Issuu on Google+


POLEWALI MANDAR ALAM . BUDAYA . MANUSIA (c) Muhammad Ridwan Alimuddin, 2011 Hak cipta dilindungi undang-undang Cetak I Desember 2011 Diterbitkan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar Jl. Mr. Muhammad Yamin No. 05 Pekkabata, Polewali Mandar Sulawesi Barat 91315 Telp/fax: 0428-23003, e-mail: kominfopolman@yahoo.co.id http://www.polewalimandarkab.go.id bekerjasama dengan Teluk Mandar Kreatif Jl. H. Daeng No. 71 Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar Sulawesi Barat 91354 hp: 081355432716, e-mail: sandeqlopi@gmail.com http://www.ridwanmandar.com Desain sampul dan tata letak Iwan & Wahyudi Muslimin Penulis Muhammad Ridwan Alimuddin

POLEWALI

MANDAR alam . budaya . manusia

penulis dan fotografer Muhammad Ridwan Alimuddin editor Mustari Mula Tammaga

Fotografer Muhammad Ridwan Alimuddin (kecuali yang memiliki keterangan nama sumber foto) Editor Mustari Mula Tammaga 160 hlm: 14,2 x 20cm ISBN:

Keterangan foto sampul: Seorang anak dengan pakaian adat Mandar bersiap menjalani upacara “milattigi� (menerima olesan daun pacar di atas telapak tangan oleh perangkat hadat, sebagai simbol pemberkatan). Foto Sambutan foto Bupati Polewali Mandar dan Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatikan Polewali Mandar: fotografer Wahid Dulkahar (Dishubkominfo Polman)

Diterbitkan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar


PENGANTAR - 4

Daftar Isi Pengantar...............................1 Sambutan ...............................5 Mandar....................................7 Sejarah....................................15 Potensi....................................29 Pangan.................................30 Perkebunan...........................30 Kehutanan............................31 Peternakan...........................31 Perikanan..............................31 Industri.................................34 Pertambangan dan energi......34 Perdagangan dan Koperasi.....35 Perhubungan........................35 Telematika............................36 Pariwisata...............................41 Wisata Alam..........................41 Wisata Situs..........................45 Kerajinan..............................45 Wisata Kuliner.......................46

Budaya....................................51 Bahasa.................................51 Ilmu Pengetahuan.................52 Organisasi Sosial...................54 Sistem Kekerabatan...............56 Mata Pencaharian..................61 Peralatan dan Teknologi.........69 Kepercayaan.........................77 Kesenian...............................91 Ayo ke Polman........................115 Pusat Intelektual...................116 Akomodasi............................121 Peta.........................................136 Referensi.................................152 Penulis....................................153


PENGANTAR - 6

Perbatasan Kabupaten Majene dengan Kabupaten Polewali Mandar, terletak di Kecamatan Tinambung

PENGANTAR - 7

Perbatasan Kabupaten Pinrang (Provinsi Sulawesi Selatan) dengan Kabupaten Polewali Mandar (Provinsi Sulawesi Barat), terletak di Kecamatan Binuang


PENGANTAR - 8

PENGANTAR - 1

Atraksi Sandeq Race di Teluk Polewali

Pengantar “Pada mulanya adalah alam. Kemudian Adam. Lalu lahirlah kebuda yaan, sebagai proses dan sekaligus jumlah dari interaksi antara manusia dan alam”, demikian pengantar dalam buku fotografi “Sulawesi Selatan” (1992). Buku tersebut memperlihatkan alam, bentuk kebudayaan dan manusia semua kabupaten di Sulawesi Selatan waktu itu, termasuk Polewali Mamasa. Buku tesebut banyak memberi inspirasi untuk membuat karya serupa. Tapi untuk menyamainya bukan langkah mudah, sebab buku tersebut ditangani oleh fotografer paling senior Indonesia dan biaya pembuatannya mungkin bernilai miliaran sekarang ini. Membanggakan, pembuatan buku terbaik tentang Sulawesi Selatan tersebut, idenya datang dari putra Polewali Mandar, Husni Djamaluddin. Uniknya lagi, dalam buku tersebut ada foto dua halaman penuh memperlihatkan beberapa bocah Mandar menari “pattuqduq tommuane”. Salah satunya adalah penulis dan fotografer buku ini.

Kebetulan atau tidak, itulah yang terjadi. Namun yang paling penting adalah, kita sebagai manusia Polewali Mandar, bisa melanjutkan harapan buku tersebut, bahwa “alam, manusia dan budaya adalah hal-hal yang perlu dicatat dan perlu diberi tempat dalam memori koletif kita, baik sebagai warga negara dari sebuah negara maupun sebagai warga dari sebuah dunia yang semakin dipersatukan oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi”. Dalam hal ini, Polewali Mandar se bagai pusat perkembangan kebudayaan di Mandar (Sulawesi Barat) berusaha memberi teladan dengan membuat buku tentang sebuah daerah dengan nilai artistik dan informasi tertulis yang diberikan bukan hanya angka-angka statistik, tetapi juga beberapa bentuk kebudayaannya. Foto dan pengetahuan tertulis dalam buku ini belum mencakup akan apa yang ada; belum mewakili, misalnya kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Namun


PENGANTAR - 2

PENGANTAR - 3 kekurangan itulah yang menjadi motivasi untuk membuat karya lebih lengkap di masa mendatang. Perwajahan, tata letak dan gaya foto buku ini diispirasi oleh buku “The Periplus Adventure Guide Indonesia Series�, seri buku tentang sejarah, alam, budaya, dan manusia Indonesia. Salah satu serinya khusus tentang Sulawesi.Buku tersebut ditujukan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia. Bedanya, penulis dan fotografi buku tersebut dilakukan oleh banyak pihak, orang asing. Mencontoh dilakukan sebab buku tersebut merupakan buku terbaik bila ingin mengetahui tentang Indonesia dalam waktu singkat. Dengan kata lain, dalam keterbatasannya, buku ini diharapkan bisa melakukan hal serupa. Sejatinya, pembuatan buku ini butuh waktu lama dan relatif sulit sebab harus merangkum sebanyak mungkin bentuk-bentuk alam, budaya, manusia di Polewali Mandar. Fotofoto terentang dari awal tahun 2000an hingga beberapa pekan sebelum buku ini dicetak. Namun itu menjadi mudah sebab penulis telah memiliki ribuan stok foto tentang Mandar, baik itu Polewali Mandar maupun kabupaten lain di Sulawesi Barat. Aktivitas pengumpulan foto telah dilakukan selama satu dekade, mulai pesisir, pegunungan, upacara, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari. Bila semua foto dalam buku ini harus dikerjakan sesuai waktu yang tersedia , itu mustahil sebab ada beberapa peristiwa yang kejadiannya beberapa

puluh tahun baru terjadi lagi, seperti pelantikan "arajang" (maraqdia, raja) Balanipa. Juga, keikutsertaan fotografer dalam upaya menyebar logistik bagi korban banjir dengan helikopter di Kabupaten Polewali Mandar. Saat ikut terbang dengan helikopter, fotografer juga mendokumentasikan wilayahwilayah Polewali Mandar yang dilintasi. Bila itu harus sengaja dilakukan, butuh dana puluhan juta rupiah. Buku ini bisa terwujud berkat kerjasama semua pihak, khususnya antara penulis/fotografer dengan pihak Kabupaten Polewali Mandar. Dalam hal ini Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar, terkhusus Bidang Komunukasi dan Informatika. Untuk itu, kami sebagai penyusun buku ini mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Polewali Mandar, Ali Baal Masdar, Bapak Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar, Ahmad Saifuddin. Kami dari penyusun buku ini juga mengucapkan terima kasih kepada Saudara Wahyudi Muslimin yang membantu memperbaiki tata letak dan pengurusan percetakan buku ini. Terakhir kami haturkan terima kasih kepada masyarakat Polewali Mandar, baik yang membantu pengumpulan dokumentasi dalam buku ini maupun yang berada di dalam foto ini. Penulis, fotografer dan editor


PENGANTAR - 4

Pesisir Teluk Mandar

PENGANTAR - 5


PENGANTAR - 6

Makam Todilaling di Desa Napo, Kecamatan Limboro

MANDAR - 7

Mandar Mandar nama salah satu suku besar di Sulawesi Selatan, selain Bugis, Makassar dan Toraja. Terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi atau pesisir utara Propinsi Sulawesi Selatan. Secara umum, Mandar dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu Mandar sebagai sebuah Nama Bahasa dan Mandar sebagai istilah lain untuk menyebut persekutuan beberapa kerajaan kecil. Sejak abad XVI di kawasan ini terdapat tujuh kerajaan yang bersatu dalam satu organisasi ketatanegaraan yang berbentuk federasi yang dinamakan Pitu baqbana binanga (Balanipa, Sendana, Pamboang, Banggae, Tappalang, Mamuju, dan Binuang). Untuk kepentingan strategis, tujuh kerajaan yang terletak di pantai, mengadakan perserikatan yang lebih luas yaitu membentuk konfederasi dengan tujuh kerajaan yang terdapat di pegunungan, yang juga terikat dalam satu federasi yaitu Pitu ulunna salu (Rantebulahang, Aralle, Tabulahang, Mambi, Matangnga, Tabang dan

Bambang). Konfederasi antar dua persekutuan tersebut dinamakan ‘Pitu baqbana binanga pitu ulunna salu’, yang berarti ‘tujuh kerajaan di pantai, tujuh kerajaan di pegunungan’. Mungkin disebabkan faktor dominasi politik berada di tangan empat kerajaan (Balanipa, Sendana, Banggae, dan Pamboang) yang menggunakan bahasa Mandar, lebih banyak penduduknya, dan menjadi gerbang hubungan dengan dunia luar, konfederasi tersebut lebih dikenal dengan kata Mandar. Terkhusus lagi pada Kerajaan Balanipa, yang dituakan diantara empat belas kerajaan, berada di sebuah tempat yang bernama Mandar. Tome Pires di dalam buku “Suma Oriental” mengungkapkan peranan orang-orang Sulawesi, khususnya di bagian selatan dan pesisir barat pada abad XVI: “... Kepulauan Makassar terdapat kira-kira empat atau lima hari pelayaran lewat pulau yang baru kita sebut (Borneo), di tengah jalan (kalau kita dari Malaka) ke Maluku … pulau


MANDAR - 8

Atas: Nelayan Desa Pambusuang dengan hasil tangkapannya.

itu berdagang dengan Malaka, Jawa, Brunei, negeri Siam dan juga dengan semua tempat yang terdapat antara Pahang dan negeri Siam. Tidak ada bangsa yang lebih menyerupai orang Siam kecuali mereka. … Mereka kafir (bukan Kristen atau Katolik, red.), gagah dan suka berperang. Di situ banyak bahan makanan, orang dari pulau itu adalah perampok (sebab melawan barat, red.) yang paling hebat di seluruh dunia, kekuatannya sangat besar dan perahunya banyak. Mereka berlayar untuk merampok dari negeri mereka sampai ke Pegu, ke Maluku dan Banda, dan di semua pulau di sekitar Jawa … Mereka berlayar keliling Pulau Sumatera. Pada umumnya mereka bajak laut. Oleh orang Jawa disebut Bajau atau orang Selat. Barang rampasannya mereka bawa ke Jumaia dekat Pahang, tempat

mereka berjualan dan mengadakan pasar terus menerus. Yang bukan perampok (Bugis, Makassar, Mandar) datang di Malaka membawa barang jualan dengan perahu yang dinamakan pangjavas (Pa’jawa, red) yang besar dan dibuat dengan baik. Mereka membawa pulang kain bertanggi, kain dari Cambay dan sedikit dari Benggala dan Keling bersama banyak luban jawi dan dupa. Pulau itu banyak penduduknya, banyak dagingnya dan perbekalannya berlimpah-limpah. Orangnya semua memakai keris, dan kuat-kuat semua. Mereka berlayar ke sana ke mari, dan ditakuti di mana-mana karena memang semua perampok patuh kepada mereka sebab pantas dipatuhi ….” Adapun catatan orientalis lain, AJF Eerdmaans, dalam buku “Het Landschap Balanipa”,

MANDAR - 9 “Orang Mandar tinggi hatinya, dalam percakapan cukup sopan, tetapi tampak meninggikan diri, cepat tersinggung, gampang cemburu, suka berkuasa, pendendam, kejam, memegang teguh tradisi dan gemar sabung ayam. Orang Mandar suka bergembira, pemurah, suka menghargai tamu, patuh pada orang yang ia percayai dan sukai, hormat kepada orang-orangtua dan cinta kepada anakanaknya dan sebaliknya. Sungguhpun pemberani, kadang-kadang kurang sopan, ia pun patuh kepada orang-orang atasannya. Kecenderungannya suka mengamuk yang sulit dikendalikan dan didamaikan. Sungguh pun demikian harus diakui bahwa di dalam keadaankeadaan sulit ia tidak menampakkan sifat-sifat pengecut dan sering kali

PANETTE

Penenun sarung sutera di Desa Tammejarra

menunjukkan bukti-bukti keberanian pribadinya yang mengagungkan. Di dalam peperangan acap kali ia dapat memilih titik-titik yang strategis; sejarah dapat membuktikannya seperti gerakan-gerakan jasmani, naik kuda, berenang, berlayar adalah termasuk hiburan sepanjang hidupnya”. Pelaut (dari etnis) Mandar secara khusus, menurut Pelras, penulis buku The Bugis: “Pelras berani mengatakan bahwa sebenarnya orang Bugis bukanlah pelaut ulung seperti yang banyak dikatakan orang selama ini. “Orang Bugis sebenarnya adalah pedagang. Laut dan kapal hanyalah media atau sarana yang digunakan untuk memperlancar aktivitas perdagangan mereka. Kalau mau menyebut pelaut ulung, maka yang paling tepat adalah orang Mandar, …..” Tome Pires kembali berpendapat, dengan mengemukakan alasan mengapa orang Mandar lebih berorientasi ke laut daripada pertanian: “... Salah satu di antara sukusuku Sulawesi Selatan yang mencari kehidupannya di laut adalah Suku Mandar yang mendiami pesisir pantai utara Propinsi Sulawesi Selatan [...] kampung-kampung yang dihuni oleh perantau Mandar didapatkan sepanjang pantai Sulawesi bagian barat; di Teluk Bone, bahkan di beberapa pulau di Selat Makassar dan di pantai timur Kalimantan sampai ke ujung utaranya. Oleh karena tanah daerah Mandar tidak subur, maka orang Mandar sejak


MANDAR - 10

MANDAR - 11 Tinambung dan muara Sungai Mandar

Sumber peta: Carte De L’ Asie terbit 1640

dahulu berorientasi ke laut.” Khusus mengenai jalur-jalur pelayaran oleh orang-orang Mandar dahulu, dapat kita lihat dalam tulisan L. J. J. Caron, yaitu: De Mandarezen toch bevaren meest de route: Mandar – Singapore – Mandar – Borneo en Mandar – Singapore – Mandar – Molukken. Dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937 – 1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar (yang berlangsung sampai saat penjajahan Belanda), bukan hanya terbatas sampai Maluku, tetapi bahkan sampai ke Papua Nugini.

Selain itu dari keterangan seorang pemuka masyarakat di Pambusuang, menjelaskan bahwa ia mengingat betul nenek moyangnya sekitar tahun 1850 telah naik haji dengan menggunakan perahu layar dari Mandar. Dari catatan Caron dan Leijdst serta tulisan-tulisan lainnya, dapat diketahui bahwa jalur pelayaran utama para pelaut Mandar mengikuti garis timurbarat, yaitu Mandar – Borneo – Jawa – Sumatera – Singapura ke barat, dan sekembalinya dari Singapura mereka menempuh pula jalur pelayaran ke Ambon, Ternate, Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Irian dan juga ke Australia Utara untuk menangkap atau membeli teripang. Didapati juga jalur-jalur pelayaran utara – selatan, yaitu jalur utara ke pelabuhan di Sulawesi Utara (Donggala – Tolitoli ) sampai ke Philipina. Jalur ke selatan menuju ke Pulau Jawa dan terus ke pulau-pulau di NTB, NTT, dan Timor. Rute-rute tersebut tidak ditetapkan secara kaku tetapi bisa saja berubah, tergantung faktor-faktor ekonomis dan alam. Di daerah Mandar terdapat salah satu tanda yang dari riset-riset tentang sejarah nusantara diketahui bukti akan sejarah kemaritiman yang panjang. Penenunan sarung sutera, sebagai salah satu komoditi utama perdagangan tradisional di wilayah Asia pada ‘age of commerce’ sarung sutera Mandarlah yang dibawa oleh perahu-perahu Mandar pada abad-abad lampau sampai ke Malaya telah menjadi


MANDAR - 12 terkenal sebagai ‘sarung Bugis’, dan hubungan perdagangan yang dibuka para saudagar Mandar untuk jual beli benang sutera dan hasil penenunan menjadi jaringan yang sejak beberapa abad meliputi seluruh nusantara. Bahkan, sudah jauh sebelumnya daerah Mandar disebutkan di dalam sumber-sumber Cina sebagai salah satu daerah di Sulawesi yang dikunjungi pedagang-pedagang negeri tersebut. Pengetahuan kemaritiman orangorang Mandar, khususnya teknologi dalam pembuatan perahu, merupakan sebuah tradisi yang berakar pada zaman dulu, dan merupakan bagian penting mengenai teori tentang tradisi kemaritiman suku-suku Austronesia pada umumnya. Referensi modern tertua yang memuat kata “Mandar” adalah sebuah peta-peta Eropa yang dibuat dari tahun 1534 - 1540 (pendaratan pertama orang Eropa dalam hal ini pedagang Portugis di Pulau Sulawesi terjadi pada 1530) atau sekitar 20 tahun sebelum I Manyambungi (“maraqdia” pertama di Arajang Balanipa) berkuasa (1560 – 1580). Peta itu juga dibuat jauh sebelum Muktamar Tammejarra I berlangsung, yaitu pada tahun 1580 di zaman pemerintahan Tomepayung (1580 – 1610). Adapun Allawungan Batu di Luyo terjadi pada tahun 1960 di era kekuasaan Daetta (“maraqdia” kedua). Jadi, istilah “mandar” pasti telah ada sebelum pertemuan-pertemuan di atas dan Mandar telah dikenal sebagai sebuah nama tempat di pesisir barat

Pulau Sulawesi. Dari data tersebut, bisa dikatakan bahwa kata “mandar” bermakna “saling menguatkan” (bila berdasar pada kesepakatan bersatu di Luyo) gugur dengan sendirinya. Demikian juga pendapat yang menyebut “mandar” berasal dari Bahasa Arab, “nadara” atau tempat yang jarang penduduknya. Ada beberapa penafsiran akan arti kata “mandar” (atau “mandaq”), tapi belum ada kesepakatan apa arti kata tersebut di kalangan ilmuwan atau budayawan di Sulawesi Barat. Pendapat terbaru mengatakan penyebutan kawasan di “punggung” Pulau Sulawesi ini berdasar dari nama sungai yang bermuara di Teluk Mandar, yaitu sungai yang dikenal dengan nama Sungai Mandar atau Sungai Balanipa atau Sungai Tinambung sekarang ini. Ingat, “Mandar” sebagai nama sungai, bukan arti sungai dalam Bahasa

MANDAR - 13 Mandar[.]

Situs “Bala tau” di perbukitan Tammejarra. Tak jauh dari sini terdapat makam Tomepayung. Desa Tammejarra, Kecamatan Balanipa.


MANDAR - 14

SEJARAH - 15

Pengambilan sumpah Arajang Balanipa ke-55

Sejarah Dalam sejarah Mandar, perjanjian paling terkenal adalah Ikrar Tammejarra atau “Assitalliang Tammejarra”. Menurut A. Syaiful Sinrang yang mengutip catatan Belanda, dalam buku Mengenal Mandar Sekilas Lintas, terjadi pada tahun 1580 atau 430 tahun lalu Ikrar Tammejarra I adalah janji atau sumpah yang dicetuskan oleh raja-raja di Mandar di wilayah pantai, yaitu Raja Balanipa (Tomepayung), Raja Sendana (Puatta I Kuqbur), Raja Banggae (Daetta Melanto), Raja Pamboang (Daeng Malewa Tomelake Bulawang), Raja Tappalang (Puatta Karanamu), dan Raja Mamuju (Tomojammeng). Isi Ikrar Tammejarra I dapat dibaca dalam Lontar Pattappingang dari Pamboang. Berikut kutipan isinya yang diterjemahkan Suradi Yasil dan kawankawan: “Inggai para dipokedoi kedota, diposeppaqi seppaqta, dipesoei soeta, disesena panggauang na mappatumballeq litaq. Inggai sitaiyang apiangang, tang sitaiyang adaeang,. Manus siorongngi maraqba sipatokkong, malilu si pakaiangaq, di buttu di lappar, andiangi

tau mala sisaraq malluluareq. Madondong duang bongi, anna diang pole sara, na mappatumbiring litaq anna disulluqi tammala, diliqai tammala, diondongngi tammala, maqganna tomi tia tommuane, na maqosoang naung letteq ingga lekkoang, anna membereq di olona litaq. Innai-innai mamboeq pura lao, marrusaq allewuang, andiang towomo tia na nasayangngi litaq, na di sambaling tomo tia meqita tama. Na narua toi tunda simemanganna to dioloq, maqbulu pindang tammaqbulu penjarijarianna. Pappang na piqindaqi pappang raqba, ayu napittuqgalangi ayu sapeq, mequwakeq rattas bomi, melloloqi jato bomi. Meanaqi sanggaq ulu, meanaqi sanggaq letteq, meanaqi takkeulu, meanaqi takkeletteq”. Terjemahannya: Marilah kita berperilaku sesuai perilaku kita masingmasing demi menegakkan dan kebaikan tanah tumpah darah. Marilah kita saling mencarikan kebaikan tak saling mencarikan keburukan, hanyut kita saling membantu berenang menyelamatkan, runtuh saling menegakkan, keliru saling mengingatkan, di gunung di dataran


SEJARAH - 16

Kompleks Makam Kecamatan Alu.

