Page 1


MAKANAN & MANUSIA


Poetry Prairie Literature Journal #8 Makanan sangat esensial bagi manusia karena tanpa makanan maka tak akan ada kehidupan. Perpaduan rasa dari bahan alami dan bumbu-bumbu mampu menggugah kenikmatan lidah manusia, namun dengan kadar yang tak tepat akan mampu menghancurkan manusia. Makanan juga telah berkembang dari kebutuhan paling mendasar menjadi tradisi budaya dalam kehidupan masyarakat serta menjadi gaya hidup yang dibudayakan manusia, sehingga kisah tentang manusia akan selalu terkait erat dengan makanan. Poetry Prairie Literature Journal edisi ke-8 ini mengangkat tema Makanan & Manusia, untuk merangkum cerita keterkaitan manusia dengan makanan serta dinamika kehidupan yang menyertainya. Semoga jurnal puisi ini dapat memberikan kenikmatan dan rasa syukur atas kehidupan yang dianugerahkan kepada kita melalui makanan.

Poetry Prairie Novia (Founder)


MAKANAN & MANUSIA

Poetry Prairie Literature Journal #8 Kumpulan 27 puisi ©Poetry Prairie, 2018

Editor & interior layout: Novia


PUISI PILIHAN PUISI PILIHAN I Umi Laila Sari – Masem Pedes PUISI PILIHAN II Soekoso DM – Dari Gudeg Sampai ke Rendang, Betapa! PUISI PILIHAN III Hida Syifa – Pemasak Batu, Aku dan Tempat Makan


DAFTAR PUISI PILIHAN LAINNYA Azzura Dayana Tertawar Casper Aliandu Sekerat Roti Casper Aliandu Buka Puasa di Warung Nasi Pecel Daviatul Umam Jagung Bakar Deden Hardi Semangkuk Sup Kacang Merah yang Kau Ingat Desma Hariyanti Sate Padang Dhimas Muhammad Yasin Semua Karena Nasi Eunike Mamanua Dua Sisi Eunike Reviana Ersti Putri Jamuan Hidup


I Komang Widiana Asap Sate Imam Budiman Pada Sebuah Sarapan Pagi Saya Termenung di Meja Makan Sebab Kisah di Balik Rasa Lapar yang Tak Usai Diwartakan Imam Budiman Identitas Lidah Bagi Masakan Tak Bertu(h)an Istivano Silir Kevin Alfiarizky Meja Makan Mar’atudzzakiyah Ibu Muhamad Darmawan Nikmat; Pindang Tulang Masakan Bunda Neni Eka Meidiningsih Oh Tidak Nurholis Tekad si Nasi


Nur Jauharah F. Kita Melahap Apa Saja Nur Jauharah F. Ibu Yang Marah Sami’an Adib Cerita Cangkir Kopi di Cafe Gumitir Sami’an Adib Hidangan Terakhir Siti Sarah Nasi Soekoso DM Sewaktu Boga Menjelma Seteru


PUISI PILIHAN I

Umi Laila Sari MASEM PEDES

ikanikan berenang dengan rela menuju pengilar milik lelaki tua yang baru saja melepas keringat usai mantang di pohonpohon kehidupan ikanikan itu kelak menjadi gempita saat tubuh mereka disiangi tangan renta, mafhum bahwa demikian bukti persahabatannya dengan sungai yang bertambah ringkih dilibas toltol luar kota


sepanjang jalan, lelaki tua terus saja meramal nasib ikanikan pada takdir istrinya yang akan meraungraung ketika mendengar bunyi buldoser lalu terbahak meratapi sepanci masem pedes masakannya kian kemari, aroma menguar kian susut menyisa kuah kecut. bawang, laos, cabai, kunyit membusuk dalam timbunan semen dan koral. insang dan belulang ikanikan lumat dalam hikayat lelaki tua menggapaigapai hendak menimang ikanikan namun sungai dengan cepat menutup pintu dan membiarkan lelaki itu pilu

sungairengit, 28022018


PUISI PILIHAN II

Soekoso DM DARI GUDEG SAMPAI KE RENDANG, BETAPA!

betapa jauh perjalanan sejarah dari gudeg sampai rendang dalam legenda tersurat dari bumi mataram sampai minang betapa jauh jarak rumah gadang sampai ke pendopo joglo*) tetapi betapa dekat dalam kitab kuno kisah juang tuanku imam bonjol dan pangeran diponegoro


laukpauk sambal dan serbaneka sayur lambang cinta warisan leluhur betapa panjang petualangan semangkuk bakmi dan pizza adakah sepanjang pengembaraan cheng-ho dan ibn battuta betapa jauh jarak budaya pribumi dan para perantau manca namun betapa dekat keduanya dalam pusaran masa ternyata budaya masakan juga titian persaudaraan bangsa kendati kadang di celahnya terselip duri dalam ketiak tatkala perkenalannya harus lewat bedil, keris dan tombak gudeg dan rendang, bakmi atau burger, kebab atau pizza hanyalah selera, asin-manis lidah-bibir budaya manusia beragam tabiat menyimpan hakikat nalar dan rasa hanya seteguk air kelapa atau kokakola : itulah sejatinya kehidupan di dunia!


(bukan pertanyaan hidup untuk makan atau sebaliknya tapi apakah makna makan bagi keutuhan hidup manusia!)

