Page 1

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa




Penerbit: Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT IAIN Walisongo Izin Penerbitan: SK Rektor IAIN Walisongo Semarang No. 026 tahun 1984 ISSN:0853-487X Pelindung: Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA (Rektor IAIN Walisongo) Pembimbing: S Prasetyo Utomo, Prie GS, Triyanto Triwikromo, Joko J Prihatmoko, Ajang ZA, Joko Tri Haryanto, M. Munif, Rosidi, Siswanto, Pujiyanto, M. Olis,Wahyu Agung. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Munaseh Pemimpin Redaksi: Musyafak Dewan Redaksi: Amin Fauzi, Farih Lidinnilah, Fany Setyaningrum, Munaseh, Nanik Kurniawati, Siti Muslimah, Siti Lestari. Penata Letak: Musyafak Dokumentasi Naskah: Suhardiman Sirkulasi: Sutarjo Alamat Redaksi: Jl. Prof. Hamka KM 3 Semarang 50185, SKM AMANAT PKM Kampus III IAIN Walisongo Semarang. E-mail: skmamanat@yahoo.com Blog: www.suketteki.wordpress.com



Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Sapa Redaksi

Nurani E(ste)tik

Orang-orang dengan kesedihan mendalam menunjukkan diri mereka (benar-benar ada) saat bahagia.” Demikian diungkapkan Friedrich Nietzsche, filsuf asal Jerman. Bahwa, orang-orang dengan penderitaan tingkat tinggi memiliki cara untuk menangkap kebahagiaan seolah-olah mereka ingin menghancurkannya kembali karena sadar betul kebahagiaan itu akan lari jauh (lagi). Orang-orang macam itu tahu penuh, kebahagiaan bukanlah hal pasif, apalagi konstan. Sementara, penderitaan adalah mutlak sebagai punggung jalan untuk mengejar kebahagiaan yang terus lari dan hilang di tiap-tiap tikungan waktu. Benarlah! Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang setimpal dengan penderitaan yang dilalui untuk mendapatkan sukacita itu. Pun sukacita yang menyelimut awak redaksi Soeket Teki seganjar dengan penempaan panjang yang berliku dalam penerbitan majalah di tangan pembaca ini.

Jalan yang redaksi tempuh tidak selengang jalan tetamanan di belakang rumah. Melainkan bebatuan cadas yang selalu hendak menggunting tapak kaki. Maka adalah sukacita yang paripurna setelah Majalah Sastra Soeket Teki Edisi 3 ini hadir menyumbang sepercik cahaya yang (semoga) melentera. Ini adalah bukti bahwa awak redaksi Soeket Teki yang sedang “mencari bentuk berdiri” di bawah ketegaran Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT berusaha membaur dengan kebudayaan. Kegairahan SKM AMANAT terhadap dunia sastra adalah bentuk penyaluran naluri membangun nurani e(ste)tik—etik dan estetik. Karya ini lahir atas seleksi ketat setiap naskah yang masuk, baik dari kawanan punggawa SKM AMANAT maupun “relawan”. Dan, tetaplah Soeket Teki, bicara sastra dengan rasa. Ramuan di dalamnya cukup matang dengan berbagai komposisi bumbu yang sepadan. Tampil dua naskah cerita pendek yang lahir dari proses kreatif para penulis. Sajak-sajak dan puisi mengajak hati menyusun irama denyut nadi dalam nada-nada seni. Movement Art atau Seni Pergerakan disajikan dalam Laporan Reportase Sastra kali ini. Juga ramuan-ramuan lain yang saling melengkapi. Tak henti-henti Soeket Teki mendendangkan doa agar semua tulisan yang hadir tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi juga memprakarsai tindak, mendasari lakon, dan memantapkan langkah untuk mengukir relief kehidupan yang berkisah tentang kedamaian dan cinta kasih. Iqra’!  Redaksi

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa




Cerita Pendek

Leontin Kucing Tempat ini masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Jalan masuk ke desa ini masih tanah berkerikil. Hanya kereta kuda alat transportasi umum masuk ke desa Suropati, desa kelahiranku. Sepanjang jalan hamparan padi menguning berbalut sinar matahari sore menjadi lautan emas yang menyilaukan mata.

Cerpen Eny Rifaatul Mahmudah 

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Leontin Kucing

J

ika diamati, desa ini memang masih agak tertinggal ketimbang desa-desa lain di sekitarnya. Meski Listrik sudah mengalir sejak dua tahun lalu, desa ini masih jauh dari kata “modern”. Akses informasi masih sangat minim. Di tempat ini belum ada sinyal ponsel maupun internet. Sinyal radio pun tidak dapat terdengar jernih, tak jarang malah hilang sama sekali dibawa angin. Begitu juga dengan televisi yang gambarnya masih kepyur, kata Mbah Midi, tetangga sebelahku mengomentari TV baru Mbah Modin Sasto yang baru dibeli satu minggu yang lalu. “Masih bagus TV-nya pak Lurah Purnomo. Biarpun lebih kecil, tapi gambarnya lebih bening,” kata Mbah Midi membandingkan TV Mbah Modin Sastro yang berukuran 17 inchi dengan TV Pak Lurah Purnomo yang berukuran 14 inchi. Mbah Midi sangat kecewa sepulang dari acara nonton TV bersama di rumah Mbah Modin Sastro. Malam ini penduduk berbondong-bondong keluar dari rumah, menuju rumah Pak Lurah Purnomo. Seperti biasa, setiap malam Kamis dan malam Minggu Pak Lurah akan meletakkan TV di depan pelataran rumahnya yang seluas lapangan futsal untuk nonton bersama para penduduk. Meski telah menggelar empat tikar berukuran 3X5 meter, tetap saja ada penduduk yang tidak kebagian tempat duduk. Tak jarang para penduduk membawa tikar sendiri. Aku heran mengapa barisan paling depan selalu kosong bagian tengahnya. Belakangan ini baru kutahu kalau itu

adalah permintaan Mak Tinah, sesepuh yang sangat disegani di desa ini. Mak Tinah adalah sosok yang sangat dikagumi dan mempunyai pengaruh besar di desa ini. Tapi menurutku Mak Tinah lebih mirip dukun. Dari penampilannya yang masih selalu memakai kebaya tua dan jarik yang menurutku adalah tren mode tahun 30-an seperti pakaian orang-orang di film Siti Nurbaya yang diputar di layar tancep oleh kakak-kakak mahasiswa yang sedang KKN di halaman rumah Pak Lurah sebulan lalu. Meskipun Mak Tinah hidup sendiri, tak punya saudara, tapi aku kagum pada semangat hidupnya. Dia tak pernah meminta bantuan untuk kehidupannya, bahkan untuk makan sekalipun. Satu hal yang aneh dan menggelikan bagiku. Mak Tinah melarang keras penduduk memelihara kucing. Ya, hanya kucing. Bukan anjing, ayam, kerbau ataupun binatang lainnya. Aku tak tahu jelas apa sebabnya. Hanya saja pernah kudengar dari Mbah Midi, “Kata Mak Tinah kucing bisa membawa kesialan bagi desa ini.” Tapi nalarku tak bisa menangkap kelogisan hal itu. Bagaimana kucing bisa menimbulkan kesialan? *** Ketika berusia tujuh tahun, aku dan tiga temanku sangat penasaran dengan isi gubug dibelakang rumah Mak Tinah. Kami membayangkan di tempat itu ada barang-barang keramat milik Mak Tinah. Mungkin saja ada teko jin, keris sakti ataupun cincin wasiat. Kami takut sekali pada Mak Tinah. Namun rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut kami pada

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa




Leontin Kucing hingga bagian bawah pintu. *** Penduduk di desa ini menganggap Mak Tinah mempunyai kharisma besar yang tidak dimiliki orang lain. Ada yang mengatakan dia bisa melihat masa depan, melihat apa yang akan terjadi kemudian di desa ini. Sehingga setiap perkataannya dianggap sebagai petuah yang harus dijalankan sebagai syarat agar desa ini selamat dari segala bencana. Setiap orang akan meminta Di tengah acara tiba-tiba angin kencang menypendapatnya jika erang atap kayu aula balai desa yang agak rapuh ingin memutuskan sesuatu. Dari karena sudah tua dan belum sempat direnovasi. masalah memilih Sehingga atap itu ambruk menimpa barisan dejodoh, hewan yang pan. Dalam kejadian ini, Pak Lurah Sobirin menakan diternakkan inggal tertimpa blandar. sampai jenis bibit yang aka ditanam. Bahkan Pak lubang di sebelah pintu, terlihat Mak Lurah, orang nomor satu di desa ini Tinah membawa bendo. Tedengar komat- pun tunduk pada Mak Tinah. Setiap kali kamit dari mulutnya, �Maling kurang kelurahan akan mengadakan kegiatan, ajar. Dianggapnya siapa aku ini. Awas maka Pak Lurah akan meminta ijin dan kalau sampai ketahuan, kuhajar kau!� doa restu dari Mak Tinah. Pak Lurah Mak Tinah lantang berkata tak akan juga meminta saran bagaimana baiknya kegiatan tersebut dilaksanakan, berikut membiarkan barang-barangnya dicuri, tempat dan waktu yang tepat agar sembari mendekat gubug. Spontan aku acara tersebut berjalan lancar. bersuara, “Meow,� kemudian salah satu temanku ikut menirukan suara kucing. Pernah suatu kali, pada masa Tak dinyana Mak Tinah malah lari terjabatan lurah sebelumnya yaitu Pak birit-birit. Tak tahu sebabnya aku dan Lurah Sobirin terjadi suatu kejadian teman-temanku cekikikan memperhatikan yang menggemparkan. Pak Lurah SobiMak Tinah lari terpincang-pincang derin hendak mengadakan kegiatan doa ngan tongkatnya. Hari berikutnya kami bersama untuk menolak balak menjelang tak bisa masuk ke gubug itu karena bulan Suro yang menurut orang Jawa terpasang lima gembok besar dari atas adalah bulan di mana segala keapesan Mak Tinah. Diam-diam kami menyelinap ke dalam gubug itu. Namun kami kecewa tidak menemukan apa-apa di dalam gubug itu. Bukannya barang-barang keramat yang kami temukan, alih-alih hanya barang bekas yang sudah tak terpakai. Akhirnya kami menjadikan gubug itu sebagai markas. Suatu hari ketika bermain di gubug itu, kami merasakan langkah kaki Mak Tinah mendekat. Kami mengintip lewat



Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Leontin Kucing dan kesialan atau balak akan menimpa semua orang. Karena Pak Lurah Sobirin adalah keturunan kyai masjid di desa ini, maka dia mengadakan kegiatan yang bersifat islam. Kegiatan ini berisi Istighosah dan doa-doa oleh para kyai sepuh setempat. Pak Lurah Sobirin sengaja tidak mengundang Mak Tinah, karena Mak Tinah pasti akan membawa sesaji dan kemenyan sehingga dikhawatirkan akan merusak esensi acara yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah tersebut. Tak disangka keputusan untuk tidak mengundang Mak Tinah adalah awal dari sebuah bencana besar. Mak Tinah marah, dia merasa tersinggung dengan sikap Pak Lurah Sobirin yang seolaholah tidak menghormati dan menganggap dirinya sebagai orang yang terpandang di desa ini. Dia memaki Pak Lurah Sobirin dan mengatakan acara Istighosah itu akan menimbulkan malapetaka. Bahkan dia juga menyumpahi Pak Lurah Sobirin akan segera turun dari jabatannya. Mak Tinah berjalan keluar dari balai desa dengan raut kemarahan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Semua orang panik sekaligus heran melihat Pak Lurah Sobirin senyum-senyum saja menanggapi kutukan Mak Tinah. Seranah itu pun menjadi kenyataan. Kebetulan waktu itu sedang musim hujan. Di tengah acara tiba-tiba angin kencang menye-rang atap kayu aula balai desa yang agak rapuh karena sudah tua dan belum sempat direnovasi. Sehingga atap itu ambruk menimpa ba-

risan depan. Dalam kejadian ini, Pak Lurah Sobirin meninggal tertimpa blandar. Beberapa hadirin mendapat luka cukup serius, termasuk Mbahku. Dengan kejadian ini, para peserta Istighosah menjadi saksi kebenaran ucapan Mak Tinah. Penduduk semakin segan pada Mak Tinah. Mereka semakin percaya pada kemampuan Mak Tinah melihat masa depan. Mereka juga

semakin percaya bahwa perkataan Mak Tinah adalah takdir yang sudah pasti akan terjadi. Mak Tinah adalah jendela takdir yang menentukan hidup penduduk di desa ini. Mak Tinah seakan-akan menjadi Nabi, menjadi panutan dan pusat kehidupan penduduk desa ini. *** Hari ini adalah seratus tahun kelahiran Mak Tinah, kata Mbah Midi. Ketika kutanya dari mana dia tahu hari ini ulang tahun Mak Tinah, Mbah Midi hanya

