Page 1

Edisi 22 - Januari 2019 ISSN: 0853-487X

buletin

AMANAT Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Pesona Lumpia Tak Lekang Usia

Keterbatasan Bukan Penghalang

Lumbung Baru Penghasilan BLU

Mereguk Sepi dalam Secangkir Kopi


DAFTAR

Pemimpin Umum

ISI

Fajar Bahruddin A.

Redaktur Khalimatus Sa’diyah, M. Iqbal Shukri, Riduwan, Atika Ishmatul U.

6-10 | Laporan Utama

Lumbung Baru Penghasilan BLU

Pemimpin Redaksi M. Syarif Marzuki

Sekretaris Redaksi Naili Istiqomah

Reporter Afridatun Najah, Ayu Chandra, Isnatul Baeti F, Nur Ainun Latifah, Agus Salim I, Liviana Muhayatul K, Adinda, Elyn W.

Layouter Editorial 4 Salam Redaksi 5 Infografik 11 Artikel 12-13 Fotografi 14-15 Opini 16-18 Varia Kampus 19 Resensi 20-21 Rehat 24 Surat Pembaca 25 Feature 26-27 Cerpen 28-30 Puisi 31 Sosok 32-33 Esai 34

30-31 | Sosok

Keterbatasan Bukan Penghalang

Mohammad Azzam A, Vina Ulkonita

Fotografer Fiqri Maulana R.

Staf Ahli Sigit A. F, Nur Zaidi, Ahmad Shodiq

22-23 | Resensi Film

Berkawan dengan Serigala


Editorial

4

Aman Namun Tak Nyaman Edisi 22 - Januari 2019 ISSN: 0853-487X

buletin

AMANAT Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Pesona Lumpia Tak Lekang Usia

Keterbatasan Bukan Penghalang

Lumbung Baru Penghasilan BLU Ilustrasi: Mohammad Azam A.

Mereguk Sepi dalam Secangkir Kopi

Maraknya kasus pencurian motor (curanmor) di UIN Walisongo membuat birokrasi kampus memberlakukan sistem barrier gate. Kebijakan itu mampu menekan angka pencurian, namun di sisi lain juga banyak menimbulkan permasalahan baru.

Kita tentu masih ingat, pada awal penerapan sistem ini di kampus II dan III dampaknya langsung dirasakan oleh civitas academica. Antrean menjular ke mana-mana, baik dari arah masuk atau keluar kampus. Sejumlah langkah memang telah dilakukan, di antaranya menambah barrier gate yang ada. Namun tetap saja, itu masih belum sebanding dengan lalu lintas kendaraan di UIN Walisongo. Alhasil, penumpukan kendaraan di gerbang kampus sudah menjadi hal yang lazim kini.

Belum selesai kasus antrean, kontroversi barrier gate bertambah dengan adanya Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 136 Tahun 2018 tentang kewajiban parkir berbayar bagi siapa pun yang masuk ke area kampus tanpa membawa kartu parkir. Dalih birokrasi, kebijakan ini ditujukan bagi masyarakat luar yang keluar-masuk kampus. Bukan mahasiswa, dosen, atau staf pegawai yang bekerja di kampus. Mereka sudah dibekali kartu parkir, sehingga tidak ditarik biaya jika menunjukkannya. Namun, tentu yang terjadi di lapangan tidak demikian. Mahasiswa yang menggunakan jasa ojek online misalnya tetap harus membayar meskipun dia punya kartu parkir. Lalu, mahasiswa yang tidak bisa menunjukkan kartu parkir juga harus membayar, tidak bisa diganti dengan menunjukkan identitas yang membuktikan dia adalah civitas kampus. Agaknya, problem yang demikian tidak terpikirkan sebelumnya oleh pemangku kebijakan. Ya, keberpihakannya pada mahasiswa masih lemah.

Sejatinya, pemberlakuan barrier gate patut diapresiasi. Namun pemasukan yang tidak sedikit harus diimbangi dengan pelayanan yang baik pula. Menjadikan kampus sebagai tempat yang aman tentu sangat diidamkan civitas academica UIN Walisongo. Kendati demikian tak lantas mengesampingkan rasa nyaman. Apalah daya aman kalau tidak merasa nyaman.n Edisi 22 | Januari 2019

Redaksi


Salam Redaksi

5

Semangat Sampai Tuntas Waktu terus berjalan sesuai irama, berganti jam, hari, minggu, dan bulan. Di sanalah kami melewati sebuah proses, yang membutuhkan kerja sama dan semangat untuk mencapai satu keberhasilan.

Ingatkah kalian dengan peribahasa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing� ? Ya, itu adalah salah satu peribahasa lama yang sudah tak asing lagi bagi kita. Sejalan dengan peribahasa di atas, dalam penggarapan buletin edisi kali ini kami dituntut untuk menunjukkan solidaritasnya dalam kerja tim. Walaupun tak dipungkiri adanya beberapa kendala yang kami hadapi, teman-teman senantiasa tekun dan pantang menyerah untuk menyelesaikan penggarapan buletin ini. Edisi kali ini kami mengambil tema besar tentang kontroversi pemasangan barrier gate di Universitas Islam Negeri Walisongo. Tujuan awal dari pemasangan barrier gate adalah untuk mengantisipasi dan menjaga keamanan di sekitar kampus. Namun, setelah pemasangan-

nya, muncul beberapa permasalahan baru di kampus.

Mulai dari Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 136 Tahun 2018 tentang kewajiban parkir berbayar bagi siapa pun yang masuk ke area kampus tanpa memiliki atau membawa kartu parkir, hingga tidak dilibatkannya perwakilan mahasiswa dalam pengambilan keputusan tersebut masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan mahasiswa. Hal inilah yang coba kami angkat untuk mengetahui dampak apa saja yang muncul setelah pemasangan sistem barrier gate di UIN Walisongo.

Selain itu, kami juga menyajikan beberapa bacaan lain. Di antaranya artikel, resensi film, resensi buku, puisi, cerpen, esai , opini, feature, serta sosok. Semoga buletin ini dapat menambah informasi dan memberikan manfaat bagi para pembaca.n Redaksi

Edisi 22 | Januari 2019


6

Laporan Utama

(Amanat/Agus)

Lumbung Baru Penghasilan B Satu bulan pertama penerapan sistem parkir berbayar, UIN Walisongo meraup penghasilan sebesar Rp 35 juta.

S

inar mentari belum terasa teriknya pagi itu, ketika Ada Aniyati mulai memanasi motor Supra X 125 keluaran 2008 kesayangannya. Usai berpakaian rapi, lengkap dengan mengenakan helm dan masker, dia mengecek kembali barang bawaan di bahu dan dompetnya. Yakin tak ada yang tertinggal, Ada biasa disapa, perlahan mengendarai motornya dengan laju rata-rata 60

km/ jam.

Ada adalah mahasiswi prodi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang setiap kuliah melaju dari rumahnya di Dukuh Jamus RT 13/4, Mranggen, Demak. Butuh waktu sekitar 60 menit untuk dia sampai di UIN Walisongo. Untuk itu, Ada biasa berangkat pukul 05.50 WIB, kala mendapati jadwal kuliah Edisi 22 | Januari 2019

>> Kemacetan menjalar hingga 350 meter atau sampai Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum), Selasa (9/10/2018)

pertama pukul 07.00 WIB. Hal itu ia lakukan agar terhindar dari macetnya jalan kota dan masuk kelas tepat waktu.

Namun, sesampai di kampus ia mendapati pemandangan kurang menyenangkan. Mukanya


Laporan Utama

“Harus sabar dan agak jengkel juga kalau lama mengantre. Belum lagi pasti telat masuk kelasnya,” keluh Ada.

Sistem barrier gate pertama kali diuji cobakan pada 3 Maret 2018 di kampus I. Lalu, sejak diberlakukan di kampus II dan III pada medio Juli 2018, menjularnya antrean di gerbang masuk dan keluar menjadi pemandangan yang lazim terlihat.

BLU masam. Ia harus bergabung bersama mahasiswa lain untuk mengantre di depan kampus II yang sudah terpasang barrier gate.

Mahasiswi kelahiran 1996 ini masih ingat betul, pada awal penerapan sistem barrier gate ia pernah mengantre sampai di depan fotokopi Moncer atau berjarak 100 meter dari gerbang kampus II.

Munculnya sistem barrier gate di UIN Walisongo merupakan respon atas maraknya kasus pencurian motor (curanmor). Dari data yang dihimpun Tim Buletin Amanat, sepanjang April s.d. November 2017 terjadi enam kali kasus curanmor di UIN Walisongo. Tiga kali di kampus I dan tiga kali di kampus III.

