Page 1

Soeket Teki

Edisi 07 2013 ISSN: 0853-497x


Penerbit: Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT IAIN Walisongo Izin Penerbitan: SK Rektor IAIN Walisongo Semarang No. 026 tahun 1984 ISSN: 0853-487X Pelindung: Rektor IAIN Walisongo Pembimbing: Ajang ZA, Joko Tri Haryanto, M. Munif, Rosidi, Siswanto, Pujiyanto, M.Olis, Wahyu Agung, Musyafak. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Abdul Arif Pemimpin Redaksi: Akhmad Baihaqi Arsyad Dewan Redaksi: Abdul Arif, Khoirul Muzakki, Hammidun Nafi’S, Eny Rifa’atul Mahmudah, Irma Muflikhah, Azid Fitryiah Desain Sampul dan Penata Letak: Akhmad Baihaqi Arsyad Sirkulasi: Rohman Kusriyono

Alamat Redaksi: Jl. Prof. Hamka Semarang 50185, SKM AMANAT PKM Kampus III IAIN Walisongo Semarang. Website: www.soeketteki.wordpress.com www.amanat-online.com


Sapa Redaksi

“Lorong” Persuaan

H

al pertama yang dinanti warga Kampoeng Sastra Soeket Teki adalah, senyuman kawan-kawan pembaca ketika majalah ini sampai di tangannya. Laiknya sebuah sapaan dalam mengawali sebuah perjumpaan, senyum barangkali menjadi salah satu pengawal yang cukup hangat. Hal ke dua yang dinanti setelah senyuman pembaca adalah, ketika Majalah ini dibaca kemudian diapresiasi. Suatu perjumpaan kurang lengkap tanpa adanya percakapan, meski hanya sekadar bertukar kabar. Kiranya pembacaan dan apresiasi menjadi suatu “percakapan” antara warga Kampoeng Sastra Soeket Teki dan kawan-kawan pembaca. Nah, untuk itu, Kampoeng Sastra Soeket Teki kembali membuat “Lorong“ Persuaan melalui Majalah edisi ke enam ini. Ya, beberapa tulisan pada setiap lembar majalah ini yang akan mencipta sebuah

ruang pertemuan antara penulis dan pembaca. Beginilah salah satu cara warga Kampoeng Sastra Soeket Teki menciptakan sebuah pertemuan. Dan semoga pertemuanpertemuan ini tak usai sampai di sini. Sampai ujung pun kita sambung. Kami segenap warga Kampoeng Sastra Soeket Teki menyapa kawan-kawan dengan beberapa karya. Sedikit gambaran, pada edisi ini, dalam rubrik kajian kami mengangkat Pramoedya Ananta Toer baik itu dari segi karya maupun biografinya. Tidak ketinggalan; cerpen, resensi, dan beberapa puisi dari warga Kampoeng Sastra Soeket Teki dan sedulur komunitas lain juga terhimpun dalam serangkaian halaman majalah ini. Selamat membaca.  Redaksi

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

1


Cerita Pendek

Karinna n Cerpen Eny Rifa’atul Mahmudah

2

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Karrina- - - -

N

amanyaKarinnaDamayanti,KA-R-I-N-N-A,dengandobelN. Karintakpernahtahuartinya, dan tak peduli. Nama itu pemberian Om Haryono, adik bungsu ayahnya. Katanya, dengan nama itu kelak saat kuliahKarintakakandicemoohkarena mempunyainamayangkampungan sepertinamasepupu-sepupunya.Nama itudiputuskansebagaiidentitasnyalantaranwaktulahir,ayahibunyabelum memutuskan nama untuknya. Waktuitubanyakusulannamadari sanaksaudara.Adayangmengusulkan namaLaili,karenaKarinlahirdimalam hari.Adajugayangmengusulkannama FirdakarenaKarinlahirpadatanggal satu.Namunyangpalingmenggelikan adalahSimbahPutriyangmengusulkan nama Surati karena Karin lahir pada bulanSura,sehinggaorang-orangpun menertawakanusulannya.Tanggalsatu Suramenyebabkanpemberiannamaini agakmenyulitkan,karenamasyarakat kampungyangagakkejawenmenganggapbulanSurasebagaibulankeramat. ** “SatuSuradanKarinnatakpernah cocok.Mengapadulutidakpilihnama Laili atau Firda Saja. Tak kalah bagus dan mempunyai arti yang baik.�SimbahkakungselalumengatakannyasetiapkaliKarinmelakukankenakalan. Ya, Karin memang nakal. Boleh dikatakansangatnakalkarenakena-

kalannyainitidaksewajarkenakalan gadis-gadiskecildikampungKalinang. Sejak umur empat tahun, Karin suka mengejarHayati,ibunya,dengansebilah pisau atau celurit jika keinginannya tidak dituruti. Saat berumur lima tahun, Karin sering bernyanyi dengan pengeras suara masjid di samping rumahnya. Di rumah maupun di sekolah,mengerjaidanmenakut-nakutiteman-temannyasudahmenjadi kebiasaansetiapharinya.Bahkansaat umurdelapantahun,Karinsudahberanimembunuhkucing,ayam,bahkan kelinci-kelinci milik tetangganya. Sebenarnya sudah banyak usaha yangdilakukanorangtuaKarinuntuk menyembuhkankenakalananaknyaitu, mulaidarimembawaKarinsowanke beberapakiaibesaruntukdimintakan do’a,dibawakepsikiater,hinggadibawa keorangpintaruntukmengusirauraaurajahatyangmungkinmenempel padanya.Namunsemuaikhtiaritutak pernahmenampakkanhasil.Malahan ulah Karin semakin menjadi-jadi. SaatHayatimelarangKarinkeluar rumahdanmenguncipintukamarnya, Iaakanmelompatlewatjendela,bahkanketikaHayatimenguncijendelanya, Karinmenjeblakjendelahinggadaun jendelaitulepasdariengselnya.Karin puntegamengancamibunyadengan belati jika tidak diberi uang. Hayati benar-benartakberdayamenghadapi

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

3


- - - - Karrina- - - -

Karin. Ikhtiar yang tersisa adalah perintahSimbahKakunguntukmengganti namaKarin.MenurutSimbahKakung, Karinkeberatanmenyangganamanya hinggadiatakbisamengendalikandiri untuk berbuat nakal. “KarinnaDamayantiitunamayang terlalu berat untuknya, lebih baik digantisaja.SetelahitupastiKarintidak akannakallagi,bahkanakanmenjadi anak baik dan penurut.”Kata Simbah Kakung. “Apabenarmenggantinamabisa merubah sifat dan kelakuan Karin, pak?” tanya Margono, ayah Karin. Hayatidiamdisampingsuaminyadan mendengarkan. “Eit,jangansalahkamu.Dulukangmasmu, Sujarno, itu saat masih bernama Sarif juga nakal. Tapi setelah namanyadigantimenjadiSujarno,dia berangsur-angsurmenjadianakyang baiksampaisekarang.”JawabSimbah Kakung. Sujarno diam tersipu malu. Kata-kataSimbahKakungsepertipujian baginya. “Tapi perubahan nama itu tidak bisa menjamin Karin akan berubah. KangSujarnoitudigantinamanyakan karena dulu dia sering sakit dan tak kunjungsembuh.”KataHaryono.Sujarno,MargonodanHayatiikutmengangguk. “Kalianinidibilangiorangtuambok 4

yamanut.Janganngeyel.Mbokyadicoba dulu merubah nama Karin. Apa kamu tidak yakin dengan perkataan bapakmu ini yang sudah lebih lama hidup?” tanya Simbah Kakung. “Kalau benar begitu, lalu apakah nama Karinna Damayanti diganti semua,atauKarinna,atauDamayantinya saja yang dirubah?”Hayati mulai angkat bicara. “Ah.KalaumaumerubahyaDamayantinya saja. Biarkan nama Karinna tetap. Karinna itu nama yang bagus. Tak ada duanya di kampung ini, jadi biarkansaja.”JawabHaryonongotot. Diatidakrelanamapemberiannyaitu dibuang begitu saja. “Benarjuga.”KataEyangputriyang sedari tadi hanya mendengarkan. “Selainitunamapenggantinyajuga harus bagus dan bukan nama yang ndeso seperti Surati atau Sumiyati.” Tambah Haryono mengingat nama yangmungkindipikirkanolehibunya. “Terserahkalian.Yangpentingnamanyadiganti.Titik.”TambahSimbah Kakungdenganrautyangtidakkalah ngotot dengan anak bungsunya itu. “Baiklah,kalaubegitukitaputuskan menggantinamaDamayantinyasaja.” Jelas Margono. “Lalu nama apa yang kira-kira cocok untuk Karinna?” tanya Hayati. Semua peserta musyawarah ini mengerutkandahi.Semuanyasedang

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Karrina- - - -

berpikir keras untuk mencari nama yangbagusdancocokmenggantikan Damayanti.Limamenitberlaludengan diam. Sepuluhmenit,duapuluhmenit,setengahjamkemudianmasihbelumadausulan.Hayati,Margonodan Sujarnoberadupandangtandasaling menanyakan satu sama lain, namun nihil. Haryono sedang berbisik pada Margonotentangusulannamauntuk Karin,yaituRahmawati.NamunSimbahKakungyangmendengarnyaserta mertamarahdanmengatakanbahwa takadabedanyanamaRahmawatidan Damayanti.HaryonomenggerutukesalsedangkanMargonomenundukkan kepalatidakberanimebantahayahnya. PadaakhirnyaSimbahkakungmemutuskan untuk sowan ke Kiai Baihaqi, pemimpinpesantrendidesasebelah. SimbahkakungyakinKiaiBaihqiakan mencarikannamayangcocokuntuk Karin. NamunHaryonomasihmencoba membujukSimbahKakungmenerima usulannya.Diamasihtidakterimanama pemberiannyadigantikandengannama pemberian Kiai Baihaqi yang mungkin saja akan memberi nama secara Islaminamunwagudanndeso.HaryonomembayangkannamaSiti,Jamilah, atauKhomsatun.Haryonobenar-benar ngerimembayangkannya.Karenaitu Haryonobersikerasuntukmengganti

namaDamayantimenjadiRahmawati. “Pak,walaupunnamaRahmawati danDamayantitidakberbedajauh,tapi cobalahdulubarangsebentar.Siapa tahu nama Rahmawati cocok untuk Karin.Toh tak ada ruginya mencoba. Kalau dalam jangka waktu tertentu tidakadaperubahanpadaKarin,kita bisamenggantinyalagi.Benarkan,Kang Margono?”JelasHaryono.Semuapesertamusyawarahmengangguk-angguktandasetuju,sedangkanSimbah Kakung masih ragu. “ItubenarPak.Setelahmerubahnya menjadiRahmawati,kitalihatadakah perubahanperilakuKarin.Kalautidak ada, nanti kita sowan ke Kiai Baihaqi.” TambahSujarnomenguatkanpendapat adiknya. Simbah Kakung masih berpikir lama. “Baiklah,kitacobanamaRahmawati.JikasetelahsatubulantidakadaperubahanpadaperilakuKarin,Margono dan Hayati harus meminta bantuak Kiai Baihaqi.”Jawab Simbah Kakung. Akhirnya malam itu Hayati membuatJenangAbangsebagaibancakan atasperubahan nama Karin menjadi KarinnaRahmawati. Karin yang tahu maksuddariperubahannamanyasama sekali tidak peduli. Malahan di acara perubahannamanyaini,diamembuat onardenganmenumpahkanbeberapa piringmakanandanmelemparkanbeberapa kue kepada para tamu di ten-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

