Issuu on Google+

ISSN : 1978-2489

Jurnal Keberbakatan & Kreativitas

Vol. 02. No. 01, Februari 2008

HUBUNGAN SELF-EFFICACY DAN KEMATANGAN DALAM MEMILIH KARIR SISWA PROGRAM PERCEPATAN BELAJAR (Penelitian Pada SMAN 81 Jakarta dan SMA Labschool Jakarta)

PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL SISWA AKSELERASI

DINAMIKA KECERDASAN EMOSI PADA SISWA AKSELERASI DI SDN KENDANGSARI 1 SURABAYA

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI SOSIAL DENGAN STRES PADA SISWA AKSELERASI

HUBUNGAN ANTARA RASA HUMOR DENGAN KREATIVITAS VERBAL PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UI ANGKATAN 2003

PERBEDAAN KECEMASAN MENGHADAPI SPMB ANTARA SISWA AKSELERASI DENGAN SISWA REGULER

Gifted Review

Tahun 02

Nomor 01

Hlm. 1- 65

Depok, Februari 2008

Diterbitkan Oleh :

PUSAT KEBERBAKATAN

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS INDONESIA

ISSN:1978-2489


HUBUNGAN SELF-EFFICACY DAN KEMATANGAN DALAM MEMILIH KARIR SISWA PROGRAM PERCEPATAN BELAJAR (Penelitian Pada SMAN 81 Jakarta dan SMA Labschool Jakarta) Eko Komandyahrini dan Lydia Freyani Hawadi Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kematangan dalam memilih karir siswa Program Percepatan Belajar. Jumlah subyek penelitian 37 siswa dari 2 sekolah di Jakarta yang menyelenggarakan program percepatan belajar. Teknik pengambilan sampel nonprobability sampling dengan cara incidental sampling. Penelitian ini tergolong tipe penelitian non-eksperimental dan korelasional sehingga tidak bermaksud menerangkan hubungan kausal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kematangan dalam memilih karir siswa program percepatan belajar. Koefisien korelasi yang diperolah dari penelitian ini adalah 0.683. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan untuk melakukan elisitasi terlebih dahulu agar dapat membuat alat ukur self-efficacy dan kematangan karir yang lebih baik lagi, juga diusahakan untuk melengkapinya dengan wawancara berstruktur. Peneliti juga menyarankan penggunaan subyek dalam jumlah yang lebih besar, agar penelitian lebih representatif. Kata kunci / Keyword : keyakinan akan kemampuan diri, kematangan dalam memilih karir. Pendahuluan Pemilihan bidang karir atau bidang pekerjaan merupakan suatu proses yang berlangsung terus menerus dalam kehidupan seseorang. Menurut Ginzberg (dalam Grinder, 1973) mengemukakan bahwa pemilihan pekerjaan merupakan proses sepanjang hidup yang memiliki titik optimal antara tujuan dan persiapan karir pada setiap individu. Setiap manusia selalu dihadapkan dengan keputusan-keputusan karir dan tidak dapat melepaskan diri dari masalah keputusan karir tersebut dalam waktu yang singkat, dan jarang yang dapat memecahkannya secara tuntas. Menurut Terwilliger (1963) bahwa pemilihan jabatan adalah perkembangan. Persiapan diri dan pemilihan dalam menjalankan suatu pekerjaan atau karir merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting di masa remaja (dalam Newman & Newman, 1979). Masa remaja merupakan masa transisi menuju ke masa dewasa, begitu juga halnya dalam berkarir. Bekerja atau berkarir sendiri merupakan salah satu penanda masuknya seseorang ke dalam gaya hidup orang dewasa (adult life style). Remaja pada masa ini dihadapkan pada situasi dimana mereka diharuskan membuat pilihan karir tanpa memiliki banyak pengalaman

aktual/nyata di dalam dunia pekerjaan (dalam Newman & Newman, 1979). Keberhasilan dan kesiapan remaja untuk memenuhi tugas-tugas yang terorganisir yang terdapat dalam setiap tahapan perkembangan karir disebut sebagai kematangan karir (Super dalam Spokane, 1991). Sedangkan Brown & Brooks (1990) mendefinisikan kematangan karir sebagai kesiapan kognitif dan afektif dari individu untuk mengatasi tugas-tugas perkembangan yang dihadapkan kepadanya, karena perkembangan biologis dan sosialnya serta harapan-harapan dari orang-orang dalam masyarakat yang telah mencapai tahapan perkembangan tersebut. Agar para remaja dapat memilih karir yang tepat, dalam hal ini adalah keputusan tentang pendidikan lanjutan, memerlukan tingkat kematangan karir yang baik, karena tingkat kematangan karir mempengaruhi kualitas pemilihan karir. Perkembangan karir tampak maju pesat pada masa remaja dan merupakan dinamika yang penting di SMA (Miller, 1987 & Mitchell, 1977 dalam Seligman, 1994). Oleh karena itu, perlu adanya informasi serta masukanmasukan yang berkaitan dengan berbagai pilihan karir yang tersedia. Para remaja diharapkan mengetahui seluk beluk dari

2


masing-masing karir yang nantinya akan dipilih dan ditekuni. Tugas perkembangan remaja harus diselesaikan dengan baik, akan tetapi hal tersebut sulit untuk dicapai tanpa bantuan dari pihak lain. Terdapat beberapa bantuan yang dapat diberikan dari pihak lain tersebut, akan tetapi yang paling berhubungan dengan pemilihan karir adalah memberikan bantuan kepada remaja untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya, sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang dianutnya dan membantu remaja mendapatkan pendidikan yang bermanfaat untuk mempersiapkan diri memasuki pekerjaan (Ali & Asrori, 2004). Terkait dalam proses pemilihan karir pada remaja, sebagian populasi remaja digolongkan sebagai remaja berbakat yakni mereka yang karena memiliki kemampuankemampuan yang unggul mampu memberikan prestasi yang tinggi (dalam Munandar, 1992). Seorang remaja berbakat mengalami percepatan dalam penyelesaian studi sehingga mereka memasuki dunia kerja dalam usia yang relatif lebih muda dibandingkan kebanyakan remaja. Tentunya keadaan yang demikian akan menimbulkan permasalahan sendiri bagi mereka (Moesono dalam Hawadi, 2004). Mereka juga menghadapi hal yang sama dengan remaja lainnya yaitu permasalahan dalam menentukan pilihan karir yang tepat bagi mereka. Remaja berbakat mempunyai tuntutan baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat yakni mereka dituntut untuk lebih mandiri dan kreatif dalam mengembangkan kemampuannya. Remaja berbakat juga masih menghadapi kebingungan akan perannya di masa datang. Anak berbakat mendapat kesempatan yang lebih besar untuk memasuki dunia pekerjaan dibanding anak yang mempunyai kecerdasan rata-rata (Munandar, 1992). Anak berbakat menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap dirinya, begitu juga orang lain di lingkungannya, yang tidak jarang membuat anak berbakat menjadi merasa terancam (vulnerable), skeptis, atau bahkan menjadi frustrasi. Menurut Sisk. (1987), suatu kesulitan bagi anak berbakat adalah memahami keseimbangan antara lapangan kerja yang

tersedia dengan pekerjaan yang diinginkan. Oleh karena itu untuk menentukan pilihannya, anak berbakat memerlukan tingkat kemandirian yang tinggi, dan memerlukan informasi guna merealisasikan pengetahuannya dalam membuat keputusan yang sesuai dengan minat dan keberbakatannya. Di sisi lain salah satu kelompok anak berbakat yaitu anak berbakat intelektual peserta program percepatan belajar ini diharuskan mempunyai tanggung jawab pada tugas (task commitment) yang merupakan salah satu kluster keberbakatan dengan ciriciri yang dikenal yakni rasa percaya diri, ego yang kuat (ketekunan terus-menerus dalam mencapai tujuan akhir), bebas dari perasaan rendah diri, serta dorongan untuk berprestasi. Hal tersebut terkait dengan adanya selfefficacy. Pengertian self-efficacy menurut Bandura (1986) yaitu keyakinan yang dimiliki seseorang tentang kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi tugas atau situasi tertentu (dalam Santrock, 2001). Selfefficacy sangat penting perannya dalam mempengaruhi usaha yang dilakukan, seberapa kuat usahanya dan memprediksi keberhasilan yang akan dicapainya (Jensen, 1993). Super, (dalam Wahyono, 2001) mengatakan bahwa pemilihan karir merupakan implementasi dari self concept dalam ketersediaan lapangan kerja. Salah satu aspek dalam self concept yang memiliki hubungan yang relevan untuk mempelajari perkembangan karir individu adalah selfefficacy. Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan dari latar belakang di atas, terlihat adanya berbagai permasalahan pada remaja berbakat terkait dengan kematangan karirnya dalam hal ini adalah anak berbakat intelektual yang mengikuti program percepatan belajar terkait dengan self-efficacy mereka. Peneliti mengemukakan satu permasalahan yaitu apakah ada hubungan antara self-efficacy dan kematangan karir siswa program percepatan belajar?

2


Tinjauan Teoritis Menurut Chaplin (dalam Desmita, 2005) kematangan (maturation) diartikan sebagai: (1) perkembangan, proses mencapai kemasakan/usia masak, (2) proses perkembangan, yang dianggap berasal dari keturunan, atau merupakan tingkah laku khusus spesies (jenis, rumpun). Sementara itu, Davidoff (dalam Desmita, 2005), menggunakan istilah kematangan (maturation) untuk menunjuk pada munculnya pola perilaku tertentu yang tergantung pada pertumbuhan jasmani dan kesiapan susunan saraf. Pengertian karir menurut Super (dalam Brown & Isaacson, 1997: 11) adalah serangkaian peristiwa di dalam kehidupan seseorang yang meliputi serangkaian jenis pekerjaan dan peran yang dimilikinya sehingga kesemuanya itu membentuk komitmen seseorang terhadap pekerjaan sebagai bentuk dari pengembangan dirinya. Sementara Seligman (1994) mendefinisikan bahwa karir sebagai suatu rangkaian peran atau posisi, yang meliputi kegiatan-kegiatan dalam pekerjaan, waktu luang, pekerjaan sukarela dan pendidikan. Perkembangan karir merupakan suatu proses yang mencakup seluruh rentang kehidupan seseorang. Hal ini berarti bahwa perkembangan karir seseorang bukan hanya dalam membuat suatu keputusan untuk memasuki jenis pekerjaan atau karir tertentu, melainkan merefleksikan seluruh pengalaman yang secara nyata berpengaruh dalam kehidupannya (dalam Seligman, 1994). Perkembangan vokasional tidak lain adalah proses perkembangan konsep diri dan perkembangan implementasi konsep diri. Super dkk, (dalam Seligman, 1994) membagi perkembangan karir ke dalam 5 (lima) tahapan, yaitu (1) tahap pertumbuhan (growth stage), dari lahir sampai usia 14 tahun. Pada awal tahap ini, kebutuhan dan fantasi merupakan hal yang dominan. Konsep diri yang dimiliki seseorang terbentuk melalui identifikasi terhadap figur-figur kunci dalam keluarga dan dalam lingkungan sekolah. Tahap growth terdiri dari 3 sub tahap yaitu: (a) Sub tahap fantasi, usia 4-10 tahun yang ditandai dengan minat anak yang berangan-

angan atau berfantasi menjadi seseorang yang diinginkan. (b) Sub tahap minat, usia 1112 tahun, tingkah laku yang berhubungan dengan karir sudah mulai dipengaruhi oleh kesukaan anak. (c) Sub tahap kapasitas, usia 13-14 tahun, individu mulai mempertimbangkan kemampuan pribadi dan persyaratan pekerjaan yang ia inginkan. (2) Tahap penjajagan, usia 15-24 tahun, Individu banyak melakukan penjajagan atau pencarian terhadap karir apa yang cocok dengan dirinya. Tahap ini terdiri dari 3 sub tahap, yaitu (a) Sub tahap sementara, usia 15-17 tahun. Tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengkristalisasi pilihan pekerjaan. Perkembangan karir bersifat lebih internal. Individu mulai dapat menggunakan self preference-nya dan mulai dapat melihat bidang serta tingkat pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. (b) Sub tahap peralihan, usia 18-21 tahun. Perkembangan pada masa ini yaitu mengkhususkan pilihan pekerjaan. (c) Sub tahap uji coba, usia 22-24 tahun. Tugas perkembangan pada masa ini adalah mengimplementasi-kan pilihan pekerjaan; (3) Tahap pemantapan /kemantapan, usia 25-44 tahun. Tahap ini ditandai dengan masuknya individu ke dalam dunia pekerjaan yang sesuai dengannya sehingga ia akan bekerja keras untuk mempertahankan pekerjaannya tersebut. Merupakan masa paling produktif dan kreatif. Tahap ini terdiri dari 2 sub tahap, yaitu (a) Sub tahap Trial with Commitment pada usia 25-30 tahun. individu sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya sehingga ingin terus mempertahankannya. Tugas perkembangan pada tahap ini yaitu menstabilisasi pilihan pekerjaannya. (b) Sub tahap Advancement, usia 31-44 tahun. Ada dua tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu pada masa ini. Pertama, individu mengkonsolidasi pilihan pekerjaannya. Pada fase ini, keamanan dan kenyaman dalam bekerja menjadi tujuan utama. Tugas yang kedua adalah melakukan peningkatan dalam dunia pekerjaannya. (4) Tahap pemeliharaan atau maintenance, usia 45-59 tahun. Individu telah menetapkan pilihan pada satu bidang karir sehingga mereka tinggal hanya menjaga atau memelihara pekerjaan. Super

3


menjelaskan bahwa ada tiga tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu pada tahap ini yaitu mempertahankan, keeping-up dan menginovasi pekerjaannya. (5) Tahap penurunan (decline stage) dimulai pada usia 60 tahun. Tahap ini terdiri dari 2 sub tahap, yaitu (a) Sub tahap perlambatan, usia 60-64 tahun. Ada dua tugas perkembangan pada sub tahap ini yaitu mengurangi tingkat pekerjaan secara efektif serta mulai merencanakan pensiun. Hal ini ditandai dengan adanya pendelegasian tugas atau kaderisasi sebagai salah satu langkah mempersiapkan diri menghadapi pensiun. (b) Sub tahap pensiun, usia 70 tahun. Fase ini ditandai dengan masa pensiun dimana individu akhirnya mulai menarik diri dari lingkungan kerjanya. Menurut Seligman (1994) mendefinisikan bahwa terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi perkembangan karir seseorang, yaitu : (1) keluarga; (2) sosial ekonomi; (3) gender (jenis kelamin); (4) faktor individual; (5) dunia pekerjaan. Selain kelima faktor di atas, ada faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kematangan karir, yaitu faktor usia. Menurut Crites, tingkat kematangan karir akan bertambah sejalan dengan meningkatnya usia (dalam Kaplan & Saccuzo, 1993). Dalam perkembangan karir seseorang, ada tugas-tugas dan terjadi peralihan dari tiap tahapan perkembangan karir yang harus dilalui seseorang. Keberhasilan dan kesiapan seseorang untuk bernegosiasi dan membuat keputusan-keputusan karir sesuai dengan tahapan perkembangan karirnya disebut dengan kematangan karir (Yost & Corbishly, dalam Seligman 1994). Super dan Thompson (1979) mengidentifikasikan enam faktor dalam kematangan karir seseorang yaitu: (1) Kesadaran akan kebutuhan untuk membuat rencana ke depan. Termasuk didalamnya adalah kesadaran seseorang dalam membuat perencanaan karirnya; (2) Kemampuan mengambil keputusan; (3) Informasi umum mengenai karir; (4) Pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan sumber informasi; (5) Pengetahuan mengenai dunia

kerja dan kemampuan (skills); (6) Informasi yang lebih rinci mengenai pekerjaan yang dipilih. Menurut Seligman (1994) kematangan karir yang positif secara umum ditandai oleh suatu urutan proses dalam kehidupan yang meliputi antara lain : (1) meningkatnya kesadaran diri; (2) meningkatnya pengetahuan akan pilihan-pilihan karir yang sesuai; (3) meningkatnya kesesuaian antara kemampuan, minat dan nilai dengan karir yang diinginkan; (4) meningkatnya kesadaran akan karir yang diinginkan; (5) meningkatnya kemampuan, perencanaan dan kesuksesan karir; (6) meningkatnya sikap yang berhubungan dengan karir (orientasi berprestasi, kemandirian, perencanaan komitmen, motivasi, self-efficacy); (7) meningkatnya kepuasan dan kesuksesan dalam perkembangan karirnya. Pengertian Self-efficacy menurut Bandura (1986) adalah keyakinan yang ada pada seseorang akan kemampuan untuk mengorganisasi dan melakukan tindakantindakan yang diperlukan dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan Schunk (dalam Pajares, 2006) mendefinisikan self-efficacy sebagai penilaian seseorang akan dirinya atau kemampuannya yang berkaitan dengan tindakannya. Dari definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah keyakinan atau penilaian seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya mengenai seberapa besarnya usaha atau ketekunan dalam menghadapi tugas atau kegiatan tertentu dalam mencapai suatu tujuan. Fungsi dan dampak penilaian selfefficacy pada individu terhadap berbagai hal yaitu : perilaku memilih, usaha yang dilakukan dan daya tahan, pola pikir dan reaksi emosional, serta tingkah laku individu. Self-efficacy seseorang menurut Bandura (1986) dipengaruhi oleh empat komponen (sumber informasi) yaitu : (1) Enactive Attainment. Pencapaian hasil kerja merupakan sumber yang paling mempengaruhi selfefficacy karena didasarkan pada pengalaman keberhasilan (mastery experience) (Bandura, 1986); (2) Vicarious Experience. Penilaian self-efficacy sebagian dipengaruhi oleh

4


pengalaman orang lain. Melihat orang lain yang mirip dengannya berhasil dalam suatu kinerja dapat meningkatkan keyakinan pada diri pengamat bahwa ia juga memiliki kemampuan untuk menguasai kegiatan yang serupa (Bandura, Adam, Hardy & Howells, 1980; Kazdin, 1979 dalam Bandura, 1986); (3) Verbal Persuasion. Persuasi verbal digunakan secara luas untuk membujuk seseorang bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan yang mereka cari; (4) Keadaan fisik (Physiological State). Seseorang percaya bahwa sebagian tandatanda psikologis menghasilkan informasi dalam menilai kemampuannya. Kondisi stress dan kecemasan dilihat individu sebagai tanda yang mengancam ketidakmampuan diri. Definisi Keberbakatan menurut Renzulli dkk (Munandar, 1992) dari hasil-hasil penelitiannya bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakikatnya tiga kelompok ciri-ciri, yaitu: kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task-commitment). Masing-masing ciri mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Seseorang yang berbakat adalah yang memiliki ketiga ciri tersebut. Renzulli melihat bahwa orang yang berprestasi adalah orang yang mampu memberikan sumbangan kreatif dan prestasi yang sama baiknya dalam tiga kluster yang saling terkait. Renzulli menegaskan tidak satu pun kluster yang membuat keberbakatan selain adanya interaksi antara tiga kluster tersebut yang di dalam studi-studi terdahulu menjadi resep yang dilakukan untuk tercapainya prestasi kreatif-produktif (Renzulli, dalam Hawadi, 2002). Adapun yang dimaksud dengan siswa berbakat intelektual adalah mereka yang memiliki intelegensi tinggi atau kemampuan di atas rata-rata dalam bidang intelektual (yang antara lain meliputi daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan pemecahan masalah), serta memiliki kreativitas dan pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas, dan karena kemampuannya yang unggul tersebut mampu

memberi prestasi yang tinggi (dalam Munandar, 1992). Pengertian kreativitas di sini adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, Sedangkan pengertian pengikatan diri terhadap tugas dapat mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri. Anak berbakat memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan anak biasa. Dengan kemampuannya tersebut, mereka dapat memasuki berbagai jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Bagi sebagian orang, anak berbakat di masa dewasanya nanti akan memiliki pekerjaan menarik dengan prestige dan penerimaan yang tinggi, dan akan sukses dalam pekerjaannya itu. Berdasarkan hasil penelitian longitudinal selama 25-35 tahun yang dilakukan oleh Oden; Terman; Terman & Oden, diketahui bahwa siswa yang diidentifikasi sebagai anak berbakat atas dasar skor IQ, pada umumnya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sukses dalam bidang akademis dan pekerjaaan dibandingkan siswa sebayanya yang tidak berbakat (Millgram, 1991). Mereka memiliki minat terhadap berbagai hal, akan tetapi minat ini seringkali berganti-ganti. Demikian pula dengan minat terhadap bidang pekerjaan tertentu. Perkembangan karir pada anak berbakat ditandai dengan berubah-ubahnya minat mereka terhadap jenis pekerjaan yang ingin mereka terjuni nantinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, anak berbakat dapat memilih karir apapun yang mereka inginkan walaupun walaupun sebenarnya pekerjaan tersebut tidak sesuai bagi dirinya (Freehill, 1982). Menurut Herr & Watanabe; Hoyt & Hebeler; Jepsen; Perrone; Van Tassel-Baska, (dalam Millgram, 1991) menyatakan bahwa minat dan kemampuan merupakan faktor penting dalam perkembangan karir pada anak berbakat. Para ahli tersebut memandang anak berbakat memiliki minat terhadap berbagai jenis pekerjaan, dan memiliki kemampuan

5


untuk dapat sukses dalam bidang-bidang tersebut. Sementara anak yang tidak berbakat kesulitan untuk memilih jenis pekerjaan yang benar-benar mereka minati. Minat anak berbakat yang begitu beragam terhadap jenis pekerjaan yang mereka inginkan membuat anak berbakat mengalami kesulitan untuk membuat komitmen pada satu jenis pekerjaan tertentu. Masalah pilihan karir juga bukan sesuatu yang mudah bagi anak berbakat. Bagi anak berbakat, keputusan memilih karir tertentu akan terasa lebih sulit bagi mereka dibandingkan apa yang lingkungan mereka harapkan (Perino & Perino, 1981). Sering terjadi pada anak berbakat karena dihadapkan pada banyak pilihan sebab kemampuannya yang lebih, akan memilih dengan asal memilih saja, sekedar terlepas dari konflik pilihan yang terus menghimpit, tanpa berpikir panjang tentang kesesuaiannya dengan kepribadiannya. Sering pula dalam keputusan yang terburu-buru karena himpitan tersebut, mereka menyadarkan pilihannya hanya pada kemampuan kognitifnya saja, sampai pada suatu saat baru menyadari ada sesuatu yang tidak sesuai di luar masalah kognitif, misalnya minat atau kepribadian. Rasa takut gagal berprestasi juga merupakan ciri khas anak berbakat, yang dapat juga mempengaruhinya dalam keputusan memilih pekerjaan. Khusus bagi anak berbakat perempuan, mereka dapat mengalami suatu konflik berupa rasa takut gagal sekaligus rasa takut sukses karena tradisi masyarakat yang belum dapat menerima perempuan yang menonjol sukses. Gejala Cinderella complex juga sering dialami oleh remaja berbakat perempuan, yaitu mengalami rasa takut sukses sekaligus rasa ingin dilindungi sebagai seorang yang lemah (Moesono, dalam Hawadi, 2004). Pengertian acceleration yang diberikan oleh Pressey dalam Hawadi (2004) sebagai suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran, pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional. Definisi mengenai program percepatan belajar menurut Direktorat Pendidikan Luar Biasa yaitu salah satu program layanan

pendidikan khusus bagi peserta didik yang oleh guru telah diidentifikasi memiliki prestasi sangat memuaskan, dan oleh psikolog telah diidentifikasi memiliki kemampuan intelaktual umum pada taraf cerdas, memiliki kreativitas dan keterikatan terhadap tugas di atas ratarata, untuk dapat menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Metode Penelitian Hipotesis Hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah Ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar. Subyek Penelitian Subyek penelitian sebanyak 37 siswa SMA kelas 2 peserta program percepatan belajar di Jakarta. Variabel Terikat (Dependent Variabel) adalah kematangan karir. Variabel Bebas (Independent Variabel) adalah self-efficacy. Metode Analisa Data Dalam penelitian ini akan dilakukan metode penelitian non-experimental melalui pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel non-probability sampling dengan cara incidental sampling. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 10.1. Alat Ukur Penelitian Alat ukur dalam penelitian ini digunakan terbagi atas dua yakni alat ukur Self-efficacy dan alat ukur Kematangan Karir Remaja. Uji reliabilitas dan validitas pada alat ukur Selfefficacy dan Kematangan Karir Remaja menunjukkan hasil yang signifikan (bermakna) pada tingkat signifikansi 0.05. Hasil Penelitian Gambaran Umum Subyek Secara umum gambaran subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin adalah jumlah subyek perempuan (78.4%) dan subyek laki-laki sebanyak (21.6%). Jumlah penyebaran subyek berdasarkan usia yakni

6


prosentase terbesar berusia 15 tahun sebesar 70.3%, sementara subyek yang berusia 14 tahun dan 16 tahun masing-masing sebesar 13.5% dan 16.2%. Penyebaran subyek berdasarkan urutan kelahiran yakni prosentase terbesar berdasarkan urutan kelahiran adalah anak tengah sebanyak 43.2%, urutan kedua adalah anak bungsu sebanyak 32.4%, urutan ketiga adalah anak tunggal sebesar 18.9% dan urutan terakhir anak sulung sebesar 5.4%. Jumlah penyebaran subyek berdasarkan pendidikan terakhir ayah yakni prosentase terbesar pendidikan terakhir Ayah berasal dari perguruan tinggi yakni sebesar 81.1%, sementara yang berasal dari Akademi dan SMU masing-masing sebesar 8.1% dan

10.8%. Jumlah penyebaran subyek berdasarkan pendidikan terakhir ibu yakni prosentase terbesar pendidikan terakhir ibu berasal dari perguruan tinggi yakni sebesar 64.9%. sementara yang berasal dari Akademi dan SMU masing-masing sebesar 10.8% dan 24.3%. Hasil Penelitian Utama Berdasarkan data yang telah diperoleh oleh peneliti dan setelah dilakukan perhitungan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan menggunakan fasilitas perhitungan pada program SPSS 10.1 for Windows, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1 Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kematangan Karir Hubungan antara Self-Efficacy dengan Kematangan Karir

Mean

Total Self-Efficacy

279.05

Total Kematangan Karir

171.30

Berdasarkan dari tabel 1 di atas terlihat bahwa nilai indeks korelasi antara self-efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar adalah sebesar 0.683 dengan p = 0.000, maka dapat disimpulkan bahwa Hipotesa Nol (Ho) ditolak dan Hipotesa Alternatif (Ha) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar. Nilai indeks korelasi positif menunjukkan adanya

Indeks Korelasi (r)

p

0.683

0.000

hubungan yang searah dimana semakin tinggi total skor self-efficacy siswa akan diikuti dengan semakin tingginya total skor kematangan karir pada siswa program percepatan belajar tersebut. Data pada tabel berikut ini adalah hasil perhitungan distribusi frekuensi dari selfefficacy dan kematangan karir siswa program percepatan belajar (dalam perhitungan crosstab).

