Issuu on Google+

ISSN : 1978-2489

Jurnal Keberbakatan & Kreativitas

Vol. 01. No. 01, February 2007 UI IDENTIFICATION SCALE FOR EARLY GIFTED (UI

ISEG)

PENGARUH KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS MENULIS REMAJA (Suatu Penelitian Pada LBPP-LIA)

PERBEDAAN INTERAKSI GURU-SISWA PADA KELAS UNGGULAN DAN NON-UNGGULAN SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR (Studi Di SMA Negeri 35 Jakarta Pusat)

PENYESUAIAN SOSIAL REMAJA BERBAKAT DALAM MENJALIN HUBUNGAN PERSAHABATAN

DAMPAK PROGRAM AKSELERASI INDONESIA YANG BERBASIS KURIKULUM NASIONAL TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL SISWA PESERTA AKSELERASI TINGKAT SMU DI JAKARTA

KONTRIBUSI BERPIKIR KREATIF & BERPIKIR KOMPREHENSIF TERHADAP PENGUASAAN BAHASA INGGRIS MAHASISWA ADMINISTRASI BISNIS POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Gifted Review

Tahun 01

Nomor 1

Hlm. 1-75

Depok Februari 2007

Diterbitkan Oleh :

PUSAT KEBERBAKATAN

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS INDONESIA

1

ISSN : 1978-2489


Jurnal Keberbakatan & Kreativitas

Diterbitkan Oleh :

PUSAT KEBERBAKATAN

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS INDONESIA

2


3


UI - IDENTIFICATION SCALE FOR EARLY GIFTED (UI - ISEG) 0leh Lydia Freyani Hawadi, Lina Erliana Muksin, Desy Christanti, Dewi Tri Handayani, Yulistia, Hardiono D. Pusponegoro, dan Awluddin Tjala

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyusun alat identifikasi keberbakatan dan norma perkembangan anak usia dini (0-36 bulan) yang diberi nama UI Identification scale for early gifted (UI-ISEG). Sampel dalam penelitian ini adalah konsumen Morinaga Chil Kid dan Chil School yang dikelompokkan ke daqlam 13 kategori usia. Sampel penelitian terdiri atas dua bagian, yaitu sampel untuk tahapan skrinning terdiri atas Ibu atau Ayah dari anak yang berusia 6-36 bln, sedangkan sampel untuk tahapan kedua adalah anak dari orang tua yang mengisi alat ukur tahapan skrinning yang secara pemeriksaan psikologik dinyatakan telah memenuhi syarat lolos tahapan skrinning. Penelitian ini dilakuakn di 6 kota besar yaitu Semarang, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin, Denpasar, dan Jakarta. Subyek terkumpul sebanyak 1195 oarng tapi hanya 572 yang dapat diolah. Sedangkan subyek untuk alat ukur bagian kedua hanya ada 61 orang. Indeks validitas item UI-ISEG bagian pertama memiliki rentang antara 0,231-0,70 dan reliabilitas masing-masing form diatas 0,70. Norma UI-ISEG bagian pertama menggunakan skor T dan terdiri atas 3 kateogri, yaitu (1) potensi berbakat (+ 1,5 SD < x), (2) Rata-rata ( 1,5 SD < x < +1,5 SD), (3) Di bawah rata-rata (x < -1,5 SD ). Sedangkan norma UI-ISEG bagian kedua tidak dapat diperoleh karena tidak diperolehnya sampel yang memadai. Pendahuluan

bahwa

Studi tentang keberbakatan dini yang dilakukan

sejak

abad

adanya

lingkungan

dini optimal

untuk berkembang. Keberbakatan dini muncul

perkembangan

hasil dari interaksi antara faktor genetik dan

keterampilan pada anak di awal usianya dapat

lingkungan. Banyak studi meyakini bahwa

dijadikan indikator positif keberbakatan yang

keberbakatan

dimilikinya.

menunjukkan

tergantung dari kapasitas genetik, lingkungan

ketrampilan motorik lebih cepat dari anak pada

dan kualitas pengasuhan, atau yang disebut

umumnya, penguasaan bahasa lebih awal,

goodness-of-fit . Black dan Matula (2000)

bahwa

Jika

anak

yang

mensyaratkan

keberbakatan

lalu

menegaskan

satu

potensi

akan

berkembang

pernyataan

diatas

optimal

dapat mempertahankan pembicaraan lebih

mendukung

dengan

lama dengan kalimat yang lebih kompleks

menyatakan bahwa tahun pertama kehidupan

untuk anak seusianya, kemungkinan anak

adalah penting dan menekankan peran kritis

berpotensi gifted. Namun Smutny, Veenker

dari lingkungan terhadap perkembangan pada

dan Veenker (1989) menggaris bawahi pula

awal kehidupan tersebut.

bahwa adanya tanda-tanda positif di awal

Riset tentang keberbakatan dini usia

perkembangan anak, tidak menjadi jaminan

tetap menarik dilakukan karena dari hasil studi

adanya keberbakatan di tahap perkembangan

terlihat adanya korelasi yang positif antara

anak berikutnya. Sebaliknya tidak adanya

perkembangan

tanda-tanda keberbakatan dini, tidak berarti

dengan usianya di tahap-tahap perkembangan

anak bukan seorang gifted.

berikutnya. Hasil penelitian Bornstein dan

Lewis

dan

Michaelson

(Smutny,

seorang

anak

sejak

bayi

Rose (1987) tentang visual attentiveness pada

Veenker, dan Veenker, 1989) menyimpulkan

anak usia

4

enam bulan pertama kehidupan


menunjukkan korelasi tinggi dengan IQ tinggi

berpotensi berbakat maka proses identifikasi

saat anak berusia 4-6 tahun.

Temuan ini

dilanjutkan pada tahap kedua atau asesmen

memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang

yang dilakukan oleh seorang profesional yaitu

dilakukan

psikolog.

oleh Fagan dan McGrath (1981)

yang meyakini bahwa

Selanjutnya pertanyaan yang ingin

pengukuran awal

tentang attention memiliki keakuratan yang

dijawab

ampuh sebagai prediktor kemampuan kognitif

bagaimanakah norma perkembangan

daripada

usia dini (6 bulan -36 Bulan)

tes

IQ

standar.

Sedangkan

dalam

penelitian

Smutny,Veenker dan Veenker (1989) dalam

sebagai langkah awal

risetnya tentang hasil tes psikologik yang

mengenali tanda anaknya

dilakukan pada anak

sebagai seorang gifted?.

berikutnya

saat

usia 4 tahun dan

anak

berusia

7

tahun

Tujuan

ini

anak

di Indonesia

seorang Ibu untuk memiliki potensi

penelitian

adalah

dan

norma

tersusunnya

korelasi yang reliabel. Hal ini berarti kita dapat

perkembangan anak usia dini (0-36 bulan)

memprediksi taraf kecerdasan seorang anak

yang diberi nama UI Identification Scale for

usia 7 tahun, sejak usia 6 bulan pertama

Early Gifted

kehidupannya.

Dengan alat ini dapat diketahui

pengamatan

dalam

perkembangan

(UI

skrining

ini

menunjukkan bahwa hasil kedua tes memiliki

Kepekaan orangtua dalam melakukan

alat

adalah

- ISEG) Bagian Pertama. posisi

kecepatan perkembangan anak dalam tiga

anak

kategori

yaitu anak berpotensi berbakat,

memiliki peran yang sangat penting dalam

anak

menemukenali potensi keberbakatan dini. Hal

berpotensi

ini terbukti pada penelitian yang dilakukan

tersusunnya alat identifikasi

pada tahun 1983 di Ohio yang menunjukkan

perkembangan anak usia dini (0-36 bulan)

hasil bahwa 20 % orangtua mulai merasa

yang diberi nama UI Identification Scale for

bahwa anak mereka berbakat sebelum usia 1

Early Gifted

tahun, dan setelah kemampuan intelegensi

psikolog

mereka dapat diukur, rata-rata dari mereka

sejauhmana

memiliki IQ 135 atau lebih tinggi (Smutny,

seorang anak . Secara praktis manfaat

Veenker dan Veenker, 1989).

penelitian ini adalah untuk dapat memberikan

Untuk itu di dalam penelitian ini,

berpotensi di

bawah

(UI

dapat

gambaran

tata-rata,

rata-rata.

anak

Dengan

dan norma

- ISEG) Bagian Kedua, melakukan

perkembangan

tentang

dan

potensi

asesmen

yang

dimiliki

keberbakatan

orangtua diminta mengisi sendiri (self report)

dalam perkembangan anak sejak dini, dan

tentang

secara

perkembangan

anaknya.

Hasil

pengisian ini kemudian yang akan menjadi

teoritis

adalah

memberikan

sumbangan dalam dunia psikologi pendidikan.

dasar penetapan potensi keberbakatan anak. Di dalam penelitian ini keberbakatan dilihat

Tinjauan Teoritis

dari

Keberbakatan

perkembangan anak yang 30% diatas

anak sebayanya pada aspek motorik, aspek

Di dalam penelitian ini keberbakatan

kognitif dan aspek sosial emosional (Smutny,

dilihat dari

Veenker dan Veenker, 1989). Jika melalui

diatas anak sebayanya pada aspek motorik,

norma

diperoleh

skor

anak

tergolong

5

perkembangan anak yang 30%


aspek kognitif

dan aspek sosial emosional

stimulasi.

menunjukkan

perkembangan

(Smutny, Veenker dan Veenker, 1989).

yang pesat dalam bahasa dan rasa

Karakteristik Keberbakatan Dini

humor.

Studi

potensi

keberbakatan

telah

Dari sisi kreativitas, anak dengan potensi

Perino (1981), dan

berbakat lebih dapat mengekplorasi suatu

Brown (dalam Lewis & Michaelson,1985)

mainan, memiliki inisiatif untuk mencoba

mengemukakan

berbakat

mainan yang baru, memiliki imajinasi yang

memiliki perbedaan dengan anak normal sejak

lebih kreatif, menggunakan obyek, mainan

masih

maupun warna dalam imajinasinya dan

dilakukan sejak lama,

usia

bahwa

dini.

keberbakatan

dini

anak

Secara

umum

potensi

pada anak usia dini dikenali

menunjukkan

dari ciri-ciri sebagai berikut :

pemahaman

terhadap

pembicaraan orang yang lebih dewasa.

Anak menunjukkan ketrampilan motorik

Mereka

lebih cepat dari anak pada umumnya. Jika

menggunakan

anak dapat berjalan, berbicara dan dapat

(Lewis & Michalson, 1985).

makan sendiri tanpa bantuan orang lain

Anak

lebih awal dibanding dengan anak-anak

menguasai bahasa kognitif, seperti lebih

seusianya, merupakan salah satu indikasi

cepat mengeluarkan suara, lebih cepat

anak secara potensial

berbicara, tersenyum pada orang lain,

berbakat. Akan

menikmati permainan dengan kata-kata

berbakat

dan

ide-ide

umumnya

mampu

tetapi anak yang tidak memiliki ciri-ciri

mengucapkan

tersebut tidak berarti tidak berbakat.

penggunaan bahasa dengan cara yang

Secara kuantitatif, anak dengan potensi

bermakna, banyak bertanya, berespons

berbakat

terhadap nama, dapat menirukan kata-

menunjukkan

bahasa lebih awal, lebih

banyak

perkembangan rentang

penguasaan

mengenal kosakata dibanding

anak

perhatian

normal,

lebih

kata

huruf

dengan

lancar,

suara

memiliki

lebih

lama,

dapat

cepat

dibanding

dengan

anak

seusianya, menggunakan kata ganti saya

dengan kalimat yang lebih kompleks

dengan anak normal.

kamu

lebih

cepat

dibandingkan

Menunjukkan

Perino dan Brown (dalam Lewis &

kemampuan belajar yang lebih cepat dan

Michalson,1985) mengemukakan bahwa anak

menunjukkan minat yang besar terhadap

berbakat memiliki perbedaan dengan anak

buku atau gambar. Mereka aktif dan

normal sejak masih usia dini (6 bulan-3 tahun).

memiliki waktu tidur yang lebih pendek

Perbedaan tersebut terletak pada kemampuan

dari

persepsi

motorik kasar dan kemampuan motorik halus.

dan

mampu

Anak dengan potensi berbakat umumnya

seperti

spons ,

mampu untuk menguasai kemampuan motorik

memahami kata-kata dan tahu maknanya.

umum, seperti merangkak, duduk, berdiri,

Selain

menggenggam objek dengan jari-jari dan

bayi

mereka

seusianya.

mencari

dengan mata, mengenal jenis kelaminnya

dan

anak

berbeda,

dengan

mempertahankan pembicaraan lebih lama

untuk

yang

lain. lebih

menerima

itu,

Kemampuan matang

informasi

mereka

memiliki

rasa

kewaspadaan dan eksploratif terhadap

jempol,

lingkungannya yang selalu membutuhkan

menggambar

6

mengimitasi orang

tarikkan dengan

leher,

garis, dan


berpakaian sendiri lebih cepat dibandingkan

terhadap arahan, dan melakukan tugas

anak normal.

yang kompleks.

Hasil penelitian Smutny & Veenker

Anak

dengan

potensi

berbakat

(dalam Your Gifted Child, 1989) mengutarakan

umumnya lebih senang berinteraksi dengan

beberapa ciri anak usia 8 bulan sampai 36

anak

bulan

dibandingkan dengan teman sebaya, lebih

dengan

potensi

berbakat,

sebagai

berikut :

yang

lebih

tua

atau

orang

tua

mudah beradaptasi, dan mampu bertahan

Lebih dini dalam berjalan dan berbicara.

lebih lama dalam mengerjakan tugas yang

Menunjukkan

sulit dari anak normal serta menunjukkan rasa

ketertarikan

dan

pemahaman terhadap konsep alphabet,

senang

angka dan waktu.

termasuk

Dapat dengan mudah mengerjakan puzzle

menguasainya dengan cepat.

yang

diperuntukkan

bagi

anak

untuk

mempelajari

ke

dalam

bidang

bakatnya

yang serta

yang

berusia lebih tua.

M etode Penelitian

Menunjukkan sensitivitas dan respon yang

Definisi Operasional anak berbakat usia dini

kuat terhadap musik.

adalah anak-anak yang berusia 6-36 bulan

Dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang

dan

kompleks dan setelah sekian lama dapat

kognitif dan

menjelaskannya kembali secara terperinci.

sebayanya.

memiliki perkembangan dalam aspek motorik

diatas 30% dari anak

Memiliki rasa humor yang lebih baik atau dapat menganggap kejanggalan sebagai

Alat Ukur Keberbakatan Usia Dini

sesuatu yang lucu.

Alat ukur keberbakatan usia dini yang

Dapat menuturkan kembali cerita atau

dikembangkan dalam penelitian ini meliputi

peristiwa yang terjadi secara jelas serta

dua aspek perkembangan yaitu kognitif dan

membuat akhir cerita yang logis sebelum

motorik.

cerita berakhir.

Indikator keberbakatan dalam aspek

Menangkap lagu dan puisi dengan cepat

kognitif

serta

Kemampuan anak untuk memperhatikan atau

mengulanginya

secara

akurat

meliputi

hal-hal

sebagai

berikut:

setelah beberapa kali mendengarkannya.

memberikan atensi pada suatu stimulus yang

Tidak sabar terhadap keterbatasaannya

diberikan, kemampuan anak memberikan arti

ketika akalnya dapat memahami tugas

terhadap stimulus atau mengenali stimulus

sementara

yang diterima melalui inderanya, kemampuan

tubuhnya

belum

mampu

melaksanakannya. Secara

anak mengorganisasikan berbagai stimulus

konsisten

mengorganisasi,

anak

memilah,

mampu

untuk

mengatur,

tujuan

tertentu,

memahami dan

kemampuan

anak

mengekspresikan ide dan

mengklasifikasi, mengelompokkan benda,

perasaan baik dalam bentuk verbal, maupun

dan memberikannya nama.

nonverbal seperti bahasa isyarat dan tulisan,

Dapat lebih cepat dari anak lain dalam

kemampuan

memahami

bahasa

membuat

hubungan kesimpulan

sebab-akibat, ,

merespon

lisan

anak

dalam

untuk

menggunakan mengungkapkan

keinginannya, serta kemampuan anak dalam

7


menggunakan

bahasa

isyarat

untuk

Chil Kid dan Chil School yang dikelompokkan

mengemukakan keinginannya.

ke dalam 13 katagori usia. Sampel penelitian

Indikator keberbakatan dalam aspek motorik

meliputi

Melakukan

hal-hal

koordinasi

terdiri atas dua bagian. Bagian pertama,

sebagai

berikut:

sampel untuk tahapan skrining. Bagian kedua,

gerakan,

kontrol

sampel untuk tahapan asesmen.

gerakan, keseimbangan, menjaga kestabilan postur tubuh, gerakan meraih, menggenggam,

Sampel Tahapan Skrining

serta memanipulasi benda.

Sampel tahapan skrining adalah

Ibu atau

Ayah dari anak berusia antara 6

36 bulan

Alat

ukur

yang

disusun

dalam

penelitian ini diberi nama UI

Identification

29 hari Anak tidak memiliki kecacatan fisik

Scale

ISEG) yang

yang berakibat pada ketidakmampuan untuk

for Early Gifted

(UI

diperuntukkan bagi 13 kelompok usia dalam rentang usia 6

beraktifitas

36 bulan. Alat ukur ini terdiri

dua bagian. Bagian pertama merupakan alat

Sampel Tahapan Asesmen

ukur untuk tahapan skrining. Alat ukur bagian

Sampel tahapan asesmen adalah anak dari

pertama ini bersifat self report,

orangtua

sedangkan

yang mengisi alat ukur tahapan

bagian kedua adalah alat ukur untuk tahapan

skrining. Anak dinyatakan oleh pemeriksaan

asesmen.

psikologik telah memenuhi syarat

Alat

ukur

bagian

kedua

diadministrasikan oleh seorang profesiona.

lolos

tahapan skrining.

Alternatif jawaban yang diberikan adalah ya dan tidak. Skor 1 diberikan bila orangtua menjawab

Pengumpulan Data

ya pada suatu pernyataan, dan

Pengumpulan

skor 0 bila orangtua menjawab tidak pada

dilaksanakan

suatu pernyataan.

tahapan

Penyusunan alat ukur diawali dengan studi

kepustakaan

dari

literatur

dalam

data dua

skrining

penelitian tahapan,

dan

yaitu

tahapan

asesmen.Tahapan skrining diikuti oleh seluruh

psikologi

sampel

orangtua

sedangkan

tahapan

tentang tahapan perkembangan anak usia 6

asesmen hanya diikuti oleh sampel anak yang

36 bulan dalam aspek kognitif dan aspek

memenuhi karakteristik sampel.

motorik, serta karakteristik keberbakatan pada usia

tersebut.

penyusunan

Selanjutnya

butir-butir

Penelitian ini dilakukan di 6 kota di

dilakukan

pernyataan

Indonesia,

untuk

Pekanbaru,

yaitu

Semarang,

Banjarmasin,

Palembang,

Denpasar

dan

setiap aspek perkembangan kognitif dan

Jakarta. Dimulai pada tanggal 24 September

motorik. Dalam penyusunan alat ukur, peneliti

2005

memakai beberapa narasumber, yaitu dokter

penelitian ditentukan bersama antara peneliti

spesialis anak (Konsulen) Syaraf, psikolog,

dengan

dan ahli psikometri.

Perkasa). Penyerahan kuesioner dilakukan

14 Januari 2006. Jadwal pelaksanaan

pihak

sponsor

(PT.

Shangyang

pada saat subyek mendafarkan diri untuk Sampel Penelitian

mengikuti seminar yang diadakan oleh pihak

Sampel penelitian ditentukan secara

sponsor. Pengembalian kuesioner dilakukan

purposive sampling, yaitu konsumen Morinaga

pada saat subyek datang mengikuti seminar.

8


Jumlah

subyek

yang

terkumpul

pada

menggunakan

korelasi

Sedangkan

Dari

penelitian ini dilakukan dengan satu kali

tersebut,

hanya

572

buah

uji

moment.

penelitian ini adalah sebanyak 1195 orang. jumlah

untuk

product

reliabilitas

pada

kuesioner yang dapat diolah karena kuesioner

pengadministrasian

tes,

tidak terisi lengkap oleh subyek dan kesalahan

menggunakan

Alpha

pada pembagian kuesioner (tidak sesuai

Pembuatan

dengan usia anak dan jumlah halaman

digunakan cara membandingkan performa

kuesioner yang tidak lengkap). Berikutnya,

subyek dengan kelompoknya sendiri (within

data yang telah terkumpulkan ditabulasi.

group norms) dengan menggunakan T-score.

Tabulasi

data

ini

bertujuan

metode norma

untuk

dengan

penelitian

ini

untuk

mempermudah proses pengujian validitas dan

Analisa Hasil

relibilitas data. Tabulasi data juga bertujuan

Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

untuk menentukan subyek akan mengikuti pemeriksaan

Cronbach.

selanjutnya

Reliabilitas

pada

penelitian

ini

dengan

menggunakan metode internal consistency

Kedua.

dengan teknik alpha cronbach. Lebih lanjut

Jumlah subyek yang diambil untuk menjadi

lagi pada penelitian ini, indeks reliabilitas yang

sampel alat ukur Bagian Kedua adalah

diterima adalah minimal 0,500. Hal tersebut

menggunakan

alat

ukur

Bagian

61

orang.

mengacu pada pendapat Nunnaly (1997) yang Analisa data untuk Alat Ukur Bagian

menyatakan bahwa indeks reliabelitas 0,500

Kedua tidak dapat dilakukan secara kuantitatif

0,600 masih dapat diterima.

karena ketidaktersediannya prasyarat jumlah

Norma UI

Identification Scale

for

sampel (minimal 30 subyek) untuk masing-

Early Gifted

masing kelompok usia.

dalam penelitian ini menggunakan skor T,

Teknik Analisis

maka peneliti membuat 3 (tiga) kategori skor :

Penelitian ini menggunakan validitas konstruk

dengan

consistency.

prosedur

Perhitungan

(UI - ISEG) Bagian Pertama,

1. Potensi berbakat (+ 1,5 SD < x)

internal

2. Rata-rata ( 1,5 SD < x < +1,5 SD)

validitas

3. Di bawah rata-rata (x < -1,5 SD )

Berdasarkan pada hasil perhitungan maka pengkategorian nilai untuk masing-masing form dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel IV.27. Kategori Norma Tiap Form Form

No

Skor mentah

T skor

Kategori

A

1

Dibawah 8

Dibawah 48

Dibawah rata-rata

2.

8 < x<21

48<x<65

Rata-rata

3.

Diatas 21

Diatas 65

Potensi Berbakat

1

Dibawah 2

Dibawah 35

Dibawah rata-rata

2.

2<x<17

35<x<65

Rata-rata

3.

Diatas 17

Diatas 65

Potensi Berbakat

1

Dibawah 8

Dibawah 35

Dibawah rata-rata

B

C

9


D

E

F

G

H

I

J

K

2.

8<x<21

35<x<64

Rata-rata

3.

Diatas 32

Diatas 64

Potensi Berbakat

1

Dibawah 10

Dibawah 35

Dibawah rata-rata

2.

10<x<30

35<x<66

Rata-rata

3.

Diatas 30

Diatas 66

Potensi Berbakat

1

Dibawah 4.5

Dibawah 37

Dibawah rata-rata

2.

10<x<30

37<x<66

Rata-rata

3.

Diatas 30

Diatas 66

Potensi Berbakat

1

Dibawah 10

Dibawah 36

Dibawah rata-rata

2.

10<x<25

36<x<66

Rata-rata

3.

Diatas 25

Diatas 66

Potensi Berbakat

1

Dibawah 8

Dibawah 38

Dibawah rata-rata

2.

8<x<18

38<x<59

Rata-rata

3.

Diatas 18

Diatas 59

Potensi Berbakat

1

Dibawah 14

Dibawah 36

Dibawah rata-rata

2.

14<x<35

36<x<64

Rata-rata

3.

Diatas 35

Diatas 64

Potensi Berbakat

1

Dibawah 13

Dibawah 37

Dibawah rata-rata

2.

13<x<31

37<x<67

Rata-rata

3.

Diatas 31

Diatas 67

Potensi Berbakat

1

Dibawah 10

Dibawah 35

Dibawah rata-rata

2.

10<x<27

35<x< 69

Rata-rata

3.

Diatas 27

Diatas 69

Potensi Berbakat

1

L

M

Tabel gambaran

Dibawah 16

Dibawah rata-rata

2.

16<x<41

32<x<64

Rata-rata

3.

Diatas 41

Diatas 64

Potensi Berbakat

1

Dibawah 13

Dibawah 32

Dibawah rata-rata

2.

13<x<35

32<x<65

Rata-rata

3.

Diatas 35

Diatas 65

Potensi Berbakat

1

Dibawah 11

Dibawah 35

Dibawah rata-rata

2.

16<x<23

35<x<

Rata-rata

3.

Diatas 23

Diatas

Potensi Berbakat

diatas

dapat

mengenai

posisi

kelompoknya.

Dibawah 32

Misal:

seorang

memberikan anak anak

scale score-nya adalah 65 dan anak tersebut

dalam

masuk dalam kelompok rata-rata.

yang

Norma UI Identification Scale for Early Gifted

masuk pada kriteria usia B yang mendapatkan

(UI ISEG) Bagian Kedua, tidak dapat

skor 17 pada UI Identification Scale for Early

diperoleh karena tidak diperolehnya sampel

Gifted (UI ISEG) Bagian Pertama, maka nilai

10


yang memadai sehingga tidak dapat dilakukan

adalah item-item yang dapat membedakan

analisis secara kuantitatif.

perkembangan anak dalam satu kategori usia. Pelaksanaan penelitian di lapangan untuk keperluan uji coba, hanya dilakukan

Diskusi

satu kali sehingga mengkibatkan data UI Identification Scale

Hasil penelitian ini adalah tersedianya dua alat identifikasi yaitu UI Identification

ISEG)

Scale

prasyarat untuk dianalisa secara statistik

for Early Gifted

(UI

ISEG) Bagian

Bagian

for Early Gifted

Kedua

tidak

(UI

memenuhi

Pertama dan UI - Identification Scale for Early Gifted

(UI

ISEG) Bagian Kedua. Alat

Kesimpulan

identifikasi UI - Identification Scale for Early Indeks validitas item UI Identification Scale

Gifted (UI ISEG) Bagian Pertama diberikan

for Early Gifted (UI ISEG) Bagian Pertama

dalam bentuk self report. Hal ini bertujuan

memiliki rentang antara 0,231 - 0,70. Hal ini

agar alat ukur tersebut dapat dengan mudah

memberikan indikasi bahwa item-item tersebut

dikerjakan oleh orangtua untuk melihat posisi

masuk dalam kategori valid. Indeks reliabilitas

perkembangan anaknya. Namun dari hasil pengamatan

terlihat

bahwa

UI Identification Scale for Early Gifted (UI

proses

ISEG) Bagian Pertama pada masing-masing

administrasi yang menggunakan self report menyebabkan

adanya

kesalahan

form adalah diatas 0,700 sehingga alat ukur ini

dalam

tergolong reliabel.

proses pengisian. Orangtua ternyata mengisi form tidak sesuai dengan keadaan anak yang sebenarnya, mungkin hal ini didasari bahwa

Saran

setiap orangtua memiliki harapan yang tinggi Perlu

terhadap perkembangan anaknya. Kesalahan pengisian pada UI - Identification Scale

untuk UI Identification Scale for Early Gifted (UI ISEG) Bagian Pertama dan Bagian Kedua

for

sebaiknya dilakukan secara terpisah, hal ini

Early Gifted (UI ISEG) Bagian Kedua. yang

Identification Scale ISEG)

terdapat

pada

UI

for Early Gifted

(UI

Bagian

menggambarkan perkembangan

Pertama karakteristik

secara

umum,

dengan

umumnya. Pelaksanaan pengambilan data

anak dilakukan asesmen oleh psikolog dengan

Item

pengujian

lebih mewakili populasi anak Indonesia pada

baru terlihat pada tahap selanjutnya dimana

Identification Scale

lagi

menggunakan sampel yang lebih luas untuk

for

Early Gifted (UI ISEG) Bagian Pertama ini

menggunakan UI

dilakukan

bertujuan untuk mengurangi kesalahan dalam pengisian Bagian Pertama.

bukan Daftar Pustaka

usia

Black,.M & Matula .(1999). Essentials Of Bayley Scales of Infan DevelopmentII Assessment . New York John Willey & Sons. Inc.

karena

instrumen ini tidak dapat digunakan untuk mengukur perkembangan normal pada anak.

Crocker, L. & Algina, J. (1986). Introduction to Classical and Modern Test Theory. Florida: Holt, Rinehart, & Winston, Inc.

Instrumen ini tidak menggunakan validitas perkembangan dan item-item yang dikonstruk

11


Cronbach,L.J.(1960). Essential of nd Psychological Testing, 2 ed. New York : Harper & Row Pulishers, Inc. Elkind, D. & Weiner, I.B. (1978). Development of the Child. New York: John Wiley Sons, Inc Gallahue, D.L. (1976). Motor Development and Movement Experiences for Young Children. Toronto: John Wiley & Sons Gallahue, D.L. & Ozmun, J.C. (2002). Understanding Motor Development: Infants, Children, Adolescents, Adults, 5th edition. New York: McGraw-Hill Gallahue, D.L. (1976). Motor Development and Movement Experiences for Young Children. Toronto: John Wiley & Sons, Inc. Gessel, A. MD & Amatruda,C,MD (1962). Developmental Diagnosis - Normal And Abnormal Child Developmental New York Paul B Hoeber Inc. Gallahue, D.L. (1982). Understanding Motor Development in Children. Toronto: John Wiley & Sons, Inc. Hadi, Sutrisno, (1995). Statistik Jilid 1 . Yokyakarta ; Penerbit Andi Offset Hellbrugge &Theodore. (1988). Diagnostik Perkembangan dalam Ilmu Kesehatan Anak Tahun Pertama- PT. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Markam, Sumarmo, (2003). Pengantar NeuroPsikologi . Jakarta; Balai Penerbit Fak. Kedokteran UI Nunnally, J.C. & Bernsteen, I.H. (1994). Psychometric Theory, 3rd edition. New York: McGraw-Hill th

Santrock,J.W (2003) Children 7 New York Mc Graw Hill

Edition.

