Page 1

published and distributed by HMTG GEA ITB

majalah teknik geologi

suaraGEA perspektif geologi bagi lingkungan

edisi tahun 2011 - gratis

geo-topic

Selayang Pandang Cekungan Bandung geo-enviro

Dilema Lebak Siliwangi Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung Bencana Laten, Banjir Bandung Selatan

DEPARTEMEN MEDIA KOMUNIKASI INFORMASI HMTG GEA ITB PERIODE 2011


#prolog redaksi

prolog

dari redaksi

Sebuah inovasi pengabdian masyarakat berbasis community development berupa eksplorasi dan analisis kimia air tanah serta instalasi air bersih bagi warga Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang yang diprakarsai oleh HMTG GEA ITB dan HMK AMISCA sebagai bentuk in harmonia progressio

Ekplorasi, Analisis Kimia Air Tanah & Instalasi Air Bersih

GEOHUMANISM September-November 2011 2010-2011

we care for society Desa Gunungmasigit, Kec. Cipatat, Padalarang

mari bergabung, bergerak bersama untuk masyarakat contact person Aliftama F. [085659371347]

organized by

suaraGEA merupakan suatu majalah yang sangat bersejarah bagi Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) GEA ITB, perjalanannya dimulai pada tahun 1964, saat itu hanya berupa brosur sebanyak 2 eksemplar yang diketik dalam kertas stensil ditempel di dinding program studi teknik geologi dan di bawah jam gadang itb dengan ciri khas kartun yang ketika itu digambar berkali-kali untuk tiap edisinya. Seiring kemajuan jaman, suaraGEA bertransformasi menjadi suatu majalah konsumsi publik sebagai produk pengabdian masyarakat dari HMTG GEA ITB di bidang media komunikasi. Kelak produk media sebagai bentuk pengabdian bagi masyarakat dari HMTG GEA ini akan berkembang menjadi sebuah kajian on-air di media elektronik. Sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang tinggal di kota yang dahulu disebut Parijs van Java ini, kita tidak bisa hanya bersikap apatis dan acuh terhadap lingkungan yang kita tinggali ini. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kita perlu memahami seluk beluk Bandung dari berbagai sisi, memahami permasalahan yang ada, dan membuka inspirasi baru bagi kehidupan yang lebih baik. Dalam edisi ini, kami mengupas beberapa permasalahan lingkungan yang dipandang dari sisi geologi, semoga dapat menambah ilmu dan wawasan kita semua. Selamat menikmati.

Pimpinan Redaksi

Naufal Rospriandana (12008066)


Selayang Pandang Cekungan Bandung #geo-topic

KARST CITATAH RAJAMANDALA

google images

#daftar isi

LANDMARK SEJARAH GEOLOGI BANDUNG #geo-topic “selayang pandang cekungan bandung” mengenal cekungan bandung berarti harus menelaah sejarah perkembangan bandung yang tempo dulu di atasnya berdiri gunung sunda dengan danau yang mengelilinginya

#geo-enviro

dalam kehidupan di bumi ini tentunya kita berkaitan dengan masalah bumi dan lingkungan, mari kita telaah peliknya problematika geologi lingkungan di cekungan bandung

Mencari Solusi Bagi Negeri yang Rentan Bencana #geo-inspiro

sekian kali kita diperingatkan alam untuk mewaspadai dinamika pergerakannya namun sesering itu kita mengulang kesalahan yang sama dengan tidak bersiap dan mewaspadainya, fenomena dinamika bumi yang awalnya merupakan suatu kepastian alam berubah menjadi bencana menakutkan bagi rakyat negeri ini. semoga inspirasi ini membuat kita berpikir dan melakukan perubahan.

halaman #02

#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung” halaman 03 #geo-enviro “Sangiang Heuleut: Pesona Kecantikan Citarum Kini” halaman 13 #geoenviro “Dilema Lebak Siliwangi” halaman 14 #geo-enviro “Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara” halaman 20 #geo-enviro “Karst Citatah Landmark Sejarah Geologi Bandung” halaman 28 #geo-enviro “Bencana Laten Banjir Bandung Selatan” halaman 36 #geo-inspiro “Siap dengan Segala Kemungkinan Bencana Kebumian” halaman 41 #geo-inspiro “Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog” halaman 44 #geo-society “Memitigasi Masyarakat, Memasyarakatkan Mitigasi” halaman 48 #GEAsnapshot halaman 50

kawah ratu - Kawah ratu terletak di tangkubanparahu dan merupakan kawah aktif terbesar di jajaran kompleks gunungapi sunda. Mitos menyebutkan dayang sumbi menerjunkan dirinya ke dalam kawah ini untuk menghindari sangkuriang, itulah mengapa kawah ini disebut kawah ratu

Selayang Pandang Cekungan Bandung “...Bandung, Bandung nelah Kota Kembag, Bandung Sasakala Sangkuriang, Bandung dilingkung gunung, heurin ku tangtung, puser kota nu mulya Parahyangan, Bandung, padamuru dijarugjugan...”

suaraGEA - edisi 2011 suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

halaman #03


Selayang Pandang Cekungan Bandung #geo-topic

#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung” batas barat dan timur dari Danau Bandung. LANSKAP CEKUNGAN BANDUNG

Utara budi brahmantyo

danau bandung - sketsa bentang alam cekungan bandung yang memperlihatkan keberadaan danau bandung tempo dulu (budi brahmantyo).

D

alam bukunya yang berjudul Jendela Bandung, Her Suganda, wartawan senior Kompas m e nye b u t k a n b a h w a Bandung adalah sebuah mangkok raksasa yang dikelilingi gununggunung berapi dan mengalir Sungai Citarum di bagian tengahnya. Sungai tersebut yang menjadi inspirasi lahirnya legenda Sangkuriang. Secara geologis, mangkok tersebut disebut cekungan atau basin, maka kita mengenal dengan sebutan Cekungan Bandung atau Bandung

halaman #04

Basin. Cekungan Bandung terbagi atas dua dataran luas yakni Dataran Bandung dan Dataran Batujajar pada ketinggian 650-700 m di atas permukaan laut. Diawali dari catatan 20 juta tahun silam di kala aktivitas tektonik terus mengoyakngoyak rupa bumi, saat itu dataran tinggi Bandung merupakan suatu samudera yang dalam yang kemudian berubah menjadi dangkal seiring peristiwa tektonik tersebut dan lahirlah gunungapi baru seperti

Patuha, Kamojang, dan M a l a b a r. S i s a - s i s a endapan laut dapat kita temukan di Bandung Barat tepatnya di Rajamandala, Padalarang yang didominasi oleh batugamping yang identik dengan endapan laut. Empat juta tahun lalu, muncul sebuah batuan terobosan andesit yang keras dari dalam mantel bumi (intrusi) di tengah Cekungan Bandung yang kelak menjadi Pematang Tengah atau saat ini dapat diidentifikasi sebagai Curug Jompong. Pematang Tengah inilah yang jutaan tahun kemudian menjadi

suaraGEA - edisi 2011

Bentang alam Cekungan Bandung dimulai dari Nagreg di timur hingga Perbukitan Rajamandala atau Karst Citatah, Padalarang yang berumur Tersier di barat dengan jarak horizontal sekitar 60 km. Sementara itu di batas utara Cekungan Bandung berjejer deretan gunung api yang oleh M.A.C. Dam (1994) disebut sebagai Sunda Volcanic Complex (Kompleks Gunungapi Sunda) yang tak lain a d a l a h G u n u n g Burangrang-SundaTa n g k u b a n p a r a h u . Morfologi gunung lainnya di kawasan utara adalah Bukit Tunggul, Gunung Cupunagara yang kini berprospek menjadi tambang emas, Gunung Manglayang, dan Gunung Tampomas. Di bagian selatan berdiri Gunung K a m o j a n g ( P LT P Kamojang), Gunung Patuha, dan Gunung Kendeng. Lebar jarak utara-selatan Cekungan Bandung ini mencapai 40 km (Bronto, 2006). Serangkaian hipotesis menyebutkan asal muasal bentuk Cekungan Bandung, dimulai dari hipotesis yang menyebutkan bahwa cekungan ini adalah sebuah kaldera raksasa yang dalam Riwayat Geologi Dataran Tinggi Bandung (1959), kaldera

suaraGEA - edisi 2011

ini diakibatkan letusan Gunung Sunda yang menjulang tinggi sekitar 3000-4000 meter dengan diameter dasarnya 20-30 km dengan puncak gunung yang selalu putih diselimuti salju abadi. Budayawan Sunda alm. Hidayat Suryalaga menyebutkan bahwa Sunda berasal dari Bahasa Sansakerta, cudda, yang berarti putih, bersih, atau suci mungkin dilihat dari puncaknya yang selalu ditutupi putihnya salju abadi. Sangat mungkin apabila tinggi Gunung Sunda lebih dari 30004000 meter, karena apabila k i t a l i h a t ke t i n g g i a n Kaldera Sunda sekarang ini adalah 2.080 meter t e p a t n y a d i Ta n g k u b a n p a r a h u , sementara pada umumnya suatu letusan gunung api yang membentuk kaldera akan menghancurkan dua per tiga tubuhnya. “...Ternyata dalam cekungan Danau Bandung terdapat gunungapi tua yang diidentifikasi sebagai Gunung Pre-Sunda (Kartadinata, 2005) yang merupakan “kakek” dari Gunung Tangkubanparahu...”

KETERKAITAN DANAU BANDUNG DAN GUNUNG SUNDA Di awal dekade 90-an, berdasarkan pentarikhan radioktif C-14 dan

Uranium-Thorium yang dilakukan Dam dan Suparman terhadap hasil pemboran endapan sedimen Danau Bandung sedalam 60 meter di Bojongsoang dan 104 meter di Sukamanah didapatkan bahwa umur genangan Danau Bandung tertua adalah 125 ribu tahun yang lalu, sementara itu berdasarkan analisis hasil pemboran, terdapat lapisan yang menadakan bahwa di umur 55.00050.000 tahun lalu, Tangkubanparahu pernah meletus sangat hebat. Kini sisa letusannya dapat dilihat Curug Dago sebagai bekas aliran lava basal. Berdasarkan penelitian terbaru, ternyata Gunung Sunda bukanlah gunungapi tertua di deretan Kompleks Gunung Sunda. Ternyata dalam cekungan Danau Bandung terdapat gunungapi tua yang diidentifikasi sebagai Gunung Pre-Sunda (Kartadinata, 2005) yang merupakan “kakek” dari G u n u n g Ta n g k u b a n p a r a h u . T. Bachtiar mengidentifikasi kenampakan Gunung PreSunda di zaman sekarang ini disebut sebagai Gunung Jayagiri yang terletak di dekat perkemahan Jayagiri, Lembang, gunung tersebut terbentuk 560.000-500.000 tahun yang lalu. Dalam disertasinya, Kartadinata menyebutkan seiring aktivitas vulkanik, Gunung Pre-Sunda roboh menghasilkan suatu

halaman #05


Selayang Pandang Cekungan Bandung #geo-topic

#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung” sieling go/t.bachtiar

Situ Lembang ada kabut, ada dingin, ada cinta... [op.cit T. Bachtiar]

halaman #06

suaraGEA - edisi 2011

kaldera dan 300.000 tahun yang lalu lahirlah Gunung Sunda dalam kaldera tersebut. Gunung Sunda meletus sebanyak 13 kali d a n l e t u s a n nya m e n gh a s i l ka n ka l d e ra seluas 6,5 x 7,5 kilometer persegi pada kurun waktu 200.000-180.000 tahun yang lalu. Pada 105.000 tahun yang lalu, Gunung Sunda meletus dahsyat sehingga menghasilkan kaldera yang di dalamnya lahir “cucu” Gunung Pre-Sunda yakni Ta n g k u b a n p a r a h u . Sementara itu material letusan Gunung Sunda menurut Hadisantono (1988) sebanyak 66km 3 tersebut terlontar jauh, mengendap di barat laut, selatan, dan timur pusat letusan menutupi kawasan seluas 200 km2 setebal 40 meter membendung Citarum Purba di daerah Ngamprah, Padalarang yang kini menjadi aliran Cimeta. Pembendungan inilah yang memperluas Danau Bandung. Apabila kita sedikit menilik kisah Sasakala Sangkuriang, hal i n i l a h ya n g d i k a i t k a n dengan upaya Sangkuriang membendung danau untuk keperluan bulan madunya bersama Dayang Sumbi. Ngamprah dalam basa sunda berarti air yang menggenang. H a l y a n g p e r l u digarisbawahi disini adalah berdasarkan analisis pemboran oleh Dam dan Suparman (1994), Danau Bandung telah terbentuk

suaraGEA - edisi 2011

pada 125.000 tahun yang lalu, jauh hari sebelum Gunung Sunda meletus pada 105.000 tahun yang lalu, letusan Gunung Sundalah yang mungkin ikut memberi andil memperluas genangan Danau Bandung di bagian barat laut Cekungan Bandung tepatnya di Padalarang. BANDUNG TERENDAM

“...Bayangkan apabila berkendaraan di persimpangan Jalan Soekarno-Hatta dengan Kopo berarti pada 35.000 tahun yang lalu kita sedang menyelam di dalam suatu dasar danau berkedalaman 26,5 meter...” Pembendungan Sungai Citarum Purba kian mempercepat proses terbentuknya Danau Bandung hingga Bandung terendam di ketinggian 712,5 meter pada 35.000 tahun yang lalu. Kedalaman tersebut diperoleh dari penemuan sisa artefak prasejarah yang selalu ditemukan pada topografi di atas 712,5 meter, hal tersebut berarti saat itu topografi di bawah 712,5 meter adalah danau. Ataupun di perempatan Soekarno-Hatta dan Cigereleng yang dahulu merupakan dasar danau s e d a l a m 3 2 , 5 m e t e r, sedangkan perempatan Soekarno Hatta-Buah Batu tergenang sedalam 36,5 meter. Semakin ke timur, di

