Page 1

Edisi I/Januari 2007

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa

1


Edisi I/Januari 2007

PENERBIT: Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT IAIN Walisongo Izin Penerbitan: SK Rektor IAIN Walisongo Semarang No. 026 Tahun 1984 ISSN:0853-487X Pelindung: Prof. Dr. Abdul Djamil, MA . (Rektor IAIN Walisongo) Pembimbing: S Prasetyo Utomo, Prie GS, Triyanto Triwikromo, Joko J Prihatmoko, Ajang ZA, Joko Tri Haryanto ------------------------------------------------------Pemimpin Umum/Penanggung Jawab : Edy Purnomo Koordinator Riset: Moehammad Oliez Staf Riset:G-Penk Pujiyanto,Wahyu Agung, Amin Fauzi, Rohmi Arifah, Anika Rahmawati, Ani Maskanah, Winarto -----------------------------------------------------------------Kepala Penerbitan : Mohammad Salafudin Tim Redaksi : Masorin, Syaikhuna, Mohammad Salafudin, Sidli Rikhanah, Agus Mutohar, Mustagfiroh, Musyafa, Sidli Rikanah, Fatwa Khidzati, Inayatul Musyafaah Layouter : Farih Lidinillah

Buletin Sastra

“Soeket Teki” Bicara Sastra dengan Rasa Alamat Redaksi : Jl Prof Hamka km 3 Semarang 50185 Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) kampus III IAIN Walisongo Semarang Lt. Jl. Prof. Hamka Km 2 Semarang 50185 E-mail: suketteki@gmail.com, suket_teki@yahoo.co.id Blog: http://suketteki.wordpress.com

“PARUH NAFAS DI UJUNG JARI” OLAH GRAFIS:

Farih L.

2

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi I/Januari 2007

SALAM BUDAYA %

Kulonuwun...

DAFTAR ISI SAJIAN EDISI INI

DAFTAR ISI……………..............................….... 3 SALAM BUDAYA Kulonuwun............................................................ ... 3 OPINI Sastra VS Agama…..............…………………... 4 KOLOM Sastra dan Relegiositas……………………...... 6 WACANA Sastra Perspektif Feminis………....…………... 8 CERPEN Paruh Nafas di Ujung Jari…..........……….…... 10 Kebisuan Sang Rembula………………….......12 Emak .............................……………………….. 14 Sajak…………...............................……………..16 RESENSI Cerpen dengan Bahasa Ringan……….....…...18 TIPS Menulis Cerpen itu Mudah………….....……….19 ARTIKEL TAMU Menggagas ke Wilayah Rawan.…………....... 20 PROFIL Sekilas Kampoeng Sastra Suket Teki Semarang......................................................................... 22

Soeket Teki

ALHAMDULILLAH, puji syukur kepada Tuhan, karena atas rahmatNya, buletin yang jauh dari layak ini bisa terbit dan menyapa sedulur - sedulur, meski dengan kemampuan yang ‘sangat terbatas’, dan mungkin nggak mutu. Bermula dari obrolan di antara kawan- kawan SKM Amanat yang cinta sastra, muncul ide untuk mendirikan sebuah komunitas sastra yang kemudian kami beri nama “Kampoeng Sastra Soeket Teki”. Dan sebagai awal untuk belajar dan berkreatifitas, maka dibuatlah buletin Soeket Teki ini. Tanpa bermaksud sok filosofis, Soeket Teki akhirnya kami pilih sebagai nama komunitas dan nama buletin. Dengan setetes, setitik, kemudian (semoga) muncul secercah harapan, akan selalu mengakar dan eksis. Dengan berangkat dari filosofi hidup Soeket (rumput) Teki yang bisa tumbuh di mana saja. Soeket Teki itu bukan komunitas baru yang dipunyai SKM Amanat. Tetapi sebagai upaya menghidupkan dan menggairahkan kembali kecintaan akan sastra di antara kawan- kawan di Semarang, khususnya lagi kawan-kawan Amanat. Sebelun ini, ada beberapa komunitas sastra lain yaitu Paramasastra (Amanat) dan Lontar Liar (komunitas pecinta sastra IAIN Walisongo). Ya, kayaknya tulisan di atas nggak ada yang penting. Yang jelas, kini semangat dan kecintaan untuk membumikan lagi sastra itu mulai bergeliat. Maka rasa itu harus dipupuk dan diberi wadah agar tidak bingung. Lha, kok. Akhirnya, terima kasih kepada pihak-pihak yang telah sudi urun rembug dan tentunya urun duit (lha, iki penting banget) kepada Soeket Teki. Kepada sedulur Rektor Prof Abdul Djamil, Drs. Machasin, S. Prasetyo Utomo, Prie GS., Triyanto Triwikromo, Joko JP, Jeteha, Ajang ZA., dan masih banyak lagi. Tiada kata yang indah selain ucapan ‘maturnuwun sanget’ atas sumbangan apapun bentuknya. Demikian, selamat menikmati. Selamat membaca. Dan yang terpenting, terus berkreatifitas dan jangan pernah menyerah buat kawan.„ Redaksi

Bicara Sastra dengan Rasa

3


Edisi I/Januari 2007

OPINI

A

Sastra vs Agama Oleh AGUS MUTHOHAR

da atau tidak keterkaitan antara sastra dan agama adalah dua hal yang sering menjadi perdebatan di kalangan sastrawan -agamawan. Berbagai komentar dari para tokoh sastrawan dan agama pun, cukup banyak mengemuka berkaitan dengan hal itu. Nota Rinkes, misalnya. Menurutnya karya sastra itu apolitis (tidak boleh berpolitik), tidak menyinggung agama (netral) dan tidak menyinggung kesusilaan (norma) dalam masyarakat. Berbeda dengan Rinkes, Sartre berpendapat, bahwa sastra akan menggantikan peran agama. Pendapat yang dikeluarkan Sartre tentu bukan tanpa beralasan. Namun karena kecenderungannya memang demikian. Di negara -negara maju, kesan itu lebih kentara. Di mana kebanyakan anggota masyarakatnya lebih suka membaca karya sastra ketimbang mengkonsumsi buku-buku agama. Sementara Isaac Bashevis Singer, peraih nobel sastra 1978, tidak sependapat dengan Sartre. Singer berpendapat, tak mungkin sastra menggantikan agama. Karena sastra tidak bisa memberi arti sebesar agama. Dia menilai tidak ada novel, cerpen dan puisi yang bisa menandingi “Kesepuluh Perintah Tuhan�. Parahnya, perdebatan sastra dan agama tak hanya sebatas diskursus belaka. Tetapi telah menimbulkan resistensi yang berimbas pada terjadinya konflik. Novel berjudul The Da Vinci Code karya Dan Brown, menjadi bukti ketegangan antara sastra dan agama atau estetikaetika. Dan Brown yang mencoba melahirkan karya sastra dalam bingkai teologis, harus menangguk kritik dari kalangan gereja lantaran memuat cerita tentang perkawinan dengan Maria Magdalena dan punya anak.

Problem klasik Sejak zaman Galileo, ketegangan antara etika dan estetika sudah terjadi. Jadi ketegangan- ketegangan serupa pada saat sekarang sebenarnya hanya perpanjangan dari ketegangan di masa lalu. Benar salah, iman - kuffar, menjadi perdebatan yang melelahkank dan tak kunjung tuntas. Polemik antara Galileo vs Gereja telah menciptakan ketegangan yang cukup menyita perhatian kalangan sastrawan dan agamawan. Sejarah juga mencatat ketegangan itu menjadi tarik - ulur teologis - politis. Kebenaran dan kesalahan dalam konteks ini pada akhirnya bermuara pada ranah relativitas masing-masing. Ketegangan etis-estetis semacam itu mengingatkan kita pada kontroversi The Satanic Verses (1989) karya Salman Rushdie, yang menuai kritik keras dari Ayatullah Khomeini.

Sastra dan agama di Indonesia Jika dirunut dari sejarah sastra tak terkecuali sastra Indonesia, persentuhan antara sastra dan agama telah berlangsung lama. Satu contoh yang belum dikemukakan secara luas adalah kasus roman Oestaz A Ma’sjoek (1939) karya Martha (Maisir Thaib) dan pendahuluan yang diberikan oleh Hamka untuk roman tersebut. Kasus bersamaan terjadi pada roman karya Hamka berjudul Angkatan Baroe (1939). Kedua roman ini mendapatkan reaksi keras dari ulama Perti yang memasukkannya dalam agenda khusus pembicaraan

4

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Sastra VS Agama Edisi I/Januari 2007 konferensi II mereka di Limbanang Suliki (Sumatra Barat), 25-29 Agustus 1940 (Sinar Sumatra, 24 Agustus 1940). Dalam konferensi (kongres) itu dihasilkan tiga putusan penting untuk meng-qunut-kan kedua pengarang itu dalam setiap shalat subuh selama sebulan penuh, membakar kedua roman tersebut, dan melaporkannya pada pihak kepolisian. Alasan yang dijadikan dasar keputusan itu adalah karena kedua karya dan pendahuluan Hamka tersebut dinilai sebagai fitnah dan penghinaan terhadap ulamaulama Perti. Resistensi ini diambil oleh Perti sebagai bentuk reaksi terhadap karya-karya yang dianggap membahayakan. Kasus yang cukup terkenal adalah pemuatan cerpen Ki Panji Kusmin (Sudihartono) berjudul Langit Makin Mendung. Masih banyak lagi kasus yang berhubungan dengan pihak agama dan karya. Namun sebagai bahan diskusi, kedua contoh di atas dapat menjadi titik awal. Karya sastra memang rawan terhadap resistensi, terutama jika sudah berhubungan dengan agama. Karenanya, agama dalam pandangan sebagian orang

adalah ranah yang harus steril dari hujatan dan kritikan. Apakah tarik menarik dan adu argumen yang terus berkembang menandakan bahwa sastra dan agama tak akan menemukan titik jelas? Satu sisi sastra menawarkan kebaruan-kebaruan dalam menafsirkan realitas, pandangan-pandangan anti kemapanan dan melawan arus. Sementara di sisi lain, agama menawarkan kemapanan, pengayoman, aturan, dan janji-janji yang mampu menenteramkan umat. Kebaruan-kebaruan tersebut terkadang dimaknai dengan kebebasan tanpa batas (free will/ - free act). Akibatnya, banyak karya sastra yang terkadang lepas dari wilayah etik dan estetik. Gustave Flaubert, novelis Prancis yang terkenal dengan karya masterpiece-nya Madame Bovari, yang dikatakan penuh dengan ekspresi kepornoan. Adagium “L’art pour l’art” seni untuk seni juga lahir dari seorang Flaubert.

