Page 1

Newsletter Edisi 105

1


2

- Donasi Rumah Kepemimpinan


3

Direktur Eksekutif: Bachtiar Firdaus ST., MPP

- Salam Redaksi

3

Direktur Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Adi Wahyu Adji, S.Si, MSM Direktur Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Muhammad Ichsan SE Direktur Kemitraan & Fundraising: Fachriadi Tanjung SE., M.Si Manajer Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Aqil Wilda Arief Manajer Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Andi Junasa Andhika Manajer Kemitraan & Fundraising: Nur Ihsan Robbiyanto Asisten Manajer Marketing & Komunikasi: Ibrahim Irsyad

Menyiapkan Pemimpin Indonesia di Masa Depan Mahasiswa disebut sebagai agent of change sebuah bangsa. Dari ide dan tangan merekalah nasib masa depan sebuah bangsa dipertaruhkan. Untuk menyiapkan seorang mahasiswa menjadi agen perubahan bisa dilihat ketika mereka memimpin organisasi maupun komunitas di lingkungannya. Kemampuan menjadi seorang pemimpin di lingkungan kampus diharapkan mampu menjadi cikal bakal seorang mahasiswa memimpin masyarakat lebih luas. Para calon pemimpin muda di seleksi melalui open recruitment Rumah Kepemimpinan Angkatan 9 yang telah berlangsung sejak Januari sampai Mei 2018. Indikator kematangan dan kesiapan mereka diukur melalui serangkaian seleksi tes berkas dan administrasi, tes Spritiual Capital Assesment (SCA) dan tes wawancara bersama Leaderless Grup Discussion (LGD), yang nantinya akan dipilih 320 Peserta Rumah Kepemimpinan angkatan 9 yang siap dibina dalam serangkaian program kepemimpinan selama 2 tahun. Ada yang spesial pada angkatan 9 ini yaitu turut bergabung teman-teman Mahasiswa dari Universitas Mulawarman dari Regional 8 Samarinda, serta Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dari Regional 9 Solo dalam program beasiswa pemimpin Indonesia. Berkat dukungan dari segenap stakeholder, mitra dan donatur Rumah Kepemimpinan kembali melebarkan sayap kebermanfaatan menjadi total 9 Regional dan 11 PTN di Indonesia. - Salam Redaksi

Staff Bidang Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Enung Azizah Mulyawati Huditami Ajeng Widanti Adlul Hamidi Zanur Staff Bidang Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Lusi Cahya Pertiwi Fithratun Nuha Tsabita Yogi Yanto Staff Bidang Kemitraan & Fundraising: Yessy Nur Handayani Diamy Arta Staff Bidang Marketing & Komunikasi: Maghfira Puteri Almira Muhammad Nabil Bidang Umum: Fauzan Hendar Yanti Regional 1 Jakarta Pembina Regional: Dr. Hamid Chalid SH. LLM Manajer Regional: M. Fathan Mubina Supervisor Asrama: Arya Adiansyah, Indah Puspita Regional 2 Bandung Pembina Regional: Dr. Taufikurrahman Manajer Regional: Irsyaad Suharyadi Supervisor Asrama: Septiar D Putra Regional 3 Yogyakarta Pembina Regional: Dr. M. Wazis Wildan M. Sc Manajer Regional: Alfath Bagus Panuntun Supervisor Asrama: Hamdan Abdullah, Devi Lukitasari Regional 4 Surabaya Pembina Regional: Dr. Arief Basuki, Sp An Manajer Regional: Wawan Ismanto S.Si Supervisor Asrama: Amron Basuki Regional 5 Bogor Pembina Regional: Dr. Abdul Munif M. Sc, Agr Manajer Regional: Pauzi S. Gz Supervisor: Supriatna Regional 6 Medan Pembina Regional: Rudi Hartono Manajer Regional: Andi Pranata, S.Si Staf Pembinaan: Irwansyah Putra Regional 7 Makassar Pembina Regional: Dr. Yusran Supervisor Asrama: Mushaddiq Asri


4

- Mitra & Daftar Isi

Inspirasi Pemimpin

“Merancang Optimisme Perjuangan Anti Korupsi” Oleh Bachtiar Firdaus, MPP Direktur Rumah Kepemimpinan

Hal 5 Inspirasi Pemimpin muda

Pemuda islam masa kini, oleh Yarabisa Yanuar peserta RK regional 3 Yogyakarta Hal 8

8

RK utama

Indonesia Youth Contributor Summit 2018 ( IYCS 2018 ) Hal 10

RK ALUMNI

“Amanah dibalik Passion” Profil Agus Rachmanto Regional 3 Yogyakarta Angkatan 3 Hal 23

10

23

5

13

RK Leadership Project

14

RK Regional

18

Highlight Capaian Peserta

20

Highlight Capaian Regional

21

Kemitraan

24

Kabar Alumni

25

Laporan Keuangan


Inspirasi Pemimpin -

5

“Merancang Optimisme Perjuangan Anti Korupsi” Oleh Bachtiar Firdaus, MPP Direktur Rumah Kepemimpinan

