Page 1

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa

Wawancara Eksklusif: l Ahmad Tohari

Humanisme dalam Kesusastraan Indonesia

Perempuan

Menanam Tubuh nya yang

di Layar Kaca

Edisi 08 2018 ISSN: 0853-497x 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_C-1.pdf 1

11/21/2018 1:58:09 PM


Penerbit: Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT UIN Walisongo Izin Penerbitan: SK Rektor IAIN Walisongo Semarang No. 026 tahun 1984 ISSN: 0853-487X Pelindung: Rektor UIN Walisongo Pembimbing: Joko Tri Haryanto, Pipiek Isfianti, Musyafak, Hammidun Nafi’s, Ahmad Muhlisin. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Fajar Bahruddin Achmad Pemimpin Redaksi: Nur Zaidi Dewan Redaksi: Khalimatus Sa’diyah, Naili Istiqomah, Liviana Mukhayatul Khairoh, M. Syafiun Najib. Ilustrator Ahmad Shodiq Desain dan Tata Letak Sigit Aulia Firdaus Alamat Redaksi: Jl. Prof. Hamka Semarang 50185, SKM AMANAT PKM Kampus III UIN Walisongo Semarang.

2 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_C-2.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:09 PM


ST Antologi oeket

eki

Cerpe

Dialog R

n Soe ke

t Teki

ajam

i

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_C-3.pdf 1

Sastra dengan Rasa

43 11/21/2018 1:58:09 PM


Sastra tidak mempunyai kekuatan paksa. Sastra itu hanya punya kekuatan moral. Dia tidak bisa menjadi kekuatan politik kecuali oleh penguasa. Ahmad Tohari

Surat Kabar Mahasiswa

AMANAT

Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Takwa

44 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_C-4.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:09 PM


SALAM REDAKSI Salam Redaksi

Mengembalikan Ruh Terdahulu

I

barat membangkitkan apa yang lama terkubur tidaklah semudah Isa dengan segala mukjizatnya. Tapi, dengan usaha dan saling melengkapi tak ada yang tak mungkin, di situlah kita tahu kenapa Hawa diciptakan untuk Adam. Pada kesempatan tatap imaji kali ini, Majalah Sastra Soeket Teki edisi ke-8 kami hadirkan kembali di hadapan para pembaca, yang mungkin sebagian merindu. Vakumnya Majalah Sastra Soeket Teki dalam kurun waktu lima tahun menjadi momok tersendiri bagi kami generasi penerus, ketika semua cabang ilmu pengetahuan, khususnya tekonologi kian pesatnya mengalami kemajuan. Sedangkan humaniora dalam kondisi begitu memprihatinkan, kita yang mengaku manusia dengan akal dan budi. Sumbangsih kita begitu minim mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan dalam bentuk karya di zaman yang serba semrawut ini. Beranjak dari kepedulian itulah yang mengilhami semangat kami untuk menerbitkan kembali Majalah Sastra Soeket Teki. Memang

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-03.pdf 1

tak semudah membalikkan telapak tangan. Kami sadar betul, mungkin selama ini terbiasa membanggakan karya yang lalu-lalu. Tapi dengan sebatas bangga justru kami minim karya, sebatas menziarahi nisan tiap-tiap waktu mengenang dan mengenang. Untuk itu, redaksi berusaha mengembalikan ruh yang lalu lalang dari pendahulunya dengan wajah yang berbeda. Begitu pula kelahiran Majalah Soeket Teki kali ini, berbeda dengan pendahulunya. Beberapa rubrikasi mengalami penambahan dan penciutan dari edisi sebelumnya kami sajikan ke hadapan pembaca. Adanya tambahan maupun penciutan rubrikasi edisi kali ini, tak lain ialah buah adaptasi penyesuaian zaman. Besar harapan kami, terbitnya Majalah Sastra Soeket Teki menjadi komitmen bersama pada periode kepengurusan yang akan datang. Lebih dari itu, sebagai wadah ekspresi mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Tanpa mengabaikan nilai-nilai wantah kemanusiaan. Selamat membaca! Redaksi!

Sastra dengan Rasa

3 11/21/2018 1:58:09 PM


Dok. Istimewa

Reportase

Benih Semangat dari Kaum Minoritas

Telah kuterima suratmu nan lalu. Penuh sanjung kata merayu. Syair dan pantun tersusun indah sayang. Bagaikan sabda fatwa pujangga.

G

elombang bunyi membalut lantunan syair lagu yang merdu, getarannya ditangkap membran timpani guna disuguhkan pada tulang telinga, yang sesak akan riuh bunyi klakson dan mesin kendaraan kota industri. Iringan petikan alat musik gitar, cello, bass, serta lainya yang selaras, menambah keelokan lantunan lagu itu. Rasanya tak mampu diungkapkan melalui kata-kata. Jarak berdiri yang kurang lebih satu kilometer, tanpa sadar langkah kami tersihir menuju tempat asal-muasal suara yang menggema, yaitu studio OK GM, di kawasan Bukit Sari Gombel, Semarang (09/11).

4 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-04.pdf 1

Alunan musik keroncong itu merupakan geladi bersih kelompok musik Orkes Kesenian Gita Mahardika (OK-GM), guna persiapan mengiringi Sundari Soekotjo dan Intan Soekotjo untuk sebuah pementasan. Nama Sundari dan Intan tentu tak asing lagi bagi para penikmat musik keroncong tanah air. Namanya melambung berkat kepiawaiannya menyanyikan lagu-lagu keroncong dan peran sertanya melestarikan budaya. Pengurus harian OK-GM Ahmad Mudai mengatakan, keroncong sendiri merupakan musik yang unik dan khas. Sebab, ada kaidah-kaidah bermusik dan bernyanyi yang membedakan

Soeket Teki Bicara

musik keroncong dengan yang lainnya. Musik keroncong mempunyai pakem atau pola yang baku, kemudian disebut irama keroncong. Irama inilah yang menonjol, serta menjadi ciri khas pembeda dari musik lain. “Sayangnya banyak yang mengatakan, keroncong itu musik orang tua,� ucapnya. Ahmad melanjutkan, keberadaan musik keroncong akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Bahkan beberapa media mulai enggan melirik. Menurutnya, sekarang ini genre musik Indonesia lebih didominasi aliran rock, jazz, dangdut. Imbasnya, animo masyarakat terhadap keroncong semakin berkurang. Pemain alat musik cello itu mengaku, terjun di dunia musik keroncong sejak puluhan tahun silam. Ia mengawali karirnya bergabung pada Orkes Keroncong Harmony tahun 1997. Kemudian pindah ke Orkes Keroncong Dimensi. Terakhir, bergabung

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:09 PM


>>Geladi

bersih Orkes Keroncong Gita Mahardika.

pada Orkes Keroncong Gita Mahardika hingga sekarang. Komitmenya yang tak diragukan lagi, tak lain ialah bentuk kecintaanya pada budaya nusantara. “Jika bukan kita anak bangsa yang melestarikan keroncong, lalu siapa lagi?” pungkasnya. Salah satu anggota OKGM termuda ialah Dwiyan Christanugraha, pemain alat musik cak. Dwiyan mengatakan, kecintaanya pada musik keroncong tertanam sejak dini. Selain itu, ia sangat menikmati tiap-tiap lirik yang disajikan dalam lagu keroncong. Keterampilanya bermain musik sudah terasah sejak duduk di bangku SMP. Meskipun usianya kini baru mencapai 25 tahun, ia telah mantap pada genre musik keroncong sebagai pilihanya. Bahkan Dwiyan mulai aktif bermain keroncong sejak SMA. “Saya hanya ingin melestarikan musik keroncong mas, yang notabenya hampir hilang di zaman yang serba ‘tunyuk’ sekarang ini,” ujarnya. Pemuda jebolan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) itu, juga mengungkapkan keprihatinanya, Saat ini musikalitas Indonesia dirasa mengalami kemunduran. Dengan mudah, banyak dari mereka menciptakan sebuah karya yang berangkat dari cacian dan intimidasi untuk sesama. Sejarah OK-GM Di tengah pusaran berbagai

jenis aliran musik yang ada di Indonesia. Keberadaan musik keroncong semakin hari semakin kabur. Hal demikian sangat disayangkan Ahmad dan rekanrekanya. Ketika musik asli pribumi kini diabaikan oleh berbagai kalangan masyarakat. Yang sejatinya merupakan identitas bangsa untuk dijaga bersama. Dengan kondisi musik keroncong semakin tanpa daya muncul kepermukaan, menjadi perhatian tersendiri bagi para pegiat keroncong. Berangkat dari situlah yang mengilhami Ahmad Mudai serta rekan-rekanya untuk berkomitmen nguri-uri budaya, serta melestarikanya dalam wujud musik keroncong. Bermodal tekad dan keberanian, tepat pada tanggal 21 Mei 2017 kelompok kesenian musik Orkes Keroncong dibentuk. beranggotakan sepuluh orang, dan diberi nama Gita Mahardika (GM). Sedangkan Tri Hariyanto didapuk menjadi ketuanya. Penamaan Gita Mahardika sendiri bukan tanpa arti, lanjut Ahmad. Kata “Gita” sendiri memiliki makna alunan lagu. Sedangkan “Mahardika” berarti, bebas atau merdeka. Itu artinya, Gita Mahardika mengalunkan lagu sebebas-bebasnya tapi tetap mengutamakan koridor dan pakem keroncong tentunya. Pada tanggal yang sama, OkGM mendapat tawaran pentas perdana mereka di SMA Negeri 3 Semarang. Tak ingin menyianyiakan kesempatan itu, mereka berusaha tampil semaksimal mungkin, untuk menghibur para penonton dalam acara reuni angkatan tahun 1977 di SMA. “Alhamdulillah, mendapat aplaus luar biasa. Siapa sangka,

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-05.pdf 1

teman-teman angkatan 70-an yang sering mendendangkan lagu rock, mereka terbuai dengan sajian Orkes Keoncong kami,” katanya. Dalam usianya yang masih belia, kini OK-GM melenggang dari panggung ke panggung pementasan. Beberapa tawaran pentas berhasil dikantongi, dari event lokal hingga nasional. Kiprah yang disandang Ok-GM saat ini, tentu tak lepas dari komitmen dan perjuangan para anggotanya. Ahmad berharap, sebagai anak bangsa hendaknya semua elemen masyarakat turut peran aktif melestarikan dan menjaga bersama budaya secara berkesinambungan. Ahmad juga membandingakan pegiat musik keroncong yang ada di negeri sebrang Malaysia, mereka bisa hidup enak difasilitasi oleh pemerintah. Pegiat keroncong di sana bukan pribumi, melainkan berasal dari Indonesia. “Kalau sudah seperti ini, bagaimana kesenian di Indonesia bisa maju. Kalau kesenian kita nanti diakui orang, mau menyalahkan siapa? Perhatian kita saja kurang,” tuturnya. Pria yang mewakili Tri Haryanto itu berkeyakinan, keroncong adalah musik asli Indonesia. Walaupun dalam catatan sejarah keroncong memiliki hubungan sejenis musik Portugis. Namun, keroncong tak mungkin ada tanpa campur tangan orang Indonesia sejak abad 16 lalu hingga sekarang. Nyatanya, Orkes Keroncong serta penyanyipenyanyi banyak bermunculan di mana-mana.n

Sastra dengan Rasa

Nur Zaidi

5 11/21/2018 1:58:09 PM


Cerita Pendek

Wanita dan Burungku n Khalimatus Sa’diyah “Ketika kau bertanya hal apa yang tak bisa kulupa darimu?” jawabannya adalah burung itu.

K

opi di meja men­ dadak saja bertam­ bah pahitnya. Padahal sudah kutuangkan empat sen­dok gula di dalam­nya. Ah, ba­ h­kan­ semakin kuminum semakin bertambah pahit­ nya. Aku mem­­ buang muka kesal, beranjak dari tempat dudukku, me­ninggalkan kopi itu sendiri di atas meja. Burung-burungku sudah melonjak ke­ luar, jejak-jejaknya ter­lihat pada tanah yang kering. Aku tersenyum melihatnya, kutaburkan biji-biji jagung kering yang menguning. Mereka mematukmatuk jagung itu dengan patuh. Sesaat aku terdiam, teringat jejakjejaknya pada burung-burung yang semakin banyak di pekarangan rumah. Sayang, bahkan

6 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-06.pdf 1

Soeket Teki Bicara

jejak kakinya tidak sama dengan burung-burung itu. Aku menghela napas panjang. Terkadang rindu ini lebih menyakitkan daripada sindrom withdrawal yang pernah aku alami. “Din, kopimu tidak kamu habiskan?” teriak Ibu dari teras rumah. “Tidak bu! Terlalu pahit kopi itu untukku.” Aku melihat ibu seki­las menye­ ruput kopi yang sudah berubah menjadi dingin, dengan sedikit bergu­ mam. Mu­ng­kin se­dang me­ng­a­taiku gila, karena untuk ukuran normalnya secangkir kecil kopi itu sudah sangat manis dengan empat sendok gula. *** Seperti malam - malam pada biasanya. Sehabis sholat isya’ aku berkumpul bersama teman-temanku, di Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:09 PM