Cibiru kedalamannya mencapai 39 meter. Danau Bandung mencapai klimaksnya 16.000 tahun silam. Aliran air Danau Bandung yang deras menemukan jalan keluarnya dengan membobol dinding bagian barat Danau Bandung, menerobos perbukitan Saguling, membelah dua membentuk lembah Pasir Kiara serta Puncaklarang, mengeringkan Danau Bandung. Proses pengeringan ini m e n gh a s i l ka n d a e ra h daerah lahan basah yang disebut ranca (rawa) atau situ (danau kecil), tak heran di Bandung saat ini banyak s e ka l i d i ke n a l d a e ra h berawal kata ranca (seperti Rancaekek, Rancabadak) dan situ (seperti Situ Umar, Situ Aksan). Air hasil pembobolan dinding Danau Bandung kemudian menembus Gua Sangiang Tikoro (sangiang= dewa; tikoro= tenggorokan) yang berarti tenggorokan dewa. Mitos masyarakat menyebutkan apabila kita memasukan lidi ke dalam Gua Sangiang Tikoro, maka Bandung akan kembali terendam. Ya itu karena kebanyakan orang mengira Sangiang Tikoro lah tempat bobolnya Danau Bandung. Namun tidak, Sangiang Tikoro bukanlah tempat bobolnya Danau Bandung seperti yang dijelaskan kebanyakan peneliti terdahulu. Apa pasalnya? Ya, gua kapur dengan sungai bawah tanah itu terletak

halaman #07


Selayang Pandang Cekungan Bandung #geo-topic

#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung� sabena bungsu/flickr.com

t. bachtiar

sangiang tikoro - gua bawah tanah sangiang tikoro awalnya disebut sebagai tempat bocornya danau bandung, namun penelitian terbaru menyebutkan danau bandung bocor di pasir kiara dan puncak larang pada ketinggian 325 meter, jauh di bawah Danau Bandung yang berada pada ketinggian 712,5 meter, sehingga tidak mungkin Sangiang Tikoro menjadi tempat bobolnya Danau Bandung. SIAPAKAH KI SUNDA PURBA Ki Sunda Purba atau penguasa Sunda di jaman purba hingga kini masih menjadi misteri. Bukti geologis Danau Bandung ini tentunya menarik perhatian, siapa s e b e n a r nya p e n g u a s a Tatar Sunda kala itu yang menyaksikan peristiwa tenggelamnya Bandung di

halaman #08

bawah dasar danau purba? Lebih jelas lagi, siapakah sebenarnya Sangkuriang? Siapakah Dayang Sumbi?

manusia Pawon adalah 9500 tahun yang lalu sementara Danau Bandung bocor 16.000 tahun silam.

U p aya p e n g u n g k a p a n sejarah kehidupan Tatar Sunda dimulai dari temuan rangka dalam keadaan ngaringkuk di Pasir Pawon o l e h Ke l o m p o k R i s e t Cekungan Bandung pada tahun 2003 silam sedikit banyak menjelaskan bahwa Ki Sunda prasejarah tidak pernah melihat kejadian pembendungan Danau Bandung. Hal tersebut berdasar penjelasan Lutfi Yo u n d r i d a r i B a l a i Arkeologi bahwa umur

Suatu hipotesa diajukan R.P. Koesoemadinata, Guru Besar Teknik Geologi ITB, menurutnya mengingat manusia modern Homo sapiens pertama di bumi ditemukan di Afrika Selatan berumur 120.000100.000 tahun lalu, sehingga sangat tidak masuk akal apabila ada manusia purba dalam sejarah Tatar Sunda yang m e n y a k s i k a n pembendungan Danau Bandung. Jadi apa Sangkuriang hanyalah

suaraGEA - edisi 2011

manusia pawon - fosil berumur 9500 tahun inilah yang ditemukan di gua pawon sebagai jejak kehidupan manusia tertua di tatar sunda m i to l o g i ? M u n g k i n k a h Sangkuriang adalah manusia dari Afrika bermigrasi kemudian ia menyaksikan terbentuknya Tangkubanparahu 105.000 tahun lalu? Di Australia, Homo sapiens tertua berumur 62.000 tahun lalu, sementara itu sejarah kehidupan manusia sempurna tertua di Jawa dicirkan oleh Homo wajakensis yang berumur 50.000 tahun lalu, namun apakah ada manusia yang setidaknya melihat letusan hebat Tangkubanparahu 55.000 tahun silam. Spekulasi lain mengarah kepada temuan fenomenal

suaraGEA - edisi 2011

Eugene Dubois yang menemukan spesies manusia tegak Homo erectus berumur 1,7 juta tahun lalu di Bengawan Solo. Memang tidak ada bukti kuat yang dapat disetarakan antara sejarah dan bukti geologi dengan legenda Sangkuriang, kesemua hal tersebut hanyalah hipotesa, masih sangat diperlukan penelitian arkeologi mengenai keberadaan Ki Sunda Purba. DAGO PAKAR, BENGKEL SENJATA PURBA Siapa sangka dahulu Ki Sunda Purba menjadikan tempat yang kini disebut Dago Pakar atau Taman

Hutan Raya Ir. H Djuanda yang berada di ketinggian 700-1200 meter di atas muka laut sebagai bengkel senjata mereka. Penelitian ini disimpulkan dari temuan-temuan artefak di sekitar wilayah tersebut. Keberadaan ini pertama kali diketahui pada dekade 1920-an oleh Dr. A. C. de Jongh, pimpinan Dinas Pertambangan Hindia Belanda kala itu yang menemukan banyak artefak berbahan obsidian peninggalan pra-sejarah di suatu tempat yang disebut Titik Triangulasi KQ-380 (sekarang disebut Bukit Kordon). Kemudian temuan

halaman #09


Selayang Pandang Cekungan Bandung #geo-topic

#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung� danau bandung +700 mdpl

pasir kiara - puncak larang +750 - 800 mdpl

budi brahmantyo

4.bp.blogspot.com

sangiang tikoro +384 mdpl

timur erosi ke hulu terbentuknya gua sangiang tikoro

Erosi ke hulu semakin intensif menggerus tembok alam Pasir Kiara - Puncak Larang

dago pakar - di sinilah bengkel senjata manusi purba dalam sejarah tatar sunda, di dago pakar banyak ditemukan sisa-sisa benda dan alat buru manusia purba

tembok alam danau bandung jebol

citarum saat ini danau bandung - inilah skema bobolnya danau bandung 16.000 tahun silam di kawasan puncak larang dan pasir kiara tersebut dilanjuti oleh Paleoantropolog tersoho Dr. G. R von Koenigswald dan dipublikasikan dalam bukunya pada 1935. Temuan artefaknya berupa kapak batu, ujung anak panah, pisau penyerut, dan mata bor berbahan baku kalsedon dan batu kuarsit

halaman #10

yang berukuran kecil sehingga melandasi pemikiran bahwa Ki Sunda kala itu tergolong microlith culture. Perlu diketahui bahwa baik obsidian, kalsedon, maupun kuarsit bukan berasal dari Dago Pakar, itu berarti di zaman tersebut,

manusia pra-sejarah telah mengenal budaya jual-beli. Seperti halnya obsidian yang terdapat di Kampung Nagreg, perbatasan Kabupaten BandungKabupaten Garut, tempat yang kini selalu macet s e t i a p l i b u r l e b a ra n . Te m p a t l a i n y a n g

suaraGEA - edisi 2011

menghasilkan obsidian adalah Kampung Nagrak di dekat lapangan panas bumi Darajat, barat daya kota Garut. Suatu jarak yang cukup jauh ditempuh manusia kala itu yang notabene pasti hanya berjalan untuk mencapai tujuannya. SEJARAH BANDUNG, SEJARAH TATAR SUNDA Ayeuna Ki Sunda geus jadi kolot, sekarang Ki Sunda

suaraGEA - edisi 2011

telah semakin tua, Cekungan Bandung telah berubah menjadi kota metropolis, kota industri, kota wisata. Keistimewaan g e o l o g i s y a n g membentuknya hilang ditelan kesibukan, menghapus jejak sejarah Tatar Sunda. Membongkar Karst Citatah adalah merusak keindahan terumbu karang 20 juta tahun lalu, membentengi Dago Pakar adalah menghapus jejak

pembuatan senjata Ki Sunda Purba. Bahkan Danau Bandung yang dulu t e r e n d a m a i r, k i n i penghuninya kian sulit mendapatkan air. Semoga pengetahuan ini dapat membuat kita lebih arif terhadap lingkungan kita.

Ditulis oleh Naufal Rospriandana hansen wijaya Teknik Geologi ITB

halaman #11


#geo-topic “Selayang Pandang Cekungan Bandung”

Sangiang Heuleut, Pesona Kecantikan Citarum Kini #geo-enviro m.a.c. dam

Sangiang Heuleut pesona keindahan citarum kini

D

alam tulisannya, Budi Brahmantyo, dosen

jernih. Batupasir berlapis hampir tegak dan besar

Teknik Geologi ITB dan pemerhati lingkungan

m e m b e n te n g i ke a s r i a n nya . Ya i t u l a h l e u w i

dari Kelompok Riset Cekungan Bandung

Sangiangheuleut (sangiang= dewa; heuleut=sempit).

menuliskan sebuah judul yang sama dengan lagu yang

Memang lokasinya sempit dan terisolasi sehingga kita

dipopulerkan oleh Michael Buble, “Cry Me a River”. Lirik

tidak akan terganggu oleh kesan jorok Sungai Citarum.

tersebut memang tepat dialamatkan pada Sungai

Mengapa Sangiangheuleut bisa terbebas dari polusi

Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang mengalir

Citarum? Hal tersebut karena leuwi di antara Saguling

di tengah depresi cekungan Bandung tersebut. Bau,

dan Sangiang Tikoro ini hanya disuplai oleh sungai-

kotor, jorok, itulah mungkin kata-kata yang pas

sungai kecil yang masih bersih di antara perbukitan

diucapkan. Indeks polusi Citarum berdasar data SDA,

Pasir Kiara dan Puncak Larang, keberadaan Waduk

2001 mencapai 47,1% atau setingkat di bawah

Saguling yang membendung air dan material yang

Cisadane-Ciliwung yang mengalir di ibu kota yang

dibawa Sungai Citarum sehingga tidak bisa mencapai

mencapai tingkat polutif 47,4%.

Sangiang Heuleut. Air kotor yang dibendung tersebut

Namun siapa yang menyangka, sungai yang

dialirakan ke pipa berdiameter 4 meter untuk memutar

menjadi inspirasi lahirnya kisah Sangkuriang ini masih

turbin PLTA kemudian air tersebut dibuang kembali ke

memiliki sisa-sisa keindahan. Apabila kita berjalan dari

Sungai Citarum di sekitar Sangiang Tikoro.

Waduk Saguling menuju Sangiangtikoro, kita akan disuguhi suatu pemandangan nan asri dengan air yang

halaman #12

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

[REDAKSI]

halaman #13


#geo-enviro “Dilema dari Lebak Siliwangi”

Dilema dari Lebak Siliwangi #geo-enviro

“...Kisah Lebak Siliwangi ini sesungguhnya berawal sejak lama. Kawasan ini memang telah menarik perhatian sejak jaman Belanda karena lokasinya yang strategis. Semasa pemerintahan Belanda, kawasan ini menjadi green belt kota Bandung dengan sawahnya yang luas...“ ***

Dilema

Lebak Siliwangi

halaman #14

suaraGEA - edisi 2011

L

ebak Siliwangi atau dalam sejarah Bandung Tempo Doeloe disebut Lebak Gede yang kini dikenal dengan sebutan Babakan Siliwangi – nama sebuah restoran milik Pemkot di Lebak Siliwangi sebuah daerah hijau di perbatasan Jalan Tamansari, Cihampelas, dan Ciumbuleuit hingga kini masih meninggalkan masalah yang tak kunjung usai. Daerah yang digadang-gadang sebagai tempat resapan air bagi kawasan Bandung Utara tersebut terus dihujani kontroversi antara dibangun dengan konsekuensi pemasukan devisa kota Bandung atau dibiarkan terbuka hijau sebagai perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota Bandung yang memang semakin sempit. Lebak Gede Tempo Dulu Masyarakat Tatar Sunda adalah m a s ya r a k a t ya n g s a n g a t b i j a k d a l a m menggunakan hutan. Hutan adalah tempat masyrakat menyandarkan kehidupannya namun

suaraGEA - edisi 2011

kelestarian hutan tetap dijaga. Memahami pentingnya hutan bagi kehidupan khalayak dimulai dari ketersediaan air hingga kesejukan udaranya. Terlepas dari mitos yang beredar dalam sejarah masyarakat Sunda yang meyakini bahwa arwah para raja bersemayam di hutan, seperti halnya mitologi bahwa Prabu Siliwangi, raja Padjajaran yang menjelma menjadi macan putih dan tinggal di Hutan Sancang, konon mitologi semacam inilah yang membuat masyarakat Sunda sangat arif terhadap lingkungannya hingga muncul istilah pamali atau tabu untuk memewarani hutan. Lebak Siliwangi dulu dikenal dengan sebutan Lebak Gede di tahun 1930-an adalah suatu daerah di persimpangan Dr de Grootweg (sekarang Jalan Siliwangi) dan Huygenweg (sekarang Jalan Tamansari) serta di sebelah baratnya mengalir Sungai Cikapundung. Menatap dari persawahan di Lebak Gede, kita disuguhi panorama sebuah villa nan cantik di perbukitan utaranya yang kini menjadi Jalan Sangkuriang. Villa tersebut adalah Villa Mei Ling di