2018, bumi bagelen *) Joglo : bentuk bangunan tradisional Jawa


PUISI PILIHAN III

Hida Syifa PEMASAK BATU, AKU DAN TEMPAT MAKAN

suatu petang menekuri kisah ibu pemasak batu, mencari penghiburan diri dalam malam kian tiris, berharap ringis sang anak tak berubah menjadi tangis yang panjang ia merayu perut kosong menunggu temaram berubah menjadi terang. tapi, malam kembali enggan untuk cepat beranjak, sebab jenak tak mengubah apa yang ditanak di atas tungku


perih kian melilit, menghadirkan getar pada bibir kering tak lepas dari komat kamit. apa yang bisa ia sajikan di dalam piring kaleng, bunyi yang sama nyaring dengan lapar berteriak tidak sabaran pada pengharapan, ia menghalau desir angin agar membawa sebutir kurma atau sekerat roti. ingin kenyang menyapa anak yang kelaparan, hingga Umar datang menyambut keluhan di suatu ruang, aku menatapi hidangan ruparupa tersusun di atas baki bermotif bunga. namun perih masih saja hadir dalam perut kosong yang tak bisa diisi apa-apa, hanya bisa menatapnya dengan nyalang apa yang harus aku lakukan, jika setiap butir nasi atau sekerat roti tak hendak masuk hanya untuk menyapa lambung yang kian berteriak kesakitan, perihnya sama oleh rasa lapar aku membuat pengandaian, sajian itu menyelinap diamdiam dan berproses dalam pencernaan, seketika akupun kenyang aku dan si ibu pemasak batu berdampingan, menjajari perih karena tak ada makanan terlewat dari kerongkongan


sedangkan di sebuah tempat makan piringpiring berantakan, berhias tumpuk makanan, tak menjelma jadi remah bahkan masih utuh tak jadi dimakan, tersebab soal selera, tak cocok di lidah, berakhir di tempat pembuangan

Ruang Biru, 280218


Azzura Dayana TERTAWAR

Sekelumit hujan menyinggahi tepi jendela perempuan setengah baya yang termangu bersama setumpuk perdu yang disajikan anaknya dari waktu ke waktu. Di meja kecilnya dari kayu angsana tergeletak sajen tanpa pernah ganti rupa layaknya perdu yang kecamuk di dadanya, coba menawar pahit yang bergelimpang di masa rentanya; setumpuk tawar berbahan gandum itu.


Anaknya yang berjumlah dua pergi saat malam belum pulang dan hanya gantungkan ceria bunda pada helai-helai roti tawar yang mengisahkan betapa Barat pikir dan polah ananda. Tawar yang kadang terpanggang dalam oven bermerek, atau semata geletak di piring tanpa retak agar segera berjejalan di lambung bunda. Menawar letih pencernaan yang tak diramahkan lagi kepada butir-butir nasi. Perempuan setengah baya berkecipak perasaannya di palung hati yang laun mendangkal. Sungguhnya pelukan ananda adalah laut paling dalam yang ingin ia selam. Namun nyata mesra hanya terbenam dalam tawar. Tanpa tahu tiada tertawar sedikit jua, walau ujar putri sayangnya, si tawar itu paling lembut di lidah umpama madu. Meski ucap putra jiwanya, harganya julang bak emas sedulang. Sekelumit hujan singgah di tepi kota tua yang udaranya berbau impor. Perempuan itu lambaikan tangan pada mobil mewah dua ananda. Tinggallah ia lagi-lagi bersama pagi dan setumpuk tawar yang paling perdu. Cintanya terbujuk oleh semaian selai nanas, sapuan meises, atau torehan susu sapi mewangi. Pada sepinya yang tak kunjung tertawar.

Kertapati, 25/02/18


Casper Aliandu SEKERAT ROTI

Tuan, aku tahu manusia hidup bukan hanya dari Roti saja. Tapi juga dari sabda sucimu. Namun, saat ini aku sedang lapar. seorang gadis berjilbab polos menawarkanku, bukan sekerat roti tak beragi. Aku menelannya dan membiarkan sabda sucimu membangunkanku saat pagi menjelang.

kletek, 06 Februari 2018


Casper Aliandu BUKA PUASA DI WARUNG NASI PECEL

Selamat Sore, Apakah engkau ingin berbuka puasa? “Aku tak pernah berpuasa dengan namanya ilmu pengetahuan. tetapi aku sangat lapar dengan ilmu pengetahuan.� Mendengar perkataanku itu, seorang petani yang duduk di sebelahku berkata: Jika engkau lapar akan ilmu pengetahuan, engkau harus seperti kacang hijau. Untuk menjadi bibit ilmu pengetahuan, Kacang Hijau yang baik harus direndam. Kacang Hijau yang terapung adalah bibit yang jelek. Kacang Hijau yang tenggelam di dasar wadah


adalah bibit yang baik. “Rendamlah dirimu di wadah pendidikan.” Tapi tak disangka pemilik warung nasi pecel, langsung memotong pembicaraan kami. Jangan takut untuk merendam dirimu lebih lama di wadah pendidikan! Sebab, saat engkau mengendap lebih lama Engkau akan menjadi Taoge. Menjadi Taoge, langsung bisa disantap masyarakat. “Menjadi bibit Kacang Hijau ataupun Taoge adalah pilihanmu.”

