90-an. Sejak saat itu, tidak hanya menjual bahan tenun serat alami dan membina pengrajin di Pekalongan saja, tetapi juga melakukan eksplorasi untuk mencari serat baru yang bisa dikembangkan. Tuntutan konsistensi dari Jepang sedikit banyak berpengaruh pada cara Bapak Saryanto

B


ALL IN THE FAMILYindesign

teks sunthy sunowo fotografi Dok. Penulis dan Muh. Nurizal

dan Ibu Aryantie mengapresiasi tenun. Retota pun kemudian memutuskan untuk bekerja sama dengan petani menanam sendiri tanamannya sehingga bisa menebangkan tepat waktu. Hal ini menjamin kualitas serat dan warnanya. Eksperimen dengan serat baru dilakukan juga untuk mengembangkan motif dan tekstur tenun yang lebih beragam. Dahulunya Retota lebih banyak berhubungan dengan warna netral sehingga reaksi para konsumen setia cukup keras ketika Retota mulai menghasilkan warna dan tekstur yang lebih mencolok. “Harus ada hal baru karena dunia luar terus berkembang dan konsumen setia mulai bergulir ke generasi kedua dengan selera yang lebih dinamis,� Bapak Saryanto menjelaskan. Bahkan beberapa waktu lalu Retota meluncurkan koleksi warna baru hasil kerja sama dengan desainer interior Roland Adam. “Secara bisnis memang butuh waktu untuk membuat publik mengapresiasi dan menyukai seri kain yang baru,� tutur Ibu Aryantie. Retota memang berkembang menjadi perusahaan keluarga yang melibatkan putraputrinya secara aktif, bahkan sekarang aktivitas perusahaan mulai lebih banyak diurus oleh putraputrinya. Rely berurusan dengan marketing, Tommy mengurusi bahan baku dan produksi, sementara Taufan bertanggung jawab terhadap desain. Retota Sakti ini merupakan salah satu perusahaan keluarga yang telah mengawal desain interior Indonesia sejak tahun 90-an selain itu juga sudah mulai melakukan ekspor ke Amerika dan Jepang sejak 1993. Tetapi namanya tidak dikenal di kedua negara maju tersebut. Desainer dari Amerika atau Jepang mungkin sudah begitu familiar dengan produk sunshade dan wallpaper mereka. Di Indonesia sendiri sudah sangat banyak bangunan yang memanfaatkan produk Retota. Merek tersebut mewakili produk kain dari tenun serat alami. Sementara itu, untuk mewadahi kebutuhan konsumen akan desain yang lebih bisa masuk ke dalam gaya modern klasik kemudian diluncurkan merek ROA untuk eksplorasi baru seperti karpet dari serat abaca

dan wall covering. Inovasi dan kreativitas keluarga yang juga sebuah tim ini bisa dinikmati dalam produk homeware Kedaung seri tenun. Dengan ketekunan, semangat, dan dedikasi untuk memberikan manfaat ke orang lain di sekitarnya, Retota dan Roa maju semakin lama semakin dikenal sebagai produk yang memiliki personalitas. Kesetiaan konsumen yang juga diikuti oleh putra putri generasi berikutnya menandakan ketulusan hati mempersembahkan produk yang berkualitas semakin diapresiasi hingga hari ini

halaman sebelah

Koleksi Retota yang cerah dan memiliki kombinasi warna yang menonjol.

Halaman ini atas kiri

(belakang) Muhammad Rianto, Noor Mareliani Sari, dan Taufaniari. (depan) Aryantie Saryanto dan Saryanto Sarbini. atas kanan Koleksi Retota baru hasil kolaborasi dengan Roland Adam.

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor Indesign Indonesia.

indesignlive.co.id

73


THE NEW CULTURE Mengedepankan sebuah budaya kerja baru, Graha Hero memberikan sebuah kualitas lebih dari sekadar ruang bekerja


portfolioindesign

Teks nissa mAretta fotografi Danny SB arsitek atelier TT lokasi jakarta | ina PROyek graha hero

indesignlive.co.id

75


portfolioindesign

ebagai salah satu perusahaan terkemuka di bidang ritel dan supermarket, PT Hero Supermarket Tbk. telah berdiri sejak tahun 1971. Berlokasi di salah satu kawasan elite Jakarta Selatan, CV Hero didirikan oleh almarhum M.S. Kurnia. Selama hampir 30 tahun, bisnis ini kian berkembang mengikuti serta memenuhi berbagai kebutuhan sesuai segmentasi konsumen. Rentang pasar yang cukup luas menjadikan ragam usaha dari PT Hero Supermarket Tbk. melebarkan gerainya secara strategis mengikuti kondisi pasar pada lokasi tertentu. Jika berbicara strategi bisnis, Segmentasi, Targeting, dan Positioning biasa dikenal sebagai tiga hal penting dalam menjalani sebuah bisnis ritel. Tak terkecuali dalam penempatan lokasi kantor pusat, yang terkadang disebut sebagai cerminan usaha yang dijalankan. Selama ini, salah satu gedung di jalan protokol ibu kota telah menjadi kantor pusat Hero selama belasan tahun namun seolah membaca tren CBD (Central Business District) yang beranjak ke pinggiran kota, di tahun 2014, kantor pusat Hero Group bermigrasi ke daerah CBD Bintaro Jaya. “Cost menjadi salah satu alasan, tapi yang jadi alasan utama adalah kami ingin mewujudkan sebuah working culture yang baru,” jelas Mukhlis Apen, selaku Head of Project PT Hero Supermarket Tbk. Pemilihan lokasi kantor pun telah dikaji secara matang dengan mempertimbangkan berbagai potensi yang dimiliki, salah satunya, lahan ini tepat berada di sebelah flagship store Giant Supermarket, “untuk office retail seperti PT Hero Supermarket Tbk., aktivitas utama kami selain mengawasi dan mendukung gerai-gerai kami, tentunya bertemu para supplier. Karenanya lokasi kantor di tengah atau di pinggir kota sebenarnya tidak menjadi masalah,” tambahnya. Yang menariknya, persero ini mengadakan sayembara kepada empat konsultan arsitektur terpilih untuk merancang kantor pusat Hero Group. “Kami ingin kantor dengan konsep terbuka serta mempunyai desain green sehingga low energy consumption,” papar Mukhlis Apen. Kemudian, dari hasil penilaian akhir, biro konsultan yang diprakarsai oleh Jan Steve Tjandra dan Lisa Teo yang terpilih menjadi pemenang.

S

Keinginan untuk menciptakan sebuah lingkup suasana dan budaya kerja yang baru, dituturkan Mukhlis Apen sebagai upaya manajemen kantor Hero dalam mengusung kebersamaan serta transparansi kinerja seluruh karyawan Hero Group. Sejalan dengan konsep tersebut, Atelier TT memberikan gagasan awal untuk mendefinisi ulang serta mencari kemungkinan baru dari tipologi bangunan perkantoran di Indonesia. Walau pada umumnya gedung perkantoran di kawasan Central Business District sebuah kota cenderung memiliki desain dengan skala vertikal yang kuat, tampilan formal cenderung kaku—terlihat dengan layout ruang-ruang yang tersegmentasi, Graha Hero justru menerapkan sebaliknya. Gagasan open plan pun menjadi opsi desain yang dinilai cukup solutif. Terbentuknya ruang-ruang adaptif yang sifatnya luwes dan membaur, dapat menjadi pendorong aktivitas serta budaya kerja yang terintegrasi, inklusif bagi para karyawan, terlepas dari pakem hierarki masing-masing jabatan dalam perusahaan. Berada pada satu lahan dengan salah satu flagship store PT Hero Supermarket Tbk. memberi cerminan akan kinerja perusahaan ritel yang fokus dalam

Kiri Sirip aluminium pada fasade bangunan yang berperan ganda sebagai penghalau panas matahari, juga penguat aksen horizontal pada gedung bAwAH Area ruang meeting dengan supplier yang letaknya di lantai 2

“Kami ingin membangun culture yang tadinya sangat birokratis menjadi lebih terbuka.” mukhlis apen indesignlive.co.id

77


Bawah Kanan Area

taman pada “green canyon” yang menjadi pembuka sirkulasi udara ke area tunggu pada tiap lantai Bawah Kiri Denah lantai lima pada bangunan, menjadi area serbaguna, terdapat rooftop garden dan ruang multifungsi untuk kepentingan karyawan PT Hero Supermarket Tbk. halaman sebelah Atas bawah Roof garden

tak hanya menyejukkan atap dak beton pada bangunan tetapi juga dengan adanya area duduk, memicu sebuah aktivitas sosial antarkaryawan.

menjaga pelayanan kepada para konsumen serta mitra usahanya. “Kami ingin membangun culture yang tadinya sangat birokratis, menjadi lebih terbuka. Kami rasa multi-storey office kemudian kurang sesuai dengan konsep yang kami inginkan,” terang Mukhlis. Sebagai salah satu biro konsultan yang tergolong baru, Atelier TT membuktikan kualitas desainnya dengan cara mengelaborasi kebutuhan dan keinginan PT Hero Supermarket Tbk. serta memberi ide segar bagi desain gedung perkantoran saat ini. Tak dapat dipungkiri open plan memang bukan hal baru dalam office design terlebih budaya kerja di zaman sekarang ini cenderung lebih dinamis. Walau begitu, Atelier TT tak semata mengikuti arus open plan yang monoton— hanya mengacu pada tata ruang, ada aspek serta maksud lain dalam konsep tersebut. Low energy consumption, lagi-lagi hal yang kian kemari menjadi seperti “strategi marketing” diusung ke dalam rancangan gedung perkantoran ini. Memang umur gedung ini belumlah cukup jika buru-buru diberi label “green building” yang berhasil. Namun sebuah hasil tentu tak akan dicapai tanpa adanya upaya dan aksi. Dalam hal ini, ada maksud baik yang disampaikan oleh kedua belah pihak, baik PT Hero Supermarket Tbk. sebagai pemilik gedung, serta Atelier TT sebagai biro konsultan arsitektur.

Sebagai salah satu perusahaan supermarket terbesar di Indonesia, kebutuhan menemui supplier barang dagangan mempunyai porsi cukup besar dalam aktivitas kantor sehingga penggunaan tangga utama ke lantai dua yang merupakan area meeting supplier menjadi detail sederhana yang diharapkan dapat mengurangi beban listrik penggunaan lift. Cahaya dan aliran udara menjadi dua aspek utama yang memengaruhi rancangan gedung, karena seperti pada umumnya, gedung kantor tak jarang memiliki ruang yang tidak mendapat cahaya sehingga membebankan penggunaan energi listrik. Fasade kaca menjadi pilihan untuk dapat mengoptimalkan jangkauan pencahayaan alami. Hadirnya blinder pun rasanya justru dapat dibilang sebagai manual control yang semerta-merta memicu kepekaan pengguna gedung untuk memahami kebutuhan yang mendukung aktivitas hariannya. Sirip aluminium pun memaksimalkan peran gandanya, sebagai penghalau panas matahari dan mempertegas efek horizontal pada gedung lima lantai ini. Bila dilihat dari jalan, sirip ini seolah menginformasikan sosok gedung perkantoran yang ikonis, dengan lembut berbelok, mengikuti bentuk lahan. Atelier TT juga memaksimalkan potensi positif dari alam ke dalam desain gedung lima lantai tersebut. “Kami menyebutnya ’green canyon’, celah


portfolioindesign

yang seolah membelah bangunan menjadi dua. Di sinilah sirkulasi utama pada gedung, di mana para tamu ataupun karyawan dapat terhubung dengan suasana natural alam, dan dapat secara visual melihat ke lantai lainnya,” terang arsitek prinsipalnya, Jan Steve Tjandra. Detail yang diakui Atelier TT sebagai highlight proyek Graha Hero ini tak hanya berfungsi menginjeksikan pencahayaan dan udara alami secara maksimal, tetapi juga menjadi alat yang mengintegrasikan keseluruhan bangunan secara vertikal. Sebuah gestur rancangan yang mencoba untuk menghilangkan stigma “tumpukan pancake” pada desain perkantoran dengan memasukkan sifat transparan serta konektivitas visual antarlantai. “Selain itu, ‘green canyon’ punya peran sebagai ‘paruparu hijau’ bagi gedung, dan menjadi jalur udara alami,” Lisa Teo menambahkan. Lantai teratas gedung pun dimanfaatkan sebagai taman yang menurut salah satu karyawan PT. Hero Supermarket Tbk. sering digunakan para karyawan lain untuk bersosialisasi sembari menikmati langit sore hari. Sedikit banyaknya, apa yang dirancang oleh Atelier TT telah menghasilkan pengaruh terhadap pola kerja karyawan Hero Group. Mungkin yang muncul tidaklah harus selalu dalam bentuk-bentuk baru yang spektakuler ataupun permainan struktur yang megah, namun sesungguhnya bagaimana mencipta ruang pemicu bagi penggunanya untuk dapat sadar serta melakukan aksi yang lebih baik. Entah bagi alam sekitarnya, lingkungan bekerjanya ataupun untuk dirinya sendiri. Kesejahteraan penghuni menjadi pertimbangan serta konsep umum yang kadang terabaikan tanpa kepekaan sebuah pengalaman, terutama di tempat kerja. “Sebagian besar gedung perkantoran di Jakarta berusaha untuk mencapai area lantai bruto maksimum (GFA) tanpa memperhatikan kenyamanan penghuni. Namun, kami percaya bahwa penting untuk berinvestasi di tempat kerja yang inspiratif, karena tidak hanya meningkatkan produktivitas antara staf, tetapi juga membuahkan hasil yang terbaik dan tercerdas untuk perusahaan,” jelas kedua prinsipal Atelier TT. Meskipun kesadaran akan pentingnya desain kantor yang baik perlahanlahan mulai mendapatkan momentum di Indonesia, masih sangat banyak yang perlu dipahami jika ingin dapat bersanding dengan desain office building yang telah muncul di daerah tetangga, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok. “Kami berharap di Indonesia akan mulai dengan cepat mengejar dan menyadari pentingnya desain tempat kerja yang baik serta manfaat yang datang bersama dengan hal itu,” pungkas mereka.

Nissa Maretta adalah Writer Indesign Indonesia.

graha Hero Klien PT Hero Supermarket Tbk. ARSITEK Atelier TT Arsitek prinsipal Jan Steve Tjandra TIM ARSITEK Lisa Teo, Jeremia Ade Putra, Duhita Anindya Hanifati, Renny Melina, Arddy Berylian, Dennis Liandy, Danny Tanoto manajer proyek Hero Group (Inhouse) kontraktor Waringin Megah Surabaya KONSULTAN STRUKTUR PT. Perkasa Carista Estetika KONSULTAN INTERIOR A2 Associated Architects KONSULTAN MEP PT. Meltech Consultindo Nusa waktu penyelesaian 6 bulan PERIODE PERANCANGAN 2012—2013 PERIODE MEMBANGUN 2013 total area lantai 13.840 m2 Atelier TT (62) 21 522 1092 | ateliertt.com FURNITUR Meja resepsionis pada proyek ini

merupakan furnitur custom made yang dirancang oleh Atelier TT. Untuk area kantor, kursi dan mejanya dari Vinoti. PENCAHAYAAN Secara umum pada area lobi dan area publik lainnya menggunakan downl ights dan cove lighting, sedangkan untuk area kerja (hanya menggunakan downlights. FINISHING Penggunaan kaca dari Asahimas, sedangkan dinding menggunakan batu bata acian yang dilapis cat dari Jotun. Secara keseluruhan lantai pada lobi dan area publik menggunakan Nero Assoluto Granite, sementara pada area kantor menggunakan Carpet Tiles dari Milliken. Panel Liniear Alumunium dari Durlum digunakan pada langit-langit area lobi, sedang di area kantor menggunakan panel akustik dari Jayaboard. FIXED AND FITTED Secara keseluruhan, alat sanitari pada bangunan ini dari TOTO. Lift dari Schindler, Ironmongeries dari Kenari Djaja.

Atelier TT ateliertt.com (62) 21 522 1092 A2 Associated Architects A2_jkt@yahoo.com (62) 21 727 90136 Asahimas amfg.co.id (62) 21 6904041 Decorous decorous.co.id (62) 21 717 945 90 Durlum durlumasia.com Jayaboard jayaboard.com (62) 21 2753 8100 Jotun jotun.com/ap (62) 21 8998 2657 Milliken millikencarpet. com PT. Dwitunggal Karunia Gemilang (Durlum) dwitunggalkarunia.com (62)21 8591 3537-38 PT. Hero Supermarket Tbk. hero.co.id (62) 21 8378 8388 PT. Perkasa Carista Estetika perkasacarista.com (62) 533 1182 PT. Meltech Consultindo Nusa meltech-cn.com (62) 21 857 6205 Vinoti vinoti.com Waringin Megah Surabaya waringinmegah.com (031) 5310751 indesignlive.co.id

79


agi penduduk kota besar, peran kantor dalam keseharian mungkin sudah sama besarnya dengan rumah hunian. Pekerjaan-pekerjaan tertentu mewajibkan jam kerja yang kian “molor” hingga kantor terasa bagaikan rumah ke­dua. Menyikapi perluasan peran ini, gedung-gedung perkantoran mulai mendapat perhatian khusus, baik dari segi desain maupun fungsi, untuk memenuhi kebutuhan para pekerjanya maupun masyarakat umum di sekitarnya. Lokasi kantor turut menjadi titik perhatian yang layak diperjuangkan. Letak yang dekat de­ngan tempat makan dan pusat perbelanjaan otomatis membuat, baik wujud maupun nama, kantor itu dikenal khalayak yang lebih luas. Letak yang strategis ini memberikan hak khusus kepada kantor untuk menjadi pusat perhatian, yang secara tidak langsung juga menyertakan “beban” citra tersendiri di dalamnya. Bertambahlah satu tantangan tak tertulis untuk menciptakan gedung kantor yang tidak hanya mengedepankan kenyamanan, tetapi juga estetika luar dalam. Ampera Six Building pun menjawab keduanya, dalam gebrakan penuh keyakinan. Mengambil daerah Ampera, Jakarta Selatan, Mr. Jean-Christophe Blachere selaku salah satu pemilik Kreasi Meluas Group, bekerja sama dengan Chrystalline Artchitect membangun Ampera Six Building. Klien membeli sebuah ba­ngunan kantor yang kemudian direnovasi dengan menambah fasilitas gudang, gimnasium, ruang rapat, training room, dapur, hingga restoran dan rooftop garden yang dilengkapi jacuzzi, di atas lahan 2.000 m2. Bangunan yang terdiri dari dua lantai ini dimanfaatkan sebagai kantor pada lantai atas oleh Blachere yang bekerja dalam industri retail, salah satunya untuk brand ternama Make Up For Ever, dan sebagai restoran pada lantai bawah. Pemilihan tema desain bangunan disesuaikan de­ ngan pertimbangan serius untuk pilihan material yang mampu memberi kemudahan dalam perawatan. Tema industrial pun dinilai mampu memberikan kemudahan tersebut, selain juga memberi sentuhan elegan pada keseluruhan tampilan. Dalam mengusung tema industrial, Ampera Six Building memakai eksposur dinding beton sebagai fasade bangunan. Dilihat dari dinding beton, pola lantai, kaca, dan balok-balok beton lainnya, desain bangunan secara umum menampilkan modul-modul berkisi (grid). Efek kekontrasan pada desain dihadir-

B

Atas Elemen kayu berpadu dengan dinding beton, menampilkan tema industrial yang menyegarkan. KANAN Fasade bangunan menampilkan penggunaan secondary skin sebagai sun shading untuk kantor di lantai atas dan tampilan lebih transparan untuk restoran di lantai bawah..

