Page 1

buletin

Edisi 21 - Januari 2019 ISSN: 0853-487X

AMANAT Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Lembaga Studi di Ujung Nadi

Warisan Itu Bernama Bhinneka Tunggal Ika

Melawan Narasi Plagiarisme

Memamerkan Karya Hingga Eropa


DAFTAR ISI

Pemimpin Umum Fajar Bahruddin Achmad

Redaktur

Laporan Utama 6

Naillin Najjah, Fika Eliza, Wiwid Saktia N, Mohammad Iqbal Shukri, Riduwan

Pemimpin Redaksi Yusril Ramadhan

Sekertaris Redaksi Afifah Kamaliyah

Reporter

Melawan Narasi Plagiarisme 4

Editorial

Salam 5 Redaksi

12

Lembaga Studi di Ujung Nadi

Opini

Staf Ahli

Fotografi

18 19

20 23

25

Sigit A F, Nur Zaidi, Ahmad Shodiq

Komik

Varia Kampus Artikel

Resensi

Cerpen

28 32

Puisi

Sosok

34

Esai

Layouter dan Ilustrasi Ibnu Abdillah

Polling

14

16

Laporan Pendukung 9

Al Habib Lutfi, Nur Fitrya Madani, Fadhillah Isnaini, Yuni Nur Hidayati, Anisa F.R, Dian H, Atikah N.A.F, Muarofah, Zulfiana Dwi Hidayati

32

Sosok

Memamerkan Karya Hingga Eropa


Editorial

4

Perlu Kontrol Serius buletin

Edisi 21 - Januari 2019 ISSN: 0853-487X

AMANAT Untuk Mahasiswa dengan Penalaran dan Taqwa

Lembaga Studi di Ujung Nadi

Warisan Itu Bernama Bhinneka Tunggal Ika

Melawan Narasi Plagiarisme Ilustrasi: Ibnu Abdillah

Memamerkan Karya Hingga Eropa

Pembuatan makalah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan daya analisis dan kemampuan mahasiswa dalam menulis. Makalah juga dapat dijadikan sarana awal mahasiswa melangkah ke tingkat pembuatan karya ilmiah yang lebih tinggi, di antaranya penelitian dan skripsi. Jika dalam proses tersebut, seorang mahasiswa melakukannya dengan benar, maka hasil akhirnya akan maksimal. Namun, dari hasil penelusuran Tim Bulettin Amanat di lapangan menunjukkan hal yang memprihatinkan. Plagiarisme dalam pembuatan makalah begitu menjamur di UIN Walisongo. Lebih dari 40% mahasiswa pernah melakukan plagiarisme dalam pembuatan makalah. Ini menjadi problem bersama secara kelembagaan. Pertama, ada cita-cita mulia UIN Walisongo pada 2038, yaitu menjadi Universitas Islam riset terdepan, mahasiswa adalah salah satu komponen penting di dalamnya. Kedua, akan menjadi pertanyaan banyak pihak, bagaimana output yang akan dihasilkan, jika kejahatan intelektual seperti ini terus dibiarkan? Apa yang salah?

Mahasiswa hari ini, termasuk bagian dari digital native. Suatu kelompok masyarakat yang dibesarkan dengan kemudahan teknologi informasi. Kemudahan akses informasi begitu membantu, namun di sisi lain kemudahan itu dapat juga berakibat buruk; membentuk nalar praktis mahasiswa.

Terbukti, dari beberapa kasus yang dijumpai, mahasiswa lebih suka copy-paste dari internet ketimbang sibuk mencari materi dalam buku bacaan untuk referensi makalah. Jika meminjam istilah Dr. Musahadi, mahasiswa seperti ini masih mempunyai mentalitas manual di era digital. Tentu sebuah kritik yang harus menjadi perhatian bersama.

Sebenarnya, di UIN Walisongo larangan plagiarisme sudah begitu banyak. Namun dalam praktiknya, aturan-aturan yang ada tidak dibarengi dengan komitmen serius untuk mengawal. Tak sepenuhnya salah mahasiswa jika plagiarisme dalam pembuatan makalah seolah membudaya. Kewajiban dosen sebagai tenaga pendidik juga turut menentukan langkah mahasiswa. Jika para dosen acuh tak acuh terhadap makalah mahasiswa, secara tidak langsung hal itu merupakan pembenaran terhadap kejahatan intelektual. Masalah plagiarisme dalam pembuatan makalah tidak dapat dipandang sebelah mata, bila terus dibiarkan akan berdampak buruk pada mutu kesarjanaan yang dilahirkan oleh UIN Walisongo.n

Redaksi

Edisi 21 | Januari 2019


Salam Redaksi

5

Bergerak Maju “ The biggest failure is when we never try� Robyn Allan

Kegagalan terbesar adalah ketika kita tidak mau mencoba. Kata itulah yang senantiasa menyemai semangat kami untuk menyelesaikan buletin ini. Sesulit apa pun keadaanya itulah sebuah proses. Tidak ada yang sia-sia. Semua itu akan memberi pengalaman nyata untuk bergerak lebih maju di kemudian hari. Berbicara mengenai proses, sebagai mahasiswa semua mengalami itu. Seseorang masuk di perguruan tinggi untuk menjadi akademisi yang akan berarti. Baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Namun, untuk menjalankan peran itu tentu tidak cukup hanya dengan registrasi. Sah jadi mahasiswa dan memiliki arti. Tentu tidak! Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk seorang akademisi diakui. Kalau dalam dunia kampus sendiri, pembuktian itu diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah yang dapat diuji. Baik tidaknya tergantung pada proses yang dilalui. Proseslah yang akan menentukan hasil yang diperoleh. Namun, bagaimana jika, dalam menjalani proses menjadi itu, mahasiswa sudah

melakukan kejahatan-kejahatan akademik?

Pada edisi kali ini, Tim Buletin Amanat mengangkat tema plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa dalam membuat karya ilmiah berupa makalah. Kami berusaha mengulik bagaimana bisa plagiarisme seolah membudaya di lembaga pendidikan yang mempunyai cita-cita menjadi kampus riset Islam terdepan? Walaupun sepele, tindakan ini menentukan output yang akan dihasilkan oleh sebuah perguruan tinggi.

Selain banyak membahas tentang kasus plagiarisme, pada laporan khusus, redaksi menyoroti tentang eksistensi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) yang kian redup. Banyak faktor yang mendasari itu terjadi. Meskipun begitu, dalam laporan kami banyak pihak yang mendorong supaya KSMW bertransformasi.

Tentu masih banyak sajian yang dapat dinikmati dalam lembar demi lembar buletin ini. Akhir kata, selamat membaca.n

Edisi 21 | Januari 2019

Redaksi


6

Laporan Utama

Melawan Narasi Plagiarisme

Amanat/ Yusril

Kontrol dosen yang lemah dalam mengecek keaslian makalah mahasiswa berujung pada lak agar iklim akademis di kampus terus berlanjut.

D

ua jam sudah Zahro mengelilingi Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan raut wajah lesu. Hanya tinggal hitungan jam sampai tiba waktunya presentasi, namun, makalah yang ia buat belum juga selesai. Baru tiga buku terkumpul. Padahal Zahro membutuhkan minimal lima buku referensi sebagaimana yang disyaratkan dosennya.

Kegelisahan mahasiswa semester tiga itu, sampai pada puncaknya. Lantaran dikejar deadline, ia akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengambil data yang dibutuhkan dari internet tanpa menyertakan sumbernya. “Sulit mencari sumber referensi buku, jadi saya copy-paste dari internet saja,� ucap mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi itu. Edisi 21 | Januari 2019

Zahro sadar apa yang dilakuakan adalah bentuk plagiarisme. Namun, ia tak khawatir. Sejauh pengalamannya, tak pernah ada dosen yang mengecek dengan teliti tugas makalah yang dibuat mahasiswa. Hal serupa juga dilakukan Anisa mahasiswa prodi Sosiologi semester tujuh. Ia mengaku, perjalanan dari semester satu sampai lima, sering melakukan


Laporan Utama

ku plagiat. Perlu kontrol serius

mahasiswa asal Grobogan itu, mengaku tidak pernah lagi melakukan plagiarisme. Pengecekan keaslian makalah yang dibuat oleh mahasiswa saat presentasi di kelas memang tergolong lemah. Menurut Anisa, hanya dosen tertentu saja yang mau melakukan.

“Kalo sama dosen yang usianya tua, jarang melakukan pengecekan makalah. Tapi kalo dosen muda sering melakukan pengecekan,” katanya saat ditemui di indekosnya, di kawasan Tanjung Sari, Sabtu (08/09/2018).

