Page 1

Edisi 53 // November 2011 // Unduh Gerbatama digital di www.suma.ui.ac.id // Twitter @sumaUI // Gratis

IRONI KEMEGAHAN PERPUSTAKAAN UI 07

LIPSUS: Kemandirian Vokasi UI Dipertanyakan

14

SAINS: Batik Fraktal Batik Inovasi dari Indonesia


g e r bata m a 53 ///N OV EM B ER 2 0 1 1 \\\

EDITORIAL Perpustakaan kini berwajah baru. Bangunannya megah terdiri dari tujuh lantai. Didirikan di atas tanah seluas 19.279 m2, gedung ini difasilitasi peralatan teknologi sekelas Apple dan ruangruang yang berorientasi dengan jargonnya green campus. Ia juga bernama baru—The Crystal Knowledge. Spirit dan Filosofinya dirasa sesuai dengan jiwa yang terkandung dalam fungsi gedung megah tersebut. Gedung ini diproyeksikan untuk mampu mengumpulkan dan mengkristalisasi seluruh ilmu pengetahuan yang beredar di lingkungan kampus. The Crystal Knowledge menjadi pusat keilmuan. Namun megahnya gedung belum sepenuhnya pas dengan nama The Crystal Knowledge. Mahasiswa, yang di fakultasnya masih ada perpustakaan, masih betah di fakultasnya ketimbang harus ke perpustakaan baru. SDM pustakawan juga belum semuanya terpusat. Banyak dari pustakawan yang perpustakaan fakultasnya berintegrasi namun tidak pindah dan lebih memilih kerja di fakultasnya. Tiga ruangan di perpustakaan UI, yakni dua ruangan di lantai lima dan satu ruangan di lantai dasar pernah dibandrol dengan 1,5 juta untuk sewa per hari. Pembenahan layanan perlu terus ditingkatkan untuk memaksimalkan kemegahannya. Proses The Crystal Knowledge untuk menjadi entry point dalam menciptakan kultur akademis yang kuat dan identitas UI yang lebih terintegrasi masih panjang.

Pemimpin Redaksi Maharddhika Wakil Pemimpin Redaksi Andi Nur Faizah Redaktur Pelaksana Irfani Maqoma Redaktur Artistik Stenisia Redaktur Foto Quliah Alfendah Reporter Dimasyq Ozal, Cynthia F.M, Fachmi Ardhi, Tubagus Ramadhan, Civita Patriana, Ananda Putri, Raisa Aurora, Azzahra Ulya, Anugrah Indah L, Yelna Yuristiary, Jonathan N, Intan Ayu Fotografer Awangga P., F. X. Kevin, Hanum Dwita, Andriani Nur Pratiwi, Dias Asilatiningsih Foto Sampul Nuriza Ratno Saputra, Pravitasari Desain Tata Letak Nuriza Ratno Saputra, Cyntha Dwi Anggraini, Fachmi Zain Pracetak Cyntha Dwi Anggraini, Fachmi Zain Tim Riset Sharasanti, Cendy Adam Iklan Abjure Samuel Panjaitan Sirkulasi dan Promosi Anggara Irhas, Dian Nisita Puspitasari


SURAT PEMBACA

REMINDER

Pemira (Pemilihan Raya) kembali bersua. Pemira menjadi estafet kepemimpinan organisasi mahasiswa di kampus perjuangan ini. Pesta demokrasi kampus di tataran mahasiswa ini memang selalu menjadi perbincangan besar terkait isu-isu politiknya, konflikkonfliknya, dan debat-debat visi didalamnya. Seiring bergejolaknya pemira, kata “apatisme” santer kembali terdengar. Ketidakpercayaan dan kemalasan menikmati pesta demokrasi kampus selalu menjadi bahan evaluasi di tiap tahunnya. Pergantian kepemimpinan dianggap sebagai ritual organisasi. Di balik itu semua, dapat pula pergantian kepemimpinan tersebut memberi dampak besar, aspirasi mahasiswa dapat tersegarkan kembali untuk diperjuangkan. Pemira bukanlah hanya milik mahasiswa hiperaktif, namun juga hak seluruh mahasiswa UI. Pelajari kandidat yang akan kita pilih, lihat track-record-nya, lihat visi-misinya, dan pastikan, apakah mereka akan bekerja sesuai dengan program kerja yang diusungnya. Semoga Pemira kali ini mampu menetaskan kandidat yang bisa menopang aspirasi mahasiswa dan mampu membawa gebrakan besar dalam peradaban baru Indonesia yang lebih baik. Selamat datang Pemira, selamat berpesta demokrasi kawan, suarakan aspirasimu, dan berpartisipasilah dalam Pemira kali ini. Wahyu Ramdhan Wijanarko Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UI 2010

1 Desember Hari AIDS Sedunia 4 Desember Hari Artileri 3 Desember Hari Penyandang Cacat Internasional 9 Desember Hari Anti Korupsi Sedunia 10 Desember Hari Hak Asasi Manusia 11 Desember International Mountain Day 12 Desember Hari Transmigrasi 22 Desember Hari Ibu 22 Desember Hari Sosial

SUARA NYATA

“KEMAMPUAN MEMBACA ITU SEBUAH RAHMAT. KEGEMARAN MEMBACA; SEBUAH KEBAHAGIAAN.”

- GOENAWAN MOHAMAD

DITERBITKAN OLEH BADAN OTONOM PERS SUARA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA Pemimpin Umum Lisan Sulaiman Sekretaris Umum Novita E.S. Bendahara Umum Andi N.F. Ketua Dewan Redaksi Oky Sumadi Manajer Perusahaan Ibnu Fahran Kabag Iklan Peny R. Kabag E.O. Dian N. Kabag Dana Usaha Syahrul H. Kabag SDP Galuh Rahmat Manajer Kesekretariatan Reyzi E. Kabag Arsip B. Mayang Kabag Rumah Tangga Ayu P. U. Manajer Litbang Taufika Dianny Kabag Penelitian Bangun A. Kabag Kajian Rahardika Kabag Pusat Informasi Dokumentasi Ira R. Manajer Humas Organisasi Febi P. Kabag Humas Eksternal Quliah A. Kabag Humas Internal Raisha S. Manajer SDM Adi Pratama Kadiv Reporter Eki K. Kadiv Fotografer Ginanjar Kadiv Desain, Tata Letak, dan Pracetak Chandra K. Kadiv Marketing Kirana Y. Kadiv Riset Maulana Reza Alamat Redaksi, Sirkulasi, Iklan, dan Promosi Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Lantai 2 Kampus Universitas Indonesia, Depok, 16424 email: redaksisumaui@gmail.com website: http://suma.ui.ac.id/


DIAS. A /SUMA

04 L A P O R A N U TA M A g e r b ata m a 53 ///1 1-2 0 1 1

PER P U STAK AAN PASCAI NTEGRASI Konsep UI menciptakan “smart education for building smart society” dibuktikan dengan adanya wajah baru Perpustakaan UI. Citra baik UI sebagai The World Class University meningkat di mata publik. Perpustakaan UI terus berusaha menciptakan kultur akademis yang kuat dan identitas UI yang lebih terintegrasi.