halaman #15


#geo-enviro “Dilema dari Lebak Siliwangi�

halaman #16

A aliran air tanah

ika pu

nd

un

g

aliran sungai

kontradiksi - keindahan babakan siliwangi dan kehijauannya, sementara di sudut lain tampak kekumuhan dan kotornya lingkungan babakan siliwangi dalam pengelolaannya. Adalah atas gagasan para seniman ternama Jawa Barat sekaliber Popo Iskandar, Tony Yusuf, dan Barli, maka didirikanlah Sanggar Olah Seni pada 1982 yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kala itu Jop Ave. Pa d a d e k a d e 9 0 - a n , d i m u l a i l a h pembangunan Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) di area Lebak Siliwangi. Pembangunannya kala itu

suaraGEA - edisi 2011

C

S. C

Lammingaweg (sekarang Jalan Sangkuriang) yang bergaya arsitektur Art Deco, d i r a n c a n g o l e h F. W. Brinkmann. Sang empunya villa tersebut tak lain dan tak bukan adalah dirancang oleh F.W. Brinkmann. Sang empunya villa tersebut tak lain dan tak bukan adalah juragan beras kala itu AngEng Kan. Kisah Lebak Siliwangi ini sesungguhnya berawal sejak lama. Kawasan ini memang telah menarik perhatian sejak jaman Belanda karena lokasinya yang strategis. Semasa pemerintahan B e l a n d a , k awa s a n i n i menjadi green belt kota Bandung dengan sawahnya yang luas. Daerah sempat diisukan akan dibangun museum di jaman Jepang namun proyek ini menjadi tak pernah selesai seiring menyerahnya Jepang di tangan Sekutu. Permukiman penduduk di sekitar Lebak Siliwangi mulai berdiri di tahun 1940-an dan terus berkembang hingga tahun 1960-an. Pada dekade 60an juga dimulainya ajang adu ketangkasan domba di salah satu sudut Lebak Siliwangi yang diprakarsai Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI). Suatu keniscayaan yang tak terelakkan adalah pembetonan di Lebak Siliwangi. Sektor ekonomi mulai bergeliat di Lebak Siliwangi seiring digagaskannya pembangunan Restoran Babakan Siliwangi oleh Pemkot di bawah kepemimpinan Walikota Otje Djunjunan pada dekade 1970-an denngan tujuan untuk meningkkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), kendati begitu pembangunan tersebut sangat mensinergiskan unsur budaya dan unsur alam

Dilema dari Lebak Siliwangi #geo-enviro

D Kompleks SABUGA ITB

U digitalisasi oleh Naufal Rospriandana

B

Skema aliran air tanah di Babakan Siliwangi

skema aliran - skema aliran air tanah babakan siliwangi memperlihatkan penampang aliran air tanah utara-selatan dan barat-timur, dari penampang tersebut dapat dijelaskan bahwa babakan siliwangi merupakan lokasi keluaran air bukan lokasi resapan air, hal tersebut didukung juga oleh faktor topografi babakan siliwangi yang relatif lebih rendah dibanding sekitarnya

suaraGEA - edisi 2011

halaman #17


#geo-enviro “Dilema dari Lebak Siliwangi” diketuai oleh Meme Sutoko, bersamaan dengan dibangunnya labtek-labtek baru di ITB, pendanaan dibantu oleh pemerintah Jepang lewat Overseas Economic Cooperation Fund. Sejuta Kontroversi Masa Kini Perubahan fundamental dalam penataan Lebak Siliwangi, yang sejak saat itu mulai dikenal sebagai Babakan Siliwangi – setelah berdirinya restoran Babakan Siliwangi – mulai tampak saat Bandung di bawah kepemimpinan Walikota Aa Tarmana yang

Dilema dari Lebak Siliwangi #geo-enviro Serangkaian tindaklanjut yang dilakukan Tim Penataan Kawasan Babakan Siliwangi yang dibentuk atas SK Walikota no. 593/2001, tim tersebut beranggotakan Bappeda, Dinas Tata Kota, Dinas Bangunan, Badan Penanaman Modal Daerah, Bagian Hukum, serta Dinas Pariwisata. Alhasil dinyatakanlag PT Esa Gemilang Indah (Group Istana) yang memenangkan tender dan siap berkontribusi sebesar Rp 22,5 milyar kepada Pemerintah Kota Bandung. Keputusan tersebut tentunya

mungil ini kelak akan menajdi hutan beton yang akan kian menghiasi hiruk pikuk kota Bandung. Bukan Daerah Resapan Air Aliran air tanah sangat dipengaruhi oleh tiga hal yakni; topografi, jenis batuan, dan struktur geologi yang terdapat di daerah tersebut, perlu diketahui bahwa kesemuanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Topografi adalah hal tersederhana, dapat dijelaskan bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sementara itu batuan terdiri atas batuan berjenis permeabel dan impermeabel. Lapisan batuan permeabel atau dalam istilah hidrogeologi disebut aquifer akan mampu menampung dan mengalirkan air tanah, sedangkan lapisan impermeabel tidak bisa meresapkan air. Parameter lain yakni struktur geologi, mungkin sedikit sulit dipahami bagi masyarakat awam, namun pada intinya suatu struktur pada lapisan batuan akan m e m p e n ga r u h i a l i ra n a i r t a n a h b a i k menghambat maupun mengkatalisasi.

“...Sebelum pembangunan Sasana Budaya Ganesha (SABUGA), di daerah ini terdapat beberapa titik mata air, dan sekarang satu mata air masih dapat dilihat yaitu di tebing bagian timur laut. Keberadaan mata air tersebut merupakan pertanda bahwa air tanah keluar di daerah tersebut bukan meresap...” “...Lantas setelah pandangan bahwa Lebak Siliwangi adalah daerah resapan air disalahkan, apakah Lebak Siliwangi dapat dibangun dan dikembangkan menjadi hutan beton? Tidak demikian, hutan mungil di depan kampus ITB tersebut seyogyanya tidak disulap menjadi bangunan-bangunan tinggi apalagi menjadi hunian permanen karena publik membutuhkan hutan kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota penyerap karbon dioksida...”

menyebutkan gagasan kawasan wisata terpadu (one stop Bandung art Center). Peruntukan yang semula ditujukan bagi rekreasi, budaya, dan pendidikan serta tidak bersifat hunian permanen mulai ditentang dengan munculnya ide ini. Sebuah gagasan yang memadukan pula unsur komersial yakni pusat mode, wahana kawula muda, pusat seni, rumah makan, hingga yang paling menuai kontroversi adalah pembangunan kondominium.

halaman #18

melahirkan kegalauan bagi masyarakat, mereka menuntut komersialisasi Lebak Siliwangi dibatalkan. Permasalahan semakin kompleks dengan dilibatkannya isu ekologis di dalamnya, karena Lebak Siliwangi yang dirasakan sebagai ruang terbuka hijau dan berfungsi sebagai paru-paru kota harus dipertahankan namun di sisi lain saat ini keadaan Lebak Siliwangi tak terurus dan keberadaannya tidak sanggup meningkatkan PAD. Sungguh ironis, hutan

suaraGEA - edisi 2011

Bagaimanakah dengan Lebak Siliwangi, apakah merupakan daerah resapan air seperti yang disebutkan kebanyakan orang. Ternyata tidak, dalam wawancara dengan Prof. Dr. Lambok Hutasoit, ahli Hidrogeologi dan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, beliau menjelaskan secara panjang lebar bahwa Lebak Siliwangi bukanlah daerah resapan air (recharge) namun merupakan daerah luahan air (discharge). Sebelum pembangunan Sasana Budaya Ganesha (SABUGA), di daerah ini terdapat beberapa titik mata air, dan sekarang satu mata air masih dapat dilihat yaitu di tebing bagian timur laut. Keberadaan mata air tersebut merupakan pertanda bahwa air tanah keluar di

suaraGEA - edisi 2011

daerah tersebut bukan meresap. Secara topografi dapat dijelaskan dengan mudah, letak Lebak Siliwangi di daerah lembah sudah barang tentu air mengalir ke sana bukan meresap. Air akan meresap di tempat lain yang memiliki topografi lebih tinggi daripada Lebak Siliwangi. Perhatikan ilustrasi di samping. Berdasarkan sketsa yang dibuat oleh Lambok Hutasoit dan Sudarto Nitisiswoyo yang dimodifikasi oleh penulis, dapat terlihat arah aliran air tanah pada gambar 1 dan gambar 2. Sementara itu pada gambar 3 menunjukkan arah penampang dalam kedua gambar sebelumnya. Hal yang perlu dicermati adalah adanya lapisan kehadiran lapisan pengekang di bawah aquifer dangkal. Lapisan pengekang adalah lapisan .batuan yang impermeabel dan tidak lulus air, sehingga air hujan yang turun di Lebak Siliwangi tidak dapat dilewatkan sampai ke aquifer dalam. Air hujan yang turun hanya mengisi aquifer dangkal dan mengalir menuju Sungai Cikapundung mengikuti bentuk tapal kuda Lebak Siliwangi. Hal inilah yang menjadi landasan bahwa Lebak Siliwangi bukanlah daerah resapan air seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Ruang Terbuka Hijau Lantas setelah pandangan bahwa Lebak Siliwangi adalah daerah resapan air disalahkan, apakah Lebak Siliwangi dapat dibangun dan dikembangkan menjadi hutan beton? Tidak demikian, hutan mungil di depan kampus ITB tersebut seyogyanya tidak disulap menjadi bangunan-bangunan tinggi apalagi menjadi hunian permanen karena publik membutuhkan hutan kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota penyerap karbon dioksida. Pendapat bahwa Lebak Siliwangi tidak boleh dibangun karena merupakan daerah tangkapan dan resapan air hujan akan sangat mudah dipatahkan karena tingkat resapan air hujan di daerah tersebut sangat kecil. Namun penghijauan harus tetap dilakukan dengan alasan publik membutuhkan ruang terbuka hijau.

Ditulis oleh muhammad firdaus [12008071] Teknik Geologi ITB

halaman #19


#geo-enviro “Sesar Lembang: Ancaman Gempa dari Bandung Utara” shamang/outdoors.webshot.com

“Sesar Lembang: Ancaman Gempa dari Bandung Utara” #geo-enviro

Sesar Lembang Ancaman Gempa dari Bandung Utara “...berdasarkan Donald (1994), Sesar Lembang tergolong patahan yang memiliki panjang retakan mencapai 22 kilometer memungkinkan untuk menghasilkan gempa dengan kekuatan sekitar 6.7 atau 6.9 SR, atau lebih..” ***

S

esar dalam istilah geologi adalah suatu pergeseran blok batuan. Sesar terdiri dari tiga jenis berdasarkan arah pergerakan relatifnya yakni sesar naik (reverse fault), sesar turun (normal fault), dan sesar mendatar (strike-slip).

“Suatu sesar dikatakan aktif apabila bergerak dan memotong lapisan batuan berumur kurun waktu 10.000 tahun lalu (berdasarkan umur fosil ataupun dating radioaktif) dan sesar yang berpotensi aktif adalah sesar yang bergerak (memotong lapisan batuan) berumur kurun 2 juta tahun lalu” (Keller, 1996) Sesar Lembang Sesar Lembang terletak 11 kilometer di utara Bandung, memiliki panjang 22 kilometer, berawal dari Maribaya-Cibodas hingga hilang di Cisarua, di utara Padalarang. Retakan tersebut diyakini berasosiasi dengan amblesnya dinding akibat letusan Gunung Sunda Purba Tangkubanparahu 27.000-105.000 tahun silam (Van Bemmelen, 1949). Apabila kita susuri, sesar ini tergolong sesar turun (normal fault) memperlihatkan bahwa blok utara yakni Cisarua di barat hingga Maribaya di timur bergerak turun relatif terhadap blok selatan yakni Gunung Pulasari di timur, Batunyusun, Gunung Batu, Gunung Lembang, Cihideung, sampai Jambudipa di barat.

Gunung Batu - Gunung batu di daerah Lembang, suatu bukit terisolir yang menjadi bukti keberadaan kelurusan gawir Sesar Lembang

halaman #20

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

halaman #21


#geo-enviro “Sesar Lembang: Ancaman Gempa dari Bandung Utara”

“...Sampai saat ini belum ada data menyebutkan bahwa sesar Lembang pernah menyebabkan gempa bumi, namun serangkaian penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa retakan sepanjang 22 kilometer tersebut aktif dan kedua blok baik selatan maupun utara terus bergerak... “ segmen teresbut terbentuk akibat meletusnya Gunung Sunda Purba - Tangkubanparahu yang dimulai 105.000 tahun yang lalu dan terbentuklah Segmen Timur. Seperti yang kita

ketahui suatu letusan gunung berapi pasti akan m e n i n g ga l ka n j e j a k a m b l e s a n a k i b a t penurunan tekanan, sehingga terdapat blok batuan yang turun sebagai indikasi sesar. Sementara itu Segmen Barat terbentuk lebih muda sekitar 27.000 tahun lalu. Antara Sesar Lembang dan Gempa Bumi Suatu sesar aktif akan berkaitan dengan timbulnya gempa bumi, baik pergerakan sesar tersebut menghasilkan gempa bumi seperti Kompleks Tektonik Aktif Cimandiri maupun hanya merambatkan gelombang gempa. Namun pada dasarnya suatu blok batuan yang tidak stabil akan setidaknya merambatkan gelombang gempa secara lebih baik daripada blok batuan yang tidak terganggu oleh sesar. Sampai saat ini belum ada data menyebutkan bahwa sesar Lembang pernah menyebabkan gempa bumi, namun serangkaian penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa retakan sepanjang 22 kilometer tersebut aktif dan kedua blok baik selatan maupun utara terus

bergerak. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam Kompas (2005) menjelaskan Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan 0.2 - 2.5 mm/tahun, sementara data yang cukup kontras dipublikasikan oleh Kelompok Keahlian Geodesi dan Geomatika ITB yang menjelaskan sesar Lembang bergerak 0,3 - 1,4 cm/tahun berdasarkan pengukuran dengan metode GPS. Donald (1994) dalam penelitiannya berdasarkan kumpulan data empiris dari berbagai belahan bumi menyimpulkan bahwa suatu retakan(rupture) dengan panjang lebih da ri 20 k ilom eter set ida k nya da p a t mengakibatkan gempa 6,5-7,0 SR. Namun ini hanya disimpulkan berdasarkan statistik data, sekali lagi sampai saat ini belum pernah ada gempa terjadi berkaitan dengan Sesar L e m b a n g . H a nya s a j a s u a t u c a t a t a n mengkhawatirkan tahun 1910 terjadi gempa cukup besar di Padalarang yang merupakan ujung barat Sesar Lembang yang berhubungan dengan Sesar Aktif Cimadiri. Hal ini tentunya patut menjadi perhatian.