Khalimatus Sa’diyah - Wanita dan Burungku

sebuah warung kopi yang dekat dengan laut. Menghampar luas di depan mataku ombakombak yang bergulung menyerang pantai atau terkadang bila tiba saatnya, aku akan melihat romantisme laut saat purnama tiba. Di mana laut akan mengalir tenang dengan sinar rembulan purnama yang terang dan perahu-perahu kecil nelayan yang bergerakgerak karena terpaan ombak. “ Ngelamun? Mikirin si dia ya?” “Apaan si? Aku lagi mikirin kamu.” Aku memang tidak terbuka kepada orang-orang tentang perasaanku padanya. Aku menunggu saat yang tepat, namun Tuhan membolak-balikkan hatiku dengan cepat. Ikat-melepas, menggenggam-terbang. Hatiku terbolak-balik karenanya. Kadang aku menginginkan dia pergi namun terkadang pula aku menginginkannya untuk selalu berada di sisi. Kuhabiskan malam-malamku dengan mereka, entah berapa cangkir kopi yang telah kuminum, tapi setidaknya aku bisa mengaburkan bayangannya dari benakku. *** Pagi datang kembali, masih dengan kepahitan yang kurasa pada tiap tetes kopi buatan ibu. Burung-burungku sudah kuberi makan dan kubiarkan mereka menghirup udara bebas. Karena akan selalu kuingat permintaannya. Sebuah permintaan agar tidak mengurung burung itu seharian di dalam kandang. Sekali lagi di pagi hari, aku dibuat mengingat tentang dirinya. Bayangbayangnya selalu muncul saat aku mengamati burung-burungku. “Ahh Tuhan, jangan sampai aku mencumbui mereka.” Aku masih mematung di pekarangan Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-07.pdf 1

rumah, mengamati paruh-paruh yang mematuk-matuk dengan lihainya. Sinar sang surya masih belum menyala, angin pun masih terasa sepoi. Aku masih mengamati kawanan burung itu, hingga akhirnya datang sesosok wanita dengan rambutnya yang tergerai tersenyum manis di depanku. Kerinduan telah terbayar, wanita itu datang. Dia bukan malaikat, dia bukan bidadari, dia bukan ratu, dia juga bukan putri. Dia hanya wanita yang mengganggu hidupku, menyusup dalam mimpiku, menyita waktuku, dan membuatku jadi orang yang meragu. Aku mempersilahkannya duduk, ditemani dengan teh yang bertengger di atas meja. Kini bukan kopi namun teh yang bertengger di mejaku. Kita berbincang kesana kemari, gelak tawa mengiringi pembicaraan ini. Hingga tiba waktunya, dia mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru. Disodorkannya amplop itu kepadaku. Aku tersenyum dan berkata apa ini Put? Dia tak memandangiku, namun dia memandangi burung-burung yang ada di pekarangan rumahku, sembari berkata amplop itu bukan apa-apa, namun jangan dibuka sebelum aku memintamu untuk membukanya. Putri dan amplop berwarna biru muda kusam. Sebuah kejutan untukku di hari ini, yang terhitung masih pagi. Pembicaraan kami terputus, kami berdua lebih asyik memandangi burung-burung yang sedang berjalan di atas tanah. Mematuk sisa-sisa jagung yang bercampur dengan debu. *** Langit berselimut gelap, namun purnama begitu terang. Laut pun ikut tenang, bahkan deburnya pelan. Angin laut berhembus Sastra dengan Rasa

7 11/21/2018 1:58:10 PM


Khalimatus Sa’diyah - Wanita dan Burungku

mesra. Membisikan nada-nada indah yang mungkin hanya muncul di otakku saja. Berjalan beriringan dengannya, melewati hamparan pasir putih yang nampak seperti permadani putih yang tergelar memanjang. Rembulan mengikuti kita, bulatannya sempurna. Aku melihat matanya yang berbinar memandang bulatan rembulan itu. Kadang secara tak sadar, dia menatapku dengan matanya yang berbinar seolah memberi tahu bahwa dia sbahagia. “Din, bulannya indah,” ucap Putri tibatiba. “Iya,” jawabku sambil tersenyum. “Nanti setelah aku pulang jangan lupa buka amplopnya ya.” Aku mengantarnya pulang dengan sepeda vespa milikku, di pertigaan pasar untuk mendapatkan bus jurusan Jakarta-Bandung. Di depan toko kelontong Koh Acan sudah berjejer beberapa orang yang akan kembali ke kota untuk menyambung hidupnya. Hawa dingin khas dini hari mulai menyeruak datang, menusuk tulang-tulang yang lelah. Putri mendekapkan tangannya, merapatkan jaket namun dia masih tetap tersenyum padaku. Aku tersipu. Lima belasan menit menunggu, akhirnya datang juga. Orang-orang mulai masuk dalam bus. Putri menjadi orang terakhir yang masuk. Aku berat melepasnya, karena masih ada kata yang pura-pura malu untuk keluar. Putri telah berlalu pergi dengan bus Harapan Jaya yang sekarang entah telah sampai mana. Sedangkan aku, kini berkutat dengan rasa dag dig dug dalam hati. Aku membuka amplop biru muda nun kusam

8 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-08.pdf 1

Soeket Teki Bicara

tersebut. Masih belum tergambar bagaimana isi dari surat itu. Teruntuk kamu orang yang mencintaiku dalam diam: Aku ingin kamu melupakan dan melepaskan aku, seperti kamu melupakan dan melepas burung-burungmu. Aku pernah membuat suatu permintaan agar kau tidak mengurung burung-burung itu seharian di kandang. Terkadang ada burung yang tidak kembali ke kandang ketika sore tiba, aku tahu itu dan aku ingin seperti itu. Untuk itu, tolong lepaskan aku dari candu cintamu. Karena candu itu tidak lagi membuatku bahagia, aku selalu teracuni dan tercekik karena candu cintamu. Kamu memang selalu mencintaiku dalam diam. Tidak pernah sekalipun kamu berucap. aku tahu itu dan itu pula yang membuatku terluka. Kamu belum bisa melupakannya, tapi kamu berusaha membuka hatimu padaku. Sebuah rasa yang timbul karena terpaksa, aku tak suka itu. Karena aku takut sewaktu-waktu kamu akan kembali padanya. Maafkan aku.

Sebuah isi surat yang membuatku berkaca dan sadar bahwa wanita memang butuh kepastian. Dia benar, namun masalahnya kini aku baru mengerti kalau memang rasa ini adalah sebuah cinta. Tapi aku terlambat, dia sudah pergi bahkan surat undangan penikahannya sudah sampai di tanganku bersama amplop biru muda yang kusam itu. n Warga Kampoeng Soeket Teki SKM Amanat

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


Fiksi Mini

Puisi

Berlabuh dalam Kematian Adakah selama ini manusia masih hidup Sedang angin dan hujan menghujan Tubuh-tubuh diam mereka Merontokan pagar tubuh-tubuh itu Adakah selama ini manusia masih berpikir Sedang jarum-jarum menusuk perlahan Membungkuskan kecerdasan mereka Menanamkan otak lain di sana Iya . . . Di sana . . . Satu kata yang dapat membungkam Menggeser cawang keresahan Dengan sebuah garis lurus Tanpa arah dan pegangan Tubuh dan Otak masih mati Mereka dan aku terhimpit Menari di atas panggung orang lain Dalam penjara kaca transparan Mereka dan aku masih Mati Dalam kehidupan yang mati . . . Semarang, 31 Oktber 2018

M. Wildan Udayana Lahir di Jepara 25 Juli 1998. Lurah Teater Asa

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-09.pdf 1

Kiai Saridin Menelusuri Kampung Kumuh Oleh: Muhibbin (Rektor UIN Walisongo)

M

ungkin banyak orang bertanya tanya untuk apa Kiai Saridin melakukan hal yang sia-sia, padahal hidupnya sudah sangat nyaman. Kalau hanya bersedekah kan cukup mengundang para fakir miskin lalu diberikan uang, beres. Namun lain dengan apa yang diinginkan oleh Kiai Saridin. Pikiran mereka itu disebabkan mereka tidak mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya. Apa yang dijalankan oleh kiai itu belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Lihatlah misalnya kepada Umar bin Khattab yang meskipun menjadi khalifah atau presiden, tetapi setiap malam beliau harus keliling menyusuri kampung-kampung untuk dapat merasakan denyut jantung umat dan rakyatnya. Begitulah meskipun beda fungsi tetapi Kiai Saridin tetap mempunyai tanggung jawab sebagai umat yang mendapatkan banyak karunia dari Allah untuk dibagi kepada sesama yang benarbenar membutuhkan.

Kiai Saridin tidak merasa susah melakukan perjalanan menelusuri kampung kumuh tersebut, malahan beliau dapat menikmatinya, karena dapat langsung berkomunikasi dengan banyak orang yang sarat dengan persoalan. jika kebetulan pas ada orang sakit tetapi tidak mampu membawanya ke rumah sakit, maka kiai dengan sangat senang membiayai semua biaya rumah sakit. Beliau berprinsip bahwa jika beliau mampu meringankan beban dan memberikan kesenangan kepada sesama, itulah letak kepuasan yang tiada bandingannya. Itulah hakekat hidup yang selalu dicarinya. Semarang dini hari, 8 november 2018 Sastra dengan Rasa

9 11/21/2018 1:58:10 PM


KAJIAN

Ahmad Tohari dan Pesan Kemanusiaan Oleh: Fajar Bahruddin Achmad

(Soeket Teki/ Zaidi)

M

enciptakan karya sastra dewasa ini kerap menjadi problem bagi para penulis pemula. Mereka dihadapkan pada dua pilihan; menciptakan karya sastra idealis, atau menciptakan karya sastra dengan menyesuaikan pasar. Dilematis memang, sebab karya sastra idealis –mengusung humanismepun belum tentu akan laku di kalangan pembaca milenial.

10 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-10.pdf 1

Kondisi seperti ini terkadang menekan para penulis pemula lebih mengutamakan orientasi pasar. Menyajikan kisah-kisah percintaan tanpa adanya nilai etik. Sebetulnya di dunia imajiner sastrawan, karya sastra menjadi produk yang mengambang bebas. Keberadaannya dapat mengarah ke objek manapun, dan meluas tanpa batasan

Soeket Teki Bicara

ruang dan waktu. Namun akan menjadi lebih bermakna, ketika karya sastra di dalamnya memuat pesan- pesan kemanusiaan. Seperti karya-karya Ahmad Tohari, sastrawan Indonesia yang banyak mengangkat tema-tema humanis. Ide dari prosanya –novel dan cerpen- selalu mengisahkan kehidupan orang-orang kecil yang

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Ahmad Tohari dan Pesan Kemanusiaan

terpinggirkan secara ekonomi maupun politik. Melihat korelasinya, sebagai bahasa karya sastra juga dapat dibawa ke dalam ikatan yang kuat dengan dunia sosial yang nyata, yaitu lingkungan sosial di mana karya sastra tersebut hidup dan berlaku. (Faruk, 2015:46)

Menurut Ahmad Tohari, amanat Tuhan kepada manusia tidak lain untuk keadaban kehidupan. Dibangun melalui penegakan nilai-nilai seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik dan seterusnya. Dalam hal ini, Ahmad Tohari bermaksud ingin memberikan kasih sayang kepada masyarakat kecil.

Baginya, sastra hanya memiliki tugas mengetuk hati nurani masyarakat bila terjadi gejala yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban. Ahmad Tohari menyadari betul, pembelaan sastrawi melalui persaksian dan pewartaan tidak serta merta akan mengubah keadaan orang-orang yang teraniaya. Maka pembaca sendirilah yang dapat mengelola nilainilai itu menjadi kesadaran, lalu diwujudkan dalam bentuk perilaku nyata. (Wawancara, 1 November 2018) Sastrawan Desa Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan ramah kepada siapapun. Di masyarakat sekitar tempatnya bermukim, lelaki yang lahir di Desa

Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, pada 13 Juni 1948 ini dikenal sebagai seorang santri dan wartawan dengan kehidupan yang sederhana. Terkadang kehidupannya sebagai masyarakat mengikat Ahmad Tohari dalam berbagai kewajiban sosial. Meskipun begitu, lingkunganlah yang justru menjadi sumber inspirasi dan semangatnya mengarang. (Yudiono KS, 2003:8) Semasa hidup Ahmad Tohari tidak pernah melepas diri dari pengalaman hidupnya di desa. Dia lebih suka membaur dengan masyarakat desa daripada hidup di tengah keramaian kota. Timbal baliknya, karya-karya yang diciptakan banyak memuat nilai-nilai kemanusiaan.

Karya-karya Ahmad Tohari selalu berangkat dari masyarakat kecil dan pedesaan. Beberapa karya novelnya seperti Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Berkisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Belantik (2001), dan Orang-Orang Proyek (2002). Begitu pun cerpennya, beberapa telah diterbitkan dalam bentuk antologi seperti Senyum Karyamin (1989), Nyanyian Malam (2000), dan Rusmi Ingin Pulang (2004). Sedangkan yang belum diantologikan tersebar di berbagai media masa. Cerpen yang terakhir “Lelaki yang Menderita bila Dipuji� terbit

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-11.pdf 1

di Harian Kompas, Minggu 7 Oktober 2018.

Cerpen itu mengisahkan lelaki tua bernama Mardanu yang menderita ketika mendapat pujian. Bukan karena tidak suka, Mardanu hanya ingin dipuji jika dia betul-betul melakukan perbuatan berjasa untuk sesamanya. Lagi-lagi yang Mardanu dapatkan pujian mengenai uang pensiun yang selalu utuh, badan yang sehat, anak yang mapan, hingga burung peliharaannya yang selalu berkicau cerewet. Hingga pada suatu waktu, cucunya Manik memuji Mardanu karena melepas burung kutilangnya. Bagi Mardanu, pujian Manik adalah pujian pertama yang enak didengar dan tidak membuatnya menderita.

Cerita di atas berangkat dari latar kehidupan orangorang desa. Namun Ahmad Tohari bisa menarasikannya menjadi apik, dan menyisipkan pesan moral di dalamnya. Pesan Ahmad Tohari di antaranya, supaya manusia tidak menggila terhadap pujian, dan refleksi agar manusia selalu berkorban untuk sesama dan lingkungan. Itu sebabnya, dunia kepenulisan Ahmad Tohari dikenal lebih mengutamakan keharmonisan dan keselarasan. Karakter lakon yang diciptakan biasanya identik dengan watak masyarakat desa, apa adanya, sederhana bahkan lugu. Seperti lakon Mardanu di atas, Jubedi dalam

Sastra dengan Rasa

11 11/21/2018 1:58:10 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Ahmad Tohari dan Pesan Kemanusiaan

cerpen Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus, Kabul dalam novel Orang-Orang Proyek, maupun Rasus dan Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Selain itu, Ahmad Tohari pun lihai dalam mendeskripsikan pengamatannya tentang suasana alam di desa.

“Burung bluwak, kuntul, dan trintil muncul kembali. Selama kemarau mereka mengungsi di tanah-tanah paya di muara Citanduy. Sebentar rumpun-rumpun bambu di Dukuh Paruk akan ramai oleh berbagai burung air. Mereka berkembang-biak di sana seperti dilakukan oleh nenek moyang mereka entah sejak berapa abad yang lalu.”