S

eperti tertuang dalam Press Release Pemancangan Tiang Pembangunan Perpustakaan UI pada Juni 2009, disebutkan bahwa pembangunan gedung perpustakaan ini dimaksudkan untuk menjadi entry point dalam menciptakan kultur akademis yang kuat dan identitas UI yang lebih terintegrasi. Humas Perpustakaan UI Dra. Kalarensi Naibaho, M.Hum. mengungkapkan bahwa tujuan dari integrasi perpustakan UI ini adalah efisiensi dalam segala hal yang berhubungan dengan perpustakaan. Namun, sejak pelayanan Perpustakaan Pusat dibuka pada tanggal 30 Mei 2011 hingga kini, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi terwujudnya tujuan awal pembangunan perpustakaan ini.

Dualisme Kepengurusan Perpustakaan UI Kini, segala urusan pengelolaan gedung (fasilitas sarana dan prasarana) di gedung perpustakaaan yang baru ini tidak lagi dikelola oleh pihak perpustakaan (pustakawan), melainkan tanggung jawab Departemen Pengelola Gedung Perpustakaan UI yang dipimpin oleh Teguh

OLEH: DIMASQ OZAL, CYNTHIA F. M, FACHMI ARDHI

di bawah naungan Direktorat Umum dan Fasilitas UI. “Ini gedung adalah satusatunya gedung yang pertama kali kita operasikan yang luasnya mencapai kisaran 25.000 m2 dan harap maklum, kita masih dalam rangka belajar,” ujar Direktur Umum dan Fasilitas UI Donanta Dhaneswara. Sementara segala urusan manajemen dalam lingkup perpustakaan, seperti urusan koleksi buku (cetak maupun digital), sirkulasi peminjaman buku, dan sebagainya kini menjadi tanggung jawab pihak perpustakaan yang dipimpin oleh Dra. Luki Wijayanti, SIP.,M.Si Permasalahan mengenai kepengurusan pun muncul. Banyak komplain mengenai fasilitas ditujukan pada pustakawan melalui akun Twitter Perpustakaan UI @UI_Library. Pustakawan mengaku tidak punya wewenang dalam hal keluhan tersebut. “Saya mencontohkan, ada lampu mati di lantai dua sekitar rak nomor 600-an, namun sampai dua bulan lamanya tidak kami perbaiki dan akhirnya keluhan mahasiswa datang ke kami, karena kami memang tidak punya anggaran untuk memperbaiki hal tersebut, sedangkan yang punya wewenang adalah pihak pengelola gedung,” ujar Clara, panggilan Humas Perpustakaan UI tersebut.


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

LA P O R A N U TA M A

05

Fasilitas pencarian buku yang lebih canggih membantu mahasiswa.

Suara Mahasiswa mendatangi kantor Direktorat Umum dan Fasilitas pada (4/11) untuk bertemu dengan Direktur Umum Fasilitas UI Dr. Ir. Donanta Dhaneswara M.Si, Kasubdit Umum dan Fasilitas Tubagus Lutfi M.Hum, dan Kepala Pengelola Gedung Perpustakaan UI Teguh membahas integrasi perpustakaan UI dari berbagai sudut pandang. Menanggapi keluhan pustakawan terhadap pihak Direktorat Fasilitas, Donanta mengatakan seharusnya pihak perpustakaan tidak perlu menunggu dari pihak Direktorat Umum dan Fasilitas, bila ada kerusakan-kerusakan kecil yang ada di perpustakaan, seperti halnya mati lampu tersebut. Lalu, mengenai keluhan-keluhan mahasiswa akan fasilitas yang ditujukan kepada pustakawan, dirinya dengan direktoratnya pun tidak takut untuk disalahkan. “Bila saya yang punya akun Twitter tersebut dan bukan kami yang berwenang terhadap hal terebut, ya maka saya akan bilang kalau itu bukan wewenang kami sebagai pihak pustakawan,” ucap Donanta. Sementara Teguh mengatakan bahwa harus adanya kerja sama yang baik antara pihak pustakawan dengan pihak pengelola gedung. “Humas sana (perpustakaan-red) menampung banyak keluhan mahasiswa mengenai fasiltas perpustakaan dan itu selalu disampaikan ke saya,” ucapnya.

Clara mengatakan bahwa integrasi perpustakaan UI juga membuat beban kerja pustakawan semakin berat ketimbang di perpustakaan UI yang lama. SDM pustakawan tidak semuanya terpusat di sini, banyak dari pustakawan yang perpustakaan fakultasnya berintegrasi namun tidak pindah dan lebih memilih kerja di fakultasnya. “Kita sadar betul, kalau staf termasuk ke dalam proses integrasi dan tujuannya adalah efisiensi, bila kita harus menambah staf, maka itu pemborosan juga namanya. Mau tidak mau harus kita terima,” ujarnya. Ada sekitar 60 pustakawan yang bekerja di perpustakaan UI yang baru ini dan sekitar 50% di antaranya adalah PNS yang digaji oleh pemerintah, sementara yang bukan PNS digaji oleh pihak universitas. Kepala Perpustakaan UI Dra. Luki Wijayanti, SIP., M.Si juga menginginkan nantinya pustakawan dapat lebih khusus lagi dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan bila perlu disekolahkan lagi hingga jenjang S2 sehingga mereka bisa lebih dihargai oleh seluruh sivitas akademika UI nantinya. “Nantinya, pekerjaan mereka bukan lagi melayani mahasiswa yang hanya sekedar mencarikan atau balikin buku karena mahasiswa pun juga bisa sendiri melakukan hal tersebut, namun pekerjaannya lebih kepada melayani keperluan dosen ketika mereka


06 L A P O R A N U TA M A g e r b ata m a 53///1 1-2 0 1 1

mengajar ataupun meneliti,” ucapnya.

Perpustakaan UI Di Mata Mahasiswa

Mahalnya Ruang Diskusi

Fitri salah satu mahasiswa FIB UI mengungkapkan dengan adanya perpustakaan yang baru ini, kebutuhan mahasiswa dalam mengakses informasi dapat lebih mudah, terlebih lagi adanya fasilitas iMac membuat dirinya lebih mudah berselancar di dunia maya untuk keperluan akademik maupun nonakademik.

Lisna, Project Officer “UI Book Fest 2011”, menyewa tiga ruangan di perpustakaan UI, yakni dua ruangan di lantai lima dan satu ruangan di lantai dasar untuk acaranya tersebut. Menurutnya, untuk satu harinya saja, awalnya dikenakan biaya sewa sebesar 1,5 juta dan acara tersebut berlangsung tiga hari. Beruntung, setelah adanya negosiasi dengan pihak rektorat, panitia hanya dikenakan biaya 3 juta untuk tiga hari. “Kalau buat pameran dan bazaar itu per meter seharinya kita dikenai Rp 3.000, setelah kita berunding mengenai ini bazaar dan pameran ilmu pengetahuan akhirnya kita gak bayar, kita sebenarnya mau memakai ruang sidang terapung tapi tarifnya 4 juta per 8 jam,” tutur mahasiswa ilmu Perpustakaan tersebut. Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan gedung perpustakaan, Donanta menyadari betul bahwa perpustakaan yang dikelolanya adalah jantung aktivitas dari belajar mengajar dan riset. Di sisi lain, dirinya juga menyadari bahwa perpustakaan tersebut butuh dana minimal Rp 1,4 miliar pertahun agar perpustakaan UI dapat hidup. “Alasan kita punya tenant seperti Starbucks, dan segala macam, yaitu dalam rangka collecting dana untuk maintenance gedung tersebut dan ini tidak menggunakan BOP mahasiswa,” imbuhnya yang akrab dipanggil Doni oleh rekan-rekannya ini. Ia juga memberikan negosiasi kepada mahasiswa pembuat acara di perpustakaan UI, asalkan tujuan acara tersebut bertujuan baik dan menyangkut soal pendidikan. “Ini istilahnya bukan sewa-menyewa loh, akan tetapi kontribusi terhadap maintenance gedung tersebut. Kalau memang mahasiswa tersebut tidak punya dana, tapi ingin menggunakan ruangan perpustakaan untuk tujuan yang baik, proposal resminya jelas, dan acara nirlaba, ya kenapa mesti bayar, namun kalau misalnya acara mahasiswa tersebut memiliki sponsorship, masa iya sih kita gratiskan,” ucapnya yang juga merangkap dosen teknik metalurgi FT UI tersebut.

