Page 1

NO. 42 • TH. 7 • MARET - APRIL 2012

M A J A L A H

P E R U M

P E R H U T A N I

BENAH DIRI

Gelorakan Jiwa Korsa Rimbawan RIMBA UTAMA

Olahan Hutan Yang Mempesona Dunia WARISAN RIMBA

Meneropong Risalah Jati di Gubug Payung WISATA RIMBA

Saat Rehat di Padusan Pacet

Kerja Giat

Sertifikat FSC Dapat


SALAMREDAKSI

Bangkit, Tumbuhkan Jiwa Korsa Rimbawan Penanggung Jawab Bambang Sukmananto Direktur Utama Perum Perhutani

Pemimpin Redaksi Hari Priyanto Wakil Pemimpin Redaksi Susetiyaningsih Sastroprawiro Sekretaris Redaksi Avid Rollick Septiana Redaksi Harian Lusia Diana Maria Dyah Rudi Purnama Ade Sudiman Distribusi Guritno Syafei Perwakilan Humas Perhutani Unit I Jawa Tengah Humas Perhutani Unit II Jawa Timur Humas Perhutani Unit III Jawa Barat & Banten Disain & Layout DUTA RIMBA Art Works

B

angkit.., bangkit.., bangkit! Itulah kata yang saat ini tengah terpancang kuat dalam diri setiap karyawan Perhutani. Ya, saat ini kami tengah

bangkit untuk menjalankan komitmen atas visi perusahaan yang bertekad menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tahun 2002, menjadi momen yang tak ter-

lupakan. Dicabutnya “Certificate of Rain Forest Alliance for Sustainable Forest Management” yang pernah diraih Perhutani pada tahun 1990, ketika itu, menjadi pelecut semangat kami untuk berbenah diri dan meraihnya kembali. Kini, perjuangan kami sejak 2002 silam, menampakkan hasilnya. Pada 2011 lalu, empat KPH telah meraih sertifikat pengelolaan hutan lestari (PHL) dari FSC (Forest Stewardship Council). Hal ini tentu saja menjadi pijakan sukses kami untuk meraih penghargaan serupa bagi seluruh KPH pada 2015 nanti. Pembaca yang budiman, agar komitmen ini menjadi perjuangan bersama, maka pada edisi Maret-April ini, perjalanan panjang Perhutani dalam meraih kembali sertifikat PHL kami hadirkan. Tiada harapan yang kami usung selain tekad bersama untuk mewujudkan visi Perhutani sebagai pengelola hutan

Alamat Redaksi Humas Perhutani Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Senayan Jakarta Pusat Telp: 021 - 5721 282, Fax: 021 - 5733 616 E-mail: redaksi@perumperhutani.com www.perumperhutani.com

han” kepada kita semua, bagaimana sebenarnya jejak langkah perjuangan ini

Naskah & Advertensi

Diri. Pada kesempatan ini Bapak Dirut mengajak kita untuk menyadari betapa

DUTA RIMBA adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan Perum Perhutani untuk berbagi informasi korporasi kepada para pihak. Redaksi menerima tulisan, artikel, naskah, dan fotofoto menarik yang sesuai dengan visi dan misi tema penerbitan DUTA RIMBA edisi berikutnya. Artikel ditulis dengan spasi ganda, maksimal lima halaman dan dikirim melalui e-mail (softcopy). Redaksi berhak melakukan editing sesuai dengan kebutuhan penerbitan. Iklan dan advertorial pada majalah DUTA RIMBA mendapatkan diskon menarik.

lestari di negeri tercinta ini. Dalam wacana ini, kami juga mencoba menghadirkan narasumber-narasumber yang berkompeten untuk memberikan “penceradilakukan. Edisi ini juga menjadi sangat spesial karena Dirut Perum Perhutani, Bapak Bambang Sukmananto turut mengeksplorasi opininya dalam rubrik Benah pentingnya menggelorakan jiwa korsa rimbawan. Di mana jiwa korsa yang bergelora itu akan mengiringi pembentukan SDM-SDM yang memiliki kompetensi tinggi, penguasaan pengetahuan, serta memunculkan paradigma dan pemahaman yang sama. Hal ini penting, terutama dalam menghadapi tantangan di masa depan yang juga kian besar. Pembaca yang budiman, tak lupa kami juga menyuguhkan informasi beragam dan menarik lainnya. Perjalanan tim DUTA RIMBA menelusuri sejumlah Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu (KBMIK) yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur pun membawa cerita yang unik dan menarik. Selain liputan perjalanan wisata ke Padusan Pacet di Lereng Gunung Welirang Mojokerto, kali ini DUTA RIMBA juga menghadirkan liputan Ayam Bakar Mak Gogok di rubrik Rimba Kuliner yang bakal menambah daftar wisata kuliner Anda. Akhirul kalam, kami berharap kehadiran DUTA RIMBA menjadi pelengkap aktifitas, sahabat di setiap kesempatan, sekaligus memotivasi perjuangan Anda untuk melangkah ke arah yang lebih baik. So..., keep fighting for what you want to be tomorrow!!

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 1


DAFTARISI

SALAM REDAKSI BENAH DIRI

1

• Terus Gelorakan Jiwa Korsa Rimbawan

4

PRIMA RIMBA • Breakthrough Project Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari

6

6

RIMBA UTAMA • Bekerja Giat Sertifikat FSC Dapat • Jalan Panjang Pengelolaan HutanLestari • Dampak Positif Mulai Menggeliat di China • Pelan Tapi Pasti Kayu Bersertifikat Tembus Eropa • Ekspor Gum Rosin, Harapan Baru dari Negeri Matahari Terbit • Kerjasama Perhutani – NFCF Korea Selatan, Wujudkan Green Energy Melalui Hutan Rakyat • Belajar dari Jawa Tengah Merebut Kembali Kejayaan Masa Lampau • Ismoyo, Manager Program Hutan Tanaman di TFT Indonesia • Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

SOSOK RIMBA • Handoko, Pendiri Omahtani WARISAN RIMBA • Meneropong Risalah Jati di Gubug Payung

LINTAS RIMBA LENSA OPINI • Setelah PHL, Lalu?

10 14 16 20

44

22 24 28 32 34 40

58

44 50 58 64

ENSIKLO RIMBA • Kayu Jati Tampilan Menawan Dari Sang Primadona

66

RIMBA DAYA • Lumbung Desa

70

BISNIS RIMBA • Olahan Hutan Mempesona Dunia

74

WISATA RIMBA • Saat Rehat di Padusan Pacet

74

82

INOVASI • Jati Plus Perhutani

88

RIMBA KULINER • Ayam Bakar Mak Gogok

2 DUTA Rimba

92

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


POSRIMBA Penelitian

Nama Latin

Saya mohon ijinuntuk dapat mengadakan penelitian untuk keperluan tesis tentang prosesproduksi, operasi & pemasaran perbenihan tanaman hutan di Perum PerhutaniUnit II Jawa Timur. Syarat-syarat apa yg harus saya penuhi agar dapatmelakukan penelitian di tempat tsb.

Mohon infonya untuk istilah atau nama latin dari beberapa kayu yang ada di Indonesia untuk bahan dasar pembuatan mebel. 1. Kayu Sengon 2. Kayu Sono 3. Kayu Gempol 4. Kayu Kluwih 5. Kayu Melinjo

BudiM<budimaya05@xxxxx.com>

Saudara dapat mengirimkan surat ijin penelitian dilampiri proposal kepada: Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Perum Perhutani. Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lt. 10 Jl. Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta Pusat.

Usaha Produktif Pelestarian hutan sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup,akan tetapi kehidupanmasyarakat Desa hutan tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan.Tolong fasilitasi kami untuk pengembangan budidaya Gaharu sebagai solusi: 1. Pelestarian Hutan 2. Pelestarian tanaman langka 3. Peningkatan ekonomi kerakyatan G.mulyadi <thotmulya@xxxxx.com>

Kami bersama masyarakat desa hutan telah mengembangkan berbagai komoditi/tanaman yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi untuk membantu kesejahteraan mereka.Demikian pula dengan gaharu, apabila Saudara memiliki teknologi budidayanya, bisa mengajukan ijin kerjasamapada Administratur/KKPH setempat.

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

Ipunk Poernomotecxis_ propindo@xxxxx.co.id

Sengon Sono Gempol Kluwih Melinjo

: Parasirianthesfalcataria : Dalbergialatifolia : Naucleapurpurascens : Artocarpuscamansi : Gnetumgnemon

Pemanfaatan Lahan Bawah Tegakan Mohon informasinya mengenai: 1. Prosedur dan syarat apabila mau memanfaatkan potensi lahan yang ada di bawahtegakan jati KU III ke atas untuk pengembangan jenis umbi-umbian/pala kependemsebagi sumber karbohidrat alternatif. 2. Berapa besar alokasi dana CSR untuk setiap kelompok tani/desa dan bagaimanapertimbangannya untuk memperolehnya. 3. Apakah di Perhutani juga dapat membeli kayu dari hasil kebun/ pekarangan masyarakat? Sugiyarso <sugiyarso66@xxxxx.com>

1. Untuk pemanfaatan lahan di bawah tegakan Saudara bisa mengajukan ijin kerjasama kepada Perum Perhutani. Syaratnya harus melibatkan/bekerjasama dengan LMDH setempat. 2. Kami tidak mengalokasikan dana per desa. Tetapi masing-masing desa yang sudah bekerjasama PHBM dengan Perhutani berhak

memperoleh sharing/bagi hasil dari manfaat hasil hutan yang dihasilkan sesuai aturan-aturan yang disepakati. 3. Kami memiliki unit usaha trading kayu rakyat yang membeli/ menjual kayu dari luar kawasan. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut Saudara dapat menghubungi KPH terdekat dengan lokasi.

Pemakaian Lahan Tidak Produktif Berkenaan dengan pertemuan seluruh manajemen pabrik gula se-Indonesia di Surabaya, salah satu kendala utama dari meruginya/ kesulitan pabrik gula yaitu lahan yang tersedia. Usul saya: Perhutani sebaiknya menyewakan lahan yang nganggur atau tidak produktif kepada pabrik gula. Contoh kasus di daerah saya di Ngawi lahan Perhutani yang ditanami jati tidak pernah tumbuh besar, karena selalu dicuri oleh orang-orang dari desa sekitar. Alangkah baiknya kalau lahan-lahan ini disewakan ke pabrik gula sebagai lahan penanaman tebu. Perhutani untung, pabik gula juga untung karena tidak memikirkan lahan lagi. yusak totok <yus4k_totok@xxxxx. com>

Terima kasih atas usulannya. Perlu diketahui, bahwa dalam pengelolaan hutan, ada kaidah-kaidah yang harus dipatuhi, sehingga tidak hanya mengejar fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi ekologis dan sosial secara seimbang. Pemanfaatan kawasan hutan untuk budidaya non pohon bisa jadi lebih menguntungkan secara ekonomis, tetapi umumnya tidak memenuhi unsur-unsur kelestarian ekologis-nya. Untuk itu perlu pengkajian yang mendalam mengenai ini.

DUTA Rimba 3


BENAHDIRI

Terus Gelorakan Jiwa Korsa Rimbawan Apa yang membuat Alexander dapat begitu superior dan di usia muda telah mampu menjadi salah satu sosok penting dalam sejarah? Ada motivasi yang sangat besar di dalam dirinya. Ada kesungguhan. Motivasi besar itu kemudian menyulut bara semangat di dalam jiwanya, dan semangat itu tertular ke jiwa seluruh anggota pasukannya. Sehingga, mereka pantang menyerah dan tidak menjadikan kelaparan, kehausan, dan penyakit yang mereka hadapi dalam perjalanan mereka sebagai sebuah negeri, sebagai halangan. Layaknya pelaut yang tidak pernah gentar menembus badai dan ombak ganas yang menghadang perjalanannya di tengah samudra, namun sebaliknya justeru menjadikan ombak badai yang begitu ganas dan setiap saat akan meluluhlantakkan perahunya itu sebagai sahabat. Dok. HUmas PHT

Di dalam konteks yang berbeda, di bidang kehutanan, semangat dan motivasi besar itu mewujud ke dalam jiwa korsa rimbawan. Korsa merupakan sesuatu yang akan membangkitkan etos kerja sehingga memicu produktivitas dan profesionalitas menuju ke peningkatan kinerja yang optimal. Bambang Sukmananto Direktur Utama Perum Perhutani

S

Jiwa korsa rimbawan bukan saja memunculkan kesungguhan dalam menjalani rutinitas pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian di antara sesama rimbawan. Satu hal yang patut menjadi perhatian kita semua,

ejarah mencatat Alexander III of Macedon dengan

belakangan ini korsa rimbawan seakan terdegradasi. Turun

tinta khusus. Alexander yang lebih dikenal

peringkat. Hal ini bukan sekadar karena kondisi di internal

sebagai Alexander the Great atau Alexander

rimbawan, yaitu menurunnya motivasi dan semangat. Tetapi

(yang) Agung adalah seorang penakluk atau

merupakan gejala umum di tengah masyarakat kita. Seiring

warrior yang diakui di seluruh dunia sebagai

dengan globalisasi dan bergeloranya semangat demokrasi,

salah satu pemimpin militer terjenius sepanjang masa. Padahal, negerinya yaitu Makedonia – di bagian utara Yunani

jiwa-jiwa individual justeru semakin mengemuka. Di dalam konteks yang lebih luas, hal itu memperlihatkan

– bukanlah negeri sebesar Persia, Mesir, atau India. Namun,

betapa nasionalisme sudah menurun. Jika kita melihat lebih

keberhasilannya justeru menjadi inspirasi bagi penakluk-

dalam, terlihat ada degradasi iman di sana. Hal itu membuat

penakluk lain semisal Hannibal, Pompey, Julius Caesar, dan

kepedulian di antara rimbawan dengan rimbawan juga

Napoleon.

semakin berkurang.

Perjalanan Alexander yang sangat singkat (356 – 323 SM)

Dampak yang ditimbulkan oleh kondisi itu tentu cukup

tak memengaruhi langkahnya untuk menorehkan catatan

besar pada pelaksanaan program kerja yang telah kita

sejarah yang cemerlang. Dengan kudanya yang juga terkenal

canangkan. Sebab, harus disadari bahwa membangun hutan

bernama Bucephalus dan pasukannya yang gagah berani dan

membutuhkan sinergi. Dimulai dari kegiatan menanam, lalu

pantang menyerah, di masa pemerintahannya Alexander yang

merawat, hingga membangun hutan. Semua membutuhkan

masih berusia muda itu mampu membawa Makedonia yang

kesadaran akan pentingnya sinergi.

semula hanyalah kerajaan kecil menjadi negeri adikuasa di

Mengapa? Sebab, personel yang melakukan ragam

zamannya. Ia menaklukkan sebagian besar wilayah Asia dan

kegiatan itu dapat saja datang dan pergi. Ketika mereka

Afrika, termasuk Mesir, Persia, dan India. Hal itu menunjukkan

pergi di saat pohon-pohon yang ditanam masih muda, maka

kepiawaiannya dalam konteks geopolitik yang sangat besar.

personel yang menggantikan merekalah yang kemudian

4 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


meneruskan pekerjaan merawat pohon-pohon itu hingga tumbuh menjadi besar dan membentuk hutan yang suatu saat

Hal yang harus diperhatikan dalam membangun jiwa korsa yang optimal dan menumbuhkan kinerja yang mumpuni adalah pentingnya kepemimpinan (leadership), soliditas tim,

akan dipanen. Jika tidak ada kepedulian, maka personel yang kemudian

juga memastikan agar semua SDM mengerti apa yang harus

datang untuk menggantikan personel penanam pohohn

dilakukan. Untuk mewujudkan semua itu, diperlukan koordinasi,

itu tidak akan memiliki rasa memiliki. Ujung-ujungnya,

komunikasi, serta efektivitas dan efisiensi anggaran.

mereka merasa tidak perlu bertanggungjawab untuk membesar pohon-pohon itu, karena toh bukan mereka

Di dalam konteks manajemen dan bisnis, apa yang dicontohkan Alexander the Great – apapun ideologi dan

yang menanamnya. Inilah yang harus kita perhatikan betul-

keyakinannya – dapat kita cermati. Alexander senyatanya telah

betul. Adanya kesadaran yang tinggi akan menumbuhkan

menjadi sosok yang mampu menyatukan seluruh unsur-unsur

kepedulian, dan kepedulian akan memicu rasa memiliki, yang

pendukungnya sehingga bergerak sebagai satu kesatuan

pada akhirnya memunculkan rasa tanggung jawab yang besar

sistem yang apik. Itu menunjukkan koordinasi yang baik.

untuk menjaganya.

Pasukan yang ia pimpin juga telah menunjukkan kesungguhan

Untuk membangun semua itu tentulah membutuhkan

dan memegang teguh komitmen untuk menjalankan apa yang

waktu, hati, dan persatuan di antara seluruh rimbawan.

mejadi tugasnya. Hal itu menunjukkan dedikasi dan kepedulian.

Kuncinya di motivasi. Motivasi bahwa semua itu merupakan

Semua itu menjadi satu dan membentuk sebuah sinergi dari

tanggung jawab setiap personel harus terus menerus dipupuk

seluruh sumber daya yang ada dan membuat seluruh sumber

dan dikembangkan. Sehingga, tumbuh empati di dalam diri

daya yang ada itu bergerak bersama-sama dalam sebuah

setiap personel rimbawan, bahwa semua pekerjaan ini adalah

proses kerja sama yang padu untuk mencapai suatu tujuan

juga bagian dari ibadah.

(goal) yang sama, yang dalam konteks Alexander bermakna

Hal itu akan berdampak pada kejujuran sang rimbawan. Dan setiap bentuk sikap jujur yang ditunjukkan pada rimbawan akan membawa pengaruh pada efisiensi biaya. Maka, apapun ideologi dan keyakinannya, Jiwa korsa yang tertanam dengan baik di dalam setiap personel rimbawan juga akan membuat semua rimbawan akan merasa sebagai bagian dari sebuah sistem besar pengelolaan

menjadikan negeri dan bangsa mereka besar. Itulah makna teamwork. Kita harus menyadari betapa pentingnya untuk terus

Apapun ideologi dan keyakinannya, Jiwa korsa yang tertanam dengan baik di dalam setiap personel rimbawan juga akan membuat semua rimbawan akan merasa sebagai bagian dari sebuah sistem besar pengelolaan hutan.

hutan, bukan sekadar sebuah

menggelorakan jiwa korsa rimbawan. Jiwa korsa yang bergelora itu akan mengiringi pembentukan SDM-SDM yang memiliki kompetensi tinggi, penguasaan pengetahuan, serta memunculkan paradigma dan pemahaman yang sama. Hal ini penting,

sekrup kecil yang hanya menempel di dalam sebuah rangkaian

terutama dalam menghadapi tantangan di masa depan yang

komponen mesin. Sebab, sebuah sistem adalah suatu kesatuan

juga kian besar.

yang terdiri dari banyak komponen dan semua komponen

Bagaimana memulainya? Mulai dari diri sendiri. Sedikit

itu saling berhubungan, sehingga gangguan pada satu

demi sedikit, mari kita tumbuhkan selalu motivasi agar selalu

komponen akan mengakibatkan gangguan pada komponen

meningkatkan performa menjadi semakin baik dari hari ke hari.

yang lain, dan membuat sistem itu secara keseluruhan menjadi

Dan hal itu harus dilakukan dengan konsisten. Sehingga pada

berjalan tidak seimbang. Artinya, tidak masalah di manapun

akhirnya akan membentuk sebuah karakter atau watak yang

posisinya, semua personel rimbawan yang memiliki jiwa korsa

mengiringi setiap langkah kita.

akan merasa sebagai bagian dari sebuah sistem yang juga

Watak atau karakter ini juga merupakan satu hal yang

bertanggungjawab menjaga keseluruhan sistem itu agar dapat

perlu diperhatikan. Sebab, watak adalah hal yang paling

berjalan dengan baik.

berpengaruh dalam jiwa yang penuh kepedulian dan

Hal itu juga perlu diwujudkan dalam upaya kita memenuhi standard sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council).

tanggungjawab seperti yang telah saya sebutkan di atas. Betapa pentingnya watak yang kuat ini tercermin dari

Sertifikasi ini memberikan kepastian kepada pasar bahwa

ucapan seorang inspirator dari Amerika Serikat, Billy Graham.

produk itu diakui berasal dari hutan yang lestari. Saat ini

“When wealth is lost, nothing is lost. When health is lost,

ada 4 KPH yang telah memenuhi standard sertifikasi FSC.

something is lost. When character is lost, everything is lost”.

Kita upayakan agar di tahun ini jumlah itu akan bertambah

JJika kekayaan hilang, sesungguhnya tidak ada yang hilang.

sehingga target kita dapat tercapai, agar di tahun 2015 seluruh

Jika kesehatan hilang, maka ada sesuatu yang hilang. Tetapi

KPH telah memenuhi sertifikasi FSC tersebut.

jika watak hilang, semuanya menjadi hilang..•

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 5


6 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


PRIMARIMBA Breakthrough Project

Sertifikasi

Pengelolaan

Hutan Lestari Pengelolaan hutan lestari, telah menjadi isu global. Hampir semua negara yang memiliki hutan tak bisa terbebas dari isu tersebut.

shock@Photoxpress.com

U

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

ntuk memformulasikan isu pengelolaan hutan lestari secara global, dibentuklah Forest Stewardship Council (FSC) untuk menetapkan standar prinsip dan kreteria pengelolaan hutan lestari. Standar tersebut pada umumya pengatur bagaimana pengelolaan hutan lestari itu harus memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan secara simultan. Perhutani sebagai salah satu perusahaan yang mengelola hutan di Pulau Jawa dan Madura, dalam mengelola hutan tak bisa lepas dari ketentuan global tersebut. Sebagai bagian dari hutan dunia, pengelolaan hutan di Pulau Jawa dan Madura harus bisa menjamin keberlanjutan fungsi sumber daya hutan dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang. Dalam pengelolaan hutan lestari, pada tahun 1990 Perhutani merupakan perusahaan pertama di dunia yang mendapat pengakuan internasional dengan penghargaan “Certificate of Rain Forest Alliance for Sustainable

DUTA Rimba 7


PRIMARIMBA Forest Management” dari Smartwood Forest Alliance Amerika untuk seluruh kawasan hutan Perhutani di Jawa dan Madura. Pada tahun 2002 sertifikat tersebut dicabut, menyusul adanya penjarahan hutan pasca reformasi, di mana Perhutani kehilangan hutan 500 ribu Ha dari total 2.4 juta Ha. Namun sebagai bagian dari hutan dunia, Perhutani berkomitmen untuk melakukan sertifikasi ulang. Berdasarkan visi perusahaan, manajemen Perhutani berkomitken untuk memperoleh kembali sertifikasi pengelolaan hutan lestari standar FSC untuk 57 KPH pada tahun 2015. Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut, Perhutani membentuk Kelompok Kerja Sertifikasi berdasarkan Keputusan Direksi No 614/Kpts/Dir/2002 pada September 2002 dan dikuatkan dengan Keputusan Direksi Nomor 430/Kpts/Dir/2003. Kelompok kerja ini melakukan fasilitasi dan pendampingan untuk proses sertifikasi di lapangan. Selain itu sebuah struktur organisasi Biro Pengelolaan Hutan Lestari di bentuk di kantor pusat, kantor unit kerja dan kantor KPH untuk meningkatkan tangung jawab dan komitmen. Hasil dari kelompok kerja dan Biro Pengelolaan Hutan Lestari itu mulai membuahkan hasil. Empat dari 57 KPH dinyatakan telah memperoleh kembali sertifikat pengelolaan hutan lestari standar FSC. Keempat hutan KPH tersebut; Kendal, Kebonharjo, Cepu, dan Randublatung. Memang tidak mudah untuk mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan lestari. Setidaknya ada sepuluh prinsip yang harus dilaksanakan oleh masing-masing KPH untuk mendapatkan sertifikasi. Antara lain prinsip ketaatan terhadap hukum dan prinsip FSC, hak tenure dan hak guna serta tanggung

8 DUTA Rimba

jawab, hak masyarakat adat/lokal, hubungan masyarakat dan hakhak pekerja, manfaat dari hutan, dampak pada lingkungan hidup, rencana pengelolaan, monotoring dan evaluasi, kawasan hutan dengan konservasi tinggi dan hutan tanaman. Dari setiap prinsip tersebut terdapat beberapa kriteria, sehingga bila ditotal ada 10 prinsip dan 56 kreteria. Beratnya untuk meraih sertifikasi pengelolaan hutan lestari ini diakui oleh Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perum Perhutani. Dari empat KPH yang mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari standar

FSC, setidaknya membutuhkan waktu tujuh tahun untuk bisa lolos dari penilaian sebuah tim hingga mengantongi sertifikat. KPH Kendal dan Kebonharjo Unit I Jawa Tengah merintis untuk mendapatkan sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari standar FSC sejak tahun 2005, dengan dibantu The Forest Trust (TFT). Pada 2006 dilakukan pra penilaian utama oleh Woodmark Soil Association, tapi baru pada tahun 2011, sertifikasi itu dikeluarkan oleh lembaga dunia tersebut. Ada banyak etape penilaian secara detail dilakukan oleh lembaga

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Manfred Mielke@forestyimages.org

Perjuangan dan pengorbanan yang panjang untuk meraih sertifikasi pengelolaan hutan lestari, memang tidaklah sia-sia. Produk kayu olahan dari hutan Perhutani yang telah mendapat sertifikasi pengelolaan hutan lestari mulai menerobos pasar internasional. NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

tersebut untuk menentukan sebuah KPH bisa diberikan sertifikat PHL standar FSC. Benar memang jalan terjal dan panjang yang harus dilewati oleh KPH untuk mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan lestari. Mulai dari penilaian, dan verifikasi di lapangan membutuhkan waktu yang cukup lama. Di sini proses pembelajaran yang bisa dipetik, bahwa untuk mendapatkan sertifikasi tak hanya dibutuhkan keuletan dan ketelitian, tetapi juga kesabaran dan komitmen yang kuat, sebagaimana prinsipprinsip pengelolaan hutan yang

benar dan berkesinambungan. Perjuangan dan pengorbanan yang panjang untuk meraih sertifikasi pengelolaan hutan lestari, memang tidaklah sia-sia. Produk kayu olahan dari hutan Perhutani yang telah mendapat sertifikasi pengelolaan hutan lestari mulai menerobos pasar internasional. Selain China, produk kayu olahan Perhutani telah masuk ke Denmark. Sebuah sinyal yang tentu sangat positif bagi kinerja korporasi ke depan. Dengan masuk ke Denmark, ini bisa menjadi pintu masuk kayu dan kayu olahan Perhutani ke pasar Eropa yang cukup potensial. Dengan produk-produk kayu olahan Perhutani bisa masuk ke pasar-pasar utama dunia seperti Eropa dan Amerika, bukan tidak mungkin, perusahaan pelat merah ini bisa menggenjot kinerjanya lebih kencang lagi ke depan. Melalui potensi sumber daya alam yang ada, transformasi Perhutani bisa mengikuti langkah Pelindo II, dalam mendongkrak kinerjanya. Untuk mendongkrak kinerjanya, Pelindo II tak harus memulai dengan investasi yang besar. Mereka hanya mengoptimalkan potensi yang ada. Bila operasi pelabuhan hanya selama 12 jam sehari, kini diubah menjadi 24 jam dalam sehari. Dari optimalisai jam kerja ini, pendapatan Pelindo bisa dua kali lipat dibanding waktu jam kerja masih 12 jam. Dalam versi lain, Perhutani yang memiliki sumber daya alam cukup melimpah terhampar di hutan pulau Jawa dan Madura, kiranya bila dioptimalkan dengan berbagai kreativitas tinggi akan bisa mendongkrak kinerjanya. Komitmen untuk meraih kembali sertifikasi pengelolan hutan lestari, kiranya bisa dipandang sebagai Breakthrough Project untuk meraih pangsa pasar produk hutan di mancanegara. • DR

DUTA Rimba 9


RIMBAUTAMA

Bekerja Giat

Sertifikat FSC Dapat Dari Kawasan Kota Santri, Jombang Jawa Timur, pertengahan April, sejarah seakan kembali tertoreh. Ekspor perdana lantai kayu jati Perhutani yang berlabel FSC (Forest Stewarrdship Council) ke Denmark dilepas oleh Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto.

E

kspor perdana ini menandai era baru ekspor kayu jati yang telah memenuhi standar internasional. Dengan memiliki label FSC, kayu jati Perhutani akan bebas masuk ke pasar Eropa dan Amerika, sebagai pasar terbesar kayu dunia.

10 DUTA Rimba

Keberhasilan ekspor perdana kayu jati berlabel FSC ini bila ditelisik lebih jauh sesungguhnya merupakan momentum awal dari sekian panjang perjalanan Perhutani untuk meraih sertifikat FSC. Pencapaian sertifikasi FSC merupakan refleksi dari kerja keras seluruh insan Perhutani khususnya di daerah

dalam mewujudkan komitmen untuk melakukan pengelolaan hutan secara lestari. Spesifikasi untuk mendapatkan sertifikat FSC, kawasan hutan harus dikelola dengan cara ramah lingkungan. Masyaraskat juga harus dilibatkan dalam pengawasan dan pengamanan tidak diperbolehkan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. HUmas PHT

menggunakan senjata. Sehingga untuk mendapatkan sertifikasi ini membutuhkan sebuah proses yang panjang. “Butuh waktu tujuh tahun untuk bisa mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan lestari (PHL) tersebut,” tegas Bambang Sukmananto. Bila tidak kerja keras, rasanya

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

tidak mungkin sebuah KPH bisa mendapatkan sertifikasi PHL. Selain membutuhkan waktu panjang, tidak langsung semua kawasan hutan yang dimiliki Perhutani bisa mendapatkan sertitikasi. Dari 57 KPH yang tersebar di Pulau Jawa dan Madura, baru 4 KPH yang mendapat Sertifikat FSC, yaitu KPH Kebonharjo,

KPH Kendal, KPH Cepu dan KPH Randublatung di Jawa Tengah. Sertifikasi PHL ini memiliki arti strategis bagi bisnis hutan. Sertifikasi ini menjadi prasayarat utama untuk bisa ekspor ke kawasan Eropa. “Jika tidak memiliki sertifikasi tersebut hasil hutan dianggap belum memenuhi syarat untuk ekspor

DUTA Rimba 11


RIMBAUTAMA Amerika Serikat untuk seluruh kawasan hutan Perhutani Jawa dan Madura. Tahun 1994 Smartwood memperbarui sertifikasi pengelolaan hutan lestari (PHL) untuk seluruh wilayah kerja Perhutani. PHL berdasarkan prinsip dan standar FSC yang baru, penilaian untuk sertifikasi hutan harus dilakukan pada setiap

KPH Kendal Unit I Jawa Tengah, KPH Madiun dan Lawu Unit II Jawa Timur, Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu Cepu dan Brumbung. Namun seiring dengan proses transformasi yang bergulir pada tahun 1988, penjarahan besarbesaran terhadap kekayaan hutan juga terjadi di Jawa, sehingga KPH-KPH yang telah memiliki

jauh sebelum kawasan hutan di dunia mendapatkan sertifikasi. Paa tahun 1990, pengelolaan hutan di Perhutani telah sesuai dengan prinsip pengelolaan hutan lestari internasional. Berdasarkan prinsip tersebut, Perhutani merupakan perusahaan pertama di dunia yang mendapat pengakuan internasional dengan penghargaan “Certificate of Rain Forest Alliance for Sustainable Forest Managrement” dari Smartwood Rain Forest Allliance

KPH. Bila Perhutani memiliki 57 KPH, maka sertifikasi FSC itu penilaian dan hasilnya juga diberlakukan kepada 57 KPH. Atas kebijakan baru Smartwood tersebut, sejumlah KPH yang mendapat sertifikasi hutan lestari antara lain KPH Kebonharjo, Cepu, dan Mantingan Unit I Jawa Tengah (1987). Mereka mendapatkan sertifikat PHL standar FSC dengan Nomor Sertifikat SW-FM-COC-053. Kemudian pada tahun 2000 disusul

sertifikasi tersebut tak mampu mempertahankan prinsip dan standar FSC. Setidaknya 500 ribu hutan di Jawa dan Madura rusak karena dijarah. Berdasarkan fakta tersebut sertifikasi PHL FSC untuk enam KPH ditangguhkan oleh Smartwood pada 2001, untuk kemudian pada tahun 2002 sertifikat untuk 6 KPH dicabut oleh Smartwood. “Ya inilah realitas sejarah yang harus dilewati oleh Perhutani, untuk melangkah ke

Dok. HUmas PHT

ke pasar internasional,” tambah Bambang. Dari gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Perhutani sangat serius untuk mendapatkan sertifikasi PHL. Potensi untuk mendapatkan sertifikasi sangat besar, mengingat Perhutani telah memiliki pengalaman untuk mendapatkan sertifikasi hutan lestari

12 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


depan. Kita harus belajar dari sejarah ini,” ujar Lies Bahunta, staf Perhutani di Jawa Barat.