Ammana

Pattolawali

di

rendah, kita tidak bisa berpisah sebagai sesama saudara. Besok atau lusa ada bencana yang datang mengancam, yang akan menghancurkan negara, dan akan menjongkok tak akan terlalui, dilangkahi tidak bisa, dilompati tidak bisa, maka pada saat itulah sampai waktunya lakilaki patriot akan menanam kaki sampai ke lutut dan rela terkapar di pangkuan Ibu Pertiwi. Siapa-siapa di antara kita yang mengingkari kata sumpah yang telah diucapkan, merusak mufakat maka dia tidak akan disayangi oleh negara, dia akan berada di luar tanpa perlindungannya. Ia juga akan terkena sumpah kutukan leluhur, piring ditumbuhi bulu tapi keturunannya tidak akan pernah ditumbuhi bulu atau

menjadi, ia menginjak tepi jurang, tepi jurang akan runtuh, ia berpegang pada dahan kayu, dahan kayu akan patah, ia berakar lantas putus lagi, ia mekar lantas rontok lagi, melahirkan anak hanya berupa kepala, melahirkan anak hanya berupa kaki, melahirkan anak tanpa kepala, melahirkan anak tanpa kaki. Lebih dua abad kemudian atau di akhir masa penjajahan Belanda (awal tahun 40-an), kawasan Pitu Ulunna Salu dan Pitu baqbana Binanga dijadikan sebagai Afdeling Mandar yang meliputi empat onder afdeling, yaitu: Onder Afdeling Majene beribukota Majene, Onder Afdeling Mamuju beribukota Mamuju, Onder Afdeling Polewali beribukota Polewali, dan Onder Afdeling Mamasa beribukota Mamasa. Bila dikaitkan dengan unsur-unsur kerajaan di konfederasi maka Balanipa, Binuang, Tabulaha, Aralle, Mambi, Bambang, Rantebulahan, Matangnga, dan Tabang tergabung di Onder Afdeling Polewali; Sendana, Banggae dan Pamboang di Onder Afdeling Majene, dan Tappalang dan Mamuju di Onder Afdeling Mamuju. Pada masa perang kemerdekaan, ada beberapa kejadian penting yang menjadi penanda bahwa di Onder Afdeling Polewali juga berlangsung perlawanan sengit ke penjajah. Seperti perlawanan Ammana Pattolawali (makamnya di Kec. Alu) dan Ammana Wewang (makamnya di Kec. Limboro), dan perlawanan Andi Depu, salah seorang maraqdia Balanipa. Salah satu peristiwa penting yang menjadi sejarah kelam di Mandar adalah

SEJARAH - 17 pembantaian di Galung Lombok (kec. Tinambung) oleh Pasukan Westerling, yang menjadi bagian dari Peristiwa Korban 40.000 jiwa. Keempat onder afdeling tersebut di atas masuk ke dalam Swatantra Mandar yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1952 dan Nomor 2 Tahun 1953. Kemudian, berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 1959, status kerajaan dihapuskan atau kawasan onder afdeling menjadi kabupaten daerah tingkat II. Maka terbentuklah Kabupaten Polewali Mamasa (gabungan Onder afdeling Polewali dan Mamasa), Kabupaten Majene, dan Kabupaten Mamuju. Ketiganya masuk wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2002 terbentuk Kabupaten Mamasa. Sebab Mamasa tak lagi masuk wilayahnya, Kabupaten Polewali Mamasa diubah namanya menjadi Kabupaten Polewali Mandar. Nama kabupaten, setelah melalui seminar kebudayaan, resmi digunakan dalam proses administrasi pemerintahan sejak tanggal 1 Januari 2006 setelah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2005 tanggal 27 Desember 2005 tentang perubahan nama Kabupaten Polewali Mamasa menjadi Kabupaten Polewali Mandar. Dalam sejarah awal pembentukannya, Kabupaten Polewali Mamasa beberapa tanggal atau kejadian penting yang terjadi untuk kemudian menjadi salah satu alasan sehingga pernah terjadi polemik tentang Hari Ulang Tahun Kabupaten

Samping: Atas: TMP Korban 40.000 Jiwa di Galung Lombok, Kecamatan Tinambung

Polewali Mamasa antara lain adalah: 1) 7 Juni 1959, tanggal pembentukan Panitia Penuntut berdirinya Daerah Tingkat II Kab. Polmas; 2) 4 Juli 1959, tanggal pengesahan undang-undang pembentukan daerah tingkat II Kab. Polmas yaitu UU nomor 29/59; 3) 21 Juli 1959, tanggal pelaksanaan rapat panitia penuntut berdirinya daerah tingkat II Kab. Polmas; 4) 14 November 1959, tanggal pelaksanaan rapat pemerintahan daerah Mandar di Majene membicarakan perubahan bentuk pemerintahan daerah Mandar yaitu Polmas, Majene dan Mamuju meliputi bekas pemerintahan daerah Mandar; 5) 29 Desember 1959, tanggal disahkannya Daerah Tingkat II Kab. Polmas oleh para panitia penuntut


SEJARAH - 18

SEJARAH - 19 Kota Polewali tampak dari Tanjung Mampie.

berdirinya daerah tingkat II Kab. Polmas; 6) 20 Februari 1962 (ada yang berpendapat 22 Februari). Ditetapkan dengan alasan, 22 Februari 1962 Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Polmas pertama dilantik. Kabupaten Polewali Mandar adalah salah satu diantara 5 (lima) Kabupaten yang berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Provinsi Sulawesi Barat sendiri adalah pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004. Pembentukan Kabupaten Polewali Mamasa bisa terwujud berkat peran Panitia Penuntut Kabupaten. Dalam catatan sejarah terdapat beberapa versi

tentang komposisi personalia Panitia Penuntut Kabupaten Polewali Mamasa. Setidaknya ada dua versi, yaitu Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2004 tentang Inventarisasi Arsip Pemerintah Daerah Tingkat II Polmas 1918 – 1983 dan versi naskah sejarah singkat terbentuknya Kabupaten Polewali Mamasa yang ditulis dan dibacakan oleh H. Ibrahim Puang Limboro pada peringatan HUT Kabupaten Polewali Mamasa ke-23 tanggal 21 Februari 1983. Dalam dokumen Badan Arsip, dijelaskan bahwa sejarah pembentukan diawali dengan pembentukan tim atau panitia penuntut pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Polewali Mamasa yang Sumber foto: Dokumentasi DISHUBKOMINFO Polman

Anggota Delegasi Penuntut Kabupaten Polewali Mamasa, 17 Desember 1957. Dari kiri ke kanan (berdiri): A. Patulungan, Gama Musa, Sultani Dg. Manompo, Atjo Dg Tjora, (duduk) Tamajoe, dan H. A. Paliwang.


SEJARAH - 20 Aliran Sungai Mandar di Kecamatan Limboro

SEJARAH - 21 Lembah di Kecamatan Anreapi dengan latar Kota Polewali


Perangkat eksekutif dan legislatif Kabupaten Polewali Mandar saat akan mengikuti acara HUT Kabupaten Polewali Mandar ke-51 di Gedung Gabungan Dinas. Tampak Bupati Polewali Mandar, Ali Baal Masdar (tengah, paling depan)

Para pemuka adat Kerajaan Balanipa pada tahun 30an. Foto koleksi keluarga K. H. Djalaluddin

SEJARAH - 22 SEJARAH - 23

Pelantikan Arajang Balanipa ke-55


SEJARAH - 24 susunan personalianya terdiri atas: Ketua Andi Mangga, Wakil Ketua Tamadjoe, Sekretaris Gama Musa, Anggota H. Ibrahim Puang Limboro, H. A. Paliwang, A. Pallalungang, Frans Palupadang, H. Muhsin Tahir, J. Loboe Barapadang, dan Sultani Dg. Panampo. Sementara dalam naskah sejarah singkat Polewali Mamasa versi H. Ibrahim Puang Limboro dijelaskan bahwa pada tanggal 20 Maret 1957 diadakan suatu rapat yang dihadiri oleh pemuka masyarakat dari semua golongan. Dalam pertemuan tersebut ditetapkan komposisi dan personalia Panitia Penuntut Kabupaten Polewali Mamasa sebagai berikut: Ketua H. A. Paliwangi, Wakil Ketua I H. Ibrahim Puang Limboro, Wakil Ketua II Tamadju, Sekretaris I A. Palulungan, Sekretaris II Abdul Mutalib, Bendahara Sultani Daeng

Kegiatan budaya di Gedung Nusantara, Polewali.

Panampo, Pembantu Juliani Naharuddin, A. A. Hafid Mattalattu, Aco Dg. Tjora, Palocongi Pabbicara Bulan, Abdul Jabbar, Abdullah AK., dan Sahabuddin S. Selanjutnya dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa tugas utama dari panitia yang telah dibentuk adalah menyusun rencana strategi dalam bentuk konsep dan aksi yang akan diusulkan kepada pemerintah pusat untuk menyatukan Onderafldeling Polewali dan Onderafdeling Mamasa menjadi satu Kabupaten. Pada proses perjuangan, ada kelompok atau pihak tertentu yang dengan sengaja mencoba menghalangi kegiatan panitia. Ada yang secara sembunyi-sembunyi melakukan provokasi untuk menghalangi pembentukan Kabupaten Polewali Mamasa dan ada pula kelompok yang membuat resolusi ke pemerintah pusat

SEJARAH - 25

Tapal batas Kabupaten Polewali Mandar dengan Kabupaten Mamasa

yang hal tersebut berpotensi merugikan strategi perjuangan pembentukan kabupaten. Adanya halangan tersebut, Panitia Penuntut Kabupaten melakukan gerak cepat membentuk delegasi yang berangkat ke Jakarta untuk bertemu langsung Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Delegasi terdiri dari lima orang yaitu: J. Leboe Barapadang (unsur pemerintah), Sultani Dg. Manompo (cendekiawan), K. H. Mukhsin Tahir (tokoh masyarakat), Gama Musa (tokoh masyarakat), dan Frans Palopadang (tokoh masyarakat). Delegasi bergerak di tingkat pusat untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat dalam rangka percepatan pembentukan Daerah Tingkat II Polewali Mamasa dibantu oleh salah seorang anggota DPRGR/MPRS asal daerah Polewali Mamasa, yaitu H. Syarifuddin. Setelah melalui perjuangan panjang

akhirnya Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959 ditetapkan oleh Sidang Pleno DPRGR Pusat untuk kemudian terbentuklah Kabupaten Daerah Tingkat II Polewali Mamasa bersama Daerah Tingkat II lainnya di Sulawesi. Awalnya ibukota akan ditempatkan di Wonomulyo. Sebab ada pertimbangan sosial, ekonomi dan politik, ibukota dipindahkan ke arah timur, yakni Polewali. Sebagai tindak lanjut atas pembentukan Kabupaten Polewali Mandar, maka diadakanlah pembenahan berupa pengaturan dan penyempurnaan aparat kelengkapan sebagai sebuah Daerah Tingkat II. Pada tanggal 20 Februari 1960, pemerintah menunjuk dan melantik Andi Hasan Mangga sebagai bupati pertama Kabupaten Polewali Mamasa, sekaligus serah terima jabatan dari bekas Residen Afdeling Mandar, Mattotorang Dg.


SEJARAH - 26

Batu (yang ditunjuk) di Situs Allamungan Batu di Luyo.

Massikki. Sampai saat ini (2011), Kabupaten Polewali Mamasa untuk kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Polewali Mandar telah mengalami pergantian bupati Mereka adalah H. Andi Hasan Mangga (1960-1966), Letkol H. Abdullah Madjid (1966-1979), Drs. A. Samad Syuaib (Pjs, 1979-1980), Kol. Purn. S. Mengga (1980-1990, dua periode), Drs. H. Andi Kube Dauda (1990-1995), Drs. H. Tajuddin Noer (Pjs, 1995-1996), Kol. H. A. Saad Pasilong (1995-1998, wafat sebelum masa jabatan selesai), Kol. H. Hasyim Manggabarani (1998-2003), Drs. H. Syahrul Saharuddin, MS (Pjs, 2003-2004).

Berikutnya, dalam proses pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, bupati dijabat oleh Drs. Ali Baal Masdar, M. Si. (2004-2008), H. Mujirin M. Yamin, SE, MS. (Pjs, 2008), Drs. H. Ali Baal Masdar, M. Si. (2008-2014). Sewaktu masih disebut Polewali Mamasa, kabupaten ini terdiri atas sembilan kecamatan, yaitu: Polewali, Wonomulyo, Campalagian, Tinambung, Tutallu, Sumarorong, Mamasa, Mambi dan Pana; dan lima perwakilan, yakni Binuang, Tapango, Mapilli, Luyo, dan Balanipa. Kemudian Mamasa menjadi kabupaten tersendiri, yakni penggabungan atas Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Mambi dan Pana. Setelah menjadi Kabupaten Polewali Mandar, kecamatan di Polewali Mandar antara lain adalah Tinambung, Balanipa, Limboro, Tubbi Taramanu, Alu, Campalagian, Luyo, Wonomulyo, Mapilli, Tapango, Matakali, Polewali, Binuang, Anreapi, Matangnga, dan Bulo. Pada Tahun 2008 penduduk Kabupaten Polewali Mandar berjumlah 371.420 jiwa, merupakan kabupaten paling banyak penduduknya di Provinsi Sulawesi Barat. Jumlah penduduk tersebut terbagi dalam 79.768 rumah tangga. Kecamatan Campalagian merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbesar, yaitu 49.400 jiwa (13,37 %) sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Matangnga, 4.761 jiwa (1,32 %). Kepadatan penduduk rata-rata di Polewali Mandar sebesar 178 jiwa per km2[.]

SEJARAH SEJARAH - 27

Monumen Situs Allamungan Batu di Luyo.


SEJARAH - 28

POTENSI - 29

Ikan “penja”, salah satu hasil tangkapan nelayan tradisional di Polewali Mandar, khususnya di muara Sungai Mandar dan Sungai Maloso (Mapilli)

Potensi Polewali, ibukota Kabupaten Polewali Mandar terletak kurang lebih 199 km dari Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat atau 230 km dari Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kabupaten Polewali Mandar sekitar 2.090,05 (12,30%) atau keempat terluas dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat. Terdiri atas 16 kecamatan dengan 109 desa dan 23 kelurahan, 509 dusun dan 107 lingkungan. Adapun garis panjang pantainya sekitar 80 km atau terpendek dari tiga kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki pantai. Meski demikian, Kabupaten Polewali Mandar merupakan kabupaten yang paling banyak nelayannya. Polewali Mandar berada dua derajat di bawah garis khatulistiwa, tepatnya 2o 40’ 00” - 3o 32’ 00” LU sedangkan dari timur ke barat berada pada bujur 118o 40’ 27” 119o 32’ 27” BT. Rata-rata suhu di kawasan tersebut berkisar 31 hingga 37 derajat Celcius, khususnya di kawasan pantai. Pada bulan November – Maret kondisi lingkungan

perairan yang terjadi di pesisir Teluk Mandar secara umum arah angin bertiup dari arah barat dengan kekuatan sedang sampai kuat dengan hujan lebat yang puncaknya terjadi pada Desember hingga Januari. Angin dan gelombang berkekuatan lemah terjadi pada perairan pantai bahagian barat, yang meliputi wilayah pantai mulai dari Kecamatan Campalagian sampai Kecamatan Tinambung, karena terlindung dari daratan Majene. Berbeda dengan perairan pantai bagian timur, yang meliputi Kecamatan Polewali dan Wonomulyo kekuatan angin dan gelombangnya lebih keras. Pada bulan April – Oktober kondisi perairan yang umum terjadi: angin bersifat kering dan panas, datangnya dari arah timur dengan kekuatan sedang, angin ini disebut juga angin timur. Walau demikian, hujan biasa terjadi pada Mei dan Juni. Gelombang yang terjadi pada musim tersebut untuk wilayah pantai barat agak besar sedang di pantai timur lebih tenang. Kabupaten Polewali Mandar secara


POTENSI - 30 geografis terletak di antara bagian barat laut perbukitan Quarles dengan Selat Makassar (Teluk Mandar). Sedangkan secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Mamasa di utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang di timur, perairan Kabupaten Pinrang di selatan, dan Kabupaten Majene di bagian barat.

Pangan Kabupaten Polewali Mandar merupakan salah satu daerah penghasil tanaman pangan di Propinsi Sulawesi Barat. Produksi padi Kabupaten Polman tahun 2007 sebesar 208.848,00 ton yang dipanen dari areal seluas 31.250 ha atau rata-rata 6,68 ton per hektar yang berarti naik sekitar 8,08 persen dibandingkan dengan tahun 2006, yang menghasilkan 193.231,00 ton padi dengan luas panen 30.276 ha atau rata-rata produksi 6,338

POTENSI - 31

ton per hektar. Sebagian besar produksi padi di Kabupaten Polewali Mandar dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 97,66 persen dari seluruh produksi padi atau sebesar 203.968,00 ton. Sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung Kabupaten Polman pada tahun 2007 sebesar 6.394 ton dengan luas panen 2.003 ha atau menghasilkan ratarata 3,19 ton/ha.

Perkebunan Luas areal tanaman perkebunan rakyat di Polewali Mandar secara keseluruhan sebesar 81.804,51 Ha, dari luas ini sebesar 63.668,70 Ha merupakan luas tanaman perkebunan rakyat yang menghasilkan. Produksi tanaman perkebunan di kabupaten Polman selama tahun 2007 yang terbesar produksinya

Bawang “lasuna mandar�, tanaman yang dibudidayakan di tanah miskin hara di perbukitan pesisir Teluk Mandar.

Kambing adalah hewan yang paling banyak dipelihara di Polewali Mandar, setelah unggas.

adalah tanaman kakao dan kelapa dalam masing-masing sebesar 30.364,51 ton dan 20.170,50 ton.

Kehutanan Kawasan hutan di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2007 seluas 121.490 ha yang terdiri dari 77.550 ha hutan lindung, 43.040 ha hutan produksi dan 900 ha merupakan cagar alam. Produksi hasil hutan terdiri dari kayu dan non kayu (seperti rotan). Produksi hutan Kabupaten Polman pada tahun 2007 yang berupa kayu sebesar 2.851,713 kubik. Hasil lainnya yakni rotan sebesar 635,98 ton. Peternakan Iklim Polewali Mandar cocok untuk budidaya ternak besar, seperti sapi, kerbau dan kuda. Populasi ternak besar yang terdiri dari sapi, kerbau dan kuda pada tahun 2007 secara berturut-turut adalah 30.365 ekor, 3.808 ekor dan 5.877 ekor.

Sedangkan untuk populasi ternak kecil yang terdiri dari kambing sebesar 159.380 ekor dan babi sebesar 15.889 ekor. Baik populasi ternak besar maupun kecil semuanya mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2006). Untuk populasi unggas pada tahun 2007, ayam buras berjumlah 3.415.595 ekor, ayam ras petelur sebesar 26.584 ekor, ayam ras pedaging 73.180 ekor dan itik sebesar 1.718.105 ekor.

Perikanan Selain kawasan daratan dan pegunungan, Kabupaten Polewali Mandar juga merupakan daerah yang berada di kawasan maritim. Dengan garis pantai sepanjang kurang-lebih 80 kilometer dan dengan luas perairan 86.921 km2, masyarakat pesisir Polewali Mandar telah menciptakan kebudayaan bahari yang sangat khas. Salah satu upaya


Areal persawahan di Wonomulyo

Armada kuda yang akan menjemput hasil panen. Lokasi Kecamatan Luyo

POTENSI - 32 POTENSI - 33


POTENSI - 34 pemanfaatan perairan Mandar adalah aktifitas para nelayan dalam menangkap ikan atau membudidayakan potensi laut lainnya. Selain hasil tangkapan nelayan tradisional Mandar (ikan tuna, cakalang, tongkol), ikan juga dibudidayakan dengan sistem pertambakan (bandeng dan udang). Dengan demikian, potensi perikanan Kabupaten Polewali Mandar (laut maupun tambak) sangat besar. Data dari dinas terkait di Polewali Mandar menunjukkan bahwa produksi perikanan Kabupaten Polman pada tahun 2007 tercatat 27.278,70 ton, yang terdiri dari 23.770,10 ton produksi perikanan laut dan 3.508,60 ton perikanan darat. Produksi perikanan ini mengalami peningkatan sebesar 1,05 persen dibanding tahun 2006. Jumlah perahu/ kapal penangkap ikan secara keseluruhan mengalami penurunan dari 2.425 unit menjadi 2.160 unit. Yaitu masingmasing perahu/kapal penangkap ikan tak bermotor berkurang 250 unit, motor tempel berkurang 33 unit dan hanya kapal motor yang bertambah 18 unit, sehingga secara keseluruhan berkurang 265 unit.

Industri Komoditi andalan Kabupaten Polewali Mandar adalah minyak goreng, sutera, kapal rakyat, dan rotan. Perusahaan industri kecil di kabupaten Polewali Mandar tercatat sebanyak 6.440 industri dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 12.901 orang. Jumlah perusahaan industri kecil ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2006 dimana tercatat sebanyak 6.291

industri, begitu juga dengan jumlah tenaga kerja mengalami peningkatan dimana tahun 2006 jumlah tenaga kerja adalah 12.559 orang. Untuk nilai investasi dan nilai produksi industri kecil mengalami peningkatan. Nilai investasi di tahun 2006 sebesar Rp. 15.742.000,- menjadi Rp. 16.501.100,- di tahun 2007, atau meningkat sebesar 4,82%. Sedang untuk nilai produksi di tahun 2006 sebesar Rp. 78.273.600,- menjadi Rp. 82.746.400,ditahun 2007 atau meningkat sebesar 5,71%. Secara keseluruhan ada 87 sentra industri kecil dari 24 jenis sentra industri di Kabupaten Polman. Pertambangan dan energi Komoditi pertambangan andalan Kabupaten Polewali mandar terdiri dari tambang galian golongan C yaitu tembaga, biji besi, granit dan sienit, mika, lempung, pasir kuarsa dan zeolit. Sementara data dari Perusahaan Air Minum Daerah Kabupaten Polman bahwa sampai dengan akhir tahun 2007, diketahui bahwa jumlah pelanggan PDAM Kabupaten Polman sebanyak 6.671 pelanggan, dengan jumlah total air yang disalurkan sepanjang tahun 2007 sebanyak 1.112.469 m3. Dari 1.112.469 m3 air yang disalurkan sepanjang tahun 2007 oleh PDAM, sebagian besar disalurkan pada kategori kelompok II. Kelompok II adalah klasifikasi untuk Rumah Sangat Sederhana, Panti Asuhan, Yayasan Sosial, Sekolah Negeri, Rumah Sakit Pemerintah, Instansi Pemerintah dan ABRI Tingkat Kecamatan & Kelurahan. Air yang disalurkan sepanjang tahun

POTENSI - 35

Kegiatan penambangan di Sekka-sekka.

2007 untuk kelompok ini adalah sebesar 974.663 m3. Pada tahun 2007 terdapat 48.074 pelanggan listrik PLN di Kabupaten Polman. Sebagian besar pelanggan PLN adalah dari golongan Rumah Tangga dengan Daya 450 VA s/d 2.200 KVA, yaitu sebanyak 45.274 pelanggan, sisanya adalah Badan-badan Sosial, Bisnis, Kantor Pemerintah, Industri dan rumah tangga lainnya. Sepanjang tahun 2007 PLN telah berhasil menjual sebanyak 42.531.818 KWH dengan nilai sebesar Rp. 24.870.681.885,-.

Perdagangan dan Koperasi Jumlah perusahaan yang memperoleh surat izin usaha perdagangan selama tahun 2007 sebanyak 377 perusahaan perdagangan, yang terdiri dari 314 perdagangan kecil , 51 perdagangan

menengah dan 12 perdagangan besar. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2005 yang mana sebanyak 294 perusahaan yang memperoleh izin usaha atau meningkat sebesar 28,23 %. Sedangkan jumlah perusahaan yang memperoleh tanda daftar perusahaan sesuai dengan UU No.3 tahun 1982 di Kabupaten Polman selama tahun 2007 ada 377 perusahaan, jumlah ini juga meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 337 perusahaan (meningkat sebesar 11,87 %). Jumlah koperasi di Kabupaten Polman pada tahun 2007 sebanyak 185 koperasi yang terdiri dari 167 koperasi non KUD dan 18 koperasi KUD.Secara keseluruhan jumlah koperasi di tahun 2007 mengalami peningkatan jika dibanding tahun 2006, begitu pula dengan jumlah anggota dan simpanannya. Perhubungan Jalan merupakan prasarana angkutan darat yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Usaha pembangunan yang meningkat menuntut adanya sarana transportasi untuk menunjang mobilitas penduduk dan kelancaran distribusi barang dari dan kesatu daerah. Panjang jalan yang ada di Kabupaten Polman pada tahun 2007 sepanjang 1.460,00 Km. Panjang jalan ini bertambah sepanjang 90,00 km dari tahun sebelummya. Sedangkan untuk jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Polman pada tahun 2007 sebanyak 33.196 unit kendaraan atau meningkat sebesar 62,45% dibanding tahun 2006 yang ada sebanyak 20.435 unit kendaraan bermotor.


