Page 1

1


SINYO SIPIT Basuki Soejatmiko Diterbitkan pertama kali dalam bentuk ebook: November 2017 Diketik ulang oleh: Adam Huri Penerbit: Rama Press Institute Surabaya

Sumber gambar cover dari ilustrasi di Jawa Pos saat novel ini dimuat sebagai cerita bersambung.

2


Sebuah novel perjuangan

Novel ini ditulis oleh Basuki Soejatmiko dari tempat istirahat di Prigen dan dimuat di Harian Jawa Pos sebagai cerita bersambung mulai tanggal 29 Desember 1985 hingga 18 Maret 1986

3


Novel ini hanya fiktif, Meskipun demikian, data-data sejarah yang diberikan tetap merupakan data sejarah yang diangkat dari buku-buku sejarah yang bisa dipertanggung-jawabkan. Demikian juga tentang kisah perjuangan anak muda yang bernama Sinyo Sipit yang terlibat pertempuran di Surabaya. Bukan karena kesadaran untuk membela tanah air, melainkan karena perasaan bahwa sebagai pemuda-pemuda yang jadi sahabatnya. Motivasi perjuangan di awal Kemerdekaan mungkin juga Cuma ini. Anakanak muda yang bertempur dengan celana pendek. Novel ini cuma ingin mengetengahkan satu kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dari sisi yang lain. Dari sini ini saja novel ini dipersembahkan kepada pembaca sekalian.

Basuki Soejatmiko, 1985

4


1 Singa batu sepasang di kanan kiri tangga masuk itu tampak seram di kegelapan malam. Lampu beranda yang terang tidak sampai pada singa-singaan batu itu. Hanya bayang-bayang terbentuk oleh sinar lampu. Mereka semua jadi saksi yang bisu atas kerisauan penghuni rumah besar itu. Seperti lazimnya rumah orang Tionghoa kaya, lebih-lebih yang punya pangkat seperti Mayor Phe Boen Gwan, rumah itu beranda mukanya berpilar tiga. Tidak dengan gaya Romawi, tapi angker dan kokoh dan berpintu masuk tiga. Lantainya dari marmer abu-abu. Menurut cerita marmer-marmer itu didatangkan khusus dari Italia. Perjalanan panjang telah dilakukan untuk kemudian bisa bersemayam di lantai rumah keluarga Phe. Ukurannya yang semeteran ini memang ukuran yang umum untuk rumah-rumah di Eropa. Tapi pada zaman itu, Cuma sedikit sekali rumah-rumah orang kaya yang memakai marmer ukuran semeteran. Bukan saja harganya mahal, tetapi juga kebanyakan hanya dipakai oleh perusahaan besar milik pemodal Belanda. Dekat pintu masuk, di tengah ada kaca rias tempat orang menaruh topi atau mantel. Di atasnya tergantung kepala menjangan yang sudah diawetkan. Tanduknya bercabang-cabang menunjukkan usianya sedangkan matanya yang bundar melotot seolah protes atas permainan manusia yang seenaknya mengawetkan kepalanya untuk dijadikan hiasan dinding. Budaya menggantungkan kepala menjangan ini sebenarnya semula menjadi tradisi orang-orang Indo yang sok. Mereka yang suka meniru kebiasaan berburu orang Belanda. Tetapi orang Belanda dahulu berburu untuk sport, untuk melemaskan segala ketegangan tubuh setelah beberapa hari bekerja keras. Orang Indo lain lagi. Mereka berburu untuk status Untuk gengsi. Bahwa apa yang bisa

5


dilakukan oleh Belanda, mereka juga bisa. Tapi ini pun sebenarnya tak boleh dianggap remeh. Banyak sekali adat istiadat Belanda yang kita terimalewat ketrampilan golongan Indo. Lewat mereka orang punya keberanian untuk meniru. Golongan Tionghoa kemudian mengambil alih kegemaran berburu ini. Karena kebanyakan dari mereka lebih punya duit ketimbang orang Indo, peralatan mereka pun lebih modern. Ada senjata yang bisa mengeluarkan seratus peluru sekaligus. Sekali tembak hasilnya bukan Cuma seekor, tapi puluhan ekor. Berburu kemudian bukan menjadi sport yang menarik untuk kesehatan seperti awalnya diperkenalkan oleh bangsa Belanda, kemudian diteruskan oleh kelompok Indo, tapi berburu sudah merupakan pembantaian margasatwa yang paling biadab, atau kalau tidak, ia tak lebih Cuma sebuah status! Di dalam rumah, yang tampak angker meskipun ada nyala lampu di beranda itu, sekarang terjadi pertengkaran yang hebat antara Mayor Phe Boen Gwan dan istrinya. “Aku heran mengapa Engko izinkan Hian Biaw bergabung dengan orang-orang yang apa mereka sebut ... ? Pejuang ? Bah ! Pejuang !� Mayor Phe hanya jalan hilir mudik. Laki-laki yang masih setengah baya ini mendapatkan pangkat Mayor langsung dengan surat dari Nederland, ditandatangani oleh Ratu Wilhelmina sendiri. Usianya belum lima puluh. Tubuhnya atletis karena kegemarannya bermain tenis. Ia sabar, meskipun punya pangkat tinggi di kalangannya. Ia pun suka mengunjungi orang-orang miskin di kampungnya, di belakang Jalan Kapasan. Ia juga sangat mengutamakan pendidikan kaumnya dan aktif mengurus perkumpulan. Sekarang ia duduk sebagai penasihat sebuah perkumpulan pendidikan Tionghoa. Kedudukan golongan Tionghoa memang unik dalam daerah jajahan Belanda di Hindia Belanda ini. Meskipun mereka sekarang

6


kita kenal sebagai kelompok yang pernah mendapat berbagai fasilitas dari Belanda, bahkan cenderung menjadi anak mas, tapi dalam permulaan abad ini, keadaan tidak semulus sekarang. Persis dalam peralihan abad sembilan belas ke abad dua puluh mereka mendirikan sebuah organisasi yang mereka namakan Tionghoa Hwee Koan, yang menekankan pergerakannya pada soal-soal pendidikan. Sebenarnya Belanda agak terkecoh dengan pendirian yang diperbolehkan hidup subur. Dalam realitanya, bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Tionghoa dan bahasa Inggri. Bahasa Belanda sama sekali tidak diajarkan. Lulusan sekolah-sekolah Tionghoa Hwee Koan ini kemudian banyak sekali yang melanjutkan studi mereka di Singapura dan negeri leluhur mereka. Pada tahapan berikutnya, organisasi yang mengatas namakan pendidikan untuk masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda menjadi pula pusat gerakan untuk menjadikan Tiongkok sebagai republik. Tapi rupanya, Belanda tidak pernah mencium gejala-gejala dan pemanfaatan gerakan yang berkedok pendidikan ini. Bahkan banyak pula opsir-opsir Tionghoa yang dipilih oleh Belanda dengan satu diantara sekian banyak alasan, pernah mengabdikan diri untuk kepentingan pendidikan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda. Meskipun tidak pernah duduk di sekolah Belanda, Mayor Phe mampu bercakap dalam bahasa Belanda sama bagusnya dengan tuan-tuan Belanda sendiri. Ini disebabkan karena istrinya yang panggilan akrabnya Zus Elsje, adalah wanita lulusan HBS yang kesepuluh. Waktu itu jarang anak perempuan yang bisa masuk HBS. Tapi nona Elsje yang muncul dari kalangan Packard mampu menempuh pendidikan tinggi di masa mudanya. Kewarganegaraannya juga gelijk gesteld, disamakan dengan bangsa Belanda. Zus Elsje inilah yang sekarang sedang berang pada suaminya itu. “Semua itu omong kosong! Mereka adalah perampok. Ekstremis!�

7


Pengertian ekstremis ini konon, juga merupakan warisan dari kelompok Indo yang mencap gerakan kepemudaan kita sebagai kaum pemberontak dan perampok. Pokoknya siapa saja yang pro Republik yang baru diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta dicap sebagai ekstremis. Golongan yang ekstrem. Semestinya pengertian ini tidak hanya berlaku pada bidang politik saja. Ekstremis yang bermula pada kata ekstrem mempunyai pengertian segala sesuatu yang berkelebihan dengan membabi buta. Tapi konotasi itu kemudian dilekatkan jelek di atas pundak para pejuang kita di pihak lainnya, para pejuang kita sendiri melekatkan sebutan tersebut sebagai sebutan kebanggan atas gerakan mereka. Mereka justru bangga dengan sebutan itu. Siapa yang pro Republik bangga dicap sebagai ekstremis. Revolver di pinggang, rambut panjang, gondrong, kemudian jadi mode. Mayor Phe masih berjalan hilir-mudik. Ia tak sempat memikirkan apa yang diomelkan istrinya. Yang jadi beban pikirannya sekarang adalah surat Hian Biauw yang isinya menyatakan bahwa ia sekarang sedang bergabungdengan Barisan Rakyat yang bertekad mempertahankan Proklamasi 17 Agustus yang sudah dicetuskan oleh Bung Karno di Jakarta. Hin Biauw, menurut pendapatnya, masih terlalu muda. Usianya baru 17 tahun. Apa yang dapat dilakukan seorang anak muda seusia itu untuk berjuang? Lagi ... apa yang mau diperjuangkan? Proklamasi... Bukankah itu urusan Orang Jawa? Bukankah itu urusan bung Karno?�. Disinilah uniknya perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Indonesia. Dalam sejarahnya dikenal tentara dari kesatuan pelajar. Baik yang dari sekolah Teknik maupun dari sekolah yang setingkat dengan SMTA. Usia mereka dengan demikian masih muda-muda.Celana panjang juga masih asing bagi mereka. Mereka Cuma bercelana pendek. Dalam perjuangan juga celana pendek ini yang mereka pakai. Dari sini juga kemudian timbul masalah,

8


bagaimana perjuangan ini bisa ditegakkan oleh anak-anak yang masih ingusan. Bagaimana perjuangan suatu usaha menegakkan kemerdekaan satu bangsa bisa dipercayakan kepada anak-anak ingusan yang memegang senjata saja belum pernah mereka lakukan. Apalagi membunuh dengan senjata. Selama ini yang mereka ketahui untuk berkelahi adalah senjata tajam, rantai dan batu. Batu juga mereka kenal untuk “menyawatâ€? mangga orang. Dengan demikian perjuangan ini tampaknya seperti mainmain. Dan apa hubungannya orang Tionghoa dengan sikap yang semacam itu.Orang Tionghoa yang hampir ½ abad yang lalu sudah pernah berjuang jauh merantau untuk menggulingkan pemerintah kekaisaran yang korup dan mengganti dengan gerakan Republik. Persis seperti beberapa abad yang lampau yang terjadi di Prancis. Lantas apa kaitannya dengan orang-orang Tionghoa yang ada di daratan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh anak-anak muda itu tadi? Bukankah mereka orang-orang Tionghoa tak ada sangkut pautnya dengan Proklamasi itu? Bukankah pemerintah Belanda selama ini memberikan kecukupan hidup pada mereka? Mengapa mereka harus membantu orang-orang Jawa memberontak dari Belanda setelah Jepang jatuh? Tiba-tiba saja tersungging sebuah senyuman di bibirnya. Dalam lubuk hati kecilnya ia setuju dengan tindakan anaknya. Petualangan anak-anak muda!

9


2 Dalam masa penjajahan tempo doeloe masyarakat Tionghoa terbagi ke dalam beberapa bagian. Yang pertama golongan Packard, seperti yang disebutkan dalam novel ini bagian pertama adalah golongan yang menempuh pendidikan Belanda yang juga disebut sebagai Indo Chineezen atau Peranakan Tionghoa. Yang kedua, kelompok yang juga dikenal sebagai kelompok Sin Po, dengan mengambil nama sebuah mingguan dan harian yang terbit saat itu, yang menjadi corong kelompok Tionghoa yang orientasinya 100 persen ke Tiongkok. Kelompok ini sering disebut kelompok totok atau singkek. Kedua kelompok di atas meskipun sama-sama disebut Tionghoa oleh kelompok mayoritas ternyata rekreasi seperti Selecta (Batu-Malang) tahun 1938 terlarang untuk dimasuki anjing dan orang Tionghoa, amarah kelompok pertama terhadap kelompok kedua makin memuncak. Pengumuman pemerintah kolonial Belanda itu berbunyi : Verboden voor honden en Chineezen. Ini gara-gara kelompok kedua, totok itu sering meludah sembarangan. Sedangkan kelompok kedua menuduh kelompok pertama sebagai Tjhauw Baba, yang artinya, baba jelek. Kemudian dibalas oleh kelompok pertama dengan nyanyian yang berbunyi : o-thok... o-thok bunyinya tekek ada singkeh pakai celana pendek saban pagi kerjanya gowek gowek Dalam bidang kerja, kedua kelompok itu berbeda pula. Kelompok yang pertama dididik untuk menjadi omnetar (bukan pegawai negeri) tetapi pegawai perusahaan besar dan lain-lainnya. Sedangkan kelompok yang kedua memang khusus dididik untuk

10


dagang. Masyarakat luas mencampur adukkan keduanya. Pokoknya Tionghoa, pinter dagang. Padahal historisnya tidak demikian.-(pen). Orang sering memandang satu lompatan jauh ke depan dari manusia sebagai satu tindakan anak muda yang nakal. Perjuangan! Bukan perjuangan anak-anak yang nakal. Perjuangan adalah hasil kerja anak-anak muda yang punya ambisi dan berbakar semangatnya untuk mempertahankan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka, yakni kemerdekaan. Sesuatu yang sudah lama tidak ada artinya lagi dalam hidup mereka. Sekarang kemerdekaan punya arti banyak bagi anak-anak muda yang masih bercelana pendek itu. Kemerdekaan ternyata berhasil menyatu dalam cita-cita mereka. Mungkin juga mereka tidak tahu apa isi Proklamasi yang harus mereka pertanggung jawabkan dan mereka bela itu. Sesuatu yang mungkin masih abstrak dalam pemikiran mereka, tapi sangat riil dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ibaratnya seperti mereka harus pulang kalau habis sekolah. Nampaknya kalau tidak pulang lantas mau kemana mereka. Sama saja, kalau mereka tidak berjuang mau jadi apa mereka? Tapi senyuman itu jarang terlihat oleh Nyonya Phe. Hatinya geram dan makin geram. “Jadi Engko setuju anak kita bergabung dengan perampok?” Kata-kata itu menyadarkan Mayor Phe dari lamunannya. Ia segera membalikkan wjahnya memandang istrinya. “Ya,” jawabnya mantap. “Maksud Engko?” “Maksudnya, seperti biasanya kita sering memberi dorongan pada anak-anak kita bahwa mereka harus berani melakukan segala sesuatu yang mereka anggap benar... Kukira, anak kita sudah melakukan apa yang menurutnya benar”. Kelebihan orang Tionghoa dalam menelaah budaya kehidupan di Hindia Belanda mungkin Cuma ini. Mereka sudah terbiasa untuk berpikir secara rasional. Mengambil keputusan bukan

11


atas saran orang lain, melainkan karena mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang bakal mereka putuskan itu berguna untuk diri sendiri. Mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk berpikir secara komunal, secara bersama. Yang mereka ingat cuma satu : untuk diri sendiri. Dalam susunan tatanan kehidupan yang sudah berjalan secara normal, sikap semacam ini tidak membuahkan hasil yang negatif. Tapi dalam masyarakat yang masih terdiri dari berbagai kemungkinan akibat stelsel yang begitu banyak macam dari berbagai budayaitu memang bisa bersifat ambivalens. Artinya dari segi mana kita mau melihatnya. Dari segi individu, tentu saja menarik. Tapi dari segi keluarga? Terutama yang bertentangan dengan pendapat orang yang dominan dalam keluarga itu. Bisa condong dikatakan terlalu naif. Itulah sebabnya Nyonya Phe kemudian menyahut : “Lalu?” “Apanya lagi sekarang yang harus kita bicarakan? Hian Biauw sudah pergi dan hanya pamit lewat surat...” “Engko masih ada kesempatan untuk memanggilnya pulang. Ia bergabung dengan perampok-perampok yang bersarang di Kawatan”. Perjuangan kepemudaan di Surabaya memang membuahkan nama-nama kesatuan yang satu sama lain berusaha mengangkat diri ke permukaan dan berhasil. Misalnya saja kelompok dari Jagalan, dari Kapas Krampung, semuanya terkenal. Juga Kawatan. Ia mungkin Cuma sebuah nama yang lambat laun sesuai dengan perjalanan sejarah akan terlupakan orang. Tapi seperti kata orang bijak, arti sebuah nama dalam sejarah pertempuran bukan Cuma dinyatakan sebanyak berapa orang yang meninggal akibat pertempuran yang pernah dialaminya. Persoalannya, nama Kawatan mungkin lekat di hati kita karena ia lekat dalam kehidupan kita. Setiap saat ia hadir dalam kehidupan kita.

12


Banyak orang yang terlihat beringas memanggul senjata tanpa pernah tahu bagaimana menarik picunya sehingga seringkali juga terjadi korban yang konyol. Matinya beberapa orang karena geranat tangan yang berhasil dirampas dari musuh, kemudian dibuka pennya dan diketuk-ketukkan di bangku. Lantas meledak dengan suara yang keras dan korban kemudian berjatuhan. Secara sia-sia, tapi siapa yang salah. Semua itu terjadi di Kawatan ! Sudah barang tentu, bukan Cuma terjadi di Kawatan. Tapi di tiap front pertempuran yang dipenuhi anak-anak remaja. Mereka Cuma punya tekad dan semangat. Bahwa bertempur semula mereka anggap enteng dan kematian adalah salah satu hal yang mulia. Kesadaran itu kadang terlambat datangnya. Tapi kesadaran itu lambat tapi pasti datang. Dari tokoh-tokoh yang kemudian tersisa, seribu kisah bisa diceritakan. Dari seribu yang sudah tertinggal, seribu kisah pula dapat diceritakan. Yang tertinggal selesai melaksanakan tugas pengabdian. Yang tersisa masih penuh dengan koma, yang lanjutannya bisa macam-macam. Semuanya buyar ketika dengan suara yang agak keras Nyonya Phe menyelidik, “Darimana kau tahu anak kita ada di Kawatan?” “Engko kira saya tidak tahu? Hmmm...” Suasana hening sejenak. “Engko harus bawa Hian Biauw pulang," ujar Nyonya Phe seraya menarik lengan baju suaminya. “Tidak” “Jadi Engko setuju Biauw jadi perampok?” “Siapa bilang anak kita jadi kelompok?” “Apa yang mereka kerjakan? Membakar pabrik, membakar rumah, merampok seluruh harta benda orang lain. Apa itu bukan perampok namanya? Dan anak kita ada di dalamnya. Memalukan!” “Aku tidak malu”

13


“Tidak?” Nyoya Phe hampir menjerit, “Lalu mengapa bukan Engko sendiri yang jadi perampok? Mengapa Engko biarkan anak kita terlibat di dalamnya” “Revolusi, Mam. Revolusi... revolusi dimana pun sama saja. Di Perancis pada waktu revolusi rajanya pun dipenggal kepala. Disana juga ada perampokan, ada pembunuhan. Anak kita tidak terlibat di dalamnya. Anak kita akan berjuang seperti yang ditulisnya dalam suratnya”. “Berjuang? Berjuang? Engko masih percaya pada kata-kata itu? Negeri ini Belanda yang punya. Belanda pergi Cuma karena kalah perang sama Jepang. Tapi Jepang sekarang sudah kalah dan negrti ini harus kembali ke tangan Belanda. Kita akan hidup seperti dulu lagi, tenang, tidak ada jam malam”. “Mam, kau masih merindukan jaman itu?” “Bukan merindukan! Itu harus terjadi. Negeri ini memang Belanda yang punya. Apa lagi yang harus diperjuangkan ? Engko katakan tadi diperjuangkan?”. Hah, sebal saya mendengar sebutan itu. Dan Engko dengar apa yang disiarkan radio? Siapa nama orang itu? Tomo... ? Hah, dia berkoar-koar agar pemuda-pemuda mempertahankan tiap jengkal kampung halamannya. Tapi apa yang terjadi? Rakyat berbondong mengungsi dan anak kita yang harus mempertahankan. Tidak! Saya tidak rela”. Anggapan semacam ini sebenarnya bukan hanya milik dan menjadi pandangan hidup kelompok Tionghoa saja. Nampaknya ini sudah menjadi pendapat semua orang yang ingin suasana lama kembali lagi. “Lamanya” penjajahan Jepang dengan segala tingkah polanya yang tidak menentu menjadikan orang jenuh terhadap kehidupan yang penuh dengan kekerasan. Orang nampaknya ingin hidup adem ayem. Dan dalam alam pikiran mereka hidup yang serba tenang hanya ada pada pemerintahan Belanda.

14


3 Karenanya mereka masih bernostalgia untuk kembali hidup di masa dulu itu. Biarpun misalnya sebenarnya mereka menyadari bahwa lebih dari Jepang, mereka telah dijajah Belanda selama 350 tahun. Ini khusus untuk Jawa. Tiga ratus lima puluh tahun bukan kurun waktu yang pendek. Juga bukan penuh dengan alur-alur yang bergelimang madu. Seringkali ada ratap tangis. Ada kerja rodi misalnya. Ada Tanam Paksa. Tapi ada juga politik Ethies yang ingin mempertinggi derajat bangsa di Hindia Belanda dengan pendidikan yang memadai. Bukankah semuanya itu tidak ada hubungannya dengan orang-orang Tionghoa. Bukankah itu hanya terjadi pada bangsa Jawa? Di kalangan keluarga yang kecil, suami istri, sudah terjadi perbedaan paham mengenai masalah yang satu ini. Belum lagi misalnya jika terjadi pada skala yang lebih besar, satu kampung misalnya. Maka bisa ada macam-macam pendapat yang simpang siur. Dan dengan menarik nafas laki-laki yang disebut Ngko Phe itu Cuma bisa berkata: “Kita sekarang Cuma bisa berdoa� “Engko harus bertindak. Engko harus pulang membawa anak kita...� Berbantahannya kedua suami istri itu tidak membawa pemecahan persoalan. Nasi sudah menjadi bubur. Sikap Hian Biauw meninggalkan orang tuanya bukanlah hal baru. Sejak lama, setelah tidak masuk sekolah lagi karena HBS ditutup oleh Jepang, Hian Biauw memang sering berkumpul dan bersahabat dengan seorang pemuda Kawatan, Effendi. Effendi yang punya cita-cita setinggi langit. Effendi yang pengagum Bung Karno. Effendi yang yakin akan kemuliaan arti Proklamasi 17 Agustus. Effendi yang terbakar semangatnya oleh pidato-pidato Bung Tomo.

15


Kehebatan orang-orang seperti Bung Tomo mungkin di sini. Ia mampu membakar semangat anak-anak muda. Juga ketut Tantri misalnya, wanita Amerika yang kemudian diambil anak pungut oleh raja di Bali. Ikut terdampar di Surabaya, ketika Surabaya jadi lautan api dan terjadi pertempuran di berbagai pelosok kota. Perempuan yang satu ini sebenarnya yang patut menjadi penghargaan kita. Karena dari luapan emosinya, lewat pembicaraannya di corong radio perjuangan dalam bahasa asing, semangat perjuangan itu bisa ditampilkan ke dunia internasional dalam wajahnya yang jernih. Tapi Mayor Phe yang sudah mulai merasa diri tua ini tidak percaya seratus persen, bahwa perjuangan yang meluap-meluap dari anak-anak muda itu Cuma diilhami oleh semangatnya pidato Bung Tomo atau Ketut Tantri. Menurut pendapatnya, harus ada sesuatu yang serba misterius yang menghinggapi anak-anak muda itu. Sesuatu yang mendesak, yang meluap-luap yang ada dalam hati sanubari. Apakah dengan demikian arti sebuah kemerdekaan itu punya ukuran tersendiri dalam hidup manusia? Seperti misalnya mengapa baru pada abad-abad keduapuluh bangsa Tionghoa mempunyai cita-cita untuk bangkit kembali tak mau dijajah oleh bangsa Manchu? Mengapa beratus tahun mereka rela dan tidak pernah mengambil sikap yang tegas? Apakah perjuangan itu baru muncul karena tiba-tiba saja ada orang yang bernama Sun Yat Sen, yang kemudian tampil sebagai pemimpin dan mampu menggerakkan ratusan juta bangsa yang sebagian besar hidupnya melarat itu? Juga di bumi ini, apakah hanya seorang Soekarno mampu memompakan semangat untuk merdeka? Ternyata ada kemisteriusan kalau orang berbicara tentang kemerdekaan dan usaha-usaha untuk mempertahankan kemerdekaan. Dengan diam-diam Mayor Phe serius memperhatikan kalau kedua pemuda itu berbicara bisik-bisik di rumahnya, bicara tentang revolusi dan proklamasi. Mayor Phe yang dilahirkan dari kalangan

16


orang berada, yang selama bertahun-tahun sebelum Jepang masuk sering mengadakan aksimengumpulkan dana bagi peperangan di Tiongkok melawan Jepang, dalam hati kecilnya setuju dengan apa yang dibicarakan anak-anak muda itu. Ia tak pernah mengalami hidup di negerinya yang lama berperang dengan Jepang itu. Tapi hidup di Indonesia yang selama tiga setengah tahun berada dalam kekuasaan Jepang sudah cukup baginya untuk merasakan betapa bangsanya jadi bangsa yang terjajah seperti yang diutarakan Effendi kepada anaknya : “Negeri ini, Biauw, sudah lama tidak punya nafas sendiri. Apa yang dihembuskan selama ini adalah nafas Belanda dan Jepang. Sekarang saatnya bagi kita untuk menghembuskan nafas kita sendiri sebagai orang merdeka. Dan Effendi terbelalak matanya ketika suatu hari Hian Biauw berseru : “Aku ikut berjuang bersamamu...”. Kata-kata yang mengejutkan Effendi itu sempat juga terdengar oleh telinga Mayor Phe yang selama ini suka secara sembunyi-sembunyi mencuri dengan pembicaraan anaknya. Tidak kalah rasa kagetnya dengan Effendi ketika ia mendengar omongan anaknya itu tadi.Rasa ingin tahunya makin bertambah. Ia ingin tahu bagaimana jawaban Effendi terhadap tekad anaknya. Beda dengan istrinya, Mayor Phe lebih bisa mengerti aspirasi perjuangan bangsa Indonesia. Diam-diam ia juga menjadi sponsor dan donatir pergerakan Partai Tionghoa Indonesia dulu. Jadi sedikit tidaknya ia bisa mengerti bahwa bangsa Indonesia memang sudah lama ingin menjadi bangsa yang merdeka. “Kau takkan mampu berjuang bersama kita, Biauw. Perjuangan ini berat. Kita tidak punya apa-apa”. “Mengapa kau berani berjuang kalau tak punya apa-apa”. “Kita memang tak punya apa-apa. Tapi kita punya tekad. Tekad untuk meraih kemerdekaan negeri ini... lalu kau... apa yang harus kau perjuangkan? Negeri ini bukan negerimu. Kau orang Tionghoa...”.

17


“Apa yang kau bisa aku juga bisa," ujar Hian Biauw mantap. “Dalam urusan tembak-menembak kau takkan bisa mengalahkan aku. Aku sering ikut ayahku berburu. Di sana, dalam kegelapan malam aku menanti mangsa, mengincar dan sabar menanti sampai buruanku muncul. Dan aku penembak ulung...," katanya tanpa menyombongkan diri. “Aku tahu...”. “Lalu mengapa aku tidak pantas berjuang?” “Habis untuk apa perjuanganmu? Apa yang mau kau perjuangkan? Kau orang Tionghoa. Ini urusan orang Indonesia”. Hian Biauw, dan juga Mayor Phe, termenung. Memang betul apa yang dikatakan Effendi. Urusan perjuangan ini tidak ada sangkutpautnya dengan orang Tionghoa. Mereka sebagian sudah golongan gelijk gestald. Mereka adalah Kaula Belanda. Perjuangan ini urusan orang Indonesia. Tapi bagi pemuda yang satu ini segalanya tampak tidak adil, kalau teman-temannya sekolah ikut berjuang. Ikut memanggul senjata, lalu ia sendiri ada di rumah. Buat apa. Ia yang beberapa waktu yang lalu ikut menempeli gedung-gedung bekas dipergunakan Jepang dengan selebaran: Milik Repoeblik Indonesia, sekarang ingin berjuang lebih jauh. Ia ingin orang lain menjadi tahu, bahwa antara dia sebagai manusia dan Effendi sebagai manusia tidaklah ada bedanya. Atau Cuma diukur dari warna kulit. Karena Effendi kulitnya agak hitam dan dia kuning. Cuma ini. Agak gila kalau persamaan atau perbedaan mau diukur dari warna kulit. Pemuda yang satu ini tidak pernah menyadari bahwa puluhan tahun satu budayadalam kelompoknya sudah tertanam bahwa orang-orang seperti Effendi, yang disebut sebagai orang Jawa, kelasnya setingkat di bawah kelasnya sebagai orang Tionghoa. Ibunya mungkin akan mencibirkan bibirnya kalau melihat ia akrab dengan pemuda Jawa, yang pada pendirian orang-orang seperti ibunya Cuma pantas jadi jongos atau

18


kacung di rumah. Padahal orang yang menurut penilaian ibunya Cuma pantas jadi kacung atau jongos di rumahnya, adalah pemuda yang pandai di kelasnya. Tidak kalah dengan dirinya. Dan lagi, menurut pemuda yang masih “hijau” ini, adalah satu keasyikan tersendiri untuk berjuang. Nampaknya ia merasa, bahwa berjuang adalah menjadi ciri khas seorang lelaki. Ia rela tidak berjuang, jika misalnya saja, ia cacat, kakinya pengkor atau tangannya buntung sehingga sulit buat menembak. Tapi ia normal, seperti temantemannya yang lain yang bergabung dengan pasukan yang ada di Kawatan, karena di situ rumah Effendi berada. Pasukan itu sebenarnya Cuma terdiri dari tujuh orang. Sama-sama bukan sekelas. Nah yang lain boleh bergabung bagi siapa yang mau. Teman sekelas memang ada dua puluh orang. Yang bergabung Cuma tujuh. Tapi yang lain itu, bukan dilarang bergabung, tapi karena mereka memang tidak mau bergabung. mengapa dilarang. Mengapa hanya dengan alasan ia tionghoa. Ini yang ingin ditanyakan dengan tegas! Tiba-tiba hening itu dipecahkan oleh suara Hian Biauw, “Jadi karena aku Tionghoa lalu aku tidak boleh ikut berjuang?” “Betul.” Diam lagi. Sunyi. Dua sahabat itu sama-sama membisu. Mayor Phe lebih-lebih ingin tahu kelanjutan pembicaraan itu. Ia setuju pada Effendi karena perjuangan ini memang bukan urusan orang Tionghoa. Tapi ia juga setuju dengan anaknya. Andai ia masih muda. Ia juga akan ikut berjuang. Untuk apa? Ia tidak perduli. Pokoknya berjuang dan berjuang adalah sama dengan berburu. Memburu musuh sama dengan memburu kijang atau babi hutan. Pasti mengasyikkan. Memang betul Effendi bukan apa-apa jika dibandingkan dengan anaknya. Anaknya adalah jago tembak yang jarang meleset. Effendi mungkin tidak pernah memegang bedil. Mungkin ia sering meraba dinginnya keris pusaka.

19


4 Tapi mana ada perjuangan di zaman ini yang bisa dimenangkan dengan keris? Harus dengan bedil! Hari itu lewat tanpa ada keputusan Effendi apakah ia bersedia menerima Hian Biauw ikut berjuang atau tidak. Sementara itu beritaberita tentang berkecamuknya api peperangan di kota Surabaya sudah semakin meluas. Di mana-mana Jepang dilucuti senjatanya. Suasana makin tegang karena semua penduduk kampung sekarang membawa senjata. Tak perduli apakah mereka bisa mempergunakan atau tidak. Jepang ternyata memang mempunyai senjata banyak. Hasil rampasan memang melebihi kebutuhan. Penduduk Surabaya tidak lebih dari setengah juta jiwa dan terlihatlah penduduk kampung yang pinggangnya dililiti granat yang bergayutan tanpa tahu bagaimana menggunakannya. Mayorr Phe bahkan mendengar bahwa dalam suatu pertempuran kecil-kecilan dengan pihak “musuh� pemudapemuda itu banyak yang tewas karena lemparan granat mereka sendiri. Granat yang mereka lemparkan tidak dibuka kuncinya. Mereka sangka granat akan meletus kalau dilemparkan ke atas jatuh di tanah. Granat ini kemudian oleh musuh dibuka kuncinya dan dilemparkan kembali sehingga banyak korban berjatuhan. Sungguh tragis. Betul kata Effendi. Mereka berjuang tanpa modal apa-apa. Mereka hanya punya tekad dan semangat. Perampokan di malam hari makin sering terjadi. Di saat seperti itulah Hian Biauw pergi. Tak heran jika ibunya mengomel tak keruan. Dan sasaran omelan itu adalah Mayor Phe. Ia jadi serba salah. Selama ini ia hanyut dalam gelora muda anaknya dan kini ia dihadapkan pada kenyataan pahit. Anaknya kini terlibat langsung dan ia ditugasi istrinya untuk membawanya kembali. Mana mungkin ia memenuhi kehendak istrinya? Bagaimana ia tahu dimana anaknya sekarang berada? Tempat pejuang Surabaya selalu berpindah-pindah. Ia memang sudah minta keterangan di markas Tegalsari dan Biliton.

20


Tapi siapa yang mau memberi keterangan tentang pasukan anaknya? Bukankah orang Tionghoa termasuk dicurigai? Lebih-lebih ia sebetulnya menyetujui kalimat terakhir anaknya: “Papa jangan mencari biauw karena ini akan menyulitkan Papa kalau banyak teman-teman Papa yang tidak menyetujui tindakan anak Papa ini. Percayalah Biauw satu hari akan pulang. Kapan? Bisa sebulan. Bisa setahun dan juga bisa bertahun-tahun...�. Seperti pada mimpi saja. Isi surat itu ditulis oleh seorang pemuda Tionghoa. Ia telah membulatkan tekadnya untuk berjuang, apapun resikonya. Resikonya itu bukan Cuma mati. Tapi juga dicurigai oleh teman-temannya sendiri. Mengapa ia sebagai orang Tionghoa ikut berjuang. Karena tak lazim, ia memang bisa dicurigai. Tapi bukankah perjuangan itu demikian? Selalu ada pihak yang dicurigai? Tapi nasib orang Tionghoa mungkin akan demikian terus dalam negeri yang punya banyak suku dan adat istiadat ini. Siapapun yang terlalu dekat dengan penguasa akan selalu dicurigai oleh kelompoknya sendiri. Mampukah Biauw, anaknya, menghadapi tantangan yang serba berat ini. Biauw anak ingusan yang belum tahu apa-apa. Yang mendengar pertempuran saja baru bulan yang lalu, ketika gedung Kenpetai diserbu pemuda-pemuda yang masih bercelana pendek dan membawa bambu runcing. Apa perang itu dikira seperti main-main waktu masih bocah? Apa peluru panas dianggap sebagai satu hal yang omong kosong, kalau bisa dibilang mematikan. Semuanya ini akan menjadi bahan renungan yang semestinya direnungkan dulu oleh anaknya, sebelum ia terjun dan memutuskan segala sesuatunya secara pasti. Tekad anak muda memang kadang-kadang tak terkendalikan. Tapi itulah memang kehidupan anak-anak muda. Lebih suka bertindak dulu, baru berpikir belakangan. Ia lupa bahwa otak justru diletakkan Tuhan di bagian atas, bukan di bagian belakang. Maksudnya sudah barang tentu, berpikirlah dahulu sebelum bertindak.

21


Alangkah banyak sahabatnya yang mencemoohkannya kalau mereka tahu anaknya ikut berontak. Kalau anaknya jadi ekstremis. Semua sahabatnya percaya bahwa Belanda akan kembali memerintah Pulau Jawa ini. Mayor Phe kemudian mengenang kembali kehidupan anak laki-laki satu-satunya ini. Seperti anak-anak Kapasan lainnya, lebihlebih karena tergolong anak orang kaya, Hian Biauw sejak kecil sudah dilatih silat dengan mendatangkan guru ke rumah. Tapi selama ini Mayor Phe melihat bahwa Hian Biauw sama sekali tidak berbakat. Padahal silat Siuaw Lim harus dikuasai anak laki-laki di zaman itu. Mengingat semuanya itu, Mayor Phe hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak yang begitu lentur kalau berlatih silat dan sakit-sakitan pada masa kecilnya tiba-tiba saja masuk menjadi pejuang ... eh... anggota ektremis, anggota Barisan Pemberontak, seperti mereka sendiri menamakannya; Barisan Pemberontak Republik Indonesia. Anak manis dari Kapasan jadi anggota pemberontak. Alangkah lucunya! Dunia ini sudah terbalik. Padahal sekarang ini buaya-buaya Kapasan semua justru bersembunyi kalau malam hari, takut akan kedatangan kaum ekstremis kelompok yang sekarang dimasuki anaknya. Anaknya yang dulu sakit-sakitan kini ditakuti buaya Kapasan yang terkenal garang dan gagah berani. Mayor Phe tersenyum sendiri. Hatinya mengembang bangga. Tak percuma jerih payahnya membawa Hian Biauw berburu. Tak percuma ia dengan tekun menyediakan waktu mengajar anaknya menembak. Mayor Phe betul-betul lega sebagai ayah. Ia setuju pada pendapat bahwa pahlawan-pahlawan tidak akan muncul dari kalangan anak muda yang gagah berani, tapi justru dari anak-anak muda yang lugu. Tapi apakah pengertiannya terhadap situasi ini dapat juga ditularkannya pada istrinya? Apakah istrinya juga mau tahu bahwa apa yang dikerjakan anaknya sekarang ini sekedar memenuhi jiwa petualangannya sebagai anak muda? Bukankah istrinya hanya tahu

22


bahwa Hian Biauw adalah anak laki-laki mereka satu-satunya dan bahwa Hian Biauw adalah anak mereka yang manis? Tak adanya penyelesaian yang berlarut-larut dengan suaminya membuat Nyonya Phe makin gelisah. Akhirnya ia menyuruh Mbok Nah memanggil Giyo si tukang kebun yang sudah bekerja pada keluarga itu selama puluhan tahun. Giyo terkejut dipanggil oleh Nyah Besar malam-malam. “Yoh... koen wero endi Sinyo sa’iki?” tanya Nyonya Phe yang dari tadi berjalan hilir mudik di beranda depan kamarnya menanti kedatangan Giyo. “Nyuwun pangapunten, Nyah Besar, Kulo mboten sumerap," sahut Giyo yang masih belum hilang gugupnya. “Sinyo sekarang ikut pemberontak, tahu. Sinyo sekarang jadi rampok, jadi ekstremis..” “Gusti allah... Sinyo... Nyah Besar?” “Iya Sinyo... Siapa lagi?” “Lalu... lalu.. Nyah Besar?” “Aku mau minta tolong padamu Giyo. Besok kau tak perlu bekerja di kebun. Besok kau cari Sinyo... sampai ketemu” “Cari dimana, Nyah Besar?” “Cari dimana saja sampai ketemu!” Nyonya Phe jengkel. “Terus...” “Berikan ini," kata Nyonya Phe sambil menyodorkan sejumlah perhiasan yang sudah dibungkus rapi dalam kantong kain sutera berwarna merah. “Ini buat apa Nyah Besar?” “Ini untuk Sinyo, tahu!” “Untuk Sinyo.. lha carinya Sinyo dimana...?” “Kalau aku tahu dimana Sinyo sekarang, aku takkan menyuruhmu kemari Giyo. Kau jangan jadi orang goblok!” “Terus ... kalau sudah ketemu Nyah Besar?” sahut Giyo yang semakin ling-lung.

23


“Berikan ini. Bilang dariku. Dia jangan boleh merampok. Kalau perlu uang untuk makan atau beli senjata ia boleh minta ke sini. Mengerti, Yo?� “Mengerti, Nyah Besar?� jawab Giyo menunduk. Dengan gemetar ia meninggalkan tempat itu. Betapa banyak perhiasan yang sekarang berada di tangannya. Itu semua harus diserahkan kepada Sinyo Biauw yang ia sendiri tak tahu dimana harus menemuinya. Ini mungkin juga bukan Cuma satu sikap unjuk diri yang berkelebihan. Karena takut pada status yang sudah ada, bahwa orang Tionghoa secara hukum berada dalam status yang lebih tinggi, dan mungkin juga masih bermimpi tentang dunia Belanda seperti zaman tempo doeloe. Karena itu juga sikap mereka terhadap perjuangan bangsa initampaknya seperti masa bodoh. Seperti tidak mau ikut campur. Padahal diam-diam, ada juga membantu dengan cara mereka sendiri-sendiri. Memberikan obat-obatan yang diperlukan. Betapa pun juga, para pejuang itu, baik yang bercelana pendek maupun yang tidak adalah orang-orang yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari. Biarpun orang kemudian mencapmereka sebagai ekstremis, mereka tetap tahu siapa pejuang-pejuang itu. Ternyata pejuang-pejuang itu juga tidak sejelek yang dikatakan orang. Untuk membantu mereka secara terang-terangan, mereka juga takut, karena itu bisa membahayakan diri mereka sendiri. Belanda bisa mencap mereka sebagai mata-mata Republik. Uniknya perjuangan bangsa ditahun-tahun awal revolusi. Juga karena mereka sebenarnya kenal dan tahu bagaimana sesungguhnya hidup di alam penjajahan itu. Sangat menderita, seperti keluarga mereka dulu hidup di bawah penjajahan Manchu. Yang laki-laki harus pakai kuncir rambut, tanda bahwa mereka itu bangsa taklukkan. Apakah kemudian, sesudah bangsa Tionghoa merdeka, mampu memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka, lantas mereka harus berpaling pada kenyataan, bahwa hak tiap manusia akan kemerdekaan itu sebenarnya sama.

24


Kemelut itu yang ada berupa satu benturan sikap budaya. Tapi memang itulah bangsa tionghoa, atau peranakan Tionghoa. Nampaknya pula, mereka harus menjadi belut, karena hidup dirantau orang memang tidak gampang. Keras dan semuanya membutuhkan ketabahan yang luar biasa.

25


5 Dasar Giyo orang lugu. Tak tahu di mana ia harus mencari Sinyo Biauw, keesokan harinyaia bertanya kesana kemari sampai akhirnya semua orang Kapasan tahu bahwa ia ditugasi untuk mencari Sinyo Biauw untuk menyerahkan perhiasan dari ibunya. Berita itu sampai juga ke telinga buaya-buaya Kapasan. Malam harinya masyarakat kota Surabaya gempar. Ada mayat tergeletak di Jalan Gembong. Itu mayat Giyo. Pada waktu diperiksa polisi di tubuhnya sudah tidak ditemukan kantung berisi perhiasan titipan Nyonya Phe. Nyonya Phe tidak pernah tahu apakah perhiasan yang dititipkannya pada Giyo sampai ke tangan anaknya atau tidak karena sejak malam itu Giyo tidak pernah muncul lagi. Nyonya Phe juga tidak pernah membicarakannya dengan suaminya. Di mulut ia tetap mendamprat suaminya yang sekarang sudah jadi rampok .. jadi ekstremis. Hanya dalam lubuk hatinya ia berdoa. Doa seorang ibu buat anaknya. Setiap malam ia tidak pernah absen berdoayang selalu diakhirinya dengan bisikan: “Mama selalu menunggumu pulang... Biauw... pulanglah!� Surabaya makin lengang. Makin banyak orang yang mengungsi sejak tanggal 30 Oktober 1945 yang lalu. Cuma tinggal pemuda-pemuda. Tapi di Jalan Kapasan masih banyak orang Tionghoa yang tidak mengungsi. Mereka kebanyakan bekerja untuk mengurusi tawanan yang lepas. Baik yang diselamatkan oleh dari Jepang maupun yang dibawa oleh serdadu sekutu. Banyak kerja untuk mereka yang tidak mengungsi dalam saat Surabaya seperti sekarang ini. Sulit untuk memberikan vonis. Ada yang bilang dengan sikap seperti ini orang Tionghoa telah memperlihatkan kerjasama dengan pihak Belanda. Tapi orang Tionghoa sendiri bilang, bahwa mereka bukan bekerja sama dengan Belanda tetapi dengan Sekutu.