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa




Leontin Kucing menjawab, “Dari sesepuh desa. Mereka bilang kalau kelahiran Mak Tinah itu berselisih satu bulan dengan kelahiran Bapaknya Pak Kaji Sholeh. Mak Tinah memang tidak pernah mengatakannya pada siapa-siapa.” Dari sini kusimpulkan para penduduk hanya mengira-ngira saja tanggal kelahiran Mak Tinah. Semua orang datang ke rumah Mak Tinah untuk mengucapkan selamat, memberi hadiah dan ngalap berkah darinya. Ada yang memberi beras, sembako, sapu, ember dan lain sebagainya sesuai kemampuan ekonomi mereka. Lain lagi hadiah yang diberikan oleh Pak Lurah Purnomo. Karena dia termasuk orang kaya di desa ini, maka tak tanggung-tanggung hadiah yang diberikan. Pak Lurah Purnomo memberi Mak Tinah radio. Namun sialnya hadiah itu ditolak. Pasalnya Mak Tinah tidak suka dengan barang-arang yang berbau listrik. Bahkan dia tidak mengijinkan petugas PLN memasang parameter listrik di rumahnya. Sebenarnya aku malas sekali datang ke rumah Mak Tinah. Bukan karena apaapa. Aku hanya tidak suka mencium bau kemenyan di rumahnya. Tapi aku tetap datang setelah dibujuk ibuku. Aku bingung apa yang musti kuberikan pada Mak Tinah di ulang tahun ke seratusnya itu. Kuputuskan untuk memberikan leontin hadiah Bu Lik dari Jakarta. Sesampai di sana aku ikut berbaris menantikan giliranku mengucapkan selamat, memberikan hadiah dan memohon doa Mak Tinah. Mak Tinah duduk di kursi berlengan dan bersandar. Nam-



paknya dia lelah sekali melayani tamu seharian ini. Saat tiba giliranku, kusalami Mak Tinah, kucium tangan keriputnya. Kemudian kuucapkan selamat dan doa panjang umur untuknya. Mak Tinah menunduk yang bermakna berterimakasih atas doa tadi. Kusodorkan leontin ke tangan Mak Tinah. ”Apa ini, Nduk?” tanya Mak Tinah karena tidak tahu apa yang kuberikan. Mata perempuan tua ini sudah agak rabun. “Ini leontin perak, Mak. Leontin ini dari Jakarta. Boleh saya memakaikan di leher Mak Tinah?” jawabku. Mak Tinah mengangguk. Selesai memakaikan leontin, aku memberitahu Mak Tinah bahwa leontin tadi berbentuk kucing. Tiba-tiba kulihat muka Mak memucat. Tampaknya hanya aku saja yang melihat perubahan ini. Semua mata tertuju pada leontin ini ketika ku katakan bahwa leontin ini bisa berbunyi jika diputar ekornya. Kemudian orang di belakangku menyuruhku memutar ekor kucing itu. Kemudian saat ku putar berbunyi, ”Meow…. Meow...,” beberapa kali. Semua orang berdecak kagum. Namun tak disangka pemiliknya malah jatuh tersungkur di lantai yang tidak berubin. Mak Tinah Meninggal. n

Eny Rifaatul Mahmudah, Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Reportase Sastra n Seni

Membingkai Seni dalam Gerakan Oleh Nanik Kurniawati

Seni tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi seni harus mampu mempelopori sikap manusia.

S

enin 9 Maret 2009, gedung Ki Nartosabdo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dihujani suara petikan gitar. Diiringi koor para pengunjung yang seirama mengikuti refrain sebuah lagu kerakyatan: Yang miskin tambah miskin/ kita...kita...kita Yang kaya tambah kaya/ kamu...kamu...kamu Lagu Kita-kita Kamu-kamu itu berakhir dengan gemuruh tepuk tangan pengunjung. Semua pasang mata pengunjung terpesona oleh dua lelaki yang tetap kelihatan enerjik meski didesak usia yang kian menua, duduk di atas gelaran permadani hijau muda. Dua lelaki itu adalah Garin Nugroho dan Franky Sahilatua. Dua seniman itu tengah bersua dengan masyarakat Semarang dalam acara Ngobrol Bersama Garin Nugroho dan Franky Sahilatua. Keduanya didaulat Lembaga Studi

Pers dan Informasi (LeSPI) untuk menggagas tema Civil Society Menjelang Pemilu 2009. Obrolan santai ini sesekali diiringi alunan gitar. Ada beberapa lagu yang dibawakan Franki Sahilatua dan diiringi puisi oleh Garin. Diantaranya Pancasila Rumah Kita, Suara dari Kemiskinan, Pohon dan Merah Putih, dan Kita-kita Kamu-kamu. Kesemua lagu-lagu itu berkisah tentang keindonesiaan. Ada semangat nasionalisme

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa




Seni Gerakan yang menggugat seperti dalam lagu Suara dari Kemiskinan berkisah tentang kemalangan hidup manusia Papua, padahal mereka dikurung kelimpahan alam: kami tidur di atas emas/ berenang di atas minyak/ tapi bukan kami punya/ semua anugerah itu/ kami cuma berdagang/ buah-buah pinang. “Lagu itu tercipta saat perjalanan saya di Indonesia bagian timur. Keadaan rakyat Papua sungguh miris. Kekayaan alam begitu melimpah. Tapi dieksploitasi sedemikian rupa hingga mereka tidak menikmati hasilnya,” kata Garin. Kesempatan itu, dimanfaatkan Garin dan Franky untuk membawakan “Dongeng Perubahan”. Sementara Franky menyanyi, Garin bercerita tentang kepapaan rakyat dengan aksentuasi dan rima yang tegas, puitis, sekaligus menggetarkan hati. Ngobrol bareng Garin Nugroho dan Franky Sahilatua itu kentara menyuarakan perubahan. Bagi keduanya, perubahan adalah mutlak untuk memperbaiki tata kehidupan kebangsaan Indonesia. “Kalau ingin perubahan baru, maka pemimpinnya harus baru,” kata Franky. Hal itu tergambar jelas dalam syair-syair lagu Franky yang menyuarakan kegelisahan rakyat. Kentara lagu-lagunya mendamba seorang pemimpin yang peduli pada rakyat. Bukan pemimpin yang menjadi “makelar” setelah duduk di kursi pemerintahan. Terkait dengan itu, Garin melontarkan kritik pedas terhadap bangsa ini. “Indonesia adalah bangsa makelar. Bangsa yang hanya menjadi perantara hingga masyarakatnya sendiri menjadi konsumtif,” kata sutradara film Opera Jawa ini.

Seni Pergerakan

Pada diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, Garin banyak menuturkan

10

argumennya. Sineas yang film-filmnya laku di negeri jiran ini memaparkan, ada tiga hal tujuan seni. Yaitu, seni untuk seni, seni untuk industri, dan seni untuk pergerakan. “Bahwa seni tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) bagi hati manusia. Tapi seni seharusnya mampu mempelopori sikap manusia. Maka tidak salah jika kami mengusung seni pergerakan,” kata Garin. Franky mengamini pendapat Garin. Hingga Franky berkesimpulan bahwa seniman juga sah terjun ke dunia politik. “Dengan tujuan membela kepentingan rakyat dan membawa bangsa Indonesia ke depan menjadi lebih baik,” tutur pelantun lagu Bus Kota ini. Penyanyi yang melejit di era 70-an itu berpandangan, seni memiliki kontribusi besar bagi perubahan bangsa. “Negeri ini lahir atas fantasi besar seorang penyair. Betapa besar sumbangan W R Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya hingga pada tahun 1928 terjadi kongres besar para pemuda seluruh Indoensia, Sumpah Pemuda,” terangnya. Meski begitu, terbesit keraguan akan kesucian seni pergerakan yang melibatkan diri dalam dunia politik. Hal itu diungkapkan oleh salah satu peserta diskusi siang itu. “Apakah seni yang terlibat politik bisa dijamin kemurniannya? Mungkinkah kesenian macam itu malah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu?” tanya seorang perempuan muda yang tidak mau memperkenalkan namanya, tapi mengaku sebagai ibu rumah tangga biasa. Garin santai menanggapi pertanyaan itu. “Indonesia ibarat sebuah gerbong kereta yang dihuni banyak orang. Masing-masing punya kepentingan yang berbeda namun tujuan mereka sama,” tutur Garin.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Seni Gerakan

Orang-orang di dalamnya, tambah pembesut film Cinta dalam Sepotong Roti ini, harus berperan agar gerbong yang ditumpangi tetap aman dan nyaman. Maka mereka harus memberi kontribusi sesuai kemampuan peran yang dimiliki. Yang bisanya membersihkan, ya membersihkan gerbong. Begitu juga seniman. Seniman sebagai warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan dalam politik. “Saya akan tetap menjadi penyanyi. Begitu juga Garin, tetap menjadi sutradara. Tak peduli gerakan politik yang kami usung. Tak peduli siapa nanti yang jadi presiden. Kami tetap akan menjadi seniman,” tambah Franky menguatkan. Seni tak sekadar hiburan yang hanya mampu memberi kesenangan. Ibarat para aktivis pergerakan melakukan demo, atau seorang penulis menggugat dengan pena, maka seniman berbicara lewat lagu dan karyanya. Tiap karya seni pergerakan harus menyuarakan kepentingan rakyat. Juga menyampaikan jeritan rakyat sesungguhnya.

Miskin Negarawan

Garin dan Franky prihatin atas keadaan bangsa Indonesia yang kini sangat miskin negarawan. Hijrah politik besar-besaran saat ini hanya melahirkan politisi-politisi baru. Bukan melahirkan negarawan-negarawan yang berorientasi pada perubahan. “Pemimpin-pemimpin kita sudah tak lagi punya rasa haru, maka rakyatlah yang menerima imbasnya,” ujar Garin. Terkait pemilu 2009 mendatang, Franky menyeru agar masyarakat menggunakan hak pilihnya agar turut serta memberikan kontribusi bagi perubahan bangsa indonesia. “Siapapun yang anda pilih, itu sangat berarti dalam dinamika politik bangsa,” ujarnya. Yang lebih penting, dalam pandangan Garin, adalah masing-masing warga Indonesia harus menjadi negarawan. Negarawan tidak sebatas politisi. Pedagang harus mempunyai jiwa negarawan. Seniman juga harus negarawan. Pelajar juga negarawan. Karenanya, Garin menyeru agar semua warga negara sadar atas situasi politik bangsa. Mahasiswa, pelajar, pedagang, tukang sapu, pedagang, pengamen, seniman dan lainnya harus berpolitik. “Namun politik tak harus berpartai. Politik di sini bukan dalam rangka mencari kekuasaan. Tapi demi perubahan,” tegas Garin. Garin dan Franky yakin, jika indonesia mempunyai negarawan yang senantiasa menggulirkan perubahan, maka takkan terjadi krisis di Indonesia. Acara itu dipungkasi dengan gemuruh peserta menyanyikan lagu Kemesraan yang lahir dari karsa Franky dan Iwan Fals. Semangat kebersamaan demi perubahan Indonesia berkobar-kobar teriring setiap petikan gitar dan suara yang memekik mengiringi irama lagu. 

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

11


Esai Sastra

Logika Industri Sastra Islami Sastra islami telah (direkayasa) mengikuti logika pasar. Akibatnya, kelatahan massal tidak bisa ditampik.

S

Oleh Musyafak

astra Indonesia mengalami guncangan luar biasa usai novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman Al-Shirazy (2004) “merajai” pasar. Sejak itulah sastra islami ramai-ramai dibincang dalam horisaon sastra Indonesia. Kemudian secara sadar menempatkan AAC sebagai bagian dari karya sastra yang lahir dari koridor islam. Kegandrungan pembaca pada AAC telah menimbulkan kelatahan berkepanjang-an yang kemudian masuk dalam jejaring pasar. Meski AAC bukanlah jabang bayi karya sastra yang kini dielu-elukan sebagai sastra islami itu, tapi kehadirannya adalah dentuman besar yang menggairahkan fiksi berlatar islam. Jauh sebelum AAC menggetarkan jagad kesusasteraan Indonesia yang penjualannya mencapai 300 ribu eksemplar lebih—bahkan ditonton lebih dari 3 juta pasang mata ketika difilmkan oleh Hanung Brmantyo—Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri pada tahun 1997 dengan mengusung tema bercorak islami.

12

Kita tidak bisa mungkir, karya-karya sastra yang dielu-elukan “islami” itu membawa misi tersendiri bagi percaturan spiritualitas manusia modern. Bahwa tiadapun karsa dan karya lahir dari kehampaan suasana. Alias, karsa manusia selalu lahir dengan keterikatan sebab-musababnya. Dan, sastra islami itu mengklaim dirinya lahir sebagai upaya syiar keagamaan, dakwah islam. Kehadirannya mampu memberi pencerahan spiritualitas serta pemahaman tentang islam.

