Page 1

AMANAT

Surat Kabar Mahasiswa Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Takwa

Pening Dua Bahasa Asing Sejak diberlakukan SK Rektor Nomor 12 Tahun 2012, kemampuan bahasa asing mahasiswa UIN Wal­isongo semakin kentara. Segenap upaya kampus membumikan dua bahasa, mentah.

Edisi 130/Mei 2018 ISSN: 0853-497X


TERAS

SURAT KABAR MAHASISWA

AMANAT

Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Penerbit:

Unit Kegiatan Mahasiswa Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT UIN Walisongo Semarang Izin Terbit: SK Rektor UIN Walisongo Semarang No. 026 Tahun 1984 International Standart Serial Number (ISSN): 0853-487X

SALAM

REDAKSI

Melihat ke Dalam

H

ari ini kita dihadiahi sebuah za­ man di mana, setiap orang dapat berbicara apapun tanpa diketahui identitasnya. Ada banyak topeng. Di dunia maya, setiap orang dapat memakai topeng yang disukai. Tinggal disesuaikan dengan kepentingan dalam diri. Yang memiliki ke­ pentingan politik; akan bertingkah laya­k­ nya pengabdi masyarakat, yang dekat dan mengayomi. Beda dengan propagandis. Mereka akan bertingkah seolah apa yang disuarakan adalah kebenaran paripurna; yang dapat dipercaya. Begitu seterusnya. Benarkah sekarang adalah zaman di­ mana seluruh manusia memakai topeng, seperti yang dikatakan oleh Jean Baudril­ lard, “All societies end up wearing masks?” Topeng adalah simbol yang paling ar­ tifisial dalam diri manusia. Batas antara re­ alitas dan kompleksitas diri yang ditutupi. Budaya topeng adalah budaya sandiwara, kepalsuan, parodi, yang sekarang dibaha­ sakan lebih elegan dengan kata ‘citra’. Problemnya, hari ini terjadi pendang­ kalan cara berfikir yang masif. Orang yang tak mengerti tentang logika pembangunan citra, akan terbawa dalam arus yang se­ dang dimainkan. Dampaknya ruang pub­ lik kita hari ini, dipenuhi dengan sampah visual; tempat berdebat yang tidak esen­ sial. Ada makna yang sedang dikaburkan atau mengabur, lalu hilang. Tak jauh beda dengan apa yang ter­ jadi di kampus hijau ini. Masalah klasik kemampuan bahasa mahasiswa yang se­ benarnya telah berlangsung sejak lama,

2

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

terus dipandang hanya kulitnya saja. Bi­ rokrasi dan mahasiswa sama-sama ribuk dengan permasalahan teknis, sehingga lupa dengan sebab esensial yang men­ dasari itu semua. Babakan itulah yang kami kaji dalam Laporan Utama di Tab­ loid 130 yang sedang anda pegang saat ini. Sajian berbagai sudut pandang tentang masalah ‘hak hidup’ bahasa asing untuk melengkapi cara pandang kita, ihwal suatu masalah. Sepenggal pemahaman hanya akan mengahasilkan sebuah kesimpulan yang kurang tepat. Menu sajian selanjutnya, ada pemba­ hasan soal Survei Kinerja Dosen (SKD) yang selama ini hanya dipandang sebagai formalitas saja. Padahal, hasil dari SKD, tu­ rut menentukan karir dosen di perguruan tinggi. Lebih dari itu, ada nalar salah yang berkembang di lingkungan mahasiswa. Apa itu? Telusuri saja dilaporan seleng­ kapnya. Kajian seputar isu-isu terkini juga tak luput dari mata redaksi kami. Ada kajian tentang mengaburnya identitas maha­ siswa, LGBT, Cara pandang perguruan tinggi, dan Feminisme. Tak cukup di situ, masih banyak sajian yang pembaca bisa nikmati sembari ngopi di pojok kantin atau di sudut-sudut kam­ pus, untuk menghidupkan kembali geliat intelektual yang semakin memudar. Selamat membaca!

Redaksi

Sentilan Bang Aman Gagal TOEFL-IMKA? Kursus bos...

Mahasiswa banyak gagal wisuda mohon bersabar, belum ujian...

PELINDUNG Rektor UIN Walisongo Semarang PENANGGUNG JAWAB Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PEMBINA Kabag. Akademik dan Kemahasiswaan PEMIMPIN UMUM Fajar Bahruddin Achmad SEKRETARIS UMUM Fika Eliza BENDAHARA Khalimatus Sa’diyah, Khanif Magfiroh PEMIMPIN REDAKSI Sigit Aulia Firdaus MANAGER SKMAMANAT.COM M. Syafi’un Najib SEKRETARIS REDAKSI Rima Dian Pramesti, Iin Endang W. REDAKTUR PELAKSANA M. Ulul Albab Moh. Hasan DESK BERITA Noor Rohmah Nailin Najjah DESK ARTIKEL Atika Ishmatul U. DESK SASTRA BUDAYA Nur Zaidi DESK TEKNOLOGI INFORMASI Badrus Salam LAYOUTER Mufazi Raziqi ILLUSTRATOR Ahmad Shodiq, Elok Nur Azizah KOORDINATOR REPORTER Riduwan KOORDINATOR MEDIA SOSIAL Febbi Ferkhitilawati REPORTER Nur Isti Uswatun Khasanah, Eka Nurul WH. HUMAN RESOURCES DEPARTMENT Diyah Nur Inayah, M. Iqbal Shukri, Wiwid Saktia N. MANAGER PERUSAHAAN Umi Nur Mughitsah SIRKULASI & PERIKLANAN Fahmi Habiburrahman, Alfita Salsabila, Fatmah Alfiyani EVENT ORGANIZER Ari Yuwono S, Arina Firha H. PUSAT DOKUMENTASI Millati Azka, Rustiana STAF AHLI Joko Tri Haryanto, Amin Fauzi, Musyafak, Khoirul Muzaki, Miftahul Arifin, Abdul Arif

Maling... Maling... !! Nggak papa, tinggal bilang papa

Surat Kabar Mahasiswa

Pak, motor saya hilang di parkiran

Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Takwa

Apa sih...

Survei Kinerja Dosen harus diisi serius? aku belum siap untuk serius

AMANAT

Pening Dua Bahasa Asing Sejak diberlakukan SK Rektor Nomor 12 Tahun 2012, kemampuan bahasa asing mahasiswa UIN Wal­isongo semakin kentara. Segenap upaya kampus membumikan dua bahasa, mentah.

Kampus gencar dorong mahasiswanya berprestasi dorang-dorong emang gue gerobak!

Identitas mahasiswa semakin mengabur takbeeeer..

Bang Aman yang kadang pakewuh

Edisi 130/Mei 2018 ISSN: 0853-497X

Ilustrasi: Ahmad Shodiq


AMANAT DOELOE

Potret Lembaga Bahasa UIN Masih Buram Bahasa telah menjadi problem lama yang hingga hari ini masih saja ‘dinikmati.’ Jika dulu gedung Lembaga Bahasa IAIN (sekarang menjadi Kantor Dekanat Fakultas Syariah dan Hukum) megah namun sepi kegitaan, sejak SK Nomor 12 Tahun 2012 keluar, semua menjadi berbeda. Lembaga Bahasa kini selalu ramai dikunjungi mahasiswa. Namun, pelbagai problem baru mulai muncul. Birokrasi tak siap menanggulangi.

S

oal kebijakan kampus ter­ kait lembaga bahasa kem­ bali menghangat, terutama setelah terbitnya Surat No­ mor: B-1091/ Un.10.0/P3/ PP.00.9/3/2018 yang dikeluarkan Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) baru-baru ini. Surat itu berisi pemberitahuan pada mahasiswa yang telah ACC skripsi/tesis/ diser­tasi dapat mengajukan percepatan un­tuk mengikuti ujian Test of English as a Foriegn Language (TOEFL) dan Ikh­ tibar Mi’yar al-Kafa’ah fi al-Lughah alArabi­yyah (IMKA). Permasalahan TOEFL dan IMKA akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang tak pernah absen di lingkungan mahasiswa, karena kebijakan membuat sebagian mahasiswa di beberapa angka­ tan merasa kecewa, meski ada pula yang merasa lega. Berbeda dengan sekarang, dahulu, masalah terkait lembaga bahasa sudah sering kali dibahas. Masalahnya berbe­ da namun masih terkait kebijakan yang dinilai tidak jelas aturannya. Beberapa kali Amanat menulis tentang problem lembaga bahasa di kampus hijau ini. Salah satunya Tabloid Amanat edisi 104 Juni 2005 dengan artikel berjudul “Potret Buram Lembaga Bahasa di IAIN”. Laporan tersebut menceritakan potret Unit Pembinaan Bahasa (Ubinsa), sekarang Pusat Pengembangan Bahasa (PPB), yang dinilai tidak berfungsi seb­a­ gaimana mestinya. Bahkan seperti mati suri. Gedung berlantai dua yang berdiri dengan kokoh nan megah itu sering kali sepi dan lenggang. Gedung itu digunakan untuk pem­ binaan bahasa, kegiatan di Ubinsa kala itu hanya memantau kuliah yang ber­ hubungan dengan bahasa, mengada­ kan workshop, pelatihan-pelatihan dan seminar. Sebelum itu, Ubinsa juga digu­ nakan untuk program remidiasi bahasa bagi mahasiswa baru IAIN yang dirasa kemampuan bahasanya masih minim, namun program tersebut selanjutnya di­ limpahkan kepada masing- masing­ fakultas.

pada kala itu. Ada tudingan dari maha­ siswa bahwa Ubinsa minim kerjasama, bah­kan dengan internal lembaga di IAIN sendiri. Haulani, mahasiswa Pendidikan Ba­ hasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah (Sek­ arang FITK) yang menjabat Department Giat Bahasa PBA, menutur­ kan bahwa selama ini kerja sama Ubinsa den­gan Indikasi kurang berminatnya ma­ BEMJ (sekarang HMJ) PBA itu tidak hasiswa terhadap pengembangan ke­ ada. “Ubinsa hanya gedung magrong mampuan berbahasa asing diperta­ ­ (megah, red). Saya berharap ke depan, nyakan. Kepala Ubinsa IAIN Walisongo, Ubinsa mau menjalin kerja sama den­ Suparman saat itu mengatakan bahwa gan lembaga-lembaga dan jurusan ke sebenarnya banyak juga kegiatan yang bahasa seperti PBA dan minor Inggris., diprogram­ kan Ubinsa seperti seminar harapnya. dan diskusi. “Sayang, diskusi yang dia­ Mahasiswa PBA angkatan 2003 ini dakan hanya dihadiri dosen. Sedang menambahkan, Ubinsa kurang sosiali­ mahasiswa keli­hatan kurang berminat. sasi. Tidak ada orientasi (pengenalan) Padahal bahasa merupakan sarana yang Ubinsa. Padahal dari segi fisik, Ubinsa sangat vital dalam dunia akademik,” tu­ ini sudah optimal. turnya. Sementara itu, ketua Walisongo Eng­ Namun, ungkapan Suparman berkai­ lish Club (WEC) Didi Hamidi meli­hat tan dengan minimnya minat mahasiwa Ubinsa acuh tak acuh, sehingga ker­ IAIN terhadap bahasa itu dibantah Agus jasama WEC belum maksimal. “Padahal Muthohar, ketua alumni mahasiswa dulu sudah pernah ada kerja sama peng­ IAIN Semarang yang studi bahasa Arab gunaan laboratorium Bahasa,” ungkap­ dan bahasa Inggris di Pare Kediri. nya kepada amanat kala itu. “Siapa bilang mahasiswa IAIN tidak Berbeda dengan Haulani dan Didi berminat dengan bahasa. Buktinya, se­ Hamidi, apa yang dikemukakan Mu­ tiap liburan, banyak mahasiswa IAIN hammad Irvan ketua Nadi Walisongo Fi yang belajar bahasa Arab maupun ba­ Al-lughah Al- ‘arabiyah (Nafilah). Menu­ hasa Inggris di Pare,” ungkapnya. rutnya, kerja sama dengan Ubinsa se­ Pernyataan Agus itu dibenarkan oleh lama ini baik-baik saja karena seringnya Ani Maskanah, anggota alumni maha­ komunikasi dan kedekatan. Sehinga, siswa pasca studi bahasa di Pare. “Alum­ ni Pare di sini sudah mendirikan studi club bahasa Arab dan Inggris yang dia­ dakan setiap Jumat dan Senin,” kata Ani. Setiap Jumat, tambah Ani, mereka berdiskusi di depan kampus pasca sar­ jana. Sedang pada hari Senin, kegiatan yang diadakan di perpustakaan IAIN Walisongo, difasilitasi American Corner (Amcor). Selain pernyataan yang dilontarkan Agus dan Ani, banyaknya mahasiswa Tarbiyah yang memilih minor dan ju­ rusan Tadris Bahasa Inggris (sekarang PBI), cukup menjadi bukti bahwa maha­ siswa IAIN tidak alergi bahasa. “Sebenarnya banyak mahasiswa yang minat dalam bahasa. Cuma di IAIN sendiri kan kurang maksi­ mal pembi­ naannya. Sehingga mahasiswa pada lari ke Pare tiap liburan,” celetuk seorang ma­hasiswa IAIN yang juga anggota alumni pasca studi di Pare di tengah-tengah perbincangan dengan Amanat. Persoalan mengenai kerja sama yang minim juga menjadi pembahasan

katanya, Nafilah sering dilibatkan dalam kegiatan dan kebahasaan. Sedang Suparman, ketika dikonfir­ masi menolak tudingan minimnya ker­ jasama dengan lembaga-lembaga lain. Saat ini ia beserta jajarannya sedang merintis kerjasama dengan lembaga se­ jenis. Ubinsa mengawali kerjasamanya dengan masjid Al-Fitrah kampus II, dengan mengadakan khutbah dua ba­ hasa (Inggris-Arab), secara bergantian. Seminggu menggunakan bahasa Arab, dan seminggu berikutnya menggunakan bahasa Inggris. Kerja sama lain yang baru saja tere­ alisasi adalah pembukaan kursus bahasa Inggris hasil kerjasama dengan Lembaga Inggris Amerika Serikat (LIA) Tendean Semarang. Sehingga, jangan heran jika belakangan, ada spanduk-spanduk ten­ tang pendaftaran kursus bahasa Inggris hasil kerjasama dengan lembaga pen­ didkan bahasa asing tersebut di kampus IAIN Walisongo. Namun, kala itu ketika Amanat berkunjung ke stan pendaftaran kursus itu, betapa herannya ketika mendengar penuturan penjaganya. “Selama tiga hari menunggu di sini, belum ada satu pun mahasiswa yang daftar. Hanya beberapa orang mahasiswa yang cari informasi tentang ini, “ terangnya. n Rima Dian Pramesti

TABLOID AMANAT EDISI 105 TAHUN 2005

Mei 2018 AMANAT Edisi 130Edisi 130 Mei 2018 AMANAT

3 3


Anda dipersilahkan mengirim surat pembaca, atau komentar mengenai kebijakan/layanan kampus, konten tulisan yang ada di Tabloid Amanat. Surat pembaca atau komentar dikirim ke redaksi.skmamanat@gmail.com atau ke kantor redaksi SKM Amanat di PKM kampus 3 UIN Walisongo. Surat harus dilengkapi identitas diri (KTM, KTP, SIM).

Denda Perpustakaan Naik, Lama Peminjaman Sebaiknya Diperpanjang

Masihkah Kampus Konsisten dengan Progam Penguatan Bahasa?

P

enguatan kemampuan dan penguasaan ma­ hasiswa dalam bidang bahasa agaknya men­ jadi perhatian serius di kampus hijau ini. Penguasaan bahasa asing dinilai penting, lantaran dapat digunakan sebagai akses terhadap literasi ‘babon’ berbahasa Arab dan Inggris. Kebijakan penguatan ini nampaknya mendapat angin segar dengan kehadiran dosen tamu dari Me­ sir, Syaikh Ibrohim, alumnus Fakultas Tarbiyah Uni­ versitas Al Azhar. Sayangnya, tidak semua fakultas dapat meman­ faatkan momentum kehadiran beliau sebagai nara­ sumber ‘babon’. Bahkan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum) yang menjadi tuan rumah pertama beli­au agaknya tidak lagi ‘membutuhkan’. Keterlambat­an jadwal halaqoh bagi mahasiswa Progam Khusus (PK) dan ketidaksingkronan men­ jadi bukti konkrit akan hal ini. Salah satu mahasiswa yang mendapat jadwal halaqoh, yang kemudian mencoba menghubungi Syaikh Ibrohim sempat dikejutkan dengan jawaban­ nya bahwa beliau tidak mendapat jadwal di Fuhum. Sungguh membingungkan. Yang mungkin karenan­ ya, beliau kemudian singgah dan hanya menetap di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Pada intinya, saya ragu, masihkah kampus kon­ sisten dengan program penguatan kemampuan ba­ hasa asing yang selalu digembor-gemborkan oleh universitas secara umum atau fakultas secara khu­ sus. Dan bagaimana atau sejauh mana ke-konsisten­ si-an itu diwujudkan. Tentu masih menjadi sebuah tanda tanya besar, melihat kenyataan yang terjadi. LUTHFI FAIZ Mahasiswa prodi Ilmu Alquran dan Tafsir 2016

Perpustakaan Minim Referensi

J

umlah buku referensi di perpustakaan universi­ tas maupun fakultas semakin hari semakin se­ dikit. Hal tersebut saya rasa tidak sesuai dengan banyaknya jumlah mahasiswa. Kejadian yang harus saya alami ketika mencari buku referensi untuk mengerjakan tugas, saya tidak bisa menemukan buku referensi tersebut di Per­ pustakaan fakultas. Saya mencoba mencari di Per­ pustakaan Universitas namun hasilnya, nihil. Terkadang saya justru harus mencari buku yang saya butuhkan tersebut ke perpustakaan daerah yang lokasinya cukup jauh untuk dijangkau. Pada­ hal jangka waktu pengumpulan tugas tidak lama, sedangkan jadwal kuliah saya masih padat. tentu hal ini bisa menghambat saya dalam proses aka­ demik. Suatu ketika saya menemukan buku referensi di Perpustakaan Universitas. Malang, buku tersebut ternyata berkode C1, alias tidak bisa dipinjam. Bah­ kan, terkadang buku tersebut juga dalam kondisi rusak. Saran saya, sebaiknya birokrasi kampus bisa me­ nambah persediaan buku di Perpustakaan Univer­ sitas maupun fakultas. Agar kebutuhan mahasiswa terhadap buku referensi bisa terpenuhi. Selain itu, buku yang sudah rusak bisa diperbaiki sehingga bisa dimanfaatkan kembali oleh mahasiswa. Hal tersebut penting, lantaran buku adalah sumber uta­ ma mahasiswa untuk mendapatkan ilmu pengeta­ huan. ZUYYATUL FITRIA Mahasiswa prodi Ilmu Alquran dan Tafsir 2017

4

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

B

uku sudah menjadi kebutuhan pokok bagi ma­ hasiswa. Buku menyediakan berbagai materi yang menunjang kegiatan belajar. Adanya per­ pustakaan pusat dan perpustakaan fakultas serha­ rusnya dapat membantu mahasiswa dalam mencari referensi. Buku yang tidak dijumpai di perpustakaan fakultas dapat dicari di perpustakaan pusat. Pertan­ yaan yang timbul adalah, apakah buku yang ada di per­ pustakaan pusat lebih lengkap? Hal lain yang menjadi keluhan mengenai per­ pustakaan adalah tenggang waktu peminjaman buku. Lamanya peminjaman buku di perpustakaan fakultas adalah dua minggu, lalu satu minggu di per­pustakaan pusat dan dapat diperpanjang sebanyak satu kali. Keter­lambatan dalam pengembalian buku akan dike­ nakan denda sebesar Rp 1.000/hari, yang sebelumnya adalah Rp 500/hari. Nominal denda tersebut tidak begitu besar bila dibandingkan den­gan harga lipstik mahasiswi, namun lain halnya bila jumlah buku yang dipinjam adalah 4 dan waktu ket­erlamabatan pengem­ balian 10 hari. Bila dikalkulasi mencapai Rp 40 ribu. Ketika nominal denda mengalami kenaikan, se­ harusnya ada timbal balik dari kebijakan tersebut. Misalnya lama waktu peminjaman juga mengalami perpanjangan. Terutama untuk peminjaman di per­

pustakaan pusat. Letak perpusatakaan pusat yang be­ rada di Kampus 3 dan lama peminjaman yang singkat membuat mahasiswa di Kampus 2 malas un­tuk me­ minjam buku di perpustakaan pusat. Saran saya pen­ gelola perpustakaan harus menambah wak­tu peminja­ man, terutama untuk perpustakaan pusat. Berbeda masalah dengan perpustakaan pusat, per­ pustakaan fakultas misalnya perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) mem­punyai ke­ adaan yang kurang kondusif. Ruangan yang tidak ter­ lalu luas dengan banyak rak buku serta pengunjung membuat suasana dalam perpustakaan agak panas. Selain itu tas-tas yang berserakan di pintu masuk me­ nambah rasa kurang nyaman. Ken­dati sudah ada rak penyimpanan tas, namun ketika jumlah pengunjung mengalami lonjakan, rak terse­but tidak dapat menam­ pung tas pengunjung per­pustakaan. Pada dasarnya kondusif tidaknya perpustakaan menjadi tanggung jawab bersama, untuk itu mari kita jaga perpustkaan yang kondusif sehingga dapat ber­ fungsi sebagaimana mestinya. NELLY VIKILADYLA DELLA Mahasiswa prodi Pendidikan Biologi 2016


LAPORAN UTAMA

SEMRAWUT TOEFL-IMKA

Duka Sebelum Wisuda Wisuda pada awal Maret lalu menyisakan kekecewaan. Mereka yang telah menyelesaikan skripsi, harus menunda munaqasah lantaran tak mendapatkan tiket percepatan TOEFL atau IMKA.

(Foto: Badrus Salam/ Amanat)

Wisuda Strata Satu (S.1) ke-72, Strata Dua (S.2) ke-39, Strata Tiga (S.3) ke-15, dan Diploma 3 (D.3) ke-21, Rabu (07/03 lalu.

P

erasaan lega menghampiri Tari ketika membaca Surat Nomor: B-1091/Un.10.0/P3/ PP.00.9/3/2018 yang dikeluar­ kan Pusat Pengembangan Ba­ hasa (PPB), Rabu (22/03) lalu. Surat itu memberita­ hukan, bagi mahasiswa yang skripsi/tesis/disertasinya telah disetu­ jui dapat mengaju­ kan percepatan untuk mengikuti ujian Test of English as a Foriegn Language (TOEFL) dan Ikhtibar Mi’yar alKafa’ah fi al-Lughah al-Arabiyyah (IMKA). Di saat yang sama, Tari merasa amat kecewa. Bagaimana tidak, dia telah mem­ perjuangkan percepatan ujian IMKA se­ jak akhir semester gasal tahun akademik 2017/2018, lalu. Saat itu, pendaftaran ujian bahasa di PPB telah menumpuk. Karena gagal mengajukan percepa­ tan ujian IMKA, mahasiswa yang telah menye­ lesaikan skripsi pada medio De­sember 2017 ini tak bisa mengejar dead­line pendaftaran munaqasah. Dia harus menerima kenyataan pahit karena gagal wisuda cepat. “Saya sudah usahakan minta solusi seper­ti ini dari tahun kemarin. Tidak ada re­ spon,” kesal mahasiswa angaka­tan 2013 ini. Ia pun pada akhirnya harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) lagi untuk semester genap. Nasib sama juga menimpa Nugra­heny Puput Yoganingrum. Mahasiswa prodi Ta­ sawuf dan Psikoterapi (TP) ini harus mengu­ bur harapannya dapat wisuda pada 7 Maret 2018 lalu. Tekanan dari keluarga lantaran tak bisa lulus pada semester sembilan harus ia terima den­gan lapang dada. Puput, sapaan akrapnya, sebenarnya telah mendaftar IMKA pada awal September 2017. Ia dijadwalkan ujian pada awal Janu­ ari 2018. Ia sempat optimis bakal lulus pada ujian IMKA yang ke empat ini. Se­bab pada tes yang ketiga sebelumnya, skornya telah mendekati standar lulus. Di luar perkiraan, skor ujiannya ternya­ ta turun drastis. Puput akhirnya pontangpanting mengurus percepatan ujian bahasa. Sebabnya, pendaftaran munaqasah akan ditutup pada 31 Janu­ari 2018. Namun usah­ anya menemui ja­lan buntu. Saat itu, yang di­ perbolehkan mengajukan percepatan hanya maha­siswa semester tujuh hingga delapan­ dan 13 hingga 14. “Ini sudah sistem mbak,” ujarnya me­ nirukan ucapan petugas PPB kala itu, Jumat (30/03).