Tabel 2 Hasil Crosstabs Kematangan Karir Self-Efficacy

Total

Rendah f %

Tinggi F %

F

%

Rendah

16

88.9%

2

11.1%

18

100%

Tinggi

4

21.1%

15

78.9%

19

100%

Total

20

54.1%

17

45.9%

37

100%

Tabel 2 di atas menunjukkan distribusi frekuensi dari self-efficacy dan kematangan

karir pada siswa program percepatan belajar dimana sejumlah 16 siswa (88.9%) memiliki

7


self-efficacy dan kematangan karir yang rendah dan sejumlah 15 siswa (78.9%) memiliki self-efficacy dan kematangan karir yang tinggi. Subyek yang memiliki self efficacy

tinggi dan kematangan karir rendah sebanyak 4 siswa (21.1%) dan sejumlah 2 siswa (11.1%) memiliki self-efficacy rendah dan kematangan karir tinggi.

Hasil Penelitian Tambahan 1) Uji Regresi Tabel 3 Hasil Perhitungan Uji Regresi R

R Square

Adjusted R Square

F

p

0.683

0.467

0.452

30.676

0.000

Dari tabel 3 hasil perhitungan di atas diperoleh koefisien korelasi antara self-efficacy dengan kematangan karir adalah sebesar 0.683 dan nilai tersebut signifikan pada p<0.05 (F = 30.676 dan p = 0.000). Sedangkan koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0.467. Hal ini berarti hanya 46.7% varians dari kematangan karir siswa program percepatan

belajar dapat dijelaskan oleh self-efficacy siswa atau dengan kata lain self-efficacy siswa memberikan sumbangan sebesar 46.7% terhadap kematangan karir siswa program percepatan belajar. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kematangan karir siswa program percepatan belajar.

2) Hasil Berhubungan dengan data kontrol Tabel 4 Perbedaan Mean Berdasarkan Pendidikan Terakhir Ibu Variabel

Kematangan Karir

Pendidikan Orangtua (Ibu)

n

Mean

SMU

9

273.22

Akademi

4

262.00

Perguruan Tinggi

24

284.08

Pada tabel 4 diperoleh F-value sebesar 3.772, p=0.033 (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pendidikan orangtua (Ibu) terhadap kematangan karir pada siswa program percepatan belajar.

F

3.772

Sign.

.033

kematangan karir siswa program percepatan belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa program percepatan belajar yang memiliki kematangan karir yang positif dan self-efficacy yang tinggi akan dapat menentukan pilihan karirnya dengan baik. Hal ini mendukung pendapat Seligman (1994) yang menyatakan bahwa salah satu ciri tingkat kematangan karir yang positif ditandai dengan meningkatnya sikap yang berhubungan dengan kematangan karir yakni self-efficacy. Individu yang memiliki self-efficacy tinggi akan berpikir bahwa kesulitan atau rintangan selalu dapat diatasi melalui pengembangan diri dan ketekunan. Sementara individu yang memiliki self-efficacy rendah akan dengan mudah meyakini kesia-siaan akan usahanya dalam menghadapi kesulitan. Menurut Seligman (1994) pula bahwa salah satu faktor individual

Diskusi Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara self-efficacy dengan kematangan karir siswa program percepatan belajar yang berarti bahwa dengan dimilikinya self-efficacy yang tinggi maka akan diikuti dengan kematangan karir yang tinggi juga. Begitu pula sebaliknya dengan dimilikinya self-efficacy yang rendah juga akan diikuti dengan kematangan karir yang rendah pula. Hal ini menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki peranan dalam menentukan

8


yang mempengaruhi kematangan karir adalah self-efficacy. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Patton dan Creed (2003) menyimpulkan bahwa aspek yang berhubungan dengan kematangan karir adalah komitmen terhadap karir, nilai kerja, self-efficacy, self-esteem, usia, gender, kemampuan untuk memutuskan pilihan karir, komitmen terhadap karir dan ketidakmampuan untuk memutuskan pilihan karir. Tingkat kematangan karir yang positif secara umum ditandai dengan adanya peningkatan kesadaran diri; meningkatnya pengetahuan akan pilihan-pilihan karir yang sesuai; meningkatnya kesesuaian antara kemampuan, minat, dan nilai dengan karir yang diinginkan; meningkatnya kesadaran akan karir yang diinginkan; meningkatnya kemampuan dalam perencanaan dan kesuksesan karir; perubahan sikap terhadap hal-hal yang berhubungan dengan karir (selfefficacy); serta meningkatnya kepuasan dan kesuksesan akan perkembangan karirnya (Seligman, 1994). Hal yang juga menarik untuk dibahas adalah bahwa pada anak program percepatan belajar dari identifikasi dengan menggunakan pendekatan three ring conception oleh Renzulli adalah anak-anak ini harus mempunyai kemampuan pengikatan diri pada tugas yang tinggi, dimana salah satu ciri penting dari individu dengan kemampuan pengikatan diri pada tugas yang tinggi adalah mempertahankan pendapatnya kalau sudah yakin dengan sesuatu dan tidak mudah untuk melepaskan pendapatnya tersebut. Ciri lain yang juga turut mempengaruhi adalah kapasitas di dalam ketekunan, keuletan, kerja keras, dan latihan terus menerus. Hal ini terkait dengan self-efficacy tinggi yang akan menyukai tantangan-tantangan yang menunjukkan minat dan keterlibatan dalam suatu aktivitas, meningkatkan usaha ketika kinerja yang dilakukan gagal mencapai tujuan yang diinginkan, mencari penyebab kegagalan, tidak mengalami kecemasan dalam melakukan pendekatan terhadap tugas yang mengancam dan memiliki tingkat stress rendah. Sebaliknya individu dengan selfefficacy rendah akan menghindari tugas yang

dianggap sulit, tidak mau berusaha lebih keras lagi dan mudah menyerah bila menghadapi kesulitan-kesulitan, sulit melepaskan diri dari defisiensi yang dialami, menghilangkan atau mengurangi perhatian terhadap tugas-tugas, tingkat aspirasi rendah, tingkat kecemasan tinggi dan mudah mengalami stress (dalam Bandura, 1986). Agar para remaja yang tergolong dalam siswa program percepatan belajar dapat memilih karir dengan tepat dalam hal ini adalah keputusan tentang pendidikan lanjutan, memerlukan tingkat kematangan karir yang baik, karena tingkat kematangan karir mempengaruhi kualitas pemilihan karir. Semakin tinggi tingkat kematangan karir akan membuat seseorang mampu dalam membuat pemilihan karir yang tepat. Sebaliknya semakin rendah tingkat kematangan karir akan menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan karir, dalam hal ini adalah kesalahan dalam menentukan pendidikan lanjutan. Berdasarkan dari adanya hubungan antara self-efficacy dan kematangan karir juga menunjukkan bahwa subyek sudah memiliki keyakinan terhadap kemampuannya untuk melakukan suatu tugas tertentu yakni menentukan pilihan karirnya, sehingga dapat dikatakan bahwa subyek sudah mencapai kematangan karir dan dapat menentukan pilihan karir dengan tepat. Menurut Super, dkk (dalam Seligman, 1994) keberhasilan seseorang dalam mengatasi tugas perkembangan yang berhubungan dengan kejuruan atau vokasional disebut sebagai kematangan karir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel self-efficacy memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kematangan karir pada siswa program percepatan belajar. Namun sumbangan yang diberikan dapat dikatakan tidak besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 46.7% saja dari kematangan karir yang dapat dijelaskan melalui self-efficacy. Berarti masih banyak faktor lain yang turut mempengaruhi kematangan karir yang tidak terukur dalam penelitian ini, dan pengaruh faktor-faktor

9


Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis hasil yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar. Hal ini berarti Hipotesa Nol (Ho) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara self-efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar, ditolak dan Hipotesa Alternatif (Ha) yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kematangan karir pada siswa program percepatan belajar, diterima.

tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan self-efficacy. Hasil tambahan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pendidikan orangtua (ibu) terhadap kematangan karir siswa program percepatan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan orangtua dalam hal ini ibu mempengaruhi kematangan karir siswa program percepatan belajar. Menurut Penick dan Jepsen (dalam Seligman, 1994) mengemukakan bahwa keluarga dalam hal ini tingkat pendidikan orangtua berperan sangat penting dalam pembentukan identitas vokasional daripada faktor lain seperti achievement, gender atau status sosial ekonominya. Selain itu, data lain yang juga terungkap pada penelitian ini adalah bahwa pada variabel kematangan karir jika dilihat dari perbedaan mean berdasarkan jenis kelamin dan usia didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Tidak adanya perbedaan yang signifikan dilihat dari perbedaan mean berdasarkan jenis kelamin antara subyek lakilaki dan perempuan bisa dikarenakan adanya perbedaan di dalam kelompok penelitian itu sendiri dimana jumlah sampel antara subyek laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang cukup jauh. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya yang mengemukakan bahwa skor pada kematangan karir wanita lebih tinggi daripada skor kematangan karir pria (Alvi & Khan, 1983; Herr & Enderlein, 1976; King, 1989; Lokan, 1984; Luzzo, 1995; Westbrook, 1984). Hasil penelitian dilihat dari perbedaan mean berdasarkan usia juga tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini dikarenakan rentang usia pada subyek tidak jauh berbeda dan mereka masih berada pada tahap perkembangan yang sama. Hasil ini tidak mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Thomson dan Lindeman (1981) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor kematangan karir pelajar SMU yang berusia lebih tua dari pada pelajar SMU yang berusia lebih muda.

Saran Saran Metodologis Setelah mengkaji kembali penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Untuk itu, peneliti menyampaikan beberapa saran untuk perbaikan dalam penelitian lebih lanjut. 1) Agar penelitian lebih representatif sebaiknya jumlah sampel dalam penelitian selanjutnya lebih banyak untuk menghindari adanya bias kesalahan. 2) Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara insidental sehingga penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada populasi seluruh remaja berbakat. Oleh sebab itu maka apabila dilakukan penelitian lebih lanjut, disarankan pengambilan sampel dilakukan secara random dan jumlah sampel lebih besar. Pengambilan sampel secara random memungkinkan hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke populasi. 3) Faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kematangan karir yang tidak diukur dalam penelitian ini adalah status sosial ekonomi, jenis pekerjaan orang tua dan ibu bekerja atau tidak, sehingga untuk penelitian selanjutnya agar turut disertakan.

10


Saran Praktis 1) Perlunya diadakan Pelayanan Bimbingan Karir bagi anak berbakat sesuai dengan bakat dan minatnya mengingat usia mereka yang masih relatif muda di dalam menentukan pilihan karir yang tepat. 2) Mengadakan suatu kegiatan seperti, workshop, seminar dengan mengundang narasumber/pakar di bidang bimbingan karir. 3) Memberikan bimbingan dan konseling karir kepada orangtua siswa berbakat. 4) Mengadakan kunjungan ke dunia kerja untuk bisa melihat langsung antara teori yang sudah di dapat dengan praktek yang ada di lapangan.

http://www.ditplb.or.id/2006/index.ph p?menu=profile&pro=68&iduser5. 9 Maret 2007. Desmita. (2005). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Rosda Karya Hawadi, Reni Akbar. (2004). Akselerasi. A-Z Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta: Grasindo. Hawadi, Reni Akbar. (2002). Identifikasi Keberbakatan Intelektual melalui Metode Non-Tes, Dengan Pendekatan Konsep Keberbakatan Renzulli. Jakarta: Grasindo. Hawadi, Reni Akbar & Wihardjo, R. Sihadi Darmo & Wiyono, Mardi. (2001). Keberbakatan Intelektual, Panduan Bagi Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar. Jakarta: Grasindo.

Daftar Pustaka

Isaacson, L, E & Brown, D.. (1997). Career Information, Career Counseling and Career Development (6th Ed). Boston: Ally & Bacon.

Ali, M & Asrori, M. (2004). Psikologi Remaja. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Komandyahrini, E (2007). Hubungan SelfEfficacy dan Kematangan Dalam Memilih Karir Siswa Program Percepatan Belajar : Penelitian Pada SMAN 81 Jakarta dan SMA Labschool Jakarta. Skripsi. Tidak Di[ublikasikan.

Archer, Sally L. (1994). Intervention for Adolescent Identity Development. Newbury Park: Sage Publiscation Inc. Bandura, Albert. (1986). Social Foundation of Thought and Action, A Social Cognitive Theory. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs. Bretz,

Millgram, R.M. (1991). Counseling Gifted and Talented Children; A Guide for Teachers, Counselors, and Parents. New Jersey: Ablek Publ. Co.

N.E & Hackett, G (1981). The Relationship of Career Related SelfEfficacy Expectations to Perceived Career Options in College Women and Men. Journal of Counseling Psychology, 28 (5) 399- 410.

Munandar, Utami. (1992). Keberbakatan dan Kreativitas. Jakarta: Depdikbud. Munandar, S.C. Utami. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Penuntun bagi Guru dan Orang tua. Jakarta: Grasindo.

Brown, Duane & Brooks, Linda. (1996). Career Choice and Development. San Francisco: Jossey-Bass Publishers. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, [On-line article], Informasi Mengenai Program Percepatan Belajar Bagi Siswa Berbaakat Akademik. Available:http://www.ditplb.or.id/2006 /index.php?menu=profile&pro=& iduser=5. 7 Maret 2007.

Newman, B.M & Newman, P.R (1979). Development Through Life: A Psychosocial Approach (Revised Ed). Illinois : The Dorsey Press. Pajares, Frank & Tim Urdan. (2005). SelfEfficacy Beliefs of Adolescents. USA: IAP-Information Age Publishing, Inc.

Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, [On-line article], Hubungan Pola Interaksi Guru BP Dengan Remaja Dalam Layanan Bimbingan Karir dan Kemandirian Remaja Dengan Eksplorasi dan Komitmen Identitas Vokasional Remaja Akhir. Available:

Patton, Wendy & Creed, Peter. A. (2003). Predicting Two Components of Career Maturity in School Based Adolescents. Journal of Career Development, Vol. 29, No. 4. 277-290.

11


Patton, W. (2001). Developmental Issue in Career Maturity and Career Decision Status. Career Developmental Quartely, June 2001. Available http://www.findarticles.com/p/articles/ mim0JAX/is449 /ai_807467.html. 7 Maret 2007.

Super. D.E., Savickas, M.L., & Super, C.M. (1996). The Life Span, Life-Space Approach To Careers. In Brown, D, Brocks, L & Associates (EDS). Career Choice and Development (3rd ed). California: Jessey Bass Inc. Terwillinger, J.S. (1963). Dimension of Occupational Preference Education and Psychological Measurement.

Seligman, Linda. (1994). Developmental Career Counseling and Assessment (2nd ed). Thousand Oaks: Sage.

Wahyono, Tekad. (2001). Efektivitas Pelatihan Persiapan Kerja Untuk Meningkatkan Kematangan Vokasional Pada Remaja. Jurnal Insan Media Psikologi. Vol. 3 No. 2 Agustus 2001, 99-108.

Southern, W. Thomas & Jones, Eric. D (1991). The Academic Acceleration of Gifted Children. New York: Teachers College Press. Spokane, A.R. (1991). Career Intervention. New Jersey: Prentice Hall. Santrock,

Winkel, W.S. & Hastuti, M.M. Sri. (2006). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

W.J. (2001). Educational Psychology. New York : McGraw Hill Companies.

12


PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL SISWA AKSELERASI Jennia Rita Syamril dan Irwan Nuryana. K Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik apakah pelatihan kecerdasan emosi memberikan pengaruh terhadap keterampilan sosial pad asiswa akselerasi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan memberikan perlakuan berupa pelatihan kecerdasan emosi pada seluruh subjek. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah kemampuan intrapribadi, kemampuan antarpribadi, ketahanan menanggung stres, penyesuaian diri dan suasana hati.Subjek penelitian ini berjumlah 30 orang dan 17 orang yang berhasil dianalisis. Seleksi subjek yang dianalisis dilakukan berdasarkan kehadiran subjek selama mengikuti setiap tahap penelitian. Subjek adalah seluruh siswa akselerasi kelas X SMU Negeri 3 Yogyakarta yang berusia antara 13-16 tahun. Desain eksperimen dalam penelitian ini menggunakan tretments by subject desain, dengan menggunakan metode analisis data paired sample t-test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh pelatihan kecerdasan emosi terhadap keterampilan sosial siswa akselerasi. Kata kunci / Keyword : Pelatihan kecerdasan Emosi, Keterampilan Sosial, Siswa Akselerasi

Pendahuluan

memberikan

Mengikuti arus zaman yang terus

pemantapan

melaju pesat, harus diikuti juga dengan kemampuan

intelektual

yang

tinggi

kematangan spiritual

emosi

(http.//

dan

www.mail-

archieve.com )

dan

Program

akselerasi

pada

mencetak generasi-generasi baru yang juga

pelaksanaannya ternyata ditemukan berbagai

dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif

masalah. Seorang Wakil Kepala Sekolah

dan mental yang tinggi agar dapat bertahan

salah satu SMU di Yogyakarta mengeluarkan

dan bersaing untuk mencapai sukses. Salah

pernyataannya tentang

satu antisipasi atau cara yang ditempuh

yaitu

pemerintah

sekolah ini saya menemukan beberapa hal

generasi

Indonesia yang

mengadakan

untuk

unggul terobosan

membentuk

adalah

dengan

dalam

aneh

dunia

selama

seperti,

berkomunikasi,

kelas akselerasi,

pelaksanaan

siswa

akselerasi

terlihat

mengalami

di

kurang

ketegangan,

pendidikan, yaitu dengan membentuk program

kurang bergaul, dan tidak suka

akselerasi atau percepatan.

pada pelajaran olahraga. Mereka tegang

Menurut Hawadi (2004) akselerasi adalah

kemajuan

yang

diperoleh

seperti robot, Kami juga mendapat laporan

dalam

dari

orangtua

bahwa

berkomunikasi

cepat atau dalam usia yang lebih muda

www.republika.co.id

daripada

usia

dari

Pernyataan yang sama juga diberikan oleh

program

akselerasi

memberikan

seorang guru salah satu sekolah menengah di

pelayanan

untuk

intelektual

untuk

Tujuan

adalah

anak

berbakat

Jakarta

yang

30

mengatakan

April

bahwa

(http.// 2005).

anak

menyelesaikan

akselerasi memiliki pergaulan yang lebih

pendidikan lebih awal. Program akselerasi

terbatas daripada kelas umum karena teman

dirancang

mengasah

satu ruangannya dan guru-gurunya dalam 2

sekaligus

tahun selalu sama. Guru menjadi khawatir

kemampuan

khusus

dapat

secara

anaknya.

sulit

program pengajaran pada waktu yang lebih

konvensional.

dengan

mereka

untuk

intelektual

dan

13


bahwa percepatan belajar dapat menimbulkan

Keterampilan

sosial

merupakan

dampak negatif dikemudian hari karena masa

kemampuan yang beraneka ragam untuk

remaja dan bermain mereka terenggut (http.//

mengeluarkan prilaku-prilaku yang tampak,

www.kompas.com 23 Juli 2005)

baik berupa tingkah laku positif maupun

Kecerdasan emosional dapat diasah dengan

adanya

pelatihan-pelatihan

negatif dan tidak mengeluarkan prilaku yang

atau

dilarang atau tidak disukai orang lain (Libet &

training yang cendrung akan lebih efektif.

Lewinson dalam Cartledge & Milburn , 1995).

Untuk itu berdasarkan latar belakang masalah

Sementara itu menurut Saphiro (1997)

diatas maka perlu diadakannya training atau

keterampilan sosial yaitu kemampuan anak

pelatihan

untuk

untuk bergaul dengan orang lain, mengenali

meningkatkan kemampuan siswa akselerasi

dan mampu bereaksi dengan tepat terhadap

dalam

keterampilan

situasi-situasi sosial, serta mampu mencari

sosialnya. Pelatihan kecerdasan emosi juga

titik temu antara kebutuhan dan harapannya

diharapkan mampu meningkatkan karakteristik

dengan harapan dan kebutuhan orang lain.

siswa akselerasi yang tidak hanya memiliki

Sejalan dengan hal itu, Goleman (1999)

kecerdasan intelektual

menambahkan bahwa keterampilan sosial

kecerdasan

emosi

mengembangkan

tapi juga memiliki

kecerdasan emosional, yang sangat berperan

adalah

kemampuan

anak

untuk

dalam kesuksesan siswa dalam berkiprah di

mengendalikan emosinya dengan baik pada

dunia pekerjaan nantinya.

saat berhubungan dengan orang lain, memiliki kemampuan untuk membaca situasi dan

Rumusan Masalah Permasalahan

yang

mampu berinteraksi dengan lancar serta dikemukakan

dalam

menjalin persahabatan yang sehat.

penelitian ini adalah apakah ada pengaruh

Sementara

itu

akselerasi

adalah

yang signifikan pelatihan kecerdasan emosi

program percepatan belajar untuk SD, SLTP,

terhadap

SMU dirancang oleh pemerintah pada tahun

keterampilan

sosial

siswa

akselerasi?

2000. Akselerasi didefenisikan sebagai salah satu

bentuk

pelayanan

pandidikan

yang

Tinjauan Teoritis

diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan

Keterampilan Sosial

kemampuan

Menurut

Michelson

(Prawitasari

&

luar

biasa

untuk

dapat

menyelesaikan pendidikan lebih awal dari

Hadjnar, 2002) keterampilan sosial meliputi

waktu

keterampilan-keterampilan

(http//www.depdiknas.go.id)

memberikan

yang

ditentukan

pujian, mengeluh karena tidak setuju terhadap sesuatu hal, menolak permintaan orang lain,

Faktor-faktor

kemampuan bertukar pengalaman, menuntut

keterampilan sosial siswa akselerasi

hak pribadi, memberikan saran kepada orang

yang

Cartledge

dan

lain, pemecahan konflik atau masalah, serta

mengatakan

ada

berhubungan dengan orang lain yang lebih tua

mempengaruhi

atau lebih tinggi statusnya.

sosial remaja, yaitu :

Milburn

beberapa

terbentuknya

a. Karakteristik remaja

14

mempengaruhi

faktor

(1995) yang

keterampilan


Pelatihan Kecerdasan Emosi

Karakteristik pribadi dan lingkungan tempat anak tumbuh adalah salah satu hal yang

sangat

sosial

mempengaruhi

remaja.

keterampilan

etimologis

atau

bahasa berdasarkan kamus psikologi dari Kartono dan Gulo (2000) mengartikan sebagai

akan

sebuah instruksi, perlakuan, manipulasi, yang

mengalami kesulitan untuk mulai berinteraksi

harus dijalani oleh seekor binatang atau

dan bergaul dengan orang lain Karakteristik

seorang manusia agar dapat memahami atau

remaja yang membentuk keterampilan sosial

sanggup melaksanakan tugas atau peran

meliputi :

tertentu.

tertutup

dengan

secara

tipe

kepribadian

Remaja

Pelatihan

(introvert)

1. Fase perkembangan

Sementara itu menurut Wexel dan

2. Jender

Yukl

(As ad

2002),

3. Kemampuan kognitif

pengembangan

adalah

pelatihan

dan

istilah-istilah

yang

menyangkut usaha-usaha yang terencana dan b. Kriteria lingkungan sosial

diselengarakan agar mencapai penguasaan

Lingkungan sosial itu mencakup :

akan keterampilan pengetahuan dan sikap-

1. Konteks budaya

sikap yang relevan terhadap pekerjaan. Sikula

2. Situasi yang spesifik

(As ad 2002) juga berpendapat bahwa training

3. Hubungan dengan teman sebaya

adalah proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan

Aspek

aspek Keterampilan Sosial Siswa

mempelajari

Menurut Mager (Cartledge & Milburn, aspek-aspek

keterampilan

sistematis

dan

terorganisir, dimana tenaga non_managerial

Akselerasi

1995),

prosedur

pengetahuan dan ketrampilan

teknis untuk tujuan-tujuan tertentu.

sosial

Goleman (2000) sendiri berpendapat

remaja adalah:

kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk

a. Kesopanan

mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan

Meliputi

perilaku

remaja

dalam

orang lain, kemampuan memotivasi diri dan

menunjukkan sikap yang positif terhadap

mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri

teman-teman sebaya maupun orang dewasa.

dalam

Sikap tersebut antara lain memberikan pujian

kemampuan

dan senyuman, mengucapkan terima kasih,

frustrasi, mengatur suasana hati dan menjaga

membuat pernyataan yang positif dan prilaku

agar beban stres tidak tidak melumpuhkan

yang baik dalam situasi yang beraneka ragam.

kemampuan berfikir, serta berempati dan

b. Kerjasama

berdoa.

Meliputi kemampuan remaja untuk berpartisipasi

dalam

pekerjaan

berhubungan

bertahan

Mayer

menambahkan

kelompok

untuk

dengan

orang

menghadapi

(Goleman,

kecerdasan

lain,

emosi

2000) adalah

kemampuan memantau dan mengendalikan

dengan teman sebaya atau orang yang lebih

perasaan

dewasa,

menggunakan perasaan-perasaan itu untuk

kemampuan

menjalankan

pertemanan dan dapat mengikuti aturan yang

sendiri

dan

orang

lain

serta

memandu pikiran dan tindakan.

berlaku dalam kelompoknya.

Sementara kecerdasan

15

emosi

itu

menurut

adalah

BarOn

sekumpulan


kecakapan

dan

sikap

yang

Pengaruh

jelas

Pelatihan

Kecerdasan

Emosi

perbedaannya, namun saling tumpang tindih.

Terhadap Keterampilan Sosial pada Siswa

Kumpulan ini dapat dikelompokkan ke dalam

Akselerasi

lima tema umu atau ranah, yaitu intrapribadi, antarpribadi,

penanganan

terhadap

Penyelenggaraan sistem percepatan

stres,

kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki

penyesuaian diri, dan suasana hati. Kelima

kemampuan

ranah ini kemudian dikelompokkan lagi ke

merupakan salah satu strategi alternatif yang

dalam lima belas unsur yaitu, kesadaran diri,

relevan,

asertifitas, kemandirian, pengahargaan diri,

memberikan pelayanan pendidikan sesuai

aktualisasi diri, empati, tanggung jawab sosial,

dengan potensi siswa, juga bertujuan untuk

hubungan antarpribadi, pemecahan masalah,

mengimbangi

uji

dalam kelas klasikal atau reguler. Nasichin

realitas,

sikap

menanggung

stres,

kebahagiaan,

dan

fleksibel,

ketahanan

pengendalian yang

dan

kecerdasan

disamping

luar

bertujuan

kekurangan

yang

biasa

untuk

terdapat

impuls,

(Hawadi, 2004) mengelompokkan tujuan dari

adalah

penyelenggaraan program percepatan belajar

terakhir

optimisme (Stein & Book, 2002).

kedalam 2 kelompok, tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum antara lain:

Aspek

kecerdasan

emosi

telah

1. Memberikan

ditemukan oleh penelitian Goleman (1996),

peserta

yang

karakteristik

mengemukakan

bahwa

komponen

kecerdasan emosi terdiri dari aspek-aspek: a) kesadaran diri

b) pengaturan diri

:

yang

khusus

didik

sesuai

pendidikan dirinya

sehingga berdampak positif, mampu pulih

3. Memenuhi minat

dari tekanan emosi.

terdalam

:

perspektif

menggunakan

untuk

menggerakkan

hasrat

untuk

bertahan

dan

menghadapi

depan

peserta

Tujuan khususnya adalah : 1. Menghargai

peserta

didik

yang

memiliki kemampuan dan kecerdasan

berdasarkan perspektif orang lain. menangani

intelektual dan

pemimpin masa depan.

