Page 1

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

1


2

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


Editorial RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Kesejahteraan petani I­ ndonesia bisa dibilang jauh dari harapan. Peran ­penting petani sebagai penyedia p ­ angan nasional, tidak ­diimbangi dengan ­kesejahteraan mereka. Petani tetap akrab ­dengan ke­miskinan. Pada ke­ nyataannya, petani ­Indonesia ­mayoritas adalah p ­ etani gurem yang memiliki ­lahan kurang dari setengah ­hektare.

U

paya untuk meningkatkan kesejahteraan petani di­ lakukan pemerintah dengan menggulirkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. RUU ini ­diyakini bisa membantu untuk menyejahterakan para petani dan mampu mengatasi persoalan yang dihadapi petani. RUU ini dilahirkan salahsatunya ­untuk membuka sum­ bat yang menutup akses petani ter­ hadap permodalan, semisal kredit perbankan. Hal itu lebih disebabkan karena ­sektor pertanian dicap bere­ siko tinggi untuk merugi. Nantinya, dengan RUU yang sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) ini antara lain memuat gagasan tentang bank petani dengan prosedur yang tidak berbelit-belit. Bank penting untuk memudahkan petani mendapat permodalan dengan bunga rendah demi pem­berdayaan dan pengem­ bangan produksi. Sepatutnya, petani tidak digolong­ kan dalam mekanisme perbankan murni agar tidak menghambat akses modal bagi mereka. Kalangan

petani perlu diarahkan untuk lebih akrab dengan dunia perbankan demi pengembangan produksi mereka. Petani tidak bisa disamakan dengan nasabah dan aturan kredit konvensional karena mereka relatif sulit mengajukan pinjaman modal dengan agunan. Apalagi bila bunga yang diterapkan cukup tinggi. ­Dengan kata lain, pembentukan bank pertanian yang menyediakan kredit lunak bagi kalangan petani harus segera diwujudkan. Memang, pemberian kredit ber­ bunga ringan juga perlu memer­ hatikan prinsip kehati-hatian bank serta kepercayaan tetap di­utamakan meski dari sisi prosedur seleksi bank lebih longgar. Nah, ini tinggal masalah pengawasan saja agar terhindar dari kredit macet. Masalah kredit pertanian adalah satu dari sekian banyak masalah yang membelit petani Indonesia. Banyak persoalan dan tan­tangan yang dihadapi petani terkait peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Kebijakan atau regulasi di­ perlukan bukan sekadar bertujuan meningkatkan produksi pertanian, namun turut melindungi dan memberdayakan petani menuju kemandirian ekonomi. Nah, RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani bisa men­ jadi pintu masuk menuju cita-cita kedulatan petani. Mengapa RUU tersebut penting? Salah satu alasan utama adalah perlunya jaminan terhadap petani beserta hasil-hasil panennya. Karena, kesejahteraan petani tergantung kepemilikan luas

RUU ini dilahirkan salahsatunya untuk membuka sumbat yang ­menutup akses petani ter­ hadap permodalan, semisal kredit perbankan. Hal itu lebih disebabkan karena sektor ­pertanian dicap beresiko tinggi untuk merugi.

lahan dan produktivitas hasil panen sehingga mampu menghasilkan panen yang baik. Secara substansi, dengan adanya peraturan ini petani mendapatkan jaminan ke­tersediaan lahan, insentif dan jaminan jika terjadi gagal panen. Kondisi anomali iklim dan faktorfaktor tak terduga lainnya yang sering terjadi, memungkinkan masih terjadinya peluang gagal tanam atau panen di tingkat petani. Pada kondisi ini selayaknya petani mendapat payung perlindungan yang bisa mengcover kerugian dimaksud dalam bentuk asuransi pertanian. Dan, akhirnya, semoga RUU per­ lindungan dan pemberdayaan petani menjawab persoalan petani di Indonesia? Amien.

Salam Wuryani Pujiastuti

Majalah STOMATA PELINDUNG: Dewan Komisaris. PEMBINA: Dewan Direksi, Mulia Siregar. PEMIMPIN UMUM: Wuryani Pujiastuti. WAKIL ­PEMIMPIN UMUM: Siswo Hadi. PEMIMPIN REDAKSI: Anugrah T. Aji. WAKIL PEMIMPIN REDAKSI: Budhi Santoso. DEWAN KEBIJAKAN REDAKSI:­ Tatang Setiawan (ketua), Budhi Santoso, Mirwan, Marsudiyono, Siswo Hadi, Anugrah T Aji, Charlie Samosir. REDAKTUR ­PELAKSANA: ­Charlie ­Samosir. REDAKTUR SENIOR: Syarif Hidayatullah. REPORTER: Indra Maliara, Ishak Pardosi, Dede Supriatna, Rega Adhiprana. FOTO­GRAFER: ­Sarwono. ­DESAIN GRAFIS: Basuki Rahmat. LAYOUT/TATA LETAK: Imam Wihartanto. DOKUMENTASI & RISET: Norman. TI, WEB & DATA: Bayu ­Nurcahyono. PEMIMPIN USAHA: Baban Sya’ban. PRODUKSI & PERCETAKAN: Dede Nandi. ADM.KEU/IKLAN/­ SIRKULASI: ­Mirwan, Solichin. ALAMAT: Jalan Pertani No. 1-7 Duren Tiga, Pancoran Jakarta Selatan. KONSULTAN MEDIA: PT WAHANA CITRA MEDIA. Jalan Pancoran Barat II, No. 38A. Email: wahana.media.citra@gmail.com STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

3


MATABACA Edisi 2/Tahun I/November 2012

35-39

PERTANI PILAR UTAMA BUMN PANGAN NASIONAL

MATAHATI Ketahanan pangan nasional sudah mendesak untuk direalisasikan. Kendati tak mudah, performa Ke­ menterian BUMN sebagai lembaga yang menaungi sejumlah badan yang mengurusi pangan memang sedang diuji. Beruntung, Menteri BUMN Dahlan Iskan rupanya sudah punya impian mewujudkan cita-cita itu. PT Pertani (Pertani) dipercaya untuk membangun BUMN Pangan Nasional. Berikut penuturan Eddy Budiono, Dirut PT Pertani.

MATAKANCING

KOMITMEN SAHABAT SETIA PETANI

Sejatinya, sebelum Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) dimulai, PT Pertani (Perseroan) sudah merangkul petani. Dan­ anya sebesar Rp 122 miliar di 2011. Berikut penuturan Direk­ tur Industri PT Pertani (Persero) Agung Darmawan.

12-17

18-21

44-49

54-55

52-53

PROSPEK EKONOMI PADI HITAM

MATAUNIK

4

28-31

Bahkan, orang China kuno telah mengenal beras hitam sebagai ‘forbidden rice’, artinya hanya kalangan istana dan tertentu saja boleh me­ makannya. Kini, beras hitam merupakan salah satu jenis beras yang hampir punah se­ hingga dapat dikatakan jenis beras yang langka.

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

22-23 KEDELAI DAN TEORI KAIN SARUNG

MATAAIR

Fakta di lapangan, kedelai adalah tanaman yang dibudidayakan secara kurang serius oleh petani, mengingat nilai yang diperoleh dari tanaman kedelai masih lebih rendah diband­ ingkan dengan jagung bahkan mungkin padi. Untuk itu, rencana swasembada kedelai perlu diuji dengan ‘’Teori Kain Sarung.’’

MATAKAIL Potensi Kedelai Di Daerah Peninggalan Kerajaan Mataram MATAILMU Asyiknya Budidaya Cucakrowo & Lovebird Di Tangan Komisaris PT Pertani MATACINCIN Wakil Ketua PPATK Ternyata Juragan Kambing Desa Pandansari MATARANTAI Rahasia Penyerbukan oleh Lebah


Mata-Mata Musim Kering ­Menggila, Nasib Petani Makin Merana Banyak Petani Subang Terjerat Rentenir

Lewat majalah Stomata saya ingin sedikit menyampaikan keluh ­kesah. Sebagai petani di ­Indramayu, saya terkena imbas dari panjangnya musim kemarau yang terjadi saat ini. Akibatnya, saya harus menunda menanam padi akibat tanah mengeras dan sulit ditanami. Akhirnya, untuk menanam padi, saya harus menunggu curah hujan cukup. Meski dalam sepekan ini memang sudah pernah turun hujan, namun intensitasnya belum mampu membantu lahan per­ tanian petani menjadi gembur dan mudah ditanami padi. Buat saya periode bulan JuliAgustus sebenarnya sudah masuk musim menanam, tetapi karena kondisi tanah tidak memungkin­ kan, sehingga hingga September masih belum menyebar benih ke areal pertanaman padi. Untuk itu, lewat Stomata ini, saya ingin mengetuk hati pemerintah mencarikan solusi dari masalah ini. Terima kasih Agus Anshori

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Alih Fungsi Lahan Pertanian DARI tahun ke tahun, alih fungsi lahan dari areal pertanian menjadi kawasan perumahan, perkantoran, dan industri, cukup mengkhawatirkan. Hal ini akan mengancam ketahanan pangan di Indonesia. Jika tidak ada penanganan yang serius, jumlah sawah yang diuruk menjadi kawasan lain akan ­semakin banyak. Pe­merintah sendiri sudah memiliki k­ onsep rencana umum tata ruang untuk mengatur lahan pertanian yang tidak dapat dialih fungsi­ kan dengan disertai ancaman sanksi. Namun, realisasinya tidak berjalan optimal karena ada per­ timbangan ekonomis.

Pertama, selamat saya ucapkan atas lahirnya majalah Stomata. Semoga Stomata dapat terus langgeng memberikan solusi masalah pertanian kepada petani. Kedua, Stomata dapat memberikan masukan kepada pe­merintah untuk lebih menunjukkan ke­ber­pihakan terhadap masalah pertanian. Ada satu masalah petani di ­daerah kelahiran saya di Subang, Jawa Barat. Sebagai putra daerah, saya melihat pemerintah belum memberikan perhatian lebih serius terhadap nasib petani. Salah satunya dalam penyediaan sarana infrastruktur, perhatian juga sangat diperlukan pada saat masa tanam dan masa panen. Soalnya, dalam kondisi berbeda tersebut, ternyata masih banyak petani yang dirugikan oleh praktek pengijon dan rentenir. Misalnya, dalam musim panen, tidak sedikit petani yang tidak gembira, karena hasil panennya harus rela dibagi dengan pihak lain. Jeratan utang dari pihak rentenirlah yang membuat petani pusing. Masalah ini banyak dialami petani di sekitar tempat tinggal saya di Subang.

Dari segi ekonomis, dibandingkan menunggu panen lahan per­ tanian, lebih cepat menghasilkan uang dan menguntungkan jika menjualnya atau dialih-fungsikan. Kebijakan pemerintah menjadi tidak berarti. Ada pengaturan tetapi tidak didukung integritas dan political will dari pemerintah. Ironis!

Sebenarnya petani sadar p ­ injaman yang dilakukan merugikan. Namun karena keadaan terdesak, petani banyak yang gelap mata dengan melakukan pinjaman guna biaya penanaman pada pihak manapun. Akibatnya tidak sedikit petani yang akhirnya ter­ jerat utang pada rentenir.

Semoga pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dan ­kementerian terkait dapat menciptakan solusi untuk me­ ngurangi alih fungsi lahan per­ tanian. Semoga.

Padahal, masalah ini dapat hilang jika pemerintah dan pihak perbankan dapat lebih berpihak kepada petani. Semoga bank pertanian dan bank yang ramah dengan petani dapat terwujud. Amien.

Novita Anggraeni Mahasiswa Fakultas Pertanian Unila

Gunawan Hariyanto STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

5


Dahlan Iskan Menteri Negara Bumn

6

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAANGIN

Men­dengarkan ­ cerita p ­ etani, ­ Dahlan pun ­ berjanji ­membantu ­sebisa mungkin.

Curhat Petani

di Depan Dahlan Iskan Pagi itu, tidak seperti biasanya. Ratusan petani telah ­berkumpul di kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hari itu, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan khusus datang untuk mendengarkan isi curhatan para petani. Dari keluhan hingga cerita sukses.

D

ahlan bertatap muka dengan ratusan per­ wakilan kelompok tani dari seluruh Yogyakarta dalam acara seminar Farmer Go To Campus "Menggagas Strategi Kebijakan Pangan Menuju Kesejahteraan Petani" di UGM pada Sabtu, 22 S­ eptember 2012. Acara yang diselenggarakan Fakultas Pertanian UGM itu, Dahlan mempersilakan belasan perwakilan petani menyampaikan keluhannya. ‘’Per­tanian memang bukan bidang saya, tapi Presiden sudah minta Kementerian BUMN perhatikan sektor pertanian," ujar Dahlan mengawali dialog. Perwakilan berbagai kelompok tani di lima kabupaten/ kota di Yogyakarta lalu membeberkan persoalan yang mereka hadapi ketika bertani. Mulai persoalan benih, lahan, pupuk, pengairan hingga pemasaran. Salah satunya, Munawar, Ketua Gapoktan Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul yang mengeluhkan masalah umum bagi petani seperti telatnya pengiriman benih dan pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba. Anang Sanjaya, Ketua Asosiasi Gapoktan Kabupaten Sleman, mengeluhkan susahnya mengakses pinjaman modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) meski sudah ada program kredit lunak KKPE (Kredit Program Ketahanan

Pangan dan Energi). "Kita sudah sering melakukan komunikasi dengan BRI dan perbankan lainnya, tapi baru tiga Gapoktan yang diberi pinjaman," keluhnya. Kemudian, Munawar, Ketua Gapoktan Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, mengeluhkan telatnya pengiriman benih dan pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba. Namun, kelompok tani tak melulu bertutur keluhan. Cerita sukses petani sampai pula ke telinga Dahlan. Sarjuni, Ketua Gapoktan Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, ­Ka­bupaten Bantul menceritakan kawasan tempat tinggalnya awalnya kesulitan air dan terhitung kawasan kering karena terletak di perbukitan batu cadas. Lalu, warga di kawasannya berinisiatif mengerjakan pipanisasi yang menyalurkan air dari sungai besar ke kawasan permukiman lebih tinggi. "Sekarang kami kelebihan air, dan Gapoktan kami mewakili DIY di ­kompetisi nasional," kisah Sarjuni. Puas mendengarkan cerita petani, Dahlan pun berjanji membantu sebisa mungkin. Di antaranya ­me­mak­simalkan kinerja BUMN bidang pertanian seperti PT Pertani, PT Sang Hyang Seri, Bulog dan PT Pupuk Indonesia. STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

7


MATAANGIN

Foto: Istimewa

SAWAH. Petani membutuhkan kemitraan dengan BUMN.

Dahlan juga menjanjikan akan melaporkan ­keluhan-keluhan petani ke Kementerian Pertanian agar ­segera mendapat penanganan. Soal ­pinjaman ­modal, dia berjanji segera membicarakannya ­dengan BRI yang terhitung bawahannya. "Tapi ­jangan suka mengeluh. Cerita petani yang bisa ­mandiri harus kita tiru," ujar dia. Menurut Dahlan, untuk meningkatkan ­ke­­sejah­teraan petani pemerintah harus berani membeli hasil per­tanian dengan harga tinggi, bukan memberi ­subsidi kepada para petani. "Beli padi dengan harga tinggi, jangan hanya memberi subsidi. Subsidi bisa ­dibicarakan lagi," katanya. Namun, gagasan yang dilontarkannya ini belum sepenuhnya diterima banyak pihak. Masih ada pro dan kontra. Ia berjanji akan terus berusaha meyakinkan pihak-pihak yang belum mau menerima gagasan tersebut. Jika gagasan ini diterima dan menjadi kebijakan pemerintah, dia yakin tidak akan ada demonstrasi yang menolaknya. "Saya berharap

gagasan ini di­dukung oleh petani dan bukan hanya elite-elite petani atau elite akademisi," ujarnya. Kementerian BUMN yang dipimpinnya juga akan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian demi ke­ tahanan pertanian dan pangan di Indonesia. Ia mem­ berikan contoh terkait produksi pupuk o ­ rganik. Nanti­ nya, pabrik milik BUMN tidak perlu lagi memproduksi pupuk organik. Pupuk organik akan diproduksi oleh petani dan kelompoknya lalu disalurkan melalui BUMN. "BUMN hanya pengepul saja dari petani tanpa ambil untung sebelum akhirnya pupuk disalur­ kan ke ­ma­syarakat. Yang penting nanti jelas soal standa­risasi jenis pupuk maupun kualitasnya," tegas Dahlan. ­Di akhir acara, Dahlan memberikan be­ berapa jenis penghargaan kepada petani berprestasi serta pe­luncuran buku berjudul “Surat Petani untuk Dahlan Iskan”. Ishak Pardosi

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani pemerintah harus berani membeli hasil pertanian dengan harga tinggi, bukan memberi subsidi kepada para petani.

8

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAANGIN

Bersama Mewujudkan

Ketahanan Pangan Ketahanan pangan nasional sudah mendesak untuk direalisasikan. Kendati tak mudah, performa Kementerian BUMN sebagai lembaga yang menaungi sejumlah badan yang mengurusi pangan memang sedang diuji. Beruntung, Menteri BUMN Dahlan Iskan rupanya sudah punya impian mewujudkan cita-cita itu.

S

alah satunya dengan menggabungkan PT Pertani, PT Sang Hyang Seri (SHS), Perum Bulog, PT Ber­dikari, dan PT Pupuk Indonesia. Kelima perusahaan pelat merah ini akan lebih fokus terhadap masalah pangan dan pupuk. Saatnya nanti, PT Pertani akan bergerak dalam bidang pengelolaan gabah, SHS mengurus benihnya, Bulog sebagai pengelola beras, Berdikari yang me­ngurus ­ternak, sedangkan Pupuk Indonesia yang akan ­mengatur pupuk bagi tanaman pangan. "Saya ingin­ nya ada satu perusahaan lagi," tandas Menteri BUMN Dahlan Iskan, belum lama ini.

­ eningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi P (GP3K). Tujuannya, mendukung target surplus produksi beras sebesar 10 juta ton pada 2014. Selain program GP3K, kelima BUMN pangan tersebut juga akan melakukan program ekstensifikasi berupa pencetakan sawah baru seluas 100.000 hektar. Dari luas itu, 30.000 hektar akan digarap PT Pertani, 40.000 hektar oleh PT SHS, dan 30.000 hektar oleh Pusri. Kembali pada program GP3K hingga 2014, BUMN pangan ini akan berusaha mengelola lahan satu juta hektar per tahun yang diproyeksikan dapat menghasil­ kan minimal tiga juta ton beras. Hal ini berawal dari penetapan otonomi daerah, di mana Menteri Pertanian hingga bupati-bupati tidak turun ke sawah lagi.

Dalam merealisasikan penggabungan itu, kata Dahlan, setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun. ­"Harapannya akhir 2014, tetapi untuk merealisasikan­ nya tidak bisa dipaksakan cepat," ujarnya. Tahun ­depan, impian itu niscaya akan tercapai. Namun, ke­ lima BUMN per­tanian itu harus terlebih dulu memiliki budaya kor­porat yang selaras. Rencana peng­gabungan lima ­entitas ini masih dalam program Rightsizing (penyesuaian jumlah) BUMN 2013. Nama holding hasil perkawinan yang diusulkan pemerintah pun cukup keren yakni PT Pangan Nusantara.

Meski pembentukan BUMN Pangan tersebut ­sudah masuk dalam rencana program “right ­sizing” BUMN, namun Dahlan belum memastikan nama per­usahaan hasil merger (holding) BUMN Pangan ter­sebut, walaupun usulannya sudah ada. ­Dahlan hanya menjelaskan, pada tahap awal, untuk men­capai target-target tersebut pihanya mem­ prioritaskan penggabungan PT Pertani dan PT SHS sebagai ­program jangka menengah.