26


Dan bahwa mengenai masalah tawanan perang adalah merupakan sebagian dari usaha merealisasikan apa yang sudah diputuskan oleh lembaga dunia yang disebut PBB. Orang kemudian boleh saja mempunyai anggapan yang berbeda. Tapi dalam situasi seperti yang terjadi pada tahun-tahun itu, disaat ada kevakuman kepemimpinan, baik pemimpin Sekutu maupun pemimpin Nasional, masing-masing orang memang diharapkanbisa menata kehidupannya sendiri. Mengungsi adalah salah satu cara menata diri untuk bisa melanjutkan perjuangan. Bertahan tetap tinggal di Surabaya sambil membantu tugas Sekutu juga merupakan salah satu upaya. Ukuran nilai yang hendak dipakai, adalah ukuran nilai pada saat itu. Sejarah memang harus adil. Alun-alun Contong sudah direbut. Belanda dengan pasti terus merambat maju ke arah Selatan. Pemuda Kampung mempertahankannya mati-matian. Sesuai dengan instruksi yang dikumandangkan oleh Radio Perjuangan, tiap jengkal tanah dipertahankan oleh Pemuda-pemuda. Dipertahankan dengan bedilbedil rampasan dari Jepang untuk melawan persenjataan mutakhir Sekutu. Bedil itu pun tidak dapat dipergunakan dengan betul. Kalau tidak bisa meletus ya dibuat memukul atau menusuk. Sampai di White Away Belanda terpaksa bertahan dengan banyak korban berjatuhan. Pemuda-pemudamenyerang dari Genteng dan Praban. Mereka adalah murid-murid sekolah. Murid sekolah lanjutan yang masih muda belia. Nyawa tak pernah mereka perhitungkan. Mereka maju dan terus maju. Jalan Praban banjir darah. Barisan tank Belanda yang baru lolos dari barikade di Alun-alun Contong satu-satu mulai menampakkan diri di perempatan White Away (sekarang Siola). Sedangkan ekor barisanmasih harus berhadapandengan Barisan Pantang Menyerah pemuda-pemuda Peneleh dan Jagalan yang terkenal dengan julukan B-29, yang kemudian menyatu dengan

27


pemuda-pemuda yang ada di Genteng. Di sini Belanda harus membayar mahal usahanya untuk menjajah kembali Indonesia. Surabaya tidak seperti godirJakarta yang tak berdayaterhadap penempatan hanya satu batalyon, Batalyion 10, yang amat ditakuti masyarakat sekitarnya. Surabaya lain dan harus lain. Tiap jengkal tanah yang berhasil dikuasai Belanda harus mereka bayar mahal. Dalam situasi yang kacau balau, pertarungan yang tidak menentu dari mana arahnya , ditambah dengan ribuan rakyat yang mengungsi karena rumah mereka terbakar kena mortir Belanda, dua sosok tubuh menyelinap dalam kegelapan malam. Dua sosok itu pelan-pelan merayap ke arah perkemahan tentara Belanda yang mencoba beristirahat total setelah pertempuran sengit sehari penuh, dari pagi hari jam delapan sampai larut malam jam sepuluh. Seolah kepayahan kedua belah pihak merupakan kesepakatan untuk saling cease fire. “Berapa granat yang kaubawa?” tanya sosok yang satu. “Satu tas penuh, Kau?” “Punyaku hilang. Tasku rupanya tersangkut kawat”. “Gila! Nih...”. Dalam kegelapan malam lima buah granat tangan beralih dari satu sosok ke sosok yang lain. “Kita berpencar sesudah ini”. “Aku kira tak perlu. Kita kembali ke markas sama-sama. Salah satu dari kita harus hidup”. Gila kau! Dalam keadaan seperti ini kau masih bicara soal hidup dan mati. Kita berjuang karena kita ingin hidup dan bukan mau mati.” “Sudahlah... Kita tunggu apa lagi?” “Nanti dulu. Kita tunggu patroli itu lewat. Kau tahu persis dimana letak persenjataan Belanda?” Sosok tubuh yang lain diam membisu tak menyahut. Ia hanya merasa bahwa pertempuran ini benar-benar gila. Berapa nyawa

28


dipertaruhkan tanpa tahu medan yang harus diserang. Yang mereka terima hanyalah instruksi untuk memusnahkan perbekalan Belanda dan mereka pun berangkat. “”Yuk kita maju lebih dekat”. “Jangan!” “Kita harus maju lebih dekat. Kita harus pasti lebih dulu”. Keduanya diam lagi. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Mundur mereka sudah tak bisa lagi. Patroli Belanda makin banyak yang hilir mudik. Derap sepatu lars mereka kedengaran menggetarkan memecah kesunyian malam. “Kita tak boleh sama-sama begini. Kalau satu kena semua rencana gagal. Kita harus berpencar. Kau disini atau.. aku saja yang pergi melintasi jalan menghancurkan tenda yang ada petromaksnya itu”. “Gila! Bisa tertembak nanti lho!” “Kalau kau takut, kembali sana nyusu sama ibumu”. “Kurang ajar! Kau kira hanya kau orang Jawa yang berani?” “Terdengar suara lirih tertahan-tahan”. “Sampai jumpa kawan. Kita jumpa lagi di markas! MERDEKA!” “MERDEKA....!” Mereka memang mengucapkan MERDEKA. Saat itu Cuma ada satu tekad. Membunuh musuh sebanyaknya. Tapi, dalam lintasan khayal Effendi kemudian tersembul wajah ibunya, saudarasaudaranya dan lambat sekali muncul wajah anaknya. Wajah yang selama ini paling ditakuti. Ayahnya yang selalu bentrok dan selalu tak setuju dengan perjuangannya yang dikatakannya membati-buta. Ayahnya yang ambtenaar memang mempunyai keinginan lain. Ayahnya ingin tempoe doeloe itu bisa kembali lagi. Seperti zaman itu ia diharapkan bisa masuk pagi hari di kantor. Pulang sore hari dan gaji sebulancukup untuk biaya hidup sebulan. Mungkin masih ada sisa untuk ditabung.

29


Tidak seperti pada zaman Jepang. Semuanya terbatas. Sebagai pegawai negeri tak ada sisa yang bisa ditabung. Oleh karena itu tempoe doeloe sangat dirindukan. Ini bukan Cuma pendapat ayahnya, tetapi juga pendapat teman-teman ayahnya. Lantas mengapa orang tua yang punya semangat priyayi itu bisa punya anak yang berjiwa macam seperti Effendi? Menyelinap lagi wajah ibunya. Ibunya yang cantik yang selalu mendidiknya : “Kau tak boleh kalah dengan anak-anak orang lain. Meski ayahmumendapat makan dari gubernemen, kau tak boleh jadi priyayiyang sore-sore sudah tak punya kerja. Kita mestinya bisa sama-sama kaya dengan cina-cina itu. Tapi kita bagaimana bisa kaya, kalau sore-sore kita sudah duduk santai dan mereka sampai nanti jauh malam masih tetap mengurusi dagangan. Sampai larut malam, saat kita mungkin sudah mengeluarkan air liur di bantal, mereka masih menghitung laba sehari. Bagaimana kita mampu menyaingi mereka jika kita santai. Kau harus jadi pemuda yang cekatan”. Lantas satu hari ketika ia duduk di bawah kaki ibunya sambil berkata: “Bu, tadi saya tidak masuk sekolah. Saya ikut menempeli gedung-gedung milik Jepang dengan plakat: Milik Repoeblik Indonesia.. Salahkan saya, Bu?” Si ibu mengangkat tubuh anaknya. Katanya: “TidakNak. Kau tidak salah. Milik Repoeblik adalah sama dengan milikmu. Berjuanglah. Doa ibu..”. Dan jadilah Effendi kemudian aktivis.. dan dalam waktu beberapa minggu ia sudah punya regu dari anak-anak Kawatan, tak kalah dengan anak-anak Jagalan. Effendi jadi semacam legenda tentangkegagahan dan keberanian. Tentang anak muda yang dapat restu orang tuanya, meski Cuma ibunya. Anak-anak lain berjuang sendiri-sendiri, tanpa setahu orang tuanya. Kalau mati benar-benar kuburannya tak bernama. Karena mungkin saja namanya Karman, tapi ia mendaftardi kesatuan dengan nama Gondo. Siapa yang tahu nama aslinya. Nama samaran dipakai agar tak diketahui orang tuanya kalau ia ikut berjuang. Di kalangan

30


yang disebut Jawa, juga ada sikap priyayi yang masih merindukan zaman doeloe. Dan jumlah itu banyak, amat banyaknya. Bagi Hian Biauw, saat ini ia merasa bersatu benar dengan apa yang disebut tanah air. Untuk meyakinkan diridia meraup segenggam tanah, pasir. Menjatuhkan di atas kepalanya dan ia tertawa. Inilah tanah airku, Indonesia. Lalu terbayang ketika ia kecil masih berkuncir meskipun kuncir saat itu sudah dihapus.

31


6 Ayahnya pernah sesaat membiarkan kuncirnya tumbuh. Ia merasa senang dengan kuncir itu. Tapi ibunya kemudian marah. Kuncir adalah tanda kita budak. Sekarang kita adalah manusia merdeka. Lelaki tak perlu lagi berkuncir. Begitu dulu ia pernah mendengar ibunya memarahi ayahnya. Ah, ibunya perempuan yang paling cantik di dunia ini. Tetapi mengapa ibunya terlalu suka marah pada ayahnya. Bukankah ayahnya seorang lelaki yang layak untuk dipuja kaum wanita. Lelaki yang gagah. Lelaki yang selalu menepati janji dan lelaki yang suka menolong. Tetapi mengapa ibu terlalu keras kepada ayah? Lebihlebih lagi, mengapa ayahanda begitu saja diperintah ibu. Bukankah ayah sebenarnya seorang Mayoor der Chinesen? Bukankah ayah kepala rumah tangga. Dua sosok tubuh itu seolah menyusun strategi sendiri-sendiri. Tapi tak lama kemudian terdengar ledakan. Udara menjadi terang benderang. Dari kilatan cahaya api kelihatan kerangka sebuah truk yang mengangkut bensin berdrum-drum terjilat lidah api yang ganas.Pemandangan yang bukan main indahnya... Lamunan itu buyar oleh suara ledakan berikutnya... disusul oleh beberapa kali lagi ledakan yang menggemparkan bola api ke angkasa yang tadinya begitu tenang dan kelam. Suara kepanikan yang disebabkannya memberikan kesan seolah perbekalan Belanda telah diledakkan oleh seluruh pemuda Surabaya dengan seluruh mesiu yang mereka punyai. Siapa yang mengira bahwa hanyaseorang.. satu orang saja yang membuat keberangan di ujung Jalan Gemblongan di muka gedung White Away itu ? Bukan hanya puluhan tetapi ratusan tentara Belanda gugur dalam “pertempuran� semalam itu. Bau daging hangus merayap ke atas lalu melebar dan tergelar di atas seluruh kota Surabaya. Dan

32


kota Surabaya yang belum berapa lama masih tertidursekarang menyala marahdisertai jeritan dan erangan serdadu-serdadu yang sekarat dalam api panggangan. Tapi “pertempuran� hebat itu tidak pernah diberitakan oleh Belanda. Malu ? Bukan... Buat orang Belanda malam itu hanyalah kerugian sebuah truk berisi bensin serta sejumlah amunisi. Sedang yang terpanggang serdadu kulit putih. Bukan Nica tapi Cakra!!! Ironinya perjuangan itu kadang-kadang seperti ini. Yang kita tuju ialah musuh. Yang ingin kita bunuh adalah Belanda. Tapi Belanda juga punya taktik lain. Belanda yang membonceng Sekutu tidak pernah berada dalam barisan yang paling depan. Dalam sejarahnya menjajah Indonesia selama 350 tahun itu, Belanda juga tidak pernah berada dalam barisan yang paling depan. Dalam Perang Diponegoro, misalnya, yang dikerahkan juga kompeni yang asalnya dari serdadu Mangkunegaran. Perang di Aceh, banyak juga kompeni atau marsose dari Jawa. Waktu perang di Bali juga orang Jawa yang dimajukan paling depan. Seolah sesama saudara dibiarkan saling bunuh. Dua saudara itu dihadapkan sebagai musuh tanpa sebenarnya ada dendam di antara keduanya. Hanya takdir yang mempertemukan mereka sebagai musuh. Juga dalam pertempuran malam ini. Gelap malam tak bisa membedakan, mana orang kulit putih mana orang yang kulitnya coklat. Yang diketahui hanyalah, bahwa pihak sana adalah kelompok Belanda. Sedangkan kelompok kita sebenarnya sudah tercerai berai. Dua pemuda ini saja yang masih nekad. Bagi mereka juga tak ada pengetahuan tentang mana yang Belanda dan mana bangsa yang awak. Yang mereka tahu adalahdisana kubu musuh. Kalau ada di antara kubu musuh bangsa awak, itu namanya takdir peperangan. Siapapun tak bisa menduganya terlebih dahulu. Karena sekuriti juga tak jalan atau belum ada waktu itu. Cakra, kelompok dari Madura. Memang terkenal gagah berani dan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Belanda. Jika mereka

33


melempem jangan harap mereka bisa berada dalam barisan ujung tombak. Mungkin saja, pertempuran dahsyat malam itu, yang tampaknya merupakan paling heroik selama pertempuran yang sporadis akhir-akhir, memang tidak diberitakan karena korban banyaknya orang Cakra ini. Belanda mungkin takut dituding oleh pihak pejuang sebagai pemenang dalam perang dunia keduasebab masuk blok sekutu mempergunakan “orang sendiri” untuk membantai orang Indonesia. Di lain pihak lagi, jika urusan ini sampai tersiar keluar, bukan saja Belanda akan dituding, tapi Bangsa Indonesia juga akan menjadi marah. Malam kian larut, suasana menjadi hening. Kobaran api mulai padam. Lalu lintas Praban masih sepi. Tapi Praban memang sepi tiap malamnya, sesudah pelajar-pelajar pulang. Kota seakan mati. Kecuali kadang-kadang terdengar aba-aba militer dari kejauhan. Dari arah Alun-alun Contong. Belanda mundur lagi menyusun strategi yang baru. Padahal pejuang-pejuang sudah lama meninggalkan Wonokromo. Strategi disusun Belanda untuk menghadapi satu kompi tentara ekstremis. Padahal yang satu kompi itu sebenarnya dua orang saja, pemuda yang masih memakai celana pendek untuk berjuang. Sementara itu bagi republik sendiri, akibat “pertempuran” malam itu terasakan besar dalam artian bahwa dunia internasional sekarang lebih terbuka “hatinya” untuk menyadari bahwa usaha kemerdekaan yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta, bukanlah main-main. Ketut Tantri boleh dikatakan sangat berjasa dalam hal ini. Tanpa kenal lelah ia menyiarkan hasil pertemuan itu. Ketut Tantri sendiri tidak mengetahui, bahwa malam itu Cuma dua orang yang bertempur. Semula Ketut beranggapan satu kompi anak-anak dari Jagalan, B-29, yang bertempur sengit. Kadang disinilah informasi sejarah yang keliru. Sering-kali para penyiar atau pengamat

34


peperangan tidak terjun sendiri ke lapangan, sehingga mereka terpaksa harus mendapatkan sumberinformasi dari tangan kedua atau ketiga. Juga Bung Tomo tidak tahu, bahwa yang bertempur malam itu Cuma dua anak muda yang nekad dan bercelana pendek. Jangankan Bung Tomo, yang saat itu sudah dalam perjalanan ke Prigen. Belanda juga tidak tahu. Belanda Cuma tiba-tiba saja mendengar ledakan dahsyat dan tewaslah beberapa anggota tentaranya tanpa tahu siapa yang dihadapinya. Belanda seperti menghadapi hantu. Tiba-tiba saja ledakan itu menghancurkan segalanya. Belanda tampaknya seperti kalah total malam itu. Kumandangnya pertempuran yang tampaknya mau disembunyikan oleh Belanda itu menarik perhatian masyarakat. Semua masyarakat yang masih tinggal di Surabaya mengetahuinya, meskipun Belanda berusaha menyembunyikannya. Juga masyarakat golongan Tionghoa di Kapasan dan sekitarnya yang tidak mengungsi. Seperti misalnya tokoh muda masyarakat Tionghoa yang tinggal di Kapasan, dekat rumah orang tua Hian Biauw, dekat rumah mayor Tionghoa lainnya, Mayor Phe yang dikenal dengan nama Oen Tjhing Tiauw.. anak muda ini tidak berpendidikan. Ia dulu Cuma seorang penjaga toko yang tidak dikenal orang. Tapi kemudian ia mulai belajar huruf latin dengan membaca koran Sin Po yang dibuat bungkus di tokonya. Dari sana ini belajar melek huruf. Lantas kemudian ia belajar menulis. Jadilah ia kemudian semacam perwakilan surat kabar. Kerennya, jadi wartawan. Ia juga yang pertama kali menghubungkan Jakarta-Surabaya. Dengan demikian surat kabar Jakarta sudah bisa dibaca penduduk Surabaya Cuma terlambat sehari saja. Satu kemajuan. Dan Pemuda Oen ini kemudian merintis karirnya sebagai perwakilan distributor. Saat itulah dimulai satu keagenansurat kabar yang profesional. Sampai saat Proklamasi, pemuda Oen sudah dianggap sebagai seorang tokoh muda. Ia menjabat sekretaris berbagai organisasi yang bernafaskan Tionghoa.

35


Juga ia mengarang sandiwara. Pertempuran itu juga direkam oleh pemuda Oen. Tapi ia tak bertempur. Ia lebih suka membantu Sekutu mengurusi tawanan perang. Bersama mayor Phe ia membantu sekutu. Lewat pemuda Oen inilah Mayor Phe bisa menyadap keterangan yang terperinci mengenai pertempuran di Surabaya. Meskipun satu kota, tak semua kejadian dalam kota bisa direkam seluruhnya. Seringkali bagian kota yang satu dengan lainnya terputus. Sehingga untuk itu diperlukan kurir. Pemuda Oen yang sering bertindak sebagai kurir. Kepada Pemuda Oen ini Mayor Phe berterus terang bahwa anak nya ikut gerilya dan Pemuda Oen menyambutnya dengan penuh hormat. Ia sering berdiskusi dengan Mayor Phe mengenai situasi kota. Satu hari ia berkata : “Kita harus menentukan sikap, mayor," katanya. “Sikap apa” “Sikap kepada siapa kita harus membantu”. “Lantas kau sendiri, bagaimana pendapatmu”. “Kita harus membantu perjuangan rakyat Indonesia”. “Harus?" tanya Mayor Phe menyelidik. “Ya”. “Mengapa”. “Kemerdekaan ini tampaknya sudah jadi mode dalam abad keduapuluh ini.Setelah Jepang menyerah, maka akan bermunculan negara-negara merdeka. Bukan Cuma Indonesia. Seluruh negara di kawasan Asia Tenggara akan merdeka. Kita tidak akan bisa melawan arus sejarah...” Mayor Phe hanya bisa manggut-manggut. Ia “respek” pada anak muda ini dan ia bersyukur bahwa ia bisa berkawan dengan anak muda ini. Pemuda Oen kemudian mengajukan pertanyaan : “Bagaimana dengan sikap Tiongkok?” “Sikap Tiongkok yang bagaimana?” “Sikap Tiongkok terhadap perjuangan rakyat Indonesia?”

36


“Mereka juga tahu bahwa Indonesia lewat Soekarno-Hatta sudah memproklamirkan kemerdekaan”. “Sudah tahu?” “Ya, lewat rapat raksasa Ikada yang disiarkan luas ke seluruh dunia...” “Mayor tahu tentang rapat Ikada bulan September yang lalu?” “Ya, disitulah sebenarnya nasib negara yang baru merdeka itu diuji. Jika saat itu Soekarno tidak bisa mengendalikan massanya, maka oengehargaan luar negeri tidak mungkin ada. Tapi saat itu, Soekarno masih punya kharisma. Soekarno punya wibawa. Ia memerintahkan massa pulang, dan massa lantas pulang. Jika tidak, maka Ikada akan banjir darah. Jepang saat itu sudah siap membantai...”. “Benarkah itu?” “Benar”. “Lantas bagaimana sikap Tiongkok”.

37


7 “Tiongkok sebagai salah satu pimpinan dunia yang termasuk Lima Besar memang menyadari bahwa hak asasi manusia merdeka adalah hak asasi yang tidak dapat diganggu gugat. Tiongkok juga menyadari, bahwa berhasilnya Soen Yat Sen menggulingkan kekaisaran yang korup adalah sebagian berkat dana yang berhasil dihimpun oleh golongan Tionghoa di Indonesia. Jadi Tiongkok tidak bisa menghalangi kemerdekaan Indonesia. Misalnya dengan jalan tidak mengakui. Tiongkok tidak punya alasan untuk itu�. Pemuda Oen rasanya seperti tidak percaya. Betulkah Tiongkok sudah mengakui Republik yang baru lahir ini?� Mayor Phe tampaknya seperti bisa membaca alam pikiran pemuda yang duduk di hadapannya ini. Ia kemudian bangkit dan mengambil sebuah surat kabar yang sudah lusuh. Ia kemudian membalik dan memberikan kepada Oen. Terbaca di situ dengan huruf AMANAT PRESIDEN KEPADA RAKYAT INDONESIA. Isinya : Kita semua telah mengetahui, bahwa menurut kabar radio, Pemerintah Republik Tiongkok telah mengakui hak Kemerdekaan Indonesia. Pengakuan ini adalah satu hal yang amat penting sekali buat negara kita di mata dunia. Pengakuan ini seolah-olah mengusulkan dan mendorong negara lain di atas dunia ini mengakui negara kita pula sebagai negara yang berhak duduk bersama-sama dengan negara lain di atas dunia atas dasar duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Saudara-saudara sekalian, inilah yang kita maksudkan, Jasanya pemerintah Tiongkok dalam hal ini tidaklah boleh kita lupakan dan memang juga akan tercatat dalam sejarah perjuangan kita. Berhubung dengan pentingnya hubungan yang baik dan rapat antara Republik Indonesia dengan Republik Tiongkok, yang dalam bebeapa hal memang banyak mempunyai persamaan, maka

38


dianjurkan supaya seluruh rakyat Indonesia akan beramah-tamah dengan bangsa Tiongkok, baik di kota maupun di desa-desa. Sekali-kali janganlah mengadakan perbuatan yang bisa merusakkan perhubungan yang baik antara negara kita dengan negara bangsa Tionghoa. Demikian pula kami menganjurkan kepada penduduk Tionghoa di Indonesia supaya meneruskan perhubungan yang baik dengan bangsa Indonesia itu. Inilah amanat kami yang harus dijalankan dengan seikhlas-ikhlasnya. Jakarta, 27 September 1945 Kami, Presiden Republik Indonesia Soekarno Habis membaca itu pemuda Oen tertegun. Ini angin baru yang bisa meredakan segala kesalah pahaman yang tampaknya sekarang makin hari makin berlarut. Dimana-mana orang mendengar, bahwa pejuang-pejuang kita membakari pabrik-pabrik milik orang Tionghoa. Orang Tionghoa beranggapan bahwa perbuatan tersebut disengaja atas dasar rasialis.Artinya bangsa Indonesia memang tidak senang dengan bangsa Tionghoa,. Karenanya orang Tionghoa kemudian protes. Dan semua protes itu masuk lewat pemuda Oen, karena ia sebagai sekretaris. Padahal siapapun tahu bahwa pembakaran dan lain sebagainya itu adalah dalam rangka perangsemesta. Perang gerilya. Pembumihangusan memang harus dilakukan daripada jatuh ke tangan Belanda. Perang memang meminta korban dan dalam hal ini, kali ini, yang jadi korban adalah golongan Tionghoa. Isi amanat Presiden Soekarno ini sangat penting dan harus diperbanyak. Menurut pemuda Oen, isi amanat ini bisa meredakan semua kesalahpahaman. “Bagaimana menurut pendapat Mayor," tanyanya. “Sudah pasti ini masalah yang penting. Kita harus menganjurkan golongan kita untuk membantu Republik ini . Bukan karena anakku ikut bertempur. Tapi.... tapi, karena bangsa ini yang

39


sudah terjajah lama, memang punya hak untuk merdeka dan menata hidup bangsanya sendiri...� “Apakah mereka sudah siap?� Mendengar jawaban itu Mayor teringat akan beberapa tahun berselang. Ia pernah membaca tentang sengketa antara Soekarno dan Hatta yang ingin mencerdaskan bangsanya merdeka sekarang juga dan Bung Hatta yang ingin mencerdaskan bangsanya terlebih dahulu. Waktu itu, ia diam-diam mengakui bahwa kedua pemimpin itu sama-sama benarnya. Juga ketika Soekarno dan Hatta bekerja sama dengan Jepang. Ia bisa memaklumi dan tidak mencap keduanya sebagai kolaborator. Tak ada pilihan lain waktu itu. Bagi Soekarno mungkin semuanya hanya taktik. Dan menurut Mayor Phejustru disini letak kelihaian Soekarno. Ternyata dengan bekerja sama dengan Jepang, Soekarno tidak kehilangan kharismanya. Ternyata ia memang pemimpin yang sejati. Itu buktinya, dengan rapat raksasa di Ikada. Tapi Mayor Phe juga tidak tahu, bahwa malam itu, anaknya telah jadi pahlawan! Berkat Pemuda Oen harian Pewarta Surabaya memberitakan tentang pertempuran di Surabaya secara netral. Pemimpinnya Baba The Ping Oen yang dikenal sebagai wartawan yang emosional bisa menjembatani situasi. Juga pemimpin redaksinya Tjiook See Tjioe yang lebih dikenal dengan nama asam-garamnya. Pertempuran yang sengit di Surabaya yang dianggap telah dilakukan perlawanan yang gigih oleh pihakpejuang menyadarkan masyarakat Tionghoa bahwa masa tempo doeloe takkan mungkin kembali lagi. Mereka harus berani menghadapi realita bahwa kemerdekaan itu pasti langgeng dan Belanda tak mungkin kembali berkuasa lagi. Semua orang mengira bahwa pertempuran itu dilakukan oleh pejuang-pejuang Indonesia melawan Belanda dan dimenangkan oleh kelompok pejuang-pejuang.

40


“Mana Sinyo Sipit?” Tanya Effendi terengah-engah ketika ia berhasil mencapai markas pejuang di Tegalsari. Tak ada jawaban karena markas itu memang sudah hampir kosong. Semua pasukan sudah bergerak mengungsi. Yang tertinggal adalah seorang pemuda memanggul senapan yang entah bisa ditembakkannya atau tidak. Wajah pemuda itu amat apatis. “Bung, mana Sinyo Sipit?!” Effendi menggertaknya. Yang digertak hanya tersadar satu dua detik, menggeleng dan kembali memasuki dunia apatisnya. Effendi jadi geram. Ditariknya lengan pemuda itu dan digoncang-goncangkannya. Ditariknya pemuda itu untuk dipaksa lihat kepulan asap hitam dan langit yang membara di sebelah utara. “Kau lihat itu? Asap itu ? Belanda hancur di Praban oleh serangan kami. Kami.. Kau dengar? Aku dan Sinyo Sipit. Simana ia sekarang?!” Yang ditanya tetap tenang. Dalam situasi perang memang banyak orang yang lepas kontrol, tetapi banyak pula yang menjadi apatis. Mereka itu adalah orang-orang yang masih hidup tetapi yang sudah kehilangan orang tua, adik, kakak, istri dan semua orang yang dikasihi. Yang tidak tahan ada yang selalu membentak dan marahmarah kalau bertanya sedangkan yang lain ada yang tenggelam dalam dunianya, tidak tanggap kalau ditanya. Effendi sudah hampir putus asa ketika ia kemudian mendengar suara menggerutu: “Aku pun baru sampai disini dan markas juga sudah kosong”. “He.. Ternyata kau tidak bisu. Dari mana kau?” “Dari markas di Den Bosco” “Di mana Kusumo?” “Masih bertahan disana” Perlahan lengan baju dilepaskan Effendi. Kemarahannya lenyap, energinya habis. Ia duduk mendeprok di tanah.. lemas. “Ia pasti tak pulang untuk menyusu pada ibunya. Ia pasti sedang mempertahankan nyawanya. Tapi dimana ? dimana ?”

41


Tak lama ia melamun. Seorang pemuda menarik lengannya mengajaknya lari dari markas itu. Sebuah mortir meledak di belakang markas. Belanda kalap oleh kekalahannya yang konyol di Praban dan Gemblongan. Di markas perjuangan satunya di Jalan Biliton adegan yang sama terjadi. Sesosok tubuh yang penuh belepotan lumpur dengan muka yang kotor terengah-engah bertanya pada orang pertama yang dijumpainya: “Mana Effendi?” Effendi nama yang banyak dikenal untuk saat itu. Pejuang dari Kawatan ini dikenal paling berani menyusup kubu musuh. Lagipula berita tentang keberhasilan pemuda Kawatan menyerbu tempat peristirahatan Belanda malam itu sudah tersiar luas. Effendi sudah menjadi pahlawan dalam semalam. Mereka yang tidak kenal Effendi pun dapat berkisah tentang sedapnya tentang kegagahberanian Effendi malam itu, seolah mereka menyaksikan sendiri peristiwa itu. Seolah mereka hadir dan ikut membantu Effendi. Tapi siapa yang tahu bahwa hanya dua pribadi yang melakukannya? “Kau Sinyo Sipit?” Tanya seorang yang tak dikenalnya. “Betul. Tahu di mana Effendi?” “Menurut laporan bukankah ia menyerbu bersamamu?” “Tidak salah. Tapi kami berpisah disana. Kami berjanji ketemu disini.” “Tapi ia belum datang” “Beberapa pemuda lewat dan menyapanya: “Merdeka Bung!” Dengan suara lemas ia membalas, “Merdeka," lalu terduduk lemas di anak tangga beranda rumah. “Gila itu anak Jawa. Lari kemana dia?” Ia teringat sahabatnya Effendi, pemuda paling nekad dalam Pasukan Berani Mati arek-arek Kawatan yang terkenal sadis dalam menghadapi Belanda. Ia juga teringat ketika beberapa bulan yang lalu ia dikenalkan kepada komandannya, komandan Pasukan Berani

42


Mati arek-arek Kawatan, sebagai instruktur menembak. Si Effendi inilah yang membuatnya akhirnya membuat tugas khusus di dalam pasukan itu yaitu mendidik pemuda-pemuda kampung menggunakan senjata hasil rampasan dari Jepang. Karena itulah arek-arek Kawatan jadi pandai-pandai menggunakan senjata Jepang, dan karenanya paling ditakuti Belanda. Bukan karena mereka mempunyai julukan Pasukan Berani Mati, tetapi karena mereka betul-betul mahir menggunakan senjata yang dipanggul. Tapi di antara sekian banyak pemuda, ia perhatikan Effendilah yang paling mernarik perhatiannya. Pemuda yang satu ini ternyata lebih sering membersihkan dan menggosok kerisnya ketimbang senjatanya. Setiap malam Jumat ia selalu mencari kembang melati untuk memandikan kerisnya.

43


8 Memang ada mitos di antara para pemuda bahwa yang penting bagi mereka adalah memiliki ilmu kebal. Senjata apa saja sih boleh, asal tubuh kebal.. Memang tidak mudah, menurut pengalamannya, melatih pemuda-pemuda kampung untuk trampil menguasai senjata. Pertama kali menghadapi mereka hampir saja Sinyo Sipit celaka dikeroyok anak-anak kampung anggota pasukan hanya karena ia membuang bambu runcing yang dikeramatkan. Pada waktu itu Effendi sedang asyik memandikan kerisnya ketika ia mendengar suara ribut-ribut dan melihat Sinyo Sipit dikelilingi berberapa pasukan dengan mata beringas. Dengan sigap ia mendekat dan menyeret Sinyo Sipit masuk. “Kau gila! Kau bisa dibunuh oleh mereka. Apa masalahnya?” “Entahlah. Aku baru saja mulai mau melatih, mereka tahutahu melototi aku," sahutnya jengkel. Effendi jadi kehilangan akal. Ia memanggil salah seorang pemuda masuk. “Ada apa sebenarnya?” tanyanya tegas, “Kalau kalian tidak mau dilatih instruktur kita ini, kapan lagi kalian bisa memakai bedil?” “Kami tidak terima Bung Effendi, bambu runcing dibuang oleh Cina ini!” Sahutnya sengit. “Diam! Aku tak mau sekali lagi pelatih kita ini mendapat sebutan seperti itu. Biar Cina ia adalah rekan kita. Ia berjuang buat kita. Ayo, pergi!” “Gila kau, Biauw! Jangan ceroboh, Biauw. Bambu runcing itu barang keramat. Kau punya budaya leluhurmu demikianpun kami. Kau harus menghormati budaya itu. Pahamilah mereka”. “Effendi,” Keluhnya. “Apakah aku juga harus menjelaskan padamu bahwa kita tidak bakal menang dalam perang jika kita berbekal hanya bambu runcing. Kau toh...”

44


Belum selesai ucapannya Effendi cepat menyela, “Aku tahu. Aku tahu kau benar. Tapi kau tidak tahu dari mana asal bambu runcing itu”. “Aku tahu Ef. Tapi itu kalau kita mau berangkat beradu silat dan tidak untuk maju perang. Belanda bukan musuh perguruan yang dengan jantan menunggu satu lawan satu. Belanda main dor dan mereka datang menggunakan tank serta meriam”. “Itulah aku dulu bilang perang ini bukan perangmu. Ada banyak hal yang tidak atau belum bisa kaupahami. Lihat saja keris ini. Kaukira aku percaya aku bisa menghadapi tentara Belanda dengan keris ini. Tidak Biauw. Aku juga sadar bahwa itu tak mungkin”. “Lalu?” “Tidak pernahkah kau punya rasa takut? Aku...," kata Effendi sambil memukul-mukul dadanya, “Aku.. terus terang saja aku takut menghadapi Belanda. Bulu kuduk ini berdiri semua kalau ingat siapa yang kuhadapi dalam pertempuran”. Effendi terengah-engah sebelum melanjutkan, “Belanda! Belanda, Biauw” Suasana jadi hening. Masing-masing dicekam lamunannya sendiri-sendiri. Hian Biauw teringat keluarganya. Ibunya berpendidikan Belanda dan ayahnya orang “Pangkat”. Mereka sering dapat tamu orang Belanda. Ia lalu paham bahwa Belanda tidaklah begitu mengerikan baginya. Lain halnya dengan Effendi. “Belanda sudah ratusan tahun menjadi tuan kita. Ayahku, kakekku, dan kakek dari kakekku semua diperintah Belanda. Kini tiba-tiba aku harus melawan mereka dalam peperangan. Orang yang sudah terbiasa diperbudak kini menghadapi yang dipertuan. Kita butuh kepercayaan pada diri sendiri. Kita butuh dorongan dan semangat dan bukan senjata melulu...” Keduanya diam lagi. Hian Biauw perlahan-lahan belajar memahami cara berpikir sahabatnya. Pada mulanya memang ia

45


jengkel pada segala pemikiran-pemikiran irasional itu. Meskipun usianya masih muda, Hian Biauw dari kecil sudah dididik untuk memecahkan segala persoalan dengan rasionya. Pernah ia menanyakan pada ibunya tentang dongeng pengasuhnya yang mengatakan bahwa bisul akan keluar dari pantatnya kalau ia berani duduk di atas bantal. Ibunya tertawa sambil bertanya, “Dan Biauw percaya?” Hian Biauw pada waktu itu membungkam. Ia percaya karena pengasuhnya telah mengisahkan banyak bukti-bukti. Tetapi ia membantah ibunya ia juga ragu-ragu. “Biauw, duduk di atas bantal itu memang tidak pantas kau lakukan. Bukankah bantal tempatnya di kepala? Tetapi tidak boleh dilakukan tidak selalu berarti bakal menimbulkan penyakit atau bencana. Bisul itu adalah peradangan dan peradangan pasti disebabkan adanya bibit penyakit yang menyerang tempat itu. Kalau bantal bisa menimbulkan bisul di pantat, pasti juga bisa menyebabkan bisul di kepala. Biauw jangan mudah percaya pada dongeng yang tidak masuk akal, ya...?” Hian Biauw tersenyum sendiri ketika ingat ibunya. Dulu ia tak pernah mengira bahwa ia akan dapat merasa kangen sekali pada ibunya. Lamunannya mendadak sirna oleh suaara Effendi yang bersemangat: “Kau kira aku seratus persen setuju dengan seruan Bung Tomo ‘Perjuangan setiap jengkal tanah kampung halaman? Mau diperjuangkan dengan apa? Dengan apa? Dengan bambu runcing melawan Belanda?” Keduanya diam merenungkan kata-kata itu. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Hian Biau tidak pernah mengira temannya ini bisa berpikir kritis. Ia tidak juga menyangka bahwa apa yang diperlihatkannya selama ini dengan rajinnya memandikan keris mempunyai latar belakang yang serumit itu. Effendi masih terpesona oleh kata-katanya sendiri. Ia mengangguk-angguk.

46


“Tidak Biauw. Kemerdekaan ini memang harus kita pertahankan. Tetapi orang yang kita ajak mempertahankan Tanah Air ini adalah orang-orang lugu. Kau tahu... dulu mereka kira bedil itu bisa meletus sendiri kalau diarahkan pada Belanda. Jadi mereka bawa kemana-mana bedil rampasan Jepang itu dan sebagai gantinya mereka jadi umpan empuk musuh. Mereka juga mengira granat akan meletus sendiri kalau dilemparkan ke arah musuh. Lha apa tidak seperti memberi musuh senjata untuk memusnahkan kita sendiri?� Effendi berhenti sejenak. Ia memperhatikan kawannya. Kadang ia merasakan satu perasaan aneh jika ia memandang Hian Biauw. Kawannya ini boleh dikatakan aneh. Sejak awal ia sudah bilang. Perang ini bukan perangnya. Sebagai orang Tionghoa ia tak pernah mendapat perlakuan yang jelek dari Belanda. Ada hak-hak istimewa yang diterimanya. Terutama sekarang setelah perang dunia II selesai. Sekutu menang dan Tiongkok termasuk negara besar yang diakui dunia. Ikut menandatangani piagam agung PBB dan jadi kelompok lima besar. Punya hak veto di PBB. Bukankah itu satu hal yang hebat? Jadi semestinya ia tak perlu ikut perang ini. Sekarang beginilah jadinya. Kawan-kawannya banyak yang tidak senang dengan kehadirannya. Betapapun di mata sahabat-sahabatnya, Hian Biauw tetaplah orang Tionghoa yang harus dicurigai. Bukankah bisa jadi ia mata-mata yang sengaja diselundupkan. Apalagi kalau mereka tahu, bahwa Hian Biauw adalah anak Kapasan, anak seorang Mayor Tionghoa yang kaya. Daerah Kapasan memang merupakan daerah yang tidak disuka oleh pemuda-pemuda saat itu. Karena disana ada kelompok yang dikenal dengan nama Buaya Kapasan, yang mau menang sendiri dan bertindak sendiri.karena mereka merasa pintar dalam ilmu silat. Apalagi si Pengkor, biarpun kakinya cacat, tapi ia tetap jagoan dan sering mempermainkan anak perawan orang. Kurang ajarnya, yang jadi korban selalu anak orang Jawa. Bertindak demikiankarena mendapat bantuan dari tukang jaga malamnya orang

47


Madura. Satu hari hampir saja terjadi perkelahian massal antara kelompok Buaya Kapasan dengan anak-anak muda dari Peneleh, pusat pengajian yang terkenal saat itu. Sekali ini bukan si Pengkor sendiri yang salah. Ia Cuma jadi mak jomblang seorang Tionghoa kaya di Kapasan yang ingin mengambil sebagai nyai anak seorang Haji di Peneleh. Tahun itu kira-kira tahun 1935. Masa resesi baru saja selesai. Dunia perekonomian sudah mulai membaik. Tapi di kalangan pribumi perekonomian itu masih tetap jelek terus. Di saat Belanda berkuasa penuh, ituorang Tionghoa memang sering mempergunakan harta dan pengawal-pengawalnya yang sering disebut “cinteng” atau oleh pers Melayu disebut “begundalbegundal” nya melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Namun harus diakui, bahwa merebut perempuan lain yang kelihatannya cantik bukan hanya terjadi terhadap orang Jawa untuk kemudian dijadikan gundik atau nyai. Juga terhadap orang-orang Tionghoa sendiri dilakukan hal yang sama. Mula-mula orangtuanya diberi pinjaman duit. Nampaknya seperti mereka itu, golongan buaya-buaya Kapasan, seperti orang yang baik dan dermawan. Tapi kalau kemudianterbukti tidak bisa membayar, maka anaknya yang diminta. Kemudian anak gadisnya itu dipelihara. Rumah kontrakan murah saat itu. Kalau kemudian bosan, gadis Tionghoa itu bisa diperjualbelikan. Yang paling fatal bagi perempuan-perempuan itu ialah, jika “tauke” sudah tidak menyukai dan mereka kemudian dijual kepada germo di Kembang Jepun yang dikelola oleh orang-orang Jepang. Menurut orang tua-tua asal Kembang Jepun juga karena banyaknya pelacurpelacur Jepang di jalan itu. Padahal tidak semua pelacur berasal dari Jepang. Kebanyakan orang Tionghoa atauorang Manado yang kulitnya kuning dan diberi pakaian Jepang. Andil buaya-buaya Kapasan banyak dalam menghidupsuburkan pelacuran ini.mereka juga banyak mengambil keuntungan. Saat itu, ketika hampir terjadi ledakan permusuhan antara orang Tionghoa dengan warga Kampung

48


Peneleh, semua orang kalau sore hari sudah menutup pintu. Tak ada yang berani keluar kalau sendirian. Untungnya Belanda kemudian ikut campur. Pimpinan kedua kelompok itu dipanggil. Semuanya itu diketahui Effendi dari kakeknya yang bertempat tinggal di kampung Peneleh. Ia sudah tahu bahwa permusuhan antara orang Jawa dengan orang Tionghoa tidak mungkin dihapus dalam seketika. Juga tidak oleh jasa-jasa Hian Biauw yang mau bergabung. Ia juga mendengar bahwa di kelompok pejuang yang lain ada juga orang Tionghoa yang bergabung. Mereka ini bergabung secara perorangan. Seperti Hian Biauw juga. Tidak mendapat restu dari orang tua.. tapi apakah yang lain juga dapat restu ?