POTENSI - 36

Sarana transportasi di Kepulauan Tonyamang di Teluk Polewali

772 ton atau sekitar 9,31% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk jumlah muat barang juga megalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 jumlah muat barang adalah sebesar 166 ton, dibanding sepanjang tahun 2006 jumlah muat barang sebesar 107 ton, atau menurun sebanyak 59 ton ( naik sekitar 55,14%). Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa barang yang dibongkar jauh lebih besar atau jauh lebih banyak dibanding barang yang dimuat.

Telematika Jumlah fasilitas pelayanan pos di Kabupaten Polman hingga tahun 2007 tercatat sebanyak 4 kantor pos. Sementara jumlah surat yang dikirim di dalam negeri melalui kantor pos sebanyak 60.418 buah yang mana sebagian besar menggunakan fasilitas kilat yaitu sebesar 27.561 buah kemudian sebesar 17.171 buah melalui fasilitas biasa dan sisanya adalah fasilitas

tercatat dan kilat tercatat. Sedangkan untuk surat masuk yang diterima selama tahun 2007 tercatat sebesar 79.122 buah yang terdiri dari dari 29.020 buah fasilitas biasa, 32.740 buah fasilitas kilat dan sisanya fasilitas tercatat dan kilat tercatat. Untuk pengiriman paket dalam negeri tercatat 536 potong sedangkan jumlah paket yang masuk sebanyak 4.370 potong. Pengiriman paket luar negeri yang dikirim 75 paket dan yang diterima 43 paket. Pengiriman wesel dalam negeri pada tahun 2007 yang melalui Kantor Pos di Kabupaten Polman sebesar Rp. 786.962.000,- sedangkan wesel yang diterima Rp. 1.085.800.000,- . Untuk pengiriman wesel keluar negeri sepanjang tahun 2007 tidak ada. Tetapi penerimaan wesel dari luar negeri sebesar Sumber foto: Dokumentasi DISHUBKOMINFO Polman

Kendaraan motor tersebut terdiri dari 1.844 unit mobil penumpang, 1.797 unit mobil truk, 221 unit mobil bus dan yang merupakan jumlah terbesar adalah sepeda motor dengan jumlah 29.334 unit. Sepanjang tahun 2007 banyaknya kunjungan kapal di Kabupaten Polewali Mandar sebesar 600 kunjungan yang kesemuanya adalah merupakan pelayaran rakyat. Jika dilihat dari banyaknya kunjungan, maka banyaknya kunjungan kapal sepanjang tahun 2007 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2006 yang berjumlah 324 kunjungan. Begitu juga dengan lalu lintas bongkar muat barang mengalami peningkatan. Jumlah bongkar barang sepanjang tahun 2007 (yang semuanya berasal dari pelayaran rakyat) adalah sebesar 9.062 ton. Jumlah bongkar barang ini mengingkat jika dibanding tahun 2006 yang mana sebesar 8.290 ton atau menurun sebesar

POTENSI - 37

Salah satu kegiatan Dishubkominfo Polewali Mandar, yaitu sosialisasi internet bagi siswa sekolah dasar

Rp.25.096.284,Pemanfaatan sarana telekomunikasi khususnya telepon menunjukkan penurunan hal ini dapat dilihat dari penurunan jumlah pelanggan. Jumlah pelanggan telepon di Kabupaten Polewali Mandar pada akhir tahun 2007 sebanyak 2.050 pelanggan, Menurun dibanding akhir tahun 2006 yang berjumlah 2.643 pelanggan. Untukdenganprasaranatelekomunikasi lainnya di Kabupaten Polman yaitu wartel mengalami penambahan dari akhir tahun 2006 yang jumlahnya 10 unit pada akhir tahun 2007 menjadi 12 unit wartel. Sepanjang tahun 2007 ada 5 spesial servis dan tidak terdapat telepon umum. Sementara untuk sarana telekomunikasi dan informatika mengalami perkembangan pesat. Berdasarkan data pada Dinas PerhubunganKomunikasidanInformatika Kabupaten Polewali Mandar sampai dengan bulan Oktober 2009 jumlah Warung Internet (Warnet) yang ada di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 17 unit yang tersebar di kecamatan Polewali dan Wonomulyo. Sebagian diataranya telah berizin dan sebagian besar dalam tahap pengurusan. Perkembangan ini dipacu sejak PT Telkom meluncurkankan paket internet melalui program Telkomnet Speedy. Di samping itu perkembangan usaha cafeteria yang menyediakan fasilitas internet gratis (area hotspot) juga mengalami peningkatan. Sampai dengan bulan Oktober 2009 jumlah cafenet di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 5 unit [.]


Atas dan bawah: Bendungan Sekka-sekka, Kecamatan Wonomulyo

POTENSI - 38 POTENSI - 39


POTENSI - 40

Pemandangan bawah laut Pantai Palippis, Kecamatan Balanipa

PARIWISATA - 41

Pariwisata Polewali Mandar memiliki potensi pariwisata yang besar dibandingkan daerah lainnya di Sulawesi Barat. Kabupaten di Sulawesi Barat yang paling banyak didatangi turis mancanegara adalah Kabupaten Polewali Mandar, mulai dari even Sandeq Race, tradisi “saeyyang pattuqdu”, hingga wisata fauna.

Wisata Alam Wisata bahari terdiri dari pemandangan pulau-pulau kecil, bentang alam, dan keindahan bawah air. Untuk pulau-pulau kecil terletak di Kecamatan Binuang, tepatnya di Teluk Polewali atau Kepulauan Tonyamang, yaitu Pulau Sappoang, Pulau Gusung Toraya, Pulau Battoa, Pulau Panampeang, Pulau Karamasang, Pulau Dea-dea, Pulau Landea, dan Pulau Tosalama’ (sebab di situ ada makam penyebar Islam di Mandar). Untuk pemandangan bentang alam (seascape) antara lain Pantai Bahari di Polewali, Pantai Mampie Kecamatan Wonomulyo, dan Pantai Palippis, Kecamatan Balanipa. Khusus Pantai Mampie, selain pemandangan alam,

di sana juga terdapat komunitas hutan mangrove terbesar di Polewali Mandar Sedangkan pemandangan bawah air atau keindahan terumbu karang, bisa ditemukan di Kepulauan Tonyamang dan di Pantai Palippis. Untuk menikmatinya, selain dengan menyelam bisa juga dengan snorkling. Untuk wisata di daratan tinggi, yakni air terjun Indo Ranoang dan permandian Limbong di Kunyi, Kecamatan Anreapi. Ada juga air terjun Limbong Miala dan Limbong Kamandang terletak di Desa Kurrak kecamatan Tapango. Selain itu, wisata pemandian juga terdapat di Dusun Biru, Kecamatan Binuang. Di kawasan yang sama terdapat Rawa Bangun. Semacam agrowisata (khususnya durian dan langsat), bisa sebagai tempat memancing, tempat pertemuan yang berada di lingkungan alami, dan untuk makan (wisata kuliner). Pemandangan di kawasan Kelapa Dua atau jalan yang menghubungkan Polewali – Anreapi hingga ke perbatasan Kabupaten Polewali Mandar dengan Kabupaten


Bentang kota Polewali tampak dari Pulau Gusung Toraja

Persawahan di Pappandangan, Kecamatan Anreapi

PARIWISATA - 43

Kota Polewali tampak dari Pulau Toraja

PARIWISATA - 42


PARIWISATA - 44

PARIWISATA - 45

Aksi “pallake” (penari tarian “lake”). “Lake” berarti tanduk

Mamasa juga tak kalah indahnya. Di beberapa titik dapat disaksikan keindahan bentang alam Kota Polewali dan pulaupulau kecil disekitarnya, Tanjung Mampie, dan lahan persawahan. Pada musim-musim tertentu, di tempat tersebut banyak ditemukan penjual buahbuahan, seperti durian, langsat, markisa, advokat, dan sayur-sayuran. Jadi bisa dijadikan sebagai wisata agroforestri. Selain itu, Bendungan Sekka-Sekka, yang membendung Sungai Mapilli, juga bisa dijadikan daerah tujuan wisata. Bendungan ini terletak di Kecamatan Wonomulyo. Fungsi utama bendungan tersebut sebagai sumber air untuk pertanian di Polewali Mandar.

Wisata Situs Selain obyek wisata alam, juga ada wisata situs-situs bersejarah. Tempattempat bersejarah yang ada di Polewali Mandar antara lain “Bala Tau” (arena bertarung) di Tammejarra, Desa Balanipa. Disekitarnya juga terdapat makam maraqdia Balanipa, Tomepayung. Tak jauh dari Tammejarra, ada Napo. Di Napo terletak makam maraqdia pertama Balanipa, yaitu Todilaling. Letak makam di bawah pohon beringin, di atas puncak bukit. Kecamatan Luyo memiliki situs “Allamungan Batu di Luyo”, berupa komplek monumen. Sayangnya, pembangunan monumem merusak situs asli tempat batu ditanam. Makam-makam ulama, penyebar Islam di Mandar tersebar di beberapa tempat, seperti di Lambanang, Kec. Balanipa, yang mana juga terdapat

mesjid pertama di Mandar; di Lapeo, Kec. Campalagian terdapat makam Imam Lapeo, di P. Tosalamaq, Teluk Polewali, Kec. Binuang juga terdapat penyebar Islam. Situs bersejarah lainnya seperti makam Ammana Pattolawali di Allu, Kec. Allu, makam maraqdia Balanipa yang pertama masuk Islam di Pallis, situs Laiyya di Kec. Balanipa yang merupakan besar pasar kuno di daerah Mandar, Pelabuhan kuno Balanipa di desa Tangnga-tangnga, Kec. Tinambung, situs bandar kuno Galettoq, di Desa Karama, Kec. Tinambung, kompleks Makam Matindo Ri Salassana di Desa Tammangalle, Kec. Balanipa, Situs Makam Galeso di Desa Galeso Kec. Wonomulyo, situs Makam Kajuara di Desa Nepo-Galeso Kec. Wonomulyo, situs Makam Palaliko (Tuan Lang Ara) di Pantai Palippis, Desa Bala Kec. Bala, situs Makam Puang Towarani di Desa Tandung Kec. Tinambung, situs Makam To Makaka Allung (Tuan Belopadang) di Dusun Sampoang, Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, situs Batulaya di kampung Pabbanuang, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat. Kerajinan Pada aspek kerajinan (handycraft) Polewali Mandar sesungguhnya sangat potensial, sehingga sangat perlu untuk dikembangkan. Diantara kerajinan yang dapat diandalkan adalah sarung sutera Mandar (lipaq saqbe), anyaman, sulaman, dan cindera mata kerang-kerangan. Kerajinan lain berupa miniatur perahu sandeq. Meski belum ada sentra khusus pembuatan miniatur ini, untuk menemukan


PARIWISATA - 46

Kegiatan pembuatan tali di Dusun Lambe, Desa Karama, Kecamatan Tinambung.

atau memesannya bisa dilakukan di Desa Pambusuang (Kec. Balanipa) dan Desa Karama (Kec. Tinambung). Aktivitas pembuatan tali daur ulang di Dusun Lambe, Desa Karama (Kec. Tinambung) juga bisa dijadikan daerah tujuan wisata. Di sana memperlihatkan suasana masyarakat, khususnya kaum wanita, yang mengurai tali, memutar pintalan, dan mengatur tali. Di beberapa tempat, dapat disaksikan pembuatan tali dari serat alam, yaitu “bulu” dari pohon enau.

Wisata Kuliner Mandar salah satu suku di Nusantara yang memilik kekhasan kuliner. Yang paling terkenal adalah jepa. Merupakan makanan yang paling unik di Mandar.

Dibuat dari dari ubi kayu parut yang airnya telah dibuang, sebab bersifat racun. Jadi bisa diistilahkan, ampas-lah yang diolah. Untuk membuang cairan di ubi kayu, prosesnya sebagai berikut: ubi dikupas untuk kemudian diparut dengan cara manual, bukan mesin. Tujuannya, meski itu repot, agar halus. Hasil parutan dimasukkan ke dalam kain untuk kemudian dibungkus. Bungkusan lalu diperas dengan cara menjepitnya di penjepit ‘raksasa’, yang terbuat dari kayu. Istilahnya “pangepeq”. Ditekan beberapa lama sampai tak ada lagi cairan yang menetes. Untukmengenali“pangepeq”gampang saja. Biasa terdapat di kolong rumah. Ada dua bagian. Bagian pertama berupa balok kayu besar setinggi satu setengah meter. Bagian tengah terdapat semacam cabang sebagai tempat meletakkan bungkusan yang akan diperas. Ujung cabang ini mengarah ke bawah, meruncing, untuk memudahkan tirisan air dari bungkusan mengalir. Bagian atas cabang terdapat lubang, tempat memasukkan balok kayu panjang yang berperan sebagai tuas. Nah, ketika bungkusan telah berada di atas cabang di bawah tuas, ujung tuas ditarik ke bawah. Ditekan sekuat mungkin. Sebagai pemberat, bisa dengan mendudukinya atau keatasnya diletakkan batu-batu besar. Anak kecil paling suka membantu proses ini. Selanjutnya, bungkusan dibuka untuk menguraikan ampas. Setelah terurai dengan baik, dicampur dengan kelapa yang telah diparut. Bahan ini kemudian dipanggang dengan menggunakan dua

PARIWISATA - 47

Pembuatan makanan “jepa”.

piring batu yang terbuat daru tanah liat. Ada derivasi “jepa”, yaitu “jepa-jepa”. Makanan ini logistik terkenal di kalangan pelaut Mandar tempo dulu. Sekarang tak banyak lagi sebab beras telah menjadi bahan makanan dominan. “Jepa” yang selesai dibakar dikeringkan layaknya pakaian jemuran. Bedanya dengan “jepa” yang bisa langsung dikonsumsi, “jepa” yang akan dibuat “jepa-jepa” dibuat lebih tipis dan lebar. Agar memudahkan proses menjemurnya. Setelah kering, “jepa” tersebut dihancurkan. Maka disebutlah dia “jepa-jepa”. Makanan dari Mandar yang lain seperti “golla kambu”, kue basah tradisional. Bahan: Manisan (air aren yang dipanaskan dalam proses pembuatan gula merah) secukupnya, beras ketan 1 liter, kelapa parut dari kelapa agak muda 4 buah. Cara membuat: Beras ketan dicuci dan direndam setengah hari, dikukus, kalau telah masak diangkat. Manisan dipanaskan, masukkan kelapa yang telah diparut/dikukur. Kalau telah kental

diangkat (agak kering). Sesendok demi sesendok dibungkus dengan daun pisang kering. “Golla kambu” banyak dijual di Campalagian, yang bisa menjadi oleholeh. Di beberapa titik perkampungan di Polewali Mandar bisa didapati pembuat dan penjual makanan atau kue-kue tradisional, seperti “putu karoroq” di sisi barat Jembatan Tinambung. “Putu karoroq” terbuat dari tepung beras dan gula merah. Bentuknya bundar, cembung di salah satu sisi. Juga ada kue yang disebut “Putu manyang”. Terbuat dari tepung beras 2/3 gelas, tepung singkong (tepung beras ketan), air dingn 1 gelas, dan daun pandan. Cara membuat: Tepung beras dicampur dengan sebagian air, diaduk, dimasak sampai kental dan setengah matang. Tepung singkong dengan air yang sisa dituang ke dalam bubur yang setengah matang itu sambil diaduk sampai rata (tidak di atas api). Diberi warna hijau dengan cara daun pandan yang diiris lalu


PARIWISATA - 48

PARIWISATA - 49 minyak kelapa dalam bahasa Mandar disebut “minnaq anjoro”

ditumbuk, diberi air sedikit dan ditapis/ disaring. Adonan dimasukkan ke dalam cetakan putu manyang lalu dicetak di atas daun pisang. Dibikin agak bundar. Dikukus sampai matang. Dihidangkan dalam piring cekung kecil diberi kelapa parut di atasnya, dan kuah dari gula jawa yang telah disaring. Selain itu, ada juga “jeppe-jeppel”, terbuat dari tepung pulut yang baru ditumbuk, gula merah, dan kelapa parut. Cara membuat: Tepung diberi air dan diaduk. Kalau telah agak kental, adonan dibuat kue yang bentuknya agak bundar telur atau bundar saja. Masak air sampai mendidih, kue-kue dimasukan ke dalamnya. Apabila kue telah mengapung, angkat dan taruh di atas kelapa parut sehingga rata dengan kelapa. Ditaruh di atas piring, diberi gula yang telah masak dan disaring. Kue jenis lain yang biasa dihidangkan di upacara-upacara keagamaan atau syukuran seperti “cucur”, terbuat dari tepung beras dan gula merah. Cara membuat: tepung beras dan gula merah dijadikan adonan. Adonan itu digoreng di dalam minyak kelapa yang mendidih. Ada juga “cucur talloq” yang bahannya telur ayam 20 buah (hanya kuningnya), tepung beras yang telah disangang 2,5 sendok, dan gula pasir 2 liter. Cara membuat: Kuning telur dikocok (jangan terlalu lama) dicampur dengan tepung. Gula dimasak di dalam panci (jangan sampai kental). Setelah mendidih “dicuci” dulu putih telur. Masukkan acuan cucur talloq lalu sesendok demi sesendok adonan itu di masukkan ke dalam acuan. Kalau telah masak keluarkan, ditaruh dalam panci.

“Gogos”.

Masih banyak yang lain, seperti “Buqubuqus”, “balundakeq”, “bua sappang”, “onde-onde”, “talloq panynyu”, “karaqkaras”, “acuang”, “taripang”, “pasoq”, “kuiq-kuiq”, “putu callaq”, “ranggina”, “baruas”, dan lain-lain. Adapun makanan yang biasa menjadi lauk, seperti “loka anjoroi” (serbuk kelapa yang digoreng, dicampur dengan cabai” dan “bau peapi” (ikan berkuah). Untuk pengganti makanan berat (nasi), ada juga makanan yang terbuat dari pisang, seperti “loka anjoroi” (pisang yang disantai). Juga ada “gogos”, makanan yang terbuat dari beras pulut dibungkus daun pisang lalu dipanggang. Bagian dalam “gogos” ada serbuk ikan yang disebut “kambu”. Wisata kuliner “gogos” bisa ditemukan setiap sore di Camba-camba, Kecamatan Limboro. Untuk pagi hari, ada dijual di Pasar Tinambung[.]


PARIWISATA - 50

BUDAYA - 51

Anak laut dari Desa Tangnga-tangnga, Kecamatan Tinambung.

Budaya Kebudayaan adalah keseluruhan sistem dan gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Secara universal atau bisa ditemukan di semua bentuk kebudayaan manusia di muka bumi, ada tujuh unsur kebudayaan yang ada pada tiap kebudayaan dunia, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Bisa dikatakan, pusat-pusat perkembangan kebudayaan Mandar berada di Kabupaten Polewali Mandar, khususnya bekas wilayah Kerajaan Balanipa lampau, yaitu Kecamatan Tinambung, Kecamatan Limboro, Kecamatan Alu, Kecamatan Balanipa, Kecamatan Tutar, dan sekitarnya.

Bahasa Dalam buku “Languanges of South Sulawesi” terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa setidaknya beberapa bahasa yang digunakan di kawasan Sulawesi Barat sekarang ini. Mereka tergolong ke dalam beberapa kelompok

besar, yaitu Bahasa Mandar, Bahasa Mamuju, Bahasa Pitu Ulunna Salu, Bahasa Pattae’, dan bahasa yang masuk sub-famili Bahasa Toraja-Sa’dan. Kawasan Kabupaten Polewali Mandar, bahasa setempat yang digunakan adalah Bahasa Mandar dialek Balanipa (Kec. Tinambung, Kec. Balanipa, Kec. Limboro, Kec. Alu, Kec. Tu’bi Taramanu, Kec. Luyo, Kec. Campalagian, Kec. Wonomulyo, Kec. Polewali, Kec. Binuang), Bahasa Pitu Ulunna Salu dialek Tapango dan dialek Ulunda (Kec. Tapango dan sekitarnya), Bahasa Pattae’ dialek Binuang, dialek Paku, dialek Batetanga, dan dialek Anreapi di Kec. Polewali, Kec. Binuang dan sekitarnya. Dialek yang paling banyak penggunanya adalah dialek Balanipa yaitu ujaran-ujaran, bahasa atau logat bahasa Mandar yang dipakai oleh rakyat/ penduduk di daerah Balanipa. Berpusat di Kec. Tinambung Kec. Limboro, dan Kec. Balanipa dengan varian-varian seperti Lapeo, Pambusuang, Karama, Napo, Tandung, dan Toda-todang. Dalam varian toda-todang dialek Balanipa terjadi telosasi atau uvularisasi bunyi [r], misalnya: barras


BUDAYA - 52 tersendiri dibanding Bahasa Makassar, Bugis, dan Tator. Yang paling menonjol adalah dasar ucapan (bunyi) pada hurufhuruf b, d, j, g. Bila huruf tersebut diapit dengan huruf vokal maka terjadi variasi bunyi yang beralofon v, dz, jy, dan gh seperti pada kata “pebamba”, “dada”, “bija”, “magara” yang berturut-turut menjadi “pevamba”, “dazda”, “bijya”, dan “maghara”.