5


- - - - Karrina- - - -

gah-tengahacaratahlilan.Karintertawa kegiranganmelihatorang-orangpanik menghindarilemparannya.Margono kemudianmembawapaksaputrinya kekamardanmenguncinya,sedangkan SimbahKakunghanyabisamenggelengkan kepala. Sudah sebulan berselang sejak namabelakangKarindirubahmenjadi Rahmawati.Namunperubahannama itumalahmembuatnyasemakinbandel. Kali ini Karin tak hanya mengejar Hayati, bahkan sekarangdiatelah beranimencegatdanmemintauang anak-anaktetangganyasebelumberangkat sekolah. Karin sudah jadi tukang palak. SimbahKakungsudahtidaktahan lagimendengarkeluhantetangga-tetangganyatentangulahKarin.Akhirnya SimbahKakungmenyuruhMargono danHayatisowanketempatKiaiBaihaqi di desa sebelah. Pagi harinya Hayati membuatJenangAbang.Kaliinitidak adatahlilanmengingatapayangsudah dilakukanKarinpadaacarayangsama sebulanyanglalu.Hayatimembagikan JenangAbangpadatetanggadisekitar rumahnyaserayamengumumkannama baruKarin,yaituSitiKarinna. ParatetanggapunmenjadiagaktenangmengetahuinamaitupemberianKiaiBaihaqi. Mereka berharap nama itu akan bisa memperbaiki kelakuan Karin. Tigahariberlalu,Karinbenar-benar 6

menjadi anak yang baik dan patuh. MargonodanHayatipunsangatsenag denganperubahanperilakuputrisemata wayang mereka. Simbah yang merasapunyaandilbesardalampenggantiannamainipunberucapbangga bahwaseharusnyamerekamendengar danmelakoninasihatSimbahKakung sedaridulu,jadi,semuaakanbaik-baik saja. NamunbelumgenapsehariSimbah membusungkandada,Karinkembali berulah. Kali ini dia tak hanya memalakanak-anaksebayanya,namunjuga orangtuayangmelewatigangkecildi sebelah rumahnya. Kenakalan Karin semakinmenjadi-jadi.Karintakhanya memintauang,tapijugamemukuldan melukaikorbannyadenganpisau.SimbahKakungyangmendengarnyalangsungmemutuskanuntukpergisendiri menghadap Kiai Baihaqi. “PakKiai,sayadananak-anaksaya sudahberusahasebaikmungkinmendidikKarindanbeberapamengganti namanya,namuntakadahasil.Karin, cucusayaitu,benar-benarsangatnakal. Rasanyatakadaupayayangbelumkami lakukanuntukmerubahkelakuannya. NamunhinggasekarangKarintetapnakal,bahkansemakinmenjadi-jadi.Sepertinyasegalaupayakamitidakmembuahkanhasil.Kamisekeluargasudah putus asa. Apa yang harus kami lakukan pak Kiai?�Tanya Simbah Kakung

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Karrina- - - -

sambil terisak di depan Kiai Baihaqi. “Kalau begitu, ganti saja namanya lagi. Mungkin aku salah memberi namakarenaanakdanmenantumutidakmenjelaskankeadaancucumusaat menghadapku.”Jawab Kiai Baihaqi. “Enggih Pak Kiai. Sekarang saya pasrahsajadengankeputusanpakKiai. Sayayakinnjenenganakanmemberikannamayangbaikdansesuaiuntuk Karin.” Kata Simbah Kakung. “Hem.. sepertinya nama ini cocok untuk Karin. Luthfiani, dari BahasaArabyangartinyakelembutanku. Bagaimana menurutmu?”tanya Kiai Baihaqi. “Enggih Pak Kiai, itu bagus sekali. Mudah-mudahancocokuntukKarin.” JawabSimbahKakungdengansenyum lebarnya. Sebelum berpamitan, Simbah Kakungmengucapkanbeributerima kasihkepadaKiaiBaihaqidanmeminta ijasahdo’adariKiaiBaihaqiagarnama ini benar-benar cocok untuk Karin. Simbah Kakung pulang dengan hati bahagiamembayangkannamaituakan cocok untuk Karin. MalaminiSimbahKakungmeminta HayatiuntukmembuatJenangAbang lagi untuk mengganti nama Karin menjadi Karinna Luthfiani. Simbah Kakung pun merapalkan ijazah do’a yang diterimanya dari Kiai Baihaqi. Setelahmenyelesaikanbacaanya.Sim-

bah mendatangi Karin yang tertidur pulasdanmengusapkepalanya.SimbahKakungberharapKarinakanmenjadigadisyanglembutsesuainamanya yang baru. PagiiniSimbahKakungterbangun sebelum subuh karena Karin membangunkannyadenganpaksa.Dengan caramanisyangtidaksepertibiasanya, Karinbersikerasinginberceritapada SimbahKakungtentangapayangdilakukannyasetelahbanguntidur.Kakekyangmasihmengantukmenyuruh Karin untuk langsung bercerita. “MbahKakung,pagiiniKarinmembawakan hadiah bagus untuk mbah Kakung”KataKarinberbisikditelinga simbah Kakung. “Kamu bawa hadiah apa, Nduk?” Tanya Simbah Kakung dengan lirih. MeskipenasarandenganhadiahKarin, diam-diamSimbahmulaisenangkarena cara berbicara Karin lebih lembut dari pada biasanya. Itu artinya nama Luthfiani berhasil merubah Karin. “Mbah,” Kata Karin lembut sembarimengulurkantangankananyake wajahsimbahKakung,”lihatapayang ku bawa.” Simbahmembukamatataksabar. Tiba-tibajantungnyaberhentimelihat bendaditangancucunya.Karinmenyodorkan seekor ular kobra. Semarang, Januari 2012

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

7


Puisi

Menghapus Jejak Lilin Kau selalu datang di waktu gelap Saat lorong-lorong hatiku mulai senyap Dan kau membawakanku lilin Suatu waktu ia menjelaskan lekuk tubuhmu Biar bisa kuraba dadamu Padamkan saja, aku bilang Aku tak butuh lilin terang Aku bisa mengeja tanda tubuhmu tanpa cahaya Suatu waktu ia melelehkanmu Dan kau hanyut bersama sisa-sisa remang Sudah kubilang Jangan bermain dengan api kecil Kau takkan merasakan kehangatan, kecuali secuil Mengapa tak sekalian kau bawakan matahari Biar kita sama terbakar

--Khoirul Muzakki Warga Soeket Teki 8

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


~ ~ ~ Puisi ~ ~ ~

Gamang Barangkali kau tak dengar Berulangkali kuketuk pintu Atau kau berpura-pura? Memang, terlalu pelan untuk sebuah ketukan Haruskah ku eja kembali Sebelum kau benar-benar membuka : sebait sajak ingin kutilawahkan untukmu 15-05-2011

Jangan Percaya Nak, kelak kau pergi jauh Ke sebuah alamat Lewati jalan melupakan siang dan malam Hanya ada putih dan buram Jangan percaya sesiapa Sebab mereka tak tahu apa-apa Bahkan pada dirimu Yang gamang itu 16-05-2011

--Abdul Arif Warga Soeket Teki Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

9


Kajian  Biografi Singkat Pramoedya Ananta Toer

Pram dalam Bingkai Manusia

M

Oleh Akhmad Baihaqi Arsyad

anusia adalah makhluk hidup yang bisa mati. Tapi manusia berhak memilih seperti apa mereka hidup. Siapa saja yang menganggap dirinya manusia, maka percayalah, bahwa semua manusia punya kebebasan yang paling besar. Yaitu kebebasan memilih jalan hidup. Manusia bebas memilih, apakah ia akan menjadi musisi, sastrawan, ilmuwan, politikus, atau lainnya. Lain manusia, lain pula pemikiran, cara pandang, cara bersikap, dan masih banyak yang lain lagi. Seperti halnya Pramoedya Ananta Toer. Ia memilih jalan hidupnya. Pram punya jalan sendiri. Bagaimana jalan pemikirannya, bagaimana cara bersikapnya, dan masih banyak lagi. Dan tentu dia sendirilah yang memilih segala jalan hidupnya itu. Salah satu kutipan dari Pram yaitu, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Soesilo Toer, adik Pram pernah mengatakan, seorang pengarang itu bebas menulis apa yang diinginkan. Walaupun dipenjara, tapi pikiran tetap bebas, tidak tergantung pihak lain. Walaupun fisiknya terbatas, tapi siapa yang mampu mengendalikan pikiran orang? Kekuasaan apa pun tidak akan bisa mengendalikan pikiran orang. Barangkali itulah Pram, ia menulis untuk kebebasan. Beberapa cerita juga tercantum dalam buku Historiografi Sastra Indonesia

10

1960-an yang ditulis Asep Sambodja. Dulu sewaktu pemerintahan Soeharto, kehidupan Pram selalu terbelenggu. Itu terjadi karena Pram adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Rezim Orde Baru selama 32 tahun (1966-1998) memasukkan Lekra ke dalam organisasi terlarang karena dianggap sebagai underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu, segala karya ataupun gerakan yang diciptakan Lekra dibabat oleh Angkatan Darat, rezim Seoharto. Salah satu contoh adalah Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru. Saat Orde Baru, Pram dipenjara sejak 1965. Meski begitu, Pram tetap mencari cara bagaimana menulis karya tetralogi buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Soesilo menceritakan, buku itu ditulis di Penjara Bukitduri. Yang kemudian, ada seorang tokoh yang membantu menyelundupkan naskah itu ke luar dari penjara. Orang itu bernama Jan van Resink. Ia merupakan seorang Belanda yang ahli bahasa Jawa. “Itulah saya kira tangan-tangan Tuhannya Pram”. Ia dikabarkan telah menyelundupkan naskah milik Pram ke dalam lomba yang diadakan oleh Balai Pustaka dengan juri H.B. Jassin. Sebenarnya naskah ini sudah terlambat karena lomba sudah ditutup. “Tapi Jassin kok mau menerima?” kata Seosilo. Ternyata naskah Pram itulah yang menang. Soesilo menilai, itulah yang menjadi tonggak sejarah dunia kepengarangan Pram.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Selama masa Orde Baru, Pram merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang. Contoh lain disebutkan Pram dalam video dokumenter wawancara dengannya. Pram mengatakan, “Keadaan pengarang waktu itu (Orde Baru), kalau tidak takut pada Orde Baru ya masuk penjara atau dibunuh.” Pun karya-karya Pram pernah dilarang beredar dan bahkan dibakar. Karyanya yang dihancurkan Angkatan Darat kira-kira ada 9. “Itu dalam bentuk naskah, belum sempat terbit” kata Pram. Pram tidak heran, kalau pada waktu itu ada pen-

angkapan mahasiswa hanya karena membaca buku saya. Pram menilai kekuasaan Orde Baru adalah kekuasaan fasis. Mereka membuat orang menjadi takut supaya manut. “Teror, membuat ketakutan orang, supaya orang hilang daya tahannya dan ikut saja apa maunya.” Pada masa itu, seniman yang dibantai ada cukup banyak. Seperti seniman asal Solo yang membuat patung di Istana Bung Karno, namun Pram tak ingat namanya. Juga penulis lagu genjer-genjer. Pram menjelaskan, padahal lagu itu ditulis jaman Jepang. Dia menjadi korban karena lagu itu dipopulerkan oleh Lekra. Dan banyak lagi kejadiannya. Menurut Pram, mereka memang mau memudahkan memerintah dengan membunuh, supaya orang pada takut. “Mereka itu tidak mengerti bahwa lama-lama orang akan bosan dengan ketakutannya sendiri dan melawan.” Begitu pula Pram. Ia tetap berpegang pada jalannya dan selalu mencari cara untuk melawan. Dari total penahanan selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan, akhirnya Pram dibebaskan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat Gerakan 30 September (G30S). Namun, ia masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992. Juga tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999. Itu pun, Pram diwajibkan lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. Ya, barangkali itulah cerita yang dialami Pram. Sebagai sastrawan, Pram telah

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

11


menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Pram menyebut karyanya sebagai anak rohaninya yang masing-masing punya sejarahnya sendiri. Pram mengatakan, “Itu semua anakanak rohani saya sendiri, mereka punya sejarah sendiri, dilepas dari saya. Dan itu kalau ditanyakan hubungan antara karya saya dengan saya, saya nggak pernah jawab. Ada yang mati muda, ada yang mungkin bisa hidup seterusnya, itu di luar kekuasaan saya.” Nah, Di luar karyanya, sudah barang tentu Pram pun punya sejarahnya sendiri. Sejarah dalam kehidupannya, sebagai manusia. Bersama Keluarga “Dahulu, sewaktu kanak-kanak, orang memanggil aku Mamuk. Dan nama panggilan belakangan ini berasal dari adikkecilku, yang dengan telurnya memanggil aku Mas Mu.”(Pramoedya Ananta Toer dalam Hikayat Sebuah Nama) “Mas Moek”, begitulah kiranya adik-adik Pram memanggilnya. Sedang oleh bapaknya, ia dipanggil dengan nama “Mamoek”. Pram lahir di Desa Jetis, Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 . Dari pasangan suami istri, Mastoer dan Oemi, Pram adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Dari buku PRAM dan SEKS 1, terbitan PATABA PRESS merinci delapan bersaudara itu terdiri dari lima laki-laki (anak pertama, ke dua, ke enam, ke tujuh dan ke delapan) dan tiga perempuan (anak ke tiga, empat dan lima). Dalam catatan pribadi Koesalah Soebagyo Toer juga dirinci, delapan bersaudara tersebut secara urut adalah Pramoedya Ananta Toer, Prawito Toer, Koenmarjatoen Toer, Oemisafaatoen Toer, Kosaisah Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Soesilo Toer dan Soesetyo Toer. Dan kesemuanya itu tinggal di rumah sederhana di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kampung Jetis,