49


9 Suasana diam. Tak ada yang bicara. Masing-masing terbenam dalam khayalan sendiri. Juga Hian Biauw. Omongan Effendi tadi sangat membekas dalam hatinya. Ia harus mulai mengerti tentang budaya orang lain. Gurunya dulu menyebut sebagai satu kultur. Tibatiba saja ia ingat. Kalau tadi menertawakan soal bambu kuning. Ia juga teringat bahwa orang tuanya punya hiolo, meja abu sembahyang leluhur di rumah. Tiap tanggal 1 dan tanggal 15 orang tuanya bersembahyang dengan menyajikan macam-macam hidangan. Lantas siapa yang memakan. Kata orang tuanya dulu, ketika ia masih kecil, roh keluarga akan datang mencicipi segala yang dihidangkan. Bukankah ini juga lucu? Bukankah ini juga satu hal yang tidak bisa dipahami dalam waktu yang singkat? Ini adalah satu budaya. Budaya Tionghoa dalam menghormati leluhur. Orang Jawa mungkin akan tertawa dan mengejek kalau melihat ia bersembahyang dan “kui� beberapa kali di muka meja sembahyang. (kui = berlutut. pen). Jadi memang betul kata Effendi. Kita harus bisa menghormat budaya orang lain. Kalau masing-masing bisa saling menghormat, maka takkan ada sengketa. Tapi tiba-tiba saja timbul protes dalam hati nuraninya. Ini adalah perang. Seperti yang tadi ia bilang: Belanda datang dengan bedil ,meriam dan tank. Tak mungkin dihadapi dengan bambu runcing dengan keyakinan badan bisa kebal, tak mempan peluru. Kalau ia mau mencoba mengerti, ia harus punya siasat lain. Anakanak muda itu harus punya bekal lain selain bambu runcing. Ia harus rajin mempelajari mereka menembak. Kesadaran ini membuat Hian Biauw mempunyai perasaan yang lebih mendalam terhadap kawankawannya. Ia yang mengagumi Effendi, ingin membantu Effendi dengan sekuat tenaga. Ia merasakan sekarng, bahwa masalah bersama, kekurangan yang ada pada kelompoknya sebagai juga

50


kekurangannya. Ia merasa satu. Meskipun kemudian dalam hati kecilnya ia tetap yakin bahwa ia tetap akan dicap sebagai orang Tionghoa. Hian Biauw hanya bisa mengangguk-angguk saja. Dalam sekejab ia harus mengenal kebudayaan yang begitu berbeda dengan budayanya. Ia bukan hanya harus mengenal, tetapi memahami dan menerima budaya itu, bukan dengan pandangan superior ke bawah tetapi apa adanya. Itu kalau ia memang hendak berjuang bersama mereka. “Itulah orang-orang kita, Biauw. Biarkanlah mereka memiliki kekuatan dengan percaya pada bambu runcing keramat yang mereka terima dari orang pintar di Parakan. Biarkanlah mereka Biauw. Aku mohon mengertilah mereka, Biauw”. “Aku paham dan dapat menerimanya. Mungkin aku harus meminta maaf pada mereka," Ia hendak berdiri tetapi ditarik oleh Effendi. “Tak perlu. Kau diamkan dan berlakulah wajar. Diam adalah bijaksana. Kalau kau minta maaf, mungkin persoalannya akan muncul kembali. Aku nanti akan bicara dengan mereka dan besok kita tambah waktu latihan mereka menggunakan senjata-senjata modern. Dalam waktu cepat kita harus punya target bahwa setiap peluru yang diletuskan haruslah menghabisi satu nyawa tentara Belanda. Mereka memang naif, tetapi mereka cinta tanah air ini, Biauw”. Hian Biauw termenung. Mereka naif tetapi mereka berjuang demi Tanah Air mereka. Ia yang katanya pandai, ia berjuang buat siapa? Mana Tanah Airnya? Ia tidak pernah merasa jadi kawula Belanda. Ia pun tidak pernah merasa punya kiblat ke daratan Cina. Siapakah dia ini sebetulnya? Pusing kepalanya. Ia heran mengapa pertanyaan seperti itu baru sekali ini muncul. Ia bersekolah dengan rajin. Ia adalah anak sekolah Mayoor der Chinezen yang dihormati

51


masyarakat. Tetapi ia tidak pernah memikirkan mempunyai sebuah Tanah Air. “Ah," keluhnya dalam hati, “Persetan! Aku lahir di Tanah Jawa Tanah Airku ya Tanah Jawa.. Eh, Indonesia," kata Effendi. Effendi yang melihat sahabatnya diam murung mengira Hian Biauw belum dapat menangkap maksudnya. Ia lalu menghibur. “Biauw, aku juga tidak kenal budayamu. Misalnya, tentang sembahyangan dan tanah kuburan yang begitu besar-besar. Aku tidak pernah bertanya karena aku takut keliru dalam bertanya. Kau rupanya juga tidak pernah menanyakan kebiasanku memandikan keris. Suatu hari kelak kita perlu berbincang-bincang agar lebih saling mengerti�. Perlahan Hian Biauw memandang sahabatnya dan senyum cerah menghias wajahnya. Ia kemudian menagngguk... mengangguk... Sinyo Sipit mengangguk. Mendadak ia mengerti mengapa mereka tidak jadi bertemu. Bukanlah mereka berjanji bertemu di markas? Markas yang mana? Markas Kawatan? Tak mungkin. Mereka sudah mengosongkan markas itu sejak kemarin Belanda berhasil menyerbu ke Selatan. Markas yang mana? Ada dua markas besar yang sering mereka datangi untuk bertukar pikiran dengan sesama pejuang. Di Biliton ini dan di Tegalsari. Mungkinkah Effendi menunggunya di Tegalsari? Ya, mengapa tidak mungkin? Baru saja Sinyo Sipit bergegas hendak pergimenuju markas Tegalsari ia ditarik oleh Pak Asmanoe yang langsung mengajaknya mengungsi menyelamatkan diri. Sejak kejadian kemarin malam, Belanda membabi buta menembaki siapa saja yang terlihat berada di jalan raya. Secara teratur pemberitaan tentang jalannya pertempuran lainnya bisa diikuti lewat harian Pewarta Surabaya. Tapi orang tak tahu persis bagaimana situasinya yang sebenarnya. Apakah Belanda

52


yang menang perang, atau pejuang-pejuang Bangsa Indonesia. Dari sudut pandang orang Tionghoa keadaan menjaditidak menentu. Apalagi pers Tionghoa saat itu banyak memberitakan tentang pembumihangusan dan perkosaan terhadap orang-orang Tionghoa. Dalam sejarahnya, memang tampaknya pers tionghoa atau karena ia berbahasa Melayu Tionghoa memang tidak bersimpatik kepada perjuangan bangsa Indonesia. Sering ia bahkan memuat berita yang bisa menerbitkan orang di luar negeri salah mengerti tentang perjuangan yang sebenarnya dari Bangsa Indonesia. “Mayor harus mencegah pemberitaan yang tidak menguntungkan perjuangan bangsa Indonesia," Demikian satu hari pemuda Oen berkata ketika bertamu di rumah Mayor Phe. Ia kemudian menceritakan dan tambah memperkuat pendapatnya bahwa Belanda sudah tidak mungkin lagi kembali ke Indonesia. Sekutu pasti akan menarik diri. Karena menurut pendapatnya, Sekutu juga harus membangun negerinya sendiri yang rusak akibat perang yang baru lalu, atau membantu sahabt-sahabatnya dari kebangkrutan ekonomi akibat perang. Soal bekas Hindia Belanda, itu bukan soal yang besar. Kalau negeri ini mau merdeka, mereka yang tadinya berperang untuk memerangi fasisme, tidak mungkin menghalangi satu bangsa untuk merdeka. Mayor Phe sangat kagum dengan pemikiran pemuda ini. Walaupun usianya masih muda tapi pikirannya mempunyai cakrawala yang luas. Jarang anak muda yang mempunyai pandangan jauh ke depan. “Sulit untuk meminta pers tidak memberitakan hal-hal yang tidak mengenakkan bangsa Tionghoa. Apa yang diberitakan itu bersumber pada kenyataan. Memang harus kita akui, bahwa kemerdekaan ini tampaknya terlalu tergesa-gesa. Tanpa persiapan. “Menurut Mayor Phe bagaimana?" tanya pemuda Oen. “Maksud saya tidak seperti Jepang. Bangsa Indonesia terlalu “lembek” dalam menegakkan disiplin. Tidak seperti Jepang. Ketika

53


mereka masuk Indonesia misalnya dan melihat banyak pencoleng dan pencuri, mereka kemudian mengeluarkan Maklumat no 1 yang isinya akan diberikan hukuman keras bagi mereka yang mencuri dan merampok. Peraturan itupun tidakcuma tertulis, tapi benar-benar dilaksanakan. Yang mencuri kemudian dihukum berat di muka umum. Akibatnya tak ada yang berani mencuri. Tapi di awal Revolusi, perampokan merajarela dan tidak ada peraturan yang membuat mereka jera.Pemuda Oen dalam hati membenarkan. Tapi ia mencoba untuk membelakenyataan yang pahit bagi bangsa Tionghoa itu. “Perampokan itu bukan dilakukan oleh para pejuang. Kita harus mencoba mau mengerti. Belanda menembak membabi buta dari laut. Lalu yang kena orang-orang di Wonokromo. Semuanya jadi hancur disana. Mereka tak punya rumah dan mata pencaharian. Mereka ini yang kemudian masuk kota dan merampok. Tapi ini juga tidak berarti bahwa semua penduduk Wonokromo adalah perampok dan pencuri. Mereka terpaksa berbuat demikian”. “Tapi yang mereka garong adalah bangsa kita”. “Cuma kita kebetulan yang tidak mengungsi. Cuma kita yang kebetulan masih punya barang-barang untuk dirampok dan dicuri. Orang Jawa, mereka sudah kelewat melarat selama pendudukan Jepang. Mereka sudah habis. Mereka sudah tidak punya apa-apa...” “Jadi bagaimana menurut kamu sekarang”. Kita harus meminta kepada harian-harian besar seperti Pewarta Surabaya dan koran-koran Melayu lainnya supaya tidak memberitakan tentang perampokan yang terjadi. Berita itu akan makin memperuncing keadaan, tidak akan tambah menolong penduduk Tionghoa. Hal-hal yang bisa memperuncing harus kita netralisir”. “Apakah kau percaya bahwa para pejuang-pejuang kita akan menang perang?”

54


“Memang tidak bisa kita ramalkan sejak saat ini. Tergantung Sekutu. Kalau Sekutu akan membantu terus, tampaknya mereka, Belanda, yang akan menang. Tapi kita jangan lupa Tiongkok sudah mengakui Republik ini, meskipun secara lisan dan pernyataan pengakuan itu sudah diakui pula oleh Presiden Soekarno. Jadi kita tidak bisa main-main lagi. Sekutu tidak akan membantu Belanda menghalangi kemerdekaan negeri ini. Sekutu pasti akan sungkan kepada Tiongkok yang menjadi kawan mereka sebagai negara besar yang tergolong dalam Lima Besar. Perjuangan ini akan dimenangkan juga dengan diplomasi!” “Lantas apa faedahnya kalau pers Melayu tidak memuat berita-berita yang kenyataannya memang sungguh terjadi”. “Saya tadi sudah berpendapat, bahwa demi kepentingan orang Tionghoa di Indonesia sendiri masalah seperti itu harus dinetralisir. Makin diperuncing, keadaan akan tambah buruk. Kita mestinya sadar, bahwa kita yang dulu klas dua di bawah orang Belanda, sekarang berubah menjadi klas dua di bawah orang Jawa. Orang Jawa pasti akan berkuasa. Kita pasti tidak bisa berbuat apaapa. Dulu mereka diam saja diperbudak oleh Belanda dan Jepang karena masih bodoh..”. “Kalau sekarang mau bilang bahwa mereka sudah pandai?” Sela Mayor Phe. “Tidak. Cuma sekarang mereka dibakar oleh api dan semangat kemerdekaan neraka pun pasti akan tambah panas kalau dibakar semangat kemerdekaan ini. Takkan ada satu dinding setebal apapun yang bisa menghalangi. Ini harus kita maklumi”. “Baiklah kalau demikian. Nanti saya akan membicarakan dengan Baba Tjicok untuk menulis dalam pojoknya...” Usaha kedua orang ini memang tidak bisa diketahui dengan pasti, sampai seberapa jauhnya mempunyai andil terhadap usaha merukunkan kembali golongan Tionghoa dengan masyarakat Indonesia. Tapi yang jelas, pemberitaan yang tidak terlalu sensasional

55


memang bisa meredakan situasi. Kecuali misalnya masih tetap ada gejolak rasialis. Di Solo misalnya. Tapi letupan itu bisa segera bisa diatasi. Ini juga disebabkan andil pers Melayu Tionghoa itu tadi. Andai kata dipublikasikan secara meluas, maka kejadian di Solo misalnya, yang merupakan lembaran hitam pertama mengenai rasialisme sesudah Indonesia merdeka, pasti akan merambat ke kota yang lain. Masyarakat Tionghoa pada saat revolusi fisik memang seperti satu golongan yang terombang-ambing. Rasanya seperti mereka itu ibarat ular tanpa kepala. Tak ada lagi yang disebut sebagai pemimpin yang bisa diturutkan perintahnya atau nasihatnya. Mayor Phe sendiri lambat laun memang kehilangan kewibawaan sebagai pemimpin. Ia tak muncul dalam organisasi. Yang muncul ialah tokoh-tokoh muda seperti Oen Tjhing Tiauw. Sayangnya orang-orang muda yang berpikiran maju seperti Oen Tjhing Tiauw saat itu tak banyak. Mereka tetap saja melihat pejuang-pejuang kita dengan sebelah mata. Tak ada respek sama sekali. Di sinilah situasi tahun 1945 kita sayangkan tidak bisa membuat dua kemlompok ini bersatu, malah makin menggali jurang yang lebih dalam. Untungnya, dengan segala suka dan dukanya sejarah berjalan terus. Sementara itu di Malang muncul bintang baru dari tokoh “lama," seorang tokoh yang nyaris bisa dianggap sebagai pimpinan orang Tionghoa. Namanya Han Kang Hoen. Seperti Tio Hian Sioe dari Surabaya, ia duduk di lembaga legislatif. Jauh sebelumnya ia sudah menarik perhatian masyarakat dalam kedudukannya sebagai salah seorang tokoh Partai Tionghoa Indonesia. Satu partai yang dikenal gigih dalam menganjurkan golongan Tionghoa untuk memilih Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya. Han Kang Hoen adalah kemenakan wartawan Tionghoa kenamaan sebelum perang, yakni Tjan Kiem Bie. Pertanyaannya yang diajukan kepada Menteri

56


Tiongkok yang berkunjung ke Hindia Belanda. Chen Kung Po, saat itu cukup menggemparkan Hindia Belanda. Han Kang Hoen waktu itu mengajukan pertanyaan sebagai berikut: “Kalau semua orang Tionghoa yang kaya, yang punya modal dianjurkan untuk berbakti ke tanah leluhur dengan kembali ke tanah leluhur atau mengirimkan uangnya ke tanah leluhur, lantas apakah Tiongkok menginginkan semua baba, golongan Tionghoa yang tinggal di Hindia Belanda menjadi pengemis semua?” Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Menteri Chen Kung Po. Bukan karena apa-apa, melainkan karena heran, ada orang Tionghoa yang mengajukan pertanyaan serupa itu. Patut diingatkan, bahwa pada waktu itu Tiongkok sedang berperang dengan Jepang yang mulai meluaskan pengaruh militernya. Antara lain Tiongkok kemudian berhasil dimasuki oleh tentara Jepang yang disebut tentara “kate”. Tiongkok sendiri yang saat itu sedang dalam keadaan payah, sangat menggantungkan bantuan keuangan dari orang-orang Tionghoa yang ada di perantauan. Antara lain dari Hindia Belanda. Sambutan masyarakat Tionghoa di Hindia Belandamemang bukan main. Banyak usaha amal dilakukan dan hasilnya semua dikirimkan ke Tiongkok. Untuk rasa terima kasih itulah Menteri Tiongkok sampai beberapa kali mengadakan kunjungan ke Hindia Belanda. Sudah barang tentu, tidak semua golongan Tionghoa yang ada di Hindia Belanda setuju dengan kejadian ini. Sebagian ada yang tidak setuju, terutama sekali yang dari kelompok Partai Tionghoa Indonesia, dimana Han Kang Hoen bergabung. Pada saat itu memang ada anggapan bahwa perekonomian Hindia Belanda yang baru saja bangun akibat adanya resesi dunia, masih membutuhkan “kapital” yang cukup besar. Juga kalangan Tionghoa memerlukan kapital besar untuk mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan Belanda yang terkenal dengan julukan “The Big Five”. Menurut kelompok PTI, jika orang-orang Tionghoa mengalirkan modalnya ke Tiongkok

57


dalam jumlah yang besar, maka nasib orang Tionghoa yang ada di Hindia Belanda sendiri yang bisa menjadi lemah. Karenanya, Han Kang Hoen mengajukan pertanyaan di atas, yang sayangnya tidak bisa dijawab oleh Menteri Chen Kung Po. Pihak Belanda sendiri menjadi senang dengan pertanyaan tersebut dan pertanyaan tersebut sering diambil oper oleh pihak Belanda jika mengadakan pertemuan dengan golongan Tionghoa. Sikap Belanda terhadap Partai Tionghoa Indonesia juga makin lunak. Tidak sekeras seperti terhadap partai-partai kebangsaan yang lain, misalnya PNI. Orang-orang boleh saja mempunyai pendapat laintentang sikap Han Kong Hoen di kemudian hari. Tapi apa yang terjadi pada saat itu, di saat orang-orang Tionghoa lainnya berlindung di bawah selimut dan menggeluti istrinya, pemuda yang satu ini dengan suara lantang berucap : “Kaum Tionghoa harus berdiri di belakang Pemerintah Republik dalam artian yang seluas-luasnya�. Pernyataan ini bukan sembarang pernyataan. Pernyataan tersebut diucapkan di muka Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Malang pada tanggal 18 Desember 1945. Antara lain Han Kang Hoen bersuara : Di sini saya ingin mengemukakan, bahwa rakyat harus memberi kepercayaan sepenuh-penuhnya pada Pemerintah Republik dan jangan mempersulit Pemerintah dengan mengambil tindakansendiri-sendiri. Dalam Negara yang berkedaulatan Rakyat, memang diakui bahwa Negara itu miliknya Rakyat. Rakyat yang menjadi “Raja� dan Pemerintah adalah pengurus pengurusnya yang terdiri dari orangorang yang berilmu tinggi, luas pemandangannya dan yang mewakili rakyat ke dalam dan ke luar. Jadi, kalau sebuah negeri ingin maju pesat, haruslah Pemerintahan diberikan keleluasaan bergerak dalam segala hal.

58


Bolehlah saya umpamakan di sini, negara itu sebagai kendaraan motor dan pemerintah yang menjadi sopirnya, sedang penumpangnya adalah rakyat jelata. Kalau si penumpang setiap saat mengganggu sopir dan ingin turut pegang setir dan membunyikan klakson atau mengalih-alih versnelling dan yang lain tiba-tiba menginjak gas sampai penuh, maka dapatkah sang sopir menjalankan mobilnya dengan betul? Penumpang yang tidak memberikan kepercayaan kepada sopir dan tiap saat mau ikut menyopir bukan hanya membantu sang sopir tetapi tambah membuat sopir menjadi bingung sehingga satu saat mobil tersebut bisa menabrak sesuatu. Kalau saudara tidak percaya dengan omongan saya, bolehlah saudara nanti sekeluar dari gedung ini mencoba dengan mobil saudara sendiri. Dengan singkat saya hendak mengatakan, supaya dipertimbangkan oleh saudara-saudara sekalian untuk mengirim mosi kepada Kabinet Syahrir yang maksudnya kita di sini bersatu bulat berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia yang bertata tertib teguh. Sudah barang tentu, Han Kang Hoen yang dikenal sebagai orang Tionghoa memperoleh reaksi yang keras. Tidak semua orang setuju atas pendiriannya berdiri dengan bersatu dan bulat di belakang Republik Indonesia. Ada yang bilang: Atas dasar hak apa Han Kang Hoen berkata demikian. Beberapa orang bahkan mengejeknya dengan “Anjing Republik�. Tapi betapapun harus diakui, meskipun orang tidak tahu jelas, Han Kang Hoen mewakili siapa saat ia berbicara itu: Mewakili partai atau mewakili kelompok Tionghoa, apa yang diutarakan itu cukup memberikan hawa segar bagi kelompok Tionghoa yang pro Republik. Ada yang kemudian bilang: Kita memang tidak punya pilihan lain. Kita harus pro terhadap Republik.

59


10 Berbondong orang di Surabaya kemudian mendatangi pemuda Oen Tjhing Tiauw. Sama-sama menanyakan reaksi pemuda tersebut atas suara Han Kang Hoen yang menggeledek dari Malang. Dengan kalem Oen Tjhing Tiauw memberikan saran, agar mereka tidak membuat gerakan apa-apa terlebih dahulu. Gerakan itu menurut pendapatnya harus satu. Karena pemuda seperti pemuda Oen menyadari bahwa meskipun dari pihak orang Tionghoa, suara Han Kang Hoen tidak sepenuhnya diterima, tidak berarti bahwa golongan Jawa lantas mau menerima dengan tulus hati. Semua orang tetap punya prasangka dan mencurigai Han Kang Hoen. Oleh karena itu, jika bantuan itu dilakukan secara tergesa-gesa dan tidak melihat aturan permainannya, maka bantuan itu nanti bisa disalahartikan. Sementara itu bantuan dari luar provinsi berdatangan. Dari keraton Solo, berdatangan bantuan antara lain berupa gula jawa. Dua pemuda ikut serta dalam mengantar bantuan itu. Antaranya Singgih, Singgih ini pula yang melihat situasi Surabaya di awal pertempurannya sampai beberapa bulan kemudian. Ia juga menjadi saksi mata bahwa semua orang sudah mengungsi dari Surabaya, entah ke mana. Surabaya menurut penglihatan Singgih jadi lenggang. Ia juga melihat bahwa banyak orang Tionghoa masih bertempat tinggal di rumah masing-masing. Singgih juga melihat bahwa Surabaya sudah tidak seperti sebuah kota lagi. Jalan-jalan penuh dengan barikade. Saat itu Singgih bekerja sebagai sekretaris Kraton Solo dan bertugas mengawal bantuan Kraton kepada kaum pejuang ke Mojokerto. Bagi orang Tionghoa, meskipun pusat pemerintahan Republik sudah beralih ke Mojokerto, Surabaya tetap jadi pusat isu. Dari kota ini mereka kemudian mempertaruhkan segalanya. Surabaya yang makin hari makin jauh dari pertempuran sehingga nampaknya kian hari kian kembali ke zaman yang normal membuat orang beranike luar rumah. Kehidupan yang normal mulai berjalan

60


perlahan-lahan. Penduduk sipil yang tadinya mengungsi juga ada yang berdatangan satu-satu. Orang Tionghoa tampaknya seperti jadi raja. Kota itu lenggang. Seperti yang dilihat oleh Singgih yang membawa bantuan dari Kraton Solo ke Mojokerto, lantas punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Surabaya memang melihat kota ini seperti “mati�. Nafas kehidupan sekarang mulai dicoba untuk dihembuskan kembali. Orang-orang Tionghoa mulai berani mendatangi pelabuhan Perak. Tapi gudang-gudang masih tertutup semua. Semua pintu gudang-gudang dilekati pengumuman. Sebuah kertas berukuran lebih besar dari kertas folio tertulis: Milik Repoeblik Indonesia. Mula-mula orang tak berani membuka. Tapi satu dua pedagang Tionghoa ada yang mengetahui duduk persoalannya. Gudang-gudang tersebutsebenarnya bukan milik Republik Indonesia. Dulu, pada zaman Jepang, gudang-gudang itu milik Jepang. Tempat serdadu Jepang menyimpan barang-barang keperluan perang sebelum dikirim ke Jepang. Itu isu-isu baru dalam masyarakat Tionghoa di Surabaya. Isu yang makin hari makin menyebar di kalangan masyarakat yang luas. Yang miskin lebih getol membicarakan. Tapi mereka tak punya keberanian. Yang kaya mulai menyiasati diri, untuk bagaimana bisa mengetahui dengan pasti, apa sebenarnya isi gudang tersebut. Orang-orang Madura lagi yang di dekati. Tapi orang Madura paling takut pada Jepang, karena Jepang kalau menyiksa bukan main sadisnya tidak bisa berbuat apa-apa. Gudang-gudang tetap menjadi gudang-gudang yang tidak bertuan. Secara menyelinap, ada satu dua orang Tionghoa yang dengan nekad kemudian “membobol� gudang tersebut. Dari satu gudang mereka ke gudang lainnya. Mereka menjadi terkejut ketika melihat bahwa isi gudang tersebut memang benar seperti isu yang beredar di luaran. Macam-macam isinya. Ada kapas berbal-bal banyaknya. Sampai setinggi atap gudang. Lantas di gudang lainnya ada lonjoran baja. Gudang lainnya ada berkarung-karung kedelai. Jagung dan beras. Semuanya ini merupakan harta kekayaan Jepang

61


yang belum sempat diangkut karena Sekutu sudah keburu datang. Masuk ke pelabuhan Perak saat itu memang bukan kerja yang gampang. Barikade terpasang dimana-mana. Dan sekutu lewat Belanda dan Cakranya memang siap tembak bagi siapa yang berani masuk, hanya orang Tionghoa yang nekad yang berani masuk. Untuk harga memang kelompok ini berani menyabung nyawa. Sesudah semuanya pasti, bahwa isi gudang itu merupakan tambang mas yang tak ternilai harganya, orang-orang Tionghoa yang avonturir mulai menyusun siasat baru. Dicari akal bagaimana mereka bisa mengeluarkan barang-barang tersebut untuk bisa sampai ke daerah mereka di daerah Kapasan dan sekitarnya. Di cari orang yang punya hubungan dengan pihak Belanda. Di cari orang Tionghoa yang sudah bekerja sebagai antek Nica. Dengan bantuan mereka setiap hari puluhan pedati yang ditarik lembu hilir mudik dari Perak ke tempat yang sudah ditentukan. Ke sana barang-barang berharga itu dipindahkan. Dalam sekejap orang Tionghoa yang tadinya bukan apa-apa kemudian secara tiba-tiba saja menjadi kaya. Sejarah kemudian mencatatketika Republik Indonesia, sesuai dengan bunyi plakat yang terlekatkan di situ yang menjadi pemilik datang dan membuka gudang-gudang itu. Isinya sudah kosong atau setengah kosong. Yang tersisa Cuma kain tekstil. Cukup mengherankan memangnya, dari mana Jepang memperoleh tekstil ini. Karena zaman itu orang justru kekurangan tekstil bahkan ada yang berpakaian goni yang membuat gatal seluruh badan kalau memakainya. Tapi kedelai, jagung, beras, lonjoran baja serta kopi, semuanya sudah ludes! Habis. Kejadian ini tidak pernah diberitakan oleh pers Melayu Tionghoa. Juga tidak oleh Pewarta Surabaya. Bukannya mereka tidak mau menulis, karena kejadian ini betapapun juga adalah sama dengan perampokan yang brutal. Tapi persoalannya karena memang kejadian itu dilakukan secara mulus dan dengan operasi gerakan tutup mulut. Karena kalau sampai ketahuan memang bisa ditembak mati oleh Sekutu. Mayor Phe, Oen Tjhing Tiauw atau

62


tokoh-tokoh Tionghoa lainnya tidak ada yang tahu. Mereka mungkin baru kemudian menjadi tahu, ketika orang-orang yang berbuat itu sudah jadi makmur secara tiba-tiba. Tapi apa yang bisa mereka perbuat? Sementara itu di beberapa kota lainnya kehidupan mulai menampakkan wajah revolusi yang asli. Dimana-mana sekarang kehidupan mulai tampak berat. Belanda tampaknya setapak, tapi pasti memperlihatkan keinginannya untuk merampas kembali bekas jajahannya yang pernah memberikan kemakmuran kepada negaranya. Tekad ini juga dilakukan Belanda, karena negeri sendiri hancur akibat peperangan dalam perang dunia II yang baru lewat. Belanda memang tidak punya alternatif lain selain berusaha mencaplok kembali Hindia Belanda, negeri jajahan yang pernah memberikan kemakmuran tak terbatas. Keadaan masyarakat yang kacau, dimana pun juga mengundang orang-orang yang berusaha mengail di air yang keruh. Perampokan dalam arti kata yang asli mulai merajalela. Situasi yang seperti ini sudah barang tentu tidak memperlihatkan citra yang baik tentang negri yang baru merdeka. Yang selalu masih diteropong oleh dunia luar. Bulan Februari 1946, Bung Tomo terpaksa tampil kembalimenyerukan agar situasi menjadi tenang. Surat edarannya yang berjudul aneh: Kepada Para Pemimpin Pemberontak mendapat reaksi yang positif dari masyarakat Tionghoa. Surat edaran tersebut menunjukkan itikad yang jujur dari pimpinan pejuang, bahwa perampokan dan lain sebagainya itu tidak mendapat restu dari para pejuang. Antara lain isi surat edaran itu sebagai berikut: Pemberontakan Rakyat Indonesia kini berdiri dipuncak ujian sejarah. Karena besarnya hasrat rakyat dalam berjuang menegakkan Republik, maka kadang-kadang terjadi kekeliruan yang merugikan masyarakat, sehingga terpaksalah kita menangis melihat suasana pancaroba ini yang dalam sejarah revolusibangsa sering

63


menimbulkan krisis. Kami berpengharapan para pemimpin pemberontakan jangan turut melakukan kekeliruan-kekeliruan itu dan kami minta keikhlasan, kesucian para pemimpin, jangan membikin gaduh dan kekacauan rakyat. Para pemimpin yang tidak ikhlas dan suci mereka itu adalah pengacau yang sebesar-besarnya dan mereka inilah juga akan menjadikan rakyat menjadi korbannya. Para pemimpin pemberontakan yang tidak suci dan ikhlas harap lekas meninggalkan barisan pemberontakan. Mereka yang mengacaukan akan dituntut oleh rakyat menurut hukum revolusi. Soetomo Pemimpin Besar BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) Kutuarjo, 23-2-1946 Sebelumnya tanggal 20 Desember 1945, Perdana Menteri Republik Indonesia Soetan Syahrir juga sudah memberikan amanatnya. Isinya antara lain sebagai berikut yang ditekankan bahwa janganlah kekuasaan dituntun oleh hawa nafsu: Kedaulatan Rakyat adalah kekuasaan rakyat, tapi rakyat harus tahu mempergunakan kekuasaannya itu dan jangan salah mempergunakannya. Banyaknya kecelakaan di dunia ini karena orang tidak tahu mempergunakan kekuasaan. Kalau kita mempunyai senapan, hendak tahulah kita bagaimana mempergunakannya, kapan, dan terhadap siapa. Kekuasaan hendaknya dipergunakan supaya rakyat bisa merasa aman dan tentram, jangan sampai sebaliknya, rakyat justru merasa terancam. Janganlah kekuasaan dituntun dengan hawa nafsu. Yang punya kekuasaan hendaknya mengerti bahwa ia berkuasa karena rakyat menyanggupkan kekuasan kepadanya. Karena itu ingat selalu untuk menjaga ketentraman rakyat. Tiap kekuasaan yang disalahgunakan, tentu dan pasti akan menemui keambrukan. Malang, 20 Desember 1945.

64


11 Gejolak di kalangan kelompok Tionghoa yang tadinya tergabung dalam Partai Tionghoa Indonesia mulai memperoleh bentuknya. Usaha-usaha yang positif untuk membantu para pejuang sudah pasti. Cuma tinggal bagaimana bentuknya sekarang. Mayor Phe dan Oen Tjhing Tiauw misalnya, lebih condong bahwa bentuk tersebut tidak perlu khas Tionghoa. Dalam artian misalnya membentuk pasukan Tionghoa sendiri. Seperti yang saat itu dibentuk oleh Belanda dengan nama Poh An Tui yang tujuannya adalah untuk menjaga keamanan kampung halaman dari kemungkinan gangguan para perampok.karena meskipun para pembesar sudah berseru agar kekacauan tidak diteruskan, tetapi perampokan ternyata terus ada. Situasi ini yang dimanfaatkan Belanda untuk membentuk Poh An Tui itu tadi. Sementara kelompok lain yang masih independen, diluar Partai Tionghoa Indonesia ingin membentuk satu laskar tersendiri yang terdiri dari orang-orang Tionghoa melulu. Ini maksudnya supaya kelihatan nyata bahwa orang Tionghoa juga ikut bertempur. Perdebatan yang sengit terjadi. Dalam hal yang semacam ini sikap orang Tionghoa memang komunal. Mereka Cuma menunggu instruksi dari orang yang bisa mereka anggap sebagai pemimpin. Situasi yang semacam ini yang membuat bingung Oen Tjhing Tiauw. Mendirikan laskar semacam itu pastilah tidak bisa dan tidak boleh terjadi. Situasi di Hindia Belanda lain dengan di Amerika, dimana keturunan Jepang di sana sama-sama membentuk satu barisan yang terkenal dalam perang dunia II, yang ikut menngempur pertahanan Jepang di Okinawa. Oen tidak menghendaki cara-cara yang sedemikian. Karena akibatnya nanti bisa jadi masalah internasional. Oen kemudian dihanntam dari kanan kiri. Ia dianggap masih nasionalis Tionghoa. Padahal semua pikiran itu berlandaskan satu kenyataan, bahwa orang-orang Tionghoa di Indonesia belum

65


jelas kewarganegaraannya. Jika ada satu kompi saja yang terdiri melulu dari orang Tionghoa, maka Belanda bisa menuduh Indonesia sudah mengikutcampurtangankan tangan asing dalam persoalan dalam negerinya. Tiongkok nantinya akan terlibat. Situasi yang semacam ini yang tidak diinginkan Oen. Kepada Mayor Phe diutarakan pendiriannya dan ia meminta agar Mayor Phe mempergunakan sisa-sisa wibawanya untuk mempengaruhi kelompok yang mau mendirikan laskar Tionghoa itu tadi. “Bisa ada insiden internasional, Mayor," kata Oen. “Sebenarnya Tiongkok juga tidak keberatan”. “Memang tidak. Justru di sini kita harus keberatan. Tiongkok pasti diam dan ini bakal dipergunakan oleh Belanda untuk bereaksi di luar bahwa kita sudah minta bantuan dari Tiongkok. Nanti bisa Inggris atau Amerika membantu Belanda dan Rusia juga nanti bisa membantu kita. Negeri ini bisa jadi kancah peperangan dunia yang baru...” “Kau memandang masalah ini terlalu jauh”. “Tidak Mayor. Saya bukan takut pada peperangan. Tapi nama baik Republik ini harus kita lindungi. Tidak boleh ada prasangka yang jelek. Kita masih butuh bantuan dan simpatik dari dunia Internasional”. “Lantas apa yang kau maui” “Mayor pergunakan wibawa untuk menggagalkan kemungkinan pendirian laskar tersebut”. “Kau yakin laskar itu bisa berdiri”. Mayor Phe diam sesaat. Ia menganggap pemuda ini cerdik. Ia sejak lama memang sudah punya pemikiran, jika kita pro pada Republik, kita harus hati-hati dalam menyangkutkan Tiongkok di dalamnya. Ia juga tidak pernah bisa mengerti mengapa Tiongkok sebagai negara yang besar dalam memberikan pengakuan kepada Indonesia Cuma lisan saja, melalui satu pidato radio yang kebetulan

66


ditangkap di Indonesia. Untungnya Soekarno cepat tanggap dalam mempergunakan moment tersebut untuk kepentingan revolusi. Sehingga nampaknya dari luar, sudah ada negara besar yang memberikan pengakuan kepada Indonesia. Negara besar tadi adalah Tiongkok. Bukan Cuma besar karena jumlah penduduknya, melainkan karena Tiongkok saat itu memang besar. Menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Mempunyai hak veto. Mayor Phe tetap tidak bisa mengerti. Mengapa Tiongkok tidak meniru India atau Mesir yang memberikan pengakuan berdasarkan sopan santun diplomatik yang resmi. Jadi benar juga pemikiran Oen ini. Jika Tiongkok diam saja kalau diserang Belanda, itu bisa ada pengertian bahwa Tiongkok memang betul-betul membantu perjuangan ini. Dalam situasi seperti sekarang ini memang diperlukan caracara berpikir seperti Bung Hatta. Hati-hati! Nampaknya Oen Tjhing Tiauw memiliki cara berpikir semacam itu. Itu tercermin mengenai pengertiannya tentang kemerdekaan. Beberapa waktu yang lalu, pemuda ini pernah bilang, bahwa seluruh negara-negara di Asia Tenggara akan merdeka. Semuanya itu tuntutan sejarah. Tapi beberapa hari kemudian ia masih mengajukan pertanyaan apakah para pejuang-pejuang itu sudah siap. Mengapa pemuda Oen mengajukan pertanyaan yang serupa itu? Apakah sedikit banyaknya ia terpengaruh oleh perampokan-perampokan yang terjadi, sehingga mempunyai kesimpulan bahwa para pejuang belum siap? “Jadi bagaimana maksudmu yang sebenarnya," Mayor Phe menyelidik bertanya, Pemuda Oen memandang Mayor Phe. Lakilaki ini sudah dianggap semacam gurunya. Tempat ia bertanya mengenai berbagai macam persoalan politik dan kemasyarakatan. “Menurut pendapat saya, saya membenarkan tindakan anak mayor," katanya tandas. “Ah, itu Cuma petualangan anak-anak muda�.

67


“Tidak mayor. Dalam pertempuran yang terjadi sekarang memang harus diwakili oleh anak-anak muda. Yang tua-tua tidak mungkin ikut bertempur. Mereka sudah tahu enaknya hidup dalam alam penjajahan. Bagi mereka sebuah revolusi seperti yang terjadi di Prancis berabad yang lalu, hanya sebuah kisah sejarah yang harus mereka hafal. Tapi bagi anak-anak muda, itu sebuah cita-cita”. “Lantas kau sendiri? Mengapa tidak ikut bertempur?” “Aku, mayor?” Lalu Oen Tjhing Tiauw tertawa. Ia yang merasa tubuhnya terlalu pendek dan gemuk. “Mengapa kau tertawa?” “Tidak mayor, aku hanya lucu kalau orang seperti aku harus memegang bedil” Mayor Phe diam. Tapi kemudian ia memberikan jawaban: “Baiklah. Aku akan coba omong dengan teman-teman yang lain. Kau juga temui baba Oei Chiao Liong. Kau sebaiknya sering berhubungan dengan anak muda itu”. “Baik mayor” Keduanya kemudian berpisah. Laskar Tionghoa memang kemudian dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak pernah ada. Dua sahabat itu akhirnya benar-benar berpisah. Keduanya memang sampai ke Mojokerto. Tapi di sana, belum sempat berjumpa, masing-masing sudah harus meneruskan route perjuangan yang tidak seiring. Effendi menggabungkan diri dengan pasukan Jarot ke Bojonegoro dan dari sana berjuang kembali ke Surabaya. Sinyo Sipit yang nama aslinya kini sudah tidak dikenal bergerak dari Mojokerto ikut bergerilya ke daerah Trawas terus naik Gunung Welirang sampai turun ke Prigen. Perjuangan yang melelahkan, pindah dari satu daerah ke daerah yang lain, makan dan minum mereka dapat seadanya atau dari bantuan penduduk setempat yang mereka lewati, membuat Sinyo Sipit dewasa sebagai pejuang. Ia pun makin paham akan budaya

68


orang-orang di sekitarnya. Bangsa ini dulu oleh kaumnya dianggap bangsa kelas dua, kelas kambing. Nyatanya sekarang orang-orang yang ia gauliitu bagiku tegar semangat. Mereka tidak berlama-lama menangisi kepergian ayah atau ibu atau saudara yang tewas oleh peperangan. Bahkan semua itu seolah cambuk yang makin mengobarkan semangat tempur mereka. Mereka seolah rela.. ya, bahkan jiwa sendiri mereka relakan juga... Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia kini yang kulitnya telah coklat oleh matahari sudah merasa dirinya satu dengan temantemannya. Kalau berkumpul dengan mereka ia sudah tidak merasa berbeda, tidak hingga bahwa dirinya orang Tionghoa. Hanya pada malam hari, pada waktu berjaga dan sendiri ia masih harap teringat ibu dan ayahnya. Ia kangen dan ingin sekali mendapat kabar tentang diri orang-orang yang sangat dicintainya itu. Apakah mereka selamat atau... ah, ia tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak. Ia sudah merelakan dirinya, mati pun sudah tidak diingatnya. Tetapi ia tidak bisa memikirkan untuk kehilangan kedua orang tuanya. Ia merasa masih berhutang kepada mereka. Ia yang pergi dengan pamit lewat surat saja, merasa belum pernah membalas hutang anak kepada orang tuanya. Dan ia juga teringat kalau dirinya orang Tionghoa, berbeda dengan teman-temannya, apabila ada orang yang bersikap curiga terhadap dirinya. Teman-temannya memang sudah percaya pada dirinya. Tetapi ada saatnya, kalau terjadi sesuatu ketidakberesan, ada pengkhianatan, masih dirasakannya juga ada satu dua yang melirik padanya. Ia juga tidak senang dan getir kalau sudah begitu. Tetapi untunglah lebih banyak temannya yang mengerti dirinya dan kemudian menghiburnya. Ia pergi menjauh dengan mereka... Di desa ini ia lebih dalam mengenal bangsa ini. Di desa ini iamelihat banyak pemuda-pemudi dri kota Malang bergabung. Tujuan mereka sebenarnya adalah front Surabaya. Tetapi Surabaya sudah ditinggalkan. Para pejuang telah mengungsi dari Surabaya.

69


Setelah melakukan perjalanan yang lama dan melelahkan, akhirnya kesatuannya mengambil keputusan untuk menempati pos di Prigen, dekat dengan markasBarisan Pemberontak Republik Indonesia yang bermarkas di pertigaan Prigen menuju Trawas dan Tretes. BPRI ini Cuma namanya saja yang keren. Hian Biauw sendiri tadinya menduga bahwa nama itu sama dengan nama sebuah kesatuan yang besar dengan anak buah yang angker-angker.

