Page 1

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

M A JA L A H

BISNIS RIMBA

Diversifikasi Bisnis

ensiklo RIMBA

Kukang Jawa

Perhutani Divre Jateng Launching Tectona Café and Restaurant INOVASI

Mengolah Kayu Limbah

Menjadi Wood Pellet

P ER H U T A N I

Satwa Eksotis Khas Pulau Jawa WISATA RIMBA

Pantai Menganti Calon Destinasi Wisata Pantai Geopark Dunia warisan RIMBA

Kearifan Lokal

di Situs Budaya Eyang Buyut Dalem Cageur

Karya

dan Prestasi


SalamRedaksi

Pengarah Denaldy M Mauna Direktur Utama Perum Perhutani Penanggung Jawab Asep Rusnandar Sekretaris Perusahaan Pemimpin Redaksi Yuswan Hendrawan Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Redaktur Pelaksana Suharsono Sekretaris Redaksi Ardya Setya Nurvrandita Redaktur Adehika Intan, Rizka Amalia, Nanjar Munandar, Aga Prasetya

Perwakilan - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Barat & Banten Alamat Redaksi

Departemen Komunikasi Perusahaan Perhutani Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Senayan, Jakarta Pusat Telp: 021 - 5721 282, Fax: 021 - 5733 616 E-mail: humas@perhutani.co.id www.perhutani.co.id

Naskah & Advertensi DUTA RIMBA adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan Perum Perhutani untuk berbagi informasi korporasi kepada internal dan para pihak. Redaksi menerima tulisan, artikel, naskah, dan fotofoto menarik yang sesuai dengan visi dan misi tema penerbitan DUTA RIMBA edisi berikutnya. Artikel ditulis dengan spasi ganda, maksimal lima halaman dan dikirim melalui e-mail (softcopy). Redaksi berhak melakukan editing sesuai dengan kebutuhan penerbitan. Majalah Duta Rimba dapat diakses di www.perhutani.co.id

Perum Perhutani

@PerumPerhutani PerumPerhutani

2020

P

Script Editing and Layout Duta Rimba Art Work

Perum Perhutani

Dok. Kom PHT®2019

Menyongsong

ISSN: 2337-6791

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

embaca yang budiman, berbahagia sekali kami kembali dapat menjumpai Anda, membawa ragam informasi yang kami harapkan dapat menambah khazanah pengetahuan Anda. Seperti sebelumnya, ragam informasi yang kami sajikan dalam Duta Rimba kali ini akan tetap berupaya memuaskan dahaga keingintahuan Anda. Kami pun hadir tetap dengan harapan, Anda selalu sehat wal’afiat dan sukses dalam menjalankan semua aktivitas. Di edisi ini, Duta Rimba hadir dalam momentum pergantian tahun. Di penghujung tahun 2019 ini, kami berharap kesehatan dan kesuksesan akan terus mengiringi Anda sepanjang tahun 2020. Seperti juga semangat ibu-ibu Darma Wanita Perum Perhutani memeringati Hari Ibu 22 Desember 2019. Informasi tentang hal itu tersaji di rubrik Prima Rimba. Pembaca yang budiman, di penghujung tahun 2019, Perhutani Divre Jateng melakukan diversifikasi bisnis sekaligus pengoptimalan aset dengan me-launching produk kuliner berupa Tectona Café and Resto. Hal itu kian menunjukkan profesionalisme Rimbawan Perhutani yang penuh dedikasi dalam bekerja. Bagaimana prospeknya, dapat Anda simak di rubrik Bisnis Rimba. Semangat profesionalisme juga ditunjukkan personel KPH Sukabumi yang menghadirkan konsep “Kusukabumiku”. Apa itu? Simak saja di rubrik Pojok KPH. Juga terobosan yang dilakukan Puslitbang Perhutani memanfaatkan limbah kayu dari proses penjarangan JPP untuk dijadikan Wood Pellet. Info tentang pembuatan bahan bakar alternatif dari kayu limbah penjarangan JPP itu dapat Anda simak di Inovasi Rimba. Kami juga akan mengajak Anda berjalan-jalan mengunjungi Pantai Menganti di KPH Kedu Selatan dan Situs Budaya Eyang Buyut Dalem Cageur di KPH Kuningan. Dua info itu ada di Wisata Rimba dan Warisan Rimba. Sedangkan di rubrik Enviro Rimba, kami ajak Anda melihat Arboretum tanaman endemik Jawa Barat yang dibangun Perhutani di Bandung. Simak juga info tentang KPH Bojonegoro yang memberikan bantuan pinjaman modal senilai 435 juta Rupiah kepada 19 mitra binaan mereka. Dan jangan juga lewatkan ragam informasi lain yang tersaji di rubrik-rubrik Duta Rimba edisi kali ini. Semua itu demi memuaskan rasa ingin tahu Anda, Pembaca yang budiman. Selanjutnya, mari kita menyongsong tahun 2020 dengan semangat tinggi. Salam! • DR

DUTA Rimba 1


semairimba

SALAM REDAKSI 1 BENAH DIRI • Karya dan Prestasi 4 PRIMA RIMBA • Memberdayakan Perempuan, Memajukan Indonesia

RIMBA UTAMA • • • • •

Rehabilitasi Hutan, Lindungi Lingkungan Bangkitkan Semangat, Bangun Kerja Sama Semangat Bersama dalam Perhutanan Sosial Perhutani Menghargai Kebersamaan Perhutani Gelar Apel Siaga Bencana dan Rehabilitasi Hutan

RIMBA KHUSUS

6

10

10 14 20 24 28

• Tutup Tahun 2019 dengan Torehan Prestasi 32 • Karya dan Kinerja Unggul Berbuah Penghargaan 38 LENSA • Perhutani dan Perlindungan Hutan 42 46 SOBAT RIMBA 50 LINTAS RIMBA

32

WARISAN RIMBA

• Kearifan Lokal di Situs Budaya Eyang Buyut Dalem Cageur 56

ENSIKLO RIMBA

• Kukang Jawa Satwa Eksotis Khas Pulau Jawa

BISNIS RIMBA

60

• Diversifikasi Bisnis Perhutani Divre Jateng Launching Tectona Café and Restaurant

64

• Bantuan Pinjaman Modal untuk 19 Mitra Binaan di Bojonegoro

68

socio rimba rimba opini

• Mungkinkah Membangun Duplikat Stasiun Radio Pemancar Malabar?

ENVIRO RIMBA

70

• Perhutani Bangun Arboretum Jenis Tanaman Endemik Jawa Barat di Bandung 72

WISATA RIMBA

• Pantai Menganti Calon Destinasi Wisata Pantai Geopark Dunia

INOVASI

78

• Gebrakan KPH Sukabumi Lewat KUSUKABUMIKU

82

2 DUTA Rimba

78

74

• Mengolah Kayu Limbah Menjadi Wood Pellet

POJOK KPH

64

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


SobatRIMBA

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 3


Dok. Kom PHT®2018

BENAHDIRI

Denaldy M. Mauna Direktur Utama Perum Perhutani

R

imbawan Perhutani yang saya cintai dan banggakan. Saat ini kita berada di penghujung tahun 2019. Semoga kita semua selalu sehat wal 'afiat di tahun yang baru. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa memberikan kemudahan bagi kita semua sepanjang tahun 2020. Semoga pula, kesuksesan selalu mengiringi perjalanan kita di tahun 2020 mendatang. Ada hal yang membanggakan kita dalam dua bulan terakhir ini. Sejumlah penghargaan diberikan kepada Perum Perhutani dari lembaga-lembaga eksternal. Hal itu menjadi bentuk apresiasi atas karya dan prestasi yang telah diukir insaninsan Perhutani. Salah satu penghargaan yang kita terima sebagai wujud apresiasi atas karya dan prestasi Perum Perhutani itu bertajuk "BUMN Branding and Marketing Award 2019". Penghargaan tersebut diberikan oleh Majalah BUMN Track pada Selasa pagi, 5 November 2019. Ajang BUMN Branding and

4 DUTA Rimba

Karya dan Prestasi Marketing Award tahun merupakan kali ketujuh penyelenggaraannya oleh majalah tersebut. BUMN Track telah secara konsisten menyelenggarakan ajang pemberian penghargaan tersebut selama enam tahun terakhir. Dan di penyelenggaraan tahun 2019 ini, Perum Perhutani dinyatakan menerima penghargaan pada kategori Corporate Marketing BUMN Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi, sebagai pemenang Internasional Sales & Marketing Terbaik 2019. Ada lagi media massa yang memberikan penghargaan kepada Perhutani. Kamis, 12 Desember 2019, di Balai Kartini, Jakarta, giliran Majalah Investor yang memberikan penghargaan kepada insan-insan Perhutani. Penghargaan untuk Perhutani dari Majalah Investor tersebut diberikan sebagai BUMN Terbaik dalam ajang "Investor Award ‘Tokoh Finansial Indonesia Terbaik' dan 'Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Terbaik' 2019" Ajang Investor Award itu diselenggarakan oleh Majalah

Investor sebagai sebuah ajang tahunan yang digelar setiap akhir tahun. Rimbawan Perhutani yang saya cintai dan saya banggakan. Bukan hanya dua penghargaan tersebut yang didapat Perhutani dalam dua bulan terakhir. Pada Rabu, 20 November 2019, Perum Perhutani kembali meraih penghargaan dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang diselenggarakan oleh Komisi Informasi Pusat. Perum Perhutani memeroleh penilaian dengan kualifikasi cukup informatif Kategori BUMN. Komisi Informasi Pusat setiap tahun memberikan penghargaan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KIP) kepada lembaga atau perusahaan yang dinilai konsisten memberikan layanan informasi yang jelas kepada publik. Tahun 2019, ajang pemberian penghargaan tersebut diselenggarakan di Aula Anantakupa Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Bersama Perhutani, sejumlah BUMN juga mendapatkan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


penghargaan yang sama. BUMN lain yang memeroleh Kualifikasi Cukup Informatif adalah PT Bio Farma, PT Jasa Tirta II, PT Angkasa Pura I, PT Pelabuhan Indonesia II, PT Pelabuhan Indonesia IV dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di hari yang sama, Rabu, 20 November 2019, Perum Perhutani kembali meraih penghargaan Standar Nasional Indonesia (SNI) Award. Di tahun 2019 ini, Perhutani menyabet SNI Award dengan memertahankan perolehan peringkat Perak pada kategori Organisasi Menengah dan Besar Barang. Penganugerahan SNI Award 2019 diselanggarakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) bertempat di Rafflesia Grand Ballroom Balai Kartini. Turut hadir dalam acara tersebut, sejumlah tokoh nasional antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,

Airlangga Hartato; serta Menteri Riset Dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Tahun 2019 ini merupakan kali kedua Perum Perhutani mengikuti ajang Penganugerahan SNI Award dengan memertahankan peringkat Perak. SNI Award merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia kepada organisasi yang dinilai telah menjalankan sistem manajemen operasional yang baik dan telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten. Tahun ini, jumlah pendaftar SNI Award 2019 sebanyak 188 peserta. Setelah dilakukan penyaringan, terdapat 146 peserta yang lolos verifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 93 organisasi/perusahaan lolos sampai tahap onsite atau kunjungan lapangan. Pada tahap

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

berikutnya, berdasarkan penilaian oleh dewan juri, ditetapkan 69 organisasi/perusahaan sebagai organisasi penerap terbaik dan berhak menerima penghargaan. Insan-insan Perhutani yang saya cintai dan saya banggakan. Rangkaian penghargaan yang kita terima itu merupakan salah satu bentuk apresiasi dan pengakuan pihak lain terhadap karya dan prestasi insan-insan Perhutani. Selain bisa berbangga atas torehan prestasi tersebut, kita juga patut bersyukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Juga selalu ingat untuk selalu menguatkan iman dan taqwa menurut agama masingmasing. Islam mengajarkan bahwa hanya orang yang beriman dan bertaqwalah yang akan hidup sukses dan bahagia di dunia sampai akhirat. Sebab, orang yang beriman dan bertaqwa pasti akan mencegah dirinya dan sesama manusia dari semua perbuatan keji, mungkar, kejahatan, dan maksiat. Mereka akan menyeru diri sendiri dan sesama manusia untuk bekerja keras dan ikhlas, mencintai dan menuntut ilmu, profesional, memelihara lingkungan hidup, peduli dan berbagi kepada sesama, dan selalu berbuat kebajikan serta amal saleh lainnya. Akhirnya, jangan pernah tergoda atau terperdaya untuk berbuat maksiat dan kedzaliman. Sebab, dewasa ini kita banyak menyaksikan bahwa justru para pelaku maksiat, pelaku preman, pendzalim, atau orang munafik (hipokrit) yang karir dan kedudukannya menjulang tinggi, hartanya berlimpah, atau popularitasnya melangit. Jangan terpengaruh, karena belum tentu mereka bahagia secara hakiki. Dan di akhirat kelak, jika tidak bertobat, mereka pasti menjadi penghuni neraka. Nauzubillah min dzalik! • DR

DUTA Rimba 5


primarimba

Memberdayakan Perempuan,

Memajukan Indonesia Sebagian kalimat hikmah menyebutkan, wanita adalah tiang negara. Jika wanitanya baik, maka baik pula negara. Apabila wanitanya rusak, maka akan rusak pula negara. Artinya, peran wanita sebegitu besar, terutama dalam proses membentuk generasi yang baik lewat pola pendidikan yang baik yang ia terapkan terhadap anak-anaknya. Karena itu, wanita harus berdaya. Paguyuban Istri Rimbawan (PIR) menyadari betul hal itu. Dan itulah yang mendasari aktivitas mereka memeringati Hari Ibu dengan tema “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”.

A

da kegiatan menarik di Madiun medio Desember 2019. Ketika itu, Paguyuban Istri Rimbawan (PIR) Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun mengadakan kegiatan lomba "Fashion Show". Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Perhutani KPH Madiun, Sabtu, 14 Desember 2019 itu diadakan dalam rangka memeringati hari ibu ke-91 tahun 2019. Acara "Fashion Show" tersebut bertujuan untuk mengeratkan tali silaturahmi antar Istri Rimbawan dan meningkatkan kreatifitas mereka. Juga bertujuan untuk mengingatkan kembali betapa besar peran dan jasa ibu bagi pembentukan generasi

6 DUTA Rimba

penerus bangsa. Bukan hanya istri rimbawan, kegiatan yang mengambil tema "Perempuan Berdaya Indonesia Maju" itu juga diikuti oleh karyawati Perhutani KPH Madiun. Di kesempatan itu, Ketua PIR, Anne Wakhid, menyampaikan, Hari Ibu memiliki kedudukan yang begitu spesial untuk diperingati oleh kita semua. Sebab, sebagaimana semua tahu, betapa tak terhingganya jasa serta kasih sayang seorang Ibu. Bukan saja untuk merawat dan mendidik anak-anak, juga menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, lewat pola asuh di dalam rumah. “Kita tidak mungkin berada di dunia ini tanpa adanya scorang Ibu. Karena peran seorang Ibu menjadi

pilar penting untuk mengurus keluarga dan membesarkan anak anak. Dari sentuhan kasihnya, anak belajar melangkah maju menuju dewasa,” tegas Anne. Anne Wakhid juga mengajak semua anggotanya agar bisa berperan serta aktif dalam ketahanan keluaga dan menciptakan keluarga yang harmonis. Caranya dengan mendukung suami dan mendidik anak-anak agar terbentuk karakter mereka sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jika hal itu dilakukan seluruh ibu di Indonesia, bangsa ini akan memiliki banyak SDM berkualitas di masa depan. Maka, seluruh anggota PIR diimbau untuk mulai mengambil bagian itu.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Kharis Edi/Kompersh KPH Madiun

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 7


primarimba Di kesempatan itu, Administratur Perhutani KPH Madiun, Wakhid Nurdin, menjelaskan bahwa dalam perkembangan sejarahnya di Indonesia, Hari Ibu lahir dari pergerakan perempuan Indonesia yang diawali dengan Kongres Perempuan Pertama yang diadakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memerjuangkan hak perempuan dalam perkawinan, melawan perkawinan dini, poligami, dan memerjuangkan kesetaraan pendidikan untuk perempuan. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh Ibu-ibu. Saya berharap kegiatan ini nanti bisa memacu sportifitas, kejujuran, dan kebersamaan,” katanya.

Pelatihan Tata Rias Wajah

Foto: Tumin/Kompersh KPH Probolinggo

Foto: Umi Pudjiastuti/Kompersh KPH Mojokerto

Kegiatan pemberdayaan kaum

8 DUTA Rimba

perempuan juga dilakukan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Perhutani KPH Probolinggo. Senin, 16 Desember 2019, mereka melakukan kegiatan pemberdayaan kaum perempuan itu melalui pelatihan Beauty Class (tata rias wajah) di Aula Kantor Perhutani KPH Probolinggo. Kegiatan itu diadakan dalam rangka memeringati Hari Ibu yang ke-91 tahun 2019. Menurut Ketua DWP Perhutani KPH Probolinggo, Dahliana Rejeki Imam Suyuti, kegiatan itu dilakukan untuk memberdayakan ibu-ibu, khususnya dalam menambah pengetahuan dan pengalaman mereka untuk menciptakan penampilan yang lebih cantik dan elegan. Sekitar 90 orang yang terdiri dari seluruh pengurus dan anggota DWP Perhutani KPH Probolinggo mengikuti kegiatan yang mengambil tema "Perempuan Tangguh, Mandiri,

Kreatif dan Dapat Melahirkan Generasi yang membanggakan" itu. “Dengan tema ini diharapkan peran ibu-ibu dapat menjadi Perempuan Berdaya Indonesia Maju,” tambah Dahliana. Di dalam sambutannya selaku Pelindung dan Pembina DWP Perhutani Probolinggo, Administratur Perhutani KPH Probolinggo, Imam Suyuti, mengatakan, kegiatan tersebut positif bagi ibu-ibu agar dapat menerapkan emansipasi. “Sebagai wanita, penting untuk menjaga penampilan yang lebih cantik, lebih elegan, baik dalam kehidupan seharihari maupun di acara tertentu yang mengharuskan ibu-ibu tampil di muka umum,” katanya. Di dalam acara pelatihan "Beauty Class" ini juga terdapat lomba yang terbagi dalam perwakilan kelompok kantor dan perwakilan tiap-tiap Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH). Imam menambahkan, peran ibu tak hanya sebagai pelayan suami. Peran ibu harus lebih diperdayakan dalam berbagai bidang, misalnya tata rias wajah, dunia modelling/ fashion, dan kegiatan positif lainnya.

Lomba Gembira Senada dengan DWP Perhutani KPH Probolinggo, Paguyuban Istri Rimbawan (PIR) Perhutani KPH Banyuwangi Selatan juga bersemangat memeringati Hari Ibu. Tetapi, kegiatan yang mereka adakan bukan pelatihan kecantikan, tetapi Fun Game. Kegiatan itu dilaksanakan di Wana Wisata De Djawatan Benculuk, Sabtu, 21 Desember 2019. Kegiatan itu mengambil tema "Perempuan Berdaya Untuk Indonesia Jaya". Segenap istri Rimbawan Perhutani KPH Banyuwangi Selatan mengikuti acara tersebut. Acara dimulai dengan senam kesehatan oleh seluruh peserta, dilanjutkan berbagai macam

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


rangka memeringati Hari Ibu ke-91. Acaranya diadakan hari Senin, 23 Desember 2019. Tetapi, sebelumnya mereka mengadakan upacara bendera yang seluruh petugasnya adalah ibu-ibu Pengurus Dharma Wanita dan Karyawati Perhutani KPH Mojokerto. Sebagai Inspektur upacara, dalam kesempatan tersebut, istri Administratur Perhutani KPH Mojokerto, Anik Sugiarti Suratno, menyampaikan sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan dengan tema "Perempuan Berdaya, Indonesia Maju". Saat itu, Anik Sugiarti Suratno menyampaikan, ibu-ibu perlu memberikan dukungan kepada para suami agar bekerja lebih baik dan memberikan kontribusi kepada perusahaan. Setelah upacara, diadakan tasyakuran dengan pemotongan tumpeng oleh Administratur Perhutani KPH Mojokerto, Suratno. Potongan pertama diberikan kepada Ibu Anik di depan karyawankaryawati KPH Mojokerto, yang dilanjutkan makan bersama. Kegiatan Peringatan Hari Ibu selanjutnya adalah tukar kado antar karyawati Perhutani KPH Mojokerto.

Puncak acara peringatan Hari Ibu di KPH Mojokerto adalah lomba masak aneka makanan olahan dari bahan baku yang ada di hutan. Misalnya, daun simbukan untuk botok, sambal goreng walang, oseng-oseng entung jati, botok daun muda tanaman kunci/lempuyang, abon daun pepaya muda, tumis bunga pepaya gantung, bakpao dari labu kuning, klepon dari ketela rambat, dawet dari daun kelor, dan lain-lain. Lomba tersebut dimenangkan oleh ibu-ibu kelompok Kantor KPH Mojokerto sebagai juara I, BKPH Dradah mendapat Juara II, dan BKPH Lawangan agung menjadi Juara III. Administratur Utama Perhutani KPH Mojokerto, Suratno, menyampaikan, sangat bersyukur bisa melaksanakan kegiatan upacara, tasyakuran, dan lomba dalam rangka memeringati Hari Ibu ke-91. “Melalui tema 'Perempuan Berdaya, Indonesia Maju', diharapkan ibu-ibu karyawati KPH Mojokerto khususnya dan ibu-ibu pada umumnya bisa lebih meningkatkan potensi diri masing-masing guna kemajuan bangsa Indonesia," kata Suratno. • Tim Kompersh Kanpus

Foto: Mukhlisin/Kompersh KPH Banyuwangi Selatan

permainan dan ‘yel-yel’ dari masingmasing kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) di wilayah kerja KPH Banyuwangi Selatan. Ketua PIR KPH Banyuwangi Selatan, Alfi Miftah Risqi Nur Budi, mengatakan, mereka peringati Hari Ibu setiap tahun dengan tujuan silaturahmi untuk mengeratkan dan menjaga kekompakan para istri rimbawan yang ada di daerah. Menurut dia, tempat tinggal mereka berjauhan, sehingga belum tentu setiap bulan dapat berkumpul. "Pada hari ibu ini kita bisa berkumpul saling tatap muka untuk menjalin kekompakan,” tambah Alfi. Sementara Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Nur Budi Susatyo, yang diwakili oleh Bagus Joko selaku Ketua Wisata De Djawatan sekaligus sebagai instruktur permainan, mengatakan, “Hari ibu ini dirayakan dengan berbagai permainan, dengan tujuan untuk menjaga kekompakan dan menjalin hubungan antar istri rimbawan dengan slogan, cerdas, mandiri dan berdaya,” katanya. Perlombaan juga diadakan Perhutani KPH Mojokerto dalam

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 9


RIMBAutama

Rehabilitasi Hutan,

Lindungi Lingkungan Sudah menjadi tanggung jawab Perum Perhutani untuk melakukan tugas pemeliharaan lingkungan hidup. Hal itu sesuai dengan prinsip pengelolaan hutan yang dirumuskan dalam 3P, yaitu Profit, Planet, dan People. Hal itu kembali ditunjukkan insaninsan Perhutani dengan rangkaian kegiatan terkait dukungan terhadap upaya untuk mencapai keberhasilan tanaman Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL). Seperti apa wujud konkretnya?