12

Blora, Jawa Tengah. Mengenai rumah, ada satu falsafah Pram yang tertulis di buku Pram dan Seks 1, yaitu “Kalau rumah itu rusak, penghuninya juga rusak.” Bapak Pram adalah tokoh Institut Boedi Oetomo (IBO). Dan Bapaknya lah yang membuat Pram berusaha belajar lebih gigih supaya berhasil seperti bapaknya. Cerita itu tercantum dalam Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer. Pram menceritakan, Mastoer menganggap anaknya lebih inferior dari dirinya. Itu sebabnya ia tak pernah bicara dengan anaknya. Memang ia orang pintar. Sekiranya tinggal di kota besar, ia pasti menjadi tokoh. Untuk ukuran Blora, semua yang dilakukannya besar. Berapa banyak orang disekolahkannya. Soesilo pernah bercerita, Pram merasa tertekan semenjak masih SD. Awalnya, ketika lulus IBO (setingkat SD), Pram meminta uang ke bapaknya untuk melanjutkan sekolahnya ke MULO (Setingkat SMP). Tapi, seketika itu bapak langsung bilang, “Kamu itu anak goblok! Buat apa sekolah lagi”. Pram sangat kecewa saat itu. Namun, ia sadar dan merasa, dirinya memang bodoh sekali karena butuh waktu 10 tahun untuk menamatkan sekolah 7 tahun. Berarti hampir 2 tahun sekali tidak naik kelas. Kemudian ia disuruh kembali ke sekolah IBO kelas 7 lagi. Akhirnya, Pram menuruti bapaknya. Namun, saat ia sampai di sekolah, Pram disuruh pergi oleh gurunya, “lho kamu sudah tamat kok masih mau sekolah lagi di sini?” Ketika itu, sebagai manusia, Pram merasa dihina oleh bapaknya maupun oleh gurunya. Sepulang dari sekolah, Pram menangis kejer-kejer di dekat kuburan. Nah, saat itulah Pram dapat pencerahan bahwa dirinya itu bodoh. “Orang bodoh itu kerjanya, ya melamun” kata Soesilo saat menceritakan Pram. Melamun itu kemudian Pram realisasikan dengan menulis. Artin-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


ya, Pram itu sejak kecil sudah mulai menulis, merenungkan kebodohan-kebodohan dia. Kemudian itu ia lanjutkan di penjara. Itulah mengenai cerita Pram dengan Bapaknya. Ketika Pram merasa terhina saat itu, seketika ia bertekad, “aku harus berhasil dari bapak.” kata pram dalam Catatan Pribadi Koesalah. Pram mengaku bahwa dirinya sangat banyak dendam kepada bapaknya. Tapi Pram juga menyadari, ia pun banyak belajar dari dia. Dalam catatan pribadi Koesalah juga diceritakan, Pram meninggalkan Blora ke Jakarta tahun 1942, dan adik-adiknya baru bertemu kembali dengannya di Blora tahun 1950. Pram datang ketika Bapak sakit keras. Tak berselang lama bapak Pram meninggal. Begitu bapak Pram meninggal, ia ganti menjadi bapak dari adik-adiknya, karena Ibu Pram sudah lebih dulu meninggal (1942). Menurut Kosealah, Pram itu memang pantas menjadi pengganti bapaknya, karena ia anak sulung, karena rasa tanggungjawabnya dan karena sikapnya yang bijaksana. Salah satu langkahnya yang menonjol adalah “perintah”-nya kepada adik-adiknya untuk menggunakan nama keluarga Toer. Pram sangat menghargai apa yang diperbuat bapaknya untuk Blora. Dan menurutnya sangat besar sekali Di buku Pram dan Seks 1, Mastoer mengatakan dalam salah satu puisi wasiatnya yang mengartikan Toer sebagai akronim dari kalimat “Tansah Ora Enak Rasane”. Diantara sikap Pram kepada saudaranya adalah diungkapkan oleh Soesilo dalam buku Pram dari Dalam. “Saya, adik kandungnya, bahkan menganggap Pram paranoid. Pram adalah lelaki yang memang bukan hanya kikir senyum dan wajah angker, melainkan juga penuh prasangka dan curiga. Watak yang ia bangun atas dasar pengalaman hidup pribadi, renungi, dan hayati.” Dalam bukunya, Soesilo menjelaskan,

seberapa pun Pram bersikap keras terhadap adik-adiknya, namun ia tetaplah kakak tertua yang musti dihormati. Ada salah satu pesan Pram, adalah sesulit apa pun hidup, berusahalah untuk tidak meminta kepada orang lain. Satu lagi dari Koesalah dalam catatan pribadinya “Walau demikian, sebagai manusia, wajarah kalau hubungan kami pernah juga diwarnai ketegangan. Pada suatu hari saya menulis surat sangat tajam kepada dia karena merasa diperlakukan tidak adil. Berhari-hari saya dirundung sedih karena surat itu. Akhirnya saya putuskan untuk meminta maaf saja kepada dia. Dan apa jawabanya? “Kau itu adikku yang paling kusayang. Bagaimana bisa ada surat macam itu?” Pram meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Mengenai kekurangan, Pram pasti punya. Salah satunya disampaikan oleh Soesilo dalam buku Pram dari Dalam. Menurutnya, Pram lebih gagal dibandingkan dirinya dalam membina rumah tangga. Namun jangan lupa, sesempurna apa pun Pram, ia adalah seorang manusia. Pram sendiri bilang, “Manusia itu pasti punya kekurangan, kalau tidak ada kekurangan itu surga namannya.” Ada salah satu ungkapan Pram mengenai manusia, “Dan tak ada yang lebih sulit difahami daripada sang manusia… jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal kemput,”. (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia)n

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

13


Kajian ď Ž Karya-karya Pram

Mengisahkan Indonesia dengan Apik Oleh: Abdul Arif “Cerita, semuanya tentang manusia, kehidupannya bukan kematiannya,� kata Pram melalui dialog Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel Bumi Manusia. Lelaki yang memiliki nama lengkap Pramoedya Ananta Toer itu selalu mengusung kehidupan manusia dalam karya-karyanya. Kisah-kisah yang ia tulis, menurut Eka Kurniawan (2006) tak menampakkan tradisi jenaka maupun unsur sarkasme sebagaimana para pengarang pada masanya, seperti Idrus, Balfas, dan Asrul Sani. Cerita-cerita Pram justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Pendek-pendek laiknya seorang dalang berkisah. Dan, yang membuatnya khas, karya Pram dibangun dari latar belakang sejarah dan pengalaman hidup. Ihwal kepenulisannya bermula ketika melenggang dari Blora dan belajar bahasa Indonesia di Taman Siswa. Saat itu ia juga bekerja sebagai juru ketik di kantor Berita Jepang, Domei. Catatan Prof Koh Young Hun (2011) menyebutkan, Pram menaruh minatnya pada buku-buku sastra ketika naik kelas tiga Taman Siswa

14

dan saat itu sekolah dibubarkan oleh Jepang, 1943. Ia juga pernah terjun di dunia militer. Bahkan ia sempat menjabat perwira letnan dua yang memimpin 60 orang pasukan. Naskah novel pertamanya berjudul Sepuluh Kepala Nica hilang saat bertugas di Cikampek. Naskah kedua berjudul Di Tepi Kali Bekasi lahir pada 1947 ketika bekerja sebagai redaktur majalah Sadar, edisi Indonesia untuk majalah The Voice of Free Indonesia. Pram menulis naskah tersebut berdasarkan kisah-kisah nyata. Ketika aksi militer Belanda I, 21 Juli 1947 pecah, Pram ditangkap tentara Belanda karena menyebarkan risalah-risalah dan majalah perlawanan. Naskahnaskah yang ia tulis sejak 1938 dirampas. Ia kemudian ditahan di tangsi Angkatan Laut di Gunung Sahari. Lalu dipindahkan ke tangsi Polisi Militer di Jaga Monyet. Selanjutnya pindah ke Pulau Edam. Ia dipenjara tanpa proses pengadilan. Selama dua tahun mendekam di penjara, putra Toer itu hampir memutus asa. Ia kepingin bunuh diri. Tetapi,

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - “Mengisahkan- - - -

ternyata Tuhan berkehendak lain. Dalam senyap penjara itu ia mengatakan, “Bunuhlah aku bila tak dibutuhkan lagi oleh kehidupan.� Dari situ, Pram justru mendapat inspirasi untuk menghasilkan karya dan menghapus keinginan untuk bunuh diri. Beberapa cerpen dan novel telah ia lahirkan dari ruang bui, seperti Perburuan dan Keluarga Gerilya. Prof Resink membantu dalam penyelundupan tulisan-tulisannya, sehingga dapat dipublikasikan di beberapa media saat itu. Realisme Sosialis Bagi Pram, manusia adalah sumber kejahatan sekaligus kebaikan. Kepercayaannya itu

melatarbelakangi jiwanya dalam menghadapi lakon manusia yang ganas, tidak adil dan tolol. Sehingga membuahkan Pram yang selalu membela kebebasan, keadilan sosial, dan kemanusiaan bagi rakyat jelata. Maka, di setiap karya kreatifnya ia selalu menghadirkan seorang hero yang mampu bertindak untuk bangsanya. Pengalaman kehidupan serta sejarah menjadi amunisi ampuh untuk menghasilkan karya. Prof Koh Young Hun mengatakan, karya-karya Pram merupakan hasil seleksi pengalaman hidup yang ditempuhnya. Pram memiliki sensitivitas tajam untuk mengolah pengalaman hidup menjadi sebuah karya sastra. Pram menganggap bahwa seni sastra yang terbaik adalah yang melakukan pemihakan. Sikap itu bisa kita tengok dalam tetralogi buru yang meliputi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang mengisahkan sejarah pergerakan nasional Indonesia masa 1898-1918. Tengara Eka Kurniawan, kegilaan Pram terhadap sejarah dipengaruhi teori Maxim Gorky yang menyebutkan: the people must know their history. Rakyat harus tahu sejarahnya. Pengaruh lain muncul dari aliran realisme sosialis yang memiliki

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

15


- - - - “Mengisahkan- - - watak memberanikan rakyat untuk meninjau sejarahnya sendiri. Soal realisme sosialis, Pram memang pernah mengutarakannya di depan publik. Ia pernah menulis sebuah makalah berjudul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia yang disampaikan pada sebuah seminar yang digelar Fakultas Sastra Universitas Indonesia akhir Januari 1963. Meski begitu dalam wawancara majalah Tempo 4 Mei 1999 Pram mengaku tidak pernah membela realisme sosialis. Namun, Goenawan Muhamad menilai jika doktrin realisme sosialis sangat penting bagi Pram. Makalah Pram yang kemudian dibukukan itu adalah wujud advokasi Pram. Doktrin itu pula yang dijadikan pegangan resmi seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lembaga itu merupakan organisasi seniman terkuat semasa 1950-an sampai 1960-an. Kisah Indonesia Dalam novel Perburuan, Pram memaparkan semangat anti-Jepang. Novel yang rampung pada Mei 1949 itu lahir dari pengalaman Pram semasa Jepang menduduki Blora, 2 Maret 1942. Ia menjadi saksi mata ketika pasukan Jepang menganiaya rakyat Indonesia. Harta dijarah dan perempuan-perempuan diperkosa. Novel itu mengangkat kemanusiaan sebagai tema utama. Hardo sebagai tokoh utama dalam novel itu, digambarkan sebagai anggota Pembela Tanah Air (Peta) yang melakukan pemberontakan terhadap Jepang dengan semangat pa-

16

triotisme. Selain itu, melalui tetralogi Bumi Manusia, Pram mengungkap kesengsaraan rakyat pribumi dan citra pemberontak kekuasaan kolonial dengan tokoh utama Minke. Dalam novel itu, Minke adalah seorang pribumi dan anak priyayi berpendidikan eropa di Hogere Burger School (HBS). Pribadi Minke adalah titik temu dua kebudayaan berpengaruh. Di satu sisi ia adalah seorang keturuan Jawa dengan adat istiadat yang kuat, di sisi lain ia berpendidikan Eropa liberal. Pendidikan Eropa mengetuk kesadarannya, bahwa tradisi budaya bangsanya justru menjadi penghalang bagi kemajuan. Minke terjebak konflik di persimpangan budaya besar. Minke yang gelisah itu mencoba menegakkan jati dirinya sebagai pribadi Jawa. Minke digambarkan oleh Pram sebagai perintis gerakan nasional di Indonesia. Karya-karya Pram mengisahkan sejarah Indonesia dengan apik. Pram berhasil menghadirkan dan membentuk tokoh-tokoh historis ke dalam karya penuh reka. Sehingga novel-novel Pram disebut-sebut sebagai novel sejarah. A Teeuw memberi penegasan bahwa penulis novel sejarah menekankan pemberian makna pada eksistensi manusia melalui cerita, peristiwa yang barangkali secara faktual tidak sesuai, tetapi secara maknawi logis. Pram sendiri menegaskan, novel-novelnya harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah.n

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Cerita Pendek

Mata di Ufuk Timur R n Cerpen Azid Fitriyah

asanya otakku ingin meledak karenamenopangpikiran-pikiran yang tak kuat ku nalar. Begitu banyak pertanyaan dan pernyataan terbesit dibenakku. Apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus membunuhfikirankuatauakuharus membunuhdirikusendiri.Tubuhkutak kuat lagi. Akududukbersandarkantembok dikamar kosku. Bukuku berserakan. Kamarku berantakan.Ya. aku marah. Entahpadasiapa?Apakahakumarah pada diriku sendiri? Atau pada dia? Ataupadakeadaan?Ataupadatuhan yangsudahmenciptakanperbedaan?

