Issuu on Google+

KHANZA 1


Cerri Publishing Jl. Siaga I No. 1C Pejaten Barat Ps.Minggu Jakarta Selatan Phone: 021.79193380; 7976587 Email: cerri_pulishing@yahoo.com Cover Designer: Gastrol Advertising Illustrator: Meg Sutrisno Layout: Bahruddin Abdul Aziz Editor: Yuni Puspitasari Diterbitkan oleh: Cerri Publishing Cetakan I Jakarta, November 2005 Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT) Looser Be Lover; editor, Yuni Puspitasari, - Jakarta: Cerri Publishing, 2005 viii + 197 hlm.; 18 cm ISBN: 979-25-1880-0 1. Judul II. Puspitasari, Yuni

Didistribusikan oleh: Tama Distributor Jl. Siaga I No. IC Pejaten Barat Ps.Minggu Jakarta Selatan Phone: 021.79193380; 7976587

2


UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, setelah melalui proses yang panjang dan perubahan di sana-sini, akhirnya novel perdana saya yang berjudul “Looser be Lover” rampung juga dikerjakan. Pertama, saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk Allah swt yang telah memberikan talenta dan inspirasi yang tiba-tiba datang saat saya sedang menulis atau berkhayal. Lalu untuk my family – my best Daddy in the earth, Mr. Furqon Bunyamin Husein yang selalu memacu saya untuk terus menulis dan berkarya. My mom yang kadang suka marah-marah kalo saya berantem dengan kedua adik saya dan hanya menghabiskan waktu di depan komputer tanpa mau baca buku dan belajar (Heyy…mom, ini kan juga belajar!!! Hee..hee…hee ). Trus untuk keluarga besar Alm. Bunyamin Hussein dan Alm. Tamsir yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu but I love you so much. Buat sahabat-sahabat tercinta saya di dunia ini, gastrol – Delia, Apri, Triani, Nuraeni – yang selalu men-support saya dan tempat dimana saya menertawai hal-hal yang paling menggelikan di dunia ini serta mimpi– mimpi kami. Lalu buat kedua sohib saya yang selalu setia mendengarkan khayalan dan mimpi saya, Febi dan Wida. Untuk semua alumni Savatsa yang dihuni oleh makhluk yang konyol, gokil, jayus dan narsis – narsis. Tak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih buat temen-temen di Prodjost alias SMK Negeri 6 khususnya buat anak–anak Che yang tiada hari tanpa tawa dan senyum. Makasih juga buat Devi yang selalu membuat saya senam pipi setiap hari. Eki yang selalu sabar menghadapi saya yang suka marah-marah kalo lagi pusing berat. Dan Rihla yang juga punya hobi sama dengan saya yaitu menulis + baca novel. Buat Eri, Ayau, Desi, Putri, Nur, Aida, Rani dan Septi serta anak-anak lainnya. Thank you bgt ya!! Terima kasih banyak buat smua guru-guru yang sudah sudi membimbing saya. My special thank’s for Ms. Iin Irawati, karena beliau saya jadi suka sama pelajaran Bahasa Indonesia. Juga buat smua tementemen di Friendster dan Yahoo messenger yang slalu menemani kesepian saya. Buat smua temen-temen di seluruh penjuru negri. Buat yang udah baca dan beli buku ini. Kalo ada kritik & saran kirim aja ke kanza_cute2000@yahoo.com Semoga novel perdana saya ini bisa diterima walaupun masih ada kekurangannya. Trim’s Kanza

3


ALUR CERITA ‌‌ Episode 1 Pindah ......pindah - 1 Episode 2 Skul baru - 15 Episode 3 Gue bakal benci lo always - 35 Episode 4 Pembalasan - 51 Episode 5 Konser - 75 Episode 6 Falling in love - 99 Episode 7 Bingung - 113 Episode 8 Jelas sudah - 133 Episode 9 Pertemuan - 149 Episode 10 Ultah Chita - 171 Episode 11 Kado istimewa - 189

4


SATU Duuuukk‌‌sebuah koper mendarat di lantai dengan mulus.

Chita

meregangkan

tubuhnya

yang

terasa

pegal karena duduk berjam-jam di pesawat. Kedua bola matanya yang hangat menyapu seluruh ruangan yang masih terasa asing baginya. Ia merebahkan dirinya di atas sofa yang di tutupi kain berwarna putih.

5


Chita terlonjak kaget ketika suara cempreng milik

kakaknya

memanggil-manggil

namanya

sejak

beberapa detik yang lalu. Chita kemudian berjalan terseok-seok menuju teras. “Ngapain

sih

teriak-teriak???”

tanya

Chita

sambil tolak pinggang. “Bantuin gue dong Chit. Lo nggak liat nih barang-barang sambil

masih

menunjuk

banyak

banget??”

barang-barang

yang

kata

Adam

baru

ia

turunkan dari mobil box. “Ogah Chita

ah!

asal

Gue

sambil

mau

tidur………ngantuk!”

berlalu,

tapi

Adam

ujar segera

mencegatnya. “Enak banget lo ngomong. Eh Chit, gue kasih tau ya sama lo, kata Mama, kita itu harus saling tolong menolong.” “Anak

kecil

juga

tau

kalo

kita

itu

harus

saling tolong menolong!!” “So………” “So, gue ngantuk, capek dan nggak mau bantuin lo!! Lagian elo sih pake acara setuju pindah ke Jakarta. Kalo lo itu sependapat sama gue, pasti sekarang lo nggak bakalan repot kaya gini.” “Jadi, lo nggak mau nolongin gue gara-gara kita beda paham???” “Salah satunya adalah itu. Udah ah gue mau tidur.”

Lalu

Chita

mengambil

tas

kopernya

dan

menjinjing nya menaiki anak tangga. “Chit, nanti malem lo ke biro pembantu ya!!”

6


“Sip, tapi kalo gue inget!!” sahut Chita asal sambil membanting pintu kamarnya. Adam yang mendengar jawaban dari adiknya itu, langsung mengeluarkan umpatan-umpatan nya. “Enak banget dia ngomong kaya begitu.” Omel Adam. ☼☼☼ Mobil BMW keluaran terbaru milik Mama Chita melesat

dengan

lincahnya

di

jalan.

Sambil

menyetir, ia melantunkan lagu Green Day, Wake me up when September End yang mengalun dari earphone yang menggantung di telinganya. Rem BMW itu berdecit ketika Chita tiba di tempat

parkir

Biro

Pembantu

yang

di

maksudkan

Mamanya. “Gila, parkirin

nggak

mobil

ada

gue!!”

tempat kata

yang Chika

kosong saat

buat

melihat

parkiran itu di penuhi sederetan mobil beraneka merk dan warna. Chita menggelengkan kepalanya, takjub dengan apa

yang

ia

lihat.

“Kayanya

di

samping

Opel

Blazer itu masih muat untuk satu mobil.” pikir Chita

sambil

menggas

mobilnya

kencang-kencang

daaaaaann………… Bruuuuukkkk………Chita menabrak bagian belakang mobil Opel Blazer tersebut. Chita segera keluar dan melihat kerusakan yang baru saja ia lakukan. “Kalo

orangnya

minta

ganti

gimana

ya????

Bisa-bisa uang jajan gue di potong terus sama

7


Mama.”

Kata

Chita

cemas

sambil

terus

memperhatikan bagian mobil yang agak gepeng itu. “Sial banget sih gue hari ini!!” tambah Chita sambil

menendangi

begini,

gue

pembantu.

mah

ban

mobil

nggak

Mendingan

itu.

bakalan

tadi

siang

“Kalo

mau gue

ke

tau biro

bantuin

si

Adam deh!! Mending sekarang gue pura-pura nggak tau aja deh.” Chita membalik badan dan………… Jreeeenggggg!!!!! Kedua orang

bola

cowok

mata

dan

Chita

seorang

menangkap perempuan

sosok

dua

muda

di

hadapannya. “Buuu………buuu………kan

sama

saya

Mas!!”

ujar

Chita ketakutan. Mata elang cowok itu memancarkan kemarahan yang sangat. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan Chita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Chita yang diliatin kaya gitu tentu aja

langsung

bingung

plus

salting.

Cowok

itu

tersenyum mengejek dan mulai angkat suara. “Lo bisa gantiin mobil gue ini dalam waktu 24 jam??” tanya cowok itu. Chita berfikir sejenak seolah mengingat suara yang barusan ia dengar. Chita balik memperhatikan cowok di hadapannya dan rasanya saat itu juga ia ingin

muntah

di

hadapan

cowok

songong

di

depannya.

8


“Gue tahu lo itu artis, lo itu bintang. Lo itu personiel group band Growing Up yang namanya lagi tenar. Tapi, lo nggak bisa seenaknya aja dong sama gue. Gue juga tau kalo lo itu tajir, tapi emangnya nyokap gue bisa gantiin mobil lo ini dalam waktu 24 jam??? Lo kira nyokap gue itu orang paling kaya di Indonesia???? Lo kira nyokap gue itu kaya Reza Sanjaya yang tajir itu?? Mikir dong!!” omel Chita keki sambil berjalan memasuki lobby biro pembantu. “Maaf Mbak, saya Chita. Saya di suruh Mama saya

menjemput

receptionist

Mbak

yang

Inah.”

sedang

Kata

Chita

berkutat-kutit

pada dengan

komputer nya. “Maaf Inah.

Dek,

Kurang

namanya

disini

lebih

Sutinah,

ada

ada

Inah,

banyak

lima

yang

orang.

Martinah,

namanya

Ada

Suminah,

yang dan

Raginah.” Kepala

Chita

pusing

seketika

mendengar

sederetan nama yang akhiran nya sama semua yaitu “Inah”. Duh betapa sialnya gue hari ini. Kenapa sih

yang

nama

nya

Inah

harus

sebanyak

itu???

Emang nggak ada nama lain ya selain Inah??? “Pokoknya Mbak Inah yang udah di booking sama Mama saya deh Mbak!!” “Mamanya Ade namanya siapa??” “Ny. Sarrah.”

9


Sang

receptionis

segera

melacak

melalui

komputernya mencari nama “Inah” yang dicari oleh Chita. “Ibu

Sarrah

memang

sudah

memesan

pelayan

untuknya sejak satu bulan yang lalu. Dan “Inah” yang di pesan Ibu Sarrah itu adalah Martinah, tapi

sejak

beberapa

menit

yang

lalu

sudah

di

jemput oleh anak laki-laki.” “Apa???!!!” “Ya udah deh Mbak, makasih ya!!” Dengan

perasaan

bercampur

aduk,

Chita

berjalan keluar dan kembali lagi ke dalam karena hujan mengguyur lebat. “Mbak,

saya

pinjem

payung

dong!!

Di

luar

hujannya deres banget Mbak!!” pinta Chita “Sebentar ya saya ambilkan di belakang.” Kata Mbak

Receptionis

itu

sambil

berjalan

menuju

belakang gedung sederhana bertingkat itu. Kenapa ya gue sial banget hari ini??? Kenapa harus

gue

yang

kena

bukan

si

Adam

aja

sial yang

kaya

gini???

ngerasain

Kenapa

sial

kaya

gini??? Gerutu Chita dalam hati. ☼☼☼ “Gimana

nih

Bril

kalo

gue

di

tanyain

bokap???” tanya Abe risih. “Santai aja lagi Be. Pasti Papa lo nggak akan marah sama lo. Percaya deh sama gue.” Ujar Abril menenangkan pikiran Abe.

10


Abe

menarik

nafas

panjang

sambil

memijat

keningnya. Abril tersenyum kecil melihat tingkah Abe

yang

satu

ini.

Kalo

kaya

gini

Abe

mirip

banget sama Papanya. “Be, udah deh nggak usah di pikirin.” Tambah Abril sambil menepuk bahu Abe. “Iya Mas Abe, ndak usah di pikirin.” Sambar pembantu yang baru mereka jemput membuat Abe dan Abril menoleh dan tertawa kecil. “Be, tadi kok lo kejam banget sih sama cewek itu???” “Cewek yang mana??” tanya Abe balik. “Cewek yang nabrak mobil lo tadi.” “Ohh itu. Lo kan tau Bril kalo gue itu paling benci sama makhluk yang namanya wanita. Dimanapun mereka berada, apapun yang mereka lakukan selalu membuat gue enek.” “Enek

Be????”

tanya

Abril

sambil

memperhatikan wajah Abe - membuat Abe yang sedang menyetir terhalang oleh wajah Abril. “Awas dong Bril!!! Tar gue nabrak nih!!” Belum

sempat

Abe

mingkem

tiba-tiba

Bruuuukkkk…… Abe

menabrak

mobil

yang

berlawanan

arah

dengannya. “Elo sih Ril gangguin gue aja!!” omel Abe sambil menoyol kepala Abril. “Sorry deh Be, gue kan nggak sengaja!!”

11


Sang pemilik mobil yang tadi ia tabrak sudah berdiri di depan mobilnya dan melipat tangannya di dada serta masang tampang juteknya. “Be, itu kan cewek yang tadi ngerusakin mobil lo!!” ucap Abril sambil menunjuk cewek yang ia maksud. Abe masih cuek dan enggan untuk minta maaf. Ia menggas mobilnya dan membuka kaca mobil begitu melintasi mobil Chita. Daaan……genangan air hujan membasahi celana jeans Chita. “Satu

sama!!”

kata

Abe

sambil

tersenyum

mengejek. Chita gondok dan keki setengah mati melihat apa yang baru saja dilakukan Abe. Ia bersungutsungut dan mengucapkan sumpah serapah ke Abe. ☼☼☼ Chita

berjalan

gontai

begitu

memasuki

rumahnya. Ia sudah menyiapkan omelan untuk Adam karena telah mengerjainya. Chita melempar bantal sofa ke arah Adam yang lagi sibuk maen game boy. “Dam, kok lo nggak bilang sih sama gue kalo orang

yang

mama

pesen

itu

udah

lo

jemput??”

semprot Chita. “Lo

kenapa

sih

Chit???”

tanya

Adam

sambil

mengusap-usap kepalanya. “Mau pura-pura boongin gue ya??” “Boongin apaan sih Chit???” “Lo mau balas dendam ya ke gue gara-gara tadi siang gue nggak mau bantuin lo??”

12


Adam

menggeleng

bingung.

“Udah

deh

Chit,

mendingan lo mandi dulu sana. Mungkin aja garagara kena hujan otak lo jadi konslet.” “Apa

lo

bilang???”

tanya

Chita

sambil

mengepalkan tinjunya. “Gue bilang kalo lo harus mandi biar otak lo gak

konslet…………bukan

Chit……………maksud

gue

biar

fresh!!” “Gimana gue bisa fresh kalo seharian ini gue sial banget. Coba lo bayangin Dam, pertama mobil mama

rusak

gara-gara

ada

yang

nabrak

dan

nyipretin genangan air kotor ke gue sampe celana gue kotor. Trus yang kedua lo ikut-ikutan bikin gue semakin sial dengan jemput orang yang mama pesen tanpa bilang-bilang ke gue.” tutur Chita. “Tunggu

Chit,

tadi

lo

bilang

‘gue

udah

ngejemput orang yang mama pesen’???” Chita mengangguk pelan. “Gue nggak ngerasa ngejemput orang yang lo ceritain itu deh Chit.” “Maksud

lo???”

tanya

Chita

sambil

memutar

bola matanya. “Iya, gue nggak ngerasa ngejemput orang itu.” “Tapi, receptionist itu bilang kalo Mbak Inah itu udah di jemput sama cowok sejak setengah jam yang lalu.” “Suwer deh Chit gue nggak pernah ngejemmput Mbak Inah.” “Jadi, Mbak Inah itu kemana dong???”

13


“I don’t know. Makanya jangan ngebantah gue, akhirnya lo kualat kan???” Chita

mendengus

kesal

dan

berjalan

menuju

kamarnya agar tidak di ceramahi oleh Adam yang hobby

nya

nasehatin

orang

sampe

nggak

inget

waktu. Baru beberapa ia melangkah, ia teringat sesuatu dan berbalik arah menuruni anak tangga. “Dam, tar kalo ada Mama bilang aja kalo Mbak Inah yang Mama maksud itu lagi mudik. Ok!!” kata Chita sambil mengedipkan matanya. “Huuuu………uuuuu elo tuh bisanya cuma nyuruh doang!!” omel Adam sambil memanyunkan bibir nya. ☼☼☼ Chita melempar bantal ke arah poster group band

Growing

Up

yang

tertempel

di

dinding

kamarnya. Ia menyilang wajah Abe, sang vokalis yang hari ini teramat sangat di bencinya. “Mentang-mentang sombong

banget.

lo

Norak

udah banget

jadi sih

lo

artis

lo

Be.

Gue

nyesel tau jadi fans group band Growing Up. Lo tuh

nyebelin!!

Pokoknya

mulai

hari

ini

gue

bakalan ngebenci lo untuk selamanya. Gue bakalan buang semua barang-barang yang ada kaitannya sama Growing

Up.

Gue

benci

Growing

Up!!

Gue

benci

Abe!!” omel Chita seperti orang gila. ☼☼☼

14


Episode 2 “Ma,

jangan

hari

ini

deh!!”

rengek

Chita

sambil mengapit roti telur dadar di mulutnya. “Eh

Chit,

semakin

lama

lo

nggak

sekolah,

semakin bego tau!!” timpal Adam.

15


“Yeah,

belajar

itu

kan

nggak

harus

di

sekolah, di rumah juga bisa!!” balas Chita dengan mulut belepotan roti. “Lo itu kalo di rumah nggak bakalan belajar. Palingan juga main game." “Sok tau lo!! Kaya elo nggak males aja!!” “Udah dong masa pagi-pagi udah berantem sih!! Chit,

berhubung

Mama

udah

daftarin

kamu

di

sekolah itu, hari ini kamu sudah boleh sekolah sayang.” Kata Mama menengahi. “Tapi Ma………” “Syuuutt!!!

Nggak

ada

tapi-tapian.”

Mama

meletakkan jari telunjuknya yang lentik di bibir Chita.

“It’s

time

to

back

to

school.

Are

you

ready???” “I am not sure.” Sahut Chita malas. “No problem, but now you must go to school! Understand??” Mama

memberikan

tergantung

di

kursi

tas

ransel

tempat

Chita

Chita

yang

duduk,

lalu

melemparkan senyum paling manis dan mengedipkan matanya. Chita meraih tas ranselnya itu dan tersenyum kaku

lalu

tercintanya daripada

mencium itu.

hari

tangan

“Jadikan

kemarin.”

hari

Bisik

dan ini Mama

pipi

Mama

lebih

baik

di

telinga

Chita. “Semoga aja.” ☼☼☼

16


Sebuah gerbang siswi

sedan

SMU

SMU

metalik

Pelita.

berhenti

Dari

berrambut

dalam

panjang

di

depan

keluar

seorang

menjuntai

sebahu,

kulit berwarna kuning langsat, mata yang hangat dan tajam serta bibir yang terlukis begitu indah di wajahnya. Ditambah lagi dengan hidungnya yang mancung dan alisnya yang hitam seperti semut beriring. Tentu pemandangan ini nggak di sia-sia kan oleh siswa lain yang lagi asyik nongkrong di lapangan basket. Hampir semua mata tertuju padanya. Mereka benar-benar

terpana

dengan

apa

yang

baru

aja

mereka lihat. “Gila, Riza

makhluk

sambil

tak

darimana

berhenti

lagi

nih???”

mengikuti

kata

gerak-gerik

cewek tadi yang akhirnya menghilang. Chita melempar senyum kepada semua orang yang ada di sana walaupun ia tidak mengenal mereka. Ini adalah salah satu dari sekian banyak kiat yang

Mama

ajarkan

ke

Chita

gue

tanya

selama

dalam

ruang

Kepala

perjalanan. “Sorry,

mau

nih,

Sekolah dima ya??” tanya Chita pada seorang cewek yang lagi ngobrol sama temennya. “Lo anak baru ya???” tanya nya. “I…………iya!!” “Ohhhh. Lo lurus aja nanti kalo udah mentok, lo

belok

kiri

sedikit,

trus

abis

itu

naik

ke

lantai dua. Nah nanti lo cari aja ruangan”

17


Chita

memperhatikan

semua

perintah

yang

dikatakan cewek itu. Semuanya benar-benar membuat Chita bingung bahkan sampe bingung banget. “Jaraknya

jauh

nggak

dari

sini???”

tanya

Chita polos. “Lumayan sih. Tapi, lo kalo udah ada janji sama dia harus on time. Soalnya kalo lo nggak on time, lo bisa di caci maki sama dia.” “Yang bener lo???” “Bener!!!” “Walaupun gue anak baru??” “Iya!!! dia itu orangnya nggak peduli mau elo anak baru kek, udah lama kek, nggak naek kelas mulu kek, dia pasti bakalan memperlakukan lo sama kaya anak-anak yang laen.” Jelas cewek itu. “Ya udah thank’s ya!!” “Yoi. Hati-hati tar lo dimakan lagi sama si beruang kutub. Haaaaa……………haaaaaaaaa……” Chita

memicingkan

alisnya

tidak

mengerti

dengan apa yang barusan di bilang oleh cewek itu. Gue heran deh, maksudnya cewek tadi apa ya??? Kok

dia

bilang

kalo

gue

harus

hati-hati

sama

beruang kutub??? Emangnya Kepala Sekolah di sini mirip beruang kutub ya?? Apa jangan-jangan emang beruang kutub??? Ihhhh serem!!! Chita melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya dan kaget begitu melihat jarum jam tersebut.

18


“Ya ampun, sebentar lagi kan jam tujuh. Bisa kena siksa deh nih gue kalo gak on time.” Chita ruang

segera

Kepala

temukan

dan

mempercepat

Sekolah kurang

yang

langkahnya letaknya

strategis.

menuju

sulit

Fiuh,

di

sekolah

disini cuma bikin kepala gue pusing. ☼☼☼ Abe berjalan dengan membawa setumpuk kertas entah

apa

sekali

itu

sebab

isinya. Abe

sama

Sepertinya sekali

ini

tidak

penting melempar

senyum sedikit pun pada kumpulan cewek-cewek yang hampir setiap pagi nongkrong di pinggir lapangan cuma mau caper atau tebar pesona. Padahal menurut pengakuan cewek-cewek SMU Pelita, senyum nya Abe itu bisa bikin klepek-klepek dan susah bernafas. “Abe!!!” sapa Reina, cewek paling terkenal di sana karena kecentilan nya. Abe

tak

menggubris

sapaan

Reina.

Ia

terus

mempercepat langkahnya sambil sesekali menyeruput soft drink di tangan kanan nya. “Sombong banget sih lo Be!!” omel Reina nggak rela

di cuekin kaya gitu sama Abe. “Lo kira

cowok

yang

elo???

paling

Masih

kereen

banyak

yang

di

sini

lebih

itu

adalah

daripada

lo.”

Tambah Reina dengan suara lantang membuat semua yang ada di sekitar sana menoleh ke arah mereka. Abe menoleh sebentar lalu tersenyum misterius dan kembali pada posisi semula.

19


Tiba-tiba sebuah firasat mengatakan bahwa ia tengah di bohongi plus di peremainkan oleh cewek yang tadi. Chita segera berbalik arah karena lima menit lagi jam tujuh. Kepala sekolah yang katanya selalu

on

time

itu

pasti

akan

menghukumnya.

Akhirnya, Chita memutuskan untuk mencari sendiri ruang Kepala Sekolah agar tidak di bohongi untuk yang kedua kalinya. Ia menoleh ke sederet

ruangan yang ada di

sebelah kiri. “Ruang

tata

usaha,

ruang

komite

sekolah,

ruang UK……” Belum sempat Chita menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba

Brrrrruuuuukkkk………seseorang

tengah

menabraknya dan membuat baju seragam perdana nya kotor terkena tumpahan minuman yang di bawa orang tersebut. “Mas,

kalo

Chita sambil

jalan

liat-liat

dong!!!”

omel

membersihkan rok nya dengan tisuue

yang ada di saku nya. “Elo tuh yang jalan nya meleng. Makanya kalo jalan matanya ke depan jangan nengok sana nengok sini.” Chita membantu membereskan setumpukan kertas milik cowok itu yang juga basah akibat ulahnya sendiri. Dasar pagi-pagi

orang

nggak

begini

udah

ngerti minum

kesehatan, soft

drink

masa sih!!

Batin Chita.

20


“Nih

kertas

lo!!”

kata

Chita

sambil

menjulurkan kertas milik cowok itu. “Nggak usah sok baik deh.” “Apa lo bilang barusan???” tanya Chita sambil mendongakkan kepalanya. “Lo-NGGAK-USAH-SOK-BA-IK!”

ulang

orang

itu

yang tak lain adalah Abe. Chita langsung bangkit begitu mendengar kata-kata Abe barusan. “Heh, siapa yang sok baik sama lo??? Bukannya elo yang sok baik dan sok jaim di depan tementemen dan fans-fans lo???” “Maksud lo apa???” “Jadi, lo belom ngerti juga maksud gue??? gue tahu kalo lo itu personiel group band Growing Up. Gue juga tahu kalo lo punya begitu banyak fans di luar sana dan semua orang Indonesia juga tahu dan kenal sama lo dan band lo itu, tapi lo itu nggak pantes jadi vokalis Growing Up.” Chita menarik nafas panjang lalu melanjutkan kata-kata nya lagi. “Lo mau tau kenapa??” tanya Chita sambil tersenyum licik. Abe mengangguk pelan seperti orang yang baru saja terhipnotis. “Karena kelakuan lo itu minus dan banyak yang harus

lo

rubah

dalam

diri

lo.”

