dua Tiga Kitab Hikmat yang Utama
Membaca Kitab Amsal
Kitab Amsal mempunyai dua bagian utama. Setelah pembukaan yang memperkenalkan kitab ini (1:17), sembilan pasal pertama berisi ceramah. Teksnya berupa pengajaran seorang ayah kepada putranya. Bagian kedua Kitab Amsal yang lebih besar (PASAL 10–31) berisi amsal-amsal sesungguhnya. Amsal adalah pengamatan, dorongan, atau larangan pendek, yang sering tampak seperti nasihat praktis yang sederhana.
Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.
Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna,
tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.
Tuhan tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
(AMSAL 10:1-4)
Amsal ketiga dalam rangkaian di atas terdengar tidak lazim karena benar-benar menyebut nama Allah; tiga amsal lainnya lebih umum dan terdengar mirip dengan kebanyakan nasihat praktis yang kita dengar dari para pembuat ungkapan terkenal di Amerika seperti Benjamin Franklin atau Yogi Berra. Namun, sebenarnya, meskipun di dalamnya terkandung petunjuk yang memampukan seseorang untuk hidup terampil di dunia nyata, amsalamsal tersebut juga memuat pesan penting mengenai Allah. Sebagai contoh, marilah berfokus sejenak pada amsal terakhir dalam rangkaian tadi, yang mengontraskan kerja keras dengan kemalasan. Orang yang kurang beragama pun tidak sulit untuk menangkap maksudnya. Orang yang malas mungkin tidak ingin mencari pekerjaan, dan jika mendapat pekerjaan, bisa jadi ia tidak mampu mempertahankannya karena ia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya. Jadi jelas, menjadi pekerja yang rajin adalah langkah yang bijaksana dan bermalas-malasan adalah langkah yang bodoh.
Namun, ingatlah, bahwa seseorang tidak dapat menjadi bijaksana kecuali ia hidup dalam sikap takut akan Allah. Untuk hal ini, kita perlu mempertimbangkan peranan sesosok wanita yang disebut Hikmat dalam Amsal 1–9 (LIHAT 1:20-33; 8; 9:1-6).
Rumahnya terletak di lokasi tertinggi di kotanya (9:3), dan hanya satu rumah yang boleh berdiri di sana pada Israel zaman kuno—Bait suci. Wanita Hikmat di sini mewakili hikmat Allah, bahkan mewakili Allah sendiri. Dalam Amsal 9:1-6, Hikmat mengundang semua orang untuk datang dan makan bersamanya, dan ini adalah undangan untuk menjalin hubungan yang mendalam.
Pada akhir Amsal 9 (AY.13-18), sesosok wanita lain, yang namanya Bebal, berusaha memikat kaum pria (yang mewakili pembaca Kitab Amsal) untuk makan bersamanya. Rumahnya juga terletak di lokasi tertinggi di kotanya (AY.14), maka ia juga mewakili suatu ilah, tetapi ini ilah semu yang berusaha memancing Israel menjauh dari Allah yang sejati.
Karena itu, membaca Amsal 10:4 dengan mengingat pengajaran tentang hubungan antara hikmat dan Allah tersebut menyingkapkan dimensi teologisnya. Jika orang bekerja keras, maka mereka bijaksana, yang berarti mereka bertindak seperti orang-orang yang beribadah kepada Allah yang benar. Namun, jika malas, mereka telah bersikap seperti seseorang yang beribadah kepada ilah yang palsu.
Intinya, kita keliru jika membaca amsal-amsal tersebut di luar konteks pengajaran tentang hubungan antara hikmat dan hubungan dengan Allah. Hal itu berlaku bagi semua nasihat praktis dan baik yang kita petik dari Kitab Amsal.