Muhammad Syaifullah, Kepala PPB beri kesempatan lebih dahulu mengi­kuti tidak menampik hal tersebut. Ke­bijakan percepatan ujian. “Antreannya banyak, maka hanya yang lama itu dibuat berdasarkan hasil rapat PPB dengan tim akademik UIN Wali­ prioritas dulu,” katannya. Baru setelah wisuda (22/03), PPB men­ songo, dua bulan sebelum wisuda. Saat itu, menyepakati, per­cepatan ujian ba­ gubah kebijakannya kembali. Per­cepatan hasa hanya berlaku untuk mahasiswa ujian bahasa bukan lagi dikhu­suskan un­ semester tujuh atau delapan dan maha­ tuk mahasiswa semester ter­tentu, melain­ siswa semester 13 atau 14 yang skripsi­ kan bagi semua angkatan yang skripsinya nya telah disetujui. Ini tidak ber­ laku telah disetujui, mengingat pan­jangnya an­ bagi mahasiswa semester sembilan atau trean pendaftaran. Problem antrean panjang untuk uji­an 10 dan mahasiswa semester 11 atau 12. “Wakil Dekan yang meminta. Hal itu bahasa ternyata sudah terjadi sejak PPB taran dilakukan untuk mencapai IKU (Indi­ masih menerapkan sistem pendaf­ kator Kinerja Utama Rektor-red),” kata manual. Ketika PPB mulai mener­apkan Syaifullah, saat ditemui di kantornya, sistem pendaftaran daring, (02/10/2017), pendaftaran membelu­dak hingga antrean Senin (26/03). Sahidin, Wakil Dekan (WD) I ujian menumpuk. “Karena ada kemudahan daftar, dan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) kesadaran mahasiswa semakin tinggi,” ka­ menjelaskan, sebenarnya, usulan agar semua mahasiswa yang skripsinya su­ tanya. dah disetujui dapat mengikuti percepa­ Tumpang Tindih Regulasi Dalam menjalankan fungsinya, PBB tan ujian bahasa telah dilontarkan para sempat menggunakan beberapa WD I. Namun, pada waktu landasan kebijakan. SK Rek­ itu PPB tidak sepakat tor Nomor 12 Tahun 2012 mengenai usulan mengatur, mahasiswa tersebut. Akhirnya, yang dapat mengi­ toler­ansi diper­ kuti ujian TOEFL sempit han­ya dan IMKA harus untuk maha­ menyelesaikan siswa semes­ Progam In­ ter tujuh tensif Bahasa atau dela­ Arab (PIBA) pan dan dan Progam semester 13 Intensif Ba­ atau 14. hasa Inggris “Maha (PIBI). Ma­ ­siswa semes­ sing-masing ter tujuh atau program itu delapan un­ berbobot enam Drs. Sahidin M.Si tuk m e n g e j SKS. a r IKU, dan ma­ Wakil Dekan I Bidang AkaBeberapa ta­hun demik Fakultas Syariah hasiswa se­mester 13 kemudian, kebijakan dan Hukum atau 14 untuk alasan ber­ganti. Melalui SK Rek­ kemanusiaan,” katanya saat tor No­ mor 754 Tahun 2016, dikonfirmasi Am­anat, Sabtu (27/03). kuali­fikasi peserta ujian TOEFL dan IMKA Fatah Syukur WD I Fakultas Ilmu kemu­dian dihapuskan. Semua mahasiswa Tarbiyah dan Keguruan (FITK) men­ dapat mendaftar ujian bahasa walaupun jawab kenapa mahasiswa semester tu­ belum menyelesaikan PIBA dan PIBI. juh dan delapan waktu itu mendapat Bahkan, dalam buku panduan PPB pasal prioritas. IKU Rektor menuntut 60% 8 halaman 16, mahasiswa yang mendapat mahasiswa harus lulus tepat waktu, skor TOEFL 500 dan skor IMKA 400 dapat yaitu pada semester dela­pan. Oleh se­ direkomendasikan PPB, tidak mengambil babnya, mahasiswa se­mester tujuh atau Progam Intensif Bahasa (PIB). Syaifullah mengatakan, SK Rek­tor No­ delapan yang skipsinya telah disetujui dan belum lulus TOEFL atau IMKA di­ mor 754 Tahun 2016, dirancang berdasar­

Mahasiswa semester tujuh atau delapan untuk mengejar IKU dan mahasiswa semester 13 atau 14 untuk alasan kemanusiaan

kan penyesuaian kurikulum 2015. Dengan mempertimbangkan, ke­ biasaan maha­ siswa yang tidak segera mendaftar ujian bahasa meski telah menyelesaikan PIBA dan PIBI. Dalam buku panduan PPB disebut, mahasiswa angkatan 2012, 2013, dan 2014 mengacu pada SK Rektor Nomor 12 Tahun 2012. Sedangkan untuk ma­ hasiswa angkatan 2015, 2016, 2017 dan seterusnya, mengacu SK Rektor Nomor 754 Tahun 2016. Problemnya, banyak mahasiswa an­ g­­­­katan 2014 ke bawah belum lulus ujian bahasa saat SK Rektor Nomor 754 Tahun 2016 diberlakukan. Oleh sebab itu, Ah­ mad Zamroni, pengurus Dewan Ekse­kutif Mahasiswa Universitas (Dema U) sempat mengusulkan agar diadakan ujian TOEFL dan IMKA mandiri bagi mahasiswa ang­ katan 2012, 2013, dan 2014. Usulan itu dibuat berdasarkan rapat di jajaran penggurus Dema-U. Walau­pun usulannya pada waktu itu ditolak lanta­ ran dianggap menyalahi sistem, Zamroni mengaku lega dengan kebi­jakan baru ini yang dianggap telah me­wakili tuntutan Dema. “Sebelumnya, rencana kami akan mengadakan aksi jika opsi kami dito­lak,” katanya. Kendala Ruang dan Tenaga Saat Amanat mengecek jadwal TOEFL dan IMKA dari laman resmi PPB, Minggu (18/03) , jadwal ujian telah penuh hingga 28 September 2018. Dalam data yang di­ himpun oleh Am­anat, pada April sampai dengan Sep­tember 2018, sebanyak 7520 mahasiswa telah tercatat sebagai peserta ujian ba­hasa. PPB belum membuka jad­ wal tes lagi hingga September 2018. Ada beberapa faktor yang melatarbe­ lakangi antrean pendaftaran di PPB be­ gitu panjang. Selain terbatasnya ru­angan, sedikitnya Sumber Daya Manu­sia (SDM) di PPB juga jadi kendala. “Tenaga di PPB hanya lima orang, tambah saya satu jadi enam,” papar Syaifullah. Untuk mengurai penumpukan pendaftaran ini, PPB akhirnya menga­ dakan ujian kolosal. Untuk TOEFL dia­ dakan pada 5-6 Mei dan IMKA pada 1213 Mei 2018.  Aulia’

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

5


L APORAN U TAMA

PROBLEM BAHASA ASING

Pening Dua Bahasa Asing

(Dok. Amanat)

Sejak diberlakukan SK Rektor Nomor 12 Tahun 2012, kemampuan bahasa asing mahasiswa UIN Wal­isongo semakin kentara. Segenap upaya kampus membumikan dua bahasa, mentah.

Mahasiswa sedang mengikuti ujian bahasa di Pusat Pengembangan Bahasa (PBB).

P

enguasaan bahasa maha­ siswa UIN Walisongo mula­ nya cukup ditunjang melalui Progam In­tensif Bahasa Arab (PIBA) dan Progam Inten­ sif bahasa Inggris (PIBI) sebagai mata kuliah di setiap fakultas. Hingga lahir SK Rektor Nomor 12 tahun 2012 yang mewa­jibkan setiap maha­siswa memiliki sertifikat lulus Ikhtibar Mi’yar al-Kafa’ah fi al-Lughah al-Ara­biyyah (IMKA) dan Test of Englishas a Foriegn Language (TOEFL) sebelum menyandang titel sar­ jana. Menurut Musahadi, Wakil Rektor (WR) I Bidang Akademik dan Kelem­ bagaan, SK itu dibuat untuk menja­ min stan­ dar mutu kemampuan calon alumnus. Kemampuan bahasa Arab dan Inggris dianggap penting di tengah persaing­an global. Oleh sebab itu, UIN Wali­songo menetapkan learning outcomes (capa­ian pembelajaran) yang leb­ ih terukur sebagaimana diinstruksikan pemerintah. “Ia (Seorang sarjana- red) harus mampu berbicara sesuai dengan tem­ pat mencari kerja,” katanya saat ditemui Amanat di kantornya, Rabu (21/03). Peraturan Permerintah Nomor 08 Ta­ hun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional (KKNI) Pasal (4) Ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa capaian pembelaja­ ran yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan kerja dinyatakan dalam bentuk sertifikat. Sertifikat yang dimak­ sud bisa berbentuk ijazah atau sertifikat kompetensi. Beberapa tahun berjalan, SK Rek­ tor itu diimplementasikan bukan tanpa problematika. Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) sebagai penyelenggara TOEFL dan IMKA selalu dihadapkan problem penumpukan pendaftaran calon peserta ujian, bahkan hingga seka­ rang. Terhitung, pada April sampai Sep­ tember 2018, sebanyak 7520 mahasiswa telah tercatat sebagai peserta ujian ba­ hasa. Untuk mengurai kepadatan peserta itu, pada awal semester genap 2018 ini, PPB harus manambah jadwal ujian, yang

6

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

“Saat mahasiswa tidak lulus satu kali, dua kali, tiga kali ujian TOEFL atau IMKA itu salah siapa? Ini menjadi tanggung jawab ber­sama bukan,” Dr. H. Muhammad Syaiful­lah M.Ag Kepala Pusat Pengembangan Bahasa

mulanya empat kali dalam sepekan, kini menjadi delapan kali. Tak cukup dengan itu, PPB juga mengadakan ujian kolosal. Untuk TOEFL diadakan pada 5-6 Mei dan IMKA pada 12-13 Mei 2018. “Ada sekitar 6000-an pendaftar untuk ujian kolosal. Tercatat dari Mei s.d Sep­ tember 2018,” kata Muhammad Syaiful­ lah, kepala PPB, saat ditemui Amanat di kantornya, Kamis (26/04). Kabar yang berembus, soal TOEFL dan IMKA Grade-nya diturunkan, agar mahasiswa banyak yang lulus. Na­mun, Syaifullah membantah kabar itu. Ia menegaskan tidak ada penurunan Grade dalam ujian kolosal yang diada­kan pada bulan Mei 2018. Fakruddin Aziz, salah satu pembuat soal IMKA mengamini hal itu. Soal IMKA untuk ujian kolosal pada 12-13 Mei, kata Aziz, hanya dikreasikan supaya dapat lebih ditangkap oleh mahasiswa dengan kemampuan yang beragam. “Desain yang saya bikin itu, me­ mang saya kreasikan supaya lebih bisa diterima oleh mahasiswa. Misalnya, saya mengambil topik-topik yang sudah fa­ miliar, misalnya topik tentang kese­ha­­­­ri­­­­­

an atau topik mengenai Islamic studies,” paparnya. Sayangnya, semangat PPB dalam penyelenggaraan tak diimbangi dengan persentase kelulusan dalam setiap ujian. Dari data yang diperoleh Amanat, persentase kelulusan untuk ujian TOEFL dan IMKA sangat rendah. Sepanjang Oktober 2017 sampai Februari 2018, persentase kelulusan TOEFL dari 1489 mahasiswa pada ujian pertama hanya 14 %. Sedangkan untuk IMKA 19,1% dari 1627 mahasiswa. Pada ujian kedua, dari 1129 maha­ siswa yang mengikuti TOEFL, persen­ tase kelulusannya hanya 13,3%. Untuk IMKA, dari 1102 peserta ujian, yang lu­ lus hanya 15,9%. Sementara pada ujian ketiga, hasilnya pun tak jauh beda, dari 575 peserta TOEFL, hanya 11.3% yang lulus. Serta untuk IMKA dari 478 maha­ siswa, hanya 15.5% yang lulus. Shofiyatul Anis, mahasiswa prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT), menen­ garai banyaknya mahasiswa yang gagal dalam ujian TOEFL, lantaran pembela­ jaran bahasa kurang men­garahkan ma­ hasiswa ke penggarapan TOEFL. Sepanjang pengalamannya yang telah gagal tiga kali tes TOEFL, teori yang di­dapat di kelas berbeda dengan soal yang dihadapi di lapangan. Pada akhirnya, mahasiswa asal Demak ini, terpaksa ikut kursus di PPB sebagai al­ ternatif, lantaran hasil ujiannya kian menurun. “Tes pertama nilai saya 380, tes ke dua 360, dan tes ke tiga 340. Padahal saya rasa soal gak jauh beda,” katanya. Pendapat berbeda dikemukakan Mu­ hammad Yafie. Mahasiswa prodi Pendi­ dikan Agama Islam (PAI) itu, cenderung menyalahkan dirinya sendiri, ketika ti­ dak lulus tes IMKA 4 kali. “Mungkin karena saya kurang belajar saja,” katanya. Rendahnya persentase kelulusan dalam ujian TOEFL dan IMKA disadari sejak lama oleh Syaifullah. Permasalah­ an ini, menurutnya sangat kompleks. Ia mengeklaim, PPB telah melakukan eval­ uasi modul pembelajaran dan metode

pembelajaran untuk meningkatkan ke­ mampuan mahasiswa. Namun, jika r­­a­tarata mahasiswa tidak bisa lulus dal­­­am uji­ an pertama dan kedua, itu menunj­­­­­­u­k­­­­­­kan kemampuan bahasanya memang rendah. Tanggung jawab pengembangan ba­h­ asa asing, lanjut Syaifullah, bukan han­ya dilakukan oleh PPB. “Saat mahasiswa tidak lulus ujian satu kali, dua kali, tiga kali itu salah siapa? Ini menjadi tanggung jawab ber­sama bukan,” katanya, meyakinkan. Sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Syaifullah per­ nah diundang untuk mengikuti pelati­ han penyu­sunan kurikulum baru 2015 di fakultasnya. Dalam pelatihan itu, nara­ sumber yang didatangkan menekankan bagaiamana pentingnya menjadikan bahasa asing sebagai kompetensi prodi. Dengan demikian, bahasa Arab dan ba­ hasa Inggris tidak hanya ada di Mata Ku­ liah Dasar Universitas (MKDU). Namun, ketika melihat hasil penyu­ sunan kurikulum baru 2015, Syaifullah terkejut karena di fakultasnya, tidak ada satu pun prodi yang mengambil bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai Mata Ku­ liah Prodi (MKP). Saat Amanat mengecek Buku Pan­ duan Akademik Tahun 2016/2017, dari 36 prodi yang ada di UIN Walisongo, hanya tiga prodi yang mengambil mata kuliah bahasa Arab III dan bahasa In­ggris III. Ketiga prodi itu adalah Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT), Tasawuf dan Psikoterapi (TP), dan Pendidikan Agama Islam (PAI). Syaifullah tentu menyayangkan hal tersebut. Saat kebijakan universitas mengu­rangi porsi pembelajaran bahasa. Di tingkat fakultas, peningkatan kompe­ tensi bahasa tidak juga diseriusi. Pada­ hal kemampuan mahasiswa dalam ber­ bahasa asing masih rendah. Bobot mata kuliah bahasa Inggris dan bahasa Arab dalam perjalanannya terus mengalami kemerosotan. Mata kuliah itu pernah sampai diberi bobot dela­pan SKS, selanjutnya menurun menjadi enam SKS. Kini, dalam kurikulum UIN Walisongo 2015, bahasa Arab dan ba­hasa Inggris se­ bagai MKDU turun bobot menjadi hanya empat SKS.


PROBLEM BAHASA ASING “Empat SKS itu mahasiswa dapat apa,” tanyanya. Rizqi Bidasarandi, ketua Unit Keg­ iatan Mahasiswa (UKM) Nadi Walisongo fi al Lughah al Arabiyyah (Nafilah) ikut prihatin dengan kebijkan kampus yang terus mengurangi bobot SKS bahasa, terutama bahasa Arab. Jika hanya men­ gandalkan mata kuliah bahasa Arab I, II, mahasiswa akan kesulitan lulus dalam tes IMKA. “Pembelajaran dan kedalaman pem­ bahasannya sangat kurang. Apalagi jika kemampuan bahasa Arabnya lemah. Mahasiswa tidak menambah dari luar, itu mustahil,” katanya. Pandangan beda dikemukakan oleh Sahidin Wakil Dekan I Bidang Aka­demik Fakultas Syariah dan Hukum. Menurut­ nya, setiap fakultas mempu­ nyai tar­ get kompetensinya masing-masing. Ia mencontohkan, kompetensi yang di­ tekankan di fakultasnya adalah baca kitab kuning. Tidak ada jaminan, kata Sahidin, saat fakultasnya mengambil mata ku­liah Bahasa Arab III, mahasiswa akan dapat membaca kitab kuning. Seba­liknya, saat mahasiswa mampu memb­ aca kitab kuning, kemampuan bahasa Arab mere­ ka akan mengikuti. Sedan­ gkan untuk pematangan kemampuan bahasa Ing­ gris mahasiswa, ia meny­erahkan tang­ gung jawab itu kepada PPB. “Kami bukan prodi bahasa Inggris,” tegasnya. Learning outcomes (capaian pembe­ lajaran) bahasa asing telah ditetapkan birokrasi, sehingga PPB berkewajiban mengawal kebijakan itu. PIBA dan PIBI mestinya diarahkan untuk menca­ pai kompetensi agar mahasiswa dapat mengerjakan TOEFL dan IMKA. Dosen bahasa, dituntut berkualitas karena menanggung pekerjaan berat. Terlebih bobot mata kuliah bahasa Arab dan Ing­ gris kini hanya empat SKS. “Pengambilan dosen bahasa, jan­ gan asal comot. Tidak hanya misalnya karena lulusan luar negeri lalu disuruh mengajar mata kuliah bahasa Arab dan Inggris. Padahal bidang keilmuannya bukan di bahasa,” katanya. Kurikulum Tersembunyi Dalam catatan Amanat, kebijakan bahasa kerap berganti. Ketika PPB ma­ sih bernama Unit Pembinaan Bahasa (Ubinsa), sempat ada kebijakan matri­ kulasi bahasa. Matrikulasi merupakan kuliah nol SKS yang diwajibkan bagi ma­ hasiswa baru, khusus bagi yang standar

LAPORAN UTAMA

kemampuan bahasa asingnya masih le­ mah. Ini sekaligus prasyarat pengambi­ lan mata kuliah bahasa Arab I atau ba­ hasa Inggris I. Pada tahun 2010, kebijakan matriku­ lasi ini tidak lagi sebagai prasyarat peng­ ambilan mata kuliah, namun hanya se­ bagai kuliah tambahan. Tak berselang lama, kebijakan ini dihapuskan juga, karena tak diminati mahasiswa. Pihak kampus juga sempat mem­ berlakukan kebijakan placement test. Sistem ini menempatkan mahasiswa sesuai dengan kemampuan bahasan­ nya. Sayang, mulai tahun akademik 2016/2017 placement test tidak lagi diberlakukan. Yang berjalan sekarang, PIBA dan PIBI memukul rata setiap ma­ hasiswa. Tidak ada hirarki kelas ba­hasa. Musahadi menjelaskan, formula yang dijalankan sekarang ini adalah ru­ musan seluruh ahli di UIN Walisongo. Memang mulanya terjadi pertarungan gagasan dalam penyusunannya. Ada yang meminta mata kuliah ditambah, ada yang meminta sebaliknya. Namun, setelah dievaluasi, kuliah bahasa itu ti­ dak semua harus dimasukkan dalam

kurikulum terstruktur. Ada yang disebut kurikulum tersembunyi. PIBA dan PIBI yang masing-masing berubah menjadi empat SKS, menurut­ nya telah sesuai dengan kebutuhan selu­ ruh mahasiswa. “Mahasiswa itu kemampuannya be­ ragam. Makanya harus dicari formula pembelajaran yang dapat mengatasi keberagaman tersebut. Format bahasa yang dirancang oleh kampus dicari titik tengah. Mereka yang dari titik ‘nol’ harus dapat mengejar sendiri ketertinggalan­ nya dengan kursus dan lain sebagainya,” paparnya. Musa menyebutnya sebagai kuriku­ lum tersembunyi. Artinya, mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa ‘nol’ harus berusaha mengejar keterting­ galannya sendiri. Mereka dianjurkan untuk mengikuti Unit Kegiatan Maha­ siswa (UKM) bahasa atau kursus bahasa asing di luar jam kuliah. “Yang penting, you mau berakrobat kayak apapun, skor TOEFL dan IMKA nilainya harus sekian,” katanya. Problem Input Di lain sisi Syaifullah sadar, UIN Wali­

songo bukan kampus favorit. Sehingga, jarang lulusan terbaik sekolah yang ma­ suk kampus ini. Apalagi dalam peneri­ maan mahasiswa baru, kemampuan ba­ hasa tidak menjadi pertimbangan utama penerimaan. Walhasil, banyak maha­ siswa yang tidak bisa baca tulis Alquran pun dapat diterima di kampus ini. Ia menceritakan, setiap ujian IMKA, petugas sering membagikan kertas ko­ song. Peserta ujian diminta untuk men­ ulis surat pendek dalam Alquran. “Banyak mahasiswa yang salah dalam menulis surat-surat pendek dalam Alquran. Hasilnya mengenas­kan,” kata Syaifullah. Musahadi tidak menampik, UIN Walisongo memang tidak menentukan standar kemampuan bahasa calon ma­ hasiswa dalam tes masuk perguruan tinggi. Ia berdalih, kemampuan bahasa itu masuk dalam kategori alat, bukan tu­ juan. “Kemampuan bahasa mahasiswa yang beragam, di jembatani kampus dengan PIB,” kata Musa. Aulia’

Sumber: PPB - Infografik: Ari Yuwono Saputro

 Dr. H. Fahruddin Aziz Lc, MSI

Kapasitas dan Kualitas Materi Tidak Bisa disamakan

Pengamat Bahasa di UIN Walisongo

Bagaimana rata-rata kemampuan ma­hasiswa dalam bahasa Arab dan Ing­gris? Variatif. Ini disebabkan oleh variasi background pendidikan formal mereka sebelum masuk UIN Walisongo. Selain faktor pendidikan formal, pengalaman mengenyam pendidikan non-formal juga turut memperkaya variasi kemampuan mahasiswa dalam bahasa Arab dan ba­hasa Inggris. Presentase kelulusan TOEFL dan IMKA rendah, apa yang melatarbelakangi? Sedikitnya ada 2 faktor; pertama, kom­ petensi. Keragaman input mahasiswa yang masuk ke UIN ini tak bisa dinafikan. Kalau kompetensi dasarnya rendah, tentu perlu sejumlah treatment. Maka kapasitas dan kualitas materi tak bisa disamakan dengan mereka yang mampu; kedua, mo­tivasi. Kebijakan IMKA dan Toefl adalah kebijakan futuristik untuk kepentingan mahasiswa ke depan. Maka, kewajiban lu­lus IMKA dan TOEFL jangan sematamata demi sertifikat dan proses akademik

di fakultas. Tetapi menjadi penyemangat untuk mempersiapkan tantangan global ke depan di mana kebutuhan berbahasa asing tak terbantahkan. Nah, motivasi perlu datang dari diri sendiri dan sege­ nap pihak. Apakah skor TOEFL dan IMKA terlalu tinggi untuk mahasiswa UIN Walisongo? Perbandingannya apa dulu? Jika perbandingannya adalah kebutuhan ke luar negeri, tentu skor Toefl 400-450 dan IMKA 300-350 tidak bisa dikatakan ter­ lalu tinggi. Mata kuliah bahasa Arab dan Inggris, masing-masing hanya empat SKS, apak­ ah sudah cukup untuk mahasiswa un­tuk menghadapi TOEFL dan IMKA? Empat SKS dengan konten dan sis­ timatika buku ajar yang sekarang ber­ laku, cukup. Namun dosen tetap perlu memilihkan metode pembelajaran yang bersesuaian dengan tingkat kemampuan mahasiswa. Selain memotivasi, dosen di­ harapkan melakukan improvisasi secara

maksimal terhadap materi ajar. Maka tugas tambahan seperti menghafalkan kosakata dan latihan soal sangat diperlu­kan. Apakah empat SKS ideal? Kembali kepada kemampuan dasar mahasiswa dan metode ajar. Bagaimana idealnya dosen bahasa dalam mengajar? Inovatif dan motivatif. Inovatif ber­ hubungan dengan kemampuan me­ nyampaikan materi berikut dengan im­ provisasinya. Adapun motivatif bertalian dengan kemampuan memotivasi maha­siswa terhadap halhal yang futuristik. Bagaimana idealnya mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan Ba­hasa? Mahasiswa yang bermotivasi tinggi. Ini aspek terpenting. Ketika ada motivasi, maka dia akan selalu menyediakan wak­tu, kesempatan, dan energi untuk terus belajar untuk mencapai yang terbaik. Riduwan

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

7


MEREKA BICARA

Penumpukan pendaftaran TOEFL dan IMKA di Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) di latar belakangi banyak hal. Salah satunya belum berhasilnya kampus membuat formula pengajaran bahasa yang tepat. Berikut komentar para pihak terkait problem dua bahasa asing di UIN Walisongo.

Rizqy Bidasarandi

Prof. Dr. H. Suparma Syukur M.A,g Kepala Unit Pembinaan Bahasa (PPB) 1998-2007).