Sejak 2011, pemerintah sebenarnya sudah men­ canangkan sebuah program bertajuk Gerakan

“Dua BUMN ini bisnisnya hampir mirip, ­pe­ng­em­bangan benih dan distribusi pupuk. Nantinya

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

9


MATAANGIN

Foto: Istimewa

SAWAH. Dahlan sedang dialog dengan petani.

setelah merger, Pertani fokus pada gabah, sedangkan Sang Hyang Seri yang fokus pada pengembangan benih. Intinya masing-masing BUMN akan memiliki spesialisasi,” tegasnya. Selanjutnya, BUMN lainnya seperti PT Berdikari akan difokuskan pada pengembangan peternakan, dari sebelumnya juga menjadi distributor pupuk. Sedangkan Perum Bulog, sesuai dengan kapasitas­ nya bisa menjadi perusahaan yang selalu siap me­ nampung produksi gabah dan beras petani, serta bisa di­kembangkan dengan komoditas lainnya. “Kalau perusahaan-perusahaan tersebut disinergikan, maka masalah ketahanan pangan nasional bisa di­ jamin,” ujarnya. Untuk itu, tambah mantan Direktur Utama PT PLN ini, yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana secepat­ nya masing-masing BUMN tersebut dapat memiliki kekhususan, sehingga unggul pada setiap komoditas yang dijalaninya.

10

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Diharapkan, hingga 2014, BUMN pangan ini akan berusaha men­ ciptakan lahan satu juta hektar.

“Jenis kelamin (kekhususan BUMN) harus diperjelas, se­ hingga tidak ada yang memiliki bisnis tumpang t­ indih dengan yang lainnya. Dengan begitu BUMN yang bersangkutan kapasitasnya bisa lebih ditingkatkan,” ujarnya. Ishak Pardosi/Rega Indra Adhiprana


MATAANGIN

Jangan Bawa Parpol Mewujudkan ketahanan pangan nasional seolah menjadi santapan semua kalangan. Tidak terbentur oleh perbedaan pandangan, apalagi harus sampai membawa bendera partai politik. Kata kuncinya sederhana, ketahanan pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan adalah menjadi citacita sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat. Itu artinya, semua kalangan harus terlibat.

Usaha itu tidak akan bisa hanya dipikul oleh pemerintah saja. Namun juga harus melibatkan kalangan entrepreneur, petani, lembaga ke­ uangan, termasuk BUMN Pertanian,” tandas anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi kepada Stomata, beberapa waktu lalu. Menurut Viva Yoga, BUMN Pertanian menjadi bagian terpenting. Sebagai perusahaan perwakilan pemerintah, setidaknya terdapat empat poin ­penting yang tidak boleh dilewatkan. Pertama, membantu pemerintah membuka lahan sawah baru dengan melibatkan pihak swasta. Misalnya serius membangun food estate sebagai sentra produksi pangan nasional. “Harus diakui, saat ini usaha ke arah itu tidak serius, kurang tertata dengan baik, karena kebijakan pemerintah yang masih tumpang tindih,” urai legislator yang duduk di komisi pertanian ini.

Foto: Istimewa

Viva Yoga Mauladi Anggota Komisi IV DPR

Selanjutnya, BUMN Pertanian juga bertugas menciptakan sekaligus me­ nyediakan benih dan pupuk unggul yang tahan terhadap perubahan cuaca dan organisme pengganggu tanaman (OPT). “Petani sangat membutuhkan itu,” katanya. Selain berupaya menciptakan benih dan pupuk berkualitas, Viva Yoga juga menekankan pentingnya inovasi teknologi di tubuh BUMN Pertanian. Termasuk menggenjot modal usaha dengan menggandeng perbankan. “Peningkatan produksi dan produktivitas melalui inovasi teknologi dan sokongan modal usaha melalui bank, punya peranan penting jika ingin berangkat menuju ketahanan pangan,” papar politisi PAN ini. Viva Yoga juga punya impian agar Indonesia terbebas dari belenggu impor. Bagi dia, sebagai negara agraris, Indonesia seyogianya mengekspor pangan ke seluruh dunia. Itu sebabnya, dia sangat berharap perkawinan dua BUMN Pertanian bisa menjawab tantangan itu. “Itu harapan kita. BUMN Pertanian wajib berorientasi ekspor agar ada nilai tambah bagi kesejahteraan petani,” pungkas dia. Ishak Pardosi

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

11


MATAANGIN

“

Meski sudah ada wacana untuk melakukan pembentukan holding BUMN Pangan, Dahlan tidak akan langsung menggabungkan perusahaan tersebut dalam satu induk perusahaan.

“

12

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Foto: Istimewa


MATAANGIN

Pilar Utama BUMN

Pangan Nusantara Kalangan DPR mendukung upaya pemerintah untuk menggenjot kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang ketahanan pangan. Untuk itu, Menteri Negera BUMN Dahlan Iskan harus segera merumuskan grand strategi yang jelas dalam mendukung ketahanan pangan oleh BUMN.

S

alah satunya langkah yang diambil Kementerian BUMN adalah menggabungankan BUMN yang bergerak di bidang pangan. Lima perusahaan pelat merah yang akan untuk dijadikan satu holding menjadi PT Pangan Nusantara itu terdiri dari PT Pertani, PT Sang Hyang Seri, Perum Bulog, PT Berdikari, serta PT Pupuk Indonesia. Menurut Ketua Komisi IV DPR Romahurmuziy, penggabungan perusahaan pelat merah tersebut bakal meningkatkan efektifitas kinerja perseroan. Rantai birokrasi pun terpangkas sehingga menjadi lebih efisien. “BUMN Pangan saat ini bisnisnya tidak fokus. Maka dari itu, kemampuan sinergi perusahaan perlu ditingkatkan,” kata Rommy, panggilan Romahurmuziy. Dengan sinergi BUMN Pangan, Anggota DPR dari Fraksi PPP itu yakin akan mendongkrak produksi pangan nasional yang berimbas kepada ketahanan pangan nasional. “Pangan itu soal hidup dan mati. Negara yang memiliki ketahanan pangan kuat akan sulit didikte oleh negara lain. Itu sebabnya kita harus berusaha keras menciptakan swasembada pangan, dengan biaya berapa pun,” tegas Sekretaris PPP itu. Menteri BUMN Dahlan Iskan sendiri sudah menyatakan sinergi lima BUMN ini tertuang dalam dokumen Masterplan BUMN 2012-2014. Meski sudah ada wacana untuk melakukan pembentukan holding BUMN Pangan, Dahlan tidak akan langsung menggabungkan perusahaan tersebut dalam satu induk perusahaan. Dahlan hanya ingin masing-masing perusahaan tersebut memiliki spesifikasi sendiri namun tetap fokus menjalankan program pangan. Untuk tahap awal, Dahlan akan memprioritaskan untuk mensinergikan PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri. Menurutnya, dua BUMN ini memiliki kemiripan model bisnis yaitu benih dan distribusi pupuk.

‘‘PT Pertani akan fokus pada gabah. Sedangkan PT Sang Hyang Sri akan fokus pada pengembangan benih. Intinya masing-masing BUMN akan memiliki spesialisasi,” ujar Dahlan. Langkah sinergi tersebut, menurutnya, selain menciptakan kekuatan besar di bidang pangan juga agar perusahaan-perusahaan itu lebih fokus dan efisien. “Pembentukan BUMN Pangan juga bagian dari program ketahanan pangan nasional,” tegas Dahlan. Dengan membentuk BUMN raksasa di sektor pangan diharap dapat meningkatkan produksi pangan dengan melakukan pengelolaan lahan seluas satu juta hektar untuk digarap secara bersama-sama. BUMN pangan ini akan mengusahakan lahan tersebut hingga 2014. Deputi Bidang Industri Primer Kementerian BUMN Muhammad Zamkhani mengatakan, sebagai tahap awal proses sinergi dua badan usaha pertanian, PT Pertani (Persero) dengan PT Sang Hyang Seri (Persero) diharapkan terealisasikan tahun depan. Sinergi tersebut merupakan bagian dari rencana program penguatan skala (rightsizing) BUMN 2013. “Kedua BUMN pertanian itu budayanya harus diselaraskan,” kata Zamkhani. Budaya yang dimaksud, kata dia, adalah tata cara pengelolaan pertanian dari daerah yang dikelola oleh dua perusahaan itu. Setelah dilakukan penggabungan, selanjutnya pemerintah berencana membuat induk perusahaan (holding) BUMN pertanian. “Nama holding yang diusulkan adalah PT Pangan Nusantara,” kata Zamkhani. Sementara Wakil Ketua Fraksi PAN Viva Yoga Mauladi mengisyaratkan PT Pertani (Persero) bakal didaulat menjadi pilar utama BUMN Pangan Nusantara. Hal itu dapat dilihat dari ditunjuknya Eddy Boediono yang sebelumnya menjabat Dirut SHS (Sang Hyang Seri) sebagai orang nomor satu PT Pertani. ‘‘Eddy sudah mengenal dengan baik budaya kerja, manajemen di SHS dan Pertani. Tentunya, langkah ini akan berjalan dengan baik,’’ katanya. Rega Indra Adhiprana

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

13


MATAHATI

Eddy Budiono Dirut PT Pertani (PERSERO)

Sebagai orang nomor satu ­­PT Pertani (Persero), Eddy ­Budiono punya t­ anggung­ jawab besar. Ia dipercaya ­untuk membawa ­Pertani ­sebagai ­pilar utama BUMN Pangan N ­ asional. ­Setidaknya ada lima atau enam ­perusahaan pelat merah yang terkait dengan k­ omoditas ­per­tanian dan p ­ eternakan bisa ­digabungkan, melalui opsi merger atau pun mem­bentuk satu ­induk usaha ­(holding) BUMN P ­ angan.

14

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAHATI

“PT Pertani Layak Jadi Champion di Bidang Pangan” Sebagai orang nomor satu ­PT Pertani (Persero), Eddy ­Budiono punya ­tanggung ­jawab besar. Ia dipercaya untuk membawa ­Pertani ­sebagai pilar utama BUMN Pangan Nasi­ onal. ­Setidaknya ada lima atau enam ­perusahaan pelat merah yang terkait dengan k­ omoditas per­ tanian dan peternakan bisa ­digabungkan, melalui opsi merger atau pun mem­bentuk satu ­induk usaha ­(holding) BUMN ­Pangan.

N

antinya, PT Pertani, k­ onsentrasi di bidang pasca panen. Dengan begitu, tidak perlu lagi rebutan dan jegal-jegalan untuk memenangkan proyek benih, ­misalnya. Atau memenangkan proyek pupuk. PT Pertani khusus akan konsentrasi pada penanga­ nan gabah. Gedungnya yang baru di daerah Duren Tiga nanti pun akan diberi nama Graha Gabah. Menurut Eddy, gabah itu memiliki value yang tinggi. Gabah dapat dicreate macam-macam produk. ‘’Makanya kita (PT Pertani) juga ­punya pikiran untuk mem­ buat pabrik pakan ternak. Jadi, value gabah itu tinggi, bisa jadi nantinya beras hanya jadi produk ­sampingan dari gabah.

Sebenarnya, jerami pun bisa di­ manfaatkan untuk bahan baku pembuatan white board,’’ ujarnya ­kepada Rega Indra ­Adhiprana dan Dede Supriyatna dari Majalah Stomata. Eddy juga menjelaskan langkahlangkah perusahaan untuk men­ capai target menjadi ­champion di bidang pangan dan tetap ­membawa PT Pertani (Persero) menjadi “Sahabat Setia Petani”. Berikut petikannya: Bagaimana kesiapan PT ­Pertani terkait Gerakan Pe­ningkatan Produksi Pangan berbasis ­Korporasi (GP3K) yang digulirkan Kementerian BUMN? Pertani merupakan salah satu ­operator cikal bakalnya BUMN Pangan. Kami ingin jadi champion dalam BUMN Pangan. Apalagi infrastruktur PT Pertani yang su­ dah siap, mulai dari industri hulu sampai hilir. Industrinya juga sudah siap, mulai dari benih, pupuk, obat-obatan, gudang, rice milling (penggilingan padi) dan lainnya. Kemudian juga dari sisi infrastruktur industrinya. Sedangkan GP3K boleh dibilang champion dari gerakan dalam mengawal peningkatan produksi pangan yang dilakukan oleh BUMN. Kita juga melakukan itu. Dari aktivitas itu, PT Pertani siap pada infrastruktur di hilir, salah satunya yaitu gudang-gudang kami yang ada di 244 lokasi. Gudang-gudang kami mampu menampung hasil produksi dari aktivitas GP3K.

Di mana saja lokasinya? Lokasi gudang-gudang ­Pertani terletak di sentra-sentra produksi ­pangan Indonesia. Ada yang di ­daerah ­Kerawang, Bekasi, ­Indramayu, ­Grobogan, dan Sragen. Selain itu, kami juga melakukan aktivitas resi gudang. Sebetulnya resi gudang ­merupakan aktivitas yang compatible dengan budidaya pangan, karena dalam resi ­gudang ­intinya membuat lumbung-­lumbung pangan, tapi yang ­menyimpannya (petani) tetap punya uang dari fasilitas pinjaman melalui resi gudang dan di­kelola Kementerian Perdagangan ­(Kemendag). Bukankah Kemendag juga memiliki gudang-gudang di berbagai daerah? Ya. Kemendag juga punya gudanggudang yang pengelolaannya diserahkan ke PT Pertani. ­Hampir sebagian besar resi ­gudang yang dibangun Kemendag di serah ­kelolakan ke kami. Ini berarti ­Kemendag menilai bahwa ­infrastruktur kami sudah lengkap. Dari mulai back up industri hulu, ­aktivitas hulu atau budidaya, termasuk di industri hilir mulai dari pergudangan hingga industri perberasannya. Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta PT Pertani fokus berbisnis gabah nasional untuk menyukseskan GP3K. Apa pendapat Anda? Begini. Beras memang punya isu kuat diantara yang lain karena pemerintah punya target ­untuk surplus beras 10 juta ton ­beras. Namun, jika dari hasil GP3K ternyata petani saat panen

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

15


MATAHATI

mampu ­mem­pro­duksi 3 juta ton, misalnya, lantas siapa yang akan beli? Oke, pra produksi petani bisa mendapat benih dari SHS, lalu pupuknya bisa dapat dari PT Pupuk ­Indonesia. Lalu, setelah panen siapa yang beli? Makanya, PT Pertani diminta untuk membeli hasilnya. Sehingga BUMN memberikan layanan lengkap untuk petani. Petani juga dapat menyimpan hasil produk­ sinya di gudang milik PT Pertani dengan sistem resi gudangnya. Dari awal petani sudah adem bahwa hasil produksinya dibeli PT Pertani dan bisa disimpan di gudangnya. Apa keuntungan bagi petani menyimpan hasil panen di gudang milik PT Pertani? Ini untuk kestabilan harga gabah. Kalau dijual saat panen raya, harganya pasti anjlok. Makanya, ­pe­nyimpanan di gudang Pertani dapat mencegah anjloknya pendapatan petani sehingga tidak ada kejadian konyol yaitu saat produktivitas petani naik, tetapi pendapatan malah menurun. Dulu, tak ada yang menjamin kalau produktivitas naik maka pendapatan pun akan naik. Apalagi saat panen raya banyak yang main-main dengan harga, seperti tengkulak. Akibat kurang perhatian dari sisi hilirnya, petani merasa orang yang terpinggir kan karena tak ada yang menjamin hasil jerih payahnya. Nah, dengan layanan komprehensif seperti itu, BUMN berani menjamin bahwa kalau produktivitas petani naik maka pendapatan pasti naik. Bagaimana dengan industri hulu PT Pertani?

Foto: Istimewa

Sebenarnya, PT Pertani punya kekuatan di industri hulu pangan. Ada value tinggi disana, mulai dari produksi benih, pupuk, obat-obatan. Ini sebabnya tagline kami adalah “Sahabat Setia Petani” karena kita ingin menjadi solusi lengkap bagi petani. Hulu kita lakukan, budidaya juga kita kawal, dan di hilir pun kita tampung hasilnya. Kami menjamin apabila Anda dikawal Pertani, maka produktivitas naik dan ­penghasilan juga naik.

GABAH. PT Pertani kini fokus terhadap bisnis gabah.

16

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Nah, bisnis hulu tidak kita tinggalkan, kita tetap jaga, syukur-syukur bisa kita kembangkan. Tapi ada hal yang lebih besar dari industri hulu yaitu ­menguatkan gudang-gudang dan sentra kegiatan agribisnis de­ngan kekuatan gudangnya. Sementara ini kita namakan Pusat Gudang Agribisnis. Dari sini kita berharap value yang luar biasa, sebagaimana lagu mars Pertani yang ingin menjadi luar biasa. ­Mudah-mudahan dengan konsep baru ini Pertani bisa jadi champion di bidang pangan. Apalagi kami ber­ potensi menjadi champion BUMN Pangan ­nasional karena kelengkapan infrastruktur dan ­usahanya yang kuat dari hulu hingga hilir. Ini diharapkan bisa jadi daya tawar Pertani kedepannya.


MATAHATI

Berarti ada restrukturisasi perilaku usaha PT Pertani?

Bagaimana paradigma usaha PT Pertani yang baru?

Ya. Kalau dulu lebih banyak ber­ gerak di hulu, sekarang mari ber­ gerak dari hulu ke hilir. Kalau perlu pra hilir hingga ke perdagangannya. Kami mampu menguasai di bidang itu karena punya kekuatan di per­ gudangan.

Gaya usaha yang baru adalah industri hilir. Aktivitas utama kita se­karang di gabah. Jangan salah, gabah itu memiliki value yang tinggi. Gabah bisa kita c­ reate macam-macam. Gabah bisa menghasilkan rice brand oil yang nilai jualnya tinggi. Lalu, sekam dapat dijadikan bahan bakar yang menghasilkan energi listrik. Sekam pun dengan pengolahan yang tepat dapat menjadi ­bahan baku silika untuk industri elektronik dan otomotif. Katul dan dedak dapat diolah untuk bahan baku biskuit dan pakan ternak. ­Makanya kita juga punya pikiran untuk membuat pabrik pakan t­ ernak. Jadi, value gabah itu tinggi, bisa jadi nantinya beras hanya jadi produk sampingan dari gabah. ­Se­bena­rnya, jerami pun bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan white board.

Dengan punya produk di gudang kita yang ada di sentra-sentra pangan akhirnya industri yang ber­ hubungan dengan itu akan depend on atau tergantung sama kita. Syukur kita akan menjadi pen­ dukung bursa komoditas nanti­ nya. Perdagangan komoditas bisa jadi belum berkembang saat ini. Pertani dapat menjadi pusat kegiatan ­pangan yang mem-back up ko­moditas. Kita harus merubah paradigma usaha dan mulai men­ sinkronisasikan kegiatan hulu.

