Issuu on Google+


WE INDONESIANS RULE

First published in April 2014 Š Copyright 2014 Studio Geometry EDITOR Primo Rizky CONTRIBUTORS Juventia Vicky Nico Novito Puri Anindita Riksa Afiaty Tria Nin PROJECT MANAGER Juventia Vicky EDITORIAL ASSISTANT Adista Angelia Fransisca

GRAPHIC DESIGN & ART DIRECTION Resatio Adi Putra WRKH. PRODUCTION Utami Damimo PHOTOGRAPHY Diana Widjaja PUBLISHED BY Studio Geometry Jalan Panjang Raya No. 70, Kebon Jeruk Jakarta 11530 www.studio-geometry.com PRINTED BY Gramedia Printing ISBN 978-602-18357-2-2

All rights reserved. No part of this publication may be reproduced or transmitted in any form or by any means without written permission from the copyright holder.


WE INDONESIANS RULE

ALVIN TJITROWIRJO

014 - 015


ALVIN TJITROWIRJO DESAINER PRODUK PRODUCT DESIGNER

Berbekal visi untuk mengembangkan budaya serta tradisi Indonesia dan mengkonversi nilai tersebut menjadi sebuah produk yang dapat dihargai di dalam dan di luar negeri, Alvin Tjitrowirjo mengeksplorasi identitas budaya lokal, dengan pendekatan yang lebih kontemporer. Armed with a vision to develop Indonesian culture and traditions as well as converse those values into products that can be appreciated locally and internationally, Alvin Tjitrowirjo explores the local culture identity through a contemporary approach. 

K

iprahnya dalam dunia desain furnitur dimulai saat karya tugas akhirnya di RMIT University Melbourne terpilih untuk dipamerkan di Milan. Momen ini menjadi kesadaran baginya untuk menekuni bidang desain furnitur yang kemudian membawanya ke pameran tunggal pertamanya di Jakarta pada tahun 2006 yang menarik perhatian publik.

H

is involvement in the field of furniture design started when his thesis project during his studies in RMIT University Melbourne was chosen to participate in an exhibition in Milan. This moment made him passionate to pursue the furniture design field, which then led to his first solo exhibition in Jakarta in 2006 that garnered public attentions. 


WE INDONESIANS RULE

MOULY SURYA

020 - 021


MOULY SURYA SUTRADARA FILM DAN PENULIS SKENARIO FILM DIRECTOR AND SCRIPTWRITER

Terdapat ribuan langkah yang harus dilewati oleh seseorang dalam proses kreatifnya, mulai dari menggali inspirasi hingga menelurkan sebuah karya. Namun bila optimisme serta kecintaannya yang membumbung tinggi menyertai setiap pijakan ini, apapun yang dihasilkan tentu akan menghasilkan kepuasan tersendiri. There are thousands of steps that one must go through in a creative process, from finding inspirations to ultimately creating a work. But if every step is taken with optimism and passion, any creation will give an encouraging personal satisfaction.

N

ilai-nilai ini terbersit jelas dalam tutur kata seorang Mouly Surya. Sutradara dan penulis skenario film kelahiran Jakarta ini secara perlahan tapi pasti mulai menggebrak lansekap perfilman Indonesia melalui karyanya yang memprovokasi dan mengajak penonton untuk berpikir. Berawal dari kegemaran masa kecilnya akan storytelling, ia diarahkan oleh orang tuanya untuk menjadi seorang penulis yang dikejawantahkan dalam studinya di Melbourne. Dirinya mulai jatuh cinta dengan dunia perfilman ketika turut ambil bagian dalam pembuatan film amatir bersama rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia di Australia. Dari sana, Mouly meneruskan studi di sebuah sekolah film sebelum akhirnya kembali ke tanah air.

T

hese values clearly appear in Mouly Surya’s thoughts. The Jakarta-born film director and scriptwriter slowly but surely stirs the Indonesian film landscape through her provocative works that make the audience think. Thanks to her childhood interest in storytelling, her parents directed her to become a writer, as manifested in her studies in Melbourne. She started to fell in love with the filmmaking world when she took a part in an amateur film project with her Indonesian university peers in Australia. From that point, Mouly continued her studies in a film school before coming back to her hometown. Mouly admits that, as a woman, she is bequeathed a luxury in the form of freedom to choose a


WE INDONESIANS RULE

DIDIET MAULANA

DIDIET MAULANA perancang busana FASHION DESIGNER

Indonesia adalah surga dunia dengan segala keindahan alam yang tercermin mulai dari bibir pantai hingga puncak-puncak pegunungannya. Belum lagi warna-warni kehidupan yang digerakan oleh masyarakat dengan keramahannya, kuliner bercitarasa memesona, hingga arsitektur lokal yang penuh dengan filosofi. Dari kecantikan negeri ini lah terlahir inspirasi bagi seorang Didiet Maulana.

Indonesia is a paradise adorned with breathtakingly beautiful nature, from the tip of its beaches to the peak of its mountains. Not to mention the colorful lives as exemplified by its friendly people, delectable culinary scenes, and local architectures with high philosophical values. The beauty of this country inspires Didiet Maulana.

026 - 027


S

emua bermula saat pria yang telah cukup lama berkecimpung di industri ritel mode ini berkeinginan untuk melahirkan sesuatu yang berarti bagi bangsa didorong atas kecintaannya terhadap Indonesia serta keresahannya saat melihat generasi muda masa kini yang sudah mulai lupa dengan akar budayanya. Menurutnya, mereka lebih mengenal merek-merek busana luar negeri namun tidak tahu apa-apa mengenai kain-kain tradisional. Tanpa berusaha menyalahkan siapa pun, Didiet lebih memilih untuk bergerak sendiri memperkenalkan generasi muda dengan kekayaan material tekstil asli Indonesia agar mereka dapat lebih mengapresiasinya. Melalui label busana IKAT Indonesia yang ia dirikan pada pertengahan tahun 2011, ia mengeksplorasi kain tradisional dengan sentuhan modern yang terinspirasi dari karakteristik Indonesia. Kain tradisional pilihannya tidak lagi terjatuh pada batik yang menurutnya sudah mulai dapat kembali hidup, namun ia menggali kekayaan tekstil tanah air lainnya. Walaupun bernama IKAT, bukan berarti Didiet hanya menggunakan tenun ikat saja dalam karyanya. Filosofi dari nama tersebut sesungguhnya adalah sebuah pengingat untuk selalu mengikat diri dengan Indonesia melalui pemanfaatan kain-kain tradisional yang ada. Mulai dari songket Palembang, kain endek Bali,