Spiritual dan Logika Pasar

Kekeringan spiritualitas manusia modern telah memberi ruang yang lapang bagi sastra islami. Kita tidak bisa menampik bahwa manusia terkini lebih memilih mempelajari agama dan menuruti perburuan spiritual lewat buku-buku ringan seperti novel. Daya magnet novel islami begitu kuat karena corak pembahasaan pesan-pesan agama disampaikan secara sederhana, ringan, dan elastis. Berbeda dengan buku-buku agama yang cenderung ilmiah, apalagi kitab-kitab

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Logika Industri klasik, yang kini hanya dipelajari oleh segelintir orang. Adapun ruang yang dimaksud adalah pasar. Bahwa pasar telah memberi tempat yang luas bagi tumbuhkembangnya karya sastra macam itu karena animo masyarakat sangat tinggi terhadapnya. Lantas jaring-jaring pasar menciptakan skema yang jelas untuk membuat logika industri terkait sastra islam yang telah masuk dalam tataran mass culture (budaya massa). Logika industri sangat mempengaruhi perkembangan sastra islami. Pasar telah menancapkan strategi, merekayasa bentuk, dan memapankan gaya, dan (bahkan) membuat kisi-kisi atas isi karya-karya sastra. Pada akhirnya pasar mendorong penyesuaian bentuk karya sastra islami agar diterima dan diapresiasi pembaca demi meningkatkan laba industri. Buktinya adalah berkembangnya sayapsayap penerbitan buku-buku (sastra) islam. Misalnya Dar! Mizan yang melabeli terbitannya dengan Nori (Novel Remaja Islam), atau Gema Insani yang juga melabeli terbitannya dengan sebutan Fikri (Fiksi Remaja Islam). Penerbit yang sejak awal telah kukuh menerbitkan buku-buku umum pun pada akhirnya tertarik pada karya fiksi islami karena pangsa pasarnya luas. Hingga dalam waktu yang sekejap pasar buku islami sangat bergelora. Dan pasar itu cepat disesaki oleh banyak “aktor� yang memainkan fiksi islami sebagai bahan kepenulisan. Meski begitu, pasar tidak mudah mengalami kejenuhan karena animo masyarakat sangat besar terhadap trendsetter novel islami.

Latah dan Monoton

Tapi tak bisa dimungkiri, pasar dan kegandrungan pembaca yang luar bisa pada sastra islami telah melahirkan kelatahan yang luar biasa pula. Banyak penulis muncul dengan membawakan tema seragam. Bahkan alur cerita pun banyak yang hampir mirip. “Cinta� hampir menjadi satu-satunya tema yang diangkat. Hal itu dapat dilihat dari judul-judulnya: Ayat-ayat Cinta (Republika), Ketika Cinta Bertasbih (Republika), Musafir Cinta (Diva Press). Bahkan penerbit berlomba untuk sebanyak-banyaknya memasarkan fiksi islami: Dalam Perjamuan Cinta (Republika), Dalam Sujud Cinta dan Takdir Cinta (Lingkar Pena), Perempuan Suci, Lafaz Cinta, Berselimut Surban Cinta, dan Mukjizat Cinta (Diva Press), Bismillah Ini Tentang Cinta, dan Bait-bait Cinta (Grafindo). Itu baru perwakilan saja, sebab ada ratusan buku berjudul cinta yang sampul depannya kebanyakan bergambar perempuan (berjilbab atau bercadar). Tema cinta yang dihadirkan pun terasa

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

13


Logika Industri dangkal—atau pelan-pelan secara alami mengalami pendangkalan—karena cinta di dalamnya sebatas manifestasi perasaan manusia yang berlainan jenis. Cinta yang harus memilih di antara pesona kelelakian atau keperempuanan. Ini bertolakbelakang dengan cinta yang disampaikan penyair islam klasik seperti Jalaluddin Rumi, Rabi’ah Al-Adawiyah, ataupun Ibn Arabi yang mengisahkan bait-bait cinta berisi spiritualitas fundamental manusia dalam “mencumbu” Tuhan. Padahal, cinta yang tidak disadari tapi pelan-pelan menjadi gaib adalah cinta yang bersifat kemanusiaan universal: kepedulian, empati, kedamaian, dan cinta kasih sesama. Sayang, fiksi islami belum menyentuh tataran itu. Yang berusaha dikedepankan hanyalah bagaimana mencitrakan tokoh dengan nuansa islam yang paripurna. Hingga yang tampak tak lebih dari tujuan ingin mengatakan “Inilah orang islam” melalui tokoh-tokoh yang digambarkan. Jika mau jujur, sebenarnya, spiritualitas tak pernah hilang dari karya sastra manapun. Fiksi umum pun tak lepas dari pesanpesan religiusitas. Begitu juga, novel-novel umum pun banyak berbicara soal islam. Maka fatal sekali jika novel yang secara pesifik tidak menampilkan keislaman verbal diklaim sebagai sastra nonislami. Hampir semua karya sastra mengusung moralisasi yang mengajarkan kemanusiaan. Di sisi lain, kelatahan membuat kelahiran fiksi islami kentara dengan kesan monoton. Baik cara penyampaian pesan

maupun pengisahan. Pada dasarnya novelnovel islami yang ada sampai saat ini lebih bercorak menerjemahkan konflik seorang tokoh dengan interpretasi al-Qur’an atau al-Hadits. Setiap jengkal perjalanan hidup tokoh tak bisa lepas dari sandaran dalil-dalil naqli. Hingga di situ, pembaca akan lebih banyak menemui terjemahan atau penafisran al-Qur’an dan al-Hadits daripada narasi cerita yang dibangun. Kemudian ada semacam “kegagalan” cara menyampaikan pesan-pesan islam yang selalu saja hendak divisualisasikan secara verbal dalam novel-novel islami. Kegagalan itu adalah bentuk mengkomunikasikan nilai-nilai estetik sastra dalam bentuk dangkal yang tak ubahnya seperti ceramah. Kesan yang timbul adalah “menggurui”. Padahal, kesejatian pesan sebuah karya sastra adalah mengajak manusia untuk merenungi kembali segala nilai yang telah berlaku. Sedangkan “menggurui” jauh sekali dalam konteks kesadaran pembaca untuk berkontemplasi. Ambiguitas pun muncul jika kita mendebatkan soal nilai. Bahwa, seolah-olah baik dan buruk hanya dapat ditimbang dengan neraca yang bernama agama. Nurani fitriah yang melekat secara kodrati pada setiap orang tak terlalu dipakai. Daya kritis kemanusiaan terlalu dibekukan oleh doktrinasi cerita yang selalu “diislamkan”.

Jejak Sastra Islam

Benar apa yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam eseinya Sastra dan E(ste)tika

Selama ini yang terjadi justru terma sastra islami mengikuti logika industri, bukan logika kebudayaan itu sendiri. Kelatahan fiksi islami adalah fakta yang tidak bisa ditampik yang nyata-nyata membuat banyak penulis hadir di dalam ruang itu hanya karena mengikuti arus pasar semata. 14

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Logika Industri Massa (2008), bahwa kalangan kritikus sastra sangat khawatir “industri budaya” yang lahir atas nama karya sastra berbasis pada logika industri. Karena karya sastra atau produk-produk kebudayaan lainnya tidak bisa diseragamkan sebagai barang industri. Lantas, apakah konsep sastra islami benar-benar pas disematkan untuk karyakarya macam di atas? Selama ini yang terjadi justru terma sastra islami mengikuti logika industri, bukan logika kebudayaan itu sendiri. Kelatahan fiksi islami adalah fakta yang tidak bisa ditampik yang nyata-nyata membuat banyak penulis hadir di dalam ruang itu hanya karena mengikuti arus pasar semata. Sebenarnya sastra bercorak islam sudah membumi sejak era kelahiran sastra melayu sebagai awal perkembangan kesusasteraan Indonesia. Dalam hal ini bisa dirujuk karya-karya Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fanshuri, atau Amir Hamzah. Era setelah itu, Kuntowijoyo memproklamasikan sastra profetik. Pada prinsipnya sastra profetik tidak lain adalah tafsir lain yang merujuk term sastra islam. Karena carapandang yang dipakai dalam pembahasaan pesan, sastra profetik menggunakan logika agama. Menurut Hamdy Salad dalam eseinya Narasi Sastra Religius (2008), ada tiga unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik. Yaitu amar ma’ruf (humanisasi), nahyi munkar (liberasi), dan iman billah (transendensi). Amar ma’ruf atau humanisasi memuat pesan untuk memanusiakan manusia sesuai peran budaya yang dijalankan. Nahyi munkar atau liberasi adalah pesan pembebasan manusia dari penindasan sistem budaya yang sedang berlangsung di masyarakat. Adapun iman billah meliputi perlawanan

kreatif yang bersifat religius dan spiritual terhadap ideologiideologi budaya bersifat sekuler. Selain sastra profetik, sastra sufistik juga memperkaya definisi tentang satsra islam. Esensi sastra sufistik agak berbeda dengan sastra profetik. Tak sekadar memusatkan penalaran pada humanisasi, liberasi, dan transendensi. Melainkan meletakkan logika sastra pada unsur estetik yang bersifat transenden. Transendensi, dalam ukuran sastra sufistik adalah proses identifikasi ekspresi spiritual (ruhaniyah) manusia. Ada dua konteks transendensi yang terkandung dalam sastra sufistik: teologis (hablumminallah) dan kultural (hablumminnas). Dengan demikian, sastra islami yang berkembang saat ini perlu dikontekstualisasikan dengan term awal sastra islam yang telah lebih dulu menjadi induk semang. Maka sudah selayaknya penggerak sastra islami—industri dan penulis—termasuk pembaca lebih menimbang otentisitas karsa yang berlandaskan nilai-nilai islam, bukan sekadar tampilannya—yang akhirnya cenderung picisan. Karena bisa jadi sastra islami yang marak saat ini adalah sastra yang (hanya) menyerupai sastra islam, bukan sastra islam itu sendiri. --Musyafak, Warga Kampung Sastra Soeket Teki Semarang.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

15


Cerita Pendek

Hujan Ranggas di atas Nisan

Cerpen Farid Helmi

16

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Hujan Ranggas... Sawah hijau membentang bagai gelaran permadani terhampar luas mengelilingi desa kecil nan asri, Kertosari. Pria berkulit hitam lebam berjibaku melawan rasa letih. Tubuhnya yang tak begitu kekar tertatih-tatih memainkan irama cangkul. Caping lebar tersusun anyaman bambu, pun ia ubah layaknya kipas. Dihempas-hempaskan hingga menyejukkan tubuhnya yang basah berlumur peluh.

T

ubuh yang nampak lesu kini bergairah. Semangat mencangkul seketika hadir memberi energi. Bergegas ia menjemput cangkul sembari mengepalkan tangan pertanda siap bertempur di medan juang layaknya sang patriot hendak berbaku tembak melawan serdadu musuh. Dialah Asrul. Anak petani desa, hidup damai bertetangga dengan warga Kertosari lainnya. Karena nasib, Asrul dan ibunya mesti berjuang hidup menjadi buruh tani. Sepeninggal ayahnya, lelaki yang masih kencur itu menjadi tulang punggung keluarga. Kehadirannya adalah penawar rindu Mbok Minah, ibunda Asrul, kala terkenang suaminya. Wajah lugu dan senyum tipis yang tersungging dari bibir Asrul adalah anugerah bagi Mbok Minah. Kehangatan orangtua dan anak sungguh jelas tergambar oleh peran keduanya. Betapa kebahagiaan itu selalu tercipta ketika bakti sang anak kepada orangtua menafikan segala beban hidup yang selama ini memenjarakan mereka. Apa yang ada di benak Asrul adalah bagaimana membahagiakan ibundanya tercinta. Asrul tak rela jika ibunya

yang tua dan pikun itu mesti payah menanggung derita hidup. Lantas, untuk mewujudkannya, bekerja keras adalah wajib baginya. Tak bisa ditawar! Alhasil, uang yang didapat dari jerih payah Asrul mencangkul dan bertanam cukup untuk menghidupi mereka berdua. Meski hidup sederhana, makan dengan lauk seadanya, tapi mereka tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Namun, laksana roda kehidupan, hidup tak selamanya lurus. Apa yang diinginkan juga tak selalu terpenuhi. Sawah yang tadinya panen tiga kali setahun, kini mesti puas panen sekali setahun setelah hama wereng menyerang sebagian besar area persawahan. Sehingga hanya sebagian kecil saja yang bisa dipanen. Itupun dengan hasil yang sangat mengecewakan. Keadaan ini membuat banyak warga desa kelabakan memikirkan nasib mereka. Terlukis jelas rasa cemas di wajah Asrul dan warga desa Kertosari lainnya lantaran sumber penghasilan tak lagi menjanjikan. Nista benar serangan brutal hama wereng! Terlintas di benak Asrul merantau

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

17


Hujan Ranggas... ke Jakarta. Cukup bermodal keberanian dan mimpi. Ia tak lagi yakin bahwa sawah akan tetap mampu menghidupi keluarganya. Pikirannya sesak akan keelokan yang dijanjikan di belantara ibukota. “Di Jakarta banyak kerjaan, Rul. Setiap keringat selalu dibayar uang,” kata Pardi suatu ketika. Pardi adalah tetangga Asrul yang sudah bertahun-tahun merantau ke ibukota. Untuk itu Asrul menyampaikan keinginannya pada ibunya, tak peduli diizinkan atau tidak. “Nggak usah merantau ke Jakarta, Nang. Desa ini hanya sedang terkena cobaan. Mak yakin sawah bisa subur kembali,” rajuk Mbok Minah. ”Mumpung Asrul masih muda, Mak. Siapa tahu ada kesempatan yang lebih menjanjikan. Apalagi kita sendiri belum yakin kapan wereng-wereng itu tidak menumpas sawah-sawah,” Asrul menyanggah. Pikiran Asrul bulat untuk pergi menjadi anak rantau di kota besar yang ia hanya tahu dari cerita Pardi. Meski hatinya berat meninggalkan ibunya yang renta sendirian. Tapi harus bagaimana lagi? Peruntungan hidup membutuhkan ketegasan. Juga pengorbanan. *** Esok hari. Jam menunjuk pukul 04:30 pagi. “Mak, Asrul mohon izin berangkat ke Jakarta,” pinta Asrul. Permintaan itu tak lain agar hatinya mantap meninggalkan desa Kertosari.