Lain halnya dengan Andina Novita, mahasiswa FKM UI yang perpustakaan fakultasnya tidak mengalami integrasi. Dirinya merasa beruntung ketika perpustakaan fakultasnya tidak dipindahkan karena hal tersebut akan menyulitkan sebagaian mahasiswa FKM UI dalam mengakses peminjaman buku. Di sisi lain, Andina pun juga menyadari adanya sisi baik dari integrasi perpustakaan UI tersebut. “Perpus fakultas yang masih ‘hidup’ membuat rata-rata mahasiswa di fakultas saya jarang menggunakan fasilitas yang terdapat di perpus pusat, bahkan mungkin jarang berkunjung di sana. Jadi ya pengetahuan kami hanya sebatas buku-buku yang terdapat di fakultas,” tandasnya.


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

L I P U TA N K H U S U S

07

ADRIANI N. P/SUMA

K E M AN DI R I A N VOKAS I U I DIP E RTAN YA KA N

Suasana belajar di gedung baru Vokasi UI

OLEH : TUBAGUS RAMADHAN, CIVITA PATRIANA, ANANDA PUTRI

Kesiapan kemandirian Vokasi UI pascapembagunan gedung Vokasi dipertanyakan. Terlebih, Biaya Operasional Pendidikan (BOP) Vokasi tak lebih murah daripada BOP Sarjana Reguler

P

rogram Vokasi didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang memerlukan tenaga-tenaga terampil yang bersifat kompetensi dan profesional. “D3 lebih fokus pada keterampilan yang membutuhkan lablab lebih banyak,” ujar Tafsir, salah satu pendiri program Vokasi di Departemen Ilmu Administrasi FISIP. Untuk mencapai tujuan tersebut, program Vokasi telah memiliki gedung baru. Gedung tersebut dilengkapi dengan laboratorium dan pendukung utama lainnya. Namun, fasilitas penunjang masih belum lengkap. Hal tersebut diakui oleh Ketua

Program Vokasi, Muhammad Hikam, “Penunjangnya belum ada. Kita juga butuh fasilitas olahraga. Belum ada kantin, toko buku, tempat fotokopi, dan segala fasilitas pendukung, tapi hal itu sudah direncanakan.” Ichwan Abdillah, mahasiswa Vokasi jurusan Pariwisata, mengungkapkan ada kemajuan setelah Vokasi memiliki gedung sendiri. “Sekarang sudah ada Student Center, waktu lebih praktik juga lebih banyak,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Bedil itu. Namun ia juga menungkapkan Vokasi UI masih kalah dengan banyak universitas lain yang menyelenggarakan program D3. Menurtnya, walau waktu kuliah praktik mahasiswa Vokasi menjadi lebih banyak, namun fasilitasnya masih terbatas. Misalnya, mahasiswa Perhotelan yang berjumlah 50-an orang hanya praktik di Wisma Makara yang jumlah tamunya tak cukup banyak.


08 L I P U TA N K H U S U S g e r b ata m a 53 / / / 1 1-2 0 1 1

Serupa dengan hal tersebut, Ketua BEM Vokasi Margaretha Anggrina berujar, “Dari segi kuliah nggak ada perubahan, malah kemunduran. Masih nggak optimal. Berantakan.” Mahasiswa Hubungan Masyarakat itu mengungkapkan tak ada dana yang dberikan untuk kegiatan kemahasiswaan. Bedil menilai BOP Vokasi UI yang tinggi, yakni hingga 7,5 juta, Vokasi UI seharusnya mampu memberikan fasilitas terbaik termasuk untuk kegiatan mahasiswa, apalagi kini sudah mandiri dari segi fasilitas gedungnya. “Gue pengennya Vokasi UI jadi tolok ukur kualitas D3 se-Indonesia,” ucapnya. Tafsir Hamid, memberi pendapat tentang mahalnya biaya pendidikan Vokasi. “S1 lebih murah dari D3 karena ada subsidi dari pemerintah. D3 ada, tapi enggak banyak,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor UI Bidang Keuangan.

Posisi Vokasi UI Jelas Beberapa mahasiswa yang ditemui Suara Mahasiswa mengaku tidak begitu mengetahui status Vokasi. “Eh, nggak tahu persis sih program atau fakultas,” ucap Agnes, mahasiswa baru Vokasi jurusan Akuntansi. Walaupun sebagian mahasiswa Vokasi tak mengetahui status Vokasi yang sebenarnya, bukan berarti bahwa status Vokasi tidak jelas. Mahasiswa Periklanan Vokasi angkatan 2010, Fachrul, menjelaskan status Vokasi adalah program. “Program, bukan fakultas, kok”, ujarnya tegas. Sementara itu, Margaretha mengungkapkan, “Status kita sebagai Vokasi jelas sudah berdiri sendiri, yaitu sebagai program Vokasi. Tapi yang tahu hanya sedikit, sebagian besar warga Vokasi masih menyebut mereka adalah fakultas.”

Sebenarnya, secara struktural, Vokasi telah memiliki tempatnya sendiri. “Universitas bisa menyelenggarakan program vokasi asalkan bentuknya terpisah dari fakultas lain dan bentuknya setara fakultas. Kalau namanya kita gak tahu apakah fakultas, program, atau sekolah. Yang jelas setara dengan fakultas dan terpisah dari fakultas,” tutur Hikam yang menjelaskan berdasarkan UU Perguruan Tinggi. Salah satu alumni Vokasi Perumahsakitan Fajar Muhammad menyatakan pendapat serupa. Menurutnya, Vokasi bukan sebuah fakultas. “Vokasi itu sebuah program dimana program tersebut mengarah kepada para mahasiwa yang siap buat terjun ke dunia kerja,” ujar Fajar yang kini telah bekerja di salah satu maskapai penerbangan di Indonesia. Serupa fakultas, Vokasi terdiri dari departemen yang menaungi satu atau lebih program studi. Seperti dilansir dalam situs resminya, Program Vokasi memiliki enam bidang studi yakni Administrasi, Akuntansi, Kedokteran, Komunikasi, Manajemen Informasi dan Dokumen, dan Pariwisata. Bidang studi tersebut membawahi beberapa program studi. Misalnya, bidang studi Kedokteran membawahi program studi Perumahsakitan, Okupasi Terapi, dan Fisioterapi. Lulusan program Vokasi juga memiliki status yang jelas. “Lulusan Vokasi UI sama kayak D3 lain, ya AMD,” ujar Bedil. Hikam mengungkapkan status lulusan Vokasi, jika mengikuti RUU PT, nanti akan ada sarjana terapan. “Mudah-mudahan 2015 sudah ada sarjana terapan disini. 2018 mungkin nanti ada gelar magister terapan juga. Kalau sekarang masih D3 saja.”