I

t all started when Didiet, who was experienced in the fashion retail industry, wanted to create something meaningful for his nation, encouraged by his love for Indonesia as well as his concern about the young generation right now who has slowly forgotten about their cultural roots. According to him, they know more about international fashion brands but are clueless about traditional fabrics. Without intending to blame anyone, Didiet chose to do something by himself to introduce the young generation to the richness of Indonesian textile materials so that they can start appreciating them more. Through fashion brand IKAT Indonesia that he founded in the middle of 2011, he explores traditional fabrics through a modern touch inspired by Indonesian characteristics. The traditional fabric he chose is no longer batik, which he thinks has been resurrected, but he opted to explore other rich textiles of this nation. Even though it is called IKAT, it does not mean that Didiet only focuses on the weaved ikat fabric in his work. The philosophy behind that name is to become a reminder to always associate himself with Indonesia through the utilization of the existing traditional fabrics. From Palembang’s songket, Bali’s endek fabric, Jepara’s Troso weaved ikat, to Sengkang’s silk, he has used all of them in his creations for IKAT Indonesia.


WE INDONESIANS RULE

AGATE STUDIO

030 - 031

AGATE STUDIO PENGEMBANG GAME GAME DEVELOPER

Sekumpulan anak muda dengan latar belakang yang berbeda-beda namun memiliki kecintaan yang sama untuk membahagiakan hidup orang banyak melalui permainan termaterialisir dalam proses coding, pemrograman, hingga pembuatan artwork, suara dan musik. Mereka bekerja sekaligus bersenang-senang dalam waktu yang bersamaan. Itulah yang terjadi di Bandung, sebuah perusahaan pengembang video game yang diciptakan oleh beberapa mahasiswa nekad demi memenuhi mimpinya. A group of young people with various backgrounds whose mutual interest is to make many people happy through games is joined together through the processes of coding and programming to creating artwork, sound, and music. They are working and having fun at the same time. That is what happens in Bandung, a video games developer company that was founded by some university students who wanted to fulfill their dreams.

P

etualangan Agate Studio dimulai dengan para pendiri yang sama sekali tidak memiliki latar belakang untuk mengembangkan video game. Pada akhir tahun 2008 para pendiri mulai sadar bahwa bisnis ini harus bisa menjadi sumber penghidupan, mereka kemudian berusaha mengatur strategi, sehingga awal 2009 lahirnya sebuah badan usaha Agate Studio secara resmi dengan mottonya “Live The Fun Way,” kekuatan yang bermakna membahagiakan semua orang lewat fitur-fitur permainan yang mereka ciptakan. Industri ini bersifat dinamis dan selalu menuntut kreativitas maksimal. Pameo yang berlaku, sebuah video game mudah dianggap kadaluarsa hanya dalam kurun tiga bulan. Bisnis ini memiliki efek yang berbeda pada bagaimana bentuk permainannya, cara bertahan dan akhirnya bisa menjual. Saat para pengembang permainan yang lain sudah mulai gulung tikar, Agate Studio justru menaiki level selanjutnya, mereka meluaskan gagasannya untuk membuat festival tahunan. Indonesia Bermain, sebuah pameran interaktif garapan mereka bersama Kummara yang bertujuan untuk mengubah pola pikir negatif dan menginisiasi bahwa bermain adalah aktivitas yang menyenangkan bagi semua orang. Festival ini menarik banyak pengunjung dari berbagai kalangan gamer dan developer. Sebuah wadah bertemunya para fanatik games untuk menyalurkan hobi bermain, melihat perkembangan terkini, mengikuti berbagai diskusi untuk berbagi ide dan membangun jejaring yang pada akhirnya berhasil menarik para investor untuk bekerjasama.

T

he adventure of Agate Studio was started by the founders who did not have any background in developing video games. In late 2008, the founders started realizing that they could make a living out of this business, hence planning a strategy so that in early 2009, the company of Agate Studio was founded officially, with its motto “Live the Fun Way,” a meaningful power that makes everyone happy through game features they have created.   This industry is dynamic and always demands maximum creativity. A widespread view says that a video game can be obsolete in only three months. This business has a different effect in terms of how to shape the game, how to survive, and how to sell. When other game developers were closing their businesses, Agate Studio instead moved to the higher level and expanded their ideas to create an annual festival. Indonesia Bermain (“Indonesia Plays”) is an interactive exhibition that they founded with Kummara to change the negative view about games and initiate that playing is fun activity for everyone. This festival attracted many visitors—most of them were gamers and developers. A venue where gaming fans can meet to express their hobby, see the latest development, join various discussions to exchange ideas, and create networks that eventually attract investors to cooperate. In their journey, Agate Studio must face negative views that are associated with video games. Agate Studio has banished the skeptical and critical views toward the industry of video games by winning several awards and attending invitations to


WE INDONESIANS RULE

NANCY MARGRIED

034 - 035


NANCY MARGRIED PENDIRI BATIK FRACTAL CO FOUNDER BATIK FRACTAL

Sebuah budaya harus lah terus bergulir hingga ke masa depan agar tidak menjadi sekedar peninggalan masa lampau karena kekuatan budaya sesungguhnya merupakan akar jati diri bangsa. Namun bukan lah hal mudah untuk menjaga keberlangsungan sebuah budaya, terlebih di era informatika seperti saat ini di mana budaya asing dapat dengan mudahnya merasuk melalui berbagai saluran yang ada. Berawal dari sebuah ketidaksengajaan, Nancy Margried hadir dengan inovasi agar budaya tidak terputus di tengah arus modernisasi. A culture cannot stay in vacuum. It must constantly develop itself toward the future so it will not end up as an ancient artifact because, in essence, the power of culture is the root of a nation’s identity. However, it is not easy to preserve the sustainability of a culture, especially in the era of modern technology like now where foreign culture can easily infiltrate through various channels. Started with a happenstance, Nancy Margried offers an innovation so that our culture will not sink amidst the stream of modernization