Soeket Teki

Islam bicara sastra Banyak yang berasumsi bahwa hadirnya agama dalam sastra akan membatasi kebebasan dalam melahirkan karya. Dengan alasan agama penuh dengan aturan-aturan yang bisa mengekang kreatifitas. Penulis menilai pendapat itu masih sangat prematur. Kita dapat menganalogikan kekhawatiran tersebut dengan kekhawatiran seniman Mesir kuno, yang dibatasi agar tidak menggambar dan mengukir objek yang bernyawa. Kreatifitas adalah masalah keinginan (willing). Dan jujur, bahwa potensi adalah modal utama menciptakan sebuah karya yang diberikan oleh sang Maha Kuasa. Pendek kata, meski ada pembatasan-pembatasan, bila kita tetap mempunyai keinginan besar untuk berkarya, maka akan terwujud. Begitu juga dengan seniman Mesir kuno, batasan-batasan yang ada pada waktu itu justru menjadi ‘cambuk’ melahirkan karya-karya terbaiknya. Itu dibuktikan dengan berbagai macam kaligrafi dan piramida yang sangat eksotik yang lahir dari tangan-tangan mereka. Karenanya, sastra dan agama terutama Islam tidak memiliki kesenjangan. Bahkan kedua hal tersebut saling mendukung. Paling tidak, ada dua argumen yang bisa dijadikan pegangan. Pertama, Islam memiliki konsep keindahan esensial sebagai sesuatu yang hakiki. Ismail Al Faruqi menjelaskan, seni dan seniman Islam merasakan agamanya itu penuh keindahan. Ini bermuara dari nama Tuhan al-Jamal, dengan ayat penjelas, “Sungguh Allah itu indah, Ia suka keindahan”. Ayat lain, gambaran tentang keindahan menemukan bentuknya yang paling sublim, selain susunan kata, misalnya, mengungkapkan taman surga, baik saat menggambarkan balasan pahala maupun perjalanan Nabi saat Isra Mi’raj. Bahkan dalam menjelaskan neraka pun tampak sentuhan keindahan, “Dia, neraka itu melemparkan percikan bagai istana dan unta kuning yang beriring-iring”. Kedua, hakikat agama adalah mistik. Tidak saja Muhammad Iqbal yang menjelaskan bahwa tingkat keberagamaan paling tinggi adalah mistik, tetapi juga Imam al-Ghazali. Demikian juga hakikat seni. Daerah pengalaman kepenyairan tertinggi adalah daerah pengalaman religius. Pada titik ini, hubungan Islam dan seni pernah demikian sublim dan menyatu sehingga menimbulkan berbagai corak pengungkapan puitis yang memiliki dimensi universal. Tercatat, beberapa penyair besar Eropa mengakui mendapatkan inspirasi dari puisi-puisi sufi seperti Rumi, Jami, Sa’di, dan lain-lain. Diantara mereka adalah Dante Aliegheri, Goethe, Schiller, dan satrawan besar lain. Kedua alasan di atas menunjukkan kekariban antara Islam dan sastra. Atas dasar itu, sangat beralasan jika sastrawan asal Purwokerto, Ahmad Tohari mengatakan bahwa tanpa agama sastra tidak bisa dipertanggungjawabkan!„

AGUS MUTOHAR, Pemerhati sastra, penduduk Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang.

Bicara Sastra dengan Rasa

5


Edisi I/Januari 2007

K OLOM

Sastra dan Religiositas Oleh JOKO TRI HARYANTO

Suburnya karya sastra menjelang hari-hari besar agama seperti Ramadhan, Natal dan lain-lain, belum sepenuhnya mencerminkan kesadaran transendental. Nilai-nilai religiositasnya telah ‘direduksi’ menjadi kamuflase dan ‘rutinitas hampa’, tanpa penghayatan substansial, bahkan hanya dijadikan komoditas.

L

ihatlah ketika bulan Ramadhan datang. Tiba-tiba kehidupan menjadi sedemikian berbau agama (baca ;Islami). Hal yang nyata adalah maraknya lagu-lagu Islami di layar televisi, beredar pula di kaset-kaset dan VCD. Para artis laris mendapat proyek melantunkan lagu-lagu yang bernuansa Islami. Lagu-lagu Islami pada bulan Ramadhan menjadi khas, mungkin seperti ketupat dan lontong opor ketika lebaran tiba, atau kue tar saat peringatan Natal. Hari-hari besar agama juga menjadi bulan yang penuh mood untuk menumbuhkan ide-ide transendental bagi penyair untuk menuliskan bait-bait puisi yang penuh nuansa spiritual. Orang-orang berlomba menuju Tuhan mencari keridhaan-Nya, mengisi hari-hari besar dengan perenungan intensif tentang diri. Maka lahirlah puisipuisi renungan spiritual. Bahkan puisi ini pun seperti berita yang memiliki nilai aktualitas tinggi, sesuai dengan suasana keberagaman yang melonjak, maka puisi-puisi religius menjadi karya seni alternatif saat Ramadhan maupun Natal. Hal serupa juga melanda segmen budaya yang lain, seperti lukisan, hasta karya atau ketrampilan, mode pakaian dan sebagainya. Namun yang ingin saya kemukakan di sini adalah tingkat “keihklasan” dalam berkarya, berekspresi seni yang bercorak Islami. Karena sejauh ini, secara suudhan, gejala islamisasi kesenian pada bulan Ramadhan ini menjadi sedemikian berbau komoditas. Bahkan seorang teman pernah mengatakan, ia tidak akan percaya tentang kesungguhan beberapa penyanyi yang melantunkan lagu-lagu Islami ditelevisi. Walau telah berpakaian Islami, lengkap dengan jilbabnya. Karena pada penampilan lagu-lagu di luar itu, sang penyanyi sudah sedemikian populer sebagai penyanyi dengan pakaian menor dan sensual, teman saya tidak percaya dengan kesungguhan penyanyi, bahwa nyanyiannya benarbenar terhayati di hati.

6

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Sastra dan Relegiositas Edisi I/Januari 2007

Teman saya itu menganggap bahwa nyanyian itu ditampilkan hanya untuk mengikuti suasana pasar saja. Ketika Ramadhan tampak Islami, tetapi setelah keluar dari Ramadhan kembali pada selera yang jauh dari nilainilai transendental. Semua bentuk kebudayaan dalam artian seni, pada era awal peradaban manusia, sebenarnya merupakan ekpresi transendental. Di mana saat itu kesenian muncul sebagai alat berhubungan dengan kekuatan supranatural atau Tuhan. Lukisan primitif seperti di gua leang-leang, Sulawesi, oleh para ahli diyakini sebagai bagian dari ritual syukur atas berlimpahnya hewan-hewan buruan. Demikian juga dengan nyanyian dan alat-alat musik, seperti Nekara, Moko, Gendang dan sebagainya adalah alat-alat dalam kegiatan ritual pemujaan. Pengakuan manusia terhadap kekuatan dan kekuasaan ghaib yang supranatural, menjadikan kehidupan manusia bersandar kepadanya harapan mendapat ketenangan perlindungan dan kemakmuran benar-benar disandarkan kepada Sang Ghaib Dan ini berbeda dengan keadaan sekarang akan kecenderungan pengakuan atas kekuasaan Tuhan. Dengan berkembangnya teknologi, manusia kemudian mengalahkan sandaran hidupnya denga - kepada alat dan teknologi tersebut, bahwa cukuplah teknologi yang itu yang kemudian mnencukupi kebutuhan manusia, sehingga sentral yang berbentuk adalah manusia itu sendiri. Semua dianggap cukup dari manusia, oleh manusia dan dari manusia.

Demikian juga halnya kebutuhan rohani, seperti kegelisahan dan kesedihan akan dipenuhi oleh manuisa sendiri, maka nilai-nilai keindahan yang semua bermakna transenden berubah menjadi alat penghiburan. Bagaimana nyanyian dapat menghibur hati yang lara, musik yang mendayu-dayu dapat mengobati rasa kepenatan dari efek pekerjaan yang terus mencekam hidup manusia bahkan puisi pun dapat dipaksa menjadi alat melampiaskan kejengkelan dan caci maki pada musuh politik. Jika sudah demikian maka hasil seni tersebut hanya diorientasikan pada kebutuhan manusia belaka. Namun gejala ini tidak berarti dapat digeneralisir begitu saja, walau nampaknya hal ini telah menjadi gejala umum. Karena tentu masih ada orang dibelahan dunia ini yang benar-benar menyandarkan hidup pada Tuhan yang tentunya juga orang yang konsisten untuk menggeluti seni transenden. Demikian pula pada penulis puisi dan lagu yang tetap pada jalur seni bernuansa agamis. Selera publik, seni pada bulan Ramadhan yang cenderung pada karya seni agamis ini juga menjadi tanda betapa orang Islam masih menginginkan terciptan ya

