Page 1

AMANAT

Surat Kabar Mahasiswa Untuk Untuk Mahasiswa Mahasiswa dengan dengan Penalaran Penalaran dan dan Taqwa Takwa

Babak Baru Aktivis Mahasiswa

Teknologi berkembang, kenyamanan ditawarkan, apatisme semakin mengakar. Aktivis mahasiswa pergerakanmu sangat dinantikan.

Edisi 132/Agustus 2019 ISSN: 0853-487X


TERAS

SURAT KABAR MAHASISWA

AMANAT

Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Penerbit:

Bei_19’

Unit Kegiatan Mahasiswa Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT UIN Walisongo Semarang Izin Terbit: SK Rektor UIN Walisongo Semarang No. 026 Tahun 1984 International Standart Serial Number (ISSN): 0853-487X

SALAM

REDAKSI

Beradaptasi dengan Zaman Berkembangnya teknologi tak bisa dipungkiri membawa dampak yang signifikan bagi para penggunanya. Terlebih bagi seorang mahasiswa. Kecanggihan teknologi menawarkan kemudahan mahasiswa dalam memenuhi suatu kebutuhan. Akhirnya mahasiswa telah dibuat nyaman dengan keadaan tersebut. Zona nyaman yang dihadapkan pada mahasiswa tersebut tak ayal jika berdampak pula pada suatu gerakan mahasiswa. Sebuah gerakan anti kemapanan, dengan bumbu semangat perlawanan. Sikap kritisisme dan idealisme yang dimiliki oleh seorang mahasiswa adalah modal dalam sebuah ruang perlawanan. Jika menilik kembali gerakan mahasiswa yang ada di UIN Walisongo (dahulu IAIN) marwah gerakan itu memang terlihat. Dahulu gerakan yang digunakan adalah gerakan jalanan atau demonstrasi. Hal itu dilakukan dengan alasan supaya aspirasi didengar oleh pemangku kebijakan. SKM Amanat berupaya meruwat ingatan sejarah, bahwa gerakan mahasiswa UIN Walisongo tidak hanya fokus dalam menyikapi isu yang ada di kampus saja. Melainkan mahasiswa dengan intelektual, kritisisme, idealisme, dan kebera-

2

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

nian yang dimiliki mampu turut serta mengambil sikap dan mengambil peran dalam menanggapi isu sosial kemasyarakatan. Baik itu lingkup daerah ataupun nasional. Tujuannya bukan hanya sekedar mengingat atau memaknainya sebagai romantisme sejarah gerakan mahasiswa. Namun diharapkan dapat mengembalikan semangat gerakan mahasiswa UIN Walisongo. Dari uraian tersebut menjadi dasar bagi kami untuk menyusun Tabloid Edisi 132 ini. Laporan utama berisi tentang bagaimana perjalanan gerakan mahasiswa pada kurun waktu tujuh tahun silam (Saat masih IAIN) hingga sekarang. Perihal sebuah model gerakan adalah pilihan. Sebab masing-masing gerakan ada sisi kekurangan dan kelebihan. Selain itu, SKM Amanat juga berupaya untuk menyuguhkan tulisan berkaitan dengan isu nasional yang sekarang sedang berkembang. Yakni pada Laporan Pendukung dengan judul “UKMPIB Tentangan dalam Tantangan”. Dan tentunya masih banyak tema lain yang bisa dibaca untuk menambah asupan pengetahuan. Selamat membaca... Redaksi

Sentilan Bang Aman Gerakan Jalanan (Demonstrasi) adalah Pilihan Saya memilih nonton konser di kampus, tidak panas Rektor Baru, Harapan Baru Jangan berharap, berharap itu sakit Gedung Baru Tampak Megah

PELINDUNG Rektor UIN Walisongo Semarang PENANGGUNG JAWAB Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PEMBINA Kabag. Akademik dan Kemahasiswaan PEMIMPIN UMUM Riduwan SEKRETARIS UMUM Wiwid Saktia N BENDAHARA Afridatun Najah, Nur Ainun Latifah PEMIMPIN REDAKSI Mohammad Iqbal Shukri SEKRETARIS REDAKSI Iin Endang W. REDAKTUR PELAKSANA Fajar Bachruddin A, Sigit Aulia Firdaus, Nur Zaidi, M. Syafiun Najib MANAJER AMANAT.ID Rima Dian Pramesti REDAKTUR AMANAT.ID Afifah Kamaliyah, Liviana Muhayatul K DESK BERITA Nur Fitrya Madany DESK ARTIKEL Agus Salim Irsyadullah DESK VIDEOGRAFI Yuni Nur Hidayati DESK SASTRA BUDAYA M Azzam Ashari LAYOUTER Ibnu Abdillah ILLUSTRATOR Ahmad Shodiq, Zulfiyana Dwi Hidayati KOORDINATOR REPORTER Badrus Salam KOORDINATOR MEDIA SOSIAL & IT Vina Ulkonita REPORTER Mufazi Raziki, Fahmi H, Alfita Salsabila, Isnatul F, Ari Yuwono S, Febbi F. HUMAN RESOURCES DEPARTMENT Khalimatus Sa’diyah, M. Syarif Marzuki, Naili Istiqomah MANAGER USAHA Noor Rahmah N. N. SIRKULASI & PERIKLANAN Al Habib Luthfi, Atikah Nur Azzah F, Ayu Chandra K PUSAT DOKUMENTASI Fika Eliza, Khanif Maghfiroh, Fadillah Isnaeni STAF AHLI Joko Tri Haryanto, Amin Fauzi, Musyafak, Khoirul Muzaki, Miftahul Arifin, Abdul Arif, Ahmad Muhlisin, Siswanto, Rosidi

Ya harus dong, UKT nya mahal kok Ganti KTM Baru Enggak ah ribet KKN Orda Waduh!!! bakalan dapat jodoh dari daerah yang sama nih... Bang Aman yang kadang pakewuh

Ilustrasi: Ahmad Shodiq


LAPORAN UTAMA

Gerakan Mahasiswa

Macan Pantura Tinggal Nama

Berbagai julukan pernah disematkan untuk aktivis IAIN (sekarang UIN) Walisongo. Namun julukan tersebut kian memudar.

(Dok. Istimewa)

B

an bekas, meja, dan kursi kayu tergeletak di tengah jalan. Beberapa saat kemudian, seorang mahasiswa menumpahkan bensin, lalu melempar api berkobar. Kemacetan parah tercipta di sepanjang Jalan Pantura. Tak jauh dari sana, ratusan mahasiswa bergerombol membentuk barikade. Tangan mereka saling berpegangan. Seorang di antaranya berdiri di depan massa dan berteriak lantang, “Tolak kenaikan harga BBM.” Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa IAIN Walisongo terus menyuarakan tuntutan penolakan terhadap rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Jumat 30 Maret 2012. Ratusan aparat kepolisian dari Polrestabes Semarang datang. Mereka menyemprotkan gas air mata dan water canon yang menghujani demonstran. Massa membalas dengan lemparan batu. Kericuhan tak dapat dihindarkan. Demonstran kocar-kacir dan berlarian. “Banyak teman kami yang pingsan dan dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan pernapasan,” ujar Mohammad Mushonnifin mengenang demonstrasi yang ia ikuti enam tahun silam, saat ditemui Amanat, Rabu (10/04). Aksi serupa pernah juga dilakukan mahasiswa pada tahun 2013 dengan mengangkat isu sama, penolakan kenaikan BBM. Meskipun kala itu, aksi tak sebesar sebelumnya. Karena seringnya aksi turun jalan tersebut, mahasiswa IAIN Walisongo dicap dengan berbagai julukan, mulai “tukang demo” hingga “macan pantura”. Menurut Mushonnifin, aliansi mahasiswa lintas perguruan tinggi sebelum tahun itu masih solid. Tetapi tahun setelahnya, aliansi mahasiswa lintas kampus tak lagi satu pandangan, sehingga kekuatannya berkurang. Tetapi sejak konversi menjadi UIN pada 19 Desember 2014, aksi serupa tak terlihat lagi. Aksi demonstrasi yang berujung blokade jalur Pantura, terakhir terjadi pada, Senin 2 Desember 2014. Aksi itu pun bukan mengatasnamakan organisasi intra kampus, melainkan organisasi ektstra. Fokus isu kampus Lima tahun belakangan ini, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) sebagai perwakilan mahasiswa justru lebih fokus mengurusi persoalan internal kampus. Berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat seperti luput dari perhatian. Ketua Dema UIN Walisongo (2017), Muhammad Afit Khomsani, menyayangkannya. Semangat pergerakan untuk memperjuangkan serta memperbaiki keadaan mestinya tidak boleh pudar. Tahun boleh berganti, generasi telah beralih, tetapi semangat itu mestinya tetap membara yang diimplementasikan dalam beragam cara. “Julukan macan pantura pernah kami dapatkan. Namun lambat laun julukan itu memudar,” ungkapnya, Selasa (02/04). Aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa IAIN Walisongo tersebut adalah bentuk penyikapan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat. Dema menjadi garda depan yang mewakili suara mahasiswa dan masyarakat di hadapan pemerintah. Sayangnya, berdasarkan pantauan Amanat, sikap kritis organisasi intra kampus atau Dema dalam mengawal isu sosial maupun kebijakan publik memudar dalam beberapa tahun belakangan. Peran itu diambil oleh mahasiswa, namun yang berafiliasi dengan organisasi

Unjuk rasa massa Aliansi Mahasiswa IAIN Walisongo menyuarakan tuntutan penolakan terhadap rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Jumat 30 Maret 2012.

ekstra kampus, semisal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dema kini cenderung lebih fokus mengawal isu internal kampus atau kebutuhan yang berhubungan dengan mahasiswa, ketimbang isu luar. Hasil penelusuran Amanat, pada tahun 2013 aksi pergerakan masih mewarnai dinamika perguruan tinggi, semisal aksi penolakan kenaikan harga BBM dan aksi pengawalan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2013. Namun pada 2015, aksi serupa nyaris tak tampak. Ahmad Lutfi Ketua Dema UIN Walisongo (2015) mengakui, pada masanya, kepengurusannya lebih memfokuskan kegiatan akademik mahasiswa, serta mengawal isu seputar kampus. Kepengurusan Dema selanjutnya yang dipimpin Muhammad Rizky Prasetya (2016) memberi sedikit perubahan. Dema saat itu terlibat dalam pengawalan isu Semen Kendeng serta ikut mengawal kasus pemberedelan majalah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sayang, peran Dema kala itu hanya bersifat partisipatif. Pengawalan kasus Semen Kendeng masih dilanjutkan kepengurusan Dema UIN Walisongo tahun 2017. “Sebab kami masih fokus pada problem kampus yang harus dibenahi, ditambah karena konversi dari IAIN ke UIN, banyak yang harus di urusi,” katanya. Organisasi tak jalan Pryo Ihsan Aji Ketua Dema UIN Walisongo (2019) mengakui, gerakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di

lingkup perguruan tinggi di Semarang sedang vakum. Baik dalam ranah diskusi maupun aksi. Di antara penyebabnya, jalinan komunikasi dengan kampus-kampus lain kurang. Pertemuan antar aktivis kampus jarang dilakukan. Mereka lebih sibuk dengan urusan masing-masing di kampus. Padahal, BEM di Kota Semarang sudah memiliki wadah untuk saling koordinasi dalam mengangkat isu bersama bernama BEM Semarang Raya. Alih-alih melakukan pergerakan, kepengurusan organisasi itu bahkan tidak jelas. “BEM Semarang Raya sampai saat ini belum ada pertemuan, pada 2018 hanya satu kali. Membentuk ketua koordinator, namun sekarang ketuanya malah tidak ada. Kepengurusannya juga belum jelas,” katanya, Rabu (02/06). Perkumpulan BEM tingkat Provinsi Jawa Tengah hingga nasional kurang lebih kondisinya sama. Di Jawa Tengah, terdapat wadah BEM Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Sayangnya, organisasi itu pun tidak memiliki kegiatan yang jelas, kecuali sebatas untuk menjalin silaturahmi antar kampus. Di tingkat nasional, terdapat setidaknya dua organisasi yang mewadahi BEM seluruh Indonesia, yakni Forum BEM Nusantara dan BEM Seluruh Indonesia (SI). BEM Nusantara beranggotakan aktivis BEM Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan PTKIN. Sedangkan anggota BEM SI lebih pada BEM PTN. Mereka aktif grup Whatsapp. Di situ, isu publik dibahas, hingga rencana aksi dan penggalangan dana. Tetapi aksi nyata dari wacana-wacana yang terlontar itu tak kunjung terlihat. Inilah yang menurut Pryo menjadi satu di antara alasan Dema minim gerakan dalam mengawal kebijakan isu-isu luar kampus. Dalam menyikapi problem sosial, Dema UIN Walisongo melakukan cara lain dengan membuat pamflet yang

diunggah ke media sosial Instagram. “Misalnya kemarin kita kerja sama dengan Sema membahas isu mengenai korupsi di Kemenag, tetapi kita tidak membuat kajian di situ. Hanya membuat pamflet-pamflet untuk diunggah di media saja,” kata mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam tersebut. Setengah periode masa jabatan, Dema UIN Walisongo rupanya belum pernah mengadakan diskusi umum, dengan alasan lebih menginginkan terjalinnya silaturahmi antar lembaga. Sebagaimana slogan Dema tahun ini yakni “Kabinet Sinergi Energi”. “Belum ada fokus ke masalah isu-isu nasional. Kita intensnya lebih ke membuka ruang relasi dengan lembaga-lembaga yang lain,” pungkasnya. Pasang surut Dalam perjalanannya, organisasi mahasiswa intra kampus yang diwakili oleh Dema memosisikan diri sebagai “pengontrol” kebijakan pemerintah. Prinsip ini sudah ada sejak era awal terbentuknya organisasi mahasiswa pada 1950-an. Kala itu, Dema menjadi wadah belajar berpolitik karena berfungsi sebagai student government. Semangat untuk belajar berpolitik lebih diutamakan dibanding semangat berpolitik praktis. Dalam buku Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998) yang terbit pada tahun (1999), umumnya mahasiswa di era itu melihat dirinya sebagai the iron stock, calon pengisi pos-pos birokrasi Pemerintahan Indonesia yang baru dibangun. Kegiatan-kegiatan mahasiswa kebanyakan diisi kegiatan seperti piknik, olahraga, jurnalistik, dan klub belajar. Ketika realitas berbeda dengan teori yang didapatkan, mereka memilih melakukan serangkaian aksi untuk mengubah keadaan. Ditemui di kediamannya Jalan Ngasinan Nomor 9 Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Hasan Aoni Aziz mantan aktivis 90-an mengungkapkan, pada masa itu yang muncul ke permukaan adalah isu pembangunan. Ada dua model pembangunan yang diterapkan rezim Soeharto, yakni developmentalisme dan westernisme. Developmentalisme adalah pembangunan negara dengan mengoptimalkan kekuatan pasar dalam negeri serta pengenaan tarif barang impor yang tinggi. Adapun westernisme merupakan model pembangunan yang bergantung pada teknologi Eropa Barat dan pemerintahan liberal. Westernisme cenderung ditolak, sementara developmentalisme lebih diterima. “Hal itu menumbuhkan pandangan pemerintah, bahwa apa pun yang menghambat pembangunan akan disingkirkan. Termasuk kritisisme mahasiswa,” kenang aktivis IAIN Walisongo ini, Sabtu (16/03). Serangkaian paket kebijakan pemerintah digelontorkan untuk meredam suara kritis dari kampus. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Keputusan No. 0156/U/1978 yang dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang harus kembali pada tradisi keilmuan. “Mahasiswa hari ini harus menjawab dua hal sebelum berlangsungnya gerakan mahasiswa. Pertama, siapa musuhnya? Kedua, apa tantangannya?” tandas Hasan.n M. Iqbal Shukri AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

3


LAPORAN UTAMA

Babak Baru Aktivis Mahasiswa

(Amanat/ Vina)

Teknologi berkembang, kenyamanan ditawarkan, apatisme semakin mengakar. Gerakan mahasiswa aksimu sangat dinantikan.

Berfoto bersama calon ketua dan wakil ketua Dema UIN Walisongo pasca debat kandidat yang berlangsung di Gedung Q Fakultas Sains dan Teknologi, Jumat (14/12/18) lalu.

T

erbitan tabloid SKM Amanat edisi 110, 2007 pernah mengulas soal ancaman demokratisasi mahasiswa dengan melempar sebuah wacana, “Apa jadianya jika pergerakan mahasiswa hanya sebuah romantisme pergerakan?” Pertanyaan itu kemudian diikuti dengan dua tulisan panjang berjudul, “Kebebasan yang Perlahan Terjerat” dan “SK Rektor No.16 Tahun 2007 Sarat Intervensi.” Wacana itu mencuat menyusul diberlakukannya SK Dirjen No. Dj.1/253/2007 yang ditindaklanjuti kampus dengan mengeluarkan SK Rektor No. 16 Tahun 2007. Peraturan baru tersebut dinilai mematikan demokratisasi mahasiswa di IAIN (sekarang UIN) Walisongo kala itu. SK itu menyebut, sistem kepartaian dalam Pemilwa dihapuskan. Berganti sistem baru Musyawarah Mahasiswa Jurusan (Musmaju) untuk pemilihan ketua Dema. SK Dirjen No. Dj.1/253/2007 pasal 7 menyebutkan, “Mekanisme tanggung jawab organisasi kemahasiswaan ditetapkan melalui kesepakatan antara mahasiswa dengan pimpinan PTAI dengan berpedoman bahwa pimpinan PTAI merupakan penanggung jawab segala kegiatan di PTAI.” Isi pasal tersebut sebetulnya sudah ada dalam SK Mendikbud No. 155/U/1998, hingga menuai pro dan kontra. Sebagian mahasiswa menginginkan kebebasan Dema sebagaimana masa orde lama dan orde baru awal. Tetapi birokrat berpandangan lain. Mereka menganggap kebebasan semacam itu tidak diperlukan. Rektor IAIN Walisongo (1999) Zamachsjari Dhofier misalnya, tak menganggap pasal tersebut harus diubah. Ia mengklaim, pada masanya telah memberi keleluasan yang seluas-luasnya untuk pemerintahan mahasiswa. “Saya tidak pernah mencampuri urusan Anda (aktivis mahasiswa, red). Pokoknya yang baik menurut Anda silahkan saja,” terangnya, seb-

4

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

agaimana dikutip dari Tabloid SKM stock (generasi penerus), guardian of Amanat edisi 76. value (penjaga nilai). Tetapi lambat Penerbitan SK Rektor No. 16 Tahun laun predikat itu peretel. Peran yang 2007 menyusul diberlakukannya SK meniscayakan aksi, kini tak lebih sekaDirjen Dj.1/253/2007 itu tak ayal mela- dar motivasi yang digaungkan di ruhirkan gejolak di mahasiswa. Aliansi ang-ruang diskusi. Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) Wakil Ketua Dema UIN Walisongo sempat menggugat peraturan terse- periode 2018, Ahmad Sajidin berpanbut hingga melakukan boikot. Akh- dangan, atribut yang selalu dilekatkan irnya, lewat rapat yang melibatkan pada mahasiswa, khususnya para aktiperwakilan mahasiswa dan birokrasi vis, sebatas motivasi belaka. kampus, birokrasi menerbitkan SK “Istilah-istilah peran mahasiswa Rektor No. 8 Tahun 2010 yang ini kan tidak mungkin bisa mengganti SK Rektor No. kita lakukan sekal16 Tahun 2007. Perigus, jadi ya sebaturan baru terseagai motivasi saja but mengembabagaimana selikan sistem harusnya kita kepartaian ketika mendan Pemilwa. jadi mahasiswa,” kata Predikat Ajid, Jumat luntur (12/04). Sejarah D i n berkata, aka m i k a tivis mahapergersiswa banakan mayak menorehasiswa Ahmad Gunawan hkan tinta ini terlihat emas dalam pada fokus Dosen Fakultas Psikologi mengawal pekegiatan Dema dan Kesehatan rubahan, baik beberapa tasebelum mauhun belakangan pun sesudah era ini. Ketua Dema kemerdekaan. Mereka UIN Walisongo periode banyak melakukan berb2015, Ahmad Luthfi mengaku, agai gerakan sosial untuk perubakepengurusannya menitikberatkan han yang lebih baik. Aktivis IAIN Walisongo pernah pada persoalan akademik di kampus. menjadi bagian di dalamnya. Buku Predikat mulia yang disematkan pada IAIN Walisongo : Mengeja Tradisi mahasiswa, kata Lutfi, sulit untuk diMerajut Masa Depan (2003) meng- implementasikan. Ia bahkan mengambarkan, mahasiswa IAIN walison- gakui tidak terlalu memperhatikan go selain berdemonstrasi juga aktif pelbagai atribut yang disandang mamendampingi kaum marjinal semisal hasiswa itu. “Perkembangan teknologi inforpetani dan buruh, hingga anak-anak masi menyebabkan mahasiswa unjalanan. social. Dibuktikan, sudah jarangnya Dengan peran demikian, pantas mereka menyandang predikat agent lingkaran diskusi, ditambah lagi maof change (agen perubahan), agent of syarakat sekarang sudah bisa melakusocial control (agen kontrol sosial) iron kan sesuatu sendiri,” ungkapnya, saat

Dema sekarang seperti birokrasi

ditemui Amanat Kamis (04/04). Selain aktif mengawal isu di luar, pemerintahan mahasiswa yang dikomandoi Sema dan Dema juga dituntut mampu menyelesaikan problem mahasiswa di dalam kampus. Pada tahun 2016, UIN Walisongo sempat bergejolak. Mahalnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ditetapkan pemerintah menuai protes mahasiswa. Sayang, serangkaian aksi yang dilakukan tak banyak membawa perubahan. M. Rizky Prasetya yang waktu itu menjabat sebagai ketua Dema UIN Walisongo pun tak bisa berbuat banyak, Rabu, (24/04). Ketua Dema UIN Walisongo periode 2017, M. Afit Khomsani menilai, protes terhadap kebijakan UKT mestinya mendapatkan perhatian serius hingga aspirasi mahasiswa ditindaklanjuti oleh birokrat. Masalahnya, pihaknya tidak mendapatkan dukungan banyak dari mahasiswa untuk mengawal isu itu. Mahasiswa cenderung apatis untuk memperjuangkan aspirasi tersebut. Sehingga aksi itu mental hingga kebijakan tak berubah. “Jika dari pihak Dema saja yang jumlahnya 30 orang menolak untuk pembayaran UKT misalnya, ya nilai UKT tidak akan berubah. Berbeda jika hal mogok pembayaran UKT dilakukan secara masif, pasti nilainya akan berubah. Namun ternyata hal itu terkendala sifat apatis mahasiswa,” paparnya ketika ditemui di Perpustakaan Universitas, Selasa (02/04). Dari data yang dihimpun Amanat, terakhir aksi massa mahasiswa UIN Walisongo dalam pengawalan isu sosial atau luar kampus terjadi pada tahun 2013. Waktu itu, isu yang dikawal adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dianggap merugikan masyarakat. Setelahnya, tahun 2014 hingga sekarang, aksi yang ada mengarah pada pengawalan isu internal kampus


WAWANCARA KHUSUS

Iin Endang Wariningsih

Senjakala Gerakan Mahasiswa Indonesia kan menghadapi dinamika yang terjadi. Karakteristik paradigma Gerakan Mahasiswa, sangat ditentukan oleh tantangan yang dihadapi di setiap zaman. Di Zaman Penjajahan, paradigma Gerakan Mahasiswa adalah gerakan perlawanan atas penindasan. Di zaman menurunkan Bung Karno dari kursi kepresidenan dan di Era Reformasi 1998 yang menumbangkan Jenderal Soeharto dari kekuasaan Orde Baru, paradigma Gerakan Mahasiswa adalah gerakan moral dan perubahan untuk memperbaiki kondisi sosialpolitik berbangsa dan bernegara. (Dok. Pribadi)

seperti, pengawalan UKT, TOEFL-IMKA, hingga tuntutan penyediaan sarana dan prasarana yang layak bagi mahasiswa. Di luar itu, pemerintahan mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan mahasiswa atau organisasi. Mulai rangkaian acara penerimaan mahasiswa baru hingga seminar. Pengawalan terhadap isu UKT yang dinilai merugikan mahasiswa tahun 2018, pun terlihat kurang serius. Biaya UKT UIN Walisongo yang membengkak hingga menyentuh angka Rp 7 juta untuk golongan tertinggi, nyaris tanpa tanggapan berarti dari perwakilan mahasiswa. Pergerakan era milenial Ahmad Gunawan, Ketua Pesantren Penyelamat Lingkungan Indonesia (PPLI) Semarang, menjelaskan, perubahan kultur gerakan pemerintahan mahasiswa kini antara lain disebabkan kinerja kepengurusan yang cenderung normatif. Dalam perjalanannya, Dema seolah hanya patuh mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan. Inilah yang menurut dia menghambat gerakan mahasiswa. “Dema sekarang seperti birokrasi,” tegas pria yang kini juga menjabat sebagai Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan, saat di temui di Kantornya, Jumat (15/03). Ditemui di tempat berbeda, Abu Rohmad, Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo mengkritisi lemahnya aktivitas diskusi mahasiswa untuk membahas isu sosial yang berkembang di masyarakat. Perkembangan teknologi komunikasi mestinya tak mematikan budaya diskusi yang menjadi ruh pergerakan mahasiswa. Diskusi adalah bagian dari upaya untuk menguasai isu hingga memunculkan solusi atas permasalahan yang sedang bergulir. “Aktivitas di media sosial tinggi. Tapi, aktivitas diskusi rendah,” ucapnya Paska reformasi bukan berarti negara ini bebas dari problem sosial. Negara ini masih dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial semisal isu kesenjangan sosial, hingga korupsi yang bisa jadi pemantik bagi mahasiswa untuk bergerak. Isu internal kampus pun terus bergulir semisal kenaikan UKT yang mahal. Gerakan konvensional, semisal demonstrasi atau turun aksi ke jalan, menurut Abu, masih relevan diterapkansaat ini. Hanya saja, mahasiswa perlu mengkombinasikannya dengan pola gerakan baru. “Tetapi jika dilihat mahasiswa sekarang lengah, dengan kebijakan-kebijakan kecil namun punya dampak besar,”katanya Pandangan berbeda disampaikan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Suparman Syukur dalam menyoal fungsi pemerintahan mahasiswa. Ia menilai, porsi aktivitas Dema harus lebih banyak di dalam kampus. Sebab lembaga itu dibuat serta kepengurusannya dipilih untuk ikut memajukan kampus. Meski tidak menutup kemungkinan, Dema bisa membuat kegiatan di luar kampus selama tidak melanggar aturan serta merugikan orang lain. Dema harus tunduk dan mematuhi aturan yang ada di dalam kampus. Sebab Dema adalah organisasi kemahasiswaan di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. “Dema boleh beraktivitas di luar kampus, selama mereka mendapat izin atau undangan dari suatu lembaga atau instansi. Semua ada aturannya seperti ormawa, pemilwa dan lain sebagainya,” kata Suparman ketika ditemui di Kantornya, Rabu (03/06). Meskipun begitu, Suparman tidak mempermasalahkan mahasiswa yang melakukan aksi di luar kampus. Hal tersebut, menurut dia, adalah bentuk entitas seorang mahasiswa sebagai tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ketika mereka melakukan aksi di luar kampus, mahasiswa tersebut menjadi seorang warga negara. Sebagai mahasiswa, mereka telah menunjukkan dirinya, sikap kritisnya. Tetapi juga perlu diingat harus sesuai koridor yang berlaku, dan tidak sewenang-wenang,” tegasnya.n

Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998. Sekarang aktif di Rembuk Aktivis Nasional [RNA] ’98 dan Syarikat ’98 Jawa Tengah.