Perhutani Bangkit Meski sempat terpukul dengan pencabutan tersebut, Rimbawan Perhutani segera bangkit. Di tingkat korporat tetap berkomitmen melakukan sertifikasi kembali dengan membentuk Kelompok Kerja Sertifikasi berdasarkan Keputusan Direksi No 614/Kpts/Dir/2002 dan kemudian dikuatkan dengan Keputusan Direksi Nomor 430/ Kpts/Dir/2003. Kelompok kerja itu, menurut Humas Perhutani Soesi Sastro adalah untuk melakukan fasilitasi dan pendampingan untuk proses sertifikasi di lapangan. Berdasarkan visi perusahaan, manajemen Perhutani berkomitmen untuk memperoleh kembali sertifikasi PHL standar FSC untuk seluruh KPH pada tahun 2015. Sebuah Struktur Biro Pengelolaan Hutan Lestari dibentuk di kantor Pusat, kantor unit kerja dan kantor KPH untuk meningkatkan tanggung jawab dan komitmen. Setahun setelah sertifikasi PHL Standar FSC dicabut, pada tahun 2003, KPH Kendal dan KPH Kebonharjo dari Unit I Jawa Tengah mulai menyiapkan diri untuk mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC. Untuk meraih sertifikasi ini mereka dibantu oleh The Forest Trust (TFT). Langkah KPH Kendal dan Kebonharjo tersebut kemudian diikuti oleh KPH Ciamis unit III Jawa Barat, Banten, KPH Cepu dan Randublatung Unit I Jawa Tengah, Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu (KBM IK) Cepu. Bahkan pada tahun 2005 Perhutani Unit II Jawa Timur juga menyiapkan KPH Madiun, Saradan, Bojonegoro, Jatirogo dan Banyuwangi Utara. Mereka ini dibantu WWF Indonesia-Nusa Hijau

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

melalui pendekatan bijaksana. Setelah pencabutan sertifikat PHL Standar FSC di 6 KPH, justru ada kegairahan di kalangan KPH Perhutani untuk merebut kembali kejayaannya untuk mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan lestari. Memang mereka sadar tidak mudah untuk meraih sertifikasi PHL tersebut. Namun tantangan tersebut menjadi pemicu KPH-KPH di lingkungan Perhutani untuk merengkuh sertifikasi PHL tersebut. “Kuncinya ya harus kerja keras. Karena kalau sudah bekerja keras tentu akan berbuah manis,” tegas Soesi. Apa yang diraih oleh KPH Kebonharjo, KPH Kendal, KPH Cepu dan KPH Randublatung di Jawa Tengah, tentu merupakan buah manis dari kerja keras selama ini. Mereka telah merintis untuk mendapatkan sertifikasi PHL Standar FSC nyaris 10 tahun. Sebuah perjuangan yang terasa melelahkan, sekalipun akhirnya terasa manis. Tentu yang menjadi pertanyaan setelah empat KPH meraih sertifikasi PHL Standar FSC, bagaimana dengan 53 KPH yang lain agar pada 2015 mereka juga mendapat sertifikat? Sebagai perusahaan milik negara yang mengelola areal hutan dengan luas 2,5 juta hektar, atau mewakili 7% dari luas pulau Jawa, harus melakukan akselerasi untuk meraih sertifikat bergengsi tersebut.

Drop The Gun Selain pengelolaan lingkungan untuk memenuhi kriteria ketat praktik pemanenan berkelanjutan sekaligus melindungi kawasan hutan yang mempunyai nilai konservasi tinggi dan untuk mengakselerasi KPH-KPH mendapatkan sertifikasi PHL, Perhutani juga melakukan pengelolaan sosial secara signfikan melalui kampanye peletakkan senjata. Dalam kampanye ini Perhutani menghapus penggunaan

senjata api secara menyeluruh di semua wilayah Perhutani. Pulau Jawa memiliki tingkat kepadatan penduduk pedesaan tertinggi di dunia. Pada lingkungan seperti ini masalah tanah sering menjadi konflik antara penduduk setempat dengan Perhutani. Belum lagi dengan penebangan liar menjadi penyebab utama terjadinya permasalahan lahan dan kerusakan hutan. Pada masa lalu, Perhutani berusaha untuk mengendalikan penebangan liar dan perambahan pertanian dengan menggunakan Jagawana (pasukan keamanan) bersenjata api. Untuk mengubah cara kerja militeristik, manajemen memberikan training untuk melakukan mediasi, keterampilan berkomunuikasi dan memperkenalkan cara kerja terbaik untuk menyelesaikan konflik sosial. Perhutani membuat kebijakan pengamanan hutan yang baru dengan mengutamakan tindakan pencegahan yang dimulai dengan mengurangi Jagawana bersenjata. Program yang oleh Bank Dunia dijuluki “Drop The Gun” (penggudangan senjata) diproyeksikan mampu menurunkan 65 persen pembalakan liar dan meningkatkan keterlibatan masyarakat sampai 70 persen. TFT dan Perhutani duduk bersama dengan penduduk hampir 2000 desa hutan di Jawa untuk mendapatkan masukan mengenai solusi yang tepat dalam pengamanan hutan Perhutani. Hasil duduk bersama dengan penduduk desa inilah yang kini tengah dikerjakan oleh Perhutani untuk mengelola hutan secara lestari. Bila berjalan mulus, maka tak berlebihan jika upaya ini akan mengakselerasi target Perhutani yang tengah berkomitmen agar seluruh KPH sudah mendapat Sertifikasi PHL standar FSC pada 2015. • DR

DUTA Rimba 13


RIMBAUTAMA

Jalan Panjang Pengelo 1990 Perhutani merupakan perusahaan pertama di dunia yang mendapat “Certificate Of Rain Forest Alliance For Sustainable Forest Management” dari Smartwood Rain Forest Alliance Amerika Serikat untuk seluruh kawasan hutan Perhutani Jawa dan Madura.

1994 Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Perhutani diperbarui oleh Smartwood untuk seluruh wilayah kerja Perhutani. Di mana penilaian untuk sertifikasi menggunakan prinsip dan standar FSC dan dilakukan pada setiap KPH.

1998 KPH Kebonharjo, Cepu, dan Mantingan Unit I Jawa tengah pada tahun 1997 dinilai oleh Smartwood Rain Forest Aliance Amerika Serikat, dan setahun kemudian KPH tersebut memperoleh Sertifikat PHL Standar

14 DUTA Rimba

FSC dengan nomor sertifikat SWFM-COC-053

2000 KPH Kendal Unit I Jateng, KPH Madiun dan Lawu Unit II Jawa Timur mendapat Sertifikay PHL Standar FSC dari Smartwood Rain Forest Alliance AS. Selain itu Kesatuan Bisnis mandiri Industri Kayu Cepu dan Brumbung juga menerima Sertifikasi CoC Standar FSC dari Smartwood.

2001 Sertifikat PHL standar FSC Perhutani yang mencakup 6 KPH ditangguhkan oleh Smartwood, karena Perhutani tak mampu melakukan perbaikan atas kerusakan hutan sebagaimana batas waktu yang ditentukan.

2002 Sertifikasi PHL Standar PSC Perhutani dicabut.

2003 KPH Kendal dan KPH Kebonharjo Unit I Jawa Tengah menyiapkan sertifikasi PHL standar FSC, dengan konsultan TFT.

2004 KPH Ciamis Unit III Jawa Barat dan Banten menyiapkan sertifikasi PHL standar FSC dengan konsultan TFT.

2005 KPH Cepu dan KPH Randublatung Unit I Jawa Tengah menyiapkan Sertifikasi PHL standar FSC dibantu konsultan TFT. Juga Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu (KBM IK) Cepu menyiapkan Sistem Lacak Balak (CoC) pengendalian kayu dengan konsultan TFT. Begitu pula Perhutani Unit II Jawa Timur menyiapkan lima KPH, yakni Madiun, Saradan, Bojonegoro, Jatirogo dan Banyuwangi Utara menyiapkan sertifikasi PHL. Mereka dibantu

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


konsultan dari WWF Indonesia.

2006 Pra dan Penilaian Utama dilakukan di KPH Kebonharjo dan KPH Kendal Unit I Jawa Tengah oleh Woodmark Soil Association.

2007 Perhutani belum terima keputusan akhir Sertifikasi PHL untuk KPH Kebonharjo dan KPH Kendal dari Woodmark Soil Association (WSA) sampai ada penilaian lapangan dan peninjauan ulang kembali untuk menyelesaikan proses sertifikasi. WSA akan melakukan kunjungan lapangan Desember 2007.

2008 Main Assessment oleh SGS Qualifor pada lima KPH yaitu Cepu dan Randublatung (Unit I Jateng), KPH Madiun dan Banyuwangi (Unit

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

II Jawa Timur) dan KPH Ciamis (Unit III Jabar dan Banten). Berdasarkan keputusan akhir WSA untuk KPH Kendal dan KPH Kebonharjo, WSA merekomendasikan supaya Perhutani melakukan partial certification pada enam KPH yaitu, KPH Pekalongan, Pemalang, Blora, Purwodadi, Kedu Utara dan Jatirogo.

2009 SGS Qualifor merekomendasikan untuk dilakukan partial certification di 16 KPH, antara lain Unit I Jawa Tengah terdiri KPH Mantingan, Gundih, Telawa, Pekalongan Timur, Banyumas Barat, dan Banyumas Timur. Sedangkan untuk Unit II Jawa Timur: KPH Saradan, Lawu, Nganjuk, Jombang, Mojokerto dan Purbolinggo. Sedangkan untuk Unit III Jawa Barat dan Banten antara lain: KPH Tasikmalaya, Sumedang, Majalengka, Cianjur, dan Bandung Selatan.

Dok. HUmas PHT

lolaan HutanLestari 2010 WSA dan Perwakilan dari FSC International melakukan reassessment untuk KPH Kendal dan KPH Kebonharjo, sekaligus melakukan kembali partial certification ke KPH Blora dan Pekalongan Timur (Unit I Jawa Tengah), KPH Probolinggo dan Parengan (Unit II Jawa Timur). Pada reassessment ini FSC mengeluarkan kebijakan dasar (Policy Association) berkaitan dengan penerapan dan pengendalian kayu (Controlled Wood).

2011 Perhutani mendapatkan sertifikat FSC untuk empat KPH, masing-masing KPH Kebonharjo, KPH Kendal, KPH Cepu, dan KPH Randublatung.

DUTA Rimba 15


RIMBAUTAMA

16 16

DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


RIMBAUTAMA

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenangsenang kemudian. Pepatah itu kiranya tepat untuk menggambarkan kerja keras Perhutani selama ini dalam mengejar sertifikasi pengelolaan hutan lestari (PHL) standar FSC.

Dampak Positif

Mulai Menggeliat di China Dok. HUmas PHT

T NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

anda-tanda adanya dampak positif dari kehadiran sertifikasi PHL, mulai nampak dari Negeri Tirai Bambu. Hal itu terlihat pada akhir Maret 2012. Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto terbang ke China untuk menghadiri Pameran Domotex Floring di Shanghai. Dalam pameran tersebut Bambang memanfaatkan waktu untuk menggenjot ekspor kayu jati ke

negeri tersebut. Sebagai perusahaan penghasil kayu jati terbesar di dunia, Perhutani harus agresif untuk menggenjot kinerja ekspornya. Apalagi setelah sejumlah KPHnya mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC. Karpet merah seakan terbentang luas bagi eksppor kayu jati Perhutani di luar negeri. Upaya untuk menggenjot ekspor kayu jati di China itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) antara

DUTA Rimba 17


RIMBAUTAMA Direktur Utama Perhutani dengan Chairman dan CEO China Floring Holding Company Limited She Hue Bin serta Direktur SF Resourses Group Wong Teng Kong . MOU itu berisi kerjasama promosi kayu jati Perhutani di pasar China. Hadir dalam penandatanganan MOU itu antara lain perwakilan pemerintah China Ms Yin Hong, Deputy Administor Of The State Forestry Administration and Member of The CPPCC National Committee dan Mr Wang Man, Secretary General of The China Forestry Industry Association, China National Forest Product Industry Association Executive President.

Kerja sama dengan China ini akan meningkatkan nilai ekspor industri hilir Perhutani, khususnya lantai kayu jati (teak flooring) untuk menembus pasar China. Untuk tahap pertama Nature Floring China menandatangani kontrak pembelian kayu jati dari Perhutani dengan kuantitas mencapai 2.000 m2. Pesanannya diperkirakan rata-rata 400 kontainer per tahun. “Kerjasama ini akan meningkatkan nilai ekspor industri hilir Perhutani, khususnya lantai kayu jati untuk menembus pasar China,” tegas Bambang yang dalam event tersebut didampingi Direktur Industri Perhutani Siswanto dan Susetiyaningsih, Kepala Biro Humas dan Protokoler Perum Perhutani. Sebagai Ikon transformasi di Perhutani, Bambang Sukmananto merupakan tipologi CEO yang tidak hanya duduk di belakang meja. Sekalipun dari 57 KPH baru empat

18 DUTA Rimba

KPH yang mendapat sertifikasi PHL standar FSC, ia sudah melangkah jauh ke depan untuk memasarkan kayu jati ke mancanegara. Langkah ini tentu akan terus ia gencarkan, seiring dengan makin banyaknya KPH di lingkungan Perhutani yang mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC. Begitu 57 KPH mendapat sertifikasi PHL, maka Perhutani siap merebut peluang untuk menggenjot ekspor kayu jati ke mancanegara. China menjadi pijak awal untuk melakukan lompatan jauh ke depan, untuk memasarkan kayu bersertifikasi PHL standar FSC. Penandatanani MOU di Shanghai ini menjadi momentum bagi Perhutani untuk memasarkan kayu jati setelah sejumlah KPH mendapatksan sertifikasi PHL standar FSC. Melalui sertifikasi itu tak akan ada hambatan lagi ekspor kayu jati ke China. “Apalagi bahan baku yang diminati di China adalah kayu jati yang bersertifikat FSC milik Perhutani,” tambah She Xue Bin, CEO China Floaring Company. Kerja sama dengan China ini akan meningkatkan nilai ekspor industri hilir Perhutani, khususnya lantai kayu jati (teak flooring) untuk menembus pasar China. Negeri Tirai bambu ini merupakan pasar luar biasa untuk impor dan ekspor. Dengan penduduk berjumlah 1,35 miliar dan populasi urban mencapai 926 juta jiwa pada 2025, ekonomi China akan berputar kencang. Pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa akan berdampak pada impor dan ekspornya. Ekspor ke China ini merupakan tolok ukur pemasaran kayu jati di luar pasar Asia Tenggara dan Eropa. Bahan baku kayu jati belum ada saingan untuk pasar China sehingga berpotensi meningkatkan nilai ekspor Perhutani. Bambang yang berada di China sekaligus untuk meresmikan kerjasama keagenan SF Resources

Group wilayah Asia menjelaskan pasar industri kayu Perhutani seperti produk Vinir di ekspor ke Malaysia, Korea Selatan, China, dan Italia terus meningkat kuantitasnya dari 212.628 m3 pada tahun 2009 menjadi 510.525 m2 pada 2011. Pada tahun ini ekspor Vinir direncanakan mencapai 561.580 m2 dan 747.464 m2 pada 2015. Untuk produk lantai kayu atau

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. HUmas PHT

flooring, Perhutani mematok target pada 2012 sebesar 1.161 m3 dengan negara tujuan Asia seperti China, Jepang, Taiwan, Singapura, Italia, dan Polandia. Negara-negara tersebut selama ini telah menjadi pembeli kayu Perhutani hingga mencapaoi 1.056 m3 pada 2011. Pada 2015 Perhutani mematok target ekspor flooring 1.546 m2 dan akan terserap

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

oleh pasar Asia. Nilai ekspor kayu olahan Perhutani mencapai US$ 3,74 juta pada 2009 dan turun hingga US$ 2,72 juta pada 2011 karena imbas kondisi ekonomi dunia yang terpuruk. Dengan permintaan China yang cukup tinggi, Perhutani mematok target pendapatan ekspor produk industri kayu mencapai US$

3,98 juta pada 2015. Kehadiran Bambang Sukmananto pada pameran flooring terbesar dunia di China selain untuk business meeting juga untuk memberikan keyakinan pasar China bahwa produk kayu jati Perhutani berasal dari hutan yang dikelola secara lestari, ramah lingkungan, dan dikelola bersama dengan masyarakat sekitar.• DR

DUTA Rimba 19


RIMBAUTAMA

Pelan Tapi Pasti

Kayu Bersertifikat Tembus Eropa

Pelan-pelan tapi pasti. Itulah kira-kira pasar kayu Perhutani di Eropa. Meski ekonomi kawasan tersebut belum pulih, kayu olahan Perhutani mulai masuk ke negeri tersebut, setelah sekian lama tersendat akibat adanya ketentuan hanya kayu yang dihasilkan oleh hutan lestari.

P

roduksi kayu yang diolah dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan dan pengelolaannya dilakukan bersama masyarakat sekitar hutan. Tanpa itu jangan harap ekspor kayu bisa masuk ke kawasan Eropa. Tepatnya pertengahan April 2012, dari Jombang, Jawa Timur, Perhutani meluncurkan Premier Shipment atau ekspor perdana lantai kayu jati berlabel FCS (Forest Stewardship Council) ke Denmark. Peluncuran itu dilakukan oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto dan Mr Wong Tengkong, Direktur SF Resources Group. Dalam peluncuran tersebut juga dihadiri Mr Goh Ah Tee, Chairman SF Reourses Gorup. SR Resources Group merupakan salah satu mitra Perhutani dalam pengolahan kayu jati Perhutani. Lantai kayu jati berlabel FSC ke Denmark merupakan ekspor pertama kayu jati Perhutani bersertifikat FSC ke pasar

20 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Konsumen global tak mau membeli produk-produk yang dikelola secara tidak bertanggung jawab. Mereka cenderung mengejar produk-produk kayu yang bersertifikat independen atau voluntary seperti FSC. pengelolaan hutan terbaik dunia. Sebagaimana diakui Wong Tengkong, Direktur SF Resources, Ekspor dari Jombang volumenya masih relatif kecil. Namun ekspor kali ini sangat strategis sebagai penanda pulihnya kepercayaan konsumen Eropa terhadap produk kayu jati yang bersertifikasi FSC.

Dok. HUmas PHT

internasional sejak ditangguhkannya sertifikasi hutan lestari berstandar FSC oleh Smartwood Rain Forest Allliance Amerika Serikat. Pencabutan itu terjadi karena adanya penjarahan hutan di Pulau Jawa pasca reformasi, sehingga Perhutani dinilai tak mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari. Namun kondisi tersebut mulai berubah, ketika tahun 2011 Smartwood memberikan Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari standar SFC kepada empat KPH, yakni Kendal dan Kebonharjo, Cepu, dan Randublatung Jawa Tengah. Negara-negara Eropa kembali melirik kayu Perhutani. Sertifikasi dari lembaga indepenen tersebut memberikan keyakinan kepada mereka bahwa Perhutani termasuk perusahaan kehutanan yang memiliki

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Tentu bisa dipahami bila Tengkong sedikit melankolis. Produk kayu nasional pernah mendapat citra negatif di mata masyarakat internasional, khususnya Eropa dan Amerika, karena dinilai tidak ramah lingkungan, tidak ramah sosial dan banyak illegal logging. Citra negatif inilah yang menyebabkan ekspor kayu Indonesia banyak mengalami hambatan di Eropa dan Amerika. Padahal kedua kawasan tersebut merupakan pangsa pasar yang cukup besar, karena daya beli masyarakatnya cukup tinggi. Konsumen global kini memang telah berubah. Mereka tak mau membeli produk-produk yang dikelola secara tidak bertanggung jawab. Mereka cenderung mengejar produk-produk kayu yang bersertifikat independen atau voluntary seperti FSC. Label tersebut diyakini sebagai jaminan bahwa produk tersebut berasal dari sumbersumber hutan yang dikelola secara baik dan dapat dipertanggung jawabkan oleh norma-norma yang berlaku secara universal. SF Resources Group adalah salah satu mitra Perhutani yang ditargetkan mengolah kayu jati Perhutani 10.000 m3 dan 5.000 m3 kayu Sonokeling pada tahun 2012. Nilai Ekspor sejak tahun 2008 dengan mitra ini mencapai Rp 33 miliar. Lantai kayu jati berlabel FSC ini diolah di Pabrik SF Reseources Group yang bersertifikasi FSC-CoC dan bahan bakunya berasal dari Perhutani Kebonharjo. Bambang menyatakan peluncuran perdana ini merupakan bukti bahwa Perhutani berkomitmen menghadirkan produk berlabel FSC untuk kembali beredar di pasar global. Persepsi pasar internasional diharapkan segera berubah dengan ekspor perdana ini. Karena itu jangan heran kalau kinerja Perhutani pada 2012 ini akan semakin kinclong. •DR

DUTA Rimba 21


RIMBAUTAMA

Ekspor Gum Rosin

Harapan Baru dari Negeri Matahari Terbit Tekad Perhutani untuk menggenjot bisnis non kayu tak lagi sekadar sebuah wacana. Tekad itu telah menjadi jiwa dan ruh pergulatan insan Perhutani.

K

einginan untuk menyeimbangkan antara pendapatan dari bisnis kayu dan non kayu semakin menyeruak. Bila kini komposisi pendapatan kayu dan non kayu berbanding 55 : 45, di masa mendatang komposisi itu harus bergeser menjadi 50 : 50. Upaya untuk menggenjot kinerja bisnis non kayu terlihat dari Negeri Matahari Terbit, akhir Maret 2012. Di Osaka Jepang terjadi kontrak

22 DUTA Rimba

dagang antara Perhutani dengan perusahaan Jepang Marubeni Plax. Tiga CEO dari dua negeri di belahan Asia itu melakukan penandatanganan kontrak dagang jangka penjang pembelian Gum Rosin Perhutani. Ketiga CEO yang melakukan penandatanganan tersebut adalah Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto, Mr Noritoshi Toyoda dari Marubeni Plax dan Bambang Triadmodjo, Direktur PT Milatronika Karya, niaga sales Gum Rosin Perhutani.

Marubeni Plax Corp jepang memang sudah lama mengimpor Gum Rosin Perhutani, namun nilai pembeliaannya hanya 100 merik ton (5 kontainer) per bulan, atau 45 kontainer per tahun. Melalui kontrak dagang yang baru ini, Marubeni Plax mematok impor 500 matrik ton (25 kontainer per bulan, atau 250 kontainer per tahun) atau naik lima kali lipat dari impor sebelumnya. “Kontrak yang baru ini untuk meningkatkan penerimaan Perhutani dari hasil hutan non-kayu yang ditargetkan seimbang dengan hasil hutan kayu,” jelas Bambang Sukmananto. Dalam pengadaan Gum Rosin Marubeni Plax impor Gum Rosin itu hanya 10 persen dari kebutuhan korporasi. Impor Gum Rosin perusahaan Jepang ini masih didominasi oleh Gum Rosin China. Ini terjadi karena suplai Gum Rosin Perhutani jumlahnya terbatas, karena luas hutan pinus Perhutani tidak bertambah. Berbeda dengan China, yang arealnya sudah cukup luas, maka ekspornya juga akan besar. Gum Rosin Perhutani berbeda asal jenis getahnya dengan Gum Rosin China karena spesies di Jawa adalah Pinus Merkusii, sementara di China jenis spesiesnya adalah Masonia. Pohon pinus di Jawa diperuntukkan untuk produksi kayunya. Seiring dengan kebutuhan akan kelestarian lingkungan, Perhutani menggeser penggunaan pinus sebagai produksi kayu menjadi pinus untuk produksi getahnya. Kontrak jangka panjang tersebut merupakan bagian dari jaminan pasokan bahan baku Gum Rosin bagi industri, khususnya untuk Arakawa Chemical Industry yang memproduksi bahan tinta printer, tinta kertas, adhesive lainnya. “Arakawa menginginkan Perhutani lebih memberikan jaminan kontinuitas suplainya,” tegas Takashi

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. HUmas PHT

One, Direktur Management Planing Arakawa Osaka. Arakawa Chemical Industry merupakan perusahaan pengolah bahan Gum Rosin terbesar di Jepang dan memiliki delapan pabrik di empat kota Jepang dan beberapa cabang di dunia. Peningkatan impor Gum Rosin Perhutani lima kali lipat dari tahun sebelumnya, tentu akan membantu kinerja perusahaan Jepang ini dalam menghasilkan produk tinta yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Merespon permintaan Arakawa dan Marubeni Plax, Perhutani ke depan akan meningkatkan kualitas tegakan tanaman pinus dengan mengganti jenis tanaman yang

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

Selain itu untuk meningkatkan produksi Gum Rosin, Perhutani juga akan memperluas sumbersumber bahan baku getah pinus dari kawasan hutan di Aceh, Sumatera Utara dan Sulawesi. khusus mampu memproduksi getah secara efektif. Saat ini jenis pinus yang ada di lahan Perhutani adalah jenis Merkusi, sedangkan pinus yang menghasilkan getah lebih banyak adalah jenis Pinus Karibia. Untuk

merehabilitasi dan mereboisasi hutan Perhutani akan diarahkan pada penenaman jenis Pinus Karibia dengan sistem clustering. Selain itu untuk meningkatkan produksi Gum Rosin, Perhutani juga akan memperluas sumbersumber bahan baku getah pinus dari kawasan hutan di Aceh, Sumatera Utara dan Sulawesi. Sumber potensi getah di luar Jawa belum dimanfaatkan secara optimal. Langkah ini ditempuh, selain untuk memenuhi pasar Jepang, juga pasar dunia. Permintaan getah pinus akan selalu meningkat, karena permintaan masyarakat dunia kembali pada produk alami atau natural sources terus mengalir.â&#x20AC;˘ DR

DUTA Rimba 23


RIMBAUTAMA

Kerjasama Perhutani – NFCF Korea Selatan

Wujudkan Green Melalui Hutan Ra 24 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Green Energy kini menjadi isu global. Berbagai kerjasama untuk mengembangkan energi ramah lingkungan ini telah menjadi tema sentral percaturan global.

radowan8@sxc.hu

B

Energy akyat NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

ahkan masalah ini juga sering dijadikan alat bargaining sebuah negara untuk meningkatkan hubungan baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial. Negara yang memiliki komitmen untuk mengembangkan green energy memiliki kemudahan menjalin hubungan dengan negara-negara lain. Melihat fenomena semacam itu, Perhutani tak mau berpangku tangan setelah dalam forum Geverment to Goverment (G to G) antara Indoneasia dan Korea Selatan pada 2007 dibahas berbagai isu penting tentang pelestarian hutan secara bilateral. Sebagai BUMN bidang kehutanan terbesar tentu harus mengambil langkah ke depan untuk menciptakan green energy yang berbasis sumber daya hutan. Pada saat itu Perhutani telah menandatangani MoU for Establishment and Management of Forest Plantation in Forest Areas in Java dengan National Forestry Cooperation Federation of Korea (NFCF). Pada akhir Februari 2012, Perum

DUTA Rimba 25


RIMBAUTAMA

Dok. Humas PHT

Perhutani dan NFCF, sebuah koperasi kehutanan Korea Selatan bekerjasama menanam jenis Fast Growing Species (FGS) di areal hutan Perhutani. Perjanjian kerjasama ditandatangani oleh Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perum Perhutani dan Vice Chairman & CEO NFCF Mr Dong Myung di kantor NFCF, Seoul. Penandatanganan perjanjian itu merupakan lanjutan pasca operasional dengan Perhutani. NFCF menilai pengelolaan hutan yang dilakukan dengan beneďŹ t sharing bersama masyarakat selama ini amat positif. Kerjasama yang telah dirintis sejak 2007 memang telah ditindaklanjuti. Implementasinya, Perhutani menyiapkan 10,000 Ha

26 DUTA Rimba

lahan di Jawa Barat sejak 2009 dengan penanaman tanaman hampir mencapai 6.000 Ha. Adapun jenis tanamannya adalah Mindi, Sengon, Jabon, dan Gmelinia. Sementara 4.000 Ha lagi penanamannya akan tuntas tahun ini. Proyek NFCF ini dimulai di Teluk Jambe Jawa Barat. Selain membantu dalam bidang pembiayaan, NFCF juga memberikan pelatihan bagi masyarakat di wilayah hutan yang dikerjasamakan melalui Lembaga Masyarakat Desan Hutan (LMDH). Lebih dari 30 orang telah dilatih sistem koperasi di Korea Selatan. Hal ini menurut Dong Myung Sur, merupakan bagian upaya NFCF memberikan kontribusi dalam meningkatkan perekonomian daerah sekaligus mensukseskan penghijauan

dunia melalui hutan Indonesia. Baik Bambang Sukmananto maupun Dong Myung Sur sepakat, ke depan dimungkinkan adanya transaksi perdagangan karbon untuk areal tersebut dan areal kerjasamanya diperluas. Program ini merupakan sebuah terobosan yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk melakukan pengurangan emisi, yang disebut-sebut sebagai penyebab pemanasan global. Kerjsama antara Perhutani dan koperasi Korea Selatan ini merupakan kegiatan nyata dan konkrit di lapangan, yang hasilnya bisa dinikmati kedua belah pihak maupun masyarakat di sekitar hutan. Masyarakat desa yang terlibat kegiatan ini bisa belajar tentang

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


Doug Page@forestyimages.org

manusia. Pelatihan rutin bagi masyafrakat desa di sekitar hutan juga akan meningkatkan kesadaran dan peran mereka dalam penyelamatan hutan

mzacha@rgbstock.com

sistem koperasi kehutanan Korea Selatan sekaligus dapat memahami betapa sumber daya hutan sangat dihargai keberadaannya sebagai jasa pelayanan ekologis bagi kehidupan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

hutan tropis bersama Perhutani. Bambang yang juga berkunjung ke Pabrik Wood Pallet NFCF di kota Yeojo, melihat langsung wood pallet dari sisa serbuk gergaji dan yang merupakan alternatif green energy yang tengah digalakkan pemerintah Korea. “Hutan semakin lama akan memegang peranan penting dalam kehidupan kita, khususnya sebagai sumber energi, oksigen dan air,” kata Bambang. NFCF, lembaga koperasi kehutanan di Korea selatan telah berhasil mengembangkan hutan kerakyatan di negaranya dengan memilih cara tepat untuk mewujudkan green energy. Kegiatan pembangunan dan pengelolaan hutan di wilayah Perhutani bersama sahabat dari negeri Ginseng tersebut diakui sebagai upaya untuk mewujudkan hijau bumi dan pengurangan emisi. •DR

DUTA Rimba 27


RIMBAUTAMA

Belajar dari Jawa Tengah

Merebut Kembali

Kejayaan Masa Lampau Sebuah perjalanan panjang bagi Perhutani untuk meraih kembali Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari dengan standar FSC.