Naskah lontar yang ditranskrip ke dalam kertas modern

[bahhas] ‘beras’, anjoro [anjoho] ‘kelapa’, kaqdaro [kaqdaho] ‘tempurung’). Bahasa-bahasa di atas tidak kaku berdasar pada teritorial atau geografisnya dengan pembatasan administrasi pemerintahan dewasa ini. Sebab telah terjadi asimilisasi antar sesama penduduk yang beragam bahasa ibunya. Khusus di Kec. Campalagian, sekelompok masyarakat menggunakan turunan Bahasa Bugis. Demikian juga di Kec. Wonomulyo, sebagian masyarakatnya menggunakan Bahasa Jawa. Sebab pada tahun 1930-an Wonomulyo adalah salah satu tujuan program kolonisasi Pemerintah Hindia Belanda. Yang mana puluhan kepala keluarga dari Jawa dimukimkan di daerah yang sekarang ini disebut Kec. Wonomulyo. Menurut pakar Bahasa Mandar, Abdul Muthalib, Bahasa Mandar memiliki ciri

Ilmu Pengetahuan Secara harafiah, ilmu pengetahuan dalam Bahasa Mandar diistilakan “paqissangang”. Tapi kata tersebut lebih sering dimaknai guna-guna (mistik) dalam keseharian. Sistem pengetahuan manusia Mandar terbagi ke dalam beberapa bagian,

Ritual “manguriq” ketika usia kehamilan pertama memasuki bulan ke delapan

BUDAYA - 53 berdasarkan cabang ilmu pengetahuan tradisional, misalnya ilmu bertani, ilmu melaut, ilmu membuat atau mendirikan rumah, ilmu sebagai dukun baik mengobati orang sakit, menangkal guna-guna maupun sebagai dukun beranak, ilmu silat, dan lain sebagainya. Kadang dibedakan ilmu sebatas kemampuan teknik saja dengan ilmu teknik ditambah kemampuan mistik. Sebagai contoh, seorang tukang rumah bisa saja terlibat dalam pembuatan sebuah rumah, misalnya ahli memahat, memasang tiang dan atap, dan tata cara teknis lainnya. Tapi belum tentu dia bisa memimpin ritual mendirikan rumah. Kemampuan semacam itu kadang dimiliki orang-orang tua. Contoh paling jelas bisa ditemukan di

“Posiq boyang”, tiang agung di rumah Mandar.

kalangan pelaut Mandar. Sistem pengetahuan bagi orang Mandar mencakup pengetahuan tentang kelautan (paqissangang aposasiang), pengetahuan tentang berlayar (paqissangangg sumobal), pengetahuan keperahuan (paqissangangg paqlopiang) dan pengetahuan tentang kegaiban (biasa hanya disebut paqissangang). Pengetahuan kelautan dan pengetahuan pelayaran merupakan hal yang harus ada pada nelayan; pengetahuan tentang perahu secara mendalam (khusus) dimiliki oleh para pande lopi (tukang perahu), namun bagi para nelayan/pelaut dianjurkan untuk memiliki pengetahuan dasar tentang perahu. Hal tersebut sama untuk pengetahuan tentang ilmu gaib, setiap orang berbeda-beda “ketinggian ilmunya”, namun bagi para punggawa perahu diharuskan untuk memiliki paqissangang yang “tinggi”. Dua paqissangang yang terakhir bisa juga dimiliki oleh individu yang bukan pelaut atau nelayan, misalnya sando (dukun), panrita (ulama), dan pande lopi (tukang perahu). Pengkategorian sistem pengetahuan tersebut di atas tidak bisa dilakukan secara ketat karena salah satu bentuk terdapat pada bentuk yang lain. Sebagai contoh, paqissangang tentang ilmu gaib adalah bagian penting dari paqissangang aposasiang. Demikian juga dengan paqissangang paqlopiang, para pande lopi juga harus memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib. Juga antara paqissangang aposasiangdenganpaqissangangsumombal tidak terdapat batas yang jelas. Namun untuk memberi gambaran perbedaannya, paqissangang aposasiang berkisar pada pengetahuan tentang lingkungan laut baik fisik maupun gaib sedangkan paqissangang


BUDAYA - 54

Organisasi Sosial Kebudayaan Mandar juga menganut sistem pelapisal atau stratifikasi sosial, tapi tidak seketat sistem kasta di dalam kebudayaan Bali. Pelapisan sosial masyarakat Mandar kuno terbagi atas dua versi, yaitu sebelum terbentuknya Tomemmaramaraqdia yaitu (1) Bawa Tau (Bangsawan), (2) Tau Samar (Orang Kebanyakan/Biasa), dan (3) Batua (Golongan Budak). Setelah terbentuknya Tomemmaramaraqdia, stratifikasinya sebagai berikut (1) Tomemmaramaraqdia (Kelak menjadi Bangsawan Raja), (2) Bangsawan Hadat/Adat (Kelak menjadi Tau Pia Anaq Pattola), (3) Tau Samar (Orang Kebanyakan/Biasa), dan (4) Batua (Golongan Budak). Saat ini, secara umum pelapisan sosial masyarakat tradisional di Mandar terbagi atas (1) Golongan Bangsawan,

Sumber foto: Koleksi keluarga besar K. H. Djalaluddin

sumombal berkisar pada pengetahuan tentang teknik perahu dan keterampilan, misalnya cara melayarkan perahu. Pewarisan ilmu pengetahuan sering berlangsung di lingkungan keluarga, dari ayah ke anak atau ke keponakan atau cucunya. Khususnya ilmu-ilmu khusus yang kadang dijaga sifat eksklusifitasnya, semisal tukang perahu, ilmu sebagai dukun, dan mantra-mantra khusus. Ada juga ilmu yang disebarkan secara masif, misalnya ilmu beladiri yang dalam Bahasa Mandar ada beberapa istilahnya, seperti “maqmaccaq”, “makkottau”, dan “massilaq”. Demikian juga ilmu-ilmu modern lainnya, seperti membaca dan memahami Al Quran.

BUDAYA - 55

Wanita bangsawan Mandar dengan pakaian adat. Yang tengah juga seragam yang digunakan dalam menari “pattuqduq”. Samping:

(2) Golongan Tau Pia, (3) Golongan Tau Biasa. Meskipun masih bisa dilacak akan moyangnya, golongan Batua tidak digunakan lagi. Yang dimaksud “tau pia” adalah orang pilihan yang berhak menduduki atau memegang jabatan pada lembaga adaq adat’ di dalam kerajaan-kerajaan di Mandar. Disapa dengan sapaan penghormatan Puang. Pembagian/penggolongan tau pia: (1) “Tau pia tongang” atau “tau pia mannassa” (“tau pia” pilihan, asli). Tidak pernah memperhitungkan kadar darah yang dimiliki melalui perhitungan persentase. Perhitungan keturunan tetap pada dasar pertautan perkawinan antara seorang laki-laki yang masih dianggap berdarah asli kaum adaq dengan seorang

wanita yang juga berdarah asli kaum adaq sejak nenek moyang keduanya. Kedua “Tau pia naqe” (tau pia hasil perkawinan antara biya maraqdia ‘turunan raja’, dengan biya adaq ‘turunan pemangku hadat’). Merupakan suatu jenjang yang belum ada kesatuan paham dalam menentukan kriteria perhitungan keturunannya. Adanya perkawinan antara “biya maraqdia” dengan “biya adaq”, maka perhitungan menurut cara pandangan kedua golongan itu berbeda. Di masa silam di Balanipa, amaraqdiang ‘kerajaan’ memiliki beberapa pejabat yang mempunyai garis keturunan tau pia naqe. Memilih jabatan tersebut, seseorang harus menentukan secara tegas pilihannya, sehingga sapaan baginya sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Bila yang bersangkutan memilih jabatan Adaq ‘Hadat’ maka sapaan untuknya adalah Puang. Bila memilih jabatan maraqdia ‘raja’ sapaan baginya adalah Daeng. Ketiga “Tau pia biasa” (tau pia pilihan biasa). Hasil perkawinan ayah yang memiliki darah turunan adaq, kawin dengan seorang ibu yang berdarah biasa yang bukan turunan batua ‘budak’, ataupun sebaliknya. Berhak atas jabatan adaq ‘hadat’ bila lapisan tau pia tongang dan tau pia naqe, tidak dipilih oleh rakyat karena sifat dan kelakuan yang bersangkutan dianggap tidak baik dan tidak pantas atas jabatan adaq tersebut. Sedang “Tau Samar” atau orang biasa/ kebanyakan tidak diperhitungkan kadar darah dalam kehidupan berkeluarga. Banyak terlibat dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, berhasil dalam mengelola kehidupan ekonomi, bertukang, nelayan

dan petani penggarap. Kawin mawin yang terjadi antarjenjang banyak melibatkan lapisan “tau samar” karena mobilitas sosialnya yang tinggi. Banyak berhasil di bidang pendidikan. Sering disebut tau maradeka ‘orang yang bebas merdeka’. Dari aspek politik, posisi (status) seseorang didasarkan pada peran formalnya di lingkungan mereka. Adalah jelas perbedaan antara pejabat, kepala desa, kepala dusun, pegawai negeri (baca PNS) dengan nelayan. Dari segi budaya, seba gaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, dibedakan antara golongan bangsawan dengan yang bukan. Demikian

Mempelai lelaki meniup “sulo” sesaat setelah bertemu mempelai wanita dalam proses pernikahan


BUDAYA - 56 pula dari aspek agama, turut memberi andil kepada seseorang untuk dapat mempunyai fungsi sosial. Contohnya adalah peran ulama di masyarakat nelayan. Adalah suatu kewajiban untuk melibatkan peran seorang ulama (panrita) di dalam kegiatan atau pekerjaan mereka. Misalnya, mulai dari pembuatan perahu, sampai hal-hal lain yang bersifat ritual dan mistik, misalnya kuliwa, meminta berkah, tolaq bala, sampai meminta jimat untuk keselamatan. Yang juga berkaitan dengan aspek agama adalah gelar haji atau simbol bahwa seseorang telah menunaikan Rukun Islam. Orang yang bergelar haji statusnya lebih tinggi dari pada yang bukan haji.

Sistem Kekerabatan Dalam kebudayaan Mandar, hubungan kekerabatan terjadi karena keturunan atau hubungan darah dan perkawinan. Kekerabatan karena keturunan diistilahkan “biya-wiya”, hubungannya vertikal dari moyang sampai cucu. Sedang kekerabatan karena perkawinan biasa disebut “sanganaq”. Terjadi karena ada “tomettambeng liwang” (menikah dengan perempuan di luar garis vertikal) atau “tonipettambengngi” (menikah dengan laki-laki di luar hubungan darah). Hubungan ini bersifat horisontal. Dalam kekerabatan ada beberapa istilah, seperti: “luluareq polong posiq” (saudara kandung) yang kemudian terbagi tiga: “luluareq siola indo amaq” (saudara seibu seayah), “luluareq sanggaq siola diamaq” (hanya seayah), dan “luluareq siola kindoq” (hanya seibu). Untuk sepupu disebut “boyang pissang” (sepupu satu kali) biasa disingkat “kali”,

“boyang pindaqdua” (sepupu dua kali) biasa disingkat “pinduq”, dan “boyang pittallung” (sepupu tiga kali) yang disingkat “pintaq”. Meskipun tidak ada istilah untuk sepupu keempat dan seterusnya, tapi bila diketahui masih ada hubungan darah, masih dihitung sebagai kerabat. Biasa disebut saja “sanganaq”. Istilah lainnya yang berkaitan dengan kekerabatan ialah: bapak (“kamaq”, “amma”, “puaq”), ibu (“kindoq”, “uwwaq”, “cacaq”), kakek-nenek (“kanneq”), bibi (“indonaure”), paman (“amanaure”), cucu (“appo”), istri (“baine”), suami (“muane”), mertua (“pasanang”), menantu (“mittu”), ipar dengan ipar (“lago”), mertua dengan mertua (“baiseng”), berpoligami (“misarue”), ayah tiri (“poroama”), ibu tiri (“poroindo”).

Siriq dan Lokkoq Orang Mandar menegaskan penentuan peran dan status seseorang bertumpu pada nilai “lokkoq” dan “siriq”. Kedua sistem nilai itu mengandung segi positif dalam proses dinamika karena ia berfungsi sebagai filter dan motivator dalam pertumbuhan pembangunan sifat manusia yang luhur. Keluhuran sifat manusia (Balanipa) nilainya tidak hanya bertumpu pada elemen “perruqdusang” (‘asal-usul turunan’) dan “pembuluang” (‘warna’, ‘pelapisan sosial karena darah’) tetapi juga sangat ditentukan oleh “abbatirang” (warisan personalitas yang baik’). Kriteria tersebut di atas merupakan dasar penentu untuk mendapatkan predikat manusia “tomalabbiq” (‘bangsawan’). “Tomalabbiq adaq” dan “tomalabbiq “daeng” yang disapa “puang” dan “daeng”,

BUDAYA - 57

Seorang petani yang mengenakan penutup kepala “passappu”.

merupakan simbol dari “tau tongang” dalam alam nyata dan “tau tonganttoangang” dalam alam ideal. Siriq dan lokkoq adalah ungkapan tradisonal di masyarakat Mandar, yang di Bugis diistilahkan “Siriq dan Pesseq”. Dua kata sinonim. Beberapa pengertian “siriq” (1) harga diri atau kehormatan, contoh dalam kalimat “todiang siriqna” ‘orang yang mempunyai harga diri’, (2) segan atau takut, contoh dalam kalimat “masiriqi mangolo lao di punggawa” ‘ia merasa segan (takut) untuk menghadap kepada atasan’, (3) aib, contoh dalam kalimat “dao pipande siriq” ‘janganlah engkau memberi aib pada kami’, dan (4) malu dalam pengertian umum, contoh dalam kalimat “masiriqi landur lao di tau maiqdi” ‘ia merasa malu melewati orang banyak’. “Siriq” terdiri atas (a) “Siriq litaq, siriq

paqbanua” (‘hilang (malu) martabat negeri, hilang (malu) martabat rakyat’). Perasaan demikian disebut “siriq dipomate” (‘hilang (malu) martabat yang mengakibatkan mati’). Tingkatan ini mengakibatkan adanya sanksi sosial berupa hilangnya martabat diri, (b) “Siriq palulluareang, passanganang, pebijan” (‘hilang (malu) martabat keluarga, hilang (malu) martabat sahabat, dan hilang (malu) martabat sanak famili’). Perasaan demikian disebut “siriq dipomate, siriq diposiriq” (‘hilang (malu) martabat yang mengakibatkan mati, hilang (malu) martabat yang mengakibatkan malu besar’). Tingkatan ini mengakibatkan adanya sanksi sosial berupa hilangnya harga diri dan turunnya harga diri di dalam masyarakat. Akibatnya, selain kematian, juga “mappelei banua” ‘meninggalkan negeri asal’, dan (c) “Siriq alawe” (siriq untuk diri sendiri). Perasaan demikian disebut juga “siriq dipomate, siriq diposiriq” (‘hilang (malu) mengakibatkan mati, hilang (malu) mengakibatkan malu besar, dan malu-malu’). Tingkatan itu menimbulkan sanksi sosial hilangnya martabat diri, turunnya harga diri, dan hilangnya muka di masyarakat. Hal itu mengakibatkan kematian, “mappelei banua”, dan mengucilkan diri dalam waktu yang agak lama. “Siriq” mengandung pengertian harga diri dan nilai diri yang menyangkut masyarakat dan lingkungannya. Dalam pandangan nilai budaya menempati suatu posisi paling penting. Menjaga nilai siriq dalam kehidupan dan penghidupan, seseorang akan terhindar dari cacat-cerca orang lain. Mengandung makna: rasa harga


BUDAYA - 58

“Maqmaccaq”, permainan silat di Desa Oting, Kecamatan Balanipa

diri, tanggung jawab, kejujuran, membela kebenaran, dan menjaga tata krama. Berisi nilai solidaritas, mengandalkan kekuatan sendiri, menepati janji. Mengandung nilai yang tinggi. Pengertian dan makna “lokkoq” tidak persis sama “siriq”. “Lokkoq”, suatu perasaan malu, tapi dalam hubungan dengan sesuatu tindakan, diartikan sebagai ‘hakikat manusia dan harga diri.’ Perasaan itu muncul apabila seseorang merasa malu atau kehilangan harga diri di mata orang lain. “Lokkoq” memberi arti yang berbeda dalam tingkatan perasaan, tergantung pada macam perbuatan yang menimbulkan seseorang merasa “malokkoq” ‘merasa harga diri hilang’. Contoh ungkapan dalam masyarakat

“malokkoqi tau membaliq muaq dibetai maqgol” ‘Kita semua akan malu kembali kalau dikalahkan dalam permainan bola’, “Malokkoq sannaqi tau muaq diang sanganaq andiang ummande” ‘Kita akan malu kalau ada di antara sanak saudara tidak sanggup mencari sesuap nasi’, dan “Lokkoq kaiyyang muaq andiangpai tau massambayang” ‘Malu besar bila kita tidak melakukan salat’. Bahwa Lokkoq dapat diartikan: rasa rendah hati, malu, harga diri, jujur, dan rasa solidaritas. Ungkapan “mesa lokkoq” ‘satu lokkoq’ dan lokkoq kaiyang ‘malu besar’ sering terdengar, akibat suatu perbuatan yang banyak kaitannya dengan berbagai upacara adat dan adat kebiasaan yang menyangkut masyarakat. Aib yang mencoreng muka seseorang karena

BUDAYA - 59 perbuatannya, mencoreng muka semua keluarga, sanak famili, dan bahkan seisi negeri, kalau hal tersebut menyangkut kepentingan umum. “Lokkoq” yang muncul dari perasaan yang sangat mendalam, banyak memberi warna pada tindakan preventif untuk mencegah sesuatu perbuatan tercela. “Lokkoq” terdiri atas (a) “Lokkoq litaq, lokoq paqbanua” ‘Hilangnya (malu) martabat negeri, hilangnya (malu) martabat rakyat’. Sering disebut “lokkoq dipomate” (‘Hilang (malu) martabat mengakibatkan mati’) karena sanksi sosialnya meniadakan martabat dan nilai diri. (b) “Lokkoq pelulluareang, pessanganang, pebijan” (‘Hilang (malu) martabat keluarga, sahabat, dan sanak famili’), disebut “Lokkoq dipomate, lokkoq dipelokkoq” (‘Hilang (malu)

martabat yang diakibatkan malu besar’). Sanksinya bisa mengakibatkan mati, atau “mappelei banua” ‘meninggalkan daerah asal’. (c) “Lokkoq alawe” (‘Hilang (malu) martabat diri sendiri’), disebut “lokkoq dipomate, lokkoq dipolokkoq, malokkoq” (‘hilang martabat yang mengakibatkan mati, hilang (malu) martabat besar, malu-malu’). Mengakibatkan adanya sanksi sosial berupa perasaan hilangnya martabat diri, turunnya harga diri, dan hilangnya muka di mata orang lain, bisa mengakibatkan kematian, juga mappelei banua ‘meninggalkan daerah asal’. Paling ringan mengucilkan diri dalam waktu yang agak lama. “Lokkoq” dan “siriq” banyak mewarnai perbuatan dan tindakan yang muncul di berbagai aspek sosial budaya dari masyarakat. Merupakan nilai utama dan

Nelayan “panjala biring” di Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa


BUDAYA - 60

Beberapa perempuan menghanyut menyusuri Sungai Mandar bersama air minum yang akan mereka jual

terutama. Secara abstrak mengendalikan manusia berbuat baik dan terpuji, pegangan teguh, mencegah berbagai tindakan negatif. “Muaq paqdami lokkoq anna siriq di lalang di alawena mesa rupa tau oloqoloqmo tuqu”, artinya ‘jika lokkoq dan siriq sudah hilang dari dalam diri seseorang, maka hewanlah dia’, dan “Muaq diang dua lokkoq anna siriq di lalang di alawena mesa rupa tau, tau tongang tuqu”, berarti ‘jika masih ada lokkoq dan siriq dalam diri seseorang, maka dia adalah manusia yang sebenarnya’.

Sibaliparriq Peran perempuan Mandar dalam keluarga diwujudkan dalam konsep sibaliparriq, yaitu konsep kerjasama dalam keluarga antara suami dengan isteri. Secara harfiah, sibaliparriq terdiri dari dua kata,

yaitu: sibali (menghadapi) dan parriq (kesusahan, permasalahan). Dengan kata lain sibaliparriq adalah konsep yang berarti suami dan isteri masing-masing adalah subyek dalam menanggulangi bersama permasalahan rumah tangga, baik masalah sosial (merawat dan mendidik anak) sampai masalah ekonomi (keuangan). Berdasarkan anutan nilai budaya sibaliparriq itulah mengapa perempuanperempuan Mandar yang sudah bersuami di dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya tidak dibatasi pada konsep hubungan suami sebagai pekerja dan isteri sebagai penjaga anak-anak dan mengurusi suami. Hubungan suami isteri orang Mandar dalam rumah tangga senantiasa terdapat kerjasama secara gotong royong dengan pengertian bahwa bukanlah semata-

BUDAYA - 61 mata suami yang harus bekerja, tapi sang isteri pun bertanggung jawab dalam memenuhi kehidupan rumah tangga. Isteri melaksanakan kegiatan tersebut tidak berdasarkan pada perintah dari suami melainkan atas kesadaran sendiri. Dalam latar belakang budaya sibaliparriq, tidak jarang seorang isteri bekerja di berbagai sektor lapangan kerja, misalnya: panetteq (penenun), penjual sarung, penjual ikan, pegawai negeri, pedagang di pasar, maupun bertani. Mereka melakukannya tanpa rasa risih atau keluhan. Tidak jarang pula terjadi sang isteri yang membanting tulang bekerja untuk mencari nafkah adapun suaminya tinggal di rumah memasak dan mengasuh anak. Semuanya dikerjakan dengan penuh kesadaran agar dalam rumah tangga senantiasa terwujud makna yang terkandung dalam: sironrondoi, siamasei, dan sianaoppamai atau secara umum dikenal dengan istilah sibaliparriq.

Mata Pencaharian Sebelum masa kemerdekaan, aktivitas masyarakat Mandar, yang bermukim di kawasan Kabupaten Polewali Mandar sekarang ini, berfokus pada bidang kelautan, pertanian, kehutanan, berburu, dan perdagangan. Yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada peralatan atau teknologi yang mereka kembangkan. Khusus di bidang perdagangan, komoditas lokal yang paling banyak diperdagangkan adalah kopra dan sarung sutra. Kopralah yang berkontribusi penting dalam banyak hal kejadian di Mandar, termasuk dalam pengembangan beberapa

Pemanjat kelapa.

wilayah dan kondisi sosial politik. Salah satu contoh kasus ialah ibukota baru Kerajaan Balanipa, yaitu Tinambung. Tinambung diperkirakan mulai berkembang pada tahun 1875. Adapun peng-inisiatif pembetukan kampung baru tersebut adalah La’ju Kanna Doro (Mara’dia Batulaya) atau Tomatindo di Judda (sebab mangkat di Jeddah, Arab Saudi). Meski demikian, sebelum perpindahan La’ju Kanna Doro bersama pengawalnya dari Batulaya ke pinggir Sungai Mandar, kawasan tersebut telah dikenal tapi belum dijadikan pemukiman. Secara umum (bila berdasar beberapa wilayahyangmasukKecamatanTinambung saat ini), terbentuknya kampung-kampung di sekitar kota Tinambung telah lama terjadi. Setidaknya pada abad ke-16, ketika masa akhir pemerintahan Todilaling (I Manyambungi), raja Balanipa ke-1.


Suasana perkampungan Talogo, Puppuuring, Kecamatan Taramanu

Desa Allu, salah satu perkampungan kuno di Mandar. Terletak di Kecamatan Alu. Di ujung perkampungan terapat makam Ammana Pattolawali

BUDAYA - 62 BUDAYA - 63

Allu


Kota Wonoumlyo. Bawah: Kota Wonomulyo tampak dari udara

BUDAYA - 64 BUDAYA - 65


Desa Pambusuang.

Yakni dari perbukitan (Napo) ke pesisir/ pantai. Saat masa pemerintahan raja ke-4, yakni Daetta, diperkirakan pada tahun 1615, pelabuhan Para’ dan Ba’barura dikembangkan. Pada masa itu diangkat pengawas pelabuhan, yang disebut “sawannar” (syahbandar). Sebagai kota kecil di pantai, Tinambung adalah kota dagang. Oleh sebab itu, pembentukan dan perkembangannya dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan, baik secara lokal, regional maupun internasional. Pada tahun 1819 salah satu pusat perdagangan dunia mulai mapan, yakni Singapura (sebelumnya disebut Tumasik, sehingga orang Mandar yang berlayar ke sana untuk berdagang disebut “Pattumasek”). Pada masa itu dan setelahnya, salah satu komoditas perdagangan dunia yang juga banyak

terdapat di Mandar marak diperdagangkan, yakni kopra (boka’ dalam bahasa Mandar). Dengan kata lain, Mandar terlibat dalam perdagangan internasional. Sebab pada tahun 1850, perdagangan antara orang pribumi dengan orang Eropa mulai marak. Menurut catatan Belanda, pada tahun 1860, jumlah pohon kelapa di Sulawesi Selatan sekitar 407.279 pohon (Mandar 16.502 pohon). Dan berkembang pesat pada 1875, di saat pohon kelapa mencapai 755.500 pohon. Perdagangan dunia semakin marak semenjak dibukanya Terusan Suez di Mesir pada tahun 1869. Kemudian booming perdagangan kopi pada tahun 1870. Pada tahun yang sama, para “mara’dia”di Mandar mengadakan perjanjian politik dengan Hindia-Belanda yang secara signifikan mempengaruhi kekuatan kepemimpinan di Mandar (menjadi melemahkan). Waktu

BUDAYA - 67 itu, pihak Belanda membeli kopra dari pekebun Mandar dengan harga yang sangat rendah dan hanya orang Belandalah (VOC) yang boleh membeli kopra. Di pihak lain, para pedagang (umumnya dari kalangan bangsawan sendiri) mengetahui harga kopra sangat tinggi di Tumasik (Singapura). Jadi, pedagang pribumi mengharapkan hargayanglayak.Permintaaninitakdigubris Belanda. Maka terjadilah perlawanan. Paling terkenal oleh perlawanan Tokape (mara’dia ke-46). Saat tertangkap, dia dibuang ke Pacitan, Jawa Timur (tanah kelahiran presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono), Jawa Timur. Pada masa pembentukan Tinambung (akhir tahun 1870-an), perdagangan tetap mengalami peningkatan. Kopra semakin banyak yang diperdagangkan, baik ke Makassar maupun ke Singapura. Tinambung sendiri bukanlah kampung pelaut, tetapi kota pelabuhan. Adapun

pelaut atau pelayar datang dari kampungkampung kuno disekitarnya, misalnya Karama, Pambusuang, Luwaor, Pamboang, Sendana, dan lain-lain. Di sini pelaut bertemu dengan pekebun-pekebun dari pedalaman yang membawa komoditas, khususnya kopra dan jagung. Pada tahun 1890, Singapura menjadi pusat perdagangan. Semakin marak dan gampang dikunjungi disebabkan telah adanya transportasi reguler, yakni pelayaran KPM (perusahaan pelayaran milik pemerintah Hindia Belanda). Kapalkapal uap kecil menyambangi pelabuhanpelabuhan kecil di pesisir Sulawesi Selatan. Sewaktu perdagangan laut masih marak, secara paralel juga banyak orang Mandar yang bekerja guna mendukung perdagangan lewat laut, yaitu tukang perahu, pelayar, dan buruh di pelabuhan. Selain perdagangan dan tukang perahu,

Sumber foto: Museum Tropen Belanda

BUDAYA - 66

Peserta kolonisasi dari Jawa yang dimukimkan di tempat yang saat ini disebut Wonomulyo.