Santrock, J.W. (2002). A Topical Approach to Life Span Development. New York: McGraw-Hill, Inc. Smutny, Venkeer&Venkeer, (1989). Your Gifted Child. USA ; First Balantine Book

12


PENGARUH KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS MENULIS REMAJA (Suatu Penelitian Pada LBPP-LIA) Winda Hapsari, Soemiarti Patmonodewo dan Tjut Rifameutia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kecenderungan kepribadian dan lingkungan belajar terhadap kreativitas menulis remaja. Hipotesis yang dikemukakan pada penelitian ini adalah (1) kecenderungan kepribadian remaja yang kreatif dalam menulis adalah introvert, (2) lingkungan belajar memberi pengaruh signifikan terhadap kreativitas menulis remaja, (3) lingkungan belajar dan kecenderungan kepribadian secara bersama-sama memberi pengaruh signifikan terhadap kreativitas menulis remaja. Subyek penelitian ini adalah remaja SMP yang juga siswa Lembaga Bahasa dan Pendidikan Profesional (LBPP) LIA. Subyek diminta untuk mengisi kuisioner dan mengarang berbahasa Inggris sesuai dengan topik yang telah ditentukan. Alat ukur variabel kecenderungan kepribadian diadaptasi dan dimodifikasi dari Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang dikembangkan Isabel Briggs-Myers da Katherine Briggs. Kuisioner untuk variabel lingkungan belajar dikembangkan peneliti berdasarkan kerangka teoritis yang ada. Tulisan dievaluasi dengan menggunakan skema penilaian tulisan kreatif yang dirancang oleh Utami Munandar. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan analisis regresi berganda (Multiple Regression Analysis) dengan bantuan SPSS for Windows versi 13.00. Analisis hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan kepribadian dan lingkungan belajar tidak memberi pengaruh bermakna terhadap kreativitas menulis remaja. Alasan-alasan yang menyebabkan tidak terbuktinya hipotesis penelitian ini serta beberapa analisis tambahan dibahas pada bagian diskusi dari tesis. Beberapa saran yang diajukan untuk penelitian selanjutnya antara lain (1) melakukan penelitian serupa dalam konteks pendidikan formal, (2) penggunaan metode kualitatif pada penelitian selanjutnya, dan (3) penggunaan seluruh komponen dari keempat dikotomi MBTI pada variabel kecenderungan kepribadian. Kata kunci : kreativitas, kreativitas dalam menulis, kecenderungan kepribadian, lingkungan belajar.

Pendahuluan

tak hanya ada satu solusi atau jawaban yang

Kreativitas merupakan bakat yang

benar dari suatu masalah, sebaliknya individu

secara potensial dimiliki oleh setiap orang

dapat

(Clark, 1986).

Ia merupakan ungkapan unik

gagasan atau respon terhadap suatu situasi

dari keseluruhan kepribadian sebagai hasil

atau masalah tersebut (Ripple, 1989; Boer,

interaksi individu dengan lingkungan yang

1983).

tercermin dalam pikiran, perasaan, sikap, atau

yang membutuhkan kreativitas adalah dalam

perilakunya

menulis.

(Utami

Munandar,

2002).

mengembangkan

berbagai

macam

Salah satu bentuk kegiatan spesifik

Menulis

merupakan

Kreativitas adalah suatu konstruk sosial yang

keterampilan

merupakan hasil dari interaksi antara individu

gagasan-gagasan individu. Feldhusen (1993)

dengan

menyebutkan bahwa unsur-unsur kreativitas

lingkungannya

(Csikszentmihalyi,

1996).

dalam Konsep kreativitas melalui pendekatan

kognitif

dapat

menyetarakan

didefinisikan

kreativitas

berpikir divergen.

dengan

untuk

suatu

menulis

mengekspresikan

dapat

diwujudkan

dalam

bentuk karangan, cerita pendek/panjang, atau

dengan

puisi.

Utami

Munandar

(2002)

proses

mengemukakan bahwa evaluasi kreativitas

Berpikir divergen adalah

melalui tulisan dapat dilakukan dengan melihat

suatu aktivitas mental dalam situasi dimana

komponen-komponen

13

kelancaran

(fluency),


kelenturan (flexibility), keaslian (originality),

perubahan besar pada aspek fisik, kognitif,

dan keterperincian (elaboration) dari tulisan

dan psikososial. Masa remaja dimulai sekitar

tersebut. Tulisan yang memperoleh skor tinggi

usia 11 atau 12 tahun, dan berakhir menjelang

pada

atau pada usia 20-an.

keempat

komponen

tersebut

Masa remaja awal

dikategorikan sebagai tulisan kreatif. Di dalam

berlangsung antara usia 11 atau 12 tahun

suatu tulisan, kemampuan berpikir divergen

hingga usia 14 tahun (Papalia dkk., 2004).

penulis menjadikan tulisan unik dan menarik

Penelitian

untuk dibaca.

orang-orang

Csikszentmihalyi muda

dan

(1996)

remaja

pada

berbakat

C.G. Jung (dalam Myers dkk., 1998)

menunjukkan bahwa individu membutuhkan

membagi kecenderungan kepribadian individu

waktu menyendiri untuk menulis, melukis, atau

kedalam dua tipe: extraversi dan introversi.

bereksperimen di laboratorium. Mereka yang

Individu yang cenderung pada extraversi

tidak tahan menyendiri tidak akan mampu

(extravert) dideskripsikan pada mereka yang

mengembangkan

energinya diorientasikan ke luar diri, kepada

potensi kreatifnya.

orang

di

hasil-hasil penelitian di atas, hal yang menarik

lingkungan eksternalnya. Sedangkan individu

u ntuk diteliti adalah apakah remaja yang

yang cenderung pada introversi (introvert)

kreatif dalam menulis cenderung introvert?

lain

atau

kejadian-kejadian

adalah mereka yang mengarahkan energinya ke

dalam

diri,

pada

pemikiran

apalagi

merealisasikan

Berdasarkan teori dan

Hal yang paling dominan terjadi pada

dan

masa

pengalaman-pengalaman batinnya.

remaja

ini

adalah

pencarian

dan

pembentukan identitas (Erikson, 1968). Untuk

Salah satu karakteristik positif dari

membentuk

identitasnya,

individu kreatif adalah kebutuhannya untuk

menemukan

dan

menyendiri.

dapat

kebutuhan, minat, dan keinginan mereka

diasosiasikan dengan sifat ini antara lain sifat

untuk dapat mengekspresikan diri mereka

reflektif, introspektif, sibuk dengan dirinya

dalam lingkungan sosialnya (Papalia dkk.,

secara internal, sensitif, cenderung menarik

2004). Dalam hal pengembangan kreativitas,

diri, dan suka bekerja sendiri (Davis dan

Amabile

Rimm, 2004). Apabila hal ini dikaitkan dengan

lingkungan sosial

teori

dalam kreativitas individu, baik positif maupun

Sifat-sifat

kecenderungan

lain

yang

kepribadian

yang

remaja

mengelola

(1989)

harus

kemampuan,

berpendapat

bahwa

memiliki pengaruh besar

dikemukakan C.G. Jung, extraversi-introversi,

negatif.

tampaknya kecenderungan pada introversi

menambahkan bahwa bakat kreatif dapat

lebih dekat pada kreativitas. Penelitian yang

berkembang

dilakukan Piirto (1998) menunjukkan bahwa

mendukung, tetapi dapat pula dihambat dalam

para

penulis

memiliki

kreatif,

karakteristik

Munandar

dalam

lingkungan

khususnya

wanita,

lingkungan

kepribadian

tertentu

pengembangan bakat itu.

dimana salah satunya adalah kecenderungan

yang

Lingkungan

pada introversi. Masa

Utami

tidak

belajar

(2002)

yang

menunjang

di

kelas

merupakan lingkungan sosial yang secara remaja

merupakan

masa

spesifik memiliki peran dalam perkembangan

transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa

kreativitas remaja, khususnya dalam menulis.

yang diikuti dengan terjadinya perubahan-

Hasil

14

penelitian

dari

Amabile

(1985)


menemukan lingkungan belajar yang kondusif

tak hanya ada satu solusi atau jawaban yang

terhadap

benar dari suatu masalah, sebaliknya individu

kreativitas

akan

mempengaruhi

motivasi intrinsik individu yang pada akhirnya

dapat

mengembangkan

berbagai

macam

akan meningkatkan kreativitasnya.

Tulisan-

gagasan atau respon terhadap suatu situasi

tulisan yang didasari oleh motivasi intrinsik

atau masalah tersebut (Cropley, 1999; Ripple,

memiliki nilai kreativitas yang tinggi

1989; Boer, 1983).

Pengukuran berpikir

divergen dilakukan dengan meninjau dimensi Rumusan Masalah

kelancaran,

Dari aspek-aspek yang ingin dilihat oleh

keterperincian (Utami Munandar, 2002).

peneliti, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan

yang

ingin

dijawab

keaslian,

dan

Kreativitas dalam Menulis

melalui

Kreativitas

penelitian ini antara lain:

1. Apakah

kelenturan,

merupakan

suatu

karakteristik, kemampuan, atau proses kognitif kepribadian

yang menghasilkan suatu produk yang baru

remaja yang kreatif dalam menulis adalah

dan bermanfaat (Dikidoy & Kanari, 1999).

introvert?

Produk-produk tersebut dapat berupa suatu

2. Apakah

kecenderungan

kondisi

lingkungan

belajar

konsep, tulisan, gambar, lukisan, atau cara

memberikan pengaruh yang signifikan

pemecahan masalah. Produk yang dihasilkan

terhadap kreativitas menulis remaja?

dalam bentuk tulisan, dapat berupa karangan,

3. Apakah kecenderungan kepribadian dan

cerita pendek, atau puisi (Feldhusen, 1993).

lingkungan belajar secara bersama-sama

Kecenderungan Kepribadian dan Kreativitas

memberi pengaruh signifikan terhadap

dalam Menulis

kreativitas menulis remaja? C.G. Jung menjelaskan perbedaan Tinjauan Teoritis

individu dalam kepribadian berdasarkan hasil

Konsep dan Definisi Kreativitas

observasinya,

bahwa

ada

dua

tipe

Kreativitas merupakan suatu bakat

kepribadian, yaitu extraversi dan introversi.

yang secara potensial dimiliki oleh setiap

Extravert (individu yang cenderung pada

orang yang dapat ditemukan (diidentifikasi),

extraversi) adalah mereka yang energinya

dan dipupuk melalui pendidikan yang tepat

diorientasikan ke hal-hal di luar dirinya, yaitu

(Utami Munandar, 2002).

pada

Setiap individu,

orang

dan

kejadian-kejadian

di

secara potensial, memiliki energi psikis yang

lingkungan eksternal.

ia butuhkan untuk mengembangkan hidup

cenderung pada introversi) adalah mereka

kreatif

1996).

yang energinya dibangkitkan oleh hal-hal yang

yang

ada di dalam diri dan batin, yaitu pada

menggunakan pendekatan kognitif berasumsi

pemikiran dan pengalaman-pengalaman batin

bahwa kreativitas merupakan satu aspek dari

mereka

fungsi

Kecenderungan

(Csikszentmihalyi,

Pengembangan

otak,

konsep

khususnya

(Arnheim, 2001).

kreativitas

aspek

kognitif

(dalam

Introvert (individu yang

Myers ini

dapat

dkk.,

1998).

menguat

dan

melemah seiring dengan perkembangan hidup

Berpikir divergen, yang

individu (Keirsey & Bates, 1984).

merupakan bagian dari aspek kognitif, adalah suatu aktivitas mental dalam situasi dimana

15


Extravert berbicara,

termotivasi

bermain,

dan

bekerja

dengan

satunya

dengan

introversi.

orang-orang (Keirsey & Bates, 1984). Mereka

adalah

kecenderungan

pada

Lingkungan Belajar dan Kreativitas Menulis

sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya,

Lingkungan belajar memiliki peran

dan keyakinan mereka dibentuk oleh pendapat

besar dalam manifestasi kreativitas siswa

dan nilai-nilai dari orang-orang yang dekat

(Diakidoy & Kanari, 1999).

dengan mereka (Monte & Sollod, 2003).

lingkungan belajar merupakan faktor yang

Di

Atmosfir dari

sisi lain, introvert memilih aktivitas-aktivitas

penting (Poon Teng Fatt, 2000).

soliter atau yang hanya melibatkan sedikit

teman sebaya sangat kuat pada masa remaja

orang (Keirsey & Bates, 1984).

Mereka

(Papalia dkk., 2004). Davis dan Rimm (2004)

terkadang menarik diri. Mereka membutuhkan

berpendapat bahwa kreativitas dapat diajarkan

waktu lebih banyak untuk diri sendiri dan

di dalam kelas.

cenderung menyimpan energi. Mereka ingin

menambahkan bahwa sampai batas tertentu,

memahami

mengalami

kreativitas dapat langsung dikembangkan oleh

Seringkali mereka berpikir dan

guru di dalam kelas. Guru dapat mengajarkan

berefleksi sebelum bertindak atau bicara.

keterampilan pengetahuan dan teknis pada

Untuk

beberapa mata pelajaran, seperti bahasa,

sesuatu.

dahulu

memotivasi

sebelum

diri,

mereka

butuh

ketenangan (Baron, 1998).

matematika,

C.G. Jung mengemukakan bahwa

Utami Munandar (2002)

dan

seni.

Csikszentmihalyi

(1996) mengemukakan dua alasan utama

Extraversi menjadi kecenderungan utama dan

mengapa

kesadaran

kreativitas siswa.

(consciousness)

Pengaruh

mendominasi

guru

berperan

dalam

Alasan pertama adalah

kehidupan mental mereka (dalam Hall, 1998).

karena

Hasil

kemampuan siswa, serta peduli. Kedua, guru

penelitian

yang

dilakukan

oleh

guru

sangat

mengenali

dan

Olszewski-Kubilius (2000) yang mendukung

menunjukkan

pendapat ini menunjukkan bahwa kebanyakan

kreatif dengan memberi kerja ekstra dan

dari

menghabiskan

tantangan yang lebih besar dibandingkan

sebagian besar waktu mereka menyendiri di

dengan yang diterima oleh siswa-siswa lain di

masa kecil.

kelas.

orang-orang

kreatif

Pada penelitian lain yang

kepeduliannya

meyakini

pada

siswa

dilakukan Csikszentmihalyi pada orang-orang Hipotesis

muda dan remaja berbakat menunjukkan bahwa menyendiri

remaja untuk

membutuhkan menulis,

melukis,

waktu

Hipotesis

atau

yang

akan

diuji

pada

penelitian ini adalah:

bereksperimen di laboratorium. Remaja yang

1. Kecenderungan kepribadian remaja yang

tidak tahan menyendiri tidak akan mampu

kreatif dalam menulis adalah introvert.

mengembangkan

apalagi

merealisasikan

2. Lingkungan belajar memberi pengaruh

potensi kreatifnya. Penelitian yang dilakukan

signifikan terhadap kreativitas menulis

Jane Piirto (1998) menunjukkan bahwa para

remaja.

penulis kreatif, khususnya wanita, memiliki

3. Lingkungan belajar dan kecenderungan

karakteristik kepribadian tertentu dimana salah

kepribadian

16

secara

bersama-sama


memiliki

pengaruh signifikan terhadap

Instrumen

kreativitas menulis remaja.

yang

digunakan

untuk

mengukur kreativitas dalam menulis adalah tes mengarang berbahasa Inggris.

Subyek

Metode Penelitian

diminta menulis karangan berbahasa Inggris

Variabel Penelitian

dengan tema Three Wishes in My Life.

Variabel

kreativitas

Sebelum menentukan tema tersebut, telah

menulis remaja yang didefinisikan sebagai

dilakukan uji coba untuk menentukan tema

skor yang diperoleh dari hasil mengarang

yang sesuai dengan kapasitas siswa SMP

berbahasa Inggris dengan melihat aspek-

untuk dapat mengembangkan unsure-unsur

aspek kelancaran, kelenturan, keaslian, dan

kreativitas

keterperincian

2002).

dilakukan

adalah

menggunakan skema penilaian tulisan kreatif

kecenderungan kepribadian yang didefinisikan

yang dikembangkan Utami Munandar (1977;

sebagai ciri-ciri dari salah satu dikotomi pada

2002).

Variabel

terikat

(Utami

Munandar,

bebas

Myers-Briggs

adalah

pertama

Type

mengukur

yang

tulisannya.

secara

Instrumen

Indicator

(MBTI) Extraversion/Introversion

dalam

Penilaian

kuantitatif

yang

dengan

digunakan

kecenderungan

untuk

kepribadian

dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers dan

merupakan modifikasi dari Myers-Briggs Type

Katherine Briggs (Myers dkk., 1998). Variabel

Indicator

bebas

adalah

lingkungan

belajar

komponen-komponen

sebagai

persepsi

remaja

karakteristik introversi

kedua

didefinisikan

(MBTI)

mengambil

yang

mengukur

extraversi. Butir-butir

mengenai lingkungan belajarnya berkaitan

diterjemahkan

dengan kemungkinan munculnya kreativitas

Bahasa Indonesia yang umum digunakan.

yang

Modifikasi

ditinjau

dari

aspek

guru,

teman,

dan

dengan

dengan

disesuaikan

dengan

menyederhanakan

pengaturan kelas, dan sumberdaya (Utami

pertanyaan dan bahasa dilakukan dengan

Munandar, 2002; Davis & Rimm, 2004).

pertimbangan

agar

pertanyaan-pertanyaan

dalam instrumen dekat dengan kehidupan

Subyek Penelitian

keseharian remaja sehingga dapat dengan yang

Subyek penelitian adalah siswa SMP

mudah dimengerti dan direspon.

berusia

menggunakan

11-15 teknik

Modifikasi

tahun

dengan

berupa penambahan butir-butir pertanyaan

accidental

sampling.

dilakukan agar semua indikator karakteristik

Subyek diperoleh dari LBPP-LIA Galaxy yang

yang akan diukur dapat terwakili.

merupakan suatu institusi non-formal Bahasa

Instrumen untuk mengukur lingkungan

Inggris. Jumlah subyek yang diambil adalah

belajar dalam penelitian ini adalah skala yang

semua siswa pada tingkat terakhir program

dirancang oleh peneliti dengan meninjau

Bahasa Inggris untuk SMP, yaitu 158 orang.

komponen-komponen

Instrumen Penelitian

pengaturan kelas, dan sumberdaya (lihat table 1.)

17

guru,

teman,


Tabel 1. Kisi-kisi penyusunan skala lingkungan belajar. Komponen

Indikator Sikap kreatif

Guru

Falsafah mengajar Strategi mengajar Sikap kreatif

Teman

Tekanan konformitas Pengaturan duduk dan pola aktivitas

Pengaturan kelas

Kebebasan mengekspresikan diri Peraturan-peraturan Materi dan silabus

Sumberdaya

Akses informasi

Pengolahan dan Analisis Data

yang dilakukan sendiri atau melibatkan hanya

Data yang terkumpul dikategorisasi dan

dianalisis secara statistik.

dengan

menggunakan

sedikit orang seperti membaca, menulis buku

Data diolah

program

harian, bermain game komputer, chatting

komputer

internet dan sebagainya.

Terdapat 11,6%

Statistical Package for the Social Sciences

menyukai

aktivitas

(SPSS) 13.00 for Windows.

Data dianalisis

menyukai

kombinasi

dengan menggunakan teknik regresi berganda

kelompok.

untuk menguji terbukti atau tidaknya hipotesis

aktivitas kelompok diantaranya bermain bola

yang diajukan.

basket, bermain sepak bola, pesta, berkumpul dengan

kelompok aktivitas

Kegemaran

teman-teman

dan

29,9%

soliter dan

yang

(hang

termasuk

out)

atau

Hasil Dan Analisa Hasil

sejenisnya.

Profil Subyek

merupakan aktivitas yang pada prakteknya

Dari 147 data subyek yang dapat

dapat

Aktivitas soliter dan kelompok,

dilakukan

sendiri

atau

bersama

diolah, 44,9% adalah remaja pria dan 55,1%

kelompok seperti menyanyi, bermain musik,

adalah remaja perempuan. Berdasarkan asal

berbelanja, atau sejenisnya. Sebagian besar

sekolah, 48,9% bersekolah di SMP negeri dan

ayah

51,1% bersekolah di SMP swasta. Terdapat

(49,7%) dan sebagian besar ibu adalah ibu

47,6 % subyek yang merupakan anak pertama

rumah tangga (54,4%).

dan

pertama.

subyek memiliki ayah dengan latar belakang

Aktivitas soliter merupakan jenis aktivitas yang

pendidikan setara S1 atau D3 ((63,9%) dan

mayoritas

ibu,juga, dengan latar belakang pendidikan

52,4%

(58,5%).

yang

menjadi

bukan

anak

kegemaran

subyek

Aktivitas soliter adalah kegiatan

mereka

adalah

setara S1 atau D3 (66,7%).

18

karyawan

swasta

Sebagian besar


Kecenderungan Kepribadian, Lingkungan Belajar, dan Kreativitas Menulis Tabel 2. Data Subyek Berdasarkan Kecenderungan Kepribadian Kecenderungan Kepribadian

Persentase (%)

Extravert

60,5

Introvert

39,5

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian

drama perlu lebih dibangun disebabkan

besar

aktivitas-aktivitas

remaja

adalah

extravert

(60,5%).

Hanya terdapat 39,5% remaja merupakan 3.

Gambaran lingkungan belajar yang

Secara

umum

pengaturan memfasilitasi

teman

siswa remaja.

kelas,

dan

sumberdaya adalah sebagai berikut: 1.

Guru

bersikap

sangat

aktivitas

di

kelas

terwujudnya

dan cukup

kreativitas

Hal ini tampak pada

penerapan pola aktivitas yang bervariasi dengan

antara aktivitas kelas (class activity),

memberikan kesempatan pada siswa

kerja individu (individual work), kerja

untuk bertanya.

berpasangan

motivasi

terbuka

Guru juga memberi

siswa

dengan

(pair

work),

dan

kerja

menunjukkan

kelompok (group work). Pola pengaturan

sikap antusias dan bersemangat saat

duduk pun disesuaikan dengan pola

mengajar dan memberi perhatian sama

aktivitas.

terhadap

mengekspresikan diri melalui hasil karya

semua

siswa.

Namun

Kesempatan

untuk

demikian, guru perlu memperbaiki variasi

dirasa belum cukup diberikan.

teknik mengajar dengan memanfaatkan

tampak dari sedikitnya hasil karya siswa

perlengkapan-perlengkapan

yang

tambahan

seperti gambar, kaset, video, dan lain-

dipasang

4.

keterampilan

subyek

antara

pendapat

dengan

mereka dan tidak memaksakan kehendak

(listening),

pada subyek untuk mengikuti keinginan

membaca

mereka.

(writing),

Sikap kreatif teman-teman

sekelas

ditunjukkan

kecenderungan

untuk

wujud

dari

Dari sisi materi dan silabus, komposisi

Teman-teman dapat menerima apabila berbeda

sebagai

Hal ini

ekspresi diri mereka.

lain. 2.

pola

duduk

dipersepsikan remaja ditinjau dari aspek guru, pengaturan

ini

menunjang kreativitas.

introvert.

sekelas,

seperti

yang

diasah

keterampilan

bervariasi mendengar

berbicara, (reading), disamping

(speaking), dan

menulis

materi

struktur

dengan

bahasa (grammar). Sarana untuk akses

sama

informasi diberikan dengan menyediakan

bekerja

melalui kerja kelompok dan tidak bersikap

perpustakaan

individual

bekerja

membaca atau meminjam buku-buku

demikian,

yang tersedia. Namun demikian, sebagai

aktivitas-aktivitas

institusi bahasa asing, LBPP-LIA belum

dengan

sendiri-sendiri. kesukaan yang

memilih Namun

terhadap

bersifat

permainan

peran

dan

menyediakan

19

dimana

siswa

laboratorium

dapat

bahasa


sebagai

sarana

untuk

mengasah

keterampilan berbahasa siswa remaja.

Tabel 3.

skor yang terendah adalah 4 (1,4%). Terdapat

Data Subyek Berdasarkan Skor Mengarang

18,4% remaja dengan tulisan sangat kreatif

Skor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Persentase (%) 1,4 6,1 6,8 6,1 8,8 9,5

Skor

Persentase (%)

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

10,2 12,2 12,9 7,5 6,1 7,5 2,7 1,4 0,7 -

(skor 15-19). Diantara

remaja

kreatif

tersebut,

sebagian besar adalah perempuan (59,3%). Mereka menyukai aktivitas-aktivitas soliter (70,4%), dan sekitar 51,9% dari mereka melakukan

aktivitas

yang

terkait

dengan

menulis seperti menulis buku harian, menulis puisi, atau membaca,

Terdapat 51,9%

diantara mereka merupakan anak pertama. Skor mengarang yang diperoleh terbanyak

Sebagian besar remaja kreatif memiliki orang

(modus) adalah skor 13 (12,9%).

tua dengan tingkat pendidikan setara D3 atau

Skor

S1 (ayah: 66,7%, ibu: 70,4%).

tertinggi yang diperoleh adalah 19 (0,7%), dan

Analisa Hasil Tabel 4. Uji Korelasi dan Regresi Variabel

R

R2

F

Sig

Kecenderungan kepribadian

0,107

0,011

1,669

0,198

Lingkungan belajar

0,609

0,371

0,946

0,583

0,610

0,372

0,925

0,620

Kecenderungan

kepribadian

dan lingkungan belajar

Pada

variable

kecenderungan

Hasil uji regresi berganda variabel

kepribadian, uji regresi menunjukkan nilai

kecenderungan kepribadian dan lingkungan

probabilitas sebesar 0,198 (p 0,05) yang

belajar terhadap kreativitas menulis remaja

berarti variabel kecenderungan kepribadian

menunjukkan

tidak cukup signifikan untuk memprediksi

p=0,620 (p 0,05). Dengan demikian hipotesis

tingkat kreativitas menulis remaja.

ketiga penelitian ini tidak terbukti.

Dengan

hubungan

yang

signifikan,

demikian hipotesis pertama dari penelitian ini Diskusi

tidak terbukti. Pada variabel lingkungan belajar, uji

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

regresi menunjukkan nilai probabilitas 0,563

sebagian besar siswa remaja adalah extravert.

(p 0,05)

variabel

Dominasi extraversi terjadi baik pada remaja

lingkungan belajar tidak cukup signifikan

pria maupun remaja perempuan. Kenyataan

dalam memprediksi tingkat kreativitas menulis

ini

remaja.

menyatakan

yang

berarti

bahwa

Dengan demikian, hipotesis kedua

tidak terbukti.

20

sejalan

dengan bahwa

teori extraversi

Jung

yang

merupakan


kecenderungan yang mendominasi kesadaran

kepribadian

di masa remaja (dalam Hall et al., 1998).

memprediksi kreativitas menulis seseorang.

Ditinjau dari teori Myers-Briggs Type Indicator,

MBTI

kedalam

dalam

konsep

harus

diteliti

kreativitas

itu

untuk

sendiri,

empat

kreativitas dalam menulis merupakan bakat

yaitu

yang spesifik. Kemungkinan hanya kombinasi

extraversion/introversion (EI), sensing/intuitive

tipe-tipe tertentu yang merupakan ciri penulis

(SN),

kreatif.

dikotomi

terbagi

Di

MBTI

terpisah,

thinking/feeling

judging/perceiving 2001).

(JP)

(TF), (dalam

dan Santrock,

Ada 16 tipe kepribadian

Ditinjau dari MBTI sebagai suatu alat

yang

ukur, tes MBTI merupakan self-assessment

merupakan permutasi dari keempat dikotomi.

dimana responden mengukur dirinya sendiri.

Tidak adanya pengaruh yang bermakna dari

Self-assessment sangat rentan dengan bias

variabel kecenderungan kepribadian terhadap

dari jawaban responden.

kreativitas dalam menulis dapat disebabkan

jawaban responden merupakan cerminan dari

karena komponen yang diukur pada penelitian

dirinya atau bukan tidak dapat benar-benar

ini hanya komponen extraversi dan introversi.

diketahui.

Dengan demikian uji korelasi dan regresi yang

dalam diri seseorang kecenderungan terhadap

dilakukan

dari

kedua sikap (extraversi dan introversi) ada.

keseluruhan deskripsi kepribadian dalam teori

Meskipun antisipasi terhadap kemungkinan

MBTI.

bias ini telah dilakukan dengan menambah

masih

bersifat

Pengukuran

extraversi/introversi bermakna

terhadap

menjadi

untuk

parsial

komponen

tidak

memprediksi

cukup

butir-butir

Apakah jawaban-

Bias ini dapat terjadi mengingat

yang

mengukur

karakteristik

kreativitas

masing-masing kecenderungan dan melalui

dalam menulis seseorang, khususnya remaja.

petunjuk pada awal pelaksanaan tes. Kepada

Pada setiap komponen dari keempat dikotomi

responden dijelaskan bahwa tidak ada pilihan

tentunya ada ciri-ciri kepribadian yang dekat

benar atau salah, dan bahwa respoden harus

dengan

kemungkinan

memilih jawaban yang paling dekat dengan

komponen-komponen lain (SN, TF, atau JP)

kehidupan kesehariannya dan sifatnya paling

lebih berperan dalam memprediksi kreativitas

sering (often) dan tidak memerlukan usaha

menulis

(effortless) (Myers dkk., 1998).

kreativitas.

seseorang.

Ada

Sebagai

contoh,

Namun

seseorang yang intuitive mungkin lebih kreatif

demikian, kemungkinan terjadinya bias tetap

daripada seseorang yang sensing, disebabkan

ada mengingat subyek

faktor intuisi merupakan ciri yang lekat dengan

adalah remaja.

kreativitas. Individu perceiver bisa jadi lebih

bahwa MBTI biasa diberikan kepada orang

kreatif daripada individu judger.

Dalam

dewasa untuk berbagai kebutuhan terutama

memandang suatu masalah dan mencari

untuk tujuan pemilihan sumberdaya manusia

solusi

di

masalah,

terhadap

perceiver

lebih

kemungkinan-kemungkinan

terbuka

pada penelitian ini

Myers (1998) menyatakan

perusahaan-perusahaan.

Di

dunia

yang

pendidikan, MBTI sering digunakan pada

beragam sementara judger lebih menyukai

lulusan sekolah menengah dalam pemilihan

kepastian. Kemunginan lain adalah gabungan

jurusan di pendidikan tinggi atau pemilihan

dari ciri-ciri pribadi kreatif pada masing-masing

karir.

komponen MBTI. Keseluruhan kombinasi tipe

remaja awal yang berusia antara 11 sampai

21

Pada penelitian ini subyek adalah


dengan 15 tahun.

Menurut Erik Erikson

Ditinjau dari jenis pendidikan, LBPP-

(1968), remaja berada pada tahap kelima dari

LIA

tahapan perkembangan psikososial manusia,

formal.

yaitu identity versus role confusion.

terhadap

utama

remaja

psikososialnya

dalam adalah

Tugas

perkembangan

untuk

merupakan Status

ini

tidak

lingkungan

membentuk

institusi

pendidikan

diduga

berpengaruh

bermaknanya

belajar

menulis remaja.

non-

terhadap

variabel kreativitas

Dari sisi frekuensi dan

identitas dirinya, mengatasi krisis dan konflik

intensitas

psikososial yang dialaminya pada masa ini.

diduga berpengaruh pada hasil penelitian ini.