18

“Asrul anakku, sebelum berangkat ibu ingin bertanya sekali lagi padamu,” jelas Mbok Minah dengan raut muka seolaholah ingin menahan Asrul. “Apa itu, Mak?” Tanya Asrul. “Apa kamu sudah tak sayang lagi sama ibumu yang telah tua dan pikun ini, Nang? Hingga kamu tega meninggalkan ibumu sendiri.” Tanya Mbok Minah. “Sungguh Asrul sangat menyayangi Simbok. Tapi inilah yang harus Asrul lakukan, Mak,” tegas Asrul. Mendengar jawaban Asrul, Mbok Minah terdiam sesaat. Termenung. Tergambar raut kekecewaan di wajahnya. Ia merasa sedih namun tak tahu mesti bagaimana. Asrul anak satu-satunya. Bayangan yang tiba-tiba melintas di benak Mbok Minah adalah kehidupan yang bakal mengasingkannya dengan kesendirian tanpa Asrul. “Alangkah susah hidup sebatang kara!” Mbok Minah membatin. Namun keteguhan hati seorang ibu meluluhkan ego pribadinya. “Asrul anakku, bawalah bingkisan ini sebagai teman perjalananmu. Jika kamu merasa kehilangan arah. Jadikan ia sebagai petunjukmu.” “Terima kasih, Mak” Sebelum berangkat Asrul menciumi tangan sambil memandangi wajah ibunya. Namun yang nampak bukanlah wajah bahagia. Mbok Minah terlihat sedih. Terukir gurat kekecewaan terpancar dari wajah ibunya. Namun tak pelak lagi, keinginan Asrul merantau ke Jakarta telah membutakannya. Asrul berangkat menuju Stasiun

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Hujan Ranggas... Sitawang. Jaraknya antara rumah dan stasiun Kota Sitawang yang cukup jauh memaksanya berangkat dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan kereta. Rasa sedih bercampur haru menyelimuti perjalanan Asrul. Sedih karena harus meninggalkan ibunda tercinta demi menggapai cita di belantara ibukota. Asrul berusaha memenangkan hatinya namun wajah sendu ibunya selalu membayangi. Satu setengah jam setelah Asrul menumpang bus kota mengahnatarkannya sampai Stasiun Sitawang. Stasiun ini menjadi kebanggan masyarakat Medoho. Stasiun Sitawang adalah saksi bisu perjuangan rakyat Medoho mengusir penjajah Belanda tempo dulu. Betapa kesakralan tempat itu telah bercerita tentang ketangguhan rakyat mempertahankan bumi pertiwi. Mata Asrul menerawang ke segala penjuru mencari tempat dimana bisa mendapatkan tiket kereta. Sejurus kemudian pandangannya menumbuk ruangan yang depannya disesaki puluhan orang berbaris, antre. Asrul enyah menuju barisan itu. Berdiri di urutan paling belakang. Tak kuat rasanya kaki Asrul menopang tubuhnya. Wajahnya tampak pucat pasi. Bukan karena harus berlama-lama antre di depan loket, tapi rasa lapar melilit-lilit dinding lambungnya. Semangat dan keuletan yang terpatri dalam diri Asrul mampu mengusir semua itu. Setelah hampir setengah jam antri, sampailah ia di barisan terdepan. Dibelinya tiket kereta ekonomi sembari mengacungkan uang tiga puluh

ribu pada petugas. *** Suara nyaring rem kereta membangunkan Asrul setelah beberapa lama tertidur lelap di gerbong kereta. Dilihatnya dari jendela keramaian di luar kereta. “Astaghfirullah! Sudah sampai mana aku?” gertaknya pada diri sendiri. Asrul tak menyadari dirinya sudah tiba di Jakarta. Asrul bingung, tak tahu di stasiun mana kereta berhenti. “Sudah sampaikah aku di Jakarta, Pak?” tanya Asrul kepada lelaki tua di sampingnya. “Benar, Dik. Ini sudah tiba di Stasiun Pasar Senen Jakarta,” jawab lelaki tua itu memperhatikan kebingung-an Asrul. “Terima kasih, Pak,” timpal Asrul sembari bergegas mengangkat barang bawaannya ke luar kereta. Sekeluar Asrul dari kereta adalah

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

19


Hujan Ranggas... kali pertamanya menjejakkan kaki di Jakarta. Asrul bingung ke arah mana kakinya harus melangkah. Di sakunya hanya terselip kartu nama yang diperoleh dari Kang Pardi. Lengkap bertuliskan alamat pemiliknya. Asrul mengeja sebuah nama: Burangsasi, pemilik kartu nama itu yang merupakan teman kerja Kang Pardi, dulu ketika sama-sama merantau di Jakarta. Kabarnya, sekarang teman Kang Pardi itu sukses menjalankan usaha konveksi. Namun benar atau tidaknya Asrul tak begitu peduli. Ia telah bertekad menemui orang itu dan sedianya memberi Asrul pekerjaan. Tanpa ragu Asrul menanyakan alamat yang ada di kartu nama tersebut. Mulai tukang becak, tukang parkir hingga pedagang asongan tak luput pertanyaan Asrul. Namun gelengan kepala menjadi jawaban atas ketidaktahuan mereka. Semuanya memberi jawaban yang sama, “Tidak tahu!� Asrul kecewa. Tapi tak semudah itu ia putus asa. Empat hari sudah Asrul berkelana menyusuri setiap sudut ibukota. Namun ia nihil mendapatkan alamat Burangsasi. Alamat yang tertulis di kartu nama itu seakan berada di lubang tikus. Di belantara ibukota itu, Asrul hanya mendapatkan ironi-ironi kehidupan yang tumbuh pesat. Realitas Jakarta tak sejurus yang ia pikirkan. Rumah kolong dan gunungan sampah rupanya menjadi bagian tak terpisah dari Jakarta. Asrul hampir frustasi. Tak tahu ha-

20

rus berbuat apalagi. Uang yang dibawa telah habis. Hanya tersisa beberapa lembar pakaian dan sarung. Lengkap bingkisan yang diberi ibunya di dalam tas. *** Mbok Minah sakit-sakitan setelah ditinggal Asrul. Perempuan renta itu merasa kehilangan anak yang dicintainya. Pikirannya tak henti-henti mengingat Asrul. Mbok Minah terkulai lemas di pembaringan. Tak sanggup berdiri dan beraktivitas tanpa bantuan orang lain. Tiga hari belakangan, Wak Mus yang mengurusi Mbok Minah. Mulai menyuapi hingga mengantar Mbok Minah buang hajat. Wak Mus adalah tetangga dekat Mbok Minah. Ia merasa iba dengan nasib yang dialami Mbok Minah. Setiap saat ia selalu menemani dan memerhatikannya. Terkadang Wak Mus memasak untuk keperluan makan Mbok Minah. Demikian yang terjadi setiapkali ada tetangga mereka yang mengalami musibah: kebersamaan dan saling membantu dinomorsatukan. Wak Mus ingin sekali menyampaikan berita ke Asrul bahwa ibunya sakit. Tapi tak tahu bagaimana caranya. *** Hari kelima pencarian. Sampailah Asrul di depan rumah persis seperti alamat Burangsasi. Asrul menggertak pintu diiring salam. Beberapa kali ia mengulang tingkah seperti itu. Namun tak satupun orang datang membuka pintu gerbang. Asrul menemui

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Hujan Ranggas...

Erat kedua tangannya membekap perut sambil terus berjalan. Sampai di ujung jalan, tepat di depan sebuah toko kelontong Asrul duduk termangu meratapi nasib. Sambil menoleh ke kanan kiri, Asrul mencoba menemukan sisa makanan yang terbuang. Guyuran hujan menambah derita Asrul saat itu. Badannya gemetar ditingkah dinginnya hujan.

kejanggalan. Rumah sebesar itu tak terdengar gaung kehidupan di dalamnya. Terlihat lelaki tua tengah mengemasi obeng di gubug kecil di kiri rumah Burangsasi. Tukang tambal ban itu tampaknya telah didera lelah. Asrul mendekatinya. “Ma’af, Pak. Mengganggu sebentar. Boleh tanya?” pinta Asrul. “Ya, tanya apa?” timpal

tukang tambal ban. “Begini lho, Pak. Saya mau ketemu Pak Burangsasi, pemilik rumah sebelah. Berkali-kali saya ketuk, kok tidak ada yang membukakan pintu gerbang?” Tukang tambal ban heran. Bingung hendak menjawab apa. Lelaki itu hanya tahu bahwa orang yang dicari Asrul sudah lama meninggalkan rumah itu. “Adik ini siapa, saudaranya?” “Bukan, Pak.” “Begini, Dik, rumah itu kosong tanpa penghuni. Pemilik rumah ini dulunya pengusaha konveksi. Lantaran terjerat hutang dengan pihak bank, rumahnya disita. Entah, kemana orang itu seka-

rang?” paparnya penuh tanya. Asrul kaget tak karuan. Asrul hampir tak percaya mendengarnya. Usahanya berhari-hari mencari alamat rumah itu seketika dirasa sia-sia. Rumah Burangsasi, harapan satu-satunya menjejak Jakarta, ternyata rumah kosong yang tak memberi apa-apa. Dalam kebingungan, Asrul menyusuri jalan tanpa tahu arah. Menuruti sepembawa kaki melangkah. Matanya kosong. Wajahnya pasi seharian belum makan. Erat kedua tangannya membekap perut sambil terus berjalan. Sampai di ujung jalan, tepat di depan sebuah toko kelontong Asrul duduk termangu meratapi nasib. Sambil menoleh ke kanan kiri, Asrul mencoba menemukan sisa makanan yang terbuang. Guyuran hujan menambah derita Asrul saat itu. Badannya gemetar ditingkah dinginnya hujan. Diam-diam Asrul menyesal. Mengapa harus ke Jakarta tanpa kejelasan nasib? Disela-sela penyesalannya, Asrul teringat Mbok Minah. Bayangan kepapaan perempuan itu menambah ngilu di hatinya. “Bagaimana keadaan ibu sekarang?” batinnya. Asrul teringat bingkisan pemberian ibunya. Asrul penasaran apa yang ada di dalamnya. Asrul menoleh ke arah tas yang ada di sampingnya. Dibukanya tas itu dan diambilnya bingkisan kecil. Matanya tajam menerawang ke arah bingkisan. Dipegangnya erat-erat. “Inilah harta terakhirku,” pikirnya. Semakin lama rasa penasaran itu memaksanya membuka isi bingkisan.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

21


Hujan Ranggas... Dibukanya bingkisan itu dengan hati-hati. Asrul terkesiap melihat isi bingkisan itu rupanya secarik kertas terlipat rapi. Dibukalah kertas itu. Asrul gemetaran membaca tulisan tangan ibunya, Mbok Minah.

Ya Allah, kutitipkan anakku padaMu Jagalah ia, hindarkan ia dari segala keburukan Ya Allah, hanya padaMu lah kumengadu Bimbinglah ia ke jalan yang Kau ridhoi Duhai anakku, Asrul, engkaulah lentera hidupku Malam berubah terang karnamu Kau ibarat pelangi yang mewarnai relung jiwaku Ketauhilah, Ibu takkan setegar ini tanpamu Senyummu dan tawamu adalah anugrah bagi ibu. Mata Asrul memuntahkan bulir-bulir basah. Penyesalannya makin dalam. Dunia ini sepi seketika. Hanya tangis haru Asrul yang teringat ibunya di rumah. Asrul sadar, yang dicarinya selama ini sudah ada di rumah: Mbok Minah, ibu tercinta. Bukan Jakarta yang menjanjikan kemegahan dan beribu kesenangan hidup. Sontak Asrul bertekad segera pulang. Melupakan angan-angan akan Jakarta. Asrul berlari berjam-jam menuju Stasiun Pasar Senen, tempat pertama

22

kali menjejak di Jakarta. Rasa lapar dan letih menghilang oleh kerinduan pada ibunya. Keinginan segera bersimpuh di telapak kaki Mbok Minah tak bisa ditahan Asrul. Memohon maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Pemberian maaf ibunya adalah mutlak bagi Asrul. Bahkan hukum pancung pun rela diterima jika ibunya menghendaki. Asal Asrul dimaafkan. Lama menyusur, tibalah Asrul di stasiun. Namun Asrul didera kebingungan lantaran tak punya sepeserpun uang untuk membeli tiket kereta. Naik tanpa tiket, urusannya bisa gawat. Bahkan mesti berhadapan dengan petugas kereta. Asrul tak lagi bisa berpikir sehat. Rasa takut dan cemas begitu saja hilang. Yang muncul adalah nekad untuk naik kereta tanpa bayar. Penumpang gelap! Hati Asrul berontak. Menjadi penumpang gelap jelas salah. Namun Asrul bergeming dan berjanji nanti jika sudah punya uang akan mengganti ongkos tiket kereta, bahkan sepuluh kali lipat. Keadaan begitu memaksa Asrul. Sampai di stasiun Sitawang, Kota Medoho. Asrul kembali disudutkan pertanyaan yang sama. Dengan apa bisa naik bus tanpa uang sama sekali? Asrul berpikir, mungkin sebelumnya bisa lolos dari pemeriksaan tiket lantaran bersembunyi di toilet. Namun sulit keadaannya melakukan hal yang sama dalam bus. Sekilas Asrul memandangi jam