BUDAYA - 68 mata pencaharian umum juga ada di Mandar, misalnya pertanian atau bercocok tanam, beternak, dan kerajinan. Sebelum sistem irigasi intensif digunakan di Mandar, budidaya padi masih sebatas padi ladang. Yang mengandalkan hujan untuk pengairannya dan membuka hutan baru sebagai ladang baru yang dikenal dengan istilah peladang berpindah. Kawasan Polewali Mandar dulu dikenal sebagai daerah pertanian padi yang berhasil ketika kawasan Wonomulyo dibuka pada tahun 1930-an sebagai daerah kolonisasi. Sebelumnya kawasan tersebut adalah daerah rawa atau hutan pohonpohon palem atau pohon “lanu” dalam Bahasa Mandar. Secara umum, kualitas tanah di Mandar sebagian besar tak begitu subur. Khususnya di wilayah pesisir. Jadi yang dikembangkan tanaman jangka pendek seperti jagung, ubi

kayu, dan jawawut (“tarreang”). Tanaman paling banyak ditanam sebab dikenal oleh banyak antropolog Eropa banyak dikonsumsi orang Mandar adalah pisang. Belakangan, di masa penjajahan Hindia Belanda diintroduksi tanaman keras, yaitu kopi dan cengkeh. Belakangan di masa Orde Baru, komoditas coklat. Adapun kegiatan beternak yang paling banyak dilakukan adalah memelihara kambing, sapi, kerbau dan ayam. Secara tradisional, kecuali kerbau, hewan-hewan tersebut dikandang di kolong rumah. Kadang dilepas begitu saja, nanti waktu makan baru digiring ke dalam kandang. Sentra peternakan kambing yang cukup dikenal di Polewali Mandar adalah Desa Tammejarra Kec. Balanipa, kerbau di Desa Tandung Kec. Tinambung. Masa kemerdekaan hingga kini, mata pencaharian masyarakat Polewali Mandar hampir merata di beberapa sektor, mulai

Ritual penyambungan lunas dalam pembuatan kapal di Desa Pambusuang.

BUDAYA - 69

peserta Sandeq Race meninggalkan Pantai Bahari, Polewali

dari perdagangan konvensional, pertanian, perikanan, jasa, politikus, dan pegawai negeri sipil serta karyawan di perusahaan.

Peralatan dan Teknologi Alat-alat Tradisional Alat-alat yang digunakan orang Mandar didasarkan pada orientasi kehidupan mereka, yaitu melaut dan bertani serta yang berhubungan dengannya. Berikut adalah alat-alat yang digunakan: “wase” (kapak besar), “bacci” (kapak kecil), “kowiq kayyang” (parang), “pambuar” (tual), “parrassang” (linggis), “sodo”, “joppa” (pemikul padi), “pewulle” (pemikul), “kandao” (sabit), “daqala” (bajak), “raqapang” (ani-ani, alat pemotong padi), “palungang” (lesung panjang), “essung” (lesung), “parriqdiq” (alu), “tappiang” (tampi),“galeong”(ayakan),“passukkeang” (alat mengupas kulit kelapa), “panisi”

(alat untuk mengupas daging kelapa dari tempurung), “doe” (tombak), “peang” (pancing), “buaro” (bubu), “jala” (jaring). Khusus senjata, alatnya antara lain “gayang” (keris), “doe” (tombak), “jambia” (badik atau belati kecil), “suppiq” (sumpit), dan “pana” (panah). Alat musik berupa “kacaping”, “sattung”, “suling”, “keke”, “gesoq”, “jarumbing”, “calong”, “ganrang”, “gong”, “gonggaq”, dan “tawa-tawaq”. Juga ada alat permainan berupa “jekka” (engrang), “gasing”. Untuk transportasi yaitu bendi, “raeq” (rakit), dan beragam macam jenis perahu.

Perahu Khusus perahu, itu adalah warisan masa lampau yang berkaitan dengan peralatan dan teknologi, yang prakteknya masih berlangsung saat ini. Berbeda dengan


BUDAYA BUDAYA - 70

Pesisir Teluk Mandar dari Desa Galung Tulu, Desa Karama hingga Desa Tandung

BUDAYA - 71 bidang lain perkembangannya lambat, ada yang statis dan ada juga karena pengaruh dari luar yang mengintroduksi alat yang lebih baik. Misalnya dalam bidang pertanian. Dari bajak langsung digantikan mesin, yang jelas bukan dikembangkan di Mandar. Demikian juga dalam bidang perkebunan dan perburuan. Parang saat ini tidak beda jauh di waktu dulu. Intinya, tak ada perkembangan spesifisik dan khas Mandar. Di bidang bidang pembuatan perahu, ada hal spesifik, yakni evolusi sandeq. Dulu di Mandar ada banyak jenis perahu dan dikembangkan sesuai peruntukannya. Yang paling dominan adalah perahu untuk berdagang. Maka itu dikenal perahu “baqgo”, “lambo”, “palari”, dan “pakur”. Tapi jenis-jenis tersebut punah sebab tidak sesuai jaman lagi. Lain halnya dengan sandeq, yang terus dimodifikasi hingga kemudian menjadikan Kabupaten Polewali Mandar salah satu kabupaten di Nusantara yang masih menyimpan warisan tradisi kebaharian Austronesia, yang jarang ditemukan di tempat lain. Perahu sandeq adalah tipe perahu terkenal posasiq Mandar, yang di Kabupaten Polewali Mandar berpusat di Kec. Balanipa (Desa Pambusuang dan sekitarnya) dan Kec. Tinambung (Desa Karama). Jenis perahu ini biasanya digunakan untuk menangkap ikan dan mengangkut muatan jarak jauh – artinya, dulu perahu sandeq terbiasa melayari seluruh lautan di antara Sulawesi dan Kalimantan, bahkan ada perahu yang sampai ke Jawa dan Sabah di Malaysia. Perahu sandeq terkenal

sebagai perahu layar terlaju di kawasan ini, dan dengan angin yang baik dapat mencapai kecepatan 15-20 knot, sekitar 30 – 40 km per jam. Jenis perahu sandeq adalah perahu khas Mandar. Dikatakan demikian karena perahu bercadik yang modelnya demikian hanya di Mandar dibuat, digunakan oleh posasiq Mandar, dan memang asli dibuat oleh “pande lopi” (tukang perahu) Mandar. Apabila ada sandeq yang berada di daerah di luar wilayah Mandar, itu berarti ada tiga kemungkinan penyebabnya: pertama, daerah itu dihuni oleh orang-orang Mandar perantauan yang mencari nafkah sebagai nelayan atau pedagang di tempat itu; kedua, di daerah itu ada kegiatan pembuatan perahu tradisional dan model sandeq sengaja dipesan oleh orang yang menyuruh membuatnya; ketiga, ada orang lain yang membawa sandeq ke daerah tersebut (misalnya sandeq yang digunakan ke Malaysia dan Thailand untuk tujuan ekspedisi). Perahu Sandeq adalah salah satu unsur kebudayaan Mandar, oleh sebab itu sejarah perahu sandeq tidak terlepas dari kaitannya dengan sejarah perkembangan budaya bahari Mandar secara khusus, dan kebudayaan Mandar secara umum. Pada gilirannya, kebudayaan bahari ini tidak bisa diabaikan dari sejarah kebaharian Nusantara. Sebagai salah satu tipe perahu bercadik, perahu sandeq merupakan suatu warisan dari zaman migrasi Austronesia yang terusmenerus dikembangkan sampai masa kini, dan mungkin merupakan salah satu puncak evolusi pembuatan perahu Nusantara.


BUDAYA - 72 “Sandeq potangnga�, sandeq yang digunakan untuk menangkap ikan terbang beserta telurnya

BUDAYA - 73


BUDAYA - 74 Seluruh lambung perahu ditutupi dengan geladak agar ombak yang dihadapi di lautan luas tidak dapat masuk, letak cadiknya disesuaikan dengan cara pemakaian jenis layar sandeq yang sebaliknya didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan para posasiq Mandar yang dikumpulkan sejak ratusan tahun silam ini. Dari segi teknik pelayaran jenis perahu sandeq dapat dinamakan perahu modern - walaupun dari cara pembuatan serta penggunaannya ia digolongkan sebagai perahu tradisional. Sandeq berarti ‘runcing’ dalam Bahasa Indonesia, dan menurut para posasiq Mandar menunjukkan bentuk haluan perahu yang tajam dan layar yang masandeq (bentuknya segitiga, model layar yang digunakan sebelumnya adalah berbentuk segi empat atau sombal tanjaq). Jenis perahu sandeq yang kini kita kenali sebagai perahu tradisional terkemuka Mandar baru bermunculan pada sekitar tahun 30-an abad ke-20; jenis perahu pakur yang digunakan sebelumnya “berbentuk seperti sandeq’’ dan memakai layar tanjaq. Nooteboom yang pada tahun 1938 sempat mengunjungi daerah Mandar memberitakan, bahwa: Sejak beberapa waktu lalu cukup banyak dari perahu-perahu [pakur] itu diberikan layar dan tali-temali yang lain. Tiang yang digunakannya lebih panjang, dan berbengkok ke belakang pada ujung atasnya, sebagaimana yang biasa digunakan pada perahu-perahu pesiar kecil yang memakai layar fin. Layar yang digunakannya memang sehelai layar fin yang lebar dan rendah. Pemilikpemilik beberapa perahu yang serupa ini

menceritakan kepada saya bahwa layar dan tali-temali ini mereka buat mengikuti layar-layar perahu pesiar yang mereka lihat di Makassar. Hal ini dapat dikonfirmasikan melalui laporan Van Vuuren mengenai keadaan pelayaran dan perkapalan di Mandar pada tahun 1916, nama perahu sandeq belum disebutkan. Menurut nelayan Mandar, perahu jenis sandeq pertama kali dikembangkan oleh tukang perahu di Pambusuang (Kecamatan Balanipa). Mereka terinspirasi salah satu model/fungsi layar yang ada di perahu layar Eropa yang berbentuk segitiga. Layar segitiga tersebut mereka terapkan pada perahu lepa-lepa yang mempunyai cadik. Sebelumnya, layar dipasang ‘mati’ (diikat statis, tidak bisa ditarik atau digulung) ke tiang layar. Hal tersebut menyebabkan nelayan akan memotong atau mematahkan tiang layar (dengan parang) jika angin bertiup sangat kencang, jika tidak perahu akan terbalik. Menghadapi masalah demikian, mereka mencari pemecahan dengan menerapkan teknik pemasangan layar di perahu pakur, yaitu bisa ditarik atau digulung dengan mudah dan cepat. Dengan ditemukannya pemecahan tersebut, mereka kemudian mencoba layar segitiga ke perahu pakur untuk menggantikan layar jenis tanjaq. Sebab jenis layar ini agak berbahaya ketika akan melakukan pemindahan posisi dari satu sisi ke sisi lain. Penerapan layar ‘jenis baru’ ke pakur merupakan proses yang lama sebab bentuk layar yang demikian harus disesuaikan dengan bentuk lambung dan

BUDAYA - 75 bagian-bagian perahu yang lain, khususnya tiang layar dan cadik. Oleh karena tiang yang diperlukan guna memasang jenis layar sandeq ini harus berbatang tunggal dan diperkuat dengan laberang, maka bentuk lambung perahu sandeq berbeda dari pakur yang menggunakan tiang tripod tanpa tali penguat. Hal ini terutama terlihat pada letak cadik perahu. Cadik buritan sandeq dipasang di sekitar tengah lambung perahu, pada perahu pakur cadik buritannya terletak berdekatan dengan sanggar kemudi perahu di bagian belakang lambung. Kemungkinan besar bentuk lambung perahu pun ikut berubah – bagi layar tipe tanjaq yang

Pencatatan peserta lomba kecepatan sandeq mini di Desa Karama, Kecamatan Tinambung

‘mengangkat’ perahu bila berlayar sebuah lambung yang bundar paling cocok; yang paling sesuai dengan tipe layar fin yang sebagai layar fore-and-aft memunculkan daya dorong ke depan yang kuat adalah sebuah lambung yang runcing, ‘sandeq’. Sampai hari ini (sandeq yang khusus dibuat untuk lomba) proses evolusi perahu sandeq tak pernah berhenti: Misalnya, sejak tahun 60-an abad ke-20 cadik buritan semakin dipindahkan ke arah haluan perahu (untuk memungkinkan bom layar bergerak dengan lebih leluasa), dan sejak akhir tahun 70-an cadik haluan mulai dipasang pada tempat yang lebih tinggi daripada sebelumnya (untuk menghindari tertenggelamnya dalam ombak bila perahu berlayar dengan angin dari buritan). Setelah ekonomi Indonesia pada awal tahun 70-an semakin bergerak, maka semua ikatan di antara cadik, katir dan lambung perahu yang sebelumnya terbuat dari rotan diganti dengan tali monofilament (sejenis tali pancing berukuran besar) yang semakin gampang didapatkan di pasaran, dan layar sandeq yang sampai saat itu dijahit dari kain katun diganti dengan jenis-jenis kain plastik yang lebih ringan dan tahan. Dengan perubahan-perubahan ini daya tahannya di laut lepas semakin ditingkatkan, sehingga selama dua dekade akhir abad ke-20 perahu-perahu sandeq mampu berlayar selama beberapa minggu mencari ikan sepanjang Selat Makassar dari Toli-Toli di ujung Utara Sulawesi sampai ke Pulau Laut di Kalimantan. Selain berdasarkan pada persoalan fisik dalam membuat, penggunaan, dan perawatan sandeq, hal yang sifatnya


BUDAYA - 76 mistik juga menjadi dasar sehingga sandeq memiliki keindahannya itu. Sebagai misal: dalam pengikatan palatto terhadap tadhiq atau tadhiq terhadap baratang, cara mengikatnya tidak boleh sembarangan, sebab harus didasarkan pada ussul. Dengan berdasarnya pada ussul, bentuk ikatan sandeq menjadi tampak rapi, seimbang dan kuat. Demikian juga dengan ketika melabuhkan sandeq di darat, harus menghadap ke arah lautan (yang bermakna perahu selalu siap untuk melaut). Ini menjadikan adanya keindahan tersendiri ketika mengamati sandeq yang berjejer di sepanjang garis pantai. Bila dilihat dari penggunaan perahu bercadik yang ukurannya kecil, perahu sandeq bisa dioperasikan di semua

lingkungan perairan laut, baik yang berada di pesisir pantai maupun di lautan lepas dengan ombak dan angin yang lebih kuat, kecuali di perairan terumbu karang karena kemudi yang terlalu panjang dikhawatirkan mencapai batu-batu karang. Perahu sejenis dari daerah lain tidak demikian adanya, hanya dioperasikan di perairan pantai (termasuk perairan karang karena kemudinya yang relatif pendek) sebab kontruksinya tidak sesuai untuk lingkungan laut lepas yang ganas. Dilihat dari lingkungan fisik kelautan, geografis Mandar, khususnya pusat perkembangan perahu sandeq, adalah wilayah yang langsung berhadapan dengan lautan yang dalam. Sedangkan wilayah perairan Bugis dan Makassar sebagian

Rumah panggung arsitektur khas Mandar. Bentuk rumah demikian jarang ditemukan. Rumah ini berlokasi di Kecamatan Campalagian

BUDAYA - 77 besar ‘berhadapan’ perairan yang dangkal, yaitu perairan Kepulauan Spermonde di Selat Makassar dan Kepulauan Sembilan di Teluk Bone. Keadaan yang demikian secara tidak langsung menuntut posasiq Mandar untuk memiliki perahu penangkap ikan yang kuat mengarungi lautan dan cepat lajunya.

Kepercayaan Unsur ritual dan mistik dalam aktivitas tradisional orang Mandar merupakan (atau dipengaruhi oleh) unsur kepercayaan animisme dan agama Islam. Begitu eratnya ‘percampuran’ anisme dan Islam, menjadikan kaburnya batasan antara keduanya: mana yang Islam dan mana yang ‘sisa’ animisme. Barasanji, Nabi Haidir, do’ado’a, adalah contoh pengaruh Islam; pembakaran (undung) dupa, mapposiq, ritual di posiq arriang adalah pengaruh anisme atau kepercayaan sebelum Islam masuk di Mandar. Oleh para penyebar Islam di Sulawesi Selatan, paham-paham anisme tersebut tidak dilarang, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Praktek itu kemudian ‘diislamkan’, baik dengan menggabungkannya dalam satu kegiatan (misalnya di kuliwa, barasanji, pembakaran dupa, ritual di posiq arriang merupaka aktivitas utama) atau dengan menggunakan do’a-do’a dari Al Qur’an dalam kegiatan mapposiq, menurunkan roppo, dan kegiatan yang lain. Demikian juga dengan ussul dan pemali, adalah bagian dari ‘kepercayaan’ orang Mandar yang bukan berasal dari Islam. Tapi karena hal itu tidak menyesatkan, selama tidak bersifat menyekutukan Allah Swt,

‘kepercayaan’ itu tetap hidup di tengahtengah masyarakat, khususnya yang masih memegang tradisi. Syirik (menyekutukan Allah Swt) merupakan bahaya yang paling potensial dilakukan oleh komunitas nelayan dan pelaut. Dan beberapa kasus, praktekpraktek ritual atau mistik sudah merupakan perbuatan musyrik (menyekutukan Tuhan dalam Islam). Ritual dan mistik merupakan bagian penting dalam teknologi pembuatan karya cipta orang Mandar, misalnya rumah dan perahu. Dengan istilah lain, antara teknologi dengan ritual dan mistik merupakan satu kesatuan. Ritual adalah aturan tradisional yang berhubungan erat dengan aturan sosial dan motivasi. Dan motivasi sangat berkaitan dengan latar belakang budaya yang ada. Ussul dan Pemali Ussul adalah sebuah pengharapan keberhasilan lewat penggunaan simbolsimbol, baik berupa benda maupun prilaku. Merupakan unsur ritual/mistik yang paling penting dalam masyarakat Mandar. Praktek ussul hampir ada disemua kegiatan orang Mandar, khususnya mendirikan rumah, pembuatan perahu, dan menentukan hari baik-hari buruk, misalnya untuk upacara pernikahan. Secara umum, pemali adalah bagian dari ussul. Yang cenderung membedakannya adalah pemali lebih banyak berkisar pada ussul yang bersifat larangan atau pantangan. Sedangkan ussul dapat mencakup semuanya, baik yang bersifat larangan maupun praktek-praktek yang harus dilakukan. Pemali sifatnya


Sumah panggung yang sedang dalam proses pembangunan. Tiang yang digantungi pisang adalah “posiq arriang�

Seorang dukun sedang memandikan bayi yang baru berumur tiga hari

BUDAYA - 78 BUDAYA - 79


BUDAYA - 80 hampir sama di semua orang, sedangkan ussul dapat saja berbeda antar individu. Bentuk ussul ada dua, ussul yang bersimbolkan benda dan ussul yang bersimbolkan praktek. Contoh di atas adalah ussul yang simbolnya berupa benda, sedangkan ussul yang salah satu contohnya ketika berangkat dari rumah untuk pergi ke laut kaki kanan lebih dulu, adalah ussul dengan simbol praktek. Posiq PerkembanganteknologiorangMandar, secara tradisional sangat dipengaruhi hal-hal mistik. Hal yang hampir selalu ada adalah penggunaan simbol “posiq”. Seandainya orang Mandar mempunyai tradisi membuat mobil atau pesawat, kemungkinan besar kedua benda tersebut akan mempunyai posiq (pusar;pusat). Ya, sebab hampir semua karya karsa orang Mandar memiliki posiq. Ada posiq boyang (atau posiq arriang) untuk rumah, ada posiq lopi untuk perahu, ada posiq roppong (roppo) untuk alat pemikat ikan di laut, termasuk posiq untuk pemberat dan talinya (belayang), ada posiq jala untuk jaring, dan beberapa kalangan ada yang mempercayai bahwa di Mandar ada posiq lita’. Sejak manusia Mandar keluar dari rahim ibunya, mereka sudah diperkenalkan pada tradisi (baca: perlakuan khusus terhadap) posiq. Sang dukun beranak amat hati-hati memperlakukan tali plasenta dari ibu terhadap bayinya. Demikian juga penyimpanannya. Malah ada ilmu hitam yang mengisyaratkan “pipa” posiq bayi sebagai salah satu benda yang harus ada jika ingin menguasai ilmu kebal. Jika tak bagus perlakuannya kepada posiq, bayi akan gampang sakit. Maka, memang harus

hati-hati terhadap posiq! Rumah yang akan didirikan pun diawali ritual dalam rangka pembuatan posiq-nya. Batang tiang dari kayu tertentu, meski dari segi fisik ada kalangan kurang begitu tertarik Di ujung bagian bawahnya dimuat semacam lubang, ke dalamnya dimasukkan benda-benda tertentu, mulai dari tanaman-tanaman yang berkaitan dengan simbol rejeki hingga emas (ussul). Ya, kalau ada yang mau iseng, potonglah sekian senti di bagian bawah batang tiang rumah orang Mandar, lalu belah. Kalau betul rumah itu rumahnya orang Mandar, Anda akan menemukan emas! Ketika rangka-rangka rumah telah disusun sedemikian rupa, di saat akan mendirikannya (istilah Mandarnya mappake’de boyang), ada ritual tersendiri yang menghubungkan (menyentuhkan) posiq sang tuan rumah dengan balok penghubung antar tiang. Balok tersebut meski agak kelihatan rumit, tapi proses pemasukannya pertama kali melalui lubang di tiang utama atau posiq arriangnya. Tidak melewati lubang di tiang rumah yang posisinya di depan atau belakang sebab tiang-tiang itu bukan posiq! Sebenarnya di mana posisi posiq arriang? Mungkin banyak yang membayangkan posiq boyang itu berada di tengah-tengah rumah. Tidak! Tiang yang menjadi posiq boyang adalah tiang yang perpotongannya kedua dari depan – kedua dari pe’uluang. Pe’uluang itu sendiri adalah sisi/dinding (kanan atau kiri) rumah yang letaknya jauh dari pintu masuk atau berlawanan dengan tambing (lantai rumah yang tepat berada di depan pintu, dulunya bagian ini rendah