“...Mari kita tinjau masyakat Bandung meliputi kesiapsiagaan terhadap bencana khususnya gempa bumi. Sudahkah pemerataan pendidikan mengenai potensi gempa bumi dilakukan di setiap elemen masyarakat?... “ Perbandingan Kasus Gempa Bumi asus-kasus gempa bumi di daratan cukup banyak yang dapat kita amati. Sebut saja Gempa Yogyakarta akibat Sesar Opak hingga kasus Gempa Haiti akibat sesar memanjang melwati Port Au Prince (ibukota Haiti). Bagaimana dengan lingkungan kita? Ancaman gempa Sesar Lembang telah dipublikasikan oleh pakar kegempaan Dany Hilman Natawidjaja dalam sebuah seminar internasional beberapa waktu lalu, serangkaian kelurusan akibat pengaruh retakan gerakan lempeng dapat diidentifikasi di Bandung salahsatunya berupa kelurusan Sesar Lembang ya n g m e n c a p a i p a n j a n g 2 2 k i l o m e te r membentang dari Maribaya hingga Cisarua.

donald, 1994

penelitian empirik - Berdasarkan Donald (1994), Sesar Lembang tergolong patahan yang memiliki panjang retakan mencapai 22 kilometer memungkinkan untuk menghasilkan gempa dengan kekuatan sekitar 6.7 atau 6.9 SR, atau lebih (atas); Bila gempa terjadi, tanah sepanjang 25 – 40 km pada Patahan Lembang akan mengalami perekahan dan terangkat tibatiba sedikitnya 1 meter, atau lebih (bawah) dardji noeradi, 1994

Mekanisme Terbentuknya Sesar Lembang Mekanisme terbentuknya sesar Lembang merupakan suatu teori klasik yang dipublikasikan Van Bemmelen pada tahun 1949. Van Bemmelen menjelaskan Sesar Lembang terbagi menjadi dua yakni Segmen Barat dan Segmen Timur, di antara keduanya terdapat Jalan Raya Bandung-Lembang. Kedua

“Sesar Lembang: Ancaman Gempa dari Bandung Utara” #geo-enviro

K

Observatorium Bosscha - laboratorium pengamatan benda langit bosscha berada di atas jalur Sesar Lembang

halaman #22

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

berkaitan - Peta yang menunjukkan saling berhubungannya Sesar Aktif Cimandiri. Sesar Aktif Baribis, dan Sesar Lembang. Kendati belum ada catatan gempa bumi di Sesar Lembang, keterkaitannya

halaman #23


N

m.ac. dam, 1994

#geo-enviro “Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara

Sesar dan Gempa Bumi

adilfajar

suaraGEA - edisi 2011 #geo-enviro “Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara

CITRA SATELIT - Warna putih adalah bentangan kelurusan Sesar Lembang dilihat dari citra satelit, kelurusan ini sepanjang 22 kilometer membentang dari Maribaya di timur hingga Cisarua, Lembang di barat, warna biru adalah kota Bandung (Dam, 1994)

halaman #24

tsunami tujuh tahun silam? Pertanyaan yang seharusnya kita jawab sendiri. Gempa bumi memang tidak dapat diprediksi namun kita harus mengetahui dan menyadari potensi gempa bumi di sekitar kita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Ditulis oleh Naufal Rospriandana [12008066] Teknik Geologi ITB

suaraGEA - edisi 2011

adilfajar

Mari kita tinjau masyakat Bandung meliputi kesiapsiagaan terhadap bencana khususnya gempa bumi. Sudahkah pemerataan pendidikan mengenai potensi gempa bumi dilakukan di setiap elemen masyarakat? Sudahkah kesiapsiagaan struktural dibangun di tengah masyarakat? Sudahkah kesiapsiagaan non-struktural meliputi simulasi bencana berkesinambungan digalakkan dalam kehidupan sehari-hari? Haruskah kita menunggu alam menyentil kita seperti terjadi di Sesar Opak, Yogyakarta atau bahkan seperti kasus Sesar Pantai Barat Sumatera yang mengakibatkan

Beberapa kenampakan sesar di lapangan. Kedua bukti sesar ini ditemukan di dinding Sungai Cinambo, Majalengka, Jawa Barat dalam Ekskursi Geologi Struktur Program Studi Teknik Geologi ITB

suaraGEA - edisi 2011

halaman #25


HUBUNGAN SESAR DAN GEMPA DAN STUDI SESAR UNTUK MITIGASI BENCANA

Sesar dan Gempa Bumi suaraGEA - edisi 2011 #geo-enviro “Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara

APA ITU SESAR? Batas lempeng dalam skala yang lebih kecil dikenal sebagai sesar yang merupakan suatu batas yang menghubungkan 2 blok tektonik (lempeng bumi) yang berdekatan (Puspito, 2000). Singkatnya sesar adalah suatu retakan atau patahan akibat pergeseran dua blok batuan. Bidang sesar (fault plane) adalah sebuah bidang yang merupakan bidang kontak antara 2 blok tektonik. Pergeseran bidang sesar dapat berkisar dari antara beberapa meter sampai mencapai ratusan kilometer. Sesar

merupakan jalur lemah, dan lebih banyak terjadi pada lapisan yang keras dan rapuh. Bahan yang hancur pada jalur sesar akibat pergeseran, dapat berkisar dari gouge (suatu bahan yang halus/lumat akibat gesekan) sampai breksi sesar, yang mempunyai ketebalan antara beberapa centimeter sampai ratusan meter (lebar zona hancuran sesar). Ada dua unsur sesar yakni hanging wall dan foot wall. Hanging wall adalah bagian sesar yang relatif berada di atas bidang sesar, sementara foot wall berada relatif di bawah bidang sesar.

Sesar Normal

Sesar Naik

GENESA SESAR Berdasarkan genesa atau proses terjadinya, sesar dikategorikan menjadi 3 jenis, yakni: 1. Sesar Normal (Normal Fault) di mana hanging wall bergerak turun relatif terhadap foot wall. Sesar turun ini bergerak searah gravitasi bumi diakibatkan gaya tegak lurus bidang sesar. Pada sesar turun ini dikenal bentukan alam yang disebut fault scarp (gawir sesar) atau tebing memanjang akibat patahnya suatu lapisan batuan. Contoh sesar turun terdapat di Sesar Lembang dengan gawir sesar sepanjang 22 kilometer dari Bukit Tunggul hingga Cisarua, Lembang. 2. Sesar Naik (Reverse Fault) di mana hanging wall bergerak naik relatif terhadap foot wall, gerakan sesar ini berlawanan dengan arah gravitasi bumi sehingga dibutuhkan tenaga endogen (dari dalam bumi) yang sangat besar untuk mematahkan lapisan batuan dan mengangkatnya ke a t a s . S e s a r i n i u m u m nya berasosiasi dengan lipatan lapisan batuan. Menurut Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi dari

halaman #26

Sesar Mendatar (Strike Slip)

diagram titik pusat gempa dan pergerakan sesar

3.

Universitas Gadjah Mada, contoh sesar naik terdapat di Kali Opak atau yang dikenal sebagai Sesar Opak yang memporak-porandakan Yogyakarta dan Bantul di tahun 2006. Sesar Geser (Strike-slip fault) adalah sesar yang memisahkan lapisan batuan berarah mendatar. Terdiri dari dua jenis; sesar mengiri apabila arah pergerakan lapisan relatif ke kiri dari lapisan lainnya, dan sebaliknya sesar menganan. Contoh sesar geser terdapat di Sesar Cimandiri yang memanjang dari Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi hingga Gandasoli, Kabupaten Subang. Sesar ini kerap menimbulkan gempa di Jawa Barat khususnya di Sukabumi.

suaraGEA - edisi 2011

Dimana tempat biasa terjadinya gempa bumi alamiah yang cukup besar, berdasarkan hasil penelitian, para peneliti kebumian menyimpulkan bahwa hampir 95 persen lebih gempa bumi terjadi di daerah batas antar lempeng kerak bumi dan di daerah sesar (Mori, 2004). Suatu bidang lemah berupa patahan atau retakan pasti akan memiliki kecenderungan untuk bergerak terlebih lagi apabila didukung oleh gaya-gaya yang besar seperti tumbukan lempeng bumi dan sebagainya. Gempa bumi sudah barang tentu akan menimbulkan kerugian moril maupun materil pada suatu daerah. Terlebih lagi apabila sesar tersebut melewati pusat kota atau pusat pemerintahan seperti halnya di Port Au Prince, Haiti di mana suatu gempa 7,0 SR benar-benar merusak stabilias negara tersebut beberapa tahun silam. Tak ubahnya dengan Sesar Lembang di Bandung Utara, Sesar Cimandiri, dan juga Sesar Opak.

Secara geologi, Indonesia termasuk kawasan tektonik aktif dan sebagai implikasinya banyak ditemukan sesar-sesar aktif yang memicu gempa bumi. Sebut saja Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault) yang membelah Sumatera dari utara melewati Padang dan berakhir di sekitar Palembang. Ataupun Sesar Palu-Koro di Sulawesi Tengah, Sesar Sorong di Papua, Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang di Jawa Barat, dan Sesar Opak di Bantul-Yogyakarta. Lalu bagaimana studi yang dilakukan para ahli kebumian? Studi mengenai sesar dapat dilakukan dengan metode Global Positioning System (GPS) yang berfungsi mencatat pergeseran blok atau lapisan batuan yang tersesarkan dalam skala waktu yang ditentukan, dari hal tersebut, dapat ditentukan keaktifan pergerakan sesar namun hal tersebut tidak dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi. Namun yang terpenting mengenai gempa bumi dan sesar adalah bagaimana kita bisa memitigasi bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan persiapan struktural seperti perkuatan bangunan, pemberian kode bangunan mulai dari yang rawan roboh hingga yang kuat, serta penentuan jalur evakuasi dan assembly point. Sementara itu mitigasi bersifat non-struktural seperti pelatihan dan simulasi gempa bumi serta penyadaran masyarakat akan resiko daerahnya. Fenomena bumi adalah suatu kepastian, gempa bumi pun tak dapat ditebak kapan datangnya, namun persiapan dapat kita lakukan sedini mungkin. [nfl]

suaraGEA - edisi 2011

halaman #27


#geo-enviro “Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung”

“Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung” #geo-enviro alghifari m. dzar

KARST CITATAH RAJAMANDALA

LANDMARK SEJARAH GEOLOGI BANDUNG THIS IS THE GREAT BARRIER REEF OF BANDUNG BASIN

halaman #28

suaraGEA - edisi 2011

peso komando - bukit peso komando, padalarang adalah salah satu bagian dari karst (perbuikitan batugamping) rajamandala dengan sebuah monumen pisau komando menancap di puncaknya. Batugamping adalah nama geologi dari batukapur, berjuta sejarah geologi cekungan bandung tercatat di karst rajamandala, namun kini karst tersebut ditambang tiada usai.

M

elangkahkan kaki ke barat ataupun menyusuri jalan tol Cipularang, kita akan disuguhi pemandangan batu berwarna putih menjulang dan saling terisolasi satu sama lain. Batuan tersebut disebut batugamping yang tergolong dalam Formasi Ra j a m a n d a l a , s e l a i n i t u j u ga te rd a p a t batulempung Formasi Batuasih, batulempungbatupasir Formasi Citarum dan batupasir Formasi Saguling. Rajamandala menjadi sangat unik dalam hal geologi karena keberadaan struktur-struktur sesar-sesar atau patahan naik yang berasosiasi dengan lipatan (folding) terdapat disana. Batugamping yang mendominasi Rajamandala mencirikan bahwa Rajamandala adalah bekas lautan dangkal di zaman Bandung Purba berumur 30 juta tahun lalu atau pada Kala Oligo-Miosen.Bagi mahasiswa kebumian khususnya geologi di Bandung, Karst Citatah adalah kampus lapangan yang pasti tidak akan pernah terlupakan. Pasir Bende, Pasir Bancana, Gunung Masigit, kesemuanya adalah Karst

suaraGEA - edisi 2011

Citatah, pengalaman pertama sebagai mahasiswa geologi adalah menjejakkan kakinya di Karst yang kini penuh ekskavasi dan penambangan batuan. Apakah keistimewaan Karst Citatah bagi sejarah geologi Bandung? Salah satu tempat yakni Gunung Hawu di Karst Citatah merupakan satusastunya morfologi karst unik dan langka berupa lengkungan alami (natural arch) yang selayaknya dijadikan suatu taman atau monumen nasional, sayangnya jangankan menjadi taman nasional, Gunung Hawu kini hanya terletak beberapa puluh meter saja dari lokasi penambangan kapur. Persebaran batuan di Kasrt Citatah sangatlah lengkap dimulai dari batuan sedimen, batugamping, milonit, hingga terobosan magma (intrusi) andesit. Karst Citatah pada kala jutaan tahun lalu adalah suatu lautan yang dalam, seiring proses tektonik, terjadilah pendangkalan dan pengangkatan, dan lahirlah batugamping terumbu di kedalaman 150 meter yang kelak akan menjadi Karst Citatah. Selain itu, sempatkanlah

halaman #29


#geo-enviro “Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung” untuk melihat jejak terumbu karang dan foraminifera yang tersemenkan di dalam batugamping tersebut.

“Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung” #geo-enviro budi brahmantyo

Warisan Kebudayaan dari Gua Pawon arst Citatah, daerah ini pula menjadi saksi ditemukannya manusia purba Gua Pawon oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung. Gua Pawon (pawon= dapur) terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipaptat, Kabupaten Bandung. Temuan artefak dan alat-alat batu yang terbuat dari jasper, kalsedon, terekam dalam batuan tersebut.

K

“...Karst Citatah adalah suatu dokumen sejarah geologi Bandung yang sepatutnya menjadi suatu landmark sejarah geologi. Namun sayang, saat ini bukit-bukit kapur yang mebentang dari Tagogapu hingga perbatasan Kabupaten Bandung Barat dengan Cianjur, dapat diestimasi 80-90% tidak ada yang utuh...” H a l y a n g p a l i n g menggemparkan tentunya adalah penemua fosil tengkorak manusia pada kedalaman 80 centimeter, dilanjutkan fosil tulang kering dan telapak kaki manusia di kedalaman 120 centimeter. Bukti inilah yang dipakai untuk mengungkap tabir kehidupan prasejarah Dataran Tinggi Bandung. Gua

halaman #30

gua pawon - budi brahmantyo, dosen teknik geologi itb dan pemerhati cekungan bandung saat menemukan fosil manusia pra-sejarah di gua pawon Pawon kini telah didaftarkan pemerintah sebagai salah satu warisan dunia UNESCO pada tahun 2009. Stone Garden pabila di Inggris dikenal taman batu dengan sebutan Stonehenge, maka di Karst Citatah kita juga dapat menemukan Stone Garden, taman batu yang indah di ketinggian yang memungkinkan kita menikmati keindahan panorama Bandung

A

dari atasnya. Dari bentuknya yang cukup unik, Stone Garden ditengarai sebagai menhir atau tempat pemujaan masyarakat pra-sejarah di Dataran Tinggi Bandung ribuan tahun silam. S aya n g nya p e r t a m b a n g a n batugamping di jalan setapak menuju Stone Garden ini sedikit merusak pemandangan, namun puncak Stone Garden menjanjikan panorama yang jauh sangat indah.

suaraGEA - edisi 2011

alghifari m. dzar Selamatkan Karst dikikewoy/landscapeindonesia.com Citatah Jika kita melihat perbukitan kapur atau b a t u ga m p i n g d a r i Jalan Raya Padalarang, terlihat bahwa semakin lama perbukita tersebut kian menipis ditatah bukitnya untuk ditambang dan dijadikan bahan baku industri. Sekeliling morfologinya porakporanda oleh alat-alat berat dan asap hitam mengepul bak genderuwo di langit. Tanyakan hal ini pada stone garden - stone garden di karst citatah, para pecinta alam dan padalarang menjanjikan pemandangan yang penggemar hobi panjat tebing, betapa mengesankan, terlebih bagi para fotografer menyedihkannya Karst Citatah di zaman modern ini. budi brahmantyo Karst Citatah adalah suatu d o ku m e n s e j a ra h geologi Bandung yang sepatutnya menjadi suatu landmark sejarah geologi. Namun sayang, saat ini bukitbukit kapur yang mebentang dari Ta g o g a p u h i n g g a p e r b a t a s a n Kabupaten Bandung Barat dengan Cianjur, dapat diestimasi 8090% tidak ada yang utuh, hanyalah Pasir sketsa - sketsa karst citatah oleh budi brahmantyo Pawon yang perawan dari ekskavasi. manusia prasejarah di dunia. Mari selamatkan Seyogyanya Pasir Pawon khususnya, dan Karst Citatah sebagai tanda peduli kita bagi umumnya Karst Citatah menjadi aset bertaraf lingkungan dan sejarah. internasional yang dimiliki Kabupaten Bandung Barat karena disana menjadi situs keberadaan Ditulis oleh manusi pra-sejarah berumur 9.500 tahun yang ditemukan di Gua Pawon, penemuan oleh faizal al-marawi [12008055] Kelompok Riset Cekungan Bandung ini adalah m. febryan nugroho [12008014] kontribusi nyata bagi peyususnan evolusi

suaraGEA - edisi 2011

halaman #31


#geo-enviro “Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung”

“Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung” #geo-enviro

Deklarasi

Citatah

1.

m. febryan nugroho

Kelompok Riset Cekungan Bandung

Kawasan Kars Citatah Yang Terletak Di Kawasan Bandung Raya Merupakan Anugerah Tuhan Yang Patut Disyukuri Karena Di Dalamnya Terbukti Menyimpan Nilai-nilai Keilmuan, Kebudayaan Dan Lingkungan Yang Sangat Tinggi Sehingga Perlu Diusulkan Menjadi Kawasan Strategis Nasional.

2. Sesuai Dengan Peraturan Perundangan Yang Berlaku, Kawasan Kars Citatah Khususnya Guha Pawon, Pasir Pawon, Pasir Masigit, Pasir Bancana, Pasir Karang Panganten, Pasir Pabeasan, Gunung Hawu Di Wilayah Kabupaten Bandung Barat, Dan Gunung Guha Di Wilayah Kabupaten Cianjur, Merupakan Kawasan Lindung Nasional Yang Harus Dilestarikan 3. Seiring Dengan Penghentian Kegiatan Penambangan, Situs Guha Pawon Dan Pasir Pawon Harus Segera Ditata Dan Dikembangkan Sebagai Tujuan Wisata Agar Keberadaan Dan Manfaatnya Dapat Segera Dirasakan Oleh Masyarakat Citatah Khususnya Dan Bangsa Indonesia Umumnya.

4. Proses Pengalihan Mata Pencaharian Masyarakat Penambang Setempat Setelah Diberlakukannya Penghentian Penambangan Harus Dicarikan Jalan Keluar Oleh Semua Komponen Masyarakat Dan Instansi Terkait, Baik Ditingkat Pusat, Provinsi MaupunKabupaten. 5. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa Memberikan Jalan Kemudahan Bagi Kita Semua Dalam Upaya Melestarikan Dan Memanfaatkan Sumber Daya Alam Kawasan Kars Citatah Untuk Kesejahteraan Masyarakat, Baik Di Masa Kini Ataupun Di Masa Mendatang. Bandung, 10 Juni 2010

halaman #32

suaraGEA - edisi 2011

Saves Karst Citatah suaraGEA - edisi 2011

halaman #33


#geo-enviro “Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung”

“Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung” #geo-enviro wide view - wajah PERBUKITAN KARST CITATAH TAMPAK DARI UDARA

(R.P. KOESOEMADINATA)

Pr. Bancana Gunung Masigit Pr. Pawon mengepul - Polusi Asap Pembakaran Pertambangan Batu Gamping, Padalarang (Budi Brahmantyo)

Pr. Pabeasan

backhoe - Backhoe menjajah sejarah Cekungan Bandung di Karst Citatah (green.kompasiana.com)

Karst Citatah “Menangis Tegar di Tengah Keangkuhan Manusia”

dirgahayu - Pengibaran Sang Saka Merah Putih di Tebing 125 Gunung Pabeasan di Upacara Kemerdekaan 17 Agustus 2009 (pemuda untuk Karst Citatah)

halaman #34

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

halaman #35


#geo-enviro “Bencana Laten Banjir Bandung Selatan”

“Bencana Laten Banjir Bandung Selatan” #geo-enviro

Bencana Laten Banjir Bandung Selatan

“...Memahami mengapa banjir merupakan bencana tahunan di wilayah Bandung Selatan merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum kita hendak merancang rencana mitigasi banjir itu sendiri...”

“...untuk memahami sungai dan banjir itu, sebaiknya kita perlu menganggap sungai dan air itu seperti makhluk hidup...” Prof. Sampurno ( Guru Besar Teknik Geologi ITB )

P

eristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Ada dua faktor utama yang bisa menyebabkan terjadinya banjir, yaitu faktor alamiah (air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi) dan faktor manusia dalam intervensinya terhadap lingkungan. Banjir merupakan fenomena alam yang lazim dijumpai di wilayah Indonesia pada saat musim penghujan dan pada artikel ini penulis akan membahas mengenai banjir di wilayah Bandung Selatan. Wilayah Bandung Selatan adalah wilayah yang rawan terhadap bencana banjir, yaitu terjadi banjir hampir setiap tahun pada saat musim hujan. Kejadian banjir diperkirakan berkaitan dengan aspek pengelolaan dan pemanfaatan lahan (termasuk perubahan penggunaan lahan) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum bagian hulu. Beberapa sungai besar yang biasa menimbulkan banjir di antaranya adalah S.

halaman #36

Citarum, S. Cikapundung, dan S. Cisangkuy, sedangkan sungai yang lebih kecil adalah S. Cidurian, dan S. Citarik, dan sungai kecil lainnya seperti Kali Citepus, Kali Puja dan Kali Ragas. Wilayah yang terlanda banjir hampir sama pada setiap tahunnya, yaitu di daerah pertemuan antara S. Cisangkuy dan S. Citarik dengan S. Citarum (Kecamatan Baleendah), di daerah pertemuan antara S. Cikapundung dan Kali Citepus dengan S. Citarum (Kecamatan Dayeuhkolot), sedangkan Kali Puja, Kali Ragas dan kali iainnya yang bermuara ke S. Citarum

suaraGEA - edisi 2011

merupakan wilayah banjir di Kecamatan Cikancung dan Majalaya. Memahami mengapa banjir merupakan bencana tahunan di wilayah Bandung Selatan merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum kita hendak merancang rencana mitigasi banjir itu sendiri. Secara Geologi, ada dua segi utama yang perlu diperhatikan, yaitu morfologi dari cekungan Bandung dan material apa saja yang membentuk cekungan tersebut, selain dari aspek geologi kita juga perlu memahami iklim di

suaraGEA - edisi 2011

daerah Bandung serta aktivitas manusia di kawasan tersebut . Morfologi daerah Bandung merupakan cekungan yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi, keadaan bentang alam itu secara tidak langsung akan mempengaruhi faktor meteorologi. Gunung-gunung yang tinggi di kawasan itu akan mampu mengundang awan dan mengkondensasikan udara yang ada di daerah Cekungan Bandung. Akibatnya, curah hujan di daerah puncak akan lebih tinggi dibandingkan di dasar cekungan dan berimplikasi hujan yang turun di puncak gunung akan turun ke Citarum sebagai daerah cekungan terendah. Penggundulan lahan di hulu Citarum membuat air tidak bisa diserap sehingga air terus mengalir mengerosi hulu sungai dan membawa material ke hilir. Aliran sungai dari lereng kemudian akan masuk ke daratan dan berkurang kecepatannya dan menimbulkan daerah genangan. Lambatnya aliran sungai masih pula dipengaruhi faktor batuan keras yang dikenal dengan batuan terobosan (intrusi) dasit di daerah Curug Jompong, Cimahi Selatan. Selain itu, masih pula dipengaruhi keadaan anak sungai yang masuk ke Citarum membentuk sudut-sudut yang

halaman #37


#geo-enviro “Bencana Laten Banjir Bandung Selatan”

“Bencana Laten Banjir Bandung Selatan” #geo-enviro supardiyono sobirin

hampir tegak lurus, dapat dianalogikan seperti jalan yang banyak pertigaan sehingga menghambat laju aliran utama dari sungai. Material di sekitar cekungan adalah material vulkanik, yang relatif tanahnya gembur dan mudah tererosi. Produk erosi akan mengendap pada daerah-daerah hilir dan juga mengendap di muara-muara sungai di Citarum sehingga sungai Citarum menjadi dangkal karena terisi sedimensedimen sehingga menyebabkan volume sungai Citarum menjadi semakin kecil yang tidak sebanding dengan volume air yang semakin besar yang disebabkan aktivitas manusia yang mengurangi daerah resapan alami air sehingga air hujan langsung menuju ke sungai. Mitigasi bencana banjir di Wilayah Bandung Selatan dapat menggunakan beberapa metode ,yaitu : 1.

Pemetaan batas banjir, sehingga daerah rawan banjir dapat diketahui.

2.

Mengendalikan faktor sedimentasi, dengan cara melakukan penghutanan kembali daerah Bandung Utara, untuk mengurangi limpasan air permukaan yang mengandung/mengangkut lumpur dan masuk ke badan sungai, dibuat bangunan pengumpul material lumpur/waduk dan cek dam serta pembuatan tanggul di sekitar genangan banjir untuk membatasi melebarnya daerah genangan akibat meluapnya sungai.

t. bachtiar

gunung wayang dan curug jompong - Gundulnya lahan di perbukitan mendekati hulu Citarum di Gunung Wayang, inilah yang menyebabkan air tidak meresap dan banjir di Bandung Selatan (atas); derasnya aliran citarum di daerah curug jompong yang merupakan pematang tengah cekungan bandung (bawah)

halaman #38

suaraGEA - edisi 2011

3.

Perlu adanya pembuatan sumur resapan di kawasan pemukiman

4.

Pe m b u a t a n k a n a l ( t e ro wo n g a n ) sepanjang 4-5 km yang akan menghubungkan Sungai Citarum di

wilayah Dayeuhkolot dan Curug Jompong 5.