Titah-titahnyayangmengungkapkan bedaituindahadalahbullshit.Apakah pantas mahluk hina dari keturunan yangdiusirdarisurgapantasmencaci maki penciptanya? Apakah pantas seorang hamba membantai sabdasabdamajikannya?Akumerasabumi inisemakinpanas.Akumerasamalaikat izroilsedangdalamperjalananuntuk mencabut nyawaku. Membawaku kedalamdunia-duniabaruyangkekal. Membawakuterbangmenghantarkanku bertemu tuhan. Malam yang menghadirkan gejolak-gejolak muda bangkit dari keterpurukannya.Mengibas,menguras

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

17


~~~MatadiUfuk~~~

jiwa-jiwa yang terhampar dipulau kehampaan. Angin berjalan pelan melewati sela-sela jendela kamarku. Menyenggolbibirkeluku.Kurasakan sunyimalamini.Meskiterdengarhiruk pikukhajatantetanggaku.Akutergeletak beku karenamu, wahai jelita hatiku. Engkaubegitucantik,takkanjenuhmata adaminimenatapsinarbinarwajahmu. Tingkah laku yang santun dan tidak neko-nekoseakanmalaikatpuntunduk hanya sekedar menyapamu. Takkan pernahterlupatiap-tiappertemuanku denganmu. Ya.pertemuanawalkitatanggal27 Januari 2010. Usai sholat subuh aku melihatmu tak jauh dari masjid kau duduksendirisepertioranglinglung. Aku menghampirimu. Aku bertanya kenapa,kauhanyadiam.Akumencoba menawarkanbantuan,kaumasihjuga diam. Terfikir dibenakku mungkin kau ingin sendiri. Aku mulai beranjak berputararahmembelakangimu.Tapi kauhentikanlangkahku.Memegang tanganku.Akupalingkanwajahkaget denganapayangkaulakukan.Kaumasih sajamenundukkankepalamu.Mungkin wanitainigila,ituyangadadipikiranku. ”Akutidakgila.”itukatayangpertama keluardarimulutmu.Seolahkaubisa membacapikiranku.“Terimakasih”itulah katakeduayangkauucapkan.Akutak mengertimaksudmu.Seribupertanyaan terbesitdiotakku.Kauberdiri.Sekilas kulihatsinarbinarsepasangMatayang indahpancarkancahayabakmentaridi 18

ufuktimur.Lalukaupergi.lari.Menjauh dariku. Akupikirpertemuankudenganmu ba’dashubuhitutakkanberartiapa-apa. Tapiakutaktahukenapa.Akutakbisa melupakanmataitu.Matayangseolah terusmembuntutiku.Matayangterus membayangiku.Akumerasatakpernah sendiri.Dalamgelapterpancarsecuil cahaya dari matamu. Mata itu terus hadirmemenuhisetiappojokotakku. Jujur aku ingin bertemu kamu lagi. Setelahsatuminggulebihmataitu menguasaifikiranku.Akubertemulagi dengannmu.Disaatyangtakterduga. Karenaterburuakularidibelokangang hinggaakumenabrakmu.Kaumarahmarahkarenabukudankertas-kertasmu jatuhberserakan.Akurindupadamata itu. Aku betah memandanginya. Kau marahkarenaakutakmintamaafdan membantumengambilkertas-kertasmu. Tapiakutakpeduli.Kaumeneriakiku. Akuhanyadiamterusmenatapmu.Kau mulaijengkeldengantingkahku.Dan pergi.Spontankupegangtanganmuaku bilangakutidakgila.Kauterperangah mendengrnya. Kata yang kedua Terimakasihituyangterlontardariku. Dan aku langsung pergi teringat aku akan janji bersama temanku. Tepatduaminggusetelahpertemuan pertama.Akumelihatmulagiditempat yangsamadenganpakaianyangsama. Warna putih. Apa kau suka warna putih. Fikirku. Ba’da subuh. Lagi-lagi kau disana apa yag kau lakukan. Aku

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


~ ~ ~ Mata di Ufuk~ ~ ~

menghampirimu. “Hai,”kaumenyapaku.Spontanaku kaget. “Hai juga,” jawabku singkat. “Aku bukan orang gila” katamu. Akuhanyamengangguk-anggukkan kepala.Danterimakasih.Kitaucapkan kata itu bersama. Seolah kita punya ikatanbatin.Kitatertawabersamauntuk pertamakalinya.Meskihanyatertawa kecil. Sejenak aku terlena olehmu. Ternyatakaubanyakbicara.Jauhberbeda denganwanitayangkulihatduaminggu lalu. Apakah kau wanita yang sama?. Tanpa sungkan kau banyak menceritakankisah-kisahkonyoldan lucutentangmubersamatemanmu. Akuhanyabisatertawamendengarnya. Senyummusungguhmanis.Kitaduduk di gang dekat masjid. Saat mentari mulai muncul. kau bergegas pulang. Akumemegangtanganmu.Bertanya siapanamamu.Riaituyangkeluardari bibir manismu. Lalu kau berlari. Aku memanggilmu.Kautakpeduli.Dengan suarakerasnanlantangakubertanya kapankitabertemulagi.Kaubilangsatu minggulagiditempatdanwaktuyang sama.Meskisudahagakjauhtapiaku masih jelas mendengarnya. Sejam yang takkan pernah aku lupakan.Engkausungguhmisterius. Tapi setidaknya kini aku tahu nama dari si pemilik sepasang mata yang menghantuiku. Dan aku tahu satu minggudarisekarangkitaakanbertemu.

Aku tak sabar menanti hari itu. Aku merasa waktu begitu lambat. Andai aku bisa mempercepat waktu. Aku inginsatumingguituterjadisekarang. Aku tak sabar ingin melihat mata itu. Hidupkutaktenangkarenasenyummu, candamu, wajahmu yang elok terus menggeruyutiku. Tanggal 17 februari 2010. Kau menepatijanjimu.Kinigilirankuyang berceritapadamu.Akutaktahusejak kapanakumulaisukabanyakberbicara. Tapidisampingmuakusepertiorang lain.Akusepertibudakyangmengikuti tuannya. Atau mungkin aku sudah terbudakolehmu.Kitaterdiamsejenak. Akulupaakubelummemperkenalkan diriku.Pastikautaktahunamaku.Tapi ternyatadugaankusalah.Kautahuaku, Namaku,Tempattinggalku,Aktivitasku, Aku kaget. Kau hanya berdalih kau penggemarku. Aku tersipu malu mendengarnya.Memilikipenggemar secantik dirimu. Aku bertanya padamu tentang pertemuan awal kita, Sedang apa kau disana? Apa yang terjadi? Wajahmu tampak berbeda kala aku menanayakannya.Kaudiamsejenakdan berkatawaktuyangkanmenjawab.Fajar segeradudukdisinggasananyaapakau akan pergi. Batinku. Kau menunduk. “Kapankitaakanbertemulagi?”tanyaku. Kauhanyamenggeleng.Danberkatalagi waktuyangkanmenjawab.Kemudian kauberpamitaninginpergi.Akuingin mengantarkanmu.Tapitakkauizinkan.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

19


- - - - Mata di Ufuk - - - -

Kaupergiberlaribersamabayanganmu. Meninggalkanku. Riaakumerindumu.Entahkenapa kau begitu mudah masuk kedalam hidupku.Kausangatpandaimengoyak hatiku.Kauukirdenganpatennamamu diotakku. Lama tak bertemu kau membuatkuharikutakberartiapa-apa. Kau dimana Ria?. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Aku masih selalu setiamenunggumu.Usaisolatsubuh aku selalu berharap kau sudah ada di gang itu menungguku. Tapi aku tak menemukanmu.Kusempatkanduduk sejenakdigangitu.Berharapkauakan datang. Tapi harapanku itu pupus sepertibulanyangpupusterhempas lengser oleh fajar. Hari ini. Disiang yang terik. Aku sepertimelihatsosokmu.Kaumemakai pakaian warna putih. Aku berlari mengejarmudanmemanggilmu,Tapi kau tetap berjalan terus. “Hai”.SapakuDengannafastersengasenga.Akukagetmelihatpakaianmu. “kenapa kau memakai pakaian itu, seperti…”kaumemotongucapanku “Biarawati” jawabmu singkat “Ia. Tapi lucu sih… kamu masih terlihatcantik.karenakamumemang cantik.Jadipakaiapasajatetapcantik” “Terimakasih” Seseorang keluar dari gerbang. Denganpakaiansamasepertiyangkau kenakan.Danmenyapamusertaberkata 20

“Suster Maria, kita sudah ditunggu pastur.” “Ia sebentar lagi. Silahkan Anda duluan” Wanitaitulalumasukkedalamgereja. Aku baru sadar ternyata kita berada persisdidepangerbanggereja.Akutak mengerti. “Suster??.Inimaksudnyaapa??Maria itu siapa?” tanyaku. “Namaku Maria Magdalena. Aku seorang kristiani. Aku yatim piatu. Aku dibesarkan oleh para biarawati, jadisemenjakituakubercita-citaingin menjadi seorang biarawati. Dan kau Muhammad Alfa. Aku tak tahu apa yangkaupunya.Akuseringmelihatmu diperempatankausedangmenunggu bis. Aku tak tahu kenapa aku suka melihatmu. Aku ingin mengenalmu lebihjauh.Tapicita-citakuinginmenjadi biarawati.Memaksakumembinasakan rasa itu. Karena rasa itu memang tak seharusnyaada.Ituyangmembuatku mencariketenangan.Ba’dashubuhdi gangdekattempatibadahmu.Itulah tempatkumencariketenangan.Karena ditempat itu aku ingin menyambut fajar.Menyambutharibaru.Tapi,justru akubertemudenganmu.Rasaituterus berkecamukdalamhatiku.Akubernafsu inginbersamamuterusmenemuimu. Tapi sekali lagi aku sadar. Aku harus membinasakan rasa itu”.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

--Azid Fitriyah Warga Soeket Teki


Cerita Pendek

Sendang n Cerpen Umi Sofijati

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

21


- - - - Sendang - - - -

D

ongengselamanyaakanmenjadidongeng.Ceritapenghantartiduruntuk anak-anak.YangturuntemurundilakukanolehIbuuntukmenemanisangbuah hati menuju alam mimpi. LangitBloramalamitutakmenampakan bulan.Entahdimanabulanitubersembunyi.Hanyaterdengarsuaragangsiryangmemenuhiruangpendengaran.Disudutruang kamaryangtakbegitulebar,selaluadadongengsebagaipenghantarmimpidimalam hari. “KamujangansukabermaindiSendang itu,” pesan Emak pada Leni. “MemangnyakenapaMak?Airdisendangkanjernih,udaranyajugasejukkarena pohonnya besar,”jawab Leni penasaran. “Sendang itu ada penghuninya. Kalo kamusukabermaindisanatanpamintaizin, penghuninyaakanmarah.Dulu,adanamanya mbakFatimahyanggilakarenaiadatangke Sendangitu.Dansakitgilanyaitutakbisadi obati.”JawabanEmakmembuatLenimerinding dan takut. *** Matahari mulai menggeliat dari ufuk timur.Cahayanyayangbelumbegitutinggi mengguratdipucuk-pucukdedaunan.Itu pertandakegiatanwargakampungdimulai. Seoranggadisyangselaluberkerudungsudahmenjijingbakulberisinasiuntukdibawa kesawah.Emakmembawakeranjangdan karungyangnantinyadiisirumput-rumput, dedaunanyangdidapatdarisawahsebagai pakanternak.Bapakpunsudahsiapdengan cangkul yang sudah dipikulnya. Wargakampungmayoritasberpenghasilandaritani.Setiappagisudahpergike sawah,siangpulangdansorekembalilagi kesawahhinggapetangtiba.Ituyangselalu dilakukansampaihasildarisawahdapatdipanen.Jikasudahpanen,wargasetahunsekalimelakukanpestayangdinamakansedekah 22

bumi.Merekajugaakanmelakukanupacara ritualsesajendipohonbesaryangberadadi sendangCayaArum.Sebagaisimbolberterimakasihkepadadanyangyangmemberikeselamatanpadatanaman-tanamanmereka. “Pak,Fatimahprihatinmelihatorangsini yangmasihpercayadengansesajen.Mereka percayakalaupohonbesaryangadadisendangituyangmemberiberkahpadapanennya,”celetukFatimahsambilmemotongpadi yang siap panen. “Husst!Kamujanganngomongseperti itu. Ritual itu sudah turun-temurun dari nenekmoyangkita.Itusudahtradisinduk. MemangyangmemberiberkahitugustiAllah,tapitradisiitusudahmengakarkedarah dagingmereka.Jikatidakbegitumerekapercaya danyang akan ngamuk, marah.” “Tapiitukansamasajamenyekutukan Allah,”bantah Fatimah lagi. “SudahlahFat,biarkansajamereka.Tak enakkalopembicaraaniniterdengartetangga.”Emakmenengahidanmeredamamarahnyapadawargakampungdengantradisiitu. Fatimah adalah gadis muslimah. Dia pernahmondokdipesantren.Banyakilmu agamayangiadapatdaripesantren.Namun, karenabiayayangtakmencukupiakhirnyaia boyongsetelahkhatambeberapakitabkuningyangmenjadisyaratutamadipesantren. Awalnya,orangtuaFatimahtakmenginginkaniaboyong.Tapiiatetapbersikukuhkeras untukpulangdanmembantuorangtuanya yang sudah tua. *** Malamyanghening.Bulannampakkeluardariperangainya.Makhluklangitmemberikanberkahkebumi.Merekatersenyum bahagia.Malaikatmenurunkancahayapada rumah yang melantunkan kalamullah. Sepi.Senyap.HanyaterdengarmerdusuaraFatimahyangdengankhusyukmembaca ayat-ayatAl-Qur’an.Namun,lantunanitutak