g e r b ata m a 5 3/ / / 1 1 - 2 0 1 1

A D V E RT O R I A L//

09

K A RT IN I- RYA N SI A P M E N GAB D I

P

restasi terbesar dan terbaik yang bisa diberikan manusia adalah pengabdian. Setidaknya itulah yang diungkapkan oleh Kartini Laras Makmur, mahasiswi Fakultas Hukum UI 2008. Perempuan yang memprakarasai berdirinya salah satu role model bimbingan belajar untuk anak-anak kurang beruntung di daerah Jakarta Barat mengakui bahwa dirinya memiliki proyeksi untuk mengabdi di lingkungan kampus. Implikasinya ia pernah mengenyam pembelajaran organisasi di Departemen Politik-Hukum BEM UI 2008. Menurutnya pengabdian di era globalisasi seperti ini harusnya mampu bergerak dari pola yang filantropik menjadi pola yang organik. Pengabdian terbaik adalah pengabdian yang tulus diberikan. Sifat tulusnya pengabdian ini dapat dimunculkan apabila individu senang untuk melakukan hal tersebut, dalam hal ini, senang untuk melakukan pengabdian tersebut. Kartini bersama Ryan Pradipta Putra, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI 2008, maju untuk menjadi salah satu calon ketua dan wakil ketua BEM UI periode 2012 dengan mengusung katakata ‘Kolaborasi untuk Prestasi’. “Kita memiliki misi bahwa BEM UI seharusnya mampu merepresentasikan semua fakultas dan bahkan seluruh elemen mahasiswa yang ada di UI,” ujar Ryan seraya menambahkan penjelasan rekannya Kartini tentang interpretasi dari pengabdian. Memberikan akomodasi ruang bagi tiap kelompok untuk menekuni dan membuatnya berprestasi di bidang yang mereka tekuni merupakan peran sentral BEM UI untuk merekonstruksikan hal tersebut, jelas keduanya. “Berbagai macam bentuk apatisme yang ada di tataran mahasiswa, lebih kurang muncul karena adanya perasaan bahwa passion mereka tidak terakomodir,” ungkap Kartini. Setiap individu dan kelompok pasti memiliki

passion-nya masing-masing. Ketika mereka menekuni hal tersebut, bukan berarti mereka harus tidak tahu menahu dengan hal lainnya Sharing dan komunikasi adalah hal terpenting yang dapat dilakukan. Dengan saling berbagi pengetahuan dan tetap berkontribusi di bidang yang memang disenangi, maka kolaborasi akan terjaga dan pengabdian organik yang berujung pada prestasi dapat diwujudkan dalam kehidupan kampus. “Kami akan mencoba untuk menyelami akar permasalahan yang ada di setiap elemen,” ujar Kartini yang pernah mendalami dunia Jurnalistik pada saat menjadi volunteer di majalah Kawanku dan rubrik Kompas Muda pada bangku sekolah menengah. Jika diibaratkan, BEM UI hanyalah wajah dari tubuh yang tangan, kaki, pikiran, dan organ-organ lainnya digerakan sesuai dengan representasi harapan dari mahasiswa-mahasiswa UI. Gerakan BEM UI murni muncul dari harapan dan kebutuhan mahasiswa UI yang bergerak berkolaborasi bersama mencapai tujuan prestasi. Satu tahun memang bukan waktu yang cukup untuk mewujudkan seluruh hal tersebut. KartiniRyan hanya akan mencoba membuat stimulus bagi tujuan prestasi ini. Setelah stimulus tersebut berhasil dalam mengakomodir ruang-ruang harapan seluruh elemen mahasiswa UI, hal ini harus tetap dilanjutkan. “Bahkan mungkin sampai Universitas Indonesia tidak ada lagi.” tutup Kartini mengakhiri.


10

g e r b ata m a 53 ///1 1-2 0 1 1

A D V E RT O R I A L/ /

GARUDA INDONESIA TERBANGKAN DELEGASI UI UNTUK DISKUSIKAN MASA DEPAN ASIA Berbekal ilmu dan pembelajaran mengenai permasalahan Asia saat ini, delegasi Universitas Indonesia bertolak ke Seoul, Korea Selatan untuk menghadiri The Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) Asia Conference 2011 pada Rabu, 17 Agustus 2011.

1

2

Foto 1: Sesi seminar Foto 2: Studi lapangan ke Korea Broadcasting

Keempat delegasi tersebut yaitu Gilang Reffi Hernanda (Ilmu Komunikasi, 2008), Astri Wulandari (Manajemen, 2008), Pramesti Widya Kirana (Sastra Cina, 2008), dan Agista Pradhyazela (Sastra Cina, 2008). Mereka bersama 152 delegasi lain dari Indonesia terbang menuju Ibukota Korea Selatan tersebut untuk menghadiri konferensi tahunan yang dihadiri lebih dari 47 negara ini. HPAIR Asia sendiri merupakan konferensi yang diadakan Harvard University dengan Universitas Rekanan dari Asia. Mengangkat tema At The Crossroads : Decisions in Dynamic Asia para delegasi mendiskusikan beragam hal mulai dari isu media, kewirausahaan, hingga isu keamanan di Asia. “Di sana kita banyak banget belajar, dan mendapat banyak pengalaman dari pembicara seputar Embedded Journalism dan kepekaan sosial kita dikaitkan dengan profesi kewartawanan itu sendiri,� ungkap Gilang Reffi Hernanda, salah satu delegasi yang menghadiri diskusi panel seputar permasalahan media di Asia.

Foto 3: Jennifer Zhu (Director of Conference Programming, Harvard) berpidato pada acara pembukaan. Foto 4: Peter Berg (Global Talent and Acquisition Development, Daimler) berpidato pada acara pembukaan.

Keikusertaan delegasi UI dalam diskusi tersebut pun menghasilkan harapan-harapan baru. Salah satunya adalah Astri delegasi yang


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

A D V E RT O R I A L//

mengikuti forum diskusi seputar Social Enterpreneurship. Astri berencana membuat web yang menginspirasi masyarakat untuk berwiraswasta yang tak lepas dari tujuan sosial. Menyaingi hal tersebut, Gilang pun tak mau kalah, ia berencana untuk membuat kegiatan lintas negara dalam lingkup media, “saya bersama delegates dari jepang, berencana bikin media baru yang melawan mainstream,” ujar Gilang mengenai harapannya. Tidak hanya sebatas itu, keempat delegasi UI ini berencana membuat organisasi di UI yang mengadvokasi keinginan mahasiswa untuk turut serta dalam konferensi tahunan ini. “Jadi, organisasi kita berperan menyediakan informasi dan menjadi tempat bertanya bagi mahasiswa yang pengen ikut,” ujar Agis. “Kita juga berusaha untuk membangun forum itu di indonesia,” tambahnya.