Apa ini adalah rencana besar Anda dari industri rice milling PT Pertani? Ya. Kami mau membuat rice m ­ illing modern yang tidak hanya meng­ hasilkan beras, tapi juga menir untuk membuat tepung, sekam untuk kebutuhan p ­ asokan energi, katul untuk industri biskuit dan pakan ternak, serta rice brand oil. Kami punya 4 buah rice milling unit yang terbesar di Indonesia yang akan dijadikan pilot project industri beras modern. Antara lain di Haur­ geulis (Indramayu-Jawa Barat), Palur (Sukoharjo-Jawa Tengah), Muncar (Banyuwangi-Jawa Timur), Sidrap (Sidenreng Rappang-Sulawesi Selatan). Keempat lokasi tadi sudah melayani penjualan premium rice atau beras medium yang bermitra dengan berbagai restoran siap saji asing. Malah dari Sidrap kita pernah ekspor premium rice ke Malaysia, Brunai Darussalam. I­ ni akan kita

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

17


MATAHATI

BIODATA

Foto: istimewa

Nama Lengkap : Drs. Eddy Budiono, MM Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 24 Januari 1958 Jabatan : Direktur Utama Alamat Kantor : PT. Pertani (Persero) Jalan Pertani 1-7, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Agama : Islam Istri : Farida Yulianti SR Anak : 1. Anggia Septia Hapsari 2. Resty Dhininta Oktviasari 3.Dendri Yogie Prakoso

Penghargaan/Tanda Jasa yang Pernah Diperoleh Nama Penghargaan

18

Instansi/Lembaga yang Memberikan

Tahun

Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional

Departemen Pertanian

2002

Asian Best Economis Executive Awards 2003-2004

Asean Info Sarana

2003

Piagam Tanda Kehormatan KTNA

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)

2004

Lencana Adhi Bhakti Tani Nelayan Utama

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)

2003

Busines Indonesia Award

International Achievement Foundation

2004

Mosiems Business Award

Asean Moslems Award 2004

2004

Best Professional Figure, Entrepreneur

Indonesian Achievement

2005

Nominator CEO BUMN Terbaik 2005

Panitia Penyelenggara BUMN & CEO BUMN

2005

The Best CEO Favorite 2006

Panitia Penyelenggara BUMN & CEO BUMN

2006

Penghargaan Perusahaan Terbaik 足Pembina Koperasi

Dewan Koperasi Indonesia

2009

The Best Entrepreneur Of The Year

International Professional Award

2009

As The Best Company Of The Year

International Good Company Award

2010

As The Best Company In Agriculture Of The Year

International Business & Company Award 2011

2011

Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya

Presiden RI

2011

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAHATI Foto: Istimewa

kita cuma sedikit, tak dapat memenuhi semua ke­ butuhan mereka. Nah, jika kita dapat perbesar gudang itu, apa mereka tidak terima kasih karena kita bisa ­me­nyuplai setiap saat mereka butuhkan? Bagaimana dengan kompetitor di wilayah tersebut? Kompetitor tentu saja ada. Maka dari itu Pertani harus menjadi besar untuk bisa bersaing. Dan potensi untuk menjadi besar sangat memungkinkan karena kita punya infrastruktur yang besar. Memang seolah-olah usaha pergudangan kita dying. Itu karena gudang kita kecil-kecil disana. Orang selalu bilang, keunggulan Pertani itu adalah sarana dan asetnya. Kita memulai dari situ dulu. Apakah target Anda saat ini?

PANGAN. Dengan konsentrasi di bisnis gabah Pertani dapat menjadi champion di bidang pangan.

hidupkan lagi dan akan perbesar. Makanya sangat layak PT Pertani bisa jadi champion di bidang pangan, khususnya di bidang gabah. Bagaimana dengan gudang Pertani? Nah, setiap industri butuh kontinuitas supply. Agar ­bahan baku itu dapat pasokan yang berkelanjutan, maka harus ada yang mem-back up-nya yaitu pusat gudang yang akan segera kita optimalisasi. Saat ini, ­industri pertanian tidak berkembang karena ­kontinuitas bahan baku itu yang tidak ada. Jadi, saat petani tidak panen, industri bisa tetap berjalan karena Pertani akan memasok gabahnya. Bayangkan, jika semua industri agro dipasok bahannya dari kami, ­Pertani bisa menjadi champion BUMN Pangan, kan? September lalu, saya mendatangi daerah Dampit (Malang, Jawa Timur). Di sekitar gudang-gudang milik Pertani, industri rice milling unit bertebaran. Jaraknya hanya 3 km dari gudang. Dan di sepanjang 15 km jalan, tersebar sekitar 15 ribu rice miling unit. Sayangnya, semua rice miling unit itu idle, boleh di­ bilang dying. Ada kegiatan, tapi tidak sesuai dengan kapasitas produksinya. Kadang mereka mengambil gabah dari Solo atau Sragen dengan ongkos angkut yang mahal. Akhirnya, ongkos angkut itu di­ bebankan ke konsumen. Jadi, tidak dapat dihindari jika ­masyarakat menikmati beras agak mahal karena tidak ada gabah sebagai bahan bakunya. Makanya, gabah yang ada di gudang Pertani di daerah itu menjadi laku. Namun gabah yang ada di tempat

Target jangka pendek, pertama merubah mindset SDM dan bidang usaha. Kemudian, dari kekuatan per­ usahaan sekarang dipakai untuk mem-back up usaha yang lebih besar. Kita akan usahakan k­ apitalisasi. Lalu, aset-aset kita yang idle akan kita segera ­manfaatkan. Apabila kita bisa lakukan hal tersebut maka ­infrastruktur usaha bakal bertambah besar. Jika sudah semakin baik infrastrukturnya, Insya Allah tujuan usaha itu bisa terlaksana dengan segera. Makanya saat ini kita sedang kerja simultan. Mental dan gaya usaha kita ubah dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Aset-aset langsung kita petakan, mana yang ada di kota, pelabuhan, dan sentra produksi. Bisa dijelaskan maksud dari memetakan aset? Aset-aset Pertani sedang kita kelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu aset yang berada di perkotaan, pelabuhan, dan di sentra pangan. Aset-aset itu akan sesuai peruntukannya. Jangan sampai aset kita yang di kota malah ­untuk gudang. Gabahnya boro-boro ada, kalau pun ada nanti malah di-complain orang lain. Ha-ha-ha. Makanya kami berpikir aset yang di perkotaan akan dijadikan office, residence, mall, atau convention hall. Hasil dari optimalisasi aset itu untuk memperbaiki atau menambah infrastruktur yang ada di sentra produksi, sehingga sarana di sentra produksi akan semakin baik. Minimal di setiap gudang ada dryer (mesin pengering padi). Percuma gudang kalau tidak ada dryer-nya. Sedangkan aset kami yang di pelabuhan, misalnya di Surabaya dan Medan, akan digunakan untuk memper­ lancar mobilisasi atau aktivitas di sentra pangan. Jika ada hasil produksi yang mau dibawa keluar pulau atau keluar negara untuk ekspor, kita sudah punya gudang. Nah, strategi aset ini harus kita pilah-pilah sebab kalau kita jadikan satu akhirnya akan kacau. Rega Indra Adhiprana

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

19


MATAKANCING

Foto: Istimewa

BUKTI Pertani Merangkul Petani Sejatinya, sebelum Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis 足Korporasi (GP3K) dimulai, PT Pertani (Perseroan) sudah merangkul petani dengan pola kemitraan. Dananya sebesar Rp 122 miliar di 2011.

20

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAKANCING cayaan ­untuk mengelola lahan se­ luas 200 ribu h ­ ektar ­sawah. Namun, ­anggaran Program ­Kemitraan (PK) yang dimiliki Pertani belum terlalu besar, sehingga tidak mungkin jika BUMN ini mengelola program terse­ but sendirian. Untuk mengatasinya, kata Agung, dalam melaksanakan program GP3K Pertani berinisiatif merangkul BUMNBUMN lain untuk bekerjasama dan bersinergi dengan mereka dalam penyaluran dana PK. Hingga kini, sebanyak 15 BUMN telah melakukan kerjasama dan bersinegris dengan Pertani, antara lain PGN, PTBA, Antam, Telkom, Pegadaian, serta Pertamina, sehingga berhasil menyalurkan dana sebesar Rp 122 miliar pada tahun 2011. "Dari dana tersebut, 30 persen nya dari ­Pertani dan 70 persen dari 15 BUMN," jelas Agung. Melihat keberhasilan tahun lalu, tahun ini pemerintah ­meningkatkan target pengelolaan lahan men­ jadi 400 ribu hektar. Beberapa BUMN yang telah bekerjasama me­nyatakan kesediaannya untuk menambah jumlah dana yang akan disalurkan kepada Pertani sebagai avalis. Contohnya PT Bukit Asam. Tahun lalu, BUMN tambang ini menggelontorkan dana PK kepada Pertani sebesar Rp 15 miliar. Tahun ini menggenapinya hingga Rp 60 miliar. Begitu pula Pertamina yang menyanggupi hingga Rp 90 miliar.

H

al itu terlihat dari moto yang diusung oleh unit PKBL PT Pertani (Persero): ­Pertani Peduli. Slogan tersebut memiliki filosofi bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan harus mampu memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat sekitar. Program itu dimulai dari sebuah ­penugasan Menteri BUMN pada Juni 2011 lalu, program GP3K men­ jadi wadah efektif bagi PT Pertani untuk memaksimalkan kinerjanya. Tujuannya, untuk meningkatkan produksi pangan, yakni surplus 10 juta ton beras hingga 2014 itu juga berhasil meningkatkan

Rega Indra Adhiprana peran si­nergi antar BUMN untuk mencapai target yang ditetapkan. Substansi dari program GP3K telah me­nyentuh kebutuhan petani secara keseluruhan, sehingga diharapkan mampu mengatasi tiga per­masalahan besar para petani yang selama ini di­hadapi. "Masalah petani itu ada tiga, yakni sulitnya sumber pen­danaan, kelangkaan sarana produksi, dan hambatan pe­masaran. Tiga hal ini diharapkan mampu diatasi dengan program GP3K yang sumber ­dananya be­ rasal dari BUMN," ungkap Direktur Produksi PT Pertani (Persero), Agung Darmawan. Dalam program ini, PT Pertani mendapat keper­

Masalah petani itu ada tiga, yakni sulitnya sumber pendanaan, kelangkaan sarana produksi, dan hambatan pemasaran

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

21


MATAKANCING

I

mpor bahan pangan menjadi tak ter­ elakkan. Tak ayal pemerintah berpikir keras mencari solusi ketahanan pangan nasional. Juni 2011, tercetuslah program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Ber­ basis Korporasi (GP3K) yang mematok target surplus 10 juta ton padi pada tahun 2014. Buat PT Pertani, salah satu pelaksana program GP3K yang ditunjuk pemerintah, program tersebut terasa familiar lantaran mirip dengan Program Kemitraan PT Pertani yang sudah dijalankan bertahun-tahun. Itulah sebabnya PT Pertani terkesan paling siap dalam men­ jalankan program tersebut. Bagaimana sebenarnya program kemitraan yang dijalankan PT Pertani? Berikut ­wawancara Rega Indra Adhiprana dengan Agung ­Darmawan, Direktur Industri PT Pertani, di ­kantornya, awal bulan ini. Petikannya; Sebagai salah satu perumus kebijakan GP3K, apa latar belakang tercetusnya program ini?

Foto: STOMATA

Agung Darmawan, Direktur Produksi PT Pertani (Persero)

GP3K, Solusi

Ketahanan Badan Pangan Nasional Krisis pangan mulai tercium sejak tahun lalu. Tanda-­ tandanya jelas: anomali cuaca yang berkepanjangan, jumlah penduduk yang kian membengkak, peningkatan perekonomian yang tidak sebanding dengan pertumbuhan komoditas pangan, dan penggunaan komoditas pangan untuk bahan bakar.

22

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Sebenarnya ini dimulai dari berbagai masalah yang dihadapi oleh petani. Pertama, produk­ tivitas petani Indonesia tidak maksimal. Lahan pertanian seharusnya bisa menghasilkan 5 ton per hektare, tapi pada kenyataannya tidak bisa. Lalu yang kedua, petani sulit men­ dapatkan akses pembiayaan. Biarpun jenis usahanya feasible (layak), tapi petani itu tidak bankable (layak mendapat pinjaman bank). Masalah ketiga, petani kesulitan men­dapatkan sarana produksi yang tepat waktu, jenis, mutu, tempat, harga. Ditambah lagi, mereka ter­ kendala di pemasaran hasil produksi ­sehingga ketika panen raya harga­nya malah jatuh. Nah, berbagai masalah yang membelit petani ini perlu segera dicarikan ­solusi. GP3K yang men­ coba menyelesaikan itu. Caranya? Sinergi antara pemerintah, BUMN, dan petani. BUMN membantu masalah pembiayaan petani lewat dana PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Prosesnya tidak serumit meminjam dana di bank karena itu merupakan dana CSR perusahaan. Bunga pinjaman pun rendah, hanya 6 persen. Lalu juga ada KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) yang pelaksananya adalah perbankan nasional. Selain itu, kami sebagai operator GP3K juga mengawal proses produksi dan budidaya. Petani juga mendapatkan sarana produksi yang original, nggak ­mungkin


MATAKANCING dapat produk palsu karena pe­ nyalurnya terjamin. Dengan begitu, pemerintah diuntungkan dengan peningkatan produktivitas petani hingga mencapai 1-2 ton per hektar. Ujungnya, swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional. Stok pangan nasional meningkat, pemerintahannya pun stabil. Itu inspirasinya. Apa keuntungan PT Pertani ­sebagai operator GP3K? Yang jelas memperluas pasar dan mendapatkan captive market ­(konsumen tetap). Jadi dengan GP3K baik pemerintah, petani dan BUMN sama-sama untung. Dalam program GP3K, berapa target yang ditapkan pemerintah untuk PT Pertani? Pertani ditargetkan 200 ribu hektar lahan pertanian dalam satu musim tanam. Alhamdulillah kita bisa menyelesaikan penugasan itu. Kami bisa menyiapkan pendanaan, pupuk dan benihnya sendiri, mem­ bantu pengelolaan tanah, dan juga membeli hasil tanam petani. Tahun kemarin (2011) kami kebagian ­penugasan lagi. Ada peningkatan dari 200 ribu hektar menjadi 400 ribu hektar dalam dua musim tanam. Apakah sudah sesuai target yang ditetapkan? Hingga Agustus 2012 yang ter­ laksana sudah 142 ribu hektar. Tapi jika dimulai dari masa tanam sebelumnya, kami sudah me­ laksanakan 162 ribu hektar. Untuk Juli-Desember tahun ini target kami 310 ribu hektar. Di wilayah mana saja? Ada di 19 provinsi seluruh ­Indonesia. Realisasi terbesar di daerah Jawa Barat. Kenapa? Salah satu unsur dari GP3K adalah pendanaan yang sumbernya dari PKBL dan KKPE. Pemilik dana PKBL

biasanya menghendaki daerah strategis yang berada di sekitar perusahaan mereka. Misalnya, PT Pertamina dan PGN (Perusahaan Gas Negara) meminta dana PKBL mereka disalurkan ke Cirebon karena disana ada lokasi tambang mereka. Dengan begitu mereka telah membina lingkungan sekitar perusahaan. Selain itu kesiapan pemerintah daerah Jawa Barat lebih baik dibandingkan yang lain. Berapa total dana PKBL yang dikelola PT Pertani? Saat ini kami sudah bersinergi dengan 17 BUMN dengan total dana kelolaan sekitar Rp 305 miliar. Alhamdulillah sejak kami merangkul BUMN-BUMN untuk bekerjasama dalam penyaluran dana kemitraan, dananya meningkat setiap tahun. Awalnya, Juni 2011, saya hanya menargetkan Rp150 miliar, eh, kita malah dapat sekitar Rp 170 miliar. Sebena rnya tahun ini saya me­nargetkan Rp 250 miliar saja, ter­ nyata sampai Agustus 2012 sudah mencapai Rp 305 miliar. Sedangkan untuk dana KKPE, kami dapat plafon Rp 500 miliar dari perbankan. Bagaimana petani bisa mengakses pendanaan tersebut? Karena petani tersebut merupakan binaan PT Pertani, kami yang ber­ tindak sebagai avalis mereka, yang menjamin pengembalian dana PKBL tersebut. Mengapa PT Pertani berani pasang badan? Karena bisnis PT Pertani di bidang pertanian yang membutuhkan petani. Ini adalah kerjaan BUMN pangan. Kegiatan kita memang membantu petani sehingga kita memberi penguatan bagi petani untuk panen, tapi kita bisnis juga disitu. Kapan Pengembalian petani? Istilahnya Yarnen, Bayar Panen. Ketika petani panen, dibeli oleh konsorsium GP3K biar harganya nggak jatuh, pada saat itu dia

mengembalikan. Nah, disinilah kita pasang badan awalnya. Kalau ini tidak kembali ya tanggung jawab kami yang harus mengembalikan. Bagaimana dengan kredit macet? Sementara ini tidak ada. Relatif aman. Ini juga salah satu alasan mengapa KKPE bersinergi ­dengan PT Pertani karena perbankan trauma dengan kredit macet. Kredit bisa macet karena perbankan tidak mengawal petani, tidak mengam­ bil hasilnya, makanya terjadi NPL (non performing loan/kredit ber­ masalah). Jadi, kami bisa me­­ng­­­en­ dalikan NPL dengan ikut membeli hasil produksi petani. Aman juga buat perbankan yang mengucurkan KKPE karena kami adalah avalis, dengan begitu kinerja perbankan tetap baik. Hingga kini, berapa jumlah petani dalam binaan PT Pertani? Ada sekitar 300 kelompok tani dengan anggota sekitar 8 ribu. Satu kecamatan sekitar 30 kelompok tani. Apa keunggulan PT Pertani dibandingkan operator lain? Kami bisa menyediakan paket lengkap, mulai dari pengelolaan lahan, tanam, benih, pupuk organik dan non organik, penggilingan padi, hingga resi gudang. Memang desain awal perusahaan ini untuk mengawal petani dari hulu hingga hilir. Rega Indra Adhiprana

Pertani ditargetkan 200 ribu hektar lahan pertanian dalam satu musim tanam. ­Alhamdulillah kita bisa menyelesaikan ­penugasan itu

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

23


MATAAIR

Menguji Swasembada Kedelai Lewat Teori “Kain Sarung”

H

arga tempe dan tahu yang lebih murah dari­ pada ikan atau daging membuat sebagian besar m ­ asyarakat sulit ber­paling dari tempe dan tahu sebagai sumber asupan protein utama. ­Sayangnya, bahan baku tempe dan tahu yaitu kedelai adalah tanaman yang di budidayakan secara kurang serius oleh petani, mengingat “nilai” yang diperoleh dari kedelai masih lebih rendah dibandingkan dengan jagung bahkan mungkin padi. Foto: STOMATA

Lalan Sukmaya, Kepala Divisi Pemasaran PT Petani

Fakta di lapangan, kedelai adalah ­tanaman yang ­dibudidayakan secara kurang serius oleh ­petani, mengingat nilai yang diperoleh dari t­ anaman kedelai masih lebih r­ endah dibandingkan ­dengan ­jagung ­bahkan mungkin padi.

24

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Kalau pun ada petani yang mau menanam kedelai, pada saat panen pasar domestik diguyur produk impor sehingga harga kedelai anjlok drastis. Wajar saja jika petani terkesan ogah-­ogahan menanam kedelai dengan teknologi budidaya yang ideal.

Bagaimana meningkatkan nilai kedelai sehingga nampak seksi dimata petani: Pemberian bantuan kepada ­petani yang hanya benih, mung­ kin hanya akan berdampak pada peningkatan luas areal tanam. Itu pun belum tentu bisa meng­ hasilkan kualitas dan kwantitas produksi yang sesuai dengan potensi genetis benihnya, bahkan bisa jadi tidak panen, tak ayal hanya terjadi pemborosan

penggunaan areal pertanian saja. Areal pertanian tanaman pangan, seperti diketahui, semakin lama semakin sempit. Bantuan benih kedelai yang saat ini berlangsung, sudah tentu akan meningkatkan luas areal tanam kedelai, tetapi bisa jadi mengurangi luas areal tanam padi atau jagung atau kacang-kacangan lainnya Jadi, jika areal pertanaman kedelai meningkat bisa jadi areal tanaman padi dan jagung akan menurun, begitu juga sebaliknya, menurut saya seperti teori “kain sarung” yang bila diangkat terlalu ke atas maka “paha ke­lihatan” dan ditarik terlalu ke bawah maka “dada kelihatan”.    Nah, pertanyaannya, masih ­perlukah areal untuk tanaman padi dan jagung (sawah) di­ gunakan untuk tanaman kedelai? Perlu dipertimbangkan dengan matang sebab masih banyak tanaman lain yang nilai ­ekonomis dan ekologinya lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai.    Kedelai masih bisa di­ budidayakan dengan ­me­n­goptimalkan areal-areal yang sekarang ini banyak terbengkalai. ­Lahan-lahan dibawah tegakan ­tanaman di kawasan ke­hutanan dan per­kebunan tertentu bisa di­optimalkan untuk pe­ ngembangan tanaman kedelai dengan pola tumpangsari.