M

eski pernah pertama kali, pada tahun 1990 mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan lestari. Namun, ketika sertifikat itu dicabut pada 2002, untuk meraih kembali sertifikasi tersebut membutuhkan sebuah proses yang panjang. Sebuah proses untuk merebut kejayaan kembali masa lampu yang pernah hilang. Memang selain kerja keras dan keuletan, juga dibutuhkan kesabaran untuk mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC. Mengapa demikian? Niken Setyorini, Kepala Seksi PHL Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah menjelaskan, masalah ini tak bisa ditawar-tawar lagi untuk meraih sertifikasi pengelolaan hutan lestari. Bagi Perum Perhutani Pengelolaan

28 DUTA Rimba

Hutan Lestari (PHL) merupakan komitmen perusahaan terhadap tuntutan pasar global akan produk sumberdaya hutan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Perum Perhutani akan mendapatkan citra positif di dunia internasional sebagai pengeloa hutan yang menerapkan azas-azas kelestarian dengan memperhatikan tiga aspek produksi (ekonomi), aspek lingkungan dan aspek sosial yang dilaksanakan secara proposional mengacu pada standar FSC (Forest Stewardship Council) dan diwujudkan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi yang memiliki kredibilitas didunia dan independen. Dengan memperoleh sertifikat FSC tersebut, maka produk kayu bulat yang berasal dari hutan Perhutani berhak untuk

menggunakan lambang/logo FSC. Perum Perhutani menyadari pentingnya sertifikasi manajemen hutan lestari dan sertifikasi produk hasil hutan sebagai marketing tools di dunia perdagangan internasional. Kini memang baru terbatas pada 4 KPH yang ada di Unit I Jawa Tengah, yaitu KPH Kendal, Kebonharjo, Cepu, dan Randublatung yang mendapat sertifikasi PHL standar FSC. 53 KPH lainnya, kini tengah berjuang untuk mendapatkan sertifikasi bergengsi tersebut. Karena itu, keberhasilan Perhutani Unit I Jawa Tengah untuk mengantarkan 4 KPH mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC, bisa dijadikan pelajaran bagi unit-unit dan KPH lainnya dalam mengejar sertifikat bergengsi tersebut. Untuk memulai merintis mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC, Perhutani Jawa Tengah pada tahun 2006 melakukan klasifikasi KPH yang ada di wilayah Unit I menjadi enam klasifikasi KPH, mulai dari klasifikasi A s/d F. Klasifikasi ini menurut Niken, dilakukan berdasarkan kesiapan KPH, potensi SDH, masalah tenurial, masalah

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. Humas PHT

keamanan, dan keterwakilan kawasan lindung. Berdasarkan klasifikasi tersebut, KPH Kendal, Kebonharjo, Cepu, dan Randublatung termasuk dalam KPH kriteria A, yang ditargetkan bisa mendapat sertifikasi PHL standar FSC pada 2009. Berdasarkan kriteria tersebut, manajemen melakukan langkah proaktif agar bisa mendapatkan sertifikat. Adapun langkah yang dilakukan manajemen, khususnya KPH adalah: • Sosialisasi pemahaman standar FSC pada semua jajaran SDM baik tingkat Unit maupun KPH.

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Dan internalisasi kegiatan PHL melekat pada setiap bidang kegiatan/biro terkait masingmasing baik kebijakannya maupun anggarannya. • Untuk pengawalan selama proses pendampingan dengan menggunakan lembaga pendamping The Forest Trust (TFT) · Pembentukan Pokja PHL baik tingkat Unit maupun tingkat KPH. • Pengawalan pemenuhan standar FSC (10 prinsip 56 kriteria) baik di kantor KPH maupun lapangan • Melakukan review baik secara

administrasinya maupun lapangannya • Melakukan internal audit di masing-masing KPH Memang target untuk mendapatkan sertifikat PHL standar FSC tak bisa dicapai pada pada 2009, karena dianggap 4 KPH tersebut belum memenuhi syarat. Barulah pada tahun 2011, KPH Kendal, Kebonharjo, Cepu, dan Randublatung mendapat sertifikat PHL standar FSC. Dari sini terlihat, dibutuhkan waktu 7 tahun untuk meraih kembali sertifikasi yang

DUTA Rimba 29


RIMBAUTAMA

Dok. Humas PHT

30 DUTA Rimba

• KPH tipe D (KPH Balapulang, KPH Kedu Utara, KPH Kedu Selatan dan KPH Pekalongan Timur). Direncanakan audit sertifikasi tahun 2014. • KPH Tipe E ( KPH Surakarta, Mantingan, Banyumas Timur) dan tipe F (KPH pati, Telawa, dan Semarang) direncanakan audit

tahun 2015. Untuk mengejar pencapaian sertifikasi PHL sertifikat FSC, Perhutani Unit I Jawa tengah melakukan upaya implementasi dan pengawalan pemenuhan stanadar FSC pada 16 KPH dengan klasifikasi B sampai dengan F dengan kegiatan antara lain:

Dok. Humas PHT

dicabut oleh badan dunia tersebut. Setelah berhasil memuluskan empat KPH mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC, lantas bagaimana dengan KPH-KPH yang lain di wilayah Jawa Tengah agar mengikuti jejak KPH Kendal, Kebonhardjo, Cepu, dan Randublatung? Sebagaimana dijelaskan Niken, Perhutani Unit I Jawa Tengah telah mempersiapkan 16 KPH lainnya untuk segera mendapatkan sertifikat. Sesuai dengan roadmap yang telah disusun berdasarkan klasifikasi KPH sebagai berikut: • KPH tipe B (KPH Pemalang, Gundih dan Purwodadi) direncanakan full implementasi tahun 2012. Telah dilakukan internal audit dari Perum perhutani. • KPH tipe C (KPH Blora, KPH Pekalongan Barat, KPH Banyumas Barat). Direncanakan dilaksanakan audit sertifikasi pada tahun 2013.

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


SOSOKRIMBA

Untuk memulai merintis mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC, Perhutani Jawa Tengah pada tahun 2006 melakukan klasifikasi KPH yang ada di wilayah Unit I menjadi enam klasifikasi KPH, mulai dari klasifikasi A s/d F. Memang ada prosedur yang harus dilewati oleh KPH untuk mendapatkan sertifikasi PHL standar FSC. Sebagaimana dijelaskan Niken, prosedur itu antara lain: • Pengelola hutan mengajukan untuk penilaian/assesment

Dok. Humas PHT

• Melengkapi data kesekretariatan • Melengkapi SOP dan aturanaturan • Melengkapi laporan bidang sosial, lingkungan dan produksi • Membuat dokumen Studi Dampak Sosial • Membuat draft dokumen HCVF • Membuat draft kajian kelestarian • Membuat rencana pengelolaan situs • Mengupdate laporan keamanan termasuk didalamnya laporan tenurial, pengendalian perdagangan dan perburuan satwa liar • Membuat rencana strategis penyelesaian konflik • Membuat laporan HPT secara rutin • Membuat public summary • Melakukan koordinasi dengan biro/seksi terkait

Selain itu, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah juga melakukan implementasi dan pemeliharaan POA (Policy On Association) pada semua KPH. Begitu pula yang tidak kalah pentingnnya juga meningkatkan SDM untuk mensupport PHL, meliputi bench marking, pelatihanpelatihan terkait pemenuhan CARs dan upgrade standar PHL.

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

kepada Lembaga Sertifikasi/ Assesor • Lembaga Sertifikasi menilai sesuai prinsip dan kriteria FSC • Lembaga Sertifikasi menerbitkan laporan hasil penilaian • Laporan memuat persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemilik/ pengelola hutan karena belum memenuhi prinsip dan kriteria

yang ditentukan. • Persyaratan tersebut point di atas terdiri dari: - Precondition/prasyarat adalah persyaratan terhadap suatu kegiatan yang harus disetujui dan dilaksanakan dan sebelum prasyarat tersebut diselesaikan sertifikat belum dapat diterbitkan. - Condition/syarat adalah persyaratan terhadap perbaikan suatu kegiatan yang harus disetujui dan dilaksanakan selama periode sertifikasi - Recomendation/saran adalah saran penyempurnaan terhadap suatu kegiatan, tidak harus dipenuhi • Persyaratan tersebut diatas disepakati bersama antara pemilik/pengelola hutan dan assesor • Apabila dalam laporan (tersebut point di atas ) tidak terdapat persyaratan prasyarat maka pengelola hutan dipastikan memperoleh sertifikat yang berlaku selama 5 tahun. Namun bila dalam laporan tersebut terdapat persyaratan prasyarat, maka harus dipenuhi terlebih dahulu untuk kemudian akan diverifikasi oleh assesor sebelum sertifikat diterbitkan. • Selama jangka sertifikat akan dilakukan audit tahunan terhadap prasyarat tersebut. • Apabila ada persyaratan yang belum dipenuhi oleh pengelola hutan pada saat audit tahunan oleh assesor, maka assesor akan mengeluarkan Corrective Action Request/CAR (tindakan perbaikan yang diminta) • CAR harus dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan karena apabila sampai batas waktunya belum dilaksanakan akan berakibat sertifikat dicabut oleh Assesor. • DR

DUTA Rimba 31


RIMBAUTAMA Ismoyo, Manager Program Hutan Tanaman di TFT Indonesia

“Perhutani sudah memiliki kinerja yang baik"

K

Bagaimana kisahnya TFT terlibat dalam proses mediasi antara Perhutani dan masyarakat di wilayah konflik? TFT mulai bekerjasama dengan Perhutani sejak tahun 2003 dalam program menuju pengelolaan hutan lestari di beberapa wilayah KPH-KPH Perhutani. Standard yang digunakan sebagai acuan dalam pendampingan ke Perhutani menuju pengelolaan hutan lestari adalah standard FSC, yaitu pengelolaan hutan yang ramah terhadap lingkungan, dapat diterima oleh masyarakat, dan menghasilkan panen lestari secara fisik dan finansial. Dalam proses penyelesaian konflik antara Perhutani dan masyarakat, agar kedua belah pihak dapat duduk bersama untuk memecahkan permasalahannya diperlukan proses mediasi. Dalam proses mediasi inilah TFT mengambil peran mendorong agar pihakpihak yang berkonflik dapat mencapai kesepakatan. Dan juga dalam perannya sebagai pendamping Perhutani menuju pengelolaan hutan lestari, TFT berkewajiban memberikan saran solusi yang terbaik untuk memecahkan permasalahan konflik yang

32 DUTA Rimba

sertifikasi pengelolaan hutan lestari.. Perhutani dalam hal ini KPH Kendal dan KPH Kebonharjo (KPH Pertama yang didampingi TFT) mulai menjalani penilaian oleh auditor yang diakreditasi oleh FSC (WSA-Woodmark Soil Association) sejak tahun 2006. Pre-assessment dilakukan di bulan Juni 2006 dan Main assessment di bulan Desember 2006, selanjutnya CAR Verification Audit dilakukan berturut-turut di Januari 2008, November 2008, November 2009, Januari 2010 dan terakhir Agustus 2010. Hasil dari audit tersebut salah satu CAR (corrective action request – permintaan tindakan perbaikan) Major-nya adalah bagaimana caranya dapat mendemonstrasikan pada tataran praktek di lapangan tentang cara mencegah dan mengkontrol kekerasan dan insiden yang mematikan. Hal ini berarti ada tuntutan program DTG (drop the gun) atau penggudangan senjata api. Pada bulan Juni-Juli Tahun 2009, TFT Perhutani Program melakukan audit penggudangan senjata api diseluruh KPH Perhutani (57 KPH), dan hasilnya 100 % senjata telah digudangkan di gudang senjata KPH masing-masing. Pada bulan Juli 2010 seluruh senjata sudah digudang oleh Perhutani di kantor unit masing-masing. Dok. Humas PHT

eberhasilan Perhutani meraih sertifikat PHL-FSC tidak bisa dilepaskan dari The Forest Trust (TFT). Sebagai pendamping Perhutani, TFT memiliki peran signifikan dalam rangka mengembalika0n citra positif Perhutani di dunia internasional, antara lain dengan memberikan sejumlah solusi untuk meraih sertifikat PHL-FSC, termasuk di dalamnya melakukan mediasi antara Perhutani dan masyarakat sekitar. Untuk mengetahui aktifitas TFT lebih lanjut, DUTA RIMA mengirimkan beberapa pertanyaan kepada TFT melalui email. Berikut petikannya:

ada. TFT juga mengambil peran mediasi dengan memberikan saran terbaik untuk memecahkan permasalahan konflik yang ada pada seluruh kawasan KPH yang ada di Perhutani (57 KPH). Kesepakatan pengamanan hutan dan penggudangan senjata api (drop the gun) pada 2003 baru dicapai setelah melalui proses lama (8 tahun). Apa penyeab lamanya proses kesepakatan tersebut? Proses edukasi kepada Perhutani mulai dari jajaran managemen sampai dengan pelaksana di lapangan perihal praktek pengamanan hutan yang dapat diterima seluruh lapisan masyarakat memerlukan waktu yang lama. Proses edukasi ini bertahap mulai dari pengenalan standard, sosialisasi, internalisasi terhadap pemahaman praktek pengamanan hutan yang melatarbelakangi produk hutan yang dapat diterima masyarakat internasional sampai dengan adanya pendorong yang sangat kuat untuk melakukan penggudangan senjata api dalam bentuk

Bagaimana keterlibatan LSM lokal dalam hal ini, apakah penting? LSM lokal memiliki peran yang sangat strategis didalam proses mediasi penyelesaian konflik, cara penangannya, dan juga sebagai institusi pemantau. Keterbukaan Perhutani terhadap LSMLSM lokal untuk dilibatkan dalam mediasi penyelesaian konflik, membangun mekanisme penyelesaian konflik, konsolidasi data konflik, dan melibatkannya dalam proses investigasi dalam kejadian khusus

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


sangat membantu Perhutani dalam membangun “corporate image” Perhutani dalam perjalanannya menuju visi menjadi perusahaan pengelola hutan terbaik. Seberapa besar perhatian dunia internasional terhadap proses pengamanan hutan? Perhatian dunia internasional terhadap praktek pengamanan hutan sangat besar, hal ini dicirikan dengan adanya persyaratan pengamanan hutan yang dapat diterima dalam sertifikasi pengelolaan hutan lestari. Banyak dikembangkan standard pengelolaan hutan lestari, salah satunya adalah yang dikembangkan oleh FSC. Lembaga ini merepresentasikan keanggotaannya yang terdiri dari para pengusaha kehutanan, industri kehutanan, pedagang produk kehutanan, akademisi, LSM, peneliti, serta masyarakat pengguna produk hutan. FSC dalam kebijakannya yang kita kenal dengn PoA, salah satu isi kebijakan spesifiknya adalah tidak diperkenankannya adanya praktek kekerasan terhadap hak sipil dan tradisional masyarakat dalam mengelola hutan. Perolehan sertifikat PHL-FSC sangat disyaratkan oleh dunia internasional. Apakah model perolehan sertifikasi ini juga sudah dilakukan oleh pengelola hutan di selain benua Asia? Pada saat ini seluruh produk kayu yang masuk ke Amerika harus memenuhi persyaratan “US Lacey Act”, kalau masuk ke Eropa harus memenuhi persyaratan “EUTimber Regulation”, sedangkan yang masuk Australia harus memenuhi persyaratan “Australia Illegal Logging Prohibition Act”. Ada VPA (Voluntary Partnership Agreement) antara Eropa dengan Pemerintah Indonesia yang ditindaklanjuti oleh Indonesia dengan program mandatory-nya yang tertuang dalam Permenhut No 68. Memperhatikan persyaratan-persyaratan pasar yang demikian, adalah merupakan sebuah keharusan bagi pengusaha kehutanan dan produk kehutanan di seluruh dunia mematuhi hal-hal tersebut tanpa ada pengecualian. Apa keuntungan bagi pemegang sertifikat PHL-FSC?

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Banyak keuntungan yang didapat bagi pemegang sertifikat PHL-FSC, keuntungankeuntungan tersebut diantaranya adalah : Perbaikan sistem managemen, diantaranya adalah perlindungan terhadap kehati, perlindungan terhadap tata air, perbaikan kualitas air, konservasi NKT, lestari secara finansial yang berarti lestari bekerja dan sejahtera, dan peningkatan peran dan manfaat bagi masyarakat. Manfaat pasar, diantaranya adalah penetrasi pasar baru, peningkatan akses pasar, dan mendapatkan pasar yang stabil. Perbaikan “public image”, diantaranya adalah perbaikan hubungan dengan LSM, penjamin bagi investor, dan sebagai alat validasi sistem managemen Perbaikan tingkat kompetisi, diantaranya adalah pengelolaan resiko rantai pasokan, pembeda produk, dan harga yang kompetitif. Apa saja tahapan yang harus dilakukan untuk memperoleh sertifikat PHL-FSC? Tahapan yang harus dilakukan untuk memperoleh sertifikat PHL FSC adalah: (i) Pengenalan terhadap standard pengelolaan hutan lestari FS; (ii) Melakukan analisis kesenjangan (Gap assessment) terhadap pengelolaan hutan yang dijalankan dibandingkan dengan standard FSC; (iii) Membuat CAP (certification action plan) untuk menyelesaikan kesenjangan yang ada sehingga dapat memenuhi standard FSC; (iv) Implementasi CAP pada tataran operasional sampai pada tingkat kinerja perbaikan yang berkelanjutan; (v) Melakukan audit internal, jika sudah siap undang auditor untuk melakukan penilaian (pre-assessment, main assessment, cars verification audit, surveillance). Jika lulus dalam proses ini, KPH yang diaudit berhak mendapatkan sertifikat PHL FSC; dan )vi) Dalam kasus seperti Perhutani dimana Perhutani memiliki 57 KPH, maka sebelum KPH lulus mendapatkan sertifikat PHL FSC, maka Perhutani secara korporasi harus memenuhi persyaratan PoA. Bagaimana TFT melihat posisi Perhutani saat ini setelah sejumlah KPH mendapatkan sertifikat PHL-FSC? Sertifikat PHL FSC yang didapatkan oleh beberapa KPH di Perhutani adalah sebuah tanda pengakuan secara

internasional bahwa Perhutani menerapkan praktek yang baik dalam mengelola hutannya. Sebagaimana telah disebutkan dalam jawaban pertanyaan no 7, saat ini Perhutani telah mendapatkannya, jika belum mendapatkan semuanya paling tidak untuk saat awal ini adalah adanya keyakinan yang besar untuk mendapatkannya. Perhutani sudah memiliki kinerja yang baik dalam mengelola hutan, “best practice” ini yang harus diterapkan ke seluruh kawasan KPH di Perhutani. Perbaikan “corporate image” tentunya telah didapatkan oleh Perhutani, selanjutnya adalah mempertahankannya. Setelah Perhutani mendapatkan kembali perhatian dari dunia internasional, apa yang sebaiknya dilakukan agar citra ini terus terpelihara, bahkan meningkat? Secara internal komitmen yang tidak pernah mundur baik dari tataran managemen maupun pelaksanaannya di lapangan, pemantauan dan perbaikan berkelanjutan akan menjadi hal yang sangat penting termasuk di dalamnya adalah melibatkan multipihak yang relevan dalam proses pengelolaan hutan. Internal audit yang didukung oleh sistem yang memadai/ relefan akan menjadi penjaga gawang untuk mempertahankan kinerja pengelolaan hutan di Perhutani. Proses-proses perbaikan yang dilakukan oleh Perhutani harus disuarakan keluar yang dikemas oleh program kehumasan yang baik. Proses komunikasi ini terus dilakukan kepada internal staf Perhutani, multipihak lokal yang terlibat, serta komunikasi ke tingkat internasional.•

Ismoyo Lamongan 07 Mei 1965 Villa Mulawarman No 17 Banyumanik Fakultas Kehutanan IPB, Manager Program Hutan Tanaman di TFT Indonesia. Email : ismoyo@tft-forests.org TFT Indonesia Jl. Dr.Wahidin No.42 , Semarang 50255 Central Java – Indonesia Phone : (62 – 024) 8509798 Fax : (62 – 024 ) 8509798 www.tft-forests.org

DUTA Rimba 33


RIMBAUTAMA

Tak Semudah Balik Kanan:

Penghargaan “Certificate of Rain Forest Alliance for Sustainable Forest Management” dari Smartwood Rain Forest Alliance Amerika Serikat untuk seluruh kawasan hutan Perhutani Jawa dan Madura pernah diraih Perhutani tahun 1990.

B

ahkan, saat itu Perhutani merupakan perusahaan pertama di dunia yang mendapat pengakuan internasional melalui sertifikasi tersebut. Namun, tahun 2002 sertifikat tersebut dicabut karena adanya penilaian buruk dunia internasional akibat gejolak sosial yang terjadi dalam proses pengelolaan hutan. Dicabutnya sertifikat, pada

34 DUTA Rimba

akhirnya melecut semangat Perhutani untuk berkomitmen meraihnya kembali. Berdasarkan visi perusahaan, manajemen Perhutani bertekad meraih kembali sertifikat SFM standar FSC untuk seluruh unit forest manajemen di tahun 2015. Sebuah struktur organisasi Biro Pengelolaan Hutan Lestari dibentuk di Kantor Pusat, Kantor Unit Kerja dan kantor-kantor KPH untuk meningkatkan tanggungjawab dan komitmen. Konkritnya adalah dengan membentuk Kelompok Kerja Sertifikasi berdasarkan Keputusan Direksi no. 614/Kpts/Dir/2002 pada September 2002 dan dikuatkan dengan Keputusan Direksi Nomor 430/Kpts/Dir/2003. Kelompok kerja itu melakukan fasilitasi dan pendampingan untuk proses sertifikasi di lapangan. Hasilnya, hingga pada 2011 lalu empat KPH telah meraih sertifikat PHL-FSC. Kelompok kerja atau Pokja ini mempunyai tugas sangat khusus “nongkrong” di unit-unit manajemen yang sertifikatnya dicabut. Di awal membangkitkan semangat, namanama seperti Bambang Setiabudhi, Lies Yuliarti Bahunta, Susetiyaningsih S, Tri Esti Kadarwati, Didik B Purwanto, Zairina Tampubolon,

Dok. Humas PHT

Pelajaran Wali Kelas Membekas

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 35


Hesliansyah Siregar, adalah formatur awal para wali kelas penggerak tiga unit manajemen KPH Kebonhardjo, KPH Kendal, dan KPH Ciamis. Bahkan nama Susetiyaningsih lekat sebagai Wali kelas Kebonharjo juga Didik B Purwanto di KPH Kendal pada saat awal membangun sistem bersama Tropical Forest Trust waktu itu.

Dok. Humas PHT

mencoba menerapkan visi dan misinya, di mana prinsip dan nilainilai pengelolaan hutan lestari masuk ke dalam aktifitas sehari-hari. Kedua, added value. Dengan memiliki sertifikat berstandar internasional, diharapkan ke mana saja Perhutani menjual produknya dapat diterima. Ketiga, perbaikan citra di mata internasional. Ketika sertifikat sudah didapat, maka otomatis citra Perhutani akan terangkat. Selain itu, Perhutani juga ingin membuktikan kepada dunia bahwa pengelolaan hutan sekarang dan dulu itu berbeda. Dan keempat, menggunakan standar PHL. Di sini Perhutani sudah memiliki model dan orang-orang yang terlibat. Itu manfaat yang Perhutani lihat dari skema FSC. Meski diakui Munir skema apapun baik, namun pihaknya perlu mendapat kepastian bisnis yang baik. Maka

Bersama Tropical Forest Trust (saat ini namanya: The Forest Trust) Pokja ini bekerja mengidentifikasi masalah sampai menyiapkan rencana-rencana best practices di lapangan. Kinerja Sertifikasi Hutan Lestari akhirnya terinternalisasi menjadi sebuah gerakan perubahan struktural dan fungsional yang akhirnya lebih dari sepuluh tahun sejak didirikannya Pokja, sertifikat berstandard internasional tersebut direbut kembali oleh Perhutani. Lima Unit Manajemen KPH Kebon Hardjo, KPH Kendal, KPH Randublatung, KPH Cepu di Jawa Tengah dan KPH Ciamis di Jawa Barat tercatat sejajar dengan unit manajemen kehutanan tingkat dunia lainnya. Kengototan Perhutani memperoleh kembali sertifikat PHL bukan tanpa sebab. Menurut Kepala Biro Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Perum Perhutani, Abdul Munir, paling tidak ada empat manfaat yang bisa didapat melalui skema FSC. Pertama, Perhutani

36 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Lies Yuliarti Bahunta

Abdul Munir, Kepala Biro Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Perum Perhutani

untuk itulah Perhutani memilih FSC yang sudah diakui di 70 negara. “Dua tahun lalu kita pernah diusir gara-gara belum lulus sudah memasang spanduk yang mencantumkn logo FSC. Sekarang kita malah menguasai pasar, malah kita tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasar,” kata Munir.

Melakukan Deep Assessment Perolehan kembali sertifikat PHL ini, tentu saja tidak semudah

Dok. Humas PHT

RIMBAUTAMA

Ir. Didik Budi Purwanto, Msc.For

membalikkan telapak tangan. Selain komitmen dan perencanaan, dibutuhkan kebulatan tekad untuk bersama-sama melakukan kerja keras secara berkesinambungan. Di mata Ir. Didik Budi Purwanto, Msc.For, proses meraih sertifikat yang penuh dinamika itu justeru merupakan hal yang menarik. “Semua proses dalam sertifikasi merupakan pengalaman menarik. Dari hari ke hari selalu ditemukan pengalaman yang menarik, baik teknisnya, orangnya, masalahnya, solusinya, dinamikanya. Karena semuanya memerlukan seni dalam melhat dan menyelesaikannya,” katanya. “Langkah awal kami adalah berkomitmen untuk menerapkan prinsip dan kriteria Pengelolaan Hutan Lestari (PHL), dalam hal ini prinsip dan kriteria FSC. Prinsip dan kriteria ini sebenarnya banyak. Tapi yang kita rasa cukup kredibel di kalangan internasional adalah FSC. Satu demi satu kita awali dengan melakukan assessment, bagaimana sebenarnya (setelah penjarahan itu) kesenjangan yang terjadi,” tambah Munir. Perhutani memulai langkahnya dengan melakukan deep assessment terhadap sejumlah wilayah hutan di beberapa KPH yang relatif

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


belum banyak dijangkau oleh para pembalak liar. Langkah ini, menurut Munir, dimulai dari KPH yang dinilai paling sedikit kerusakannya. Deep assessment dilakukan dengan cara memotret, mengumpulkan, dan melakukan standarisasi sehingga diketahui kekurangannya. Melalui deep assessment inilah Perhutani berharap tidak lagi dikenal memiliki hutan-hutan yang rusak, seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk melakukan deep assessment, Perhutani bekerjasama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), antara lain The Forest Trust (TFT) dan World

sertifikasi. Setelah berhasil, lalu kami coba untuk menduplikasi apa yang telah dilakukan di dua KPH tersebut ke KPH lainnya,” tuturnya.

Perjalanan Panjang

Dok. Humas PHT

KPH Kendal menjadi salah satu KPH yang sebenarnya telah mengatongi sertifikat, namun di tahun 2002 harus kehilangan lagi. Menurut Administratur KPH Kendal, Ir. Soenarto, pencabutan sertifikat PHL KPH Kendal tahun 2002 dikarenakan ada beberapa tindakan perbaikan yang tidak mampu diselesaikan. Namun, hal itu tak lantas membuat mereka berputusasa. Di tahun 2003, Perum Perhutani mengikat perjanjian dengan TFT (Tropical Forest Trust) dalam rangka pendampingan dengan target mendapatkan Sertifikat PHL standard FSC. Soenarto menjadi ketua tim tk KPH. Kala itu, sempat terjadi perbedaan pendapat antara tim TFT, kantor Pusat dan Soenarto sendiri. “Pada awalnya memang sempat terjadi silang pendapat, terutama mengenai pemahaman standard FSC apabila diterapkan di Perhutani. Sementara kita sudah memiliki

Wide Fund for Nature (WWF). Deep assessment dilakukan kedua LSM ini terhadap sejumlah KPH terpilih, yakni Kendal, Kebonharjo, Ciamis, Madiun, Cepu, Randublatung, serta Banyuwangi Utara. Pemilihan sejumlah KPH ini nyatanya menuai hasil. Dari tujuh KPH, kini sudah lima KPH yang meraih sertifikat FSC, yakni Kebonharjo, Kendal, Cepu, Randublatung, dan Ciamis. Klasifikasi ini, menurut Petugas Khusus SISDH/SIG Perum Perhutani, Ir. Diah Djayanti, M.Sc., dilakukan agar Perhutani fokus sekaligus menemukan model proses sertifikasi. “Pertama kali kami majukan KPH Kendal dan Kebonharjo untuk mendapatkan sertifikat PHL. Kedua KPH ini menjadi model untuk proses

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Dok. Humas PHT

Ir. Diah Djayanti, M.Sc., Petugas Khusus SISDH/SIG Perum Perhutani

Ir. Soenarto, Administratur KPH Kendal

sistem pengelolaan hutan yang sudah teruji dan bahkan menjadi percontohan pengelolaan hutan di

Indonesia,” tuturnya. Soenarto dan Didik sama-sama menyebut, ketika itu hasil penilaian atas pengelolaan hutan Perhutani berdasarkan standard FSC, terdapat tiga kategori. Sudah berjalan baik, terutama bidang SDM; perlu disempurnakan, yaitu mulai dari bidang perencanaan sampai dengan Pemasaran; dan belum dilakukan, terutama dalam hal pemantauan dan pengelolaan lingkungan atau ekologi. “Yang terpenting dari itu semua adalah, kita diajarkan bahwa dalam pengelolaan hutan harus tertib, terdokumentasikan dengan baik, terukur, terkontrol, dan terevaluasi untuk menyusun langkah-langkah perbaikan dengan tepat,” kata Soenarto. Didik Budi Purwanto menambahkan, komitmen dari berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan meraih sertifikasi. Berbagai pihak, artinya mulai dari mandor di lapangan hingga Direktur Utama. Dalam bahasa Didik, kecakapan para petugas di lapangan dan kekuatan komitmen dari Direktur Utama menjadi sebuah simphoni yang mengiringi dinamika proses sertifikasi PHL. “Yang juga tidak kalah penting adalah dukungan dan pendampingan dari TFT dan WWF. Mereka masing-masing mempunyai peran dan kontribusi dalam menapaki kesuksesan demi kesuksesan,” ucapnya. Di mana peran sentral TFT dan WWF? “Yang jelas, TFT dan WWF mempunyai kompetensi, integritas dan kredibilitas. Dan mereka merupakan organisasi global yang dapat memberikan bantuan manakala Perhutani tidak mempunyai akses internasional yang baik. WWF dan TFT memberikan warna tersendiri dalam berkomunikasi secara baik dengan komunitas internasional. Dan saya

DUTA Rimba 37


RIMBAUTAMA bisa banyak belajar dari hal-hal tersebut,” kata Didik. “Pendampingan yang dilakukan oleh TFT sangat membantu dan juga memberi pengaruh positif, terutama dalam proses menerjemahkan prinsip-prinsip yang terkanding dalam standard FSC dan bagaimana mengimplementasikannya di lapangan, tanpa mengurangi apa yang telah kita lakukan,” imbuh Soenarto pula.