B

ersama kedua rekannya Nancy menemukan fakta bahwa motif dari sebuah kain batik dapat tercipta berdasarkan rumus matematika. Suatu konsep yang terdengar janggal dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Atas dasar penasaran, mereka melanjutkan penelitian yang melibatkan tiga disiplin ilmu yakni seni budaya, sains, dan teknologi tersebut. Pada mulanya proyek ini hanya berbentuk penelitian ilmiah yang kemudian mereka ikutkan dalam sebuah konferensi di Milan mengenai generative arts, yakni seni yang tercipta melalui sebuah sistem. Setelah sahih sebagai sebuah penemuan baru, Nancy mulai berpikir untuk memanfaatkannya lebih jauh. Selama proses panjang penelitian, Nancy yang telah terjun langsung ke lapangan dengan bertemu pengrajin melihat bahwa masalah terbesar pada industri batik adalah tidak adanya pembaharuan dalam hal desain yang dapat memenuhi pergerakan pasar yang semakin modern. Keprihatinan atas

A

long with her two partners, Nancy discovered the fact that the motif of a batik fabric can be created based on a mathematical formula. It was a concept that might sound odd and unimaginable. But thanks to their curiosity, they continued the research, which blends three disciplines: art and culture, science, and technology. At the beginning, this project started as a scientific research that they submitted to a conference in Milan on generative arts, which is an art form created through a system. After being convinced that their project is a form of new innovation, Nancy thought about exploring it further. During a long process of research, Nancy, who went straight to the field to meet local artisans, saw that the biggest problem plaguing the batik industry was the lack of design innovation that could fulfill the demand of an increasingly modern market. Her concern on that situation encouraged her to create a significant change on the traditional batik industry.


WE INDONESIANS RULE

LEONARD THEOSABRATA

LEONARD THEOSABRATA DESAINER PRODUK PRODUCT DESIGNER

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, sebuah peribahasa yang sangat akrab dengan telinga setiap generasi. Sepanjang perjalanan hidup, kita pasti selalu diingatkan untuk terus berpegang kepada filosofi tersebut. Walaupun nyatanya langit semestinya bukan lah sebuah batasan bagi mimpi seseorang. Namun sesungguhnya peribahasa tersebut adalah bentuk sederhana pengajaran bagi setiap individu agar memiliki visi yang jauh ke depan. Fortune favors the bold, says a proverb that is familiar for every generation. Throughout our life journey, we are always reminded to hold on to that philosophy. People with the courage to pursue their biggest dreams will end up more successful than those who try to live safely. Behind that proverb lies a grain of truth that teaches each individual to be a visionary.

040 -041


WE INDONESIANS RULE

DJUHARA+DJUHARA

046 - 047


DJUHARA+ DJUHARA ARSITEK ARCHITECT

Saat bangsa ini tengah menelusuri dan memaknai arti arsitektur Indonesia, djuhara+djuhara lahir dengan visinya yang menyatakan bahwa ruang bukan hanya sekedar dibentuk oleh gaya dan bentuk saja, namun juga oleh jiwa dan anatomi. Mereka menyebutnya sebagai pengalaman rasa ruang. When this nation is still exploring and searching the meaning of Indonesian architecture, djuhara+djuhara was founded with a vision that space is not merely formed by only style and shape, but also by soul and anatomy. They call it as an experience of space.

D

juhara+djuhara didirikan pada tahun 2004. Ahmad Djuhara dan Wendy Djuhara memilih untuk fokus kepada arsitektur kontemporer Indonesia. Aral lintang untuk memahami arsitektur Indonesia dijadikan djuhara+djuhara sebagai tantangan mereka untuk menjabarkan potensi arsitektur dalam berkontribusi lewat karyanya yang  mencoba ikut berperan untuk membangun  kebudayaan. Pasangan ini meyakini bahwa hal tersebut sesungguhnya sudah dilakukan Soekarno. Sebagai pemimpin bangsa yang mempunyai visi untuk menjadikan arsitektur sebagai alat pembangunan zaman dan karakter bangsanya, ia membangun Monumen Nasional, Hotel Indonesia dan Jembatan Semanggi dan banyak bangunan lain. Bangunan-bangunan itu kini menjadi artefak arsitektur Indonesia modern yang menjadi ikon penanda bangsa ini.   Ada salah kaprah yang menyatakan bahwa arsitektur tradisional adalah hal yang harus dipertahankan secara buta karena menimbulkan rasa takut kehilangan. Dari paranoia ini timbul usaha-usaha untuk mempertahankan dan mencegah tradisi baru, termasuk di dalamnya pengharaman modernisasi. Padahal nyatanya arsitektur tradisional adalah tradisi yang dibangun menjadi kebiasaan, karakter, yang akhirnya menjadi tradisi dan membudaya. Pada awalnya tradisi itu juga merupakan sesuatu yang baru dan pernah membawa semangat modernisasi pada jamannya.   Dengan sudut pandang yang berbeda, Djuhara dan Wendy percaya bahwa tradisi dimulai dengan semangat modernisme yang menyesuaikan dengan aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Bahkan siapapun bisa menciptakan arsitekturnya sendiri

D

juhara+djuhara was founded in 2004. Ahmad Djuhara and Wendy Djuhara chose to focus on Indonesian contemporary architecture. Any obstacles djuhara+djuhara faced in understanding Indonesian architecture are considered as their challenges in describing the potentials of architecture to contribute through works that try to have a role in building the culture. This couple believes that Soekarno has actually done this. As the leader of this nation, armed with a vision to make architecture a tool to build the era and character of his nation, he built the National Monument, Hotel Indonesia, Semanggi Bridge, and many other buildings. These buildings have now become the artifacts of modern Indonesian architecture, a signifying icon of this nation.   There is a misunderstanding out there that blindly argues that traditional architecture needs to be maintained because it creates a fear of loss. This paranoia creates efforts to maintain and avoid new tradition, including a view that considers modernization as something taboo. Whereas in reality, traditional architecture is a tradition that was built as habit and character that eventually became a part of the tradition and culture. In the beginning, that very tradition was also something new and brought the spirit of modernization during its time.   With their different point of view, Djuhara and Wendy believe that tradition is started by a spirit of modernism that adjusts itself with the aspects of human life and environment. Even anyone can create their own architecture in a certain period of time and can mark the era with their works. Limitation will not foster any development.


WE INDONESIANS RULE

OCKTO BARINGBING KOMIKUS COMIC ARTIST

Kesederhanaan bukan lah suatu situasi penuh keterbatasan melainkan sebuah cara pandang untuk mengambil langkah� langkah kecil untuk menuju kegemilangan. Setidaknya itu yang tergambar dalam pribadi seorang Ockto Baringbing. Dari kamar tidurnya yang sekaligus ia jadikan sebagai studio kerja, Ockto terus berkarya menelurkan kisah-­kisah menarik dalam bentuk cerita bergambar atau yang lebih dikenal sebagai komik.