Soeket Teki

suasana religius pada saat menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadhan dan tentunya kesadaran bahwa hal yang sifatnya transenden masih menjadi bagian dalam kehidupanya. Terlepas dari kesadaran yang muncul apakah dari perasaan yang mendalam atas pengahayatan momen dari kesucian hari besar agama atau sekadar memenuhi kebutuhan “bazar seni” di bulan Ramadhan kita masih bersyukur bahwa ada harapan terciptanya religius di kehidupan ini. Dan memang semuanya harus dikembalikan kepada khalayak. Bagaimana tentang karya seni tersebut. Masalah ketidakpercayaan kepada keikhlasan kepada pelaku seni yang berkarya, barangkali karena mereka sama sekali tidak mencerminkan religiositas dalam sikap dan penampilan mereka di luar bulan Ramadhan, tentu terserah pada penikmat seni tersebut. Walaupun demikian menurut hemat penulis karya seni dan produk budaya akan menjadi monumental dan besar apabila didukung oleh sikap dari penghayatan akan munculnya karya tersebut . lagu-lagu dan karya sastra reluigius yang tercipta akan terasa lebih “nges” apabila lahir dari pencipta lagu yang “khusuk” dalam pengahayatan keagamaanya, sehinga akan jauh dari kesan “lamis”, maupun kesan karya tersebut dicipta hanya sebagai barang komoditi. Walau tidak disangsikan lagi bahwa karya tersebut menjadi komoditas, tetapi proses dan hasil kreatifitasnya menunjukan kualitas sikap yang melatar belakangi, ini yang menjadikan pasar bisa percaya bahwa karya tersebut tercipta karena proses imajinasi yang mendalam dengan karakter yang kuat. Demikian juga bagi aktornya dan penyanjiannya, akan mendapatkan kepercayaan dari publik, bahwa pentasnya tidak karena persoalan komoditi melainkan penghayatan atas karya seni tersebut!„ JOKO TRI HARYANTO, Pemerhati sastra, tim perumus Kampoeng Sastra Suket Teki Semarang

Bicara Sastra dengan Rasa

7


WACANA

Edisi I/Januari 2007

Sastra Perspektif Feminis Oleh INAYATUL MUSYAFAAH

Perspektif keindahan sastra saat ini masih dipegang budaya patriarkal, bahkan ada kecenderungan mendiskreditkan perempuan dalam mengekspresikan karya satranya. Alhasil, saat ini gerakan sastra feminis mewarnai khazanah kesussastraan di Barat dan Timur, termasuk Indonesia.

8

D

ewasa ini, diberbagai penjuru dunia, perempuan mulai bangkit meneriakkan ketidakadilan dalam sistem patriarki. Memang, selama ini perempuan telah dimarjinalkan dalam segala bidang, termasuk di bidang sastra. Dalam sejarah kesusastraan, kita melihat keberadaan perempuan di bidang ini cenderung tersubordinasi, baik pada kesejarahan, proses kreatif maupun sosial. Setelah rezim Soeharto yang militeris, otoriter, puritan itu runtuh, kebebasan berpikir sudah tidak dipasung lagi. Sebuah fenomena hadir dalam kancah kesusastraan di Indonesia. Munculnya penulis perempuan mengusung tema yang sama, yaitu feminisme. Dengan misi pendekonstruksian terhadap segala hal yang tabu, tujuannya adalah masalah klasik, yaitu melakukan pembebasan terhadap eksploitasi wanita.

Mempertanyakan relasi jender Bicara mengenai sastra feminis, ada tolak ukur yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan apakah karya seorang penuklis perempuan dapat dikatakan sebagai sastra feminis atau bukan. Karena seringkali pembaca dibuat bingung, apakah semua karya penulis perempuan adalah sastra feminis?. Pertanyaan di atas memberi gambaran masih adanya kebiasan dalam menilai karya feminis. Karya sastra dapat disebut berprespektif feminis jika ia mempertanyakan relasi jender yang timpang, perombakan tatanan social, dan mempromosikan terciptanya relasi kekuatan antara laki-laki dan

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Sastra Perspektif ... Edisi I/Januari 2007 perempuan yang seimbang. Kondisi yang kurang menguntungkan seringkali menyudutkan perempuan. Di Indonesia misalnya, budaya patriarki masih sangat kental. Stereotip bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah sedangkan lelaki makhluk yang kuat memiliki otoritas penuh terhadap perempuan. Berangkat dari hal itu, sastra feminis lahir dan berpijak pada penyetaraan perempuan. Pemberian ruang terhadap perempuan untuk menyuarakan keinginan, hak, dan kebutuhannya, sehingga ia mampu menjadi subyek dalam kehidupannya.

Kemarahan terhadap kaum laki-laki Dalam acara ulang tahun majalah Horison yang ke-32, Budi Darma, Novelis dan kritikus sastra mengatakan, sastra feminis memiliki ciri yaitu, kemarahan terhadap kaum lakilaki dan kebudayaan yang orientasinya adalah kepentingan laki-laki. Penulis perempuan menumpahkan kemarahannya melalui karya mereka, untuk penindasan yang selama ini dilakukan kaum laki-laki. Ketertimpangan jender yang sangat merugikan kaum perempuan gugatan kemarahan dituangkan untuk menyalurkan ketidaksepakatan terhadap budaya patriarkal yang lebih mengunggulkan kaum laki-laki daripada budaya matriarkal (kaum perempuan), Seperti dalam karya terbaru Nh. Dini, berjudul “Dari Parangkik ke Kamboja� (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap istrinya. Nh.Dini melakukan protes atas ketidakadilan jender yang dialami perempuan.

menjadi hal yang tabu ,mungkin dikarenakan ketidaksiapan masyarakat menerima sesuatu yang baru dengan tiba-tiba. Meski demikian, lambat laun masyarakat pasti sadar bahwa karya sastrawati bukan semata-mata menyuguhkan cerita tidak senonoh seperti anggapan kebanyakan orang sekarang ini melainkan dapat memberikan nilai kritik dan gugatan atas ketidakadilan yang melingkupi kaum hawa. Sesungguhnya, memang tidak pernah ada pembagian kerja dalam seksuallitas dalam sastra. karena baik buruknya nilai sastra bukan diukur dari pribadi penulisnya. Tapi baik buruknya sebuah karya sastra hanya layak diukur dengan parameter yang berkaitan dengan sastra itu sendiri. Namun, kalau kita mau membaca dengan jeli, karyakarya perempuan menggugat banyak hal, bukan sekadar

Seksualitas Akhir-akhir ini terjadi polemik yang diarahkan pada femomena yang hadir dalam kesusastraan di Indonesia, dengan munculnya penulis perempuan yang mengangkat tema feminisme yang berkutat pada masalah seks, kelamin, gay, dan lesbian. Hal serupa tampaknya terjadi sejak enam tahun silam. Memang bukan pertama kali dalam sejarah sastra kita perempuan menuliskan seksualitas secara terbuka, dalam karyanya Nh. Dini telah melakukannya, juga Titis Basino atau Rosa Herlina yang oleh seorang penyair yang dijuluki: perempuan yang Mengacaukan identitasnya dengan diksi laki-laki. Jadi, bukan fenomena baru jika perempuan mengangkat masalah seksualitas. Bedanya, seperti wabah dan melibatkan banyak nama baru yang sesungguhnya sangat potensial. Sastra feminis memberi keleluasan pada penulis perempuan untuk mengkritisi ketimpangan yang terjadi pada kaum perempuan melahirkan penulis-penulis perempuan seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Herlinantiens, Nova Riyanti, Dinar Rahayu, Dewi Sartika, yang produktif menghasilkan karya-karya berperspektif feminis. Para penulis perempuan tampaknya tidak menghendaki kepalsuan yang selama ini ditampilkan sastrawan pria sebagai sesuatu yang indah bahkan bisa lebih indah dari aslinya. Namun, seperti halnya laki-laki perempuan adalah manusia biasa yang mendambakan seksualitas. Ketika penulis-penulis perempuan berani menulis seksualitas secara eksplisit, banyak orang ribut membicarakan keberadaan mereka. Apakah salah jika perempuan menulis dengan jujur tentang seksualitas dari kacamata perempuan sendiri? Padahal jika penulis laki-laki menulis persoalan seks bahkan mengeksploitasi perempuan tidak akan menuai kritikan. Memang sulit untuk menyangkal, ketika perempuan menulis persoalan seksualitas dengan gamblang masih

Soeket Teki

seks. Seperti novel Dadaisme karya Dewi Sartika (Pemenang sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2004), novel ini mengangkat masalah poligami, perselingkuhan, kritik atas kultur etnik, seksualitas dan cinta, yang dikemas dengan bahasa imajinatif, menggambarkan realitas kehidupan manusia sekarang. Satu hal yang harus kita akui adalah kreatifitas para penulis perempuan menambah khazanah keragaman tema juga di dalam sastra Indonesia. Selain itu, eksistensi mareka sebagai sastrawati dapat mewujudkan masyarakat yang berkesetaraan jender seperti harapan kaum wanita dapat terwujud.„ INAYATUL MUSYAFA’AH, Pemerhati sastra feminis, penduduk Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang.

Bicara Sastra dengan Rasa

9


CERPEN

Edisi I/Januari 2007

Paruh Nafas di Ujung Jari Oleh MOHAMMAD SALAFUDIN

Angin basah menusuk kulit ari, tampak dari kejauhan empat orang memikul sebuah beban yang agak ringan di pundaknya, dua orang di depan berjalan beriringan menatap kearah langkah yang dituju, dua orang lainya tampak di belakang dengan posisi yang sama.