S

epanjang tahun 2017 ini, kita disuguhkan drama gerakan “pendukung koruptor” melawan gerakan “anti koruptor” dalam kasus Mega Korupsi e-KTP. Setelah sebelumnya DPR berencana akan merevisi UU nomer 30 tahun 2002 tentang KPK yang isinya ditengarai akan memperlemah KPK (adanya Dewan Pengawas KPK, dihapusnya kewenangan penyadapan dan penuntutan, dll), DPR tiba-tiba membentuk Pansus Hak Angket KPK yang kontroversial untuk “menjatuhkan” peran dan kredibilitas KPK di mata masyarakat serta menghalangi penyelidikan kasus e-KTP. Selanjutnya, DPR dan POLRI juga mengajukan rencana pembentukan Detasemen Khusus Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) yang akhirnya dihentikan prosesnya oleh Presiden Jokowi. Pada saat yang bersamaan, tersangka kasus Mega Korupsi e-KTP, SN yang juga Ketua DPR RI, mengajukan Pra Peradilan dan “drama” sakit sambil berusaha menunda pemeriksaan KPK terhadap dirinya. Belum lagi pembelaan dari berbagai kalangan terutama sebagian anggota DPR terhadap SN. Sementara itu, di sisi lain, gerakan “anti korupsi” yang terdiri dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Gerakan Anti Korupsi Lintas Perguruan Tinggi (GAK), Indonesian

Corruption Watch (ICW), Perempuan Anti Korupsi, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, Pemuda Muhammdiyah, dll terus mendesak KPK untuk menuntaskan penyelidikan Mega Korupsi e-KTP dan membawanya ke pengadilan Tipikor. Mereka mengadakan serangkaian aksi dan demonstrasi yang tak kunjung putus di depan gedung KPK, di gedung DPR / MPR, di Car Free Day, di kampus-kampus, dan di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Karyawan KPK pun mengajukan gugatan uji materi (judicial review) keabsahan panitia khusus (Pansus) Hak Angket KPK ke Mahkamah Konstitusi. Setelah SN ditahan dan berkas perkaranya diserahkan ke pengadilan, ternyata para pembelanya seperti hilang tak berbekas walaupun sempat mengajukan sidang Pra Peradilan kedua. Begitupun hasil dari Pansus Hak Angket KPK juga seperti “main-main” yang tidak ada langkah kongkritnya. Kasus Mega Korupsi e-KTP di atas adalah salah satu contoh korupsi sistemik dan persisten yang menjadi realitas jamak dalam dinamika kelembagaan (publik maupun swasta) di negara berkembang dan maju. Untuk mengetahui masalah dan solusi korupsi di Indo-


66 - Inspirasi Pemimpin

nesia, kita perlu memeriksa dan membandingkan perspektif ekonomik dan perilaku organisasional tentang tindak korupsi sebagai pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Selanjutnya, kita perlu mengembangkan model perubahan kelembagaan yang dicitakan di Indonesia (island of integrity atau zona bebas korupsi) dan menggunakan model itu untuk melihat apakah lembaga koruptif dapat diubah oleh aktivis anti korupsi, sebagaimana pembela status quo atau antek koruptor mencoba mempertahankan aksi korupsi nya.

Korupsi di Indonesia Dari perspektif ekonomi tentang korupsi, korupsi terjadi karena penyalahgunaan otoritas atau fasilitas publik untuk keuntungan personal, dimana penyimpangan itu mencakup pelanggaran norma legal. Biasanya ada kontrol terhadap perizinan dan biaya ekonomi, sehingga berpotensi menimbulkan rent seeking. Pejabat yang memegang otoritas memiliki diskresi atas alokasi keuntungan dan menentukan pembagian biaya tersebut diberikan kepada siapa dan untuk keperluan apa. Pada kasus Mega Korupsi e-KTP di atas, para pelakunya terdiri dari para Anggota DPR, Pejabat Kementrian Dalam Negeri, Konsorsium Perusahaan, dll yang saling bekerjasama “mengatur” peserta dan pemenang tender dan “me-mark up” biayanya sehingga merugikan negara sebesar 2.3 Trilyun. Maka, salah satu solusi dari masalah korupsi adalah membangun masyarakat sipil yang kuat yang dapat “mengimbangi” pemerintah, mengadvokasi struktur regulasi pemerintah yang mengedepankan akuntabilitas dan transparansi, serta penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap semua jenis korupsi. Dari perspektif perilaku organisasi tentang korupsi, ada keterkaitan antara korupsi sebagai tindakan rasional dari antek koruptor yang mementingkan diri sendiri dengan kesempatan mengeksploitasi diskresi untuk meraih keuntungan, dan belum baiknya struktur regulasi kelembagaan ekonomi atau masyarakat (good governance). Kita perlu memperhatikan pentingnya cara bertindak para antek koruptor, dimana setting organisasi kerap kali melahirkan logika dan perilaku amoral. Korupsi dipahami sebagai cermin jalinan faktor individual dan situasional yang berinteraksi dalam organisasi, dan mencakup pelanggaran