Chita

segera

menerobos kerumunan orang yang menjadikan mereka tontonan gratis pagi-pagi begini. ☼☼☼

21


Chita mengetuk pintu bercat coklat pelan dan memastikan bahwa ia sudah siap mental untuk di omelin sama Kepala Sekolah barunya. Ia menarik nafas panjang dan memberanikan diri membuka pintu itu

karena

tak

kunjung

ada

jawaban.

Ia

melongokkan kepalanya dan tersenyum kepada sosok pria di hadapan nya. “Maaf

Pak,

apa

saya

mengganggu???”

tanya

Chita hati-hati takut apa yang di katakan nya itu salah. “Tidak.Silakan masuk!” Perlahan-perlahan Chita memasuki ruangan ber AC yang cukup luas untuk ukuran kantor Kepala Sekolah. “Silakan duduk!!” Chita mengangguk dan menuruti perintah Kepala Sekolah nya itu. “What’s your name??” tanya Pak Kepala Sekolah itu sambil memainkna pulpennya. “Sa…sa…saya Pak???” Tanya Chita bodoh. “Iya siapa lagi??” “Sa…sa…saya

Chita

Pak.

Saya

pindahan

dari

Padang.” “Oh

jadi

siswi

pindahan

dari

Padang

itu

kamu???” Chita mengangguk kaku. “I am Mr. Ronald. I am vice principle in here. Nice to meet you Chita!!!” sapa Pak Ronald sambil menjulurkan telapak tangan nya yang ukuran

22


nya jauh lebih besar di banding telapak tangan Chita. “Nice to meet you too.” sahut Chita sambil tersenyum renyah dan membalas uluran tangan Pak Ronald. “Ok sekarang kamu harus ke kelas karena jam pelajaran sudah di mulai.” Tiba-tiba pintu di ketuk hingga berkali-kali. Pak Ronald mempersilahkan orang itu untuk masuk. Dan betapa keki nya hati Chita beegitu melihat siapa yang datang. Ya

Allah

kenapa

kau

biarkan

hamba

Mu

ini

bertemu dengan makhluk yang paling nyebelin dari semua makhluk yang nyebelin di dunia ini??? Gumam Chita dalam hati. “Ada apa Abe??” tanya Pak Ronald. “Saya mau memberikan tugas yang Bapak suruh kemarin.” jawab Abe sambil memberikan setumpukan kertas yang masih agak basah terkena soft drink akibat bertabrakan dengan Chita tadi. “Tapi, maaf ya Pak kalo agak basah soalnya tadi saya nggak sengaja bertubrukan sama cewek. Trus minuman saya ikut tumpah deh ke kertas ini.” Pak Ronald tersenyum tak percaya dengan apa yang ia lihat. Abe benar-benar mengerjakan apa yang sudah di perintahkan nya. “Ini benar-benar tulisan kamu Abe??”

23


“Iya lah Pak! Saya nulis ini sampe begadang dan tangan saya sampe keriting.” Ujar Abe sambil menarik

kursi dan duduk di samping Chita.

Abe

menoleh

samping nya. cewek

yang

ke

arah

cewwek

yang

duduk

di

Ya ampun, kenapa gue ketemu sama selalu

bikin

gue

sial???

Aduhhh……

sebentar lagi gue pasti baklan ketiban sial. Oh God help me!! Batin Abe sambil menepuk dahi nya. “Pak, saya pamit ke kelas dulu ya!!” kata Abe sambil bangkit dari tempat duduk nya. “Ok, sekalian kamu antar Chita ke kelas mu ya!! Nanti Bapak menyusul.” “Yah Bapak jangan saya dong. Bapak aja deh.” “Ya udah dengan sangat terpaksa kamu Bapak suruh

menulis

tantang

Pak

seperti

Ronald

ini

sambil

empat

kali

mebanting

lipat!!”

setumpukan

kertas Abe. Abe

mendengus

kesal

sementara

Chita

cengengesan di bangku nya. “Cepet cewek pembawa sial!!” omel Abe sambil menarik tangan Chita. “Eh cowok sok

ganteng, nama gue itu CHI-TA,

bukan cewek pembawa sial!!” “Terserah apa kata lo deh. Mau nama lo Ratu Elizabeth

sekali

pun,

gue

nggak

bakal

peduli.

Pokoknya lo itu cewek pembawa sial!!” “Enak banget lo ngomong. Eh gue nggak pernah nyangka

deh

kalo

Abe-vokalis

Growing

Up-yang

24


selalu punya banyak fans itu kelakuan nya kaya gini.” “Bodo amat. Suka-suka gue dong!!” “Heh…………sudah

kalian

ini

kaya

anak

kecil

aja.” Lerai Pak Ronald sambil menahan tawa. “Abe, cepat antar Chita ke kelas!!” “Kelas yang mana??” tanya Abe. “Ya kelas kamu lah!!” “Yah Bapak, kalo saya sekelas sama dia, pasti bakalan banyak kesialan menimpa saya.” “Abe!!!” hardik Pak Ronald. “Iya……iya……saya ngerti.” Abe segera berjalan keluar ruangan dengan di ikuti Chita di belakang nya denagn mulut misuhmisuh. ☼☼☼ Abe

mengetuk

pintu

kelas

nya

pelan.

Dari

luar, ia dapat mendengar suara Bu Cherry yang sedang

bercas-cis-cus

dengan

pelajaran

Bahasa

Inggris. “Permisi Bu!!” kata Abe sambil melongokkan sebagian kepala nya. Bu

Cherry

menoleh

dan

memandangi

Abe

dari

ujung kepala sampai ujung kaki. “Why

do

you

come

late??”

tanya

Bu

Cherry

sambil berjalan menghampiri Abe. Abe

yang

nggak

ngerti

harus

menjawab

pertanyaan Bu Cherry itu cuma bisa garuk-garuk kepala doang.

25


“Answer my question Abe!!” Chita tertawa kecil melihat muka tolol nya Abe.

Abe

melirik

dan

masang

bibir

manyun

nya

membuat Chita nggak kuat untuk tertawa. “Haaa…………haaaaa………” Tawa

Chita

meledak

seketika

memecah

keheningan kelas itu. Ia segera mneuutup mulut nya

ketika

menyaddari

bahwa

semua

bola

mata

tertuju pada nya. Bu Cherry berjalan mendekati Chita

sambil

terus

memperhatikan

wajah

Chita.

Chita tentu saja langsnung ciut dan menundukkan kepala nya sampai dalam-dalam. “Who

are

you???”

tanya

Bu

Cherry

sambil

mengangkat wajah Chita. “I am new student in here.” Jawab Chita raguragu

sambil

tak

lepas

memperhatikan

Bu

Cherry

dengan tampang ketakutan. Bu Cherry melepaskan telapak tangan nya yang dari

tadi

nempel

di

pipi

Chita

dan

tersenyum

puas. Ia membenarkan letak kaca mata minus nya dan mengajak Chita berjalan menuju muka kelas. “Introduce

your

self

please!!”

kata

Bu

Cherry. “Na………na……na…ma…sa…………” “Speak

English

please!!”

teriak

Bu

Cherry

yang dalam sekejap sudah berdiri menyandar tembok belakang. Chita yang

ia

semakin katakan

nervous dengan

dan

bahasa

takut

kalau

Inggris

apa

salah.

26


Pasal

nya

SMU

Pelita

adalah

SMU

yang

paling

bonafide di Jakarta, so anak-anak nya tentu otak nya nggak cetek dong. Chita menggaruk-garuk kepala nya menandakan bahwa

saat

ini

ia

sedang

bingung

berat.

Ia

bersungut-sungut kesal ketika melihat Abe tengah menertawai nya di dekat pintu masuk. Chita menarik nafas panjang. “ I am Chita Nadhira Fahrezi. I came from Padang. Nice to meet you!!” “Nice

to

meet

you

too

Chita!!”

sahut

Abe

tiba-tiba sambil tersenyum dan melambaikan tangan nya

tanpa

kelas putih,

penuh

dosa.

Kontan

seluruh wajah

langsung

tertawa

membuat

merah

seperti

kepiting

pengisi Abe

rebus.

yang Chita

tersenyum penuh kemenangan. “If you want to ask about her self, I will give you five minutes to ask.” Kata Bu Cherry sambil berjalan menuju tempat duduk nya. Hampir semua cowok tunjuk tangan dan berebut untuk

bertanya

membuat

kelas

menjadi

gaduh

kembali. Bu Cherry memilih David sebagai calon penanya pertama. “Chit, malem minggu besok kita nonton konser nya Growing Up yuk!! Lo mau nggak???” ajak David membuat kelas kembali gempar dan

sebagian anak

cewek

pada

kalo

Chita

doang

geger yang

dan

nggak

di

ajak

rela

nonton

cuma

konser

si nya

Growing Up.

27


“Vid,

masa

yang

di

ajak

cuma

Chita

doang

sih!!” protes Ana. “Emang nya lo mau ikut juga???” tanya David. “Mau!!!” sahut Ana bersemangat. “Boleh

aja,

tapi

gue

nggak

naggung

biaya

tiket, transport sama makan ya!!” “Yeah, itu mah sama aja gue ngeluarin duit juga.” “Ya udah kalo nggak mau.” Ujar David sambil beralih

ke

Chita

lagi.

“Gimana

Chit,

lo

mau

nggak???” “Sorry deh, gue nggak terlalu suka sama group band Growing Up.” Kata Chita sambil mengerling ke arah

Abe.

Tentu

aja

jawaban

Chita

barusan

menyinggung Abe dan Abril banget yang kebetulan satu kelas dan satu sekolah. Abe keki berat sama Chita. Gigi nya bergemeletuk dan sorot mata nya menyirat kan kemarahan. David

menerima

jawaban

dari

Chita

dengan

lapang dada. Dan jawaban yang keluar dari bibir Chita barusan telah membuat para cowok di kelas itu

bersorak-sorai

menyebut-nyebut

nama

Chita.

Sementara kumpulan cewek-cewek pada sedang asyik menganalisis jawaban Chita lewat gosipan mereka. “Saya

sudah

boleh

duduk

Bu??”

tanya

Chita

pada Bu Cherry. “Yaa………ya……” kata Bu Cherry.

28


Chita menuju

menundukkan

bangku

kepala

kosong

nya

yang

dan

berada

berjalan di

ujung

ruangan. “Tunggu

dulu!!!”

tandas

Abe

membuat

Chita

berbalik badan. “Abe!!!” hardik Bu Cherry. “Bu, ada yang mau saya tanyakan ke dia. Boleh kan??” “Don’t over five minutes!!” Abe

berjalan

dengan

gaya

nya

yang

sok

bijaksana. Ia memasukkan kedua telapak tangan nya ke dalam saku celana abu-abu nya. “Gue mau nanya nih Chit, boleh nggak??” tanya Abe sambil mendekati Chita. “Lo mau tanya apa??” “Apa sih beda nya antara lo sama Cheeta yang ada

di

licik. menjadi

Afrika??” Dan

tanya

pertanyaan

sangat

Abe Abe

berisik

sambil ini

dan

tersenyum

membuat

riuh

kelas

menertawai

kekonyolan yang Abe buat. “Lo nggak bisa jawab ya??? Kasian……” olok Abe membuat wajah Chita merah menahan marah dan malu. “Maka nya jangan pernah menghina Growing Up di depan gue. Coba lo tanya Abril, gimana susah nya masuk dan bersaing di dunia musik padahal Growing Up

tuh

masih

masyarakat.

baru

Semua

nya

dan

belum

kerja

familiar

keras

Chit.

di Dan

sekarang elo dengan seenaknya aja bilang kalo lo nggak suka sama Growing Up.” Bentak Abe.

29


“Abe!!!”

hardik

Abril

dan

Bu

Cherry

bersamaan. “Biar aja Bu, Bril. Biar dia tahu gimana keki nya gue waktu dia ngomong kaya gitu. Eh Chit, lo tuh anak baru, sadar dong. Anak baru tuh jangan nyolot. Jangan songong. Gue ingetin sama lo kalo gue nggak mau denger lo ngomong kaya gitu tentang Growing Up!!” Setelah Abe menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan mendarat di pipi Abe. “Dan nggak ada seorang

pun

yang

boleh

ngebentak-beentak

gue

seenteng udelnya seperti saat ini!!” kata Chita dengan suara bergetar. Chita segera berlari keluar kelas sekencangkencang

nya

walaupun

Bu

Cherry

berteriak

memanggil-manggil nama nya. Chita mencari toilet untuk menumpahkan semua air mata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dan,

ketika

ia

melintasi

ruang

guru,

ia

menabrak pria paruh baya bertubuh gemuk. “Maaf

Pak,

saya

nggak

sengaja.

Saya

buru-

buru.” Kata Chita sambil melanjutkan perjalanan nya. “Chita,

kamu

kenapa??”

tanya

Pak

Ronald

setelah mengingat nama Chita. “Sa……sa……sa…ya nggak kenapa-kenapa kok Pak!!” jawab Chita sambil berjalan setengah berlari. “Pasti ada masalah.” Terka Pak Ronald lalu berjalan mengontrol kelas.☼☼☼

30


Episode 3 Pak

Ronald

yang

setiap

pagi

kerja

nya

mengontrol kelas, masuk ke kelas 3 IPA 1 yang 31


kelihatan ribut sekali padahal saat ini sedang jam pelajaran Bu Cherry-guru Bahasa Inggris yang meerangkap jadi wali kelas. Pak Cherry

Ronald dari

A,

mulai B,

C

mendengarkan sampai

Z.

cerita

Dan

Bu

mengambil

kesimpulan bahwa ini semua adalah ulah nya si Abe.

Maka,

si

Abe

langsung

di

giring

menuju

lapangan dan di jemur sampai jam 12 siang. Dan Bu Cherry memilih untuk beristirahat dulu di ruang guru karena otot-otot nya terasa sakit kewalahan mengahadapi anak-anak 3 IPA 1. ☼☼☼ “Abe, gue benci banget sama lo!!!” omel Chita sambil

mengepalkan

bening

meluncur

terisak

begitu

telapak

di

pipi

mengingat

tangan Chita.

nya.

Butiran

Chita

semakin

kejadian

tadi.

Chita

segera mengusap wajahnya dengan air dari westafel begitu mendengar suara orang datang. Ia tak ingin seorang

pun

tahu

kalo

saat

ini

ia

tengah

menangis. Salah

satu

dari

cewek

itu

berdehem

sambil

menutup pintu. Dan yang satu nya lagi berjalan mendekati Chita. Ini kan cewek yang tadi boongin gue waktu gue nanya kantor kepala sekolah ada dimana. “Sorry ya Chit, bukannya gue mau nyampurin urusan lo, tapi kalo menurut gue kata-kata Abe barusan jangan lo masukin ke dalem hati. Abe itu

32


emang

kaya

gitu

kalo

sama

cewek.

Dia

agak

sensitif.” Ucap Cewek itu membuka pembicaraan. “Oh ya Chit, gue mewakili Abe untuk minta maaf

ke

elo.”

Kata

cewek

yang

satu

yang

juga

punya tampang mirip cewek yang ngeboongin Chita. “Gue juga mau minta maaf ke elo karena tadi pagi gue udah boongin plus ngerjain lo. Sorry ya Chit!!” “Nggak apa-apa.” “Oh ya kita kan belom kenalan. Gue Artha!!” “Dan gue Aretta!!” “Kalian kembar??” “Iya. Kita sepupu nya Abe.” “Jangan sedih lagi ya Chit!!” hibur Artha. “Kita ke kelas yuk!!” ajak Aretta. Chita menggeleng pelan. “Abe lagi di hukum di lapangan. meyakinkan

Jadi

lo

Chita

tenang

sekaligus

aja.”

Kata

menarik

Aretta

tangan

nya

agar menjauh dari toilet. ☼☼☼ Chita

bernyanyi

Sheila

on

7

yang

sambil

mengerjakan

ria

mengikuti

berjudul tugas

Hingga

Fisika

irama Ujung

nya

di

lagu Waktu ruang

tengah rumah Artha dan Aretta yang megah banget kaya istana. Chita

berlari

menuju

jendela

ruang

tamu

begitu mendengar ada suara mobil yang datang. Ia takut

kalau-kalau

bebuyutan

nya

yang

yaitu

si

datang Abe

adalah

yang

punya

musuh nama

33


lengkap Ananda Bintang, tapi kalo teman-teman nya biasa menyapa dengan Abe di ambil dari huruf awal nama nya yaitu A dan B. Ternyata yang keluar dari mobil

itu

bukan

lah

Abe,

melainkan

Abril

dan

Elga. Bel

pun

berbunyi.

Chita

ragu-ragu

apakah

harus membukakan pintu atau tidak. Perlahan-lahan Chita membuka pintu berwarna coklat yang saat ini berdiri kokoh di depan batang hidung Chita. “Sore Mbak!!” sapa Abril. “Sialan lo Bril. Lo kira gue ini Mbak-Mbak??” protes Chita. “Sorry deh Chit, gue kira Mbak Inah. Kok lo tumben ada disini Chit??” “Gue lagi ngerjain tugas fisika dari Bu dewi. Lo udah selesai Bril??” “Belom. Gue ngerjain nya nanti malem aja deh soalnya sekarang gue mau ngeband dulu.” “Tau deh yang anak band.” Ledek Chita sambil tertawa. “Apaan sih lo Chit??? Pantes aja Abe sewot banget

sama

lo

orang

lo

suka

banget

godain

orang.” “Jangan ngomongin Abe deh. Dia itu nyebelin banget.

Gue

males

kalo

ada

nama

dia

disebut-

sebut.” “Ada

tamu

ya???

Kok

nggak

di

ajak

masuk

Chit???” tanya Artha dari ruang tengah.

34


“Tau nih masa gue nggak di suruh masuk malah cuma

dengerin

si

Abril

ama

Chita

ngobrol!!

protes Elga. “Sorryyy………ya udah masuk yuk!!” ajak Chita. “Bye

the

kesini??”

way,

tanya

ada

Artha

apa

nih

sambil

Bril

dateng

meletakkan

jus

buatan Aretta di meja. “Gue

di

suruh

Abe

ngambil

pic

gitar

yang

ketinggalan di kamar lo Tha.” “Di kamar gue nggak ada pic gitar. Mungkin maksud nya Abe di kamar nya Aretta kali Bril???” “Maybe.” “Tha, celingukan

si

Aretta

mencari

mana??”

tampang

tanya

nya

si

Elga

sambil

Aretta

yang

dari tadi nggak kelihatan batang hidung nya. “Oh, si Aretta lagi bantuin Mbak Inah masak untuk nanti malem.” “Emangnya

nanti

malem

ada

acara

apa

sih

Tha??” tanya Elga lagi kaya wartawan yang nggak puas sama jawaban Artha. “Nanti

malem

ada

relasi

Papa

mau

dateng

katanya sih anak mereka mau di jodohin sama gue dan Aretta.” “Apaaaaaaa????” Mata Abril, Elga dan Chita melotot seketika. “Kok lo tenang-tenang aja sih mau di jodohin sama orang yang nggak lo cintai???” Artha hanya tersenyum samar mendengar

35


“Kok lo tenang-tenang aja sih mau di jodohin sama orang yang nggak lo cintai???” Artha

hanya

tersenyum

samar

mendengar

pertanyaan Chita barusan. “Abisnya mau gimana lagi???? Mau marah???mau nolak???? Semua bakalan sia-sia karena Ma dan Oom nggak mau apa yang mereka alami harus gue dan Artha alami juga di kemudian hari.” Sambar Aretta yang baru muncul dari dapur. Semua melihat

menoleh

ke

ketenangan

Aretta

dan

dan

mencari

Artha.

Mereka

kejujuran

serta

jawaban dari pancaran mata mereka. “Terus

nasib

gue

gimana

Ret??”

tanya

Elga

dengan wajah bingung. “Ya ampun Elga, gue itu kan cuma di jodohin doang dan paling gue nikah nya masih lama. Jadi, gue masih bisa jadi…………” “Pacar gue???” potong Elga cepat. “Ya ampun Ret,

kalo

tuh

gimana???

Lo

cowok kok

jemput

nggak

lo,

terus

mikirin

gue

ini

perasaan

gue

banget sih Ret??? Gue kecewa banget sama lo Ret. Mending kita udahan aja deh. Kita putus.” “Apaaaaa????”

tanya

Aretta

dengan

mata

terbelalak. “Ya, kita putus.” “Kita harus bicara Ga. Bicara empat mata!!” kata

Aretta

jari

nya

di

tegas depan

sambil kedua

mengacungkan bola

mata

keempat

Elga

yang

36


berwarna

coklat

dan

berjalan

menuju

taman

belakang. ☼☼☼ “Cowok itu kurang ajar ya Bril!!” kata Chita sambil memutar-mutar bolpoint nya. “Lo jangan gitu dong!! Gue kan cowok juga Chit.” “Emangnya lo itu cowok ya??? Gue kira banci. Haaa……haa……haa…” “Sorry nih, gue mau ke belakang dulu ya!! Sakit perut nih gue.” ujar Artha sambil memegangi perut nya. “Ya udah cepet sana nanti keburu kelepasan lho!!!” ejek Abril dan Chita. “Eh Bril, lo suka lagu nya Sheila On 7 nggak yang judul nya Hingga Ujung Waktu???” tanya Chita sesaat setelah Artha pergi sambil memutar lagu itu lagi. “Suka.

Emangnya

kenapa???

Lo

nggak

suka

ya???” “Wah, jangan salah. Itu mah lagu kesukaan gue sama nyokap gue soalnya kalo dengerin itu, gue inget sama Papa gue.” “Emangnya Papa lo kemana????” tanya Abril “Papa gue itu pilot jadi jarang pulang. Kalo Papa pulang bisa dihitung pake jari. Semoga aja di ulang tahun gue yang ke tujuh belas dua bulan lagi, Papa gue bisa pulang karena sia-sia ulang tahun gue tanpa Papa.”

37


“Kirain gue, lo anak broken home kaya Artha, Aretta

dan

A………maksud

gue

anak-anak

yang

lain

nya.” “Enak

banget

lo

di

sini

pada

asyik

ngobrol!!!” semprot Abe yang baru saja datang dan langsung mematikan lagu Hingga Ujung Waktu yang belum habis. Abril dan Chita kaget bukan main mendengar suara Abe yang megejutkan itu. “Be, kok lagu nya lo matiin sih??? Kan itu enak.” “Enak apanya???” Abe mengeluarkan kaset itu dari

tempatnya

dan

melemparkan

kaset

itu

ke

Chita. “Gue nggak suka lagu ini. Jadi, jangan setel lagu ini kalo ada gue. Ngerti???” “Kenapa

sih

Be,

kita

beda

paham

mulu????

Kenapa sih lo nggak bisa kaya Abril yang asyik kalo di ajak ngobrol. Kenoa gue sama lo bisa nya cuma berantem mulu?? Emangnya lo nggak capek???” “Heh, lo nggak usah deh banding-bandingin gue sama

Abril.

Gue

adalah

gue

dan

Abril

adalah

Abril. Jadi, jangan samain gue sama Abril. Ngerti nggak???” bentak Abe. “Nggak, gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo yang ruwet Be. Gue nggak ngerti apa sih yang sebenernya ada di dalam kepala lo???? Gue nggak ngerti apaan sih sebenernya mau lo???”

38


Aretta tengah

dan

karena

Elga

segera

mendengar

kembali

suara

ke

ruang

ribut-ribut

dari

ruang tengah. “Be, lo kapan dateng??” tanya Elga basa-basi. “Nggak suruh

nanya-nanya

kesini

buat

deh.

Lo

sama

ngapain???

Abril

Buat

gue

pacaran???

Iya???” “Enggak Be!!” “Gue nyuruh lo kesini buat ngapain Bril???” tanya Abe keras. “Buat ngambil pic gitar lo yang ketinggalan.” “Terus,

kenapa

ngaret

banget???

Kenapa

lo

malah pada asyik ngobrol???” “Sorry

Be!!!”

kata

Abril

dan

Elga

sambil

tertunduk. “Enak banget lo berdua bilang sorry sementara gue,

Ical

gue.”

dan

omel

Raka

Abe

pada

membuat

nungguin telinga

lo

di

rumah

siapapun

yang

mendengarnya panas. Abe

tuh

kalo

banget.

Dia

nggak

walaupun

mulut

udah

ngomel

bakalan

nya

udah

nggak

puas

tahu

ngomelin

berbusa.