“Dukuh Paruk akan melewati bulan-bulan yang lembap. Lumut akan tumbuh pada dinding bambu atau tiang kayu yang basah. Jamur akan tumbuh pada kayu mati atau dahan yang lapuk. Cacing menjalar di emperemper. Orang-orang membuat galur-galur di bawah tanah, menerobos bawah dinding dan berakhir di bawah balaibalai. Kutu air dan kudis akan kembali merajalela pada kaki dan tangan anak-anak Dukuh Paruk. Dan orang-orang di sana akan menerimanya sebagai kebiasaan alami.” (Ronggeng Dukuh Paruk: 56) Kisah Ronggeng

Narasi kehidupan orang-orang desa, dan berbagai pranatanya menjadi medium Ahmad Tohari

12 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-12.pdf 1

dalam menyampaikan nilainilai kemanusiaan. Ahmad Tohari begitu cakap dalam memotret sebuah peristiwa, lalu dialihbahasakan menjadi sebuah prosa. Di antara berbagai karyanya, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintas Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala menjadi karya yang fenomenal. Novel tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa seperti Banyumas, Inggris, Jepang dan Belanda. Novel itu menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Peristiwa terjadinya geger politik yang berskalasi nasional, dan melibatkan banyak korban, baik korban politik maupun korban kemanusiaan. Karya itu menjadi saksi hidup keberpihakan Ahmad Tohari terhadap orang-orang kecil, terpinggirkan dan teraniaya.

Ronggeng menjadi korban pembodohan orang-orang PKI dalam menjalankan siasat politik. Dan memang di dalam novelnya, Ahmad Tohari menceritakan masyarakat di Dukuh Paruk sebagai orangorang terbelakang. “Ada orang datang, entah siapa. Kepada Kartareja orang itu mengaku anggota panitia. Dia menyodorkan kertas berisi catatan lagu. Tetapi karena Kartareja buta huruf orang itu membacakan untuknya. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-

Soeket Teki Bicara

sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja merasakan keanehan karena dalam lagu-lagu itu diselipkan kata “rakyat” dan “revolusi”; katakata mana terasa kurang akrab dalam hatinya. Tetapi Kartareja tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Baginya menuruti kata priyayi atau orang yang seperti itu merupakan salah satu kebijakan dalam hidup.” (Ronggeng Dukuh Paruk: 179) Ahmad Tohari mengakui, saat triloginya terbit pada tahun 1982, sebagian masyarakat sempat menanggapinya dengan

Ahmad Tohari percaya dan bahkan yakin bahwa karya sastra merupakan pilihan untuk berdakwah atau mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan.

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Ahmad Tohari dan Pesan Kemanusiaan

bertanya bernada menggugat. Mengapa sasaran yang dipilih adalah dunia ronggeng, terlibat persitiwa PKI pula. Dalam hal ini Ahmad Tohari mengakui betul, jika ronggeng merupakan perempuan penari kesenian yang mengobral birahi. Namun Ahmad Tohari percaya, perwujudan ronggeng merupakan gejala yang harus dibaca atas nama Allah; dari mana, bagaimana dan mengapa. (Wawancara, 1 November 2018)

“Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! Pikirku.� (Ronggeng Dukuh Paruk: 51)

Tapi karena memang berdimensi masyarakat pinggiran, tokoh-tokoh itu digambarkan sebagai tokoh yang tak mampu melawan kondisi perubahan zaman. Mereka tetap lugu di desa yang sangat terpencil dan jauh

Dok Internet

Di balik keterbelakangan masyarakat Dukuh Paruk. Ada kesadaran batin yang bergejolak di hati Rasus. Dia menolak ronggeng dan dunianya yang dipenuhi dengan birahi.

“Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu.�

Ahmad Tohari percaya dan bahkan yakin bahwa karya sastra merupakan pilihan untuk berdakwah atau mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan. Dengan mengarang itulah Ahmad Tohari berharap ikut serta membangun moral masyarakat sehingga berkembang masyarakat yang beradab, yaitu masyarakat yang tidak suka menipu, yang tidak gampang korupsi, atau tidak suka menakutnakuti mereka yang lemah. (Yudiono KS., 2003: 7)

Melalui karya-karyanya, Ahmad Tohari telah berhasil menjadi tauladan dalam

dari kemajuan.

Ayat-ayat Tuhan

Tujuan yang menjadi arti dari fakta-fakta kemanusiaan itu tumbuh sebagai respon dari subjek kolektif, atau individu terhadap situasi dan kondisi yang ada di dalam diri dan di sekitarnya (Faruk, 2015:58). Artinya pemahaman atau penangkapan gejala-gejala kemanusiaan itu bermula

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-13.pdf 1

dari sensitivitas manusia melihat kegelisahan diri dan lingkungannya. Hal ini tentu dapat dilatih dengan berbaur bersama masyarakat.

perkembangan kesusasteraan Indonesia. Sinkronisasi antara pikiran, imajinasi dan pengalaman empirisnya, mengantarkan Ahmad Tohari dalam menciptakan karyakaryanya yang bermutu. Sudah tentu, perjalanan kariernya patut menjadi rujukan bagi para penulis pemula.n

Sastra dengan Rasa

Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki

13 11/21/2018 1:58:10 PM


Ahmad Tohari Lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Sekarang menetap di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Jawa Tengah. Karyanya yang paling populer novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku-buku lainnya berupa novel: Kubah (1980). Di kaki Bukit Cibalak (1986), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995). Belantik (2001), dan Orang-Orang Proyek (2002).

(Soeket Teki/ Zaidi)

14 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-14.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


WAWANCARA

Sastra Hanya Mempunyai Kekuatan Moral Taufik Ismail, sastrawan senior Indonesia, 16 tahun yang lalu menulis betapa memprihatinkannya pengajaran sastra pada tingkat SMU di Indonesia. Dalam Majalah Suara Muhammadiyah tahun 2002, ia menuliskan bahwa pengajaran sastra di Indonesia sudah lama tergusur ke pinggir dengan perbandingan 10 – 20 persen berbanding 80 – 90 persen. Hal yang sama terjadi dengan kewajiban membaca buku sastra di Indonesia. Di mana kondisinya jauh lebih memprihatinkan dibandingkan zaman kolonial. Dulu di Algemene Middlebare School (setingkat SMA) siswa diwajibkan membaca 25 karya sastra. Namun, sistem pendidikan yang demikian tidak dilanjutkan pasca kemerdekaan. Lebih memprihatinkan ketika membaca hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada akhir 2017 lalu. Jumlah pembaca sastra Menurut anda sastra itu apa? Kalau dari segi bahasa, sastra itu semua tulisan yang mengandung nilai untuk mencerdaskan manusia, nilai yang berguna. Jadi tulisan tentang matematika, fisika kalau dinilai dari asalnya itu termasuk sastra. Karena suatu tulisan yang mengandung pelajaran. Tetapi, sekarang sudah disederhanakan. Sastra itu adalah karya rekaan, fiksi, yang dalam bentuknya itu ada prosa, novel, lakon dan seterusnya. Tujuan Sastra sendiri? Saya termasuk di aliran yang mengaharapkan sastra akan mempertinggi peradaban

Namun, ada paradoks. Meskipun pembacaan terhadap kesusastraan rendah, tapi pertumbuhan karya sastra begitu banyak. Dalam bentuk buku, E-book, maupun sastra yang ditulis di media sosial. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, Bagaimana kualitas sastra yang hari ini dapat ditulis dan dibaca di mana saja? Dengan raut wajah teduh dan keramahan sikap, Ahmad Tohari menyambut Tim Redaksi Soeket Teki Nur Zaidi, Fajar Bahruddin Achmad, dan Sigit Aulia Firdaus untuk membahas soal kondisi kesusastraan Indonesia. Berikut hasil wawancara eksklusif kami.

manusia, tidak merendahkan martabatnya. Sastra harus bertanggung jawab kepada peningkatan moral. Sastra itu keturunan dari agama. Menurut saya, agama itu turun menjadi filsafat, lalu filsafat turun menjadi agama. Jadi, saya tidak ikut golongan yang sastra untuk sastra. Sastra merupakan turunan dari agama. Tapi, kondisi hari ini banyak orang beragama dengan menggunakan kata-kata yang mengerikan. Bagaimana menurut anda? Menurut saya mereka sudah kebablasan dan terlalu canggih dalam beragama. Sangking canggihnya jadi gak ngerti agama.

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-15.pdf 1

di Indonesia hanya 6,2 persen. Yang mencengangkan, 43,2 persen pembaca tidak menginggat judul buku dan nama pengarangnya. Survei itu dilakukan kepada 1.200 responden dengan populasi publik di atas 17 tahun.

Agama itu kelakuan baik. Titik. Itu kata nabi sendiri. Mau versi NU -Muhammadiyah, terserah. Asalkan wujudnya adalah kelakuan baik. Bendera dibakar marahmarah. Lo kan bendera itu kain. Tulisan itu simbol. Dibakar seribu kali saya tidak marah. Sekarang pada kemaruk. Beragamalah secara sederhana, untuk mencapai kelakuan baik. Kerena kesederhanaan adalah konsekuensi orang yang teguh pendiriannya. Salat untuk mencapai kelakuan baik. Kalo sampai ia syahadat, salat, haji, tidak mencapai kelakuan baik, gagal dia beragama.

Sastra dengan Rasa

15 11/21/2018 1:58:10 PM


Beragama ialah, mencapai kelakuan baik melalui itu. itu cuman jembatan saja. Tujuan agama menegakkan syariat itu konyol. Itu kata Gus Mus ketika mendapat gelar honoris causa di UIN Sunan Kalijaga. Kita banyak salah tujuan. Sarana dianggap tujuan. Bagaiamana anda melihat perkembangan sastra hari ini? Dari segi jumlah sangat menggembirakan. Bahwa karya sastra ada di mana-mana. Cetak masih banyak, e-book masih banyak, dan di medsos juga. Tapi, apakah idealisme kesusastraan yaitu yang menganggap sastra merupakan keturunan dari agama masih ada tidak sih? Janganjangan sastra ditulis untuk yang lain dari itu. Bagaiaman dengana karya sastranya? Saya sebetulnya agak binggung jika di tanya ini. karena saya terlanjur, menjadi sastrawan gaya lama, dan sastra gaya baru sekarang saya kurang bisa menghayati. Lagian generasi di bawah saya ini sudah berbeda dan itu hak mereka. Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Generasi saya tidak berhak mencegah mereka. Manusia yang tidak membaca secara mendalam apakah bisa menghadirkan sastra yang mendalam? Realitanya adalah generasi sekarang dicetak oleh alat-alat komunikasi yang sangat canggih sejak televisi masuk ke Indonesia tahun 1962. Sejak saat itu banyak bayi yang ditinggal di depan layar televisi ber jam-jam, sampai kakek juga melakukannya. Padahal televisi adalah iklan. Pengajian saja iklan. Kembali kepertanyaan,

16 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-16.pdf 1

karya sastra ada di mana-mana sekarang. Tapi dari segi isi, saya kira itu tergantung bobot generasi itu sendiri terhadap kehidupan. Saya tidak akan menghakimi. Tidak. Memahami realitanya memang seperti itu saja. Apakah masyarakat Indonesia butuh sastra? Masyarakat Indonesia sendiri tampaknya tidak begitu membutuhkan sastra, walaupun itu kebutuhan nyata. Kebutuhan nyata tapi tidak dibutuhkan. Misalnya, nasi itukan kebutuhan pokok, tapi saya tidak makan nasi tapi makan roti, bisa kan. Tingkat literasi kita sangat rendah. Jadi diteliti, tamatan SMA membaca novel di Malaysia, Singapura, Thailand membaca 5 sampai 7 novel. Jepang 15, Amerika 32, Indonesia kurang dari satu. Gila. Ini suatu langkah mundur yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Bangsa yang konyol. Pada zaman Belanda, SMA bagian B itu wajib setahun kelas 1 membaca dan membahas 5 novel. Kelas dua, lima novel, lalu kelas tiga, lima novel lagi. Jadi tamat SMA yang bagian B, siswa sudah membaca dan meresensi 15 novel. SMA bagian A, 30 novel. Itu politik belanda. Kok sekarang setelah merdeka novel dibuang, sastra dihilangkan, arep dadi opo kamu? Jadi matematika, ekonomi, fisika itu tidak berurusan dengan pengembangan sensitivitas, imajinasi, dan perasaan halus. Itu nalar-nalar semua. Yang perasaan ada di sastra. Kok ditinggal. Ya sekarang jadinya, orang korupsi disorot pada cengengesan. Gak ada rasa malu blas. Akar permasalahannya‌..