Mahasiswa sedang mempresentasikan makalah. plagiarisme dalam pembuatan makalah. Tindakannya itu baru mendapat teguran dari salah satu dosen pada akhir semseter lima. “Makalah saya dilemparkan oleh dosen,” ucap Anisa, sembari mengingat-ingat kejadian memalukan tersebut.

Sejak kejadian itu, Anisa sadar, apa yang dia lakukan salah. Ia kapok. Sejak semester enam,

Jajak pendapat yang dilakukan Tim Bulettin Amanat pada 2-9 Juli 2018, dengan responden 368 mahasiswa semester tiga dan lima dari delapan fakultas di UIN Walisongo memperlihatkan, 42,1% mahasiswa pernah melakukan plagiarisme.

Sebetulnya, di UIN Walisongo sendiri sudah begitu banyak aturan larangan plagiat. Dalam buku Panduan Akademik 2015/2016 pada poin kode etik mahasiswa salah satunya menyebutkan mahasiswa harus menghindari plagiarisme. Bentuk sanksi yang akan diberikan jika mahasiswa melanggar adalah peringatan lisan/teguran, peringatan tertulis, lalu pemberhentian sementara. Oleh sebab itu, Najahan Musyafak Wakil Dekan Bidang Akademik FDK mengatakan, Edisi 21 | Januari 2019

7

meskipun dosen terkadang alpa untuk mengecek keaslian makalah, tidak lantas mahasiswa terlena melakukan plagiarisme. Ia menekankan, mahasiswa seharusnya tetap memegang teguh kaidahkaidah penulisan.

Kritik mahasiswa terhadap dosen sebenarnya dapat disampaikan melalui Survei Kinerja Dosen (SKD) yang setiap akhir semeseter dilakukan oleh kampus. Kritik tersebut, kata Najahan, akan turut membantu meningkatkan kualitas akademik. “Kewajiban dosen terhadap mahasiswa itu sudah ada aturannya sendiri. Jika dosen tidak mengecek dan tidak mengevaluasi mekanisme pembelajaran di antaranya pembuatan makalah, maka itu punya hukum sendiri,” katanya saat ditemui di kantornya, Senin (10/09/2018). Pikiran manual

Plagiarisme dalam pembuatan makalah memang telah menjadi rahasia umum di kampus hijau ini. Untuk meminimalisir tindakan tersebut, beberapa dosen tidak lagi menggunakan makalah sebagai media utama dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kelas. Muhayya’ dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaiora misalnya tidak lagi menugaskan mahasiswanya untuk membuat makalah. Ia justru,


8

Laporan Utama

mensyaratkan mahasiswanya untuk membuat power point terkait tema yang sedang dikaji. Menurut Muhayya’ metode yang digukanan itu lebih mengasah nalar pikir mahasiswanya.

“Saya menggunakan media power point dalam pembelajaran agar mahasiswa mampu menjelaskan materi yang dikaji,” katanya.

Hasyim Hasanah dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi juga sepemahaman dengan Muhayya’. Dalam KMB, ia tidak lagi mensyaratkan pembuatan makalah. Hasanah lebih memilih memberi kesempatan pada mahasiswa yang mau menjelaskan tema yang sedang dibahas atau menjelaskan tema itu sendiri pada mahasiswa. “Saya berpendapat proses pembelajaran ini lebih efektif. Mahasiswa terhindar dari tindakan plagiat,” jelasnya.

Ditemui di tempat berbeda, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan, Musahadi memandang maraknya kasus plagiarisme merupakan dampak perubahan dramatis dari era manual menuju era digital. Di era digital saat ini, kata Musa, akses terhadap informasi akademik, di antaranya artikel-artikel ilmiah begitu mudah. Sehingga, dari kemudahan itu disertakan juga kemudahan untuk menyalahgunakan hasil karya orang lain.

Dia tidak tahu bahwa, ketika karya tersebut di-submit ke dalam online base itu akan mudah di-tracking kalau dia telah melakukan plagiarisme Dr. H. Musahadi, M. Ag. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan

Musa menerangkan, meski sudah masuk dalam transformasi era digital serta mampu dalam menggunakan IT namun mindset dan mentalitasnya kebanyakan mahasiswa masih manual. Mentalitas manual itu ketika dia mengutip sumber namun tidak memasukkan rujukan ke dalam karyanya. “Dia tidak tahu bahwa, ketika karya tersebut di-submit ke dalam online base itu akan mudah di-tracking kalau dia telah melakukan plagiarisme,” tuturnya

Merespon maraknya kasus plagiasrisme yang ada di UIN Walisongo, Musahadi beserta jajarannya berusaha merumuskan kebijakan yang solutif serta efektif.

“Sekarang sedang proses penggodokan, kedepannya, nanti Edisi 21 | Januari 2019

kita akan undang semua yang terkait dengan bidang akademik seperti LPM, LP2M dan perpustakaan untuk merumuskan masalah plagiarisme ini, setelah semua telah disepakati, nanti akan disahkan melalui SK Rektor,” pungkasnya Masalah yang lebih parah

Kontrol yang longgar terhadap plagiarisme dalam pembuatan makalah dapat memicu masalah yang lebih parah. Makalah sebagaimana yang dimaksudkan merupakan sebuah karya ilmiah yang tergolong ringan untuk persiapan mahasiswa dalam pembuatan karya ilmiah yang sesungguhnya, di antaranya skripsi. Di tahun 2014, Hasyim Hasanah Sekretaris Prodi Manajemen Haji dan Umroh (MHU) pernah menjumpai mahasiswa melakukan plagiarisme dalam skripsinya. Awalnya, ia tidak mau memberikan tanda tangan, namun karena mahasiswa itu memaksa, akhirnya Hasanah berikan juga dengan beberapa catatan. Hingga, saat sidang mahasiswa tersebut dinyatakan tidak lulus.

“Jangan jadikan plagiarisme sebagai akses mahasiswa untuk mendapatkan nilai, karena itu bertentangan dengan kaidahkaidah kemahasiswaan,” pungkasnya. n

Yusril Ramadhan dan Afifah Kamaliyah


9

Dok. Istimewa

Laporan Pendukung

Lembaga Studi di Ujung Nadi Nalar hari ini, mahasiswa lebih suka pada yang praktis. Hanya 2,3 persen dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik.

S

ekitar tahun 80-an, eksistensi lembaga studi maupun kajian keilmuan mempunyai peran signifikan di IAIN (sekarang UIN) Walisongo. Di tahuntahun itu pula, Tri Etika Kampus (Diniah, Ilmiah,

dan Ukhuwah) dikonsep oleh aktivis Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW). Dan, sejak 1994 konsep itu resmi menjadi ‘napas’ civitas academica di kampus ini.

Sayang, dalam perjalanannya, Edisi 21 | Januari 2019

>> Orasi aksi, salah satu lomba dalam Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah dan Keterampilan (ORSENIK) fondasi tradisi ilmiah yang dibangun para pendahulu, perlahan tapi pasti, rapuh. Sinar KSMW kian redup. Langkahnya juga kian tidak terarah. Akhirnnya, pada 2001, lembaga ini dibekukan oleh Ketua Dema pada waktu


10

Laporan Pendukung

itu, Abdurrouf. Alasannya, KSMW yang seharusnya fokus di ranah kajian dan keilmuan, masuk ke wilayah politik praktis mahasiswa (Tabloid Amanat edisi 109: 2007).

Sebelum bangkit lagi pada 2003, agar KSMW berdiri kokoh dan eksis, dikorbankanlah UKM serumpun di fakultas. Paradigma milik Fakultas Dakwah, Forsi di Fakultas Syari’ah, LPO kebanggaan Fakultas Tarbiyah, dan Islamic Studiesnya Fakultas Ushuluddin harus menerima kenyataan didegradasi, untuk kemudian disatukan menjadi ‘KSMW baru’. Dalam perjalanannya, sentralisasi justru menjadi bumerang. Dialektika pemikiran mahasiswa terkesan mandek dan tak lagi berkembang. Problem itu terus berlanjut hingga kini. Bahkan satu dekade terakhir, kepemimpinan di KSMW selalu dipegang mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin, lantaran basis kadernya berasal dari sana. Tak heran jika, timbul anggapan bahwa KSMW adalah UKM-nya Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum). Tak berhenti di situ, kader yang masuk dalam kawah KSMW pun rata-rata loyalitasnya terbagi dengan

organisasi lain.

Ketika ditemui Amanat di depan Dekanat Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Ketua KSMW (2015-2017) Umi Ma’rufah tak menutupi problematika yang ada di lembaganya. Sebagai UKM tingkat universitas, mahasiswa asal Demak itu mengatakan, KSMW terbilang yang paling sedikit peminatnya jika dibandingkan dengan UKM lain. Umi juga tak menampik, jika kebanyakan anggota KSMW berasal dari Fuhum. “Banyak anggota kami yang lebih aktif di organisasi lain,” ungkapnya, Selasa (29/5/2018).