3

Keberangkatan delegasi UI ini pun tak lepas dari dukungan Garuda Indonesia yang juga turut membantu mereka, Dengan keramahan khas Indonesia dan pelayanan prima yang selalu diberikan, Garuda Indonesia bertransformasi menjadi pemimpin dalam jasa penerbangan di Indonesia. Sesuai visi dan misinya yaitu mendukung pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk terbang, belajar, dan menimba ilmu di luar negeri, maskapai penerbangan yang telah melayani lebih dari 60 tahun ini telah berkontribusi aktif dalam membuat delegasi dari Indonesia tampil sebagai Garuda muda yang berperan nyata di kancah internasional.

4

11


12 B E N TA N G/ / / / /

g e r b ata m a 53 / / / 1 1-2 0 1 1

PA RTI S IPAS I U I D I P EKAN I L M I AH M A H AS ISWA N AS I ON AL

HANUM D./SUMA

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau PIMNAS merupakan ajang kompetisi ilmiah tahunan tingkat nasional. Tahun ini, PIMNAS telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2011. Lalu bagaimana partisipasi Universitas Indonesia di ajang kompetisi Nasional tersebut?

Foto Ilustrasi: Agenda terkait PIMNAS kurang diminati oleh mahasiswa

P

ada PIMNAS XXIV di Universitas Hasanudin Makassar 12 Juli 2010, UI hanya mengirimkan 30 kontingen. Lain halnya dengan ITS dan UGM yang mengirimkan lebih dari 100 kontingen. Kala itu, UGM berhasil keluar sebagai juara umum dan merebut piala bergilir Adikarta Kertawidya. Pada tanggal 20 Oktober 2011 lalu, Direktorat Kemahasiswaan UI telah mengirimkan usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2011 sebanyak 334 judul. Usulan PKM tersebut akan dikirim untuk diseleksi di Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dirjen Pendidikan Tinggi, dan yang terpilih diajukan ke PIMNAS tahun 2012 Saat ditanya mengenai partisipasi UI dalam PIMNAS, Arman Nefi, Kepala Sub Bidang Direktorat Kegiatan Penalaran dan Pengembangan Softskill Mahasiswa mengatakan bahwa sebenarnya UI lah yang merupakan pionir PIMNAS. Namun, seiring waktu, kontingennya semakin sedikit dibandingkan universitas lain. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya bekerja sama dengan BEM UI, menggelar Olimpiade Ilmiah Mahasiswa (OIM) di tingkat Universitas. “Dari sini kami berharap dapat membangkitkan kembali gairah penelitian di PIMNAS. Pihak Rektorat terus memfasilitasi dan menyupervisi mahasiswa agar

OLEH:

AZZAHRA ULYA NADIA ZAHRA

banyak partisipan ikut serta di ajang nasional ini,” ungkap Arman Nefi. Project Officer OIM UI 2011, Claudio Ananda Putra, ketika ditemui di Fakultas Ilmu Budaya, mengatakan harapannya agar semangat OIM ini dapat menjadi stimulus positif bagi mahasiswa hingga menuju ke ajang PIMNAS. Pernyataan kontras terlontar dari alumni PIMNAS XXIV, Avina Nadhila. Ia menilai pihak Rektorat belum sepenuhnya mendukung mahasiswa menuju ajang tahunan ini. Mahasiswa HI angkatan 2008 ini melihat animo mahasiswa untuk PIMNAS masih rendah. Ia juga mengatakan bahwa Rektorat kurang serius mendukung PIMNAS dengan melempar tanggung jawab ke divisi P & K BEM UI. “Rektorat seperti mengenyampingkan PIMNAS,” ungkap mahasiswa yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya ini. PIMNAS meliputi tujuh kategori Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang dilombakan, yaitu Penelitian, Penerapan Teknologi, Kewirausahaan, Pengabdian Masyarakat, Karya Cipta, Gagasan Tertulis dan Artikel Ilmiah. Alur pengajuan PKM dimulai dari masa pembuatan dan bimbingan PKM Fakultas. Setelah itu, berkas PKM dikumpulkan di setiap Fakultas. Kemudian Kontingen mengumpulkan PKM untuk diperbaiki dan dievaluasi di BEM Fakultas. Seluruh PKM dari Fakultas dikumpulkan di rektorat dan dikirim ke Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti). Dhany Heraldo, mahasiswa Manajemen angkatan 2008, bersama timnya berhasil mengharumkan nama UI ke ajang PIMNAS 2011. “Alhamdulillah lolos salah satu tahap PKM-GT dan mendapatkan insentif tiga juta Rupiah dari Dikti.” ungkapnya. Ketika ditanya harapannya untuk antusiasme mahasiswa baru terhadap PIMNAS ia mengatakan “Semoga banyak Maba ikut PIMNAS tahun depan dan banyak yang lolos sampai tahap akhir,” tutupnya.


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

R I S E T ////////

13

Eva l u a s i Pe r p us t a ka a n P usa t UI

K UA L I TAS P E L AYAN AN PER LU D IT IN G KATKAN

G

OLEH: SHARASANTI

91%

edung Perpustakaan Pusat UI yang baru tak terasa sudah enam bulan beroperasi. Sebagai perpustakaan yang memiliki konsep integrated library, Perpustakaan Pusat UI juga dilengkapi fasilitas penunjang seperti fasilitas komputer, kantin, restoran, bank, tempat foto kopi, dll. Tim Riset Suara Mahasiswa melakukan riset untuk mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa khususnya terhadap pelayanan Perpustakaan Pusat UI.

Apakah anda merasa nyaman belajar di lingkungan perpustakaan UI?

Dari indikator pertanyaan yang diberikan, didapat data bahwa sebagian besar mahasiswa mengaku merasa nyaman dengan kondisi dan lingkungan perpustakaan yang baru. Namun ada hal lain yang lebih utama, perpustakaan harus diletakkan kembali fungsi pokoknya sebagai tempat mencari sumber data dan informasi. Fungsi ini juga berkaitan dengan fungsi pelayanan.

Apakah buku yang yang tersedia di Perpustakaan Pusat UI telah memenuhi kebutuhan Anda?

Dalam hal fungsi pelayanan pokok, ada beberapa hal yang dapat dijadikan patokan. Pertama adalah ruang koleksi. Ketersediaan koleksi buku dan referensi ilmiah yang ada dinilai belum memenuhi kebutuhan responden dalam penyusunan tugas. Kedua, pemusatan sirkulasi dari perpustakaan fakultas ke perpustakaan pusat pun dinilai oleh mahasiswa tidak efektif. Ketiga, sulitnya mahasiswa dalam mencari buku yang dibutuhkan di dalam ruang koleksi. Hal ini terkait dengan jumlah tenaga pustakawan yang ada saat ini juga dirasa tidak cukup untuk membantu mahasiswa untuk akses pencarian buku dan juga mendukung sirkulasi. Perpustakaan Pusat diharapkan tidak hanya memberikan kenyamanan secara fisik. Namun juga bisa memberikan kualitas pelayanan yang tepat agar tujuan awal pembanguan gedung perpustakaan untuk meningkatkan kualitas akademis dan riset kampus dapat tercapai.