Kitab Amsal memang membantu kita dalam banyak bidang kehidupan sehari-hari. Wawasan-wawasan singkat yang membimbing kita kepada sikap, perilaku, dan perasaan yang bijaksana, dan menjauhi kebodohan mencakup soalsoal seperti: konsumsi alkohol (23:29-33); amarah (27:3-4), etika bisnis (11:1,24-26), hubungan dalam keluarga (6:16-19), konflik (AMSAL 26:17,20-21), hubungan dengan teman-teman/sesama
(24:28-29; 27:17), perencanaan hidup (16:1-3,9,33), berhadapan dengan otoritas dalam hidup kita (23:1-3), cara bekerja (10:4-5), cara mendengarkan nasihat (9:7-9), bahaya keangkuhan (29:23), kepedulian kepada orang miskin (28:27), cara kita memperoleh dan memakai uang (8:18-19; 13:11); etika seksual (6:24-29), dan masih banyak lagi!
Namun, meskipun kita memetik pelajaran dari nasihatnasihat yang sangat baik itu, kita harus mengingat beberapa hal penting. Kita sudah membicarakan tentang pesan teologis kitab ini (dan lihat di bawah ini tentang cara membaca kitab ini sebagai seorang Kristen). Namun, ada dua hal penting lain yang perlu kita sadari; jika tidak, kita akan memiliki ekspektasi-ekspektasi yang akan mengecewakan kita.
1. Amsal hanya berlaku jika diterapkan pada waktu yang tepat! Ketepatan waktu merupakan faktor utama bagi penerapan hikmat yang benar. Lagi pula, amsal hanya berlaku ketika diucapkan pada waktu yang tepat. Hal ini
menjelaskan mengapa ada amsal-amsal yang di permukaan tampak kontradiktif:
Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.
Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.
(AMSAL 26:4-5)
Sebenarnya amsal-amsal itu tidak kontradiktif! Seorang yang bijaksana akan tahu waktu yang tepat untuk menerapkan masing-masing amsal tersebut. Dengan kata lain, orang yang bijaksana tidak saja tahu ucapannya, tetapi juga mampu membaca situasi untuk tahu kapan sebuah amsal
dapat diterapkan. “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (15:23). Jika disampaikan pada waktu yang salah (pagi-pagi sekali), sapaan lantang yang hangat sekalipun akan ditanggapi dengan negatif (27:14).
2. Amsal tidak memberikan janji-janji! Sebaliknya, amsal memberi tahu bagaimana kita patut berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga membawa kepada hasil-hasil yang baik, dalam kondisi yang ideal.
Coba kita ambil sebuah amsal yang sering disalah mengerti, yang dimaksudkan untuk mendorong kita membesarkan anakanak kita menurut jalan Allah: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (22:6).
Sebagian orang menyalahartikan amsal ini sebagai janji, dan keliru menerapkannya, entah sebagai sumber penghiburan bagi para orangtua yang anak-anaknya telah menyimpang (“Jangan khawatir, Allah berjanji anakmu akan kembali”) atau sebagai alasan untuk mengutuk (“Pasti mereka tidak membesarkan anak itu dengan benar!”). Mereka membuat seolah-olah amsal ini menjanjikan bahwa semua anak yang dibesarkan dengan “benar” pada akhirnya akan kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, bukan itu yang diajarkan amsal ini.
Amsal 22:6 bukanlah sebuah janji, melainkan nasihat mengenai cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Orangtua dapat mengendalikan apa yang mereka berikan ke dalam kehidupan seorang anak, tetapi masih ada kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan menjauhkan anak mereka dari kesetiaan kepada Allah. Kita akan melihat bahwa Kitab Ayub mengkritik orang-orang yang menganggap amsal sebagai janji.
Kitab Amsal membantu kita memahami natur hikmat yang berpusat pada Allah (aspek teologis) dan membimbing kita untuk memiliki keterampilan hidup (praktis), juga perubahan menjadi pribadi yang baik, yang membawa bukan saja pertumbuhan diri, melainkan juga pertumbuhan komunitas (etis). Berikutnya, kita beralih ke Kitab Ayub yang mengingatkan kita tentang batas-batas hikmat manusiawi dan membawa kita kepada sikap takut akan Tuhan.