M

edio November 2019 ada kegiatan di Majalengka. Ketika itu, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Majalengka menggelar Job Training tanaman kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka mendukung keberhasilan tanaman RHL itu digelar di Petak 2e Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pancurendang, Bagian Kesatuan pemangkuan Hutan (BKPH) Majalengka, KPH Majalengka, Kamis, 14 November 2019. Selain jajaran rimbawan Perhutani KPH Majalengka, kegiatan itu

10 DUTA Rimba

juga diikuti oleh Tim Pendamping dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Cimanuk-Citanduy, Atang Sutari; Penyuluh Kehutanan Majalengka, Yoyon; Tim pengendali dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Majalengka yang diwakili KH. Abudin; Muspika Kecamatan Majalengka; Perwakilan Kelurahan Babakanjawa; Kepala Desa Sidamukti, Karwan; Pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) lingkup BKPH Majalengka; serta masyarakat yang merupakan anggota LMDH Rimba Raya Lestari. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan

arahan teknis tentang penanaman yang benar, agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Administratur KPH Majalengka, Andi Mulya yang diwakili Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan, Erlandi, menyampaikan, teknik menanam pohon tidaklah rumit dan secara umum sudah menjadi pekerjaan yang biasa dilakukan. Hal penting yang harus menjadi perhatian adalah tata waktu penanaman yang dilaksanakan pada awal musim hujan, serta penjagaan dan perawatan bibit yang sudah ditanam oleh seluruh pihak terkait. Ia berharap, dengan dilaksanakannya kegiatan RHL akan dapat memulihkan kondisi Hutan Lindung,

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Akhmad Syaekhu/Kompersh Pekalongan Barat

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 11


Foto: Kompersh KPH Majalengka

rimbaUTAMA

sehingga dapat berfungsi kembali sebagai hutan yang bisa memberikan manfaat secara ekologi, ekonomi, sosial, secara seimbang dan optimal. Sementara Perwakilan Tim BPDASHL Cimanuk-Citanduy, Aang Sutari, menjelaskan, fungsi hutan di wilayah BKPH Majalengka harus dikembalikan menjadi hijau kembali. Hijaunya hutan diupayakan dengan penanaman tanaman buahbuahan yang bermanfaat untuk perekonomian masyarakat. Selain itu, tanaman yang dirawat dan dipelihara dengan baik dapat memulihkan kembali kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak, khususnya di Sub DAS Cilutung Timur.

Anggaran Tersedia Kegiatan terkait RHL juga diadakan di Tasikmalaya. Minggu, 15 Desember 2019, Perhutani KPH Tasikmalaya bersama Tim Pengawas dan Penilai (Waslai) dari PT Graha Inforesindo menandatangani Berita Acara Selesai Pekerjaan di Kantor Perhutani KPH Tasikmalaya. Berita

12 DUTA Rimba

acara itu sebagai bukti bahwa kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Tahun 2019 Perhutani KPH Tasikmalaya telah dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penilaian Tim Waslai yang melakukan pemeriksaan, kegiatan RHL KPH Tasikmalaya pada termin III meliputi pemasangan ajir, pemupukan, pembuatan lubang, distribusi bibit, penanaman, dan guludan. Seluruh kegiatan itu telah dilaksanakan sesuai rencana yang ditetapkan, baik waktu pengerjaan maupun fisik kegiatan, sehingga Berita Acara Selesai Pekerjaan dapat ditandatangani. Berita acara tersebut ditandatangani Administratur Perhutani KPH Tasikmalaya, Benny Suko Triatmoko, bersama Direktur PT Graha Inforesindo, Agus Wahyusudiyanto. Menurut Administratur Perhutani KPH Tasikmalaya, Benny Suko Triatmoko, dalam sambutannya, tanaman RHL di wilayahnya untuk tahun 2019 seluas 468,84 Hektare, seluruhnya telah selesai dikerjakan

berkat kerja keras dari semua pihak. Ia berharap di masa depan anggaran pelaksanaan RHL, baik untuk pemeliharaan maupun perlindungan tanaman, tersedia sampai tanaman berumur 5 tahun. “Ke depannya penetapan anggaran seharusnya minimal sampai pada tahun kelima, dimana penyusunan anggaran memertimbangkan komponen kegiatan yang disesuaikan dengan silvikultur jenis tanaman seperti pemeliharaan, perlindungan, hingga pemanenan. Sehingga diharapkan terbangun hutan yang produktif. Untuk pengamanan hutan, kami akan menempatkan Polhut dengan pola pengamanan pendekatan teritorial,” jelasnya. Sedangkan Direktur PT Graha Inforesindo, Agus Wahyusudiyanto, menyampaikan, tanaman RHL kegiatannya dibiayai oleh Pemerintah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga harus benar-benar dilaksanakan sebaik mungkin dan dijaga agar

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ia menjelaskan, KPH Tasikmalaya adalah satuan kerja yang telah menyelesaikan pekerjaan RHL di Jawa Barat. “Antusias masyarakat dalam pengerjaan penanaman RHL di Tasikmalaya sangat tinggi, sehingga KPH Tasikmalaya merupakan unit kerja pertama yang dapat menyelesaikan pekerjaan tanaman RHL 2019 tepat waktu dan tepat sasaran,” katanya.

Perhutani KPH Pekalongan Barat menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di Persemaian Dukuh Tengah, Sabtu, 16 November 2019. Persemaian Dukuh Tengah masuk wilayah kerja Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Dukuh Tengah, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bumijawa. Ketika itu, Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, datang disertai segenap jajaran Direktorat Jendral Pengendalian Aliran Sungai dan

Antusias masyarakat dalam pengerjaan penanaman RHL di Tasikmalaya sangat tinggi, sehingga KPH Tasikmalaya merupakan unit kerja pertama yang dapat menyelesaikan pekerjaan tanaman RHL 2019 tepat waktu dan tepat sasaran,” kata Agus.

Foto: Akhmad Syaekhu/Kompersh Pekalongan Barat

Kunjungan Menteri LHK

Hutan Lindung Balai Pengelolaan Aliran Sungai dan Hutan Lindung Pemali Jratun (BPDASHL-PJ). Mereka meninjau persemaian untuk rencana penanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di wilayah Perhutani KPH Pekalongan Barat seluas 1.371,1 Hektare dilanjutkan kegiatan penanaman perdana RHL tahun 2019. Pelaksanaan penanaman tersebut diikuti 300 peserta, terdiri dari Perum Perhutani KPH Pekalongan, Jajaran Kementerian LHK, BPDASHL-PJ, Pegiat lingkungan, Pemkab Tegal, Kodim Tegal, Polres Tegal, dan masyarakat di sekitar hutan. Di kesempatan itu, Kepala Divisi Regional Jawa Tengah, Endung Trihartaka, mengingatkan jajaran Perhutani untuk bekerjasama dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam menyukseskan program RHL yang telah dicanangkan oleh

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Pemerintah. Hasil akhir kegiatan RHL adalah, kawasan hutan lindung bisa berfungsi menjadi perlindungan bagi daerah hilir. Siti Nurbaya Bakar mengajak semua pihak untuk menyukseskan program RHL tahun 2019. “Diperlukan penyediaan bibit tanaman berkualitas, seperti persemaian di Dukuh Tengah yang dikerjakan oleh Perum Perhutani dan BBPDASHL-PJ yang sudah baik ini akan menjadi contoh persemaianpersemaian di seluruh Indonesia,” ujarnya. Rangkaian kegiatan RHL itu kian menunjukkan komitmen Perhutani untuk menjadi salah satu penjaga keseimbangan lingkungan hidup. Selanjutnya, diharapkan kegiatan tersebut akan terus berkesinambungan dan kian menggugah semua pihak untuk menyukseskan RHL. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 13


Foto: Cecep Suryaman/Kompersh Divre Janten

rimbaUTAMA

14 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Bangkitkan Semangat,

Bangun Kerja Sama

Sebagai sebuah badan usaha, Perhutani senantiasa berusaha meningkatkan kualitas produk dan layanan demi kepuasan konsumen. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas tersebut adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak eksternal. Keterlibatan pihak eksternal kerap kali memberikan semangat tinggi dan profesionalisme yang meningkat. Sinergi dengan pihak eksternal juga bermanfaat untuk menumbuhkan rasa memiliki hutan di kalangan masyarakat. Ujungnya, banyak pihak akan merasakan keterkaitan untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan.

K

antor Divisi Regional (Divre) Jawa Barat dan Banten (Janten), menjadi tempat penandatanganan perjanjian kerja sama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kantor Regional VI/Jawa I. Di Kantor Divre Janten itu, General Manager (GM) Perhutani Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Ecotourism, Wismo Tri Kancono, Selasa, 12 November 2019, bersama Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kantor Regional VI/Jawa I, Retno Widjayanti, menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) Produk dan Layanan. Perjanjian tersebut merupakan bukti kesepakatan antara kedua pihak tentang pengelolaan produk dan layanan yang akan diterapkan di beberapa lokasi wisata yang dikelola KBM Ecotourism.

Maksud kerja sama tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan kepada pengunjung dalam bertransaksi di lokasi wisata lingkup KBM Ecotourism Divre Janten. Ujungnya tentu saja agar pendapatan dari sektor wisata akan semakin meningkat. Sebagai tahap awal, kerja sama ini akan dilakukan di beberapa tempat antara lain Kawah Putih, Curug Cilember, Ranca Upas, Patuha Ciwidey, dan Cikole Jayagiri Resort. Di dalam pelaksanaannya, pembayaran ke lokasi wisata dilakukan secara cashless (non tunai) dengan sumber dana dari kartu kredit, kartu debit, kartu prabayar dan QR Code. Berbicara tentang hal tersebut, GM KBM Ecotourism Divre Janten, Wismo Tri Kancono, menyampaikan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

terima kasih atas terwujudnya kerja sama antara Perhutani dan Bank Mandiri dalam penawaran produk dan jasa yang akan mendukung transaksi non tunai di lokasi wisata Perhutani yang dikelola KBM. Ia menjelaskan, untuk saat ini penerapan sistem baru dengan pembayaran non tunai tersebut masih bersifat percontohan dan hanya dilakukan di lima lokasi wisata yang dikelola oleh KBM Ecotourism. “Terima kasih kepada Bank Mandiri yang sudah menawarkan kerja sama produk dan layanan untuk mendukung transaksi non tunai di lokasi wisata, khususnya lingkup KBM Eco Janten. Semoga hal ini akan meningkatkan pelayanan dan fasilitas di lokasi wisata serta tentunya pendapatan wisata kami. Walau dalam tahap awal ini baru lima lokasi yang

DUTA Rimba 15


Foto: Y. Niken Anggraini Kompers KPH Kedu Selatan

Foto: Mudro Kompersh/KPH Pekalongan Timur

rimbaUTAMA

diterapkan transaksi non tunai, namun ini bisa menjadi percontohan tentang pelaksanaan transaksi non tunai di semua lokasi wisata, dalam rangka peningkatan pendapatan wisata,” jelas Wismo. Sementara itu, Retno Widjayanti mengucapkan terima kasih kembali kepada Perum Perhutani KBM Ecotourism yang telah bersedia bekerjasama dengan Bank Mandiri. “Terima kasih kepada Perhutani yang telah menerima tawaran Bank Mandiri. Semoga ke depannya, produk tersebut dapat diterapkan

16 DUTA Rimba

untuk meningkatkan layanan transaksi non tunai di semua lokasi wisata Perhutani,” ucapnya. Masih terkait perjanjian kerja sama pengelolaan lokasi wisata, Perhutani KPH Pekalongan Timur mengadakan sosialisasi kesepakatan kerja sama pengembangan Wisata Tronggolasi dengan PT Mitra Barisan Madani serta stakeholder terkait. Kegiatan tersebut diadakan di aula Kantor Perhutani KPH Pekalongan Timur, Rabu, 18 Desember 2019. Hadir di kesempatan itu, Administratur Perhutani KPH

Pekalongan Timur, Joko Santoso; Direktur PT Mitra Barisan Madani, Franky Jokosaputro; Kepala Desa Kambangan Kecamatan Blado, Sobirin; Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Kencana; dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pengelola Wisata Tronggolasi di Petak 49 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kembanglangit Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandar. Di kesempatan itu, Joko Santoso menyampaikan bahwa perlu dilakukan pengembangan terhadap potensi wisata yang ada di KPH Pekalongan Timur. "Obyek wisata Perhutani dalam pengembangannya perlu kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan stakeholder terkait. Kerja sama tersebut untuk menyamakan persepsi program pengembangan wisata yang dapat memberikan nilai tambah serta manfaat ekologi, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan ekonomi,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Desa Kambangan, Sobirin, menyampaikan, dengan adanya kerja sama di bidang wisata itu diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat di desanya, serta dapat

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Wawasan kebangsaan merupakan cara pandang setiap orang dalam bertingkah laku sesuai karakter bangsa Indonesia, berdasar Pancasila. Setiap nilai yang terkandung dalam Pancasila cukup lengkap, termasuk toleransi, tepo seliro, kemanusiaan, serta persatuan. memberikan manfaat bagi para pihak yang ada di dalamnya.

Narasumber dari TNI AD

Pengembangan Tanaman Sengon Di tempat terpisah, Perhutani KPH Padangan bersama Lembaga

Foto: Kompersh/KPH Padangan

Kerja sama yang dijalin Perhutani dengan pihak eksternal perusahaan, bukan hanya terkait transaksi bisnis saja, tetapi juga terkait pembentukan karakter sumber daya manusia yang kuat. Hal itu dilakukan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)  Kedu Selatan yang mengundang narasumber dari unsur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) saat mengadakan pembekalan karyawan dalam rangka membangun entitas perusahaan berdasarkan pada pembentukan karakter SDM Perhutani yang berwawasan kebangsaan. Pembekalan tersebut diadakan  di Kantor Perhutani Purworejo, Selasa, 12 November 2019.

Unsur TNI AD yang diundang sebagai narasumber pembekalan tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat Komando Distrik Militer (Kodim) 0708  Purworejo. Pembekalan tersebut diikuti oleh jajaran karyawan Perhutani KPU Kedu Selatan yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Banjarnegara, dan Banyumas. Administratur Perhutani KPH Kedu Selatan, melalui Wakil Administratur, Anthonie Alfrits, berpesan agar kita benar–benar bisa memaknai 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai landasan hidup bermasyarakat, dalam proses membangun SDM Perhutani. Sehingga, kita mampu menangkal berbagai jenis gangguan dan ancaman, baik dari dalam

maupun luar, terutama bagi keberlangsungan perusahaan dan eksistensi hutan agar tetap lestari. Sementara itu, Komandan Rayon Militer (Danramil) 01/ Purworejo, Kapten Inf Amad Kurdi, mewakili Dandim 0708 Purworejo, menyampaikan beberapa poin penting dalam membentuk insan yang berwawasan kebangsaan tinggi. “Wawasan kebangsaan merupakan cara pandang setiap orang dalam bertingkah laku sesuai karakter bangsa Indonesia, berdasar Pancasila. Setiap nilai yang terkandung dalam Pancasila cukup lengkap, termasuk toleransi, tepo seliro, kemanusiaan, serta persatuan. Dengan persatuan, kita dapat menerima setiap perbedaan dalam Bhinneka Tunggal Ika sesuai Pancasila dan UUD 1945. Ini merupakan salah satu upaya wawasan kebangsaan yang dapat kita lakukan dalam meningkatkan ketahanan nasional," urai Amad Kurdi.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 17


Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jati Murni dan CV Alfi Jaya, melakukan penandatanganan kerja sama pembuatan budi daya tanaman sengon. Perjanjian kerja sama itu ditandatangani di Kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngraho, KPH Padangan, Rabu, 12 Desember 2019. Di kesempatan itu, Administratur Perhutani KPH Padangan, Loesy Triana, menjelaskan, kerja sama pembuatan tanaman sengon tahun 2019 berada di 5 (lima) anak petak yang berada di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Meduri dan RPH Blimbinggede, BKPH Ngraho, KPH Padangan. Ia menyebut, total luas yang dikerjasamakan adalah 45,4 Hektare. Ia melanjutkan, selaku investor, pihak CV Alfi Jaya akan menyuplai bibit sengon yang akan digunakan. “Semoga para pihak yang telah terlibat dalam kerja sama ini dapat memahami dan menaati semua hak serta kewajiban yang harus dipenuhi dan dilaksanakan,” tegas Loesy. Sementara Direktur CV Alfi Jaya, Muntaha Anwar, dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan rasa terima kasih, khususnya kepada pihak Perhutani yang telah memberikan kepercayaan untuk menjalin kerja sama pembuatan tanaman sengon dengan sistem bagi hasil. “Secepatnya akan kami penuhi kewajiban kami. Yang prioritas terlebih dahulu di antaranya pengiriman bibit sengon ke lokasi petak agar secepatnya bisa segera ditanam, karena saat ini sudah musim penghujan,” ujar Muntaha. Sedangkan Ketua LMDH Jati Murni, Cipto Utomo, saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan, mengutarakan, pihaknya sangat senang karena dengan terjalinnya kerja sama ini, pihaknya sebagai LMDH merasa terbantu dari sisi ekonomi.

18 DUTA Rimba

Foto: Agus Sulaiman/Kompersh KPH Jember

rimbaUTAMA

“‘Saya mewakili segenap anggota LMDH Jati Murni, akan memenuhi semua kewajiban dengan melaksanakan seluruh kegiatan persiapan lahan, di antaranya pemasangan patok batas, pembersihan lahan, dan lainnya, yang telah disepakati dalam nota kesepahaman,” ujar Cipto.

Jaga Lingkungan dan Alam Semangat membangun sinergi juga terlihat di Perhutani KPH Jember saat menjalin kerja sama dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Mereka menjalin kerja sama guna memperkuat komitmen menjaga lingkungan dan kelestarian alam dengan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan MoU itu dilaksanakan di Wana Wisata Rintisan Kampung Durian Pakis, wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Suci, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lereng Yang Timur, Senin, 16 Desember 2019. Penandatangan dilakukan oleh Administratur KPH Jember, Rukman Supriatna, bersama Kepala Kejari Jember, Prima Idwan Mariza.

Pada kesempatan tersebut, Administratur Perhutani KPH Jember, Rukman Supriatna, menjelaskan, pihaknya akan terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam menjalankan tugas. “Kami diberi wewenang untuk mengelola hutan di wilayah Jember seluas 71.500 hektare. Tentu kami sangat perlu bersinergi dengan seluruh stakeholder, termasuk aparat penegak hukum,” katanya. Rukman menambahkan, pihaknya sangat berharap ada bantuan dari kejaksaan dalam perjalanan tugas mereka sehari-hari. "Karena banyak sekali permasalahan perdata terkait dengan pengelolaan hutan,” ujar Rukman. Di kesempatan yang sama, Kepala Kejari Jember, Prima Idwan Mariza, mengungkapkan, pihaknya siap bersinergi dengan Perhutani dalam bidang hukum. Ia juga menyampaikan bahwa lingkungan dan hutan perlu dijaga kelestariannya. "Terlebih dari sisi hukum, konstitusi telah mengamanatkan setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Danu/Kompersh KPH Bogor

yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan,” kata Prima. Ia juga menjelaskan, pemerintah menerbitkan sejumlah regulasi untuk melindungi lingkungan hidup, semisal Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H) dan regulasi lainnya yang mengatur soal lingkungan, yaitu Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Selain penandatanganan MoU, di hari itu juga dilaksanakan penebaran benih ikan di sungai, serta penanaman pohon buahbuahan. Kegiatan tersebut juga didukung komunitas Off Road VES Community Jember yang melakukan pelestarian alam dan jelajah alam untuk menikmati keindahan alam. Di kesempatan itu pula, Prima menegaskan komitmen hukum Kejari Jember bahwa hukum harus benar-benar dirasakan manfaatnya, “Dimanapun berada di seluruh Kabupaten Jember, baik di kota, di desa, di sekolah, bahkan di hutan

sekalipun,” tandasnya.