70


12 Tapi nyatanya tidak, Cuma sebuah nama yang menakutkan. Kalau siang hari ada tank-tank Belanda atau panser yang lewat di sana, orang-orang pada sembunyi masuk ke pedesaan. Prigen memang masih sebuah desa yang lenggang. Tak banyak penduduknya. Kebanyakan mereka ada di Pecalukan atau di Tretes. Pompa bensin yang terletak di dekat pemandian sudah dibumihanguskan. Dulu di situ tempat markas Belanda zaman damai. Sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Tempat pemandian itu juga dulu pusat hiburan Belanda. Agak naik sedikit menuju ke Tretes, pasukan Hian Biauw bermarkas. Tak ada kerjanya yang berarti. Perjuangan memang sifatnya sporadis. Pandaan sudah direbut Belanda. Tapi Prigen sampai ke Tretes tidak jelas. Mortir masih sering ditembakkan pada pejuang kalau malam hari.tanda perlawanan terhadap musuh masih ada. Pertempuran siang hari jarang ada, karena ada instruksi untuk menghindari bentrokan secara fisik. Hian Biauw mempunyai kesempatan untuk mengenal dari dekat kehidupan rakyat di pedesaan ini. Kehidupan yang sudah dimulai ketika embun pagi masih menutupi jalan-jalan dan berakhir sebelum matahari terbenam. Pejuang-pejuang itu jadi latah. Jadi ikut budaya penduduk setempat. Mereka sudah merasa ngantuk kalau jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Udara Prigen memang lain dengan Surabaya atau Mojokerto. Jam lima sore sudah ada kabut, biar hujan tidak ada. Cuaca Prigen kalau sudah hujan tidak ketolongan lagi. Akan terjadi hujan gerimis yang tidak berkesudahan dan orang malas untuk keluar rumah. Jam lima sore pejuang-pejuang sudah berselimutkan sarung. Dalam keadaan seperti ini, yang tidak kuat imannya jadi goncang. Merasa tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membunuh kesepian. Naik ke Tretes untuk mencari hiburan sudah tidak mungkin lagi. Patroli Belanda masih seing berseliweran dan pejuang-pejuang

71


dilarang mengadakan kontak senjata. Di sini yang membuat tangan jadi gatal. Picu senjata jika ditarik, pasti ada serdadu Belanda yang mati, karena jarak tembaknya dekat sekali. Pengalaman jatuhnya korban di Praban beberapa waktu yang lalu, Belanda jadi pintar sekarang kalau patroli. Mereka berpatroli dengan membariskan para tahanan di muka konvoi. Jika para pejuang menembaki mereka, yang jadi korban adalah tahanan-tahanan yang diduga mata-mata Republik itu. Bisa terjadi dan sering terjadi bahwa korban itu terdiri orang tua, saudara, atau kekasih para pejuang. Rasa gemas, marah dan ketakutan kemudian silih berdatangan. Ada rasa geram tapi tak bisa berbuat apa-apa. Suara Bung Tomo makin hari makin reda. Tak ada suara yang menggebugebu lagi seperti tempo hari. Suara yang membuat pemuda-pemuda malukalau tidak memanggul senjata. Menurut berita, Bung Tomo sudah hijrah ke Mojokerto, bergabung dengan pemerintah darurat Jawa Timur yang mengungsi ke sana. Markas BPRI Cuma tinggal nama dan kosong. Tempat itu kemudian jadi incaran Belanda. Sebulan kemudian daerah itu diduduki Belanda. Lokasi para pejuang sekarang jadi lebih terjepit. Untuk baik ke atas tak mungkin. Tretes tampaknya sudah jadi daerah Belanda yang dikuasai sepenuhnya. Malam pun pada pejuang tidak berani menembakkan senjatanya. Cuma sekali dua terjadi pertempuran menghadang Belanda di dekat Candi Jawi. Pejuang berusaha memutus perbekalan Belanda yang dikirim dari Surabaya atau Pasuruan. Daerah-daerah lainnya sudah mapan dikuasai Belanda. Lama kelamaan persediaan senjata dan peluru menipis.sedangkan uang untuk membeli tak ada. Komandan pasukan, Mayor Mangku selalu melarang anak buahnya untuk menghamburkan peluru dan melakukan kontak bersenjata. Peluru itu harus dipakai jika kontak fisik sudah tidak bisa dihindarkan. Satu

72


peluru harus mampu menghabisi nyawa musuh. Satu hari Hian Biauw menghadap komandannya. “Seminggu lagi persediaan kita sudah habis," ujarnya melapor. “Ya," Mayor Mangku lalu diam. Ia memandang lewat jendela memandang jauh ke depan ke jurang dan ngarai. “Ya," ujarnya seolah pada diri sendiri. Kita tak tahu apa yang akan terjadi seminggu lagi," sambungnya kemudian. “Kita harus berusaha” “Kita terjepit sekarang” “Tapi kita harus berusaha menembus blokade Belanda” “Dengan apa?” “Kita menyerbu langsung, lantas kita menuju Trawas. Dari sana lebih gampang bergabung dengan kawan-kawan yang ada di Mojokerto” “Perintah yang kita terima, mempertahankan Prigen selama mungkin. Kalau pindah, kita tidak akan ke Trawas. Kita akan ke Pecalukan”. “Tapi Belanda ada di Tretes” “Kita bisa memakai jalan setapak” “Lantas kalau peluru-peluru kita habis” “Itulah masalahnya. Padahal Djarot sudah hijrah menuju Bojonegoro” “Mengapa harus ke sana. Mengapa Malang, Blitar tidak dipertahankan?” “Itulah yang namanya strategi atasan. Kita Cuma menjalankan tugas dan tidak bisa membantah. Seperti sekarang ini: Belanda ada di ujung mata, tapi kita tidak bisa berbuat banyak”

73


13 “Saya mungkin bisa menolong komandan," ujar Hian Biauw lirih. Ia masih tetap takut bahwa usulnya dicurigai. Tapi ia kenal betul siapa pak Mangku. Orangnya baik dan tegas sebagai pimpinan. Cacatnya menurut pendapatnya, ia tidak memiliki jiwa kepemimpinan seperti yang dimiliki Effendi. Mayor tak punya inisiatif sendiri. Selalu taat pada atasan dan tidak berani mengambil resiko. Seandainya Effendi yang jadi komandan, Belanda takkan berumur panjang. Sikat saja, urusan belakangan. Kalau Effendi yang jadi komandan, persediaan peluru tak mungkin Cuma tinggal seminggu dan tak ada usaha untuk melengkapi dengan mesiu tambahan. “Dengan cara bagaimana?" tiba-tiba Mayor Mangku tertarik. “Saya bisa menulis surat kepada orang tua saya di Surabaya untuk meminta uang”. “Siapa yang bisa disuruh sebagai kurir. Surabaya sudah dikuasai sepenuhnya oleh Belanda” “Siapa saja yang bisa kita percayai. Dengan uang itu kita bisa membeli senjata Belanda. Atau ...” “Atau apa...?” “Atau kita tidak meminta uang tapi minta senjata” “Ayahmu dapat mengusahakan itu?” “Saya belum pasti komandan. Tapi bisa kita coba” “Kita tidak bisa main mencoba, kita harus mendapat kepastian” “Apakah dalam perjuangan seperti sekarang ini kepastian itu ada, komandan” “Apa yang kau maksud” Maksud saya, saat sekarang ini kita tidak boleh berkukuh pada soal kepastian. Semua harus kita coba. Kapan kita bertempur

74


juga tidak ada kepastian. Yang pasti, sekarang ini, kita Cuma menunggu. Mental kita bisa rusak karena menunggu itu. Komandan tentu tahu bahwa satu dua kawan-kawan kita sudah ada yang tidak tahan melihat perempuan kampung yang kalau mandi bertelanjang di sungai dan kita bisa mengintip dengan jelas. Kita semua terganggu karena kita tak punya kerja. Anak-anak itu datang dari Surabaya dengan semangat penuh, tapi sekarang... mereka Cuma mengintip perempuan desa mandi telanjang. Dan itu sangat menyiksa komandan” “Saya tahu” “Lantas apa yang harus kita perbuat” “Cuma terbatas pada mengintip itu saja. Mereka tak boleh lebih. Kalau terseret dan merusak disiplin mereka harus ditembak mati” “Ditembak mati” “Apa salah mereka” “Karena mereka merusak perempuan desa” “Mereka seperti saya masih anak-anak” “Pejuang sudah dewasa, tak ada anak-anak lagi. Anak-anak tak ada yang bermain dengan nyawa. Pejuang bermain dengan nyawa” “Kita tidak bermain-main komandan” Percakapan ini menurut Hian Biauw sudah melantur. Sudah keluar dari riil. Ini menandakan juga bahwa komandan pasukan sudah jenuh dengan menunggu dan menunggu yang tak ada ujung pangkalnya. Menunggu memang bisa membuat orang frustasi dan membuat orang punya sifat aneh. Hian Biauw berusaha mengembalikan kepersoalan yang semula. “Seandainya saya bisa memberikan kepastian komandan, apakah saya bisa menulis surat kepada ayah saya?” “apa kerja ayahmu” “ pedagang komandan”

75


“Tionghoa pedagang mau membantu kita?" tanya Mayor Mangku. Ia mungkin lupa bahwa yang berada di mukanya sekarang ini adalah orang Tionghoa juga. Tubuhnya yang terbakar sinar matahari menjadi hitam. Mungkin yang membuatnya orang masih beranggapan ia orang Tionghoa adalah matanya yang sipit. Karenanya dulu kawan-kawan seerjuangan di Kawatan menjulukinya Sinyo Sipit. “Saya juga anak pedagang Tionghoa," kata Hian Biauw singkat. Ucapannya itu menyadarkan Mayor Mangku masih menguatirkan bahwa surat tersebut akan membuka rahasia persembunyian mereka. Laginya belum tentu ayah anak buahnya itu berani memberikan bantuan. Membantu Republik ia mendengar hukumannya berat di kota. Di cap mata-mata Republik begitu saja, sudah cukup bagi Belanda untuk menjebloskan ke dalam penjara atau ditembak mati. Tapi, pikirnya lebih lanjut. Bantuan memang harus dicari. Tidak mungkin ia bertahan terus dengan kadangkala harus menembaki kubu Belanda untuk memberikan bukti bahwa perlawanan masih ada. Peluru pasti habis dan kalau peluru habis, itu namanya konyol. “Baiklah, kau tulis ‘Saya yang akan membawanya sendiri....’," akhirnya ia memberikan keputusan. Sekarang Hian Biauw yang bingung. Apa yang akan ditulis kepada orang tuanya. Apakah ia akan menulis pada ayahnya atau kepada ibunya? Mestinya lebih gampang jika ia menulis pada ibunya. Ibunya pasti mau memberikan uang simpanannya untuk membantu. Tapi itu semua akan membikin repot ibunya. Kepada ayahnya? Ini pun sulit. Jika ketahuan bahwa ayahnya membantu para pejuang, masyarakat Tionghoa membantu golongan ektremis. Mayor Tionghoa yang memperoleh bintang jasa dari Ratu Belanda sendiri. Akhirnya Hian Biauw Cuma bisa menyahut:

76


“Baik Mayor secepatnya saya akan menulis. Kapan Mayor akan berangkat” “Begitu suratmu selesai” “Siap komandan," lantas Hian Biauw keluar, merenung sendiri. Kabut tebal sudah menutupi lembah di bawah. Pemandangan yang indah, tapi rasa dingin menyusup sampai ke tulang. Papa yang tercinta, pembawa surat ini adalah komandan pasukan Hian Biauw. Harap papa suka menerimanya dengan penuh keramahtamahan. Keadaan Biauw sekarang ini sehat-sehat. Kami semua berada tidak sbeerapa jauh dari Surabaya. Di sebuah desa yang hawanya sangat sejuk. Membuat orang betah. Kapan kalau perang sudah usai, Biauw akan ajak papa dan mama menikmati udara segar dan bersih desa ini. Penduduknya ramah tamah. Suka menolong. Yang banyak adalah ketela dan pepaya. Mereka sbeenarnya sangat miskin. Pendidikan boleh dikatakan tidak pernah disentuh. Baik dalam zaman Belanda maupun zaman Jepang. Rasanya, pa, jika perang sudah usai. Biauw ingin tetap di desa ini untuk mengajar mereka mengenal huruf. Rasanya kemerdekaan itu percuma saja jika rakyat tetap bodoh. Rakyat tidak tahu huruf latin dan tidak bisa menandatangani surat. Semuanya, dengan cap jempol yang tangannya kita tuntun. Seperti kita sebrangkan orang buta saja. Kalau melihat situasi pertempuran sekarang, rasanya pertempuran ini sudah tidak lama lagi. Menurut teman-teman, diplomasi sedang dilakukan di Jakarta. Kalau berhasil, semua perjuangan bersenjata akan dihentikan dan Biauw bisa kembali ke rumah lagi. Tapi saat ini pertempuran belum selesai. Letusan senjata masih terjadi di mana-mana untuk membuat pusing pihak lawan. Biauw tahu, bahwa kepergian Biauw pastilah tidak mendapat restu orang tua. Papa juga tidak akan merestui Biauw, karena Biauw adalah anak satu-satunya yang diharapkan untuk meneruskan

77


keturunan papa. Tapi Biauw juga berjuang bukan untuk mati. Tapi untuk ikut mempertahankan kemerdekaan yang sudah diikrarkan oleh presiden Soekarno di Jakarta. Singkat kata, Biauw mengharapkan bantuan papa agar Papa dapat menghimpun dana dari kota untuk diserahkan kepada kami guna membeli segala keperluan untuk bertempur. Mungkin Papa akan tertawa, kalau Biauw mengatakan, kita kekurangan senjata dan amunisi. Kita sangat memerlukan Papa, dan sukalah Papa membantu kami? Biauw tak sampai hati menulis pada Mama. Tapi tolong swampaikan pada Mama, bahwa saat ini Biauw sangat merasakan kehilangan cinta kasih Papa dan Mama. Biauw sangat kangen. Saat ini Biauw Cuma bisa berdoa agar Papa dan Mama dikaruniai dan dirahmati oleh Tuhan. Biauw selalu sembahyang untuk keselamatan Papa dan Mama...� Anak Papa dan Mama yang mengharapkan doa restu Biauw. Surat ini kemudian dibaca Hian Biauw berulang-ulang. Ia merasa tidak ada identitas pasukannya yang dibocorkan. Apalagi surat ini akan dibawa langsung oleh Pak Mangku. Jadi seandainya ayahnya memang benar-benar bisa membantu, maka uang itu akan aman. Ia merasa sama sekali tak bersalah, mengapa ia sampai mau membuka kisah hidupnya yang sebenarnya, yang selama ini tak pernah dibukanya. Kalau Pak Mangku nanti ke rumahnya, pastilah tahu siapa sebenarnya. Ayahnya orang yang terkenal di kawasan Kapasan. Ia juga yakin, bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini adalah hal yang benar. Pertempuran dengan Belanda memang jarng terjadi. Masing-masing pihak berusaha menghindarkan diri dari bentrokan senjata yang nyata. Tapi seandainya ada bentrokan senjata, maka kekejaman diperlihatkan oleh kedua belah pihak. Baik oleh pihak Belanda terhadap diri seorang pejuang yang berhasil ditembak,

78


maupun perlakukan pejuang terhadap Belanda. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan nyawa lawan. Siapa yang tertembak yang belum mati, justru di sembelih perutnya dan dimasuki selongsongselongsong peluru. Ini semua, merupakan kesadisan dengan maksud untuk merontokkan semangat lawan. Memang anggota pasukan ada yang gila melihat kekejaman Belanda yang seringkali dibalas dengan kekejaman yang sama oleh pejuang kita. Yang tidak tahan ada pula yang lari, memihak kepada musuh, menjadi mata-mata.

79


14 Dalam soal persenjataan, yang dulunya berkelebihan ketika baru berhasil merampas dari gudang senjata Jepang Di Don Bosco Surabaya, keadaan kian menipis. Senjata produksi dalam negeri dari Desa Merican, Jawa Timur sendiri mutunya tidak bagus. Kadang bisa meledak bersama larasnya sekali, sehinggameninggal juga yang tadinya membidik. Karenanya harus diberi persenjataan yang sama mutunya dengan yang dipunyai musuh. Senjata-senjata itu hanya ada di pasaran gelap. Dimana, Hian Biauw tidak tahu. Namun ia tahu dengan pasti, jika memiliki uang, senjata-senjata itu bisa dimiliki dengan gampang. Uang memang berkuasa. Juga disaat perang. Untungnya pada akhirnya Mayor Mangku mempercayai. Mayor Mangku sebenarnya termasuk orang yang paling tidak mempercayai orang Tionghoa. Ada rasa tidak senang, karena ia mendengar bahwa orang-orang Tionghoa yang tidak mengungsi selama perang di bulan November tahun yang lalu, kemudian menduduki rumah-rumah orang Belanda yang ditinggalkan sebelumnya diduduki Jepang. Daerah-daerah elite yang dulu menjadi kebanggaan Belanda banyak yang dimiliki orang-orang Tionghoa. Semuanya ini memang beredar dari mulut pejuang yang satu ke mulut pejuang yang lainnya. Maksudnya mungkin untuk membakar ketidaksenangan terhadap golongan Tionghoa. Sejarah untungnya memberikan keseimbangan. Jika ada orang Tionghoa yang jelek atau jahat, pasti juga ada kelompok yang baik, yang mau ikut berjuang. Contohnya diri sendiri. Atau Mayor Mangku juga sudah mendengar kalau Tiongkok sudah memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan SoekarnoHatta. Hian Biauw juga mengakui bahwa persenjataan yang sekarang di tangan para pejuang sbeenarnya sudah tidak cocok lagi

80


untuk dipakai melawan persenjataan Belanda terutama yang mendapat bantuan Sekutu sehingga yang dipakai Belanda adalah senjata-senjata bebas yang dipakai serdadu Inggris melawan Jepang. Pertempuran yang mulai dengan gaya profesional, membuat para pejuang yang juga menyadari bahwa ketrampilan sangat perlu mereka miliki. Tidak bisa seperti di Surabaya dulu lagi. Percaya pada keampuhan bambu kuning atau cukup menelan sembilan puluh sembilan gotri sepeda agar tubuh jadi kebal. Sekarang ini di Prigen sahabat-sahabatnya mulai mempercayainya. Tapi, semuanya sudah terlambat. Mesiu sharus dihemat. Peluru tidak boleh lagi boleh dibuat latihan. Bisa menembak jitu atau tidak peluru harus dihemat. Bahkan ada perintah agar setiap peluru yang dilepaskan bisa membawa korban satu nyawa prajurit Belanda. Seandainya saja sekarang ini Effendi ada pastilah ia bisa ikut gembira bahwa ia yang benar, tempo hari. Secara rasional ia memang benar. Tapi, dulu itu, insiden yang hampir membuat ia mati dikeroyok teman-teman sendiri adalah soal budaya. Sekarang temantemannya merasakan, bahwa perang tdak bisa dihadapi dengan bambu kuning atau keris. Karena Belanda memakai bedil yang otomatis. Sedangkan persenjataan kita hampir semuanya bekas dari Jepang. Cukup modern, tapi tetap kalah dengan punya Belanda. Atau apakah di sini letak kebenaran pertanyaan Oen Tjhing Tiauw bahwa masih dipertanyakan, apakah sbeenarnya kita sudah siap menghadapi kemerdekaan sesudah perang dunia kedua usai? Pernyataan yang sebenarnya rasional, tetapi juga bisa dikatakan konyol. Bagi Soekarno, yang sudah berjuang sejak tahun-tahun 1920an masalah kemerdekaan adalah masalah yang paling hakiki dalam kehidupan bangsa. Karenanya tidak boleh ditunda lagi. Setiap ada kesempatan harus dipergunakan. Kesempatan itu datang begitu Jepang menyerah dan ada kevakuman kekuasaan di Hindia Belanda. Momentum ini yang harus

81


dipergunakan. Tidak ada tawar menawar lagi. Karena hal-hal yang belum teringat bisa dirundingkan dalam waktu belakangan. Caracara semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh golongan Tionghoa yang lebih suka berpikir secara “njelimet�. Tapi sekarang kemerdekaan ini bagi Hian Biauw sudah bukan siap atau belum siap lagi. Sudah menjadi bagian dari hidupnya yang harus diperjuangkannya, hidup sampai mati. Bagi Hian Biauw kesiapan bukan soal. Ia sudah bisa berpikir dengan pola budaya orang Jawa. Padahal mestinya, ia juga harus menyadari bahwa pola itu bukan monopoli orang Jawa. Pemikiran itu adalah pemikiran kaum intelektual, yang menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan satu bangsa adalah hak asasi yang paling utama. Kita memang tidak bisa mengerti, mengapa selama tiga ratus limapuluh tahun manda dijajah Belanda, dan kini tiba-tiba siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan. Inilah sebenarnya misteri itu. Keberaniannya dalam pertempuran di Surabaya memang membuat Hian Biauw dekat dengan komandannya. Mula-mula memang banyak yang iri. Ia sering diajak berunding oleh sang komandan. Tapi kemudian, tak ada orang lagi yang iri. Semua orang kemudian tahu bahwa Hian Biauw yang saat itu sudah dikenal sebagai Sinyo Sipit, tak punya ambisi dalam pertempuran ini. Ia hanya baru mencoba menghayati, bahwa pertempuran yang meletihkan ini adalah pertempurannya juga. Ia sudah mulai berpikir lain dan tidak lagi merasa bahwa soal kemerdekaan adalah soal orang Jawa dan memisahkannya dengan kepentingan orang Tionghoa. Habis menulis Hian Biauw tidak segera menyerahkan surat itu kepada Mayor Mangku. Ia keluar rumah dan menuju jalan. Di situ ia duduk termenung sendiri. Kerja pejuang kalau malam hari memang begitu. Tak ada kerja yang berarti. Pihak Belanda demikian juga.seolah sudah ada kesepakatan bahwa mereka akan menunda peperangan pada malam hari. Sama-sama mau istirahat. Persetujuan yang tidak pernah dicapai di meja perundingan, tetapi yang begitu

82


saja terjadi dan disepakati bersama. Ia menyelimutkan sarungnya sampai leher, mencoba mengusir hawa malam yang dingin. Ia mencoba merekam kembali bagaimana pasukannya bisa sampai di Prigen ini dan bagaimana mereka bertemu dengan kelompok gerilya yang terdiri dari kaum pelajar putri yang berasal dari Malang. Bergabungnya pelajar-pelajar putri ini membuat Hian Biauw tambah yakin, bahwa usaha mempertahankan kemerdekaan ini sudah menjadi budaya masyarakat. Rasanya tidak enak kalau tidak ikut berjuang. Pelajar putra dan putri ikut terpanggil. Inilah yang menurut pendapatnya, misteri dari arti kemerdekaan. Ia kemudian masuk rumah lagi. Meneruskan suratnya pada kertas yang lain. Papa yang tercinta, Biauw ingin menceritakan, bahwa perjuangan kaum pejuang, ikut juga berjuang kaum perempuan. Waktu kami mundur dulu, kami bertemu mereka di luar kota. Mereka sebenarnya semula berasal dari Malang. Mereka mendengar bahwa di Surabaya terjadi pertempuran. Mereka kemudian ingin membantu dan ingin ikut berjuang. Tapi para pejuang sudah meninggalkan Surabaya dan mereka kemudian bergabung dengan pasukan kami. Dari sekian banyak perempuan tidak ada yang Tionghoa. Sungguh sangat sayang. Biauw yakin, kalau mama masih muda dan masih duduk di bangku HBS, mama pasti ikut berjuang. Bukankah pada zamannya dulu mama juga dianggap pemberontak oleh kakek dan nenek karena mama ingin sekolah di HBS? Oh papa, andaikata Biauw tidak ikut berjuang, rasanya Biauw akan malu seumur hidup. Perempuan-perempuan yang masih muda yang masih memakai kuncir yang kalau di rumah kita pasti dipanggil genduk, ternyata adalah pejuang yang gigih. Mereka itulah yang tabah membesarkan semangat kita yang kadang-kadang merasa capai. Papa, biauw memperoleh pengalaman yang luar biasa indahnya dalam pertempuran ini. Apakah papa pernah mendengar dimana Effendi sekarang berada? Sejak dari Surabaya, kemudian

83


mengungsi ke luar kota, Biauw tidak pernah bertemu lagi dengan Effendi. Selain papa dan mama, Effendi merupakan orang yang ingin Biauw temui. Biauw rindu kepadanya. Ia seorang sahabat yang baik. Ia sebenarnya guru Biauw meskipun usianya sama dengan usia Biauw. Dari dirinya Biauw mengerti bahwa kita sebagai pemuda berkewajiban untuk membela nusa dan bangsa. Seandainya papa mengetahui atau mendengar dimana Effendi tolonglah memberitahu Biauw lewat Mayor Mangku, pembawa surat ini. Hian Biauw sebenarnya ingin sekali menulis surat kepada ibunya. Rasanya belum “sreg� hatinya kalau ia belum menulis surat kepada ibunya. Ibunya pasti marah kepadanya kalau ia bisa menulis surat kepada papanya tetapi tidak bisa menulis surat kepadanya. Tapi tidak. Ia tidak boleh terikat pada keluarganya. Ibunya lain dengan ayahnya. Ibunya orang perempuan. Pasti nanti banyak cerianya kepada tetangganya. Pasti ia bercerita pada tetangga bahwa anaknya yang ikut maju perang menulis surat kepadanya. Itu tidak boleh terjadi. Kalau ayahnya lain. Ayahnya pasti mampu menyimpan rahasia. Pasti tidak akan bilang pada siapa-siapa. Ayahnya pasti tahu, mana yang baik untuk dirinya, mana yang baik untuk keluarganya. Mana yang tidak baik. Akhirnya ia mengambil keputusan bahwa ia tidak menulis surat kepada ibunya. Ia hanya titip salam lewat surat pada ayahnya. Ini untuk keamanan.

84


15 Dari dalam rumah ia mendengar suara tertawa di jalan. Ia memunculkan kepalanya lewat jendela untuk melihat. Kabut tebal di udara Prigen. Ia tak melihat siapa yang tertawa. Tapi tertawa itu kemudian muncul lagi. Sekarang ada sinar api unggun. Kiranya teman-temannya kumpul bersama main gaple. Laskar perempuan ada yang ikut. Hian Biauw ingin ikut mendekat. Tapi tidak. Ia lebih senang menyendiri. Ia kemudian kembali duduk di jalan sambil menyelimutkan sarungnya kembali sebatas leher. Ia mencoba mendata kembali bagaimana perempuan-perempuan remaja itu dulunya bisa bergabung. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu, persis seperti yang ditulisnya pada ayahnya. Ketika ia bersama pasukannya mengungsi keluar kota. Di tengah jalan mereka berjumpa pejuang yang datangdari Surabaya, yang sedang berusaha menyusun strategi baru di luar kota. Di situ pemuda-pemudi itu bergabung sebagai pasukan Palang Merah atau Dapur Umum. Kehadiran mereka memberi banyak arti bagi para pejuang yang telah letih dan jenuh karena berpindah-pindah tanpa pernah menghadapi musuh secara langsung. Strategi disusun oleh para atasan dan mereka tahunya Cuma berpindah dari satu desa ke desa yang lain. Mereka ini maunya bertempur di front dan bukannya mundur terus. Mengapa mereka harus menghindari Belanda? Bukankah mereka seharusnya menghadang dan membantai Belanda? Prajurit memang tidak selalu harus diberitahu bahwa mereka harus bersiasat, demi perundingan siasat harus ditempuh. Pemimpin-pemimpin dari Pusat tidak menghendaki pertempuran terbuka. Mereka harus bergerilya. Belanda harus merasakan kehadiran mereka, bahwa mereka berada di mana-mana tetapi tidak tahu harus menghadapi pejuang-pejuang itu. Belanda haruslah merasa seperti berperang dengan hantu. Dibilang aman, namun pada

85


malam hari selalu terdengar letusan senjata dan kerusuhan di setiap kota. Entah gudang senjata Belanda yang terbakar atau rumah orangorang kaya dirampok. Itulah perang saat itu.. “He, kau melamun lagi," tiba-tiba sebuah suara merdu menyadarkan Hian Biauw yang sedang duduk sendiri di tepi jalan simpang tiga menuju Trawas. Latifah, gadis MULO dari Malang yang sudah beberapa bulan ini bergabung dengan pasukannya menyapanya dan kemudian ikut duduk di sampingnya. Hian Biauw sering merasakan Latifah sebagai orang yang sangat memahaminya, yang mau mendengarkan keluhan hatinya kalau hatinya sedang kacau atau sedih. Pertama kali ia merasa dekat pada gadis ini ketika Latifah menghibur dirinya yang susah karena kehilangan Effendi. Pada saat itu Hian Biauw seolah tidak punya teman. Latifahlah yang berjasa mengembalikan kepercayaan pada dirinya sendiri dan menimbulkan semangatnya, dan membuat ia tak lagi merasa sebatang kara. Tak banyak orang yang suka bergaul dengan dirinya. Dalam pertempuran di Surabaya, bersama Effendi, ia sering melakukan tindakan berani mati yang menjadi kekaguman pejuang lainnya. Selama mengungsi tidak ada pertempuran fisik dan tidak ada kesempatan untuk menjadi pahlawan. Apalagi, selama di Surabaya dulu ia memang terlalu dekat dengan Effendi dan belum biasa bergaul dengan yang lain-lain secara akrab. Sekarang dengan berpisahnya Effendi, ia tidak tahu harus akrab dengan siapa. Kesendiriannya makin terasa karen Pak Mangku, Komandan pasukannya yang baru, meskipun akrab dan bisa memakluminya, seorang laki-laki usia tigapuluhan yang amat tertutup. Ketertutupannya ini mungkin ada sebabnya. Pada suatu malam ketika masih di Sepanjang, Pak Mangku memerintahkan bawahannya untuk menyerbu menerobos ke Surabaya dan menembaki setiap tentara Belanda yang mereka temui. Mereka tidak mengadakan penyelidikan terlebih dulu padahal berita penyerangan itu sudah terdengar Belanda. Strategi yang disusun Belanda berupa lapisan penduduk

86


yang ditawan paling depan, dengan pasukan Cakra di belakangnya. Ketika kedua musuh berhadapan, tanpa ragu pejuang meletuskan senjata mereka. Mereka sempat mendengar pekik “Merdeka! Merdeka!” sebelum mereka menghilang dalam kelam malam. Keesokan harinya terbetik berita bahwa yang mereka bantai adalah penduduk yang diikat tangannya di belakang dan ditutup matanya dengan kain hitam. Sangat tragis memang... Sejak saat itu mereka makin hati-hati. Mereka tidak akan menyerang kalau tidak tahu pasti keadaan musuh. Dan Pak Mangku menjadi makin murung. Salah seorang penduduk yang menjadi korban malam itu adalah ayahnya sendiri... Hanya kekerasan hatinya dan kecintaannya kepada kemerdekaan yang belum pernah dirasakannya bagaimana itulah yang membuatnya masih mampu tegak di situ memimpin pasukannya. Dan Hian Biauw, seperti yang lain-lain, tidak berani mengganggu atasannya. Ia sering menyendiri, kangen pada Effendi, pada saat-saat mereka menunjukkan keberanian mereka bersama, pada suaranya... ah! Sekali lagi Hian Biauw kaget dari lamunannya. Latifah yang jengkel karena didiamkan telah mencabut bunga rumput buat menggelikan lubang telinganya. “ Mana teman-teman lainnya?” tanyanya. “Main kartu”. “Kau tidak ikut?” “Ayoh, kita ikut ramai-ramai," ajak Latifah. “Kau saja. Aku... biarlah di sini saja”. Suasana sepi kembali. Latifah tetap duduk. “Ke sanalah, kau main sama mereka," desak Sinyo Sipit lembut. “Biarlah kutemani kau di sini”.

87


16 Hian Biauw tersenyum memandang kedua mata Latifah yang lebar dan bening. Ia percaya akan kesungguhan kata-kata gadis ini. Mata gadis ini mengingatkan kepada temannya di sekolah, Mimi. Ayahnya importir gula, sahabat orang tuanya. Tapi Mimi tidak seperti Latifah. Mimi orangnya sombong dan pesolek. Mungkin, karena ia tahu bahwa ia cantik dan anak orang kaya, ia jual mahal di sekolah. Tidak kepada semua orang ia mau bersahabat. Juga tidak kepada Hian Biauw. Karena saat itu Hian Biauw lebih dekat dengan murid-murid Jawa daripada murid-murid Tionghoa yang derajatnya disamakan dengan Belanda. Hian Biauw sebenarnya naksir. Ibunya dulu juga senang dengan gadis ini. Tapi saat itu Hian Biauw belum memikirkan serius. Masih cinta monyet. Seperti teman-temannya yang lain, ia menyukai Mimi karena bentuk tubuhnya yang tinggi dan kakinya yang mulus. Entah mengapa, ia suka pada gadis-gadis yang berkaki mulus. Latifah juga punya kaki yang mulus, meskipun wajahnya tidak secantik Mimi. Dalam perjuangan seperti sekarang ini, perempuan dan senjata yang paling mendapat perhatian para pejuang. Perempuan bisa buat menghalau kesepian. Naksir kepada penduduk, tak ada yang berani. Komandan sudah mengeluarkan instruksi yang keras. Siapa pun juga tidak boleh mengganggu penduduk desa. Apalagi berkencan. Jadi pemandangan sehari-hari, melihat perempuan-perempuan desa mandi dan bercumbu dengan suaminya di malam hari membuat siksaan tersendiri. Ditambah persenjataan yang makin hari makin menipis, membuat orang sudah tak pikir panjang lagi. Teman pun akan dirampas senjatanya. Ini yang membuat Hian Biauw tidak enak dalam hati. Perjuangan sudah menyimpang dari tujuan yang semula. Karena itulah ia bersikeras unuk menulis surat pada ayahnya. Tapi kabar dari ayahnya tak kunjung tiba. Pak

88


Mangku yang membawa sendiri surat itu belum kembali. Tanda tanya besar pada dirinya. Apakah kedua orang tuanya sudah mengungsi? Tak mungkin! Ayahnya tak mungkin mengungsi. Rumah itu sudah ditempati beberapa generasi. Setahunya sudah dari Makco, yakni orang tua nenek, keluarganya sudah menetap di sana. Jadi tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Atau ? apakah kedua orang tuanya sudah dibunuh? Ia memang mendengar, bahwa di kota banyak pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa. Mungkin saja orang tuanya bisa dianggap sebagai musuh golongan Republik, karena ayahnya dulu adalah pembantu Belanda. Dengan menjadi Mayor untuk golongan Tionghoa, itu sama saja dengan membantu Belanda. Tapi jabatan itu adalah jabatan yang mulia, yang didambakan oleh semua tokoh-tokoh kaya orang Tionghoa. Karena dengan jabatan itu bisa punya hak-hak istimewa. Hak gadai, hak monopoli candu dan pajak jalan. Semuanya ada di tangan seorang pemimpin Tionghoa yang ditunjuk oleh Belanda. Jabatan itu jabatan yang mulia. Orang Tionghoa lainnya juga menganggap yang bersangkutan punya kedudukan tinggi. Mereka dihormati dan diturut nasihatnya. Setiap persengketaan diatasi bersama. Tujuan Belanda memang disini. Orang Tionghoa agar menyatu dalam kelompoknya sendiri dan diurus oleh kelompok mereka sendiri. Ditempatkan di tempat yang khusus, sehingga mudah diawasi. Memang bisa ada anggapan bahwa golongan Tionghoa ini di anakmaskan. Yang sering dilupakan ialah tujuan pokok dari Belanda sendiri. Yakni agar orang Tionghoa mudah diawasi. Hian Biauw juga mendengar bahwa di kota ada gerakan yang dinamakan Poh An Tui, yakni gerakan yang mau meniru gerakan PETA waktu zaman Jepang. Sekarang yang dipersenjatai Belanda ialah orang-orang Tionghoa. Menurut Belanda, maksud dari Poh An Tui inilah untuk menjaga kampung halaman mereka.

89


Sehingga dengan demikian Belanda tidak perlu lagi menjaga kampung yang banyak orang Tionghoa. Mereka biar bisa menjaga keperluan mereka sendiri. Belanda dengan demikian mengharapkan kelompok Tionghoa ini satu saat bisa ada bentrokan senjata dengan kaum pejuang yang sebelumnya sudah diisukan perampok. Kalau sampai ini terjadi, kelompok Tionghoa pasti akan merangkul Belanda lagi. Mereka tidak punya pilihan lain. Sebab yang dikuatirkan Belanda adalah, jika kelompok Tionghoa ini sampai bersimpati terhadap perjuangan kaum republik, maka dana mereka akan mengalir juga ke sana. Seperti dulu mereka sudah mengalirkan ribuan gulden ke Tiongkok untuk membantu negara itu melawan Jepang. Tiongkok kemudian diharapkan netral. Pembentukan Poh An Tui memang bisa dianggap sebagai usaha licik dari pihak Belanda. Tapi di luar Jawa, pembentukan itu bukan dilakukan oleh pihak Belanda. Di Medan, Aceh atau Padang misalnya, gerakan itu muncul dri kalangan orang Tionghoa sendiri yang kemudian pro republik. Poh An Tui tidak bisa secara gegabah dikatakan sebagai lembaran hitam dalam diri orang Tionghoa. Terutama kalau mau dijadikan alat ukur menilai sumbangannya untuk Republik. Dalam hati Hian Biauw menjerit sendiri: “Tidak�. Maksudnya ia mempunyai anggapan bahwa kedua orang tuanya tidak mungkin membantu Belanda. Kalau toh membantu itu hanya terbatas pada membantu Sekutu untuk menyelesaikan persoalan tawanan perang. Bukan membantu Belanda melawan para perjuang. Tak mungkin orang tuanya mempunyai pandangan yang sempit. Gerakan kemerdekaan adalah gerakan yang universal. Ia yakin kedua orang tuanya meyakini masalah ini. Bahkan jauh sebelum pertempuran di Surabaya yang ia anggap heroik, di mana ia sendiri terlibat langsung, orang tuanya sudah tahu tentang bakal merdekanya bangsa Indonesia. Kedua orang tuanya mengikuti dengan seksama rapat-rapat yang

90


diadakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan, dimana orang Tionghoa terlibat langsung di sana. Misalnya dengan duduknya orang-orang seperti Jap Tjwan Bing dan Lim Koen Hian, tokoh dari Partai Tionghoa Indonesia dan Oei Tjong Hauw ikut bicara dalam rapat-rapat yang dihadiri oleh Soekarno itu. Di mana kemudian Soekarno pada tanggal 1 Juni mengucapkan pidatonya yang terkenal mengenai rumusan Pancasila. Tentang pidaro Oei Tjong Houw itu rasanya ia masih hafal luar kepala. Itu semua lamunan Hian Biauw ketika memandang mata Latifah yang hening.

91


17 Orang-orang Tionghoa waktu itu memang sangat bangga terhadap Owi Tjong Hauw, pidatonya yang singkat tapi menggelegar terdengar sampai ke pelosok tanah air dengan bantuan pers Melayu Tionghoa. Antara lain yang dulu pernah dibacakan oleh ayahnya sebagai berikut : Paduka Tuan Ketua yang terhormat. Setelah sidang Badan Penyelidik menetapkan corak susunan pemerintah, yaitu republik dan menetapkan daerah republik Indonesia, tibalah saatnya kita berunding tentang Undang-Undang Dasar yang akan diselenggarakan oleh panitya yang akan dibentuk. Dalam sidang yang pertama dan sidang ini juga, yang seringkali dapat didengarkan yaitu perkataan “kedaulatan rakyat�. Dari anggota yang terhormat tuan Mohamad Yamin kita sudah mendengar bagaimana pembentukan suatu negara dapat dijalankan. Tapi tuan Ketua, sebetulnya kedaulatan rakyat itu dipusatkan di dalam badanbadan pemerintah, tidak saja dalam badan pusat tetapi juga badanbadan daerah. Jadi yang saya anggap sangat penting yaitu aturannya, secara bagaimana rakyat dalam memilih wakil-wakilnya untuk menjadi utusannya di dalam badan-badan pemerintahannya. Jikalau aturan ini tidak dijalankan sebaik-baiknya, tentulah bisa dan mungkin sekali kejadian, apa yang dalam sidang Tyuuo Sangiin yang ke delapan dikemukakan oleh anggota yang terhormat tuah K.K. Dewantara, ialah, bahwa wakil-wakil sebetulnya bukan wakil-wakil dari rakyat sehingga jikalau beliau-beliau berpidato hanya ditertawakan melulu. Dulu, dalam sidang pertama, saya sudah mengemukakan cara pemilihan. Apakah kiranya yang memilih dan yang dipilih harus berusia, bilang saja, 25 sampai 30 tahun, dan harus lulus dari sekolah menengah atau bagaimanakah syarat-

92


syaratnya. Hal itu sebenarnya agak sukar mengingat tingginya pengetahuan daripada rakyat umumnya. Dari itu, kalau kita memakai sebagai batas pelajaran di sekolah menengah misalnya mungkin sekali kebanyakan daripada rakyat tidak dapat mengemukakan pendiriannya dan wakil-wakil yang dipilih secara demikian tidak akan diterima oleh rakyat sebagai wakilnya. Saya harap agar soal ini dipikirkan sedalam-dalamnya oleh Panitya Kecil yang akan dibentuk. Sekarang saya akan membicarakan soal Kerakyatan, Paduka Tuan Ketua. Terlebih dahulu saya mengucapkan diperbanyak terima kasih kepada yang terhormat Wongsonegoro yang memberi bukti kepada saya bagaimana perasaan beliau terhadap golongan saya. Benar sekali artinya, Paduka Tuan Ketua, bahwa di antara bangsa Tionghoa yang hidup di Indonesia masih ada banyak yang memegang teguh kerakyatannya yaitu kerakyatan Tiongkok setelah kerakyatan Belanda lenyap. Sebab di antara kalangan pemimpin Indonesia saya seringkali dapat didengar suara bahwa orang Tionghoa tidak mau jadi Rakyat Indonesia karena memandang rendah kerakyatan itu. Perlu sekali tuan Ketua saya di sini memberikan sedikit keterangan. Sebetulnya dalam sidang pertama saya sudah mengemukakan harapan saya dari sidang yang terhormat, agar janganlah dilupakan bahwa pergerakan kebangsaan tidak saja dijalankan di Indonesia tetap juga di seluruh Asia, maka juga di Tiongkok. Jikalau ada suatu waktu, dimana perasaan kebangsaan Tionghoa meluap setinggi-tingginya, yaitu sehabis peperangan Dai Toa pecah. Kita jangan lupa bahwa sebelum perang Dai Toa di Indonesia pun ada gerakan Tionghoa yang dinamakan oleh Pemerintah Belanda almarhum “De Chineesche Beweging� (Gerakan Tionghoa).

93


Waktu itu saya masih ingat, bangsa Tionghoa tidak menyetujui kerakyatan Belanda sebab tidak memberikan hak sama. Kita dinamakan Nederlandsche Onderdanen van Uittheemschen Oorsprong�. Tapi pada waktu itupun kita mendapat bukti bahwa sebetulnya bukan rakyat sendiri yang menentukan kerakyatannya, walaupun pada waktu itu penduduk Tionghoa di Indonesia tidak menyetujui kerakyatan Belanda dan sudah mengizinkan utusan ke Tiongkok. Pada waktu itu sebagai akibat daripada perundingan antara pemerintah Tiongkok dengan pemerintah Belanda, jadi perundingan antara pemerintah kita orang tetap dianggap sebagai rakyat Belanda, yaitu seperti saya namakan dengan kata asing: Nederlandsche Onderdanen van Uitheemschen Oorsprong�. Kita menerima putusan pemerintah-pemerintah Tiongkok! Sekarang pun begitu dan pokoknya perasaan kebanyakan penduduk Tionghoa tidak lain ialah perasaan kebangsaan tuan-tuan! Tidak sekali-kali seperti juga seringkali dikemukakan oleh orang-orang berpengaruh, bahwa kita orang Tionghoa hendak menghalanghalangi berdirinya Indonesia Merdeka atau kita orang Tionghoa memandang rendah Rakyat Indonesia. Tidak begitu. Jika ada kejadian perselisihan antara bangsa Indonesia dan bangsa Tionghoa, saya mengharap agar tuan-tuan sekalian jangan melupakan apa yang sudh dikemukakan oleh Saudara Yap Tjwan Bing dalam sidang Tyuuoo Sangiin ke-8 ialah : jikalau ada seorang yang berbuat salah, jangan bangsanya yang dipersalahkan. Orang itulah yang harus dipersalahkan sendiri, bukan bangsanya. Kita tidak malu akan kebangsaan kita. Bagaimana rendah juga Tiongkok, kita mencatat diri kita sebagai orang Tionghoa, tetapi kita juga tidak lupa akan jasa pemerintah negeri ini. Sehabis peperangan Dai Toa, kita bangsa Asia, sama kedudukannya. Biar orang Birma, orang Filipina, orang Nippon atau apa saja, kita adalah samasama bangsa Asia dan kita semua harus merdeka dan bersama-

94


sama makmur. Ini pendirian orang Tionghoa. Saya rasa baik juga saya ajukan keterangan itu kepada tuan-tuan sekalian, supaya tuantuan jangan salah mengerti. Meskipun kita memilih kerakyatan Tiongkok kita bersedia 100%, tuan-tuan sekalian, untuk membantu Indonesia dalam mendirikan negara merdeka, menurut kepandaian kita. Kita sebagai rakyat yang juga berjuang untuk mendapat kemerdekaan sepenuh-penuhnya, tentu tidak akan menghalanghalangi, bahkan akan membantu rakyat Indonesia dengan sepenuhpenuhnya tenaga untuk mendirikan negara merdeka. Sebagaimana kita menghormati hak perasaan kerakyatan, tuan-tuan saya mohon dengan sangat, hormatilah perasaan daripada bangsa saya. Dalam anggaran Undang-Undang Dasar tentu akan dimasukkan pendirian saya yang saya kemukakan di dalam sidang yang pertama, ialah: Satu negara yang merdeka Paduka Tuan Ketua ada mempunyai hak menurut kebiasaan internasional untuk menentukan kerakyatan. Kerakyatan daripada negara merdeka bukan satu barang yang ditawarkan kepada orang apakah ia mau atau tidak. Suatu negara merdeka harus menetapkan kerakyatannya di dalam undang-undang. Apakah itu diterima atau tidak itu soal negara. Demikianlah pendirian saya dalam hal kerakyatan. Saya mengharap agar sumbangan ini sudah dianggap cukup. Begitulah pidato Oei Tjong Hauw saat itu yang mendapat sambutan hangat. Sebenarnya yang menjadi sebab ialah pada bulan Mei 1945 itu Oei Tjong Hauw masih menganggap bangsa Tionghoa sebagai salah satu bangsa tersendiri, lepas dari bangsa Indonesia. Tjong Hauw saat itu masih sejalan pikirannya dengan pikiran rakyat banyak. Yang ingin hidup di Indonesia, tetapi yang masih merasakan sebagai satu bangsa yang bernaung di bawah kekuasaan Tiongkok. Memang cukup membingungkan. Tapi pada saat itu, gema dari pidato

95


Tjong Hauw mungkin lebih keras dari pidato Han Kang Hoen beberapa bulan kemudian. Karena Indonesia masih sibuk-sibuknya mengadakan rapat-rapat persiapan kemerdekaan. Dukungan rakyat Tionghoa saat itu, seperti yang diutarakan oleh Tjong Hauw bukan main besarnya. Artinya tidak membuat masalah baru yang harus membuat pemerintah yang bakal ada ini jadi pusing dengan masalah baru. Secara juridis memang tidak ada masalah Tionghoa. Dukungan yang diberikan oleh Tjong Hauw, yang meskipun mengaku tetap sebagai orang Tionghoa ini sangat besar artinya. Karena pada saat itu juga iparnya, Wellington Koo, ikut sebagai penanda tangan piagam berdirinya Perserikatan Bangsa Bangsa. Jadi status Oei Tjong Hauw tidak bisa dipancang kecil. Wellington Koo yang jadi iparnya mewakili Tionghoa untuk menanda tangani piagam. Bukankah ini merupakan satu masalah yang besar. Menantu raja Gula Indonesia Oei Tiong Ham ikut menanda tangani persoalan dunia. Tak terpikirkan sebelumnya, oleh siapapun juga.