Bagaimana pandangan Anda terkait Gerakan Mahasiswa sekarang? Ya, memang jika melihat kondisi Gerakan Mahasiswa sekarang ini bisa dikatakan sedang mati suri, atau bahkan telah tiada. Inilah masa Senjakala Gerakan Mahasiswa Indonesia. Masa, di mana Gerakan Mahasiswa seolah tidak menemukan momentum sejarah untuk menunjukkan eksistensinya. Masa, di mana Gerakan Mahasiswa seolah tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya. Masa, di mana Gerakan Mahasiswa seolah mati suri bahkan telah tiada. Bagaimana perbedaan dengan Gerakan Mahasiswa dahulu? Memang tidak bisa dipungkiri perbedaan tersebut tetap ada. Namun ingat setiap Gerakan Mahasiswa adalah anak kandung zamannya. Sebagaimana diketahui bersama, Gerakan Mahasiswa di Indonesia telah menemukan momentum pentingnya pada tahun 1998, di mana kekuasaan rezim Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto mengalami tekanan luar biasa dari berbagai komponen bangsa, utamanya dari kalangan aktivis Gerakan Mahasiswa. Momentum sejarah inilah yang mengantarkan Gerakan Mahasiswa 1998 mencapai puncak kejayaannya, sehingga mereka masih terus berjejaring sampai hari ini. Sayangnya, pasca 1998, Gerakan Mahasiswa seolah mati suri. Gerakan mahasiswa seolah kehilangan taji. Gerakan Mahasiswa seolah gampang menyikapi perubahan fundamental yang terjadi di negeri sendiri. Gerakan Mahasiswa seolah tidak lagi mengetahui kemana arah tujuannya, siapa musuh utamanya, dan apa tugas utamanya. Apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut? Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu zaman sudah berubah, kebijakan kampus telah berubah, dan paradigma masyarakat, paradigma mahasiswa yang berubah. Banyak orang tua yang menguliahkan anaknya, semata demi gengsi belaka. Semata demi mendapatkan gelar akademik saja. Banyak mahasiswa yang kuliah demi selembar ijazah semata, sehingga mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dibandingkan pekerjaan orang tuanya. Karenanya, persetan dengan Gerakan Mahasiswa. Seperti apa pergeseran paradigma yang sedang dialami oleh Gerakan Mahasiswa? Bagi Gerakan Mahasiswa, paradigma ibarat ruh yang akan mengarahkan sikap dan tinda-

Di Era Millenial ini, jangankan untuk mempertanyakan paradigma gerakannya, sedangkan “Gerakan Mahasiswa”-nya sendiri, belum diakui keberadaannya, belum diketahui jatidirinya, belum bangkit kembali dari “mati suri”-nya. Padahal Gerakan Mahasiswa adalah gerakan massa yang paling idealis, yang paling murni, yang paling bermoral. Karenanya, menjadi tantangan terbesar bagi kita adalah membangkitkan kembali Gerakan Mahasiswa, sesuai kehendak zamannya. Gerakan Mahasiswa Millenial. Gerakan jalanan, aksi massa, masih relevan-kah? Masih sangat relevan. Memang, pasca bergulirnya arus reformasi 1998, setiap elemen masyarakat bebas melakukan gerakan aksi massa, namun demikian, tidak sedikit dari gerakangerakan tersebut yang dinilai sebagai gerakan aksi massa bayaran. Nah, salah satu gerakan aksi massa yang dinilai masih murni adalah gerakan aksi massa yang dipelopori oleh mahasiswa. Idealnya, Gerakan mahasiswa itu seperti apa? Gerakan Mahasiswa akan lebih efektif jika dilakukan secara bersama yakni dengan cara aktif di organisasi mahasiswa. Sebab tanggung jawab intelektual, moral, sosial-politik dan pengkaderan itu, akan maksimal dilaksanakan jika mahasiswa aktif di organisasi mahasiswa. Misalnya mahasiswa bisa aktif di BEM. Kenapa BEM? Ya karena jika BEM dipimpin oleh Kader Mahasiswa yang mumpuni dalam menjalankan tanggung jawab intelektual, moral, sosial-politik dan pengkaderan, maka BEM pasti mampu membangkitkan kembali Gerakan Mahasiswa yang telah mati suri sekian lama. BEM pasti mampu merumuskan sebuah Gerakan Mahasiswa Millenial yang sesuai dengan tantangan zamannya, yaitu Gerakan Mahasiswa yang keren tapi tetap militan, yang beken dan tetap memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Namun jika BEM dipimpin oleh Kader Mahasiswa dengan kemampuan [intelektual moral sosial-politik dan pengkaderan] yang ala kadarnya saja, ya jangan berharap BEM bisa mengambil peran dalam Gerakan Mahasiswa di kampusnya. Apalagi jika BEM dipimpin oleh Kader Mahasiswa yang notabene merupakan alat kepentingan kelompok politik tertentu saja, ya sebaiknya kita jangan berharap apa-apa. Pendek kata, BEM adalah cerminan Gerakan Mahasiswa dikampusnya. Gerakan apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa saat ini? Yang paling pertama dan paling utama, lakukanlah gerakan kaderisasi di semua lini. Kaderisasi adalah kunci. Kaderisasi akan membangunkan Gerakan Mahasiswa dari mati suri. Kaderisasi akan menjamin terus berlangsungnya kehidupan Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Intelektual, sekaligus Gerakan Moral dan Gerakan Sosial-Politik. n M. Iqbal Shukri

AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

5


(Amanat/ Fitriya)

L APORAN P ENDUKUNG

Jajaran calon rektor yang hadir dalam acara diskusi publik serta penyampaian visi dan misi.

Rektor Pilihan Menteri

Pertama kali UIN Walisongo melaksanakan Pemilihan Rektor. Menjalankan mekanisme pemilihan meskipun dalam tentangan.

P

ada hari kamis (26/04) Senat Universitas melangsungkan pertemuan tertutup di Wujil Resort Ungaran, Semarang. Ada sekitar 40 anggota senat dan enam orang yang mencalonkan diri sebagai rektor UIN Walisongo di pertemuan itu. Usai mendengarkan penyampaian Visi dan Misi keenam calon, setiap Senat memberikan penilaian yang dimasukan kedalam sebuah Amplop untuk diserahkan kepada Kementerian Agama (Kemenag) di hari itu juga. “Semua senat memberikan pertimbangan kualitatif. Satu sama lain tidak saling mengetahui,” kata Sekretaris Senat Universitas UIN Walisongo, Mohamad Arja Imroni, saat ditemui di kantornya, Kamis (23/05). Mekanisme pemilihan rektor tahun ini memang berbeda dari biasanya. Mengacu pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 68 tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor dan Ketua pada Perguruan Tinggi Keagamaan yang Diselenggarakan oleh Pemerintah, senat tidak lagi memiliki porsi suara untuk menentukan siapa yang bakal menjadi rektor. Senat hanya dapat memberikan pertimbangan tanpa legalitas suara. Untuk yang pertama kalinya, semenjak konversi dari IAIN ke UIN, kampus ini baru melangsungkan pemilihan rektor. Tahun 2015, ketika Muhibbin menjabat sebagai Rektor sebetulnya tanpa pemilihan seperti sekarang ini. Ia langsung ditunjuk oleh menteri, dengan mengacu pada Pasal 13 ayat 1 yang memberi kewenang menteri dapat menunjuk rektor saat ada konversi dari IAIN ke UIN. Tahun ini, UIN Walisongo dapat menjalankan mekanisme pemilihan Rektor seutuhnya. Keenam nama yang memperebutkan posisi pemimpin tertinggi universitas periode 2019-2023 yakni, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kemenag RI, Achmad Gunaryo; Wakil Rektor III, Suparman Syukur; Wakil Dekan I FITK, Fatah Syukur; Direktur Pascasarjana UIN Walisongo , Ahmad Rofiq; Rektor UIN Walisongo saat ini, Muhibbin Noor dan Wakil Rektor II Imam Taufiq. Muhibbin yang masa jabatan rektornya habis pada 9 Juli 2019, tetap mencalonkan diri menjadi rektor. Pada-

6

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

hal, ia telah dua kali masa jabatan. Satu kali saat kampus masih berstatus IAIN (periode 2011-2015). Sedangkan masa jabatan selanjutnya setelah berkonversi menjadi UIN (Periode 2015-2019). Arja menjelaskan masa jabatan Muhibbin saat Walisongo masih berstatus institut tidak hitung. Karenanya, Muhibbin baru terhitung menjabat sebagai rektor UIN Walisongo satu kali, yang memungkinkan ia untuk menjabat sekali lagi. “Secara legal formal ia masih memiliki hak untuk mencalonkan diri menjadi rektor,” tuturnya. Muhibbin pun angkat bicara. Ia megutarakan yang menjadi permasalahan bukan selang waktu yang cukup lama baginya menduduki kursi jabatan rektor. Namun, untuk melanjut apa yang sudah dibangun. “Supaya tidak mandek atau berbelok dari tujuan utama, terutama yang sudah di rumuskan di office juga berdasarkan pertimbangan institusi,” tegasnya. Mahasiswa berontak Edaran pengumuman Nomor: 01 /Un. 1 0.0/Panrek/HM.00/O3/2O19 terkait penjaringan bakal calon rektor UIN Walsiongo periode 2019-2023 yang dilayangkan oleh Panitia Penjaringan Bakal Calon Rektor pada Jumat (15/03) melalui laman walisongo.ac.id menjadi poros awal pemilihan rektor. Di dalam surat itu, Panitia Penjaringan membuka kesempatan kepada dosen dari seluruh PTKIN di Indonesia untuk menjadi rektor di periode mendatang dengan persyaratan yang sudah tertera di dalamnya. Pendaftaran ini dibuka pada 18 Maret sampai dengan 12 april atau selama 25 hari untuk masa penyerahan dokumen ke Sekretariat Panitia di Bagian Organisasi dan Kepegawaian UIN Walisongo, Gedung Rektorat Kampus I Lantai 1. Yang ditunggupun datang. Senin (15/04) Panitia Penjaringan akhirnya menetapkan 6 profesor yang lolos verifikasi berkas yang akan dinilai oleh senat unversitas dalam sidang tertutup. Namun, kurangnya transparansi Panitia Penjaringan terkait calon rektor kepada mahasiswa akhirnnya mengharuskan Dema Universitas melancar aksi kritik terhadap birokrasi. Di hari yang sama Dema yang beraliansi dengan Keluarga Besar Mahasiswa

Siapapun yang menjadi calon rektor dalam tanda petik harus menjalin hubungan baik dengan menteri. Mohamad Arja Imroni

Sekretaris Senat Universitas UIN Walisongo

Walisongo (KBMW) melayangkan aspirasinya melalui spanduk yang terpampang di beberapa sudut kampus. Spanduk-spanduk itu bertuliskan “Pemilihan rektor? Mahasiswa bisa apa”, “Masalah belum usai, rektor sudah santai. #mahasiswa bisa apa”, “Rektor untuk siapa?”, “Adakan debat calon rektor”, “Kapan debat calon rektor?,” dan “Rektor untuk mahasiswa/menteri?”. Ketua Dema, Pryo Ihsan Aji menegaskan, tulisan itu bentuk kritis mahasiswa kepada birokrasi kampus. Menurutnya, pemilihan rektor semakin ke sini, semakin tak melibatkan mahasiswa dalam hal apapun. Bahkan, kata Pryo, mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk mengetahui integritas dari masing-masing calon. “Kita ingin diadakan semacam diskusi publik terkait uji calon rektor,” tandasnya saat ditemui di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Kampus 3, Rabu (24/04). Yang diupayakan Dema pun membuahkan hasil. Berkat desakan itu, LP2M yang dapat usulan dari Panitia Penjaringan akhirnya mengadakan diskusi publik bersama Calon Rektor UIN Walisongo. Ketua LP2M Sholihan mengatakan forum ini dibuat untuk mendudukan sivitas akademika bersama calon rektor supaya mereka jauh lebih mengenal dengan siapa yang akan memimpin di empat tahun mendatang. Acara yang berlangsung di Audit 1 lantai 2 ini, bu-

Pemilihan Rektor kanlah sebagai ajang kampanye, melainkan ajang penyampaian gagasan calon rektor supaya calon rektor terpilih nanti memiliki gagasan dari semua calon rektor. Civitas akademica pun juga memiliki kesempatan untuk mengkritisi dan juga memberikan saran. “Dari forum ini akan terkompilasi banyak gagasan supaya bermanfaat bagi kemajuan UIN Walisongo,” tegasnya dalam sambutan pembukaan Diskusi itu, senin (29/04). PMA 68 dalam tentangan Pembicaraan mengenai pemilihan rektor di PTKIN memang memanas. Terlebih setelah pengungkapan kasus dugaan jual beli jabatan di kementrian yang diutarakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD saat menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC) TVOne, Selasa (19/03). Ia menyebutkan 3 kasus dugaan jual beli jabatan rektor antara lain terjadi di UIN Makassar, UIN Jakarta, dan IAIN Meulaboh. Menyikapi hal tersebut, Arja mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaian usulan perubahan peraturan yang telah disepakati secara bersama. Hal ini dilakukan supaya otoritas civitas academica lebih mandiri dalam menentukan siapa yang memimpin. “Kita tahu bahwa proses itu sedang berjalan, juga dengar pendapat dari berbagai pakar,” jelasnya. Meskipun begitu, Pilrek kali ini harus menggunakan PMA Nomor 68 Tahun 2015 karena peraturan ini yang sedang berlaku. Mereka kawatir jika Pilrek tidak mengacu pada peraturan legal, natinya akan jadi sia-sia. Menurutnya, otoritas pemilihan rektor di tangan menteri memang ada baiknya. Kampus tidak terlalu hirukpikuk menghabiskan energi untuk berbenturan antar kubu layaknya negosiasi partai. Meskipun hal ini tidak pernah lepas dari aktivitas politik juga. Sehingga aktivitas politik itu terlokalisir di level atas, yaitu orang yang berkepentinagan dengan kementrian, tidak dilevel kampus. Namun, yang menjadi catatannya, jika peraturan itu yang tetap berlaku, otoritas kampus untuk memilih rektor juga dibatasi. Bahkan, keterlibatan civitas academica juga tidak akan merasakan hawa persaingan. “Siapapun yang menjadi calon rektor dalam tanda petik harus menjalin hubungan baik dengan menteri, tentu mereka juga harus mendekati orangorang yang bisa mempengaruhi kebijakan menteri,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kemenag RI, Achmad Gunaryo yang kini juga mencalonkan menjadi Rektor UIN Walisongo menanggapi fenomena ini. Ia mengakui bahwa di Kemenag saat ini memang sedang mengalami turbulensi. Perihal PMA 68, Baginya tidak ada peraturan yang sempurna, bahkan undang-undang yang dibuat bersama DPR dan pemerintah begitu diundangkan, pada saat itu pula membawa kecacatan. Semua regulasi memang seperti itu, sekarang tinggal manusianya saja. “Sebagus apapun regulasinya, kalau manusianya muter-muter, ya jadinya seperti itu,”katanya. Gunaryo juga mengatakan ide awal dibentuknya peraturan itu untuk mengurangi tekanan yang ada di internal kampus.. Naas dalam prakteknya malah mengalami penyalahgunaan di sejumlah kampus. “Dulu di Surabaya, orang Muhamadiyah tidak akan bisa menjadi rektor, di Jogja orang NU tidak bisa jadi rektor, di Jakarta dikuasai HMI, PMII tidak akan pernah bisa, begitu seterusnya, apakah ini yang kita inginkan?” jelasnya. n

Syarif Marzuki


AMANAT D OELOE

Coblos Rektor, Siapa Takut...

P

enetapan Peraturan Menteri Agama (PMA) 68 tahun 2015 sebagai acuan pemilihan rektor memang menuai pro dan kontra dibeberapa pihak. Jika dulu senat memilik otoritas untuk memilih rektor, namun pada PMA 68 2015 yang mempunyai otoritas memilih rektor adalah Menteri Agama (Menag). Senat hanya mempunyai otoritas mengasih pertimbangan yang bersifat kualitatif. Namun memang mahasiwa tetap tak dilibatkan dalam pemilihan rektor. Mekanisme pemilihian rektor di UIN Walisongo bukan hal baru yang terus diperbincangkan. Salah satunya tertulis dalam Tabloid Amanat edisi 90 tahun 2002 pada rubrikasi laporan utama berjudul “Coblos Rektor Siapa Takut”. Isi dalam laporan tersebut diungkapkan tentang rencana mahasiswa dilibatkan dalam pemilihan rektor. Diceritakan pada laporan tersebut bermula pada momentum pergantian rektor. Yakni Dr. Qodry Azizy digantikan oleh Dr. Abdul Djamil, MA sebelum masa jabatannya berakhir karena waktu itu ia dipercaya untuk menduduki jabatan Dirjen Kelembagaan Islam (Bagais) Depag Pusat. Memang pergantian tersebut mahasiswa tidak dilibatkan. Hingga akhirnya timbul wacana untuk melibatkan mahasiswa dalam pemilihan rektor. Dengan alasan masih banyak mahasiswa tidak tahu perihal pengajuan mekanisme pengangkatan, pemberhentian rektor, hingga pengganti sementara (pgs) rektor. Hal tersebut menimbulkan wacana untuk merubah mekanisme pemilihan rektor, supaya mahasiswa dilibatkan. Menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Abdul Rouf jika sudah saatnya mekanisme pemilihan rektor diubah. Proses klasik sudah harus ditinggalkan. “Kita menginginkan bahwa perlu ada suatu perubahan, format, struktur dan mekanisme dalam pemilihan rektor,” tegasnya Bak gayung bersambut, keinginan mahasiswa tersebut ternyata mendapatkan respon baik dari beberapa anggota senat. Umumnya mereka sepakat untuk melibatkan mahasiswa,

dosen dan karyawan dalam pemilihan rektor sekarang. “Ya tentu hal-hal itu sangat bagus karena memperlihatkan tingkat partisipasi dari warga kampus. Mahasiswa kan bagian dari komponen kampus. Mereka juga harusnya ikut dalam proses panjang pemilihan ini,” ungkap Djamil. Kalau tidak membuka wacana seperti itu, lanjut Djamil “Jadi ya kita konservatif”. Tanggapan lain dikatakan Drs. Wasit, MPd, Pembantu Rektor III yang sekaligus anggota senat, “Saya kira baik supaya rektor itu mendapatkan dukungan dari mahasiswa”. Partisipasi mahasiswa dan dosen juga dinilai Drs. Zuhri Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) sebagai perkembangan pemilihan yang mewakili aspirasi sivitas akademika. Selanjutnya wacana mahasiswa dilibatkan terus berlanjut, dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.Mungkinkah partisipasi mahasiswa itu melalui model pemilihan langsung? “Ya itu bagus Cuma persoalannya kata akhir itu tidak di tangan mahasiswa. Kalau mereka itu kan sebatas urun rembuk dalam proses mencari calon terbaik. Tapi putusan akhir masih di senat,” kata Djamil. Terhadap wacana ini Dr. Ahmad Rofiq, MA, Dekan Fakultas Syariah yang juga anggota senat, menyerahkan sepenuhnya mekanisme tersebut kepada kesepakatan senat. “Tergantung kesepakatan, itu kan ada forumnya. Pikiran saya kira-kira ada komunikasi antara senat dan perwakilan mahasiswa,” katanya. Tapi, lanjut Rofiq, ada kendala dalam sistem pemilihan langsung ini. Salah satunya dalam hal merumuskan peraturannya. “Apakah mahasiswa itu memiliki suara atau sebatas penjaringan, Mahasiswa sendiri kan ada yang aktif dan ada yang tidak. Apakah mahasiswa yang sudah cuti satu semester itu masih bisa memilih? Kan ada mahasiswa aktif dan tidak aktif,” tutur penyusun buku Fikih Mawaris ini.

Bagi Zuhri, kendala yang dihadapi menyangkut faktor mahasiswa sendiri. “Karena mahasiswa yang tidak mengenal calon-calon rektor secara pas itu kan masih banyak juga. Bisa juga nanti yang kampanye paling getol akan mendapatkan suara terbanyak,” ungkap Zuhri beralasan. Senada dengan Zuhri, Drs Mustakim, anggota senat yang juga Dekan Fakultas Tarbiyah mengatakan “Kalau pemilihan langsung itu kurang representatif. Alasannya posisi mahasiswa yang tahu karakteristik para calon rektor itu minoritas. Paling-paling yang tahu para aktivis. Itu pun yang jadi aktivis sedikit,” tuturnya. Pernyataan Zuhri dan Mustakim disanggah Rouf, “Ini kan proses. Mana mungkin kita dibelenggu terus. Ya kapan mereka tahu. Itu harus dimualai sekarang,” katanya tegas. Akhirnya, wacana tersebut melebar hingga anggota senat harus ada perwakilan dari mahasiswa. Hal tersebut berlandaskan sebuah kebijakan rektor akan selalu bersentuhan dengan mahasiswa. “Artinya mereka kan harus ikut mentransferjuga kebijakan itu. Jangan sampai senat itu hanya mewakili pribadipribadi, Itu menjadi kekhawatiran kita. Makanya harus dirombak ulang,” tegas Rouf.

Sisi positif lainnya jika komposisi senat diisi perwakilan dosen dan karyawan, rektor yang terpilih akan didukung semua komponen. Selain itu keberhasilan tersebut merupakan proses demokratisasi dalam pemilihan rektor. “Ini kan fair siapa pun yang jadi tidak akan ada masalah dan tidak akan menjadi problem ke depan.” Berkaitan dengan masuknya mahasiswa di jajaran senat, Rouf mengusulkan masuknya BEM dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Karena ketua BEM dan DPM, mengetahui karakter, visi dan misi calon rektor. Dalam statuta IAIN, anggota senat hanya diambil dari kalangan rektor, pembantu rektor, guru besar (profesor), para dekan dan wakil dosen (baca; Bagaimana memilih rektor?). Mahasiswa dan karyawan sama sekali tidak masuk di dalamnya. Penyebabnya? “Kalau dulu platform nya belum diadakan. Jadi putusan untuk mengadakan restrukturisasi bangunan senat sampai sekarang belum ada. Kalau itu muncul, itu hal bagus,” ungkap Djamil. Berkaitan dengan tidak adanya ketentuan perwakilan mahasiswa dalam statuta, Dosen Ushuluddin yang juga mantan Direktur Pascasarjana ini menjelaskan bahwa statuta sifatnya masih umum. Sehingga mengakomodir masuknya unsur-unsur di luar pimpinan IAIN baik dari dosen karyawan maupun mahasiswa. Jika pemilihan langsung tidak dapat dilaksanakan, Djamil menanggapi positif jika tetap diadakan penjaringan bakal calon. Tapi teknis pelaksanaannya terlebih dahulu harus dibicarakan ditingkat senat sebagai pengemban kebijakan, apakah dengan dibentuk panitia bersama antara mahasiswa dan senat, atau mahasiswa melakukan ekspos sendiri dari para calon rektor untuk mengetahui visi dan misi untuk membawa IAIN ke depan. Ekspos yang dimaksud adalah dengan mengadakan debat kandidat, sebagaimana banyak dilakukan perguruan tinggi lain. Mengingat dari forum ini akan dapat dipantau visi dan misi dari bakal calon rektor.n Nur Ainun Lathifah

Wawancara Rektor Terpilih

Prof Dr Imam Taufiq MAg Rektor UIN Walisongo Periode 2019-2023

Setelah menjadi Rektor, apa yang akan anda lakukan? Kampus ini kan kolektif, kampus bersama bukan milik satu, dua orang saja. Jadi untuk membangun kampus ini harus dikerjakan secara bersamasama dengan seluruh komponen dan warga kampus. Saya hanya ditunjuk sebagai pemimpin dalam ranah koordinasi. Dengan demikian saya akan mengajak warga kampus untuk memikirkan masa depan kampus secara bersama-sama. Bagi saya menjadi pimpinan di perguruan tinggi yang besar, bukan sesuatu yang sederhana, tetapi ini adalah sesuatu yang berat. Menurut Anda, masalah apa saja yang ada di UIN Walisongo sekarang, dan segera diselesaikan?