Konflik psikososial yang sering dialami remaja

Siswa remaja datang untuk belajar Bahasa

adalah konflik peran antara identitas dirinya

Inggris hanya empat jam dalam seminggu.

dan harapan lingkungannya.

Apabila hal ini

Ditinjau dari sisi frekuensi dan intensitas

dikaitkan dengan tes MBTI, kemungkinan

pertemuan dengan guru dan teman sekelas,

terjadinya bias pada subyek remaja relatif

tentunya kuantitas dan kualitas interaksi siswa

lebih besar daripada subyek dewasa. Subyek

remaja tidaklah sebesar dengan guru dan

dewasa sudah memiliki kemapanan dalam

teman-teman di sekolah.

pemahaman terhadap identitas dirinya. Di sisi

dalam satu minggu benar-benar dimanfaatkan

lain,

hanya untuk belajar Bahasa Inggris. Interaksi

ditinjau

dari

psikososialnya membedakan

tahap

remaja apakah

perkembangan terkadang

karakteristik

pertemuan

dan

pembelajaran

Durasi empat jam

sulit

yang ada pun terjadi hanya di dalam kelas.

dalam

Siswa datang pada jam belajar dan langsung

dirinya merupakan cerminan kecenderungan

pulang setelah akhir pelajaran.

internalnya yang bersifat

permanen atau

interaksi interpersonal yang lebih intens dari

realisasi dari harapan lingkungannya yang

siswa remaja di luar kelas baik dengan guru

mungkin

kelas maupun dengan teman sekelas. Hal ini

suatu

Kemungkinan

ini

hari

dapat

didukung

berubah. oleh

hasil

Tidak ada

terkecuali apabila teman sekelas siswa remaja

penelitian ini yang menunjukkan sebagian

di

besar siswa remaja adalah extravert namun

sekolah.

persentase terbanyak tipe kegemaran adalah

sebagai sumber pembelajaran Bahasa Inggris.

aktivitas-aktivitas soliter.

Berbeda dengan pendidikan formal, di sekolah

Hasil analisis statistik terhadap kondisi lingkungan

belajar

di

LBPP-LIA

LBPP-LIA

juga

merupakan

teman

di

Peran guru di LBPP-LIA adalah

remaja bertemu dengan teman-teman dan

Galaxy

guru sekolah setiap hari.

Interaksi ini

dengan meninjau komponen-komponen guru

ditambah dengan adanya kegiatan ekstra

kelas, teman sekelas, pengaturan kelas, dan

kurikuler atau kegiatan-kegiatan lain di luar

sumberdaya menunjukkan kondisi yang cukup

jam sekolah. Biasanya teman sekolah remaja

kondusif bagi terwujudnya kreativitas menulis.

adalah juga teman bermainnya.

Namun demikian kondisi tersebut masih belum

sekolah seringkali berfungsi sebagai orang tua

maksimal dan memerlukan pengembangan.

kedua bagi remaja. Peran guru sekolah tidak

Diduga kondisi yang pertengahan ini yang

hanya pada perkembangan studi remaja

menyulitkan dalam analisis statistik untuk

semata,

melainkan

ditinjau pengaruh kebermaknaannya.

pribadi

dan

keseluruhan.

22

juga

Guru di

perkembangan

pendidikannya

secara

Menurut Csikszentmihalyi


(1996), ada dua alasan utama mengapa guru

dalam jangka waktu satu tahun. Kualitas dan

sangat berperan dalam kreativitas siswa.

kuantitas

Pertama,

meyakini

jarang ada perpindahan siswa dari sekolah

kemampuan siswa, serta peduli. Kedua, guru

formal yang satu ke sekolah formal lain.

menunjukkan kepedulian pada siswa kreatif

Remaja akan berinteraksi dengan teman-

dengan memberi kerja ekstra dan tantangan

teman, guru-guru, dan sistem sekolah secara

yang lebih besar dibandingkan dengan yang

keseluruhan selama tiga tahun.

diterima

lingkungan

guru

mengenali

dan

oleh siswa-siswa

Pendapat

lain

Csikszentmihalyi

ini

di

kelas.

tampaknya

interaksi

belajar

diperbesar

yang

mengingat

Atmosfir

terbentuk

relatif

permanen. Hal ini tentunya berimplikasi pada

ditujukan pada konteks pendidikan formal.

kebermaknaan pengaruh lingkungan belajar

Durasi siklus pembelajaran diduga

sekolah terhadap kreativitas remaja.

juga berpengaruh terhadap hasil penelitian ini. Kesimpulan

Di LBPP-LIA, pergantian tingkat terjadi setiap tiga bulan. Remaja akan diajar oleh guru yang

Dari analisis hasil penelitian diperoleh

berbeda-beda pada tiap tingkatnya. Interaksi

kesimpulan sebagai berikut:

efektif antara siswa remaja dengan guru

1.

Variabel

kelasnya pada tingkat tertentu relatif pendek.

tidak

Setiap guru memiliki sikap, strategi, dan

terhadap

falsafah

Dengan

mengajar

yang

berbeda-beda.

Remaja harus beradaptasi dengan guru yang berbeda-beda

dalam

memberi

kepribadian

pengaruh

kreativitas demikian

signifikan

menulis

remaja.

hipotesis

pertama

penelitian ini tidak terbukti. Variabel

lingkungan

yang relatif pendek. Hal ini berimplikasi pada

memberi

pengaruh

yang

kecilnya

terhadap

kreativitas

menulis

remaja.

kreativitas siswa remaja. Meskipun guru kelas

Dengan

demikian

hipotesis

kedua

saat

penelitian ini tidak terbukti.

pengaruh

ini

mengajar,

memiliki dan

siklus

kecenderungan

guru

sikap

falsafah

pembelajaran

kelas

2.

terhadap

kreatif,

strategi

mengajar

yang

3.

Variabel

belajar

kecenderungan

tidak

signifikan

kepribadian

kondusif bagi kreativitas, namun pendeknya

secara bersama-sama tidak memberi

durasi interaksi siswa remaja dengan guru

pengaruh signifikan terhadap kreativitas

kelas menyebabkan pengaruh yang diberikan

menulis

remaja.

tidak cukup besar dan permanen.

hipotesis

ketiga

Teman-

teman sekelas siswa remaja pun cenderung berganti-ganti.

Dengan penelitian

demikian ini

tidak

terbukti.

Pergantian teman ini dapat Saran

disebabkan karena siswa remaja mengubah jadwal belajar Bahasa Inggrisnya, teman-

Beberapa saran yang diajukan untuk

teman yang tidak melanjutkan kursus, atau

penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:

perubahan kelas karena faktor administratif.

1.

Perbedaan

jauh

terjadi

belajar sekolah formal. adalah tahunan.

pada

Dilakukan

penelitian

serupa

dengan

lingkungan

menggunakan subyek siswa remaja di

Siklus pembelajaran

sekolah formal untuk melihat pengaruh

Siswa berinteraksi dengan

teman-teman sekelas dan gurunya

kecenderungan

minimal

kepribadian

dan

lingkungan belajar terhadap kreativitas

23


menulis siswa dalam konteks pendidikan

4. Retrieved September 9, 2005 from Proquest Psychology journals.

formal. 2.

Cropley, A.J. (2000). Defining and measuring creativity: are creativity test worth using? Roeper Review. 23,2. Academic Research Library. Retrieved May 15, 2004.

Penelitian selanjutnya disarankan untuk menyertakan

seluruh

komponen

kepribadian pada teori MBTI untuk dapat memperoleh informasi yang menyeluruh tentang

kecenderungan

Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: flow and the psychology of discovery and invention. New York: HarperCollins Publishers, Inc.

kepribadian

seseorang. 3.

Penggunaan penelitian

metode

selanjutnya

kualitatif yang

pada

Davis, G. A., & Rimm, S.B.. (2004). Education of the gifted and talented (5th ed.). USA: Pearson Education Inc.

berfokus

pada subyek dengan nilai ekstrim (sangat rendah dan sangat tinggi) akan dapat memberikan

informasi

yang

Diakidoy, I.N. & Kanari, E. (1999). Student teachers belief about creativity. British Educational Research Journal. Oxford: Vol. 25 (2), 225-244. Retrieved May 15, 2005.

lebih

mendalam tentang variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kreativitas menulis remaja. 4.

Erikson, E. (1968). Childhood and society (2nd ed.). New York: W.W. Norton & Company Inc.

Penelitian terhadap penulis-penulis kreatif terkenal yang ada di Indonesia akan memberikan

informasi

Feldhusen, J.F. (1993). A conception of creative thinking and creativity training, in S.G. Isaksen, M.C. Murdock, R.L. Firestien, and D.J. Treffinger (eds.), Nurturing and developing creativity: the emergence of a discipline. New Jersey: Alex publishing Corporation.

mendalam

mengenai karakteristik penulis kreatif dalam konteks sosial budaya Indonesia.

Daftar Pustaka Amabile, T.A. (1985). Motivation and creativity: effects of motivational orientation on creative writers. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 48, No. 2, 393-399. Retrieved May 15, 2005.

Hall, C.S., Lindzey, G., Campbell, J.B. (1998). th Theories of personality (4 ed.). John Wiley & Sons, Inc. Keirsey, D. & Bates, M. (1984). Please understand me: character and temperament types (5th ed.). Gonsology Books Ltd.

Arnheim, R. (2001). What it means to be creative. British Journal of Aesthetics. Vol. 41, Iss. 1. Retrieved December 17, 2004.

Monte, C.F. & Sollod, R.N. (2003). Beneath the mask: an introduction to theories of personality (7th ed.). John Wiley & Sons, Inc.

Baron, R. (1998). What type am I? discover who you really are. USA: Penguin Books.

Munandar, S.C. Utami. (1977). Creativity and education: a study of the relationships between measures of creative thinking and a number of educational variables in Indonesian primary and junior secondary schools. Disertasi. Universitas Indonesia.

Boer, J. (1993). creativity and divergent thinking: a task-specific approach. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum. Clark, B. (1986). Growing up gifted. Columbia, USA: CE Merril Publishing Co.

Munandar, S.C.Utami. (2002). Kreativitas dan keberbakatan: strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Cropley, A.J. (1999). Creativity and cognition: producing effective novelty. Roeper Review. Bloomfield Hills, Vol. 21, Iss.

24


Myers, I.B., McCaulley, M.H., Quenk, N.L., Hammer, A.L. (1998). MBTI manual: a guide to the development and use of Myers-Briggs Type Indocator (3rd ed.). California: Consulting Psychologists Press, Inc.

creative writers. Ashland University. Retrieved October 8, 2005 from http://personal.ashland.edu/~jpiirto/wo menwriters.htm Poon Teng Fatt, J. (2000). Fostering creativity in education. Education, Chula Vista. Vol. 20, Iss. 4, pg. 744. Retrieved May 24, 2005.

Olszewski-Kubilius, P. (2000). The transition from childhood giftedness to adult creative productiveness: psychological characteristics and social supports. Roeper Reiview. Bloomfield Hills: Vol. 23(2): 65. Retrieved December 12, 2004.

Rice, F. P. (1993). The adolescent: development, relationships, and culture (9th ed.). Allyn and Bacon. Ripple, R.E. (1989). Ordinary creativity. Contemporary Educational Psychology, 14, 189-202. Academic Press, Inc. Retrived May 15, 2005.

Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2004). Human development (9th ed.). Page 382-453. Boston: McGraw Hill Company, Inc.

Santrock, J.W. (2001). Educational psychology (international edition). McGraw Hill, Inc.

Piirto, J. (1998). Themes in the lives of successful contemporary U.S women

25


PERBEDAAN INTERAKSI GURU-SISWA PADA KELAS UNGGULAN DAN NON-UNGGULAN SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR (Studi Di SMA Negeri 35 Jakarta Pusat) Oleh Sandriaf Alga dan Puji Lestari Prianto

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan interaksi gurusiswa pada kelas unggulan dan non-unggulan pada SMA yang berpredikat unggulan, yang mana sekolah tersebut menerima siswa-siswa dengan prestasi akademik terbaik dan dengan kemampuan siswa yang tidak jauh berbeda. Serta untuk mengetahui apakah interaksi guru dan siswa memiliki hubungan dengan prestasi belajar siswa pada masing-masing kelas. Penelitian dilakukan menggunakan ex post facto field studies. Subjek penelitian berjumlah 73 orang, dengan komposisi 35 orang dari kelas unggulan dan 38 orang dari kelas non-unggulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non-probability sampling. Jenis non-probability sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Perhitungan dilakukan dengan teknik t-test dan multiple correlation/ regression. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada interaksi guru dan siswa di kelas unggulan dan non-unggulan. Hasil lainnya adalah tidak adanya hubungan signifikan antara interaksi guru dan siswa dalam kelas dengan prestasi belajar siswa baik pada kelas unggulan maupun non-unggulan. Kata kunci/keywords : interaksi guru-siswa, prestasi belajar Pendahuluan

informasi dan/ atau pengalaman, dan proses

Pendidikan menengah di mana SMA

pembangunan makna tersebut dilakukan oleh

berada di dalamnya memiliki siswa yang

siswa

berada pada tahap remaja atau adolescense.

Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003). Dapat

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2001)

disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah

remaja adalah masa transisi perkembangan

hasil dari

dari anak-anak menuju kedewasaan yang

makna/

mengikutsertakan perubahan yang besar dari

pengalaman siswa. Prestasi belajar siswa

segi fisik, kognitif dan psikososial. Remaja

dapat diketahui melalui ujian atau pun ulangan

yang

menengah

dari guru. Prestasi belajar dipengaruhi oleh

umumnya lebih banyak menghabiskan waktu

berbagai macam faktor. Menurut Dalyono

luang mereka dengan teman sebaya, yang

(2001) faktor-faktor tersebut adalah faktor

dirasakan lebih nyaman dan menurut mereka

internal

lebih dapat memahami mereka (Larson &

merupakan salah satu faktor eksternal yang

Richard dalam Papalia dkk., 2001). Teman

menonjol. Karena sekolah merupakan pusat

juga

kegiatan belajar mengajar (Pusat Kurikulum

berada

dapat

pada

sekolah

mendorong

mereka

untuk

mendapatkan hasil belajar yang baik di

atau

bersama

orang

lain

(Pusat

evaluasi proses pembangunan

pemahaman

dan

faktor

terhadap

informasi/

eksternal.

Sekolah

Balitbang Depdiknas, 2003).

sekolah (Steinberg, 1999).

Agar sekolah dapat berjalan dengan

Salah satu cara pembuktian dan

baik harus memiliki unsur-unsur seperti siswa,

pengembangan diri siswa di sekolah adalah

alat

melalui prestasi belajar yang mereka raih.

pendidik/guru (Aryatmi dalam Irmasari, 1990).

Belajar

proses

Guru dan siswa merupakan unsur terpenting,

pembangunan makna/ pemahaman terhadap

karena tanpa mereka proses belajar-mengajar

di

sekolah

berarti

26

pendidikan,

tujuan

pendidikan,


tidak akan berjalan. Proses belajar mengajar

akan bersikap secara berbeda antara siswa

diantara guru dan siswa terjadi di dalam ruang

yang berada dalam kelas unggulan dan siswa

kelas dan dapat dipengaruhi oleh berbagai

kelas

macam faktor. Salah satunya adalah interaksi

merupakan suatu sistem pengelompokkan

antara guru dan siswa yang terjadi dalam

yang di dalam literatur psikologi terutama di

kelas. Interaksi sendiri dapat didefinisikan

Amerika Serikat biasanya disebut tracking

sebagai tingkah laku dari dua atau lebih

atau ability grouping (Steinberg, 1999).

individu yang saling mempengaruhi (Vernon,

non-unggulan.

Kelas-kelas

Teknik-teknik

tersebut

pengelompokkan

1972). Jadi interaksi antara guru dan siswa

tersebut umumnya dapat ditemukan pada

merupakan tingkah laku dari keduanya untuk

jenjang SMA terutama pada SMA yang

saling mempengaruhi.

berpredikat

Salah satu elemen dari interaksi guru

unggulan.

merupakan

SMA

yang

dan siswa dalam kelas adalah komunikasi.

diantaranya,

memiliki

Flanders

profesional

dan

(dalam

Davitz,

1970)

SMA memiliki

tenaga

handal,

ciri-ciri

guru

yang

melaksanakan

mengemukakan kategori pola interaksi dalam

kurikulum

kelas ke dalam 3 ranah besar, yaitu teacher

prasarana yang memadai, memiliki sumber

talk,

silence.

dana mandiri yang jelas, sejumlah siswa

Teacher talk adalah pola interaksi yang

dengan bakat-bakat khusus, kemampuan dan

membahas tingkah laku guru dalam kelas.

kecerdasan

Student-initiated talk adalah pola interaksi

Pengelompokkan

yang membahas tingkah laku siswa dalam

menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan

kelas.

siswa yang berbeda-beda kemampuannya

student-initiated

Sedangkan

talk,

silence

dan

adalah

pola

interaksi untuk mengupas suatu periode dalam

yang

unggulan

diperkaya,

luar

sarana

dan

biasa

(Lutanida,

2001).

ini

digunakan

untuk

(Slavin dan Wrightstone dalam Harefa, 1998).

interaksi antara guru dan siswa dalam kelas di

Menurut siswa

ranah besar tersebut Flanders membagi ranah

unggulan di SMA yang berpredikat unggulan

teacher talk ke dalam 2 kategori yaitu teacher

dapat membawa efek yang negatif terhadap

talk-indirect influence dan teacher talk-direct

komunikasi atau interaksi guru dan siswa dan

influence, yang masing-masing terdiri dari 4

akhirnya

dan 3 sub-kategori. Sedangkan ranah student-

belajar. Reuman (dalam Steinberg, 2002)

initiated

menyatakan

menjadi

sebuah

kategori

tersendiri yang terdiri dari 2 sub-kategori. Paradise

berpengaruh

bahwa

menggunakan

dan

terhadap

pada

prestasi

sekolah

pengelompokkan

non

yang kelas

unggulan dan non-unggulan, siswa yang

menyatakan bahwa komunikasi di dalam kelas

bagus secara akademis akan bertambah baik

tergolong penting dan merupakan aspek

dan yang kurang akan semakin buruk. Siswa

paling

yang memiliki

Beberapa

dari

penelitian

Corsini,

unggulan

1994)

mendasar

(dalam

kelas

pengelompokkan

mana mereka tidak berbicara. Berdasarkan 3

talk

dalam

peneliti

dinamika

juga

kelas.

menghasilkan

kecerdasan

tinggi,

berada

dalam kelas khusus yang didasarkan pada

kesimpulan bahwa komunikasi guru dalam

kemampuan

kelas mempengaruhi prestasi belajar siswa.

meningkatkan ekspektasi untuk berprestasi

Suyatno (2002) yang menyatakan bahwa guru

lebih baik dan meningkatkan evaluasi dari

27

atau

kecerdasannya,

akan


guru terhadap mereka. Sedangkan siswa yang

Interaksi dapat didefinisikan sebagai

memiliki kemampuan rendah yang terjadi

tingkah laku dari dua atau lebih individu yang

justru sebaliknya (Reuman, dalam Steinberg,

saling mempengaruhi (Vernon, 1972). Bar-Tal

2002). Berdasarkan uraian tersebut peneliti

& Bar-Tal (dalam Feldman, 1990) menyatakan

ingin meneliti apakah antara kelas unggulan

interaksi adalah pada saat dua orang atau

dan

perbedaan

lebih berkomunikasi satu sama lain melalui

interaksi di kelas dan apakah perbedaan

verbal dan/ atau tingkah laku non-verbal.

tersebut mempengaruhi prestasi belajar.

Interaksi dalam kelas tidak hanya berguna

non-unggulan

terdapat

untuk mencapai tujuan pendidikan tapi juga Rumusan Masalah

berfungsi sebagai mekanisme di mana guru dan siswa menyadari goals pribadi dan sosial

Berdasarkan uraian tersebut maka

mereka (Bar-Tal & Bar-Tal dalam Feldman,

rumusan masalah dari penelitian ini adalah: 1.

Apakah

ada

perbedaan

skor

1990). Interaksi

yang

influence

unggulan

yang

antara

siswa

SMA

berada

pada

kelas

dalam

Apakah

ada

perbedaan

skor

yang

influence

unggulan

yang

antara berada

siswa

SMA

pada

kelas

Feldman,

1990

antara

lain

:

dinamis

dan

dapat

berubah-ubah,

melibatkan tingkah laku, memiliki unsur saling

yang

mempengaruhi dan menguntungkan, memiliki

signifikan pada skor kategori teacher talkindirect

memiliki

membutuhkan partisipan, merupakan proses

unggulan dengan kelas non-unggulan? 2.

kelas

beberapa karakteristik (Bar-Tal & Bar-Tal

signifikan pada skor kategori teacher talkdirect

dalam

aturan, dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan dapat diukur.

unggulan dengan kelas non-unggulan? 3.

Apakah

ada

perbedaan

skor

Interaksi Kelas Guru-Siswa

yang

Proses belajar mengajar melibatkan

signifikan pada skor kategori student-

dua unsur yaitu guru dan siswa. Secara

initiated talk antara siswa SMA unggulan

sederhana proses tersebut terjadi melalui

yang berada pada kelas unggulan dengan

aktivitas guru menyampaikan materi pelajaran

kelas non-unggulan? 4.

kepada siswa. Sedangkan siswa melakukan

Apakah ada hubungan antara skor dari 9

aktivitasnya yaitu berusaha menyerap apa

sub-kategori skala interaksi verbal dalam

yang disampaikan oleh guru. Agar proses

kelas pada siswa SMA unggulan yang

tersebut

berada pada kelas unggulan dengan

berjalan

dengan

lancar

diperlukan suatu tools atau alat yang dapat

prestasi belajarnya? 5.

dapat

menghubungkan

Apakah ada hubungan antara skor dari 9

antara

keduanya

yaitu

keterampilan berkomunikasi (Irmasari, 1989).

sub-kategori skala interaksi verbal dalam

Tanpa komunikasi mengajar dan belajar tidak

kelas pada siswa SMA unggulan yang

akan dapat berlangsung, dan komunikasi yang

berada pada kelas non-unggulan dengan

baik antara guru dan siswa merupakan hal

prestasi belajarnya?

yang esensial dalam belajar (Moore, 2001).

Tinjauan Teoritis

Komunikasi antara guru dan siswa dapat

Interaksi Kelas

28


dibagi menjadi dua (Aryatmi dalam Irmasari,

SMA unggulan didefinisikan sebagai

1989), yaitu: komunikasi guru dengan siswa di

SMA biasa yang menyelenggarakan program

luar kelas dan di dalam kelas.

pengayaan

Beberapa

penelitian

menghasilkan

sedemikian

rupa

dapat

menghasilkan sejumlah lulusan yang memiliki

kesimpulan bahwa komunikasi guru dalam

kemampuan

dan

kelas mempengaruhi prestasi belajar siswa.

memiliki pengetahuan dan keterampilan yang

Penelitian Page (dalam McDonald, 1968)

memadai untuk mengikuti dan menyelesaikan

menyatakan bahwa komentar lisan maupun

pendidikan

tulisan (komunikasi verbal) mempengaruhi

(Direktorat PMU Dirjen Pendidikan Dasar Dan

prestasi belajar.

Menengah dalam Setiawati, 1996).

di

kecerdasan

Perguruan

luar

biasa,

Tinggi

(PT)

Adapun SMA unggulan memiliki ciriFlanders Categories For Interaction Analysis

ciri antara lain, memiliki sejumlah siswa

(Analisis Interaksi Flanders)

dengan

Flanders, Bellack dan Davitz, dan lain-

bakat-bakat

kemampuan

dan

khusus,

kecerdasan

dengan

luar

biasa,

lain (dalam Davitz, 1970) telah melaksanakan

memiliki program pengayaan (kurikulum yang

penelitian

proses

diperkaya) yang disesuaikan dengan tuntutan

komunikasi verbal dalam interaksi dalam

belajar siswa, kemajuan ilmu pengetahuan

kelas. Flanders mengembangkan teknik untuk

dan teknologi. Memiliki tenaga kependidikan

menganalisa interaksi berdasarkan penelitian

yang dapat melayani tuntutan belajar siswa,

awal dari Anderson, Lippit dan White, dan

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,

Withall (Davitz, 1970). Anderson berfokus

memiliki sarana dan prasarana yang dapat

pada dua aspek yang berhubungan dengan

menunjang kegiatan belajar mengajar dengan

interaksi

program pengayaan, memiliki sumber dana

integrative.

guna

yaitu

mengetahui

dominating

Sedangkan

dan

Lippit

socially

dan

White

mandiri

yang

jelas

dan

pasti,

memiliki

yang

dapat

(dalam Davitz, 1970) berfokus pada penelitian

organisasi

pengelolaan

mengenai gaya kepemimpinan autoritarian,

mendukung

dan

demokratis, dan laissez faire.

belajar mengajar dengan program pengayaan

Berdasarkan

penjelasan

tersebut

melaksanakan

kegiatan

(Lutanida, 2001).

dirancang suatu sistem untuk menganalisa komunikasi

verbal

dalam

kelas,

sistem

Pengelompokkan Kelas (Ability Grouping Atau

tersebut dikenal dengan Flanders categories for

Tracking)

interaction analysis. Flanders membagi

Kauchak

dan

Eggen

(1997)

komunikasi verbal dalam kelas menjadi 10

menyebutkan grouping atau pengelompokkan

sub-kategori dengan menempatkan 4 sub-

kelas terdiri dari tiga bentuk, yaitu between-

kategori ke dalam kategori teacher talk-indirect

class ability grouping, within class ability

influence. Tiga sub-kategori ke dalam kategori

grouping, dan joplin plan. Between-class

teacher talk-direct influence. Dua sub-kategori

ability grouping adalah siswa dalam satu

ke dalam kategori student-initiated talk dan

tingkat dikelompokkan menurut kemampuan

satu sub-kategori ke dalam kategori silence.

akademisnya.

SMA Unggulan

grouping, siswa dalam satu kelas dibagi-bagi

29

Dalam

within

class

ability


ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai

b. Faktor eksternal, adalah faktor dari luar

dengan kemampuannya dalam mata pelajaran

diri

siswa

yaitu,

keluarga,

tertentu. Sedang, dalam joplin plan siswa

masyarakat, lingkungan.

sekolah,

antar tingkat kelas yang memiliki kemampuan yang sama dalam mata pelajaran tertentu

Metode Penelitian

dicampur dalam satu kelas sehingga dapat

Subjek Penelitian

belajar bersama-sama. Dilihat dari ciri-ciri

Subjek

yang

digunakan

dalam

yang ada pengelompokkan SMA di Indonesia

penelitian adalah siswa SMA unggulan yang

(terutama

dapat

berada di kelas 1 atau kelas X (sepuluh).

pengelompokkannya

Pengambilan sampel dilakukan pada siswa

termasuk ke dalam jenis between-class ability

kelas 1 SMA, karena peneliti ingin melihat

grouping. Between-class ability grouping dapat

apakah

menghasilkan 3 jenis atau 2 jenis kelas,

unggulan dan dikelompokkan ke dalam kelas

tergantung dari kebijakan sekolah masing-

unggulan

masing.

belajarnya meningkat atau menurun. Selain itu

Prestasi Belajar

kemungkinan siswa kelas 1 belum terlalu

DKI

disimpulkan,

Jakarta)

bahwa

Menurut

maka

Morgan, King & Robinson

siswa

setelah

dan

beradaptasi

masuk

sekolah

non-unggulan

terhadap

prestasi

lingkungan

sekolah

(1981) belajar adalah perubahan tingkah laku

sehingga belum banyak variabel yang dapat

yang relatif permanen yang terjadi sebagai

mempengaruhi

hasil pengalaman atau latihan. Belajar di

subjek pada kelas unggulan, yaitu kelas 1-2

sekolah berarti proses pembangunan makna/

berjumlah 35 orang, sedangkan jumlah siswa

pemahaman terhadap informasi dan/ atau

pada kelas non-unggulan yaitu kelas 1-6

pengalaman,

berjumlah 38 orang.

dan

proses

pembangunan

mereka.

Ada

pun

jumlah

makna tersebut dilakukan oleh siswa atau bersama

orang

lain

(Pusat

Kurikulum

Variabel Penelitian

Balitbang Depdiknas, 2003). Prestasi belajar

1. Siswa kelas unggulan

dapat disimpulkan sebagai hasil dari evaluasi

Siswa kelas unggulan adalah siswa-siswa

proses pembangunan makna/ pemahaman

yang pada saat penerimaannya memenuhi

terhadap informasi dan/ atau pengalaman

standar persyaratan yang telah ditetapkan

siswa. Prestasi belajar diketahui melalui ujian

sekolah untuk dapat ditempatkan dalam

atau pun ulangan dari guru.

kelas khusus yaitu kelas unggulan. Pada

Menurut Dalyono (2001) faktor-faktor

sekolah yang digunakan pada penelitian

yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar,

ini, syarat dimasukkannya siswa ke dalam

adalah:

kelas unggulan adalah berdasarkan nilai

a. Faktor internal, adalah faktor dari dalam

ujian

diri siswa itu sendiri seperti, kesehatan,

nasional

SLTP

pada

pelajaran

matematika.

inteligensi dan bakat, minat dan motivasi,

2. Siswa kelas non-unggulan

cara belajar.

Siswa kelas non-unggulan adalah siswasiswa yang pada saat penerimaannya tidak memenuhi persyaratan dari sekolah

30


untuk ditempatkan dalam kelas khusus.

membandingkan apakah ada perbedaan

Dalam hal ini siswa akan dimasukkan ke

signifikan

kelas non-unggulan jika setelah semua

dimasukkan ke dalam kelas yang berbeda

siswa yang diterima di sekolah tersebut

tersebut. Pada penelitian ini diperlukan

diurutkan dari yang paling tinggi ke yang

mata pelajaran yang diajarkan pada kelas

paling rendah berdasarkan nilai ujian

unggulan dan non-unggulan oleh pengajar

nasional SLTP-nya pada mata pelajaran

yang sama.

nilai

siswa

pada

saat

matematika, ternyata mereka tidak berada di dalam urutan paling pertama sampai pada urutan tertentu sesuai kuota yang

Alat Pengumpul Data

telah ditetapkan sekolah.