Kletek, 06 Februari 2018


Daviatul Umam JAGUNG BAKAR

angin tak berdaya di dekat mulut tenggarang yang rongganya beringas oleh getaran bara jagung-jagung dicempung ke sana seolah-olah kami saksikan pendosa diterjunkan ke ceruk neraka dientaslah kemudian ketika buah kesetiaan tersebut setengah gosong di antara barisan bijinya yang rapat melempar harum ketenteraman yang kuat betapa kami serakah menyantapnya tak kalah serakah dengan mulut api melalap seonggok kayu


tak kalah ganas dengan kerkah waktu atas urat kami saat menanam bebiji itu beberapa bulan lalu sungguh momentum sederhana ini tak dapat ditukar suara dari jauh menyeru kepuasan diri melalui keterasingan diri yang belum pasti seperhatian sapaan asap di ruang beratap sawang ini

Sumenep, 2018


Deden Hardi SEMANGKUK SUP KACANG MERAH YANG KAU INGAT

Jejak verboden musim dingin tuju rerintik mata pahat beliung, rengekan angin menerjang dada Singgahi lidah merawat raut dejavu: teks-teks kecil menyemut di manuskrip menu kala gigil lapar yang suci menderu


Azimat ibu pengingat rapalkan resep ampuh penguar uap, racun muda penyengat Rempah jelata mengancah bau sedap di panci Telusuk buncahan kalah retakan kacang merah Cameo malang melingkup tabah tetelan sapi Debur kuah mengombak kelir pekat dedaunan bawang Suap kecapan jenak masa kecil nan rindang Hangat mengembus pulang di perjamuan petang Sebelum gelap merantau kalang

Bojongsoang, 2018


Desma Hariyanti SATE PADANG

Rempah kaya di perjamuan, Irisan dadu, berpadu Mengunyah pelan, dikuahi pedas-pedas, Ditelan, hmm‌rasa yang khas “ Indak nampak urang nan laluâ€? Begitu senandung didendangkan para pelagu Kelezatan yang membuat abai sekeliling, Pengobat risau sanak rantau Hidangan menambat pada piring berdaun pisang, Mata melebar, senyum mengembang, jiwa benderang


Sate Padang terhidang Berkaca - kaca Mandeh dalam bayangan Memintal doa begitu rapi, dibawa malaikat ke langit - langit Menengok umur nan sudah terlewat Aduhai, banyak nian dosa tercatat Kerut punggung tangan dan dahi Tak kuasa biarkan pinta sembunyi Dipilih-pilihnya kata pada Sang Maha, “ Tuhanku, percayakan aku sekejap saja.� Kemudian beranjak lagi buah tasbih, di bibir dan jemari Senja telah tiba di pangkuan, dan ia belum juga berdiri Sate Padang, habis kuganyang Tiada wajahnya pada ponsel cinta Memang sulit jalin kata pada udara Mungkin tak perlu juga Bersurat pun tak terbaca Hendak bagaimana tanganku menyapa?


Surya tenggelam mengubur para cahaya Dalam letih kuusap namanya yang lara Tak perlu kata - kata, Ia menungguku hingga lini dunia Oh, Bundo kanduang, jika jumpa sekejap suatu ketika Sate Padang lamak nian kubawa Rasa sedap untuk disantap Karena cinta selalu mendekap Kemudian kita ceritakan pada semesta hingga terlelap

Bandarlampung, 2 Maret 2018


Dhimas Muhammad Yasin SEMUA KARENA NASI

Karena sepiring nasi, kebanyakan petani di desa kami rela bangun pagi-pagi berbekal cangkul dan ani-ani serta raut muka pucat pasi semoga sawahnya yang kering di sana sini selamat sampai menuju ke bulir padi Karena sepiring nasi, kebanyakan pemulung di desa kami rela menderita dehidrasi berbekal catut dan karung goni serta bibir pucat tanpa basa-basi


semoga tong-tong sampah yang selalu basi terkandung harta karun untuk menghidupi anak-istri Karena sepiring nasi, kebanyakan tukang becak di desa kami rela tidak mandi berbekal roda dan kursi serta keringat bercucuran membasahi pipi semoga para penumpang masa kini masih sudi untuk datang menaiki Karena sepiring nasi, kebanyakan buruh di desa kami rela dimarah-marahi berbekal baju lusuh dan letupan energi serta ekspresi yang selalu menyeringai semoga beban-beban yang tidak manusiawi menjadi alasan untuk memperoleh gaji Bahkan, hanya karena sepiring nasi, seorang pengusaha di desa kami rela berbuat anarki berbekal pakaian formal dan dasi serta perhiasan yang berwarna-warni semoga burung-burung di langit dan ikan-ikan di kali selalu siap sedia dan penuh toleransi terhadap kiriman asap dan limbah polusi Sukoharjo, Januari 2018 - Maret 2018


Eunike Mamanua DUA SISI

Ingin kumengecap rasa yang membuat candu Dimana berbagai rasa dapat dinikmati Membuat lidah menggelora akan ragamnya rasa yang tersaji Sayang seribu sayang Kenikmatan, serta keanekaragaman rasa tak selalu bisa dinikmati Tertutup penghalang bernama kemampuan Terpisah jarak bernama kasta Terkadang merintih demi sesuap nasi


Sebaliknya, menghamburkan makanan hanya untuk kepuasan duniawi semata Menurutmu, apakah makanan itu berharga? Apakah sesuap nasi yang kadang kau hamburkan itu berharga?