Padahal, jika melihat tantangan KSMW hari ini lebih berat. Berdasarkan hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada November 2017, sebanyak 30,8 persen generasi milenial menganggap olahraga sebagai yang paling diminati. Disusul musik (19 persen) dan menonton film (13,7 persen). Hanya 2,3 persen dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosialpolitik. Data tersebut bisa menjadi indikator minat mahasiswa, sebagai generasi milenial untuk mengikuti KSMW. Edisi 21 | Januari 2019

Saya lebih cenderung KSMW bertransformasi dengan pertimbangan yang banyak. Kalau tidak ada KSMW, kita sulit mengukur dinamika mahasiswa Rusmadi

Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST)

Sebab, lembaga ini memiliki kajian yang membahas mengenai problematika yang bernuansa sosial, politik, dan filsafat.

Kodrat Alamsyah mahasiswa prodi Ilmu Falak mengaku sama sekali tidak mengetahui KSMW. Bahkan, sekedar singkatan dari organisasi ini, dia tidak tahu. “Apa sih, KSMW itu? Kaya pernah denger tapi lupa,” katanya, Jumat (7/9/2018).

Umi menjelaskan, selama ini yang menjadi fokus di KSMW adalah kajian sosiologi dan filsafat. Saat masih menjadi ketua, ia sempat menambah


Laporan Pendukung

divisi baru, yaitu divisi media. Dari yang sebelumnya hanya ada divisi Ekonomi Sosial Politik (Eksospol), filsafat dan keagamaan, penelitian, dan biro pengadaan. Pada masanya, mahasiswa Fuhum angkatan 2014 ini juga pernah mengadakan lomba antar divisi untuk meningkatkan keaktifan anggota yang sudah tergabung dan menarik perhatian mahasiswa dari beragam fakultas. Namun, hasilnya jauh panggang dari api. “Lagi-lagi SDM kami sangat kurang,” ucapnya, masygul.

Kondisi internal yang demikian, akhirnya berdampak pada sikap kampus. Sepanjang pengalaman Umi, jika ada informasi mengenai debat, seminar, atau pemberitahuan yang lain, KSMW tidak pernah dihubungi. Sebagai lembaga kajian dan keilmuan, kata mahasiswa asal Demak itu, KSMW jarang sekali dianggap ada untuk berpartisipasi atau mewakili kampus. “KSMW perlu memperbaiki diri secara internal, kualitas diri, capaian yang perlu diusahakan, dan prestasi dalam ajang apapun,” katanya.

11

Menanggapi permasalahan minimnya anggota yang mendera KSMW, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Suparman Syukur mengusulkan, agar KSMW menambah unsur-unsur ilmu aplikatif yang ada di semua fakultas. Menurutnya, hal itu akan membuat mahasiswa dari berbagai fakultas akan memiliki keinginan untuk mengikuti KSMW.

menjadi satu-satunya Islamic studies di tengah mahasiswa, pada saat semua orang lalai dengan kajian tersebut.

Paradigma baru

Apabila KSMW bertransformasi sesuai ruang sejarah, ia bisa mengakomodir setiap fakultas dan menjadi keilmuan masing-masing fakultas. Maka dari itu, pria asal Kebumen itu mengusulkan, KSMW harus memiliki direktorat, syariat, hukum, sosial-politik, psikologi, dan teknologi, untuk mengakomodir segala jenis keilmuan yang ada di UIN Walisongo.

“UKM itu bersifat opsional. Jelas tidak mungkin seluruh mahasiswa dari setiap fakultas diwajibkan mengikuti KSMW sebagai perwakilan,” jelasnya, Jumat (10/8/2018 ).

KSMW merupakan anak dari sejarah. Ia lahir dari peradaban IAIN yang fokus pada Islamic studies. Lebih dari itu, KSMW adalah UKM yang mewakili institusi. UKM yang diharapkan bisa menjadi wadah gejolak intelektual setiap fakultas. Wadah pengembangan keilmuwan dengan perspektif yang berbeda; syariat, ushuluddin, pendidikan dan lain sebagainya. Perkembangan dari IAIN ke UIN adalah sejarah yang berbeda. KSMW akan menjadi oase di tengah padang pasir itu. Ia akan Edisi 21 | Januari 2019

Hal itu diungkapkan Ketua KSMW 2001 yang kini menjadi dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Rusmadi. Ia menekankan, KSMW harus dapat bertransformasi sesuai ruang sejarah. “Saya lebih cenderung KSMW bertransformasi dengan pertimbangan yang banyak. Kalau tidak ada KSMW, kita sulit mengukur dinamika mahasiswa,” jelasnya, ketika ditemui di Kampus I pada, (25/5/2018).

“KSMW diasumsikan menjadi perkumpulan mahasiswa terbaik yang mau berdiskusi,” pungkasnya. n

Atikah N.A.F


12

Polling

43 Persen Mahasiswa UIN Walisongo Tersandung Plagiarisme

P

engetahuan seorang akademisi harus bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan. Sehingga mereka dituntut untuk bisa menghasilkan buah karya dari pemikirannya secara ilmiah. Tak terkecuali mahasiswa. Untuk melatih itu, umumnya di perguruan tinggi, mahasiswa dibiasakan dengan membuat

karya ilmiah berupa makalah.

Alhasil, selain membaca, mahasiswa harus mempunyai skil kepenulisan. Baik itu dilakukan guna memenuhi tugas akademik atau pun non akademik. Mahasiswa harus memahami aturan-aturan penulisan karya ilmiah. Dari tata cara penulisan, pengutipan, dan hal – hal

Edisi 21 | Januari 2019

teknis lainnya. Pemahaman tersebut penting, supaya dalam membuat karya, mahasiswa terhindar dari laku plagiat. Di samping itu, peran dosen sebagai pembimbing mahasiswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) turut menentukan. Dosen yang lebih ketat dalam mengawasi makalah


Polling

secara tidak langsung akan mengajari mahasiswa aturan penulisan karya ilmiah yang benar. Namun, bagi dosen yang enggan untuk mengecek, akan membuat mahasiswanya buta aturan. Tindakan salah bisa jadi dianggap benar, lantaran tidak ada teguran. Sehingga, jika terjadi plagiarisme dalam pembuatan makalah, hal itu tidak sepenuhnya salah mahasiswa.

Dalam hal ini, Tim Buletin Amanat melakukan polling untuk melihat seberapa membudaya plagiarisme di kalangan mahasiswa UIN Walisongo dan bagaimana tindakan memalukan itu berlangsung. Jajak pendapat dilakukan kepada 392 mahasiswa dengan rincian 100 mahasiswa dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), 50 mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), 42 mahasiswa dari Fakultas Ushuludin dan Humaniora (Fuhum), 50 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), 50 mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), 50 mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), 25 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) dan 25 mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK). Metode angket menggunakan cluser random sampling yang disebar ke delapan fakultas yang ada di UIN Walisongo.

Kategori sampel yang diambil adalah mahasiswa semester tiga ke atas. Tidak tahu aturan plagiarisme

Hasilnya, 43,6 persen responden mengaku pernah melakukan plagiarisme dalam pembuatan makalah. Sisanya, sebanyak 56,4 persen tidak pernah melakukannya.

Persentase yang hampir menyentuh separuh responden, membuat hal ini dirasa penting oleh redaksi Buletin Amanat untuk diberitakan agar ada tindak lanjut dari pihak kampus, terhadap perilaku kejahatan akademik ini. Ketika responden ditanya, apakah anda mengetahui Undang-Undang yang mengatur tentang plagiarisme? 45,7 persen responden mengaku tidak mengetahui. 54,3 persen mengetahui.

Lalu, untuk mencari penyebab plagiarisme terjadi, kami menguji dengan pertanyaan, “apakah ada pengecekan ulang yang dilakukan oleh dosen terhadap makalah yang dibuat oleh mahasiswa?� Hasilnya 65,9 persen responden menjawab ada. 34,1 persen responden menjawab tidak ada. Walaupun, lemahnya pengawasan dosen bukan menjadi satu-satu faktor, namun peran tetap signifikan dalam memEdisi 21 | Januari 2019

13

bimbing mahasiswa. Ini menjadi penting lantaran transformasi teknologi informasi hari ini, sudah sebegitu canggih. Jika dosen tidak mengimbangi itu, mahasiswa akan memanfaatkan kelengahannya memilih sesuatu yang instan. Langkah pencegahan

Dari jajak pengakuan responden dapat dilihat bahwa masih cukup banyak mahasiswa yang melakukan plagiasi dalam pembuatan makalah. Serta tidak tahunya tentang Undang-Undang tentang plagiasi.

