Skip to main content

Sampel - Menyelami Hati Kristus

Page 1


MENYELAMI HATI KRISTUS

Bill Crowder

Hati yang Menjamah

Sewaktu masih kecil, saya senang mengikuti petualangan Eliot Ness dan agen-agen pemberani yang dipimpinnya dengan menonton aksi Robert Stack yang memerankan tokoh penumpas kejahatan legendaris itu dalam film seri televisi The Untouchables (Tak Terjamah). Tampil di layar TV kami dalam gambar hitamputih, Ness dan para agen Departemen Keuangan Amerika Serikat memerangi korupsi, kejahatan, dan gerombolan penjahat.

Mungkin kata kuncinya adalah korupsi. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi aparat penegak hukum di Chicago pada era pelarangan minuman keras (antara tahun 1920-1933) adalah bahwa sejumlah besar pejabat, hakim, dan polisi kota itu telah disogok dan dipengaruhi oleh para penjahat. Melalui suap dan ancaman, para pelaku kriminal mengendalikan kota sedemikian ketatnya sehingga upaya penyelidikan terhadap kegiatan mereka nyaris mustahil dilakukan.

Di tengah kekacauan itu, muncullah sekelompok kecil orang berpengaruh yang disebut “tidak terjamah” karena mereka beroperasi tanpa tergoda oleh sogokan. Mereka menolak terjerat dalam kebusukan kota itu, tidak tergerak oleh godaan uang, dan menolak tunduk di bawah ancaman. Mereka berada di luar jangkauan pihak-pihak kriminal dalam kota itu. Mereka tidak terjamah.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan masa-masa saya menonton The Untouchables, saya belajar di sekolah tentang adanya budaya-budaya di dunia yang mempraktikkan strata sosial dengan sistem kasta. Sistem kasta membagi masyarakat ke dalam lapisanlapisan kelompok berdasarkan status keluarga ketika seorang anak dilahirkan. Sistem itu menganggap peran-peran dalam masyarakat sebagai sesuatu yang diwariskan dan statis, sehingga tidak ada harapan bagi seseorang untuk mengubah strata sosial apa pun yang dimilikinya. Dengan membagi-bagi populasi ke dalam kategori-kategori yang kaku itu, sistem tersebut akhirnya menciptakan kelompok orang yang disebut tidak terjamah, yakni mereka yang menempati tingkat terbawah dari strata dalam masyarakat. Mereka tidak terjamah karena mereka dianggap “kurang”, yang berarti bahwa keberadaan mereka tidak berarti atau bahkan tidak perlu diperhitungkan sama sekali, karena mereka tidak sesuai dengan kasta-kasta penting yang diharapkan menjadi gambaran masyarakat yang seharusnya.

Bertahun-tahun kemudian, saya belajar bahwa pada zaman Yesus, bangsa Israel juga mempunyai kelompok masyarakat yang tidak terjamah. Namun, kategori itu bukan hanya sebuah lambang. Keadaan mereka yang tidak terjamah bukanlah akibat dari keteguhan moral atau cap yang diberikan masyarakat.

Secara harfiah, mereka tidak terjamah karena mereka mengidap suatu penyakit yang memikul dampak rohani dan fisik yang mendalam. Yang dimaksud di sini adalah para penderita kusta.

Di Israel abad pertama, penderita kusta merupakan perwujudan dari segala sesuatu yang buruk dalam diri manusia. Ditimpa suatu penyakit yang melukiskan sakit hati, keputusasaan, dan kebobrokan, para penderita kusta adalah kaum yang terbuang— dan itu bukan semata-mata karena tampilan penyakitnya secara fisik. Kusta juga menyandang dampak rohani yang berat.

Lalu, seperti yang akan kita lihat, dahsyatnya perasaan terkucil yang diakibatkan oleh dampak-dampak tersebut bahkan telah dijabarkan dalam Hukum Taurat pada zaman Musa.

Suatu Kondisi Pengasingan

Pada masa Kristus, kusta hal biasa di tanah Israel—terbukti dari jumlah penderita kusta yang dijumpai Yesus dalam pelayanan-Nya. Kusta adalah kematian yang menggerogoti hidup—kehancuran tubuh secara perlahan-lahan karena proses pembusukan. Dr. Paul Brand (1914-2003), yang menghabiskan masa dewasanya mempelajari penyakit kusta dan melayani para penderitanya, berkata bahwa kusta menghancurkan ujung syaraf, dan sebagai akibatnya penderita tidak merasakan sakit secara fisik. Itu berarti bahwa jari-jemari secara harfiah akan tergesek habis dan melapuk karena tidak ada perasaan untuk mengendalikan diri (gambaran yang sangat kuat tentang dosa).