Penggunaan Alur Hutan Perjanjian kerja sama juga dilakukan di Bogor, Jawa Barat. Perhutani KPH Bogor dan PT Pertamina melakukan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penggunaan Alur/ Jalan Hutan seluas 0,25 Hektare di RPH Pondok Tengah, BKPH Ujungkrawang, untuk sarana pemasangan pipa minyak dan gas bumi. Penandatanganan PKS tersebut dilakukan oleh Administratur Perhutani KPH Bogor, Ahmad Rusliadi, dengan Field Manager PT Pertamina, Krisna, di Kantor Perhutani KPH Bogor, Jumat, 27 Desember 2019. Di dalam sambutannya, Administratur Perhutani KPH Bogor, Ahmad Rusliadi, menyampaikan arti pentingnya melaksanakan PKS penggunaan alur/jalan hutan untuk sarana pemasangan pipa minyak dan gas bumi tersebut. Ia menjelaskan, alur atau jalan di hutan adalah sarana untuk kelancaran produksi hasil hutan dan juga kegiatan lainnya, di antaranya perlindungan hutan. “Kami telah membuat dan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

memiliki alur atau jalan di dalam kawasan hutan yang berfungsi sebagai jalan produksi hasil hutan atau dalam rangka kegiatan perlindungan hutan. Kemudian PT Pertamina yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pertambangan minyak dan gas bumi membutuhkan sarana alur/jalan untuk pemasangan pipa. Oleh karena itu, kerja sama ini dilakukan agar PT Pertamina juga bisa menggunakan alur atau jalan di hutan yang kami kelola,” jelasnya. Dengan ditandatanganinya PKS tersebut, Field Manager PT Pertamina, Krisna, menyampaikan terima kasih kepada Perhutani KPH Bogor, atas sinergi yang tercipta, sehingga kerja sama kemitraan penggunaan alur untuk sarana pemasangan pipa dapat diwujudkan. Ia berharap, kerja sama tersebut seterusnya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Semoga seluruh perjanjian kerja sama yang telah dijalin tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Sehingga pengelolaan hutan dan sarana lainnya dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Amin. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 19


rimbaUTAMA

Semangat Bersama dalam Perhutanan Sosial

S

ejumlah rimbawan hadir di Aula Kantor Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara, Senin, 4 Oktober 2019. Ketika itu, Perhutani KPH Banyuwangi Utara dan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kabupaten Banyuwangi tengah menggelar Rapat Sinkronisasi Percepatan Perhutanan Sosial. Acara tersebut dihadiri oleh Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Utara, Agus Santoso; Administartur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Nurbudi S; Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Barat, Cahyo Kawedar; Kepala CDK Kabupaten Banyuwangi; Hoshaiah  N Lantu; Pendamping Perhutanan Sosial; serta Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) terkait. Saat memberikan sambutan di acara tersebut, Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Utara, Agus santoso, menyampaikan, terkait Perhutanan Sosial di wilayahnya, saat ini masih banyak anggota masyarakat yang belum memahami. Kekurangpahaman itu, menurut dia, kerap kali mengakibatkan munculnya permasalahan dalam proses pemohon mengajukan permohonan Perhutanan Sosial di lapangan.

20 DUTA Rimba

Sejak 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggulirkan program Perhutanan Sosial. Program pemerintah, Membangun Indonesia dari pinggiran, didefinisikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), salah satunya melalui program Perhutanan Sosial itu. Perhutanan Sosial adalah sebuah program nasional yang bertujuan untuk melakukan pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu: lahan, kesempatan usaha, dan sumber daya manusia. Sebagai BUMN di bidang kehutanan, Perum Perhutani melaksanakan program Perhutanan Sosial itu. Ia menjelaskan, setelah menerima Surat Keterangan (SK) pemanfaatan hutan, masih ada pemahaman yang belum benar di kalangan masyarakat. Misalnya, masyarakat beranggapan, setelah proses permohonan perhutanan sosial, mereka sudah bebas mengerjakan hutan perhutani. “Seperti melakukan penebangan pohon untuk tanaman pertanian, dan pembakaran lahan ketika persiapan tanaman,” tambah Agus. Lebih lanjut, Agus menyampaikan bahwa di

wilayahnya ada sekitar 14 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan 1 Kelompok Tani Hutan (KTH). Saat ini semua LMDH dan KTH itu melakukan proses pengajuan izin Perhutanan Sosial dengan skema Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) yang sudah melalui proses verifikasi teknis (vertek). Sementara itu, Kepala CDK Kabupaten Banyuwangi, Hoshaiah N Lantu, menyampaikan, dengan diadakannya rapat sinkronisasi Percepatan Perhutanan Sosial

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Kompersh KPH Cianjur

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 21


rimbaUTAMA

tersebut, harapannya dapat dicapai kegiatan Perhutanan Sosial yang saling bersinergi. Sinergitas tersebut diharapkan akan membuat kegiatan menjadi selaras dan seimbang baik oleh Perhutani sebagai pemangku kawasan, maupun KTH dan LMDH sebagai penggarap lahan.

22 DUTA Rimba

Foto: Muzayin Muhamad/Kompersh KPH Banyuwangi Utara

Kegiatan Perhutanan Sosial juga digelar di Kabupaten Blora, awal November 2019. Di sana, Perhutani KPH Cepu telah melaksanakan verifikasi teknis (Vertek) program Perhutanan Sosial (PS) skema Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) bersama petugas Kementerian LHK di Desa Pethgak dan Desa Mbak Merak, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Acara tersebut diadakan hari Senin, 4 November 2019. Acara tersebut dihadiri oleh petugas Perhutani KPH Cepu, Staf Kementerian LHK, Kepala Desa Mbak Merak, dan LMDH, serta tokoh masyarakat setempat. Di kesempatan itu, Wakil Administratur Perhutani KPH Cepu, Syailendra, menyampaikan pesan dari Administratur bahwa untuk mendapatkan sertifikat pengelolaan Perhutanan Sosial, harus diadakan Vertek terlebih dahulu. “Salah satu yang perlu diverifikasi adalah data domisili penduduk. Maka masyarakat pesanggem Desa Mbak Merak dan Pethak harus mempunyai KTP dan Kartu Keluarga asli untuk mencocokkan data daftar penggarap  yang sudah tercatat sebagai pengelola lahan hutan,” ujarnya. Sementara itu, di kesempatan yang sama, Petugas Kementerian LHK, Iqbal Mutaqin, menyampaikan

Foto: Kompersh KPH Cepu

Skema Pengakuan dan Perlindungan

bahwa pengakuan hak untuk mengelola kawasan tidak berarti menjadi hak milik. Jadi, masyarakat tidak bisa mengklaim memiliki lahan tersebut setelah mendapatkan pengakuan hak untuk mengelola kawasan. “Kawasan hutan tidak disertifikatkan, karena tanah tersebut adalah tanah negara. Pengggarap tanah mendapat  maksimal 2 hektare dalam satu keluarga. Salah satu kewajiban penggarap adalah menyerahkan PNBP 10 % sedangkan

pajaknya dibayar oleh Perhutani. Kalau lahan tersebut ditanami Perhutani, sampai akhir daur njenengan (Anda, red) semua dapat 30%,” jelasnya.

Gelar Sinergi Pengelolaan Perhutanan Sosial membutuhkan terbinanya sinergi di antara pihakpihak yang terkait. Di dalam konteks itu, Perhutani selalu berusaha membangun sinergi itu. Seperti yang terlihat ketika Perhutani KPH Cianjur menggelar acara Sinergi

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


berjalan sesuai harapan, dan betulbetul dapat menyentuh sampai ke masyarakat. Pada akhir acara, semua pihak bersepakat untuk mewujudkan PS sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat. Sehingga, masyarakat desa hutan menjadi sejahtera.

Foto: Kompersh KPH Cianjur

Tentang Perhutanan Sosial

Di dalam Perhutanan Sosial, masyarakat, melalui kelompok petani, diberikan akses mengelola kawasan hutan selama 35 tahun. Presiden Jokowi punya target memberikan akses 12,7 juta hektare lahan hutan kepada masyarakat. Pengelolaan Perhutanan Sosial (PS), di aula Kantor Perhutani KPH Cianjur, Rabu, 20 November 2019. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kabupaten Cianjur, Amar Romidin; Wakil Administratur Perhutani KPH Cianjur Wilayah Selatan, Asep Halim; dan perwakilan dari 11 Pokja LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) lingkup KPH Cianjur. Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Administratur Perhutani KPH Cianjur, Mulyadi, melalui wakilnya, Asep Halim, meyampaikan pesan yang isinya mengajak semua pihak yang telah menerima Surat Keputusan PS itu untuk bersama-sama ikut menyukseskan program dari

pemerintah tersebut. “Kami mengajak dan mengimbau kepada semua lapisan masyarakat untuk duduk bersama dengan Perhutani KPH Cianjur, Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, dan LMDH khususnya yang telah menerima Surat Keputusan Perhutanan Sosial, untuk dapat melaksanakan dan menyukseskan program PS yang merupakan program pemerintah ini,” katanya. Di kesempatan yang sama, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Cianjur, Amar Romidin, menyampaikan hal serupa. Juga menyampaikan harapan agar dalam impelentasinya di lapangan, pelaksanaan program Perhutanan Sosial di Kabupaten Cianjur dapat

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Perhutanan sosial merupakan sebuah konsep yang menjadi andalan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2015 dalam menurunkan angka kemiskinan. Di dalam Perhutanan Sosial, masyarakat, melalui kelompok petani, diberikan akses mengelola kawasan hutan selama 35 tahun. Presiden Jokowi punya target memberikan akses 12,7 juta hektare lahan hutan kepada masyarakat. Luas perhutanan sosial tahun 2019 sudah bertambah menjadi 13,8 juta hektare. Sampai 1 Juni 2019, izin Perhutanan Sosial mencapai 3,09 juga hektare untuk 679.467 keluarga. Perhutanan Sosial merupakan suatu sistem pengelolaan hutan lestari yang dilakukan dalam kawasan hutan negara atau hutan adat yang dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraan. Lewat Perhutanan Sosial, masyarakat diberikan akses kelola dalam bentuk hak pengelolaan, izin usaha pemanfaatan, kemitraan, dan penetapan hutan adat. Lewat program Perhutanan Sosial, pemberian izin akses masyarakat sekitar hutan melalui surat keputusan tersebut dilakukan melalui lima skema: hutan adat, hutan desa, kemitraan kehutanan (masyarakat dengan pemegang izin kawasan hutan), hutan tanaman rakyat, dan hutan kemasyarakatan. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 23


rimbaUTAMA

Perhutani

Menghargai Kebersamaan

Perhutani senantiasa menghargai kebersamaan dan bentukbentuk bantuan dari pihak eksternal perusahaan. Termasuk para relawan yang kerap membantu Perhutani dalam setiap kegiatan operasionalnya. Bukan sekadar menjalin hubungan baik lewat silaturahmi yang erat, tetapi juga dengan selalu memberikan penghargaan. Di sejumlah daerah, Perhutani melakukan hal itu.

S

alah satu kebersamaan Rimbawan Perum Perhutani dengan para relawan terlihat di Karanganyar, Jawa Tengah, awal November 2019. Kala itu, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta mengadakan pertemuan silaturahmi bersama Tim Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) Gunung Lawu. Acaranya digelar di River Hill Hotel Tawangmangu, Karanganyar, Rabu, 6 November 2019. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran KPH Surakarta, Camat

24 DUTA Rimba

Rusdiyanto, Kapolsek Ismugianto, Danramil Heru, Tim Search And Rescue (SAR), Tim pemadam kebakaran Karanganyar, perwakilan beberapa pecinta alam, segenap relawan dan komunitas Gunung Lawu, serta instansi-instansi terkait. Selain untuk silaturahmi, kegiatan di River Hill Hotel tersebut juga bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada semua pihak yang telah berperan aktif dalam pengendalian KARHUTLA di Gunung Lawu tahun 2019. Pemberian penghargaan yang merupakan agenda kegiatan tersebut merupakan wujud

kepedulian Perhutani untuk selalu menguatkan kebersamaan dengan para relawan yang telah membantu pengendalian KARHUTLA. Penghargaan tersebut diberikan oleh Administratur Perhutani KPH Surakarta, Sugi Purwanta, juga sebagai wujud terima kasih Perhutani kepada semua tim. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjaga dan membantu dengan sukarela guna menjaga hutan,” ujar Sugi. Di kesempatan itu, Rusdianto menyampaikan apresiasi kepada semua relawan yang dengan sigap bertindak jika ada tanda-tanda

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Yuniar Purnomo/Kompersh KPH Surakarta

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 25


Foto: Gandi Sugandi/Kompersh KPH Bandung Selatan

rimbaUTAMA

Piagam penghargaan yang didapat semoga dapat memacu semangat teman-teman relawan untuk tetap saling bekerjasama dalam menjaga alam, khususnya Gunung Lawu. kebakaran hutan. “Gunung Lawu merupakan sumber mata air yang harus kita jaga, supaya jangan sampai punah. Oleh karena itu, kami memberikan apresiasi kepada semua relawan. Semoga komunikasi yang terjalin baik ini dapat berjalan dengan baik, sehingga ekosistem dan kelestarian Gunung Lawu akan terjaga," ujarnya. Sementara itu, Agus, salah satu relawan Karhutla Gunung Lawu mengatakan, dengan adanya penghargaan tersebut, diharapkan semangat menjaga

26 DUTA Rimba

alam dapat terpacu. “Piagam penghargaan yang didapat semoga dapat memacu semangat temanteman relawan untuk tetap saling bekerjasama dalam menjaga alam, khususnya Gunung Lawu. Besar harapan, supaya acara ini dapat berlangsung berkelanjutan guna mempererat hubungan baik antara instansi dengan semua relawan," harapnya.

Beri Penghargaan di Bandung Penghargaan juga diberikan oleh Perhutani KPH Bandung

Selatan. Guna mengapresiasi para stakeholder, Perhutani KPH Bandung Selatan memberikan piagam penghargaan kepada semua pihak yang telah turut serta dalam membantu Perhutani menangani kebakaran hutan di Gunung Malabar beberapa waktu yang lalu. Acara tersebut diadakan bertempat di lokasi wisata Gunung Puntang, Minggu 10 November 2019. Acara tersebut antara lain dihadiri oleh Kepala Dinas LHK Kabupaten Bandung, Asep Kusumah; Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung, Yoharman Syamsu; Camat Banjaran, Faisal Sulaeman; Camat Pameungpeuk, Asep Suryadi; Camat Cimaung, Kasta Wiguna; Danramil Banjaran, Dede Rohendi; Danramil Pameungpeuk, Siswanto; Kapolsek Cimaung, Joko Prihatin; Ketua HIPADRI (Himpunan Pendaki Gunung Indonesia), Chandra Tresna Sukawa; Ketua Paguyuban LMDH, H Arifin; perwakilan dari Lembaga Masyarakat Desa Htan (LMDH) Bukit Amanah, LMDH Mekar Rahayu, LMDH Sangkan Hurip, dan LMDH Wangun Lestari. Di dalam pernyataannya, Administratur KPH Bandung Selatan, Tedy Sumarto, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memadamkan api dan menjaga kelestarian hutan di Gunung Puntang. Ia mengatakan, penanganan kejadian kebakaran tersebut dapat berlangsung dengan cepat sehingga tidak meluas, adalah berkat bantuan semua pihak. “Beberapa waktu lalu terjadi kebakaran hutan di Gunung Malabar yang jika tidak ditangani dengan baik, dapat merembet ke Gunung Puntang, dimana

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Kompersh KPH Sumedang

terdapat penangkaran Owa Jawa. Penanganan kebakaran hutan tersebut melibatkan banyak stakeholder yang telah dengan tulus membantu kita,” ungkapnya. Sementara itu, mewakili LMDH, Abah Onil dari LMDH Bukit Amanah mengatakan, penanganan kebakaran hutan merupakan tanggung jawab semua pihak. Baik LMDH atau masyarakat, maupun Perhutani. Ia pun menyampaikan terima kasih juga kepada Perhutani KPH Bandung Selatan yang telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat bertanam kopi di kawasan hutan. “Bahwa bila terjadi musibah di hutan seperti kebakaran, maka bukan hanya tanggung jawab Perhutani saja, tetapi kami dari pihak LMDH pun merasa ikut bertanggung jawab untuk memadamkan api,” jelasnya.

“Piagam ini tidak ada arti apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan saudarasaudara dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Tampomas,” ujar Asep Setiawan

Beri Penghargaan di Sumedang Di tempat terpisah, Perhutani KPH Sumedang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang menyerahkan piagam penghargaan kepada puluhan Relawan Penanganan Kebakaran Hutan Gunung Tampomas, Sumedang. Acara tersebut diselenggarakan di Kantor Perhutani KPH Sumedang, Selasa, 26 November 2019. Piagam penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Administratur Perhutani KPH Sumedang, Asep Setiawan, kepada perwakilan relawan, E. Setiawan. Pemberian penghargaan itu dilakukan sebagai ucapan terima kasih karena para relawan telah berperan aktif dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah hutan Gunung Tampomas, beberapa waktu yang lalu.

Asep Setiawan mengatakan, pemberian piagam penghargaan itu bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih dari Perhutani KPH Sumedang kepada masyarakat sekitar hutan yang telah membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di kawasan hutan Tampomas. “Piagam ini tidak ada arti apaapa jika dibandingkan dengan pengorbanan saudara-saudara dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Tampomas,” ujarnya. Sementara itu, Ketua BPBD Kabupaten Sumedang, Ayi Rusmana, di tempat yang berbeda, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Perhutani KPH

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Sumedang dan para Relawan yang telah berjibaku dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Gunung Tampomas. “Terima kasih kepada Perhutani Sumedang dan para relawan. Alhamdulillah berkat kerjasamanya bencana kebakaran hutan dan lahan di Gunung Tampomas bisa segera diatasi,” kata Ayi. Hal senada diucapkan E. Setiawan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Perhutani KPH Sumedang yang telah memberikan piagam penghargaan kepada para relawan. “Terima kasih Perhutani, semoga kedepan kita bisa lebih kompak lagi,” ucapnya. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 27


rimbaUTAMA

Perhutani

Gelar Apel Siaga Bencana dan Rehabilitasi Hutan Tidak ada seorang pun yang menghendaki bencana alam terjadi. Tetapi jika bencana itu terjadi, tak ada orang yang kuasa menahan. Yang dapat dilakukan adalah senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Serta meminimalkan kemungkinan bencana terjadi, setidaknya selalu berusaha agar dampak bencana dapat diminimalkan. Hal itulah yang selalu dilakukan insan-insan Perhutani. Apel siaga pencegahan dini bencana alam pun dilakukan di sejumlah KPH.

A

ktivitas pencegahan bencana alam serta perwujudan tanggung jawab sosial dan ekologi dilakukan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds. Pada Rabu, 11 Desember 2019, Perhutani KPH Lawu Ds bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ngrayun, mengadakan apel siaga pencegahan dini becana alam dan penanaman bersama. Mereka melakukan penanaman di lahan seluas 5 Hektare di Petak 66/1, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Guyangan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ponorogo Barat.

28 DUTA Rimba

Tepatnya lahan tempat penanam itu berada di wilayah Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Aksi penanaman di kawasan tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan ekologi Perhutani. Jenis-jenis tanaman yang ditanam saat itu adalah alpukat, sengon buto, nangka, dan durian. Menanggapi aksi penanaman tersebut, Administratur Perhutani KPH Lawu Ds, Asep Dedi Mulyadi, menyatakan, kegiatan penanaman tersebut penting dilakukan. Sebab, diharapkan penanaman tersebut dapat mengurangi dampak pemanasan global, mencegah terjadinya bencana longsor, serta dapat menjadi resapan air. “Musim sudah memasuki penghujan. Diperlukan kesiagaan

semua pihak untuk antisipasi terjadinya bencana alam. Jajaran KPH Lawu Ds selalu berkoordinasi dengan Pemda, BPBD,TNI/Polri, juga sampai ke tingkat kecamatan dan desa,” ujar Asep. Asep juga mengatakan, pihaknya telah memerintahkan segenap jajarannya, yaitu pimpinan di daerah, dalam hal tersebut adalah Asisten Perhutani (Asper), untuk terus melakukan koordinasi dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar tetap waspada terhadap bencana alam pada musim penghujan. Sementara itu, Kepala Bidang BPBD Ponorogo, Arim Kamandoko, dalam sambutannya selaku pembina apel tersebut, mengajak semua anggota masyarakat untuk mencegah bencana alam sedini mungkin.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Bubun Burhanudin/kompersh KPH Ciamis

“Petakan daerah-daerah rawan bencana, ciptakan sinergitas yang baiik antara pemerintah desa dengan Perhutani serta instansi lainya,” ujarnya. Arim Kamandoko juga berharap agar semua masyarakat mempunyai tanggung jawab dan peduli bencana. “Ini bukan tangung jawab salah satu instasi pemerinah saja,

namun merupakan tanggung jawab kita semua,” ujarnya. Di tempat yang sama, Kepala Desa Tugurejo, Siswanto, menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Perum Perhutani itu. Menurut dia, kegiatan penanaman tersebut selain bermanfaat untuk mencegah

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

bahaya dari kerusakan alam, dapat juga meningkatkan sinergitas stakeholder, dan melestarikan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Apel dan Rehabilitasi Di Pangandaran, Perum Perhutani KPH Ciamis mengadakan Apel Siaga Bencana dan Rehabilitasi Hutan,

DUTA Rimba 29


Foto: Eko Santoso/Kompersh KPH Lawu Ds

rimbaUTAMA

Kamis, 26 Desember 2019. Lokasinya bertempat di Petak 50 dan 7, wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pangandaran dan BKPH Cijulang, KPH Ciamis. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata; Administratur Perhutani KPH Ciamis, Jerry Purwo Nugroho, beserta jajaran; jajaran Forkopimda Kabupaten Pangandaran; jajaran Forkopimcam Kecamatan Parigi; dan Langkaplancar beserta jajaran. Saat memberikan sambutannya, Administratur Perhutani KPH Ciamis, Jerry Purwo Nugroho, mengapresiasi wacana yang disampaikan Bupati Pangandaran yang akan membentuk petugas “JAGA LEUWEUNG” untuk membantu petugas Perhutani dalam menjaga pengamanan hutan. Petugas Jaga Leuweung itu keanggotaanya berasal dari masyarakat sekitar hutan.