Job Desk ADM harus diperjelas

Didik menyebut, banyak tahap dalam proses itu yang sangat memakan waktu dan energi, bahkan pikiran dan perasaan. Tetapi Tim Perhutani tak menyerah. Apalagi, kata Didik, ada suntikan motivasi dari pesan ustadz dalam pengajiannya, bahwa ragam kesulitan yang mereka temui itu bisa jadi merupakan momen yang paling mengesankan

Setelah lima KPH berhasil meraih sertifikat FSC, tugas Perhutani ke depan adalah melakukan proses perolehan sertifikat FSC kepada 52 KPH lainnya. Hal ini sesuai dengan rencana strategis (renstra) Perhutani yang menargetkan semua KPH mendapatkan sertifikat FSC pada 2015. Meski Abdul Munir dan Diah optimistis Perhutani mampu mewujudkannya, namun diakui keduanya jika hal tersebut bukanlah pekerjaan ringan. Terlebih permasalahan di tiap KPH yang berbeda satu sama lain. Salah satu permasalahan yang kerap ditemui adalah sikap dan tanggungjawab ADM (administratur) dalam merumuskan dan merealisasikannya. “Kompleks sekali. Kalau menurut saya, kritikannya tertuju ke ADM. Kalau ia punya inisiatif dan interest yang bagus saya yakin bisa. Dalam hal ini job desk ADM, tampaknya harus lebih diperjelas,” tandas Diah. Seorang ADM, menurutnya, seyogianya secara kontinyu dapat mendengar langsung masukan dari “bawah” atas permasalahan yang terjadi. Hal inilah yang disebut sebagai satu bentuk perhatian. Sehingga seorang ADM memiliki catatan atas progres yang telah dilakukan KPH yang dipimpinnya. Bentuk perhatian seperti ini penting dilakukan untuk kemudian dilakukan review secara berkala. Seseorang yang ditempatkan sebagai ADM

Dok. Humas PHT

dalam hidup. “Bapak Abdul Munir juga selalu memberikan dukungan moril antara lain dengan mengatakan bahwa di ujung setiap jalan yang menanjak itu selalu terdapat sebuah hikmah. Jika kita sabar, tawakal, dan gigih, ujungnya adalah jalan kemenangan,” ucap Didik.

38 DUTA Rimba

dinilai mampu untuk beradaptasi dengan cepat dan harus mampu menguasai permasalahan. Mungkin tidak detail tapi besarnya. “Kalau semua progresnya terdokumentasi, dari masalah tenurial, sosial, maupun lingkungan, maka tinggal dibaca dokumennya. Apa yang harus dipantau kan sudah jelas, form-nya sudah ada, harus dilakukan kapan, tinggal ditanya PIC-nya. Tinggal ditanya monitoring perbulannya, stasiun pengamatannya ada berapa, hasilnya apa, erosinya naik atau turun, tinggal dibuat grafiknya, di sana ada tebangan atau tidak. Jadi, misalnya sebelum atau pasca tebangan bisa dipikirkan, apa yang harus dilakukan, dan lain-lain,” imbuh Diah. Terkait kinerja ADM ini, Abdul Munir sependapat. Menurutnya, ADM dan karyawan KPH sekarang sudah dimudahkan dengan adanya role model. Acuan kerjanya pun sudah ada, sehingga siapa yang cepat maka dia yang dapat. Mengenai kreasi, menurutnya, bisa sangat mahal, bisa sedang saja, juga bisa murah tergantung semangatnya. “Jadi sekarang siapa yang bersemangat atau yang kerjanya as usual. Banyak temuan-temuan itu lebih mengarah pada tidak tertib data. Banyak data tapi tidak ada pemberdayaannya. Ada juga dokumen tapi mereka tidak tahu cara menerapkannya. Mungkin kuncinya adalah reward and punishment,” kata Munir. Reward and punishment, boleh jadi menjadi kata kunci agar seluruh komponen yang terlibat dalam proses perolehan sertifikasi terlecut semangatnya. Ini bukan semata soal ancaman atau penghargaan atas kinerja, melainkan refleksi dari kebulatan tekad dan komitmen karyawan terhadap Perhutani untuk menjadikannya the world class company. [] DR

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


DUTA RIMBA mengucapkan Selamat Kepada Perum Perhutani Atas Capaian Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari KPH Kendal, KPH Kebonharjo, KPH Cepu, KPH Randublatung, KPH Ciamis

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 39


SOSOKRIMBA kelahiran 9 Nopember 1962 itu. Namun, karena pria yang sempat aktif di Badan Pekerja Kontras, Jakarta, itu begitu sibuk, DUTA RIMBA menyampaikan pertanyaan tertulis lewat e-mail dan mendapat balasan tertulis pula. Berikut ini petikannya.

Dok. Pribadi

Bisa ceritakan gambaran kondisi konflik yang berlangsung sejak 1957 sebelum ada kesepahaman terkait pemanfaatan hutan antara petani dan Perhutani KPH Kendal? Bagaimana Anda bisa terlibat di dalamnya? Begini. Di sekitar tahun 2006 saya kedatangan serombongan warga penggarap lahan Petak 107 Perhutani KPH Kendal di wilayah Desa Kuripan yang mereka namakan lahan Proyek. Mereka meminta saya menjadi lawyer bagi konflik tenurial antara 950 KK petani penggarap dengan KPH Kendal. Mereka memasuki lahan dan menggarap semak belukar di pinggir pantai yang dikenal dengan nama Petak 107 seluas 152 Ha. Sejak tahun 1967 mereka diusir oleh Bupati Batang kala itu karena proyek percontohan

Handoko

Tokoh Omahtani di Balik Sertifikasi Hutan Lestari

M

enilik perjalanan Perhutani KPH Kendal menuai sertifikat PHLFSC, kita bisa menemukan hikmah di baliknya. Sejak lama, terjadi konflik antara para petani setempat dengan Perhutani terkait pemanfaatan hutan. Kisahnya berujung manis setelah terjadi

DUTA Rimba

kesepahaman yang memuaskan semua pihak. Kisah ini, sejatinya, tidak bisa lepas dari sosok Handoko. Pengayom Omahtani ini berperan penting dalam ”mempertemukan” Perhutani dengan para petani setempat. Untuk mengetahui bagaimana proses mempertemukan kedua pihak tersebut, DUTA RIMBA mencoba menghubungi lelaki

revolusi hijau dengan nama Bimas. Maka lahan itu dikenal dengan nama Proyek (pinggir pantai laut Jawa di Kabupaten Batang). Padi masyarakat yang menguning dibabat, diganti tanaman padi jenis IR dalam program Bimas, menyisakan cerita orang tua bahwa mereka pernah menggarap lahan tersebut. Ketika era Soeharto surut tahun 1998, kisah

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. Pribadi

orang tua itu menjadi daya juang petani penggarap untuk ”kembali” menggarap lahan di situ. Tanaman di petak itu dinilai petani tidak subur dan penuh semak belukar. Mulai tahun 1998 konflik terjadi dengan petugas mandor dari KPH Kendal. Saya menolak menerima upah dan tidak memungut upah apapun untuk kepentingan penanganan konflik tanah yang melibatkan petani miskin itu. Anda bekerja atas nama Omahtani? Saat itu Omahtani bernama Forum Perjuangan Petani Nelayan Batang Pekalongan (FP2NBP). Saya ke lahan, jalan kaki sekitar 3 km lewat jalur rel kereta api. Saya terkejut, ternyata petani sudah menanami semua areal Petak 107 itu sebagai lahan sawah yang subur. Saat itu saya coba sosialisasi, saya mau jadi lawyer mereka dengan syarat

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

mereka mau berorgansiasi yang baik, anti kekerasan dan satu komando satu tujuan (solid). Terbentuklah Paguyuban Petani Tri Tunggal Sejahtera tahun 2006 terdiri dari petani Desa Sengon, Desa Gondang, dan Desa Kuripan, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Mereka ikut dalam kursus-kursus organisasi yang diselenggarakan oleh FP2NBP. Siapa pihak-pihak yang memiliki peran terjadinya “perdamaian”? Tahun 2006 ada team ecolabelling datang ke lokasi, bertemu saya di Semarang. Dialog dengan team ecolabelling gagal karena kami menolak adanya sertifikasi. Di tahun 2007, KPH Kendal kedua kalinya kedatangan team ecolabelling. Waktu itu Perhutani melakukan penanaman pohon mangga di pinggiran pantai. Meski tidak memasuki lahan sawah petani anggota FP2NBP, namun

tetap saja petani khawatir dan hal itu jadi bahan pembicaraan terus menerus. Pernah petani hendak mengeroyok ramai-ramai orangorang yang menanami mangga yang diduga preman. Saya keberatan dan bilang kepada para petani tersebut, ”kalau mau kekerasan jangan belajar dengan saya yang lawyer, tetapi belajar dengan para preman saja”. Karena merasa terganggu, lalu saya coba berkomunikasi dengan Pemda Kabupaten Batang. Saya dipertemukan dengan petani PT3S di kantor Kehutanan Batang. Di situ saya pertama kali bertemu dengan Administratur KPH Kendal, Bapak Kristanto. Saat itu suasana tegang banget karena dianggap acara itu akan berakhir berantakan. Saya diberi kesempatan pertama bicara. Kata saya, ”Kami ini petani miskin, tanah mereka sudah jenengan Perhutani kuasai sedemikian luas di Batang ini, bahkan nyaris 1/3

DUTA Rimba 41


SOSOKRIMBA tanah kami dikuasai Perhutani dan PTPN. Lalu mereka mau menanam di mana sebagai petani? Jadi kami menanami lahan Petak 107, bukan untuk meminta sertifikat hak milik melainkan untuk hidup!”. Jadi yang diminta adalah penanaman di lahan itu? Iya. Dan di situlah kata temunya. Kami tidak meminta tanah itu sebagai hak kepemilikan melainkan sekadar hidup. Ini memang jadi konflik di kalangan petani sendiri, karena sejak awal kita semua bercitacita tanah itu menjadi hak milik. Waktu itu ADM Perhutani Kendal terkejut dan berkata, ”Jadi petani tidak meminta tanah kami dalam bentuk sertifikat hak milik?” Saya tegas menjawab, ”Tidak!” Menurut saya, Perhutani mempunyai fungsi sangat strategis sebagai pengkonservasi dan tidak layak petani meminta hak kepemilikan untuk kasus tanah di Petak 107. Kasus konflik tenurial harus dipilah-pilah. Tidak semua sama penyelesaiannya. Tetapi hal yang didapat di sini adalah DIALOG. Sebuah kata yang hilang dari ingatan Perhutani waktu itu karena terlalu memanjakan diri dengan slogan BUMN atau negara. Di sinilah benturan fisik terus akan berlangsung jika tanpa ada kesetaraan dalam berdialog. Butuh kesabaran dan ketetapan hati tetapi juga membutuhkan organisasi tani yang sehat. Kemudian kami menandatangani MoU berisi bahwa konflik disudahi dan kami tidak meminta hak kepemilikan, tetapi kami diperbolehkan menggarap lahan tanpa dibebani iuran apapun sampai petani tidak membutuhkannya. Kemudian kami semua membantu penuntasan sertifikasi Ecolabelling. Mr. Kevin (Auditor Woodmark untuk Sertifikasi FSC;

42 DUTA Rimba

red) lalu datang lagi dan mampir ke Omahtani (nama itu tahun 2008 kita gunakan untuk mengganti FP2NBP). Kami selalu bilang, ”Perhutani sudah baik dan humanis, juga tidak ada pemakaian senjata api maupun kekerasan fisik”. Saya bersikap balance. Artinya, yang baik saya sebut baik dan yang buruk saya sebut buruk. Apa obsesi dan harapan ke depan terkait kerjasama Omah Tani dan Perhutani? Ke depan, saya berharap Perhutani tentunya selalu menjunjung kepentingan warga di sekelilingnya. Karena bagaimanapun mereka adalah petani miskin yang membutuhkan uluran tangan perusahaan besar seperti Perhutani.

Menurut saya, Perhutani mempunyai fungsi sangat strategis sebagai pengkonservasi dan tidak layak petani meminta hak kepemilikan untuk kasus tanah di Petak 107. Kasus konflik tenurial harus dipilah-pilah. Tidak semua sama penyelesaiannya. Tetapi hal yang didapat di sini adalah DIALOG.

Adakah saran untuk Perhutani dalam upaya pengelolaan konflik dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi Perhutani? Ada hal yang tidak saya sukai dengan PHBM. Ini program apaapaan, dijadikan ajang perebutan uang saja, bahkan melanggengkan korupsi. Di Batang, sebetulnya bermasalah. Jangan memakai PHBM sebagi ajang kampanye Perhutani bahwa perusahaan negara ini care, peduli pada petani miskin, fungsi sosial, dan lainlain. Perhutani musti membuat kelompok-kelompok tani dengan tidak mengandalkan uang sebagai pintu masuknya. Sekarang yang terjadi hanya bagi-bagi saja. Begitu uang habis, habis pula semangat untuk membangun organisasi tani yang kuat. Kecilnya pencurian kayu, misalnya, sama sekali bukan soal PHBM, tetapi karena hukum yang tegas. Artinya, pihak Kepolisian RI tegas, begitu pula penuntut umum dan hakim. Sehingga pencuri takut untuk mencuri. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang milyaran yang dibagi-bagi kayak pembagian beras miskin saja. Mestinya digumpalkan dalam bentuk pemberdayaan ekonomi yang benar-benar organisasi taninya kuat. Jadi Perhutani harus membangun organisasi tani yang kuat dulu baru diberi fasilitas. Apa saja kegiatan yang dilakukan Omah Tani saat ini untuk menyejahterakan anggotanya? Omahtani sekarang sedang mempersiapkan program Go Politic. Tahun 2007 kami latihan melakukan program ini dengan cara pemilihan kepala desa tanpa sogokan. Para petani iuran beras, rokok, gula, kopi, teh, makanan kecil, uang, kayu bakar, pisang, dan lain sebagainya untuk mendukung calon kepala desa dari

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Omahtani sekarang sedang mempersiapkan program Go Politic. Tahun 2007 kami latihan melakukan program ini dengan cara pemilihan kepala desa tanpa sogokan. Para petani iuran beras, rokok, gula, kopi, teh, makanan kecil, uang, kayu bakar, pisang, dan lain sebagainya untuk mendukung calon kepala desa dari anggota Omahtani.

Dok. Pribadi

anggota Omahtani. Melalui kongres Omahtani tahun 2011, diputuskan Omahtani Go Politic tahun 2014 dan kami akan mencalonkan petani sebagai anggota DPRD Kabupaten Batang. Saat ini Omahtani punya berapa anggota? Anggota Omahtani ada 12.000 KK, tersebar di Kecamatan Bandar, Tulis, Subah, dan Blado. Saat ini kami membuat blok Politik dengan anggota bukan saja petani, tetapi juga buruh dan nelayan. Bahkan Serikat Pekka, organisasi kaum janda

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

Handoko Wibowo nama lengkapnya. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga pada tahun 1986. Perjalanan karirnya dalam membela kaum marjinal dimulai saat ia menjadi anggota Badan Pekerja Kontras Jakarta. Lelaki kelahiran 9 Nopember 1962 ini mengaku menyukai traveling, belanja, memasak, dan demonstrasi.

menjadi pilar utama dari blok itu. LSM seperti ICW dan TII, Demos dan Elsam menjadi mitra yang turut mendorong proses demokratisasi. Dari petani menjadi politisi! Hal yang menggembirakan lagi menjalin kerjasama dengan buruh di Bekasi (Federasi Serikat Buruh Metal Indonesia), di mana militansi mereka untuk menuntut UMR, salah satu sahamnya dari proses pendidikan di Omahtani. Sekarang, setiap minggu gelombang buruh dari Bekasi dan juga kota lain belajar di sekretariat Omahtani di Cepoko, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

DUTA Rimba 43


WARISANRIMBA

Meneropong Risalah Jati di Gubug Payung Blora adalah kabupaten yang terletak paling timur wilayah Provinsi Jawa Tengah. Di sana banyak terdapat pohon jati. Namun jumlahnya berkurang banyak saat terjadi penjarahan di masa awal era reformasi.

44 DUTA Rimba

D

ari sisa-sisa jati yang ada, masih ada yang layak dibanggakan. Jati-jati yang layak dibanggakan itu terdapat di kawasan hutan jati Gubug Payung. Kabupaten Blora memiliki luas wilayah 182.059 hektare. Dari luas itu, 49,66 persen wilayah Blora terdiri atas hutan (90.417 hektare). Selebihnya adalah kawasan permukiman, persawahan, dan tegalan. Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika begitu mendengar nama Kabupaten Blora, orang akan menghubungkan nama itu dengan daerah penghasil kayu jati yang kualitasnya terbaik di dunia. Saat ini pun masih banyak pohon jati (tectoca grandis) di Kabupaten Blora. Pohon-pohohn jati itu tersebar membentuk hutanhutan jati berkualitas. Namun, jumlah tegakan pohon jati di Blora memang berkurang banyak saat terjadi aksi penjarahan yang mengiringi peralihan Orde Baru ke awal era reformasi di tahun 1998 silam. Gerombolan massa datang dan menjarahi kayu-kayu jati tanpa bisa dibendung. Tercatat, kurang lebih 103 pohon jati habis dijarah massa

kala itu. Kini, pohon-pohon jati yang tersisa dari aksi penjarahan itu masih berdiri, selain pohon-pohon jati baru yang ditanam kemudian. Dari sisa-sisa pohon jati yang ada itu, memang masih ada yang layak untuk dibanggakan. Yaitu pohon jati alam yang ada di Gubug Payung di wilayah KPH Cepu dan sebuah pohon jati yang dinamai Jati Denok. Gubug Payung adalah sebuah lokasi hutan jati yang berasal dari kawasan hutan jati yang produktif yaitu petak 1092 A, B, C yang termasuk wilayah BKPH Pasarsore, RPH (Resor Pengelolaan Hutan) Temengeng, KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Cepu, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Luasnya kurang lebih 34,4 hektare. Sedangkan luas kawasan perlindungan setempat adalah 6,6 hektare. Jati alam di Gubug Payung usianya diperkirakan mencapai antara 100 hingga 200 tahun. Berdasarkan RPKH jangka 1983 â&#x20AC;&#x201C; 1992, petak 1092A kelas hutan HAJ dipenuhi pohon dengan umur sekitar 150 tahun. Sedangkan petak 1092B tahun tanamnya 1932 (KU VI). Kemudian, hasil evaluasi tahun 2010

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


Dok. Humas PHT

NO. 42 42••TH. TH.77• •MARET-APRIL MARET-APRIL 20122012

45 DUTA Rimba 45


WARISANRIMBA

Dok. Humas PHT

menjadi 1092 A, B, C, kelas hutan LDTI. Gubug Payung petak 1092 telah ditetapkan sebagai “Kawasan Perlindungan Khusus Hutan Alam Jati”. Penetapan Gubug Payung sebagai Monumen Hutan Jati Alam dilakukan sejak tahun 1975. Penamaan Monumen Hutan Jati Alam Gubug Payung tersebut diberikan oleh Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto, ketika beliau mengunjungi hutan jati alam ini di tahun 1975. Selepas itu, Gubug Payung juga dijadikan lokasi wanawisata. Saat ini, tegakan tinggal 1.429 pohon, jumlah pohonnya 1.429 pohon, dengan tinggi rata-rata 38 meter, diameter (garis tengah) rata-rata 95 cm, volume rata-rata 13.755 meter kubik. Hasil sensus pohon yang dilakukan oleh SPH IV Rembang di tahun 2010 menunjukkan bahwa

46 DUTA Rimba

jumlah pohon adalah kurang lebih 1.435 pohon. Di tahun 2011 – 2012 terjadi bencana alam yaitu terpaan angina putting beliung yang melanda sebagian wilayah Gubug Payung ini sehingga mengakibatkan 6 pohon tumbang. Akibatnya, jumlah pohon tinggal 1.429 pohon dengan volume 13.755 meter kubik. Sejak kawasan hutan yang terbentang luas tersebut dimaksimalkan sebagai tempat wisata, Kabupaten Blora langsung merengkuh dua keuntungan sekaligus. Keuntungan yang pertama, berupa pemasukan retribusi yang terbukti mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Keuntungan kedua, berupa pengakuan dari masyarakat di luar daerah, bahwa ternyata Blora tidak seburuk yang dikatakan orang sebelumnya. Faktanya, kini banyak wisatawan dari dalam negeri

maupun mancanegara yang merasa penasaran jika belum menyaksikan potensi wisata hutan di Blora. Kini, beragam cerita yang berkembang di masyarakat pun mengatakan, jika kita menelusuri kedalaman hutan di Blora, maka kita akan bisa mengintip keindahan “surga”.

Pohon 1 Milyar Gubug di pedalaman hutan ini merupakan tempat peristirahatan yang memiliki Monumen Hutan Jati Alam. Di Gubug Payung yang terletak pada petak 1.092A, BKPH Pasar Sore, KPH Cepu inilah, pengunjung dapat melihat pohonpohon jati tua yang pernah dipotong tahun 1976. Pohon jati itu sendiri berumur lebih dari 100 tahun. Ini dibuktikan dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang batang yang dipotong, berjumlah

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


rupiah membuat lelang pohon jati mati tersambar petir itu tercatat dalam rekor MURI (Museum Rekor dunia, Indonesia) sebagai pohon termahal di dunia. Penyerahan piagam penghargaan dari MURI ketika itu dilakukan langsung oleh Direktur MURI, Jaya Suprana, kepada Direktur Utama Perum Perhutani saat itu, Dr. Ir. Transtoto Handadhari. Piagam MURI diserahkan bersamaan dengan saat berlangsungnya acara penebangan pohon jati tersebut, yaitu tanggal 23 Agustus 2007. Saat ini, pohon jati dengan keliling terbesar di Gubug Payung adalah pohon nomor 156. Tingginya 37 meter dengan keliling 535 cm.

Dok. Humas PHT

sekitar 108 lingkaran. Ada satu fenomena yang menarik jika bicara mengenai Gubung Payung. Di tahun 2007 dilakukan proses lelang atas sebatang pohon jati besar yang terdapat di Gubung Payung. Pohon jati yang sebelumnya tumbuh di kawasan Temengeng, Kecamatan Sambong, tak jauh dari lokasi Monumen Hutan Jati Alam Gubug Payung, itu berusia sekitar 150 tahun ketika itu. Tingginya saat itu kurang lebih 35 meter dengan keliling batang 690 cm dan diameter 330 cm. Namun, ditahun 2007 pohon itu tersambar petir dan mati. Karena mati, Perum Perhutani kemudian

wilayah Kabupaten Blora lantaran pohon jati di kurun waktu tahun 2007-2008. Satu lagi adalah pohon jati berusia lebih dari tiga abad (300

Seperti dikatakan orang, menelusuri kedalaman hutan di Blora, sama seperti mengintip keindahan “surga”. Namun, untuk sampai pada kenikmatan mengintip keindahan “surga” di tengah hutan jati Gubug Payung, harus melalui “perjuangan yang cukup keras”. melelangnya. Hasil lelang membuat pohon mati tersambar petir itu laku terjual seharga satu milyar rupiah! Terjual dengan harga satu milyar

Penjualan pohon jati seharga Rp 1 Milyar melalui proses lelang itu menjadi salah satu dari dua penghargaan MURI yang diterima

tahun) yang sampai saat ini masih hidup dan tegak dengan gagahnya, yaitu Jati Denok. Jati Denok memiliki tinggi sekitar 30 meter dan keliling pangkal bawahnya mencapai 839 cm. Konon, Jati Denok adalah jati terbesar dan umurnya paling tua di Indonesia. Pohon jati monumental itu, bisa jadi sudah cukup banyak diketahui orang. Namun, tidak sedikit pula yang belum tahu.

Dok. Humas PHT

Loko Tour

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Seperti dikatakan orang, menelusuri kedalaman hutan di Blora, sama seperti mengintip keindahan “surga”. Namun, untuk sampai pada kenikmatan mengintip keindahan “surga” di tengah hutan jati Gubug Payung, harus melalui “perjuangan yang cukup keras”. Sebab, jalan yang harus dilalui untuk sampai ke lokasi Gubug Payung cukup menguras tenaga. Hal itu lantaran

DUTA Rimba 47


WARISANRIMBA menikmati paket perjalanan wisata di Hutan Jati KPH Cepu, Blora. Para penumpang loko tour akan bisa menikmati pemadangan lebatnya pohon jati di sepanjang jalan yang dilalui hingga di Gubug Payung. Warehouse tempat bersemayamnya lokomotif uap tua

Cara agar pengunjung dapat menikmati perjalanan wisata dengan Loko Tour, adalah dengan menghubungi Perhutani KPH Cepu. Sebab, lokomotif tua buatan Jerman itu baru akan berjalan jika ada pesanan dari para wisatawan atau kelompok warga lainnya. Sebab,

mudah untuk sampai di lokasi Gubug Payung. Yaitu dengan menaiki kereta api loko tour. Loko tour adalah sarana berkeliling menggunakan sebuah kereta yang ditarik lokomotif tua buatan Berliner Maschinenbaun, Jerman, tahun 1928. salah satu lokomotif tua itu dinamakan “Tingting”. Lokomotif bernama “Ting-ting” itu adalah loko yang terkecil dan tercantik dari koleksi lokomotif tua berbahan bakar uap di sana. Loko Tour menjadi salah satu daya tarik Gubug Payung. Loko Tour mengajak setiap pengunjung

itu jika tidak bertugas mengantar para wisatawan, adalah milik Perum Perhutani. Warehouse tersebut dibangun tahun 1911. Sedangkan rel tempat berjalannya loko tour tersebut dibangun tahun 1915. Cukup tua, kan? Hmm…biar tua, ia sangat menarik. Waktu tempuh dari warehouse menuju Monumen Hutan Jati Alam Gubug Payung dengan Loko Tour adalah 2 jam perjalanan. Selama perjalanan tersebut, para wisatawan dapat melihat beragam obyek yang berhubungan dengan aktivitas pengelolaan hutan jati alam.

biaya operasional loko ini lumayan mahal. Untuk satu kali perjalanan wisata, biaya sewa loko tersebut adalah Rp 1,5 juta. Untuk menuju sarana wisata Loko Tour, para wisatawan dapat menempuh perjalanan dengan kendaraan roda empat atau bus melalui jalur Surakarta – Ngawi – Cepu (122 km), Surakarta – Purwodadi – Blora – Cepu (161 km), Semarang – Purwodadi – Blora – Cepu (162 km), Semarang – Kudus – Rembang – Cepu (182 km), dan Surabaya – Bojonegoro – Cepu (149 km). Khusus perjalanan

Dok. Humas PHT

jalannya berupa jalan makadam dan sebagian lagi jalan terjal berbatu. Dari arah Blora, selepas jalan BloraCepu, kendaraan berbelok ke kanan. Jarak dari pertigaan menuju Gubug Payung itu sekitar 17 kilometer. Sulit, ya? Jangan khawatir. Sebab, ada cara yang lebih praktis dan

48 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


yang ditempuh dari Surakarta, meskipun jaraknya agak jauh, namun lebih menguntungkan bagi para wisatawan. Menguntungkan? Ya. Sebab, pada jalur ini, wisatawan dapat singgah terlebih dulu di Museum Purbakala Sangiran, Kabupaten Sragen, atau menyaksikan keajaiban alam Bledug Kuwu di Grobogan. Bledug Kuwu merupakan daerah penghasil garam tradisional, dimana bahan baku air asinnya bersumber dari kawah yang terlontar dari dalam tanah. Obyek utama perjalanan Loko Tour ini adalah melihat kawasan hutan jati yang dikelola dengan memperhatikan azas kelestarian hutan. Loko Tour yang dipersiapkan khusus untuk kaum wisatawan ini

untuk menyaksikan keelokan hutan jati alam Kabupaten Blora. Sekitar dua kilometer dari Bengkel Traksi, kepada para wisatawan peserta Loko Tour bakal ditunjukkan tempat penimbunan kayu (TPK) Batokan. TPK ini memiliki areal seluas 36,2 hektare, berdaya tampung 40.000 meter kubik kayu pertukangan. Bersebelahan dengan TPK Batokan, terdapat Industri Pengolahan Kayu Jati (IPKJ) Cepu. Setelah penat berputar, pemandu wisata dari Perum Perhutani KPH Cepu akan membawa para wisatawan peserta Loko Tour tersebut ke Gubug Payung. Di Gubug Payung, para wisatawan pengunjung dapat melihat pohonpohon jati tua yang pernah dipotong tahun 1976. Pohon jati itu

langsung di tengah hutan. Kepada mereka antara lain diperlihatkan proses penebangan. Bahwa dua tahun sebelum ditebang, pohon jati mesti dimatikan terlebih dahulu dengan cara diteres. Proses diteres ini merupakan upaya mengurangi kadar air di dalam kayu. Dengan langkah tersebut, kelak akan diperoleh kayu jati berkualitas tinggi, lebih awet, tidak mudah pecah, ringan waktu diangkut, dan mudah dalam setiap proses pengerjaannya. Setelah mengalami teresan selama dua tahun, pohon jati baru ditebang. Penebangan dilakukan para blandong, yaitu tukang tebang profesional yang tinggal di seputar hutan. Perhutani pernah menginventarisasi pohon jati

Selepas menghilangkan rasa penat di Gubug Payung, para wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan menyaksikan sistem tebang, saradan, dan pengangkutan kayu jati, secara langsung di tengah hutan. memiliki rute yang sangat panjang. Dengan melintasi hutan jati di wilayah BKPH Ledok, Kendilan, Pasarsore, Blungun, Nglobo, Cabak, dan Nglebur, semua dilalui dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan. Sejumlah obyek wisata bisa disaksikan dalam paket Loko Tour tersebut. Selain lokomotif tua buatan tahun 1928, para wisatawan juga disajikan dengan pemandangan Bengkel Traksi, TPK Batokan, Bergojo, Kegiatan Pengelolaan Hutan Jati berprinsip pada azas kelestarian hutan (penanaman, pemeliharaan, tebangan, saradan, angkutan), serta Gubug Payung. Bergojo adalah semacam tempat penampungan air untuk keperluan lokomotif yang terletak di tengah hutan. Di sini, lokomotif akan berhenti sejenak untuk mengisi air. Ketika lokomotif tengah mengisi air itu, para wisatawan diizinkan turun

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

sendiri berumur lebih 100 tahun. Ini dibuktikan dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang batang yang dipotong, berjumlah sekitar 108 lingkaran. Jika para wisatawan peserta Loko Tour ingin melakukan paket perjalanan selama dua hari atau lebih, maka panitia telah menyediakan tiga tempat penginapan. Penginapan bagi para wisatawan peserta Loko Tour itu terdapat di Duta Ubaya Rimba (12 kamar), Wisma Sorogo (5 kamar), dan Pesanggrahan (4 kamar). Tarif perjalanan paket Loko Tour ini tergolong murah, hanya 40 dolar/orang/hari, termasuk biaya penginapan dan makan. Selepas menghilangkan rasa penat di Gubug Payung, para wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan menyaksikan sistem tebang, saradan, dan pengangkutan kayu jati, secara

tua. Pohon jati yang berumur lebih dari 150 tahun, tumbuh di beberapa tempat. Di antaranya adalah Temengeng (sejumlah 1.766 pohon), serta ribuan pohon lainnya di kawasan hutan Padangan Jawa Timur, Randublatung, Gundih, dan Purwodadi, serta Surakarta. Keberadaan pohon jati itu dilindungi, sehingga tak akan ditebang. Tempat tumbuhnya pohon jati tua itu pun ditetapkan sebagai cagar alam, hutan lindung, maupun situs budaya lokal. Nah, jika ingin melihat risalah jati, singgahlah ke Gubug Payung. Sekadar menikmati keindahan pesona hutan jati alam. Atau juga menikmati sensasi perjalanan dengan kereta tua dan lokomotif kuno berbahanbakar uap. Dan menikmati kekayaan kita. Salah satu warisan sejarah yang sangat bernilai tinggi. â&#x20AC;˘ DR

DUTA Rimba 49


LINTASRIMBA

Selain Guest House Eboni, Pusdiklat SDM Punya Apartemen Pandhita Wana

Dok. Humas PHT

P

menelusuri perbukitan hingga mencapai garis ďŹ nish di jalan protokol di kota. Jarak yang ditempuh kurang lebih 10 km. Pusdiklat SDM merupakan satu-satunya lembaga yang

Dok. Humas PHT

agi itu (22/03) tak kurang dari 200an orang bersepada santai mengambil start dari Pusdiklat SDM menuju barak Mojorayung dan kembali ke Pusdiklat SDM. Para peserta akan menempuh perjalanan melalui rute-rute kota Madiun dengan jalanan yang halus sampai ke Kecamatan Wungu di jalanan Tempursari berupa persawahan, menuju kampung pedesaan dan istirahat di barak Mojorayung, sebuah lokasi praktek kehutanan dan outbound milik Pusdiklat SDM. Perjalanan dilanjutkan melalui persawahan yang berkelokkelok dengan hamparan padi menguning, sambil menyaksikan para petani yang sedang memanen hasil sawahnya. Tantangan semakin terasa saat para peserta masuk kampung