BUDAYA - 81

“Posiq arriang” yang padanya diikatkan Al Quran dan beberapa jenis tanaman.

sebagai tempat kaum budak jika bertamu ke rumah golongan masyarakat yang “kastanya” lebih tinggi). Pe’uluang adalah lokasi terhormat jika ada upacara di dalam rumah atau letak posisi kepala jika berbaring di dalam rumah. Makanya disebut pe’uluang (ulu: kepala). Untuk mengetahui posisi “posiq”, caranya, saat naik ke rumah orang Mandar. Bila letak pintunya di sebelah kanan Anda (ketika menghadap ke rumah tersebut). Langkahkan kaki ke dalam rumah, akan menginjak lantai tambing. Ketika sudah berada di dalam, palingkan wajah ke kiri, maka akan melihat lantai “pe’uluang”. Cari mana tiang rumah yang letaknya kedua dari tiang yang terletak di sudut depan tambing, baik yang mengarah ke pintu maupun yang mengarah ke bagian

belakang rumah. Dari dua tiang kedua tersebut, tarik garis sampai menemukan perpotongannya di tiang pertama yang dilewati. Itulah posiq boyang! Jadi, meskipun rumah tersebut memiliki, misalnya, 100 tiang, letak posiq tetap di situ, bukan pas di tengah rumah. Biasanya, posiq boyang dapat ditandai dengan mudah: di situ biasa tergantung botol, di bagian atasnya (sebelum melewati batas atap atau plafon) dibungkus kain kafan, dan atau digantungi berbagai macam tanaman, atau jimat. Untuk rumah baru lebih gampang lagi, di situ tergantung setandang pisang. Masyarakat tradisional Mandar yang masih mempraktekkan sedikit-banyak kepercayaan animisme, menjadikan posiq boyang sebagai sentra melakukan ritual. Misalnya seorang nelayan pergi melaut dalam waktu lama, saat-saat tertentu sang isteri melakukan ritual tolak bala di depan posiq arring. Demikian juga ketika perahu selesai dibuat dan ketika diluncurkan ke laut. Kesimpulannya, posiq boyang dijadikan pusat ritual. Dalam kepercayaan orang Mandar (meski dia adalah seorang muslim), posiq boyang adalah jembatan antara dunia imanen dengan dunia transenden; dunia atas dengan dunia bawah; antara pencipta dengan hambanya. Asap dupa dijadikan sebagai media yang membantu “cepatnya” tiba doa atau harapan seorang hamba terhadap kreatornya. Tak jauh beda dengan posiqposiq di benda lain, yang dikemukakan di awal. Posiq adalah simbol kehidupan, sebagaimana posiq yang ada di tubuh manusia (baca pusar). Jika posiq tak beres,


BUDAYA - 82 orang akan gampang sakit. Islamisasi di Mandar Awalnya, daerah-daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar) hampir saja menganut agama Kristen (kepercayaan yang dibawa orang-orang Portugis ke daerah yang dikunjunginya). Namun akhirnya proses Kristenisasi atas penduduk pribumi gagal. Ada beberapa faktor penyebabnya. Antonio de Paiva, pedagang Portugis, meninggalkan Malaka pada 1542 menuju Sulawesi untuk berdagang kayu cendana di “Durate” yang terletak antara Toli-toli dan Dampleas, di barat laut Sulawesi. Dalam pelayarannya menuju tempat tersebut, Paiva singgah berlabuh di Siang (antara Barru dengan Maros saat ini). Ketika berlayar pulang, dia singgah lagi di Siang

dan terpaksa tinggal sementara waktu karena jatuh sakit, serta menjadi tamu raja selama beberapa bulan. Pada 1544, Paiva kembali datang ke Suppa’ (masuk wilayah Pinrang tapi lebih dekat ke kota Pare-pare) dan Siang. Setelah melalui perdebatan teologis, penguasa Suppa’ dan Siang akhirnya minta dibaptis (dikristenkan). Saat Paiva kembali ke Malaka, dia membawa serta empat pemuda yang akan dibawa ke Goa (India) untuk dididik pada sebuah sekolah Jesuit. Juga ikut serta utusan dari penguasa Siang dan Suppa untuk menemui Gubernur Malaka, agar ke daerah mereka diutus pendeta. Saat peristiwa di atas terjadi, Siang mempunyai daerah kekuasaan sampai ke Mandar dan Teluk Kaili. Nampaknya, masa depan hubungan

Mesjid Lambanang, mesjid yang pertama dibangun di Mandar. Terletak di Desa Lambanang, Kecamatan Balanipa.

BUDAYA - 83

Al Quran tertua di Mandar. Koleksi salah seorang bangsawan Banggae di Majene

Portugis atau proses kristenisasi di wilayah ini akan berjalan mulus, sampai ketika seorang perwira Portugis membawa lari putri penguasa Suppa’. Untuk menghindari kemarahan orang setempat, armada Portugis terpaksa meninggalkan Suppa’. Sampai pada tahun 1559, tak ada orang Portugis yang berani datang ke Suppa’. Di atas adalah salah satu faktor proses kegagalan kristenisasi di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Faktor lain adalah adanya persaingan mendapat pengaruh bangsawan setempat, antara orang Portugis dengan pedagang Arab (penyebar Islam), kekurangsigapan penguasa Malaka (ketika masih dikuasai Portugis) mengirimkan pendeta yang diminta penguasa pribumi, faktor politik (Kerajaan Goa berhasil menundukkan sekutu Portugis di Sulawesi,

dalam hal ini Siang, Suppa, Alitta, Sawitto, dan Bacukiki’), pandangan terhadap kepercayaan pribdumi, dan penerapan strategi dalam menyebarkan agama. Selama paruh kedua abad ke-16, persaingan Kristen dan Islam di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) tampak masih belum memperlihatkan pemenang. Penyebar Islam pertama yang dikenal adalah Abdul Makmur, seorang penyiar Islam dari Minangkabau tiba di Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya pada 1575. Dia terhambat dalam menyebarkan Islam sebab kebudayaan masyarakat setempat banyak yang bertentangan dengan Islam, seperti makan daging babi, hati rusa mentah, dan minum tuak. Dia kemudian pindah ke Kutai, dan lebih berhasil di sana. Tapi, pada tahun 1600, Abdul Makmur, yang lebih dikenal dengan gelar Dato’ ri Bandang, kembali ke Makassar bersama dua rekannya, Sulaiman (Dato’ ri Patimang) dan Abdul Jawad (Dato’ ri Tiro) yang juga orang Minangkabau. Ketiganya belajar agama di Aceh dan datang atas perintah Sultan Johor. Penyebaran Islam di Makassar mendapat tantangan penguasa setempat, mereka pun menuju Luwu’. Mereka menuju Luwu’ sebab mereka mengetahui budaya setempat, yang menganggap keturunan raja-raja berasal dari Luwu’ (mitos to manurung). Ketiganya berhasil mengislamkan penguasa Luwu’ pada 1605, pada gilirannya akan memudahkan mereka melakukan proses islamisasi kerajaan-kerajaan lain. Setelah itu, mereka kembali ke Makassar, hingga delapan bulan kemudian


BUDAYA - 84

Makam Maraqdia Pallis, Arajang IV Balanipa, merupakan raja yang pertama kali memeluk Islam.

berhasil mengislamkan Karaeng Matoaya dengan mengambil gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Sultan ini kemudian mendorong kemenakan sekaligus muridnya, raja Goa I Manga’rangi Daeng Manra’bia yang masih berusia muda untuk memeluk Islam dan kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Pada 9 November 1607, shalat jamaah pertama berlangsung di Masjid Tallo’, yang baru selesai dibangun. Penguasa Goa dan Tallo’ merasa bahwa setelah masuk Islam, peluang untuk menjadi pemimpin di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) semakin terbuka lebar. Kerajaan-kerajaan sekutu mereka diajak serta masuk Islam. Bila ajakan ditolak, maka kerajaan kembar tersebut akan melancarkan perang yang kemudian lebih populer disebut Musu’ Sallang (Perang Islam) oleh orang Bugis. Kemudian pada 1608, Goa-Tallo

berhasil menaklukkan Bacukiki’, Suppa’, Sawitto, dan Mandar. Kemudian pada tahun 1609, Sidenreng dan Soppeng dikuasai, menyusul Wajo’ satu tahun kemudian. Dengan menyerahnya Bone pada 1611, seluruh Sulawesi Selatan (kecuali Toraja) dan Sulawesi Barat secara resmi memeluk agam Islam. Pada gilirannya, aspek-aspek syariat kemudian diintegrasikan ke dalam rangkaian hukum dan norma adat. Di setiap kerajaan dan kedatuan dibangun masjid dan ditunjuk pejabat qadi (kali), imam (imang), serta khatib (katte’), yang biasanya dari bangsawan. Agama Islam terus berkembang dan aliran sufi mulai diperkenalkan. Menurut Andi Syaiful Sinrang, Islam dibawa masuk pertamakali oleh I Salarang Tomatindo di Agamana Maradia Pamboang, ayah dari Tomatindo di Puasana Maradia Mamuju, pada tahun

BUDAYA - 85 1608 menjalin hubungan persahabatan dengan Aji Makota Sultan Kutai VI (15451610), yang dibuktikan dengan adanya syair: “tenna diandi ada’na // nama’ anna’ jambatang // anna silosa // Kute anna Pamboang” (Andaikata ada jalan // akan kubuat jembatan // agar tersambung // Kutai dengan Pamboang. Dan yang paling terkenal, syair lagu “Tengga-tenggang Lopi”, yang didalamnya mensiratkan orang Mandar tidak mau makan babi yang dihidangkan bangsawan di Kutai. Kesimpulannya, Islam telah masuk di Mandar sebelum tahun 1608. Sebagai wilayah yang mendapat pengaruh atau kekuasaan kerajaan di selatan (awalnya Kerajaan Siang untuk kemudian Kerajaan Goa), agama Islam masuk ke daerah Mandar berlangsung dalam abad ke-16. Penyebar Islam di

Mandar yang diketahui antara lain, Syekh Abdul Mannan Tosalamaq Disalabose, Sayid Al Adiy, Abdurrahim Kamaluddin, Kapuang Jawa dan Sayid Zakariah. Belum diketahui hubungan mereka di atas dengan tiga penyebar Islam dari Minangkabau yang mengislamkan Kerajaan Luwu’ dan Kerajaan Goa, apakah sebagai kolega, sebagai guru-murid, ataukah kedatangan ulama-ulama di Mandar atas perintah kerajaan-kerajaan Islam besar, misalnya Johor, Goa, atau Ternate. Salah satu penyebar Islam di atas, Sayid Al Adiy, menjadikan Lambanang sebagai pusat penyebaran Islam di Mandar. Yang mana, saat ini masih bisa kita lihat situs masjid tertua di Mandar, Masjid Lambanang. Desa Lambanang terletak di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Beberapa puluh meter di atas

Pantai Galetto, terletak di antara Desa Tammangalle (Kecamatan Balanipa) dengan Desa Karama (Kecamatan Tinambung)


Mesjid Lapeo. Bawah: Budayawan Emha Ainun Nadjib dan rombongan memanjatkan do’a di Makam Imam Lapeo. Mesjid Lapeo terletak di Kecamatan Campalagian.

BUDAYA - 86 BUDAYA - 87


BUDAYA - 88 Tomepayung, “Mara’dia” Balanipa yang ke-2. Naik tahta 1615. Pada masanya mulai diadakan atau dibentuk lembaga “Mara’dianna Saraq” (Raja di Bidang Syara/Agama’), disebut Kali ‘Kadi’. Ucapannya yang sangat terkenal dalam lontar Mandar dan banyak dihafal oleh orang Balanipa: Naiyya maraqdia, tammatindoi di bongi, tarrarei di allo, na mandandang mata dimamatanna daung ayu, diamalimbonganna rura, diamadinginna litaq, diajarianna banne tau, diatepuanna agama (Adapun seorang raja, tidak dibenarkan tidur lelap di waktu malam, berdiam diri dan berpangku tangan di waktu siang hari. Ia wajib selalu memperhatikan akan kesuburan tanah dan tanam-tanaman, berlimpah ruahnya hasil tambak dan perikanan, damai dan amannya negeri/kerajaan, berkembangbiaknya

Setelah menamatkan “koroqang keccuq” (Al Qurang kecil, tapi yang dimaksud adalah Juz ke-30 atau Juz Amma), anak-anak di Mandar melanjutkan ke tahap berikut, yaitu menamatkan “koroqang kayyang” (Al Quran besar) di bawah bimbingan guru mengaji.

Sumber foto: Koleksi keluarga besar K. H. Muhammad Shaleh

permukaan laut, tepatnya di balik bukit “Buttu Lambanang”, yaitu perbukitan di utara Pambusuang. Arah masuk jalannya terdapat di Desa Galung Tulu ke arah kanan bila datang dari Polewali (dari kota Polewali kira-kira 40km). Dalam Lontara Balanipa, Abdurrahim Kamaluddin atau “Tosalamaq Dibinuang” pertama kali mendarat di Galetto, Tammangalle (situs pelabuhan kuno di Mandar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Lambanang). Bangsawan pertama yang diislamkan oleh Abdurrahim Kamaluddin adalah Kanne Cunang “Mara’dia” Pallis, kemudian Kakanna I Pattang Daetta Tommuane, Raja Balanipa ke-4. Daetta Tommuane adalah putra Todijalloq, “Mara’dia” Balanipa yang ke-3, ibunya dari Napo Balanipa. Kawin dengan sepupunya Daetta Towaine, putri

BUDAYA - 89

K. H. Muhammad Shaleh (tengah, duduk) bersama murid-muridnya, salah satunya K. H. Sahabuddin, pendiri Universitas As Syariah Mandar, kedua dari kanan.

manusia/penduduk dan mantap teguhnya agama). Beliau merupakan perintis berdirinya semacam pesantren yang disebut muking ‘mukim’ yang pertama, tempat mendidik empat puluh orang kader pemimpin agama di Kerajaan Balanipa. Tempat muking itu di Tangnga-Tangnga (sekarang dalam wilayah Desa Tangnga-Tangnga, Kec. Tinambung, Kab. Polman). Di TangngaTangnga juga didirikan masjid pertama di Kerajaan Balanipa menjadi Masjid Kerajaan Balanipa. Ulama paling terkenal di Mandar saat sekarang adalah Tosalamaq Imam Lapeo (biasa disingkat “Imam Lapeo” saja). Nama aslinya K. H. Muhammad Tahir. Dia seorang ulama sufi. Diperkirakan lahir tahun 1838 di Pambusuang (Kec. Balanipa, Kab. Polman). Di masa kanak-kanak bernama

Junaihim Namli. Wafat usia 114 tahun, tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo (sekarang wilayah Kec. Campalagian, Kab. Polman). Dimakamkan di halaman Masjid Nur Al-Taubah di Lapeo yang dibangunnya. (Di daerah Mandar lebih dikenal dengan sebutan Masigi Lapeo ‘Masjid Lapeo’ yang terkenal dengan menaranya yang tinggi). Makamnya, sampai saat sekarang ini banyak dikunjungi/diziarahi oleh masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Terakhir, ulama penyebar Islam yang diyakini ke-karamah-annya adalah K. H. Muhammad Saleh. Dikenal sebagai salah seorang pionir ulama yang membawa, mengajarkan, dan mengembangkan Tarekat Qadiriyah di Mandar. Beliau lahir pada tahun 1913 di Pambusuang. Usia 15 tahun menuju tanah suci untuk menunaikan


BUDAYA - 90

BUDAYA - 91 ibadah haji dan menuntut ilmu tarekat. Sewaktu bekerja di Mamuju, tepatnya di saat membaca khutbah di salah satu masjid di Tappalang, K. H. Muhammad Saleh dikirimi ilmu hitam. Namun berkat kekaramahannya, ilmu sihir yang berwujud cahaya bola api tidak mengenai dirinya. Belakangan, penyihir yang melakukannya meminta maaf. Masih di Tappalang, juga pernah K. H. Muhammad Saleh hendak diracun dengan ilmu hitam. Nasi yang dihidangkan kepadanya berubah wujud menjadi ulat dan ular. Tapi itu tak mempan untuk mencelakai dirinya.

Kesenian Calong Sahabuddin Mahganna, etnomusikolog Mandar, melakukan penelitian tentang alat musik “calong”. Beberapa informanya mengatakan “calong” itu “Tappa calong tomo tia disangangangi” (Memang langsung dinamakan “calong”) dan mengapa

Sumber Sahabuddin Mahganna. Ilustrasi oleh Uchu Gede

Sketsa pembuatan alat musik calong

berbilah empat, sebab “Keempat bilahan itu adalah simbol (“Appeq Banua Kayyang”) (jumlah “banua” yang membentuk Arajang Balanipa, yaitu Mosso, Napo, Samasundu dan Todang-todang). Informan lainnya menguraikan bahwa, “calong” adalah simbol kebangsaan orang Balanipa, sebab melihat dari bentuk dan bagian instrumennya yakni pada bilahan dan ruang resonansinya; bahwa “calong” hadir bertepatan dengan adanya praktek petani atau pekebun Mandar yang mengisi waktu senggang di kala menjaga kebunnya; dan bahwa cikal bakal “calong” tidaklah menggunakan buah kelapa sebagai landasan bilah bambu atau ruang resonansi, tetapi di paha si pemain. Saat di rasa paha tidak maksimal, kaku dan sakit dalam waktu lama, maka digunakanlah buah kelapa. Bila memang cikal bakal “calong” adalah hanya bilahan bambu yang diletakkan di antara kedua paha, itu mirip dengan alat

Permainan musik calong pada acara pembukaan PORDA I Sulawesi Barat di Polewali.


BUDAYA - 92

BUDAYA - 93 Pakkacaping

Kaqdara atau A’bana Patima sedang meniup keke

musik yang di Bugis disebut “gandonggandong” sedang di Mandar istilahnya “gandi-ganding”. Alat musik “calong” adalah hasil pengembangan “gandi-ganding” yang diperkirakan sebelum abad ke-15. Sedangkan pengembangannya menjadi “calong” diperkirakan di awal peradaban Arajang Balanipa (abad ke-15). Disebut “calong”, mungkin berasal dari dua kata “caq” dan “long”. “Caq” itu bunyi yang dikeluarkan saat pemukul mengenai bilah dan “long” berasal dari kata “tillotillong” (suara mendayu-dayu) atau unsur bunyi alat musik yang menghantar getaran tabuh inti instrumen itu sendiri. Sedangkan “calong” secara terminologi adalah sebuah alat musik tradisional Mandar yang termasuk jenis musik idiofon. Berfungsi menciptakan suasana riang serta memberi isyarat terhadap sesama, baik itu di kebun maupun di lingkungan masyarakat. Kacaping Instrumen “kacaping” (kacapi) sangat digemari masyarakat suku-suku di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tentu beda kuantitas penggemar dulu dan sekarang. Itu jugalah yang mempengaruhi semakin berkurangnya pemain kecapi saat ini. Kata “kacapi” dan “kacaping”, menurut Christian Pelras (Manusia Bugis, hal. 227) diambil dari kata Sansekerta. Walau dalam beberapa kamus (misalnya entri “kecapi” di www.wikipedia.com) kecapi digolongkan ke dalam alat musik khas Sunda, tapi kecapi orang Mandar atau orang Bugis tidak tergolong didalamnya, sebab yang dimaksud kecapi orang Sunda adalah sejenis alat musik sitar (dengan banyak senar).

Kecapi Mandar alat musik yang dawainya hanya dua (berdawai ganda). Oleh para ahli musik (etnomusikolog) digolongkan alat musik berbentuk perahu karena lehernya berbentuk “anjong” (haluan) perahu. Kecapi Mandar memiliki kemiripan dengan berbagai jenis instrumen serupa, baik di Pulau Sulawesi maupun di luar itu. Orang Batak menyebutnya “hasape”, orang di pantai barat daya Sumatera menyebutnya “kucapi”, orang Ngaju menyebutnya “kanjapi”, “sape” oleh orang Kenyah-Kayah di Kalimantan, “kusyapig” oleh orang Palawan (Filipina), dan “kudyapig” oleh orang Mindanao (juga orang Filipina). Menurut Gorlinski (dalam “Some Insight into the Art of Sape Playing”, The Sarawak Museum Journal, 1988), prototipe alat musik yang berasal dari India tersebut diperkenalkan ke Asia Tenggara pada periode Hindu-Budha, dan dapat dilihat pada relief yang dibuat pada abad kedelapan. Pengetahuan masa lampau itu terwariskan oleh para pemain kecapi, yang masa sekarang amat jarang. Bila dalam bahasa pelestarian lingkungan hidup, mungkin disebut “sangat langka”. Salah satu sosok yang selama puluhan tahun bergelut dengan dawai “kacaping” adalah Marayama. Jumlah “pakkacaping” (pemain) “kacaping” (kecapi) di tanah Mandar bisa dihitung jari. Khusus di kawasan Balanipa, yang eksis hanyalah Marayama dan Satuni (Tandassura), Ka’dara (Tammejarra), Ka’musa (Taloloq), Baharuddin (Galung Tulu) dan Pakai (Botto).


Marayama dan adiknya, Satuni, bermain kecaping di ruang tamu rumah Marayama

Marayama dan kecapingnya.

BUDAYA - 94 BUDAYA - 95


BUDAYA - 96

BUDAYA - 97

Kecuali Ka’musa (Baharuddin dan Pakai belum pernah saya lihat langsung) yang belum berumur 50 tahun, lainnya telah lanjut usia, khususnya Marayama. “Saya menjelang puber saat pesawat tempur bergelar La Bolong sering menjatuhkan bom di Mandar”, ungkapnya suatu waktu. Konon, “kacaping” di Mandar terinspirasi dari perahu. Itulah sebabnya bentuk “kacaping” mirip perahu. Adapun posisi memainkannya laksana menggendong bayi. Tak heran bila beberapa pemain “kacaping” memperlakukan “kacaping”nya seperti seorang bayi. Lain lagi dengan legenda di Bugis. Konon kecapi pertama kali dibuat oleh pelaut yang terinspirasi bunyi tali tiang layar. Dia lalu memasang tali ke dayungnya sebagai cikal bakal kecapi.

Alat musik “gonggaq labe”.

Gonggaq lima”.

Alat musik tiup “keke”.