Eunike Reviana Ersti Putri JAMUAN HIDUP

Suapan pertama menyulut nyawa Sendok kedua mengemas sukma Kerongkongan menerima hasrat Lidah menelaah proses sesaat Nikmatnya beraga kuat Melalui padi dan gandum tua Mencungkil bulir karbohidrat Berderai-derai jatuh ditanak sepantasnya Faedahnya mengenyangkan Agaknya penuhlah kantung pencernaan


Dari yang papa bersua pada tuannya Menjajakan urat dan akal sehat Disusui air mata Saling menghirup sengketa Murka pada kelaparan yang teramat Ini gala hidup menghidupi Sebagaimana pokok pangan melayani Esensinya sosok insan manusiawi Jikalau puas sekian kali Sentosanya nafas tak makan hati Demikian, pikunlah sang ironi mati Kotak roti atau nasi hingga akar pati Menafkahi‌ Seturut usia menerka cukup Sejatinya jamuan dan hidup


I Komang Widiana ASAP SATE

Teguk liur terasa nikmat bersama kepulan asap sate yang terhirup Nasi jagung bermain ria di mulut yang terkecup Beradu asmara di antara kebahagiaan sederhana Beralaskan daun dengan untaian semangat hidup Ahh nasinya jadi putih... Berkat sihir ayah semua jadi indah Kami tiada merasa hidup di kubangan sampah Bahkan ukiran beton itu pun tiada berkutik Akibat nikmat ciptaan ibu dari kepulan asap


Dari asap kami berharap Penuh khayal yang sedap Kami belajar dari kaum beratap Bahwa hidup adalah khayalan Olehnya, kami makan asap sate penuh rasa Ah... Ternyata mereka salah Bukan khayalan, tapi sungguh nasinya jadi indah


Imam Budiman PADA SEBUAH SARAPAN PAGI SAYA TERMENUNG DI MEJA MAKAN SEBAB KISAH DI BALIK RASA LAPAR YANG TAK USAI DIWARTAKAN

kita pun termangu, mengingat-bayang, merangkap itikad sembahyang: selain perut kita, perut siapa lagi di luar dapur ini, di atas meja makan harum masakan, di luar jalan sana yang lupa bagaimana cara kenyang. sarapan pagi penuh rasa kantuk dan pertanyaan: berlauk liuk telur dadar yang digoreng di atas dada seorang anak balita terserang demam, ikan teri tumis asam manis --rupa hidup bersimbah tawa dan tangis


beserta guyuran kuah sayur bening yang pernah tumpah di lembah kening. seusai menjalani ritual sarapan pagi yang terkesan membosankan tanpa arti. 23 butir nasi tersisa di telapak piring. lambung sudah sesak tak berjarak. terburu-gesa, kita bergegas merapikan meja makan. kita sungguh mafhum dan mengerti, tak baik menyisakan sisa, sebagaimana hikayat orang-orang lama, nasi-nasi yang dilupakan dan terbuang, kelak akan meratapi dirinya sendiri. "daripada menuju tanah kering, selokan atau gerobak sampah lebih baik antar kami bertamu ke lambung luka orang-orang tak berumah," iba mereka tak usai, sedang telinga kita pekak oleh bising mesin truk pengangkut sampah. sepertinya kita tanpa sadar telah dilupakan dan terpinggirkan dari zaman yang terus bergerak-derak

Ciputat, 2018


Imam Budiman IDENTITAS LIDAH BAGI MASAKAN TAK BERTU[H]AN

datang dan terdampar seorang tubuh dari pulau antah berantah, sebuah piring terbang milik seorang pramusaji handal keturunan arwah Sanji, mengantarkan saya lesat sampai ke sini, ke sebuah lembah di mana lidah saya tersesat dan kehilangan identitas; mana tahu antara rasa kelat murka orang tua yang kehilangan anak dan rasa asin air mata sebab kabar kematian mendadak. lidah saya pandai berbohong dan sembunyi, "makanan enak tak boleh disantap sendiri."


masakan tanpa rempah, lidah saya merajuk. gorengan tanpa renyah, lidah saya mengamuk. namun ibu, setulus waktu --sehalus terigu, memang pandai memeluk dan membujuk. lidah tak berhak menyeleksi, tak berhak menelaah dan mengoreksi, bila kenyang di lumbung lambung merupakan terminal akhir tanpa sisipan atau persinggahan. bukan masalah terjajah gula dan lemak, perut juga sudah lupa cara menyimak : mana kain malu mana tali tamak

Ciputat, 2018


Istivano SILIR

Silir angin merontokkan daun-daun, membawa aroma pindang goreng Aku kangen ibu

Bandulan, Maret 2018


Kevin Alfiarizky MEJA MAKAN

sebelum matang; mereka diremukkan siung bawang berloncatan, cabai-cabai kepedasan dan tangan ibu yang kelewat habis kesal bapak pulang sebelum malam orang-orang menanti kepastian di dapur, adik memastikan mereka cukup kuat berenang matanya tenggelam sedang berantakan sirip-sirip ikan yang mulai matang


segala ruang adalah ketidakpastian di papan persegi panjang mereka bertukar keringat : masam, gurih, pedas dan pahit di sebuah pulau; aku bercerita tentang pasir putih yang menyenangkan dan seekor ikan yang disiram sambal bawang

2018


Mar’atudzzakiyah IBU

Ibu adalah seorang malaikat bukan karena ia putih bercahaya bukan karena ia indah menggelora tapi karena ia yang menemani, dan membentuk kita jadi manusia Sejak masih biru ingatan kita ia telah ada mengisi hati dengan anugerah lembut langsung dari tubuhnya memenuhi kita dengan kasih dan ketenangan


Tumbuh satu gigi kita dan ia mengenalkan pada kita hangat yang diracik dalam mangkuk kecik mengisi relung relung dengan cinta yang tulus Setelah kita pintar membeda rasa Ia padankan apa yang terbaik hanya untuk senyum di pagi hari mengenalkan kita pada surga rasa, biar siap mengecap garam getir kehidupan