Hampir semua titik program di bidang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Pertama meningkatkan ranking kampus. Kampus kita ini mau dijadikan world class university, belum ada di 500 besar. Kemudian ditingkat perguruan tinggi Indonesia menurut saya masih jauh. Maka internasionalisasi kampus sangat penting dilakukan. Serta akselerasi program-program world class university itu yang harus dijadikan prioritas dalam membranding kampus kita ini. Kedua, peningkatan peran alumni. Sudah ada kalam walisongo sudah cukup bagus. Tapi programnya belum begitu kentara dalam berperan di internal kampus. Alumni kita belum terkoordinir dengan baik, padahal sebenarnya ada potensi bagus dalam rangka mengajak untuk membangun UIN Walisongo secara bersama-sama. Ketiga, tidak kalah pentingnya turut serta menyikapi isu nasional dan internasional. Seperti pencegahan penyebaran paham radikalisme, anti Islam, dan terorisme. Kementrian Agama (Kemenag) menyebutnya moderasi beragama. Itu saya rangkum dalam visi misi saya dimana kampus ini menjadi

center of excelent dalam modrasi beragama. Nantinya, Saya berencana membuat moderasi media, sumber moderasi bagi literature dan informasi akademis dan media sosial (medsos). Maka harus membuat konten konten yang ramah. Peduli terhadap agama perdamaian, anti kekerasan. Beberapa waktu yang lalu mahasiswa melakukan protes perihal kebijakan Toefl, UKT. Bagaimana pandangan dan sikap anda nantinya jika hal itu terulang kembali? Mahasiswa itu kan dinamis. Ditambah lagi dengan label milenial yang mana salah satu cirinya adalah mereka suka dengan hal-hal yang praktis dan suka tantangan. Maka juga harus disikapi dengan gaya milenial. Mahasiswa wajar jika menyampaikan gagasan, sebab mahasiswa kita jadikan sebagai mitra dalam rangka ikut serta membangun kampus ini. Sehingga dialog harus dilakukan. Saya akan membuka diri untuk mendengarkan aspirasi mahasiswa untuk di musyawarahkan. Saya meyakini jika mahasiwa UIN Walisongo masih dalam koridor yang

positif dalam menyampaikan suatu gagasan. Bagaimana dengan kebijakan yang ada di UIN Walisongo sekarang, ada yang merugikan mahasiswa? Tidak ada yang merugikan mahasiwa, karena yang kami lakukan itu untuk mahasiwa. Mungkin hanya perspektifnya saja yang berbeda-beda. Bagaimana anda memandang kepemimpinan Pak Muhibbin ketika menjadi rektor? Beliau bijaksana dan berhasil dalam mengelola kampus sehingga dapat menghasilkan banyak prestasi. Memberikan contoh yang baik dalam mengelola kampus hingga berhasil transformasi IAIN menjadi UIN tahun 2015. Selain itu keberhasilan beliau dalam membangun gedung ISDB meskipun terlambat. Akreditasi A prestasi bagus. Dengan demikian, maka yang sulit adalah melanjutkan. Saya tahu ada kekurangan tapi tertutup dengan prestasi itu. Maka saya ingin membangun tim yang lebih solid dari itu. Iin Endang Wariningsih AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

7


Pembangunan Delapan Gedung

LAPORAN KHUSUS

Pembangunan 338,3 M

Setelah menunggu hampir enam tahun, mega pembangunan delepan gedung baru akhirnya dimulai.

A

8

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

anya saat ditemui di kantornya, Selasa (12/03). Pembangunan ini merupakan bentuk implementasi dari Minute of Meeting (dokumen kesepakatan) antara Islamic Delopment Bank (IDB), Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappennas), Kementerian Keuangan, dan UIN Walisongo, pada 16 Mei 2012. Berdasarkan kesepakatan tersebut, IDB menggelontorkan pinjaman sebesar US$ 27,46 atau senilai Rp 247,1 miliar. Jumlah tersebut, lebih rendah dari poposal yang diajukan ke IDB pada 2009, yaitu sebesar US$ 35,34 atau seni-

kubah. Unsur modern ada pada bangunan-bangunannya seperti bangunan kelas yang memiliki bentuk dan usur bangunan yang modern. Serta unsur local wisdom ada pada bangunan rektorat dan administrasi yang di sana. “Ada semacam gunungan yang memiliki sembilan pilar yang mewakili Walisongo,” katanya. Yang paling istimewa, lanjut Adnan, dari mega pembangunan ini adalah di bangunnya Gedung Planetarium. Gedung tersebut akan berfungsi sebagai pusat observatorium yang digadanggadang menjadi satu-satunya di univer-

minimalisir, dan itu sudah ada SOP-nya,” terangnya, Senin (29/04). Sementara, untuk permasalahan sampah sendiri, Musa mengatakan akan diadakan manajemen sampah. Sampahsampah nantinya akan dibuatkan masing-masing bagian, selanjutnya akan ada mobil pengangkut bak sampah yang datang secara periodik. “Nanti kalau sudah clear di akhir 2019 akan ada proses penataan mulai dari landscape, jalan masuk, policypolicy terkait dengan pengaturan parkir, pengaturan lalu lintas, pengaturan sampah, dan yang sudah diwacanakan

( Amanat/ Riduwan)

inun Rahma sesekali harus menutup telinga saat mengikuti mata kuliah di Gedung L Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Lokasi gedungnya yang diapit proyek pembangunan UIN Walisongo membuat polusi suara menemani kuliah Ainun dan teman sekelasnya. Kadang kala, ketika dosen berbicara atau mahasiswa sedang presentasi harus berhenti sejenak lantaran kebisingan proyek pembangunan. Polusi lain yang juga mengganggu aktivitas perkuliaan Ainun adalah debu. “Udara di kelas menjadi tidak nyaman. Beberapa mahasiswa sampai ada yang batuk-batuk dan bersin,” ungkap Mahasiswa Prodi Strata 1 Perbankan Syariah ketika ditemui Kru SKM Amanat di indekosnya, Senin (22/04). Kejadian serupa juga dialami Belia Cahyaningrum. Ketika Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah mengikuti kuliah di Gedung I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), tetiba dosen menaikkan suaranya. Hal itu dilakukan dosen untuk mengimbangi kebisingan suara yang masuk dalam ruang belajar mereka. “Tang, tang, tang, geluduk, geluduk, geluduk,” ujarnya menirukan suara pembangunan di belakang FDK, Senin (22/04). Ia merasa jengkel. Di lain sisi, Belia sapaan akrabnya, juga merasa senang, lantaran sebentar lagi UIN Walisongo akan memeliki sejumlah gedung baru. “Senang karena bakal ada kemajuan di UIN, tapi tidak senang karena resiko bising dan debu yang ditimbulkan,” terangnya. Pembangunan 8 gedung Sejak 14 Agustus tahun lalu, sejumlah alat berat memang sudah hilir-mudik di kampus. Sampai akhir tahun 2019, UIN Walisongo mempunyai hajat membangun delapan gedung baru yang berpusat di kampus III. Gedung-gedung tersebut dibangun di atas lahan dengan total luas 26.400 m2. Untuk enam gedung yakni Gedung Rektorat dan Pusat Administrasi, Gedung Laboratorium Terintegritas, Gedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FuHum), dan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), dibangun di belakang Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Sementara, Gedung Planetarium dibangun di belakang Gedung M FSH, lalu untuk Gedung Perpustakaan Terpadu dibangun di sebelah timur Perpustakaan Pusat yang saat ini masih digunakan. Mega Pembangunan tersebut juga meniscayakan pemindahan pusat aktivitas civitas akademik UIN Walisongo ke kampus III. Menurut rencana, Kampus I akan difokuskan bagi mahasiswa Strata 2. Sampai pada bulan Maret 2019, pembangunan keseluruhan gedung rata-rata sudah mencapai 30%. Meskipun begitu, Project Management and Supervision Consultant (PMSC) PT. Ciriajasa Cipta Mandiri Wiryawan, menargetkan mega pembangunan tersebut, selesai pada awal Desember 2019. “Khusus untuk empat gedung fakultas, sudah bisa digunakan pada September 2019. Sisanya itu tinggal unit yang persentase itu sangat tinggi,” kat-

Pekerja proyek keluar dari kawasan pembangunan gedung baru, tampak beberapa gedung hampir rampung pengerjaanya.

lai lebih dari Rp 300 miliar. Sementara, dana pembangunan lainnya bersumber dari bantuan pemerintah Indonesia sebesar US$ 10,13 atau Rp 91,188 miliar. Maka total dana pembangunan delapan gedung tersebut senilai, US$ 37,59 atau Rp 338,3 miliar. Jika dibandingkan dengan tiga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lain yang mendapatkan dana pembangunan yang sama, UIN Walisongo terhitung paling sedikit. Ketiga PTKIN yang kala itu masih berstatus IAIN yakni, UIN Raden Fatah mendapat US$ 46,45, UIN Sumatera Utara US$ 40,48, UIN Mataram US$ 38,76. “Ini adalah proyek 4 in 1, satu proyek penerimanya 4 universitas. Lembaga yang memanage namanya Project Implementing Unit (PIU),” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pinjaman/ Hibah Luar Negeri (PHLN) UIN Walisongo Tolkah. Meskipun, kesepakatan telah terwujud pada tahun 2012, UIN Walisongo (yang kala itu masih berstatus IAIN) belum dapat melakukan pembangunan. Hal itu lantaran, pengajuan dana pembangunan dan konversi UIN didesain satu paket. “Kalau ini dibangun dalam rangka apa,” jelasnya. Kepala Biro Administrasi, Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) Adnan menyebutkan, ada tiga unsur yang mencerminkan filosofi UIN Walisongo. Yaitu, perpaduan antara Islam, modern dan local wisdom. Unsur Islam tampak pada atap planetarium yang memiliki bentuk seperti

sitas seluruh Indonesia, baik universitas umum maupun Islam. “Idenya berawal sejak pengusulan IDB, karena UIN Walisongo menjadi satu-satunya yang dulu mempunyai prodi ilmu falak yang ada kaitannya dengan astronomi,” jelasnya. Yang luput dari pembangunan Melihat rancangan mega pembangunan UIN Walisongo, ketua Mahasiswa Walisongo Pecinta Alam (Mawapala) Faqo Difa’i, menyayangkan beberapa hal yang luput dari perhatian. Menurut Faqo, sapaan akrabnya, ada dua permasalaahan tata ruang dan tata letak yang ada di kampus ini. Pertama permasalahan parkir, lalu sampah. “lha itu, yang pembangunan delapan gedung itu tidak ada yang menunjukkan nanti akan disebutkan pengelolaan sampah untuk universitas,” terangnya saat ditemui di Gedung Serba Guna (GSG), Jumat (26/04). Dalam pembangunana ini misalnya, lanjut Faqo, sampah-sampah yang mulanya dibuang ke jurang di belakang gedung FDK dan Fuhum, kini dialihkan ke belakang GSG. Dampaknya, bau dan asap pembakarannya mengganggu aktivitas mahasiswa di sekitar juga beberapa warga yang rumahnya dekat dengan area sampah. Menanggapi hal itu, Kepala PIU Musahadi meminta segenap pihak untuk bersabar dan memahami kondisi yang ada. Musa mengaku, keluhan terkait proyek pembangunan tidak hanya dia terima sekali dua kali. Pihaknya, hanya bisa meminimalisir dampak tersebut. “Yang bisa dilakukan itu adalah me-

membuat resapan air hujan,” jelasnya, Senin (29/04). Tak sekedar pembangunan fisik Dana sebesar Rp 338,3 miliar dalam implementasinya tak sekedar untuk pembangunan gedung. Ada alokasi anggaran senilai Rp 36 miliar untuk pengembangan kurikulum dan program pelatihan. “Di samping infrastruktur (civil work) ada juga penguatan soft component yang juga masuk dalam kesepakatan dengan IDB,” papar Ketua PIU UIN Walisongo Musahadi, Selasa (14/03). Bentuk dari pengembangan tersebut meliputi empat hal yang digarap dan berjalan sejak tahun 2013. Wujudnya yaitu membuat roadmap pengembangan bidang akademik, roadmap pegembangan bidang manajemen, roadmap pengembangan bidang Information Technology (IT), serta roadmap pengembangan bidang kemahasiswaan. “Ini merupakan proyek komprehensif. Dimana tujuannya adalah untuk pengembangan UIN Walisongo agar sebagai universitas, UIN Walisongo benarbenar maju dan memenuhi standar internasional,” tegasnya, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan. Hal lain yang juga digarap yaitu dalam sistem IT (information technology) akademik, sistem IT untuk menejemen, juga ada sistem IT untuk menejemen keuangan. Bentuknya adalah UIN Walisongo sekarang sudah mempunyai 32 sistem aplikasi yang sudah terintegrasi.n Afridatun Najah


L APORAN P ENDUKUNG

Nasional

UKMPIB Tentangan dan Tantangan Kemenristekdikti cegah upaya penyebaran paham radikalisme di kampus dengan UKMPIB, Kemenag tetap kukuh menggunakan cara moderasi agama.

S

(Dok. Istimewa)

ejak diterbitkannya, Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Permenristekdikti) No. 55 Tahun 2018 pelbagai dukungan dan penolakan santer disuarakan. Meski begitu, beberapa perguruan tinggi sudah mulai mengimplementasikannya. Dari catatan Amanat, Universitas Semarang (USM) menjadi yang pertama membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengawal Ideologi Bangsa (PIB), Rabu 12 Desember 2012. Disusul Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang juga sudah mengadakan acara temu perdana dan Rapat Kerja UKMPIB Unnes, Sabtu 2 Februari 2019. Sementara, Universitas Mataram mengukuhkan pengurus UKMPIB, pada Senin 4 Maret 2019. Universitas lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membentuk UKMPIB di antaranya, Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Wiralodra (Unwir) Indramayu. Di lain sisi, beberapa perguruan tinggi secara terang-terangan menolak usulan dari Kemenristekdikti, yakni Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) dan Politeknik Semarang (Polines). Forum Rektor Indonesia (FRI) menilai, adanya kewajiban bagi kampus untuk membentuk UKMPIB tidak tepat. Wakil Dewan Pertimbangan FRI Asep Saifuddin menilai, semestinya pemerintah menyerahkan secara penuh kepada universitas untuk membentuk model pembinaan ideologi. “Karena mereka (baca: kampus) yang paling tahu. Pemerintah jangan terlalu masuk dan intervensi ke dalam kampus. Nanti bisa saling menyalahkan kalau intervensi terlalu kuat,” kata Asep yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas al-Azhar Indonesia. Sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Rabu (07/11/18). Menurutnya, pelibatan organisasi ekstra dalam UKMPIB akan rawan dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru. Sebab, jika UKMPIB dipandang sebagai ‘polisi mahasiswa penertib kampus’ maka bisa jadi kontraproduktif. “Yang terbaik adalah bahwa organisasi kampus seharusnya organisasi yang berbasis keilmuan. Sementara organisasi kemasyarakatan dapat diikuti di luar kampus,” ujarnya. Ketakutan dan dukungan Latar belakang diterbitkannya Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 antara lain, dalam rangka menangkal paham radikalisme dan intoleran yang ditengarai sedang berkembang pesat di berbagai perguruan tinggi akhir-akhir ini. Penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme selama tiga tahun terakhir menemukan kampus di Indonesia sudah terpapar radikalisme sejak 30 tahun lalu. Penelitian Alvara Research Center-Mata Air Production pada tahun 2017 menunjukkan, 23,5 persen mahasiswa mendukung gerakan Islam Irak dan Suriah (ISIS), 16,8 persen menyetujui Islam sebagai ideologi yang cocok bagi Indonesia, 17,8 persen menyatakan bentuk pemerintahan yang ideal di Indonesia adalah khilafah, dan 23,4 persen mahasiswa menyatakan kesiapan untuk berjihad mendirikan khilafah. Pembentukan UKMPIB di setiap kampus digadang sebagai langkah penyelesaiannya. Meski begitu, Kementerian Agama (Kemenag) yang menaungi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) be-

Peluncuran Permenristedikti mengenai pembinaan Ideologi Bangsa dalam kegiatan mahasiswa di perguruan tinggi.

lum mengeluarkan kebijakan apa pun Islam itu. untuk merespon aturan yang dikelu- Kemenag beri jawaban arkan oleh Kemenristekdikti. Mencegah supaya kesalahpahaman Ketua Senat Mahasiswa (Sema) tidak meluas, melalui Kepala Seksi KeUIN Walisongo Aghisna Bidikrikal mahasiswaan Subdirektorat Sarana, Hasan menyambut baik jika Kemenag Prasarana dan Kemahasiswaan Direkmengeluarkan kebijakan serupa. Ke- torat Pendidikan Tinggi Keagamaan Issepakatan Aghisna didasari latar be- lam, Ruchman Basori mengungkapkan lakang dan tujuan dibentuknya UK- jika Kemenag tidak setuju dengan adanMPIB yang dirasa menjawab persoa- ya Permenristekdikti No.55 Tahun 2018 lan. diterapkan di PTKIN. Jika UKMPIB benar didirikan di Menurutnya pendirian organisasi PTKIN, Aghisna menekankan terkait yang membidangi khusus tentang ideTugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi). ologi bangsa, belum terlalu penting un“Kalau dilihat dari tujuan, saya tuk didirikan di lingkungan Kemenag rasa perlu untuk didirikan namun hadan PTKIN se-Indonesia. rus ada perubahan nama agar “Sudah ada organisasi intidak terasa menakutkan,” tra yang berkonsentrasi kata mahasiswa Prodi dalam penguatan keIlmu Politik itu, saat bangsaan yang erat ditemui di Kantin KoSudah ada organisasi intra hubungannya denperasi Mahasiswa, yang berkonsentrasi dalam gan penguatan nilai Jumat (12/4/19). yang penguatan kebangsaan yang erat keagamaan Dukungan juga moderat, seperti hubungannya dengan penguatan disuarakan oleh sePramuka dan Mennilai keagamaan yang moderat, jumlah Organisasi wa,” jelas Ruchman seperti Pramuka dan Menwa. Kepemudaan (OKP), ketika ditemui, SabRuchman Basori jika di lingkup UIN tu (06/04). Kepala Seksi Kemahasiswaan Walisongo menerapRuchman juga Subdirektorat Sarana, Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat kan kebijakan sebagai menegaskan jika segala Pendidikan Tinggi Keperaturan yang diterbitmana yang diatur oleh agamaan Islam kan oleh Kemenristekdikti Permenristekdikti. Di antidak menjadi kewajiban bagi taranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Ma- perguruan tinggi keagamaan untuk hasiswa Muhammadiyyah (IMM), mengikuti peraturan yang telah dibuatHimpunan Mahasiswa Islam (HMI), nya. Sebab, perguruan tinggi berbasis Gerakan Mahasiswa Nasional Indo- keagamaan berada di bawah kepenesia (GMNI), dan Kesatuan Aksi Ma- mimpinan dan pengawasan oleh Kemenag. hasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Berkaitan dengan upaya pencega“Dari GMNI sendiri kalau sudah ada SK Rektor yang turun membahas han radikalisme di wilayah perguruan peraturan ini setuju dan siap menga- tinggi, Kemenag sudah lebih dulu antiwal,” tandas Bagus Pangestu Wicak- sipasi dengan moderasi agama. Moderasi beragama merupakan sono selaku Ketua GMNI Komisariat bentuk pencerahan, pemahaman, penWalisongo, Selasa (12/03). Sementara itu, di lain sisi Ketua ingkatan kapasitas yang cukup kepada UKM Teater Mimbar Lukman Taufik mahasiswa dan civitas akademika PTsecara terang-terangan tak sepakat jika KIN tentang paham-paham keagamaan organisasi ekstra legal memasuki UIN yang moderat, inklusif, damai dan tolWalisongo dengan dalih penangkalan eran. Sampai saat ini, Kemenag tengah radikalisme. Menurutnya, tidak ada yang menjamin organisasi ekstra mam- melakukan revitalisasi kegiatan dan pu menangkal paham radikalisme jika program Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang lebih mengedepankan nilaipun dilegalkan. “Bisa jadi organisasi ekstra yang nilai moderasi beragama. “Ini akan memberikan pencerahan, menganut paham radikalisme secara diam-diam menyebarkan doktrin-dok- pemahaman, peningkatan kapasitas trin yang tidak diketahui,” ungkap ma- yang cukup kepada mahasiswa dan hasiswa Prodi Bimbingan Penyuluhan civitas akademika PTKIN tentang pa-

ham-paham keagamaan yang moderat, inklusif, damai dan toleran,” jelas pria yang pernah menjadi Ketua Sema IAIN Walisongo periode 1997/1998. Dengan langkah demikian, Ruchman berharap mahasiswa di tingkat UIN, IAIN, dan STAIN akan menjadi muslim yang taat dan loyal terhadap negara, serta berkomitmen untuk bersikap moderat dalam beragama. “Kami sudah membahas masalah ini (moderasi agama, Red) dan akan ada SK yang turun yang nantinya akan dijadikan sebagai landasan pijak,” terangnya. Upaya mencegah menyebarnya paham radikal di kampus, Kemenag dan UIN Walisongo sudah satu pandangan dan gerakan. Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Suparman Syukur mengungkapkan, bahwa moderasi agama adalah upaya yang baik untuk menangkal radikalisme. Dalam pembahasan terkait Permenristekdikti, pernah dilakukan pertemuan Badan Kerjasama Perguruan Tinggi (BKPT) yang melibatkan WR III di lingkup PTKIN. Pada pertemuan tersebut, mayoritas peserta kurang sepakat dengan adanya Permenristekdikti dan lebih sepakat dengan moderasi agama. Menurutnya moderasi agama sudah menjadi milik bersama, yakni Islam yang moderat. Seperti NU dan Muhammadiyyah dan lainnya, menerima moderasi agama dalam istilah Islam tawasuth yang sudah diwujudkan. “Kalau ada SK penguatan untuk dijalankan dan tidak memecah-belah tentang moderasi agama kita setuju tapi, bukan dibentuk dalam wadah UKM untuk penyatuan ideologi bangsa,” jelasnya, Jumat (12/04). Meskipun demikian, ia menjelaskan jika kebijakan tersebut diterapkan di UIN Walisongo maka akan muncul beragam masalah. Diantaranya, menjadikan sumbu munculnya problem baru yang akan dihadapi lingkup internal kampus. Sebab Ideologi yang dibawa oleh organisasi ekstra tersebut berbedabeda. “Meski sudah ada PMII, HMI, GMNI, KAMMI dan IMM yang berbeda tapi tetap satu kesatuan. Namun, kalau dipaksa dalam satu wadah baru yakni organisasi intra UKM itu susah,” pungkasnya. n

Agus Salim Irsyadullah AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

9


Menikmati Aktualisasi Seni Kontemporer di Kota Lama

Semarang Contemporary Art Gallery sebagai wadah seni kontemporer menyajikan berbagai karya seni modern yang selalu berganti tiap bulan sekali.