30 DUTA Rimba

Jerry Purwo Nugroho juga menegaskan pentingnya membangun dan menjaga sinergitas lintas sektoral. Sebab, pengamanan hutan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri (sepihak) melainkan perlu dukungan dari semua pihak, baik internal maupun eksternal. Dan harus terbentuk satu kesatuan untuk menjaga dan menyelamatkan kawasan hutan. “Hutan dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia, karena hutan memiliki fungsi penahan erosi, pengatur tata air, dan penghasil oksigen yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Apalagi lokasi kawasan hutan Cisaladah keberadaannya merupakan hulu sungai dari Green Canyon, Santirah, dan Citumang,” jelas Jerry. Sementara itu, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menyampaikan pentingnya menjaga dan merawat hutan dari gangguan

keamanan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri sendiri. Jeje juga menyadari jumlah petugas sangat terbatas, baik petugas Perum Perhutani, POLRI dan TNI. Sehingga, dianggap perlu untuk menerbitkan SK Jaga Leuweung (Jaga Hutan, red) yang keanggotaannya akan direkrut dari masyarakat sekitar hutan, untuk membantu petugas dalam menjaga kawasan hutan. “Kita harus lawan segala bentuk tindakan perusakan hutan, pembalakan liar dan gangguan lainnya,” pungkasnya. Menjaga keharmonisan alam memang tak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan sinergi di antara pihak-pihak terkait. Dan langkah-langkah yang diayunkan untuk mewujudkan hal itu perlu diapresiasi dan didukung • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 31


RIMBAkhusus

Tutup Tahun 2019 dengan Torehan

Prestasi

Perum Perhutani menutup perjalanan kinerja tahun 2019 sekaligus menyongsong datangnya tahun 2020 dengan rangkaian prestasi. Penghargaan dari pihak eksternal membuktikan prestasi dan kinerja unggul Rimbawan Perhutani. Apalagi penghargaan yang diterima Perhutani bukan hanya dari satu lembaga saja. Maka, rangkaian penghargaan tersebut menjadi penutup yang manis bagi kinerja Perhutani di tahun 2019, sekaligus memberikan optimisme menjelang tahun 2020.

B

alai Kartini, Jakarta, menjadi lokasi penyerahan penghargaan dari Majalah Investor untuk Perum Perhutani. Di Balai Kartini, Kamis, 12 Desember 2019, Perum Perhutani meraih penghargaan sebagai BUMN Terbaik dalam ajang "Investor Award ‘Tokoh Finansial Indonesia Terbaik' dan 'Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Terbaik' 2019". Ajang Investor Award itu diselenggarakan oleh Majalah Investor sebagai sebuah ajang tahunan yang digelar setiap akhir tahun.

32 DUTA Rimba

Acara di hari itu dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto; Direktur Berita Satu Media Holdings, Primus Dorimulu, beserta segenap jajaran; serta para Chief Executive Officer (CEO) perusahaanperusahaan penerima penghargaan. Selain Penghargaan untuk BUMN Terbaik, di dalam ajang Investor Award 2019 tersebut, juga diberikan penghargaan kepada Perusahaan dengan kategori Multifinance Terbaik, Sekuritas Terbaik, dan Obligasi Terbaik tahun 2019. Penghargaan Investor Award untuk Kategori BUMN Terbaik

diberikan oleh CEO Berita Satu Media Holdings, Nicky Hogan, kepada Direktur Utama Perhutani yang di hari itu diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran Perhutani, Bambang Catur Wahyudi. Perum Perhutani menerima penghargaan sebagai BUMN Terbaik 2019 di Kategori Bidang Non Keuangan Sektor Perkebunan, Perikanan dan Penunjang Pertanian. Saat menyampaikan sambutannya, Direktur Berita Satu Media Holdings, Primus Dorimulu, mengucapkan selamat kepada seluruh penerima Investor Award. Ia pun berharap, penganugerahan ini dapat dijadikan motivasi bagi seluruh perusahaan untuk berinovasi, sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaannya dan dapat meningkatkan perekonomian nasional. “Selamat kepada seluruh penerima award pada malam ini. Semoga menjadi movitasi untuk terus inovatif dan adaptif terhadap perubahan bisnis modern, sehingga tetap meraih peluang bisnis pada industri yang digeluti,” katanya. Sementara di dalam sambutannya, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Nanjar Munandar/Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 33


Foto: Aga Prasetya/Kompersh Kanpus

rimbakhusus

terus berkomitmen menumbuhkan perekonomian nasional. Salah satunya, saat ini pemerintah sedang menyusun Omnibus Law yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Ada tiga hal besar yang disasar Pemerintah, yakni Undang-undang Perpajakan, Undang-undang Cipta Lapangan Kerja, dan Undangundang Pemberdayaan UMKM," tuturnya. Sedangkan Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran Perhutani, Bambang Catur Wahyudi, di kesempatan yang sama, mengucapkan terima kasih kepada Majalah Investor yang sudah memberikan kepercayaan dan penghargaan kepada Perhutani. “Semoga dengan adanya penganugerahan ini, kami dapat

34 DUTA Rimba

terus berkomitmen untuk menjadi BUMN pengelola hutan lestari di Pulau Jawa, yang unggul dan maju, serta dapat membawa manfaat bagi kepentingan masyarakat, khususnya di sekitar hutan,” ucapnya.

BUMN Branding and Marketing Award Sebulan sebelumnya, Perhutani juga menerima penghargaan dari media massa. Tepatnya pada Selasa pagi, 5 November 2019, Perum Perhutani meraih penghargaan "BUMN Branding and Marketing Award 2019" yang diselenggarakan oleh Majalah BUMN Track. Penghargaan tersebut diberikan di Ritz Carlton Hotel, Jakarta. Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rhenald Kasali, Ph.D; Sekretaris Jenderal

Kementerian Perhubungan, Joko Saseno; serta CEO BUMN Track, SH Sutarto; menghadiri acara penyerahan penghargaan tersebut. Direktur Keuangan Eko Wahyudi, mewakili Direktur Utama Perum Perhutani menghadiri acara tersebut. Penghargaan bertajuk "BUMN Branding and Marketing Award 2019" tersebut diberikan oleh Harris Thajeb NON Excecutive Chairman DAN Indonesia Dentsu Aegis Network selaku Dewan Juri kepada Direktur Utama Perhutani yang diwakili Direktur Keuangan Eko Wahyudi. Di ajang tersebut, Perum Perhutani dinyatakan menerima penghargaan pada kategori Corporate Marketing BUMN Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi, sebagai pemenang Internasional Sales & Marketing Terbaik 2019. Sebuah pengakuan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Perum Perhutani menerima penghargaan pada kategori Corporate Marketing BUMN Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi, sebagai pemenang Internasional Sales & Marketing Terbaik 2019. Sebuah pengakuan atas perolehan prestasi yang membanggakan, tentunya.

Foto: Aga Prasetya/Kompersh Kanpus

atas perolehan prestasi yang membanggakan, tentunya. Saat memberikan kata sambutannya, Sutarto menyampaikan bahwa BUMN Track telah berhasil secara konsisten menyelenggarakan BUMN Branding and Marketing Award selama 6 tahun terakhir. Atas konsistensi majalah tersebut menyelenggarakan ajang itu, pihaknya mengucapkan terima kasih atas dukungan dari banyak pihak. maka di tahun ke-7 penyelenggaraan BUMN Branding and Marketing Award ini, BUMN Track bekerjasama dengan Arrbey Consulting telah menyelenggarakan ajang tersebut dengan mengangkat tema "Beyond Innovation on Branding and Marketing". “Branding and Marketing tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan membangun citra positif dalam rangka meningkatkan corporate value, tetapi juga bermanfaat bagi pemegang kepentingan atau stakeholder,” lanjut Sutarto. Di dalam kesempatan yang sama, Eko Wahyudi menjelaskan bahwa selama ini Perhutani secara konsisten melakukan kegiatan-kegiatan branding dan marketing melalui media sosial dan pemberitaan online. Seluruh kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana mengenalkan produk-produk Perhutani dengan jangkauan yang luas baik, dalam negeri maupun luar negeri. “Perhutani saat ini telah mengembangkan Penjualan Online Toko Perhutani dan aplikasi mobile Toko Perhutani yang merupakan mobile apps pertama dengan platform produk kehutanan. Aplikasi ini akan terus diperkaya dengan fitur-fitur yang memudahkan proses interaksi dan transaksi produk Perhutani. Di Sektor wisata, Perhutani juga semakin aktif

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

mengembangkan bisnis pariwisata dengan memanfaatkan kekayaan aset hutan. Konsep ecopark tourism ini dikembangkan di berbagai hutan dengan menyediakan pusat wisata dan fasilitas pendukung," jelasnya. Menurut dia, Perhutani punya nilai unggul karena memiliki lebih dari 170 destinasi wisata alam. Asetaset tersebut sudah mulai ditata dan dilakukan proses rebranding. "Salah satu caranya adalah dengan membuat standardisasi berdasarkan standard kementerian pariwisata yang kami sebut sebagai 'Canopy'," tambah Eko. Ajang BUMN Branding and Marketing Award 2019 adalah event pemberian penghargaan tahunan yang dilakukan dan diberikan oleh Majalah BUMN Track. Tahun ini merupakan tahun ketujuh

DUTA Rimba 35


rimbakhusus penyelenggaraannya. Pemberian penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi Majalah "BUMN Track" terhadap perusahaanperusahaan yang mampu meraih kinerja terbaik di bidang branding dan marketing.

Perolehan sejumlah penghargaan oleh Perhutani itu menunjukkan torehan prestasi perusahaan negara di sektor kehutanan ini. Sekaligus menunjukkan profesionalisme Perhutani dalam mengelola modal besar yang telah dititipkan negara kepada Perhutani. Sebab, Perhutani adalah satu-satunya perusahaan yang diberikan modal besar oleh pemerintah, yaitu untuk mengelola kawasan yang begitu luas. Modal dasar yang dimiliki Perhutani adalah kawasan hutan seluas 2,4 Juta Hektare yang terdapat di Pulau Jawa dan Madura, termasuk dengan aneka ragam kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Modal dasar itu harus dikelola dan dikreasikan sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal dan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Tetapi, harus ada tahapan untuk mengolah modal dasar itu agar mampu meningkatkan nilai tambah, dan akhirnya akan meningkatkan pendapatan. Ya, pada akhirnya tujuan perusahaan memang adalah meningkatkan pendapatan. Sebab, sebagai sebuah badan usaha, pendapatan adalah satu hal yang menjadi tujuan. Pendapatan yang merupakan tujuan perusahaan tersebut merupakan "P" yang pertama dari tiga prinsip Perhutani dalam mengelola modal dasar yang besar tersebut, yaitu "Profit". Keuntungan. Sebab, sebagai sebuah badan usaha, Perhutani tak boleh melupakan prinsip sebuah badan usaha, yaitu

36 DUTA Rimba

Foto: Nanjar Munandar/Kompersh Kanpus

Kelola Modal Besar

mendapatkan keuntungan. Sebagai sebuah badan usaha, Perhutani juga tidak melupakan "P" yang kedua. "P" yang kedua adalah "People". Maksudnya, Perhutani harus juga mengakomodasi masyarakat. Sehingga, pengelolaan hutan negara oleh Perhutani harus dilakukan bersama dengan masyarakat. Dan hal itu sejatinya sudah dilakukan Perhutani, melalui program yang bernama PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Ada lagi prinsip yang tak dilupakan Perhutani. Yaitu "P" yang ketiga. Yang ketiga, Perhutani juga tidak melupakan bahwa tugas Perhutani juga adalah harus memberikan kontribusi ekologis kepada lingkungan. Maka "P" yang

ketiga adalah "Planet". Artinya, Perhutani dalam mengelola hutan tersebut harus memerhatikan agar sesuai dengan prinsip menjaga lingkungan hidup. Semua prinsip yang menjadi pegangan Perhutani dalam mengelola modal dasar tersebut telah dijalankan. Ragam prestasi dan penghargaan yang diberikan pihak eksternal membuktikan kesungguhan dan profesionalisme Perhutani dalam mengelola modal dasar tersebut. Dan Perhutani pun telah mencanangkan untuk tetap konsisten menjalankan prinsipprinsip pengelolaan hutan tersebut. Bukan sekadar untuk mendapatkan penghargaan semata, tetapi merupakan wujud tanggung jawab. Salut! • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 37


rimbakhusus

Karya dan Kinerja Unggul

Berbuah Penghargaan

Perum Perhutani kembali menunjukkan kinerja unggul. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah prestasi yang didapat tahun 2019. Sejumlah penghargaan yang diterima dari pihak eksternal merupakan penghargaan yang sebelumnya juga telah didapatkan Perhutani. Artinya, rimbawan Perhutani mempertahankan prestasi yang diraih. Sekaligus menunjukkan betapa tinggi kredibilitas Perhutani di mata pihak eksternal perusahaan. Juga merupakan petunjuk betapa tinggi apresiasi pihak eksternal perusahaan terhadap kinerja rimbawan Perhutani.

D

i era reformasi, keterbukaan informasi dan kebebasan publik mengakses informasi yang berkenaan dengan kepentingan umum menjadi sesuatu yang penting. Setiap lembaga atau perusahaan harus membuka informasi tentang lembaga atau perusahaan mereka jika hal itu berkaitan dengan kepentingan umum. Semua aktivitas keterbukaan informasi publik itu pun terpantau dan dapat terdeteksi. Terkait hal tersebut, Komisi Informasi Pusat setiap tahun memberikan penghargaan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KIP) kepada lembaga atau perusahaan yang dinilai konsisten memberikan layanan informasi yang jelas kepada publik. Tahun 2019, ajang pemberian penghargaan tersebut diselenggarakan di

38 DUTA Rimba

Aula Anantakupa Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Rabu, 20 November 2019. Di acara tersebut, Perum Perhutani kembali meraih penghargaan dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dari Komisi Informasi Pusat. Perum Perhutani memeroleh penilaian dengan kualifikasi cukup informatif Kategori BUMN. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Komisioner Bidang Kelembagaan Komisi Informasi Pusat, Cecep Suryadi, kepada Direktur SDM, Umum dan IT Perhutani, Kemal Sudiro, yang hadir mewakili Direktur Utama Perum Perhutani, Denaldy M Mauna. Bersama Perhutani, sejumlah BUMN juga mendapatkan penghargaan yang sama. BUMN lain yang memeroleh Kualifikasi Cukup Informatif adalah PT Bio Farma, PT Jasa Tirta II, PT Angkasa Pura I, PT

Pelabuhan Indonesia II, PT Pelabuhan Indonesia IV dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Keterbukaan Informasi Publik Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik dilakukan untuk menilai ketaatan badan publik dalam menjalankan kewajiban yang diamanatkan melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Di tahun 2019, penilaian tersebut dilaksanakan oleh Komisi Informasi Pusat kepada 346 badan publik meliputi 7 (tujuh) kategori, yaitu Kementerian, Pemerintah Provinsi, Lembaga Negara, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Lembaga Non Struktural, BUMN, Perguruan Tinggi Negeri, dan Partai Politik. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Aga Prasetya/Kompersh Pusat

Informasi Publik adalah salah satu produk hukum Indonesia yang dikeluarkan tahun 2008 dan diundangkan tanggal 30 April 2008. Undang-undang tersebut mulai berlaku dua tahun setelah diundangkan. Jadi, Undang-undang tersebut mulai berlaku pada 2010. Undang-undang yang terdiri dari 64 pasal itu pada intinya memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik, kecuali untuk beberapa informasi tertentu.

UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menegaskan Pasal 28 F UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap Orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh Informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, dan menyimpan Informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dengan tebal

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

menggarisbawahi bahwa salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memeroleh Informasi sesuai peraturan perundang-undangan. Hak atas Informasi menjadi sangat penting karena jika penyelenggaraan negara semakin terbuka untuk diawasi publik, penyelenggaraan negara tersebut semakin dapat dipertanggungjawabkan. Hak setiap Orang untuk memeroleh informasi juga relevan untuk meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dalam

DUTA Rimba 39


rimbakhusus proses pengambilan keputusan publik. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tak banyak berarti jika tanpa jaminan keterbukaan Informasi Publik. Setiap Badan Publik punya kewajiban untuk membuka akses atas Informasi Publik yang berkaitan dengan Badan Publik tersebut kepada masyarakat luas. UU KIP menjelaskan, Lingkup Badan Publik dalam UU ini meliputi lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif, serta penyelenggara negara lainnya yang mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mencakup pula organisasi non pemerintah, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, semisal lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, serta organisasi lainnya yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.

SNI Award merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia kepada organisasi yang dinilai telah menjalankan sistem manajemen operasional yang baik dan telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten. 40 DUTA Rimba

Di kesempatan itu, Kemal Sudiro menjelaskan bahwa Perum Perhutani berkomitmen kuat dalam memberikan pelayanan Informasi Publik bagi masyarakat. Komitmen itu terbukti dengan Penghargaan KIP yang secara konsisten didapatkan Perum Perhutani sejak 2015. "Keterbukaan informasi tidak sekadar memenuhi hak publik, melainkan juga merupakan kebutuhan Perhutani untuk menyampaikan informasi perusahaan yang benar dan tepat sesuai aturan. Ke depan, integrasi informasi dalam bentuk big data merupakan kebutuhan semua pihak. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus melakukan perbaikan dalam menerapkan keterbukaan informasi," jelasnya.

Pertahankan SNI Award Bukan hanya Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik yang kembali didapatkan Perum Perhutani di hari itu. Di hari yang sama, Rabu, 20 November 2019, Perum Perhutani kembali meraih penghargaan Standar Nasional Indonesia (SNI) Award. Di tahun 2019 ini, Perhutani menyabet SNI Award dengan memertahankan perolehan peringkat Perak pada kategori Organisasi Menengah dan Besar Barang. Penganugerahan SNI Award 2019 diselenggarakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) bertempat di Rafflesia Grand Ballroom Balai Kartini. Turut hadir dalam acara tersebut, sejumlah tokoh nasional antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartato; serta Menteri Riset Dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Penghargaan SNI Award 2019 Peringkat Perak untuk Perum Perhutani diserahkan oleh kepala BSN, Bambang Prasetya. Direktur

Operasi Perum Perhutani, Sumardi, menerima penghargaan tersebut, mewakili Direktur Utama Perum Perhutani, Denaldy M Mauna. Tahun ini merupakan kali kedua Perum Perhutani mengikuti ajang Penganugerahan SNI Award dengan memertahankan peringkat Perak. SNI Award merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia kepada organisasi yang dinilai telah menjalankan sistem manajemen operasional yang baik dan telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten. Tahun ini, jumlah pendaftar SNI Award 2019 sebanyak 188 peserta. Setelah dilakukan penyaringan, terdapat 146 peserta yang lolos verifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 93 organisasi/perusahaan lolos sampai tahap onsite atau kunjungan lapangan. Pada tahap berikutnya, berdasarkan penilaian oleh dewan juri, ditetapkan 69 organisasi/perusahaan sebagai organisasi penerap terbaik dan berhak menerima penghargaan. Usai menerima penghargaan tersebut, Direktur Operasi Perum Perhutani, Sumardi, menyampaikan bahwa dengan mendapatkan penghargaan SNI Award, dapat menjadi acuan bagi Perhutani dalam meningkatkan kinerja organisasi. Sebab, penghargaan SNI Award terdiri dari berbagai aspek yang dapat mendorong organisasi meningkatkan kinerja menjadi lebih baik lagi. “Penerapan SNI di perusahaan juga harus secara konsisten berkelanjutan dan dapat memerbaiki sistem pengelolaan di Perum Perhutani sesuai Standard Nasional yang diterapkan,” tambah Sumardi. Sementara itu, di dalam sambutannya, Kepala BSN, Bambang Prasetya, menyampaikan selamat kepada para Penerima SNI Award. Ia

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Aga Prasetya/Kompersh Pusat

pun berharap mereka bisa menjadi role model industri penerap SNI di Indonesia. “Perlu kami ungkapkan di sini, bahwa BSN tidak hanya menetapkan SNI yang terkait dengan produk dan jasa saja, tetapi juga di bidang sistem manajemen, proses, dan personel, di antaranya, SNI ISO 9001 sistem manajemen mutu dan SNI ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan,” ungkapnya. Bambang melanjutkan, diharapkan pula para penerima SNI Award semakin terpacu untuk meningkatkan kinerja organisasi. Sehingga, kinerja organisasi mereka menjadi lebih baik. “Diharapkan SNI Award dapat menjadi acuan organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi, karena SNI Award menilai berbagai aspek yang dapat mendorong kemajuan organisasi dalam mewujudkan kinerja yang lebih baik, termasuk manajemen dan kepemimpinan, fokus pada pelanggan, pengembangan sumberdaya, pengelolaan/realisasi

produk, dan hasil bisnis," jelas Bambang.