Soeket Teki Bicara

Ada masalah yang akut pada bangsa ini. satu, budaya membaca kita sangat kurang. Karya sastrakan harus dibaca, kalau masyarakat kita sudah tidak suka membaca maka nasib kesusastraan sudah jelas diketahui. Lebih dari ini masyarkat kita juga masih di kebudayaan tutur, bukan budaya baca tulis. Jadi kesusastraan Indonesia menghadapi tembok yang begitu besar. Jadi diharapkan walapun kesusastraan indonesia itu dalam keadaan sangat payah. Sejak kita merdeka belum pernah kita itu menyuburkan kesusastran. Belum pernah, sejak merdeka. Masyarakat indonesia merasa berani ketika sudah merasa butuh dengan kesusastraan. Bagaimana gairah anda melihat perkembangan sastra hari ini? Saya sebenarnya agak pesimis, bagaimana membangkitkan kesusastraan Indonesia. Pernah saya berhadapan dengan pak Jokowi langsung. Saya katakan, pak Jokowi kita ini sudah sangat lama berhadapan denga krisis kesusastraan. Karya sastra sudah tidak mendapatkan tempat di masyarakat, pemerintah sudah tidak mengupayakan perkembangan sastra, para , sastrawan sudah cengakcengek. padahal sastra ikut membina bangsa ini. pak Jokowi mendengarkan. Lalu, apa yang menginspirasi karya-karya anda? Kampung halaman saya. Sejak kecil saya hidup di sawah, pondok dan penggembalaan. Saya hidup, dalam kondisi ekonomi kemiskinan yang merata. Umum. Tidak ada yang mapan. Saya

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


Dok. Internet

merasa hidup bersama masyarakat saya. Hal itu saya ungkapkan dalam karya saya. Kemiskinan dukuh paruk itu, kemiskinan yang saya lihat sehari-hari. Tempat pembuangan sampah di samping rel itu sangat menginpirasi bagi saya. Karena di sana ada permasalah kemanusian yang dasyat. Saya orang yang dibesarkan di kolong masjid. Saya pernah mendengar tujuan tertinggi manusia itu ketemu Tuhannya pernahkah orang berpikir, jika tujuan hidup adalah bertemu Tuhan, lalu dimanakah tempatNya? Di dalam ajaran kita itu terdapat hadis qudsi yang panjang. Hadis itu meriwayatkan dialog antara Tuhan dan penghuni neraka. Penghuni neraka menggugat Tuhan kenapa

aku engkau masukkan ke neraka? Tuhan menjawab, kamu aku masukkan ke neraka karena kamu tidak menjenguk saat Aku sakit. Bagaimana Tuhan sakit? Tetanggamu yang sakit itu tidak kamu jenguk. Para mufasir itu menerjemahkan, Tuhan sakit sebagai manusia sakit baik fisik maupun sosial. Tuhan mengalamatkan dirinya pada orang orang sakit. Sakit politik, sakit sosial. Jadi, dalam rangka bertemu Tuhan, melihat orang sakit saya sangat tersentuh. Lihat orang kaya tidak. Haha‌.. Bagaiamana cara anda bisa menggambarkan dunia ronggeng, padahal latar belakang anda seorang santri? ketika siang hari, sayah di sekolah, saya bercampur dengan orang manapaun,

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-17.pdf 1

saat saya mengembala juga begitu. Kebetulan, ketiika saya mengembala ada tempat dengan tempat ronggeng. Kalo dia lewat, orang pasti bercerita. Pengembal itu kan ada yang kecil ada yang dewasa. Jadi, cerita itu saya rekam, dari hari ke hari dalam ingatan saya. Lama-lama kan lengkap itu, lalu saya tulisakan. Jadi ada dua dunia dalam hidup saya waktu itu. Kalo di luar rumah saya begitu abangan kalo di dalam rumah saya begitu NU. Kurang lebih dalam latar belakang saya yang seperti itu, munculah karya ronggeng dukuh paruk. Tapi, saya sudah merasa, pengusa pasti tidak akan suka dengan tulisan saya. Dan juga para kiai pasti akan mengutuk saya karena menuliskan tentang ronggeng. Dan benar terjadi. Saat saya di Jakarta, saya dibawa ke Komkantip. Saya diperiksa selama lima hari yang intinya ingin menggiring saya untuk mengakui sebagai simpatisan PKI. Empati saya kepada manusia, bukan PKInya. Apa peran sastra? Sastra tidak mempunyai kekuatan paksa. Sastra itu hanya punya kekuatan moral. Dia tidak bisa menjadi kekuatan politik kecuali oleh penguasa. Jadi tidak mempunyai kekuatan politik kecuali, para penguasa. Contohnya novel amerika yang paling terkenal Uncle Tom’s Cabin.Novel itu menggugah para politikus untuk mengakhiri perbudakan di Amerika. Sigit Aulia Firdaus

Sastra dengan Rasa

17 11/21/2018 1:58:10 PM


Cerita Pendek

Banyu Bening n Tiara Lulu Nurmufidah

18 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-18.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:10 PM


Tiara Lulu Nurmufidah - Banyu Bening

W

aktu itu, aku pernah menemukanmu di antara lalu lalang manusia. Saat hujan, kau begitu terlihat gembira menjajakan payungmu ke sana kemari. Ingatkah kau? Aku gadis berkacamata yang menjadi pelanggan pertamamu. Kalau kau lupa, baiklah aku bersedia menceritakan kembali. Waktu itu senyum lebarmu begitu manis, aku memandangmu penuh seloroh. Takut-takut jika kamu orang jahat yang akan menculik dan menjadikanku sama sepertimu. Di halte itu, hanya tinggal aku sendiri karena semua teman-temanku sudah mendapatkan jemputannya. Kau yang sedari tadi singgah mungkin melihatku iba. Lalu dengan berbesar hati mengulurkan payung di hadapanku dengan senyum konyolmu itu. “Mau pakai payungku?” aku hanya mampu mengernyit, kemudian memandangimu sedari atas kepala sampai kaki. “Gratis.” Tawaranmu kembali menggoyahkan hatiku. Namun aku tetap pada pendirianku untuk menunggu bus terakhir di sore hari. Aku kembali fokus ke depan dan mengacuhkanmu begitu saja. Tapi kau memang keras kepala, memposisikan dirimu seperti orang teraniaya dengan ekspresi wajah yang memelas dan tanganmu yang tetap pada pendirian. Waktu itu justru aku menantangmu, siapa yang paling keras kepala, aku atau kau. “Aku bukan penjahat yang akan menyakitimu. Aku seperti payung ini, akan menjagamu dari tetes hujan yang berlari menghampirimu. Tepat sebelum butiranbutiran airnya menyentuhmu.” Aku terkejut begitu mendengar kata-katamu. Kau begitu Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-19.pdf 1

tak bisa kuduga, mudah sekali membaca pikiranku. Apa justru kau punya indra ke enam? Pikirku saat itu. Dasar perempuan, mendengar katakata dan kegigihanmu membuatku tidak tega untuk terus mengacuhkanmu. Hatiku menghangat dengan semua tingkah lakumu. Aku menganggukkan kepala pelan, dan wajahmu kembali terang. Kau menjuntaikan payungmu, kemudian memberikannya padaku. Aku memegang erat payung yang kau berikan dan kembali melihatmu. Kau telihat kedinginan, tanganmu mulai keriput. Kemudian berganti kau yang mengernyit kenapa aku tetap diam tidak lekas berjalan. “Lepas bajumu?” aku memandang matamu, bola matamu tampak seperti akan keluar mendengar ucapanku. Lalu membentuk pertahanan dengan memeluk tubuhmu sendiri. Aku melepas jaket berwarna merah marun yang kukenakan dan memberikannya padamu. “Aku bukan penjahat yang akan menyakitimu. Aku seperti jaket ini, akan memelukmu menggantikan angin yang riak di pakaianmu. Dan menghalau keluar masuknya angin.” “Kentut dong. Haha.” Kamu ingat? Aku begitu mahir meniru kata-katamu bukan? Kita bahkan sempat tertawa bersama karena celetukanmu yang dengan benar menerjemahkan kalimat terakhirku. Lalu kita saling berpandangan lekat dan tak membiarkan sedikitpun senyum yang menghiasi wajah kita luntur. “Namaku Banyu.” “Aku Bening.” dan aku menerima jabat tanganmu dengan senang hati. *** Sastra dengan Rasa

19 11/21/2018 1:58:11 PM


Tiara Lulu Nurmufidah - Banyu Bening

Kita berjalan beriringan menuju rumahku. Di jalan kita hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Rumah itu tempat arti pulang, tempat keluh kesah saat lelah, tempat peluk hangat.” Aku berusaha memecah keheningan di antara kita. “Aku tidak punya rumah.” Aku tidak salah, kau begitu peka saat aku membicarakan rumah. Namun, jawabanmu waktu itu membingungkanku. Bagaimana bisa kau tidak mempunyai rumah. Lantas bagaimana kau bisa bertahan hidup. “Serius?” aku bertanya lagi yang kau jawab dengan anggukan. “Sepuluh rius.” Dari matamu aku tidak dapat menemukan kebohongan. Aku terdiam sebentar sembari memikirkan apalagi pertanyaan yang cocok kuajukan karena takut menyinggung perasaanmu. “Orang tuamu kemana?” tanyaku kembali dengan hati-hati. “Tidak ada. Mereka telah ditelan tanah.” Kau menghela napas berat kemudian memandangku lamat-lamat. “Semua definisi yang kau sebut tentang rumah. Aku tidak punya semua itu sekarang.” Lanjutmu. Kau palingkan wajahmu ke depan, tatapanmu seperti menerawang. Aku merasa iba dan berpikir seberat apa kehidupan yang kau jalani saat itu. Aku kembali diam, menelan banyak pertanyaan. Kemudian melirik jam yang melingkar di tanganku. Aku tersenyum, bohlam di atas kepalaku menyala terang. Aku menemukan jawaban yang tepat. “Ikut aku.” Aku menarik lenganmu cepat. Perjalanan menuju rumahku jalannya memang strategis. Sekolahku saja disebut20 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-20.pdf 1

Soeket Teki Bicara

sebut berada di lingkaran segitiga emas. berada di jajaran kantor polisi, puskesmas, swalayan, pasar tradisional sampai gedung perkantoran. Semua sangat mudah dijangkau. Sore hari jalanan sangatlah ramai karena berbarengan dengan orang-orang yang pulang dari tempat kerja. Aku mengajakmu menuju swalayan yang namanya sudah terkenal di Ibu Kota. Wajahmu menunjukkan raut bingung saat aku membawamu masuk ke dalam toko khusus untuk mencari pakaian laki-laki. “Kenapa kesini?” kau berhenti melangkah, mencoba melepas pegangan tanganku. “Cari kemeja, udah nurut aja. Semua aman.” Aku kembali menarik tanganmu. Pasrah, satu kata yang bisa aku gambarkan saat itu kepadamu. Aku mencoba memilih kemeja yang sesuai dengan tubuhmu. Mengambil tiga buah kemeja serta tiga buah celana panjang dan menyuruhmu untuk menggantinya di kamar pas. “Perfect.” Kemeja itu sangat cocok di tubuhmu. Pilihanku tidak ada yang melesat sama sekali. Aku beranjak melakukan transaksi pembayaran di kasir. Beruntung, aku mengantongi uang lebih banyak hari itu. Pekerjaan pertama telah selesai. Hanya kau kendala saat itu. Dimulai dari kau yang berjalan begitu lambat, menarik-narik baju serta mengajakku debat saat aku akan membayarkan uang pada kasir. Sampai petugas kasir memandangi kita dengan wajah sebal karena terlalu lama menunggu. Aku menutup payung. Hujan telah reda, namun bom waktu terus berjalan setiap detiknya. Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


Tiara Lulu Nurmufidah - Banyu Bening

“Berhenti. Serahin duit.” Kau ingat? Pemuda dengan pakaian lusuh itu datang menghampiri kita dengan menghadiahi sebuah pisau. Banyak tindikan di area telinga juga hidungnya. Drama sekali, sejak kapan di kota kita preman dengan mudah menodong. Aku bergidik ngeri, melihat tato di sepanjang lengannya. Aku memegang payungmu erat. Tidak ada terlintas pikiran untuk memukul preman itu menggunakan payung. Aku merasa buntu, ketakutan menguasaiku. Kau dengan cekatan memukulnya menggunakan kantong kresek berisi pakaian yang kubelikan, kemudian menarikku agar berlari saat preman itu lengah. Aku tak pandai berlari cepat, kau menarikku dengan sangat kuat. Melemahkan pegangan pada kantong kresek berisi pakaian sehingga membuat benda itu terjatuh. Aku berhenti, berusaha menggapai benda tersebut, sampai akhirnya preman itu dapat menjangkau kita. “Kalian!” preman itu menunjuk kita dengan tatapan murka. Nah,kan. Habislah riwayat kita. “Jebret.” Lagi-lagi strategimu sangat jitu dengan menjuntaikan payung yang kau ambil cepat dari tanganku. Berupaya menghalangi preman yang akan mendekat. Kemudian kita berlari lagi dua kali lebih cepat. “Sumpah, ini drama banget. Aku... bisa...pingsan.” Saat semua terasa aman. Kita berhenti di belokan jalan dengan napas yang terengah-engah. Berapa banyak tenaga yang terkuras saat itu? entahlah, yang aku rasakan hanya kelelahan karena terus berlari. Badanku terasa remuk. Semua terjadi begitu cepat. Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-21.pdf 1

“Capek.” kita mengeluh secara berbarengan, namun aneh di detik berikutnya kita tertawa konyol. Hari ini terasa begitu panjang dan penuh rintangan. “Kamu gila!” kau berucap dengan nada sedikit emosi. Dahiku mengernyit mencerna ucapanmu. “Harusnya kamu pulang cepat. Untuk apa tadi kita pergi dulu ke swalayan. Kalau aku tidak menjuntaikan payung. Kita sudah pasti tidak akan selamat hanya karena tiga setel baju!” nada geram terdengar dari suaramu. Kubalas kata-katamu dengan senyuman lega. Kau marah karena keadaan tadi memang benar mengkhawatirkan. Aku bersyukur karena kita bisa selamat dari jeratan preman tadi. “Ayok aku antar kamu pulang.” Tanganmu menggapai lenganku dan langsung kutahan. “Bukan cuma aku, tapi kita yang akan pulang. Itu rumah kita.” Kau terpengarah begitu melihat apa yang aku tunjuk. “Rumah itu tempat arti pulang, tempat keluh kesah saat lelah, tempat peluk hangat.” Aku tersenyum, begitu dirinya menatapku penuh arti. “Yuk, kita lanjut jalan. Nanti kalau sampai sana, jangan lupa kemeja dan celana panjangnya dipakai.” Bom waktu itu meledak dengan tepat. Tepat saat adzan berkumandang, dengan langkah ringan kita berjalan menuju surau yang jaraknya 100 meter dari tempat kita berpijak.n Semarang, 15 September 2018 Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Sastra dengan Rasa

21 11/21/2018 1:58:11 PM


Puisi

Sajak Sunyi Angin tak pernah bertanya pada jarak Kenapa ia bertemu sepi Tahu-tahu sedekat nadi Dalam ruang bersekat Batang, Oktober 2018

Satu Kamu itu sunyi, yang kesepian Ramai terlau ramai Kalau-kalau lupa Wujud-ada-Mu ada-Ku Satu Demak, 2018

Sepotong Tulang Rusuk Bukan sekedar kata untuk ku ucap Apalagi hendak memiliki, semata yang sejati mampu mengerti :Tak takut kehilangan Tapi takut melukai. Engkaulah semesta itu, dari sepotong tulang Tak tahu menahu, tempat kembali hatimu gersang penuh tanda tanya “Tunggu dulu,� katamu dalam remangremang. Jika dunia tak mampu menyatukan Masih ada alam berikutnya. Dari Tuhan, Bukan? Semarang, 8 Oktober 2018

Nur Zaidi

Lahir di Batang pada, 4 Agustus 1995. Lurah Kampoeng Sastra Soeket Teki. Kontributor puisi Jemuran Puisi Tahunan di Danau Zug Swiss (2018). Sutradara dan penulis sekenario film indie. Karya terbarunya, Filler Madhang bersama TVKU Semarang ( Oktober, 2018).