Komandan Satuan Pengaman (Satpam) UIN Walisongo Sutarman mengatakan, adanya barrier gate merupakan suatu perubahan dan perkembangan ke arah yang lebih baik. Menurutnya, barrier gate tersebut dibangun dengan tujuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, sehingga tingkat keamanan lebih terjamin. “Setiap menuju ke arah perubahan pasti ada dampaknya, baik positif maupun negatif. Jangan hanya dipandang dari sisi negatifnya saja,” katanya, Senin (25/6/2018). Parkir berbayar

Tercatat, kini ada tujuh barrier Edisi 22 | Januari 2019

7

gate yang tersebar di kampus I, II, dan III. Sejak pertama kali diuji cobakan sekitar delapan bulan, sistem ini tidak memungut biaya dari pengguna. Namun, Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 136 Tahun 2018 menjadi titik awal perubahan. SK itu menjelaskan pada 8 Oktober 2018 siapa pun yang masuk UIN Walisongo tanpa menggunakan kartu parkir dikenakan tarif. Untuk kendaraan roda dua Rp 1.000, sedangkan untuk kendaraan roda empat Rp 3.000. Lalu, bagi yang kehilangan tiket parkir yang didapat ketika masuk, maka dapat diganti dengan menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), namun dikenai denda Rp 5.000 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil.

“Ini kebijakan yang memang sudah ditentukan oleh pimpinan. Dalam kebijakan itu jelas bahwa warga UIN tidak membayar, sedangkan warga non-UIN harus membayar. Ini sudah tidak bisa kita tolak,” jelas Kepala Biro Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan (AUPK) Priyono saat ditemui Reporter Buletin Amanat, Rabu (12/12/2018). Tak pelak kebijakan ini lantas menimbulkan pro dan kontra oleh civitas academica di UIN Walisongo. Gugatan muncul dari aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Mimbar Muhammad Shidiq Muafi. Dia


8

Laporan Utama

menilai, meskipun barrier gate terbukti mampu meminimalisir kasus curanmor, tetap saja ada permasalahan baru yang ditimbulkan. Kemacetan, sistem yang sering eror, pembatasan kegiatan aktivis UKM adalah di antaranya. Penerapan sistem parkir berbayar, lanjut Shidiq, semakin merepotkan mahasiswa. Ia mengandaikan mahasiswa yang laju dari Genuk kemudian kartu parkir lupa tidak dibawa, juga terpaksa harus membayar. Tidak hanya itu, setiap kali UKM-nya mengadakan acara, tentu tamu undangan tidak hanya dari kalangan UIN Walisongo, namun juga melibatkan pihak luar.

sedikit demi sedikit,” ungkapnya saat ditemui di Kantor UKM Teater Mimbar. Muafi hanya bisa berharap supaya birokrasi kampus memikirkan terlebih dahulu setiap membuat kebijakan. “Mereka tidak merasakan yang terjadi di lapangan,” katanya.

Tak libatkan perwakilan mahasiswa

Penetapan sistem parkir berbayar di UIN Walisongo tidak melibatkan perwakilan mahasiswa. Pengakuan ini muncul dari Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Universitas periode 2018 Ahmad “Mereka tamu, tapi kok (Dok. Facebook) Sajidin. Ia mengatakan, suruh bayar,” kesal mahasiswa pihaknya memang setuju Hukum Pidana Politik Islam dengan penerapan sistem baritu, Kamis (15/11/2018). rier gate sebagai respon atas maraknya kasus curanmor, Mahasiswa asal Rembang ini namun tidak jika menarik tarif bercerita, sebelum pemberdari pengguna. lakuan barrier gate, gerbang kampus buka hingga pukul “Dalam penentuan kebijakan 23.00 WIB, namun kini, pukul ini, pihak Dema tidak ada yang 22.00 WIB sudah ditutup. Ten- dilibatkan. Padahal kebijakan tu, kata Shidiq, hal ini memtersebut erat kaitannya denbatasi kegiatan aktivis UKM. gan civitas mahasisiwa,” ungkapnya saat ditemui di Pusat “Dulu dalam penggarapan Kegiatan Mahasiswa (PKM), naskah kami bisa melakukan Rabu (14/11/2018). dua sampai tiga kali tapi kini hanya bisa sekali. Seolah-olah Ia mengatakan keterlibatan anggota badan kami dipreteli Dema UIN Walisongo hanya Edisi 22 | Januari 2019

ketika pengadaan barrier gate. Soal pelaksanaan dan sistemnya, Ajid biasa disapa membeberkan, tidak ada komunikasi lebih lanjut. Persoalan lain yang disinggung mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Arab itu terkait penyatuan kartu parkir dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Dari ceritanya, ada sebagian mahasiswa yang terpaksa bayar parkir karena KTM-nya hilang. Padahal, untuk mengurus pembuatan ulang harus melalui prosedur yang agak menyulitkan dan tentu membutuhkan waktu yang relatif lama.

“Seharusnya dengan tanpa menunjukan KTM atau kartu parkir, mahasiswa tidak perlu membayar, yang penting ada tanda pengenal bahwa dia mahasiswa dan juga identitas kepemilikan motor, tentu hal ini menjadi masalah,” tandasnya. Menanggapi hal tersebut, Priyono mengakui pengambilan kebijakan parkir berbayar tidak melibatkan mahasiswa atau Dema. Ia menegaskan, bahwa tidak semua kebijakan yang diambil oleh birokrasi kampus harus melibatkan perwakilan mahasiswa.

“Tidak semua kebijakan harus melibatkan mahasiswa,” ujarnya. Ia juga tak sependapat jika ada yang mengatakan sistem


Laporan Utama

9

Dok. Amanat

di bulan itu kampus memiliki acara-acara besar, di antaranya Uincredible yang turut mengundang Sheila On 7 dan Nufi Wardhana. Jadi, kesimpulannya, kalau dikalkulasikan setiap harinya pemasukan yang didapat dari barrier gate berkisar Rp 1 juta,” terang Priyono.

Mahasiswa keluar menunjukkan kartu parkir.

parkir berbayar di UIN Walisongo disamakan dengan mall. Dalam pengamatannya, beberapa universitas juga menerapakan sistem yang sama, di antaranya Universitas Brawijaya dan UIN Syarif Hidayatullah.

Priyono beranggapan, jika kebijakan parkir berbayar tidak diberlakukan maka kemungkinan kasus curanmor akan terjadi lagi. Karena, warga non-civitas academica akan dengan leluasa keluar masuk kampus.

“Siapa pun yang masuk kampus baik mahasiswa maupun dosen tanpa menggunakan kartu parkir harus membayar. Rektor pun ketika masuk kampus dan tidak membawa kartu parkir, dia bayar,” katanya.

Ia menambahkan, sistem barrier gate yang sering eror disebabkan oleh air yang masuk ke dalam mesin. Di musim hujan seperti sekarang ini hal tersebut sering terjadi. “Kami selalu lakukan evaluasi dan perbaikan,” ungkapnya. Lumbung pemasukan

Pasca ditetapkan sistem parkir berbayar, barrier gate menjadi salah satu lumbung penghasilan. Tak tanggung-tanggung, di bulan pertama pemasukan yang didapat Badan Layanan Umum (BLU) dari barrier gate berkisar Rp 35 juta. Sedangkan di bulan kedua meraup penghasilan berkisar Rp 29,5 juta. “Di bulan Oktober pemasukan jauh lebih besar dikarenakan Edisi 22 | Januari 2019

Priyono tidak tahu persis anggaran yang dibutuhkan dalam pengadaan barrier gate. Dalam taksirannya, anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 100 juta. Ia juga menambahkan, saat ini pegawai yang dimiliki untuk mengelola barrier gate berjumlah 12 orang dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. “Gaji sesuai standar Badan Layanan Umum. Untuk lulusan SLTA berkisar Rp 1,2 juta,” paparnya. Reporter Buletin Amanat mencoba meminta laporan keuangan BLU dari barrier gate. Namun sayang, yang dapat dilaporkan hanya sebatas laporan tersebut.

“Tidak semua harus terbuka. Hal ini berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Kecuali ada kasus-kasus tertentu misalnya adanya indikasi korupsi dana,” jelasnya. Sempat diduga hilang

Priyono mengeklaim, sejak diberlakukan sistem barrier gate hingga akhir tahun 2018 tidak pernah terjadi curanmor


10

Laporan Utama

di UIN Walisongo.

“Intinya kasus pencurian sampai sejauh ini tidak terjadi lagi,” katanya. Namun, penelusuran Tim Buletin Amanat, mendapat laporan yang berbeda. Tepatnya pada 13 November 2018 sepeda motor merek Honda tipe Supra X 125 keluaran 2006 dengan nomor polisi K 6024 JB milik Latifatus Sari-roh yang di parkir di dekat pos proyek pembangunan kampus III, raib.

Saat ditemui Reporter Buletin Amanat, Ifa biasa disapa, membenarkan nasib malangnya.

“Saya sudah lapor ke Satpam, namun hanya sebatas pendataan terkait laporan kehilangan. Akhirnya, saya berinisiatif melapor ke Polsek Ngaliyan,” katanya, Selasa (13/11/2018).

Menanggapi kejadian itu Sutarman menduga sepeda motor Ifa dicuri, lantaran stop kontaknya telah rusak. Sehingga, dapat dimasuki dengan kunci apa pun. Selain itu, ia juga menyayangkan adanya mahasiswa yang tidak parkir di tempatnya. “Mahasiswa tidak parkir di tempatnya, malah parkir di dekat pos proyek,” sesalnya.

Pernyataan Komandan Satpam tersebut disanggah oleh Ifa. Waktu kejadian, tempat parkir

yang tersedia sudah penuh. Tempat yang dekat dengan Gudung L sore itu hanya, di seputar pos proyek.