Saat kita menapak rumput sekolah pagi pertama ia ada, dengan bekal pertama yang dibuat dengan semangat biar membara dan kuat menghadapi 'dunia nyata' pertama kali Sepuluh longkap, seribu longkap dan tiba saatnya kita merantau, melebarkan sayap selangit dibekali kita dengan masakan berbungkus air mata biar kita tahu rindu itu baik, rindu itu setia Hari demi hari, tapak demi tapak anaknya makin jauh ia selalu setia menunggu dengan yakin bahwa anaknya akan kembali dan begitu anaknya sudah pulang tersentak lelah dan letih dan marah yang meletup dikenalkannya kita pada sup ayam buatan bunda yang membuat marah menguap jadi ikhlas Ibu selalu ada di sana mengajarkan kita tentang rasa yang dicecap lidah dan dikenali hati membuat kita jadi manusia


Muhamad Darmawan NIKMAT; PINDANG TULANG MASAKAN BUNDA

/1/ Alangkah rumitnya kelezatan Mulanya ia berwujud macam-macam Berasal dari gemah ripah kekayaan alam Serai, lengkuas, lada Dan daftar bumbu lain yang kerap Dilafalkan bunda


Butuh ritual dapur Mencampur, menumbuk, mengiris, dan mengaduk Pun upaya rumit lainnya Yang selalu mesra di tangan bunda Tapi, Tanpa kompor dan api Barangkali tidak akan sampai ke meja saji Fabiayyi „ala irobbikuma tukadziban• Alangkah rumit kelezatan Sedang kami hanya menunggu hidangan Di meja makan /2/ Di atas pinggan Terhidang pindang tulang kuah kuning kemerahan Kepulan uapnya menebar harum yang mengundang gairah Rasa gurih telah menyentuh lidah Bahkan belum sempat mencicipnya Sebelum makan Bunda berpesan “Jangan lupa cuci tangan dan berdoa kepada Tuhan”•


Dengan tangan yang masih basah basuhan Dan riuh perut -juga dada- di hadapan pindang Aku berdoa lirih di dalam hati ..Tuhan yang Maha Pengasih, terima kasih atas dua nikmat malam ini• Aku menyantap pindang tulang Dan menatap bunda yang tak pernah kehabisan kasih sayang Palembang, 5 Maret 2017


Neni Eka Meidiningsih OH TIDAK

Lihatlah pola orang-orang memperlakukannya Keji sekali Susah payah diolah Kalau tak sesuai lidah, berujung pula ke tempat sampah Oh seperti itukah sopan santun kalian pada makanan Bukan perkara mereka kenyang atau tidak Kalau saja bangsa palawija bisa bersuara Habis sudah dunia Orang-orang akan takut dan tersiksa Takkan mau menelan sebutir pun nasi dalam tenggorokannya


Kurus kering, bahkan mati kelaparan Sebab apa orang-orang itu ketakutan? Nasi bicara, ayam yang dibunuh massal teriak kesakitan, atau bahkan sapi yang terasa nikmat menggoyang lidah tiba-tiba menegurmu dan berkata, “Apa kau senang? Menghabisi seluruh bagian tubuhku dengan mudah?”• Lalu kau akan melihat babi yang telah mati, menggulung dirinya sendiri yang berlumuran kecap asam manis, “Lihat saja, kau akan semakin nikmat kalau daging ini matang. Dagingku akan sangat lezat jika kau makan bersama sup pedas.”• Dan kerumunan ikan akan menari-nari di atas penggorengan yang menyala, “Lihat aku, aku berenang dalam minyak hangat ini.” “Asal jangan kau buang setelah kumatang.”


Dan para ikan tertawa Atau biji-biji tempe, tahu-tahu yang lembut, dan segala macam sayur-mayur berlarian tak ingin dimasak Katanya takut, orang-orang hanya mempermainkannya saja Berujung kembali ke tempat sampah Begitu seterusnya Lalu, petani di luar sana Yang kesusahan memberikan makan pada anakanaknya Bersedih karena sebutirpun mereka tak mampu membeli

Malang, 09 Maret 2018


Nurholis TEKAD SI NASI

Aku yang rela engkau telanjangi Tinggallah badanku yang putih, halus dan harum Ditanak, disaji dan dinikmati Katamu akulah si primadona, bukan si gandum atau si masrum Aku senang melayanimu, itu tekadku Sekalipun harus berhadapan dengan gerahammu yang keras melumatku Sekalipun harus berhadapan dengan asam lambungmu yang panas meleburku Sariku akan menyusuri pembuluh darahmu


Dari ujung kaki ke ujung kepalamu Menggugah tenaga dan gairahmu Tapi satu sumpahku Jika kutemui diriku di piring-piring kotor dan tong-tong sampah Maka dengar doaku “Semoga aku tak dilahirkan kembali dan bertuan manusia serakah� Barong Tongkok, 4 Februari 2018


Nur Jauharah F. KITA MELAHAP APA SAJA

Setiap pagi, Kau selalu bertanya: Adakah yang lebih merah dari sepotong tomat di piringku, di wajah, di luka-luka semalam yang belum sembuh, di setiap perihal yang rumit untuk kujelaskan. Kau menelanku begitu saja, tanpa rasa bersalah, Lalu pada malam-malam yang panjang, Aku hanya bisa membayangkanmu terbaring lemah seperti sisa daging di piring yang belum dibereskan di meja makan.


Kau mencincang cepat, merebus hingga mendidih, melahap semua yang kau buat. Kau memakan kata-katamu sendiri. Sampai habis.