10

Soeket Teki

B

eban yang dibawa terlihat tidak seperti orang memikul almari, meja atau yang lainya, akan tetapi sebuah kerangka anyaman besi yang memiliki gundukan ditengahnya, dengan panjang kira-kira tiga meter dan lebar satu meter, anyaman besi bercat putih itu adalah kereta penggotong mayat. Penggotong keranda itu agaknya lelah dengan perjalanan yang begitu jauh dari rumah Bogel, dengan perlahan kendaraan mayat itu diletakan didepan rumah Bogel yang kala itu ramai dengan para pelayat, mereka berduyun-duyun datang kerumah Bogel memberikan restu perjalanannya. Hari hampir gelap raja siang perlahan-lahan kembali kesinggasananya untuk menutup sinar cahaya yang panas, dengan sibuk para pengurus mayat menyiapkan kendaraan kebesaran Bogel untuk segera diberangkatkan. Mulut rumah terbuka lebar terlihat sesosok tubuh terbujur lurus tak berdaya terbungkus kain putih yang menyelimuti sekujur tubuhnya dengan pocongan di kepala dan kakinya seperti permen pocong yang disukai banyak anak-anak. Suasana menjadi berubah ketika tubuh Bogel mendekat dan diletakan dikendaraan tumpangan terakhirnya, tak sedikit air embun kesedihan yang keluar dari mata pelayat yang iba melihat cara kematianya dan sedikit yang menduga kalau Bogel akan pergi dengan cara yang mengejutkan khalayak ramai. Masalah sepele yang dilakukan Bogel berujung ketempat peristirahatanya yang terakhir, perkelahian dengan kakaknya saat

Bicara Sastra dengan Rasa


ParuhI/Januari Nafas di Ujung. Edisi 2007 . . itu menghebohkan warga kampung “Dasar wong edan?” teriak Ibin. “Kamu yang edan?” Bogel membalas dengan nada keras. Sang ibu, Onah berlari dari dalam rumah, berusaha melerai keduanya “Sudah, sudah!!” kata yang keluar dari Onah sembari bibirnya gemetar dan gugup. Bogel yang saat itu emosinya terbakar tanpa sadar melepaskan golok yang dipeganganya kearah Onah dan mengenai kakinya. kaki Onah tersayat, otot didalam kakinya hampir putus, darahnya mengalir deras berwarna merah agak kehitaman. Melihat ibunya menjadi sasaran aksi amarah Bogel, Ibin semakin naik pitam hatinya serasa ingin mencabikcabik pembalut tulang putihnya. Ibin yang kala itu sangat marah meredam sejenak emosinya untuk menolong ibunya. Onah terkapar lemas ditanah dengan bermandikan darah disekujur tubuh bagian bawah. Ibin dibantu beberapa warga membawa Onah kerumah sakit untuk memperoleh pertolongan. Ibin yang kala itu kalap memukul Bogel dengan martil besar yang diambil dipojok rumahnya “Bukk,Bukk!!!” suara yang mendarat ditelinga sat itu.

Tubuh Bogel terpental kebawah dan terkapar tak berdaya diiringi erengan kesakitan. Bogel terpaku ditanah, warga yang waktu itu melihat duel kakak beradik itu tidak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya tercengang dan mengira Bogel sudah tak bernafas, darah yang mengalir dari kedua penciumannya merubah suasana menjadi tegang setelah beberapa kali kepalan tangan Ibin mendarat dimukanya. Ibin menarik kaos hitam yang dipakai Bogel kedalam kamar, tali yang berada diberanda diambilnya, Ibin mengikat kedua tangan Bogel layaknya penjahat yang sangat berbahaya, kakinya dipasung tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Kala itu Bogel stress ditinggal istrinya beberapa

Soeket Teki

bulan yang lalu, setiap hari hanya diam, berteriak dan menyanyi tanpa kenal waktu, teriakan dan nyanyian Boge l adalah buah rindu pada kekasihnya yang meninggalkanya tanpa sebab, sejak saat itu keluarga Bogel gerah melihat tingkah lakunya yang dianggap telah membawa aib kepada keluarganya. Tidak banyak yang mengetahui mengapa istri Bogel pergi tanpa permisi, sebagian orang berspekulasi bahwa istri Bogel pergi karena keadaan ekonomi yang kurang bersahabat dan tidak memenuhi standar keseharianya. Bogel adalah anak kedua dari tiga bersaudara, adiknya Yati sudah bekerja disebuah perusahaan asing milik warga Selandia Baru dan sudah tidak pernah pulang kerumah, Ayahnya pergi tiga tahun yang lalu lantaran jantung dan Ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Hari semakin petang, senja matahari mulai terlihat, mega merah menghiasi sudut-sudut awan dilangit “Maaf Pak, Sebaiknya mayatnya kita kebumikan saja?” Tanya Asro. “Iya Betul, hari hampir maghrib?” dukung Wagimin. “Kalo begitu, bawa mayatnya kemasjid, Setelah itu kita bawa kepemakaman!!” ujar tedjo sang pengusung mayat. “Baik?” jawab serentak, oleh beberapa warga yang berkerumun didekat mayat. Segera mayat dibawa ke masjid untuk dishalati, hembusan angin terasa kencang membangunkan bulu pori-pori kulit, rintik-rintik air dari langit mulai turun, suara kayuan sandal mengiringi jasad Bogel ke tempat peristirahatanya yang terakhir, lagi-lagi angin terasa lebih kencang dirasakan oleh para penggotng mayat dan pengantarnya. Dedaunan melambai-lambai seakan berucap ‘selamat tinggal’ pada Bogel, kini laki-laki paruh baya yang malang tidak dapat lagi menunggu istrinya kembali kepangkuanya untuk hari ini, esok bahkan untuk selamanya. Semarang 2006

Bicara Sastra dengan Rasa

11


Edisi I/Januari 2007

Kebisuan Sang Rembulan Oleh SIDLI RIKA

Pagi ini, matahari menampakan senyumnya di ufuk timur, langit begitu cerah. secerah keadaan yang sedang menyelimuti rumah ibu Marsini, semua orang sibuk mondar-mandir menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan dalam acara resepsi pernikahan putri semata wayang mereka, langit seakan tahu bahwa akan ada pesta yang di gelar secara besar-besaran. Bahkan ibunya sudah membayangkan anakku pasti bahagia menikah dengan orang yang sangat mencintai dia dengan setulus hati, burung seakan ikut berkicau menyaksikan betapa bahagianya dua keluarga yang berlainan daerah dan asal.

K

eadaan yang sama juga terjadi dalam keluarga besar bapak Wibisono, semua orang sibuk menyiapkan peralatan yang digunakan untuk resepsi. Persiapan gedung, Mukena yang di susun rapi, nantinya di buat untuk mahar,dan sedang di susun oleh ahli yang berkompeten dibidangnya, Mukena dibentuk hingga persis menyerupai angsa yang besar dengan membawa banyak emas, jas yang akan di pakai juga sudah di persiapkan bahkan di pajang di kamarnya Andre, bahkan ia sibuk memandangi serta membayangkan betapa bahagianya menikah serta hidup di dampingi istri yan sangat cantik, lembut, cakap dalam segala hal bahkan energic, akuakan di peluk erat setiap malam bahkan tidak akan kedinginan lagi “setiap malam aku akan selalu punya selimut tebal sebagai pengganti selimut malamku” begitu gumamnya dalam hati. Ibunya sibuk menghitung peralatan, sudah lengkap atau belum. Dekorasi pun sedang dipasang dalam rumah mempelai perempuan. Janur sudah dibuat sebagaimana mestinya .Ayahnya bergumam lega “Akhirnya aku dapat melepas wulan dengan tenang. Karena aku yakin bahwa suami Wulan adalah orang yang bertanggung jawab”.. Semua keluarganya bahagia tapi tidak bagi Wulan kenapa dia tidak merasa bahagia sama sekali bahkan ia sangat takut menghadapi hari esok dia hampir tidak mau keluar sama sekali dari kamarnya bahkan seharian ia hanya mengurung diri di kamar dan ia hanya diam seribu bahasa. Hingga ibunya bingung? Sudah sore gini ko wulan belum keluar kamar sama sekali akhirnya ia ketuk kamar anaknya tok..tok..tok “ Wulan makan dulu nak sudah seharian kamu belum makan loch, seneng sih seneng tapi jangan terlalu seperti itu donk padahal besokkan hari pernikahanmu, ayo makan dulu entar sakit

12

Soeket Teki

loh. Tuh saudara-sauidaramu sudah nunggu di tempat makan” dari dalam suara wulan lirih “iya bu entar wulan makan sendiri ibu makan dulu” Mata ini sudah lelah bahkan meronta mohon di pejamkan walau hanya sebentar, tapi hati berkehndak lain hampir semalaman wulan tidak dapat memejamkan matanya, Bayangan orang yang ia cintai seakan-akan menjai monster yang sangat kejam. Entah mengapa padahal wajah itu wajah kekasihnya,wajah kekasih yang akan menjadi pendamping hidupnya, dalam hati ia selalu berfikir “apakah nanti ia mau menerima apa adanya aku” tapi ia selalu menenangkan hatinya untuk selalu berfikir positif dan tiak akan berfikir yang negative mengenai dirinya” Dan, akhirnya hari yang di tunggu datang juga, semua orang sibuk mempersiapkan diri bahkan, semua orang mondar-mandir kesana-kemari entah apa yang di lakukan oleh mereka, yang pasti mereka semua sibuk. Wulan juga ikut mondar-mandir kesana-kemari hanya sekedar melihat hiasan pelaminan yang sudah di persiapkan sejak hari kemarin, dengan penuh senyum ia melihat “alangkah senangnya ketika aku duduk di situ tanpa cacat” dalam hati ia bergumam. Akhirnya jam setengah enam tepat sang perias datang. Jam sembilan tepat ia sudah mulai di pelaminan kemudian di susul dengan datangnya mempelai dari pihak laki-laki. Singkat cerita pestapun sudah usai tanpa halangan apapun. Baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan, Dengan jiwa yang berdebar mereka memasuki kamar yang sudah di siapkan, di bawah peraduan sang bintang, dua insan yang berbeda merajut cinta menyulam kasih bersama keheningan malam yang sangat mencekam, bahkan dunia serasa milik berdua yang lain seakan kontrak. Mata saling memandang serta