Membaca Kitab Ayub
Jika Anda menyebut nama Ayub, sebagian besar orang akan langsung teringat pada penderitaannya yang luar biasa.
Sebagian orang memang pantas menderita karena pernah mencelakakan orang lain, tetapi Ayub tidak. Ayub saleh dan jujur (AYUB 1:1,8; 2:3). Ia tidak pantas menderita.
Namun, cobalah menelaah lebih dalam maka kita akan melihat bahwa kitab ini terutama bukanlah mengenai penderitaan, melainkan tentang hikmat. Alur cerita kitab ini mengajarkan bahwa “hikmat” manusiawi sama sekali tidak memadai, sedangkan hikmat Allah begitu dalam dan tak terselami. Sepatutnyalah manusia “takut akan Allah” dan tunduk di hadapan kuasa serta hikmat-Nya yang besar.
Kitab ini dibuka dengan memperkenalkan Ayub menggunakan gaya bahasa yang bisa jadi terambil dari
Kitab Amsal. Ayub “saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (1:1). Maka patutlah ia juga menikmati kehidupan yang indah dengan kekayaan serta keluarga besar yang bahagia (1:2-5).
Kemudian adegan beralih dari bumi ke surga pada saat Allah mengadakan pertemuan dengan hamba-hamba-Nya, para malaikat. Allah meminta salah seorang dari mereka (yang disebut “Iblis”) untuk melaporkan tentang Ayub. Si
pendakwa menegaskan bahwa Ayub memang “saleh dan jujur”, tetapi mempertanyakan motivasi Ayub. Coba saja ambil kekayaan dan kebahagiaan Ayub, kata si pendakwa kepada Allah, maka Ayub akan “mengutuki Engkau di hadapan-Mu” (1:11).
Allah merespons dengan mengizinkan si pendakwa untuk merenggut keluarga dan kekayaan Ayub (1:12-19).
Ketika Ayub tetap teguh dalam hubungannya dengan Allah, Allah memberi izin kepada si pendakwa untuk merenggut kesehatan Ayub dan memberinya penderitaan yang hebat (2:19). Bahkan setelah kesengsaraan itu pun, Ayub tetap teguh (2:10). Sementara ia menderita, datanglah tiga teman Ayub lalu duduk bungkam bersamanya selama tujuh hari penuh.
Setelah tujuh hari, tiba-tiba Ayub berbicara, dan dimulailah aksi sesungguhnya dari kitab ini. Sejauh ini
teman-teman Ayub duduk bersamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi sekarang mereka bereaksi terhadap keluhan pahit Ayub mengenai “hari kelahirannya” (AYUB 3:1).
Pada titik ini, Ayub berhati-hati untuk tidak secara langsung menggerutu tentang Allah (seperti yang dilakukan orang Israel di padang gurun), tetapi sudah nyaris. Tidak seperti ratapan-ratapan dalam Kitab Mazmur yang dinyanyikan orang Israel yang menderita, pada titik ini Ayub tidak pernah secara langsung menujukan keluhannya kepada Allah, sehingga terkesan ia tidak berpikir Allah akan menolongnya. Tidak heran ketiga temannya menantang Ayub. Mereka memandang keluhannya sebagai serangan terhadap Allah sendiri. Maka dimulailah debat kusir berkepanjangan antara Ayub dan ketiga temannya (PASAL 4–27). Elifas, Bildad, dan Zofar berbicara bergantian, dan Ayub menanggapi mereka masing-masing. Debat ini berlangsung tiga ronde, tetapi argumentasi kedua belah pihak tetap konsisten.
