Page 1


Dokumentasi pribadi Ellen saat melakukan kegiatan ketoprak

1

D

seni budaya

REMAJA PENJAGA BUDAYA INDONESIA

i zaman modern ini, tak sedikit remaja yang lebih asyik ketika bermain bersama smartphone-nya ketimbang mengenal budaya bangsanya sendiri. Berbeda dengan Miftha Aliefenia Basuki atau yang akrab disapa Ellen. Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) dirinya diperkenalkan seni dan budaya Indonesia oleh simbah-nya. Tidak hanya itu, kedua orang tuanya pun sering mengajak Ellen kecil menyaksikan acara-acara adat hingga pertunjukan seni budaya di Keraton Yogyakarta. “Dulu waktu kecil, saya memang sudah dikenalin sama tarian Jawa, musik-musik Jawa, sama wayang juga, tapi wayang manusia ya,” ujar Ellen.

Ketika Ellen duduk di bangku SD dan SMP (sekolah menengah pertama), semua kegiatannya selalu dibatasi oleh kedua orang tuanya. Meski begitu, pada akhirnya semua batasan itu dilanggar olehnya. “Semua orang pasti punya suara dan keinginan. Selama keingingan itu positif kenapa harus

dilarang?” ujarnya. Pada saat ia lulus dari SMP dan memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA), ia mulai memberanikan diri mengikuti organisasi Forum Anak Kota Yogyakarta serta mengikuti seleksi Duta Anak Sleman. Pada saat SMA, Ellen juga sempat menjadi anggota komunitas bernama Koempoel Bocah Sleman yang masih bagian dari organisasi Forum Anak Sleman. Kegiatan komunitas ini tidak jauh dari budaya Indonesia yaitu mempermainkan permainan tradisional serta menjaga dan mempekenalkan budaya Jawa kepada banyak orang.

Diakuinya bahwa padasaat SMA ia sangat ingin mempelajari teater dan masuk ekstakulikuler teater, namun di sekolah yang ia tempati tidak terdapat ekstrakulikuler tersebut. “Akhirnya saya memilih karya ilmiah, tapi semua karya ilmiah saya tentang budaya. Pada akhirnya saya selalu balik ke budaya Jawa lagi,” ujarnya kepada awak Sikap, pada Rabu (29/12) di sekretariat Sikap.

www.suarasikap.com


seni budaya

2

Kepincut oleh Ketropak (WAYANG WONG) Tahun 2014 lalu wanita yang sedang menempuh pendidikan S1 di program studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta ini mengaku kepincut oleh ketoprak yang merupakan kegiatan seni asli Indonesia. “Sejak 2014 lalu saya bergabung sama ketoprak kecamatan,” katanya. Dirinya mengakui bahwa ia memang sangat tertarik dengan dunia teater, namun pada akhirnya ia bergabung dengan ketoprak. “Karena dulu nggak bisa main teater pas di SMA jadi saya menggeluti dunia ketoprak yang nggak jauh beda sama teater,” tambahnya.

Tidak hanya menjadi penikmat, kini dirinya telah menjadi pelaku seni serta menjaga kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia.

Ia juga mengaku bahwa orang-orang di sekitarnya sering mengejek dirinya dengan ketopraknya, namun wanita yang memilih konsentrasi Public Relations di perkuliahan ini seringkali hanya membalas dengan senyum manis. Meski begitu, ketika dirasa ejekan itu sudah keterlaluan, Ellen membalas dengan teguran dan mengatakan bahwa semua ejekan itu tidak akan mempengaruhi kecintaannya terhadap ketoprak.

Harapan Ellen sangat sederhana. Jika mereka semua tidak menyukai budaya Indonesia, ia harap setidaknya mereka tidak mengejek orang-orang seperti dirinya yang tetap menjaga seni serta budaya Indonesia. “Kalaupun tidak suka dan nggak tertarik ya jangan ngatain kami, semua ejekan itu tidak akan mempengaruhi kecintaan kami terhadap budaya Indonesia, jadi tolong jangan mengejek,” tutup Ellen. (Kiki Luqman)

Nama Lengkap :

Miftha Aliefenia Basuki Nama Panggilan :

Elen / Miftha TTL :

Bantul, 14 Desember 1995 Pendidikan :