96


18 Biauw kemudian sadar bahwa di hadapannya duduk seorang gadis menemaninya. Ia kemudian bertanya: “Besok kau ikut masuk kota Malang?” “Nggak jadi. Biarlah aku tetap di sini”. “Kau asli dari Malang?” “Tidak, ayahku dokter gubernemen. Pindah dari satu kota ke kota lain menurut tugas yang dipangkunya”. “Orang tuamu pasti kehilangan kau...” Latifah menghela nafas. Sejenak terbayang wajah ayah ibunya. Entah bagaimana kabar mereka saat ini. “Memang. Tapi aku merasa bahagia di sini. Dekat dengan kawan-kawan dn bangsaku. Di rumah aku hanya terkurung bersama saudara-saudaraku...” “Ya, kau memang dekat dengan bangsamu.. tetapi aku bukan bangsamu...” Tiba-tiba Hian Biauw menyela sendu. “Biauw!” Seru Latifah. “He, dari mana kau tahu namaku? Sudah lama aku tidak pernah dengar orang menyebut namaku sampai hampir lupa...” Latifah hanya senyum-senyum. Dengan satu kata itu ia telah mencairkan hati Hian Biauw. Hatinya bercampur haru dan bahagia. Ia seolah tidak sendiri lagi. “Kau sendiri dari mana?” tanya Latifah. “Surabaya”. “Orang tuamu setuju kau ikut bergerilya begini?” Hian Biauw tidak langsung menjawab. Ranting kayu yang dipegangnya dari tadi dibuatnya orat-oret di tanah. “Saat ini aku sangat rindu pada mereka. Lihatlah bulan purnama di atas. Menurut orang tuaku saat ini adalah “tanggal” dan kami mengadakan sembahyangan pada leluhur dan pada Tuhan allah.

97


Saat ini di rumahku pasti banyak kue dan makanan enak dan bau harum hioswa...” “Orang tuamu kaya?" tanya Latifah. “Ayahku seorang Mayor”. “Mayor KNIL?” Hian Biauw tertawa lepas. “Bukan. Ayahku seorang Mayoor der Chinezen, yaitu pemimpin di kalangan orang Tionghoa. Oleh Belanda diberi pangkat Mayor. Ada pemimpin yang diberi pangkat Kapten, Letnan. Yang tertinggi Mayor. Apa sebabnya ayah diberi pangkat itu, aku tak tahu”. “Mungkin karena kaya?” “Mungkin karena kaya! Kau tahu rumah sakit Gubeng?” “Ya, mengapa? Bukankah itu dulu rumah sakit untuk serdadu Belanda?” “Ya. Tapi itu dulu milik nenek moyangku. Kata Ayah, tempat itu dulu untuk menyimpan beras keluarga kami yang kemudian diberikan kepada Belanda dengan syarat Belanda harus membelinya dengan uang segobang. Cuma sekedar syarat. Dari kata gobang itulah kemudian disebut gubeng oleh masyarakat”. “Wu.. ah! Keluargamu tentu sangat amat kaya”. “Sebagai anak dokter kau tentu juga anak orang kaya”. “Ayahku tidak kaya. Ayah bisa kaya kalau mau. Tetapi sejak di Lumajang, Bondowoso, Ayah ikut pergerakan secara diam-diam. Ayah dengan rela memilih hidup sederhana”. “Kau sungguh beruntung mempunyai ayah yang demikian”. “Kau sendiri bahagia di rumah?” Sinyo Sipit tertawa. Ia teringat rumah, teringat ayah dan ibunya. Mengapa ia tidak bahagia? Ia adalah anak tunggal dan kedua orang tuanya menyayanginya. Lebih-lebih ibunya. Orang-orang di sekelilingnya menghormati ayahnya yang meskipun sudah dicabut Jepang tidak lagi memangku jabatan Mayor.

98


“Ya, aku bahagia di rumah," katanya mantap. Kemudian dilanjutkannya. “Ayahku meskipun orang terpandang di kalangan orang Tionghoa, beliau tidak sombong. Sikapnya lembut kepada siapapun. Baik orang itu kaya maupun miskin. Ia tidak pernah membedakan bantuannya kepada siapa pun”. “Maukah beliau membantu orang Jawa juga?" tanya Latifah. “O ya. Yang datang ke rumah kami bukan hanya orang Tionghoa. Dan ayah justru dihormati karena sikapnya yang berwibawa... dan mungkin beliau memang dilahirkan sebagai pemimpin. Ada-ada saja urusan yang dibawa kepada ayah. Dari pertengkaran sampai minta restu pernikahan segala”. “Ibumu?” “Ibuku seorang wanita yang cantik. Ia selalu rapi baik pada waktu pergi maupun di rumah. Dulu aku merasakannya terlalu “cerewet” karena begitu banyak pesan yang harus kutelan. Tetapi kini aku mengerti. Aku adalah anak tunggal dan beliau pasti tidak ingin aku jadi nakal atau tidak keruan. Kalau tidak karena Ibu yang selalu memilihkan temanku, aku tidak tahu apakah aku bisa seperti sekarang. Kau tahu rumahku di Kapasan dan daerahku itu terkenal dengan buaya-buayanya. Ibu tidak mengizinkan aku bermain di luar rumah dn akulahyang selalu mengundang teman-temanku datang”. Hian Biauw senyum-senyum sendiri ingat ibunya. Tapi senyum itu tiba-tiba menghilang. Ada firasat bahwa mereka diperhatikan. Ia menoleh dan di kejauhan dilihatnya Hendro mengawasi mereka. Ia tahu Hendro menaksir Latifah. “Tidakkah kau tadi berjanji dengan orang lain?" tanya Hian Biauw. “Maksudmu?” “Hendro tidak senang kau duduk di sini” “Mengapa ia harus tidak senang? Aku mau duduk di sini atau di puncak gunung atau di lembah jurang, akulah yang menentukan, bukan siapa-siapa," ujar Latifah berapi-api.

99


“Marah?" Goda Hian Biauw. “Marah sih tidak. Hanya aku tidak senang diatur orng lain, kecuali ayah ibuku. Beliau pun, dalam mengaturku selalu bijaksana dan tidak pernah memaksa. Kok Hendro mau mengatur dengan siapa dan di mana aku harus duduk?” “Tapi Hendro kan lain. Ia menaksirmu Fah," Hian Biauw makin berani menggod sambil senyum-senyum. “Bah! Suamiku pun kelak tidak boleh mengaturku dengan kecurigaan seperti itu. Apalagi masih berkawan. Kiranya aku hanya boleh berkawan dengan dia. Nanti kalau suatu waktu aku ditinggalkan aku tidak akan punya teman lagi. Aku ingin berteman dengan siapa saja”. “Tapi kan ada yang istiewa...?” “He, Sinyo, kalau kau menjengkelkan aku tak mau berteman lagi," akhirnya Latifah sambil beranjak berdiri. Hian Biauw tertawa sambil memegang tangannya mencegah. “Kau tahu, Fah. Panggilan Sinyo itu hanya buat majikan. Kalau begitu aku majikanmu ya Fah?” Muka Latifah merah. Kali ini benar-benar jengkel. Tetapi Sinyo Sipit cepat melihat gelagat. Ia pun meneruskan bertanya: “Aku jadi penasaran, Fah. Dari mana kau tahu namaku yang sebenarnya?” Latifah tiba-tiba hilang jengkelnya. Ia pun jadi gembira lagi. “Rahasia ,dong” sahutnya. “Lha teman-teman kok bisa memanggilmu Sinyo Sipit itu bagaimana ceritanya?” Latifah ganti bertanya. “Mulanya Effendi yang suka memakainya kalau kami sedang bertengkar. Ia memanggilku Sinyo Sipit dan aku menjulukinya Anak Jawa. Itu dulu... kemudian teman-teman yang dengar dan ikut-ikutan memanggilku begitu. Setelah mengungsi dari Surabaya, nampaknya aku lebih terkenal dengan julukanku daripada namaku”.

100


“Kau tidak tersinggung dipanggil begitu?� “Ah tidak. Kalau orang lain yang memanggilku mungkin saja aku tersinggung. Tapi nama itu begitu saja melekat dengan diriku, seperti aku dengan perjuangan ini. Semuanya tidak direncanakan tetapi aku sudah berada di sini dan merasa perjuangan ini juga perjuanganku. Lagi pula nama itu punya kenangan manis...�.

101


19 Keduanya diam lagi. Latifah tidak kenal Effendi, tetapi ia dapat membayangkan bagaimana pemuda ini sehingga bisa begitu berkesan pada Hian Biau, sampai membawa Hian Biauw ikut berjuang. Dalam lubuk hatinya, ia secara tak sengaja mengidap keinginan untuk bersua dengan pemuda luar biasa ini. “Fah, aku boleh tanya sesuatu?” “Tanyalah. Pasti aku jawab”. “Aku takut kau marah”. “Tanyalah! Dalam perjuangan seperti ini masa kita harus marah segala untuk suatu pertanyaan saja?”. “Kalau kau tidak mau menjawab nanti, janganlah dijawab”. “Ah, kau bisa rewel banget ya," Latifah lagi-lagi menyebut Sinyo kalau lagi jengkel. Hian Biauw tersenyum geli. Tapi ia cepat serius kembali. “Latifah, apakah kau keturunan Arab?” Meskipun tadi Latifah mengatakan tidak apa-apa, tetapi pertanyaan Hian Biauw cukup mengejutkannya. Suatu pertanyaan yang di luar dugaannya. Tapi ia cepat menenangkan diri. Bukankah telah sering ia ditanya begitu? Namanya saja nama Arab dan rambutnya ikal. “Mengapa sih kalau aku keturunan Arab?” “Tidak apa-apa”. “Lalu mengapa kau tanyakan?” “Aku Cuma ingin bertanya, boleh bukan?” “Lalu kau mau jawabanku yang jujur?” “Sudahlah, kalau kau segan menjawab tak usahlah”. “Mengapa aku harus segan? Aku hanya ingin tahu mengapa kau tanyakan”. Hian Biauw diam tak menanggapi. Ia merasa dirinya mungkin telah melangkah terlalu jauh dan ia pun menyesal mengapa

102


ia tadi bertanya begitu. Latifah yang melihat Hian Biauw murung juga menyesal mengapa ia menggoda. “Aku orang Jawa tulen. Ayahku dokter Murdani orang Solo, Ibuku orang Rembang. Semuanya orang Jawa. Apakah itu berarti banyak bagimu?” “Tidak”. Lagi-lagi Latifah terbelalak. Laki-laki ini sungguh seperti teka-teki. Suatu misteri yang membuat dirinya makin tertarik. Misteri yang juga sering membuat teman-temannya curiga. Mengapa ia ikut berjuang dengan pemuda Indonesia? Bukankah ia orang Tionghoa dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang Indonesia? Tapi Latifah juga sadar bahwa ribuan dan puluhan ribu orang Indonesia juga berjuang bukan karena sadar, tetapi ditakdirkan oleh situasi untuk berjuang. Mungkin hanya para pemimpin yang betul-betul sadar. Para pemimpin yang bersekolah dan mengerti dari apa yang mereka peroleh dari sekolah arti “Merdeka”. Jadi mengapa banyak orang masih mempertanyakan keikutsertaan Hian Biauw hanya karena ia orang Tionghoa?” “Aku mungkin akan meninggalkan pasukan ini," kata Hian Biauw perlahan, tetapi seperti petir di telinga Latifah. “Mengapa?” Hian Biauw diam... “Kau mau pulang ke keluargamu di Surabaya?” “Tidak”. Diam lagi. Latifah bingung kehilangan bahan pembicaraan. Ia memandang Hian Biauw dengan tajam. Mata pemuda ini tidak sipit dan kulitnya yang terjemur matahari pun sekarang tidak beda dengan kulitnya. Mengapa orang masih membeda-bedakannya? Apakah pemuda ini kecewa karena masih terus ada yang mencurigainya? Ataukah ia sudah kehilangan semangat karena jenuh oleh derap perjuangan yang tidak ada ketentuannya, berpindahpindah dan main kucing-kucingan.

103


“Kau tersinggung pada perlakuan teman-teman, Biauw?” “Tidak. Teman-teman baik padaku. Kalau toh ada yang tidak suka padaku, itu wajar. Di mana pun di dunia ini orang pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Apalagi aku orang Tionghoa dan mereka banyak mendengar tingkah laku orang Tionghoa di Surabaya ada yang menjadi kolaborator, ada yang menjadi matamata...” “Kau jangan berprasangka begitu. Orang Indonesia pun ada yang berkhianat. Ada yang jadi kolaborator. Yang jadi serdadu Beladna pun ada. Berkhianat itu bukanlah masalah bangsa tetapi mental individu. Orang yang punya prinsip tak akan mengkhianati... kelompok terkecil sekalipun, yaitu keluarganya”. “apakah aku orang yang punya prinsip, Fah?” “Haruskah kau bertanya pada orang lain, Biauw?” ganti Latifah bertanya. Hian Biauw mengangguk-angguk. Kalau berkaca pada orang tuanya seharusnya ia tidak perlu bertanya. Masa ada harimau melahirkan anak kucing? Kedua orang tuanya terkenal sebagai orang berwatak, sosial dan adil. Mereka baik kepada siapa saja tak peduli bangsa atau pun harta. Tetapi sekarang ini keadaan perang. Hian Biauw bertanya-tanya mungkinkah kedua orang tuanya sampai saat ini masih bisa bersikap netral? Bagaimana kalau mereka berpihak pada Belanda? Bukankah ibunya berpendidikan Belanda? Hian Biauw jadi kecil hati. Ia lalu teringat pada kesadisan anggota pasukan memperlakukan mata-mata yang tertangkap. Begitu sadisnya sehingga lebih dari kekejaman terhadap Belanda. Kalau ia ingat beberapa cara penyiksaan yang dilakukan terhadap mata-mata yang tertangkap, seluruh bulu badannya bisa berdiri. Ia tidak pernah ikut, menyaksikan saja ia tidak kuat. Pernah seorang mata-mata wanita muda tertangkap. Orangnya cantik sekali. Wanita ini sudah lamadicurigai dan ketika tertangkap basah salah seorang anggota pasukan yang remaja berusaha memperkosanya secara brutal.

104


Suasana perang dan kejenuhan menyelimuti siapa saja. Tetapi komandan pasukan, pak Mangku, datang dengan tegas. Mata-mata boleh disiksa, dibunuh pun boleh tetapi jangan dihina yang merendahkan mertabatnya. Ia marah sekali. Apalagi ketika anggota pasukan tadi membandel dan pada malam harinya tetap hendak memperkosa dengan kekerasan, ia suruh pemuda itu dihukum tembak. Namun tak ada yang berani bergerak.... akhirnya Pak Mangku sendiri yang bertindak. Pemuda yang tidak disiplin tadi ditembaknya. “Pak Mangku adalah orang yang sangat kuhormati," kata Hian Biauw, “Beliau memang dingin pada anak buahnya tetapi tegas dalam menjalankan disiplin. Kalau ingat pak Mangku aku teringat guru bahasa Jermanku di HBS. Ia juga tipe orang yang menegakkan wibawa dengan tidak banyak bicara. Entah beliau di mana sekarang”. “Biauw, memang kau ini sebuah misteri. Kau suka temanteman dan kau juga hormat pada Pak Mangku. Tetapi mengapa kau mau meninggalkan pasukan?” desak Latifah. “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti diriku sendiri”. “aku tahu, kau pasti jenuh dengan keadaan yang ‘diam’ ini. Kau kehilangan kepastian dan mungkin merasa dirimu tak berguna. Mungkin kalau temanmu Effendi itu ada di sini kau dapat memecahkan keruwetan pikiranmu”. Ujar Latifah yang entah mengapa tiba-tiba menyebut nama Effendi. Mungkin di dalam bawah sadarnya ia menyimpan nama ini. “Ya, mungkin. Kelak kau harus bertemu Effendi. Kau pasti senang padanya. Siapa tahu kalian berjodoh," ujarnya berseloroh. “Sinyo, aku bisa mencari jodohku sendiri dn kau tidak usah ribut mencarikan untukku," Latifah tersinggung lagi. “Kau sih belum bertemu Effendi, bisa bilang begitu. Nanti kalau kau sudah kenal padanya, kau akan memohon-mohon padaku untuk jadi mak comblang, ha ha ha”.

105


20 Latifah Cemberut. Ia memang ingin sekali kenal dengan Effendi tetapi Hian Biauw yang selama ini begitu berkenan di hatinya. Mengapa ia bilang begitu? Apakah ia sama sekali tidak melihat dirinya sebagai seorang gadis? Apakah Hian Biauw hanya melihat sebagai teman seperjuangan belaka? “Effendi memang seorang tokoh yang patut dikagumi," kata Hian Biauw melihat Latifah cemberut. “Ia lain dengan Hendro. Ia seorang pemimpin dn dalam memimpin ia selalu memperhitungkan saran-saran teman dan anak buahnya. Pasukan kami akrab, dulu pada waktu ia yang memimpin. Bayangkan, satu pasukan anak muda semuanya. Ada yang pelajar MULO ada yang ST. Kalau bukan pemimpin sejati tidak akan dapat memimpin anak-anak muda itu�. Latifah masih diam. Rumah keluarga Mayor Phe tidak begitu sulit dicari Pak Mangku. Ia menjadi lama sampai ke rumah itu, karena ia tak mau melakukan langkah yang ceroboh. Ia mencari keterangan terlebih dahulu tentang penghuni rumah itu. Ia juga menyelidiki bagaimana perilaku penghuninya. Pokoknya ia ingin aman. Karena biarpun rumah yang dituju itu rumah orang tua anaknya yang jadi pejuang ia tetap harus hati-hati. Jangan sampai terjebak. Siapa tahu anaknya jadi pejuang tapi orang tuanya mata-mata atau antek Nica. Zaman perang orang memang harus hati-hati. Setelah ia memperoleh kepastian ia baru mendatangi rumah itu. Mayor Phe yang disebut dengan panggilan baba, ternyata orangnya ramah. Ia menyambut kedatangannya dengan ramah. Lebih-lebih ketika ia memberitahukan bahwa ia membawa surat dari Hian Biauw. Segera Mayor itu berteriak ke dalam memanggil isterinya. “Ma, ada orang membawa surat anak kita," katanya ketika isterinya keluar.

106


Isterinya itu kemudian dikenalkan pada Mayor Mangku, yang selama ini tidak diperkenalkan sebagai seorang Mayor. Cuma sebagai pembawa surat saja. Tapi Mayor Phe sudah mempunyai kesan bahwa laki-laki yang di hadapannya ini bukan sembarang laki-laki. Pasti orang penting. Sedikitnya pasti punya peran dalam pasukan anaknya. “Apakah anak saya baik-baik saja, tuan," tanya Nyonya Phe. “Ia baik-baik dan sehat nyonya," jawab Mayor Mangku. “Betul-betul ia sehat?" tanya nyonya Phe mendesak. “Betul nyonya, ia baik-baik saja”. “Di mana ia sekarang?” Pertanyaan itu tak memperoleh jawaban. Mayor Mangku membisu. Juga Mayor Phe. Kedua laki-laki ini sama-sama tahu, bahwa ada hal-hal yang mesti mereka rahasiakan. Mayor Phe kemudian membaca surat itu. Yang sehelai sudah dibaca diberikan isterinya. “Tak ada surat untukku sendiri yang khusus," gerutu nyonya Phe sehabis membaca semua surat anaknya yang ditujukan kepada suaminya. Kurang ajar anak itu pikirnya. Mengapa ia Cuma menulis surat kepada papanya, dan tidak kepada mamanya? Apakah Cuma papanya yang baik hati mau membantu perjuangan orang Jawa? Bukankah ia sudah pernah membantu lewat Giyo? Tapi mana Giyo sesudah itu? “Hian Biauw terus di bawah komando Bapak sejak dari Surabaya?” , tanya nyonya Phe kemudian. “Tidak. Ia menggabung sejak dari Sepanjang. Ketika pasukan saya mau kembali ke Surabaya, tapi kemudian menetap di Prigen”. “Bapak tahu ia sudah pernah saya kirimi permata untuk bekal perjuangan di tengah jalan jika keuangannya habis?” “Saya tidak tahu nyonya, Saya tidak pernah mendengar Biauw punya simpanan permata berlian. Ia seperti anak-anak yang lain. Makan apa adanya. Juga pakaiannya. Tak ada bedanya. Suka dan duka dialaminya bersama”.

107


“Saya pernah mengirimkan bantuan," tegas nyonya Phe lagi. Mayor Mangku diam. Juga Mayor Phe, yang sejak semula sudah mempunyai anggapan bahwa kiriman yang dilakukan secara ceroboh itu tidak akan pernah sampai ke tangan anaknya. Apalagi kemudian Giyo tidak pernah kembali ke rumah. Entah Giyo lari pulang ke desa untuk menikmati permata-permata itu atau mungkin juga di tengah jalan Giyo terbunuh dan permatanya dirampas orang. Keluarga ini memang tidak pernah mengetahui kalau Giyo sudah lama mati terbunuh oleh buaya-buaya Kapasan untuk mengetahui bahwa Giyo membawa mas permata milik Mayor Phe. “Kau masuklah dan sediakan makanan untuk tamu kita," tiba-tiba ujar Mayor Phe, seolah ia memberikan isyarat agar isterinya masuk. Agar ia punya kesempatan untuk berbicara empat mata dengan tamunya. “Saya sudah membaca surat anak saya, tuan. Cuma saya belum mengerti, apakah keperluannya mendadak atau bisa ditunda buat sementara waktu”. “Mengapa tuan berbicara demikian? Apakah sulit bagi tuan untuk memberikan sumbangan," tanya Mayor Mangku. “Tidak! Tidak ada kesulitan. Tapi situasi di medan pertempuran lain dengan keadaan di kota. Keadaan di kota sekarang ini Belanda yang kuasa. Kita harus hati-hati. Kalau saya berikan uang, dimana tuan akan membeli senjata? Di kota, orang masih bisa melakukan transaksi dagang senjata. Kalau di luar kota, senjata yang diperjualbelikan adalah produksi Mrican yang jelek mutunya. Tuan tentu tahu itu”. Keduanya kemudian diam. Mayor Phe melanjutkan. “Apa yang tuan kehendaki sekarang dan kapan tuan hendak kembali ke markas?” “Saya mengharap bantuan dalam bentuk apa saja. Uang, makanan dan senjata”

108


“Apa tuan kira mudah membawanya ke markas perjuangan?" Mayor Mangku diam. Ia orang yang polos. Apa yang dirasakan perlu diutarakan tanpa malu-malu. Uang, makanan dan senjata memang sangat diperlukan. “Uang tidak ada, “tuan," tiba-tiba mayor Phe berkata lirih. Ia kemudian melanjutkan. “Kami tidak punya uang Nica kontan...” “Lantas apa senjata ada?” Mayor Phe memandang tamunya. Nampaknya pemuda ini tergesa-gesa sekali. Mungkin ia takut lama-lama di rumah orang Tionghoa. “Kami memang tidak punya uang kontan, tapi kami punya candu..” Mayor Mangku kaget. Candu? “Ya candu tuan. Untuk itu kami membutuhkan waktu untuk menjualnya. Candu lebih berharga dari mas untuk orang Tionghoa. Tidak begitu sulit menjualnya, tapi membutuhkan waktu. Dapatkah tuan bersabar?” Mayor Mangku tidak memberikan jawaban. Ia teringat anak buahnya yang ada di Prigen. Ia harus cerpat kembali ke front. Karena jaman seperti sekarang itu setiap saat bisa berubah. Juga di front. Setiap saat bisa dapat instruksi untuk menyerang musuh yang selamanya ada di depan hidung. Memang selama ini ada instruksi untuk tidak melakukan bentrokan senjata. Tapi siapa tahu siatuasi telah berubah. “Asal tidak terlalu lama, saya bisa menunggu” “Saya akan mencoba menjual secepatnya” Mayor Phe kemudian menceritakan situasi dalam kota yang sudah sepenuhnya dikuasai Belanda. Pimpinan Republik Jawa Timur masih berada di Mojokerto. Tapi orang-orang yang mengungsi sudah banyak yang kembali dan kehidupan sudah mulai wajar di Surabaya.

109


Meskipun orang keluar rumah masih terbatas pada hal-hal yang perlu saja. Pemerintah darurat dari Belanda ada di Jawa Timur. Juga banyak orang Indonesia yang mau bekerja sama dengan Belanda. Mereka bukan pengkhianat. Mereka hanyalah pamong praja yang masih merindukan kembali masa silam. Siapa yang salah? Orang tih harus merasa aman untuk dirinya sendiri. Bekerja sebagai pamong praja pada zaman Belanda.

110


21 Orang punya masa depan. Gaji sebulan cukup untuk makan bahkan untuk ditabung. Dengan demikian mereka punya harapan tentang masa depan dirinya sendiri dn untuk keluarga. Yang terakhir ini yang jadi pertimbangan utama. Di mana-mana soal perut memang jadi persoalan yang utama. Tak bisa dibilang soal setia atau tidak pada negara. Karena bagi mereka yang mau bekerja dengan Belanda, mereka juga berpikir bahwa mereka bekerja untuk kepentingan tanah air yang mereka cintai. Mereka tak perduli apakah nama negara yang mereka abdi itu dianggap sebagai negara boneka, negara Jawa Timur atau bukan! Dari pembicaraan dengan tamunya itu Mayor Phe mempunyai keyakinan bahwa di daerah, meskipun Belanda sempat memperlihatkan kekuatannya, tapi pejuang-pejuang kita masih tetap bertahan. Sampai kapan? Sampai ada instruksi untuk menyerang atau menyerah dari pusat. Mayor Phe kemudian juga menanyakan pendapat tamunya tentang kemungkinan pembentukan laskar Tionghoa. Ditanya mengenai persoalan ini Mayor Mangku tak bisa segera menjawab. Ia tak bisa berpikir seperti Oen Tjhing Tiauw. Ia seorang pejuang yang lugu. Menurut pendapatnya, laskar Tionghoa itu baik dan apa salahnya. Tapi, setelah ia mendengarkan penjelasan dari Mayor Phe ia jadi mengerti soal diplomasi yang tadinya ia tak tahu apa-apa. Soal Tiongkok ia mulai mengerti. Betapa arti pentingnya negara besar itu bagi Republik yang baru lahir ini. “Jadi Tiongkok sudah mengakui kita?" tanya Mayor Mangku. “Sekarang bukan hanya Tiongkok, tapi India dan Mesir. Yang pertama adalah Tiongkok�. “Itu yang penting," jawab Mayor Mangku meskipun sebenarnya ia tak begitu mengerti tentang urusan diplomasi luar

111


negeri. Ia anak desa yang berjuang dengan keluguan dan hanya tahu berbakti untuk tanah air. Mayor Phe kemudian masuk. Untuk kedua kalinya dalamwaktu yang singkat ia mengambil harian Sin Po yang memuat ucapan terima kasih Presiden Republik Indonesia, Soekarno kepada Tiongkok dan mengharapkan kedua bangsa ini saling bersahabat. Mayor Mangku membaca baik-baik dan kemudian ia bernafas lega. “Kedua bangsa memang harus saling menghormat," katanya kemudian. Mayor Phe hanya menjawab lirih, “ya�. Nyonya Phe muncul dari ruangan dalam, keluar dan memberitahu kalau makanan sudah siap. Mayor Phe kemudian mengajak tamunya makan. Ini adalah buat pertama kalinya Mayor Mangku makan dengan di atas meja tersedia bermacam lauk-pauk. Sudah lama ia tidak mengenal cara makan yang sopan. Biasanya asal ada nasi asal ada air sekendi dan ada lombok dan garam, jadilah mereka makan. Tapi hari ini ada sayur lodeh, ada krupuk ikan. Semuanya masakan sederhana tapi yang sudah jadi barang langka di perjuangan. Hari ini juga Mayor Mangku mengetahui bahwa tuan rumahnya juga benar-benar berpangkat mayor. Di rumah itu memang ada pigura besar dengan gambar tuan rumah berpakaian seragam Mayor yang anggun. Semula ia mengira bahwa tuan rumah ini adalah mayor dalam keserdaduan Belanda. Tapi ternyata, ia mayor untuk lingkungan atau kelompok Tionghoa saja. Satu jabatan yang tinggi. Sebab ada yang Cuma punya jabatan letnan, kapten. Jadi mayor sudah tingkatan yang tinggi dengan wewenang yang luas pula. Mayor Phe juga menyatakan bahwa sisa candu itu adalah sisa lama. Syukur candu tahan lama dan tidak cepat rusak. Persediaan yang ada memang Cuma buat mencampur obat untuk asma. Siapa yang menderita asma sering minta bantuan obat kepadanya. Ramuan obat dari toko obat itu yang kemudian dicampur dengan sedikit candu. Ternyata memang

112


punya khasiat. Candu untuk obat asma memang bisa melegakan nafas. Demikian juga untuk mereka yang sakit paru-paru. Tapi dosis pemberiannya harus teliti. Tidak boleh sembarangan. Kalau sembarangan candu bukan jadi obat tapi bisa jadi racun. Sesudah merasa cukup lama bertamu, mayor Mangku meminta diri untuk pulang. Seminggu lagi ia akan kembali. Ia bilang mau pulang. Tapi ia tidak segera menuju Prigen. Ia ke Bojonegoro dulu. Ia tetap kuatir kalau dirinya dimata-matai. Ia ingin menjumpai teman-temannya yang satu kompi dulu, Djarot! Dalam peperangan orang mesti saling mencurigai. Karena di sini yang dipertaruhkan bukan Cuma nyawa sendiri, tapi nyawa banyak orang. Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Komandan datang! Bagi Hian Biauw waktu itu merupakan yang lama sekali. Meskipun bagi yang lain tak ada persoalan. Sutedjo, yang mewakilkan sebagai komandan selama mayor Mangku pergi memang lebih lunak. Tambah lagi, pertempuran masih tetap tidak memperoleh bentuknya yang nyata. Masih tetap tidak ada pertempuran. Belanda bahkan lebih menggiatkan offensifnya. Kini terang-terangan sampai malam hari, Belanda berani naik ke Tretes dari Pandaan. Beberapa pejuang sudah tidak tahan lagi. Masing-masing sudah ingin menggempur Belanda dengan segala persediaan mesiu yang masih tersisa. Rasanya memang aneh, kalau yang namanya berjuang, tetapi membiarkan Belanda lewat seenaknya dengan kadang-kadang dari moncong tank dan panser itu menyembur peluru ke arah pedesaan. Belanda sendiri tidak tahu di mana kekuatan para pejuang berada. Mereka Cuma merasakan bahwa kehadiran pejuang itu ada. Seminggu ini mereka juga merasakan bahwa aksi para pejuang makin berkurang. Karenanya mereka menembak membabi buta untuk mencoba memancing balasan. Untungnya sampai sejauh itu, selama mayor Mangku tak ada di tempat, tak ada anak buah yang berani melanggar instruksi untuk tidak mengadakan bentrokan senjata secara langsung.

113


Komandan saat itu juga berpesan keras, bahwa siapa yang akan melanggar, tak perduli siapa saja, akan dihukum tembak. Khusus untuk ancaman yang satu ini tak ada yang berani melanggar. Semua sudah tahu siapa komandan mereka yang nampaknya pendiam, tapi sangat teguh pada peraturan itu. 22

114


Tak ada yang berani menanyakan apakah komandan berhasil memperoleh senjata atau tidak. Juga letnan Tedjo tidak berani bertanya. Malam harinya, seperti biasa, baru Hian Biauw menghadap komandannya. “Semuanya beres komandan” Mayor Mangku tak segera menjawab. Ia memandang anak buahnya satu ini dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas. Kemudian ia berkata agak pelan: “Sebenarnya kau tak perlu ikut berjuang di sini. Kau melarat di sini. Di rumahmu, makanan tersedia. Juga orang tuamu kaya”. “Memang komandan. Mestinya memang begitu," jawab Hian Biauw tersenyum. “Memangnya kau mengapa," tanya mayor Mangku. “Saya meras seperti Marco Polo, komandan” “ Marco Polo? Apa hubungannya petualang itu dengan dirimu” “Saya selalu ingat Marco Polo komandan. Karena guru saya tuan Vanderkat, selalu asyik kalau bercerita. Waktu itu Marco Polo, anak seorang pedagang di Venesia terpilih oleh Paus Gregory pada tahun 1271. Ia kemudian berangkat ke Tiongkok untuk menjumpai Kublai Khan. Marco Polo ini yang menjalin ikatan antara Paus dan Penguasa dari Timur itu. Guru saya, Vanderkat, selalu asyik kalau bercerita, terutama kalau ada muridnya yang orang Tionghoa. Sebab Kublai Khan adalah orang Mongol yang menjajah Tiongkok. Vanderkat mau membuktikan bahwa yang membantu orang Mongol adalah Paus, pimpinan orang Kristen. Waktu itu memang belum terpecah. Tapi guru itu ingin membuktikan bahwa orang Katolik yang membantu Mongol menjajah Tiongkok. Karenanya orang Tionghoa tak pantas kalau jadi orang Katolik. Mereka mestinya jadi orang Kristen Protestan..” Mayor Mangku jadi terkejut. Sejauh itu usahaorang Belanda untuk mengkristenkan orang Tiong Hoa di Hindia Belanda. Untuk

115


jadi Protestan dan bukan Katolik. Sampai-sampai nilai sejarah tahun 1271, jadi tujuh abad yang silam dijadikan ajaran untuk membuktikan bahwa Katolik pernah membantu Kublai Khan. Ini yang terus ditanamkan Luar biasa dan berencana. “Lantas mengapa kau merasa seperti Marco Polo” “saya merasa berjuang sendirian, komandan. Saya ingin bersatu dengan pasukan ini. Tapi semua orang masih melihat dengan sebelah mata kepada saya” “Tak ada yang melihat dengan sebelah mata terhadap kamu” “Buktinya komandan sendiri tadi bilang begitu” “Aku bilang sejujurnya” “Apakah yang komandan bilang itu jujur?” “Ya..” Tak ada suara. Masing-masing diam. Lalu, Mayor Mangku melanjutkan: “Kami berjuang karena kami ingin perbaikan nasib. Kami melepaskan diri dari Belanda karena kami ingin menata kehidupan kami sendiri. Tidak di bawah penjajahan orang atau bangsa lain. Kami selama ini melarat. Kami tak punya apa-apa. Jadi kalau kami mati, kami hanya akan kehilangan nyawa kami. Kami tidak kehilangan apa-apa. Sebab yang disebut apa-apa itu sudah dihisap habis oleh Belanda. Tapi kau? Kau punya rumah yang besar. Ayahmu orang yang terkemuka. Ibumu orang yang terpelajar. Harta kekayaan kedua orang tuamu tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Inilah yang kutanyakan. Mengapa kau rela meninggalkan semuanya?” “Teman-teman bukan hanya mempertaruhkan nyawa komandan. Mereka memperjuangkan satu cita-cita, dan saya mulai berhasil menghayati cita-cita itu. Saya mulai menyukai sebagai bahagian dari hidup saya”

116


“Kau sadar bahwa kau telah meninggalkan sesuatu yang indah di Surabaya? Meninggalkan perasaan cinta kasih orang tuamu terhadap dirimu?” “Saya sadar komandan” Suasana diam lagi. Hian Biauw kemudian bertanya: “Lantas, apakah papa dan mama saya menyambut komandan dengan baik dan ramah?” “Oh, mereka menyambut saya dengan baik” “Lantas, apa mereka mau membantu” “Mungkin” “Mungkin?” “Ya” Hian Biaw lantas mendesak meminta cerita yang sebenarnya. Mayor Mangku kemudian menceritakan semuanya apa yang dialami. Tarohannya Cuma pada candu sekarang. “Apakah papa dan mama tidak menanyakan perihal saya?” “Mereka ingin mendengar cerita tentangmu. Semuanya. Lebih-lebih ibumu. Apakah yang kau makan setiap hari. Apakah kau kenyang dan tidak kelaparan? Pokoknya semuanya ditanayakan oleh ibumu. Ia wanita yang menarik dan cantik...” “Betul komandan. Mama seorang wanita yang cantik dan menarik. Saya sangat merindukannya”

117


23 Lantas pikiran Hian Biauw melayang lagi. Entah kenapa hari ini ia teringat guru sejarahnya, Vanderkat itu. Yang sering berbicara tentang Marco Polo. Marco Polo dalam sejarah dikenal sebagai petualang besar yang bisa sampai ke Tiongkok bertemu muka dengan Kublai Khan. Padahal Marco Bukan pertualang. Ia utusan resmi dari Paus Gregory. Ia yang berangkat dengan penuh kebesaran diantar orang tuanya dari pelabuhan Venesia. Dielu-elukan orang keberangkatannya. Tapi di tengah jalan, kawan-kawannya menyerah kepada keganasan alam. Tinggal dua orang kawannya. Bertiga ia lewati gurun pasir yang kejam tak kenal ampun. Itukah sekarang keadaannya. Seorang diri dalam sebuah pasukan yang namanya perjuangan untuk menegakkan satu cita-cita yang besar. Mempertahankan kemerdekaan. Tapi tidak! Dalam hati ia membantah. Ia tidak sama dengan Marco Polo. Kepergiannya tidak dielu-elukan keluarganya. Kepergiannya dulu menyelinap seperti maling di tengah malam. Seperti anak-anak remaja yang lainnya. Yang berangkat begitu saja ke medan juang untuk memulai satu perjuangan yang menurut anggapan mereka saat itu akan penuh dengan romantika. Akan ada kegagalan. Sekarang sesudah ia menghayati sendiri. Perjuangan itu memang besar untuk diri masing-masing. Ada kemelut dalam diri. Kebesaran Perjuangan ada dalam dada, tidak dalam pasukan. Karena pasukan itu seperti mati. Menunggu satu komando untuk bertempur yang tak pernah kunjung tiba. Hanya menanti dan orang paling bisa merasakan siksaan menunggu ini kalau ia pernah menunggu sesuatu tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Itulah hidupnya. Jadi tidak seperti Marco Polo yang setibanya di tiongkok, kemudian melihat kebudayaan dan bangsa yang begitu besar jumlahnya berada dalam taklukkan bangsa liar, bangsa Mongol. Apakah bangsa yang besar ini tahu, kalau penakluk mereka adalah lelaki tua yang bernama

118


Kublai Khan yang sudah tak mampu berjalan dengan tegap dan tak mampu memuaskan istrinya lagi? Inikah bangsa besar yang dilihat Marco Polo mulai tahun 1271 sampai ia berusia lima puluh tahunan dn ketika itu baru berusia 20 tahun. Apakah ia akan menjadi Marco Polo yang takjub pada bangsa yang begitu sederhana yang sanggup menaklukkan satu bangsa besar dengan kebudayaan lebih tinggi dan lebih tua peradabannya? Semuanya menjadi renungan Hian Biauw. Renungan seorang petualang seperti Marco Polo yang nantinya akan tercatat dalam sejarah: Orang Tionghoa yang ikut berjuang karena ingin berpetualang dalam hal ini? Apakah revolusi Prancis seperti yang diceritakan guru sejarahnya tentang kemerdekaan dan kebebasan bukan juga merupakan cita-citanya? Kemelut hati akan selalu ada. Kemenangan satu kesadaran di antara sekian kesadaran satu kelompok. “Kalau melihat cara hidup orang tuamu mereka telah membantu," tiba-tiba Mayor Mangku memecah keheningan. Hian Biauw agak terkejut mendengar pengakuan komandannya. Mayor Mangku kemudian bertanya lagi: “Kau selama ini ada hubungan dengan kedua orang tuamu?” “Tidak komandan," “Aku sudah yakin itu” “Mengapa komandan?" tanya Hian Biauw serius. “Menurut ibumu, ia mengirim utusan untuk mencarimu”. “Utusan mencari diriku?” “Ya” “Aneh” “Tidak! Di mulut ibumu memang tidak menyetujui tindakanmu. Tapi betapapun juga, perempuan itu tetap ibumu dan engkau adalah anaknya. Ia selalu takut kau kelaparan. Ia ingin kau

119


tidak ikut merampok dan karenanya ia mengirim Giyo dengan membawa sejumlah intan berlian untuk “sangu” mu...” “Saya tidak pernah menerima pemberian mama” “Benar itu? Baik sewaktu kau di Surabaya?” “Benar komandan. Tapi apakah benar ibu bercerita demikian?” “Ya..” Lantas tersungging senyum pada bibir Hian Biauw. Ia saat itu merasa sangat bahagia, mendengar bahwa ibunya telah merestui perbuatannya meninggalkan rumah, pamit hanya lewat sebuah surat. Bukankah dengan pemberian itu, meskipun tidak pernah sampai, adalah satu bukti bahwa restu sudah diberikan. “Betul komandan? Betul mama berkata demikian”. Tanyanya sekali lagi. Ia masih ingin kepastian. Rasanya ia tak percaya. Tapi begitulah memang ibunya. Bawel di mulut, tapi hatinya baik. Ia tahu itu karena ia adalah anaknya. “Percayalah, apa yang kukatakan itu benar”. “Terima kasih komandan” “Mengapa kau berterima kasih padaku” “Karena kabar yang komandan bawa akan membuat saya lebih mantap berjuang bersama kawan-kawan. Saya mendapat restu dari mama.. tapi di mana Giyo komandan” Mayor Mangku tak memberikan jawaban segera. Mungkin ia sendiri punya anggapan, bahwa Giyo melarikan diri bersama permata berlian itu. Mayor Mangku malu. Bukankah Giyo adalah sama-sama orang Jawanya. “Tak ada yang tahu kemana Giyo kemudian..” “Bangsat!! Tiba-tiba saja meluncur omongan itu. Hian Biauw sadar, bahwa Giyo pasti dibunuh buaya Kapasan.. dalam hati ia masih “misuh”: “Bajingan! Kurang ajar!”