Alat

3. Interaksi kelas guru-siswa Interaksi

kelas

digunakan

dalam

pengumpulan data adalah skala sikap dan adalah

wawancara sebagai metode tambahan. Tipe

komunikasi verbal yang terjadi di dalam

skala yang peneliti gunakan adalah tipe Likert.

kelas

Skala pada penelitian ini berjumlah 47 item

antara

guru-siswa

guru

dan

siswa

yang

berusaha diketahui melalui penelitian ini.

disusun

Komunikasi

diteliti

interaksi kelas dari Flanders (1952, dalam

dengan menggunakan suatu alat ukur

Davitz&Ball, 1970). Pada penelitian ini peneliti

berupa

hanya menggunakan 9 sub kategori, yang

tersebut

skala.

berusaha

Skala

yang

berisi

dengan

pernyataan-pernyataan tersebut disusun

terdiri

dengan menggunakan 9 dari 10 sub-

encourages,

kategori

students,

dari

Flander

categories

for

interaction analysis.

student

Prestasi belajar adalah nilai rata-rata raport

siswa

Pendidikan

dari

dalam

mengadaptasi

accept

feeling,

accepts

or

ask

question,

uses

kategori

praises

or

ideas

of

lecturing,

giving

direction, criticizing or justifying authority,

4. Prestasi belajar

mata

Kewarganegaraan

talk-response,

dan

student

talk-

initiation.

pelajaran

Alat lain yang juga digunakan adalah

ketika

wawancara.

berada di kelas 1. Penggunaan nilai

wawancara

tersebut dimaksudkan agar peneliti dapat

terstruktur

Hasil Penelitian 1.

yang

Jenis ini

adalah

pertanyaan wawancara

pada semi

yang berada pada kelas unggulan dengan

Perbedaan penilaian mengenai interaksi

kelas

guru-siswa antara siswa SMA unggulan

Tabel 1. Perbedaan penilaian mengenai interaksi guru-siswa Kategori

Skor t-test (los 0.05)

Teacher Talk-Direct Influence

0,700

Teacher Talk-indirect Influence

0,989

Student Initiated Talk

0,243

31

non-unggulan.


Berdasarkan tabel 1 di atas yang merupakan

bahwa

hasil perhitungan t-test tidak ditemukannya

signifikan pada ketiga kategori skala interaksi

perbedaan

ketiga

kelas antara siswa SMA unggulan yang

kategori skala interaksi verbal. Sehingga

berada pada kelas unggulan dengan kelas

pertanyaan 1 sampai 3 dapat terjawab, yaitu

non-unggulan.

2.

yang

signifikan

pada

tidak

ada

perbedaan

skor

yang

Hubungan antara penilaian siswa SMA unggulan yang berada pada kelas unggulan terhadap interaksi guru-siswa dalam kelas dengan prestasi belajar mereka.

Tabel 2. Hubungan Antara 9 Sub-Kategori Skala Interaksi Verbal Dalam Kelas Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas Unggulan Model Summary

Model 1 a.

R kelas = X-2 (Selected) .625a

Adjusted R Square .171

R Square .391

Std. Error of the Estimate 5.427

Predictors: (Constant), stu_initiation, accept_feeling, criticizing, praises, ask_question, lecturing, giv_direction, stu_response, accepts_ideas

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat pada model

interaksi verbal dalam kelas tidak memiliki

1 nilai R adalah sebesar 0.625. Hal ini

korelasi

menunjukkan bahwa skor 9 sub-kategori skala

belajar siswa kelas unggulan.

yang

signifikan

dengan

prestasi

3. Hubungan antara penilaian siswa SMA unggulan yang berada pada kelas non-unggulan terhadap interaksi

guru-siswa

dalam

kelas

dengan

prestasi

belajar

Tabel 3 Hubungan Antara Sub-Kategori Skala Interaksi Verbal Dalam Kelas Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas Non-Unggulan Model Summary

Model 1 a.

R kelas = X-6 (Selected)

Adjusted R Square

R Square .510a

.260

Std. Error of the Estimate .022

6.382

Predictors: (Constant), stu_initiation, praises, giv_ direction, stu_response, ask_question, criticizing, accept_feeling, lecturing, accepts_ideas

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat model 1 nilai

verbal dalam kelas tidak memiliki korelasi

R adalah sebesar 0.510. Hal ini menunjukkan

yang signifikan dengan prestasi belajar siswa

bahwa skor 9 sub kategori skala interaksi

kelas non unggulan.

32


Diskusi

skala

interaksi,

praises

lebih

berperan

Tidak adanya perbedaan interaksi

terhadap prestasi belajar siswa. Berbeda

tersebut mungkin saja terjadi karena siswa

dengan siswa kelas non-unggulan yang sub-

pada kelas unggulan dan kelas non-unggulan

kategori criticizing lebih berperan terhadap

memiliki pandangan yang sama mengenai

prestasi belajar. Hal tersebut menjadi menarik

interaksi guru Pendidikan Kewarganegaraan

karena

tersebut. Akhirnya mereka menjawab skala

kemampuan siswanya tidak jauh berbeda,

bukan

sub-kategori yang berperan terhadap prestasi

berdasarkan

pendapat

mereka

pada

yang menurut mereka akan dijawab oleh

unggulan kemungkinan tidak jauh berbeda

teman mereka bila berada dalam situasi yang

atau

sama. Ini sesuai dengan perkataan Turner dan

Menurut peneliti hal tersebut kemungkinan

Helms (1987) yang menyatakan hubungan

terjadi

remaja dengan peer atau teman sebaya

menyampaikan harapan mereka yang tinggi

sangat

ingin

kepada kelas unggulan dan tidak kepada

mereka.

kelas non-unggulan, sehingga siswa kelas

Alasan lain yang mungkin menjadi penyebab

unggulan lebih mengharapkan pujian dan

kesamaan

perkataan baik dari guru sebagai motivasi

mendapatkan

dan

remaja

pengakuan

interaksi

berdasarkan

peer

guru-siswa

wawancara,

bahwa

adalah guru

berada

karena

maupun

unggulan

yang

belajar

masih

kelas

unggulan

mengenai interaksi guru siswa, namun apa

penting,

siswa

sekolah

pada

dari

awal

reinforcement

bagi

dan

satu

non-

kategori.

guru

sudah

mereka

dan

mengajar berdasarkan satu petunjuk yaitu

mungkin itu lah yang biasa mereka dapatkan

buku pelajaran.

dari guru mereka. Lain halnya dengan siswa

Prestasi belajar siswa kelas unggulan pada

mata

pelajaran

kelas non-unggulan, yang pada awal proses

Pendidikan

belajar mengajar guru tidak menyampaikan

Kewarganegaraan sedikit lebih tinggi dari

harapannya pada siswa kelas tersebut. Siswa

pada siswa kelas non-unggulan, yaitu 72,19

kelas non-unggulan akan lebih termotivasi

dengan 71,45. Prestasi yang lebih tinggi pada

belajar jika guru mengkritik mereka.

kelas unggulan mungkin saja terjadi karena faktor dari

dalam

diri

siswa

itu

Satu

sendiri

kategori

yang

tidak

peneliti

gunakan adalah silence, karena menurut

inteligensi, minat, atau pun motivasi (Dalyono,

peneliti

2001).

guru

menyusun skala tersebut, kategori itu akan

menyebutkan harapan guru kepada kelas

lebih efektif digunakan pada metode penelitian

unggulan agar mereka lebih baik dari kelas

yang menggunakan observasi dan kategori

lain, dapat saja hal tersebut membuat siswa

tersebut lebih menggunakan perspektif orang

lebih termotivasi dan lebih dapat merasakan

ketiga yang bukan guru maupun siswa.

pengaruh tidak langsung yang diberikan guru

Menurut Davitz (1970)

ketika mereka berinteraksi dibandingkan kelas

Flanders

lain yang tidak mendapatkan harapan tersebut

mayoritas melihat interaksi dari sisi guru

dari guru. Terbukti dari analisa tambahan yang

dibandingkan

peneliti lakukan menunjukkan bahwa pada

mengakibatkan banyak hal mengenai interaksi

siswa kelas unggulan dari ke 9 sub-kategori

kelas dari sisi siswa yang belum tergali

Dari

wawancara

diketahui,

33

dan

rekan-rekan

dalam

dari

peneliti

yang

kekurangan kategori

interaksi

sisi

kelas

siswa.

adalah

Hal

itu


sehingga

kurang

penelitian

mempelajarinya, sehingga mereka tidak perlu

interaksi kelas ini. Lagi pula kategori interaksi

bertanya lagi kepada guru, sehingga pada

Flanders yang sudah berusia cukup tua,

akhirnya prestasi yang mereka peroleh tidak

dirasa kurang dapat menangkap interaksi

jauh berbeda. Akan lebih baik lagi jika mata

kelas antara guru-siswa pada masa kini, yang

pelajaran yang digunakan dalam penelitian

lebih

jadi

tentang kelas unggulan dan non-unggulan ini

pembicaran tidak lagi didominasi oleh guru,

lebih menantang dan memiliki bobot jam

namun menuntut peran aktif dari siswa juga.

pelajaran yang lebih besar. Namun dengan

cenderung

Menurut

memperkaya

bersifat

dua

peneliti

arah,

validitas

yang

catatan guru yang mengajar pada kelas

digunakan dalam penelitian ini yaitu, validitas

tersebut merupakan orang yang sama.

konten perlu mendapatkan perhatian lebih.

Menurut peneliti belum tentu kategori-

Menurut Murphy dan Davidshofer (2001)

kategori

belum diketahui adanya metode statistik yang

berhubungan dengan prestasi belajar, hanya

dapat mengukur validitas konten, sehingga

saja

validitas tergantung pada alat ukur itu sendiri.

Kewarganegaraan bukan merupakan variabel

Jadi skala yang disusun harus benar-benar

yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui

menggambarkan perilaku yang ingin diketahui

ada tidaknya hubungan tersebut, atau dengan

dan penyusunannya pun melalui pengawasan

kata lain mata pelajaran tersebut tidak tepat

yang baik dari peneliti. Namun hal tersebut

digunakan

dapat menjadi kekurangan dari penggunaan

pembanding kemampuan siswa dari kelas

validitas

unggulan dan non-unggulan.

ini. Hanya dengan pengawasan

pada

skala

mata

interaksi

pelajaran

sebagai

tidak

Pendidikan

pembeda

atau

peneliti dan tanpa melalui penyaringan dengan menggunakan teknik statistik kemungkinan

Kesimpulan

terjadinya human error cukup besar dan hal

1. Tidak ada perbedaan skor yang signifikan

tersebut dapat mempengaruhi skala yang

pada skor kategori teacher talk-direct

digunakan dan pada akhirnya mempengaruhi

influence antara siswa SMA unggulan

hasil penelitian.

yang berada pada kelas unggulan dengan

Beberapa kekurangan lain yang dapat

non-unggulan.

menjadi catatan dalam penelitian ini adalah mata

pelajaran

yaitu

pada skor kategori teacher talk-indirect

Pendidikan

influence antara siswa SMA unggulan

Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran

yang berada pada kelas unggulan dengan

yang telah di ajarkan kepada siswa sejak

non-unggulan.

Pendidikan

yang

digunakan

2. Tidak ada perbedaan skor yang signifikan

Kewarganegaraan.

bangku SD. Materi yang diajar pun tidak

3. Tidak ada perbedaan skor yang signifikan

terlalu berbeda dari tingkat pendidikan SD

pada skor kategori student initiated talk

sampai

antara siswa SMA unggulan yang berada

SMA,

biasanya

berkutat

dengan

Undang-Undang Dasar, Tata Negara, Bela

pada

Negara. Keseragaman materi tersebut dapat

unggulan.

saja membuat siswa merasa tidak perlu memberikan

usaha

yang

lebih

4. Tidak

untuk

kelas

ada

unggulan

hubungan

dengan

yang

non-

signifikan

antara skor dari 9 sub-kategori skala

34


interaksi verbal dalam kelas pada siswa

yang dapat mempengaruhi hasil penelitian

SMA unggulan yang berada pada kelas

seperti,

unggulan dengan prestasi belajarnya

penilaian interpersonal, pengaruh peer,

5. Tidak

ada

hubungan

yang

signifikan

kecerdasan,

seting

kelas,

dan sebagainya.

antara skor dari 9 sub-kategori skala

5. Mata pelajaran yang digunakan sebaiknya

interaksi verbal dalam kelas pada siswa

yang bobot jam pelajarannya lebih banyak

SMA unggulan yang berada pada kelas

dan lebih menantang bagi siswa, misalnya

non-unggulan dengan prestasi belajarnya.

matematika, atau pun fisika. 6. Saat

Saran 1. Perlu

penyusunan

diperhatikan pembaharuan

pada

alat

ukur

dengan

ukur

pernyataan

perlu yang

disusun sudah dapat menggambarkan

interaksi kelas tersebut sehingga dapat disesuaikan

apakah

alat

perilaku yang ingin diketahui dengan baik.

perkembangan

7. Sekolah juga harus mulai memberikan

zaman. Melihat teori kategori interaksi

perhatian terhadap proses interaksi antara

Flanders yang peneliti gunakan untuk

guru dan siswa di dalam kelas, karena hal

membuat skala interaksi verbal dalam

tersebut terbukti berpengaruh terhadap

kelas sudah bisa dibilang cukup tua, yaitu

prestasi belajar siswa.

dibuat pada tahun 1952 (dalam Davitz, 1970). Hingga saat ini banyak penelitian (dalam

Davitz,

menggunakannya

1970)

yang

sebagai

acuan

Daftar Pustaka

masih dan

Corsini,

belum adanya teori yang lebih baru. 2. Peneliti hanya melakukan penelitian pada

Dalyono, M. (2001). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

satu SMA unggulan dan berada pada satu daerah yaitu Jakarta. Peneliti tidak dapat

Davitz, J. R., Ball, S. (1970). Psychology Of Educational Process. New York: McGraw-Hill.

menggeneralisasi penelitian ini pada SMA yang lain. Maka ada baiknya penelitian

Eggen, P., Kauchak, D. (1997). Educational Psychology: Windows On Classrooms. (3rd ed.). Prentice-Hall, Inc.

selanjutnya menggunakan sekolah yang lebih banyak dan tidak hanya pada satu daerah sehingga hasil penelitian tersebut

Feldman, R. S. (1990). The Social Psychology Of Education: Currect Research And Theory. Cambrigde: Cambridge University Press.

nantinya dapat digeneralisasi. 3. Selain metode skala dan wawancara yang telah digunakan pada penelitian ini, akan

Harefa, Meilany. (1998). Perbedaan Harga Diri Akademik Dan Motivasi Berprestasi ada Siswa Non-Unggulan Di Sekolah Bersistem Ability Grouping Dan Non-Ability Grouping (Penelitian Pada Siswa-siswi NonUnggulan Di SMPN 77 Dan SMPN 136 Jakarta). Skripsi Sarjana. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

lebih baik jika menggunakan metode observasi pula. Data yang didapatkan bisa lebih

banyak

kesimpulan

dan yang

R. J. (1994). Encyclopedia Of Psychology. (2nd ed.). New York: John-Willey&Sons, Inc.

menghasilkan dapat

dipertanggungjawabkan. 4. Penelitian selanjutnya diharapkan juga lebih memperhatikan variabel-variabel lain

35


Hasbullah. (1999). Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Ilmu Raja

New York: Company.

Irmasari, Diah. (1989). Hubungan Antara Persepsi Murid Tentang Komunikasi Guru-Murid Dan Persepsi Murid Tentang Keterlibatan Dalam Aktivitas Belajar. Skripsi Sarjana. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Lutanida, Ika R. (2001). Pengguaan StrategiStrategi Self-Regulated Learning Pada Siswa Sekolah Unggulan Dan Sekolah Non-Unggulan (Penelitian Di SMUN 70 Sebagai Sekolah Unggulan Dan SMUN 6 Sebagai Sekolah Non-Unggulan). Skripsi Sarjana. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. McDonald, F. J. (1999). Educational Psychology. (2nd ed.). Wadsworth Publishing. Moore, K. D. (2001). Classroom Teaching Skills. (5th ed.). Boston: McGraw-Hill Company. Morgan, C. T., et.al. (1981). Introduction To Psychology. (6th ed.). Tokyo: McGraw-Hill. Murphy, K. R., Davidshofer, C. D. (2001). Psychological Testing: Principles And Aplications. (5th ed.). New Jersey: Prentice-Hall. Papalia, D. E., Olds, S. W., Feldman, R. D. (2001). Human Development. (8th ed.). New York: McGraw-Hill, Inc. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. (2003). Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Setiawati, Tini N. (1996). Hubungan Antara Inteligensi, Kreativitas, Dan, Motivasi Berprestasi Dengan Prestasi Belajar Pada Siswa SMU 8 (Studi Pada Siswa Sekolah Unggul Tingkat Propinsi DKI Jakarta). Skripsi Sarjana. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Steinberg, L. (1999). Adolescence. (5th ed.). Boston: McGraw-Hill. Turner, J. S., Helms, D. B. (1987). Lifespan Development. (3rd ed.). New York: Holt, Rinehart, And Winston, Inc. Vernon, G. M. (1972). Human Interaction: An introduction to Sociology. (2nd ed.).

36

The

Ronald

Press


PENYESUAIAN SOSIAL REMAJA BERBAKAT DALAM MENJALIN HUBUNGAN PERSAHABATAN Oleh Fika Dewi Rahmawati dan Sri Hartati R. Surodijono

Abstract Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai penyesuaian sosial remaja berbakat dalam menjalin hubungan persahabatan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Penelitian ini dilakukan pada 5 orang subyek dengan mewawancarai sahabat mereka, guru serta orang tua. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh dan mendalam mengenai penyesuaian sosial mereka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar subyek memiliki penyesuaian sosial yang kurang baik. Karena meskipun mereka sudah dapat memainkan peran yang diharapkan sahabat terhadap dirinya ternyata sebagian besar dari mereka kurang puas dengan hubungan persahabatan yang mereka jalin. Selain itu kualitas persahabatan sebagai salah satu indikator penyesuaian sosial ternyata juga memperlihatkan kualitas yang kurang baik. Mereka belum dapat menjalin hubungan yang akrab dengan sahabatnya, jarang sekali melakukan aktivitas bersama diluar sekolah dan juga memberikan bantuan hanya dalam hal pelajaran saja. Kata kunci/keywords : penyesuaian sosial, remaja berbakat, persahabatan Pendahuluan

Logan, 1993). Persahabatan adalah suatu

Anak berbakat perlu mendapatkan

hubungan dimana dua orang menghabiskan

layanan yang berbeda dengan anak-anak

waktu bersama, berinteraksi dalam berbagai

pada umumnya agar memungkinkan mereka

situasi, tidak membiarkan orang lain ikut

untuk

dalam

mewujudkan

potensinya

secara

hubungan

mereka,

dan

saling

maksimal (Achyar, 2001). Salah satu cara

memberikan dukungan emosional (Baron &

yang

Byrne, 2000).

dilakukan

pendidikan

pemerintah adalah

hal

dengan

Lehner & Kube (1960) mengatakan

menyediakan kelas khusus bagi anak-anak

bahwa hubungan kita dengan orang lain

berbakat (akselerasi). Akan tetapi sering kali

dihiasi dengan berbagai macam sikap dan

terlupa, dengan disediakannya kelas akserasi

perasaan. Kontak sosial yang kita lakukan

kita mengira bahwa aspek perkembangan

berbeda pada tiap orang yang kita temui. Kita

anak

baik.

akan mencari seseorang dan menghindari

Padahal kelas akselerasi harus didasarkan

orang yang lain. Oleh karena itu hubungan

pada

harus

atau interaksi sosial memerlukan penyesuaian

berkembang secara optimal dalam segala

antara satu pihak dengan pihak lainnya.

aspek secara alamiah, tidak cukup hanya

Penyesuaian sosial adalah suatu kemampuan

aspek

seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap

sudah

formal

dalam

diperhatikan

paradigma

pengetahuan

bahwa

tetapi

dengan

anak

juga

aspek

emosional, dan sosial (Sutopo, 2001).

orang lain pada umumnya dan pada kelompok

Sama seperti manusia lainnya, anak

khususnya (Hurlock, 1995).

berbakat juga selalu berinteraksi dengan

Menurut Hurlock (1991) penyesuaian

orang lain disekitarnya. Salah satu bentuk

sosial ditentukan oleh dua faktor. Pertama

hubungan antara kita dengan orang lain

adalah

adalah persahabatan (friendship) (Stewart &

memainkan peran secara tepat sesuai dengan

37

sejauh

mana

seseorang

dapat


apa yang diharapkan dari padanya. Kedua,

menurut Ohlsen (dalam Lesmana, 2005)

seberapa besar kepuasan yang diperolehnya.

adalah bahwa remaja memiliki tugas atau

Ditemukan juga bahwa kualitas hubungan

kebutuhan

pertemanan

mengembangkan,

merupakan

indikator

yang

untuk

belajar serta

memulai,

mempertahankan

signifikan dalam penyesuaian pada anak Cina

persahabatan dan hubungan-hubungan yang

dan Barat (X. Chen, Rubin, & Sun, 1992; X.

akrab dengan jumlah yang lebih terbatas.

Chen

&

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

Kupersmidt, 1990 dalam Chen & Rubin, 1997).

pada masa remaja pertemanan merupakan

Jadi melalui kualitas persahabatan seseorang

kebutuhan yang penting dan juga merupakan

dapat terlihat apakah seseorang memiliki

bagian dalam perkembangan seseorang.

penyesuaian yang baik atau tidak.

Permasalahan

et

al.,

1995b;

Coie,

Berdasarkan dilakukan

oleh

pandangan

Dodge,

penelitian

para

ahli,

yang

yang

terdapat

berbeda

Bagaimana gambaran penyesuaian sosial

dua

pada

mengenai

remaja

berbakat

Tinjauan Teoritis

berbakat

Remaja

2006).

Pandangan

pertama mengatakan bahwa anak berbakat memiliki

penyesuaian

yang

lebih

menjalin

persahabatan?

perkembangan sosial dan emosional anak (Versteynen,

dalam

Remaja merupakan suatu periode

baik

transisi antara masa anak-anak menuju masa

dibandingkan dengan teman sebaya mereka

dewasa

yang

itu

perubahan fisik dan psikologis. Hurlock (1973)

pandangan lain mengatakan bahwa anak

membagi masa remaja kedalam dua bagian

berbakat

masalah

yaitu masa remaja awal dan remaja akhir.

penyesuaian lebih dari teman sebaya yang

Dimana masa remaja awal pada perempuan

tidak

mereka

dimulai sejak usia 13 sampai 17 tahun,

masalah

tergantung kapan anak tersebut telah matang

tidak

berbakat.

memiliki

resiko

berbakat;

meningkatkan

Sementara

dalam

keberbakatan

kerentanan

kesulitan

penyesuaian.

penelitian

sebelumnya

dalam

ditandai

dengan

adanya

lagi

secara seksual. Sedangkan laki-laki dimulai

sikap

sejak usia 14 sampai 17 tahun. Sedangkan

Indonesia,

masa remaja akhir dimulai sejak usia 17

menunjukan bahwa terdapat hubungan yang

sampai 18 tahun. Selain itu dijelaskan bahwa

signifikan

intelektual

pada masa remaja awal, mereka mulai

umum dengan perilaku prosocial pada variabel

mengandalkan teman dibandingkan orang tua

membantu,

untuk mendapatkan intimacy dan dukungan

prosocial

intelektual

yang

antara

Ditambah

yang

mengenai

dilakukan

di

keberbakatan

dimana

anak

tidak

berbakat

umum memiliki kecenderungan

(Papalia, Olds, & Feldman, 2001).

yang lebih positif dibandingkan anak berbakat

Persahabatan Pada Remaja

intelektual umum pada variabel membantu

Persahabatan

(friendship)

adalah

(Hartati, 1997). Penelitian ini memperlihatkan

suatu hubungan yang bersifat voluntary antara

bahwa perkembangan sosial anak berbakat

beberapa individu dalam kelompok kecil yang

memang

didasarkan

berbeda

dengan

anak-anak

karena

persamaan

minat,

umumnya. Selain itu, salah satu kebutuhan

kepribadian dan temperamen. Menurut Savin,

yang harus dipunyai oleh mayoritas remaja

Williams, & Berndt (dalam Dusek, 1996)

38


melalui persahabatan, mereka dapat saling

Betrayal:

memahami, saling belajar, dan terdapat self-

Help and Guidance, Intimate Exchange, dan

disclose antara satu dengan lainnya; mereka

Conflict Resolution. Berndt (dalam Bukowski,

lebih banyak menceritakan segala hal kepada

1996) mengatakan bahwa persahabatan akan

teman dibandingkan kepada orang tua atau

memiliki kualitas yang tinggi ketika memiliki

orang dewasa lainnya.

ciri-ciri positif yang lebih banyak, sedangkan

Terdapat

Recreation,

persahabatan dikatakan memiliki kualitas yang

berteman.

rendah apabila memiliki ciri-ciri negatif lebih

Menurut Papalia, Olds & Feldman (2001)

banyak, misalnya saja sering mengalami

remaja

konflik.

seseorang

membutuhkan

hal

and

yang

dibutuhkan

beberapa

Companionship

dalam

kemampuan

untuk

memulai dan menjalin percakapan. Mereka harus

tahu

bagaimana

mencari

Penyesuaian Sosial

teman,

Penyesuaian

sosial

adalah

menghubungi dan membuat rencana. Mereka

kemampuan yang dimiliki seseorang untuk

juga harus tahu bagaimana mengatasi konflik

menyesuaikan diri (conform) dengan bentuk

dan pertentangan. Serta mengetahui kapan

tingkah

dan bagaimana berbagi kepercayaan dan

kelompok. Penyesuaian sosial ditentukan oleh

memberikan dukungan emosional dengan

dua faktor (Hurlock, 1991), yaitu sejauh mana

teman mereka.

seseorang dapat memainkan peran sosial

Pertemanan memiliki beberapa fungsi.

secara

laku

tepat

yang

telah

sesuai

disetujui

dengan

apa

oleh

yang

Gottman & Parker (dalam Santrock, 2002)

diharapkan padanya dan seberapa besar

menyebutkan enam fungsi pertemanan, yaitu

kepuasan

companionship, stimulation, physical support,

Sementara itu apabila disesuaikan dengan

ego

konteks penelitian mengenai penyesuaian

support,

social

intimacy/affection.

Selain

comparison, memiliki

fungsi

sosial

yang

dalam

diperoleh

persahabatan,

seseorang.

maka

dapat

tertentu, didalam persahabatan juga terdapat

dikatakan bahwa penyesuaian sosial dalam

sejumlah harapan (expectancies) terhadap

hubungan persahabatan dapat terlihat dari

sahabat mereka. Menurut Clark & Ayers

sejauh mana seseorang dapat memainkan

(dalam Rice, 1993) harapan seseorang dalam

peran sebagai seorang sahabat dan seberapa

persahabatan,

dapat

besar kepuasan mereka dalam hubungan

saling berbagi aktivitas, mengharapkan teman

persahabatan tersebut. Parker & Asher (1993)

yang baik, terbuka, mau berterus terang/jujur,

mengatakan

bahwa

setia,

penyesuaian

dalam

diantaranya

memiliki

adalah

komitmen

dan

saling

memahami.

lain

persahabatan

pada adalah

kualitas dari persahabatan anak. Menurut

Kualitas persahabatan adalah derajat seberapa

elemen

besar

persahabatan

mereka

pertemanan yang

terlihat

Hurlock (1995), terdapat beberapa kriteria dari

atau

penyesuaian

dari

menentukan sejauh mana penyesuaian diri

berguna

(1993) terdapat enam aspek atau kriteria

penampilan nyata seperti perilaku sosial anak

dalam

tersebut, penyesuaian diri terhadap berbagai

diantaranya

adalah: Validation and Caring: Conflict and

diantaranya

untuk

anak

persahabatan

sosial

yang

berbagai aspek. Menurut Parker dan Asher

kualitas

secara

sosial

adalah

kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi.

39


Anak Berbakat

Mereka memiliki perasaan positif mengenai

Anak berbakat adalah mereka yang

dirinya dan orang lain (Lehman & Erdwins

memiliki intelegensi diatas rata-rata, memiliki

dalam Clark, 1988). Anak berbakat juga

bakat dalam berbagai domain dan juga

dikatakan memiliki penyesuaian emosi yang

memiliki kreativitas yang tinggi. Beberapa

lebih baik dibandingkan anak yang memiliki

anak

kemampuan

berbakat

berhubungan

memiliki

rata-rata

(Lightfoot,

1951;

Mensch, 1950; Ramaseshan, 1957 dalam

teman sebaya karena perbedaan vocabulary

Clark, 1988). Mereka juga cenderung lebih

size (terutama pada usia awal), kepribadian

independent dan kurang dapat menyesuaikan

dan minat (Wikipedia, 2006). Coleman (1985)

diri

menjelaskan bahwa mereka lebih menyukai

dominan, lebih kuat dan lebih kompetitif

permainan yang disukai oleh anak yang lebih

dibandingkan teman lainnya (Lucito & Smith

tua. Hal ini menjadi indikasi bahwa anak

dalam Clark, 1988). Karakteristik lainnya

berbakat lebih memilih aktivitas yang kurang

adalah bahwa anak berbakat lebih menyukai

sosial dan kurang aktif dibandingkan anak

teman yang memiliki kemampuan inteligensi

lainya.

menyukai

yang sama dengannya dibandingkan teman

permainan yang kompleks, dan mengoleksi

yang seusianya.(Barbe & Mann dalam Clark,

hal-hal yang berbau science dibandingkan

1988).

Anak

anak-anak

berbakat

lainnya.

nasional

Munandar,

berkomunikasi

dalam dengan

seminar

atau

masalah

1982)

lebih

Berdasarkan anak

pendapat

temannya,

lebih

laporan

berbakat

dikatakan

dengan

bahwa

(dalam

Akselerasi

anak

Saat

ini

di

Indonesia

pelayanan

berbakat memiliki ciri sosial baik yang positif

pendidikan yang diberikan kepada anak-anak

maupun yang negatif. Berdasarkan ciri sosial

berbakat adalah dengan melakukan program

yang positif dikatakan bahwa mereka senang

akselerasi, dimana mereka ditempatkan pada

bergaul dengan anak yang lebih tua, menyukai

kelas khusus dengan anak-anak berbakat

permainan

lainnya,

yang

menyukai

pemecahan

dan

mereka

diberikan

materi

masalah, suka bekerja sendiri dan memiliki

pelajaran secara cepat. Southern dan Jones

ciri-ciri kepemimpinan. Sedangkan ciri sosial

(dalam Hawadi 2004) menyebutkan beberapa

yang negatif mereka dikatakan sukar bergaul

kekurangan dari program akselerasi bagi anak

dengan

berbakat. Salah satunya adalah dari segi

teman

sebaya

dan

sukar

menyesuaikan diri dalam berbagai bidang.

penyesuaian sosial antara lain adalah mereka

Sementara itu Clark (1988) mengemukakan

kekurangan waktu untuk beraktivitas dengan

beberapa karakteristik sosial dan emosional

teman sebayanya karena didorong untuk

anak berbakat. Clark mengatakan bahwa anak

berprestasi dalam bidang akdemik.

berbakat terlihat lebih nyaman dengan dirinya dan

dengan

hubungan

interpersonal-nya,

ketika dibandingkan dengan teman seusianya.