prinsip moral atau norma sosial untuk kepentingan pribadi dan atau kepentingan kelompok di atas kepentingan umum. Akhirnya, praktek korupsi menjadi rutinitas dan kelaziman (habitual), sehingga terlembaga (institutionalized) dalam organisasi. Lebih jauh lagi, tindakan korupsi kemudian tidak dipandang “korup” seperti banyaknya pihak yang terlibat dalam kasus Mega Korupsi e-KTP di atas: mulai dari perwakilan semua partai di DPR, wakil pemerintah di Kementerian Dalam Negeri, dan berbagai perusahaan yang tergabung dalam konsorsium pemenang tender. Korupsi atau perilaku tak etis dalam organisasi dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dikurangi atau dihilangkan melalui perubahan kultural dalam organisasi dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku Budaya SDM sebuah organisasi menunjukkan bahwa perilaku korupsi dapat melekat (embedded) dalam organisasi dalam kerangka normatif serta kognitif, yang kemudian mengarahkan cara berpikir dan bertindak anggota organisasi tersebut.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah praktik korupsi ? Roles dan identity adalah faktor penting dalam memicu atau mencegah korupsi. Jika tidak ada upaya atau lemahnya gerakan anti korupsi mengubah sekaligus membongkar identitas korup yang melekat (embedded identities), maka tindakan korupsi akan terus berlangsung. Perspektif perilaku organisasi tentang korupsi menawarkan potret yang kaya tentang sumber korupsi dan cara mengobatinya dibandingkan dengan pendekatan ekonomik murni yang berpusat pada pemberian insentif, pemantauan/supervisi, dan penegakan disiplin. Di sinilah pentingnya kita mengorganisir diri menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang selalu melakukan “check and balance” terhadap Lembaga Legislatif Eksekutif, maupun Yudikatif.


Inspirasi Pemimpin - 77

Tindakan sosial dalam tatanan kelembagaan diarahkan oleh Nalar Kelembagaan (institutional logic) yakni “pola historik dari praktek material, asumsi, nilai, kepercayaan, dan aturan yang terkonstruksi secara sosial, dimana seseorang memproduksi dan mereproduksi substansi material, mengorganisasi waktu dan ruang, serta menyediakan makna atas realitas sosial yang mereka hadapi�. Sumber daya (resources) memberikan batas daya tahan dan kelenturan dari nalar kelembagaan. Nalar anti korupsi (keadilan) yang tidak difasilitasi sumberdaya akan dikalahkan oleh nalar korupsi (kezaliman) yang memiliki sumberdaya besar. Alangkah ironisnya, Gerakan Antek Koruptor sering berhasil karena mereka lebih bisa mengorganisir gerakannya daripada Gerakan Aktivis Anti Korupsi yang tidak terorganisir dan berserakan tanpa persatuan. Atau karena masih banyaknya orang baik yang diam, pasif, hanya “ribut� di sosial media tanpa gerakan kongkrit dan nyata ketika para koruptor melakukan aksi korupsi nya. Elemen terakhir yang bersifat sentral bagi tatanan kelembagaan dan proses transformasi adalah Aktor Sosial (social actors), yang menafsirkan, menyebarkan, dan menerapkan identitas anti korupsi dan makna reformasi. Peran Aktor Sosial Anti Korupsi mencakup segala daya upaya para Pembaharu Kelembagaan (institutional entrepreneurs) untuk menggunakan sumberdaya ekonomi, kultural, sosial, dan simbolik yang tersedia sebagai modal propaganda Nalar Kelembagaan Baru (new institutional logic) melawan logika status quo yang koruptif. Maka Rumah Kepemimpinan, secara sadar dan by design, ingin melahirkan pemimpin-pemimpin Indonesia yang berkarakter, berintegritas, prestatif kontributif untuk agama, bangsa dan negaranya. Karena itu, Rumah Kepemimpinan terlibat dalam melahirkan varian baru gerakan anti korupsi di kalangan muda Indonesia melalui Future Leaders Anti Corruption (FLAC) dan Generasi Anti Korupsi (GERAK). Pembaharu Kelembagaan (kaum reformis) mengartikulasi dan melekatkan Nalar Kelembagaan Baru (new

anti corrupt institutional logic). Dimana kita menyadari bahwa para Pembaharu Kelembagaan Gerakan Anti korupsi akan dilawan oleh pembela struktur lama (kaum status quo/Antek Koruptor). Pembaharu kelembagaan Gerakan Anti Korupsi harus memiliki pemahaman kritis (critical understanding) atas logika status dan sumberdaya yang mendukungnya. Kaum Reformis/Aktor Gerakan Anti Korupsi harus memiliki Keterampilan Sosial, yakni kemampuan untuk menggalang kerjasama di antara aktor dengan cara memberikan pemahaman dan identitas bersama sehingga tindakan kolektif dapat dijalankan dan dibenarkan. Aksi Gerakan Anti Korupsi yang terlatih muncul setelah penemuan dan penguatan identitas kolektif dari sejumlah kelompok, serta upaya membentuk dan mempertemukan kepentingan dari beragam kelompok tersebut. Secara pribadi, saya mengajak teman-teman semua untuk turut serta menjadi lokomotif maupun gerbong gerakan anti korupsi di Indonesia, baik melalui organisasi alumni perguruan tinggi masing-masing (ikatan alumni/keluarga alumni/himpunan alumni), organisasi profesi sesuai dengan bidang kerjanya, ataupun melalui Gerakan Anti Korupsi Lintas Perguruan Tinggi (GAK). Kita harus ingat bahwa tidak akan datang perubahan jika kita sendiri tidak memperjuangkannya. Indonesia bebas korupsi bukan hadiah yang turun dari langit semata, tapi hasil dari perjuangan dan pengorbanan kita semua. Jangan sampai hanya para koruptor yang mengkader generasi koruptor penerus korupsi mereka, kita pun harus lebih serius mengkader dan menggerakkan generasi anti korupsi, generasi pembaharu Indonesia. Tanpa kenal lelah, di tengah berbagai amanah dan aktifitas kita, dengan keringat, darah, dan air mata, kita harus terus bersuara menyadarkan sesama anak bangsa dan bergerak bersama mencegah dan memberantas korupsi di Indonesia. Katakan Hitam adalah Hitam.. Putih adalah Putih.. Tiada Kata Jera dalam Perjuangan, Keep on Fighting.! Jangan Diam.. Ayoo Lawaan Koruptor, Bakaaar.!