: mampu memahami sesuatu

e) ketrampilan sosial :

masa

kebutuhan

4. Menyiapkan peserta didik menjadi

kegagalan dan frustasi . d) empati

aspek

didik.

menuntun seseorang menuju sasaran, inisiatif

dari

dengan

emosi

c) motivasi

memiliki

2. Memenuhi hak asasi selaku peserta

diri.

menangani

didik

kepada

kognitif dan afektifnya

: memiliki tolak ukur

yang realistis atas kemampuan

pelayanan

luar biasa untuk dapat menyelesaikan emosi

pendidikan lebih cepat.

dengan baik ketika berhubungan dengan

2. Memacu kualitas atau mutu siswa

orang lain dan cermat membaca situasi

dalam

dan jaringan sosial, bernteraksi dengan

spiritual,

lancar, menggunakan ketrampilan untuk

secara berimbang.

mempengaruhi dan memimpin orang lain,

Sementara itu, kenyataan yang terjadi

menyelesaikan

perselisihan

dan

meningkatkan inteletual

dan

kecerdasan emosional

adalah siswa yang masuk kelas akselerasi

bekerjasama dengan baik dalam tim

mengalami gangguan emosi dan cenderung

16


lebih fokus pada diri sendiri karena dibebani

1.Variabel bebas :pelatihan kecerdasan emosi

oleh muatan pelajaran yang tidak sesuai

2. Variabel tergantung :keterampilan

dengan tingkat perkembangan siswa.

pada siswa kelas akselerasi.

Memahami kecerdasan emosi pada

sosial

Defenisi Operasional Variabel Penelitian

siswa akselerasi merupakan suatu hal yang

a. Pelatihan kecerdasan emosi

kompleks. Siswa akselerasi merupakan sosok

Pelatihan kecerdasan emosi adalah suatu

yang

usaha yang terencana dan diselenggarakan

sama

dengan

anak

biasa

pada

umumnya, yaitu sama-sama membutuhkan

agar

ruang yang cukup untuk meningkatkan aspek

kemampuan

afektif atau kecerdasan emosi dalam diri

memahami perasaan dirinya sendiri dan orang

mereka. Mereka juga memiliki kebutuhan

lain, sehingga nantinya ia mampu mengelola,

untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial

mengontrol dan mengekspresikannya dalam

serta kebutuhan untuk memiliki kualitas waktu

bentuk sikap dan perilaku secara tepat,

yang seimbang antara kegiatana personal dan

sehingga mampu mengatasi berbagai tekanan

interpersonal,

dan

agar

siswa

dapat

mencapai

penguasaan

seorang

permasalahan,

individu

mampu

dalam

berinteraksi

memaksimalkan potensi dan mengembangkan

dengan

lain

secara

tepat

kecerdasan emosinya.

mengkombinasikannya

dengan

kecerdasan

Berdasarkan arti penting keberadaan kecerdasan

emosi

bagi

siswa

orang

terhadap

dan

intelektual yang dimiliki

akselerasi

b. Keterampilan sosial

terutama dalam lingkungan afektifnya, maka

Keterampilan

sosial

adalah

sangat dibutuhkan upaya untuk meningkatkan

kemampuan individu untuk berprilaku sesuai

pemahaman tentang arti penting kecerdasan

dengan aturan yang ada ataupun yang

emosi pada siswa akselerasi. Salah satu

diinginkan oleh orang lain sehingga seseorang

upaya tersebut adalah dengan mengadakan

dapat berinteraksi ataupun memulai interaksi

pelatihan

dengan

kecerdasan

kecerdasan pemahaman kecerdasan

emosi

emosi.

akan

tentang emosi

Pelatihan

menumbuhkan peran

dalam

orang

lain.

Perilaku

tersebut

diantaranya adalah dapat menghargai dan

penting

memahami perasaan orang lain, lebih mampu

membangun

mengontrol diri, menjalin kerjasama, dan

ketrampilan sosial pada siswa akselerasi.

dapat menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku. Ketrampilan sosial siswa akselerasi

Metode Penelitian

diukur

Hipotesis Penelitian

ketrampilan

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

dengan

menggunakan

sosial

Rand

Social

skala Baterry.

Ketrampilan sosial siswa akselerasi diketahui

Adanya pengaruh yang signifikan pelatihan

melalui skor yang diperoleh subjek setelah

kecerdasan

mengisi skala Rand Social Baterry. Semakin

emosi

terhadap

keterampilan

sosial siswa akselerasi .

tinggi

skor

semakin Variabel Penelitian Variabel-variabel

Sebaliknya yang

digunakan

diperoleh

dalam penelitian ini adalah :

yang baik

diperoleh keterampilan

semakin anak

rendah

semakin

keterampilan sosialnya.

17

anak,

maka

sosialnya. skor

yang

rendah

pula


Subjek Penelitian

Metode Analisis Data

Populasi penelitian ini adalah siswa sekolah

menengah

atas

yang

Menggunakan metode paired sample

mengikuti

t-tes, perbandingan antara skor pretest dan

program akselerasi. Sementara yang diambil

posttest dari kelompok eksperimen. Analisis

menjadi sampel adalah

data dilakukan dengan SPSS versi 11.5 for

siswa kelas X

program akselerasi di SMU 3 Yogyakarta

windows.

berjumlah 30 orang. Seluruh sampel akan Hasil Penelitian

diberikan pelatihan kecerdasan emosi.

Hasil analisis untuk perbedaan skor Rancangan Eksperimen Penelitian

pretest dan posttest subjek adalah nilai beda menggunakan

(t) sebesar 0.823 dengan p = 0.423 (p > 0.01).

yaitu

suatu

Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan

pendekatan yang dilakukan dengan tujuan

antara skor pretest dan posttest pada subjek

untuk mengetahui adanya pengaruh di antara

(analisis lengkap pada lampiran )

pendekatan

ini

eksperimen,

variabel-variabel pelatihan kecerdasan emosi dan

ketrampilan

dengan cara diperoleh

sosial

siswa

akselerasi

membandingkan skor

subyek

setelah

Lebih lanjut, walaupun tidak terdapat

dan

perbedaan yang signifikan pada skor subjek

yang

antara sebelum dan setelah dilakukannya

sebelum

pelatihan, tetapi terjadi penurunan nilai rerata

diberikan pelatihan.

skala interaksi sosial pada skor pretest dan

Desain eksperimen yang digunakan dalam

posttest dari 30.5 menjadi 29.5 pada rerata

penelitian ini adalah treatments by subject

posttest setelah dilakukannya eksperimen.

design.

Berdasarkan hasil analisis di atas, Berdasarkan

penulis

menyusun

hal

tersebut,

rancangan

maka

maka hipotesis penelitian yang berbunyi ada

eksperimen

sebagai berikut : Y1

X

Y2

pengaruh

yang

signifikan

kecerdasan

emosi

terhadap

pelatihan kemampuan

interaksi sosial siswa akselerasi ditolak.

Keterangan : Y1

: Pengukuran Pretes

Y2

: Pengukuran Posttest

X

:

Perlakuan

berupa

Diskusi Tujuan penelitian yang ingin menguji pelatihan

secara empirik apakah pelatihan kecerdasan

kecerdasan emosi

emosi mampu secara efektif meningkatkan kemampuan interaksi sosial siswa akselerasi

Metode Pengumpulan Data

tidak mendapat support empirik. Hipotesis

Metode penelitian yang digunakan

penelitian

yang

dalam penelitian ini adalah menggunakan

pelatihan

kecerdasan

metode skala dan observasi. Metode skala

keterampilan sosial siswa akselerasi ditolak.

nantinya akan dibandingkan dengan observasi

Ini berarti penelitian ini belum efektif dalam

pada saat analisis penelitian.

meningkatkan akselerasi.

18

berbunyi

ada

pengaruh

emosi

terhadap

keterampilan

sosial

siswa


Kesimpulan

Daftar Pustaka

Berdasarkan pembahasan

hasil

dapat

penelitian

disimpulkan

dan

As ad, Moh, S.U. 2002. Psikologi Industri, Seri Ilmu Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Liberty

bahwa

pelatihan kecerdasan emosi tidak mampu meningkatkan

kemampuan

Cartledge, G & Milburn, J. F. 1995. Teaching Social Skill to Children and Youth Third Edition. USA : Allyn and Bacon

keterampilan.

sosial pada siswa akselerasi.

Goleman, D. 1999. Working With Emotional Intelligence (Terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Saran Penulis memberikan beberapa saran

___________. 2000. Executive EQ : Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan dan Organisasi (Terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

yang ditujukan kepada beberapa pihak, antara lain : 1. Saran terhadap orangtua murid Orangtua

murid

sebagai

keluarga

Hawadi, R.A. 2004. Akselerasi A-Z Info Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta : Gramedia Widya Sarana Ind

utama dari subjek harus mampu menjalin interaksi sosial yang harmonis dan

bersifat

dua arah kepada subjek, sehingga nantinya diharapkan

subjek

mampu

Kartono, Kartini, & Gulo, Dali. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya

berinteraksi

Olviana, A. 2005. Pengaruh Pelatihan kecerdasan Emosional Terhadap Peningkatan perkembangan Moral Anak SD. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

dengan baik dengan lingkungannya. 2. Saran terhadap guru Penulis mengharapkan agar selain memberikan materi yang isinya pelajaran, guru dapat juga memberikan materi-materi

Sari, H. 2004. Pengaruh Pelatihan Kcerdasan Emosi Terhadap Penurunan Agresivitas Anak Di Sekolah. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

berupa keterampilan dan kompetensi sosial anak

yang

terdapat

dalam

pelatihan

kecerdasan emosi. 3. Saran terhadap peneliti selanjutnya Penelitian ini masih memiliki beberapa

Shapiro L. 1997. Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak. Jakarta: Buana Printing.

keterbatasan, diantaranya pada kelompok subjek, alat ukur, pelaksanaan eksperimen, serta

kurangnya

penggalian

informasi

Stein, S. J. & Book, H. E. 2000. Ledakan Eq : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses (Terjemahan). Bandung: Kaifa

tambahan. Pada penggunaan kelompok subjek, penulis

mengharapkan

agar

peneliti

kelompok subjek yaitu kelompok eksperimen

Syamril, J.R. (2007). Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosi Terhadap Keterampilan Sosial Siswa Akselerasi. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

dan

http : //www.kompas.com

23/07/05

http : //www.republika.co.id

30/08/05

selanjutnya

dapat

kontrol.

pengaruh

Hal

menggunakan

ini

eksperimen

dimaksudkna dapat

dua

agar

benar-benar

dilihat dengan cara membandingkan kedua

---------------------------. 2005. Sistem Percepatan Kelas (Akselerasi) Bagi Siswa Yang Memiliki Kemampuan Luar Biasa. http//www.depdiknas.go.id.

kelompok tersebut.

19


DINAMIKA KECERDASAN EMOSI PADA SISWA AKSELERASI DI SDN KENDANGSARI 1 SURABAYA Nuri Fauziah dan Nono Hery Y AbstraK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana dinamika kecerdasan emosi pada siswa akselerasi di SDN Kendangsari I Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus intrinsik. Unit analisis dari penelitian ini adalah dinamika kecerdasan emosi siswa akselerasi ditinjau dari lima dimensi kecerdasan emosi, yaitu mengenal emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenal emosi orang lain dan membina hubunganProsedur pemilihan subjek yang dilakukan adalah model pemilihan tipikal, yaitu subjek yang diambil dianggap mewakili kelompok normal. Dalam pemilihannya peneliti meminta kesediaan siswa akselerasi yang ada untuk menjadi subjek. Dari sembilan siswa akselerasi yang terdapat di sekolah itu, empat orang siswa menyatakan kesediaannya menjadi subjek penelitian. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tematik, dengan menggunakan koding dari hasil transkrip wawancara yang telah diverbatim, serta hasil observasi dalam bentuk catatan lapangan. Teknik analisis ini terdiri dari tiga tahapan yaitu ; open koding, axial koding, selective koding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh dan kebiasaan yang didapat siswa mempengaruhi dinamika kecerdasan emosi yang terjadi. Perbedaan sikap serta perilaku di sekolah maupun di rumah juga sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor tersebut. Hal ini yang mempengaruhi keterampilan siswa dalam mengenal emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi oranglain, serta membina hubungan. Disamping itu iklim kompetitif yang kental serta keterampilan memotivasi diri siswa mempengaruhi motivasi berprestasi mereka yang dapat dikatakan cukup tinggi tersebut. Disisi lain mengenai keterbatasan pergaulan yang mereka hadapi tidak lantas mempengaruhi keterampilan membina hubungan dengan orang lain, meskipun demikian pada kenyataannya mereka cenderung lebih senang berteman dengan teman sesama akselerasi saja, dan menghabiskan sebagian besar waktu bermain di kelasnya. Hal inilah yang mengindikasikan bahwa kecenderungan perilaku eksklusif juga berlaku pada siswa-siswa akselerasi tersebut. Kata Kunci/Keywords : Kecerdasan Emosi, Siswa Akselerasi

Pendahuluan

(http://www.indomedia.com/poskup/2004/09/0

Dinamika program pendidikan nasional sangat

1/edisi01/0109pin2.htm )

terasa. Dari tahun ke tahun hampir selalu ada

Salah

satu

fenomena

yang

masih

program baru yang dicanangkan pemerintah

menjadi polemik dalam dunia pendidikan saat

untuk diterapkan di sekolah-sekolah, mulai

ini adalah mengenai program akselerasi yang

dari perubahan kurikulum hingga perubahan

diadakan beberapa sekolah yang dianggap

kebijakan-kebijakan teknis. Suara sumbang

mampu dan layak untuk mengikuti program

hampir

muncul

tersebut. Program akselerasi adalah suatu

menanggapi perubahan-perubahan itu. Ada

sistem pendidikan yang dikembangkan oleh

yang menganggap perubahan itu sebagai

Departemen

bukti ketidakmatangan pemerintah kita dalam

mempersingkat atau mempercepat masa studi

melahirkan suatu kebijakan dan program.

(http://psikologi.ugm.ac.id/Lustrum8

Sering terjadi tumpang tindih bahkan terkesan

/b2/index.php?cat=2). Adapun waktu yang

ada

digunakan

tidak

dapat

kebingungan

terelakkan

dalam

penerapannya,

Pendidikan

untuk

Nasional

menyelesaikan

dengan

program

karena gagasannya tidak tersosialisasikan

belajar ini dapat dipercepat sesuai dengan

secara

potensi siswa berbakat. Pada Sekolah Dasar

baik

sampai

ke

tingkat

bawah.


(SD) dimana kelas reguler pada umumnya

Berdasarkan

penelitian

dilakukan

menempuh waktu 6 tahun, maka pada kelas

terhadap 231 siswa (usia 15-19 tahun) yang

akselerasi bisa menjadi 5 tahun. Sedangkan

terdiri dari siswa Sekolah Menengah Umum

untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

(SMU) di Semarang dan Yogyakarta. Mereka

(SLTP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA),

diidentifikasi sebagai siswa berbakat tinggi

masing-masing dari 3 tahun menjadi 2 tahun

(highly

atau bahkan lebih cepat dari itu, sesuai

sedang (moderately gifted students), dan

dengan potensi siswa yang bersangkutan.

siswa non berbakat (non-gifted students)

Setidaknya ada tiga dampak negatif dari pengimplementasian belajar

ini.

program

percepatan

Pertama,

kecemburuan

karena

menimbulkan

perlakuan

gifted

students),

siswa

berbakat

masing-masing 77 siswa.

Dari penelitian

tersebut

berbakat

diketahui,

anak

tinggi

cenderung lebih formal dalam bersosialisasi,

yang

lebih

menyukai

kesendirian

atau

kurang

diskriminatif. Guru akan lebih banyak menaruh

menyukai stimulasi sosial. Mereka cenderung

perhatian kepada kelas khusus ini ketimbang

memiliki

kelas biasa. Di satu sisi melindungi hak asasi

kepentingan

anak

untuk

(http://www.kompas.com/kompas-

tetapi

cetak/0208/06/jateng/sist26.htm).

yang

dianggap

luar

mendapatkan

pelayanan

sesungguhnya

di

sisi

biasa lebih,

orang

mementingkan lain)

rendah

Fakta di lapangan yang mengatakan

pelanggaran hak asasi karena siswa biasa

bahwa banyak anak-anak yang masuk kelas

pun berhak mendapat pelayanan maksimal.

akselerasi mengalami gangguan emosi, stres

Kedua,

teralienasi

karena dibebani oleh muatan pelajaran ini,

(tersisihkan dari lingkungan sekolah) bagi

tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

sebagian besar siswa dikategorikan kurang

anak. Hal ini disebabkan waktu yang dimiliki

cerdas,

oleh mereka lebih banyak digunakan untuk

yang

akan

juga

(sifat

terjadi

menimbulkan

lain

altruisme

rasa

memicu

rendahnya

motivasi belajar, dan bahkan mungkin akan

belajar

memicu perilaku menyimpang karena mereka

bersosialisasi ataupun mengikuti kegiatan lain.

merasa

oleh

Oleh karenanya tidak sedikit siswa akselerasi

sistem kelas yang diciptakan sekolah. Ketiga,

yang kesulitan membagi waktu antara belajar,

demikian

bagi

bergaul dan bermain. Terutama pada anak

sebagian siswa yang termasuk ke dalam kelas

sekolah dasar, masa bermain adalah masa

unggulan akan berperilaku egois, angkuh, dan

yang harus dan paling penting untuk dilewati.

cenderung tidak mau mendengar pendapat

Ibarat membangun rumah, fondasinya adalah

orang

beberapa

sangat penting, demikian pula halnya dengan

orangtua yang anak-anaknya pernah termasuk

sekolah. Sekolah dasar merupakan fondasi

ke dalam kelas cepat di SMA PPSP tahun

pendidikan, jika fondasinya tidak kuat anak

1980-an

akan mengalami stress (http://psikologi.ugm.

karakternya

sebaliknya,

lain.

psikologis

telah

ada

Testimoni

terbunuh

peluang

kepada

menampakkan

gejala-gejala

seperti

itu

dan

sangat

sedikit

waktu

ac.id/Lustrum8/b2/index.php?cat=2).

(http://www.kompas.com/kompas-cetak /0408/09/ Didaktika/1193374.htm).

21

untuk


Rumusan Masalah

yang telah nyata (Munandar, 2002 : 30),

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

meliputi:

Bagaimana dinamika kecerdasan emosi yang dimiliki

oleh

siswa

akselerasi

di

1. Kemampuan intelektual umum

SDN

(kecerdasan atau intelejensi)

Kendangsari 1 Surabaya ?

2. Kemampuan akademik khusus 3. Kemampuan

berfikir

kreatif-

produktif Tinjauan Teoritis

4. Kemampuan memimpin

Konsep Keberbakatan

5. Kemampuan dalam salah satu

Definisi U.S.O.E Tentang Keberbakatan Secara berbakat

umum,

merujuk

pengertian

pada

anak

6. Kemampuan psikomotor

yang

Definisi ini merupakan adopsi dari definisi U.S.

memproses potensi yang luar biasa untuk

Office of Education (Marland, 1972) dan dalam

keberhasilan

kepustakaan biasanya disebut sebagai definisi

akademis

mereka

bidang seni

dan

pengejaran

produksi intelektual (Hawadi : 2002) Dalam

Seminar

Nasional

U.S.O.E. (United States Office of Education). mengenai Konsepsi Renzulli tentang Keberbakatan

Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat yang diselenggarakan oleh Badan

Konsep lain tentang keberbakatan

Penelitian dan Pengembangan Pendidikan

yang sampai sekarang banyak digunakan

dan

Pengembangan

dalam identifikasi siswa berbakat di Indonesia

Pendidikan

dan dalam seleksi calon guru anak berbakat

Kebudayaan

adalah Three Ring Conception dari Renzulli

Yayasan

dan kawan-kawan (1981) yang menyatakan

Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12-

bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria

14 November 1981 di Jakarta (Munandar,

(persyaratan) keberbakatan adalah keterkaitan

1982)

antara :

Kebudayaan,

Pusat

Kurikulum

dan

Departemen

Pendidikan

bekerjasama

Sarana dan

dengan

disepakati

bahwa

yang

dimaksud

dengan : Anak berbakat adalah mereka yang

1. Kemampuan umum diatas rata-rata.

oleh

diidentifikasi

Dalam istilah kemampuan umum tercakup

sebagai anak yang mampu mencapai prestasi

berbagai bidang kemampuan yang biasanya

yang tinggi karena memiliki kemampuan-

diukur oleh tes intellijensi, prestasi, bakat,

kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut

kemampuan mental primer, dan berfikir kreatif.

memerlukan

yang

Sebagai contoh adalah penalaran verbal dan

berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar

numerikal, kemampuan spasial, kelancaran

jangkauan program sekolah biasa agar dapat

dalam

merealisasikan sumbangan mereka terhadap

Kemampuan umum ini merupakan salah satu

masyarakat maupun untuk pengembangan diri

tanda

sendiri.

kreativitas dan pengikatan diri pada tugas

orang-orang

profesional

program

pendidikan

Kemampuan-kemampuan

memberikan

ciri-ciri

22

dan

keberbakatan

(Munandar, 2002 : 33)

tersebut, baik secara potensial maupun

ide,

orisinalitas.

disamping


Menurut

&

gagasan baru yang dapat diterapkan

Davidson, 1986 : 66) kemampuan umum

dalam pemecahan masalah, atau sebagai

dapat didefinisikan dalam dua cara, yaitu :

kemampuan dalam melihat hubungan-

a.

Renzulli

(dalam

Kemampuan kapasitas

Sternberg

umum

terdiri

pemrosesan

dari

hubungan baru antara unsur-unsur yang

informasi,

sudah ada sebelumnya (Munandar, 2002 :

untuk mengintegrasikan pengalaman yang

menghasilkan

adaptif

dalam

respon

situasi

33)

yang

baru,

3. Pengikatan diri terhadap tugas (task

dan

commitment) yang cukup tinggi

kapasitas untuk berfikir abstrak. b.

Kemampuan kapasitas

spesifik untuk

pengetahuan,

terdiri

Karakteristik ketiga yang ditemukan pada dari

individu

memperoleh

keterampilan

kreatif-produktif

adalah

pengikatan diri terhadap tugas sebagai

atau

bentuk motivasi internal yang mendorong

kemampuan untuk menampilkan satu

seseorang

atau lebih kegiatan khusus dalam

mengerjakan tugasnya meskipun mengalami

rentang waktu yang terbatas

macam-macam rintangan atau hambatan,

2. Kreativitas diatas rata-rata. Ciri

yang

kedua

berbakat

yang

adalah

dimiliki

untuk

menyelesaikan anak/orang

kreativitas,

tugas

dan

yang

ulet

menjadi

tanggung jawabnya karena ia telah mengikat

sebagai

dirinya

kemampuan untuk memberi gagasan-

Kemampuan di atas rata rata

tekun

terhadap

tugas

tersebut

atas

kehendak dirinya (Munandar, 2002 : 34).

Pengikatan diri terhadap tugas

Gambar 2.1 : Konsep Renzulli tentang Keberbakatan (Munandar, 2002 : 32)

Kreativitas

Tujuan Program Akselerasi Ada

dua

tujuan

yang

b. Memenuhi Hak Asasi peserta didik mendasari

yang sesuai dengan kebutuhan bagi

dikembangkannya program percepatan belajar

dirinya sendiri.

bagi peserta didik yang memiliki potensi

c.

kecerdasan dan bakat istimewa :

Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta

1. Tujuan Umum

didik.

a. Memenuhi kebutuhan peserta didik

d. Memenuhi kebutuhan aktualisasi

yang memiliki karakteristik spesifik

diri peserta didik.

dari segi perkembangan kognitif dan

e. Menimbang peran peserta didik

afektifnya.

sebagai

23

aset

masyarakat

dan


kebutuhan

masyarakat

untuk

dan kalau menjadi patologis, depresi

pengisian peran. f.

berat.

Menyiapkan peserta didik sebagai

c.

pemimpin masa depan.

Rasa takut : cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, kecut; sebagai patologi, fobia

2. Tujuan Khusus

dan panik.

a. Memberikan penghargaan untuk dapat

menyelesaikan

program

ringan,

puas,

riang,

terhibur,

sesuai dengan potensinya.

inderawi, takjub, rasa terpesona,

efektifitas

efisiensi

proses

dan

rasa

pembelajaran

bangga,

senang,

pendidikan secara lebih cepat

b. Meningkatkan

c.

d. Kenikmatan : bahagia, gembira,

puas,

kegirangan

kenikmatan

rasa

luar

terpenuhi,

biasa,

senang,

peserta didik.

senang sekali, dan batas ujungnya

Mencegah rasa bosan terhadap

mania.

iklim

kelas

yang

mendukung

kurang

e. Cinta : penerimaan, persahabatan,

berkembangnya

kepercayaan, kebaikan hati, rasa

potensi keunggulan peserta didik

dekat,

secara optimal.

kasih.

d. Memacu

mutu

siswa

untuk

f.

peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual,

dan

bakti,

hormat,

kasmaran,

Terkejut : terkejut, terkesiap, takjub, terpana.

emosionalnya

g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual,

secara berimbang.

benci, tidak suka, mau muntah. h. Malu : rasa salah, malu hati, kesal

Kecerdasan Emosi

hati, sesal, hina, aib, dan hati

Definisi Emosi

hancur lebur.

Sejumlah teoritikus emosi

dalam

meskipun

tidak

golongan

itu.

mengelompokkan

golongan-golongan semua

sepakat

Calon-calon

Menurut Albin (1983) emosi adalah

besar,

perasaan yang kita alami. Kemampuan untuk

tentang

utama

memikirkan

dan

emosi

meningkatkan

kita

juga

membantu

kemampuan

untuk

beberapa anggota golongan tersebut adalah

menguasainya. Mengetahui latar belakang

(Goleman, 2002 : 412) :

mengapa terjadi emosi hingga pada cara

a. Amarah

:

beringas,

mengamuk,

untuk menanggapi emosi tersebut. Emosi-

benci, marah besar, jengkel, kesal

emosi

hati, terganggu, rasa pahit, berang,

khayalan baru, dan tingkah laku baru.

tersinggung,

bermusuhan,

dapat

merangsang

pikiran

baru,

dan Definisi Kecerdasan Emosi

barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.