One Enticing

Ampera Six Building memperluas definisi peran gedung kantor yang identik S tak mungkin terlewatkan


portfolioindesign

teks ANindia Karlinda fotografi William Kalengkongan Arsitek Chrystalline Artchitect lokasi Jakarta | INA PROyEk Ampera Six building

Alternative

Sebagai tempat bekerja, menjadi alternatif tempat berkumpul yang indesignlive.co.id

81


bawah Rooftop garden hadir mewujudkan konsep bangunan urban yang tidak absen menyertai elemen green space KANAN ATAS Instalasi ventilasi udara yang terekspos bersinergi dengan dinding beton yang melingkupi ruangan, memberikan suasana industrial pada area perkantoran di lantai 2 kanan bawah Central courtyard mungil yang dikelilingi jendela-jendela kaca pada ketiga sisinya, memadukan elemenelemen alam seperti batu, kayu, dan pepohonan yang menyejukkan

kan untuk menyeimbangkan, seperti yang dijelaskan oleh Christophorus Jauhari, arsitek utama Chrystalline Artchitect, “Kami memberi aksen penyeimbang dengan elemen bundar, yang terlihat dari saluran pipa AC dan modul lapisan fasade yang bulat-bulat, untuk memecah monotonitas desain secara keseluruhan.” Tanpa mengabaikan estetika, Ampera Six Building mengantisipasi posisi bangunan yang menghadap matahari barat lewat usaha shading, sambil memperjuangkan pencahayaan alami yang dibutuhkan untuk aktivitas di dalamnya. Usaha penyaringan sinar matahari barat untuk restoran pada lantai bawah, dilakukan hanya dengan memasang sebuah kanopi yang cukup lebar. Sementara itu, lantai dua yang berisi kantor disikapi dengan pendekatan berbeda, seperti yang diungkapkan Jauhari, “Di satu sisi, kami memiliki site yang menghadap matahari barat, di sisi lain, kami membutuhkan pencahayaan alami untuk aktivitas kantor, maka dari itu pemakaian secondary skin dinilai dapat mengakomodasi,” ujarnya. Pemasangan lapisan tambahan tidak hanya sebagai usaha peneduhan, “Lapisan kedua ini menjadi statement representative dari kantor itu sendiri, maka kami mende-

sain sesuatu yang unik, yaitu dari kepingan stainless steel hairline yang dibuat dapat bergerak apabila tertiup a­ngin, hingga menciptakan diorama yang menarik,” jelas Jauhari. Pemilihan materi baja pada lapisan juga dinilai pa­ ling menguntungkan karena selain tahan lama, juga mudah dirawat dan mampu mewakili tema industrial yang menjadi misi visual bangunan. Keunikan estetika dan fungsionalitasnya menjadikan lapisan baja sebagai fitur paling istimewa yang sesuai mewakili identitas bangunan. Dalam pengaplikasiannya, lapisan tambahan diintegrasikan dengan struktur ramp yang memberi akses langsung ke rooftop garden. Area kebun bergaya lounge pada rooftop ini selain menawarkan sebuah alternatif scenery yang menyegarkan, juga menggambarkan konsep bangunan urban yang memanfaatkan lahan dengan baik lewat aplikasi elevated green space. Selain berhasil mengakomodasi kebutuhan akan pencahayaan alami, lapisan tambahan pada lantai atas masih memungkinkan akses visual ke arah jalan lewat pengangkatan levelnya, sementara layer skin dibuat untuk memberi kesan melayang. Berbeda de­ ngan lantai atas yang “terselimuti” lapisan tambahan hingga lebih tertutup dari luar, lantai 1 dibuat lebih terbuka dan transparan. “Kami membuat lantai 1 lebih transparan karena area tersebut diperuntukkan se­ bagai restoran sehingga orientasi ke depan diupaya­ kan maksimal, seperti solusi usaha shading matahari barat lewat pemasangan kanopi yang cukup lebar,” ungkap Jauhari. Keunggulan eksterior yang terkonsentrasi ini tidak lantas mengabaikan faktor ekologi lingkungan. Selain menghemat penggunaan listrik lewat pemanfaatan teknologi kinetis angin yang menggerakkan lapisan tambahan, sistem pengolahan limbah dipilih yang ramah lingkungan lewat sistem sanitasi air yang memungkinkan konsumsi air putih dari keran. Upaya tersebut menjadikan keseluruhan gedung lebih berkarakter, terutama jika diban­dingkan dengan bangunan kantor lain pada umumnya. Implementasi tema industrial yang diterapkan, baik eksterior maupun interior bangunan, turut berkontribusi dalam menciptakan suasana kantor yang segar, kasual, dan nyaman. Bukan sepenuhnya mimpi jika Ampera Six Building ingin menempati posisi landmark bagi area Ampera dan sekitarnya, terlebih ketika dinilai dari segi arsitektural yang mampu mendaulatnya sebagai referensi bangunan kantor. Berkat kerja sama lokasi dan performa arsitektural bangunan, harapan jangka panjang untuk menjadi alternatif meeting point dan tempat hang out pilihan di radius Kemang hingga Ampera tampaknya sudah mengambil wujud nyata.

Anindia Karlinda adalah Writer Indesign Indonesia.


portfolioindesign

AMPERA SIX BUILDING ARSITEK Chrystalline Artchitect KEPALA ARSITEK Christophorus Jauhari ARSITEK PROYEK Risty Novritasari DESAINER INTERIOR Jean-Christophe Blachere & Chrystalline DESAINER LANDSCAPE Yanti (Hujan Mas) KONSULTAN PENCAHAYAAN Chrystalline Artchitect KONSULTAN STRUKTUR Hadi Jahja KONSULTAN MEP PT Casa Prima PERAWATAN WATER PLANT PT. Cromwel Indonesia KONTRAKTOR UTAMA PT Dwi Tunggal Mandiri Jaya, Tan Tony WAKTU DESAIN 2011-2012 WAKTU PEMBANGUNAN 2011-2013 total area lantai 2.000 m2 CHRYSTALLINE ARTCHITECT (62) 21 58 90 49 45 chrystallineartchitect.com FURNITUR Pada ruangan lobi, top table dari Koi Kemang, lampu yang digantung di area tangga menggunakan lampu antiledakan dari CV Sinar Glodok Lestari. Pada area kantor, laci kompartemen

dan kursi dari Herman Miller, sementara meja dari Blue Lounge, Kare. Lampu pada langit-langit dari Wever Ducre, Voltex, lampu yang berdiri dari Camerich, dengan lampu meja dari Jack Dyson, dan rak dari Alu. Pada area rooftop, keseluruhan kursi, meja, stool, asbak, dan sofa berasal dari Koi Kemang. PENCAHAYAAN Pada bagian eksterior bangunan, pencahayaan ditangani oleh Wever Ducre, sementara pencahayaan pada interior bangunan yang meliputi area kantor, oleh Voltex. FINISHING Secara keseluruhan, pada bagian interior menggunakan kaca 8+8 berlapisan keras tanpa bingkai, sedangkan dinding interior berupa beton yang diekspos. Lantai pada bagian lobi dan common area menggunakan Andesit 60x60cm polished, pada bagian tangga menggunakan kayu Merbau, sementara kamar mandi menggunakan Andesit flamed. Lantai di ruangan gym ditangani oleh Pavi Gym, sedangkan di ruangan kantor menggunakan technical floor dari Panasonic. Bagian plafon atap menggunakan mortar yang diekspos. FIXED AND FITTED Kloset oleh Kohler, wastafel didesain sesuai kustom, pengering tangan oleh Jack Dyson, dan ceiling power oleh Vilma Socket.

Blue Lounge (65) 315 82029 bluelounge.com Camerich (86) 10 6158 6106 camerich.com CV Sinar Glodok Lestari (62) 21 32 255 877 sinarglodok.indonetwork.co.id Herman Miller (62) 21 2510 666 ptforum.co.id Kare (62) 21 7278 1222 kare-design.com Kohler (62) 21 2358 5630 kohler.co.id Koi (62) 21 719 56 68 koiindonesia.com Pavi Gym en.pavigym.com (34) 965 675 070 Vilma Socket (370) 5247 2348 vilmaelectric.lt Voltex (27) 11 879 2000 voltex.co.za Wever & DucrĂŠ (32) 51 622 650 wever-ducre.com

indesignlive.co.id

83


Intersection Percampuran elemen old and new yang mewarnai Empire Damansara, membawa

Lokasi strategis kompleks development Empire Damansara dikelilingi pusat perbelanjaan yang mudah diakses


portfolioindesign

of Time penghuni “kota kecil� ini dalam perjalanan menusuri zaman

teks Anindia Karlinda fotografi Rupajiwa Studio arsitek ONG & ONG lokasi Kuala Lumpur | MLy PROyek Empire Damansara

uala lumpur menempati posisi sebagai salah satu alpha city di dunia, yaitu kota yang berperan penting dalam operasi sistem ekonomi global, baik dari segi keuangan maupun perdagangan. Selangor, sebagai negara bagian tempat bersemayamnya ibu kota Malaysia ini, memiliki standar kehidupan tinggi dan jumlah kemiskinan paling rendah di seluruh negeri. Dengan infrastruktur mobilitas masyarakat berupa jalan tol dan transportasi yang baik, kegiatan industrial Selangor maju dan menciptakan banyaknya peluang pekerjaan yang menarik para migran, baik dari negara bagian lain maupun luar negeri. Pasar ekonomi turut bergerak secara progresif dan menghasilkan tingkat kesejahteraan hidup yang tinggi, terlihat dari maraknya kehadiran shopping mall yang sering dikunjungi turis maupun penduduk lokal. Supermarket, toko-toko dan business centre turut beroperasi secara aktif, dan membentuk satu kebudayaan tersendiri pada kota-kota besar di Selangor. Mengambil tempat di Petaling Jaya, salah satu kota besar di Selangor, sebuah proyek mixed development, Empire Damansara, diwujudkan. Lokasi strategis yang menempatkannya bertetangga dengan area residensial, commercial development dan komplek perbelanjaan yang populer di sekitarnya, memberikan akses mobilitas antar bangunan yang mudah, cukup dengan berjalan kaki. Faktor lokasi ini menjadi keunggulan tersendiri yang menarik lebih banyak publik untuk mengunjungi ‘kota kecil’ ini.

K

indesignlive.co.id

85


“The development was to be seen as a ‘mini city’ where ‘old’ meets the ‘new’, where east meets the west.” tan kee keat, yeoh thiam yew, lau jak shen

Proyek pembangunan mencakup 7 gedung utama, yaitu hotel Empire Residence, Empire SOHO 1, Empire SOHO 2, Empire Detached Office, Office Building 12 stories, Empire Studio Tower, dan retail units Heritage Lane. Menggandeng Ong & Ong sebagai biro arsitektur yang menangani keseluruhan proyek, tahap pertama dalam proses desain adalah penyusunan konsep skematis sebelum maju ke kegiatan konstruksi. Tan Kee Keat selaku Managing Director di Malaysia bersama Yeoh Thiam Yew dan Lau Jak Shen selaku tim direktur Ong & Ong bertujuan menciptakan kota ‘mini’ yang sustainable pada Empire Damansara yang mengusung perpaduan karakter dari arsitektur tempo ‘lama’ dan ‘baru’ pada perancangan desain bangunan dan detildetil ornamen yang menghiasinya. Ketiga direktur mengungkapkan, “The development was to be seen as a ‘mini city’ where old meets the new, where east meets the west.” Konsep desain yang menjadi landasan utama proyek adalah “yesterday meets tomorrow”, sehingga permainan elemen-elemen lama dan baru pun dilakukan dan menjadi identitas unik dari proyek itu sendiri. Pada bagian fasade, umumnya digunakan expanded metal karena dinilai cukup efektif dari perhitungan biaya serta membubuhkan karakter spesial tersendiri pada gedung. Permukaan fasade pada hotel Empire Residence yang menampakkan ornamen berbentuk sirip-sirip warna jingga yang tersebar secara random, menjadi strategi desain untuk menghadirkan efek pemisahan di keseluruhan fasade. Warna merah dan putih terlihat mendominasi fasade blok perkantoran, hal ini ditujukan sebagai pembedaan tipologi program, sementara desain playful pada jendela gedung SOHO yang dilapisi secondary skin secondary skin pada bagian-bagian tertentu di permukaannya, ditujukan sebagai perwujudan sebuah desain ritmis. Heritage Lane, yaitu area F&B dan unit ritel dengan heritage-themed, menggunakan batu bata Cina yang menyimpan latar kisah penyeleksian istimewa untuk fasade bangunan. Pada awal perencanaan, yang akan digunakan adalah batu bata normal, namun pada waktu bersamaan, pihak developer sedang melakukan pembangunan ulang sebuah rumah toko tua di Cina. Pihak arsitek dan developer yang tidak ingin menyianyiakan semua batu bata tua tersebut memutuskan


portfolioindesign Kiri Atas Podium yang menyediakan akses drop-off mempermudah akses ke gedung galeri dan kantor. Kiri Bawah Floating Umbrellas yang memamerkan payung dalam variasi warna yang digantung merupakan instalasi seni yang mewakili tema program acara KANAN Gedung SOHO 2 menjulang di ketinggian 27 lantai, dan Office Building 12 lantai menampilkan permainan ornamen garis pada fasade.

TEKS Sunthy Sunowo FOTOGRAFI Courtesy of Form Operation Architects Arsitek Stanley Wangsadiharja dan Susy Gunawan LOKASI Jakarta | Ina PROYEK Pavvilion 26

indesignlive.co.id

87


portfolioindesign

Kiri Hotel Empire Residence menampilkan ornamen sirip-sirip jingga sebagai aksen pemisah pada permukaan fasade. Fasade Empire Studio Tower menampilkan pilar merah dengan detail garis melengkung putih yang merayap dari bawah Kanan Tangga berdesain klasik berselaras dengan elemen bricks pada lantai dan bangunan sekitar

untuk mendiskusikannya dengan klien, yang kemudian setuju untuk mengganti dan mengirim batu bata tua Cina itu ke Malaysia. Terinspirasi dari gudang pada masa New World, recycled bricks ini dipilih karena memberi kesan nostalgia kepada area, dengan menarik elemen dari masa lalu. Untuk memunculkan efek kekontrasan dari gedung-gedung yang mengelilinginya, pada Heritage Lane perancangan skala dan materi sengaja dipilih yang menghadirkan bentuk dan suasana ‘village’. Sebagai bangunan yang menghidupkan elemen warisan dan kebudayaan, Heritage Lane memasang instalasi-instalasi seni yang menjadi bagian dalam program yang sedang berlangsung. Dekorasi berupa payung-payung dalam variasi warna cerah yang digantung pada atap terbuka di area koridor, merupakansalah satu contohnya. Penyusunan instalasi seni ini sendiri berubah mengikuti waktu, yaitu sesuai jenis acara dan program yang sedang berlangsung. Ketersediaan ruang area terbuka yang dapat menyesuaikan variasi acara dinilai penting, maka central courtyard pun dihadirkan dengan fungsi sebagai area berkumpulnya aktivitas dalam kompleks bangunan. Tim direktur menggaris bawahi bahwa kesuksesan suatu proyek dinilai pada perencanaan dan integrasi dari semua komponen yang terlibat. Dalam implementasinya, setiap area memiliki sisi fasade dan area lobi yang berperan penting, sementara perhatian ekstra diberikan kepada bagaimana podium car park terhubungkan dengan gedung-gedung dan menciptakan interkonektivitas antar pejalan kaki dengan beragam ruang publik. Keunggulan aspek fungsionalitas ini mewujudkan sebuah kompleks development yang terstruktur dengan baik dan rapih, yang mampu memajukan produktivitas pekerjaan dan aktivitas para penghuninya. Dan yang tidak ditemukan pada kompleks pembangunan lainnya, pembubuhan elemen tempo ‘dulu’ dan ‘kini’ pada detil-detil desain di sepenjuru mini city Empire Damansara mampu membawa pengunjung bernostalgia dalam perjalanan menusuri ‘persimpangan’ waktu.

Anindia Karlinda adalah writer Indesign Indonesia

Empire Damansara Arsitek Ong & Ong 360 Consultancy Sdn Bhd DIREKTUR STUDIO Tan Kee Keat, Lau Jak Shen, Yeoh Thiam Yew ARSITEK UTAMA Lau Jak Shen DEVELOPER Mammoth Empire Group WAKTUDESAIN Mei 2010—Oktober 2013 WAKTU PEMBANGUNAN 3 tahun total area lantai 13.840 m2 ONG & ONG (65) 6258 8666 | ong-ong.com Blindcraft blindcraft.com.au (61 3) 9770 8282 Dulux 13 23 77 dulux.com.au indesignlive.co.id

89


BLUNTLY Vila ini memasukkan elemen alam sebanyak mungkin, sementara desain dimanfaatkan untuk membentuk transisi antara indoor dengan outdoor


portfolioindesign

TEKS Sunthy Sunowo FOTOGRAFI Evelyn P Arsitek TYIN Tegnestue Architects LOKASI bali | Ina

RAW indesignlive.co.id

91


erangkat dari bentuk apresiasi tinggi dan pemahaman mendalam terhadap iklim tropis yang hangat di Bali, Jerry van de Bergh mengimplementasikan inspirasinya ke dalam proses perancangan vila ini. Penerapan konsepnya yang bersifat kontemplatif tercermin dari keterbukaan pada lantai dasar yang ditujukan untuk “mengundang” cahaya, udara, dan angin natural ke dalam ruang-ruang yang banyak digunakan untuk beraktivitas. Lanskap di sekeliling vila tidak hanya berperan sebagai aksesori, tetapi juga merupakan perluasan dari area tempat duduk, ruang makan, dan dapur terbuka, sekaligus menimbulkan efek terapeutik. Kolam renang yang letaknya berdampingan de­ ngan bangunan vila memantulkan refleksi sejuk yang mendatangkan suasana resor pada keseluruhan desain yang modern. Penataan ruang berhasil membawa suasana santai yang memanjakan pancaindra le-

B

wat perpaduan angin lembut, aroma natural, dan suara desir pepohonan dari lingkungan sekitar yang menenteramkan jiwa. Bangunan vila itu sendiri berperan selayaknya selembar kanvas. Bangunan hadir dalam dominasi warna abu-abu monokromatik de­ ngan aksen furnitur kayu yang menandai fungsi ruangan. Dinding abu-abu berpermukaan kasar menonjolkan karakter penting dari arsitektur modern. Desain yang praktis dan sederhana menciptakan penerangan alami pada keseluruhan atmosfer, sementara kesegaran dan kesejukan dari air serta pepohonan membawa kesan natural tersendiri pada kedua lantai vila. Perbedaan di antara keduanya dapat dilihat dari segi penutupan ruangan yang diperhitungkan dengan matang. Arsitek dan desainer interior memahami bahwa, pada beberapa area tertentu, privasi sangat penting untuk dikedepankan tanpa mengorbankan interaksi dengan alam sekitar. Untuk itu, lantai atas didesain dengan akses pandang ke luar melalui kaca jendela setinggi ruangan, dan atap skylight yang memungkinkan penghuni vila untuk me­ nga­g umi kecantikan wajah langit sembari menikmati kenyamanan dari dalam ruangan. Kombinasi warna-warna pastel dan monokrom pada bangunan berselaras dengan furnitur dari Supellex yang mewakili gaya hidup simple and sleek. Perpaduan keduanya mewujudkan suatu area yang tampak netral namun menyuarakan kepribadian yang kuat. Baik desain interior maupun eksterior mampu melengkapi satu sama lain hingga memperkaya aspek visual pada setiap ruangan. Furnitur kayu dan rotan


portfolioindesign

93

w

turut memainkan peran besar dalam menghadirkan suasana hangat dan bersahabat ke dalam vila. Ke­ sederhanaan nan elok dapat ditemukan pada kursi ‘Shell’ yang terbuat dari aluminium berbalut rotan alami yang tampak serasi saat disandingkan dengan meja ‘Apollonette’ yang bergaya kontemporer. Kesan raw pada dinding yang menjadi latar bagi furnitur bersiluet modern menciptakan “kontradiksi” yang manis dan secara gamblang memancarkan aura sophisticated. Secara keseluruhan, vila ini merupakan tempat yang ideal untuk menikmati keeksotisan Pulau Dewata.