MATAAIR

Foto: Istimewa

Peningkatan produktivitas ­tanaman kedelai tidak c­ ukup ­hanya dengan memberikan bantuan benih ke p ­ etani. Tetapi harus dibantu satu paket ­lengkap budidaya kedelai yang telah teruji ­dengan pengawalan dan pe­nyuluhan kepada petani agar menerapkan paket budidaya ter­ sebut dengan disiplin. Pemerintah juga melalui badan litbangnya harus terus menerus mencari dan merekayasa plasma nutfah sehingga dapat ditemukan varietas kedelai yang produktifitas­ nya tinggi di daerah tropis seperti negara kita ini, Tak hanya itu. Petani juga ­harus diberi insentif harga untuk mem­ berikan rangsangan bahwa kedelai memberikan nilai yang menarik. Tentu saja, harus ada operator yang bisa melaksanakan program tersebut, sehingga insentif yang diberikan betul-betul diterima oleh petani, bukan tengkulak, atau pedagang pe­ngepul. Dus, operator harus mampu melaku­ kan pem­belian langsung dari petani, me­nyimpannya dan men­distribusikannya setiap saat dibutuhkan. Lembaga buffer stock atau ­penyedia komoditas dalam jangka tertentu yang dapat dikontrol oleh pemerintah, menjadi ke­ butuhan wajib yang akan menjaga ­ke­stabilan harga apabila terjadi

krisis pangan dalam hal ini kedelai. Tidak hanya Bulog, BUMN pangan lainnya juga bisa ditugasi oleh pemerintah sebagai operator pem­ berian insentif harga sekaligus tem­ pat dimana pemerintah me­nyimpan buffer stock-nya, misalnya seperti PT. Pertani ini. Dengan ­gudang yang tersedia, sistem resi gudangnya yang sudah berjalan dan jaringan yang tersebar di ­seluruh wilayah nusan­ tara PT. ­Pertani dapat mengemban amanah ini, termasuk impor kedelai untuk tahu tempe. Mengapa harus dipegang ­pe­merintah dalam hal ini BUMN? Impor kedelai untuk tahu tempe harus dilakukan oleh pemerintah, mengingat hal ini adalah hal yang sensitif dalam rangka melindungi harga kedelai yang diproduksi oleh petani dan merupakan hajat ­pemenuhan sumber ­protein bagi kalangan rakyat (orang ke­banyakan). Adalah bijak jika operator-operator ­pemerintah ­seperti BUMN ditugaskan ­men­jadi importirnya. Jangan biarkan pi­hak swasta tertentu yang tidak bertanggung jawab memainkan harga dengan seenaknya dan menguasai hajat pemenuhan sumber protein bagi rakyat kebanyakan. Dengan menciptakan “nilai” ­tanaman kedelai yang “seksi”, membuat petani tertarik untuk berbudidaya kedelai dengan baik, maka areal kedelai yang ada saat

ini sangat mungkin untuk dipertahankan dan produk­ tivitasnya meningkat, bahkan bertambah luas dengan ­adanya areal tumpangsari pada areal-areal di bawah tegakan tanaman ke­hutanan dan per­kebunan tertentu. ­Harapan kita bersama swasembada kedelai tercapai tanpa mengancam swa­ sembada beras dan j­ agung, sehingga swasembada ke­ delai tercapai setelah lolos uji dari teori “kain sarung”. ***

Kalau pun ada petani yang mau menanam kedelai, tiba-tiba saja saat panen raya pasar domestik diguyur produk impor sehingga harga kedelai anjlok drastis

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

25


MATAUANG

adE TAUFIK Kepala Divisi Pergudangan dan Pengembangan PT Pertani (Persero)

SRG dapat menjadi solusi karena sistem ini ­merupakan salah satu instrumen dalam sistem ­pem­biayaan perdagangan yang memberikan payung hukum pemberian kredit oleh l­ embaga keuangan baik bank maupun non-bank dengan jaminan hanya resi gudang tanpa persyaratan agunan lainnya

Foto: STOMATA

26

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAUANG

Resi Gudang

Perkuat Posisi Tawar Petani Pelaku usaha kini tak perlu pusing mencari pembiayaan murah untuk modal kerjanya. Pasalnya sudah ada Sistem Resi Gudang (SRG) yang menjadi alternatif solusi pembiayaan bagi para pelaku usaha, terutama petani, koperasi dan usaha kecil menengah (UKM).

W

akil Menteri Per­ dagangan Bayu ­Krisnamurthi me­ ngatakan, para pelaku usaha tersebut pada umumnya sering menghadapi masalah dalam pembiayaan karena akses yang terbatas terhadap modal dan tidak memiliki fixed asset sebagai ­jaminan kredit. “SRG dapat menjadi solusi karena sistem ini ­merupakan salah satu ­instrumen dalam sistem ­pem­biayaan perdagangan yang memberikan payung hukum pemberian kredit oleh lembaga keuangan baik bank maupun non-bank dengan jaminan

hanya Resi Gudang, tanpa diper­ syaratkan agunan lainnya,” katanya di Surabaya, Jawa Timur, akhir bulan lalu. Resi gudang merupakan doku­ men bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang dapat dijadikan agunan sepenuhnya tanpa dipersyaratkan adanya agunan lainnya, sehingga petani UKM dapat menjaminkannya dan memperoleh biaya untuk melanjutkan kegiatan usahanya. Selain menjadi salah satu instru­ men pembiayaan, imbuh Bayu, SRG juga merupakan instrumen yang digunakan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan dan

kedaulatan pangan, serta mem­ perkuat sistem logistik nasional. Pengembangan SRG dimaksudkan untuk mengendalikan ketersediaan dan ke­lancaran distribusi pangan yang pada akhirnya akan dapat me­ ngendalikan tingkat inflasi. Bayu mengatakan hal itu dalam Seminar Nasional Sistem Resi Gudang (SRG) dihadiri oleh para Gubernur, Bupati, anggota DPRD, dan stake holder kegiatan SRG. Pada kesempatan ini, Wamendag menyerahkan piagam penghargaan kepada PT Pertani atas keberhasilan dalam pengelolaan gudang dalam Sistem Resi Gudang.

Apa itu SRG Sistem Resi Gudang mulai di kenal di Indonesia sejak lima tahun terakhir. Sebelum muncul Undang-Undang no 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi Gudang (SRG) banyak dikenal berbagai macam terobosan yang ditempuh baik oleh pe­merintah maupun pelaku usaha dalam sistem tata niaga komoditi pertanian. Beberapa di­ antaranya yang hampir mirip dengan SRG adalah sistem tunda jual, gadai gabah.

J

ika ditinjau dari kelengkapan infrastrukur sistem dan keamanannya SRG merupakan sistem yang pal­ ing aman dan canggih jika dibandingkan dengan beberapa sistem yang pernah ada di Indonesia. Dalam SRG terdapat jaminan keamanan bagi perbankan karena semua data penatausahaan resi gudang terpusat di pusat registrasi dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Serta terdapat kepastian mutu bagi pemilik barang maupun calon pemilik barang karena barang yang disimpan dikelola dengan baik oleh pengelola gudang dan diuji mutu sebelumnya oleh Lembaga Penilaian

Kesesuaian independen yang telah mendapat sertifi­ kasi dan disetujui oleh BAPPEBTI. Namun, layaknya bayi yang baru lahir, dalam implemen­ tasinya di lapangan SRG mengalami berbagai macam kendala dan masalah. Yang menjadi masalah utama adalah kurangnya pemahaman masyarakat, pelaku usaha, bahkan pihak lembaga keuangan terhadap me­ kanisme dan manfaat SRG. Untuk lebih jelas mengenai apakah itu SRG, simak wawancara Rega Indra Adhipra dengan Kepala Divisi Pergudangan dan Pengembangan PT Pertani Ade Taufik. Berikut kutipannya:

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

27


MATAUANG Bisa dijelaskan apa yang dimaksud sistem resi gudang?

pemerintah dalam ­me­ngendalikan stok pangan (beras) nasional.

Sistem Resi Gudang adalah berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan, penjaminan dan penyelesaian transaksi resi gudang. Resi gudang merupakan dokumen/surat bukti kepemilikan barang dari pelaku usaha yang disimpan di dalam gudang yang telah diterbitkan oleh pengelola gudang tertentu.

Bagaimana mengembangkan gudang-gudang milik Pertani sehingga dapat memenuhi kebutuhan program GP3K?

Sistem ini sudah dilakukan di berbagai negara maju. Di Indonesia baru dimulai dengan ditetapkannya UU No 9 tahun 2006. setidaknya ada sembilan bahan p ­ angan yang bisa disimpan di gudang, misalnya gabah, beras, jagung, lada, karet, rumput laut, dan r­ otan. Saat ini pemerintah juga sedang membahas u ­ ntuk ­memasukkan komoditas garam ke dalam gudang. Sistem resi gudang sebenarnya memberikan ruang lebih luas kepada kami untuk mengelola komoditas pangan strategis yang akan memperkuat cadangan pangan masyarakat, sebagaimana yang diamanatkan UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan. Bagaimana kondisi cadangan pangan nasional saat ini? Cadangan pangan nasional khususnya beras belum maksimal. Sebesar 90 persen cadangan pangan ma­ sih di masyarakat. Makanya dengan sistem resi gu­ dang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan

28

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Pertama, kami akan merevitalisasi gudang-gudang milik kami. Kedua, kami bekerjasama dengan pihak lain seperti pemerintah, swasta, atau BUMN lain dalam meningkatkan kapasitas simpan. Pertani juga diminta untuk mengelola gudang milik Pemerintah. Mengapa pemerintah tertarik kepada Pertani? Jasa pergudangan juga merupakan core business kami sejak lama. Gudang-gudang kami bisa menjadi solusi program peningkatan pangan nasional. Beberapa ­gudang kami memiliki infrastruktur yang sesuai ­standar SNI 7331:2007. Bagaimana proses pelaksanaan resi gudang? Awalnya pelaku usaha mengajukan permohonan simpan barang kepada pengelola gudang. Lantas pengelola mengontak LPK (Lembaga Penilai Kesesuaian) untuk melakukan pengujian mutu barang. Jika lolos uji mutu, barang akan diproses, lalu pengelola gudang akan mengurus asuransi barang. Setelah diajukan ke pusat


MATAUANG

Gudang Meureudu, NAD (2.000 ton)

Lokasi Gudang dalam Sistem Resi Gudang Milik PT Pertani (Persero) Kapasitas Gudang = 24.750 Ton Gudang Haurgeulis, Indramayu, Jabar (7.000 ton)

Gudang Palur, Karang Anyar, Jateng (2.000 ton)

registrasi maka resi gudang itu akan terbit dan diberikan ke pemilik barang. Ada tiga pilihan setelah resi gudang ini sudah di tangan pelaku usaha. Pertama, disimpan sambil menunggu harga jual terbaik. Kedua, diagunkan ke lembaga keuangan untuk mendapatkan pembiayaan. Ketiga, dijual ke pihak lain melalui proses pengalihan di pasar lelang atau pasar bebas. Maka dari itu ­dokumen resi gudang itu bagaikan surat berharga yang tidak bisa dipegang sembarangan. Apa manfaat utama dari sistem resi gudang ini? Yang paling penting adalah merubah mindset petani dari petani pekerja menjadi petani pedagang. Kami meng­ajak petani untuk memiliki strategi penyimpanan terbaik sehingga bisa dijual dengan harga terbaik. Di sisi lain, kami meng­ ajak petani untuk mengefektifkan

Gudang Tanggalrejo, Jombang, Jatim (2.000 ton)

Gudang Muncar, Banyuwangi, Jatim (2.000 ton)

Gudang Gemolong, Sragen, Jateng (2.000 ton)

Gudang Sidrap, Sulawesi Selatan (2.000 ton)

Gudang Pinrang, Sulawesi Selatan (750 ton)

Gudang Ngoro, Mojokerto, Jatim (2.000 ton)

Gudang Mojosari, Mojokerto, Jatim (2.000 ton)

Gudang Polewali Mandar, Sulawesi Barat (1.000 ton)

kelompok-­kelompok tani yang sudah ada supaya lebih maksimal dalam memperoleh akses pembiayaan bersubsidi.

pada saat penyelesaian transaksi SRG? Kemudian, bila harga jual meningkat 15 persen, berapa keuntungan yang diperoleh?

Konkretnya?

Pihak koperasi mendapat pendapatan Rp14.437.500 dengan perhitungan 15 persen x Rp3.850/ kg x 25.000 kg. Biaya yang harus dikeluarkan koperasi sebesar; tarif jasa pengelolaan barang Rp75/kg x 25.000kg sebesar Rp 1.875.000. Tarif sewa gudang Rp10/kg/bln x 25.000kg x 3 bulan sebesar Rp750.000 dan biaya bunga 6 persen: 12 x 2 bulan x 70 persen x 25.000kg x Rp3.850/kg sebesar Rp 673.750. Total jumlah biaya yang harus dikeluarka koperasi hanya Rp 3.298.750. Artinya margin keuntungan yang dikantongi Koperasi Tani Makmur sebesar Rp 11.138.750 atau margin ke­ untungan per-kg sebesar Rp445.

Begini, misalnya, Koperasi Tani Mak­ mur menyimpan komoditi gabah kering giling (GKG) di gudang yang dikelola PT. Pertani (Persero). Nah, resi gudang yang terbit dijaminkan ke perbankan dengan pembiayaan 70 persen ­selama dua bulan dengan data-data sebagai berikut: Kuantum barang sebanyak 25 ton, harga simpan barang sebesar Rp3.850 dengan jangka waktu ­simpan selama tiga bulan dengan tarif sewa gudang Rp10 per-kg/ bulan dengan bunga bank (S-SRG) sebesar 6 persen per tahun. Lantas, perntanyaannya: berapa biaya SRG yang harus dibayar oleh Koperasi Tani Makmur tersebut

Rega Indra Adhiprana

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

29


MATAUNIK Bahan makanan pokok bernama latin Oryza sativa L.indica ini men­ gandung antosianin dalam aleron yang lebih tinggi diban­ ding beras putih.

BERAS HITAM Beras Para Bangsawan

B

ahkan, orang China kuno telah mengenal beras hitam sebagai ‘forbidden rice’, artinya hanya kalangan istana dan tertentu saja boleh memakannya. Beras hitam di China berfungsi sebagai obat dan bahan pangan. Sayang, keberadaannya kini hampir punah dan terbilang langka. Sementara di Korea, beras hitam berfungsi untuk memelihara kesehatan karena kaya vitamin, mineral dan antioksidan. Budidaya beras hitam memang leb­ ih sulit dibandingkan beras putih. Usia panen beras hitam relatif lebih lama ketimbang beras putih. Beras hitam mempunyai batang padi leb­

30

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

ih tinggi dan berbau wangi. Beras hitam bukanlah beras ketan hitam yang selama ini sudah fa­miliar di masyarakat. Bahan makanan pokok bernama latin Oryza sativa L.indica ini mengandung antosianin dalam aleron yang lebih tinggi dibanding beras putih. Berdasarkan penelitian, beras hitam terbukti memiliki khasiat lebih baik dibanding beras merah dan beras putih. Pangan yang belum sepopuler beras putih ini berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, memperbaiki kerusakan sel hati, mencegah gangguan fungsi ginjal,

Beras hitam memiliki nama berbeda-beda di setiap daerah. Di Jawa Tengah, orang Solo menyebutnya beras wulung. Di Yogyakarta, orang Sleman bisa menyebut cempo ireng atau beras jlitheng, di Bantul beras melik. Sementara di Jawa Barat, di kawasan Cibeusi, Subang, beras hitam dikenal dengan nama beras gadog.


MATAUNIK

mencegah kanker atau tumor, memper­lambat penu­ aan, sebagai antioksidan, membersihkan kolesterol dalam darah, hingga mencegah anemia. Namun sayangnya, beras hitam belum menjadi bahan pangan pokok, padahal punya nilai gizi tinggi. Beras hitam mengandung sedikit protein namun k­ andungan besinya tinggi yaitu 15,52 ppm (part per million), jauh lebih tinggi dibanding beras dari varietas IR64, ciherang, cisadane, sintanur, pandanwangi, dan batang gadis yang kandungan besinya berkisar antara 2,9 - 4,4 ppm. Zat besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan sel darah merah. Karena itulah beras hitam baik untuk mencegah anemia. Berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang dikeluarkan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) tahun 2005, beras hitam k­ aliumnya lebih tinggi sebanyak 105 mg dibandingkan beras merah yang hanya 85 mg, pada 100 g bahan makanan. Dalam 100 g beras hitam mengandung energi 351 kkal, protein 8 g, lemak 1,3 g, karbohidrat 76,9 g, dan serat sebanyak 20,1 g. Sementara pada 100 g beras merah mengandung energi 352 kkal, protein 7,3 g, lemak 0,9 g, karbohidrat 76,2 g, dan serat 0,8 g. ­Komposisi serat lebih banyak itulah yang membuat rasa kenyang lebih lama. Namun, karena kan­dungan serat tinggi, jangan lupa banyak minum air putih agar tidak menderita sembelit. Berdasarkan tabel ter­ lihat kandungan serat beras hitam sangat tinggi jika dibandingkan beras putih. Serat sangat ber­pengaruh dalam pengaturan kadar gula darah penderita dia­ betes mellitus. Menurut Penuntun Diet Penyakit Diabetes Mellitus, asupan serat bagi pasien diabetes mellitus dianjurkan sejumlah 25 gram/hari. Dalam diet diabetes mellitus juga diperlukan serat yang dapat menekan kadar glukosa darah sesudah mengkonsumsi makanan. Serat bisa menghambat penyerapan glukosa makanan sehingga sangat membantu dalam me­ ngendalikan kadar gula darah. Indeks Glikemik beras hitam Berdasarkan indeks glikemik, makanan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu makanan dengan indeks glikemik rendah (indeks glikemik <55), glikemik ­sedang (antara 55-75) dan glikemik tinggi (>75). ­Menurut sebuah penelitian pada 2006, indeks glikemik beras hitam jauh lebih rendah daripada beras putih. ­Indeks glikemik beras hitam sekitar 42,3±9,0, sedan­ gkan beras putih 82,3±3,1. Berdasarkan kelompok ter­sebut, beras hitam termasuk kelompok makanan dengan indeks glikemik rendah. Sedangkan beras ­putih masuk kelompok makanan indeks glikemik ting­ gi. Mengonsumsi makanan berindeks glikemik rendah akan memperlama rasa kenyang dan mampu menjaga kestabilan kadar gula darah. Makanan dengan indeks glikemik tinggi tidak bagus untuk penderita d ­ iabetes mellitus dan orang yang mengalami gangguan ­keseimbangan kadar gula darah. Cara penyajian beras hitam sama dengan menanak nasi pada umumnya. Atau, dapat dicampur beras putih organic dengan perbandingan 1 kg : 4

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (2009) kandun­ gan zat gizi beras hitam dan beberapa jenis beras dalam 100 gram bahan makanan adalah seperti pada tabel berikut ini. Beras Putih Protein 8,4 Gram

Energi 357 kkal Lemak 77,1 Gram

Energi Beras Ketan Putih 361 kkal Protein 7,4 Gram

Beras Hitam Protein 8 Gram

Beras Merah Protein 7,3 Gram

Lemak 78,4 Gram

Karbohidrat 0,8 Gram Serat 0,4 Gram

Energi 351 kkal Lemak 76,9 Gram

Karbohidrat 1,3 Gram Serat 20,1 Gram

Energi 352 kkal Lemak 76,2 Gram

Karbohidrat 0,9 Gram Serat 0,8 Gram

Energi Beras Ketan Hitam 360 kkal Protein 8 Gram

Karbohidrat 1,7 Gram Serat 0,2 Gram

Lemak 74,5 Gram

Karbohidrat 2,3 Gram Serat 1 Gram

s­ endok makan beras hitam. Air tajin dari beras hitam juga sangat baik dikonsumsi. Fungsi beras hitam adalah mengeluarkan zat racun (detoksifikasi) dari dalam tubuh melalui kotoran (faeses) dan keringat. Bahkan, pada penderita sinusitas zat racun dapat terbuang melalui ingus. Beras hitam juga bermanfaat sebagai terapi (food therapy) bagi penderita kanker, diabetes, kolesterol, dan hepatitis. Sampai saat ini, penelitian khasiat dan kand­ ungan beras hitam masih terus dilakukan. Profesor Zhimin Xu dari Louisiana State University pada akhir 2010 menyebutkan, kadar antioksidan dalam beras hi­ tam melebihi kandungan pada blueberry. Sementara, Profesor Takashi Ichiyanagi dan kawan-kawan meneliti kandungan antosianin, yakni zat pigmen warna hitam pada beras yang diklaim berkhasiat bagi kesehatan. Di samping antosianin, masih banyak zat aktif yang ber­ manfaat bagi kesehatan seperti peonidin dan berbagai macam asam amino. Penelitian ‘sang legenda’ ini pun kini menjadi tren an terus berlangsung. Indra Maliara

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

31


MATAUNIK

BERAS RITUAL

RAMBU TUKA SEJARAH BERAS HITAM TERDAPAT DI TANA TORAJA.NASI HITAM MERUPAKAN SALAH SATU MENU DALAM ACARA ATAU RITUAL RAMBU TUKA SEBAGAI PENGHARGAAN KEPADA TAMU ATAU UNDANGAN, BAHKAN DI KALANGAN BANGSAWAN SERING DIKATAKAN ACARA TIDAKLAH LENGKAP TANPA NASI HITAM.