S

epanjang jalan dan trotoar ramai oleh muda-mudi hilir mudik yang sekadar berlibur maupun berswafoto dengan wajah baru Kota Lama Semarang. Bangunan-bangunan tua berjejer dengan gaya kolonial Belanda, diantaranya yang paling terkenal adalah Gereja Blenduk. Mungkin itu sebabnya area ini dijuluki sebagai “Litle Netherland”. Sekitar 100 meter di sebelah Timur Taman Srigunting, tepatnya di sudut bangunan-bangunan dapat ditemukan satu bangunan bergaya arsitektur modern dengan interior minimalis. Bangunan yang juga bernuansa kolonial itu bercat putih dengan dua lantai yang di atas pintunya bertuliskan Semarang Contemporary Art Gallery, atau biasa disebut Galeri Semarang. Begitu masuk terlihat penataan ruang yang artistik, estetik, dan modern. Cukup instagramable bagi pengunjung yang suka berfoto. Ciri khas di Galeri Semarang adalah patung miring bernama Budi berwarna hijau tua karya seniman asal Bantul Yogykarta yang juga memiliki nama Budi. Mulanya Galeri Semarang beralamat di Jalan Dokter Cipto Semarang Timur. Kemudian pada 2008 berpindah ke kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Taman Srigunting No. 5-6 Semarang. Galeri Semarang adalah galeri modern berisi beberapa karya seni kontemporer. Sejarah mengatakan, bangunan ini dahulunya merupakan tempat tinggal pastur bernama L Prinsen dan biasa digunakan umat Katolik untuk beribadah. Kemudian pada tahun 1918 bangunan ini diruntuhkan dan diganti dengan gedung baru berarsitektur Spanish Colonial. Bangunan ini pernah beberapa kali berpindah tangan. “De indische Lloyd” adalah perusahaan asuransi pertama di Indonesia yang pertamakali menggunakan tempat ini. Lalu seiring berjalannya waktu bangunan ini pernah disewakan sebagai gudang, dealer motor, dan kantor perusahaan Farmasi

n

Pengunjung sedang melihat karya yang ditempel di dinding ruangan Semarang Contemporary Art Gallery.

rang juga sering mengikuti acara dan perlombaan internasional di luar negeri, seperti di Singapura dan Hong Kong. Galeri Semarang buka setiap Selasa sampai Minggu mulai pukul 10.0016.30 WIB. Biaya tiket masuknya cukup terjangkau Rp 10 ribu, tetapi saat pembukaan pameran, pengunjung malah tidak dikenakan biaya. Antusiasme pengunjung di Galeri Semarang ini beragam. Kebanyakan hanya ingin berfoto, namun tidak sedikit juga yang datang karena benarbenar menyukai seni dan tertarik belajar seni kontemporer. “Paling rame saat weekend dan biasanya saat pembukaan pameran tunggal,” kata Wisnu. Dosen Ilmu Seni dan Arsitektur Islam UIN Walisongo, Abdullah Ibnu Thalhah yang juga perupa Semarang pernah menggelar pameran tunggal di Galeri Semarang, tepatnya pada 2007. Hingga saat ini, ia juga masih sering aktif dan diundang pada acara-acara yang digelar Galeri Semarang. “Suatu pengalaman pertama mengadakan pameran tunggal di galeri yang sudah terbilang top lah,” ungkap Thalhah saat ditemui Amanat (22/07). Menurut Thalhah, perkembangan galeri di Semarang dari tahun ke tahun semakin membaik karena sebelumnya Semarang dianggap bukan kota seni. Namun ketika muncul Galeri Semarang, orang-orang mulai datang

untuk menonton pameran. Hal ini dapat membangun suasana apresiasi warga Semarang terhadap seni rupa yang lebih baik. “Ada gagasan dan karakter yang dibawa oleh keberadaan Galeri Semarang, ada ruang apresiasi seni yang baik dengan adanya Galeri Semarang,” kata Thalhah. Bagi Thalhah paling unik dari Galeri Semarang adalah pada praktek penerjemahan dari gagasan kontemporer. Hal itu kemudian bisa memunculkan satu hal yang baru dalam praktek seni rupa. Salah satu pengunjung Alda Gamalina mengatakan, meski ia sering mengunjungi Kota Lama, Alda baru pertama kali mengunjungi Galeri Semarang. Ia melihat informasi destinasi wisata yang ia cari lewat google. “Ada beberapa hal yang menarik di Galeri Semarang ini, karya-karyanya mempunyai nilai sendiri dan konsepnya unik,” ungkap Alda. Mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang semester dua ini mengaku memang penikmat seni. Menurutnya, dari luar bangunan ini tidak tampak seperti bangunan galeri seni. “Enggak menyangka kalau ternyata bangunan ini galeri, diluar kelihatanbangunanya bagus, jadi bikin tambah penasaran,” tutupnya.n Rima Dian Pramesti

Menyoal Kebijakan TOEFL IMKA

Bicara soal ujian TOEFL dan IMKA memang tidak ada habisnya. Setiap tanggal 26 di akhir bulan akan menimbulkan keresahan bagi mahasiswa yang ingin mendaftar ujian itu. Pasalnya, sistem pendaftaran yang dibuat Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) mengalami perubahan. Hal tersebut terjadi sejak diberlakukannya SK Rektor Nomor 754 Tahun 2016. Aturan baru ini menyatakan semua mahasiswa dapat mendaftar TOEFL dan IMKA meskipun belum menempuh mata kuliah Program Intensif Bahasa Inggris (PIBI) dan Program Intensif Bahasa Arab (PIBA). Bahkan, dalam buku panduan PPB pasal 8 menyatakan mahasiswa yang mendapat skor TOEFL 500 dan IMKA 400 dapat direkomendasikan PPB untuk tidak mengambil Program Intensif Bahasa (PIB). Akibatnya, mahasiswa yang berebut kursi ujian makin banyak. Baik

10

Tempo. Setelah itu, gedung tersebut digunakan oleh pabrik sirup Fresh hingga tahun 1998. Chris Darmawan pada tahun 2008 akhirnya resmi menggunakan bangunan ini sebagai Galeri Semarang. Ia merupakan seorang kolektor, arsitek, dan filontropi seni. Konsistensi Chris dalam bidang seni terlihat dari komitmennya untuk mendedikasikan galeri ini sebagai sebuah media yang memperkenalkan karya-karya seniman kontemporer Asia, khususnya perupa-perupa di Indonesia. Chris pernah mengatakan, pertemuan antara manusia, budaya, seni, dan idealisme dalam sebuah ruang akan selalu menghasilkan keindahan bagi kehidupan manusia. Seperti di galerinya ini, tidak hanya seni lukis namun berbagai macam seni kontemporer berupa patung, fotografi, multimedia hingga seni tiga dimensi pernah dipamerkan. Ruang apresiasi Siang itu, Minggu (14/7), sedang berlangsung pameran tunggal seorang sastrawan, penyair dan perupa Indonesia, Goenawan Mohamad dengan judul “Don Quixeto dan Hal Hal yang Belum Sudah”. Karya Goenawan Mohamad tidak hanya sebuah seni rupa melainkan sajak serta esai-esai pilihan. Selain itu, di satu ruangan diputarkan video art musikalisasi puisi Goenawan Mohamad yang dibawakan oleh Komunitas Salihara. Project Manager Galeri Semarang, Wisnu Bharata mengungkapkan, adanya Galeri Semarang adalah untuk memfasilitasi seniman-seniman muda, khususnya di Indonesia. Jadi setiap satu bulan sekali pameran diganti. “Setiap pembukaan pameran, kami selalu ada event dan mendatangkan seniman dan kuratornya. Kemarin ketika Goenawan Mohammad juga ada artis talk, dan megundang tokoh contohnya kemarin Gus Mus” ungkap Wisnu. Wisnu menjelaskan, Galeri Sema-

(Amanat/ Rima)

a,

MELIPIR

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

mahasiswa semester awal maupun mahasiswa yang terancam Drop Out (DO). Namun jumlah kuota yang disediakan PPB hanya 150 kursi di masing-masing ujian bahasa. Hal itu dirasa sangat kurang, mengingat jumlah mahasiswa UIN Walisongo yang begitu banyak tidak sebanding dengan jumlah kuota ujian bahasa yang disediakan. Terlebih bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan skripsi terpaksa harus menunda munaqosah lantaran tak mendapat kursi ujian TOEFL maupun IMKA. Saran saya, sebaiknya sistem diperbaiki dengan melihat jumlah dan kebutuhan mahasiswa. Atau jika tidak, sistem sebelumnya yang menggunakan satu rombel yang sudah siap mengeikuti ujian bisa diberlakukan lagi. Dwi Novitasari Mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika 2016

Keamanan yang Memprihatinkan Masjid sebagai tempat ibadah harusnya terjaga, terutama di kampus Islam sep- erti UIN Walisongo Semarang. Namun kenyataannya tidak begitu, fasilitas di beberapa masjid dan mushola tidak sebanding dengan banyaknya mahasiswa yang melakukan solat. Peralatan yang dibutuhkan ketika hendak ibadah masih kurang, apalagi fasilitas keamanan seperti CCTV? Saya pernah punya pengalaman buruk di masjid Kampus III. Tas yang berisikan laptop, smartphone, dan sebuah buku yang saya pinjam dari perpustakaan raib dibawa oknum yang tidak bertanggungjawab. Saya melaporkan kasus ini ke kantor Polisi. Namun, setelah memeriksa lokasi kejadian polisi menyatakan ti-

dak bisa mengurus lebih jauh karena tidak ada CCTV. Dua hari berikutnya saya mendengar bahwa di masjid yang sama seorang mahasiswa lakilaki dikabarkan kehilangan tas. Saya yakin sebelum saya telah banyak kejadian serupa. Dan tidak menutup kemungkinan setelah saya, para pencuri tersebut akan kembali beraksi setelah mengetahui situasi disana mendukung bagi aksi mereka. Saya harap pihak kampus berkenan merealisasikan adanya CCTV di tempat ibadah yang ada di UIN Walisongo guna mencegah pencurian barang mahasiswa yang sedang sholat. Wallahu a’lamu bi al-shawwab.

Rizka Alifah Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris 2016


SKETSA

(Amanat/ Azzam)

Seorang mahasiswi sedang melihat pamflet tata cara mengurus penggantian KTM dan atau kartu parkir

KTM Pengganti Terbelit Administrasi

Prosedur mengurus KTM pengganti diwarnai keluh kesah. Mahasiswa yang kehilangan dihadapkan pada urusan administrasi yang berbelit.

P

agi itu, saat sinar mentari mulai menyengat kulit, selepas kuliah jam pertama, Khairan Kasih Rani mahasiswi Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) bergegas menuju ke Dekanat Fakultas Ushuludin dan Humaniora (Fuhum) menemui Kasubbag untuk meminta surat pengantar mengurus Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) pengganti. Setelah surat didapat, Rani begitu ia disapa, melajukan kendaraannya menuju kantor kepolisian untuk meminta surat keterangan hilang. Sayang, surat pengantar dari fakultas ditolak pihak kepolisian karena dinilai tidak sesuai standar. Rani pun harus kembali ke fakultas untuk merevisi surat itu. Harapan tak sesuai kenyataan, staf Kasubbag bersikeras tidak mau merevisi suratnya dengan dalih surat pengantar yang dikeluarkan memang demikian adanya. Dengan langkah gontai mahasiswi asal Aceh itu meninggalkan dekanat dan kembali menuju ke kantor polisi. Sesampainya di kantor, Rani menjelaskan ulasan Kasubbag Fuhum terkait surat pengantar itu, tetapi pihak kepolisian tetap bersikeras tidak bisa menerima suratnya. Merasa lelah dan jenuh, akhirnya Rani memberanikan diri memohon kepada pihak kepolisian agar mau membuatkan surat kehilangan. Karena merasa iba kepadanya, pihak kepolisian membuatkan surat itu. Setelah semua berkas persyaratan lengkap, mahasiswi asal Aceh tersebut pergi ke kampus I untuk menyerahkannya ke staf Subbagian Data dan Sistem Informasi. Rani menerima hasil verifikasi. Ia lalu menuju ke Bagian Pengadaan guna mencetak kartu. Di sini Rani harus menunggu hingga seminggu karena staf yang bertugas sedang sibuk mempersiapkan akreditasi UIN Walisongo. Seminggu berlalu akhirnya Rani mendapatkan KTM pengganti, Selasa (09/04). Ternyata itu tidak gratis. Rani harus membayara biaya sebesar Rp 20 ribu. Masih ada satu hal lagi yang harus ia kerjakan, yaitu mengaktifkan kartu tersebut ke kantor Pusat Teknologi Informasi dan Pengembangan Data (PTIPD).

Jika Rani harus menunggu lama untuk mendapat kartu pengganti, ada juga mahasiswa yang sengaja tidak mengurus KTM pengganti. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Hilmi Syaiful Hak misalnya. Ia merasa kecewa dengan sistem Barier Gate yang menurutnya tidak ditangani secara serius dan sering rusak. Sejak kartunya hilang, mahasiswa asal Demak itu lebih memilih meminjam milik teman atau membayar tarif yang berlaku untuk keluar-masuk kampus. “Kadang ya cukup menunjukkan STNK motor saja mas, sudah bisa kok keluar,” katanya, Senin (06/05). Ada juga yang harus menelan kekecewaan saat mengurus KTM pengganti. Dia adalah mahasiswi Jurusan Ilmu Falak Nila Dzakiya. Mahasiswi angkatan 2015 itu sudah membawa semua syarat yang tertera di depan kantor Kemahasiswaan. Seperti surat pengantar dari fakultas, surat kehilangan dari kepolisian, foto dan slip asli pembayaran SPP terbaru. Semua pupus, setelah staf Subbagian Data dan Sistem Informasi memberitahunya, bahwa mahasiswa angkatan 2016 ke bawah yang memiliki kartu parkir, tidak perlu mengurus KTM pengganti jika hilang. Karena, kartu parkir juga berfungsi sebagai tanda pengenal mahasiswa. “Kecuali kita mau ngurus kartu ATMnya baru bisa mas. Tapi kan saya gak pakai, jadi gak perlu KTM baru, ” ujar mahasiswi asal Demak itu. Sebenarnya, Nila masih ragu akan kebenaran informasi itu. Sebab ia takut jika ketiadaan KTM akan menghambat proses kelulusan dan ujian TOEFL serta IMKA yang akan ia ikuti. Pasalnya, untuk mengikuti kedua hal tersebut membutuhkan KTM sebagai syarat. Ketika dikonfirmasi kru Amanat pada Jum’at (05/04), Kasubbag Informasi Akademik Kemahasiswaan Fadhol, membenarkan pernyataan stafnya. Ia menjelaskan, mahasiswa angkatan 2016 ke bawah hakikatnya memiliki dua KTM. Pertama, digabung dengan kartu ATM dengan foto Identitas, diterima ketika masih Mahasiswa Baru (Maba). Kedua

digabung dengan kartu parkir, tanpa ada foto identitas yang dibagikan bulan Maret 2018 lalu. Jadi, apabila nantinya ada kepala bagian maupun staf UIN Walisongo yang tidak menerima kartu parkir milik angkatan 2016 ke bawah sebagai KTM menurutnya wajar. Karena mungkin belum mengerti dan sosialisasi yang kurang masif mengenai hal itu. Fadhol mengimbau mahasiswa bersangkutan untuk segera melapor kepadanya jika hal itu terjadi, agar bisa segera dikonfirmasi oleh pihaknya. Sedangkan, lanjut Fadhol, untuk mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 memang sejak awal kartu pengenalnya tidak lagi digabung dengan ATM, tetapi langsung dengan kartu parkir. Dan untuk kartu ATM-nya diurus langsung oleh pihak bank yang ditunjuk oleh UIN Walisongo. Pentingnya surat kehilangan Kebijakan yang diterapkan birokrasi kampus terkait proses mengurus kartu pengganti dinilai ribet dan memakan waktu cukup lama. Itu dirasakan Aditya Narwan mahasiswa asal Cilacap, yang enggan mengurus KTM-nya meski hilang sejak lama. Menurutnya, waktu dan tenaganya akan tersita hanya untuk maraton kesana-kemari mengurus kartu pengganti. Pikirnya akan lebih baik waktu dan tenaga itu digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat lainnya. “Nanti kalau sudah mau wisuda baru ngurus lagi,” katanya. Pria yang akrab disapa Adit itu menyarankan agar birokrasi memberik kemudahan dan prosedur yang lebih sederhana mengurus kartu pengganti. Semisal, menyediakan sentral layanan KTM tanpa harus keluar masuk ke beberapa tempat. Sehingga mahasiswa dimudahkan. Namun, saran itu tidak bisa diwujudkan oleh Kasubbag Informasi Akademik Kemahasiswaan, Fadhol. Sebab, surat pengantar Fakultas dan keterangan hilang dari Kantor Polisi sangat penting untuk menghindari beberapa hal yang tidak diharapkan.

Menurut Fadhol, surat kehilangan untuk meminimalisir penyalahgunaan kartu. Selain itu juga untuk untuk mengerem pembuatan kartu pengganti yang berlebihan. “Surat keterangan dari Kantor Polisi itu kami butuhkan. Karena kalau tidak, dalam sehari itu bisa 100 sampai 300 kartu yang harus kami buat. Sekarang paling banyak dalam sehari hanya sekitar 30 kartu,” ujar Fadhol. Kebijakan tersebut dilakukan juga melihat pengalaman masa lalu. Ketika surat keterangan dari polisi tidak ada, mahasiswa sangat mudah melapor ke birokrat untuk membuat kartu pengganti, sehingga penyalahgunaan rentan terjadi. Biasanya pembuatan kartu pengganti akan berlipat ganda jumlahnya, terutama ketika mendekati wisuda. Sebab KTM harus diserahkan kembali ke fakultas masing-masing. Mahasiswa yang KTMnya hilang tentu mau tidak mau harus membuat ulang. Hal itu dapat dilihat dari data yang diterima Amanat. Tercatat selama 2018 ada sebanyak 230 orang yang membuat kartu pengganti. Dari data tersebut, dapat dilihat alasan mengurus dan membuat kartu pengganti untuk melengkapi syarat wisuda. Sehingga, masih banyak ditemukan mahasiswa yang belum mengurus KTM hilang. Jajak pendapat Amanat lewat kuisioner Google Form menunjukkan, dari 185 responden terdapat 58,4% mahasiswa mengaku pernah kehilangan kartu parkir atau KTM, tetapi hanya 32,4% yang mau mengurusnya. Menurut Fadhol, mengurus kartu pengganti tidaklah lama. Mahasiswa terkait cukup melengkapi persyaratan. Apalagi kini Kasubbag Informasi Akademik Kemahasiswaan sudah memiliki alat pencetak kartu sendiri. Data mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 juga sudah tersedia. Sehingga prosesnya bisa lebih cepat. “Dalam tiga sampai lima menit sudah jadi mas,” tegas Fadhol. n

Riduwan AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

11


REHAT KUIS ASAH OTAK 132 Mendatar 1. Penyakit yang menyebabkan tuli 3. Kumpulan ralat dan pembetulan 4. Satuan tekanan udara 12. Pembungkus permen karet 13. Masa kecil kurang bahagia 14. Bangkrut=pailit 15. Curang, malas, tidak tangkas 17. Santai 18. Syair atau nyanyian yang mengandung ratapan 21. Perseorangan atau hanya sebagian 24. Bersifat bertahan 26. Serdadu berkuda 27. Celah 28. Ajaran filsafat dari Lao-Tzu di Negeri Cina 29. Musang 30. Sumbu roda 31. Bumbu warna hitam 33. Puspa bangsa 34. Unggul 36. Tahun jawa 39. Satuan jarak 40. Pemberian vaksin untuk memberikan kekebalan terhadap tubuh 41. Ctrl V 42. Kata sapaan

Menurun 1. Yamien atau yahun 6. Anestesi lokal 7. Salah satu jenis musik 8. Bohong 9. Bersifat sementara 10. Sebuah genre dari puisi Yunani kuno

n

12

Komik

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

Ketentuan Menebak 11. Asam 12. Jenis sayuran menyerupai tumbuhan liliaceae 16. Pepatah;peribahasa 19. Individualis 20. Ritme=irama 21. Rasa kasih sayang 23. Mampu atau cakap 25. Tempat air 31. Juru masak 32. Suara 33. Sudah jemu 35. Nama nabi 37. Bahasa Jawa lebih 38. Nama kota di Provinsi Maluku

Pemenang KAO Edisi Tabloid 131 1. Minchatul Ulya, mahasiswa 2.

prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Rafinda Aji Pratama, mahasiswa prodi S1 Perbankan Syariah

Hadiah bisa diambil di Kantor Redaksi SKM Amanat.

1. Tulis jawaban, cantumkan nama, alamat, dan nomor HP yang bisa dihubungi 2. Foto hasil isian KAO 3. Kirim jawaban ke surel redaksi. skmamanat@gmail.com 4. Pengiriman jawaban paling lambat 15 Oktober 2019 5. Pemenang akan diumumkan di Tabloid Amanat edisi selanjutnya 6. Diambil dua pemenang, masingmasing mendapatkan satu buku menarik.


OPINI MAHASISWA Gerakan Mahasiswa Milenial

Gerakan Mahasiswa Hari Ini

Mau dibawa Kemana Mahasiswa Milenial Ini?

P

erkembangan teknologi anggapan mahasiswa menyang masif dan cepat jadi malas berpikir jika yang ini layaknya meniminstan saja bisa. bulkan berbagai dampak Diperparah lagi dengan positif dan negatif. Alih-alih mengikuti sebuah tranding perbedaan pun terjadi pada gaya hidup, seperti gaya bersetiap generasi. Generasi sepakaian ala artis idola merbelum teknologi berkembang eka. Hal ini adalah dampak dan generasi setelah lahirnya dari seringnya berselancar di teknologi. Sehingga munsosial dan candu pada Dian Ayu Prasasti media cul pertanyaan, apakah sebuah toko online yang di Mahasiswa Prodi Pengembangan generasi setelah adanya ikuti. Masyarakat Islam, Fakultas teknologi lebih unggul Secara tidak sadar, akDakwah dan Komunikasi. dibanding generasi sebeltivitas konsumerisme gaya umnya? baru, berdampak pada peran seorang Jika kita berbicara perbandingan dari mahasiswa. Atribut sosial yang dilekatzaman generasi ke genarasi pasti akan kan pada mahasiswa seketika luntur. menemukan kekurangan dan kelebihan Satu contoh mahasiswa sebagai agen masing-masing. Teknologi menawarkan perubahan (agent of change), namun kemudahan, kecepatan, dan jangkauan. sekarang jika diamati sedikit mahasiswa Bahkan teknologi menawarkan kemero- yang bisa memenuhi atribut tersebut. sotan nalar. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seDahulu, sebelum adanya teknologi buah wadah berorganisasi untuk ber(baca: HP) anak-anak dapat mencip- proses mengolah kepekaan sosial sebetakan permainan berbahan dasar ba- lum turun ke ranah masyarakat setelah rang-barang yang sudah tak terpakai, lulus nantinya, sekarang cenderung botol bekas, mainan dari pelepah pi- kurang diminati lagi oleh mahasiswa. sang, bambu dan lainnya. Mereka bisa Dalam mengawal sebuah kebijakan berkreasi sesuai dengan kreativitasnya yang tak sesuai dengan hak keadilan masing-masing. Sekarang anak-anak mahasiswa pun, cenderung bungkam. dituntut untuk menjadi konsumen. Dibuktikan dengan minimnya partiKarakter kreatif dan inovatifnya terbe- sipasi dalam diskusi dan demonstrasi lenggu oleh adanya HP. Kita tidak bisa menuntut hak bagi mahasiswa itu sendmenyalahkan sang anak. Perubahan ini iri. Alhasil terjadi bergeseran nalar kritis tak luput dari pengawasan dan didikan dan kepekaan sosial dalam diri mahaorang tua, lingkungan dan seorang guru. siswa. Sikap konsumerisme pun sudah terSeharusnya, di zaman yang serba lihat di benak kalangan mahasiswa. Mis- berkemudahan ini harus bisa dimanalnya saja, bahan pembuatan makalah faatkan oleh para mahasiswa. Menerusmembutuhkan beberapa buku referensi kan perjuangan para pendiri bangsa, bacaan buku fisik sehingga mahasiswa bukan hanya menikmati hasilnya saja. dulu membutuhkan waktu yang cukup Apa gunanya jika teknologi berkemlama dalam pengerjaan satu makalah. bang dengan pesatnya namun tidak bisa Namun sekarang yang terjadi ke- digunakan mahasiswa untuk menunmudahan teknologi internet melalui jang perannya. Jangan sampai terjadi web, blog yang ada sudah menyediakan kemunduran nalar kritis, sikap pragbahan untuk pembuatan makalah, matis sebab para pendahulu kita tidak yang terjadi adalah mahasiswa tinggal mengajarkan itu. Jika tidak bisa unggul, copy+paste. Sehingga pembuatan maka- mempertahankan pun sudah jauh lebih lah 5-10 menit jadi. Hal ini membuat baik.n

G

erti saat ini. Individualisme erakan mahasiswa UIN pun mulai mengakar dalam diri Walisongo (dahulu mahasiswa. Bisa diambil conIAIN) sejak dahulu titoh ketika sedang berkumpul, dak pernah diragukan peranmasing-masing lebih asyik bernya dalam merespon suatu cengkrama dengan gawai yang permasalahan yang ada di ada di tangannya. Ditambah lagi masyarakat. Bahkan gerakan minimnya ruang-ruang diskusi. mahasiswa cukup disegani Faktor lain yang mempendikalangan mahasiswa dan garuhi gerakan mahasiswa teraparat di Semarang. Sayangnya, akhir-akhir ini Alfian Pujo Saputro lihat surut yakni tingginya biaya kuliah yang biasa kita sebut banyak sekali keluhan yang Mahasiswa Prodi Ekonomi Uang Kuliah Tunggal (UKT). muncul mengenai gerakan Islam, Fakultas Ekonomi Keadaan tersebut memunculmahasiswa UIN Walisongo. Di dan Bisnis Islam. kan sebuah orientasi baru di mata penulis, gerakan mahasiswa saat ini terasa monoton dan ham- kalangan mahasiswa yaitu, “kuliah lancar, bar. Memang setiap zaman mempunyai nilai sempurna, lulus cepat, setelah lulus pola gerakannya sendiri, hal itu dipen- dapat kerja, nikah dan kaya raya”. Meskipun begitu mahasiswa seolahgaruhi atas problem atau keadaan sosial olah hanya melihat beban UKT adalah seyang sedang dihadapi. Penulis teringat sebuah kalimat dari buah beban bukan sebuah permasalahan Tan Malaka “Idealisme adalah kemewa- yang harus dihadapi dan diselesaikan. han terakhir yang hanya dimiliki oleh Bisa dianalogikan mengikuti arus semata. pemuda”. Jika ditelaah kembali sebuah Ini adalah salah satu bukti menurunnya gerakan mahasiswa tidak luput dari se- sikap kritisisme dalam menerima sebuah buah idealisme, sikap kritis yang dimil- kebijakan yang merugikan. Dari beberapa situasi yang sedang ikinya. Namun hari ini mahasiswa dapat dikatakan mengalami pergeseran para- dialami dalam diri mahasiswa tersebut harus segera diselesaikan melalui pemdigma gerakan. Jika diamati generasi sekarang tingkat baharuan dari beberapa sisi. Baik dalam literasinya rendah. Sebuah generasi yang proses pengkaderan dalam setiap organlebih suka pada sesuatu yang virtual dari- isasi masing-masing. Perlu digaungkan pada tekstual. Minimnya literasi adalah kembali ruang-ruang diskusi di lingkunsalah satu bentuk “bunuh diri” paling gan kampus. Sebagai mahasiswa sudah selayaknya berbahaya bagi mahasiswa. Bagaimana tidak? Sifat apatisme juga terlahir dari mempunyai sebuah inovasi gerakan minimnya literatur yang dibaca oleh ma- baru, selain turun aksi ke jalan. Sebab hasiswa. Di mana mahasiswa tidak mam- saat ini sudah didukung dengan pesatnya pu mengembangkan pemikirannya. Bah- teknologi yang sangat canggih. Bukan bekan cenderung tertutup terhadap kondisi rarti gerakan aksi massa harus ditinggalkan, tetapi perlunya kombinasi gerakan sosial kemasyarakatan yang ada. Akibatnya mahasiswa tidak mampu baru menyesuaikan dengan zaman digital menjawab problem yang sedang diha- saat ini. Indonesia membutuhkan kontribusi dapi. Dengan kondisi yang seperti ini, bukan tidak mungkin mahasiswa akan nyata dari mahasiswa, dengan semangat mengalami degradasi pemikiran. Sehing- perjuangan membangun bangsa, maga menciptakan sebuah generasi yang ti- hasiswa diharapkan benar-benar dapat dak mampu menciptakan nilai-nilai baru, menjadi jembatan antara pemerintah dan melainkan hanya berpangku tangan dari masyarakat dalam bentuk pengabdian nyata. Khususnya, anggapan yang sejalan orang lain. Selain itu mahasiswa sekarang sedang dengan visi dari UIN Walisongo yaitu sebdibuat nyaman dalam zaman digital sep- agai Universitas Islam Riset terdepan untuk kemanusiaan dan peradaban.n

TEMA MENDATANG Tantangan Perguruan Tinggi Mendatang Kirim opini anda melalui surel: redaksi.skmamanat@gmail.com. Naskah tidak lebih dari 2500 karakter. Sertakan biodata, foto terbaru, dan nomor HP yang bisa dihubungi. Pengiriman naskah paling lambat 15 Oktober 2019. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan bingkisan dan piagam penghargaan.