Sunthy Sunowo adalah Senior Editor Indesign Indonesia.

Vila di Bali Arsitek Jerry Van de Bergh FURNITUR Sebagian besar menggunakan furnitur dari Supellex FinishingRaw Supellex (62) 21 7202189

halaman sebelumnya

Elemen cahaya dan udara melebur dengan keterbukaan pada lantai dasar, membawa suasana sejuk pada keseluruhan bangunan paling Kiri Ruang makan yang terbuka menampilkan perpaduan elemen kayu dengan raw finishing pada desain tangga yang unik Kiri Kesegaran warna hijau pada peophonan yang mengelilingi bangunan membawa efek terapetuik. Atas Desain interior pada kamar tidur menampilkan kombinasi warna pastel dengan “rawness” pada dinding dan lantai.

indesignlive.co.id


portfolioindesign

SPIRAL QUEST

TEKS Sunthy Sunowo FOTOGRAFI Dok. Archimetric Arsitek archimetric LOKASI Surabaya | Ina PROYEK spiral house

Menikmati ruang ke ruang di hunian ini adalah satu perjalanan menerus seperti spiral yang kemudian mencapai pusatnya

lam memang seharusnya mendapatkan perhatian utama dalam setiap desain. Tidak hanya karena sebuah pemandangan indah yang dinikmati melalui bukaan jendela, tetapi juga merengkuhnya ke dalam desain dengan memberikan respon ramah pada lingkungan sekitar agar terwujud pula kualitas nyaman di dalam ruangruangnya. Hunian di pinggiran Kota Surabaya ini juga menghadapi dilema di antara melawan kondisi iklim yang panas dan kesadaran untuk merespon iklim tropis dengan ramah. Terletak di atas lahan pojok seluas 464 m2, bangunan yang didominasi dinding warna putih ini dirancang dengan pertimbangan mendalam untuk mengakomodasi kaidah-kaidah desain bangunan di iklim tropis. Seperti bangunan yang disarankan untuk tetap tipis dan memanjang untuk memudahkan kontrol pencahayaan dan penghawaan. Rumah pribadi milik keluarga Ivan Priatman ini kemudian menghadapi masalah dengan proporsi lebar dan panjang lahan yang sangat tidak memungkinkan kehadiran bangunan rumah yang tipis memanjang. Sebagai arsitek dari rumah keluarganya, Ivan tetap profesional menerapkan prinsip desain tropis Eksplorasi yang kemudian dilakukan arsitek rumah ini membawa desain hunian ini menjadi runtutan sekuens menerus yang memiliki kualitas ruang-ruang yang menarik dan memberikan banyak kejutan desain. Ruang ke ruang kemudian mulai tampil dengan kedalaman karakter yang terbentuk dari tekstur, material, dan motif pada pembentuk ruang. Konsep ‘spatial continuity’ di rumah ini kemudian tampil dari beragamnya fungsi dan karakter ruang yang tentu saja memberikan pengalaman yang beragam. Merespon kondisi bentuk lahan yang mendekati proporsi bujur sangkar, Ivan kemudian melipat massa, membelokkan ruang, hingga menyisakan satu void yang menjadi courtyard di tengah rumah dan juga menjadi pusat orientasi dari segala penjuru hunian ini. Lantai dasar sebagian ruang berbentuk kota

A

untuk memaksimalkan ruang, tetapi di lantai atas ruang diposisikan miring. Sekuens yang terbentuk dari ruang paling publik hingga yang paling privat menjadi seakan berbentuk spiral yang mengelilingi void besar. Tatanan seperti ini ternyata juga upaya desain untuk memberikan ruang gerak bagi udara dan memberikan banyak bukaan dan akses untuk masuknya cahaya matahari menerangi ruang-ruang di rumah ini sepanjang pagi hingga sore hari. Biasanya desain rumah menempatkan void di atas ruang duduk untuk membuat ruang terasa lebih megah, tetapi di hunian ini justru terletak di luar. Hal ini memberikan penekanan pada keseluruhan impresi yang ditampilkan oleh desain rumah ini

Kiri Tampilan rumah yang

didominasi oleh warna putih menjadikannya tampak menonjol di antara rumah-rumah sekitarnya. kanan Vegetasi, dinding putih, tritisan, dan komposisi tekstur dan pola membuat olahan massa rumah ini menarik dan dinamis.

indesignlive.co.id

95


kiri atas Kolam renang

yang sedikit terlindung dalam bayangan rumah dan tata lanskap ikut membentuk iklim mikro di dalam rumah.Kiri bawah Ruang selalu memiliki jendela yang membiarkan pantulan sinar matahari menerangi ruang. halaman sebelah Pintu geser kaca akan membaurkan batas ruang dalam dan ruang luar di hunian ini dan membiarkan angin bebas berhembus.

bahwa alam memiliki nilai yang penting, bahkan diletakkan di bagian tengah dari ruang gerak sehariharinya. Desain arsitektur hunian ini menjadi bukti keramahan detail rancangan bagi pengguna di dalam ruang-ruangnya terus konsisten diwujudkan untuk menjadi ramah juga terhadap lingkungan sekitar. Arah datangnya sinar matahari juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan di hunian ini. Peletakan area duduk di sisi timur rumah ini menjadi salah satu bukti bagaimana alam memberikan menjadi elemen penentu disini. Namun, selain sinar matahari timur, ternyata peletakan ruang ini juga untuk memaksimalkan kehadiran angin yang mayoritas berhembus dari arah timur agar ruangruang di dalam hunian ini sejuk. Penggunaan ac pada ruang ini menjadi sangat minimal.

Batasan antara ruang dalam dan ruang luar juga menjadi bias dengan penggunaan material kaca sebagai pintu sliding setinggi plafon ruang. Ketika pintu dibuka, batas antara ruang dalam dan luar hilang dan membiarkan angin dengan bebas berhembus. Ventilasi natural inilah yang menjadi strategi desain untuk merespon iklim di Kota Surabaya yang panas dan gerah. Area courtyard di tengah juga seakan menjadi perpanjangan dari ruang dalam, begitu juga dengan kolam renang. ‘Space continuity’ yang menjiwai desain rumah ini ternyata tidak hanya mewarnai tatanan ruang dan fungsi di dalam rumah, tetapi juga berlaku untuk hubungan ruang dalam dan luar. Selain angin dan sinar matahari, iklim tropis memiliki hujan yang menuntut hadirnya teritisan yang lebar untuk mengurangi tempias ketika hujan dan juga berfungsi mengurangi masuknya panas dari sinar matahari bila langsung masuk ke dalam ruang. Pencahayaan natural di dalam ruang lebih banyak mengandalkan pada pantulan sinar matahari, sehingga tidak ikut menaikkan suhu ruangan. Dinding-dinding warna putih yang mendominasi seluruh ruang ini juga membuat ruang terlihat lebih terang sehingga mengurangi beban pencahayaan. Hal ini berujung pada kemampuan hunian ini untuk efektif menggunakan energi listrik. Berhadapan dengan iklim Kota Surabaya yang panas mendorong Ivan Priatman untuk menggunakan autoclaved aerated concrete brick. Alasan penggunaan material ini lebih untuk menghadirkan insulasi lebih baik untuk panas dan kebisingan. Sementara itu, penggunaan material ini juga mengurangi beban struktur. Di sisi lain, taman dirancang sebagai lanskap tropis di sisi bangunan dan courtyard untuk membantu pengondisian iklim mikro yang menurunkan suhu udara, sehingga angin dari timur yang datang mengalami pendinginan dahulu. Area kolam renang yang sebagian berada di daerah berbayang juga memberikan kontribusi efek pendinginan secara psikologis ke dalam ruang. Dengan banyaknya pertimbangan teknis untuk merespon iklim tropis dan mengondisikan bangunan agar ruang-ruang di dalamnya terasa nyaman, Ivan Priatman juga memikirkan estetika tampilan luar bangunan. Meskipun didominasi oleh bidang warna putih, arsitek menghadirkan komposisi tekstur dan peletakan massa sehingga desain yang terlihat bersih ini tetap memancarkan karakter dan pesona, sekaligus tampil menonjol dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor Indesign Indonesia.


portfolioindesign

SPIRAL HOUSE ARSITEK PT Archimetric KEPALA ARSITEK Ivan Priatman MANAJER PROYEK Ivan Priatman KLIEN Ivan Priatman DESAINER INTERIOR Ivan Priatman KONTRAKTOR TYCON KONSULTAN STRUKTUR PT. Archimetric ELECTRICAL PT. Archimetric MECHANICAL PT. Archimetric PLUMBING PT. Archimetric WAKTU PEMBANGUNAN 2011-2013 WAKTU DESAIN 2010-2011 TOTAL AREA 410 m2 PT. ARCHIMETRIC (62) 31 5946980 | archimetric.co.id FURNITUR Meja putih glossy dengan lacquered finish dan quartzstone pada

ruangan Pantry didesain oleh Ivan Priatman. Pada Dining Room, meja makan berdasar polished stainless steel dan tabletop berhiaskan quartzstone didesain oleh Ivan Priatman dengan vendor PT. Omega Mas, sementara lounge chair pelengkap meja makan dari Informa. Pada Living Room, TV kabinet dengan white gloss lacquered finish didesain oleh Ivan Priatman, sofa dengan tipe Simplice dari Cellini, kursi malas Egg Chair dari Arne Jacobsen dengan vendor Mezzanine Lounge, sementara coffee table yang digunakan adalah tipe Noguchi Table dari Isamu Noguchi dengan vendor Mezzanine Lounge. Pada ruang belajar, meja dan rak dengan warna putih matt lacquered finish didesain oleh Ivan Priatman. PENCAHAYAAN Pencahayaan secara

umum menggunakan lampu fluorescent T8 dan T5 dari Philips dengan vendor PT. Mega Citra Bestari, lampu LED juga dari Philips, sementara lampu gantung pada dining room adalah Caboche Pendant Lamp dari Patricia Urquiola dan Eliana Gerotto lewat vendor Mezzanine Lounge. Floor lamp pada living room merupakan Arco Lamp dari Achille Castiglioni lewat vendor Mezzanine Lounge. FINISHing Secara keseluruhan, kaca yang digunakan berjenis clear glass dan tempered glass dari Asahimas dengan vendor MAGI Glass. Cat yang digunakan untuk interior bertipe Decorlotus sementara eksterior tipe Decorshield, keduanya dari Propan. Lantai pada living area menggunakan tipe Merbau Solid FJL (Finger Joint Laminating) dengan vendor

ubinkayu. Lantai pada kamar mandi menggunakan Granit Tile tipe Laminare Thickness 5 mm dari Venus, sementara dinding pada kamar mandi menggunakan Glass Mosaic dari Venus dengan tipe Icy. FIXED AND FITTED Soket dinding tipe Pieno dari Schneider Electric lewat vendor PT. Mega Citra Bestari, kitchen sink dari Kohler dengan vendor Wisma Sehati, sementara kitchen appliances dari Teka. Bathroom sanitair yang digunakan tipe Le Muse dari TOTO dengan vendor PT. Surya Pertiwi, sementara bathtub tipe cast stone freestanding dari TOTO, dan countertop tipe Blanco Zeus 12 mm dari Silestone dengan vendor PT. Builders Shop Indonesia.

Cendrawasih Landscape (62) 21 537 2474 cendrawasihlandscape.com Asahimas amfg.co.id (62) 21 6904 041 Cellini cellini.com.sg Informa informa.co.id (62) 21 582 0808 Ivan Priatman (62) 81 858 4826 Kohler kohler.co.id (62) 21 2358 5630 MAGI Glass magiglass.com Mezzanine Lounge mezzanine-lounge.com (62) 21 288 68 739 Philips lighting.philips.co.id (62) 800 105 2678 Propan propanraya.com (62) 318 960 240 PT. Mega Citra Bestari (62) 318 490 822 PT. Surya Pertiwi (62) 315 353 232 PT. Builders Shop Indonesia (62) 214 955 7167 PT. Omega Mas omegamas.com (62) 343 441625 Schneider Electric schneider-electric.co.id (62) 21 750 441 516 Silestone silestone.com (62) 21 4955 7167 Teka teka.com (62) 315 662 780 TOTO toto.co. id (62) 21 2929 8686 TYCON ty-con.com Ubinkayu ubinkayu.com (62) 31 774 61 046 Venus venus-tiles.com (62) 31 548 66 88 Wisma Sehati wismasehati.com (62) 315 462 868

indesignlive.co.id

97


portfolioindesign

QUEST for TRADITION TEKS ANINDIA KARLINDA & NISSA MARETTA FOTOGRAFI dusun bambu

Arsitek apta design LOKASI Burangrang | Ina PROYEK dusun bambu family leasure park

DALAM APRESIASINYA, DUSUN BAMBU HADIR MENGEMBUSKAN NApAS KELOKALAN SUNDA SEBAGAI SALAH SATU CONTOH KEKAYAAN NUSANTARA KE MATA DUNIA unda menjadi salah satu peradaban yang bertahan hidup dengan melestarikan kebudayaannya. Selain warisan kuliner dan unsur-unsur kesenian, Sunda juga menegakkan pandangan hidup khusus yang dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan. Filosofi ini mengedepankan tiga hal dalam hidup, yaitu keseimbangan alam, norma berbuat baik, dan cinta damai. Walau kian hari daratan tanah Sunda kian padat dan terasa sedikit ada sentuhan metropolis di sana-sini, masih tersimpan keramahan lokal yang tak lekang oleh zaman. Udara yang sejuk dan masih banyaknya dataran tinggi menjadi satu magnet bagi pengunjung yang kebanyakan—masih dari ibu kota. Kawasan Lembang pun hingga kini masih menjadi primadona sebagai tujuan wisata keluarga. Beragam resor pun dikembangkan, seperti halnya Dusun Bambu Family Leisure Park. Bukan sekadar menjual lokasi dan pemandangan alam, Dusun Bambu memberi spirit yang lebih kaya dan bermakna. Kawasan seluas 15 hektare yang berada di bawah kaki Gunung Burangrang ini merupakan sebuah hasil atas ketulusan dan jerih payah yang dikembangkan bukan semata untuk kawasan komersial semata. Memiliki latar belakang sebuah lahan tak terawat, sekumpulan pengusaha Indonesia kemudian menyatukan visi untuk memperbaiki rantai ekosistem di lahan tersebut dengan menjadikannya “surga” dan lahan konservasi tanaman bambu. Demi terwujudnya “mimpi” tersebut, di awal 2008 menanam lebih dari 100.000 pohon menjadi langkah pertama. Setelah itu selama hampir tiga tahun proyek yang kemudian berada di bawah arahan Oky

S

Kiri Area Kampung Layung

yang berfungsi sebagai tempat penginapan pada kawasan Dusun Bambu jelas memperlihatkan arsitektur tanah Sunda ini

indesignlive.co.id

99


Bawah Kiri Legenda

lampau Lutung Kasarung diubah menjadi dining area dengan pengalaman spasial menarik Bawah Kanan Sebagai area wisata Dusun Bambu mengakomodiasi ragam aktivitas alam, salah satunya berkemah di Area Camping Ground HALAMAN SEBELAH

Budaya Sunda yang nampak dari Saung Purbasari adalah menyantap hidangan dengan duduk lesehan di dalam gazebo bambu yang menghadap ke danau