8

- Inspirasi Pemimpin Muda

: i n i K a s a M m a l s I a Pemud i t a J n a g n a l i h e K g n a y a k e r Me m i l s u M i a g a Diri seb

Menjadi Seorang Muslim yang baik Islam adalah agama yang hak dari Tuhan yang diserukan untuk sekalian alam. Allah swt mengaruniakannya kepada semua manusia lewat utusannya yang mulia, Muhammad saw. Islam diturunkan untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan dirinya sendiri. Islam bukan sekadar Salat, Islam bukan sekadar menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, atau bersedekah. Islam ialah setiap tarikan dan hembusan napas manusia. Menengok pada realitas Islam masa kini, umat Islam dihadapkan pada banyak tantangan, baik internal maupun eksternal. Masalah internal dalam tubuh umat Islam dinilai menjadi permasalahan besar dan krusial. Banyaknya imperi-

um, kerajaan, kekuasaan politik yang akhirnya runtuh, bukan karena serangan dari luar, melainkan karena “lubang yang menganga besar” di dalam internal mereka. Umat Islam, seperti yang kita tahu, akhirnya harus kehilangan kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Hal tersebut tidak akan terjadi jika kondisi internal kuat. Timbul pertanyaan “dari manakah problematika internal tersebut muncul?” Orangorang yang membenci Islam adalah biang dari problematika ini. Mereka telah menemukan bahwasanya cara yang paling ampuh untuk menghancurkan Islam adalah dengan menyerang generasi mudanya. Mereka menyadari bahwa di sanalah kekuatan sekaligus titik rawan Islam. Generasi muda Islam adalah titik kekuatan Islam karena mereka adalah roda penggerak kehidupan Islam di masa men-

datang (Syubbaanul yaum, rijaalul ghod). Menyerang generasi muda, bagi orang-orang yang berniat jahat terhadap Islam, tentunya akan lebih efisien karena yang mereka serang adalah para pemegang estafet kepemimpinan. Ketika generasi tua Islam lengser, mereka akan merayakan generasi baru yang telah mereka racuni menjadi penggantinya. Allah swt berfirman yang artinya “Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’ (41:26)”. Buya Hamka mencoba menerangkan dengan baik tafsir ayat ini di dalam masterpiece-nya, Tafsir Al-Azhar. Orang-orang kafir sejak zaman dakwah Rasulullah selalu tidak suka dengan kemajuan yang dialami oleh Islam. Mereka tidak rela apabila Islam


makin dilirik oleh sanak famili dan teman mereka dan bertambah besar pengikutnya. Alquran yang diperdengarkan kepada masyarakat disadari oleh mereka sebagai pemicu utama banyaknya orang yang masuk Islam. Demi mengembalikan orang-orang yang menurut mereka telah terjerembap ke dalam kesesatan, orang-orang kafir kemudian mengundang ahli-ahli dongeng dari Persia supaya bercerita tentang kisah-kisah heroik. Mereka membuat “majelis tandingan” untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap Alquran, dan hasilnya sukses! Pada hari ini, kita menemukan hiruk pikuk untuk menjauhkan Alquran, tentunya dengan cara yang berbeda. Di antara alat perusak yang mereka luncurkan untuk merusak generasi muda Islam adalah musik. Alquran menjadi jarang didengarkan, persis ketika para pendongeng datang mengganggu. Mereka juga memasukkan syubhat besar ke dalam pemikiran generasi muda Islam. Mereka secara tidak langsung menanamkan paham liberal. Mereka merayu pemuda muslim dengan indahnya dunia, indahnya musik, nikmatnya pergaulan bebas, kemudian mengasingkan syariat dengan menjadikan perbuatan mungkar sebagai hal yang lumrah. Para pemuda muslim dengan bahagianya memamerkan auratnya dengan dalih tren terbaru. Para pemuda muslim lebih bangga akan musik yang ada di dalam gadgetnya yang dengan sepenuh hati ditadabburi. Namun, Alquran hampir tidak tersentuh oleh mereka. Keindahan serta kenikmatan yang mereka tawarkan inilah yang menjadi jawaban utama atas pertanyaan jauhnya generasi muda Islam dari kehidupan Islam. Ini juga yang kemudian menjadi penyebab terhentinya roda keilmuan umat Islam. Kesibukan dengan dunia yang nikmat dan indah telah menghanyutkan banyak pemuda muslim ke dalam kemungkaran. Kemudian, mengapa minat dan ghirah pemuda Islam dalam mempelajari dan mendalami agama semakin terkikis?