40


Model teoritik variabel penelitian

Kriteria penyesuaian social : Pemnampilan/perilaku social, penyesuaian diri terhadap kelompok, sikap sosial

Dipengaruhi oleh model perilaku dirumah, motivasi dan bimbingan dari orangtua

Penyesuaian sosial

Persahabatan merupakan salah hubungan yang memerlukan penyesuaian sosial

Muncul Harapan terhadap masing-masing pihak Timbul tuntutan untuk memenuhi harapan

Kemampuan memainkan peran mempengaruhi kualitas persahabatan

Peran

Kepuasan (dipengaruhi oleh mampu atau tidaknya seseorang memainkan peran yang sesuai harapan sahabatnya)

Metode Penelitian Penelitian

ini

Hal ini menunjukan bahwa harapan tiap orang

menggunakan

pendekatan

terhadap

sahabat

mereka

berbeda-beda.

kualitatif dan teknik pengumpulan data yang

Subyek 1 dan 5 merasa kalau hubungan

dilakukan adalah melalui wawancara dan

mereka

observasi. Subyek dalam penelitian ini adalah

Sementara itu subyek 4 merasa kalau dirinya

sebanyak lima orang subyek utama yang

tidak punya sahabat padahal harapan dia

berada pada masa remaja awal (usia 13-15

akan seorang sahabat tanpa ia sadari telah

tahun), dan berada dikelas akselerasi. Selain

terpenuhi

mewawancarai subyek utama, peneliti juga

Sahabatnya. Sementara itu subyek 3 belum

mewawancarai sahabat subyek, orang tua dan

bisa

guru untuk mengetahui gambaran yang lebih

adalah sahabatnya karena ia memang belum

lengkap mengenai penyesuaian sosial anak

bisa membedakan antara teman dekat dengan

berbakat.

sahabat. Sedangkan subyek 2 belum bisa

bisa

dalam

mengatakan

dikategorikan

hubungannya

kalau

teman

sahabat.

dengan

dekatnya

mengatakan bahwa teman dekatnya adalah Hasil Penelitian

sahabatnya karena dianggap belum bisa

Kelima subyek memiliki pandangan yang

berbeda-beda

mengenai

memenuhi kriteria seorang sahabat.

sahabat

meskipun banyak kemiripan satu sama lain.

41


Gambaran

harapan

dalam

hubungan

tidak puas karena sahabatnya kalau bercanda

persahabatan mereka Harapan

keterlaluan dan sering mengejek dirinya.

kelima

subyek

terhadap

Sementara subyek 3 walaupun mengaku

sahabatnya memiliki kesamaan satu sama

sudah

lain. Subyek 3 dan 4 mengharapkan sahabat

sebenarnya tidak ia sukai dari sahabatnya. Ia

yang dapat membantunya dan memberikan

juga mengaku terkadang harus berura-pura

solusi ketika ia ada masalah. Sementara

agar dapat dianggap baik. Sedangkan subyek

subyek 1, 2 dan 5 mengharapkan sahabatnya

4

dapat

persahabatan

terbuka

dan

mau

membicarakan

masalah pribadi. Subyek 2 dan 4 mengharap sahabatnya

bisa

berhianat.

dipercaya

Sedangkan

dan

puas

terlihat

tidak

banyak

puas

yang

hal-hal

karena

ia

yang

hubungan

harapkan

belum

terpenuhi.

tidak

subyek

tetapi

Hanya subyek 2 dan 5 yang merasa

5

puas

dan

menikmati

hubungan

mereka

mengharapkan sahabatnya dapat jujur dan

meskipun ada harapan-harapannya yang tidak

mendukung

terpenuhi

dirinya

untuk

maju.

Masing-

oleh

sahabatnya.

Dari

analisis

masing subyek berupaya memenuhi harapan

kelima kasus terlihat bahwa hal-hal yang

sahabatnya. Subyek 1 berupaya membantu

mempengaruhi

sahabatnya dengan cara memberi solusi dan

kepada

ia juga dengan setia mendengarkan setiap kali

terpenuhi

sahabatnya bercerita. Subyek 2 juga berupaya

kemampuan atau keinginan memainkan peran

mendengarkan

yang diharapkan oleh sahabatnya.

sahabatnya

dan

memberi

kepuasan

apakah atau

harapan tidak

mereka

lebih

mereka

bisa

bukan

pada

dan

dukungan meskipun sahabatnya masih belum merasakan dukungan yang diberikan subyek. Subyek

3

berusaha

harapan

Dilihat dari kualitas persahabatan,

temannya dengan berupaya tidak meledek,

Intimate Exchange, kelima subyek baik tidak

dan berusaha tidak menyakiti hatinya. Subyek

pernah

4 masih belum melakukan upaya apapun

pengalaman pribadinya pada sahabat mereka.

untuk

sahabatnya.

Subyek 1, 3 dan 5 merasa masalah pribadi

Sedangkan subyek 5 berupaya mengerti

bukanlah hal yang harus diceritakan, dan

sahabatnya dengan cara lebih memperhatikan

mereka

saat-saat seperti apa yang menyebabkan

Sementara itu subyek 2 merasa tidak memiliki

sahabatnya kesal atau marah, sehingga ia

masalah yang sifatnya pribadi, sehingga tidak

tahu dan dapat lebih memahami sahabatnya

tahu apa yang harus diceritakan, hanya hal-

ketika peristiwa serupa terjadi lagi.

hal yang umum saja yang ia bicarakan dengan

memenuhi

memenuhi

Gambaran kualitas persahabatan

harapan

teman Gambaran

kepuasan

dalam

hubungan

persahabatan Berdasarkan

apa

yang

mengungkapkan

lebih

suka

dekatnya.

sebenarnya

ingin

pribadinya

kepada

perasaan

menyimpan

Sedangkan

dan

sendiri.

subyek

menceritakan sahabatnya,

4

masalah tetapi

mereka

pengalaman tidak menyenangkan dengan

harapkan dan apa yang mereka alami, subyek

sahabatnya dulu membuat ia lebih berhati-hati

1, 3 dan 4 terlihat belum puas dengan

memilih teman yang akan dijadikan tempat

hubungan persahabatannya.Subyek 1 merasa

curhat.

42


Sedangkan

dalam

kualitas

memberikan dukungan walaupun tidak secara

companionship and recreation kelima subyek

langsung.

hanya menghabiskan waktu bersama sebatas

Sedangkan apabila melihat kualitas

kegiatan disekolah saja sementara kegiatan

persahabatan melalui derajat konflik yang

diluar sekolah dan aktivitas lainnya tidak.

mereka alami ternyata hanya subyek 1 saja

Biasanya

yang

mereka

menghabiskan

waktu

sering

memiliki

masalah

dengan

bersama diluar ketika ada acara dari sekolah

sahabatnya. Biasanya apabila ada hal yang

atau jalan-jalan bersama teman satu kelas.

tidak disukai atau membuat marah ia akan

Tidak pernah mereka pergi hanya dengan

mengatakan pada sahabatnya. Subyek 2

sahabatnya saja. Kelima subyek merasa

merasa tidak pernah ada masalah dengan

padatnya

sahabatnya meskipun ada hal-hal yang tidak

jadwal

mereka

disekolah

yang

mempersulit mereka untuk pergi bersama.

ia sukai dari sahabatnya. Sementara itu

Mereka juga saling bantu membantu

subyek 3, 4 dan 5 merasa tidak pernah ada

satu sama lain, meskipun hanya dalam hal pelajaran

disekolah.

Kelima

masalah dengan sahabat mereka.

subyek

memberikan bantuan mengenai tugas atau pelajaran

disekolah

kepada

Gambaran Hubungan Pertemanan

sahabatnya.

Subyek 1 dan 2 tidak memiliki banyak

Hanya saja subyek 2 merasa sahabanya tidak

teman diluar kelas akselerasi meskipun sejak

banyak membantu dia. Sedangkan menurut

SD sampai SMA mereka berada disekolah

sahabatnya subyek 5 tidak pernah meminta

yang sama. Sedangkan subyek 3, 4 dan 5

bantuan padanya, sehingga ia sendiri tidak

memiliki lebih banyak teman dikelas reguler.

merasa banyak membantu. Sementara itu

Meskipun begitu mereka bertiga merasa lebih

subye 4 justru merasa ia tidak banyak

dekat dengan teman-teman yang ada dikelas

membantu

teman-

akselerasi. Akan tetapi subyek 1 dan subyek 4

temannya sudah pintar sehingga tidak tahu

tidak menyukai anak-anak gaul yang ada

harus dibantu apa.

disekolahnya. Mereka merasa tidak cocok

karena

sahabat

dan

Selain bantuan, kualitas persahabatan juga

dilihat

dari

derajat

dimana

dengan gaya dan cara mereka bergaul.

suatu

Sedangkan

para

lelaki

tidak

hubungan memiliki karakteristik kepedulian

mempermasalahkan hal itu, meskipun tidak

(caring),

mempermasalahkan hanya subyek 3 yang

dukungan

(support)

dan

minat

(interest) atau disebut juga dengan validation

memiliki teman dari kelompok anak

and caring. subyek 1 dan 4 merasa mendapat

tersebut. Sedangkan subyek 2 dan 5 tidak

perhatian dan saling memberikan dukungan

memiliki teman dari kelompok anak gaul .

sedangkan subyek 5 merasa memberikan

gaul

Subyek 3 bisa bergaul dengan siapa

dukungan akan tetapi ia sendiri merasa tidak

saja,

mendapat dukungan dari sahabatnya. Subyek

akselerasi tetapi juga teman-teman dari kelas

2 merasa memberikan dukungan pada teman

reguler,

dekatnya itu tetapi teman dekatnya tidak

dilingkungan

merasa

darinya.

berbeda dengan keempat subyek lainnya yang

saling

tidak memiliki teman dilingkungan rumah.

mendapat

Sedangkan

subyek

dukungan 3

merasa

43

tidak

hanya

bahkan

ia

teman-teman

juga

rumahnya.

memiliki Hal

ini

dikelas

teman sangat


Subyek 4 lebih mudah untuk diterima oleh

sering kali hanya membicarakan masalah

berbagai

kelompok

game atau film saja. Mereka bertiga juga tidak

bercanda

sehingga

karena

senang yang

termasuk orang yang humoris dan cenderung

menyukainya. Sedangkan subyek 1, 2 dan 5

study oriented. Mereka banyak menghabiskan

sangat

waktu untuk belajar daripada berinteraksi

pendiam

banyak

ia

sehingga

teman

sulit

untuk

berhubungan dengan orang lain. Subyek 1 juga

dinilai

masih

kekanak-kanakan

dengan teman lainnya.

dan

sebagian besar temannya tidak menyukai

Gambaran Kehidupan Subyek Dilingkungan

teman yang kekanak-kanakan.

Keluarga

Sikap subyek 2 dalam partisipasi

Subyek

1,

dan

dibesarkan

dilingkungan

kegiatan

atau

pendidikan. Sejak kecil mereka diikutsertakan

mengkuti ekskul yang

pada beberapa les dan dituntut untuk belajar

berbau science yang tidak mengharuskan ia

dengan rajin dan tekun. Mereka juga diajarkan

banyak bicara dikelas. Sementara itu subyek 2

disiplin belajar dan mematuhi jadwal belajar

dan 4 sangat tertarik pada kegiatan sosial,

yang ada. Orangtua subyek 1 dan 3 tidak

mereka ingin ikut ROHIS dan OSIS, mereka

membolehkan

juga mengikuti ekskul bahasa Jepang yang

rumah. Sementara itu subyek 4 dan 2 lebih

menuntut mereka untuk banyak bicara dikelas.

banyak belajar sendiri, mereka juga diberi

Subyek 3 dan 5 kurang menyukai kegiatan

kebebasan untuk mengatur waktu belajar

sosial, hal ini dikarenakan mereka memang

sendiri. Orang tua mereka tidak terlalu ikut

lebih

campur dalam hal belajar dan bermain.

seperti

organisasi, ia juga

memperhatikan

kepanitian

kegiatan

akademis

mereka disekolah dibandingkan ikut kegiatan. Menurut

sudut

pandang

anak

sangat

5

sosial masih sangat kurang ia tidak mengikuti sosial

yang

3

memperhatikan

mereka

main

keluar

Meskipun subyek 4 dan 2 tidak dilarang untuk

orang

bermain tetapi karena lingkungan rumahnya

disekitarnya seperti guru, teman dan orang

yang individualis menyebabkan mereka jarang

tua, hanya subyek 3 dan 4 yang mampu

bermain ketika kecil.

melakukan penyesuaian sosial dengan baik.

Dari keempat subyek pola komunikasi

Hal ini disebabkan subyek 3 dan 4 memiliki

yang ada dirumah hampir sama. Orang tua

kemampuan komunikasi yang baik, peduli dan

mereka cukup sibuk sehingga tidak memiliki

mampu bersikap dewasa, selain itu subyek 3

banyak waktu untuk sekedar ngobrol atau

juga anak yang humoris sehingga disukai oleh

bertanya mengenai masalah pribadi atau

teman-temannya. Sedangkan ketiga subyek

perasaaan yang dialami anaknya. Bahkan

lain dinilai oleh teman, guru dan orang tua

orang tua subyek 4 dan 2 tidak sempat lagi

kurang mampu melakukan penyesuaian sosial

mengajarkan anaknya karena selain sibuk

dengan baik. Mereka cenderung pendiam,

mereka juga merasa anaknya sudah bisa dan

bahkan subyek 2 memiliki masalah dalam

tidak

berkomunikasi dengan orang lain, subyek 1

mereka juga mengatakan bahwa anaknya

dinilai

tidak pernah bercerita masalah pribadi dengan

kekanak-kanakan

sehingga

kurang

membutuhkan

yang

mereka

Orang

tua

disukai oleh teman-temannya. Sedangkan

mereka,

subyek 5 dianggap membosankan karena

hanyalah yang berhubungan dengan pelajaran

44

hal-hal

bantuan.

bicarakan


disekolah. Sementara itu hanya subyek 5

mengikutsertakan

yang

seperti

kepanitian

berbeda di rumah. Ia sering kali bercerita pada

semakin

terbatasnya

ibunya apabila ia sedang kesal atau marah

dalam berinteraksi dengan teman dari kelas

terhadap temannya. Hubungan subyek 5

lain.

memiliki

komunikasi

yang

sedikit

mereka

dalam

kegiatan

disekolah,

membuat

kesempatan

mereka

dengan orang tuanya sangat dekat sampaisampai

ia

merasa

tidak

membutuhkan

Harapan subyek

dukungan orang lain karena orang tuanya bisa

Hal lain yang sedikit berbeda dengan

diandalkan untuk memberi dukungan.

apa yang dikemukakan oleh Clark & Ayers adalah bahwa sebagian besar subyek tidak

Diskusi

memiliki keinginan untuk mengikuti aktivitas

Pemilihan Sahabat

diluar jam sekolah dengan teman mereka.

Tiap subyek dalam penelitian memiliki

Sebagian besar subyek kurang berminat

sahabat yang juga remaja berbakat. Jadi,

dalam kegiatan bermain diluar, baik dirumah

persahabatan

merupakan

ataupun diluar jam sekolah. Aktivitas bermain

persahabatan antara remaja berbakat. Hal ini

mereka lebih banyak pada permainan individu

diperkirakan

mereka

seperti game di handphone atau bermain play

dikelas akselerasi yang menyebabkan mereka

station dirumah. Sedangkan harapan agar

kurang dapat berinteraksi dengan teman lain.

sahabatnya dapat dipercaya muncul pada

Disamping

ini

subyek yang pernah mengalami pengalaman

yang

tidak menyenangkan dengan teman mereka.

memiliki

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan

kemampuan inteligensi yang sama dengannya

oleh Lehner & Kube (1960) bahwa harapan

Kenyataan ini mendukung pendapat Clark

seseorang

(1988) yang mengemukakan bahwa anak

mereka dimasa lalu.

mereka

karena

itu,

dikarenakan cenderung

keberadaan

mungkin

diri

juga

mereka

memilih

hal

sendiri

teman

yang

dipengaruhi

oleh

pengalaman

berbakat lebih menyukai teman yang memiliki kemampuan inteligensi yang sama dengannya

Kepuasan

dibandingkan teman yang seusianya.

Penyebab

ketidakpuasan

menurut

Hurlock (1995) lebih pada ketidakmampuan Kondisi dan Kebijakan Sekolah Sedikit

banyak

mempengaruhi

dengan

Keberadaan

mereka

ternyata

orang

sekolah

sosial

oleh

orang

lain,

sedangkan

dari

hasil

anak

penelitian, penyebab ketidakpuasan remaja

teman-temannya.

berbakat dalam menjalin hubungan dengan

dikelas

menimbulkan

beberapa

kebijakan

hubungan

berbakat

seseorang memainkan peran yang diharapkan

akselerasi

perasaan

mengaku

karena

sahabatnya

isolasi,

lebih

dikarenakan

tidak

terpenuhinya harapan mereka sendiri dan

kelas

bukan

karena

tidak

harapan

mereka malas untuk pergi atau berinteraksi

subyek yang mempedulikan dan terpengaruh

dengan teman dikelas lain.Selain itu kebijakan

karena

dari

harapan sahabatnya. Selain itu hal lain yang

sekolah

yang

sengaja

tidak

45

dirinya

tidak

Hanya

memenuhi

mereka jauh dan cukup terpencil membuat

pihak

sahabatnya.

mampu

mampu

satu

orang

memenuhi


cukup menarik adalah bahwa dua subyek

berasal dari kelompok yang berbeda. Hal ini

yang dinilai memiliki penyesuaian sosial yang

sesuai dengan laporan seminar nasional anak

baik oleh orang lain justru terlihat kurang puas

berbakat

dengan hubungan mereka.

bahwa ciri sosial yang negatif dalam diri anak

(1981,

dalam

Munandar, 1982)

berbakat adalah mereka sukar bergaul dengan Kualitas persahabatan

teman sebaya dan sukar menyesuaikan diri

Dari aspek intimate exchange subyek

dalam berbagai bidang. Hal ini dikarenakan

laki-laki bahkan hampir tidak pernah bercerita

faktor-faktor dari dalam diri masing-masing

masalah pribadi pada sahabatnya. Sedangkan

subyek. Subyek yang memiliki kemampuan

subyek

penyesuaian

perempuan

masih

mau

bercerita

sosial

yang

baik

memiliki

masalah pribadi dengan sahabatnya. Hal ini

komunikasi yang baik, humoris, sikap peduli

sejalan dengan apa yang dikemukakan dalam

dan

Papalia

memiliki

et.

al

kepercayaan emosional

(2001)

bahwa

dan

dukungan

diri terlihat

lebih

berbagai

penting

secara

masa

remaja

dan

pada

penyesuaian

kekanak-kanakan,

mereka

yang

buruk

tidak

yang

membosankan

dan

pendiam.

sepanjang

kehidupan mereka. Terdapat hal yang menarik

Kehidupan Subyek Dilingkungan Keluarga

disini ketika salah satu subyek merasa lebih dekat

Sedangkan

memiliki hal tersebut. Mereka cenderung

pertemanan wanita daripada pertemanan pria selama

dewasa.

dengan sahabatnya hanya

Sebagian besar orang tua subyek

karena

tidak

begitu

memperhatikan

hubungan

mereka duduk sebangku dan bukan karena

anaknya dengan teman-temannya, mereka

kedekatan emosional. Kedekatan ini lah yang

sibuk dan tidak memperhatikan dan terkadang

ia nilai membedakan hubungannya dengan

tidak sempat mengajak bicara anak mereka.

teman lainnya Sementara itu dari aspek

Padahal menurut Santrock (1996) orang tua

companionship and recreation kelima subyek

dapat menjadi model atau pelatih bagi anak

bahkan jarang sekali melakukan aktivitas

remaja mereka dalam berhubungan dengan

diluar sekolah. Hal ini disebabkan mereka

teman.

tidak memiliki waktu untuk bermain atau

pengarahan yang cukup ketika berhubungan

melakukan aktivitas lainnya. Memang seperti

dengan teman akan membantu sang anak

yang dikatakan oleh

dalam melakukan penyesuaian sosial.

Southern dan Jones

(1991, dalam Hawadi 2004) bahwa salah satu

Tentu

saja

Hurlock

pendampingan

(1995)

mengemukakan

kekurangan dari kelas akselerasi adalah dari

bahwa

segi penyesuaian sosial, siswa akseleran akan

melakukan penyesuaian sosial sering timbul

didorong untuk berprestasi dalam bidang

dari pengalaman sosial awal yang tidak

akademiknya sehingga mereka kekurangan

menyenangkan

waktu

Peran orang tua dari kelima subyek untuk

untuk

beraktivitas

dengan

teman

kurangnya

dan

motivasi

untuk

belajar

di rumah atau di luar rumah.

sebayanya.

memotivasi

anaknya

dalam

berhubungan

Hubungan Pertemanan Subyek

dengan orang lain dirasa peneliti masih

Sebagian besar dari mereka kurang

kurang. Mereka lebih banyak memberikan

bisa bergaul dengan teman sebayanya yang

motivasi dalam hal pendidikan dan kegiatan

46


akademis saja. Beberapa diantara mereka

berusaha memenuhi harapan sahabat atau

bahkan melarang anaknya bermain diluar

teman-teman mereka agar tidak dinilai negatif

rumah,

atau agar tidak dimusuhi. Mereka mengaku

atau

dilarang

mendekati

teman

tertentu

berpura-pura baik dihadapan mereka. Mereka telah berupaya menjalankan

Kesimpulan

peran yang diharapkan oleh sahabat mereka

Sebagian

besar

subyek

meskipun begitu ternyata tidak semua subyek

mengharapkan sahabatnya dapat terbuka dan

merasa puas dengan hubungan yang mereka

mau

pribadinya.

jalin. Sebagian besar mereka tidak puas

Sementara itu sebagian dari mereka juga

dengan hubungan yang mereka jalin sekarang

mengharapkan sahabatnya bisa dipercaya,

ini. Meskipun dua orang diantaranya dinilai

tidak

dan

memiliki penyesuaian sosial yang baik oleh

memberikan solusi ketika dibutuhkan. Hanya

orang-orang disekitarnya. Mereka terlihat tidak

satu

ia

puas karena banyak hal-hal yang sebenarnya

mengharapkan sahabatnya dapat jujur dan

tidak disukai dari sahabatnya. Hanya dua

mendukung

dirinya

orang subyek yang merasa puas dengan

dalam

pelajaran.

membicarakan

berkhianat,

subyek

hal

masalah

dapat

yang

membantu

sedikit

untuk

berbeda,

maju terutama

Meskipun

memiliki

hubungan mereka meskipun orang lain menilai

harapan tersendiri terhadap sahabat mereka,

penyesuaian

tetapi sebagian besar subyek tidak pernah

Subyek yang merasa puas dengan hubungan

mengungkapkan

satu

mereka yang sekarang cenderung kurang

orang subyek yang sering kali berbicara atau

berminat dalam menjalani hubungan sosial

menegur sahabatnya apabila ada hal-hal yang

(berhubungan

kurang berkenan.

mengikuti

harapannya.

Hanya

sosial

mereka

dengan

kegiatan

kurang

orang

sosial).

baik.

lain

atau

Mereka

lebih

Semua subyek mengatakan bahwa

tertarik pada hal-hal akademis, bahkan salah

sahabat mereka juga mengharapkan hal yang

satu subyek mengharapkan sahabatnya bisa

kurang lebih sama dengan mereka, seperti

mendukung dia dalam belajar.

ingin didengar, mau membantu dan memberi

Sementara

itu

faktor-faktor

dukungan, jujur serta pengertian. Semua

mempengaruhi

subyek

harapan

remaja berbakat lebih kepada faktor dalam diri

sahabatnya terhadap mereka. Sebagian besar

individu itu sendiri. mereka memiliki sikap

mereka mengemukakan langsung harapan

humoris, banyak bicara (komunikatif), baik, dll.

tersebut kepada subyek tetapi ada pula yang

Sedangkan hal ini tampaknya kurang dimiliki

tidak. Secara umum mereka mencoba untuk

oleh

memenuhi dan menyesuaikan diri dengan

penyesuaian sosial yang kurang baik. Mereka

tuntutan dari sahabatnya, meskipun hasilnya

pendiam, tidak suka bercanda, kurang peduli

memang belum maksimal. Akan tetapi mereka

terhadap

cenderung

dari

kanakkan, membosankan, dan pendiam oleh

temannya. Hanya satu subyek yang cukup

teman-temannya. Sifat mereka yang serius

peka terhadap harapan sahabatnya. Yang

dan lebih banyak belajar membuat mereka

cukup menarik disini adalah beberapa subyek

tidak

mengetahui

sendiri

mengabaikan

harapan

47

subyek

penyesuaian

lain

yang

teman-teman,

populer

diantara

sosial

yang

dinilai

dinilai

pada

memiliki

kekanak-

teman-temannya,


Saran

mereka juga tidak humoris, dan satu subyek tidak dapat mengendalikan emosinya dengan

Dalam penelitian ini masih ada hal-hal

baik.

yang kurang dan menjadi kelemahan, oleh Sementara itu bila dilihat dari kualitas

karena itu, peneliti menyarankan beberapa

persahabatan mereka terlihat bahwa kualitas

hal, antara lain adalah:

persahabatan mereka masih kurang baik.

Sebaiknya dalam penelitian selanjutnya

Mereka jarang melakukan aktivitas bersama

dapat digunakan teori-teori penyesuaian

diluar sekolah, mereka juga jarang sekali

sosial yang lebih baru, sehingga lebih

terlibat pembicaraan yang sifatnya pribadi.

sesuai dengan keadaan saat ini.

Biasanya hal yang mereka bicarakan adalah

Dalam penelitian selanjutnya sebaiknya

seputar masalah pelajaran atau tugas. Subyek

tidak hanya mewawancarai satu sahabat

laki-laki lebih sering membicarakan hal-hal

saja agar data yang diperoleh dapat lebih

yang sifatnya umum atau humor dengan

kaya.

sahabatnya. Sedangkan subyek wanita lebih

Sebaiknya

banyak

pada anak berbakat dalam bidang lain

membicarakan

masalah

pribadi

meskipun juga tidak terlalu sering dan tidak

tidak

terlalu dalam.

akademis

Mereka

juga

saling

memberikan

dapat

hanya

dilakukan

berbakat

saja,

karena

penelitian

dalam

bidang

kemungkinan

mereka memiliki gambaran penyesuaian

dukungan satu sama lain. Biasanya semua

sosial yang berbeda.

subyek

Dalam penelitian selanjutnya mungkin

saling mendukung

dalam

hal-hal

pelajaran atau akademis. Sebagian besar dari

dapat

mereka

konflik

mempengaruhi penyesuaian sosial seperti

dengan sahabatnya. Hanya satu subyek yang

pola asuh ataupun attachment style anak

sering

berbakat.

tidak

pernah

mengalami

mengalami

masalah

atau

konflik

melihat

aspek

lain

yang

dengan sahabatnya. Sebagian besar subyek memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan

Daftar Pustaka

yang

Achyar.

akrab

dengan orang lain.

Mereka

mengalami kesulitan untuk dekat dan terbuka dengan orang lain. Mereka juga kurang memperhatikan harapan dan peran yang

Baron, Robert A. & Byrne, Donn. (2000). Social Psychology (9th edition). USA: Allyn & Bacon

harus mereka mainkan. Dari hasil paparan diatas

dapat

dikatakan

bahwa

kualitas

Bukowski, William M., Newcomb, Andrew F., & Hartup, Willard W. (1996). The Company They Keep: Friendship in Childhood and Adolescence. New York: Cambridge University Press.

persahabatan mereka masih kurang baik. Karena kualitas persahabatan dapat dijadikan sebagai indikator dari penyesuaian social, maka

dapat

disimpulkan

pula

(2001). Anak Berbakat (Gifted Learner).http://www.depdiknas.go.id /publikasi/Buletin/PppgTertulis/08_2 001/Anak_berbakat.htm

bahwa

Clark, Barbara (1988). Growing Up Gifted (3rd edition). USA: Merrill Publishing Company.

penyesuaian sosial mereka masih kurang baik.

Delisle, James R. (1992). Guiding The Social and Emotional Development of Gifted Youth: A Practical Guide for Educators

48


and Counselors. New York: Longman Publishing Group. Dusek,

Dwyer,

Papalia, Diane E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human Development, 8th edition. New York: McGraw-Hill

Jerome B. (1996). Adolescent Development and Behavior (3rd edition). New Jersey: Prentice-Hall

Parker, Jeffrey G. & Asher, Steven R. (1993). Journal Developmental Psychology; Friendship and Friendship Quality in Middle Childhood: Links With Peer Group Acceptance and Feelings of leneliness and Social Dissatisfaction. Vol. 29, No. 4

Diana. (2000). Interpersonal Relationship. USA: Taylor & Francis, Inc.

Hartati, Netty. (1997). Tesis: Perilaku & Motif Prososial Anak Berbakat Intelektual Umum di Kelas Reguler. Program Pascasarjana UI.

Rice,

Hawadi, Reni Akbar. (2004). Akselerasi A-Z: Informasi Program Percepatan Belajar & Anak Berbakat Intelektual. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana

Philip F. (1993). The Adolescent: Development, Relationships and Culture, 9th edition. Boston: Allyn & Bacon.

Santrock, John W. (2001). Educational Psychology, 1st edition. USA: McGraw Hill

Hurlock. Elizabeth B. (1995). Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga

Sutopo, Hendyat. (2001). Kelas Aksleerasi Bisa Perkosa Perkembangan Anak Didik.http://www.kompas.com/kompas cetak/0205/31/jatim/kela49. htm

Lehner, George F.J. & Kube, Ella. (1960). The Dynamics of Personal Adjustment. USA: Prentice-Hall, Inc.