S

uparman Syukur, mantan ketua Unit Pembi­ naan Ba­hasa dua periode (sekarang PPB), banyak bercerita soal kebijakan-kebijakan yang pernah diterapkan­nya dalam pengembangan bahasa. Pada za­ mannya, bob­ot mata kuliah bahasa asing pernah diting­ katkan sampai 10 SKS untuk masing-masing bahasa. Melihat penurunan bobot bahasa sekarang ini, Supar­man sedikit pesimis. Jika proyeksi kampus itu un­ tuk membuat mahasiswa mampu berbahasa Arab dan Ing­gris, akan sangat sulit dengan bobot SKS bahasa yang sekarang. “Sampai kiamat pun, jika hanya empat SKS per ba­ hasa (Arab dan Inggris- red) itu mahasiswa akan tetap bingung. Karena materi dan waktunya sangat kurang,” katanya. Selain itu, Suparman berpandangan, metode pembe­ lajaran bahasa harus dievaluasi. Jika target dari pembe­ lajaran hanya untuk mahasiswa lulus dalam tes bahasa, maka semua mahasiswa, kata Suparman, pasti lulus. Tapi jika target kampus ini membisakan mahasiswanya ber­bahasa asing, maka itu yang menurutnya, sulit. “Kenyataan sebenarnya adalah bisa berbahasa, bu­ kan hanya lulus bahasa (TOEFL dan IMKA-red),” te­ gasnya. Sejak dulu, Pria yang sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama ini, me­mang getol menyuarakan pesantren mahasiswa. Namun, hingga kini sarana dan prasarana kampus masih belum mendukung. Harapan Suparman, sempat akan terpenuhi ketika kampus ini mendapat bantuan dari Perumahan Rakyat untuk membangun Ma’had UIN Walisongo. Ia mengira hal itu adalah sebagai langkah awal memperbaiki proses pembelajaran bahasa asing. Namun ternyata, tidak sesuai yang diharapkan Su­ parman. Ma’had UIN Walisongo sekarang, menurutnya, malah hanya untuk mahasiswa yang sudah pintar. Bukan untuk mereka yang belum bisa berbahasa asing. “Dapat bantuan dari perumahan rakyat, yang diambil justru yang pintar-pintar,” katanya

Rezky Kurniawan Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Walisongo English Club (WEC)

R

ezky Kurniawan ketua Unit Kegiatan Maha­siswa (UKM) Walisongo English Club (WEC) menduga, rendahnya persentase kelulusan dalam setiap ujian TOEFL dan IMKA, lantaran pen­ gajaran mata kuliah bahasa Arab dan bahasa Inggris yang tidak optimal. Ia pernah menjumpai dosen bahasa yang men­ gajarnya hanya untuk memenuhi absensi kehadiran. Sama sekali tidak memperhatikan peningkatan maha­ siswa dalam menangkap materi yang disampaikan. “Dua kali pertemuan, digabung jadi satu, dengan waktu satu kali pertemuan,” ungkapnya. Di samping porsi pembelajaran bahasa yang kian sedikit, menurut Resky, materi dalam mata kuliah ba­ hasa, khususnya bahasa Inggris, kurang menjurus ke persiapan TOEFL. Hal ini yang membuat mahasiswa gelagapan saat mengerjakan ujian. Mahasiswa prodi Ekonomi Islam (EI) ini, juga meragu­kan dorongan kampus untuk pengembangan bahasa yang non SKS. Sebagai salah satu UKM bahasa, WEC sulit mengajak PPB bekerja sama dalam pengemban­gan bahasa Inggris. Pada tahun lalu, WEC harus men­ gadakan pelatihan dan simulasi TOEFL sendiri, me­nyusul padatnya pendaftaran ujian bahasa. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya yang soal simulasi disediakan oleh PPB. “Tahun ini kami sudah putus asa, sulit melobi PPB,” katanya

8

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Nadi Wal­isongo Fi Al Kugha Al Arabiyyah (Nafilah)

R

izqi Bidasarandi ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Nadi Walisongo fi al Lughah al Arabiyyah (Nafilah), agak kaget melihat persentase kelu­ lusan antara TOEFL dan IMKA. Ia mengira, rata-rata kemampuan bahasa Arab mahasiswa UIN Walisongo sangat kurang jika dibandingkan dengan bahasa Ing­ gris. Sepanjang pengalaman dia, mahasiswa prodi Pen­ didikan Bahasa Arab (PBA) pun, tidak sepenuhnya mampu berbahasa Arab dengan baik. Apalagi di luar prodi PBA. Oleh sebabnya, kelulusan IMKA yang lebih tinggi dari pada TOEFL agak mengherankannya. “Kalau materi bahasa Inggris kan lebih global, dari latar belakang pendidikan apapun pasti ada,” jelas maha­siswa prodi PBA itu. Terlepas dari itu, Rizqi tetap menyayangkan kelulu­ san IMKA, yang masih tergolong rendah. Dengan soal yang dibuat oleh PPB, seharusnya, minimal persentase kelulusannya 50% dalam setiap ujian, karena UIN Wali­ songo adalah perguruan tinggi Islam. Melihat ke depan, mahasiswa UIN Walisongo akan semakin sulit berbahasa. Lantaran bobot bahasa yang awalnya enam SKS, hanya menjadi empat SKS. Bila dibandingkan, kemampuan berbahasa mahasiswa dengan bekal enam SKS, dinilainya, lebih tinggi dari yang sekarang. “Bekal yang hanya empat SKS, akan begitu sulit mendorong mahasiswa untuk lulus TOEFL dan IMKA,” katanya. Apalagi, lanjutnya, dua SKS hanya 16 kali perte­ muan, terpotong untuk UTS dan UAS. Tidak mungkin, kata Rizqi, satu diktat bahasa Arab I atau II diselesaikan secara terperinci dalam satu semester. Oleh sebab itu, mahasiswa asal Jepara ini menekankan kesungguhan mahasiswa dalam belajar bahasa Arab atau bahasa Inggris di luar perkuliahan. Baik melalui temannya yang lebih bisa, mengikuti kur­ sus bagi yang punya uang, atau bergabung ke Nafilah dan WEC.

Dr. H. Mukhsin Jamil M.Ag.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora

D

ekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum), Mukhsin jamil angkat bicara menge­ nai minimnya kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris mahasiswa UIN Walisongo. Dia men­ga­ takan, salah satu penyebabnya ialah masih banyak ma­ hasiswa yang tidak memahami konsep belajar di pergu­ ruan tinggi. Baginya, kegagalan memahami konsep belajar itu akan sangat fatal akibatnya. Karena, lanjutnya, belajar di perguruan tinggi tidak sama dengan belajar di Seko­ lah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika di per­ guruan tinggi mahasiswa sebenarnya dituntut untuk lebih belajar mandiri dan peran dosen hanya sebagai pemantik. “Dua SKS itu maknanya 200 Menit mas, tatap muka dengan dosen hanya 100 menit, nah 100 menit lagi se­ harusnya mahasiswa belajar mandiri,” tuturnya. Mukhsin mempertanyakan apakah mahasiswa su­ dah menggunakan waktu 100 menit itu untuk mem­buat forum diskusi, halaqoh bahasa atau sejenisnya? Menu­ rutnya, tidak semua persoalan akademik dapat disele­ saikan di dalam kelas, sebab tidak akan cukup waktu­ nya. Maka, Mukhsin berpesan kepada mahasiswa untuk kembali memahami konsep pembelajaran di pergu­ ruan tinggi agar mahasiswa tidak salah kaprah dan me­ nyalahkan sistemnya. Nailin, Riduwan

TAJUK n

‘Bersembunyi’ di Balik Kurikulum Tersembunyi Pada awal tahun ini UIN Walisongo dira­maikan dengan permasalahan penum­pukan pendaftaran ujian bahasa di Pusat Pengembangan Bahasa (PPB). Sebagai pe­nyelenggara TOEFL dan IMKA, lembaga itu menjadi sasaran kritik bukan hanya oleh mahasiswa, tapi juga birokrat di tingkat fakultas. Bagaimana tidak, mahasiswa harus menunggu berbulan-bulan untuk dapat mengikuti satu kali ujian bahasa. Tentu tidak akan menjadi masalah jika ma­ hasiswa tersebut masih duduk di semester enam ke bawah. Namun akan menjadi ‘petaka’ jika mahasiswa itu, sudah menginjak semester tujuh ke atas. Ada misi munaqasah yang harus dituntaskan. ‘Petaka’ itu telah menimpa beberapa mahasiswa di pelbagai fakultas di UIN Walisongo. Mereka yang telah menyelesaikan skripsinya, namun gagal wisuda lantaran mendapatkan jadwal ujian TOEFL atau IMKA jauh setelah wisuda semester gasal 2017/2018 diselenggarakan. Percepatan tes pada waktu itu hanya untuk mahasiswa semester tertentu. Tidak ke­ seluruhan. Diterbitkannya Surat Nomor: B-1091/Un.10.0/ P3/PP.00.9/3/2018 oleh PPB, menunjukkan bahwa, para pemangku kebijakan tak pernah mengantisipasi permasalahan penumpukan pendaftaran sebelum­ nya. Birokrasi mungkin berpikir bahwa PPB ‘mampu’ melayani lebih dari 14 ribu mahasiswa yang ada di UIN Walisongo. Sejak diberlakukannya SK Rektor Nomor 754 Ta­hun 2016, kualifikasi peserta TOELF dan IMKA dihapuskan. Setiap mahasiswa tak harus menyele­ saikan Progam Intensif Bahasa Arab (PIBA) dan Pro­ gam Intensif Bahasa Inggris (PIBI) terlebih dahulu. Asumsi yang berkembang, lantaran SK inilah penum­ pukan pendaftran di PPB terjadi. Di samping kultur buruk mahasiswa yang bergerak jika waktunya telah mau habis. Ada benarnya. Namun, Lebih dari itu. Permasalahan ‘pembluda­ kan’ ujian TOEFL dan IMKA sebenarnya tak hanya di latar belakangi oleh perubahan regulasi. Tingginya jumlah mahasiswa yang terus mengulang di tiap ujian juga menjadi problem serius yang belum teratasi. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi mencetak lulusan, setidaknya dipengaruhi dua hal. Pertama, input mahasiswanya. Dalam hal ini, kemampuan bahasa tidak menjadi salah satu instrumen dalam pertimbangan penerimaan mahasiswa baru. Se­ hingga, kemampuan mahasiswa yang masuk memang beragam--kalau tidak boleh dikatakan cenderung asal terima. Kedua, proses atau formula sebuah perguruan tinggi mengolah mahasiswanya. Dengan kemampuan bahasa yang begitu beragam Tim Akademik Kampus menerapkan yang namanya, kurikulum tersembunyi. Jadi ada pengurangan beban SKS dengan dalih maha­ siswa diwajibkan mengejar materi sendiri. Sehingga, ketika kemampuan mahasiswa buruk, yang salah bukan Tim Akademik, namun mahasiswa tersebut. Dengan formula baru ini, birokrasi lebih sering ber­se­ m­bunyi di balik kurikulum tersembunyi. Mahasiswa yang salah. Selalu seperti itu. Dalam penyusunan kurikulum baru UIN Wali­so­ n­­­go 2015 misalkan, porsi bahasa asing sebagai Mata Kuliah Dasar Universitas (MKDU), masing-masing hanya empat SKS. Menurun dari sebelumnya yang berbobot enam SKS. Sedangkan kompetensi bahasa asing dalam setiap prodi pun tidak maksimal. Hanya tiga prodi yang mengambil mata kuliah bahasa Arab 3 dan bahasa Inggris 3 dari 36 prodi yang ada. Tentu akan beda ceritanya, jika formula bahasa tidak hanya berhenti diwacana. Artinya, kampus men­ dorong apa yang disebutnya sebagi kurikulum tersem­ bunyi tersebut. Ada lebih dari enam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang baha­ sa. Jika, perkumpulan itu dapat dilihat kampus untuk menyukseskan target lulusannya mengapa tak coba diajak merancang sebuah agenda pengembangan ba­ hasa ke depan. Pengembangan bahasa berbasis UKM, bisa menjadi solusi alternatif dari pada menyuruh mahasiswa untuk mengikuti kursus, yang notabene tak seluruh mahasiswa mampu membayar. Diselenggarakannya ujian kolosal TOEFL dan IMKA, merupakan solusi jangka pendek untuk saat ini. Hanya solusi teknis. Ini tidak menyelesaikan per­ masalan utama kita soal kemampuan bahasa ma­ hasiswa. Tak menutup kemungkinan, jika problem esensial ini terus dibiarkan berlarut-larut, masalah penumpukan pendaftaran ujian akan terulang saban tahun di kampus hijau ini. Redaksi


LAPORAN P ENDUKUNG

SURVEI KINERJA DOSEN

Tak Sebatas Formalitas Tangkapan layar WaliSiadik mahasiswa. Sub menu Survei Kinerja Dosen (SKD) akan muncul pada tiap akhir semester.

Penilaian mahasiswa terhadap dosen saban akhir semester, turut menentukan nasib sang dosen. Sayang, kuesioner Survei Kinerja Dosen (SKD) kerap hanya dianggap sebagai formalitas belaka. Budaya yang harus dirubah.

S

eperti biasa, ketika masa perku­ liahan berakhir, hal yang pa­l­ing dinantikan Khoirunni’mah adalah melihat hasil studi beru­ pa Indeks Prestasi (IP). Sebagai syarat, ia harus mengisi Survei Kinerja Dosen (SKD) terlebih dahulu. Tidak perlu pikir panjang. Pada akhir Semester Gasal Tahun Akademik 2017/2018 lalu, Ni’mah, sapaan akrabnya, mengisi kuesioner yang tertera di WaliSiadik. Satu-persatu dosen yang mengajarnya, ia beri nilai tanpa membaca pertanyaanpertanyaan yang ter­lampir. “Sebenarnya saya mengisi SKD, hanya ingin mengetahui nilai saya,” katanya. Meskipun begitu, mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) ini, selalu memberikan skor terbaik pada setiap dosen yang mengajarnya. Ia beranggapan, jika memberi skor yang rendah dan terlalu jujur menyampaikan kritik akan berpengaruh terhadap nilai yang diberikan dosen. “Sebisa mungkin saya memberi skor ter­baik untuk para dosen dan cenderung tidak memberikan kritik apapun,” ungkapnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Mu­ hammad Aji Ryan Saputra. Pengalaman­ nya mendapatkan IP buruk pada salah satu mata kuliah, menghilangkan kesunggu­hannya dalam mengisi SKD. Ia mengira, IP buruk yang didapat adalah imbas dari kri­ tiknya terhadap salah satu dosen. Sejak saat itu, mahasiswa prodi Ilmu Politik itu, begitu hati-hati saat mengisi SKD. Bahkan, tak ja­rang ia mengisi dengan data palsu lantaran takut pengalamannya terulang kembali. “Seharusnya pihak kampus perlu men­gevaluasi kembali penerapan SKD. Sudah efektif apa belum. Kalau belum efektif per­ cuma saja. Tidak hanya sekedar sistem yang ditakuti,” tuturnya. Nawas Ainun Nadjib mahasiswa prodi Pengembangan masyarakat Islam (PMI) bertindak berbeda. Dalam mengisi SKD, ia mengaku tak pernah merasa terbebani apalagi khawatir terhadap IPnya. Menu­rutnya, Survei yang dilakukan Lembaga Penjamin Mutu (LPM) bermaksud untuk mengevaluasi kinerja dosen selama proses Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar). Maha­ siswa, kata Nawas, harus serius saat men­gisinya. “Dengan adanya sistem ini dapat di­ jadikan penilaian mahasiswa terhadap dosen,” katanya. Menjaring Aspirasi SKD adalah upaya yang ditempuh UIN Walisongo menjaring aspirasi

mahasiswa terkait kinerja dosen. Ada lima indikator yang dijadikan sebagai tolak ukurnya. Masing-masing mewakili kompetensi mengajar dosen, yaitu penguasaan bi­ dang yang menjadi tugas (Kompetensi Profesional), kewibawaan sebagai dosen (Kompetensi Kepribadian), kesunggu­ han dalam mempersiapkan dan melak­ sanakan perkuliahan (Kompetensi Peda­ gogis), kemampuan menjelaskan keter­ kaitan bidang keahlian yang diajarkan dengan konteks kehidupan (Kompetensi Pedagogis), lalu yang terakhir kemam­ puan bergaul, menerima kritik, saran, dan pendapat orang lain (Kompetensi Sosial). Kelima indikator tersebut diukur oleh mahasiswa di akhir semester secara dar­ing melalui instrumen yang ada di Wal­ i­ Siadik. Dalam penilaian Beban Kinerja Dosen (BKD) sebagai yang diatur oleh pemerintah, SKD merupakan salah satu komponen dari Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pada aspek pendidikan dan pengajaran (Dikjar). Dalam pelaksanaannya, SKD bersifat tertutup. Setiap dosen tidak akan menge­ tahui siapa mahasiswa yang mengkritik dirinya. Oleh sebab itu, hasil dari SKD ti­ dak berpengaruh terhadap IP. Mukhsin Jamil Dekan Fakultas Ushu­ luddin dan Humaniora mengatakan ma­ hasiswa mempunyai kemerdekaan penuh dalam mengisi SKD. Anggapan bahwa kri­ tik yang disampaikan mahasiswa berpen­ garuh terhadap IP, adalah salah. Mukhsin menegaskan bahwa setiap dosen yang menerima kritik dari mahasiswa tidak pernah tahu siapa yang mengkritiknya. “Saya pun tidak tahu siapa (baca: identitas) yang mengkritik saya. Apalagi jika dikaitkan dengan nilai, sama sekali tidak ada hubungan,” tegasnya. Oleh sebab itu Mukhsin menyayang­ kan ketika mahasiswa tidak serius dalam mengisi SKD. Baginya, hasil survei yang diinisiasi oleh LPM sangat berharga untuk melihat kinerja dosen dalam Dikjar. Jika mahasiswa asal-asalan saat mengisi SKD, menurutnya, akan merugikan bagi dosen yang sungguhsungguh. Begitu pula seba­liknya. “Itu kan untuk kebaikan mahasiswa sendiri,” katanya. Pengahargaan dan Hukuman Hasil rekap seluruh kinerja dosen yang dilakukan oleh LPM, termasuk SKD, akan diserahkan kepada setiap pimpi­ nan di masing-masing fakultas. Selan­ jutnya, pihak fakultas menyampaikan dalam rapat tertentu. Dari temuan yang

ada, akan dijadikan dasar Monitoring dan Evaluasi (Monev) dalam setiap awal perkuliahan. Tidak hanya itu, LPM juga menghirar­ ki kedudukan dosen, dari yang tertinggi hingga yang terendah berdasarkan capai­ an kinerja dosen selama satu semester. Saat Amanat meminta data tersebut, LPM tidak dapat memberikan, lantaran me­nyangkut reputasi dari dosen terkait. Berdasarkan data tersebut, dosen yang mendapatkan kurang dari standar yang ditentukan akan dipanggil oleh LPM atau pimpinan fakultas. Dalam prosesnya, Muhyar Fanani Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) menjelaskan, dosen yang mendapatkan poin kurang dari standar akan dipanggil oleh pimpi­ nan fakultas. Pemanggilan itu dilakukan secara tertutup dengan melibatkan Wakil Dekan I bidang Akademik, sehingga dosen tidak merasa di­permalukan.

Kemampuan bergaul, menerima kritik, saran, dan pendapat orang lain

Semester gasal

Kemampuan menjelaskan keterkaitan bidang keahlian yang diajarkan dengan konteks kehidupan

“Bagi yang kurang, kami tegur. Setelah itu akan dicek, jika dalam dua tahun ber­ turut-turut poinnya masih rendah, maka akan diberi teguran yang lebih keras. Mis­ alnya, beban SKS dikurangi atau tidak lagi mengajar mata kuliah yang dinilai buruk oleh mahasiswa,” katanya. Sedangkan bagi dosen yang mendapatkan peringkat tertinggi, lanjut Muhyar, biasanya dibanggakan saat fo­ rum evaluasi. Namun, tidak diberi apaapa selain ucapan selamat. Ia meren­ canakan, bagi dosen terbaik nanti tidak hanya diberi ucapan. Meskipun demikian, Muhyar ber­ pendapat masih terdapat kelemahan dalam sistem ini. Instrumen yang digu­ nakan LPM kurang akurat jika keseluru­ han hanya menggunakan data kuntitatif. Harus juga dengan data kualitatif. Hal itu, kata Muhyar, bisa diperoleh LPM den­g­ an mumbuat tim khusus yang bertugas memberi informasi terkait kinerja dosen dan membuat kotak keluhan untuk ma­ hasiswa. “Mungkin LPM bisa membuat WhatsApp aduan atau kotak saran yang ada ditiap fakultas. Kemudian LPM menbentuk Tim Tilik Meilik sebagai pemasok informasi,” saranya. Saat ditemui dikantornya, Abdul Mu­ hayya’ ketua LPM menjelaskan, rata-rata Indeks Pengajaran yang ditetapkan di tiap fakultas adalah empat. Jika kurang dari empat, dosen yang bersangkutan akan di­beri hukuman sebelum dibina. “Untuk dosen tidak tetap biasanya ti­ dak dipakai lagi. Sementara untuk dosen tetap akan mendapatkan pembinaan,” katanya. Pihaknya mengaku, dalam men­ jatuhkan hukuman terhadap dosen tidak sembarangan. Tetapi diselidiki terlebih dahulu dengan melakukan cross-chek ke lapangan. Dalam beberapa kasus, Mu­ hayya’ sering menemukan kekeliruan data. Dosen yang kinerjanya baik malah mendapatkan nilai buruk dari hasil SKD. “Saya curiga, ada semacam kolaborasi ketidakjujuran yang dilakukan oleh ma­ hasiswa,” ungkapnya. n Fika Eliza

kesungguhan dalam mempersiapkan dan melaksanakan perkuliahan

Kewibawaan dan kearifan sebagai dosen

Penguasaan bidang keahlian yang menjadi tudgas

Semester genap

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

9


LAPORAN PENDUKUNG

Prestasi Mahasiswa

(Dok. Kemenag.go.id)

Prestasi, Kempas-Kempis Amunisi

Mahasiswa UIN Walisongo, saat menyabet gelar juara ke 3, debat konstitusi MPR RI tingkat nasional.

Birokrasi Kampus tak henti-hentinya mendorong mahasiswa untuk berprestasi. Namun, tak berbanding seruan. Kurangnya apresiasi dan kelengkapan fasilitas terkadang membuat mahasiswa, geleng-geleng kepala.

S

uasana Ngaliyan pukul 05.30 WIB masih sepi. Sepanjang Jalan Prof Hamka beberapa kendaraan yang melintas dengan mudah dapat di­ hitung. Begitu ingatan yang terbesit dalam benak Anisa Nindia Hayati, mahasiswi se­ mester enam prodi Ilmu Hukum (IH). Ga­ dis yang akrab disapa Nesa saat itu, bers­ ama rekannya Maulana Hasanudin duduk menunggu Bus Rapid Transit (BRT) di halte untuk mengikuti kompetisi debat di Balai Kota Semarang. Setibanya di tempat kompetisi, Nesa dan Maulana berusaha tetap tampil per­ caya diri sembari menahan rasa gugup. Ia menyadari, hanya mereka yang datang tanpa diantar mobil dan dosen pembim­ bing. Menampik semua itu, mereka ber­ hasil mengharumkan nama UIN Wali­ songo dengan membawa juara I debat bertema “Parade Cinta Tanah Air”. Keba­ hagian Nesa tak tertahankan, persiapan yang ia geluti sehari sebelum kompetisi membuahkan hasil. “Disaat peserta yang lain dijemput mobil, kami pulang membawa piala dan press money menggunakan BRT,” tutur Nesa saat ditemui Amanat, Selasa (17/4). Pengalaman lain pun pernah dialami Nesa, saat mengikuti kompetisi debat ber­ tema “Debat Hukum Lingkungan” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menurut Nesa, ketika ia bersama kedua rekannya akan mengikuti acara tersebut, mereka malah mendapat respon yang kurang baik. Mera­ sa tidak ada dukungan dari kampus, akhir­ nya ia dan kedua rekannya merental mo­ bil dengan uang patungan. Nesa mengatakan, awalnya ia sem­ pat kecewa karena kurangnya dukungan dari kampus. Namun perjuangan Nesa dan teman-temannya tidak sia-sia. Mere­ ka berhasil mendapatkan juara I. Dari kompetisi itu, pertama kalinya Nesa dan teman-tamannya mendapat sorotan dari pihak kampus. Meskipun itu bukan soro­ tan yang sifatnya apresiasi. “Dukungan finansial adalah hal yang manusiawi, tidak menjadi keharusan yang mematahkan semangat untuk berpresta­ si,” ungkapnya. Noor Maulida Aulia, mahasiswa se­ mester enam prodi IH mengatakan, kam­ pus sulit dalam memberikan dukungan kepada mahasiswa yang berprestasi. Hal itu pernah ia alami saat akan mengajukan proposal pengajuan dana untuk mengi­ kuti kegiatan Lombok Youth Camp, Janu­ ari 2018 lalu. Menurutnya, saat itu kampus menolak dengan beralasan acara yang dii­ kuti bukan kompetisi ilmiah.