Menurut Daniel Goleman kecerdasan

b. Kesedihan : pedih, sedih, muram,

emosional

mencakup

pengendalian

diri,

suram, melankolis, mengasihi diri

semangat, dan ketekunan, serta kemampuan

sendiri, kesepian, ditolak, putus asa,

untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan

24


menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk

mendalam ketika perasaan ini muncul, dan

mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak

benar-benar dapat mengenali diri anda sendiri.

melebih-lebihkan

mengatur

Dengan menjaga jalur-jalur komunikasi tetap

suasana hati dan menjaga agar beban stress

terbuka lebar antara amigdala dan neokorteks,

tidak

berpikir,

ini dapat membantu kita menunjukkan bela

untuk membaca perasaan terdalam orang lain

rasa, empati, penyesuaian diri, dan kendali diri

(empati)

(Segal, 2000 : 27).

kesenangan,

melumpuhkan

dan

kemampuan

berdoa,

hubungan

untuk

dengan

memelihara

sebaik-baiknya, konflik,

Metode Penelitian

serta untuk memimpin (Goleman, 2002 : 45).

Subyek Penelitian

Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada anak-

Prosedur pemilihan subjek yang dilakukan

anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan

adalah model pemilihan tipikal, yaitu subjek

hati

diri,

yang diambil dianggap mewakili kelompok

menderita kekurangmampuan pengendalian

normal. Dalam pemilihannya peneliti meminta

moral.

kesediaan siswa akselerasi yang ada untuk

kemampuan

yang

untuk

kurang

menyelesaikan

memiliki

kendali

Berdasarkan pengalaman, apabila suatu

menjadi

subjek.

Dari

sembilan

siswa

masalah menyangkut pengambilan keputusan

akselerasi yang terdapat di sekolah itu, empat

dan

orang

tindakan,

pentingnya

aspek

perasaan

sama

dan sering kali lebih penting

siswa

menyatakan

kesediaannya

menjadi subjek penelitian.

daripada nalar. Emosi itu memperkaya; model

Teknik analisa Data

pemikiran yang tidak menghiraukan emosi

Adapun teknik analisis yang digunakan dalam

merupakan model yang miskin. Nilai-nilai yang

penelitian

lebih tinggi dalam perasaan manusia, seperti

menggunakan koding dari hasil transkrip

kepercayaan, harapan, pengabdian, cinta,

wawancara yang telah diverbatim, serta hasil

seluruhnya lenyap dalam pandangan kognitif

observasi dalam bentuk catatan lapangan.

yang

Teknik analisis ini terdiri dari tiga tahapan yaitu

dingin,

Kita

sudah

terlalu

lama

menekankan pentingnya IQ dalam kehidupan

ini

adalah

tematik,

dengan

; open koding, axial koding, selective koding

manusia. Bagaimanapun, kecerdasan tidaklah Hasil Penelitian

berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa.

a. Mengenal Emosi

Kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat kita menjadi

lebih

Secara umum siswa akselerasi yang

manusiawi

menjadi subjek pada penelitian ini dapat

(http://secapramana.tripod.com/). Wilayah hubungan

kecerdasan

pribadi

emosi antar

adalah

sedih ataupun senang, mereka mengetahui

kecerdasan emosi bertanggung jawab atas

penyebab mengapa mereka bisa merasakan

harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial,

demikian. Walau ada juga yang menyatakan

dan

sempat

adaptasi

pribadi

perasaan yang terjadi dalam dirinya. Marah,

;

kemampuan

dan

mengenali bilakah mereka sedang mengalami

sosial.

Bila

mengalami

kesulitan

kecerdasan emosi kita tinggi, maka kita dapat

mengidentifikasikan perasaan yang terjadi

memahami

dalam dirinya. Namun saat ini perasaan itu

berbagai

perasaan

secara

25


sudah tidak lagi dialaminya. Menurut Salovey,

dengan

orang yang memiliki keyakinan yang lebih

menyalurkan emosi yang dialaminya secara

tentang perasaannya adalah pilot yang andal

proporsional. Ia dapat menangani perasaan

bagi

karena memiliki

agar perasaan dapat terungkap dengan pas

kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka

adalah kecakapan yang bergantung pada

sesungguhnya atas pengambilan keputusan

kesadaran diri. Sehingga orang-orang yang

keputusan masalah pribadi.

buruk kemampuannya dalam keterampilan ini

kehidupan

mereka,

Mengenal emosi juga terkait dengan bagaimana

seseorang

dapat

akan

bagaimana

terus

seseorang

menerus

mampu

bertarung

melawan

menerima

perasaan murung, sementara mereka yang

kritikan maupun nasihat yang konstruktif.

pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih

Kecenderungan yang ada ketika menerima

cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam

kritikan, mereka dapat menerima walaupun

kehidupan. Dimensi mengelola emosi juga

pada awalnya suka membantah, dan lebih

terkait

percaya dengan caranya sendiri.

mengerjakan

dengan

tanggung tugas

jawab

yang

dalam

dibebankan

kepadanya. Sebagaimana siswa pada umumnya

Walaupun pergaulan mereka selama

mereka juga memiliki harapan maupun cita-

di kelas akselerasi relatif terbatas, namun

cita yang ingin mereka capai suatu saat kelak.

mereka cukup mampu beradaptasi dengan

Mereka mengetahui langkah-langkah yang

lingkungan

harus ditempuh dalam menggapai harapannya

membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat

tersebut. Ambisi mereka untuk tetap berada di

beradaptasi,

akselerasi juga dapat dikatakan tinggi. Bahkan

membutuhkan waktu lama dan merasakan

mereka ingin tetap berada di kelas akselerasi

kenyamanan berada di lingkungan asing

sampai tingkat-tingkat pendidikan selanjutnya.

sekalipun.

b. Mengelola Emosi Cara emosi

mereka

khususnya

sekitarnya.

ada

Ada

juga

yang

yang

tidak

c. Memotivasi Diri

dalam

negatif

Sebagai

siswa

akselerasi

yang

yang

memiliki tantangan akademis yang lebih berat

yang

daripada siswa reguler, memacu mereka untuk

bersikap wajar seperti diam ketika marah,

bersikap kompetitif terhadap dinamika yang

mencoret-coret

ada.

dimilikinya

emosi

menyalurkan

bermacam-macam.

kertas,

Ada

memukul

guling,

Kecenderungannya

mereka

mampu

hingga mengunci diri di kamar. Namun ada

untuk bangkit apabila mengalami kegagalan.

juga

Hal ini terlihat dari peningkatan nilai yang

yang

bertindak

melempar-lempar

benda

destruktif hingga

seperti memukul

dialami

setelah

mengalami

orang yang berniat mengganggunya. Tak

tersebut.

jarang orang-orang yang berada di sekitarnya

akselerasi,

menjadi terganggu dengan perilaku destruktif

kegagalan maupun perasaan negatif yang

tersebut.

menyelimutinya. Mereka tidak berlarut-larut,

Menurut

Goleman

Kecenderungan

kegagalan

mereka

dapat

dari bangkit

siswa dari

kemampuan

dan tetap akan berupaya bila mereka telah

seseorang mengelola emosinya itu terkait

gagal. Hal ini sesuai dengan dimensi ciri-ciri

26


tanggung jawab terhadap tugas pada anak-

Keakraban dapat terjalin bila mereka

anak berbakat, dimana salah satu karakteristik

merasa cukup nyaman dengan lingkungan

anak berbakat adalah ulet, sehingga mereka

asing yang dijumpainya. Bila sudah merasa

tidak mudah putus asa apabila menghadapi

nyaman,

kesulitan.

menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal

mereka

akan

dengan

mudah

Siswa-siswa ini menjalani menghadapi

ini membutuhkan waktu yang relatif, bisa cepat

tantangan akademis yang lebih berat daripada

juga bisa lama. Tapi secara umum mereka

regular dengan santai, tanpa beban stress

mampu

yang berarti.

sekitarnya.

beradaptasi

dengan

lingkungan

Iklim kompetitif yang terasa pada d. Mengenal Emosi Orang Lain.

siswa

akselerasi

ini,

rupanya

tidak

Keterampilan mengenali emosi orang

berpengaruh terhadap pola kerja mereka.

lain merupakan keterampilan bergaul dasar.

Walau masing-masing memiliki ambisi pribadi

Dimana

untuk saling mengalahkan satu sama lain,

kesuksesan

membina

hubungan

seseorang

dalam

tergantung

oleh

namun

mereka

ternyata

lebih

menyukai

keterampilan ini. Karena dengan bersikap

bekerja di dalam tim. Diakuinya hal tersebut

empati, kepercayaan serta keakraban dengan

dapat

orang lain dapat terjalin dengan mudah dan

pekerjaan. Sehingga tugas yang diberikan pun

efektif.

dapat dibagi dengan anggota tim lainnya.

mempermudah

dan

mempercepat

Agar dapat menyesuaikan diri dengan Kesimpulan

lingkungan sosialnya, siswa akselerasi yang identik dengan sikap eksklusif, sombong dan kecuekannya harus

terhadap

memiliki

lingkungan

keterampilan

Berdasarkan hasil

sosial,

telah dijelaskan di bab IV, bahwasanya

hal

dinamika kecerdasan emosi siswa akselerasi

mengenal emosi orang lain ini. Walaupun

di SDN Kendangsari I Surabaya, dapat

kecenderungan

agaknya

disimpulkan melalui dimensi berikut : (1)

sedikit berlaku pada siswa akselerasi di

Mengenal emosi : siswa akselerasi tidak

sekolah ini. Ada beberapa emosi yang dapat

memiliki kesulitan dalam mengenal emosi

mereka tangkap namun tidak sedikit pula

yang terjadi dalam dirinya, mereka juga

kecenderungan

mengetahui hal yang menjadi kelemahan dan

individualis

yang

ada

dalam

penelitian yang

juga

adalah

cuek

terhadap lingkungan.

kelebihan mereka. (2) Mengelola emosi : dalam menyalurkan emosi, terutama emosi

e. Membina Hubungan Walaupun

lingkungan

negatif mereka memiliki cara tersendiri untuk pergaulan

menghilangkan emosi negatifnya tersebut.

mereka menjadi terbatas semenjak berada di

Ada yang bersikap wajar, namun juga ada

kelas akselerasi, mereka tetap dapat membina

yang

hubungan dengan teman-temannya semasa

memiliki kesulitan berarti dalam menyesuaikan

reguler. Mereka pun masih berteman dengan

diri

temannya semasa kecil yang sudah tidak

Memotivasi diri : beban studi yang lebih berat

sekelas bahkan lain sekolah.

daripada

27

bertindak

dengan

destruktif.

lingkungan

siswa

reguler,

Mereka

tidak

sekitarnya.

tidak

(3)

lantas


Saran

menyurutkan mereka untuk mencapai prestasi tertinggi. Kegagalan yang dialaminya dapat

Dari hasil penelitian dan kesimpulan

disikapi dengan positif sehingga mereka dapat

yang ada, maka ada beberapa catatan penting

langsung

yang dapat dijadikan masukan, yaitu :

bangkit

dan

memperbaiki

kegagalannya tersebut. (4) Mengenal emosi

1. Bagi Orangtua :

oranglain : walau ada kecenderungan kurang

Siswa akselerasi memerlukan perhatian

peka terhadap perubahan emosi oranglain,

dan penanganan yang khusus, mengingat

namun pada emosi tertentu mereka dapat

potensi keberbakatan yang mereka miliki

merasakannya, dan bersikap cukup empati.

perlu diakomodasi secara optimal. Bentuk

(5)

pendampingan

Membina

hubungan

:

keterbatasan

yang

orangtua

akselerasi, tidak lantas membuat siswa ini

perkembangan anak secara periodik, baik

memutus

perkembangan dari sisi akademis maupun

dengan

teman-

dengan

dilakukan

pergaulan yang dialami selama di kelas

pertemanannya

adalah

dapat

mengevalusi

teman diluar kelas akselerasi. Walaupun

sosioemosionalnya.

mereka mengaku lebih senang berteman dan

orangtua perlu memfasilitasi minat anak

bergaul sesama siswa akselerasi.

dan

Disamping menemukan

itu

beberapa

peneliti temuan

Disamping

memberikan

pengarahan

itu

yang

juga

memadai tanpa bermaksud membatasi,

penelitian,

agar potensi yang ada dapat tersalurkan

diantaranya : (1) Dinamika kecerdasan emosi

dengan tepat.

ini tidak hanya dilihat saat siswa tersebut berada di lingkungan sekolah saja, namun

2. Bagi Guru :

juga

Guru

bagaimana

lingkungan

interaksinya

keluarga

di

sebagai

pengganti

orangtua

di

lingkungan

sekolah, perlu memperhatikan siswa satu

sosialnya. Dari hasil yang ada dinamika ini

per satu, tidak hanya secara akademis

sedikit

saja namun juga meliputi permasalahan

banyak

maupun

baik

juga

dipengaruhi

oleh

kebiasaan dan pola asuh yang mereka terima

ataupun

dari keluarga dalam hal ini orangtua. (2)

mengetahui

Keterampilan dalam memotivasi diri, sangat

keseharian

mempengaruhi motivasi berprestasi mereka di

dengan

kelas.

memiliki

sekolah. Dalam hal ini guru tidak hanya

dorongan berprestasi yang cukup besar,

bertindak sebagai pendidik atau pengajar

dengan

namun

Siswa-siswa

iklim

Keterbatasan

kelas

berbakat

yang

pergaulan

ini

kompetitif. yang

(3)

terjadi,

kesulitan latar siswa

sikap

juga

konselor

yang belakang dirumah,

yang

guru

bagi

dialami, serta

kaitannya

ditampakkan

bertindak

permasalahan

di

sebagai yang

membuat mereka memiliki kecenderungan

dihadapi siswa baik permasalahan yang

berperilaku eksklusif. Walaupun disisi lain

bersifat akademis maupun permasalahan

mereka juga masih dapat membina hubungan

sosial.

dengan teman-teman di luar kelas akselerasi. 3. Bagi Pihak Penyelenggara Pendidikan Bagi dalam

28

pihak hal

penyelenggara ini

sekolah,

pendidikan keberadaan


program akselerasi perlu disikapi secara

Clark,

proporsional. Tidak hanya menyangkut pemberian fasilitas yang menunjang siswa dari segi akademis saja, namun juga

Denzin, N. K. & Yvonna, S. (1994). Handbook of Qualitative Research. California: Sage Publication Inc.

pemberian fasilitas lainnya yang juga sangat dibutuhkan oleh siswa. Sarana tersebut

dapat

psikososial,

berupa

Fauziah, N (2006). Dinamika Kecerdasan Emosi Pada Siswa Akselerasi di SDN Kendangsari 1 Surabaya. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

pendampingan

dengan

mengadakan

konseling bagi siswa yang difasilitasi oleh

Goleman, D. (2002). Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

konselor yang ahli dibidangnya. Juga diperlukan forum evaluasi bersama yang

Hawadi,

tidak hanya melibatkan siswa, dan guru saja, melainkan melibatkan semua pihak

pendidikan ataupun juga orangtua, yang periodik.

Diharapkan

dengan

adanya forum ini, perkembangan siswa

Kamdi, W. Kelas Akselerasi dan Diskriminasi Anak. http://www.kompas.com /kompas-cetak /0408/09/ Didaktika/1193374.htm. Diakses tanggal : 22 Januari 2006

baik didalam lingkup akademis maupun sosial dapat senantiasa dipantau oleh pihak-pihak yang terkait.

Munandar, U. (2002). Kreativitas & Keberbakatan. Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif & Bakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

4. Bagi Masyarakat Dukungan

sosial

dari

terhadap

keberadaan

R. A. (2001). Keberbakatan Intelektual. Jakarta : PT Grasindo

_________, (2002). Identifikasi Keberbakatan Intelektual Melalui Metode Non-Tes. Dengan Pendekatan Konsep Keberbakatan Renzulli. Jakarta: PT Grasindo

baik dari sekolah sebagai penyelenggara

sifatnya

B. (1988). Growing Up Gifted. Developing the Potential of Children at Home and School. Los Angeles : Merrill Publishing Company

masyarakat

dibutuhkan, hal ini untuk pengoptimalan

Sternberg, R. J. & Davidson, J. E. (1986). Conceptions of Giftedness. Cambridge : Cambridge University Press

tumbuh

Sulaiman,

siswa-siswa

berbakat didalam kelas akselerasi sangat

kembang

siswa.

Dukungan

tersebut dapat berupa pereduksian istilahistilah

yang

destruktif

seperti

stigma

Yoenanto, N. H. (2003). Kontribusi Kecerdasan Emosi Terhadap Keefektifan Kepemimpinan Kepala Sekolah dasar Negeri di Kota Surabaya. Tesis (tidak diterbitkan). Malang : Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang

arogan, sombong, ekslkusif dan lainnya. Sehingga secara mental, siswa tidak terbebani dengan stigma tersebut yang hanya akan membuat siswa terjebak dalam

sikap

maupun

perilaku

A. (2001). Anak Berbakat. Bagaimana Cara Mengetahui Membinanya. Jakarta: PT Gema Insani Press

yang

kontraproduktif.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar (SD, SMP, dan SMA). Satu Model Pendidikan Bagi Peserta Didik Yang memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa. Jakarta:

Daftar Pustaka Albin, R. S. (1986). Emosi : Bagaimana Mengenal, Menerima, dan Mengarahkannya. Yogyakarta : Kanisius

29


Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pendampingan Psikososial Menjembataninya? Diakses tanggal : 22 Januari 2006

http://www.indomedia.com/poskup/2004/09/01 /edisi01/0109pin2.htm. Menyambut Program Akselerasi Pendidikan. Diakses tanggal : 22 Januari 2006

http://www.kompas.com/kompascetak/0208/06/jateng/sist26.htm. Sistem Pendidikan Belum Memadai Bagi Siswa Berbakat Tinggi. Diakses tanggal : 22 Januari 2006

http://psikologi.ugm.ac.id/Lustrum8/b2/index.p hp?cat=2. Pro-Kontra Program Akselerasi Sekolah, Dapatkah

http://secapramana.tripod.com/. Intelligence.

30

Emotional


HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI SOSIAL DENGAN STRES PADA SISWA AKSELERASI Pergiwati Pristiana Kusuma dan Uly Gusniarti Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara penyesuaian diri sosial dengan stres pada siswa akselerasi. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara penyesuaian diri sosial dengan stres pada siswa akselerasi. Semakin tinggi penyesuaian diri sosial yang dimiliki oleh siswa maka semakin rendah stres, sebaliknya semakin rendah penyesuaian diri sosial yang dimiliki oleh siswa maka semakin tinggi stres.Subjek dalam penelitian ini adalah siswa sekolah menengah atas program akselerasi baik laki laki maupun perempuan yang duduk di kelas akselerasi sekolah menengah atas selama kurang dari 1 tahun. Subjek yang digunakan sebagai responden dalam penelitian ini berjumlah 50 orang. Adapun skala yang digunakan pada variabel penyesuaian diri ini mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Kusumadewi (2004) yang sebagian aitem-aitemnya diadaptasi dan dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan aspek - aspek yang dikemukakan oleh Schneider (1964). Skala stres yang digunakan adalah skala yang dimodifikasi dan diadaptasi dari alat ukur yang sudah ada yaitu skala yang sebagian aitem-aitemnya dibuat oleh Widuri (1995) dengan mengacu pada aspek-aspek stres yang dikemukakan oleh Sarafino (1990) dan Cridder (1983). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan fasilitas program SPSS 12 For Windows. Hasil analisis data dengan tekhnik korelasi Product Moment dari Karl Pearson menunjukkan nilai r = -0,624 p = 0.000 (p<0.01). Artinya, ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara penyesuaian diri sosial dengan stres pada siswa akselerasi. Semakin tinggi penyesuaian diri sosial yang dimiliki oleh siswa maka semakin rendah stres, sebaliknya semakin rendah penyesuaian diri sosial yang dimiliki oleh siswa maka semakin tinggi stres. Sehingga hipotesis penelitian ini diterima. Analisis koefisien determinasi (R2) pada korelasi antara penyesuaian diri dengan stres menunjukkan angka sebesar 0,39, berarti penyesuaian diri sosial memiliki sumbangan efektif sebesar 39 % terhadap stres. Kata kunci: Penyesuaian diri sosial, Stres, Siswa akselerasi

Pendahuluan

kurang

Penyelenggaraan

pendidikan

di

memperhatikan

pelajaran,

bahkan

mungkin saja siswa tersebut mengganggu

Indonesia pada umumnya bersifat klasikal,

teman

yang artinya semua siswa di dalam kelas

teman yang lainnya. Keadaan

tersebut

menunjukkan

diperlakukan sama. Kelemahan yang tampak

bahwa siswa yang mempunyai kemampuan

adalah tidak terakomodasikannya kebutuhan

luar biasa membutuhkan penanganan khusus

individual siswa yang pada dasarnya tidak

dengan

sama baik inteligensi, bakat dan minatnya.

dalam

Siswa yang relatif lebih cepat dari yang lain

memungkinkan siswa menyalurkan bakatnya

tidak terlayani secara baik sehingga potensi

dan dapat menyelesaikan pendidikan lebih

yang dimiliki tidak tersalur dan berkembang

cepat daripada seharusnya. Siswa tersebut

secara

mampu

membutuhkan program khusus agar dapat

menangkap pelajaran lebih cepat daripada

mengembangkan dirinya secara optimal, dan

siswa lain kemungkinan akan merasa bosan di

sebisa

kelas karena menurutnya penyampaian materi

pendidikan lebih cepat daripada program

yang diberikan guru terlalu lambat, sehingga

reguler.

optimal.

Siswa

yang

siswa tersebut akan merasa terlalu santai dan

31

menyalurkan suatu

kelas

mungkin

kecerdasan khusus

dapat

yang

mereka dapat

menyelesaikan


Belakangan

ini

keberadaan

kelas

lebih

tinggi

mereka

(Fadillah,

yang mengatakan bahwa kelas akselerasi bisa

memahami kondisi yang terjadi pada anaknya

menampung siswa yang memang punya

di sekolah, kemungkinan anak akan merasa

kecerdasan jauh di atas rata-rata anak-anak

tertekan

seusianya. Namun, tak sedikit pula yang

tersebut menyebabkan individu mengalami

berpendapat bahwa kelas akselerasi justru

stres. (Kedaulatan Rakyat, 19/03/ 2004).

yang

terlalu

banyak

mengembangkan

dan

tidak

kemampuan

Jika

dengan

orang

tekanan

akselerasi kembali menjadi perbincangan. Ada

membuat siswanya tertekan karena kurikulum

2004).

mengalami

tua

lingkungannya.

tidak

Kondisi

Stres dapat bersumber dari dalam diri

bisa

individu,

keluarga,

komunitas,

dan

sosialisasi

masyarakat. Stres yang muncul dari dalam diri

mereka. Bahkan ada pula yang menyebutkan

individu merupakan penilaian dari kekuatan

bahwa justru sebagian orangtualah yang

motivasional

mendorong agar anaknya masuk ke kelas

seseorang mengalami konflik (Sarafino, 1990).

tersebut (www.kompas.com 15/08/2004).

Menurut

yang

laporan

melawan

analisis

dan

hasil

bila

supervisi

Menurut wawancara singkat peneliti

program percepatan belajar tahun 2004, ada

dengan guru BK SMAN 3 Yogyakarta, siswa

beberapa murid yang mengaku tidak dapat

akselerasi memang memiliki beban yang lebih

membagi waktu antara belajar dan bermain,

banyak karena kurikulum yang diberikan jauh

berikut

lebih banyak daripada siswa reguler. Sistem

mengenai hal tersebut, "Tidak, karena pulang

degradasi dan pengaruh lingkungan, seperti

sekolah jam 4 sore olahraga belajar s/d 9 gak

interaksi siswa terhadap teman sebayanya

ada

maupun interaksi siswa dengan para guru,

(www.google.com)

jawaban

waktu

siswa

main

ketika

kecuali

hari

ditanyakan

minggu.".

juga mempengaruhi adanya tekanan pada

Stres juga dapat bersumber dari

siswa akselerasi. Hal itu disebabkan karena

lingkungan keluarga seperti menurut laporan

siswa akselerasi dipandang sebagai siswa

analisis hasil supervisi program percepatan

yang mempunyai tingkat inteligensi lebih tinggi

belajar tahun 2004, ada siswa yang mengikuti

dibandingkan siswa reguler, sehingga adanya

akselerasi karena keinginan orangtua, berikut

kesenjangan perlakuan guru terhadap siswa

komentar

siswa

ketika

akselerasi

tersebut,

Saya

ikut

tersebut.

Guru

mengharapkan

diwawancarai hanya

ingin

hal tahu

siswa akselerasi dapat menjadi contoh bagi

kemampuan saya, menjajal hal yang baru,

siswa reguler.

namun motivasi terbesar tetap datang dari

Penelitian menjelaskan mengalami

Sitii

Scholichah

bahwa perasaan

siswa takut

(2005)

orangtua...Dominannya

akselerasii

gagal,

karena

digertak

bapak (www.google.com).

kaget,

Faktor

faktor yang menyebabkan

jenuh, merasa terbebani, dan takut tidak bisa

timbulnya stres diantaranya adalah faktor

membahagiakan

lingkungan. Hal ini dikarenakan sifat

dikarenakan siswa

orang

tua.

Hal

ini

siswa tersebut terbiasa

sifat

yang melekat pada individu sejak ia dilahirkan,

mendapatkan nilai baik dan menjadi juara,

selama bertahun

sehingga ketika tidak menjadi juara atau

dikembangkan melalui interaksinya dengan

kurang menonjol di lingkungan belajar yang

lingkungan.

32

Jika

tahun dihambat atau justru

keluarga,

sekolah,

dan


lingkungan

masyarakat

bisa

melakukan

fungsinya,

maka

keberhasilan

kebahagiaan

individu

dalam

tercapai.

Jika

seseorang

tidak,

akan

dan

menurut Kartono (2000) dan Hurlock (1991)

akan

adalah keberhasilan seseorang menyesuaikan

kepribadian

diri terhadap orang lain pada umumnya dan

hidup

maka

penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial

terhambat

sehingga

terhadap

kelompok

pada

khususnya.

penyesuaian sosial dalam masa dewasa akan

Penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial

sulit bahkan tidak mungkin tercapai. Salah

ini meliputi kesanggupan untuk mereaksi

satu hal yang masih sering diperdebatkan

secara efektif dan harmonis terhadap realitas

dalam program akselerasi adalah kesiapan

sosial

mental siswa dalam penyesuaian sosialnya.

mengadakan relasi sosial yang sehat.