Namun, pada abad pertama, fakta tersebut belum diketahui. Fakta medis dari penyakit itu dikalahkan oleh makna spiritual yang menyelubunginya. Dalam suatu budaya yang menuntut kesucian ritual sebagai syarat untuk masuk dan beribadah di Bait Allah, kusta menghalangi penderitanya karena dianggap tidak suci secara ritual agama. Ada enam puluh satu bentuk pencemaran terhadap ritual agama yang terdaftar dalam hukum Yahudi, yakni batasan-batasan yang akan menyebabkan seseorang tidak diperkenankan mengambil bagian dalam peribadahan di sinagog atau Bait Allah untuk sementara waktu. Dan dari keenam puluh satu pencemaran tersebut, hanya menyentuh mayat yang dinilai lebih najis daripada menyentuh seorang kusta.

Terlebih lagi, orang-orang Yahudi pada zaman Yesus menyebut kusta sebagai “perbuatan tangan Allah,” karena meyakininya sebagai hukuman langsung dari-Nya. Oleh sebab itu, hanya Allah

yang dapat menyembuhkannya. Pemahaman itu mungkin timbul dari kisah kuno tentang saudara perempuan Musa, Miryam. Dalam Bilangan 12, kita membaca bahwa Miryam dan Harun (saudara laki-laki mereka) berbicara menentang Musa, sehingga meremehkan kepemimpinannya atas bangsa Israel. Tampaknya Miryam yang memimpin pemberontakan ini, karena Allah menghukumnya dengan kusta—hukuman yang sangat berat. Ia dikucilkan dan terpaksa hidup terasing di luar perkemahan. Tujuh hari kemudian, Allah mengangkat hukuman itu, dan Miryam dipersatukan kembali dengan keluarga dan komunitasnya. Kusta ditimpakan dan kemudian diangkat: Perbuatan tangan Allah.

Namun, pengasingan yang dialami Miryam adalah jalan hidup yang dialami semua penderita kusta. Hukum keagamaan Yahudi mengatur pengasingan terhadap para penderita kusta:

Apabila pada kulit seorang laki-laki atau perempuan ada panau-panau, yakni panau-panau yang putih, imam harus melakukan pemeriksaan; bila ternyata pada kulitnya ada panau-panau pudar dan putih, maka hanya kuraplah yang timbul pada kulitnya dan orang itu tahir. Apabila rambut kepala seorang laki-laki meluruh, dan ia hanya menjadi botak, ia tahir. Jikalau rambutnya meluruh pada sebelah mukanya, dan ia menjadi botak sebelah depan, ia tahir. Tetapi apabila pada kepala yang botak itu, sebelah atas atau sebelah depan, ada penyakit yang putih kemerah-merahan, maka penyakit kustalah yang timbul pada bagian kepala yang botak itu. Lalu imam harus memeriksa dia; bila ternyata bahwa bengkak pada bagian kepala yang botak itu putih kemerah-merahan, dan kelihatannya seperti kusta pada kulit, maka orang itu sakit kusta, dan ia najis, dan imam

harus menyatakan dia najis, karena penyakit yang di kepalanya itu. Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya. (Imamat 13:38-46)

Perhatikan apa yang dituntut dalam perkataan di atas. Dalam kebanyakan situasi hidup, ketika seseorang melihat bahwa ia mempunyai gejala-gejala penyakit, reaksi logis pertama adalah pergi mencari pertolongan medis—entah itu mencari dokter atau dalam beberapa kebudayaan menggunakan penyembuhan tradisional melalui obat-obatan herbal atau bahan alamiah lainnya. Namun karena dampak spiritual dari kusta, gejala-gejala (bercakbercak kering dan bersisik pada kulit) mengharuskan orang Israel kuno untuk pergi kepada imam, bukan kepada tabib. Imam akan memeriksa masalahnya, dan jika itu ditentukan sebagai kusta, maka pekerjaan, keluarga, tempat di rumah ibadah, dan hubungan dengan komunitas dari orang itu akan terenggut. Selain itu, stigma sosial dan spiritual dari penderita kusta itu meningkat karena ia dipaksa untuk mengumumkan kenajisannya kepada orang-orang “tahir” mana pun yang dijumpainya di sepanjang jalan.

Kengerian penyakit yang dipandang sebagai hukuman mati dalam hidup itu diperparah dengan kenyataan bahwa orang itu akan menanggung nasibnya sendirian. Keadaan fisiknya diperparah oleh keterasingan. Kusta menciptakan orang-orang “tak terjamah” yang harus diasingkan dan tidak pernah dijamah. Realitas itu disisipkan ke suatu momen strategis dalam pelayanan Yesus yang baru dimulai—dan waktu terjadinya juga tidak kalah penting. Kita membaca tentang kisah ini dalam Markus 1:40-45.