“Yang dekat dengan Gedung L hanya di sana,” sanggahnya.

Aneh, meskipun kasus tersebut terjadi pada medio November 2018, namun saat Priyono ditemui pada medio Desember 2018 mengaku tidak ada kasus curanmor di UIN Walisongo. Usut tak usut, ternyata kejadian itu tidak dilaporkan satpam padanya. “Laporan Satpam kemarin tidak ada berita kehilangan motor. Cuma kemarin itu ada kasus motor yang tertukar oleh temannya,” ungkap Priyono.

Ia sempat marah kala mendapatkan info curanmor dari Reporter Buletin Amanat. Untuk itu, pada Kamis (13/12/2018), Reporter Buletin Amanat membawa Ifa menghadap Priyono untuk menjelaskan nasib malang yang menimpa dirinya.

“Saya sangat berterima kasih kepada mahasiswa yang telah bersedia melaporkan kejadian yang sebenarnya,” ungkapnya.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Priyono lekas memanggil Satpam yang bertugas. Ia memberi teguran keras, Edisi 22 | Januari 2019

Tidak semua kebijakan yang diambil oleh birokrasi kampus harus melibatkan perwakilan mahasiswa. Priyono, M. Pd. Kepala Biro Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan lantaran tidak memberi laporan yang sebenarnya kepada pimpinan. “Sementara hanya teguran keras, jika terjadi lagi maka kami akan memutus kontrak kerjanya,” tegasnnya.

Pada 31 Januari 2019, Priyono menghubungi Reporter Buletin Amanat. Ia menjelaskan jika motor milik Latifatus Sariroh yang diduga hilang, sudah ditemukan. Setelah dikonfirmasi, ternyata motor tersebut ditemukan oleh satpam di dalam proyek pembangunan PT Adhi Karya kampus III.

Agus Salim I. dan M. Syarif Marzuki


Infografik

Edisi 22 | Januari 2019

11


12

Artikel

Narasi Kebohongan Media Sosial

Ilustrasi: M. S. Marzuki

Oleh: Agus Salim I.*

K

ini, media sosial menjadi salah satu instrumen penting dalam kehidupan. Kehadirannya telah merevolusi arus informasi. Yang sebelumnya, penyebaran informasi hanya dikuasai oleh media massa, berubah total. Media sosial telah menjadi ruang publik baru. Perubahan ini memang memberi pelbagai manfaat, namun di sisi lain juga menimbulkan banyak masalah baru. Inilah yang terjadi sekarang. Masyarakat sering memperoleh informasi yang beredar di me-

dia sosial tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu diperparah dengan kadar kebohongan yang membumbung tinggi.

Pada Oktober tahun lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus yang menimpa seorang aktivis Ratna Sarumpaet. Dalam kasus tersebut, diceritakan bahwa Ratna Sarumpaet dikeroyok oleh sejumlah orang tak dikenal dan kemudian dimasukkan ke dalam mobil. Kasus yang beredar pertama Edisi 22 | Januari 2019

kali melalui Facebook tersebut ternyata hanya settingan belaka. Pihak kepolisian pun dengan cepat merespon berita yang sempat mengecoh beberapa politikus besar di Indonesia, tak terkecuali tim juru bicara Prabowo-Sandi, Danil Anzar Simanjuntak serta Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon (Tempo.co, 04/10/18). Pernyataan dari Jean Baudrillard, seorang filsuf tersohor tentang hiperealitas mungkin sangat cocok disematkan untuk menggambarkan keadaan In-


Artikel

donesia saat ini. Ya, masyarakat tidak mampu membedakan antara kenyataan dan fantasi. Mereka lebih senang menelan informasi secara bulat-bulat dari pada harus mengunyah terlebih dahulu.

Melihat fenomena di atas, betapa mudahnya media sosial dijadikan sebagai ajang pementasan drama. Lakon-lakon baru mulai bermunculan menghiasi panggung dunia maya. Sementara, lakon lama pun masih tetap eksis dan tak mau kalah. Padahal, banjir informasi melanda manusia setiap detiknya. Ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya manakala informasi yang mengalir bercampur aduk dengan informasi lain yang belum tentu keabsahannya.

Jika dikaitkan dengan kondisi sosial politik saat ini, tentu menjadi sangat rawan bila masyarakat kurang bijak menyerap informasi. Survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) membuktikan bahwa media sosial menjadi sumber utama peredaran hoaks. Survei tersebut melibatkan 1.116 responden. Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan berita mengenai Sosial-Politik, baik terkait pilkada atau pemerintah adalah jenis hoaks yang paling sering ditemui, dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen.

“

Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan berita mengenai Sosial-Politik, baik terkait pilkada atau pemerintah adalah jenis hoaks yang paling sering ditemui, dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen Selain itu, 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoaks dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram. Saluran penyebaran hoax lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. Sebanyak 96 persen responden juga berpendapat hoaks dapat menghambat pembangunan. Komoditas baru

Memasuki tahun politik, para pemilik kepentingan berlomba-lomba menggunakan media sosial sebagai ajang berkampanye. Permasalahan terkait kampanye dalam media timbul ketika muncul akun-akun baru untuk dijadikan sebagai alat berperang dengan pihak lain.

Berita-berita kampanye negatif yang disiarkan semakin hari semakin memprihatinkan karena adanya pemberitaan yang tidak berimbang, memihak, Edisi 22 | Januari 2019

13

tidak cover both side, menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, atau menyebarkan berita bohong bahkan mengarah kepada kampanye hitam. Pemanfaatan berbagai isu yang ditarik dan dipertentangan ke ranah politik ini, sangat sejalan dengan Butterfly Effect Theory (teori kepakan kupu-kupu) yang ditemukan oleh seorang ahli matematika dan meteorologis Amerika, bernama Edward Norton Lorenz (1917-2008). Teori ini sendiri, sebenarnya mengawali teori kekacauan atau chaos theory yang kerap digunakan dalam ilmu matematika.

Dalam teori kekacauan, Lorenz menjelaskan kalau situasi chaos sangat mungkin dimanfaatkan pihak-pihak yang berniat menumbangkan atau menginginkan kekuasaan.

Pada pemilu tahun 2014 misalnya, hegemoni politik Jokowi dan Prabowo membuat dua kubu terpecah belah. Pro-kontra pendukung Jokowi dan Prabowo saling menyebarkan kebencian, berita bohong untuk menjatuhkan lawan politik. Hari ini pun kondisi tak jauh berbeda, dan cenderung lebih parah. Jika demikian yang akan terus terjadi, masyarakat tentu akan bertanya; informasi mana dan kepada siapa kita harus percaya?n

*Penulis adalah Mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi 2016.


Fotografi

Edisi 22 | Januari 2019


Pasar Minggon Jatinan Batang Pasar Minggon Jatinan yang berlokasi di Hutan Rajawali Kabupaten Batang ini diselenggarakan tiap akhir pekan dengan menyajikan berbagai varian makanan tradisional dan ragam permainan anak. Selain itu, metode pembayaran juga menggunakan krewang (alat penukar yang digunakan untuk transaksi).

Edisi 22 | Januari 2019


16

Opini

Ketidakadilan Hukum dalam Rantai Prostitusi

B

aru-baru ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penggerebekan yang dilakukan oleh kepolisian terhadap artis tanah air. Ya, Mereka adalah VA dan AS. Keduanya terlibat dalam kasus prostitusi online yang terjadi di sebuah hotel di Surabaya. Bahkan, pihak kepolisian sudah menyita sejumlah barang yang diduga sebagai barang bukti kasus tersebut. Melihat kondisi di atas, agaknya prostitusi dipandang masyarakat Indonesia sebagai pekerjaan yang tabu, hina, dan melanggar norma. Bahkan, mayoritas masyarakat sangat mengecam perbuatan yang juga terbilang sebagai noda agama. Namun, stigma tersebut nampaknya tidak berlaku bagi mereka yang rela menjajakan tubuhnya demi setumpuk rupiah.

Memang pemerintah berhasil melakukan penggusuran di berbagai tempat prostitusi. Pada kenyataannya, sikap negara yang berani menyatakan prostitusi sebagai sesuatu

yang ilegal akhirnya tidak mampu membendung syahwat manusia. Hal itu justru menjadikan pelaku semakin liar dalam memburu mangsanya. Lantas, apakah itu bisa dijadikan sebagai tolak ukur pemerintah dalam memberantas perilaku prostitusi?

Ada banyak jalan menuju roma, adagium semacam ini nampaknya sangat memotivasi para pelaku prostitusi. Mereka lebih leluasa dalam melakukan transaksi. Bahkan, mampu menciptakan model-model prostitusi yang semakin berkembang dan merugikan pemerintah itu sendiri. Prostitusi online adalah komoditas yang saat ini digandrungi banyak pelaku. Meski dengan resiko terendus hidung pihak keamanan, cara semacam ini nyatanya sangat laris di pasaran. Tidak adanya kekuatan hukum yang mengatur tentang prostitusi online membuat mereka leluasa melakukan penjajahan. Pada UU Tindak Pidana Perdagangan Orang Nomor Edisi 22 | Januari 2019

Ilustrasi: Ibnu A.