Versteynen, Linda. (2006). Issues in The Social and Emotional Adjustment of Gifted Children: What Does The Literature Say?. University of Waikato. http://www.giftedchildren.org.nz/apex/ v13art04.p

Lesmana, Jeanette M. (2005). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta : UI Press

49


DAMPAK PROGRAM AKSELERASI INDONESIA YANG BERBASIS KURIKULUM NASIONAL TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL SISWA PESERTA AKSELERASI TINGKAT SMU DI JAKARTA. Nuraida, Lydia Freyani Hawadi, dan Anggadewi Moesono

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pelaksanaan akselerasi di Indonesia yang berbasis kurikulum nasional terhadap kecerdasan emosional siswa berbakat intelektual. Penelitian ini menggunakan sampel 44 siswa akselerasi, 80 siswa reguler, 33 guru, 3 penanggung jawab akselerasi, dan 6 orang staf pendukung. Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur EII yang dikonstruk oleh Lanawati (1999) untuk mengukur kecerdasan emosional dan Kuesioner program percepatan belajar yang peneliti susun berdasarkan enam faktor penunjang suksesnya program keberbakatan berdasarkan teori Coleman (1985). Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa skor kecerdasan emosional siswa akselerasi tidak berbeda dengan siswa reguler dengan nilai signifikansinya 0.173. Kecerdasan emosional terdiri dari 5 dimensi. Berikut ini akan dijelaskan perbedaan perdimensi yaitu: Self-Awareness nilai signifikansinya 0.204. SelfControl nilai signifikansinya 0.056, Self-Motivation dengan nilai signifikansinya 0.036 empathy nilai signifikansinya 0.096 dan social skill nilai signifikansinya 0.377. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari kelima dimensi yang ada skor 3 dimensi yaitu self control, self motivation dan emphaty menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas akselerasi dengan kelas reguler. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa pelaksanaan akselerasi di Indonesia belum terlaksana dan terencana dengan baik. Hal ini di deskripsikan dari kenam factor pendukung akselerasi, yaitu guru, kurikulum, prosedur seleksi, landasan filosofis penyelenggaraan akselerasi, dukungan para staf, dan evaluasi program. Kata kunci/keywords : kecerdasan emosional, akselerasi, siswa, kurikulum nasional Hasil penelitian Clark (1983) Pendahuluan

menunjukkan bahwa anak-anak akseleran

Sejak pemerintah

tahun Indonesia

ajaran

2001/2002

melakukan

memiliki skor penyesuaian emosional di atas

ujicoba

rata-rata. Hal ini mungkin karena sistem

program akselarasi pada beberapa sekolah di

pendididikan di Amerika jumlah pelajarannya

Indonesia.

tidak terlalu banyak dan setiap sekolah

Program

akselerasi

adalah

pelayanan belajar kepada anak berbakat

mempunyai

intelektual

masa

pelajaran

yang

studinya lebih cepat daripada siswa biasanya.

Indonesia

seluruh

Menurut

disamping

sistem pendidikan nasional yang baku. Peneliti

memiliki pengaruh positif (Clark, 1983) juga

menduga bahwa jika program akselerasi

mempunyai pengaruh negatif (Southern and

menggunakan kurikulum nasional, tidak akan

Jones, 1991) terhadap penyesuaian social

mampu memacu mutu kecerdasan emosional

dan penyesuaian emosional. Pelaksanaan

siswa berbakat intelektual. Hal ini karena

akselerasi di Amerika pada sistem pendidikan

siswa berbakat mengalami kepadatan waktu

yang

kurikulumnya

yang luar biasa sehingga tidak cukup waktu

dan

untuk

untuk

para

ahli,

demokratis

menyelesaikan

akselerasi

dan

disesuaikan

dengan

bakat

Sedangkan

pelaksanaan

minat.

akselerasi

di

melakukan

memacu

Indonesia berbasis kurikulum nasional.

akseleran.

50

hak

untuk

memiliki

berbeda. sekolah

Sementara

di

menggunakan

kegiatan-kegiatan

kecerdasan

jumlah

emosional

untuk siswa


Permasalahan

penolakan terhadap program akselerasi, yaitu

Apakah pelaksanaan akselerasi yang berbasis

: program akselerasi akan merugikan prestasi

kurikulum nasional mampu memacu mutu

akademik, tidak mampu menyesuaikan diri

peningkatan

siswa

secara emosional, merugikan pengalaman

skor

social, dan menurunkan kesempatan untuk

berbakat

kecerdasan

emosional

intelektual?

Apakah

Kecerdasan Emosional kelas akselerasi sama

ikut serta dalam kegiatan extra kurikuler.

atau lebih rendah dari pada siswa reguler ? Bagaimana deskripsi enam factor pendukung akselerasi di tiga SMU yang diteliti?

Stanley (1977)

dalam Khatena Joe (1982)

mengakselerasi

pelajaran-pelajaran

Matematika

dan

tidak

mengakselerasikan

pelajaran budaya. Tinjauan Teoritis Akselerasi yang berlaku di Indonesia adalah

Akselerasi

jenis

Akselerasi: Menurut Pressey (1949)

telescoping

kurikulum,

yaitu

siswa

menggunakan waktu yang kurang dari waktu

adalah percepatan yang dilaksanakan dalam

yang biasanya digunakan untuk penyelesaian

sebuah system pendidikan pada tingkatan

studi.

yang lebih cepat atau umur yang lebih muda daripada anak biasa (Southern dan Jones,

Pelaksanaan

1991). Stanley (1971) dalam program Study

berdasarkan teori program keberbakatan yang

Mathematically

diidentifiaksi

Precocious

Youth

(SMPY)

akselerasi

dari

akan

Coleman

ditelaah

(1985)

pada

memberikan akselerasi untuk anak berbakat

Universitas John Hopkins dan juga dari buku

Matematika untuk usia 12-13 tahun. Alasan

pedoman pelaksanaan program percepatan

Stanley

belajar dari Depdiknas tahun 2001 yang terdiri

memberikan

menurutnya

percepatan

apapun

karena

pengayaan

yang

atas 6 komponen, yaitu :

diberikan kecuali budaya akan merugikan

1. Guru : kajian tentang guru meliputi apakah

anak berbakat jika tidak akselerasi. Stanley

telah

mendasarkan pendapatnya pada alasan logis

berbakat intelektual

dan empiris. Suothren and Jones (1991) menyebutkan

beberapa

keuntungan

dari

kurikulum

anak

nasional

dalam

program

akselerasi. 3. Prosedur Seleksi : apakah prosedur yang

b. Meningkatkan efektifitas.

dijalankan telah memenuhi persyaratan

Penghargaan

seleksi.

d. Kesempatan untuk cepat berkarir

4. Landasan Filosofis : merupakan kajian

e. Meningkatkan produktivitas Meningkatkan

guru

kajian adalah bagaimana pelaksanaan

a. Meningkatkan efisiensi.

f.

kriteria

2. Kurikulum : hal penting yang menjadi

program akselerasi bagi anak berbakat.

c.

memenuhi

pilihan

untuk

tentang

perluasan

landasan

filosofis

dibukanya

program akselerasi,

akademik

5. Dukungan

g. Memperkenalkan siswa pada kelompok

para

staf

:

Bagaimana

dukungan para staf (BP, Laboran,dll.)

yang baru.

terhadap program akselerasi.

Meskipun dipandang memiliki keuntungan, ada beberapa hal yang menyebabkan adanya

51


6. Evaluasi

Program

terhadap

:

apakah

program

evaluasi

pada kesadaran diri. Tujuan mengelola

telah

emosi adalah keseimbangan emosi bukan

akselerasi

memnuhi standar evaluasi.

menekan emosi. 3. Memotivasi

diri

sendiri

kenali

emosional,

Kecerdasan Emosional adalah : Rangkaian

kepuasan dan mengendalikan dorongan

kemampuan,

hati adalah landasan keberhasilan dalam

dan ketrampilan

yang dapat mempengaruhi seseorang

dalam mengatasi tuntutan

tekanan lingkungan mempengaruhi individu.

keberhasilan

terhadap

berbagai bidang.

dan

4. Mengenali emosi orang lain : empati

dan secara langsung

kesejahteraan

diri

diri

Kecerdasan Emosional

kompetensi

menahan

:

merupakan kemampuan bergaul.

psikologis

5. Membina

(Bar-On, 1997 dalam Lanawati,

hubungan

:

merupakan

ketrampilan mengelola emosi orang lain.

2000)

Sedangkan menurut Bar-On (dalam Lanawati,

Menurut Salovey berhubungan

kecerdasan emosional

dengan

penggunaan

dalam memotivasi, merencana

2000) ranah emotional intelligence Inventory

emosi

(EII) adalah sebagai berikut :

dan berhasil

1. Emotional Self Awareness : seorang

dalam kehidupan. Hasil penelitian Clark (1983)

mampu mengenal perasaan dan emosinya

menunjukkan bahwa anak-anak akseleran

sendiri,

memiliki skor penyesuaian emosional di atas

tersebut, mengetahui apa yang ia rasakan

rata-rata. Hal ini mungkin karena system

juga sebab munculnya.

mengidentifikasi

perasaannya

pendidikan di Amerika jumlah pelajarannya

2. Sikap asertif : mampu mengungkapkan isi

tidak terlalu banyak dan setiap sekolah

perasaan, keyakinan, pendapat dalam

memiliki hak untuk jumlah pelajaran yang

mempertahankan haknya dengan cara

berbeda. Sementara di Indonesia

yang baik.

sekolah

seluruh

menggunakan system pendidikan

3. Self-Regard

:

kemampuan

seseorang

nasional yang baku. Untuk tingkat SMU setiap

untuk menghormati dan menerima dirinya

siswa

sebagaimana adanya meskipun positif

memiliki kewajiban

mata pelajaran reguler

mempelajari

13

baik yang mengikuti kelas

maupun kelas percepatan

atau negative.

belajar

4. Aktualisasi diri : kemampuan individu

atau akselerasi. Goleman

(1995)

untuk berdasarkan

teori

dari

merealisasikan

potensi

melalui

proses yang dinamis dan berlangsung

kecerdasan pribadi Gardner membuat ranah

terus

kecerdasan emosional sebagai berikut :

perkembangan

1. Mengenali emosi diri : kesadaran diri,

ketrampilan serta bakat secara maksimal.

mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi

merupakan

dasar

menerus,

berusaha

mencapai

kemampuan,

dan

5. Kemandirian : mampu mengarahkan dan

kecerdasan

mengendalikan

emosional.

dirinya

baik

pikiran

maupun perilakunya secara bersih tanpa

2. Mengelola Emosi : menangani perasaan

dinodai

agar perasaan dapat terungkap dengan

negative.

pas adalah kecakapan yang bergantung

52

dengan

perasaan-perasaan


6. Empati

:

mampu

untuk

Metode Penelitian

menyadari,

mengerti, dan memahami perasaan orang

Subyek

lain.

Subyek dalam penelitian ini terdiri dari : 44

7. Hubungan

interpersonal :

individu

untuk

kemampuan

membina

siswa akseleran, 80 siswa reguler, 33 guru, 3

dan

penanggung jawab akselerasi, dan 6 orang

mempertahankan hubungan yang ditandai

staf.

dengan keintiman, saling memberi dan

Alat pengumpul data

menerima kasih sayang. Ada tiga metode yang digunakan dalam

8. Tanggung jawab sosial : kemampuan

pengumpulan data penelitian, yaitu metode tes

seseorang bekerja sama dalam kelompok dalam

memberikan

masyarakat.

peran

Berhubungan

untuk melihat kecerdasan emosional siswa

pada dengan

kemampuan untuk melakukan sesuatu

masalah

:

juga

dilakukan

menemukan

:

kemampuan

reguler,

pada

koordinator

metode

wakil

kepala

akslerasi,

yang

guru program akselerasi.

dan

Tes Kecerdasan emosional yang digunakan

mengimplementasikan solusi yang efektif. 10. Fleksibilitas

wawancara

dan

siswa

terakhir metode angket yang diberikan kepada

kemampuan

individu mengidentifikasi dan membatasi masalah

dan

sekolah

untuk orang lain. 9. Pemecahan

akselerasi

adalah alat ukur EII (emotional intelligence

seseorang

inventory) berdasarkan teori Salovey dan Bar-

dalam menyesuaikan diri terhadap emosi

On yang dikonstruk dan digunakan oleh Sri

orang lain.

Lanawati (1999). Terdiri atas 5 dimensi, yaitu

11. Toleransi Terhadap Stres : kemampuan

self control, Empathy, self motivation, social

individu bertahan dalam situasi yang sulit

skill, dan self awareness.

dan penuh dengan stress. 12. Pengendalian

impuls

Alat ukur untuk percepatan belajar disusun :

kemampuan

sendiri oleh peneliti berdasarkan 6 hal yang

individu menahan atau menunda impuls,

menjadi faktor pendukung bagi suksesnya

dorongan, atau godaan untuk bertindak. 13. Kebahagiaan :

kemampuan

program untuk keberbakatan oleh Coleman

individu

(1985),

merasa puas terhadap kehidupan diri

yaitu

kulaifikasi

guru,

kurikulum,

evaluasi program, prosedur seleksi, landasan

sendiri, menikmati kehidupan bersama

filosofis, dan staf pendukung.

sesamanya dan merasa bahagia. Hasil Penelitian

14. Optimisme : mampu melihat sisi terang dari sikap

kehidupan positif,

dan

mempertahankan

walaupun

Berikut

harus

akan

digambarkan

perbandingan

mean kecerdasan emosional antara siswa

mengahadapi kesulitan.

akselarsi

53

dengan

siswa

reguler.


Tabel 1 Perbandingan kecerdasan emosional kelas akselerasi dan kelas reguler Prog. Belajar

EQ

SA

SC

SM

EM

SS

Akselerasi

Mean

170.045

23.454

59.250

29.227

33.454

24.659

N

44

44

44

44

44

44

Std.Dev

15.696

3.637

7.613

3.999

4.173

3.102

Mean

174.481

24.325

61.925

31.148

31.812

25.262

N

79

79

79

79

79

79

Std.Dev

17.974

3.624

7.264

5.220

5.699

3.880

Mean

172.894

24.016

60.975

30.472

32.392

25.048

N

123

124

123

123

123

123

Std.Dev

17.261

3.638

7.470

4.896

5.251

3.622

F

1.879

1.633

3.720

5.512

2.817

0.786

Sig

0.173

0.204

0.056

0.036

0.096

0.377

Reguler

Total

Mean kecerdasan emosional siswa akslerasi

rendah daripada siswa kelas reguler. Dimensi

adalah 170.045 sedangkan pada siswa reguler

Self-Motivation

adalah

signifikansi

signifikansi 0.036, hal ini menunjukkan bahwa

sebesar 0.173 sehingga dapat dikatakan

ada perbedaan signifikan dimana skor self

bahwa tidak ada mean skor EQ pada kedua

motivation siswa akselerasi lebih rendah bila

kelompok

secara

dibandingkan dengan siswa reguler.Dimensi

signifikan. Kecerdasan emosional terdiri dari 5

empathy nilai signifikansinya 0.096 dimana

dimensi.

skor empati siswa akselerasi lebih tinggi dan

174.481

dengan

siswa

nilai

tidak

Berikut

ini

berbeda

akan

dijelaskan

besar

berbeda

Pada dimensi Self-Awareness besar nilai

reguler. Terakhir dimensi social skill dengan

signifikansinya adalh 0.204. sehingga dapat

nilai signifikansi 0.377, hal ini menunjukkan

dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang

tidak adanya perbedaan yang signifikan antara

signifikan antara siswa akselerasi dengan

siswa akselerasi dengan siswa reguler.

Control

signifikan

dengan

nilai

perbedaan perdimensi yaitu:

siswa reguler pada dimensi ini. Dimensi Self-

secara

mempunyai

siswa

Dalam penelitian ini juga ditemukan

mempunyai nilai signifikansi 0.056,

bahwa pelaksanaan akselerasi di Indonesia

hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan

belum diselenggarakan dengan baik dan

yang signifikan antara siswa reguler dengan

terencana. Hal ini terbukti

siswa akselerasi dimana siswa akselerasi

yang

mempunyai nilai mean self control yang lebih

pendukung akselerasi:

Berikut

tabel

Berikut ini adalah tabel perbandingan antara

perbandingan program untuk siswa berbakat

program keberbakatan di Universitas John

yang dilakukan di Indonesia dengan program

Hopkins dengan program yang diterapkan di

keberbakatan yang di lakukan di Univesitas

Indonesia (program akselerasi)

ini

akan

ditampilkan

John Hopkins di Amerika

54

berkaitan

dengan temuan

dengan

enam

factor


No

Variabel

Study Of Mathematically Precociuos Youth (SMPY) Universitas John Hopkins Amerika

Program Akselerasi Indonesia

1

Guru

Program anak berbakat di Universitas John Hopkins terdiri dari berbagai macam program sehingga guru dipersyaratkan menguasai berbagai teknik mengajar. Secara umum guru adalah seseorang yang sangat kompeten dalam bidang matematika yang mengajar apa yang ingin diketahui oleh siswa.

2

Kurikulum

3

Prosedur Seleksi

4

Landasan Filsafat

5

Orientasi staf

6

Evaluasi

Kurikulum yang digunakan dalam program ini sesuatu yang esensial dari sejumlah mata pelajaran matematika yang terdapat pada sekolah-sekolah di Amerika. Gambaran spesial dari program bahwa kurikulum itu bisa disusun sehingga siswa bisa belajar pada tingkat yang sesuai dengan kemampuannya. Pada batas tertentu program SPMY ini sangat terpengaruhi oleh metode mengajar daripada kurikulum yang tersusun, maksudnya peran guru sangat besar daripada buku teks. Disini sangat penting adanya hubungan yang erat antara assesmen pengajaran dan evaluasi. Dalam grade achievement test dengan kriterisa tes nasional diberikan secara rutin kepada anak yang berguna untuk penjaringan anak-anak. Sejumlah anak yang berada pada top 5% diundang untuk mengikuti tes Scholastic Apatitude Test. Skor siswa yang berada pada rata-rata atau lebih baik pada semester itu dapat mengikuti kuliah. Program SPMY memilki landasan filsafat yang jelas. Matematika dipandang sebagai fondasi untuk sebagian besar teknologi modern. Asumsi dasar pengadaan program ini adalah bahwa kepribadian siswa terdistribusi secara berbeda-beda. Jika siswa ini tidak mendapat stimulasi maka kemampuan yang dimilikinya akan hilang begitu saja. Tiap personel harus berusaha untuk membantu siswa dalam menguasai mata pelajaran. Informasi dalam rating percepatan program akan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan dalam merubah siswa Program SPMY memiliki kemampuan evaluasi yang luas. Perhatian untuk membangun data base untuk program pengambilan keputusan telah menghasilkan sejumlah buku, artikel, dll.

Pada program akselarsi di Indonesia guru yang mengajar adalah guru yang juga mengajar pada program reguler. Mayoritas lulusan S1 IKIP, dan rata-rata telah mengikuti pelatihan menjadi guru program akselerasi. Metode mengajar dengan tanya jawab, penugasan dan ceramah. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional dengan 13 mata pelajaran, yaitu PPKN, pendidikan agama, bahasa dan sastra Indonesia, sejarah, bahasa Inggris, pendidikan jasmani, matematika, fisika, kimia, biologi, sosiologi, geografi, olah raga dan seni.

para

Siswa yang diterima adalah siswa yang mememnuhi syarat antara lain : IQ diatas 125 atau kategori baik, NEM rata-rata 7 atau nilai rapor rata-rata 8, informasi data subyektif dan juga kesediaan calon. Landasab filosofis penyelenggarann akselerasi adalah UUSPN no 2 tahun 1989

Belum melibatkan semua staf yang terkait dalam pelaksanaan program akselerasi. Evaluasi program dilakukan oleh pihak sekolah dan pihak Direktorat Pendidikan Luar Biasa.

Gambaran enam factor pendukung program

menggunakan

akselarsi di Indonesia

secara maksimal, sebanyak 97% penerapan

kemajuan

sebagian besar lulusan S1 dengan 78.78%

mendapatkan akselerasi

akselerasi

pelatihan

dan

tentang

mayoritas

perangsangan

belum

untuk

pertumbuhan

pribadi

memanfaatkan nara sumber spesialis yaitu hanya 6.06%. (3). Prosedur seleksi masih diterimanya siswa

resitasi dan tutorial yang penting dalam

yang memiliki IQ di bawah 125

pengajaran anak berbakat.

(4)

(2) Kurikulum, bahwa masih menggunakan (Kur

proses

sebesar 36% saja. Sedikitnya guru yang

menggunakan

banyak guru yang menggunakan metode

nasional

menekan

yang diperhatikan oleh guru yaitu hanya

program

metode ceramah dalam mengajar, belum

kurikulum

materi,

pengembangan kognitif dan masih minimnya

berlatar pendidikan IKIP, masih ada guru yang program

berdiferensiasi

kurikulum ini berfokus pada kecepatan dan

(1). Guru, bahwa tingkat pendidikan guru

mengajar

kurikulum

Nas)

Landasan filosofis dalam membuka

program akselarasi adalah UUSPN no 2 th

belum

1989 tentang sistem pendidikan nasional.

55


Dalam pasal 8 ayat 2 di sebutkan bahwa

untuk

warga Negara yang mempunyai kemampuan

emosional.

dan

kecerdasan

luar

biasa

berhak

meningkatkan

kecerdasan

2. Sistem pendidikan di Indonesia belum

memperoleh perhatian khusus.

memberikan layanan pendidikan individual

(5). Orientasi staff (pustakawan, Laboran, dan

melainkan klasikal. Pelajaran di sekolah

bimbingan konseling), masih sangat minim;

berdasarkan paket bukan berdasarkan

dalam hal ini mereka belum banyak dilibatkan

minat dan bakat. Padahal menurut kajian

secara aktif dalam program akslerasi. BP

Freeman (1985) ada bebrapa hal yang

hanya berperan dalam proses seleksi

dapat

dan

meningkatkan

kecerdasan

pada penyelesaian masalah-masalah siswa.

emosional, yaitu : (1) dapat memperdalam

(6) belum ada evaluasi program secara

kegemarannya terutama bersama dengan

khusus.

teman sebaya, (2) kesempatan untuk mengejar

yang Berdasarkan

hasil

survey

siswa

kelas

penelitian

ini

yang bertujuan

3. Sistem

untuk

lain

rancangan yang digunakan dalam penelitian

pada

mengajar

hanya

berlaku

di

umumnya, anak

seharusnya

berbakat

alam

menggunakan

kurikulum khusus yang sesuai dengan bakat

mengadakan tes EII pada satu waktu tertentu. yang

yang

nasional murni yang juga berlaku untuk siswa

kelas regular bisa jadi disebabkan oleh karena

akselerasi

sentralisasi

akselerasi di Indonesia adalah kurikulum

emosional antara kelas akselerasi dengan

yang

yang

Kurikulum yang digunakan pada program

Tidak berbedanya mean skor kecerdasan

facto

kurikulum

yang telah ditentukan oleh pemerintah.

yang lebih rendah ternyata tidak terbukti.

post

serta

mengajar sesuai dengan target kurikulum

akan mempunyai skor kecerdasan emosional

ex

terbuka

Indonesia menyebabkan para guru harus

membuktikan bahwa siswa kelas akselerasi

Program

materi

2001).

berkomunikasi dengan orang tua sehingga

adalah

(3)

menantang, berarti, dan fleksibel (Hawadi,

akselerasi merasa susah untuk bergaul dan

ini

pribadi,

pekerjaan yang sesuai, (4) komunikasi

Diskusi

dari

minat

dan minatnya. Selain menggunakan kurikulum nasional program akselerasi di Indonesia juga

menggunakan

kurikulum nasional tidak meningkatkan mutu

belum

kecerdasan emosional siswa peserta akslerasi

dalam mendidik anak berbakat sehingga rasa

di Indonesia, hal ini disebabkan oleh beberapa

ingin tahu yang besar dari anak berbakat

hal antara lain :

dapat terjawab dengan baik. Misalnya guru

1. Sistem percepatan yang dilakukan sangat

yang mengajarkan matematika seharunya

memberatkan anak. Terlalu banyaknya

memang orang yang sangat ahli dalam bidang

pelajaran yang harus dipelajari siswa

tersebut. Selain itu di Indonesia juga belum

menyebabkan mereka kurang memiliki

ada

waktu

berkawan,

khusus. Keberhasilan akselerasi hanya dilihat

sosialisasi dan ikut olah raga. Padahal

dari berhasilnya siswa lulus dengan baik dan

sarana-sarana tersebut sangat penting

diterima pada perguruan tinggi negeri. Sangat

untuk

bermain,

56

menyediakan

evaluasi

guru-guru

program

yang ahli

akslerasi

secara


berbeda

dengan

evaluasi

program

Saran

yang

pernah dilakukan pada program telescoping

Penelitian

kurikulum pada Universitas John Hopkins

menggunakan

Amerika. Hal-hal yang dievaluasi adalah tes

kelompok

inteligensi, tes standar, isi kuesioner oleh meir

dilakukan metode

pertama

dengan

eksperimental,

diberikan

akselerasi

dengan kurikulum yang spesifik sedangkan

dan orang tua, tes kepribadian, observasi

kelompok kedua dengan kurikulum nasional.

kelas, tes sosio metri, tes kreativitas, etika, sikap terhadap sekolah, kemampuan dalam Daftar Pustaka

problem solving (Southern & Jones, 1991).

Clark, B. (1983). Growing up Gifted 2nd ed. Ohio : Charles E Menrill Publishing Company.

Kesimpulan Hasil

penelitian

ini

Coleman, L.J. (1985). Schooling The Gifted. Canada : Addison Wesley Publishing Company.

menyimpulkan

bahwa skor kecerdasan emosional siswa

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Jakarta : Gramedia.

program akselerasi tidak lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa program reguler. Seharunya

diharapkan

siswa

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (2001). Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar (SD, SLTP, SMU). Direktorat Pendidikan Luar Biasa.

akselerasi

mempunyai kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa program akselerasi dengan berbasis kurikulum nasional yang dijalankan selama ini belum dapat

meningkatkan

mutu

Hawadi, R. A. (2001). Konsepsi Program Percepatan Belajar Bagi Anak Berbakat Intelektual. (Makalah). Jakarta : Direktorat Pendidikan Luar Biasa.

kecerdasan

emosional siswa peserta akselerasi. Pelaksanaan akselerasi di Indonesia masih

Hal ini dapat dilihat dari program akselerasi

Khatena, J. (1982). Educational Psychology of the Gifted. Canada : John Willey & Sons.

yang belum menggunakan kurikulum yang

Lanawati,

belum berjalan dengan baik dan terencana.

sesuai dengan bakat dan minat siswa, tetapi masih menggunakan kurikulum yang berlaku umumuntuk seluruh Indonesia baik untuk siswa

reguler

maupun

siswa

akselerasi.

Southern, W.T & Jones, E.D. (1991). The Academic Acceleration of Gifted Children. New York : Theachers College Press.

Prosedur seleksi tidak sepenuhnya mengikuti aturan,

misalnya

saja

masih ada

siswa

akselerasi yang memiliki IQ di bawah 125. belum adanya evaluasi program akselerasi yang

dirancang

secara

khusus.

Belum

berperannya secara optimal staf pendukung yang

ada

di

sekolah

untuk

S. (1999). Hubungan Antara Emotional Intelligence (EI) dan Intelligence Quotient (IQ) dengan Prestasi Belajar SMU Methodist. Depok : Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

membantu

mengembangkan bakat dan minat siswa.

57


KONTRIBUSI BERPIKIR KREATIF DAN BERPIKIR KOMPREHENSI TERHADAP PENGUASAAN BAHASA INGGRIS MAHASISWA ADMINISTRASI BISNIS POLITEKNIK NEGERI JAKARTA Lenny Brida, Utami Munandar dan Diennaryati Tjokro Suprihartono Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar sebenarnya kontribusi kemampuan berpikir kreatif dan berpikir komprehensi terhadap penguasaan Bahasa Inggris mahasiswa Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Jakarta. Dengan harapan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam upaya pengintegrasian aspek kreativitas dalam pengajaran bahasa Inggris. Instrumen-instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah Tes Kreativitas Verbal (TKV) untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif, Cloze Test (CT) digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir komprehensi dan English Proficiency Test (EPT) digunakan untuk mengukur penguasaan bahasa Inggris subjek penelitian.Teknik analisis data digunakan analisis regresi linear sederhana dan regresi linear ganda, dengan menggunakan program SPSS 7.5 dan tingkat signifikansi yang dipilih adalah 5% atau P 0.05. Dari hasil analisis ditemukan adanya kontribusi yang signifikan dan positif antara : a) kemampuan berpikir kreatif dengan penguasaan bahasa Inggris, dan besaran kontribusi 31,9% dengan tingkat probabilitas 0.000, b) kemampuan berpikir komprehensi dengan penguasaan bahasa Inggris, besaran kontribusi tidak terlalu besar, yaitu hanya 10,8%, tetapi dengan tingkat probabilitas 0,002 (lebih kecil dari 0.05), c) kemampuan berpikir kreatif dan berpikir komprehensi terhadap penguasaan bahasa Inggris, yaitu sebesar 57,3% dengan tingkat probabilitas 0.000. Dari hasil interpretasi data, dapat disimpulkan, secara terpisah kemampuan berpikir kreatif lebih besar kontribusinya terhadap penguasaan bahasa Inggris dibanding kemampuan berpikir komprehensi, sementara kontribusi gabungan antara kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan berpikir komprehensi memberi kontribusi yang lebih besar lagi, yaitu 57,3 % (TKV dan CT) > 31,9% (TKV) > 10,8% (CT). Dengan demikian ketiga hipotesis kerja (Ha1, Ha2, dan Ha3) dapat diterima.

Pendahuluan Dalam Indonesia,

dasar hukum yang mewajibkan kurikulum

bahasa

pendidikan Inggris

di

bahasa Inggris dipelajari.

bukanlah

Akan tetapi dari hasil evaluasi

termasuk bahasa asing yang ada dalam kategori

matakuliah

pilihan,

dilakukan

tetapi

penguasaan

sejak di sekolah dasar sampai perguruan

Nasional,

bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa memiliki

Pendidikan

masih Hasil

Inggris rendah

siswa (Laporan

Pengawasan

dan

Pemeriksaan Pengajaran Bahasa Inggris,

arti

Hamid 1993, Dardjowidjoyo 1997) Kalaupun

penting, terutama dalam menghadapi era

ada beberapa siswa yang cukup baik

globalisasi dan meningkatkan daya saing bangsa. Keputusan

Departemen

bahasa

disimpulkan

tinggi. Kedudukan bahasa Inggris sebagai

internasional

oleh

yang

Nasional secara periodik, secara nasional

merupakan matakuliah wajib, dan diberikan

komunikasi

pelajaran

Mendikbud N0. 096

tanggal 12 Desember 1967 merupakan

berkomunikasi

dalam

umumnya

mereka

bahasa

Inggris,

memperoleh

keterampilannya dari kursus tambahan yang diperolehnya dari lembaga non-formal di

58


luar sekolah, sehingga kejadian ini dijadikan

dilihat dari besar kecilnya perbedaan

ukuran

diantara kedua bahasa itu.

ketidakberhasilan

pengajaran

bahasa Inggris pada pendidikan formal.