Seorang

siswa

yang

pintar

dalam

segi

dan

situasi

sosial,

dan

bisa

Penyesuaian diri sosial yang dimiliki

akademis, belum tentu bisa bersikap dewasa

oleh individu memang bukan satu

dalam pola pikirnya sehingga akan sulit untuk

penentu

beradaptasi dengan lingkungan yang lebih

akselerasi. Namun dalam kelas akselerasi

dewasa

yang menuntut siswa untuk dapat mengikuti

daripada

usianya

sekarang

(www.pikiran-rakyat.com).

terjadinya

stres

satunya

pada

siswa

kurikulum yang telah ditetapkan membutuhkan

Menjadi murid yang duduk di kelas

kemampuan penyesuaian diri sosial yang baik.

akselerasi merupakan beban yang relatif

Dengan

berat,

penyesuaian diri sosialnya diharapkan individu

apalagi

kemampuan

jika

tidak

penyesuaian

didukung diri

oleh

terhadap

meningkatkan

dapat

berinteraksi

kemampuan

dengan

lingkungan

lingkungan sosialnya. Murid akselerasi harus

keluarga, sekolah dan masyarakat sehingga

mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan

individu

untuk mempertahankan prestasi di kelasnya.

mungkin terjadi. Penyesuaian diri merupakan

Selain

indikator

itu,

murid

juga

perlu

memiliki

dapat

meminimalisir

kesehatan

mental,

juga

mampu

yang

dapat

kemampuan bersosialisasi yang baik dengan

membuat

teman

temannya dan menjadikan aktivitas

kehidupan tanpa adanya gangguan atau

belajar lebih santai sehingga tidak terlalu

dengan kata lain dapat dikatakan bahwa

terbebani dengan status murid akselerasi.

dengan penyesuaian diri yang baik membawa

Menurut Katherina, murid kelas 3-5/18 SMAK

individu pada kehidupan yang sehat secara

1 BPK Penabur Bandung, siswa akselerasi

psikis. Apabila individu mampu menyesuaikan

kerap mengalami stres dan banyak yang

diri dengan lingkungannya berarti ia mampu

mengundurkan diri ke kelas reguler karena

menyelaraskan

padatnya kurikulum dan lingkungan sosial

tuntutan lingkungannya sehingga ia tidak akan

yang menekan (www.pikiran-rakyat.com).

merasa stres dalam dirinya.

Schneiders (1964) menyatakan bahwa

individu

stres

menjalani

kebutuhannya

dengan

Rendahnya tingkat penyesuaian diri

penyesuaian diri merupakan suatu proses

akan

yang melibatkan proses mental dan tingkah

akselerasi.

laku

untuk

penyesuaian diri akan menurunkan stres bagi

menguasai dan mengatasi dengan baik segala

siswa dalam kelas akselerasi. Berdasarkan

tuntutan lingkungan sekitarnya. Sedangkan

uraian di atas mengenai pentingnya peranan

di

mana

individu

berusaha

33

meningkatkan

stres

Sebaliknya,

pada

tingginya

siswa tingkat


kemampuan penyesuaian diri sosial dalam

bahwa respon stres dapat berupa respon

timbulnya stres pada individu, maka peneliti

fisiologis, kognitif, emosi, dan perilaku.

mempunyai keinginan untuk mendapatkan bukti

empirik

adanya

hubungan

Komponen

komponen stres terdiri

antara

dari beberapa bagian yaitu : (a) stressor, yang

penyesuaian diri sosial dengan stres pada

dipandang sebagai segala sesuatu atau unsur

siswa akselerasi.

yang

menimbulkan

stres,

dapat

bersifat

biologis, psikologis maupun sosial yang dapat Rumusan Masalah

berupa hal atau kejadian, peristiwa, orang,

Permasalahan

yang

dikemukakan

keadaan

atau

lingkungan

atau

dapat

yang

dirasa

dalam penelitian ini adalah apakah ada

mengancam

merugikan

bagi

Hubungan Antara Penyesuaian Diri Sosial

individu, (b) kemudian adanya organisme,

Dengan Stres Pada Siswa Akselerasi.

yang dimaksud disini adalah manusia, (c) dan respon dari individu atau yang menurut

Tinjauan Teoritis

Harjana (1994) disebut dengan transactionis

Stress

yaitu reaksi individu terhadap stres. Stres

keadaan

Menurut Tyrer (Widuri,1995), bahwa

tertekan baik fisik maupun psikologis (Chaplin,

yang menentukan stres atau tidaknya individu

J.P

adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan

,

merupakan

2001).

Stres

suatu

terjadi

jika

individu

dihadapkan dengan peristiwa yang mereka

perubahan

rasakan sebagai mengancam, kesehatan fisik,

Cox (Crider,1983) sejumlah stimulus yang

dan psikologisnya. Peristiwa itu dinamakan

khas dapat menimbulkan stres, contohnya

stressor dan reaksi individu terhadap peristiwa

kejutan,

tersebut dinamakan respon stres (Atkinson,

kekacauan,

1993). Stres menurut Sarafino (1990) dapat

kelompok. Selanjutnya karakteristik stimulus

diklasifikasikan dalam berbagai macam sudut

yang menyebabkan stres yaitu stimulus yang

pandang diantaranya: Stres sebagai suatu

terlalu kuat melebihi kemampuan adaptasi,

stimulus

atau

mempengaruhi dipandang

variabel keadaan

sebagai

tergantung,

dan

ancaman

terhadap

pengasingan

harga

dan

diri,

tekanan

bebas

yang

stimulus yang menghasilkan respon yang

individu,

stres

bertentangan dan individu yang tidak dapat

respon

stres

perubahan yang terjadi. Menurut

atau

variabel

merupakan

menguasai lingkungannya.

hasil

Sutherland

and

Cooper

(Apriani,

interaksi dengan lingkungan (Smet, 1994).

2004), kebanyakan definisi tentang stres

Menurut Taylor (1995), stres merupakan hasil

dibagi 3 macam :

dari

a. Definisi yang menekankan stres sebagai

proses

dengan

penilaian

sumber

individu

sumber

berkaitan

pribadi

yang

stimulus, yaitu kekuatan atau dorongan

dimilikinya untuk menghadapi tuntutan dari

terhadap

individu

yang

menimbulkan

lingkungan. Menurut Sarafino (1990) ada dua

reaksi ketegangan atau perubahan

komponen dari stres yaitu respon psikologis

perubahan fisik pada individu.

yang ditunjukkan dengan perilaku, pola pikir,

b. Definisi yang menekankan stres sebagai

dan emosi serta respon fisiologis. Sependapat

respon yaitu respon individu baik yang

dengan hal itu, Taylor (1995) mengatakan

bersifat

34

fisiologis

maupun

psikologis


terhadap sumber stres yang berasal dari

yang

lingkungan

berhadapan dengan suatu sensor.

sumber

stres

tersebut

merupakan situasi atau peristiwa dari luar

c.

mengganggu

ketika

individu

b. Emosi

yang bersifat mengancam individu.

Emosi merupakan reaksi yang dirasakan

Definisi yang menekankan stres sebagai

individu

interaksi antara stimulus dan respon yaitu

psikologis dalam suatu situasi, misalnya

stres merupakan akibat dari interaksi

ketakutan.

antara stimulus bersumber dari lingkungan

c.

sebagai

ketidaknyamanan

Perilaku sosial

dan respon individu terhadap stimulus

Stres dapat mengubah individu dalam

tersebut. Stres dipandang sebagai bentuk

perilaku

interaksi yang unik antara stimulus dan

Jadi dapat disimpulkan bahwa aspek

kecenderungan individu untuk merespon

aspek stres mencakup emosi, fungsi kognisi,

dengan cara tertentu.

Faktor

gangguan fisiologis, dan perilaku sosial.

Faktor yang mempengaruhi Stres

Penyesuaian Diri Sosial

Menurut Davidson dan Coper (Effendi, 2006), faktor

Schneiders (1964) menyatakan bahwa

faktor yang mempengaruhi

penyesuaian diri sosial merupakan suatu

stres secara umum yaitu bersumber dari diri

proses yang melibatkan proses mental dan

pribadi

yang

tingkah laku di mana individu berusaha untuk

bersangkutan dan faktor eksternal (lingkungan

menguasai dan mengatasi dengan baik segala

rumah, sosial, maupun tempat kerja individu

tuntutan lingkungan sekitarnya. Penyesuaian

itu sendiri). Sedangkan menurut Sarafino

ditentukan oleh bagaimana seseorang dapat

(1990), stres bersumber dari dalam diri

bergaul dengan diri dan orang lain secara

individu,

baik. Tanggapan

(internal)

atau

keluarga,

individu

komunitas,

dan

masyarakat.

tanggapan terhadap orang

lain atau lingkungan sosial pada umumnya

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor

dapat dipandang sebagai cermin apakah

faktor yang mempengaruhi stres pada diri

seseorang dapat mengadakan penyesuaian

individu adalah kondisi internal dan kondisi

dengan baik atau tidak. Penyesuaian diri juga

eksternal seperti keluarga dan lingkungan

dapat diartikan sebagai variasi dalam kegiatan

sekitar.

organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan memuaskan kebutuhan

Aspek

aspek stres

kebutuhan atau

kemampuan menegakkan hubungan yang

Menurut Sarafino (1990), ada 3 aspek

harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial

yang tercakup dalam stres, antara

(Chaplin, 1989).

lain :

Menurut Eysenck (Puspitasari, 2005)

a. Kognisi

penyesuaian diri atau adjustment adalah suatu

Stres yang terjadi disebabkan oleh adanya

proses

gangguan

mengerti, dan berusaha untuk melakukan apa

kognisi,

gangguan

kognisi

belajar,

berasal dari tingkat rangsangan emosional

yang

tinggi yang dapat terjadi akibat pikiran

maupun

35

dilakukan

yaitu

belajar

dan

lingkungannya.

memahami,

diinginkan Menurut

individu Tallent


(1978), bahwa ada individu yang berhasil

5. Penguasaan dan kematangan emosional,

menyesuaikan diri tetapi ada juga yang

yaitu bahwa penyesuaian diri menuntut

terhambat penyesuaian dirinya. Penyesuaian

kemampuan individu untuk memiliki emosi

diri yang baik akan memberikan kepuasan

yang tepat pada setiap situasi. Individu

yang lebih besar bagi kehidupan seseorang.

perlu

Hanya individu yang mempunyai kepribadian

terhadap emosinya, agar penyesuaian diri

kuat yang mampu menyesuaikan diri secara

yang sehat dapat tercapai.

baik.

untuk

melakukan

pengontrolan

Pada dasarnya penyesuaian yang Sedangkan Schneiders (1964) dan

sehat harus dipelajari selama hidup. Proses

Kartono (1989), penyesuaian diri mengandung

belajar tersebut bertujuan untuk memahami,

beberapa penafsiran, yaitu:

mengerti

1. Adaptation, artinya bahwa penyesuaian

lingkungannya.

serta

menerima Melalui

proses

seseorang

untuk beradaptasi. Individu yang memiliki

tindakan

penyesuaian diri yang baik, akan memiliki

keterbatasan yang dimilikinya serta dapat

hubungan

menerima

lingkungannya

Dengan

demikian

memuaskan

lingkungannya.

Kartono

menambahkan

bahwa

merupakan

kemampuan

dengan (1989) adaptasi

untuk

merugikan

untuk

belajar,

diri dipandang sebagai suatu kemampuan

yang

belajar

kekurangan

menyesuaikan

tindakannya dengan potensi dan

diri

secara

objektif.

tindakannya

sendiri

dan

tidak

orang

lain.

dapat

Penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial

mempertahankan keberadaannya dalam

menurut Kartono (2000) dan Hurlock (1991)

mengadakan

adalah keberhasilan seseorang menyesuaian

hubungan

dengan

lingkungan.

diri

2. Conformity, yaitu bahwa dalam proses penyesuaian

diri,

individu

dengan

umumnya

harus

khususnya.

terhadap

dan

orang

terhadap

Penyesuaian

lain

pada

kelompok

pada

diri

teradap

mempertimbangkan norma sosial dan hati

lingkungan sosial merupakan kesanggupan

nuraninya.

untuk mereaksi secara efektif dan harmonis

3. Mastery, yaitu bahwa penyesuaian diri

terhadap realitas sosial dan situasi sosial, dan

merupakan kemampuan individu dalam

bisa mengadakan relasi sosial yang sehat.

membuat

Bisa menghargai pribadi lain, dan menghargai

suatu

mengorganisir sedemikian

perencanaan respon

respon

hak sendiri di dalam masyarakat. Bisa

bergaul dengan orang lain dengan jalan

menanggapi

membina persahabatan yang kekal, sebab

segala macam konflik, kesulitan, masalah

sikap keras kepala, mau menang sendiri, dan

hidup, dan frustasi

tidak ramah adalah bentuk penyesuaian diri

menguasai

sehingga

hak

individu

mampu

rupa,

dan

atau

frustasi dengan cara

yang efisien.

yang kaku dan negatif dan bisa menimbulkan

4. Individual Variation, yaitu bahwa terdapat

banyak kesulitan (Kartono, 2000).

perbedaan yang bersifat individual pada perilaku

dan

respon

individu

Menurut

dalam

Schneider

proses

penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial

meghadapi berbagai masalah.

membutuhkan kemampuan individu dalam memecahkan masalah secara sehat dan

36


efisien.

Penyesuaian

diri

yang

berhasil

a. Penyesuaian diri terhadap keluarga

didasari oleh adanya kematangan dalam diri

Penyesuaian diri yang baik terhadap

individu terhadap tuntutan - tuntutan dan

lingkungan keluarga memiliki ciri -

norma - norma sosial yang akan membawa

sebagai berikut:

individu pada kematangan sosial yang lebih

1.

Adanya hubungan yg sehat antar

bersifat dewasa. Penyesuaian diri bukanlah

anggota

merupakan sesuatu yang baik atau buruk,

penolakan

tetapi

terhadap anak

penggambaran

secara

sederhana

ciri

keluarga,

tidak

(rejection)

ada

orang

tua

anaknya, tidak ada

sebagai suatu proses dengan menyertakan

permusuhan, rasa benci atau iri hati

mental dan tingkah laku, dimana setiap orang

antar anggota keluarga.

bekerja

keras

untuk

sukses

dalam

2.

Adanya penerimaan otoritas orang

menghadapi kebutuhan, tekanan, frustasi,

tua, hal ini penting untuk kestabilan

konflik

rumah

dan

juga

untuk

menyeimbangkan

tangga

dan

anak

wajib

tuntutan yang dibebankan pada seseorng

menerima disiplin orang tua secara

ketika

logis.

hidup.

Penyesuaian

diri

terhadap

lingkungan sosial merupakan kemampuan untuk

bereaksi

secara

adekuat

3.

terhadap

Kemampuan tanggung

untuk

jawab

mengemban

dan

penerimaan

kenyataan, situasi, dan hubungan sosial.

terhadap pembatasan atau larangan

Untuk

yg ada di dalam peraturan keluarga.

mengembangkan

kemampuan

individu harus mau menghormati hak

ini hak

4.

Adanya kemauan saling membantu

orang lain, belajar bergaul dengan baik,

antara anggota keluarga baik secara

mengembangkan

perorangan maupun kelompok.

persahabatan,

berpartisipasi dalam aktivitas

dan

Kebebasan

dari

Selain itu juga mau menaruh perhatian

emosional

secara

terhadap

menumbuhkan rasa mandiri.

kesejahteraan

aktivitas sosial.

orang

lain

5.

dan

bersedia memberikan pertolongan kepada

b. Penyesuaian

orang lain (Schneiders, 1964). Jadi

dapat

diri

ikatan

secara

bertahap

terhadap

dan

lingkungan

sekolah

disimpulkan

bahwa

Penyesuaian diri yang baik terhadap

penyesuaian diri sosial adalah proses belajar

lingkungan sekolah memiliki ciri

memahami, mengerti, dan berusaha untuk

sebagai berikut:

melakukan apa yang diinginkan lingkungannya

1.

ciri

Adanya perhatian, penerimaan, minat

sehingga individu dapat menyesuaikan diri

dan partisipasi terhadap fungsi dan

dengan perubahan

aktivitas sekolah.

dalam

perubahan yang terjadi

lingkungannya,

baik

lingkungan

2.

keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Adanya hubungan yang baik dengan komponen sekolah seperti guru, dan teman sebaya.

Aspek

Aspek Penyesuaian Diri Sosial

Arkof

Menurut Schneider (1964) aspek

mengatakan

(Kusumadewi,2004) bahwa

remaja

dikatakan

aspek penyesuaian diri sosial adalah sebagai

mempunyai penyesuaian diri yang baik di

berikut:

sekolah apabila remaja tersebut menunjukkan

37


kemajuan yang memuaskan di sekolahnya

akan memicu timbulnya tekanan dalam diri

atau remaja tersebut

individu. Dalam hal ini orang tua menuntut

dapat menciptakan

hubungan yang baik dengan guru teman

guru,

siswa agar terus mempertahankan prestasi

temannya di sekolah, serta peraturan

dan

peraturan di sekolah.

keberadaan

akslelerasi.

siswa

Tuntutan

dalam

itu

kelas

menyebabkan

timbulnya tekanan dalam diri siswa akselerasi. c.

Penyesuaian

diri

terhadap

lingkungan

Menurut Taylor (1995), stres merupakan hasil

masyarakat

dari

proses

penilaian

dengan

lingkungan masyarakat memiliki ciri - ciri

dimilikinya untuk menghadapi tuntutan dari

mengenal dan menghormati orang lain

lingkungan.

mampu

mengembangkan

sifat

Menurut

sumber

berkaitan

Penyesuaian diri yang baik terhadap

serta

sumber

individu

Arkof

yang

(Kusumadewi,2004)

bersahabat, mempunyai perhatian dan

mengatakan

mampu bersimpati dengan orang lain,

mempunyai penyesuaian diri yang baik di

bersikap hormat terhadap hukum, tradisi,

sekolah apabila remaja tersebut menunjukkan

dan adat istiadat.

kemajuan yang memuaskan di sekolahnya

Maka aspek

aspek penyesuaian diri

bahwa

pribadi

remaja

atau remaja tersebut dapat

dikatakan

menciptakan

sosial, antara lain: (a)

Penyesuaian diri

hubungan yang baik dengan guru

terhadap

Penyesuaian

teman

keluarga,

(b)

diri

terhadap lingkungan sekolah, (c) Penyesuaian

guru,

temannya di sekolah, serta peraturan

peraturan di sekolah. Individu juga dapat

diri terhadap lingkungan masyarakat.

berpartisipasi dalam kegiatan

kegiatan yang

diadakan di sekolah. Kemampuan sosialisasi Hubungan Antara Penyesuaian Diri Sosial

siswa juga berpengaruh terhadap proses

Dengan Stres Pada Siswa Akselerasi

penyesuaian diri. Siswa akselerasi harus

Komunikasi antara orang tua dan

bergaul dengan teman

teman yang usianya

anak memegang peranan penting di dalam

jauh diatas mereka, jika individu tidak memiliki

membantu dan mendampingi remaja pada

kemampuan

saat mengalami perubahan

lingkungan sosial yang baik maka hal itu akan

perubahan, baik

penyesuaian

mengganggu

Individu

lingkungan sosial. Siswa akselerasi dipandang

mampu

menyesuaikan diri

yang

sebagai

berinteraksi dengan baik dengan seluruh

inteligensi lebih tinggi dibandingkan siswa

anggota keluarga tanpa adanya penolakan

reguler,

terhadap otoritas orang tua. Individu juga

perlakuan guru terhadap siswa akselerasi

mampu mengemban tanggung jawab yang

tersebut.

diberikan dan bersikap mandiri. Jika individu

akselerasi dapat menjadi contoh bagi siswa

tidak dapat melakukan peran dan tanggung

reguler.

jawab sebagai seorang anak berarti individu

tekanan dalam diri siswa akselerasi. Menurut

tidak dapat melakukan penyesuaian diri yang

Sarafino (1990), interaksi subjek di luar

baik terhadap lingkungan keluarga dan hal itu

lingkungan keluarga melengkapi sumber

sehingga

Guru

Tuntutan

mempunyai

dengan

terhadap lingkungan keluarga akan mampu

38

siswa

individu

terhadap

secara biologis, psikologis maupun sosial. yang

interaksi

diri

adanya

kesenjangan

mengharapkan

tersebut

tingkat

siswa

menimbulkan


sumber stres, seperti di lingkungan sekolah

lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat

dan pekerjaan.

maka hal itu akan meminimalisir timbulnya

Individu yang dapat menyesuaikan diri

stres. Siswa yang melakukan penyesuaian diri

di dalam masyarakat berarti individu mampu

yang efektif dapat melakukan interaksi dengan

untuk

positif

lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat

situasi sosial sehingga

sehingga tidak mengalami tekanan berada di

kebutuhan sosial dapat terpuaskan dengan

kelas akselerasi yang menuntut siswa untuk

cara

oleh

menyelesaikan

baik

daripada kelas reguler.

memberikan

reaksi

terhadap situasi

cara

masyarakat.

yang

secara

dapat

Penyesuaian

diterima diri

yang

pendidikan

lebih

cepat

terhadap lingkungan masyarakat memiliki ciri ciri mengenal dan menghormati orang lain

Metode Penelitian

serta

Subjek Penelitian

mampu

mengembangkan

sifat

bersahabat, mempunyai perhatian dan mampu

Subjek penelitian merupakan murid

bersimpati dengan orang lain, bersikap hormat

SMA baik laki

terhadap hukum, tradisi, dan adat istiadat

baru duduk di kelas program akselerasi

(Schneider, 1964). Kondisi lingkungan juga

Sekolah Menengah Atas selama kurang dari 1

merupakan

dalam

tahun. Lama masa belajar ditetapkan kurang

melakukan proses penyesuaian diri.. Apabila

dari 1 tahun karena dengan asumsi bahwa

individu mampu menyesuaikan diri dengan

awal tahun ajaran siswa masih dalam tahap

lingkungannya

berarti

ia

mampu

penyesuaian diri dengan lingkungannya.

menyelaraskan

kebutuhannya

dengan

faktor

yang

penting

Metode Pengumpulan Data

tuntutan lingkungannya sehingga ia tidak akan merasa

stres

masyarakat

dalam

dirinya.

memandang

Lingkungan

siswa

laki maupun perempuan yang

Penelitian

akselerasi

sebagai

alat

ini

menggunakan

skala

ukur

pengumpulan

data.

skala

diharapkan

dapat

sebagai siswa yang lebih pintar daripada

Penggunaan

siswa reguler, dan secara tidak langsung

merefleksikan

menuntut siswa untuk menjadi panutan bagi

sebenarnya. Peneliti menggunakan skala stres

siswa reguler. Menurut Davidson dan Coper

yang

(Effendi,

2006),

dimodifikasi

skala

stres

yang

(1995)

dan

skala

disusun

umum

yaitu

penyesuaian diri yang di modifikasi dari alat

bersumber dari diri pribadi (internal) atau

ukur penyesuaian diri yang digunakan oleh

individu

Kusumadewi (2004).

yang

secara

bersangkutan

dan

faktor

Widuri

yang

yang

stres

oleh

dari

subjek

faktor

mempengaruhi

faktor

keadaan

eksternal (lingkungan rumah, sosial, maupun Metode Analisis Data

tempat kerja individu itu sendiri). Berdasarkan

uraian

diatas

dan

Metode analisis data yang digunakan

dengan merujuk berbagai teori yang ada,

dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif

penulis berpendapat bahwa penyesuaian diri

dengan menggunakan statistik. Tehnik statistik

sosial menjadi penting artinya terhadap stres

yang digunakan dalam menganalisis data

yang dialami oleh siswa akselerasi. Apabila

penelitian ini adalah teknik statistik korelasi

siswa dapat

product moment dari Pearson. Teknik ini

menyesuaikan diri

terhadap

39


digunakan karena dalam penelitian ini mencari

Hasil Penelitian

korelasi antara variabel tergantung dengan

Gambaran singkat mengenai data penelitian

variabel bebas. Proses analisisnya dilakukan

secara umum yang berisikan fungsi-fungsi

dengan

program

statistik dasar dari masing-masing variabel

Social

dapat dilihat secara lengkap pada tabel

menggunakan

komputer

Statistical

bantuan

Package

for

berikut.

Science (SPSS) for Windows 12.

Tabel 1. Deskripsi Data Penelitian Variabel

Hipotetik

Empirik

Xmax

Xmin

Mean

SD

Xmax

Xmin

52

13

32,5

6,5

50

31

Penyesuaian

Mean 40,42

SD 4,2813

diri

8

Stres

208

52

130

26

155

70

111,88

18,589 71

sahih

Skala stres menunjukkan 52 aitem

sebesar -0,624 dengan p=0,000 (p<0,01).

dan

Hubungan

8

aitem

gugur.

Berdasarkan

antara

kedua

bahwa

variabel

semakin

ini

deskripsi data penelitian pada tabel dapat

menunjukkan

tinggi

diketahui bahwa mean empirik untuk variabel

penyesuaian diri maka semakin rendah stres

stres sebesar 111,88 dan mean hipotetik

dan sebaliknya semakin rendah penyesuaian

sebesar 130. Mean empirik variabel stres lebih

diri maka semakin tinggi pula stres pada siswa

kecil daripada mean hipotetiknya. Hal ini

akselerasi. Jadi hipotesis yang diajukan dalam

menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian

penelitian ini dapat diterima.

ini mempunyai stres yang rendah. Diskusi

Skala penyesuaian diri terdiri dari 40 aitem yang diujicobakan, 13 aitem sahih dan

Hasil

27 aitem gugur. Berdasarkan deskripsi data

hubungan negatif

penelitian pada tabel dapat diketahui bahwa

antara penyesuaian diri dan stres pada siswa

mean empirik untuk variabel penyesuaian diri

akselerasi. Hubungan antara kedua variabel

sebesar 40,42 dan mean hipotetik sebesar

ini

32,5. Mean empirik variabel penyesuaian diri

penyesuaian diri maka semakin rendah stres

lebih besar daripada mean hipotetiknya. Hal

dan sebaliknya semakin rendah penyesuaian

ini

diri maka semakin tinggi pula stres pada siswa

menunjukkan

bahwa

subjek

dalam

penelitian

menunjukkan

menunjukkan

adanya

yang sangat signifikan

bahwa

akselerasi.

yang tinggi.

bahwa yang menentukan stres atau tidaknya

hubungan negatif

Tyrer

tinggi

penelitian ini mempunyai penyesuaian diri

Hasil penelitian menunjukkan adanya

Menurut

semakin

(Widuri,1995),

individu adalah kemampuan menyesuaikan

yang sangat signifikan

diri dengan perubahan

perubahan yang

antara penyesuaian diri dan stres pada siswa

terjadi. Menurut Cox (Crider,1983) sejumlah

akselerasi. Adanya hubungan antara kedua

stimulus yang khas dapat menimbulkan stres,

variabel, ditunjukkan oleh koefisien korelasi (r)

contohnya kejutan, ancaman terhadap harga

40


diri, kekacauan, pengasingan dan tekanan

penyesuaian diri sosial yang tinggi yaitu

kelompok. Selanjutnya karakteristik stimulus

sebanyak 31 subjek (62%). Subjek yang

yang menyebabkan stres yaitu stimulus yang

memiliki penyesuaian diri sosial yang tinggi

terlalu kuat melebihi kemampuan adaptasi,

hendaknya

stimulus yang menghasilkan respon yang

kemampuan penyesuaian diri sosialnya.

tetap

mempertahankan

bertentangan dan individu yang tidak dapat 2. Bagi pihak sekolah

menguasai lingkungannya.