Modesty is not a situation full of limitations. Instead, it is a point of view to take small steps toward success. At least this is evident in the personality of Ockto Baringbing. From his own bedroom that he also uses as a work studio, Ockto keeps striving to create interesting tales in the form of illustrated story or more well known as comic.

OCKTO BARINGBING

046 - 047


N

T

Menjadi komikus memang telah menjadi pilihan yang diambil Ockto usai menamatkan pendidikannya di jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia bersama dua rekannya mendirikan sebuah kolektif bernama Kostkomik dan melahirkan judul-­judul seperti B.O.C.A.H dan Merdeka. Pada awalnya Kostkomik berdiri di saat industri kreatif di Indonesia masih belum menggeliat. Mereka berusaha menerbitkan komik secara independen yang membutuhkan upaya cukup berat dari Ockto dan rekan-­rekannya. Pada perjalanannya, upaya Ockto berbuah manis dengan berhasilnya komik-­ komik mereka dirilis ulang oleh penerbit besar.

Being a comic author has been a path that Ockto chose after finishing his studies in the Visual Communication Design department at Bandung Institute of Technology. Along with his two partners, he founded a collective named Kostkomik, which gave birth to titles like B.O.C.A.H. and Merdeka. At the beginning, Kostkomik was founded when the creative industry in Indonesia was still at its early development stage. They tried to publish comics independently, which needed hard work by Ockto and his partners. In its journey, Ockto’s effort turned out to be fruitful by the success of their comics, which were re-published by big publishers.

ama Ockto Baringbing mungkin memang masih terdengar asing di telinga masyarakat umum. Namun sesungguhnya karyanya telah mencetak prestasi membanggakan bagi dirinya dan Indonesia. 5 Menit Sebelum Tayang merupakan karya komik ciptaannya bersama Muhammad Fathanatul Haq sebagai ilustrator yang berhasil mendapatkan Silver Award dalam ajang tahunan International Manga Awards yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang di Tokyo pada tahun 2012 lalu.

he name Ockto Baringbing probably still does not sound familiar for the general public. But actually his works have scored various achievements that make him and Indonesia proud. 5 Menit Sebelum Tayang (roughly translates to 5 Minutes Before Airing) is a comic created by him with Muhammad Fathanatul Haq as the illustrator that succeeded in attaining the Silver Award in the annual International Manga Awards held by the Japanese Ministry of Foreign Affairs in Tokyo in 2012.


WE INDONESIANS RULE

JOGJA HIP HOP FOUNDATION

JOGJA HIP HOP FOUNDATION MUSISI MUSICIAN

Sekumpulan lelaki Jawa mengenakan kemeja batik, bermain dengan rima kata-kata Bahasa Jawa diiringi beat dari DJ yang dikolaborasikan dengan gamelan—inilah ramuan segar yang sedang menjadi virus hip hop bernama Jogja Hip Hop Foundation. A group of Javanese guys in batik shirts, experimenting with rhymes in Javanese in tune with the beat from the DJ mixed with gamelan sounds—this is the fresh hip hop that has gone viral, Jogja Hip Hop Foundation.

054 - 055


WE INDONESIANS RULE

WAHYU ADITYA

058 - 059

WAHYU ADITYA AKTIVIS ANIMASI ANIMATION ACTIVIST


WE INDONESIANS RULE

JOKO ANWAR

JOKO ANWAR SUTRADARA FILM DAN PENULIS SKENARIO FILM DIRECTOR AND SCRIPTWRITER

Bayangkan seseorang penuh bakat menjalani hidup tanpa visi. Dapat diibaratkan seperti pemain bola yang bermain tanpa gawang. Ia hanya berlari, menggiring dan menendang bola selagi bisa. Cepat atau lambat, orang itu akan tergeletak karena letih atau bosan. Imagine someone very talented who lives his life without a vision. It can be likened to a football player who plays in a field without goal posts. He can only run, dribble, and kick the ball while he can. Sooner or later, he will lie down because he gets tired or bored.

064 - 065


WE INDONESIANS RULE

070 - 071

DANIEL SURYA

DANIEL SURYA Pakar Branding dan Penggiat Industri Kreatif Branding Expert and Creative Industry Activist

Ibarat David di hadapan Goliath, industri kreatif di Indonesia merupakan sebuah fragmen kecil bila dibandingkan dengan industri lainnya yang meraksasa. Namun sesungguhnya, potensi yang dimiliki oleh industri kreatif tidak dapat dipandang sebelah mata karena ia bukannya tidak memiliki andil apapun dalam perekonomian. Just like David facing the Goliath, the creative industry in Indonesia is a mere small fragment when compared to other giant industries. But in reality, the potentials owned by the creative industry cannot be underestimated because it has a significant role in the economy.


I

ndustri kreatif acapkali dianggap sebagai sebuah dunia yang dipenuhi oleh seniman, desainer, dan berbagai individu nyentrik yang menjalani kecintaan mereka terhadap seni dan estetika semata tanpa ada perhitungan bisnis. Oleh karenanya, dunia korporasi dan pemerintahan sering tidak menaruh perhatian besar terhadap industri ini. Namun dikotomi antara seni dan bisnis ini lah yang ingin diubah oleh seorang Daniel Surya. Daniel sebelumnya telah berkecimpung di industri kreatif selama lebih dari 15 tahun. Sepanjang perjalanan karirnya, ia merasakan bahwa industri kreatif sering dianggap sebagai ‘anak tiri’ perekonomian. Banyak situasi yang menempatkan industri kreatif dalam posisi kurang menguntungkan. Setidaknya di negeri ini. Menengok hingar bingar industri kreatif di negara barat yang bernilai hingga trilyunan, mendorong Daniel untuk mencoba menciptakan ekosistem bisnis tersebut di Indonesia. Langkahnya dimulai dengan meninggalkan perusahaan kreatif internasional tempatnya berkarya selama ini

T

he creative industry is often labeled as one filled by artists, designers, and other quirky individuals who live their love toward art and aesthetics without any business considerations. Hence, the corporate world and government do not put a big attention toward this industry. But this dichotomy between art and business is what Daniel Surya aims to change. Previously, Daniel had been involved in the creative industry for more than 15 years. Throughout his career path, he felt that the creative industry was considered as a “step-son” of the economy. There were a lot of situations that placed the industry in an unfortunate situation. At least in this country. Seeing the vigorous creative industry in Western countries valued at billions of dollars encouraged Daniel to create similar business ecosystem in Indonesia. His step started by leaving the international creative company he worked for and founded WIR Group that became a stepping stone to reach his dream. It was with WIR Group that Daniel’s real journey in the Indonesian creative industry started.