Ketiga teman Ayub berargumentasi bahwa hanya ada satu alasan seseorang menderita—dosa. Jika seseorang berbuat dosa, ia akan menderita. Oleh karenanya, jika seseorang menderita, pastilah ia seorang pendosa. Ayub sangat menderita, maka pastilah ia seorang pendosa besar.
Ketiga temannya menampilkan diri sebagai guru hikmat yang mampu mendiagnosis masalah Ayub, lalu menawarkan solusinya. Menurut mereka, jika Ayub ingin penderitaannya berhenti, yang perlu dilakukannya hanyalah bertobat!
Namun, Ayub tidak terima! Ia tahu (dan kita tahu ia benar!) bahwa penderitaannya bukanlah akibat dari dosanya. Namun, ia sangat gundah dan marah terhadap Allah. Mengapa? Sebab sesungguhnya, ia sependapat dengan teman-temannya, bahwa hanya orang berdosa yang seharusnya menderita, sedangkan ia sendiri bukan pendosa. Ayub, yang juga menampilkan diri sebagai guru hikmat, menawarkan diagnosis yang berbeda. Pikirnya, ia menderita karena Allah tidak adil.
Jika demikian diagnosisnya, lalu apa resep Ayub untuk meredakan penderitaannya? Ayub ingin bertemu Allah untuk meluruskan-Nya! Awalnya, ia berpikir strategi seperti itu tidak dapat diterapkan dan tidak akan efektif (AYUB 9), tetapi seiring berjalannya waktu, kepercayaan dirinya semakin kuat, terutama saat ia berpikir siapa tahu ia memiliki sekutu di surga yang akan menolongnya (16:18-21). Di sini kemungkinan besar Ayub membayangkan adanya seorang malaikat yang mungkin dapat membelanya (LIHAT PERKATAAN ELIHU DALAM
AYUB 33:19-28), tetapi yang ironis, kita sebagai pembaca tahu bahwa hanya ada satu malaikat di surga yang berfokus pada Ayub, dan malaikat itu, si pendakwa, tidak berada di pihaknya. Akhirnya, ketiga teman itu kehabisan bahan sehingga debatnya mereda dengan kedua belah pihak tetap bersikeras
dengan posisi masing-masing. Pada titik ini, Ayub mendadak mengubah nadanya dan mulai berbicara, tidak lagi mengenai hikmatnya sendiri atau hikmat teman-temannya, melainkan tentang hikmat Allah yang sangat dalam (AYUB 28). Puisinya yang luar biasa tentang hikmat Allah bahkan diakhiri dengan apa yang akan menjadi kesimpulan kitab ini: “Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi” (28:28).
Namun, kemudian suasana hati Ayub mendadak berubah lagi, dan ia kembali mengeluh (PASAL 29–31). Jadi, kitab ini belum mencapai resolusinya. Seperti semua orang yang menderita, Ayub sempat berpikir jernih, tetapi rasa sakit membawanya kembali kepada depresi dan kepahitan mendalam.
Resolusinya belum tiba. Bahkan, pada titik ini ada suara yang tidak disangka-sangka menginterupsi. Bukan suara Allah, melainkan suara manusia lain yang mengklaim dirinya bijaksana—seorang pemuda bernama Elihu.
Elihu menampilkan kesan sebagai orang penting, pemuda yang penuh semangat, yang mengklaim mempunyai inspirasi rohani. Sejauh ini, ia telah sabar menunggu para tua-tua selesai berbicara, tetapi ia mengakui emosinya sudah mau meledak dan sudah tidak tahan lagi untuk menyuarakan pendapatnya (32:15-22).
Ia ingin meluruskan Ayub! Namun, yang menyedihkan, begitu mulai berbicara, ia hanya mengulangi gagasan yang sama, yaitu Ayub menderita sebagai akibat dosa-dosanya. Ia tidak menambahkan sesuatu yang baru. Ayub bahkan tidak mau repot-repot menanggapi. Maka, yang berikutnya angkat bicara adalah Allah sendiri, dan perkataan-Nyalah yang menentukan.