21 Tahun 2007 pasal 2 ayat (1) hanya menyatakan, setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun


Opini

17

Gus Etak*

ratus juta rupiah).

Begitu pun ayat kedua menyatakan, jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Dalam pasal di atas sangat jelas bahwa salah satu unsurnya si korban harus tereksploitasi. Selain itu, tindak pidana perdagangan orang ini hanya dalam rangka apabila melakukan seolah-olah disekap untuk dieksploitasi. memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam

Sementara pasal 296 KUHP dijelaskan, barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain dan menjadikannya sebagai pekerjaan atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.

Tidak beda dengan pasal 296 KUHP, dalam pasal 506 KUHP juga dikatakan, barangsiapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita Edisi 22 | Januari 2019

dan menjadikannya sebagai pencarian, diancam pidana kurungan paling lama satu tahun. Meski dua pasal KUHP tersebut membahas tentang prostitusi, namun hanya sebatas tingkat muncikari dan tidak sampai kepada pemakai jasa maupun pelayan. Jika pemerintah tidak segera membuat kebijakan baru yang berkaitan dengan bentuk prostitusi online ini, akan seperti apakah wajah Indonesia ke depan? Prostitusi online masuk pelanggaran UU ITE?

Kasus prostitusi online yang menyeret nama VA dan AS memang menyedot perhatian masyarakat. Terlebih lagi, keduanya merupakan artis yang sudah malang melintang di dunia selebriti Indonesia.

Dilihat dari kasus yang terjadi, nampaknya ancaman pidana terhadap penyewa dan pelayan harus mengacu pada beberapa Undang-Undang yang terkait. Pasalnya, tidak ada regulasi maupun kekuatan hukum yang mengatur tentang prostitusi bentuk online.


18

Opini

Jika mengacu pada UU ITE, mungkin akan terbuka ventilasi kecil bagi kepolisian untuk menjerat mereka dengan pasal 27 ayat (1).

Dalam pasal 27 ayat (1) UU ITE berbunyi, barangsiapa mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, dengan unsur sengaja dan tanpa hak adalah dikategorikan telah melakukan perbuatan pidana dan kepadanya dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar).

Meski demikian, UU di atas masih belum bisa sepenuhnya menjerat ketiganya (muncikari, penyewa, pelayan). Sebab, duduk perkara tersebut masuk dalam wilayah transaksi elektronik berupa penyebaran foto tidak senonoh dan itu pun jika dipaksakan. Selain itu, UU ITE juga tidak pernah mengatur khusus prostitusi online. Itulah yang menjadi salah satu kelemahan hukum di Indonesia.

yak orang untuk memuaskan nafsu seks dengan imbalan pembayaran (Kartini Kartono, 1992:207).

Hegemoni prostitusi nampaknya memang sudah melekat dalam sejarah peradaban manusia. Anggapan bahwa perempuan hanya sebagai pemuas nafsu laki-laki semata, menimbulkan kesan patriarkis dalam kehidupan. Adanya pola ini menjadi alasan utama mengapa prostitusi selalu mencuat ke permukaan.

Bisnis layanan seks yang disebut sebagai prostitusi telah membentuk pembagian kerja secara seksual antara perempuan dan laki-laki di mana perempuan berperan sebagai

Pada kenyataannya, sikap negara yang berani menyatakan prostitusi sebagai sesuatu yang ilegal akhirnya tidak mampu membendung syahwat manusia.

Prostitusi dalam genggaman Prostitusi dapat diartikan sebagai peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan, dan kepribadian kepada ban-

produsen dan laki-laki sebagai konsumennya.Â

Dengan teknologi digital yang semakin berkembang, tentu akan menjadi sebuah jamuan yang lezat bagi pemakai jasa prostitusi. Dengan sekali tekan, para pria hidung belang bisa dengan leluasa memilih jasa pelayan yang mereka sukai.

Namun, penyedia jasa juga tidak bodoh. Mereka berhak mematok harga tinggi untuk tubuhnya sendiri. Mereka juga punya kuasa atas tubuhnya dan menentukan siapa saja yang berhak memakai. Ya, Mungkin itu salah satu kendala yang dihadapi oleh pria yang suka jajan. Ia tidak bisa memaksa dengan harga yang sudah ditentukan.

Keadaan semacam ini dikatakan Karl Max sebagai hubungan antara pekerja-pemodal. Di mana pemilik modal memanfaatkan raga, kerja, dan kehidupan pekerja untuk memperkaya pemilik modal lewat produksi barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh kaum pekerja (Marx, 1959). Dalam hal ini, pria hidung belang selaku pemilik modal akan menggunakan pekerja (baca: PSK) sebagai budak dan dia berhak menggunakan otoritas pemilik modal untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan.n

*Penulis adalah santri Raudlatut Thalibin kelahiran Batang.

Edisi 22 | Januari 2019


Varia Kampus

19

Dok. Pribadi

Riduwan-Iqbal Pemimpin Baru SKM Amanat Riduwan dan M. Iqbal Shukri terpilih sebagai Pemimpin Umum (PU) dan Pemimpin Redaksi (Pemred) Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat periode 2019, Minggu (29/12/2018). Pemilihan dilakukan bersamaan dengan Laporan Pertanggung Jawaban Tahunan Pengurus SKM Amanat periode 2018 di Asrama Fakukltas Ushuluddin Program Khusus (FUPK), Ngaliyan.

Ketua Panitia, M. Syarif Marzuki mengucapkan selamat kepada Riduwan dan Iqbal atas terpilihnya mereka menjadi pemimpin baru SKM Amanat. Ia juga berterimakasih kepa-

da segenap kru yang telah menyukseskan acara pemilihan tersebut.

“Terima kasih kepada temanteman kru. Dan kepada PU dan Pemred yang baru, saya berharap mereka dapat membawa SKM Amanat ke arah yang lebih baik lagi,” katanya. Riduwan mengucapkan terimakasih kepada segenap kru yang telah mempercayakan tampuk kepemimpinan SKM Amanat kepadanya. Ia berharap agar di periode 2019 seluruh kru tetap memegang komitmen mereka dan selalusolid dalam mengemban tanggung jawab di SKM Amanat. Edisi 22 | Januari 2019

“Amanat itu berat, untuk membuatnya menjadi ringan, mari kita pikul bersama,” katanya. Sementara itu, Iqbal berharap agar seluruh kru bertanggung jawab atas pilihannya. Masing-masing mau berjuang bersama dalam mengawal SKM Amanat untuk menjadi media kampus yang kritis, independen dan berintegritas. Seluruh kru mau berjalan bersama dalam mencapai cita-cita luhur SKM Amanat. “Setiap perjalanan adalah pengalaman, setiap pengalaman adalah pelajaran,” pungkasnya.n Mohammad Azzam A.


20

Resensi

Mereguk Sepi dalam Secangkir Kopi Judul Buku : Barista Tanpa Nama Penulis : Agus Noor Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2018 Tebal : 171 halaman Resentator : Afridatun Najah

A

gus Noor adalah seorang penyair, esais, cerpenis juga penulis naskah kelahiran Tegal, 1968. Ia telah lama melintang di dunia seni. Korie Layun Rampan memasukkan dia sebagai sastrawan angkatan 2000. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah naskah monolog Matinya Toekang Kritik yang kemudian diadaptasi menjadi program Sentilan Sentilun di salah satu Stasion televisi swasta nasional. Buku Barista Tanpa Nama

(2018) ini merupakan kumpulan sajak Agus Noor yang dibuatnya antara tahun 2010 s.d 2017. Dalam karya yang satu ini, ia melakukan eksploitasi yang luar biasa terhadap kopi.

Kita dapat jumpai sajak yang membahas tentang penantian dalam Percakapan Kopi, kisah tentang kerinduan dalam Mengingat Jalan-Jalan yang Dilupakan, romansa dalam Sajak-Sajak Secangkir Kopi dan masih banyak yang lainnya. Ia memadukan antara kopi dan kesendirian, kopi Edisi 22 | Januari 2019

dan duka, kopi dan luka, kopi dan kesunyian, menjadi pemaknaan yang terus mengalir tanpa muara. Sebuah pemaknaan (baca: sajak) yang bernada sendu, diciptakan untuk mewakili zaman yang pilu. Agus Noor menulis;

Di tempat yang jauh, Tuhan menyeka pipinya yang tiba-tiba basah Benar saja, pada lembar demi lembar selanjutnya, penulis mulai meliar dengan membahas kondisi sosial, politik,


Resensi

dan agama. Tentu dengan gaya satire khas Agus Noor; yang lantang, namun tak jarang dapat membuat pembaca terpingkal.

Seperti dalam puisi Anjing dan Bir Kesembilan. Di sana Agus menggambarkan kehidupan keberagamaan yang sudah begitu jauh dari agama. Atau, jika menggunakaan istilah Karl Marx, kini, orang banyak yang terserang candu agama. Tentu dalam konteks yang berbeda. Agus melukiskan itu dengan ungkapan, anjing dalam botol bir. Ia megkritik cara keberagamaan hari ini, yang tidak lagi menemukan Tuhan dalam keheningan, namun berkoar-koar di jalan sebagai wujud eksistensi keimanan. Kejadian seperti ini sangat lekat dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Agus Noor menulis;

Tapi, di kota penuh pendusta

siapa lebih jaddah: anjing gila ataukah kita? lebih mengerikan mana, wabah anjing gila atau kegilaan atas nama agama? “kita bisa mendongeng anjing berjanggut berkeliaran di jalan kota� Di antara karyanya, terdapat beberapa puisi yang dibuat khusus untuk seseorang. Di antaranya, Melankolia Mella, Peggy Melati Sukma, Sudjiwo Tejo, serta Umbu Landu Paranggi.