(Amanat/ Agus)

AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

13


Sketsa

KKN Berbasis Orda, Seperti Apa?

Meski sudah mendapat legitimasi, hingga saat ini mahasiswa dan birokrasi saling menunggu.

J

14

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

(Dok. Internet)

anuari lalu, tepatnya pada, Selasa (08/01), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) mengadakan pertemuan dengan para Ketua Organisasi Daerah (Orda) di UIN Walisongo. Pertemuan di ruang Promosi Doktor Gedung LP2M itu, membahas soal Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Orda yang diajukan oleh Forum Silaturahmi Antar Daerah (Forsida). Dari pertemuan itu, LP2M mendukung rencana KKN berbasis Orda. Berdasarkan SK Rektor Nomor 29 Tahun 2014, disebutkan ada tiga bentuk KKN di UIN Walisongo, yakni KKN Reguler, KKN Non Reguler, dan KKN Mandiri. Dari ketiganya, terdapat perbedaan dalam tatanan teknisnya. KKN Reguler dan KKN Non Reguler dalam pelaksanaan teknisnya diatur oleh LP2M UIN Walisongo. Seperti penyusunan proposal kegiatan, pemilihan tempat, penyusunan laporan, dan evaluasi. Sementara, untuk KKN Mandiri proses yang demikian dilaksanakan oleh mahasiswa sendiri. LP2M hanya bertugas untuk mengelola atau memfasilitasi pelaksanaannya. KKN Mandiri dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama KKN Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN-MIT), kedua KKN Mandiri Misi Khusus (KKN-MMK), ketiga KKN Mandiri Pengakuan (KKNMP). Ketua Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) Ali Imron menjelaskan, KKN berbasis Orda yang dimaksud dan diajukan akan masuk dalam kategori KKN-MP. KKN-MP merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti bakti sosial, misi kemanusiaan, keterlibatan mahasiswa dalam penanganan bencana alam dan sebagainya. Nantinya, sesuai dengan pertimbangan dan kebijakan Ketua LP2M, kegiatan tersebut bisa diakui atau disamakan dengan kegiatan KKN seperti pada umumnya. “Kan KKN itu kegiatan riil di lapangan, programnya mau seperti apa, konsultasi dengan kita, ya harus koordinasi sebelum melangkah. Kalau sudah melangkah ke tahap seminar ternyata kinerja tidak diakui bagaimana,” jelas Ali ketika ditemui Amanat di kantornya, Senin (18/03) Sebagaimana jenis KKN yang lain, KKN-MP juga masuk dalam kurikulum. Sehingga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mengajukan. Di antaranya, mahasiswa harus sudah menyelesaikan mata kuliah 120 SKS. Hal itu ditekankan oleh Ali, sebab KKN termasuk dalam kurikulum. Semangat mahasiswa daerah Keinginan aktivis mahasiswa daerah untuk mewujudkan KKN berbasis Orda, didasari niat memajukan tempat kelahirannya masing-masing. Koordinator Forsida Sulton Bahaudin, mengungkapkan jika adanya Orda bukan hanya menjadi wadah untuk saling berkumpul sesuai daerah asal. Namun lebih dari itu mahasiswa yang tergabung dalam Orda mempunyai visi untuk memajukan daerah asal. Kebijakan kampus dalam menentukan tempat KKN dirasa pun kurang memuaskan. Beberapa faktor tersebut yang menjadi faktor Sulton dan te-

Pelepasan ratusan mahasiswa dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), oleh Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kelembagaan Musahadi di Gedung Auditorium II.

man-temannya di Forsida dalam mengajukan KKN berbasis Orda. “Di Demak tempatnya sudah maju di jadikan tempat KKN lagi, kami dari ketua-ketua Orda itu kan sudah berkecimpung di daerah masing-masing, ingin sekali memajukan daerah masingmasing salah satunya dengan KKN di daerah itu,” keluh wisudawan jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) tersebut, Kamis (21/03). Saling menunggu Hingga laporan ini ditulis, Senin (18/03) baik Forsida ataupun Orda belum ada yang mengajukan untuk melaksanakan KKN berbasis Orda. Juru bicara Forsida Agus Ma’ruf mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi alasan belum ditindaklanjutinya secara serius KKN-MP oleh Orda yang ada. Diantaranya pihak Forsida sedang disibukkan dengan agenda Forsida yang akan datang yaitu Pekan Orda Walisongo (POW), ditambah lagi dengan minimnya minat mahasiswa. “Minat mahasiswa yang lain juga masih kurang,” akunya. Selain itu, Agus dan teman-temannya menyayangkan kebijakan LP2M tentang KKN berbasis Orda, lantaran mahasiswa yang mengikuti tidak mendapatkan fasilitas sebagaimana kegiatan KKN pada umumnya. Seragam salah satunya. “Hal itu yang menjadikan semangat mahasiswa kian melamban,” kata Agus. Belum jelasnya atribut KKN juga diungkapkan oleh Ketua Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Pati (KMPP), Muhammad Arifin Ardiyansah. Ia mengatakan jika ada Rencana atribut KKN akan diganti dengan uang. “Tapi belum jelas jumlah nominal uangnya berapa,” tuturnya, Jumat (21/06). Mengenai mekanisme dan regulasi yang akan diterapkan birokrasi terkait pengakuan bakti sosial sebagai KKN di UIN Walisongo juga belum ada kejelasan. Hal ini dikeluhkan oleh Ketua Ika-

tan Mahasiswa Tegal (IMT) Mohamad Yasi Riski Purnama, menurutnya, pihak kampus harus segera membenahi. Dia berharap bakti sosial bisa dijadikan seperti KKN pada umumnya di UIN Walisongo, dengan bentuk pengabdianya ditempatkan di daerah masing-masing, dan pihak kampus juga seharusnya bisa bekerjasama dengan pemerintah daerah masing-masing Orda. “Selama ini UIN Walisongo hanya terfokus pada Kudus, Demak, Salatiga, Semarang. Mungkin dengan KKN Orda ini bisa memaksimalkan lewat Orda-orda yang ada, kalo gak salah ada 36 Orda di UIN Walisongo, kalau semisal semua Orda ikut KKN berbasis Orda, ya berarti menambah jaringan untuk UIN Walisongo dan selebihnya mempermudah mahasiswa juga yang wilayah KKN nya sekarang terbatas,” pungkasnya, Selasa (26/03). Lain halnya dengan mahasiswa asal Demak Muhammad Khoerudin Bukhori, dia sangat mendukung KKN Orda, menurutnya hal ini bisa menghidupkan ciri khas suatu budaya masing-masing organisasi daerah. “Seperti Wayang, Barongan itu bisa diangkat eksistensinya melalui program KKN berbasis orda, karena yang dapat menghidupkan identitas daerah itu diantaranya melalui kegiatan mahasiswa,” ucap mahasiswa Ilmu Falak itu. Lebih lanjut, jika KKN berbasis Orda ini sudah diresmikan, dia berharap pihak kampus segera memberi informasi kepada seluruh Orda yang ada di UIN Walisongo dan menjelaskan regulasinya seperti apa. “Harapannya jika disetujui dan diresmikan yaitu segera memberi info kepada seluruh elemen Orda terkait, mekanismenya, anggaran serta programnya diperjelas kembali,” pungkasnya. Hal senada juga diungkapkan Muhammad Zaenal Ambia, mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi. Menurutnya KKN berbasis Orda nantinya bisa

menjadi alternatif lain bagi mahasiswa yang tidak bisa mengikuti KKN reguler. “Perlu, misalkan mahasiswa yang ikut Orda itu telat mengikuti KKN yang ada di UIN Walisongo, itu bisa jadi jalan untuk melakukan KKN,” katanya, Sabtu (27/04). Dia juga berharap, jika sudah disahkan, kuota mahasiswa yang mengikuti KKN berbasis Orda bisa ditambah. “Harapannya, seterusnya bisa berjalan dengan lancar, setiap tahunnya ada perubahan-perubahan yang lebih baik lagi. Misalkan ditambahkan kuota, itukan kuotanya 15, mungkin tahun selanjutnya bisa ditambahkan kuotanya,” pungkasnya. Menanggapi hal itu, Ali Imron membenarkan jika kemungkinan mahasiswa yang melaksanakan KKN-MP tidak mendapat seragam seperti pada umumnya. Hal itu disebabkan KKNMP tidak terjadwal secara khusus dalam kalender akademik. Meskipun begitu, Ali Imron menjelaskan jika KKN-MP dilaksanakan bebarengan dengan KKN MIT, maka tidak menutup bisa mendapatkan atribut KKN. “Kalau mereka itu pelaksanaannya bisa bersamaan dengan yang KKNMIT, itu bisa dapat jaket bisa dapat topi. Jadi pengadaan barangnya itu bareng. Tapi kalo mereka itu jadwalnya tidak bareng, ya repot,” tandasnya. Ali menyadari bahwa atribut KKN merupakan hak setiap mahasiswa. Namun, bukan berarti jika pihaknya tidak memberi seragam itu merupakan sebuah pelanggaran. Anggaran untuk pengadaan atribut KKN bisa diberikan dalam bentuk bantuan transportasi atau bantuan stimulan. “Meskipun demikian uang UKT yang jatah KKN itu tetap dikembalikan pada mereka. Tidak harus berbentuk jaket, tidak harus berbentuk topi,” pungkasnya.n Mufazi Raziki


Cermin

Kiai Guru, Gurunya Para Kiai

(Amanat/ Iin Endang)

Peziarah berdoa di dekat makam Kiai Asy’ari (atas). Suasana jalan menuju makam Kiai Asy’ari (bawah).

Kiai Asyari, ulama kharismatik penyebar Islam di Kaliwungu Kendal . Ia adalah Guru dari Kiai Sholeh Darat Semarang.

U

dara sejuk terhirup saat kami tiba di bukit yang terkenal dengan nama Jabal Nur pada Selasa (09/04) sore. Jabal Nur terletak di Mranggen, Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Di dekat kompleks pemakaman juga terdapat tanah lapang yang berubah menjadi pasar malam saat Syawal dan ramai setiap Selasa. Kiai Guru memiliki nama asli Kiai Asy’ari bin Ismail bin H. Abdurrahman bin Ibrahim. Dahulu, Kiai Asy’ari merupakan gurunya para kiai. Di antara muridnya yang terkenal adalah Syekh Soleh Darat Semarang, Kiai Bulkin Mangkang, Kiai Anwarudin dari Bendokerep Cirebon, Kiai Ahmad Rifa’i, dan Kiai Musa. Jabal Nur adalah sebuah bukit yang merupakan kompleks pemakaman orang-orang saleh di Kaliwungu. Lokasi makam Kiai Asy’ari terletak pada kompleks paling atas berdekatan dengan makam Pangeran Puger dan Pangeran Djoeminah. Selain Kiai Guru, di kompleks pemakaman itu ada makam Sunan Katong, Eyang Pakuwojo, Wali

Musyafa’ dan Sunan Abinawa. “Mbah As’yari ini disebut Kiai Guru sebab menjadi guru untuk seluruh daerah Kabupaten Kendal, beliau menjadi guru dalam mengaji masalah kitab dan Alquran,” jelas Khairon, salah satu pengelola makam. Kaliwungu sebelumnya merupakan salah satu Kabupaten Kerajaan Mataram Islam. Kondisi masyarakat semasa itu telah mengenal Islam. Sudah ada beberapa kiai di Kaliwungu semasa itu, seperti Kiai Juminah. Namun masih kekurangan orang untuk mengajarkan Islam. Sehingga Kiai Asy’ari dikirim dari Mataram untuk berdakwah ke Kaliwungu. Pengurus hingga juru kunci di makam tersebut mengaku kurang tahu -menahu mengenai biografi beliau. Hanya saja yang diketahui bahwa Kiai Guru adalah salah satu syekh dari Jawa Timur yang juga merupakan murid dari Sunan Giri. Istri Kiai Asy’ari adalah Nyai Radjiyah dari Kampung Tempuran, Kendal. Menurut Bambang Dwiyono penulis buku Kyai Asy’ari Kyai Guru, kemungkinan Nyai Radjiyah bukan istri pertamanya, karena pada saat menikah usia Kiai Asy’ari sekitar 35 tahun. Kiai Guru semasa hidup di Kaliwungu tinggal di Kampung Pesantren, Desa Krajankulon. Mulai dari sinilah Kiai Asy’ari mengajarkan ajaran Islam melalui pendekatan kajian Alquran. Kiai Guru juga mendirikan pondok pesantren sebagai sarana pembelajaran. Pondok yang didirikan mulai tahun 1546, kini dikenal dengan nama Asrama Pelajar Islam Pesantren (APIP). Pada tahun 1657 M, Kiai Asy’ari mendirikan masjid Al-Muttaqin. Hingga sekarang masjid itu telah mengalami beberapakali renovasi. Saat ini masjid tersebut dikenal dengan Mas-

jid Raya Al-Muttaqin Kaliwungu. Masjid Al -Muttaqin merupakan bukti penyebaran agama Islam di Kaliwungu. Sejak zaman Mataram, Kaliwungu menjadi pusat pembelajaran agama Islam. Sekarang pun di Kaliwungu banyak terdapat pondok pesantren. Sehingga Kaliwungu sering disebut juga dengan nama Kota Santri. Tradisi syawalan Masyarakat sekitar sampai saat ini masih melaksanakan tradisi syawalan, yaitu berziarah ke makam para wali di Jabal Nur. Tradisi ini bermula dari kebiasaan keluarga serta santri Kiai Asy’ari yang melakukan ziarah pada tanggal 7 Syawal, bertepatan dengan tanggal wafat Kiai Asy’ari. Kebiasaan ini terus berjalan dan diikuti masyarakat. Di luar Syawal, peziarah juga berdatangan pada Kamis dan Jumat. Kata Khairon, beberapa peziarah yang datang merupakan santri yang sedang menghafal Alquran atau anak sekolah yang akan ujian. Mereka datang bertawasul dengan tujuan mendapat kelancaran dalam mencari ilmu. “Siapa saja yang sering bertawasul ke wali Allah, insyaallah diijabahi Allah, itu semua tergantung niatnya. Karena semua itu keyakinan, jadi orang yang tidak suka ya itu keyakinanya. Orang yang sering bertawasul fikiran dan hatinya adem, beda dengan yang tidak pernah,” sambung Khairon. Masyarakat percaya bahwa Kiai Asy’ari adalah walliyullah yang memiliki keistimewaan dalam hal keilmuan. Diceritakan bahwa saat mengajar ngaji beliau tidak membawa buku melainkan tuturan kata yang disampaikan secara langsung. Hingga saat ini masyarakat dan santri masih menaruh takdzim pada Kiai Guru.n Zulfiyana Dwi H.

AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

15


Kajian

Taktik, Intrik di Belakang Ustaz Abdul Somad

Wiwid Saktia N.

L

embaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pada akhir tahun lalu merilis, lima ulama yang paling berpengaruh di Indonesia . Mereka yakni Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Arifin Ilham (alm), Ustaz Yusuf Mansur, Ustaz Abdullah GymnasBar (AA Gym), dan Habib Rizieq Shihab. Dalam hitungan prosentase sebanyak 59,3 persen menyatakan UAS adalah ulama yang dikenal. Kemudian yang menyatakan suka terhadap UAS sebanyak 82,5 persen. Lalu, 30,2 persen menyatakan mendengar imbauan UAS. Dari kelimanya, UAS adalah ulama yang paling didengar suaranya. Survei itu sebetulnya tidak begitu mengejutkan. Ketenaran UAS di jagat maya sebagai dai milenial terbukti hinga belum ada yang menyamai. Tercatat di akun instagram jumlah pengikutnya mencapai 9,7 juta. Hal tersebut juga sudah dibaca sejak awal 2016. Berdasarkan penelusuran di Google trend, pencarian kata Kunci Ustaz Abdul Somad, di Malaysia dan Indonesia berturut-turut menjadi negara yang di dalamnya melakukan penelusuran dan berkembang signifikan. Sosok UAS dalam beberapa tahun terakhir memang selalu menyita perhatian publik. Selain ceramahnya yang memukau umat, materi dakwah yang disampaikan kerap kali digunakan beberapa pihak untuk kepentingan tertentu. Sehingga, hal tersebut sering menimbulkan kagaduhan dan pengecapan ideologis terhadap lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir itu. Itu pula sebabnya, kedatangan UAS di sejumlah daerah kerap mendapat penolakan. Penghujung 2017 UAS per-

nah ditolak untuk mengisi ceramah di Bali. Bukan kali itu saja, ia sempat ditolak untuk ceramah di beberapa daerah di Jawa Tengah pada September 2018 lalu, di antaranya Jepara, Kudus, Grobogan dan Semarang. Ketika UAS ditolak kedatangannya di Jepara misalnya, “Aliansi Masyarakat Mayong Cinta NKRI” mengkhawatirkan desanya dijadikan target penyebaran paham Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal itu didasari sebelum kedatangan UAS, mereka menemukan banyak atribut organisasi terlarang itu untuk menyambut kedatangannya, (Dutaislam.com, 29/8/2018).

UAS pendukung khilafah? Pembenaran atau kecurigaan itu dibangun di atas beberapa alasan atau kesimpulan berdasarkan beberapa ceramah Ustaz yang ada di media sosial, termasuk Youtube. Untuk mengetahui lebih jauh tuduhan itu, saya kembali menelusuri sebagian besar ceramah-ceramah UAS, lalu mencoba menghubungkan antara satu ceramah atau pendapat dengan ceramah dan pendapat yang lain. Dari penelusuran itu saya mendapati dua ceramah yang mungkin menimbulkan kecurigaan itu. Atau tepatnya satu ceramah yang memang disampaikan di sebuah hajatan HTI di Riau 6 tahun lalu (diunggah Chanel, Tafaqquh Vidio, 26/5/2013) dan satu lagi jawaban singkat UAS terhadap sebuah pertanyaan tentang arti khilafah dalam sebuah sesi tanya jawab sekitar setahun yang lalu. “Bapak ibu yang dimuliakan Allah, solusi penyelesaian masalah umat ini hanya satu, khilafah,” katanya sebagaimana dikutip dari Chanel Youtube Tafaqquh Vidio. Sebetulnya, ihwal anggapan bahwa UAS merupakan ulama berideologi HTI telah diklarifikasi oleh dirinya sendiri.

Dalam pernyataannya yang diunggah Channel Para Pejalan (7/5/2018), ketika UAS berada di Pesantren Sidogiri Jawa Timur, ia menegaskan bahwa dirinya bukan anggota maupun pengurus dari HTI. Ia sendiri juga menyadari bahwa, ada penggiringan opini publik bahwa pandangannya terkait politik Islam sama sepenuhnya dengan HTI. Hal itu terjadi lantaran, video yang tersebar di media sosial kerap terpotong sebagian, hanya pada bagian yang memperlihatkan kesamaan pandangannya dengan HTI. “Abdul Somad ada titik temu dan ada perpisahan. Nah, titik temunya ini yang diliput (diunggah, red), perpisahannya tidak. Ini tidak fair,” katanya. Dari pernyataan tersebut, artinya sejak awal dakwah UAS memang sudah diboncengi oleh pihak-pihak tertentu, yang bukan dalam komandonya. Sehingga, dirinya sendiri tidak bisa menentukan konten apa saja dan bagaimana yang diunggah d i media sosial. Jika akhirakhir ini ia telah memiliki tim Media sosial sendiri, Dok. Internet itu soal lain. UAS mencoba membuktikan perkataan, bahwa kedekatan dirinya dengan HTI sebetulnya sama dengan kedekatan dirinya dengan ormas keagamaan Islam yang lain, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dsb. November tahun lalu, UAS melakukan kunjungan ke kediaman Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Dilanjut pada, Februari 2019 agenda sowan ke tiga ulama terkemuka NU di Jawa Tengah, yakni Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thariqah alMu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman), Habib Luthfi bin Yahya; pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen); dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah).

Politik Islam dan politisasi UAS Satu hal yang tidak terbantahkan; dalam khazanah peradaban Islam apa yang disebut sebagai politik Islam memang benar adanya. Persoalan selanjutnya yakni pada penerjemahan dan implementasinya. Sebabnya, ulama banyak yang berbeda pandangan terkait perkara itu. Termasuk UAS dan sebagian ulama lain di Indonesia. Ada yang secara tekstualis dan ada yang secara kontekstual dengan mengutaman esensi dari nilai-nilai yang ada dalam Islam. Ketika ditemui di kantornya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Walisongo, Muhyar Fanani menjelaskan, Islam tidak mempunyai rumusan permanen dalam tata cara pengangkatan pemimpin beserta pula tentang bentuk sebuah negara. Sehingga ketika agama dibawa ke ranah politik, agama harus dipahami hingga paling dalam, bukan sebatas pada kulitnya saja. “Nilai agama dibawa ke ranah publik harus dibawa seperti garam, bisa diterima, dirasakan, dan dipahami secara mendalam,” jelasnya, Kamis (02/05). Muhyar menambahkan, dalam politik memperalat adalah suatu hal yang dianggap wajar. Dimanfaatkan dan saling memanfaatkan adalah sebuah kebiasaan. Golongan HTI menganggap dirinya setia dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun pada kenyataannya logical thingking -nya (pemikiran logis) tidak hakiki. Sebab ideologi yang dibangun tidak sesuai dengan Pancasila. Menurutnya dalam dunia politk, UAS bisa mencontoh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Almarhum Gus Dur adalah sosok ulama besar NU yang mempunyai sikap pluralitas tinggi. Dibuktikan dalam rekam jejak hidup Gus Dur, seorang ulama yang juga turun di dunia politik. Gus dur pendiri PKB dan pernah menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia. “Mengerti politik, dan memahami posisi penempatan agama dalam politik merupakan perintah agama,” jelasnya. n

(Amanat/ Iin Endang)

16

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132


Wacana

n KOLOM

Menggugat Ruang Privat Dunia Maya

Kematian? Oleh:

S sia.

Sigit AF.