Kita mungkin ingat bahwa Ayub ingin bertemu Allah. Ia
ingin menantang Allah dan menuduh Dia telah berlaku tidak adil. Akhirnya, keinginannya terkabul ketika Allah menyatakan diri, tetapi pertemuan mereka tidak berlangsung seperti yang Ayub harapkan.
Allah menyapa Ayub dari dalam badai, dan ini mengisyaratkan Allah tidak senang. Alih-alih menantang Allah, Ayub justru ditantang Allah: “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku” (38:2-3).
Lalu Allah memberondong Ayub dengan serangkaian pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab Ayub. Allah bertanya apakah Ayub mengerti bagaimana dunia diciptakan dan dipelihara. Dia juga bertanya apakah Ayub sanggup memberi makan binatang-binatang liar di bumi, yang diciptakan dan dipelihara oleh Allah sendiri.
Dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut, Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub (“mengapa aku menderita?”), melainkan menempatkan Ayub pada tempatnya. Ayub adalah makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Allah mengkritik Ayub karena mempertanyakan keadilan-Nya (40:3).
Akhirnya, Ayub menangkap pesan Allah. Ia berhenti mempertanyakan keadilan Allah dan menerima rahasia penderitaannya dengan tunduk pada keadilan dan hikmat Allah. Ayub tunduk kepada Allah, sekalipun tidak mengetahui apakah Allah akan mendatangkan pemulihan dan kesembuhan ke dalam hidupnya (42:7-17).
Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari Kitab Ayub? Meski kitab ini terutama bukanlah mengenai penderitaan, kita memetik pelajaran penting. Tidak semua penderitaan adalah penderitaan yang sepantasnya kita tanggung.
Argumentasi semua tokoh manusia dalam kisah itu, termasuk Ayub sendiri, bahwa penderitaan selalu merupakan akibat dari dosa seseorang, terbukti salah. Pelajaran tersebut memerdekakan sekaligus mengerikan. Memerdekakan karena saat menderita, kita tidak perlu mencari-cari dosa tersembunyi yang mungkin menjadi penyebabnya. Namun, kebenaran tersebut juga mengerikan karena itu berarti penderitaan yang kita alami berada di luar kendali kita. Kita mungkin (dan sesungguhnya akan, menurut Yohanes 16:33) menderita, terlepas dari upaya terbaik kita untuk mengikut Allah. Sebagaimana kita pelajari dari Kitab Amsal, hikmat, kebenaran, dan kesalehan tidak menjamin kehidupan yang indah dan bebas dari penderitaan.
Kita juga belajar bagaimana seharusnya kita menanggapi penderitaan. Setelah Ayub yang menderita akhirnya bungkam di hadapan Allah, Allah menyatakan kepada Elifas: “Kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (42:7). Kita telah melihat bahwa Allah sempat tidak senang terhadap Ayub, tetapi Ayub tidak pernah “mengutuki Allah” seperti yang disangka Iblis, si pendakwa. Ayub tidak menerima argumentasi-argumentasi dangkal yang diajukan teman-temannya. Sepanjang penderitaannya, Ayub tetap memelihara hubungannya dengan Allah meski sambil mempertanyakan keadilan-Nya. Dalam ucapan-ucapannya, Ayub tidak hanya berdebat dengan teman-temannya, tetapi juga mengeluh kepada Allah.
Ketika kita menderita, Allah menerima keluhankeluhan kita selama semua itu diarahkan kepada-Nya. Kita juga memetik pelajaran penting ini dari mazmur-mazmur ratapan (LIHAT MISALNYA, MAZMUR 77). Sewaktu menderita, hendaknya kita mengarahkan segenap kekecewaan bahkan kemarahan kita kepada Allah.