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Hujan Ranggas... tangan yang selama ini setia menemani tak terurus. Banyak sampah dan daun kemana ia pergi. Terjawab sudah perberserakan. Asrul bergegas membuka tanyaan itu. Asrul memutuskan untuk gembok yang menguasai pintu rumahnya. menjual jam tangan pemberian Kang Berkali-kali usahanya membobol gembok Soleh sepulang dari Malaysia. Kang kandas. Justru jeratan gembok dirasa Soleh adalah sepupu Asrul. Dulu Kang makin kencang me-ngunci pintu. Soleh menjadi TKI selama lima tahun di Perempuan tua sedang duduk di Malaysia. Kini Kang Soleh memilih tinglincak bambu di teras rumah, sambil gal di rumah bersama anak dan istri. menyulam jarik yang robek. Asrul menJam itu dijual seharga duapuluh lima elusur ke arahnya. ribu pada kernet bus. Cukup bagi Asrul “Wak, kenapa rumahku terkunci untuk pulang rapat?” tanya menumpang Wak Mus tak bergeming. Roman muka- Asrul cemas. bus menuju “Tahukah Emak nya tak berubah. Dada Wak Mus berge- ke mana?” desanya dengan uang itu. muruh oleh rasa kecewa sekaligus benci Namun peremSetiba di pada Asrul. Tapi jauh di hati kecilnya, puan itu membisu. desa, Asrul Wak Mus iba pada Asrul yang ditimpa Tatapan matanya bergegas kebingungan mencari ibunya. Tak kuat nanar menerkam menuju rumah Wak Mus menatap wajah pelas Asrul. Asrul. Seolah yang tak tersemburat kebegitu jauh bencian mendalam dari tempat dari tatapan mata perempuan tua itu. bus menurunkannya. Asrul mendapati Terbesit di pikiran Asrul untuk mekeadaan aneh kala menyapa setiap n e m ui Wak Mus, orang yang selama ini orang yang dijumpainya. Mereka med e k a t dengan ibunya. Langkahnya gontai malingkan muka. Bahkan terlihat wajah m e n u ju pintu rumah Wak Mus yang kebencian yang mendalam dilemparkan t e r b u ka. Di dalamnya Wak Mus sedang padanya. rebahan di dipan. Asrul bingung mengapa tetangganya Asrul berucap salam. Wak Mus gelayang dulu baik padanya sekarang berg a p an menjawabnya. balik acuh. Seolah memusuhinya. “Wak, Emakku di mana? Kok rumah “Apa yang terjadi? Apa salahku d i k u nci?” hingga semua orang membenciku?” pikir W ak Mus tak bergeming. Roman Asrul sembari mempercepat langkah m u k a nya tak berubah. Dada Wak Mus kaki. b e r g e muruh oleh rasa kecewa sekaliAsrul terkejut ketika kakinya meng u s b e nci pada Asrul. Tapi jauh di hati jejak depan rumah. Tak biasa pintu k e c i l n y a , Wak Mus iba pada Asrul yang dan jendela terkunci rapat. Matanya d i t i m p a kebingungan mencari ibunya. Tak menyapu halaman rumah yang tampak

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

23


Hujan Ranggas...

kuat Wak Mus menatap wajah pelas Asrul. “Duduklah dulu, Nang!� kata Wak Mus luluh. Wak Mus menarik nafas panjang. Lalu dihempaskan pelan. Tak tega rasanya menjelaskan, namun Asrul tetap memaksa. Wajahnya menunduk lemas. Hingga suara halus keluar dari mulut Wak Mus. “Ibumu telah tiada, Nang,� terang Wak Mus terbata-bata. Kata-kata itu bagai tombak menghujam berkali-kali ke dada Asrul. Tangis Asrul meledak membuat gaduh seluruh desa. Air matanya meleleh bagai lahar yang siap memberangus kayu dan pepohonan. Semesta seperti diam sunyi tanpa suara. Yang ada hanya deru tangis Asrul yang makin menjadi. Tanpa pikir panjang Asrul berlari ke arah pekuburan di seberang sungai. Matanya tajam kesetanan. Dilewatinya pecahan kaca yang menyerpih di jalanan. Tak terasa kakinya tertusuk percaan kaca yang tajam hingga sobek. Dari telapak kakinya memercik darah sepanjang jalan. Namun bius rasa sedih membuat Asrul tetap berlari tanpa sekalipun mengaduh. Di sudut pekuburan, di bawah pohon kepuh langkah Asrul terhenti. Matanya terpaku pada gunungan tanah yang tampak masih basah. Batu nisan tertancap tegap di atas gunungan tanah bertatah nama Mbok Minah: Aminah Binti Sarjoko.

24

Melihat nisan ibunya, dunia Asrul bagai kiamat. Langit seolah hendak runtuh. Tubuhnya lumpuh, merebah di batang pohon kepuh. Kaki Asrul tak lagi kuat menyokong tubuhnya yang kering lantaran tak diasup makanan selama beberapa hari. Tersungkur! Tubuh Asrul jatuh memeluk rentangan tanah tak bertepi. Nafasnya tersengal-sengal. Asrul merangkak mendekati nisan ibunya. Airmata suram membelah dua pipinya yang kusut. Asrul bersimpuh merengkuh gunungan yang dipuncaki nisan ibunya. Diciuminya nisan itu penuh sesal. Imaji Asrul mengembara, seolah-olah ia menciumi kaki ibunya. Pekuburan di seberang sungai itu tak terlantun doa-doa. Hanya ada tangis anak manusia yang menggugat pribadinya. Menggugat dirinya yang hendak mati saja lantaran menganggap diri durhaka pada ibu sebatang kara. Angin kencang menebah pepohonan di pekuburan. Daun-duan layu jatuh menghambur ke punggung-punggung kuburan. Tiupan bayu makin mengancam, menjatuhkan ranting-ranting kering yang kemudian berderak di tanah. Serentak kuburan Mbok Minah diselimuti daundaun ranggas itu. Hujan ranggas di punggung nisan itu menyumat ngilu dada Asrul. Ngilu! Farid Helmi, Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Puisi

sakaw wajah-wajah penuh cadas merongrong dengan sisa nafas yang terkuras geliat pagi kekeringan di balik lipatan daun busuk meliuk lambai dan hangat tapi embun itu beku peti mati teronggok tergembok kata kecewa lalu... jika indera tidak untuk merasa mungkin takkan ada rasa biar sepi bercinta dalam sunyi biar bising larut dan teriak menanti saja pada potongan senja kesadaran dipaksa terus terjaga ada yang masih meringkuk di kolong langit di dasar bumi yang keriput dan pikun beralas desah susah yang terus meracau mengacak-acak tatanan aliran darah kian nian menghitam terhempas di lorong jalan berdebu pekat... dan air mata yang luruh tak lagi sebening raut pagi kotor muak muntah berkerak di sisi jiwa yang kemarau sampai segenap mata yang telah melebar sampai jemari yang terulur panjang hanya sampai pada kematian rasa lalu muncul tawa-tawa asing mencemooh yang ceroboh

hetero pagi ini langkah meminta jatah kuturuti... ku tapakkan pada keramaian saat mentari masih melaksanakan sholat subuh angin memberitahu tentang bingar di sekeliling dan bersama kabut pagi yang menipis memperlihatkanku pada keramaian, pada hetero.. kehirukpikukan dengan berbagai tujuan mimik-mimik berselancar di mataku membentuk ensiklopedi tentang ragam manusia mataku mengajak bibir tuk tersenyum mungkin untuk manusia dan keadaan itu selagi langkah masih mau tersaruksaruk tak peduli... Iin Aina, Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

25


Puisi-puisi

Napi No 13 Kembang api meluncur bak roket merajai angin. tak ada kata. mata terpukau melumat keindahan yang melimpah. tak ada kekasih mengecup bermabukkan asmara. hanya lembabnya malam dan jeruji bui berbaris memasung raga. tak peduli apakah bintang turun ke bumi malam ini atau tidak. tak peduli bidadari sedang sibuk meminang pangeran langit malam ini dengan mahar kucing atau tidak. tak peduli apakah jin aladin keluar dari lampu ajaib tuk berikan tiga permintaan ajaib atau tidak. yang aku ingin sesali adalah dosaku. dosa karna telah mencuri ayam tetangga yang tak seberapa. maka, ku pejamkan mataku. ku pandang langit yang bertaburan gemerlap api yang menari. dan, dengan sepenuh hati. dan, dengan sepenuh jiwa. dan dengan segala harapan yang termuarakan. ku tengadahkan tangan, dan lirih ku ucapkan doa: “tuhan, kelak jika telah habis masa hukumanku. jangan biarkan aku menjadi pecuri kelas teri seperti ini angkat derajatku, tuhan dan jadikanlah aku ini wakil rakyat karna hanya dengannya, kan dapat ku curi uang berkopor-kopor dan jikapun, kau kirim aku ke bui ini lagi, sungguh aku rela, tuhan karna bagiku ini hanyalah perpindahan maqom (tempat) ke hotel lain yang fasilitasnya tak jauh beda dengan apartemen mahal maka, dengan setulus hati, ya mujib kabulkanlah doa hambamu yang papa ini‌.. amiiiiiin Siti Lestari, Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang

26

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Puisi-puisi

Tenggelam Lunglai

Maaf

Sebuah bayang indah Datang dalam kegelapan malam Bersama remang-remang cahaya bintang keabadian Yang telah menyatu dengan angan Kutemukan tersenyum di depanku Dengan membawa setangkai anggrek putih Dari taman hati miliknya

Setiapkali aku melangkah Kakiku gunakan menuju tempat Yang tidak engkau perkenankan Entah mengapa Tubuh anugrah indah karunia-Mu Ku gunakan mendholimi Makhluk ciptaan-Mu Bukan lantunan kalimat dzikir Ku ucap Melainkan lantunan kebohongan, kelicikan Serta kepalsuan…… Aku tega... Memakan bangkai saudaraku… Aku tega Biarkan mereka kesakitan Aku tega Biarkan mereka kelaparan Sementara nafsu iblisku Tertawa riang gembira Bahkan aku masih sempat bertepuk tangan Ya robbi… Masihkah Engkau sudi Melihat makhluk nista ini Ya robbi… Masihkah aku diperkenankan Mencium wangi surga --Ahmad Munib

Dia… Pemberi setetes air saat dahaga Penyejuk ketika panas membara Pengobat setia di saat kuterluka Kemudian, kuterbawa oleh deburan jantungnya Oleh tiupan angin cinta bersamanya Walau terkadang… Kasih itu tumpah oleh amarah Tercecer dalam gulungan ombak Merapih dalam sunyi, lalu tenggelam lunglai Atau tersesat meniti jalan berliku Menyatu dengan tumpukan batu Tapi kau dan aku pasti tahu Itu bukan rintangan kelabu Karena dia pasti kembali di bawah keagungan-Nya Dalam cinta dan doa Yang mengiringi langkah kebahagiaan kita --Siti Nila Rokhmana

Siti Nila Rokhmana & Ahmad Munib, Kru Magang SKM AMANAT

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

27


Puisi-puisi

Kau Lupa (lagi) Seperti apa benciku pada kata-kata itu Kata-kata yang keluar dari mulut durjana Bagai malaikat yang tak pernah ada dosa Bagai orang suci yang tidak bakal mati Biarkan mata-mata menjadi saksi Tentang kata-katamu yang kau bilang kata hati Dan janji-janjimu konon dari jiwa suci Jangankan untuk memberi, melihat saja kau lari Kau lupa lagi, lagi-lagi kau lupa Kenapa kau masih saja mengobral janji. Tidak sekali ini kau katakan janji,

janji dan janji Kau memang pendusta dari negeri kayangan Tidakkah kau mengerti hidup ini cuma sekali Tidakkah kau tahu merpati terbang pasti kembali Tidakkah kau memahami rotasi bumi Tidakkah kau bersyukur di hidup dunia ini pasti mati Lihatlah ilalang, tidak akan sombong meski tegak berdiri, Tidak layu meski diinjak-injak,tumbuh segar meski tak disiram Hanya angin dan resapan air di dinding-dinding sanubari tanah Aku benci, sekali lagi jangan kau ucapkan Kata busukmu yang kau tuangkan pada orang-orang tak berdusta Jangankan manusia, tanah sekalipun tidak mau membaringkanmu Menyesal sungguh tak berarti Segalanya tidak bisa kau tutupi Apa kau cari harga diri Wahai munafik, sadarlah kau tidak sedang bermimpi Munaseh, PU SKM AMANAT, warga Soeket Teki

28

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Tokoh ď Ž Ahmad Tohari

Tebar Kebajikan lewat Sastra Oleh Siti Muslimah

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

29


Menebar Kebajikan... i jagad sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tak asing lagi. Salah satu sastrawan besar dengan ciri khas tersendiri yang selalu berkisah tentang kehidupan wong cilik. Karakter karya-karya dengan jelas diidentifikasi oleh khalayak sebagai “sastra desa�. Sastra Ahmad Tohari tak habis-habisnya mengisahkan kondisi sosial masyarakat desa yang terpinggirkan secara ekonomi maupun politik. Membincang Ahmad Tohari, sulit dilepaskan dengan karya emasnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk. Trilogi novel itu merupakan salah satu karya sastra Indonesia terpenting yang mengisahkan perubahan sosial-politik pada kurun waktu 1965-an. Di mana saat terjadi geger politik yang eskalasinya nasional dan melibatkan banyak korban, baik korban politik maupun korban kemanusiaan. Namun yang terpenting di balik itu adalah penggambaran kondisi masyarakat Dukuh Paruk yang bersahaja dalam kemiskinan. Tak bisa dinafikan, deskripsi tentang tata kehidupan warga Dukuh Paruk mewakili latar sosial yang menggejala saat itu. Dukuh Paruk adalah bagian terkecil dari gambaran kemiskinan masyarakat Indonesia yang hidup di pedesaan. Dan, Ahmad Tohari dengan gamblang menyingkap tabir ironi di negeri yang subur ini. Ronggeng Dukuh Paruk lebih memikat dengan kisah cabul warga Dukuh Paruk yang tidak bisa lepas dari ronggeng dan calung. Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan ramah kepada siapapun. Di masyarakat sekitar tempatnya bermukim, lelaki yang lahir dari rahim desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948 ini lebih kondang sebagai kiai ketimbang sastrawan. Ini dikarenakan Ahmad Tohari mengasuh pondok pesantren di tempat