Seperti yang ditulis di awal, kopi menjadi topik utama dalam kumpulan puisi Agus Noor. Ia seakan paham dengan karakter pembacanya. Di mana gaya hidup ngopi semakin digemari kawula muda, berbanding lurus dengan tingginya rasa sepi di hati. Ya, saya sedang berbicara tentang kegalauan manusia modern.

Edisi 22 | Januari 2019

21

Misal saja dalam potongan puisi yang berjudul Kedai Kopi, Agus Noor menulis; ia kembali untuk secangkir kopi dan apa yang tak akan ditemukan lagi

menggambarkan seseorang yang tetap kembali meskipun ia tau apa yang dicarinya tak dapat lagi ia temui. Dilanjutkan dengan bait selanjutnya mengenai suasana sunyi yang dirasakan. kursi-kursi yang kosong seperti punggung bersandar pada kesunyian

Kumpulan sajak ini merupakan buku yang patut dibaca. Mungkin bersama kopi hitam dalam kehidupan yang kelam. Atau, dalam tawa di heningan malam. Guna meresapi kembali, apa yang sudah terjadi, dan bagaimana yang selanjutnya. Tentang sikap kita dalam beragama dan memandang kehidupan.n


Layar Tangkap: Teaser Filim Alpha

22

Resensi

Berkawan dengan Serigala

D

ibintangi oleh aktor muda, Kodi Smith-McPhee yang berperan sebagai Keda, film Alpha menceritakan tentang petualangan seorang pemuda dan seekor serigala. Alpha adalah film yang menceritakan petualangan Keda (Kodi Smith-McPhee), anak tunggal dari Tau kepala suku purba di daratan Eropa, yang diperankan oleh Johannes Haukur Johannesson. Selain dibintangi oleh Kodi Smith-McPhee sebagai aktor utama, film yang berdurasi 96 menit ini juga diperankan oleh Johannes Haukur Johannesson, Leonor Varela, Marcin Kowalcyzk, Jens Hulten, Spencer Bo-

gaert, Mercedes de la zerda dan Natassia Malthe yang berperan sebagai ibu Keda.

Kisah perjalanan Keda dimulai ketika dia melakukan perburuan besar sebelum musim dingin tiba. Keda bersama sukunya mulai meninggalkan kampung halaman dan berburu bison liar. Sebagai anak dari kepala suku, berburu merupakan kemampuan yang wajib dikuasai oleh Keda. Dengan mengendap-endap, Keda dan sukunya berhasil memojokkan sekawanan bison yang sedang berkumpul menggunakan tombak. Dalam perburuan melawan bison, Keda justru tertanduk dan tersungkur di tanah. Tak lama Edisi 22 | Januari 2019

Judul film : Alpha Sutradara : Albert Hughes Produser : Albert Haughes, Andrew Rona Pengarang Cerita : Albert Hughes Produksi : Columbia Pictures, Studio 8, The Picture Company Durasi : 96 menit Resentator : Agus Salim I

kemudian bison yang marah melemparkan Keda ke dasar jurang. Sang ayah (Tau) yang masih membawa tombak berusaha menolong Keda dengan melempar tombak ke arah bison purba. Meski mengenai sasaran, namun Keda sudah terlanjur jatuh ke jurang. Mengira putranya telah tewas,


Resensi

>> Tangkap layar film Alpha

Tau meronta-ronta menangis. Dia membuat pemakaman di dekat jurang tempat Keda terjatuh, sebagai penanda bahwa anak satu-satunya berakhir di sana. Setelah itu, Tau beserta rombongan suku kembali ke kampung halaman.

Keda yang dikira telah tewas, masih lemas dan tidak sadarkan diri. Hingga patukan burung pemakan bangkai berhasil membangunkan dia dari ketidaksadarannya. Dalam keadaan sendiri dan kehujanan, Keda tetap bertahan dan terus memanggil ayahnya dengan keadaan kaki yang pincang. Keda memaksakan diri untuk kembali ke kampung halamannya, di tengah perjalanan bertemu kawanan serigala. Anak kepala suku tersebut berhasil melukai salah satu serigala dan berlindung di atas pohon kering. Namun karena iba, Keda mengurungkan niat untuk membunuh serigala yang terluka dan memilih merawatnya di sebuah gua. Dalam kehidupan nyata, mungkin akan sulit bagi kita untuk bersahabat dengan binatang buas yang tidak dipelihara sejak kecil. Namun tidak dengan Keda. Keda mampu meluluhkan Alpha, serigala buas yang menyerangnya di tengah perjalanan pulang.

Pada suatu malam ketika mereka sedang menikmati hasil buruan, tiba-tiba kawanan serigala buas datang. Tak disangka, ternyata kawanan serigala buas tadi

adalah keluarga Alpha. Dengan berat hati, Keda harus merelakan Alpha kembali kepada keluarganya. Dalam keadaan lemas, Keda berusaha melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Ketika melewati hamparan salju yang luas, Keda terjerembab dan jatuh ke bawah permukaan air laut yang tertutupi salju.

Alpha yang saat itu melihat Keda terjatuh, langsung berlari menolong dan menyelamatkan Keda. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlindung di sebuah gua sembari menunggu badai salju reda. Setelah petualangan yang panjang dan menegangkan, Keda dan Alpha bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat.

Potret hubungan antara manusia dan hewan Banyak film yang menjadikan persahabatan antara manusia dan hewan sebagai tema utama. Seperti film “Hachiko Monatogari� yang bercerita tentang kesetian anjing kepada majikannya. Film Alpha menjadi salah satu film yang mengangkat tema tersebut. Keheningan saat Keda seorang diri harus bertahan hidup, mengobati luka dan mencari makanan, mengundang empati. Interaksi antara Kodi SmithMcPhee dengan sang serigala pun terasa emosional. Tidak hanya memotret perjuangan Keda yang berjuang untuk kembali ke kampung halamannya. Film ini juga memotret interaksi antara Keda dan Alpha sang Edisi 22 | Januari 2019

23

serigala yang sangat intim dan hangat. Perubahan gaya kepemimpinan Keda juga membuat film ini menjadi lebih menyentuh. Keda yang lekat dengan gaya lemah lembutnya, berubah menjadi pemberani ketika hidup di alam bebas. Bahkan, Keda berhasil membuat dirinya diakui sebagai pemimpin sejati oleh sukunya.

Serigala yang dihadirkan dalam film ini tampak begitu nyata. Pergantian waktu, baik dari pagi ke malam, sampai pergantian musim pun ditampilkan dengan indah. Hal ini tentu tidak lepas dari penggunaan kecanggihan teknologi Computer Generated Imagery (CGI). CGI adalah penerapan bidang komputer grafis, atau lebih khusus, grafis 3D komputer untuk efek khusus dalam film, program televisi, commercials, simulators dan simulasi umumnya, dan media cetak. Berkat penggunaan CGI, menonton film Alpha mampu memberikan pengalaman seru dan menyenangkan.

Namun, karena film ini menggunakan bahasa suku purba. Maka penonton akan merasa asing dengan bahasa yang digunakan. Film yang menghabiskan dana sekitar USD 51 juta ini pertama kali tayang di Indonesia pada tanggal 21 September 2018. Disutradarai Albert Hughes dan menggandeng produser ternama Andrew Rona, film ini berhasil menyabet gelar Hollywood Post Alliance (HPA Awards) Tahun 2018 di Amerika Serikat. n


24

Rehat

Komik Strip

Edisi 22 | Januari 2019

Mohammad Azzam A.


Surat Pembaca

Stopkontak Perlu Diadakan di Taman Fuhum

A

danya taman di setiap fakultas sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Taman dapat digunakan untuk sekedar melepas penat dan bersantai di sela jam kuliah, tempat membuat tugas kuliah, atau pun sebagai tempat dan sarana diskusi mahasiswa. Sebut saja taman di Fakultas Ushuludin dan Humaniora (Fuhum). Taman tersebut sering digunakan mahasiswa Fuhum dan juga mahasiswa fakultas lain untuk mengisi waktu senggang.

Taman di fakultas tersebut memiliki beberapa tempat duduk. Di sana juga terdapat kolam air mancur yang menambah sudut keindahan taman. Dengan suasana yang memanjakan mata tersebut tentu saja membuat mahasiswa nyaman menggunakannya. Kita tentu harus mengapresiasi pihak fakultas akan pengadaan taman tersebut. Namun, taman Fuhum tidak sesempurna itu. Ada beberapa fasilitas yang dirasa cukup vital tidak tersedia, misalnya stopkontak. Padahal stopkontak memiliki fungsi yang cukup penting. Kami rasa, hal tersebut dapat dijadikan perhatian bagi pihak fakultas. Diharapkan adanya tindakan supaya Taman Fuhum menjadi lebih nyaman dan berfungsi maksimal.

banyak sarana yang dimiliki kampus.