Penting bagi kita, bahkan sah-sah saja, untuk mengajukan keluhan-keluhan kita kepada Allah, daripada mengeluh tentang Allah kepada orang lain. Memendam amarah tidaklah produktif.
Meski demikian, Allah tidak menghendaki kita terjebak dalam sikap yang terus-terusan mengeluh. Jika Allah memilih tidak menjawab dan menanggapi ratapan kita, kita boleh meminta kekuatan untuk beralih kepada mazmur-mazmur yang membangkitkan keyakinan (“sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” dari Mazmur 23:4). Pada akhirnya, Ayub berhenti meratap dan duduk terdiam di hadapan kuasa dan hikmat Allah.
Namun, pelajaran utama dari Kitab Ayub adalah tentang sumber hikmat. Jika kita menginginkan hikmat, kita perlu memiliki sikap takut akan Tuhan dan menjalin hubungan dengan-Nya. Awalnya Ayub memang takut akan Allah, tetapi akhirnya, setelah melewati pedihnya penderitaan, sikap takutnya akan Tuhan, yaitu hikmatnya, semakin mendalam. Demikianlah Kitab Ayub memberi kita pengingatpengingat penting mengenai kehidupan dan hubungan dengan Allah. Hidup ini memang tidak mudah. Sikap dan perilaku terbaik kita, bahkan hubungan kita dengan Allah, tidak menjamin kita akan hidup makmur di dunia ini.
Pelajaran-pelajaran penting tersebut juga menjadi fokus kitab hikmat kita yang ketiga, yaitu Kitab Pengkhotbah.
Membaca Kitab Pengkhotbah
“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (PENGKHOTBAH 1:2).
Sejak pasal pertama hingga pasal terakhir, sang Pengkhotbah terus memberi tahu pembacanya bahwa hidup
ini sia-sia. Mungkin ada yang bertanya, kok bisa ya, kitab seperti itu ada dalam Alkitab?
Kita memulai dengan mengakui bahwa pertanyaan mengenai makna atau tujuan hidup adalah salah satu masalah terpenting yang manusia hadapi. Jika hidup tidak memiliki tujuan, nilai atau kesenangan apakah yang dapat kita peroleh darinya?
Syukurlah, meski sang Pengkhotbah terus-menerus mengatakan bahwa hidup ini sia-sia, itu tidak menjadi kesimpulan akhir dari kitab ini. Agar dapat memahami sepenuhnya Kitab Pengkhotbah, kita perlu menyadari adanya dua pembicara dalam kitab ini. Kitab ini memuat perkataan “Pengkhotbah” yang ditemukan dalam 1:12–12:7, dan juga perkataan seorang bijaksana yang berbicara kepada putranya (12:12), dan yang perkataannya membingkai perkataan sang Pengkhotbah (1:1-11 DAN 12:8-14).
Kita dapat mengenali perbedaan antara sang Pengkhotbah dan orang bijaksana tadi dengan memperhatikan bahwa sang Pengkhotbah berbicara dalam kata ganti orang pertama (“Aku, Pengkhotbah”) sedangkan orang bijaksana tadi berbicara dalam kata ganti orang ketiga ketika mengacu kepada sang Pengkhotbah (“Ia, Pengkhotbah”). Karena ada dua pembicara, kita harus membedakan mana pesan sang Pengkhotbah dan mana pesan si orang bijaksana.
Karena perkataan si orang bijaksana membingkai perkataan sang Pengkhotbah, dan perkataannya menutup kitab ini sementara ia mengevaluasi pesan Pengkhotbah bagi putranya, maka kemungkinan besar pesan kitab ini berkaitan erat dengan perkataan si orang bijaksana.
Lalu, apa pesan sang Pengkhotbah dalam 1:12–12:7? Pada intinya, poin utama sang Pengkhotbah adalah “hidup ini sulit, setelah itu kita mati”.