Inspirasi Pemimpin Muda - 9 Dari sinilah mengapa pada umumnya generasi muda Islam tidak memiliki ketertarikan untuk mempelajari Islam dari hal yang mendasar. Ketika hal-hal mendasar dalam Islam sudah enggan dipelajari oleh pemudanya, sungguh suatu kemenangan yang besar bagi mereka, orang-orang yang membenci Islam. Ya, ketika para pemuda muslim sudah tidak sadar lagi jati diri mereka sebenarnya. Rasulullah saw telah mengabarkan ini semua dengan jelasnya. Beliau bersabda, “Kelak akan datang di akhir zaman segolongan manusia, di mana wajah-wajah mereka adalah wajah manusia, namun hati mereka adalah hati setan; seperti serigala-serigala buas, tidak sedikit pun di hati mereka rasa belas kasihan. Mereka gemar menumpahkan darah dan tidak berhenti dari (melakukan) kekejian. Apabila kamu mengikuti mereka, maka mereka akan memperdaya kamu. Akan tetapi, apabila kamu menghindari mereka, maka mereka akan mencela kamu. Apabila berbicara dengan mereka, mereka akan membohongi kamu. Dan apabila kamu memeberinya kepercayaan, mereka akan mengkhianatinya. Anak kecil mereka jahil, pemuda mereka licik. Sementara yang tua tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar. Mereka itu senantiasa membanggakan diri dalam kehinaan. Dan meminta apa yang ada pada mereka berarti kesusahan. Orang yang santun di tengah mereka adalah sesat, dan orang yang menyuruh kepada perbauatan makruf malah menjadi tertuduh. Orang beriman di kalangan mereka adalah lemah, sedangkan orang fasik menjadi mulia. Sunah di tengah mereka adalah bida’ah, sedangkan bida’ah itu sendiri adalah sunah. Maka ketika itu mereka dikuasai oleh orang-orang paling jahat di antara mereka. Sedangkan orang pilihan apabila ia menyeru, pasti tidak akan dihiraukan.” (Hadis Riwayat Thabrani, Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir)

( Yarabisa Yanuar , Peserta RK Regional 3 Yogyakarta Mahasiswa Teknik Universitas Gadjah Mada angkatan 2014 ) https://www.selasar.com/jurnal/38115/Lihatlah-Indonesia-Lebih-Dekat-Inspirasiku-dari-Tanah-Banggah


10 10 - RK Utama

Sabtu (28/8), Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Din Syamsuddin membawakan orasi kebangsaan pada acara Indonesia Youth Contributor Summit 2018 di Gedung Aula FMIPA UI. Pada orasinya kali ini, Prof. Din, membahas tentang Krisis kepemimpinan yang bermuara pada lemahnya kekuatan masyarakat muslim Indonesia. Islam yang semestinya merupakan agama keadilan, agama kemajuan, dan agama kesaksian tidak terlihat di Indonesia. Hal ini tidak sebanding dengan resources yang dimilikinya, yaitu Quantity of Human Resources, Natural Resources, Value Resources, dan History Resources. Solusi nya ada dua: 1. Self-defense mechanism harus diperkuat. Ini lebih kepada reaksi terhadap suatu masalah. 2. Long-term strategy. Pendekatan2 yang dilakukan mestinya memiliki visi yang jauh. Akhirnya kita bisa memilih antara melakukan transformasi, accelerated revolution, atau maksimalisasi kekuatan. Yang kurang dilakukan adalah maksimalisasi kekuatan, padahal ini tdk membutuhkan usaha yang besar dan waktu yg lama jika dibandingkan dengan 2 pilihan sebelumnya. Sebagai umat muslim, Al-Qur’an sudah memberikan tuntunan untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Iman, hijrah, dan perjuangan adalah kuncinya. Prof. Din menutup orasi kebangsaan untuk Beasiswa Pemimpin Indonesia Rumah Kepemimpinan dengan jargon yg terus dia bawa “Why not be the best?” dan “Because being good is not good enough”. [MREA]


RK Utama11 11

(28/4) Idealisme kami telah menggetarkan jiwa Pak Warsito selama 30 tahun, tidak hanya 22 bulan. Menjaga idealisme itu tidak mudah. Banyak pahit yang akan dirasakan, seperti apa yang dirasakan Pak Warsito. Ikrar idealisme itu seharusnya menjadi perubah, bukan hanya menjadi nyanyian kosong. Dr. Warsito mengatakan bahwasannya RK itu ibarat busur dalam membangun Indonesia, dan anak-anak RK adalah anak panahnya. Pada abad 20 lalu, teknologi yang mengukir sejarah adalah teknologi perminyakan, dimana era industri masih cukup berjaya. Namun sekarang, pada abad 21, hanya dalam 10 tahun teknologi tersebut tergeser oleh teknologi informasi. Sejak tahun 2006/2007, migas dan indostri sudah anjlok/defisit. Bahan bakar migas akan habis pada waktunya, sementara teknologi di Indonesia belum siap untuk menghadapi hal tersebut. Untuk menggerakkan roda ekonomi, hanya dengan inovasi. Idealisme tersebut harus dituangkan dalam bentuk kerja nyata, tidak hanya digelorakan saja. Salah satu idealisme Pak Warsito yang dituangkan dalam bentuk karya nyata adalah ECCT dan ECVT. ECCT menggunakan prinsip dari teknologi layar sentuh kapasitif yang digunakan pada handphone-handphone layar sentuh yang saat ini banyak di pasaran. Alat ini dapat mengetahui aktivitas yang terjadi dalam suatu benda/tempat. Salah satu penggunaan alat ini adalah pengecekan aktivitas reaktor dalam mesin pengebor migas. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas sel kanker. Untuk ECVT, dapat digunakan untuk meluruhkan sel kanker dengan memancarkan sinyal dengan frekuensi tertentu dengan taknik modulasi, yang sesuai dengan frekuensi alami dari sel kanker tersebut, sehingga beresonansi, untuk meluruhkan sel kanker dari tubuh pasien. Selain itu, ada juga ECBS yang dapat menstimulasi sel-sel tubuh yang telah dirusak oleh sel kanker untuk menjadi normal kembali. Dalam riset, yang terpenting adalah pelajari prinsipnya, bukan metodologinya. Dengan mempelajari prinsipnya, metodologi yang digunakan dapat dikembangkan sendiri. Sementara, jika hanya mempelajari metodologinya saja, maka hanya akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang lain.