Nur Jauharah F. IBU YANG MARAH

Tidak ada aroma yang membangunkanmu Burung-burung, bahkan enggan menyapamu Kesalahan yang tidak kunjung kau mintai maaf, akan menjadi satu dan membusuk seperti sisa nasi minggu lalu yang kau diamkan Lengan yang hangat tidak ingin menyapamu Dingin, dan kau kelaparan Tidak, Tidak ada apa-apa untukmu hari ini


Sami’an Adib CERITA CANGKIR KOPI DI CAFE GUMITIR

Seperti deru kendaraan mengasuh resahmu ketika menerobos tanjakan berliku di ujung ruang terbuka cafe Gumitir bergema celoteh seonggok cangkir: Tuangi aku sekali lagi sebab terlalu lama aku diamuk rindu pada bibir luka lelaki pemimpi yang sering mememari malamku


di rembang petang ini lelaki itu datang lagi membawa sisa igauan beberapa malam silam ijinkan aku menyuguhkan sereguk kelezatan paling kopi agar hasratnya tergugah meninggalkan malammalam jahanam tuangi lagi aku terakhir kali mari kita giring lelaki pemimpi ini mengarungi karunia di kegelapan pekat samudera kopi barangkali masih bisa menemukan dermaga ilahi: berlabuhnya segala puji Jember, 2017


Sami’an Adib HIDANGAN TERAKHIR

kerapu bakar kauhidangkan penuh sabar barangkali kelezatan terakhir peredam raung lapar: (episode kenangan paling memar) sebab satu-satunya jala yang kita pakai sudah lenyap tergadai demi utang yang tak tunai-tunai tudung saji yang sedikit koyak serupa nasib kita yang sering terpuruk tersuruk di lapak-lapak para tengkulak yang kerap menanam jasa melena jiwa


kelak di atas dipan menjelma hamparan bara menghanguskan mimpi-mimpi indah kita di atas tikar kita melingkar menikmati kerapu bakar sambil menakar kadar lapar yang tak terpikir kapan berakhir

Jember, 2015-2018


Siti Sarah NASI

Dalam pekat malam Seorang anak lelaki menghisap debu dalam-dalam Lengannya tengadah memeras angin Keterasingan membuat kerontang raganya Berulangkali bibirnya bergetar Lapar Lapar


Matanya nanar dalam gulita Wajahnya pasi Ringkih jiwanya memeluk bumi Sudikah sesuap nasi menolong nyawanya saat ini?

Semarang, 10 Maret 2018


Soekoso DM SEWAKTU BOGA MENJELMA SETERU

(bagilah tiga ruang perutmu, kata nabi nan bijaksana kesatu buat boga, kedua buat air, ketiga buat udara) dahulu boga sahabat buat jasad buat jiwamu padi jagung dan ubi tumbuh berbuah lugas alami gunung biru hutan hijau, makmur di hamparan lembah mataair dan sungai pun alirkan kebeningan murni cermin sejarah peradaban bangsa yang indah


tapi lihatlah kini dengan tajam matabatinmu betapa beragam boga menjelma batalyon seteru tatkala hawa nafsu hewani merasuki jiwa manusia daging sarat minyak ditenggak, tensi pun menanjak segala yang manis dihirup, kadar gula jadi memburuk botol miras terus dilibas, ginjal merapuh tergilas nafkah haram ditelan, jasad-jiwa kian tertekan (ada firman, puasalah kamu bagai yang diwajibkan bagi kaum pendahulu kalian di zaman silam) jangan tuduh sayur terguyur penyubur dan buah bergetah pemerah atau ikan bersantan penyedap buatan tapi tudinglah hasrat laparmu yang terus menjarah demi tegar jiwamu demi bugar jasadmu kendalikan kuda liar di lidahmu singa buas di perutmu agar santapan tak menjelma seteru sebujur waktu (ada bisik bijak tetua, perut yang angkara-murka pun segala yang kelewat batas bakal undang petaka)

2018, bumi bagelen


PROFIL PENULIS PENULIS PILIHAN I Umi Laila Sari. Kelahiran Tanjung Enim pada 12 Maret 1984. Aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Sumsel serta pendiri Rumah Baca AlGhazi Banyuasin. Karya puisinya terbit di media massa juga dimuat pada antologi Dongeng Bersinar (2009), Simfoni Munajad PadaMu (2010), Indonesia Memahami Khalil Gibran (2011) dan Jejak Air Mata (2017). PENULIS PILIHAN II Soekoso DM. Lahir 1949 di Purworejo dalam zodiak Cancer. Mantan Kadin P & K Kabupaten Purworejo 1998-2001. Berpuisi sejak 1970-an di media daerah dan nasional seperti Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Krida, Semangat, Horison. Menang beberapa lomba puisi al. Puisi Antikekerasan (KSI Jakarta, 2001. Antologi Puisi tunggalnya al. Kutang-kutang (1979), Bidakbidak Tergusur (1987), Waswaswaswas, Was! (1996), Decak dan Derak ( 2014) dan Mozaik yang Tercabik (2018). Puisi lainnya terserak di lebih dari 30 antologi puisi campursari di perbagai penerbitan, di antaranya antologi puisi 3 bahasa Equator (2011). Sejumlah puisinya dimusikalisasikan Grup Musik Serambi Bagelen. Sejak 1979 hingga kini menakhodai Komunitas Sastra KOPISISA Purworejo. Saat ini bermukim di Purworejo, Jawa Tengah. Telp. HP. 08122757280 E-mail: soekoso.dm@gmail.com. PENULIS PILIHAN III Hida Syifa. Perempuan yang suka membaca puisi-puisi di buku pelajaran Bahasa Indonesia sejak Sekolah Dasar. Mulai tertarik dalam dunia tulis-menulis ketika di Sekolah Menengah. Menjadikan menulis sebagai bentuk mengekspresikan apa yang tidak bisa disampaikan oleh kata-kata melalui ucapan. Bisa dihubungi melalui Email: hida.syifatr@gmail.com.