Upacara Rambu tuka’ yang berhubungan dengan acara syukuran di dalam upacara ini tak ada kesedihan, yang ada hanya kegembiraan. Misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi. Upacara Rambu Tuka’ dilaksanakan sebelum tengah hari di sebelah timur tongkonan.

B

eras hitam merupakan salah satu jenis beras yang hampir punah sehingga dapat dikatakan jenis beras yang langka. Di Tana Toraja terdapat dua jenis padi lokal yang menghasilkan beras hitam salah satunya padi biasa dikenal dengan nama pare lotong bentuknya hitam kemerah-merahan. Sejarah beras hitam di Tana Toraja merupakan salah satu menu dalam acara atau ritual Rambu Tuka sebagai penghargaan kepada tamu atau undangan, bahkan di kalangan bangsawan sering dikatakan acara tidaklah lengkap tanpa nasi hitam. Hal itulah yang menyebabkan pengembangan beras hitam masih terus dipertahankan di beberapa wilayah Kabupaten Tana Toraja termasuk di Kecamatan Sangalla. CH. S. Parissing, Penyuluh Pertanian Pertama Kabupaten Tana Toraja dalam tulisannya mengatakan, budidaya padi yang menghasilkan beras hitam, se­ benarnya sama dengan budidaya padi biasa. Bedanya, padi beras hitam hanya bisa dibudidayakan di kawasan berhawa sejuk. Sebab beras ini dihasilkan oleh padi sub tropis. Budidaya beras hitam umumnya di lahan sawah. Cara budidaya sama dengan padi biasa, tanah diolah sampai menjadi lumpur, gabah (benih disemai), kemudian dicabut, dan ditanam satu per satu. Namun demikian yang menjadi kendala dalam produksi beras

32

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

hitam adalah umur panen padi sampai 5 (lima) bulan dan proses penggilingan yang memerlukan perhatian khusus karena ukuran berasnya yang lebih panjang dari beras biasa. Dengan terus berkembangnya temuantemuan iptek yang cenderung mengkonfirmasi status istimewa beras hitam sebagai pangan lezat dan menyehatkan, permintaan yang terus meningkat menjadi peluang bagi para pelaku usaha untuk me­ ningkatkan pendapatan melalui pengembangan padi local beras hitam. Beras hitam di Tana Toraja ditawar­ kan seharga Rp. 19.000,- s/d 20.000,- per liter. Melihat pe­luang ini maka tantangan bagi para Penyuluh Pertanian di Kabupaten Tana Toraja untuk terus men­ dorong dan mendampingi para petani dan kelompok tani dalam mengembangkan padi lokal ini, di samping padi unggul yang dikembangkan oleh pemerintah. Peluang bisnis beras hitam semakin menjan­ jikan mengingat Kabupaten Tana Toraja sebagai dae­ rah wisata dimana setiap wisatawan yang berkunjung akan membawa buah tangan berupa makanan khas Tana Toraja yang disebut “jipang”, dimana bahan baku utamanya adalah beras hitam. Indra Maliara


MATAUNIK

PANEN RUPIAH

DARI BERAS KAYA MANFAAT

Beras hitam ini memiliki keistimewaan, diantaranya selain umur panennya yang panjang yaitu 5 bulan, mempunyai rasa nasi enak, pulen, wangi dan memiliki kandungan mineral antosianin yang sangat baik untuk kesehatan. Warna ungu kehitaman beras ini berasal dari sumber antosianin, suatu zat turunan polifenol berkemampuan antioksidan, yang dikandungnya. Ditambah kadar flavonoid yang besar menjadikannya unggul dalam mencegah pengerasan pembuluh nadi dan asam urat.

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

B

eras merah, apalagi beras putih, tentu sudah tidak asing di telinga Anda. Nah, bagaimana dengan beras hitam, apakah Anda familiar juga dengan jenis beras dengan kelir hitam ­sesuai namanya itu? Beras hitam tidak hanya memiliki rasa yang pulen dan wangi. Beras yang dahulu dikenal sebagai beras terlarang sarat khasi­ at untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Sayangnya, belum banyak petani di Indonesia yang menanam padi hitam. Padahal, petani bisa meraup pendapatan yang cukup besar dari bercocok tanam padi hitam. Beras hitam memiliki zat anti-aging yang cukup tinggi, yang berguna mencegah penuaan dini. Kadar antioksidan dalam beras hitam juga lebih tinggi. Sedangkan kadar glukosanya di bawah beras merah. Sehingga, beras hitam ­sangat cocok menjadi santapan para pengidap penyakit diabetes. Namun, belum banyak yang membudidayakan beras yang

dulu hanya ada di piring bangsawan kerajan atau sebagai pelengkap ritual adat ini. Padahal, keuntungan yang dihasilkan dari menanam padi hitam lebih tinggi dibandingkan dengan menanam padi jenis biasa. Purwanto, salah satu petani beras hitam asal Bantul, Yogyakarta sudah merasakan manfaatnya setelah setahun menanam padi hitam. Dengan memanfaatkan lahan seluas 2,5 hektare, Purwanto dan lima petani lainnya di Argimulyo bisa meng­ hasilkan sekitar 4 ton gabah beras hitam per hektare setiap kali panen. Ia menjual beras hitam seharga Rp 17.000 per kilogram (kg). Sedangkan di pasaran harganya bisa mencapai Rp 34.000 per kg. Proses penanaman padi hitam tidak jauh beda dengan padi biasa. Hanya, sistem tanamnya meng­ gunakan system of rice intensification (SRI) . Yakni, penyemaiannya meng­ gunakan besek dan penanaman­ nya dengan biji tunggal atau tidak merumpun.Namun, umur tanam padi hitam lebih lama dibandingkan padi jenis lainnya. Padi hitam mem­

butuhkan waktu 120 sampai 140 hari. Adapun masa tanam padi putih hanya 90 hari. Selain itu, bulir-bulir pada padi hitam lebih sedikit jumlah­ nya ketimbang padi putih. Karena proses pen­ anamannya masih secara organik, penanganan terhadap hama juga dilakukan secara alami. Contoh, untuk memberantas walang sangit, Purwanto hanya menggunakan bunga dan daun keningkir. Untuk pupuk, ia memanfaatkan sisa buah dan kotoran hewan ternak. Lain hal dengan Purwanto. Dwias, petani beras hitam dari Sle­ man, Yogyakarta menambahkan, dalam satu tahun, petani bisa menanam padi hitam antara dua hingga tiga kali. Saat ini, ada tiga petani lain yang membudidayakan beras hitam. Mereka pun memben­ tuk perkumpulan bernama Citra Tani Nusantara. Dwias melego beras hitam produksinya Rp 20.000 per kilo dengan kemasan 1 kg dan 25 kg. Omzetnya Rp 11 juta per bulan. Indra Maliara STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

33


MATAHARI

Generasi “C” dan Booming Teknologi Informasi Generasi ”C” adalah kelompok populasi yang saat ini ­mendominasi ­komunitas masyarakat di era 2010 an (Robert ­Friedrich, Michael Peterson & Alex ­Koster,2011). Generasi C memiliki ciri dan karakter: connected, communicating, content-centric, computerized, community oriented, dan always clicking. Dengan karakter tersebut, serta posisi mereka sebagai pengguna produk tertentu, jelas mereka menjadi word of mouth. ­Generasi C ini sangat haus teknologi, haus informasi dan lapar ilmu ­pengetahuan (highly knowledge curious).

G

FOTO: ISTIMEWA

Atantya H Mulyanto, Praktisi Manajemen, President Director dan CEO PT SURVINDO PUTRA PRATAMA, group PT SURVEYOR INDONESIA (Persero).

enerasi C terbentuk antara lain dipicu oleh perkemba­ ngan teknologi informasi dan telekomunikasi di era digital. Dari dunia teknologi informasi, “the Fabulous Four”: Amazon, Apple, Facebook dan Google terus bersaing menjadi yang terdepan. Di ranah lain, Apple tengah ber­sengketa ­sengit melawan Samsung dalam mempere­ butkan Hak Patent sejumlah temuan teknologi mereka. Amazon, peru­ sahaan pertama di dunia yang mem­ perkenalkan sistem Komputasi Awan “cloud computing”, saat ini semakin memperluas portofolio bisnisnya dengan memasuki media digital, penerbitan buku, bahkan menyerang iPad ­dengan meluncurkan produk “Kindle Fire” yang cuma dilabel harga 199 dolar AS per unit dengan per­ forma setara iPad. Apple juga memasuki bisnis ­tradisional Amazon ­dengan ­menjajakan buku melalui ­iBookstore. Bahkan Apple menjual e-book dengan harga lebih murah di­banding Amazon. Sedangkan Google masuk ke bisnis jejaring sosial yan me­ rupakan jantung bisnis Facebook. Google juga mengakuisisi Motorola Mobility dengan transaksi fantastis 12,5 miliar dolar AS guna menantang Apple. Akan halnya Facebook. Menyadari serangan pelbagai sisi, Facebook terus bertransformasi dari s­ ekadar situs jejaring sosial menjadi satusatunya Integrated P ­ ersonal Con­ sumer Data terbesar dan terlengkap melalui akses “Like” dari lebih 800

34

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

juta penggunanya (setara ­dengan 20 persen penduduk bumi). Dalam teori pemasaran mutakhir, keunggulan memahami karakter pelanggan secara spesifik (personal consumer data), akan menjadi kata kunci sukses bisnis. Dari semua cerita tadi, Apple men­ jadi fenomena. Memiliki cadangan tunai 76 miliar dolar AS (­ per Agustus 2011), jauh me­lampaui ­cadangan Pemerintah ­Amerika Se­ rikat yang ‘hanya’ 74 miliar dolar AS. Produk Apple di bawah komando Steve Jobs menjadi trensetter global: iMac, Macbook Air, iPod, iPhone, iPad, iTunes Store, iBook Store. Apple mendapatkan margin 368 dolar AS untuk setiap iPhone yang terjual. Sepeninggal Steve Jobs, Apple tetap menonjol dibawah n ­ akhoda/ CEO Tim Cook. Cook dengan ­kemampuan finansial hampir tanpa batas, membuat kontrak jangka panjang dengan para supplier ­komponen vital seperti flash disc, flash memory, dan layar sentuh. Dengan memborong komoditas ini, Apple memastikan pasokan melimpah dengan harga termurah, sekaligus memastikan kelangkaan bagi para pesaingnya. Akibatnya para pesaing harus membayar komponen vital dengan harga lebih tinggi, sehingga harga jual pro­ duknya menjadi kurang kompetitif. Apple juga mengembangkan iCloud sebagai produk komputasi awan, yang mempermudah ­konsumen melakukan transaksi pembayaran online secara praktis tanpa kena


MATAHARI

surcharge 1-3 persen yang kadang menjengkelkan. ­Caranya, hanya dengan men­dekatkan iPhone atau iPad yang ­dilengkapi nearfield-­ communication chip ke kasir. Maka transaksi beres. Apple pada akhir tahun 2011 ini menambah feature videophone pada iPhone dengan FaceTime. Google mengikuti dengan me­ luncurkan Hangouts dan Facebook menggandeng Skype. Apple juga meluncurkan iMessage. Sedangkan Facebook mengusung Messanger yang mampu mengirim teks, foto, video, group messanging secara gratis via internet. Produk yang terakhir ini akan sangat meng­ ancam bisnis AT&T dan Verizon, dua raksasa Telekomunikasi yang selama berpuluh tahun meraup miliaran dolar dari layanan SMS. Muara dari persaingan bisnis berbasis Teknologi Informasi ter­ sebut adalah bagaimana menjual kualitas produk premium dengan harga ekonomis, bahkan sampai pada level ’dijual gratis’ melalui ‘open source’ alias freemium (free alias ­gratis tapi dengan kualitas pre­mium). Sungguh menjadi per­ tempuran mahadahsyat. Dari bisnis kovensional, akan terjadi perang dalam mempe­ rebutkan ­“pasar komunitas”. Di Indonesia beberapa tahun ter­ akhir ini tumbuh subur pelbagai ­komunitas ­konsumen yang loyal akan ­produk tertentu. Sebut saja Harley Davidson Club Indonesia (HDCI)-komunitas pemilik Harley Davidson, Bike To Work-komunitas profesional pengendara sepeda ke kantor, Forum Pembaca Kompas, IdBlackberry, Jalan Sutra-komunitas penggemar kuliner, Toyota Kijang Club Indonesia, Xenia Avanza Indonesia Club, Innova Community, Kaskus dan sebagainya. Di era hypercompetition seperti saat ini, produsen yang hanya mengandalkan kualitas produk saja dipastikan akan tersisih dari pasar. Mengapa demikian? Konsu­ men selalu dijejali beragam pilihan merek dan produk untuk satu jenis

Muara dari persaingan bisnis berbasis Teknologi Informasi tersebut adalah bagaimana menjual kualitas produk premium dengan harga ekonomis, ­bahkan sampai pada level ’dijual gratis’ melalui ‘open source’ alias freemium (free alias gratis tapi dengan kualitas premium). Sungguh menjadi pertempuran mahadahsyat.

kebutuhan. Sebut saja untuk pasta gigi, saat ini beredar lebih dari 40 merek di Indonesia. Mobil ada lebih dari 35 merek, Sepeda lebih dari 20 merek, Helm (helmet) tak kurang dari 50 merek. Bahkan kartu telepon pra maupun pasca-bayar saat ini disesaki lebih dari 12 o ­ perator dengan ratusan produk yang di­ tawarkan. Hadirnya komunitas konsumen Generasi C juga perlu menjadi perhatian produsen. Mereka dapat memproduksi informasi, berinter­ aksi satu sama lain melalui jejaring sosial, serta menyebarluaskan pesan apapun sebagai sharing knowledge. Sehingga tak mengherankan jika ada pandangan yang me­nyatakan bahwa komunitas terkadang menjadi “pressure group”. Jika tidak dirangkul produsen, komunitas ini dapat membahayakan produk. Sebagai contoh, hal-hal kecil yang benar-benar diketahui dengan baik oleh Generasi C dapat kita bagikan kepada orang lain. Misalnya, ketika kita sedang sakit, kita memiliki informasi yang akurat tentang apa yang kita rasakan, dan tindakan apa yang kita lakukan terkait dengan penyakitnya. Jika apa yang kita rasakan itu kita bagikan (sharing) ke berbagai pihak lain lewat sarana jejaring sosial, informasi itu akan menjadi suatu hal yang berharga.

Dengan menggunakan jejaring sosial komunitas kita dapat berbagi informasi dengan orang lain yang memiliki penyakit serupa dengan kita dan kita berharap ada usulan solusinya apakah berupa dokter, obat ataupun solusi lainnya. Dengan demikian, terdapat ­manfaat dua arah jika perusahaan ingin meningkatkan “Kualitas” sekaligus reputasi produknya, dengan cara menggandeng Komunitas Gene­ rasi C. Bagi komunitas, manfaatnya antara lain: Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang produk dan jasa, mendapat sponsor dari pro­dusen pemilik merek berupa produk, dana segar untuk menggelar acara dan sebagainya, ­mening­katkan citra dan ­eksistensi komunitas karena di­libatkan dalam pelbagai kegiatan perusahaan, mendapat­ kan harga khusus dari produsen, serta ­mendapatkan pemasukan tetap untuk mendanai kegiatan komunitas antara lain dari alokasi anggaran sponsor, promosi serta cor­ porate ­social responsibility (CSR) dari ­produsen. Sedangkan bagi perusahaan, manfaat berkolaborasi dengan komunitas konsumen produknya antara lain: Memperoleh masukan untuk ­inovasi produk, Men­dapatkan ­sumber referensi akurat, ­Menjadi wadah yang menjembatani pe­megang merek, operator dan konsumen akhir, Memberikan ­kampanye promosi gratis, Mengangkat citra merek dan produk perusahaan, serta Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hal-hal terkait perusahaan dan produknya. Dalam banyak kasus, anggota komu­ nitas produk yang sudah masuk ka­ tegori “Evangelist” atau ­“pendakwah”, akan menjadi pertahanan terbaik produk dan perusahaan dari setiap ancaman, persaingan dan black campaign yang ingin menjatuhkan nya. Jadi, jika tak ingin tergoyahkan di pasar, ­produsen sudah seharusnya ­meningkatkan Kualitas ­hubungan relasional dengan Komunitas ­produknya. ***

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

35


MATAKAIL MATAUANG

36

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAKAIL

Grobogan, Peninggalan Pusat Kerajaan Mataram Mungkin tidak banyak mengetahui sejarah, Kabupaten Grobogan. Daerah Grobogan sudah dikenal sejak masa kerajaan Mataram Hindu. Daerah ini menjadi pusat Kerajaan Mataram dengan ibukotanya di Medhang Kamulan atau Sumedang Purwocarito atau Purwodadi.