Mengembalikan fungsi situ-situ yang sebelumnya tersebar di wilayah Dayeuhkolot dan Baleendah sebagai daerah parkir air. Keberadaan Situ Hyang dan Situ Sipatahunan menjadi bukti, daerah tersebut memang menjadi daerah parkir air.

Sebagai penutup, seperti yang diutarakan oleh Prof.Sampurno (Guru Besar Teknik Geologi ITB ) bahwa untuk memahami banjir sebaiknya kita perlu menganggap sungai itu seperti makhluk hidup, seolah-olah kalau kita berdialog dengan sungai, dia akan mengatakan:

“ Saya ini sungai, saya akan lewat daerah ini. Jumlah aliran air saya sekian, dan barisan air sekian, untuk itu jangan dihalangi.Kalau jalan ini tidak cukup, saya membutuhkan tempat istirahat, apakah itu berupa waduk atau daerah genangan, jadi sediakan untuk itu.” Kalau hujan kecil maka sungai kecil dan kalau hujan besar air sungai pun besar dan memerlukan tempat istirahat yang besar. Ini merupakan falsafah dari air, dan manusia harus memahami filosofi itu.

Ditulis oleh MOCHAMAD RIZKY RAMADHAN [12008049] Teknik Geologi ITB

“...Kalau hujan kecil maka sungai kecil dan kalau hujan besar air sungai pun besar dan memerlukan tempat istirahat yang besar. Ini merupakan falsafah dari air, dan manusia harus memahami filosofi itu...”

suaraGEA - edisi 2011

halaman #39


#geo-enviro “Bencana Laten Banjir Bandung Selatan�

#geo-inspiro supardiyono sobirin

Berbahaya, Ide Memangkas Curug Jompong

curug jompong yang digadang-gadang sebagai penghambat aliran citarum diisukan harus dipangkas, namun ternyata hal ini malah akan melahirkan masalah baru

C

urug Jompong, tempat bobolnya Danau Bandung Purba, atau disebut Pematang Tengah Danau Bandung Purba berupa batuan terobosan (intrusi) dasit-andesit berumur 4 juta tahun lalu menjadi penghambat aliran Citarum di Hulu karena batuannya keras sehingga material sedimen akan terhambat di daerah tersebut dan digadang-gadang sebagai penyebab banjir Bandung Selatan.Ide memangkas Curug Jompong yang dikemukakan pemerintah menimbulkan pro-kontra di berbagai pihak, namun bagaimanakah pandangan geologi mengenai pemangkasan Curug Jompong? Fatal akibatnya jika Curug Jompong dipangkas atau diratakan. Dari segi sejarah geologi, Curug Jompong seharusnya menjadi situs bersejarah. Di sanalah tempat bobolnya pembatas Danau Bandung Barat dan Danau Bandung Timur. Sedangkan berdasarkan aspek aplikasi, hal tersebut akan membuat permasalahan baru, jika Curug Jompong dipapas, maka aliran Citarum akan semakin cepat, aliran akan menggerus dasar sungai secara intensif (erosi vertikal). Erosi ini akan sangat fatal apabila menggerus dasar dan dinding sungai yang dijadikan sebagai pondasi jembatan, sangat mungkin menyebabkan jembatan roboh. Tidak hanya itu, pemangkasan Curug Jompong memang akan membuat muka air sungai turun sehingga tidak meluap ke bantaran sungai yang menyebabkan banjir, namun tidak sampai disitu, erosi atau pengikisan dasar sungai yang kian intensif karena tidak adanya Curug Jompong akan mengakibatkan semakin banyaknya endapan yang justru sama saja mengakibatkan banjir. Lantas bagaimanakah solusi terbaik? Penghijauan lingkungan di DAS Citarum Hulu yang kini gersang adalah solusinya, sehingga air akan terserap oleh pohon-pohon, hal tersebutlah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah.

[REDAKSI]

halaman #40

suaraGEA - edisi 2011

Mencari Solusi Bagi Negeri yang Rentan Bencana suaraGEA - edisi 2011

halaman #41


#geo-inspiro “Siap dengan Segala Kemungkinan Bencana�

“Siap dengan Segala Kemungkinan Bencana� #geo-inspiro 1.

B

Siap dengan Segala Kemungkinan Bencana ila manusia tidak menghuni tempat terjadinya

juga Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya harus

gejala kebumian, maka semua gejala kebumian

lebih siap dan terkoordinasi dalam penanganan bencana

itu bukanlah bencana, namun keniscayaan

kebumian yang akan terjadi di daerahnya serta upaya

alam. Itulah dinamika bumi, seperti adanya gempabumi,

penanggulangannya, sehingga tidak terkesan, setiap

tsunami, atau letusan gunungapi. Namun, karena

b e n c a n a t e r j a d i , Pe m e r i n t a h D a e ra h t e r g a g a p

manusia berdiam di kawasan yang rawan bencana, maka

menghadapinya.

gejala kebumian itu berdampak pada manusia

Pemerintah Daerah beserta elemen masyarakat

penghuninya. Di sinilah letak permasalahannya,

harusnya benar-benar memahami informasi bahaya yang

bagaimana mengurangi sekecil-kecilnya risiko yang

mungkin terjadi di daerahnya, serta mengetahui tata cara

ditimbulkan karena adanya gejala

penanganannya. Pemerintah Daerah, baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten, harus menyusun rencana

kebumian. Karena faktor manusia

kesiap-siagaan, sehingga segala upaya mitigasi itu lebih

y a n g

terencana dan mempunyai prosedur dan skenario yang jelas

m e n j a d i

pertimbangan utama,

dalam penanganannya. Pemerintah Daerah seharusnya

maka bukan hanya

mempunyai dokumen rencana kesiagaan menghadapi

m s ya ra k a t ya n g

bencana itu, yang dapat dijadikan pedoman dalam

h a r u s b e r s i a ga

menentukan kebijakan penanganan bencana kebumian,

menghadapi

sehingga mitigasi dan penanganan bencana kebumian dapat

s e g a l a

dilaksanakan lebih optimal.Untuk kesiagaan menghadapi

kemungkinan

bencana kebumian, sebaiknya pertanyaan-pertanyaan dasar

bencana, namun

ini dijawab oleh Pemerintah Daerah dengan baik.

Sudahkah sosialisasi mitigasi bencana dilakukan secara terus-menerus ke sumua kalangan? 2. Siapa yang akan memegang kendali yang berwibawa sehingga dituruti oleh semua yang terlibat dalam penanganan bencana? 3. Apakah semua informasi tentang penduduk yang terlewati zona patahan atau di kawasan rawan bencana gunungapi sudah didata dengan baik dan akurat? Ada berapa lembur/kampung dan desa yang dilewati zona itu, ada berapa rumah d e n g a n ko n d i s i b a n g u n a n nya , m a s j i d , puskesmas, gedung sekolah, jembatan, dan ada berapa ribu siswa, berapa ratus guru, ustadz, anak-anak, lanjut usia? 4. Tidak bermaksud untuk membuat kepanikan bagi warga yang terlewati zona gempa, sudahkah ada sosialisasi bencana bagi seluruh warga tentang bagaimana cara menyelematkan diri bila bencana itu terjadi? Sudahkah ditetapkan lokasilokasi yang aman di sekitar kampung itu yang dapat menjadi tujuan semua warga untuk mengungsi, sekaligus menjadi pusat informasi? 5. Di setiap kabupaten itu ada berapa dokter yang siap diturunkan di daerah bencana? Ada berapa ruangan yang terdapat di rumah sakit? Siapkah membangun rumahsakit lapangan di lokasi bencana, adakah fasilitasnya? Ada berapa ambulans yang laik jalan? Ada berapa persediaan kantung mayat? 6. Siapkah tenda-tenda lapangan yang dapat segera dipasang di lokasi bencana dengan jumlah yang memenuhi sesuai jumlah pengungsi? Bagaimana pengaturan MCK-nya? 7. Adakah bahan pangan yang tersedia dengan cukup dan segera dapat dikirim ke lokasi bencana sebelum mereka kelaparan? 8. Bagaimana cara termudah dan cepat dalam penyediaan air bersih dengan jumlah yang mencukupi untuk seluruh pengungsi? Bagaimana cara pendistribusiannya dengang baik? 9. Bila aliran listrik PLN jaringannya putus, sehingga kawasan itu gelap gulita, adakah pengganti penerangan yang segera dapat dijalankan untuk kepentingan yang bersifat sangat vital, seperti rumahsakit lapangan? 10. Ada berapa mobil pemadam kebakaran yang laik dengan sumber-sumber air yang tersedia? Berapa jarak antara pusat pemadam kebakaran dengan lokasi bencana? 11. Bila ada jembatan yang roboh, dapatkah hari itu juga segera dipasang jembatan darurat, sehingga jalur itu segera pulih dan pendistribusiaan kebutuhan pengungsi segera dapat dibagikan? 12. Ada berapa alat-alat berat yang dapat dimobilisasi untuk penanganan akibat bencana

Pertanyaan-pertanyaan dasar itu adalah:

halaman #42

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

alam? 13. Adakah daftar tenaga sukarela yang mempunyai keahlian dalam berbagai bidang yang dapat mengembang dengan cepat saat bencana terjadi? 14. Bagaimana cara membukukan bantuan dengan cepat dan terpercaya? 15. Bagaimana cara mendistribusikan bantuan dengan cepat dan tepat sasaran? 16. Bagaimana dan di mana korban bencana ditampung dengan aman? 17. Siapkah menjaga harta-benda masyarakat yang ditinggalkan untuk mengungsi dari para penjarah? 18. Bagaimana cara mengaudit bangunan dan kerusakan lainnya dengan cepat dan akurat? 19. Ada berapa orang psikolog yang siap diurunkan di lokasi bencana untuk turut serta memulihkan trauma anak-anak dari bencana? 20. Sudahkah membuat rencana tindakan, bagaimana cara medapatkan pakan ternak untuk domba, kambing, sapi, kerbau ketika semua rumput hancur karena letusan gunungapi? Bila ternak itu harus diungsikan, sudahkah ada tempat untuk pengungsian ternak? 21. Sudahkah membuat matrik tentang siapa mengerjakan apa, lalu diikuti dengan melengkapi segala perlengkapan yang diperlukan? 22. Tersediakah anggaran yang dapat segera cair untuk membantu keadaan darurat warga yang terguncang bencana? Bila semua pertanyaan itu dapat dijawab dan dipenuhi, lalu disimulasikan pelaksanaannya, Pemda tidak akan tergagap lagi ketika gempabumi terjadi, atau ketika gunungapi meletus. Bagaimana agar sukarelawan di lokasi bencana itu menjadi orang yang benar-benar mempunyai keahlian dan siap secara mental melihat keadaan kerusakkan yang dahsyat? Tentu hal ini memerlukan pelatihan sesuai dengan minat yang akan diambilnya saat bencana itu terjadi. Kesiapan TNI dengan berbagai keahliannya dan tangguh di lokasi bencana perlu dijadikan cermin, karena mereka sudah melalui lapihan yang terus-menerus. Melalui PMI, sukarelawan kesehatan dilatih secara regular, juga seharusnya bagi sukarelawan lainnya. Pelatihan-pelatihan untuk berbagai keahlian itu perlu diadakan secara reguler, sehingga bila terjadi bencana dapat mengembang dengan cepat dan dapat segera dimobilisasi. Koordinasi antara lembaga yang terlibat harus terus di bina dengan kesungguhan dan terus mengadakan simulasi-simulasi, sehingga pada saat terjadi musibah tidak kaget terlalu lama. [T. Bachtiar, alumnus geografi upi, anggota kelompok riset cekungan bandung, penulis bersama budi brahmantyo menulis buku best seller wisata bumi cekungan bandung]

halaman #43


#geo-inspiro “Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog”

“Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog” #geo-inspiro

Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog Fenomena alam ini terjadi sejak dahulu namun juga tidak berati manusia tidak mampu berperan. Mengenal fenomena alam lebih penting ketimbang meratapi kerugian dan kehilangan akibat bencana

menunjukkan bahwa sebelum ada manusia kejadian-kejadia banjir, tanah longsor, tsunami dan juga puting beliaung ini sudah ada lebih dahulu.. Tulisan pendek ini hanya akan mencerterakan bahwa kejadian ala mini tidak perlu ditakuti, juga tidak perlu dituduh. Namun fenomena alam ini perlu d i m e n g e r t i s e r t a d i te r i m a sebagai sebagai sunatullah yang harus dipelajari.

Bencana di Indonesia Banjiiiir … Gempaaaa !!! Bencana alam, sesungguhnya hanyalah sebuah fenomena alam yang wajar, biasa, dan normal. Kita menyebutnya sebagai bencana karena mendatangkan kerugian bagi manusia. Padahal alam sendiri tidak bermaksud membuatnya menjadi bencana bagi kita.

A

da mitos beredar di masyarakat kita, bahwa makin lama bencana alam makin sering terjadi akibat dosa manusia sudah tak terperikan lagi. Sebagian menganggap bencana alam adalah teguran dari yang Di Atas, cobaan, karena sudah terlalu banyak perbuatan tercela manusia. Mungkin ada benarnya. Tapi bukankah semua fenomena alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga gunung meletus, sudah terjadi jauh sebelum manusia ada di muka bumi? Ilmu geologi serta ilmu kebumian lain yang mempelajari fenomena ala mini mengenal kejadian ini sejak bumi terbentuk. Gunung api sudah terjadi jutaan tahun yang l a l u , b a h ka n i l m u g e o l o g i

halaman #44

Bencana apa yang paling sering terjadi di Indonesia? Jenis bencana apa yang paling banyak mematikan? Jawabnya lihat statistik !