10

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

Pada Mei 2017, Maulida beserta dua temannya mengikuti kompetisi debat pendidikan di Unnes dengan biaya send­ iri. Usai mengikuti acara tersebut, Maulida membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) dan berhasil mendapat persetu­ juan dari Wakil Dekan (WD) III bidang Kemawasiswaan dan Kerjasama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). Namun nihil, LPJ yang telah diajukan setelah dinanti tak kunjung turun. “Padahal setelah kegiatan LPJ telah dibuat dan mintakan tanda tangan kesana kemari, namun uangnya tidak cair,” kata­ nya. Kering Anggaran Menanggapi sikap kampus terhadap mahasiswa berprestasi, Mukhsin Jamil, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Hu­ maniora (Fuhum) mengatakan, apresiasi menjadi suatu hal yang penting. Terlebih, kampus telah mendorong agar maha­ siswa berprestasi. Menurut Mukhsin, kampus saat ini sedang dilema sebab masih dalam masamasa transisi IAIN ke UIN yang belum usai. Tidak hanya dalam pendampin­ gan mahasiswa, tranformasi akademik kelembagaan pun belum diimbangi den­ gan peru­bahan dalam fasilitas keuangan, khusunya pada sistem kerja. Ini meru­ pakan agenda besar, oleh karena itu pola pembinaan dan pengembangan untuk mahasiswa berprestasi ada keterbatasan. Mukhsin menilai, perlu ada peruba­ han anggaran yang signifikan. Dari per­ baikan anggaran, pembenahan dalam sistem pembinaan mahasiswa dan fasili­ tas berupa peralatan dan pelatihan perlu dikencangkan. Sekalipun pendampingan mahasiswa diprioritaskan saat ini, hal itu tidak bisa sebab kampus masih menggu­ nakan anggaran DIPA lama. “Tidak mungkin kita ingin prestasi tanpa anggaran dan biaya,” ungkapnya. Dekan FSH Arif Junaidi mengatakan, apabila kampus tidak ada plot anggaran untuk mengapresiasi prestasi mahasiswa, perlu ada solusi lain. Pemberian apresiasi tidak melulu harus dalam bentuk materi. Memasang nama mereka dalam baliho pun sudah dikatakan apresiasi. “Dengan terpampangnya nama mere­ka dalam baliho, tentu akan menye­ mangati dan memotivasi mahasiswa lainnya,” kata Arif. Menurut Arif, mahasiswa yang ikut berkompetisi atas nama kampus bi­ asanya mendapat bantuan transportasi, penginapan dan konsumsi. Selain itu, pendampingan sebelum lomba turut di­

lakukan sebagai bentuk dukungan dari kampus. Mengejar IKU Rektor Dalam Surat Keputusan Rektor No.B060-/Un.10.0/R/KP.08.8/01/2018 tentang Penghargaan Penulisan Artikel dan Peng­ hargaan Prestasi Kejuaraan, diuraikan katagori apresiasi berbentuk finansial. Penghargaan bagi kolumnis mahasiswa dapat diperoleh dari media massa yang telah ditentukan, dari tingkat lokal, re­ gional dan nasional dengan besaran Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Sedangkan penghargaan bagi prestasi mahasiswa dalam tingkat perlombaan perorangan atau beregu, di mulai dari tingkat lokal, kota, regional, nasional dan internasional. Apresiasi yang diperoleh dari besaran Rp 100 ribu sampai Rp 850 ribu, sesuai dengan kategori lomba dan tingkat peraihan juara. Kepala Bagian Akademik dan Kema­ hasiswaan, Muh. Kharis mengungkapkan bahwa anggaran untuk mahasiswa ber­ prestasi di tahun 2018 masih dikategori­

kan kurang, meskipun dalam angka Rp 25 juta. Dalam pembagian apresiasi, uang sejumlah Rp 25 juta dipecah sesuai keten­ tuan perolehan juara dalam lomba dan prestasi. “Selagi kita membagi anggaran masih menyesuaikan kategori yang ada, jelas pembagian itu masih terlalu kecil dan ti­ dak cukup,” ungkapnya. Menurut Kharis, di bagian kemaha­ siswaaan tingkat universitas ada dana del­ egasi sejumlah Rp 57 juta dan dana pem­ binaan (pelatih) Rp 35 juta. Begitupun di tingkat fakultas, ada perolehan dana delegasi masing-masing. Dana delegasi dapat digunakan jika proposal lomba yang diajukan mahasiswa resmi, syaratnya ada surat undangan untuk universitas atau fakultas. Dalam pelaksanaannya, jika undang­ an tersebut untuk rektor maka kemaha­ siswaan tingkat universitas yang akan ber­ tanggung jawab. Jika kepada dekan, maka kemahasiswaan tingkat fakultas yang akan bertanggung jawab. Biasanya jika angga­ ran dana delegasi tingkat fakultas kurang, kemahasiswaan univeritas akan memban­ tu penginapan atau transportasi. “Namun jika dikeduanya sudah habis, ya sudah tidak bisa membantu,” katanya. Kharis mengatakan, prestasi maha­ siswa sangat membantu untuk pening­ katan akreditasi fakultas maupun univer­ sitas, serta dalam pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Rektor. Dalam hal ini, IKU rektor merupakan penilaian yang dicanangkan oleh Kementrian Agama (Kemenag) sebagai program kerja rektor. Misalnya di tahun 2018, rektor men­ argetkan 5 perolehan kejuaraan tingkat internasional dan 30 di tingkat nasional. Tiap akhir tahun program tersebut akan dihitung dan dievaluasi. Komponen pe­ nilaian IKU rektor, termasuk juga dalam bidang akademik seperti rata-rata IPK ma­ hasiswa dan persentase jumlah kelulusan tiap tahun. “Pencapain IKU Rektor seharusnya mencerminkan besaran anggaran, namun secara realita anggaran belum mencuku­ pi,” tutup Kharis. n Khanif Maghfiroh

Apresiasi Kampus Terhadap Prestasi Mahasiswa

Sumber: Bagian Akademik dan Kemahasiswaan UIN Walisongo.

Infografik: M. Iqbal Shukri


SKETSA

BACA TULIS ALQURAN

Wanti-Wanti BTQ

(Foto: Riduwan/Amanat)

Bertambahnya fakultas dan prodi umum, turut berpengaruh terhadap input mahasiswa UIN Walisongo. Segala tindakan dilakukan, termasuk mengajari mahasiswa membaca dan menulis Alquran.

Seorang mahasiswa sedang membaca Alquran di Masjid Kampus III, Kamis (17/5).

K

amis 12 Oktober 2017 adalah hari yang tidak akan dilu­pakan oleh Ahmad Murtaza. Siang itu, tele­ pon geng­gam mahasiswa prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushu­ luddin dan Humaniora (Fuhum) terus bergetar. Penasaran, ia lalu mem­ buka beberapa pesan yang masuk ke What­sApp-nya. Kening Taza, sapaan akrab­nya, seketika mengkerut. Ia dapati di salah satu grup kelasnya menampil­ kan surat edaran bagi seluruh mahasiswa Fuhum angkatan 2016 untuk mengi­ kuti placement test praktikum Baca Tulis Alquran (BTQ) pada 14 Oktober 2017. Bagaimana tidak kesal, pelaksanaan BTQ begitu mendadak. Sedangkan, di waktu yang sama, ia ada seleksi masuk salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas. Keinginan masuk UKM yang dia idam-idam sejak masih semester satu, akhirnya kandas. Taza lebih memilih untuk mengi­ kuti placement test BTQ. Lantaran, tes itu akan menentukan kelas dia saat melak­ sanakan praktikum BTQ yang diadakan selama dua kali dalam satu bulan. kelu­ lusan dalam praktikum itu merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian komprehensif di fakultasnya. Hal itu yang membuat Taza, bersama ratusan mahasiswa Fuhum lainnya, rela meninggalkan semua agenda di hari itu demi kelancaran mendapatkan sertifikat kelulusan. “Daripada tidak bisa mendaftar uji­an komprehensif lantaran tidak punya serti­ fikat BTQ, lebih baik seleksi masuk UKM yang saya korbankan,” ujar maha­siswa asal Medan itu masygul, saat dite­mui di asrama mahasiswa, Sabtu (10/03). Ahmad Musyafiq, Wakil Dekan (WD) I Fuhum menjelaskan, bahwa sebena­ rnya kegiatan praktikum BTQ itu tidak mendadak, karena dari awal su­dah dia­ gendakan di kurikulum angkatan 2016. Mengingat, kemampuan mem­baca dan menulis ayat Alquran meru­pakan syarat untuk semua lulusan UIN Walisongo. “Jika ditemukan lulusan, kesulitan dalam membaca Alquran, itu sungguh memprihatinkan sekali bagi kita,” kata­ Musyafiq. Sebelumnya, pelak­sanaan ujian BTQ di Fuhum dilaksanakan be­ rsamaan dengan ujian komprehensif. Sepanjang pengalamann Musyafiq, pelaksa­ naan seperti itu sering terlewatkan dan tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, diberlakukan praktikum BTQ jauh hari sebelum mahasiswa melaku­ kan ujian komprehensif.

“Saya tidak ingin jika sampai teru­ lang ada yang terlewatkan. Sebab, BTQ meru­ pakan sebuah kompetensi, dan menjadi hal yang mendasar untuk di­ penuhi ma­hasiswa,” tegasnya. Ragam Penerapan di Tiap Fakultas Sejak IAIN Walisongo bermutasi menjadi UIN pada 2014, jumlah fakultas dan prodi dengan fokus keilmuan umum semakin bertambah. Secara tidak lang­ sung, input mahasiswa juga semakin banyak dengan latar belakang pendidi­ kan yang beragam. Sedangkan, semua jalur seleksi masuk UIN tidak satupun ada instrumen yang menjadi tolak ukur kemampuan BTQ calon mahasiswa. Besar kemungkinan, banyak maha­ siswa yang tidak dapat membaca atau menulis Alquran dapat diterima. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, tentu akan mempertaruhkan integritas UIN Walisongo di mata masyarakat dalam mencetak lulusan. Keadaan itu, menurut Musahadi Wakil Rektor (WR) I Bidang Akademik dan Kelembagaan, yang membuat kam­ pus terus berbenah. Pihaknya, mene­ tapkan salah satu standar lulusan UIN Walison­go harus dapat membaca dan

Kita saja sekarang ngobrak-ngabrik dosennya untuk bisa ngaji, berarti kan mereka belum bisa mengajar BTQ.

Dr. Baidi Bukhari S.Ag, M.Si Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Psikologi dan Kesehatan menulis Alquran. Maka dari itu, kampus mem­ fasilitasi dengan pendampingan yang hasilnya nanti menjadi syarat kelu­ lusan. Dalam pelaksanaanya, lanjut Musa, BTQ menjadi kewenangan setiap fakultas, akan dimasukkan kurikulum tersembunyi atau kurikulum terstuktur. Karena ketika diseragamkan tentunya akan menjadi kegiatan formal. Hal itu tentu tidak sesuai den­gan persoalan dan kapasitas setiap ma­hasiswa.

“Mahasiswa Ushuluddin tentu me­ miliki kapasitas yang berbeda dengan mahasiswa FITK dalam menghadapi BTQ,” terang Musahadi. Banyak keragaman penerapan pro­ gam BTQ di pelbagai fakultas. Fuhum misalnya, BTQ dijadikan praktikum ma­ hasiswa sesuai dengan silabus angka­ tan. Sedangkan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) serta Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik (FISIP), kom­ pak memaksimal­kan tenaga wali dosen dalam mengon­trol kelulusan BTQ. Selain itu, kesamaan juga diperlihat­ kan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegu­ ruan (FITK) dengan Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Dua fakultas itu meny­i­ sipkan BTQ dalam mata kuliah. Lebih jadi pembeda lagi, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dalam me­ nentukan standar syarat kelulusan bagi mahasiswa. Sahidin, Wakil Dekan Bidang Akademik, menerangkan per­ syaratan mendaftar ujian komprehensif bagi ma­hasiswa FSH dengan sertifikat Batsul Kutub. FSH masih menggunakan sistem klasikal dengan metode perkulia­ han yang pembahasannya sesuai deng­ an ju­rusan. “Saya kira metode seperti itu lebih relevan bagi mahasiswa FSH, dibanding hanya membaca Alquran,” anggapnya. Sahidin menambahkan bahwa den­ gan metode Batsul Kutub tersebut men­ jadi standar yang lebih tinggi dari BTQ. Ia yakin, jika mahasiswa sudah bisa membaca kitab, otomatis kemampuan­ nya dalam hal BTQ juga sesuai dengan harapan. “Penerapannya, kalau AhwalusSakh­siyyah itu tentang hukum keluarga seperti perceraian, warisan dan seb­ againya. Se­ dangkan Hukum Pidana Islam berkaitan sanksi dan pidana itu sendiri,” jelas Sa­hidin. Masih Bermasalah Dalam praktik progam BTQ, se­p­er­ t­i ada pemaksaan dalam menentukan arah, sehingga permasalahan sering­ kali muncul di beberapa fakultas, sep­ erti halnya yang dirasakan Nurul Udzma Tastia, mahasiswi Fuhum angkatan 2016. Setelah mengikuti praktikum hingga berita ini diturunkan, ia merasa belum ada follow up dari kegiatan prak­ tikum itu. Bahkan, Udzma, biasa ia di­ panggil, dan teman-temannya belum menerima sertifikat seperti yang dijanji­ kan oleh fakultas. “Jika itu persyaratan standar kelulu­ san, kenapa masih belum ada kepastian seperti itu,” keluhnya.

Lain halnya dengan Rexy Prayogi, Mahasiswa FISIP itu merasa fakultasnya masih sangat kurang dalam pendam­ p­ ingan BTQ. Menurutnya, sistem yang dibangun fakultas masih banyak kelemahan dan tidak terstruktur. Belum lagi skema yang diterapkan dosen wali tidak sama, sehingga ada perbedaan menonjol antara mahasiswa satu den­ gan mahasiswa lainnya. Mizbah Zulfa Elizabeth, WD I FI­ SIP ,mengakui adanya permasalahan dalam pelaksanaan BTQ itu. Ia men­ gungkapkan, hingga saat ini UIN Wa­l­ i­­­songo masih mencari cara yang tepat untuk memaksimalkan progam BTQ. Terutama apa yang terjadi di FISIP. Menurut Eli, BTQ memang menjadi problem dan dilema. Di satu sisi men­ jadi sebuah keharusan bagi seluruh ma­ hasiswa UIN, namun di sisi lain menjadi beban tambahan bagi mahasiswa kare­ na merupakan non SKS. “Saya melihat, memang BTQ itu hal yang penting untuk dijadikan syarat ke­ lulusan. Akan tetapi pelak­sanaannya be­ lum bisa maksimal seperti apa yang di­ harapkan dari BTQ itu sendiri,” akunya. Eli berharap, ke depan UIN Wali­ so­ ngo dapat menemukan format yang siste­ matik untuk menuntaskan permasala­ han tersebut. Dicontohkan, UIN Wal­i­songo dapat melakukan studi banding kepada instansi atau lembaga yang lebih dulu mapan dalam menerap­ kan BTQ. “Saya ingin progres dari program non SKS itu tetap terlihat hasilnya. Seti­ daknya, nanti lulusan UIN bisa menjadi imam,” katanya. Lain halnya di Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), Baidi Bukhari, WD I FPK mengaku masih mencari format yang tepat untuk menjalankan BTQ. Alasannya, dosen yang ada di fakultasnnya tidak banyak yang berlatar belakang ilmu keagamaan. Seandainya mendatangkan tenaga dari luar tentu­ nya itu memerlukan dana yang lebih besar. “Kita saja sekarang ngobrak-ngabrik dosennya untuk bisa ngaji, berar­ ti kan mereka belum bisa ngajar BTQ,” ujarnya. Riduwan

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

11


KECELAKAAN SILAYUR

REHAT

KUIS ASAH OTAK 130 Mendatar 1. Satuan ekologi dalam alam 7. Pintar tanpa belajar 11. Obrolan seputar selebriti 13. Kiblat 16. Jatuh cinta 19. Pemakan segala 20. Tidak hadir 22. Bobrok 23. Antonim subur 24. Tahun yang jumlah harinya 366 25. Bulan ke 10 tahun masehi 26. Penghargaan bagi kota terbersih

n

12

Komik

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

Menurun 1. Individualis 2. Pengamatan 3. Alat pernafasan kecebong 4. Keluar darah 5. Kepala tulisan 6. Lembaga keuangan 8. Elips 9. Alat pembayaran luar negeri 10. Baju trasional jepang 13. Angket 14. Tengah-tenggah 15. Hidup di air dan di darat 17. Tidak suka 18. Kain Berpola dari Indonesia 21. Umur

Ketentuan Menebak 1. Tulis jawaban, cantumkan nama, alamat, dan nomor HP yang bisa dihubungi 2. Foto hasil isian KAO 3. Kirim jawaban ke surel redaks. skmamanat@gmail.com 4. Pengiriman jawaban paling lambat 10 September 2018 5. Pemenang akan diumumkan di Tabloid Amanat edisi selanjutnya 6. Diambil dua pemenang, masingmasing mendapatkan satu buku menarik.

Pemenang KAO Edisi Tabloid 129

1. Nur Laeni Faizal, mahasiswa 2.

prodi Ilmu Hukum, PP. Misk Kaliwungu Winarti, mahasiswa prodi PendidikanMatematika

Hadiah bisa diambil di Kantor Redaksi SKM Amanat.


OPINI MAHASISWA

Penguatan Bahasa Asing di UIN Walisongo

Ciptakan Iklim Bahasa Asing

Mengambil Peluang Lewat Bahasa

enguasaan bahasa as­ bisa dikuasai adalah sua­sana ing sangat dibutuhkan dan lingkungan. Pem­biasaan di era globalisasi saat bahasa asing bisa dimulai ini. Terutama bahasa Ing­gris. dari komunikasi sesama ma­ Karena, hampir semua alathasiswa, atau antara dosen alat, obat-obatan, dan lain dan maha­siswa. Jika hal ini sebagainya menggu­nakan tak kun­ jung diusahakan, bahasa Inggris. Jadi sangat problem bahasa yang ada Muhammad Ikbal terpaksa kita harus meng­ di kam­ pus ini selamanya Mahasiswa prodi Ilmu uasainya, supaya kita tidak akan begini. Falak, Fakultas Syariah asing di tengah ma­ syarakat Sebenarnya kampus su­ dan Hukum (FSH). global dan terjajah secara dah menyediakan Unit Kegi­ halus. atan Mahasiswa (UKM) un­ Kemampuan itu, tidak­ lah cukup tuk mendukung pengem­bangan bahasa. hanya dipelajari di bangku perkuliahan, Akan tetapi, hal itu kurang berjalan apalagi dengan bobot empat SKS. Tentu, deng­an maksimal. Mer­eka masih berku­ seorang mahasiswa harus mengem­ tat di masalah internal, seperti penda­ bangkan di luar bang­ ku perkuliahan. naan dari kampus untuk menyukseskan Menurut Mr. Kalend, salah satu pendiri kegiatannya. Kampung Bahasa di Pare, sebenarnya Suatu apresiasi yang luar biasa bagi kita telah mempela­jari bahasa Inggris UIN Walisongo karena mewajibkan sejak SD, SMP, dan SMA, tetapi meng­ TOEFL dan IMKA, sebelum munaqasah. apa hanya sedikit yang benar-benar Memang, standar kemampuan bahasa menguasai? Sebagian malah hanya bisa harus diperhatikan. Apalagi jika seorang mengucapkan, I miss you, I love you, yes, mahasiswa dapat menguasai bahasa no. Hal itu terjadi lantaran kurangnya ­as­ing dengan baik, tentu, mereka mem­ prak­tik. Kosa kata bahasa asing yang ter­ punyai kesempatan besar melanjutkan us didapatkan tidak dibiasakan dalam studi di luar negeri. kes­ eharian. sehingga hanya sebatas Yang jadi kendala adalah, sarana singgah sementara, lalu, hilang. dan prasarana di kampus kurang men­ Kita bisa mencontoh pesantren mod­ dukung untuk itu. Seperti tidak adanya ern yang menggunakan bahasa Arab laboratorium bahasa yang umum untuk dan bahasa Inggris untuk berkomuni­ mahasiswa. Padahal laboratorium ba­ kasi dalam keseharian. Tentu, dengan hasa akan sangat membantu mahasiswa penyesuain kondisi yang ada di kampus. dalam pembiasaan penggunaan bahasa Faktor utama yang membuat bahasa itu asing di kampus hijau ini.

alam Kamus Besar Ba­ atau bahasa Inggris, pelu­ hasa Indonesia (KBBI), ang kerja leb­ ih terjamin, bahasa as­ ing meru­ kesempatan belajar di luar pakan bahasa milik bangsa negeri, dan beasiswa baik lain yang dikuasai, biasanya yang disediakan oleh lem­ melalui pendidi­kan formal dan baga pemerintahan atau yang secara sosiokultural ti­ lem­baga swasta. dak dianggap sebagai bahasa Dalam lomba debat, Ainun Fitriana sendiri. disanalah banyak diuji Mahasiswi prodi Mempelajari bahasa kemampuan mahasiswa Pendidikan Agama Islam ­as­ing sangatlah penting dalam Fakultas Ilmu Tarbiyah untuk berpikir kritis dan kehidupan, mengapa? Kare­na menyampaikan pendapat­ bahasa asing dapat digu­nakan sebagai nya menggunakan bahasa asing. Peng­ bekal kita untuk menghadapi era glo­ uatan bahasa asing di kampus, selain balisasi yang sedang berlangsung saat untuk men­gasah kemampuan kognitif ini. Dengan menguasai bahasa asing dan ket­erampilan juga untuk mening­ seseorang mampu berkomunikasi lebih katkan potensi kerja apabila mahasiswa jauh, tidak hanya di lingkup negaranya terse­but sudah lulus. Karena untuk ma­ sendiri namun juga dapat mencakup suk dalam dunia kerja, kemampuan manca negara. ber­bahasa ­asing dapat menjadi pertim­ Dalam dunia kampus sendiri, pen­g­ bangan dalam penerimaan kerja dan u­­asaan bahasa asing merupakan salah menjadi tolak ukur dalam penempatan satu aspek penting bagi seorang ma­ jabatan. Saat ini banyak lowongan pe­ hasiswa. Banyak referensi, baik jurnal kerjaan yang mewajibkan bagi pelamar maupun website internasional yang kerjanya untuk menguasai minimalnya menggunakan bahasa asing. Sehingga, satu bahasa asing. mahasiswa dapat menggunak­ annya Soal kesempatan progam studi lan­ untuk kepentingan akademik, seperti jut pasca-sarjana, tentu tidak diperde­ penelitian, pembuatan maka­lah, sum­ batkan lagi. Hal itu menjadi cita-cita ber penggarapan tugas, dan lain seba­ hampir seluruh sarjana. Apalagi jika bi­ gainya. ayanya mendapatkan beasiswa.  Lebih dari itu, bagi mahasiswa yang menguasai bahasa asing pun mempu­ nyai peluang besar untuk mengambil setiap kesempatan yang ada. Misalnya saja untuk lomba debat bahasa Arab

P

D

TEMA MENDATANG

Kemana Arah Gerakan Mahasiswa Kirim opini anda melalui surel: redaksi.skmamanat@gmail.com. Naskah tidak lebih dari 2500 karakter. Sertakan biodata, foto terbaru, dan nomor HP yang bisa dihubungi. Pengiriman naskah paling lambat 20 September 2018. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan bingkisan dan piagam penghargaan.

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

13


HUMANIORA

(Foto: M. Iqbal Shukri/Amanat)

Menyelamatkan Anak dari Gawai

Relawan Muda sedang mengajar anak didiknya.

Di zaman yang serba praktis, masyarakat berada pada tuntutan kemajuan teknologi dan informasi. Masyarakat sibuk pada gawainya, termasuk anak-anak, seiring dengan dampak positif dan negatifnya. Asyik bermain game pada gawai cenderung menjadikan anak individualisme.