Ya,

diri orang

ngomel-

ngomel emang udah jadi kebiasaannnya dari kecil. Setelah puas ngomel-ngomel, Abe segera keluar dan membanting Abril

pintu

mengikuti

dengan Abe

dari

kencangnya. belakang

Elga dan

dan

segera

meluncurkan mobil mereka di jalanan. ☼☼☼

39


“Abril, lo darimana aja sih???” tanya Raka sewot. “Tau

nih.

Lo

tau

nggak

sekarang

udah

jam

berapa?? Dan lo tau nggak udah berapa lama gue, Raka

dan Abe nungguin lo??” “Ok, gue tahu kalo gue sama Elga salah, tapi

tadi emang ada masalah yang harus di selesain di rumah Aretta.” “Masalah??? Masalah apaan lagi Bril???” “Tadi

gue

harus

ngomong

dulu

sama

Aretta

karena katanya si Artha, mereka mau di jodohin. Gue

nggak rela dong ngeliat Aretta di ambil sama

orang lain. Makanya tadi gue harus bicara dulu sama Aretta. Jadi, lo jangan nyalahin Abril terus soalnya Abril nggak tau apa-apa.” Elga berusaha menjelaskan

pada

teman-teman

Growing

Up

dengan

sejelas-jelas nya agar mereka tidak salah paaham. “Terus, tanya

Abe

lo sensi

ngapain

ngobrol

membuat

Ical,

sama Raka

Chita??” dan

Elga

berdehem meledek nya. “Oh itu. Tenang aja lagi Be, gue nggak akan ngambil Chita kok. Tadi, gue cuma ngobrol doang sama

dia

sambil

nungguin

si

Elga

yang

lagi

ngomong serius sama Aretta. Jadi, lo nggak usah jeallous ya Be!!” “Siapa yang jeallous??? Gue tuh nggak peduli sama

cewek

itu.

Gue

benci

banget

sama

dia.

Apalagi waktu dia nyetel lagu Hingga Ujung Waktu. Rasanya saat itu juga gue mau jambak rambutnya.”

40


“Emangnya kenapa Be???” tanya Raka polos. “Jika kau menjadi istri ku nanti. Pahami aku saat menangis. Saat kau menjadi istriku nanti. Jangan pernah berhenti memiliki ku hingga ujung waktu. Kaya gitu kan lagunya???” Ical, dengan

Abril,

anggukan.

Raka

dan

“Setiap

Elga

gue

hanya

denger

menjawab

lagu

itu,

yang ada di pikiran gue cuma ada Mama gue doang walaupun gue udah lupa gimana wajah nyokap gue. Rasanya gue mau marah. Mau nangis. Mau teriak kenapa

nyokap

gue

nggak

gue???

kenapa

nyokap

bisa

gue

ngertiin

nggak

bisa

bokap

memiliki

bokap gue sampe ujung waktu???? Kenapa nyokap gue ninggalin siapa???

gue????? sama

Tapi

Papa???

gue

Atau

mau

sama

marah

sama

cewek-cewek???

Atau sama Chita yang setiap hari kerjanya cuma berantem sama gue??? gue nggak tau………nggak tau……” Abe menyeka hidungnya. “Be,

kalo

pelampiasan

lo

jadiin

kekesalan

lo,

cewek lo

sebagai

salah

bahan

besar.

Dan

kalo lo selalu bersikap dingin sama semua cewek, lo juga salah besar.” Nasehat Ical. “Be, lo tau nggak kalo dari benci itu bisa jadi cinta. Nah, kalo lo benci sama Chita, lo bisa jatuh cinta sama Chita.” Kata Raka sok tau. “Iya Be……bener banget tuh!!” tambah Elga. “Masa sih????” “Iya………masa lo nggak percaya sih!!!”

41


Abe menggaruk-garuk rambut mouhak nya bingung harus gimana. Sementara temen-temen nya ketawaketawa puas banget ngeliat Abe kebingungan dengan tingkahnya saat ini. “Udahlah Be, santai aja nggak usah depresi gitu dong.” Ucap Abril sambil menepuk punggung Abe. “Gimana gue nggak bingung Bril……gue……bisa…… jatuh cinta sama cewek pembawa sial kalo benci sama dia.” “Nama nya Chita Be!!!” “Ya maksud gue Chita. Gue……” “Be, santai aja lagi. Kalo lo emang nggak mau hal itu terjadi, lo nggak usah jutek lagi sama Chita. Bisa kan???” “Nggak bisa. Itu semua butuh proses Bril.” “Tenang. Kita semua bakalan ngebantuin elo kok!!” “Janji???” tangan

tanya

Abe

sambil

menjulurkan

nya.

“Janji!!!” sahut Raka, Ical, Elga dan Abril sambil meletakkan tangan mereka di atas tangan Abe. ☼☼☼

42


Episode 4 Abe membanting tas ransel nya di atas tempat tidur Artha. Artha yang lagi bersantai-santai di atas ranjang tersebut langsung kaget bukan main begitu ada sebuah ransel yang tiba-tiba nangkring di sana. Ia memutar badan nya mencari siapa yang 43


baru saja melakukan nya. Bola mata nya berputarputar ketika si Abe dengan santai nya berdiri tanpa perasaan dosa sedikit pun di depan batang hidung Artha. “Ngapain lo ke sini??” semprot Artha. “Chita nggak ada di sini. Dia udah pulang.” “Siapa yang nyariin Chita??? Gue kan nyariin elo Tha.” Sahut Abe sambil tersenyum renyah. “Tumben banget Abe nyariin gue. Udah Be to the

point

aja

kalo

lo

mau

curhat.

Pasti

gue

dengerin.” Abe duduk di pinggir kasur. “Gue mau tanya sama lo Tha, tapi lo harus jawab dengan jujur ya!!” “Iya. Emang lo mau tanya apa sih??” “Emangnya lo sama Aretta mau di jodohin sama siapa sih???” Mata Artha yang warna nya hampir sama dengan Abe

membulat

seketika

lalu

“Haaa……haaa……haaa……ternyata

ia lo

tertawa kena

lepas.

juga

gue

boongin. Eh Be, gue sama Aretta tuh cuma boongin si Elga doang. Lagian Mami nggak mungkin tega menjodohkan gue sama orang lain yang nggak gue suka tapi kalo Papa lo sih bakalan jodohin lo sama orang lain Be.” Abe menoyol kepala Artha. “Sok tahu banget lo Tha.” “Yeah, elo tuh kalo di bilangin nggak percaya banget sih.”

44


“Papa gue nggak bakalan ngelakuin hal itu ke gue.” “Gue yakin banget Be 100% kalo lo bakalan di jodohin sama cewek lain abis elo dingin banget sih sikap nya sama cewek. Bisa aja Papa lo nyari inisiatif buat nyariin pacar sekaligus tunangan buat lo plus calon menantu buat Papa lo.” “Apa mungkin sampe segitunya??” “Mungkin aja. Segala sesuatu itu kan nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini Be.” “Gitu ya???” “Iya!!!” Abe

menarik

nafas

panjang

nya

terdengar

begitu berat. Artha menepuk pundak Abe sebagai tanda

turut

prihatin

dengan

keadaan

Abe

yang

nggak bisa bersikap wajar sama cewek. “Sabar aja lagi Be!! Lagian elo kata-kata gue nggak usah di dramatisir gitu.” Hibur Artha. Abe merebahkan dirinya di tempat tidur Artha. Ia

melipat

kedua

tangan

nya

dan

kemudian

ia

jadikan sebagai alas untuk kepala nya. “Be, sekarang gue boleh nanya sesuatu nggak ke elo???” tanya Artha dengan suara pelan. “Lo mau tanya apa sih???” Artha menarik nafas panjang. “Tapi, lo harus jujur ya!! Lo nggak boleh boongin gue. ok!!” kata Artha mengutip kata-kata Abe tadi. “Iya iya. Emang nya apaan sih???” tanya Abe nggak sabaran.

45


“Be………emmm……Be……emmmm………” “Lo sebenernya mau ngomong apa sih???” omel Abe gergetan. “Be……sebenernya perasaan lo sama Chita gimana sih???” Abe langsung bangkit dari tidur nya begitu mendengar pertanyaan Artha. “Lo ngapain sih nanya hal itu Tha??” “Lo nggak suka ya kalo gue nanya hal itu??? Sorry deh Be!!!” “Nggak apa-apa lagi Tha cuma lo bener mau tau yang

sebenernya???

Lo

mau

gue

jujur

atau

bohong???” “Ya jujur lah Be!!!” “Ok!!

Sebenernya

perasaan

gue

ke

Chita

bunyi.”

Potong

itu………” “Sorry

Be,

sebentar

hp

gue

Artha sambil mencari hp nya begitu mendengar hp nya berbunyi. “Ya

Chit,

ada

apa???

Oh

iya………he-eh…………ya

udah nanti gue bilangin ke Mbak Inah…………iya tiga puluh menit lagi gue sampe disana kok………lo tunggu gue ya!!!” “Be,

anterin

gue

yuk

ke

biro

pembantu!!!”

pinta Artha. “Mau

ngapain

lagi

sih

lo???

Emangnya

Mbak

Inah yang kemaren masih kurang????” “Bukannya gitu, tapi Mbak Inah yang lo jemput kemaren itu salah. Harusnya Mbak Inah yang lo

46


jemput itu yang bakalan jadi pembantu nya Chita, tapi lo salah ambil.” “Yaelah apa bedanya sih??? Semua pembantu kan sama aja!!” omel Abe. “Udah deh Be pokoknya anterin gue yuk!!!” “Enggak ah gue males. Setiap gue ketemu Chita gue bakalan dapet sial mulu.” “Be, lo kok gitu sih??? Masa lo tega sih sama gue??? hikss………hiks………hiks……” rengek Artha yang berpura-pura nangis. “Ya udah deh gue bakalan anterin lo. Manja banget sih lo jadi cewek.” “Makasih ya Abe ku sayang!!!” “Iya………iya……” kata Abe sambil berjalan keluar kamar. ☼☼☼ “Sorry

ya

Chit

agak

lama

soalnya

macet!!”

kata Artha sambil menutup pintu Opel Blazer milik Papa Abe. “Iya

nggak

apa-apa,

tapi

mana

Mbak

Inah

nya??” “Tuh

ada

di

dalem

mobil.

Sebentar

ya

gue

panggilin dulu.” “Iya, tapi cepetan ya kasian tuh nyokap gue udah nunggu lama.” “Iya………iya Non!!!” Artha kembali menuju mobil untuk memanggil Mbak Inah. “Mbak Inah buruan turun!! Be, lo mau

47


turun juga nggak??? Ada mertua lo tuh!!” ledek Artha. “Enggak deh makasih. Gue tunggu di sini aja. Lagian

siapa

mertua

gue???

Mama

nya

Chita???

turun???

Ikut

Enggak deh makasih.” “Mas

Abe

ndak

ikut

aja

yuk

mas!!” ajak Mbak Inah. “Enggak deh Mbak makasih.” “Ya sudah Mbak Inah pergi dulu ya!!! Good bye Mas

Abe.

Don’t

miss

me

ya!!”

kata

Mbak

Inah

centil membuat Abe geleng-geleng kepala. Abe terus memperhatikan jarum jam tangan nya yang bergerak semakin melambat. Ia sudah tidak tahan

duduk

berjam-jam

di

mobil

hanya

untuk

menunggu si Artha. “Ya ampun sebenernya mata gue yang nyureng apa emang nih jarum jam yang nggak muter-muter ya???

Lagian

dalem????

si

Emangnya

Artha dia

lama ngapain

banget

sih

sih????”

di

gerutu

Abe sambil tidak berhenti memainkan klakson mobil nya. “Mas, dong!!

kalo

Masa

baru

klakson

punya di

mobil

jangan

norak

bunyiin

terus

sih!!

Berisik tau!!!” omel ibu-ibu yang tampak nya juga lagi nyari pembantu. “Apa dia bilang????? Gue norak???? Sial!!!” Abe kembali membunyikan klakson nya. Kali ini lebih

panjang

dari

sebelumnya

membuat

si

Ibu

tambah gergetan sama Abe. Si Ibu itu menggedor-

48


gedor kaca mobil Abe. Abe dengan gayanya yang sok cool menurunkan kaca mobil nya itu perlahan. “Mas, banget

saya

tuh

dengerin

pusyyyyyyyyyiiiiinnnngggggg

bunyi

klakson

nya

Mas.

Jadi,

jangan seenak nya aja dong Mas!!!” omel Ibu itu. “Bu, saya juga pusyyyyyyyyyyiiiiiiinnnnggggg banget sama Ibu. Jadi, Ibu jangan ganggu-ganggu saya deh!!!” balas Abe sambil membuka pintu mobil nya lalu berjalan memasuki gedung biro pembantu. “Arthaaaaaaa……………aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!” teriak Abe dari depan pintu masuk membuat semua orang yang ada di sana terlonjak mendengar suara cempreng Abe yang kaya kaleng rombeng. Abe celingukan begitu tidak mendapati Artha tidak

di

sana.

Abe

berjalan

menuju

meja

receptionis dan bertanya tentang Artha pada Mbak receptionist

itu.

Si

Mbak

receptionis

dengan

perasaan ketakutan memberi tahu kalo orang yang Abe maksud tadi berjalan menuju kantin yang ada di belakang gedung. Abe segera mencari Artha di kantin. “Heh Artha, lo disini ngapain sih??? Reuni ya???”

omel

Abe

sambil

menggebrak

meja

tempat

Artha, Chita, Mama Chita dan kedua orang yang bernama Inah. Kontan semua yang ada di sana kaget oleh

ulahnya

Abe.

Hampir

saja

gelas

berisi

cappucino milik Mama Chita tumpah karena Abe.

49


“Aduuhh

Be,

sorry

banget

ya!!!

Gue

nggak

sengaja ninggalin lo di mobil sendirian. Sorry ya Be gue lupa banget!!! Sekali lagi sorry ya!!!” “Sorryy………sorryyy. Lo tau nggak udah berapa lama gue nungguin lo di dalem mobil???? Udah satu jam tau!!” “Maaf deh Be!!! Maaf ya!!!” “Emangnya nggak ada kata lain selain lo minta maaf

ke

gue

yang

bisa

menghapus

kemarahan

gue???” “Udah

deh

soal

itu

nanti

aja

di

rumah.

Sekarang kita pulang aja yuk!! Tante, Artha pamit pulang dulu ya!! Makasih banyak ya Tante!! Chit, gue pulang dulu ya!! Sorry ya jadi berantakan gini semuanya. Tante maaf ya!!” “Iya………hati-hati ya Tha!!” sahut Mama Chita. “Tha……awas

ada

anjing

galak!!!

Haaaa………

haha……” ledek Chita sekaligus nyindir Abe. Abe langsung memutar badan nya dan kembali ke meja Chita. “Heh tadi lo ngomong apaan???” omel Abe. “Gue nggak ngomong apa-apa. Gue cuma ngomong awas ada anjing galak!!” “Lo kok gitu sih!! Gue kan bukan anjing!!!” “Gue

kan

nggak

bilang

kalo

lo

anjing

Be.

gitu

dong

Jadi, lo jangan marah dong!!!” “Itu

sih

sama

aja.

Lo

jangan

Chit!!”

50


“Aduuhhhh Abe, udah yuk kita pulang!!! Tante maaf ya!! Chita maaf ya!!” Artha kemudian menarik tangan Abe menjauh dari meja Chita. “Be, udah cukup untuk hari ini. Lo udah bikin gue malu. Udah sekarang kita pulang yuk!!” “Yang bikin malu elo kan diri lo sendiri. Kenapa

lo

malah

asyik

ngobrol

sedangkan

gue

nungguin lo di mobil??” “Ya

udah

sorry

deh.

Sekarang

kita

pulang

yuk!!” ☼☼☼ Duuuuukkkkkkk……………Opel

Blazer

Abe

menabrak

Mitsubishi Lancer GLXi 2000 milik Mama Chita. Abe tersenyum lebar dan puas setelah plat mobil itu copot dari tempat nya. “Abe, besar

lo

sama

gila

gue

ya????

Be!!!!

Lo

Chita

bakalan

seneng

ya

marah

kalo

gue

berantem sama dia???” “Iya!! cewek

soalnya

pembawa

lo

sial

nggak

kaya

dia

pantes nanti

main lo

sama

ikutan

ketiban sial mulu lagi.” “Be,

namanya

Chita

Nadhira

Fahrezi

bukan

cewek pembawa sial dan gue nggak mau denger lo manggil dia dengan sebutan kaya gitu ngerti??” “Ngerti!!!!!!!!!” sahut Abe malas. ☼☼☼ “Ya

ampun

Chita!!

Siapa

sih

yang

tega

ngelakuin ini ke mobil Mama???”

51


“Emangnya

ada

sambil

berjalan

ampun,

siapa

apa

ke

sih

sih

Ma???”

bagian yang

tanya

belakang

tega

Chita

mobil.

banget

“Ya

ngelakuin

ini????” Chita

teringat

sesuatu.

Ia

kemudian

memerintahkan Mama dan kedua orang yang namanya Mbak

Inah

untuk

lincahnya

segera

Mitsubishi

masuk

Lancer

mobil. GLXi

Dengan

2000

itu

meluncur di jalan. Chita tersenyum-senyum kecil saat

membayangkan

apa

yang

akan

ia

lakukan

setelah ini pasti akan membuat Abe keki setengah mati. “Chit,

kamu

kenapa???”

tanya

Mama

Chita

heran. “Enggak kok Ma, Chita nggak apa-apa.” “Chit,

itu

ya

yang

nama

nya

Abe???

Yang

sering kamu ceritain ke Mama???” “Yup

Mama

betul

banget.

Anak

nya

nyebelin

banget kan Ma!! Liat aja pembalasan Chita nggak kalah seru nya.” “Kamu mau ngapain lagi sih Chit????” tanya Mama cemas. “Mama

tenang

aja

deh.

Chita

nggak

bakalan

melakukan hal gila kok Ma!!” “Tapi Chit, Abe itu berbahaya. Aduuuuuhhhh Mama jadi takut Chit.” “Aduuhhh Mama kok jadi paranoid gini sih!!! Ma, udah deh jangan parno gitu.”

52


“Ok, but you must promise if you won’t do crazy thing.” “I’m promise Mom!!” Mama tersenyum mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Chita. Abe, tunggu pembalasan gue. Kali ini lo nggak akan bisa ketawa lagi di depan gue. Nggak akan bisa Be!! ☼☼☼ “Aduuuhhhh capek banget deh gue hari ini!!!!” kata Artha sambil membanting tubuhnya di tempat tidur membuat kasur itu bergoyang-goyang. “Eh Nek dari mana aja lo???” suara Aretta mengagetkan Artha. “Eh

elo

Ret.

Gue

tadi

abis

dari

biro

pembantu. Gue abis tukeran Mbak Inah sama Chita.” “What do you mean??” “Gini lho Mbak Aretta, jadi Mbak Inah yang tempo hari di bawa sama Abe itu ketuker sama Mbak Inah yang punya Chita. Nah, tadi gue abis tukeran deh sama Chita.” “Trus

Mbak

Inah

nya

mana

sekarang???” Ups!!

Artha

menutup

mulut

nya

begitu

mengingat ada yang tertinggal. Ia menggigit-gigit bibir nya yang menunujukkan ekspresi bahwa saat ini

ia

sedang

bingung.

Artha

kemudian

berlari

menuruni anak tangga mencari dimna si Abe berada. “Abbbbbbeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!”

panggil

Artha dengan suara lantang. Abe yang lagi asyik menikmati

orange

juice

dari

kulkas

langsung

53


keselek

dan

batuk-batuk

begitu

mendengar

suara

Artha. “Uhuk………uhukk………uhuk……Eh

Artha

gue

nggak

budek jadi lo nggak usah teriak-teriak kaya di hutan dong!!” omel Abe. “Be gawat nih Be!!! Gawat Be!!!” “Gawat kenapa sih???? Kalo ngomong yang jelas dong!!

Jangan

plintat-plintut

kaya

gitu.

Lo

kenapa sih kok tiba-tiba aneh begini???” “Be,

mbak

Inah

yang

udah

di

tuker

tadi

ketinggalan di biro pembantu.” “Yassalam!!! Ya ampun Artha kenapa sih nggak lo cek dulu sebelum pulang????” omel Abe sambil memukul-mukul keningnya. “Gue

kan

tadi

buru-buru

Be

abis

nya

elo

kerjaan nya ngomel mulu di sana. Gue kan malu.” Artha mencoba membela diri. “Gue juga nggak bakalan ngomel kalo lo nggak lama banget. Lagian di sana reuni. Emangnya udah berapa lama sih lo sama Chita nggak ketemu??? Belom ada 24 jam kan?? Trus sekarang kita harus gimana???” “Aduuuhhhh………Be gue nggak tau harus gimana. Sebentar lagi Mami gue pulang lagi. Nanti kalo Mami

nyariin

Mbak

Inah

gimana???

Gue

bingung

harus jawab apa???” “Lo kasih alasan yang masuk akal kek kaya Mbak Inah lagi ke warung dulu sebentar. Beres kan masalah nya.”

54


“Ya ampun Abe, lo kaya baru kenal nyokap gue aja deh. Nyokap gue pasti bakalan introgasi gue panjang lebar.” “Sok tahu lo!! Elo kan belom nyoba. Gini aja mendingan lo suruh si Aretta jagain rumah trus elo pergi ke biro pembantu deh.” Saran Abe. “Trus lo ngapain???” “Gue

mau

ke

rumah

Ical.

Mau

ngeband

buat

persiapan manggung besok. OK!! Daaaaaaaa………Artha selamat berjuang dan semoga sukses!!!” Secepat kilat Abe menghilang dari penglihatan Artha yang lagi sibuk mikir plus bengong. Artha segera mengejar Abe begitu tahu ia sudah hilang. “Bee………Abe!!! Tunggu dulu dong!!” Abe menghentikan langkahnya sambil berdecak sebal. “ Apaan lagi sih???” “Be, lo anterin gue ya ke biro pembantu mau nggak????” “Sorry deh Tha, gue bener-bener nggak bisa. Gue udah janji sama anak-anak Growing Up. Sorry ya Tha!!!” “Ya

udah

deh

nggak

apa-apa.”

Kata

Artha

dengan nada kecewa. “Ya udah deh sekarang gue anterin lo ke biro pembantu, tapi nanti lo pulangnya naik taksi aja ya!!” usul Abe. Artha berfikir sebentar. Kedua bola mata nya bergoyang dan berputar ke kanan dan kiri. “Ok deh. Makasih ya Abe. Lo emang sepupu gue yang

55


paling baik sedunia.” Puji Artha sambil tersenyum dan mencubit pipi Abe. “Baik

nya

kalo

ada

mau

nya

doang

sih!!”

protes Abe. “Haaaaaaaaaa……………haaaaaaaa………itulah Artha Be. Kalo bukan kaya gitu bukan Artha dong namanya.” Kata Artha dengan tawa nya yang khas. “Ya udah yuk kita cabut kan sebentar lagi nyokap lo pulang.” Ting……tung……ting……tung………suara

bel

berbunyi

ketika Abe dan Artha tepat berada di depan pintu. “Be, kalo yang dateng ini nyokap lo gimana??? Bisik Artha di telinga Abe. “Udah pokoknya lo tenang aja deh. Pintu nya biar gue yang buka ya!!” Artha menjawab dengan anggukan. “Maaf Mas, saya Inah. Saya pembantu baru di rumah ini.” Ucap seorang wanita yang bernama Inah itu. “Ohhhh………Mbak Inah tohhhhh!!!!!” Abe sengaja mengencangkan suara nya agar Artha bisa mendengar nya dari dalam bahwa yang datang adalah Mbak Inah bukan Mami nya Artha. Artha

langsung

menyembulkan

kepala

nya

di

daun pintu dan melemparkan senyum nya untuk Mbak Inah. “Cepet

masuk

yuk

Mbak

Inah!!!”

ajak

Artha

sambil menarik tangan Mbak Inah.

56


“Tha,

gue

balik

dulu

ya!!

Tugas

gue

udah

selesai kan??” “Thanks banget ya Be!! Oh iya Be, lo jangan bilang ke siapa-siapa ya kalo gue sama Aretta cuma boongin si Elga kalo kita di jodohin!!” “Emmmmm……gimana ya????” “Ayo dong Be!!” Abe mengangguk pelan. “Tapi kalo gue nggak kelepasan ya!!” Artha langsung mengepalkan tinju nya di depan hidung Abe. “Iyaaa………iya gue nggak bakalan bilang ke

siapa

pun.

Lo

nggak

bakal

nyesel

deh

kalo

punya sepupu kaya gue.” Artha bibir

nya.

tersenyum “Uudah

lalu

sana

kemudian

lo

pergi.

memanyunkan Nanti

lo

di

omelin lagi sama temen-temen lo.” Usir Artha. “Yeah, udah gue tolongin malah ngusir.” Cibir Abe. “Abis kalo nggak di usir, lo nggak tau diri sih.” Gurau Artha. Kini giliran Abe yang memanyunkan bibir nya. “Daaaaaaaaa………Abe!!” melambaikan

tangan

kata

nya

lalu

Artha

sambil

membanting

pintu

bercat putih itu. ☼☼☼ “Arthaaaaaaaaa…………aaaa!!!!!!!!” sambil

menggedor-gedor

pintu

rumah

teriak

Abe

Artha

yang

beberapa detik lalu baru saja Artha tutup-lebih tepat nya lagi di banting.