P

usat kerajaan itu kemudian berpindah ke sekitar kota Prambanan dengan sebutan Medang i­ ­Bhumi Mataram atau Medang Mat i Watu atau Medang i Poh Pitu atau Medang ri Mamratipura. Pada masa kerajaan Medang dan Kahuripan, daerah Grobogan merupakan daerah yang penting bagi negara tersebut. Sedang pada masa Majapahit, Demak, dan Pajang, daerah Grobogan selalu dikaitkan dengan cerita rakyat Ki Ageng Sela, Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan dan cerita Aji Saka. Sementara di era kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan termasuk Daerah Monconegoro dan pernah menjadi wilayah koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo: Adipati Surodiningrat. Dalam masa Perang Prangwadanan dan Perang Mangkubumen, daerah Grobogan merupakan daerah basis kekuatan Pangeran Prangwedana (RM Said) dan Pangeran mangkubumi.   Menurut cerita tutur yang beredar di daerah ­Grobogan, suatu ketika pasukan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngudung dan Sunan Kudus ­menyerbu ke pusat kerajaan Mojopahit. Dalam pertempuran tersebut pasukan Demak memperoleh kemenangan gemilang dengan runtuhnya kerajaan Majapahit.   Ketika Sunan Ngundung memasuki Istana, dia me­ nemukan banyak pusaka Majapahit yang ditinggal­ kan. Benda-benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke Demak. Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati Sunan Ngudung. Sebagai ­kenangan, maka tempat tersebut diberi nama Gro­ bogan yaitu tempat berupa grobog.   Di atas dijelaskan, bahwa grobog adalah sebuah kotak persegi panjang yang digunakan untuk menyimpan uang atau barang yang dibuat dari kayu. Kadangkadang berbentuk bulat, agar mudah membawanya

FOTO: ISTIMEWA

dan dengan cepat dapat diselamatkan apabila ada bahaya mengancam, misalnya bahaya kebakaran. Tetapi grobog juga dapat berarti kandang yang berbentuk kotak untuk mengangkut binatang buas (misalnya: harimau) hasil tangkapan dari perburuan. Grobog tersebut dapat juga digunakan sebagai alat penangkap harimau. Grobog ini biasa disebut Grobog atau bekungkung (bila kecil disebut: jekrekan untuk menangkap tikus). Selain itu, Grobogan juga berasal dari kata Grobog yang dalam salam ucapnya menjadi ‘Grogol’, yaitu alat penangkap binatang buas. Sejalan dengan penjelasan di atas maka Grobogan adalah sebuah daerah yang digunakan sebagai daerah perburuan. Pada abad 19 daerah Grobogan merupakan daerah per­sembunyian para pahlawan rakyat penentang ke­kuasaan kolonial Belanda, bersama-sama dengan daerah Sukowati. ­Daerah ini sangat cocok sebagai ­daerah per­ sembunyian, karena merupakan daerah hutan jati yang lebat dan berbukit-bukit.   Dari penjelasan diatas, sejarah Grobogan yang sekarang menjadi Kabupaten daerah Tingkat II ­Grobogan menetapkan hari jadinya  pada hari Senin, 21 ­Jumadilakir, 1650 atau 4 Maret 1726. Pada saat itu Susuhunan Amangkurat IV mengangkat seorang abdi yang berjasa kepada Sunan, bernama Ng. Wongsodipo menjadi Bupati Monconegari Grobogan dengan nama RT Martopuro.   Dalam pengangkatan ini ditetapkan pula wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya, ialah ditetapkan pula wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya, ialah Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan, dan beberapa daerah di Sukowati bagian Utara Bengawan Sala. (Babad Pecina: 172-174). Indra Maliara STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

37


MATAKAIL

Foto: Istimewa

Produsen Kedelai Nomor Wahid

Mendongkrak Ketahanan Pangan dari Grobogan

K

abupaten Grobogan ternyata menyimpan potensi ke­kayaan agraris. Sebut saja, padi, ­kedelai, jagung, semangka, melon. ­Grobogan yang pusat pemerintah­ annya berada di Purwodadi juga dikenal sebagai gudang industri genteng, mebel, dan kerajinan bambu. ­Sentuhan kecil saja, niscaya ­Grobogan bakal menjadi pusat pertanian dan kerajinan. Barangkali, ketenaran Grobogan belum bisa sejajar dengan daerah lainnya di Jawa. Pesona Grobogan dalam bingkai Provinsi Jawa Tengah sepertinya belum mampu bersaing dengan daerah sekitarnya. ­Grobogan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blora di sebelah timur, Kabupaten Ngawi, Sragen. Di selatan, Grobogan berbatasan dengan Boyo­ lali. Di barat, ada Kabupaten Sema­

38

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

rang. Kabupaten Demak, Kudus, dan Pati di sebelah utara.   Namun, perlu dicatat, Grobogan merupakan daerah terluas kedua di Jawa Tengah, dengan luas wilayah 1.975,86 km2 dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.404.770 jiwa pada tahun 2010. Data BPS Grobogan menyebutkan, sekitar 66 persen mata pencaharian pen­ duduk Grobogan berada di sektor pertanian. Secara administratif, Grobogan terdiri dari 19 kecamatan, 273 desa, serta tujuh kelurahan yang berada di Kecamatan Purwodadi. Luas dan wilayahnya yang strategis membuat Grobogan semakin me­ narik. Potensi lahan pertaniannya produktif didukung jalur pemasaran yang strategis pula. Maka sangat

wajar apabila perekonomian Gro­ bogan dalam beberapa terakhir makin berkembang pesat. Ishak Pardosi

Grobogan yang punya sederet produk unggulan berdaya saing serta n ­ i­­lai ekonomi cukup tinggi, merupakan kabar gembira bagi impian ketahanan pangan Indonesia. Apa saja?


MATAKAIL

Padi, Jagung, dan Kedelai Lahan subur menjadi poin penting kenapa padi, kedelai, dan jagung menjadi tanaman pangan andalan Grobogan. Sebagai catatan, pada 2009, produksi padi Grobogan bisa mencapai 635.865 ton. Sedangkan produksi jagung menembus 447.416 ton. Lebih hebat lagi, Grobogan merupakan daerah pemasok kedelai terbesar bagi Jawa Tengah. Ini ­ditandai meningkatnya produksi kedelai setiap tahunnya. Khusus untuk kedelai, Grobogan bahkan mampu menyabet pre­ dikat daerah sentra penghasil kedelai di Jawa Tengah sekaligus di tingkat nasional. Kualitas kedelai lokal dari Grobogan juga pernah menjuarai lomba nasional. Pasal­ nya, kedelai Grobogan memiliki warna biji yang putih kekunin­ gan dan memiliki ukuran 16-20 gram/100 biji, tingkat produktivi­ tas ­tanamannya ­tergolong cukup tinggi yaitu berkisar 2,0 sampai 3,5 ton/ha, ­serta umur panennya yang ­cenderung pendek yakni hanya berkisar 72-79 hari.   Biji kedelai Grobogan juga tidak mudah pecah maupun rontok. Sehingga pada saat pengangkutan hasil panen, tidak banyak biji yang hilang maupun tercecer. Kualitas rasa yang dihasilkan kedelai lokal Grobogan ternyata juga tidak kalah unggul. Ketika diolah men­ jadi susu kedelai, rasa langu yang ­dihasilkan tidak tertalu terasa. Hal ini ­kemudian membuat pelaku industri tempe, susu kedelai, mau­ pun ­produsen kecap lebih memilih kedelai lokal Grobogan ketimbang varietas kedelai lainnya.   Tingginya permintaan pasar dan besarnya untung usaha yang dijanji­ kan, akhirnya membuat persebaran tanaman kedelai semakin merambah ke berbagai kecamatan. Sebut saja, Kecamatan Karangrayung, Kradenan, Gabus, Toroh, dan Pulokulon, dengan luas lahan keseluruhan hingga lebih dari 300 hektar.

Foto-FOTO: Istimewa

Melon dan Semangka Kecamatan Penawangan dan Kecamatan Wirosari dikenal sebagai penghasil melon dan semangka berkualitas unggul. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan para petani di daerah itu. Tak heran bila masyarakat setempat berlomba-lomba mengembangkan tanaman melon dan semangka sebagai mata pencaharian utama.

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

39


MATAKAIL

Sapi Potong Grobogan juga termashyur sebagai sentra sapi potong di Jawa Tengah. Jika dibandingkan dengan 35 k­ abupaten lainnya di provinsi tersebut, Grobogan merupakan kabupaten tertinggi memproduksi sapi potong. Dinas ­Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan, di akhir tahun 2010 mencatat, jumlah populasi sapi di daerah itu mencapai 137.843 ekor dan tersebar di setiap kecamatan.

Industri Genteng Industri genteng di wilayah ­ robogan juga makin ber­ G kembang pesat. Beberapa daerah yang mulai memproduksi genteng antara lain Desa Karangasem, ­Tegalrejo, Kecamatan Wirosari, Dusun Gedong, Desa Tegalsumur, dan Kecamatan Brati. Tingginya ­aktivitas produksi genteng ­Grobogan, akhirnya mendorong para pelaku UKM untuk mem­ perluas pemasarannya hingga menjangkau ke luar daerah.

40

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATAKAIL

Foto-FOTO: Istimewa

Industri Mebel Masyarakat Grobogan juga dikenal punya kreativitas tinggi. Hal ini tentu saja merupakan modal utama untuk me­ ngembangkan industri mebel di daerahnya. Paling tidak, terdapat sekitar 117 orang pelaku usaha mebel dengan tingkat rata-rata produksi mebel mencapai 60.385 buah. Jika dioles lebih giat lagi, beragam produk mebel Grobogan bakal menjadi skala industri yang lebih besar dan mampu menjangkau pasar nasional maupun pasar internasional.

Kerajinan Bambu Sejumlah daerah di Grobogan juga merupakan pusat ke­rajinan ­bambu. Di antaranya, Desa ­Teguhan di Kecamatan Gro­ bogan, Desa ­Terkesi, Jenengan di ­Kecamatan Klambu, dan Desa ­Dimoro di Kecamatan Toroh. Di sana, ­sebagian besar ma­­sya­ra­ kat­nya adalah pengrajin bambu karena minat konsumennya masih sangat besar. Beberapa produk kerajinan yang dihasilkan ma­syarakat antara lain sangkar burung, kandang ayam, maupun anyaman bambu.

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

41


MATABAJAK

Foto: STOMATA

Mengenal Lebih Dekat

Urea Booster

Strong UP

D

ari berbagai pupuk buatan yang beredar di pasaran, ­pupuk Urea merupakan salah satu jenis pupuk buatan yang paling laris dan selalu dibutuhkan oleh para petani mau­ pun pelaku budidaya tanaman.

Dasar Pemikiran adalah kelangkaan atau keterbatasan persedian pupuk nitrogen.

42

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Kebutuhan pupuk Urea yang tinggi disebabkan kebutuhan tanaman terhadap zat Nitrogen (N) yang terkandung dalam pupuk Urea. Zat N ini menjadi bahan utama pada proses pertumbuhan tanaman. Sebenarnya banyak pupuk sumber zat N selain urea seperti pupuk ZK, Amoniak, dll. Keunggulan pupuk Urea dibanding sumber zat N lain­ nya adalah kandungan zat N yang

berkadar tinggi, serta sifatnya yang sangat praktis dalam aplikasinya di lahan. Pupuk Urea rata-rata ­memiliki kadar N 46 persen. Artinya setiap 100 kg pupuk Urea mengandung 46 kg Nitrogen didalamnya. Namun pemakaian pupuk Urea dalam jumlah besar dan terusmenerus dalam jangka waktu lama menimbulkan permasalahan lain yaitu dampaknya terhadap ­kerusakan lingkungan, khususnya reaksi fisika dan biokimia tanah. Efek yang muncul saat ini yaitu ge­ jala berkurang kesuburannya tanah. Penambahan dosis pupuk Urea ke lahan ternyata tidak lagi mem­ berikan respon peningkatan hasil


MATABAJAK

produksi pertanaman. Timbulnya kelangkaan dan keterbatasan per­ sediaan pupuk Urea di pasaran akibat kebutuhan yang terus meningkat, serta dampak pemakaian urea dalam jumlah besar dan terus-menerus dalam jangka waktu lama, men­ dorong diluncurkannya produk Urea Booster NEB Strong UP. Urea Booster Strong UP yang diproduksi oleh PT Pertani (Persero) adalah Organic Fertilizer Additive, suatu produk yang berfungsi se­ bagai fertilizer additive atau bahan tambahan pelengkap pupuk yang bersifat organik. Produk ini merupa­ kan bahan pelengkap pupuk Urea, dengan manfaat meningkatkan penyerapan zat Nitrogen dari pupuk Urea yang diaplikasikan ke dalam tanah. Sedangkan sifat organiknya akan menetralisir, atau minimal mengurangi dampak buruk pemakaian urea dalam tanah. Melalui berbagai manfaatnya, Urea Booster Strong UP dapat ikut meng­ atasi kelangkaan pupuk Urea sebagai sumber nitrogen melalui pengu­ rangan ketergantungan pada pupuk Urea hingga 50%. Peng­gunaan Urea Booster Strong UP juga berdampak meningkatkan hasil dan mutu panen sehingga dapat meningkatkan pen­ dapatan petani. Urea Booster Strong UP adalah Organic Fertilizer Additive, suatu produk yang berfungsi sebagai fertilizer additive atau bahan tambahan pelengkap pupuk yang bersifat organik ***

Melalui berbagai manfaatnya, Urea Booster Strong UP dapat ikut ­meng­atasi kelangkaan pupuk Urea sebagai ­sumber ­nitrogen melalui pengurangan ­keter­gantungan pada pupuk Urea ­hingga 50%.

Keunggulan l Urea Booster Strong UP meningkatkan berat & jumlah perakaran yang

akan memperkuat batang, dan meningkatkan hasil.

l Menghemat pemakaian pupuk Urea hingga 50%.

l Aplikasi dilakukan saat tanaman masih di pesemaian dan saat tanaman

masih sangat muda sehingga memudahkan pelaksanaannya.

Mekanisme Kerja l Hanya sebagian kecil Nitrogen, maksimal 35%, dari pupuk Urea yang

di aplikasikan selama ini dapat diserap tanaman, menyebabkan ­ pem­borosan biaya dan memicu produktivitas yang rendah. l Tanaman mencoba menangkap Nitrogen yang tidak terserap dengan cara melepaskan cairan akar yang memacu pertumbuhan mikroba yang bermanfaat bagi perakaran. l Permasalahan yang terjadi adalah umumnya tanaman memproduksi cairan akar pada saat tanaman telah dewasa, dimana saat itu pupuk & zat-zat yang terkandung didalam tanah sudah terlanjur hilang akibat ber bagai proses yang terjadi. l Aplikasi yang dilakukan saat tanaman masih sangat muda akan dapat mencukupi kebutuhan jumah cairan akar. l Pertumbuhan mikroba bermanfaat yang dipicu oleh jumlah cairan akar yang cukup, akan dapat menangkap zat Nitrogen yang memadai bagi tanaman. Nitrogen tersebut akan terlepas dan tersedia bagi tanaman melalui kematian mikroba.

Efek Mekanisme Kerja l Lebih banyak Nitrogen tersedia bagi tanaman

Urea Booster Strong UP Penggunaan Strong UP dapat mengurangi tingkat kebutuhan petani terhadap pupuk Urea.

l Lebih konsisten pasokan ketersediaan Nitrogen (pengaruh pelepasan

perlahan akibat kematiana mikroba)

l Memacu perkembangan akar dan tanaman yang berakibat meningkat-

nya berat & jumlah perakaran, menguatnya batang & meningkatnya hasil

Pernah Digunakan Pada Komoditas l Tanaman Pangan: padi, jagung/maizena, gandum, wijen

l Tanaman Hortikultura: kentang, kubis, tomat, mentimun, melon, anggur,

umbi gula/bit

l Tanaman Perkebunan: tebu, sawit, kapas, bunga matahari

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

43


MATABAJAK

Spot Demo NEB Strong UP di Pesemaian padi sawah Lokasi: Desa Panggalaman Kec. Martapura Barat Kab. Banjar Kalimantan Selatan Foto-FOTO: STOMATA

1

Penaburan benih di lahan pesemaian dilakukan secara merata.

2

Ir Budi Santoso tengah mem足 berikan penjelasan penerapan demo NEB Strong up. Aplikasi dapat menggunakan sprayer maupun dikucurkan menggunakan botol air mineral/ gembor.

44

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

3

Dipilih sprayer dengan pertimbangan: l Lahan pesemaian yang agak kering memerlukan air agak banyak untuk meningkatkan efektivitas NEB Strong UP. l Butiran larutan hasil sprayer lebih kecil dibanding dikucur kan dengan botol air plastik, mengurangi terbuangnya larutan.


Pengisian tangki sprayer dengan air bersih ­se­banyak + 5 liter, atau disesuaikan dengan ­ke­butuhan air untuk 1 petak pesemaian.

MATABAJAK

4

5

Pembukaan botol NEB Strong UP ­untuk diambil isinya.

6

8

l Tangki sprayer kemudian ditu tup rapat agar tidak ada larutan tertumpah. l Larutan lalu disemprotkan se- cara merata ke lahan per­semaian.

Cairan NEB Strong UP diambil ­se­banyak 1 pipet, dengan cara celup­ kan pipet ke dalam botol NEB. l Tutup lubang pipet yang satunya dgn jari. l Tarik keluar pipet dari dalam botol NEB, dengan ujung jari masih menutup lubang pipet. l Masukkan pipet ke dalam tangki sprayer, lalu angkat jari yang me­­ nu­tup lubang pipet hingga larutan bisa keluar dari pipet & mengucur ke dalam tangki. l Bilas sedikit ujung pipet yang masih menyisakan cairan NEB.

9

l Penyemprotan dilakukan se- cara merata pada lahan, terutama pada area yang ada benihnya. l Larutan jangan sampai ter buang pada area yang tidak ada benihnya atau terbawa angin.

7

l Jika air dianggap kurang, dapat ditambahkan sampai maksimal 1/3 tangki. l Tangki sprayer kemudian digoyang-goyang agar NEB Strong UP tercampur merata. l Tanda campuran merata: terlihat warna biru muda yang merata di seluruh larutan. STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

45


MATAILMU

l Mutu dan kualitas burung harus baik; memiliki mental bagus; ki-

caunya bagus, nadanya bagus, volumenya bagus, iramanya bagus, jarak jangkaunya jauh, dan bersih atau kristal. l Fisik sempurna, dalam arti tidak cacat. l Sehat, dalam arti tidak sakit-sakitan. l Baik pejantan maupun betinanya sudah siap kawin. l Mau dan dapat ditangkarkan dalam arti mampu kawin secara normal l Dari keturunan yang baik dan mempunyai keturunan yang baik pula (tidak cacat, rajin, dan sayang mengasuh anaknya)

Kunci Keberhasilan Penangkaran Fo to :

Istimewa

Tahap selanjutnya ialah penang­ karan. Jika sangkar atau kandang tidak memenuhi kriteria bisa meng­ gagalkan proses per­kawinan. Untuk itu, harus dibedakan antara sangkar untuk pemeliharaan dengan sangkar penangkaran.

Kicau Cucakrawa dari Pondok Rangon

Sangkar buat penangkaran lebih t­ epat disebut kandang. Selain ­ukuran jauh lebih luas, kandang juga memerlukan berbagai per­ alatan pendukung serta membantu usaha penangkaran.

Burung pengicau asal Afrika dan Asia tropis mempunyai suara begitu khas. Saat ‘bernyanyi’ burung ini mengeluarkan suara keras dan lantang. Itulah sebabnya cocakrowo atau cucakrawa sering diikutkan dalam perlombaan dan jadi primadona para pecinta burung.

Agar sesuai habitat dan kehidupan asli di alam bebas setidaknya mendekati, maka kandang penang­ karan harus memenuhi beberapa persyaratan, yakni lokasinya cocok dan strategis.

N

amun, sayang keberadaan cucakrawa mulai berkurang seperti di Sumatera, Kali­ mantan, dan sebagian Kali­ mantan Utara (Sabah,Serawak dan Kucing negara bagian Malaysia). Maraknya perburuan liar menjadi faktor utama. Untuk itu, diperlukan pengembangbiakan agar burung yang memiliki keindahan suara ini tak musnah. Selain menjaga kelestarian, cocakrowo bernilai jual tinggi. Budidaya cucakrawa pada dasarnya cukup mudah, hampir sama dengan burung jenis lain. Meski begitu,

46

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

ada beberapa hal mendasar perlu diketahui dalam pengembang­ biakannya. Berikut tips budidaya Cucakrawa dari Supardi, Komisaris PT Pertani (Persero).