Dari

Dalam hal ini masalah kurikulum, proses

dipermasalahkan dimana B2 atau B3 itu

belajar mengajar, sarana, mutu pengajar,

dipakai, dalam konteks apa, dan dalam

jumlah siswa perkelas,

sering dianggap

situasi bagaimana, serta berapa jauh

sebagai penyebabnya (Umar, 1989: 73,

pengaruh lingkungan keluarga terhadap

Dardjowidjoyo 1997 : 36).

keberhasilan belajar B2 dan B3. Dari

Selain masalah di atas, faktor lain yang

sebagai

sangat

menentukan

pembelajar,

seperti

bahwa usia,

Dalam

penelitian

ini,

peneliti

tidak

membahas faktor linguistik atau faktor sosial budaya,

faktor-faktor bakat,

yang

belajar si pembelajar, serta sejauhmana

dalam

Menurut Hadley, (1993 : 63) banyak bukti menyatakan

psikologis

kepribadian, gaya kognitif dan strategi

keberhasilan penguasaan bahasa asing.

yang

faktor

budaya

usia, bakat, inteligensia, sikap, motivasi,

pembelajar.

Strevens (1978) menyatakan bahwa faktor pembelajar

sosial

dipermasalahkan bagaimana pengaruh

juga penting diperhatikan adalah faktor siswa/mahasiswa

faktor

tetapi

membahas

sikap,

penulis

faktor

tertarik

psikologis

untuk yang

mempengaruhi penguasaan bahasa asing

motivasi, kepribadian, gaya kognitif, strategi

terutama

belajar perlu dipertimbangkan dalam teori

faktor

kemampuan

berpikir.

Menurut Costa (1985 : 43) berpikir adalah

penguasaan bahasa.

proses kognitif, aktivitas mental dimana Apabila

ditinjau

dari

urutan

pengetahuan dapat dicapai.

penguasaan bahasa di Indonesia, maka

Mengapa kemampuan berpikir menjadi

bahasa Inggris merupakan bahasa kedua

perhatian peneliti, karena objek penelitian ini

(B2) atau ketiga (B3) dan seterusnya. Sebelum

mempelajari

bahasa

adalah

Inggris,

College

pertama (B1). Sehubungan dengan ini,

merupakan proses

prestasi

yang

pembelajarannya

atau

khusus

informasi

dipengaruhi

dipermasalahkan

linguistik adalah

umumnya

mereka, tetapi mereka akan memproses

dan

yang

diterima

dengan

mengembangkan berbagai strategi kognitif. . Dari beberapa strategi kognitif, ada dua

sosial budaya dan faktor psikologis. faktor

Pada

menerima apa yang ditawarkan kepada

B3

banyak faktor, yaitu faktor linguistik, faktor

Dari

Students).

pembelajar periode ini tidak begitu saja

Mackey (1979 : 23) mengatakan bahwa B2

Bisnis,

sekitar 17 sampai 22 tahun (Young Adult

(BD) atau bahasa Indonesia sebagai bahasa

penguasaan

Administrasi

Politeknik Negeri Jakarta yang berusia

pembelajar telah menguasai bahasa daerah

keberhasilan

mahasiswa

hal yang prosesnya cukup kompleks yaitu yang

berpikir kreatif dan berpikir komprehensi.

bagaimana

Berpikir kreatif adalah kemampuan produktif

pengaruh B1 terhadap B2 atau B3

59


yang

diperlukan

dua

besarkah kontribusi yang diberikan oleh

dan

kedua kemampuan berpikir di atas terhadap

menulis (speaking & writing), sementara

penguasaan bahasa Inggris dan prediktor

kemampuan

manakah yang lebih besar kontribusinya,

keterampilan

untuk

makro

menguasai

yaitu

berpikir

bicara

komprehensi

diperlukan untuk dua keterampilan makro

berpikir kreatif atau berpikir komprehensi.

lainnya, yaitu menyimak dan membaca Permasalahan

(listening & reading) Chomsky berpendapat bahwa dalam

Berdasarkan

latar

belakang

proses belajar bahasa, pembelajar tidak

masalah yang dikemukakan , maka masalah

selalu berpikir tentang aturan dan struktur

penelitian ini adalah sebagai berikut :

tata bahasa, tetapi sering berupaya untuk menciptakan sekali

ujaran-ujaran

baru.

ditemukan linguistik

Dari

bahwa yang

hasil

yang

sama

kemampuan berpikir komprehensi berperan

penelitiannya

karakteristik

terjadi

Bila kemampuan berpikir kreatif dan

dalam

prilaku

meliputi

penguasaan

seberapa

inovasi,

bahasa

besarkah

Inggris,

masing-masing

kontribusinya terhadap penguasaan bahasa

formasi kalimat-kalimat baru dan pola-pola

Inggris pembelajar ?

baru dari konsep yang abstrak dan sangat

Rumusan masalah tersebut dapat dirinci

kompleks (dalam Rivers 1985 : 131).

menjadi beberapa sub-masalah sebagai

Sejalan dengan ini, Utami Munandar

berikut :

(1992 :48) menyatakan kemampuan berpikir kreatif data

adalah atau

1. Seberapa besarkah kontribusi berpikir

kemampuan-berdasarkan

informasi

yang

kreatif

tersedia-

Inggris mahasiswa ?

menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap

suatu

penekanannya

masalah,

adalah

pada

terhadap penguasaan bahasa

2. Seberapa

dimana

besarkah

kemampuan

kuantitas,

kontribusi

berpikir

komprehensi

terhadap penguasaan bahasa Inggris ?

ketepatgunaan dan keragaman jawaban.

3. Seberapa

besarkah

kontribusi

Dalam persoalan berpikir kreatif ini,

kemampuan

berpikir

kreatif

baik Chomsky maupun Utami menekankan

kemampuan

berpikir

komprehensi

masalah keragaman maupun variasi dalam

secara

kuantitas yang tidak terbatas dari data

penguasaan bahasa Inggris ?

maupun

informasi

yang

tersedia.

Bagi

simultan

dan

mempengaruhi

4. Manakah prediktor (berpikir kreatif atau

Chomsky data yang tersedia ini adalah

berpikir

aturan-aturan struktur yang telah menjadi

signifikan memberi kontribusi terhadap

bagian

penguasaan

integral

dari

pengetahuan

pembelajar.

komprehensi)

pembelajar?

Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis ingin mencari jawaban seberapa

60

bahasa

yang

lebih

Inggris


Tinjauan Pustaka

Tahap

Penguasaan Bahasa Inggris

digunakan adalah bentuk simpel dengan

Jika ditinjau dari kriterianya,

pertama

:

Bentuk

yang

bahasa

susunan kata yang standar (standard

Inggris di Indonesia masuk dalam kelompok

word order), dan ada bagian-bagian

bahasa

yang

kalimat yang dibuang. Pada tahap awal,

dikemukakan oleh Cohen (1987: 42) bahwa

pembelajar menggunakan ujaran yang

suatu bahasa disebut bahasa asing apabila

dihafal dalam proses komunikasinya.

asing,

sebagaimana

bahasa itu bukan bagian dari bahasa

Tahap

keluarga atau latar belakang kebudayaan si

menggunakan

pembelajar.

order) yang sesuai dengan bahasa

Penguasaan

Bahasa

Inggris

tidak

target

kedua

dan

:

Pembelajar

susunan

tetapi masih belum akurat.

bentuk

bentuk bahasa (language forms),

Tahap

akan

tetapi

menggunakan

bagaimana

pembelajar

kata

menggunakan

dapat dicapai hanya dengan menguasai

Ketiga

:

mulai (word

kalimat,

Pembelajar

morfem

mulai

gramatikal

memahami fungsi-fungsi bahasa (language

secara sistematis dan bermakna.

functions)

menggunakannya

Tahap ke empat : Pembelajar telah

secara tepat dalam konteks sosial yang

menguasai struktur kalimat kompleks,

sesuai (Hines 1981 : 107). Sejalan dengan

seperti klausa, konstruksi

ini, Brown (1987 : 20-22) menyatakan

pronoun dan menggunakannya dengan

bahwa

tepat.

dan

dapat

titik kulminasi

dari

penguasaan

bahasa bukanlah semata-mata penguasaan

Kemampuan

manusia

relative

menguasai

bentuk bahasa, tetapi bagaimana bentuk

bahasa menurut Chomsky (1965 : 47)

bahasa

disebabkan

itu

dapat

memenuhi

fungsi

komunikasi dari bahasa yang dipelajari.

1993

:

22)

lahir

telah

bahasa yang disebutnya LAD (Language

bahwa

Acquisition Device). Menurutnya dengan

penguasaan bahasa asing, secara makro

LAD ini manusia dapat menguasai peraturan

terdiri dari empat tahap yang menurutnya

bahasa dari berbagai bahasa yang mereka

bersifat

dengar. Mekanismenya dapat dilihat pada

universal,

ditemukan

sejak

memiliki suatu mekanisme/alat penguasaan

Dari hasil penelitian Ellis 1985 (dalam Hadley

manusia

tahapannya

adalah

sebagai berikut :

Bagan berikut ini :

61


LAD (The mind. Linguistic processing skill. Existing knowledge

Linguistic Input

Phonology Semantic Syntax

Bagan 1. The Language Acquisition Devices (LAD)

sementara sintaksis berkembang baik pada akhir

Dari mekanisme penguasaan bahasa yang dipaparkan dibuktikan komunikasi

banyak

Chomsky di atas dapat

bahwa sama

penguasaan rumitnya

1. Gramatical Competence 2. Comprehension of Others Speech 3. Speech Production

masa

pubertas.

pakar

Maka

bahwa

diprediksi

orang

dewasa

melanjutkan pengetahuan mengenai aspek

sistem

bahasa sepanjang sisa hidup mereka.

dengan

Dari

hasil

penelitian

Horn

dan

penguasaan bahasa manusia dan untuk

Donaldson (1980), Schale (1983), yang

menguasainya memerlukan kekuatan otak

dikutip oleh Sigelman dan Shaffer (1991

sebagai peralatan yang standar (standard

:223) bahwa pengetahuan semantik terus

Equipment). Dari bagan di atas juga dapat

berkembang pada masa dewasa dan orang

dilihat

dewasa memperoleh pengalaman dengan

bahwa

kompetensi

gramatikal

mendasari kemampuan komprehensi dan

berkembangnya

maturasi

produksi bahasa. Menurut Chomsky pada

banyak hasil penelitian yang membuktikan

proses produksi inilah proses berpikir kreatif

bahwa

berperan (Dalam Brown 1987 : 30).

berkembang

kosakata dan

orang

mereka

dewasa

pemahaman

dan

terus

terhadap

berbagai makna semakin berkembang. Perkembangan Bahasa Orang Dewasa

Dari hasil penelitian cross-sectional

(>18 tahun)

dan longitudinal yang dilakukan oleh Schale 1983 selama 14 tahun tentang perubahan

Sebagaimana asumsi umum bahwa

intelektual,

perkembangan bahasa terjadi pada masa

sampai

orang dewasa terus berkembang. Hanya

banyak hal yang terjadi pada perkembangan

pada usia 70

bahasa orang dewasa. Fonologi dikuasai baik

bahwa

pertengahan usia 50 dan 60 tahun kosa kata

kanak-kanak, maka pada usia dewasapun

dengan

ditemukan

tahun, terjadi penurunan

penggunaan kosa kata.

pada masa kanak-kanak,

62


Bagaimanapun

menurut

O Malley

Hal

yang

cukup

menarik

untuk

(1985) seorang pembelajar dewasa yang

mempelajari proses penguasaan bahasa

baik

asing adalah bagaimana peran otak dalam

biasanya mengembangkan

banyak

strategi dalam menguasai bahasa asing.

menentukan

Dari hasil penelitian O Malley dan kawan-

maturasi otak menentukan keberhasilan

kawan ditemukan 24 strategi penguasaan

mempelajari

bahasa.

bahasa

mengatakan

bahwa

yang

dibaginya

menjadi

tiga

keberhasilannya.

Apakah

Beberapa kunci

pakar

jawabannya

kelompok yaitu strategi metakognitif 8 item,

adalah pada proses lateralisasi otak. Untuk

strategi

strategi

penjelasan ini terdapat suatu bukti penelitian

(Brown 1987 : 92).

Neurologi bahwa otak manusia mengalami

kognitif

sosioafektif Strategi

2 item

kognitif

diantaranya

14

item

dan

yang

dengan

dikembangkan

maturasi pada fungsi-fungsi tertentu

dan

menterjemahkan,

akan mengalami lateralisasi ke bagian

(menggunakan B1 dalam mempelajari B2),

belahan otak kiri, sementara fungsi-fungsi

mengelompokkan kosa kata, mengaplikasi

yang lain akan mengarah ke belahan otak

aturan

kanan. Berikut ini dapat dilihat pada daftar

dalam

meakukan

memproduksi

rekombinasi,

bahasa,

elaborasi

dan

karakteristik

konklusi dalam mempelajari bahasa asing. Konsiderasi

Neurologi

yang

dikemukakan

oleh

Torrance 1980 (dalam Brown 1987 : 88) tentang dominasi otak kiri dan kanan,

Dalam

sebagai berikut : Penguasaan Bahasa Tabel 1. Daftar Karakteristik Dominasi Otak Kiri Dan Kanan

DOMINASI OTAK KIRI

DOMINASI OTAK KANAN

Intelektual Lebih mengingat nama Lebih respon terhadap instruksi dan penjelasan verbal. Melakukan eksperimen sistematis dengan kontrol. Membuat pertimbangan yang objektif Terencana dan terstruktur Mengutamakan informasi yang pasti Berpikir analitis Bergantung kepada bahasa dlm berpikir dan mengingat Lebih menyenangi bicara dan menulis Lebih menyukai tes pilihan ganda Mengontrol perasaan Kurang baik dalam menginterpretasi-kan bahasa tubuh. Jarang menggunakan metafora Lebih menyukai pemecahan masalah secara logis.

Sumber : (Brown 1987 : 88)

63

Intuitif Lebih mengingat wajah Lebih respon terhadap instruksi simbolik, demonstratif dan ilustratif. Melakukan eksperimen random dgn batasan yang longgar. Membuat pertimbangan subjektif. Berubah-ubah/tidak tetap dan spontan Menyenangi informasi yang tidak pasti Berpikir sintesis Bergantung kepada imajinasi dalam berpikir dan mengingat. Lebih menyenangi menggambar dan memanipulasi objek Lebih menyenangi pertanyaan terbuka Lebih bebas dengan perasaan Baik dalam menginterpretasi bahasa tubuh. Sering menggunakan metafora(kiasan) Lebih menyenangi pemecahan masalah secara intuitif


Hubungan Bahasa Dan Berpikir

Dari daftar di atas dapat dilihat perbedaan antara karakteristik dominasi hemisfer kiri

Simbol

dan kanan. Tetapi menurut Brown (1987 :

Menurutnya

dalam

sangat erat (Morgan, et. al 1986 : 228).

dalam

Bahasa menyajikan ratusan bahkan ribuan

berbahasa dan berkomunikasi pesan-pesan

simbol dan memberikan aturan bagaimana

dikirim ke kiri dan ke kanan, kedua belahan otak

gunakan

karena itu bahasa dan berpikir hubungannya

kanan bekerja sebagai suatu tim melewati Collosum.

kita

berpikir adalah kata-kata dan bahasa oleh

89) penting diingat bahwa hemisfer kiri dan

Corpus

yang

cara menggunakannya. Sebagian besar

bekerja dalam aktivitas neurologi

manusia

manusia.

simbol

ketika berpikir menggunakan kata

dan

grammar

untuk

Dominasi otak kiri dan kanan sering

menghubungkan kata menjadi frasa dan

dianggap sebagai gaya berpikir (cognitive

menghubungkan kata menjadi klausa atau

style) yang merupakan pilihan fungsi otak

kalimat.

yang membedakan antar individu dan antar

menyatu

budaya. Dari beberapa data yang ditemukan

jangka

Krashen, Selinger dan Hartnest 1974 (dalam

bahasa,

Brown 1987 : 89) bahwa pembelajar B2

alat berpikir.

dengan dominasi otak kiri lebih menyenangi pengajaran

dengan

gaya

deduktif,

sementara pembelajar dengan

dominasi

otak kanan

Kata-kata,

makna

membentuk panjang.

Kita

dan

memori berpikir

aturan

semantik dengan

dengan demikian bahasa adalah

Bahkan

beberapa

pakar

memiliki

pandangan yang cukup ekstrim dengan mengatakan

lebih sukses dengan gaya

menentukan

pengajaran induktif.

bahwa

bahasa

kemampuan

dapat berpikir,

menentukan ide dan persepsi seseorang. neurolinguistik

Karena sebenarnya ketika kita berpikir, kita

yang dilakukan Obler (1981) tentang peran

berbicara dan berdialog kepada diri sendiri

hemisfer otak kanan dalam penguasaan

(Whorf 1897-1941 dalam Hall 1983 : 315).

Dari

hasil penelitian

bahasa asing, ditemukan bahwa terdapat

Apa Sebenarnya Berpikir Itu

peran yang signifikan pada hemisfer otak kanan

terhadap

penguasaan

Menurut Costa (1985 : 43) berpikir

bahasa,

adalah sebagai berikut :

terutama pada tahap awal proses belajar proses kognitif, aktivitas mental dimana pengetahuan dapat dicapai.

bahasa, yakni yang menyangkut strategi penguasaan

seperti

strategi

menebak

derivasi mental dari persepsi sampai pada manipulasi dan kombinasi dari pemikiran. manipulasi mental dari input sensori untuk memformulasikan alasan atau pertimbangan.

makna dan strategi menggunakan formula bahasa dalam pengucapan.

64


2. Bagaimana Bahasa Mempengaruhi

diasumsikan

Berpikir

Diantara tokoh

Telah

banyak

mengatakan

bahwa

menghubung-hubungkan

penelitian

yang

bahasa

dapat

apa

yang

mempengaruhi psikologi

bahasa.

perkembangan

yang paling terkemuka mengenai ini adalah Jean Piaget, yang manyatakan bahwa bahasa

kita

dapat

meningkatkan

kekuatan

kecepatan berpikir, tetapi bahasa ditata oleh

pikirkan, menentukan bagaimana kita dapat

pikiran dan dikendalikan oleh pikiran (Piaget

berpikir tentang objek dan kejadian. Menurut

dan Inhelder 1969).

Whorf (1956) bahasa yang berbeda memiliki cara berpikir yang berbeda pula. Masyarakat

Dari perbedaan pendapat para pakar

dari bahasa yang berbeda akan memiliki

memandang hubungan bahasa dan berpikir,

cara

Bahasa

sebenarnya menurut kajian Brown hal ini

menampilkan perbedaan ini melalui kosa

merupakan bukti bahwa antara bahasa dan

kata dan grammar.

berpikir tidak dapat dipisahkan dan satu

pandang

Selain

yang

kosa

berbeda.

kata,

yang

sama lain saling tergantung dalam dua arah

juga

(1987 : 29).

mempengaruhi berpikir adalah tata bahasa. Menurut

Whorf

mempengaruhi

cara

(1956)

Kreativitas

bahasa

seseorang

berpikir

Masalah Kreativitas sudah sejak lama

tentang waktu, ruang dan kejadian, sebab

mengundang kontroversi dan ditafsirkan

bahasa berbeda dalam kategori gramatikal

secara beraneka ragam oleh banyak ahli

dan mereka mengekspresikan banyak hal,

maupun

seperti; number, gender, tenses dan voice.

tentang kreativitas cukup beragam, ada

yang

bukan

ahli.

Pengertian

yang mengartikan kreativitas secara sangat

3. Bagaimana Berpikir Mempengaruhi

luas

Bahasa

dan

ada

pula

yang

mencoba

menyempitkannya.

Banyak psikolog dan ahli linguistik yang sekarang meyakini bahwa bahasa

Dalam menginterpretasikan kreativitas,

membatasi berpikir dan beberapa jenis

dapat dilihat empat kecenderungan yang

berpikir

terjadi, yaitu :

sama

sekali

independen

dari

pengaruh bahasa (Furth 1966). Minat para pakar

telah

berbalik

dari

arah

Ada

yang

yang

kreativitas

berlawanan bahwa karakteristik universal

menekankan

adalah

sikap

bahwa

hidup

dan

prilaku

dari proses berpikir manusia menciptakan

Ada

struktur linguistik yang universal.

yang

menjelaskan

bahwa

kreativitas adalah suatu cara berpikir

Jika fondasi biologis bahasa sama

Ada

yang

mengartikan

kreativitas

dengan fondasi biologis berpikir, dan jika

adalah gagasan-gagasan baru dalam

bahasa adalah aspek lain dari kognisi

bidang ilmu, teknologi dan pemecahan

manusia,

masalah.

maka

berpikir

tentunya

65


Ada yang menekankan pada bidang

memproduksi respon yang baru atau

artistik yaitu, yang kreatif adalah yang

karya/kerja yang baru.

berkaitan dengan seni.

Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik

Untuk dapat melihat lebih cermat,

kesimpulan

bahwa

kreativitas

bukan

berikut ini dikemukakan beberapa definisi

pemikiran satu arah (konvergen), melainkan

kreativitas

pemikiran yang menuju keberbagai arah

yang berkaitan dengan suatu

cara berpikir.:

(divergen),

1. Pemikiran kreatif adalah kemampuan -

komunikatif,

berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan

dan

berorientasi

Karakteristik Pemikir Kreatif

ketepatgunaan

Meskipun orang-orang kreatif umumnya

dan

memiliki kemampuan intelektual yang tinggi,

keragaman jawaban (Utami Munandar,

tetapi sebenarnya tidak perlu terlalu tinggi.

1992 :48).

Banyak orang-orang kreatif hanya berbakat

2. Pemikiran kreatif adalah pemikiran yang menggunakan

pemikiran

pada bidang tertentu saja. Dengan kata lain

bisosiatif,

mereka

yaitu menggabungkan dua pemikiran

berpikir kelancaran

dan

masalah,

redefinisi

pemikir kreatif.

masalah

yang

Menurut Morgan at. al.

(1986 : 247) orang-orang yang berpikir

diklassifikasikan ke dalam kemampuan

kreatif memiliki gambaran personaliti yang

berpikir divergen (Guilford dalam Clark,

umum. Dari bukti-bukti yang diperoleh dari

1983 : 33).

hasil personaliti tes memperlihatkan bahwa

4. Kreativitas adalah proses mental yang pada

kognitif,

mereka

yaitu

dan

(Williams

sebagai

untuk

tingkat

tertentu

mereka

memerlukan ketidakseimbangan yang

dalam Clark, 1983:33). sederhana

karakteristik

1. Mereka lebih menyukai kompleksitas

asosiatif, perilaku yang evaluatif dan komunikatif

memiliki

berikut :

pemikiran yang divergen, produktif dan

keterampilan

tentang

motivasi yang kuat adalah karakteristik

dan

elaborasi pemikiran. Pemikiran kreatif

didasarkan

keras

disoroti. Oleh karena itu, kerajinan dan

keluwesan berpikir, orisinal dan sensitif terhadap

spesifik

tiba muncul, biasanya terjadi setelah proses

1993 : 42). adalah

kemampuan

mencari ide-ide baru. Manakala insight tiba-

ide-ide baru (Koestler dalam Weisberg,

3. Kreativitas

memiliki

tertentu yang dapat digunakannya untuk

yang berasosiasi dalam menghasilkan

5. Secara

elaboratif

produktif,

banyak

masalah, dimana penekanannya adalah kuantitas,

asosiatif,

kepada masalah (Morgan, at.al. 1986: 246).

kemungkinan jawaban terhadap suatu

pada

bersifat

konkrit pada fenomena yang digeluti. Sigelman

dan

2. Secara

Shaffer (1991 : 294) menyatakan bahwa

kompleks

kreativitas itu adalah kemampuan untuk

psikodinamik, dan

mereka

memiliki

kemampuan yang lebih luas.

66

lebih bidang


3. Mereka

lebih

independen

dalam

selalu menyadari atau berpikir tentang rules

pertimbangan-pertimbangan.

atau struktur bahasanya. Ia berpendapat

4. Mereka lebih asertif kepada dirinya dan

bahwa

selalu dominan disekitarnya.

sebenarnya

5. Mereka menolak penindasan, sebagai mekanisme

kontrol

dalam

impulsif.

proses

seseorang

belajar sering

bahasa berupaya

untuk menciptakan ucapan-ucapan yang

Orang

sama

sekali

baru

(Novel

Utterances).

kreatif biasanya menolak pendekatan

Karakteristik prilaku linguistik yang terjadi

konvensional yang telah ditentukan oleh

ternyata meliputi inovasi, formasi kalimat-

orang lain dan lebih baik melaksanakan

kalimat baru dan pola-pola baru dari konsep

idenya

yang abstrak dan sangat kompleks. Fakta

sendiri

meskipun

itu

tidak

populer atau nonkonfirm.

inilah yang membuat Chomsky secara kontinu menyuarakan

Hubungan Kreativitas dan Bahasa

aspek kreativitas

dalam berbahasa.

Pakar yang banyak membahas tentang

Ketika Chomsky menyatakan bahwa

hubungan kreativitas dengan belajar bahasa

terjadi aspek kreatif dalam penggunaan

adalah Chomsky, seorang profesor linguistik

bahasa, yang dimaksudkannya bukanlah

dari Massachusetts Institute of Technology.

sekedar bermain -main dengan elemen

Pada tahun 1966,

Northeast

bahasa sehingga tercipta ungkapan yang

Conference dilaksanakan, dia mengagetkan

gramatikal atau tidak gramatikal. Tetapi

para

yang

yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta

dia

terhadap system of Language Rules adalah

peserta

kontroversial

ketika

dengan

pada

idenya

saat

itu,

yaitu

menentang teori lingusitik yang menyatakan

telah

bahwa bahasa adalah suatu kebiasaan

pengetahuan

(Language is a set of habit), sehingga di

dalam mempelajari bahasa seseorang dapat

dalam mempelajari bahasa target, muncul

menghasilkan variasi makna bahasa yang

metoda drill, diantaranya

Subtitution Drill,

tidak terbatas, baik itu yang sudah pernah

Repeatition Drill, dsb. Metoda drill ini

didengar atau yang sama sekali baru

menekankan

baginya. Tenyata dari hasil penelitianya

pengulangan,

karena

menjadi

bahagian

yang

tersimpan,

sehingga

bahwa

rangka pembentukan kebiasaan

terhadap

mengkonstruksi pengucapannya/kalimatnya

pola-pola kalimat bahasa yang dipelajari,

tanpa menyadari peran dari system of rules

dan grammar dianggap sebagai inti bahasa.

yang diinternalisasikan ke dalam memori

Rivers

Wilga,M

bukanlah

1985

:

131),

struktur kebiasaan,

berbahasa,

dari

pengulangan dianggap sebagai kunci dalam

Akan tetapi bagi Chomsky (dalam

dalam

integral

sesorang

seseorang (Chomsky, 1965:228)

bahasa Secara mendasar dapat dipertanyakan

melainkan

apakah

produk dari proses kreatif. Menurutnya

belajar

keterampilan

ketika seseorang sedang berbicara, ia tidak

intelektual

67

bahasa

(skill)

atau

(Intelectual

asing,

suatu

suatu

latihan

Exercises).

Jika


mempelajari bahasa asing adalah suatu

berpikir

keterampilan , berarti untuk menguasainya

dikembangkan terutama dalam mempelajari

diperlukan

dalam

Bahasa Inggris untuk tujuan khusus (ESP=

secara

English For Spesific Purposes). Evans

sistematis berurutan (habit formation). Akan

berpendapat bahwa mahasiswa sains dan

tetapi jika penguasaan bahasa asing adalah

teknologi di berbagai negara memerlukan

suatu latihan intelektual, maka diperlukan

kemampuan berpikir komprehensi, yang

latihan untuk membuat pilihan-pilhan yang

menurut Bloom merupakan kemampuan

tepat untuk menggunakan aturan gramatikal

menerjemahkan

dan memodifikasi aturan tersebut menjadi

mendeskripsikan dan menyimpulkan tentang

ujaran-ujaran

sesuatu yang tidak diketahui berdasarkan

latihan

merefleksikan

yang

elemen

yang

intensif

linguistik

bermakna

(creative

formation).

komprehensi

dan

semakin

menginterpretasi,

data yang tersedia (Costa, 1985: 44). Bloom

Berpikir Komprehensi Dalam mempelajari

(1956)

mengembangakan

B2 maupun B3,

taksonomi

telah sasaran

kemampuan berpikir komprehensi sangat

pendidikan dalam ranah kognitif

diperlukan, dimana tanpa kemampuan ini

meliputi enam tingkat

seseorang tidak akan dapat memahami

1992

ujaran atau wacana dengan baik. Berpikir

Pemahaman,Penerapan, Analisis, Sintesis,

komprehensi adalah suatu proses berpikir

Evaluasi.

:

120)

yang

(Utami Munandar, :

,Pengetahuan,

yang kompleks yang dimulai dari pencarian Proses Berpikir Komprehensi

ide yang umum, kemudian dilanjut dengan makna kalimat

Menurut Luria (1982 :169) menganalisis

sampai pada memahami konsep pesan

berpikir komprehensi adalah pekerjaan yang

dalam konteks linguistik dan ekstralinguistik

paling sulit dan problem komprehensi atau

(Luria, 1982 : 170).

decoding telah diteliti dengan berbagai cara

memahami makna kata,

baik oleh para psikolog maupun para ahli

Brown (1987 : 26) melihat komprehensi sebagai

suatu

kompetensi

membandingkannya

dia

linguistik. Akan tetapi penjelasan tentang

produksi.

proses komprehensi masih belum utuh dan

dan

dengan

cenderung parsial.

Menurutnya komprehensi untuk aktivitas Listening

dan

dengan

Sebagian peneliti berpendapat bahwa

produksi

untuk

untuk dapat memahami sense pengucapan

Writing

adalah

tidak cukup hanya dengan memahami tiap

performa. Produksi bahasa lebih dapat

kata atau tidak cukup hanya memahami

diamati

aturan tata bahasa yang persis tentang

kompetensi, aktivitas

sementara

Speaking

secara

kompetensi dengan

Reading

tidak

jelas

dan

dan

sama

langsung, selalu lebih

sementara

dapat

diamati

abstrak.

kombinasi kata.

Dari

pengamatan Evans (1987 :24) kemampuan

68


Bahkan lainnya,

menurut

berpikir

sebahagian

adalah

Berdasarkan tujuan penelitian dan kajian

memahami pesan dengan menghasilkan

kepustakaan yang dilakukan pada bagian

konsep

sebelumnya, hipotesis alternatif (Ha)

di

komprehensi

Hipotesis Penelitian

pakar

satu sisi dan

di sisi lain

yang

memahami aturan gramatikal dari bahasa

dirumuskan adalah sebagai berikut :

yang dipelajari.