P

agi itu, suara ramai anak-anak memenuhi ruang Posyandu di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Ken­ dal, Minggu (10/03). Akhir pe­ kan menjadi hari yang paling dinanti bagi anak-anak Desa Protomulyo, terlihat dari wajah ceria mereka yang tampak ber­seri-seri. Ketika berkumpul, mereka bi­ asanya membuat kelompok dua sampai tiga orang di hada­ pan para sukarelawan muda dari Komu­ nitas Kendal Mengajar (KKM). Komunitas Kendal mengajar meru­ pakan inisiatif para pemuda daerah Ken­ dal yang peduli dengan pendidikan anak usia dini. Ulil Abshar Ketua KKM mengungkap­ kan, latar belakang berdirinya komunitas Kendal mengajar berawal dari keprihati­ nannya melihat anak-anak usia sekolah dasar (SD). Ia mengamati, anak-anak SD saat ini kehilangan sifat sosial dalam ber­ gaul dengan teman sebayanya. Mere­ ka lebih cenderung dekat dan bergantung pada gawai. “Selain itu, Kendal mengajar terins­­­­­p­i­­­­­­­­ rasi dari komunitas belajar lainnya yang telah dulu ada di beberapa tempat, se­­­­­­­­per­ ti Solo dan Jogja,” ungkap Ulil. Kekhawatiran yang dialami Ulil meng­ e­­­­­­­­­­­­­­­­­nai kemerosotan pergaulan anak-anak dengan rekan sebayanya, menginisiasi Kendal mengajar menerapkan metode pembelajaran kelas afektif dan kelas ce­ ria. Dengan harapan bisa meminimalisir ketergantungan gawai terhadap anak, dan menumbuhkan sikap sosial bersama rekan sebayanya. “Kelas afektif dimaksudkan untuk pembelajaran yang sifatnya tertuju ke­ p­­­­­ada pengetahuan anak, seperti mem­ bantu dalam mengerjakan tugas sekolah dari guru. Sedangkan kelas ceria, bertu­ juan untuk mengeksplor bakat dan minat anak-anak, seperti menggambar, menari dan bernyanyi,” jelasnya. Komunitas yang telah berdiri sejak 15 Januari 2018 tersebut, mempunyai lima lokasi kegiatan belajar mengajar di Wilayah Kendal. Lima tempat di antara­ n­ya, Desa Tambakrejo Kecamatan Pate­ bon, Desa Jawisari Kecamatan Limban­ gan, Desa Rowosari Kecamatan Rowo­ sari, Desa Menteseh Kecamatan Boja dan Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu. Anggota dari Kendal mengajar tidak terbatas dari kalangan mahasiswa, para pemuda yang telah bekerja pun banyak

14

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

yang menjadi anggota. Menurut Ulil, karena sifat dari komunitas ini adalah su­ karela, para anggota dituntut harus saling bekerjasama demi terwujudnya tujuan dari komunitas Kendal mengajar. Den­gan begitu, tentu setiap anggota harus bisa menyamakan visi. “Visi dari Kendal mengajar yaitu mencerdaskan generasi masa depan Ken­ dal,” ungkapnya. Mengabdikan Diri Keberadaan Kendal mengajar, di­ penuhi dengan para pemuda di Wilayah Kendal yang peduli akan pendidikan dan pertumbuhan anak usia SD. Mereka peduli, tidak ingin anak-anak kehilangan masa kecilnya dikarenakan gawai. Kekha­ watiran seperti itu, yang akhirnya mendo­ rong Ulil dkk bergerak untuk mengedu­ kasi masyarakat, bahwa pendidikan itu perlu. Shinta mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang yang baru bergabung dua bulan dalam Kendal mengajar, menilai kegiatan belajar meng­­ ajar komunitasnya baik untuk perkem­ bangan anak. Dalam memperluas penge­ tahuan anak dan menjadi tempat mereka saling mengenal dengan anak usia seba­ y­anya. Di sela-sela kesibukan Shinta saat sedang menyalin absensi, sembari me­ lebarkan senyum ia mengungkapkan kegembiaraan dapat bergabung dengan KKM. Karena, dari aktif di Kendal meng­ a­jar ia dapat pelbagai ilmu dengan anakanak di desanya. “Saya dan anggota karang taruna yang lain, sangat antusias dengan adanya ke­ giatan belajar yang dipelopori Kendal mengajar,” ujar Shinta. Fina Lanah Diyana, mengungkapkan kebanggannya dapat bergabung bersama Kendal mengajar. Baginya, Kendal men­ gajar menjadi tempat untuk mengasah soft skill, menjalin relasi serta menjadi pengalaman. Mahasiswa prodi Komunikasi dan Pe­ nyiaran Islam (KPI) UIN Walisongo itu mengungkapkan, di Kendal mengajar ia tidak hanya sebatas mencari pengalaman saja. Namun, Fina turut mempraktik­kan pengalaman dan pengetahuan dari Kend­ al mengajar di lingkungannya. Jiwa suka­ rela yang dibagun di komunitasnya turut menginisiasi Fina merintis rumah baca, dengan tujuan anak-anak di desan­ya bisa melek literasi sejak dini.

“Alhamdulillah saya bisa membuka les gratis di rumah saya,” ucap Fina. Perihal tempat pembelajaran, Ulil dkk berusaha menjalin kerjasama dengan pemuda karang taruna dan masyarakat. Dengan begitu, Kendal mengajar selalu disediakan tempat seperti ruang posy­an­ du, balai desa atau TPQ. Setelah keberadaan Kendal menga­ jar didukung penuh oleh masyarakat dan pemuda setempat. Perjuangan ko­ munitas tersebut tidak lantas stagnan, mereka membutuhkan penunjang lain demi kelancaran proses kegiatan belajar. Dalam hal financial, Ulil mengatakan ko­ munitasnya juga turut kreatif membuat usaha kreatif berkenaan ikon Kendal mengajar, seperti pin, kaos dan tootbag. “Hasil dari penjualan tersebut, kami gunakan untuk penunjang operasional mengajar,” jelas Ulil. Bagi Ulil target pencapaian dari Ken­ dal mengajar, upaya penyadaran dan melahirkan gerakan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Menurut Ulil, pada dasarnya kewajiban mengajar ada di masyarakat itu sendiri. Tentu hal ini un­ tuk mewujudkan masa depan anak. Mengatasi Ketakutan Kebanyakan orang tua mengikutser­ takan anaknya dalam kegiatan Kendal mengajar, untuk menghindari kecanduan terhadap gawai. Perkembangan teknolo­ gi, menjadi sarana yang cukup berbahaya

menyampaikan kebahagiannya akan adanya kegiatan dari Kendal mengajar. Baginya, kegiatan belajar mengajar bisa menambah ilmu bagi anaknya di luar jam sekolah formal. Ibu separuh baya itu, juga sempat menceritakan kondisi anak pertamanya yang kini duduk di sekolah menengah pertama (SMP). Analufia tidak dapat me­ nyembunyikan wajah sedunya, ia bing­ ung dengan kebiasaan putranya yang ge­ mar bermain game hingga larut malam. “Akibat setiap malam bermain game, prestasi putra saya menurun di sekolah,” tuturnya. Galuh Apriani (36), mengungkapkan ketakutannya melihat perkembangan dan pergaulan anaknya. Bagi Apriani, un­tuk mengurangi ketakutan yang dialami, Ken­ dal mengajar menjadi solusi untuk orang tua yang memiliki anak dalam masa per­ tumbuhan. Ia menceritakan semangat anaknya yang giat mengikuti kegiatan belajar dari Kendal mengajar. Sampai-sampai, anaknya minta dibelikan sepatu dan tas baru. Meski demikian, Apriani senang dengan antuasias anaknya dalam mengi­ kuti kegiatan belajar. “Dari pada anak saya terus main HP dan pergi ke tempat yang tidak jelas. Le­ bih baik ikut ber­main dan belajar ber­ sama Kendal men­gajar,” ungkap Apriani, ibu rumah tangga asal Jepara.

Dari pada anak saya terus main HP dan pergi ke tempat yang tidak jelas. Lebih baik ikut ber­main dan belajar bersama Kendal men­gajar.”

Galuh Apriani (36)

Seorang Ibu yang rutin mengajak anaknya ke kelas Kendal Mengajar digunakan oleh anak-anak jika tanpa pen­ gawasan orang tua. Terlepas dari konten kekerasan atau pornografi, dunia gawai turut menjadikan anak-anak menjadi pribadi yang tertutup dan apatis. Dengan keberadaan Kendal mengajar, orang tua di Desa Protomulyo menemukan sarana tepat untuk mengembangkan pengeta­ huan dan pergaulan anak-anaknya. Analufia (41), salah seorang wali mu­ rid yang sedang duduk di depan teras rumah warga di sebelah timur posyandu,

Apriani turut berharap, anaknya dapat bergaul dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. M. Iqbal Shukri


HUMANIORA

Ngaji Ala Generasi

(Foto: M. Iqbal Shukri/Amanat)

Kini

Tobaters asik mengikuti pengajian di Santrendelik.

Anak muda era milenial cenderung sukar dengan kegiatan yang berkaitan ibadah. Mereka asyik bermain dengan gawainya, sibuk mengecek whatssap, facebook, menonton youtube atau bemain mobile legends. Melihat fenomena seperti itu, Santrendelik hadir menawarkan dakwah dengan metode anak kekinian.

F

iqi Hawin Falahi mahasiswa Pro­di Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), menceritakan awal mula ketertarikannya mengikuti pen­gajian ‘nongkrong tobat’ di Pesantren Kontemporer yang akrab dise­ but Santrendelik. Ketika itu, pengajian per­tama yang Hawin ikuti dinarasumberi oleh Ustadz Fahrurrozi, dengan tema Ra­ pal Gampang Jodoh, 29 September 2017. Usai pengajian, sebelum berlangsung sesi tanya jawab, alunan lagu akad per­forma dari Band Taquistik menemani rehat Hawin dan tobaters yang lain. Ngaji tobat Santrendelik berlangsung di sebuah bangunan joglo di tengah hu­ tan daerah Kaliarang, Kelurahan Suko­ rejo, Kecamatan Gunung Pati. Dipenuhi dengan cahaya lampu di sekitar joglo, tobaters, sebutan bagi santri kampung to­ bat, selalu memenuhi bangunan itu tiap malam Jumat. Melalui pengalamannya, Hawin menga­ ku terkesan dengan pengajian Santrendelik yang dikonsep ala stand up comedy-an. Baginya, stand up com­ edy merupakan cara komunikasi untuk gene­ rasi milenial dalam sebuah forum. Kon­ sep komunikasi dengan selingan candaan cenderung membuat tobaters nyaman. “Dengan strategi seperti itu, anakanak muda seusia saya akan lebih mu­ dah memahaminya,” ungkap Hawin saat diwawancarai kru Amanat, Kamis (26/4). Menurut Hawin, konsep pengajian yang diterapkan Santrendelik berbeda dengan pengajian-pengajian pada umum­­ nya. Dari narasumber yang komuni­katif, ia mengalami banyak perubahan setelah mengikuti ngaji tobat sejak tu­juh bulan yang lalu. Secara perlahan, ia mengoreksi kekurangannya lalu sedikit demi sedikit mencoba memperbaiki. “Selain mendapatkan ilmu agama, di Santrendelik anak muda bisa men­e­ mukan kuatnya solidaritas terhadap sesa­ ma,” katanya. Virus Tobat Berdirinya kampung tobat Santren­

delik bermula dari sejumlah gagasan anak muda yang sukses di sektor bisnis­ nya. Keberadaan mereka, bukan sebagai anak muda yang secara ekonomi masih kem­ pas-kempis, bukan pula anak muda yang selalu menunggu tugas dari bos. Mereka umumnya berstatus sebagai bos, harta yang bergelimangan dan hi­ buran tidak membuat mereka bahagia. Dari hati yang kerap terlanda gundah gulana, mere­ ka berdiskusi hingga men­emukan ide mem­ buat hiburan dalam bentuk penga­jian. Penamaan Santrendelik sendiri ter­ inspirasi dari letak kampung tobat yang tersembunyi dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dalam bahasa Jawa ndelik be­ rarti sembunyi, sedangkan santren adalah kata yang identik dengan santri dan men­ gaji. “Kami ingin membuat sebuah nama yang melekat di hati kalangan masyara­kat dan kekinian bagi anak muda,” kata Ikh­ wan Syaifulloh Ketua Yayasan Santrende­ lik Lokasi kampung tobat memang jauh dari kota, untuk menuju Kelurahan Su­ korejo tobaters perlu mewalati jalan deng­ an kanan-kiri hutan. Ikhwan mengatakan para audiensi lebih senang jika dipanggil dengan to­ baters. Bagi anak muda era milenial, is­ tilah ibadah terdengar kaku dan seram. Tidak sedikit pula di kalangan mereka menganggap pengajian sebagai cera­ mah yang monoton. Merespon hal itu, Santrendelik ingin menyuguhkan se­buah pengajian yang layak dikonsumsi genera­ si milenial. Dalam sebuah pengajian biasanya tempat yang disediakan berupa lese­han. Di kampung tobat Santrendelik, tempat pengajian dirubah menjadi se­buah tong­ krongan, di dalam joglo dan sekitarnya disediakan kursi untuk to­baters. Tobaters juga disediakan aneka jajanan khas menu angkringan. “Jika biasanya santri fokus men­ dengarkan kyai sebagai pembicaranya, pembelajaran di Santrendelik diskusi di­

Jika biasanya santri fokus men­dengarkan kyai sebagai pembicaranya, pembelajaran di Santrendelik diskusi dipadukan dengan seni dan budaya mengikuti tren kekinian Ikhwan Syaifulloh Ketua Yayasan Santrendelik

padukan dengan seni dan budaya mengi­ kuti tren kekinian,” ungkap Ikh­wan pen­ gusaha rafting asal Banjarneg­ara. Santrendelik yang diresmikan oleh Dahlan Iskan (Mantan Menteri BUMN 2011-2014), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Hendrar Prihadi (Wali Kota Semarang) di akhir tahun 2014, me­ miliki tujuan utama untuk menye­barkan virus tobat. Bagi Ikhwan virus to­bat harus menjadi mikroorganisme yang tersebar dalam tubuh, lalu menginjeksi peruba­ han dalam perbaikan organ tu­buh. Tobat merupakan perbaikan diri, dengan begitu yang dibutuhkan anak muda era milineal yakni perbaikan diri. “Santrendelik sebatas mengantarkan anak-anak muda itu, perubahan mere­ ka baik atau tidak kembali kepada prib­a­ dinya. Karena itu, kita hanya sebagai in­ jeksi saja,” jelasnya. Menggunakan Medsos Menjadikan anak muda sebagai sa­ saran berdakwah, tentu perlu mencari solusi melepaskan ketergantungan anak muda dari dampak negatif perkem­bang­­­­­ an teknologi informasi. Melalui analisa terhadap kecenderungan di era mileni­ al, Santrendelik mensosialisasikan kegi­

atannya melalui medsos dengan desain dan konten menarik. Dalam satu jam saja melalui akun instagram Santrende­lik, info seputar nongkrong tobat dapat dibaca hingga seratus orang. Upaya menarik lain turut dilakukan dengan memberikan selingan publik figur sebagai narasumber, seperti Habi­ burrahman El Shizary (Penulis novel best seller Ayat-ayat Cinta), Cholidi Asa­ dil Alam (Aktor), Prie GS (Budayawan), Hen­ drar Prihadi (Wali Kota Semarang) dan lain sebagainya. Saiful Anam, Desainer Konten Grafis Santrendelik mengatakan, Santrende­ lik selalu menciptakan inovasi dalam men­ jaring anak-anak muda. Jika poster hanya dicetak lalu kemudian ditempel­ kan di masjid atau pos ronda, dalam satu jam entah siapa yang berminat memba­canya. Dengan konsep desain menarik, bertu­ juan untuk mengurangi rasa takut mereka datang ke pengajian. Anam juga selalu membuat poster undangan den­gan gaya menarik, seperti disertai gam­bar, meme atau karikatur. “Sebelumnya tidak ada undangan pengajian dengan gaya unik seperti Santrendelik. Namun setelah Santren­ delik memulainya, pembuat undangan dengan meme semakin marak,” katanya. Menurut Anam, ngaji tobat di Santren­ delik selalu diarahkan dengan penyam­ paian santai dan asyik. Tema yang dibahas menyesuaikan dengan perkembangan isu di kalangan masyara­kat. Tujuannya, agar materi yang dis­ ampaikan mudah diserap oleh berbagai kalangan. Karena keberadaan kampung tobat Santrendelik terbuka dan teruntuk semua kalangan yang ingin menambah wawasan keisla­ man. “Yang hadir di Santrendelik bera­gam, ada yang tidak berjilbab, tidak tahu Islam, bertato, dan ada pula audiensi non mus­ lim,” ungkapnya. Noor Rohmah Nailin Najjah

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

15


MIMBAR

PT Membaca Perubahan, Membaca Perubahan PT

K OLEH MUSAHADI*

Eksistensi sebuah organisasi besar seperti Perguruan Tinggi (PT) sangat ditentukan oleh kecerdasannya membaca tanda-tanda zaman. Dunia ini selalu berubah dan perubahannya seringkali bersifat sangat kompleks dan cepat sehingga sulit didefinisikan dan sulit diprediksi. Mereka yang berada di puncak adalah mereka yang bisa secara efektif membaca dan memimpin perubahan itu.

16

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

etika awal menjadi staf di UIN Walisongo (kala itu IAIN Wa­ l­ i­ songo) pada 1994, produk alat-alat kantor yang menjadi andalan ketika saya bekerja di kantor adalah kertas karbon dan “daito”. Dua benda ini menjadi “dewa” penolong untuk kerja cepat menggandakan doku­ men ujian atau dokumen-dokumen lain yang bersifat masif. Di awal tahun 2000, seiring dengan berkembangnya teknologi komputer, benda-benda ini mulai diting­ galkan dan akhirnya punah tinggal kenan­gan. Bahkan kenangan tentangnya pun sering hilang dari memori, hingga untuk menyebut benda itu lagi, kita butuh waktu untuk mengingatnya. Di era sebelum 2000-an, betapa anak kos sangat merindukan kehadiran Pak Pos. Mereka tak sabar segera memperoleh jawaban surat dari sang doi atau kiriman wesel dari orang tua. Apalagi menjelang hari Raya Idul Fitri, Pak Pos ditunggu un­ tuk membawakan kartu ucapan lebaran dari kolega di berbagai penjuru kota. Sei­ ring dengan lahirnya hand phone dengan fasilitas SMS, Profesi ini tiba-tiba kehilan­ gan relevansi dan akhirnya ditinggalkan para perindunya. SMS pun perlahan dit­ ing­galkan penggemarnya begitu muncul WhatsApp dengan fasilitas yang lebih atraktif dan menjanjikan. Perubahan itu kejam. Ia bisa menggi­ las industri dan profesi tanpa ampun. Ter­lebih di era sekarang yang diidentifikasi oleh para ahli sebagai era disrupsi (disrup­tive innovation) atau era Revolusi Industri generasi 4.0. Perubahan di era ini tidak lagi bersifat gradual mengikuti titian anak tangga, melainkan seperti ledakan gunung berapi yang membunuh ekosistem dan menggantinya dengan ekosistem yang baru sama sekali. Tak pelak, di era seperti ini, industri-industri baru akan bermun­ culan dan menggusur industri-industri lama. Demikian pula, profesi-profesi lama banyak yang tumbang digantikan dengan profesi-profesi baru. Pada Maret 2017, sebuah lembaga riset internasional Pricewaterhouse Coopers (PwC) membuat sebuah prediksi yang mencengangkan, bahwa disrupsi akan berdampak pada hilangnya 38% pekerjaan di Amerika, 35% pekerjaan di Jerman, 30% pekerjaan di Inggris, dan 21% pekerjaan di Jepang. Bagaimana dengan di Indonesia? Meski belum ada riset yang secara khusus mengenai ini, tetapi hampir dapat dipasti­ kan Indonesia akan terkena disrupsi juga. Tak pelak berlakulah adagium: “Berubah atau Punah !” Antisipasi Postur dunia yang seperti itu tentu harus diantisipasi oleh semua mana­jer dan semua leader, termasuk mereka yang menakhodai PT. Salah satu kecende­ rungan yang harus diantisipasi oleh PT adalah digitalisasi pendidikan. Dalam tulisannya berjudul Menghadapi Era Disrupsi, Muhammad Nur Rizal memas­ tikan bahwa disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Uber atau Go-jek akan mengins­ pirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan. MOOC (Massive Open Online Course) misalnya, akan tak terhindarkan lagi mengobok-obok dunia pendidikan kita. MOOC merupakan inovasi pembe­ lajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau berjejaring

satu sama lain. Inovasi ini menandai dimulainya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan kesem­patan bagi kita untuk memanfaatkan du­ nia teknologi dengan produktif. PT tentu harus pula menyesuaikan diri dengan ke­ cenderungan ini, karena jika tidak, tentu ia akan kehilangan relevansi. Kecenderungan lainnya adalah pe­n­i­ ng­katan demokratisasi pengetahuan dan akses informasi. Fasilitas teknologi infor­ masi telah membuat penguasaan terha­ dap pengetahuan tersebar luas dalam ma­ syarakat. Dulu ilmu pengetahuan menjadi monopoli ilmuwan di PT. Kini keadaannya sudah berubah. Kebenaran ilmu pengeta­huan dan teknologi mulai tersebar dalam masyarakat. Banyak keahlian yang justru berakar dalam pengalaman hidup warga. Beth Simone Noveck (2016) mengingat­ kan bahwa tengah terjadi pergeseran dari pakar “resmi” (credential experts) ke pakar “warga” (citizen experts) dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. PT sebagai lembaga yang mentransfer pengetahuan dan penguasaan IPTEK dalam hal ini tentu harus melakukan re­ definisi terkait peran dan fungsinya ke depan. Apalagi sekarang mulai ada kecen­ derungan formalitas gelar akademik ma­ kin tidak dibutuhkan. Konon, beberapa perusahaan besar di Amerika mulai tidak menganggap penting ijazah formal dalam merekrut pegawai. Perhatian mereka leb­ih pada kompetensi dan capacity. Di era demokrasi pengetahuan dan digitalisasi pendidikan, seorang dosen dituntut untuk bergerak cepat menyesuai­ kan diri. Tantangannya tidak semata bersi­ fat struktural tetapi kultural. Dosen-dosen generasi “predigital” yang lahir dan berkembang dalam mindset manual atau sebut saja generasi “digital migrants” ten­tu akan kesulitan “meladeni” mahasiswa zaman now yang lahir dan berkembang dalam kebudayaan digital atau generasi “digital natives”. Generasi yang disebut terakhir ini san­gat piawai berselancar dalam dunia maya. Mereka memiliki akses yang luar biasa ter­ hadap sumber-sumber informasi dan pen­getahuan akademik, termasuk melakukan eksplorasi terhadap hasil-hasil riset paling mutakhir melalui akses pada situs-situs kredibel yang mempublikasikan hasil-hasil penelitian ilmuwan dunia dari berb­agai bidang dan disiplin keilmuan. Di sisi lain, dosendosen dari generasi “digital migrants” yang tidak tuntas melakukan migrasi ke dunia digital umumnya memi­liki kendala teknis untuk akses terhadap sumber-sumber pengetahuan dan infor­ masi akademik yang mutakhir. Bisa dibay­angkan apa yang akan terjadi. Di kelas, saya sering memprovokasi mahasiswa agar punya keberanian “ber­ pacu” dengan para dosen dalam hal penguasaan pengetahuan dan informasi. Mereka memiliki potensi besar untuk melakukannya. Betapa tidak?, dosen dengan seabrek kesibukan administratif, urusan keluarga dan urusan sosial, tentu memiliki kesempatan yang lebih terbatas dalam akses dan eksplorasi sumbersum­ ber pengetahuan dan informasi akademik baru termasuk hasil-hasil riset paling mu­takhir dalam bidang keilmuan tertentu. Sementara mahasiswa memiliki keempa­ tan yang sangat luas untuk melakukannya.

Jika mahasiswa rajin berselancar dalam situs-situs publikasi dan indeksa­ si hasil-hasil penelitian melalui Google Scholar, ScienceDirect, Scopus, Thomson Reuters, Elsevier, Ebsco, atau situs-situs lokal seperti Portal Garuda, Moraref dan Sinta misalnya, sementara dosennya Ku­ det (kurang update) atau tidak mengenal akses-akses tersebut, maka bisa diba­ y­ angkan apa yang akan terjadi pada proses pembelajaran di kelas. Mahasiswa bisa jauh lebih hebat dari dosennya. Debirokratisasi Semua komponen PT wajib melaku­ kan pembacaan terhadap perubahanperubahan dramatis tersebut sekaligus mendefinisikan posisi dan strateginya dalam mengarungi gelombang perubah­ an itu. Faktor-faktor lingkungan eksternal baik mikro maupun makro telah berubah luar biasa. Pasar tenaga kerja, dunia bis­ nis dan industri diperkirakan masih akan mengalami anomali di waktu-waktu ke depan. Itu artinya, selain PT harus mem­ baca perubahan, publik juga membaca bagaimana PT melakukan perubahan agar tidak kehilangan relevansi. Eksistensi PT di masa yang akan datang salah satunya sangat bergantung pada bagaimana mesin PT mencetak profil lu­lusan yang relevan. Kurikulumnya selalu update dan kompatibel dengan peruba­ han ataukah tidak. Mencermati arah pe­ rubahan tersebut, maka salah satu kom­petensi yang harus diperhatikan dalam kurikulum PT, apapun prodinya, adalah soal literasi internet dan literasi media, mengingat hampir tidak ada dimensi ke­hidupan dan hubungan sosial sekarang ini yang tidak diinstrumentasi oleh internet. Kurikulum PT tidak bisa hanya dirancang untuk membekali pengetahuan kognitif dalam sebuah disiplin keilmuan, melain­kan harus bisa mencetak mahasiswa yang berkarakter, memiliki wawasan lintas dis­iplin, punya etos kewirausahaan, kreatifit­as dan daya berinovasi. Profil yang disebut terakhir inilah yang lebih menjanjikan, dan untuk mewujudkannya dibutuhkan lingkungan dan iklim yang kondusif. Pada PT di Indonesia, tantangan ter­ berat untuk menghadapi perubahan di era revolusi industri 4.0 ini adalah soal otonomi PT, mengingat penyelenggaraan PT di negeri dengan jumlah PT terba­­ nyak sedunia ini diatur sangat ketat oleh Pemerintah Pusat melalui berbagai regu­ lasi. Mereka masuk dalam “mesin” pe­ ny­e­­­ragaman melalui regime positivisme dan formalisme hukum, sehingga memberan­ gus kreatifitas dan inovasi. Terlebih dalam manajemen keuangan. Pada regime sep­ erti ini, capaiancapaian PT sering diukur berdasarkan kesesuaiannya dengan dan kesetiaannya pada aturan legal formal, meskipun terkadang harus bertentangan dengan akal sehat. Jika tidak ada perubahan kebijakan yang berarti berupa debirokratisasi PT, maka sulit dibayangkan PT di republik ini bisa bersaing di era disrupsi, karena kreatifitas dan inovasi membutuhkan pra­syarat berupa “ruang” yang cukup untuk berekspresi dan bereksperimentasi. Tentu kita tidak ingin PT kita dan para lulusan­ nya bernasib sama dengan Pak Pos atau kertas karbon dan daito. Dirgahayu UIN Walisongo ke48. *)Wakil Rektor l bidang akademik dan kelembagaan UIN Walisongo.