22 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-22.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


Puisi

Debu adalah Aku Yang berserak di pelataran padang Dibelah angin kemarau Dihempas takdir. Pasir adalah aku Yang mulai nyaman bersama batu, terik dan gersang Harus hengkang dan menjadi bayang mata kehidupan. Pasir adalah aku Bayang sang mata kehidupan Yang dihadirkan saat ia tak datang. Yang dienyahkan saat ia datang Pasir adalah aku Yang akan selalu berakhir di palung terdalam. Semarang, 2018

Cerita Aku adalah cerita yang kau lupakan, kata yang tak sengaja kau buat berantakan hingga membuat kalimatkalimatnya membosankan, tanda baca yang mengusir kenyamanan. Aku terkapar, meradang, mengingat madu di tanganmu dan taman bunga di kakimu. Namamu di draf ingatanku. Bawa aku ke pancaran pandanganmu, kita sudah teramat jauh. Selamatkan cerita kita.

Semarang, 21 Agustus 2018

Liviana Muhayatul K.

Khafid Sopo

Lahir di Kudus pada, 9 Oktober 1998. Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki.

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-23.pdf 1

Lahir di Semarang pada, 16 Agustus. Lurah Teater Metafisis

Sastra dengan Rasa

23 11/21/2018 1:58:11 PM


RESENSI FILM

Membingkai Tragedi dalam Kisah Roman adaptasi novel fenomenal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya sastrawan Ahmad Tohari asal Banyumas-Jawa Tengah. Novel terbit perdana pada tahun 1982.

Judul Film : Sang Penari Sutradara : Ifa Isfansyah Penulis Naskah : Salman Aristo Produser : Shanty Harmayn Tanggal Rilis : 10 November 2010 Durasi : 111 menit Pemain Utama : Prisia Nasution dan Oka Antara Produksi : Salto Films Resentator : Najib-Zaidie

“Kamu mbok ya ngerti, yen arep dadi ronggeng ya mesti buka kelambu. Nek ra pengen buka kelambu ya ra usah dadi ronggeng!� -Rasus kepada Srintil

K

utipan dialog Rasus pada Srintil dalam film Sang Penari. Karya seni bermedium audio dan visual ini rilis pada tanggal 10 November 2010. Memang kelahiranya sudah menginjak hitungan tahun. Tapi layak kita telaah kembali, lantaran wujudnya sebagai karya seni yang mampu menyajikan nilai humanis dan rekam jejak sejarah bangsa. Film arahan sutradara Ifa Isfanyah ini, merupakan film

24 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-24.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sang Penari dibintangi dua pemeran utama, Prisia Nasution (sebagai Srintil) dan Oka Antara (sebagai Rasus). Kemunculan Prisia Nasution yang lalu lalang di layar kaca televisi mampu menambah warna baru. akting Prisia terlihat memukau ketika berbicara dengan logat khas Banyumas (meskipun bukan Jawa asli). Lebih-lebih didukung oleh beberapa aktor dan aktris senior, mampu memperkuat tiaptiap adegan dalam Scene film.

Dok. Internet

Sebelum Sang Penari, muncul film Darah dan Mahkota Ronggeng garapan sutradara Yazman Yazid, dirilis pada 1983. Film garapanya terkesan lebih menonjolkan sensualitas dan seksualitas Ronggeng. Mungkin alasanya novel Lintang Kemukus Dini hari belum terbit, atau kepentingan pasar industri film Indonesia pada era itu. Selain alih wahana dalam bentuk film, Ronggeng Dukuh Paruk juga beralih wahana dalam bentuk audio yang dilakukan oleh seniman lain.

Kehadiran Srintil sebagai Ronggeng baru di Dukuh Paruk, memperoleh perlakuan dan pelayanan istimewa bak puteri raja; kostum terbaik, perawatan tubuh, hingga kamar terbaik yang dikhususkan bagi ronggeng.

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


Nur Zaidi, M. Syafiun Najib - Membingkai Tragedi dalam Kisah Roman

Perlakuan istimewa dilakukan warga dukuh paruk guna melestarikan kesenian ronggeng. Semua demi terwujudnya masyarakat Paruk yang aman dan sejahtera.

Bagi pedukuhan kecil bernama Paruk, ronggeng adalah pelambang kehidupan. Tanpa adanya seorang ronggeng, dukuh itu akan kehilangan jati dirinya. Kecantikan-kemolekan yang dimiliki Srintil, mampu membuat semua ingin berjoget dan tidur denganya. Dari kawula biasa hingga pejabat. Bahkan seorang istri, turut merasa senang ketika suaminya bisa tidur dengan ronggeng. Di sisi lain, Rasus teman kecil serta kekasih Srintil harus menelan pahitnya rasa kecewa atas jalan hidup yang dipilih Srintil. Itu artinya, Srintil tidak bisa ia miliki seutuhnya. Lelaki manapun yang berkantong tebal boleh meniduri Srintil. Niatan menjadi ronggeng, nampaknya tertanam pada diri Srintil sejak kecil. Selain itu, sebagai wujud darma bakti kepada Dukuh Paruk. Srintil juga berharap mampu menebus

kesalahan yang dilakukan orang tuanya ketika ia masih kecil.

Tragedi itu, bermula pada suatu pagi yang mencekam. korban-korban berjatuhan usai menelan tempe bongkrek. Warga ramai-ramai mendatangi rumah Santayib (ayah Srintil) menuntut pertanggungjawaban. Santayib yang tak terima tuduhan itu, lantas memakan tempe bongkrek yang ia jual sebagai pembuktian kepada warga. Benar saja, Santayib pun jatuh tersungkur. Kisah drama terkenal antara Romeo dan Juliet pun terulang kembali di sini. Ibu Srintil yang tak kuasa membendung sulitnya keadaan, ia ikut menelan tempe bongkrek mengikuti suaminya yang sudah terkapar di tanah lebih dahulu. Status ronggeng yang disandang Srintil, sejatinya tak lepas dari campur tangan Rasus. Sekedar memiliki paras cantik, rupanya tak cukup mampu mewujudkan keinginan Srintil menjadi Ronggeng. Ketika itu, restu Kartareja sang dukun Ronggeng, tak

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-25.pdf 1

kunjung ia dapati. Bagi Kartareja ronggeng menjadi hal yang sakral, tidak sembarang orang bisa menjadi ronggeng, ada inang dari ronggeng pendahunya.

Rasus tetaplah Rasus, tokoh film Sang Penari. Memiliki dunianya sendiri, jalan ceritanya sendiri, sesuai apa yang digariskan Tuhan (sutradara dan penulis). Berbeda dengan SarwonoPingkan dalam film Hujan Bulan Juni. Saling menguatkan dalam perbedaan, yang amat jauh di antara keduanya. Rasus memilih jalan cintanya melalui pengorbanan, dalam perbedaan ideologi mereka berdua. Demi keinginan Srintil menjadi ronggeng, Rasus memberikan keris pusaka pada Srintil. Pusaka yang ia simpan, milik ronggeng terdahulu. Walau ia tahu betul hatinya akan tersayat-sayat, ketika impian Srintil menjadi ronggeng terwujud. Benar saja, mengetahui Srintil memiliki keris pusaka itu, hati sang dukun mulai luluh dan merestui Srintil menjadi ronggeng baru di Paruk.

Sastra dengan Rasa

25 11/21/2018 1:58:11 PM


Nur Zaidi, M. Syafiun Najib - Membingkai Tragedi dalam Kisah Roman

Sedangkan Rasus, memilih pergi bergabung pada dunia militer bekerja-melipur hatinya. Potret Masa Silam

Berbeda dengan film pendahulunya. Selain mengisahkan-kerumitan perjalanan kisah cinta Rasus dan Srintil, Sang Penari juga membingkai peristiwa geger politik era 1965 di Dukuh Paruk. Adanya Strategi propoganda politik yang dilakukan Bakar (Lukman Sardi), anggota kelompok kontra-revolusioner ikut serta memboncengi kisah ini.

Alih-alih kepentingan rakyat. Bakar anggota partai komunis memanfaatkan kaum miskin buta aksara. Termasuk ketidakadilan kaum pekerja, mereka yang dibayar rendah oleh juragan tanah. Selain itu, Bakar juga memanfaatkan kelompok kesenian ronnggeng guna menyebarkan doktrin ideologi kepada warga.

Ifa Isfansyah cukup berani menyajikan tragedi paling berdarah dalam sejarah bangsa, adanya adegan penembakan orang-orang yang diduga terlibat Gerakan 30 September-Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Dukuh Paruk yang sudah dianggap merah, seluruh warganya diringkus. Hanya menyisakan Sakum, penabuh gendang buta. Penyajian latar Rekam 1965 dalam film Sang Penari sangat kreatif, tidak ada penyebutan PKI maupun lambang “paluarit”, melainkan ditunjukkan melalui simbol “Caping

26 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-26.pdf 1

Merah”. Tapi keberanian Ifa dan tim produksi nampaknya membatasi sampai di situ.

Dalam novel diceritakan, suatu pagi digegerkan cungkup makam Ki Secamanggala (pusat spiritual Dukuh Paruk), dalam keadaan porak poranda. Awalnya mereka mengira itu ulah Bakar, karena mereka tak lagi mengikuti Bakar.

Akan tetapi, kemunculan pemuda dari balik semak mengubah pandangan. Pemuda itu mememukan sebuah caping bambu bercat hijau, bertuliskan Penyajian latar Rekam 1965 dalam film Sang Penari sangat kreatif, tidak ada penyebutan PKI maupun lambang “palu-arit”, melainkan ditunjukkan melalui simbol “Caping Merah”.

sesuatu yang tak seorang pun bisa membunyikanya. Caping itu kini menjadi sasaran curiga, jejak pelaku penghancuran cungkup makam. Dalam konteks tafsir bebas, kemunculan “Caping Hijau” bisa jadi sebuah “simbol” yang berisi pesanmakna tersirat yang ingin disampaikan Ahmad Tohari. Yang tentunya, tak ayal merujuk pada atribut politik atau ideologi golongan tertentu.

dengan warna samar-samar dan cenderung menghitam. Ketidakjelasan pada warna caping yang muncul dalam salah satu scence film Sang Penari, boleh kita duga bentuk ketakutan Ifa Isfansyah dan tim produksinya. kalau-kalau nantinya mengundang reaksi kelompok tertentu, ketika film rampung produksi.

Problem lain Sang Penari, ialah rangkaian cerita film menjelang akhir. Pertemuan terakhir Rasus dan Srintil di Pasar Dawuhan secara tibatiba. Dramatisasi pencarian Rasus pada Srintil yang penuh lika-liku menyusuri birokrasi militer yang dibangun sedemikian rupa, seolah dipangkas begitu saja. Secara dramatik, sangat mengganggu. Tanda tanya besar juga harus ditelan penonton, dalam alur cerita tidak ada kejelasan, mengapa Srintil tiba-tiba terobsesi dengan bayi. Terkesan menuntut penonton untuk berimajinasi (seperti pembaca).

Dewasa ini-era milenial, Sang Penari layak dijadikan salah satu cerminan film. Penonton disuguhi tiga hal sekaligus, kisah cinta, tradisi, dan sejarah. Berbeda dengan film-film adaptasi novel Bestseller yang muncul beberapa tahun belakangan. Mungkin industri film memilih adaptasi novel Bestseller, karena novel laris manis di pasaran. Dengan demikian, mampu menarik perhatian penonton.n

Dalam film, visualisasi “Caping Hijau” ditunjukkan

Soeket Teki Bicara

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


RESENSI BUKU

Romansa Cengkeh Nusantara

G

oleh penulis, untuk dikenang karena banyaknya kisah yang mereka lalui. Bagaimana seorang kakek tua, yang seharusnya sudah pasrah dengan hidupnya malah menjadi dalang untuk sebuah pemberontakan yang cerdik dan halus, yang dilewati tanpa harus memakai jalan peperangan.

amati bersama dua cucunya, Aimuna dan Sobori harus menyusuri hutan dan mengarungi sungai yang deras untuk menyelamatkan diri dari Pani-Pani. Mereka sangat berhati-hati, bahkan dengan suara gemerisik daun yang tersapu angin. Trauma akan serangan Pani-Pani masih tersimpan dalam benak mereka, Dua kampung di Tanah Besar, telah habis dibakar. Tidak ada yang tersisa selain rumah-rumah yang telah rata dengan tanah. Dari awal Hanah Rambe telah menyuguhkan kepada pembaca, cerita heroik dari dataran timur nusantara. Kampung yang sengaja di bakar, warga yang tunggang lari menyelamatkan diri, jeritanjeritan menyakitkan. Semuanya telah habis dalam semalam,tidak ada yang selamat kecuali Gamati dan kedua cucunya. Banyak yang mendaulat novel Aimuna dan Sobori merupakan novel Hanah Rambe yang terbaik. Selain novelnya yang lain, seperti Mirah dan Banda. Novel ini, seolah-olah menjadi representasi dari simbol perjuangan rakyat timur Indonesia untuk terbebas dari monopoli Pani-Pani atau VOC. Kebun cengkeh rahasia menjadi buktinya. Mereka menanam cengkeh itu jauh dari jangkaun Pani-Pani. Kemudian mereka menjualnya secara diam-diam kepada pedagang dari Tuban,

Judul Novel : Aimuna dan Sobori Penulis : Hanah Rambe Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Tahun Terbit : 2013 Tebal: 492 halaman Resentator: Khalimatus Sa’diyah

Arab, maupun Cina. Karena barang penukar mereka lebih manusiawi dibanding dengan apa yang diberikan Pani-Pani. Gamati, Aimuna, dan Sobori merupakan satu kesatuan. Tidak akan ada Gamati jika tidak ada Aimuna dan Sobori begitupun sebaliknya. Mereka adalah tokoh yang diciptakan

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-27.pdf 1

Gamati hanya menginginkan kebebasan, dan kemandirian. Baginya tidak ada yang lebih hina dari diamnya seseorang terhadap kebijakan dan keputusan PaniPani. Dia mencoba berbagai cara, melakukan hal nekat dan cenderung gila. Pindah dari satu tempat ke tempat lain, menikahkan kedua cucunya, sampai kabur dengan perahu untuk membuka desa baru dan membuat arumbae agar mereka merdeka dari Pani-Pani.