Bicara Sastra dengan Rasa


Kebisuan Sang. .2007 . Edisi I/Januari secercah simpul tawa kepuasan menyelimuti mereka berdua,dengan di iringi suara musik dari luar menambah keromantisan suasana malam, dibawah naungan bintang keberuntungan jawa andi berbisik “ sayang kalau boleh aku ingin meminta, pada tuhan .Tolong panjangkanlah malam ini karena malam ini sebagai malam yang akan aku ingat seumur hidupku, biarkanlah kami mnerajut cinta dengan malam panjang agar kepuasan menyelimuti kami berduan bahkan tak seorangpun mampu memisahkan keeratan kehangatan birahi, dengan pergumulan panjang hingga mereka terlelap dan saling tertidur. Ayam sudah mulai berkokok pertanda malam sudah usai, sang raja malampun sudah tidah menampakkan batang hidungnya, dan akan bergantian dengan senyum sang surya, setelah bangun pagi wulan malah bingung, “kemana suamiku, kenapa di pagi yang buta ini ia sudah bangun terlebih dahulu, tapi kemana gerangan sekaranng, di kamar mandi tidak saya temukan, terus kemana” dengan melangkah keluar kamar ia berteriak “ ibu lihat mas Andre” dengan penuh penasaran ibunya menjawab “ ibu gak liat Andre dari pagi, sepertinya ibu yang paling dulu bangun, dan belum ada yang keluar dari rumah ini, ah barang kali di taman, coba cari lagi” dengan penuh senyaum ibunya menepuk bahu wulan. Wulan bingung kenapa suami yang baru di nikahi harus pergi dengan cara yang tidak wajar dan perginya tanpa pamit sama sekali, ia bingung apa yang terjadi?. setelah seharian ia kesana-kemari tapi tidak menemukan suaminya, akhirnya Wulan pulang dan hanya mengurung diri di kamar. Apa sih yang membuatnya harus meningalkan dalam keadan yang seperti ini”, yang malu tidak hanya wulan tetapi semua keluarga ikut merasakan malu, ibunya juga bingung sebenarnya apa yang terjadi sehingga anaknya di tinggalkan suaminya seperti itu,” apa salah dia” Rasanya sudah dua minggu Wulan digantung oleh amarah ketimpangan gender meskipun Wulan hanya diam Karena tak tahu harus melakukan apa. Dan lamakelamaan keluarga wulan mau menerima keadaan ini dengan legowo dan ibunya hanya berfikir “ mungkin ini takdir tuhan “ meskipun orang tuanya bingung apa yang sedang terjadi pada diri anaknya. Tetapi ia tidak mau memperkeruh suasana. Dalam keadan seperti ini ia berniat menghabisi nyawa yang tidak menentu. Nyawa yang sudah rapuh dan hati yang sudah hancur berserakan hingga membuat keayuannya berkurang tetapi tuhan berkehendak lain ia masih selamat dan sempat

Soeket Teki

bersandar di ruang ICU dua hari. Ia berfikir bahwa setiap masalah pasti ada solusinya dan tuhan pasti berkata lain. Langit serasa begitu gelap,rumah ini serasa runtuh dan jatuh menjatuhi wulan, bumi seakan berputar hebat, mata ini serasa gelap tubuh ini terasa kaku bahkan tidak sanggup untuk bergerak, setelah wulan membaca surat “relas” dari pengadilan agama semarang dengan isi “permohonan cerai talak” dengan “posita” istri mengalami kecacatanan, dan kecatatan itu tidak dapat andre tolerir sama sekali. “ akkhirnya kebingunganku selama ini terjawab juga , orang yang aku cintai pergi meninggalkan tanpa pesan apapun bahkan, meninggalkan di saat aku merasakan kebahagian yang sebenarnya” begitu gerutu wulan, namun wulan tetap bersyukur karma Andre telah mengisi hari-harinya dalam menapaki jejak langkah sepi menuju keromantisan yang kosong dan tiada, tapi tiada guna ia menyesali sesuatu yang sudah terjadi, “ aku akan selalu hidup dengan kenangan dan akan selalu ku kejar rembulan kmanapun ia berada”. Hari ini adalah sidang pertama antara andre melawan wulan di pengadilan agama kealas 1A semarang dan sebagai pengobat kangen terhadap sang pujaan hati, “ walaupun hanya memandang wajahnya aku sudah puas” tiba-tiba terlintas di benaknya ketika masih kuliah dan baru semester dua seperti biasanya setiap malam minggu ia selalu menghabiskan waktu bersama sang pacar hingga larut malam bahkan tidak pulang ke kost, rasa asyik yang menyelimutinya membuat ia lupa akan kondrat manusia bahwa ia punya nafsu “seks” hingga perbuatan nista itu ia jalani walau berujung dengan penyesalan, tapi semua itu sudah berlalu. akhirnya cerai yang di harapkan suaminya di kabulkan oleh PA dengan putusan” kedua belah pihak saling menerima tanpa tuntutan apapun dan keduany saling mengikhlaskan”. Tanpa sengaja butiran halus nan lembut keluar dari mata wulan ketika ia keluar dari ruang sidang, kemudian mereka saling berpelukan untuk berperpisahan yang sangat panjang bahkan selamanya, “sebenarnya apakah ini yang di namakan hidup, kalau seperti ini berarti tuhan tidak adil Dengan langkah gontai ia pulang menuju rumah orang tuanya. Dan merebahkan sejenak tubuh yang rasis ini. Terbersit olehnya untuk menata dirinya yang sudah hancur berserakan, “akan aku coba menyatukan reruntuhan ini, aku yang mulai dan aku pula yang akan mengakhiri”.G

Bicara Sastra dengan Rasa

Sore, Demak 2006

13


Edisi I/Januari 2007

B

egitu malam tiba, seluruh warga di kampong Purwogondo siap berjaga-jaga di pos-pos ronda dan di sudut-sudut desa. Berjaga-jaga untuk apa Emak masih belum mau memberitahu, atau barangkali memang ia tak mengerti. Yang pasti penjagaan itu untuk mengantisipasi kejadian yang sangat mengerikan, yang Oleh MUSTAGFIROH lusa telah terjadi, sangat mengerikan ketika kelewang pedang terlihat menjulur ditangan orang-orang, dan senjata-senjata tajam sejenis, pedang, gobang, clurit terhunus ditangan-tangan mereka, sebagian telah berlumuran darah. Kegalaun sampai memuncak ketika dijumpainya pak Dullah, tetangga dikampungnya, tewas didepan rumah, badannya tercabik-cabik. Perasaan cemas bercampur takut menyeruak ke hati Emak. Slambu kamar Emak malam itu tersibak-sibak angin malam, kain penutup jendela itu sedikit demi sedikit menyingkap, memperlihatkan keadaan diluar rumah yang muram. Peperangan dengan nyawa sebagai taruhan baru saja terjadi. Semua warga desa Jambu Kulon ketakutan dan menutup rapat-rapat rumahnya. Hanya saja slambu jendela Emak tersingkap sedikit oleh angin. Seperti legenda Nuh, yang menyiapkan kalap besar, mengundang semua hewan yang ada didunia ini untuk berlayar berpasang-pasangan. Kemudian, hujan turun tujuh hari tujuh malam, membuat ceruk yang dalam, menciptakan lautan. Benarkah tuhan menangis waktu itu? Karena telah terjadi pertempuran yang tidak pernah dipesan sebelumnya. Lalu, semua orang mencoba membayangkan bagaimana hujan yang turun pada saat itu. Mungkin begitu deras, menerobos masuk setiap celah. Bergolak dimanamana. Kini, wajah Emak pucat, tubuhnya bergetar membayangkannya. Emak takut jika hujan jadi turun akan Bulan pucat telah mencair ketika Emak seperti itu.Kau merasa tak nyaman, tiba-tiba peluhmu menetes. Mendadak kau digerus kesakitan yang amat mencapai gundukan tanggul pasir di sangat. Jika hujan jadi turun semacam itu. Kemanakah diri bibir sungai itu. Sebuah sungai yang Emak akan berlindung. Ketika hujan begitu deras membelah persawahan dan kebun tebu menghanjurkan labirin impian, ketika malaikat lupa untuk berdoa lagi. Ketika dunia ini dipenuhi dengan kecurangan. di kampungnya itu. Kampung Ketika malam tak lagi gelap.ketika matahari tak bersinar Purwogondo, kelurahan Jambu Kulon, lagi. Ketika dunia ini dipenuhi dengan kecurangan. Ketika kecamatan Kulonprogo, kabupaten malam tak lagi gelap. Ketika matahari tak bersinar lagi. Pancanggede. Di kampung yang hanya Ketika bumi tak lagi bergerak. Ketika daun-daun yang sudah coklat tak mau jatuh ke tanah. Ketika jam tak lagi berpenduduk belasan kepala keluarga berputar. Ketika masalah sosial disulap dengan itu di sebelah baratnya berdiri gunung metafisika.ketika kalender tak lagi mengganti tahun-tahun selamet dengan tegak nan angkuh. Saat baru yang dipenuhi dengan kesalahan. Lalu, Emak‌? Biar bumi ini tergunjang, bagi Emak, Surti adalah malam, dari kejauhan terlihat sedikit surya,. Dia memberi terang. Dia juga yang memberi meremang di bawah terpaan cahaya gelap.Terang dan gelap yang dibutuhkan saat bangun tidur. Dalam terjaga dan terlena. Dalam suka dan duka. bulan. Gemerisik angin gunung yang Meski terkadang mega-mega hitam membelit, pasti menerobos dedaunan tebu datang suatu fajar jingga bersama kokok ayam jantan dipersawahan itu, seakan menyapa alam yang bertalu-talu. “ Sampai kapan ini semua bisa terakhiri dengan baik, yang ramah menyambut kedatangannya. peperangan dengan tetesan darah dan nyawa manusia sebagai tumbalnya tak kunjung usai,â€? Emak begitu resah dengan peperangan dikampungnya, hatinya tersayat memikirkan kejadian yang tak kunjung berhenti itu.