Artikel

Perempuan dan Feminisme

S OLEH NOVI MARIA ULFA*

Mengawali tulisan ini, saya hendak menceritakan sebuah novel yang mungkin saja pernah terjadi di kehidupan nyata. Novel ini berjudul “Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan” karya Ihsan Abdul Qudus (2005). Tokoh utamanya yaitu Suad Ridha. Berlatar belakang di negara Mesir di tahun 1935an. Disebutkan Suad Ridha adalah anak kedua dari dua bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan. Kakaknya setelah lulus SMA langsung menikah. Karena memang pada waktu itu, perempuan lazimnya menikah setelah menyelesaikan pendidikan SMA nya. Tetapi tidak dilakukan oleh Suad. Ia menempuh pendidikan sampai lulus kuliah di fakultas hukum.

ejak kecil, ia adalah bintang. Ia pintar, aktif di pelbagai keg­ iatan. Di usia 15 tahun, sebagai wujud nasionalisme, meng­ galang massa (teman sekolah) denga­n melakukan demonstrasi menun­ tut kemerdekaan Mesir dari penjajah Inggris. Setelah itu, ia aktif di pelba­ gai gerakan dan organisasi. Kesibu­ kan dan akademisnya cukup menyita waktu se­ hingga menganggap cinta hanyalah per­soalan waktu luang. Sele­ sai kuliah ia pun menikah. Kemudian dikaruniai seorang anak perempuan, tetapi malan­ gnya ia hanya mampu mempertahank­ankan pernikahannya hanya selama tiga tahun. Ia disibukkan dengan mengajar, seminar, aktif di gerakan dan kuliah di doktoral. Setelah cerai ia bersama den­ gan bayinya kembali ke rumah orang tu­ anya. Dan anaknya diasuh oleh ibunya. Setelah puluhan tahun ia pun menikah lagi yang kedua dengan seorang dokter yang pendidikannya juga sampai doktor. Dari pernikahan yang kedua, ia tidak memiliki anak. Tetapi pernikahannya hanya bertahan selama lima tahun. Ia gagal dalam berumah tangga un­tuk yang kedua kalinya. Ketika itu ia berusia 55 tahun dengan sederet jabatan penting. Jabatan tersebut an­ tara lain: menjadi anggota parlemen (Dewan Per­wakilan Rakyat ) di Mesir, ketua Asosiasi Wanita Karir (AWK) dan sekretaris Ika­tan Putri Arab (IPA). Ia seorang dosen, politisi, serta peker­ ja sosial. Suad Ridha berhasil mem­ bangun karir dan ambisin­ya tetapi gagal dalam berumah tangga. Bahkan anak perempuannya le­ bih dekat dengan ibu tirinya dari­ pada ibu kandungnya sendiri. Aliran dalam Feminisme Dari cerita tersebut, tokoh Suad merupakan seorang femi­ nis. Ia, perempuan yang menge­ nyam pendidikan tinggi sampai jen­ jang doktoral, tetapi sayang­nya gagal dalam berumah tang­ga karena ambisi dan karirnya. Jika dikaitkan dengan teori femi­nis maka masuk ke dalam golon­gan feminis radikal. Terdapat beberapa aliran dalam feminisme di beberapa refensi, buku, literature. Tetapi secara garis besar ter­ dapat empat aliran besar dalam femi­ nisme Aliran pertama, feminisme libe­ ral. Dasar filosofis gerakan ini adalah liber­alisme, yaitu semua orang dicip­ takan dengan hak yang sama dan se­ tiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memajukan diri (Ilyas, 1997:47). Gerakan ini berang­ gapan bahwa prinsip ini belum di­ berikan kepada perempuan, sehingga para feminis menuntut agar segera dilaksanakan. Tuntutan ini akan me­ nyadarkan kaum lelaki sehingga ter­ wujud masyarakat baru di mana lakilaki dan perempuan bekerja sama atas dasar kesetaraan. Aliran kedua, feminisme marxis. Merupakan reaksi terhadap pemiki­ ran feminisme liberal. Ketertinggalan peran­ an perempuan, bukan dise­ babkan oleh tindakan individu tetapi akibat struktur sosial, politik dan eko­ nomi yang berkai­tan dengan sistem kapitalis. Menurut mereka, laki-laki dan perempuan tidak akan setara jika

mereka hidup dalam masyarakat yang berkelas. Aliran ketiga, feminisme radikal. Ali­ ran ini beranggapan bahwa yang men­ jadi penyebab pembagian kerja secara seksual adalah sistem patri­ arki di mana laki-laki mengendali­ kan perempuan dengan kekuasaan. Menurut mereka, dengan struktur bio­ logis perempuan yang harus melahir­ kan dan menyusui merupakan awal ketergantung terha­ dap lelaki. Oleh karena itu, mereka ber­pendapat, me­ mutus hubungan seksual dengan lakilaki merupakan salah satu alternatif untuk setara dengan laki-laki. Mere­ ka pendukung gerakan lesbian dan meng­anggap pernikahan dengan lain je­ nis merupakan bentuk penjajahan laki-laki terhadap perempuan. Aliran keempat, feminisme so­ sialis. Gerakan ini lebih difokuskan pada pe­ nyadaran perempuan akan posisi mere­ka yang tertindas. Menurut mere­ka ban­yak perempuan yang tidak sadar bahwa mereka adalah kelompok yang ditindas oleh sistem patriarki. Contohnya: para tenaga kerja perem­ puan yang diper­ lakukan dengan buruk,serta perdagan­gan perempuan. Perbedan Laki-Laki Dan Perem­puan Perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki mem­ p u ­

Penentuan jenis kelamin untuk bayi ditentukan oleh kromosom bapaknya. Jika kromosom ibu x bertemu kromosom ayah x maka akan lahir bayi pererempuan. Jika kromosom ibu x ber­temu dengan kromosom ayah y, maka akan lahir bayi laki-laki. n y a i implementasi di dalam kehidu­ pan sos­ial budaya. Sedangkan dalam tingkat ke­cerdasan dan kemampuan berpikir an­ tara keduanya tidak ter­ dapat perbedaan (Umar, 2001:xxxi) pembeda laki-laki dan perempuan be­ rasal dari gonad (je­nis kelamin). Laki laki mempunyai buah pelir (testis) se­ dang perempuan memi­liki ovarium. Buah pelir memproduksi testosferon (hormon pembawa sifat kejanta­ nan, memproduksi sperma, perkem­ bangan tulang, pergerakan otot, pe­ nyimpangan lemak, perilaku seksual, pola raut muka, pelebaran dada, dan penegakan tulang rawan dan pena­ jaman suara). Sedang perempuan menghasilkan ovarium yang di dalam­ nya mengandung prolac­tin, extrogen, dan progesteron. Laki-laki dan perempuan mempu­ nyai kromosom seksual yang berbeda. Perempuan mempunyai kromosom yang sejenis yaitu XX atau homoga­ metic sex, sedang laki-laki mempu­nyai dua kromosom yang berbeda yaitu XY atau disebut dengan heterogametic sex, karena ia mempunyai dua kromo­ som yang berbeda. Penentuan jenis

kelamin untuk bayi ditentukan oleh kromosom bapaknya. Jika kromosom ibu x bertemu kromosom ayah x maka akan lahir bayi perempuan. Jika kro­ mosom ibu x ber­temu dengan kromo­ som ayah y, maka akan lahir bayi lakilaki. Secara genetika, komposisi kimia tubuh laki-laki lebih kompleks daripa­ da perempuan. Kehadiran kromosom Y memungkinkan terjadinya tamba­ han kontrol pada berbagai jaringan sel dalam tubuh laki-laki. Kekhususan ini dijadikan alasan di kalangan ilmuwan untuk menyatakan bahwa laki-laki se­ cara biologis mempunyai kekhususan yang memberikan pengaruh secara psikologis dan sosiologis. Tubuh pria memiliki kadar air se­ banyak 60-70 % sedangkan perem­ puan cuma 50-60 %. Dalam soal lemak, perempuan mempunyai jaringan yang lebih besar sekitar 25 % sedang lakilaki 15 %. Pria mempunyai kecenderu­ ngan buta warna, sedang perempuan tidak. Hanya 5 % dari penderita encok adalah perempuan, dan perempuan berusia lebih lama di hampir semua negara di dunia (Mulyana, 2011: 43). Perbedaan anatomi secara biologi dan kimia bagi sejumlah ilmuwan berpeng­ aruh pada perkembangan emosional dan kapasi­ tas intelektual masing-masing. Sehingga mempunyai peran yang berbeda. Peran bisa saja dipertukarkan berdasarkan nilai kom­ promi. Konsep Kesetaraan dalam Alquran Alquran tidak menafikan adanya perbedaan anatomi biologis, teta­ pi per­bedaan ini tidak dijadikan dasar un­ tuk mengistimewakan jenis kelamin satu dengan jenis kelamin lainnya. Dasar utama hubungan laki-laki dan perem­ puan, khususnya pa­sangan sua­ mi istri dalam perni­kahan adalah kedamaian yang penuh rahmat (mawaddah warahmah). Di dalam ayat ayat jender memberikan pan­ duan bagaimana kualitas individu dan masyarakat secara harmonis. Alquran tidak memberikan beban jender se­ cara mutlak kepada se­seorang, tetapi bagaimana beban gender itu dapat memudahkan ma­ nusia memperoleh tujuan hidup yang mulia di dunia dan akhirat. Prinsip kesetaraan gender dalam Al quran yaitu persamaan kedudukan la­ ki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah (Q.S Adz Zariyat/51:56). Manu­ sia sebagai khalifah di bumi (Al an’am 6:165). Laki-laki dan perempuan dicip­takan dari unsur yang sama, dan ked­uanya berpotensi meraih ridha Al­ lah, di dunia dan akhirat. Perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang layak. Pendidikan perempuan bukan untuk menyaingi atau menguasai laki-laki tetapi untuk mendidik anak bangsa agar menjadi lebih berkualitas. *)Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Wali­songo.

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

17


KAJIAN

LGBT dalam Perdebatan Konstitusi

OLEH FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD*

Kelompok LGBT di Indonesia kian giat dalam berkampanye. Pemerintah dihadapkan pada pilihan menerima atau menolak keberadaan mereka dalam tatanan konstitusi. Sedangkan sejak awal, orientasi seksual kaum LGBT sudah dianggap bertentangan dengan Falsafah Pancasila, UU Perkawinan dan moralitas bangsa.”

18

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

rang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah de­wasa. Penolakan MK terhadap gugatan Euis, menimbulkan berbagai interpretasi yang mempertanyakan kredibilitas lembaga yudikatif. Dari putusannya, MK dinilai memberikan kebebasan perbuatan zina dan perilaku homoseksual. Dalam ciutan Prof. Jimly Asshiddiqy, ia menyayangkan keputusan MK untuk menolak mengadili gugatan tentang LGBT. Propaganda Gerakan LGBT Dukungan aktivis LGBT di Indonesia terlihat pasca Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis, pada 26 Juni 2015. Para aktivis pem­ bela kaum LGBT, mengiblat pada Negara-negara Barat, dengan asumsi jika perilaku LGBT merupakan orientasi sek­ sual yang normal. Kecenderungan terse­ but akan mengajak kita mengetahui tiga konsep sek­ sualitas manusia, bermula identitas sek­ sual, perilaku seksual dan orientasi seksual. Penjelasan dari American Psychologi­ cal Association, orientasi seksual sebagai sebuah kondisi emosional yang bertahan lama, romantik dan daya pikat seksual untuk berhubungan dengan orang lain, laki-laki, wanita maupun keduanya. Me­

mui banyak perbe­daan. Negara di Benua Barat dikenal den­gan negara sekularis, negara yang terlepas dari aspek agama, politik dan budaya. Hal itu yang men­ dasari deklarasi PBB terkait LGBT, karena PBB lahir di realitas sosiolo­gis Barat. Penulis melihat ada indikasi kuat dari gerakan kaum LGBT untuk mengubah tatanan sosial di Indonesia. Dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia, jum­ lah menjadi hal yang penting. Sehingga propaganda dilakukan secara masif dan sistematis agar jumlah komunitas LGBT dan para penyokong secara statistik se­ makin besar sehingga dapat diperhitung­ kan dari segi populasi. Ketika jumlah se­ makin besar maka akan menjelma men­ jadi kekuatan politik yang mempunyai tawaran dalam pesta demokrasi rakyat. Bahwa propaganda tersebut tidak seba­ tas pada lembaga eksekutif dan legislatif, dari yudikatif pun dapat terpengaruhi jika populasi mereka meningkat. Mengutip pendapat Edwin H. Suther­ land, penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan kelompok yang telah menyimpang. Ada proses melalui alih bu­daya (cultural tranmission). Berawal dari mengenal, berdekatan, lambat laun ses­ eorang akan tertarik dan mengikuti pola perilaku menyimpang tersebut.

lalui asosiasi psikologi tersebut, banyak negara- negara lain juga menyimpulkan bahwa homoseksual dan biseksual itu bukan karena gangguan jiwa, melainkan perilaku normal. Jika mengamati konstelasi kekuatan LGBT dan pendukungnya di dunia, gera­­ kan-gerakan mereka tidak terlepas dari tujuan politis. Di Benua Eropa sudah 20an negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, jarak pengakuan LGBT me­ lalui legalisasi hukum antar negara pun cukup dekat. Belanda menjadi negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis (2001), lalu disusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005) dan Afrika Selatan (2006). Akhirnya pada tahun 2008, PBB mengakui hak-hak mereka dalam deklarasi terkait orientasi sek­ sual dan identitas gender. Setelah diakui oleh PBB, banyak negara yang mele­ galkan pernikahan sesama jenis antara lain: Nor­ wegia- Swedia (2009), Portu­ gal- Islandia- Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil- Inggris- Prancis- Selandia Baru- Uruguay (2013), Skotlandia (2014), Lexemburg- Finlandia- Slovenia- Irlan­ dia- Meksiko (2015), dan Amerika Serikat (2015). Legalisasi pernikahan kaum LGBT di pelbagai di Barat, terekon­struksi dari latar belakang sosiologis yang mereka miliki. Tentu, ketika dibanding­kan dengan ru­ ang sosiologi di beberapa negara Timur, khususnya Indo­ nesia maka akan dite­

Dalam hal ini, pemerintah perlu ber­ sikap tegas dalam mencegah penyebaran perilaku menyimpang sosial kelompok LGBT. Banyak berdiri komunitas LGBT, namun tidak sedikit pula komunitas yang membenarkan perilaku tersebut. Mereka seakan menjadi wadah untuk men-sup­ port perilaku LGBT. Mereka tetap men­ jadi komunitas masyarakat yang perlu pendampingan khusus. Mencegah perilaku LGBT agar tidak se­makin meluas di masyarakat. Penana­ man nilai-nilai kebangsaan, meliputi fal­ safah pancasila, nilai norma dan budaya, san­gat perlu di semua elemen masyara­ kat. Dalam bentuk nyata, pemerintah dapat menyediakan pusat rehabilitasi atau kon­sultasi bagi para LGBT, untuk mengem­ balikan orientasi seksual mer­ eka sesuai fitrahnya. Sekaligus memberi­ kan edukasi kepada masyarakat, bahwa kelompok LGBT bagian dari masyarakat yang mem­butuhkan dukungan. Seperti ungkapan Prof. Mahfud MD, dalam konteks hak hidup orang LGBT 100 persen diterima. Namun dalam perilaku seksual, orientasi mereka tidak dapat diterima.

(Ilustrasi: Elok Nur Azizah )

D

i Indonesia, sebenarnya ke­ beradaan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sudah dapat dilacak di tahun 80- an. Pada era itu keberadaan waria (trans­gender), pria-pria yang ber­ dandan lay­aknya wanita dapat ditemui di Kawasan Ibu Kota. Mereka banyak berprofesi seb­ agai pengamen jalanan, biasanya mang­kal di area yang dipadati pengunjung, seperti terminal, lampu merah maupun pasar. Namun sikap ma­ syarakat di era itu cenderung apatis dan tidak memiliki si­ kap peduli terhadap waria-waria di sana. Hari ini, semua berbeda. Kaum (LGBT) sedang menjadi sorotan publik. Keberadaannya, dianggap tabu di tengah masyarakat, lantaran identitas gender personal yang mempengaruhi orientasi seksual mereka. Jika pada lazimnya ma­ syarakat memiliki orientasi seksual yang menyenangi lawan jenis, kaum LGBT me­ miliki kecenderungan menyenangi sesa­ma jenis (homoseksual) atau meny­ enangi keduanya (biseksual). Persoalannya adalah, orientasi seksu­ al kelompok LGBT bertentangan dengan moral bangsa yang tercantum dalam Fal­ safah Pancasila dan UU Perkawinan. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam pandangan Moh. Hatta, menjadi pemimpin yang memberi ruh terhadap sila yang lain. Prinsip kemanusiaan, per­ satuan Indonesia, kerakyatan dan keadi­ lan sosial, berada dalam sifat universal sila pertama. Substansi dari sila-sila Pan­ casila itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh serta mempunyai susu­ nan yang hierarki dan berbentuk pirami­ dal (Kaelan, 2013). Usaha Menolak LGBT Mengutip ungkapan Prof. Satjipto Ra­ hardjo, salah satu aspek dalam kehidupan hukum adalah kepastian. Artinya, hukum berkehendak untuk menciptakan kepas­ tian hubungan antar orang dalam ma­ syarakat. Kepastian itu yang kini sedang menjadi perebutan di pusaran pendu­ kung dan penolak LGBT. Bagi para aktivis LGBT, legalitas identitas kewarganegara­ an maupun orientasi seksual menjadi tu­ juan utama. Sebaliknya, masyarakat yang menolak menganggap LGBT merupakan penyimpangan perilaku sosial. Mahkamah Konstitusi di akhir tahun 2016 mengeluarkan Putusan Nomor 46/ PUU-XIV/2016 menolak permohonan yudisial riview yang ada kaitannya deng­ an LGBT. MK menilai ketiga pasal yang diajukan Euis Sunarti dkk, Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP), me­ minta per­luasan ruang lingkup delik yang telah ada. Dengan meluasnya delik, tentu akan berimplikasi merubah prinsip atau po­kok dalam hukum pidana dan konsep dasar yang berkenaan dengan perbuatan pidana. Bagi MK, wewenang untuk mem­ perluas delik tidak masuk dalam lembaga yudikatif, melainkan lembaga legislatif. Dalam permohonan yudisial riview yang diajukan Euis Sunarti dkk, pihak penggugat meminta pasal 284 tidak perlu memiliki unsur salah satu orang berbuat zina sedang dalam ikatan perkawinan dan tidak perlu ada aduan. Pasal 285, memin­ ta MK menyatakan bahwa pemerkosaan mencakup semua kekerasan atau anca­ man untuk bersetubuh, baik yang dilaku­ kan oleh laki-laki terhadap perempuan maupun yang dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki. Sementara pasal 292, pemohon meminta dihapuskannya frasa “belum dewasa”, sehingga semua perbua­ tan seksual sesama jenis dapat dipidana. Selain itu, homoseksual haruslah dila­

*) Mahasiswa prodi Hukum Keluarga, Pemimpin Umum SKM Amanat


WACANA

Yang Dibangun dan yang Runtuh OLEH KHALIMATUS SA’DIYAH*

P

ada 2017, Kement­e­­ r­ ian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) merilis jum­ lah perguruan tinggi yang terdaftar di Indo­ nesia men­ capai 4.504 unit. Angka ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berjumlah 3.136 unit. Se­ dangkan, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya 122 unit. Sisanya adalah per­ guruan tinggi agama dan perguruan tinggi di bawah ke­ menterian atau lembaga kedi­ nasan. Pertumbuhan pergu­ruan tinggi di Indonesia didasari dengan semakin terbukanya kesadaran ma­syarakat untuk melanjut­kan pendidikan. Bu­ kan hanya masyarakat yang ada di kota, namun juga yang ada di desa-desa. Dalam Statistik Pendidikan Tinggi 2017, jumlah mahasiswa di Indo­nesia menca­ pai 6.924.511. Hanya saja, umum­ nya masyarakat men­genal dunia perkuliahan den­gan sangat seder­ hana. Prasyarat mendapatkan pekerjaan ‘mulia’. Malah, bagi se­ bagian orang tua di desa, melihat anaknya men­ jadi guru, pegawai pemerintahan, orang kantoran, adalah suatu yang tak ternilai harganya. Ter­lebih, jika menjadi pegawai neg­eri sipil; profesi pri­ madona ma­syarakat desa. Hal itu, didukung dengan bimbingan guru-guru tingkat SLTA, yang mengarahkan siswa bukan untuk memilih jurusan kuliah sesuai minatnya, tapi ba­n­ yak ditemui, mereka memberikan pengarahan mengenai prospek kerja terhadap jurusan yang dipi­ lih. Pertanyaan-pertanyaan “ka­ lau ambil jurusan ini, besok bisa kerja apa?” membuat mereka me­ nepikan minatnya. Tidak salah jika kemudian praanggapan itu, terinternalisasi dalam diri seorang anak (baca: mahasiswa) yang membentuk cara berpikirnya. Ke­ t­er­libatannya di dunia akademik, UKM, bahkan gerakan-gerakan mahasiswa, dipandang hanya sebagai jalan praktis untuk men­ capai tujuan yang dibentuk oleh anggapan sosial. Berbekal imingiming relasi, mereka berbondong untuk menjadi anggota. Yang ter­ jadi adalah, perguruan tinggi tak ubahnya sebagai ‘lembaga kursus raksasa’ yang hanya menciptakan para pekerja—yang ‘mapan’—di masa depan. Keadaan ini jika dikaji meng­ gunakan teori piramida kebu­ tuhan Abraham Maslow (1970), akan mengantarkan kepada satu kesimpulan bahwa mahasiswa masih berada pada tahap safety, tingkat kedua dalam piramida ke­ butuhan. Padahal menurut teori ini, kebutuhan akan rasa aman cenderung dimiliki oleh anakanak. Kekhawatiran akan ketidak­ berfungsian mahasiswa akan