57


Artha yang lagi sibuk mengintrogasi Mbak Inah di ruang tamu langsung terlonjak bahkan hingga terpelanting

ke

belakang

sofa.

Artha

mengusap-

usap dada nya yang kaget oleh ulah nya Abe. “Non, semua orang di sini hobby nya teriakteriak

ya??”

tanya

Mbak

Inah

membuat

Artha

tertawa cekikikan. “Mbak Inah nih bisa aja. Kalo aku sama Aretta nggak

suka

teriak-teriak

kecuali

kepepet.

Tapi

kalo si Abe mah jangan tanya deh Mbak, dia itu emang hobby nya ngomel sama teriak-teriak.” Mbak Inah manggut-manggut mendengar penuturan Artha. “Mbak, aku mau liat ke luar dulu ya!! Mau liatin si Abe.” “Oh iya……iya Non!!” “Lo

kenapa

sih

Be???”

tanya

Artha

begitu

meilhat tampang Abe yang kusut kaya pakaian yang belom di gosok. “Tha, lo harus liat!! Lo harus tau gimana kurang ajar nya temen lo itu Tha!! Lo juga harus tau

kalo

lo

nggak

pantes

berteman

sama

cewek

itu.” Ujar Abe sambil menarik tangan Artha dan mengajak nya ke tempat mobil Abe di parkir. “Lo

kenapa

sih

Be???”

tanya

Artha

heran

sambil melepaskan tangan Abe dari tangan nya. “Nih Tha, lo liat!!!” Artha menutup mulut nya rapat-rapat ketika melihat apa yang terjadi di hadapan nya. Opel Blazer milik Papa Abe yang merangkap jadi Oom nya

58


Artha

porak

poranda.

Kap

mobil

itu

di

penuhi

tulisan berwarna merah yang bertuliskan: Maaf ya Mas, mobil nya gue lukis tanpa bilang sama lo dulu. Tapi hasil nya ok kan??? “Liat Tha!! Siapa yang berani melakukan hal ini selain si cewek pembawa sial itu.” “Beeee!!!!!” “Ya……maksud gue Chita. Gue harus ngomong apa sama bookap gue Tha????” Abe duduk di tanah tepat di samping mobil nya itu sambil memukul-mukul jidat nya atau mengusapusap wajah nya yang putih berbentuk oval. Abe mewarisi

semua

kecantikan

yang

di

miliki

oleh

Mama nya cuma beda nya kalo Abe ganteng dan bukan cantik. Mama Abe adalah wanita keturunan Jerman yang menikah dengan Papa nya Abe dan satu tahun setelah

kelahiran

Abe,

Mama

nya

pergi

meninggalkan Papa dan juga Abe. Jadi, Papa Abe adalah

seorang

single

parent

yang

bertugas

menjadi ayah sekaligus ibu untuk Abe. Awal nya Abe

nggak

setelah

pernah

bertambah

perkembangan

tahu nya

pikiran

tentang usia Abe

hal

Abe serta

dan

ini, maju

desakan

tapi nya dan

pertanyaan yang selalu meluncur dari mulut Abe kecil membuat Papa nya angkat bicara tentang hal ini. Artha

Papa dan

dan

Tante

Sarah-Mami

Aretta-memberikan

nya

si

kembar

penjelasan

dan

pengertian tentang kepergian Mama nya dan bukan Abe nama nya kalo nggak keras kepala. Ia tetap

59


saja berpendapat kalau Mama nya pergi karena ada pria

lain

yang

memiliki

banyak

kelebihan

di

banding Papa nya. “Be, mobil lo di tinggal di sini aja. Nanti biar

gue

yang

bawa

ke

bengkel.”

Saran

Artha

sambil duduk di samping Abe. Abe menghembuskan nafas nya yang panjang dan menepuk pundak Artha. “Nggak usah repot-repot lagi Tha. Biar gue aja

yang

bawa

ke

bengkel.”

Kata

Abe

sambil

tersenyum kaku dan membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam Opel Blazer itu. Abe memundurkan mobil nya

sambil

menggas

mobil

itu

kuat-kuat

hingga

menabrak gerbang rumah Artha yang bercat kuning keemasan.

Artha

yang

daritadi

masih

duduk

di

tanah langsung berdiri dan menggedor-gedor kaca mobil Abe. “Be, keluar!!!!!!” perintah Artha. Abe mengepalkan tangan nya kuat-kuat benci dengan semua yang terjadi dengan mobil nya. “Be, keluar!!!!!” perintah Artha lagi. Abe

membuka

pintu

mobil

nya

dan

masang

tampang sewot, benci, kesel yang bercampur jadi satu. “Be, lo gila ya??? Lo udah nggak waras ya???” “Tha, gue tuh sebel dan kesel banget sama temen lo yang suka bawa sial itu. Sorry Tha, tapi kali ini gue bener-bener nggak bisa manggil dia dengan

nama

sebenarnya

yaitu

CHI-TA.

Dia

udah

keterlaluan banget Tha hari ini. Coba lo liat

60


gimana ancur nya mobil bokap gue sekarang ini Tha!!

Ban

mobil

nya

kempes,

kap

mobil

nya

di

soret-soret pake lipstik, plat mobil nya copot, kaca

nya

pada

baret-baret.

Kalo

di

bawa

ke

bengkel, apa dia mau gantiin semua nya Tha???” “Be, Chita nggak bakalan ngelakuin ini kalo lo

nggak

mancing-mancing

dia

duluan.

Lo

sadar

nggak sama apa yang udah lo lakuin ke mobil Mama nya Chita tadi siang??? Lagipula darimana lo tahu kalo yang ngerusakin mobil lo itu si Chita???” “Siapa lagi sih manusia yang paling ngebenci gue di dunia ini selain temen lo itu???” “Be,

lo

nggak

bisa

dong

seenak

nya

aja

menjudge bahwa Chita yang ngerusakin mobil lo.” “Tha,

lo

kok

gitu

sih???

Kenapa

lo

nggak

ngedukung gue padahal gue selalu ada setiap lo butuh??? Kenapa lo lebih milih si Chita daripada gue????” “Bukan gitu Be maksud gue.” “Alah,

elo

tuh

emang

nggak

tau

artinya

berterima kasih. Udah jauh-jauh deh dari gue. Gue benci banget sama lo!!” Abe

segera

menggas

mobil

nya

menuju

rumah

Ical dimana teman-teman Growing Up sudah menunggu nya. ☼☼☼

61


Episode 5 “Darimana

aja

kamu

Be,

jam

segini

baru

pulang??” tanya Papa Abe yang lagi duduk sambil baca koran di ruang tengah membuat Abe kaget. “Abe tadi abis dari rumah Tante Sarah dan setelah itu Abe ke rumah Ical latihan ngeband buat manggung besok pagi.” Jelas Abe. Papa membolak-balik halaman koran Kompas lalu meletakkan nya lagi di meja. Ia memperbaiki letak kacamata minus nya yang agak melorot. “Be, tolong kesini sebentar, Papa mau bicara sama kamu.” Abe menuruti perintah Papa nya untuk segera mendekat dan duduk di samping Papa nya. Dan Papa mulai

memberikan

setengah

wejangan

mendengarkan

dan

nya

untuk

setengah

Abe

yang

nya

lagi

ketiduran. “Be, kamu dengerin Papa nggak sih???” Abe terhenyak kaget. “Oh……iya……iya Pa. Abe dengerin Papa kok.” “Trus sekarang kunci mobil Papa mana??? Besok Papa mau pake soalnya mobil Papa yang Honda Jazz lagi di bengkel.” “Pa,

kalo

Abe

bilang

sesuatu,

Papa

marah

nggak sama Abe???” tanya Abe dengan nada manja seperti anak kecil. “Emang nya kamu mau bilang apa sih???”

62


“Tapi Papa janji ya kalo Papa nggak bakalan marah sama Abe!!” “I’m promise!!!” “Sebenernya………sebenernya………mobil

Papa

yang

Opel Blazer juga lagi ada di bengkel soalnya lagi rusak.” “Kenapa bisa begitu Be????” tanya Papa dengan wajah hampir tanpa ekspresi sedikit pun. Abe

pun

mulai

menceritakan

kejadian

sebenarnya dari awal sampai akhir-dari pertama ia bertemu Chita; dari semua kejadian yang terjadi setiap ia bertemu Chita sampai sekarang ini. Papa hanya tertawa mendengar cerita Abe. Hal ini tentu membuat Abe bingung sambil menggaruk-garuk rambut mouhak nya. “Papa

kok

ketawa

sih???

Emangnya

ada

yang

kalo

yang

lucu ya dari semua yang Abe ceritain???” “Gimana

Papa

nggak

mau

tertawa

membuat rusak mobil Papa itu bukan perempuan itu, tapi kamu sendiri.” “Lho kok Abe sih???” “Be, sekarang kamu pikir dong, perempuan itu tidak akan ngerusakin mobil Papa kalo kamu tidak mulai untuk merusak mobil Mama nya permpuan itu.” “Tapi Pa…………………” “Enggak ada tapi-tapi an. Pokoknya sekarang kamu harus tidur dan besok kamu harus berangkat pagi kan???” “Iya.”

63


“Ya udah tidur sana!!” Abe

melangkahkan

langkah

nya

yang

gontai

menaiki anak tangga satu persatu dan sesekali ia menoleh ke belakang. Memperhatikan Papa nya yang lagi menyeruput kopi dan memperhatikan punggung Papa yang masih begitu kokoh dan telah banyak begitu berjasa membesarkan Abe sampai sebesar ini tanpa bantuan seorang Mama. ☼☼☼ “Abril, kamu darimana aja sih kok baru pulang jam segini sih???” tanya Mama cemas. “Emangnya kenapa sih Ma??? Mama nggak usah sok baik deh sama Abril. Emangnya Mama siapa sih disini???? Mama kan bukan Mama nya Abril, jadi Mama nggak usah deh ngatur-ngatur hidup Abril.” “Astaghfirullah Abril!!” “Ma,

Abril

nggak

mau

kita

berantem

tengah

malem gini. Abril udah capek Ma. Kita lanjutin besok

aja

ya!!”

“Abril!!!” hardik Mama membuat langkah Abril terhenti. “Ma, udahlah Abril udah capek nih!!” “Abril, ok Mama tahu kalo Mama bukan Mama kandung kamu. Mama cuma mau ngingetin kamu Bril kalo ngeband kamu itu udah menyita banyak waktu belajar

kamu.

Kamu

sadar

nggak

sih

Bril

kalo

nilai-nilai kamu itu sudah mulai turun???? Mama cuma mau bilangin ke kamu, mendingan kamu keluar aja deh dari group band itu.”

64


“Apa

Maaaaaa?????

Abril

keluar

dari

group

band yang udah membesarkan nama Abril???? Ma, kok Mama jadi sensi gini sih sama Abril???? Ma, Abril nggak suka deh kalo Mama sampe nyuruh Abril buat keluar dari Growing Up. Apalagi kalo sampe minta bantuan ke Papa.” “Tapi Bril………” Abril

tak

memperdulikan

segera

mempercepat

sambil

berteriak

Mama

langkahnya “Abril

nya

menuju

benci

itu. kamar

Mama!!!!

Ia nya

Abril

benci Ibu tiri!!!” Mama yang mendengarkan ocehan Abril itu hanya bisa

mengusap-usap

dada

nya

dan

geleng-geleng

kepala lalu akhirnya menangis di kamarnya. “Kak Abril kenapa sih???” tanya Ananda pelan yang

daritadi

mendengarkan

pembicaraan

Abril

dengan Mama Tania. “Gue bete banget tuh sama nyokap lo. Tolong deh lo bilangin ke dia kalo gue nggak suka di ceramahin kaya gitu. Gue benci banget sama dia.” “Kak

Abril

kenapa

sih????

Kak

Abril

lagi

sakit ya??? Atau lagi depresi ya???” “Elo tuh yang depresi sama kaya nyokap lo.” “Kak Abril, aku tahu kalo aku sama kakak beda Ibu. Tapi seenggaknya kakak bisa kan menghargai Mama dan jangan selalu buat Mama nangis setiap malem cuma karena Kakak doang dong.” “Gue nggak pernah minta nyokap lo itu nangis kok. Gue juga nggak pernah minta supaya Papa gue

65


nikah lagi dan itu sama nyokap lo. Asal lo tau ya Nda, gue itu paling benci sama yang namanya Ibu tiri.” “Apa

aku

pernah

mau

untuk

jadi

adik

nya

kakak??? Apa kakak pikir aku bahagia karena jadi adik nya Abril-personil Growing Up yang namanya lagi tenar???? Aku sama sekali nggak bahagia kak karena Abril yang di rumah itu nggak kaya Abril yang di panggung atau yang di depan para fans nya. Dan kakak nggak pernah sadar bahwa banyak orang yang terluka karena kakak.” Ananda segera menghilang dari pandangan Abril yang

otaknya

memang

hampir

lagi

semrawut

setiap

nggak

malam

jelas.

adalah

waktu

Tapi, yang

selalu di habiskan Abril dengan bertengkar sama Mama tirinya yang menikah sudah hampir 6 tahun. Ananda itu emang bertolak belakang banget sama Abril. Ananda lebih suka menghabiskan waktu nya dengan

membaca

buku

atau

mengutak-atik

komputernya sedangkan Abril lebih senang dengan genjrang-genjreng nggak ada juntrungan nya sama anak-anak Growing Up. Abril

memukul-mukul

tembok

dengan

kepalan

jari-jari nya yang kekar. Abe nggak tahu harus gimana dan harus mengadu dengan siapa???? ☼☼☼ Mall Plaza sudah di penuhi oleh para fans Growing Up yang udah ngumpul sejak beberapa jam yang lalu. Mereka membawa poster-poster Growing

66


Up

atau

tulisan-tulisan

yang

bertuliskan

nama

mereka. Chita yang daritadi berdiri di depan Bubble Café celingukan mencari si Artha dan Aretta yang belom

juga

nongol

batang

hidungnya.

Chita

berjalan menjauh dari kegaduhan yang di timbulkan oleh para fans Growing Up dan menelpon Artha. “Heh Artha, elo dimana sih???? Lo tau nggak, gue udah di Mall Plaza nih. Lo kok lama banget sih????” “Sabar dong Nek gue lagi on the way nih. Daaaaaaaaa……” Dan pembicaraan pun terputus padahal Chita belum puas ngomelin Artha. Chita kaget begitu ada seseorang terkejut

yang nya

menepuk Chita

pundak

begitu

nya

dan

melihat

betapa

orang

di

hadapan nya itu. “Hai

Chit,

Abril

membuat

Pasal

nya

lagi Chita

waktu

ngapain bingung

Chita

di

disini???” harus

ajakin

tanya

jawab David

apa.

nonton

acara konser Growing Up, dia nolak dan bilang kalo dia nggak suka sama Growing Up. “Gue……gue…la……la…lagi belanja.”

Jawab

Chita

nganterin

membuat

nyokap

Raka

dan

gue Ical

cengengesan. “Lagi

nganterin

nyokap

lo

belanja

apa

mau

nonton konser nya kita???” ledek Raka dan Ical membuat Chita bingung dan wajah nya yang manis merah padam menahan malu.

67


“Bener……gue

lagi

nganterin

nyokap

gue

belanja.” “Trus nyokap lo mana???” tanya Abril sambil celingukan

mencari

Mama

Chita.

Chita

tambah

bingung lagi harus ngasih alasan apa yang tepat agar mereka percaya. “Eh Bril, ini siapa??? pacar lo ya???” Chita berusaha

mengalihkan

pembicaraan

dari

tema

sebelum nya. “Udah

deh

Chit

nggak

usah

mengalihkan

pembicaraan. Jujur aja kenapa sih kalo lo dateng kesini karena mau liat cowok-cowok ok ini beraksi di

panggung

Abril????”

kan??? timpal

Atau Elga

mau

melihat

membuat

Abe

Chita

dan

tambah

pusying di buatnya. “Ih pede amat lo!!!” “Oh iya Chit, kenalin dulu dong. Ini calon pacar gue nama nya Ananda.” Bisik Elga di telinga Chita. “Oh

jadi

ini

calon

pacar

nya

Elga

ya???”

tanya Chita pada personil Growing Up. “Huuuuu……ngaku-ngaku lo Ga!! Ini kan jatah nya gue ya nggak Bril??? Lo setuju kan kalo adek tercinta

lo

ini

jadi

pacar

gue???”

kata

Ical

narsis. “Nggak. Gue sama sekali nggak setuju.” “Udah deh ngapain sih kita disini??? Nggak penting banget tau. Mana pake acara ngerebutin cewek

lagi.

Nanda

adalah

calon

pacar

gue.

68


Ngerti???”

kata

Abe

seenteng

udel

nya

sambil

menarik tangan Nanda dan mengajak Nanda menuju backstage. What???? Jadi itu kecengan barunya si Abe???? Emang apa hebat nya si Nanda sih??? Emang apa bagusnya

si

Nanda

sih

sampe

Abe

lebih

milih

dia???? Ya ampun ada apa sih sama otak gue kok gue jadi kaya orang jeallous gini sih??? “Udahlah Chit, jangan jeallous gitu dong!! Kan masih ada Abril!!” hibur Raka. “Apaan sih lo Ka????” “Ya udah yuk kita ke backstage aja!!” ajak Abril. Raka, Ical dan Elga mengikuti Abril dan Chita yang berjalan beriringan sambil cekikikan sendiri mengingat-ingat tampang jeallous nya Chita. “Cepetan dong!!! Acara nya mau di mulai nih sepuluh menit lagi!!” omel Abe yang tiada hari tanpa mengomel dan membuat kuping Abril, Ical, Raka dan Elga udah kebal sama omelan nya. “Nggak bisa sabar sedikit ya Mas!!” protes Chita

membuat

Abe

tambah

naik

darah

mendengar

nya. “Nggak. Puas???!!” “Nggak!!!” “Mau lo apa sih Chit????” “Gue cuma mau lo jangan angkuh dan berhenti jadi orang yang suka ngomel dan songong.” “Suka-suka gue dong Chit!! Kok lo gitu sih??”

69


“Kenapa??? Lo nggak suka????” “Iya gue nggak suka.” “Eh udah dong!! Malu tau disini kan banyak orang.” Lerai Abril. “Dia duluan tuh Bril.” Kata Abe membela diri. “Elo tuh yang duluan,” Chita nggak mau kalah. “Diem!!!!!!!!!”

teriak

Abril

membuat

semua

Sebentar

lagi

yang ada di sana terdiam. “Kalian

udah

siap

belom???

acara mau dimulai nih.” Tanya Mas Robin yang tak lain adalah manager Growing Up. “Iya Mas sebentar lagi.” Sahut Elga seadanya karena hanya itu yang melintas di otak nya saat ini. “Ya udah yuk kita ke panggung!!” ajak Ical. Dan

para

fans

Growing

Up

pun

berteriak

histeris ketika personil Growing Up sudah berada di

panggung.

Dan

jepreeettt………jepreeeeeeeeett……

berbagai sinar yang datang dari kamera digital maupun kamera handpone ikut mewarnai kemeriahan konser Growing Up sore itu. ☼☼☼ Suasana di belakang panggung semakin dingin karena tak ada pembicaraan sediktpun antara Chita dan Ananda. Mereka masih bicara.

Chita

yang

sibuk

gengsi untuk angkat menggerutu

di

sudut

ruangan sambil mengoceh tentang Abe dan Growing Up. Dan Ananda yang sibuk memainkan kuku-kuku nya yang lentik sambil mengikuti lantunan lagu-lagu

70


Growing Up yang di lantunkan oleh Abe sebagai vokalis. Chita

menoleh

memperhatikan

ke

semua

arah

yang

Ananda

terukir

di

duduk

dan

wajah

nya

yang hampir Perfect karena nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini selain pencipta jagad raya ini

yang

telah

mengatur

semua

jalan

hidup

manusia. Kok

wajahnya

Nanda

mirip

sama

orang

yang

pernah gue liat deh. Tapi siapa ya???? Gue lupa deh.

Aduuuhhhhhh

siapa

ya?????

Kok

gue

jadi

pikunan gini sih???? Ah udah ah nggak penting banget buat dipikirin. “Lo juga suka Growing Up???” tanya Chita yang akhirnya memutuskan untuk angkat suara lantaran nggak kuat diem-diem an gini. Nanda

kaget

mendengar

Chita

mengajak

nya

bicara. “Kakak ngomong sama saya ya???” Ya ampun nih anak ngeledek gue banget. Masih untung gue mau ngajak lo ngomong. “Ya

iyalah.

masa

gue

ngomong

sama

tembok.

Emangnya tembok bisa jawab pertanyaan gue??” Nanda tertawa kecil mendengarnya. “Sebenernya sih aku nggak terlalu suka sama Growing Up, tapi jadi hafal lagu-lagu nya karena Kak Abril suka nyetel di kamar nya yang sebelahan sama kamar aku.” Chita cuma bisa ber Oh panjang. “Jadi, elo adeknya si Abril ya???? Tapi kok muka lo nggak

71


mirip

sama

Abril

sih

malah

justru

mirip

sama

Abe.” Kata Chita yang baru inget kalo wajah nya si Nanda itu mirip sama tampang nya Abe. “Nggak tau deh Kak. Jodoh kali.” Sahut Nanda yang juga seneng bikin Chita panas. Apa???? Jodoh????? Gila betul si Nanda ini. Dengan

sangat

jodoh

sama

narsis

Abe.

nya

Sok

dia

tau

bilang

dasar!!

kalo Kaya

dia elo

paranormal aja sok tau tentang masa depan orang lain. Emangnya elo itu Tuhan??? Elo itu kan cuma manusia biasa kaya gue. Sadar dong Neng!! “Kak Chita kenapa kok diem??? Jeallous ya???” “Enggak……enggak……ngapain

gue

jeallous

sama

lo???? Emang gue siapa nya Abe????” Nanda tertawa lagi begitu melihat air muka Chita yang selalu memancarkan bahwa ia tengah di landa

kecemburuan.

“Kak

Chita

kenapa

sih

kok

berantem mulu sama Abe???” “Oh

itu………sebenernya

gue

juga

nggak

bakal

marah kalo dia nggak bikin gue kesel.” “Kata orang, kalo kita berantem ataupun benci sama orang lain, nanti kita bakalan suka sama orang itu.” Sok tahu!! Kalo gue benci nya sama elo, apa nanti gue bisa jatuh cinta sama lo???? Yeah, lo kira gue ini lesbi??? Sorry ya!! Gue itu masih normal walaupun gue nggak pernah jatuh cinta. Itu tuh cuma mitos. Lo kaya orang jadul aja deh hari gini masih percaya sama kaya gituan.

72


“Nanda……Nanda,

elo

tuh

masih

kecil

belom

pantes buat ngomongin soal pacaran. Mendingan lo belajar

dulu

deh

yang

bener

biar

jadi

orang

dulu.” “Emangnya

kalo

udah

seumuran

kakak,

udah

boleh pacaran ya???” tanya Nanda membuat Chita bingung harus jawab apa. “Ya……nggak juga.”

Sahut

juga Chita

sih. asal

Tergantung

sambil

orangnya

menggaruk-garuk

kepala nya yang tidak gatal. Itu semakin membuat kamu semakin keliahatan tolol

Chita.

Duhhh……si

Abril

kenapa

sih

harus

punya adek yang kritis kaya gini. Gue kan jadi bingung

harus

ngomong

apa.

Kira-kira

yang

gue

jawab tadi bener apa nggak ya??? Batinnya. “Kak Chita udah punya pacar ya???” “Belom. Gue belom punya pacar seorang pun. Gue

ini

masih

original

tau!!

Mama

gue

nggak

ngizinin gue buat pacaran.” “Ohhhh……backstreet aja!!” usul Nanda membuat Chita tercengang. Yang itu mah nggak usah lo ajarin. Itu udah ada di otak gue sejak lama, tapi emang dasar nya nggak ada yang suka sama gue mau di apain dong??? “Oh ya Kak, aku pamit dulu ya!!” “Lo mau kemana??? Nanti gue bingung kalo di tanyain sama Abril.” “Aku mau shalat ashar dulu ya!!”

73


Apa????

Gila

deh

nih

cewek.

Udah

rajin,

pinter, kritis, bertaqwa pula. Bener-bener beda 180 derajat deh sama Abril. “Shalat???” “Iya. Kakak mau ikut juga???” Apa????

Dia

ngajak

gue????

gue

aja

lupa

bacaan shalat nya apa. Lagipula gue juga lupa rakaat nya ada berapa???? Aduuuhhh……nih cewek mau mempermalukan

gue

ya???