NYAMAN

Apakah Anda pernah mengalami kesulitan dalam mencari buku yang Anda butuhkan di ruang koleksi Perpustakaan Pusat UI

67% PERNAH

33% TIDAK PERNAH

39% YA 61% TIDAK

Apakah pemusatan sirkulasi peminjaman buku dari perpustakaan fakultas ke perpustakaan pusat cukup efektif dalam mendukung studi anda?

40% EFEKTIF 60% TIDAK EFEKTIF

Apakah jumlah pustakawan di Perpustakaan Pusat UI sudah cukup mendukung sirkulasi dan akses pencarian buku?

38% 62%

CUKUP TIDAK CUKUP

Survey dilakukan secara online kepada 89 orang mahasiswa aktif UI. Pengambilan sample dilakukan dengan teknik simple random sampling. Survey menggunakan tingkat kepercayaan 95% dengan margin error +/-10%


14

g e r b ata m a 53 ///1 1-2 0 1 1

SA I N S / / / // / /

OLEH: RAISA AURORA, ANUGRAH INDAH L.

BAT IK FR AKTAL, BAT IK IN OVAS I DAR I I N D ONESI A

Yohanes Surya pernah membahas mengenai keterkaitan pola batik dengan fisika. Bagaimana bisa kesenian yang telah turun temurun tersebut ternyata berhubungan dengan ilmu sains yang identik dengan alam semesta?.

B

atik adalah produk kesenian khas Indonesia yang memiliki corak atau karakteristik berbeda dari setiap daerahnya. Selama ini kita mengenal batik Pekalongan, batik Cirebon, atau batik Madura. Lalu pernahkah anda mendengar batik fraktal? Batik fraktal merupakan batik yang memiliki pola yang dapat dirumuskan dalam fisika, rumusan inilah yang disebut sebagai fraktal. Fraktal dalam ilmu sains disebut dinamika non-linear yang menggambarkan kecendurangan gerak suatu benda, bisa berupa getaran atau lintasan benda. Akibat dari efek non-linear tersebut, terdapat dinamika yang sulit diikuti namun berulang pada waktu tertentu. “Orangorang kemudian melihat keindahan dari pola non-linear tersebut, jejak yang ditimbulkan dari rumusan inilah yang disebut-sebut sebagai batik,” komentar Muhammad Aziz Majidi, Ph.D, dosen Analisis Numerik dari Fisika UI. Awal mula tercetus batik fraktal ini berakar dari Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi—tiga sekawan asal Bandung. Muhamad Lukman, lulusan Master Program dari Arsitektur ITB, yang tengah mengerjakan tesis berkaitan dengan fraktal, membuat pola-pola di atas kertas hasil dari rumusan tersebut. Nancy melihat hasil desain tersebut dan melihatnya sebagai corak batik. Bersama-sama mereka memulai riset mengenai batik dan fraktal, Lukman khususnya berusaha menemukan pola-pola fraktal yang menyerupai corak batik. Bersamasama mereka menamai dirinya Pixel People Project. Hasil riset mereka ini kemudian dituangkan dalam bentuk software khusus yang dapat membentuk corak batik melalui rumusan matematika. Dari satu rumusan fraktal, software akan menghasilkan pola-pola yang membentuk corak batik. Software dan produk batik fraktal dari Pixel People Project ini telah beberapa kali memenangkan kompetisi dari International Young Creative Enterpreneur British Council 2010, International Footwear Design Com-

petition 2010, UNESCO Award of Excellence 2009. Produk batik fraktal ini telah dipasarkan dalam bentuk pakaian dan aksesoris. Tidak sebatas itu, software-nya pun turut dipasarkan berikut pelatihan bagi orang-orang yang ingin membuat batik fraktal. Batik fraktal ini memang murni hasil inovasi dari Indonesia, namun bagaimana respon pemerintah sampai sejauh ini? “Pemerintah masih lambat merespon inovasi-inovasi seperti ini, misalnya dari segi pendanaan riset. Lebih banyak kita yang bergerak sendiri dalam publikasi dan pendanaan. Memang sebelumnya pada tahun 2008, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mendanai Pixel People Project untuk pameran, tapi kami lebih banyak mencari nama melalui kompetisi, dan syukurnya kami selalu menang,” Nancy Margried menceritakan. Pengenalan metode membatik lewat software komputer ini menarik perhatian generasi muda yang sebagian besar telah akrab dengan teknologi. Ini merupakan langkah yang unik untuk melestarikan batik. Suatu kesenian yang digolongkan sebagai World Heritage dari UNESCO, salah satu syaratnya adalah dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Pertemuan antara sains dan seni seperti batik fraktal ini menurut Aziz Majidi memberi nilai tambah bagi karya seni bagi orang-orang yang tidak mau terkungkung pada cara-cara konvensional. Apalagi batik fraktal ini bermula dari ketidaksengajaan seseorang memperhatikan pola indah yang dibentuk dari rumusan fraktal. Mungkin masih ada “ketidaksengajaan” lainnya yang dapat disumbangkan dari sains bagi perkembangan seni.

Ingin menikmati berita dengan cara baru ? BERLANGGANLAH

DIGITAL Hubungi : Angga (08566091509)


?

g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

R AG A M ///////

15

MENGENAL JATI DIRI MAJALAH-MAJALAH INDIE

OLEH YELNA YURISTIARY

M

ajalah-majalah kampus yang bersifat independen (majalah indie) berkembang di lingkungan masyarakat. Filosofi terbentuknya sebuah majalah indie menjadi suatu gebrakan baru di media cetak. Majalah indie mampu mengangkat hal-hal yang jarang diperbincangkan menjadi suatu topik luar biasa yang mampu menarik minat masyarakat lokal maupun mancanegara. Di wilayah kampus UI, saat ini terdapat beberapa majalah indie yang mulai bergiat menonjolkan jati dirinya secara khas dengan mengangkat tema-tema sosial yang belum terpikirkan oleh banyak orang. AKAR dan MACUPICU, yang merupakan sampel dari majalah indie di wilayah kampus saat ini, telah menciptakan perbedaan yang khas dengan adanya sifat independen yang mereka miliki. AKAR adalah majalah independen triwulan yang mengangkat isu-isu tentang sejarah saat ini. AKAR mampu memberi pemahaman kesejarahan terhadap banyak pihak tentang asal-muasal berbagai kegiatan masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, enam edisi majalah AKAR membahas tentang segala hal yang ada di Indonesia dengan sudut pandang sejarah. ‘Bagaimana asal muasal dangdut? Apa hubungan dangdut dengan sosial masyarakat Indonesia?’ Apa yang menyebabkan gondrong itu dilarang pada era tertentu di Indonesia? merupakan beberapa topik yang pernah diangkat AKAR dalam edisinya. Walaupun majalah ini dibiayai secara swadaya oleh para pendirinya, yakni Sulaiman Harahap dkk, ternyata AKAR mampu menjadi suatu ikon majalah sejarah yang sangat diminati oleh banyak kalangan. Sulaiman, pemimpin redaksi AKAR, mengungkapkan “Saat ini majalah AKAR sudah memiliki lumayan banyak konsumen yang tersebar di beberapa universitas sep-

AWANGGA/SUMA

Majalah besar bukanlah majalah yang membohongi diri dengan pandangan dan asumsi dari publik. Majalah besar adalah majalah yang mampu menonjolkan jati diri dengan adanya kejelasan filosofi tentang mengapa ia terbentuk.