Oleh: Fika Eliza ebelum sebuah pemikiran dan keyakinan tentang hidup setelah mati datang, kematian adalah narasi paling mengerikan dalam sejarah kehidupan manu-

Tentang kematian, manusia dirundung cemas. Terjadi “kerisauan epistemik” yang terus menerus, terusik hal ihwal, dan orang-orang tak henti menentramkan diri dengan menyederhanakan narasi melawannya. Dalam kerisauan itu, disusun juga sebuah bangunan pemahaman, tentang yang bermula, yang sedang berproses, dan apa yang menjadi ujung. Hasilnnya selalu kepasrahan atas penerimaan yang disebut sebagai takdir. Bahkan, sebagian besar agama menjadikan kematian sebagai sumber utama pemaknaan kehidupan. Memang, itulah yang menjadi daya tarik cerita tentang manusia. Bukan soal matinya, tapi bagaimana ia menyikapi kepastian pada kematian? Pikiran-pikiran terbaik sibuk memberi makna pada hal ini, dan bukan berusaha menghindarinya. Mitos paling kuno yang sampai pada kita tentang cerita manusia melawan kematian adalah dari Raja Gilgamesh dari Uruk (Sumeria Kuno). Pria paling kuat dan paling ulung di seluruh dunia yang bisa mengalahkan siapapun di setiap pertarungannya. Suatu hari, sahabat Gilgamesh, Enkidu, meninggal. Gilgamesh duduk di samping mayatnya dan memperhatikannya selama beberapa hari, sampai dia melihat seekor belatung jatuh dari lubang hidung sahabatnya itu. Saat itu Gilgamesh menggigil ketakutan, dan ia bertekad bahwa ia sendiri tidak akan pernah mati. Syahdan, ia berusaha mencari cara untuk mengalahkan kematian. Gilgamesh memutuskan melakukan sebuah perjalanan ke ujung dunia, membunuh singa-singa, memerangi manusia-manusia kalajengking, dan mencari jalan menuju neraka. Di sana, ia memecahkan raksasa batu Urshanabi’ dan laki-laki perahu di sungai orang-orang mati, dan mendapati Utnapishtim, orang terakhir yang selamat dari banjir primordial (banjir bandang Nabi Nuh). Namun, Gilgamesh gagal dalam pencariannya. Ia tak menemui nerakanya. Ia kembali pulang dengan tangan hampa, sefana biasanya, tetapi dengan sepotong kearifan baru. Ketika para dewa menciptakan manusia, menurut hasil belajar Gilgamesh, mereka menetapkan kematian sebagai akhir tak terelakkan bagi manusia, dan manusia harus belajar untuk hidup dengan itu. Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens (2015) menceritakan dengan apik, mitos Gilgamesh Sumeri Kuno. Mitos tersebut disebutkan Yuval, mengilhami banyak ilmuan di berbagai zaman setelahnya untuk melanjutkan misi yang tak tertuntaskan itu. Kematian hari ini Hari ini, proyek Sains terkemuka adalah memberi manusia kehidupan abadi; mengalahkan kematian. Para ahli Nanoteknologi mulai mengembangkan sistem kekebalan bionik yang tersusun atas jutaan robot nano, yang akan menghuni tubuh-tubuh kita, membuka saluransaluran darah yang terblokade, memerangi virus dan bakteri, mengeliminasi sel-sel kanker, dan bahkan membalikkan proses-proses penuaan. Beberapa ahli yang lebih serius tentang hal ini mengemukakan bahwa pada 2050, sebagian manusia akan menjadi a-mortal (bukan imortal karena mereka tetap masih bisa mati akibat kecelakaan, sedangkan a-mortal berarti bahwa dengan absennya trauma fatal kehidupan mereka bisa diperpanjang tak terbatas). Apakah proyek sains ini akan berhasil? Tentu tidak ada yang tahu. Tapi, mari kita mengandai-andai, bagaimana jika proyek Gilgamesh benar berhasil? Apakah, pemaknaan kita tentang mati akan sama? Menarik menunggu masa depan. Di mana, basis pemaknaan orang beragama akan benar-benar ditantang oleh kreasi dari ilmuwan. Pada titik itu, yang paling saya harapkan terjadi adalah, transaksi atas nama agama akan berakhir. Orang beragama, mulai lebih serius merespon perkembangan teknologi, bukan terus berperang atas nama ideologi mazhab keagamaan.n Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat 2018

P

ada akhir tahun lalu, tirto.id mengeluarkan laporan berjudul, Akun Mahasiswi Cantik dan Pentingnya RUU Perlindungan Data Pribadi. Tulisan itu, sempat menjadi perbincangan khalayak lantaran mampu mengungkapkan besaran penghasilan yang diraup oleh pemilik akun-akun cantik. Akun Instagram @ui_cantik misalnya, dalam satu bulan mampu mengantongi penghasilan Rp15 juta, dengan hanya mengunggah ulang foto milik akun lain. Tulisan serupa juga dikeluarkan oleh kumparan.com. Dalam laporan berjudul, Kantong Tebal Admin Mahasiswi Cantik, membeberkan biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali tayang di akun @ugmcantik sebesar Rp230 ribu. Hal tersebut dipersoalkan lantaran dalam praktiknya kerap kali, admin tidak melakukan persetujuan dengan pemilik foto. Ia hanya main asal comot, lalu mengunggahnya di akun yang sedang ia kelola. Di samping itu, tindak pelecehan seksual juga kerap terjadi lewat foto perempuan yang diunggah ulang itu. Karenanya, banyak pihak menilai penting untuk segera disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi, lantaran aturan yang ada belum bisa mengakomodir permasalah yang semakin berkembang. Dalam Peraturan Menteri Nomor 20/2016 yang mengatur bahwa mengunggah atau mengambil foto atau data orang lain dari perangkat elektronik, haruslah dengan persetujuan pemiliknya. Masalahnya, peraturan menteri tersebut bersifat terbatas. Langkah yang dapat diambil hanya sejauh memberikan sanksi administratif kepada platform yang bersangkutan bukan kepada individu. Praktik pengambilan data pribadi oleh akun-akun cantik, adalah sebagian kecil dari problem jual-beli data pribadi di dunia maya. Pada awal tahun ini, situs jual beli daring, Bukalapak, diserang peretas. The Hacker News menyebut data milik 13 juta

akun yang terdaftar dalam platform tersebut diduga dijual di situs dark web Dream Market. Sedangan di Indonesia belum ada undangundang yang dapat dijadikan landasan menyikapi kejahatan tersebut. Tahun lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga mengultimatum Facebook atas dugaan penyalahgunaan data 1,096 juta pengguna di Indonesia oleh Cambridge

Ilustrasi: Azzam Ashari

Analytica, CubeYou dan Aggregate IQ, (Beritagar.id 28/4/2018). Adakah ruang privat di media sosial? Sebetulnya, sejak dideklarasikan dunia maya, ruang privat di media sosial merupakan retorika semu. Setiap orang dapat dengan mudah mengakses informasi pribadi kita di akun media sosial yang kita gunakan. Informasi tentang asal usul kita, kesenangan, ketakutan, aktivitas keseharaian, lalu sedang berinteraksi tentang apa dan siapa kita di dunia maya. Bahkan, jika belum puas, Google, Facebook, Instagram, dan yang lain bisa menentukan iklan apa yang akan muncul di medsos kita berdasarkan algoritma pencar-

ian yang sering kita tuliskan. Padahal kita tidak pernah memintanya. Lalu, apakah dalam konteks itu, ruang privat di media sosial ada? Dalam konteks ini pula, muncul anggapan, “apapun yang ada di dunia maya menjadi milik umum.” Dimiliki dalam pengertian semua bisa melihat (menikmatinya). Jika ini tidak dipahami terlebih dahulu, pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi akan mentah di tengah masyarakat. Artinya, ada konsekuensi yang tak biasa dari aktivitas kita dalam bermain di dunia maya. Akibat terparah, aturan ini akan menimbulkan chaos, yang sebenarnya bermula dari masalah yang begitu ‘sepele’. Bukan berarti penulis menganggap RUU Perlindungan Data Pribadi tidak penting. Aturan itu tetap harus dibuat. Pematangannya menjadi suatu yang vital untuk merespon permasalahan baru yang semakin berkembang. Namun, perlu menjadi catatan bersama bahwa, janganlah ada persoalan yang sebenarnya bisa kita cegah dengan memperbaiki aktivitas pribadi kita, dari pada melemparkan semua ke ranah hukum. Hanya karena kesalahan perilaku kita lantas menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam kesalahan pribadi. Hal itu dapat dicegah dengan memperbaiki perilaku kita dalam bermedia sosial. Penulis teringat dengan filosofi Jawa, Ajining Diri Ono Ing Lathi, Ajining Rogo Ono Ing Busono (martabat jiwa ada pada lidah, martabat raga ada pada busana). Dalam konteks kini, busana dalam filosofi Jawa, bisa jadi juga bermakna apa yang kita unggah di media sosial. Penegakkan hukum memang begitu penting. Namun hal tersebut harus dibarengi dengan perbaikan laku masyarakat. Menyelesaikan semua pada ranah hukum bukanlah suatu kebijaksanaan. Dunia maya bukan lagi sekadar ruang fantasi, ia telah menjadi bagian dari kenyataan diri seseorang. n *Penulis Mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Kru SKM Amanat 2016

AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

17


Artikel

Mengenang Insiden Berdarah Mei 1998 di IAIN Walisongo Oleh Siti Alfijah, S.Pd.I.

S

elasa, 12 Mei 1998. Hari masih pagi. Matahari belum lagi tinggi. Tapi, aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Walisongo telah bersiap diri. Gelombang massa-aksi segera merapat ke Kampus III yang dijadikan pusat aksi. Orasi telah dimulai. Jiwa muda massaaksi terasa bergolak demi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Reformasi!!! Reformasi!!! Reformasi!!! Massa-aksi merangsek turun menuju jalan raya, hendak menjemput massa-aksi yang berada di Kampus II dan Kampus I lalu lanjut longmarch menuju Gedung Berlian untuk bergabung bersama aktivis Gerakan Mahasiswa dari kampus-kampus yang lainnya. Tidak disangka, aparat keamanan lengkap dengan tameng dan pentungan telah baris berlapislapis di gerbang Kampus Tiga untuk menghadang massa. Entah siapa yang memulainya, faktanya, aksi saling dorong terjadi begitu saja. Pada akhirnya, massa-aksi berhasil tumpah-ruah ke jalan raya setelah berhasil menerobos blokade mereka. Sayangnya, upaya longmarch kembali terhadang oleh blokade kedua. Pimpinan aksi terus berupaya mengendalikan kepemimpinan massa. Aksi saling dorong semakin sengit saja. Tiba-tiba, entah ulah siapa, satu dua butir batu ukuran kecil melayang di udara. Gas air-mata segera ditembakkan untuk membubarkan massa. Pedih terasa. Tameng dan pentungan turut ambil bagian juga. Situasi makin menggila, ketika terdengar teriakan di tengah-tengah massa, “Ada yang terluka. Ada yang tertusuk pisau belati aparat di perutnya!” Seorang mahasiswa Fakultas Tarbiyah yang bernama Achmad Syafruddin tampak terhuyung dan segera ditolong oleh sesamanya. Darah segar keluar dari perut sebelah kirinya. Sementara, lima orang aktivis mahasiswa lainnya, terkena pentungan dan terluka di bagian kepala. Sejurus setelahnya, massa-aksi berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri menuju ke Kampus III dan ke perkampungan warga. Sebagian massa yang semula tetap bertahan melanjutkan aksi di jalan raya, tak urung membubarkan diri juga. Sore harinya, sebagian kecil massa-aksi yang masih berada di Kampus Tiga, turun kembali ke jalan raya, membakar ban-ban bekas sumbangan warga, kemudian berjalan kaki hendak pulang ke kediamannya. Sempat terjadi aksi saling hina dengan sebagian aparat keamanan yang ternyata masih siaga berjaga, namun aksi tersebut tidak berlanjut dan segera mereda. Dari seluruh aksi reformasi yang berlangsung di Kota Semarang sepanjang tahun 1998, Insiden Berdarah IAIN Walisongo itulah yang tercatat sebagai satu-satuya peristiwa yang paling heroik, sehingga sehari setelahnya, Koran Suara Merdeka menurunkan berita di halaman utama dengan judul, “Hujan Batu di IAIN, 6 Luka Parah”. Karenanya, tidak berlebihan kiranya, jika sebagian aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Semarang beranggapan bahwa siapapun dia, yang pernah tercatat sebagai mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, sudah selayaknya menyim-

18

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

Dok. Internet

pan rasa bangga terhadap almamater dan kampusnya. Pasalnya, dalam peta sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia, IAIN Walisongo tercatat sebagai salah satu Kampus Reformasi 1998 yang mempunyai andil besar dalam menumbangkan kediktatoran Rezim Jenderal Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Gerakan reformasi di Semarang Aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Walisongo tidak pernah ketinggalan untuk ambil bagian, dan bahkan menjadi salah satu pelopor perjuangan, di mana pada medio awal bulan Februari 1998, sekitar 150 mahasiswa dari Undip, IAIN Walisongo dan IKIP Semarang melakukan aksi keprihatinan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Gedung Berlian). Sebagaimana diberitakan oleh Harian Suara Merdeka edisi Minggu 15 Februari 1998, halaman 2, setelah terjadi upaya negosiasi, maka 50 orang delegasi mahasiswa diterima oleh anggota dewan di Ruang Serbaguna lantai I. Sekadar catatan, Gerakan Reformasi yang digulirkan oleh aktivis mahasiswa di Semarang terhitung agak terlambat jika dibandingkan dengan gerakan serupa yang telah terjadi di berbagai kampus di kota-kota lain, terutama Yogyakarta dan Jakarta. Pasalnya, pada waktu itu, kalender akademik kampus-kampus di Semarang bertepatan dengan liburan semester, sehingga mayoritas mahasiswa sedang menghabiskan masa liburan di kampung halamannya. Dengan demikian, koordinasi dan konsolidasi untuk merespon krisis ekonomi serta isu nasional lainnya, terlambat dilakukan. Selanjutnya, Gerakan Reformasi di Semarang semakin bergeliat, ketika memasuki bulan Maret 1998, diawali dengan aksi unjuk rasa dan aksi mogok makan oleh mahasiswa IAIN

Walisongo. Massa-aksi menunjukkan rasa keprihatinan atas lonjakan harga-harga kebutuhan pokok sebagai akibat dari krisis moneter. Massa-aksi membentangkan poster bertuliskan, “Jangan Gantung Nasib Rakyat Demi Ambisi dan Gengsi”. Terkait hal ini, Harian Suara Merdeka edisi Rabu 4 Maret 1998, halaman 2, menurunkan berita berjudul “Mahasiswa IAIN Gelar Aksi”. Setelahnya, giliran mahasiswa Fakultas Sastra Undip menggelar aksi keprihatinan, dilanjutkan dengan aksi serupa dari aktivis Gerakan Mahasiswa dari berbagai kampus yang berada di Semarang. Gerakan Reformasi semakin bergulir kencang memasuki bulan April 1998. Tuntutannya tidak lagi sekadar penurunan harga-harga kebutuhan pokok, namun telah merambah di bidang politik yaitu reformasi kepemimpinan nasional. Perlu diketahui, saat itu, aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang tidak hanya menggulirkan isu nasional seperti krisis ekonomi dan reformasi politik saja, tetapi juga menyentuh isu lokal yang sedang menghangat di kalangan masyarakat yaitu pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang tidak terjebak dalam pengelolaan isu nasional saja, tetapi juga mempunyai kekayaan wacana yang unik, yang jarang dimiliki oleh aktivis Gerakan Mahasiswa di kampus-kampus di kota lainnya. Isu lokal ini berkembang cukup dinamis di kalangan aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang karena Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah, sehingga pengelolaan isu pilkada Gubernur menjadi lebih efektif untuk menjaga soliditas di kalangan massa-aksi. Memasuki bulan Mei 1998, eskalasi perpolitikan nasional dan daerah semakin memanas. Gerakan Reformasi tidak terbendung lagi. Tuntutan ad-

anya reformasi total di segala bidang, semakin santer terdengar. Aktivis Gerakan Mahasiswa semakin meningkatkan intensitas aksi massanya. Tentu saja, eskalasi di Semarang turut memanas. Aksi massa terjadi di mana-mana. Ribuan aktivis Gerakan Mahasiswa dari semua kampus, turun ke jalan raya. Aksi Reformasi terus berlangsung hingga Jenderal Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, pada tanggal 21 Mei 1998, di Istana Negara Jakarta. Agenda reformasi 1998 gagal dilaksanakan Apa yang sesungguhnya menjadi tuntutan Gerakan Reformasi 1998? Pertama, adili Jenderal Soeharto dan kroni-kroninya. Kedua, laksanakan amendemen UUD 1945. Ketiga, hapuskan Dwifungsi ABRI. Keempat, laksanakan otonomi daerah yang seluasluasnya. Kelima, tegakkan supremasi hukum. Keenam, ciptakan pemerintahan yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah agenda tersebut telah terlaksana setelah 21 tahun bergulirnya Gerakan Reformasi 1998? Mari kita telaah satu demi satu. Pertama, pihak yang berwenang di Indonesia tidak berhasil mengadili Jenderal Soeharto hingga tuntas, hingga yang bersangkutan menjemput ajalnya. Sementara itu, para pelaku lainnya, masih menikmati impunitas hingga kini. Kedua, tindakan amandemen terhadap UUD 1945 memang sudah dilakukan, namun masih belum berhasil menjamin pelaksanaan reformasi di berbagai bidang. Bahkan, belakangan justru muncul gerakan untuk kembali ke UUD 1945 yang asli. Ketiga, Dwifungsi ABRI telah dihapuskan, namun faktanya, kalangan militer justru mendapatkan kesempatan yang semakin luas untuk berkiprah di segala bidang. Keempat, pelaksanaan otonomi daerah sejauh ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda keberhasilannya. Semangat otonomi daerah belum berdampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di masing-masing daerah. Tentu saja, ada beberapa daerah yang tergolong cukup berhasil seiring dengan proses desentralisasi, namun, tak sedikit daerah yang mengalami persoalan serius. Kelima, belum ada perkembangan yang berarti dalam penegakan hukum di era reformasi. Pelanggaran HAM masa lalu, belum diselesaikan sampai sekarang, sementara potensi pelanggaran HAM dan lemahnya penegakan hukum justru semakin meningkat. Keenam, ditangkapnya berbagai pelaku tindak pidana Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) menunjukkan bahwa upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN bukanlah perkara yang mudah. Namun demikian, sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh putus asa untuk terus berusaha. Merdeka !!!n

*Siti Alfijah, S.Pd.I. A k t i v i s S y a r i k a t ’ 9 8 Ja w a Te n g a h , A k t i v i s F r o n t P e rjuangan Pemuda Indonesia [FPPI]


Humaniora Ciptakan Lingkungan

Lokalisasi Ramah

(Amanat/Naili)

Lingkungan tentunya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Apalagi anak-anak yang hidup di kawasan lokalisasi. Itu pula yang mendasari lahirnya Komunitas Gambilangu Ceria di sebuah lokalisasi di ujung Barat Kota Semarang.

S

uasana hawa siang itu begitu hangat, riuh canda gurau dari belasan anak-anak terlihat menyenangkan. Di sebuah ruang aula milik desa, anak- anak itu secara kompak menyanyakian lagu Kotak Pos. Sesekali tingkah manja mereka terlihat, wajah- wajah polos yang mencari perhatian dari kakak pengajar. Namun bagaimana respon Anda, setelah mengetahui anak-anak itu hidup dan besar di lingkungan lokalisasi di ujung barat perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Mereka lahir dan besar di kawasan Lokalisasi Gambilangu. Sebuah pemukiman warga di Dukuh Melaten, Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang tiap malamnya dijadikan tempat karaoke. Masyarakat Semarang dan Kendal, mengenal kawasan itu sebagai tempat mengais laba para Pekerja Seks Komersial (PSK). Meski demikian, anak-anak di Lokalisasi Gambilangu memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Tiap Selasa siang mereka berkumpul dan belajar bersama kakak-kakak dari Komunitas Gambilangu Ceria (KGC). Kehadiran KGC sendiri, berhasil memberikan ruang bagi anak- anak untuk

mendapatakan pendidikan. Kegiatan KGC sendiri bernama Pojok Literasi dan Pendidikan. Mereka belajar bersama anak- anak dengan metode yang cenderung dibebaskan atau sembari bermain. Selama dua jam anak-anak Gambilangu belajar, setelahnya dilanjut dengan Taman Pendidikan Alquran (TPQ). Adapun KGC digagas oleh Megah Safitri (27) dan Nur Hasyim (45), dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN Walisongo Semarang. Hasyim mengatakan, berdirinya KGC berawal dari pengamatan kondisi lingkungan di Lokalisasi Gambilangu. Sebelumnya, Megah dan Hasyim melakukan penelitian Participatory Action Research (PAR) sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi masyarakat. “Mulanya kami melakukan pendekatan dan bekerjasama dahulu dengan para stakeholder di Gambilangu, seperti Resos Semarang. Supaya kami juga tahu mengenai permasalahan yang sedang di hadapi masyarakat,” kata Hasyim. Semasa penelitian, Megah dan Hasyim sering mengadakan diskusi dan sharing bersama warga Gambilan-

Para Relawan sedang berinteraksi dengan anak didiknya, Sabtu (11/05).

gu. Kegiatan berupa pojok literasi dan pendidikan pun beberapa kali dilakukan. Dari situlah, lahir sebuah hubungan emosional dengan masyarakat. Kemudian keduanya sepakat untuk membentuk komunitas. “Tepatnya tahun 2017 kami bentuk KGC. Lalu kami rekrut anggota dari mahasiswa Prodi Sosiologi UIN Walisongo,” ujarnya. Watak anak terpengaruh Megah mengaku prihatin dengan nasib anak-anak di lokalisasi Gambilangu yang kurang terurus. Padahal lokalisasi Gambilangu sudah ada sejak 1970, artinya berusia 49 tahun. Namun tidak ada pengawasan dan pendidikan orang tua kepada anaknya. Ia mencontohkan, aktivitas anak menjadi tak terkendali. Siang hari setelah pulang sekolah, kebanyakan anak-anak lanjut bermain playstation (PS). “Yang terjadi, orang tua hanya memberikan uang saku dan mengizinkan anaknya bermain tanpa pengawasan,” katanya. Dari pengamatan Megah, anakanak di lokalisasi Gambilangu kebanyakan memiliki karakter keras kepala. Ada juga anak-anak yang meniru perilaku di desanya masing-masing. Menurut Megah ada satu orang bernama Hamid, penderita down syndrom atau autis yang pendiam dan tidak percaya diri. Penyakitnya itu pula yang menjadikan Hamid kesulitan dalam berbicara. Megah mengatakan, pihaknya sudah membujuk Hamid bergabung. Alhasil, Hamid pun mampu untuk berbicara. “Kami mengetahui Hamid menderita down syndrom, berawal saat berlangsungnya kegiatan. Saat itu Hamid diam dan menangis di pojokan, ketika kami berupaya mengajak ia untuk ber gabung bernyanyi,” ujar dosen antropologi tersebut. Berbeda dengan pendapat Ketua Resos Gambilangu Kasmadi, menurutnya karakter anak-anak di Lokalisasi Gambilangu masih sama dengan anak pada umumnya. Mereka mem-

puntai kecenderungan untuk bermain. Namun ia menyadari, beberapa anak memang ada yang terpengaruh dengan lingkungan. “Saya sendiri melihat anak-anak disini ya lumrah. Adapun terdapat anak yang nakal atau tidak itu tergantung pribadi masing-masing,” tutur Kasmadi. Mendapat hak sama Anak tetaplah anak-anak. Mereka lahir dengan jiwa yang bersih dan tidak menanggung beban maupun dosa orang tuanya. Itu yang semestinya orang-orang ketahui, anak-anak di kawasan Lokalisasi Gambilangu juga memiliki hak sama, hak tumbuh dan mendapat pendidikan. Hal itu yang selama ini mendorong Nur Khabibah (21) untuk bergabung di KGC. Bibah yang merupakan mahasisiwa Prodi Sosiologi UIN Walisongo semeseter enam mengatakan, anakanak di Lokalisasi Gambilangu mempunyai hak sama untuk belajar dan bermain di masa perkembangannya. Menurutnya, perlu ada upaya sehingga anak-anak di Gambilangu tidak terpengaruh dengan lingkungan. “Kami ingin menciptakan tempat belajar dan bermain sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Bibah kini menjabat Ketua KGC. Listyowati (40), seorang warga sekaligus ibu kandung Hamid mengaku senang dengan ruang belajar yang disediakan KGC. Ia senang, kegiatan KGC bisa menjadi wadah anaknya dalam belajar. Tiap Selasa siang, Wati selalu mengajak anaknya untuk ikut dalam pembelajaran. Sebagai warga yang juga hidup di kawasan lokalisasi, Wati berharap KGC akan tetap ada dan berjalan di Gambilangu. Ia pun menginginkan, supaya waktu pertemuan di KGC ditambah. “Warga di sini senang adanya kegiatan belajar. Namun terkadang anakanak kecewa misal di hari rutinan tapi tidak ada anggota KGC, yang datang,” katanya.n Naili Istiqomah AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

19


RESENSI

Topeng dalam Keluarga

Judul Film : Hoax Sutradara : Ifa Ifansyah Penulis naskah : Ifa Ifansyah Produksi : Indy Pictures, Fourcolours Film Durasi : 100 Menit Produser : HB Naveen Genre : Drama Resentator : Khanif Maghfiroh

Layar Tangkap: Teaser Film garapan Ifa Ifansyah yang rilis pada 1 Februari 2018 lalu.