Sayangnya, tidak semua komputer bisa difungsikan dengan baik alias rusak. Pihak pengelola pun terkesan tidak ada usaha untuk memperbaiki. Hal tersebut bisa dilihat di laboratorium komputer Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Tidak sampai di situ saja, penataan komputer nampak awut-awutan dengan kabel berserakan. Hal tersebut membuat pengguna laboratorium tidak nyaman. Selain kabel yang berserakan dapat membahayakan, pemandangan seperti itu juga tidak enak dilihat.

Hal serupa juga terjadi di Labkom Perpustakaan Pusat. Sangat miris, selain penataan yang kurang rapi, di sana juga terlihat kondisi komputer yang berdebu. Dengan keadaan seperti itu, fungsi labkom dirasa kurang maksimal karena pengguna kurang nyaman dengan keadaannya. Saya berharap kampus tidak hanya melakukan pengadaan sarana tetapi juga melakukan perawatan sehingga sarana yang dimiliki bisa difungsikan secara maksimal.

Darma Taujiharrahman, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Azka Zakiyah, Ilmu Alquran dan Tafsir

Laboratorium Komputer Perlu Dirawat

T

ak bisa dipungkiri, sarana tentu menjadi faktor penunjang pembentukan skill bagi mahasiswa. Laboratorium Komputer (Labkom) menjadi salah satu fasilitas penting dari

25

Edisi 22 | Januari 2019


26

Feature

Pesona

Lumpia Tak Lekang Usia

sintiaastarina.com

Semarang dan lumpia adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ada sejarah panjang di balik lumpia yang kini menjadi makanan khas kota Atlas.

A

roma rajangan remon, udang dan telur yang dipadu dengan rempah dan rebung menyeruak wangi. Ketika Anda sudah mulai mencicipinya, rasanya lidah tidak mau berhenti untuk terus mengunyah. Jajanan berbahan utama rebung itu cukup favorit di kalangan pelancong yang pernah datang ke Semarang. Di beberapa pusat perbelanjaan, kedai-kedai kecil siap Edisi 22 | Januari 2019

menyajikannya dalam keadaan siap santap dan hangat. Salah satunya di kedai “Lunpia Gang Lombok�, penjual lumpia yang cukup melegenda di Kota Atlas ini. Dari kedai itu, cita rasa lumpia yang lezat terlahir. Teksturnya yang padat, membuat rebung dan rempah lumpia begitu terasa. “Lunpia Gang lombok�, menjadi pelopor berkembangnya


Feature

lumpia. Jajanan tradisional dengan rasa gurih bercampur asam manis, membuat lumpia mudah dikenal dan digemari. Kedai lumpia tua itu beralamat di jalan Gang Lombok No. 11, Purwodinatan, Kauman, Semarang Tengah. Menurut Untung Usodo, generasi ke empat pemilik Lunpia Gang Lombok, awalnya lumpia di Semarang berasal dari pedagang Cina, Tjoa Thay Joe yang menikah dengan perempuan Jawa bernama Wasih. Dari pernikahan dua pedagang itu lahirlah lumpia. Perpaduan makanan bangsa Mandarin namun bercita rasa asin manis khas Jawa.

“Perpaduan rasa inilah yang membuat lumpia mudah diterima di Semarang,” jelas Untung Usodo, saat diwawancarai kru Buletin Amanat, Minggu (11/6/2018).

Dalam ceritanya, Untung juga mengatakan jika Lunpia Gang Lombok sudah berdiri lebih dari seratus tahun. Lazimnya di Cina, bahan dasar pembuatan lumpia berbahan daging babi. Namun berkat akulturasi yang ada, daging babi itu diganti dengan daging ayam dan udang. “Kedai kami menjadi pelopor di Semarang. Bisa dibilang, kedai inilah yang pertama,” tutur Untung. Menjaga kualitas

Dalam kedai berukuran 3 x 6

Lazimnya di Cina, bahan dasar pembuatan lumpia berbahan daging babi. Namun berkat akulturasi yang ada, daging babi itu diganti dengan daging ayam dan udang.

Untung Usodo Generasi ke empat pemilik Lunpia Gang Lombok meter persegi itu, Untung melayani pengunjung mulai pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB . Biasanya pada jam makan siang, kedai sudah ramai dipadati pengantre. Namun Lunpia Gang Lombok hanya menyediakan lumpia ayam dan udang saja. Selain rasa gurih dan asam manis, lumpia juga memiliki aroma khas yang identik berbau pesing. Aroma yang cukup menyengat dan kurang disukai oleh beberapa orang. Tapi di kedai Lunpia Gang Lombok ini, bau pesing dari rebung tidak kentara.

Untung, pria berkepala lima itu mengatakan, aroma pesing bisa dinetralisir jika bahan-bahan yang digunakan berkualitas bagus. Selain itu, dalam pengelolahannya juga harus baik. Edisi 22 | Januari 2019

27

Untuk menjaga keasliannya, semua masih dibuat dengan cara tradisional.

Menurut Untung, rebung yang menjadi bahan pokok isi harus dicuci hingga benar-benar bersih dari lendirnya. Lendir inilah sumber dari aroma yang kurang sedap. Setelah bersih dan diiris halus, rebung ditumis dengan bumbu dan bahan lainnya, seperti telur dan udang. Setelah matang, isi dimasukan ke dalam kulit lumpia. “Selanjutnya, pengunjung bisa memilih akan menikmati lumpia goreng atau basah,” tambahnya.

Selain itu, pembeda dari lumpia ini juga dapat dirasakan dari saus kental manis yang disediakan. Saus itu dibuat dari pati singkong. Menjadi perasa tambahan pengganti cabai rawit. Lalu sedikit lalapan daun selada dan daun bawang, untuk penyedap rasa di lidah. Wahyu, pelancong asal Purwodadi, mengaku sudah terbiasa membeli lumpia di kedai Lunpia Gang Lombok. Ia mengaku sudah sejak kecil mengenalnya. Meski harga satu buah lumpia dikenakan 15 ribu, baginya cita rasa yang harus tetap diutamakan. “Harganya sebanding kok dengan ukuran dan rasa yang didapat. Dan itu menjadi hal yang pantas,” jelasnya.n

Isnatul Baeti Farodisa


Cerpen

28

Narasi Pilu di Awal Tahun n Naili Istiqomah Rambutnya yang mulai menggimbal, jadi sasaran empuk dari ratusan atau mungkin ribuan kutu. Jika aku mengetuk pintunya pelan, ia malah menggedor-gedor dan membukanya dengan wajah seperti iblis kelaparan hendak memangsa diriku. Jangan tanya matanya, pandanganya yang selama ini teduh penuh kasih, kini terlihat kelam dan hitam. Tak jarang aku lari terbirit-birit ketakutan saat mengantarkan makanan.

P

olisi, polisi, dan polisi. Sebuah kata yang selalu deras mengucur dari mulutnya. Aku ingin memecahkan algoritma itu. Namun, yang membuat soal malah mengunci rapat bibirnya. Adikku Kenya telah menguncinya. Dia yang membuat soal, tapi dia sendiri yang harus menggila karenanya. *** Kertas yang tak lagi utuh selalu memenuhi lantai kamarnya. Tidak jarang di badannya menempel sobekan kertas itu. Jika sudah tergilas saat tidur, kertas itu tak ubahnya seperti bubur. Tiada hari tanpa sobekan kertas baginya.

Aku sudah memanggil dokter jiwa untuk menangani adikku. Bahkan dukun pun kupanggil. Aku mengikuti perintah dukun itu dengan menaruh telur bebek serta dua lonjor lidah buaya di kolong ranjang Kenya. Namun, semua itu nihil tiada hasil. Kenya masih sama, dia mengucapkan kata-kata yang tidak jelas runtutannya. Dia mulai melukaiku, saat aku menyuruhnya untuk diam, sobekan kertas di kamarnya semakin banyak. Sementara itu, buku-buku di perpustakaan pribadiku semakin banyak menghilang. Melihatnya seperti sekarang, aku sempat berpikir untuk meninggalkan Kenya. Miris Edisi 22 | Januari 2019

tak tega untuk memasungnya. Sebagai saudara aku hanya bisa mencoba menenangkan dan membujuknya agar bercerita mengapa dia begitu. Dengan keterangan dari Kenya setidaknya aku akan tahu langkah apa yang seharusnya kulakukan. Perlahan aku memasuki kamarnya. Kubuka lirih pintu itu, mencoba dengan keras agar tiada suara yang aku hasilkan. Desah nafasku bahkan kuminta agar tidak berisik. Kenya tertidur, dia lelah setelah seharian berteriak-teriak. Aku duduk dibawah ranjangnya, memandangnya lamat. Aku merasa sakit dan sesak yang luar biasa di dada. Kuraih foto ibuku yang terpajang di meja samp-


Cerpen

Aku yang semula menunduk menangis memeluk foto ibu mulai mendongakkan kepalaku ke atas. Kenya terbangun. Dia melihatku. Tapi ekspresinya datar. Wajahku yang sembab, dan mataku yang memerah tidak lagi mampu menggerakkan hatinya. Dia lama menatapku. Tubuhku bergidik. Aku takut dengan tatapan kelam itu.

deviantart.com

ing ranjang. Batinku tercabik. Masih ingatkah dia dengan ibu? Denganku saja dia sudah lupa. Hanya keajaiban jika ia mengingat ibu yang telah meninggal. “Kenya, aku merindukan kamu yang dulu. Gadis yang ceria, ramah dan sopan. Ceritalah kepadaku. Mungkin aku bisa membantumu.” Niatku goyah. Semula aku tidak ingin bersuara. Tapi rentetan kejadian dan kenangan ini merubahnya. Aku mulai terisak. “Aku lelah Tuhan,” ucapku dengan basah yang kurasakan pada pipiku. Dari atas ranjang, aku merasa melihat sosok yang bergerak.