Banyak situasi yang menempatkan industri kreatif dalam posisi kurang menguntungkan. Setidaknya di negeri ini. There were a lot of situations that placed the industry in an unfortunate situation. At least in this country.


WE INDONESIANS RULE

BUDI PRADONO

076 - 077


BUDI PRADONO ARSITEK ARCHITECT

Seni dan sains seringkali dipandang sebagai dua ranah yang sangat bertolak belakang, masing-masing menempati kutub yang berbeda di dalam otak manusia. Bila yang pertama mementingkan estetika, yang satu lebih percaya pada logika. Tetapi dikotomi ini tidak serta merta berlaku dalam dunia arsitektur, seperti ditunjukkan oleh Budi Pradono yang menggabungkan elemen keduanya dalam setiap karya. Art and science are often seen as polar opposites, each inhabits different side in human’s brain. If the former prioritizes aesthetic, the latter trusts itself on logic. But this dichotomy does not necessarily apply in the world of architecture, as shown by Budi Pradono who combines both elements in his creations.


WE INDONESIANS RULE

UNKL347

082 - 083


UNKL347 BISNIS mode DAN GAYA HIDUP FASHION AND LIFeSTYLE BRAND

Produk surfing, skateboard, dan lini busana bernama UNKL347 adalah tempat bermain bagi Dendy Darman, Arifin Windarman, Lucky Widiantara dan Anli Rizandi yang mulai membangun usahanya sejak 1996. Mereka mengubah gaya hidupnya dengan melakukan apa yang mereka percayai dan terus menekuni apa yang menjadi kecintaan. As a fashion line that mainly focuses on surfing and skateboard products, UNKL347 is the playground of Dendy Darman, Arifin Windarman, Lucky Widiantara and Anli Rizandi who have been building their business since 1996. They are transforming their lifestyle by doing what they believe in and keep their focus on things they love.


WE INDONESIANS RULE

Image courtesy of babibutafilm/Sony Seniawan.

EDWIN

088 - 089


EDWIN SUTRADARA FILM FILM DIRECTOR

Poster Babi Buta Yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants to Fly) dengan ilustrasi adegan seorang perempuan dengan petasan dalam mulutnya mengundang perhatian ketika film ini diluncurkan pada tahun 2008. Imaji seperti inilah yang menjadi ciri khas sang sutradara di baliknya: Edwin. The poster of Blind Pig Who Wants to Fly (Babi Buta Yang Ingin Terbang), depicting a girl with a firecracker in her mouth, captured the attention of many when this film was released in 2008. This strong image defines the characteristic of the director behind it: Edwin.


WE INDONESIANS RULE

NIAL DJULIARSO

NIAL DJULIARSO MUSISI MUSICIAN

Nial Radhitia Djuliarso adalah pianis jazz Indonesia pertama yang berhasil diterima di salah satu program Jazz (Artist Diploma In Jazz Studies) di The Juilliard School dan satu-satunya musisi Indonesia yang sekarang aktif di komunitas musik jazz di New York, Amerika Serikat. Nial Radhitia Djuliarso is the first Indonesian jazz pianist who got accepted into one of the jazz programs at The Juilliard School (Artist Diploma In Jazz Studies) and currently the only Indonesian active on the jazz scene in New York, United States.

094 - 095


Image courtesy of Tia Mutiasari


WE INDONESIANS RULE

ANTON WIRJONO

098 - 099


ANTON WIRJONO WIRAUSAHAWAN ENTREPRENEUR


WE INDONESIANS RULE

AR&CO

AR&CO PENGEMBANG TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY AUGMENTED REALITY DEVELOPER

102 - 103


WE INDONESIANS RULE

Tarian Malam. Image courtesy of Nan Jombang Dance Company.

NAN JOMBANG DANCE COMPANY

106 - 107


NAN JOMBANG DANCE COMPANY KELOMPOK TARI DANCE COMPANY

Saat gerak disandingkan dengan kentalnya budaya yang telah terikat darah dengan pemahaman pribadi, menari pun menjadi jiwa bagi pelakunya. Karakteristik tradisi terpapar jelas dalam bentuk koreografi kontemporer yang tidak hanya diterjemahkan menjadi tontonan semata, melainkan jua sebuah tuntunan. Ini adalah sebuah pilihan—menari atau mati. When motion is juxtaposed with a strong culture that is closely related to personal understanding, dance becomes the soul for those who do it. The characteristics of tradition are clearly exposed in the form of contemporary choreography that cannot be translated into a mere spectacle, but also as a guide. This is a choice—dance or die.


WE INDONESIANS RULE

TEX SAVERIO

TEX SAVERIO perancang busana FASHION DESIGNER

Di balik gemerlapnya di dunia mode. Ada banyak talenta-talenta desain yang dapat menjadi roda penggerak untuk kelangsungan kreativitas untuk industri ini. Meskipun demikian kemampuan untuk mendesain tidak dapat menjamin kesuksesan untuk seorang desainer—kejelian untuk dapat melihat pasar juga merupakan bagian yang penting. Keseimbangan antara kedua sisi ini tampak jelas pada apa yang dilakukan oleh desainer Tex Saverio. Behind the glamourous façade of the fashion world, there are many design talents that become the dynamo for creativity in this industry. Nevertheless, the ability to design does not guarantee success for a designer—a keen eye in gauging the market is also an important part. The balance between these two sides are clearly evident in what designer Tex Saverio does.

42 - 43 112 - 113


Tex Saverio and Faye Liu. Image courtesy of Moreno & Co.


WE INDONESIANS RULE

JOMPET KUSWIDANANTO

118 - 119


JOMPET KUSWIDANANTO SENIMAN VISUAL VISUAL ARTIST

Mengabaikan kiasan “diam itu emas”, ia membongkar kembali lapisan persoalan yang tidak hanya bisa dipahami oleh mata telanjang. Menjadi mulut bagi yang bisu, mata bagi yang buta, dan telinga bagi yang tuli. Ini bukan lagi saatnya untuk diam, melainkan ini saatnya untuk bersikap kritis. Ignoring the proverb “silence is golden,” he unravels layers of problems that cannot be understood with the naked eye. Being a mouth for those who cannot speak, an eye for those who cannot see, and an ear for those who cannot hear. It is no longer the time to stay silent—it is time to be critical.