Bagi pihak sekolah, penelitian ini Kesimpulan

diharapkan dapat menjadi masukan yang

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif

berarti bagi perkembangan siswa akselerasi.

yang sangat signifikan

Sebagai institusi pendidikan yang memiliki

antara penyesuaian diri sosial dengan stres

program akselerasi, sekolah diharapkan dapat

pada siswa akselerasi. Adanya hubungan

membekali siswa dengan bimbingan yang

antara

oleh

dapat membantu siswa lebih menyesuaikan

koefisien korelasi (r) sebesar -0,624 dengan

diri dan tidak mengalami tekanan akibat

p= 0,000 atau p< 0,01. Hal ini berarti semakin

kurikulum yang terlalu banyak. Hendaknya

tinggi penyesuaian diri sosial maka semakin

bimbingan dilakukan setelah proses seleksi

rendah

siswa

kedua

stres

variabel,

pada

ditunjukkan

siswa

akselerasi,

akselerasi.

Pihak

BK

juga

dapat

sebaliknya semakin rendah penyesuaian diri

melakukan komunikasi kepada orangtua siswa

sosial maka semakin tinggi stres pada siswa

untuk memberikan bimbingan yang lebih

akselerasi. Jadi hipotesis yang menyatakan

intensif kepada siswa akselerasi.

adanya hubungan negatif antara penyesuaian 3. Bagi Orang tua siswa

diri sosial dengan stres pada siswa akselerasi dapat diterima.

Bagi orang tua siswa, hendaknya lebih

Hasil analisis tambahan menunjukkan

memberikan

bimbingan

kepada

anak,

bahwa aspek penyesuaian diri sosial yang

dukungan moral, dan tidak terlalu membebani

paling

anak dengan tuntutan agar terus berprestasi.

berpengaruh

adalah

aspek

penyesuaian diri terhadap masyarakat, dan 4. Bagi Peneliti selanjutnya

aspek yang menunjukkan pengaruh yang kecil adalah

aspek

penyesuaian

diri

terhadap

Bagi peneliti lain yang tertarik dan

keluarga.

ingin mengkaji tema penyesuaian diri sosial dan

stres

diharapkan

mempertimbangkan

Saran

variabel

1. Bagi Subjek Penelitian

emosi, dukungan sosial, kecemasan, dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

motivasi

variabel lain seperti, kecerdasan

berprestasi..

Penelitian

dengan

subjek yang mengalami stres berada pada

metode kualitatif dan menggunakan metode

kategori rendah sebanyak 28 subjek (56 %).

analisis

Berdasarkan hasil penelitian ini maka subjek

dilakukan jika ingin menggunakan variabel

penelitian mengalami stres yang rendah,

yang sama. Selain itu, subjek penelitian yang

sedangkan

rata

rata

subjek

memiliki

41

yang

mendetail

sebaiknya

juga


lebih banyak dapat membuat generalisasi

Hardjana , A.M. 1994. Stress tanpa distress, Seni mengelola stress. Yogyakarta : Kanisius.

yang lebih sempurna lagi.

Kartono, K. 2000. Hygiene Mental. Bandung : Mandar Maju

Daftar Pustaka Atikarini, A. 2001. Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Tingkat Stres pada Alumni Universitas Islam Indonesia dalam Mencari Kerja. Naskah Publikasi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.

Kusumadewi, I. 2004. Hubungan Antara Penyesuaian Diri dengan Intensi Prososial pada Remaja. Skripsi ( tidak diterbitkan ). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia. Kusuma, P.P. (2007). Hubungan Antara Penyesuaian Diri Sosial dengan Stres Pada Siswa Akselerasi. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

Atkinson, R. L. 1993. Pengantar Psikologi, Edisi kesebelas, Jilid 2. Interaksara. Apriani, R. 2004. Religiusitas dan Stres Mahasiswa Muslim Unsimar Pasca Kerusuhan Poso. Naskah Publikasi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

Markam, S & Slamet, S. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI Press. Partosuwido, S.R. 1993. Penyesuaian Diri Mahasiswa Dalam Kaitannya Dengan Konsep Diri, Pusat Kendali, dan Status Perguruan Tinggi. Jurnal Psikologi, No. 1, 32 47.

Azwar, S. 1997. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Rahaju, S & Hartanti. 2003. Peran Sense of Humor Pada Dampak Negatif Stres Kerja Pada Dosen. Anima, Indonesian Psychology Journal, Vol 18, No 4, 393 408.

Azwar, S. 2005. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Chaplin, J.P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta : Rajawali Press Chauhan, S. S. 1978. Advanced Educational Psychology. Bombay : Vikas Publishing House PVT LTD. Cridder, A.B. Goethals, G.R. Kavanough, R.D. Solomon, P.R. 1983. Psychology. Illionis : Scott Foresman & Company.

Rahman, A & Latifah, U. 2001. Mengenal Lebih Dekat tentang Program Akselerasi Tingkat SLTP SMU. http//www.bpkpenabur.or.id. 06/03/2004. Ria, K. 2005. Program Akselerasi; Antara Percepatan, Diskriminan & Pemaksaan. www.pontianak.com.

Crow, L.D & Crow, A. 1951. Mental Hygiene. London : Mc.Graw Hill Book Company. Inc. Dewi,

Safitri, E. 2005. Hubungan Antara Tingkat Neurotisisme Dengan Stress. Naskah Publikasi ( tidak diterbitkan ). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.

E. 2006. Perbedaan Kecemasan Menghadapi SPMB Antara Siswa Kelas Akselerasi dengan Kelas Reguler. Naskah Publikasi ( tidak diterbitkan ). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Sarafino, E. P. 1994. Health Psychology. Second Edition. Kanada : John Willey & Sons, Inc.

Effendi, M. 2005. Stress Akibat Kerja Yang Dihadapi Guru Sekolah Luar Biasa. Jurnal. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Scolichah, S. 2005. Dimensi Sosial dan Emosi pada Siswa Akselerasi. Naskah Publikasi ( tidak diterbitkan ). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

Fadillah, 2004. Perbedaan Tipe Achievement Goal dan Tingkat Stres pada Siswa Akselerasi. Intisari Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta : Grasindo.

Greene, B. dkk. Psikologi Abnormal. Edisi kelima. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Suryaningrum, M. 2004. Hubungan antara Penyesuaian diri dengan Kesepian pada Mahasiswa Baru. Intisari Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta:

Hadi, S. 1997. Metodologi Research Jilid 1. Yogyakarta : Penerbit Andi

42


Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Widuri,E.L. 1995. Hubungan Antara Religiusitas dengan Stres pada Mahasiswa Muslim di Universitas Gajah Mada. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Tallent, N. 1978. Psychology of Adjusment, Understanding Ourselves and Others. New York: Linton Education Publishing, inc.

_______, 2006. Mereka Memang Membanggakan, tetapi ... www.kompas.com

Taylor, S. E. 1995. Health Psychology. New York : Mc Graw Hill International Editions.

_______, 2006. Suara Hati Pelajar, Kelas akselerasi. www.pikiran-rakyat.com

Utami, M.S, dkk. 2000. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Penyesuaian Diri Perempuan Pada Kehamilan Pertama. Jurnal Psikologi No.2, Hal 84 -95.

_______, 2004. Berhasilkah Program Akselerasi Kita?. www.republika.co.id _______,2004.Laporan Analisis Hasil Supervisi Program Percepatan Belajar Tahun 2004. www.google.com.

Widodo, F. T. 2004. Hubungan antara Komunikasi Interpersonal dengan Penyesuaian Diri pada Narapidana di Lembaga Permayarakatan Wirogunan Yogyakarta. Naskah Publikasi ( tidak diterbitkan ). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

http://www.kompas.com. 17/03/2004 www.depdiknas.com

43


HUBUNGAN ANTARA RASA HUMOR DENGAN KREATIVITAS VERBAL PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UI ANGKATAN 2003 Komaryatun dan Hanna Djumhana Bastaman Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana hubungan antara rasa humor mahasiswa dengan kreativitas verbal yang dimilikinya. Subyek pada penelitian ini adalah 42 mahasiswa fakultas psikologi UI angkatan 2003 yang terdiri atas 8 pria dan 34 wanita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan dua alat ukur penelitian. Alat ukur pertama berupa kuesioner humor yang berisi 34 cerita humor dengan empat pilihan respon jawaban mulai dari tidak lucu, agak lucu, lucu sampai sangat lucu. Alat ukur kedua adalah Tes Kreativitas Verbal yang merupakan tes kreativitas baku yang dikembangkan oleh S.C Utami Munandar (1997). Metode analisa data yang digunakan sesuai dengan tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara rasa humor dengan kreativitas verbal. Individu yang memiliki rasa humor tinggi memiliki kreativitas verbal yang tinggi begitu pula sebaliknya individu yang memiliki rasa humor rendah memiliki kreativitas verbal yang rendah pula. Kata Kunci / Keywords : Humor, Kreativitas Verbal Pendahuluan

Humor

Manusia

adalah

makhluk

ciptaan

pada

sebagai

umumnya

pelipur

lara

dapat

bagi

berfungsi

pendengarnya

Tuhan yang berbeda dengan makhluk lainnya.

(maupun penceritanya) (Dananjaja, 2002).

Manusia

kelebihan

Dengan humor orang dapat merasa lega dari

lainnya,

ketegangan yang dialaminya dalam hidup,

memiliki

dibandingkan

banyak

dengan

makhluk

terutma kelebihan dalam fungsi kognitif dan

sekaligus

fungsi lulur yang contohnya antara lain bahasa

memperat hubungan interpersonal (Bratawira,

dan berpikir. Selain itu manusia juga memiliki

1980/1981). Fungsi lain dari humor adalah

kualitas insani

dapat

yang hanya dimiliki oleh

merasa

dipakai

senang

untuk

dan

meningkatkan

dapat

rasa

manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk

percaya diri seseorang. Humor digunakan

lainnya yang antara lain adalah rasa humor

untuk membantu seseorang melihat rasa tidak

dan

kreativitas.

bagian

yang

manusia,

Rasa

humor

merupakan

percaya dirinya dari sudut pandang yang

penting

dalam

kehidupan

berbeda (O Connell dalam Simanjutak, 1998).

demikian

pentingnya

sehingga

Humor dalam arti luas mempunyai

Baughman (1974) menyatakan bahwa rasa

hubungan

humor adalah indera keenam.

mempunyai persamaan, tetapi humor dan

Humor dapat diartikan sebagai rasa

dengan

tertawa,

keduanya

tertawa tidaklah identik. Bila seseorang dapat

atau gejala yang merangsang kita untuk

menangkap

tertawa

sebagai

diekspresikan dalam tertawa walaupun tidak

dalam

selalu hal tersebut terjadi (Penguin English

ekspresi Ismail,

atau

cenderung

mental 1995)

(Arwah dan

tertawa Setiawan

stimulus

humor

itu

suatu

kelucuan,

biasanya

Dictionary).

merupakan ungkapan verbal dan non verbal

Humor

tidak

selalu

dipersepsikan

yang dapat menyebabkan pendengarnya atau

jenaka oleh penerimanya. Lucu atau tidaknya

pembawanya

tergantung pada konteks kesiapan emosional

merasa

tergelitik

perasaan

lucunya sehingga terdorong untuk tertawa

sang

(Danandjaja, 2002).

(www.kompas.com). Selain itu kemampuan

44

penerima

humor

itu

sendiri


antara satu orang dengan orang lainya dalam

kelancaran,

menangkap, mempersepsikan, dan merespon

berpikir,

humor dapat sangat berbeda-beda. Humor

mengelaborasi

yang tidak menimbulkan tertawa bukan berarti

memperkaya, memperinci) suatu gagasan

humor tersebut tidak lucu, melainkan ada

(Munandar, 1992). Ciri-ciri kreativitas seperti

beberapa faktor yang menghambatnya, yaitu

kelancaran,

masalah bahasa yang tidak dimengerti oleh

elaborasi merupakan ciri kreativitas yang

pendengarnya, pembawanya yang kurang

berhubungan dengan berpikir kreatif. Makin

pandai

kreatif

dalam

menyampaikannya,

keluwesan, serta

orisinalitas

dalam

kemampuan

untuk

(mengembangkan,

fleksibilitas,

seseorang

orisinalitas

ciri-ciri

tersebut

dan

makin

pendengarnya tidak mengetahui konteks dari

dimiliki. Namun ciri-ciri berpikir tersebut belum

humor tersebut, adanya represi psikologis

menjamin perwujudan kreativitas seseorang.

yang kuat dari pihak pendengarnya, dan jika

Ciri-ciri

disajikan berulangkali dihadapan orang-orang

perkembangan

yang

(Danandjaja,

pentingnya agar kreativitas seseorang dapat

2002). Hal lain yang dianggap jenaka oleh

terwujud. Ciri-ciri yang menyangkut sikap dan

sekelompok masyarakat tertentu, belum tentu

perasaan seseorang disebut ciri-ciri afektif dari

dihayati lucu oleh kelompok yang lain.

kreativiats. Motivasi atau dorongan dari dalam

pernah

mendengarnya

lain

yang afektif

berkaitan

dengan

seseorang

sama

Humor selain merupakan kemampuan

untuk berbuat sesuatu, pangabdian, atau

sosial juga dipersepsikan sebagai kemampuan

pengikatan diri terhadap tugas termasuk ciri-

kognitif seseorang karena terkait dengan

ciri afektif kreativitas.

bagaimana

seseorang

tersebut

Ciri-ciri afektif lainnya dari kreativitas

mengapresiasikan humor, memahami humor

yang sangat esensial dalam menentukan

dan

humor

prestasi kreatif seseorang ialah rasa ingin

yang

tahu, tertarik terhadap tugas-tugas mejemuk

berupa

yang dirasakan sebagai tantangan, berani

penggabungan atau asosiasi dari dua atau

mengambil risiko untuk membuat kesalahan

beberapa ide secara bebas, ide-ide yang

atau untuk dikritik oleh orang lain, tidak mudah

awalnya tidak berhubungan menjadi pemikiran

putus

yang baru karena proses asosiasi tersebut.

mempunyai

Dalam

pengalaman-pengalaman

membuat

suatu

(www.units.muohio.edu). berlangsung

dalam

proses

dikatakan

Proses

humor

terjadinya

terkandung

cara

ialah

humor berpikir

dapat yang

juga

humor,

keindahan, ingin

mencari

baru,

dapat

Munandar, 1999).

konvensional (Bratawira. 1980/1981). yang

rasa

menghargai

menghargai diri sendiri maupun orang lain (

bebas, lepas dari aturan-aturan yang kaku dan

Kreativitas

asa,

Pernyataan-pernyataan

merupakan

semakin

menguatkan

pandangan

tersebut bahwa

salah satu kualitas insani dapat diartikan

kreativitas adalah unsur yang penting dalam

sebagai

membuat

humor, karena orang kreatif mampu melihat

kombinasi baru, berdasarkan data, informasi,

hubungan yang tidak terlihat oleh orang lain.

atau unsur-unsur yang sudah ada (Munandar,

Orang kreatif juga berpikir tidak konvensional

1992). Kreativitas juga dapat dirumuskan

(Rahmat, 2000) sehingga ia dapat melihat

sebagai

kejutan,

kemampuan

kemampuan

untuk

yang

mencerminkan

45

keanehan,

ketidakmasukakalan,


kebodohan, sifat pengecohan, kejanggalan,

Indonesia,

kontradiksi, dan kenakalan dari suatu stimulus

menghimbau rasa geli, lucu karena keganjilan

humor. Orang yang kreatif ketika membaca

atau

cerita yang mengandung unsur humor mampu

paduan rasa kelucuan yang halus dalam diri

melihat cerita tersebut dari sudut pandang

manusia dan kesadaran hidup yang iba

yang berbeda dengan orang-orang yang biasa

dengan sikap simpatik. Sedangkan pengertian

sehingga ia dapat memahami cerita tersebut

humor yang paling

dan

sesuatu yang lucu yang membuat seseorang

berespon

dengan

senyum

ataupun

tertawa.

humor

adalah

ketidakpantasan

kualitas

yang

awam

untuk

menggelikan,

adalah segala

tertawa, misalnya kartun yang lucu yang Menurut ahli saraf Robert Provine

menimbulkan kegelian atau tawa, berbagai

(www.suaramerdeka.com) orang yang sering

pertunjukan

tertawa biasanya lebih kreatif karena otak dan

tertentu, film komedi dan juga buku humor (

pikiran

Suhadi

selalu

penelitian,

jernih.

menciptakan

hasil

dalam

acara-acara

Ismail,

1995).

televisi

Danandjaja

kreativitas

(2002) mengartikan humor sebagai suatu

dibutuhkan lingkungan kerja yang kondusif

ungkapan verbal dan non verbal yang dapat

yang menyenangkan dan penuh rasa humor

menimbulkan

atau

menyebabkan

(www.e-psikologi,com).

Daniel

pendengarnya

(maupun

pembawanya)

humor

merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga

menjadi lebih terbuka

terdorong untuk tertawa. Hal yang menggelitik

dan menerima segala kemungkinan. Rasa

perasaan lucu tersebut adalah karena dalam

humor ini juga bisa mengikis rasa takut dan

humor terdapat unsur kejutan, keanehan,

malu yang bisa menghambat kreativitas.

ketidakmasukakalan,

Maslow mengemukakan bahwa humor dan

pengecohan,

kreativitas merupakan beberapa ciri dari orang

kenakalan, dan lain-lain.

Goleman

untuk

Berdasarkan

lawak,

(www.date.com)

membuat seseorang

yang

telah

Menurut

teraktualisasi

rasa

dirinya

(Allport,

kebodohan,

kejanggalan,

Sedangkan

Chapman

sifat

kontradiktif,

dan

Foot

1970). Hal-hal di atas memperlihakan adanya

mendefiniskan humor sebagai

Laugh or

keterkaitan antara humor dan kreativitas.

smile provoking stimuli of a good natured sort, that is likely to be minimally offensive to the

Rumusan Masalah

object of the laughter of smilling (Chapman

Permasalahan dalam penelitian ini adalah

dan Foot 1976 : 288). Dari definisi yang

apakah ada hubungan antara rasa humor

dikemukan oleh Chapman dan Foot dapat

seseorang dengan kreativitas verbal yang

dilihat bahwa yang termasuk humor adalah

dimilikinya?

stimulus yang dapat menimbulkan tawa atau senyum yang tidak bersifat menyerang obyek

Tinjauan Teoritis

dari humor itu sendiri. Jika ada celaan yang

Humor

bersifat menyerang orang lain, misalnya cacat Berdasarkan Kamus Besar Bahasa

tubuh atau sifat-sifat negatif dari suatu suku

Indonesia, humor adalah keadaan (cerita dan

yang dapat memancing kemarahan atau

sebagainya)

yang

hati,

menyinggung perasaan mereka yang dicela,

kejenakaan,

lelucon.

Ensiklopedi

maka hal itu tidak termasuk ke dalam ketegori

menggelikan Menurut

46


humor, walaupun bisa saja celaan tersebut

humor bisa berupa stimulus verbal,

dianggap lucu atau menimbulkan tawa bagi

non verbal atau merupakan kombinasi

orang lain.

dari keduanya dan ciri kontekstual

Champman

dan

McGhee

menulis

yang menyertainya.

bahwa humor as a response to the perception

2. Persepsi ketidaksesuaian

of incongruity in playful context that may or

Dalam kehidupannya manusia tidak

may not be accompanied by smilling and

dapat

laughter (Champman & McGhee, 1980 : 2).

lingkungan yang ada disekitarnya, dan

Secara bebas definisi ini diartikan bahwa

manusia secara aktif membuat respon

humor merupakan respon terhadap persepsi

terhadap stimulus itu. Dalam kerangka

ketidaksesuaian di dalam situasi bercanda

humor tentu saja tidak semua stimulus

yang bisa saja disertai senyum dan tawa atau

dapat membangkitkan respon humor.

bisa saja tidak. Humor sebagai suatu stimulus

Agar mampu membangkitkan respon

dapat dipahami oleh individu karena tiap

humor,

individu memiliki rasa humor (sense of humor)

dipersepsikan

sebagai bagian dari kualitas insani. Menurut

inkongruen.

Baughman (1974) sense of humor adalah

inkongruen

kualitas manusia yang sangat berharga untuk

kejutan. Shultz (dalam Atmoko, 1995)

membantu dalam memahami ketidaksesuaian.

memberikan

Rasa humor menyangkut perasaan kita ketika

(salah duga) untuk unsur kejutan

menanggapi

kemudian

tersebut. Hal yang ingin ditunjukkan

mengekspresikannya dengan tertawa atau

adalah bahwa respon humor dapat

tersenyum.

timbul karena adanya sesuatu yang

suatu

lelucon

terlepas

dari

suatu

stimulus

stimulus sebagai

hal

Yang disini

harus

dimaksud

adalah

istilah

yang

unsur

misexpected

salah duga dari apa yang diharapkan Teori humor

sebelumnya.

Jika ditelaah ada tiga hal penting yang

Perlu kiranya ditekankan bahwa unsur

terdapat pada teori humor, yaitu humor

kejutan itu adalah misexpected dan

sebagai respon, humor sebagai persepsi

bukan unexpected. Charles Worth

ketidaksesuaian, dan humor dalam konteks

(dalam Atmoko, 1995) menjelaskan

bercanda (Champman & McGhee, 1980)

bahwa

1. Humor sebagai respon

persepsi

merupakan

inkongruenitas

penyimpangan

Sesuai dengan teori stimulus respon,

harapan

maka jika humor merupakan suatu

(misexpected).

respon maka tentu saja diperlukan

terjadinya sesuatu tersebut biasanya

materi

muncul sesuai dengan pengalaman

yang

berperan

sebagai

akan

dari

terjadinya

sesuatu

Harapan

akan

stimulus yang mampu menimbulkan

terdahulu

atau membangkitkan respon. Wyers

Berbeda dengan kejutan yang timbul

dan Collins (dalam Atmoko, 1995)

karena adanya sesuatu yang un-

menyatakan ada materi-materi yang

expected yang lebih mengacu pada

dapat menstimulasi timbulnya respon

reaksi terhadap sesuatu yang sama

47

mengenai

hal

tersebut.


sekali baru. Disini terlihat adanya

pesan tersebut termasuk ke dalam

penekanan

salah satu contoh humor.

akan

pentingnya

pengalaman masa lalu (Chapman dan Kreativitas

McGhee, 1980).

Kreativitas

3. Playful context

dapat

diartikan

dalam

Menurut Berlyn dan Rothbart (dalam

beberapa pengertian yang berbeda. Beberapa

Atmoko, 1995) respon humor secara

ahli membagi kreativitas dalam dua kategori

optimal dapat timbul dari persepsi

yaitu menurut traits approach dan learned

ketidaksesuaian

behavior

terutama

dalam

approach 1997).

(Reilly,

Menurut

Lewis

situasi-situasi tidak serius, tidak ada

Suharti,

ancaman dan tidak berbahaya. Syarat

kreativitas merupakan suatu karakteristik dan

situasi ini diinterpretasikan oleh Berlyn

kecenderungan tertentu sebagai bagian dari

sebagai situasi bercanda.

diri manusia. Hal ini berarti bahwa kreativitas

Sehubungan dengan humor sebagai

adalah bawaan. Pendekatan ini tidak menolak pengaruh

1995) secara spesifik menyatakan bahwa

adalah bahwa lingkungan hanya sebagai alat

respon humor tersebut lebih mengacu pada

bantu untuk mewujudkan kreativitas yang ada

istilah reaksi kognitif yang subyektif dari

sejak

seseorang terhadap suatu stimulus tertentu

menganggap bahwa kreativitas merupakan

daripada

dapat

akibat dari pengalaman yang membentuk

diobservasikan terhadap stimulus yang sama.

keahlian dan perilaku pada masing-masing

Ini berarti bahwa meskipun senyum dan tawa

individu, menurut pendapat ini bahwa setiap

sering

humor

individu adalah kreatif. Perbedaan dalam

namun

prestasi kreativitas pada setiap individu dapat

dikatakan

terhadap

suatu

respon

sebagai materi

yang

respon humor,

lahir.

tetapi

approach

respon Wyers dan Collins (dalam Atmoko.

sekedar

lingkungan

traits

dalam

Learned

behavior

approach

diterangkan

respon humor tidak selalu konsisten. Dengan

lingkungan individu tersebut (Reilly, Lewis

kata lain senyum dan tawa dapat saja timbul

dalam Suharti, 1997).

semata-mata

karena

respon

dari

sebab

utama

hubungan antara senyum dan tawa dengan

bukan

melalui

yang

akibat

dari

Sedangkan pengertian kreativitas ada

stimulus humor.

bermacam-macam,

Chapman dan Foot memberikan tiga

akan

tetapi

kreativitas

biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk

kriteria untuk membantu menentukan apakah

menciptakan

suatu pesan mengandung unsur humor atau

ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus

tidak. Ketiga kriteria itu adalah :

baru,

1. Apakah

pesan

tersebut

dapat

suatu

mungkin

kombinasinya

memancing tawa atau senyum.

produk

baru.

Namun

saja

gabungannya,

sedangkan

unsur-unsurnya

sudah ada sebelumnya. Definisi kreativitas

2. Apakah pesan tersebut dibuat dengan

menurut

Utami

Munandar

(1992)

adalah

tujuan untuk memancing tawa atau

kemampuan yang mencerminkan kelancaran,

senyum

keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir

3. Apakah

anggota

lain

dari

suatu

serta

kebudayaan yang sama setuju bahwa

48

kemampuan

untuk

mengelaborasi


(mengembangkan, memperkaya, memperinci )

Elaborate

suatu gagasan.

kemampuan untuk memperkaya dan

Dalam berpikir kreatif tidak terlepas

(elaborasi)

merupakan

mengembangkan

gagasan,

dari model struktur intelek Guilford. Guilford

memperinci detil-detil.

menciptakan suatu teori tentang intelegensi

Ada

beberapa

faktor

yang

yang digambarkan dalam bentuk kubus tiga

mempengaruhi kreativitas, yaitu press atau

dimensi

semua

lingkungan, proses kreativitas dan individu

kemampuan intelek manusia. Ketiga dimensi

pribadi itu sendiri yang kesemuanya akan

itu

operasi.

menghasilkan produk berupa sikap kreatif.

Dimensi operasi sendiri dibedakan dalam lima

Rasa humor yang dimiliki individu akan

kategori,

berpikir

membantu inidvidu dalam proses kreatif,

divergen, berpikir konvergen, dan evaluasi

karena dengan rasa humor individu dapat

(Munandar, 1999).

melihat permasalahan yang dihadapinya dari

yang

adalah

manampilkan

konten,

yaitu

produk

kognisi,

dan

ingatan,

Guilford mengemukakan dari struktur

sudut pandang yang tidak biasa.

inteleknya terdapat berpikir divergen yang dapat

dijadikan

indikasi

dari

kreativitas.