Kuspriyanto, seorang arsitek hijau dari Apta Design, “dilepas” agar pohon-pohon dapat tumbuh alami. Alam menjadi keunggulan yang ditonjolkan, diperhatikan dengan baik pada kawasan yang memegang ekologi, edukasi, etika, estetika, ekonomi, dan etnologi (6E) sebagai pedoman. Pada proses pengembangan kawasan, keseimbangan antara kawasan terbangun dan hijau menjadi fokus utama. “Keunikan alam yang hadir diharapkan mampu menonjolkan diri sebagai aktor, alih-alih arsitektur yang menjadi aktor utama,” terang Oky. Selain konsep keseimbangan alam, genius loci— kearifan lokal menjadi akar kedua pada proyek kawasan yang diberi nama Dusun Bambu Family Leisure Park. Sang owner beserta arsitek sebenarnya telah menyadari bahwa “kelokalan” ini sesungguhnya sudah cukup sering dijadikan tema kawasan rekreasi komersial. Kearifan lokal Sunda dinilai berpotensi sama besar dengan daerah lain untuk dapat dikembangkan sehingga hal ini diaplikasikan ke dalam masterplan kawasan serta proses desain dan konstruksi bangunan pada Dusun Bambu. Di zaman serba ada ini, terkadang cukup sukar mencari hal yang padahal cukup nyata. “Mencari Sunda”, unsur lokal, yang tak sekadar tampilan namun memiliki jiwa dan napas tanah pasundan menjadi konsep secara keseluruhan. “Bukan ide awal, tapi ini menjadi kesimpulan dari apa yang sudah kami lakukan selama proses desain dan konstruksi, karena dalam pengerjaannya banyak pihak yang terlibat memberi masukan, pandangan, juga kritik yang membangun,” jelas Oky Kusprianto selaku arsitek prinsipal dalam proyek ini. Selain lewat desain, konsep “mencari Sunda” diterapkan pada berbagai aktivitas yang dirancang

sebagai sebuah pembelajaran, ilmu, dan ragam budaya untuk menarik kembali ketertarikan masyarakat umum—terutama masyarakat Indonesia itu sendiri. Dengan penerapan Sunda sebagai konsep sebuah kawasan komersial, diharapkan dapat memberikan pembelajaran dan ilmu yang mampu menarik kembali ketertarikan masyarakat umum terhadap kearifan lokal ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari segi arsitektur, kawasan ini menjadi sebuah showroom yang menampilkan ragam arsitektur Sunda. Karakteristik fondasi panggung rumah-rumah adat Sunda, seperti Rumah Julang Ngapak dan Badak Heuay, kemudian diadopsi bersama dengan sistem pengolahan lahan dengan sistem terasering dan dinding batu penahan tanah yang khas Sunda. Meskipun mengadopsi arsitektur tradisional, paduan kontemporer terpancar dari sosok arsitektur Café Burangrang, dan material bambu adalah pengikat baik jiwa juga raga keseluruhan bangunan di Dusun Bambu. Hadirnya material pada bangunan merupakan sebuah opsi material yang tak hanya unik namun juga sustainable. “Material bambu memang membutuhkan pengerjaan khusus, terutama pengawetan dan dalam proses konstruksinya, semoga nantinya kami dapat berkonsentrasi kepada pengembangan bambu sebagai struktur,” papar Oky. Begitu pula pada elemen dekoratif serta penataan lanskap bambu yang tersebar di seluruh kawasan Family Leisure Park ini. Seiring usaha mengedepankan kesetimbangan alam, arsitektur Dusun Bambu dirancang seminim mungkin “melukai” bumi lewat pemilihan material pembangunan yang hampir 50% berupa material bekas, sisa indutsri yang tidak terpakai, hingga kayu sisa bantalan kereta. Sistem konstruksi knock-down juga digunakan agar proses pembangunan dan pembokaran


portfolioindesign 101

indesignlive.co.id


“Keunikan alam yang hadir diharapkan mampu menonjolkan diri sebagai aktor, alih-alih arsitektur yang menjadi aktor utama.” oky kuspriyanto

dapat sesedikit mungkin mengganggu bumi. Konsep daur ulang (recycle) yang dipilih akan memastikan penggunaan material yang masih dapat digunakan untuk keperluan di masa depan dan tidak langsung hancur dibuang. Sebagai kawasan peduli alam, Dusun Bambu lantas menerapkan konsep upycling— meningkatkan nilai guna hingga meraih nilai yang jauh melebihi awal. Penataan kawasan yang dibuat mengacu kepada bentuk perkampungan adat Sunda serta paduan elemen tradisional kuno dengan teknik ataupun bentuk yang lebih kontemporer menghadirkan karya dan fungsi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namanama bangunan pada kawasan ini pun diambil dari legenda-legenda masyarakat Sunda, seperti Purbasari, Lutung Kasarung, Burangrang Sampan Sangkuriang, dan Kampung Layung. Ini menjadi cara sederhana membangkitkan genius loci tanah Sunda dalam ingatan pengunjung lewat cerita-cerita tersebut. Sinergi dalam banyak hal ini mewujudkan hibridasi arsitektur yang harmonis. Sebuah tatanan Sunda yang menarik dan unik sehingga diharapkan mampu menggugah minat pengunjung untuk mempelajari seni dan budaya Sunda tak hanya dari arsitektur tapi dari segala media seperti kuliner, musik, tari, dan juga media sosial. Semaraknya bincang dalam media terkini pun dapat menjadi faktor eksternal yang secara langsung dapat membantu upaya Dusun Bambu dalam misi mengenalkan kembali budaya Jawa Barat. Rupa kawasan yang memberi banyak sudut-sudut photogenic menjadi incaran banyak pengunjung untuk mengabadikan diri lalu di diunggah ke dunia maya. Lantas apa yang dilontarkan oleh Dusun Bambu, setidaknya dapat secara perlahan dan pasti menyuarakan apa esensi berkepanjangan dalam pencarian Sunda. Arsitektur dinilai sebagai sebuah cangkang yang cukup efektif bagi pengunjung untuk menikmati alam, namun belum cukup untuk menemukan dan menikmati Sunda. Maka dari itu ragam event dengan berbagai komunitas budaya Sunda dan masyarakat sekitar menjadi kunci keberhasilan misi etnologi tersebut. Masterplan dan arsitektur Dusun Bambu diibaratkan sebagai wadah kosong yang harus memiliki isi. Sebagai “isi”, produk kebudayaan seperti kerajinan, tari-tarian, nyanyian, tetabuhan, hingga tingkah laku sehari-hari yang merujuk kepada ke-“Sunda”-an akan menjadi jiwa dari kawasan Dusun Bambu.

Nissa Maretta dan Anindia Karlinda adalah Writer Indesign Indonesia.


portfolioindesign 103

HALAMAN SEBELAH KIRI ATAS Suasana Cafe

Burangrang saat malam KIRI BAWAH

Dusun Bambu diharapkan dapat menjadi laboratorium bagi alam dan kebudayaan Sunda Atas Burangrang menjadi satu contoh bangunan dengan desain kontemporer berunsur kelokalan Sunda. Salah satunya terlihat dari paduan material yang digunakan

dusun bambu family leasure park Klien PT Kayuputih Kertawangi Resort ARSITEK APTA Arsitek prinsipal Oky Kusprianto Tim arsitek Oky Kusprianto, ST.,Lela Alifah Rahmi, ST., Priyanto, ST., Agus Ruwandi PROJECT MANAGER PT. Kayuputih Kertawangi Resort KONSULTAN STRUKTUR PT. Bangun Berkat Saudara KONSULTAN INTERIOR APTA, Ruth Tamzil, Arriwoods KONSULtan lansekap PT Kayuputih Kertawangi Resort KONSULtan pencahayaan APTA & LDS KONSULtan mep PT. Bangun Berkat Saudara WAKTU PERANCANGAN 3 tahun (2009-2012) waktu penyelesaian 1,5 tahun (2012-2013) total area lantai 7.000 m2 FURNITUR Secara keseluruhan, hampir semua furnitur pada komplek Dusun Bambu dibuat sesuai pesanan. PENCAHAYAAN Pada bagian Pasar Khatulistiwa,

secara umum menggunakan lampu TL warm white dari Osram, sedangkan lampu spot CDMT 3000K sebesar 36 watt dari Philips digunakan pada Pasar Khatulistiwa dan Café Burangrang. Lampu gantung, menggunakan bohlam LED warna warm white dari Philips. Area dapur dan servis menggunakan lampu Neon TL dari Philips, toilet menggunakan bohlam LED Spot 5 watt dari Phillips. FINISHING Dinding Batu menggunakan batu cimalaka, dinding lainnya, plester aci semen dengan teknik finishing kamprot saring lalu di cat. Dinding gallery adalah kayu kapal bekas. Area Kampung Layung pada bagian luar menggunakan anyaman bambu di dalamnya papan GRC. Lantai dek kayu bengkirai, area servis keramik dari Roman Veneto. Penutup atap pada Saung Purbasari Kayu cedar, untuk Café Burangrang dan Pasar Khatulistiwa atap PVC Alderon FIxed dan fitted Alat sanitari pada Dusun Bambu dari TOTO. Kusen pada area Café Burangrang dan Pasar Khatulistiwa dari alumunium warna hitam, pada bangunan Lutung Kasarung menggunakan kusen baja.

Alderon alderon.co.id (62)21 422 5351 Dusun Bambu dusunbambu.com (62)22 8278 2020 LDS lds. lighting@gmail.com Philips philips.co.id (62) 21 2965 1333 PT. Bangun Berkat Saudara tonnyhismawan@ yahoo.co.id Roman romanceramics.com (62)21 570 0880 Toto toto.co.id (62) 21 29298686

indesignlive.co.id


Messenger of Excellency Sekolah tidak lagi sebatas tempat menimba ilmu, tetapi juga sumber inspirasi yang membentuk karakter pelajarnya. MSC School di Surabaya mengantar pesan ini dalam sebuah dialog “arsitektural”

nstitusi pendidikan dalam negeri dewasa ini, khususnya institusi swasta, telah melihat kepentingan fungsionalitas dan keunggulan estetika sebagai daya tarik yang penting untuk dikembangkan. Fasilitas yang lengkap dinilai esensial untuk pengembangan kualitas para pelajarnya, dan dalam setiap konsepsi bangunan dan desain yang bersangkutan, peran fungsi pun dikedepankan. Setiap garis dan lengkungan menyimpan tujuan, setiap eksistensi dan absensi didasari motivasi. Banyaknya pilihan sekolah menjadikan faktor fungsi dan estetika ini sebagai bahan pertimbangan umum bagi para orangtua sebelum mendaftarkan putra-putri mereka. Sebuah sekolah swasta di Surabaya, MSC School, memunculkan pertimbangan lain yang tidak terbatas pada faktor eksternal, yaitu orientasi visi yang dituju. Samuel A. Budiono, M.Arch, BSAS, IAI selaku pendiri dan arsitek utama dari SAMUEL A. BUDIONO & ASSOCIATES yang menangani proyek ini memaparkan, “Visi perancangan bangunan ini selaras dengan keinginan untuk membangun suatu generasi muda unggul dan bermutu tinggi tidak hanya dari segi intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual.” Pencapaian visi itu sendiri umumnya dapat diimplementasikan melalui beragam pendekatan, seperti kurikulum pelajaran, selektivitas penerimaan pelajar, ataupun arsitektur gedung sekolah. Pendekatan terakhir dapat dimanfaatkan sebagai medium utama dalam penyampaian “pesan” yang bisa berupa harapan akan karakter pelajar, pengaruh yang ingin ditanamkan, juga rencana jangka panjang yang hendak dicapai bersama. Translasi pesan ke dalam desain arsitektur inilah yang secara khusus diusung oleh MSC School. “Desain sekolah ini didasari suatu ekspresi yang memiliki arti dan memberikan suatu statement dari bentuk yang diciptakan sehingga tidak semata-mata faktor estetis dan fungsi saja tetapi mengutamakan ‘pesan’ melalui arsitektur yang berdialog, ” ungkap Budiono.

I

atas Menyuarakan

“eXcellency”, fasade mengambil bentuk X dengan konsep koridor dan jendela yang membuka daya pandang pada central courtyard.

halaman kanan

Terbuat dari bidangbidang wire mesh aluminium, secondary skin pada fasade berfungsi sebagai lapisan penahan panas


portfolioindesign 105

teks Anindia KarlinDa fotografi Samuel A. Budiono arsitek Samuel A. Budiono & ASSOCIATES lokasi Surabaya | INA PROyek MSC School

indesignlive.co.id


portfolioindesign 107 kiri Transparansi pada

kaca di sepanjang koridor mendukung nilai keterbukaan pada hubungan antarpelajar dan dengan guru maupun dengan lingkungan sekitar. Kanan Atas Breeze channeling lewat kisi-kisi metal di koridor utama mendukung konsep bangunan green architecture. Kanan Bawah Barisan kaca meliuk mengitari perpustakaan dalam bentuk embryo dan mengekspos aktivitas para benih unggul di dalamnya.

Berangkat dari fungsi sekolah sebagai tempat belajar untuk membentuk suatu pribadi yang utuh, pesan-pesan yang dihantarkan adalah yang bersifat membangun dan positif, dengan harapan memberi edukasi dan dampak baik bagi generasi muda masa depan. Pesan yang menyuarakan visi “Spirit of eXcellence” diterapkan melalui massing fasade bangunan dalam bentuk secondary skin menggunakan bahan aluminium wire mesh, yang ditekuk dan dilipat membentuk huruf X. Untuk mempertahankan sisi humanis dalam pemanfaatan teknologi masa kini, material metal tersebut dipilih karena berfungsi sebagai lapisan penahan panas, sementara fungsi kisikisi metal pada koridor utama adalah memberikan, baik penerangan cahaya alami maupun kesejukan tanpa AC melalui “breeze channeling” sebagai usaha pencapaian arsitektur hijau yang hemat energi. Berangkat dari pemikiran bahwa benih yang ditanam di atas lahan baik akan berakar, tumbuh, bertunas, dan berbuah hingga memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, Budiono memilih perpustakaan yang berfungsi sebagai salah satu sumber wawasan untuk menyampaikannya. “Konsep bangunan sekolah dimulai dari perpustakaan sebagai suatu ‘embryo’ di mana ilmu pengetahuan dilambangkan sebagai benih yang baik untuk dipupuk dan dikembangkan,” ungkapnya. Unsur kaca yang meliuk membentuk shape embryo memisahkan bagian luar dan dalam perpustakaan, dan sengaja dipilih untuk menciptakan transparansi penuh yang memperlihatkan kegiatan perpustakaan sebagai salah satu sumber pengetahuan. “Visi tentang benih unggul harus diekspos agar memacu para murid untuk giat belajar,” jelas Budiono, “sehingga kesan keterbukaan memang diciptakan sebagai salah satu aspek yang diperlukan oleh individu yang mau maju.” Gambaran akan karakter pelajar yang hendak diwujudkan, di sisi lain, terekspresikan melalui desain ruangan Auditorium yang berbentuk diamond. “Berlian sebagai lambang permata terbaik dalam menampilkan cahaya yang berkilauan, menjadi metafora dari bakatbakat yang diasah hingga mampu tampil ke dunia luar

dengan pesona bintang,” ujar Budiono. Sebagai sarana pengembangan talenta anak-anak muda dalam bidang seni, drama, tari, dan musik, auditorium berkapasitas 700 orang ini dirancang dalam bentuk berlian untuk pencapaian akustik yang sempurna. Ditunjang dengan desain interior yang mendukung, unsur pemantulan dan penyerapan suara sangat diperhitungkan tanpa meninggalkan unsur estetika. “Tema ‘the singing & dancing wall’ sesuai dengan fungsi sebuah auditorium, hingga suatu pagelaran musik dan tarian bisa menjadi satu kesatuan dengan elemen arsitektur dan interior,” papar Budiono. Di sisi lain, raw finishing juga sengaja dipilih untuk menggambarkan material “mentah” yang siap dipoles hingga bercahaya selayaknya berlian. Desain diamond ini memungkinkan kehadiran central courtyard yang membawa cahaya natural dan udara segar ke dalam bangunan. Dilengkapi lampulampu LED, kesan “festive” terpancar pada halaman tengah ini, khususnya pada acara-acara besar. Selain merangsang intuisi dinamika, warna-warni pada lampu turut membawa suasana pusat pagelaran seni

indesignlive.co.id


Atas Konsep desain

auditorium yang berbentuk diamond, “selain sebagai penyampaian pesan tentang suatu karakter, juga untuk pencapaian akustik yang sempurna berdasarkan bentuk konfigurasi yang telah direncanakan,� jelas Budiono. halaman kiri Sketsa floor plan lantai 1 menampilkan perpustakaan yang berbentuk embryo, lantai semi basement secara khusus memperlihatkan desain diamond pada auditorium, sementara koridor, ruang kelas dan laboratorium digambarkan pada sketsa typical floor.

pada interior auditorium. Berselaras dengan konsep “dancing & singing wall� pada auditorium, pergantian warna lampu juga bisa diprogram mengikuti musik ataupun pertunjukan yang ditampilkan. Penyusunan bangunan yang mengelilingi halaman tengah yang terbuka ini menjadi strategi khusus, tidak hanya untuk mengedepankan efisiensi penggunaan lahan dengan memaksimalkan open space, tetapi juga mempermudah pengawasan, berjalannya interaksi sosial, dan menghasilkan keterpaduan aspek visual. Selain memproyeksikan kelestarian dan lingkungan hijau, desain koridor yang memberi akses pandang ke halaman menjadi faktor pendukung pembentukan komunitas yang solid dengan menjunjung proses interaksi antarpelajar. Secara khusus, usaha pengekspresikan diri secara arsitektural juga dilakukan dengan membuka batasan antara individu dengan institusi, dan antara guru dengan siswanya. Fasilitas yang dirancang selengkap mungkin ditujukan untuk membentuk individu yang seimbang dari segala sisi, seperti yang dijabarkan oleh Budiono, “Perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dibuat dengan konsep transparan dan terbuka, auditorium dengan konsep yang memacu imajinasi untuk mendukung pembinaan murid secara aktif di bidang seni, sementara laboratorium yang lengkap untuk mendukung bidang penyelidikan, dan kafetaria dengan teras terbuka dan central courtyard sebagai ajang sosialisasi.� Kelengkapan tersebut bukanlah aspek utama yang membedakan MSC School dari bangunan lainnya, melainkan visi yang mengejar spirit of excellence lewat konsep arsitektur dan interiornya. Samuel A. Budiono menggali ide desain yang didasarkan pada harapan pribadinya terhadap proses pembelajaran yang ideal untuk generasi muda. Sebagai seorang musisi dan komposer yang juga berprofesi sebagai arsitek, jenis musik jazz yang digeluitinya menanamkan jiwa tersendiri ke dalam karya-karyanya, seperti halnya karakter improvisasi lepas pada jazz yang memberi kebebasan dalam pengembangan konsep unik di desain arsitekturnya. Sesuai dengan aliran progressive jazz yang ditekuninya, Budiono tergolong sebagai penggebrak yang berorientasi pada masa depan serta inovasi yang bersifat timeless, karena tidak terpengaruh


portfolioindesign indesign 109

oleh waktu maupun selera pasar. Selain konsep desainnya yang jauh lebih maju dari bangunan sekolah pada umumnya, faktor visi & misi untuk membangun generasi muda yang lebih baik inilah yang turut menunggalkan sekolah ini dari para kompetitor. Pengantaran pesan-pesan unik seperti “spirit of eXcellence”, “diamond character”, dan “embryo of good seeds”, di sisi lain, mengindikasi secara langsung keterbukaan dialog antara sekolah dan pelajar-pelajar di dalamnya. Keaktifan berdialog ini tak pelak menjadi keunggulan tersendiri yang mengistimewakan MSC School, baik dari segi desain maupun nilai. Keunikan memang unsur yang perlu diraih, untuk sampai pada akhir yang tak tertandingi. Samuel A. Budiono pun menggarisbawahi, “Semua yang didasarkan atas ‘orisinalitas’ akan melahirkan tampilan hasil yang berbeda secara jujur dan tidak direkayasa.”

MSC School ARsitek prinsipal Samuel A. Budiono & Associates KEPALA ARSITEK Samuel A. Budiono, M.Arch, BSAS, IAI ARSITEK PARTNER Yatty L. Budiono, M.Arch, Ir, IAI DESAINER INTERIOR Samuel A. Budiono & Associates DESAINER PENCAHAYAAN Samuel A. Budiono & Associates STRUCTURAL ENGINEER AHA KONTRAKTOR Aryana Cakasana WAKTU PEMBANGUNAN 18 bulan WAKTU DESAIN 6 bulan LUAS AREA 1.500 m2 total AREA LANTAI 5.700 m2

SAMUEL A. BUDIONO & ASSOCIATES tel (+62) 21 7200 111 | fax (+62) 21 7233 111 samuelabudiono.com email: info@samuelabudiono.com FURNITUR Untuk interior bangunan, secara umum memakai tempat duduk Ferco Seats. PENCAHAYAAN Pada Central Courtyard, LED Lghting digunakan sebagai efek pencahayaan utama. FINISHing Chicago Metal digunakan untuk secondary skin fasade bangunan.