Gue

bener-bener

ketinggalan jauh banget di banding anak kelas 3 SMP kaya dia ini. “Lho

kok

malah

bengong???

Kakak

mau

ikut

nggak???” “Gu……gue……gue……” “Udah

ikut

aja

yuk!!!”

ajak

Nanda

sambil

Gue

nggak

ngerti

menarik lengan Chita. “Gue

nggak

bisa

shalat!!

bacaan shalat nya.” bisik Chita malu. “Nanti aku ajarin deh.” Gilaaaaaaaaa!!!!!!!!! Sebego itukah gue soal agama???? Bayangin aja masa gue di ajarin sama anak kelas 3 SMP sih???? ☼☼☼ “Lo

abis

darimana

aja

sih????”

omel

Abril

ashar

tau.

begitu Chita dan Nanda datang. “Gue

abis

taubat.

Abis

shalat

Emang kaya elo semua yang pada kafir.” “Haaaaaaa???? Elo shalat Chit???? Emangnya lo bisa shalat??” ejek Raka.

74


“Iya dong. Chita gitu lho!!” “Baru sekali shalat aja udah sombong banget lo!! Gimana kalo lo kaya si

Nanda??? Udah tinggi

hati kali lo!!” semprot Abe. “Ya

gitu

deh

kalo

Nda???”

kata

Chita

orang

sambil

sirik.

Ya

mengerling

nggak

ke

arah

Nanda dan menyikut lengan Nanda. “Cuihhh……gue sirik sama lo. Sorry aja ya!!” Mulai lagi deh acara debat nya. “Eh udah deh mendingan kita ke Bubble Café aja yuk!! Gue udah laper nih.” Ajak Elga sambil memegangi perut nya. Dan

begitu

mereka

keluar

dari

backstage

ratusan bahkan ribuan fans yang bercampur dengan wartawan

langsung

menyerbu

mereka

sulit

berjalan.

sibuk

meminggirkan

Growing

Mas

Robin

orang-orang

Up

membuat

sang

manager

yang

sibuk

mengambil gambar Growing Up itu agar Growing Up bisa berjalan. “Gila, tangan gue pada lecet nih kena cakaran kuku-kuku

cewek-cewek!!”

kata

Elga

yang

selera

makan nya langsung hilang seketika itu juga. “Emangnya lo doang Ga. Gue aja yang bukan personil sini.”

Growing

Kata

Chita

Up

juga

sambil

kena

cakaran

memperlihatkan

disanalengan

nya yang pada besut-besut. “Rasaka kau!!!” gumam Abe sambil tersenyum licik.

75


“Ngomong apaan lo tadi???” tanya Chita yang mendengar gumaman Abe. “Enggak……enggak kok Chit!!” ☼☼☼ “Chita, lo dimana sih??? Gue udah daritadi nih nungguin lo di deket Lolizza Café sampe kaki gue

capek.

Jangan-jangan

lo

ada

di

antaran

kerumunan fans Growing Up lagi. Chit, buruan dong kesini.

Gue

udah

capek

nih!!!”

protes

Artha

begitu handpone Chita di angkat. “Eh Tha, gue lagi ada di Bubble café nih. Mendingan

lo

aja

deh

yang

kesini

soalnya

gue

males ke atas nya. Ok!!” “Ya udah deh. Lo jangan pulang dulu ya!! Lo harus nungguin gue sama Aretta di sana.” “Iya……iya cerewat amat sih lo!!” “Itu Artha ya???” tanya Ical setelah Chita selesai berbicara dengan Artha. “Iya. Emang kenapa???” “Enggak……enggak apa-apa kok.” Dan detik kemudian si Artha dan Aretta sudah nongol

di

depan

wajah

Chita

dengan

tampang

berseri-seri. “Chit, gue punya kabar bagus nih!!” ucap nya dengan senyum yang terus menghias wajah nya. “Pantes aja lo gembira banget. Kabar bagus apaan sih???” “Ayo, lo ikut gue!!” ajak Artha.

76


“Ikut lo??? Ogah ah. Lo nggak liat ya kalo gue lagi makan????” “Udah deh Chit, makan nya bersambung aja!!” Aduuuuhhhhhh Arthaaaa!! Lo itu mau nya apa sih???

Gangguin

gue

mulu

daritadi.

Eemangnya

berita gembiranya itu apaan sih, sampe gue harus ninggalin acara makan gue. “Udah Chit, jangan kebanyakan bengong!! Lo mau nggak sih???” “Ya udah deh, tapi sebentar aja ya!!” “Iya.

Kawan-kawan

gue

pinjem

Chita

nya

sebentar ya!!” “Iyaaa……iya……pergi

sana

lo

jauh-jauh!!

Husss……husss…” usir Elga. “Yeah,

lo

kira

gue

ayam????”

cibir

Artha

sambil memanyunkan bibir nya. “Pacar lo kok nggak pernah berubah ya Cal??? Dari dulu tetep aja begitu. Heran gue.” komentar Elga. “Siapa pacar gue??? Artha??? Itu mah cerita lama.”

Sahut

memikirkan

Ical

perasaan

dengan be

yang

santai jadi

nya

tanpa

sepupu

nya

Artha. Abe diam-diam memperhatikan Chita yang lagi ngobrol di luar café dari kaca Bubble Café. Chita tampak tertawa-tawa kecil saat berbicara dengan cowok yang baru di kenalin sama si Artha itu.

77


Aduuuuhhhh si Artha ngapain sih pake acara ngenalin cowok itu ke Chita???? Tuh anak mau nya apa sih??? Beberapa menit kemudian Chita kembali bersama Artha, dan cowok itu. “Sorry ya agak lama. Tapi, Chita udah gue balikin sambil

dalam

keadaan

sedikit

utuh

menahan

lho!!!”

tawa

kata

melihat

Artha

tampangnya

Abe yang keliahatn sewot banget. “Ya udah deh, gue

balik

dulu

ya!!!”

pamit

Artha

sambil

Elga

setelah

melambaikan tangan nya. “Tha,

adek

lo

mana???”

tanya

Artha berjalan beberapa langkah. “Dia nunggu di luar. Katanya jeallous ngeliat lo sama cewek itu.” Kata Artha sambil menunjuk Nanda. “Yassalam. Aretta pasti marah deh nih sama gue.” kata

Elga cemas sekali begitu mendengar kataArtha

barusan.

Ia

jadi

sangat

tidak

berselera makan padahal menu yang ia pesan adalah makanan kesukaaan nya. “Eh Chit, cowok tadi siapa sih??” tanya Ical. “Oh yang tadi itu namanya Are. Katanya Artha sih temen SMP nya yang tadi di kenalin ke gue. Emangnya kenapa???” “Enggak……gue kira……” “Gue

kira

pacarnya

si

Artha.”

Potong

Raka

membuat semuanya tertawa. ☼☼☼

78


Episode 6 Chita dan si kembar berjalan menuju kantin dengan langkah mereka yang ayu dan tawa mereka yang

renyah

seolah

tak

membuat mau

semua

berhenti

mata

terpukau

melepaskan

dan

pandangan

mereka. Chita terheran-heran begitu mereka melintasi Abe dkk yang lagi duduk di tangga tapi si Abe

79


sama sekali tidak mengajak nya untuk ribut hari ini ataupun membahas soal mobil nya yang di lukis dan di modifikasi oleh Chita tanpa sepengetahuan Abe. Abe justru bertingkah seolah ia tidak melihat dan

tidak

kenal

dengan

Chita.

Chita

segera

menarik si kembar untuk mendekat setelah mereka berada di dekat toilet. “Gue mau tanya sama elo nih. Menurut lo ada yang

salah

nggak

sama

penampilan

gue

hari

ini????” Si kembar menggeleng bersamaan. “Kalo sama rambut gue???” Si kembar menggeleng lagi. “Sama sepatu gue???” Lagi-lagi si kembar hanya menggeleng. “Aduuuhhhh……”

Chita

menggaruk-garuk

kepala

nya bingung. “Aha!! Mungkin ada yang salah di wajah gue. Wajah gue terlalu berminyak ya???” Hanya gelengan kepala yang Chita dapat dari si kembar itu membuat Chita semakin gergetan aja. “Ya udah deh kita ke kantin aja yuk!!” ajak Chita buru-buru. Si kembar mah cuma ngikut aja deh kemanapun Chita pergi. Pokoknya mereka easy going aja deh. “Gue heran deh kok semua orang pada berubah ya!!!” kata Chita setelah memesan bakso Mas Tarno yang rasanya wuiiiiihhhhhhh gilaaaaa……enak banget deh. Udah murah meriah pula.

80


“Berubah gimana Chit???” tanya Aretta heran. “Ya berubah. Kaya elo berdua yang gue tanyain malah cuma jawab pake gelengan doang. Trus si Abe brukuk

itu

yang

tiba-tiba

berubah

jadi

aneh

gitu.” “Bukannya

elo

yang

berubah

Chit???”

tanya

Artha membuat mata Chita terbelalak. “What do you mean guys????” tanya Chita heran sambil menyondongkan tubuhnya mendekat ke Artha. “Ya maksud gue, elo itu berubah. Masa tibatiba elo nanyain ada yang berubah nggak sama diri lo??? Itukan namanya aneh Chit.” “Are you sure with your statement???” “Yes. I’m sure!!” sahut Artha mantap dengan seyakin-yakin nya. Chita

menghela

nafas

panjang.

Ia

terlihat

tampak gelisah dengan semuanya hari ini. Oh Chita, what’s wrong with you???? Kenapa lo jadi

gelisah

bersalah

kaya

dengan

apa

gini???? yang

Apakah

udah

lo

lo

merasa

lakuin

sama

Abe??? Kata Chita dalam hati. “Gue nggak ngerti sama semua ini deh. Gue rasa otak gue lagi konslet deh hari ini. Atau gue salah

minum

obat

ya????”

ujar

Chita

ngawur

membuat Artha dan Aretta saling bertukar pandang dan kemudian tertawa lepas. “Chit, bukan otak lo yang lagi konslet. Bukan juga lo yang salah minum obat hari ini, tapi lo lagi jatuh cinta.” Kata Aretta sok tahu.

81


“What??? I’m in love???? Gue jatuh cinta sama siapa????” “Lo jatuh cinta sama Abe. Perasaan benci lo udah berubah Chit. Lo merindukan perdebatan lo berdua kan yang selalu terjadi setiap hari????” Chita memang nggak bisa mengelak dengan semua itu. Ia memang merindukan perdebatan itu, tapi ia mengelak kalau ia tengah “Gue

semakin

jatuh cinta dengan Abe.

nggak

ngerti

aja

dengan

semuanya. Gue nggak mungkin jatuh cinta sama Abe. Impossible.” “Ya, mungkin saat ini lo masih bisa mungkir dari semua itu, tapi sampe berapa lama lo bisa bertahan???? No body know it. Sekarang gue mau ke perpustakaan dulu ya Chit!!” “Gue juga mau ngomong dulu sama Elga. Lo baebae ya disini!!” Chita

mengangguk

lemas.

Gila

kalian.

Mana

mungkin seorang Chita bisa jatuh cinta sama orang macam Abe??? ☼☼☼ “Ret……Aretta!! Aretta!!” panggil Elga sambil mengejar Aretta. “Aduuuuuhhhh udah deh Ga, gue tuh udah capek kalo kaya gini terus sama lo.” “Ret, dengerin penjelasan gue dulu dong!!!” “Penjelasan???? Penjelasan mulu yang lo kasih ke gue. Eh Ga, gue bilangin ya sama lo, mendingan

82


lo pergi jauh-jauh deh dari gue. Gue udah enek ngeliat muka lo!!” “Kok lo gitu sih Ret???” “Elo juga kenapa gitu sama gue??? Kenapa lo asyik ngobrol sama cewek itu sedangkan gue malah lo

kacangin.” “Ya ampun Ret, jadi lo cemburu ngeliat gue

sama Nanda??” “Oh, jadi nama cewek itu Nanda???” “Ret, Nanda itu adeknya si Abril. Dan gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Jadi, lo nggak perlu jeallous.” “Terserah deh. Mau lo ada hubungan sama dia kek atau nggak ada hubungan sama dia kek, gue udah nggak peduli lagi. Ngerti???” “Ok!! Gue ngerti!!” Elga segera berlalu dari pandangan Aretta dengan perasaan pasrah. ☼☼☼ Hp

Chita

bergetar

menandakan

ada

sms

yang

datang. Ia segera membuka pesan singkat itu. Chit, tar abis plg skul, gue mau ngmg sm lo. Gue tgg lo di hlmn blkg skul ya!! Abe. Sejak kapan Abe tau nomor hp gue???? lagian ngapain

pake

sms

segala

padahal

kan

tinggal

ngomong bisa orang gue sekelas sama dia. Lagipula bangku tempat dia duduk ada di samping bangku gue. Chita

semakin

heran

dengan

semua

ini.

Apa

yang terjadi sama Abe sebenarnya???? Chita terus

83


memperhatikan bangku Abe yang masih kosong karena pemiliknya belum datang dari kongkow-kongkow nya bersama teman-teman nya. Abe, kenapa sih lo bikin gue jadi bingung begini??? Lo sakit ya??? Aduuuhhh Abe, lo kok bikin gue jadi nervous gini sih??? Aduuuhhhh gue kok

jadi

deg-deg

tenggorokan

gue

an

sih???

tercekat

mana

nih.

Gue

sekarang

nggak

bisa

napes nih. Help me please!!! No body wants to help me??? Oh God help me please!!! Jantung Chita semakin berdegup kencang begitu Abe melintas dan duduk di bangku seberang. Bau parfum

Abe

semakin

membuat

Chita

sulit

untuk

bernafas. Ya Allah!! Astaghfirullahal’adzim!!! Jantung gue

serasa

sepertinya psikolog

pengen abis

gue

copot.

pulang

deh

si

Addddduuuuuuuhhhh

sekolah

Nanda.

gue

Biarpun

harus dia

ke

masih

kecil, tapi otaknya selangit. Dia selalu bisa gue andalkan di saat-saat seperti ini. “Gue pinjem buku Fisika lo dong Chit!!” Abril membuyarkan lamunan Chita. “Ohhh……ya……ya……ya…lo

pinjem

apa???”

tanya

Chita gugup sambil mengerling ke meja Abe yang juga tengah memperhatikan kebersamaan Abril dan Chita. “Woyyyy!! ngeliatnya

ke

Yang Abe

minjem sih!!”

buku kata

kan

gue,

Abril

masa

sambil

mengibaskan tangannya di depan wajah Chita. Chita

84


yang baru sadar langsung kembali ke posisi semula dan

Abe

langsung

menenggelamkan

wajahnya

pada

buku Fisika yang penuh dnegan rumus-rumusan. “Oh iya. Lo mau pinjem buku apa sih???” “Gue

mau

pinjem

buku

Fisika

lo.

Lo

udah

ngerjain peer halaman 130 belom???” “Udah sih, tapi masih ada yang kosong.” “Kalo gitu, gue pinjem ya!!” “Tapi, jangan lama-lama soalnya gue juga mau belajar, nantikan ulangan!!" “Sip!!!” “Bril,

nanti

pulang

sekolah

gue

bareng

lo

ya!!” pinta Chita. Abril menoleh ke Abe yang langsung mengangkat wajahnya hanya

begitu

diam

lalu

mendengar

perkataan

Chita.

kembali

tenggelam

dalam

Abe buku

Fisika nya. “Boleh nggak Bril???” “Boleh aja sih. Emangnya lo mau kemana???” “Gue mau ke rumah lo. Mau ketemu Nanda. Nanti lo tunggu di parkiran aja soalnya gue masih ada urusan dulu sebelum pulang.” Abril mengangguk ragu. “Iya deh.” ☼☼☼ “Lo mau ngomong apa sih Be, kok pake sms segala???” tanya Chita begitu mereka sudah berada di taman belakang sekolah. Abe yang duduk di samping Chita masih juga tidak bergeming sedikitpun.

85


Ya ampun ini cowok bener-bener deh. Gue heran banget sama jalan pikiran si Abe ini. “Be, lo mau ngomong apaan sih???” tanya Chita gergetan. “Chit……Chit……” “Emmmm……” “Chit……” “Emmmmm” “Chit………” “LO mau ngomong apa sih Be??? Kok daritadi cuma Chit……Chit……doang.” “Gue nggak mau berantem lagi sama lo Chit. Gue mau kita berteman. Gue nggak mau kita terusterusan

kaya

gini.

Setiap

hari

kerjanya

cuma

berantem doang. Gue mau kita bertemen Chit. Lo setuju????”

Abe

kemudian

mengacungkan

jari

kelingkingnya. Chita hampir tidak percaya dengan kata-kata yang dengan mulus meluncur dari mulut Abe itu. Chita bingung apa yang sbenernya terjadi kok Abe jadi memutuskan untuk berteman aja. “Lo nggak mau jadi temen gue Chit???” tanya Abe sambil menurunkan jari kelingkingnya. “Bukannya gue nggak mau jadi temen lo, tapi kenapa lo tiba-tiba jadi kaya gini??? Kenapa lo tiba-tiba memutuskan untuk jadi temen gue??” “Karena………karena………karena……” “Karena

apa????

Kalo

ngomong

yang

jelas

dong!! Jangan setengah-setengah gitu!!”

86


“KARENA GUE NGGAK MAU JATUH CINTA SAMA LO CHIT!!” jawab Abe dengan lantangnya. Deghhhh!!! Inikah yang mau lo bilang Be???? Kenapa lo harus ngomong itu ke gue???? “Jangan GR dulu dong Mas!! Lo kira gue mau apa jadi pacar lo??? Narsis.” “Jadi intinya, lo mau kita temenan nggak???” tanya Abe. “Ok. Kita temenan!! Puas???!!” Chita

segera

langkahnya

walau

berlalu Abe

dan

tengah

mempercepat

memanggil-manggil

namanya dari kejauhan sana. “Udah selesai urusannya Chit???” tanya Abril yang daritadi berdiri di depan mobilnya. “Udah.” Sahut Chita sambil tersenyum kaku. “Ya udah yuk!!” Tapi,

ketika

Chita

hendak

masuk

mobil

BMW

milik Abril, Abe sudah menghadang nya lebih dulu. “Pulang sama gue aja Chit.” “Gue

nggak

mau

pulang.

Gue

mau

ke

rumah

Abril.” “Ya udah kalo gitu gue anterin.” “Nggak perlu. Gue udah janji sama Abril.” “Lo mau ikut pulang bareng juga???” “Nggak makasih!!” sahut Abe sengit. “Gue cuma amu Chita!!” “Nggak bisa Be, Chita nggak mau pulang bareng lo. Jadi, lo harus mengahargai keputusannya Chita dong!!”

87


“Tapi gue mau Chita!!” “Nggak bisa Be!!” “Ah udah……udah!! Gue nggak pulang bareng lo berdua. Biar gue pulang sendiri naik bus. Dan elo Be,

belom

ada

24

jam

kita

bertemen,

elo

udah

bikin gue kesel.” Abe menendang-nendang ban mobil Abril ketika Chita seudah pergi. “Elo emang paling nggak bisa ngeliat temen lo bahagia Be.” “Dan elo dengan seenaknya aja bahagia di atas penderitaan gue.” ☼☼☼ “Hallo Chita yang cantik dan manis!!” sapa Adam yang lagi asyik nonton tv. “Lo nggak kuliah Dam???” “Haaaa…………haaa………haaaa

lo

lagi

mabok

ya

Chit??? Lo tau nggak sekarang udah jam berapa??? Sekarang itu udah jam empat sore. Kuliah gue mah udah rapih daritadi siang.” “Oooooohhhh……” “Lo

kenapa

sih

Chit????”

tanya

Adam

yang

begitu menyadari ada sesuatu yang janggal dalam diri adek semata wayang nya itu. “Enggak. Gue nggak apa-apa kok. Gue ke atas dulu

ya

Dam!!!!”

“Iya!!”

88


Episode 7 Chita tempat

langsung

tidurnya.

melempar

Begitu

tubuhnya

banyak

di

atas

kejadian

yang

membuat nya bingung hari ini. Ya banyak sekali. Telililit……telilitlilitttt……

89


“Ya orang

Hallo

di

siapa

sebrang

nih???”

sana

tanay

karena

Chita

nomornya

pada tidak

terdaftar di hp Chita. “Ini

Nanda

Kak.

Tadi

kata

Kak

Abril,

Kak

Chita mau kesini ya??? Tapi gara-gara Abe jadi nggak jadi kesini deh. Emangnya ada apa Kak????” “Enggak. Gue cuma mau main aja. Emang nggak boleh ya????” “Boleh kok, tapi pasti ada sesuatu yang nggak beres. Ya kan??? Ngaku deh!!” “Sok

tahu

lo!!”

kata

Chita

denga

suara

bergetar. “Udah deh Kak, jujur aja!!” Akhirnya

Chita

buka

mulut

juga

setelah

di

desak oleh Nanda. Dan dia mulai menceritakan dari pertama sampai terakhir. “Ok,

saya

akan

memberikan

resep

untuk

penyakit anda. Tolong di catat ya!!” kata Nanda mengikuti

gaya

para

dokter

membuat

Chita

dapatsedikit tertawa. “Apa aja Bu Dokter??” “Anda butuh sedikit penyegaran rohani. Saya sarankan anda untuk shalat istikharah malam ini dan minta petunjuk sama yang Maha Kuasa.” “Masa

harus

shalat

sih,

masalah

kaya

gini

doang. Lagipula gue nggak ngerti tentang shalat yang lo bilang itu. Jangankan yang lo saranin, yang lima aja gue masih bolong-bolong.”

90


“Tenang……No

problem.

Saya

akan

mengajarkan

anda tentang shalat. Bagaimana??? Setuju????” “Ya gue sih setuju aja deh.” “Bagus!!” “Oh iya gue boleh nanya nggak??” “Mau tanya apa sih???” “Gini,

lo

belajar

kaya

ginian

dari

siapa

sih???” “Dari guru agama, guru ngaji sama dari Mama.” “Oh……jadi Mama lo turut andil juga???” “Iya dong. Cuma kalo Kak Abril emang rada susah d bilanginnya. Maklum beda produk.” “Beda produk gimana???” “Ups!! Maksud aku………” “Kayaknya

sekarang

gantian

gue

yang

jadi

psikolog lo deh Nda!!” “Ah Kak Chita bisa aja.” Gurau Nanda. “Udah deh, nggak usah mungkir lagi. Buruan ceritain semuanya.” Nanda keluarga

mulai nya

menceritakan

saat

ini.

tentang

Hingga

ia

kehidupan tak

sadar

butiran bening sudah membanjiri pipi nya. “Sabar ya Nda!!” “Iya Kak!! Makanya sekarang aku mau cari Papa aku sebenernya. Kakak mau bantuin aku kan??” “Pasti sayang!! Kakak pasti bantuin kamu.” “Makasih ya Kak!! Oh ya nanti malem aku ke rumah kakak ya!!” “ok deh Daaaaaaa…………”

91


“Daaaaaaa…………” ☼☼☼ “Aduuuhhh Nda, gue nggak yakin kalo gue bisa deh.” Nanda tersenyum simpul. “Kak, kita itu harus percaya diri. Kakak itu harus yakin kalo Kakak itu bisa.” “Dari dulu, gue emang nggak terlalu berminat sama

yang

namanya

pelajaran

agama.

Abisnya

menurut gue itu terlalu kolot sih. Bayangin aja masa kita nggak boleh pacaran sih!!” “Pacaran itu kan bisa menimbulkan zinah kak!! Dan zinah itu nggak bakalan di ampunin deh sama Allah.” “Iya sih, tapi kayaknya nggak adil banget kan kalo orang tua kita sampe ikutan ngelarang buat pacaran sementara dulu tuh mereka aja pacaran.” “Orang tua itu kan memberikan yang terbaik untuk kita Kak walaupun semua keputusan akhirnya kita juga yang memutuskan.” “Jadi,

kalo

orang

tua

kita

ngelarang

kita

buat pacaran, tapi kita bisa memilih antara iya atau memilih backstreet gitu???” “Ya kurang lebih kaya gitu.” “Kalo kaya gitu, mendingan sekarang gue nggak usah pacaran, tapi nanti suatu hari ada pangeran yang manis

datang gue.

lalu Trus

melingkarkan selanjutnya

cincin

gue

boleh

di

jari

pacaran

nggak???”

92


“Itu terserah anda!!” “Ah elo gimana sih???” “Saran

aku,

mendingan

Kakak

nggak

apa-apa

menerima pangeran itu dengan syarat kakak nggak akan pacaran sama dia sebelum menikah.” “Yeah, kalo kaya gitu mah nggak bakalan ada pangeran

yang

mau

sama

gue.