1. SMP 15 Yogyakarta 2. SMAN 2 Ngaglik Yogyakarta 3. Ilmu Komunikasi UPN”V” Yogyakarta Prestasi :

1. Peserta pameran karya ilmiah remaja sagastas & exhibition research DIY (2012) 2. Duta anak kabupaten Sleman (Divisi Partisipan) dan nominasi film non fiksi festival sineKalaupun tidak suka dan nggak tertarik matografi kemenpora kategori pemula (2013) 3. Pemain ketoprak kecamatan Depok, ya jangan ngatain kami, semua ejekan itu tidak akan mempengaruhi kecintaan kami Sleman Yogyakarta (2014-sekarang)

terhadap budaya Indonesia, jadi tolong jangan mengejek

Hobi :

Membaca, berenang, badminton, dan menari

www.suarasikap.com


sejarah

3

Aksi warga di daerah Malioboro (Akbar Samudra)

bela negara:sejarah dan makna

H

ari bela negara dideklarasikan pertama kali pada tanggal 19 Desember 1948 oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pada hari itu tepatnya di Bukittinggi, Sumatra Barat menjadi saksi bisu terbentuknya perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hari ketika para pahlawan bangsa terdahulu mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah-tengah guncangan Agresi Militer Belanda II.

Darurat revolusi yang terjadi di Indonesia merupakan akibat dari Agresi Militer Belanda II serta didudukinya ibu kota Indonesia di Yogyakarta oleh Belanda. Wildan Sena Utama, sejarawan Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa, “Pada saat itu, negara Indonesia dilanda darurat revolusi akibat ibu kota Yogyakarta dikuasai oleh Belanda. Lalu, pada tanggal 19 Desember 1948 Sjarifuddin Prawiranegara beserta Gubernur Sumatera Teuku Mohammad Hasan merundingkan situasi saat itu untuk mendeklarasikan PDRI di

Bukittinggi,” ungkapnya.

Era revolusi yang lalu membuktikan bahwa konsep dasar bela negara pada waktu itu untuk mempertahankan negara dari penjajah negaranegara asing. “Konteks bela negara di awal revolusi lebih dipersiapkan untuk menghadapi kekerasan maupun pemberontakan di daerah,” ungkap Wildan Sena Utama. Merujuk pada hal ini, secara garis besar arti dari bela negara cenderung kepada pertahanan dan keamanan suatu negara. “Bela negara mempunyai tujuan yang sama sejak era revolusi, orde baru, hingga saat ini, seperti ketahanan nasional untuk menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negara,” tegas Wildan yang merupakan lulusan Master of Art di Universitas Leiden Belanda. Sudah 69 tahun berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Lalu atas dasar peristiwa tersebut, pada saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun

www.suarasikap.com


sejarah

4

bela negara.

Aksi warga di daerah Malioboro (Akbar Samudra)

2006 menetapkan tanggal 19 Desember sebagai peringatan Hari Bela Negara.

Penetapan Hari Bela Negara merupakan upaya untuk lebih mendorong semangat kebangsaan dalam bela negara untuk mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Perjuangan Sjafruddin Prawiranegara ini tidak boleh dilupakan begitu saja, sebab perjuangan mempertahankan keutuhan suatu negara merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Jika waktu itu tidak ada yang bertindak seperti apa yang dilakukan Sjaffrudin, pasti tidak akan ada negara Indonesia yang sekarang ini. Pada masa itu, pemerintahan tidak berjalan dan pemimpin Indonesia, Soekarno-Hatta ditangkap oleh Belanda, tetapi PDRI yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara mampu membuktikan bahwa NKRI masih ada.

Makna Bela Negara

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat 3 yang mengatur mengenai bela negara berisi “Bahwa tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara”. Kalimat yang diatur memiliki arti untuk mewajibkan seluruh warga negara mengikuti bela negara. Sebenarnya, makna bela negara itu seperti apa saja? Tentu bela negara memiliki arti yang berbeda-beda seiring berjalannya waktu, tergantung situasi dan kondisi di negara tersebut. Terlebih, pandangan dari setiap profesi saling mewakili apa itu makna