J

ompet Kuswidananto, seniman asal Yogyakarta yang telah dikenal dengan karya instalasi yang ia pamerkan di India, Australia, Singapura, Taiwan, Jerman, hingga Korea. Melalui karya, ia tidak berdedikasi untuk mengubah sesuatu, karena itu terlalu naif, ujarnya. Mengajak adalah tujuan utamanya. Dengan menggunakan pendekatan paham kebudayaan, Jompet menggiring audiens untuk kembali melihat persoalan yang telah ada atau pun yang sedang terjadi di sekitar mereka. Layaknya insan yang bertumbuh, Jompet pun merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Hubungan erat yang terjalin membentuk sebuah kenyataan bahwa ia dan masyarakat menghadapi persoalan secara bersama-sama. Jompet sebagai seorang seniman, dituntut untuk mampu berkontribusi dalam mencari jawaban atas persoalan-persoalan tersebut. Jompet sendiri berkeyakinan bahwa kesenian adalah sebuah alat untuk membantu kita dalam memahami kenyataan. Jompet melihat, sebagian besar dari kita tidak punya cukup keinginan atau pun kemampuan untuk melihat Indonesia dari luar. Seringkali setiap

J

ompet Kuswidananto, a Yogyakarta-based artist, is famous for his art installations that have been exhibited in India, Australia, Singapore, Taiwan, Germany, and Korea. He doesn’t dedicate his work to change something; it is too naïve, he said. His main goal is to embrace people. Using cultural understanding approach, Jompet leads his audience to see the problems that have existed since long time ago or those happening around them. Like a man who grows, Jompet is an inseparable entity from the society. These close relations shape the fact that he and the society must solve the existing problems together. As an artist, Jompet is required to be able to contribute in searching the answers to solve those problems. Jompet himself believes that art is a tool to help us understand the reality. Jompet sees that most of us do not have enough desire or even ability to see Indonesia with an outsider’s eye. Oftentimes, most of us feel too comfortable experimenting in our respective zones. Whereas, in reality, examining Indonesia from the inside is very different than when we see it from the outside.


WE INDONESIANS RULE

Waktu Batu #3. Image courtesy of Mohammad Amin.

TEATER GARASI

124 - 125


TEATER GARASI KELOMPOK TEATER THEATRE COMPANY

Teater Garasi didirikan pada tanggal 4 Desember 1993 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada sebagai bagian pergerakan mahasiswa dalam membuka ruang-ruang diskusi atas kenyataan sosial politik di masa Orde Baru yang represif. Teater Garasi tumbuh tidak hanya sebagai sebuah kelompok teater yang berkutat dengan disiplin seni pertunjukan saja, melainkan sebagai sebuah ruang untuk membaca dan menyingkap kenyataan-kenyataan sosial di masyarakat yang dilakukan para pegiatnya yang memiliki minat dan disiplin seni yang berbeda-beda. Watak lintas disiplin dan karya berdasarkan kajian intensif inilah yang tampaknya sedari awal membuat Teater Garasi berbeda dengan kelompok-kelompok seni pertunjukan lainnya.

Teater Garasi was founded on December 4, 1993 in the Faculty of Social and Political Sciences of Gajah Mada University in Yogyakarta as part of the students’ movement to provide discussion spaces amid a repressive social-political condition during the New Order regime. Teater Garasi grew not only as a theater group that focuses on performing arts, but also as a space to discuss and unveil the social realities in the society by its members who have various interests and art background. This interdisciplinary approach and works based on intensive research made Teater Garasi stand out among other performing arts groups.


WE INDONESIANS RULE

ARKIV VILMANSA

ARKIV VILMANSA SENIMAN VISUAL DAN DESAINER URBAN TOY VISUAL ARTIST AND URBAN TOY DESIGNER

Bila kehidupan adalah sebuah kanvas besar, maka setiap individunya adalah seniman yang menggoreskan garis-garis nasib dan warna-warni dunia. Secara literal, Arkiv Vilmansa melukiskan kehidupannya ke dalam kanvas dan menjadikannya sebuah mahakarya. If life is a giant canvas, then each individual is an artist whose fate paints the world. Arkiv Vilmansa literally paints his life into canvas and turns it into a masterpiece.

A

rkiv Vilmansa sesungguhnya memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek. Namun kecintaannya terhadap dunia seni yang telah tumbuh semenjak dini menggiringnya untuk berpindah haluan hingga kini ia dikenal sebagai seorang seniman multitalenta. Bermula dari kegemarannya mengoleksi urban toys karya Michael Lau yang kemudian menggugah kreativitasnya untuk menciptakan urban toys dengan desain sendiri yang ia beri nama Arkiv Instant. Saat kemudian ia memamerkan prototipe dari Arkiv Instant dalam sebuah situs komunitas, tak disangka berbagai produsen urban toys dari berbagai belahan dunia menghubunginya dan tertarik untuk memproduksi desain tersebut. Hingga pada tahun 2009, Arkiv Instant akhirnya diluncurkan di Taipei oleh sebuah produsen urban toys asal Shanghai yang dipilih sendiri oleh Arkiv. Tanpa ia bayangkan, Arkiv Instant pun meraih kesuksesan dan menjadi buah bibir dalam dunia seni kontemporer hingga ia berhasil menyelenggarakan pameran tunggal internasional pertamanya berjudul Through The Lines di Vincent

A

rkiv Vilmansa actually has a background as an architect. But his love toward the art world, which had been fostered since childhood, took him to another direction. Now he is known as a multitalented artist. It all started with his hobby in collecting the socalled urban toys by Michael Lau. This led him to create urban toys with his own design that he named Arkiv Instant. He then featured the prototypes of Arkiv Instant in a community website, and unexpectedly, many urban toys manufacturers from around the world contacted him and were interested to produce his design. Eventually in 2009, Arkiv Instant was launched in Taipei by a Shanghai-based urban toys manufacturer that Arkiv chose himself. He never dreamed that Arkiv Instant would achieve a lot of successes and became the talk of the town among those involved in the contemporary art world. He also succeeded in organizing his first international solo exhibition titled Through The Lines in Vincent Michael Gallery, Philadelphia, United States in 2011.

130 - 131


WE INDONESIANS RULE

Image courtesy of Timur Angin

EKO SUPRIYANTO

136 - 137


EKO SUPRIYANTO PENARI DANCER

Laksana angin yang sanggup berbisik lembut maupun berhembus kencang, begitu pula gerakan tari. Seni olah tubuh yang dapat mengalun anggun namun juga merentak perkasa. Bagaimana pun ritmenya, yang terpasti sebuah tarian akan selalu mampu menjadi sarana penyampai perasaan dan mencurahkan energi. Like the wind that can whisper softly as well as blow hard, so can dance movements. The art of body movements that can flow elegantly but also mightily stomp. Whatever the rhythm, a dance will always be a medium to convey feeling and transport energy.