Mahasiswi sedang membaca majalah indie

erti UGM, Universitas Udayana, Universitas di Sulawesi Tengah, Universitas di Tapanuli Selatan, dan ada juga permintaan majalah AKAR yang berasal dari serikat mahasiswa sejarah yang sedang kuliah di Belanda.” Selain AKAR, ada juga majalah indie yang berasal dari Fakultas Hukum yang bernama MACUPICU. Majalah yang terinspirasi dari kota tua yang pernah hilang tersebut mengangkat tema-tema subkultural dengan pendekatan kritik sosial dalam setiap rubriknya. Majalah yang digagas oleh Aldo Ersan dkk lebih mengutamakan eksplorasi kritik dari setiap hasil karya yang ada. Ada banyak jenis rubrik di majalah MACUPICU ini. Rubrik-rubriknya sendiri ada yang berupa gambar, esai, puisi dan beberapa artikel. Saat ini majalah MACUPICU telah mengeluarkan edisi pertamanya di bulan Oktober lalu. Majalah yang juga dibiayai swadaya ini ternyata telah menarik minat salah satu perusahaan kartu untuk menjadi pihak sponsornya. Dari beragam jenis majalah indie dan filosofi terbentuknya, ternyata majalah indie memiliki tujuan yang jelas yakni membangun karakter diri yang kuat. Hal ini diungkapkan oleh kedua pendiri majalah AKAR dan MACUPICU, “Majalah indie ini dibuat karena adanya karakter yang hilang yang ingin kami tonjolkan dalam setiap edisi di majalah kami. Ada hal baru yang ingin kami sampaikan kepada khalayak dan ada satu pandangan yang belum terpikirkan oleh orang lain sehingga majalah ini terbentuk dengan filosofinya tersendiri.”


16

g e r b ata m a 53 ///1 1-2 0 1 1

K I L ASA N / / // /

MENGUBAH STEREOTIP FAKULTAS MELALUI UI FESTIVAL 2011

OLEH: JONATHAN .N.

Pergelaran UI Festival atau yang lebih dikenal dengan UI Fest merupakan festival bidang seni dan budaya. Dalam UI Fest 2011 kali ini terdapat sembilan lomba bidang seni dan budaya yang dilaksanakan pada tanggal 11-28 Oktober 2011 di empat lokasi berbeda. Lomba film pendek di Aula Fasilkom, lomba tari, teater, dan pergelaran budaya di Gedung IX FIB, lomba memasak dan band di Pusat Kegiatan Mahasiswa, serta lomba menyanyi yang diadakan di Aula FIK. UI Fest melibatkan peserta dari para mahasiswa termasuk UKM yang terdapat di 13 fakultas di UI. Berbicara kepada Suara Mahasiswa pada 10 November lalu, Febrina Tambunan selaku PJ Humas UI Fest 2011 berpendapat stereotipe

tentang fakultas kiranya dapat berubah dari pergelaran festival yang dilaksanakan tiap tahun ini. Fakultas-fakultas ilmu alam misalnya, cenderung terlihat seperti fakultas yang kurang tenar di bidang seni budaya dan lebih menonjol di bidang akademis. Ini terbukti dari FMIPA, FKM, FT ,dan FASILKOM yang berhasil naik podium bersama fakultas sosial seperti FIB, FE, FH , FISIP, dan FPsi. “Ternyata di balik mereka belajar-belajar itu, ada bakat-bakat (seni-red) yang menonjol , kalau tidak ada UI Fest ini kan orang lain tidak tahu,”tambah Febrina. Rangkaian UI Fest pada tanggal 28 Oktober ditutup dengan pembacaan Sumpah Pemuda secara bersama dan Konser Kebangsaan yang diisi oleh UKM seperti Psikusi, Mahawaditra, Paragita, juga komunitas angklung dan alat musik tradisional, serta penampilan juara-juara lomba. Penampilan bintang tamu dan juara lomba ini menghibur para penontonnya tanpa mengurangi esensi dari hikmat pembacaan Sumpah Pemuda.

SECOND BUSINESS LAW COMPETITION FH UI 2011: Mengangkat Isu Hukum Perbankan Indonesia Maraknya permasalahan hukum perbankan di Indonesia membuat Business Law Society FH UI kembali mengadakan BLC (Business Law Competition) yang kedua. Second BLC FH UI ini diadakan pada tanggal 29-31 Oktober di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Second BLC kali ini mengangkat tema “Legal Aspect of Banking in Maintaining the Credibility of Indonesian Banks.” Adapun alasan tema ini kemudian menjadi tema besar karena permasalahan hukum perbankan yang marak terjadi di Indonesia. “Masalah kerahasiaan bank pada saat go biding itu kasus itu yang paling hangat dan kira-kira hukum bisnis yang dipelajari di fakultas hukum di Indonesia itu hukum perbankan jadi masalah yang general yang bisa dibahas rame-rame,” tutur Fachmi Ridho Pratama Putera sebagai Ketua Pelaksana Second BLC FH UI.

Acara BLC 2011 kali ini tidak berbeda dengan tahun sebelumnya yakni Negotiation and Cotract Drafting, Debate, Battle of Brain serta terdapat juga rangkaian acara seminar, workshop, dan company visit. Dengan hadiah total hadiah 40 juta rupiah, Second BLC FH UI berhasil menarik lebih dari 100 peserta dari 15 universitas dari seluruh Indonesia. BLC FH UI menarik peserta dari beberapa universitas negeri maupun swasta seperti UNPAD, Unika Atmajaya, USU, Universitas Esa Unggul, dan lainnya. Selain itu, Second BLC bekerja sama dengan firma hukum terkemuka seperti Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono (SSEK), Arfidea Kadri Sahetapy-Engel Tisnadisastra (AKSET), dan Lubis Ganie Surowidjojo (LGS).


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

R E S E N S I //////

17

Pementasan Empat Monolog “Karna”

OLEH CENDY ADAM

S

urat itu datang dari Kuru Setra, medan perang Bharatayudha, saat pasukan Korawa (angkara murka) dan Pandhawa (kabajikan) bunuh membunuh. Bukan kabar suka, isinya duka, Karna sudah mati. Begitu monolog awal dari ibu adipati Karna, menceritakan bagaimana dia tahu anak angkatnya mangkat (meninggal) sebagai ksatria. Muncul tokoh Karna, lewat badannya yang besar, suara berat, dan caranya memainkan tombak. Penonton diberi tahu kepribadiannya yang keras dan mantap. Namun, air mukanya saat menyajikan monolog terasa ganjil, ada keraguan. Hal itu dijawab oleh Parashurama. Monolog guru Karna inilah yang mengantarkan kita pada permasalahan yang disajikan dalam “Karna.” Tanggal 17—20 November lalu, Salihara mementaskan teater yang berjudul “Karna.” Disutradarai oleh Goenawan Mohamad dan diperankan oleh Sitok Srengenge (Karna), Niniek L. Karim (Kunthi), Sita Nursanti (Radha), Whani Darmawan (Parasurama), dan Putri Ayudya (Surtikanti). Teater ini apik, tidak hanya dari segi makna yang dibawanya, tetapi juga dari akting tokoh, panggung, serta kostum dan lampu yang menjadikan pertunjukan ini hidup. “Karna” menceritakan pada kita perlawanan tokoh Karna untuk keluar dari kungkungan identitas yang diciptakan oleh masyarakat. Karna adalah anak haram Dewi Kunthi, Ibu dari Pandhawa, dengan Bathara Surya. Karena takut diketahui orang-orang. Karna bayi dihanyutkan ke Sungai Gangga dan ditemukan oleh pasangan Adirata, kusir kerajaan. Di cerita, Karna selalu ingin menjadi ksatria. Namun, kasta Sudra yang dilekatkan dari ayah dan ibu angkatnya menghambat hal tersebut. Hal inilah yang selalu diangkat dalam pentas “Karna”.