Yang

ada

mereka

langsung pada pergi sebelum gue nikah.” “Nggak juga. Kalo dia bener-bener ngertiin kakak, Insya Allah dia akan siap menunggu Kakak berapapun lama nya dan itu pun kalo Kakak sama dia jodoh.” “Ya………ya……boleh juga lah, tapi kok kita jadi ngawur ke pernikahan gini sih??? Umur gue aja belom ada 17 tahun kok mau ngomongin nikah sih!!” “Nah, apalagi kalo umur Kakak masih seiprit gitu. Emangnya pantes buat ngomongin tentang hal kaya gitu???” “Iya juga ya!!” “Ya udah yuk, kita lanjutin aja belajarnya!!” “Sip!!” ☼☼☼ “Chit, ada telfon nih dari Artha!!” teriak Adam dari tangga. Chita memicingkan alisnya. Kok tumben sih si Artha nelfon jam segini??? Emangnya ada apa ya?? Chita segera membukakan pintu untuk Adam yang udah nggak berhenti berceloteh kaya burung beo. “Lo lagi ngapain sih Chit???” tanya Adam.

93


“Gue lagi belajar shalat. Emang kenapa??” Adam terbelalak mendengar jawaban dari Chita barusan. “Elo belajar shalat Chit??? Ya Ampun gue rasa bakalan ada perang dunia ketiga nih!! Pantes aja tingkah lo aneh dari tadi sore.” “Sok tahu lo!! Udah deh sana!!” “Yeah, udah gue anterin wireless juga malah ngusir.” “Sorry

deh,

tapi

lo

udah

terlalu

banyak

ngomong tau hari ini. Kata Nabi, lebih baik diam daripada banyak bicara.” “Mulai deh ceramah nya. Ya udah deh mendingan lo lanjutin tuh acara belajarnya.” Chita

menutup

pintu

lalu

segera

lagi

ngapain

berbicara

dengan Artha. “Wooyyy banget????? matiin

Chit, Aman

lagi.

Lo

ahandpone lagi

lo

sih

kok

pake

bertapa

lama

acara

ya???”

di

Artha

langsung membrondong begitu banyak pertanyaan. “Cerewet

amat

sih!!

Gue

bukannya

lagi

bertapa, tapi lagi belajar shalat. Ngerti nggak lo??” “Haaaaaa??? Coba ulangin Chit!!!” “Gue lagi belajar shalat. Kenapa??” “Ck………ck……hebat deh Chita. Lo insyaf Nek??? Heee………heee

tumben

banget

lo.

Lagi

inget

mati

ya???” ledek Artha.

94


“Tha, gue nggak bercanda. Udah deh to the point aja. Lo mo ngomong apa sih??” “Gue mau nanya, lo tadi siang ngomong apaan sih sama Abe di taman belakang sekolah???” “Jadi, lo nguping ya???” “Dibilang nggak

sengaja

nguping

sih

bukan,

doang

ngeliat

lo

soalnya ama

Abe

gue yang

tumben lagi adem ayem. Eh gue keterusan deh.” Aku Artha tanpa perasaan dosa sedikitpun. “Mendingan lo tanya deh sama dia.” “Gue kan lagi slek sama dia Chit gara-gara tragedi mobil Abe yang di lukis sama orang jahil. Bbayangin aja Chit, masa orangnya nulis gini di kap mobil Abe ‘ Maaf ya Mas, mobil nya gue lukis tanpa bilang sama lo.’ Kurang ajar banget kan tuh orang.” Adddddddduuuuuuuuhhhhh

si

Artha

sebenernya

mau nyindir gue ya??? “Trus gimana sekarang mobilnya Abe???” “Ya rusak lah lagi di bengkel.” “Oooohhh………” “Eh

Chit,

udah

dulu

ya

soalnya

Abe

udah

dateng nih. Gue mau introgasi dia dulu. Ok!!!” “Ya udah deh Daaaaaaaaa………” Dasar

orang

kok

aneh

begitu

sih???

Masa

nelfon tapi nggak jelas mau ngomong apa. ☼☼☼

95


“Chit……Chit………lo serius nggak sih mau jadi temen

gue???”

tanya

Abe

sambil

terus

berjalan

mengejar Chita yang lagi sibuk baca buku. “Iya……iya cerewet banget sih!!” “Abisnya, lo kelihatan nggak serius banget sih sama pertemanan kita.” “Aduuuhhhh

Abe

udah

deh

mending

lo

pergi

jauh-jauh aja deh dari gue. Saat ini gue lagi nggak mau bahas topik itu. Gue lagi baca buku dan gue nggak mau lo ganggu. Ok!!!” “Ya udah deh gue nggak bakal ganggu lo lagi asalkan lo mau gue traktir makan di kantin ya!! please!!!” Aduuuuhhhh Abe, lo itu kenapa sih??? Kok lo selalu aja bisa bikin hati gue berbunga-bunga. “Gimana ya???” “Ayo dong Chit!! Sekali ini aja kok!!” “Kaya lagunya Glenn Fredly dong Sekali Ini Saja. Haa……ha……haaaa……” canda Chita membuat Abe dapat tersenyum bahkan sederetan gigi putih nya pun terlihat. “Mau nggak Chit???” “Gimana ya????” “Ayo dong!!!” “Ok

deh,

tapi

gue

boleh

makan

sepuasnya

kan???” Abe

mengangguk

mantap.

Ternyata

lo

hobby

makan juga ya Chit. Bagusnya lo nggak jadi pacar

96


gue. Coba kalo lo jadi pacar gue, bisa-bisa duit gue nyekak terus deh. ☼☼☼ “Woooyyy

bengong!!!”

kejut

Chita

sambil

mengibaskan tangan nya di depan muka Abe. “Lo kenapa sih Be??? Lo bingung ya gimana cara bayarnya soalnya gue mesennya terlalu banyak sedangkan tanya

duit

Chita

lo

nggak

sambil

ada

sejumlah

menyodorkan

bon

ini???”

pembayaran

yang berisi semua pesanan Chita di kedai Bu Siti. “Ah enggak kok Chit!! Sebentar ya gue itung duitnya dulu.” Abe kemudian mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam. Chita berusaha melirik isi dompet Abe itu apa aja sih???? “Lo melihat

mau

liat

Chita

melirik-lirik

ya

Chit??”

ketangkep isi

tanya

basah

dompetnya.

Abe

lagi “Nih

begitu

berusaha gue

kasih

liat!!” “Ah

enggak……siapa

yang

mau

liat

lagi???”

Chita berpura-pura sok nggak mau padahal mah dia kepingin banget ngeliat foto yang terpajang di dompetnya

Abe.

sederetan

bangku

Chita kantin

melempar yang

pandang

renggang

ke

karena

siswa-siswi SMU Pelita sudah pada pulang. Paling hanya tinggal sebagian yang masih di sana. Itu pun karena ada kegiatan ekskul atau pendalaman materi.

97


Abe

melemparkan

dompetnya

di

atas

meja

membuat mata Chita langsung tertuju pada dompet hitam itu. Liat nggak ya???? Kalo gue liat gengsi, kan tadi

gue

udah

bilang

kalo

gue

nggak

mau

liat

dompet nya Abe. Tapi kalo gue nggak liat, pasti gue baklan nyesel deh. Liat nggak ya??? “Gue cuma cerita sama lo doang ya Chit!! Ini juga gue kasih special buat lo karena lo adalah teman

gue

yang

baik

nan

setia.

Perempuan

ini

adalah nyokap gue. Cantik kan???” Chita memperhatikan foto pernikahan orang tua Abe yang tampaknya sudah lama dan usang, tapi tetap Abe simpan dengan rapi. “Cantik nggak Chit???” tanya Abe. “Oh……cantik……cantik……trus yang ini bokap lo ya???” “Iya.” “Face nya nyokap lo kok kaya orang luar gitu ya Be???” “Kakek gue emang orang Jerman, tapi gue nggak pernah kenal dan tahu gimana wujudnya kakek gue itu.” “Emangnya kenapa???” “Karena gue nggak pernah ke Jerman.” “Gue tahu kenapa lo nggak pernah ke Jerman.” “Kenapa???”

98


“Karena lo nggak bisa bahasa Inggris, jadinya lo malu kalo ke Jerman, tapi bahasa Inggris lo masih belepotan kan???” “Ya itu salah satunya, tapi bokap gue emang nggak pernah ngizinin gue buat kesana. Gue nggak ngerti deh Chit kenapa bokap gue bersikap kaya gitu?????” “Kalo gue mah minta tolong sama nyokap gue deh Be supaaya gue bisa kenal sama keluarga gue yang

di “Nyokap

gue???

Jerman.”

Nyokap

gue

itu

udah

pergi

ninggalin gue sama bokap gue sejak umur gue satu tahun. Nyokap gue itu emang nggak punya perasaan. Padahal dia itu kan tahu kalo umur segitu tuh gue bener-bener butuh kasih sayang seorang ibu, tapi dia malah pergi. Nyokap gue emang kejam!!” “Elo jangan gitu Be!! Pasti Nyokap lo punya alasan kenapa dia ninggalin lo sama bokap lo.” “Tapi gue nggak yakin Chit!!” “Lo

harus

yakin

dong

Be.

Gue

pasti

akan

bantuin lo mencari Mama lo itu. Setuju???” “Setuju

sih,

tapi

itu

kan

bukan

hal

yang

gampang Chit.” “Tenang

aja

lagi

Be.

Semua

itu

udah

ada

jalannya.” “Iya……iya……ngerti!! Chit, kok lo jadi suka ceramah gini sih??”

99


“Itu cuma perasaan lo doang kali, tapi gue emang

lagi

mendekatkan

diri

nih

dengan

Sang

Pencipta.” Dahi Abe berkerut-kerut mendengar kata-kata Chita. “Jadi ceritanya mau tobat nih!!!” “Ya gitu deh.” “Bagus deh Chit kalo gitu. Doain aja supaya gue juga bisa ikutan tobat.” “Tenang aja Be sama gue. Udah yuk pulang!! Gue udah ngantuk nih kekenyangan makan. Jangan lupa bayar Be!! Jangan ngutang ya!! Malu tau!!” “Iya rewel banget sih!!!” ☼☼☼ “Iya Nda………gue jadi bingung deh sama Abe……… iya……iya sebentar lagi gue nyampe di rumah lo……… iya gue lagi on the way nih makanya lo jangan cerewet dong…………ya udah deh Daaaaa……” Rem mobil Chita berdecit ketika tiba di depan rumah

mewah

milik

Keluarga

Reza

Sanjaya,

pengusaha paling maju di Indonesia. Di halaman rumah Nanda, berjejer mobil mewah beraneka warna dan merk membuat Chita takjub banget dengan semua nya. “Woooowwwww mobilnya banyak banget!!!” Chita

berjalan

sambil

terus

memperhatikan

sederetan mobil mewah itu. Dan terkadang Chita membuat

keonaran

dengan

menyentuh

mobil

BMW

keluaran terbaru berwarna hitam metalik sehingga mengeluarkan bunyi alarm hingga berkali-kali. Dan

100


ia pun akan teratwa kecil ketika mendengar suara alarm mobil itu yang terdengar aneh. Sang pemilik pun keluar dari rumahnya yang tidak lain adalah Reza Sanjaya. “So……sorryy……maaf Oom!! Saya nggak sengaja. Maaf ya Oom ya!!!” “Nggak apa-apa kok!! Maaf kamu siapa ya???” “Saya Chita Oom. Saya temen nya Abril sama Nanda Oom. Nanda nya ada nggak Oom???” “Oh ada. Ayo masuk!! Masuk!!!” Chita mengikuti Reza Sanjaya dari belakang dan segera duduk di ruang tamu yang megah dan full

AC.

Reza

Sanjaya

sibuk

mengajak

Chita

mengobrol sampai mulut Chita capek menyahutinya. Nggak sia-sia juga gue tadi baca koran punya Mama. Si Reza Sumantri gaji nya berapa ya, sampe bisa beli rumah yang megah kaya gini???? “Hai Kak Chita!!! Maaf ya nunggu nya agak lama.” “Iya…nggak apa-apa kok!!!” “Ya udah yuk kita ke kamar aku aja!!” ajak Nanda. “Permis ya Oom!!” kata Chita sambil berjalan memasuki istana itu. ☼☼☼ Saat

mereka

sedang

asyik

ngobrol

di

kamar

Nanda, tiba-tiba pintu di ketuk hingga berkalikali.

101


“Nda, itu bukan Abril kan??? Gue lagi nggak mau ketemu sama dia nih hari ini.” “Santai!! Aku buka pintu dulu ya!!!” “Aduuuhhhh Nanda, kamu lagi ngapain aja sih kok

lama

banget

bukain

pintu

nya???”

tanya

seorang wanita anggun yang membawa nampan berisi dua jus strawberry dan makanan kecil saat pintu kamar Nanda terbuka lebar. “Nanda tadi lagi ngobrol Ma!!” “Ngobrol kok lama banget sih!!” “Maaf deh Ma!! Ya udah sini biar Nanda bawa masuk. Makasih ya Ma!!” Nanda

menutup

pintu

kamar

dengan

kaki

nya

karena tangannya sudah kerepotan membawa nampan yang cukup berat tersebut. “Itu Mama lo ya Nda???” “Iya!! cantik nggak???” “Nggak

tau.

Gue

tadi

nggak

begitu

jelas

ngeliat nya.” “Ya udah sekarang kita kembali ke penelitian kita.” “Udah berapa lama nyokap lo menikah dengan Papa lo yang sekarang ini???” “Kurang lebih udah enam tahun.” Chita mencatat semua informasi yang ia dapat dari Nanda di buku notes nya yang tadinya kosong melompong

jadi

di

penuhi

tulisan

keriting-

keriting. ☼☼☼

102


Episode 8 “Be……gawat nih!!!” kata Chita dengan tampang cemasnya. “Gawat kenapa???” tanya Abe yang juga ikutan jadi khawatir. “Be, si Abril Be!! Si Abril Be!!” “Iya Abril kenapa???” “Dia

bilang

kalo

dia

suka

sama

gue

Be!!

Aduuuuhhhh gue bingung banget nih Be harus jawab apa ???” Wajah Abe berubah seketika. Gila bener deh tuh si Abril!! Gue nggak nyangka kalo Abril sampe berani ngelakuin hal gila kaya gitu. “Be, gue harus gimana??” tanya Chita dengan tampang melas sampe semelas-melas nya. “Ya terserah lo aja lah Chit. Semua keputusan kan ada di tangan elo.” “Kalo gue boleh jujur, gue itu nggak pernah suka sama Abril. Gue suka sama…………” “Sama siapa Chit????” “Ahhhh……nggak penting. Udah deh lupain aja. Oh iya gue pergi dulu ya!! Gue mau ngomong dulu sama Abril. OK!!” Abril cuma geleng-geleng kepala doang ngeliat tingkah

nya

Chita.

Addduuuuuhhhhh

si

Chita

ngomong apa ya???? Jangan-jangan dia nerima si Abril lagi??? Aduuuhhh nyesel deh kenapa tadi gue nggak saranin Chita supaya nolak

Abril ya??? 103


Aduuuhhh gue kok jadi gini sih!! Jangan-jangan gue bener-bener jatuh cinta lagi sama Chita. Ya ampun nggak mungkin banget deh!! ☼☼☼ Handpone

Chita

berbunyi

ketika

dia

sedang

asyik menemani Abril ngeband di rumah Ical. “Ya

ada

apa

Ma???”

tanya

Chita

sambil

berjalan menjauh dari studio itu. “Chit, kamu lagi dimana sih?? Kamu lagi di diskotik ya???” “Yeah si Mama deh, mana ada sih diskotik yang buka sore-sore gini???” “Oh iya Mama lupa!! Chit, katanya kamu mau anterin Mama ke mall, tapi kok sampe sekarang belom pulang sih??” “Oh iya Ma, Chita lupa!!” kata Chita sambil menepuk jidatnya. “Ya

udah

sekarang

cepat

pulang

ya!!

Mama

tunggu lho Chit!!” “Iya!!!” Chita berjalan mendekati Abril yang sedang menikmati memetik gitarnya dan membisikkan Abril bahwa

ia

harus

tentu

saja

pulang

membuat

saat

Abe

ini

jadi

juga.

panas

Hal

dan

ini

peace

control nya langsung goyang. Chita

melambaikan

tangan

nya

pada

seluruh

personil Growing Up. Dan hanya Abe yang tidak tersenyum sedikitpun membuat hati Chita semakin bertanya-tanya.

104


Abe, lo kenapa sih???? Lo kok kaya bunglon sih yang selalu berubah-ubah. Gue bingung Be!! Bingung banget sama lo. Abe kenapa lo nggak mau jujur kalo lo itu jealous kalo ngeliat gue jadian sama Abril??? Kenapa sih lo nggak mau ngaku???? Dari air wajah lo aja udah ketahuan kalo lo itu jeallous Be. ☼☼☼ Abe meremas-remas botol soft drink nya yang sudah habis ia minum. Raka yang lagi asyik nonton bola

merasa

timbulkan. duduk.

Ia

Abe

beberapa

terusik

dengan

menoleh

sedikit

menghentikan

detik

suara

kemudian

ke

kegiatannya ia

sudah

yang

Abe

tempat

Abe

itu.

Dan

melakukan

kegiatannya lagi yaitu meremas-remas botol soft drink. “Argggggghhhhhh……Abe!!! Lo tau nggak kalo lo itu udah gangguin acara nonton bola gue??? lo itu kenapa

sih

Be???”

omel

Raka

dengan

gigi

gemeletuk. “Gue pusing Ka!!” “Emangnya lo doang yang pusing??? Gue, Ical, Elga sama Abril tuh juga pusing ngeliat tingkah lo kaya gini. Ya nggak brur???” “Iya Be. Lo tuh ngebetein banget sih malem ini.” Tambah Ical. “Patah hati sih!!” ledek Elga yang kemudian diiringi tawa kecilnya.

105


Abe

nggak

sedikitpun.

Ia

memperdulikan memang

sadar

celotehan kalo

saat

Elga

ini

ia

tengah patah hati ngeliat si Chita jadian sama si Abril. Abe, lo kenapa sih malam ini???? Lo itukan bukan siapa-siapanya Chita??? Lo itu nggak berhak buat marah Be. Ada apa sih dengan otak lo Be??? Apakah

ini

pertanda

kalo

lo

jatuh

cinta

sama

Chita??? Bisik Abe dalam hati kecilnya. Abe meremas botol soft drink itu semakin kuat dan ia lemparkan tepat mnegenai dahi Abril. Elga, Ical

dan

Raka

langsung

mengerubungi

Abril

dan

memberikan pertolongan secepatnya. Hanya Abe saja yang

tidak

bergeming.

Ia

hanya

duduk

santai

sambil terus menonton bola padahal Abril terus saja

mengerang-erang

kesakitan

saat

Ical

memberikan alkohol di lukanya. “Be, lo kenapa sih??? Lo kesurupan ya???? Be otak lo dimana sih???? Lo tau nggak kalo apa yang lo

lakuin

itu

berbahaya???

Tau

nggak

Be???�

bentak Elga yang udah kelewatan sewot ngadepin Abe. Abe masih bersikap tak acuh. Ia sama sekali tidak

peduli

dengan

apa

yang

di

katakan

oleh

Elga. “Be, lo masih waras nggak sih??? Lo masih punya otak nggak sih????� timpal Raka yang hampir saja

melemparkan

botol

alkohol

ke

kepala

Abe,

tapi sudah lebih dulu di cegat oleh Elga.

106


“Eh udah dong. Lo semua kenapa sih??? Abe itu nggak salah. Gue yang emang salah sampe buat Abe segusar ini. Be sorry!!” lerai Abril. “Apa lo bilang Bril??? Dia nimpuk lo pake botol soft drink itu nggak keterlaluan??? Lo itu sama gila nya kali ya kaya dia.” Kali ini Ical yang angkat bicara sambil menunjuk-nunjuk Abe. Abe yang udah nggak tahan dengan semua ini akhirnya

mulai

buka

mulut.

Ia

berdiri

sambil

terus mengepalkan tangannya. “Ok gue akuin kalo gue ini salah. Gue khilaf. Gue ceroboh, tapi gue ngelakuin ini karena ada sebabnya. Gue………” “Gue

jeallous

ngeliat

Abril

jadian

sama

Chita.” Potong Raka dengan ketusnya membuat Abe hilang

kontrol

dan

hampir

saja

satu

tonjokkan

mendarat di wajah Raka, tapi Abe tidak berhasil karena Abril sudah menangkisnya terlebih dulu. “Be,

lo

itu

udah

bener-bener

nggak

waras.

Cuma karena Chita aja lo hampir ngelukain banyak orang. Ok kalo emang lo nggak suka gue jadian sama Chita, gue bisa kok nyerahin Chita buat lo. Be, tolong pake dong akal lo!! Jangan pake emosi doang!!” “Lo nggak usah sok baik sama gue karena gue nggak

akan

ngelukain

banyak

orang

mulai

hari

ini,

KELUAR

DARI

GUE

lagi

karena

GROWING

UP.

Puas???!!” Abe berlalu dari pandangan Abril, Raka, Elga dan Ical. Ia memecahkan salah satu vas bunga yang

107


bertengger

di

meja

dekat

tangga.

Padahal

vas

bunga itu milik Mama Raka yang teramat sangat ia cintai. Abe membalikkan badan nya lalu berkata: “Sorry

vas

bunga

nyokap

lo

gue

senggol.

Kalo

nyokap lo minta ganti, masukin aja ke tagihan rekening gue.” kemudian Abe lenyap seketika di telan gelapnya malam. ☼☼☼ “Sorry nih guys, gue mau nanya. Lo liat Abril nggak???” tanya Chita dengan nafas terengah-engah lantaran

mencari

Abril

sampai

ke

penjuru

SMU

Pelita. “Cieee……cieee……kangen ya Chit???” ledek Elga yang emang hobbynya ngeledekin orang mulu. Chita hanya menjawab dengan senyumannya yang manis yang selalu terkembang di wajah manisnya. “Abril nggak masuk Chit. Dia lagi sakit. Hari ini

dia

mau

ke

dokter.

Emangnya

lo

baru

tahu

ya???? Kasian deh lo!!” ujar si Ical. “Abril sakit???” tanya Chita heran. “Iya. Dia sakit gara-gara berantem sama si Abe waktu ngerebutin piala berjalan yaitu Chita Nadhira Fahrezi.” “Itu kan nama gue Cal.” “Ya emang.” “Sekarang Abe nya ada dimana???” tanya Chita dengan muka panik. “Nggak

tahu

deh

Chit.

Sekarang,

Abe

udah

bukan hak milik Growing Up lagi. Dia udah dead.”

108


“Lo semua ngeluarin dia???” “Aduuuhhh Chita, pake dong pikiran lo. Nggak mungkin

lah

anak-anak

Growing

Up

ngeluarin

vokalis yang suaranya kaya emas gitu. Kita nggak ngeluarin dia, tapi dia yang mau keluar sendiri.” Jelas Raka. “Ya udah deh thanks ya buat informasinya.” “Eh Chit, lo mau kemana???” tanya Ical. “Ada deh.” “Chit, nanti kita mau ke rumah Abril. Lo mau ikut nggak??” “Sip. Lo atur aja deh.” Abe yang lagi duduk sendirian di meja kantin, kaget

begitu

berambut

mejanya

panjang

di

menjuntai

gebrak

oleh

sampai

sebahu

cewek yang

tidak lain adalah Chita. Abe

sama

sediktpun.

Ia

sekali

tidak

malaah

asyik

menghiraukan meyeruput

Chita

cappucino

nya. “Abe!!” hardik Chita. Abe mangangkat wajahnya dengan malas. “Be,

kali

ini

lo

udah

bener-bener

keterlaluan. Kenapa sih Be lo harus berantem sama Abril sampe dia nggak masuk hari ini???” “Siapa yang berantem sama Abril??? Lo salah informasi kali atau salah denger.” Ejek Abe. “Apaaaa????”

109


“Iya Chit, gue itu nggak berantem sama Abril, tapi lebih tepatnya lagi kalo dibilang tragedi botol soft drink.” “Mmmm……maksud lo???” tanYA Chita ragu-ragu. “Jadi gini lo Chit ceritanya. Gue ngelempar botol soft drink ke jidatnya Abril. Nah abis itu anak-anak

pada

marah

sama

gue.

Ya

udah

gue

putusin aja untuk keluar dari Growing Up. Ngerti nggak Non???” Ya ampun Abe!!! Dengan sangat tenangnya lo bisa

ceritain

cerita

yang

sebenernya

ke

gue.

Aduuuhhh Abe, lo bener-bener gila deh. Otak lo dimana sih??? “Atas

dasar

apa

lo

ngelemparin

Abril

pake

botol soft drink???” Abe

enggan

menjawab

pertanyaan

Chita.

Wajahnya merah menahan malu. Aduuuhh Chita, lo itu kan udah tau jawabannya!! Kenapa harus nanya lagi??? Gue kan jadi malu Chit. Ayo Be, bilang kalo lo itu cemburu sama gue. Ayo bilang!! “Kenapa diem aja Be???” “Gue

cuma

iseng

aja.

Abisnya

nggak

ada

kerjaan sih!! Apaaaa???? Kaya gituelo bilang iseng??? Itu sih namanya bukan iseng, tapi nyusahin orang. Kenapa sih lo harus boongin diri lo sendiri Be??? Lo itu bener-bener munafik Be.