“...Benar kita dapat melihat statistik kebencanaan yang terjadi di Indonesia untuk dapat mengantisipasi bencana...”

d m

“Lah Pakdhe ini. Mosok bencana kok ditunggutunggu, siy?” “Thole, pengetahuan statistik kebencanaan ini perlu diketahui supaya kita dapat mengurangi kerugian, mengurangi korban, dan meningkatkan kewaspadaan”

Bulan Desember-Januari adalah Bulan Bencana Selalu saja kita mendengar kejadian bencana yang meningkat pada akhir dan penghujung tahun. Dan seringkali pulakita menjadi pesimis

menghadapi tahun-tahun berikutnya. Namun dengan melihat kenyataan serta mengetahui apa sebenernya yang terjadi dengan alam Indonesia ini kita mestinya tidak perlu pesimis menghadapi tahun-tahun mendatang.

Yang perlu diketahui, bencana semakin sering terjadi dari tahun ke tahun Bencana dari tahun ketahun meningkat tajam. Ada beberapa hal yang menyebabkan data statustik ini meningkat. Mungkin saja karena pencatatannya semakin bagus, tetapi juga faktanya jumlah kejadiannya semakin meningkat.Sebelum kamu panik. Kita lihat saja jenis bencana apa yang paling banyak terjadi. Dan apakah itu mengancam dirimu ? I n te r n a t i o n a l S t ra te g y fo r Disaster Reduction, sebuah badan dunia dibawah PBB membagi jenis bencana menjadi 3 kelompok yaitu: Ÿ Hidro-meteorologis : termasuk banjir dan gelombang laut, badai, kekeringan dan bencana yang terkait (suhu ekstrim dan kebakaran semak-semak dan hutan), juga tanah longsor & longsoran yang dipicu curah hujan tinggi; Ÿ Geofisika (Geologi) : termasuk didalamnya kejadian gempa bumi & tsunami dan letusan gunung berapi; Ÿ Bencana biologi: meliputi epidemi penyakit dan serangan serangga. Ÿ Bencana biologi: meliputi epidemi penyakit dan serangan serangga.

suaraGEA - edisi 2011

Bencana Hidrometeorologis Bencana banjir serta longsoran akan Paling Dominan sangat mungkin terjadi, terutama di Menurut ISDR, jenis bencana yang paling sering terjadi dan meningkat adalah bencana Hidro-Meteorologis. Bencana jenis ini di Indonesia terutama banjir dan bencana ikutannya yaitu longsoran. Kalau memang begitu, dimana bencana ini terjadi di Indonesia?. Di Indonesia bencana yang paling banyak menelan korban adalah bencana geofisika/geologi. Tentusaja gempa bumi dan tsunami. Namun data statistik diatas sangat terdistorsi oleh gempa tsunami Aceh tahun 2004 lalu. Namun kalau dilihat dari jenis bencananya, ternyata banjir memang paling sering terjadi. Kemudian diikuti kejadian bencana kekeringan, tanah longsor dan kebakaran. Keempat bencana ini merupakan bencanabencana hidro-meteorologis. Tentusaja bencana ini tidak terjadi merata diseluruh tempat. Bencana alam akan sangat tergantung dari kondisi geologi dan posisi hidrometeorologisnya. Dan dibawah ini grafik yang menunjukkan bahwa Jawa Barat dan Jawa Tengah merupakan daerah di Indonesia yang paling rawan terjadinya bencana hidro-meteorologis ini. Di Indonesia bencana yang paling banyak menelan korban meninggal adalah bencana gempa bumi. Namun jenis bencana yang paling sering terjadi adalah banjir. Kalau memang bencana banjir ini paling sering terjadi, kapan terjadinya ? G ra f i k s t a t i s t i k d i b awa h i n i menunjukkan bahwa bulan Desember dan bulan Januari merupakan bulan-bulan bencana. Tentu saja! Bulan Desember dan Januari adalah musim hujan.

suaraGEA - edisi 2011

Jawa tengah untuk banjir dan Jawa barat akan mungkin mengalami bencana longsoran.

Bukan untuk menghadapi masa depan dengan pesimis Jadi dengan mengetahui bahwa terjadinya benca di Indonesia itu sangat tergantung dari musim monsoon, maka kita semestinya tidak menggunakan kejadian bencana di akhir dan awal tahun untuk memprediksi bahwa tahun baru akan menjadikan kita pesimis. Kalau dilihat dari kejadiannya, posisi geofisika-geologi-hidrometeorlogis Indonesia memang terlatak di daerah yang sering terjadi pada saatsaat tertentu. Jadi kalau ada yang percaya bahwa karena negara Indonesia dipimpin oleh Pak Anu terus menjadikan banyak bencana mungkin anda keliru, atau barangkali anda sudah termakan isu politisi yang tanpa mikir sekedar menggunakan korelsi temporal, persis kalau ada gempa terus menyebabkan Lusi itu. Korelasi kesesuaian waktu itu tidak selalu mempunyai arti dalam korelasi sebab-akibat.

d m

“Wadduh Pak Dhe, tulisane nyeneng-nyenengin pemerintah aja ?” “Hust ini data dan fakta saja yang harus lebih jujur disampaikan bukan sekedar dipercaya. Tapi kalau Pak SBY tertawa dengan tulisan ini akupun malah kecewa, dan aku akan protes duluan ke beliau. Karena data ini justru menunjukkan kalau kita harus lebih waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana alam di Indonesia, terutama gempa bumi dan bencana ikutannya”

Kenalilah alam dengan segala fenomenanya Bagi manusia beragama tentusaja hikmah selalu akan ada dalam setiap fenomena alam. Selalu ada makna pribadi pada sebuah kejadian. Namun hal ini bersifat personal dan tidak perlu kita menilai orang lain yang mengalami kejadian. Amatlah kurang tepat apabila kita menganggap bahwa yang tertimpa bencana adalah mereka yang berdosa. Korban bencana tidak pandang bulu. Anak-anak, bayi dan orang tua merupakan masyarakat yang sangat rentan sebagai korban bencana. Akankah kita mengatakan bayi berdosa sehingga tertimpa bencana. Biarlah manusia merasakan sendiri segala kejadian yang menimpanya. Namun sebagai manusia yang berakal, kita diberi hak serta kewajiban untuk mengamati, mengerti dan menyiasati supaya hidup lestari dengan alam yang dinamik.

Kewajiban membagi ilmu pada masyarakat awam Ahli geologi semestinya memiliki pengetahuan yang lebih dari orang l a i n . I l m u ya n g d i p e l a j a r i nya merupakan ilmu yang mempelajari perubahan alam, perkembangan alam serta perilaku alam. Ahli geologi melihat bencana alam sebagai sebuah fenomena alam, namun tidak demikian bagi masyarakat awam. Masyarakat awam kebumian seringkali akan melihat bahwa bencana sebagai peringatan, cobaan, atau hukuman. Terlepas dari hikmahnya pada manusia, peristiwa alam mini s e m e s t i nya d i ke n a l ka n p a d a

halaman #45


#geo-inspiro “Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog” masyarakat sebagai pengetahuan untuk tetap bertahan hidup, survival.

Mengenalkan kebencanaan lewat media internet, bloG Mengenalkan fenomena alam ke masyarakat awam dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan atau seminar baik langsung terjun ke masyarakat atupun melalui media. Mengenalkan bencana ke msyarakat melalui media internet merupakan salah satu media yang cukup murah dan menjangkau masyarakat luas. Grafik menunjukkan bahwa saatsaat terjadinya bencana merupakan saat yang kritis dalam memberikan pengetahuan ilmu kebencanaan. Dalam ilmu pengajaran, saat terjadinya bencana saat yang tepat untuk melakukan “gaining attention”. Msayarakat akan mudah mengingat dan mudah mengerti karena ada antusiasme serta motivasi yg muncul dari dirinya sendiri.

Mengapa Blog ? Ÿ Ada beberapa alasan mengapa

Blog menjadi tujuan dalam mencari informasi. Beberapa diantaranya adalah: Ÿ Ada komunikasi untuk

menambaha tambahan informasi. Dalam blog ada media commentary yang dapat dipakai sebagai media komunikasi Tanya jawab. Disitu masyarakat akan dengan senang hati mendapatkan informasi tambahan yang ingin diketahuinya. Beberapa pembaca tahu bahwa informasi yang ditayangkan dalam blog bersumber dari sumber resmi, namun kalau mengunjungi sumber resminya tidak dapat melakukan tanya-jawab. Ÿ Fun (menghibur) Tulisan di Blog menggunakan

halaman #46

kata-kata sederhana, tidak seperti layaknya tulisan dalam media atu artikel ilmiah. Kalimat dalam blog lebih sederhana. Juga Media blog dapat diberi ilustrasi muli media yang mudah dimengerti. Dibandingkan media cetak maka multi-media dalam blog termasuk gambar, animasi maupun video akan dapat dipakai sebagai sarana pengajaran. Ÿ Mudah diulang kapanpun

Tidak seperti layaknya tayangan media televise, animasi dalam blog dapat diulang-ulang sesuai keinginan pembaca. Juga tidak ada jam siaran yg harus mengambil waktu sibuknya. Ÿ Adanya fasilitas pencari (search engine) Dengan termuatnya media blog ini dalam dunia maya (internet) maka akan dengan mudah diakses dan diketemukan oleh “internet searcher” (pencari informasi). Siapa saja akan dengan mudah menemukan “bencana” dengan Google atau Yahoo. Ÿ Dapat dilakukan oleh siapa saja Blog bukanlah media resmi, namun justru dengan informa litasnya menjadik an blog ini lebih terbuka bagi siapa saja yang ingin berbagi informasi.

“Pak Dhe Rovicky: Mengenalkan Bencana Lewat Blog” #geo-inspiro

dengan ilmu yang muluk-muluk. Bahkan setingkat mahasiswa pun dapat berkontribusi dalam mengajarkan ilmu kebencanaan pada masyarakat awam.

Fakta Bencana dalam Grafik

Referensi: THIRTY YEARS OF NATURAL DISASTERS 1974-2003: THE NUMBERS (2004). Centre for Research on the Epidemiology of Disasters by D. Guha-Sapir, D. Hargitt, P. Hoyois. © Presses universitaires de Louvain, 2004, ISBN : 2-930344-71-7 [Rovicky Dwi Putrohari, seorang ahli kebumian yang bekerja di dunia eksplorasi minyak dan gas bumi. Sarjana Geologi dari Universitas Gadjah Mada dan Master Geofisika dari Universitas Indonesia.

d

intensitas kejadian bencana meningkat sejak tahun 2003. jumlah korban meninggal dan mencapai puncaknya pada 2004 saat tsunami aceh.

gempa adalah bencana yang paling banyak merenggut korban jiwa

n

persentase intensitas kejadian bencana di dunia sejak 1991-2005 diduduki oleh banjir pada peringkat pertama dan diikuti oleh badai

bencana paling sering terjadi di jawa barat dan jawa tengah

Dikenal sebagai Pakdhe Pendongeng Geologi karena telah mengelola blog Dongeng Geologi di http://rovicky.wordpress.com atau di http://www.rovicky.com lebih dari sepuluh tahun. Bisa dihubungi lewat email: rovicky@gmail.com]

n

Dengan demikian mengajarkan kebencanaan pada masyarakat tidak harus

suaraGEA - edisi 2011

bulan-bulan paling rawan bencana adalah desember sampai dengan januari

suaraGEA - edisi 2011

m

ini adalah statistik pengunjung blog dongeng geologi yang diasuh oleh pak dhe rovicky

halaman #47


#geo-society “Memitigasi Masyarakat, Memasyarakatkan Mitigasi”

M

“Memitigasi Masyarakat, Memasyarakatkan Mitigasi” #geo-society

engingat banyak sekali kejadian bencana alam, khususnya di Indonesia dan banyaknya korban berjatuhan. Perlu diketahui juga sebelumnya, bahwa korban dapat terjadi bukan karena bencana yang besar, namun juga karena ketidaksiapan m a s y a r a k a t . Geosociety merupakan b e n t u k nya t a d a r i HMTG GEA ITB sebagai sebuah salahsatu agen pendidikan mitigasi, khususnya di Bandung dan sekitarnya. Kegiatan ini didasari dari kesadaran kami atas ketidaksiapan masyarakat atas bencana, sehingga banyak korban berjatuhan baik pada saat bencana maupun setelah bencana, dengan bekal kesadaran ini kami bergegas merancang sebuah aktivitas yang b e r t u j u a n mensosialisasikan mitigasi bencana alam, antara lain bencana gunungapi, longsor, banjir, dan gempa bumi pada masyarakat Bandung dengan melakukan kampanye mitigasi bencana alam di Car Free day pada

GEOTREK

tanggal 24 April 2011. Kegiatan dilanjutkan dengan pendidikan secara khusus kepada masyarakat kecamatan C i a t e r, k a b u p a t e n Subang tentang mitigasi bencana g u n u n g a p i Ta n g k u b a n p a r a h u . Perlu diketahui pula jika terjadi erupsi g u n u n g a p i Ta n g k u b a n p a r a h u , materi vulkanik hasil erupsi akan mengalir ke utara, yaitu melalui D e s a C i a t e r, D e s a Panaruban dan sekitarnya, oleh karena itu kegiatan ini secara khusus dipersiapkan untuk masyarakat Kecamatan Ciater dan sekitarnya. Kami melakukan seminar tentang sejarah gunung Ta n g k u b a n p a r a h u , serta manajemen bencana alam dengan pembicara Budi Brahmantyo (Dosen geologi ITB, peneliti KRCB) dan perwakilan ESDM. Kegiatan lainnya adalah Roadshow di SMPN 1 Ciater dan SMK Nassa, rangkaian kegiatan ditutup dengan bergeotrek di sepanjang sungai Cimuja dan Cikoneng.