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Sendang - - - -

terdengar begitu lama. “Tok.. tok...tok...” ”BacaanFatimahterhenti.Ketukanpintu di rumahnya membuat ia terhenyak dari duduknya.Al-Qur’aniatutupdaripangkuannya. Segera ia membuka pintu. “Oh,kangBarso.Silahkanmasukkang,” sambutFatimahyangmasihterbalutmukena putih.“Iyaterimakasih.BapaksamaEmakmu ada Fat?” “BapaksamaEmakkeluarsebentarke rumahmbokdheSum.Sebentarlagijugapulang Kang.” “Yasudah,bilangsajasamaBapakatau Emakmu,besokpagijam10adarapatwargakampungdirumahnyakamituo,mbah Sumo,” jelas Barso. “Iya, nanti Fatimah sampaikan.” Barsolantaspergibegitusajatanpasalam. Fatimahmasihberdirididepanpintu.Alisnya mengernyit.UndanganBarsotentangrapat wargakampungmenyelipkantandatanyadi hatinya.Beberapatahunbelakanganinitidak pernahdiadakanrapatwargakecualijikaada hal yang membuat warga resah. *** Sangsuryabelumbegitumenampakkan tatapangarangnya.Namun,sebagianwarga kampungharusmenyudahiaktivitasnyadi sawah. Karena pagi ini ada rapat warga di rumahnya mbah Sumo atau yang sering disapambahKamituo.Selainitubeliaujuga sesepuhandikampung.Begitupuladengan pakJimanyangsudahmeletakancangkuldi pawon.Fatimahmasihsibukmemasak.Emak masih di sawah. “MemangnyaadaapayoPak?KokmbahWosampaimengadakanrapatwargasegala,” tanyaFatimahsambilmengaduknasididandang. “Bapak juga tidak tahu Fat. Entahlah,” jawabbapaksembarimembersihkanmuka. “Apamungkinkarenapanenankitaakhir-

akhirinitidakbagusyaPak?Kemarintomat MakJumjugabanyakyangrusakdansebagian matikering.Sepertipanenantomatkitadulu. Selainkeringlainnyajugahilang.Adapencuri panenan,”ucapanFatimahmenghentikan langkahpakJimanyangakankeluarrumah. “MungkinsajaFat.Entahlah.Nantikalo sudahpulang,Bapakceritakan.”Lantaspergi. Fatimahhanyamenghelanapaspanjang. RumahmbahWoataumbahSumosudahramaibagaikanpasarpindah.Semua bermusyawarahtentangpanenanyangbanyakrusak.Jugamembuatrugikarenaselain rusak panenan itu juga hilang. “Bapak-bapak,inisemuakarenabelakanganinikitatidakpernahmemberikansesajen padadanyangkitayangmenghunisendang.” SuarambahSumomenenangkansemua orang-orangyangsedangberkeluhkesahsatu sama lain. “Danyang kita marah. Tak mau memberikanberkahpadatanamankita.Makanya panenankitadirusakdanbanyakyanghilang.” Lagi-lagisuarambahSumomeyakinkan semuawarga.Orang-orangkampungitu manggut-manggutdandiammengakuikesalahanmerekayangakhir-akhirinitakmemberikansesajenpadadanyangkampungpenghuni sendang. “Besokpagikitaberamai-ramailakukan ritualsesajendisendang.Semuawargaharus ikut.Agarkampungkitatidakterkenabencanalagi.Kitamemintamaafpadadanyang Agarkitadiberikanberkahdanpanenanyang banyakpadakita.Selainitujangansekali-kali kita datang ke sendang jika tak ada ritual sesajen.Karenaituakanmenggangumbah danyang.”PerintahmbahSumotakadayang beranimembantah.Namun,pakJimandengan keberanian unjuk suara. “Sepertinyainibukanulahdanyangatau apambah?Manamungkinsendangdapat

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

23


- - - - Sendang - - - -

mengutuk.Yangdapatmenghidupkandan mematikan itu hanya Allah. Kita ini orang islam.Masakmasihpercayasesajen.”Suara pakJimanmembuatsuasanamenjaditegang. Semua orang kembali gaduh. “KamutahuapaJiman,akusebagaisesepuhdisiniyangmenanganiketentramandi kampungini.Akulebihtahudibandingkau. Dari leluhur kita sudah percaya jika sendangituadadanyangyangharusdihormati. Sudahlah,kalaukautakmauikutsesajenan besok,jangansalahkanjikatanamandan keluargamuterkenabencana.”Suarambah Sumoberapi-api.Kemarahanyasedikitmembuncah. Setelahsemuawargabermusyawarah denganmbahSumosesepuhkampung,merekapulangdanmembawakanoleh-olehberitakepadakeluargayangdirumah.PakJiman duduk di kursi emperan rumah. “BagaimanaPak?”tanyaEmaksembari menyodorkan segelas air putih. Tak ketinggalanFatimahyangsudahmembututi Emaknya sedari tadi. “Besokpagikitasemuaharusmengikuti ritualsesajendisendang.Sebagaiperminta maafankepadadanyang.Karenaakhir-akhir inikitatidakpernahmemberikansesajen,” jawabanBapakmembuatFatimahgeram. “Lha, itu malah mulai lagi. Sudah bagustakdiadakanritualsesajensaatsedekah bumi,kokmalahmaudilakukanlagi,”jawab Fatimah dengan bersungut-sungut. “Sudahlahnduk,kitaCumaikut-ikutan saja.Yang penting tak percaya begituan,” hibur Emak pada Fatimah. “Oh,ya.Fatimah,kamusekarangjangan sukapergikesendang.Itutadiwejangandari mbahWo.Takadayangbolehkesendangkecuali ritual sesajen,” pesan bapak lagi. “Fatimahdisendangkanmencucibaju Pak,”

24

“Bisamencucidisumurmbokdhemuto,” jawabbapaksambilmasukkedalamrumah. EmakjugameninggalkanFatimahyangmasih duduk di kursi emperan. *** Tandatanyaitumasihtersimpandalam hatinya.Musyawarahsiangtadidirumah mbahWomembuatFatimahsemakinpenasaran.Iamerasasemuayangdiyakiniwarga kampungitutidakmasukakal.Baginyatak adayangbolehdisembahkecualiAllahazza wajalla.Iapercayajikamakhlukghaibituada. Namun, itu juga sebagai makhluk Allah. UsaishalatdzuhurFatimahmenyusulBapakdanEmakyangdisawah.Iasengajatidak lewatjalanbiasanya.Ialewatgalengansampingsendangyangmenghubungkansawahnya. Meskilumayanjauh,tapiiaingintahuapa yangterjadidisendang.Jalansetapakialewati.Sesampainyadidekatsendangiasengaja mendekatisumurtuayangberadadibawah pohonbesaryangdipercayatempatdanyang tersebut. Di sendang ia menemukan puntungpuntungrokokdanbotolminumankeras. Masaiyadanyangdoyanrokokdanminuman keras?Batinnyabertanyasendiri.Iamerasa adakeanehan.Lantasiameninggalkantempatitumenujusawah.Sesampainyadisawah iaceritakansemuayangialihatdisendang kepada Bapak dan Emak. “Mungkinitusampahyangterbawaair. Di situ kan kalo hujan mesti bawa banyak sampah,” tukas Emak. “TapiFatimahharusbilangsamambah WoMak.Jikasendangitutempatkeramat, harusnyatakbolehdikotoritempatnya,”kata Fatimah dengan mata memicing. *** Airlangitmeluruhbegituderasnya.NiatanFatimahkerumahmbahSumosesepuh kampungituiaurungkan.BapakdanEmak

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Sendang - - - -

jugasudahmelarang.Saatpulangjama’ah shalatmagribdilanggar,taksengajaiamelintasikangBarsoyangsedangngomongdengan 2orangyangtakbegitujelaswajahnyakarena sedikit gelap. “Nantimalamkitaberaksilagi.Tenang, mbahSumosudahmenunggudisendang.” UcapanBarsosempattertangkapsedikitoleh Fatimah. Kendatisaatmenyebutnamasesepuh itusedikitlirih.Fatimahsemakinpenasaran. Iamerencanakanakandatangkesendang malamini.FatimahmengajakBapakuntuk menemanikesawah.Fatimahingintahukebenarannya. Suasanakampungsangatsunyi.Semua tertidurkarenahawadinginmenusuktulang. Tetesanairlangitpunbelumkunjungreda. DitengahrintikanhujanPakJimandanFatimahberjalanmenujusawah.JalanlicinmembuatFatimahsedikitkesusahanberjalan. Sesampainyadijalanyangmenghubungkan sendangdansawah,pakJimandanFatimah mendengarsuaraorangyangsedangberbincang-bincang.Dansuaraitutakasinglagi bagi mereka. “Semuasudahberesmbah.CabailikWardidapatlumayanbanyak.Yangtersisajuga sudahdisemprotobatpengering.”Suaraitu, suarayangtadiusaimaghribFatimahdengar. Suara kang Barso. “Hahahahaha...bagus.Kitaakansemakin untungdanbisaberpestasepuasnya.Warga kampungpadagoblok.Masihpercayadengan rekayasaku.Jikabeginikanakutakperlususahpayahmenggarapsawahyangtakbegitu tentuhasilnya.Kitadapatmemanenhasil sawahwargasetempat.Hahaahaha..”gelakan tawambahSumomembuatpakJimandan Fatimah geram. DugaanFatimahselamainimemangbenar.Adakeanehandantakmasukakal.KarenapakJimansudahnaikpitamdantakbisa

mengontrol,ialantassengajamempergoki mbah Sumo dan komplotannya. “Oh,ternyatakalianyangsudahmerusak tanamankita.Ternyatakalianyangsudah mencuripanenanwargakampung.”Suara pakJimanmengagetkanmbahSumodan kawan-kawannya. “Hahaha,ternyatakauJiman.Adaapa malam-malamdatangkemari?”jawabmbah Sumo tenang. “Sumo, kau tidak pantas jadi sesepuh kampungyangjadipanutanwarga.Ternyata kauyangsudahmembodohikami.Kautak ubahnyasepertianjingyangmenjilat-jilat kotoranmusendiri.Akutakakandiam.Aku akanberitahusemuawargakampungbahwa kauadalahsetanlaknatyangmencuridan merusaktanamanwarga.Bukandanyang penghunisendangyangmarahkarenatak diberisesajen.”PakJimanbersungut-sungut mengancam mbah Sumo. PakJimanlarimenujukampungdengan diikutiFatimahyangbersembunyidisemaksemak.Karenahujanyangbelumreda,membuatjalanlicin.KomplotanmbahSumotak ambildiam.MerekamengejarpakJimandan Fatimahyanglaridikegelapan.Namunarang jauhdariapinya.LangkahpakJimandanFatimahdapatterikutikomplotanmbahSumo. Fatimahterjatuhkarenaterpelesetdipematangsawah.Kakinyatergelincir.DenganlangkahtertatihakhirnyaFatimahtertangkapoleh Barso.SedangkanpakJimansudahterhadang dua orang yang lebih muda. “MaularikemanakauJiman.Anakmu FatimahsudahtertangkapolehBarso,”kata mbahSumomendekatipakJiman.Terdengar jeritan Fatimah dari kejauhan. “Bapaklarisaja.KatakanpadawargakampungkalombahSumolahyangmerampok, bukandanyangkampung!”teriakanFatimah membuatpakJimansemakinnaikdarah. Suaranafasyangngos-ngosantakdirasa

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

25


- - - - Sendang - - - -

lagi.PakJimansekuattenagamenendangmbahSumohinggaterjatuh.Tapi apadayapakJimanyangsudahtuatak bisamelawankroyokanke-duapemuda anakbuahmbahSumo.Kepalantangan menhantamperutdantubuhpakJiman berkali-kali.KinitubuhpakJimanberlumurandarah.TerakhiruntukmembinasakanpakJiman,mbahSumosengaja melingkarkantelapaktanganpakJiman dilehernyapakJimansendiri,laluiapekikanseeratmungkinsampaipakJiman tak bernapas. Fatimahmelihatdenganmatakepalanyabagaimanamerekamembunuh bapaknya. Fatimah syok. Namun, ia masihbisasedikitmerontadanterlepas darisekapanBarso,laluialari.Lagi-lagi, malamituhujansemakinderas,semua tampakgelapdanFatimahkesusahan untukberlaricepat.Langkahnyaterhenti saattigapemudasudahdidepannyatermasuk Barso. “MaularikemanakauFatimahcantik?�ucapanBarsosemakinmembuat Fatimah ketakutan. Ia tak bisa lari kemana-mana karenasudahdikepungtigaorangpemuda. AkhirnyaFatimahpuntertangkap.Fatimahmenjerit.Tapitakadasatuorang punyangmendengarjeritanFatimah karenahujansemakinderasmenyelimuti kampung. Fatimahgadisalimyangmuslimah kinijadisantapanpemuda-pemudalaknat tersebut.MerekamerenggutkesucianFatimah.TubuhdanjiwaFatimahterguncang. Antara sadar dan tidak sadar.