(Ilustrasi: Riduwan)

mencuat ke permukaan karena mereka akan lebih sibuk me­ mikirkan dirinya sendiri, dan ber­ tanya “lembaga atau kantor apa yang akan aku datangi agar bisa jadi pegawai?” ironis! Jika mahasiswa masih ber­ putar-putar pada tahap safety, maka bagaimana mereka bisa mengaktualisasikan dirinya seba­­ gai mahasiswa, kaum terpela­ jar yang masyhur sebagai agen pe­ rubahan. Pendidikan yang oleh Paulo Freire, hakikatnya membe­baskan malah membuat mereka tertekan. Kerumitan keadaan ini tentu dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya ekonomi. Tidak ada orangtua yang ingin men­ jadikan anaknya sebagai me­ sin uang. Tapi ketakutan akan ketidakpas­ tian dunia kerja, membuat mer­eka meyakini bah­ wa pekerjaan teraman adalah “ menjadi pega­wai negeri”. Anak-anak yang mereka kuli­ ahkan dari awal sudah disibuk­ kan tentang pertanyaan dan harapan tentang masa depan. Orientasi mereka untuk kuliah adalah kerja, Orientasi untuk kerja inilah yang kemudian akan menghilangkan jwa-jiwa relawan, yang bukan hanya memikirkan tentang masa de­ pannya. Tapi juga memikirkan bagaimana untuk bisa berman­ faat di lingkungannya, di tempat darimana dia berasal. Arti Mahasiswa Lalu, bagaimana yang se­ harusnya? Edward Shils (19101995) mendefinisikan mahasiswa sebagai kelompok minoritas masyarakat yang memiliki kecu­ kupan paradigma pikir, analisis dan bertanggung jawab terhadap keadaan sosial. Melihat apa yang terjadi, kini, mahasiswa semakin jauh dari definisi tersebut. Arti identitas sebagai mahasiswa se­ makin mengabur. Sebagai kaum intelektual se­ bagaimana yang dikatakan oleh Edward Shils, mahasiswa mem­ punyai fungsi yang harus dilaku­

kan, diantaranya mencip­ takan dan menyebar kebu­ dayaan tinggi, ilmu pengeta­ huan dan teknologi, menye­ diakan bagan-bagan rasional dari antar bangsa melalui kawasan terpadu, membina ke­berdayaan bersama, mem­ pengaruhi peruba­han sosial, dan memain­kan peran politik Menyandang gelar sebagai mahasiswa, ten­ tunya men­ jadi sebuah prestis tersendiri, apalagi jika berada di wilayah pedesaan. Gelar sebagai “mahasiswa” yang naik daun sejak reformasi, yang diciri­ kan sebagai suatu kelompok yang dekat dengan rakyat, se­harusnya tidak diced­erai deng­ an stressor yang mem­ buat jiwa-jiwa pen­gabdi men­ jadi hilang, tertimbun dengan kekha­ watiran yang melanda perihal “bagaimana masa depan saya, bagaimana saya kerja dan sebagainya”. Menjadi sebuah pertanyaan, apakah perlu dicanangkan se­ buah program agar sebagai ma­ hasiswa tidak kehilangan jiwa pengabdi di tengah gempuran stressor yang dihadapinya. Menurut hemat penulis, ten­ tu hal itu tidak perlu dilakukan. Di kalangan mahasiswa sendiri sudah banyak gerakan yang ter­ organisir, sebut saja PMII, HMI, GMNI dan sebagainya. Yang mempunyai ideologi tersendiri, namun hakikatnya sama. Yaitu mengabdi untuk masyarakat, dengan cara yang mereka yakini dan percayai. Selain organisasi semacam ini, banyak juga ma­ hasiswa yang tergabung den­ gan komunitas-komunitas yang bergerak di arah kemanusiaan. Untuk itu, penguatan dan pengembangan terhadap or­ ganisasi-organisasi mahasiswa yang ada harus dilakukan. Ses­ a­ lahnya-salahnya orang tua itu sebenar-benarnya kita, meski­ pun menurut piramida kebutu­ han Maslow, apa yang diingink­ an orang tua masih berada pada level safety. Mengubah pemahaman ten­tu membutuhkan waktu yang pan­ jang, untuk itu memanfaat­ kan waktu selagi menjadi ma­hasiswa untuk mengabdi terha­ dap desa adalah hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan. Dengan cara apapun, asalkan terlepas dari ke­ pentingan poli­tik dan kepentin­ gan organisasi. Mengabdi adalah mengabdi, bukan untuk promosi apalagi sekedar kaderisasi. Atau kita perlu sekali lagi meredefinisi arti mahasiswa dalam konteks sekarang? *) Mahasiswa prodi Psikologi, Kru SKM Amanat

n KOLOM

MELIHAT INDONESIA HARI INI Hasan Tarowan* “Ketika menjadi maling ayam itu dilarang, maka menjadi pejabat negara adalah suatu keharusan.Mungkin, dalam ruang pemerintahanlah, praktik pencurian akan terdengar lebih indah, merdu dan lebih manusiawi.” Seperti itulah kira-kira yang ingin aku ungkapkan de­ n­ga­n penuh kengerian di tengah dunia perpolitikan yang lebih menyukai kebusukan dan kemunafikan. Sering aku berfikir, sebuah negara yang penduduknya luar biasa be­ sar ini, ternyata kekayaan alamnya hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Sedangkan di sisi lain, pemulung, anak jalanan, tukang becak, pedagang asongan, tukang parkir dan sebagainya harus membanting tulang untuk bertahan, meneruskan hidupnya sendiri. Kita hidup di negara yang penuh kenikmatan (baca: kekayaan alam) di dalamnya, tapi kenikmatan itu harus kita bayar mahal untuk terus sekedar hidup. Melihat Indonesia hari ini, seperti halnya melihat perahu layar yang mengambang, mengapung, tak memiliki tapal batas. Ini adalah ruang besar bagi semua keragu-raguan, ke pura-puraan, egoisme, perjuangan dan pertarungan untuk bertahan hidup. Semua ini merupakan wajah Indonesia hari ini, saling memangsa, melakukan kompromi-kompromi politik yang tak lagi memikirkan apa dan siapa, selain ke­lompok dan kroni-kroninya. Tanpa identitas pasti. Sekuat apapun ide-ide yang coba aku tuangkan menjadi sebuah tulisan yang menguraikan dengan rinci keadaan demi keadaan, semua terasa sia-sia. Percuma. Sebab, men­jadi orang baik di negara ini merupakan satu perkara paling menekan dan cenderung membosankan. Hari ini, men­jadi orang baik, sepertinya harus menjadi orang yang siap berkompromi dengan siapa pun, melakukan lobi-lobi; ma­hasiswa dengan dosennya, bawahan dengan atasan, dengan sahabat, musuh, tukang siomay, penjual gorengan, terlebih dengan orang yang pernah membantu kita, dengan semua orang yang kita kenal selama ini. Menjadi idealis dan peduli, entah kenapa, sudah terlihat absurd dan agak sinting. Tidak­kah kau juga merasakan, bosan dengan keadaan yang seolah stagnan seperti ini? Tidak tahu! Selain percaturan politik yang makin hari makin mengge­maskan dan cukup menggelikan, kita sedang berada dalam sebuah dilema. Dilema yang akan menuntut kita pada sebuah gerakan lingkungan yang lebih keras dan tak kenal ampun. Empat tahun terakhir ini aku tinggal di Semarang. Setiap kali melewati daerah Semarang bagian utara, terasa seperti melihat replika kecil dari Indonesia. Sebuah kota yang se­ bentar lagi sangat mungkin akan hilang. Tenggelam karena sifat abai kita sendiri. Sedang pemerintah yang dipercayai, kita tidak tahu, mereka sedang melakukan apa. Seakan mer­ eka merasa baik-baik saja melihat rumah-rumah, perkan­ toran, jalan dan permukaan tanah yang semakin turun serta air laut (rob) yang makin meninggi. Semarang Utara yang hari ini kita lihat, adalah wajah ke­ cil dari Indonesia yang akan datang. Biar pun tanpa harus menunggu aba-aba dari Menteri Kelautan dan Perikanan, ibu Susi Pudjiastuti“Tenggelamkan!” akan tenggelam den­ gan sendirinya. Peristiwa itu akan menjadi satu kasus , yang generasi mendatang akan mempertanyakan ketidakmam­ puan dan ketidakbecusan kita dalam menjaga Ibu pertiwi. Sudah terlalu banyak konflik yang terjadi antara warga dengan perusahaan maupun negara, atas nama lingkungan. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Pati, Rembang, Kali­ mantan, Papua, Yogyakarta, ketika segala macam kata da­ mai ditolak bahkan malah dilanggar dengan ancaman dan kekerasan, apa yang harus kita perbuat? Apakah kita harus membalas balik (baca: balas dendam paling agung) agar bisa mendapatkan hak-hak kita? Aku masih optimis, pada aktivis lingkungan hidup belum sepenuhnya gagal untuk memperjuangkan hak alam. Atau kita akan menyusul Brazil, China, India dan negara lainnya yang melakukan perusakan lingkungan demi pertumbuhan ekonomi? Jika iya, sampai kapan Indonesia akan mampu bertahan, bila kelak terjadi krisis energi, pangan, dan seb­againya? Dunia terus tumbuh-berubah, itulah dunia manu­sia. Sebagai pemuda yang seringkali mengaku sebagai penerus bangsa, mestinya kita sadar. Negara ini sedang berlomba dalam skala internasional, mengikuti jejak neg­ ara-negara kapitalis agar bisa menikmati buah ‘kemajuan’. Mengedepankan pertumbuhan ekonomi daripada masa depan dirinya sendiri. Bahkan, demi mempertahankan pertumbuhan ekonomi, cara apapun akan ditempuh, walau itu semua harus merugikan dan melukai warga negaranya sendiri. Banyak perusahan-perusahaan besar akan ikut serta di dalamnya, begitu juga orang-orang yang memiliki kepent­ingan atas sumber daya alam yang kita miliki. Melihat indonesia hari ini, kita sedang menyaksikan keru­sakan alam dan kengerian-kengerian yang lain. *)penulis kelahiran Sumenep, saat ini se­dang menyelesaikan proyek buku terbarunya. Tinggal di Semarang. AMANAT Edisi 130

Mei 2018

19


CERITA ERITA P ENDEK ENDEK

Pekabar dari Negeri Seberang Cerpen Miftahul Arifin

P

ekabarku dari negeri seberang. Pertemuanku deng­ anmu dalam acara orientasi di sekolahmu beberapa hari yang lalu selalu menjadi lembaran yang terus terbuka dalam setiap ingatan yang mengikuti setiap langkahku. Ternyata tidak begitu mudah menghapus ingatan walau seka­d ar sisa bekas pandang denganmu yang tak lebih dari banyak waktu kejadian itu kualami. Tak punya alasan hingga aku menyapamu secara langsung ketika itu lantaran kita tak begitu saling mengenal kecuali bekas-bekas masa lalu yang telah usang. Sembari mengingat-ingat segalanya tentangmu, satu hal yang selalu me­ maksaku untuk mengingatmu dalam lembaran sejarah masa silam. Sebuah cerita yang telah berlalu dalam ingatan, jauh hari sebelum aku pergi ke negeri seberang. Hingga kini saat aku tak bisa mengetahui kabarmu kecuali bisik kecil dari teman ke teman melaui telepon geng­g am dengan jarak ratusan kilometer, aku kembali dipertemukan denganmu. Aku masih ingat ketika itu, secara tiba-tiba bapak menawarkan kepadaku untuk berjodoh denganmu. Aku juga tak tau asal muasalnya tawaran itu. Tapi yang jelas, kebiasaan di daerah kita, orang tua selalu menjadi alasan menya­t unya dua hati di keindahan asmara. Cinta akan tumbuh seiring kerapnya pertemuan memang benar. Terbukti, tak jarang dari tetanggaku, mereka menjadi pasangan seumur hidup yang harmonis walau pada mulanya mereka tak begitu saling mengenal satu sama lain. Entah dari mana wangsit itu bapak dapatkan, hingga aku harus berjodoh denganmu. Ingataanku masih tajam, se­ menjak aku mulai mengenal wanita den­ gan perasaan yang kadang-kadang aneh. Tak sedikit pun aku berkisah tentang wanita kepada bapak, apa lagi tentang­ mu. Apalagi untuk mengadu kepadanya agar aku dipinangkan deng­a nmu. Jelas, aku tidak tahu, ia wangsit ataukah tak lebih dari angan-angan bapak yang tak berdasar sama sekali. Saat itu, usiaku kurang lebih lima tahun lebih tua darimu. Sedikitnya, aku sudah mulai mengenal serumpun cerita asmara yang dilakonkan secara sembunyi-sembunyi oleh kakak-kakakku di pesantren. Malam itu pula deng­a n pendirian yang kokoh, aku menolak ta­ waran yang tengah membuatku kaget itu lantaran aku tahu sama sekali belum terlintas apapun tentangmu. “Aku tak suka dijodohkan,”kataku dalam hati. Ini bukan zaman Siti Nur­ baya. Aku hanya akan bersatu dengan orang yang aku cinta. Pilihanku sendiri. Titik. Kusampaikan penolakan kepada bapak dengan kata-kata yang sopan dan halus agar tak menyinggung pera­­s aannya. Sebagai anak yang dididik di pesantren, bagiku, menyakiti orang tua adalah dosa tanpa ampun. Lagi pula itu hanya tawaran. Bukan desakan atau se­b uah permintaan keharusan yang harus kupenuhi.

20

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

(Ilustrasi: Rima Dian Pramesti)

Rupanya bapak tak begitu paham maksudku. Ia yang merupakan sisasisa kelahiran masa lampau tetap pada pendiriannya yang tradisioal. Tawaran darinya menyimpulkan keharusan. Itu yang terbaik, menurut bapak. Berkali-kali aku menghadapnya se­ cara serius dalam perbincangan yang sama lantaran aku tetap pada pendirian semula. Berbagai alasan aku kemukakan pada beliau yang tak mengerti jaman modern. Pada kesempatan yang sama beliau juga punya seribu alasan untuk mematahkan alasanku. Aku melihat kee­g oisan pada diri beliau yang selalu men­g anggap baik setiap pendapatnya dan tidak begitu mudah menerima masukan orang lain. Ah, bapakku memang kuno, katrok, tradisional yang hanya tahu sawah dan kandang. Untuk kali kesekian bapak kembali memanggilku. Aku pun menghadapnya dengan tanpa rasa kecuali rasa bosan. Siapapun barangkali tidak akan pernah menyukai satu topik dalam banyak ke­­ sem­p atan. Begitupun aku. Aku kaget ketika tiba bapak bersi­ kap tidak seperti biasanya. Entah lah, barangkali sebelum beliau pulang dari sawah sempat menabrak pepohonan. Atau barangkali karena diseruduk sapi sewaktu memberinya makan di kan­ dang sehingga ia berubah pikiran. Peri­ hal perjodohan, bapak tidak lagi ngotot seperti hari-hari sebelumnya. Ia lantas memasrahkan kepadaku perihal wanita

yang harus kupilih untuk dijadikan te­ man hidup. Bahkan, sebelum perbincangan kami berakhir, tidak lupa beliau memberi saran kriteria seseorang yang harus mendampingiku. Kriteria yang memang seharusnya keluar sebagai nasihat dari orang tua kepada anak. “kalau mencari calon istri tidak perlu wanita yang sangat cantik. Karena, wani­t a yang sangat cantik akan selalu dilirik orang lain,” pesannya sembari mem­b uka senyum. “Carilah wanita yang bisa menyangimu dan orang tuamu dalam kondisi apapun” Aku mengangguk. *** Ketika itu usiamu masih terlampau kanak-kanak. Dan lagi pula aku sudah punya pilihan yang mungkin cukup lebih dewasa darimu. Maka bagaimana mung­k in aku dapat menerimamu hanya kare­n a tawaran orang tuaku. Hanya bebera­p a kali aku melihatmu, bertemu dalam satu ruang hening dari percakapan anak muda, ketika kamu dan keluargamu berkunjung kerumah Mirna, sepupumu yang tak jauh dari rumahku. Aku juga masih ingat betul, ketika itu kamu selalu mencium tanganku sebagai bentuk kebaktian kepada orang yang lebih tua denganmu. Setelah itu kamu pulang ke rumahmu tanpa meninggal­k an bekas yang berarti dalam memori ingatanku. Apakah bisa aku mencintai bocah ingusan yang bagiku

belum tahu menahu tentang perasaan. Kita pernah bertemu lantaran kita se­b enarnya masih bersaudara walau bukan hubungan sedarah. Secara nasab, ibuku dan ibu Mirna adalah saudara kandung, sedangkan bapakmu dan bapak Mirna juga bersaudara. Itulah sebabnya men­g apa kita harus selalu bertemu dalam waktu tertentu, paling tidak pada hari lebaran yang datang setiap tahun. Ba­r angkali pula karena ini hingga bapak menawarkanmu untuk aku persunting agar semakin mempererat persaudaraan dan kekeluargaan kita. Entah lah. *** Sekarang kamu telah tumbuh men­ jadi remaja. Sekolahmu di sekolah menengah atas sukar dipercaya jika kamu tidak pernah mencintai seorang­ pun dari lawan jenismu. Atau paling ti­d ak usia telah mempertemukanmu deng­­a n perasaan aneh jika bertemu dengan lelaki gagah dan tampan di pinggir jalan. Tak begitu mudah aku mengingat kapan terakhir kali aku melihatmu se­ belum kita dipertemukan dalam sebuah acara di sekolahmu beberapa hari yang lalu. Di sebuah ruang yang hanya dip­ isahkan oleh statusmu sebagai peserta, dari ruang panitia aku hanya dapat memandangmu. Saat itu kamu dan be­ berapa kawanmu tengah duduk di kursi sembari mendengarkan beberapa materi yang harus kamu ikuti. Aku juga melihatmu ketika engkau menari dalam salah satu pertunjukan tari pada malam terakhir acara itu. Pan­ danganku tidak pernah lepas dari setiap lentikan jemari yang engkau gerakkan bersamaan dengan tubuh-tubuhmu yang mulai menjuntai. Gaya bicaramu yang se­d ikit lugu dengan nada agak manja juga masih kuingat jelas sampai menjelang kepergianku kembali ke negeri seberang. Negeri yang jauh yang telah dipisah oleh lautan itu telah menyulitkanku untuk sekadar melihatmu dari kejauhan. Ingin sekali aku berkisah banyak hal tentangmu. Namun, bagimu, aku yang barangkali tak lebih hanya orang baru selalu melumat keinginan itu. Hanya hembusan angin yang kuharap bisa me­ nyampaikan sepenggal kisah tentangmu dalam benak mulai beberapa hari yang lalu. Kisahku pada angin, kisahku pada mendung, kisahku dedaunan yang meli­­ lit di atap rumahmu, semuanya, telah berlalu sebelum kepergianku. Kisahku adalah kisah baru, yaitu kisah tentang wajahmu yang bundar, tentang matamu yang tajam dan kisah tentang perasaan yang beberapa hari ini telah menggang­ gu pikirku. Lagi, aku ingin berkisah tentang pe­ nolakan untuk dijodohkan denganmu beberapa tahun silam. Kisah terakhir mungkin tidak kurang dari kisah tan­g is setelah aku melihatmu telah dirubah oleh waktu.


SASTRA ASTRA B UDAYA UDAYA

KELAS SASTRA

n Sajak- Sajak Nur Alawiyah

(Foto: Aulia’/Amanat)

ZIARAH

Pengabdian Pada Kata-Kata (Sastra) Kelas Menulis Cerpen di kediamana Gunawan Budi Santoso atau kerap disapa Kang Putu (atas). Saat Kang Putu sedang membangun warung kopinya yang baru, tepat di sebelah rumahnya (bawah).

S

enja menyulut semangat kami untuk segera bergegas mengakhiri bisingnya kota. Menyusuri jalanan penuh kelok nan liku, naik turun hingga geri­mis pun turut serta menyambut perjalanan. Pergeseran 180 derajat jarum penunjuk menit, mengan­ tarkan langkah kami pada suatu bangunan lama, dengan dinding bebatuan sungai, berhias lukisan Jawa dan tumpukan buku-buku yang tertata rapi. Sambutan ra­mahtamah dan aroma kopi hitam men­ jadi pemantik untuk segera ambil bagian pada sudut-duduk yang ko­ song. “Aku apa kowe sing modar? Asline aku sengite pol karo Kang Parman. Kon ora sengit piye? Upama kowe ketemu wonge pisan­ an terus krungu swarane, jan ! Blas ora ngenakke ati. Kupingmu mes­ thi bakal panas. Kemropok. Terus sikilmu mesthi pingin ndugang lambene.” Sepenggal paragraf dari sebuah cerkak (cerita pendek dalam baha­ sa Jawa) yang dibacakan salah satu peserta, seketika mengheningkan ruangkan. Malam itu adalah ke­ las menulis cerpen, agenda rutin dalam sepekan yang diadakan di kediaman Gunawan Budi Susanto (57) atau akrab disapa Kang Putu. Dalam kelas ini, peserta mem­bawa sebuah cerpen, baik karya sendiri maupun orang lain untuk dibedah bersama-sama. Selang beberapa saat, forum santai berbalut hawa dingin khas pegunungan, pecah. Sembari duduk sila melingkar, saut-sautan suara, kelakar, dan kritik terha­ dap satu cerpen yang usai dibaca, terjadi. Kang Putu memposisikan dirinya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ia menampil­ kan diri bukan sebagai yang paling bisa. Semua punya hak suara un­tuk berbicara. Momen yang demikian akan terus berlangsung tanpa patokan waktu, sampai semua cerpen tun­tas dibahas. “Kadang, kelas selesai sampai pukul 03.00 pagi,” kata Kang Putu saat ditemui di rumahnya, Kam­ pung Gebyog RT 03, RW 03 Kelura­ han Patemon, Gunung Pati, Kabu­ paten Semarang, Selasa (27/03). Kelas Menulis Cerpen adalah bagian dari Kelas Sastra. Ada juga Kelas Membaca Pram dan Kelas Menulis Feature. Semuanya ter­ buka untuk umum. Tak ayal, kelas sastra itu banyak diminati ragam kalangan, guna mengasah dan me­ nambah wawasan kesusas­ traan mereka. Dicky Qulyubi Aji, misalnya, se­

jak setahun lalu, mahasiswa prodi Sastra Jawa di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu ja­rang absen menikmati aneka sa­jian sastra di sana. “jika ditanya, mengapa saya mengikuti kelas? Saya ingin ber­ bagi cerita dengan cara yang tak biasa serta memandang dunia dengan mensyukuri apa yang kita miliki,” katanya. Sama halnya dengan Dicky, Nur Halim M yang berprofesi se­ bagai guru juga aktif mengikuti kelasa sastra sekitar dua tahun yang lalu. Alasan, mendasar bagi pria asal Purwodadi itu adalah menggali sastra sampai ke akarakarnya. Hingga akhirnya dia me­ milih cerkak untuk menjadi fokus sastranya. “Aku luweh seneng cerkak, soale aku lulusan prodi Bahasa Jawa,” ka­ tanya. Mengopek Sejarah Kelas Sastra yang diadakan di rumah Kang Putu, sebenarnya adalah pemindahan kegiatan di Kedai Kopi ABG, yang berada ti­ dak jauh dari Unnes. Sejak per­ tama kali didirikan pada 2015, na­ manya melambung pesat. Maha­ siswa, guru, dan dosen larut pada jamuan-jamuan sastra. Tersohornya kedai kopi berba­­ lut sastra itu, nyatanya tak mampu menjadi jaminan keabadian. Pun­ caknya pada akhir tahun 2017, Kang Putu terpaksa menutup kedai kebanggaannya itu. Bukan perkara finansial, melainkan alasan dari keluarga. Kang Putu mengaku, sempat diprotes oleh anaknya, lan­ taran banyak menghabiskan waktu di kedai ketimbang rumah sendiri. “Berawal dari situlah saya ber­ pikir ulang, meskipun mengajar orang lain merupakan kegiatan yang mulia, namun percuma jika anak saya terlantar,” katanya. Oleh sebab itu, Kedai Kopi ABG, kini dipindahkan di samping rumahnya. Ketika masih dalam ta­ hap pembangunan, kelas sastra di­ adakan di ruang tamu rumah Kang Putu. Baru pada April lalu, Kedai Kopi ABG telah dibuka kem­bali Jauh hari sebelum berdirinya kedai kopi ABG, Kang Putu sendiri sebenarnya telah aktif mengada­ kan kelas sastra. Hingga, perjum­ p­ a­ an dengan kedua kawannya; Asian M Permana dan Babay Wi­ dio Laksono membuahkan sebuah inisiatif. Yakni, merintis kedai kopi dengan pelbagai kegiatan seni dan sastra. “Pada momen-momen ter­tentu kita juga menyajikan pertun­jukan musik, diskusi sastra, mem­ batik, dan workshop,” tuturnya.

(dok.pribadi)

Pengabdi Kata-Kata Perihal nama, dalam bahasa Blora kopi disebut sebagai We­dang Kopi. Secara etimologi, we­dang itu dari kata awe-awe kadang yang arti­ nya; mengundang sauda­ ra. maka tak heran, jika salah satu tujuan berdirinya kedai guna mengundang orang-orang untuk mengobrol ber­ sama. “Supaya obrolannya berman­ faat jadi harus ada yang dihasilkan. Sedekah itu sesuai kemampuan. Saya bisanya menulis. Mereka pu­ nya waktu. Saya punya lapangan,” katanya. Sedangkan nama “ABG” sen­ d­iri merupakan hurup abjad dari awalan nama depan ketiga pendiri kedai kopi. Kang Putu berharap, semua peserta aktif dan produk­tif, lantaran spirit berdirinya kelas sas­ tra guna bersedekah ilmu penge­ tahuan. Kang Putu tak jarang mangajak peserta kelas sastra mengunjungi suatu daerah dan juga komuni­tas non sastra. Mereka pernah ke Je­ para untuk melihat remaja di sana yang bisa membuat pewarna tenun alami, lalu, menemui ma­ syarakat Gunung Kendeng yang terkena dampak pabrik semen dan masih banyak yang lain. Hal tersebut dilakukan un­ tuk mengolah rasa dan menam­bah wa­ wasan tentang kehidupan. Menurut Kang Putu, meskipun sastra itu im­ ajinatif, tapi juga ha­rus bertumpu pada kehidupan. Tidak bisa, kat­ anya, seseorang menggambarkan sejuknya embun tanpa ia bangun pagi dan keluar rumah. “Sastrawan, harus mampu me­ mahami denyut nadi kehidu­ pan, memahami kebahagiaan dan pen­ deritaan orang. Menulis sumber kehidupan itu tidak ada habisnya,” katanya, mantap. Millati Azka

Perjalanan I semesta adalah rahasia pengetahuan yang gelap tetapi wa ktu telah memberiku kerelaan mencari artinya pada helai-helai daun, bahasa yang membawaku kembali pada gundukan merah tanah pekuburan; tempat orang-orang tinggal dan mengembara. (29/1/2018) Perjalanan II ada yang lebih deras dari hujan malam ini, lipatan-lipatan kenangan yang tibatiba menemukan jalan kembali, ia lelehkan sajak-sajak dukacita di atas kotak-kotak persegi panjang. kisah itu seakan menemukan kunci untuk mengurai setiap cerita, kardus biru muda yang warnanya kian pudar menjadi semacam abu-abu. nama-nama kemudian muncul, gambar-gambar, tangis kemudian tawa yang terlontar saling berdesak-desakan ke angkasa raya; “kenapa kau tertawa sebentar, kemudian tersedu. bukankah tawa dan tangis adalah sepasang kita?” tanyaku. selain puisi, hari ini, orang-orang mulai merindui kematian. (12/2/2018) Perjalanan III sementara di lemari kesayangan, aku menyusun lembar-lembar sepanjang usia juga sekuntum senyum yang kau tinggal untukku di ujung musim agar aku dapat mengenang makna-makna yang terus menyulam dirinya sendiri. (2/4/2018) Perjalanan IV seperti foto-foto itu, kenangan adalah bentuk lain dari keabadian. orang-orang akan selalu menemukanmu, dalam ingatan. (7/5/2018)

Nur Alawiyah, Lahir di Rembang pada 05 Maret 1991. Warga Kampung Sastra Soeket Teki SKM Amanat.