Tentang SNI Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Komite Teknis (dulu disebut Panitia Teknis) dan ditetapkan oleh BSN. SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice agar memeroleh keberterimaan yang luas di antara para stakeholder. WTO Code of good practice meliputi sejumlah nilai unggul. Pertama, Openess (Keterbukaan). Yaitu terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI. Kedua, Transparency (Transparansi). Yaitu agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya. Dan dapat dengan mudah memeroleh semua

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

informasi yang berkaitan dengan pengembangan SNI. Ketiga, Consensus and impartiality (Konsensus dan tidak memihak). Yaitu tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil. Keempat, Effectiveness and relevance (Efektif dan relevan) agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memerhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelima, Coherence. Yaitu koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memerlancar perdagangan internasional. Dan keenam, Dimension (berdimensi pembangunan). Yaitu berdimensi pembangunan agar memerhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 41


perhutani dan

Dok. Kom PHT®2014 | Foto : SOE.

perlindungan hutan

42 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


LENSA

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 43


44 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


LENSA

NO. 81 55 •• TH. TH. 13 9 • november - desember • 2014 2019

DUTA Rimba 45


SobatRIMBA

46 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 47


SobatRIMBA

48 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 49


lintasrimba

Perhutani KPH Balapulang

Berpartisipasi dalam PEDA KTNA Jateng 2019

Foto : Wismo/Kompers Balapulang

Tegal - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang berpartisipasi dalam Pameran Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan

50 DUTA Rimba

(KTNA) Tingkat Jawa Tengah. Acaranya diadakan di Taman Teknologi Pertanian (TTP), Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah,

Selasa – Kamis, 12-14 November 2019. Aneka produk unggulan mereka tampilkan dalam pameran tersebut. Administratur KPH Balapulang, A. Fadjar Agung Susetyo, menjelaskan, produk unggulan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) Perhutani, semisal madu dan minyak kayu putih, merupakan salah satu fokus Perhutani dalam meningkatkan pendapatan. “Perhutani mengusung produk unggulan Madu Wana Java, minyak kayu putih, serta produk mitra binaan Perhutani seperti tape ketan, telur asin, kopi,” katanya. Di acara tersebut, Perhutani juga memerkenalkan wisata rintisan dan agroforestry yang ada di KPH Balapulang. Yaitu Kalibaya Park, Bukit Dadablangan, Situs Benteng Dinamit, dan Curug Rambu Kasang. Lewat pameran tersebut, diharapkan masyarakat umum semakin mengenal potensi wisata alam Perhutani. Diharapkan pula, keberadaan wisata rintisan itu memberikan wisata alternatif yang tak terlalu jauh dan biayanya relatif murah. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat memberikan sambutan, menyampaikan, PEDA KTNA Tahun 2019 sekaligus menjadi wahana untuk seleksi dan memersiapkan Jawa Tengah untuk Pekan Nasional KTNA tahun ini yang akan digelar di Padang. Sementara itu, Bupati Tegal, Umi Azizah, atas nama pemerintah daerah, mewakili seluruh elemen masyarakat Kabupaten Tegal, mengapresiasi semua pihak yang telah bekerja keras memersiapkan segala sesuatu terkait acara itu, sehingga semua berjalan baik. “Semoga perhelatan PEDA KTNA ke-7 ini mampu membawa perubahan dan terobosan untuk meningkatkan daya saing pertanian dan industri pangan kita,” ucapnya. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


“East Java Rock Climbing Gathering” Pamekasan - Perhutani KPH Madura bekerja sama dengan Federasi Panjat Tebing Seluruh Indonesia (FPTI) Jawa Timur, Manpala dan Sispala se-Jawa Timur, Sabtu, 16 November 2019, mengadakan kegiatan bertajuk ‘East Java Rock Climbing Gathering’. Diikuti 100 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, kegiatan itu diadakan di ‘Cok Gunong Mahawaru’, di Petak 2, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pamekasan. Secara administratif, lokasi itu termasuk wilayah Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Saat membuka acara itu, Administratur Perhutani KPH Madura, Rumhyati, yang diwakili Kasi Keuangan SDM dan Umum, Hadi Suprapto, menyampaikan, Perhutani sangat mendukung kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan, lokasi East Java Rock Climbing Gathering 2019 ini adalah tanah milik negara yang dikelola Perhutani yang berada di wilayah kerja BKPH Madura Timur. Luasnya 98 Hektare. Hadi menambahkan, Perhutani siap bekerjasama dengan FPTI, Kepala Desa Waru Barat, dan pecinta lingkungan, untuk saling mendukung dalam pengelolaan hutan. Ia juga meminta seluruh peserta yang hadir untuk menjaga keamanan dan kelestarian hutan, serta tak merusak potensi di dalam kawasan hutan. “Kami juga menyampaikan terima kasih kepada FPTI dan Kepala Desa Waru Barat yang telah memperkenalkan bahwa lokasi yang ditempati saat ini adalah kawasan hutan yang dikelola Perhutani,” ucapnya.

Foto : Achmad Baidowi/Kompers KPH Madura

Digelar di Pamekasan

Sementara Ketua FPTI Jawa Timur, Dhanu Iswara, menyampaikan, kegiatan ini dilakukan sebagai ajang silaturahmi antar pegiat alam bebas, sekaligus sebagai upaya meningkatkan motivasi para atlet untuk menaklukkan berbagai rintangan, termasuk tebing alam ‘Cok Gunong Mahawaru’ yang ada di Pameksan. Di kesempatan itu, pihaknya juga mendatangkan dua legenda panjat tebing Indonesia

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

asal Jawa Barat untuk memotivasi semangat para atlet khususnya atlet pemula. “Ke depan, kami berharap tebing ‘Cok Gunong Mahawaru’ bisa menjadi potensi destinasi olah raga alam bebas skala Nasional. Apalagi hal ini juga selaras dengan harapan Kades Waru Barat agar lokasi ‘Cok Gunong Mahawaru’ menjadi kalender Nasional FPTI,” jelas Dhanu. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 51


lintasrimba

Aksi Tanam 1.500 Pohon di Pacet, Mojokerto

Pacet, serta Stakeholder lainnya. Bibit pohon yang ditanam saat itu adalah rimba campur jenis buah–buahan semisal bibit pohon nangka, durian, alpukat, dan petai, yang punya nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Di kesempatan itu, Administratur Perhutani KPH Pasuruan yang diwakili Asper (Asisten Perhutani) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pacet, Gisam, menyampaikan, Perhutani sangat berterimakasih kepada Laznas Rumah Zakat yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. “Hutan harus dirawat dan dijaga kelestariannya. Tanpa ada peran serta dari masyarakat, hutan kita akan terganggu kelestariaannya,” kata Gisam. Di kegiatan penanaman, Gisam

Foto : Dedi Chrisnadi/Kompers Pasuruan

Mojokerto - Untuk memeringati Hari Menanam Pohon Nasional 2019 dan mengawali bulan tanam pohon yang telah ditetapkan pada November 2019, Perhutani KPH Pasuruan bersama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Rumah Zakat, Minggu, 24 November 2019, melakukan penanaman pohon. Sebanyak 1500 Plances mereka tanam di kawasan hutan Pacet. Tepatnya di Desa Sembung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. ikut dalam kegiatan tersebut, antara lain jajaran Perhutani KPH Pasuruan, perwakilan Rumah Zakat Cabang Mojokerto dan Surabaya, pecinta lingkungan Welirang Comunity Mojokerto, Pramuka Saka Wanabakti BKPH Pacet, dan Perwakilan LMDH Subur Makmur

juga memberikan petunjuk teknis cara memerlakukan bibit pohon sebelum ditanam. Baik cara membawa bibit sebelum ditanam, membuka plances, sampai teknik penanamannya. Di tempat yang sama, Yopi Hidayat dari Laznas Rumah Zakat menyampaikan, Rumah Zakat merupakan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lingkungan. “Gerakan penanaman pohon ini sesuai dengan program pemerintah yang menetapkan tangal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI),” ujar Yopi. Yopi menambahkan, bidang lingkungan Rumah Zakat pada HMPI akan menanam sebanyak 100.000 plances bibit pohon. Pelaksanaannya dilakukan oleh Rumah Zakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, menurut Branch Manager Rumah Zakat cabang Malang, mereka berkeinginan mengajak generasi muda berkosentrasi, peduli, dan sadar tentang begitu pentingnya kelestarian alam. • Tim Kompersh Kanpus

52 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Perhutani dan DLH Tuban

Foto : Kompers KPH Jatirogo

Sosialisasi Pembuatan Pupuk Kompos

Tuban - Perum Perhutani KPH Jatirogo bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tuban, Selasa, 26 November 2019, mengadakan Sosialisasi di Kantor DLH Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Temanya ‘Sosialisasi Tata Kelola Hutan Lestari Dan Pembuatan Pupuk Kompos Bagi Masyarakat Kawasan Hutan’ di Kantor DLH Kabupaten Tuban. Sosialisasi tersebut diikuti Kepala DLH Kabupaten Tuban beserta jajarannya, Perhutani KPH Jatirogo dan KPH Tuban, serta beberapa Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) wilayah Jatirogo-Tuban. Kepala DLH Tuban, Bambang Irawan, dalam sambutannya,

menyampaikan, sampah adalah sisa buangan dari suatu produk atau barang yang sudah tidak digunakan lagi, tetapi masih dapat didaur ulang menjadi barang yang bernilai. Salah satunya adalah menjadi pupuk kompos. “Kegiatan ini untuk mengajak masyarakat agar mengurangi polusi yang ditimbulkan dari sampah, dengan cara mengubah sampah menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk pertanian,” tambah Bambang. Di tempat yang sama, Administratur Perhutani KPH Jatirigo yang diwakili Kepala Sub Seksi Komunikasi Perusahaan, Gunung Hidayat, menyampaikan,

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Perhutani sangat berterimakasih atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sebab, peserta sebagian besar adalah anggota LMDH yang menjadi mitra Perhutani di wilayah Jatirogo. “Kami Berharap sosialisasi ini dapat memotivasi LMDH untuk lebih inovatif dalam ikut serta dalam pengelolaan hutan lestari,” ujar Gunung. Kegiatan sosialisasi tersebut juga diisi tuntunan cara pembuatan pakan ternak dan pupuk kompos. Narasumbernya adalah Sumardi dari Kabupaten Nganjuk. Acara dilanjutkan dengan praktik pembuatan Pupuk Kompos, diikuti anggota LMDH • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 53


Foto : Cecep Suryaman/Kompers Divre Janten

lintasrimba

Perhutani Raih Penghargaan CSR dari Pemprov Jawa Barat Bandung - Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten meraih penghargaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, dalam acara Peresmian Bersama Proyek–proyek Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Barat tahun 2018–2019. Penyerahan penghargaan CSR itu berlangsung di Trans Luxury Hotel Bandung, Senin, 18 November 2019. Turut hadir dalam acara tersebut, pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat, Bupati/Walikota Se-Jawa Barat, Asisten dan Staf Ahli Gubernur, Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Jawa Barat.

54 DUTA Rimba

Kepala Divisi Regional Jawa Barat dan Banten (Janten), Dicky Yuana Rady, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pemprov Jawa Barat yang telah memberikan penghargaan, dan berharap CSR yang ada di Perhutani Divre Janten dapat terus ditingkatkan. Adapun kegiatan CSR yang telah dilaksanakan Perhutani Divre Janten, di antaranya adalah memberikan bantuan bina lingkungan untuk renovasi mushola, penghijauan, pendidikan, santunan yatim piatu, bantuan untuk korban bencana alam, pesantren, dan banyak lagi.

Menurut Ketua Tim Fasilitasi CSR Jabar yang juga Pj. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Daud Achmad, ada tiga tujuan digelarnya acara dan pemberian penghargaan tersebut oleh Pemprov Jabar. Pertama, merespon kepedulian terhadap perusahaan yang telah menjalankan kegiatan CSR di Jabar. Kedua, untuk mengenal lebih jauh kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan. Ketiga, untuk mendekatkan hubungan sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan perusahaan-perusahaan. Tahun 2019, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan piagam penghargaan Corporate Social Responsibility (CSR) Tahunan kepada 123 perusahaan mitra CSR Jawa Barat dan piagam penghargaan CSR 5 Tahunan kepada 19 perusahaan mitra CSR Jawa Barat. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Keluarga Besar Perhutani

Bagikan Bibit di CFD Jember

Rimbawan Perhutani KPH Jember, khususnya ibu-ibu, membagibagikan bibit buah kepada masyarakat Jember itu dengan diiringi selebrasi marching band oleh murid-murid TK Tunas Rimba. Menurut Ketua Yayasan Tunas Rimba Perhutani (YTRP) KPH Jember, Nur Fitri Hariyanti Rukmana, di tahun 2019, Hari Gerakan Perempuan Menanam yang diperingati setiap tanggal 2 Desember itu dilaksanakan dengan konsep yang berbeda daripada

Foto : Agus Sulaiman Kompers KPH Jember

Jember - Keluarga besar Perhutani KPH Jember dan murid-murid Taman Kanak-kanak (TK) Tunas Rimba KPH Jember membagi-bagikan bibit tanaman buah kepada masyarakat yang hadir di acara rutin Car Free Day (CFD) di alun-alun Kota Jember, Jawa Timur, Minggu, 1 Desember 2019. Hal itu dilakukan dalam rangka memeringati Hari Gerakan Perempuan Menanam Tahun 2019. Mengusung tema “Ayo Hijaukan Bumi”, sebanyak 150-an orang

tahun-tahun sebelumnya. Yaitu konsep taman kota dengan aktivitas membagikan bibit. “Kita berharap, dengan bibit yang kita bagikan secara gratis ini dapat bermanfaat sebagai edukasi bagi seluruh masyarakat bahwa kita menanam harus dimulai dari lingkungan rumah kita sendiri,” ujar Fitri. Gerakan bagi-bagi bibit tersebut diikuti oleh istri Karyawan Perhutani KPH Jember, para murid TK Tunas Rimba, ibu-ibu wali murid, serta beberapa karyawan Perhutani KPH Jember. Bibit-bibit yang dibagikan berasal dari pembibitan swadaya karyawan Perhutani KPH Jember dengan jenis bibit alpukat, durian, petai, sirsak, nangka, dan mangga. Total bibit yang dibagikan sebanyak 250 plances. Administratur KPH Jember, Rukman Supriatna, di tempat terpisah membenarkan kegiatan bagi-bagi bibit tersebut sengaja digelar pada acara Peringatan Gerakan Perempuan Menanam, melalui ibu-ibu rimbawan. “Kali ini kita bagikan bibit buah-buahan untuk menghijaukan bumi di sekitar rumah kita,” katanya. Rukman menjelaskan, pihaknya memilih acara CFD sebagai momentum pelaksanaan kegiatan tersebut, karena sasaran pembagiannya adalah masyarakat perkotaan, setelah sebelumnya rutin dilakukan pembagian di masyarakat pedesaan. Dina, salah satu anggota masyarakat yang menerima langsung bibit alpukat dalam acara itu, mengatakan, ia merasa senang dengan kegiatan pembagian bibit tersebut. Bibit itu akan ditanam di pekarangan rumah. “Dengan menanam pohon buah, rumah kita menjadi rindang, sejuk, dan menyegarkan,” ucapnya. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 55


warisanrimba

Kearifan Lokal

di Situs Budaya Eyang Buyut Dalem Cageur Indonesia sangat kaya dengan budaya, seni, dan kearifan lokal. Kekayaan budaya berupa kearifan lokal itu perlu terus dijaga dan dilestarikan. Kearifan lokal itu pula yang terkandung dengan sangat kental di Situs Budaya Buyut Eyang Dalem Cageur. Hal itu pula yang mendasari langkah Perhutani KPH Kuningan meresmikan pengembangan Situs Budaya Eyang Dalem Cageur menjadi rintisan wisata budaya.

M

aret 2017, warga Desa Cageur menemukan sebuah situs makam kuno di wilayah desa mereka. Awalnya, pada 22 Maret 2017, seorang warga bernama Yoyo menemukan puluhan butir batu tersusun yang diduga makam tua di sebuah lembah kawasan hutan rimba di Desa Cageur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan. Tempat itu merupakan lokasi wisata ziarah yang dikenal sebagai makam keramat Eyang Dalem Cageur. Beberapa orang warga di desa itu menyebutkan, Yoyo (30) dan beberapa rekannya menemukan makam tua itu setelah mendapat informasi dari seseorang yang katanya pernah bermimpi jika di hutan itu terdapat dua makam tersembunyi. Selain makam tua, di dekat makam tua tersebut juga terdapat genangan mirip kolam persegi berukuran 4 x 4 meter persegi, dengan kedalaman antara 20 hingga 80 cm. Di tepi kolam itu terdapat satu batu dengan posisi berdiri tegak setinggi lebih kurang 50 cm. Dan di sisi genangan air dekat

56 DUTA Rimba

batu berdiri itu terdapat umpakan batu terendam genangan. Menurut warga sekitar, sebenarnya kolam dan batu-batunya itu sejak dulu sudah ada dan keberadaannya pun sudah diketahui banyak orang, baik warga setempat maupun para peziarah ke makam keramat Eyang Dalem Cageur. Tetapi sebelumnya makam dan batu-batu itu hanya terlihat sedikit, karena terkubur tanah dan humus. Sedangkan keberadaan susunan batu mirip makam tua itu sebelumnya sama sekali belum pernah ada yang mengetahui. Bentuk susunan batu yang diduga makam tua baru terungkap itu, hampir menyerupai sejumlah makam keramat yang ada di hutan itu. Puluhan batu yang tersusun membentuk makam itu terbelit akar-akar pohon. Kawasan hutan tempat makam keramat Eyang Dalem Cageur itu berupa hutan rimba alami seluas lebih kurang 12,3 hektare milik Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kuningan. Hutan padat pehohonan tua dan semak belukar itu berbatasan langsung dengan tanah milik dan lahan permukiman

penduduk. Kawasan hutan tersebut termasuk Petak 1A, wilayah kerja Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Haurkuning, BKPH Garawangi. Kelas hutannya termasuk hutan KPKh atau Kelas Hutan Khusus. Perlakuan terhadap hutan KPKh itu sama dengan perlakuaan terhadap hutan lindung. Selain memiliki fungsi alami terhadap lingkungan di sekitarnya, kawasan hutan tempat makam keramat Eyang Dalem Cageur itu sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek wisata terpadu. Di dalamnya meliputi wisata alam, religi, dan wisata pendidikan. Tetapi karena status hutannya tadi, tata kelola wisata dalam kawasan hutan itu harus diusahakan sedemikian rupa agar jangan sampai mengganggu apalagi merusak kelestarian alam, ekosistem dan fungsi hutannya.

Sarat Kearifan Lokal Secara administratif, Situs Budaya Eyang Buyut Dalem Cageur termasuk wilayah Desa Cageur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perhutani

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto : Heriawan / Kompersh KPH Kuningan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 57


warisanrimba

Foto : Heriawan / Kompersh KPH Kuningan

“Wisata dalam kawasan hutan itu harus diusahakan sedemikian rupa. Jangan sampai diganggu, apalagi merusak lingkungan, kelestarian ekosistem, dan fumgsi hutannya," tegas Uum. bertahap, dengan cara meningkatkan mutu obyek wisata. Terima kasih juga kepada pihak Perum Perhutani KPH Kuningan yang akan merintis potensi wisata yang ada di kawasan hutan ini,” tuturnya. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kuningan serius melakukan langkah-langkah pelestarian situs budaya yang sarat muatan kearifan lokal itu. Hal itu terlihat saat mereka meresmikan pengembangan rintisan wisata Situs Budaya Buyut Eyang Dalem Cageur yang berada di Petak 1a, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Haurkuning, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Garawangi, KPH Kuningan, itu pada Selasa, 12 November 2019. Selain Administratur Perhutani KPH Kuningan, Uum Maksum, beserta jajaran, kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kuningan, Tedy Suminar; Camat Darma, Didin Bahrudin; Kepala Desa Cageur, Cicih Sumiarsih; perwakilan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Cageur, tokoh masyarakat setempat, dan masyarakat desa sekitar hutan. Saat memberikan penjelasan, Administratur Perhutani KPH Kuningan, Uum Maksum, menyatakan, Situs Budaya Buyut

58 DUTA Rimba

Eyang Dalem Cageur sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah obyek wisata terpadu. Di antaranya situs budaya ini meliputi wisata alam, wisata religi, dan wisata pendidikan. “Wisata dalam kawasan hutan itu harus diusahakan sedemikian rupa. Jangan sampai diganggu, apalagi merusak lingkungan, kelestarian ekosistem, dan fumgsi hutannya," tegas Uum. Sementara itu, Kepala Disparbud Kabupaten Kuningan, Tedy Suminar, menerangkan, di Kabupaten Kuningan terdapat 141 situs yang sudah ditata, serta banyak potensi alam dan budaya yang menarik. Data tersebut menjadikan lokasi-lokasi wisata itu menjadi andalan sektor pariwisata Kabupaten Kuningan. Potensi alam dan budaya tersebut sebagian sudah dikembangkan, namun sebagian lagi masih dalam tahap inventarisasi dan eksplorasi. “Disparbud Kabupaten Kuningan saat ini sedang merencanakan penggalian seluruh potensi yang ada di Kabupaten Kuningan secara

Penyebar Agama Islam Warga Desa Cageur mengatakan, Eyang Dalem Cageur merupakan tokoh penyebar agama Islam pada masa Kerajaan Islam Cirebon di masa lampau. Di antaranya disebutsebut ada makam Eyang Satori, Damarwulan (Syeh Datuk Kaliputah), dan Pulodamar. Sejak dulu, setiap bulan Maulid (Robi'ul awal) tahun Hijriyah, makam keramat di Desa Cageur itu selalu banyak dikunjungi para peziarah umat Islam dari berbaagi daerah. Mereka umumnya datang dari Cirebon, Majalengka, Ciamis, dan berbagai daerah lainnya. Kisah Eyang Buyut Dalem Cageur erat berkaitan dengan sejarah Kerajaan Pajajaran, Galuh, dan Cirebon. Menurut kisahnya, Wanaperih atau Raden Aria Kikis yang merupakan putra sulung dari Prabu Pucuk Umum dari Ratu Sunyalarang (putri Sunan Parung, saudara satu ayah dari Ratu Pucuk Umun suami Pangeran Santri) dan menjadi Raja di Kerajaan Talaga Manggung tahun 1553-1556 Masehi. Prabu Pucuk Umum atau Raden

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Ratu Putri menikah dengan anak Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya, yaitu Syekh Sayyid Faqqih Ibrahim yang dikenal sebagai Sunan Cipager dan mereka menjadi penyebar Islam di samping putranya, Dalem Wangsa Goparana, yang pindah ke Sagala Herang, Cianjur. Keturunannya lantas menjadi trah Bupati Cianjur semisal Bupati Arya Wiratanudatar I (Dalem Cikundul) dan seterusnya. Tahun 1550 M, pada generasi kedua masa pemerintahan Islam Talaga, sepeninggal Ratu Parung (Ratu Sunyalarang), Talaga dipimpin oleh putra kedua Ratu Parung yaitu Raden Aria Kikis (Sunan Wanaperih). Arya Kikis adalah seorang Senapati dan Da'i Islam yang handal. Dia mewarisi ketaatan yang tulus, ilmu-ilmu kanuragan, dan ilmu-ilmu keislaman dari Sunan Gunung Djati. Salah satu cucu dia adalah Raja Muda Cianjur yang dikenal sebagai Kanjeng Dalem Cikundul.