120


“Jangan emosi. Kendalikan dirimu. Di tiap revolusi selalu ada orang-orang yang demikian itu. Bahkan kita tak boleh berburuk sangka dulu.” “Komandan tidak tahu tentang buaya-buaya Kapasan. Mereka adalah kelompok yang merusak nama orang-orang Tionghoa. Mereka itulah dahulu yang membawa telur-telur busuk kemudian melempar ke tubuh seorang Tionghoa pesakitan yang diborgol Belanda dari Kalisosok ke gedung pengadilan....” Hian Biauw kemudian menceritakan bahwa nama pesakitan itu adalah Kwee Thiam Tjhing. Salah seorang jurnalis kenamaan waktu itu, sebelum perang. Anggota yang paling gigih dari Partai Tionghoa Indonesia. Karena salah satu pers delict, gara-gara tulisannya yang dimuat di pers Melayu Tionghoa yang dituduh menghina seorang petugas Hindia Belanda, ia kemudian dijebloskan ke penjara Kalisosok. Cara Belanda boleh menghina agar yang lain jadi “keder” ialah dengan membawa jurnalis Kwee itu dengan tangan terborgol berjalan dari penjara Kalisosok ke pengadilan negeri. Satu tempat yang cukup jauh sehingga setiap kali dihadirkan di sidang, jurnalis Kwee menjadi tontonan rakyat banyak. Di sini buaya-buaya Kapasan beraksi. Melempari jurnalis Kwee dengan telur busuk. Karena saat itu jurnalis Kwee memang agak demonstratif. Ia memakai kopiah hitam. Lambang bahwa mereka pro dengan gerakan perjuangan bangsa. Banyak orang Tionghoa tidak suka dengan gerakan Partai Tionghoa Indonesia yang dipelopori oleh Liem Khoen Hian, adalah dari segi ini. Orang beranggapan sangat berlebihan. Tapi bagi kelompok Partai Tionghoa Indonesia saat itu memang tidak punya pilihan lain. Mereka terjepit antara kelompok Sinpo yang masing-masing mempunyai kekuatan dana yang terbatas. Sehingga kelompok Partai Tionghoa Indonesia itu bisa dianggap kelompok “kere”. Kelompok yang miskin. Hian Biauw tahu persis, ayahnya adalah pendukung dari kelompok Partai Tionghoa Indonesia yang

121


juga dekat dengan partai perjuangan yang didirikan oleh Soekarno. Cuma karena kedudukannya, ayahnya tidak berani terang-terangan. Karena saat itu, orang Tionghoa yang masih merasa punya kedudukan sebagai kelompok kedua dalam masyarakat Hindia Belanda akan merasa malu jika mereka mendukung gerakan orang Jawa. Gerakan yang menuju kepada kemerdekaan bangsa oleh kelompok Tionghoa memang dicap sebagai gerakan Jawa untuk membebaskan diri.

122


24 Mayor Mangku manggut-manggut dengan keterangan Hian Biauw. Ia sekarang mulai meyakini betapa kompleksnya struktur masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda ini. Sekilas orang bisa punya anggapan bahwa orang Tionghoa adalah orang Tionghoa. Yang Cuma ingin dagang dan cari untung melulu. Jarang ada yang tahu, bahwa di kalangan mereka sendiri juga terpecah dalam beberapa bagian. Sama dengan masyarakat Jawa. Yang terpisah karena kelompok agama dan nasionalis. “Kalau kau merasa seperti Marco Polo, aku bisa merasa seperti Kublai Khan," ujarnya kemudian, mencoba menentramkan gejolak batin anak buahnya. Hian Biauw senyum. “Mengapa komandan beranggapan demikian? tanyanya. “Kublai Khan menjadi besar karena ia sebenarnya seorang pemimpin yang cinta damai. Ia bukan seorang yang mempunyai nafsu perang seperti yang diduga orang”. “Apakah peperangan dalam perjuangan ini bagi komandan merupakan satu hal yang mengganggu? tanya Hian Biauw kembali. Suasana sudah malam. Hawa udara sudah dingin meskipun di dalam rumah. Tapi kedua orang itu masih asyik terus berbicara. “Setiap orang dalam lubuk hatinya tak ingin terlibat peperangan," jawab Mayor Mangku perlahan. Lalu lanjutnya: “Siapapun aku bilang. Karena sikap ingin berperang adalah sikap orang yang gila. Setiap orang sebenarnya ingin hidup di alam yang damai. Ingin hidup kumpul dengan keluarga dalam suasana yang tenang. Seperti yang kukatakan tadi. Kita berperang untuk mencapai sesuatu yang lebih punya arti dalam hidup ini”. “Saya mengerti, komandan," jawab Hian Biauw mantap. “Ya saya tahu itu. Kau memang mempunyai kemantapan untuk berjuang. Tapi kau yakin kemantapan itu akan tetap ada jika kita tidak mempunyai senjata dan peluru?”

123


“Itulah komandan, mengapa kita harus berusaha” “Kita memang sudh berusaha, melalui suratmu. Kita tidak mempunyai alternatif yang lain. Pimpinan di pusat dan di daerah sudah tidak mungkin memberikan kepada kita senjata yang kita perlukan. Kita harus berusaha sendiri. Kau yakin ayahmu mau membantu kita?” “Pasti komandan, seperti kata papa, papa membutuhkan waktu dulu untuk menjual candu. Dulu, candu itu dengan mudah dijual. Karena orang Tionghoa, seperti papa, memang mempunyai hak monopoli penjualan candu. Orang Tionghoa memang harus membayar pajak yang mahal”. “Lantas mengapa ayahmu meminta waktu yang cukup lama untuk menjual candu” “Mungkin mencari pembeli sekarang yang sulit. Papa terbiasa untuk menjual ke luar negri, ke Singapore. Papa tak pernah menjual candu untuk konsumsi dalam negeri. Papa mempunyai anggapan bahwa candu bisa merusak rakyat. Rusaknya koeli kontrak di Deli, Sumatra adalah karena persoalan candu ini. Mereka menghabiskan uang hasil kontrak untuk candu dan perempuan, ditambah judi. Koeli kontrak itu sendiri sistemnyasudah baik. Belanda membayar cukup mahal. Cuma pembayaran itu sering dikebiri oleh mereka yang dinamakan mandor” “Kau pasti itu?” “Mestinya komandan yang mempunyai kepastian apakah papa mau membantu atau tidak. Sebagai anaknya yang tahu sifat papa dan mama, kedua orang tua saya pasti membantu. Jika mereka tidak mau membantu perjuangan ini, sedikitnya mereka pasti membantu anaknya...” Mayor Mangku tersenyum. Tapi getir. Sebenarnya lucu perjuangan ini. Ini yang sebenarnya termasuk orang yang tidak punya penghargaan buat orang Tionghoa, sekarang tak punya pilihan lain, selain meminta bantuan, biarpun melalui orang tua anak buahnya.

124


Untungnya rahasia ini tidak sampai bocor. Jika bocor, persoalannya bisa memalukan. Letnan Sutedjo sendiri juga tidak tahu, apa misi Mayor Mangku sebenarnya. Dikatakan Cuma untuk mencari bantuan mencari senjata. Tapi kepada siapa tak pernah dinyatakan dengan jelas. Masalahnya memang cukup memalukan jika tersiar bahwa persenjataan pejuang mendapat bantuan dari orang Tionghoa. Padahal mestinya tidak apa-apa. Momentum ini sebenarnya bisa dipakai untuk mengakrabkan kedua belah pihak. Tapi dari pihak mana pun takkan ada yang berani mengungkapkan terus terang. Kelompok Tionghoa takkan berani jika masalah ini diungkapkan secara terus terang. Membahayakan diri mereka yang hidup di kota di mana Belanda berkuasa. Sedangkan di kalangan pejuang, rasanya juga tabu untuk mendengar kenyataan itu, meskipun benar adanya. Sehingga bantuan yang belum tentu berhasil itu sudh tergunjing dalam hati masing-masing yang tahu! Sepulangnya Mayor Mangku, nyonya Phe segera menghampiri suaminya. “Kau yakin itu tulisan anak kita?" tanyanya. “Kau sendiri bagaimana? Kau juga mencurigai?” “Tidak” “Aku juga percaya bahwa itu surat anak kita” “Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang” “Saya akan mencoba membantu” “Dengan candu persediaan kita?” “Ya” “Kau bilang kemarin akan diberikan kepada Mayor John Lie untuk menyelundupkan senjata dari Singapura” “Itu kemarin, sebelum anak kita menulis surat” Keduanya kemudian diam. Kemarin memang sudah diputuskan bahwa orang-orang tionghoa di Surabaya akan mengumpulkan dana untuk membantu

125


Mayor John Lie yang diserahi oleh pemerintah menyelundupkan senjata masuk ke Indonesia guna memenuhi perbekalan perang. John Lie memang seorang pemuda berpetualang yang bergabung dengan pasukan Republik dan mencoba menguasai kapal-kapal yang ada. Ia seorang yang berani. Keberaniannya menyebabkan pemerintah pusat mempercayainya untuk menyelundupkan senjata. Sebagai orang Kristen, Tionghoa lagi. Ia mempunyai simpatisan banyak. Tapi orang Tionghoa memang sulit untuk diajak berunding ke persoalan yang peka. Mereka takut sekali untuk secara terang-terangan membantu kaum Republik. Sehingga akhirnya pemuda John Lie ini juga kualahan. Habis dengan apa senjata di luar negeri itu mau dibeli? Kalau menyelundupkan masuk ke Indonesia, ia tak takut. Itu sudah termasuk bagian dari petualangan hidupnya. Tapi senjata di luar tetap harus dibeli. Tak mungkin ia merampok barang-barang itu di luar negeri. Akhirnya segala kesulitan itu diutarakan kepada beberapa teman yang ada di Jakarta dan Sumatera. Teman-teman ini yang kemudian mencari bantuan ke daerah-daerah. Antaranya ke Surabaya bertemu dengan Mayor Phe yang sebelumnya sudah dikenal sebagai simpatisan Partai Tionghoa Indonesia. Partai ini dikenal sebagai Partai yang pro Republik. Mayor Phe setelah berunding dengan beberapa tokoh di Surabaya kemudian memutuskan untuk membantu gerakan yang akan dilakukan John Lie, yakni memasukkan senjata dari luar negeri. Mereka mengikhlaskan membantu Republik dengan sejumlah dana yang ada pada mereka. Itu yang jadi keputusan kemarin. Hari ini perkembangan begitu mendadak. Tiba-tiba saja ada surat dari anaknya yang memerlukan senjata untuk perjuangannya di daerah, yang di mana daerah itu ia sendiri tak tahu. Di rumahnya sekarang ini memang tersimpan sejumlah candu dalam keadaan siap untuk dijual. Sebagian miliknya sendiri dan sebagian disetorkan oleh Oen Tjhing Tiauw sebagai sumbangan dari

126


orang-orang Tionghoa yang bersimpatik terhadap perjuangan mempertahankan republik. Tapi pertanyaan yang paling utama sekarang bukanlah menjual candu itu. Kalau membantu lewat John Lie itu mudah. Pemuda patriotik ini bersedia menerima bantuan berupa candu. Lantas candu ini yang dijual di luar negeri untuk di “barter” dengan senjata. Tapi kalau bantuan itu untuk memenuhi permintaan anaknya, dari mana ia bisa mendapatkan senjata jika kemudian uang Nica berhasil didapatkannya. Ini yang menjadi persoalan. Dengan kata lain, ia juga harus membelikan senjata untuk kelompok anaknya dari pasaran gelap. Untuk ini ia buta sama sekali. Juga Oen Tjhing Tiauw tak mempunyai pandangan mengenai masalah ini. Mereka tak pernah berkecimpung dalam persoalan dagang serupa itu. Meskipun menurut kata orang, bisnis senjata di saat perang sangat menguntungkan. Akhirnya terpaksa Mayor Phe kembali kepada usaha untuk mendekati buaya-buaya Kapasan. Ia punya jalur di sana. “Jadi kau mau membantu anak kita?" tegas nyonya Phe. “Tentu”. “Syukurlah” “Aku yang bersyukur kau mau mengerti," jawab mayor Phe memandang isterinya dengan pandangan penuh cinta. Ia selamanya kagum pada isterinya. Isterinya yang punya wawasan luas cakrawalanya yang banyak ikut andil dalam perkembangan dirinya sebagai pemuka masyarakat. “Kau kira Cuma kau yang mencintai anak kita?" kata nyonya Phe “melengos”. Ia sangat senang dengan perlakuan suaminya yang sangat menyayangi dirinya. Suaminya tidak seperti orang Tionghoa lainnya. Meskipun tidak duduk dalam lembaga pendidikan Belanda, suaminya tahubenar adat istiadat orang Barat. Suaminya sering memuji dirinya di hadapan umum. Bahkan suaminya pernah berkata: Dialah satusatunya modal kebanggaannya dan ia bersyukur mempunyai istri

127


seperti dirinya. Adakah istri yang merasa bahagia lebih dari kalau ia mengetahui bahwa suaminya sangat mencintainya? Nyonya Phe kemudian memeluk tubuh suaminya. Ia merebahkan kepalanya di dada suami persis seperti seorang gadis yang sudah lama tak pernah ketemu dengan pacarnya. Perlahan ia berbisik: “Ngko, saya kangen pada anak kita, Biauw”. Mayor Phe Cuma diam. Ia menepuk-nepuk bahu istrinya. Kemudian ia berkata: “Biauw mungkin tak kan pulang. Biar perang sudah selesai. Ia yang ingin mengajak kita hidup di desa. Hidup yang menurut pendapatnya sangat tenang dan damai. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk kepentingan rakyat desa. Engkau bangga punya anak seperti Biauw?” Nyonya Phe mengangguk. Tak bisa dipikirkan kalau Biauw yang beberapa waktu yang lalu masih merupakan anak manis dan anak tunggalnya, kini punya cita-cita yang begitu luhur. Ia tak peduli di mana Biauw nantinya akan bekerja. Menurut pendapatnya, menjadi guru adalah satu pekerjaan yang mulia. Tak sembarang orang bisa teguh pada pekerjaan yang tak menyenangkan itu. Menjadi guru adalah pekerjaan yang makan hati. “Aku hanya tak pernah menduga, bahwa dalam waktu yang singkat, anak kita berubah banyak," ujarnya pelan. “Ya, anak kita sudah berubah banyak. Dalam surat ia tidak cengeng lagi. Ia sudah berkembang jadi anak yang dewasa. Aku bangga pada anak kita...” “Saya juga. Saya bangga....” Kedua suami isteri itu saling mengutarakan kebanggaan mempunyai anak yang ikut berjuang dengan caranya masing-masing. Dengan cara saling mencurahkan isi hati. Dalam kelembutan cinta orang dewasa. Yang cukup dengan pandang mesra mata yang paling pasrah satu sama lain.

128


25 Ternyata usaha dari Mayor Phe tidak bisa berjalan dengan mulus. Keesokan harinya muncul Oen Tjhing Tiauw dengan tergesagesa dan wajah yang penuh keringat. Meski rumah mereka tak jauh, tampaknya Oen seperti habis melakukan perjalanan yang jauh. Nafasnya tersengal-sengal. “Celaka, Mayor," katanya setelah bertemu dengan Mayor Phe. Ia sudah terbiasa masuk ke rumah keluarga itu sehingga langsung masuk ke tempat istirahat Mayor Phe. Mayor Phe sendiri terkejut. Ia menduga ada apa-apa dengan anaknya. “Sobat-sobat tidak setuju dengan rencana kita untuk membantu para pejuang yang ada di Jawa Timur. Karena menurut mereka, kedudukan kaum pejuang tidak jelas. Apa betul mereka itu pejuang-pejuang Republik. Kita tidak tahu di mana kesatuan itu berada. Jangan-jangan hanya para petualang yang ingin harta kita”. “Tenang, tenang..," ujar Mayor Phe. Ia kemudian melanjutkan. “Katakan aku yang bodoh. Aku memang tidak menanyakan, di mana markas para pejuang itu. Kita masing-masing sebenarnya harus tahu, mana yang pantas kita tanyakan dan mana yang tidak pantas kita tanyakan. Soal markas sekarang ini merupakan rahasia militer. Tidak bisa pada semua orang diutarakan secara gegabah. Karena semuanya bukan saja menyangkut urusan rahasia militer, tetapi juga nyawa orang yang tergabung.” “Saya sudah menjelaskan Mayor.” “Lantas apa pendapat mereka?” “Mereka tetap ingin bantuan itu diberikan kepada John Lie. Yang jelas, dia orang Tionghoa dan bisa membawa harum nama orang Tionghoa”. “Anggapan yang gila. Kita menyokong perjuangan Republik tanpa pamrih. Sebenarnya kita tak perlu tahu siapa mereka. Kita

129


hanya tahu bahwa perjuangan itu untuk kepentingan Republik, dan karenanya kita bantu”. “Tapi itulah Mayor. Mereka tetap menyatakan tidak mau jika sumbangan mereka diberikan kepada pejuang yang tidak jelas asal usul mereka. Kalau diteruskan dengan kemauan kita, mereka meminta kembali sumbangan mereka. Baik yang berupa uang kontan maupun yang berupa perhiasan ataupun candu”. “Jadi mereka serius," tanya Mayor Phe seraya menghempaskan dirinya ke kursi goyang yang tersedia di situ. Kursi goyang buatan Jepara yang sangat indah ukir-ukirannya. “Mereka memang tidak guyon-guyon Mayor. Mereka serius. Dan Mayor tentu tahu bagaimana sikap golongan kita kalau sudah menentukan sikap. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Tapi mereka juga harus tahu, bahwa di dalam kelompok yang mau kita bantu itu ada anak saya”. “Mereka tidak peduli, Mayor. Laginya, mereka tidak pernah tahu kalau anak Mayor terang-terangan berjuang. Laginya andaikata mereka tahu, mereka akan mempunyai anggapan yang naif, apa artinya anak Mayor dibandingkan dengan Mayor John Lie yang populer itu. Yang membuat pemerintah pusat mempercayainya untuk menyelundup senjata dari luar negeri masuk ke dalam negeri, guna kepentingan peperangan”. Oen Tjhing Tiauw kemudian mencoba menjelaskan: “Lewat John Lie, sebenarnya orang-orang kita ingin diri mereka aman. Jika melalui John Lie, semua sumbangan akan diketahui oleh pemerintah pusat. Dengan demikian diharapkan pemerintah pusat tidak akan membedakan status orang Tionghoa dengan status orang pribumi yang sekarang memegang tampuk pemerintahan. Laginya, dengan melihat kenyataan bahwa pemerintah berniat menghimpun senjata baru lewat John Lie, ini berarti bahwa pemerintah pusat sudah menyiapkan diri untuk berperang dengan

130


pihak Belanda dlaam jangka waktu yang panjang. Pokoknya Belanda harus mendapat perlawanan dari para pejuang. Para pejuang itu pun harus menunjukkan kepada pihak Belanda, bahwa mereka mempunyai juga persenjataan yang up to date, yang modern.” Mayor Phe akhirnya Cuma bisa mengurut dadanya yang tidak sakit. “Kalau mereka yang diperlukan tidak mau membantu, baiklah. Saya yang akan membantu sendiri. Saya yang akan membantu anak saya dan kelompoknya dengan uang saya sendiri. Cuma dapatkah kau mencari senjata yang kuperlukan? Selebihnya boleh kau urus untuk mengembalikan semua dana yang kemarin kau serahkan padaku. Terserah mau kau apakan. Apakah mau langsung dikirimkan ke John Lie atau langsung ke pemerintahan pusat terlebih dahulu”. Oen Tjhing Tiauw diam. Ia bisa merasakan kepedihan hati Mayor yang jadi sahabatnya ini. Ia bisa mengerti Mayor Phe. Tapi ia lebih-lebih bisa mengerti sobat-sobatnya orang Tionghoa. Mereka memang tidak pantas untuk membantu seseorang yang belum dikenal. Yang tidak jelas dimana mereka berada. Semua sumbangan dan ini tampaknya menjadi budaya yang indah dari orang-orang Tionghoa. Bahwa mereka mau menderma, kalau dana yang mereka berikan itu mereka yakini akan terpakai untuk kepentingan umum. “Saya minta maaf Mayor, bahwa saya tidak bisa mempergunakan saya untuk mempengaruhi mereka pro dengan Mayor”. “Biarlah mereka punya pendapat sendiri. Pendapat mereka itu saya hargai. Secara rasional kita memang harus bersikap sesuai dengan cara berpikir mereka. Cuma mereka sebenarnya tidak boleh terlalu gegabah. Mereka harus hati-hati sebelum mengambil keputusan”. “Jadi Mayor sama sekali tidak tertekan atau tersinggung?”

131


“Mengapa saya harus tertekan atau tersinggung. Pro dan kontra itu adalah hak asasi mereka. Kita tak perlu ambil perduli dalam hal ini. Yang penting, kita harus menolong mereka pada saatsaat seperti sekarang. Coba kau bayangkan. Pasukan yang berjuang kehabisan amunisi dan senjata. Bukankah mereka akan menjadi makanan yang empuk bagi serdadu Belanda jika mereka ketahui bahwa para pejuang sudah kehabisan peluru dan senjata. Bahkan mungkin juga mereka sudah tahu, kalau para pejuang hanya punya bedil sundut seperti yang banyak dipakai para serdadu kompeni.” “Kau sendiri sudah membaca surat anakku. Aku sendiri sudah bertemu dengan komandan pasukannya. Mereka benar-benar kekurangan senjata dan amunisi. Kalau kita berikan uang, aku kuatir mereka tetap tidak bisa mendapatkan senjata. Jadi senjata yang harus kita berikan. Bukan uang”. Oen Tjhing Tiauw jadi bingung. Tampaknya yang diutarakan oleh Mayor Phe sesuatu yang gampang. Asal ada duit bisa membeli senjata. Tapi zaman ini sedang kacau. Belanda juga tidak akan tinggal diam. Belanda akan tanya, untuk apa senjata-senjata itu. Kalau kemudian tertangkap basah waktu mengangkut senjata, celakanya bukan main. Semua bisa ditangkap dan itu tidak menguntungkan”. “Senjata mungkin masih bisa dicari Mayor. Tapi kemana kita harus mengirimkan” “Itu nanti urusan saya dengan mereka”. “Lantas bagaimana sikap Mayor selanjutnya”. “Saya mungkin akan mengambil keputusan, bahwa bantuan dari saya pribadi tidak akan saya lewatkan John Lie. Mungkin saya akan membantugerakan pejuang di Jawa Timur. Menurut pertimbangan saya, senjata yang bakal diperoleh John Lie adalah untuk keperluan pusat, keperluan nasional. Tidak mungkin lantas dengan segera dibagikan ke daerah-daerah. Kalau sekarang kita ketahui bahwa persenjataan pejuang di daerah sedang gawat, maka demikian jugalah situasi di pusat.”

132


26 OenTjhing Tiauw mengakui kebenaran analisa Mayor Phe. “Ke mana senjata nanti harus kita kirimkan," desak Oen kemudian. Ia ingin sekali mengetahui di mana pusat pejuang-pejuang itu sekarang. Baginya ini penting. Karena, kalau bisa ada komunikasi, maka bantuan bertahap bisa dilakukan. Bukan hanya dalam bentuk senjata dan amunisi yang diminta, tapi juga obat-obatan, makanan dan pakaian. Mayor Phe tidak menjawab. Pemuda Oen juga diam. Ia pun juga menyadari kemudian, bahwa pertanyaan yang agak mendesak bisa menimbulkan kecurigaan. Timbulnya kecurigaan di kalangan kelompok Tionghoa sekarang ini bisa terjadi di mana-mana. Setiap masalah bisa berkembang untuk saling mencurigai, meskipun sebelumnya mereka bersahabat. Juga dalam hal hubungan antara Mayor Phe dan Oen Tjhing Tiauw ini. Masing-masing tampaknya punya jarak dan saling menjaga jarak. Yang tahu bahwa Hian Biauw ikut dengan pejuang adalah Oen Tjhing Tiauw saja. Yang lain tak adayang tahu. Karena masalahnya bisa jadi gawat bagi keluarga Mayor Phe. Upaya membeli senjata mulai dilacak setelah candu berhasil dijual oleh mayor Phe melalui seorang makelar. Tak apa harga tak begitu bagus. Yang penting uang Nica kontan harus didapat. Jalurjalur yang semula diharapkan bisa dibantu oleh kalangan buayabuaya Kapasan ternyata tak bisa ditembus. Buaya-buaya Kapasan tak ada yang berani mengambil resiko. Membeli senjata dari pihak Belanda memang bukan masalah yang sulit. Juga Belanda senang pada duit dan dengan duit semua masalah bisa diluruskan. Juga Belanda bisa dibengkokkan. Tapi ini hanya untuk satu dua senjata atau pistol. Tidak dalam bentuk puluhan atau ratusan seperti yang dipesan mayor Phe. Untuk hal-hal yang terlarang, Mayor Phe

133


memang sering mempergunakan kaki tangan para buaya Kapasan ini. Akhirnya Oen Tjhing Tiauw berhasil. Senjata-senjata itu tetap milik Jepang yang masih tersisa. Tapi bukan senjata yang sering dipakai Kenpetai. Masih dalam peti. Senjata ini adalah kiriman yang baru datang dari Jepang yang tadinya ada di gudang-gudang Tanjung Perak. Cuma di bagian luar tidak diberi catatan senjata. Tapi tekstil. Dengan tubuhnya yang pendek gemuk, Oen, dua hari kemudian berhasil membawa contoh-contoh senjata. Karena rumah Mayor Phe besar, dan bisa langsung masuk ke dalam, tak ada orang yang curiga keesokan harinya lagi, sebuah cikar masuk rumah tersebut membawa peti-peti senjata. Senjata-senjata itu setelah dibuka ternyata memang masih baru. Bantuan untuk tentara Jepang di Hindia Belanda bagian Timur. Masih ada surat pengantarnya di dalam peti itu dan daftar apa saja isinya. Tentunya dalam bahasa Jepang. Bagi mayor Phe soal bahasa ini tak ada masalah. Sedikitsedikit ia bisa membaca. Yang ia herankan justru mengapa orang Tionghoa yang sebelumnya tidak ia kenal ini begitu berani membawa senjata-senjata itu lewat cikar pada siang hari. Jika sampai ketahuan Belanda, semua pihak bisa celaka. Perundingan tidak berjalan sulit. Semuanya lancar. Ada tiga puluh peti semuanya. Dua diantaranya dibuka sebagai contoh. Transaksi jual beli berjalan dengan lancar. Tionghoa yang tak dikenal itu pulang dengan membawa koper kecil, pinjaman dari mayor Phe yang isinya duit Nica yang masih baru. Sore harinya Mayor seperti punya perasaan tak enak. Ia heran bagaimana orang bisa mempunyai persediaan senjata yang masih baru begitu banyak. Sampai tiga puluh peti. Bahkan katanya, jumlah yang lebih banyak lagi masih ada. Tinggal ada uang atau tidak. Mayor Phe jadi pucat wajahnya. Ketika pada peti kelima ia menjumpai, bahwa setelah peti dibuka, bukan senjata baru yang dilihat, tapi batu. Juga peti keenam, ketujuh dan selanjutnya. Kurang ajar. Ia tertipu!

134


Urusan ini sungguh serba sulit. Ia takkan berani melapor kepada pihak yang berwajib. Karena jika ia lapor pasti masalah pembelian senjata akan jadi ramai. Rupanya Tionghoa yang tadi datang bersama Oen Tjhing Tiauw yang diperkenalkan dengan Baba Tan Sing Oen memahami masalah pelik yang dihadapinya. Karenanya ia nekad untuk menipu. Namun Mayor Phe tetap sabar. Semua gelagat jelek yang dialaminya dipendam dalam perasaan hatinya sendiri. Sama sekali tidak diceritakan kepada istrinya. Ia hanya menyuruh pembantunya memanggil Oen Tjhing Tiauw. Pemuda bertubuh gemuk pendek ini pun jadi terkesima. Tak pernah ia duga bahwa ada Tionghoa yang mau menipu sesama Tionghoanya. Apalagi dalam soal dagang seperti kali ini. Mestinya harus ada sikap saling percaya. Akhirnya Mayor Phe meminta Oen Tjhing Tiauw untuk memanggil si Deglok. Salah seorang pentolan buaya Kapasan yang terkenal. Dalam kesabaran wataknya sehari-hari, Mayor Phe ternyata seorang yang tegar hatinya. Ia yang tak pernah menipu orang, sekarang ditipu. Yang menipu itu harus mendapat ganjaran yang setimpal. Ia tak boleh lemah. Kewibawaannya harus ditegakkan lagi. Ia memang tak mengenal Tionghoa pedagang senjata itu. Tapi Tionghoa itu pasti tahu siapa dia... Mayor Mangku tidak datang seminggu kemudian sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Ia datang pada hari kesepuluh. Mayor Phe menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kedatangannya memang sudah ditunggu. Mayor Phe langsung membawa Mayor Mangku ke belakang. Di sana sudah tersedia berpeti-peti barang. Mayor Mangku beranggapan bahwa kali ini misinya berhasil. Ia bisa memperoleh senjata dalam jumlah yang banyak. Pada wajahnya nampak ada perasaan yang senang yang tak bisa ditahan. Tapi Mayor Phe segera mengutarakan bahwa ia tertipu. Hanya sekitar lima peti yang berisi senjata dan peluru. Mayor Phe kemudian menceritakan semua kemalangan yang dideritanya.

135


Kini giliran Mayor Mangku yang menghiburnya: “Sejumlah ini sudah sangat berfaedah. Bantuan Tuan sangat kami hargai” “saya mengerti, tapi persoalan ini benar-benar memalukan. Di saat kita sangat membutuhkan senjata masih ada orang yang mau menipu kita.” “Sudah, Tuan. Ini saja sudah cukup” Kemudian keluar Nyonya Phe, yang lagi-lagi menanyakan soal anaknya. Mayor Phe tadi sengaja menahan diri untuk tidak menanyakan soal anaknya. Ia ingin tidak melibatkan anaknya, biar tamunya ini tidak merasa “risih” karena mendapat bantuan dari orang tua anak buahnya. Ketika ada kesempatan, Nyonya Phe masuk sejenak, Mayor Phe berkata: “Jangan bercerita pada istri saya tentang musibah ini. Ia tidak saya ceritai. Karena saya khawatirkan ia akan bercerita banyak kepada orang lain bahwa kita telah tertipu” “Saya mengeri, Tuan," jawab Mayor Mangku. Mereka kemudian duduk di ruang tamu, bagian belakang. Di rumah Mayor Phe memang ada tiga ruangan tamu. Bagian paling depan, untuk menerima tamu yang Cuma sekedar tamu. Di ruangan tengah ada lagi, biasanya untuk yang sudah dikenal akrab. Lantas masih ada sebuah ruangan tamu di bagian belakang dekat ruangan makan. Ini memang khusus untuk menerima tamu dari kalangan keluarga. Biasanya terasa akrab kalau diterima di ruangan belakang itu. Mayor Phe kemudian menceritakan bahwa ia sudah mendapat bantuan banyak dari Baba Liem Seeng Tee, juragan rokok yang terkenal. Dengan bantuannya itu ia nanti akan mengusahakan pengiriman senjata-senjata yang sudah didapat secara berangsur.

136


27 Baba Liem mempunyai armada kendaraan mobil dan truk untuk mengangkut rokoknya ke daerah. Bisa dititipkan ke sana dan diharapkan Mayor Mangku bisa juga mempercayainya. “Ia orang yang baik. Teman dari presiden kita, Soekarno. Ia simpatisan bahkan bisa dibilang tokoh PNI. Pokoknya ia banyak membantu presiden Soekarno, baik sesudah menjadi presiden maupun sebelum jadi presiden” “Tuan mengenalnya dengan baik” “Saya sudah tahu namanya dan sudah sering bertemu. Orangnya dermawan dan suka menolong. Untuk kepentingan revolusi ia bersedia berkorban apa saja. Saya kira ia sangat nasionalis” “Kalau tuan mempercayainya saya juga mempercayainya” Lalu kedua orang itu menyusun strategi bagaimana senjata bisa dikirimkan dengan nunut armada rokok Baba Liem. Belanda memang mengijinkan Baba Liem berproduksi terus sebab dari perusahaan itu bisa diharapkan pembayaran cukai rokok yang cukup besar. Mayor Mangku juga bercerita banyak tentang pasukannya. Ia mulai menyukai Mayor Phe yang ternyata luas pemandangannya. Seperti anaknya, orang tua ini ternyata jujur dalam bicaranya. Tidak suka berbelit-beli. Apa yang dirasakan diutarakan. Juga tentang perampokan yang terjadi. “Dalam suatu revolusi selalu ada korban," kata Mayor Mangku. Pernyataan yang pendek ini dibenarkan oleh Mayor Phe. “Tapi masalahnya tidak boleh berlanjut terus. Jika perampokan ini berjalan terus dan yang jadi korban selalu orang Tionghoa, maka masalahnya akan berakibat cukup serius. Simpatik tidak akan didapat dari luar negeri. Padahal sekarang ini seudah masyarakat dunia mentas dari perang dunia II, mestinya kita sekarang tidak berperang lagi. Perang selalu membawa malapetaka. Yang lebih

137


penting lagi, dengan adanya perang, maka negara yang baru ini tidak akan mungkin bisa membangun negara dan memberikan kemakmuran kepada bangsanya� Mayor Mangku diam. Ia tak memberikan reaksi. Perampokan ini memang satu strategi perang juga. Supaya di kota tidak merasa aman. Supaya pihak Belanda tidak bisa bertepuk dada mengatakan bahwa mereka telah menciptakan kehidupan yang aman untuk masyarakat kota, dimana kaum pejuang tidak berkuasa. Ini strategi perang dan ia tak bisa mengatakan kepada sahabatnya yang baru ini. Dalam hati ia menyesalkan apa-apa yang telah terjadi. Persoalannya memang mengapa harus orang-orang Tionghoa yang jadi korban. Sekarang ia tahu dan yakin, bahwa orang Tionghoa ada tiga bagian. Ada yang pro Republik dan ada yang pro Belanda. Ada yang Cuma mencari untung seperti Tionghoa yang menjual senjata itu dan ada yang benar-benar mau berjuang membantu seperti Mayor Phe dan Baba Liem yang belum dikenalnya. Kalau ada orang-orang seperti Mayor Phe dan Baba Liem, pastilah banyak orang Tionghoa lainnya yang bersikap membantu Republik. “Tapi perang ini memang takkan lama. Kita Cuma sampai detik terakhir harus membuktikan kepada Belanda, bahwa kita masih sanggup menghadapi mereka dengan kekerasan. Kita harus membuktikan bahwa Belanda masih menghadapi perlawanan, meskipun perlawanan kita itu mungkin tidak punya arti. Hanya sekedar letusan senjata. Tapi di daerah itu besar artinya. Bagi Belanda itu berarti bahwa ia tidak bisa hilir mudik dengan seenaknya sendiri dan bagi rakyat desa itu berarti bahwa pejuang masih ada di sekitar mereka dan karenanya mereka juga akan memberikan perlawanan terhadap Belanda. Mereka akan merasa masih tetap dijaga oleh para pejuang. Perang kali ini lebih banyak mempunyai efek psikologis. Ganti Mayor Phe yang diam sekarang. Begitu ruwet strategi yang dipasang para pejuang dan pemimpinnya untuk menghadapi

138


Belanda dan menjaga semangat bangsa secara utuh menghadapi Belanda. Jarang satu bangsa memiliki strategi ini, terutama karena Indonesia berpenduduk besar. Salah perhitungan memang bisa fatal. Jika sudah tidak ada perlawanan dari pihak pejuang. Rakyat memang bisa punya anggapan bahwa Belanda sudah menguasai negara jajahan ini secara utuh. Berarti juga bahwa Belanda sudah dianggap berkuasa kembali dan harus dihormai, bukan dilawan. Mayor Phe hanya manggut-manggut. Ia kagum. Tak diduganya, bahwa bangsa yang menurut pendapatnya dan juga pendapat Oen Tjhing Tiauw terlalu tergesa-gesa memproklamair kemerdekaan, ternyata mereka juga bukan pejuang-pejuang yang tidak punya strategi. Ternyata strategi mereka sangat brilian. Belanda sendiri saat itu pasti juga tidak tahu, kalau keadaan para pejuang sudah boleh dikatakan habis. Tidak punya apa-apa lagi. Semangat pun sudah luntur. Kalau toh masih dikatakan ada, Cuma tinggal sebagian kecil saja. Bukan karena kecewa, tapi karena kesal menunggu. Mereka menginginkan perang dalam bentuknya yang nyata. Bberhadap-hadapan satu sama satu. Tewas pun untuk itu mereka berani. Tapi perang seperti itu memang hanya keinginan anak muda yang tidak memperhitungkan strategi. Perang gerilya yang dikomandokan dari Pusat mempunyai arti banyak. Pertama ada tanda kesetiaan rakyat di daerah mengikuti instruksi Pusat dan yang kedua bisa membuat Belanda jadi kelabakan. Belanda sendiri dalam menghadapi peperangan di Jawa Timur mungkin berpikir seribu kali. Mereka sudah berpengalaman dalam perang Aceh yang begitu berkepanjangan, atau dengan Perang Puputan di Bali. Di mana laki-laki dan perempuan yang sedang menyusui anaknya ikut perang dan menyabung nyawa sampai titik darah penghabisan. Yang membuat Belanda meski pun menang, menjadi ngeri akibat perang yang begitu memperlihatkan wajahnya yang paling asli. Kebiadaban dalam membantai rakyat yang ingin tetap mempertahankan kemerdekaan negaranya. Padahal, Belanda sebagai bangsa yang mengaku beradab tahu juga, bahwa

139


kemerdekaan itu sebenarnya hak setiap bangsa. Juga bangsa Aceh dan bangsa Bali. Sekarang perang yang sama mereka hadapi di Jawa Timur. Cuma tinggal daerah ini yang masih memperlihatkan perlawanan yang gigih. Kedatangan Mayor Mangku kemudian menelorkan kesepakatan bersama, bahwa peti-peti itu akan diangkut sesuai dengan rencana. Mayor Mangku sendiri yang akan mengawalny. Sementara melalui kurir dari orang-orang yang dikenal ia menyampaikan pesan kepada Sutedjo dan anak buahnya untuk menyambut kedatangan mereka. Senjata! Akhirnya meskipun tidak banyak, senjata didapat kembali oleh para pejuang. Yang paling bangga dalam hal ini adalah Hian Biauw. Cuma ia yang tahu bahwa senjata ini adalah bantuan dari ayahnya. Surat dari ayah atau ibunya memang tidak ada. Tapi dri Mayor Mangku ia mengetahui bahwa keadaan orang tuanya dalam keadaan selamat. Ia menjadi lega bahwa dengan datangnya senjatasenjata ini, meski Cuma sedikit tapi benar-benar sangat menggembirakan. Satu hari Latifah sempat bertemu kembali dengan Hian Biauw berduaan. Ia sangat senang melihat kegembiraan Hian Biauw memperoleh kembali senjata dan amunisi dan makanan kota. Juga para pejuang yang lain. Semuanya menunjukkan wajah yang gembira. Hian Biauw membersihkan laras senjata dengan kain lap yang sudah kotor. Ia bercerita banyak tentang senjata-senjata yang sudah dikenalnya sejak kecil. Ketika ia sering ikut ayahnya kalau berburu. Tampaknya, sejak kedatangan senjata-senjata yang berhasil dibawa komandan, Hian Biauw selalu gembira dan suka bercerita.

140


28 Latifah mendengarkan penuh perhatian. Ia tidak menyela maupun bertanya. Sikapnya seolah berharap Hian Biauw mau bercerita lebih banyak tentang dirinya. “Dulu Fah, aku tidak mengerti mengapa harus berjuang. Apa perlunya kemerdekaan. Hidup keluargaku berkecukupan dan kami tidak pernah merasa tertindas. Aku juga tidak pernah mengerti apa penjajahan itu. Aku tidak pernah-sebagai anak Mayor Phediperlakukan tidak adil.” Hian Biauw menghela nafas. Ia kemudian melanjutkan. “Berkumpul dengan kalian aku baru melihat kehidupan rakyat. Aku melihat rakyat berpakaian goni. Dulu aku tidak pernah melihatnya. Pembantu kami pun tidak ada yang sampai harus memakai bahan goni. Oh! Begitulah hidup dalam penjajahan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan.... oh! Aku ..., anak seorang Mayor sekarang merasakan hidup melarat dan aku mengerti mengapa negara ini harus merdeka.” Hening.. udara malam itu makin dingin saja. Malam mulai larut dan Hian Biauw agak menggigil. “Kau tidak kedinginan, Fah?” tanyanya sambil melepas sarung yang melilitnya ditawarkan pada Latifah. “Tidak. Aku senang udara dingin. Aku orang Malang bukan? Pakailah sendiri. Kau yang kedinginan” Hian Biauw tidak berbasa-basi. Ia cepat menyelimutkan sarung itu menutup seluruh tubuhnya. “Ha ha... Fah aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau ibuku menemuiku di sini. Anak tunggalnya hanya punya satu potong celana pendek! Itu sudah yang terbagus dari jatah pasukan, Fah, bagaimana reaksi ibu kalau anak tunggalnya berkalung sarung begini, ya?”