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Pusat Bela Negara Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Ir. Bambang Wicaksono, M.T. saat ditemui oleh awak Sikap. “Bela negara itu harus berupa semangat yang didasari atas sikap cinta tanah air. Contohnya kita harus tahu Indonesia itu apa dan siapa, seperti pulaunya, alamnya, hasil alamnya seperti apa, penduduknya dan kita bagian dari apa,” tegasnya. Senada dengan itu, Gubernur BEM FISIP di UPN “Veteran” Yogyakarta Mahendra Darujati juga berpendapat mengenai bela negara. “Bela negara (adalah) segala perbuatan seseorang yang dilakukan dan ditujukan untuk kepentingan negara atas dasar cinta tanah air,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa “Bela negara merupakan suatu elemen terpenting untuk mewujudkan cinta tanah air, memenuhi kewajiban sebagai warga negara dan unsur pemersatu kedaulatan di Indonesia,” ungkap mahasiswa yang kini menempuh kuliah jurusan Administrasi Bisnis tersebut. Pada era modern saat ini, bela negara tidak hanya dapat ditunjukkan melalui sikap mempertahankan kedaulatan negara, Di luar itu, semakin banyak upaya untuk melakukan bela negara dalam bentuk bidang-bidang yang lain. Contohnya, seperti bidang ekonomi, olahraga, seni, dan budaya. Intinya, arti dari bela negara sendiri bisa dipresentasikan oleh setiap masing-masing individu dalam mendarmabaktikannya untuk kemajuan bangsa dan negaranya sendiri. (Derry, Bisma, Amel)

Aksi warga di daerah Malioboro (Akbar Samudra)

www.suarasikap.com


sejarah

5

i d en t i t a s s e r a g a m h i t a m putih dalam pemaknaan bela negara di upn

P

erjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia telah berakhir. Atas dasar itu, Bambang Soeroto beserta veteran lainnya mendirikan lembaga pendidikan yaitu Akademi Pembangunan Nasional (APN) “Veteran” sebagai cikal bakal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta. UPN “Veteran” Yogyakarta merupakan salah satu kampus bela negara sejak didirikan pada tanggal 15 Desember 1958. Kata “veteran” memperlihatkan bahwa dulu UPN “Veteran” Yogyakarta didirikan bagi pejuang kemerdekaan agar mendapatkan pendidikan yang lebih layak. “UPN sejak awal pendiriannya sudah ada misi bela negara, karena didirikan oleh veteran pejuang kemerdekaan yang khusus untuk menempuh pendidikan,” tegas Bambang Wicaksono selaku Kepala Pusat Bela Negara UPN “Veteran” Yogyakarta.

UPN “Veteran” Yogyakarta berdiri sebagai sebuah akademi yang menaungi para pejuang “veteran” kemerdekaan sesuai pesan yang disampaikan oleh presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. ”Pesan Bung Karno kepada UPN saat itu bahwa nantinya di tempat tersebut pejuang akan digembleng untuk dididik sebagai masyarakat yang berilmu, agar ilmunya disebarkan atau digunakan dalam kemakmuran bangsa dan negara,” tutur dosen di Fakultas Teknik Mineral ini.

Ilustrasi seragam hitam putih (Rayhan Naufal Asyrafi)

Ia menambahkan, Bung Karno juga berpesan bahwa, orang yang sudah belajar dan mengerti banyak hal akan memiliki rasa cinta tanah air yang merupakan inti dari bela negara dengan belajar. Lewat perguruan tinggi ini, para mahasiswa dulu dan sekarang selalu diberikan pemahaman tentang bela negara sesuai tujuan berdirinya UPN “Veteran” Yogyakarta. “Widya Mwat Yasa” merupakan salah satu nilai yang diajarkan, yang memiliki arti rela berkorban tanpa pamrih untuk kemajuan bangsa. Pada pemerintahan saat ini, seperti dirangkum

www.suarasikap.com


sejarah

6

dari Tempo.com, pada tahun 2015 Joko Widodo melalui Kementerian Pertahanan Ryamizard Ryacudu mencanangkan program bela negara yang berbentuk wajib militer bagi seluruh warga negara. Meski begitu, menurut Ryamizard, wajib militer tidak hanya mengangkat senjata, namun juga berupa segala upaya untuk membangun dan menumbuhkan sikap disiplin nasional.

tersebut. Padahal sudah ada mata kuliah khusus bela negara seperti PKN, Pancasila, dan Wimaya (Widya Mwat Yasa). Yang paling penting, bela negara bukan dari paksaan tapi masalah kesadaran.”