110


“Gue

nanti

pulang

sekolah

mau

ke

rumahnya

Abril. Lo mau ikut nggak???” “Ngapain gue ke rumah musuh gue???” “Musuh???” Ups!!!

Abe

rapat-rapat. sama

juga

kelepasan.

“Maksud maling.”

Ia

gue,

menutup

musuh

Kata

Abe

mulutnya

dalam

selimut

sambil

berjalan

meninggalkan Chita dengan santainya. “Apa coba maksudnya??? Dasar orang aneh!!” ☼☼☼ “Selamat

siang

anak-anak!!”

sapa

Bu

Rini,

guru Fisika yang super duper kiler. “Siang Bu!!!” sahut penghuni kelas 3 IPA 1. “Kalian sudah siap untuk ulangan???” “Belum Bu!!” “Pokoknya Ibu nggak mau tau. Hari ini kita ulangan

Fisika!!

Kumpulkan

tugas

kalian

yang

minggu lalu Ibu suruh dan janagna pernah berusaha untuk menyontek karena Ibu tidak akan segan-segan untuk merobek kertas ulangan kalian. Mengerti???” Aden yang sudah menyiapakan contekan langsung membuang

contekan

itu

lantaran

takut

dengan

ancaman Bu Rini. “Be,

nanti

kalo

gue

nggak

bisa

jawab,

lo

kasih tau gue ya!!” Ia

hanya

menjawab

dengan

senyumannya

dan

kembali memandangi bangku Abril yang berada di depannya yang masih kosong. Ia merasa bersalah dengan

apa

yang

ia

lakukan

semalam.

Tapi

Abe

111


tidak bisa mungkir kalau ia melakukan itu karena ia cemburu melihat kedekatan Abril dengan Chita. Chita sama sekali tidak bisa mengerjakan soal ulangan

di

hadapannya.

Abe

menoleh

ke

kertas

ulangan Chita yang masih kosong melompong. Chita menggaruk-garuk rambutnya dengan gelisah. Semua hafalan rumus di otaknya buyar seketika. Chit, maafin gue karena udah membuat lo jadi kaya gini. Sekarang gue ngerti kalo Abril itu penting buat lo. Sekali lagi maafin gue ya Chit!! ☼☼☼ Tokkk……toookk………toookkk………pintu di

ketuk.

“Siapa???”

tanya

Abril

kamar

Abril

dengan

suara

parau. “Abril, ini ada temen-temen kamu. Boleh masuk nggak???” tanya Mama dari luar kamar. “Masuk aja. Nggak Abril kunci kok!!” Kata Nanda, Abril itu sangat tidak bersahabat sama Mama nya. Tapi kayaknya dia biasa aja kok. Teman-teman anak-anak

band

Abril

yang

Growing

Up

tidak

lain

langsung

adalah

menyerbu

Abril. “Bril, gimana kabar lo???” tanya Raka. “Gue baik-baik aja kok.” “Lo udah ke dokter belom??” tanya Elga sok perhatian, tapi emang bener perhatian sih. “Nggak usah lah. Cuma sakit kaya gini doang kok.”

112


“Bril, kita punya kejutan nih buat lo. Tapi, mata lo harus di tutup ya!!” “Emangnya kejutannya apaan sih???” “Ada deh. Pokoknya lo harus tutup mata.” “Ya udah gue tutup mata nih. Tapi cepetan ya!!” Ical memberi aba-aba pada Chita untuk segera masuk

ke

dalam.

Chita

melangkahkan

kaki

nya

dengan gayanya yang anggun. Dan kemudian duduk di samping

tempat

tidur

Abril

seperti

anak-anak

lainnya. “Sekarang lo udah boleh buka mata lo Bril!!” Abril begitu kaget dengan kedatangan Chita di depan

matanya.

beberapa

menit

Mulut

Abe

yang

lalu

yang

menganga

menggoda

sejak

Elga

untuk

melakukan ide gilanya yaitu membekam mulut Abril membuat

cowok

yang

lagi

terbaring

lemah

itu

mengerang-erang. “Gimana kabar lo Bril???” “Gue

baik-baik

aja

kok

Chit.

Pasti

mereka

ngasih tau lo yang hiper ya Chit??” “Enggak juga kok.” Tidit……tidit……tidit handpone Chita berbunyi. Ia melihat nama di layar yaitu Abe. Chita menolak panggilan obrolan

itu.

dengan

Ia

kembali

Growing

Up.

tenggelam Dan

bersama

beberapa

detik

kemudian handponenya kembali berbunyi. Kali ini Chita tampak ragu-ragu untuk menjawab panggilan orang di sebrang sana.

113


“Coba

lo

angkat

dulu.

Siapa

tau

penting.”

Kata Abril. “Enggak kok Bril. Nggak penting.” Dan lagi-lagi handpone Chita berbunyi. Chita hanya

mendegus

memanggil

itu

kesal sama

ketika

seperti

tau

orang

sebelumnya.

yang Dengan

tangkas Abril merebut hp itu dari tangan Chita. “Ja……ja……ngan Bril!!” Abril

tidak

memperdulikan

larangan

Chita

aplagi setelah ia tahu bahwa yang menelpon adalah Abe. Ia semakin nekat untuk menjawab telpon itu. “Kenapa???” tanya Abril dingin. “Gue mau bicara sama Cchita dan bukan sama lo!!” bentak Abe. “Sayangnya, Chita nggak mau ngomong sama lo. Dia

udah

terlalu

muak

sama

lo.

Jadi,

jangan

ganggu-ganggu Chita lagi!!” “Chita

muak

sama

gue???

bukannya

dia

muak

sama lo??? Coba dong lo pake akal lo. Lo pikir, apa Chita bener-bener enjoy dengan keadaan kaya gini???

Enggak

tau!!

Apa

dia

bener-bener

suka

sama lo??? Jadi sekarang dia itu muak sama gue atau lo???” Abril

yang

kehilangan

kata-kata

langsung

mematikan hubungan telfon antara mereka. ☼☼☼

114


Episode 9 “Bril, jangan marah dong!!!” “Gue

nggak

marah

kok

Chit

sama

lo.

Gue

percaya kalo apa yang Abe bilang itu nggak bener ya kan???” Chita mengangguk mantap walaupun kata hatinya tak berseru seperti itu. Sampai kapan lo mau bohongin diri lo sendiri Chit??? Kenapa sih lo nggak mau ngaku aja kalo lo itu sebenernya nggak sepenuhnya mencintai Abril. Aduuuhhh Chita, kok lo jadi dramatisir gini sih!! “Ya udah kalo Abe ngomong apapun ke elo, lo jangan dengerin ya Bril!!” “Emangnya kenapa???” “Gue cuma takut itu mempengaruhi kesehatan lo aja.” “Emangnya lo cemas ya sama kesehatan gue???” pancing Abril. Ya ampun, nih cowok maunya apa sih??? Apa sih maksudnya ngomong kaya gitu???? Gue harus jawab apa ya???? “Kok bengong Chit??? Lo denger nggak sih apa yang gue tanyain tadi???” “Hah??? Apa Bril???? Lo ngomong apa tadi???” “Udahlah Chit nggak perlu di bahas. Walaupun lo itu ada di depan gue, tapi nyawa lo tuh lagi berkeliaran dimana-mana.” “Maksud lo???”

115


“Udah deh lupain aja. Anggap aja gue tadi nggak pernah ngomong apa-apa sama lo.” Yah si Abril marah deh. Sorry ya Bril kalo kesannya

gue

jahat

banget

sama

lo,

tapi

gue

bener-bener nggak bisa Bril. “Aduuuhhh kok suasana nya jadi mencekam gini sih!!!” kata Elga yang udah nggak tahan ngeliat keadaan kaya gini yang garing banget. Tiba-tiba pintu di ketuk. Mama Abril langsung masuk

kamar

Wanita

tanpa

cantik

menunggu

yang

izin

langsing

dari

dan

Abril.

anggun

ini

kasih

izin

berjalan menuju tempat tidur Abril. “Mama

nggak

bisa

nunggu

Abril

dulu???” “Maaf ya Bril kalo Mama lancang, tapi Mama benar-benar harus pergi saat ini. Makanya Mama langsung masuk soalnya Papa kamu udah nungguin Mama di luar.” “Emangnya Mama mau kemana???” “Mama mau pergi ke acara makan malam relasi Papa mu. Tolong jaga rumah baik-baik ya Bril. Makasih ya sebelumnya.” “Emmmm………mmmm” Chita tidak berhenti memperhatikan Mama Abril sampai

wanita

bayangannya.

Ia

itu

benar-benar

merasa

kalau

ia

hilang pernah

bersama bahkan

seperti mengenal wanita itu. Tapi Chita bukanlah Albert Einstein yang punya otak canggih sehingga

116


bisa berfikir cepat. Ia sama sekali tidak bisa mengingat sedikitpun tentang wanita itu. “Chit, lo kenapa sih, kok ngeliatin Mamanya Abe kaya ngeliat hantu aja sampe segitu nya??” tanya Elga yang selain jaahil tapi memang selalu ingin tahu urusan orang. “Gue ngerasa kaya pernah ngeliat wanita itu. Suwerrr

deh.

Gue

yakin

banget.

Kayaknya

wajah

nyokap nya Abril itu udah familiar banget di mata gue.” “Mungkin lo ketemunya di mall kali???” “Mungkin, tapi udah lah nggak penting banget kan kita ngomongin kaya gituan. Oh iya gue pamit duluan ya!! Soalnya udah sore banget nih. Gue masih harus jemput nyokap gue di butik. Salam ya Bril buat Nanda!!” “Iya!! hati-hati ya Chit!!” “Ya udah deh Bril, kita juga ikutan pulang. Kasian

kan

kalo

Chita

pulang

sendiri.”

Pamit

Ical. “Ya udah sana.” “Cepet sembuh ya Bril.” “Iya!! makasih ya!!” ☼☼☼ Chita

melongok

ke

handpone

nya

saat

ia

selesai mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia mulai membaca sederetan sms baru.

117


Chit, td gue ktm sm wnta yg mrp bgt sm nykp gue di rmh Abril. Trs wnta itu msk k dlm mblnya si Reza Sanjaya. Apa iya dy nykp gue??? Abe. Chita sekarang ingat bahwa wajah Mama Abril memang

mirip

dengan

wajah

Mama

Abe

yang

Abe

simpan di dompetnya. “Oh iya, wajah nya Mama Abril emang mirip sama Mama nya Abe, tapi nggak mungkin kan Mama nya Abe itu sama kaya Mama nya Abril. Tapi kalo emang

bener,

berarti

Nanda

itu

adalah

adeknya

Abe.” Chita sibuk memutar-mutar otaknya dan tidak ketinggalan kupingnya juga sudah teramat sangat panas karena sejak tadi tidak berhenti menelpon atau menerima telpon dari narasumber yang bisa memberikan

banyak

informasi

yaitu

Abe,

Nanda,

Abril dan tidak ketinggalan Papa Abe serta Mama Abril. Detektif Chita akan segera beraksi. “Ohhh………jadi ceritanya gitu ya Tante. Jadi dulu itu Tante punya anak yang namanya Nanda. Chita juga punya temen juga kehilangan Mama sejak satu

tahun

kelahirannya.

Namanya

Abe.

Tapi,

kenapa Tante ninggalin anak Tante??” Tante

Charin

yang

merangkap

jadi

Mamanya

Abril dan Nanda langsung terisak begitu mendengar pertanyaan Chita. “Tante juga nggak mau ninggalin suami dan anak Tante Chit, tapi………hiks………hiks…… Papa nya Tante sejak pertama emang nggak pernah menyetujui

pernikahan

kami.

Sebelum

Papa

Tante

118


meninggal, dia pesan kalo Tante harus ninggalin anak dan suami Tante itu. Ya udah akhirnya Tante setuju Chit walaupun banyak orang yang terluka dengan tindakan Tante. Hiks……hiks……hiks……” “Suami Tante tau tentang hal ini???” “Dia tau, tapi dia nggak tau kalo beberapa tahun setelah perpisahan kami, Tante hamil dan Mama

Tante

menikahkan

Tante

dengan

Papa

nya

Abril.” Tante Charin menyeka hidung dan air matanya. “Jadi sebenernya Tante itu udah resmi bercerai belum sama suami Tante yang pertama??” “Belum.

Kami hanya berpisah saja, tapi belum

resmi bercerai.” “Jadi, kemungkinan untuk bersatu lagi masih ada dong Tante??” “Andai aja Tante bisa Chit, Tante pasti mau.” “Chita pasti akan bantuin Tante. Terima kasih ya buat semua informasi yang udah Tnate berikan. Detektif Chita mau beraksi dulu ya!!” “Terima kasih juga ya Chit karena udah mau dengerin curahan hati Tante dan membantu Tante mencari anak dan suami Tante.” “Sama-sama ya Tante. Daa………aaaa……Tante.” “Daaaa…………” Chita mencoret-coret buku notesnya. “Menurut informasi si Nanda yang juga dapet informasi dari Mamanya

kalo

ia

punya

seorang

kakak

laki-laki

yang namanya juga sama dengannya yaitu Ananda.

119


Itulah alasan mengapa Mamanya menamainya Ananda supaya Mamanya akan selalu ingat dengan nama anak laki-lakinya yang terdahulu. Abe itu nama aslinya siapa

ya???

Apa

mungkin

Abe

juga???

Aduuhhhh

kayaknya penelitian untuk hari ini udah dulu deh soalnya

kepala

gue

udah

pusying

banget

dengan

semua ini.” Chita lalu menutup buku notesnya dan segera mengistirahatkan tubuhnya. ☼☼☼ “Sorry deh Chit, tapi gue emang udah nggak terlalu berminat sama pencarian nyokap gue itu. Mungkin salah

apa

yang

kali

gue

ya!!”

liat kata

di

rumah

Abe

Abril

setelah

itu

Chita

memberitahunya soal Tante Charin. “Iiiihhh………Abe

kalo

kaya

gitu

berarti

lo

nggak menghargai usaha gue dong!!” “Bukannya

gitu

Chit,

tapi

semakin

gue

bersikeras untuk mencari nyokap gue maka semakin sakit juga hati gue.” “Gitu ya???” “Iya. Lo nggak marah kan???” “Gue nggak akan marah asalkan lo mau jawab pertanyaan gue.” “Ya udah lo mau nanya apa??” “Selama ini kan, elo main sama Abril bahkan bisa di bilang kalo lo itu bersahabat lah sama dia.

Tapi,

apa

iya

lo

nggak

pernah

ngeliat

120


tampang nyokapnya dia kalo lo lagi ke rumah dia gitu??” “Selama gue bertemen sama dia, gue itu benerbener nggak pernah main ke rumah dia. Gue itu nggak pernah menginjakkan kaki gue di sana. Kalo lo nggak percaya lo boleh tanya sama anak-anak Growing Up.” “Sure???” “Iya. Masa lo nggak percaya sih sama gue.” “Bukannya

gue

nggak

percaya,

tapi

sekedar

memastikan aja. Oh iya Be, gue boleh nggak pinjem foto nyokap lo dan foto kecil lo??? Kalo perlu malah

yang

masih

bayi.”

“Jangan bercanda deh Chit!!” “Yeah,

gue

nggak

bercanda

Mas.

Emangnya

tampang gue kaya orang lagi bercanda??” “Ya udah besok deh gue kasih ke elo.” “Oh iya Be, gue masih ada satu pertanyaan lagi nih. Nama lengkap lo itu siapa sih Be???” Abe diam untuk beberapa detik. “Kalo gue nggak boleh tau nggak apa-apa kok Be!!” Abe tertawa kecil. “Boleh kok Chit, tapi lo jangan ketawa ya kalo gue kasih tau!!” “Iya.” “Nama

lengkap

gue

Ananda

Bintang,

tapi

berhubung nama gue itu terlalu ke cewek-cewek an, bokap gue manggil gue dengan sebutan A-BE yang di ambil dari huruf depan nama gue yaitu A dan B.”

121


“Jadii…………nama lo itu Ananda???” tanya Chita kaget plus terheran-heran. “Iya. Emangnya kenapa sih??? Lo mau ngetawain gue ya???” “Enggak kok, tapi lo harus secepatnya ngasih foto lo ya Be, Kalo perlu lo kirim aja lewat email gue. Please banget ya

Be!!”

“Emangnya kenapa sih?? Lo mau bandingin ya cakepan gue kecil atau gede. Ya kan??” “Udah deh Be, jangan narsis dulu. Pokoknya lo harus kirimin foto lo ya!!” “Iya………iya!!” “Ya

udah

deh

Be,

makasih

ya

buat

informasinya.” Chita kenapa ya??? Kok dia aneh begitu sih tingkahnya???? ☼☼☼ “Kira-kira Chita sama Abe lagi ngomongin apa ya??” tanya Artha pada Aretta yang lagi sibuk baca buku Sejarah. “Nggak tau deh Tha, tapi menurut lo kita ini kejam

nggak sih?? Kalo nanti Abril bener-bener

suka sama Chita gimana??” “Biar

Chita

aja

yang

milih

yang

penting

sekarang kita tetep aja kaya gini, OK!!” “Tapi Tha………” “Nggak ada tapi-tapi an.” “Iya……iya ngerti!!”

122


“Eh kasian

Rret,

coba

banget

deh

lo

liat

tampangnya.

tuh

si

Abril

Jangan-jangan

jeallous lagi ngeliat si Abe lagi ngobrol

dia sama

si Chita.” “Tuh kan Tha, gue bilang jug apa?? Udah deh Tha

kasian

tuh

si

Abril.

Gue

rasa

dia

emang

bener-bener suka sama Chita deh. “Aduuuhhh

lo

jangan

bikin

gue

jadi

pusing

dong!!” “Gue nggak bikin lo pusying tapi, elo sendiri yang bikin diri lo pusying.” “Sok tau lo!!” “Gue nggak sok tau, tapi elo tuh yang sok tau!!” “Aarrrrgggghhh………udah deh lo sana mendingan pergi!!” “Tanpa lo usir pun, gue bakalan pergi!!” ☼☼☼ “Haa………ha………lo Tante Charin ya???” “Iya Chit. Ada apa??” “Tan………Aduhhhh Tan………temen Chita yang Chita ceritain itu namanya Ananda.” “Yang bener kamu Chit???” Tante Charin begitu kaget mendengar kata-kata Chita. “Iya Tante………Chita nggak boong. Chita udah minta foto masa kecil dan foto ibunya. Mungkin nanti

sore

udah

bisa

Chita

kirim

ke

emailnya

Nanda. Nanti kalo foto itu emang persis seperti

123


foto

masa

kecilnya

anak

Tante,

Tante

langsung

telfon Chita ya!!” “Iya………iyaa……pasti Chit!!” “Udah dulu ya Tante, Chita mau masuk kelas dulu soalnya udah bel nih.” “Iya.

makasih

banyak

ya

Chit

buat

informasinya.” “Iyaaaaaa……daaa……tante………” Tuuuuttt………tuuuuttt………tuuuuttt………pembicaraan pun

terputus.

Chita

berlari

kencang

menuju

kelasnya dengan segera. ☼☼☼ Chit, gue nggak bs ngrm ft yg lo mnta. Sorry bgt ya!! Soalnya gue hrs prg k kntr bkp gw lgpl gw gak ngrt cranya gmn. Ya udh deh tar gw antrn k rmh lo aja ya!! Chita tertawa lepas begitu membaca sms dari Abe. Ternyata lo bukan cuma bodoh soal pelajaran Bahasa Inggris ya Be, tapi lo itu juga gaptek alias gagap teknologi. Pintu kamar Chita di gedor-gedor oleh Adam. “Chit………Chit……Chit!! Lo lagi ngapain sih???” Ceklek………pintu kamar Chita pun terbuka. “Lo lagi ngapain sih Chit??? Lagi bersemedi ya???” gurau Adam sambil celingukan mencari sesuatu yang mungkin kelihatan janggal di kamar Chita. “Lo nyari apaan sih Dam???” “Gue lagi nayri alat persemedian lo!!!”

124


“Lo kira gue ini Empu Gandring pake acara bersemedi gitu???” “Heee………heee……heeee

gue

cuma

bercanda

kok

Chit. Nih gue kesini cuma mau ngasihin titipan dari temen lo doang.” Kata Adam sambil memberikan Chita sebuah amplop coklat. “Dari siapa nih Dam????” “Dari Abe.” “Trus sekarang Abe nya kemana???” “Udah selain

pulang.

ngurusin

Katanya

urusan

masih

lo

banyak

doang.

Eh

urusan

ngomong-

ngomong sejak kapan lo jadi akur adem ayem gitu sama si Abe??” “Ah itu bukan urusan lo!” “Dasar pelit. Sama gue aja nggak mau cerita.” “Masalahnya kalo gue ceritain nggak bakaln selesai sampe tujuh hari tujuh malem.” “Masa sih???” “Iya.

Udah

deh

sana

gue

masih

ada

urusan

nih!!” “Yaelah Chit, lo udah kaya orang bener aja banyak urusan.” “Emangnya gue ini nggak bener apa??? Lo kira gue ini gila???” “Bukan gila, tapi crazy……Chita is crazy……” “Bodo amat. Pokoknya malam ini jangan gangguganggu

gue

lagi.

Ok!!”

kata-kata

itu

menutup

pembicaraan kakak beradik itu karena Chita sudah

125


membanting pintu kamarnya dan tenggelam bersama foto-foto dan komputernya. ☼☼☼ “Be, nanti pulang sekolah, lo harus ikut gue Be!!

Harus!!”

kata

Chita

dengan

tampang

muka

seriusnya. “Emmangnya lo mau kemana sih??” “Gue mau ngajak lo ke Bubble café soalnya ada yang mau ketemu sama lo. LO mau kan???” “Siapa yang mau ketemu sama gue??” “Ny. Charin. Lo kenal dengan nama itu??” Abe terhenyak dengan nama itu. Itu kan nama Mama gue yang sekarang nggak jelas dimana dan gimana

kehidupannya.

Darimana

Chita

kenal

sama

nyokap gue??? “Be, jangan bengong aja dong!! Lo kenal nggak sama nama itu.” “Lo kenal darimana Chit???” “Yeah, gue nanya malah balik nanya. Gue kan udah

bilang

sama

lo

kalo

gue

akan

bantuin

lo

mencari Ibu lo.” “Ok deh Chit, gue bakalan ikut lo, tapi………” “Tapi apa Be???” “Nggak………nggak……nggak apa-apa kok Cchit!!” ☼☼☼ “Chit, lo mau kemana sama Abe???” tanya Abril saat mereka bertemu di parkiran.

126


“Gue………gue……gue lagi ada urusan sebentar sama dia.

Nggak

apa-apa

kan

kalo

gue

pergi

sama

dia???” “Gue boelh ikut nggak??” “Bukannya gue nggak mau ngajak lo, tapi ini urusannya Abe. Jadi, kalo lo mau ikut, lo minta izin aja sama Abe.” “Nggak usah deh Chit. Hati-hati aja ya!!” “Iya!!” Dengan perasaan perih, Abril membiarkan Chita pergi

dengan

Abe

entah

kemana

dan

apa

yang

sebenernya sedang terjadi antara mereka. ☼☼☼ Jantung Abe berdebar kencang saat sonic nya tiba di Mall Plaza. Chita yang sejak daritadi menggerutu karena Abe yang mengendarai motornya ngebut

membuat

rambut

Chita

jadi

acak-acakan

menambah kesemrawutan otaknya. Abe tidak pernah merasa segugup ini bahkan sebelum

ia

manggung

sekalipun.

Perasaan

di

dadanya kini bercampur aduk antara senang, sedih dan kecewa. Abe langsung di serbu oleh para fansnya yang ribut minta foto dan tanda tangannya. Chita jadi merasa canggung sendiri karena jadi ngerasa risih waktu ada fansnya Abe yang menyangka kalau mereka adalah pacaran. Walaupun menandatangani

capek, dan

akhirnya berfoto

ia

selesai

juga

ria

dengan

para

127


fansnya. Abe dengan segera memasuki lantai lima dimana Bubble café terletak. Chita dan Abe segera menghampiri wanita yang menggunakan blazer berwarna krem yang duduk di sudut ruangan. “Maaf ya Tante kalo agak lama soalnya tadi Abe udah keburu di kerubungin fansnya.” “Iya

nggak

apa-apa

kok

Chit.

temen

Chita

Ayo

silakan

duduk!!” “Tante,

ini

dia

yang

Chita

ceritain itu. Namanya Abe Tante. Lengkapnya lagi Ananda Bintang.” “Ananda Bintang???” Tante Charin begitu kaget padahal Chita sudah menceritakan hal ini hingga berkali-kali, tapi tetap saja Tante Charin akan tercenngang

setiap

mendengar

nama

“Ananda

Abe

menjadi

Bintang”. Pembicaraan

pun

di

mulai.

pendengar yang baik saat Tante Charin bercerita tentang

kehidupannya

walaupun

sesungguhnya

ia

sangat ingin marah. “Kenapa

anda

meninggalkan

saya

dan

Papa

saya??” tanYA Abe setelah Tante Charin selesai menceritakan semuanya. “Saya meninggalkan kamu dan Papa mu karena saya harus menuruti permintaan Kakek kamu sebelum beliau suara

meninggal.” bergetar

Jelas

menahan

air

Tante mata

Charin yang

dengan sebentar

lagi akan meluncur di pipinya.