Humor dan Kreativitas

Menurut Guilford (Vernon dalam Oscarini,

Baughman (1974 ; 53) A sense of

1999) di dalam berpikir terdapat beberapa

humor is basically intellectual . Rasa humor

kategori

dasarnya adalah intelektual dan rasa humor

yang

mendukung

suatu

potensi

kreativitas, yaitu kelancaran kata atau word

inilah

fluency,

association

memahami

fluency,

spontaneous

fluency,

expressional

flexibility,

adaptive

yang

inilah

Kreativitas

maka

Verbal

dikembangkan

oleh

Utami

Tes

kualitas

dari

Munandar

insani,

stimulus

yang

artinya

tiap

orang

memilikinya hanya saja berbeda kadarnya. Selain itu humor dan kreativitas dapat saling

(kelancaran)

merupakan

mempengaruhi secara positif, misalkan saja

banyaknya gagasan, jawaban, atau

pada

penyelesaian

dilakukan

masalah

yang

berhubungan. Flexibility

ketidaksesuaian

dalam

Humor dan kreativitas merupakan

(1976-1977) yang berisi : Fluency

individu

humor.

flexibility, redefinition, dan originality. Dari kategori

membantu

proses

dengan

humor.

(keluwesan)

kreatif

lebih

mudah

suasana

yang

penuh

Dengan

keterampilan

merupakan

akan

dalam

mengembangkan kreativitas

akan

kemampuan menghasilkan berbagai

membantu kita dalam menciptakan humor.

pertanyaan dan jawaban, gagasan

Sebaliknya

yang

beragam jenis humor akan membantu kita

bervariasi,

mencari

banyak

dengan

mengapresiasikan

alternatif dan mampu mengubah cara

mengembangkan

berpikir sesuai situasi.

(http://members.ozemail.com).

Originality

(orisinalitas)

Torrance

merupakan

kreativitas

(dalam

Dunn,

2000)

kemampuan menghasilkan gagasan

mengemukakan bahwa ada korelasi yang

baru dan unik, membuat kombinasi-

tinggi antara humor dan kreativitas. Humor

kombinasi yang tidak lazim.

juga mempengaruhi kreativitas dengan melatih

49


pikiran

untuk

sesuatu

mencoba

yang

contohnya

berpikir

tentang

Kuesioner ini berisi 34 ceriota humor

Dalam

lelucon

yang diambil dari berbagai sumber

menemukan

antara lain buku humor mahasiswa

berbeda.

seseorang

harus

maksud lain yang tidak terduga. Humor dan

karangan

berpikir kreatif terkait dalam melihat sesuatu

situs-situs cerita humor di internet.

dengan

Cerita humor ini berisi antara lain

cara

yang

tidak

biasa

(http//www.laughterremedy.com). Humor

dan

James

Danandjaja

juga

humor mengenai agama atau pejabat

kreativitas

memiliki

agama,

pejabat

pemerintah

persamaan yaitu menggunakan kemampuan

negarawan,

berpikir

memahami

bodoh, profesor, suami-istri, dokter-

ketidaksesuaian atau kejutan yang ada pada

pasien, orang tua, anak kecil dan

humor ataupun dalam menghasilkan produk

humor jorok. Namun cerita humor

kreatif seperti ide-ide yang inovatif ataupun

yang disajikan tidak meliputi area

dalam bentuk barang yang dapat digunakan

yang sebaiknya tidak diberikan yaitu

untuk kemudahan hidup sehari-hari.

seksual, etnik, menyinggung agama

baik

dalam

orang

pintar,

atau orang

tertentu dan kekerasan. Pemilihan Metode Penelitian

cerita juga dibantu oleh tiga kriteria

Hipotesa Penelitian

untuk

Hipotesa Alternatif (Ha) : Ada hubungan yang

pesan mengandung unsur humor atau

signifikan

tidak. Ketiga kriteria itu adalah :

antara

rasa

humor

dengan

menentukan

apakah

Psikologi UI angkatan 2003.

memancing

Hipotesa Null (Ho) : Tidak ada hubungan yang

apakah pesan tersebut dibuat dengan

signifikan

dengan

tujuan untuk memancing tawa atau

kreativitas verbal pada mahasiswa Fakultas

senyum, dan apakah anggota lain dari

Psikologi UI angkatan 2003.

suatu kebudayaan yang sama setuju

rasa

humor

tersebut

suatu

kreativitas verbal pada mahasiswa Fakultas

antara

pesan

apakah

tawa

atau

dapat senyum,

bahwa pesan tersebut termasuk ke Subyek Penelitian

dalam

Subyek dalam penelitian ini adalah 42 orang

Kemudian dari setiap cerita humor

mahasiswa Fakultas Psikologi UI angkatan

diberikan 4 pilihan jawaban yang

2003 yang berusia antara 18 sampai 20 tahun,

mewakili respon subyek, yaitu sangat

terdiri atas 8 pria dan 34 wanita.

lucu, lucu, agak lucu dan tidak lucu.

salah

satu contoh

humor.

2. Tes Kreativitas Verbal Alat Ukur Penelitian

Dalam penelitian ini tes kreativitas

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua

yang

alat ukur, yaitu alat ukur humor dan Tes

Kreativitas Verbal (TKV) baku yang

Kreativitas Verbal

dikembangakan

oleh

Munandar.

ini

1. Alat Ukur Humor

digunakan

Tes

S.C

Tes

Utami

dikembangkan

Alat ukur ini berupa kuesioner untuk

berdasarkan

mengukur rasa humor seseorang.

intelek dari Guilford. TKV terdiri atas 6

50

pada

adalah

model

struktur


subtes

untuk

kreativitas

mengukur

seseorang

potensi

baik

tiga

itu

kemampuan

sifat-sifat

yang

sama,

penggunaan luar biasa, dan apa

kelancaran, keluwesan, daya imajinasi dan

kata,

akibatnya.

mengemukakan

gagasan secara verbal. Ke enam sub

Hasil Penelitian

tes tersebut adalah permulaan kata,

Gambaran Rasa Humor Subyek

menyusun kata, membentuk kalimat

Tabel Gambaran skor rasa humor subyek Z Score

Kelompok

Jumlah Subyek

Persentase

<-1,81

Rasa humor sangat rendah

0 orang

0%

-1,81 s.d -1,03

Rasa humor rendah

9 orang

21,42 %

-1,03 s.d 0,98

Rasa humor rata-rata

26 orang

61,90 %

0,98 s.d 2,98

Rasa humor tinggi

6 orang

14,28 %

>2,89

Rasa humor sangat tinggi

1 orang

2,38 %

42 orang

100 %

Total

Dari data tebel di atas terlihat bahwa ada 26

merespon suatu stimulus dalam bentuk cerita

orang atau 61,90 % subyek termasuk dalam

dengan

kelompok dengan rasa humor rata-rata yang

tersenyum

memiliki

kepekaan

yang

cukup

ekspresi

seperti

tertawa

atau

dalam

Gambaran Kreativitas Verbal Subyek Tabel gambaran skor Tes Kreativitas Verbal subyek penelitian Skor

Creativity

Kelompok

Jumlah Subyek

Persentase

Defective

0 orang

0%

Quotient < 65 66

79

Borderline

0 orang

0%

80

90

Dull normal

0 orang

0%

91

110

Averege

13 orang

30,95 %

111

119

Bright Normal

13 orang

30,95 %

120

127

Superior

5 orang

11,90 %

Very Superior

11 orang

26,30 %

42 orang

100 %

> 128 Total

Dari tabel terlihat bahwa tidak ada subyek

dengan

yang termasuk dalam kategori Dull Normal,

kelompok Average dan Bright Normal yaitu

Borderline dan defective. Semua subyek

sebesar

termasuk ke dalam kelompok average ke atas,

51

persentase

terbanyak

30,95

berada

di

%.


Hubungan Antara Humor dan Kreativitas Verbal Tabel korelasi humor dan kreativitas verbal Skor Total Humor Skor Total Humor

Pearson Correlation

Skor CQ 1

0,507**

Sig. (2-tailed)

0

N Skor CQ

Pearson Correlation

42

42

0,507**

1

Sig. (2-tailed)

0

N

42

42

** Correlation is significant at the level (2-tailed)

Berdasarkan dengan

perhitungan

menggunakan

pearson

Diskusi

korelasi product

Membahas

tentang

humor

dan

moment ditemukan bahwa nilai korelasi antara

kreativitas sebagai bagian dari kualitas insani

humor

pada

merupakan bahasan unik dan menarik untuk

mahasiswa Fakultas Psikologi UI sebesar

diteliti karena keduanya sering dilakukan

0,507. Pada level of signifikan 0,05 nilai

dalam kehidupan sehari-hari. Humor memiliki

korelasi ini lebih besar dari 0,304 sehingga

banyak bentuk untuk dapat dinikmati oleh

dapat dikatakan bahwa nilai korelasi antara

masyarakat

skor humor dengan kreativitas signifikan pada

beragam juga media untuk menampilkan

level ini. Dengan demikian hipotesa null (Ho)

humor itu sendiri.

dengan

kreativitas

verbal

luas.

Saat

inipun

semakin

yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan

Mengenai alat ukur humor, peneliti

antara rasa humor dengan kreativitas verbal

mengalami kesulitan karena tidak ada alat

mahasiswa Fakultas Psikologi UI angkatan

ukur yang standar mengenai humor. Hal ini

2003 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa

bisa jadi kerena subyektivitas orang dalam

antara rasa humor dengan kreativitas verbal

berespon terhadap humor dan juga terlalu

mempunyai hubungan yang bermakna. Dapat

beragamnyaa jenis ataupun bentuk humor.

dikatakan bahwa individu yang memiliki rasa

Selain itu penulis membuat kuesioner humor

humor tinggi memiliki kreativitas verbal yang

dengan mengetengahkan cerita-cerita humor.

tinggi juga. Begitu pula sebaliknya individu

Cerita yang diambil untuk kuesioner tersebut

yang memiliki rasa humor yang rendah akan

adalah

memiliki kreativitas verbal yang rendah pula.

diberbagai media. Mungkin saja responden

cerita-cerita

yang

pernah

dimuat

Dari data ini dapat berarti juga fluency,

pernah membaca atau pernah mendengar

flexibility, originality dan elaboration yang

cerita itu. Hal ini bisa mengurangi tergelitiknya

diukur dalam Tes Kreativitas Verbal berkaitan

perasaan lucu responden. Kelemahan lain dari

juga

alat ukur humor ini adalah pada item-itemnya

dengan

kognisi

dalam

keanehan,

humor

yang

melihat

menggunakan

aspek

ketidakmasuakalan,

kejutan,

yang berupa cerita. Cerita humor yang dipilih

kebodohan,

dibatasi dengan tidak meliputi area yang

sifat pengecohan, kejanggalan, kontradiktif,

sebaiknya

kenakalan, dan lain-lain pada stimulus.

mengandung

52

tidak unsur

diberikan, seksual,

seperti kekerasan,


profesi

Kesimpulan

tertentu. Batasan ini membuat pilihan cerita

Berdasarkan

yang diperoleh agak sedikit, karena banyak

dilaksanakan maka dapat ditarik kesimpulan,

cerita

sebagai berikut :

menyinggung

agama,

humor

etnik

yang

atau

mengandung

unsur

seksual, kekerasan, menyinggung agama,

penelitian

yang

telah

1. Subyek penelitian memiliki rasa humor

etnik, atau profesi tertentu. Hal ini merupakan

rata-rata.

kekurangan bagi hasil penelitian karena hanya

memiliki rasa humor yang rendah,

mengukur rasa humor seseorang melalui

tinggi dan sangat tinggi. Namun tidak

responnya terhadap bacaan cerita humor yang

ada subyek yang memiliki rasa humor

terbatas dalam isi.

sangat rendah.

Dari

gambaran

umum

subyek

2. Subyek

Ada

juga

subyek

yang

penelitian memiliki tingkat

ditemukan bahwa responden memiliki tingkat

kreativitas verbal Average ke atas.

kreativitas verbal yang sangat baik, hal ini

Tidak ada subyek penelitian yang

terlihat dari skor Creativity Quotient yang

berada

berkisar antara 94

average.

139. Dengan kata lain

tidak ada responden yang berada dalam

dalam

kelompok

dibawah

3. Ada hubungan yang signifikan antara

kelompok dibawah avarege. Hal ini cukup

rasa humor dengan kreativitas verbal.

menarik namun tidak mengherankan, karena mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2003,

Saran

sebagai responden penelitian telah tersaring

Saran Teoritis

dari

Berikut adalah beberapa saran teoritis yang

ribuan

Fakultas

lulusan

Psikologi

dikatakan

SMU UI,

responden

yang

memilih

sehingga

dapat

memiliki

berguna

tingkat

bagi

peneliti

yang

ingin

mengembangkan dan melanjutkan penelitian

inteligensi dan kemampuan akademik yang

ini :

sangat baik. Selain itu ada beberapa kondisi

1. Menggunakan subyek penelitian yang

yang mendukung tingginya tingkat kreativitas

lebih banyak dan dapat mewakili

antara

populasi

lain

tingkat

sosial

ekonomi

dan

pendidikan orang tua, pola asuh dan urutan

hal

tersebut

dalam

sehingga

hasil

penelitian bisa digeneralisasikan.

kelahiran. Namun sayangnya peneliti tidak mencantumkan

subyek

2. Kuesioner humor yang dibuat sangat

data

terbatas sumbernya, sehingga dapat

responden.

dikembangkan

lagi

dengan

Pada penelitian ini, penulis hanya

memperkaya sumber media. Dengan

membatasi pengukuran dengan media tulisan.

demikian aspek-aspek humor yang

Eysenck pernah membuat tes humor dengan

belum tergali dapat diukur.

menggunakan

gambar.

Tentunya

menjadi

3. Pemilihan waktu penelitian juga perlu

menarik jika diteliti lebih lanjut mengenai tes

diperhatikan agar kondisi penelitian

humor menggunakan gambar yang telah

baik subyek dan alat ukur dapat

dikembangkan oleh Eysenck dan kreativitas

dipersiapkan dengan baik.

figural yang juga sudah dikembangkan oleh S.C. Utami Munandar.

53


Saran Praktis

Danandjaja, J. (2002). Humor Mahasiswa. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Menurut Jim Winter (www.wavelength.biz) ada

Danandjaja, J. (2002). Foklor Indonesia ; Ilmu Gossip, dongeng dan lain-lain. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti.

beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sense of humor, antara lain : 1. Lihatlah segala sesuatu dari sudut

Ismail, M. (1995). Pengetahuan Mahasiswa terhadap Unsur Produk dan Unsur Humor dalam Iklan-iklan yang Menggunakan Pendekatan Humor. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

pandang humor. 2. Mengumpulkan humor, baik dalam bentuk cerita ataupun gambar.

Komaryatun (2003). Hubungan Antara Rasa Humor dengan Kreativitas Verbal Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UI Angkatan 2003. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

3. Lebih sering tersenyum 4. Berpartisipasi dalam kegiatan yang ada humornya. 5. Akrab

dengan

orang-orang

yang

Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah ; Petunjuk bagi patra guru dan orang tua. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

humoris.

Daftar Pustaka

Munandar, S.C.U. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan ; Strategi Mewujudkan Potensi kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Allport G.W. (1970). Pattern anda Growth in Personality. Toronto : Holt, Rine and Winston, Inc. Atmoko I. (1995). Pengaruh Humor dalam Pengajaran Matematika terhadap Presatsi Akademik Matematika Siswa Kelas 2 SD. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

Papu, J. (2001). Menumbuhkan Kreativitas di Tempat Kerja. www.e-psikologi.com Suharti. (1997). Hubungan Antara Kreativitas (segi kognitif dan segi afektif) Dengan Prestasi Belajar Siswa Berbakat Inteklektual ; Studi pada siswa SMU unggulan 13 dan SMU unggulan 81. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.

Baughman, D. (1974). Baughman s Hanbook of Humor in Education. New York : Parker Publishing Company Inc. Bratawira,

S. (1980/1981). Penggunaan Humor dalam Iklan. Skripsi. Tidak dipublikasikan.

To be or not to be humorous : Does it make a difference. www.units.mouhio.edu.

Chapman, T & Foot, H (eds). (1976). Humor and Laughter : Theory, Research, and Applications. New York : John Willey and Sons.

Winter,

54

J. The Sense www.wavelength.biz.

of

Humor.


PERBEDAAN KECEMASAN MENGHADAPI SPMB ANTARA SISWA KELAS AKSELERASI DENGAN KELAS REGULER Esa Novana Indra Dewi dan Amrizal Rustam Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan menghadapi SPMB antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler. Hipotesis penelitian ini adalah ada perbedaan kecemasan menghadapi SPMB antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler, dimana siswa kelas akselerasi memiliki kecemasan menghadapi SPMB lebih tinggi dibandingkan siswa kelas reguler. Subyek penelitian adalah siswa SMA N 3 dan SMA N 8 di Yogyakarta yang memiliki program pendidikan kelas akselerasi dan kelas reguler yang telah ditunjuk oleh Departemen Pendidikan Nasional. Subyek penelitian adalah sebagian dari siswa kelas tiga SMA N 3 dan SMA N 8 pada kelas akselerasi dan kelas reguler yaitu sebanyak 100 siswa. Metode pengumpulan data mengacu pada skala kecemasan Taylor Manifest Anxiety Scale yang dimodifikasi peneliti dari skala kecemasan yang disusun oleh Setiawati (2002) dan diberikan secara langsung kepada subyek penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji-t menggunakan program SPSS 9.0 for windows. Hasil analisis data menunjukkan ada perbedaan kecemasan menghadapi SPMB antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t sebesar 2,136 dengan p = 0,035 (p < 0,05). Mean empirik (X) masing-masing program belajar yang diperoleh adalah 75 untuk kelas akselerasi dan 83 untuk kelas reguler, hipotesis penelitian ini tidak terbukti karena siswa kelas reguler lebih tinggi tingkat kecemasan dalam menghadapi SPMB daripada siswa kelas akselerasi. Kata kunci : Kecemasan menghadapi SPMB, siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular. Pendahuluan Antusiasme

saringan atau seleksi ini diadakan setahun (Sekolah

sekali, dalam waktu yang bersamaan dan

melanjutkan

dengan soal yang sama atau setara. Adanya

pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

sistem seleksi menjadikan siswa semakin

membawa

terpacu untuk berusaha keras agar dapat

Menengah

lulusan Atas)

akibat

SMA

untuk

pada

adanya

kondisi

persaingan yang ketat untuk diterima pada Perguruan

Tinggi

(PT),

Perguruan

Tinggi

Negeri

pada

Persiapan dalam menghadapi SPMB tidak

Jumlah

sekedar persiapan secara materi soal saja,

lulusan SMA yang tidak seimbang dengan

namun persiapan fisik dan psikis (mental) juga

daya

harus

tampung

khususnya

diterima di PTN.

(PTN).

perguruan

tinggi

diperhatikan.

Selain

itu

kesiapan

mengakibatkan calon mahasiswa baru harus

orangtua atau wali murid dalam memberikan

berjuang untuk memperebutkan tempat di

dukungan dan motivasi kepada anak-anaknya

Perguruan Tinggi (PT) khususnya Perguruan

juga dapat membantu kesiapan mental siswa,

Tinggi Negeri (PTN).

oleh karena itu harus ada kerjasama yang baik

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri

antara pihak sekolah dalam hal ini guru,

(UMPTN) yang sekarang dikenal dengan

orangtua atau wali siswa dan siswa itu sendiri.

nama SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa

Masalah kecemasan (anxiety) menjadi satu

Baru) adalah ujian atau seleksi yang harus

permasalahan yang paling sering dialami oleh

ditempuh sebelum masuk PTN dengan pola

siswa.

ujian tulis. SPMB khususnya untuk PTN

kecemasan

memiliki persaingan yang sangat ketat, ujian

menyenangkan yang ditandai dengan istilah-

55

Menurut

Atkinson,

adalah

emosi

dkk yang

(1996) tidak


istilah seperti kekhawatiran, keprihatinan dan

kesempatan

rasa takut yang kadang-kadang kita alami

kemampuan berpikir dan bernalar secara

dalam tingkatan yang berbeda-beda. Seleksi

komprehensif, optimal dan mengoptimalkan

Penerimaan

kreativitasnya (Kulik & Kulik,

Mahasiswa

Baru

(SPMB)

merupakan salah satu faktor yang dapat

untuk

mengembangkan

Pollins dalam

Widyorini, 2002)

menimbulkan kecemasan pada siswa. Ujian

Seleksi

Penerimaan

(SPMB)

SPMB mengakibatkan kekhawatiran dan rasa

merupakan salah satu ujian atau seleksi yang

was-was (rasa takut akan suatu hal yang

akan dihadapi baik oleh siswa akselerasi

belum pasti).

maupun siswa kelas reguler yang ingin melanjutkan

setiap

ke

tahun

Baru

saringan atau seleksi yang sangat ketat dalam

Sistem pendidikan yang berlaku dapat juga

yang

Mahasiswa

Perguruan

diadakan

Tinggi

(PT)

mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang.

khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Penyelenggaraan pendidikan yang selama ini

Seleksi yang cukup ketat menuntut siswa

dilakukan di Indonesia lebih banyak bersifat

untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

klasikal

pada

Siswa akselerasi cenderung lebih merasa

kuantitas untuk dapat melayani sebanyak-

harus lolos SPMB karena mereka merasa

banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang

mempunyai kemampuan lebih daripada siswa

tampak

reguler.

massal,

adalah

kebutuhan

yaitu

tidak

individual

berorientasi

terakomodasikannya siswa.

Siswa

yang

mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar

Rumusan Masalah

biasa tidak terlayani secara baik sehingga

Permasalahan

potensi yang dimiliki tidak dapat berkembang

penelitian ini adalah apakah ada perbedaan

secara optimal bahkan tak jarang mengalami

kecemasan menghadapi SPMB antara siswa

penurunan

kelas akselerasi dengan siswa kelas regular?

motivasi

dan

menunjukkan

yang

dikemukakan

dalam

beberapa problem perilaku. Tinajauan Teoritis

Saat ini ada beberapa sekolah yang melaksanakan

program pendidikan bagi

Kecemasan

siswa

akademik,

Pengertian Kecemasan

berbakat

program

akselerasi

Pelaksanaan

yaitu

(percepatan

sistem

dengan belajar).

Segala bentuk situasi yang mengancam

pada

kesejahteraan organisme dapat menimbulkan

pendidikan

umumnya siswa yang memiliki kemampuan

kecemasan.

lebih mendapat perlakuan yang sama dengan

lainnya

siswa

kecemasan.

lain

sehingga

mengembangkan

tidak

potensinya.

dapat Program

Konflik

merupakan

terhadap

dan salah

Ancaman

harga

diri

dan

bentuk

frustrasi

satu

sumber

fisik,

ancaman

tekanan

untuk

akselerasi ini adalah satu dari beberapa

melakukan sesuatu diluar kemampuan juga

program belajar bagi siswa berbakat dimana

menimbulkan

siswa

(1996) mengatakan bahwa kecemasan adalah

diberikan

kesempatan

untuk

program reguler. Bukan hanya waktunya yang

ditandai

lebih

kekhawatiran, keprihatinan dan rasa takut

mereka

juga

diberi

56

dengan

menyenangkan

dkk

emosi

tetapi

tidak

Atkinson,

menyelesaikan masa studinya lebih cepat dari

pendek

yang

kecemasan.

istilah-istilah

yang seperti


yang

kadang-kadang

kita

alami

dalam

yang sangat ketat ataupun cemas karena

tingkatan yang berbeda-beda. Freud membedakan kecemasan

takut tidak lolos dalam SPMB

(Atkinson,

dkk

kecemasan

obyektif

neurotis.

Manifestasi Kecemasan

dan

memandang

Daradjat (1972) mengungkapkan bahwa

kecemasan obyektif sebagai respon yang

gejala kecemasan dapat bersifat fisik maupun

realistis terhadap bahaya eksternal, yang

bersifat mental. Gejala fisik meliputi ujung-

maknanya

takut,

ujung jari terasa dingin, detak jantung lebih

sedangkan kecemasan neurotis timbul dari

cepat, pencernaan tidak teratur, sakit perut

konflik tidak sadar, karena konflik itu tidak

dan sakit kepala. Gejala mental dapat berupa

disadari, individu tidak mengetahui alasan

ketakutan, kesulitan memusatkan perhatian,

kecemasannya.

khawatir, tidak tentram dan gelisah.

sama

Freud

1996)

dengan

rasa

Kecemasan adalah suatu kondisi yang mengakibatkan

seseorang

merasa

Berdasarkan

uraian

diatas,

dapat

tidak

disimpulkan bahwa manifestasi kecemasan

nyaman dan serba salah sehingga tidak dapat

adalah suatu bentuk reaksi emosi yang

melakukan aktivitasnya secara maksimal.

gejalanya maupun

Pengertian Kecemasan Menghadapi SPMB

dapat reaksi

menggunakan

berupa

reaksi

psikologis.

fisiologis

Penelitian

manifestasi

ini

kecemasan

Lazarus (Setyandari, 1997) mengatakan

tersebut sebagai aspek yang akan digunakan

bahwa dalam suasana cemas orang akan

untuk mengungkap tingkat kecemasan siswa

merasa tidak berdaya dan sulit melakukan

dalam

aktivitas

kecemasan

dengan

baik,

sehingga

keberhasilanpun sulit dicapai.

menghadapi

SPMB.

tersebut

dibagi

Manifestasi menjadi

dua

aspek, yaitu :

Adanya perasaan cemas saat mengerjakan

1.

Aspek Fisiologis, merupakan gejala-

tes atau ujian akan sangat mengganggu

gejala

konsentrasi

mengerjakan

kecemasan. Gejala ini meliputi jantung

tugas tersebut, sehingga dengan demikian

berdebar-debar, berkeringat, kepala

hasil yang diperoleh tidak akan optimal (Wine

pusing atau pening, ujung-ujung jari

& Sarason dalam Setyandari, 1997). Hurlock

terasa dingin, sulit tidur, otot-otot leher

(1997) mengatakan bahwa kecemasan dapat

kaku

datang

hilang, merasa ingin kencing atau

individu

dari

menghadapi

selama

perasaan tantangan

tidak

mampu

lingkungan,

tidak

fisik

atau

yang

tegang,

menyertai

nafsu

makan

buang hajat.

adanya kepastian tentang apa yang akan

2.

Aspek Psikologis, merupakan gejala-

dihadapi dan adanya rasa kurang percaya

gejala

pada diri sendiri.

kecemasan. Gejala-gejala ini meliputi

Kecemasan menghadapi SPMB adalah

rasa

psikis

takut,

yang

khawatir,

bingung,

nyaman dan was-was dalam menghadapi

tersinggung, tidak puas, tidak tenang,

ujian saringan atau SPMB. Kecemasan ini

tidak

dapat terjadi karena khawatir akan persaingan

gelisah, khawatir akan ditimpa suatu

tentram,

marah,

was-was,

suatu kondisi dimana seseorang merasa tidak

57

cepat

menyertai

tertekan

mudah

(stress),


bahaya, tidak dapat berkonsentrasi,

Kecemasan

ingin lari dari kenyataan.

yang tidak menyenangkan dan dapat

Aspek

kecemasan

berdasarkan

uraian

merupakan

Gejala kecemasan yang timbul bila

timbul pada seseorang ketika dalam keadaan

individu dihadapkan pada situasi-

yang

situasi

nyaman,

fisik

1. State Anxiety

yang

tidak

gejala-gejala

perasaan

dibedakan menjadi dua yaitu :

diatas terdiri dari dua hal yaitu aspek fisiologis yang

berdasarkan

khawatir

ataupun

tertentu.