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

21


RESENSI

Ketika Pers Melawan

A

Alunan lagu Green River oleh Creedence Clearwater Revival menga­ wali jalannya film The Post (2017), ga­ rapan sutradara Steven Spiel­ berg. Film ini menceritakan pembocoran arsip De­ partemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) tentang perang melawan ko­munis di Vietnam. Dokumen yang pada akhirnya membuka mata rakyat Amerika tentang kenyataan perang di sana. Adalah Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) periset militer yang ditugaskan Menteri Pertahanan Robert McNamara (Bruce Greenwood) untuk mengamati jalannya perang. Daniel juga yang kelak membocorkan isi arsip yang lebih dike­nal sebagai Pentagon Paper. Ia tak tahan dengan kebohongan yang terus diproduksi pemerintah. Mer­eka me­

Judul : The Post Sutradara : Steven Spielberg Penulis Skenario : Liz Hannah, Josh Singer Rumah Produksi : DreamWorks Pemain : Meryl Streep, Tom Hanks, Bob Odenkirk, Matthew Rhys, Bruce Greenwood Rilis : 2017 Bahasa : Inggris Resentator : Atika Ishmatul

nyebutkan bahwa perang seolah menga­ lami kemajuan pesat dari tahun ke tahun. Padahal dalam riset yang diini­siasi Mc­ Namara sendiri, menyimpulkan Amerika tak akan memenangi perang. Pengiriman tentara ke Vietnam pada 1960-an sampai 1970-an, hanya untuk menjaga gengsi negara adidaya itu. Spielberg mengarahkan konflik ke in­ ternal media. Adegan ini digambarkan di meja redaksi The Washingthon Post. Ke­ tika pemberitaan fokus pada pernikahan putri Presiden Richard Nixon, saingan mereka The New York Times menggem­ parkan publik dengan pemberitaan Pen­ tagon Papers. Laporan itu menyadarkan masyara­kat akan kebohongan pemerintah yang sela­ ma ini menjadi pengetahuan umum. Bom

Politik Virtual Era Digital Pesatnya kemajuan teknologi komu­nikasi dan informasi telah mencip­takan evolusi di dunia politik. Teru­tama dalam praktik demokrasi. Di abad 21 ini, jika berbicara tentang modernisasi dan komunikasi, teknologi digital adalah rajanya. Dengan kemudahan dan efektivi­tas yang ditawar­ kan, warga negara banyak memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana partisi­ pasi. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa In­ ternet Indonesia) telah mengumumkan hasil survei Data Statistik Pengguna Inter­ net Indonesia tahun 2016. Jumlah peng­ guna Internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Realita dan data di atas menunjukan salah satu dasar akan semakin meningkat­ nya pengaruh intensitas internet terhadap perpolitikan global dan Indonesia. Seir­ ing berjalanya waktu, praktik demokrasi digital semakin meningkat selaras dengan tingginya grafik pengguna internet. Buku Partisipasi Politik Virtual De­ mokrasi Netizen Di Indonesia karangan Fayakhun Andriadi, memaparkan sebuah potret penggunaan media sosial sebagai alat ampuh berpartisipasi dalam politik. Dari buku ini tergambar bahwa teknologi

22

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

digital kini bukan hanya sekedar ruang bincang-bincang, tetapi telah masuk ke ruang politik. Fayakhun Andriani sangat yakin bah­ wa teknologi digital akan berpengaruh be­ sar tehadap dinamika praktik demokrasi di pelbagai negara, termasuk Indonesia. Fenomena politik dunia menjawab keya­ kinan penulis. Obama melenggang ke Gedung Putih karena peran media sosial. Revolusi Arab (Arab Spring) dan reformasi Umbrella Hong Kong juga terjadi karena peran media sosial. Di Indonesia sendiri, gerakan sosial, hukum dan politik, seperti solidaritas Koin Prita. Aksi dukungan 1 juta Facebooker untuk Bibit Candra, dan kemenangan Jokowi-Ahok di Pilkada Gubernur Jakar­ ta tahun 2012 menjadi contoh besarnya penga­ruh media sosial. Untuk lebih meyakinkan pembaca, penulis menyampaikan prototipe de­ mokrasi digital. Pertama, adanya parti­ sipasi politik secara online. Bukti nyata adalah kemenangan Obama dan terpilih­ nya Jokowi sebagai Gubernur Jakarta, bu­ kan hanya dukungan politik yang didapat­ kan dari kampanye media sosial, tapi juga penggalangan dana kampanye yang ten­ tunya sangat membantu dari awal pendaf­ taran hingga terpilihnya pasangan calon.

infomasi yang dilayangkan oleh The New York Times menimbulkan protes jalanan ke seluruh negeri. Yang diseru­kan sama “kami tidak ingin bau peper­angan”. Di sisi lain, sang editor eksekutif The Washington Post, Ben Bradlee (Tom Hanks), geram dengan perhatian ma­ syarakat yang tertuju pada berita besar The New York Times. Ia memerintahkan re­porternya untuk mendapatkan salinan dokumen itu. Ketika mereka akhirnya mendapatkannya, Gedung Putih mem­ buat situasi makin mencekam dengan melarang The New York Times mener­ bitkan apapun soal Pentagon Papers. Pemerintah meganggap penerbitan itu membahayakan stabilitas negara dan me­ nyalahi UU tentang Spionase di AS. Sutradara mengajak penonton untuk melihat cara kerja media yang jarang dike­ tahui. Selisih paham, perdebatan men­g­ angkat isu, politik media. The Washing­ton Post yang saat itu baru saja diambil alih oleh Kay Graham (Meryl Streep) harus dihadapkan pada situasi melawan atau bungkam Ben terus mendesaknya untuk mener­ bitkan dokumen tersebut. Cita-cita Ben adalah menjadikan korannya tak hanya sebagai koran lokal. Untuk itu ia harus melakukan sesuatu, bukan terus mem­ beritakan kebaikan pemerintah. Sementara teman-teman Kay dari ka­ langan politisi menasehati untuk tidak melakukan hal itu. Keputusannya men­ gancam masa depan perusahaan dan na­ sib seluruh pekerja di sana. Apalagi, peru­ sahaan Kay sedang mengalami ma­salah penjualan saham. Menjadi kepu­tusan su­ lit baginya yang masih menye­suaikan diri dengan bisnis media untuk mengambil keputusan. Apakah ia akan bertaruh un­ tuk mempertahankan bisnis media milik keluarganya, dengan kekha­ watiran ke­ hilangan investor saham yang beberapa diantaranya merupakan poli­tisi. Akting Streep dan Hanks paling mena­­ rik perhatian dalam film ini. Penggam­ baran air muka Streep berhasil memper­ lihatkan keraguan sebagai pebisnis baru yang harus membuat sebuah keputusan besar. Sementara akting Hanks, tak di­

ragukan benar-benar dapat menggam­ barkan sikap seorang editor di belantika pers Amerika pada waktu itu. Idealis, tegas, dan tak takut pada apapun demi menegakkan apa yang menurut prin­ sip jurnalisme benar. Kita akan melihat keteguhan itu. Saat Kay masih dalam keraguan menerbitkan Pentagon Papers, Ben telah mengumpulkan reporter se­nior di rumahnya untuk memahami do­kumen lebih dari 4000 halaman selama 10 jam. Desakkan dan saran Ben berhasil menguatkan tekad Kay untuk mempub­ likasi Pentagon Papers. Sosok Kay seb­agai pemimpin ditunjukkan secara to­ talitas saat ia dengan tegas menyatakan bahwa surat kabar didedikasikan untuk kes­ ejahteraan bangsa dan kebebasan pers. The Washington Post bukan lagi milik ayah ataupun suaminya, melain­kan mi­ liknya. Pertarungan Kay dengan pemerin­ tah pun tak dapat dielakkan. Setelah The Washington berani mengangkat kembali berita Pentagon Papers, tak berselang lama, mereka harus berhadapan dengan hukum di pengadilan bersanding deng­ an The New York Times karena diang­gap menciptakan bencana diplomatik yang mengancam keamanan AS. Na­mun, ber­ ita yang dikeluarkannya telah memicu berita-berita lanjutan dari pers di seluruh Amerika. Tak heran The Post dinominasikan sebagai Film Terbaik di Oscar 2018. Akan berjejer dengan prestasi Film Terbaik 2017 versi National Board of Review. Time dan American Film Institude me­masukkannya sebagai salah satu dari 10 film tahun ini. The Post mengakhiri pertarungan an­ tara pers dan pemerintah dengan gamba­ ran yang menyatakan dukungan kepada The Washington Post dan The New York Times. Puncaknya, saat ke­menangan atas pers dinyatakan melalui keputusan Mah­ kamah Agung. perlind­ungan atas kebe­ basan pers adalah untuk memenuhi per­ an penting pers dalam de­mokrasi AS.

Kedua, pemanfaatan media sosial se­ seiring berjalannya waktu, kehidupan du­ bagai alat penyampaian pendapat, sep­ nia akan terus terdigitalisasi. Apalagi dalam erti protes atas kebijakan rezim penguasa. tata kelola pemerintahan, sektor ini harus Protes secara online, pada akhirnya akan siap menyambut tuntutan di era digital, mewujudkan protes secara offline yang apa­bila jika tidak, maka bersiaplah tersalip kemudian secara masif mampu meroboh­ oleh negara-negara lain. Selamat datang kan kekuasaan lama. Hal ini marak ter­ politik virtual, selamat datang demokrasi jadi di Timur Tengah Arab, Turki, Tunisia, digital.  Libya. Sangat mengesankan memang, benar yang dikatakan oleh Michael Hauben, bapak Netizen dunia, bahwa kehadiran jaringan internet akan semakin mem­ perkuat de­mokrasi di tingkat global. Jadi penting sep­ertinya jika politik virtual di­ perhitungkan dalam era demokrasi digital yang terus berkembang sampai saat ini. Datanganya era digital memberi wajah baru bagi partai politik, di Selandia Baru misalnya, muncul partai baru yang cukup unik. Namanya: Partai Internet. Penggagas­­ nya KimDotCom. Yang perlu dicatat, bahwa di era digital saat ini telah membuka medium yang selu­ as-luasnya bagi seseorang un­tuk melaku­ kan aktivitas politik dalam iklim demokra­ si. Dengan perantara teknologi digital, hak politik seseorang di­ Judul : Partisipasi Politik virtual Demokrasi Netizen di beri ruang yang sebe­ Indonesia bas-bebasnya. Pengarang: Dr. Ir. Fayakhun Andriadi,M.kom Diagnosis Fay­ Penerbit: RMBOOKS akhun Andriar­di Terbit: November 2017 adalah semakin maju Tebal: xiii+399 hlm, 140x210 mm perger­akan digital, Resentator: Mufazi Raziki


CERMIN

(Foto: Inayah/Amanat)

Dari Hutan Belantara, Jadi Pusat Kajian Agama

Santri berjalan di depan Pondok Pesantren Al- Ittihad Dusun Poncol, Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

Daerah yang sebelumnya dimitoskan angker, telah disulap K.H Misbah sebagai pusat kajian Islam di Kabupaten Semarang.

Di Ngawi, beliau pernah bertarung dengan Jin terkuat “ di sana, lalu menang. Jin tersebut dijadikan Tonggak Jati Mbah Misbah.

Kiai Mufid, Pengasuh Pondok Ponpes Al Ittihad

M

enempuh perjalanan seki­ tar 90 menit dari Ngali­ yan, kami tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Al- It­ tihad, Dusun Poncol, Desa Popon­gan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Sema­ rang. Seperti kembali ke masa lalu, tekstur tanah yang berbukit-bukit serta pepohonan yang ramai menjulang menjadi daya tarik tersendiri bagi pon­ dok Poncol; pesantren yang dibangun di atas paru-paru dunia. Sebelum memasuki area pondok, di plang, tertulis angka 1310 Hijriyah/ 1893 Masehi yang menjelaskan tahun berdirinya Ponpes. Profil sebagai pon­ dok tertua di Kabupaten Semarang, membawa kami untuk berkunjung dan mengenal lebih jauh tempat ini. Ponpes Al-Ittihad didirikan oleh K.H Misbah, keturunan ke 14 dari Syekh Maulana Ishaq, penyebar Islam generasi awal di Tanah Jawa. Berdasar­ kan silsilah, beliau bernama lengkap K.H Misbah bin K. Mertodito bin K. Mur­sodo bin K. Zamsari bin Wongso Taruno bin Bagus Towongso bin Raden Santri bin Raden Niti Negoro bin Bupa­ ti Korowelang bin Sunan Kuning (Mu­ ria) bin Sunan Gedhe (Kadilangu) bin Tumeng­gung Wilotikto (Tuban) bin M. Ainul Yaqin (Gresik) bin Syekh Mau­ lana Ishaq (Tuban). Kiai Mufid (60) generasi ke empat pengasuh Ponpes Al-Ittihad menjelas­ kan, perjalanan K.H Misbah dari masa kanak-kanak sampai dewasa belum dapat ditelusuri. Mulai tercatat, ketika beliau sudah manikah. Dari ceritanya, K.H Misbah menikah tiga kali. Pernika­ han pertamanya tidak dikaruniai ketu­ runan, sehingga sepakat cerai. Pernikahannya kedua, beliau dika­ runiai dua putra, yaitu Ikrom dan Aski­ rom. Namun, K.H Misbah mendapat­ kan ilham, jika beliau masih menerus­ kan dengan istri yang kedua, maka anak tu­ runnya tidak akan menjadi orang yang meneruskan perjuangnya. Kemudian istrinya dicerai, lalu meni­ kah dengan adik mantan istrinya. “Istri keduanya tidak mau berpisah dengan Mbah Mis­bah. Ia mau mengabdikan

dirinya, se­hingga dijodohkan dengan adik istrinya yang kedua,” katanya. Sejak pernikahannya yang ke tiga, be­liau pindah ke Padaan. Pada tahun 1810 M, lahir putra pertama Hasan Asy’ari. Tidak lama kemudian, mereka pindah ke Ngawi, Jawa Timur. Di sana lahir dua putra (Toyib dan Marzuqi) dan satu pu­tri (Khotijah). Setelah 22 tahun di Ngawi beliau pindah ke Cika­ lan (sebelah timur Dusun Poncol). Penakluk Jin Sejak kepulangannya dari Ngawi, sosok K.H Misbah semakin dike­ nal masyarakat sekitar. Dari cerita yang berkembang beliau merupakan seorang alim ulama yang juga ahli ilmu kanura­gan. “Di Ngawi, beliau pernah berta­rung dengan jin terkuat di sana. Lalu, menang. Jin tersebut dijadikan tonggak jati,” kata Kiai Mufid. Karena ketinggian ilmunya, sosok K.H Misbah menarik perhatian Mbah Thoyib, Kepala Perkebunan Getas (sebe­ lah selatan Poncol). Desa Pon­ col dulunya bernama Moncol, karena letaknya yang diapit dua sungai, yaitu Sungai Petet dan Sungai Senjoyo. Ke­ tika daerah sekitarnya telah ada pemu­ kiman warga, di daerah ini belum ada yang berani menempati. Keangkeran yang dice­ ritakan pada waktu itu membuat orang-orang ta­ kut, bahkan hanya untuk sekedar lewat tidak bera­ ni. Konon, di sana adalah tempat berkumpulnya jin seantero jagat. Terdapat pohon belimbing yang disetiap ratingnya ditum­ buhi rambut manusia. Pohon itu dipercaya se­ bagai kediaman jin. “Jika orang lewat sini (Moncol) kalo tidak hilang biasanya orang tersebut jadi tidak waras,” katanya. Oleh Mbah Thoyib, K.H Misbah diminta un­ tuk mengamankan dae­ rah tersebut. Dengan izin

Allah SWT, diban­tu dua muridnya, Yadi dan Safron, K.H Misbah berhasil men­ jalankan tugasnya. Sebagai imbalan, daerah itu diberikan kepada beliau. Kesatuan Ponpes Bukan pekerjaan yang ringan mengubah hutan belantara menjadi pemuki­ man penduduk. Pada waktu itu, mula-mula K.H Misbah mendiri­ kan surau terlebih dahulu sebagai ba­ sis dakwah. Karena kealiman beliau se­ makin dike­nal, masyarakat dari segala penjuru datang berguru padanya. Akhirnya, didirikan Asrama Pendi­ dikan Islam untuk menampung sant­ ri-santri beliau. Oleh cucu-cucu K.H Mis­ bah, nama itu di rubah manjadi Ponpes Al-itihad sebagaimana seka­ rang ini. “Surau Mbah Misbah seka­ rang telah menjadi Masjid Al Ittihad,” kata Kiai Mufid. Kiai Nur Salim (60), pengasuh Ponpes menjelaskkan, Al-Ittihad be­ rarti kesat­uan. Nama itu menyiratkan pesan pada keturunan K.H Misbah su­ paya tetap ber­satu. Tidak saling berpe­ cah belah. “Ke­turunan Mbah Misbah yang mendirikan pondok, nginduknya tetap ke Al-Itti­had,” jelasnya. Mbah Misbah wafat pada 12 Dzulhi­jjah 1332 H di kota Makkah saat beliau menunaikan ibadah haji dan dimakam­ kan di sana. Sebelum me­ ninggal, beliau berpesan kepada anak pertamannya dari istri ke ketiga, K.H Hasan Asy’ari un­tuk menggantikan po­ sisinya. Haul Mbah Misbah masih dipe­ ringati setiap tahunnya. Kiai-kiai besar Nahdlotul Ulama (NU) seperti Abdur­ rahman Wahid (Gus Dur) pernah dua kali berkunjung ke pondok ini. Tera­ khir adalah Kiai Said Aqil ketua umum PBNU, hadir dalam haul pada tahun 2016 lalu. Sepeninggalnya, ilham yang per­ nah didapat Mbah Misbah terbukti. K.H Hasan Asy’ari sebagai penerus kepe­ mimpinan pondok mempunyai banyak keturunan yang alim. Mbah Hasan me­nikah sembilan kali dengan dikarunia 41 keturunan. “Keturunan Mbah Hasan banyak yang menyebar dan mendirikan pondok,” tuturnya. Untuk saat ini, Ponpes Al Ittihad berdiri di atas lahan seluas sembilan hektar, dengan jumlah 525 santri pu­tra dan putri. Selain menyelenggarakan jenjang pendidikan tingkat Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Masing-mas­ ing selama dua tahun. Ponpes Poncol juga memiliki R.A Al Ittihad (2007) dan SMK Al- Ittihad (2005). Diyah Nur Inayah

Kiai Mufid, Pengasuh Pondok Ponpes Al Ittihad sedang duduk bersama putri kecilnya. (Foto: Inayah/Amanat)

AMANAT Edisi 130

Mei 2018

23


SOSOK

(Dok. Pribadi)

Ingin Berangkatkan Haji Orang Tua

Ulil Albab (kiri) bersama CEO Buka Lapak.

S

etiap orang mempunyai keinginan dalam hidupnya. Keinginan itulah nanti akan men­jadi cambuk diri untuk terus bergerak dan berusa­ ha. Sama halnya dengan Ulil Albab, mahasiswa semester delapan prodi Pen­didikan Matematika. Ber­ mula dari keinginan mem­berangkatkan haji orang tua, mengantarkan dia men­jadi pelapak terbaik se-JatengDIY di salah satu pasar daring terkenal di Indonesia. Di usia yang masih terbilang muda, Ulil, sapaan akrabnya, telah mampu menyabet gelar Juragan. Gelar

24

Mei 2018

AMANAT Edisi 130

yang hanya disandangkan oleh pelapak dengan 1001 s.d 5000 feedback atau transaksi. Tak ayal, dengan usa­ hanya itu, dia dapat meraup penghasilan Rp. 15 s.d 20 juta per-bulan, dengan keuntungan bersih Rp. 3 s.d 7 juta. “Saya sudah mencapai 4000-an penjualan,” kat­ anya. Pencapain itu memang tak didapat Ulil dengan mudah. Getirnya kehidupan pernah ia rasakan di aw­ al-awal memasuki dunia perkuliahan. Ketika maha­ siswa lain menikmati sukarianya menjadi mahasiswa baru, ia harus merelakan weekend-nya untuk kerja memenuhi kebutuhan hidup. Sejak awal, pria yang telah ditinggal wafat ayahnya itu memang berprinsip membiayai hidupnya sendiri. Kerja sebagai Pelayan di Rumah Makan Sri Ratu di­ jalaninya dua kali dalam se pekan. Dari kerja itu ia mendapatkan upah Rp 100 rb. “Dari uang itu saya harus bisa membagi untuk keperluan satu minggu mendatang dan menabung se­ bagian untuk bayar UKT,” tuturnya. Alih-alih mewujudkan keinginannya, masalah kelu­arga pun datang menerpa. Ketika menginjak se­ mester dua Ulil harus bekerja lebih giat lagi, untuk membantu keluarganya yang terlilit hutang. Setiap Sabtu, ia berjualan kaos-kaos di Pasar Sore Sampangan, depan Klenteng Sam Poo Kong sam­ pai pukul 11.00 malam. Minggu pagi pun ia gunakan untuk berjualan di pasar pagi Stadion Diponegoro. Keuntun­gan yang diraih saat itu hanya berkisar 250 ribu perhari. “Semester dua ini menjadi semester terperih saya, di mana saya harus bekerja di Sri Ratu dan berjualan sore-pagi untuk melunasi hutang keluarga sebesar 50 juta,” katanya. Pelangi selalu datang setelah redanya hujan, sama halnya dengan Ulil. Setelah semester dua yang begi­ tu perih mampu ia lalui, di semester tiga ia memulai bis­nis daringnya. Di awali dengan ajakan salah satu dosen untuk bekerja sama dalam menjual produk

jilbabnya. Siapa sangka hal itu menjadi cikal bakalnya menjadi jutawan. Namun ujian silih berganti menghampirinya, di awal merintis usahanya ia mengalami kecelakaan ber­ sama dosennya ketika akan mengambil barang. Ia tidak terluka, namun sang dosen mengalami patah kaki. Saat itu pula ia harus berurusan dengan pihak yang berwa­ jib atas dugaan kelalaian dalam berkendara yang me­ nyebabkan kecelakaan lalu lintas. Beruntung terdapat satu bukti yang menunjukkan bahwa kecelakaan terse­ but tidak disebabkan oleh kelalaiannya. “Dosen itu bernama Any Muanalifah. Beliau yang telah menginspirasi saya hingga sukses seperti seka­ rang ini,” akunya. Ketika dulu Ulil hanya membantu menjualkan produk jilbab milik dosennya, kini ia mampu menjual produk jilbabnya sendiri hingga ribuan jilbab. Target Ulul saat ini adalah mendapatkan 5001-10000 feedback supaya mendapat gelar Good Seller. Dengan pencapaianya, tak heran Ulil kini kerap diundang seb­ agai pembicara atau narasumber dalam seminar kewi­ rausahaan dari kampus ke kampus. Tak sampai disitu ia juga sering menjadi pembicara di UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di pelbagai daerah di antaranya di Te­ manggung dan Semarang. Arina Firha H.

Curriculum Vitae Nama: Ulil Albab Tempat, tanggal lahir: Jepara, 16 Desember 1994 Pengalaman organisasi: Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Matematika, Radio Gema Mahasiswa (RGM), Komunitas Buka Lapak Semarang. Prestasi: Pelapak Terbaik se Jateng DIY (2018)

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Tabloid SKM Amanat Edisi 130  

Tabloid SKM Amanat Edisi 130  

Profile for skmamanat
Advertisement