128


“Tapi saya

dan

anda

dengan

sekarang

seenaknya

mengaku

aja

sebagai

ninggalin

Mama

saya.

Kenapa baru sekarang??? Kenapa setelah nama saya melejit di dunia musik??” “Saya baru tau setelah Chita yang membantu saya mencari kamu Ananda.” “Nama saya Abe bukan Ananda.” Kata Abe ketus. “Ya……maksud saya Abe.” “Heh Abe, dia ini kan ibu lo. Jadi, lo jangan kasar

gitu

dong

sama

nyokap

lo.”

Bisik

Chita

sambil menginjak kaki Abe. “Lo kok yakin banget sih kalo dia ini Mama gue??” “Be, Tante Charin ini mirip sama nyokap lo. Trus cerita nya juga sama kaya cerita lo. Jadi apa lagi yang kurang???” Abe tidak bisa menjawab pertanyaan Chita yang satu ini. Ia memang menyadari kalo Tante Charin itu face nya emang kaya Mamanya dan juga samasama punya latar belakang yang sama. “Abe, percayalah kalau saya ini adalah Mama kamu. Saya selalu menangis dalam setiap malammalam saya karena saya sangat merindukan kamu. Percayalah

Abe!!

Saya

mohon!!”

kata-kata

Tante

Charin itu membuat tenggorokan Chita tercekat dan susah bernafas. Rasanya saat itu juga ia ingin memeluk Tante Charin dan memukul kepala Abe agar ia benar-benar yakin kalau wanita di hadapannya adalah Mamanya sendiri.

129


Abe

bingung

harus

sanggup

melihat

berbuat

Tante

Charin

apa.

Dia

menagis

tidak hingga

terisak di hadapannya. “Adduuuhhh gimana nih Chit???” “Elo sih Be. Makanya kalo gue kasih tau tuh ajnagan tengil kenapa sih!!” “Tapi Chit, guue nggak bisa langsung percaya aja kan kalo dia itu nyokap gue apalagi setelah apa yang ia lakukan terhadap gue dan bokap gue.” “Seenggaknya, lo jangan bersikap angkuh gitu kek. Sekarang mendingan lo minta maaf deh!!!” “Tapi kan gue nggak salah Chit!!” “Abe!!!!!” “Iyaa………iya!!” Abe menarik nafas panjang, tapi kata-kata itu enggan niatnya

keluar sampai

dari

mulutnya.

akhirnya

Chita

Ia

mengurungkan

membulatkan

bola

matanya membuat Abe langsung takut dan ciut. “Tante, saya minta maaf. Bukannya saya tidak percaya dengan apa yang anda sampaikan, tapi saya butuh waktu untuk menyesuaikan itu semua.” “Iya Abe, saya ngerti!! Mmaafkan saya juga karena

telah

begitu

jahat

meninggalkan

kamu.

Maafkan saya ya Be!!” “Iya Tante!!” ☼☼☼ Abe

menghempaskan

tubuhnya

di

atas

tempat

tidur yang ditutupi seprai berwarna putih bersih. Apa

iya

itu

nyokap

gue

yang

selama

ini

gue

130


cari???? Gue nggak tau deh harus gimana??? Oh iya gue harus berterima kasih banget ya sama Chita karena dia telah begitu banyak berjasa dalam hal ini.

Oh

iya

besok

kan

Chita

ulang

tahun.

Gue

harus kasih apa ya yang special dan nggak akan dia lupain??? Gue tahu apa yang harus gue lakuin, tapi gue butuh bantuan si Artha dan Aretta nih. Ah gue mau ke rumah mereka ah!! â˜źâ˜źâ˜ź

131


Episode 10 Abe bersiul-siul gembira saat menuruni anak tangga membuat Papa nya yang lagi asik nonoton siaran berita bingung di buatnya. “Kamu mau kemana Be???” tanya Papa Abe heran melihat

Abe

yang

tadi

baru

pulang

langsung

berubah dengan pakaian nya yang match gitu. “Abe mau ke rumah Tante Sarah.” “Mau ngapain??” “Ada yang harus Abe lakukan bersama Artha dan Aretta jadi Abe kayaknya harus menginap.” “Boleh aja sih, tapi malam hari kamu udah harus tiba di sini karena Papa mau ngajak kamu ke rumah relasi Papa.” “Mau ngapain sih Pa??? Abe kan masih kecil. Masih belom bisa belajar bisnis.” “Ini

bukan

soal

bisnis,

tapi

Papa

mau

mengenalkan kamu ke anaknya relasi Papa itu.” “Yaelah

Papa

deh

pake

acara

kenal-kenalan

segala.” “Ini bukan sekedar perkenalan, tapi sekalian tunangan.” “Apaaaa???? Jadi Abe mau di tunangin??” “Aduuuhhh……Papa, ini kan bukan zamannya Siti Nurbaya peke acara di jodohin segala.” “Abe!!

Papa

nggak

mau

denger

alasan

kamu.

Pokoknya besok malam kamu harus ikut Papa. Kalau

132


kamu tidak mau, Papa tidak akan mengizinkan kamu untuk pergi ke rumah Tante Sarah. Mengerti??” “Ngerti Pa!!” Abe

langsung

menggas

sonic

nya

kuat-kuat

agar Papa nya tahu bahwa ia saat ini sedang marah besar. ☼☼☼ Di

rumah

Tante

Sarah,

Abe

tidak

berhenti

memikirkan acara pertunangan itu yang sama sekali tanpa persetujuan dari Abe dulu. “Udahlah Be, jangan tegang gitu dong!!” hibur Aretta

yang

kasian

ngeliat

tampang

Abe

yang

tegang banget. “Gimana gue nggak tegang Ret kalo gue tau akhirnya bakalan kaya gini.” “Be, elo kan baru di tunangin doang belom di kawinin. Lagipula menurut gue mendingan elo relax aja deh sebab lo itu kan nggak harus pacaran sama dia.” Kata Artha dengan gayanya yang sok bijak. “Kalo kaya gini kan sama aja artinya dengan memberikan peluang bagi Abril buat………ngedeketin Chita!!” Abe mengecilkan volume suaranya saat ia mengatakan ‘ngedeketin Chita!!’. Aretta dan Artha saling bertujar pandang lalu tersenyum puas mendengar pernyataan itu meluncur dari mulut si congak Abe. “Makanya Be, jadi orang tuh jangan munafik kenapa sih!! Kalo emang lo suka sama Chita bilang aja, nggak usah sok muna’ gitu!!”

133


“Eh Tha, siapa yang suka sama Chita??? Orang gue nggak suka kok sama dia.” “Yang

bener???

Abe……Abe

kapan

sih

lo

mau

berubah??? Heran deh gue jadinya!!” “Ah tau ah. Gue mau tidur!! Ngantuk!!” “Be, jangan lupa ya misi kita nanti jam 12 malem!!” Aretta mengingatkan Abe agar ia tidak lupa dengan janjinya. “Sip!!” ☼☼☼ Handpone Chita berdering hingga berkali-kali. Chita yang lagi asyik ngimpi langsung mengerjapngerjapkan matanya dan melihat nama di layar. “Ada apa sih Tha, nelpon malem-malem gini??” tanya Chita masih dengan suara serak. “Chit, sekarang gue udah ada di depan rumah lo nih!! Lo cepetan keluar ya!!” “Lo ngapa………” Tuuut………ttuuuu……ttuuuuttt……pembicaraan terputus. Alhasil Chita berjalan menuju beranda atas rumahnya dan melongok ke bawah untuk melihat apakah benar si Artha datang kesini tengah malem begini?? Dannnn………… “Happy

birthday

Chita!!

Happy

birthday………

happy birthday…………happy birthday………happy birthday Chita!!”

dengan

kompaknya

ketiga

saudara

itu

menyanyikan lagu ulang tahun untuk Chita yang di

134


bantu oleh suara gedombrang panci yang bakalan di cariin Mbak Inah besok pagi. Chita tidak Aretta

sangat

pernah akan

terharu

menyangka menjadi

dengan kalau

orang

semua

Abe,

yang

itu.

Artha

paling

Ia dan

pertama

mengucapkan selamat pada Chita. Chita segera turun dan membukakan pintu untuk mereka. “Masuk yuk guys!!” ajak Chita. Artha,

Aretta

dan

Abe

mengikuti

perintah

Chita. “Oh ya Chit, ini kue blackforest nya!!” kata Abe sambil malu-malu. “Kejutan apa lagi nih???” “Sebelum lo potong kue nya mendingan lo tiup angka 17 ini dulu deh!!” usul Aretta. “Thanks banget ya!! Dan potongan pertama ini untuk

Artha

dan

Aretta.”

Kata

Chita

setelah

memotong kue itu. “Buat gue apa buat Abe??” ledek Artha sambil mengerling ke arah Abe duduk. “Buat lo berdua. Gue serius!!” “Ok kalo gitu, kue ini kita terima dengan catatan, kita oper lagi ke Abe. Setuju nggak??” usul Aretta. “Ya up to you lah, yang penting kan udah gue kasih ke elo berdua.” “Haaaaaaaaaa………haaaaa…………” menggema

seluruh

ruangan.

tawa Menembus

Artha dinding-

dinding yang terasa begitu dingin.

135


“Eh boleh tau nggak, siapa sih yang ngusulin ngadain kejutan kaya gini??” tanya Chita di selasela makannya. “Abe!!” dengan kompak si kembar menunjuk Abe. “Ih kok gue sih??” “Abe Chit yang ngusulin. Suweerrr!! Tuh lo liat aja, gue sama Aretta aja msih pake piama sedangkan

dia

udah

pake

baju

yang

matching

begini.” “Gue kan tadi lupa ganti baju waktu tidur.” “Ahhh………udah

Be

ngaku

aja.

Pake

malu-malu

segala sih sama Chita aja!!” “Aaaaahhh terserah lo pada deh!!” “Chit, gue udah ngantuk nih!! Tidur yuk!!” “Ayo. Lo mau tidur dimana Be???” tanya Chita hati-hati membuat si kembar berdehem-dehem. “Gue tidur di sofa aja deh Chit.” “Oh ya udah gue ke atas duluan ya!!” “Iya!!” “Daaaaaa………Abe!!!

Selamat

bermalam

dengan

kerumunan nyamuk ya!!!” ledek Artha. “Ihhhh………kalo

bukan

orang

udah

gue

apain

lo!!” “Bodo’ daaaaaaa………Abe!!!!!” ☼☼☼

136


EPISODE 11 Chita

sama

sekali

tidak

bisa

memejamkan

matanya sedikitpun padahal ia benar-benar lelah hari

ini.

diaman

Chita

si

kembar

melongok

ke

samping

sudah

pulas

kirinya

dengan

sangat

nyenyaknya. Chita bangkit dan mencari selimut di lemarinya.

Ia

kemudian

membuka

dan

menutup

pintunya pelan-pelan agar si kembar tidak melihat atau mengetahui apa yang akan di lakukannya. Chita

menuruni

anak

tangga

dan

kedua

bola

matanya menangkap sosok Abe yang sedang meringkuk kedinginan di sofa. Ia memakaikan selimut itu di tubuh Abe dan duduk di lantai yang dingin. “Be, makasih banget ya lo udah ngelakuin ini buat gue, tapi kenapa lo ngelakuin ini??? Kenapa sih Be lo selalu bisa membuat gue ini terbang tinggi di awan lalu kemudian terjatuh lagi bahkan sampe gue nggak yakin bisa bangun lagi?? Be, lo tau

nggak

gimana

sakit

hatinya

gue

waktu

lo

bilang kalo lo nggak mau jatuh cinta sama gue. Gue sakit hati banget Be!! Awalnya, gue nggak setuju dengan ajakan lo untuk berteman karena gue pasti bakalan ngerinduin saat-saat kita berantem. Tapi, ternyata setelah gue kenal elo lebih jauh. Ternyata kehidupan lo itu kosong. Lo kesepian Be makanya

gue

bersikeras

mau

bantuin

lo

nyari

nyokap lo itu. Be, mungkin gue salah karena gue terlalu berharap banyak sama lo. Tapi, kadang gue sendiri nggak ngerti sama diri gue sendiri. Apa 137


gue ini lagi jatuh cinta??? Dan yang lebih nggak mungkinnya lagi adalah gue jatuh cinta sama musuh gue sendiri. Sekali lagi makasih banyak ya Be!!” Chita mengusap air matanya dan kembali menuju kamarnya. Chita, maafin gue!!! gumam Abe pelan dalam ringkukannya. ☼☼☼ “Wooooooyyyy

bangun!!!”

teriak

Chita

di

telinga Abe. Abe yang lagi mimpi melanglang buana terkejut begitu

ia

mengerjap-ngerjapkan

matanya

dan

mendapati wajah Chita yang sedang asyik tersenyum di depan wajahnya. Abe langsung bangun walaupun kepalanya terasa berat. “Chit, lain kali kalo bangunin gue tuh jangan ngagetin gini dong!!!” omel Abe. “Abisnya elo tidurnya kaya kebo sih!!!” “Addduuuuhhh

anak

Mama

udah

bangun

ya!!!”

kata Mama yang baru muncul dari dalam kamarnya. Mama

memeluk

Chita

dan

menciumi

kening

anak

perempuan kesayangannya itu. “Happy birthday ya Chit!!” “Makasih ya Ma!!!” “Mama

orang

ke

berapa

nih

yang

ngucapin

selamat buat kamu Chit???” “Mama

orang

kedua

yang

ngucapin

Chita

selamat.” “Emangnya orang pertamanya siapa sih??”

138


“Orang pertamanya si Abe, Artha sama Aretta. Mereka

dateng

kesini

tepat

jam

12

malem

dan

ngasih Chita selamat. Pasti Mama nggak percaya kan???” “Percaya kok. Oh ya Chit, ini Abe yang waktu itu

teriak-teriak

di

kantin

biro

jodoh

ya???”

tanya Mama Chita sambil melemparkan senyum untuk Abe. “Iya Tante. Maaf ya kalo waktu itu Abe sangar banget abisnya Abe sebel sih sama si Artha!!” “Nggak apa-apa kok Be. Oh ya Chit, kalo nanti sore ada orang dari salon, kamu langsung make over aja ya soalnya Mama nya Abe nanti malam mau datang. Jadi, kmau dandan yang cantik ya!!” Abe dan Chita saling bertukar pandang. Chita semakin

tidak

hubungan dengan

apa

mengerti

dengan

sebenernya

Mamanya.

Abe

semua

antara

langsung

ini.

Tante

tertunduk

Ada

Charin lemas

mendengar perkataan Mama Chita barusan. “Ya udah deh Chit, kamu mendingan sekarang bantuin Adam sama yang lainnya mendekorasi taman. Mama pergi dulu ya ke butik!!” Chita cekatan.

menangkap “Ada

apa

lengan

sih

Mama

sebenernya

nya

dengan

Ma???”

tanya

Chita heran. “Nanti malem ada pesta ulang tahun kamu dan Mama mau buat sesuatu yang spesial buat kamu.” “Iya,

tapi

kenapa

harus

ada

Tante

Charin

sih???”

139


“Karena

ini

adalah

moment

yang

nggak

akan

bisa kamu lupain antara kamu, Abe dan Abril.” Chita dengan lemas melepaskan tangannya dari lengan

Mamanya

yang

kemudian

setengah

berlari

menuju pintu. “Chit, gue juga harus cepet balik. Gue minta maaf ya karena nanti malem gue nggak bisa dateng ke acara ulang tahun lo soalnya Papa gue berniat untuk menjodohkan gue sama anaknya relasi Papa. Salam ya buat Artha, Aretta dan anak-anak Growing Up!!” “Iya!!”

sahut

Chita

pelan

sambil

menunduk

dalam-dalam. Abe

dengan

berat

hati

pergi

meninggalkan

Chita yang dengan susah payahnya menahan airmata yang akan segera turun dengan derasnya. “Be, terus gue gimana???” tanya Chita tanpa sadar setelah Abe menjauh. Abe

membalik

badannya.

Ia

berjalan

lagi

menuju tempat Chita berpijak dan dengan lembut ia menempelkan

kedua

telapak

tangannya

di

pipi

Chita. Abe tersenyum kecil melihat Chita dengan susah payahnya menahan air mata. “Chit, lo bakalan di jodohin sama Abril dan gue bakalan di jodohin sama orang lain. Meskipun sulit,

tapi

lo

dan

gue

harus

bisa

nerima

semuanya.” “Tapi gue nggak………”

140


“Syyyuuuttt!!!” telunjuknya

di

Abe

bibir

meletakkan

Chita.

“Biar

jari

itu

jadi

rahasia kita aja. Lo nggak mau ada seorang pun yang terluka karena kita kan???” Chita

mengangguk

pelan.

“Sekarang

jangan

sedih lagi ya!! Gue pergi dulu ya Chit. Jangan pernah membiarkan airmata itu mengalir di pipi lo karena itu sama aja dengan membiarkan orang itu tertawa di atas penderitaan lo.” Abe melepaskan telapak tangannya dari pipi Chita dan kemudian pergi. Andai aja gue bisa kaya gitu Be. Sayangnya gue nggak bisa. ☼☼☼ Abe tidak berhenti membenarkan letak duduknya sejak

beberapa

menit

yang

lalu.

Abe

terlihat

sangat gelisah hingga tidak pernah connect dengan apa yang Papa dan Om Bromo Sumantri-calon mertua Abe-bicarakan.

Abe

hanya

menjawab

pertanyaan

mereka dengan kata-kata iya……iya……dan iya. Selain Abe

tidak

mengerti

dengan

apa

yang

mereka

bicarakan, Abe juga sedang memikirkan Chita. Abe menimang-nimang tempat cincin yang sebentar lagi akan ia lingkarkan di jari manis Kania-perempuan yang akan di jodohkan dengan Abe. Mungkin Kania lebih cantik daripada Chita. Ia memiliki langsing Tapi,

Abe

tinggi dan

yang

kulit

tidak

semampai,

yang

bisa

putih

menjadikan

tubuh

yang

seperti

kapas.

Kania

seperti

141


Chita

yang

selalu

bisa

membuat

Abe

tenang

di

sisinya. Yang selalu bisa meredam semua amarah Abe. “Abe,

kamu

kenapa

sih??”

tanya

Papa

Abe

pelan. “Abe nggak bisa Pa!!” “Abe, kamu nggak mau mengecewakan Papa kan??” “Iya, tapi caranya nggak kaya gini caranya Pa!!” Papa Abe tidak memperdulikan Abe sama sekali. Ia kembali mengobrol dengan Bromo Sumantri. Abe sudah tidak tahan dengan semua ini. Ia berlari meninggalkan

rumah

Bromo

Sumantri

dan

dengan

segera menggas mobilnya. Papa Abe segera mengejar Abe dengan mobil milik Bromo Ssumantri. ☼☼☼ Abe langsung naik ke panggung saat Artha dan Aretta sibuk berceloteh di mikrofon karena mereka kebetulan yang jadi mc pada malam ulang tahun Chita yang ke 17 itu. “Abe,

lo

mau

ngapain

sih???”

tanya

Artha

gergetan sama si Abe yang seenake dewek langsung naik ke panggung padahal acara belum di mulai. “Gue

mau

ngomong

hal

penting!!

Jadi,

lo

jangan menghalang-halangi gue!!” “Adduuuhhhh Abe, acaranya kan belum di mulai, masa li udah mau bikin pesta ini ancur sih!!!” timpal Aretta sambil menarik jas hitam Abe.

142


“Aduuhhh………ini apaan sih??? Lepasin dong!!” omel Abe sambil mendorong Aretta untuk menjauh darinya. Abe mengecek

segera sound

mengambil system.

gitar

Setelah

dan

siap,

segera ia

lalu

mengecek mikrofon. “Tess………tesss……tesss. Ok, sebelumnya saya mau minta maaf karena telah merusak acara pesta ulang tahun Chita, tapi saya ingin mempersembahkan satu buah lagu dari Ungu yang berjudul Laguku.” Mungkin hanya lewat lagu ini Akan ku nyatakan rasa Cintaku padamu……rinduku padamu Ttak bertepi Mungkin hanya sebuah lagu ini Yang slalu akan ku nyanyikan Sebagai tanda……betapa aku Inginkan kamu……… Abe menyelesaikan lagu itu dengan baik dan sempurna

walaupun

hanya

di

iringi

oleh

gitar

saja. “Abe!!!” hardik Papa yang daritadi berdiri di antara para undangan. “Papa,

maafin

Abe

karena

Abe

nggak

bisa

memenuhi permintaan Papa itu. Untuk Tante Sarra, Abe bener-bener minta maaf. Abe nggak bermaksud untuk membuat keonaran, tapi cuma ini yang bisa Abe sampaikan ke Chita. Untuk Abril. Bril, sorry banget ya kalo gue melukai perasaan lo, tapi gue

143


bener-bener sendiri

nggak

Bril.

terganggu

bisa

membohongi

semua

undangan

Buat

dengan

kedatangan

saya,

diri

gue

yang

merasa

saya

benar-

benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Dan buat Chita………gue

minta

lo

untuk

naik

ke

atas

panggung.” Chita yang awalnya malu dan enggan untuk naik ke

panggung,

akhirnya

memberanikan

diri

untuk

naik ke panggung karena Artha dan Aretta sudah mendorong-dorongnya. Chita tampak begitu anggun dengan satin dress selutut dan perona wajah yang memberikan kesan casual di wajah Chita. Abe menegeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah benda berbentuk hati berwarna krem. Abe meraih tangan kiri Chita dan memasukkan cincin permata di jari manis Chita. “Chit,

mulai

hari

ini

kita

resmi

bertunangan.” “Tapi

Be………”

kata

Chita

ragu-ragu

sambil

menoleh ke arah Abril dan Nanda. Abril dan Nanda mengangguk bersamaan sambil tersenyum. “Chit, Abril udah nyerahin elo ke gue.” Chita walaupun

mengangguk air

mata

sambil

tersenyum

bercucuran

di

bahagia

wajahnya.

Dan

membisikkan Abe sesuatu. Abe mengangguk setuju. “Ok,

mulai

bertunangan

hari

walaupun

ini

gue

Chita

dan

nggak

Chita mau

resmi

pacaran

sebelum kita menikah. Haaa……haaaa……haaaa……”

144


Abe mengajak Chita turun dari panggung dan mengambil mikrofon dari tempatnya. “Pa, ada yang mau Abe sampaikan ke Papa. Pa, Tante Charin ini adalah Mama Abe yang pergi 17 tahun

yang

lalu.”

Kata

Abe

sambil

menggandeng

tangan Tante Charin dan mendekatkan Tante Charin ke Papanya. Papa Abe tampak kaget dengan apa yang Abe sampaikan. Beliau langsung meneliti semuanya. Ya, Tante Charin memang istrinya yang 17 tahun lalu pergi. Abe berjalan menuju Oom Reza

Sanjaya yang

berdiri di dekat Abril dan Nanda. “Oom, gini.

Maaf

Tapi,

ya

Abe

kalo boleh

Abe

udah

minta

ngomong

Mama

Abe

kaya lagi

nggak???” Oom Reza Sanjaya dengan bijaksananya langsung mengangguk dan memeluk Abe erat-erat. Abe beralih ke Nanda dan Abril. “Bril, gue minta maaf ya atas semua kelakuan yang

udah

gue

perbuat.

Bril,

Nda,

kita

ini

bersaudara. Jadi, jangan ada perpecahan lagi ya di antara kita.” Abril mengangguk sambil memeluk Abe. Dan Abe kemudian gantian memeluk Ananda, adik kecil yang amat sangat ia rindukan. Abe,

makasih

banget

buat

kado

yang

paling

indah yang lo kasih di hari ulang tahun gue yang ke 17. Abe makasih.☼☼☼

145


Benci jadi Cinta!!! Ga mungkin lah yao??? Tapi apa yang terjadi sama Chita, cewek cantik murid baru pindahan dari Padang ini harus rela bin ikhlas ketemu sama cowok angkuh plus sombong n plus‌ plus lainnya.

Nasib sial menimpa mereka berdua sampe-sampe rasa benci udah ga kebendung lagi. But, what’s wrong with u Chita??? ‘R u in love??? Chita berusaha keras menapik perasaannya en Ada apa dengan Abe?? Cowok angkuh ini juga sedang jatuh cinta but how can it be???

146


About me I wrote this when I was senior hig school I

like

writing

and

reading novel. Now, I have been merried and will have a son soon. I am very happy‌ My father is also a writer. He wrote many books and compose a novel too. My younger sister is also a writer She wites a novel and is being written to finish it. We are family writers and we like wiring.. I wish thanks to read my first novel And hope you enjoy it‌ khanza

147


looser be lover