Menelusuri sungai Cimuja dan Cikoneng, mencari jejak erupsi Tangkubanparahu

G

eotrek merupakan kegiatan jelajah alam sambil mengenal sejarah atau cerita geologi daerah tersebut, dipopulerkan oleh Dr. Budi Brahmantyo yang juga merupakan dosen Geologi ITB dan Kelompok Riset Cekungan Bandung. Geotrek kali ini bertajuk “Menelusuri sungai Cimuja dan Cikoneng, serta mencari jejak erupsi Tangkubanparahu” merupakan bagian dari rangkaian acara Geosociety 2011, dengan tujuan utama yaitu memberikan pendidikan mitigasi bencana gunung api kepada masyarakat dengan cara memperlihatkan bukti batuan hasil letusan gunung api, yaitu batuan lava di sepanjang sungai Cimuja dan Cikoneng. Geotrek kali ini didampingi oleh interpreter Dr. Budi Brahmantyo dan Nurcahyo Indro Basuki P.hd. Peserta terdiri dari siswa sekolah di sekitar kecamatan Ciater, mahasiswa teknik geologi universitas lainnya, perwakilan dari Keluarga Mahasiswa ITB dan Ganesha Hijau. Sepanjang perjalanan kami menemukan beberapa curug, diantaranya Pamandian Tuan dan beberapa curug kecil

bertingkat, dan tentunya curug tersebut berdinding lava yang membeku Geotrek berawal di Desa Ciater dan berakhir di kawasan wisata Capolaga, disana terdapat tiga curug besar, yaitu Curug Sawer, Karembong dan Goa Badak, dan ketiga curug tersebut juga tersusun dari lava membeku. Dari Geotrek ini, dapat disimpulkanbahwa saat Tangkubanparahu meletus, lava mengalir melalui daerahdaerah Geotrek ini, termasuk daerah wisata Capolaga. Jika suatu saat terjadi erupsi gunung Tangkubanparahu, lava cenderung akan melalui jalur yang sama, sehingga apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di Tangkubanparahu, masyarakat diharapkan untuk menghindari daerah rawan bencana dan segera melakukan apa yang dianjurkan oleh pihak yang berwenang ditulis oleh Epo Prasetya [12008065] Teknik Geologi ITB

M em i t i g a s i Ma s ya ra k a t Memasyarakatkan Mitigasi

halaman #48

GEOSOCIETY suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

halaman #49


#GEA-snaphot

#GEA-snaphot

SNAPSHOT GEA impunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) GEA ITB berdiri pada 6 Mei 1955 dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Geologi Bandung (PMGB), diprakarsai oleh mahasiswa geologi Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB) kala itu yakni Soetarjo Sigit, Kepala Badan Geologi (dulu Jawatan Geologi) pertama di Indonesia beserta mahasiswa lainnya seperti Prof. dot Sampurno dan lainnya. Pada tahun 1957, PMGB berubah nama menjadi Himpunan Mahasiswa Geologi GEA, nama GEA diambil dari nama dewa bumi di Yunani

H

sering menganggap dirinya sebagai dosen tertolak, dr. andang bachtiar adalah salah seorang alumni yang sangat berperan dalam keberlangsungan hmtg gea IKATAN ALUMNI TEKNIK GEOLOGI ITB SAAT INI DIKETUAI itb. beliau juga merupakan OLEH SYAMSU ALAM [TENGAH] YANG JUGA MENJABAT penggagas musik santai gea (MUSANG) SEBAGAI PRESIDEN DIREKTUR PERTAMINA EP. [GAMBAR INI ADALAH SUASANA musyawarah kerja KEPEMIMPINAN SYAMSU ALAM SEBAGAI KETUA HIMPUNAN HMTG GEA ITB DI PERTENGAHAN DEKADE 1980-AN]

GEA ON PHOTO

Prof. dot. Sampurno ari semua petuah kehidupan yang paling berkesan bagi para anggota GEA khususnya para alumni Teknik Geologi ITB adalah petuah dari Prof. Soedjono Martodjojo. Dosen dalam bidang sedimentologi dan stratigrafi ini sanggup menjalankan peran ganda dalam kesehariannya yakni sebagai pengajar dan pendidik mahasiswa, tak heran kedatangannya dalam GEA Nite beberapa waktu lalu sangat dinanti. Hal yang selalu dipentingkan oleh Pak Yono adalah bahwa mahasiswa nakal itu biasa, yang penting selama hidupnya harus memiliki integritas [dirangkum dari Didik Fotunadi, GEA’93] .

D

ruang 7101 di prodi teknik geologi yang sekarang berganti nama menjadi ruang hilmi panigoro adalah ruangan kelas yang menyimpan banyak k e n a n g a n b a g i p a r a Ir. Hilmi Panigoro anggota gea dari masa ke masa. foto di samping adalah r.7101 era 90-an dan tahun 2011, tidak banyak berbeda tampak luar, namun interior di dalamnya sudah dimodifikasi dan direnovasi [atas] berkat sumbangan dari ir. hilmi panigoro (GEA’74) yang juga merupakan komisaris medco energy.

Prof. Soedjono Martodjojo eperti halnya h i m p u n a n mahasiswa lainnya di kampus Institu Teknologi Bandung, HMTG GEA pun memiliki jaket kebanggan, jaket berwarna kuning dengan saku yang terdapat di ma na-ma na merupaka n jaket yang menjadi simbol HMTG GEA, merupakan

S

halaman #50

jaket lapangan yang sa ngat memba ntu d a l a m k e g i at a n geologiwan, warna terang membuatnya mudah diidentifikasi di lapangan,saku yang ba nyak sa ngat multifungsi untuk menyimpan peralatan. Jaket ini pertama kali dirilis pada tahun 1974

suaraGEA - edisi 2011

suaraGEA - edisi 2011

halaman #51


#GEA-snaphot

#GEA-snaphot

SNAPSHOT GEA d a l a m g e o lo g y s t u d e n t competition 2011 yang digelar di itb januari lalu, gea yang diwakili hansen wijaya, m. harifan, dan elrey mengatasnamakan teknik geologi itb berhasil menyabet juara-1

P

erubahan terus terjadi, HMTG GEA ITB tumbuh menjadi lebih dewasa. Kegiatan kemahasiswaan pun terus berkembang dimulai dari diadakannya Geohumanism yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis community development tahunan HMTG GEA yang pada tahun ini difokuskan dalam eksplorasi air tanah bagi wa rga D e s a G u n u n g M a s i g i t , Padalarang dan Geosociety, sebuah program tanggap bencana yang digagas baru-baru ini. HMTG GEA aktif di bidang lingkungan dengan bergabung bersama Tim Ganesha Hijau Keluarga Mahasiswa ITB, di dalamnya, GEA mendorong isu mitigasi bencana geologi. Kegiatan-

halaman #52

kegiatan lainnya adalah IMPK (Ilmu Medan Peta Kompas), Field Trip, Geotrek dan Kuliah Tamu. Pada April 2011, GEA secara spesial diundang untuk mengikuti tur Kapal Baruna Jaya, kegiatan ini merupakan hasil kerja sama HMTG GEA, Program Studi Teknik Geologi, BPPT, dan Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB; Ekskursi. Tak lama setelah itu, bekerja sama dengan Ikatan Alumni Geologi ITB, GEA mengadakan seminar Petrofisika dan Well Site Geologist yang menghadirkan alumni-alumni yang kini menjadi praktisi Chevron-Houston dan Pertamina dan baru-baru ini GEA mengadakan Dies Natalis ke-56 yang menghadirkan para pioneer GEA dimulai dari dekade 1950 hingga 2000-an termasuk menghadirkan Prof. Sampurno (GEA’53).

Serangkaian prestasi telah ditelurkan oleh HMTG GEA ITB yakni mengatasnamakan Program Studi Teknik Geologi ITB, anggota HMTG GEA yang diwakili Muhammad Harifan, Hansen Wijaya, dan Elrey Fernando berhasil menjadi juara 1 dalam Geology Student Competition 2011 di ITB, juara 2 diraih oleh Universitas Gadjah Mada, dan juara ketiga disabet UPN Yogyakarta, tak lama setelah itu tim yang diwakili oleh Glen Ricky Himawan, Willy Rhauda, dan Muhammad Fadhil berhasil menyabet juara kedua dalam Smart Contest Geology, sementara itu juara 1 direbut oleh tuan rumah UPN Veteran Yogyakarta dan juara ketiga oleh STTNAS Yogyakarta. Kejuaraan ini diadakan oleh Universitas P e n d i d i k a n Ve t e r a n ( U P N ) Yo g y a k a r t a d a l a m r a n g k a menyambut Hari Bumi.

suaraGEA - edisi 2011

kunjUNGAN HMTG GEA ITB ke KAPAL BARUNA JAYA DI PELABUHAN MERAK, BANTEN. kEGIATAN INI MERUPAKAN HASIL KERJASAMA hmtg gea itb, ikatan alumni teknik GEOLOGI itb, DAN bADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI (bppt)

KEGIATAN GOLF TOURNAMENT iKATAN ALUMNI TEKNIK GEOLOGI ITB DI PONDOK INDAH GOLF, JAKARTA. DALAM KESEMPATAN ITU JUGA, IA-TEKNIK GEOLOGI ITB MENYUMBANG rP 100.000.000,00 BAGI PENGEMBANGAN PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI ITB

suaraGEA - edisi 2011

halaman #53


#editorial staff

Gunung Hawu, Padalarang published and distributed by HMTG GEA ITB

majalah teknik geologi

suaraGEA perspektif geologi bagi lingkungan

edisi tahun 2011 - gratis

geo-topic

Selayang Pandang Cekungan Bandung geo-enviro

Majalah ini tidak akan dapat terbit tanpa bantuan dan dukungan dari pihak-pihak Ikatan Alumni Teknik Geologi, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, BP MIGAS, PT Energi Mineral Langgeng, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah

natural arch [lengkungan alami], fenomena alam nan langka di Karst Citatah

Dilema Lebak Siliwangi

Sesar Lembang, Ancaman Gempa dari Bandung Utara Karst Citatah, Landmark Sejarah Geologi Bandung Bencana Laten, Banjir Bandung Selatan

DEPARTEMEN MEDIA KOMUNIKASI INFORMASI HMTG GEA ITB PERIODE 2011

suaraGEA edisi tahun 2011 Badan Pengurus Harian 2011 Departemen Media Komunikasi Informasi HMTG GEA ITB Kepala Departemen Naufal Rospriandana HMTG GEA ITB Jl. Ganeca 10, belakang Gedung BSC-B, Bandung-40132 hmtg.gea@gmail.com www.gea.itb.ac.id Foto Cover Batugamping Padalarang (M. Febryan Nugroho)

Terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Bapak Imam Sadisun, Bapak, Bambang Priadi, Bapak dan Ibu Sampurno, Ibu Suryantini, Bapak Syamsu Alam, Bapak Tito Kurniadi, Bapak Haposan Napitupulu, Bapak Sopandi Tossin, Bapak Achmad Yani Arief, Bapak Mohammad Syaiful, Bapak Agus Kuswanto, Bapak Elan Biantoro, Bapak R. Priyono, Bapak Rudi Rubiandini, Bapak Hilmi Panigoro, Bapak Toni Sastramihardja, Bapak Ridwan Djamaluddin, Bapak Tulus Situmeang, Bapak Andang Bachtiar, Bapak Amir Al-Amin, Bapak Surono, Bapak Lambok Hutasoit, Bapak Irwan Meilano, Bapak Saut Sagala, Bapak R. Sukhyar, Bapak Budi Brahmantyo, Bapak Rovicky Dwi Putrohari, Bapak T. Bachtiar, Bapak Supardiyono Sobirin, serta pihak-pihak yang menyukseskan proyek majalah ini yang tak dapat kami sebut satu per satu PENANGGUNG JAWAB: DR. Eng. Imam Ahmad Sadisun, Muhammad Pandu Herdianto; PEMIMPIN REDAKSI: Naufal Rospriandana; EDITOR: DR. Eng. Imam Ahmad Sadisun; DESAIN LAYOUT: Naufal Rospriandana, Aviandito, Efrina Chandra Agusti Putri; PENULIS: Naufal Rospriandana, Faizal Al-Marawi, Muhammad Febryan Nugroho, Epo Prasetya Kusuma, Mochamad Rizky Ramadhan, Muhammad Firdaus Hansen Wijaya; KONTRIBUTOR: Dr. Budi Brahmantyo M.Sc, Ir. Rovicky Dwi Putrohari M.Sc, T. Bachtiar SE; TIM MEDIA KOMUNIKASI INFORMASI: Alghifari Muhammad Dzar, Setyadi Pratama, Dony F. Kurniawan, Efrina Chandra Agusti Putri, Ruchita Mirza, Urwatul Wusqa, Kristyarin Dwi Anggritya, Ahmad Yuda Setia, Claudia Karmelita Kanter, Aisha Luthan, Ahmad Syauqi Hidayatillah; FOTO: Dr. Budi Brahmantyo M.Sc, T. Bachtiar SE, Ir. Supardiyono Sobirin, Albar Hakim, Muhammad Febryan Nugroho, Kanya Anindita, Adil Fajar, Aliftama F. Wicaksono

majalah suaraGEA edisi 2011 disponsori oleh

TEKNIK GEOLOGI

BADAN GEOLOGI

PT. ENERGI MINERAL LANGGENG

budi brahmantyo

halaman #54

suaraGEA - edisi 2011


suaraGEA Departemen Media Komunikasi dan Informasi HMTG GEA ITB Institut Teknologi Bandung Belakang BSC-B Jalan Ganeca 10, Bandung www.gea.itb.ac.id

SuaraGEA Edisi 2011  

SuaraGEA, Perspektif Geologi Bagi Lingkungan

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you