Obyek Wisata Religi Sebelum dijadikan situs budaya, Makam Eyang Buyut Dalem

Pihak Perhutani KPH Kuningan akan mengembangkan situs budaya Eyang Buyut Dalem Cageur itu sebagai obyek wisata religi. Sebab, keberadaan makam keramat itu adalah bukti sejarah penyebaran Islam di Kuningan. NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Cageur merupakan makam yang dikeramatkan oleh masyarakat. Selain terdapat mushalla, di dalamnya terdapat empat makam keramat yang di antaranya adalah makam Mbah Damarwulan dan Mbah Satori. Pihak Perhutani KPH Kuningan sendiri akan mengembangkan situs budaya Eyang Buyut Dalem Cageur itu sebagai obyek wisata religi. Sebab, keberadaan makam keramat itu adalah bukti sejarah penyebaran Islam di Kuningan. Pengelolaan obyek wisata religi Dalem Cageur melibatkan masyarakat melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan. Situs budaya Eyang Buyut Dalem Cageur yang berada di hutan yang masih lestari dan merupakan hutan sekunder. Di hutan ini banyak sekali terdapat pohon saninten, rotan, dan beringin. Pengelolaan obyek wisata religi itu tetap memerhatikan kelestariannya. Sebab, menjaga kelestarian hutan juga bagian dari kearifan lokal. Maka, situs budaya Eyang Buyut Dalem Cageur semakin sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. • Tim Kompersh Kanpus

Foto : Heriawan / Kompersh KPH Kuningan

Rangga Mantri merupakan cicit Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja. Wanaperih mendirikan pesantren tertua di Majalengka serta memindahkan Ibu kota Kerajaan Talaga, dari Sangiang ke Wanaperih yang saat ini termasuk wilayah Desa Kagok. Setelah Ratu Sunyalarang meninggal dunia, Arya Kikis atau Sunan Wanaperih mendirikan pesantren dan mendatangkan guru mengaji Syekh Sayyid Faqih Ibrahim yang merupakan putra Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya. Ia dikenal dengan nama Sunan Cipager dan makamnya berjarak 1 kilometer dari makam Eyang Dalem Cageur. Masa-masa pemerintahan Sunan Wanaperih diwarnai dengan perkembangan Islam yang pesat. Di masa kepemimpinannya, seluruh rakyat di Talaga Manggung telah menganut agama Islam dan agama Islam di sana semakin berkembang. Sunan Wanaperih berputra 6 orang yaitu Dalem Cageur, Dalem Kulanata, Apun Surawijaya, Ratu Radeya, Ratu Putri, dan Dalem Wangsa Goparana. Keturunannya turut menyebarkan Islam, bahkan sampai ke luar wilayah Majalengka. Ratu Radeya menikah dengan Arya Saringsingan, sedangkan

DUTA Rimba 59


ensikloRIMBA

Kukang Jawa Satwa Eksotis Khas Pulau Jawa

P

erhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III/Ciamis serta Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia melakukan pelepasliaran Kukang Jawa ke habitatnya. Aktivitas tersebut dilakukan di Suaka Marga Satwa Gunung Sawal (SMGS), yang termasuk wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cikoneng, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciamis, KPH Ciamis, Sabtu, 30 November 2019. Acara itu dihadiri oleh Administratur Perhutani KPH Ciamis, Jerry P. Nugroho; Kepala BKSDA Wilayah III Ciamis, Andi Witria Rudianto; dan Manajer Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia, Robithotul Huda. Di kesempatan itu, mereka melakukan pelepasliaran 10 ekor Kukang Jawa. Kesepuluh Kukang Jawa tersebut terdiri dari 3 ekor jantan dan 7 ekor betina. Kukang Jawa tersebut berasal dari temuan atau peliharaan masyarakat yang diserahkan ke BKSDA Wilayah Jabar dan dititiprawatkan ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia, guna menjalani proses rehabilitasi untuk kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya

60 DUTA Rimba

Hewan satu ini menarik perhatian banyak orang karena anatomi tubuhnya yang eksotis. Mata yang bulat besar dan gerakan yang lambat menjadi hal-hal khusus yang paling diingat orang dari hewan ini. Namun, satwa bernama Kukang Jawa ini kini keberadaannya di alam liar kian terancam. Maka, upaya-upaya pelestarian Kukang Jawa pun terus dilakukan. Semua itu dilakukan untuk menjaga agar hewan eksotis khas Pulau Jawa ini tidak punah. di SMGS dan di Hutan Konservasi wilayah Gunung Sawal. Administratur Perhutani KPH Ciamis, Jerry P. Nugroho, mengatakan, tingkat kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara satwa dilindungi sudah mulai mengalami peningkatan. Hal itu terbukti dari aktivitas masyarakat menyerahkan secara sukarela satwa dilindungi itu ke BKSDA untuk dikarantina dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Jerry menambahkan, Perhutani tetap berkomitmen untuk melestarikan satwa langka khususnya yang ada di wilayah kerja Perum Perhutani. “Mereka secara sukarela menyerahkan satwa yang dilindungi ini ke BKSDA. Kita berharap, kesadaran masyarakat terus meningkat hingga tidak ada lagi warga yang memelihara satwa

yang dilindungi. Satwa-satwa liar ini lebih bermanfaat hidup di alam liar, karena mereka punya fungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Oleh sebab itu, Perhutani berkomitmen untuk melestarikan kukang dan satwa langka lainnya sekaligus memertahankan habitatnya dari kepunahan baik ditimbulkan oleh perburuan maupun entitas bisnis,” katanya. Sementara itu, Manajer Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia, Robithotul Huda, di sela-sela kegiatan pelepasliaran Kukang Jawa tersebut mengatakan, kesehatan 10 ekor Kukang Jawa tersebut dalam kondisi baik. Sebab, selama menjalani proses karantina, mereka mendapat perawatan yang layak. Huda menambahkan, kukang tersebut akan dikembalikan ke habitatnya

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto : Bubun Burhanudin/Kompers KPH Ciamis

setelah menjalani proses pemulihan perilaku kukang yang semula berada di tangan masyarakat. “Memang tidak mudah dalam pemulihan. Terdapat serangkaian proses dan waktu pemeliharaan dengan biaya yang tidak sedikit. Selain itu juga terdapat standar prosedur operasional yang ketat untuk memulihkan trauma kukang,” jelasnya. Kukang Jawa, mengutip dari uinsgd.ac.id, adalah satwa primata yang termasuk golongan famili

Lorisidae dan berkerabat dekat dengan lemur. Kukang jawa dikenal juga sebagai lori. Kukang Jawa pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1812 oleh naturalis Prancis, Etienne Geoffroy SaintHilaire. Nama spesies “javanicus” mengacu tempat asalnya.

Di Barat dan Tengah Jawa Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata Strepsirrhini dan spesies kukang asli yang menyebar di bagian barat

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

dan tengah Pulau Jawa, Indonesia. Meskipun di awalnya dideskripsikan sebagai spesies yang tersendiri, selama bertahun-tahun Kukang Jawa dianggap sebagai anak-jenis dari Kukang Sunda (N. coucang), sampai kemudian dilakukan kajian ulang morfologi dan genetika terhadap takson ini pada tahun 2000-an. Kajian tersebut mengakibatkan peningkatan statusnya sebagai spesies penuh. Sepasang mata lebar, hidung bulat, serta bulu yang lebat,

DUTA Rimba 61


Foto : Bubun Burhanudin/Kompers KPH Ciamis

ensikloRIMBA

membuat Kukang Jawa menjadi hewan yang terlihat menggemaskan. Kukang merupakan primata imut yang kadang disebut pula malu-malu. Namun walau terkesan santai namun pemalu, tidak sembarang waktu kita dapat melihat kukang. Sebabnya, kukang merupakan satwa nokturnal atau aktif di malam hari. Ia akan tidur pulas saat fajar menyingsing dan bangun kala petang menjelang. Kukang Jawa berkerabat dekat dengan Kukang Sunda dan Kukang Benggala (N. bengalensis). Spesies ini memiliki dua bentuk, yang dibedakan berdasarkan panjang rambut dan - pada tingkat yang lebih rendah - warna tubuhnya. Seperti juga semua kukang, Kukang Jawa bersifat arboreal dan bergerak secara perlahan di tanaman merambat dan liana. Bukannya melompat dari pohon ke pohon. Ada ciri khas Kukang Jawa. Pada dahinya terdapat pola berlian keputihan yang menyolok, yang terbentuk oleh garis berwarna gelap yang berjalan di atas kepalanya dan

62 DUTA Rimba

bercabang ke arah mata dan telinga. Berat Kukang Jawa umumnya antara 565 g dan 687 g, serta memiliki panjang kepala sampai badan sekitar 293 mm. Habitat Kukang Jawa termasuk hutan primer dan hutan sekunder. Tetapi ia juga dapat ditemukan di hutan bambu dan mangrove, serta di perkebunan cokelat. Makanannya umumnya terdiri dari buah, gum pohon, kadal, dan telur. Kukang Jawa tidur di cabang terbuka. Kadangkadang Kukang Jawa terlihat dalam kelompok, namun biasanya terlihat sendirian atau berpasangan. Tubuh Kukang Jawa lebih besar dari kedua kukang Indonesia lainnya, Kukang Sunda dan Kukang Kalimantan. Penampilan Kukang Jawa mirip dengan kukang terbesar, yaitu Kukang Benggala. Wajah dan punggungnya ditandai dengan garis yang berbeda yang berjalan di atas mahkota dan bercabang, yang mengarah ke mata dan telinga, yang meninggalkan pola berlian putih di dahi. Warna bulunya abu-kekuningan.

Sebaliknya, kepala, leher, dan bahu Kukang Jawa memiliki warna krem. Seperti halnya Kukang Kalimantan (N. menagensis), Kukang Jawa tidak memiliki gigi seri kedua (I2) pada dentisinya.

Penurunan Populasi Populasi Kukang Jawa mengalami penurunan tajam karena diburu secara liar untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis. Sebab, bentuk tubuh dan wajahnya sangat menarik. Dan kadang-kadang Kukang Jawa juga diperdagangkan untuk obat tradisional. Populasi Kukang Jawa yang tersisa saat ini memiliki kepadatan yang rendah, dan kehilangan habitat merupakan ancaman besar bagi kelestariannya. Untuk alasan ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status Kukang Jawa sebagai spesies kritis. IUCN juga memasukkannya ke dalam daftar "25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia" tahun 2008-2010.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Klasifikasi Ilmiah Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Primates

Famili : Lorisidae

Genus : Nycticebus

Spesies : Nycticebus

Alasan terancam punah pula yang membuat Kukang Jawa dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, dan sejak Juni 2007, terdaftar di bawah Apendiks I CITES. Meskipun berbagai upaya perlindungan kini telah dilakukan serta keberadaannya tercatat di beberapa kawasan yang dilindungi, akan tetapi perburuan liar terhadap hewan eksotis ini masih terus terjadi. Apalagi, faktanya adalah UndangUndang Perlindungan Satwa Liar masih jarang ditegakkan di tingkat lokal. Data International Animal Rescue (IAR) Indonesia menyebutkan, ada 1.000 sampai 2.000 ekor primata jenis Kukang Jawa yang diperjualbelikan di media sosial setiap tahun. “Menurur pantauan sebelumnya, kukang yang dipelihara ada 300 lebih setahun. Untuk yang dijual secara online 1.000 sampai 2.000, itu data tahun 2016,” kata Perwakilan IAR Indonesia, Agung Ismail, saat berkampanye tentang pentingnya keberadaan satwa dilindungi di Taman Hutan Kota Ciamis, pada 3 Februari 2019, seperti yang dikutip Kompas .com. “Perburuan kukang jawa cukup tinggi untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan, sehingga populasi di alam terus menurun,” kata pakar konservasi satwa liar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr

javanicus

Muhammad Ali Imron SHut MSc, pada 3 November 2017 di Fakultas Kehutanan UGM. Berdasarkan rata-rata ditentukan dari enam spesimen yang diperoleh dari perdagangan satwa liar di Jawa, parameter morfometri lain adalah sebagai berikut: panjang kepala 59,2 mm; panjang moncong 19,9 mm; lebar kepala 43,6 mm; rentang tubuh 250,8 mm; panjang kepala dan tubuh 293,1 mm; lingkar dada 190,8 mm; persentase ketebalan gelap (pengukuran ketebalan dari zona gelap dengan rambut dorsal, diukur sebagai persen dari ketebalan lingkar) 48,0 mm; lingkar leher 136,7 mm; panjang ekor 20,4 mm; panjang humerus 67,2 mm; panjang jari-jari 71,8 mm; panjang femur 83,2 mm; panjang tibia 85,9 mm; rentang tangan 59,1 mm; rentang kaki 70,3 mm; dan panjang telinga 16,8 mm. Morfotipe ornatus paling dapat dibedakan dengan bulu yang lebih panjang, rata-rata 26,8 mm dibandingkan dengan 22,4 mm pada javanicus. Karakteristik yang membedakan lainnya termasuk warna keseluruhan (umumnya coklat terang pada ornatus dibandingkan dengan coklat kemerahan pada javanicus), dan jumlah warna coklat di bulu (ornatus memiliki sedikit warna coklat dari javanicus, sehingga daerah ventral berwarna lebih terang).

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Foto : Bubun Burhanudin/Kompers KPH Ciamis

Terdapat tiga jenis pakan utama Kukang Jawa, yaitu getah (71,27 persen), nektar (16,09 persen), serangga (11,49 serangga), dan bunga (1,15 persen). Terdapat tiga suku tumbuhan yang digunakan Kukang Jawa sebagai sumber pakan, yaitu Fabaceae, Arecaceae, dan Moraceae. Dari ketiga jenis pakan tersebut, tiga jenis pakan berasal dari tumbuhan spesifik (getah Acacia decurrens, nektar bunga Calliandra calothyrsus, dan bunga Melaleuca leucadendra), dengan total lima keluarga tumbuhan yang menjadi asal dan digunakan sebagai pakan. Kukang Jawa, yang sering disebut Javan slow loris, cenderung ditemukan jauh dari permukiman dan jalan setapak, namun kerap kali ditemukan dekat dengan jalan utama dan wisata pantai yang berada di sekitar hutan lindung. Karena itu, keutuhan kawasan hutan lindung perlu tetap dijaga dari segala bentuk aktivitas manusia yang tinggi. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 63


bisnisrimba

Diversifikasi Bisnis

Perhutani Divre Jateng Launching Tectona Café and Restaurant Di dalam konteks bisnis, diversifikasi selalu dibutuhkan. Hal itu umumnya ditempuh oleh sebuah entitas sebagai sebuah upaya antisipasi terhadap kondisi yang mungkin terjadi. Jika suatu saat ada kejadian yang tidak diharapkan, misalnya terjadi krisis ekonomi, maka usaha yang muncul sebagai hasil diversifikasi bisnis itu diharapkan akan menjadi katup penyelamat. Dan di penghujung tahun 2019, Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah melakukan diversifikasi bisnis dengan me-launching lokasi kuliner berwujud Tectona Café & Resto. Seperti apa prospek bisnisnya?

L

ahan parkir Gedung Rimba Graha di Semarang, Jawa Tengah, mulai awal tahun 2020 tampaknya akan cukup ramai dikunjungi orang. Sebab, tepat akhir tahun 2019, Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah bekerjasama dengan pihak swasta secara resmi membuka café dan restoran di sana. Acara launching tempat kuliner yang diberi nama "Tectona Café & Resto" itu dilakukan di lokasi Café, yaitu di lahan parkir Gedung Rimba Graha Semarang, Selasa, 31 Desember 2019. Di sela-sela acara launching tersebut, Expert Pemasaran Perhutani Divre Jawa Tengah, Gembong Nur Joko, menyampaikan keterangan mewakili Kepala Perhutani Divre Jateng. Menurut dia, pembukaan bisnis Café & Resto itu mereka lakukan dalam rangka optimalisasi aset yang ada di Kantor Perhutani Divre Jawa Tengah. Potensi besar karena tempat

64 DUTA Rimba

yang strategis dan halaman yang luas memungkinkan dilakukannya optimalisasi aset di sekeliling Gedung Rimba Graha untuk menambah pendapatan perusahaan. “Pihak Tectona Café & Resto sebagai mitra kerja sama sudah memiliki pengalaman dalam bisnis tersebut. Mereka akan menyajikan konsep kuliner café dengan live music dan budaya daerah serta pameran pada saat-saat tertentu,” ujarnya. Di kesempatan yang sama, Pekik Kwartanto sebagai mitra kerja sama menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang mereka dapatkan untuk bisa bekerjasama dengan Perhutani. Menurut dia, pemanfaatan aset Perhutani ini sekaligus juga menjadi bisnis yang cukup prospektif, karena di sekitar lokasi mereka terdapat potensi konsumen yang cukup banyak. Maka, ia merasa cukup optimis dengan bisnis Tectona Café & Resto itu.

“Saya optimis dengan usaha ini kerena di sekitar Kantor Perhutani Divre Jateng ini terdapat customer list yang cukup lengkap. Sebut saja misalnya Polda Jateng, Kantor Gubernuran, DPRD Provinsi, dan banyak instansi serta berbagai kantor lain di sepanjang Jalan Pahlawan dan sekitarnya,” jelasnya.

Tentang Diversifikasi Diversifikasi ekonomi adalah suatu usaha penganekaragaman produk atau bidang usaha atau lokasi perusahaan yang dilakukan suatu perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan. Sehingga, arus kas perusahaan dapat lebih stabil. Diversifikasi ini dilakukan suatu perusahaan untuk mengatasi krisis ekonomi yang mungkin terjadi, sehingga apabila perusahaan tersebut mengalami kemerosotan pendapatan di salah satu produk atau negara/daerah, di produk atau negara/daerah lain akan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto : Dwi Coen/Kompers Divre Jateng

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 65


Foto : Dwi Coen/Kompers Divre Jateng

bisnisrimba

mendapatkan kelebihan pendapatan. Jadi, kekurangan yang terjadi bisa tertutupi. Maka, langkah Perhutani Divre Jateng memulai diversifikasi bisnis dengan membuka Café & Resto ini menjadi menarik. Apalagi mereka sudah punya modal besar untuk memulai bisnis café dan restoran itu. Yang pertama, modal mereka adalah lokasi yang strategis. Lokasi memegang peranan penting dalam usaha cafe. Pilihan lokasi yang strategis sesuai dengan target market menjadi langkah awal yang baik untuk memulai sebuah bidang usaha. Sebenarnya tidak harus di tengah kota, karena beberapa café dengan konsep unik tetap sukses mendatangkan banyak konsumen meskipun lokasinya berada di pedesaan dan jauh dari kota. Bahkan seringkali bisnis café unik seperti itu justru yang dicaricari oleh konsumen. Tetapi, ketika sebuah café menempati lokasi yang strategis, konsumen akan lebih mudah menjangkau dan hal itu akan memberikan peluang lebih besar untuk banyaknya konsumen yang datang ke café tersebut. Lokasi yang unggul sudah dimiliki

66 DUTA Rimba

Tectona Café and Resto. Selanjutnya perlu dilakukan langkah strategi pemasaran dan promosi. Termasuk desain interior juga disesuaikan dengan strategi pemasaran dan target market yang dibidik. Dan langkah Perhutani Divre Jateng menggandeng pihak wasta yang sudah berpengalaman di bisnis tersebut untuk mengelola Tectona Café and Resto sudah tepat. Sebab, mereka tentu sudah sangat paham seluk beluk bisnis café.

Bisnis Prospektif Usaha cafe menjadi kini kerap kali menjadi pilihan untuk digeluti, karena memiliki prospek yang menjanjikan. Lihat saja, betapa banyak anak muda (tak sedikit juga yang sudah tidak muda lagi) yang hobi bercengkrama di cafe. Entah itu untuk mengisi kebutuhan perut, mengadakan pertemuan bisnis, atau sekadar menghabiskan waktu sambil ngobrol ngalor ngidul dengan sahabat dan kerabat. Usaha café merupakan salah satu ide usaha kreatif dan jadi makin menarik jika Anda tahu selera khalayak yang menjadi target market Anda. Mendesain konsep café

adalah satu hal yang mengasyikkan. Misalnya menghias ruangan café, dan fasilitas apa saja yang harus Anda lengkapi untuk membuat café sesuai dengan konsep yang telah Anda desain. Desain café yang unik mampu mengundang konsumen untuk mengunjungi café Anda. Namun, ada beberapa hambatan dalam usaha café yang harus diwaspadai. Hambatan utama, jika makanan yang sudah Anda masak, ternyata tidak habis terjual, apalagi jika makanan tersebut hanya mampu bertahan satu hari saja. Hal itu dapat membuat usaha rugi sejak dini. Untuk mengantisipasinya, pengelola café perlu membuat perkiraan yang realistis. Misalnya, pada awal usaha mungkin Anda masih belum mendapatkan banyak pelanggan, jadi masak seperlunya saja, jangan terlalu banyak menyimpan stok makanan jadi yang cepat kadaluwarsa. Langkah diversifikasi usaha yang dilakukan oleh Perhutani Divre Jateng layak diberikan apresiasi. Perkembangan bisnis selalu membuka peluang-peluang baru. Dan di setiap kesempatan selalu ada peluang bagi mereka yang berpikiran terbuka. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 67


Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro memberikan bantuan pinjaman modal senilai 435 Juta Rupiah kepada 19 Mitra binaan mereka. Bantuan pinjaman modal tersebut merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan yang salah satunya berupa Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Lewat bantuan pinjaman modal tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan usaha yang produktif, sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi keluarga.