Emak

14

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi 2007 E mI/Januari ak Kampong Purwosari, didesa Jambu Kulon yang berbatasan dengan desa Jambu Wetan, bertahuntahun memang telah terjadi konflik antar kampung yang berkepanjangan, tak kunjung usai, pemicunya tak jelas, bahkan pertempuran berdarah ini konon warisan nenek moyang. Ada yang pernah cerita karena disebabkan oleh perebutan tanah persawahan. Adapula yang bercerita karena tokoh masyarakat dari salah satu kampung itu terbunuh diperbatasan, malah ada beberapa gunjingan yang beredar, karena di kedua kampung itu tempat dimana mahkluk halus membangun singgasana, semacam kerajaan dedemit, setan, gendruwo yang suka menebar fitnah dan angkara murka. “ kalau begitu kampung di kedua desa ini angker “ “ bagaimana tidak, bisa jadi peperangan yang membara itu adalah karena disebabkan setan-setan yang bergentayangan atau karena gendruwogendruwo pada menyebar fitnah dengan darah sebagai tumbalnya” “bukan hanya itu” “ itu karena masayarakat sekitar sudah lupa pada Tuhan” “Tak pernah mau bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya” “suka judi, minum minuman keras, main perempuan” “bergaul sebebasbebasnya, perkelaminan babak terakhirnya” “lebih banyak berbuat dosa” “Murka” “tidak pernah mau berusaha tobat” Apu permusuhan makin membara.Membakar kemauan manusia untuk membunuh sesame. Memangkas tali persaudaraan. Menodai ikatan cinta yang berabad-abad lalu dibangun. Maka persaudaraan untuk hari itu nampaknya sudah usang. Saling curiga. Saling menuduh seakan menjadi pekerjaan yang paling penting. Menjadi sesuatu yang barangkali tidak afdhol jika tidak dilakukan. *** Balai desa Jambu Kulon sore itu kosong. Pak Lurah dan beberapa orang kampung duduk diruang pertemuan yang gelap dan pengap.meski hari sebenarnya sangar cerah. Menanti salah satu rombongan untuk berbicara. Memberangus kebisuankebisuan. Sebelum pidato tingkat desa dimulai. Untuk manusia angkuh yang takur tetesan darah. Semua orang memastikan supaya bisa mendengarkan suarasuara. Percakapan orang-orang dikampung dimulai. Asap tebal kepulan rokok memenuhi ruangan.orangorang tetap mengabaikan . kalau boleh mereka siap pergi meninggalkan balai itu. Namun, karena satu

Soeket Teki

alasan yang mengharuskan orang-orang kampung tetap disitu. “semua menginginkan kondisinya baik-baik saja,” pak lurah memulai pembicaraan dengan nada tinggi.” “semua berkeinginan keadaannya aman bukan,? “ bukankah aku sudah pernah bilang bahwa kampung ini situasinya akan aman-aman saja andai kita mau mendengarka ceramah Mbah Damar, Mbah Usuf dan Mbah Sulaiman” Pak lurah mulai memandangi berpasang-pasang mata orang-orang. Memastikan dari sorot matamata itu bahwa orang-orang desa benar-benar memperhatikan. Matanya juga cukup lama bertatapan dengan mata saya. Kami memandang satu sama lain. Aliran komunikasi telah terjadi. Diantara mata dia, mata saya lebih kuat menahan pandangan. Menaklukkan kelopak matanya yang memerah. Akhirnya, saya menarik diri setelah saya menyerap pesan terakhirnya. Saya tahu dia benar. Saya menyalahkan dia, padahal saya sudah minta untuk belajar melawan. Menghentikan pertumpahan darah. Menciptakan perdamaian. Pak lurah melanjutkan pidatonya kepada orang-orang dikampung itu; “jika kamu macam orang yang mempunyai keberanian kamu akan menjadi menang, setiap kali hidup mempermainkanmu jika kamu orang macam itu, sepanjang hidup kamu menjadi aman, melakukan hal-hal yang benar, menyelamatkan dirimu untuk suatu peristiwa yang tidak akan pernah terjadi maka kamu akan meninggal sebagai orang tua yang membosankan.kamu akan mempunyai banyak penduduk yang sungguh-sungguh mempunyai keberanian karena kamu adalah pemuda desa yang baik. Kamu menghabiskan hidupmu dengan cara aman. Dengan melakukan hal-hal yang benar dan baik untuk alam.tetapi jangan kau biarkan kehidupanmu tunduk pada keadaan. Yang sangat menekan.kadang sangat memaksa.Jauh diluar lubuk hati ngeri mengambil resiko.Kamu sungguh ingin menang.Tapi rasa akan kekalahan lebih besar daripada suka cita kemenanganmu.Jauh didalam hati, kamu dan hanya kamu tahu bahwa kamu tidak berusaha untuk itu. Kamu memilih untuk bermain dengan aman. Pidato pak lurah selesai. Beberapa menit. Emak juga ikut mendengarkan. Nyaris hati ini yang sudah pilu menjadi remuk. Diremukkan oleh situasi yang semakin memanas dengan api dendam yang terus membara.Bagai lautan. Padahal orang-orang sebenarnya mau berhenti menebar kedengkian.mau menekan pilu yang terus berlalu tak kenal waktu. Ini. Emak tertunduk lesu. Peperangan.permusuhan dengan pertumpahan darah memang tak pernah usai. Kalau saja bencana alam tak menghantam negeri ini.

Bicara Sastra dengan Rasa

Weleri Desember 2006

15


Edisi I/Januari 2007

Menangkap Cahaya

Kemuning

Sajak

untuk seorang sahabat

Pijar-pijar kemilau Di atas genangan telaga air tawar Bekas luka Masih mengapung sebelum tenggelam ke dasar Yang paling dalam

Ketika dini beralih pagi Surya kemuning terlukis merah Pada lukisan pagi Pada celah jendela Ku selipkan kata :Maafkan aku Celah lama seolah lupa pada Hikayat dari serat-serat sebuah cerita

Air beriak Aku berteriak Air beriak Mentari membias Jiwa berontak, mereda Air mata, mengendat

PWD,H 1423

Celoteh hati

Luka tetaplah luka Aku tak bisa : menangkap cahaya BSB, 06

Sebelas, malam Sebentuk keheningan di celah-celah bukit Terbentuk dalam jiwaku

Alienasi

Sebelas seperempat, malam Dingin gurun menusuk Tiap lembar jasad (jasad-jasad kering sempat menggigil) Sebelas dua puluh empat, malam jelas! Sundar bulan yang sedikit tertutup awan Tersangkut ranting-ranting kering (pohon mati hati mati tak berdaun tak berdarah) Bukan! Bukan pada ranting-ranting Tapi, Pada semak perdu di punggung gunung

Di tempat terasing Ombak menepi menghempas Batu-batu cadas “Byuuk!� (ombak memecah kesunyian) Serpihan-serpihan kecil Adalah buih-buih Senyumku: Pada surutnya laut Pada pasir pantai @juni, 2005

Sebelas tiga puluh enam, malam Bukan! Bukan pada semak atau perdu Pukul empat seperempat, pagi Jauh di langit sana Bulan beranak bintang-bintang

Syaikhuna Pangarayan, lahir di tepian kota Pasir Pangarayan, Rokan Hulu, Riau, penikmat sastra. e-mail: se_cha@yahoo.co.id ato klik di http:// cemutileng.blogspot.com.

:darahku mendesir ! Lawu, 05

16

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi I/Januari 2007

Kesemuan

Kebutaan

Terhampar potensi-potensi setiap katulistiwa Adalah istana-istana sendiri terpendam Kini bukan tanah sendiri Tapi, kabur oleh ketertinggalan Blok cepu Ditunggu perut-perut lapar Setiap sudut-sudut gubuk pun memohon Tuk membuatkan tiang-tiang penyangga Saling tarik menarik Antara tamu dan tuan rumah Moga Semua tersenyum Tuk menyambut hal yang tak pasti Atau berhenti dalam harapan

Waktu menangis Tatkala gelapnya ibu pertiwi Yang merdeka Pernah ku bermipi bersama SBY Ia sesosok pengemis Meminta pada kaum “ terhormat” Namun hanya tua buta yang tau Semua memalingkan muka dan mencemooh Mungkin karena gemuk “Aku ingin menjadi tanah dari pada menyembunyikan yang nampak,” sesalnya.

Ketika Itu Di sudut kamar kecil Aku bermain asik bersama lembaran sejarah.... Kini esok Ribuan ulat menyusuri daun-daun tempat mereka hidup Ada satuan serangga kritis berbaju anti peluru sakunya berisi kitab suci Yang takluk oleh daun Tanah pun heran

Korupsi Pemimpin kita berlari Pada barisan tentara berdasi Mewarisi Siapa mau Seorang yang menyaksikan mentari Khawatir dipaksa “menikmatinya” Dengan tangis dan darah Saksi: Rahim ibumu Dunia yang menatapnya Barzah masih bertanya Untuk membayar Barulah keadilan Biarlah, mereka masih tertawa Pada daun-daun yang kekeringan

Soeket Teki

Winarto, penikmat seni asal Kota Sragen, kini mengenyam pendidikan pada jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

Bicara Sastra dengan Rasa

17


RESENSI

Edisi I/Januari 2007

Cerpen dengan Bahasa Ringan

Judul: Sesobek Kertas di Sepatu Kiri Penulis : Sofa Muhammad Pengantar : Langit Kresna Hariadi Penerbit : Lanarka Publisher Cetakan I 2006 tebal 152 halaman

P

enulis asal Solo, Sofa Muhammad, menelorkan karya-karyanya dalam “Sesobek Kertas di Sepatu Kiri”. Cerita-cerita sastra dengan bahasa ringan. Menulis cerpen sebenarnya bukan hanya pekerjaan sastrawan, budayawan, atau sutradara. Sofa Muhammad, seorang kuli penerbitan juga mampu menciptakan ceritacerita pendek dalam sebuah ruang yang mempunyai nilainilai sastra.Ia menikmati kebebasan menelurkan ide-ide. Liar ‘tanpa aturan’ tapi juga mudah dicerna kandungan sastranya. Cerita-cerita pengalaman hidup yang merupakan kantung persemaian ide langsung ditampakkan, dengan tetap memperhatikkan ejaan yang rapi. Kekuatan ide yang mudah dipahami. Rangkaian cerita dihasilkan dari kerja sama secara harmonis antara bahasa sastra dengan bahasa sehari-hari. Hasil kotemplasi hidup yang sederhana juga rapi. Asasnya, kebebasan berekspresi, meski terlihat hati-hati dan santun juga terlihat dari kata pengantarnya. Biasanya penulis buku memaparkan apa yang menjadi latar belakang