Seiring bahayanya dampak plagiasi, dari intelekual, moral mahasiswa dan nama kampus pun dipertaruhkan, bahkan jatuhan hukuman bisa terjadi karena ada Undang-Undang perlindungan hak cipta seseorang. Di sini semua elemen kampus harus berjalan sebagaimana fungsinya, untuk mengurangi ataupun menghilangkan upaya plagiarisme. Hal ini harus menjadi kesadaran bersama, mahasiswa serta dosen harus saling bahu membahu untuk menjaga nama baik kampusnya dan menjunjung tinggi moral mahasiswa. Sehingga dalam pengerjaan Tugas Akhir (Skripsi) pun tidak terjadi kasus serupa. n

Afifah Kamaliyah


14

Opini

Warisan Itu Bernama Bhinneka Tunggal Ika

S

ejak berabad-abad silam, bangsa Indonesia telah menerapkan Pancasila tanpa nama yang disebut sebagai bhinneka tunggal ika. Semboyan itu berisi prinsip hidup, yang memungkinkan setiap perbedaan bisa bersama dalam keberagaman. Dalam bahasa yang lebih terkemuka, konsep itu hampir sama dengan le desire d’ensemble, hasrat untuk menyatukan diri.

Hal ini penting dipahami kembali, karena akhirakhir ini gejala menguatnya fanatisme kelompok dan golangan semakin terlihat. Ada yang (sengaja) dilupakan secara berjamaah. Kaitannya dengan tahun politik, persatuan tak jarang dilempar ke meja judi untuk sebuah kemenangan demokrasi golongan tertentu. Para elite politik melihat kekuatan suatu golongan masyarakat sebagai lumbung suara pemenangan; populisme. Politik populisme

Margaret Canovan (1981) mendefinisikan dan membagi populisme dalam tiga bentuk. Pertama, populisme

wong cilik. Ini seakan-akan berorientasi kepada rakyat kecil untuk mencapai tujuan politiknya. Ciri khas jenis ini adalah memuja “kejayaan masa lalu� dan meratapi masa kini. Kedua, populisme otoriter yang berharap lahirnya pemimpin karismatik. Pemimpin yang seakanakan memimpin di garis depan “peperangan� melawan kapitalisme, asingaseng, pengusaha besar. Kemasan populisme ini akan melahirkan pemimpin yang seakan-akan terpilih secara demokratis tapi bukan berdasarkan rasionalitas politik, melainkan karena isuisu sensitif lainnya. Dalam hal ini isu agama, sentimen etnis, asing-aseng, hantu palu arit kebangkitan PKI dsb. Ketiga, populisme revolusioner yang mengemas ide-ide kolektif ketidakadilan sosial, ketimpangan sosial, kelesuan ekonomi, nasionalisme semu, dominasi elite politik, pemerintah otoriter. Kita tahu demokrasi Indonesia tidak seramai ini Edisi 21 | Januari 2019

sebelum terjadi revolusi teknologi informasi. Ketiga bentuk populisme di atas mendapatkan salurannya untuk dieja, dibaca, dilihat, dan didengar lebih banyak orang di media sosial. Pemilu sebagai kontestasi perebutan kursi telah menjelma bagai perang antara kebajikan melawan durjana. Fenomenanya yang hanya kelihatan di media sosial sejak Pemilu 2014, kini merambat


Opini

15

*Ibnu Abdillah

Ilustrasi: Ibnu A.

Inggris dan kata pasca dalam Bahasa Indonesia. Menurutnya, jika kata post hanya menerangkan setelah kejadian tanpa keterkaitan dengan kejadian sebelumnya, maka kata pasca lebih luas pemaknaannya. Kata pasca menerangkan kondisi keberlanjutan suatu peristiwa. Seperti kata pascasarjana. Tak berarti seorang sarjana yang melanjutkan progam studi S-2, ia telah usai dengan sarjananya. Namun, pascasarjana adalah keberlanjutan dari sarjana itu sendiri. Makanya, hal yang sama juga berlaku pada kata pasca pemilu. ke dunia nyata. Pelan namun pasti. Karena semua pihak mengeklaim sebagai “sang penyelamat� akhirnya segala macam cara seolah sah digunakan untuk menang, untuk melawan. Chaos! Ramalan pasca pemilu

Dalam buku Pasca Einstein, Romo Mangunwijaya pernah menjelaskan perbedaan kata post dalam Bahasa

Kita tentu masih begitu mengingat, ‘tragedi’ pilkada DKI Jakarta 2017. Isu sentimen agama yang mendominasi wajah demokrasi di ibu kota dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang. Kesadaran bahwa agama sebagai alat politik semakin tinggi. Yang dijanjikan adalah kemenangan, bukan sekedar partisipan. Tak heran jika, dalam situasi bangsa seperti ini, masyarakat harus lebih cerdas dalam beragama, dan Edisi 21 | Januari 2019

menempatkan diri.

Prinsipnya adalah sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Sejarah adalah keseluruhan masa yang dilalui manusia. Meskipun terkotak dalam bingkai masa lalu, masa kini, dan masa depan; keseluruhannya saling berkaitan. Bagaimana ketika kebusukan digunakan sebagai cara memenangkan pertarungan, dampaknya akan dirasakan bukan hanya saat dilakukan namun juga setelah usai. Konvergensi

Sentimen agama yang mendominasi warna demokrasi kita beberapa waktu lalu wajib disesalkan. Jangan sampai hal yang sama akan terulang di pelbagai wilayah di Indonesia. Sebab, taruhannya adalah persatuan. Bhinneka tunggal ika adalah rumusan sekaligus warisan leluhur kita yang harus terus dijaga. Hanya ini satusatunya alasan agar integritas Indonesia sebagai satu bangsa tetap terjaga.

*Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam 2016


Fotografi

Edisi 21 | Januari 2019


Kampung Lumpia di Kota Semarang Kampung Brondongan di RT 008/RW 003 Kelurahan Kebonagung, Semarang merupakan kampung pembuatan lumpia. Hampir semua masyarakatnya adalah pengrajin olahan lumpia. Dimulai dari olahan rebung sebagai isi lumpia pembuatan, kulit lumpia sampai ke pasaran dapat dijumpai di kampung ini.

Edisi 21 | Januari 2019


18

Rehat

Komik Strip

Ibnu Abdillah Edisi 21 | Januari 2019


Varia Kampus

19

Semua Orang Bisa Jadi Sastrawan Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo menggelar Launching Majalah Soeket Teki dan Dialog Sastra bersama dua sastrawan kenamaan Indonesia Ahmad Tohari dan Triyanto Triwikromo, Kamis, (6/12/2018). Ratusan peserta tumpah ruah dalam acara yang diselenggaran di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo.

Dalam kesempatan itu, sastrawan asal Banyumas, Tohari mengajak peserta untuk menjadi sastrawan. “Prosesnya itu dimulai dari

meyakini sastra sebagai hal yang penting, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan membaca, menambah bacaan sastra, berdiskusi, dan terus menulis,” tuturnya. Ia berkeyakinan seorang pembaca yang baik akan merepresentasikan diri sebagai penulis yang baik pula.

“Ya kalau malas membaca harapannya kecil, semakin banyak bahan yang dibaca akan berpengaruh pada tulisan anda,” tambahnya. Menurut Tohari, proses seseorang menjadi sastrawan itu Edisi 21 | Januari 2019

melalui tahapan tahapan yang tidak instan. Sastrawan harus memahami proses, mulai dari hal dasar, menyadari bahwa sastra itu penting, baik untuk kehidupan sosial, peradaban dan untuk bangsanya.

“Usia kalian kan masih 20 tahunan, itu langkah dini kalian untuk menjadi sastrawan, bayangkan usia saya sudah 71 tahun, sudah banyak hambatan. Saya pusing kalau lama-lama di depan monitor, kalau nulis malam saya harus sering sering ke kamar kecil untuk kencing,“ pesannya. n

Al Habib L.


20

Artikel

Generasi Milenial; Kritis yang Bagaimana? Oleh : Afifah Kamaliyah*

Revolusi teknologi informasi berbuah simalakama bagi generasi hari ini. Di samping perubahan gaya hidup, pendangkalan nalar yang luar biasa derasnya juga menjadi ancaman.

S

udah tidak asing terdengar di telinga sebutan generasi milenial. Sebutan yang sempat melejit di semua kalangan. Ada anak bertingkah tidak wajar langsung disebut generasi milenial. Walaupun sesungguhnya, banyak orang yang belum tahu pasti apa arti dari generasi milenial yang sering mereka gembargemborkan.

Generasi milenial atau yang memiliki nama lain generasi Y diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Straus dan Neil Howe. Dalam hal ini tidak ada ilmu khusus dalam menentukan kelompok generasi tersebut. Namun, mereka menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 hingga tahun 2000-an. Jika dihitung hingga tahun 2018, usia generasi Y yang pertama Edisi 21 | Januari 2019

adalah 38 tahun.