26

Malamitu,semuapenghunilangitbersedih.Bulantakmaukunjungkarenaterkalahkanlangithitam.Malaikatmelaknatmanusia-manusiayangberbuatbejatitu.Fatimah pulangdengantubuhgontai.Pikirannya mengambang.Tatapanyakosong.Kerudung yangmenutupauratnyaterlepas.Diatakmau berbicarasepatahkatapun.Tentangkejadian yangterjadi.Tentangsesajensendangyang dipercayamembawaberkah.Dantakada yangmampumengobatisakitnya.Sakityang taksekedartergoressebilahbelathitapisakit yang terus membekas selamanya. *** Malam itu Leni tertidur di dampingi Emaknya.Gadiskecilyangmanisdanberkerudungitumerasaprihatindenganceritambak Fatimahyanggila.Sebelumiaterhanyutdalammimpi,iaberjanjipadaEmaknyatakakan bermainlagikesendangitu.Karenaiatakut danyangsendangterganggu.Wallahu’alam. Blora, April 2012

UmiSofijatiatauOfieJati,lahirdiGrobogan, 5 Maret 1991. Mahasiswi STAI Al MuhammadCepu-kampus2Kunduran,jurusanPendidikanAgamaIslam.Berdomosilidi BloratepatnyadesaCokrowatiRT001/RW002 Todanan-Blora.Menuliscerpen,artikel,dan cernak.Beberapakaryanyapernahdimuat dimediamassa.SalahsatucernaknyatergabungdalamantologikumcernakCita-cita Cinta (Merdeka MediaYogyakarta:2012)

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Resensi

Octavio Paz dan Puisi

Judul : The Other Voice Penulis : Octavio Paz Penerbit  : Komodo Books Tebal : 206 halaman Resentator : Rohman Kusriyono Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

27


- - - - Octavio - - - -

B

agi seorang Octavio Paz, puisi barangkali merupakan suara lain (the other voice) yang memiliki kemiripan dengan revolusi dan agama. Ia disebut sebagai suara yang lain karena ia adalah suara hasrat-hasrat dan visi-visi. Ia berada di dunia yang lain dan di dalam dunia ini, tentang hari-hari pada masa lampau dan pada hari-hari sekarang, suatu kekunoan tanpa titimangsa. Puisi mampu menjadi sesuatu yang terus mempertanyakan yang tak terkira, suara lain terhadap perkembangan zaman yang seringkali tak mempertanyakan ihwal yang baru maupun modern. Dalam tradisi modernitas dan pemberontakannya, puisi menduduki tempat yang utama, sentral dan sekaligus eksentrik alias aneh. Dikatakan sentral karena sudah sejak awal ia merupakan bagian yang esensial dari arus besar dan subversif yang berlangsung di abad ke-19 dan ke-20. Hampir semua penyair besar kita sekali-dua kali dalam hidupnya telah berpartisipasi dalam gerakan-gerakan emansipasi. Puisi modern memiliki keunikan bahwa puisi-puisi itu lebih merupakan ekspresi realitas dan mimpi-mimpi yang berakar lebih dalam ke masa lampau ketimbang pada geometri-geometri intelektual kaum revolusioner dan penjara-penjara konseptual dari kaum utopia. Salah satu perbedaan paling besar adalah bahwa puisi menyentuh batas paling menggemparkan dari visi suatu agama. Untuk alasan ini telah tampil silih berganti antara yang revolusioner dan yang reaksioner. (hal. 192)

28

Dalam esainya yang berjudul “Penyimpangan dan Penyatuan”, Paz mendaras bagaimana modernitas lahir dari sikap kritis yang ditujukan pada agama, filsafat, moral, hukum, sejarah, ekonomi, dan politik. Lantas setelah itu modernitas menjelma “perahu” dengan seabreg barang muatan seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kebebesan, demokrasi, revolusi, kemajuan, dan kapitalisme. Puisi yang sejatinya milik suatu kelompok masyarakat selalu mengambil perannya dalam kesadaran masyarakat. Ia terlibat mendampingi program besar modernitas yang bercita-cita memudahkan segala hal tentang hidup dan kehidupan. Pada saat tertentu puisi mempertanyakan kembali cita-cita itu dengan suara berbeda ketika kebanyakan orang mengamini segala apa pun tentang modernitas tanpa pikir panjang. Puisi dan Pembaca Mengingat gagasan-gagasan dan wawasan-wawasan, atau lebih tepat dan paling baik disebut harapan-harapan, maka pertanyaannya harus diajukan secara inisial: “Siapa yang membaca bukubuku puisi?” Dulu, para pembaca puisi termasuk kelas penguasa: warga Yunani, bangsawan Romawi, dan para equites, golongan pendeta abad pertengahan, anggota istana zaman Baroque, dan para intelektual borjuis. Dalam beberapa kasus, pembaca-pembaca puisi tersebut adalah penguasa-penguasa yang sesungguhnya, penguasa besar seperti Pericles, Augustus dan Hadrian; atau penguasa

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Octavio - - - yang lemah tapi sensitif seperti Philip IV (“raja kita yang baik”, seperti disebut oleh Manuel Machado) dan kaisar yang bernasib malang, Hsuan-t’ung, atau despot yang mendapat pencerahan, Frederick Yang Agung. Perubahan-perubahan besar terjadi pada abad Modern: sejak era Romantik para pembaca puisi –seperti para penyair itu sendiri- telah menjadi penyendiri dan pembangkang (loners and dessidents). Penyair-penyair dan pembaca puisi borjuis berdiri sebagai penentang, memberontak terhadap latar belakang mereka, dan etika dunia mereka. Ini adalah salah satu dari kesemarakan yang paling tak terbantahkan dari kaum borjuis, kelas sosial yang merebut kekuasaan dengan senjata pemikiran-pemikiran yang kritis dan yang tidak pernah berhenti mempergunakan senjata tersebut untuk menganalisis dirinya dan pekerjaannya. pengujian terhadap hati nurani dan penyesalan mendalam yang menyertai hal itu, merupakan suatu warisan dari agama Kristen yang telah menjadi atau merupakan pengobatan paling mujarab dalam menentang penyakit-penyakit peradaban kita. Pertanyaan yang kita luncurkan di depan —berapa banyak dan siapa saja yang membaca puisi— tak lain tak bukan tentu dibatasi oleh pertanyaan tentang kelangsungan hidup puisi dalam dunia modern. Dan pertanyaan itu pada gilirannya juga dibatasi oleh suatu yang leb-

ih mendesak, kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri. Puisi yang dibangun di atas persaudaraan dari elemenelemen, bentuk-bentuk, dan makhlukmakhluk jagat raya ini, merupakan suatu model dari kelangsungan hidup tersebut. Hugo menyatakan itu dalam frasa yang gemilang: Segala sesuatu mencari segala sesuatu, tanpa tujuan, tanpa akhir, tanpa henti. Hubungan antara manusia dengan puisi sama tuanya dengan sejarah kita: ia mulai ketika manusia mulai menjadi manusia. Pemburu pertama dan pengumpul bahan makanan pertama pada suatu hari memandang kepada diri mereka dengan rasa heran. Hal ini berlangsung sejenak namun tak berkesudahan dan melahirkan aliran-aliran air teduh sebuah puisi. Sejak saat itu orang-orang tidak berhenti memandang kepada diri mereka pada cermin itu. Dan mereka telah melihat pada diri mereka sendiri, pada suatu waktu dan waktu yang sama, sebagai kreator citra-citra dan sekaligus sebagai citra-citra ciptaan mereka sendiri. Untuk alasan itulah, bagi octavio paz— seseorang dapat menyatakan dengan sedikit kepastian, bahwa selama di sana masih ada orang, ada manusia , maka di sana akan ada puisi. Lahir dari imajinasi manusia, ia bisa saja mati sekiranya imajinasi mati dan dikorup. Jika manusia melupakan puisi, mereka akan melupakan diri mereka. Dan, akhirnya, kembali kepada kekacaubalauan semula.n

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

29


Cerita Pendek

l i c e k n

a s u k u g r i n b u a B B

30

n r a erw

Cerpen Irma Muflikhah

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Bungkusan - - - -

T

ak sanggup lidahku berucap. Laksana terhantap batu dari atasgunung.Melepaspandang. Menatapwajahyangtakbegituputih. Melukis tiap lekuk wajahmu dalam memoriku. Untukbeberapamasakitaberdiri tanpasuara.Sorotmatabegitutajam menusukrelunghati.Sampaisaatkau mengambilranselmu.Bergegasmenuju peronpemberangkatan.Sembarimelempar senyum yang aku yakini itu sebuahketerpaksaan.Kubalassenyum itu dengan tetesan air mata. Segera kau berbalik arah dan perlahanmeninggalkantempatkuberdiri. Melihatpunggungmuyangkianmenjauh. Tiba-tiba kudapati mataku tak lagi mampu menjangkau tubuhmu. Kaumenghilangbersamahilirmudik manusiayangtakkutahutujuannya. Mulai detik ini sampai batas waktu yang tak dapat kuperkirakan. Ada sebuahkondisiyangmemaksakitaharus berpisah. Kini kau akan memulai hidup baru. Bersamaorang-orangyangasingbagimu.Disebuahkotayangbelum pernah kau jejaki. Dengan atmosfer yangsangatkontrasdengankehidupan lalu,disini,bersamakusertasanakkerabatmu. **** Bahkan mentari pun turut kehilanganmu.Iaengganmenyapaorang-

orangdengansenyumkhasnya.Malah memilihbersembunyidibalikkelabu. Yangmenyelimutiseluruhnegeri.Menimbulkan dentingan air dari langit dibarengipetiryangmenyambar.Dari balikjendelakamar,kusaksikanribuan meter kubik air melintas dari saluran airdepanrumah.Naikdanmenyebar rata di seluruh pekarangan. Tirai merah muda meliak liuk layaknyapenari.Kulayangkanpandangankeluarsambilmenyimakketukan airtempiaskekaca.Memasukanpercikan-percikanairdarijendelayangsengaja kubuka. Biasanyakitadengansengajabergegasmenujujendela.Menyaksikanbetapabahagiapepohonanmengobati dahaga.Melihathalamanyangberubah menjadikolamsembarimenutupkelopak, menahan air menyerbu mata. Kinibukandiluarsajayangmenurunkantetesanhujan.Hujankiniberpindah mengguyur pipiku. Semejak keberangkatanmuwaktulalu,sepasang matainibagaimataairdipegunungan yangselalumerembesitanahdisekitarnya.Takhenti-hentikeluar.Sepertinyapetani akan kesulitan mengairi sawahnya.Karenahujanlagi-lagihanya tirundiwajahku.Kumonopolisendiri. Seperti kabarmu yang selalu kau simpansendiri.Semakinjarangberbagi dengan ku. Kucoba cari, ku hubungi kau.Tetapihasinyanihil.Mampaknya

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

31


- - - - Bungkusan - - - -

kau sibuk dengan pekerjaanmu. *** Dariatasbalkon,tanpasengajaku pandangburung-burungtengahkesana kemari.Kepakansayapnyamelambailambai.Sepertitanganmuyangmelambai. Entah sudah berapa jam sejak lambaianterakhirmu.Rasanyasudah sangatlama.Matakutakhentimenatap telfonseluler.Takberderingsekalipun. “Kalau-kalau terjadi sesuatu denganmu,”otakkuterusmelancarkanpertanyaan-pertanyaananehtentangmu. Ku jawab sendiri kegelisahanku. “Mungkin ia masih sibuk,”gumamku menenangkan diri. Dengankemajuanteknologisaatini jaraktakmenghalangi.“Tohkitatetap dapatberkomunikasi,”pikirku.Selalu kalimatituyangakulontarkanuntuk menghilangkankegelisahan.Telfon,pesansingkat,ataupunelektronikbahkan jejaringsosialdapatmenjadiperantara kita. Kurebahkan tubuh dalam busa berukuran160X200cm.Secarikkain bermotifsakurayangmembungkusnya.Agaksedikitberantakan.Sekilas, dalambilikberwarnabirulautterlukis parasmu.Sambilmelambaikantangan danberucapsatukalimat.Terusmengganggu mataku. Hingga begitu sulit dipejamkan.Kupaksakankelopakmata untuk menutup. Tetap saja. Hingga malam hampir mendekati fajar. 32