Belum diketahui kapan pertama kali tradisi permainan “kacaping” di Mandar dimulai. Dalam pelacakan tradisi lisan (wawancara), pemain-pemain “kacaping” di Mandar yang hidup saat ini hanya bisa merunut sampai awal tahun 1910-an. Palingtidakadaduajenis“pakkacaping” di Mandar, yaitu “pakkacaping tobaine” (pemain kecaping oleh perempuan) dan “pakkacaping tommuane” (pemain kecaping oleh laki-laki). Tak ada perbedaan besar antar keduanya, kecuali atas dasar gender. Meski demikian, dalam irama lagu dan petikan, ada beda. Biasanya yang lakilaki tinggi di nada awal, sedang perempuan nanti di bagian akhir baru tinggi. Berikut beberapa pemain “kacaping” di Mandar. Namanya I Pasoq, seorang legenda

pemain “kacaping” era tahun 20-an sampai 30-an. Lahir di Manjopaiq, Karama. Menurut Marayama yang menonton kepiawaian I Pasoq “makkacaping” (bermain kecapi) saat dia masih kecil, I Pasoq memperagakan gerakan-gerakan tangan dan tubuh yang lebih hidup ketika bermain kecapi, dibandingkan pemain sebelumnya. Seringkali, sambil bermain “kacaping”, dia bergeser ke arah para “peqoro” atau penonton. Istilahnya, dia bermain atraktif. Kekhasannya yang lain, dia memelihara rambut panjang, sesuatu yang tidak lazim bagi pemain kecapi pada zamannya. “Seperti Ka’musa atau Sahabuddin”, ungkap Marayama dalam nuansa canda ketika menggambarkan

sosok I Pasoq. Yang dimaksud Sahabuddin adalah etnomusikolog Mandar yang aktif mempelajari tradisi musik Mandar. Saat ini guru seni-budaya di SMA 1 Tinambung. Seangkatan I Pasoq, juga ada pemain “kacaping” dari Waitawar bernama Puaq Lissiq. Kemudian Kanna Dollah. Era 50-an sampai 60-an terkenal beberapa nama, seperti Sumaqati, I Joe (Ibunda Cammanaq),ITagi,IAnggang(perempuan, Parrebuang), I Kanda (murid Marayama) dan I Batiqna (Salarriq) (keduanya sering ke Makassar bersama Marayama). Permainan Sumaqati, putra Galung Lombok, (ada yang menyebut nama aslinya adalah Usman Ati) sangat digemari masyarakat. Sayangnya, dia meninggal di sebuah kampung di Sulawesi Tengah. Konon kena kutukan dari benda-benda keramat (“poling”) yang dia buru. Adapun I Tagi, juga pemain kecapi tersohor pada masanya. Nama lainnya Kanna I Peyang. Lahir di Kampung Sumael, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polman. Diperkirakan pertengahan tahun 20-an. Dia meninggal di Polewali pada 1980. Dimakamkan di Pekuburan Islam Manding Polewali. Namanya melambung tinggi di daerah Mandar dan di daerahdaerah yang dihuni oleh etnis Mandar. Dia dianggap orang yang memperkenalkan “Toloqna I Hadara”. Setelah era Sumaqati dan I Tagi, tradisi permainan “kacaping” dilanjutkan oleh Paragai (Saliboqo, Samasundu),. Dia juga pemain “kacaping” yang terkenal piawai dan memiliki banyak penggemar, khususnya di tahun 80-an sampai 90an. Saat ini saya menyimpan salah satu rekaman permainan kecapinya.


BUDAYA - 98

“Parrabana” mengiringi “saeyyang pattuqduq”.

Era berikutnya hingga saat ini adalah Marayama, I Anggang, I Mina, I Marasati, Lahawang, Lasana, Satuni (adik Marayama), Ka’dara, Baharuddin, Pakai, dan belakangan Ka’musa. Sebenarnya sih Marayama pemain lama, sudah bermain “kacaping” sejak zaman I Tagi. Memang pada dasarnya musik “kacaping” bertujuan menghibur, baik pada seorang individu maupun kolektif (masyarakat), tapi dia tidak dapat dipisahkan dari sastra lisan, baik yang bersifat ritual ataupun profan (sebuah tradisi masa lampau). Teks epos atau teks sejarah atau kisah-kisah (“toloq”), baik yang bersyair maupun yang berbentuk prosa, semuanya dilantunkan/dilagukan. Kadangkala teks-teks lisan yang disampaikan itu adalah kisah dari nenek moyang yang berasal ratusan tahun lalu. Misalnya epos La Galigo di Bugis, disampaikan lewat nyanyian yang salah satunya diiringi alat musik “kacaping”.

Gonggaq dan Keke Ada dua jenis “gonggaq” di Mandar, yaitu “gonggaq labe”, dibunyikan di mulut atau bibir) dan “gonggaq lima”, dibunyikan di tangan dengan cara memukulmukulkannya. “Gonggaq labe” terbuat dari bilah bambu yang dipasangi tali. Tali tersebut ditarik-tarik sehingga menimbulkan gelombang bunyi. Adapun rongga mulut sebagai tabungnya. Sedang “gonggaq lima”, ruang bunyi terdapat di pegangannya. Bentuk atau prinsip memunculkan bunyi sama dengan garpu tala. Keke, alat musik tiup. Terbuat dari batang padi atau bambu berdiameter kecil yang kemudian dililit dengan daun kelapa kering. Alat musik ini biasa dimainkan di kebun kala menunggui/menjaga kebun dari gangguan hama burung dan babi. Sejenis “keke” tapi berukuran lebih besar disebut “palluppung”. Seniman senior yang dikenal biasa memainkan “keke”

BUDAYA - 99 antara lain A’ba Patima atau Kaqdara dan Tombo Palua. Rabana Rebana dalam bahasa Mandar disebut “rabana”. Adalah alat musik pukul yang berbentuk lingkarang, terbuat dari kayu yang dilubangi untuk kemudian dipasangi membran yang terbuat dari kulit binatang. Meskipun ada beberapa alat sejenis (terbuat dari kayu dan kulit binatang), kuat dugaan khusus rebana berasal dari pengaruh budaya Arab. Demikian juga teknik pukul dan syair-syair yang dinyanyikan, yang umumnya berisi petuah keagamaan dan syair-syair barzanji. Umumnya rebana dimainkan oleh lakilaki, baik tua maupun anak-anak. Biasanya menjadi pengiring “saeyyang pattuqdu” atau sekedar bermain rebana di rumah. Personilnya terdiri dari 7 sampai 9 orang.

“Parrabana tobaine”.

Ada juga “parrabana” lain, yang dimainkan oleh perempuan. Disebut “parrabana tobaine”. Irama lagu parrawana towaine agak berbeda dengan irama lagu parrawana tommuane ‘pemain rebana laki-laki’. Syair lagu parrawana towaine berisi kisah-kisah, nasihat-nasihat, dan tema keagamaan. Biasanya dimainkan oleh 4-7 orang wanita. Pertunjukan biasanya diadakan pada malam hari, di atas rumah yang melakukan hajatan, misalnya perkawinan, sunatan,danlain-lain.Umumnyaparrawana diundang bukan untuk hiburan saja, tapi semacam pemenuhan nazar. “Kalau anak saya tammat mengaji, saya akan undang parrabana tobaine”. Jadi lebih bernuansa syukuran, sebab acara sudah selesai. Bila akan diundang, parrabana tobaine diberi tahu jauh hari sebelumnya. Sebab


BUDAYA BUDAYA - 101

BUDAYA - 100

“Passaya-sayang”.

Cammana, pemain rebana. Seniman kelahiran Samasundu, Limboro yang pernah menerima Bintang Mahaputera dari Presiden Republik Indonesia.

jadwal mereka padat. Lokasi ada yang dekat, antar kecamatan, antar kabupaten, antar provinsi, dan antar pulau. Perbedaan lainnya dengan “parrabana tommuane” adalah yang perempuan tidak mengiringi “saeyyang pattuqdu” dan mereka tidak melakukan gerakan atau taritarian saat memainkan rebana. Mereka hanya duduk. Lagu dan Toloq Dalam seni lagu yang syairnya bahasa Mandar, dalam bahasa setempat disebut ‘ayangang’ Mandar. Dikenal berbagai jenis ayangang tradisional diantaranya sebagai berikut. (1) Ayangang Peondo. Dilagukan untuk meninabobokkan anak. (2) Ayangang Tede. Dilagukan dengan iringan kecapi sambil menyindir pemuda/jejaka pengunjung (terkadang juga lelaki yang sudah berkeluarga) dengan gadis peqoro (gadis yang sengaja didudukkan menghadapi pakkacaping dengan memakai busana adat). Lagu sindiran dilakukan silih berganti dan lelaki yang kena sindiran biasnya atau pada

umumnya masuk ke tengah arena peqoro untuk mappamaccoq (meletakkan sejumlah uang di depan si dia peqoro yang telah “disindirkan” dengannya). (3) Ayangang Toloq. Dilagukan dengan iringan keke atau kecapi berisi kisah/cerita romantis atau heroik yang sungguh-sungguh pernah terjadi). (4) Ayangang Tipalayo. Lagu yang berisi kerinduan seorang lelaki kepada kekasihnya. Biasanya lagu diiringi dengan petikan kecapi. Lagu daerah Mandar dapat dikelompokkan dalam dua jenis. Pertama, yang tradisional. Kedua, yang kreasi baru. Lagu Daerah Mandar tradisional adalah lagu yang syairnya bahasa Mandar dalam bentuk kalindaqdaq dengan irama yang dikenal oleh masyarakat sebagai irama khas Mandar. Penciptanya tidak dikenal (anonim). Susunan melodi dan nadanya masih sederhana (pentatonik=4-5 nada). Pola irama dan musiknya sering kurang lengkap, bahkan nampak adanya pengulangan melodinya. Lirik syair lagu dapat diganti-ganti sesuai maksud tujuan


BUDAYA BUDAYA - 103

BUDAYA - 102 Tombo Palua menari “denggoq”.

Sampul VCD album lagu berbahasa Mandar.

dan keinginan penyanyi atau situasi yang ingin dilukiskan pada saat itu atau saat yang lain. Pada umumnya bercirikan dalam bentuk senandung, bersifat halus, lembut, membuai, dan bersifat lisan saja. Banyak digunakan atau didengar pada waktu ibu atau nenek sedang membelai menidurkan anak atau cucunya. Lagu tradisional Mandar yang masih dikenal atau populer dalam masyarakat Mandar sampai sekarang ialah Tipalayo, Buraq Sendana, Kembang SayangSayang, Andu-anduruqdang, dan Topole di Balitung (Sinrang, 1984) Nyanyian ini dipersiapkan untuk menjemput Mara’dia Sendana To Matindo di Balitung putra Tomappelei Ganranna Mara’dia Sendana yang meninggalkan Sendana sekitar tahun 1730-an. Lagu ini tidak pernah/sempat didengarnya karena ia wafat di Belitung sehingga digelar Tomatindo di Balitung

‘Yang Tidur di Belitung’ (maksudnya ‘yang meninggal di Belitung). Lagu Daerah Mandar Kreasi Baru adalah lagu yang syairnya bahasa Mandar dan dalam bentuk bukan kalindaqdaq dengan irama modern seperti lagu dangdut, disko, jazz, kalipso dan irama lagu-lagu populer umumnya. Lagu Mandar kreasi baru penciptanya jelas. Lagu-lagu ini muncul di belakang lagu daerah Mandar tradisional. Makna dan susunan melodinya mengikuti pola musik modern, sehingga kualitasnya lebih memadai dibandingkan dengan lagu Mandar tradisional. Artinya, dapat menyesuaikan dengan bentuk-bentuk lagu-lagu daerah suku bangsa lainnya. Tapi harus juga diakui bahwa dalam lagu daerah Mandar kreasi baru masih terdapat juga lirik syair kalindaqdaq walau sudah sangat sedikit dibandingkan dengan lirik-lirik syair hasil kreativitas penciptanya.


BUDAYA - 104 asmara yang berakhir tragis. Darah si gadis cantik I Haqdara tumpah di ujung keris I Caqbullung, pemuda yang memujanya. Kematiannya mengakibatkan I Mattata pencinta I Haqdara mengamuk, melukai dan membunuh sejumlah orang. I Mattata terbunuh dalam keroyokan massa di Limboro. Sedangkan Toloqna I Sunusi, kisah hari-hari terakhir Sunusi. Perlawanan dan tertembaknya “Kamandang” (Komandan) Sunusi, seorang pemimpin pasukan DI/ TII di daerah Mandar yang dikenal dengan sebutan Pasukan Tande (kampung di Majene). Bersama beberapa orang anak buahnya di daerah Mandar, Sunusi tidak mau menyerah kepada pemerintah RI, sementara sudah sebagian besar pasukan DI/TII kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dengan pistol dan beberapa pucuk senjata laras panjang, Ia dan pasukannya bersembunyi di sebuah gua yang aman dari intaian dan gangguan orang, dua tiga tahun lamanya. Sumber foto: Museum Tropen Belanda

Tarian “pattuqduq tobaine”.

Sumber foto: Museum Tropen Belanda

Dibandingkan seni vokal modern yang mempunyai refrein, seni vokal tradisional Mandar tidak mempunyai refrein. Nantilah pada tahun 1958 A.Syaiful Sinrang dan kawan-kawan, antara lain Sabanjuddin Yuni dan Kamaruzzaman memulai usaha keras mengubah sejumlah lagu tradisional Mandar yang nondiatonis ke diatonis dan dibuatkan refrein. Lagu-lagu yang sudah dimodernkan waktu itu, dikumandarngkan dengan iringan Band/Orkes Rewata Rio pimpinan A. Syaiful Sinrang melalui RRI Nusantara I Makassar dan di tempat-tempat lainnya. Dalam tahun 90-an hingga kini makin banyak lagu Mandar kreasi baru yang dihasilkan dan disebarluaskan melalui kaset video casette diskette (VCD). “Toloq” adalah kisah yang dilagukan. “Toloq” yang terkenal di Mandar antara lain “Toloqna I Haqdara”, dan “Toloqna I Sunusi”. “Toloqna I Hadara”, kisah nyata. Kisah

BUDAYA - 105

Penari “pattuqduq tommuane” umumnya diperankan anak laki-laki.

Gua persembunyian terendus juga oleh intel petugas keamanan. Di bawah koordinasi S. Mengga, Komandan Kodim Todopuli Polmas, operasi yang dilancarkan oleh TNI-AD, gua persembunyiannya di daerah Tande dikepung dan diserbu. Dalam kontak senjata pada hari Minggu, Sunusi tewas sebagai seorang “kamandang” pemberontak yang tidak pernah kenal menyerah. Tari Dalam bahasa Mandar, tari diistilahkan “tuqdu”, sedang penari disebut “pattuqduq”. Secara tradisiona, tari-tarian merupakan persembahan kepada dewata. Dalam perkembangan selanjutnya, menjadi tarian upacara hiburan pada pesta atau upacara kerajaan. Akhirnya menjadi tarian menghibur untuk umum. Diperkirakan sejak abad ke-10 tari pattuqduq/tuqduq dikenal oleh masyarakat Mandar. Dikenal berbagai tuqduq, yaitu tuqduq sore, tuqduq sarawadang, tuqduq cakkuriri, tuqduq losa-losa, tuqduq palappa,

tuqduq kumba, tuqduq denggo, tuqduq tipalayo, dan tuqduq sawawar. Pattuqduq paling terkenal dan paling dianggap mistis adalah Tuqduq Kumbaq. Dikenal sebelum I Manyambungi Todilaling menjadi raja Balanipa. Dua buah gendang dan sekurang-kurangnya satu buah gong mengiringi tarian. Biasanya ditarikan oleh delapan orang puteri. Pada zaman dahulu hanya ditampilkan pada upacara kerajaan. Melambangkan kesetiaan seseorang puteri yang ditinggalkan kekasih. Berdasarkan status sosial Pattuqduq, maka pattuqduq terbagi tiga yaitu (1) Pattuqduq Anaq Pattola Payung ‘Penari Tuqduq Anak Bangsawan Raja Murni’, (2) Pattuqduq Anaq Pattola Tau Pia ‘Penari Tuqduq Anak Bangsawan Hadat’, dan (3) Pattuqduq Tau Biasa ‘Penari Tuqduq Orang Awam/Biasa’. Ada juga disebut “Tuqduq Denggo”, yaitu tari tradisional yang mulai dikenal pada abad ke-16, sejak masuknya agama


BUDAYA - 106

“Saeyyang pattuqduq”

BUDAYA - 107 Islam di daerah Mandar. Biasanya ditarikan tujuh orang puteri dengan sendok di tangan, diikuti pukulan rebana dan lagu yang syairnya dalam bentuk kalindaqdaq. Dipilih kalindaqdaq yang bertema nasihat dan keagamaan. Formasi bermacam-macam, tergantung lirik lagu yang mengiringinya yaitu rawana ‘rebana’, tiga, empat, lima atau enam. Formasi yang diyakini terdahulu muncul dalam masyarakat: Para pattuqduq ‘penari’ membentuk formasi berbanjar dua, di depan tengah berdiri seorang sebagai komando. Pattuqduq memasuki arena dengan mengikuti irama rebana. Memulai gerakan bersamaan dengan lagu dan irama rebana, mengayunkan kedua tangan disertai lentingan sendok sambil berputar bertepatan pada kata syair Allah. Begitu juga sebaliknya hingga berdiri pada posisi semula. Pada bait kedua lagu, komando berputar sambil melangkah maju dikuti pattuqduq lainnya saling berhadapan. Setelah komando tiba di posisi ujung, para pattuqduq maju bersilang berganti posisi. Begitu pula sebaliknya ketika komando kembali ke posisi semula. Para pattuqduq mengikuti komando membentuk formasi bundar sambil duduk, kemudian berdiri sampai lagu selesai, dan para pattuqduq kembali ke tempat semula. Tarian selesai. Tarian yang berbeda dari “tuqdu” pada umummnya adalah “saeyyang pattuqdu”. Secara harafiah diartikan “kuda yang menari-nari”, yaitu arak-arakan kuda yang menggoyang-goyangkan kepala dan dua kaki depannya, yang mana di atas menunggang wanita, baik satu ataupun dua. Tradisi sayyang pattuqdu di Mandar tidak diketahui persis kapan mulai dilakukan.

“pakkalindaqdaq” mempersembahkan syair “kalindaqdaq” kepada “tomissawe” (yang duduk di atas kuda)

Diperkirakan tradisi itu dimulai ketika Islam menjadi agama resmi beberapa kerajaan di Mandar, kira-kira abad XVI. Sayyang pattuqdu awalnya hanya berkembang di kalangan istana, yang dilaksanakan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kuda digunakan sebagai sarana sebab dulunya di Mandar, kuda adalah alat transportasi utama dan setiap pemuda dianjurkan untuk piawai berkuda. Dalam perkembangannya, sayyang pattuqdu menjadi alat motivasi bagi anak kecil agar segera menamatkan Al Quran. Ya, ketika seorang anak kecil mulai belajar Al Quran, oleh orang tuanya dijanji akan diarak keliling kampung dengan sayyang pattuqdu jika khatam Al Quran. Karena ingin segera naik kuda penari, maka sang anak ingin segera pintar mengaji dan khatam


BUDAYA - 108 Al Quran “besar”. Musim sayyang pattuqdu dimulai setelah 12 Rabiul Awal. Beberapa kampung di Mandar, secara bergantian melaksanakan arakan sayyang pattuqdu dalam jumlah banyak. Jadi hampir tiap hari ada saja arak-arakan kuda yang di atasnya duduk dengan anggun wanita-wanita cantik, yang diiringi tabuhan rebana nan rancak, dan irama kalindaqda (syair yang dilagukan) yang sering kali disambut sorakan penonton karena isi kalindadaq-nya jenaka. Sastra dan Teater Kalindaqdaq adalah salah satu puisi tradisional Mandar. Dibandingkan dengan karya sastra lama Mandar lainnya, kalindaqdaq yang paling banyak digunakan/dipakai oleh masyarakat Mandar mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka pada masa dahulu. Etimologi kalindaqdaq diuraikan dalam beberapa versi. Pertama, terdiri/berasal dari dua kata, yaitu kali ‘gali’ dan daqdaq ‘dada.’ Jadi, kalindaqdaq artinya isi dada karena apa yang ada di dalam dada/hati itulah yang digali dan dikemukakan kepada pihak lain. Kalindaqdaq adalah cetusan perasaan dan pikiran yang dinyatakan dalam kalimatkalimat indah. Kedua, berasal dari bahasa Arab “qaldan” yang berarti memintal. Alasannya, membuat kalindaqdaq memerlukan ketekunan dan kehati-hatian, kurang lebih sama dengan memintal benang, sutera, atau tali yang juga memerlukan ketekunan dan kehati-hatian. Kata “kalindaqdaq” mungkin juga berasal dari kata bahasa Arab “qillidun” yang berarti gudang; atau boleh jadi berasal dari kata qaladah atau qalaaid

“Saeyyang pattuqduq”, yang diatasnya anak lelaki dengan pakaian ala Arab.

yang berarti kalung hiasan perempuan. “Dihubungkan” dengan pengertian ‘menggali isi dada’, ‘memintal’, ‘gudang’, dan ‘kalung hiasan perempuan’, sungguh kalindaqdaq mengandung makna yang dalam dan luas. Puisi tradisional daerah Mandar ini mempunyai bentuk tertentu yang mungkin berbeda dengan bentuk puisi daerah yang lain. Contoh: “Usanga bittoeng raqdaq/Di pondoqna I Bolong/I kandiq pala/Mambure pecawanna” (Kusangka bintang yang jatuh/Di atas punggung (kuda) Si Hitam/Dinda kiranya/Yang menaburkan senyumnya); “Tennaq rapaangdaq uwai/Lamba lolong lomeang/Mettonang bandaq/Di naunna endeqmu” (Seandainya aku bagaikan air/ yang mengalir kian kemari/Aku tergenang sudah/Di bawah naungan tanggamu);

BUDAYA - 109 “Passambayang moqo daiq/Pallima wattu moqo/Iyamo tuqu/Pewongang di aheraq” (Bersembahyanglah engkau/Berlima waktulah/Itulah dia/Bekal di akhirat). Jika diuraikan berdasarkan sukukata, bentuk kalindaqdaq demkian: U-sa-nga bit-to-eng raq-daq (8 sukukata) Di-pondoq-na i-bo-long (7 sukukata) I-kan-diq pa-la (5 sukukata) Mam-bu-re pe-ca-wanna (7 sukukata), dan seterusnya masingmasing kalindaqdaq berpola 8-7-5-7. Kkalindaqdaq mempunyai ciri tetap (1) tiap bait terdiri atas 4 larik (baris), (2) larik pertama 8 sukukata, (3) larik kedua 7 sukukata, (4) larik ketiga 5 sukukata, (5) larik keempat 7 sukukata, (6) merupakan puisi sukukata, (7) persajakannya umumnya bebas. Berikut adalah bait-bait yang bersajak aaaa, abab, abba dan aabb. Bersajak aaaa: “Ruppuq kaca pandolangna/Panno lino tundana/Lawas dunnia/Passoso alawena” (Pecah bak kaca penyangkalannya/ Memenuhi dunia kutukannya/Melimpah ruah/Penyesalan dirinya). Bersajak abab: “Sahadaq di tuqu tia”/Ponnana asallangang/Peqakkeanna/ Ingganna atonganang (Sahadat itulah dia/Dasar dan asal keislaman/Tempat bertolaknya/Segala kebenaran). Bersajak abba: “Tomaqita pa tunau/Siola sayang topa/Anna na ia/Mapposara batangngu” (Hanya yang melihat hina rendahku/ Beserta sayang jua/Dia yang akan/ Menaruh cinta pada diriku). Bersajak abab: “Tonganoq mating atawang/ Atawang alinduang/Iqda doq tuqu/Bottu di paqmaiqu” (Benar engkau jauh/Jauh dan terlindung/Tidaklah engkau/Putus dalam hatiku).

Koayang adalah nama jenis burung di Mandar, yaitu burung gagak. Berdasar tingkah “koayang” dibuatlah semacam teater tradisional yang kemudian disebut “koa-koayang”. Teater ini biasa diperagakan di arena terbuka. Dalam adegan, diantara sekian pemerannya, salah satunya diperankan oleh koayang (dalam dongeng masyarakat Mandar koayang adalah burung raksasa yang buas sekali gemar makan manusia dan ternak besar). Permainan/teater rakyat tersebut ditampilkan pada upacara perkawinan, memeperingati Maulid Nabi, dan upacara menunaikan nasar seseorang/satu keluarga. Sampai tahun 1985, makkoamakkoayang masih dimainkan oleh satu kelompok oraganisasi kesenian tradisional di Dusun Limboro, Desa Ongko, Kec. Campalagian, Kab. Polmas yang dipimpin oleh seniman lokal daerah setempat Suani, laki-laki 52 tahun. Dua anggota kelompok kesenian lainnya ialah Sani Kindoq Pipi, perempuan 65 tahun, dan Musu, laki-laki 47 tahun Alat yang dipakai oleh pemeran koayang disebut koa-koayang. Terbuat dari bilah-bilah bambu dan kain batik. Dengan bilah-bilah bambu dibuat rangka dan padanya dipasang kain batik. Paru diikat sedemikian rupa dan dipasangkan pada wajah orang yang memainkannya. Kemudian, selembar kain panjang menutupi seluruh badan pemain kecuali kaki. Bahagian tangan juga ditutupi kain batik yang sesekali direntangkan dan digerak-gerakkan seolah-olah sayap burung yang sedang terbang. Pemeran koayang adalah laki-laki dewasa [.]