Karakteristik milenial cenderung berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Banyak anak yang masuk dalam katagori milenial tetapi masih tertinggal dalam pengetahuan dan perkembangan yang baru. Dapat dikatakan bahwa, mereka yang berada di wilayah pedalaman dan kondisi sosial-ekonominya di bawah rata-rata, lebih tidak up to date layaknya remaja yang berada di daerah kota dan ditopang oleh ekonomi yang berkecukupan. Pada yang kedua disebut, generasi milenial menjadi sorotan penting. Pasalnya, mereka cenderung cuek pada keadaan sosial, lebih mengejar kebanggaan akan merek tertentu.

Dengan pola kehidupan yang demikian, itu berpengaruh dalam prospek yang lain.


Artikel

21

mendapatkan informasi.

Ilustrasi: Ibnu A.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama, bahwa generasi Y saat ini mendominasi di negara kita. Pengaruhnya diperhitungkan secara kuantitas. Akan menjadi ironi tersendiri jika keberadaan generasi ini hanya akan menjadi objek dari kepentingan politik dsb.

Dilansir dari berbagai sumber bahwa, lapangan pekerjaan yag dimiliki milenial cenderung sempit. Karena terhitung dari Agustus 2017, jumlah pengangguran di Indonesia meningkat hingga 7 juta orang. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 10.000 jiwa. Masalah ini menjadi hal penting yang harus dipikirkan oleh generasi milenial, bagaimana mereka mampu menciptakan suatu inovasi yang dapat berkembang luas, memiliki manfaat, menciptakan

lapangan pekerjaan dan menghasilkan rupiah.

Tidak berhenti sampai di situ, generasi milenial dikenal sebagai penggemar teknologi. Tak heran jika banyak dari mereka yang masuk golongan ini lebih mengedepankan gawainya untuk sekedar digunakan bermain game. Tidak banyak untuk mencari isu-isu yang hangat diperbincangkan. Mereka pasif dalam hal mengkritisi apa yang terjadi di negaranya walaupun gen-Y dianggap cepat dalam Edisi 21 | Januari 2019

Sebenarnya tidak salah jika mereka mamanfaatkan media sosial yang ada. Asalkan mereka mampu menggunakan teknologi informasi yang kian pesat perkembangannya dengan baik. Seperti contoh mencari permasalahan-permasalahan yang ada dalam pemerintahan. Agar generasi ini mampu dijunjung tinggi sebagai generasi hebat, bukan generasi “micin� atau sebutan lainnya baru-baru ini.

Berdasarkan hasil survei dari Alvara Research center tahun 2014, dalam gambaran pemilihan umum, generasi milenial kita cenderung menjadi pemilih yang tidak mempunyai pendirian, artinya dalam memberikan dukungan masih berubahubah dan terkesan tidak peduli terhadap apa yang terjadi. Memasuki tahun pesta demokrasi 2019, milenial


22

Artikel

diharapkan menjadi seseorang yang kokoh terhadap pendiriannya dan mampu bersikap kritis terhadap apa yang nantinya akan terjadi menjelang Pilpres. Bukan menjadi seseorang yang apatis dan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang digoreng. Saling menjatuhkan satu sama lain tanpa tahu kebenarannya.

Hasil survei tahun 2014 hendaknya menjadi evaluasi bersama, bagaimana generasi ini mampu menciptakan gagasan baru untuk kemajuan negaranya. Bukan terus-terusan mengikuti orang-orang generasi sebelumnya dengan menikmati semua yang telah mereka ciptakan. Sikap kritis dapat dibangun kembali dengan cara menggunakan gawainya untuk terus mencari

“ Akan menjadi ironi tersendiri jika keberadaan generasi ini hanya akan menjadi objek dari kepentingan politik dsb.

informasi yang bermanfaat. Bukan hanya untuk update foto jalan-jalan atau posting status yang tidak bermanfaat. Jika terus

Edisi 21 | Januari 2019

begini, maka ketakutan akan hilangnya kekritisan generasi milenial akan benar-benar terjadi.

Jika ditanya salah siapa, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun. Semua terjadi mengalir layaknya air sungai. Yang perlu ditingkatkan adalah bimbingan orang tua atau orang-orang terdekat. Jangan sampai kebiasaankebiasaan buruk yang dimiliki remaja generasi milenial terus terbawa hingga usia dewasa. Hal itu akan semakin membuatnya tidak mampu aktif dalam mengkritisi berbagai permasalahan. Karena proses perkembangan akal manusia dilalui dengan tahap belajar dan diiringi dengan bimbingan.n

*Mahasiswa prodi Manajemen Pendidikan Islam 2017


Resensi

23

Berkaca dari Perjalanan Sarat Makna Iron Man, Avangers, Wakanda, adalah di antaranya.

Di Indonesia pun terjadi hal yang sama. Salah satu yang menyita perhatian publik pada pertengahan 2018 lalu adalah film Wiro Sableng. Film garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini mengadaptasi dari seri novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Kisah pendekar ini juga sempat dibuat film pada era 1980-an dan sinetron pada 1990-an. Dalam sederet karya tersebut, tokoh Wiro Sableng dikenal dengan karakter yang jenaka.

Pemain : Vino G. Bastian, Yayan Ruhian, Ruth Marini, Marcell Siahaan, Happy Salma Produser : Sheila Timothy Sutradara : Angga Dwimas Sasongko Penulis : Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon, Seno Gumira Ajidarma Produksi : Lifelike Pictures, Fox International Productions Durasi : 2 jam, 3 menit Resentator : Yuni Hidayati

Dari awal sampai akhir, terlihat karakter jenaka Wiro Sableng (Vino G. Bastian) menjadi senjata utama aspek komedi dalam film versi 2018 ini. Sheila (Dok. Internet) Timothy selaku produser bersama Tumpal Tampubolon erita mengenai kepahladan Seno Gumira Ajidarma wanan, super hero, atau yang berperan menulis naskah pendekar mempunyai menyisipkan banyak adegan daya tarik tersendiri. Ada perkomedi di tengah cerita yang juangan yang mengagumkan, cukup serius. kebijaksanaan yang bertebaran, dan sisi kuat manusia yang Namun, yang perlu menjadi dapat dijadikan panutan. perhatian adalah, kemunculan film ini seolah mengajak Dalam industri perfilman, hal masyarakat untuk kembali itu tak luput dari jangkauan. melihat makna dari cerita Wiro Malahan, setiap penggarapanSableng Pendekar Kapak Geni nya selalu menyerot perhatian 212. masyarakat. Ambil contoh film yang diproduksi oleh Marvel. Film ini dimulai dengan pem-

C

Edisi 21 | Januari 2019


24

Resensi

bakaran sebuah kampung dan pembantaian keluarga yang dianggap berbahaya oleh sekelompok pemberontak. Diceritakan, mereka yang dibantai adalah keluarga dari Wiro kecil. Bahkan, si Wiro kecil sempat dilempar ke dalam kobaran api, namun berhasil diselamatkan oleh Sinto Ghendeng (Ruth Marini) yang kemudian menjadi gurunya. 17 tahun, Wiro kecil hidup bersama Sinto Ghendeng di gunung. Selama kurun waktu itu pula, Sinto Ghendeng mengajarkan semua yang ia tahu kepada Wiro. Hingga, ketika sang guru telah melihat muridnya merasa mampu, ia memberi sebuah misi kepada Wiro Sableng.

Ia ditugaskan untuk mencari seseorang yang bernama Mahesa Birawa (Yayan Ruhian). Sang Guru hanya memberitahu bahwa Mahesa adalah murid durhaka yang kini menciptakan angkara murka di dunia. Dalam perjalanan misi serius tersebut, Wiro bertemu dengan Anggini (Sherina Munaf) dan Dewa Tuak (Andy /rif). Namanya juga Wiro Sableng, Vino sukses memamerkan karakter sableng alias gila nan mengocok perut. Aksi kocak Vino datang banyak dari ucapan dan dialognya, seperti ketika bertemu Anggini dan Dewa Tuak, atau kala menggoda Bidadari An-

gin Timur (Marsha Timothy) dengan gombalan ‘receh’ yang menggelitik.

Selain komedi, adegan laga yang menjadi sajian utama dalam film ini turut menghibur karena banyak menyajikan pertarungan jarak dekat yang menggunakan efek visual. Pemandangan seperti ini tentu sangat jarang terlihat di filmfilm Indonesia. Efek visual dikerjakan dengan baik dan tak kalah dengan film-film Hollywood. Salah satu adegan laga dengan efek visual terbaik adalah saat Wiro berhadapan dengan Kala Hijau (Gita Arifin). Efek visual terlihat rapi saat Kala dan Wiro mengeluarkan sejumlah jurus. Berkaca pada Wiro Sableng Bukankah hidup ini seperti dalam cerita Wiro Sableng?