FOTO: DOK SALIHARA

KARNA: AKU BERPERANG DEMI APA YANG KUYAKINI

Monolog yang dilakukan oleh salah satu pemeran “Karna”

Ia kemudian berontak dari kungkungan “identitas” semu itu. Berbohong, ia mengaku sebagai seorang Brahmana kepada Parashurama supaya ia mau menerimanya menjadi murid. Kebohongan ini terbongkar sehingga Parashurama mengusirnya sebelum mengajarkan mantra pamungkas yang kemudian membuat Karna kalah dalam perang. Dalam sebuah sayembara, Pandhawa menolak keikutsertaan Karna karena ia bukan Ksatria. Dengan siasat liciknya, penolakan itu dibantah Korawa dengan pidato Duryudhana yang ingin permasalahan kasta dikesampingkan. Oleh karena kesepahaman ide inilah Karna memihak pada Korawa sesuai dengan harapan Korawa.. Dewi Kunthi segera sadar bahwa Karna adalah anaknya. Tak ingin anak-anaknya saling membunuh jika perang tiba. Di sebuah kuil ia memberitahu Karna siapa Karna sebenarnya. Namun Karna tetap teguh pada pemberontakannya terhadap identitas semu, kasta.. “Karna” memang terasa datar karena keseluruhannya disajikan monolog, praktis tidak ada konflik yang meledak-ledak. Tapi justru disinilah karakter dari “Karna”. Dibutuhkan penghayatan psikologis yang kuat kedalam setiap tokoh untuk memahami “Karna”. Tanpanya, jangan harap anda bisa merasakan kualitas dari karya mantan pemimpin redaksi Tempo ini. Sebagai penutup sekaligus klimaks “Karna” disajikan bergantian monolog Karna dan Istrinya. Melalui surat terakhir yang ditulisnya, Karna berkata, “Arjuna berperang demi kerajaan yang dijanjikan, dia berperang untuk mendapatkan. Tapi aku berperang demi apa yang kuyakini.”


18

S O S O K/ / / // / /

NURMALA SIREGAR DAN PAYUNG-PAYUNG UNTUK PENDIDIKAN Pendidikan adalah hal yang berharga. Permasalahannya adalah, tidak semua orang bisa menikmati pendidikan, kebanyakan karena terbentur masalah biaya. Nurmala Siregar mendirikan sebuah proyek bernama The Umbrella Project. Proyek ini bertujuan untuk membuat wadah pengajaran bagi anak-anak kurang mampu. “Proyek ini berlangsung dengan dana yang terkumpul dari penjualan payung-payung yang kami buat. Pada payung itu sendiri digantungkan beberapa foto anakanak yang kami ajar,” ujar Nurmala menjelaskan The Umbrella Project. Payung-payung itu, lanjut Nurmala Siregar, lantas dijual oleh salah satu kawannya yang berkebangsaan Kanada, yang juga ikut berpartisipasi ke dalam proyek ini, kepada teman-temannya di Kanada ketika dia pulang. Payung-payung tersebut ternyata banyak diminati oleh teman-temannya di Kanada, karena keunikan dan tujuan dari penjualan payung-payung itu sendiri. Kendati payung-payung tersebut laku dan dana terus mengalir untuk mempertahankan proyek ini, tetap saja ada kendala yang dihadapi oleh Nurmala dan kawan-kawannya yang lain. Contohnya, seperti dulu ketika proyek ini baru berjalan, Nurmala dan kawankawannya berniat untuk menjalankan proyek ini di daerah Muara Baru, sebuah daerah yang kumuh dengan jumlah anak putus sekolah yang cukup tinggi. Niat baik mereka ternyata tidak disambut terlalu baik oleh masyarakat di sana. Mereka agak dipaksa untuk membayar sewa tempat disana. Tentu saja proyek sukarela dengan dana yang hanya berasal dari penjualan payung-payung ini tidak bisa berjalan. Nurmala dan kawan-kawan kemudian berpindah tempat ke daerah Dawa Atas, Kota Tua. Di sana, ternyata juga banyak anak-anak putus sekolah, ataupun kalau bersekolah, mereka berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang lemah. Di daerah Dawa Atas ini, Nurmala dan kawan-kawannya lebih diterima. Hingga saat ini, proyek bisa terus berjalan dengan hambatan-hambatan yang tetap saja ada, seperti

terbatasnya jumlah relawan yang mau mengajar di sana. Tentu saja karena tidak semua orang mau bekerja tanpa dibayar. Selain itu, jauhnya jarak antara Dawa Atas dengan tempat tinggal Nurmala dan kawan-kawan pengajar lain, yang kebanyakan anak UI, juga turut menjadi kendala. Pengajaran di sana, kata Nurmala, dilakukan dengan santai dan suasana dibuat semenyenangkan mungkin agar anak-anak betah. Anak-anak yang diajar di sana berasal dari berbagai rentang umur, tetapi kebanyakan adalah anak-anak pada usia Sekolah Dasar. “Kami mengajarkan semua mata pelajaran, tetapi, yang paling kami tekankan adalah pelajaran Bahasa Inggris karena di Indonesia, apabila kita telah memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik, kita akan bisa lebih mudah menaklukan dunia kerja.” Nurmala mengakui bahwa ia sempat merasa kelelahan membagi waktu antara proyek dan kuliahnya yang dulu masih berjalan. Namun, keinginan kuat untuk bisa mensukseskan anak-anak yang tidak mampu membuatnya tetap bertahan. Saat ini, Nurmala telah lulus dari jurusan Administrasi Perkantoran dan Kesekretariatan Universitas Indonesia. Kesibukannya pun telah bertambah dengan jam kerja yang padat. Namun, ia tetap menyempatkan diri untuk menjalankan proyek ini. “Saya ingin proyek ini bisa menghasilkan sesuatu, bukan hanya proyek anginanginan yang hanya berjalan untuk sementara waktu. Kami sendiri saat ini sedang giat mencari beasiswa agar anak-anak yang putus sekolah bisa bersekolah dan anak-anak yang masih bersekolah bisa terus bersekolah, kalau perlu ke jenjang tertinggi. Kami ingin mereka bisa mendapat pekerjaan yang baik nantinya sehingga taraf hidup mereka bisa diperbaiki.”

FOTO: DOK. PRIBADI

OLEH: INTAN AYU

g e r b ata m a 53 ///1 1-2 0 1 1


g e r b ata m a 5 3 / / / 1 1 - 2 0 1 1

Ilustrasi: Joanna. M

KO M I K ///////

19


Ironi Kemegahan Perpustakaan UI : Gerbatama edisi - 53  

Ironi Kemegahan Perpustakaan UI : Gerbatama edisi - 53

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you