30

tinggalnya. Justru hal ini memudahkannya untuk hidup sebagai manusia biasa di tengah-tengah pamornya yang melejit tinggi di dunia sastra (Yudiono KS, 2003). Ahmad Tohari pernah menempuh bangku kuliah di beberapa fakultas, seperti Kedokteran, Sospol dan Ekonomi, namun tak ada yang diselesaikannya. Ia lebih memilih dunia sastra hingga mengantarkannya sebagai penulis besar seperti saat ini. Kang Tohari, panggilan akrabnya, pernah mengenyam berbagai profesi, antara lain wartawan, kolumnis, cerpenis, novelis. Kesemua profesi itu menempatkan Kang Tohari sebagai pekerja sosial yang membaur dengan masyarakatnya. Pernah juga menjadi editor Harian Merdeka. Tulisan atau karya-karyanya bertebaran di berbagai koran dan majalah, antara lain Kompas, Suara Merdeka, Tempo, majalah Amanah, dll. Dia juga dikenal sebagai seorang ekspor kesenian rakyat Jawa dan konsultan untuk kantor regional di departemen kebudayaan dan pendidikan Indonesia. Proses kreatif Ahmad Tohari berlangsung sejak duduk di bangku SMA. Tetapi waktu itu tulisan-tulisannya masih beredar di kalangan terbatas. Tahun 1970-an Ahmad Tohari mulai mempublikasikan tulisannya. Selanjutnya, tahun 1975 ia mengikuti Sayembara Kincir Angin (lomba penulisan cerpen) yang diselenggarakan Radio Hilversum Nederlands Wareldomproep. Cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya keluar sebagai salah satu pemenang sayembara. Sejak itulah kepercayaan dirinya sebagai penulis tumbuh dan memberi motivasi untuk berkarya lebih. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidupnya di desa. Sastrawan asal Banyumas ini lebih suka membaur dengan masyarakat desa dari pada

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Menebar Kebajikan... hidup di tengah keramaian kota. Kecintaan kehidupan di desa telah menginspirasi Ahmad Tohari untuk melahirkan karya-karya yang kemudian dikagumi dan digemari banyak orang. Gagasan-gagasannya yang tertuang dalam karya-karya sastranya selalu berdimensi sosial. Misalnya, Ronggeng Dukuh Paruk yang bercerita tentang latar sosial-politik Indonesia. Novel Di Kaki Bukit Cibalak, Orangorang Proyek, Bekisar Merah, dan Belantik berkisah tentang realitas sosial yang dibenturkan dengan perilaku korupsi. Nuansa spiritual juga tidak bisa lepas dari setiap karya yang lahir dari tangannya. Novel Kubah misalnya, menceritakan tentang kehidupan keagamaan. Bahkan, esaiesainya yang tersebar di media umum lebih banyak menegaskan argumennya tentang kehidupan keagamaan. Dimensi religiusitasnya juga tercermin dalam buku (kumpulan esai) yang berjudul Berhala-berhala Kontemporer diterbitkan oleh Risalah Hati (Surabaya, 1996). Para penulis fenomenal selalu mengalami masa-masa sulit—yang itu justru menjadikan lebih besar. Begitupun Ahmad Tohari, lantaran novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dinilai berhaluan komunis, diciduk aparat kepolisian. Akibatnya, Ronggeng Dukuh Paruk mengalami sensor di bagianbagian penting namun sensitif. Maklum, saat itu rezim Orde Baru gagah berkuasa hingga segala sesuatu yang berbau menentang negara akan berurusan dengan penjara. Deskripsinya tentang latar cerita amat

detail. Sarat dengan pemilihan diksi yang elok—meski terkesan hiperbolis. Gaya bahasanya adalah sihir yang menghipnose pembaca. Penokohan yang sangat kuat seperti tokoh Srintil, Rasus, dan Sakarya dalam Ronggeng Dukuh Paruk, atau tokoh Lasi, Darsa, Handarbeni, Kanjat, dalam Berkisar Merah adalah bukti kuatnya imajinasi Ahmad Tohari. Karena memang berdimensi masyarakat pinggiran, tokoh-tokoh itu lebih digambarkan sebagai tokoh yang tak mampu melawan kondisi perubahan zaman. Mereka tetap lugu di desa yang sangat terpencil dan jauh dari kemajuan. Menurut almarhum YB Mangunwijaya (http://www. ceritanet.com/68tohari.htm, diunduh 16 Maret 2008), Ahmad Tohari adalah novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya. Ahmad Tohari adalah salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang memfiksikan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965 dan hasil pembunuhan massal. Kini trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah dicetak dalam satu oleh Gramedia dalam versi yang lebih lengkap. Pasalnya, bagianbagian penting yang pada masa orde baru mengalami “pengguntingan� disertakan kembali. Trilogi ini juga diterjemahkan ke dalam lima bahasa, yaitu bahasa Jepang, Cina, Jerman, Belanda, dan Inggris. Sukses Ronggeng Dukuh Paruk itu bukan suatu kebetulan. Karena proses penulisan Ahmad Tohari melalui penempaan

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

31


Menebar Kebajikan... panjang. Sejak terjadi geger politik yang lebih dikenal dengan gerakan 30 September (G30S/PKI), Ahmad Tohari muda resah, terdapat keinginan kuat dalam dirinya untuk mengungkap fenomena kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan kaum pinggiran melalui karya sastra. Namun, niat itu diurungkannya sampai keadaan benar-benar mendukung untuk menerbitkannya. Itupun harus mengalami penyensoran di beberapa bagian yang dianggap penting. Sebagai ganti, kang Tohari pun menulis Novel pertamanya yang diberi judul Di Kaki Bukit Cibalak. Ronggeng Dukuh Paruk pun lahir setelah melalui proses panjang. Lingkungan di mana Tohari dibesarkan sedikit banyak mempengaruhi karya-karyanya. Sebagai pe-ngarang, Tohari sangat piawai mengembangkan ide-ide dalam karya sastranya yang berlatar budaya masyarakat tempat dia tinggal. Karena ia me-nganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikaji umat manusia, termasuk ronggeng, salah satu kebudayaan daerah yang menginspirasi dan menjadi ciri khas novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ketika banyak orang menganggap ronggeng sebagai perempuan “tak baik�, bagi Tohari ronggeng adalah kepunyaan Tuhan yang bisa dijadikan bahan renungan. Bagi sastrawan NU ini, menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tak ada keterikatan waktu, sebagaimana orang bekerja. Ide kreatifnya pun tak berhenti dengan menulis sastra berbahasa Indonesia,

32

kemudian diterjemahkan kedalam bahasa asing, namun lebih dari itu, Ahmad Tohari pun akhirnya menerbitkan Ronggeng Dukuh Paruk dan Berkisar Merah dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa dialek Banyumas. Daya kreatifitasnya telah menjadikan A h -

mad Tohari memperoleh penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Dia pernah hadir di Fellowship International Writers Program di Iowa, Amerika, pada tahun 1990. Adapun Southeast Asian Writers Award diterimanya pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 2007 menerima penghargaan Rancage Award.

Media Dakwah

Penulis yang berlatar belakang pesantren ini berusaha menerjemahkan agama melalui budaya. Selama ini sangat sedikit orang memandang agama sebagai budaya, kebanyakan orang menganggap agama sebagai wahyu. Padahal agama adalah penafsiran dari wahyu. Melalui karya-karya sastranya, pembaca dapat melihat sosok Ahmad Tohari mempu-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Menebar Kebajikan... Karya-karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001), Orang-orang Proyek (2002), dan Rusmi Ingin Pulang (2004), Mas Mantri Menggugat (kumpulan kolom), Berhala-berhala Kontemporer (kumpulan esai). Dia juga meluncurkan kamus Banyumasan pada tahun 1996 nyai kepekaan sosial yang tinggi. Yudiono KS, melalui bukunya Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya (2003) memaparkan, Ahmad Tohari memilih sastra sebagai media berdakwah. Bagi Ahmad Tohari, sastra mampu mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan—ayatayat kauniyah yang nampak dari wujud dan realitas alam. Dengan menulis, Ahmad Tohari berharap mampu membangun moral masyarakat menjadi lebih beradab. Yakni masyarakat yang bersih, tidak suka menipu, korupsi, dll. “Sastra dan agama adalah wujud pertanggungjawaban terhadap peradaban, agama menggunakan kitab suci, sedangkan sastra merupakan karya akal budi manusia. Orang yang membaca karya sastra akan mendapat kearifan” (Yudiono KS, 2003). Karya-karya Tohari secara tidak langsung menunjukkan bagaiamana keprihatinan dirinya terhadap kondisi agama, budaya, bangsa dan negara. Terhadap perubahan kondisi lingkungan yang makin rusak, dan efeknya terhadap rakyat. Tokohtokoh dalam karya sastranya selalu orangorang kecil, ini menunjukkan keberpihakan Tohari terhadap mereka yang tersingkir, menderita, terjepit dan mereka yang tergilas perubahan zaman. Yudiono KS membagi karya-karya Ahmad Tohari dalam tiga kelompok. Pertama, novel-novel yang berwarna geger politik ta-

hun 1965, yaitu Roggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala, Lingkar Tanah Lingkar Air, dan Kubah. Kedua, novel-novel yang berwarna korupsi sebagai dampak pembangunan, yaitu Di Kaki Bukit Cibalak, Berkisar Merah, Belantik, dan Orang-orang Proyek. Ketiga, Cerpen-cerpen dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam yang berwarna pelangi kehidupan sosial. Menurut Yudiono KS, Ahmad Tohari adalah sosok pengarang yang senantiasa “hamil sastra”. Artinya dia mengalami kondisi batin yang memaksa harus menulis karya sastra agar tidak tersiksa jiwanya. Kepiawaian Tohari mampu mengungkap keikhlasan, cinta, kasih, kejujuran, kesewang-wenangan, ketidakadilan, dan ketertindasan dalam karya yang dihasilkannya. Karya-karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001), Orang-orang Proyek (2002), dan Rusmi Ingin Pulang (2004), Mas Mantri Menggugat (kumpulan kolom), Berhala-berhala Kontemporer (kumpulan esai). Dia juga meluncurkan kamus Banyumasan pada tahun 1996. n

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

33


Cerita Pendek

De El Palazzo

Cerpen Fany Setyaningrum

G

adis itu berjal a n d i b a w a h l a n g i t biru. Tatapann y a m e n g h a d a p k e bumi, dan langk a h n y a t e r a s a b erat. Namun, tak ada ba h a s a a p a p u n y a n g bisa dIterjemahkan dar i s o r o t m a t a n y a , k arena pandangannya ko s o n g m e n e m b u s benda di hadapannya. J i k a i a b e r t e m u dengan orang yang ia k e n a l , j a n g a n b e rharap menemukan senyu m r a m a h d a ri nya. Apalagi dengan or a n g y a n g b e l u m dikenalnya. Mungkin, ia a k a n m e n g h a l a u dirinya dari keramaian. I a t e r l e l a p d a l a m k esadarannya. Dirinya t e r b a g i m e n j a d i dua. Yang satu ada pad a t e m p a t y a n g tidak te rjangkau indraw i . *** Pagi selalu memberi k e c e r i a a n b a g i rumput-rumput dan ded a u n a n , k a r e n a

34

mendapat tetesan embun. Wajah langit y a n g h i t a m k e m b a l i b e r s i n a r d e n g a n k eh a d i r a n s a n g s u r y a d i u f u k t i m u r . M a n usia pun kembali terjaga dari tidurnya, w a k t u t e r a s a b e g i t u s i n g k a t k e t i k a b ahagia, seperti ketika mimpi indah, namun, hidup adalah menerima kenyataan, yaitu ketika kita tersadar bahwa khayal itu jauh dari kenyataan Audra, menuliskan cerita-cerita mimpinya pada buku hariannya. Cerita itu dirasakannya begitu nyata mengalun dalam melodi jiwanya, ia selalu berharap suatu hari nanti keajaiban akan datang d a l a m k eh i d u p a n n y a . Aku menemukan dunia yang unik, disana ada peri-peri kecil yang belajar t e r b a n g , d i a n t a r a m e r e k a a d a y a n g s p e-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