Menuntut ilmu sampai dianggap mampu oleh guru, lalu mengaktualisasikan dalam kehidupan. Wiro Sableng turun dari menara gading untuk kembali kepada masyarakat. Ia berhadapan dengan banyak manusia. Ada yang membenci, ada yang menyukai, ada yang menjadi teman ada yang menjadi lawan. Dan juga, mengenal cinta. Ini menarik jika kita lihat kondisi masyarakat sekarang. Banyak yang belum tuntas beEdisi 21 | Januari 2019

lajar, namun telah hadir di tengah masyarakat sebagai tokoh dengan hanya bermodalkan penampilan dan sederet gelar. Mereka diberi panggung atau bahkan meciptakan panggungnya sendiri untuk berbicara mengenai semua hal, yang sebenarnya bukan kapabilitasnya untuk membahas mengenai hal tersebut. Bisa jadi yang diseru benar. Namun, lebih besar kemungkinannya adalah sesat-menyesatkan. Dalam filosofi Jawa ada ungkapan, padi semakin berisi akan semakin merunduk. Ya, ini soal kerendahan hati. Bukan kesombongan diri. Wiro Sableng menerapkan itu. Meskipun ia seorang pendekar, namun sikapnya konyol. Keseriusannya hanya pada saat-saat tertentu. Ia jenaka, manyampaikan sesuatu dengan riang gembira. Bandingkan dengan kondisi kini. Banyak tokoh masyarakat, malah menebar ketakutan. Tentang agama dan kehidupan, tanpa kasih dan sayang.

Bagaimana pun juga, mengangkat cerita Wiro Sableng di kehidupan sekarang merupakan hal yang tepat. Apalagi untuk generasi milenial yang jarang mengetahui cerita-cerita asli Indonesia seperti ini. Namun, memahami hanya sebagai pertunjukan laga, saya kira terlalu mereduksi cerita penuh makna ini.n


25

Ilustrasi: Ibnu A.

Cerpen

Pertemuan

Banyak yang dipertaruhkan dari kehidupan modern. Termasuk cinta yang kini berubah makna. Apa bisa rasa cinta dimatrealiskan seperti ini? Tidak, tidak, kau salah. Tapi aku yang harus pergi membawa luka. Perih dari rindu yang gemetar kutahan dalam tubuh. n Nur Fitrya Madany Edisi 21 | Januari 2019


26

Cerpen

A

ku buru-buru memakai setelan kemejaku, padahal lima menit lalu aku masih menyantai tiduran sambil memandang plafon kamar pengap kontrakan. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Kulihat pesan masuk dari Ayu. “Ayu kembali mas, Ayu tunggu di tempat biasa ya mas sekarang. Ayu rindu.” Tak perlu lagi aku menjawab iya. Toh ia juga paham pusaran hidupku hanya pada dirinya. Aku pernah berjanji tak peduli dalam situasi apapun, saat dirinya membutuhkanku aku akan terus berlari ke arahnya. Terik matahari menyambutku saat aku mulai membuka pintu. Biasanya di awal tahun daerah Barat memang sedang panas-panasnya. Aku berjalan sambil berlari kecil. Dalam perjalanan, aku terus membayangkan dirinya saat ini. sudah 1 tahun aku tak berjumpa dengannya. Bukan karena aku tak ingin. Tapi aku menghargai keputusannya sejak ia memilih mondok dan bersekolah di Jawa Timur. Meskipun aku harus sulit bertemu dengannya. Bahkan, untuk sekedar berbicara lewat telepon kami hanya dapat melakukannya diakhir bulan. Itu pun tak cukup lama.

Biarkan cinta membawamu pergi. Biar rindu membawamu kembali. Arus rindu yang terus datang dariku sekarang entah menghilang ke mana. Padahal tadinya diriku sudah sampai sesak karena rindu. Tak perlu waktu lama untuk menemukan dirinya. Aku hafal betul tempat favorit Ayu saat kita biasa bertemu. Samar-samar terlihat perempuan berbadan mungil duduk di pojok sebuah taman kota dengan pohon beringin tinggi besar yang membantu menutupi teriknya sinar matahari. Aku bergegas menghampirinya. Aku segera duduk di sampingnya. Ia sedikit bergelonjak sambil menyentuh dadanya terkejut. “Bikin Ayu kaget aja mas.” Ah, aku rindu suara ini, sudah sangat lama aku tak mendengar suara serak sendu ini secara langsung. “Maaf ya lama menunggu.” Dirinya hanya melemparkan senyum manisnya ke arahku, rasanya hatiku tumbang melihat senyumannya, tapi matanya mengatakan hal yang lain. Aku hanya bergumam dalam hati, “kenapa senyumannya serasa tidak tulus, ada apa dengannya? Aku merasa dia berbeda.” Entah hanya Edisi 21 | Januari 2019

perasaanku saja, tapi pertemuan ini aku tak ingin berpikir buruk seperti itu. Aku telah menanti lama. “Mas banyak berubah, sekarang makin rapi, padahal dulu selalu tak pernah rutin menyukur rambut, sampai gondrong berantakkan, cukur hanya saat aku yang menyuruh.” Pikirku, buat apa aku bercukur dan terlihat rapi, aku tak memedulikan komentar orang lain selain dirinya. “Iya biar nggak denger suara omelan kamu buat cukur rambut,” candaku. “Mas pasti lelah ya, mendengar omelanku setiap kita bertemu.” Apa maksudnya, kenapa sudah sejak awal aku merasa ada yang berbeda dengannya, nada bicanya tak menggambarkan ia bercanda. Samar-samar aku melihat wajahnya, tatapannya menerawang, wajahnya sendu. Tak beberapa lama, ia menatap ke arahku. “Aku mau kita akhiri ini mas.” Deg.. apa maksudnya? Kutatap kedua matanya, ia mengalihkan pandangannya dariku, hatiku panas pikiranku tak karuan, aku hanya diam, aku tak bisa menjawab, padahal beribu-ribu pertanyaan ada di benakku.


Cerpen

“Maaf.” Dengan suara yang bergetar dan sendu, seketika tangisannya pecah. Ia meraih tanganku. Digenggamnya kuat tanganku olehnya. “Maaf.” Untuk kedua kalinya, ia mengatakan kata itu sambil terisak. “Aku bertemu lelaki baru,” ucapan terakhirnya membuat darah sekujur tubuhku naik, aku merasa kecewa, hubungan kita sudah hampir tujuh tahun, tapi apa? Ada lelaki baru di hatinya?

banyakan, menganggap orang lain sampah, mereka hanya menganggap diri mereka yang berlian, dan orang lain hanyalah sampah. Sampah yang didekati dengan maksud tertentu setelah itu diinjak-injak bahkan diabaikan begitu saja, tak dianggap tak pernah ada. Sekarang bahkan orang yang sangat kucintai memperlakukanku seperti sampah, bagaimana dengan yang lain, berbicara tanpa mengerti apa yang dibicarakan, kata-katanya meyakinkan tapi tak diyakinkan.

27

Aku menarik tanganku darinya. Sulit bagi diriku mengendalikan kemarahanku. “Cukup.” Hanya satu kata yg dapat aku katakan. Aku ingin mengakhirinya sekarang, aku di sini malah membuat dadaku sesak, bahkan sangat sulit bagiku untuk bernafas. Aku masih tak mempercayai perkataanya, aku ingin segera melarikan diri dari sini.

Padahal aku percaya semua omonganmu, aku menjaga hati ini baik-baik untuk dirimu, aku merelakan tujuh tahun pacaran yang berbeda dengan yang lain, karena apa? Saling percaya katanya.

“Aku salah, maafkan aku, aku tak bisa menjaga hati. Banyak kenangan berharga dengan mu tujuh tahun ini, tapi aku membutuhkan orang yang selalu ada. Selalu ada untukku bukan yang selalu setia. Bagiku memang jarak bukan penghalang dari sebuah hubungan jika saling percaya, tapi ternyata jarak membutuhkan seseorang yg selalu ada.”

Bulshit!! sekarang aku merasa seperti sampah. Sesuatu yang tak bernilai, dibuang begitu saja, bayangkan orang yang aku percayakan satu-satunya bahkan hidupku bergantung padanya mencampakkanku sekarang.

Sebenarnya aku tak mengerti mengapa seperti ini, aku hanya menginginkan menebus rasa rinduku sedalam-dalamnya, aku telah menanti lama, sangat lama, bahkan kesabaranku sudah mau habis rasanya, tapi apa? Aku seperti ditampar dengan kayu besar.

Aku kembali menatapnya, seyogyanya aku tak rela melepasmu seperti ini, berpisah seperti ini membuatku sangat marah padanya. Aku sudah sangat bertekad menjadi kekasih yang baik untuk dirinya, tapi setiap pertemuan pasti ada perpisahan bukan.