B

ojonegoro, Jawa Timur, Selasa, 22 November 2019. Di hari itu, belasan orang yang merupakan mitra binaan Perhutani KPH Bojonegoro terlihat gembira. Sebab, saat itu Perhutani KPH Bojonegoro memberikan bantuan berupa pinjaman modal kepada 19 mitra binaan  di Bojonegoro. Total bantuan tersebut senilai 435 juta Rupiah. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Dewanto, bersama Kepala Departemen Keuangan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Sarwono. Acara

68 DUTA Rimba

Foto : Kompersh KPH Bojonegoro

sociorimba

Bantuan Pinjaman Modal untuk 19 Mitra Binaan di Bojonegoro penyerahan bantuan tersebut dilakukan di Aula Kantor Perhutani KPH Bojonegoro. Selain 19 mitra binaan penerima bantuan tersebut, acara itu juga dihadiri sejumlah rimbawan dari KPH Bojonegoro. Di dalam arahannya, Sarwono mengatakan bahwa dengan adanya bantuan permodalan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan usaha produktif. Sehingga, masyarakat selanjutnya dapat meningkatkan taraf perekonomian keluarga, agar lebih sejahtera. Pemberian bantuan itu sendiri adalah bentuk komitmen Perhutani dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan.

“Perhutani berkomitmen menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan yang salah satunya melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). PKBL memberikan pinjaman permodalan, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, serta program Bina Lingkungan berupa bantuan pendidikan dan perbaikan sarana dan prasarana,” kata Sarwono. Senada dengan Sarwono, Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Dewanto, juga berpesan agar dana pinjaman tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk usaha yang produktif, sehingga benar-benar bermanfaat

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. “Serta jangan lupa bantu Perhutani dalam menjaga kelestarian hutan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan kita semua,” katanya.

Ragam Usaha Mitra Binaan

Kemitraan dan Bina Lingkungan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) merupakan Program Pembinaan usaha kecil dan pemberdayaan kondisi lingkungan oleh BUMN, melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Jumlah penyisihan laba untuk pendanaan program tersebut maksimal sebesar 2% dari laba bersih untuk Program Kemitraan dan maksimal 2% dari laba bersih untuk Program Bina Lingkungan. PKBL adalah bentuk tanggung jawab Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada masyarakat. Dasar pelaksanaan PKBL adalah UU Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN serta Peraturan Menteri BUMN Nomor Per-05/MBU/2007

yang menyatakan maksud dan tujuan pendirian BUMN tidak hanya mengejar keuntungan melainkan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat. Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil, yang selanjutnya disebut Program Kemitraan, adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Tujuan program Kemitraan adalah untuk meningkatkan kemampuan para pengusaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus pemberdayaan kondisi sosial masyarakat. Sedangkan Program Bina Lingkungan, yang selanjutnya disebut Program BL, yaitu program untuk membentuk calon Mitra Binaan baru dan pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Program BL ini bersifat bantuan, misalnya bantuan untuk Korban Bencana Alam, Bantuan Pendidikan dan/atau Pelatihan, Bantuan Peningkatan Kesehatan, Bantuan Pengembangan Sarana dan/atau Prasarana dan Bantuan Sarana Ibadah. • Tim Kompersh KPH Bojonegoro

Foto : Kompersh KPH Bojonegoro

Sejumlah 19 mitra binaan menerima bantuan pinjaman modal tersebut. Dari 19 mitra binaan tersebut, penerima paling besar adalah Purwati Indah Setyorini dari Desa Senganten, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia menerima pinjaman sebesar 100 juta Rupiah. Modal itu akan digunakan untuk ternak ayam boiler. Penerima terbanyak kedua adalah Muntahab dari Desa Temayang, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Muntahab menerima dana pinjaman modal sebesar 80 juta Rupiah. Bantuan modal tersebut akan digunakan untuk usaha ternak penggemukan Sapi. Penerima terbanyak ketiga adalah D.Santi Sarita dari Desa Kauman, Kecamatan/Kota Bojonegoro. Bantuan modal itu akan Santi manfaatkan untuk mengembangkan usaha depo air minum isi ulang. Sedangkan mitra binaan yang lain rata-rata menerima dana pinjaman modal sebesar 10 – 20 juta Rupiah.

Perhutani KPH Bojonegoro mengelola kawasan hutan dengan total luas 50.144,0 Hektare. Terdiri dari Hutan Produksi seluas 49.092,2 Hektare dan Hutan Lindung seluas 1.051,8 Hektare. Kawasan hutan KPH Bojonegoro terbagi atas enam Bagian Hutan (BH), yaitu BH Clangap (3.475,1 Hektare), BH Deling (8.887,1 Hektare), BH Dander (6.181,7 Hektare), BH Ngorogunung (7.427,0 Hektare), BH Cerme (8.459,7 Hektare), dan BH Temayang (15.713,4 Hektare).

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 69


rimbaopini * Gandi Sugandi Saat ini ia bertugas sebagai Staf Komunikasi Perusahaan di Perhutani KPH Bandung Selatan. Alumnus Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 2000. Dua tahun setelah lulus, tepatnya tahun 2002, ia mulai bekerja di Perum Perhutani. Tahun 2014, 2015, mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi. Oleh: Gandi Sugandi *)

Mungkinkah Membangun Duplikat Stasiun Radio Pemancar Malabar?

S

elaku pencari nafkah sehari-hari untuk keluarga, umumnya aktivitas kepala keluarga (ayah/ suami) adalah bekerja sejak pagi hingga sore. Namun, ada juga yang menjalani profesi dengan jam kerja di malam hari, semalam suntuk bahkan sampai pagi. Misalnya nelayan, supir bus malam, masinis, penjaga mercu suar, penjaga palang pintu perlintasan kereta api, dan profesiprofesi lainnya. Tak dapat dimungkiri, setelah rutin menjalani aktivitas itu pasti ada rasa penat di badan dan jenuh di pikiran. Hal itu juga bisa menimpa anak-anak saat menjalani rutinitas belajar di sekolah. Karena itu, manusia kiranya perlu refreshing. Maka, sudah tepat waktunya untuk anak-anak me-refresh tubuh dan pikiran mereka. Sebab, menjelang akhir tahun mereka sedang libur sekolah. Saat yang tepat untuk berwisata bersama keluarga, meskipun sebetulnya wisata termasuk kebutuhan tersier atau

70 DUTA Rimba

kebutuhan mewah. Namun, soal biaya bisa diantisipasi dengan menabung sejak jauh-jauh hari. Dahulu, wisata—atau piknik— dominan paling terkenal dilakukan dengan pergi ke pantai. Memang deburan ombak dan keluasan laut yang biru, dengan cepat bisa membuat hati dan pikiran terhibur. Bahkan hanya dengan memandangnya selama beberapa menit. Selain itu, ke kebun binatang juga dulu menjadi primadona tujuan wisata. Sejalan dengan zaman yang terus berganti, kini beraneka macam wisata dapat dilakukan, antara lain misalnya wisata hutan. Jika Anda sedang berada di Bandung, ada banyak pilihan jenis wisata yang dapat Anda pilih. Jenisjenis wisata di seputaran Bandung boleh dibilang berjubel. Banyak jumlahnya. Dari banyak pilihan jenis wisata itu, penulis hanya sedikit ingin mengulas wisata alam Stasiun Radio Pemancar Malabar, Kabupaten Bandung. Juga sedikit mengenal sejarah stasiun radio yang berjarak

sekitar 30 Kilometer dari pusat Kota Bandung itu.

Warisan Hindia Belanda Ternyata tak banyak catatan sejarah tentang stasiun radio pemancar Malabar. Karena keterbatasan bahan pustaka dari berbagai sumber, penulis hanya menuliskan sejarah Stasiun Radio Pemancar Malabar ini secara ringkas. Awalnya, seorang pria bernama Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, yang ketika itu menjabat Kepala Departemen Pos Telepon dan Telegraph (PTT) Hindia Belanda, hendak membangun stasiun komunikasi radio untuk menghubungkan Hindia Belanda dengan Belanda. Pertama kali, di Situbondo-lah ia mulai merintis pembangunan stasiun komunikasi radio tersebut. Namun, upaya merintis pembangunan stasiun komunikasi radio di Situbondo gagal karena tak cukup tersedia air untuk menggerakkan turbin yang menjadi sumber tenaga untuk menyalakan alat transmisi sebagai penghasil sinyal. Kendala air membuat pembangunan itu akhirnya dihentikan. Proyek tersebut kemudian beralih ke Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tetapi juga dihentikan karena air dari Curug Sawer juga tidak cukup untuk dapat menggerakkan turbin untuk menyalakan transmisi, meskipun sinyal baik. Pada akhirnya, lalu di tahun 1916 dibangunlah Stasiun Radio Pemancar di Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, dan berhasil. Pada 5 Mei 1923, stasiun yang pada masanya merupakan stasiun pemancar radio terbesar di Asia Tenggara itu pun diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock. Radio Malabar kemudian membuka jasa komunikasi publik bagi warga Belanda di Indonesia.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Di Radio Malabar ini pula ungkapan “Hallo Bandung” bermula dan kemudian masyur. Saat Perang Dunia II meletus, Stasiun Radio Malabar menjadi rebutan negara penjajah. Ketika Jepang hengkang dan Belanda ingin kembali berkuasa, tahun 1946 Stasiun Radio Malabar dihancurkan oleh Laskar Hizbullah bersamaan dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Sejak itu, stasiun radio Malabar pun tinggal menyisakan puing.

Membangun Duplikat Kini, lokasi puing-puing sisa Stasiun Radio Pemancar Malabar berada di Gunung Puntang, tepatnya di hutan yang termasuk wilayah RPH Logawa, BKPH Banjaran, Perum Perhutani KPH Bandung Selatan. Secara administratif, ia termasuk wilayah Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sekarang, ia menjadi salah satu destinasi wisata alam dan sejarah. Namun selain itu, di sekitar puingpuing tersebut yang berserak di tanah seluas 20 hektare itu juga banyak terdapat tempat tujuan

Foto : Dok ?????

Saat Perang Dunia II meletus, Stasiun Radio Malabar menjadi rebutan negara penjajah. Ketika Jepang hengkang dan Belanda ingin kembali berkuasa, tahun 1946 Stasiun Radio Malabar dihancurkan oleh Laskar Hizbullah bersamaan dengan peristiwa Bandung Lautan Api.

wisata lain, semisal Curug Siliwangi, Gua Belanda, area camping, mendaki gunung, tempat selfie kolam cinta, tempat selfie sarang burung, dan aliran Sungai Cigeureuh yang jernih, sehingga nyaman digunakan sebagai lokasi untuk bercengkerama. Apalagi, Gunung Puntang juga banyak menyimpan keanekaragaman satwa. Jenis satwa yang ada di Gunung Puntang antara lain burung walik, kadanca, walet, saeran, lutung, babi hutan, kijang (mencek), landak, monyet ekor panjang, surili, kadal, ular sanca, owa jawa (sebagai koservasi yang dilepasliarkan), bahkan macan tutul. Hal-hal yang menjadi daya tarik wisata itu sangat potensial untuk dioptimalkan menjadi lokasi wisata unggulan. Dan tak salah pula jika catatan sejarah yang ada di Gunung Puntang itu dibuka kembali. Caranya dengan membangun duplikat bangunan stasiun komunikasi radio

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

Malabar. Mungkinkah? Seandainya bekas bangunan Stasiun Radio Pemancar Gunung Malabar itu dibuat duplikat, direkontruksi, tentulah bisa lebih menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Bahkan mereka bisa lebih puas berwisata. Kiranya perlu keberpihakan sejumlah pihak yang terkait untuk mewujudkannya. Bukankah sebagian bangunan candi yang kini sudah berdiri pun, awalnya ketika ditemukan pertama kali hanya berupa batu-batu yang berserakan atau bahkan terpendam di dalam tanah, bahkan di dasar sawah? Saat ini, pembangunan duplikat stasiun komunikasi radio Malabar itu mungkin hanya sekadar wacana. Tetapi satu saat perlu untuk dipikirkan serius dan diwujudkan. Sebagai wahana untuk anak muda memelajari sejarah. Sebab, anak muda sangat perlu mengetahui sejarah bangsanya. • DR

DUTA Rimba 71


Foto: Gandi Sugandi/Kompersh KPH Bandung Selatan

envirorimba

Perhutani Bangun Arboretum Jenis Tanaman Endemik Jawa Barat di Bandung Salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab Perhutani adalah melestarikan tanaman khususnya tanaman hutan. Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan, menunjukkan hal itu dengan membangun Arboretum seluas 2,5 Hektare. Pembangunan arboretum yang ditujukan untuk melestarikan tanaman lokal khas (endemik) Jawa Barat itu dilakukan bersama para pegiat lingkungan dan pemangku kepentingan (stakeholder) yang lain

J

umat, 6 Desember 2019 menjadi hari yang penting bagi rimbawan Perhutani KPH Bandung Selatan. Di hari itu, mereka membuktikan salah satu wujud kepedulian mereka untuk melestarikan jenis tanaman lokal khas (endemik) Jawa Barat. Konkretnya, Perhutani KPH Bandung

72 DUTA Rimba

Selatan, bersama para pegiat lingkungan hidup dan stakeholder lainnya, membangun lokasi Arboretum. Arboretum seluas 2,5 Hektare itu tepatnya dibangun di Petak 80a, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cimanggu, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tambak

Ruyung Timur, KPH Bandung Selatan. Dan di hari Jumat, 6 Desember 2019 itulah arboretum tersebut diresmikan. Kegiatan ini terlaksana atas hasil kolaborasi Perhutani KPH Bandung Selatan dan LMDH setempat. Kegiatan peresmian lokasi arboretum tersebut dilakukan oleh Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan, Tedy Sumarto. Acaranya juga dihadiri oleh tokohtokoh yang berkaitan dengan aktivitas pelestarian lingkungan setempat. Mereka antara lain adalah Ketua FK3i (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia) Jawa Barat, Iyus; Sesepuh Lingkungan, Eyang Memet; Kepala Desa Alam Endah, Wawan; Ketua Paguyuban LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Perhutani Bandung Selatan, Arifin; serta para pengurus dari LMDH Alam Endah, LMDH Patengan, LMDH Tambaga Ruyung, dan LMDH Kanaan Hijau.

Berharap Menjadi Sejarah Pada kesempatan tersebut, Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan, Tedy Sumarto, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


di hutan tersedia makanan untuk hewan seperti burung atau moyet,” ungkapnya. Sementara itu, Iyus selaku Ketua FP3i Cabang Jawa Barat, juga menyatakan sangat mendukung kegiatan ini, karena dinilai sangat positif. Sependapat dengan Tedy Sumarto dan Eyang Memet, Iyus mengatakan pentingnya menjaga hutan. “Hutan ini harus dijaga. Di Arboretum yang sedang dibangun ini, tanamannya harus dipelihara, sehingga tumbuh dengan baik dan sesuai harapan Pak Administratur. Jika Arboretum ini berhasil, akan menjadi sejarah,” ucapnya. Di akhir acara peresmian, para peserta kemudian melakukan penanaman bersama,. Jenis-jenis pohon yang ditanam merupakan pohon endemik Jawa Barat, yaitu pohon rasamala, puspa, saninten, hantap, ki cangkudu, nyatuh, ki sireum, lengsar, huru koneng, jamuju, ki hoe, dan lainnya.

Kebun Botani Arboretum adalah semacam kebun botani yang bertujuan mengoleksi pepohonan. Kebun botani atau kebun raya adalah suatu lahan yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan untuk keperluan koleksi, penelitian, dan

Foto: Gandi Sugandi/Kompersh KPH Bandung Selatan

peduli pada kegiatan pembuatan Arboretum di Perhutani KPH Bandung Selatan. Tedy pun berharap, kegiatan peresmian arboretum ini bukan hanya sebatas seremoial semata. Ia ingin agar pembuatan Arboretum tersebut bisa sukses dan berhasil, sehingga dapat menjadi sebuah sejarah. “Tanaman-tanaman di arboretum ini harus kita jaga bersama-sama dan kelola bersama. Khususnya LMDH Alam Endah, LMDH Patenggang dan LMDH Rawa Bogo. Mari kita buktikan bahwa kita bisa membuat hutan. Menanam pohon itu mudah, yang sulit malah memeliharanya. Hanya menanam (pohon) saja dan tidak diurus, (pohon itu) lalu mati. Kita semua ingin agar dari hutan itu bisa diambil manfaat, yang mana manfaatnya nanti akan dirasakan untuk anak cucu kita dan juga umumnya untuk masyarakat Ciwidey. Kita harus berkomitmen menjaga dan berkelanjutan,” pesannya. Eyang Memet selaku Sesepuh Lingkungan setempat, sependapat dengan Tedy Sumarto. “Kita harus hindari kerusakan hutan. Kita buat Arboretum sebagai monumen hutan. 'Antepkeun tatangkalan, ulah dituar' (biarkan pepohonan, jangan ditebang, red). Kita sebagai orang Islam wajib menjaga hutan, karena

konservasi ex-situ (di luar habitat). Selain untuk penelitian, kebun botani dapat juga berfungsi sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi khalayak yang datang berkunjung. Kebun botani pada umumnya dapat dikunjungi umum. Pemilik kebun botani dapat suatu lembaga tertentu, negara, maupun perorangan. Kebun botani milik negara di Indonesia memakai nama "Kebun Raya" karena ukurannya yang luas. Di bawah LIPI/negara, terdapat lima kebun botani, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Kuningan, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi (di utara Malang), dan Kebun Raya Bali di Bedugul, Bali. Puspiptek Serpong juga memiliki Kebun Botani Puspiptek Serpong. Sedangkan Taman Buah Mekarsari adalah kebun botani yang mengkhususkan diri bagi tanaman buah-buahan. Di Tawangmangu juga terdapat taman koleksi tanaman obat-obatan milik Balittro. Di beberapa perguruan tinggi yang memiliki disiplin ilmu pertanian juga terdapat arboretum sebagai fasilitas yang digunakan sebagai tempat percobaan maupun koleksi terhadap jenis-jenis pohon tertentu. Di dalam taman botani, tumbuhan koleksi tersebut ditanam, dipelihara, dan diberi keterangan nama serta beberapa informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengunjung. Dua tambahan penting bagi suatu kebun botani adalah perpustakaan dan herbarium. Kedua obyek tersebut keberadaannya diperlukan untuk kegiatan penelitian dan dokumentasi. Nah, keberadaan arboretum yang dibangun Perhutani KPH Bandung Selatan ini bisa dikatakan merupakan suatu sumbangsih untuk perkembangan pengetahuan di bidang botani, sekaligus pelestarian lingkungan dan tanaman. Bravo! • Tim Kompersh KPH Bandung Selatan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 73


wisatarimba

Pantai Menganti Calon Destinasi Wisata Pantai Geopark Dunia

Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan saat ini sedang mengembangkan sejumlah destinasi wisata. Salah satunya adalah Pantai Menganti di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Bahkan, pantai yang termasuk 41 destinasi wisata di Geopark Karangsambung Karangbolong itu diproyeksikan untuk menjadi destinasi wisata pantai Geopark dunia. Seperti apa keindahannya?

P

erum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah dan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan terus melakukan aktivitas ke arah penyiapan Pantai Menganti menjadi salah satu destinasi wisata pantai unggulan. Salah satunya terlihat pada Selasa, 24 Desember 2019. Di hari itu, Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Endung Trihartaka, didampingi Administratur Perhutani KPH Kedu Selatan, Yudha Suswardhanto, bersama Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sengkuyung Makmur, Sukiran, melakukan pembicaraan

74 DUTA Rimba

membahas rencana untuk bersamasama melakukan pengembangan potensi wisata di Pantai Menganti. Perhutani KPH Kedu Selatan saat ini memang sedang mengembangkan sejumlah destinasi wisata pantai. Salah satunya adalah Pantai Menganti, yang secara administratif terletak di Desa Karang Dhuwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pantai Menganti termasuk ke dalam 41 destinasi wisata di Geopark Karangsambung Karangbolong (GPKK ). Di kesempatan itu, Endung Trihartaka mengatakan, Perhutani turut andil dalam investasi untuk

penyiapan Pantai Menganti sebagai destinasi wisata unggulan, karena diyakini punya nilai jual yang dapat memerkuat daya saing. Apalagi, Pantai Menganti cukup mudah dijangkau wisatawan. “Perhutani sebagai pihak yang diberi wewenang oleh pemerintah untuk mengelola kawasan tersebut perlu andil berinvestasi dengan harapan Pantai Menganti menjadi destinasi wisata yang mendunia dan punya daya saing yang patut dibanggakan,” kata Endung. Endung melanjutkan, keberadaan infrastruktur yang berkualitas juga mendukung ke arah perwujudan Pantai Menganti

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Foto: Y. Niken Anggraini / Kompersh KPH Kedu Selatan

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 75


Foto: Y. Niken Anggraini / Kompersh KPH Kedu Selatan

wisatarimba

sebagai destinasi wisata unggulan yang mendunia. “Didukung dengan pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) yang jarak tempuhnya ke Pantai Menganti menggunakan kendaraan darat hanya kurang lebih 1,5 jam. Hal ini memberikan peluang bagi Kabupaten Kebumen untuk memajukan wisatanya,” tambah Endung.