Ironisnya, sejak pertengahan tahun ini mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta dikejutkan dengan surat edaran Nomor 13-0/UN62/SE/2017 tertanda Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta Sari Bahagiarti tentang kewajiban pemakaian seragam bagi mahasiswa baru. Pemakaian seragam secara serentak bagi mahasiswa baru angkatan 2017/2018 ditujukan untuk memupuk nilai-nilai bela negara di kampus serta menjadi salah satu implementasi UPN “Veteran” Yogyakarta sebagai Kampus Bela Negara.

Tradisi pemakaian seragam sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa, terlebih saat orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek). Tidak hanya di UPN saja, melainkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia lainnya juga menerapkan pemakaian seragam saat ospek. Tujuan mereka sama, hanya untuk membedakan mana mahasiswa baru dan senior. Hal ini sedikit berbeda dengan UPN yang justru mewajibkan pemakaian seragam untuk kegiatan kuliah, tak hanya saat ospek.

Dalam menumbuhkan sikap bela negara, kampus UPN “Veteran” Yogyakarta sudah merealisasikan dalam berbagai kesempatan, antara lain melalui Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK), mata kuliah bela negara, hingga pencatatan kehadiran kuliah dan masalah keterlambatan.

Sebagian besar mahasiswa mempertanyakan apa maksud dan tujuan dari pemakaian seragam terkait dengan bela negara. Selaku salah satu pencetus implementasi bela negara dengan mewajibkan pemakaian seragam di UPN “Veteran” Yogyakarta, Bambang Wicaksono menjelaskan bahwa tujuan aturan tersebut adalah untuk mendisiplinkan serta menjalin kebersamaan di antara mahasiswa baru. Ia menambahkan, “Lebih jelasnya lagi aturan itu sebagai tanda pengenal bahwa mereka masih berstatus mahasiswa baru. Apabila setelah tidak memakai seragam lagi akan lebih mengetahui asah, asih, asuh ketika di UPN.” Berbagai sudut pandang mulai bermunculan baik di dalam maupun luar kampus untuk menanggapi hal tersebut. Seperti yang diutarakan Gubernur BEM FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta, Mahendra Darujati. Ia berpendapat, “Peraturan tersebut kurang mencerminkan bela negara, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan pemakaian seragam

Saat ditemui pada kesempatan berbeda, sejarawan Universitas Gadjah Mada Wildan Sena Utama turut menyatakan ketidaksetujuannya. “Hal itu terlalu diskriminatif, kemungkinan terjadi efek bullying terhadap mahasiswa baru dan itu tidak ada dampaknya bagi pendidikan. Lebih baik sebagai institusi akademik harus merangsang berpikir kritis untuk hal-hal yang membangun bangsa dengan berbasis pengetahuan dan rasionalitas,” ungkapnya.

Wildan menyayangkan hal ini jika dikaitkan dengan bela negara. “Bela negara tidak hanya sekedar penampilan, melainkan pemikiran-pemikiran yang kritis untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara,” tegasnya. (Derry, Bisma, Amel)

Bela negara tidak hanya sekedar penampilan, melainkan pemikiranpemikiran yang kritis untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara

www.suarasikap.com


7

ekonomi

roda ekonomi dalam bingkai belanegara

Kacamata kayu produksi JK Original (Rahayu Sekar)

“Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara.� Kalimat di atas adalah bunyi dari Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 yang berkaitan dengan bela negara. Bela negara merupakan upaya yang wajib dilakukan oleh warga negara yang dapat dilakoni dalam berbagai bidang kehidupan. Umumnya, bela negara secara fisik terlihat jelas pada bidang militer yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara.

Meski begitu, upaya bela negara juga muncul dari bidang-bidang lain, contohnya bidang ekonomi. Mencintai produk dalam negeri adalah salah satu upaya bela negara dalam bidang ekonomi yang paling mudah dilakukan.

www.suarasikap.com


ekonomi

8

Nyatanya masyarakat masih sering keliru mengira jika merek dagang ternama seperti Hoka-Hoka Bento, Polygon, Tomkins, dan Lea Jeans adalah buatan luar negeri.