Bumbu-bumbu percintaan dalam novel ini tidak begitu menonjol. Namun penulis sedikit mengisahkan kisah residen Tutua, Lucas De Vries yang resah memilih antara pekerjaannya atau Rosamunda, perempuan pemikat hatinya. Selain itu, meskipun judul novel ini berjudul Aimuna dan Sobori. Namun mayoritas isinya menceritakan tentang Gamati, si kakek tua dengan sejuta ide dan strategi. Aimuna dan Sobori, hanya lakon saja. Dan Gamati adalah pembuat skenarionya. Perjuangan Gamati yang sedemikian rupa, ternyata dilirik

Sastra dengan Rasa

27 11/21/2018 1:58:11 PM


Khalimatus Sa’diyah - Romansa Cengkeh Nusantara

oleh alam. Alam membantu mereka dengan mengirimkan gempa di Tanah Besar. Alam memihak pada Gamati dan orang-orang yang bersamanya. Kemenangan bersama mereka, tanpa harus ada pertumpahan darah yang tercipta.

Cengkeh, Saksi Hidup Sejarah Nusantara

Membaca lembar demi lembar novel ini, membuat ingatan kita melayang akan romansa kejayaan masa lalu. Kejayaan cengkeh dan pala, yang membuat Nusantara menjadi rebutan dunia. Sejarah mencatat masuknya bangsa asing ke Nusantara, tidak bisa terlepas dari keberadaan cengkeh dan pala. Tanpa adanya kedua tanaman itu, sejarah Nusantara kemungkinan akan berbeda.

Berbicara cengkeh artinya berbicara sejarah. Pada masa silam, cengkeh dan pala menjadi komoditas yang berharga, sebelum adanya alat pengawet seperti lemari pendingin. Karena selain memberikan aroma nikmat, ia juga bisa digunakan untuk mengawetkan makanan. Cengkeh menjadi hal utama yang dicari oleh mereka, bangsabangsa dengan empat musim. Yang lumpuh ketika musim salju datang. Namun perjalanan bangsa-bangsa kulit putih itu, tidak serta merta membawa cengkeh selalu ke puncak. Setelah mereka menemukan jalan untuk ke Jawa dan pulau lainnya, cengkeh ditinggalkan. Perhatian mereka beralih dari cengkeh ke kopi, kopra, dan kekayaan alam nusantara lainnya. Cengkeh mengalami perjalanan panjang, dipuja

28 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-28.pdf 1

kemudian ditinggalkan seperti itu siklusnya. Dalam buku Ekspedisi Cengkeh, yang disunting oleh Puthut Ea. Diceritakan bahwa cengkeh pernah mengalami masa sulit, masa-masa mereka tidak dilirik oleh orang-orang. Hal ini terkait dengan penemuan mesin pendingin yang menggusur peran cengkeh dan pala sebagai pengawet makanan. Namun Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, masa suram cengkeh berlalu, seiring ditemukannya inovasi pemanfaatan cengkeh. Haji Djamhuri dari Kudus Jawa Tengah, adalah sang inovator itu. Pada akhir tahun 1880, dia menggunakan cengkeh sebagai bahan campuran dalam membuat rokok. Yang kemudian dikenal sebagai rokok kretek. Mengutip dari buku yang disusun oleh Roem Topatimasang, cengkeh kembali berjaya puncaknya pada pertengahan tahun 1950-an ketika kretek menjadi industri raksasa modern yang ditandai dengan munculnya beberapa pabrik baru antara lain oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik ‘Djarum’) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik ‘Gudang Garam’) di Kediri. Namun kejayaan itu direnggut lagi oleh pemerintah. Pada masa Orde Baru, cengkeh kembali terlunta. Mereka menerapkan kebijakan untuk memonopoli perdagangan cengkeh dalam negeri yang saat itu dilakukan oleh Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Petani kehilangan semangat untuk menanam cengkeh, bukan soal lahan. Melainkan soal harga

Soeket Teki Bicara

cengkeh di kalangan petani yang pada saat itu, merosot sampai 2000/kg. Penderitaan petani cengkeh berangsur-angsur membaik seiring dengan semangat reformasi yang melengserkan orde baru, Petani cengkeh kembali menemukan harapannya. Harga cengkeh di pasaran semakin membaik. Sampai sekarang.

Namun setiap generasi mempunyai tantangan berbeda. Dulu cengkeh diuji dengan permainan harga. Sekarang cengkeh diuji dengan kelangkaan generasi yang paham tentang cengkeh. Ironi sekali, ketika universitas yang berdiri di atas tanah cengkeh tapi tidak ada satupun tenaga ahli atau dosen yang tahu mengenai cengkeh. Lebih ironi lagi, ketika anakanak yang tumbuh dewasa karena cengkeh lebih memilih untuk berkerja di sektor lain daripada menjadi petani cengkeh. Berbicara mengenai cengkeh adalah berbicara mengenai sejarah. Selapuk apapun sejarah harus tetap dipupuk.n

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


Cerita Pendek

Anjing Maryono n Fajar Bahruddin Achmad Maryono tampak seperti orang linglung, atau orang yang baru saja kehilangan barang berharga. Pupil matanya menipis memperlihatkan tatapan penuh kepasrahan. Tangan kanannya menahan, memanggul dagunya di pundak kursi. Tanpa disadari ternyata Maryono sudah tiga jam duduk di teras rumahnya. Namun bila ada warga yang melintas lalu menyapa, Maryono hanya mengangguk. Tidak menengok. Apalagi melambaikan tangan.

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-29.pdf 1

T

iga tahun sudah dilalui Maryono sebagai karang taruna. Maryono aktif. Sehari-hari dia berusaha mencari masalah di desanya Karang Asem, untuk dikaji dan dicari solusi penyelesaiannya. Sebagai contoh, dia pernah membersihkan selokan di Karang Asem yang semula hitam pekat menjadi jernih. Maryono masih ingat betul, ketika banyak warga memuji dan menyanjungnya secara berlebih, “Untung ada kamu cah bagus, desa ini jadi kelihatan bersih.� Pujian itu terus ada, tidak ada hentinya.

Sastra dengan Rasa

29 11/21/2018 1:58:11 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Anjing Maryono

Pernah dalam suatu peristiwa, pada peringatan hari kemerdekaan. Saat sedang mengibarkan bendera, tiba-tiba bendera terhenti di tengah tiang. Pak Lurah panik. Namun masalah terselesaikan, Maryono maju ke depan lalu memanjat tiang itu. Tali yang awalnya terbelit, dengan cepat diluruskan. Bendera pun akhirnya dapat dikibarkan. Semua warga lantas menatap Maryono penuh kekaguman. Atas aksinya itu Maryono diberi penghargaan berupa uang 10 juta oleh Pak Lurah. Lelaki bertubuh gemuk dan berkepala botak itu, untuk sekian kali terus menepuk pundak Maryono.”Maryono menjadi contoh. Dia adalah wajah pemuda desa Karang Asem. Ada sepuluh saja orang seperti Maryono di desa ini, semua permasalahan pasti tuntas,” kata Pak Lurah di hadapan para perangkat desa. Tiba-tiba Maryono teringat Pak Karsim. Dosen ilmu sosiologi yang dia kenal akrab. Pak Karsim menjadi idola Maryono, sekaligus teman diskusi tiap pagi di kantin kampus. Berbagai hal didiskusikan, rasialisme mahasiswa, komersialisasi kegiatan, hingga atribut organisasi mahasiswa. Satu pertanyaan Pak Karsim yang tidak Maryono lupakan, “Mar, apa yang dapat mahasiswa lakukan untuk desanya?” Maryono sontak kaget, “Untuk... untuk memajukan perekonomian warga pak,” ungkapnya terbata-bata. “Apa betul? Coba kamu pikirkan lagi,” tekan Pak Karsim, sembari memegangi ujung kumisnya dengan jemari. “Betul pak, saya mantap.” Maryono menjeda sebentar, lalu menyeruput kopinya. “Yang jelas, mengoptimalkan penghasilan warga. Lalu dipublikasi agar pemerintah tahu. Tentu itu akan menjadi prestasi desa.” 30 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-30.pdf 1

Soeket Teki Bicara

“Ha ha ha, sudah seperti birokrasi kampus saja kamu. Orientasinya prestasi dan pandangan baik dari publik. Lalu di mana kamu menanam nilai etik dan moralitas Maryono? Heh, di mana!” Seingat Maryono, saat itu Pak Karsim tertawa keras. Mungkin semua orang di kantin mendengarnya pula. “Lalu yang benar bagaimana pak?” “Jawabanmu itu tidak salah. Tapi keliru. Yang utama itu, kamu pulang lalu membangun peradaban.” Maryono sebetulnya tidak paham. Baginya yang penting mengangguk saja. Pertanyaan itu mengendap di benak Maryono. Dia selalu mengingat itu. Terlebih ketika Maryono telah mendapat pujian. Sesampainya di rumah, dia akan duduk di teras sembari membatin. Dan sore itu, kebingungan Maryono menjadi kompleks. Setelah mendapat uang 10 juta dari Pak Lurah. Maryono bimbang, “Untuk apa uang sebanyak ini?” batinnya. *** Sepekan kemudian, Maryono mantap menggunakan uang 10 jutanya untuk membeli seekor anjing rat terrier. Anjing yang dibelinya berwarna hitam pekat, dengan tatapan mata yang tajam dan ke empat kaki yang ramping. Bila menggonggong, suaranya keras melengking. Alasan Maryono membeli anjing itu sederhana. Kata warga desa sebelah, anjing rat terrier di pasar kecamatan, pandai memburu tikus. “Kebetulan sekali. Di Karang Asem itu kan banyak tikus,” batinnya. Awalnya Maryono sempat ragu. Tapi setelah dibuktikan ternyata betul, dan itu terjadi. Jadi setiap pagi di Desa Karang Asem selalu saja ada bangkai tikus yang tergeletak. Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:11 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Anjing Maryono

Di mana pun itu, di jalan, sawah, rumah warga maupun di gedung kelurahan. Dada Maryono semakin membusung. Sebagai karang taruna dia sangat bangga. Maryono senang. Dengan begitu, tikustikus itu tidak lagi merusak tanaman padi warga. Begitupun bagi para penjual nasi, tidak ada lagi yang mencuri lauk-pauk jualannya ketika malam. Tapi ada saja sebagian warga yang tidak suka. Mereka menggunjing, dan mengolokolok Maryono dengan sebutan najis. Pernah suatu ketika Maryono melintas di pos ronda, ada yang berdesus, “Kang, kang kudengar ada warga yang memelihara hewan najis ya?” Yang lain menimpali, “Ah yang betul. Wah bisa kena laknat orang sekampung ini.” Lalu, salah satu warga berteriak, “Sudah tentu itu kang. Yang memelihara saja najis.” Namun Maryono cuek, tidak menghiraukan itu. “Mar.., Maryono.” Panggil suara yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi Maryono. “Pak Lurah, ternyata,” batinnya. Maryono lantas memutar badan, dan berjalan menuju arah si pemanggil. “Ada apa Pak Lurah?” “Oalah tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol sebentar. Ayo, ke kantor bapak.” Lelaki gemuk dengan mata setengah sayu itu, berjalan lebih dulu. Celana Pak Lurah terlihat semakin serat. Pikir Maryono, mungkin berat badannya bertambah, mencapai 100 kilogram. “Mar, sebetulnya ada apa dengan kamu. Sampai-sampai kamu membeli anjing dan memeliharanya?” Pak Lurah membuka obrolan. “Saya baik pak, tidak ada masalah apapun. Memang kenapa dengan anjing saya?” “Mar, ajing itu najis. Bagaimana, semisal Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-31.pdf 1

kamu sholat ternyata ada najis anjing yang menempel. Lalu, semisal semua warga Karang Asem juga terkena najisnya. Bagaimana dengan ibadah mereka?” Maryono diam. Dia tidak bingung. Sebetulnya Maryono sudah mengira ke mana arah obrolan Pak Lurah. Tentu ke latar belakang warga desa ini. Maryono tahu, jika warga desa secara keseluruhan itu berbendera coklat. Jika sudah menyangkut partai, tentu dia akan kalah. “Saya tidak tahu pak, perihal perkara najis yang tidak kasat mata itu.” “Ya sudah begini saja Mar. Kamu itu kan karang taruna, terkenal baik pula. Bagaimana kalo kamu jual saja lagi anjingmu itu,” ucap Pak Lurah. “Saya tidak mau pak. Lagian, apa hewan yang dikatakan najis seperti anjing ini lantas dikatakan buruk, dan tidak baik.” “Lalu apa lagi jika tidak buruk. Wong dia itu najis kok. Lah memangnya untuk apa kamu itu memelihara anjing?” “Anjing ini teman saya pak.” Pak Lurah diam. Kehabisan akal untuk membujuk Maryono agar membuang anjingnya dari Karang Asem. Maryono pun pamit, lantas pergi bersama anjingnya. Anjing itu menggonggong, “Guk guk guk.” Seperti kegirangan, mendengar majikannya membela perihal keberadaannya. Anjing itu lalu berjalan di belakang Maryono dengan kepercayaan diri yang penuh. Malamnya Maryono bingung. Kedua ujung alis bagian tengahnya saling menarik. Sesekali Maryono memejamkan mata, beberapa detik saja, lalu dia buka kembali. Dia berbaring dengan badan terteleng ke kanan. Lalu Maryono mendengar gonggongan anjing Sastra dengan Rasa