WE INDONESIANS RULE

DEWI LESTARI

DEWI LESTARI PENULIS AUTHOR

Berbagai penulis ternama telah menggoreskan pena mereka demi mengabadikan kisah-kisah yang tak dapat terlupakan bagi dunia sastra Indonesia. Nama-nama seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Pramoedya Ananta Toer seringkali muncul di tengah perbincangan akan sejarah negara ini maupun dalam diskusi di kelas-kelas Bahasa Indonesia. Many legendary authors have written unforgettable works for Indonesian literary world. Names like Sutan Takdir Alisjahbana and Pramoedya Ananta Toer often appear amid talks on this country’s history or discussions inside Bahasa Indonesia classes.

N

amun di era modern seperti sekarang, tak dapat dipungkiri karya sastra perlahan-lahan mulai kehilangan pamornya di tengah-tengah masyarakat yang kini sibuk mengunjungi dunia maya. Untungnya, Indonesia tidak pernah mengalami kekurangan talenta sastra. Pasca-Reformasi, sejumlah penulis kontemporer berhasil menarik kembali gairah membaca masyarakat, dan salah satu dari mereka bernama Dewi Lestari. Meskipun pada awalnya Dewi—yang bernama pena Dee—mencuri mata publik sebagai salah satu personil dalam grup vokal Rida Sita Dewi, ia telah mulai menulis sejak kecil. Sama halnya dengan bermusik, menulis merupakan sebuah aktivitas yang dipandangnya esensial untuk mengekspresikan diri secara kreatif. Berangkat dari satu manuskrip, Dee menerbitkan novel pertamanya Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh pada tahun 2001. Menceritakan

B

ut in this modern era, it cannot be denied that literary works have slowly lost its fans, what with the society that is now tethered to their Internet-connected gadgets. Fortunately, Indonesia has never experienced a lack of literary talents. Post-Reformation, a number of contemporary writers have succeeded in attracting many readers—one of them is Dewi Lestari. Although in the beginning, Dewi—whose pen name is Dee—started gaining public attention as one of the personnel in the vocal group Rida Sita Dewi, she has started writing since her childhood. Just like making and performing music, for her, writing is an essential activity to express oneself creatively. Starting with one manuscript, Dee published her first novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh in 2001. Telling a story about love relationships between various characters and peppered with metaphysical and philosophical

142 - 143


All images courtesy of Reza Gunawan.


WE INDONESIANS RULE

SINGGIH KARTONO

146 - 147


Tatkala manusia modern cenderung mengagungkan teknologi dalam tiap detak kehidupan urban, Singgih Kartono muncul sebagai antitesis dari paradigma tersebut. Sosoknya

SINGGIH KARTONO

yang membumi membuatnya memilih untuk menjadikan alam sebagai sumber inspirasi

DESAINER PRODUK

dengan desa sebagai tempat mewujudkan

PRODUCT DESIGNER

gagasan-gagasan besarnya. While modern humans tend to glorify technology in every moment of their urban lives, Singgih Kartono emerges as an antithesis toward that paradigm. His downto-earth personality makes him choose the nature as a source of his inspiration with the village as his place to accomplish great ideas.

P

T

Singgih Kartono melakukan hal sebaliknya. Beberapa saat setelah menamatkan studinya di

The opposite happens to Singgih Kartono. A while after completing his studies at the Faculty

erubahan zaman telah menempatkan kota besar dengan segala teknologi modernnya sebagai surga dunia yang dikejar-kejar oleh setiap manusia. Situasi ini semakin menempatkan desa sebagai tempat terbelakang yang tak lagi ditoleh. Daya tarik kota membuat desa menjadi komunitas yang kehilangan orang-orang pintar di dalamnya. Warga desa yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi lebih memilih tinggal di kota, tidak lagi kembali ke kampung halaman.

he changing times have made big cities, equipped with the latest modern technology, the world paradise that is chased by everyone. This situation has put the rural areas as a backward place that no one cares about. The attraction of the cities turns villages into a community that has lost its smart residents. Villagers who are lucky to have opportunities in attaining higher education choose to live in the city and no longer go back to their hometowns.


WE INDONESIANS RULE

PAPERMOON PUPPET THEATRE

PAPERMOON PUPPET THEATRE KELOMPOK TEATER BONEKA PUPPET THEATRE COMPANY

152 - 153


WE INDONESIANS RULE

WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY

158 - 159


WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY MUSISI MUSICIAN


WE INDONESIANS RULE

DIDIK NINI THOWOK

164 - 165


DIDIK NINI THOWOK PENARI DANCER


WE INDONESIANS RULE

ANDRA MATIN

ANDRA MATIN ARSITEK ARCHITECT

170 - 171


IRWAN AHMETT

WE INDONESIANS RULE

176 - 178

IRWAN AHMETT SENIMAN EKSPERIMENTAL EXPERIMENTAL ARTIST

Tanpa sadar kita melakukan jutaan eksperimen untuk menemukan rumus kebahagiaan. Banyak yang gagal, tetapi tidak sedikit yang berhasil. Gelapnya kegagalan memang pekat, tetapi percayalah, waktu selalu bisa menerbitkan kirana kebahagiaan. Unconsciously, we have gone through millions of experiments to find the formula of happiness. A lot of people have failed, but many others manage to succeed. The darkness of failure can be suffocating, but believe that over time, the shine of happiness will arise.

W

aktu adalah ruang fana yang memajang banyak pijakan anak tangga untuk kita lalui. Pijakan yang akrab disapa proses. Jalan setapak per anak tangga inilah yang dilalui oleh seorang Irwan Ahmett. Pribadi berkarakter dan kompleks yang berpegang pada mimpinya yang sederhana, yaitu menjadi bahagia. Irwan Ahmett adalah seorang seniman kontemporer kelahiran Ciamis, Jawa Barat. Ia mengawali masa hidupnya sebagai seorang desainer grafis dan seniman. Butuh waktu sepuluh tahun baginya untuk memutuskan bahwa menjadi seorang desainer grafis tidak cukup untuk membawanya kepada jalan hidup yang dituju, ia pun memilih untuk lebih fokus menjadi seorang seniman. Change Yourself (2005-2007) adalah proyek tentang perubahan yang ia deklarasikan sebagai sebuah proyek seni yang menerapkan praktik komunikasi visual dalam aplikasinya. Melalui proyek ini ia mendorong setiap individu untuk melihat bahwa setiap perubahan kecil dapat menghasilkan perubahan besar yang sangat berarti. Pemilihan medium desain grafis sebagai elemen seni ini tidak ia pandang sebagai sesuatu yang kontradiktif. Seperti halnya seorang ibu yang melahirkan anaknya, desain pun lahir dari rahim seni. Menurutnya, dengan seni seseorang dapat menciptakan sebuah sistem sendiri, meskipun tidak dapat dipungkiri tantangannya sangat besar. Irwan Ahmett melihat seni sebagai sebuah ideologi. Pemahaman yang membebaskan seseorang untuk lebih mengekspresikan dan memandang sesuatu dengan cara yang berbeda.