Kukira kau menilaiku seperti berlian. Kau jaga baik-baik bahkan tak ingin ada orang yang menyentuhnya. Ternyata kau sama saja seperti orang ke-

Aku mematung, tak bisa berkata apa-apa, seandainya ia bukan wanita yang aku cintai, aku pasti sudah menghajarnya habis-habisan.

Aku pergi meninggalkan dirinya seorang diri, biarkan itu hukuman untuknya, pertemuan ini perpisahan untuk kita. n

Katamu kita hanya butuh kepercayaan, saling percaya satu sama lain saat dirimu memutuskan untuk pergi. Katamu dengan kepercayaan semua tidak ada yang akan berubah walau jarak memisahkan sebuah hubungan asmara.

Edisi 21 | Januari 2019


28

Puisi

Senja di Pelupuk Matamu Ibnu Abdillah Rona jingga menyapu dinding-dinding mega Semburat cahaya berseri itu kini telah tiba Katanya, segala sesuatu yang romantis bermula saat senja tiba Bocah-bocah saling janji esok akan bermain lagi Langit menjadi semakin genit berias bintang dan bulan malam Kicau burung bersendayu di pucuk setia pinus menanti dan membaringkan rindu esok hari Aku tak mudah mempercayai itu Aku bukan penikmat senja di penghujung hari senja datang lalu tiba-tiba hilang Mengundang keremangan malam, menyisakan kehampaan ketahuilah kasih, semua tak berbanding ketika senja itu terpancar darimu Dari wajah dan bulat matamu Senja itu ada di pelupuk matamu pancaran jernih bola itu berbinar mengikat hatiku Terbias pantulkan sinar silau memanja takala memandangimu Lesung pipimu tiada bertatap dalam tunduk senyum manismu Semarang, 2018

Edisi 21 | Januari 2019


Puisi

29

Surat Perpisahan Yuni Hidayati Kemarin, sepotong surat terakhir ini kau antar kepadaku Ada yang inginku ucapkan sebelum jarimu melambai hilang dari jemariku ada yang tertinggal Genggaman benih rasa yang kau semai lusa lalu kita tak bisa menyiasati pertemuan Usia bisa menggambarkan pelukan namun rasa tak mampu menjawab lekuk banyangan- MU Harusnya hujan Desember ini kau dekap erat tubuh ini Sebelum lengkung pelangi itu menghubungkan rasa kehilangan dan penyesalan

Semarang, 2018

Sepintas Ilusi Waktu telah usai di sini Mengantar pada alkisah baru Dalam keterasingan yang nestapa Sedangkan sanubariku terluka Saat haluan mata ini mulai terhenti Meratapi setiap ruang yang sepi Menghadirkan bayangmu kembali Yang lama mati menimbun arti Dirimu yang lama tersimpan jauh di mata Lalu padam dalam bara api yang menyala Datangnya abu turut menjadi saksi bisuku Merubah segenap ilusi indah di wajahmu kala itu Semarang, 2018

Edisi 21 | Januari 2019


Menghidupi Ruang Imajinasi Dongeng sebagai budaya lama semakin termakan usia. Jarang lembaga pendidikan yang menggunakannya. Tumbuh komunitas-komunitas sosial yang prihatin dengan kondisi itu. Termasuk di Semarang.

Dina Rizkyana (25) sedang memberikan cerita pada anak-anak di Kampung Dongeng Semarang

T

awa tak ada putusnya terus melambung ke angkasa di taman Perumahan BPD III, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jumat (30/10/2018). Pagi itu, anak-anak berkejaran ke sana kemari, dengan wajah girang tanpa beban. Hamparan rumput hijau di bawah pepohonan yang rindang memang menjadi tempat yang tepat untuk menuntaskan hasrat bermain anak.

Tapi, tak hanya untuk bermain anak-anak berkumpul di sana. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, seorang wanita muda bermata sipit, berkerudung hitam mengajak sejumlah 20 anak itu, untuk senam bersama.

Wanita itu bernama Dina Rizkyana (25) mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes). Usai dengan senam, anak-anak lalu membentuk pola duduk melingkar untuk mengeikuti kegiatan inti. Dina berganti posisi dengan Nurun Nikmah (34) yang sudah siap dengan dongengnya.

Nikmah membawakan cerita Jojo yang Jujur. Anak-anak terdiam dan memperhatikan takala pembacaan dongeng berlangsung. Mereka hanyut dalam cerita, meski sesekali juga menyela dengan tawa.

Pagi itu, Perumahan PDB mendapat kunjungan dari Kampung Dongeng Semarang (KDS). Sebuah komunitas sosial yang bergerak di bidang pembentuEdisi 21 | Januari 2019

kan karakter, kreatifitas, serta peningkatan imajinasi anak lewat gerakan mendongeng.

Komunitas ini berpusat di Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Gerakan ini hadir dalam situasi di mana pendidikan karakter semakin ditinggalkan. Untuk menjawab persoalan tersebut, mereka memilih jalan dongeng yang sasarannya adalah anak-anak. Lantaran melihat budaya dongeng yang makin ditelan zaman. Kampung Dongeng Semarang menjadi salah satu cabang dari 60 cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. komunitas dongeng yang ada di Semarang sendiri terbilang baru. Ia berdiri pada 11 Maret 2018 dengan alamat kantor


Amanat/ Fadhillah

Feature

anak.

“Dalam perkembangannya, anak-anak juga butuh pendampingan,” jelas mahasiswa prodi pendidikan Guru itu.

KDS mempunyai tiga kegiatan, yaitu pekan ceria yang salalu berpindah-pindah, menjemput berkah yang diadakan jika ada bencana di Indonesia, Dongeng Berbayar diadakan setiap satu bulan sekali. Perlu keterampilan

g, Jumat (30/10).

di Wisma Tidar Jaya, Jl. Raya Banaran No. 93 Sekaran,Gunung pati, Kota Semarang.

Meskipun belum genap satu tahun, Ketua KDS Nurun Nikmah mengungkapkan, target ke depan komunitas ini akan mendirikan rumah baca anak. Nikmah sadar itu tidak mudah, namun ia bersama 10 relawan mahasiswa dan guru, akan berusaha memenuhi target itu. “Semoga ke depan, semakin banyak daerah yang kami bina di Semarang,” harapnya.

Dina salah satu relawan KDS mengatakan sebagai gerakan pembentukan karakter untuk anak-anak Indonesia, cerdas dan berkarakter, KDS mendapatkan respon baik dari orang tua

Demi mewujudkan cita-cita KDS untuk menjadikan anakanak Indonesia cerdas, kreatif dan imajinatif, beberapa upaya dilakukan oleh para relawan. Di antaranya menyesuaikan tema naskah dongeng dengan usia anak atau peserta dari kelas dongeng, supaya anakanak dapat menerima materi yang terkandung dalam cerita dongeng. Syukur, jika dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Dina mendongeng adalah seni menasehati, tanpa yang didongengi merasa dinasehati. Karenanya, seni mendongeng harus dikuasai oleh mereka yang berkecimpung di ranah itu. Wanita asal Tegal itu menambahkan, di samping memahamai seni mendongeng, pendongeng juga harus tahu pola penyampaiannya. Jika dalam dongeng sendiri, biasanya ditekankan dalam penguasaan Edisi 21 | Januari 2019

31

dan penghayatan bahasa verbal dan nonverbal. Hal itu dimaksudkan supaya pesan yang terkandung di dalam dongeng dapat tersampaikan dengan baik, dari nilai religiusitas, nilai sosial, serta nilai-nilai positif pembentuk karakter anak.

“Keterampilan dalam menghubungkan kata dan rasa, akan menumbuhkan sebuah imajinasi bagi anak untuk membangun karakternya,” ucapnya. Hadirnya KDS di Semarang disambut baik oleh masyarakat. Para orang tua merasa terbantu dalam mendidik anaknya. Ira Pramukti (45) misalnya, seusai anaknya mengikuti kegiatan mendongeng yang diadakan oleh KDS, terjadi perubahan yang baik. “Anak saya jadi ada kegiatan yang positif dan tumbuh sesuai usinya,” ucapnya.

Naufara (45) seorang ibu rumah tangga juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, kegiatan KDS ini bisa menjadi hal positif sebagai pengisi hari libur untuk anaknya. Dalam kegiatan itu pun anak juga dapat berteman dengan anak sebayanya, sehingga meminimalisir pengeruh buruk dari luar. “Kegiatan yang positif untuk meningkatkan imajinasi,” terang ibu dua anak asal Tlogosari, Kota Semarang itu. n

Fadhilah N.


Sosok

leksi banyak prestasi dalam seni kaligrafi.