Foto perahu sandeq yang sketsanya menjadi simbol sandeq di logo Kabupaten Polewali Mandar

Barisan tim Sulawesi Barat, yang diwakili Kabupaten Polewali Mandar, dalam Pawai Budaya Nusantara 2009 di Istana Negara, Jakarta. Provinsi Sulawesi Barat keluar sebagai terbaik pertama untuk kedua kalinya.

BUDAYA - 110 BUDAYA - 111


Penampilan “parrabana kecce� dari Tinambung di Gedung Kesenian Jakarta, Juli 2009 dalam acara Festival Nasional Musik Tradisional Anak-anak Indonesia. Berhasil masuk dalam sepuluh besar terbaik.

Pementasan teater Bisikan Ombak oleh Komunitas Sureq Bolong dan Teater Flamboyant di Kabupaten Barru, Mei 2009

BUDAYA - 112 BUDAYA - 113


BUDAYA - 114

AYO KE POLMAN - 115

Kota Polewali

Ayo ke Polman Polewali Mandar, biasa disingkat Polman (dulu Polmas, Polewali Mamasa) adalah kabupaten yang diperhitungkan di Sulawesi Barat. Selain karena di kabupaten ini terdapat pusat kebudayaan Mandar, yaitu Kerajaan Balanipa, kualitas sumberdaya manusianya terbukti mengambil peran dalam sejarah dan peradaban Mandar atau Sulawesi Barat. Pada zaman perang kemerdekaan, banyak pejuang yang lahir di kawasan ini. Pada masa-masa berikutnya pun demikian. Khusus dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, sebagian besar unsur pejuang dan pusat gerakan terjadi di Kabupaten Polewali Mandar. Di pemerintahan pun demikian, posisi pengambil kebijakan di Provinsi Sulawesi Barat banyak yang berasal dari Polewali Mandar. Dalam dua kali pemilihan gubernur Provinsi Sulawesi Barat, sebagian besar kandidat berasal dari Polewali Mandar. Pusat perkembangan pemikiran

intelektual, seni dan budaya juga berlangsung di Polewali Mandar. Banyak generasi dari Polewali Mandar yang menjadi tokoh nasional. Seperti Baharuddin Lopa, Husni Djamaluddin, dan Basri Hasanuddin. Para pemikir dan budayawan Mandar juga sebagian besar dari Polewali Mandar, seperti Darmawan Masud, Suradi Yasil, Syarbin Sjam, Darwis Hamzah, Alisjahbana, Cammana, dan Nur Dahlan Jirana. Itulah sebab, banyak budayawan nasional bertandang ke Polewali Mandar, khususnya Tinambung. Seperti Emha Ainun Nadjib, W. S. Rendra, dan Zawawi Imron. Banyak turis, peneliti, dan rumah produksi pembuatan film dokumenter dari luar negeri yang melakukan kegiatan di Polewali Mandar. Mereka melakukan riset dan dokumentasi kebudayaan maritim Mandar, khususnya di Desa Karama (Kecamatan Tinambung) dan Desa Pambusuang (Kecamatan Balanipa). Mereka umumnya berasal dari Jepang,


AYO KE POLMAN - 116 Polewali Mandar dulu hingga kini adalah pusat perkembangan intelektual. Sebelum ada perguruan tinggi di Sulawesi Barat, banyak generasi muda Polewali Mandar menuntut ilmu baik di Jawa maupun di Makassar. Ada yang kembali ke kampung halaman untuk mengabdi, ada juga yang tetap di kota-kota besar bergerak dalam banyak bidang. Salah satu tokoh besar Mandar, Baharuddin Lopa, putra Pambusuang, adalah mantan Menteri Kehakiman dan mantan Jaksa Republik Indonesia. Beliau pendekar hukum negeri ini. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa beliau juga penulis buku. Karyanya antara lain Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan (hasil desertasi S2-nya di Universitas Diponegoro), Sampul buku yang memperlihatkan dua tokoh nasional kelahiran Polewali Mandar, Husnid Djamaluddin dan Baharuddin Lopa.

Perancis, Jerman, dan Australia. Sebagian kecil berasal dari Inggris dan Rusia. Hampir semua ekspedisi pelayaran ke luar negeri yang mengusung budaya maritim Mandar berangkat dari kawasan Polewali Mandar, misalnya ekspedisi Pelayaran Akademis Universitas Hasanuddin I dan II yang berangkat dari Pambusuang, ekspedisi Yamamoto dengan perahu bercadik berlayar ke Papua Nugini dan Jepang, ekspedisi The Sea Great Journey oleh antropolog Jepang bernama Prof. Sekino dari Lambe, Karama menuju Jepang dengan menggunakan dua perahu bercadik kuno dari Mandar.

Pusat Intelektual Penulis buku tentang Mandar atau Sulawesi Barat sebagian besar berasal dari Polewali Mandar. Itu disebabkan

Kegiatan pembuatan film dokumenter oleh stasiun televisi dari Jepang di Pambusuang.

AYO KE POLMAN - 117

Kegiatan diskusi ilmiah di Unasman.

dan Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (kumpulan tulisannya di harian Kompas). Tokoh lainnya adalah Husni Djamaluddin. Budayawan kelahiran Tinambung yang dikenal sebagai Panglima Puisi. Beberapa karyanya Bulan Luka Parah, Berenang-renang ke Tepian, dan Aku Toraja. Adapun penulis lain yang lahir dan besar di Kabupaten Polewali Mandar (sebelumnya Polewali Mamasa) antara lain adalah (berdasar abjad) Abdul Mutthalib (Kamus Mandar – Indonesia), Aco Musaddad (Ali Baal Pemimpin Visioner dan Merakyat), Adi Arwan Alimin (Jejak Dua Lelaki dalam Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Di Mandar, Bulan Menenun Layar, ditulis bersama Syariat Tadjuddin dan Suparman Sopu), Ahmad Asdy (Balanipa dalam Kenangan, Mengenang

Srikandi dari Jazirah Tipalayo, Selayang Pandang Perjuangan Sulawesi Barat, I Puraparaqbue dalam Kisah Romantisme Kekuasaan, Mitos Tentang Ritual dan Mistik di Mandar, Sosialisasi Siri’ serta Etika dan Estetika di Mandar, dan lainlain); Darwin Badaruddin (Antologi Puisi Potret Hitam Putih), Idham Khalid Bodhi (Lipa’ Sa’be Mandar: Tenunan Sutera Mandar – Sulawesi Barat, 2009; Mandar Pura Mai: Petuah-petuah Leluhur Mandar Silam; Sibaliparri: Gender Masyarakat Mandar; Barzanji dan Terjemahannya dalam Bahasa Mandar dan Indonesia; Local Wisdom: Benang Untaian Mutiara Hikmah dari Mandr Sulawesi Barat; Terjemahan Juz Amm dan Bahasa Daerah Mandar dan Indonesia; Makna Lambang Provinsi Sulawsi Barat; dan Koroang Mala’bi: Terjemahan Al Quran dalam Bahasa Daerah Mandar dan Indonesia); Masjaya (Rencana Tata


Buku-buku bertema Mandar dan Sulawesi Barat umumnya ditulis oleh putra-putra kelahiran Polewali Mandar, sebagaimana yang terlihat dalam foto ini.

Perahu pakur yang digunakan dalam Ekspedisi The Sea Great Journey Mandar - Jepang berangkat dari Desa Karama, Kecamatan Tinambung

AYO KE POLMAN - 118 AYO KE POLMAN - 119


AYO KE POLMAN - 120 Kota). M. T Azis Syah (Biografi I Calo Ammana I Wewang), Mukhlis Paeni (Persepsi Sejarah Kawasan Pantai, ditulis bersama Darmawan Masud dan beberapa penulis lain), Muhaimin Faisal (Menuju Dewan Rakyat), Muhammad Amin Daud (budaya: Mengenal Struktur dan Sistem Pemerintahan Kerajaan Balanipa Mandar), Muhammad Ridwan Alimuddin (Mengapa Kita [Belum] Cinta Laut?; Orang Mandar Orang Laut; Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara); Mandar Nol Kilometer), Muhammad Thalib Banru (Biografi S. Mengga), Sarbin Sjam (budaya: Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa), Suaib Sahibu (Bua’ Lipas Nasanga To Mandar), Suradi Yasil (Ensiklopedi Tokoh, Sejarah dan Kebudayaan Mandar, Republik Korupsi, Di Tengah Padang Ilalang). Polewali Mandar juga tempat awal berkembangnya dunia jurnalistik di Mandar. Beberapa media, baik koran, tabloid maupun radio lahir di kawasan Mandar lahir atau didirikan di Kabupaten Polewali Mandar. Koran terbesar di Sulawesi Barat, yang masuk group media terbesar Indonesia, Jawa Pos, yakni harian Radar Sulbar (sebelumnya Radar Mandar) pertama kali mengambil kantor (didirkan) di Polewali. Seiring terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat, kantor pusat pindah ke Mamuju sebagai ibukota provinsi. Meski demikian, mesin cetak Radar Sulbar tetap berada di Polewali. Stasiun radio terkemuka di Sulawesi Barat juga terdapat di Kabupaten Polewali Mandar, yaitu Radio Sawerigading. Terletak di kecamatan paling ramai;

AYO KE POLMAN - 121 KemudianpadaPawaiBudayaNusantara I dan II (2008 dan 2009) di Istana Negara, Jakarta, keberhasilan Provinsi Sulawesi Barat sebagai Terbaik I tak lepas dari dukungan Kabupaten Polewali Mandar, terkhusus Pawai Budaya II.

Pembukaan PORDA I Sulawesi Barat di Polewali Mandar.

pusat perekonomian Kabupaten Polewali Mandar, Kecamatan Wonomulyo. Radio Sawerigading didirikan oleh H. Mandja bersama keponakannya, Rahman Bande pada tahun 1989. Selain itu, ada juga Suara Tipalayo FM (STFM) di Polewali. Untuk kegiatan olahraga, pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah untuk Provinsi Sulawesi Barat pertama kali diadakan di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2007 di bawah kepemimpinan Bupati Ali Baal Masdar. Kabupaten Polewali Mandar juga berhasil meraih prestasi sebagai juara umum. Demikian halnya di bidang kesenian, Kabupaten Polewali Mandar adalah pelopornya. Dari Kecamatan Tinambung, kelompok teater legendaris di Sulawesi Barat, Teater Flamboyant dibentuk pada tahun 80-an di bawah binaan Alisjahbana.

Akomodasi Secara umum, akomodasi hotel atau penginapan di Polewali Mandar hanya terdapat di kota besar, yaitu Polewali dan Wonomulyo. Beberapa diantaranya Hotel Lilianto (Rp 240.000 - Rp 390.000), Hotel Perdana (Rp 155.000 – Rp 200.000), Hotel Asia Baru (Rp 50.000 – Rp 125.000), Hotel Bumi Raya (Rp 90.000 – Rp 1.750.000), Hotel Polewali Indah (Rp 170.000 – Rp 200.000), Hotel Istana (Rp 80.000 – Rp 150.000), Hotel Ratih (Rp

Kegiatan cetak koran di percetakan PT Fajar Cabang Sulawesi Barat di Polewali

250.000 – Rp 550.000). Rumah makan juga mudah ditemukan di Polewali dan Wonomulyo. Meski di tempat lain tidak ada penginapan atau hotel, rumah penduduk bisa dijadikan sebagai akomodasi. Orang Mandar terkenal sangat menghargai tamu. Beberapa turis asing yang bertandang ke Polewali Mandar lebih memilih untuk tinggal di rumah penduduk daripada di hotel sebab mereka lebih mudah bergaul dengan masyarakat. Khusus Tinambung, pelancong bisa tinggal di hotel atau penginapan yang ada di kota Majene (Kabupaten Majene). Jaraknya relatif dekat, sekitar 10km. Beberapa diantaranya Tasha Center, Hotel Sulawesi, Hotel Bogor dan Penginapan Abrar. Dari Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, ke Polewali Polewali Mandar, bila menggunakan transportasi publik, ada beberapa pilihan. Dari Terminal Daya Makassar, bis yang menuju atau melewati Polewali Mandar antara lain Piposs, Bintang Timur, dan Liman. Bis berangkat malam hari, sekitar jam delapan. Ongkos bis berkisar Rp 60.000 – Rp 75.000, tergantung tempat turun di Polewali Mandar. Alternatif lain seperti ‘panther’, mobil ukuran lebih kecil. Waktu pemberangkatan sepanjang hari. Selain ada di Terminal Daya, ‘panther’ juga bisa ditunggu di pinggir jalan di antara Daya dengan kota Maros. Biayanya lebih murah, Rp 50.000 – Rp 60.000 tapi faktor kenyamanan tidak seperti bis. Kadang mobil diisi sampai 12 penumpang, sehingga duduk berdempetan.


AYO KE POLMAN - 122

Suasana di dalam pete-pete.

Sebab Terminal Daya jauh dari Kota Makassar, beberapa penumpang memilih angkutan alternatif. Yaitu ‘panther’ atau mobil L300, seperti ‘Sulbar’. Dengan menelpon si sopir atau pemilik usaha angkutan (istilahnya mendaftar atau memesan kursi), sang pemesan akan dijemput dirumahnya. Sebab angkutan umum dilarang masuk kota setelah jam enam pagi, maka penumpang dijemput dari jam empat sampai jam lima subuh. Untuk menuju Polewali Mandar hanya bisa dengan menggunakan angkutan darat. Bandar udara belum ada dan tidak ada kapal laut yang melayani rute Makassar ke Polewali Mandar. Demikian juga dari daerah lain. Sebaliknya, jika akan menuju Makassar atau Mamuju, bisa menunggu ‘panther’ di sepanjang jalan trans Sulawesi. Kecuali bila menggunakan bis, hanya berangkat malam dan harus mendaftar sebelumnya.

Sebagian besar ibukota kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar berada atau tak jauh dari jalan nasional atau jalan trans Sulawesi. Hanya Kecamatan Alu, Kecamatan Tubbi Taramanu. Kecamatan Bulo, dan Kecamatan Matangnga yang relatif jauh dari jalan trans. Kecamatan Limboro, Kecamatan Anreapi, Kecamatan Tapango, dan Kecamatan Luyo juga tidak terletak di jalan trans, tapi jaraknya tidak begitu jauh dan akses jalan cukup baik. Bila akan menuju tempat yang berada jauh dari jalan trans, bisa menggunakan pete-pete atau ojek. Pete-pete adalah transportasi publik utama di Polewali Mandar. Ada dua rute utama pete-pete di Polewali Mandar, yang melintas pagi sampai sore. Yaitu Polewali – Wonomulyo dan Wonomulyo – Tinambung. Masingmasing ongkosnya Rp 5.000 – Rp 6.000. Dari kota kecamatan, seperti Polewali,

AYO KE POLMAN - 123 Wonomulyo, Mapilli, Campalagian dan Tinambung ada pete-pete yang rutenya menuju kota kecamatan yang ada di pedalaman. Ongkosnya berkisar Rp 5.000 sampai Rp 15.000. Tergantung jarak dan kondisi jalan. Untuk transportasi lokal jarak dekat, bisa menggunakan becak, bendi atau ojek. Bendi atau dokar hanya ada di beberapa tempat di Polewali Mandar, seperti Kecamatan Tinambung, Kecamatan Alu, Kecamatan Limboro, Kecamatan Balanipa dan Kecamatan Campalagian. Bendi baru banyak beroperasi ketika hari pasar di kota-kota kecil utama di Polewali Mandar. Demikian juga becak, tempat mangkalnya di pasar-pasar. Adapun ojek, selain ada di pasar, juga bisa ditemukan di persimpanganpersimpangan jalan. Ojek bisa digunakan bila akan menuju kampung yang ada di perbukitan. Tarif ojek berkisar Rp 3.000 sampai Rp 20.000. Tergantung jarak,

kondisi jalan, dan waktu (malam mahal). Untuk mobil rental, hanya ada di kota-kota besar, seperti Wonomulyo dan Polewali. Di tempat lain juga ada, tapi tidak dalam bentuk usaha. Informasi mobil yang bisa dirental dapat ditanyakan ke penduduk setempat. Biasanya tarif mobil rental per hari tidak termasuk sopir sekitar Rp 200.000 - Rp 300.000. Beberapa tempat di pedalaman, transportasi seperti rakit, “piccara” (perahu yang dimodifikasi) dan kuda masih sering digunakan. Rakit dan “piccara” digunakan sebagai alat penyeberangan di sungai, sedang kuda digunakan untuk mengangkut barang. Biasanya hasil kebun atau bahan bangunan. Adapun perahu sebagai transportasi publik hanya ada di Kecamatan Binuang, yaitu alat penyeberangan menuju pulaupulau kecil di Kepulauan Tonyaman. Ongkos Rp 3.000 - Rp 10.000. Tergantung pulau yang dituju [.]

perahu “piccara”, sarana transportasi penyeberangan di Sungai Maloso (Mapilli).


Rembulan tenggelam di Teluk Mandar

Matahari tenggelam di Teluk Mandar

AYO KE POLMAN - 124 AYO KE POLMAN - 125


Perbukitan di perbatasan Kecamatan Balanipa dengan Kecamatan Campalagian

Suasana malam hari antara Kota Tinambung dengan Kota Majene

AYO KE POLMAN - 126 AYO KE POLMAN - 127


Terumbu karang di Pantai Palippis, Kecamatan Balanipa

Suasana pagi di perbukitan antara Campalagian, Luyo dengan latar barisan perbukitan yang masuk wilayah Kabupaten Mamasa.

AYO KE POLMAN - 128 AYO KE POLMAN - 129


Sungai kecil dekat agrowisata Rawa Bangun, Kecamatan Binuang

Hutan bakau di Pantai Mirring, Kecamatan Binuang

AYO KE POLMAN - 130 AYO KE POLMAN - 131


AYO KE POLMAN - 132

AYO KE POLMAN - 133

Pantai Mirring, Kecamatan Binuang

Sore hari di Riso, Kecamatan Tapango

Permandian alam di Rawa Bangun, Kecamatan Binuang


Tanjung Mampie, Kecamatan Wonomulyo

Salah satu jenis burung di Mampie

AYO KE POLMAN - 134 AYO KE POLMAN - 135


01 AYO KE POLMAN - 137

AYO KE POLMAN - 136

Keterangan Peta Peta yang terlampir dalam buku ini bersumber dari Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 2012-14, 2012-42, 2012-51/23, 2012-52, 2012-53, dan 2012-54 Skala 1:50.000 Edisi 1991 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Peta ini bukan referensi resmi mengenai garis-garis batas administrasi daerah. Peta ini terbit sebelum Kabupaten Polewali Mamasa dibagi menjadi dua kabupaten dan belum dibagi atas 16 kecamatan. Beberapa bagian peta masih mencantumkan wilayah lama.

15

16

12

13

14

07

08

09

10

11

01

02

03

04

05

06


02 AYO KE POLMAN - 138

03 AYO KE POLMAN - 139


04 AYO KE POLMAN - 140

05 AYO KE POLMAN - 141


06 AYO KE POLMAN - 142

07 AYO KE POLMAN - 143


08 AYO KE POLMAN - 144

09 AYO KE POLMAN - 145


10 AYO KE POLMAN - 146

11 AYO KE POLMAN - 147


12 AYO KE POLMAN - 148

13 AYO KE POLMAN - 149


14 AYO KE POLMAN - 150

15 AYO KE POLMAN - 151

16


REFERENSI - 152

Anonim. 1992. Alam Manusia Budaya Sulawesi Selatan. PT Info Budaya Nusantara

Pahlawan Daerah Mandar Sulawesi Selatan. Pemda Tingkat I Prop. Sulawesi Selatan Muhammad Idham Khalid Bodi. 2010. Kamus Besar Bahasa Mandar. Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Barat

Anonim. 2011. Profil Kebudayaan dan Pariwisata Polewali Mandar. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar

Muhammad Ridwan Alimuddin. 2003. Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar. Forum Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar

Anonim. 2009. Statistik Kabupaten Polewali Mandar. BPS. Jakarta

Muhammad Ridwan Alimuddin. 2005. Orang Mandar Orang Laut. KPG. Jakarta

Andi Muis Mandra. 2008. Mottiana Mandar. Yayasan Saq-Adawang. Majene

Muhammad Ridwan Alimuddin. 2009. Sandeq Perahu Tercepat Nusantara. Ombak dan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Yogyakarta

Andi Syaiful Sinrang. 1994. Mengenal Mandar Sekilas Lintas. Yayasan Kebudayaan Mandar Rewata Rio. Ujungpandang

A.M. Sarbin Sjam. 1997. Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa. Limboro Ahmad Asdy. 2009. Sosialisasi Siri’: Etika dan Estetika di Mandar. Yayasan Mahaputra. Tinambung Baharuddin Lopa. 1982. Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan. Alumni. Bandung Edward L. Poelinggoman. 2002. Makassar Abad XIX. Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. KPG. Jakarta Ibrahim Abbas. 1999. Pendekatan Budaya Mandar. Pamboang Leonard Y. Andaya. 2004. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Ininnawa. Makassar M. T. Azis Syah. 1981. Biografi I Calo Ammana I Wewang Topole di Balitung

Muhammad Ridwan Alimuddin. 2011. Mandar Nol Kilometer. Ombak. Yogyakarta Mukhlis Paeni (editor) dkk. 1989. Persepsi Sejarah Kawasan Pantai. P3MP Unhas Rasydi Asba. 2007. Kopra Makassar: Perebutan Pusat dan Daerah. Obor. Jakarta Sarman Sahuding. 2007. Dinamika dan Romantika Perjuangan Pemuda Sulbar. Yayasan Tinta Mandar Sulawesi Barat Suradi Yasil. Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Edisi I. Forum Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar. Tinambung Toby Alice Volkman, dkk. 2000. The Periplus Adventure Guide Series: Sulawesi. Periplus. Singapura

PENULIS-FOTOGRAFER - 153

Muhammad Ridwan Alimuddin Lahir di Tinambung pada 23 Desember 1978. Pendidikan TK Nusaputra Tinambung, SDN 002 Tinambung, MTsN Tinambung, SMUN 01 Tinambung, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pekerjaan: jurnalis, fotografer, penulis Kegiatan mendokumentasikan kebudayaan Mandar dan kebudayaan bahari Nusantara dalam bentuk tulisan, foto dan audiovisual. Penulis buku Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut (2004), Orang Mandar Orang Laut (2005), kontributor di dua buku terbitan www.panyingkul.com Makassar di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2006 – 2007 (2008) dan Indonesia di Panyingkul: Pilihan Kabar Orang Biasa 2007 – 2008 (2009), Sandeq Perahu Tercepat Nusantara (2009), dan Mandar Nol Kilometer (2011). Website: http://www.ridwanmandar.com Facebook: www.facebook/iwanmandar e-mail: sandeqlopi@gmail.com


REFERENSI - 154


Alam Budaya Manusia