Tahapan Beternak Cucakrawa Ada baiknya peternak menye­ leksi agar memeroleh pasangan calon ­induk yang dapat meng­ hasilkan keturunan bermutu dan memuaskan. Dalam pemilihan, hendaknya burung harus memiliki semua kriteria, antara lain:

l Cocok Artinya banyak faktor ­pe­ndukung yang melancarkan usaha ­penangkaran, antara lain ke­mudahan mendapat air dan makanan; ­ketersediaan listrik sebagai pemanas dan penerangan, tidak terlalu dekat dengan ke­ramaian. Selain itu, ada tempat untuk membuang sampah atau kotoran dan jauh dari binatang yang dapat mengganggu suasana penangkaran. l Strategis Lokasi penangkaran mudah dikenal dan dijangkau para penggemar, dekat dengan jalan serta trans­ portasi mudah. Lebih baik berada di luar kota, berlatar belakang pe­gunungan menyerupai hutan.


MATAILMU

Hal ini akan sangat mendukung ke­indahan suasana penangkaran. Karena, kombinasi antara ke­ indahan alam dan kicauan burung memberikan kenikmatan tersendiri.

Kandang penangkaran harus ­memenuhi sejumlah persyaratan: l Lantai dasar terbuat dari batu

kali, batu apung, kerikil pasir dan tanah atau lumpur. Komposisi ini menyerupai kehidupan asli di hutan sehingga memenuhi kebutuhan dan sarana merawat diri bagi burung. Misalnya batu apung untuk mengasah paruh, pasir sebagai tempat mandi debu dan lain se­ bagainya. l Kolam atau rawa buatan dibuat dari semen dan batu alam yang dibentuk sealami mungkin agar tampak luas sehingga burung akan merasa senang, betah dan nyaman.

berasal dari satu induk. Jika dari induk burung satu keturunan (induk yang sama), pe­nangkaran dapat dimulai pada umur 1,5-2 tahun. Satu induk, yakni dari satu tetasan yang pada umumnya terdiri atas jantan dan betina. Keuntungan ­pasangan dari induk yang sama adalah lebih mudah mengawinkan serta mudah menentukan jenis kelamin karena telah ber­pasangan sejak menetas. Sedangkan ke­ lemahannya adalah keturunan­ nya tidak mungkin menghasilkan ­kombinasi suara lain karena berasal dari satu garis keturunan.

Kecocokan Pasangan

Pasangan burung yang di­ kandangkan belum dapat menghasil­ kan telur. Bahkan, kalau disatukan dapat saling menyerang. Jika terjadi hal ini, burung tersebut harus dipisah.

agar keduanya tidak saling serang. Kemudian, ikuti dan awasi terus perkembangannya ­untuk memas­ tikan keduanya akur. Jika dalam beberapa hari mulai tampak rukun, pasangan ini segera menghasilkan keturunan. l Berikan makanan yang baik, buah-buahan maupun makanan ekstra berupa serangga, belalang atau jangkrik. Air minum dan kolam rawa atau kolam buatan agar selalu dijaga kebersihannya serta jangan lupa mengganti air. l Pada waktu memberikan makanan ekstra, usahakan diberi­ kan dari tangan agar terjalin kontak langsung antara burung dengan pemilik. Bila kontak langsung sering dilakukan, setiap kali kita datang ke kandang, burung akan menyambut gembira dan penuh harap men­ dapatkan makanan kesayangan.

Pemilihan Pasangan

Pemilihan pasangan, keberhasilan penangkaran burung cucakrawa sangat ditentukan pasangan baru sebagai calon induk. Untuk me­ nentukan induk yang baik, faktorfaktor berikut ini harus diper­ hatikan, antara lain:

Umur Burung

Umur burung sangat berpengaruh pada kualitas piyik atau anakan. Jika anak atau piyik dari induk terlalu muda selain kondisi fisiknya lemah, juga kicau atau suaranya akan kurang keras. Selain itu, induk muda masih kurang atau belum mampu merawat anaknya dengan baik sehingga besar kemungkinan akan mati. Sebaliknya, induk umurnya terlalu tua selain kurang produktif, telur yang dierami kemungkinan tidak dapat menetas. Seandainya menetas, anaknya kurang sehat atau bahkan mati. Umur ideal bagi penangkaran burung cucakrawa adalah 2 tahun bagi pe­jantan dan 1,5 tahun bagi betina. Sebab, pada umur tersebut cucakrawa telah mencapai dewasa kelamin. Atau, ada baiknya pa­sangan

Foto: Istimewa

Cara Menjodohkan Bila calon induk telah memen­ uhi sejumlah syarat, tiba saat­ nya dimasukkan ke penangkaran. Men­jodohkan atau memasukkan ­burung ke dalam kandang ada teknik tersendiri. l Masukkan burung jantan ke dalam kandang penangkaran ter­ lebih dahulu sampai tampak tenang dan tidak lagi gelisah, syukur sudah mau berkicau. l Dekatkan kurungan berisi ­burung betina pada kandang berisi ­pejantan, lalu amati. Jika me­nunjukkan keterta­ rikan, masukkan betina ke kandang. Sebaiknya dilakukan pada malam hari

l Setelah beberapa waktu akan

t­ ampak jelas adanya kehidupan rukun, penuh kegembiraan yang diselingi dengan canda dan saling berkejaran riang namun tidak me­nyerang.

l Secara naluriah, pasangan burung akan membuat sarang dan mulai bertelur menjelang musim penghu­ jan, yaitu sekitar Juli-Agustus. Jika pasangan ini sama-sama men­ gumpulkan rumput kering atau bahan lain untuk menyusun sarang, segera berilah tambahan daun ce­ mara, rumput kering ataupun serabut kelapa agar burung mudah mencari bahan sarang l Setelah segalanya dirasa siap, maka si betina akan segera berte

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

47


MATAILMU

Foto: STOMATA

lur antara dua sampai tiga butir. Tapi ada kalanya burung bertelur sampai empat butir. Pada umumnya cucakrawa hanya bertelur dua butir saja. Telur yang semula berwarna putih ini lama-lama menjadi agak kekuningan dan kemudian akan muncul bintik-bintik coklat muda kekuning-kuningan. Pengeraman­ nya biasanya dilakukan secara ber­ gantian. Pada hari ke empat belas, biasanya telur akan segera menetas. Anak cucakrowo akan diasuh oleh kedua induknya secara bergantian.

Kendala Saat Penjodohan

Saat mengawinkan, biasanya para peternak akan mengalami kesulitan dalam menyamakan masa birahi burung. Jika hal itu terjadi, peternak perlu memberikan asupan pakan yang dapat memicu birahi, baik jantan maupun betina. Peternak disarankan menggunakan multivitamin dan multimineral plus suplemen lengkap dan seimbang disertai bahan aktif bermanfaat untuk burung indukan.

Setelah anak cucakrawa keluar dari sarang, jatah pakan perlu ditambah. Anak burung akan selalu minta disuapi dan terlihat selalu lapar. Selain pemberian pakan, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu yang tepat untuk memisahkan anak burung dari induk. Ada baiknya pemisahan dilakukan saat piyik berumur 14 hari (nangkring).

48

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

PERAWATAN SETELAH TELUR MENETAS Saat diketahui kapan kira-kira telur akan menetas, peternak ­perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat, ­telaten dan penuh perhatian. Ada baiknya dua atau tiga hari ­jelang telur menetas peternak menyediakan makanan jenis kroto atau serangga lain yang lembut dan lunak.

Tujuannya, agar sewaktu-waktu menetas induk langsung dapat memberi makan. Karena di dalam sangkar induk tidak bisa secara bebas mencarikan makan untuk anaknya, kebutuhan pakan harus selalu diperhatikan dari hari ke hari. Kebutuhan makan anak burung tidak selalu sama dari hari ke hari sejak umur 1 hingga 15 hari. Pada tahap ini juga, pemberian p ­ akan ekstra berupa serangga tidak boleh terlambat agar per­ tumbuhannya normal. Setelah anak cucakrawa keluar dari sarang, jatah pakan perlu di­ tambah. Anak burung akan selalu minta disuapi dan terlihat se­ lalu lapar. Selain pemberian pakan, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu yang tepat untuk memisahkan anak burung dari induk. Ada baiknya pemisahan dilakukan saat piyik berumur 14 hari (nangkring). Atau, bisa dilihat dari tingkah laku sang induk. Jika induk berusaha menjauh saat piyik minta disuapi, itu artinya mereka harus dipisahkan secara hati-hati. Tujuannya, agar induk tidak terkejut dan stres. Kalau sampai stres, induk burung tidak mau bertelur dalam waktu lama. Malam hari, anak cucakrawa mempunyai kebiasaan tidur lelap dengan memasukkan dan mendekap kepalanya di bawah bulu sayap induk. Jadi, harus hati-hati saat memisahkan. Anak cucakrawa yang telah dipisahkan, dikumpulkan menjadi satu dalam sangkar pemeliharaan. Apabila kelak akan dijadikan calon induk, anak-anak burung tidak perlu dipisah-pisahkan supaya mudah menentukan jantan dan betina. Tapi, kalau tujuannya untuk diikutkan dalam lomba atau ­sekadar didengar kicauannya, sebaiknya anak burung di­pisahkan dari yang lain. Cari pelatih untuk mengasah kemampuan burung berkicau. Bisa menggunakan rekaman suara burung yang sudah baik atau menggunakan burung sejenis trucukan.


MATAILMU

Perawatan Harian Perawatan harian untuk ­cucakrawa relatif sama dengan burung jenis lainnya. Kunci ke­ berhasilan perawatan harian yaitu rutin dan konsisten. Berikut ini pola perawatan harian dan stelan harian untuk cucakrawa: l Jam 07.00 burung diangin-

anginkan di teras. Jam 07.30 bu- ­­­­­­ ­rung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung). l Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambahkan voer, air minum dan buah segar. l Berikan jangkrik 5-7 ekor pada vitamin. Jangan pernah mem berikan jangkrik secara langsung pada burung. l Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis. l Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut di teras selama 10 menit, lalu sang- kar dikerodong. l Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung dapat dilatih dengan suara master atau burung asli cucakrowo. l Jam 15.30 burung diangin- anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu. l Berikan jangkrik 5-7 ekor pada vitamin. l Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan diperdengarkan suara master selama masa ­isti­rahat sampai pagi hari. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan dalam merawat burung cucokrowo, antara lain: l Kroto segar diberikan 1 sendok

teh maksimal 2x seminggu. ­ Contoh setiap hari Senin pagi dan hari Kamis pagi. l Buah segar diberikan rutin setiap hari dengan format: Senin sampai Kamis berikan buah pepaya. ­ Jumat dan Sabtu berikan apel, pisang atau buah lainnya.

Foto: STOMATA

Supardi dengan istri di kediamannya di Pondok Rangon, Jakarta Timur.

l Berikan multivitamin yang di

campur pada air minum ­ seminggu sekali. l Berikan pisang telah diolesi madu setiap Sabtu.

Adakalanya cucakrowo mengalami birahi berlebih. Ini cara penanganannya: l Pangkas porsi jangkrik menjadi dua ekor di pagi dan sore hari. l Berikan dua ekor ulat bambu selama tiga hari berturut-turut l Frekuensi mandi lebih sering, misalnya pagi-siang dan sore l Lamanya penjemuran dikurangi menjadi 30 menit/hari saja

Permasalahan ­Utama Cucakrawa Hasil ­Penangkaran

l Kurang bersemangat karena masih muda, kurang fit atau ke­

gemukan. Atasi dengan pemberian asupan gizi, vitamin dan mineral berimbang. Jika kegemukan, seringsering dimandikan. l Memperdengarkan “suara mati” atau suara burung lain seperti ayam, perkutut dan lain-lain. Atasi dengan pemasteran intensif suara burung cucakrawa. Bisa menggunakan kaset bisa menggunakan CD. Burung jangan dijadikan jinak. Biarkan sedikit liar. Cucakrawa jinak memerlukan stimulan digoda atau disiuli agar bunyi. Cucakrawa semi liar, suaranya cenderung keras dan rajin bunyi.   l Mabung nyulam terus-menerus. Penyebabnya kebanyakan lemak dan protein tapi kurang vitamin dan mineral. Kurangi dulu penjemuran dari porsi biasanya.   Dede Supriyatna

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

49


MATAILMU

D

i beberapa tempat penang­karan, harga anakan atau bakalan bisa mencapai 2 juta per pasang, bahkan lebih. Untuk lovebird kacamata kelas standard, harga anakan berkisar antara 1.4 juta- 1.5 juta per pasang, bagaimana den­ gan pasangan indukan atau burung prospek yang memiliki potensi juara lomba? Bisa dibayangkan harganya tentu lebih tinggi lagi. Wajar saja, saat ini banyak yang melirik usaha penangkaran lovebird sebagai usaha sampingan atau bahkan usaha utama. Untuk menjadi penangkar yang berhasil diperlukan pengetahuan beternak yang memadai. Pengetahuan terkait masalah kandang penangkaran, baik ukuran mau­ pun desain, jenis kelamin lovebird, masalah pakan terutama ketika lovebird birahi, obatobatan, penyakit yang sering menyerang lovebird, dan perawatan lain yang men­ dukung suksesnya penangkaran burung lovebird. Berikut ini sedikit tips untuk Anda

Peluang Usaha

Budidaya

Love Bird Lovebird adalah burung impor dengan beberapa macam warna, namun secara kriteria dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu lovebird kacamata (Klep) dan lovebird non klep. Kisaran harga burung non klep berkisar antara 700 ribu-1 juta rupiah per pasang, sementara untuk lovebird kacamata berkisar antara Rp 1,8 juta hingga 6 juta rupiah per pasang (pasangan remaja). Dengan alasan biaya pemeliharaan yang sama, maka para peternak lebih suka memilih lovebird kacamata untuk diternakkan.

50

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

dari Bambang Aby Atmodjo, Komite Audit Komisaris PT. Pertani yang ingin membuka usaha penangkaran lovebird. Kebutuhan pakan budidaya ternak lovebird Untuk menjaga kualitas indukan maka pemenuhan gizi harus diperhatikan. Untuk menjaga kualitas indukan maka pemenuhan gizi harus diperhatikan, yaitu dengan mem­ berikan suplemen multivitamin dan extra fooding berupa sayuran segar. setiap hari sepasang indukan hanya memerlukan 1/4 tongkol jagung muda dan beberapa lembar kangkung / tauge sebagai extra fooding. Pa­ kan utamanya adalah campuran milet putih, milet merah, kenari sheed dan kuaci dengan perbandingan 2:1:1:1. Biaya pakan per bulan untuk 10 pasang LB sekitar Rp 250.000/ bulan, dengan rincian Rp 150.000 untuk pembelian pakan sayuran dan Rp 100.000 untuk pembelian pakan utama. Rega Indra Adhiprana


MATAILMU

Keuntungan budidaya ternak love bird

1. Modal awal bisa disesuikan dengan jumlah besar kecilnya modal yang Anda miliki. 2. Menanaman modal cukup 1 kali, selanjutnya bila Anda ingin menambah cukup mengunakan dari hasil penangkaran sendiri. 3. Hasil dari budidaya ternak love bird pemasarnya mudah, Anda bisa menjual ke penjual burung yang berada di pasar burung atau bisa langsung ke penghoby burung. 4. Harga jual burung love bird relatif setandart 5. Produktivitas anakan yang dihasilkan oleh s足 epa足sang induk berkisar antara 2 s/d 4 ekor untuk sekali pro足 duksi, dan dalam satu tahun rata-rata setiap induk berproduksi 4 kali, sehingga setiap pasang lovebird dengan produktivitas tinggi rata-rata akan menghasil足 kan anak tidak kurang dari 8 ekor setiap tahunnya, dengan catatan perawatan dilakukan dengan baik.

asumsi budidaya love bird

Asumsi yang digunakan dalam kalkulasi budidaya LB; l Indukan lovebird yang diternakan adalah LB klep standard yang sudah siap produksi (cukup usia/siap kawin dan sudah memasuki masa birahi). l Siklus produktivitas setiap 3 bulan sekali atau 4 kali dalam setahun. l Setiap pasang indukan menghasilkan 8 ekor anakan per tahun. l Produktivitas indukan 60% per tahun l Biaya investasi disusutkan selama 10 tahun.

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

51


MATACSR MATACSR

Jamsostek Gelontorkan Dana PKBL Rp 5 Miliar ­untuk Kemitraan PT Pertani Tak heran jika PT Per­ tani m ­ enyalurkan dana CSR ­(corporate social res­ ponsibility) PT Jamsostek ke petani, ­peternak, dan nelayan di ­Kabupaten Malang. Pasalnya, Malang penghasil produksi padi tertinggi se-Jawa Timur pada tahun lalu.

K

abid Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura dan Hol­ tikultura, Dinas ­Pertanian ­Kabupaten Malang, Agus Tri ­Sunandoko me­ngatakan, daerah tersebut menghasilkan 444 ribu ton padi dari total sawah seluas 65.000 hektare. Dengan adanya pro­ gram GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporat), Agus yakin akan ada peningkatan hasil produksi padi pada tahun

PGN Peduli P ­ endidikan dan Ketahanan ­Pangan PT Perusahaan Gas Negara­ (Persero) Tbk (PGN) menggelontorkan dana Rp 173,1 miliar untuk Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan (PKBL). Dana yang diambil dari sebagian keun­ tungan perseroan ini akan digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional, memajukan sektor pendidikan serta meningkatkan kualitas sarana dan prasarana umum.

P

GN tidak menyalurkan sendiri dana PKBL tersebut, melain­ kan dengan cara bersinergi dengan delapan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain. Dalam Program Kemitraan, PGN akan menyalurkan dana sebesar Rp 168 miliar melalui 6 BUMN. Perinciannya, melalui PTPN X (Persero) sebesar Rp 75 miliar, PTPN XI (Persero) sebesar Rp 20

52

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

miliar, PT Sang Hyang Seri (Persero) Rp 36 miliar, PT Pertani (Persero) Rp 22 miliar, Perum Perhutani 10 miliar, dan PT Garam (Persero) Rp 5 miliar. Sedangkan untuk Program Bina Lingkungan PGN melakukan kerjasama dengan 2 BUMN yaitu PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dengan nilai sebesar Rp 4,2 miliar, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar Rp 930 juta. Penandatanganan kerjasama penyaluran dana PKBL dilakukan antara Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso dengan direktur utama delapan BUMN yang bersinergi di kantor PGN. Turut menyaksikan Sekretaris Kementerian BUMN Wahyu Hidayat, dan Deputi Bidang Restrukturisasi

ini. Buktinya, GP3K berhasil men­ dongkrak produksi padi petani dari 66,8 kuintal per hektare menjadi 7 kuintal per hektare. PT Pertani dipercaya oleh PT Jam­ sostek sebagai operator penyaluran dana CSR senilai Rp 5 miliar untuk kegiatan peningkatan pangan pemerintah. Selain Malang, dana itu juga disalurkan ke petani di kabupaten lainnya di Jawa Timur,

Kementerian BUMN Pandu Dja­ janto. Dirut PGN Hendi Prio Santoso menjelaskan, Program Kemitraan yang dikembangkan dengan PT Pertani, PT Sang Hyang Seri, dan Perum Perhutani berupa pinjaman bergulir kepada petani. Sementara untuk menjaga stabilitas harga garam dan gula dalam negeri, PGN juga bersinergi dengan PT Ga­ ram, PTPN X dan XI dengan mem­ berikan bantuan pinjaman lunak kepada para petani garam dan tebu. ”Program sinergi ini merupakan kontribusi PGN dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan berbasis Korporasi (GP3K),” tutur Hendi. Sedangkan realisasi Program Bina Lingkungan diwujudkan dalam bentuk bantuan pendidikan dan sektor sarana dan prasarana umum. Rega Indra Adhiprana


MATACSR MATACSR yaitu Kabupaten Lumajang yang mendapat CSR sebanyak Rp 130 juta dan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan sebanyak Rp 1,6 miliar. Adapun sisanya untuk Kabupaten Malang, yang merupa­ kan salah satu lumbung pertanian di Jawa Timur dengan hasil padinya. Dan CSR yang diberikan oleh PT Jamsostek sendiri, dilewatkan melalui PT Pertani yang kemudian disalurkan ke Koppindo (Komunitas Petani Peternak Nelayan Indonesia) sebagai dana bergulir. Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementrian

BUMN, Pandu Djajanto menilai program GP3K dapat meningkatkan hasil produksi pangan hingga 22 persen. Dengan hasil produksi yang berlimpah itu, pemerintah optimis tidak akan ada lagi beras impor. Program GP3K ini, kata Pandu lagi, tidak akan membuat para petani sampai merugi. Sebab, ketika harga beras anjlok saat panen raya, hasil produksi pertanian berupa beras akan disimpan di gudang PT Pertani terlebih dahulu. “Dengan adanya program GP3K ini, saya menarget­ kan hingga 2014 bisa menjangkau satu juta hektare lahan diseluruh Indonesia nantinya,” ujarnya.