T

ime is a mortal space that surrounds each and every one of us with a lot of steps to go through. Irwan Ahmett is one who has gone through those steps. A personality with characters and complexity who holds on to his simple dream: to be happy. Irwan Ahmett is a contemporary artist who was born in Ciamis, West Java. He started his career as a graphic designer and an artist. After ten years, he realized that the world of graphic design was not enough to bring him to the way of life he aims for; hence he chose to focus on becoming an artist. Change Yourself (2005-2007) is a project about change that he declared as an art project that applied the practice of visual communication. Through this project, he pushed each individual to see that small changes can trigger a big meaningful revamp in one’s life. He does not see the choice of graphic design medium as an artwork element to be something contradictive. Just like a mother who gave birth to a child, design was born from the womb of art. The difference is if design focuses on function, art cares more about aesthetic. According to him, through art, someone can create his own system, although faced with substantial challenges as well. Irwan Ahmett sees art as an ideology. An understanding that gives freedom to someone in expressing and viewing an object through a different point of view. The concept that is created by the universe to balance the points of problems. Without doubt, he said if we talk about art, then we talk about conscience. Art is the center of happiness for Irwan Ahmett.


“Seni saya adalah seni intervensi yang menghasilkan perubahan emosi” “My art is an interventionist art to trigger emotional changes.”


WE INDONESIANS RULE

EKO NUGROHO

66 - 67


EKO NUGROHO SENIMAN VISUAL VISUAL ARTIST

Pesan-pesan sosial yang menggelitik, absurd, dan membumi menyuntikkan warna segar bagi seni rupa Indonesia. Eko Nugroho seperti pelan-pelan menarik kita menuju dunia campursari komikal rasa Indonesia. Social messages that are satirical, absurd, and downto-earth have injected fresh colors to the Indonesian visual art world. Artist Eko Nugroho slowly pulls us to his comical world with a taste of Indonesia.


Credits

Alvin Tjitrowirjo Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Image courtesy of AlvinT Text by Riksa Afiaty

Ockto Baringbing Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Merdeka (page 51) courtesy of M&C Koloni Text by Primo Rizky

Mouly Surya Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry fiksi. poster (page 23) courtesy of Cinesurya Text by Nico Novito

Jogja Hip Hop Foundation Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Tria Nin

Didiet Maulana Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Primo Rizky Agate Studio Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Football Saga 2, Up In Flames, Vindicta (page 32) screenshot courtesy of Agate Studio Text by Riksa Afiaty Nancy Margried Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Primo Rizky Leonard Theosabrata Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Primo Rizky Djuhara + Djuhara Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Riksa Afiaty

Wahyu Aditya Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Puri Anindita Joko Anwar Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Location: Reading Room – Jalan Kemang Timur Raya No. 57, Jakarta Text by Puri Anindita Daniel Surya Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry WIR Group office (page 74) image courtesy of DM-ID Holland Text by Primo Rizky Budi Pradono Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Nico Novito UNKL347 Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Riksa Afiaty

Edwin Image courtesy of babibutafilm / Sony Setiawan (page 88) Still image from the movie Someone’s Wife In The Boat of Someone’s Husband (page 91) Image courtesy of babibutafilm / Dave Lumenta Still image from the movie Kara, Anak Sebatang Pohon (page 91) Image courtesy of babibutafilm Image courtesy of babibutafilm / Eriekn Juragan Still image from the movie Blind Pig Who Wants to Fly (page 91) Image courtesy of babibutafilm Text by Nico Novito Nial Djuliarso Image courtesy of Tia Mutiasari Text by Puri Anindita Anton Wirjono Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Location: The Goods Dept - Pacific Place, Jakarta Text by Primo Rizky AR&Co Image courtesy of AR&Co Text by Primo Rizky Nan Jombang Dance Company Tarian Malam (page 106, page 108, page 111) Image courtesy of Nan Jombang Dance Company Text by Juventia Vicky Tex Saverio Tex Saverio and Faye Liu (page 113) Image courtesy of Moreno & Co White Collection (page 115)


Image courtesy of Davy Linggar The Revelation (page 116) Image courtesy of Dewi Magazine Text by Nico Novito Jompet Kuswidananto Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Juventia Vicky Teater Garasi Waktu Batu #3 (page 124) Image courtesy of Mohammad Amin Tubuh Ketiga (page 126) Image courtesy of Mohammad Amin Repertoar Hujan (page 128) Image courtesy of Iwan Prananto Text by Teater Garasi Arkiv Vilmansa Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Primo Rizky Eko Supriyanto Image courtesy of Timur Angin (page 136) Opera Jawa Iron Bed with Garin Nugroho (page 139-140) Image courtesy of Blontank Poer Text by Primo Rizky Dewi Lestari Image courtesy of Reza Gunawan Text by Nico Novito Singgih Kartono Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Primo Rizky

Papermoon Puppet Theatre Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Tria Nin White Shoes And The Couples Company Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Location: Café Mondo – Jalan Kemang Raya No. 72i, Jakarta Text by Tria Nin Didik Nini Thowok Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Juventia Vicky Andra Matin Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Puri Anindita Irwan Ahmett Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry I Am Sending You A Signal (page 180-181) courtesy of Irwan Ahmett Text by Juventia Vicky Eko Nugroho Image courtesy of Diana Widjaja / Studio Geometry Text by Tria Nin


Vivamus pulvinar, dolor non eleifend sagittis, ligula mi ultricies lorem, at sagittis ante orci at nisl. Etiam eleifend euismod massa at pellentesque vivamus pulvinar, dolor non eleifend sagittis, ligula mi ultricies lorem, at sagittis ante orci at nisl. Etiam eleifend euismod massa at pellentesque.


We Indonesians Rule