1. Terdapat kontribusi yang signifikan dan

Sementara

pakar

lainnya

berargumentasi bahwa berpikir komprehensi

yaitu

kemampuan

berpikir

kreatif

dengan

penguasaan

bahasa

2. Terdapat kontribusi yang signifikan dan

suatu ujaran dan kemudian melangkah ke phonetic-lexical

antara

Inggris (Ha1).

dimulai dari pencarian ide yang general dari

tingkat

positif

positif

spesifikasi

antara

komprehensi

makna kata (individual words) ke arah level

kemampuan dengan

berpikir

penguasaan

bahasa Inggris (Ha2).

sintaksis atau makna kalimat.

3. Terdapat kontribusi yang signifikan dan Menurut Wertech proses dasar dari

positif antara gabungan kemampuan

berpikir komprehensi adalah bagaimana

berpikir kreatif dan kemampuan berpikir

menangkap makna dari keseluruhan pesan.

komprehensi

Makna akan membentuk inner sense dan

terhadap

penguasaan

bahasa Inggris (Ha3).

memberi label kepada koherensi eksternal.

Variabel Penelitian Dalam

Dengan demikian menurut Luria (1982

penelitian

ini

terdapat

tiga

:170) berpikir komprehensi selalu ditujukan

variabel yang ditelaah, dua diantaranya

untuk mencari konteks dari suatu ujaran

adalah variabel bebas (IV), Kemampuan

yang meliputi konteks linguistik, konteks

berpikir

sinsemantik, konteks ekstralinguistik dan

Berpikir Komprehensi (X2), sementara yang

konteks situasi.

menjadi

variabel

dan

terikat

Kemampuan

(DV),

adalah

Populasi dan Sampel

Penelitian ini menggunakan metoda

Populasi

regresi multivariat ( Regression Multivariate

besarnya

akibat

penelitian

ini

mahasiswa Administrasi Bisnis,

Research), yaitu metode yang mengkaji dan

(X1)

Kemampuan Berbahasa Unggris (Y).

Metode Penelitian

akibat-akibat

Kreatif

adalah Politeknik

Negeri Jakarta, tahun akademik 2001-2002.

dari

Jumlah populasi sebesar 404 orang. Dari

beberapa variabel bebas terhadap satu

populasi ini diambil sampel sebanyak 20

variabel terikat (Kerlinger 1996 : 929)

%, yaitu sekitar 80 orang. Meraka adalah

Dalam ditelaah seberapa besar kontribusi

mahasiswa Program Diploma III Politeknik

variabel-variabel bebas terhadap variabel

Negeri jakarta, Jurusan Administrasi Bisnis

terikat. Kemudian melakukan interpretasi

yang berusia 17 s.d 22 tahun. Pada saat

kecenderungan yang terjadi dari hubungan

penelitian dilakukan, subjek sedang duduk

antar variabel tersebut.

69


di semester 2, 4, dan 6, tahun akademik

3. Untuk mengukur variabel penguasaan

2001-2002. Sebagian besar subjek berasal

bahasa Inggris (Y) digunakan English

dari SMU-SMU se Jabotabek, sementara

Proficiency Test/EPT (Barron s TOEFL

sebagian kecil yang berasal dari daerah

1983) yang terdiri dari

(data penerimaan mahasiswa baru tahun

sebanyak 46 itam, structure and written

1999, 2000 dan 2001).

expression test

Alat Pengumpul Data

vocabulary test terdiri dari 22 item dan

1. Tes Kreativitas Verbal (TKV) digunakan

reading test 28 item. (Lihat lampiran 3)

untuk mengukur

listening test

sebanyak 34 item,

Teknik Analisis Data

kemampuan berpikir

kreatif (X1). Baterai TKV ini (konstruksi

Teknik yang digunakan untuk menganalisis

Utami Munandar, 1977)

data penelitian ini adalah sebagai berikut : Analisis data utama

2. Cloze Test (CT) dipakai untuk mengukur kemampuan berpikir komprehensi (X2)

Data utama merupakan skor-skor yang

Tes ini terdiri dari sebuah wacana yang

diperoleh dari TKV (X1), CT (X2) dan EPT

dirakit dari bahan bacaan. Setiap kata

(Y). Teknik analisis yang digunakan adalah

kelima,

teknik regresi

yang

tersebut

terdapat

dihilangkan.

dalam

Kemudian

wacana subjek

untuk menguji kontribusi

variable berpikir kreatif dan variable berpikir

diminta untuk membaca teks yang tidak

komprehensi

terhadap

lengkap tersebut, kemudian diminta untuk

penguasaan bahasa Inggris. Sesuai dengan

mengisi kata-kata yang dihilangkan. Model

tujuan

awal tes ini adalah ciptaan Taylor (1953 dan

sederhana maupun ganda digunakan dalam

Klare 1974).

penelitian ini.

penelitian,

baik

kemampuan

teknik

regresi

Hasil Penelitian Hasil pengujian hipotesis pertama (Ha1)

Tabel. 2. Kontribusi Berpikir Kreatif (TKV) Terhadap Penguasaan Bahasa Inggris (EPT) R

R Square

Adjusted R Square

SEE

F

Signif

Hipotesis Null 0.05

0.527

0.327

0.319

26.68

37.945

0.000

Ditolak

Dari hasil analisis regresi ditemukan

sebesar 0.572 (melebihi batas toleransi

bahwa variabel TKV memberi kontribusi

koefisien korelasi 0.5) dengan SEE 26.68,

terhadap variabel EPT sebesar

31,9%

serta nilai F hitung sebesar 37.945 dengan

dengan koefisien korelasi yang signifikan,

tingkat probabilitas sebesar 0.000. Dari F

70


tabel

dengan

tingkat

signifikansi

5%,

dan hipotesis kerja (Ha1) diterima, yaitu

diperoleh nilai 3,96, maka nilai F hitung lebih

variabel TKV mempengaruhi variabel EPT

besar dari F tabel (37,945 > 3,96). Hal ini

secara signifikan dan positif sebesar 31,9%.

berarti hipotesis null pertama (H01) ditolak

Hasil pengujian hipotesis ke dua (Ha2)

Tabel. 3. Kontribusi Berpikir Komprehensi (CT) Terhadap Penguasaan Bahasa Inggris (EPT) R

R Square

Adjusted R Square

SEE

F

Signif

Hipotesis Null 0.05

0.345

0.119

0.108

30.53

10.531

0.002

ditolak

Dari hasil analisis di atas variabel CT

berarti signifikan karena probabilitas lebih

memberi kontribusi kepada EPT hanya 10,8

kecil dari 0.05. Dengan demikian model

%, dengan koefisien korelasi sebesar 0,345

regresi

(di bawah tingkat toleransi koefisien korelasi

memprediksi

sebesar 0,5). Kecilnya kontribusi variabel

dibandingkan dengan nilai F tabel dengan

CT terhadap EPT disebabkan SEE yang

tingkat signifikansi 5 % yaitu 3,96, maka nilai

cukup

F hitung lebih besar dari nilai F tabel. Hal ini

besar

yaitu

30,53

(Nilai

SEE

diharapkan sekecil mungkin).

masih

dapat

digunakan

variabel

untuk

EPT.

Jika

berarti hipotesis null kedua (H02)ditolak,

Akan tetapi dari hasil uji ANOVA atau F

maka Ha2 dapat diterima, yaitu variabel CT

Test, diperoleh F hitung sebesar 10.531

memberi kontribusi terhadap EPT secara

dengan tingkat probabilitas 0.002, yang

signifikan dan positif sebesar 10,8%.

Hasil pengujian hipotesis ke tiga (Ha3)

Tabel. 4. Kontribusi Berpikir Kreatif (TKV) Dan Berpikir Komprehensi (CT) Terhadap Penguasaan Bahasa Inggris (EPT) R

R Square

Adjusted R Square

SEE

F

Signif

Hipotesis Null 0.05

0.764

0.584

0.573

21.13

53.941

0.000

Ditolak

Dari hasil analisis regresi ganda yang

memberi kontribusi yang lebih signifikan

dilakukan ditemukan bahwa variabel TKV

terhadap

dan Variabel CT secara simultan bergabung

masing-masing variabel berdiri sendiri. (lihat

71

variabel

EPT

dibanding

jika


lampiran 22). Besaran kontribusinya adalah

sehingga model regresi dapat digunakan

57,3% dengan koefisien korelasi sebesar

untuk memprediksi variabel EPT. Nilai F

0,764

toleransi

tabel dengan tingkat signifikansi 5 % adalah

koefisien korelasi 0,5) dan dengan SEE

3.11, berarti nilai F hitung lebih besar dari

sebesar 21,13 (lebih kecil dari nilai SEE

nilai F tabel (53,941 > 3,11). Dengan

masing-masing

secara

demikian hipotesis null ketiga (H03) ditolak

individu mempengaruhi variabel terikat, yaitu

dan hipotesis kerja (Ha3) diterima, yaitu

30,53 dan 26,68). Dengan demikian dari

Variabel TKV dan CT secara simultan

besarnya nilai SEE dapat diinterpretasikan

memberi kontribusi kepada variabel EPT

bahwa ketiga variabel tersebut merupakan

secara signifikan dan positif sebesar 57,3%.

(di

atas

tingkat

variabel

batas

bebas

variabel laten, yaitu suatu variabel bebas Rekapitulasi Hasil Pengujian

dapat menjadi variabel terikat bagi yang lain, demikian pula sebaliknya variabel terikat

Kedua Variabel

dapat menjadi variabel bebas bagi yang lain. Adanya

bukti-bukti

di

atas

simultan

(TKV & CT) secara

bergabung

memberi

kontribusi

dapat

lebih tinggi terhadap penguasaan bahasa

diinterpretasikan bahwa masih banyak faktor

Inggris daripada bila prediktor berdiri secara

lain yang bisa mempengaruhi ketiga variabel

terpisah . Pembuktian hipotesis ini adalah

tersebut, yaitu sebesar 42,7%. Dari F test,

merupakan rangkuman dari hasil pengujian

nilai F hitung sebesar 53,941 dengan tingkat

Ha1,Ha2 dan Ha3. Untuk lebih jelasnya

probabilitas 0.000. Hal ini berarti signifikan

rekapitulasi hasilnya dapat dilihat pada tabel

karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0.05,

berikut ini :

Tabel. 5. Rekapitulasi Korelasi dan Regresi Prediktor dengan Variabel Terikat. NO

PREDIKTOR

VARIABEL TERIKAT

KOEFISIE KORELASI

KOEFISIEN REGRESI

SIGNIF.

1. 2. 3.

TKV CT TKV dan CT

EPT EPT EPT

0.572 0.345 0.704

0.319 0.108 0.573

0.000 0.002 0.000

Hasil rekapitulasi hubungan maupun

terhadap penguasaan bahasa Inggris,

kontribusi setiap prediktor dengan variabel

dibanding

terikat, dapat diinterpretasi sebagai berikut :

komprehensi. Dari tabel dapat dilihat bahwa

Secara terpisah prediktor TKV memberi kontribusi

lebih

besar

dari

kemampuan

berpikir

berpikir

kreatif

memberi kontribusi sebesar 31,9 %,

pada

sedangkan

prediktor CT. Dengan demikian, jika prediktor berdiri sendiri,

kemampuan

kemampuan

berpikir

komprehensi memberi kontribusi hanya

kemampuan

sebesar 10,8%. (31,9% > 10,8%).

berpikir kreatif lebih besar kontribusinya

72


Secara simultan bergabung, prediktor

Selain itu kecilnya kontribusi variabel CT

TKV

memberi

terhadap EPT juga diperkirakan karena

kontribusi yang lebih besar lagi terhadap

sampel subjek penelitian masih kurang

EPT, dibanding ketika prediktor berdiri

representatif sesuai dengan nilai signifikan

sendiri.

dapat

yang diharapkan, sehingga pembesaran

diinterpretasi bahwa gabungan antara

jumlah sampel untuk memperbaiki model

kemampuan berpikir kreatif dan berpikir

regresi tidak dapat dilakukan.Disamping itu,

komprehensi memberi kontribusi yang

besarnya rentang nilai maksimum instrumen

lebih

penguasaan

variabel CT sebesar 35 terlalu jauh berbeda

bahasa Inggris, dibanding kontribusi

dengan nilai maksimum instrumen variabel

yang diperoleh secara terpisah. (57,3%

EPT sebesar 130, diperkirakan menjadi

> 31,9% > 10,8%).

sebab

dan

CT

ternyata

Dengan

besar

demikian

terhadap

kecilnya

kontribusi

antara

CT

terhadap EPT. Akan tetapi model regresi ini Diskusi

masih dapat digunakan untuk memprediksi

Jika dilihat dari hipotesis kerja yang telah

EPT, karena dari hasil uji ANOVA, tingkat

ditetapkan sebelumnya, tidak satupun yang

probabilitasnya cukup signifikan.

ditolak,

semuanya

probabilitas 0.000

memiliki

tingkat Kontribusi Gabungan TKV dan CT

0.002, yang berarti

signifikan karena probabilitas lebih kecil dari

Fenomena yang cukup menarik dari hasil

0.05. Akan tetapi ada beberapa hal yang

penelitian

perlu didiskusikan dan dicermati dari hasil

gabungan antara TKV dan CT, terhadap

penelitian ini :

EPT ternyata memberi kontribusi yang lebih

Kontribusi

kemampuan

berpikir

ini

adalah

hasil

kontribusi

signifikan. sebesar 57,3 %. Secara sinergi

komprehensi

bergabungnya kedua variabel

Kontribusi

kemampuan

berpikir

memberi

kontribusi

yang

lebih

tersebut tinggi

komprehensi terhadap penguasaan bahasa

dibanding bila prediktor berdiri sendiri. Hal

Inggris termasuk rendah, hanya 10,8 %.

ini membawa implikasi bahwa jika kedua

Disamping itu nilai koefisien korelasi juga

kemampuan

kurang signifikan yaitu sebesar 0,345 (di

secara bersama- sama dalam proses belajar

bawah tingkat toleransi koefisien korelasi

bahasa Inggris akan membawa dampak

sebesar 0,5). Hal ini diperkirakan karena

yang positif terhadap penguasaan bahasa

SEE

Inggris.

yang

sehingga

cukup

model

memprediksi

besar

regresi

kontribusi

yaitu

30,53,

kurang

akurat

variabel

berpikir

Bagaimanapun

ini

dikembangkan

penguasaan

bahasa

berpikir

asing adalah merupakan kemampuan yang

komprehensi terhadap penguasaan bahasa

kompleks. Banyak faktor-faktor lain yang

Inggris.

mempengaruhinya.

Sebagaimana

yang

dipaparkan oleh Mackey (1974 : 23 ) River

73


(1985 : 132) penguasaan bahasa asing itu

demikian dapat diambil suatu kesimpulan

tergantung banyak faktor, yang secara

baik dari hasil penelitian ini, maupun dari

umum dapat dikelompokkan menjadi tiga,

hasil

yaitu faktor linguistik, faktor sosial budaya

Chomsky dan pakar-pakar lain, adalah tidak

dan faktor psikologis. Sementara pada

tepat jika dalam pengajaran bahasa aspek

setiap faktor memiliki varians yang cukup

kreativitas diabaikan. Bagaimanapun semua

banyak.

kompetensi bahasa sangat memerlukan

Jika dicermati apa yang ditelaah dalam

kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan

penelitian ini barulah sebagian dari faktor

berpikir

psikologis yaitu faktor kemampuan berpikir.

lingguistik maupun metalinguistik.

penelitian

yang

komprehensi,

telah

dilakukan

baik

kompetensi

Tetapi satu hal yang menggembirakan penulis adalah bahwa di dalam penelitian ini

Strategi Belajar Orang Dewasa

ada satu temuan yang sebenarnya peneliti

Sebagaimana dipaparkan oleh para pakar,

tidak

sinergi

terdapat perbedaan strategi belajar pada

gabungan TKV dan CT memberi kontribusi

orang dewasa dibanding anak-anak, seperti

yang cukup besar terhadap penguasaan

dipapaparkan oleh O Malley (1985) bahwa

bahasa Inggris mahasiswa, sebesar 57,3 %,

orang dewasa dalam proses belajarnya

yang berarti peran faktor lain, yang tidak

termasuk mempelajari bahasa asing lebih

diteliti

tidak bagi

mengandalkan strategi kognitifnya dibanding

subjek yang diteliti, atau untuk karakteristik

kekuatan memorinya. Dalam penelitiannya

subjek yang sama, hal ini dapat dijadikan

O Malley menemukan 14 strategi kognitif

dasar

yang

menduga

bahwa

hasil

tinggal 42,7 %. Paling

bagi

strategi

pembelajaran

pengembangan kemampuan Inggris

di

jurusan

dan

berbahasa

Administrasi

selalu

dewasa

Bisnis,

dikembangkan

dalam

oleh

mempelajari

orang bahasa,

diantaranya adalah kemampuan berpikir

Politeknik Negeri Jakarta.

komprehensi,

Disamping itu, jika ditinjau dari sisi usia

deduksi, kontekstualisasi, transfer, inferensi,

subyek yang diteliti, yaitu sekitar 17 sampai

identifikasi,

22 tahun, maka periode ini merupakan

reordering, relasi, representasi, repetisi dan

peak momen of thinkingt . Oleh karena itu,

rekombinasi,

generatif,

elaborasi,

reklasifikasi,

sejenisnya.

akan tepat sekali jika pada usia dewasa

Menurut hemat penulis, jika kontribusi dari

muda ini, pendekatan belajar dilakukan

kemampuan berpikir komprehensi terhadap

melalui

penguasaan bahasa Inggris sangat kecil, hal

berpikir,

pengembangan terutama

kemampuan

kemampuan

berpikir

ini secara teori dapat diprediksi, karena

kreatif dan komprehensi. Sebagaimana

yang

banyak faktor kemampuan lainnya yang dipaparkan

oleh

dapat mempengaruhi, seperti faktor sosial

Chomsky (1970) bahwa bahasa sangat erat kaitannya

dengan

kreativitas.

budaya dan faktor linguistik.

Dengan

74


Dari dimensi faktor psikologis pembelajar

sebenarnya Chomsky (1966) sebagaimana

saja, masih banyak faktor lain yang dapat

yang dikutip Revers (1985), telah lama

memberi kontribusi, seperti faktor motivasi,

mengagetkan

bakat, sikap, kepribadian, usia dan lain-lain

menyatakan

bahwa

(Hadley 1993 ; Mackey 1979). Meskipun

merupakan

struktur

kontribusinya kecil, komunikasi tidak akan

merupakan produk berpikir kreatif.

berjalan

berpikir

mengamati dan meneliti karakteristik prilaku

komprehensi para komunikannya rendah,

linguistik yang terjadi pada saat seseorang

karena menurut teori schema bahwa teks

berkomunikasi

atau

sendirinya

kalimat-kalimat baru, membuat pola-pola

membawa makna, tetapi hanya sekedar

baru untuk konsep yang abstrak dan sangat

arahan bagi pendengar atau pembaca untuk

kompleks. Fenomena ini sebenarnya telah

mengkonstruksi makna melalui kemampuan

lama disadari oleh banyak pendidik, akan

berpikir komprehensi.

Menurut Rumelhart

tetapi prilaku steriotip dan konformis menjadi

(1977) seperti yang dikutip Hadley (1993)

kendala bagi pengembangan berpikir kreatif

salah pengertian dapat terjadi apabila kita

(Rogers dalam Vernon 1982 :137).

baik

konteks

jika

tidak

kemampuan

dengan

banyak

meliputi

orang bahasa

dengan bukanlah

kebiasaan,

inovasi,

tetapi Dia

formasi

memiliki schema/komprehensi yang salah Terjadi Variabel Laten

terhadap suatu konsep atau kejadian.

Dari hasil penelitian ini juga dapat Bahasa sebagai Produk Berpikir Kreatif

diamati terjadinya variabel laten, dimana

Hal yang perlu dicermati lagi dari hasil

suatu variabel independen dapat menjadi

penelitian ini adalah hasil kontribusi berpikir

variabel

kreatif

sebaliknya variabel dependen bisa menjadi

Inggris

terhadap ternyata

penguasaan

cukup

bahasa

signifikan,

dependen,

demikian

pula

baik

variabel independen bagi yang lain. Hal ini

secara terpisah dengan variabel lainnya

dapat dilihat dari besarnya SEE untuk ketiga

maupun secara gabungan, tetap memberi

variabel, yaitu CT terhadap EPT sebesar

kontribusi yang cukup besar, yaitu 31,9%

30,53,

(terpisah) dan 57,3% (gabungan). Padahal

gabungan TKV dan CT terhadap EPT

aspek berpikir kreatif sering terabaikan di

sebesar 21,13.

lembaga-lembaga pendidikan formal. Masih

TKV terhadap

Fenomena

ada kecenderungan yang sempit dalam

ini

EPT 26,68

sebenarnya

dan

bisa

dijelaskan secara teori. Hal ini telah banyak

memandang pengembangan berpikir kreatif

dibahas oleh pakar mengenai hubungan

ini..

bahasa dengan berpikir. Sebagaimana yang Adanya hasil penelitian ini diharapkan

dikutip Brown (1987) ada yang berpendapat

dapat memberi kontribusi yang bermanfaat

bahwa bahasa dipengaruhi kemampuan

bagi pengembangan strategi belajar bahasa

berpikir (Piaget, Inhelder 1969, Berlin dan

asing termasuk bahasa Inggris, karena

Kay 1969), tetapi banyak juga pakar lain

75


yang

berpendapat

bahasa

yang

tingkat probabilitas 0,002 (lebih kecil

mempengaruhi kemampuan berpikir (Whorf

dari 0.05). Dengan demikian hipotesis

1956, Bruner, Oliver, Greenfield 1966).

null kedua (H02) ditolak dan hipotesis

Perbedaan para pakar ini menurut Brown

kerja kedua (Ha2) diterima.

(1987) sebenarnya memperlihatkan suatu bukti

dan

fakta

bahwa

3. Terdapat kontribusi

perkembangan

signifikan

dan

gabungan yang positif

antara

linguistik dan kognitif saling jalin menjalin

kemampuan berpikir kreatif dan berpikir

(intertwined) dan dia mengamati bahwa

komprehensi

kedua variabel ini saling tergantung dalam

bahasa Inggris, yaitu sebesar 57,3%

dua arah, yaitu bahasa dan berpikir saling

dengan

mempengaruhi

secara

Dengan demikian hipotesis null ketiga

simultan. Dengan demikian dapat dipahami

(H03) ditolak dan hipotesis kerja ketiga

apabila dalam penelitian ini terjadi variabel

(Ha3) diterima. Hal ini menunjukkan

laten, karena memang pada hakekatnya

bahwa

bahasa dan berpikir

mahasiswa

dan

berinteraksi

memiliki hubungan

interdependen.

terhadap

tingkat

probabilitas

penguasaan

Politeknik

penguasaan

bahasa

Administrasi Negeri

Jakarta

0.000.

Inggris Bisnis

berkaitan

dengan variabel lain yang tidak diteliti dengan besaran 42,7 %.

Kesimpulan

4. Hasil kontribusi gabungan jauh lebih

Dari data hasil penelitian yang telah dikumpulkan

dan

diinterpretasi

tinggi dari kontribusi variabel bebas

secara

secara

kuantitatif, maka dapat disimpulkan sebagai

31,9% (TKV) > 10,8% (CT). Dari hasil

1. Terdapat kontribusi yang signifikan dan positif

antara

kemampuan

berpikir

kreatif

dengan

penguasaan

bahasa

analisis ini dapat disimpulkan prediktor TKV lebih besar kontribusinya dari pada prediktor CT, tetapi prediktor gabungan

Inggris mahasiswa Administrasi Bisnis Politeknik

Negeri

jakarta.

(TKV dan CT) lebih besar kontribusinya

Besaran

dari pada prediktor terpisah. Dengan

kontribusi adalah 31,9% dengan tingkat

demikian secara terpisah kemampuan

probabilitas 0.000. Dengan demikian

berpikir kreatif lebih besar kontribusinya

hipotesis null pertama (H01) ditolak dan

terhadap penguasaan bahasa Inggris

hipotesis kerja pertama (Ha1) diterima.

dibanding

2. Terdapat kontribusi yang signifikan dan antara

komprehensi bahasa

Besaran

kontribusi gabungan adalah 57,3 % >

berikut :

positif

sendiri-sendiri.

Inggris

kemampuan dengan

komprehensi,

berpikir

berpikir

sementara

gabungan

antara kemampuan berpikir kreatif dan

penguasaan

mahasiswa,

kemampuan

kemampuan

dengan

berpikir

komprehensi

memberi kontribusi yang lebih besar

besaran kontribusi yang tidak terlalu

lagi.

besar, yaitu hanya 10,8%, tetapi dengan

76


Saran

Massachusetts Technology.

Berdasarkan kesimpulan dan diskusi

saran-saran sebagai berikut : 1. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa memberi

kontribusi

signifikan

yang

cukup

Cohen, Yaier. (1987). Communicative Aims In The Foreign Language Classroom, Australia : Canberra Publishing and Printing Co.

terhadap penguasaan bahasa Inggris, maka

dalam

hal

menyarankan

ini

agar

pengembangan diintegrasikan

penulis

ke

Costa . Arthur, L. (1985). Developing Minds, Virginia : Association For Supervision and Curriculum Development.

ingin

teknik-teknik

berpikir dalam

kreatif

Csikszentmihalyi, Mihaly. (1996). Creativity, New York : Harper Collins Publishers.

pengajaran

Dardjowidjoyo, Soenjono, (1997). English Policies And Their Classroom Impact In Some ASEAN/ASIAN Countries. Dalam Jacobs, George M (Ed.) 1997. Language Classroom Of Tomorrow; Issues And Responses, Singapore : SEAMEO Regional Language Center.

bahasa. 2. Usia mahasiswa adalah merupakan periode puncak bagi pengembangan kemampuan berpikir, termasuk berpikir kreatif maupun berpikir komprehensi, untuk itu perlu dikembangkan strategi pembelajaran

yang

lebih

of

Clark, Barbara. (1983). Growing up Gifted, Colombus : Charles E. Mervill Publishing Company.

hasil penelitian, maka penulis mengajukan

kemampuan berpikir kreatif

institute

mengarah

Dowling,B.Tolley, McDougal, Mariane. (1982). Business Concepts For English Practice, New York : Newbury House Publishers.

kepada pengembangan strategi kognitif, untuk mencapai penguasaan bahasa Inggris yang lebih tinggi, jika bisa

Evans, David, D. (1978). Comprehension And Brighter Lessons, Dalam English Teaching Forum, Nomor 1 (January, volume XI), USA.

mendekati kemampuan penutur asli bahasa target yang dipelajari. 3. Penelitian ini perlu dikembangkan dalam

Ghozali, Imam. (2001). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

populasi yang lebih besar, dan dengan komposisi jenis kelamin yang lebih seimbang sehingga dapat diperoleh

------------------, (1996). Dasar-dasar Analisis Statistik dengan SPSS 6.0 For Windows, Yogyakarta : Andi Offset dan Lembaga Pendidikan Komputer Wahana Semarang

gambaran hasil yang lebih akurat.

Daftar Pustaka

Hall, Elizabeth. (1983). Psychology Today, New York : Random House.

Brown, H. Douglas. (1987). Principle of Language Learning and Teaching. Englewood Clift, New Jersey : Printice Hall.

Howard,

Chomsky, Noam. (1965). Aspect of The Theory Of Syntax, Massachuset :

Darlene. V. (1983). Cognitive Psychology, Memory, Language and Thought, New York : Macmillan Publishing Co. Inc.

Hines, M. and Rutherfood W. (1981). ON TESOL 81, Washington DC. USA : Georgetown University.

77


Hadley, A. Omagio. (1983). Teaching Language in Context, Boston : Heinle & Heinle Publishers.

Learning, Australia University.

Monash

Rogers, Allan. (1986). Teaching Adults, Philadelphia : Open University Press.

Hamid, Fuad H. (1997). EFL Program Surveys In Indonesian Schools; Towards EFL Curriculum Implementation For Tomorrow. Dalam Jacobs, George M (Ed.) Language Classroom Of Tomorrow; Issues And Responses, Singapore : SEAMEO Regional Language Center.

Sharpe, Pamela J. (1983). How To Prepare For The Test Of English As A Foreign Language. New York : Barron s Educational Series. Sharpe, Pamela J. (2000). How To Prepare For The Test Of English As A Foreign Language, Jakarta : Binarupa Aksara.

Hamid, Fuad H. (1993). Laporan Nasional Hasil Pengawasan dan Pemeriksaan (Wasrik)Tema Pengajaran Bahasa Inggris di SMA Negeri, Jakarta : Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sigelman, Carol K. Shaffer, David R. (1991). Life Span Human Development. California : Brooks/Cole Publishing Company. Utami Munandar, S.C. (1977). Creativity And Education, Disertasi Doktor, Jakarta : Proyek Pengadaan/Penterjemahan Buku, DP3M, Ditjen Dikti Depdikbud.

Jakobovits, Leon A. (1971). Foreign Language Learning. Rowley, Massachuset :Newburry House Publishers. Kerlinger,

:

Utami Munandar, S.C. (1997). Psikologi Pendidikan Keberbakatan, Jakarta : Program Pascasarjana, Program Studi Psikologi Pendidikan, Universitas Indonesia.

Fred N. (1996). Azas-azas Penelitian Behavioral. Terjemahan oleh Simatupang, Landung R. dari Foundation Of Behavioral Research (1986). Yogyakarta :Gajah Mada University Press.

Utami

Luria, Alexander R. (1982). Language and Cognition. New York : Jhon Willey and Sons.

Munandar, S.C. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : PT. Gramedia.

Mackey. (1974). Language Teaching Analysis. Bloomington : Indiana University Press.

------------------------S.K Mendikbud No. 096/12 Desember 1967. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mednick, Higgins, Kurschenbaun. (1975). Psychology, Exploration In Behaviour And Experience, New York : Jhon Wiley & Sons, inc.

------------------------- Laporan Penerimaan Ujian Masuk Politeknik Negeri, Depok : Politeknik Negeri Jakarta, 1999, 2000 dan 2001.

Morgan T. Clifford et. al. (1986). Introduction To Psychology, New York : Mc. Graw-Hill Book Company.

Umar, Djumali. (1989). Mengapa Bahasa Inggris Kita Tersendat-sendat ? Jakarta : Universitas Nasional.

Oller, Jhon, W.Jr. (1979). Language Test at School, London : Longman Group Limited.

Weisberg, Robert W. (1993). Creativity, Beyond The Myth of Genius. New York : W.H. Freeman and Company.

Pedhazur, Elazar j. (1982). Multiple Regression in Behavioral Research. New York : Holt, Rinehart and Winston.

Vernon, P.E. (1982). Creativity, USA : Penguin Books.

Rivers, Wilga. M. (1985). Rules, Patterns and Creativity in Language

78


79


Gifted Review 1