Tiba-tiba dia merenggut foto yang kudekap. Foto ibu. Kenya menatap foto itu lama. Terlihat seperti orang berpikir. Lama sekali. Aku pun hanya diam. Aku masih bergidik namun aku pun ingin bicara. Aku terheran, masih duduk di atas kasurnya dengan memandangi foto ibu. Ia tersenyum dan mulai bercerita. Nada-nada suaranya sudah normal. Sayang aku tidak begitu memahaminya. Spontan, aku memberinya minum. suarannya kembali lembut dan normal dalam bercerita. *** Seperti ini Kenya bercerita. Bulan Januari, saat itu sedang ada demo besar-besaran di alun-alun kota untuk menurunkan gubernur di kota kami yang korup dan otoriter. Kemacetan terjadi dimana-mana. Aku coba melihat keadaan. Tahu sendiri bagaimana kebosananku ketika terjebak di dalam lautan kendaraan. Aku Edisi 22 | Januari 2019

29

merayu Alfiyan untuk turun dari motor dan melihat demo lebih dekat. Kujinjitkan kakiku, perasaanku terselimuti rasa penasaran terhadap demo itu semakin besar. Sorotan mataku merekam mahasiswa sedang berteriak menyanyikan lagu Buruh Tani. Dengan membakar ban dan mengata-ngatai gubernur. Langkah kaki berjalan menuju tempat demo. Begitu kompak suara teriakan yang menggema “Turunkan Sukamto”. Tangan kami tetap berpegangan erat. Tampaknya gubernur enggan keluar dari kantornya. Padahal demo itu sedari kemarin. Tak lama kemudian tentara dan polisi turun, namun masih tak bersama gubernur itu. dor! Suara tembakan di udara. Tetap dengan megaphonenya mahasiswa pemimpin demo itu mengatakan jika gubernur itu banci, inilah dan itulah. Mahasiswa akan lega jika gubernur itu turun langsung dan menyatakan dirinya mengundurkan diri. Mungkin itu alasan mahasiswa untuk berhenti berdemo dan tak melawan tentara dan polisi. Gabungan pengaman negara itu menyemprotkan gas air mata. Terdiam selama setengah jam. Lalu mahasiswa gelombang 2 justru menyerang polisi dan tentara menggunakan senjata tajam dan benda milik apara-


30

Cerpen

tur negara. Bentrok tidak bisa dihindarkan, kumpulan mahasiswa itu kini telah dibalik oleh aparat negara. Mereka ada yang berlari untuk menyelamatkan diri ada yang pura-pura jatuh atau mati agar tak dipukuli. Darah berceceran dimana-mana. Baju dan jas mereka berlumur darah. Mereka menyaksikan dari kejauhan begitu ketakutan dan merinding. Ya, ada yang berlari untuk melarikan diri. Tiba-tiba ada segerombolan pendemo berlari ke arahku. Mereka di koyak-koyak tentara. Aku tercengang dan melongo. Mereka berlari tanpa permisi. Tanganku dan Alfiyan yang semula bergandengan kini terpisah. Mereka menabrak tangan kami. Tiada kesiapan untuk membalikkan badan atau memutar ke arah mata angin untuk menghindari kericuhan ini. Kecengangan ini tersentak saat tentara tersebut menyergap Alfiyan. Mereka menyangka Alfiyan ikut berdemo. Dengan kasar mereka memborgol tangannya. Tangan mereka mendorong bahu Alfiyan untuk bergerak ke arah selatan. Aku pun mengikutinya. Sampai di belakang gedung, ia melihat jajaran pendemo yang muntah darah tidur berentetan tanpa nyawa. Sedangkan Alfiyan di dudukan di sebuah kursi. Tentara itu mengikat kaki Alfiyan. Lalu mereka mengin-

terogasi Alfiyan, yang tak bisa Kenya jelaskan apa yang mereka ucapkan. Tahu-tahu mereka menampar Alfiyan. Hingga berkali-kali secara bergantian oleh tentara-tentara tersebut. Jika bosan menampar mereka, mendopak wajah Alfiyan hingga ia terbanting. Matanya terbelalak ke arahku. Sorotanya mengisyaratkan untuk menyuruhku meninggalkan tempat itu. Salah satu dari mereka menginjak perut Alfiyan. Ada sebagian mereka menyayat-nyayat kulit kaki dan tangan Alfiyan. Lalu membiarkan Alfiyan menangis bahkan menjerit kesakitan. Bibir mereka melontarkan pertanyaan yang tak jelas lagi. Alfiyan berteriak dan mengatakan “Aku tidak ikut serta. Bunuh saja aku dari pada aku mengiyakan tuduhanmu dan mendekam dipenjara.” Mereka semakin jengkel dengan jawaban Alfiyan. Salah satu mereka mengeluarkan pistol dan menembak dada Alfiyan. Ia sempat menoleh ke arahku untuk memberikan senyumannya. Mungkin racun dalam peluru itu melumpuhkan saraf-saraf, lalu tubuh Alfiyan kaku membatu. Mulutku terbungkam tak berkata apapun. Kakinya menggigil menuju aliran tangan hingga bibir. *** Edisi 22 | Januari 2019

Memorinya masih muat menampung Januari sebagai narasi kekejaman itu. Masih terekam semua. Terutama saat aparat keparat itu menendang kaki dan badan Alfiyan untuk sekedar mengecek apakah Alfiyan masih hidup atau mati. Setelah mereka. Yakin nyawa Alfiyan melayang, mereka pergi meninggalkan dia yang terkapar. Bibir Kenya meronta dan bergetar. Ia lontarkan kata-kata kotor kepada mereka. Namun mereka hanya menertawai Kenya. “Hahaha mayat kok ditangisi, mana mungkin bangun. Hey... makanya jangan menjalin hubungan dengan pemberontak!” Kenya kembali terisak. Dia memandangiku tajam dan menanyaiku tentang bagaimana dia bisa hidup tanpa Alfiyan. Tetiba ia berteriak “Akan kubunuh kalian, tunggu pembalasanku.” Ia terus berteriak tak jelas di akhir cerita. enggenggam roknya lalu menyobeknya. Berlari-lari kian kemari. Membentakku, Ia meminta senjata tajam untuk membunuh mereka. “Hahaha akan kubunuh mereka.. hahahahahhahah.”n *Mahasiswa prodi Komunikasi Penyiaran islam, Kru SKM Amanat


Puisi

Di Persimpangan Pagi

31

Tanpa ada angin sebagai pertanda Nestapa mulai rakus Menggrogoti layaknya hama Itu memuakkan

oleh: Naili Istiqomah

Di persimpangan pagi Kita bertemu kali pertama Dikau seperti matahari Sedang daku hanya dedaunan

Disisi ini terselimut kepayahan Hanyalah Tuhan saja Dapat menentukan semua Berikut Kerinduan daku padamu

Setiap pagi Daku menyaksikan cahaya keemasanmu Dikau merayu ke semua tumbuhan Tak terkecuali daku

Mungkin dikau kembali Setelah diri embun diatas dedaunanku tersapu angin Bahkan Di senjaku Daku tunggu sebelum tenggelam

Di persimpangan jua dikau menyapaku Melalui ribuan senyummu Meski tanpa permisi Daku tetap menadah riang cahayamu. Lewat sinar-sinarmu Adalah keceriaan bagiku itulah alasan pertemuan ini

Sejak di persimpangan tiada kejemuan menyambutmu Meski tak pasti kapan kau kembali Hanya ilusi Selama daku belum layu dan gugur Tiada enyah untuk menanti

Seiring awan kelabu menghampiri langit Maka pupuslah pertemuan itu

Semarang, 2018

Akhir Penantian

Tarikan nafas tersengal-sengal. Aliran nadi tersendat. Seutuhnya, mati rasa.

Kini penantian lama berbalas jawab Sang Kuasa. Pada senja ini, akhirku menghitung waktu Mengenggam cinta.

Terhimpit aku merengang nyawa Detik merengkuh jiwa dibawanya aku siuh melayang Menuju tawang

Pandangan kabur berkabut.