Dari survei yang telah dilakukan oleh Sikap, 8 dari 10 orang menyebutkan bahwa merk Hoka Hoka Bento berasal dari Jepang. Padahal merek-merek tersebut merupakan produk buatan dalam negeri. Bela negara juga dirasa masih kurang dilakukan masyarakat Indonesia, karena kebanyakan masih memilih produk luar negeri dibanding produk lokal. Industri kreatif yang ada ikut memberikan sokongan kontribusi pada ekonomi negara. Menurut UU No. 3 Tahun 2014, pasal 43 ayat 3 huruf b, yang dimaksud dengan “Industri kreatif” adalah industri yang mentransformasi dan memanfaatkan kreativitas, keterampilan, dan kekayaan intelektual untuk menghasilkan barang dan jasa. Subsektor yang ada dalam industri kreatif antara lain kuliner, fashion¸ kriya, televisi dan radio, penerbitan, aplikasi dan game developer, periklanan, musik, fotografi, seni pertunjukan, desain produk, seni rupa, desain interior, film, dan desain komunikasi visual.

Kondisi Industri Kreatif

Industri kreatif kian tumbuh dalam berbagai sektor. Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Badan Pusat Statistik pada 2016, terdapat 88,95% produsen lokal yang tidak memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Hanya 11,05% saja yang memiliki. Ini artinya sebagian besar pelaku industri ekonomi kreatif belum memiliki HKI.

Padahal HKI esensial untuk menghargai ide dan karya manusia. Adanya pengakuan atas sebuah karya akan merangsang persaingan dalam bisnis. Terlebih hak paten dapat memberikan manfaat besar bagi produsen. Produsen dapat meraup untuk besar akan produk mereka karena adanya keaslian karya yang dilindungi. Sehingga produsen lain tidak dapat menjiplak karya tersebut. Ada kontribusi dari industri kreatif kepada Produk

Kacamata kayu produksi JK

Domestik Bruto (PDB), seperti kuliner (41,9%), fashion (18,15%), kriya (15,70%), televisi dan radio (7,78%), dan masih ada beberapa bidang lainnya. Perolehan angka tersebut mencerminkan bahwa industri kreatif lokal turut menggerakan roda perekonomian negara. Iyos Pramana (28), salah seorang produsen lokal di Yogyakarta menuturkan jika bela negara ada kaitannya dengan ekonomi. “Kalau nggak punya sifat mencintai produk lokal, pasti diserbu produk Cina semua. Misalnya kita jual Rp 1 juta, Cina jual Rp 200.000 rupiah sampai Rp 300.000 rupiah. Padahal kualitasnya nggak jauh beda.” ucapnya. Usaha kreatif Iyos yang bergerak di bidang jam tangan dan kacamata kayu bernama JK ORIGINAL. Awalnya dia merasa tertantang oleh tawaran

www.suarasikap.com


ekonomi

9

produk juga dilakukan melalui pameran-pameran bisnis. Harga kacamata sendiri dibandrol mulai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, Sedangkan untuk jam tangan mulai dari Rp 700.000 hingga Rp 1,5 juta.

Iyos mengaku jika konsumennya kebanyakan berasal dari mancanegara. Untuk kacamata sendiri cenderung lebih diminati turis mancanegara. Sedangkan untuk jam tangan didominasi konsumen dalam negeri, terutama di Jawa dan Bali. Produk cenderung diminati orang luar negeri karena mereka tidak terlalu mempertimbangkan harga. Berbeda dengan masyarakat lokal yang lebih memilih produk berharga miring. Lain halnya dengan Yosa Shinta Dewi (20) mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. “Bela negara itu nggak harus yang muluk-muluk. Dengan kita berkarya, kemudian karya kita diketahui oleh orang banyak, lalu diapresiasi sama mereka.”

K Original (Rahayu Sekar)

temannya yang dahulu bekerja sama dalam bidang kreatif. Lalu dia berinisiatif untuk menggunakan limbah kayu sebagai bahan utamanya. Setelah itu Iyos terus mengembangkan produknya, hingga pada akhir tahun 2015, produknya dirilis secara resmi.