Momen yang Penuh Keputusasaan

“Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus.” (Markus 1:40)

Di tahun-tahun belakangan ini, suatu fenomena yang dikenal sebagai Black Friday (Jumat Kelam) telah menjadi obsesi nasional di Amerika Serikat. Satu hari setelah Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur yang jatuh pada Kamis keempat di bulan November), toko-toko menawarkan diskon besar-besaran untuk segala macam barang, dari mobil, TV layar datar, sampai peralatan dapur. Akibatnya, orang-orang mengantre di pagi buta, kadangkala sampai tidur di tenda-tenda di kaki lima semalaman. Mereka melakukannya demi memperoleh diskon khusus bagi orang-orang yang datang paling pagi untuk membeli barangbarang yang sangat mereka inginkan bagi diri sendiri atau bagi orang lain sebagai kado Natal. Perburuan mati-matian demi mendapat potongan harga itu seringkali menyebabkan sejumlah keadaan yang tidak lazim—dari pertengkaran terbuka tentang siapa yang lebih depan dalam antrian sampai baku hantam memperebutkan barang spesial yang masih tersisa dengan harga super murah. Peristiwa-peristiwa semacam itu telah nyaris menyebabkan kerusuhan ketika ada yang terinjak-injak oleh orang banyak yang mendesak ke depan. Sikap ngotot yang tidak perlu itu telah menimbulkan akibat-akibat yang tragis. Bandingkan peristiwa di atas dengan bentuk ngotot lainnya— suatu keadaan mendesak yang benar-benar dialami seorang penderita kusta yang menyadari larangan dalam hukum keagamaan Israel. Perhatikan lagi apa yang dikatakan oleh Imamat 13:45-46:

Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabikcabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi

mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.

Kini perhatikan tindakan dari orang kusta yang “datang kepada Yesus” (Markus 1:40). Yesus turun dari bukit (Matius 8:1) setelah menyampaikan Khotbah di Bukit, dan seperti biasanya “orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia” (8:1). Orang yang sakit kusta itu tiba dengan hati yang dipenuhi keputusasaan. Lukas, tabib yang juga penulis Injil, memberi kita alasan di balik kecemasan orang itu, dengan mengatakan bahwa ia “penuh kusta” (Lukas 5:12). Bisa jadi ini mengindikasikan bahwa penyakit itu telah merusak tubuhnya sedemikian parah sehingga ia telah berada dalam tahap-tahap akhir hidupnya.

Pertemuan penderita kusta itu dengan maut telah makin dekat, tetapi hukum mengharuskannya untuk tetap menjauh dari orang-orang. Untuk menderita sendirian. Untuk mati dalam pengasingan. Ia menolak, dan sebaliknya:

• Ia datang di tengah orang banyak, dengan melanggar hukum Musa dan larangan dalam masyarakat.

• Ia datang tanpa beban, karena sudah sekarat oleh penyakitnya.

• Ia datang setelah bertahun-tahun terasing dan sendirian.

• Ia datang langsung kepada Yesus di tengah orang banyak, dan ia memohon kemurahan hati-Nya (Lukas 5:12).

Dalam bayangan saya tentang adegan itu, saya melihat ketika orang kusta datang menghampiri, itu mungkin menjadi momen mengerikan bagi orang-orang yang mengikuti Yesus. Ketika melihat dan pastilah mengendus bau dari orang kusta yang sekarat itu, orang banyak itu tentu menjauh dengan jijik. Mungkin orang

itu—yang berjuang mati-matian untuk mencapai Yesus— tidak menyerukan kata-kata peringatan yang seharusnya ia serukan. Tampaknya orang kusta itu terang-terangan melanggar hukum Musa karena penderitaan telah mendorongnya mencari Yesus. Namun orang kusta itu datang kepada Yesus bukan semata-mata karena putus asa, tetapi ia juga datang dengan iman: “Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapanNya ia memohon bantuan-Nya, katanya: ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku’” (Markus 1:40).

Ini menakjubkan! Ingat bahwa peristiwa itu terjadi tepat pada awal pelayanan Yesus di muka umum. Dalam catatan Markus, Yesus telah menyelamatkan seseorang yang dikuasai roh jahat (Markus 1:23-27) dan menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus (1:30-31), diikuti dengan masa-masa Dia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan. Namun itu semua masih dalam tahap awal dari pelayanan Yesus di depan orang banyak. Orang kusta itu—seorang yang terasing dan tidak terjamah—tampaknya telah mendengar kisah-kisah mengagumkan tentang orang Nazaret yang bisa mengadakan mukjizat tersebut dan telah memahami apa yang terjadi. Ketika datang kepada Yesus, ia melakukannya dengan memohon campur tangan Sang Guru. Ia berlutut memohon di hadapan Yesus dalam sikap yang menggambarkan penyembahan. Adegan mengagumkan itu menjadi makin luar biasa dengan ucapan orang itu, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (Markus 1:40). Ingat, orang itu adalah bagian dari suatu budaya yang memandang kusta sebagai “perbuatan tangan Allah”. Kusta diberikan oleh Allah dan hanya dapat dilenyapkan oleh Allah—dan orang itu menyatakan keyakinannya bahwa Yesus sanggup melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah: Yesus sanggup melenyapkan penyakit kustanya.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Sampel - Menyelami Hati Kristus by Our Daily Bread Ministries - Issuu