PENULIS PILIHAN LAINNYA Azzura Dayana. Novelis kelahiran Palembang yang pernah meraih penghargaan dari IKAPI yakni Buku Fiksi Dewasa Terbaik versi IBF Award 2014 untuk novelnya Altitude 3676 Takhta Mahameru. Ibu rumah tangga dengan dua putrinya Hanin dan Hilyah ini aktif berkegiatan di FLP Sumsel. Interaksi dengannya bisa melalui IG @azzuradayana, atau FB Fanpage: www.facebook.com/azzuradayana.penulis. Carolus Petrus Fernandez Aliandu dengan nama pena Casper Aliandu. Penulis lahir di Kupang–Nusa Tenggara Timur pada tanggal 01 Maret 1991. Puisi-puisinya pernah termuat dalam antologi bersama. Buku kumpulan puisi pertama berjudul Lihat, Dengar & Rasa. Buku kumpulan puisi kedua berjudul SAINS (Sastra Akan Ikut Nafas Sains) (Sains Akan Ikut Naluri Sastra). Sekarang sedang menyelesaikan buku kumpulan puisi ketiga dengan judul Pasar Organik. Dapat dihubungi melalui FB: Casper Sib Aliandoe atau Email : carolusaliandu91@gmail.com. Sekarang berdomisili di Sidoarjo. Daviatul Umam. Lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah antologi bersama: Negeri Awan (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017), Lubang Kata (2017), Tentang Masjid (2017), Mengunyah Geram (2017), Pesan Damai Aisyah, Maria, Zi Xing (2018), dll. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura. Deden Hardi (NP:D. Hardi). Esais di portal-portal opini, wirausaha penikmat sastra, menetap di Bandung. Nomor telepon: 085320425983. E-mail: den_hard@ymail.com.


Dhimas Muhammad Yasin. Lahir pada 6 Februari 1992 di Surabaya. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pernah berpartisipasi dalam Kongres Bahasa Indonesia X. Beberapa artikel ilmiahnya dimuat dalam jurnal-jurnal nasional, salah satunya Artikel “Sastra Kitab sebagai Penguatan Iman: Suatu Kajian Kesastraan dalam Al-Mutawassimīn” yang diterbitkan dalam Jurnal Jumantara oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta (2015). Meraih beberapa penghargaan dalam lomba-lomba puisi, salah satunya Penyair Terpilih pada Lomba Cipta Puisi RUAS ke-4 Indonesia-Malaysia (2017). Beberapa puisinya tergabung dalam Antologi Puisi “Sebuah Riwayat Laila Majnun” (Oase Pustaka, 2017). Saat ini bergiat sebagai editor di penerbitan daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Desma Hariyanti. Lahir di Pugung Raharjo, 11 Desember 1985. Anak kedua dari bapak Muslim Tandjung dan ibu Misrawati Chaniago. Beberapa tulisannya dipublikasikan di: https://tulisankreatif.blogspot.com. Beberapa puisi juga dipublikasikan dalam antologi puisi: Ode Buat Saudaraku ( Kumpulan Puisi untuk Palestina), Ketika Aku Berjalan (Antologi Puisi), Refrain Menjelang Tidur (Antologi Puisi),dan Reuni Kata (Antologi Puisi). Saat ini penulis mengajar di SMPIT Permata Bunda, Islamic Boarding School, Bandarlampung. Eunike Mamanua. Biasa dipanggil Dhea. Seorang gadis 18 tahun yang berasal dari Manado, seorang mahasiswi biasa yang suka menulis puisi tapi baru sekarang berani mempublikasikannya. Ia menulis puisi sebagai luapan perasaan yang sulit untuk dikatakan secara verbal. Amarah, kecewa, tangisan, semuanya ia sembunyikan dalam tulisan berupa puisi.


Eunike Reviana Ersti Putri. Biasa disapa Nike. Kelahiran Yogyakarta, 30 April 1994 bergelar Sarjana Komputer dari sebuah universitas swasta Yogyakarta ini, kini bernaung di Menteng Atas, Jakarta Selatan. Merantau sebagai IT-Analyst di salah satu perusahan pemberitaan Indonesia dan dihidupi hasil kemandirian namun masih dijiwai dengan karsa seni artistiknya. Bersama tulisan terdahulu penulis melangkahi beberapa kebanggaan cipta/baca puisi sejak di bangku sekolah. Puisi mengantar penulis pada keindahan kata. Penulis menerima kritik saran baik itu akun facebook.com/nike.itu.putri, Email: eviitunike@gmail.com ataupun nomor aktif 087775966453. Imam Budiman. Kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S1 di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Tangerang Selatan. Cerpen dan puisinya dimuat di pelbagai media cetak lokal dan nasional. Kumpulan puisi tunggalnya: Perjalanan Seribu Warna (2014), Kampung Halaman (2016) dan Riwayat Gerimis (2017). Kumpulan cerpen tunggalnya: Tok, Kot, Okt (2017). I Komang Widiana. Lahir di Br. Selat Peken, 22 Oktober 1995. Seorang mahasiswa yang mencoba menciptakan dunia yang berbeda dengan menulis. Email: widianakomang8@gmail.com. HP: 085858672622. Istivano. Tidak ada biodata.