Aryana Cakasana (+62) 31 5023 863 Ferco Seating fercoseating.com (+44) 8458 123 100

Anindia Karlinda adalah Writer Indesign Indonesia.

indesignlive.co.id


portfolioindesign 111

TEKS Anindia Karlinda FOTOGRAFI Yosi Wyoso arsitek DYXY Architecture + Interiors lokasi Jakarta | INA PRoyek Kalbis Institute

A Beacon of Knowledge Selayaknya menara suar menarik kapal, Kalbis Institute menggugah atensi lewat transparansi desain fasadE yang menyorot dinamika pembelajaran di dalamnya

eberapa besar peran edukasi dalam hidup ini? Sebesar pengaruhnya dalam menentukan masa depan. Bermodalkan pendidikan, setiap orang memiliki prospek pekerjaan dan kehidupan yang terjamin, terlebih melihat faktor penerimaan masyarakat kepada mereka yang berlatar belakang pendidikan mengesankan. Sudah selayaknya institusi pendidikan menjadi suatu fokus perhatian untuk dikembangkan, terutama ketika membicarakan dampak dari pendidikan itu sendiri pada kepribadian dan pembawaan diri seseorang. Kalbis Institute, sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Jakarta Timur, mengindahkan gagasan tersebut; luasnya pengaruh edukasi dalam aspek kehidupan mendorong perancangan “education for a better life” sebagai moto yang melandasi usaha mereka dalam mengembangkan dan mewujudkan sistem edukasi terbaik. Tidak berhenti di sana, Kalbis Institute juga mengedepankan pembangunan fasilitas pendidikan yang mampu mengakomodasi segala macam kebutuhan dan aktivitas pembelajaran, salah satu yang menjadi fokus, bangunan gedung sekolah. Mengambil bentuk dua tower dengan 8 lantai pada masing-masing bangunan, perguruan tinggi yang terletak di Jalan Pulomas Selatan Kav. 22 Jakarta

S

Timur ini mengadaptasi kualitas “keterbukaan” dan “penerangan” yang memberi kesegaran, pada desain interior dan eksterior bangunannya, salah satunya ketersediaan akses untuk saling berinteraksi antarmahasiswa, melintasi batasan lantai dan tempat, baik indoor maupun outdoor. Darryl Yamamoto, selaku arsitek utama DYXY Architecture + Interior yang menangani proyek ini mengungkapkan, “Sejak awal proyek kami bermaksud menciptakan konsep institusional yang lebih terbuka, transparan, dan penuh cahaya.” Atrium utama lantas dibangun dengan desain ruangan terbuka dan banyaknya akses masuk untuk cahaya, di mana serangkaian eskalator diletakkan sejajar dengan koridor-koridor di setiap lantai, membawa kesan openness yang juga berfungsi membantu mobilitas para siswa secara efektif. Sifat keterbukaan ini diharapkan dapat mendaulat area atrium sebagai pusat ragam aktivitas berkumpul dan berinteraksi para siswa. Sekumpulan ruang pertemuan yang lebih kecil dan intim turut dihadirkan di dalam area atrium. “Kami tertarik menciptakan keragaman dan kompleksitas di dalam interior dengan tujuan menawarkan suatu ruang yang menjadi sarang aktivitas, perkumpulan, dan inspirasi,” jelas Yamamoto. Harapan utama dari

Kiri Keterpaduan kanopi

putih pada atap bangunan, dengan jendela kaca yang melapisi seluruh permukaan bangunan menarik perhatian pada fasade Kalbis Insitute.

indesignlive.co.id


pihak desainer adalah menghadirkan lingkungan yang dinamis dan kolaboratif yang menginspirasi pelajar untuk menekuni studi mereka dengan penuh semangat. Fasade utama yang terletak di sisi barat bangunan menghadap ke jalan tol, dan lewat desain kaca tembus pandang yang dihiasi kanopi putih besar, tampilannya ditujukan khusus untuk tampil mengundang dan mencolok, atau yang dinyatakan Yamamoto sebagai usaha “membedakan diri dari bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan tol”. Jendela-jendela pada fasade bagian barat ini diciptakan, baik untuk memperlihatkan pemandangan luar, juga untuk bisa dilihat oleh publik, sementara kantilever dramatis dari kanopi pada atap bangunan yang berpadu dengan fasade transparan menyorotkan kesegaran tersendiri. Rooftop canopy ini menjadi fitur paling unik dan dramatis dari eksterior bangunan. “Secara konsep, kanopi pada atap bangunan adalah selayaknya sayap yang menginspirasi penerbangan menuju masa depan, juga pencarian pelajar akan ilmu pengetahuan,” jelas Yamamoto, “yang mana keduanya mengimplikasi ‘hidup yang lebih baik’.” Dengan dilatari sejumlah universitas dan bangunan komersial di sepanjang jalan raya utara hingga selatan, kanopi atap yang menyertai fasade bangunan sisi barat yang transparan ini membuat keseluruhan profil bangunan yang menghadap jalan tol terlihat selayaknya papan reklame. Seperti fungsi mercusuar yang menyiarkan lampunya untuk memberi sinyal lokasi atau “keberadaan”, fitur pada atap ini dibuat semenarik mungkin untuk mengundang dan menarik kesadaran publik akan bangunan Kalbis Institute, khususnya mereka yang melewati jalan tol Pulomas. Yamamoto menambahkan, “Kami berharap dinamika aktivitas pada atrium utama mampu mengejutkan para pengunjung dan pelajar yang pertama datang, saat mengetahui ini adalah sebuah perguruan tinggi.” Untuk menyeimbangkan profil keseluruhan bangunan, sisi utara dan selatan proyek menampilkan pola “organik” pada jendela, sunshade, dan pemilihan warna yang lebih gelap seperti cokelat tua pada pintu pagar, jendela, dan hijau pada detail fasade. Ketiga

aspek ini berpadu menjadi suatu lanskap geometris abstrak yang terlihat dari dua arah pada jalan tol. Bagi DYXY, fasade yang kaya akan tekstur ini diciptakan kontras dengan kesederhanaan pada fasade utama di sisi barat, yang mana kanopi putih besar dan kaca tembus pandang menjadi aspek fokus. “Elemenelemen yang kami nilai berpengaruh dibuat dalam warna-warna terang, elemen lainnya yang kurang dominan kami tampilkan dalam warna lebih gelap,” ujar Yamamoto. Jenis kaca yang digunakan pada sisi barat bangunan dibedakan dengan sisi lainnya, yaitu kaca single glazed dengan teknologi low e-coating, sementara sisi selatan, utara, dan timur bangunan dilapisi kaca warna 8mm. Pemilihan material untuk proyek tergolong sederhana, umumnya yang siap tersedia dan ekonomis namun digunakan dengan cara yang unik. Yamamoto menunjukkan bahwa pada fasade utara dan selatan bangunan, tiang jendela yang horizontal diberi warna putih, sedangkan yang vertikal dengan cokelat tua untuk memunculkan kedalaman dan kompleksitas melalui komposisi dan proporsi. “Ini adalah salah satu contoh dari usaha kami meningkatkan desain tanpa menambah budget kontruksi,” tambahnya. Penggabungan cahaya natural dan pemanfaatan bangunan secara optimal diharapkan mampu berkontribusi pada kelestaraian kota, untuk itu pada lantai dasar dihadirkan sebuah taman yang diapit kedua proyek bangunan yang berfungsi sebagai lokasi pertemuan dan berlangsungnya acara. Yamamoto melihat nilai (value), keunikan, dan keabadaian sebagai tiga hal yang perlu diseimbangkan untuk dapat melahirkan sebuah bangunan yang tidak hanya unggul secara estetika tetapi juga dalam fungsi. Keseimbangan ini menjadi citra yang hendak ditanamkan Kalbis Institute pada masyarakat lewat pernyataan tegas pada desain bangunannya.

Anindia Karlinda adalah Writer Indesign Indonesia.

ATAS KIRI Elemen yang menyuarakan keterbukaan terlihat pada persimpangan antar eskalator yang membuka akses langsung ke koridor dan area atrium ATAS KANAN Skylight view memperlihatkan dua tower yang menjulang di bawah kanopi putih pada rooftop bangunan Halaman KANAN Suasana yang lebih colourful ditemukan pada interior Marketing Office lewat perpaduan warna hijau yang sesuai dengan logo Kalbis Institute, dengan corak merah pada salah satu dinding dan hitam pada lampu besar dalam desain cincin


portfolioindesign 113

Kalbis Institute ARSITEK DYXY Architecture + Interiors ARSITEK UTAMA Darryl Yamamoto DESAINER PROYEK Jose Garcia ARCHITECT OF RECORD Megatika International KLIEN PT Tridana Bina Mulia DESAINER INTERIOR AREA PUBLIK DYXY Architecture + Interiors DESAINER LANSKAP DYXY Architecture +Interiors DESAINER INTERIOR KANTOR PT Canary Design KONTRAKTOR PT Cipta Dimensi Baja Nusantara

WAKTU DESAIN Jan-Des 2013 WAKTU PEMBANGUNAN Jun-Des 2013 TOTAL luas lantai 46.503 m2

bangunan, pencahayaan pada lobi dan common area umumnya menggunakan lampu Philips.

DYXY Architecture + Interiors (1) 213 618 6888 | dyxy.com

FINISHing Secara keseluruhan, pada bagian interior menggunakan kaca dari Asahimas, cat secara umum menggunakan seri Cendana dari Mowilex, sementara pada wall finishing digunakan Gypsum Board seri Elephant. Lantai di ruangan lobi dan elevator menggunakan Homogenous Tile Chivas dalam seri Snow White, Standard Black, dan New Camilla Dark Grey ukuran 60x60. Pada lantai ruangan lounge, digunakan Venus Porcelain Tile dalam seri Forrest Collection,

FURNITUR Secara umum, pada ruangan lobi, furnitur berupa meja kopi, sofa, dan meja resepsionis didesain oleh PT Canary Design. Pada ruangan kantor, meja dan lemari juga didesain oleh PT Canary Design, sementara kursi oleh PT Surya Cipta Pelangi. PENCAHAYAAN Pada bagian interior

Chusnut Brown dan Wood Rustic, sementara lantai pada kamar mandi menggunakan Roman dalam seri Metropolitan 60x60, Black Superior dan Beige Premium. Lantai di ruangan kantor menggunakan seri Carpet dari Vivere, dan untuk atap, digunakan Gypsum Board seri Elephant. FIXED & FITTED Wall socket oleh Clipsal, kloset oleh TOTO, wastafel oleh Royal, pintu dengan tipe engineering door dari Dharma Satya Nusantara, sementara jendela dengan tipe Powder Coating Brown oleh Alexindo.

Boral (61 2) 9220 6300 boral.com.au Alexindo (62) 21 8843 460 pt-alexindo.com Asahimas amfg.co.id (62) 21 6904 041 Clipsal (62) 21 5386 827 clipsal.com Unardi Dharma Satya Nusantara (62) 21 461 8135 dsn.co.id Gypsum Board (1) 30 12 77 86 86 gypsum.org Homogenous Tile Chivas chivastiles.en.made-in-china.com Yesaya Chenk (62) 8172 3011 78 Megatika International (62) 21 536 51 221 megatika.co.id Mowilex (62) 21 5406 663 mowilex.com Philips (62) 800 105 2678 philips.co.id PT. Canary Design Martien Lutter (62) 81 2827 28269 PT. Surya Cipta Pelangi Timotius (62) 8177 81 377 Roman (62) 21 5700 880 romanceramics.com Royal royalsink.com Herryanto (62) 81 9781 6226 TOTO (62) 21 2929 8686 toto.co.id Venus Porcelain Tile (62) 21 6124 335 venus-tiles.com Vivere (62) 21 5365 1588 viverecollection.com

indesignlive.co.id


115

profiling the life and work of creators around the globe 115 Steve j. manhampi 118 Lea Aziz 120 Ren Katili 122 francis surjaseputra

Komitmennya dalam membangun pemahaman akan pentingnya keprofesian serta memasyarakatkan arsitektur.

indesignlive.co.id


ebrkannya lewat programprogram yang dicanangkan untuk organisasi asosiasi profesi, Ikatan Arsitek Indonesia wilayah DKI Jakarta, membuat Steve J. Manahampi dikenal lebih dari sekadar praktisi arsitektur. Keterlibatannya pada dunia organisasi ternyata telah ia jalani sejak dibangku sekolah. Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang ini menjelaskan bahwa ada ketertarikan menyelami organisasi, “Saya selalu tertarik menyelesaikan masalah,” terang Steve. “Ini juga yang menjadi passion saya pada arsitektur, karena dalam desain arsitektur itu ‘kan selalu solving a problem,” tambahnya kepada tim Indesign ketika ditemui di kantornya yang belokasi di Kemang Raya. Berlatar belakang dari keluarga tentara ternyata tidak membuat ketua IAI Jakarta periode 2012-2015 ini lantas mengikuti jejak ayahnya. Sekadar hobi menggambar dan melihat salah seorang saudara yang sedang sekolah arsitektur adalah awal ketertarikannya untuk melanjutkan studi lebih lanjut ke sekolah arsitektur di Insititut Teknologi Bandung. Baginya, mendesain dan menjalankan organisasi

G

memiliki persamaan yang bisa dibilang positif, mencari permasalahan—serta solusinya. “Kalau dalam organisasi, hasilnya adalah sistem, dan berbagai program yang dapat memajukan organisasi tersebut,” jelasnya. Selain untuk mengembangkan diri dan networking, adanya selfcritic terhadap organisasi IAI rupanya menjadi pemicu Steve untuk akhirnya terjun ke dalam organisasi. Keterlibatan awal Steve sebagai pengurus IAI Jakarta ialah menjadi anggota bidang keprofesian. Menurutnya akan lebih baik untuk dapat terjun langsung ke dalam jika ingin mengkritik sesuatu. “Sehingga kita dapat membenahi apa yang menurut kita bisa diperbaiki.” Pada akhir tahun 2009, Steve pun dipercaya oleh Ahmad Djuhara (Ketua IAI Jakarta pada waktu itu) untuk diangkat menjadi wakil ketua I. Lalu berkat peran aktifnya, banyak rekan yang akhirnya merekomendasikannya untuk maju mencalonkan diri sebagai ketua IAI Jakarta. “Program saya tidak jauh-jauh, tapi memang hal-hal yang sudah menjadi PR saya di sini,” terang Steve. Salah satu yang terberat adalah mengembalikan fungsi dan peran

nyata IAI sebagai asosiasi keprofesian. Ada banyak dilema yang dihadapi. Di antaranya, tentu legalitas aturan hukum profesi arsitek yang masih terus “digodok”, masih lemahnya sistem sertifikasi profesi arsitek di Indonesia. Hal lainnya yang juga berpengaruh adalah pengetahuan masyarakat luas akan profesi arsitek dan dunia arsitektur yang masih sangat beragam. Sosialisasi menjadi penting, oleh karenanya salah satu cara Steve untuk lebih mengenalkan seluk beluk dunia arsitektur kepada masyarakat awam ialah lewat gelaran rutin Design Week. Beragam jenis program disiapkan untuk dapat dinikmati baik arsitek dan kalangan umum. “Design Week adalah sebuah melting point bagi kebutuhan masyarakat dan para arsitek mengenai dunia seputar desain dan arsitektur,” jelas arsitek yang pernah menjadi prinsipal dari Urbane Jakarta ini. Contoh program bagi para arsitek yang disinergikan ke dalam Design Week adalah penataran keprofesian, workshop, dan seminar dari biro konsultan asing. Pentingnya para arsitek Indonesia mengetahui standarisasi praktik kerja internasional adalah salah

Atas Design Week menjadi

produk hasil rancangan Steve sebagai Ketua IAI wilayah DKI Jakarta bagi para profesional sambil mensosialisasikan dunia arsitektur kepada masyarakat awam

Halaman sebelah Kiri atas Salah satu

proyek Steve J ketika masih dalam biro konsultan Urbane Jakarta. KANAN ATAS WAGA Gallery adalah galeri yang dibuat Steve untuk mewadahi karya dan passion dirinya dan masyarakat umum. KANAN BAWAH Salah satu produk kegiatan dalam Design Week, yaitu Workshop bagi para arsitek profesional dalam menghadapi Pasar Bebas Asean 2015.


pulseindesign 117

words NISSA MARETTA FOTOGRAFI MUH. NUH RIZAL DOK. IAI JAKARTA, URBANE

satu strategi untuk menghadapi pelaksanaan ASEAN MRA on Architectural Services. Pasar Bebas ASEAN yang akan dibuka pada tahun 2015 dilihat Steve menjadi sebuah peluang bagi para arsitek profesional Indonesia untuk dapat dikenal dunia. Oleh karenanya, IAI berperan selayaknya pisau bermata dua: melindungi dan berkewajiban mendidik para anggota agar mengamalkan ilmu rancang bangun yang terbaik, tak ketinggalan, menyiapkan pelatihan kepada caloncalon arsitek profesional, terutama mensosialisasikan sertifikasi AA (Asean Architects) kepada para praktisi arsitektur di negeri ini. Di sisi lain, asosiasi ini juga menjadi wadah untuk mensosialisasikan, mengedukasi kepada publik. Mulai dari tata cara menggunakan jasa arsitek, standarisasi fee, segala hal dan informasi yang menyangkut dunia keprofesian arsitektur. “Mereka baiknya dapat pemahaman yang benar, bahwa arsitek adalah profesi yang menyangkut nyawa manusia, setara dokter dan pengacara,” paparnya. Untuk pelaksanaan pasar bebas ASEAN pun masyarakat awam tetap harus aware dengan yang dimaksud ASEAN MRA. “Seandainya mereka ingin menggunakan arsitek asing, harus tahu informasi serta aturannya,” jelas Steve. Saat ini pun Steve sedang menyiapkan infrastruktur pada organisasi IAI Jakarta agar siap dalam melayani

segala jenis data, informasi formal dan nonformal yang dibutuhkan untuk menghadapi ASEAN MRA. Tak hanya sibuk di asosiasi keprofesian, Steve yang tetap berpraktik arsitektur, kini menjalankan bisnis biro konsultannya sendiri. Berbekal pengalaman terdahulu menangani berbagai proyek high density serta komersial, ia pun mantap mengalihkan kemudi bironya untuk proyek-proyek serupa. We Are Good Architects adalah sebuah konsep, misi, dan visi yang diusung Steve ke dalam biro arsitekturnya. Walau tidak pernah berniat untuk menjadikannya singkatan, secara tidak langsung ungkapan konsep tersebut dicerminkan ke dalam kata WAGA. Steve yang hobi fotografi kemudian juga mengubah “kelebihan” ruang di kantornya menjadi sebuah minigallery.Menurutnya belum ada banyak ruang galeri yang dapat mengakomodasi para komunitas untuk dapat unjuk karya. WAGA Gallery pun berusaha menjawab kebutuhan tersebut. Bagi Steve, berperan aktif dalam organisasi ataupun dalam dunia praktisi, semua ini merupakan baktinya demi memajukan dunia rancang bangun di Indonesia.