50 DUTA Rimba

bertanggung jawab atas kegiatan di bidang pendidikan dan pelatihan SDM. Sebagai salah satu elemen dari Manajemen SDM Perusahaan, Pusdiklat SDM bertugas mendidik karyawan dari seluruh wilayah kerja Perum Perhutani serta berupaya untuk meningkatkan profesionalisme jajaran internal perusahaan di antaranya dengan memberikan penguatan terhadap skill, knowledge, dan attitude. Dalam rombongan yang semuanya bersepeda itu tampak Bambang Sukmananto, orang nomor satu di jajaran Perum Perhutani. Mulai dari Fongres hingga Polygon, dari sepeda Gowes antik sampai sepeda gunung terkini. Keceriaan terpancar dari seluruh peserta. Pagi itu Direktur Utama Perum Perhutani didampingi Direktur Umum dan SDM Ir Achmad Fahrodji, Kepala Pusdiklat SDM Ir Mujiono B Santoso, Sekretaris

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


Dok. Humas PHT

House Eboni berkapasaitas 22 kamar dengan fasilitas hotel bintang 5 dan Apartemen Pandhita Wana yang mempunyai kapasitas 20 kamar ini, selain diperuntukan bagi tamutamu yang berkunjung ke Pusdiklat, Widyaiswara, nantinya juga akan disewakan bagi masyarakat umum. Dijelasakan oleh Kapusdik, bahwa Pusdiklat SDM Madiun merupakan unit kerja Perum Perhutani dengan kinerja terbaik saat ini. Disebutkan pula bahwa sampai dengan bulan Maret ini Pusdiklat SDM telah mencapai penghasilan sebesar 50% dari target RKAP. Secara umum Direktur Utama menyampaikan bahwa fasilitas yang sangat lengkap dan memadai tersebut diharapkan dapat membawa pembinaan yang lebih baik pula. Dok. Humas PHT

Perusahaan dan Kepatauhan Ir Hari Priyanto, Asdir SDM dan Umum Heru Lutfi Nazianto, beserta keluarga besar karyawan-karyawati Pusdiklat SDM, Perum Perhutani KPH Madiun, Lawu DS, Saradan, serta KPH Ngawi mengawali serangkaian kegiatan di Pusdiklat SDM. Setelah Finish di Pusdiklat, Bambang Sukmananto secara simbolis meletakkan batu pertama sebagai tanda diawalinya pembangunan arena sport centre di area Pusdiklat SDM Madiun. Acara dianjutkan dengan tinjauan lapangan mengelilingi kompleks Pusdiklat. Acara diakhiri dengan penyerahan dorprize serta penanaman beberapa jenis pohon di sekitar Guest House Eboni dan aparteman Pandhita Wana. Sebelum mengisi kuliah Umum di hadapan siswa-siswi Pusdiklat SDM, Direktur Utama terlebih dahulu meresmikan Guest House Eboni dan Apartemen Pandhita Wana. Guest

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

ULTAH merupakan pelanggaran berat di Pusdik Mungkin kejadian ini hanya terjadi di Pusdiklat SDM, di mana siswa yang berulang tahun dianggap melakukan pelanggaran berat. Cerita bermula saat tiga siswa yang pada bulan Maret ini berulang tahun dipanggil oleh kapusdik untuk maju ke depan. Kemudian Direktur Umum dan SDM diserahi tugas untuk memberikan hukuman kepada mereka bertiga. Dirum pun dengan tampang serius mengumumkan jenis pelanggaran apa yang telah mereka bertiga perbuat. Sontak wajah ketiganya pun berubah pucat. Setelah melalui proses yang menegangkan, ketiga siswa dan seluruh siswa akhirnya diberitahu jika hal itu hanyalah sebuah game untuk merayakan ulang tahun ketiga siswa tersebut. Wajah pucat pasi ketiga siswa pun lantas berubah menjadi kebahagian. Terlebih lagi selain mendapat ucapan selamat dari seluruh peserta yang hadir di Aula Pusdiklat, mereka juga mendapatkan amplop berisi sejumlah uang dari Direktur Utama Perhutani. •DR - Rudy

DUTA Rimba 51


LINTASRIMBA

Berkelok-kelok di Pematang Menanam Pohon di Hutan

52 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

P

ematang sawah yang berkelok-kelok menghubungkan dataran Babakan Madang dengan Gunung Hambalang, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak membuat nyali wanitawanita cantik paruh baya itu melangkahkan kakinya menuruni jalan setapak. Mereka sesekali menyapu buliran air keringat yang membasahi wajahnya, tanpa ada sebuah beban. Kakinya ringan terus melangkah melewati jembatan gantung yang berada tepat di atas gemericik air sungai. Langkah tersebut memang sempat melambat, ketika mereka mulai menaiki tangga tebing Hambalang. Nafas dan energinya pun harus mereka atur untuk bisa sampai ke lokasi yang mereka tuju. Perjuangan tenpa lelah menuju Petak I, RPH Babakan Madang, KPH Bogor itu ditunjukkan oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Perum Perhutani awal bulan Maret 2012. Ibu-ibu yang dikomandani langsung oleh ketuanya Ny Irma B Sukmananto, sebelum menuju Bukit Hambalang, terlebih dahulu berkumpul di Pemberhentian Sentul City. Mereka kemudian berkonvoi menyusuri boulevard Sentul City, melintasi kawasan Sentul Nirwana dan menelusuri jalan beraspal di kawasan Babakan Madang. Namun konvoi mobil itu harus dihentikan, karena tak ada jalan aspal yang langsung menghubungakan Bukit Hambalang. Anggota Dharma Wanita itu harus berjalan kaki menuruni tebing, melintasi pematang sawah dan melakukan pendakian Bukit Hambalang. Rasa capek dan kehabisan energi itu terbayar ketika mereka sampai di Petak I, Bukit Hambalang. Di hamparan hutan dikelilingi pohon pinus tersebut, mereka melaksanakan program Kerja Bidang Sosial Budaya tahun 2012, dengan melaksanakan kegiatan penanaman pohon di lingkungan Perum Perhutani. Dipandu oleh Kepala KPH Bogor, Ir Asep, acara diawali dengan penanaman pohon oleh Ny Irma B Sukmananto, kemudian diikuti anggota rombongan. Tampak Ny Achmad Fahrurodji dengan semangat menanam dan menguruk lubang dengan cangkul. Begitu pula Ny Tedjo dan anggota rombongan ibu-ibu lainnya tak mau ketinggalan membenamkan tanah untuk membuat bibit-bibit tanaman yang mereka semaikan itu agar bisa tumbuh besar menghijaukan Bukit Hambalang.• DR

Marubeni Beli Gum Rosin Perhutani Perum Perhutani mendapatkan kontrak dagang dengan perusahaan Jepang Marubeni Plax untuk pembelian Gum Rosin. Kontrak jangka panjang tersebut diteken pada Rabu 28 Maret 2012 di Osaka Jepang oleh Dirut Perhutani Bambang Sukmananto, Mr. Noritoshi Toyoda dari Marubeni Plax Corporation, dan Bambang Triadmodjo selaku Direktur PT Milatronika Karya Niaga sales agent Gum Rosin. Hadir menyaksikan penandatanganan tersebut Mr. Hirotsugu Uchida President Marubeni Plax Corporation. Pada kesempatan itu Bambang Sukmananto mengatakan kontrak ini untuk meningkatkan penerimaan Perhutani dari hasil hutan non kayu yang di target seimbang dengan hasil hutan kayu. Marubeni Plax Corp Jepang telah lama mengimpor Gum Rosin produksi Perhutani, tetapi nilai pembeliannya hanya 100 metrik ton (5 kontainer) per bulan atau 45 kontainer per tahun. Kali ini Marubeni Plax mematok 500 metrik ton (25 kontainer) per bulan atau 250 kontainer per tahun naik lima kali lipat dari impor sebelumnya..•

Ekspor Perhutani Tembus China Perum Perhutani melebarkan sayap ekspor ke China. Produk lantai kayu jatinya diborong Nature Flooring, sebuah perusahaan distributor flooring di China melalui Sen Fong (SF) Resources Group selaku agen industri kayu Perhutani untuk Asia. Kontrak pembelian itu diteken melalui MoU oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto, Chairman dan CEO China Flooring Holding Company Limited Mr. She Xue Bin, dan Direktur SF Resources Group Mr. Wong Teng Kong pada pameran Domotex Floring di Shanghai, China pada 27 Maret 2012. Menurut Bambang, kerja sama ini akan meningkatkan nilai ekspor industri hilir Perhutani, khususnya lantai kayu

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. Humas PHT

jati (teak flooring) untuk menembus pasar China yang merupakan pasar luar biasa untuk impor dan ekspor. Dengan penduduk berjumlah 1,35 miliar, populasi urban

mencapai 926 juta jiwa pada 2025 dan 350 juta adalah penduduk desa yang bekerja di kota-kota besar China, maka ekonomi China akan berputar keras. •(Indopos, 30 Maret 2012)

Perhutani Peringati Hari Jadinya ke-51

Sukmananto menetapkan tanggal 29 Maret menjadi hari jadi Perhutani. Melalui pesannya dari Osaka Jepang saat menandatangani kerjasama dengan perusahaan pembeli Gum Rosin Perhutani, Marubeni Plax Corp, Bambang Sukmananto menyampaikan bahwa dengan usia yang mencapai setengah abad, Perhutani bukan tua di usia tetapi matang dalam pengelolaan bisnis kehutanannya. Dalam sejarah kelahiran BUMN Kehutanan terbesar di Indonesia ini, tanggal 29 Maret 2012 merupakan kali pertama hari jadi Perhutani diperingati seluruh karyawan perusahaan. Ke depan, Perhutani diharapkan menjadi perusahaan pengelola hutan tropis di Indonesia yang makin bersinar, profesional, transformatif, bermanfaat untuk masyarakat dan negeri ini secara sosial, lingkungan dan ekonomi. •(Humas Kantor Pusat)

Perum Perhutani Kerjasama Dengan Koperasi Kehutanan Korea Selatan Perum Perhutani dan Federasi Koperasi Kehutanan Nasional Korea (National Forestry Cooperative Federation of Korea/NFCF) , Rabu (29/2), menandatangani kerjasama lanjutan untuk penananam tanaman cepat

Dok. Humas PHT

Pada Hari Kamis, 29 Maret 2012, Perhutani memperingati hari jadinya yang ke-51. Kelahiran Perhutani diawali dengan sejarah dibentuknya Badan Pimpinan Umum (BPU) Perhutani dan PN (Perusahaan Negara) Perhutani yang diundangkan Negara pada 29 Maret tahun 1961. Pada tahun 1972, badan hukum

Perhutani berbentuk Perum (Perusahaan Umum) ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 15 tahun1972 pada tanggal 29 Maret 1972. Melalui Surat Keputusan Direksi Nomor 181/Kpts/ DIR/2012, Direktur Utama Perum Perhutani Bambang

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

tumbuh di areal PT Perhutani di Indonesia. Penandatanganan kesepakatan dilakukan oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto dan Wakil Ketua yang juga CEO NFCF Dong Myun Sur di Seoul. Menurut Kepala Biro Humas dan Protokoler Perum Perhutani, Susetiyaningsih, kerjasama tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan bilateral Indonesia dan Korea pada Forum Kehutanan Korea Indonesia Juni 2007 yang juga dihadiri menteri kehutanan kedua negara. Pada forum itu, kedua institusi tersebut menan-

DUTA Rimba 53


LINTASRIMBA datangani Nota Kesepakatan Bersama (MOU) tentang Pendirian dan Manajemen Penanaman di Area Kehutanan di Pulau Jawa (Establishment and Management of Forest Plantation in Forest Areas in Java). Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan tersebut, Perhutani telah menyiapkan lahan hutan seluas 10.000 ha di Teluk Jambe, Jawa Barat. •(Sumber: Antaranews.com, 1 Maret 2012)

hutan, bahkan sebaliknya bisa menambah penghasilan petani dan mendukung penguatan daerah aliran sungai. Keuntungan atas pola kemitraan ini juga diamini para petani penggarap tumpang sari (pesanggem). Dari lahan garapan 1/4 hektare yang diberikan Perhutani, seorang petani akan memperoleh 1 ton gabah kering dengan harga jual Rp 300.000 per kuintal. Sebagai syarat kemitraan, petani itu harus menjaga tegakan utama dan melakukan kegiatan perawatan. Selain memperoleh bantuan pupuk dan benih dari Perhutani, petani mendapatkan hak atas seluruh hasil panen tanaman tumpang sari. Sedangkan dari tegakan utama pohon jati, pesanggem nantinya memperoleh 25 persen dari hasil penjualan tegakan. Setiap pesanggem maksimal memperoleh 1 ha lahan garapan. ”Pemasaran padi huma ini tidak sulit dan permintaannya cukup tinggi,” ucap Udin, salah seorang petani dengan sumringah. •

Perhutani KPH Purwakarta Panen Raya Padi Huma Panen raya padi huma yang digelar Perum Perhutani di Kampung Cikadu Desa Wanawali, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta, berlangsung meriah. Kehadiran Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa dan Menteri Kehutanan Zulkiefli Hasan menjadi salah satu alasannya. Tak cuma dua menteri dari Kabinet Indonesia

Perhutani Kantungi Ijin Sadap Getah Pinus dari Pemprov Bali

Bersatu II itu saja, kegiatan panen yang dilaksanakan pada 25 Maret lalu tersebut juga dihadiri Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Berlokasi di Petak 99 C pada lahan seluas 17,60 ha di kawasan hutan milik Perum Perhutani, masyarakat Wanawali yang tergabung dalam Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) melakukan panen perdana padi jenis parientis. ”Produktivitasnya mencapai 3,5 ton per hektare dari hasil yang normal 2,5 ton,” kata Dirut Perhutani Bambang Sukmananto dalam sambutannya. Panen perdana ini merupakan salah satu pola kemitraan yang dilakukan Perum Perhutani dengan para petani sehingga menghasilkan tumpangsari. Pola kemitraan ini sangat diapresiasi Menhut Zulkiefli Hasan karena menurutnya tumpangsari tidak merusak fungsi

54 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Dok. Humas PHT

Perhutani mendapat ijin dari Gubernur Bali untuk melakukan aktivitas sadap getah pinus di hutan Bali Timur. Penandatanganan kerjasama pemerintah Provinsi

Bali dan Perhutani dilakukan di Denpasar, Rabu (4/3) oleh Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Menurut Bambang, kerjasama ini bertujuan meningkatkan kemampuan suplai getah pinus untuk pabrik-pabrik Gum Rosin Perhutani. Selama ini tegakan pinus di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bali Timur yang dikelola Dinas Kehutanan setempat belum dioptimalkan produksi getahnya. “Meski Provinsi Bali mempunyai kawasan hutan yang tidak begitu luas tetapi potensial terutama untuk dioptimalkan produksi getahnya. Kerjasama merupakan bagian

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


dari program Optimalisasi Sumberdaya Hutan di Bali selain rencana kerjasama penyulingan minyak kayu putih dan hasil hutan lainnya,” katanya. Pohon pinus di KPH Bali Timur tersebar di empat lokasi, yaitu Kintamani Barat, Kintamani Timur, Panelokan dan Rendang. Luasnya hanya 136.25 ha dengan jumlah lebih kurang 34 ribu pohon pinus produktif jenis Pinus Merkusii dan sedikit Pinus Oocarpa. Produktivitasnya baru mencapai 6,5 gram/pohon/hari, masih jauh dari produktivitas pinus Perhutani. Namun demikian, diameter dan lingkar pohon pinus di Bali Timur ini lebih besar dibandingkan pinus Perhutani. Rata-rata berumur lebih dari 30-40 tahunan. •(Indopos :: 05 Maret 2012, Hal. 5)

sumbersumber hutan yang dikelola secara baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengiriman perdana lantai kayu jati ke Denmark, tegas dia, membuktikan bahwa Perhutani berkomitmen menghadirkan produk berlabel FSC kembali di pasar global. “Persepsi pasar internasional diharapkan segera berubah dengan ekspor ini,” imbuhnya. •(Okezone.com::: Selasa, 17 April 2012)

Perhutani Bantu Bayi Penderita Meningocele Salah satu bentuk program Corporate Social Responsibility (CSR), Perum Perhutani Kedu Selatan memberikan bantuan kepada Azzahra Dwi Rahayu,

Lantai Kayu Perhutani Jajaki Pasar Eropa

Dok. Humas PHT

Dok. Humas PHT

Setelah sukses menembus pasar China, Perum Perhutani dan salah satu mitranya, SF Resources Group, kini membuka ekspor lantai kayu jati ke Denmark, Eropa. Ekspor ke Denmark merupakan ekspor pertama lantai kayu jati Perhutani yang besertifikat FSC (forest stewardship council) ke pasar internasional sejak ditangguhkannya sertifikat SFMFSC Perhutani tahun 2001.

Perhutani mendapatkan kembali sertifikat pengelolaan hutan lestari FSC tahun 2011 dan 2012 untuk empat unit manajemennya yaitu Perhutani KPH Kebonharjo,KPH Kendal, KPH Cepu,dan KPH Randublatung di Jawa Tengah. “Sertifikasi independen ini membuktikan bahwa Perhutani termasuk perusahaan kehutanan yang memiliki standar terbaik dalam pengelolaan hutan,” ungkap Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto. Menurut Bambang, konsumen global saat ini cenderung mengejar produk-produk kayu besertifikat independen seperti FSC. Sebab, label tersebut diyakini sebagai jaminan bahwa bahan baku berasal dari

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

bayi berusia tiga bulan yang didiagnosa menderita meningocele. Azzahra merupakan warga RT 4 RW 2 Desa Jemur Kecamatan/Kabupaten Kebumen. Administratur Perhutani Kedu Selatan, Toni Suratno mengatakan pihaknya merasa terketuk untuk meringankan beban putri kedua pasangan Euis Ratna Diana (28) dan Heru Adi Saputro (30) tersebut. Bantuan sebesar Rp 10 juta diserahkan langsung Toni Suratno kepada ayah Zahra, Heru Adi Saputro pada 13 April lalu. Heru Adi Saputro sendiri mengaku sangat terharu dan berterima kasih kepada Perhutani yang memiliki kepedulian terhadap nasib anaknya. “Alhamdulillah kami sekeluarga berterima kasih sekali. Kami hanya bisa berdo’a semoga Allah membalas bantuan ini dengan pahala yang berlimpah,” katanya. Azzahra diketahui mengidap benjolan berisi cairan di kepala dan terus membesar. Tidak seperti hydrocephalus dimana cairan berada di dalam tempurung kepala, pada meningocele cairan berada di antara tempurung kepala dan kulit. Saat ini bayi tersebut dirawat di RSUP Sardjito Yogyakarta untuk menjalani operasi. •(Humas KDS/Agus)

DUTA Rimba 55


LINTASRIMBA

Ulang Tahun dengan Sepeda Ria Peringatan hari ulang tahun tak melulu harus dilakukan dengan pesta hura-hura. Justeru lebih bermakna jika dapat dilalui dengan ketulusan berbagi terhadap sesama dan kepedulian terhadap kesehatan jiwa dan raga. Itulah yang dilakukan Perum Perhutani saat ulang tahun yang ke-51.

S

Barat dan Banten. Menurut catatan panitia, ada 300 personel yang menjadi peserta Fun Bike Perum Perhutani tersebut. Tujuan Fun Bike tersebut selain memperingati Hari Ulang Tahun Perum Perhutani ke-51, juga berolahraga bersama untuk menjadi sehat dan menjalin kebersamaan sesama personel, serta dalam rangka mencintai lingkungan yang bebas polusi dari asap kendaraan

abtu, 14 April 2012.

barang yang mereka persiapkan di dalam

Menjelang subuh di

beberapa tas.

Manggala Wanabakti. Hari

kantor pusat Jakarta, serta Unit III Jawa

bermotor. Pukul 06.30 WIB, acara dibuka.

Saat azan subuh berkumandang.

Direktur Utama Perum Perhutani,

masih gelap. Matahari

Sebagian personel itu segera melangkah

Bambang Sukmananto, membuka

belum lagi menampakkan

ke masjid dan melakukan ibadah shalat

acara FIN Bike, sekaligus meresmikan

diri. Namun, beberapa personel Perum

subuh. Sebagian lagi segera melakukan

pembentukan Komunitas Perhutani

Perhutani terlihat telah sibuk melakukan

persiapan-persiapan akhir menjelang

Bicycle Club. Di dalam pidato

banyak hal. Pernak-pernik semisal kaos

keberangkatan. Seluruhnya telah

sambutannya, Direktur Utama menyebut

olahraga, sepatu kets, topi, adalah barang-

mengenakan kaos bertuliskan “Perhutani

kegiatan ini merupakan kreasi teman-

Fun Bike 2012”. Ya, mereka

teman Komunitas Perhutani Bicycle Club.

memang sebagian anggota

Ia mendukung kegiatan tersebut, karena

panitia dan peserta kegiatan

ia nilai sangat positif sebagai sarana

rally sepeda gembira dalam

silaturrahmi. Apalagi, bersepedaria saat

rangka peringatan Hari Ulang

ini tengah menjadi tren di masyarakat,

Tahun Perum Perhutani ke-51.

sehingga antusisme 300 personel Perum

Tepat pukul 05.00 WIB.

biasa untuk dapat naik sepeda bersama-

ke bus yang akan membawa

sama.

Dok. Humas PHT

mereka ke depan Mall

56 DUTA Rimba

Perhutani tersebut ia sebut begitu luar

Seluruh personel beranjak

“Acara ini saya kira penting, karena ini

Belanova, Sentul, Bogor,

menunjukkan bahwa bagi Perhutani olah

tempat start rally Fun Bike. Di

raga adalah sarana yang sangat penting

sana, telah berkumpul ratusan

untuk bersilaturrahmi. Dengan media

personel Perum Perhutani.

berolahraga ini, kita bisa sangat free untuk

Kendati hari masih pagi,

saling bersilaturrahmi. Dan bersepeda

menjelang pukul 06.00 WIB,

saya kira merupakan olah raga yang

namun wajah-wajah ceria

sangat merakyat, karena hampir semua

telah terpancar dari mereka

orang bisa naik sepeda,” kata Bambang di

semua.

dalam pidatonya.

Mereka adalah para

Menurut Bambang, pembentukan

personel Perum Perhutani

Komunitas Perhutani Bicycle Club

yang sehari-hari bertugas di

tersebut terinspirasi dari aktivitas dan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


bola Gumanti yang menjadi area

tolong kepada panitia agar faktor

check point. Dari sana, perjalanan

keamanan dapat dijaga betul. Saya kira

berlanjut ke Sukaraja, dan finish di

ini menjadi penting,” sebutnya. Tiba di finish, acara berlanjut ke

Kompleks Bogor Raya. Jarak dari start menuju area check point kira-

ramah tamah. Sarapan pagi bersama

kira 6,2 km. Sedangkan dari check

menjadi sarana lain untuk menjalin

point ke finish, jarak tempuhnya

keakraban, kebersamaan, dan

adalah 3,5 km.

silaturrahmi. Usai sarapan, seluruh peserta rally pun mengikuti rangkaian

Yang menarik, Direktur Utama Perhutani dan ibu juga ikut

acara ramah tamah yang antara lain

menggowes sepeda, bersama

berisi pengundian door price. Di kesempatan tersebut, terlihat

Dok. Humas PHT

Direktur Umum dan SDM Perhutani Akhmad Fakhroji dan ibu, Kepala

juga kepedulian Perum Perhutani untuk

Unit III Jawa Barat dan Banten,

saling berbagi terhadap sesama. Hal itu

serta Kepala Biro Humas Perhutani

ditunjukkan dengan pemberian santunan

Susetyaningsih Sastroprawiro.

kepada anak-anak dari Pondok Pesantren

Mereka turut di barisan depan

Tajul Anwar Al Falaq, Kedunghalang,

peserta rally yang menempuh 4

Bogor.

tanjakan dan 6 pertigaan tersebut.

“Kita harus bersyukur, karena dalam

“Karena ini adalah kegiatan

situasi apapun Perhutani tetap eksis

kreativitas personel Perhutani di Madiun.

yang pertama kali, saya mohon agar

dan akan maju terus. Maka, saya juga

Di Madiun, telah berdiri perkumpulan

rutenya cukup dekat, tetapi berat.

meminta kepada panitia agar ada bentuk

sepeda dengan nama Eboni Bicycle Club.

Barangkali berat untuk pemula. Jadi saya

kepedulian kita kepada rekan-rekan

Sambil tersenyum, Bambang mengatakan,

minta untuk para pemula agar jangan

kita yang membutuhkan. Sehingga,

karena anaknya sudah punya, bapaknya

dipaksakan. Kalau memang tidak kuat,

acara seperti ini tidak hanya sekadar

pun lantas membentuk komunitas yang

ya (sepedanya) dituntun saja, pelan-

membuat kita senang-senang saja, tetapi

dinamakan “Perhutani Bicycle Club”. Dan

pelan. Sehingga yang penting di sini

juga membuat kita selalu ingat kepada

rally ini adalah kegiatan pertamanya.

bukan menang-menangannya, tetapi

mereka yang membutuhkan. Dan hal

kebersamaannya,” tutur Bambang.

ini saya kira juga dapat menjadi suatu

Rally Fun Bike menempuh jarak sekitar 10 km. Dari start di Belanova,

Bambang pun menekankan faktor

mereka melewati Babakan Madang, ke

keamanan sepanjang rally fun bike. “Saya

arah Cijayanti, berlanjut ke Cikeas, lalu

minta, karena pesertanya ini banyak

beristirahat sejenak di lapangan sepak

sedangkan jalannya sempit dan ramai,

bagian dari acara kita yang baik ke depan,” kata Bambang. Pemimpin Pondok Pesantren Al Falaq, Haji Kholil, mengucapkan terima kasih atas pemberian santunan sebagai bentuk kepedulian Perum Perhutani tersebut. Bantuan diterima langsung oleh beberapa perwakilan siswa-siswi pesantren tersebut. Selain itu, bantuan juga diserahkan kepada perwakilan warga sekitar lokasi kegiatan itu di Bogor. Acara lalu dilanjutkan dengan pembagian door price. Aneka hadiah semisal sepeda gunung, sepeda lipat, kompor gas, dan sebagainya, dibagikan kepada para pemenang pengundian. Senyum ceria pun terus menghiasi wajahDok. Humas PHT

wajah seluruh personel peserta kegiatan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

ini, hingga acara berakhir, termasuk para wartawan yang datang meliput. Apalagi bagi mereka yang meraih hadiah. Pulang olah raga, membawa hadiah menarik, •

DUTA Rimba 57


LENSA

Aura Indah

Keabadian Foto: Hari Priyanto

58 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Menelusuri tegakantegakan kokoh kesejatian. Kayu jati di hutan Jawa bagaikan memaknai kehidupan abadi beraura.

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 59


LENSA

60 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dalam setiap garis umur kayu, tertanam penantian panjang. Kesabaran manusia menanti anugerah Sang Maha Pencipta.

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 61


LENSA

Kayu jati besar kecil adalah sahabat manusia. Memberi manfaat ekonomi, sosial dann budaya penuh cinta.

62 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 63


OPINI

Setelah PHL, Lalu? Oleh: Sarkoro Doso B.*

U

saha yang tanpa kenal lelah mulai menampakkan hasilnya. Tahun 2011 dua KPH telah bersertifikat PHL, tanda kelola hutan di wilayah tersebut telah memenuhi kriteria-kriteria Pengelolaan Hutan Lestari. Dalam waktu tidak terlalu lama 14 KPH diharapkan segera menyusul dan pada tahun 2014 semua KPH sudah bersertifikat. Peraihan sertifikat ini punya banyak arti, antara lain menjadi sinyal bahwa pengelolaan hutan Perhutani sudah menerapkan standar pengelolaan kelas dunia, mengangkat citra perusahaan di panggung bisnis. Di seluruh dunia hanya ada 10% dari seluas sekitar 375 juta hektar hutan komersial yang telah bersertifikat sampai dengan hari ini. Di antara yang bersertifikat, 53,8% ada di Amerika Utara, 34,4% di Uni Eropa dan mendekati

64 DUTA Rimba

2,1% di wilayah Asia Pasifik. Peraihan PHL oleh Perhutani ini tidak mudah dan tidak murah. Lebih tidak gampang lagi mempertahankannya. Kelayakan penyandang sertifikat akan terus dievaluasi dari waktu ke waktu untuk menjamin praktik pengelolaan hutan lestari tidak berhenti pada pencapaian sertifikat saja. Malaysia adalah contoh “jelek” dalam peraihan sertifikat. Laporan ITTO 31 Juli 2011 menyebut Malaysia sebagai negara dengan hutan tropis bersertifikat terluas (5 juta hektar) dan masuk rekor dunia. Menurut MTCC (the Malaysian Timber Certification Council) Malaysia menikmati ekspor hasil hutan bersertifikat ke Belanda (negara tujuan utama ekspor) dengan harga premium antara 2% sampai 4%. Tetapi ironisnya, tiga bulan kemudian, ITTO 16–31 Oktober 2011 melaporkan bahwa

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Belanda menganggap sertifikat tersebut tidak cukup 2013 didasarkan pada standar dari FSC dan Rainforest memenuhi kriteria dengan sebab utama rendahnya Alliance. Harapannya setelah berhasil ber-sertifikasi, akan pengakuan terhadap hak masyarakat setempat dan memudahkan untuk melacak rantai supply, melacak lemahnya perlindungan terhadap ancaman trend kayu dan produknya dari hutan hingga ke pengguna konversi hutan alam untuk penggunaan lain. akhir. Saat ini saja China sudah mengimpor kayu dari Hal di atas bisa jadi pelajaran. Sertifikat PHL yang 36 negara, terutama dari Kameroon, Kongo, Gabon, sudah diraih Perhutani harus dipertahankan dan Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, Kepulauan diperluas. Selain soal citra perusahaan di tingkat dunia Solomon, Suriname, Guyana, beberapa negraa Eropa membubung tinggi, ada banyak manfaat kenapa harus dan Amerika Utara. dipertahankan dan diperluas. Antara lain, sertifikat Keterbatasan kemampuan China untuk memenuhi adalah semacam tiket legalitas hasil kebutuhannya sendiri membuat hutan untuk masuk ke pasar dunia permintaan terhadap hasil hutan kayu di tengah semakin banyak negara dunia semakin tinggi. Dilaporkan, pada pengimpor hasil hutan dan hasil tahun 2010 China telah mengimpor olahannya mensyaratkan sertifikat log sebesar 34.35 juta m3, dua kali Sertifikat PHL untuk semua produk hasil hutan yang lipat dibandingkan dengan tahun yang sudah diraih masuk. 2001. Kebutuhan China akan terus Amerika Serikat sudah sejak 22 berlanjut dan diestimasikan China akan Perhutani harus Mei 2008 memberlakukan Piagam dipertahankan dan mengalami defisit kayu hingga 180 juta Lacey (Lacey Act) yang melarang m3 pada tahun 2015. diperluas. Selain perdagangan kayu dan hasil olahannya Singkat kata, Eropa, Amerika dam soal citra perusahaan China adalah pasar potensial untuk yang berasal dari kegiatan illegal. di tingkat dunia Negara-negara Uni Eropa mulai 3 produk hasil hutan kita terutama kayu Maret tahun 2013 akan memberlakukan membubung tinggi, dan olahannya yang dihasilkan dari regulasi yang mengkategorikan ada banyak manfaat pengelolaan hutan lestari. Saatnya sebagai pelanggaran hukum bagi siapa Perhutani mengubah sertifikat PHL kenapa harus saja yang memasarkan hasil hutan menjadi uang dengan menggenjot dipertahankan dan ekspor hasil hutannya. Selain akan dan hasil olahannya yang berasal diperluas. dari illegal loging. Sebelumnya, tahun mendatangkan devisa, ekspor juga 2008, Uni Eropa menerbitkan Regulasi akan membuat pasar dalam negeri No 194/2008 yang melarang impor kayu dan produk lebih menggairahkan. lainnya dari Burma (Myanmar). Menurut WWF Germany, Menggenjot ekspor bisa dilakukan dengan 2011, peminat kayu di Eropa bersedia membeli jati dari melakukan memperkaya model dan desain diluar Myanmar dengan harga mendekati USD 10,000/m3 produk andalan ekspor berupa Garden Furniture (GF). (bandingkan dengan Teak Garden Furniture Perhutani Bertahun-tahun mengandalkan dan menggantungkan seharga USD 3,000/m3). Masuk akal, kayu jati Myanmar pada GF untuk ekspor. Saatnya diperkaya. Akses dan mahal dan dilarang masuk ke Eropa, karena berasal dari penetrasi pasar regional dan internasional bisa dengan hutan alam yang umur dan ukurannya hampir tidak ada memanfaatkan keanggotan Indonesia dalam The Council duanya di dunia. of Asian Furniture Associations (CAFA). Kondisi pengelolaan hutan jati alam di Myanmar yang Kemudian, secara simultan perlu diambil langkah memperoleh kesan negative dari dunia telah mendorong untuk memperbesar penghasilan dari ekspor dengan para pemerhati lingkungan menggiring para pengguna merumuskan kembali mekanisme dan rantai pemasaran akhir hasil hutan kayu untuk tidak memakai kayu jati dari ekspor yang memungkinkan Perhutani memperoleh hutan alam dengan menerapkan persyaratan sertifikasi keuntungan maksimal. dan sanksi perdaganagan. Saat ini sudah terlihat trend PHL sudah nyaris seutuhnya ditangan, ibarat pengalihan penggunaan hasil hutan kayu dari hutan mobil, Perhutani sudah memperoleh tambahan bahan alam ke hutan tanaman oleh konsumen kayu di Taiwan bakar yang memungkinkan berjalan lebih cepat, lebih dan Thailand. jauh dan lebih tinggi dalam meraih keuntungan dan Memang tidak hanya di Eropa, Amerika, Taiwan mensejahterakan karyawan. Di tahun baru 2012 ini, dan Thailand, China-pun berencana me-launching mudah-mudahan pengemudi mobilnya cukup handal. * Penulis adalah Karyawan Perhutani sertifikasi sustainable forest management pada tahun

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 65


ENSIKLORIMBA KAYU JATI

Tampilan Menawan

Sang Primadona Siapa yang tak kenal kayu jati? Dialah primadona dari beragam jenis kayu yang mutunya diakui dan memesonakan manusia. Bagi bangsa Indonesia, tentunya wajar menepuk dada tanda bangga karena negeri ini memiliki jenis jati yang keunggulannya nomor wahid di seantero dunia.