De El Palazzo sial. Bahkan aku pelu b e r f i k i r b a g a i m a n a mena khlukkan hatiny a , k a r e n a i a s u l i t memahami keinginank u . I a h i d u p d a l a m cita-citanya yang te r k u b u r o l e h p a k s a a n . Jika yang lain belaja r t e r b a n g , i a h a n y a terdi am. Aku menda t a n g k a n a n g i n y a n g mampu membuat say a p n y a m e n g e mbang, namun ia teta p m e n a n g i s m e n o l a k kehadiranku Aku melihat peri k e c i l y a n g m a n i s , kulitnya putih, bola m a t a n y a i n d a h , d a n suaranya lembut. Ak u t a k b i s a m elupakannya. Saat ia m e m a n g g i l k u u n t u k yang pertama kali. I a s u k a b e r m a i n main dengan tongka t a j a i b n y a . a k u j u g a melihat peri kecil di b a w a h a i r t e r j u n yang bergemuruh, ia t i d a k b e r s i k a p rama h padaku, ia dia m d e n g a n p a n d a ngan mencekam, seol a h i n g i n m e l e n y a p k a n aku dari dunianya. Ia s i b u k d e n g a n b u s u r panahnya. Aku juga selalu i n g a t c e r i t a p u t r i salju yang cantik. Na m u n , k a r e n a k e c a ntikannya ia di buang k e h u t a n . M e n urutku, kecantikan ad a l a h a n u g r a h s e k aligus ujian bagi makh l u k T u h a n b e r n a m a wanita. Dengan penuh luk a a k u b e r j a l a n melintasi jalanan ya n g a k u b e n c i . P e r a saan terbuang dan se n d i r i m e m a k s a a k u bicara pada rumput- r u m p u t y a n g k e ring. Aku tidak menem u k a n m a t a h a r i p a g i yang menyapaku den g a n r a m a h , k e t i k a aku keluar dari pera d u a n k u . N a m u n , a k u tidak peduli dengan p a n d a n g a n m e r e k a , ku sapa burung-buru n g y a n g b e r t e n gger di ranting pohon , d a n m e m b a n g u n k a n kelopak mawar dan m e m b u a t k u p u - k u p u yang hinggap, terban g m e n g e p a k k a n sayapnya. Setiap pa g i a k u m e l a n g k a h k a n

k a k i k u m e n u j u t a m a n d a n m e l i h a t b a yanganku di kolam. Aku melihatnya, bagai cermin yang selalu jujur menunjukkan baik dan buruk. Realitas menjaga jiwaku dari khayalan yang menidurkan diriku dari dunia nyata. Sementara aku mengikuti aliran jiwa yang tunduk dibawah tebing pengikat hati. Aku menyadari bahwa kenyataan mengalahkan ego dengan rasa dan keinginan. Mereka yang melintasi rumah ini pasti akan berkata ini bukan rumah melainkan sebuah istana. Didalamnya tinggal seorang putri yang hidup bahagia dengan bergelimangan harta. Setiap pagi bermain-main di taman, menikmati indahnya bunga dan tanaman hias yang mengelilingi gazebo dengan arsiktektur khas kerajaan seperti di tayangan Jawel in the palace, symbol glamouritas yang m e m uk a u s e t i a p o r a n g . N a m u n , k e b a h a g i a a n b u k a n d i d ap a t da r i s a n a , i a b e r s u m b e r d a r i j i w a yang tenang, dan semua itu adalah mimpi bagiku. Aku selalu mencari tempat dimana aku bisa terbang bebas. Dalam pandanganku, aku adalah narapidana yang singgah di hotel prodeo. Kadang aku lelah memainkan peranku di dunia ini. Yang hanya tunduk, patuh, tanpa bisa berbuat apa-apa. HANASTA D i a a d a l a h h a d i a h d a r i k e h e n i ngan yang menyentuh hati, sejenak aku merenungkan kembali sebuah satuan waktu yang aku lalui, aku menjadi angin y a n g m e r o b o h k a n b a n g u n a n , a k u m e mbuat pohon- pohon tumbang, tak peduli dengan anak musang yang kelaparan.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

35


De El Palazzo aku berjalan bagai api y a n g m e m b a k a r . Menatap kosong dengan p e n u h k e t e r a si ngan, tanpa keiklasan h a t i m e m b e r i k a n pandangan. Aku mulai bi c a r a p a d a d i r i k u tentang kebenaran kini d a n n a n t i y a n g kadang berubah. Kemarin ayah Audra m e m i n t a k u datang untuk memeriks a k e s e h a t a n p utrinya. Gadis itu begitu d i n g i n , d a n t i d a k menyambutku dengan ra m a h . I a t i d a k menatapku, ketika aku m e n g a j a k n y a bicara. Aku mengikutinya m e n u j u t a m a n bunga di depan rumah. I a m e n g a n g g a p k u hantu yang menakutkan , d i a k e t a k u k a n dan duduk di samping g a z e b o s a m b i l menggenggam sekuntum b u n g a m a w a r . Setiap hari aku dat a n g u n t u k m emeriksa kesehatan Aud r a , d a n s i k a p n y a selalu dingin. Bagaimana m e n a k l u k k a n gadis itu? Ia selalu mel a y a n g k a n p a n d a ngan kebencian ketika ak u m e n d e k a t i n y a , aku tidak ingin gadis itu m e n g a l a m i s a k i t yang berkelanjutan. Di s i s i n y a a d a p e ngasuhnya yang menema n i A u d r a , b e g i t u aku datang, Bibi Ellen m e n g g a n d e n g tangan Audra dan meng a n t a r k a n g a d i s i tu untuk menjalani tera p i . Pagi itu, Audra seda n g d u d u k d i g azebo, sepertinya ia sed a n g m e n u l i s , p a ndangannya menerawang j a u h , a k u m e l i h a t senyuman di bibirnya. G a d i s c a n t i k y a n g malang itu pasti sedan g l a r u t d a l a m i majinasinya. Bibi Ellen m e n g h a m p i r i k u dan memintaku tidak m e n g g a n g g u g a d i s i tu. Tak ada yang bisa k u l a k u k a n s e l a i n menurutinya. Aku pergi m e n j a u h s e b e l u m Audra melihatku. Aku mendengar suar a n y a , i a m e m a n ggilku, dengan sebutan D r , k e m u d i a n b e rl ari kear ahku. Dia meny e r a h k a n s e b u a h

36

buku dan memintaku untuk membacanya. Ini seperti mimpi, gadis itu tersenyum padaku, mungkinkah ia telah membuka hatinya? Aku membalas senyumnya dan mulai membuka halaman pertama dari t u l i s a n n ya . De El Palazzo tak bermakna apaapa, namun kalimat itu sering diucapkan Audra sebagai nama lain dari dirinya, De El Palazzo, itulah aku, aku yang lain, aku yang kadang datang dan kadang pergi, muncul sebagai bayangan jiwa. Aku merasa takut untuk menunjukkan diriku dihadapan semua orang, tapi Palazzo s e l a l u p u n y a k e b e r a n i a n . P a l a z z o m e n ginginkan untuk memiliki banyak teman, setiap bunga-bunga itu diajaknya bicara, d i a m e n ge r t i b a h a s a b u n g a . A d a y a n g h ilang jika palazzo tidak berada di taman, karena Audra tidak seperti Palazzo, ia hanya gadis yang sakit-sakitan. Ayahnya b a h k a n m e n g i r i m k a n s e o r a n g d o k t e r k h usus untuk menyembuhkan penyakitnya. Sebenarnya Palazzo tidak sakit, ia hanya membutuhkan seseorang yang bisa memahami dirinya. Sosok bibi Ellen bisa menggantikan ibunya. Namun ia hanyalah s e o r a n g p e n g a s u h y a n g h a r u s m e m atuhi perintah majikannya. Audra kesal terhadap bibi Ellen. Ia tidak suka dokter Hanasta datang setiap hari, ia tidak s a k i t . D o k t e r m u d a i t u s e l a l u m e m b u a tnya merasa seperti mayat hidup yang harus mengikuti segala kemauannya. Aku tidak mau tinggal di rumah, aku ingin kembali ke sekolah seperti anakanak lainnya. Namun, ayah merasa malu, ia tidak mau anak gadisnya menjadi murid di sekolah luar biasa. Pertengahan b u l a n j a nu a r i t a h u n l a l u a y a h m e n g e l u a r-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


De El Palazzo kan aku dari sekolah . K e m u d i a n m e n g i rimku ke tempat ini. P e n d u d u k d i s e k i t a r tidak ada yang tahu k e b e r a d a a n k u . A k u tidak tahu bagaiman a p e r a s a a n a y a h memiliki putri sepert i a k u . M u n g k i n i a malu dan ingin menyi n g k i r k a n a k u . Lari aku ke temp a t y a n g t e n a n g , ada yang hilang, seb u a h i r a m a k e h i d u p a n yang selaras, bagaim a n a h i d u p i n i t e l a h melemparkan aku ke t e m p a t y a n g s u n y i . Aku tidak mengenal b a n y a k o r a n g , a k u juga tidak ingin dike n a l . J i k a a k u m e njadi seorang bidadar i , m a k a a k u i n g i n k a n pelangiku, agar aku b i s a m e l i n t a s i d u a kehid upan. Khayalan d a n k e n y a t a a n . Tapi, ayah selalu me m a r a h i a k u , k a l a u aku tidak mau meme n u h i k e i n g i n a n n y a . I a berteriak di sampin g t e l i n g a k i r i k u , d a n wajahnya merah pad a m . A k u t e r t u n d u k dihadapannya. Palazzo datang m e n g h a m p i r i k u , d i a menenangkan aku, di a b e r b i s i k d i t e linga kiriku, bahwa ak u t i d a k b e r s a l a h . Ia menungguku, ia me n e m a n i a k u , d a n tinggal bersamaku. K a d a n g , j i k a i a k e s a l , ia meninggalkan aku, d a n a k u m e n a n g i s sendi ri. Aku tidak bis a m e n g a t a k a n s epatah katapun pada o r a n g l a i n . M e r e k a meng anggap aku gila . T i d a k m e n d e n g a r , dan tidak bicara. Mu d a h m e n a n g i s t a n p a sebab. Beberapa kal i a k u b e r t e r i a k s e perti cara ayah bert e r i a k . A k u m e n i r u k a n ayah yang sering me m u k u l k u j i k a m e l awan. Pada akhirnya, a k u m e r a s a k e sakita n. Namun, Palaz z o k e m b a l i b e r b i s i k padaku kalau aku tid a k b e r s a l a h . Aku membaringka n t u b u h k u d i l a ntai, aku membenturk a n k e p a l a k u h i n g g a berdarah. Hal itu se l a l u a k u l a k u k a n j i k a aku tidak mendapat j a w a b a n y a n g a k u

inginkan. Ayah, apakah ayah menyayangi aku? Dan setiap kali aku bertanya, ia selalu menjawab iya. Dia berbohong, dia t i d a k p e r n a h b e r s i k a p b a i k k e p a d a k u . P a lazzo kembali berbisik ketelinga kiriku. Dia tersenyum mengejekku, ia bilang kalau ayahku tidak pernah menyayangi aku. Audra! Audra! Dimana kamu? Suara itu lantang memecah keheningan. Gadis i t u m a s i h t e t a p m e n u l i s . A y a h a k a n m e ngirimkan seorang dokter untukmu. Kau harus menjalani terapi. Tidak! Aku tidak mau! Ayah kembali berteriak.�Audra turuti kata ayah!� Tidak! Aku tidak mau! Plak! Tamparan itu mendarat di pipi kiri Audra. Laki-laki itu meninggalkan Audra di kamarnya. Dia menangis, dan kembalii m e r e b a h k a n t u b u h n y a d i l a n t a i . I a b e r teriak sama persis seperti cara ayahnya berteriak. Seorang psikiater dengan pakaian putih-putih membuka pintu kamarnya. Audra, ini dokter Hanasta, kau harus menjalani terapi! Tidak! Aku tidak mau! Palazzo! Tolong aku!!! n 2 April 2009 Memperingati hari anak autis dunia

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

Fany Setyaningrum, Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki

37


Kolom

Kitalah Presiden Negeri Ini “Siapapun yang memiliki daya angon, daya menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja; sesama saudara sebangsa, memancarkan kasih sayang yang dibutuhkan dan dapat diterima oleh semua warna, semua golongan, semua Oleh Siti Lestari kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional. Bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.�­ --Tafsir Tembang Lir-Ilir Emha Ainun Nadjib (Budayawan) ungguh diskripsi yang amat gamblang! Dunia politik sedang marak. Ribuan kaki terjulur untuk saling menjegal. Lidah melengkung-lekung untuk saling menyindir. Memuji diri, menghujat lawan. Inilah dunia politik, dunia dengan segala keanehan yang tersaji dengan menjadikan rakyat sebagai bola perebutan untuk mencetak gol di lapangan keserakahan akan kekuasaan. Dan, saat nasib negeri tercinta Indonesia sedang disayembarakan. Tangan siapa yang laik mendesain? Emha Ainun Nadjib, akrab disapa Cak Nun, begitu cerdas menelanjangi makna pemimpin sebenarnya. Cak Nun mengambil metafora dalam tembang Lir-Ilir yang digubah Sunan Kalijaga: Semantik dari tembang Lir-Ilir berkisah banyak tentang kehidupan, tentang keimanan yang menjadi dasar dalam mengarungi hidup, tentang sepenggal negeri, dan tentunya tentang figur pemimpin ideal. Lir-Ilir, sebuah tembang dengan lirik berbahasa Jawa, sarat makna yang tak habis

38

dibahas sepanjang masa. Semakin hari rakyat semakin kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan pemerintah. Visi misi kepemimpinan yang awalnya melambungkan harapan berbalik menjadi pengkhianatan menyakitkan. Selalu saja, masalah perut dan kasur menjadi pemicu utama mereka mengkhianati janji setia kepada rakyat. Selalu saja, demi sebuah hak yang seharusnya didapat rakyat justru menuntut tumbal dengan gugurnya para prajurit-prajurit reformasi yang mati di tengah demonstrasi. Pemimpin ideal telah terkikis oleh zaman. Pejuang nasib rakyat dengan lebih mengedepankan kesejahteraan rakyat telah tumbang. Pemimpin yang rela terjaga di tengah malam demi tidur lelap dan perut kenyang rakyat telah lama mati. Dan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia berdasi datang menggantikan untuk memenuhi meja dinas pemerintahan. Tak heran jika akhirnya timbul komunitas-komunitas yang mutung dan memutuskan untuk golput.