Nissa Maretta adalah Writer Indesign Indonesia.

Steve j. manahampi DOMISILI Jakarta, Indonesia PROFESI Arsitek Prinsipal WAGA PENDIDIKAN Institut Teknologi Bandung DIKENAL SEBAGAI Ketua IAI Jakarta 2012-2015

sjmanahampi@gmail.com

indesignlive.co.id


Lea Aviliani Aziz , dalam uraian perjalanannya menyelami profesi desainer interior di tanah air.

ream becomes reality, and that’s why people learn interior design.” Keajaiban yang datang dari sentuhan tangan ini menjadi kepuasan tersendiri yang dirasakan Lea Aviliani Aziz selama berkecimpung di dunianya. Sebagai seorang desainer interior yang passionate dengan pekerjaannya, tidak heran jika mendapati sosoknya aktif berpartisipasi sebagai anggota di berbagai organisasi internasional seperti American Society for Interior Design (ASID), International Federation Interior Architect (IFI), Asian Pacific Space Design Alliance (APSDA), dan yang paling utama, organisasi dalam negeri yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu pionir bangsa, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII). Sepak terjangnya di HDII dimulai sejak tahun 1988, “Karena saya baru datang dari luar negeri, saya merasa perlu networking dan blend dengan orang-orang Indonesia,” jelasnya. Ia mengutarakan tiga harapan terbesarnya sebagai Ketua HDII Jakarta periode 2013-2015, “Pertama, menggalang lebih banyak desainer interior untuk menjadi anggota HDII, kedua, memperbanyak perolehan sertifikasi keahlian SKA

D

untuk memberi kesempatan kepada para desainer memegang proyek pemerintahan, dan ketiga, agar mereka menjadi desainer di negeri sendiri.” Proyek yang pernah ditanganinya tidak luput dari perhatian publik internasional, seperti pada Gloria’s Jean Café di Melbourne, Australia, yang memenangkan penghargaan kategori coffee shop terbaik se-Asia Pasifik tahun 2004 lalu. Di dalam negeri ia pun pernah mendapat penghargaan dari HDII untuk proyek hospitality Kampung Sumber Alam di Garut pada tahun 2008. Sense of art yang membawanya secara natural ke dunia desain, diakuinya menurun secara genetik. “Kami datang dari keluarga desain, dan segala hal yang berbau desain, saya sudah suka dari kecil,” ujarnya. Lahir sebagai anak tengah dari tiga bersaudara yang sama-sama memilih sekolah seni, pilihan bidang desain tidak lantas harus sama, kakaknya memilih jalur fashion design sementara adiknya desain grafis. Ia mengenyam pendidikan arsitektur interior di Academy of Art College University, SF, dan untuk kerja praktik wajib ia bekerja menjadi junior designer selama 1 tahun di Gensler Association, San Fransisco, California.


pulseindesign 119

teks Anindia karlinda fotografi elenbee design

HALAMAN KIRI Desain

interior kantor GMF AeroAsia yang menjadi salah satu proyek Elenbee Design PALING aTAS Lea Aviliani Aziz sebagai salah satu dari 5 kandidat calon Ketua Umum HDII Periode 2015-2017 dalam acara KONGRES XIII HDII di tahun 2013 silam ATAS tengah Sketsa interior kantor GMF AeroAsia

Selepas kelulusan, ia pulang ke tanah air di tahun 1986 namun kembali pergi ke Kanada hingga menetap di sana selama satu tahun. Ia menggambarkan kondisi dalam negeri pada masa itu yang masih belum mengerti dunia desain interior, terlebih lagi posisi para desainernya. Mencari kerja diakuinya sulit sekali, dan sering kali terjadi ketidakserasian konsep pekerjaan pada biro arsitektur yang ada. Alasan yang mendorongnya untuk kembali ke Indonesia adalah teguran sang ayah untuk menerapkan ilmu yang didapatnya dari luar negeri untuk membangun negara sendiri, Indonesia. Taraf kehidupan dalam negeri yang pada masa itu tergolong lebih tinggi dari di luar, tidak lantas

mengurungkan tekadnya. Ia pun berhasil bekerja di PT Tetra Hedra selama 3 setengah tahun lamanya, hingga sekarang menjabat sebagai Direktur PT Elenbee Dwi Panata. Mengarungi dunia desain interior dalam negeri hampir tiga dekade lamanya, ia menyadari adanya pergeseran signifikan pada posisi profesi desainer interior di mata masyarakat umum. Berawal dari anggapan umum yang melihat desainer interior sebagai orang-orang pelengkap, sekarang sudah terbentuk cara berpikir yang menilai aspek interior lebih penting dibandingkan aspek penunjang lainnya. Ia menuturkan bahwa pemerintah saat ini sudah menangkap bahwa desain interior menuntut skill khusus yang berbeda dari skill desain lainnya. Pemahaman tentang aspek-aspek yang tergolong ke dalam desain interior—mencakup lantai, dinding, plafon, titik lampu, furnitur, hingga space planning dan penentuan material dari semua itu—merupakan bentuk awareness yang perlu ditanamkan pada publik. Dengan demikian, anggapan bahwa desain interior hanya sebatas menangani dekorasi ruangan dapat diluruskan, karena pada kenyataannya, desainer interior bukan sekadar melengkapi namun harus bersinergi secara bersamaan dengan arsitek, ilmu sipil, dan electrical engineer yang terlibat dalam menciptakan sebuah tata ruang. Berangkat dari perubahan cara pandang ini, ia pun melihat banyak pembangunan hotel dan ruang publik yang sudah mengincar campur tangan penuh desainer interior. Klien-klien yang pernah ditanganinya menyandang nama-nama besar seperti Garuda, Jakarta Property, GMF AeroAsia, dan beberapa hotel berbintang tiga, empat dan lima lainnya. Banyaknya proyek public space yang tengah dibangun di dalam negeri, dinilainya perlu menjadi fokus para desainer interior, terutama pada bandara, kereta api, dan angkutan umum yang membutuhkan penanganan lebih serius pada desain interiornya.

Yang tidak kalah penting baginya adalah membangun sesuai attitude bangsa. Ia menegur kecenderungan meniru budaya luar yang belum tentu sukses diaplikasikan di dalam negeri, misalnya perihal lukisan pada stasiunstasiun kereta api di Singapura dan Prancis. “Apakah orang-orang sudah bisa mengapresiasinya?” tanyanya, “menurut saya kita harus pelan-pelan, mulai dengan menanamkan pemikiran bahwa kehidupan kita tidak dapat lepas dari desain dan seni.” Ditanya mengenai harapan kedepannya, terutama untuk dunia desain interior dalam periode 20 tahun ke depan, ia menjawab penuh keyakinan, “Desain interior Indonesia menjadi pemimpin di negara sendiri, dan saya berharap di ASEAN.”

Anindia Karlinda adalah Writer untuk Indesign Indonesia.

Lea AVILIANI Aziz lahir Praha, Cekoslovakia TINGGAL Jakarta Selatan, Indonesia PROFESI Desainer Interior NAMA STUDIO PT Dwi Elenbee Panata

hdii.or.id indesignlive.co.id


anyak orang yang mengenalnya sebagai dosen favorit yang selalu berhasil menarik perhatian mahasiswanya untuk mendengarkan paparan kuliah tentang advanced architecture yang ia emban. Namun, publik mungkin lebih mengenalnya melalui sosial media Twitter dengan nama @ArsitektropiS. Ketika sustainable dan green design belum menjadi tren dalam pembicaraan desain, Ren telah aktif memberikan penjelasan dan kultwit tentang apa itu arsitektur di iklim tropis. Ren Katili memang selalu lebih bersinar ketika diminta berbicara atau berbagi ilmu tentang arsitektur tropis. Bagi arsitek yang memperdalam pengetahuan tentang bangunan tropis di Institut Tropen Technologie, University of Applied Sciences Cologne ini, semua istilah yang berhubungan dengan green design pada dasarnya berujung pada sikap dan gaya hidup yang akhirnya menjadi sebuah komitmen agar lebih peduli kepada bumi ini. Hal ini tidak hanya ia tularkan kepada mahasiswanya, tetapi juga kepada klien-kliennya dengan menghadirkan kaidah-kaidah arsitektur tropis dan hemat energi. Dari hal yang sederhana seperti bersedia memiliki ruang yang cukup nyaman walaupun tanpa AC, hingga menggunakan teknologi yang lebih canggih seperti panel surya. Paparannya selalu masuk akal sehingga klien juga merasa ikut belajar dan menganggap bahwa idealismenya tentang bangunan yang merespons iklim tropis dengan baik adalah sesuatu yang harus didukung. Fokus perhatiannya dalam desain juga jelas; tubuh manusia.

B

Cara berpikir orang Jerman yang lebih mengutamakan fungsi dan kualitas dibandingkan tampilan visual memang diakui Ren telah merasuki pemikirannya dalam mendesain. Lebih spesifik, Ren memilih untuk lebih mengutamakan kenyamanan tubuh para pengguna bangunan yang dirancangnya. Dengan menganalogikan bagaimana tubuh terus bertahan pada suhu 37 derajat celcius untuk mencapai performa prima, arsitek ini menjelaskan kaidah-kaidah desain untuk iklim tropis dengan sederhana dan mudah dipahami. Salah satu hal yang membanggakan baginya adalah ketika klien bisa bercerita kepada orang lain tentang rumahnya dan bagaimana mereka menikmatinya dengan mudah dan gamblang. Buat seorang arsitek yang sangat paham tentang hal teknis serta perhitungan untuk mendapatkan kualitas ruang yang nyaman, Ren selalu fokus pada bagaimana tubuh menikmati ruang dan beraktivitas di dalamnya tanpa harus melakukan effort yang lebih keras. Tubuh sebaiknya menikmati sensasi sejuk dan nyaman sehingga tidak harus berkeringat atau menggigil untuk bisa tetap mempertahankan suhu badan normal. Suhu ruang, pergantian udara, pemanfaatan cahaya matahari dan penghematan penggunaan energi adalah sekian dari banyaknya aspek yang harus diperhatikan oleh arsitek untuk bisa memberikan bangunan yang mewadahi kualitas hidup lebih baik. “Ketika tubuh sudah nyaman, yang lainnya bisa diupayakan dan rumah menjadi lebih masuk akal. Hal ini bukan sesuatu yang sulit karena berhubungan dengan tubuh,� jelas Ren.

Arsitektur tropis baginya adalah “dunia� yang selalu menarik dan membuatnya lebih semangat untuk berbagi dan bercerita dengan klien, mahasiswa, atau siapa saja.


pulseindesign 121

teks sunthy sunowo fotografi dok. ren katili

Halaman sebelah

Ruang yang terbuka dan membiarkan ruang menikmati penghawaan natural. atas Desain yang sederhana, masuk akal, dan yang paling utama terasa nyaman bagi tubuh.

Secara profesional, Ren selalu memiliki alasan untuk setiap detail dalam bangunan yang dirancangnya. Ia tidak menjanjikan rumah dengan tampilan visual yang memukau, tetapi semuanya berangkat dari perhitungan dan pertimbangan yang mendalam untuk mencapai kualitas ruang dan bagaimana penghuni rumah menikmati ruang-ruang di dalamnya dengan nyaman. Menghargai lingkungan sekitar pun dimulainya dari sikap mewujudkan bangunan dengan kualitas sejuk, cukup terang karena banyak membiarkan pantulan sinar matahari masuk ke dalam ruang, dan semua itu tentunya membuat penghuninya bahagia. Di sisi lain Ren tidak hanya memikirkan desain tetapi juga melihat hal-hal teknis yang membangun kualitas ruang untuk merespons iklim tropis dengan baik. Hal rumit seperti bagaimana udara harus bergerak 40 kali volume ruang dalam satu jam, suhu di dalam ruang, serta tuntutan penghematan energi atau bahkan ide untuk menghemat emisi menjadi beban Ren sebagai arsitek yang ingin merancang bangunan yang ramah bagi

lingkungan di iklim tropis ini. Semuanya mampu dijelaskan dengan sederhana dan logis sehingga tidak sulit untuk bisa memahami dan menerima idenya. Selain menjadi arsitek, Ren juga menikmati perannya sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Menularkan apa yang ia percaya dan pelajari tentunya juga menjadi sumber energi dan semangat untuk terus mempropagandakan desain yang ramah pada lingkungan dan merespons iklim tropis dengan baik kepada masyarakat, mahasiswa, atau bahkan kliennya sendiri. Konsistensi yang sampai saat ini terus ia jaga agar apresiasi publik terhadap profesi arsitek semakin membaik dan orang menjadi lebih paham tentang apa yang dibutuhkan oleh bangunan rumahnya. Bangunan yang sehat juga akhirnya memberikan kualitas hidup yang sehat bagi penghuninya.

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor Indesign Indonesia.

Ren Katili Domisili Jakarta Profesi arsitek dan dosen pendidikan Institute Tropen Technologie Dikenal sebagai @ArsitektropiS di twitter indesignlive.co.id


Francis Surjaseputra dan misinya menempatkan Indonesia dalam peta desain dunia.

impinya membawa Indonesia di bawah bendera desain mulai menampakkan pola yang jelas ketika Francis terpilih menjadi ketua HDII (Himpunan Desain Interior Indonesia) Jakarta periode 2013-2015. Semenjak itu, kiprahnya dalam organisasi desain melesat hingga ranah internasional. Sebut saja, Presiden APSDA (Asian Pacific Space Designer Alliance), Anggota Kehormatan CIDI (Consejo Iberoamenricano de Disenadores de Interiors) dan sempat ditunjuk sebagai Ketua Juri IDCS DEA (Interior Design Confederation Singapore Design Excellence Awards) 2013-2014. Ia juga aktif mengikuti berbagai workshop dan pameran, seperti House Vision ‘Atap Jakarta’, Biennale Desain dan Kriya Indonesia 2013, ICAD, dan Pasar Desain. Bersama HDII, ia sedang giat mengampanyekan jargon “no free design no free pitching” dan menggodok sebuah RUU yang mengatur praktik desain interior menghadapi era pasar bebas 2015 sebagai proteksi bagi profesi desainer interior Indonesia, selain

M

juga berkeliling sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Indonesia untuk mengenalkan profesi desainer interior; penyelenggaraan pameran tahunan, seperti design.id dan Pasar Desain, dan pemberian penghargaan bagi produk dan desainer interior. Namun jauh sebelum itu, ketertarikannya pada dunia seni tumbuh sejak sang ayah kerap mengajaknya mengunjungi pameran lukisan di kota kelahirannya, Malang. Beruntung, Francis memiliki kesempatan untuk menempa minatnya di dua sekolah desain prestisius, Bath College of Higher Education di Inggris dan Parsons School of Art + Design di Paris. Sepulangnya ke Indonesia, ia mengawali kariernya dengan mendesain Center of The Art of Living, sebuah kawasan terpadu berkonsep ecoliving di Bali, sebelum bergabung dengan Atelier 6 Interior di tahun 1993. Di salah satu perusahaan interior pionir Indonesia inilah sesungguhnya keahlian dan keilmuan Francis diasah. Beberapa karya yang dihasilkan adalah Modern Golf and Country Club di Tangerang,


pulseindesign 123

words Bernadetta tya photography MUH. NUH RIZAl DOK. Francis Surjaseputra

gedung kantor Kawan Lama di Meruya, Jakarta Barat, dan dua proyek yang paling membanggakannya Warjok Asli dan Tator Coffee Boutique di Senayan, Jakarta. “Saya berhasil membuat sebuah gebrakan, breakthrough, suatu katali desain yang viral ditiru orang,” ucapnya dengan bangga. Tak hanya berkarya, di Atelier 6 Interior ia bertemu dengan Solichin Gunawan, seorang desainer interior senior dan salah satu pendiri Atelier 6 dan HDII. Bersamanya kemudian Francis mendirikan Solichin Gunawan + Associate, sebuah firma desain interior dengan konsep desainer bermitra atau associate dengan Francis sebagai associate pertama di tahun 1998. Hingga di tahun 2002 Francis kemudian mendirikan firma desain miliknya PT Axon 90. Salah satu desainnya adalah rumah makan cepat saji Mc Donald yang terbangun di Jawa dan Bali. Tak hanya karya dalam desain interior, Francis juga memiliki beberapa karya lain yang patut dibanggakan. Berkolaborasi dengan arsitek Sarah Ginting dan seniman Anas Zaman, ia mencipta instalasi Gang Sesama yang dipamerkan di Bienalle Desain dan Kriya Indonesia. Ia juga mendesain ulang sebuah piranti makan tradisional Jawa, Suru, mendesain sebuah perangkat sanitasi yang

mengadaptasi ritual siraman Jawa, dan sebuah radio yang sedang ia persiapkan untuk sebuah pameran khusus tentang radio. Ia juga mencipta Pitu, sebuah intalasi sculpture dan fotografi tentang legenda Joko Tarub bersama fotografer Dody Obenk. “Suatu passion, panggilan jiwa untuk mendesain, mencipta, itu tidak bisa dibatasi,” ujarnya. Berada dan diperhitungkan dalam peta desain dunia memang bukan hal yang mudah namun tidak pula mustahil. Nampak terbaca bahwa jalur diplomasi dengan aktif dalam berbagai asosiasi dan berkarya tanpa batas adalah jalan yang dipilih oleh seorang Francis Surjaseputra. Salah satu hasil yang ada di depan mata adalah agenda selebrasi ke-25 APSDA di Kota Yogyakarta dan Solo bulan September mendatang. Setidaknya akan ada perwakilan dari 13 negara anggota APSDA yang akan hadir. “Maukah kita dilihat dunia? Maukah kita dihargai sebagai suatu peradaban yang menarik dan kreatif? Siapkah kita memposisikan diri sebagai agen perubahan dunia di Indonesia?” tutupnya bersemangat.

Bernadetta Tya adalah Writer Indesign Indonesia.