K

ayu jati merupakan kayu berkelas istimewa karena kualitas, keawetan, kekuatan, dan keindahan yang dimilikinya. Dikatakan awet dan kuat karena jati dikenal juga tahan terhadap perubahan cuaca dan serangan rayap. Meski kuat dan keras, namun jati mudah dipotong, dikerjakan, dan dibentuk menjadi beragam sajian seni yang menawan. Masyarakat pun banyak yang menyenangi jati sebagai bahan utama furniture dan ukiran. Jati yang telah dibentuk dapat diampelas halus sehingga menampilkan permukaan yang licin dan menawan. Maka tak heran jika furniture Indonesia terutama yang berbahan baku kayu jati, meskipun

66 DUTA Rimba

harganya mahal, banyak sekali penggemarnya. Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohonnya besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m, dan berdaun besar yang luruh di musim kemarau. Di dunia, jati dikenal dengan nama teak dalam Bahasa Inggris. Menurut Wikipedia, teak berasal dari kata ‘thekku’ dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Sementara nama ilmiah jati adalah Tectona Grandis L.f. Pohon Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1.5002.000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah

tanah dengan pH 4.5-7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa. Curah hujan berpengaruh terhadap sifat gugurnya daun dan kualitas fisik kayu. Secara alamiah, jati akan menggugurkan daunnya saat musim kemarau, lalu tumbuh kembali pada musim hujan. Di daerah yang memiliki kemarau yang panjang, jati akan menggugurkan daunnya dan menghasilkan lingkaran tahun yang artistik. Karena itu, kayu jati yang berasal dari daerah ini memiliki struktur kayu yang lebih kuat dan dikelompokkan ke dalam jenis kayu mewah (fancy wood) atau kayu kelas satu. Sementara itu, di daerah yang curah hujannya tinggi, tanaman jati tidak menggugurkan daun dan lingkaran tahunnya kurang menarik. Karena itu, kualitas kayunya lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang memiliki kemarau panjang. Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.

Dok. Humas PHT

Jati Blora Menjadi Unggulan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Kawasan paling timur Jawa Tengah, Blora menjadi wilayah yang memiliki kayu jati unggulan. Yup, inilah Blora yang dikenal banyak orang sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda. Dahulu, Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel. Blora tak hanya dikenal karena adanya Blok Cepu, tapi juga jenis kayu jatinya. Kayu jati dari hutan Blora sangat terkenal kualitasnya dan telah lama menjadi pemasok utama kebutuhan kayu jati di sentra kerajinan kayu jati seperti furniture jati dan souvenir kayu jati. Ada dua jenis kayu jati, jati hutan yang dikelola Perum Perhutani untuk memenuhi kebutuhan ekspor dengan kualitas jati yang paling tinggi, dan jati rakyat yang disebut masyarakat Blora sebagai “jati kampung”, untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Pengelolaan kayu jati secara nasional telah diatur secara ketat melalui undang-undang, sehingga hanya pihak yang memiliki ijin dan sertifikasi khusus yang dapat memasarkan kayu jati. Keberadaan Perhutani di

DUTA Rimba 67


gesinek@rgbstock.com

ENSIKLORIMBA

tengah-tengah masyarakat Blora pun menjadi berkah tersendiri, terutama bagi para pengrajin kayu jati. Para seniman jati Blora ini telah lama memanfaatkan kayu akar jati dari limbah produksi Perhutani untuk dijadikan kerajinan ukiran dan penambah bahan furniture jati dan souvenir kayu jati. Kayu Jati menjadi komoditas penting di Blora sebab 49,66 persen luas Kabupaten Blora merupakan hutan yang terbagi atas tiga kesatuan administrasi Pemangkuan Hutan yaitu KPH Randublatung, KPH Cepu dan KPH Blora. Produksi terbesar kayu Jati berasal dari KPH Randublatung sebanyak 37 ribu meter kubik. Tahun 2005 total produksi kayu jati bundar sebanyak 77.638,84 meter kubik atau turun 16,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Komoditi ini kemudian banyak diolah menjadi berbagai kerajinan

68 DUTA Rimba

khas daerah yang tersebar di seluruh wilayah Blora. Hasil industri ini memiliki berbagai aneka macam dan bentuk yang menarik sehingga banyak dikenal dan disenangi orangorang lokal maupun internasional. Hasil kerajinan tersebut antara lain dari bubut kayu jati dan gambol atau akar kayu jati serta berbagi jenis kerajinan dalam berbagai bentuk menarik lainnya. Negeri ini memang memiliki beragam jenis Jati yang tersebar di beberapa daerah. Namun Jati dari Blora menjadi primadona karena teksturnya lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan Jati dari daerah lain di negeri ini. Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, Jati digolongkan sebagai kayu mewah. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa, khususnya Cepu Blora dari Jawa Tengah dan sekitarnya) sangat terkenal dan diburu oleh para

kolektor di luar negeri. Jati Jawa telah dimanfaatkan sejak jaman Majapahit sebagai bahan utama membangun istana, rumah, kapal, alat-alat perang, dan pertanian. Bahkan konon, VOC menjadikannya sebagai bahan utama pembuatan kapal-kapal yang mampu mengarungi samudera, jembatan, dan bantalan rel kereta api. Di kalangan industri furniture atau souvenir kayu Jati, dikenal dua jenis Jati yakni Jati Jawa Barat dan Jati Jawa Timur/Jawa Tengah. Di Jawa Barat, hutan Jati terkonsentrasi di sekitar Ciamis. Menurut sumber dan pengalaman yang ada, kayu Jati dari Jawa Barat cenderung lebih murah harganya dibandingkan dengan Jati yang berasal dari Blora Jawa Tengah dan sekitarnya. Perbedaan tersebut bisa mencapai nilai yang cukup tinggi bahkan signiďŹ kan. Kayu Jati dari

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


Jawa Barat memiliki pori-pori kayu lebih besar, pada beberapa bagian kayu terdapat warna coklat kemerahan, namun jika dijemur langsung di bawah sinar matahari, warna tersebut akan hilang dan berubah coklat keemasan. Sejumlah pembeli furniture Jati yang berpengalaman dapat membedakan perbedaan kualitas kedua tipe kayu tersebut dan bahkan secara spesifik melakukan negosiasi harga berdasarkan tipe kayu tersebut. Perbedaan Kualitas dari beberapa buyer furniture Jati yang berpengalaman bisa membedakan kedua tipe kayu tersebut dan bahkan secara spesifik melakukan negosiasi harga berdasarkan tipe kayu tersebut. Beberapa indikator perbedaan kayu jati : 1. Kesuburan Tanah Hutan di mana pohon jati Jawa Barat tumbuh memiliki struktur tanah yang lebih subur sehingga pertumbuhan pohon sedikit lebih cepat dibandingkan tanah di perbatasan Jawa Tengah & Jawa Timur yang banyak mengandung kapur. Pertumbuhan yang lebih cepat tersebut memungkinkan poripori lebih besar. 2. Pegunungan Tanah yang berpegunungan juga membantu pohon jati tumbuh tanpa terdapat gangguan dalam pembentukan batang pohon. 3. Umur pohon Dengan kurang suburnya tanah, pohon di area Blora Jawa Tengah dan sekitarnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan ukuran diameter yang sama dengan tipe Jawa Barat. Saat ini mengingat volume dan kapasitas kayu jati di pulau Jawa mulai berkurang, pemerintah melalui

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Kisah Dua Pohon Jati Tegaron

S

elain Mahoni, Sengon, Mindi dan jenis pohon lainnya, Jati adalah salah satu produk unggulan yang ditanam Perum Perhutani. Di halaman kantor Asper/KBKPH Tegaron KPH Padangan, terdapat dua pohon jati yang sepintas saja kita akan tahu bahwa ia merupakan jati plus karena batangnya yang besar, sehat dan lurus. Usut punya usut, ternyata kedua pohon tersebut adalah hasil silang/stek pohon jati plus yang berasal dari Pusat Pengembangan SDH Perhutani Cepu yang ditanam sekitar tahun 1983. Menurut cerita Rambito, TU kantor Asper Tegaron, di wilayah kerja BKPH Tegaron memang terdapat wilayah hutan CSO (Clonal Seed Orchard) yang dijadikan tempat uji coba oleh Pusbang SDH. Melihat bibit-bibit tersebut, jiwa rimbawan Djiman (Asper saat itu), terpanggil. Ia pun mengambil 2 plances bibit jati yang berasal dari lokasi CSO yang kemudian ditanam di halaman kantor Asper. Pada usia 4 tahun saja, pertumbuhan pohon jati ini sudah sangat mengesankan, batangnya besar, tinggi dan kokoh. Djiman, dikatakan Rambito, sempat kecewa karena hanya mencoba 2 plances waktu itu. Menurut analisa Rambito, kedua pohon jati itu bisa tumbuh dengan baik dikarenakan tempat tumbuh pohon itu berdampingan dengan saluran air hujan. Rupanya, lanjut Rambito, dari seringnya dilalui air maka banyak sekali tanah yang mengandung unsur hara tinggi mengalir ke area dekat pohon jati tersebut sehingga keadaan tanah selalu gembur dan pohon dapat tumbuh dengan subur. Saat ini kedua pohon jati ini telah berusia 26 tahun dan terus dipelihara dengan baik. Berikut data pohon jati yang berada dihalaman kantor Asper Tegaron tersebut: • Keliling pohon I : 238 cm, tinggi +/- 15 meter dan volume 3,941 m3. • Keliling pohon II : 172 Cm, tinggi +/- 6 meter dan volume 1,887 m3. Beberapa waktu yang lalu kedua pohon tersebut pernah dipotong sebagian cabangnya karena warga sekitar takut apabila ada hujan dan angin kencang pohon akan tumbang, memang keberadaan pohon ini berada di tepi jalan dekat dengan perumahan penduduk. Ke depan, pohon ini akan dibuatkan pagar lengkap dengan tulisan mengenai asal-usulnya. • Sumber: Humas Padangan (http://www. perumperhutani.com).

Perum Perhutani dan Inhutani telah mulai mengekslorasi hutan jati yang ditanam oleh rakyat di area Sulawesi. Namun dengan perbedaan struktur tanah, kualitas kayu jati dari Sulawesi

masih jauh kurang baik dibanding yang dari pulau Jawa. Rata-rata berdiameter kecil (25-30 cm) dan terdapat banyak mata kayu. • DR dari berbagai sumber

DUTA Rimba 69


RIMBADAYA

Lumbung Desa

Kearifan Lokal Masyarakat Dagangan

Masih Terjaga Siang itu belasan orang berkerumun di sebuah bangunan sederhana, di pinggir jalan aspal yang membelah Dusun Panggung Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Masing-masing dari mereka membawa karung atau wadah lain yang entah berisi apa.

"M

ereka sedang setor gabah ke lumbung desa,” jelas Jumali (63), ketua Lembaga Masyarakat Pengelola Sumberdaya Hutan (LMPSDH) Wonosalam Desa Dagangan, ketika kami temui

70 DUTA Rimba

di Balai Pertemuan LMPSDH, beberapa waktu lalu. “Ini kearifan lokal masyarakat yang sudah jarang ditemui tapi masih terpelihara di desa ini,” tambahnya. Dikatakan Jumali, dari 17 Desa yang ada Kecamatan Dagangan, mungkin hanya Desa Dagangan ini yang masih memiliki Lumbung Desa. “Saya

tidak tahu berapa jumlah yang masih ada di seluruh Kabupaten Madiun, yang jelas sudah sangat jarang,” katanya. Ini menarik. Di tengah isu kekhawatiran terhadap terancamnya ketahanan pangan dunia yang memaksa pemerintah berfikir keras untuk meningkatkan produksi padi dan bahan pangan lainnya, desa ini masih memelihara kearifan lokal kemandirian pangan yang sudah banyak ditinggalkan. Bagaimana sistemnya? Sederhana saja. Ketika panen tiba, masyarakat menyetor padi untuk ditabung. Sementara saat musim tanam, mereka bisa meminjam untuk modal. Dibayarnya, saat musim panen selanjutnya. Anggota dikenakan tambahan 20% dari berat

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Dok. Humas PHT

gabah yang dipinjam. â&#x20AC;&#x153;Jika dia meminjam 1 kwintal, maka dia harus membayar 1 kwintal 20 kilo,â&#x20AC;? jelas Jumali. Dengan sistem ini maka masyarakat tidak kesulitan untuk memperoleh modal ketika musim tanam tiba, sehingga kelangsungan produksi pangan terus terjaga. Pun mereka memiliki cadangan pangan yang bisa digunakan sewaktu-waktu apabila panen tidak berhasil atau di masa paceklik. Dalam tahapan selanjutnya, lembaga ini yang juga berfungsi sebagai alat stabilisasi harga bahan pokok, menjaga permintaan dan persediaan (supply and demand) bahan pangan, fungsi yang kini diperankan oleh BULOG.

Berakar Sejak Lama Sesungguhnya, lumbung desa merupakan perwujudan karakter gotong-royong dan kesetiakawanan yang telah berakar lama pada masyarakat pedesaan. Konon di

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

masa kesultanan Mataram, telah dikenal sistem lumbung sebagai pencegah terjadinya kerawanan pangan di wilayah kerajaan, sekaligus penopang untuk logistik perang. Hal tersebut pulalah yang mungkin menginspirasi Messman untuk melembagakan secara resmi lumbung desa pada tahun 1902. Messman, orang Belanda yang saat itu menjabat sebagai Residen Cirebon dan Sumedang, Jawa Barat dihinggapi kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kerawanan pangan di daerah yang dipimpinnya. Maka dia pun menganjurkan dibuatnya sebuah lumbung komunal sebagai tabungan pangan masyarakat desa. Dalam pemikirannya, apabila para petani memiliki tabungan padi atau gabah maka pada masa-masa paceklik kebutuhan pangan mereka akan tetap tercukupi. Ide Messman kemudian direspon positif oleh pemerintah kolonial

Hindia Belanda. Sebuah institusi khusus yang membina lumbung desa secara intensif pun kemudian dibentuk, yakni Dienst voor Volkscreditwiysen (Dinas Perkreditan Rakyat). Dinas tersebut bernaung di bawah Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Pemerintah Hindia Belanda. Banyak yang menyebut ini adalah cikal bakal pendekatan monetaris yang menyentuh lumbung tradisional rakyat, dan cikal bakal ide tentang KUD. Setelah merdeka, lumbung desa tetap memperoleh ruang untuk terus berjalan. Bahkan, keberadaannya semakin berkembang dengan dikeluarkannya Inpres Bantuan Pembangunan Desa (Bangdes), pada tahun 1969. Setelah itu, lumbung desa banyak bermunculan di berbagai pelosok, baik yang dibangun dengan swadaya masyarakat desa sendiri maupun bantuan pemerintah. Fenomena ini masih bertahan hingga paruh awal

DUTA Rimba 71


RIMBADAYA tahun 1990-an. Menurut catatan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Ditjen Bangdes), pada tahun 1993-1994 diketahui masih terdapat 12.655 lumbung desa yang umumnya terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura. Namun pada akhir 90-an, lumbung desa semakin ditinggalkan. Kearifan pengelolaan pangan itu terkikis oleh perubahan tuntutan hidup, dimana kepraktisan menjadi

sebagai salah satu pengejawantahan kemandirian petani. Kini, di saat kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dunia kembali merebak, banyak pihak yang kembali menganjurkan agar lembaga lumbung desa kembali diaktifkan. Salah satunya, Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri. Maka, pada tataran ini, masyarakat Dusun Panggung Desa Dagangan bisa berbangga hati dengan masih memelihara kearifan

Jumali didampingi Noor Iman, Asper/KBKPH Dagangan saat berbincangbincang dengan Duta Rimba

salah satu dasar perhitungan. Akses perekonomian di pedesaan kini sudah semakin maju, sehingga kredit pedesaan dalam bentuk innatura mudah didapat dengan ragam yang bermacam-macam. Sistem tabungan berbasis natura seperti lumbung, dipandang tidak praktis lagi dan karenanya semakin ditinggalkan. Kebijakan pemerintah mengambil alih fungsi lumbung dengan mendirikan BULOG, yang berperan sebagai lumbung nasional, semakin menyurutkan peran lumbung desa

72 DUTA Rimba

lokal yang ternyata memiliki nilai filosofis yang luhur.

Peranan Hutan Lalu apa hubungannya dengan LMPSDH? Yang jelas, hampir semua anggota lumbung desa, anggota LMPSDH juga, kata Jumali. Padi yang disetorkan ke lumbung desa, juga sebagian berasal dari hasil bercocok tanam di hutan. Hutan, jelas Jumali, merupakan elemen penting dalam sistem ketahanan pangan masyarakat desa itu.

Desa Dagangan merupakan salah satu desa hutan (desa yang wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan hutan) Perum Perhutani KPH Madiun, tepatnya di RPH Panggung BKPH Dagangan. Letaknya tak terlalu jauh dari pusat kota Madiun, hanya memerlukan perjalanan sekitar 15 – 20 menit. Dalam hal menjembatani interaksi dengan kawasan hutan dan Perhutani, masyarakat sudah

Jumali, Ketua LMPSDH Wonosalam

memiliki lembaga yang dinamakan LMPSDH. Kenapa tidak LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) seperti yang lain, apa bedanya? Menurut Jumali, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara LMDH dengan LMPSDH. “Hanya beda penamaannya saja,” selorohnya. Istilah LMPSDH adalah sebutan yang diberikan oleh mendiang Prof Dr. Hasanu Simon, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM yang memfasilitasi berdirinya

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


lembaga tersebut pada tahun 2003. Pria pensiunan PNS Departeman Agama itu menjelaskan, saat ini LMPSDH memiliki anggota sebanyak 104 orang. Umumnya mereka bermata pencarian sebagai petani tumpangsari di kawasan hutan, dengan komoditi jenis-jenis palawija, seperti padi dan jagung. Pada tegakan yang sudah tua angota LMPSDH menanam porang. Porang adalah sejenis umbi-umbian yang

lalu kami juga mendapat bantuan dari Pemprov sebesar Rp. 25 juta untuk koperasi yang saat ini dikelola untuk simpan pinjam,” ujar pria yang pernah dipercaya sebagai ketua Forum Komunikasi LMDH se-Jawa Timur ini. LMPSDH juga memproduksi pupuk bokhasi untuk memenuhi kebutuhan BKPH Dagangan atau KPH Madiun. “Kadang-kadang juga untuk pesanan dinas-dinas,”

Menurut Jumali, kunci keberhasilan pengelolaan hutan ada pada komunikasi yang baik antara petugas dengan masyarakat. Keduanya saling membutuhkan. Petugas harus menghargai keberadaan masyarakat hutan di wilayahnya, sebaliknya masyarakat juga menghargai dan menghormati Perhutani sebagai pihak yang diberikan kewenangan dalam pengelolaan hutan. “Jika komunikasi

Masyarakat anggota lumbung desa “Sri Sadana” Dusung Panggung Desa Dagangan

tepungnya diolah menjadi bahan mirip mie yang diekspor ke Jepang. Komditi ini dipilih karena bernilai tinggi dan baik dibudidayakan di bawah tegakan. “Saat ini luasnya hampir 60 Ha,” katanya. Hasilnya cukup lumayan. Hanya saja harganya saat ini sedang agak turun, berkisar 2600 – 2300 per kg. Untuk mengisi kas, LMPSDH mendapat keuntungan dari hasil menjual limbah atau sisa-sisa tebangan ketika ada tebangan atau penjarangan. “Sejak 3 bulan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

ujarnya. Kini sebagai diversifikasi usaha, LMPSDH juga mencoba membudidayakan kambing pedaging dengan sistem bergulir. “Melalui program Kebun Bibit Rakyat (KBR), kami juga membuat bibit yang hasilnya dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di lahannya masing-masing,” tambah Jumali. Dikatakannya, di bidang persemaian, anggota LMPSDH sudah berpengalaman sejak dulu karena sering terlibat dalam pembuatan persemaian Perhutani.

Dok. Humas PHT

berjalan dengan baik, maka segalanya akan menjadi mudah,” ujarnya. Dan, ini terjadi di Dagangan. “Kami saling memahami dan menghargai,” kata Jumali. Di akhir perbincangan Jumali berharap, Perhutani kembali mengaktifkan program-program yang meningkatkan komunikasi antar LMDH. “Saat ini, saya merasakan agak kurang meriah seperti tahuntahun sebelumnya,” katanya. • (Humas Jatim/ARS – Data dari berbagai sumber)

DUTA Rimba 73


BISNISRIMBA

Olahan Hutan Yang Mempesona Dunia Tak disangkal lagi jika Perum Perhutani telah mampu menghasilkan kayu-kayu berkualitas tinggi yang dipanen dari hutan dan dikelola dengan prinsip berkelanjutan.

S

ejumlah terobosan pemasaran hasil industri kayu pun terealisasi. Salah satunya, kerjasama Perum Perhutani dengan Nature Flooring, distributor flooring terbesar di China pada Maret dan SF Resources Group pada April lalu. Suksesnya industri perkayuan oleh Perhutani tentu tak lepas dari peran serta tiga kesatuan bisnis mandiri (KBM) Industri Kayu yang terdapat di Cepu, Brumbung, dan Gresik. Kerjasama Perum Perhutani dengan distributor flooring terbesar di China, Nature Flooring, patut diancungi jempol. Betapa tidak, saat ini Perhutani telah mampu menembus pasar yang luar biasa di antara tujuan eskpor lainnya. Dengan

74 DUTA Rimba

penduduk berjumlah 1,35 miliar dan 350 juta di antaranya adalah penduduk desa yang bekerja di kotakota besar China, maka ekonomi China dipastikan akan berputar cepat. Rencananya Perhutani akan mengekspor 400 kontainer lantai kayu jati dalam setahun ke China. Pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa ini tentu saja berdampak besar pada impor dan ekspornya yang akan besar pula. Termasuk pembangunan perumahan dan perkantoran yang akan membutuhkan lantai kayu maupun furniture dari Indonesia termasuk yang didatangkan dari Perhutani. Ekspor lantai kayu jati ke China, sejatinya merupakan tolok ukur pemasaran industri kayu Perhutani di luar pasar Asia Tenggara dan

Eropa yang telah terlebih dahulu ada. Bahkan, bahan baku kayu jati belum ada saingan untuk pasar Cina, sehingga potensial meningkatkan nilai ekspor Perhutani. Hingga saat ini, pasar industri kayu Perhutani lebih dipasok untuk kebutuhan ekspor Asia dan Eropa dengan perkembangan yang signifikan. Produk vinir, misalnya, selama ini diekspor ke Malaysia, Korea, China dan Italia. Ekspor vinir terus meningkat kuantitasnya dari 212.628 m3 pada 2009 menjadi 510.525 m3 pada 2011. Rencananya tahun 2012 ekspor Vinir mencapai 561.580 m3 dan 747.464 m3 pada tahun 2015. Sedangkan untuk produk lantai kayu, Perhutani mematok rencana 1.161 m3 tahun 2012 dengan negara tujuan Asia seperti China, Jepang, Taiwan, Singapora, Italia dan Polandia.

Ekspor pertama kayu bersertifikat Sebulan berikutnya, pada medio April 2012, Perhutani juga mencetak sejarah baru. Perhutani dan mitra kerjanya, SF Resources Group, melakukan pengapalan perdana

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


internasional akan produk kayu Indonesia itu. Hal ini juga diamini Direktur SF Resources Group Goh Wong Tengkong. Menurutnya, meski volume ekspor ini kecil, tetapi sangat strategis bagi pulihnya kepercayaan konsumen Eropa terhadap produk Java Teak Perhutani, khususnya yang bersertifikat FSC. SF Resources Group sendiri adalah salah satu mitra Perhutani

perusahaan dan industri kayu primer wajib menerapkan sertifikasi verifikasi legalitas kayu mulai tahun 2013. Penerapan sertifikasi kayu legal diyakini akan meningkatkan nilai tambah kayu tersebut untuk keperluan ekspor. Di sisi lain, penerapan sertifikasi verifikasi legalitas kayu juga akan mendorong Indonesia memperluas dan mendorong nilai tambah

Perhutani Bambang Sukmananto dalam siaran persnya. Menurut Bambang, adanya sertifikasi independen ini membuktikan Perhutani termasuk perusahaan kehutanan yang memiliki standar terbaik dunia dalam pengelolaan hutan. Bambang pun berharap pengapalan perdana ini segera mengubah persepsi pasar

yang tahun ini diberi target mengolah kayu jati Perhutani 10.000 m3 dan 5.000 m3 kayu Sonokeling. Sejak 2008, nilai ekspor dengan mitra ini mencapai Rp. 33 miliar. Langkah ini semakin mempertegas sikap Perhutani yang tengah bersiap diri mengolah kayu bersertifikasi. Hal ini sejalan dengan instruksi pemerintah di mana semua

ekspor. Tahun lalu, nilai ekspor kayu berkisar 9 miliar dollar AS, atau 5 persen dari total ekspor. Tahun ini, peningkatan ekspor kayu diharapkan 10-20 persen. Sertifikasi verifikasi legalitas kayu akan menjamin bahwa produk kayu Indonesia berasal dari bahan baku yang legal, sehingga hal itu mendorong daya saing dan memperkuat akses pasar. • DR

Dok. Humas PHT

produk lantai kayu berlabel FSC (Forest Stewardship Council) ke Denmark dari pabrik SF Group di Jombang, Jawa Timur. “Ekspor lantai kayu jati ke Denmark ini merupakan ekspor pertama kayu jati Perhutani bersertifikat FSC ke pasar internasional sejak ditangguhkannya sertifikat SFM-FSC Perhutani tahun 200,” kata Direktur Utama Perum

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 75


BISNISRIMBA KBM IK Cepu

Sertifikat Melecut Prestasi

Dok. Humas PHT

C

erita menarik datang dari KBM IK Cepu. Kesatuan bisnis yang merupakan gabungan dari Kesatuan Industri Pengolahan Kayu Jati (KIPKJ) Cepu dan Penggergajian Mesin (PGM) Randublatung pada 2006 ini tampak semakin bersemangat dengan adanya sertifikasi yang diperoleh pada 2011 lalu. Saat ini KBM IK Cepu memiliki sertifikat FSC dan ISO 9001:2008 serta dalam proses sertifikasi VLK. KBM IK Cepu juga menghasilkan produk yang lebih lengkap. Mulai dari kelas flooring, furniture indoor dan outdoor sampai vinir dan lamela. Dengan sertifikat CoC-FSC tentunya kayu-kayu yang bersertifikat FSC dapat diolah dan diproduksi oleh Perhutani sendiri. Hasilnya, saat ini KBM IK Cepu banjir pesanan, terutama dari Eropa yang mulai menanyakan adanya produk kayu FSC. Hingga saat ini, KBM IK Cepu lelah melakukan ekspor vinir yang berasal dari Kayu FSC ke

Korea sebanyak 720 m2 kontainer. Pada bulan Mei ini KBM IK Cepu juga berencana akan ekspor vinir ke Korea sebanyak 16.000 m2. “Kami juga tengah berkomunikasi dengan para pembeli dari Eropa, seperti Honbach dan Eurogroup. Karena mereka merupakan pembeli potensial untuk kayu-kayu FSC di

KBM IK Brumbung

Cerita Sukses di Balik Penjualan Kayu

D

alam hal penjualan kayu, tiga Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Industri Kayu yang berada di bawah naungan Perum Perhutani, yakni Cepu, Brumbung, dan Gresik pun memiliki cerita tersendiri. Untuk KBM IK Brumbung, misalnya, awal Maret lalu mengekspor mebel indoor (bagian dalam ruangan) ke Kota

76 DUTA Rimba

Le Havre, Perancis sebanyak satu kontainer mebel dengan volume 11,26 meter kubik senilai 33.950 dollar Amerika Serikat setara Rp 305 juta. Selain itu, KBM tersebut juga mengekspor teak flooring (lantai kayu) dan skirting (jenis produk kayu olahan berbentuk sortimen balok) ke Singapura senilai 34.826 dollar Amerika atau Rp 313.434.450.