12 12 - RK Utama

Public Event IYCS telah diadakan pada hari Sabtu, 28 April di gedung B.101 FMIPA Universitas Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Kontribusi Pemuda dalam Menyongsong Era Baru Indonesia�. Pada sesi talkshow tersebut menghadirkan 5 pembicara dan dipandu oleh seorang moderator yang sungguh luar biasa dan sangat menginspirasi. Sesi talkshow tadi dipandu oleh Jiwo Damar A (Waroeng Pintar). Sementara pembicara-pembicaranya berasal dari beraneka ragam latar belakang profesi. Pembicara tersebut adalah : 1. Heni Sri Sundari (Pendiri Agro Edu Jampang) 2. Habibi Yusuf S (Kasubbag Publikasi & Biro Humas Kementerian Perindustrian) 3. Gesa Falugon (Owner Ramesia) 4. Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah Cikal) 5. Refi Kunaefi (CEO Akuo Energy) Main Event IYCS 2018 ini membicarakan bagaimana kontribusi pemuda yang dikaitkan dengan era industrialisasi yang keempat. Dimana para pembicara selalu mengingatkan bahwa yang terpenting atas setiap kontribusi kita adalag dengan membuat perubahan soaial di masyarakat. Dan memang inilah saatnya bagi pemuda untuk segera berkarya karena saat ini sedang mengalami bonus demografi. Karya-karya tersebut disesuaikan dengan bidang-bidang yang sesuai dengan diri kita. Yang perlu diingat bahwa setiap bidang memiliki pola kesuksesannya masing-masing, maka kita memang harus berusaha menemukan polanya. Selain itu, kontribusi yang bisa kita sebagai pemuda lakukan disini semata-mata adalah untuk kebermanfaatan bagi banyak orang. Kontribusi tersebut diharapkan dapat berkolaborasi dan menjadi pemantik gerakan kebaikan-kebaikan yang semakin meluas.


RK Leadership Project - 13


14 - RK Regional

Melibatkan Allah dalam setiap aktivitas Inspirasi Apel Pagi Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

Rumah Kepemimpinan.

Senin (26/03) pukul 6 pagi, berlangsung apel mingguan Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta. Pagi hari itu Devita Olyviana Putri (Mahasiswi Jurusan Biologi FMIPA UI 2014) menjadi pembina pada apel. Apel pagi menjadi agenda wajib untuk memperkuat semangat dan kebersamaan secara formal untuk segenap peserta beasiswa pemimpin Indonesia

Inspirasi Apel dari Devita mengutip surat Al-Insyirah ayat 5-6. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.� Yakinlah bahwa kesulitan itu niscaya, tapi Allah juga telah berjanji bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saat ini, kita semua sedang memasuki fase-fase yang mungkin cukup berat dalam perkuliahan, yaitu skripsi untuk yang sedang berada di semester 8. Namun yakinlah, bahwa kita bisa melewatinya. Begitu juga yang sedang sibuk-sibuknya di organisasi, in syaa Allah kita bisa melaluinya dengan baik. Sesibuk apapun kita, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah selalu melibatkan Allah dalam setiap aktifitas kita.

Peran Muslim dan Warga Negara Dalam Kemajuan Bangsa Dialog Tokoh Regional 3 Yogyakarta Sabtu, (31/03) Rumah Kepemimpinan Yogyakarta mengadakan Dialog Tokoh bersama Laksda. (Purn) Husein Ibrahim membahas tentang peran Muslim dan Warga Negara Dalam kemajuan Bangsa. Karena bahwasannya Allah SWT lebih mencintai mencintai orang-orang yang selalu bekerja keras. Gunakan konsep tersebut karena tugas dan tanggung jawab kita sebagai seorang muslim adalah memang bekerja keras untuk Indonesia. Disampaikan juga oleh pak Hussein bahwa Indonesia Raya, Idealisme, dan Mars adalah gambaran besar tanggung jawab kita baik sebagai muslim dan juga warga negara. RK berusaha memenuhi keduanya demi kemuliaan bangsa dan agama. Terlebih berkaitan dengan kepemimpinan bangsa. Di titik ini kita harus bangun dari tidur. Tak boleh lari dari masalah. Menyadari bahwa peran kita semua sangat besar. Ambil peran di desa dan lingkungan sekitar. Hal yang paling mendasar adalah menjadi pemimpin bagi diri sendiri dengan baik dan benar. Sebab, pemimpin lah yang mengendalikan nahkoda kapal. Kunci dari semua ini adalah peduli dan ikhlas. Nikmati semua proses. Semoga RK mampu memandu masyarakat ke arah yang lebih baik.


RK Regional - 15

Grooming Konteks Kepemimpinan -Ala Kang Nifya-

Dialog Pasca Kampus Regional 2 Bandung Hubungan kepemimpinan dan grooming ialah erat sekali karena pemimpin akan dilihat oleh publik. Sebagai contoh ketika seorang pemimpin tidak berpenampilan secara baik maka akan banyak dicibir oleh masyarakat. Seorang pemimpin harus sadar bahwa berpenampilan itu sangat penting sekali. Tau tempat, waktu, dan kondisi” (Kang Alifya) Begitu salah satu paparan dari Kang Alif Ihya Muhammad jebolan Psikologi Unpad sekaligus Mantan Ketua BPM Unpad 2017, berbagi pengalaman tentang Grooming atau Cara berpenampilan dalam konteks Kepemimpinan. Sharing ini diberikan sebagai rangkaian penguatan peserta Rumah Kepemimpinan menuju Paska Kampus dan Paska Asrama. Selengkapnya, bisa Kita diskusi bersama kembali.