P

otret keluarga kecil sedang menikmati menu buka puasa terlihat hangat, senda gurau antara Bapak, Raga, Ragil, Adik dan Sukma memenuhi seisi ruangan. Namun satu yang kurang di sana, kehadiran sosok Ibu. Kisah keluarga yang tak utuh berusaha harmonis digambarkan dari tokoh Bapak (Landung Simatupang) dan Ibu (Jajang C. Noer) bersama ketiga anak mereka, Raga (Tora Sudiro), Ragil (Vino G Bastian), dan Adek (Tara Basro). Ifa Isfansyah sebagai penulis naskah dan sutradara menyajikan banyak tanda tanya bagi penonton. Sebab, kisah hidup berbeda-beda yang dialami tiga tokoh sedarah ini dikemas menjadi kesatuan cerita dari potongan-potongan scene tragedi masingmasing. Untuk itu, penonton harus jeli menghubungkan setiap cerita.

Durasi waktu yang singkat tak menghalangi alur cerita untuk segera memberitahu penonton mengenai rahasia-rahasia tersembunyi yang mencengangkan dari tiga bersaudara ini. Penonton diajak menerka-nerka pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan film Hoax. Ide cerita sederhana dibalut dengan cerita yang begitu kompleks. Ketiga tokoh utama dalam film ini adalah anak broken home. Akibatnya pelbagai tindakan menyimpang menjadi kebiasaan mereka. Anehnya dari ketiga saudara ini menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui satu sama lain. Untuk itu, lagi-lagi penonton harus berpikir keras tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam keluarga bahagia ini. Pada akhir film, kakak-beradik ini duduk di meja makan dengan topeng-nya masing-masing. Seolah setiap sajian yang

mereka nikmati enak-enak saja. Pesan serupa juga terlihat dari poster rilis film, menampilkan foto keluarga dengan mimik senyum bahagia, namun diedit menjadi gambar kusam sehingga, tercipta kesan suasana sunyi. Penggunaan kata hoax sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi tahun ini merupakan tahun politik. Makna hoax erat kaitannya dengan penyebaran berita bohong dan isu-isu politik. Berbeda dengan hoax yang ditampilkan dalam film ini. Film Hoax adalah film yang berhasil menyajikan masalah pelik dalam sebuah keluarga. Kondisi anak-anak yang tidak jujur dengan problematik pribadi, meskipun di hadapan orang terdekatnya yakni, keluarga mereka sendiri. Sisi lain jalan cerita dari film ini adalah penggambaran suasana horor yang dipadukan dengan mitologi jawa yang telah melekat di masyarakat. Semua itu mampu memaksa bulu kudu penonton berdiri. Diceritakan bahwa keluarga Raga masih menaruh kepercayaan kejawen. Khususnya pada latar waktu yang dipilih adalah malam hari bertepatan dengan weton Ibu. Berikutnya Adik kebingungan karena didatangi sosok makhluk halus yang menjelma sebagai Ibu. Film Hoax tidak fokus menceritakan satu tokoh. Akibatnya scene yang disajikan secara bergantian dari satu tokoh ke tokoh lain justru memutus suasana yang telah dibangun sutradara. Misalnya, pada adegan dewasa Raga dan Sukma ketika di mobil, tiba-tiba pindah scene di mana Ragil dan Bapak memperbaiki genting bocor. Tokoh Ragil cukup menyita perhatian. Digambarkan sebagai anak laki-laki yang berbakti kepada Bapak. Selain itu, tingkah laku dan busana yang dikenakan Ragil mencerminkan sosok laki-laki yang taat

agama. Selama ini, Bapak juga mengenal Ragil tidak pernah dekat dengan seorang perempuan mana pun. Hingga Bapak memancing pertanyaan “Kapan Ragil akan mengenalkan kekasihnya”. Di sinilah tersimpan kejutan besar bagi penonton. Malam yang sama ketika larut dan Bapak tertidur, diam-diam Ragil membukakan pintu untuk sosok lelaki misterius yang menjadi kekasihnya. Tentu saja penonton dibuat geleng kepala dengan peran tokoh alim, yang ternyata suka sesama jenis. Jika menilik realita kehidupan saat ini, entah berapa banyak orang yang bertopeng. Mulai dari topeng di dalam keluarga, hingga maraknya tokoh-tokoh publik yang menggunakan topeng di depan masyarakat. Seperti kata pepatah yang sering kita dengar, “jangan hanya menilai buku dari sampulnya saja”. Tidak menampik kenyataan bahwa, untuk menilai seseorang biasanya fokus utama kita hanya penampilan luar saja. Mungkin inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan film Hoax, melihat apa yang terjadi dengan tokoh Ragil dan saudara-saudaranya. Demi menutup perhatian yang tidak diharapkan, barangkali seseorang berpurapura menjadi orang lain. Jangan-jangan tingkah laku orang yang kita kenal selama ini juga sebatas citra yang ia bangun sedemikian rupa. Anggapan kenal dekat belum tentu mengenal aslinya. Sutradara sukses menyampaikan tafsir hoax yang berbeda lewat film ini. Hoax yang identik dengan berita palsu diubah menjadi gambaran realitas sosial yang begitu dekat dengan kita. Hal ini terkait kebohongan-kebohongan nyata di sekitar kita, bukan hanya di media saja.n

Prawoto dan Puing-Puing Kesultanan Demak

S

ecercah cahaya hadir di tengah-tengah kebuntuan peneliti dalam usaha menemukan pusat kerajaan Demak. Cahaya itu bernama Prawoto. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, diyakini pernah berdiri sebuah istana dengan nama Prawoto. Alih-alih mencari pusat Kerajaan Demak di luar wilayah kota wali itu. Para peneliti dan sejarawan lebih fokus mencari sisa-sisa pusat kerajaan di sekitar Masjid Agung Demak saja. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa letak bangunan keraton saling berdekatan antara alun-alun, masjid, dan juga pasar. Mereka lupa, kira-kira berjarak 25 kilometer sebelah timur dari pusat Kota Demak terdapat Desa Prawoto yang konon menyimpan banyak cerita dan bukti sejarah yang berhubungan erat dengan Kesultanan Demak Bintoro (1475-1554). Keistimewaan Prawoto tidak berhenti disitu saja, pada masa pra-pasca kemerdekaan Indonesia, Prawoto juga menjadi tempat pergerakan bagi orang-orang pribumi untuk melawan penindasan kaum kolonial. Hal ini berlangung hingga pada masa-masa awal kemerdekaan. Namun sayang, serangkaian peristiwa itu luput dari catatan sejarah bangsa Indonesia. Dalam Babad Tanah Djawi, Prawoto dijelaskan sebagai kawasan pegunungan yang dipilih oleh para raja Kesultanan Demak Bintoro untuk membangun istana dan hunian. Sang sultan (raja) juga menggunakan kawasan Prawoto dalam menjalankan roda pemerintahan (ngedaton) terutama saat musim hujan. Tidak hanya dalam Babad Tanah Djawi, dalam Serat Centhini juga mencatat adanya seorang penguasa berna-

20

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

ma Narpati yang memerintah Prawoto pada tahun 674 M. Membuka kembali catatan sejarah, tidak berlebihan jika kawasan Prawoto dikatakan sebagai wilayah yang penting pada masanya. Dugaan-dugaan baru pusat Kerajaan Demak pun mulai muncul seiring ditemukannya bukti-bukti sejarah kawasan Prawoto, baik yang bersifat fisik maupun kronik. Terlalu dini memang, untuk menyimpulkan pusat Kerajaan Demak yang belum ditemukan ada di Prawoto. Namun, bukti-bukti itu juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebelum dilakukan penelitian tentang kawasan Prawoto, informasi keberadaan Istana Prawoto sekadar dongeng warga yang diwariskan turun temurun. Rupanya kisah itu tidak sekadar dongeng belaka. Dalam bab delapan dan sembilan buku ini, pembaca akan disajikan bukti-bukti sejarah mengenai Prawoto. Adanya cerita sejarah yang menyebutkan bahwa, jika Pangeran Hadiwijaya mampu menghentikan Arya Penangsang, maka akan dihadiahi Kerajaan Prawoto oleh Ratu Kalinyamat tentu membuat publik berpikir ulang “Kerajaan Prawoto yang mana?” Berdasarkan pendapat De Graaf, Ali Romdhoni menyimpulkan tiga hal, pertama; Graaf memandang Kerajaan Prawoto adalah Kerajaan Demak juga. Kedua, Kerajaan Demak sejak Sultan Trenggono meninggal telah diidentifikasi sebagai Kerajaan Prawoto, Hal ini cukup beralasan karena setelah Sultan Trenggono wafat, yang menggantikan adalah putranya sendiri, Prawoto. Ketiga, pusat pemerintahan Kerajaan Demak terdapat di beberapa titik; di sekitar Masjid Agung Demak yang sekarang, di Desa Prawoto (Pati), dan di Kalinyamat (Jepara). Tidak hanya berupa kronik sejarah,

Judul : Istana Prawoto Pengarang: Ali Romdhoni Penerbit: Pustaka Compass Terbit: November 2018 Tebal: 126 + xx Resentator: Yuni Nur Hidayati

adanya bukti fisik seperti Geruda (tempat pemandian yang dihuni oleh kurakura keramat atau bulus) menandakan bahwa tidak jauh dari lokasi itu berdiri pusat kekuasaan. Selain itu, adanya reruntuhan tembok melingkar di daerah Prawoto juga menandakan bahwa di wilayah itu, pernah berdiri pusat pemerintahan (istana). Menurut Graaf, kondisi puing yang demikian, tidak mungkin menggambarkan pemondokan seorang pertapa saja. Fakta-fakta tentang kawasan Prawoto hadir bak oase di tengah sahara. Jika di sekitar Masjid Agung Demak peneliti kesulitan menemui bukti fisik, namun di Prawoto bukti fisik itu ada. Tentu, hal ini menjadi semacam pergulatan pikiran. Apakah mungkin pusat Kerajaan Demak tidak berada di jantung Kota Wali? Mengingat masih simpang siurnya pusat Kerajaan Demak, tidak salah jika pembaca menuai dugaan-dugaan setelah membaca buku ini. Sebab, buku yang ditulis Ali Romdhoni juga tidak menjawab letak pusat kerajaan yang masih samar.

Wakil Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Tiongkok itu, memaparkan banyak bukti-bukti sejarah. Namun, tidak menyimpulkan secara ekplisit bahwa Prawoto merupakan pusat kerajaan Demak. Hal ini tentu membuat pembaca gigit jari. Terlepas dari semua itu, penyajian fakta-fakta baru tentang Istana Prawoto dalam buku ini, kiranya menjadi angin segar bagi peneliti, arkeolog, sejarawan, maupun kita semua yang sementara ini percaya dan menduga bahwa, pusat kerajaan terletak di Kota Demak. Sangat memprihatinkan ketika peristiwa sejarah semacam itu hanya tersimpan dalam cerita lokal masyarakat dan tidak ada upaya untuk digali lagi. Karena filsuf Perancis Maurice Halbwachs pernah mengatakan bahwa setiap peristiwa itu penting. Ia menentukan identitas bangsa, jika ada peristiwa yang dilupakan maka ada bagian yang hilang dari identitas bangsa itu Yang penting adalah jangan berhenti bertanya. Kira-kira demikianlah Albert Einstein mengingatkan kita.n .


MIMBAR

REFLEKSI 49 TAHUN UIN WALISONGO

Meneguhkan Kembali Agama dan Budaya

P Oleh: Muhyar Fanani

“

Seluruh mahasiswa UIN Walisongo tidak boleh hanya terjebak pada kulit agama. Mereka harus mampu menangkap substansi agama. Itulah makanya di UIN Walisongo

ada tanggal 6 April 2019, UIN Walisongo merayakan hari kelahirannya yang ke-49. Berbagai kegiatan telah dilakukan termasuk pemberian gelar Doktor HC kepada KH. Husein Muhammad yang menjadi simbol dukungan UIN Walisongo kepada para pejuang gender. Hal yang menurut saya unik dalam Dies tahun ini adalah adanya acara Malam Budaya dan Launching Buku Kiai Saridin. Bagi saya, Malam Budaya itu mengingatkan saya pada acara serupa di Balairung UGM tahun 1994. Mengapa? Selain desain acaranya yang mirip juga tampilnya Gus Mus pada dua acara berbeda waktu 25 tahun itu. Malam Budaya di Balairung UGM itu, merupakan saat pertama kali saya mengenal Gus Mus dan puisi-puisinya. Sebelumnya, saya hanya mengenal sastrawan santri yang bernama D. Zawawi Imron, Sang Celurit Emas dari Madura yang saya lihat penampilannya pada tahun 1992 di Jember. Penampilan dua pendekar puisi dari kalangan santri ini sangat memukau dan penuh petuah. Saat itu, saya hanya bisa bertanya. Bagaimana dua tokoh itu bisa menyusun kata dan mengukir makna dengan begitu indah? Sayangnya D. Zawawi Imron tidak tampil di Malam Budaya UIN Walisongo itu. Namun demikian, Malam Budaya itu tetap memberikan kesan mendalam bagi saya. Gus Mus masih tampil dengan gayanya yang khas tapi tetap penuh petuah. Agama dan kebudayaan Kegiatan Malam Budaya itu perlu dilakukan dalam setiap Dies oleh UIN Walisongo. Mengapa? UIN Walisongo memiliki misi peradaban dan kemanusiaan. Kebudayaan merupakan bagian tak terpisahkan dari misi itu. Dalam mengemban misinya untuk membangun SDM agar berguna bagi peradaban dan kemanusiaan, tidak mungkin UIN Walisongo menjauhi kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil cipta, karya, dan karsa manusia. Manusia akan mampu mengenali dirinya jika dia berada di tengah kebudayaannya. Manusia yang tercerabut dari akar budayanya, maka dia akan teralienasi. Dia tidak akan mampu mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. Jika Anda dilahirkan di tengah hutan, pastilah butuh waktu puluhan tahun bagi Anda untuk mengenali diri Anda. Mengapa? Anda tidak akan merasakan betapa beruntungnya Anda diajari bahasa. Anda tidak akan tahu betapa enaknya masakan ibu Anda. Anda juga tidak akan menikmati baju baru pembelian ibu atau ayah Anda. Itulah puncak kemalangan kebudayaan. Mengapa? Karena bahasa, kuliner, dan pakaian merupakan produk kebudayaan. Ketiganya telah membantu Anda dalam mengidentifikasi siapakah Anda sesungguhnya. Itulah makanya, para Walisongo dulu saat menyebarkan Islam tidak mau menjadikan orang Jawa kehilangan jati dirinya. Mereka dibiarkan menjadi Jawa, bertutur kata dengan Bahasa Jawa, makan dengan makanan Jawa, dan berpakaian dengan pakaian Jawa. Hanya saja, dengan kejawaannya itu mereka dibimbing untuk menjadi manusia lebih mulia

karena dalam hatinya tertanam ajaran iman dan Taqwa. Ajaran Islam setelah masuk dalam hati dan pikiran orang Jawa kemudian memengaruhi tutur kata, perbuatan, dan kebudayaan orang Jawa. Itulah makanya muncul kopyah hitam untuk kesempurnaan shalat dan aneka macam sarung dan jilbab untuk menutup aurat. Kopyah, sarung, jilbab jelas merupakan produk budaya. Makanan apem dan bubur merah putih juga demikian. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan kebudayaan. Jika kita abai, maka kita akan kehilangan sesuatu yang besar yang telah dihasilkan oleh para pendahulu selama ratusan tahun. Selain itu, jangan pula mempertentangkan antara budaya dan agama. Budaya tanpa agama akan tuna etika. Agama tanpa budaya akan menghasilkan huru-hara. Agama bisa diwadahi secara sukasuka. Ajaran luhur agama begitu mudahnya diwadahi dengan wadah yang bernama kepentingan. Kepentingan itu kemudian dikonkretkan dengan berbagai ujaran, perbuatan, dan kegiatan baik individu maupun aksi massa. Jika kita tidak memelihara daya kritis kita, kita bisa terjebak untuk ikut berdebat. Padahal perdebatan seputar itu, bukanlah perdebatan agama. Itu perdebatan kulit agama. Dengan kata lain, perdebatan terkait itu bukan perdebatan soal susu, tapi wadah dari susu. Dua kubu yang berseberangan adalah kubu yang sama-sama beragama. Ibaratnya, kedua kubu itu, samasama penggemar susu. Jika sama-sama penggemar susu, mengapa kedua belah pihak bertengkar hanya soal wadah? Kalau saya, apapun wadah yang diberikan pada saya tidak masalah selama saya kebagian susunya. Seluruh mahasiswa UIN Walisongo tidak boleh hanya terjebak pada kulit agama. Mereka harus mampu menangkap substansi agama. Menatap masa d epan Dalam usianya yang ke-49, UIN Walisongo telah memiliki arah yang jelas dalam menatap masa depannya. Selama empat tahun terakhir, kampus ini telah melakukan konversi dari IAIN ke UIN dengan cukup baik. Memang, kendala di sana-sini masih kita jumpai seperti keterbatasan fasilitas dan SDM. Akan tetapi, konversi itu merupakan perubahan yang harus kita apresiasi. Konversi itu memberikan mandat yang lebih besar pada UIN Walisongo untuk membentuk anak bangsa yang memiliki kedalaman ilmu dengan perspektif yang non dikotomis dan memiliki kepribadian yang saleh. Jika mereka menekuni ilmu kimia, maka mereka harus memiliki kompetensi prodi kimia sama dengan alumni PT lain, tapi dia masih memiliki dua kelebihan yakni perspektif yang integratif (ajaran wahyu menjiwai ilmu) dan karakter yang shaleh. Jika mereka menekuni ilmu politik juga demikian. Ia harus kompeten, berwawasan integrativeinkusif, dan berkarakter shaleh. Apa itu shaleh? Menurut al-Jurjani, ash-shulhu huwa al-khalishu min kulli fasad. Shaleh adalah suatu keadaan dimana tak ada kerusakan apapun pada manu-

sia itu baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Dengan bahasa sederhana, shaleh adalah kesamaan antara sesuatu yang ideal dengan yang riil pada diri manusia. Tanpa dua kelebihan alumninya itu, maka konversi IAIN menjadi UIN akan menuai kehampaan. Mengapa? Karena apa yang ditawarkan UIN itu sudah dijalankan oleh PT lain di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2038, arah UIN Walisongo sudah sangat jelas sebagaimana terlihat dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) UIN Walisongo. Tabel berikut memberikan arahan UIN Walisongo setiap 4 tahun. Tantangan ke depan tentu sangat besar namun dibalik tantangan pasti ada peluang. UIN Walisongo akan berkembang sebagaimana universitas riset ternama di dunia seperti Harvard University, Princeton University, dan University of Virginia. Syaratnya, seluruh program harus dijalankan secara konsisten dan didukung oleh seluruh pemangku kepentingan. Dukungan harus hakiki bukan dukungan retoris apalagi hanya diplomatis. Mengapa? Membangun institusi kelas dunia membutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh civitas akademik. Komitmen yang kuat itu harus terwujud dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan setiap warga UIN Walisongo. Dengan kata lain, komitmen yang kuat untuk membuat UIN Walisongo setara dengan universitas riset kelas dunia, harus terlihat dalam budaya kerja seluruh warga. Mereka perlu mempraktikkan budaya kerja kelas dunia pula. Membentuk budaya kerja inilah yang membutuhkan waktu lama. Itulah makanya, universitas riset yang bagus selalu berumur di atas 200 tahun. Bahkan Harvard yang kini memiliki 29 ribuan mahasiswa telah berdiri sejak 1636. Oleh karena itu, UIN Walisongo perlu membangun perencanaan yang matang untuk 100 hingga 200 tahun ke depan. Sebuah universitas riset bukan hanya memfokuskan diri untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran semata tetapi harus lebih memperkuat diri dalam menciptakan pengetahuan baru melalui riset. Sejauh ini, universitas riset di dunia selalu memberi perhatian khusus pada tiga hal: (1). Ia memiliki lembaga riset yang kuat. (2). Ia memberi kesempatan luas bagi mahasiswa S1 dalam kegiatan-kegiatan riset secara langsung. (3). Ia menerima dana riset dari luar universitas (https://www.bestcollegereviews.org/ top-research-universities/). UIN Walisongo perlu memperkuat tiga hal itu. Hingga tahun 2019, kehadiran UIN Walisongo sangat diterima masyarakat. Salah satu indikatornya adalah tingginya minat masuk ke UIN Walisongo. Dalam empat tahun terakhir, minat itu berkembang hampir 3 kali lipat. Marilah kita syukuri capaian itu. Semoga perkembangan positif ini terus berjalan konsisten. Memang, tak ada gading yang tak retak. Kekurangan pasti ada. Namun bukankah itu tanggung jawab kita bersama untuk memperbaikinya? n Muhyar Fanani, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang . AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

21


CERITA PENDEK Perihal Rasa yang Belum Tuntas Oleh: Mohammad Azzam Ashari

S

antho menyengir ketika Ma’el datang menjemputnya, diikuti suara pintu berdebam tertutup. Tak terlihat keramahan dalam percakapan mereka, dingin membunuh keheningan. Lihatlah, hewan-hewan menjijikan yang hinggap di pasak, atau terperangkap di dinding menyaksikannya. Ruangan tak sanggup berdebar, bisu dalam cengkraman senyum sinis penuh samar. Lantai putih yang mereka pijak, kukuh menopang sikap dingin. “Akhirnya kau datangjuga .” “Ada perlu apa, Tho?” “Ada pekerjaan penting, jangan cengar-cengir kau, El.” “Sepenting merampok dompet kosong?.” “Hahaha” Baru saja Santho tertawa, kaki mereka bergetar. Ada getaran dari lantai putih yang mereka pijak, merambat ke segala sisi ruangan. Rumah 7x10 tersebut tak lagi mampu berdiri dengan kokoh. Tumbang. Atap yang tersusun oleh ratusan genting, kompak memperberat beban dan mematahkan usaha pasak untuk menahannya. Dari dalam ruangan yang hampir rubuh Santho dan Ma’el bersama-sama keluar, lalu berlari menuju pintu untuk lolos dari kehancuran. Santho berhasil lolos, namun Ma’el tersandung dan tertimpa pasak roboh. “El, sadar El.” Ma’el hanya menjawab lewat hembusan nafas yang tak karuan. Mungkin ia masih berdebat dengan malaikat maut, bernegosiasi untuk bisa tetap hidup. Lalu, Santho tak lagi memohon Ma’el menjawab tanyanya. Ia segera menyadari, ia khawatir lelaki gondrong itu segera mati. Kala itu, tak ada lagi ketenangan yang terasa. Gempa dengan kekuatan tujuh skala richter meluluhlantakkan semuanya. Bukan saja manusia yang saling berteriak, memaki keadaan, menangis, dan cemas, burung-burung pun seperti kesetanan. Menyaksikan kehancuran. Sepanjang mata Santho memandang tak ada bangunan yang masih berdiri, kecuali dua bangunan bermustaka kukuh yang ada di pinggir sungai, dan di tengah reruntuhan yang sebelumnya adalah bebaris rumah bergarasi yang tersusun rapi. “Hanya kuasa Tuhan yang bisa menyelamatkanmu El,” gumam Santho dalam hati. Ia tak bisa membayangkan temannya akan sekarat secepat itu. *** Ma’el dan Santho bersama-sama merantau ke kota selepas lulus SMK tujuh tahun silam. Bermodal ilmu teknik sepeda motor, mereka melamar pekerjaan di bengkel ternama. Alih-alih diterima, justru penolakanlah yang mereka dapatkan. Tak habis akal mereka mencari peruntungan ke pabrik-pabrik kota, namun sialnya satupun pekerjaan tak kunjung mereka dapatkan. Seminggu mereka terlunta-lunta, mengamen di jalanan untuk membeli apapun demi mencegah asam lambung tumpah ruah di perut. Namun bukan hidup namanya jika jalan yang dilalui harus sama. Saat itu bisa dikatakan Santho lebih beruntung. Tak sengaja di satu sore, seorang pria berjambang tipis tiba-tiba mendekatinya. Pria itu mendekati Santho seraya bertanya “Mas, gelang yang kau kenakan mengingatkanku sama seseorang.” Santho yang sedang menunggu Ma’el di tengah taman kota tersentak kaget. Dia memandangi pria dengan jambang tipis itu lamat. Seingatnya dia tidak pernah melihat pria itu, tapi kenapa terasa dekat dengan hatinya. “Boleh saya lihat?” tanya laki-laki itu memecah lamunan Santho. “Silakan pak,” Santho melepas gelang itu dan menyodorkannya. “Kamu kenal dengan Tayib?” Pria itu tiba-tiba merubah air mukanya. Sedikit terkejut namun juga tersirat aura kegembiraan. Ia memperdalam pandangannya ke Santho dan bertanya “Kamu kenal dengan Tayib Sholeh?” “Iya Benar, saya anaknya pak, ada apa ya?” “Perkenalkan, saya Yono.” Pria itu menjulurkan tangan dan kemudian meluncurkan berbagai per-