Belumsempatakumembukapuntu mimpi,tiba-tibaterdapatsesuatuyang mengagetkanku.Terdengansuarayang takasingditelinga.Tersadartelfonselulerku berbunyi. Segera ku angkat tubuhku. Ku raih ponsel di atas meja. Penuhsemangatmejawabtelfon.Dan ternyatakauyangberadadiseberang sana. “Bagaimanakeadaanmu?Kaubaikbaik saja? Apa yang sedang kau lakukan?” “Hey,sabarNeng,pelan-pelanbicaranya.Akubaik-baikdisini.Danakanselalu baik jika kau baik di sana.” Masihbanyakpertanyaanyangbelum terucap. Hingga tiap kata yang hendaktertlontarberebutuntukkeluar. Sakingsenangnyahinggataklagimampumerangkaihurufdemihurufhingga menjadikalimat.Yangadahanyadiam terpaku.Mendengarkandenganjelitiap kata yang terucap dari lidahmu. Sepertimendapatanginsegar.Meski takmampubersapalangsung,suaramu telah mewakili ragamu. Malam berikutnya ponsel butut warna biru itu berceloteh. “Kring kring kring.” Aku yang tengah berada di ruang tengahberlarimenujukamarmenyerbu sumber bunyi itu. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” “Sudah pulang? Bagaimana hari

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Bungkusan - - - -

ini?” kataku. “Tak ada yang istimewa tanpa kehadiranmu?” Kamisalingberbalaskalimat.Berjam-jambendaelektronikinimenempelditelingaku.Salingbergantiankiri kanan.Sampaipanastelingaku.Berkisahmengenaiapapun.Berbincanghal ringansampaiberdiskusiisu-isuyang berkembangdimasyarakat.Takjarang, berbicaradalamkeadaansetengahsadar.Begituberlanjuthinggatriwulan pertama.Tetapi,tidakuntukbulan-bulanselanjutnya.Entahtelahberapakali purnama keluar. *** Mentariyangmenyapahangatpagi initakmampuciptakansenyumdibibirku.Dalamsetahuninihari-hariberlalutanpagairah.Kaujugatakkunjung pulang.Atausekadarmenengoksebentar. Akupunmencobabersabar.Mencobaberaktivitasnormal.Hanyapekerjaanyangmengalihkanperhatiankudarimu.Aktivitaskuteraturolehsistem. Akuhanyamelakukansesuaijadwal. Bekrja,pulang,tidur.Dankembalilagi bekerja,demikiansikluswaktuberlangsung. Saat tengah konsentrasi dengan pekerjaanku,tiba-tibarekankerjamengagetkanku.Memberikaninformasi yang tak biasa. Katanya kau akan pulang dalam waktu dekat.

“Oh,”kagetbukankepalang.Informasiinimengguncangjiwaku.Gemetar kakikusampailemas.Lidahkuterkunci. Keringatbercucuran.Bahagia,kaget, haru pilu melebur bersatu padu. “Udahdach,gakusahbercanda.Gak mempanakudengangurauanmu,aku takakanberharapkosonglagi,”kataku takyakinpadatemanku.Meskidalam hati sangat berharap berita ini benar adanya. “Kaliiniakutidakbohong.Akubaca distatusjejaringsosialnya,”kautetap berusaha meyakinkanku. Terus meyakinkanku. “Ayo lah, percaya padaku kali ini.” Akutetaptakyakindenganucapannya. Aku takut dia memberi harapan kosong.Diamemangterkadangsuka begitu, untuk menghiburku. Berlaluhariitutanpakejelasandari sahabatku.Sesampaidirumahakusangatberharapbenar-benaradaberita kepulanganmu.Tapiakutaktahuharus menanyai siapa. Kelap-keliplintangmenaburiangkasa.Tersenyumpadaku.Tiraijingga kotor penuh debu membuka tanpa sengaja.Lampurumahtetanggatelah padam.Menegaskanmalamtelahlarut. Rasadinginkianmencekam.Tubuhku nampaknyatakinginmasuk.Takmerasakanhawadingin.Meskikantuktelah menyapanamunkakitakmaumelangkah. Ku biarkan saja. Sampai malam

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

33


- - - - Bungkusan - - - -

bergantifajarakutetappadatempatsemula. Akuhanyasempatmemejamkanmata beberapamenitsaja.Ketikakulihatjam, akuharussegerabergegasmenujukantor. Mataterasaberat.Mungkinkarenaefeksemalam. Dalamperjalananakumasihkepikiran perkataan temanku kemarin siang.“Entahlah,”pikirkudalamhati.Sejujurnyaaku sudahpasrah.Ataulebihtepatnyafrustasi. Hanyakeajaibanyangmembawamupulang.Dansepertinyakeajaibanitubenarbenardatang.Atauakuberhalusinasi.Oh, tidak. Aku tidak sedang bermimpi. Kau, benar-benarkau.Kaubenar-benarpulang. Kaukembali.Kembalidihadapanku.Menghampiriku. Kita bertatap membisu. Aku sibuk memperhatikanwajahmu.Takadayang terlewat. “Apayangsedangkaulakukan,kautak bersuara. Sungguh aku menunggu kau berbicara,” aku berguman sendiri. Sekian menit terpaku.“Mungkin kau terpanamelihatku.Hahaha...akumasih seperti dulu, saat kau tinggal di peron,” kembali hanya mampu bersuara di hati. “Hai, apa kabar?” kau mencoba menghidupkan suasana. Aku masih terpaku. Kaumasihyangdulu.Gayamumemandangku.Tak berbeda. Pun dengan hati. Sama sekali tah berubah. Sekiranya itu yangkuharap.Kujawabpertanyaanmu 34

denganberbisik.Begitugirangnya sampai suara cempreng yangbiasakeluardarimulutini belum terdengar. Kauberusahamemecahkecanggunganini.Berbicara,menanyakankabar.Seketikasuasanakembalihidup.Kitasaling melepasrindu.Berbincang,bertukarkabar.Akumenyampaikan pertanyaanyangtelahterdaftar sejakkepergianmu.Bertanyaini itu tak karuhan. Kau pun menjawabdenganlancar,tanpakomentarapapun.Membiarkanku terus mengintrogasimu. “Neng,maaf,”matamumenatapku tajam. “Kenapa?” balasku. “Aku telah membiarkanmumenunggu.Sekarangaku kembali.Tapitakbenar-benar kembalipadamu.Akukembali untukpergi,”pelandanbegitu menyayat hatiku. Ada sesuatu yang menghantamwajahku.Balatitajam menusukhatiku.Keringatdinginbercucuran,wajahgembira seketika berubah pucat pasi tanpaadaalirandarahbergerak. Membeku. Kaki lemas. Belum sempatakumendeklarasikan kebahagiaanku.Belumsempat kemembagiceritamu.Haruskah

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Bungkusan - - - -

ku kehilanganmu kembali. “Apa maksudmu?�ku pinta penjelasan. Tak banyak kata yang kau ucap. aku meminta penjelasanmu.Tapi kau tak berminat untukitu.Tiba-tibakaumerogohsaku.Mencaribarangdidalamnya.Nampaknyakautak mendapatinya. Kau cari dalam ransel hitam kecilyangtergendongdipunggungkokohitu. Wajahmuagaklega.Sepertinyaapayangkau cariketemu.Yabenarsekali.Bungkusankecil berwarna biru dengan pita yang agak mencolokmembalutnya.Tidakbegiturapi.Mungkin terkena barang lain di tas. Kaumengambilnya.Menaruhbungkusan tadidipangkuanku.Tanpakalimatyangmengiringi penyerahan kotak itu. Kau bergegas merapikankembalitasbawaanmu.Berdiridan berbalik badan. Aku masih terpaku dengan keadaanini.Taksadarkepergianmu.Mataku kaburbersamaanginyangmeniuptelingabegitu halus.Tiba-tiba ku menyadari kau telah jauhdarijangkauanku.Dansemakinlamasemakin kecil sampai tak terlihat lagi dari bola mataku.

--Irma Muflikhah Warga Soeket Teki

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

35


Puisi

yang tak terucap Barangkali, selamanya tak akan kau temukan makna cinta selain kata-kata. hanya rasa yang sekadarnya saja. namun lidah tak berhasil mengucapkan dengan sempurna. tak sedalam gelapnya hampa, tapi akal tak pernah sampai untuk menggapai. Hanya hati yang selalu bergejolak. sedangkan bibir yang berucap tak berhasil mengungkapkan isi yang lebih mendalam dari gejolak yang ada. Lalu pada suatu kali kau hanya diam dan menjalani. tak lagi peduli pada yang sesungguhnya memiliki arti. bahkan selamanya kau hanya meyakini bahwa makna cinta hanya bisa kau mengerti dalam hatimu sendiri.

--Hammidun Nafi’ Syifauddin, Warga Soeket Teki

36

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


~ ~ ~ Puisi ~~~

Di ujung jalan itu‌! Di ujung jalan itu, Ketika udara mulai senyap dan terhenti sejenak Pelan, meliukkan sebatang alang yang layu Seakan membuat nurani terbelalak menyekat Di ujung jalan itu, Ketika langkah-langkah para pejalan beristirahat Mengayun, menyembulkan sketsa penghujung Seakan membuat angan tercengang akan giat keadaan Di sudut jalan itu, Langkah itu mulai terderap Mensketsakan masa depan yang semakin suram, Yah, di sudut jalan itu Masa depan kan berlalu

--Azed Yayah D. Nihayah, Warga Teater Metafisis

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

37


~ ~ ~ Puisi ~~~

Sesaji malam ini… Hooooooeeeee… Ya’eeeeeee… Gelak tawa menyeruak.. Mengakak lepas terbahak-bahak… Eeee…a…..eee… kami rampok canda malam ini tawan…tahan….jangan lepaskan… Teriakkan….tertawakan… Yah…..kabut  canda tebal tertata, Menyelimuti malam dengan setumpuk bahagia… Bebas…lepas…..dan dahsyat…. Ya ya ya… Lenyapkan segala penat dan takdir sesat... Lupakan neraka meski hanya sesaat Bawalah candu agar malam di penuhi hasrat Maka… Jarah-lah sesaji agar pelukan ini semakin hangat...

Jarahlah sesaji agar nafsu bertaut semakin erat… Ya,,,,,Kita butuh sesaji… Tapi aku berkata “tidak” untuk ayam mati… Aku berkata “tolak” untuk bunga melati. Aku berkata “muak” untuk sepincuk nasi Dan aku-pun berkata “terima” untuk secangkir kopi... Hanya kopi…Bukan yang lainnya… Untuk menebus kerinduanku pada”nya”… Ketika kita Bersulang bersama… membaca masa dan dunia…

--Jihan Avie Yusrina Pegiat Beranda Sastra Edukasi (BSE)

38

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Sajak malam 

untuk Mata Bidadari

Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

39


- - - - Sajak Malam - - - -

seperlabuhan Matahari kau diam barangkali pikirmu adalah kapas diterpa badai jangan mimpimu terlalu khayal sebab tak tentu darat untukmu berlabuh jangan kau lukis terlalu indah itu yang dalam angan seperlabuhan Bulan kau cepatlah terpejam

M

elantunkansajakitu,yangkembali terlintas adalah mata indah dari balikjendelamalamitu.Rambutnya terurai di bahu. Duduk di sampingnya adalah seorang lelaki penuh renjana. Lelaki itu berdiriuntukmenutupjendela.Hanyasesaat, jendelaitukembaliterbuka.Siapalagiyang membuka kalau bukan gadis itu. AkududukdibawahTrembesiseberang jalan.Jaraknyahanyabeberapalangkahdari jendela itu. Dari bawah Trembesi ini bisa kugambarkandenganjelasbagaimanaraut mukalelakiitu;rautmukayangmenyimpan renjana yang kian memuncak. Dia berdiri. Menatapgadislembutitudengantatapmata kasar.Tangannyamengayuhjendela.Jendela kembali tertutup. Tak ada apa-apa selain gelap. Benangmerahdalamhidupnyatelahdimulai.Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain membiarkanmatatertutupdengansedirinya. Kemudianmimpi-mimpiburukdatangsilih berganti. *** 40