Kiri The Mango, Jakarta, salah satu karya Francis menerjemahkan nuansa Cina dalam detail interior ATAS Francis aktif sebagai pembicara dalam berbagai kegian desain Kanan Suru, reinterpretasi Francis akan sebuah sendok makan tradisional Bawah Pitu, karya instalasi sculpture berkolaborasi dengan Dody Obenk.

francis surjaseputra DOMISILI Jakarta, Indonesia PROFESI Interior Designer PENDIDIKAN Parson School Of Art + Design Paris, Prancis DIKENAL SEBAGAI Ketua HDII Jakarta Periode 2013-2015, Presiden APSDA 2012-2014 NAMA STUDIO PT Axon 90

axon90.com indesignlive.co.id


125

ISSUES AND IDEAS AROUND DESIGN AND ARCHITECTURE 125 The Future of the Past 128 Defining Urban House 130 Design for Elderly 133 POLITIK DAN BIENAL ARSITEKTUR

indesignlive.co.id


searah jarum jam

Pameran Jakarta Old Town Reborn pada gelaran KTCF 2014 mengakusisi salah satu gedung tua, Tjipta Niaga. Studi maket proyek ‘Kota Bawah’, dari Han Awal & Partners. Instalasi layang-layang karya Diana Ang & Daliana SHAU yang berisikan harapan-harapan warga Jakarta. Konsep Mixed-Use Building yang diusung OMA Hong Kong ke dalam Gedung Tjipta Niaga. Instalasi Seni Kontemporer pada Galleria Fatahillah. Andra Matin, arsitek perancang pilot project, Kantor Pos Kota Tua menjadi Gallery Seni Kontemporer


zoneindesign 127

Teks Nissa maretta FOTO Dok. penulis

The Future of the past erkembangan kota tentu se­ nantiasa tak lepas dari pembangunan gedung-gedung baru yang bila dikatakan secara terang-terangan cukup sulit dikendalikan. Namun bagaimana dengan kabar gedung lawas yang sesungguhnya punya nilai sejarah, dalam pembentukan kota itu sendiri? Banyak hal yang memang sudah seharusnya dapat diupayakan untuk menjaga kelestarian mulai dari gedung bersejarah hingga dalam skala yang lebih luas, termasuk ke dalamnya, sebuah kawasan pada kota. DKI Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia memiliki cukup banyak gedung bersejarah. Kota pelabuhan yang pernah dijadikan pos dagang serta benteng oleh Belanda ini memang sempat menjadi primadona, dan kawasan Kota Tua juga menjadi pusat pemerintahaan di zamannya. Beragam aktivitas kota mulai dari sektor ekonomi dan politik memusatkan dirinya di kawasan tersebut. Kini yang tersisa adalah bangunan-bangunan yang sebagian memang difungsikan sebagai museum bersejarah, sisanya lagi teronggok tak terurus. Padahal gedung-gedung tersebut adalah warisan yang berharga untuk memahami dan mempelajari banyak aspek dalam sebuah kota, selain dari kronologi pembangunannya. Tentu banyak program yang telah sering kita dengar seperti revitalisasi kawasan dan konservasi bangunan. Dalam hal ini, pemerintah bersama masyarakat serta pembangun sektor swasta memiliki kewajiban mengelola warisan kota secara terpadu. Barubaru ini Pemprov DKI Jakarta bersama dua BUMN, 9 pengusaha swasta, budayawan, aktivis, seniman, arsitek serta komunitas menginisiasi PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (Jakarta Old Town Revitalization Corporation/JOTRC) dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta (Jakarta Endowment For Art & Heritage/

P

JEFORAH). Ini merupakan upaya bersama untuk kembali menghidupkan kawasan kota tua di Jakarta. “Salah satu caranya dengan mulai menceritakan latar belakang warisan sejarah kota tua untuk menarik perhatian banyak orang. Kota Tua harus dapat menarik bakat dari para pekerja kreatif untuk bersama-sama menjadikan Kota Tua sebagai identitas masyarakat Jakarta dan bangsa,” papar Lin Che Wei selaku CEO Board of Executive dari JEFORAH. To Work, To Live, To Play adalah slogan yang diusung dalam proyek revitalisasi ini. Mengembalikannya kepada zaman keemasannya, pusat segala bidang bagi seluruh masyarakat Jakarta. Selain para pengusaha, seniman, dan para aktivis, salah satu perusahaan cat terkemuka, NIPPON PAINT turut berpartisipasi dalam proyek revitalisasi ini. Dan salah satu bentuk kontribusinya ialah lewat lapisan cat baru, pada pilot project revitalisasi ini. Pada eksterior menggunakan Nippon Weatherbond Solareflect dan Nippon Flaw-less dan Nippon Timbershade untuk melapis bagian kayu dan besi pada interior Galleria Fatahillah. Kantor Pos yang diubah menjadi Visitor Center & Jakarta Contemporary Artspace ini menjawab perkembangan budaya surat-menyurat yang kian beralih menuju dunia digital, yang mengakibatkan ruang-ruang pada sebagian besar gedung pos tak berfungsi. Andra Matin Architects, sebagai biro konsultan yang dipercaya untuk mengerjakan proyek konservasi bangunan ini ingin menunjukkan sebuah dialog dua waktu, sambil menghidupkan kembali jiwa gedung bersejarah ini lewat ruangan yang bersih dan terang. Yang lebih menarik, hal ini diberi respons positif oleh NIPPON PAINT sehingga terciptalah cat eksklusif dengan warna yang dilabeli nama sang arsitek, Andra Matin White. Keanggunan paduan warna serta desain galeri yang baru dengan gedung tua seolah mengungkap kenangankenangan indah masa lampau. Desain yang tidak hanya cerdik—dalam mensiasati soal keaslian gedung, hingga masalah teknis jalur elektrikal dan maintenance-nya. Ruang dalam ruang, Andra Matin memberlakukan struktur baru di dalam struktur lama. Adanya jarak pada sisi dinding galeri semakin memperkaya kualitas ruang yang dan menaikan level lantai untuk jalur elektrikal, namun juga mengajak

pengunjung untuk tetap mengagumi keindahan konstruksi balok dan kolom dari sisa peninggalan Belanda. Adanya ruang tanpa kegiatan tidak akan berjalan komprehensif. Mendukung proyek yang telah dijalankan, KTCF (Kota Tua Creative Festival) 2014 hadir memberikan roh dan menebar bibit-bibit edukasi kepada masyarakat awam tentang konsorsium revitalisasi Kota Tua. Salah satunya dengan mengadakan pameran Jakarta Old Town Reborn: 7 Projects for the City. Dimotori oleh Erasmus Huis dan Rumah Asuh, JOTR berkolaborasi untuk menampilkan karya dan ideide dari 7 tim arsitek dari Belanda dan Indonesia untuk menghidupkan kembali 6 bangunan bersejarah serta lanskap di sekitar Kali Besar dan Lapangan Fatahillah. Archipunctural Urban Renewal Strategy adalah strategi yang menaruh fokus kepada 6 buah proyek arsitektural yang tersebar di kawasan Kota Tua. OMA Hongkong menawarkan sebuah desain mixed-use building yang menghasilkan ruang untuk mewadahi aktivitas yang mungkin dapat berkembang di kawasan Kota Tua. Adapun Han Awal & Partners menghidupkan kembali Rumah Akar menjadi “Kota Bawah”, ruang komersial sebagai fasilitas pendukung kegiatan dan pariwisata di Kota Tua Jakarta. Past and Present Architecture adalah konsep desain yang menangkap rekam jejak waktu dan napas baru pada bangunan. Lain lagi dengan proposal desain dari MRVDV. Alam adalah concern utama yang diinjeksikan ke dalam bangunan Kerta Niaga. Intesitas kehidupan di daerah kota pada masa lampau menunjukkan peran vitalnya bagi area tersebut dan daerah sekitarnya, namun degradasi fisik bangunan serta kualitas hidup lambat laun hampir menghilangkan roh Kota Tua Jakarta. Indikasi berfungsinya sebuah kota ialah berfungsi dengan baik, mewadahi aktivitas sosial, budaya dan ekonomi. Proyek-proyek ini diharapkan akan menyuntikkan nyawa serta menjadi magnet bagi Kota Tua untuk melanjutkan narasi urbannya.

Nissa Maretta adalah Writer Indesign Indonesia.

indesignlive.co.id


Defining Urban house

erkembangan kota menjadi metropolitan atau bahkan megapolitan seperti Jakarta tidak bisa begitu saja mengesam­pingkan masalah perumahan atau hunian untuk warganya. Jumlah penduduk yang semakin banyak jelas berbanding lurus dengan kebutuhan hunian dan semakin sempitnya lahan tersedia. Rumah urban kemudian harus dilihat sebagai upaya memahami kembali gaya hidup dan kebutuhan ruang di area urban dengan konteks yang sangat kompleks. Problematika yang muncul tidak hanya berkisar pada keterbatasan luas lahan semata. Tidak lagi hanya bicara tentang tempat tinggal atau rumah yang berarti tempat bernaung, hunian ternyata juga bermakna teritori, ekspresi personal, dan juga wadah kegiatan sosial dan ekonomi. Konteks yang ada menjadi spesifik di setiap daerah karena memiliki situasi dan kondisi khas yang menuntut pertimbangan desain yang menyeluruh. Bagi arsitek, rumah mungkin merupakan tipologi bangunan yang paling sederhana, tetapi di sinilah eksplorasi dan pendalaman dibutuhkan dengan total. Desain tidak begitu saja bisa disintesa ketika sudah mengenal calon penghuni rumah. Karakter menjadi satu kata penting yang harus diwujudkan tanpa harus mengesampingkan kehadiran fungsifungsi yang dibutuhkan. Demografi penghuni kemudian menjadi penting karena beberapa peran dan fungsi saling bertemu, bersilangan, dan kadang bertentangan. Semuanya butuh untuk menemukan wadahnya dengan kualitas yang cukup memberikan kenyamanan. Kata nyaman kemudian digaris bawahi sebagai kualitas yang tidak hanya terbatas secara fisik tetapi juga berkembang secara psikis dan

P

personal. Kerumitan kemudian hadir ketika tuntutan dan kebutuhan mewadahi aktivitas pemilik rumah sangat kompleks atau bahkan saling bertentangan. Ketika hunian yang membutuhkan ketenangan harus berada satu atap dengan kegiatan produktif yang mungkin cukup bising atau memiliki tingkat privasi yang sangat rendah. Kompromi ruang tentunya menuntut kreativitas dan pemahaman untuk menghasilkan solusi desain yang mampu menyikapi ketegangan antarfungsi ini dengan selaras. Eksplorasi ide dan kreativitas dalam merespons kompleksitan rumah urban di Indonesia menjadi tema dari pelaksanaan Arbbi Design Award 2014 yang diikuti oleh 1053 dengan 495 karya yang masuk. Kompetisi desain ini memunculkan kembali bahasan-bahasan menarik tentang problematika hunian urban di kotakota besar Indonesia. Dewan juri dari kompetisi ini yang diketuai oleh Ary Indra, prinsipal dari firma Aboday, dengan Wiyoga Nurdiansyah dari firma SUB dan Hendry Sjarifudin dari Kenari Djaja menemukan banyak hal menarik dalam proses penjurian. Beberapa catatan mereka tentang karya-karya yang berhasil menjuarai kompetisi ini menjadi inspirasi dan pemikiran lebih jauh. Rumah urban efektif dan berbisnis karya Ady Madya Nugraha dan Yanuar Satrio Pratomo menjadi juara pertama yang sangat menarik perhatian para juri. Rumah untuk keluarga kecil yang berupaya memaksimalkan penggunaan lahan dengan menghadirkan kamarkamar untuk dikontrakkan agar bisa menjadi penghasilan tambahan. Lokasi di Kuningan, Jakarta Selatan, dengan lebar lahan 5 m dan panjang 20 m merupakan tantangan cukup sulit. Menurut Ary Indra program ruang rumah ini menjadi kompleks karena skemanya tidak memisahkan fungsi “tinggal” dan “bisnis” secara tegas, tetapi justru meleburkannya dengan menyisakan super-impose antara layer kegiatan yang justru menjadi menarik dan tidak terduga. Ary juga menyoroti kehadiran arsitektur yang justru terjadi seolah sebuah kebetulan akibat adanya pergerakan fungsi yang bercampur di dalamnya. Di akhir catatannya, Ary berpendapat bahwa desain hunian ini sangat natural; satu hal yang membedakan arsitektur urban dengan konteks lainnya, bahkan terkadang tambahan dan pengurangan bentuk pada arsitektur terjadi gradual dan tidak terencana sebagai bahasa yang

sama secara visual, tetapi kaya dalam tataran fungsinya. Sementara itu, Wiyoga Nurdiansyah berpendapat bahwa ide desain hunian ini sangat berani karena membagi fungsi ruang yang berbeda secara linear pada lahan sempit. Namun, karya yang berhasil menjadi juara satu ini mampu menghasilkan ruang yang berkualitas dengan pencahayaan alami pada setiap ruang. Desain tangga besar pada pintu masuk rumah seakan membagi ruang privat rumah dengan area publik sehingga memberi ruang lebih pada lingkungan sekitar. Di akhir catatannya, Wiyoga menganggap rumah urban dengan rungsi kos yang membagi ruang dengan membedakan lantai juga sebuah hal yang menarik. Kecermatan dalam menjawab permasalahan dalam konteks lingkungan dan rumitnya jejaring aktivitas di dalam hunian menjadi hal yang pen­ ting. Keputusan untuk menghadirkan desain yang mewadahi aktivitas dan kebutuhan dengan baik menjadi pilar dari keberhasilan sebuah desain rumah urban. Kesederhanaan dan kebersahajaan untuk tidak terlihat terlalu menonjol atau bahkan kontras dengan rumah-rumah tetangga di sekitarnya ternyata menjadi satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam proses desain. Banyak ide menarik yang muncul dari karya peserta kompetisi ini. Seperti bagaimana membangun hunian bagi penghuni yang berkembang sejalan dengan perubahan kehidupan pemiliknya. Karya Bindi Raditya Purnama ini memenangkan juara kedua dan menghadirkan wacana urban dimana kehidupan pemilik berkembang dari ketika masih menjadi rumah komunal hingga ketika semua pemiliknya telah berkeluarga. Di sini arsitektur membuktikan bahwa solusi desain tidak serta merta melibatkan intervensi fisik, tetapi justru berawal dari pemahaman dan sudut pandang yang tepat untuk kemudian mengerti skala prioritas dari kebutuhan, gaya hidup, dan aktivitas sehari-hari. Hunian urban ternyata memiliki ruang imajinasi dan kreativitas yang luas meskipun memiliki banyak keterbatasan. Sebuah media berkarya bagi arsitek yang akan terus mengasah kepekaan dan kreativitas.

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor Indesign Indonesia.


zoneindesign 129

Teks Sunthy Sunowo FOTO Dok. ARBBI

searah jarum jam Tiga karya terbaik dan beberapa karya nominasi yang memiliki ide menarik untuk lebih memaknai urban house sebagai satuan kehidupan organik yang bisa berubah bentuk dan organisasi untuk menyesuaikan kebutuhan.

indesignlive.co.id


searah jarum jam Handle dan kran air yang harus dipasang pada ketinggian tertentu yang mudah untuk dijangkau dan diletakkan pada posisi di mana orang tua membutuhkan pegangan untuk bergerak atau berubah posisi. Dimensi pemasangan dan dimensi ruang untuk bergerak membutuhkan perhatian khusus.


zoneindesign 131

Teks Sunthy Sunowo FOTO Dok. penulis

Design for Elderly

udah menjadi kebiasaan bagi manusia untuk berpikir, menganalisa, kemudian mengha­ dirkan alternatif solusi untuk permasalahan dalam keseharian, atau justru menghadirkan kemudahan atau kenyamanan lebih dalam aktivitas ke­ sehariannya. Mengembangkan desain produk juga harus melalui proses panjang analisa dan riset yang di antaranya melibatkan pengamatan dan observasi mendalam. Konteks dalam desain kemudian menghadirkan lingkungan sekitar hingga ukuran rata-rata penggunanya sebagai batasan atau inspirasi dalam mengembangkan desain. Kepedulian untuk memperhatikan hal kecil tersebut ternyata penting dalam mendesain produk sanitari. Selain itu, pemasangan dan detail kamar mandi atau toilet di dalam rumah dan bangunan membutuhkan perhatian agar bisa memberikan ruang gerak yang cukup. Berhubungan dengan ruang gerak memang harus memperhatikan faktor ergonomis yang berangkat dari riset dan pengamatan tentang bagaimana seseorang bergerak dan seberapa luas ruang yang dibutuhkan dalam setiap

S

aktivitas. Selain tatanan normal untuk pengguna umum, terdapat kebutuhan khusus untuk anak kecil, pengguna dengan keterbatasan gerak, dan orang tua. Para pengguna dengan kategori ini jelas membutuhkan detail dan dimensi yang berbeda. Kondisi orang tua dengan kemampuan bergerak dan fisik yang sudah menurun jelas membutuhkan perhatian khusus. Dalam hal ini mereka yang memiliki keterbatasan gerak juga bisa mengikuti kebutuhan dan standar bagi orang tua, karena bila mendesain untuk mereka harus mempertimbangkan pengguna tongkat dan kursi roda di dalamnya. Beberapa aktivitas di toilet seperti berdiri untuk cuci tangan di wastafel harus mempertimbangkan kondisi orang tua yang sudah tidak bisa berdiri lama. Desain khusus untuk orang tua juga untuk memberikan kemudahan serta kenyamanan kepada persendian dan tulang yang mungkin sudah mulai mengalami pengapuran. Tatanan di dalam toilet atau kamar mandi kemudian dirancang agar mereka bisa beraktivitas tanpa harus melakukan gerakan yang membebani sendi atau membuat otot bekerja lebih banyak. Dengan memanfaatkan produk sanitari yang umum, desain toilet atau kamar mandi mempertimbangkan detail pemasangan, tinggi peletakan, dan juga tata letaknya agar bisa mudah diakses, diraih, dipegang, dan digunakan. Dengan monoblok biasa, desain untuk orang tua harus mempertimbangkan kemudahan mereka meraih tisu, memutar kran, menekan tombol flush, dan tentu saja pegangan untuk membantu berdiri. Tata letak di dalam ruang juga perlu mempertimbangkan ruang gerak untuk manuver kursi roda dan bagaimana posisinya memudahkan mereka berpindah dari kursi roda dan duduk di monoblok. Konsekuensinya posisi kran dan fitur apa pun harus dipasang lebih rendah untuk bisa diraih dengan posisi duduk.

Wastafel juga harus dipasang lebih rendah, dengan berjarak 80 cm dari lantai, orang tua yang menggunakan kursi roda bisa dengan mudah menggunakannya. Aktivitas seperti mencuci tangan, mencuci muka, atau menyikat gigi sering kali membutuhkan waktu lebih dari 2 menit. Oleh karenanya perlu mempertimbangkan kemudahan agar segalanya bisa dicapai dalam jangkauan tangan dari posisi duduk. Begitu juga dengan area shower yang biasanya mewadahi aktivitas mandi yang cukup lama. Menyediakan tempat duduk dan meletakkan shower dengan posisi rendah akan sangat memudahkan aktivitas mandi. Merancang kamar mandi atau toilet untuk orang tua juga harus memperhatikan material yang digunakan, sehingga bisa memilih material lantai yang tidak licin. Penerangan yang cukup dengan desain bernuansa terang ikut memberikan kemudahan dan kenyamanan visual bagi orang tua. Posisi lantai juga meminimalkan perbedaan ketinggian lantai agar menghindari kecelakaan karena tersandung lantai. Detail demi detail perlu diperhatikan untuk bisa memberikan solusi desain bagi orang tua yang menyeluruh dan akurat. Desain toilet atau kamar mandi bisa tetap terlihat estetis, higienis, lapang, dan efisien tanpa harus memaksakan badan secara fisik untuk mencapai atau berdiri selama beraktivitas di dalamnya. Sebuah kepedulian kecil yang berarti sangat besar untuk orang tua atau yang memiliki keterbatasan gerak.