Sementara Bupati Malang ­Rendra Kresna mengatakan petani di ­daerahnya membutuhkan alat ­per­tanian berkualitas. Sebab rata-rata ­kendala kelompok petani (poktan) ­tidak menggarap lahan mereka karena tak memiliki alat pertanian yang cukup. “Ada baiknya jika se­ bagian CSR dari perusahaan BUMN ­untuk alat-alat pertanian. Satu ­poktan kadang hanya punya satu traktor tangan,” katanya. Jika lahan tidak dikerjakan serentak karena kendala peralatan, lanjutnya, hal itu malah memacu pertumbuhan hama. Rega Indra Adhipara

Foto-FOTO: STOMATA

Penananam Padi dari Aceh-Bali, Perum Pegadaian Salurkan Rp 20,2 Miliar Kerjasama Perum Pegadaian dan pihak ketiga selama ini juga terjalin dengan baik dan berjalanlancar. Pihak ketiga yang berkerjasama dengan Perum Pegadaian di antaranya adalah Hijau Lestari I, Hijau Lestari II, PT Garam, PT Pertani, Lembaga Kemanusiaan ESQ, serta Rumah Zakat. Hingga kini, dana yang sudah tersalurkan me­ lalui pihak ketiga mencapai Rp 20,2 miliar.

M

anager PKBL Pegadaian, Suyatno mengatakan, alasan pihaknya bersinergi dengan perusahaan atau instansi tersebut adalah karena dipandang cukup kredibel. “Alasan ini sejalan dengan misi utama Pegadaian yaitu ikut membantu program pemerintah meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya golongan menengah ke bawah. Dalam memilih pihak ketiga kami juga hati-hati karena tidak ingin bermasalah, sebab uang

yang dikelola adalah uang negara,” ujarnya. Dari seluruh lembaga atau perusahaan yang dilibatkan, umumnya ditujukan kepada pen­ ingkatan kesejahteraan masyara­ kat seperti untuk penananam padi dari Aceh sampai dengan Bali, penanaman pohon produksi, pemberian fasilitas gerobak sayur bagi pedagang sayur di sebagian tempat di Jakarta dan sekitarnya, pelatihan para Guru termasuk sertifikasi, pemberian kredit lunak

kepada petani garam di Madura, pembentukan desa binaan di Jambi dan Bantul Yogyakarta, dan sebagainya. Bagi Pegadaian, keuntungannya melakukan kerja sama dengan ­pihak ketiga adalah mempercepat ­re­al­isasi program-program kerja yang sudah ditetapkan karena terbatasnya sumber daya manusia di bagian PKBL dan CSR. Suyatno menjelaskan, untuk me­ realisasikan program PKBL dan CSR di tahun 2012, perusahaan telah me­ngalokasikan dana sebesar Rp 85 miliar untuk program kemitraan, lalu Bina Lingkungan mencapai Rp40,5 miliar, sedangkan CSR Rp 29 miliar. Rega Indra Adhiprana

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

53


MATARANTAI

Fakta Ilmiah,

Lebah dan Penyerbukan

Lebah merupakan serangga penghasil madu royal jelly, beepollen, propolis. Apa yang dihasilkan lebah tak perlu diragukan lagi manfaatnya. Sejak zaman dahulu hingga sekarang sudah banyak orang menggunakan madu sebagai makanan dan juga obat. Foto: Istimewa

54

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012


MATARANTAI

B

ukan hanya makanan dan obat, lebah juga berguna bagi kehidupan petani. Sukses hasil tani tak bisa dilepaskan dari peranan penting lebah.

pada penyerbukan untuk bisa ber­ buah. Dan sekarang banyak lebah telah mati dan seluruh koloni kadang-kadang ambruk. Kini, budidaya lebah mulai digiatkan. Bahkan, di negara-negara indus­ tri beternak lebah bukan cuma uintuk mendapatkan madu. Se­ bagaimana yang telah dilakukan manusia sejak lama.

Lebah secara alaimiah sangat mem­ butuhkan nektar yang terdapat dalam bunga tanaman sebagai ­pangan lebah sendiri. Dan saat ­lebah memakan nektar, saat itu terjadi apa dinamakan penyerbukan atau polinasi. Jika itu tidak terjadi, tanaman tak akan menghasilkan apa pun. Sebab itu, diperlukan lebah dalam proses penyerbukan atau polinasi, terutama pada ­tanaman yang tak mampu melakukan penyerbukan secara sendiri seperti padi, j­ agung, termasuk tanaman-tanaman hortikultura. Intinya, peranan lebah dalam penyerbukan lebih besar dibanding burung pipit, kupu-kupu, kelelawar atau serangga lainnya. Hortikultura berasal dari dari ­bahasa latin hortus (tanaman kebun) dan cultura/colere (budidaya) dan dapat diartikan sebagai budidaya ­tanaman kebun. Lebah berperan besar dalam budidaya hortikultura untuk proses polinasi. Saat proses polinasi ini, terjadi simbiosis mutualisme antara lebah dan bunga tanaman. Lebah men­dapatkan nektar dan polen dari bunga sedangkan tumbuhan men­ dapat bantuan proses penyerbukan silang antara putik dan serbuk sari. Penyerbukan atau polinasi adalah jatuhnya serbuk sari pada per­ mukaan putik. Pada sebagian besar bunga, peristiwa ini berarti jatuh pada bagian kepala putik. Pe­nyerbukan merupakan bagian penting dari proses reproduksi tumbuhan berbiji. Suksesnya penyerbukan akan diikuti tumbuhnya buluh serbuk yang memasuki saluran putik menuju bakal biji. Di bakal biji ter­ jadi ­pe­ristiwa penting berikutnya, pembuahan.

Kesuksesan lebah dalam pe­ nyerbukan dibuktikan para pe­ neliti. ­Me­reka menyatakan, terjadi kenaikan produksi jika sejumlah ­koloni lebah diletakkan di sekitar lokasi tanaman. ­Semisal dalam produksi apel akan ­me­ningkat sebesar 30-60 persen, jeruk 300400 persen dan anggur ­60-100 persen. Tanpa lebah dalam proses ­polinasi, bisa diprediksi proses produksi buah-buahan dan sayuran berkurang 80 persen. Penurunan jumlah lebah juga berdampak pada hasil pangan. Ini ­bukan hal baru. Jika tidak ada ­lebah maka tidak ada penyer­ bukan. ­Sebagian makanan, buahbuahan dan sayuran bergantung

Budidaya lebah juga menghasilkan racun lebah yang keluar dari sengat lebah pekerja tanpa akibat matinya lebah, dengan cara memasang jebakan dipintu masuk sarang lebah yaitu dipasang arus listrik yang cukup untuk membuat terkejut lebah, dari terkejutnya lebah itu secara tak disadari racun lebah keluar dari sengatnya dan hasilnya di­tampung untuk ramuan obatobatan, s­ ebagaimana dilakukan para ­peternak modern. Para peternak lebah berharap banyak terhadap lebah sebagai polinator. Jika diper­bandingkan, sekitar 95 persen dari 3 juta koloni lebah yang dipelihara di Amerika Serikat adalah me­manfaatkan lebah sebagai p ­ olinator dan sisanya sebagai penghasil madu. Studi Morse dan Calderone (2000) menduga bahwa nilai ekonomi polinasi di AS pada tahun 2000 adalah sebesar 14,6 milyar dolar AS. Secara global kontribusi polinasi lebah sebesar 54 milyar dolar AS (Kenmore dan Krell, 1998). Dede Supriyatna

Penurunan jumlah lebah juga berdampak pada hasil pangan. Ini bukan hal baru. Jika tidak ada ­lebah maka tidak ada penyerbukan

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

55


MATACINCIN

Aset Bank Indonesia (BI) berupa lahan seluas 17 hektar di Pasir Muncang, Sukabumi akan dikembangkan menjadi wilayah agribisnis. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan bank sentral dan ma­syarakat sekitarnya.

Sulap Aset Bank Indonesia Jadi Pertanian Tanpa Limbah “Akan ada pabrik tahu, sawah organik, ­peternakan kambing perah kualitas unggul, dan kolam ikan”

Agus Santoso Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) Foto: ISTIMEWA

SAYANG kalau aset tersebut hanya untuk dibikin lapangan golf, misalnya. Lebih baik dibangun fasilitas agribisnis sehingga BI juga mempunyai social leadership,” kata ­Ketua Umum Ikatan Pegawai Bank ­Indonesia ­(IPEBI) Agus Santoso kepada Stomata di ­k antornya, Jakarta, Jumat (21/9/2012). Ditambahkannya, lahan tersebut bakal disulap menjadi daerah pertanian yang terintegrasi dengan peternakan. “Akan ada pabrik tahu, sawah organik, peternakan kambing perah kualitas unggul, dan kolam ikan,” ujarnya. Menurut Agus yang juga Wakil Ketua Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) itu, lahan tersebut menerapkan konsep zero waste organic farm atau pertanian tanpa limbah. Sistem pertanian ini dapat menekan biaya produksi karena sisa aktifitas pertanian

56

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

dan peternakan tak ada yang terbuang percuma. “Pertanian itu yang paling mahal adalah biaya pakan dan pupuk. Kalau pakan dan pupuk sudah dapat dari limbah, kita kan bisa irit. Nah, sistem pemanfaatan limbah ini senantiasa efisien di biaya industri,” jelasnya. Lahan itu juga akan menjadi pusat pengembangan tanaman organik yang menghasilkan produk ber­ nilai jual lebih tinggi ketimbang tanaman anorganik. Suplai pupuk tanaman organik berasal dari k­ ambing perah, sedangkan pakan kambing didapat dari ampas pabrik tahu. “Kambing perah ini paling ekonomis perawatan­ nya. Selain itu, masyarakat bisa mendapat susu setiap hari. Susu tersebut dijual dan bisa menopang ­likuiditas harian petani,” ujarnya. Rega Indra Adhiprana


MATACINCIN

Juragan Kambing

Desa Pandansari S

iapa yang menyangka Wakil Kepala Pusat ­ ela­po­ran Analisis dan Transaksi Keuangan P (PPATK) Agus Santoso ternyata punya profesi lain: “Juragan Kambing”.

Ada cerita menarik di balik profesi yang kini disandang­nya. Ternyata, Agus tidak hanya piawai dalam urusan transaksi mencurigakan. Urusan kambing, bapak satu putri ini memang piawai. Pria berkumis lebat ini hafal ras-ras kambing mulai dari kambing lokal, etawa (kambing India bertelinga panjang), Saanen (kambing dari lembah Saanen di Swiss), sampai Anglo Nubian (silangan k­ amb­ing ­perah Asia yang dimuliakan di Inggris). Juga bagaimana memelihara dan menternakkannya sehingga memberi manfaat ekonomi. Lewat kambing, dia membuka jalan untuk pem­ berdayaan masyarakat di lingkungan Desa Pan­dan­ sari, Gadog, Kabupaten Bogor. Agus memulai cerita awal mula hobinya. Sekitar 10 tahun lalu, Agus dan istrinya, Juli, merasa trenyuh melihat salah satu warga di pinggiran Sungai Ciliwung “memanen” batu di lahan sawahnya. “Kondisi sawah itu rusak. Jadi, selama 20 tahun dibongkar hanya untuk diambil batunya. Si ­pemilik su­ dah tidak sanggup membeli benih. Alhasil, dia hanya menjadi penjual batu,” tutur Agus yang kemudian membeli sawah si petani dan lahan di sekitarnya. Saat itu ada 1.800 meter persegi.

Kemudian, Agus berusaha “menghidupkan” kembali sawah itu. Namun, itu bukan perkara gampang. Dia harus mengolah dan menumpuk pupuk untuk me­ ningkatkan unsur hara tanah. Saat itulah, ter­lintaslah dibenaknya untuk menerapkan konsep pertanian tanpa limbah atau zero waste organic farm. Bagaimana caranya? Dibangunlah pabrik tahu. Bukan skala besar, tapi cukup untuk menghidupkan impiannya dan membantu warga sekitar. Seiring berproduksinya pabrik tahu ini, Agus merekrut warga sekitar untuk memasarkan tahunya dengan berdagang tahu gorengan pikulan. Semua bahan dagangan dia yang menyediakan. Si penjual hanya menyetor sekitar Rp15 ribu per hari. Untuk memanfaatkan limbah pabrik tahunya, ­karyawan Bank Indonesia ini lalu memelihara ­kambing. Semula hanya 10 ekor dari jenis Etawa dan Saanen. Kini kandang kambing yang semula hanya berukuran 1x6 meter berkembang pesat menjadi sebuah peternakan dengan berbagai jenis kambing perah unggul. Sedikitnya kini ada 150 ekor, mulai dari kambing lokal (Parahiyangan dan Garut), hingga kambing unggul dari India (Etawa), Swiss (Saanen), dan Anglo Nubian. Kini peternakan kambing itu telah menghasilkan puluhan liter susu setiap harinya. Itulah kenapa Agus sering dijuluki “Jurangan Kambing”. Rega Indra Adhiprana

“Sedikitnya kini ada 150 ekor, mulai dari kambing lokal (Parahiyangan dan Garut), hingga ­kambing unggul dari India (Etawa), Swiss (Saanen), dan Anglo Nubian”

TERNAK. Agus dengan Domba Kesayangannya. Foto: VivaNews

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

57


MATAHARI

Membuat Ide untuk Perubahan Itu, Sesuatu… Secara normatif, perubahan umumnya merupakan upaya menuju lebih baik ­­dari sebelumnya, karenanya perubahan ­certainly depend on inner will para pelaku perubahan dimaksud, dalam arti sejauh mana perubahan itu mampu memak­simalkan nilai manfaat dan meminimalkan nilai mudharatnya bagi sesama. menerima, harus membayar kebaikan itu kepada tiga orang lagi, begitu ­seterusnya; atas dasar inilah project Trevor ini berjalan, kondisi ini menjadi­ kan Trevor berhasil merubah “SESUATU“ menjadi sangat besar. Dalam konteks tugas keseharian, kondisi ini boleh jadi selalu kita temui. Untuk memulainya, kata Renald Khasali, Guru besar Management Bisnis Universitas Indonesia, harus dimulai dari ide dan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) baik itu kita selaku team leader, maupun dari segenap anggota yang diajak berubah (Change Your DNA, 2006), dan kondisi ini setiap saat akan terjadi, boleh jadi secara tiba-tiba atau setelah direncanakan sebelumnya.

P

erubahan bermula pada munculnya ide-ide kreatif si pe­rencana dan pembuat pe­ rubahan, walaupun boleh jadi ide itu merupakan top down karena tuntutan situasi yang memang mengharuskan­ nya berubah. Ide perubahan juga me­ merlukan the dream team sekaligus ­applic­­able.­Pay it Forward, merupakan film yang bermula dari novel yang ditulis oleh Catherine Ryan Hyde dan dibintangi oleh Kevin Spacey, Helen Hunt, Haley Joel Osment; membuat saya tertegun. Betapa tidak, film ini bercerita tentang Trevor, seorang bocah berusia 11 tahun, yang diberikan tugas social science oleh gurunya untuk membuat project yang dapat merubah dunia atau setidaknya dapat memberikan pengaruh yang besar kepada lingkungannya, inti­ nya project itu harus dapat mem­ berikan ins­pirasi yang besar bagi orang banyak. Trevor (diperankan oleh Haley Joel Osment) membuat project bertajuk PAY IT FORWARD, yakni membayar suatu kebaikan dengan tidak mengembalikan kebaikan itu kepada si pemberi kebaikan, tetapi si penerima kebaikan itu harus melakukan hal yang sama ­ (baca: kebaikan) kepada tiga orang lainnya. Setiap orang yang

58

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Merubah suatu bentuk organisasi yang sudah punya nilai Historis; me­nurut ­W. ­Chan Kim dan Renee Mauborgne: dalam Blue Ocean Strategy, (2006); setidaknya akan menghadapi empat rintangan: salah satunya rintangan kognitif: m ­ enyadarkan karyawan akan pentingnya perpindahan strategis; rintangan kedua adalah keterbatasan sumber daya: semakin besar perge­ seran dalam strategi, semakin besar sumber daya yang dibutuhkan untuk mengeksekusi strategi itu. Rintangan ketiga adalah motivasi: bagaimana kita memotivasi para pemain kunci untuk bergerak cepat dan dengan tangkas me­ ninggalkan status quo dengan waktu yang singkat. Rintangan terakhir adalah rintangan politis: “kata seorang manajer dalam organisasi ini anda ditembak dulu sebelum berdiri“. Kendati suatu perusahaan memiliki kadar rintangan yang berbeda, namun mengetahui bagaimana mengatasi rintangan dimaksud merupakan kunci mengurangi resiko organisasi. Untuk menciptakan Kurva nilai yang baru, menurut Mauborgne dan Kim; ada kerangka kerja empat langkah yakni Faktor apa saja yang harus dihapuskan, dikurangi hingga di bawah standar, ditingkatkan hingga di atas standar, dan apa yang harus diciptakan. Sementara menurut Farid Poniman, dkk, dalam Kubik leadership (2009), untuk merubah, setidaknya ada tiga anatomi kepemimpinan diri: Pimpin Keyakinan (x); Pimpin Aksi (Y); Pimpin Pekerti (Z) yang termasuk didalamnya Valensi (bobot, kemampuan dan takaran) sumber daya manusia (teori X,Y,Z). Terlepas dari itu semua, setidaknya semua stake holder organisasi harus siap, mau dan mampu menghadapi perubahan, yang dimungkinkan karena tuntutan bisnis dan persaingan yang lebih baik. Barangkali model inspiratif, PAY IT FORWARD, bisa dimulai seiring dengan tang­ gungjawab. Konon kata Ben Parker; dalam film Spiderman: ”With great power, comes big responsibility” (seiring dengan kekuatan yang besar, terdapat pula tanggungjawab yang besar) atau boleh juga kata ilmuan besar Albert Einstein: Uncertainty is a part of Reality, ketidak pastian, adalah bagian dari kenyataan. Dengan berfikir positif, sabar, optimis dan aktif, memungkinkan kita dapat mempertahankan diri dalam menghadapi perubahan dan tentu saja keluar sebagai pemenang, luar biasa. *** Mirwan, Karyawan PT Pertani (Persero), Redaktur Majalah Stomata


STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

59


60

STOMATA

Edisi 02/Tahun I /November 2012

Majalah Stomata Edisi 2  

Mau tahu solusi maslah pertanian. Baca Majalah Stomata...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you