Kepiawaiannya dalam melukis kaligrafi, mampu mengantarkan pria kelahiran 17 Oktober 1996 ini pada sejumlah kejuaraan. Terakhir, yang paling bergengsi, ia menjadi juara pertama pada cabang lomba mushaf untuk mahasiswa tingkat nasional di UIN Sunan Kalijaga pada 2016 lalu.

Pria kelahiran Cirebon ini sebenarnya sudah mengenal seni kaligrafi sejak di pesantren. Namun, progres terbesarnya dicapai ketika dirinya memasuki perguruan tinggi. Progres itu tumbuh sejalan dengan motivasinya untuk mencari pengalaman dan bertemu orangorang baru.

Bermodal Kemauan dan Cinta

S

etiap orang mempunyai pemaknaannya sendiri tentang kerja. Termasuk Chasan Bisri (22). Chasan akrab disapa, memaknai kerja sebagai kunci utama dalam meraih kesuksesan. Tekad tersebut sudah lama tertanam dalam dirinya, bahkan jauh sebelum Chasan mengoEdisi 21 | Januari 2019

Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jam’iyyah Qurra’wal Huffadz (JQH), kemampuan Chasan dalam seni kaligrafi semakin terasah. Baginya, tidak perlu ada bakat khusus untuk mempelajari kaligrafi. Sebelum berada pada titik sekarang, ia hanya bermodalkan kemampuan dan cinta pada salah satu kesenian Islam ini. “Semua orang pasti mampu melakukannya,� katanya.

Menurutnya, untuk menghasilkan lukisan kaligrafi yang indah, dibutuhkan kesesuaian semua unsur. Antara lain, penulisan, alat-alat, dan suasa-


na hati. Suasana hati yang baik akan menghasilkan karya yang baik pula.

(Dok. Pribadi)

“Kaligrafi itu memainkan pikiran, hati dan tangan,” katannya.

Kini, selain sibuk menyelesaikan kuliah, mahasiswa prodi Ekonomi Islam ini juga memanfaatkan kemampuannya sebagai ladang bisnis. Lewat teman dan media sosial, ia kerap mendapatkan pesanan kaligrafi.

Karyanya sudah dikirim ke berbagai kota, seperti Jakarta, Malang dan Yogyakarta. Chasan percaya bahwa dengan menekuni kaligrafi dapat membawa keberkahan tersendiri dalam hidupnya. “Hasil dari penjualan kaligrafi ini digunakan untuk modal lagi, ya buat beli alat-alat seperti cat dan kuas,” tuturnya.

Tak tanggung-tanggung, kini Ia pun bercita-cita untuk mengikuti perlombaan di tingkat Internasional. Mentalnya kuat. Menang atau kalah, kata Chasan, sudah biasa dalam perlombaan. “Kalau juara ya alhamdulillah, kalau belum ya harus lebih rajin lagi latihannya,” pungkasnya. n

Fadhilah Nur I.

Memamerkan Karya Hingga Eropa

2

7 Januari 2019 menjadi hari bersejarah bagi Jitet Kustana. Pasalnya, pada hari itu Jitet akan memamerkan karyanya di panggung seni di Eropa. Kesempatan itu datang pada Oktober tahun lalu, ketika pengelola European Cartoon Center (ECC) meminta 130 karyanya untuk dipamerkan. “Sebuah kehormatan bagi saya bisa pameran di ECC. Saya tidak pernah membayangkan dapat undangan ini,” ungkap kartunis yang baru saja berulang tahun pada 4 Januari tersebut.

ECC merupakan pusat kartun di Eropa yang dibuka pada tahun 2007. Tempat tersebut digadang sebagai surga kartun, rumah bagi kartunis dan penggemar kartun. ECC tidak hanya menyelenggarakan kontes dua tahunan Euro Kartoenela, tetapi juga membuka ruang untuk pameran tunggal, kuliah dan kegiatan yang relevan dengan seni kartun. Pendiri Gold Pencil Indonesia itu Edisi 21 | Januari 2019

mengungkapkan, sebagian besar karya yang dipamerkan di Eropa nantinya merupakan karya yang pernah memperoleh penghargaan internasional.

Jitet saat ini telah mengantongi lebih kurang 182 penghargaan kartun tingkat internasional. Ia dinobatkan sebagai kartunis terbaik 2018 versi Cartoon Home Network International yang berbasis di Norwegia. Lalu, yang terbaru, Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) memberikan penghargaan sebagai kartunis dengan penghargaan kartun Internasional terbanyak. Ia mendapat apresiasi berupa medali dan piagam, Selasa 22 januari 2019. Pameran di Belgia kali ini, Jitet bakal berduet dengan kartunis asal Portugal, Cristina Sampaio. Selain itu, dalam lawatan ke Belgia kali ini Jitet juga bakal terlibat dalam penjurian Euro Kartoenale yang mengangkat tema “The Wall”.n

Zulfiyana Dwi H.


34

Esai

Cebong - Kampret

K

ata cebong dan kampret sebegitu populernya hari ini. Ketika mengetik kata cebong di mesin pencarian google dalam 0,25 detik saja, menemukan 4.320.000 hasil pencarian. Lalu, untuk kata kampret menemukan 7.590.000 hasil pencarian dalam 0,33 detik. Ini bukan hal yang aneh di tahun politik, namun memprihatinkan.

Sebutan cebong dan kampret, muncul kembali ke ruang publik kita sering dengan menaiknya suhu politik. Ia adalah sebutan untuk “menghinakan” masing-masing pendukung calon presiden yang berlaga pada pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. Dalam kebudayaan Jawa sendiri, menyandangkan sebutan seperti itu, sebenarnya hal yang biasa. Tak jarang sesorang dipanggil bukan dengan nama yang sebenarnya. Sebutan seperti Gentong, Gendro, kenyol, tak jarang disematkan pada seseorang, apalagi jika masing-masing yang berkomunikasi sudah terjalin perkawanan yang “romantis”. Tak ada yang marah, tak juga ada maksud menghina.

Namun, dalam konteks politik, suasananya berbalik 180 derajat. Sebutan cebong dan kampret ditujukan untuk menciptakan politik identitas, sinisme, dan fanatisme. Secara psikologi, jika seseorang mempunyai harapan yang besar, dalam waktu yang bersamaan juga timbul kecemasan. Harapan supaya yang didukung jadi presiden, kecemasan jika tidak terpilih. Kecemasan tersebut akan mudah ditransformasikan menjadi rasa marah. Ketika pemilih merasa marah, ia tidak lagi berhati-hati dalam mengolah informasi dan cenderung membangun strerotyping (Hudi dan Feldman, 2007). Makanya, tak heran jika lalu lintas informasi di dunia maya hari ini begitu tidak sehat.

Di tangan cebong dan kampret hal sepele dijadikan isu nasional yang sama sekali tidak ada esensinya. Perkataan dari salah satu calon seperti “politik sontoloyo” atau “tampang Boyolali”, menjadi pembahasan, cibiran, hinaan yang memenuhi ruang publik kita beberapa hari. Tujuannya jelas, mengolah isu supaya yang mengatakan itu tidak mempunyai kelayakan untuk menjadi pemimpin bangsa. Ini pendangkalan nalar yang memuakkan.

Tidak berhenti di situ. Yang paling mengkhawatirkan, masyarakat seolah dibelah menjadi dua kubu. Orang yang mengkritik Jokowi akan disebut kampret, begitu pula sebaliknya, orang yang mengkritik Prabowo akan disebut cebong. Seolah tidak ada informasi yang menyebar, selain dikaitkan pada kedua sebutan tersebut. Setidaknya di dunia maya itu terjadi.

Fenomena strerotyping menjadi salah satu indikator sistem demokrasi di Indonesia masih perlu diperbaiki. Di negara maju seperti Australia atau Amerika, bukan strerotyping yang dijadikan alat untuk saling menjatuhkan melainkan perbandingan ide, gagasan, dan program ke depan dalam menata negara. Jika kontestasi demokrasi dipahamai secara sederhana, sebetulnya hal-hal yang tidak esensial seperti ini tidak perlu terjadi. Bukankah sudah keniscayaan bahwa dalam sistem demokrasi terjadi pemilihan presiden lima tahun sekali? Ini bukan peristiwa sekali seumur hidup yang akan menentukan nasib Indonesia selamanya.

Oleh sebaab itu yang perlu menjadi perhatian adalah visi dan program masing-masing calon untuk Indonesia lima tahun ke depan. n

Edisi 21 | Januari 2019

Yusril Ramadhan


Info pemasangan iklan +6285225456210


Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. Ki Hadjar Dewantara

Profile for SKM Amanat UIN Walisongo Semarang

Buletin SKM Amanat Edisi 21  

Buletin SKM Amanat Edisi 21  

Profile for skmamanat