Sang Pengkhotbah terus-menerus mencari makna hidup. Ia mencarinya dalam uang (5:9–6:9), kesenangan (2:1-11), pekerjaan (2:17-23; 4:4-6), hubungan dengan orang lain (4:912), kekuasaan dan status (4:13-16), bahkan dalam hikmat itu sendiri (2:12-17). Setiap kali, ia selalu gagal menemukan tujuan hidup dan menyimpulkan bahwa hidup ini sia-sia. Mengapa hidup ini mengecewakannya ketika ia berusaha menemukan makna dalam semua hal tadi?
Saat ia merenung tentang kehidupan, muncul kematian dan ketidakadilan yang menghalangi upayanya mencari makna. Bagi sang Pengkhotbah, kematian adalah akhir segala sesuatu. Ia tidak memiliki konsep tentang kehidupan setelah kematian. Ia tahu bahwa meskipun kaya, ia tidak dapat membawa serta kekayaannya itu saat mati. Meski hikmat dapat menolong seseorang mengarungi bahtera kehidupan, sang Pengkhotbah juga akan mati seperti halnya orang yang bodoh. Lebih parahnya lagi, keadilan pun tidak ada di dunia. Ia telah menyaksikan orang bijaksana mati muda sementara orang bodoh berumur panjang (7:15-18).
Jadi, hal terbaik apa yang dapat kita perbuat? Nikmati saja kesenangan selagi kita hidup. Carpe diem! “Nikmati hari ini; hari esok urusan nanti!” (2:24-26; 3:12-14,22; 5:17-19; 9:7-10).
Akan tetapi, sebagaimana telah disinggung di atas, pemikiran sang Pengkhotbah tidak mewakili pengajaran kitab ini. Untuk itu, kita perlu beralih kepada pesan orang bijaksana yang tidak disebutkan namanya, yang berbicara kepada putranya pada bagian terakhir kitab ini (12:8-14).
Bukan tanpa alasan orang bijaksana tadi menyingkapkan kepada putranya perenungan menyedihkan sang Pengkhotbah tentang kehidupan ini. Ia ingin putranya menyadari bahwa sang Pengkhotbah berbicara apa adanya mengenai kehidupan. Kesimpulannya tidak salah, yaitu
bahwa kehidupan tidak adil dan kematian menjadi akhir segala sesuatu. Itu memang benar, apabila seseorang hanya mencari makna hidup, seperti yang dilakukan sang Pengkhotbah, “di bawah matahari” (1:3, frasa yang muncul 29 kali dalam kitab ini)—yaitu, terpisah dari Allah.
Ayah yang bijaksana ini mendesak putranya (juga kita sebagai pembaca kitab ini) agar memperhatikan apa yang bisa disebut sebagai perspektif “di atas matahari”. Pesan terakhirnya, sekaligus pesan kitab ini untuk para pembaca, menyerukan kepada kita: “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (12:13-14).
Kitab Pengkhotbah adalah “penghancur berhala”.
Berhala adalah apa saja atau siapa saja yang kita tempatkan menggantikan Allah demi mendapatkan makna hidup. Itulah yang diperbuat sang Pengkhotbah ketika ia mencoba menemukan makna hidup “di bawah matahari” dalam halhal seperti uang dan kesenangan. Berhala-berhala tersebut tidak memadai dan terbukti mengecewakan. Semua itu juga akan mengecewakan kita apabila kita berusaha menemukan tujuan hidup kita dengan cara demikian. Kitab Pengkhotbah mendesak kita untuk mendahulukan Allah dalam hidup kita, dan barulah semua hal tadi akan berada pada tempatnya masing-masing.
Sekilas, Kitab Pengkhotbah terasa muram karena berbicara tentang kesia-siaan hidup. Namun, ketika membacanya dengan teliti, kita dapat bersyukur untuk pesan utamanya. Kita menemukan tujuan hidup ini ketika kita menjadikan hubungan kita dengan Allah sebagai hal terpenting dalam hidup kita.