Jerman yang akan memasarkan produk-produk garden furniture. Kami berharap pada bulan Nopember tahun ini order mereka bisa masuk di KBM IK Cepu,” jelas Manajer Pemasaran KBM IK Cepu, A. Fadjar Agung S. Dalam tiga tahun terakhir, menurut Fadjar, KBM IK Cepu

Wakil Kepala Perum Perhutani Unit I Jateng Slamet Wibowo menyatakan, jenis kayu yang diekspor itu adalah jati, ini sesuai dengan permintaan konsumen. “Sebelumnya, KBM IK Brumbung mengekspor mebel dari mitra yaitu 12 KSP (kerja sama pengolahan-red) di Jateng dan Jatim. Kali ini, ekspor yang dilakukan murni produksi KBM IK Brumbung,” katanya. Menurut dia, jenis kayu ini didapatkan dari sejumlah wilayah seperti KPH Kendal, dan Cepu. Tahun ini, ekspor mebel produksi murni KBM IK Brumbung ditargetkan 2.000 meter kubik dengan nilai Rp

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


pintu, kusen berharga murah namun berkuaiitas. Tim Pemasaran ini juga bertugas untuk menawarkan produk-produk melalui internet kepada pembeli-pembeli dari luar negeri. Produk-produk kayu yang bersertifikat juga ditawarkan kepada pembeli luar negeri, sehingga produk kayu FSC dapat dimanfaatkan oleh industri kayu Perhutani sendiri. Kedua, di dalam industri kayu internal harus disusun secara terintegrasi dengan industri kayu lainnya, sehingga masing-masing bisa saling mendukung satu dengan lainnya. Ketiga, bahan baku pendukung harus diprioritaskan bagi industri kayu perhutani sendiri. Keempat, kendala bahwa saat ini pasar ekspor Eropa sedang lesu dan pasar di China sedang baik harus disiasati dengan bijaksana. Meski harganya berbeda dengan pasar Eropa, namun untuk spesifikasi produk, China tidak terlalu tinggi sehingga dapat dibuat dengan kayukayu dengan kualitas yang sedang. Selain itu efisiensi dan efektifitas dalam proses produk saat ini juga mulai dilakukan untuk menekan biaya sehingga nantinya dapat dihasilkan produk dengan harga murah namun

36 miliar. Pada 2013, target akan ditingkatkan dua kali lipat yaitu menjadi 4.000 meter kubik tapi ini semua tergantung situasi pasar dunia. Guna mewujudkan pencapaian

target, Perhutani siap mendukung dengan melakukan promosi ke Cina di bulan Maret ini. General Manager KBM IK Brumbung Mranggen, Ir. Taufik Setiadi, MBA.MP berharap, mebel, lantai dan balok kayu diha-

kualitasnya tetap terjamin.

Sentra Kerajinan Kayu Jati Keberadaan KBMIK Cepu pun sangat strategis dan berkah bagi industri kayu yang berkembang di sekitarnya. Kawasan Cepu bisa disebut sebagai sentranya kerajinan kayu jati, karena bahan bakunya yang tersedia cukup melimpah jika dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah. Sentra kerajinan kayu jati mudah ditemui oleh wisatawan karena tersedia toko khusus menjajakan berbagai aneka kerajinan dari bahan kayu jati yang berada di tepi Jalan Blora-Cepu kilometer 8, tepatnya di Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon. Bahkan, beberapa daerah lain di wilayah Kecamatan Jepon juga masih ditemui pengrajin serupa yang memanfaatkan kayu jati yang cukup melimpah dengan harga produk yang cukup bervariasi. Hasil kerajinan yang bisa ditemui, seperti lampu hias, vas bunga, tempat bumbu dari kayu jati, miniatur sepeda ontel, mobil, sepeda Harley, kereta api, serta pernik-pernik cantik lainnya yang terbuat dari kayu jati. • DR

Dok. Humas PHT

mengalami peningkatan penjualan. Pada tahun 2009 omset mencapai Rp. 57 milyar, meningkat di tahun 2010 yang mencapai Rp. 69 milyar, serta meningkat lagi di tahun 2011 hingga mencapai Rp. 80 miiyar yang merupakan penghasilan tertinggi di KBM IK Cepu selama ini. Namun demikian, sambung Fadjar, keinginan KBM IK Cepu untuk meningkatkan penjualan lebih tinggi memiliki sejumlah kendala, antara lain minimnya tenaga pemasaran dan kebijakan yang harus disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. KBM IK Cepu sendiri, saat ini hanya memiliki 8 orang tenaga pemasaran. Kedelapan orang ini pun tidak fokus menjalani peran sebagai tenaga pemasaran, karena setiap harinya masih dibebani dengan pekerajaan rutin administratis. Untuk itu, pihaknya memiliki sejumlah strategi agar kendala yang ada dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan. Sejumlah langkah strategis itu antara lain: pertama, pihaknya akan membentuk tim pemasaran yang bisa melakukan penetrasi pasar, khususnya pasar lokal seperti perumahan-perumahan mewah dengan membuat produk-produk

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

rapkan bisa terus diproduksi sendiri supaya nilai jual dan profitnya lebih banyak. Tahun 2012 ini, pendapatan KBM IK Brumbung per akhir bulan Februari mencapai Rp 15,93 miliar. Pendapatan itu diperoleh dari produksi pengolahan kayu yang dijual di dalam dan luar negeri. Selain itu juga pendapatan yang diperoleh dari KSP. Menurut dia, pelaksanaan ekspor khususnya dengan mitra KSP sampai bulan Maret ini ditargetkan mencapai Rp 12,37 miliar atau 13,86 dari total rencana target pada 2012 sebesar Rp 89,28 miliar. Target itu optimis bakal mampu terealisasikan. • DR

DUTA Rimba 77


Dok. Humas PHT

BISNISRIMBA

GM KBM IKA Brumbung, Ir. Taufik Setyadi, MBA.MP

Optimis dengan 3 Keunggulan Pendapatan KBM IK Brumbung per akhir bulan Februari silam mencapai Rp 15,93 miliar. Pendapatan itu diperoleh dari produksi pengolahan kayu yang dijual di dalam dan luar negeri, selain juga pendapatan yang diperoleh dari KSP.

78 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


P

encapaian ini merupakan prestasi tersendiri bagi KBM IK Brumbung. Untuk mengetahui sekelumit tentang aktifitas KBM IK Brumbung, tim DUTA RIMBA mewawancarai GM KBMIK Brumbung, Ir. Taufik Setyadi,MBA.MP, di sela-sela jam istirahatnya pada pertengahan Maret lalu. Berikut petikannya: Pak GM, bisa diceritakan sedikit seputar KBM IK Brumbung ini? Saya ingin mulai dari awal kiprah KBM IK Brumbung ya... Sejak berdiri pada 2006, secara struktural KBM IK Brumbung dipimpin oleh seorang General Manager, dan hingga sekarang perkembangannya cukup baik. Dulu hanya punya mesin softmeal 3 unit sekarang punya 6 unit. Begitu pula perkembangan positif terjadi di mesin-mesin pengolahan lanjutan, sehingga tidak hanya memproduksi RST tapi ke depan juga akan sampai hingga finish produk, di mana finish produk ini akan mengarah pada produk-produk yang bernilai tinggi, seperti indoor furniture, flooring sampai dengan metode UV dengan menggandeng pihak ketiga. Saat ini pihak ketiga mendatangkan mesin dari China dengan total sekitar Rp. 3 miliar dan ke depan rencananya total Rp. 30 miliar. Ke depan, saya yakin insya Allah Brumbung akan berkembang jauh lebih besar. Karena Brumbung punya keunggulan di banding IKA Cepu... Apa saja tiga keunggulan itu? Keunggulan itu pertama, lokasinya yang strategis, di mana IKBM Brumbung berada di pusat kota yang terdapat pelabuhan, bandara, sehingga akses untuk para pembeli lebih mudah. Keunggulan kedua, IKBM Brumbung ada di

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

tengah-tengah, sehingga kayukayu jati yang berasal dari barat (Pemalang, Balapulang) lebih dekat jarak tempuhnya dan biayanya lebih murah. Begitu pula yang dari timur, sehingga hal ini sangat menguntungkan. Keunggulan ketiga, IKBM Brumbung hanya memiliki pabrik di satu tempat saja, tidak terpecah seperti IKA Cepu punya tempat di Cepu dan Randublatung. Hal ini menguntungkan karena memudahkan koordinasi dan pengendalian. Di samping itu para pembeli asing lebih senang melihat langsung pabriknya, pekerjanya, kebersihannya, dan lain sebagainya. Nah di sini IKBM Brumbung bisa memberikan langsung penjelasanpenjelasan, sehingga promosinya juga lebih gampang. Selama ini IKBM Brumbung mengekspor ke mana saja? Selama ini kita tidak mengekspor dari sini tetapi melalui mitra-mitra, antara lain KSP yang mengekspor ke sejumlah negara eropa, Singapura, China, Taiwan, dan lain-lain. Tapi ke depan, kita sedang usahakan ekspornya langsung dari sini. Tahun lalu kita memiliki 13 mitra. Pada 2011 lalu kita kumpulkan mitra bisnis dengan Bussiness Gathering kita bisa mengumpulkan sekitar 15 pembeli. Jadi pesanan itu kalau kita turuti itu hampir 50.000 bahan baku atau 7.500 meter kibik barang jadi. Itu nilainya lumayan besar kalau kita turuti semua. Tapi karena kapasitas kita belum cukup jadi tidak dipenuhi. Lagi pula kebijakan kita masih lebih mementingkan pembeli lokal. Ini kan berarti kendala. Bagaimana langkah ke depan? Ya, ke depan orientasi kerja kita akan diarahkan pada mass production yang sifatnya tidak produksi khusus, seperti flooring,

mesin komponen, dan special order. Jika kita melihat tren sekarang, saya optimis IKBM Brumbung bisa mencapai di atas Rp. 200 miliar dengan perkiraan mass production paling tidak 10 kontainer, special order 3 kontainer, dan 2 kontainer untuk engineerir. Nah, kalau pembeli domestik bagaimana? Pembeli domestik juga besar kebutuhannya. Di Jakarta, kebutuhan untuk hotel, apartemen, dan rumharumah orang kaya juga cukup besar. Selama ini kita terlalu berorientasi ekspor, padahal kita jangan mengenyampingkan pasar domestik. Jadi mudah-mudahan tahun depan kita sudah mulai menyentuh pasar domestik. Tahun ini sebenarnya masih jalan tapi masih di aushing component, kebutuhan untuk kusen, pintu. Data kita terakhir penjualan ke domestik hampir sama dengan jumlah penjualan ekspor. Tahun ini targetnya sekitar Rp. 40 miliar. Ke lokal itu maksudnya bukan pembeli lokal tapi ke industri-industri lokal, lalu oleh mereka diekspor. Lalu bagaimana dengan permintaan kayu bersertifikasi? Sebenarnya IKBM Brumbung juga banyak permintaan untuk kayu bersertifikasi. Tapi kan untuk mengolah kayu bersertifikasi FSC atau PHL kan industrinya harus bersertifikat. Nah, berhubung IKBM Brumbung belum memiliki sertifikat, maka kayu bersertifikat pun tidak ada artinya masuk ke sini. Tidak seperti IKA Cepu yang sudah bersertifikat. Jadi, kayu bersertifikat kalau diolah oleh industri yang sudah bersertifikat maka nilainya akan tinggi. Ada usaha untuk mendapatkan sertifikat tersebut?

DUTA Rimba 79


BISNISRIMBA Pokoknya semua yang berkenaan dengan sertifikasi, kita semua akan mengusahakannya. Target tahun ini adalah SVLK dan ISO setelah itu kita baru akan tanya ke FSC, meski lebih mahal. IKBM Brumbung menggunakan jasa SDM outsourching dalam pengelolaan industri kayu. Bagaimana pola kerjasamanya? Untuk pekerja-pekerja kasar di industri kita ini memang menggunakan masyarakat sekitar. Tapi perlu diakui jika permasalahan di industri kayu ini unik, karena tidak bisa berdasarkan standar pengetahuan. Jadi seorang operator mesin itu bukan orang pintar tapi orang yang berpengalaman, memiliki keahlian, keterampilan khusus operator mesin. Semakin tinggi jam terbangnya maka semakin hebat dia dalam bekerja. Nah di industri orang-orang seperti itu sudah habis karena orang tua semua. Jadi tidak bisa mengandalkan pekerja yang baru lulus SMA. Harusnya, jika industri ini mau berjalan dengan baik,

maka regenerasi itu tidak boleh diputus. Jadi pekerja baru itu harus mendapat pelatihan. Jika terputus ini berbahaya, karena berkaitan langsung dengan rendemen, kualitas mutu, kuantitas barang, tata waktu, kecepatan pengerjaan, dan masih banyak lagi rentetannya. Untuk mengantisipasi hal itu, apa langkah yang dilakukan IKBM Brumbung? Kita selama ini belum bisa melakukannya. Selama ini yang kita lakukan adalah memperpanjang outsourching yang sudah tua. Kita juga belum tahu bagaimana mengantisipasinya, karena kita sendiri tidak mengerti di mana sekolahnya. Lalu solusinya seperti apa? Kita harus memilih antara Padat Karya dan Padat Modal. Sekarang fungsi keahlian itu sudah bisa digantikan oleh mesin. Contohnya, ada mesin yang bisa melakukan pengujian kayu dengan infra merah. Tapi ini harganya Rp. 10 miliar. Dengan adanya mesini ini

KBM IK Gresik

Concern Mengurus Legalitas Kayu

P

ermintaan yang cukup besar dari buyer mancanegara maupun domestik terhadap produk olahan kayu tentu saja menjadi berkah bagi Perhutani. Perusahaan BUMN ini memang dikenal menghasilkan kayu-kayu berkualitas tinggi yang dipanen dari hutan yang dikelola dengan prinsip berkelanjutan. Meski kayu Jati

80 DUTA Rimba

menjadi primadona, namun banyak pula yang memesan jenis kayu bundar lainnya seperti Pinus, Mahoni, Sonokeling, Damar, Akasia, Jabon, Sengon, Gmelina, dan Rasamala. Termasuk pula beberapa jenis rotan dan bambu. Berkah Perhutani berarti berkah pula bagi kesatuan bisnis mandiri (KBM) yang berada di bawah naungannya, tak terkecuali KBM

maka 20 orang dapat digantikan oleh 1 operator mesin ini saja. Hal ini kan otomatis tidak baik untuk pembinaan masyarakat sekitar, karena mengakibatkan diputusnya kontrak kerja. Ini merupakan pilihan sulit. Kalau Perhutani ke depan memilih teknologi, ya berarti harus “merumahkan” masyarakat sekitar. Jadi kalau ada pekerja yang kurang maksimal maka bisa diganti dengan teknologi. Saat ini langkah yang dilakukan IKBM Brumbung untuk merekrut SDM seperti apa? Kita melakukan perekrutan terhadap pekerja yang telah berpengalaman di pabrik lain dan melatih pekerja yang masih muda dengan sistem outsourching. Saat ini total pekerja adalah 187 orang. Sementara sistem upahnya untuk outsourching adalah sama dengan UMR, sementara pekerja lainnya berdasarkan borong prestasi, berdasarkan prestasi yang dihasilkan. • DR

IK Gresik. Saat ini, seperti yang dituturkan General Manager KBM IK Gresik, Afwandy, pihaknya memiliki tujuan pasar yang luar biasa besar. Untuk produk vinir saja KBM IK Gresik memiliki pelanggan dari Cina, Korea dan Malaysia. Bahkan, karena banyaknya permintaan, KBM yang berada di bawah naungan Perhutani Unit II Jawa Timur ini sempat meminta bantuan KBM IK Cepu. “Untuk vinir sudah full capacity, sedangkan permintaan pasar masih banyak lagi. Jadi yang kita lakukan adalah sebisa mungkin menepati permintaan sesuai waktunya,” kata Afwady. Selain vinir, KBM IK Gresik juga

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Mengenal Lebih Dekat KBM IK Gresik menguntungkan. Cikal bakal KBM-IK Gresik adalah penggabungan Kesatuan Industri Pengolahan Kayu Jati (KIPKJ) Gresik dengan PGM daerah dalam wilah Perum Perhutani Unit II Jawa Timur yang berdiri sejak tanggal 02 Nopember 1977 sebagai rangkaian adanya proyek industri Perum Perhutani yang mulai dirintis sejak

memiliki molding yang kapasitasnya 900 meter kubik per tahun, mozaik 1.500 meter kubik per tahun, teak wood 800.000 lembar –lebih banyak merupakan plywood yang dilapisi dengan vinir– kemudian juga kayu gergajian 9.100 meter kubik per tahun, lalu ada caddy 5.000 meter kubik, paket 1.270 Meter kubik, kusen 150 meter kubik, panel 75 meter kubik, kemudian meubel 3.720 meter kubik. Sementara produksi flooring diserahkan kepada pihak lain untuk pengerjaannya. Terlebih saat Perhutani mengekspor flooring ke China, KBM IK Gresik turut ‘menyumbang’ 60 kontainer dengan

bahan baku sesuai permintaan. Di sisi lain, KBM IK Gresik sendiri juga mengembangkan kerjasama yang bagus dengan pihak lain, dengan kegiatan yang bernama TSP atau kerjasama pengolahan. Untuk kerjasama ini dibutuhkan bahan baku yang cukup besar. “Kami sudah merinci kebutuhan bahan baku setahunnya, yaitu untuk jati saja sebanyak 28.820 meter kubik, terdiri dari 15.620 untuk industri kita sendiri dan 13.200 untuk mitra. Kita butuh juga sonokeling dan kerja sama dengan pihak ketiga kita butuh 15.000 meter kubik dan sengon 36.000 meter kubik,” katanya.

Untuk lebih memudahkan penjualan kayu, KBM IK Gresik sangat concern dalam hal pengurusan legalitas kayu. Saat ini, KBM IK Gresik tengah menunggu keluarnya sertifikat SVLK pada bulan Mei ini. Dengan SVLK, menurut Afwady, legalitas kayu menjadi lebih kelihatan. Adanya SVLK menunjukkan jika proses yang dilalui KBM IK Gresik dalam mengelola kayu betul-betul terstandardisasi. “Misalnya kecepatannya, asal usul kayunya, dan prosesnya bagaimana. Semua itu kan dicek oleh tim verifikasi. Jadi bagi kami itu sangat memudahkan dalam penjualannya,” jelas Afwady. • DR

K

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Dok. Humas PHT

BM IK Gresik berdiri tahun 2006 berdasarkan Keputusan Perum Perhutani Unit II Jawa Timur sebagai penjabaran Keputusan Direksi Perum Perhutani tentang Struktur Organisasi Perum Perhutani. Pembentukan organisasi baru ini merupakan bagian dari perubahan struktur organisasi Perum Perhutani secara global yang membedakan antara kelola hutan dan kelola bisnis. KBM IK Gresik adalah satuan organisasi dibawah Kantor Perum Perhutani Unit II Jawa Timur yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pengelolaan usaha di bidang Industi Kayu Perum Perhutani secara mandiri untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Dengan dibentuknya KBM Industri Kayu diharapkan kinerja perusahaan dalam bidang industri menjadi lebih sederhana, efisien, fleksibel, mandiri serta

tahun 1975 dalam rangka menunjang program pemerintah dalam Repelita I dan II. Saat ini KBM yang terletak di Jl. Kapten Darmosugondo Gresik atau ±18 km arah utara Surabaya, ini memiliki sejumlah produk unggulan seperti Furniture Jati, Finished Flooring, Top Export, dan Vinir Sayat Jati (Finished Product). Adapun produk unggulan dari kayu gergajian antara lain RST Garden Furniture, RST Flooring, BBI Componen, dan Jeblosan. • DR

DUTA Rimba 81


WISATARIMBA

82 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Saat Rehat di

Padusan Pacet Di lereng gunung Welirang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terdapat sebuah desa bernama Padusan. Mungkin tak banyak orang yang mengenal nama desa itu. Tetapi, ketika nama desa itu juga menjadi nama sebuah lokasi wanawisata yang menawarkan relaksasi berkualitas, Padusan menjadi satu nama yang menarik. Ingin tahu seperti apa daya tariknya? Mari kita pergi ke sana.

Dok. Humas PHT

U

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

dara yang bersih dan sejuk. Bertahun-tahun, ribuan bahkan jutaan orang dari kota besar selalu memanfaatkan saat rehat mereka di hari libur untuk mencarinya. Dan daerah pegunungan selalu menjadi pilihan untuk mendapatkan udara yang bersih dan sejuk itu. Sekadar melepaskan diri sejenak dari kepenatan kota besar dan kesibukan kerja sehari-hari. Di Jawa Timur, salah satu lokasi yang layak menjadi tujuan wisata untuk bersantai di saat rehat itu adalah Wanawisata Cluster Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Warga sekitar biasa menyingkatnya dengan sebutan Padusan Pacet. Lokasinya yang terletak di lereng Gunung Welirang, memberikan nuansa sejuk dan udara dingin yang khas. Sangat cocok untuk sejenak bersantai dan melupakan kepenatan di tengah kesibukan sehari-hari yang menyita pikiran dan stamina. Wanawisata Cluster Padusan relatif mudah untuk dijangkau. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat melalui jalur Malang menuju Mojokerto, melewati Taman Hutan Rakyat R. Surjo, Cangar, kemudian sampailah ke Pacet. Selain itu, lokasi wanawisata ini dapat juga ditempuh

DUTA Rimba 83


WISATARIMBA jalan. Semuanya tersaji bak lukisan alam di depan mata Anda. Begitu menggoda hasrat jiwa merdeka untuk mencicipi setiap jengkal dan semua titik keindahannya. Selain itu, puncak-puncak Gunung Welirang, Anjasmoro, dan Semeru pun akan tersaji di depan

Cluster Padusan Pacet, Anda akan segera disapa oleh atmosfer alam yang sejuk. Hal itu menjadi satu hal yang niscaya, karena lokasi wanawisata seluas kurang lebih 100 hektare itu memang berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.

khas pegunungan ini. Satu hal yang menarik adalah, jika Anda memutuskan untuk melalui jalur alternatif tersebut, setelah keluar dari Mojokerto Anda akan disuguhi pemandangan alam nan indah di sepanjang jalan dari Trawas hingga Pacet. Pemandangan mulai dari perkampungan penduduk nan asri, vila, hotel, sawah, sampai sungai yang mengalir dengan air yang jernih, terhampar indah di kanan-kiri

mata. Anda dapat menikmati hamparan indah ketiga gunung itu beberapa kali selama perjalanan melintasi jalur ini. Walaupun, medan jalan yang terhampar cukup berliku dengan beberapa tikungan yang tajam, namun Anda tidak akan merasa bosan berada dalam perjalanan, karena melihat betapa padu dan syahdunya harmoni alam tersebut. Begitu tiba di lokasi wanawisata

Bukan sekadar pemandangan alam yang ciamik. Wanawisata Cluster Padusan Pacet juga menawarkan aneka fasilitas pendukung. Di sana, Anda dapat menikmati water pool, swimming poll, villa, cottage, hingga wisata belanja. Selain itu, juga terdapat ragam sarana games, ATV track, paintball, dan air soft gun war game. Jangan lupakan hal yang menjadi daya tarik utama wanawisata ini,

Dok. Humas PHT

dengan melewati jalan alternatif, yaitu Kota Mojokerto mengambil jalur Mojosari-Trawas, sampai menemukan papan nama Kecamatan Pacet. Setiba di Pacet, setiap pasang mata yang Anda jumpai akan dengan suka hati menunjukkan arah lokasi wanawisata berhawa sejuk

84 DUTA Rimba

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


andalan wanawisata ini adalah water fall. Water fall atau air terjun yang ada di Wanawisata Cluster Padusan Pacet tersebut bernama air terjun Grenjengan. Tingginya sekitar 30 meter. Di sini, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan tebing di sekeliling air terjun yang

dalam perut bumi, mengalir dari Gunung Welirang. Di sini KBM Mojokerto selaku pihak pengelola telah membuat suasana alami benar-benar terasa. Lokasi tempat mandi air panas yang dulu berada di aliran sungai air panas, kini telah dibiarkan alami, lalu dibuatkan kolam

jernih, tentu Anda akan tergiur untuk segera mencobanya. Ada beberapa tingkat kedalaman kolam air dingin ini. Tetapi para pengunjung perlu memerhatikan kedalaman kolam. Jika Anda mengikutsertakan anakanak untuk bermain air, pastikan anak-anak bermain di kolam yang dangkal.

menyajikan keindahan alami. Ditingkahi suara air yang terjun dengan deras dan menimpa sungai kecil di bawahnya, dengan berhias batu-batu besar yang kokoh tak tergoyahkan, kendati setiap detik bebatuan itu begitu ikhlas menunggu derasnya air yang terjun dari ketinggian. Bagaimana dengan air panasnya? Tentu tak kalah menarik. Air panas Padusan Pacet bersumber dari

pemandian yang baru dengan posisi berada di sebelah selatannya. Jadi, begitu Anda memasuki lokasi wanawisata ini, dengan mudah kolam air panas akan dijumpai. Setelah melewati pintu gerbang, Anda akan segera disapa warung-warung penyedia makanan, minuman, sayur mayur, dan souvenir lain. Naik sedikit ke atas, ke arah kanan setelah pintu gerbang, Anda akan menemukan kolam pemandian

Dok. Humas PHT

yaitu water fall dan hot spring water. Anda dapat menikmati ragam fasilitas dan keindahan di Wanawisata Cluster Padusan Pacet dengan terlebih dahulu membayar tiket masuk seharga Rp 7.500. Nah, melihat kolam air dingin berukuran 60 X 40 m berisi air yang

Ragam Fasilitas Obyek yang menjadi salah satu

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 85


WISATARIMBA gas oksigen yang masih segar. Menurut Darmanu, pengelola Wanawisata Padusan Pacet, lokasi wanawisata ini pernah dinyatakan tertutup bagi wisatawan di penghujung tahun 2002 silam, akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut. Banjir bandang ketika itu menenggelamkan desadesa di sekitar lokasi wanawisata. Sehingga, lokasi ini pun terisolasi. Namun, setelah Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya setempat bekerjasama dengan Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, membenahi Wanawisata Padusan

sendiri konon dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, semisal menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Bukan hanya air panas. Pesona lainnya adalah, kolam pemandian air panas itu juga dikelilingi hutan pinus yang berdiri kokoh dengan tegakantegakan pohonnya yang menjuntai hingga setinggi puluhan meter, di sekitarnya. Sehingga, para wisatawan yang berkunjung ke sana dapat merasakan betapa sejuknya udara

Pacet, lokasi ini kembali berbenah. Kini, tampilannya semakin cantik, dan siap menyapa para pengunjungnya. â&#x20AC;&#x153;Rata-rata pengunjung Wanawisata Padusan Pacet datang dari kota-kota sekitar. Misalnya dari Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Malang, dan Jombang,â&#x20AC;? kata Darmanu. Lokasi ini juga menawarkan fasilitas penginapan bernama Pondok Wisata Grenjengan Padusan

Dok. Humas PHT

air panas itu. Bahkan pihak pengelola tidak tanggung-tanggung dalam membenahi fasilitas tersebut. Lima petak kolam untuk pemandian air panas, dan dua petak kolam pemandian air dingin telah dibuat sedemikian rupa guna memberikan kenyamanan bagi para wisatawan. Semua itu membuat para pengunjung tidak sekadar dapat merasakan khasiat dari air panas alami yang mengandung mineral belerang atau Sulfur (S), tetapi juga menikmati ragam fasilitas penunjang lain yang memanjakan. Air panas alami dari perut bumi itu

86 DUTA Rimba

Pacet. Tarifnya cukup terjangkau. Ada lima unit kamar standard dengan tarif Rp 200.000 di hari biasa dan Rp 275.000 di hari libur, serta Rp 350.000 untuk event. Kamar standard ini memberikan fasilitas-fasilitas double bed, televisi, kamar mandi di dalam kamar, pemberian snack satu kali untuk 2 orang, serta berendam di air hangat. Selain kamar standard, juga ada cottage. Fasilitas cottage di pondok wisata ini dibagi dua jenis. Pertama, cottage tipe Flamboyan dan Cemara, yang masing-masing terdiri dari 2 unit berupa 1 rumah dengan 3 kamar. Tarifnya Rp 450.000 di hari biasa, Rp 750.000 di hari libur, dan Rp 950.000 untuk event. Fasilitas yang ditawarkan adalah kamar single bed, kamar mandi di dalam, televisi, pemberian snack satu kali untuk 6 orang, dapur plus perlengkapannya, ruang makan, ruang tamu, serta berendam di air hangat. Kedua, cottage tipe Jamine A, B, C, dan D. Masing-masing ada 2 unit berupa 1 rumah dengan 2 kamar. Tarifnya di hari biasa adalah Rp 400.000 dan di hari libur adalah Rp 600.000. Untuk event, cottage tipe Jasmine baik A, B, C, mapun D, menawarkan tarif seharga Rp 750.000. Fasilitas yang ditawarkan Jasmine adalah kamar single bed, 2 kamar mandi, televisi, 1 kali pemberian snack untuk 4 orang, serta fasilitas berendam di air hangat. Selain fasilitas untuk bersantai saat rehat tersebut, Pondok Wisata Grenjengan Padusan Pacet Mojokerto itu juga menawarkan fasilitas Ruang Pertemuan. Di sana tersedia ruang yang cukup representatif untuk penyelenggaraan rapat kerja perusahaan maupun pelatihan peningkatan kualitas SDM. Untuk sewa sound system, pemakai ruangan ini hanya perlu mengeluarkan isi kocek sebesar Rp 50.000 per jam. Jika ingin

NO. 42 â&#x20AC;˘ TH. 7 â&#x20AC;˘ MARET-APRIL 2012


menggunakan sarana presentasi, tarif sewa proyektor plus layar adalah Rp 150.000 per jam. “Banyak perusahaan yang memilih Padusan Pacet sebagai tempat tujuan dari kegiatan outing atau gathering tahunan. Dan di tahun 2011, dengan konsep baru yang diusung, maka kami lebih siap untuk memberikan pengalaman wisata ‘ad-FUN-ture’ bagi para pengunjung dengan lebih menyenangkan,” jelas Darmanu.

Potensi Pengembangan Wanawisata Padusan Pacet menjanjikan banyak potensi pengembangan wisata. Selain karena keindahan alam, juga kelebihan berupa kolam pemandian air panas bersumber dari dalam perut bumi, semua memiliki potensi besar yang menanti untuk digarap. Tentu, penggarapan yang optimal akan memberikan banyak keuntungan bagi pengelola khususnya Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, juga bagi pemerintah daerah setempat dan masyarakat sekitar. Mengingat begitu besarnya potensi wisata di Padusan Pacet Mojokerto tersebut, Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya setempat menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani II Jawa Timur, untuk melakukan perencanaan pola-pola pengembangan Padusan Pacet. Rencana pengembangan Padusan akan diwujudkan pada pola pembentukan sistem menuju ekowisata. Dan hal itu berarti mencakup tiga hal, yaitu ekonomi, ekologi, serta pemberdayaan masyarakat. Pada sisi ekonomi, pengembangannya bertujuan untuk mendongkrak tingkat standard perekonomian daerah dan masyarakat sekitar tempat itu. Hal itu diwujudkan dengan melakukan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

pengelolaan wanawisata pemandian air panas Padusan Pacet Mojokerto ini, menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga, wanawisata Padusan Pacet layak dijadikan lokasi rujukan bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Mengapa sisi ekologi juga menjadi satu hal yang digarap untuk dikembangkan? Karena, di Padusan Pacet terdapat hutan pinus yang sangat luas. Hal itu

Lokasi wanawisata di Padusan Pacet yang dipenuhi warna hijau dedaunan, sehingga mampu memberikan efek relaksasi terhadap syaraf agar menjadi lebih segar, juga memberikan efek positif yang lain. adalah keunggulan Padusan Pacet ketimbang lokasi pemandian air panas di tempat lain. Ditambah lagi, karena secara geografis keberadaan lokasi Padusan Pacet berada di lereng pegunungan Welirang, yang menjanjikan berjuta pesona pemandangan alam yang indah, menjadi satu faktor unggul lain wanawisata ini. Keadaan dan kelebihan inilah, yang menjadi salah satu alasan, mengapa pihak pengelola membuka kesempatan bagi para anggota pramuka atau para pecinta alam, untuk menjadikan lahan yang ada di sana sebagai lokasi tempat mereka berkemah. Di samping itu, lokasi wanawisata di Padusan Pacet yang dipenuhi warna hijau dedaunan, sehingga mampu memberikan efek relaksasi terhadap syaraf agar menjadi lebih segar, juga memberikan efek positif yang lain. Semua itu memberikan

sisi ekologi yang sangat layak untuk dikembangkan. Sedangkan dari sisi pemberdayaan masyarakat, nantinya akan sangat dibutuhkan peran serta masyarakat dan akan dilakukan upaya kerja sama dengan warga setempat. Dari sini, pihak pengelola akan membuka beberapa sentra pengembangan usaha bagi warga Padusan. Sehingga, timbal baliknya pun ada, khususnya dari segi kreativitas yang dimiliki oleh warga di sana. Saat ini pun, keberadaan lokasi wanawisata Padusan Pacet Mojokerto telah memberikan keuntungan dari sisi ekonomi bagi masyarakat sekitar. Hal itu dilakukan lewat keberadaan warung-warung penyedia makanan, minuman, sayur mayur, dan souvenir lain. Masyarakat sekitar memanfaaatkan fasilitas warung-warung yang tersedia di dekat pintu gerbang masuk lokasi wanawisata itu, sebagai tempat mengais rezeki. Penganan-penganan dan oleh-oleh khas Mojokerto pun ramai dijajakan di sana. Bagi pengunjung, keberadaan warung-warung tersebut juga memudahkan mereka untuk mendapatkan buah tangan bagi keluarga dan handai taulan mereka di rumah. Tetapi, satu hal yang perlu selalu menjadi perhatian KBM Mojokerto selaku pengelola, adalah untuk selalu menjaga ketertiban dan kebersihan. Hal itu harus ditanamkan betul kepada setiap pengguna warung. Sehingga, setiap wisatawan yang datang berkunjung akan merasakan kenyamanan dan pengalaman berkesan. Pengalaman berkesan yang akan terus mereka bawa dan tularkan kepada kenalan mereka, ketika mereka bercerita. Untuk selanjutnya, para kenalan mereka itupun tergerak untuk juga merasakan saat rehat di Padusan Pacet Mojokerto. Cag! • DR

DUTA Rimba 87


puslitbangsdh.perumperhutani.com

INOVASI

Jati Plus Perhutani,

Masa Depan Jati Indonesia Di acara Diskusi dan Kunjungan Lapangan Rimbawan Senior, diperkenalkan JPP (Jati Plus Perhutani) sebagai produk unggulan Perhutani. Di tahun 2011, JPP menang Inovasi Produk Agrikultur BUMN Terbaik Ketiga pada Anugerah BUMN Award 2011. Seperti apa keunggulan JPP yang disebut sebagai salah satu inovasi terbaik Perhutani bidang kehutanan di Indonesia bahkan dunia itu?