Anginberhembusmenggetarkan ranting-rantingTrembesi.Daunyang sudah lewat usia segera undur diri. Melayangsejenakkemudianterlenadi tanah. Rombongan daun lain segera menyusulsetelahanginkembalimenggetarkanrantingtempatmerekabersandar. Dengananginitu,sehelaidaunmenyeberangijalan.Melayang.Berlenggaklenggok mendekati jendela sebuah kamar.Tepat di pipi gadis yang masih lelap,daunitumendaratkantubuh.Gadis itu terbangun. “Malangsekalinasibmu.Warnamu masih hijau tapi sudah gugur sepagi ini.” Gadis itu beranjak dari jendela. Diletakkannya daun itu di tempat khususdiatasmeja.Matanyamenatap tajamcerminbesardiatasmeja.Lama dia melakukan itu. Yang nampak di matanyaadalahwajahpenuhkebencian. “Ya ampun, mau sampai kapan kamu mengagumi wajahmu seperti itu?” Gadis itu menatap bayangan di cermin. Wanita paruh baya berdiri di balik pintu. Gadis itu paham, induk semangnya memberi aba-aba agar segera mandi dan sarapan. “Dia datang jam Sembilan,” katanya,sambilmengalungkanhandukdi bahu gadis itu. Gadis itu beranjak ke kamar mandi.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Sajak Malam - - - -

“Ohiya,janganlupa,jamsatudanjam delapanmalam.Merekapelangganbaru, kamu harus maksimal.” Gadisituberlalu.Matanyahanyamelirik daun hijau tadi. “Tuh, kan, kini kamu tahu. Beginilah nasibkakakmu.Bukankahkamuberuntungbisagugurlebihawal?”katanyadalam hati untuk daun itu. *** Rambutsetengahbasahterurai.Kulit lembut itu bagai bersinar setelah basah menghilang dari kulitnya. Bibir yang semulamerah,kinimakinmerona.Gadisitu dudukdidepancermin.Dicarinyakembali senyumyanglamahilang—tersenyumuntuk dirinya sendiri. “Dia sudah di bawah,”bisik induk semangnya, berdiri di balik pintu. “Tapi kamu sarapan dulu,” katanya. Kepulan asap rokok keluar dari sela bibir penuh gincu itu. “Senyum dong, ntar dia kabur lho,” mulutnya kembali mengepulkan asap. Gadisitumelengkungkanbibir.Tetap terlihat manis meski senyum buatan. “Nah, gitu bisa.” Gadisitumenurunitangga.Tampakdi ruangdepanlelakimudapenuhrenjana. Sorotmatanyaadalahberahi.Desahnafasnyaadalahnafsuyangmeluap.Sedikitpun gadis itu tak menghiraukan. “Ssst.. st, st,” induk semangnya mendesis.Bahunyamenyenggol-nyenggol gadis itu; pertanda bahwa dia harus tersenyum.

Gadis itu mengerlingkan mata. Melihat sejenak ke luar rumah kemudian menatap lelaki itu. Bibirnya tersenyum. Lelakiitumembalasnyadengantatapan berahi. Hari-hari dengan narasi yang sama kembali menyapa gadis itu. Dan yang dikisahkan hanyalah soal tubuh. Indah bentuk tubuhnya hanyalah celah bagi air mata untuk menemu jalan, menetes membasahiseluruhhidupnya.Gadisitu memejamkanmata.Takdirasakannyalagi hidup. Matanyahanyabisaterpejam.Ketika membuka mata, yang dilihatnya hanya lelaki-lelaki penuh renjana berahi. *** Aku berdiri di bawah Trembesi. Dari jendelayangtransparanterlihattangan gadis itu menyapukan kuas pada lekuk matanya.Kemudianmeratakangincudi bibir. Menurunitangga,matagadisituterus menatap pemuda di ruang depan. Ditatapnyawajahpemudaitudalam-dalam. Sampai anak tangga terakhir, matanya masih menatap pemuda itu. “Kamu yang sering duduk di bawah Trembesi itu kan?” katanya penasaran. Aku diam. Aku menatap matanya sebentar.Benarsekali.Ituadalahmatabidadari. Dia memalingkan pandangan. “Hmhh, semua lelaki sama saja,” desahnya pelan. Di wajahnya tergurat kecewa.Barangkalidiamengiraakuberbedadarilelaki-lelakiyangpernahdatang padanya.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

41


- - - - Sajak Malam - - - -

“Oh, tenang mas, tenang, begitulah memangsikapnya.Tenang,tenang,silakan kamarnyadiatas,”matainduksemangnya menatapgadisitukemudianmelempar pandangankeatascepat.Diamelakukan itu beberapa kali. “Ingat pesanku baikbaik!”perempuanitumemperingatkan. Gadisituberjalandidepanku.Menuju sebuah kamar, melalui lorong temaram.Tanganlembutnyamemegangpembuka pintu.“Silakan masuk duluan,”dia tetapmempertahankansenyumpalsunya yang indah. Aku masuk ke dalam kamarnya yang wangi.Pemandangannyaberbedadengan pemandangandariluarjendela.Gadisitu menutup pintu. “Jadi ini kamar yang selama ini hanya aku lihat dari jendela.” “Langsung saja mas, aku tahu yang kamu inginkan,”gadis itu merebahkan tubuh. Aku menatap mata bidadarinya. Dia tak melihatku. Pandangannya tertuju pada kotak kecil. Ada daun hijau hampir keringdisana.Akukembalimenatapgadis itu. Kini dia menatapku. “Jika kau lelah, istirahatlah,” kataku. Gadis itu serta merta duduk. “Maksudmu?” “Tidurlah jika kau lelah.” “Bukan itu maksudku, kamu datang kesini hanya untuk menyuruhku tidur?” “Yang jelas aku kesini tidak untuk tidur denganmu.” “Maksudnya tidak meniduriku?” 42

Aku mengangguk. “Lalu buat apa kamu membayar mahal?” Akumerasatakadajawabanyangtepat. Aku diam. “Tidak masuk akal. Baiklah kalau begitu,sekarangkamupulangsaja,uangmu akan aku kembalikan.” “Tidak, tidak. Aku kesini untuk membicarakan hal lain selain tubuhmu.” “Maksudmu?” “Maksudku, kita melewati malam ini tanpa berahi.” “Aneh,sudah,pulanglah,uangmuakan aku kembalikan.” “Baiklah, baiklah, sekarang kau tahu aku sudah membayarmu. Itu berarti kamu harus menuruti permintaanku!” Gadis itu diam. Dia merasa katakatakuadabenarnya.Akujugadiam.Antaraakudandiasepertibaru sajaterlibat dalampertengkaran.Kamaritumenjadi hening. *** “Daribalikjendelaitu,akumelihatmu sibuk mengurus nafsu para lelaki.Dan sekarang,daridalamkamarini,akuingin melihatmu istirahat.” “Jujurakubelummengertimaksudmu mas.” “Makanya kau jangan mempersulit. Bukankah sebenarnya kita saling mengenal? Kau mengenalku sebagai pria di seberangjalan.Akumengenalmusebagai gadis di balik jendela.”

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


- - - - Sajak Malam - - - -

Gadis itu mengangguk. “Lalu, maaf, sebelumnya apakah terlalu tidak sopan jika aku bertanya siapa namamu?” “Panggillahdengansebutanapasaja, sesuka hatimu mas.” “Baiklah, aku akan memanggilmu terserah. Ah nanti saja. Apa kau suka sajak?” “Maksudnya puisi?” “Iya.” “Aku jarang membaca puisi. Setiap hari yang aku lakukan hanya...” “Iya, jangan teruskan, aku sudah tahu.” “Terus, buat apa pertanyaan tadi?” “Aku punya sebait puisi.” “Baiklah,akuakanmendengarnya,”bibirnyatersenyum.Yanginibukansenyum buatan. Rasanya ada angin berhembus menerpa wajahku. sajak malam :untuk mata bidadari kepadamu gelap, tempat segala duka bersandar. kau derita tak mengenal ujung. kau sembunyikan nestapa di balik renjana. kau yang waktu itu mengutus angin, untuk menyampaikan kabar kepada daun-daun, bahwa yang menetes itu adalah air mata. Kemudian di pagi hari daun itu berguguran. dalam gelapmu aku berbisik. inilah duka. mengering sudah air mata yang kau minta.

“He he he he he he he.” “Kenapa tertawa?” “He he, aku tidak tahu maksud puisimu mas.” “Ha ha ha ha ha,” aku tertawa keras. Diatersenyum.Perbincanganmalam itu berlanjut dengan gurau senda. Aku menemukansenyum-senyumyangindah. Dalam satu dan lain kisah terkadang gadis itu meneteskan air mata. *** Mataharicepatsekaliterbit.Gadisitu masih ingin terus bersenda gurau. Dari balikpintu,induksemangnyamendeham. Waktu telah habis. “Aku berharap kamu sering ke sini mas.” “Akujugaberharapkaubisaberistirahat seiring kedatanganku.” Akumendekatipintu.Gadisitumenatapku.Dirangkainyasenyummenawandi bibirnya.Ituadalahsenyumpalingindah. Tatapan mata itu adalah tatapan mata bidadari. *** Aku selalu mengingat puisi itu. Puisi yangdibacakanseoranglelaki.Lelakiyang setiapmenjelangmalamdudukdibawah Trembesiseberangjalan.Kiniduatahun berlalu.Namuntaksekelebatpunbayang tubuhnyaberdirilagidisana.Hanyapuisi ini yang ditinggalkan di malam itu. Yang masih aku ingat adalah dia berjanji akan datang lagi. Barangkali dia lupa? atau barangkali dia tak mengerti

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

43


bahwasaturasayangtakbisaku jelaskandengankata-katatelah tumbuh dalam hati. Dia belum kembali. Akutakpernahmenutupjendela. Kau tentu tahu alasannya teman.Akuinginterusmenatap Trembesi di seberang jalan itu, berharapdiatiba-tibaberdiridi sana.Tapitakpulahalituterjadi. Lelakiyangdatangselalusaja lelaki-lelakibusuk.Takkutemui lagi lelaki macam dia. Kusempatkan berjalan ke luar. Duduk di bawah Trembesi.Mengenangdiayangdulu pernah duduk di sini. Sambil mencari sisa-sisa yang lebih mirip bayang di balik kabut. Mataku menatap tajam setiap orang yang lewat, berharap menemukanwajahyangselama ini kucari. Sekali lagi, kupusatkan perhatianku ke segala penjuru. Menangkaprautparalelakiyang tak bisa kupaksakan memiliki hakikat yang sama. Begitulah yangkutahu.Adalelakiyangdalamdirinyahanyanafsusemata. Sementaralelakiyangkutunggu ini, sempat kulihat hati bersemayam dalam dirinya.

Hal yang paling benar dari semua ini hanya penantianyangtakpasti.Sebab,kenyataanyang kudapati adalah dia tak pernah datang untuk ke duakali.Untukitulahkuyakinkandirikusekalilagi, untukmenganggapberbagaimacamharapanitu hanyasebagaimimpi.Lalukuucapkanselamattinggalkepadabayang-bayangyangsempatmenumbuhkan harapan dalam diriku. Selamat tinggal untuk selamanya. *** Jika dirimu masih mata bidadari, dan jika kau masihmengingatku.Betapabanyakhalyangingin kuceritakan.Segalahalyangkauceritakanmalam itu menumbuhkan semangat bagi diriku untuk berbuat sesuatu atas nama kemanusiaan. Bagaimana dirimu dulu dijual. Oleh seorang ayah yang seumur hidupmu kau akan mengutuknya. Dikurung, dan diperlakukan layaknya hewankesayangan.Tapibagaimanapunsayang yangdimaksud,tetapsajalayaknyahewan,bukan manusia. Janjiyangtaksempatkuucapkankepadamu adalah, suatu saat aku akan datang untuk satu hal yang belum kau ketahui. Kau dulu dijual ke perempuan itu. Jika tiba saatnya, akan kuganti uang itu dan kau bukan lagi hewan kesayangan. Terserahapayang akankau lakukan. Barangkalikauharusbelajarhiduplayaknyaperempuan. Tak ada salahnya hal itu mulai kau pikirkan. --Semarang-Magelang-Semarang,November 2011-Januari 2013 --Hammidun Nafi’ Syifauddin Warga Soeket Teki

44

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Namamu Seperti hasil pembagian antara angka satu dengan nol, : mulut ini ucap kau Semarang, 02.2012

Kehadiran aku basah, kau mata : di tiap kedip Semarang, 08.2012

--Akhmad Baihaqi Arsyad Warga Soeket Teki


“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya� --Pramoedya Ananta Toer

Surat Kabar Mahasiswa

AMANAT

Untuk mahasiswa dengan penalaran dan taqwa

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Majalah Soeket Teki Edisi 7  

Majalah Soeket Teki Edisi 7  

Profile for skmamanat
Advertisement