Membaca Itu Nikmat -Bersama bang Adi Wahyu Adji-

Workshop Membaca Itu Nikmat Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung bersama Trainer Review Buku, Bang Adi Wahyu Adji. Workshop ini diselenggarakan spesial di tempat salah satu Tokoh dalam lawatan kami menerima undangannya. Bagi sebagian orang membeli sebuah buku adalah keinginan namun sudah lama belum selesai juga membacanya. Ingin banyak baca buku tetapi berat melakukannya. Ternyata ada “rules” yang dapat di pelajari agar membaca buku bisa lebih efektif.

“Membaca itu ada ilmunya, cuma sayang banyak orang tidak mengetahui, kalah info dengan Ilmu memasak, Ilmu bertani, dan lainnya. Hingga akhirnya membaca menjadi sesuatu yang berat” -Bang Adji. Peserta Rumah Kepemimpinan mendapatkan beberapa tips dasar-dasar membaca cepat (speed reading), strategi 1 minggu tuntas membaca 1 buku, teknik membuat review buku sampai aplikasi yang membantu aktivitas dalam membaca buku.


16 - RK Regional - Galeri Aktifitas


RK Regional - Galeri Aktifitas - 17


18 - Highlight Capaian Peserta


Highlight Capaian Peserta - 19


20 - Highlight Capaian RK Regional

Highlight Capaian Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta

Meraih Prestasi terbaik di ajang SIMPIC 2018 Thailand Hana Fauzyyah Hanifin, salah satu peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta Putri, bersama timnya dari FK UGM mendapat Juara 1 dalam ajang Siriaj International Michrobiology, Parasitology, and Immunology Competition (SIMPIC) 2018 di Thailand. SIMPIC merupakan kompetisi tahunan yang digelar Fakutas Kedokteran Mahidol University untuk mahasiswa. Lomba diikuti tim dari sejumlah universitas di negara dunia. Pada lomba ini seluruh tim berkompetisi untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam bidang mikrobiologi, parasitologi, dan imunologi. Mereka harus melalui empat tahapan seleksi, yaitu penyisihan, perempat final, semifinal, dan final.

3 SRIKANDI MENGIKUTI PROGRAM THE GLOBAL SDG7 CONFERENCE UNITED NATIONS Beberapa waktu lalu 3 peserta Rumah Kepemimpinan Yogyakarta Putri yaitu Lutfiningtyas Maharani, Noviana Nur Sari dan Kinanti Indah Safitri diberikan kesempatan untuk mengikuti The Global SDG 7 Conference United Nation di Bangkok, Thailand. Acara tersebut merupakan agenda konferensi yang menghadirkan beragam stakeholders dari seluruh dunia untuk membahas terkait program SDG 7 Affordable and Clean Energy.

Highlight capaian seluruh peserta Rumah Kepemimpinan bisa dilihat di web : capaian.rumahkepemimpinan.org


Kemitraan - 21

Kunjungan Strategis Rumah Kepemimpinan bersama Rektor IPB Senin (12/03), pukul 10.00 WIB berlangsung Audiensi Rumah Kepemimpinan bersama Rektor IPB. Pada kesempatan yang baik ini Rumah Kepemimpinan diwakili oleh Laksda TNI (Purn) Husein Ibrahim selaku Dewan Penyantun RK, Dr. Ir Abdul Munif (Pembina Reg. 5 Bogor), Fachri Tanjung (Direktur Kemitraan & Fundraising RK), beserta Eksekutif Rumah Kepemimpinan Reg. 5 Bogor.

pembukaan 2 regional baru. Pembahasan berlanjut dengan kolaborasi IPB untuk juga sama-sama mengupayakan adanya asrama Putri Regional 5 Bogor. Tidak luput Ide akan riset yang terintegrasi dalam dunia Pertanian (dalam arti luas) sehingga mampu diimplementasikan pada kehidupan rakyat banyak guna menyokong kemajuan dan kesejahteraan rakyat dari sektor pertanian.

Kehadiran Dewan Penyantun beserta Pengurus RK ini disambut langsung dengan sangat hangat oleh Dr. Arif Satria (Rektor IPB) dan Dr. Ir Drajat Martianto (Warek Bidang Pendidikan & Kemahasiswaan IPB). Dalam silaturrahim dan pertemuan strategis ini rombongan perwakilan RK menyapa dan berdiskusi dengan Rektor IPB dengan suasana yang akrab sekali. Pak Husein Ibrahim membuka obrolan dengan prolog visi-misi Rumah Kepemimpinan dan beberapa rencana strategis Rumah Kepemimpinan di tahun 2018. Beberapa hal yang disampaikan antara lain tentang ajakan untuk bersama-sama membangun RK-RK di tempat-tempat yg lain, memperbanyak duplikat model pembinaan RK di wilayah-wilayah untuk menyokong lahirnya SDM-SDM handal Indonesia, serta

Pa Hussein juga mengajak insitutusi IPB untuk concern dalam menarik alumni-alumni yg sudah sukses untuk urun-rembuk , berkolaborasi bersama dalam membangun IPB sehingga mampu bersaing lebih di kancah internasional. Serta penegasan bahwa SDM-SDM RK khususnya RK Bogor juga siap bersinergi dengan IPB dalam segala aspek guna untuk kemajuan bersama. Rektor IPB ditemani Warek Bidang Pendidikan & kemahasiswaan menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada RK atas kontribusinya telah membina dan mendidik para mahasiswa aktivis dan berprestasi IPB selama ini dan hal ini sangat berdampak positif untuk kemajuan Institusi dan SDM bangsa.