Kini produknya telah memasuki pasar asing yaitu Rusia, Denmark, Pakistan, Oman, Vietnam, Panama, dan Equador. JK ORIGINAL sudah mengantongi HKI. Karena produknya sudah bekerja sama dengan departemen luar negeri dalam hal pemasaran. Media sosial juga “Terkait sama pelestarian budaya, saya bikin kacamata pakai batik (corak). Kalau ada event nasional sama internasional.” tambahnya. Pemasarannya dilakukan melalui media sosial, yaitu Twitter, Facebook, dan Instagram. Marketing

Menurutnya industri kreatif itu tidak harus mengikuti pasar yang ada. Proyek Sarinah, usahanya, dimulai tahun 2016. Namun baru sekededar pengenalan pasar saja. Hingga benarbenar dikomersilkan pada pertengahan Agustus 2016. Ide-ide kreatifnya sudah dituangkan pada produk-produnya yang berupa totebag, slingbag, postcard, notebook. Proyek Sarinah mendapatkan apresiasi bagus dari masyarakat karena desain unik yang berupa kolase dari majalah Sarinah tahun 80-an. Dia kemudian menggabungkannya dengan majalah vintage lainnya. Untuk pemasaran Yosa menggunakan Instagram dan secara fisik produk dapat ditemui di Genetika Concept Store Greenhost dan Toko 56.

Penyebab Produk Lokal Kurang Diminati

Tidak sedikit produk lokal yang sebenarnya berkualitas baik namun sedikit diminati, terutama anak muda. Sekarang, anak muda lebih memilih mengkonsumsi produk dari luar. Tentu ada faktorfaktor yang kurang diperhatikan produsen lokal. Urgensi dari kemasan, branding, hingga strategi pemasaran masih kurang diperhatikan para produsen. Kreatifitas dan teknologi harus bisa berkolaborasi untuk menciptakan produk yang

www.suarasikap.com


ekonomi

10

bernilai jual tinggi. Anak muda tidak bisa dipaksa untuk mencintai budaya lawas. Seharusnya pelaku Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) dan industri kreatif berfikir agar produknya disukai oleh generasi millennial. Caranya tentu dengan strategi branding yang tepat.

Namun upaya tersebut belum maksimal, mengingat kerjasama dengan beberapa stakeholder lainnya.

Memang benar adanya. Kartika juga berkata bahwa pemerintah berperan penting membentuk strategi kreatif agar batik, gerabah, wayang, dan budaya lain serupa disukai anak muda. Di Yogyakarta, produsen lokal masih hanya bermodalkan produk inti. Belum terlalu memikirkan sisi seni kemasan, pemasaran, dan teknologi seperti media sosial. Aspek-aspek tersebut penting mengingat produk benar-benar harus sukses di pasaran.

Kota kreatif yang terlihat jelas perkembangannya yaitu Bandung. Alasan Bandung menjadi kota kreatif karena adanya sinergi ABCG yang terdiri dari akademisi, bisnis-pelaku bisnis, komunitas, dan goverment. Ada divisi khusus yang menaungi komunitas kreatif dan pelaku bisnis. Pembahasan di dalamnya adalah mengenai berbagai cara agar Bandung dapat lebih berkembang lagi. Mengingat Bandung terkenal dengan berbagai desain menarik di semua bidang usaha. Sinergi ABCG ini membuat Bandung mendapatkan anugrah dari UNESCO. (Sekar, Mardella, Tiana, Ida)

“Karakter pembelian generasi X dan generasi Y berbeda. Dari sisi psikologis generasi millennial lebih memilih produk yang terkesan keren jika dipakai. Berbeda dengan orang tua yang lebih memikirkan harga ekonomis atau fungsi barang tersebut.” tutur Kartika Ayu Ardhanariswari (32), Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

Upaya dari pemerintah guna mengatasi hal ini baru sebatas pelatihan keterampilan untuk masyarakat.

“Bela negara artinya mencintai negara kita. Diwujudkan dengan membeli produk kita sendiri.” tambah Kartika. Dia juga memaparkan terkait kota kreatif. Yang dimaksud kota kreatif adalah kota yang memiliki berbagai “ekosistem kreatif” yang mampu memicu sebuah kota untuk menggerakan sumber daya manusia (individu) yang ada di dalamnya untuk memiliki kemampuan dalam membuat sesuatu yang baru. Penggunaan istilah kota kreatif dimulai pada awalnya oleh Charles Landry dalam bukunya The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators tahun 1995.

A Y O P A S A NG I K L A N DI

www.suarasikap.com


11

lingkungan

cinta tanah air dengan jaga bumi

M

Bank sampah Lintas Winongo RW 11 (Mardella Savitri)

encintai tanah air tidak selalu berwujud wajib militer dan berbekal senjata, namun benar-benar melindungi bumi dengan beragam upaya pelestarian lingkungan.