141


Latifah ikut geli. Ia juga tidak dapat membayangkan bagaimana pendapat ibuku kalau melihat putrinya duduk berdua dengan seorang pemuda di tempat yang sesepi ini.. yang berdua!” “Dengan pemuda Tionghoa lagi, ya Fah!” “Ya, dengan pemuda Tionghoa...” “Kau tidak menyesal, suatu ketika Fah?” “Yang kutakutkan bukan diriku, tetapi kau yang menyesal.” Keduanya lalu tertawa dan duduk mereka pun makin mendekat, hati Latifah berbunga melihat Hian Biauw terbuka dan mau bercerita dan mau bergurau. Dengan begini pasti sedikit tekanan batinnya akan terangkat dan besok ia akan dapat melakukan tugas sehari-harinya dengan lebih gembira. “Fah, boleh aku bertanya?” “Tanya apa lagi kok minta ijin segala?” “Kalau suatu hari kau memilih seorang pemuda Tionghoa apakah ayah ibumu akan memberikan restu?” Latifah terbungkam. Ia memang tertarik pada Hian Biauw tetapi sampai sejauh ini ia belum pernah memikirkan restu orang tua segala. Ya, pikirannya, apakah orang tuanya, modern sekalipun mau menerima Hian Biauw seandainya pemuda ini serius dengannya? Lalu ia balas bertanya. “Kalau ayah ibumu bagaimana? Maukah beliau memberi restu jika membawa seorang gadis Jawa ke lingkunganmu?” Ganti Hian Biauw yang terdiam. Ia dapat membayangkan bagaimana pandangan ibunya, terutama. Bahwa anak seorang Mayor Phe bersahabat dengan seorang perempuan yang tidak dipanggil Noni. Perempuan yang berambut keriting berwajah kecoklatan.. perempuan Jawa.. Hian Biauw sudah dapat membayangkan betapa ramainya ibunya memakinya dan menyalahkan ayahnya yang mengijinkan ia bergaul dengan Effendi dan akhirnya membawa pulang seorang perempuan Jawa. Bagaimana ibunya dapat mengerti bahwa ada perempuan Jawa yang setingkat dengan mereka? Di

142


lingkungannya orang Jawa dianggap kelas dua. Yang namanya orang Jawa adalah pembantu, pekerja dan ... orang kampung yang miskin. Mana mungkin ibunya tahu bahwa perempuan Jawa yang akan dibawanya adalah anak MULO dan anak seorang dokter? “Kalau kau menghendaki jawaban jujur, ibuku pasti akan marah besar. Tetapi aku tahu hati ibuku. Aku akan berikan pengertian padanya dan aku akan berkelahi untuk hakku. Dengan halus dan lemah lembut, tentu saja. Tapi aku tidak akan pernah mengalah. Kalau toh seorang perempuan Jawa yang kelak kubawa ke rumah, ia akan kupertahankan. Atau aku tidak akan menikah kalau aku kalah! Hian Biauw menjawab tegas dan wajahnya tiba-tiba tegang. “dan apa jawabanmu yang jujur?” “Aku tidak tahu, Biauw. Jangan tanyakan sekarang.” Latifah kemudian tertunduk malu. Ia tidak berani lagi menatap wajah dan mata Hian Biauw yang berapi-api. Ia tahu meskipun mereka belum pernah menyatakan cinta, tetapi dengan pertanyaan tadi dan jawaban yang begitu tegas dari Sinyo Sipit, ia telah melukai pemuda Tionghoa ini dengan jawabannya sendiri. Tetapi ia lebih baik bersikap jujur daripada lebih dalam melukai di kemudian hari. Akhirnya Latifah tidak tahan dan berlari masuk sambil menangis. Ia tahu ia telah melukai bukan hanya Hian Biauw sendiri tetapi sekaligus dirinya sendiri karena ia tidak dapat seberani pemuda itu... Hian Biauw tidak menahannya. Ia tidak kecewa karena ia memahami kelemahan kaum wanita terhadap adat. Ia juga tidak mengejarnya. Ia sayang sekali pada Latifah, tetapi ia tidak ingin gadis ini menderita dengannya. Barangkali ada pemuda bangsanya yang lebih baik dari dia... biarlah ia berbahagia. Hian Biauw kemudian teringat Effendi. Ingatan pada Effendi membuatnya ingat pada temantemannya pemuda-pemuda Tionghoa dari Kapasan. Kalau bukan karena kerasnya pendidikan yang dibekalkan ayah ibunya apakah ia tidak seperti mereka itu?

143


29 Anak laki-laki Kapasan dari usia muda sudah kenal perempuan. Mereka sudah sering pergi ke tempat plesir di Kembang Jepun, tempat perempuan nakal menghibur tentara Jepang. Orang Tionghoa boeh masuk juga. Mereka ini sering menggoda pada penjaga rumah orang tua. Mereka yang tiap malam bermain cinta. Dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak berani terhadap ayah para berandal kecil ini. Akhirnya para penjaga rumah malah mencarikan perempuan bagi anak-anak ini. Mereka ganti menjaga brandal-brandal ini bermain di beranda rumah. Kalau setelah membayar, sebagai komisinya gantilah para para penjaga yang bermain cinta. Mungkin permainan begini tidak hanya terjadi di Kapasan, tetapi palingtidak itulah yang diketahuinya karena tempat tinggalnya di sana. Ketika ingat bahwa perang mungkin tidak akan lama lagi dan dua insan itu duduk berduaan kembali di jalan, Hian Biauw bertanya: “Apa yang akan kau lakukan kalau perang ini usai” “Perang memang akan usai... “, jawab Latifah pelan. Ia memang tidak pernah berpikir apakah perang akan selesai dalam waktu singkat atau lama. Ia sebenarnya tak ingin perang selesai. Kehidupan di desa ini sungguh menyenangkan baginya. “Tapi perang satu saat akan selesai, Fah," ucap Hian Biauw kembali, seolah dengan pertanyaan itu ia ingin jawaban atas pertanyaan tadi. “Aku mungkin akan meneruskan studi. Aku ingin jadi dokter seperti ayahku.” “Kau ingin jadi dokter?” “Ya! Mengapa kau heran?” “Tidak, aku tidak heran.” Lalu Hian Biauw tertawa. Pemuda ini selalu tertawa kalau ada hal-hal yang menurut pendapatnya lucu.

144


Jawaban Latifah baginya lucu. Karena jawaban itu mengingatkan dirinya pada omongannya dengan ibunya yang dulu. “Biauw, kau harus belajar sampai punya titel”. “Mama ingin Biauw jadi apa?” “Jadilah dokter..” Latifah sekarng yang ganti bertanya: “Mengapa kau tertawa?” “Tak apa-apa. Cuma ibuku dulu pernah mengutarakan keinginannya agar aku jadi dokter. Lucu kan, kalau kau juga ingin jadi dokter” “Jadi dokter," gumam Latifah lirih seolah pada dirinya sendiri. Kehidupan di desa menyadarkan dirinya, bahwa masih banyak yang harus dilakukan para pemimpin bangsa jika ingin rakyat yang baru menyatakan kemerdekaan ini terangkat dari kemiskinan. Apa yang dilihatnya selama ini sangat bertentangan dengan kehidupannya di kota. Meskipun ayahnya sering berpindah tempat, tetapi ayahnya tak pernah sampai didinaskan di tempat yang terpencil. Selalu ada lisrik. Kehidupan di desa ini sama sekali merupakan kerutinan dari kepasrahan hidup manusia. Yang nrimo. Rasanya selalu taat dan tidak punya ambisi untuk mendobrak tradisi yang mengekang kebebasan hidup mereka. Tampaknya mereka sama sekali tak punya daya. “Kau sendiri juga akan belajar jadi dokter?" tanya Latifah kemudian. “Aku kira tidak. Aku sudah getir melihat darah. Aku muak melihat darah, melihat luka, melihat orang merintih.” “Lantas kau ingin jadi apa?” “Mungkin aku akan jadi guru.” Ganti Latifah yang sekarang tertawa. “Kau ingin jadi guru?" tanyanya heran. “Ya, kenapa?”

145


“Mungkin karena terlalu lama kau ikut dalam pasukan ini kau merasa seperti orang Jawa, Biauw. Tapi kau orang Tionghoa. Jika perang usai, kau akan kembali ke duniamu yang semula. Apa yang terjadi selama ini Cuma ibarat panggung sandiwara. Kau akan kembali ke lingkungan yang lama dan menjadi pedagang...” Latifah kemudian berdiam diri. Ia tak berani memandang wajah sahabatnya. “Aku kembali ke lingkunganku?" Hian Biauw berkata perlahan seolah bertanya pada diri sendiri. “Ya, jika tidak kau mau kemana?” “Mungkin aku akan menetap di daerah ini...” “Kau katanya mau pergi dari sini?” “Sekarang memang, tapi kalau perang selesai, aku ingin kembali. Pendidikan Fah, pendidikan..” “Kenapa dengan pendidikan?” “Kemajuan satu bangsa tidak mungkin bisa dicapai kalau bangsa itu masih bodoh. Kalau bangsa tetap bodoh, maka mereka akan mudh ditipu oleh pemimpin-pemimpin yang avonturir. Yakinlah, setelah perang selesai, perjuangan usai, maka nanti akan banyak orang yang menepuk dada sebagai pejuang. Lantas akan lahir pemimpin yang seperti aku bilang tadi, petualangan. Rakyat yang bodoh gampang ditipu. Rakyat harus mempunyai hak untuk menikmati pendidikan. Itu harus dimulai dri desa. Karena desa sering dilupakan pemerintah. Di mana saja pemerintah Cuma bakal mengurus-urusan kota. Karena lewat kota hasilnya segera tampak. Biasa segera tampak ada kemajuan. Desa selamanya akan diterbenamkan pada mimpi-mimpi buruknya. Kita yang sadr yang harus mengabdi...” Latifah menggelengkan kepalanya. Rasanya tak masuk di akalnya bahwa apa yang diomongkan ini keluar dari mulut seorang Tionghoa.

146


“Kau akan kesepian di desa, Biauw...” “Mungkin. Tapi aku akan mengajak ibuku ke desa. Ibu pasti mau. Juga ayahku akan kuajak pindah.” Deglok akhirnya datang ke rumah. Sedang Mayor Phe bersama Oen Tjhing Tiauw. Pemuda itu sama sekali tidak menceritakan apa sebabnya Deglok dipanggil Mayor. Ia Cuma mengatakan bahwa Mayor Phe mengundangnya. Bagi orang-orang seperti Deglok, undangan dari orang kaya, apalagi yang punya pangkat seperti Mayor Phe merupakan satu kehormatan yang luar biasa. Deglok sendiri sebelumnya tidak mengenal Mayor Phe. Meskipun sebenarnya ia sudah pernah bertemu dengan Mayor Phe entah di tempat kematian atau di pesta kawin, dimana Deglok sering diundang untuk bertindak sebagai “keamanan”. Sebab dalam pesta perkawinan sering terjadi mabuk-mabukan yang sering pula diakhiri dengan perkelahian yang kadang-kadang bisa membawa maut. Bagi yang punya kerja, yang mengawinkan anaknya tidak akan berbuntut panjang jika dalam perkelahian itu ada yang mati, jika Deglok yang jadi keamanan. Jika tidak, pasti perkara itu berbuntut panjang. Deglok ini musuh bebuyutan dengan jurnalis Kwee Thiam Tjhing. Setiap perkelahian yang terjadi, baik waktu pesta kawin maupun waktu maisongan orang mati, selalu ditulis dengan penuh amarah oleh Jurnalis Kwee. Jurnalis ini tak rela jika jiwa manusia mati dengan sia-sia hanya karena mabuk-mabukan atau oleh salah pengertian waktu judi. Judi sendiri sudah sering membuat orang lupa kontrol. Ditambah judi waktu teler membuat orang jadi lupa dratan. Sedikit salah paham, pisau sudah dikeluarkan. Perkelahian ini sering membawa korban dengan dekking Deglok. Sebab untuk itu Deglok mendapat upah yang besar dari mereka yang punya “gawe”. Segala keributan yang sering kali membawa korban menjadi kebanggan orang yang punya “gawe”. Sebab dengan adanya rame-rame itu penduduk ikut serta menonton segala “keramaian” yang terjadi.

147


Orang yang terluka dengan darah yang membasahi sepanjang jalan yang dilewati, digotong seperti orang menggotong binatang perburuan dari hutan. Sepanjang jalan orang menonton. Orang-orang Jawa yang menonton, yang tadinya tidak ikut pesta pora atau ikut prihatin dengan kematian seseorang, semuanya memperbincangkan: “Ee... sudah tau, Baba Kwee mampus di pesta Baba Liem. Ketusuk perutnya sampai ususnya keluar...� Orang Tionghoa sendiri sampai seminggu masih membicarakan. “Lu tahu, kejadiannya Cuma remeh saja. Baba Kwee mabuk. Waktu sempoyongan tubuhnya bersandar di bahu perempuan cantik. Nggak tahunya perempuan itu bininya Baba Ong. Langsung saja Baba Kwee ditendang kemaluannya sampai jatuh terjerembab. Baba Kwee yang masih mabuk berusaha berdiri sambil tetap sempoyongan. Tak memberikan kesempatan, Baba Ong sudah mencabut belatinya dan ditusukkan ke perut Baba Tan. Ususnya sampai keluar...�

148


30 Karena namanya tidak begitu bersih, Mayor Phe sebelumnya tidak pernah berkenalan secara akrab dengan Deglok. Ia Cuma manggut kalau ketemu di pesta atau di tempat kematian sahabatnya. Selebihnya ia tak punya hubungan. Ia pin juga heran bagaimana lelaki yang umurnya ditaksir sekitar 40-an itu, Deglok lagi pincang bisa punya pengaruh dan terpilih oleh rekan-rekannya sebagai bossnya buaya-buaya Kapasan. Tapi kali ini Mayor Phe sangat memerlukannya. Ia ingin mengadakan perhitungan dengan Baba Tan yang dulu dibawa oleh Oen Tjhing Tiauw untuk melakukan transaksi jual beli senjata, di mana akhirnya ia tertipu. Ia ingin mengadakan perhitungan dengan orang yang disebutnya sebagai : bangsat! Tapi untuk itu tak mau memakai tangannya sendiri. Ia ingin berbuat sebagai Pontius Pilatus. Memakai tangan orang lain. Dalam hal ini memakai tangan Deglok. Untuk itu ia rela membayar banyak. Kalau mungkin ia ingin mendapat simpatik dari Deglok, agar uang tak perlu banyak dikeluarkan. Setelah basa-basi buat sementara Mayor Phe berkata: “Kau tentu tahu tentang Poh An Tui?� Oen Tjhing Tiauw terkejut dengan pertanyaan itu. Juga Deglok. Tak diduganya bahwa Mayor Phe akan berbicara tentang organisasi itu. “Poh An Tui harus kita sokong," kata Mayor Phe kemudian setelah dua tamunya diam. Deglok memang sudah mendengar tentang organisasi itu. Bahkan ia juga menjadi anggotanya. Terutama ia sering mengganti orang Tionghoa kaya yang kebetulan harus apel. Tapi tetap ingin tidur nyenyak kalau malam di rumah. “Saya mendapat permintaan dari kawan-kawan di Jakarta untuk menghimpun bantuan bagi kekuatan Poh An Tui di sana. Di Rengasdengklok banyak kaum kita yang dibunuhi oleh perampokperampok. Karenanya mereka harus kita bantu dalam hal persenjataan. Saya sama Baba Oen sudah mengatur bantuan itu.

149


Dengan uang saya sendiri saya telah membeli senjata. Tapi dari sekian puluh peti yang dikirim Cuma lima yang berisi senjata. Yang lainnya semua berisi batu. Ini semua tingkat Baba Tan” Deglok diam. Sekarang ia sudah mulai punya gambaran apa yang sebenarnya dikehendaki Mayor Phe. “Jadi Mayor ingin saya membereskan Baba Tan?" tanyanya. “Ya. Tapi tak perlu dibunuh. Saya ingin uang saya kembali”. “Kita memang tidak perlu membunuhnya," sela Oen Tjhing Tiauw. “Laki-laki seperti itu, yang Cuma mau untung, tidak ingat kepentingan golongan kita tak perlu dikasih hidup," tiba-tiba saja ujar Deglog bersemangat. Ia mungkin ingin menunjukkan bahwa hatinya tersinggung dengan perbuatan Baba Tan. Ia rupanya percaya bahwa senjata yang dibeli Mayor Phe adalah untuk kepentingan Poh An Tui di Jakarta. Untuk kepentingan membela kampung halaman, agar tak banyak lagi orang Tionghoa yang dibunuhi perampok sebab tak berdaya untuk melawan. Diam-diam meskipun baru saja berkenalan secara langsung, Deglog sangat respek pada Mayor Phe. Menurut pendapatnya, dalam jaman seperti sekarang ini, jarang ada orang yang ingat kepada kelompoknya. Masing-masing orang mencari selamat dan bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Kini ada orangnya dan tertipu. Ia jadi marah. “Saya pasti bisa membereskan.," sahut Deglok. “Kau bisa minta alamatnya pada Baba Oen," ujar Mayor Phe. Deglok kemudian menanyakan alamatnya pada Oen Tjhing Tiauw. Tapi pemuda ini juga cuma mengenalnya dari orang lain. Alamat yang tepatnya ia tak tahu. Baba Tan yang pedagang itu yang datang ke rumahnya atas petunjuk seseorang yang tahu kalau ia membutuhkan banyak senjata. Ia dulu tak mengatakan untuk apa senjata-senjata itu. Ia tak punya pikiran sebrilian pikiran Mayor Phe yang bisa memberikan alibi buat kepentingan Poh An Tui. Ia

150


kemudian berjanji akan memberikan alamat Baba Tan setelah nanti ia bertanya pada sahabatnya yang satu lagi. Mata rantai itu pasti ketemu dan Deglok kemudian menyatakan sedia membantu meskipun tanpa upah. Tapi Mayor Phe tetap memberikan bekal secukupnya. Mayor Phe minta agar masalah ini bisa diselesaikan tak lebih dari tiga hari. Betul juga. Karena cerita Mayor Phe kepada Deglok, dalam sekejab sudah tersiar berita bahwa Mayor Phe adalah simpatisan Poh An Tui. Bahwa ia keluar uang banyak untuk itu. Diam-diam Deglok juga mengumpulkan fonds (dana). Ia secara diam-diam ingin membantu Mayor Phe. Agar Mayor Phe punya dana guna membeli senjata, Deglok juga kemudian mencarikan orang yang bisa mensuplai senjata. Bahkan Deglok berhasil membawa orang yang bisa menyediakan senjata milik Nica. Jadi bukan seperti Baba Tan dulu, senjata eks Jepang. Deglok bisa me-lever senjata Nica. Pembelinya jugatidak seperti yang terjadi dulu. Sekarang senjata dihitung satu-satu. Senjata berat sendiri, pistol sendiri dan pelurunya dihargai sendiri. Masing-masing senjata boleh dicoba dulu. Deglok memastikan bahwa ia sudah mencobanya satu-satu. Jadi Mayor Phe tidak perlu berprasangka lagi. Sementara itu alamat Baba Tan sudah didapat oleh Deglok. Sangat kejam operasi yang dijalankan. Mula-mula Deglok menculik seorang pembantu Baba Tan yang berumah di jalan Dapuan. Jongos itu kemudian dihajar hingga tak sadarkan diri dan di celananya diletakkan surat ancaman. Isinya agar Baba Tan segera mengembalikan uang hasil tipuannya. Cuma tidak dijelaskan tipuan dalam bentuk apa. Baba Tan dengan matanya yang sipit, mendekat juling, takutnya bukan kepalang. Ia segera teringat akan kelakuannya menipu Mayor Phe. Mestinya ia tak berbuat demikian. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.

151


Hari ketiga sesuai dengan janji Deglok pada Mayor Phe ia berhasil membawa anak Baba Tan, seorang gadis cantik usia kurang lebih enam belas tahun. Wajahnya bulat telur. Dadanya belum membukit. Masih “trepes”. Tapi tanda-tanda bahwa nanti tubuhnya akan montok sudah ada, seperti pipinya yang montok. Kulitnya yang kuning. “Untuk apa kau bawa perempuan ini," tanya Mayor Phe. “Mayor boleh menyandera perempuan ini sampai bapaknya mau mengembalikan uang Mayor," jawab Deglok. Rupanya soal culik-menculik sudah biasa baginya. “Mayor pun boleh berbuat sesuka hati...” Mayor Phe menahan amarah dalam hatinya. Ia memandang hal itu tidak pantas. Sebagai seorang Mayor, ia memang masih punya sisa wibawa. Silat shantungnya cukup tinggi dan mahir. Jadi ia tak takut dengan kepala buaya Kapasan ini. “Kau bawa pulang perempuan itu," ujarnya dengan menahan amarahnya. “Tapi Mayor...” “Tidak ada tapi. Yang kita tidak senangi adalah sikap tidak terpuji dari Baba Tan. Karenanya kita tidak boleh berbuat yang sama. Sama-sama rendahnya. Berdagang tidak wajar adalah satu sikap yang tidak terpuji. Menculik anak perawan orang juga bukan satu sikap yang terpuji. Aku cuma ingin tanya, apa salah anak perawan ini terhadap kita..?” “Ini cuma sekedar taktik, Mayor...” “Itu taktik yang kotor. Kalau kau tak mau berhadapan langsung dengan Baba Tan, kita berhenti sampai di sini saja.” Deglok memandang Mayor Phe. Mayor itupun memandang Deglok tajam. Dalam hal ini Mayor Phe memang tak mau kompromi. Ia semula hanya ingin Deglok membereskan persoalannya, bukan menambah pelik masalah ini. Baba telah menerima uang dan

152


sebelumnya sudah menyanggupi untuk melever barang-barang yang dikehendaki” “Baik Mayor. Saya akan mendatangi Baba Tan sendiri. Saya titip saja anaknya di sini” “Tidak! Kau bawa pulang anak perawan Baba Tan sekarang juga” “Baik Mayor” Deglog tak berani berbantah dengan Mayor Phe. Rasanya ada sesuatu pada pandangan mata Mayor yang sudah “pensiun," tapi yang masih punya wibawa besar. ***

153


31 Rumah Baba Tan di Dapuan memang besar. Lebih besar dari rumah Mayor Phe. Harta kekayaan yang baru setahun yang lalu diperoleh membuat ia jadi kaya raya. Lima rumah berjejeran dan lima rumah di belakangnya semua dibeli dengan harga yang mahal. Rumah rakyat yang semula sebagian dindingnya terbuat dari bekas papan peti dirobohkan dan dibangun sebuah bangunan yang baru. Semua orang menjdi kaget, mengapa dalam situasi perang yang masih belum ada ketentuan ini Baba Tan berani membangun. Setelah rumah itu selama enam bulan pembangunan selesai, Baba Tan menyewa cinteng orang Madura, tiga orang sekaligus. Bergilir sampai rumah itu dijaga penuh selama 24 jam. Hari-hari pertama, Baba Tan masih bisa merasakan kegembiraannya. Tapi setelah beberapa saat kemudian, ia mulai menyesal. Ia mempunyai keyakinan bahwa cepat atau lambat, pasti muncul balasan dari Mayor Phe atau Oen Tjhing Tiauw. Keresahan karenanya mulai menghinggapi dirinya. Apalagi setelah ada korban karyawannya, lantas anaknya diculik. Ia kini mulai menyesal. Tapi nasi rupanya sudah menjadi bubur. Tiba-tiba saja anaknya Giok Hwa yang baru berusia enam belas tahun diculik. Ia mendapat surat ancaman. Ia sudah tahu siapa yang menculiknya, meskipun pasti tidak dengan tangan sendiri. Ia tak berani menunjukkan surat itu kepada polisi, karena nanti bisa terbongkar semua urusannya. Akan terbongkar sifatnya yang menipu orang dalam berdagang. Tapi dasar orang bermental busuk. Dengan diculik anak perawannya, ia bukan bertobat dengan mendatangi Mayor Phe atau Baba Oen, melainkan ia ingin mempunyai rencana lain. Ia ingin membunuh Mayor Phe. Rasanya sekarang ini seperti ada perlombaan. Siapa yang mengerjai siapa. Baba Tan yang mengerjai Mayor Phe atau Baba Tan yang dikerjai Deglok, orang suruhan Mayor Phe. Rumitnya

154


kehidupan dunia justru di sini. Orang sering beranggapan sudah kepalang basah. Jadi biar basah kuyup sekali. Orang yang tadinya bukan berjiwa pembunuh hanya ingin dagang saja, sekarang mempunyai niatan untuk membunuh, padahal ia sendiri yang membuat keributan itu. Andai ia, Baba Tan, sejak semula berdagang baik-baik, dalam arti kata tidak bilang peti isi batu sebagai peti isi senjata, maka urusan sudah akan selesai. Apalagi, jika iasanggup memenuhi pesanan senjata itu, ia sudah untung. Mestinya ia tak perlu bersikap tidak wajar. Tapi dasar manusia. Maunya untung yang lebih besar dan lebih besar. Orang dagang tampaknya cenderung menjadi temaha. Dan kebanyakan orang men-cap orang Tionghoa agak rakus dalam berdagang dan bahkan licin serta kadang licik. Menipu lawan dagang sudah dianggap wajar. Deglok ternyata muncul terlebih dahulu di rumah Baba Tan, ketimbang Baba Tan yang baru mempunyai rencana untuk membunuh Mayor Phe. Menghadapi Deglok, Baba Tan tidak takut. Ia sudah kenal lama dengan Deglok dari jauh, meskipun sebelumnya mereka tidak berkenalan. “Saya tahu Baba utusan dari Mayor Phe," begitu Baba Tan membuka dialog setelah menyuruh Deglok duduk. “Kalau demikian, saya tidak perlu berbasa basi kepada Baba Tan," jawab Deglok angkuh. “Sabar," ujar Baba Tan ketika melihat tamunya mulai emosi, lalu ulangnya: “Sabar, saya mempunyai tugas untuk Baba. Berapa Mayor Phe membayar, saya akan melipatgandakan lima kali....” “Apa yang Baba Tan kehendaki untuk saya lakukan” “Bunuh Mayor Phe”. Deglok tertawa terbahak. Ia memandang tajam wajah tuan rumah yang licik ini. “Anak perawan Baba ada di tangan saya” “Saya tahu”

155


“Baba tidak takut terjadi apa-apa” “Hidup manusia ada di tangan Tuhan” “Baba sepertinya orang baik-baik saja, yang taat pada Tuhan Allah” Urusan percaya kepada Tuhan Allah tidak ada kaitannya dengan urusan dagang. Kita harus pandai-pandai memisahkannya... “Baba tahu untuk apa Mayor Phe membeli senjata itu?” “Tahu, karena itu saya tipu” “Apa yang Baba ketahui?” “Ia hendak membantu para pejuang yang membunuh orangorang kita” “Baba salah informasi kalau demikian," kata Deglok tegas. “Salah informasi?" ulang Baba Tan. “Ya, senjata itu justru untuk melindungi orang-orang Tionghoa. Orang-orang kita sendiri yang ada di Jakarta, yang tergabung dalam Poh An Tui” “Itu tidak benar” “Itu yang benar. Saya dengar sendiri dari Mayor Phe. Karenanya ia marah besar kepada Baba Tan. Tapi saya punya usul, kembalikan uangnya atau beri ia senjata sesuai dengan perjanjian dahulu” “Kau gila. Siapapun tahu kalau kita tak mungkin mendapatkan senjata sampai puluhan peti. Senjata paling-paling bisa kita dapat satu dua. Itu pun tidak setiap hari” “Saya tidak perduli akan hal ini. Baba telah menerima uang dan sebelumnya sudah menyanggupi untuk melever barang-barang yang dikehendaki”. “Saya tahu. Tapi karena ia membantu pemberontak, saya tidak rela senjata itu ada di tangannya”. “Mengapa Baba mau menerima uang pembayarannya...” Baba Tan diam. Dia duduk termenung. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

156


“Aku ingin menugasi kau membunuh dia," katanya tiba-tiba. “Saya datang bukan untuk menerima tugas dari Baba. Saya tak ingin mempergunakan kekerasan.” Lantas Deglok mengeluarkan dua buah badik dari balik pinggang kirinya. Kemudian diletakkan di atas meja. “Jangan suka bermain dengan senjata.” Baba Tan masih kalem. “Memang berbahaya," jawab Deglok, “Apalagi kalau badik ini menembus dada Baba” “Apa yang kau mauinya?” “Saya inginkan uang Mayor kembali.” “Lantas bagaimana dengan anak saya?” “Ia akan saya kembalikan begitu Baba membayar.” Deglok memotong sendiri omongnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Perasaannya sebagai seorang jagoan merasa bahwa ada musuh. Dan ternyata memang betul. Di pintu luar berdiri tiga orang yang berwajah seram. Tiga jagoan dengan golok di pinggang, siap menantangnya. “Jadi Baba tidak ingin masalah ini diselesaikan secara baikbaik," katanya kalem kepada Baba Tan. Jagoan buaya Kapasan kelebihannya memang di sini. Mereka bisa bersikap lunak dalam omongan, tapi sadis dalam perbuatan dan kejam dalam menghadapi musuh. “Sepertinya saya yang tanya pada Baba, apakah Baba mau menurut omongan saya atau tidak”, ujar Baba Tan tak kalah kalemnya. Terdengar tertawa dari ketiga jagoan yang berdiri, di depan pintu keluar. Baba Tan sendiri sudah siap menjaga langkah agar tidak terjebak oleh Deglok. Deglok memang mati kutu. Rasanya ia memang harus melawan ketiga jagoan orang Madura itu. Ketiga orang Madura itu rupanya juga tahu siapa yang harus dihadapi kali ini. Nama Deglok sudah terkenal di kalangan cinteng di Surabaya.

157


32 “Jadi Baba ingin masalah ini diselesaikan secara kekerasan?" ulang Deglok lagi. Tapi Baba Tan tidak memberikan jawaban. Ia hanya memandang ketiga jagoan itu dan menganggukkan kepala. Anggukan itu tanda bahwa ketiga jagoannya boleh memulai menyergap lawannya. Ketiganya maju setindak demi setindak. Deglok juga mulai berdiri. Dari punggungnya ia mengeluarkan dua senjata semacam badik, dua buah. Sekarang kedua tangannya memegang badik. Orang-orang Madura itu juga sudah menghunus parang mereka. “Kalian boleh maju satu-satu atau keroyokan," tanya Deglok. Wajahnya berubah seram. Sekilas orang yang melihat takkan percaya bahwa ia seorang yang deglok alias pincang. Salah satu orang Madura yang berdiri di tengah mulai menyerang dengan garangnya. Serangan itu dielakkan dengan mudah oleh Deglok yang kemudian menyerang kembali dengan bergulung di lantai dan badik itu dengan kecepatan kilat berhasil menusuk perut lawan dan usus lawan itu kemudian berceceran keluar. Baba Tan jadi ngeri. “Ini Cuma contoh," ujar Deglok seraya membersihkan badiknya dari noda darah dengan kain bajunya. Kalem saja ia berbuat. Sedang orang Madura itu merintih sejenak kemudian ia jatuh terduduk, kemudian lagi ia terguling menghembuskan nafasnya. Kejadian yang cepat ini membuat nyali yang dua menjadi ciut. “Anggap saja semuanya tadi tak ada. Apakah Baba tetap ingin menyelesaikan dengan kekerasan?" tanya Deglok. Baba Tan senyum. Ia menghampiri Deglok dan menyuruhnya duduk kembali. “Mayor jahanam itu harus dibunuh. Ini bukan karena aku cuma ingin untung. Kita tak boleh membela kaum pemberontak.

158


Mereka yang menganiaya bangsa kita. Mereka yang memperkosa gadis-gadis kita”. Deglok diam. Tapi sebenarnya dalam hati ia merasa malu. Apa yang diutarakan oleh Baba Tan ini sedikitnya memukul dirinya sendiri. Bukankah tadi iamenawarkan anak perawan Baba Tan kepada Mayor Phe? Maksudnya juga agar perawan yang masih muda itu direnggut keperawanannya. Bukankah tindakannya itu sama dengan kaum pemberontak yang dituduh sebagai penganiaya dan pemerkosa gadis-gadis Tionghoa. Bukankah perbuatannya dengan menculik anak perawan Baba Tan itu sama dengan perbuatan kaum pemberontak. Deglok yang biasanya tak pernah berpikir panjang jadi bingung. Mayor Phe bilang, senjata itu untuk menolong orang-orang sebangsa di Jakarta yang tergabung dalam Poh An Tui. Lalu Baba bilang, senjata-senjata itu untuk membantu kaum pemberontak dan karena itu Baba Tan telah menipu Mayor Phe karena ia tak rela kaum pemberontak diberi senjata untuk membunuhi kaum Tionghoa. Lama Deglok terbenam dalam lamunannya. Tapi kemudian ia memutuskan, orang yang seperti dia ini, yang dimiliki adalah harga diri, meskipun harga dirinya menurut sementara orang berlumuran darah. Orang yang “memakainya” pertama adalah Mayor Phe. Ia harus setia pada majikan itu. Orang seperti dia selamanya harus punya satu majikan. Yang punya dua majikan berarti pengkhianat. “Asal Baba sadar saja. Saya tak ingin melakukan penagihan dengan kekerasan. Kita sama-sama “tenglang” (orang Tionghoa). Buat apa kita saling bertengkat. Baba orang yang kaya. Mayor Phe orang yang terpandang. Kalau bisa keduanya bersahabat dan bukan bertengkar. Laginya Baba yang salah. Apapun pendirian Baba terhadap senjata yang dibeli, tapi Mayor Phe adalah pembeli dan Baba adalah penjual.

159


Di sini ada bisnis yang murni. Baba tidak bisa bilang bahwa tujuan Mayor Phe adalah buruk karena membantu para pejuang yang Baba sebut sebagai pemberontak. Pendapat Baba itu cuma berdasarkan rabaan. Sekarang saya cuma ingin bertanya: Baba mau melakukan hubungan dagang yang baik atau tidak.� Baba Tan diam tak segera menjawab. Sulit baginya untuk menjawab. Ia sudah terlanjur berbohong kepada Deglok, bahwa langkah busuknya itu diakibatkan karena ia tak setuju dengan langkah-langkah yang diambil oleh Mayor Phe. “Kalau saya tidak mau mengembalikan uang kelebihannya," tanyanya kemudian dengan nada yang bodoh. Sikap ini merupakan tantangan bagi Deglok. Tapi aneh, Deglok tetap bersabar. “Kalau Baba berkeras hati ingin memiliki kelebihan uang itu, Baba tidak akan bisa menikmati. Atau Baba melangkahi mayat saya terlebih dahulu," jawab Deglok pasti. Lantas sekali lagi ia mengeluarkan dua badiknya yang dikuasai penuh cara penggunaannya. Ternyata ketika Baba Tan omong-omong dengan Deglok, kedua cinteng Madura itu yang menggotong kawannya yang roboh ke luar, kemudian melapor kepada polisi di dekat daerah itu. Tak lama lima orang polisi datang. Deglok segera memasuki halaman. “Kurang ajar. Baba telah curang! Baba harus membayar mahal kecurangan Baba," katanya. Secepat kilat ia melemparkan badiknya. Badik yang ada di tangan kiri menancap amblas sampai ke gagangnya di perut Baba Tan. Yang sebuah lagi persis di sebelah dada kiri Baba Tan yang kemudian jatuh tersungkur jatuh... Polisi yang datang kemudian dengan mudah menangkap Deglok. Deglok memang menyerah, karena menurut pendapatnya, ia takkan menyangkut-pautkan Mayor Phe. Ingin bertanggung jawab sendiri atas semua perbuatannya meskipun semuanya ini terjadi karena urusan Mayor Phe... ****

160


33 Peristiwa pembunuhan Baba Tan segera menjadi ramai. Bukan cuma pers Melayu di Surabaya saja yang memuat berita kematiannya akibat dibunuh Buaya Kapasan. Pers Melayu Tionghoa yang terbit di Semarang dan Jakarta ikut serta memuatnya. Lucunya, semua penerbitan pers memberitakan hal-hal yang baik. Diceritakan secara dramatis tentang peristiwa itu dan pembaca tampaknya percaya isi surat kabar tadi. Karena misteri yang terkandung di dalamnya memang tidak pernah terbongkar. Terlebih lagi, ketika sehari kemudian orang menemukan anak perawan Baba Tan di rumah Deglok, ketika rumah itu didatangi polisi. Polisi semula mengira bahwa Deglok telah merampok harta benda Baba Tan. Nama buayabuaya Kapasan jadi hancur lebur di mata masyarakat gara-gara kasus Deglok ini. Semula masih banyak orang yang tak percaya bahwa Deglok bisa berbuat demikian. Deglok tidak pernah membunuh orang secara terang-terangan. Tapi kemudian juga situasi berkembang lain. Apalah arti Deglok, seorang buaya Kapasan. Sedangkan Baba Tan adalah seorang yang kaya. Orang tak perlu tahu dari mana Baba Tan mendapatkan hartanya sehingga ia bisa membeli rumah sederetan di kanan kirinya dan di belakang rumahnya, dan mampu membangun rumahnya seperti istana... Deglok jadi pembicaraan sehari-hari. Setiap hari orang tua memperbincangkannya setiap berhadapan dengan anaknya yang nakal: “Kamu tidak mau menurut orang tua, ya. Mau sok jagoan seperti Deglok. Lihat, kalau sudah diborgol polisi, baru tahu rasa kau...� Tapi dasar anak, mereka lebih suka pada Deglok daripada Baba Tan. Mereka tak perduli bagaimana duduk perkaranya. Sebab anak-anak ini, entah darimana datangnya sumber berita, mereka tahu

161


kalau Deglok berhasil menguasai cinteng orang Madura ketika ia mau dikeroyok tiga. Anak-anak mengagumi Deglok dan diam-diam anak-anak muda makin banyak yang belajar kuntauw untuk bela diri, ingin seperti Deglok yang jagoan.... **** Berita kematian Baba Tan cepat juga sampai ke telinga Mayor Phe sebelum sampai ke tangan pers. Ada kerisauan dalam hati Mayor itu, bahwa ia akan “kerembet� dengan kematian Baba Tan. Malam itu juga ia mengirim beberapa kurir, terdiri dari sahabat-sahabat terpercayanya untuk datang ke kantor polisi menyelidik mengenai tertangkapnya Deglok. Ternyata sampai malam itu Deglok belum diperiksa. Masih ditahan saja. Soalnya, menurut beberapa polisi yang dikenal para kurir, kesalahan Deglok sudah tidak bisa disangkal lagi. Sudah jelas. Berita acara perkara baru akan dibuat besok pagi. Tengah malam para kurir melapor pada Mayor Phe. Kesan yang diperoleh Mayor yang secara tiba-tiba tampak murung itu cukup melegakan. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan terlibat. Dalam hati ia memang ikut bersalah. Semuanya ini gara-gara dia. Dia yang ingin menolong para pejuang, kemudian ditipu orang dan orang yang menipu itu sekarang mati dan orang suruhannya ditangkap polisi karena membunuh. Tapi hati kecilnya masih membantah. Bukankah ia sudah berpesan pada Deglok agar masalah ini diselesaikan saja secara baik-baik. Tak perlu ada darah mengalir. Tak perlu ada pembunuhan. Bahkan bukankah ia marah kepada Deglok, ketika buaya Kapasan yang terkenal itu menculik anak Baba Tan? Bukankah ia yang menyuruh anak gadis itu dikembalikan kepada orang tuanya? Lama ia merenung. Mencoba mencari jawaban, apakah langkah-langkahnya sekarang ini merupakan langkah-langkah yang salah. Apakah menolong para pejuang merupakan langkah salah,

162


dan apakah semuanya ini merupakan tanda bahwa tindakannya tidak mendapat restu dari Tuhan? Kalau mendapat restu, mengapa semuanya tidak berjalan dengan mulus? Mengapa begitu banyak aral yang melintang? Mengapa pula orang-orang sebangsanya sekarang sudah tidak mempercayainya lagi? Mengapa pula Baba Oen, sahabatnya secara tidak langsung ikut menyalahkan keputusannya yang mau membantu perjuangan para pejuang yang ada di Jawa Timur, meskipun ia tak tahu di mana markas pejuangpejuang itu. Jam tiga Mayor Phe baru masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya sudah tidur nyenyak. Ketika ia menaiki ranjang, istrinya terjaga dan bertanya: “Ngko belum tidur?” Mayor Phe tidak segera menjawab: ia mengelus rambut istrinya dengan sayang. Ada rasa salah dalam hatinya. Dalam waktu singkat ia sudah menghamburkan uang keluarga karena ditipu orang. Akhirnya perlahan sekali ia bertanya setelah yakin bahwa istrinya sudah tidak tidur lagi: “Masih ada uang simpanan kita?” Nyonya Phe membalik dan memandang suaminya yang memandang langit-langit kamar, melamun. “Apakah engko ada persoalan?” “Tidak” “Mengapa engkau tanya tentang keuangan kita?” “Aku cuma jaga-jaga saja, barangkali anak kita masih memerlukan senjata lagi. Kita harus membantu mereka” “Uang kontan memang tinggal sedikit. Tapi rumah-rumah kita yang ada di Simolawang bisa kita jual.” “Sementara ini kita jangan jual barang-barang kita. Lebih baik kita menyimpan barang daripada uang”.

163


“Mestinya memang begitu. Tapi kalau uang kita perlukan untuk membeli senjata dan kita kebetulan tidak punya uang kontan, maka jalan tak ada selain menjual barang� Mayor Phe sebenarnya ingin melanjutkan pertanyaannya, apakah istrinya masih punya simpanan mas dan berlian. Tapi pertanyaan itu tak sempat diutarakan. Ia tak tega jika mas berlian, hadiah perkawinan mereka dahulu dari orang-orang tua mereka dijual selama barang lain masih ada. Istrinya juga sudah pernah tertipu oleh Giyo. “Mungkinkah kita terpaksa akan menjual rumah kita satu atau dua buah...," ujarnya datar, tanpa emosi. Istrinya merasakan emosinya. Perempuan yang bijaksana ini segera memeluk suaminya. Ia merasa bahwa hari-hari belakangan ini suaminya tampak murung. Ia tahu bahwa suaminya mengalami kesulitan dalam persoalan keuangan. Meskipun tak tahu karena apa ia segera berkata: “Kita jual semua barang kita, asal kita masih saling memiliki rasa cinta, saya akan tetap bahagia. Engko boleh menjual yang mana saja. Keluarha kita yang menempati kita nanti kasih ganti rugi untuk mendapat rumah lain yang lebih kecil... Mayor Phe sangat terharu dengan kebijaksanaan istrinya. Ia sungguh merasa bahagia mempunyai istri yang bijaksana ini. ****

164


34 Pejuang kalau punya senjata memang bisa macam-macam. Meskipun selama ini ada instruksi untuk tidak boleh membuka front secara terbuka, satu dua ada yang menyelusup jauh dari pertahanan gerilya, kemudian menembaki Belanda yang sedang patroli. Memang tidak sampai ada “clash” fisik yang membahayakan kaum pejuang. Tapi perbuatan itu membuat Belanda tambah ketat menjalankan patrolinya. Kini dengan jumlah yang makin besar dan makin membabi buta. Banyak penduduk yang ditangkapi dan disiksa karena tidak mau menunjukkan di mana pusat persembunyian kaum pejuang. Penduduk dalam hal ini memang sangat mencintai para pejuang. Tampaknya meskipun mereka sebenarnya tidak tahu apaapa tentang perjuangan, tapi mereka sangat menghargai para pejuang. Lewat para pejuang, juga mereka tahu bahwa Indonesia sekarang sudah merdeka dan kehadiran Belanda di daerah ini adalah dalam rangka ingin merebut kembali daerah yang dahulu bekas jajahan mereka. Hendro, salah satu pejuang termasuk di antara sekian banyak pejuang yang “nakal” yang diam-diam suka menghadang patroli Belanda. Satu hari ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Lewat Letnan Sutedjo ia mengutarakan isi hatinya: “Kita tidak bisa terus begini, pak” “Apa maksudmu” “Belanda harus kita lawan. Kita sekarang sudah punya senjata” “Kau kira persenjataan kita ini cukup” Hendro diam. Ia memang mengerti bahwa persediaan persenjataan terbatas. Namun ia tak mau kalah: “Kau kira itu mudah”

165


“Kalau kita tidak menyerang Belanda, lantas buat apa kita bertahan di sini. Apa ini yang namanya perang” “Kita tidak cuma berperang melawan Belanda. Kita juga berdiplomasi terhadap Belanda. Bukan waktunya lagi, segala persoalan dihadapi dengan senjata. Kita harus bisa memberikan waktu yang cukup bagi para pemimpin kita di Pusat untuk berunding. Mereka yang lebih tahu tentang seluk beluk diplomasi...” “Persetan dengan diplomasi” “Memang. Persetan dengan diplomasi karena kita dari angkatan perang. Tapi tugas angkatan perang bukanlah untuk mengacau strategi pemerintah pusat, tetapi justru untuk mengamankannya...” Hendro memang bandel. Sikap yang sedemikian ini yang sebenarnya tidak disuka oleh Latifah. Ia tak bisa diajak kompromi. Sikapnya lebih banyak menunjukkan sikap yang emosional. Temperamennya agak keras. Awalnya ia menghadapi Hian Biauw dengan sikap permusuhan. Tapi kemudian setelah tahu, bahwa bukan Hian Biauw yang mendekati Latifah, tetapi Latifah yang sering mendekati Hian Biauw yang suka merenung sendiri, ia masa bodoh. Mungkin juga karena sifatnya ini, ia juga termasuk pejuang-pejuang muda yang dihargai sahabat-sahabat dan komandannya. Ia masih orang yang jujur meskipun hatinya keras. Mungkin hanya ini saja. Sifatnya yang keras tidak cocok dengan situasi perjuangan yang bercampur baur antara angkat senjata dan diplomasi. Namun apa mau dikata, dalam dunia yang seperti sekarang ini, orang memang benar-benar muak terhadap segala sesuatu yang keras.orang sekarang sedang gandrung pada apa yang disebut sebagai demokrasi. Dari rakyat untuk rakyat. Tampaknya mode baru ini, meskipun usianya sudah cukup tua, mulai disenangi oleh orang-orang yang ada di tingkat Pusat. Sedikit mereka berbicara tentang demokrasi.