22 - Kemitraan

PKPU Human Initiative dan Rumah Kepemimpinan Siapkan Pemimpin Muda Tanggap Bencana Jakarta, Kerja sama yang digagas oleh Rumah Kepemimpinan (RK) dan Empowering Youth Indonesia - Great Leader Great Nation (EYI-GLGN) semakin memasuki aksi konkrit. Hal ini ditandai dengan pertemuan lanjutan yang diselenggarakan dengan mengikutsertakan beberapa alumni Rumah Kepemimpinan yang berkecimpung di dunia pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini juga mengundang pihak Telkom DBS, sebagai pihak penyedia sistem informasi untuk platform online mudaberdaya.com. Pertemuan ini terselenggara pada hari kamis, tanggal 31 Agustus 2017 di kantor milik Ibu Mirawati selaku co-founder EYI-GLGN. Pertemuan strategis ini membahas secara detail terkait project-project apa saja yang dijalankan oleh alumni-alumni dan peserta RK. Sebagai informasi, bahwa RK berkesempatan sebagai first-comer dalam pembuatan platform mudaberdaya.com ini. Tentunya sebagai first-comer begitu banyak keuntungan yang didapatkan darinya.

Kedepan akan dilakukan beberapa pertemuan rutin untuk mempersiapkan Grand Launching EYI-GLGN ini bersama dengan platform online-nya juga dengan rencana untuk roadshow di beberapa kota di Indonesia. Kedepan kemitraan strategis ini diharapkan menjadi kolaborasi strategis antara tiga elemen, yakni RK, EYI-GLGN, dan alumni RK itu sendiri. Ketiganya akan saling memadukan dan mensinergikan langkah, berbagi jejaring untuk bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Ini semua dilalui untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


RK Alumni - 23

to Agus Rachman rta ka ya Regional 3 Yog Angkatan 3

Amanah dibalik

PASSION Memiliki passion di dunia pendidikan, Agus Rachmanto kini dipercaya untuk mengelola Pusat Studi Qur’an milik keluarga Shihab. Agus Rachmanto dipercaya sebagai General Manager pada lembaga yang didirikan oleh Prof. Quraish Shihab, sejak awal tahun 2017.

Pusat Studi Qur’an (PSQ) adalah satu lembaga pengkaderan da’i-da’i di Indonesia dengan fokus pendidikan pada pengajaran tentang ‘ulumul Qur’an. Diharapkan dari sana tercetak da’i-da’i yang tidak hanya pintar berkhutbah, melainkan juga dalam secara pengetahuan qur’aniyah. Mendapati bahwa dirinya dipercaya sebagai GM di PSQ, Agus pada awalnya merasa ragu atas amanah yang akan diterimanya ini. Secara Agus belum pernah bersinggungan dengan pendidikan qur’an bagi calon da’i. Ini adalah kesempatan pertamanya memegang lembaga yang

bergerak di bidang pendidikan Islam, khususnya pendidikan qur’an bagi para da’i.

Dengan bermodalkan semangat dan passionnya di dunia pendidikan, Agus menjalankan amanah ini dengan penuh keyakinan, bahwa PSQ ini akan menjadi lembaga yang strategis dalam mempersiapkan iron stock da’i-da’i yang capable, berperangai mulia dan mencerminkan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamiin untuk disebar ke seluruh penjuru nusantara. Sebelum memengang amanah di PSQ, Pemuda kelahiran 16 Agustus 1985 di Kebumen ini, sempat terjun di dunia Human Resource (Sumber Daya Manusia (SDM)) dengan beraktivitas sebagai seorang Consultant sebuah lembaga konsultan SDM. Passion di bidang pendidikan dan kepakarannya di dunia SDM, membuat Agus semakin yakin akan transformasi PSQ ke arah yang lebih baik.

Kini, selain aktivitasnya di PSQ, Ayah dari satu orang putri ini juga beberapa kali membantu beberapa komunitas yang bergerak di bidang pendidikan. Sebagai contoh, Kelas Inspirasi yang sebagian besar digagas oleh Pengajar Muda - Alumni Gerakan Indonesia Mengajar, Secara Agus sendiri adalah alumni angkatan pertama Gerakan Indonesia Mengajar. Ini menandakan passion di dunia pendidikan seorang Agus memang sudah terbangun sejak lama. Agus pun juga mengambil inspirasi dan semangat untuk mengkader para da’i-da’i muda berkualitas dari pengalaman beliau yang pernah di tempa di program beasiswa Rumah Kepemimpinan (RK). Agus mengikuti program RK saat duduk di jurusan Ilmu Admninistrasi Negara UGM saat tahun ke-2. Dari sana, nilai-nilai yang diajarkan oleh founding father RK tertanam dalam diri Agus dan merasa perlu untuk beliau bagikan ketempat kontribusi beliau sekarang ini.


24 24 - Kabar Alumni


Laporan Keuangan25- 25


26 26 - Laporan Keuangan


ads27- 27


28

Newsletter Rumah Kepemimpinan Edisi 105  

Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia

Newsletter Rumah Kepemimpinan Edisi 105  

Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia

Advertisement