Kevin Alfiarizky. Lahir di ibukota Jakarta, tumbuh dan menetap di Surabaya. Beberapa tulisannya pernah dimuat media lokal. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama. Cerpennya terbit secara daring di litera.co.id, langgampustaka.com, dan Lampung Media Online. Cerpennya yang berjudul Surat Kabar Garam terpilih nominasi 15 cerpen terbaik pada Sayembara Bunga Tunjung Biru 2017. Alfiarizky.kevin@gmail.com / 085790975605. Mar’atudzzakiyah. Seorang gadis yang sekarang menuntut ilmu di Kota Hujan. Berasal dari kota tempat Kerajaan Kupu-Kupu, dibesarkan dalam keluarga yang hangat oleh ibu yang terkasih. Lahir dengan selamat delapan belas tahun yang lalu dan hidup hingga hari ini dengan bahagia. Mencintai kopi, teh, susu dan air putih sama banyaknya. Muhamad Darmawan. Penulis adalah seorang pemuda yang terlahir dari keluarga sederhana. Anak ketiga dari lima bersaudara, laki laki semua. Bisa dianggap Arjuna di kisah Mahabarata. Nama lengkap Muhamad Darmawan, namun lebih akrab dipanggil Wawan. Mulai bernafas di Kota Palembang 23 tahun yang lalu. Masa kecil dihabiskan di Pulau Belitong, kemudian seiring perjalanan waktu pindah ke Kota Palembang. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Teknik Sipil Universitas Sriwijaya yang sedang berkutat dengan skripsinya. Penulis saat ini aktif dalam kegiatan sosial di Kota Palembang yaitu Iqro’ Doa Ibu, Ketimbang Ngemis Palembang, Dompet Duafa Volunteer dan Jumat Sedekah Indonesia Chapter Palembang. Penulis bisa dihubungi di akun sosial media Instagram dan Twitter: @muhdarmawan, Facebook: Muhamad Darmawan, No.HP/Line/WA: 0812-6565-509. Email: muhdarmawan1995@gmail.com.


Neni Eka Meidiningsih. Biasa disapa Neni. Perempuan berkulit Jawa asli yang lahir 22 tahun lalu di kota Probolinggo. Sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Teknik Malang dengan konsentrasi di bidang Managemen Komunikasi. Neni bisa dikunjungi di halaman blog pribadinya di watugendhis.blogspot.co.id (Barya Gendhis Baswara) atau secara visual bisa dilihat di akun media sosialnya @namasayaneni (Twitter) dan @neniekamdn (Instagram). Nurholis. Lahir di Samboja, 4 Mei 1990. Seorang buruh tambang yang cinta puisi. Buah karyanya telah dimuat di antologi bersama: The First Drop Of Rain (Banjarbaru Festival 2017), Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi (2017) dan antologi tunggal Kata Di Balik Prisma (2017). Nur Jauharah Fitriani. Seorang perempuan yang diasuh selama 21 tahun: Tumbuh dengan sunyi dan kata-kata ibu, diam-diam menjadi kalimat, dan dibawa ke mana saja. Datang dari pulau yang katanya berbentuk huruf K: Kenangan, Kau, atau apa saja yang membuat terdiam. Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Alumni Sastra Universitas Negeri Jember (Unej). Suka menulis sejak SMA. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Mendekap Langit (Gempita Biostory, Medan, 2013) Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan


Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Ayo Goyang (Ric Karya, Semarang, 2016), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta, 2016), Arus Puisi Sungai (Tuas Media, 2016), Puisi Peduli Hutan (Tuas Media, 2016), Lumbung Puisi IV: Margasatwa Indonesia (2016), Memo Anti Kekerasan terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Ije Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Seberkas Cinta (Nittramaya, Magelang, 2016), Malam-malam Seribu Bulan (FAM Publishing, Kediri, 2016), Surabaya Memory (Petra Press, Surabaya, 2016), Requiem Tiada Henti (Dema IAIN Purwokerto, 2017), Negeri Awan (DNP 7, 2017), Lumbung Puisi V: Rasa Sejati (2017), PMK 6 (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017), Lumbung Puisi VI:Rasa Sejati (2017), Menderas Sampai Siak (2017), Timur Jawa: Balada Tanah Takat (2017), Hikayat Secangkir Robusta (Krakatau Awards 2017), Perjalanan Sunyi (Jurnal Poetry Prairie 2017), Pengampunan (Jurnal Poetry Prairie 2017), Petualangan (Jurnal Poetry Prairie 2017), dan lain-lain. Aktivitas sekarang sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember dan tinggal di Jember. Email : samianadib@ymail.com. HP: 081336453539. Siti Sarah. Lahir di Karawang 10 Agustus 1995. Aktif bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta. Mahasiswi Prodi Muamalah UIN Walisongo Semarang ini juga Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Justisia, PMII Rayon Syariah dan nyantri di Pondok Pesantren Puteri Tahfidzul Quran Tugurejo Tugu Semarang. Penulis sering mengikuti sayembara sastra khususnya puisi dari tingkat provinsi hingga tingkat Nasional dan pernah memenangkan Juara 1 Lomba Cipta Puisi Islam dalam acara POSPENAS (Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Nasional) yang diselenggarakan di Gorontalo tahun 2013. Beberapa karya puisi dan essainya termuat dalam Liksa (Lingkar Kajian Sastra) terbitan Justisia, majalah Justisia dan beberapa puisinya tersebar dalam antologi puisi bersama milik penerbit Oksana, Dasta media, Rasibook, Prasasti Kasih, dan beberapa penerbit lain. Penulis bisa dihubungi di 089656588643 email: sitisarahtumblina@gmail.com.


www.poetryprairie.com

Poetry Prairie Literature Journal #8  
New
Advertisement