Ragam Fasilitas Sejatinya, Pantai Menganti sudah memiliki spot-spot wisata yang potensial untuk dikembangkan. Sukiran menunjukkan peluang pengembangan spot–spot wisata yang ada di Pantai Menganti. Di antaranya adalah spot Tebing Keteb Bidadari, Pantai Pasir Putih, Puncak Gunung Tugel, Lembah Menguneng, Watu Mbolong, dan Area Camping Ground. Sukiran menjelaskan, ragam fasilitas di Pantai Menganti sudah cukup memadai. Ada mushola, toilet, gazebo-gazebo, dan mobil jemputan bagi pengunjung untuk berpindah dari spot satu ke spot

76 DUTA Rimba

Sukiran menunjukkan peluang pengembangan spot–spot wisata yang ada di Pantai Menganti. Di antaranya adalah spot Tebing Keteb Bidadari, Pantai Pasir Putih, Puncak Gunung Tugel, Lembah Menguneng, Watu Mbolong, dan Area Camping Ground. lainnya. Pengunjung juga bisa belanja ikan segar langsung dari nelayan yang pulang melaut. “Selain itu, pengunjung bisa menikmati masakan khas Menganti di bulan pertengahan tahun yaitu Brekecek Ikan Jahan, yang rasanya nyangkut di lidah. Rasa pedas gurihnya  serta sedikit manis dan asin akan sangat nikmat disantap pengunjung. Wisatawan bisa menikmatinya dengan harga yang sangat terjangkau," jelas Sukiran. Biaya untuk bertamasya di Pantai Menganti juga tidak mahal. Dengan hanya membayar Rp 10.000 per orang untuk tiket masuk, pengunjung sudah dapat menikmati keindahan pantai nan cantik ini. Di dalam harga Rp

10.000 yang dibayarkan untuk mendapatkan satu tiket masuk itu sudah termasuk tarif parkir. Sehingga, setelah memarkirkan kendaraan, pengunjung tak perlu lagi membayar ongkos parkirnya. Di pantai, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang sangat indah beserta berbagai macam obyek wisata yang menarik bahkan mengasyikkan. Pelayanan yang nyaman dan menyenangkan juga akan Anda dapatkan di pantai ini. Sebab, pengunjung yang mengendarai mobil akan diarahkan ke tempat parkir induk yang lebih luas. Setelah itu, ada mobil shuttle yang siap membawa Anda berkeliling pantai dan mengarahkan Anda ke berbagai

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


objek wisata. Tidak ada biaya untuk pelayanan ini karena pengelola lokasi wisata ini menyediakannya secara gratis.

Mudah Ditempuh Pantai Menganti berlokasi di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pantai Menganti diakui merupakan salah satu pantai terindah di Jawa Tengah. Pasir pantainya yang berwarna putih serta terdapat panorama perbukitan juga tebing karst yang indah, menjadi daya tarik pantai ini. Pantai Menganti juga menyajikan bentang alam berupa perbukitan yang memang sedikit menyulitkan untuk mengakses pantai ini. Tetapi, bagi penyuka petualangan

dan wisata eksotis, hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mencapai pantai, pengunjung perlu melalui jalan yang berlika-liku. Meski demikian, pemandangan alamnya menakjubkan. Pemandangan indah pegunungan dan bukit-bukit kecil menyajikan pesona yang nyaris tak dapat ditemukan di tempat wisata yang lain. Pantai Menganti letaknya kirakira 42 kilometer jika ditempuh dari pusat Kota Kebumen. Sedangkan dari Kecamatan Gombong, jaraknya kira-kira 35 kilometer. Di sepanjang jalan yang dilewati untuk menuju Pantai Menganti, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang indah karena terdapat banyak perbukitan. Selain itu, hawa sejuk khas Kebumen akan memanjakan jiwa dan raga

Pantai Menganti diakui merupakan salah satu pantai terindah di Jawa Tengah. Pasir pantainya yang berwarna putih serta terdapat panorama perbukitan juga tebing karst yang indah, menjadi daya tarik pantai ini.

Anda yang haus kenyamanan dan ketenangan. Pantai ini mudah dijangkau. Jika Anda berangkat dari arah pusat Kota Kebumen, ambillah arah selatan dengan lama perjalanan kurang lebih 60 menit. Rute yang dilewati adalah KebumenPetanahan-Puring-KarangbolongMenganti. Selain itu, Anda juga dapat melewati rute KebumenGombong lalu ambil jalan ke arah Jatijajar. Waktu tempuhnya kurang lebih juga 60 menit. Jika Anda dari arah Purwokerto, ambillah jalur menuju Pantai Ayah atau Pantai Logending. Saat menuju ke jalur tersebut, Anda akan menemukan persimpangan arah ke kanan dan ke kiri. Ambillah persimpangan dengan arah ke kiri untuk sampai ke Pantai Menganti. Jika mengambil arah ke kanan, Anda akan sampai ke Pantai Ayah. Setelah mengikuti arah jalan ke kiri tadi, Anda akan menemui jalan menanjak. Dari sana, untuk sampai ke Pantai Menganti Anda membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit lamanya.

Buka 24 Jam

Foto: Y. Niken Anggraini / Kompersh KPH Kedu Selatan

Satu lagi hal menarik wisata di pantai ini. Pantai Menganti dibuka selama 24 jam non stop, sehingga pengunjung dapat dengan bebas mengunjunginya kapan saja. Tetapi umumnya, waktu terbaik untuk mengunjungi pantai ini adalah di saat sunset (matahri terbenam) dan sunrise (matahari terbit). Semua pantai memang selalu menyajikan pemandangan yang lebih indah di kedua momen itu, ya? Betul, tetapi Pantai Menganti punya pesona tersendiri di dua saat itu. Semburat sinar matahari saat terbit atau tenggelam seakan memberikan aura yang berbeda di pantai itu. Tidak percaya? Datang saja ke Pantai Menganti! • Tim Kompersh Kanpus

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

DUTA Rimba 77


Foto : Aga Prasetya / Kompers Kantor Pusat

inovasi

78 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Mengolah Kayu Limbah Menjadi

Wood Pellet Inovasi dan kreativitas untuk menghasilkan karya dan pendapatan baru selalu dibutuhkan dalam proses industri. Termasuk ide untuk memanfaatkan kayu limbah penjarangan JPP (Jati Plus Perhutani). Hal itu yang dilakukan Puslitbang Perhutani bersama BBIA. Kayu limbah itu selanjutnya diolah sebagai bahan energi terbarukan. Jika sukses, hasil inovasi itu tentu juga akan menjadi sumbangsih penting untuk pengembangan energi baru dan terbarukan.

C

ikaret, Bogor, Jawa Barat, menjadi lokasi terciptanya sinergi Perhutani dan Balai Besar Industri Agro (BBIA). Tepatnya pada Jumat, 22 November 2019, Pusat Penelitian Dan Pengembangan (Puslitbang) Perhutani menjalin kerja sama dengan BBIA untuk mengolah kayu limbah penjarangan JPP sebagai bahan energi terbarukan. Jalinan sinergi itu ditandatangani di Laboratorium BBIA, Cikaret, Bogor. Kapuslitbang Perhutani, Yahya Amin, didampingi Ketua Tim Pusat Unggulan Iptek (PUI), Murgunadi, diterima Kepala BB wood pellet, Siti Rochmah Siregar, di Laboratorium BBIA itu. Di hari itu, mereka meninjau pelaksanaan kerja sama

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

antar Lembaga PUI dalam rangka upaya pemanfaatan kayu limbah penjarangan JPP untuk bahan baku wood pellet. Jalinan kerja sama itu menjadi satu bukti komitmen Puslitbang Perhutani sebagai PUI Jati untuk berupaya memaksimalkan manfaat JPP. Yaitu dengan mengupayakan semua bagian JPP menjadi produk bernilai. Komitmen tersebut dalam hal ini juga sejalan dengan kebijakan Perhutani untuk mengembangkan produk energi terbarukan biomassa. Menurut Yahya Amin, kayu limbah penjarangan JPP dapat menjadi salah satu alternatif bahan baku wood pellet sebagai produk energi terbarukan. Sedangkan Kepala BBIA, Siti Rochmah Siregar, menyampaikan harapan agar di masa

DUTA Rimba 79


Foto : Harnoto / Kompers Puslitbang SDH

inovasi

Mengatur Ruang Tumbuh

Penjarangan merupakan tindakan pemeliharaan untuk mengatur ruang tumbuh, dengan cara mengurangi kerapatan tegakan, untuk meningkatkan pertumbuhan dan kualitas pohon.

Di dalam Budi daya tanaman jati memang dikenal tindakan penjarangan. Penjarangan adalah suatu tindakan pengurangan banyaknya tanaman untuk memberi ruang tumbuh bagi tanaman yang tersisa. Penjarangan dilakukan pada saat tanaman mencapai umur tertentu, agar kepadatan populasi mencapai tingkat yang paling optimal untuk mencapai hasil yang maksimal. Jadi, penjarangan merupakan tindakan pemeliharaan untuk mengatur ruang tumbuh, dengan cara mengurangi kerapatan tegakan, untuk meningkatkan pertumbuhan dan kualitas pohon.

Sebagai tindakan pengurangan jumlah batang per satuan luas, proses penjaringan tanaman JPP perlu dilakukan untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon JPP dalam rangka mengurangi persaingan antarpohon dan meningkatkan kesehatan pohon dalam tegakan. Proses penjaringan sebenarnya umum dilakukan untuk tanaman-tanaman Budi daya. Pada umumnya, untuk jenis pohon yang cepat tumbuh dilakukan penjarangan pada umur 3-4 tahun, sedangkan pada jenis yang lambat tumbuh

depan sinergi BBIA dan Puslitbang Perhutani dapat terus berlanjut dan terus menghasilkan produk inovatif yang bernilai tinggi.

80 DUTA Rimba

dilakukan penjarangan pertama kali pada umur 5-10 tahun. Pada dasarnya, penjarangan adalah suatu upaya pemeliharaan yang dilakukan manusia terhadap tegakan pohon dalam suatu areal hutan. Tujuan penjarangan adalah menciptakan keseimbangan antara kepentingan biologi dari pohon. Juga untuk kepentingan ekonomi, yaitu untuk memeroleh hasil yang maksimal di kemudian hari. Penjarangan dilakukan agar tercipta fase-fase pertumbuhan secara baik yang meliputi fase

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


semai (seedling/youngstage), fase pancang, sapihan (saplings/ thickets), fase tiang (poles/pole stage), dan fase pohon (trees/ timber and old timber stage). Tindakan penjarangan dilakukan pada fase tiang dari pohon dengan menebang sebagian pohon, sehingga produksi kuantitatif semata-mata diarahkan ke produksi kualitatif. Setiap kegiatan penjarangan, dilakukan penebangan terhadap sebagian dari pohon. Terdapat 6 metode pokok penjarangan, yaitu penjarangan rendah, penjarangan tajuk, penjarangan seleksi, penjarangan mekanis, penjarangan bebas, dan penjarangan jumlah batang. Adapun dasar pemilihan diadakan atau tidaknya tindakan penjarangan tergantung dari: kepentingan hasil, jenis pengelolaan, dan kebutuhan pasar. Berdasarkan kepentingan hasil, melihat volume total, kualitas, dan volume per pohon. Guna melihat volume total untuk hasil, tidak perlu dilakukan penjarangan, sedangkan untuk kepentingan kualitas dan volume

Foto : Harnoto / Kompers Puslitbang SDH

Saat ini, banyak negara yang sudah beralih dari batubara menuju wood pellet. Banyak pertimbangan yang mendasari penggunaan wood pellet sebagai bahan bakar alternatif di banyak negara. Salah satunya adalah akibat yang ditimbulkan. per pohon, untuk vinir, kayu lapis (plywood), kayu gergajian (saw mill), dilakukan penjarangan. Sementara itu, jenis pengolahan di hutan tanaman dilakukan penjarangan, sedangkan di hutan alam tidak dilakukan. Praktik penjarangan ditekankan utamanya pada kesesuaian jumlah pohon.

Bahan Bakar Alternatif Wood pellet sendiri merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari serbuk kayu. Bahan baku wood pellet adalah limbah industri penggergajian, limbah tebangan, dan limbah industri kayu lainnya. Bahan baku tersebut memiliki kadar ligan yang tinggi sebagai zat perekat alami. Tampilan wood pellet halus dengan sedikit retakan dan berkilau seperti warna crayon. wood pellet dapat mudah terbakar dengan nyala api yang bagus. Wood pellet dapat digunakan sebagai bahan bakar pembakaran boiler, pemasakan dan penghangat ruangan. Saat ini, banyak negara yang sudah beralih dari batubara menuju wood pellet. Banyak

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

pertimbangan yang mendasari penggunaan wood pellet sebagai bahan bakar alternatif di banyak negara. Salah satunya adalah akibat yang ditimbulkan. Akibat yang ditimbulkan maksudnya adalah limbahnya. Limbah batubara tentunya lebih sulit ditangani daripada wood pellet. Selain itu, umumnya penggunaan wood pellet dapat lebih menghemat biaya daripada bahan bakar lain. Kini banyak perusahaan kecil dan menengah yang sudah menggunakan Wood pellet sebagai bahan bakar. Misalnya untuk produksi tahu, tempe, kripik, pelayuan teh, dan sebagainya. Wood pellet juga dinilai lebih efektif daripada kayu bakar, karena proses pembakarannya bisa lebih efektif. Selain itu, penyimpanan bahan bakar wood pellet tidak terlalu menyita tempat. Dengan segala keunggulan yang dimiliki, pemanfaatan limbah JPP hasil penjarangan untuk diolah menjadi wood pellet menjadi langkah inovasi yang layak ditepuktangani. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 81


Foto: Tim Kompersh KPH Sukabumi

pojokkph

D

i bawah kepemimpinan Administratur Perhutani KPH Sukabumi, Agus Yulianto, konsep “Kusukabumiku” lahir di paruh akhir tahun 2018. Perumusannya dilakukan oleh Agus bersama Wakil Administratur Wilayah Sukabumi Timur, Suwandi; Wakil Administratur Wilayah Sukabumi Barat, Angkat Wijanto; dan jajaran manajemen KPH lainnya. Sedangkan pelaksananya di lapangan adalah para Asper/Kepala BKPH di KPH Sukabumi. Perhutani KPH Sukabumi memiliki wilayah pangkuan hutan seluas 58.495,53 Hektare. Terdiri dari Hutan Produksi seluas 20.623,25 Hektare; Hutan Produksi Terbatas seluas 37.204,85 Hektare; dan 667,43 Hektare Hutan Lindung. Secara portofolio bisnis, pendapatan terbesar (70,92%) berasal dari getah pinus. Sedangkan 26,20% pendapatan di KPH Sukabumi didapat dari sektor kayu, opset (1,06%), produksi minyak kayu putih (0,65%), agro (0,65%), wisata

82 DUTA Rimba

Gebrakan KPH Sukabumi Lewat

KUSUKABUMIKU Inovasi dan terobosan baru terus dilakukan oleh insan-insan Perhutani. Sikap profesional dan kesungguhan menjalani profesi menjadi dasar dan penyemangat mereka untuk terus berkarya dan melahirkan inovasi demi memudahkan jalannya pekerjaan. Kali ini, hal itu ditunjukkan insan-insan Perhutani KPH Sukabumi. Mereka melahirkan sebuah konsep untuk meningkatkan produksi getah pinus. Konsep itu bertajuk "KUSUKABUMIKU". Apa artinya? (0,28%), dan kopal (0,25%). Di tahun 2019, raihan produksi getah pinus mereka mencapai 6.068 ton (108,8%) dari rencana 5.577 ton. Guna meningkatkan hasil produksi getah pinus yang menjadi sumber pendapatan terbesar, KPH Sukabumi

pun terus memunculkan sistem dan inovasi baru. Kali ini, sistem untuk meningkatkan hasil produksi getah pinus itu dikemas dalam konsep bertajuk “Kusukabumiku”. Konsep ini menggabungkan transformasi strategi dan transformasi budaya.

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


Keduanya digabungkan dalam menjalankan proses dan prosedur kerja sehari-hari.

Percepatan Produksi “Kusukabumiku” sebenarnya merupakan akronim dari beberapa terminologi tentang aktivitas mereka untuk meningkatkan hasil produksi getah pinus di wilayah hutan pangkuan mereka. Kata “Kusukabumiku” sendiri terbentuk dari enam suku kata yang masingmasing memiliki makna serta definisi. Lewat “Kusukabumiku”, KPH Sukabumi melakukan upaya-upaya percepatan produksi getah. Konsep “Kusukabumiku” sebenarnya merupakan panduan bagi personel KPH Sukabumi untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka dan menaikkan pencapaian hasil sadapan getah. Suku kata pertama adalah “Ku” yang merupakan singkatan dari “Kunjungi Penyadap”. Artinya, para personel KPH Sukabumi secara rutin dan intensif melakukan kunjungan ke setiap penyadap. Lewat aktivitas kunjungan tersebut, mereka antara lain dapat melakukan sosialisasi tentang aturan hukum, PK, dan lainlain. Lewat aktivitas kunjungan tersebut, juga dilakukan kegiatankegiatan pemberdayaan. Juga pelaksanaan teknis penyadapan, dan komunikasi tentang jadwal pungutan getah. Jadi, dengan aktif mengunjungi setiap penyadap, sekaligus dapat dilakukan peningkatan pemberdayaan dan upaya pemecahan masalah yang dihadapi dapat lebih cepat dilakukan. Suku kata kedua adalah “Su” yang merupakan singkatan dari “Support Penyadap”. Lewat aktivitas ini, para personel KPH Sukabumi memberikan dukungan penuh kepada para penyadap. Antara lain bentuknya adalah memberikan stimulan, APD, membayar honor

mereka tepat waktu, melengkapi sarana dan prasarana aksesibilitas, serta menampung usulan atau aspirasi dan keinginan para penyadap. Sehingga, dengan support yang baik, diharapkan semangat para penyadap juga akan meningkat. Suku kata ketiga adalah “ka” yang merupakan singkatan dari “Kadeudeuh Penyadap”. Kadeudeuh adalah kata dalam Bahasa Sunda yang berarti kesayangan atau yang disayangi. Di dalam konsep “Kusukabumiku”, KPH Sukabumi mewujudkan bentuk rasa sayang terhadap penyadap itu dengan Paket Lebaran; pemberian sembako; pemberian insentif yang nilainya lebih

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019

besar dari NPS; pemberian santunan jika ada penyadap yang meninggal dunia, sakit, maupun terkena musibah; hingga menyediakan kopi dan rokok saat bertemu penyadap di hutan. Suku kata keempat “Bu” adalah singkatan dari “Budayakan”. Lewat aktivitas ini, para personel KPH Sukabumi menerapkan sistem kerja yang diupayakan akan mendorong peningkatan produktivitas. Misalnya, budayakan atau membiasakan bekerja dan membuat laporan tepat waktu; Bekerja sesuai SOP; Mendengarkan dan merespon setiap keluhan dan masukan; melek IT dan pemutakhiran data; sampai menggelorakan semangat dengan

DUTA Rimba 83


menerapkan yel-yel. Muara semua aktivitas itu adalah menumbuhkan rasa memiliki di kalangan penyadap sehingga pada akhirnya produktivitas pun akan meningkat. Suku kata kelima, “Mi”, diambil dari suku kata kedua dari kata “Komitmen”. Maknanya adalah kesungguhan para personel menjalani kerja dan mencapai tujuan. Antara lain diwujudkan dengan upaya mencapai target NPS dan sasaran mutu; Melaksanakan ketentuan TUHH dan regulasi-regulasi; Menegakkan reward and punishment; Menegakkan 4T / GCG; serta membina bawahan dan mengarahkan mitra kerja terkait. Sedangkan suku kata terakhir, “Ku” diambil dari kata “Kontinyu”. Wujudnya antara lain dengan rutin melakukan briefing dan mendengar masukan-masukan sebelum bekerja; Melakukan evaluasi dan membandingkan dengan pencapaian kinerja pada periode sebelumnya/ tahun sebelumnya; Mengawal proses sertifikasi/ISO; serta mengawal proses re-engineering bisnis.

Profil KPH

pinus, getah damar/kopal, minyak kayu putih, rotan, dan lainnya), komoditas pertanian dari PHBM (kapulaga, vanili, dan lain-lain), bahan galian (batu hijau, batu templek, galena, emas, dan lainnya), air, serta obyek wisata. Nah, mengingat besarnya potensi sumber daya alam di KPH Sukabumi, munculnya berbagai inovasi untuk mengelolanya menjadi sesuatu yang penting. Termasuk invovasi berupa sistem dan pola yang dapat meningkatkan produktivitas. Bravo! • Tim Kompersh KPH Sukabumi

Foto: Tim Kompersh KPH Sukabumi

Sebagai salah satu unit pengelolaan di Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten, wilayah kerja KPH Sukabumi meliputi seluruh wilayah hutan lindung

dan hutan produksi di Kabupaten Sukabumi. Wewenang KPH Sukabumi mengelola kawasan hutan di wilayah Kabupaten Sukabumi itu didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2010, sebagai pengganti PP Nomor 30 Tahun 2003, tentang Perum Perhutani. Luas kawasan hutan yang dipangku KPH Sukabumi adalah 58.495,53 Hektare. Pengelolaan kawasan hutan di KPH Sukabumi dikoordinasikan oleh 6 BKPH dan 22 RPH. Berdasarkan kesesuaian lahan, kawasan hutan di KPH Sukabumi dibagi dua kelas perusahaan. Yaitu Kelas Perusahaan Pinus seluas 45.946,55 Hektare dan Kelas Perusahaan Jati seluas 12.548,98 Hektare. Sedangkan berdasarkan wilayah pengelolaan, KPH Sukabumi dibagi dua Sub KPH yaitu Sukabumi Barat dan Sukabumi Timur. SKPH Sukabumi Barat meliputi BKPH Palabuhanratu dan Cicurug, serta BKPH Cikawung dan Gede Barat. Sedangkan SKPH Sukabumi Timur meliputi BKPH Sagaranten, Bojong Lopang, Lengkong, Jampang Kulon. Secara umum, potensi sumber daya alam yang ada di KPH Sukabumi terdiri dari kayu (jati, Pinus, damar, mahoni, rasamala, sonokeling, akasia mangium, albazia, dan kayu rimba yang lain), non kayu (getah

Foto: Tim Kompersh KPH Sukabumi

pojokkph

84 DUTA Rimba

NO. 81 • TH. 13 • november - desember • 2019


DUTA RIMBA Mengucapkan

Profile for Perhutani

MAJALAH DUTA RIMBA EDISI 81  

Advertisement
Advertisement
Advertisement