31 11/21/2018 1:58:11 PM


Fajar Bahruddin Achmad - Anjing Maryono

dari jauh. Dia bangga. Anjingnya selalu giat, menakut-nakuti segerombolan tikus. Pikir Maryono, semestinya dia mendapat pujian. Bukan diusik, apalagi disudutkan. Besoknya, Maryono keliling desa. Dia masih melihat tikus-tikus tergelatak di manamana. Tapi cukup aneh, dia tidak melihat anjingnya. Maryono mencari di tiap gang dan sudut desa. Hasilnya nihil, anjingnya tidak ada. Maryono berprasangka. Dalam batinnya, sudah pasti ulah Pak Lurah. Ketika Maryono datang ke kelurahan, di sana sepi. Tidak ada para perangkat desa. Hanya ada Pak Lurah yang sedang sibuk mengecek arsip-arsip desa. “Pak Lurah, di mana anjing saya?” Tanya Maryono dengan nafas terengah-engah. “Mana saya tahu. Mungkin sekarang anjingmu itu sedang berburu tikus.” “Berburu tikus bagaimana?” “Ya seperti biasanyalah Mar. Itu tikustikus yang di jalan, kalau bukan karena anjingmu, karena siapa lagi coba. Betulkan?” Maryono mengernyitkan dahi. Nafasnya semakin tak beraturan, Ia berpikir keras dalam batinnya, “Kok bisa Pak Lurah gemuk itu tahu. Padahal saya tidak pernah cerita.” “Bagaimana bapak bisa tahu, kalau kematian tikus-tikus itu karena anjing saya?” Tanya Maryono dengan mata membelalak. “Ha ha ha.. Semua warga juga tahu Mar.” Lurah itu tertawa terbahak-bahak, sembari memegangi perutnya. Saking emosi. Tanpa pamit atau salam. Maryono langsung berbalik badan, dan keluar dari kantor lurah gemuk itu. “Aneh, kok aku seperti melihat tali besar di bawah meja Pak Lurah. Anehnya lagi, di 32 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-32.pdf 1

Soeket Teki Bicara

tali itu seperti ada serabut-serabut hitam dari pohon enau,” batinnya. Dalam perjalanan pulang, Maryono selalu memikirkan tali di bawah meja Pak Lurah. Dia curiga. Akhirnya Maryono memutuskan untuk kembali ke kantor kelurahan. Namun dia tidak masuk ke kantor bertemu para perangkat desa. Maryono bersembunyi di balik dinding sebelah timur. Sesekali ia mengintip, mengamati segala kemungkinankemungkinan yang terlihat aneh. Pintu kantor sedikit terbuka. Maryono melihat beberapa perangkat desa sudah kembali. Sepertinya mereka sedang rapat. Mereka melingkar, dengan kaki melurus ke meja. Maryono terus mengintip. Beberapa menit kemudian salah seorang perangkat desa keluar membawa plastik hitam besar. Dengan tangan kanan yang memegangi hidung. Tidak lama setelah itu, para perangkat desa yang lain juga keluar. Wajah mereka terlihat plong dengan sedikit tawa mengikik. Lalu, Pak Lurah ikut keluar. Aneh pikir Maryono. Setelah pintu tertutup. Tali dengan serabut hitam itu ternyata menjulur dari balik celana. Tali itu tidak berwarna hitam atau putih, melainkan berwarna merah muda. Benda-benda itu juga ada di celana para perangkat desa yang lain. “Astaga! Itu bukan tali. Tapi buntut.” Maryono syok.n Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:12 PM


Cerita Pendek

Perempuan yang Menanam Tubuhnya di Layar Kaca n Nur Zaidi

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-33.pdf 1

Sastra dengan Rasa

33 11/21/2018 1:58:12 PM


Nur Zaidi - Perempuan yang Menanam Tubuhnya di Layar Kaca

I

a tak berharap lagi pada mentari pagi yang membebaskan kegelapan. Lekuk tubuh yang dulunya putih sahaja, kini kusut menghitam. Nyalinya menciut, menjelma kebencian sorot cahaya. Ketakutan dalam kepala, ketika semua mata terbuka dan mulutmulut berucap jijik. Tujuan langkah kakinya hanya loronglorong gelap nun sunyi. Setidaknya ia masih berfikir untuk hidup, walau terpaksa. Semua orang mencarinya, desas-desus hilangnya tokoh utama “Luna� dalam sinetron Bidadari Gentayangan itu kini merasuki media massa. Kabar itu semakin beredar liar setelah poster dan selebaran ikut memenuhi pagar-pagar rumah, ganggang sempit, tempat berteduhnya para gelandangan, hingga tiang-tiang listrik sepanjang jalan kota. Keresahan ibu-ibu rumah tangga tak mampu dibendung lagi, mereka membawanya ke panggung diskusi, tempat biasa di mana abang sayur mangkal setiap pagi. Tak cukup puas sampai di situ, kepulangan suami pada petang hari pun menjadi penting untuk diberitahu, tentang hilangnya tokoh pesinetron itu. *** Sebut saja aku Maria, maka aku akan membawa ingatanmu pada sinetron sehabis Isya, atau beberapa iklan mie instan dan produk-produk kecantikan: aneka bedak dan pil pelangsing badan yang sekali telan manjur. Setiap apa yang aku tawarkan kau tahu hanya kebohongan semata, tapi nyatanya kau tetap tergiur dengan semua itu, bukan? Menikmati mie pada musim-musim hujan, atau menyajikannya sebagai menu utama tiap akhir bulan.

34 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-34.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Sekali lagi, semua adalah kebohongan belaka. Tapi tentunya kau masih percaya pada produk kecantikan yang manjur, bukan? Merawat kulit, berharap putih mengkilap serupa gadis-gadis Jepang. Kau tak peduli berapa kali gagal. Yang pasti, mencoba dan terus mencoba sampai berhasil: kulit putih yang benar-benar putih, cantik yang benarbenar cantik. begitulah sifat gigih manusia yang berusaha mengubah dirinya sendiri, dari hitam menjadi putih. Aku Maria. Bukankah begitu menakjubkan? Rumah mewah, mobil mewah, salon pribadi, dan apartement; pacar. aku memiliki segalanya, segala kesenangan yang ada di dunia. Tentang apa yang tak mampu dimiliki orang-orang tanpa kerja keras sepanjang hidupnya, atau paling tidak ia yang punya cukup warisan. Tapi dunia begitu konyol, ketika takdir memaksaku hidup menjadi Maria yang lain, Maria yang tak dikenali siapapun, Maria yang jauh dari kemewahan, dan maria yang buruk rupa serta menjijikan bagi semua orang, kecuali lalat dan belatung. “Kenapa aku tak mati saja pada waktu itu?!� *** Semua berawal dari impian gadis desa yang ingin menjadi artis tersohor, untuk mengawali perjuanganya ia pergi ke ibu kota. Melakoni perantauan, sekedar bermodal tekad dan keyakinan saja rupanya tak cukup, semua menyadarkan betapa kerasnya hidup di kota besar. Pada puncak lelahnya, ia hanya mampu mengenang momen-momen kebersamaan di rumah. Tentang canda tawa, bermanja dengan ibu serta yang lain. Melalui bantuan mulut orang di jalanan, Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:12 PM


Nur Zaidi - Perempuan yang Menanam Tubuhnya di Layar Kaca

mengantarkan dirinya pada Budi, pemilik salah satu Production House (PH). Budi begitu takjub melihat kecantikan seorang gadis penuh pesona luar biasa untuk ukuran gadis kampung. Matanya membelalak mau copot, tapi masih terkunci rasa gengsi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka itu, Budi bersedia mewujudkan keinginan Maria, dengan syarat, gadis itu harus tidur denganya satu malam. Penawaran yang aneh bagi gadis desa, sekedar perjuangan menggapai impian. Mau tak mau itulah pintu menggapai citacitanya sejak kecil. cita-cita yang ingin ia buktikan kepada orang-orang yang pernah mencemohnya dulu. Cita-cita yang ingin ia pamerkan pada teman-temanya. Bahwa ia mampu menggapai semua itu, hanya tinggal satu langkah lagi, dan satu langkah merelakan keperawanan yang ia jaga sepanjang remaja. Tanpa pikir panjang, gadis polos yang sedikit gila akan impian itu bersedia. Semua demi mengakhiri derita hidup selama ini. Demi lembaran baru yang dikira jauh lebih baik. Sesuai janji, Budi pun mewujudkan impian gadis belia itu, serta mengganti namanya menjadi “Maria”. *** Kehebohan warga dunia “maya” semakin menjadi-jadi. Tak ketinggalan ibu-ibu yang biasa menggunjing Maria lantaran tak mampu menjaga mata suaminya pun ikutikutan. Entah apa yang dipikirkan mereka, sekedar penasaran atau bersyukur tentang hilangnya Maria. Sementara Budi, menjadi orang yang paling dicari perihal Maria. Dialah yang mengijinkan kepergian Maria, alih-alih Maria ingin bertamasya dengan pacarnya. Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-35.pdf 1

Harusnya ia profesional, sebagai seorang manajer begitu saja mengizinkan Maria keluar di tengah pusaran jadwal syuting yang padat. Meskipun semua itu karena paksaan Maria, lebih-lebih psikis Maria yang dirasa menuju depresi. Tapi siapa yang mau tahu atau mengerti, niatan baik berujung baik. Tanpa prosedur berarti, alasan kemanusiaan pun tak bisa diterima akal manusia. Perutnya yang buncit tak ia sandarkan di laci seperti biasa. Beban kepala nempaknya lebih berat memikirkan hilangnya Maria. Bersembunyi di ruangan rahasia, berteman kopi dan rokok. Menunggu dan menunggu kabar sambil bersembunyi menghindari pertanyaan wartawan tukang kepo. Puntung-puntung rokok berserakan bak daun musim gugur, akhirnya ada kabar dari anak buahnya tentang penemuan seseorang di desa kecil bernama Linggar Jati. Eh bukan, anak buahnya kebingungan untuk mendeskripsikan “sesuatu” yang katanya. Orang-orang pedesaan yang dijumpai di jalanan itu mengatakan, mirip monyet panggang. Tapi ada yang mengatakan lagi, postur tubuh terlalu tinggi untuk dikatakan monyet, bahkan terlalu indah. Andai saja diganti kulit manusia. “Bos kabar terbaru, fisik mirip gorila panggang,” ucap anak buah lewat telepon. “Kabar dari siapa?” “Tukang tambal panci keliling” “Brengsek!!!” Polah anak buahnya yang hanya menanyai orang-orang di jalan tanpa cek lokasi, Budi naik pitam. Betapa bodohnya orang yang ia bayar, harusnya mereka tahu. Setiap berita yang beredar, semakin banyak berpindah mulut dan telinga maka, berita itu Sastra dengan Rasa

35 11/21/2018 1:58:12 PM


Nur Zaidi - Perempuan yang Menanam Tubuhnya di Layar Kaca

semakin tak karuan. Tak sabar menghadapi anak buahnya, Budi segera bergagas menuju alamat yang ditunjuk menggunakan motor Kawasaki KLX. Kabar penemuan dengan cepat tersebar luas, saking banyaknya mulut dan telinga yang berbeda-beda isi dari berita itu pun semakin samar-samar, ada yang mendengar penemuan bangkai gorila, ada pula yang mengatakan penemuan sesosok alien hidup. Entah kenapa semakin tak karuan hanya karena dari mulut dan telinga yang berbedabeda. Budi meluncur seperti orang kesetanan. Melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi hingga pada lembah-lembah yang curam. Hampir semua orang yang ia temui di jalan ia tanyai, dari pemuda yang berangkat memancing sampai orang-orang yang mencari rumput. Maklum, bagi orang kota menuju desa terpencil di tengah hutan bukanlah perkara mudah. Sebelum langit menghapus warna jingga, akhirnya Budi sampai juga di rumah Mbah Paimen. Seorang dukun pengobatan desa setempat, perawat sosok yang pernah menggegerkan perkampungan kecil Linggar Jati. “Apa benar, dia Maria, mbah?” “Mbah kurang paham den,” Sahut Mbah Paimen sambil menunjukkan KTP.“Ini identitas yang mbah temukan ” “Maria?” ucapnya membisiki tubuh yang dibalut daun peria tanpa sisa, kecuali sedikit lubang untuk bernafas. “Bangun Maria! Ini aku!” Merasa iba, Mbah Paimen mendekati Budi seraya mengelus pundaknya. “Sabar, den. Aden ini keluarganya?” 36 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-36.pdf 1

Soeket Teki Bicara

“Saya Budi, Mbah. Kakak Maria.” “Hah? Budiiii?” “Mbah kenal saya?” “Kenal, den. Siapa si yang nggak kenal, aden.” “Sial! Kenapa si tua ini mengenalku,” gumam Budi dalam hati. “Mbah kenal saya darimana ?” “Jan, sini Jan,” Teriak Mbah Paimen kepada bocah yang sedang bermain kelereng di halaman rumahnya, tempat biasa anakanak desa bermain menjelang petang. “Coba ceritakan,” menunjuk Paijan. “Kemarin pas sekolah belajar apa?” “Baik. Mbah,” sahut Paijan semangat. “Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi.....” Mbah Paimen menyimak serius hinga Paijan menyelesaikan kalimat terakhirnya, “Dan ini,” menunjuk Budi. “Siapa, mbah?” “Ini Bu-di ! Jan,” sahut Mbah Paimen. Budi yang larut dalam percakapan hubungan antara kakek dan cucu itu merasa dongkol, serasa ingin mencincang kecil-kcil tubuh lelaki tua ompong lengkap dengan cucunya, kemudian menyunduknya menjadi beberapa bagian dengan tongkat kayu mirip gagang payung di tangan kakek tua itu. “Tapi anu den...” “Anu apa, mbah?” “Mbah tidak bisa memastikan,” ucapnya ragu-ragu. “Itu Maria atau bukan.” “Maksud, mbah?” “Seluruh tubuhnya hangus.” Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:12 PM