Semarang, 2018

oleh: Liviana Muhayatul K

Edisi 22 | Januari 2019


Sosok

Keterbatasan Bukan Penghalang

Dok. Pribadi

K

eterbatasan bukanlah akhir dari segalanya,� itulah yang dikatakan Didik Sugianto (34), ketua yayasan Komunitas Sahabat Difabel (KSD) di jalan MT. Haryono, Semarang Tengah. Lelaki yang mengalami kecelakaan sejak usia 23 Tahun tak mau terlalu berlarut dalam kepedihan. Meski kini dalam kesehariannya, dia menggunakan kursi roda. Trauma tulang belakang akibat kecelakaan menjadi lecutan untuk tetap hidup tanpa menggantungkan orang lain. Baginya kesempatan hidup setelah divonis dokter lumpuh bahkan akan meninggal, merupakan suatu karunia. “Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah diberikan Allah SWT, mungkin

ini adalah ujian yang harus saya terima,� ungkap Didik.

Lelaki asal Jepara ini, sempat mengalami keputusasaan. Ia memasrahkan dirinya pada Maha Kuasa jika ditakdirkan untuk tidak melanjutkan hidupnya. Namun Tuhan mempunyai rencana lain. Didik masih diberikan kesempatan hidup, meski harus duduk di kursi roda. Sebelumnya dia sempat terlentang tiga bulan di rumah sakit.

Melihat istrinya yang selalu menemani dan berjuang untuk kesembuhannya membuat Didik bangkit untuk tidak berdiam diri saja di tempat tidur. Ia mulai berlatih duduk di tempat tidur selama 2-3 jam setiap harinya. Kemudian berlatih duduk di kursi roda selama dua bulan. Setelah bisa Edisi 22 | Januari 2019

menggunakan kursi roda, dia berinisiatif untuk beraktivitas lagi dengan berjualan bensin eceran di rumahnya. Namun karena banyak konsumen yang mengutang, usahanya pun gulung tikar. “Saya memiliki keinginan untuk tidak menggantungkan semuanya kepada istri saya, maka saya ingin berusaha mulai yang kecil-kecilan,� ucapnya.

Tak mau menyerah begitu saja, ia mencoba beternak bebek dan itik petelur. Namun, sebagai kepala rumah tangga dia menginginkan perubahan nasib. Akhirnya Didik memilih Semarang sebagai tempat meraup rezeki. Dengan bantuan teman-temannya, Didik mendirikan bengkel dengan modal awal 500 ribu rupiah


sesampainya di Semarang. Dan usaha bengkel miliknya masih eksis sampai kini, dengan promosi yang dilakukan melalui media sosial, Facebook.

Sebelumnya lelaki kelahiran Jepara 12 Juli 1985 itu, memiliki nazar jika dirinya bisa beraktivitas kembali, dia akan melakukan kegiatan sosial. Untuk itu Didik memilih untuk bergabung di KSD Semarang atau sering disebut Roemah Difabel. Di sana, Didik dapat membagi ilmunya kepada sahabat-sahabat difabel yang lain dengan didampingi oleh Novia, pendiri komunitas tersebut. Tidak hanya itu, Didik juga sering terlibat langsung untuk melakukan kegiatan bakti sosial seperti berbagi takjil dan mengadakan buka bersama di bulan Ramadan. Didik juga turut aktif mengirim anggotanya untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau Pihak luar yang menyelengarakan kegiatan untuk difabel. Ia juga berpesan kepada anggotanya untuk saling berbagi dan menularkan keahlian atau ilmu yang dimiliki dengan masyarakat di daerahnya masing-masing.

“Sesuatu lebih berkah jika kita mau berbagi kepada orang lain, baik berupa harta ataupun pengetahuan,” pungkasnya. n Adinda dan Naili I

Teater Itu Proses

B

erakting bukan hal yang mudah. Butuh keberanian, kemampuan, dan rasa percaya diri yang besar untuk dapat melakukannya. Namun, hal ini sudah tak asing lagi bagi Muhammad Syukron Mubarok. Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ini, sudah menekuni bidang akting sejak duduk di bangku sekolah. Kala itu, Syukron akrab disapa, pernah mengikuti ekstrakurikuler teater di SMA. Beberapa prestasi pernah ia raih. Di antaranya, Juara 3 Puisi tingkat umum di Tegal, Juara 3 lomba akting tingkat Jawa Tengah, dan masih banyak yang lain.

Prestasinya tak berhenti kala menginjakan kaki di perguruan tinggi. Mahasiswa yang juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Wadas telah menggondol berbagai kejuaraan. Di antaranya, Juara Stand Up comedy di Batang Expo pada tahun 2015, Juara lomba baca puisi tingkat nasional pada November 2017. Serta, tak lama ini mendapatkan juara penyaji terbaik 1 monolog tingkat Jawa Tengah pada 28 April 2018 di UPGRIS. Edisi 22 | Januari 2019

Dok. Pribadi

Sebelumnya, kecintaan mahasiswa asal Kendal ini pada dunia teater bukan tanpa sandungan. Semula orang tuanya selalu melarang jika ia latihan sampai larut malam. Namun, setelah berbagai kejuaraan dalam perlombaan diraihnya, orang tuanya perlahan memberikan izin kepadanya. “ Teater itu adalah proses belajar hidup. Saya sudah bertemu dengan banyak karakter dalam naskah yang harus saya mainkan, dan itu sedikit banyak mempengaruhi karakter saya sendiri,” terangnya.

Aktif dalam teater tidak serta menyurutkan prestasinya dalam kuliah. Syukron mengaku bahwa Indeks Prestasinya selalu di atas 3.5. Saat ini, Syukron berharap semoga ilmu di teater yang selama ini dia dapat bisa membawanya ke dunia perfilman, dan semoga untuk kuliahnya baik-baik saja.

”Banyak orang yang menginginkan posisi kita diluar sana, jadi maksimalkan kesempatan yang kita punya , dalam hal apapun itu,” pesannya. n Afridatun Najah


34

Esai

Sumber Daya Ketika pohon terakhir ditebang ketika sungai terakhir dikosongkan ketika ikan terakhir ditangkap barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang

Menjadi buruh pabrik adalah pekerjaan yang lebih bergengsi dari pada menjadi seorang petani.

U

ngkapan Eric Weiner dalam bukunya The Geography of Blis, seolah menjadi peringatan bagi umat manusia, ada yang harus ada untuk kehidupan. Kita semua tentu tahu itu. Namun, mengapa dalam kenyataannya umat manusia menuju ke arah yang ditakutkan oleh Weiner? Sebagai ras juru masak terbaik di dunia, manusia membutuhkan bahan makanan untuk diolah. Dapur tetap mengepul. Lalu, menghidangkan itu dalam meja makan bersama keluarga, atau di rumah makan, di warung, dsb.

Beberapa waktu lalu, tersiar kabar lewat akun twiter @mediatamadotco, petani membuang hasil panen cabe merah ke jalan sembari melontarkan ucapan “lombok rak payu.� Peristiwa itu dilakukan petani Dempet, Demak, Jawa Tengah, lantaran harga jual panennya begitu rendah. Berbanding terbalik dengan modal finansial dan tenaga yang telah dikaluarkan.

Tentu, kejadian seperti itu bukan yang pertama kali. Petani Jepara, petani Grobogan, petani Pati serta petani-petani lain di penjuru negeri juga mengalami nasib serupa. Ketika panen datang, harga anjlok tak kepalang. Itulah yang terjadi pada petani, meskipun kepala negara silih berganti. Tak heran jika, secara statistik jumlah petani kian menurun. Banyak masyarakat yang mulai meninggalkan profesi yang dianggap tak menjanjikan apapun. Lebih-lebih generasi muda.

Lahan-lahan akhirnyan beralih fungsi. Tidak lagi biji yang menjadi benih, namun besi, baja, beton, dan semen.

Padahal, kita tahu, petani adalah pemasok makanan pokok. Ketika produksi dalam negeri berkurang, yang terjadi selanjutnya adalah impor tak bisa dihindarkan. Kegagalan negara, mengolah kebutuhan yang sebenarnya dapat diproduksi sendiri.

Bayangkan jika, pada suatu masa, permasalahan yang terjadi di Indonesia menjadi permasalahan global. Apa yang akan terjadi ketika kebutuhan terhadap makanan tidak lagi terpenuhi, jumlah sumber daya telah habis terkuras dan tak mampu diperbaharui? Saya jadi teringat perjalanan Thanos mengarungi semesta untuk mengumpulkan Batu Infinity dalam Film Avengers: Infinity War (2018). Dengan terkumpulnya ke enam batu itu, Thanos bermaksud memusnahkan separuh dari mahluk hidup berakal di alam semesta. Film garapan Rossu bersaudara itu menceritakan ancaman populasi yang kian tak terkendali. Ada ketidakseimbangan. Populasi mahluk hidup terlalu banyak, sedangkan sumber daya alam kian menipis dan tidak bisa diperbaharui. Akibatnya, timbul kemiskinan, kelaparan panjang, penjarahan, perang, dan monopoli kekayaan alam sesama mahluk berakal.

Lalu, apakah umat manusia akan tiba dalam ramalan Weiner atau zaman seperti dalam film Avengers: Infinity War?n Naili Istiqomah

Edisi 22 | Januari 2019


Edisi 22 | Januari 2019


Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Buletin SKM Amanat Edisi 22  

Buletin SKM Amanat Edisi 22  

Profile for skmamanat
Advertisement