88 DUTA Rimba

J

ati masih menjadi komoditas unggulan hutan di Indonesia. Hal itu terungkap dari data yang dikemukakan Direktur Utama Perum Perhutani, Dr. Ir. Bambang Sukmananto, MSc, sebagai pengantar Diskusi dan Kunjungan Lapangan Rimbawan Senior bertajuk “Masa Depan Pengelolaan Hutan Jati di Pulau Jawa”, 24 – 27 April 2012, didahului coffee morning tanggal 23 April 2012. Di kesempatan itu, Bambang Sukmananto menyatakan optimis pengembangan hutan jati yang dilakukan Perhutani di Pulau Jawa akan dapat lebih meningkat. Bambang Sukmananto menyebut, komposisi kelas hutan (KH) Perum Perhutani saat ini didominasi oleh jati. Di KH Produktif, luas hutan jati Perhutani kini 551,473 hektare sedangkan KH Tidak Produktif seluas 419,471 hektare, serta seluas 258,958 hektare yang bukan untuk produksi. Di peringkat kedua adalah pinus dengan 194,518 hektare KH Produktif, KH Tidak Produktif seluas 258,298 hektare, serta seluas 348,049 hektare merupakan lahan bukan untuk produksi.

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


Namun, akibat penjarahan oleh massa di akhir masa Orde Baru, produksi kayu jati turun 37 persen. Jika di tahun 1996-1997 produksi kayu jati 832.571 meter kubik, di tahun 1998-2004 hanya 524.745 meter kubik. Kayu jati berkualitas prima umumnya hanya dapat dipernuhi dari tebangan pohonpohon jati yang telah berusia di atas 60 tahun. Berpijak dari kenyataan itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perum Perhutani di Cepu berusaha meningkatkan produktivitas dan kualitas kayu jati. Caranya, lembaga yang diresmikan tahun 1997 oleh Menteri Kehutanan (ketika itu) Djamaluddin Suryohadikusumo itu memadukan penggunaan bibit unggul melalui manipulasi lingkungan dan perlindungan optimal atau yang lazim disebut silvikultur intensif. Hasilnya? Sejak tahun 1998 Puslitbang Perhutani mengembangkan inovasi produk agrikultur yang diberinama Jati Plus Perhutani I (JPP PHT I) dan Jati Plus Perhutani II (JPP PHT II). Saat ini, akan diluncurkan JPP PHT III dan JPP PHT IV. Di luar Perhutani, saat ini juga tengah dilakukan penelitian untuk pengembangan jati kualitas tinggi yang lain, yaitu jati transgenik, yang saat ini masih dalam proses penelitian di ITB (Institut Teknologi Bandung). Produk JPP hasil Puslitbang Perhutani ini berkualitas lebih bagus, berumur lebih pendek, dan dilihat dari sisi kimia dan fisik juga tidak jauh dari jati yang ada sekarang. Jika sebelumnya pohon-pohon jati baru bisa dipanen atau diambil kayunya setelah berusia 60 tahun ke atas, JPP dapat dipanen di usia 20 tahun. “Kita juga akan kombinasikan dengan uji genetik. Yaitu kita lakukan pengawinan dengan klon-klon yang lain. Ini akan dilakukan di tahap berikutnya,” kata Bambang.

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Saat Diskusi dan Kunjungan Lapangan, para rimbawan senior diajak langsung melihat perkembangan inovasi JPP yang dilakukan Perhutani. Rimbawan senior yang turut serta antara lain Mantan Menteri Kehutanan Djamaluddin Suryohadikusumo dan Sumahadi, serta Mantanmantan Direktur Utama Perhutani yaitu Wardono Saleh, Transtoto Handadhari, dan Haryono Kusumo, juga akademisi semisal Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Muhammad Naim. Sementara Direksi Perum Perhutani yang hadir adalah Dirut Bambang Sukmananto serta Direktur Umum dan SDM Akhmad Fakhroji. Pemuliaan Tanaman Jati Di tahun 2009, dua klon unggul hasil Puslitbang Perhutani yaitu JPP PHT I dan JPP PHT II telah mendapatkan serifikat PVT dari Kementerian Pertanian. Sertifikat itu diberikan karena pertumbuhannya cepat dan sangat seragam, dan peningkatan produktivitas kayu yang pesat. Bahkan hingga 2 – 3 kali dibandingkan bibit jati lokal. “Sekarang sudah banyak sekali di Jawa produksi-produksi kayu jati dengan hasil-hasil produksi yang bagus. Nah, (pengembangan JPP) ini juga akan efisien karena kita juga memikirkan bahwa kalau untuk menanam misalnya satu hektare, berapa jumlahnya yang pas. Selama ini jumlahnya berlebihan. Terlalu rapat jarak antar pohon. Jumlahnya yang pas akan kita tentukan dan kita awasi terus. Kita jalankan manajemen per pohon. Jadi hampir mirip-mirip seperti perkebunan,” kata Bambang. Rombongan Rimbawan Senior bertolak dari Jakarta untuk melakukan kunjungan lapangan pada 24 April 2012 pagi. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah KPH Pemalang. Usai ramah tamah di

Kantor KPH Pemalang, rombongan bertolak ke lokasi penanaman JPP di Petak 49a, RPH Klapanunggal, BKPH Bantarsari, yang ada di bawah KPH Pemalang. Di sini, JPP yang ditanam berasal dari stek pucuk unggulan PHT I dan PHT II. Luas area tanamnya 10 hektare. JPP di sini ditanam lewat proses pemuliaan tanaman jati sistem silvikultur intensif tahun 2003. Jadi, usianya sekitar 8,5 tahun. Jarak antar pohon adalah 3 X 3 meter. Dari sini, rombongan bergerak ke Petak 51 RPH Klapanunggal, BKPH Bantarsari, KPH Pemalang. Penanaman JPP di sini juga dengan sistem silvikultur intensif yang dikerjakan oleh KPH Pemalang. Usai mengunjungi Petak 49a dan 51, rombongan bergerak ke Semarang. Saat itu siang telah bergeser ke sore. Rombongan tiba di KPH Kendal saat matahari telah beranjak meninggalkan senja. Di Kantor KPH Kendal, acara ramah tamah diisi oleh iringan musik keroncong. Selanjutnya rombongan pun beristirahat. Esoknya, rombongan Rimbawan Senior berkesempatan meninjau taman jati eks kuljar di halaman Rumah Sakit Permata Sari, Semarang. Dari Semarang, rombongan bergerak ke KPH Blora. Usai ramah tamah di Kantor KPH Blora, selanjutnya rombongan para Rimbawan Senior mengunjungi Petak 74 BKPH Pasarsore, RPH Temengeng, KPH Cepu. Tanaman JPP di sini ditanam pada Januari 2004. Jarak tanamnya 6 X 2 meter di area seluas 17,5 hektare. Di usia 8 tahun kini, rata-rata volume JPP di sini adalah 1,74 meter kubik. Hasil yang didapat di sini terlihat lebih baik ketimbang di Pemalang, karena jarak tanamnya yang lebih longgar. Dari Petak 74, para Rimbawan Senior menuju Kawasan Perlindungan Khusus Hutan Alam Jatim “Gubug Payung”. Di Monumen

DUTA Rimba 89


Hutan Jati Alam Gubug Payung ini, rombongan berkesempatan membandingkan JPP yang di lihat di Pemalang dan Pasarsore dengan phon jati yang ada di Gubug Payung. Di Petak 1092 itu, dengan luas 34,4 hektare klas Hutan LDTI, tegakan tinggal 1429 pohon, jumlah pohon 1429 pohon jati, tinggi rata-rata 38 meter, garis tengah rata-rata 95 cm, dan volumenya 13,755 meter kubik. Di tengah kunjungan di Gubug Payung ini, rombongan dihibur iringan musik karawitan dari Paguyuban Seni Karawitan Tri Dharma Jati, Desa Temengeng, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora. Beranjak dari Gubug Payung, hari telah menjelang senja. Rombongan pun bergerak ke Kota Cepu, Kabupaten Blora, untuk beristirahat. Menyimak hasil-hasil penelitian pemuliaan jati yang sudah menunjukkan hasilnya tersebut, Djamaluddin Suryohadikusumo, menyatakan bangga karena para penerusnya di Perhutani merupakan orang-orang pilihan yang menunjukkan prestasi membanggakan. “Saya bangga sekali melihat bahwa peneruspenerus saya itu adalah orang-orang pilihan. Jadi, mereka itu banyak melakukan inovasi, pekerja keras, dan jujur. Itu saya kira adalah modal yang besar kalau sebuah perusahaan ingin maju. Saya sangat bangga melihat penerus-penerus saya itu,” ucap Djamaluddin yang menjabat Menteri Kehutanan tahun 1993-1998 itu khusus kepada Duta Rimba. Senada dengan pendahulunya, Sumahadi pun menyebut terobosan yang dilakukan Perum Perhutani ini sebagai langkah yang bagus. Jati saat ini tidak lagi stereotype dipanen hasil kayunya setelah 60 tahun. “Coba lihat saja, tanaman jati yang baru berusia 1 tahun itu kalau dulu dulunya mungkin baru satu meter.

90 DUTA Rimba

humaskphrandublatung.blogspot.com

INOVASI

Sekarang sudah mencapai 3 meter. Begitu pula yang sekarang kita saksikan di Pemalang dan Pasarsore yang usianya baru sepertiga dari perkiraan usianya untuk dipanen, ternyata perkembangannya sudah begitu menggembirakan. Dan menurut pakar, usia sepertiga dari perkiraan usianya untuk dipanen itu sudah dapat menjadi tolok ukur keunggulannya,” kata Menteri Kehutanan pada Maret 1998 – Mei 1998 ini pula.

Hasil yang Membanggakan Hari ketiga kunjungan lapangan, 26 April 2012. Acara berlanjut dengan diskusi tentang prospek JPP di masa depan. Berlangsung di Kantor Puslitbang Perhutani di Cepu, kepada rombongan dijelaskan bagimana pengembangan JPP dan seluk beluknya. Menyaksikan pemaparan tersebut, optimisme terpancar di mata seluruh hadirin. Salah satunya dituturkan Mantan Plt Direktur Utama Perum Perhutani, Haryono Kusumo. “Saya selaku mantan Orang Perhutani, sudah meyakini bahwa arah pengelolaan hutan di Jawa,

khususnya jati, yang dilakukan Perhutani ini sudah tepat. Sebab, seperti kita saksikan bersama bahwa dengan menempatkan Puslitbang sebagai mata arah perusahaan ini memang sudah merupakan suatu hal yang menjadi keniscayaan. Memang harus begitu. Supaya tidak sesat. Dan seperti kita saksikan bersama, hasil pemuliaan tanaman jati sudah diterapkan di lapangan dan ternyata begitu besar kenaikan produktivitas lahan,” kata Haryono kepada Duta Rimba. Kebanggaan dan optimisme yang sama dilontarkan Mantan Direktur Utama Perhutani Transtoto Handadhari. Menurut pria yang menjabat Direktur Utama Perhutani tahun 2004-2008 ini, Perum Perhutani telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia pun memuji langkah untuk melibatkan Rimbawan Senior dalam diskusi pengembangan mutu produk unggulan. “Perkembangan perusahaan sekarang ini saya kira sudah menunjukkan usaha yang baik. Hari ini kita berkumpul dalam rangka silaturrahmi. Ini mungkin tidak akan

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012


memberikan hasil positif yang besar sekali, tetapi hasil yang positifnya adalah silaturrahmi. Sebab, ini penting. Pertemuan keterbukaan silaturrahmi dengan para senior ini sangat diperlukan bagi direksi,” ujarnya khusus kepada Duta Rimba. Dari Puslitbang, perjalanan kunjungan berlanjut ke Kebun Benih Klonal (KBK) Padangan, Ngawi, Jawa Timur. Di salah satu dari 3 KBK yang dimiliki Perum Perhutani tersebut, terdapat 65.017 pohon. Di sini, kepada para Rimbawan Senior juga diperagakan alat pembuat lubang tanam yang diproduksi oleh Puslitbang Perhutani. Alat ini merupakan perpaduan traktor dan bor. Mata bor yang terdapat di alat bernama Pe Ha Pe Tech 2011 ini ada dua yang masing-masing berfungsi untuk tipe tanah yang keras dan lunak. Lepas dari sini, rombongan bergerak ke KPH Ngawi. Lalu mengunjungi Pusat Persemaian Kucur KPH Ngawi yang terletak di Desa Sidolayu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Di sinilah dilakuka pembuatan stek pucuk. Di sini pula di tahun 2007 dibangun kebun pangkas yang bibit awalnya 200.000, sedangkan di tahun 2011 bibitnya 2.500.000. Meninggalkan kebun oangkas Kucur, rombongan bergerak ke Solo. Selepas magrib, ramah tamah berlangsung di Kantor KPH Surakarta. Setelah itu, rombongan pun beristirahat. Selanjutnya, dilakukan tindak lanjut hasil diskusi dan kunjungan lapangan ini oleh Tim Perumus.

Prospek ke Depan Dari hasil kunjungan lapangan Rimbawan Senior ke Jawa Tengah tersebut, terlihat sumbangan JPP klon ini terhadap sunia kehutanan. Yaitu, pengembangan JPP ini telah meningkatkan produktivitas hutan,

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

dari semula riap volume hanya 4,8 meter kubik per hekatare per tahun, kini menjadi 13,6 meter kubik per hektare per tahun. Selain itu, JPP juga memperpendek daur ekonomis jati. Sebab, dengan diperolehnya klon jati yang cepat tumbuh, HTI mulai mengembangkan usaha jati, tidak lagi perlu menunggu panen saat 60 – 80 tahun tetapi cukup 20 tahun saja. Juga, JPP merupakan terobosan baru teknologi produksi bibit jati dengan metode stek pucuk jati yang pertama di dunia. Menyimak hal itu, adalah wajar jika optimisme pun terlontar. Direktur Utama, Bambang Sukmananto, menyebut, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang, ia yakin akan ada prospek yang sangat bagus. Tentu saja hal itu harus diimbangi dengan secara konsisten melakukan program-program penelitian dan memanfaatkan secara optimal hasil-hasil teknologi. “Sekarang ini umur JPP paling tua kan sudah sembilan tahun. Tahun ini saya akan lebih intensif lagi, karena sudah ada bukti bahwa selama sembilan tahun ini perkembangannya bagus. Masalahnya kan masalah perubahan biaya. Karena kalau namanya lebih intensif, biayanya kan lebih mahal. Nah, hitung-hitungannya tadi sudah. Nggak masalah. Biayanya lebih mahal kalau produknya lebih bagus, nggak masalah,” ujarnya. Sementara itu, di luar Perhutani, saat ini tengah dikembangkan hasil penelitian jati yang lain. Selain jati trasgenik yang sedang diteliti ITB, juga ada pengembangan system pengakaran jati dengan nama Jati Unggul Nusantara (JUN). Di bawah kendali Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN) milik Kementerian Kehutanan, usaha JUN mulai dikembangkan sekitar lima tahun lalu. KPWN melakukan riset dan rekayasa selama beberapa tahun. Hasilnya, JUN memiliki

akar tunggang majemuk dibanding jati asal yang berakar tunggang. Jenis akar ini memastikan JUN bertumbuh lebih besar dan hanya berusia 5 tahun. Panen perdana JUN dilakukan awal April 2012 oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Menanggapi hal itu, Bambang Sukmananto menyebut, JPP punya keunggulan ketimbang produk lain. ”Yang jelas, bibitnya kita lebih unggul. Yang kedua, sistemnya kita lebih unggul. Kenapa sistemnya kita lebih unggul? Karena kita didukung oleh Litbang yang cukup. Kemudian perawatannya juga lebih bagus. Tetapi, JUN itu juga bagus untuk kelas mereka. Tetapi kalau untuk kelas perusahaan ya lain. Jadi, kita mau memproduksi yang seperti itu tetapi kelasnya lebih bagus,” katanya. Senada dengan itu, Wardono Saleh yang menjabat Direktur Utama Perhutani pada 1987-1993, kepada Duta Rimba mengatakan bahwa produk JUN masih harus diuji kualitasnya. Sementara JPP saat ini sudah menunjukkan hasil yang membanggakan. Terkait prospek JPP ke depan, Bambang pun menyebut tahun ini Perhutani akan lebih intensif menanam bibit jati kualitas unggul tersebut. Diharapkan dapat terrealisasi sebesar 70 persen dari lahan Perhutani yang ada. Jika sudah begitu, optimisme pun kian besar. Tinggal mensinergikan optimisme itu dengan optimalisasi kinerja yang mumpuni. Sehingga, sebuah hal yang membanggakan pula ketika para Rimbawan Senior mendapat proyeksi selama diskusi dan kunjungan lapangan ini betapa cerahnya masa depan pengelolaan hutan jati, lewat pengembangan JPP. Seperti kata Direktur Umum dan SDM Perum Perhutani, Akhmad Fakhroji, di hadapan Rimbawan Senior, “Jangan khawatir dengan masa depan hutan jati di Indonesia.” Salut! •DR

DUTA Rimba 91


Dok. Humas PHT

RIMBAKULINER

Ayam Bakar Mak Gogok

Jagoan Kuliner Dari Genjahan Masyarakat Blora atau yang terbiasa melintasi wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur, tentu sering mendengar nama rumah makan “Ayam Bakar Mak Gogok”.

M

asyarakat Blora atau yang terbiasa melintasi wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa

92 92 DUTA Rimba

Timur, tentu sering mendengar nama rumah makan “Ayam Bakar Mak Gogok”. Meski lokasinya di pelosok desa dan jauh dari jalan utama, sajian ayam bakar yang khas berbalut bumbu-bumbu unik di rumah makan ini selalu laris dan dicari orang. Padahal, mereka harus melewati jalanan yang tak ‘mulus’ dan rajin bertanya karena letaknya yang tersembunyi. So, apa sih istimewanya ayam bakar Mak Gogok?

NO.NO. 42 •42TH. 7 •7MARET-APRIL • TH. • MARET-APRIL 2012 2012


42••TH. TH.77• •MARET-APRIL MARET-APRIL NO. 42 20122012

makin banyaknya pesanan, kami sudah tidak sanggup lagi. Sekarang ada penyalur ayam kampung yang setiap saat bisa menyuplai kebutuhan kami,” jelas Yahman. Dalam sehari, Sarti mengaku menghabiskan 60 – 70 ekor ayam kampung. Pada jam-jam tertentu, seperti saat makan siang, warung makan yang buka sejak pukul 08.00 WIB ini selalu penuh. Umumnya mereka adalah para pekerja di perusahaan-perusahaan sekitar wilayah itu, semisal Perum Perhutani KPH Cepu dan PT Pertamina (persero) Depot Cepu.

keistimewaannya, diketahui jika resep ayam bakar yang digunakan Sarti, sejatinya merupakan ‘warisan’ dari neneknya, Mbah Kandar. Dulu, Mbah Kandar yang bekerja sebagai sinder kehutanan, sering mendapat pesanan makanan. Sarti yang sejak kecil tinggal dengan Mbah Kandar terbiasa membantunya. Berbeda dengan ayam bakar lainnya yang sudah menggunakan oven atau alat masak modern lain, warung makan Ayam Bakar Mak Gogok masih setia menggunakan anglo, yakni tungku dari tanah liat, sebagai alat memasak utamanya. Anglo sepanjang 2 meter ini dibuat me-

Omzet warung makan Ayam Bakar Mak Gogok akan membengkak jika mendapatkan pesanan besar. Misalnya, saat warung makan ini mendapat kunjungan Bupati Blora yang mengadakan syukuran bersama masyarakat setempat. Dari 400 undangan yang disebar, kenyataannya lebih dari 1000 orang datang sambil menikmati sajian warung makan Mak Gogok.

manjang dengan lubang di tengah sebagai tempat pembakaran kayu. Proses memasak ayam bakar Mak Gogok ini pun cukup unik. Ayam kampung yang sudah dibersihkan, tanpa dibumbui terlebih dahulu, langsung dibakar sampai dagingnya berwarna agak kecoklatan. Setelah itu, ayam tersebut direbus selama satu jam bersama-sama dengan bumbu dalam sebuah wajan atau penggorengan berdiameter satu meter. Bumbu-bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, gula merah, kunir, asam, kencur, ketumbar, jinten, dan santan. Bumbu-

Dok. Humas PHT

Untuk menjawab pertanyaan ini, DUTA RIMBA sengaja mengunjungi rumah makan yang terletak di tengah Desa Genjahan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, sekitar 1,5 kilometer dari Jalan Raya BloraCepu dan sekitar 10 kilometer dari Kota Blora. Selepas berburu berita di wilayah Cepu, kami pun langsung menuju rumah makan yang tersohor itu. Beruntung bagi kami. Meski datang selepas jam makan siang, persediaan ayam bakar Mak Gogok masih ada. Padahal, biasanya kurang dari pukul 14.30 waktu setempat, ayam bakar sudah ludes dilahap para pembeli. Sambil menunggu pesanan ayam bakar, kami pun mengobrol santai dengan pengelola Ayam Bakar Mak Gogok, untuk mengorek resep serta perjalanan sukses mereka. Pengelola Ayam Bakar Mak Gogok adalah sepasang suami isteri, Yahman Sasmito (71 tahun) dan Sarti (64 tahun). Sarti adalah pemilik nama sebutan Mak Gogok. Sejak tahun 1996, keduanya berjualan ayam bakar dengan dibantu anak-anak mereka. Dari sinilah success story Ayam Bakar Mak Gogok bermula. Menurut Sarti alias Mak Gogok, keistimewaan ayam bakar buatannya adalah dari baluran resep yang ia gunakan. Selain itu, pilihan ayam kampung dan cara pengolahannya pun menjadi pembeda dari ayam bakar lainnya. Sarti hanya akan memilih ayam kampung betina berusia 7 bulan sebagai bahan utama. Tentu saja ayam kampung yang digunakan pun bukan sekadar ayam kampung “liar” yang dipelihara kebanyakan masyarakat desa. Ayam kampung tersebut ia dapatkan dari penyalur yang merupakan peternak khusus ayam kampung, sehingga pakan yang dikonsumsi ayam kampung itu pun terjaga kualitas gizinya. “Awalnya kami memelihara sendiri ayam kampung. Tapi, seiring

Resep Warisan Mbah Kandar Ayam Bakar Mak Gogok memang punya rasa berbeda dibanding ayam bakar lainnya. Saat DUTA RIMBA memindai lebih lanjut tentang

DUTA Rimba 93


bumbu itulah yang menyebabkan daging ayam itu terasa gurih, manis, bercampur rasa pedas. Dalam keadaan utuh, ayam itu dibakar kembali di atas anglo perapian arang. Pembakaran itu bertujuan untuk meresapkan bumbu sekaligus memberikan cita rasa bakar dan asap bakaran. Saat disajikan, Mak Gogok menambahkan bumbu santan pedas dan sambal terasi di atas cobek. “Hingga kini resep itu tetap kami pertahankan. Hanya saja, kami juga melakukan penambahan, antara lain mentimun dan kemangi sebagai lalapan. Itu pun dapat dipesan sesuai selera pembeli, karena ada juga yang tidak mau memakan lalapan,” kata Yahman. Para pembeli umumnya datang berkelompok dan memesan Ayam Bakar Mak Gogok satu ekor utuh. Untuk pembeli yang datang sendiri, mereka dapat memesan potongan ayam sesuai porsi. Sebelum ayam bakar diantarkan ke meja, biasanya pembeli akan disuguhi pisang goreng sebagai makanan pembuka. Setelah itu ayam bakar akan disajikan lengkap dengan sambal terasi, sayur bobor (pepaya muda dimasak santan lalu diberi bayam dan jagung), sate jeroan ayam (hati dan ampela), tempe goreng, serta lalapan yang terdiri

94 94 DUTA Rimba

dari rebusan bayam, lalap kubis, daun kemangi, dan mentimun. Satu ekor Ayam Bakar Mak Gogok dipatok dengan harga Rp. 75.000. Terasa agak mahal, memang. Namun untuk membayar kelezatan ayam bakar Mak Gogok, harga senilai itu dirasa pantas.

Ejekan Berbuah Hoki Sebelum berjualan ayam bakar, di tahun 1992 yahman dan Sarti sempat beberapa kali gonta-ganti jualan, antara lain berjualan nasi pecel, sate kambing, dan soto, dengan “mangkal” di pinggir jalan. Modalnya Rp 20.000 hasil menjual kalung emas

milik anaknya. Namun, jualan nasi pecel, sate kambing, dan soto itu dirasa tak cukup berkembang. Keduanya pun berjualan ayam bakar. Awalnya, mereka hanya melayani pesanan tetangga dan kantor-kantor kelurahan. Semakin lama, usahanya berkembang pesat. Empat tahun kemudian, kampung mereka membangun sebuah masjid. Pembangunan masjid itu menjadi jalan berkah bagi keduanya. Sepanjang tujuh bulan proses pembangunan masjid, Mak Gogok mendapat pesanan makanan untuk para pekerja. Dengan keuntungan dari pesanan tersebut, Yahmin dan Sarti mampu membeli rumah, yang kini dijadikan warung makan Ayam Bakar Mak Gogok itu. Nama Mak Gogok sendiri berarti “Ibunya Gogok”. Gogok adalah panggilan ejekan terhadap putra pertama Yahmin dan Sarti. Namun siapa sangka, nama ejekan itu justeru kini membawa hoki sekaligus lambang kesuksesan keduanya. “Dari berjualan ayam bakar inilah keempat anak kami telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja. Anak pertama kami berdinas di Perhutani KPH Blitar, anak kedua berwirausaha, anak ketiga bekerja di sebuah peru-

Dok. Humas PHT

Dok. Humas PHT

RIMBAKULINER

NO.NO. 42 •42TH. 7 •7MARET-APRIL • TH. • MARET-APRIL 2012 2012


Resep Ayam Bakar Mak Gogok Bahan Utama: • 1 ekor ayam kampung betina berusia sekitar tujuh bulan.

Dok. Humas PHT

Bumbu:

sahaan swasta di Jakarta, dan yang terakhir sebagai dosen di kawasan Ciputat, Banten,” papar Sarti penuh bangga.

Selain ayam bakar, warung makan Mak Gogok juga menyediakan asemasem ayam kampung. Menu istimewa ini hanya dimasak jika ada permintaan. Asemasem merupakan olahan ayam kampung yang dimasak dengan cita rasa asem-asem dan dibungkus daun pisang. Banjir Permintaan Franchise Kelezatan ayam bakar Mak Gogok rupanya menarik sejumlah pengunjung untuk membuka cabang warung makan ayam bakar dengan nama Mak Gogok. Permintaan dengan sistem franchise datang dari berbagai daerah, baik dari Blora,

42••TH. TH.77• •MARET-APRIL MARET-APRIL NO. 42 20122012

wilayah Jawa Tengah lainnya, Jawa Timur, hingga Jakarta. Menurut Yahman, permintaan terbanyak datang dari Jakarta. Bahkan kalau diijinkan, mereka sudah siap dengan lahan yang akan ditempati. Namun, tak satupun permintaan franchise dipenuhi. Alasannya, keempat anak Yahmin dan Sarti berencana untuk mengembangkan sendiri rumah makan Ayam Bakar Mak Gogok. Syahdan, satu cabang rumah makan Ayam Bakar Mak Gogok telah dibuka sejak setahun lalu. Bahkan tempatnya lebih luas dari rumah makan Mak Gogok di Genjahan. Letaknya di dekat Mapolres Blora. Di tempat ini, pengelolaan rumah makan diserahkan kepada anak mereka yang kedua. Agar cita rasa Ayam Bakar Mak Gogok tetap terpelihara, Sarti melatih calon juru masak selama enam bulan. Setelah dirasa cukup mahir, Sarti hanya sesekali mengunjunginya untuk melihat perkembangan. “Cabang ini justeru lebih ramai, karena letaknya di kota. Parkirnya juga lebih luas. Ke depan, rencananya anak kami di Jakarta juga mau buka cabang di sana. Sekarang ini sedang cari-cari lahan yang tepat untuk berjualan,” kata Sarti. •

• Bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, gula merah, kunir, asam, kencur, tumbar, jinten dan santan.

Cara Membuat: • Belah dua ayam yang telah dibersihkan, lalu dibakar. • Masukkan ayam ke dalam rebusan air dan dicampur dengan bumbu yang telah dihaluskan, lalu aduk-aduk dan diamkan hingga dirasakan cukup empuk. • Tiriskan ayam lalu bakar di atas bara api sedang hingga matang.

Sajian Tambahan • Ayam bakar Mak Gogok selalu diiringi sambal terasi yang terbuat dari cabe merah, tomat, garam, dan terasi. Untuk membuatnya, seluruh bahan diulek di atas cobek hingga halus. • Sajian khas “pengawal” ayam bakar Mak Gogok adalah lalapan yang terdiri dari rebusan bayam, lalap kubis, daun kemangi, dan mentimun. • Sajian tambahan lainnya adalah sayur bobor, sayur asem, dan tempe goreng. •

Rumah Makan “Ayam Bakar Mak Gogok” Depan SD Genjahan 1, Desa Genjahan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Telp. 0296 – 525347 (Hp) 0812 2510 7168

95 DUTA Rimba 95


Segenap jajaran redaksi DUTA RIMBA mengucapkan “SELAMAT dan SUKSES” atas dilantiknya Bapak Morgan Syarif Lumban Batu (Direktur Keuangan Perum Perhutani)

dan Bapak Mochamad Soebagja

(Direktur Pemasaran Perum Perhutani)

Morgan Syarif Lumban Batu 96 96 DUTA Rimba

Mochamad Soebagja

NO.NO. 42 •42TH. 7 •7MARET-APRIL • TH. • MARET-APRIL 2012 2012


NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

DUTA Rimba 97


98 DUTA Rimba

NO. 42 • TH. 7 • MARET-APRIL 2012

Majalah Duta Rimba 42 Mar - Apr 2012  

Majalah Duta Rimba diterbitkan oleh Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you