Nur Zaidi - Perempuan yang Menanam Tubuhnya di Layar Kaca

*** Aku Maria, meski sekarang cermin menolak kecantikanku, setidaknya aku masih punya lubang kemaluan untuk disebut perempuan. Berkali-kali mencoba bunuh diri pun nyatanya Izroil tak kunjung datang menghampiri. Jangan-jangan ia juga enggan melihat wujud yang lebih mirip tempe mendoan gosong ketimbang manusia, atau Tuhan benar-benar sengaja menyudutkanku atas segala perbuatanku di masa lalu, tapi mengapa ? Masih ada Maria yang lain, Maria dari Negeri Sakura yang meracuni birahi remaja bahkan orang-orang, yang katanya terpelajar. Jika hitung-hitungan amal, aku juga sering mengadakan santunan anak yatim setiap awal bulan, lalu mengundang wartawan guna mengabadikan. Dunia memang aneh, begitulah adanya Tuhan menciptakan. Bermula dari Adam dan Hawa dilemparkan ke bumi untuk dipisahkan, sebagaimana aku dilemparkan dari mobil jip yang tiba-tiba meledak dan terbakar ketika berjalan di atas tebing untuk tamasya bersama pacarku, Abay. Masih teringat jelas ketika tubuhku melayang bersama kobaran api di sekujur tubuh. tak ada yang lebih menyakitkan kecuali melihat Abay meronta-ronta terpanggang hiduphidup di dalam mobil. “Maafkan aku, Maria !� Teriakan terakhir Abay yang masih aku ingat. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, lantas terbangun ketika seekor monyet menunggangi kepalaku. Dalam sisasisa kekuatan aku mencoba berdiri dan melangkah. Di mana aku? Di mana Abay? Tempat apa ini? Hingga pada akhirnya aku menyerah lalu tersungkur. Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-37.pdf 1

Apakah ini surga yang pernah di ceritakan? Tapi mengapa begitu menyedihkan untuk dikatakan surga, jika seluruh badanku terasa perih ketika dikencingi monyet. Begitu menyedihkan pula dikatakan surga ketika Tuhan memberi oleh-oleh luka bakar yang menyakitkan. Dua kali matahari lewat di atas kepala, aku begitu merasa lapar dan sakit. Aku menyerah berkhayal tentang surga. Pada kenyataan yang ada, aku benarbenar sekarat di tengah hutan. kenyataan bahwa aku menjelma buruk rupa yang menyedihkan. Hidup enggan mati pun tak mampu. Jika ini memang takdirku, takdir yang tak pernah aku harapkan dan bayangkan seumur hidup. Biarlah orangorang tetap mengenalku di depan layar, biarlah orang-orang terus mengagumi sebagaimana mestinya. Ini batasku, aku tak mampu lagi melangkah. Sebentar lagi aku terkapar kembali. Andai Tuhan menyiksaku untuk tetap bernafas, semoga harimau bersedia menyantapku. Jika tidak, aku juga rela jika anjing-anjing yang kelaparan datang, anjinganjing yang terbiasa menggonggong dini hari. Biarlah orang-orang tak pernah mengetahui tentangku kali ini. Itu lebih baik, daripada mereka mengenaliku yang buruk rupa. “Karena aku, Maria!� n Lurah Kampoeng Soeket Teki SKM Amanat

Sastra dengan Rasa

37 11/21/2018 1:58:12 PM


Puisi

Perempuan Subuh Kopi aku ingin kopi itu yang airnya dari matamu panasnya dari amarahmu meminum di bibirmu Semarang, Oktober 2018

Sia - Sia ku banting pikiran pecah segala ingatan kukumpulkan kembali semua yang berserakan sepanjang kehidupan Semarang, November 2018

Untuk: para pejuang subuh di pasar Perempuan itu kembali bertemu subuh di ujung mata Pagi tiba-tiba membuta. Mengetuk tanpa memperdulikan jeda. Ia berceloteh hingga embun menetes berdiam di atap genting rumah. Perempuan itu baru saja mengolet mencari ingatan janji tanpa peduli tubuhnya yang rapuh ia lantas berdiri bergegas untuk pergi ke tempat subuh akan menjemput. Subuh datang, namun perempuan itu telah kecut dan kusam di tempat pengundian nasibnya perempuan itu duduk melamun di pojok dengan begitu lelah baginya tempat ini selalu sama dipenuhi segerombol lintah dan tikus Surabaya- Semarang, 2018.

Sigit A.F Lahir di Jepara pada 03 Maret 1996. Warga Kampung Sastra Soeket Teki. 38 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-38.pdf 1

Soeket Teki Bicara

Fajar Bahruddin A. Lahir di Tegal pada, 16 November 1995. Warga Kampung Sastra Soeket Teki. Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:12 PM


Puisi

Persimpangan Malam Di antara malam lalu Hanya sisa kenangan Kedap kehadiranmu Terlengkapi hujan kala Oktober Kau berkelana meninggalkan malam Kudapati bintang tertutup awan hujan Dingin Menggigil menusuk kalbu Kala berjabat pamitan Jika ini waktunya berkelana Biarlah berderai air mata Toh, fajar akan datang Di sini aku mengiba kelanamu Semarang, Oktober 2018

Aku Bayangan Aku adalah Bayangan yang berdiri di sana Bayangan yang duduk di antara jalanan, Bayangan yang duduk di antara reruntuhan. Aku adalah Bayangan yang selalu sendiri Bayangan yang teriak dalam kehe­ningan, Bayangan yang kehilangan sebuah pedoman. Aku adalah Bayangan yang bersedih, Bayangan yang selalu meratapi Bayangan yang selalu menanti Aku adalah Bayangan yang kehilangan arah Bayangan yang selau bertanya-tanya? Siapa, di mana dan bagaimana? Semarang, Oktober 2018

Naili Istiqomah Lahir di Demak pada, 12 Juli 1998. Warga Kampung Sastra Soeket Teki.

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-39.pdf 1

Hakam MAH Lahir di Rembang pada, 25 September 1996. Warga KSK Wadas.

Sastra dengan Rasa

39 11/21/2018 1:58:12 PM


ESAI

Humanisme

Dok. Internet

dalam Kesusastraan Indonesia

K

arya sastra -puisi dan prosa- identik dengan pesan yang ingin disampaikan pengarangnya. Hal itu dapat dilihat dari perkembangan kesusastraan Indonesia. Karya sastra selalu menjadi kritik sosial yang tidak lepas dari nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Dalam proses kreatif pengarang, masyarakat menjadi objek pengamatan yang bermula dari

40 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-40.pdf 1

problematika sosial. Gagasan itu merefleksikan keadaan masyarakat, lalu diciptakan menjadi sebuah karya yang sarat dengan nilai-nilai moralitas. Sastra itu dinamis. Keberadaaannya merupakan dunia subjektivitas pengarang yang memuat berbagai aspek kehidupan. Ide-ide kreatif dan imajinatif berangkat dari pengalaman empiris si pengarang. Mereka seperti

Soeket Teki Bicara

menjadi seorang sejarawan, antropolog atau budayawan dalam dunia imajinya. Tema yang diangkat dalam karya-karya mereka memuat realita sosial di masyarakat, bersinggungan aspek sosiologis, budaya, tradisi, psikis, falsafah hidup dan agama. Dan datadata itu mereka dapatkan di tempat kediamannya. Karya-karya yang umumnya diangkat oleh para

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:12 PM


Fajar Bahruddin Achmad*

masyarakat dengan aneka problematikanya, dikenal dengan aliran realisme sosial. Dalam kamus sosiologi, aliran realisme mencakup pandangan mengenai eksestensial real dari semua objek yang dialami, realitas yang dialami dalam tanggapan pancaindera: dalam arti estetis adalah merupakan suatu pandangan tentang patokan -kriteria- nilai estetis atau artistik di semua objek sebagaimana adanya.

sastrawan itu persoalan sosialpolitik dan sosial-religius, baik di pusat Ibu Kota maupun di pedesaan. Dapat kita temui karya-karya seperti ciptaan Buya Hamka, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Ahmad Tohari, Goenawan Mohammad, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami dan sebagainya. Kajian sastra yang berfokus mengangkat kehidupan

Aliran sastra realisme sosial sering dikatakan sebagai seni yang membela kelompok proletaliat (wong cilik). Mereka -pengarang- merasakan, mengalami dan melihat kehidupan-kehidupan wong cilik yang patut dipublikasikan, agar diketahui khalayak umum. Aliran ini menyampaikan nilai humanisme, mengangkat tema kemanusiaan dengan gagasangagasan yang kuat. Artinya ada tujuan untuk mengedukasi masyarakat perihal rasa perikemanusiaan dan mencitacitakan pergaulan hidup yang lebih baik. Dalam karangan puisi dapat kita temui karya-karya Goenawan Mohamad (Di Malioboro), Widji Thukul (Puisi untuk Adik), dan W.S. Rendra (Sajak Orang Lapar) dan sebagainya. Karyakarya karangan berupa novel

Soeket Teki Bicara

18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-41.pdf 1

dapat kita temui karya milik Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Bumi Manusia), Ahmad Tohari (Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk), Ayu Utami (Saman) dan sebagainya. Sedangkan karangan cerpen dapat kita temui karya Ahmad Tohari (Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?), Seno Gumira Ajidarma (Dodolitdodolitdodolibret), Putu Wijaya ( Jenggo) dan sebagainya. Sastrawan fenomenal

Humanisme dalam sastra menempatkan manusia pada tatanan nilai tertinggi kehidupan. Dalam pandangan humanisme, manusia itu bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri, dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan mencapai kepenuhan eksistensinya menjadi manusia paripurna. Pandangan itu merupakan sudut pandang humanistis, atau humanisme. Humanisme, asal kata dari latinhumanus dan mempunyai kata homo yang berarti manusia. Humanus berarti “bersiat manusiawi�, sesuai dengan kodrat manusia. (Mangunhardjana: 97:93) Ada dua sastrawan fenomenal yang karyanya tidak sebatas diperbincangkan

Sastra dengan Rasa

41 11/21/2018 1:58:12 PM


di Indonesia, melainkan luar negeri juga. Dua karya itu milik Pramoedya Ananta Toer (tetralogi Bumi Manusia), dan Ahmad Tohari (trilogi Ronggeng Dukuh Paruk). Sebab keduanya mengangkat isu-isu di daerah menjadi bacaan yang sarat makna dan kritis. Mereka berhasil menggali ide cerita yang bersumber dari pengamatan pribadi terhadap problematika sosial di masyarakat. Lalu ide-ide itu mereka susun untuk diracik menjadi sebuah karya sastra yang menyentil tanpa mengurangi nilai-nilai moralitas.

Ketika membaca Pram, maka kita akan menemukan uraian kata-kata yang penuh ekspresi dalam kebebasan. Dalam karyanya, Pram mencoba membela kebebasan, keadilan sosial, dan kemanusiaan bagi rakyat jelata. Pram memposisikan diri sebagai tokoh utama dalam karyanya. Gagasannya tertuang dalam tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya-karya Pram secara isi mengangkat nilai kemanusiaan untuk membela hak golongan wong cilik. Kutipan dalam novel Pram, “Dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.� (Tetralogi, bagian Jejak Langkah: 2) Berbeda dengan Ahmad Tohari, karyanya tidak menekankan pada ekspresi kebebasan atau keberanian

42 18578011_MAJALAH SOEKET TEKI_T-42.pdf 1

dalam melawan. Melainkan gambaran kehidupan masyarakat desa yang lugu, sederhana, dan jauh dari kehidupan perkotaan. Keadaan itu tampil lebih memprihatinkan, sebab latar yang dipakai merupakan kehidupan masyarakat terbelakang, konservatif dan mistikisme. Ahmad Tohari seakan melibatkan diri dalam derita. Dia ikut serta dalam dilema di tengah masyarakat kecil. Ide dan gagasannya dapat dijumpai dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Dalam imaji Ahmad Tohari, ada keprihatinan bahwa manusia cenderung memiliki sifat hewaniyah. Ahmad Tohari terlihat mencoba meruntuhkan asumsi tersebut dengan gagasan humanisme agar cenderung tidak semakin parah. Sehingga ke depan harapannya antar manusia dapat saling memahami perbedaan, misal yang kaya memahami yang miskin, yang pintar memahami yang bodoh, dan berlaku untuk sebaliknya. Kutipan dalam novel Ahmad Tohari, “Hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek Srintil itu percaya penuh roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh Kartareja dan ingin bertayub.� (Trilogi, bagian Ronggeng Dukuh Paruk: 47) Muruwat moral

Perihal moralitas menjadi masalah serius di negeri ini. Kelompok-kelompok masyarakat yang semestinya menjadi tempat keguyuban, justru menjadi tempat orang-orang fanatik bersumbu pendek. Semua

Soeket Teki Bicara

melempar prasangka dan kecurigaan. Kemajuan teknologi informasi yang semestinya menjadi nilai positif, berbalik menjadi arus informasi berita hoaks, penebar kebencian, dan saling fitnah antar golongan. Lantas apakah memang begitu wajah bangsa kita?

Dalam hal ini, kesusastraan yang dipelopori oleh para sastrawan Indonesia perlu turut andil mengambil porsi. Nilai humanisme perlu ditanamkan pada generasi sastrawan era tahun 2000-an. Menggali nilai humanisme dalam kesusastraan menjadi solusi mengedukasi masyarakat melalui gerakan literasi. Jadi penciptaan karya sastra tidak sebatas menargetkan pasar pembaca, dan mengikuti tren kekinian. Sastra harus mengedukasi masyarakat. Mengangkat keragaman daerah sebagai refleksi, dan kritik terhadap pemerintahan. Kerap dijumpai, gagal pahamnya masyarakat dalam menyikapi harkat dan martabatnya yang luhur. Yang terjadi nilai etika dalam kehidupan semakin terperosok. Mereka melupakan potensi untuk berkembang, dan menjadi sosialita. Maraknya gerakan literasi perlu dimanfaatkan para sastrawan. Menggali ide-ide dalam kehidupan masyarakat, lalu dirangkai menjadi karya sastra berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan. n

*Pemimpin Umum SKM Amanat

Sastra dengan Rasa

11/21/2018 1:58:13 PM

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Majalah Soeket Teki Edisi 8  

Majalah Soeket Teki Edisi 8  

Profile for skmamanat
Advertisement