18

Soeket Teki

dan perjalanannnya dalam menguraikannya pada kata pengantar. Tetapi buku ini lain. Sang penulis rupanya tidak mau berbelit-belit menganut asas formalitas. Dia hanya memaparkan semacam pesan dan ucapan terima kasih. Menyimak halaman-halamannya, makin jelas yang hendak ditonjolkan, hanya serangkain bahasa sehari-hari yang ringan. Dengan tidak terlalu banyak menggunakan idiom-idiom, salah satu penggalan cerita pendeknya itu misalnya ; Saya bekerja di sebuah penerbitan dan percetakan yang cukup besar. Publising and Printing Industry, istilah dalam buku kuliah saya dulu. Kenapa saya katakana cukup besar ? Karena, paling tidak, saya bisa mencontohkan dengan luas gudang yang ada di sana. Luas gudang yang ada di sana rata-rata seluas lapangan sepak bola (halaman: 146). Sekalipun begitu, itulah keunikan yang mau ditampilkan penulis bahwa karya sastra tidak selamanya menggunakan bahasa sastra yang melangit. Biar bagaiamanapun penyajian cerita sehari-hari yang disampaikan dengan bahasa ringan juga layak diakui karya sastra pada umumnya. Selain itu, barangkali keheranan Sofa sudah terjawab. Mengapa misalnya dalam cerita kancil selalu menjadi tokoh utama. Kok bukan gajah, burung gagak atau yang lainnya. Penulis yang bekerja di sebuah penerbitan di kota Solo ini cukup ekspresif menuangkan ide-idenya dalam cerita fiksi. Pendek dan mudah dicerna. Begitu juga enak dibaca dengan kedua kelopak mata. Karena cerita-ceritanya yang ringan dan pendek-pendek. Melalui cerita-ceritanya itu Sofa bukanlah lagi Sofa buruh sebuah penerbitan. Ia sudah berekspresi keluar. Ia pun nampaknya selalu mengamati-atau bahasa yang enak dipakai –adalah mengikuti perkembangan dunia tulis menulis. Sembari menekuni kerja sebagai buruh penerbitan. Apalagi dunia yang ia geluti kental dengan persaingan-persaingan kecil para penulis dengan segepok tawaran buku yang diterbitkan. Ungkapan-ungkapan di beberapa cerpen lainnya juga begitu ringan. Cerita-cerita biasa yang barangkali satu kali membacanya sudah bisa dicerna isinya. Belum lagi adeganadegan yang diceritakan didalamnya. Tanpa konflik dan minim figuran-figuran yang ditampilkan . Penulis juga cukup antusias menawarkan cerita dengan adegan yang lemah gemulai. Mungkin pilihan ini sengaja dilakukan penulis. Nampaknya begitu. Tanpa harus mengetahui latar belakang penulis lebih dalam pembaca sudah sedikit bisa menebaknya. Pemilihan judul buku ini pun nampaknya menjadi favorit bagi penulis maupun penerbit. Sesobek Kertas di Sepatu Kiri. Sebuah judul buku yang kalau didengungkan dari kejauhan saja sudah enak didengar dan dari dekat, tampilan kovernya enak dilihat mata. Lantas untuk segera membaca. Andai buku ini setebal batu bata pasti bertambah pula getar itu terasa. Sekali lagi, rata-rata, cerita-cerita dalam buku ini menampilkan cerita ringan, dengan tempat kejadaan sekitar dan dengan durasi yang sangat singkat. Dengan buku yang berisi cerita ringan-ringan inilah penulis mencoba menggaet pembaca yang mempunyai aktivitas yang cukup padat. Butuh bacaan yang singkat dan mudah dicerna. Buku kumpulan Sesobek Kertas di Sepatu Kiri layak anda miliki sekarang juga meski cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini yang menggunakan alur mundur dan menggunakan sudut pandang langsung cerita sehari-hari.„ Rohmi Arifah

Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi I/Januari 2007

Menulis cerpen itu mudah

1. Tema Cerpen yang baik harus memiliki tema yang mengacu pada hakekat hidup yang diungkapkan dalam seluruh elemen cerita, dalam dialog, setting dan sebagainya. Biasanya sebuah cerpen dengan tema kecil dan mengena dengan pengungkapan yang baik akan selalu dikenang.

2. Perwatakan Dalam cerpen, perwatakan atau karakter sangat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah karya sastra. Plot yang baik tanpa perwatakan yang kuat, sebuah cerpen, tidak bisa dikatakan berhasil. Penggambaran watak atau karakter dapat dilakukan melalui ucapan atau dialog, perbuatan atau tindakan, dan penggambaran fisik tokoh. Dapat juga melalui penerangan langung oleh pengarang mengenai watak tokoh.

3. Sudut Pandang Sudut pandang (point of view) adalah posisi yang dipilih sang pengarang. Pengarang bisa bertindak sebagai apa saja. Apakah sebagai orang luar yang menceritakan suatu peristiwa, atau akan turut ambil bagian dalam cerita tersebut.

4. Plot Plot bukan jalan cerita atau alur. Tetapi plot ada di balik jalan cerita itu. Plot adalah rangkaian peristiwa demi peristiwa. Contoh yang ditunjukkan oleh Jakob Soemarjo dalam menerangkan plot adalah: Raja mati. Itu adalah jalan cerita. Namun, ada raja mati karena sakit hati adalah plot.

Soeket Teki

5. Latar

TIPS

B

eberapa orang merasa menulis cerpen itu sulit, menghabiskan banyak waktu, dan lain sebagianya. Tetapi bagi Amelia Indriyanti, Penulis buku jurnalisme Qur’ani, menulis cerpen adalah pekerjaan paling mudah yang bisa dilakukan siapa saja dan di mana saja. Inilah beberapa unsur yang ia bagikan kepada pembaca.

Unsur lain yang harus diperhatikan adalah latar atau setting. Latar tak hanya sebagai background, bukan hanya menunjukkan tempat dan kapan kejadiannya. Tetapi ia juga harus berhubungan erat dengan tema, karakter, suasana, dan unsur lainnya dalam cerpen. Dengan demikian peristiwa dan m a n u s i a menjadi kongkret, tidak seolah-olah diam atau mati.

6. Gaya Gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang. Bagaimana seorang pengarang memilih tema, meninjau persoalan, dan menceritakannya. Gaya ini bersifat pribadi, dan untuk menampilkan gaya khas seseoarang harus menguasai bahasa. Oleh karennya sebuah karya yang baik adalah karya yang mempergunakan gaya bahasa orisinil, khas, dan hanya dimiliki oleh pengarang yang bersangkutan.

7. Alinea Pembuka dan Alinea Penutup Kegagalan menulis alinea awal akan mempegaruhi pembaca untuk meneruskan atau berhenti membaca cerpen. Alinea pembuka harus bisa merangsang pembaca untuk membaca alinea selanjutnya. Memang masih ada unsur lainnya yang mendukung dalam pembuatan cerpen; seperti, susen (ketegangan), surprise (kejutan), insiden, dan sebagainya. Dan semua teori ini tak akan berguna jika tekad serta keinginan untuk menulis tidak segera dipraktekkan. Jadi “lakukan” menulis dan menulis. Akhirnya, “menulis cerpen itu mudah”. Di samping sebagai ajang pengembang bakat menulis, juga bisa untuk mengisi waktu luang. Dan lagi kalau cerpen kita dimuat di media umum kita akan mendapat honor. Tambahan buat uang saku, asyik ya…di samping itu bisa membuat kita menjadi populer dan banyak kenalan.„

Bicara Sastra dengan Rasa

19


Edisi I/Januari 2007

ARTIKEL TAMU

„Ekstrimisme Dunia Iklan

Menggagas ke Wilayah Rawan Oleh AJANG ZA

A

nda pasti pernah melihat tayangan iklan di televisi, seorang yang menengadahkan tangan di atasnya ditempeli setrika listrik masih panas. Bakar sate di atas punggung yang apinya membara. Iklan minuman yang sama, juga menayangkan “aksi”menyetrika dengan telapak tangan, diteruskan dengan orang tengah mandi di kolam renang yang tiba-tiba airnya membeku. Lagi, mungkin anda pernah menikmati suguhan iklan dua pasangan remaja duduk berdua, si cowoknya “bagai mencium”telinga (nyaris pipi), namun dialihkan si cowok mencaplok dengan mulut anting-anting cewek yang bentuknya seperti permen berwarna “belang” (merah tua dan putih, serupa kuda zebra). Anting-anting itu dikunyahkan dengan semangat nafsu haus yang luar biasa. Atau lagi, mungkin anda pernah menyaksikan tayangan iklan dua orang petinju lengkap dengan kostum tinju, seorang petinju berbaring di dipan, sementara seorang petinju lainnya tengah berlatih giat. Seorang petinju yang tadi berbaring tiba-tiba dipannya ambruk. Begitu berlaga di ring dan bel dibunyikan, spontan petinju berbaring di dipan memukul lawannya dengan sebatang kayu. Apa yang terjadi? Wasit tetap memberi kemenangan pada petinju yang menghantamkan kayu kepada lawannya yang akhirnya terkulai.lalu muncul teks.”Jalan pintas dianggap pantas”, Teks berikutnya ;Tanya kenapa?” Dan teks ketiga tertera:”Bukan Basa Basi”. Menempelkan seterika listrik ke telapak tangan, menyeterika dengan telapak tangan dan membakar sate di atas punggung dari dimensi realitas sosial sangatlah jauh. Maksudnya aksi dalam iklan itu ingin menggambarkan sikon yang teramat panas, yang diharapkan bisa terhapus dengan minuman merk tersebut. Dari sisi perspektif visualisasi, yang diharapkan bisa menjadi daya tarik calon konsumen,jika diamat-amati mengandung unsur ekstremisme. Sebelumnya, produk minuman tersebut juga menayangkan mobil pick-up yang di belakangnya memuat beberapa orang yang tengah melintas di padang pasir satu persatu orang di bak mobil terjun ke padang pasir yang panas dan luas, tapi gurun pasirnya berubah jadi laut. Seekor anjing pun ikut terjun.bahkan sebelumnya lagi, produk minuman itu juga pernah memvisualisasikan adegan orang-orang yang bajunya terbakar, namun setelah minuman –minuman berkarbonasi itu, apinya hilang. Wow. Ekstrimisme missi periklanan inilah yang hendak penulis jabarkan, kaitannya dengan fenomena kekerasan yang akhir-akhir ini mewarna kita.