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor Indesign Indonesia.

indesignlive.co.id


Politik dan Bienial Arsitektur

nterior dengan dominasi warna ungu mewakili kehangatan apartemen kelas menengah di Cile. Ruang tamu yang hangat ini adalah pembuka disposisi bertajuk “Monolith Controversies” dengan adegan unik pengantar cerita tentang sebuah panel beton prefab tua hasil produksi awal KPD yang berdiri di tengah ruangan. Elemen penting pembangun arsitektur apartemen murah di era 1931—1981 ditunjukkan dalam deretan maket hasil riset panjang terhadap 153 bangunan yang nyaris seragam berlatar dinding merah dari material yang sama. Pedro Alonso dan Hugo Palmarola membawa pengunjung pada era di mana elemen arsitektur menjadi simbol kedigdayaan sekaligus bagian sejarah dan saksi perubahan politik sebuah bangsa. Panel dengan tanda tangan Presiden Salvador Allende yang terpajang di pabrik pernah harus dileburkan menjadi altar sembahyang saat Augusto Pinochet merebut kekuasaan melalui kudeta militer. Cerita seru inilah yang dianugrahi Silver Lion Award 2014 pada la Biennale di Venezia yang tahun ini bertema “Fundamental: Absorbing Modernity”. Rem Koolhas sebagai kurator ingin arsitektur melanglang lebih dalam ke peran lain sekaligus kembali ke esensi hakiki. Jangan harap menemukan desain gedung spektakuler atau cerita tentang arsitek ternama di ajang kali ini, karena tujuan utama pameran adalah menjembatani peran arsitektur bagi umat manusia yang terjadi dalam rentang waktu 1914—2014. Sang kurator memang akhirnya menjadi satu-satunya bintang yang rohnya “gentayangan” menguasai setiap sudut Giardini dan Arsenale. Elements of Architecture di Giardini Central Paviliun seperti sebuah festival material

I

yang menelanjangi 15 komponen dasar arsitektur seperti jendela, plafon, dan lain-lain dalam bentangan sejarah budaya dan teknologi. Rem dan para cantriknya di Harvard menggagas bagaimana dalam era digital saat ini setiap komponen sebaiknya kembali memiliki kekuatan baru dalam pemikiran inti arsitektur dan fiosofinya. Namun, Rem dengan inti pemikiran yang mampu menautkan beragam isu dalam satu tujuan dan kompleks, baru bisa kita rasakan “makjleb” pada pameran Monditalia di Arsenale yang menceritakan kondisi kekinian Italia sebagai sang tuan rumah. Musik, tari, dan ratusan film diputar bersamaan sepanjang ruang pameran yang diawali oleh susunan gerbang Kristal Swarowsky. Materi pameran berisi riset mengenai arsitektur dan ruang yang terbangun dari zaman ke zaman. Cerita tentang Italia ini seperti mewakili Eropa yang kaya dan matang, tetapi tidak tahu berkah ini harus dimanfaatkan menjadi apa. Metafora politik kemudian kita temukan di mana-mana. Paviliun Jerman menampilkan Bungalow Kanselir di Bonn (dibangun 1964, di era 2 Jerman) yang selama 30 tahun menjadi terkenal di media sebagai The Country’s Living Room. Replika bungalo dalam skala 1:1 sengaja ditumpangtindihkan dengan bangunan paviliun di Giardini (1938) yang direka dalam semangat arsitektur era Nazi-nya Albert Speer. Bayangkan saat dua jenis arsitektur yang berbeda bentuk dan aliansi politik ini bersatu seperti menuturkan cerita hening kesaksian sejarah politik kebudayaan Jerman. Arsitektur dan politik kemudian menjadi wajar untuk saling memperalat dan menjadi alat. Seperti Hitler dan Alber Speer ketika membangun simbol-simbol kekuasaan dalam wujud bangunan atau Sukarno dan F. Silaban yang membangkitkan kebanggaan rakyat Indonesia untuk tampil sejajar dengan bangsa lain melalui karya monumentalnya. Proses pembuatan Mesjid Istiqlal (1955—1978) karya Silaban, menjadi salah satu bagian sejarah di Paviliun Indonesia yang diundang menjadi peserta untuk pertama kalinya. Mengambil tempat di Arsenalle, Avianti Armand dan Setiadi Sopandi sebagai kurator ingin menampilkan jati diri arsitektur modern Indonesia melalui tangan-tangan tukang yang selama puluhan tahun menyumbangkan

kesadarannya dan memberi nyawa pada material mentah bangunan. Diiringi bunyi ritmis suara alat beradu dengan material, rentetan cerita tentang ‘memberikan nyawa pada material’ dalam looping multimedia ini menarik walaupun kurang memiliki agenda politis atau budaya untuk bisa unggul. Tidak ada yang mengalahkan ambisi Paviliun Korea dalam agenda politiknya. Dengan judul Crow’s Eye View, peraih penghargaan tertinggi Golden Lion Award tahun ini menampilkan beberapa karya langka arsitek Korea Utara yang selama ini mungkin tidak pernah diketahui eksistensinya di dunia. Dikuratori oleh Min Suk Choo, Korea menunjukkan bagaimana dua saudara ini menyikapi modernitas arsitektur dengan cara berbeda. Dibagi dalam empat subjudul, salah satu gambaran yang paling menarik di bawah Reconstructing Life memotret bagaimana bangunan yang sama digunakan secara berbeda oleh kedua Korea: sepi dan menakutkan di sisi Utara, tapi penuh keriaan dan energi kapitalisme di sisi Selatan. Jauh dari sekadar hanya membandingkan, Paviliun Korea menjadi unggul karena semangat ingin mempersatukan kembali Utara dan Selatan yang terpisah melalui interogasi dan usaha kerja sama yang dilancarkan untuk mempersatukan keduanya dalam pameran ini. Walaupun tidak bisa dikatakan sepenuhnya berhasil, deretan 39 proyek yang ditampilkan dari kedua belah negara seperti menunjukkan sebuah semangat positif bagaimana media arsitektur tidak hanya jadi simbol kekuasaan tapi juga dapat menjadi obor harapan, saat dipandang dengan kaca mata yang berbeda. Seperti Hitler pernah mengatakan dalam satu pidatonya bahwa arsitektur adalah puisi yang sangat bertenaga karena setiap kata yang dihasilkannya adalah kata yang berasal dari beton, mungkin itu juga harapan penyelenggara bienial supaya pameran ini tidak sekadar berujung adu kekenesan tapi bagaimana agar arsitektur memiliki daya untuk lebih berperan dalam dinamika dunia.

Ary Indra adalah Arsitek dans Principal of Aboday Design.


zoneindesign 133

Teks Ary Indra FOTO Dok. Penulis

Halaman ini Mengunjungi bienale kali ini membutuhkan kondisi fisik prima agar bisa dengan tenang dan santai menikmati setiap elemen dan bagiannya, bahkan berkontemplasi dan merenungi. Selain itu, membiarkan diri kita tersentuh atau bahkan tersindir oleh instalasi yang ada akan membuat bienale ini memiliki impact yang lebih mendalam. indesignlive.co.id


135

sustainable practices indesign 135 Dari Desa untuk Dunia

indesignlive.co.id


DARI DESA UNTUK DUNIA Semua hal besar berawal dari hal kecil, seperti kota besar yang juga berasal dari desa kecil. Hiruk pikuknya kehidupan kota menimbulkan kerinduan akan tenangnya pedesaan dan menjadi inspirasi untuk menyatukan dua konferensi internasional; it’s time to go back to the village. emangat kelestarian dunia menjadi dasar dari pelaksanaan The 1st International Conference of Village Revitalization (ICVR) dan The 9th International Conference of Design for Sustainability (ICDS). Dua konfe­ rensi ini berawal dari lingkup yang berbeda. Village revitalalization tentunya berangkat dari kondisi keharmonisan alam pedesaan, sementara Design for Sustainability berawal dari metropolitan (Tokyo) dengan membawa beragam kompleksitas perkembangan desainnya. Pelaksanaan dua konferensi tersebut berpusat di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah sebagai desa pertama di dunia yang menjadi tuan rumah konferensi internasional yang terlaksana pada 16—21 Maret 2014. Lokasi desa memang sengaja dipilih agar peserta dapat memperkaya rasa dan bersentuhan langsung dengan alam pedesaan. Program enam hari ini berhasil menarik perhatian peserta dari berbagai negara dengan variasi latar belakang usia dan pendidikan seperti mahasiswa, profesor, dosen, konsul-

S

tan, desainer interior, desainer produk, arsitek, teknisi mesin, teknisi sipil, penulis, bahkan pembuat film. Pembukaan dua perhelatan internasional ini memanfaatkan latar komposisi tempeh berlogo para pendukung acara di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Kegiatan esoknya berpusat di Bumi Langit Institute, Desa Mangunan, Imogiri, Bantul dipimpin oleh Iskandar Waworuntu. Agenda tersebut terlaksana dengan kesadaran mendasar bahwa permakultur merupakan esensi sebuah desa, di mana petani memanfaatkan hamparan tanah untuk bercocok tanam, beternak, dan pemanfaatan produktif lainnya. Di sini peserta belajar bahwa dunia tercipta untuk saling menghormati dan melengkapi. Kegiatan hari pertama ini kemudian ditutup dengan makan siang hasil olahan permakultur dan diskusi tentang adab makan. Peserta mendapatkan pencerahan bahwa kesehatan makanan tidak hanya dinilai secara fisik saat dikonsumsi tetapi juga secara spiritual dalam proses pembuatannya.


sustainindesign 137

Teks Lavinia Elysia Fotografi Lavinia Elysia

“ Everything in this world meant to complete each other, everything is created for a purpose” IskandarWaroruntu, Founder Bumi Langit Institute

Seiring terbenamnya matahari, peserta tiba di Desa Kandangan, Temanggung lalu dibagi menjadi 3 kelompok untuk pertukaran 3 home stay setiap malamnya. Setiap malamnya para peserta akan menikmati suasana dan lingkungan sekitar bangunan home stay berbeda. Suasana di tepi pemukiman, di sebelah kolam sembari menikmati pemandangan Gunung Sumbing, serta di tengah kebun kopi akan memberikan sensasi yang berbeda dan juga memperkaya rasa dan keterikatan peserta pada suasana yang hanya bisa ditemui di pedesaan. Harapan bahwa kegiatan selama konferensi akan terus diingat dan memberikan pencerahan dan inspirasi untuk masa mendatang. Desa juga kemudian menjadi lebih semangat sehingga upaya merevitali­ sasi dan mengoptimalkan potensi desa akan terus meningkat. Konferensi ini merupakan langkah awal yang membuka mata dan meningkatkan apresiasi. Sudut pandang apriori terhadap desa harus dihilangkan untuk kemajuan-kemajuan bersama yang me­ ngagumkan di masa mendatang. Salah satunya adalah pemanfaatan bangunan yang digunakan se­ bagai home stay selama konferensi ini sebagai fasilitas revitalisasi desa di kemudian hari. Setiap hari peserta menikmati makanan dan minuman olahan lokal yang disajikan dalam anyaman kotak bambu tradisional (besek) yang bisa digunakan kembali. Keakraban peserta dengan alam dan warga diperkuat melalui tur sepeda bambu pagi hari (Spedagi) mengelilingi Dusun Kelingan dan dilanjutkan dengan konferensi di dalam tenda di bawah rumpun bambu, duduk lesehan. Satu hal yang tidak ditemukan di konferensi lainnya adalah para warga yang baru pulang merumput atau bekerja juga turut bergabung mende­ ngarkan presentasi di tenda konferensi. Konferensi ini juga menarik perhatian Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang datang pada hari konferensi, mengikuti tur sepeda bambu, menghadiri pertunjukan kuda lumping, dan mengunjungi semua home stays. “Village’s problem upon the modernity is on fund raising, marketing, and training,” ungkap Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia dalam sambutannya. Beliau mendukung ICVR-ICDS

KIRI atas Desa Kandangan

di Jawa Tengah menjadi lokasi pertama penyelenggaraan ICVR yang dipilih untuk menyatukan peserta dengan alam pedesaan kiri bawah Program acara yang berlangsung 6 hari menampilkan bentuk konferensi dengan sistem duduk lesehan kanan Bangunan home stay di tepi pemukiman kanan tengah Suasana kebun kopi yang menjadi salah satu verian lokasi home stay kanan bawah Suasana kamar tidur para peserta dalam bangunan home stay

indesignlive.co.id


Harapan bahwa kegiatan selama konferensi akan terus diingat dan memberikan pencerahan dan inspirasi untuk masa mendatang. Lavinia Elysia

ATAS Antisipasi para peserta dan pembicara pada program acara di home stay kanan aTAS Group photo para peserta konferensi ICVR-ICDS 2014 kanan bawah

Pelestarian bangunan home stay sebagai fasilitas revitalisasi desa di masa depan

dan berharap acara ini membantu Indonesia meningkatkan hubungan internasional dan pembangunan desa berkelanjutan. Konferensi internasional ini diakuinya paling berkesan baginya karena diselenggarakan dalam kesederhanaan desa serta melibatkan masyarakat dalam proses persiapannya dan selama penyelenggaraannya. Bahasan mengenai revitalisasi desa dipaparkan dalam berbagai sudut pandang dari empat pembicara lokal dan lima pembicara internasional. Singgih Susilo Kartono, Magno Design Studio, Indonesia, merupakan salah satu pembicara yang juga menjadi penggagas terselenggaranya konferensi ini. Dalam presentasinya, dia menyampaikan “Now is the right time to think about how village can be a place for future living. Village has a lot of potentials to be a comfortable living place, and also a sustainable community, independent and good social structure. This momentum comes when development in information and communication technology opens the isolation in the remote areas. Village promises a better living quality for human and nature.” Sementara itu, Gede Kresna dari Bali berpendapat, “Local products can have global quality.” Eko Prawoto, arsitek, melihat desa sebagai kebahagiaan dan keluarga. “Village life is a happy life, a village means a family,” Eko Prawoto, Indonesia. Iskandar Waroruntu, Founder Bumi Langit Institute, melengkapinya pendapat tersebut dengan menyampaikan, “Everything in this world meant to complete each other, everything is created for a purpose.” Sementara itu, para narasumber dari luar negeri juga menyampaikan pendapat yang beragam sesuai dengan situasi dan kondisinya lingkungan observasinya. Menurut Pitt Berkemeyer dari Jerman, “When it comes to the modern life, people in the city will try hard to come back to the village to get happiness, while people in the village will try hard to go to the city to earn money.” Di sisi lain, Praveen Nahar dari National Institute of Design, India, menyorot tentang value base. “Value base in village revitalization consists of knowledge base, skill base, and cognitive base,” jelas Praveen. Kyoko Okutani dari WWB Japan lebih melihat dari sudut pandang enterpreneurship dan kultur. “Entrepreneurship may make new things, but should not destroy the culture.” Sudut pandang dari social innova-


sustainindesign 139

tion disampaikan oleh Fumikazu Masuda, “Destination” host, Open House Japan, dan Professor of Tokyo Zokei, University Japan. Menurutnya, “Key concept for social innovation is based on 4 aspects called SLOC: Small (in scale), Local (not centralized), Open (to the people and society), Connected (with the rest of the world).” Tidak tertinggal isu turisme yang juga sedikit banyak berpengaruh dan memengaruhi upaya revitalisasi desa. “There are 5 capitals relating to the tourism development: physical capital, human capital, social capital, natural capital, and financial capital,” Daichi Iwase, Thailand. Acara penutupan di bawah rumpun bambu diramaikan nyanyian dalam berbagai bahasa, baca puisi oleh anak-anak desa setempat, serta pertunjukan wayang godhong (wayang daun) yang dihadiri peserta dan dalam suasana yang hangat. Sama seperti “kelingan” dalam bahasa Jawa yang berarti “teringat”, ICVR-ICDS 2014 telah membekas di hati peserta, panitia, warga. Konferensi ini juga sukses membuktikan bahwa dunia dengan kompleksitas masalahnya membutuhkan pembelajaran dari hal kecil; pedesaan. Dari desa, inspirasi untuk menghargai keharmonisan hidup dengan alam diharapkan semakin berkembang dan bisa mewarnai kebijakan pemba­ ngunan desa di masa depan.

Lavinia Elysia adalah mahasiswa desain interior Universitas Kristen Petra Surabaya.

indesignlive.co.id


140

One last thing Ekshibisi Design Singapore Council Lokasi Design Resource Centre Level 2, National Design Centre, Singapore Kontak designsingapore.org

Tidak ada awalan yang pasti untuk kreativitas. Bahkan untuk usia yang masih sangat muda, kreativitas dan eksplorasi sudah harus dikembangkan agar anak-anak nantinya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki wawasan yang luas dan memiliki ketangguhan dalam mencari solusi-solusi dalam kehidupan mereka. Bermula dari hal yang sederhana tetapi mendapatkan respon yang luar biasa tanpa harus membatasi sudut pandang. Many Ways of Seeing-“The Sense of Wonder� merupakan program eksibisi yang diinisiasi oleh Design Singapore Council untuk mewadahi kebutuhan untuk mengeksplorasi kreativitas anak-anak dari usia dini dan masuk ke akar kreativitas dan membangun dasar-dasar pemahaman yang menguatkan pengindraan dan apresiasi anak-anak. Di bawah bimbingan Profesor Masayo Ave, seorang arsitek dan pengajar desain yang telah diakui secara internasional mengajak para guru-guru pre-school dan anak-anak untuk mengembangkan kreativitas dan keingintahuan sejak dini melalui apresiasi pada desain yang baik dan bermakna. Anak-anak diajak untuk mengamati berbagai jenis daun yang bisa mereka temukan di sekitar hunian mereka dan mengamatinya. Pengamatan diawali dengan menggunakan kaca pembesar dan kemudian meminta mereka menggambarkan apa yang dilihat. Daun-daun yang dikumpulkan kemudian disusun dan dipajang menjadi komposisi daun yang menarik dengan berbagai warna, tekstur, dan bentuk. Apresiasi terhadap hal sederhana seperti daun inilah yang kemudian diharapkan akan memicu imajinasi dan kreativitas anak-anak tersebut. Dalam kombinasi daun ini mereka juga belajar untuk mengapresiasi keindahan, komposisi, tekstur, dan warna dalam konteks yang tidak biasa kita lakukan sehari-hari. Fotografi Dok. penulis Teks Sunthy Sunowo indesignlive.ASIA


BEGA – das gute Licht. Distribution in Indonesia: Class International Jl. Halimun Raya No. 31 12980 Jakarta Selatan Tel. 62 21 8282 506 Fax 62 21 8282 507 info@class-international.com www.bega.com

BEGA-Wall luminaires with fixed light distribution or light distribution adjustable in 4 steps Protection class IP 64 245 – 6900 Lumen

Indesign indonesia #9/2014  
Indesign indonesia #9/2014  
Advertisement