Setidaknya hal tersebut yang dilakukan oleh Joko Sularno, seorang pegiat lingkungan dari ‘kampung preman’ di Yogyakarta bagian barat. Sejak 2008, ia mencoba mengubah stigma Kampung Badran, Bumijo, Jetis yang terkenal akan image kampung preman menjadi lingkungan yang positif. “Kita itu di bantaran Sungai Winongo. Jadi saya pengen merubah lingkungan itu jadi positif, karena saya rasa Winongo itu punya potensi,” ujar Joko. Berbekal dedikasinya yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan, ia mendirikan Bank Sampah Lintas Winongo pada 2009. Sejak itu, ia mengembangkan program pengelolaan sampah dengan menggandeng peran ibu-ibu dasawisma di RW 11 Badran. Tak hanya itu, ia membentuk sebuah struktur organisasi untuk menjalankan program pengelolaan sampah, dengan tetap beranggotakan kader ibu-ibu. “Kenapa ibu-ibu? Ya karena kalau sampah itu sumbernya dari mana, biasanya sampah rumah tangga. Di rumah tangga itu yang tahu itu ibu-ibu. Makanya kadernya di sini itu kebanyakan ibu-ibu,” ujar lelaki berusia 55 tahun ini. Joko memulai programnya dengan mengedukasi warga di sekitar tempat tinggalnya untuk memilah sampah rumah tangga. Sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik, setelah itu sampah anorganik www.suarasikap.com


lingkungan

12

berjenis plastik, kertas, kaca, dan logam dapat dibawa ke bank sampah untuk ‘ditabung’. Dengan memiliki ‘tabungan sampah’, Joko mensosialisasikan kepada warga bahwa sampah yang dikelola dengan baik akan memiliki nilai tambah. “Bank sampah ini kita rasakan memang ada sisi ekonominya, tapi yang terpenting adalah pertama mengedukasi masyarakat, kedua yaitu tugas mengurangi sampah,” jelasnya. Setiap hari Minggu, di sudut kantor Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial diselenggarakan kegiatan pengumpulan sampah dari warga. Anggota bank sampah dapat menyetorkan sampahnya dan bisa langsung menukarkan tabungannya dalam bentuk uang tunai ataupun sembako yang disediakan. Sampah yang terkumpul akan dijual ke pengepul keesokan harinya.

Bank sampah Lintas Winongo RW 11 (Mardella Savitri)

Menanggapi hal ini, Ika Wahyuning Widiarti, Kepala Laboratorium Pengelolaan Limbah Program Studi Teknik Lingkungan di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta menyarankan anak muda untuk mengusahakan pengurangan volume sampah dengan metode 3R yaitu reuse, reduce, & recycle. Dosen di Fakultas Teknik Mineral ini menekankan bahwa lingkungan merupakan salah satu komponen untuk menjaga kelangsungan bela negara. Menurutnya, bela negara adalah upaya memepertahankan negara dari ancaman dan gangguan. “Dengan menjaga lingkungan dari pencemaran, (masyarakat) sudah ikut berpartisipasi dalam usaha bela negara karena dengan begitu juga menjaga keutuhan negara,” tegasnya. Perempuan yang juga berkontribusi dalam pendirian Bank Sampah RW 17 Dusun Krapyak ini menyatakan bahwa aspek lingkungan belum begitu diperhatikan oleh banyak pihak. “Perusahaan-perusaahan yang dibangun itu lebih memperhatikan segi ekonominya sementara dampak lingkungan yang mereka bawa (berupa limbah) tidak diberi perhatian penuh. Akibatnya sampah menumpuk dan mencemari lingkungan,” jelasnya. (Dwi, Lili, Farhan, Lajeng) www.suarasikap.com


13

vox pop

vox pop 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara berkat inisiatif Sjafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia 1948. Keputusan ini ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres No.28 tahun 2006. Hingga kini, sudah 11 tahun Hari Bela Negara diperingati. Bela negara identik dengan kegiatan wajib militer dan penggunaan senjata sebagai bentuk ketahanan nasional. Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi yang mengusung bela negara sebagai nilai dasar pembelajaran. Sejak orientasi studi dan pengenalan kampus, nilai bela negara selalu diajarkan kepada mahasiswa. Setelah beberapa lama menempuh perkuliahan di Kampus Bela Negara, bagaimanakah mahasiswa memaknai bela negara? Berikut pendapat mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta berbagai angkatan ketika ditanyai wawasannya mengenai bela negara. “Menurut saya bela negara adalah suatu pedoman dan sikap mahasiswa - mahasiswi UPN dalam bertingkah laku dalam lingkungan kampus. Kalau kita sudah memiliki rasa bela negara menurut aku sendiri kita harusnya sudah bisa bertingkah sopan dengan dosen, tidak merokok di lingkungan kampus, pokoknya menaati peraturan kampus.”