20

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi I/Januari 2007

Sulit dan njlimet

teks:”Masih banyak celah kok nyerah”,” tanya kenapa?” Iklan lain (masih produk yang sama), seorang pegawai kelurahan yang memegangi stempel berpindah dari satu meja ke meja lain:”Selagi bisa dipersulit kenapa bisa dipermudah”. Pada dua iklan yang hadir sebelumnya, yaitu remote kontrol bangjo dan tukang stempel di atas tampil lebih elegan dan tukang stempel lebih pas. Iklan remote kontrol bangjo dan tukang stempel di atas tampil elegan dan mengena ketimbang petinju yang memukul pakai kayu. Memang memukul dengan kayu yang dikonotasikan sebagai menyalahi aturan bisa digolongkan sebagi kritik yang cerdas.Tapi kalau visualisasinya dalam bentuk “adegan memukulkan kayu”inilah yang nyerempet wilayah ekstremisme. Buktinya, remote kontrol bangjo dan tukang stempel tampil lebih”manis’ketimbang tinju. Bahkan teks semiotika negatif seperti :”Masih banyak celah kok nyerah,”,”Selagi bisa dipersulit kenapa dipermudah”,”Bukan Basi-Basi”, dan “Tanya Kenapa?” lebih sarkasme dan memiliki tingkat kualitas puitika yang agung. Begitu juga iklan “Sensasi Sprite” (Coca-Cola dan Fanta), sebenarnya masih banyak yang lebih elegan dan memiliki kualitas komedi yang kuat, seperti anak-anak sekolah yang duduk-duduk di bawah pohon tiba-tiba ada temannya yang jatuh dari pohon itu. Makin digoyang pohonnya anak-anak laki-laki yang berjatuhan makin banyak. Atau iklan produk import yang menjeburkan diri ke padang pasir, juga lebih “manis”ketimbang menempelkan seterika listrik yang masih panas ke telapak tangan, menyeterika dengan telapak tangan,dan membakar sate dengan punggung membara. Karena tampaknya iklan sensasi sprite, coca-cola, dan fanta lebih membidik anak-anak sekolah tingkat SLTP, maka pemilihan visualisasinya harus lebih bernuansa persaudaraan, kekompakan, dan ger tapi mendidik ketimbang mengusung ketimbang mengusung ekstrimisme. Iklan oleh Konig disebut sebagai informasi produk,barang,dan jasa sekaligus menjaga tingkat produksi.Namun dalam perkembangannya, iklan audio visual bukan saja sebagai media informasi dan menjaga tingkat produksi, lebih dari itu makin merambah pada pencanangan identitas merk (barang,jasa),penunjukan identitas pendukung, dan sekaligus perebutan “ruang simpati”. Oleh karenanya, sering kali muncul iklan produk yang sama “menentang” merk lain yang lebih dulu hadir (postmodernisme). Entah dengan cara disamarkan produk suplemen yang lain dengan dalih: Buat apabeli botolnya…”. Atau, iklan Autan yang dengan cara menyebut merk lawannya dengan : “Obat nyamuk biasa”, perang materi iklan tv tak terhindarkan. Saling menjegal pada akhirnya melahirkan materi iklan yang menggagas ke wilayahwilayah rawan. Tulisan ini tak bermaksud melarang iklan yang mengangkat ekstremis,semiotik negatif, pornografi, dan postmodernisme,hanya saja kalau bisa dikemas dalam tingkat kualitas sinematografi yang agung dan memiliki konotasi multi interpretasi yang puitis, indah, dan santun.”Masih banyak celah kok nyerah…”.„

”Masih banyak celah kok nyerah,”,”Selagi bisa dipersulit kenapa dipermudah”,”Bukan Basi-Basi”, dan “Tanya Kenapa?”,”Masih banyak celah kok nyerah…”

Visual bagai mencium dan mencaplok anting-anting dengan mulut pada iklan produk permen Blaster, disadari atau tidak sesungguhnya juga mengandung unsur ekstrimisme pornografi (walaupun kecilkecilan). Kecil-kecilan dalam kategori untuk konsumsi anak-anak sebagaimana yang bidik oleh produsen permen itu sendiri. Walaupun sebenarnya, sudah dikaburkan dengan sikap cowok yang cool, tapi gerakan mulut yang ngeloyor ketelinga cewek sudah mengandung bau”nyosor”yang “kurang”pantas ditonton anak-anak”. Kontruksi ekstremisnya lagi,masih diperjelas dengan visual kuda zebra yang tengah menyeberang di sungai caplok buaya yang bagi “sisi kemanusiaan paling dalam (yang diistilahkan almarhum budayawan Y.B Mangunnwijaya sebagai dimensi religisiusitas ) disadari atau tidak secara psikologis menggandeng faham kebuasan.Ya, memang kehidupan buaya di belantara hutan Afrika pada kenyataannya memang makanan utamanya mencaplok hewan-hewan. Memvisualkan unsur kebuasan sebagai konotasi haus (atau lapar),tampaknya vulgar, seperti mengajak pada siapa saja jika haus boleh meminum-minuman milik siapa saja (atau memakan makanan apa saja). Filosofi ajakannya terlalu membuka komunikasi ruang ekstrem, bak mengabaikan dimensi religiusitas, yang sekarang nyaris sepadan dengan isu degradasi kepribadian. Apalagi makna yangh disodorkan berupa semiotik negatife (makna terbalik)yang untuk ukuran mayoritas masyarakat kita terlalu sulit dan njlimet.

Banyak celah Coba kita simakrokok,orang sedang menyetir mobil terjebak kemacetan di- trafficlight, ditawari oleh orang yang mencari pekerjaan dengan membawa tulisan dikalungkan di leher bertuliskan:”Butuh Akuntan?”,”Pijat kilat”,”Meluruskan kumis”, semua penawaran itu hanya direspon geleng-geleng. Begitu ditawari”remote control”yang bisa mengatur lampu “bangjo”, langsung hendak membelinya,muncul

Soeket Teki

AJANG ZA, Pemerhati media, budaya, dan sastra,tinggal di Semarang

Bicara Sastra dengan Rasa

21


EdisiI/Januari I/Februari/2007 Edisi 2007

PROFIL

Sekilas

Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang

B

erawal dari sebuah keresahan anak-anak muda pecinta sastra Kampoeng Sastra Soeket Teki ini didirikan. Sebuah komunitas yang dibentuk dan dikelola secara swadaya dalam usahanya melakukan rangkaian kegiatan di bidang pengkajian, penelitian di bidang sastra dan pemberdayaan masyarakat pecinta sastra kota Semarang dan sekitarnya. Didirikannya Kampoeng Sastra Soeket Teki juga terdorong oleh rasa tanggung jawab sebagai generasi bangsa untuk ikut serta menghidupkan dunia seni dan sastra sekaligus menyiapkan SDM sebagai langkah strategis menumbuhkembangkan kesusasteraan di negeri tercinta ini. Pada tahap awal, komunitas ini diarahkan pada aktivitas diskusi dan riset sastra. Perkembangan selanjutnya diorientasikan menjadi badan atau lembaga yang bisa menjadi rujukan pecinta sastra, khususnya di Semarang dan sekitarnya. Tahap berikutnya, diupayakan menciptakan SDM yang bisa menjadi pelaku. Yang bisa menerapkan hasil-hasil penelitian dalam ekperimen nyata di bidang sastra. RUANG LINGKUP KEGIATAN * Publikasi Sebagai bagian penyelenggaraan fungsi informatif, Kampoeng Sastra Soeket Teki menerbitkan berbagai bentuk publikasi, seperti pamflet, buletin dll. * Riset sastra Untuk meningkatkan kualitas SDM, Kampoeng Sastra Soeket Teki melakukan riset sastra dan pemberdayaan seniman dan pecinta seni. * Kajian, Seminar, Worskhop dan Konferensi Nasional dan Internasional Dalam merespon isu-isu terkini, komunitas Soeket Teki akan mengadakan pertemuan dalam berbagai bentuk dan tingkat sesuai dengan masalah yang berkembang. Dalam kegiatan ini akan diundang berbagai kalangan yang ahli di bidangnya. * Penyedian data base Untuk lebih mempermudah akses komunitas ini membuat beberapa alamat di dunia maya yang bisa diakses. * Pendidikan dan pelatihan Untuk memperdalam bekal sastra, komunitas ini mengadakan pendidikan dan pelatihan di bidang sastra.

SOEKETTEKI ON THE BLOG klik di http://suketteki.wordpress.com 22

Soeket Teki Bicara Sastra dengan Rasa


Edisi I/Januari 2007

Mengenang-Mu kami menyanyi sekantuk keroncong seangguk jaz di emper rumah yang basah kami berjoget seragam caca meliuk dangdut di atas panggung rerumputan kami bergoyang seria pop sehentak regeae di muka mata-mata yang meradang kami menari sepinggul jaipong segado campursari di depan hasrat yang meluap kami menyanyi sehingar rock menembus dinding-dinding beton gendang telinga menelusup urat pori nadi tanah pertiwi bumi pun retak kami pun berteriak gempa‌ air mata kami pun meleleh tak ada darah reruntuhan dinding dan genting lebih dulu menyumbatnya sejenak kami hentikan joget dan nyanyi tuk menaruh mata,tangan,kaki,dan hati sekejap kami menunduk mengingat-Nya tak ada sangka meski lara walau nyawa taruhannya tak ada tak ada tak ada yang menyalahkan-Mu justru kamianggap kasih-Mu tak ada tak ada marah pada-Mu kecuali mencari cinta-Mu sejenak kami hentikannyanyi dan joget tapi, hanya sejenak :peringatan tak hanya datang sekali tinggal siapa yang jeli kapan kita peduli mati Semarang, 16 Juli 2006

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa

23


Edisi I/Januari 2007

24

Soeket Teki

Bicara Sastra dengan Rasa

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Majalah Soeket Teki Edisi 1  

Majalah Soeket Teki Edisi 1  

Profile for skmamanat
Advertisement