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Kitalah Presiden... Di zaman serba mesin ini, sulit untuk dapat menemukan Kemelaratan ini seyogyanya tak terjadi pemimpin yang memiliki kriteria jika setiap individu merasa layak untuk laiknya digambarkan oleh Cak menjadikan dirinya sebagai presiden di Nun. Seorang yang memiliki jiwa kehidupannya. Di setiap potong episode berdaya angon, yaitu daya untuk melindungi gembalanya (rakyat) kehidupan, manusia tanpa harus bersikap dari serangan serigala (berbagai laiknya pengemis yang meminta belas kasipermasalahan sosial yang pelik, han sang majikan—pemerintah. seperti perekonomian dan kesejahteraan rakyat) yang selalu si, seperti cinta seorang ibu kepada anakdatang mengancam keutuhan kehidupan. nya yang terbukti rela banting tulang—tuKita sebagai rakyat jelata hanya bisa lang banting demi kesenangan anaknya. berharap di atas puing-puing keraguan. Maka cinta kepada Indonesia adalah Berharap agar pemimpin mau mengatur sebuah tuntutan kesempurnaan iman yang naik dan turunnya harga sembako. Ber- meminta bukti. Sebuah pembuktian yang harap agar jalan-jalan yang buruk rupa dapat diwujudkan dengan selalu memberidapat dipoles sehingga meminimalisasi kan pencerahan dan keluasan pengetajumlah kecelakaan. Berharap kartu berobat huan bagi seorang pengajar kepada muridmiskin dapat selalu tergenggam di jemari nya. Seperti terbangunnya taman kota yang agar sewaktu-waktu jika pancaroba datang dapat menghantarkan negara sebagai ikon rakyat dapat minum puyer gratis. Sungguh, dunia untuk para arsitektur, seperti anggota permintaan sangat sederhana untuk negeri DPR yang menyetujui kuota rapat sidang yang disebut-sebut sebagai “Sebongkah jika hal itu benar-benar menguntungkan tanah yang dicampakan dari surga ini�. rakyat. Seperti presiden yang menggemKemelaratan ini seyogyanya tak ter- bala kabinetnya untuk melayani rakyat jadi jika setiap individu merasa layak un- melebihi pelayanan seorang hamba satuk menjadikan dirinya sebagai presiden haya kepada tuannya. Seperti rakyat yang di kehidupannya. Di setiap potong episode merasa bertanggungjawab membuat jaya kehidupan, manusia tanpa harus bersikap bangsanya, tanpa lebih banyak menuntut laiknya pengemis yang meminta belas kasi- dan menyalahkan tanpa berbuat apapun. han sang majikan—pemerintah. Kita adalah pemimpin. Kita adalah presMencintai tanah air adalah sebagian iden untuk negeri sendiri. Dan, hanya di tangan kitalah seharusnya nasib bangsa dadari iman. Sungguh motivasi penuh telah Rasul pat ditentukan. Bukan di tangan para politisi alirkan pada darah setiap muslim. Sebuah yang terus berkoar-koar, sikut kanan sikut ajakan tersirat untuk mencambuk masing- kiri, mencuri start kampanye, dan mereka masing raga agar menyingsingkan lengan yang hatinya tak pernah dapat ditebak. ---Siti Lestari, demi kesejahteraan universal. Mencintai tidak cukup dengan membayangkan, say Penyair, warga Kampoeng Sastra love tanpa bukti, apalagi sekedar gemuruh Soeketteki Semarang. jiwa yang tak berstatus. Cinta butuh realisa-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

39


Resensi

Tantangan Ajal di Dasar Laut Judul : Dragon Penulis : Cilve Clussler Penerjemah : Arif Nugroho Penerbit : Dastan Books Tebal : 630 hlm Cetakan : I, Januari 2009 Resensator : Musyafak

D

ennings’ Demons, pesawat pasukan sekutu yang hendak menjatuhkan bom di kepulauan Negara Jepang, jatuh memeluk dasar laut usai ditembak pesawat Mitsubishi A6M Zero. Itu ketegangan pertama yang hadir dalam novel Dragon karya Clive Clusser. Novel petualangan itu diawali rencana pemboman tentara sekutu di beberapa bagian wilayah Jepang. Sebuah perseteruan politik perang menjelang berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945. Divine Star, kapal kargo yang mengang-

40

kut mobil ekspor tenggelam di pusaran Laut Pasifik. Awak kapal Narvik yang melintas di bawah komando kapten Arne Korvold berusaha mengevakuasi Divine Star guna mendapatkan klaim penyelamatan. Sebuah peruntungan harta yang cukup berlimpah bagi awak kapal jika berhasil memastikan klaim penyelamatan atas kapal itu. Tapi lacur, saat beberapa awak kapal Narvik mengevakuasi Divine Star, kapal pengangkut mobil-mobil mewah itu meledak. Big John, kendaraan penambang laut berbentuk kapal selam dilengkapi sekop

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Tantangan Ajal... dan pencengkeram, mengalami kepayahan oleh ledakan di dekat permukaan laut itu. Lembah-lembah di dasar laut terguncang hingga menggugurkan bebatuan. Kapal selam yang berfungsi mengambil sampel geologikal dasar laut itu tertimpa gugguran bebatuan hingga mustahil bergerak. Belum lagi salah satu mesin kapal selam malfungsi. Dirk Pitt, Direktur Khusus Proyek Khusus di NUMA (The National Underwater and Marine Agency—Dinas Bawah Laut dan Kelautan Nasional) Amerika serikat, hampir kewalahan mengemudi Big John. Sementara Plunkett terus mengutuki ajal yang kian mendekat. Berbeda dengan Pitt, pribadi tangguh yang tidak gampang menyerah. Pitt menolak kata “kematian” sekaligus cengkeram bahaya kata itu dirasakan begitu dekat. Petualang Pitt puluhan kali “mendekati ajal” ketika mengarungi dasar laut, tapi kelincahannya mengemudi kapal selam membuatnya selamat. Pitt banyak dikagumi oleh kehebatannya menghindari ajal di saat-saat sulit di dasar laut. Dinding Big John berlubang akibat desakan benda dari luar. Perlahan-lahan air masuk ke ruang generator kapal. Pitt tak bisa menampik rasa panik yang terus datang menghantui. Gemiricik air terdengar bagai iring-iringan malaikat penjemput nyawa. Dengan sebuah pipa, Pitt mampu menutup lubang itu. Tapi hanya untuk sementara waktu. Tekanan air laut lebih besar, dan lubang dengan tetap melebar. Pelan-pelan Big John terangkat dari kedalaman 5200 di dasar laut menuju permukaan. Ketika kapal selam penambang ini melayang-melayang dengan keseimbangan yang tak tentu, air makin deras menyesaki ruangan generator. Sebentar saja, air memuncak hampir menyentuh turbin gen-

erator. Jika air menenggelamkan turbin, tamatlah mereka. Karena turbin itulah penghasil tenaga penggerak Big John. Pitt dan Plunkett pasrah pada ketidakberdayaan ketika Big John terjun menuju dasar laut. Ketika mereka hendak keluar kapal dan berkeputusan berenang dari kedaalam laut yang tak terukur menuju permukaan, Al Giordino muncul membawa penyelamatan yang tepat waktu. Pitt merasai keajaiban penyelamatan Al Giordino tetap menggembalakan nyawanya. Pasca ledakan di Laut Pasifik itu, dunia Barat ribut-ribut soal nuklir yang mengancam. Meledaknya Divine Star adalah bukti awal Jepang tengah berupaya menggunakan nuklir untuk mengancam kedaulatan Amerika Serikat. Hulu ledak nuklir dipasang di beberapa mobil ekspor yang diangkut kapal menuju Eropa dan Amerika itu. Diketahui penyelundupan nuklir itu adalah Proyek Kaiten yang dijalankan oleh pebisnis besar Jepang. Hideki Suma menjadi otak segala sesuatu berkaitan dengan nuklir dan penanaman modal asing di Amerika. Bersamaan itu perang finansial hampir mendesak Amerika pada situasi krisis. Kurun waktu 1993 situasi ekonomi Amerika Serikat dikuasai Jepang. Para pengusaha Jepang mempunyai investasi lebih dari separuh besaran modal yang ada. Para Anggota parlemen di gedung oval bahkan khawatir harus “menjual” negaranya kepada Jepang. Hideki Suma, pengusaha besar Jepang yang mempunyai pengaruh ekonomi terbesar di Amerika dirasa sebagai ancaman nomor wahid. Sejatinya pemerintah Jepang tidak mendalangi Proyek Kaiten. Kecuali, orangorang macam Suma yang mempunyai kepentingan pribadi di belakang kepentingan pemerintah Jepang. Suma mendiri-

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

41


Tantangan Ajal... Ancaman Kaiten kembali menyeret Dirk Pitt pada petualangan dasar laut yang berbahaya. Pitt harus menelusuri jejak instalasi nuklir di bawah laut. Dragon Center, pusat organisasi nuklir yang dijalankan Gold Dragon, mutlak harus ditemukan. kan instalasi pengembangan nuklir tanpa sepengetahuan pemerintah. Hingga seolaholah, Proyek Kaiten adalah agenda besar Jepang untuk meruntuhkan Amerika dan Eropa. Karena pemerintah Jepang pada mutlaknya tidak dijalankan oleh politisi. Tapi dikendalikan oleh penggerak usaha yang menggoyang di belakang birokrasi. Masalah nuklir kemudian melebur dalam masalah baru, harta jarahan Perang Dunia II. Karena ternyata proyek itu dibiayai oleh besarnya harta rampasan yang dijarah selama Perang Dunia II senilai ratusan miliar dolar. Pemerintah resmi Jepang hampir ti-dak mendapat kontribusi “harta gelap” tersebut. Harta jarahan itu dikelola secara rapi oleh Koda Suma, ayah Hideki Suma, yang membentuk organisasi Gold Dragon. Gold Dragon dikuasai oleh militer bawah tanah Jepang seusai Perang Dunia II. Ancaman Kaiten kembali menyeret Dirk Pitt pada petualangan dasar laut yang berbahaya. Pitt harus menelusuri jejak instalasi nuklir di bawah laut. Dragon Center, pusat organisasi nuklir yang dijalankan Gold Dragon, mutlak harus ditemukan. Tanggal 9 November 1993, Pitt diumumkan hilang dan meninggal di sebuah kecelakaan di lepas pantai Jepang. NUMA, juga orang-orang teras Amerika merasa berhutang budi pada Pitt yang reputasinya luar biasa mengagumkan. Selama karirnya Pitt

42

mendapat banyak penghargaan di darat maupun di laut. Lelaki penggemar koleksi mobil itu telah menemukan bangkai kapal Serapis dan harta karun La Daroda. Pitt juga menjadi inti pengangkatan bangkai kapal Titanic. Siapapun telah mengira Pitt telah mati. Berharap lelaki yang tak mau menikah itu masih hidup, adalah kesemuan. Tapi siapa sangka Pitt mendarat selamat di Pulau Marcus, 1.125 kilometer sebelah tenggara Jepang. Clive Clussler, penulis, mampu mendeskripsikan detail ceritanya. Clussler berhasil melukis setiap ketegangan dengan rangkaian kata-katanya. Alur Dragon sangat laju dan paripurna dengan penyertaan tanggal dan tempat kejadian secara persis. Penulis seolah tidak menceritakan, tetapi menunjukkan lukisan detail pada setiap peristiwa yang menegangkan. Dragon merupakan serangkaian novel petualangan Dirk Pitt. Di dalamnya, karakter Dirk Pitt konsisten. Tokoh utama itu selalu memiliki citarasa tinggi terhadap mobil—dalam Dragon koleksi yang disukai adalah mobil Stutz. Imaji Clussler tentang laut hampir tidak cacat, lantaran ia sendiri berpengalaman sebagai anggota NUMA yang berpetualang di dasar laut. Namun, sayang, kesan bertele-tele tidak dapat ditampik. Pembaca akan menemui alur cerita yang sangat panjang—meski sambung menyambung. Ketebalan buku di atas 600 halaman membuat pembaca “menyerah” sebelum membaca. Meski begitu, novel seri petualangan Dirk Pitt ini tak mengecewakan dibaca oleh penggemar fiksi petualangan. Konsistensi Clussler sebagai pengarang fiksi petualangan mendapat julukan sebagai The Grandmaster of Adventure. n

Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa


Soeket Teki Bicara sastra dengan rasa

43


Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Majalah Soeket Teki Edisi 3  

Majalah Soeket Teki Edisi 3  

Profile for skmamanat
Advertisement