Sri Arianti Surbakti (D3 Teknik Kimia 2015)

“Menurut aku bela negara itu salah satu bentuk usaha kita sebagai warga negara supaya Indonesia nggak tertinggal dengan negara lain dalam hal ekonomi, sosial, maupun pendidikan. Bela negara yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa yaitu dengan rajin dan semangat menuntut ilmu. Mahasiswa dengan semangat belajar yang tinggi akan menciptakan masyarakat cerdas. Masyarakat yang cerdas pastinya akan mampu mengangkat derajat suatu negara. Suatu negara yang memiliki masyarakat cerdas pasti mampu bersaing dengan negara lain dan tidak mudah goyah (diadu domba).”

Dyah Nuraini Ratnashita (Teknik Industri 2015)

“Bela negara adalah sebuah sikap yang dilandasi keikhlasan dan kesediaan setiap warga negara untuk membela dan berbakti kepada negaranya. Cangkupan bela sendiri pun sangat luas, mulai dari paling kecil yaitu menjaga hubungan baik antar warga negara, dan yang paling besar yaitu menjaga dan menangkal ancaman dari musuh yang ingin memecah belah negara kita. Sebagai seorang mahasiswa, bela negara juga dapat diwujudkan dengan cara kita berprestasi di bidang akademik-nonakademik.” Agung Baskara (Ilmu Komunikasi 2017)

www.suarasikap.com


vox pop

14

“Bela negara adalah suatu sikap seseorang yang mencintai negaranya dan rela berkorban bagi negaranya. Menurut saya dari sisi mahasiswa belum sepenuhnya menerapkan bela negara, masih banyak yang kurang mencintai terhadap negaranya. Misal banyak mahasiswa UPN yang bangga bekerja di perusahaan milik asing daripada menciptakan lapangan pekerjaan bagi negaranya. Brillianto W. (Agribisnis 2015)

Adimas Aji (Ekonomi Pembangunan 2016)

“Bela negara merupakan sikap, tekad, serta tindakan wajib masyarakat indonesia dalam mencintai serta membela NKRI. Kesadaran bela negara pada hakikatnya merupakan kesediaan setiap warga negara Indonesia untuk mau berbakti pada negara dan kesediaan berkorban demi membela negara. Menurut saya, nilai bela negara di UPN sudah diterapkan dengan baik melalui serangkaian mata kuliah sebagai teori, lalu juga KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebagai praktik dalam pengabdian kepada masyarakat.”

“Arti bela negara menurutku itu suatu konsep tentang bagaimana kita membela, menjaga, dan mempertahankan eksistensi negara sendiri, yang dibuktikan dengan sikap dan perilaku positif yang dijiwai oleh rasa cinta tanah air. Mulai dari hal hal kecil yang bermakna seperti belajar menghargai perbedaan yang ada di sekitar lingkungan kita, berbuat kebaikan, dan bisa juga dengan membiasakan bersikap jujur karena jujur merupakan pondasi terpenting dari sebuah proses yang baik.” Dian Ayu Rahmahwati (Manajemen 2015)

“Di kampus, mahasiswa hanyalah wujud dari formalitas bela negara belaka, misalnya hanya tampil menggunakan seragam hitam putih bisa dianggap sebagai mahasiswa bela negara. Padahal sejatinya yang perlu dijunjung tinggi di sini adalah input bela negaranya, sehingga UPN dapat memberikan output yaitu memiliki lulusan yang tidak hanya cerdas, tapi berintegritas dan memiliki moral yang baik demi kebaikan bersama bangsa dan negara.” (Andri) Abu Bakar Rahmad Basya Samudera (Akuntasi 2016)

www.suarasikap.com


Edisi #8 Bela Negara | Desember 2017  

Bulletin

Edisi #8 Bela Negara | Desember 2017  

Bulletin

Advertisement