22

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

“Iya, sebaiknya kita bersiap, ayo pak, kita angkat barang-barang elektronik ke atas kursi.” “Coba lihat, buk, warga baru itu malah menantang bahaya.” “Yah semoga dia baik-saja,” mereka pun lantas mulai mengangkat barang-barang mereka. Tanggul itu telah berdiri setinggi satu meter ketika volume air mencapai batasnya. Ma’el berhasil membangunnya, 10 meter pajangnya, menambal tepian sungai yang lebih rendah dari tepian lain, agar arus deras tak menerobos ke kampung. Sebagai manusia, ia telah mecapai keajaiban walaupun fisiknya mulai hampir rubuh. Hujan masih mengguyur. Dengan tergopoh, sendirian, ia bangun lagi tanggi hingga setinggi dua meter, panjangnya melebar hingga 15 meter. Saat itu, warga tepian sungai mulai merasa iba. Rasa takut dan tak peduli mereka ditampar oleh perjuangan Ma’el. Warga lain pun berdatangan membantu Ma’el, menyusun lagi satu meter tanggul. Saat itulah Ma’el ambruk, pingsan. Tepat saat tubuh Ma’el tergletak,

tanyaan kepada Santho. *** Tujuh tahun berlalu, kehidupan berubah. Setiap hari Santho selalu stylish. Dengan jas dan rambut yang berpomade ia tidak lagi gamang memasuki kantor berlantai 13 itu. Berkat pertemuannya dengan Yono, jabatan tinggi di kantor mampu ia rengkuh. Namun sayang, rasa bersalah dan penyesalan selalu menyelubunginya. Bukan soal tiadanya perempuan yang menjadi alasannya tersenyum atau kehidupannya yang kosong akan keberadaan Tuhan. Santho selalu teringat Ma’el sahabatnya. Dia yang hanya kaki tangan seorang Yono tidak mampu membawa Ma’el menikmati uang yang bertumpuk. Dia merasa dirinya terlalu pengecut, meninggalkan sahabat, yang sepakat akan bersama-sama selalu. Ia teringat saat-saat di puncak bukit Praja, ketika ia dan Ma’el merayakan kelulusan SMK nya, mereka berjanji akan menggapai sukses bersamasama. Mereka seapakat tak akan meninggalkan

Ilustrasi: Ibnu A.

hujan berhenti, dan aliran air konstan di permukaan tanggul selama beberapa menit. Lalu meranjak surut. Ma’el menjadi pahlawan. Jika ia tak melakukan hal demikian, kampung itu akan dihantam banjir bandang. Tentu, mereka yang tak pernah mengalami banjir, tak akan dapat dengan mudah menghadapi dampaknya. Ma’el menjadi sosok yang cukup dikenal oleh lingkungan sekitar. Ia sering bergaul dengan berbagai karakter masyarakat. Setiap malam, selepas isya ia selalu menyempatkan datang ke angkringan di ujung desa, bersama pemuda-pemuda kampung. Di sana, Ma’el dan pemuda desa menikamati malam dengan rokok dan kopi. Terkadang secara diam-diam mereka juga mengkonsumsi tuak. Suatu malam, angkringan yang merupakan markas pemuda desa tersebut dihampiri beberapa lelaki kekar berseragam hitam. Ma’el menghadapi kawanan itu, dan bersiap dengan segala ancaman apapun. Saat itulah ia melihat sosok kurus tinggi di antara para lelaki kekar itu. tidak salah lagi, Santho ada bersama mereka. Santho yang menyadari bahwa Ma’el lah yang menghadapi mereka, segera memerintahkan kawannya untuk hengkang sebelum ada percakapan. Ia sempat bersitatap dengan Ma’el dengan tatapan yang saling beradu tajam. Dua hari selepasnya, Ma’el mendapat undangan dari Santho untuk bertemu di sebuah tempat yang belum pernah ia jamah. Ia mendapat pesan dari Santho, lewat nomor yang belum ia kenal. Selepas kepergian Santho tujuh tahun silam, Santho benarbenar menghilang bahkan ia mengganti nomor telepon. “Jalan mawar No. 12 rumah warna kuning. Satusatunya rumah yang tenggelam oleh pepohonan.” “oke.” *** “El? Kau sudah sadar?” Santho agak lega melihat Ma’el tersenyum. Tanpa ada yang dapat mendengar, dua kalimat paling suci di agamanya, kalimat yang merupakan gerbang kemuliaan manusia terucap pada mulutnya yang tersenyum. Sangat lirih bahkan Santho

satu sama lain. Namun, iming-iming dari Yono telah membulatkan tekadnya untuk berlaku demikian, mengingakari perjanjian, dan persahabatnnya. Ia telah mengalami berbagai penolakan bersama Ma’el ketika melamar pekerjaan. Ia pikir sudah cukup untuk mempertahankan mimpi mereka. Santho segera mengemas barang yang harus ia bawa. Tanpa pamit dan mandi, ia bergegas pergi. Santho meninggalkan Ma’el yang waktu itu belum jelas bagaiamana harus menjalani hidup di kota. Hingga berhari-hari kemudian, Ma’el mengamen sendiri memenuhi tunutan perut dan tuan kos sembari mencari pekerjaan yang lebih layak. Setelah ia hampir putus asa dan memutuskan hendak pulang ke desa, ia menemukan lowongan pada sebuah bengkel. Ma’el harus berangkat ke bengkel pagi-pagi sekali setiap hari. Sebelum berangkat, ia selalu menyempatkan berkeliling kampung, mengunjungi kebiasaan-kebiasaan tetangganya. Mencari apa yang yang bisa ia bantu. Suatu ketika, sepanjang hari hujan turun dengan lebat di kampungnya. Sorenya, sungai yang berada di utara kampung hampir tak mampu menampung air bah. Tinggal dua depak orang dewasa, sungai yang dalamnya 6 meter, air di sungai meluber. Saat itu, tak ada yang peduli dengan keadaan tersebut. Hanya Ma’el yang tiba-tiba ada dan sibuk di tepi sungai. Ia mulai menyumpal karung-karung dengan pasir. Karung itu ia dapatkan dari beberapa warga saat hujan telah berlangsung dua jam. Ia khawatir hujan deras itu akan menjadi bencana. Pukul lima, setelah lima jam hujan turun, air sungai tinggal sedepak akan meluber. Ketika warga lain menikmati dingin dengan kehangatan, Ma’el menantang deras air bah. Membentengi tepian sungai dengan berkarung-karung pasir yang dikumpulkannya dua jam sebelumnya. “Air bah itu terlihat mengerikan,” kata seorang lelaki di dalam rumah yang berada di dekat sungai. Dari sana, dengan rumah yang lebih tinggi dari tepi sungi, aliran deras yang hampir meluber itu terlihat samar.

tak mampu mendengarnya. Kalimat yang seumur hidupnya, hanya beberapa kali terucap. Santho sempat membawa Ma’el ke markas besarnya. Di sana, pikir Santho Ma’el akan bisa diselamatkan dengan segala apa yang ia punya. Tak mungkin jika harus membawanya ke rumah sakit dengan kondisi seperti itu. Akan banyak orang yang membutuhkan rumah sakit sehingga perwatannya tidak maksimal. Lagi pula, kira Santho, tak ada rumah sakit terdekat yang yang masih kukuh berdiri, lebih kukuh ketimbang markasnya. Sialnya, markas besarnya pun runtuh oleh guncangan. Santho tak tau lagi mau diapakan tubuh dingin Ma’el, yang tak lama lagi akan menjadi kaku. Ia tatap wajah Ma’el, dengan senyuman mengembang. Sebuah kematian yang tak dapat Santho lukiskan, apakah keindahan, atau kengerian. Lalu, pikirannya melayang. Bagaiman bisa Ma’el mendapatkan pemakaman yang baik dalam kondisi demikian, apalagi tanpa ada keluarga seorang pun di kota itu. Santho tak bisa membiarkan Ma’el terperangkap dalam kondisi tersebut. Namun, apa mau dikata, semua yang ia miliki pun telah runtuh. Mungkin ia harus menyaksikan mayat Ma’el dikubur bersama-sama mayat lain, tanpa di mandikan,ataupun disembahyangkan. Meskipun dalam agamanya, hal itu sudah menjadi hal yang layak. Santho putuskan untuk membawa Ma’el ke tempat tinggalnya. Barangkali ada tetangga satu dua yang peduli dengan lelaki yang selama ini diketahuinya hidup sebatang kara. Kerumunan menyambut mereka berdua, yang mengendarai motor berbak terbuka. Di masjid ujung desa, masyarakat kampung Ijo berkumpul. Mengungsi pada masjid yang masih kukuh. Tak ada tanda retak. Keajaiban yang kesekian kali. Tak ada korban jiwa pun di desa itu, meski kondisi desa terlihat cukup parah, dan korban luka jatuh pada jumlah yang tak sedikit. “Ma’el?” lirih salah satu warga yang melihat sesorang bertubuh kurus gondrong dengan tinggi sepemain basket di liga pro Amerika sedang mengangkat tubuh seseorang yang tak asing bagi mereka. “Woy, itu si Ma’el.” “Benarkah,” ucap salah seorang warga. “Iya itu Ma’el.” Teriak seorang wanita berumur empat puluhan. Para warga langsung menghampiri mereka Berdua. “Maaf Bu, Pak, saya bisa minta tolong kalian untuk mengurus jenazahnya dengan baik, hanya saya orang terdekatnya saat ini.” Santho berkata pada warga sambil sesenggukan. Air mata warga meleleh pada pipi masingmasing, mengepelnya dari kelusuhan debu. Namun, dengan cekatan, warga membantu membopong tubuh Ma’el. Ma’el dibopong menuju teras masjid yang masih berdiri kokoh. Dengan cekatan, tubuh kaku Ma’el segera diurus. Mereka memandikannya dengan sisa peralatan yang segera dikumpulkan warga. Ada yang memberikan kapur barus, ada yang menyediakan kursi yang dicari beberapa warga dari reruntuhan. Selepas dimandikan, ia disholatkan oleh seluruh lelaki yang masih bisa mendirikan sholat. Jenazahnya hendak dikuburkan menjelang matahari tenggelam, ketika para hantu mulai muncul. “Mas, kamu istirahat dulu saja. Ma’el adalah orang paling baik di kampung ini. Kami pasti akan mengurus jenazahnya sebaik mungkin. ” Ucap Pak RW kepada Santho. Ma’el adalah jiwa baru dalam kampung mereka, yang mampu menghidupkan program dan organisasi kampung yang sempat mati. Santho terlihat sangat lesu, matanya sembab. “Iya,” ucapnya lirih. Santho, gemetar oleh orang-orang disekitarnya. Sahabatnya diurus orang lain tanpa melibatkan dirinya di tengah-tengah bencana. Segala yang ia miliki tak mampu berbuat banyak pada Ma’el, sahabatnya. Bahkan di akhir hayatnya, Ma’el seperti mengurus kepergian dirinya sendiri. Ia menjadikan warga di kampung ia tinggal merasa berhutang budi dan menganggapnya orang terpenting. Santho tersandar di dinding masjid. Menyaksikan dengan remang tubuh yang dibalut kain kafan, terbaring di depan puluhan orang yang sedang Bersedekap. Ia menangis, dan tertawa, tanpa suara, tanpa ekspresi.n


Pementasan Teater KSK Wadas

(Amanat/ Rima)

Manifestasi Kebahagiaan dalam Kematian

Aksi panggung: KSK Wadas mementaskan naskah Kapai-kapai karya Arifin C. Noer, Kamis (27/06).

S

ang majikan berjalan cepat. Dengan wajah merah padam dan sorot mata mengancam, ia menghampiri Abu yang sedang berkhayal. Di tariklah bajunya lalu dibanting tubuh kurus itu. Abu jatuh tersungkur, tapi sang majikan masih saja belum puas ia menjambak rambut dan menginjak punggungnya. Drama teater ini mengisahkan perjuangan si miskin Abu yang hidup berkalang khayalahn-khayalan. Untuk mencapai kebahagiaan yang diinginkannya, ia senantiasa mencari cermin itu. Cermin tipu daya yang diceritakan Emak bisa mendatangkan kebahagiaan. Cerita itu juga yang membuat Abu semakin menjauh dari realitas kehidupan karena imaji yang tak bertepi. Diawali dengan adegan Emak yang mendongeng kepada Abu tentang sang pangeran dan sang puteri yang selalu diselimuti kebahagiaan karena cermin tipu daya, darisanalah harapan Abu muncul. Ia yang terjerat dalam kubangan kemiskinan sangat menginginkan kehidupan layaknya sang pangeran dan sang puteri. Nahasnya, ketika Abu yang diperankan oleh Syukron membayangkan kehidupan bahagia, ia tersentak kaget oleh suara majikan yang mencarinya. Ia disiksa sampai babak belur dan dipecat kemudian. Meskipun begitu Abu masih saja terbuai dengan dongeng cermin tipu daya. Ia terus mencari di mana ujung dunia, di mana toko Nabi Sulaiman. Ia bertanya pada burung, katak, rumput, embun, air , batu, jangkrik, dan kambing untuk menemukan cermin itu. Pada suatu waktu dalam pencariannya Abu bertemu dengan kakek-kakek yang sedang bertapa. Abu pun bertanya pada sang kakek di mana ujung dunia. Dan sang kakek menjawab ujung dunia ada di sini. Kerena tidak melihat apa-apa Abu pun kembali bertanya kepada sang Kakek di sini dimana. Sang kakek pun menjawab di sana sini sama saja. Sang kakek menunjuk sebuah lubang yang bersinar. Dan menyuruh Abu untuk melihat lubang

tersebut. Di sana Abu melihat penampakan dirinya, di mana dilubang itu Abu melihat wajahnya yang jelek, delik, dan miskin. Sang kakek pun menerangkan kepada Abu bahwa di sana sini sama saja. Ujung dunia adalah kematian. Kemudian datanglah rombangan berjubah putih melantunkan barisan ayat-ayat ketuhanan. Mendengar barisan ayat yang dibacakan dengan indah Abu dengan mimik wajahnya kebingungan. Abu mulai merenung bertanya pada hatinya apa itu agama, dan siapa itu Tuhan serta kebenaran. Namun sesaat sebelum Abu berhasil menyadari, ia kembali tergoda untuk menemukan cermin tipu daya. Abu teringat oleh perkataan Emak untuk tidak ambil pusing dengan perkataan sang kakek, sehingga ia tetap fokus pada pencarian cermin tipu daya. Untuk terus membuat Abu merengkuh tujuannya, Emak meminta bantuan kepada Bulan untuk memberikan Abu angan-angan akan kebahagiaan hidup bersama istrinya. Tidak hanya angan-angan kebahagiaan yang Emak beri, ia juga meminta bantuan Yang Kelam untuk memberikan penderitaan serta peringatan bahwa sebagaimana kodrat manusia, Abu akan menua dan mati. Namun semua itu tiada artinya, dongeng tentang Sang Pangeran dan Sang Puterilah yang menguasai diri Abu. Dongeng itu selalu membuat Abu semakin mendamba cermin tipu daya. Waktu terus berlalu, Abu semakin larut dalam imajinasinya sampai mengabaikan istri dan anakanaknya. Hingga tibalah Abu pada tujuannya. Ia temukan ujung dunia dan cermin tipu daya di dalam gua yang memiliki banyak pintu. Ia gembira bukan main, diajaknya semua orang untuk ikut bergembira dan menari. Abu memanggil Emak. Ia berkata bahwa Abu telah menemukan cermin tipu daya, dan tak lama lagi ia akan temukan sumber kebahagiaannya. Namun sebelum kebahagiaan dapat direngkuh, Emak tiba bersama Bulan dan Yang Kelam untuk mengakhiri hidupnya. Emak menembakkan pistol ke arah Abu kemudian menyeret tubuh Abu yang

SASTRA ASTRA B UDAYA UDAYA terkapar mengililingi panggung. Bersamaan dengan itu kelompok Sang kakek dan Iyem (Istri Abu) membawa lilin (sebagai tanpa berkabung) ikut mengiringi jenazah sambil menangis. Semuanya larut dalam alunan musik dan perlahan-lahan cahaya menyusut. Akhirnya Abu mendapatkan cermin yang ia dambakan. Cermin itu memang benar ada di ujung dunia. Ujung dunia yang tidak lain adalah ujung dari hidupnya. “Satu-satunya kesalahannya adalah kelahirannya dan ia bernama manusia. Sekiranya Adam yang satu ini tidak memiliki apa yang disebut impian, niscaya ia dapat merasa aman. Ia tak akan tahu apa-apa, tak akan pernah mengalami apa-apa, bahkan apa yang disebut mati. Tetapi semuanya seperti tinta yang terlanjur tumpah, dan lagi buah Kuldi itu pun ia sajikan di hadapannya”. Begitu sosok Abu yang diperankan oleh Syukron dalam pementasan teater “Dunia Milik Mereka Yang Ingin Berbuat” oleh KSK Wadas yang naskahnya diangkat dari teks Kapai-Kapai karya Arifin C Noer yang terbit sejak tahun 1970. Menyaksikan Kapai-Kapai seperti menyaksikan realita saat ini. Kita bisa melihat bagaimana Abu yang miskin sangat berambisi untuk mendapatkan kehidupan layaknya Sang Pangeran dan Sang Putri secara instan lewat cermin tipu daya. Dia meninggalkan istri, anak, dan mungkin juga lingkungan sosialnya. Durrotul Ulya, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) mengungkapkan bahwa banyak hal yang ia dapat setelah menonton pementasan teater ini. Salah satunya mengenai budaya instan yang kini mendera masyarakat modern. “Menonton sosok Abu membuat aku berpikir ulang bahwa semua di dunia ini tidak ada yang instan,” ungkap Ulya. Pada pementasan teater yang berlangsung di Auditorium 1 UIN Walisongo itu, Nadzif sang sutradara lebih ingin menonjolkan sisi religiusitas dari naskah KapaiKapai. Bagi Nadzif ketika kebahagiaan diinterpretasikan dengan kekayaan, kemuliaan dan kemudahan hidup, justru relegiusitas semakin dikesampingkan. Manusia sering kali lupa dengan agama dan menjadi pribadi individualis. “Agama adalah pedoman bagi kita untuk menggapai kebahagian. Tapi realitanya, saat ini banyak manusia yang lupa dengan agama dan juga kurang peka terhadap sekitar,” kata Nadzif.n

Liviana Muhayatul K.

n Sajak- Sajak Ibnu Abdillah

Mengubur Rasa Kunang-kunang di taman kota, kenangan kita Kelap-kelip mata jalanan tak membuat ia riang tawa

Rinduku mencekam, diam dalam pikiran Keberadaanmu yang lalu memasung angan, menyisakan rejana membara, menyala-nyala Itu sia-sia, sudah kulupakan, semua kesakitan kala tak terobati

Datangnya tak menentu, musuhnya jarak dan waktu Penawarnya bertemu, itu kata sebagian orang lalu

Rinduku mencekam, mengendap dalam pikiran

Diam-diam ia menggubur rasa memasang batu nisan

Semarang, April 2019

Kopi Kompromi Sesekali ku pandangi kopi seduhanmu Hitam pekat bak pejam gulita, mata pengaduan

Berhadap sila saling bertatapan muka, melucuti cerita kita Bersendu sinis mengobral tawa ini kopi kompromi, katamu

Sepahit kesalahan di waktu lalu, semanis kenangan dan harapan esok waktu Kita hanya bertiga, kopi, kau dan aku Malam ini, di beranda pesisir Semarang , Maret 2019

Matinya Para Petani Mengeja kerikil sedari kokok jantan bernyanyi Kala gelap jenuh menanak dingin menjadikannya embun fajar

Harapan tumbuh subur di ladang, Tuan Mencangkul petak demi petak rezeki Meski mandi lumpur dan terik matahari

Runduk kuning padi penantian tak pasti Sebab petaka hama, duka tak kenal hari Irigasi mata air mengalir lirih basahi pelipis kanan kiri Kecewa pasti, menyisakan jerami dan gumpalan padi tak berisi

Mati itu mati sudah, tengkulak menertawai Leher tercekik tuntutan dan hutang Adalah petaniku, tak kenal isyarat kecuali berbuat.

Jombang, Oktober 2018

Ibnu Abdillah Lahir di Jombang pada 30 Desember 1997. Warga Kampung Sastra Soeket Teki SKM Amanat, mahasiswa aktif prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. AMANAT Edisi 132

Agustus 2019

23


SOSOK

(Amanat/ Habib)

Memupuk Empati Berbuah Prestasi

P

erkembangan seseorang tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan. Lingkungan juga yang telah menempa Nasikhin memiliki kepedulian terhadap masalah yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Kepedulian inilah yang mengantarkan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam angkatan 2017 itu meraih Juara III Lomba Karya Ilmiah di Universitas Andalas tahun 2019. Ia mengangkat masalah tekonologi ramah lingkungan dengan karya “watabi” atau water transport bicyde. Karya ini berupa inovasi pengangkat air sumur galian dengan envisonmentaly friendly technologi sebagai solusi kritis listrik di Desa Kaliwareng Kabupaten Batang. Nasikhin memang menaruh minat pada dunia karya tulis ilmiah. Tema-tema mengenai lingkungan dan pendidikan menjadi kegemarannya. Kepedulian Nasikhin ini tidak begitu saja lahir. Namun lingkungan yang mengasah empatinya lebih peka. Lahir dalam keluarga yang serba terbatas

menjadi sebuah motivasi bagi Nasikhin untuk bangkit menghasilkan karya. Mahasiswa kelahiran Batang ini sering merasa cemas ketika menilik masalah yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Ia tidak puas hanya berdiam diri menjadi penonton. Nasikhin tergerak untuk memperbaiki kondisi yang ada. Ia menuangkan gagasannya dalam sebuah karya ilmiah. Awalnya, Nasikhin hanya sebatas mengamati hal-hal kecil di kampungnya. Seperti halnya pemanfaatan limbah dapur. Ia mencoba melakukan sharing dan riset dengan para warga kemudian menganalisis masalah yang ada untuk menemukan solusi. Solusisolusi ini kemudian ia utarakan dalam tulisan berupa esai. Sebelumnya, Nasikhin juga pernah membuat karya “boles” atau kependekan dari boneka toples. Inovasi ini merupakan bentuk pemanfaatan limbah dapur sebagai hydro supplier pada tanaman hias. Mulanya pembuatan boles adalah upaya untuk menanamkan jiwa peduli masyarakat Desa Sangubanyu. Tidak dinyana hasil lebih besar malah Nasikhin peroleh. Boles membawa Nasikhin menjadi juara pertama dalam lomba esai nasional di Universitas Negeri Semarang pada 2017 lalu. Tidak hanya itu, banyak permasalahan dari kampungnya yang menjadi inspirasi karya tulis ilmiahnya. Inovasi yang pernah ia telurkan diantaranya adalah “sudadima” atau sudamanda kango sinau moco, merupakan inovasi pembelajaran korperatif tips text game tournament. Karya ini berhasil mengantarkan Nasikhin meraih juara I dalam lomba esai tingkat nasional di IAIN Surakarta tahun 2017. Adapula karya lain Nasikhin yang menjadi juara III dalam lomba esai

Himadiktar 2018 adalah permainan “engkoco” atau congklak kanggo sinau moco. Fungsinya untuk meningkatkan aktivitas membaca siswa yang menderita disleksia di wilayah tertinggal. Nasikhin memang sudah memiliki etos kerja dan gigih sejak dahulu. Sewaktu masih di bangku SD hingga SMP ia pun tak segan memulung untuk membantu keterbatasan finansial keluarga. Ejekan tentu sudah pernah ia rasakan, namun dari sanalah sulutan semangat membangkitkannya untuk berkarya. “Pernah minder tapi justru karena kekurangan saya ini menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa saya bisa seperti yang lain,” kata Nasikhin. Membangun semangat di tengah keluarga memiliki keterbatasan ekonomi menjadi tantangan bagi Nasikhin. Selain itu, Nasikhin secara fisik memiliki kelainan pada matanya sejak lahir. Kelainan fisik ini juga menjadi bahan ejekan teman-temannya semasa sekolah. Semakin menyadari kekurangankekurangan itu, semakin besar keinginan Nasikhin untuk berkarya. Alhasil terjunlah ia ke dunia karya tulis ilmiah sejak duduk di bangku SMA.

“Kalau dahulu aku sering banget diejek karna keterbatasan ini (fisik dan keluarga), sampai aku pernah jadi pemulung, itu yang buat aku jengkel aku kecewa aku pengen marah tetapi aku cuma bisa menghasilkan karya,” tuturnya. Menginjak semester keempat ini sudah banyak prestasi yang Nasikhin peroleh. Tentu saja hal ini tidak lepas dari usahanya yang tidak singkat. Ia pun pernah menjadi finalis esai di Mahidul University Thailand dengan tema Innovation Of Flip Flops Mode From Used Bottles An Effart Do Improve He Health Of ASEAN Lagging Regions. Namun langkahnya harus terhenti karena kemampuan bahasa Inggrisnya belum memadai. “Kurang kecakapan dalam bahasa Inggris waktu itu jadi enggak lolos. Tetapi akibatnya sekarang malah jadi motivasi saya untuk mendalami bahasa Inggris,” jelasnya. Nasikhin tak malu untuk mengakui hal yang memang belum ia kuasai. Setiap kekurangan yang ia sadari menjadi sebuah motivasi untuk terus belajar dan mengukir prestasi.n Nur Fitrya M.

Curriculum Vitae Nama : Nasikhin Tempat, tanggal lahir: Batang, 10 Februari 1998 Pengalaman Organisasi : HMJ PAI 2018, LPM Edukasi 2018, UKM PSHT, KMBS Prestasi Juara I Lomba Esai Nasional Unnes 2017 Juara I Lomba Esai Nasional IAIN Surakarta 2017 Juara III Esai Himadiktar 2018 Juara III Gembira 2019 Universitas Andalas

(Amanat/ Iin Endang W)

24

Agustus 2019

AMANAT Edisi 132

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Tabloid SKM Amanat Edisi 132  

Tabloid SKM Amanat Edisi 132  

Profile for skmamanat