Situasi

ini

ketakutan dan aspek psikologis yang lebih

menyebabkan

individu

akan

mengarah pada kondisi mental seseorang

mengalami kecemasan, gejalanya

dalam kondisi tertentu.

akan selalu tampak selama situasi tersebut ada.

Macam-macam Kecemasan Freud

(Hall

membedakan

dan

2. Trait Anxiety

Lindzey,

kecemasan

1993)

menjadi

Kecemasan sebagai suatu keadaan

tiga

yang

macam, yaitu :

menetap,

pada

individu

kecemasan ini berhubungan erat

1. Kecemasan Realistik

dengan kepribadian individu dan

Kecemasan sebagai pengalaman

dipandang sebagai suatu simtomp,

emosional yang menyakitkan karena

yaitu

adanya bahaya yang mengancam

menunjukkan

yang datangnya dari luar. Bahaya

kesukaran

disini

proses penyesuaian diri.

berarti

lingkungan

suatu

yang

kondisi

mengancam

suatu

keadaan

yang

adanya

suatu

dalam

mengadakan

b. Kecemasan sebagai Intervening Variable

individu.

Merupakan

2. Kecemasan Neurotis

suatu

mempengaruhi

keadaan

serangkaian

yang stimulus

Kecemasan itu bersumber pada id.

dan respon. Bentuk kecemasan ini tidak

Kecemasan ini timbul semata-mata

dapat diketahui secara langsung dan

karena takut akan sanksi yang

hanya dapat diketahui secara tidak

timbul dari suatu perbuatan.

langsung

3. Kecemasan Moral

melalui

keadaan-keadaan

yang mendahuluinya serta akibat dalam

Kecemasan ini bersumber pada

bentuk fisiologis dari keadaan yang

kata hati. Orang takut melakukan

mengancam.

sesuatu,

karena

hatinya

Kesimpulan dari uraian diatas bentuk

yang

kecemasan dibedakan menjadi tiga, yaitu

akan dilakukannya itu baik maupun

kecemasan dinamika obyektif, kecemasan

tidak baik.

neurotis, dan kecemasan moral, selain itu

mengingatkan

kata

bahwa

apa

Lazarus (dalam Setiawati, 2002) membagi

bentuk lainnya yaitu : kecemasan sebagai

kecemasan menjadi dua macam, yaitu :

suatu respon yang dapat dibagi lagi menjadi

a. Kecemasan sebagai suatu respon

dua, yaitu : state anxiety dan trait anxiety serta kecemasan sebagai Intervening Variabel.

58


Kecemasan

menghadapi

SPMB

a. Faktor kepribadian

merupakan state anxiety, karena kecemasan

b. Dukungan dari orang tua

ini muncul saat siswa baik siswa akselerasi

c.

maupun

d. Faktor religi

siswa

reguler

dihadapkan

pada

situasi tertentu. SPMB merupakan satu situasi

Dukungan dari guru

Berdasarkan

uraian

diatas

dapat

yang dapat menimbulkan state anxiety, SPMB

ditarik kesimpulan bahwa ada dua hal penting

dengan pola ujian tulis dan dilakukan satu

yang

tahun sekali mengakibatkan siswa harus

seseorang dalam menghadapi ujian atau

berjuang untuk dapat diterima di perguruan

SPMB, yaitu : faktor eksternal yang meliputi

tinggi khususnya perguruan tinggi negeri.

lingkungan sekolah, persaingan siswa

dapat

mempengaruhi

kecemasan

siswa

dari sekolah lain, persaingan dengan siswa Faktor-faktor

yang

Mempengaruhi

yang

Kecemasan Menghadapi SPMB Menurut

materi

serta dalam

mengancam

meliputi faktor kepribadian individu itu sendiri,

kesejahteraan organisme misalnya : ancaman

dukungan orangtua, dukungan guru serta

fisik,

faktor religi.

ancaman

(1996)

materi

belajar

menghadapi SPMB dan faktor internal yang

situasi

dkk

penguasaan

bimbingan

segala

bentuk

Atkinson,

mengikuti

yang

terhadap

harga

diri

dan

tekanan untuk melakukan sesuatu diluar

Faktor

yang

mempengaruhi

kemampuan merupakan faktor yang dapat

kecemasan dalam menghadapi SPMB baik

menimbulkan kecemasan. Teori Psikoanalisis

pada siswa kelas akselerasi maupun siswa

berasumsi bahwa sumber kecemasan bersifat

kelas reguler lebih cenderung pada faktor

internal dan tidak disadari.

eksternal.

Konsep utama Horney (Hall dan Lindzey, 1993)

tentang

kecemasan

dasar

Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler

yang

Pengertian Kelas Akselerasi

dirumuskan sebagai perasaan yang timbul karena terisolasi dan tak berdaya dalam dunia

Akselerasi pertama kali dikemukakan oleh

yang secara potensial bermusuhan. Sejumlah

Pressy (Evans, 1996), yaitu sebagai kemajuan

faktor yang merugikan dalam lingkungan

program pendidikan pada tingkat kecepatan

dapat menyebabkan perasaan tidak aman.

atau usia yang lebih muda dari yang sesuai

Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya

dengan kebiasaan. Program akselerasi, yaitu

kecemasan dalam menghadapi SPMB yaitu :

suatu

1. Faktor eksternal yang meliputi

Persaingan

dengan

dimana

siswa

diberi

kesempatan menyelesaikan masa studinya

a. Lingkungan sekolah b.

program

lebih cepat dari program reguler dan diberi siswa-

kesempatan

untuk

mengembangkan

siswa sekolah lain

kemampuan berpikir dan bernalar secara

c. Persaingan dengan siswa yang

komprehensif, optimal dan mengoptimalkan

mengikuti bimbingan belajar d. Penguasaan

materi

kreativitasnya (Widyorini 2002)

dalam

Berdasarkan konsepsi keberbakatan dari

menghadapi SPMB

Renzulli, Reis dan Smith (Depdiknas, 2001)

2. Faktor internal

dan disesuaikan dengan kondisi yang ingin

59


maka

Perbedaan Kecemasan Menghadapi SPMB

definisi peserta didik berkemampuan dan

antara Siswa Kelas Akselerasi dengan

berkecerdasan luar biasa dalam Program

Siswa Kelas Reguler

dikembangkan

oleh

pihak

sekolah

Percepatan Belajar adalah :

Seleksi

Mereka yang oleh psikolog dan/atau

(SPMB)

Penerimaan

merupakan

Mahasiswa

ujian

saringan

Baru atau

guru diidentifikasi sebagai peserta didik yang

seleksi untuk dapat diterima di perguruan

telah mencapai prestasi memuaskan dan

tinggi (PT) khususnya perguruan tinggi negeri

memiliki kemampuan

(PTN).

intelektual

umum

Kesiapan

mental

siswa

dalam

yang berfungsi pada taraf cerdas, kreativitas

menghadapi SPMB mempengaruhi kondisi

yang memadai dan

psikologis

keterikatan

terhadap

tugas yang tergolong baik (Depdiknas, 2001).

siswa

khususnya

tingkat

kecemasan siswa. SPMB ini merupakan salah satu faktor timbulnya kecemasan pada siswa

Berdasar uraian diatas dapat disimpulkan

karena persaingan yang sangat ketat. Adanya

bahwa Program Akselerasi adalah salah satu

perasaan cemas saat mengerjakan ujian

program pendidikan yang ditujukan untuk

SPMB akan mengganggu konsentrasi siswa

siswa

untuk

selama mengerjakan ujian tersebut, sehingga

telah

hasil yang diperoleh tidak maksimal.

berbakat

menyelesaikan

akademik

kurikulum

yang

terdiferensiasi dalam waktu dua tahun atau

Kecemasan menghadapi SPMB adalah

lebih cepat dari program pendidikan pada

suatu kondisi dimana seseorang merasa tidak

umumnya.

nyaman dan was-was dalam menghadapi SPMB, kecemasan ini dapat terjadi karena

Pengertian Kelas Reguler Program umumnya

pendidikan lebih

banyak

persaingan yang sangat ketat ataupun cemas reguler bersifat

pada

karena takut tidak lolos dalam SPMB.

klasikal

Peserta

SPMB

adalah

seluruh

siswa

massal, yaitu penyelenggaraan pendidikan

lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) baik

yang berorientasi pada kuantitas untuk dapat

siswa kelas reguler maupun siswa kelas

melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa

akselerasi.

(Depdiknas, 2001)

SPMB sangat menentukan kondisi mental

Persiapan

dalam

menghadapi

Kelas reguler yaitu kelas dengan kurikulum

siswa, karena SPMB adalah persaingan siswa

nasional yang waktu penyelesaian program

antar sekolah dengan kemampuan akademik

belajarnya sesuai dengan rencana program

yang beragam. Selain itu penguasaan materi

yang tecantum dalam kurikulum, kelas reguler

soal dalam SPMB merupakan salah satu

terdiri dari siswa-siswa dengan karakteristik

faktor persaingan untuk dapat lolos SPMB

umum atau rata-rata sesuai dengan jenjang

baik bagi siswa kelas akselerasi maupun

studinya.

siswa kelas reguler. Persiapan materi soal

Berdasarkan

uraian

diatas

maka

untuk

menghadapi

SPMB

tidak

hanya

perbedaan antara kelas akselerasi dengan

diperoleh disekolah, tetapi banyak siswa yang

kelas reguler dapat dilihat pada tabel berikut :

mengikuti bimbingan belajar yang biasanya menawarkan cara praktis dalam mengerjakan soal

60

SPMB.

Kondisi

tersebut

semakin


menambah kekhawatiran siswa baik siswa

pada kekhawatiran tidak lolos seleksi dalam

akselerasi maupun siswa reguler.

SPMB karena persaingan yang ketat.

Lingkungan

faktor

Kelas reguler lebih memiliki rasa solidaritas

baik

dan empati dalam membina hubungan dengan

kecemasan secara umum maupun kecemasan

teman, sehingga persaingan diantara mereka

dalam

akademik.

tidak begitu menonjol. Saat siswa reguler akan

Persaingan akan tampak lebih jelas pada

menghadapi ujian maupun SPMB mereka

lingkungan sekolah yang memiliki program

merasa lebih santai karena siswa kelas

pendidikan akslerasi. Persaingan dalam kelas

reguler tidak merasa terbebani untuk menjadi

akselerasi

daripada

yang terbaik. Kecemasan yang timbul dalam

persaingan siswa dalam kelas reguler. Kelas

menghadapi SPMB pada kelas reguler lebih

akselerasi yang terdiri dari siswa-siswa pilihan

mengarah

dengan kualitas kemampuan akademik yang

persaingan yang ketat dengan siswa lain.

tinggi menjadikan siswa selalu ingin menjadi

Rasa empati dan solidaritas yang berkembang

yang terbaik dalam komunitasnya. Kelas

dalam

akselerasi mempunyai standart nilai tertentu,

diterapkan

apabila

kelas

sebaliknya persaingan khususnya persaingan

akselerasi dalam waktu tertentu tidak dapat

prestasi yang terjadi dalam kelas akselerasi

memenuhi standart tersebut tidak menutup

diharapkan dapat terjadi dalam kelas reguler,

kemungkinan

akan

sehingga baik kelas akselerasi maupun kelas

dikembalikan pada kelas reguler. Hal ini sering

reguler memiliki kesiapan yang sama dalam

menimbulkan

menghadapi persaingan khususnya pada saat

mendasar

sekolah

timbulnya

menghadapi

khawatir

jauh

adalah kecemasan,

persaingan

lebih

seseorang

siswa

siswa

dapat

dalam

tersebut

kecemasan

tidak

ketat

karena

memenuhi

siswa standart

pada

kelas

kekhawatiran

reguler

dalam

diharapkan

lingkungan

akan

mampu

akselerasi,

ujian maupun SPMB.

tersebut. Sedangkan dalam kelas reguler yang terdiri

dari

siswa

dengan

Metode Penelitian

kemampuan

akademik rata-rata merasa lebih santai karena

Hipotesis Penelitian

tidak terbebani oleh standart nilai, sehingga

Hipotesis penelitian ini adalah ada perbedaan

persaingan dalam kelas reguler tidak seketat

kecemasan menghadapi SPMB antara siswa

persaingan dalam kelas akselerasi.

kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler.

Berdasarkan uraian diatas maka tidaklah

Siswa

kelas

akselerasi

memiliki

tingkat

heran jika persaingan yang terjadi dalam kelas

kecemasan lebih tinggi daripada siswa kelas

akselerasi sangat ketat dan individual, mereka

reguler dalam menghadapi SPMB.

terbiasa berada dalam kondisi persaingan Subyek Penelitian

secara akademik dan lingkungan akselerasi menjadikan mereka individu yang yakin pada kemampuannya

sendiri,

sehingga

Subyek penelitian ini adalah siswa SMA

dalam

yang dibedakan antara siswa kelas akselerasi

menghadapi ujian maupun SPMB mereka

dan siswa kelas reguler di SMA N 3 dan SMA

merasa harus lebih dari siswa kelas reguler.

N 8 Yogyakarta. Kriteria subyek penelitian ini

Kecemasan yang timbul dalam menghadapi

adalah siswa kelas akselerasi dan kelas

SPMB pada kelas akselerasi lebih mengarah

reguler yang terdiri dari siswa kelas tiga.

61


Subyek

penelitian

diambil

dengan

p

menggunakan teknik purposive sampling

>

0,05)

sehingga

layak

untuk

dibandingkan.

Metode Pengumpulan Data

2. Hasil Analisis Uji Hipotesis

Metode pengumpulan data yang digunakan

Analisis

data

penelitian

dilakukan

dalam penelitian ini adalah model skala, yaitu

menggunakan analisis uji-t, hal ini berguna

skala kecemasan. Skala kecemasan yang

untuk

digunakan dalam penelitian ini adalah Taylor

kecemasan menghadapi SPMB antara siswa

Manifest Anxiety Scale (TMAS). Skala TMAS

kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler.

yang

Berdasarkan

digunakan

dimodifikasi

dari

dalam skala

penelitian

ini

kecemasan

melihat

apakah

hasil

uji-t

ada

perbedaan

yang

dilakukan

yang

terhadap siswa akselerasi dan siswa reguler

disusun oleh Setiawati (2002) dan sesuai

diperoleh nilai t sebesar 2,136 dengan p =

dengan subyek penelitian.

0,035 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada

Metode Analisis Data Analisis

data

perbedaan

kecemasan

menghadapi

SPMB antara siswa kelas akselerasi dengan

yang

digunakan

untuk

siswa kelas reguler. Mean empirik (X) masing-

pengujian hipotesis penelitian ini adalah Uji-t

masing program belajar adalah sebesar 75

yang bertujuan untuk menguji perbedaan dua

untuk kelas akselerasi dan 83 untuk kelas

kelompok

berdasarkan

menggunakan

fasilitas

mean

dengan

reguler. Berdasarkan pada hasil perhitungan

komputer

program

uji-t yang dilakukan, maka dapat dilihat bahwa

SPSS 9.0.

siswa

kelas

reguler

kecemasannya dalam

lebih

tinggi

tingkat

menghadapi SPMB

Hasil Penelitian

daripada siswa kelas akselerasi, hal ini

1. Hasil Analisis Uji Asumsi

menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan

a. Uji Normalitas

dalam penelitian ini tidak terbukti.

Hasil uji normalitas skala kecemasan menghadapi SPMB dengan tehnik one sample

Kolmogorov-Smirnov

Diskusi

Test;

Berdasarkan

menunjukkan bahwa skala kecemasan

dilakukan,

menghadapi SPMB yang digunakan

dapat

hasil

analisis

diketahui

uji-t

yang

bahwa

ada

perbedaan kecemasan menghadapi SPMB

mengikuti distribusi normal (KSZ = 1,051

antara siswa kelas akselerasi dengan siswa

; p = 0,220 atau p > 0,05)

kelas reguler. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t = 2,136 ; p = 0,035 (p < 0,05), selain itu mean

b. Uji Homogenitas

empirik (X) masing-masing program belajar

Uji homogenitas yang dilakukan pada

yang diperoleh adalah sebesar 75 untuk kelas

siswa kelas akselerasi dan kelas reguler

akselerasi dan 83 untuk kelas reguler, yang

dilakukan dengan uji leven, hasilnya menunjukkan

varians

penelitian

berarti siswa kelas reguler lebih tinggi tingkat

ini

kecemasannya dalam

homogen (F = 0,371 dan p = 0,544 atau

menghadapi SPMB

daripada siswa kelas akselerasi sehingga hipotesis penelitian ini tidak terbukti.

62


Hasil uji-t yang dilakukan pada masing-

Dilihat dari masing-masing aspek dalam

masing aspek kecemasan menghadapi SPMB

kecemasan

menghadapi

diperoleh hasil sebagai berikut : pada aspek

perbedaan

hasil

fisiologis diperoleh nilai t sebesar 1,863 dan p

akselerasi dengan siswa reguler. Dilihat dari

= 0,066 (p > 0,05) diartikan tidak ada

aspek fisiologi yang merupakan gejala fisik

perbedaan kecemasan menghadapi SPMB

yang menyertai kecemasan, siswa reguler

antara siswa kelas akselerasi dengan siswa

memiliki skor kategori yang lebih tinggi, yang

kelas reguler dilihat dari aspek fisiologis. Hasil

berarti

kategorisasinya menunjukkan bahwa siswa

mengalami

kelas akselerasi maupun siswa kelas reguler

kecemasan khususnya dalam menghadapi

sebagian besar termasuk dalam kategori tinggi

SPMB, sedangkan pada aspek psikologis

keatas,

yang merupakan gejala-gejala psikis yang

namun

kelas

reguler

memiliki

siswa

SPMB,

kategori

kelas

gejala

antara

reguler fisik

lebih

yang

sering

menyertai

menyertai

akselerasi (48%).

memiliki skor kategori lebih tinggi, yang berarti siswa

ada

perbedaan

lebih

akselerasi

sering mengalami

gangguan psikis saat mengalami kecemasan.

nilai t sebesar 2,042 dan p = 0,044 (p < 0,05) diartikan

akselerasi

siswa

siswa

prosentase lebih tinggi (56%) daripada kelas

Hasil uji-t aspek psikologis menunjukkan

kecemasan,

terdapat

kecemasan

Kecemasan menghadapi SPMB termasuk

menghadapi SPMB yang signifikan antara

state anxiety, karena gejala kecemasan (fisik

siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas

maupun psikis) akan timbul jika individu

reguler dilihat dari aspek psikologis. Hasil

dihadapkan pada situasi atau kondisi akan

kategorinya menunjukkan bahwa siswa kelas

menghadapi SPMB ataupun ujian. Sedangkan

akselerasi

reguler

kondisi persaingan yang akan muncul dalam

sebagian besar termasuk dalam kategori

SPMB mengakibatkan kecemasan realistik,

sedang. Siswa kelas reguler yang termasuk

yaitu kecemasan yang muncul karena akan

dalam kategori kecemasan sedang lebih tinggi

menghadapi ancaman atau bahaya yang

prosentasenya yaitu 84% sedangkan untuk

berupa persaingan yang ketat dalam SPMB

siswa kelas akselerasi 78%.

untuk dapat diterima di PTN.

maupun

Hasil

penelitian

pelengkap

hasil

siswa

ini

kelas

dapat

penelitian

dijadikan

Penelitian ini mengabaikan trait anxiety

Lestariningsih

yaitu kecemasan yang merupakan suatu

(Setyandari, 1997) yang menyatakan bahwa

keadaan

individu

tinggi

kecemasan ini berkaitan erat dengan faktor

biasanya berprestasi lebih rendah daripada

kepribadian. Trait anxiety yang tidak dikontrol

individu dengan taraf kecemasan rendah.

atau dikendalikan mengotori hasil penelitian

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil

ini, karena selain dihadapkan pada kondisi

penelitian ini, dimana siswa kelas reguler

dan ancaman tertentu, kecemasan merupakan

memiliki skor tingkat kecemasan menghadapi

sesuatu yang menetap pada individu yang

SPMB yang lebih tinggi daripada siswa kelas

memiliki

akselerasi.

dengan kepribadian pencemas hampir setiap

dengan

taraf

kecemasan

yang

kepribadian

menghadapi

63

menetap

keadaan

pada

pencemas.

yang

individu,

Individu

menunjukkan


kesukaran dalam penyesuaian dirinya akan

Bagi peneliti selanjutnya yang berminat

mengalami kecemasan.

untuk meneliti masalah kecemasan khususnya kecemasan

Kesimpulan

maupun

menghadapi

SPMB

dan

seleksi,

program

ujian

pendidikan

Ada perbedaan kecemasan menghadapi

khususnya pada kelas akselerasi, disarankan

SPMB antara siswa kelas akselerasi dengan

untuk mencari faktor-faktor lain yang dapat

siswa kelas reguler, siswa kelas reguler

mempengaruhi misalnya jenis kelamin, urutan

memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dalam

kelahiran dan pola asuh orangtua.

menghadapi SPMB daripada siswa kelas

Khusus untuk kecemasan menghadapi

akslerasi.

seleksi atau SPMB, disarankan untuk melihat pada faktor lain pula misalnya adanya sistem

Saran

ujian

a. Saran untuk siswa

dilaksanakannya SPMB. Selain itu disarankan

Hal ini khususnya lebih ditekankan pada siswa

kelas

reguler,

mengendalikan

agar

dirinya

lebih

(UM)

swadaya

sebelum

untuk memperhatikan faktor trait anxiety atau

mampu

dengan

masuk

kecemasan yang bersifat menetap (faktor

cara

kepribadian pencemas).

mempersiapkan dan berlatih disiplin diri untuk mengurangi

kecemasan

Daftar Pustaka

menghadapi

persaingan SPMB.

Akbar-Hawadi, R. Harijanto, S. Ruhulessin, Boetje, D. Fakhruddin, M. Alam, N. Murdwiyono, S. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar (SD, SLTP dan SMU). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

b. Saran untuk orangtua Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa

kelas

reguler

lebih

tinggi

tingkat

kecemasannya, oleh karena itu bagi orangtua siswa

kelas

reguler

diharapkan

Antamimi, N. Retnowati, S. dan Sukadji, S. 1980. Pengaruh Kecemasan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa. Laporan penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

lebih

memberikan dorongan dan motivasi, namun hal ini berlaku juga bagi orangtua siswa kelas akselerasi mental,

agar

lebih

sehingga

memiliki

lebih

kesiapan

tenang

Atkinson, R.L. Atkinson, R.C. Hilgard, E.R. 1996. Pengantar Psikologi : Jilid II (Terjemahan). Edisi Kedelapan. Batam Centre: Interaksara

dalam

menghadapi ujian maupun SPMB. c. Saran untuk guru

Azwar, S. 2000. Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Berdasarkan uraian diatas, siswa pada

-----------. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

kelas akselerasi disarankan untuk lebih sering diberi kegiatan yang bersifat kebersamaan,

Dahlan, Z. 1998. Qur an Karim dan Terjemahan Artinya. Yogyakarta: UII Press

sehingga sifat individual yang berkembang dalam kelas akselerasi dapat berkurang.

Dewi, E.N.I (2007). Perbedaan Kecemasan Menghadapi SPMB Antara Siswa Kelas Akselerasi Dengan Kelas Reguler. Skripsi.Tidak Dipublikasikan.

Sedangkan untuk kelas reguler diharapkan guru mampu memberikan pengarahan yang bersifat memberi rasa nyaman sehingga dapat

Djunaedi, E. 2002. Konsep dan Penerapan Program Akselerasi Bagi Anak Berbakat Intelektual di Sekolah BPK Penabur. Jakarta.

mengurangi tingkat kecemasan siswa. d. Saran untuk peneliti selanjutnya

64


Rumbia, Z. 2001. Perbedaan Kecemasan antara Masyarakat Ambon yang Mengalami Kerusuhan dan yang Tidak Mengalami Kerusuhan. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

http://www1.bpkpenabur.or.id/kpsjkt/berita/200201/percepat.pdf Evans, S. 1996. Acceleration A Legitimate Means of Meeting the Needs of Gifted Children. http://www.nexus.edu.au/TeachStud/gat/ evanss.htm

Setiawati, N.A. 2002. Kecemasan, Penyesuaian Diri dan Prestasi Belajar pada Mahasiswa Baru. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

Gunarsa, S.D. Gunarsa, Y.S 1983. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia Hadi, S. 1986. Metodologi Research, Jilid I. Yogyakarta: Andi Offset

Setyandari, A. 1997. Persepsi Efikasi-Diri Menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri Ditinjau dari Keikutsertaan Bimbingan Tes. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

Hall, S.C dan Lindzey, G. 1994. Teori-teori Psikodinamik (klinis) : Terjemahan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Hanifah. 2002. Perbedaan Tingkat Kecemasan dan Pola Berpikir Positif Mahasiswa Tehnik Ditinjau dari Tahun Angkatan. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

Susilowati, Y. 2002. Hubungan antara Kecemasan dengan Strategi Terfokus Emosi pada Pecandu Narkoba. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

Hurlock, E.B. 1997. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan(terjemahan). Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga

Sutopo, H. 2002. Kompas : Kelas Akselerasi Bisa Perkosa Perkembangan Anak Didik. http://www.kompas.com/kompascetak/0205/31/jatim/kelas49.htm

Indraswari, N.D. 2003. Perbedaan Kecerdasan Emosi antara Siswa Program Pendidikan Akselerasi dengan Reguler. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

Syamsityastuti, R. 2001. Pengaruh Keteraturan Membaca Al. Qur an terhadap Tingkat Kecemasan pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII

Judhistira, S. 1995. Kecemasan terhadap Kegagalan dan Prestasi Belajar. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

Tim Pelaksana Program Akselerasi. 2002. Buku Informasi Program Akselerasi SMU Negeri 3 Yogyakarta. Yogyakarta: SMU Negeri 3 PADMANABA

Latifah, U. 2002. Kompas : Kelas Akselerasi Baru Tahap Uji Coba. http://www.kompas.com/kompascetak/0205/27/dikbud/kelas09.htm

Widyorini, E. 2002. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran Siswa Berbakat pada Kelas Akselerasi. Anak Berbakat Tantangan di Era Global. Semarang: Universitas Katolik Soegijopranoto

Monks, J.A, Knoers, A.M.P dan Haditono, S.R. 1999. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Widyastono, H. 2000. Sistem Percepatan Kelas (Akselerasi) bagi Siswa yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/26/sis tem_percepatan_herry.htm

Nadjamuddin, L. 1998. Hubungan SelfEfficacy dengan Minat untuk Mengikuti UMPTN. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

Zakaria, W. 2001. Kiat-kiat dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. http://www.google.com 6/03/03

65


66


Gifted Review 3