166


Lagi-lagi Hendro diam. Tapi dalam diamnya ia menyusun satu strategi baru. Ia akan mengajak Hian Biauw untuk bergabung dengan kelompoknya. Karena menganggap tak mungkin ada restu dari komandan untuk menyerbu Belanda secara terang-terangan ia harus berbuat sesuatu. Terutama sekali karena ia mendengar bahwa diplomasi hampir berhasil. Perang akan usai. Kita harus menunjukkan satu sikap, katanya dalam hati. Anak cucu kita harus yakin bahwa kita benar-benar bertempur dan bukan cuma jadi penjaga rakyat tidur. Bukan cuma berpangku tangan membiarkan tank dan panser Belanda hilir mudik dengan gagahnya. Dalam satu kesempatan ia sengaja menjumpai Hian Biauw yang duduk seorang diri di bawah pohon pepaya. “Lesu," tanyanya. “Apanya yang tidak lesu. Kita begini tegas. Senjata ini mau diapakan. Dibersihkan terus juga tidak akan jadi mas," jawab Hian Biauw kesal. Hendro senang dengan jawaban itu. Menandakan bahwa Hian Biauw juga kesal karena menunggu. “Kita mestinya bisa bertindak sendiri," coba Hendro menggelitik hati Hian Biauw. “Dengan cara apa” “Dengan cara jalan kita menyerbu Belanda” “Kau gila” “Tidak. Itu sudah kupikirkan semuanya”. Lantas Hendro duduk di sebelah Hian Biauw. Dengan sebuah ranting ia menceritakan apa yang sedang dipikirkan. Ia ingin menyergap Belanda waktu Belanda ada di tanjakan Candi Jawi. “Kau akan ditembak komandan kalau berani melakukan itu” “Kita tidak akan kembali ke induk pasukan. Kita pergi ke daerah yang lain. Kata teman-teman, Djarot sekarang ada di Bojonegoro dan siap menerima anggota pasukan dari mana saja.

167


Informasi yang kuterima, Djarot akan kembali memasuki kota Surabaya...” “Bojonegoro? Nama kota ini menarik hati Hian Biauw. Karena di kota itu kata orang Effendi bergabung dengan pasukan Djarot. Tapi melakukan tindakan melawan perintah komandan adalah satu sikap yang salah. Bisa-bisa komandan akan mendapat hukuman dari Pusat. Padahal ia merasa bahwa Mayor Mangku adalah seorang komandan yang bijaksana. “Soalnya bukan cuma itu," jawab Hian Biauw malas. “Apanya lagi? Kita menyakiti hati komandan” “Tapi komandan kita terlalu melempem” “Kau kira kita-kita saja yang jagoan?” Hendro diam. Hendro memang seringkali bersikap diam kalau ia merasa omongan orang lain benar dan ia belum bisa segera menjawabnya. “Kita mesti memaklumi bahwa perang yang kita kehendaki sebenarnya memang bukan perang yang seperti ini. Perang seperti ini adalah kemauan dari Pusat," ujar Hian Biauw kemudian. Apa yang diutarakan oleh Hendro ini adalah satu sikap yang bukan berdiri sendiri. Bukan hanya sikap Hendro seorang, tapi sikap kebanyakan pejuang yang tergabung. Gambaran dari siatuasi para pejuang yang ada dimana-mana. Mereka resah kalau tidak punya senjata, sampai berani merebut senjata dari teman-teman sendiri. Tapi kalau punya senjata seperti sekarang ini, mereka tetap harus berdiam diri. Sepintas memang bisa kelihatan seperti satu lelucon. “Kita harus berbuat apa seandainya kau yang jadi komandan?" tiba-tiba tanya Hendro. Pertanyaan yang di luar dugaan. “Aku tak mungkin jadi komandan. Tak ada orang Tionghoa yang jadi komandan” “Perang seperti ini sebenarnya tak perlu ada komandan. Siapa yang berani bertempur itulah yang ditunjuk sebagai komandan”

168


“Kau gila” “Tidak” “Lantas apa maumu yang sebenarnya?" tanya Hian Biauw menyelidik. “Kita harus berbuat sesuatu. Harus” “Mengapa harus?” “Karena kita tidak bisa berdiam diri begini terus. Kita bisa gila” “Apa rencanamu sekarang” “Kawan-kawan sudah setuju agar kita menyergap patroli Belanda di candi Jawi” “Siapa yang ikut” Hendro memandang Hian Biauw. Kemudian ia menyebut beberapa nama. Semuanya dikenal sebagai anggota pejuang yang bertemperamen keras dan berani. “Mereka semua sudah setuju” “Ya” “Lantas mengapa kau bicarakan semuanya padaku” “Kami ingin kau bergabung. Kehadiranmu akan mempunyai banyak arti bagi kawan-kawan. Kau pernah menyerbu Belanda di daerah Praban, Surabaya” “Itu persoalan dulu. Dulu itu kita memang bertempur melawan Nica. Sekarang persoalannya lain” “Memang lain, tapi dalam setiap pertempuran, di mana nyawa menghadang maut, kita memerlukan idola. Kan sangat dihargai teman-teman karena sikapmu yang begitu berani di Surabaya” “Itu cuma kebetulan. Kan juga bisa berbuat demikian” “Memang betul. Tapi saya belum pernah mengalami pertempuran yang besar.” “Dari mana kau berasal?”

169


“Dari Jombang” “Anda kenal dokter Tan Kian Bo, kepala rumah sakit” “Tahu, masih famili?” “Tidak” Pembicaraan itu terhenti karena Latifah tiba-tiba muncul membawa sepiring ubi rebus. Tak ada yang bicara. Latifah membawa sepiring ubi rebus itu karena tadi ia melihat Hian Biauw sendirian.

170


35 “Cobalah kau pikir baik-baik," kata Hendro kemudian seraya berdiri. Ia kemudian meninggalkan dua orang ini sendirian lagi. Tak enak rasanya kalau ia dianggap sebagai pengganggu. “Mengapa ia datang berbicara," tanya Latifah. “Apa tidak boleh?” “Boleh saja. Cuma kok aneh rasanya” “Aku yang biasanya segan berbicara dengan teman-teman” “Kau memang sering merenung sendirian” “ya” “Apa?” “Ya, aku memang suka merenung sendirian” “Ya” “Apa?” “Ya, aku memang suka merenung," lantas Hian Biauw memandang tajam wajah gadis yang duduk di mukanya. Alangkah sederhananya gadis ini. “Kau tahu kalau perang hampir usai?” “Kau tahu darimana?" tanya Latifah heran. Seperti dulu-dulu, ia rasanya ingin perang ini berkepanjangan. Hidup sebagai pejuang seperti ini ia merasakan kebahagiaan tersendiri. Beda dengan yang laki-laki, ia bisa lebih akrab dengan penduduk setempat. Ia sering bersama mereka. Sering nginap di rumah mereka. “Perang memang akhirnya pasti akan selesai. Aku dengar dari orang-orang yang datang dari kota. Mereka mendengar bahwa perundingan makin maju. Itu berarti bahwa suasana damai pasti akan segera tercipta....” “Lantas apa hubungannya dengan sifatmu yang suka melamun” “Aku berpikir panjang tentang masa damai kelak. Aku akan kembali ke duniaku yang lama. Belajar dan menghidupi kehidupan

171


yang enak. Aku sebenarnya tak menyukai kehidupan yang seperti itu” “Lantas apa yang kau inginkan” “Seperti yang pernah kukatakan padamu. Aku ingin berada di sini terus. Aku ingin menjadi guru di sini. Tapi apa mungkin aku diterima oleh penduduk di sini” Latifah merasa terharu. Pemuda ini tidak seperti pemudapemuda yang lain. Pemuda ini berpikir jauh ke depan. Berpikir kalau perang telah usai, tentang apa yang akan diperbuatnya. Mungkin juga ini kelebihan kelompok-kelompok Tionghoa. Mereka selalu berpikir bukan untuk masa sekarang, tapi masa depan yang akan dijalani. Dengan demikian tampaknya mereka punya segala rencana dalam hidup ini. Segala sesuatu dipertimbangkan masak-masak sebelum mengambil keputusan. Tidak gegabah. Sedangkan dirinya saja, yang muncul dari lingkungan yang terdidik, karena orang tuanya seorang dokter, tidak mempunyai rencana untuk masa depannya. Hidupnya seolah, hari ini adalah untuk hari ini. Jika Belanda menyerbu misalnya dan para pejuang terperangkap maka ia cuma akan berkata ini nasib. Tidak ada niatan untuk mengubah atau berusaha memikirkan yang lain. Hari ini adalah untuk hari ini. Akhirnya Latifah cuma bisa berkata: “Diterima atau tidaknya seorang bukan karena warna kulit. Tapi karena sikapnya sendiri. Kau pasti mampu mengatasi segala aral yang melintang. Aku tahu juga. Itu tidak mudah bagimu”. “Mengapa kau tahu” “Karena matamu sipit. Biar kulitmu sekarang jadi hitam sawo matang, tapi kau tetap bermata sipit. Orang akan selalu tahu kalau kau bukan dari kalangan mereka sendiri. Kau orang Tionghoa” Omongan Latifah, meskipun benar adanya, sangat menyakitkan di hati Hian Biauw. Apakah menjadi orang Tionghoa adalah satu kesalahan, seperti pernah ada seorang tokoh perjuangan,

172


yang pernah menulis andai kata ia seoran Belanda. Tokoh itu yang dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara memang unik pada zaman ia menulis karangannya dalam bahasa Belanda itu. Karena saat itu Belanda merayakan pembebasan negaranya dari jajahan Spanyol. Berkata penulisnya, yang diingatnya lewat buku sejarah, aku takkan merayakan hari pembebasan negaraku di negara jajahan. Sebab dengan perayaan itu sebenarnya Belanda juga tidak senang dengan penjajahan, padahal ia menjajah negeri yang dikenal dengan nama Hindia Belanda. Sangat indah tulisan itu. Sekarang juga terasakan baginya meskipun persoalannya lain. Andai ia seorang Jawa seperti Latifah, ia mungkin bisa berbuat banyak untuk kepentingan tanah air yang baru diresapinya. Baru menurut perasaannya, karena perasaan itu timbul setelah ia ikut berjuang, ikut dalam suka duka mempertahankan kemerdekaan ini. Lantas kalau ia berniat untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan itu dengan mengabdi lebih dalam, mengapa ia harus dicurigai lagi. Bahwa ia orang Tionghoa dan lainlain macam alasan.

173


36 Latifah menyadari juga bahwa apa yang diutarakan barusan sangat menyinggung perasaan Hian Biauw. Tapi pemuda ini yang diam-diam ia kagumi, tidak boleh sampai kecewa. Ia yang dengan tulus hati berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan nantinya pasti akan kecewa kalau tidak jauh-jauh hari mempersiapkan kenyataan yang bakal pahit. Betapapun pahitnya, kenyataan itu harus dihadapinya. Tak bisa dihindarkan. Ia ingin secara perlahan mempersiapkan sahabatnya menghadapi segala kemungkinan yang tidak enak. Yang paling phit dalam hidup ini adalah jika orang jadi kecewa. Bisa macam-macam. Bukti dalam sejarah sudah banyak terjadi. Hian Biauw tidak boleh dikecewakan atau menjadi kecewa. Sebab orang seperti itu mestinya bisa berbuat banyak untuk negara yang baru merdeka ini. Apalagi pemikirannya tentang dunia pendidikan. Tak banyak orang yang berpikir ke arah situ. Laginya, apa yang dicita-citakan oleh sahabatnya itu bisa meruntuhkan mitos yang selama ini ada. Bahwa orang Tionghoa cuma bisa dagang saja dan tidak mau mengurusi urusan yang lain. Maunya cari untung dalam jangka waktu singkat. Dokter saja seperti ayahnya, sering disalahmengertikan oleh penduduk setempat. Mulanya orang cuma menduga bahwa dokter kerjanya menyuntik. Orang yang disuntik bisa mati dan karenanya orang jadi takut berobat ke dokter. Orang lebih suka ke dukun. Kebodohan-kebodohan seperti ini memang harus diperangi dengan pendidikan yang merata sampai ke pelosok. Soekarno sendiri sebelum jadi presiden memang menitiktolakkan segi ini. Cuma Soekarno hanya bicara soal pendidikan kesadaran politik. Lain dengan Hatta. Tapi Hatta tidak bisa berbuat banyak. Hatta tidak melihat langsung ke desa. Di sini pemimpin yang mendapat pendidikan Barat seperti Hatta dan mereka yang mendapat

174


pendidikan di dalam negeri seperti Soekarno, seperti Bapaknya, yang lebih tahu tentang keadaan bangsanya. Lantas apakah orang-orang seperti Hian Biauw, yang muncul dari kalangan lain bisa juga mengerti tentang bangsanya, bisa mengerti tentang orang-orang di luar kelompok mereka? Ia kemudian mengalihkan pembicaraan: “Kau dulu bilang bahwa kau akan ajak kedua orang tuamu untuk pindah ke desa?” Hian Biauw tersentak dari lamunannya. “Ya," jawabnya “Kalau mereka tidak mau?” “Mereka pasti mau...," jawabnya. “Kau begitu yakin...” “Aku yakin karena aku anak mereka. Tapi lebih dari itu, hidup di desa ini sungguh nyaman. Tak ada pemandangan yang begitu indah seperti di desa ini” “Lalu kau sendiri?” “Aku akan hidup bersama orang tuaku” “Cuma itu” “Maksudmu soal jodohku?” “Ya," jawab Latifah pelan. “Mungkin saja aku nanti bisa meminta ibuku meminangkan seorang gadis, yang rambutnya ikal, tubuhnya tinggi. Kakinya indah dan sinar matanya bulat seperti telur mata sapi. Perempuan itu mungkin saja kau...!” Latifah menunduk malu. Hian Biauw yang khawatir sahabatnya jadi tersinggung segera berkata: “Tapi semuanya cuma seumpama, Fah. Kau belum tentu suka padaku. Guru di desa mungkin tidak bisa mencukupi kehidupan istri serta anak-anaknya. Jadi mungkin aku akan membujang terus...” Latifah kemudian bangkit. Sebelum beranjak ia berkata:

175


“Aku akan menunggu” Ganti Hian Biauw yang sekarang terpaku, lalu gadis itu berlari ke gerombolan pejuang yang sedang main gaple. Beberapa hari kemudian Hendro mendekati Hian Biauw kembali. “Bagaimana, sudah kau pikirkan?” Taktik menyergap Belanda ini memang cukup menarik perhatian Biauw. Yang menarik menurut pendapatnya juga seperti yang dikemukakan Hendro. Perang sudah hampir usai. Jika kita tidak menggempur Belanda sekarang, lantas mau kapan lagi kalau Pusat berhasil dengan diplomasinya dan Belanda mengakui kedaulatan kita. “Darimana kita menyergap Belanda," tanya Hian Biauw. Pertanyaan ini menggembirakan Hendro. Ada titik terang. Aneh memangnya, teman-teman baru mau bergabung kalau ia berhasil mengajak Hian Biauw ikut serta. “Seperti yang kukatakan tempo hari, kita sergap di Candi Jawi kalau habis hujan. Aku sudah lama memperhatikan patroli Belanda yang lewat di muka Candi Jawa. Mereka akan kesulitan untuk menanjak. Kita sergap di sana” “Kau kira gampang” “Maksudmu?” “Apa menyergap Belanda segampang itu. Candi Jawi dekat dengan Pandaan. Bantuan Belanda dengan mudah dikirimkan ke sana. Dari sana Belanda bisa menyerang balik rakyat yang tidak berdosa! Inilah yang menjadi kesulitan bagi Hendro. Ia tak pernah memikirkan masalah itu secara serius. “Tapi dalam perang orang tak boleh banyak berpikir. Orang harus bertindak. “Kau tentu tahu, aku bukan ahli strategi. Jadi yang

176


aku tahu cuma situasi medan. Dan menurut aku, situasi medan sangat menguntungkan kita”. “Aku tadi bilang, Candi Jawi dekat dengan Pandaan, itu yang harus kau perhitungkan”. “Sudah” “Kalau begitu lakukanlah”

177


37 Hendro jadi bingung. Apa maunya Hian Biauw. Apakah ia setuju untuk ikut, atau apakah diam-diam ia memata-matainya? Tapi tak mungkin. Orng seperti Hian Biauw, meskipun dulu pernah ada “ganjelan” pastilah tidak akan berbuat demikian. Seperti ia sendiri misalnya, sudah tak mendendam pada Hian Biauw yang dulu dianggapnya merebut hati perawan yang dikaguminya, Latifah. Tapi sesudah ia tahu bahwa Latifah yang mendekatinya, ia pun yang mundur teratur. Ia tahu, bahwa Hian Biauw sangat menyukai sikapnya yang sportif itu. Tenang ia memandang sahabatnya yang sikapnya masa bodoh ini. Yang merebahkan diri setengah memejamkan matanya. “Kita harus berbuat sesuatu Biauw. Harus! Sebelum perang ini keburu usai. Cobalah kau berikan usulanmu. Katakan, sekali ini aku minta tolong. Aku tak ingin di masa mendatang aku tercatat sebagai pejuang yang kerjanya cuma menunggu. Katakan, mungkin aku salah. Mungkin aku terlalu emosi. Tapi aku ingin punya arti dalam hidup ini. Kelak aku ingin kawin, punya anak. Dan aku ingin anak kita kelak bangga terhadap bapaknya. Bukan bangga yang semu. Tapi bangga dlaam artian yang semestinya. Aku ingin benar-benar jadi pejuang. Aku kelak tak ingin munafik. Cuma ini Biauw.” “Kau cuma ingat yang heroik saja," tiba-tiba jawab Hian Biauw. “Apa maksudmu?” “Bahwa kita juga bisa mati di situ dan bukan cuma bisa jadi pahlawan yang dikagumi anak istri kelak...” Hian Biauw memandang Hendro. Bayangan segera memetakan wajah pak Mangku. Laki-laki yang sudah beberapa saat jadi komandannya dan sudah mulai disukai banyak anak buahnya bakal dikhianati. Tegakah ia?

178


“Kita sebaiknya omong sama komandan," ujarnya kemudian. “Aku cuma ingin tahu kau setuju atau tidak," jawab Hendro. “Keputusan bukan tergantung padaku seorang. Apa artinya diriku. Mungkin benar katamu orang memerlukan idola dan aku mungkin saja bisa jadi idola. Tapi ini perang kawan. Kita bukan main-main” “Siapa yang bilang kau main-main. Sejak awal mengenai penyerbuan ini aku serius. Karena itu aku beri kau waktu untuk berpikir. Kita yang muda-muda sebaiknya mempunyai kesepakatan.” “Tidak kesepakatan dalam memberontak," sela Hian Biauw. “Siapa bilang kita memberontak," Hendro tersinggung. “Apa yang kita rundingkan ini namanya sudah berkhianat. Namanya sudah memberontak. Sejak kita masuk dalam pasukan ini, kita sudah diberitahu bahwa kita hanya boleh taat pada satu komando. Cobalah kau pakai akal sehatmu.” Hendro tetap berkeras: “Terserah pada anggapanmu. Kami tak ingin mengajak kau ikut serta. Kita tak mungkin membicarakan masalah ini kepada komandan. Kitasemua akan ditembak jika berani melawan perintahnya. Ia terlalu taat kepada Pusat” “Ketaatan pada pusat itulah tanda kalau kita orang merdeka. Artinya ada pemerintah pusat yang kita hargai. Yang kita hormati. Lantas kalau bukan pemerintah pusat yang kita hargai, siapa lagi. Apa kita mau bertindak sendiri-sendiri. Mari, kalau kita mau bertindak sendiri-sendiri, kita bilang baik-baik sama komandan. Kita bilang kita ingin berpisah baik-baik. Lantas kita membentuk satu komando sendiri, katakan Komando Kala Hitam. Mungkin pasukan itu nantinya akan sama terkenalnya dengan pasukan GI dari Amerika. Kau bisa jadi komandan. Kalau kau berbuat demikian aku dukung kau, tapi tidak dengan caramu sekarang. Demokrasi bukan berarti kita boleh berbuat semau kita. Demokrasi berarti ada musyawarah...”

179


“Persetan dengan segala filsafatmu” “Terserah," lantas Hian Biauw “menyelonjorkan” kakinya dan memejamkan matanya. Hati Hendro tambah geram. Tapi sedetik itu dia mulai berpikir. Membentuk pasukan sendiri? Mengapa tidak? **** Deglok akhirnya akan disidangkan. Semua masyarakat menjadi gempar. Buaya-buaya Kapasan juga gempar. Mereka tak mengira bahwa buaya Kapasan yang biasanya kebal hukum kini bisa “diseret” ke muka meja hijau. Tapi Mayor Phe dan Oen Tjhing Tiauw tenang saja. Urusan itu sudah mereka atur. Sedemikian rupa sampai vonisnya nanti bakal dihukum bebas karena membela diri. Juga untuk keperluan rumah tangga Deglok selalu ada orang yang membantu. Ada yang mengirim beras, ikan asin dan uang. Rasanya, bagi keluarga Deglok, tertangkapnya Deglok sebagai kepala rumah tangga membawa hikmah tersendiri. Bantuan yang banyak membuat mereka bisa “bezoek” setiap hari. Boleh dikatakan, di tahanan Deglok menjadi orang penting. Ia bisa membagikan rokok. Bukan saja kepada sesama tahanan tetapi juga kepada penjaga blok. Diam-diam ia mendapat simpatik. Dan Deglok menjadi gembira meskipun jadi orang tahanan. Ia sering mendemonstrasikan kebolehannya main silat atau kunthauw. Ada seorang tahanan yang sama-sama satu blok dengan Deglok, Asman namanya. Ia orang blasteran Jawa Madura. Lebih banyak darah Madura dan secara fisik ia memang tampak seperti orang Madura. Tubuhnya kekar. Mula-mula ia menganggap enteng kehadiran laki-laki yang berperawakan sedang saja ini. Apalagi pincang. Tapi ketika merebut rokok yang diusap Deglok secara tibatiba saja dicekik leherya dan dua jari tangan kiri Deglok mau “mencubles” matanya, ia jadi jera dengan laki-laki yang pincang

180


ini. Lama kelamaan mereka bersahabat. Akrab. Asman lantas menceritakan bahwa ia melakukan pembunuhan terhadap seorang laki-laki yang mencoba mau menggauli istrinya. Istrinya juga dibunuh. Deglok jadi geli dalam hati. Alangkah bedanya dengan orang-orang Tionghoa yang kadang menurut Deglok sendiri terasa kurang punya harga diri. Kalau mereka miskin, mereka manda saja dihina. Istri diambil bahkan direlakan. Dianggap bahwa semua itu adalah kemauan “thikong” (Tuhan). Kemiskinan, ketidakberdayaan mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak boleh diberontak. Harus diterima mandah. “Kita mestinya bisa berpikir panjang. Mengapa istri kita sampai bisa digauli orang. Itu berarti dua-duanya salah. Ya istri ya suaminya. Tidak bisa cuma di “timpali” kepada istri saja” Asman terkejut. “Jadi kau salahkan aku. Kau anggap aku tidak bisa memuaskan istriku” “Bukan begitu. Mengapa istrimu sendiri kau bunuh” “Perrempuan seperti itu tak perlu diberi hidup” Deglok diam. Ia cuma tersenyum. Asman lalu bertanya: “Kau belajar darimana ilmu kuntauwmu” “Belajar sendiri. Aku belajar di Bio (maksudnya klenteng yang ada di Kapasan)” “Tak mengalami kesulitan?” “Mengapa? Karena aku Deglok?” Asman tak berani memberikan jawaban, tapi itulah arah pertanyaannya. “Orang Tionghoa sebenarnya sama dengan orang Madura. Mereka sebenarnya orang yang hatinya lembut. Cuma untuk hidup mereka terpaksa bersikap kasar. Aku tahu sifat golonganku. Karena itu aku belajar kunthauw. Denga kepandaian itu aku pasti bisa hidup.

181


Dan ternyata... aku memang bisa hidup sampai setua sekarang," lalu Deglok tertawa. Ngakaknya begitu keras sehingga mengejutkan tahanan yang lain. Lalu ia berkata serius seraya mengepalkan tangannya” “Zaman seperti sekarang ini yang bisa hidup cuma yang kaya atau yang berani” “Yang berani nasibnya seperti kita-kita ini, masuk bui.”

182


38 Asman sebenarnya ingin sekali mendengar cerita dari Deglok bagaimana buaya-buaya Kapasan itu asal mula terbentuknya. Siapa yang memulainya. Karena bagi Asman, buaya-buaya Kapasan itu seperti satu sindikat tersendiri. Orang tampaknya harus membeli nama sebagai buaya Kapasan. Tidak enak begitu saja menyandang gelar yang cukup “keren� dan ditakuti itu. Bagi Asman yang juga bekerja jadi “cinteng� kehidupan buaya Kapasan sangat berbeda dengan keadaan tukang pukul atau tukang jaga malam orang Madura. Jabatan itu bagi orang Madura tampaknya sekedar untuk hidup. Tapi bagi orang Tionghoa gelar itu tampaknya punya arti yang besar. Orang-orang Tionghoa sangat menghormati mereka, meskipun mungkin juga ada yang sangat takut pada mereka. Dengan mendapat perhatian yang besar Deglok dibawa ke pengadilan. Tapi rupanya keadaan sekarang sudah berubah. Deglok tidak dibawa ke pengadilan dengan terborgol sebagai jurnalis Kwee Thiam Tjhing tempo hari. Deglok dinaikkan truk dan dikawal. Ruang sidang penuh sesak. Tapi jalannya sidang sendiri tidak begitu lama. Rupanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga sidang jangan berjalan terlalu lama, agar tidak memancing emosi masyarakat. Setelah beberapa kali sidang, akhirnya putusan untuk Deglok persis seperti yang diduga dan diatur semula. Deglok bebas. Lucunya, orang tak kaget dengan keputusan hakim itu. Orang bahkan mungkin akan menjadi heran atau bahkan marah kalau sampai Deglok dihukum sekian tahun misalnya. Soalnya dalam persoalan Deglok ini, yang tak pernah diketahui oleh umum, bagaimana duduk perkaranya yang sebenarnya, dianggap ada unsur kepahlawanan yang sangat dihargai oleh masyarakat. Meskipun seperti yang diketahui, reputasi tentang buaya-buaya Kapasan sebenarnya tidak begitu bersih. Anehnya di sini, orang tetap suka

183


pada kekerasan yang menurut mereka ada unsur keberaniannya. Ada unsur kelakiannya. Semuanya ada pada Deglok. Betapa tidak. Ia yang cacat, masih bisa melawan tanpa cedera melawan tiga orang Madura dan seorang laki-laki lain, Baba Tan. Seandainya Deglok kemudian terluka atau mati, maka kebanggaan tak akan ada. Orang akan kecewa. Ini semua adalah berkat Mayor Phe. Dalam kasus ini ia untuk kesekian kalinya bisa menunjukkan kewibawaannya sebagai bekas Mayor orang Tionghoa di Surabaya. Pers Melayu tionghoa juga berhasil dipengaruhi. Tentunya bukan oleh dirinya sendiri. Tetapi oleh teman-teman yang berhasil dipengaruhi dengan cerita-cerita yang heroik tentang Deglok. Bahkan sebuah surat kabar Melayu Tionghoa di Jakarta meminta sebuah cerita serial tentang Deglok. Mayor Phe menyanggupi saja, karena redaktur surat kabar itu berjanji akan memberikan imbalan yang wajar kalau Deglok mau diwawancarai untuk kemudian dimuat sebagai serial di surat kabarnya. Di sinilah ketidaktentuan tentang nasib itu. Beberapa saat yang lalu, orang memihak kepada Baba Tan almarhum dan nama Deglok dijatuhkan ke bawah. Habis-habisan. Sekarang sudah berubah. Deglok yang di atas. Tapi juga Baba Tan masih tetap tidak begitu dipojokkan. Yang dipojokkan ialah orang-orang Madura. Yang main keroyokan, tapi tetap kalah. Dan pers itu sendiri tampaknya tidak merasa apa-apa. Meskipun mereka beberapa waktu yang lalu memberitakan secara gencar hal-hal yang negatif tentang Deglok, kini mereka memberitakan yang baik-baik. Seolah dengan perbuatan seperti itu mereka sudah menjalankan satu sistem pemberitaan yang seimbang. Yang jelek diberitakan, yang baik juga diberitakan. Bagi Mayor Phe masalahnya tambah memberikan pengalaman hidup yang sangat berguna. Bahwa hidup ini benar-benar sebagai anak wayang. Cuma tergantung dalang yang memainkan. Manusia tampaknya tidak kuasa

184


sedikit pun untuk memberi bentuk bagi perjalanan hidupnya. Seolah ada sesuatu yang mengatur. Dalam soal ini yang mengatur adalah uang. **** Hian Biauw akhirnya sepakat untuk bergabung dengan Hendro. Pemikiran yang mendasarinya tetap pada kesimpulannya yang pertama. Bahwa apa yang diutarakan oleh Hendro itu benar. Makin hari tampaknya perang akan makin usai. Itu diketahui dengan pasti, ketika kemarin ada kurir yang datang dari Jakarta. Membawa instruksi tentang apa-apa yang harus dikerjakankalau pemerintah mengumumkan pengakuan Belanda secara total atas kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Tapi ia tetap tak ingin meninggalkan pasukan ini secara diamdiam begitu saja. Ia ingin membicarakannya dengan Latifah. Karena siapa tahu pihak Belanda jua akan punya pendapat yang sama. Mumpung belum ada berita perdamaian, mereka ingin menggempur, habis-habisan kaum pejuang yang oleh mereka tetap dianggap sebagai kaum ekstremis. Siapa tahu, penyergapan terhadap pasukan Belanda di candi Jawi nanti akan merupakan pertempurannya yang terakhir. Dulu di Surabaya, ketika terjadi penyergapan atas pasukan Belanda di Jalan Praban, ia berhasil keluar sebagai pemenangnya. Dulu strategi yang disusun Effendi sangat akurat. Tapi sekarang? Ya siapa tahu, ini bakal menjadi pertempurannya yang terakhir. **** Candi Jawi memang terletak persis hampir di tengah perjalanan antara Prigen dan Pandaan. Prigen memang boleh dikatakan menjadi markas para pejuang dan Pandaan yang menjadi daerah strategis menuju Pasuruan, Malang dan Surabaya yang hampir

185


seluruhnya berhasil dikuasai oleh pihak Belanda. Baik siang maupun malam. Di Prigen yang dianggap markas para pejuang, mereka cuma berkuasa pada malam hari. Siang hari Belanda berani lewat sana tanpa mendapatkan gangguan dari para pejuang. Yang cuma bisa merasakan geram dengan melihat semuanya. Dari sinilah sebenarnya awal mula timbulnya ide untuk melawan Belanda. Untuk tidak taat pada komandi Pusat. Sebab Belanda selain berpatroli juga menyiarkan kabar bohong. Bahwa kaum pejuang sekarang sudah pergi dari Prigen. Buktinya Belanda sudah berhasil hilir mudik dengan pansernya tanpa tanpa satu gangguan. Rakyat yang berada di atas, daerah Tretes dan Pecalukan memang termakan oleh provokasi Belanda itu. Satu hari Hian Biauw mengajak Latifah ke Candi Jawi. Perempuan ini semula sudah heran, mengapa Hian Biauw akhirakhir ini selalu bertanya soal candi tersebut. Seperti seorang ahli sejarah ia selalu bertanya tentang candi yang sudah rusak itu. Yang batu-batunya banyak diambil penduduk buat trap masuk rumah. Candi itu sebenarnya sudah tidak menyerupai candi lagi. Hampir datar dengan tanah. Cuma penduduk di sekitarnya masih mempercayai, bahwa konon, dulu di tempat yang hampir rata dengan tanah itu berdiri sebuah candi untuk Prabu Kartanegara. Menurut orang, dulu Candi itu dikelilingi dengan kolam yang jernih airnya. Lantas agak jauh tapi masih dalam satu kompleks ada tempat mandi. Konon dulu tempat itu menjadi tempat persinggahan kalau Prabu Kartanegara berburu dan melepaskan lelah.

186


39 Ditilik dari strategi militer, Hian Biauw tidak begitu yakin bahwa tempat itu sangat strategis seperti yang diutarakan Hendro. Karenanya ia ingin menjenguk sekali lagi. “Mengapa kau tertarik pada Candi ini?" tanya Latifah setelah berjam-jam dengan perlahan dan santai mereka berjalan menuju ke Candi Jawi melalui jalan setapak, memutar, dari Prigen, sebelah timur, di desa Sayu. “Aku cuma ingin tahu saja” “Kau pasti punya rencana tertentu," desak Latifah. Hian Biauw diam. Ia tak banyak bicara. Otaknya mulai berpikir serius mengenai kemungkinan daerah ini dipakai sebagai basis untuk menggempur Belanda. Dalam hati, meskipun semula ia mengakui apa yang disebutkan Hendro sebagai sesuatu yang hebat, kini setelah melihat sendiri keadaan di lapangan, ia sama sekali tidak setuju. Candi Jawi ternyata bukan tempat yang cocok. Lain dengan Borobudur misalnya. Kompleks candi ini sendiri sudah hampir hilang, lenyap bercampur dengan pepohonan hutan yang lebat. Jika cuma ingin hutan yang lebat, mengapa tidak menyerang di dekat Trawas, dekat pasar? Atau di desa Candrawilwatikta yang dekat Pandaan? Akhirnya Hian Biauw mencoba untuk berterus terang pada Latifah. “Jika kita menggempur Belanda dari sini, kau pikir ada “kans” menang buat kita?” “Kau gila, Biauw. Mengapa kita harus menyerang Belanda di sini. Perang sudah hampir usai” “Justru itu” “Aku tak mengerti apa yang kau lakukan” “Justru karena perang sudah hampir usai, maka kita ingin bergerak”

187


“Siapa yang kau sebut dengan kita” “Aku, Hendro, dan kawan-kawan” “Kau akan mengkhianati Pak Mangku” “Kita jangan bicara soal berkhianat atau tidak. Aku cuma tanya, apakah kemungkinan kita menang kalau kita menggempur Belanda dari sisi ini," sambil Hian Biauw menunjuk gundukan Batu yang tampaknya bekas potongan tubuh candi yang mestinya tinggi dulunya. Entah mengapa, masyarakat di sekitar candi ini tidk mempunyai kesetiaan memelihara candi yang dulunya pasti antik dan cantik. Apa lagi, itu ada kaitannya dengan Prabu Kartanegara, seorang raja yang terbilang besar untuk ukuran raja-raja Jawa waktu itu. Latifah tidak memberikan jawaban. Ia mencoba melihat sekeliling dan memperhatikan situasi lapangan saat itu. Belanda memang harus memutar lingkaran komplek candi ini kalau patroli ke Prigen dan Tretes. Cegatan memang bisa terjadi kalau habis hujan. Karena lumpur disekitar tempat itu sudah seperti kubangan kerbau. “Kalau patrolinya sendirian kita memang bisa menang. Tapi daerah ini sangat dekat dengan Pandaan. Belanda bisa minta bantuan dengan gampang dan kita gampang pula terkepung. Di sini tidak banyak rumah penduduk...” “Justru itu kita pilih tempat ini. Tidak banyak tempat penduduk. Belanda tidak bisa membalas dendam pada penduduk” “Tapi nasib kawan-kawan tidak akan terlindung. Belanda sudah mahir dalam perang gerilya. Karena banyak tentaranya terdiri dari bangsa kita sendiri... mereka menguasai betul tiap semak ada di tempat ini” “Jadi kau pikir kita akan bunuh diri kalau menyergap patroli Belanda dari tempat ini?” Latifah tidak segera menjawab. Tapi pelan ia menganggukkan kepala. Ia melihat kalau Hian Biauw sangat mengharapkan bantuan pemikirannya. Karenanya ia bertanya serius:

188


“Bagaimanakan rencanamu yang sebenarnya?” “Kau bisa memegang rahasia?” Latifah sekali lagi mengangguk! “Kami memang berniat menggempur patroli Belanda. Kemudian kami tidak akan pulang kembali ke markas. Kami akan meninggalkan kalian untuk menuju ke Bojonegoro. Disana kita akanbergabung dengan pasukan Jarot” “Kau gila Biauw” “Tidak Latifah. Kau mencobalah untuk berpikir secara rasional. Jangan emosional. Perang seperti sekarang ini, apa artinya bagi dirimu. Kau datang dari Malang dengan semangat yang menggebu-gebu. Kau tidak bisa sampai ke Surabaya karena semua pejuang mengungsi ke Mojokerto dan kita kemudian bertemu di sini. Tapi, selama disini, bertahun-tahun apa yang kita lakukan. Apa yang kau lakukan. Sekarang, kita semua sudah mendengar, bahwa diplomasi yang dilakukan oleh Pusat sudah hampir berhasil. Belanda sudah mau mengakui baik dengan facto maupun de jure atas kemerdekaan negara kita. Kalau sudah keburu damai, kita ini mau jadi apa?” “Kita justru harus menghormati apa yang telah dilakukan oleh Pusat. Pemerintah kita disana tak ingin rakyat kita yang jatuh sebagai korban. Itu dulu juga dilakukan oleh Bung Karno ketika meminta para pejuang supaya meletakkan senjata. Orang boleh bilang kalau Bung Karno telah membuat para pejuang marah. Karena saat itu menurut perhitungan mereka, situasi sangat menguntungkan mereka. Tapi jika tidak ada gencatan senjata. Dan Belanda bisa mengatakan pada dunia luar bahwa Soekarno sudah tidak dipercayai lagi dan diturut omongannya oleh rakyatnya sendiri, lantas kemerdekaan yang baru diproklamirkan itu mempunyai arti apa?” “Aku dulunya juga berpikir seperti apa yang kau pikirkan dan omongkan ini. Aku berpikir bahwa Hendro salah, kalau ia

189


melakukan satu tindakan tanpa seijin komandan. Tapi aku kemudian membenarkan apa yang dipikirkannya. Bahwa kita harus berbuat sesuatu sebelum perang usai”. “Kau terlalu percaya omongan Hendro. Dia memang ingin jadi pahlawan. Dia memang sering memperlihatkan ketidaksenangannya dengan bersikap agak kasar pada komandan. Tapi, kau lain, Biauw” “Aku memang lain Latifah. Karena itu aku mendukung Hendro. Masing-masing dari kita memang mempunyai kepentingan dengan penyergapan tersebut. Tak ada yang sama. Antara kepentinganku dan kepentingan Hendro lain. Hendro mungkin cuma ingin jadi pahlawan. Atau ia memang hanya sekedar ingin perang yang sesungguhnya. Hendro memang belum pernah menghadapi perang yang sesungguhnya selama ini. Tapi aku...” “Ya, kau! Mengapa dengan dirimu” “Aku, Latifah. Aku orang Tionghoa. Perang ini sebenarnya bukan perangku dulunya. Jika kelak perang telah usai, dan kehidupan normal sudah kembali, orang akan banyak yang mengejek diriku, yang berani ikut bertempur karena pertempuran itu sendiri sebenarnya tak pernah ada. Aku akan diejek begitu. Karenanya aku berkepentingan dengan strategi Hendro...” “Kau gila, Biauw. Kita tidak boleh mempertaruhkan nyawa kita sembarangan. Jika perang benar telah usai, maka tibalah kita saatnya untuk membangun. Kita akan jauh lebih punya arti daripada kita mati konyol” “Kematian dalam penyergapan itu bukan konyol Latifah” “Apanya yang tidak konyol. Pemerintah Pusat berdiplomasi dengan alotnya untuk membela agar perang tidak terjadi dan tidak meminta perjuangan sia-sia. Tapi kemudian kau sia-siakan usaha pemerintah pusat itu. Mengapa kalian kaum laki-laki tidak berani menghadapi suasana yang tenang dan damai dimana kita bisa

190


membangun? Mengapa kaum lelaki selalu suka pada kekerasan, meskipun kekerasan itu kadang-kadang konyol? Latifah tidak habis mengerti mengapa Hian Biauw yang biasanya taat kepada komandan tiba-tiba saja bisa ikut kelompok yang mau “membelot� kepada perjuangan. Yang ingin mengisi perjuangan ini dengan bentuknya yang menurut diri sendiri betul, tetapi yang melawan arus yang datangnya dari pemerintah pusat. Hian Biauw yang selama ini dikenal sebagai pemuda yang selalu mendasarkan kehidupannya pada asas demokrasi yang sehat. Yang sependapat bahwa demokrasi bukanlah hak untuk bisa hidup semau sendiri.

191


40 Demokrasi adalah hidup berdasarkan kebebasan yang tetap dipagari oleh norma-norma yang sebelumnya sudah disepakati bersama. Berbeda dengan diktator yang dibatasi oleh norma-norma yang hanya dibuat oleh satu orang. Dan norma-norma yang disepakati bersama sekarang ini adalah norma tidak menyerang Belanda. Norma bertahan sampai peluru yang paling akhir. Bertahan, bukan menyerang! “Kau mungkin belum bisa mengerti apa yang kutanyakan sejak awal, Latifah! Aku ingin pendapatmu, apakah tempat ini strategis untuk menyerang Belanda...” “Tidak!” “Candi Jawi ini terlalu dekat dengan Pandaan, markas Belanda.” “Itu dulu juga pendapatku. Tapi Belanda tidak akan mengira bahwa ia akan disergap di sini. Memang terlalu dekat. Justru itu yang bisa dipakai sebagai siasat” “Siasat yang gila...” “Lalu menurut kau, sebaiknya kita menyergap dimana?” “Kita gempur Pandaan” Hian Biauw terbelalak matanya. Ia memandang tajam Latifah. “Menyerbu Pandaan," gumamnya seorang diri. Kemudian ia menatap gadis itu tajam-tajam. “Kau serius?” “Itu cuma perkiraanku saja. Aku bukan seorang yang ahli di bidang strategi. Tapi kalau menurut pendapatku, kalau mau jadi pahlawan jangan setengah-setengah. Mengapa kita harus menyergap Belanda di Candi Jawi, kalau bisa lebih turun lagi menyergapnya di Pandaan...”

192


“Jadi... Jadi..” “Tidak Biauw. Pemikiranku tadi tidak berarti aku setuju dengan pikiranmu dan pikiran teman-teman yang lain. Mengapa kita tidak menyayangi jiwa kita masing-masing?” “Bagi saya harga diri lebih penting dari harga sebuah nyawa, Latifah” “Untukmu, jiwamu mungkin saja tidak berharga. Tapi untuk orang tuamu. Untuk ayahmu untuk ibumu. Mereka pasti akan merasa kehilangan kau jika seandainya kau tewas dalam penyergapan itu. Padahal mestinya, sesuai dengan rencana dari Pusat, nyawa itu tidak perlu secara sia-sia dikorbankan. Nyawa itu sebenarnya bisa untuk membangun, mengisi kemerdekaan. Mari kita kembali...” Tanpa memberi jawaban, Hian Biauw turun dari dataran yang agak tinggi yang tadi diduganya menjadi tempat asal candi yang asli, yang sekarang cuma tinggal reruntuhannya saja. Melalui jalan setapak kampung yang tak bisa dilalui patroli Belanda mereka pulang. Dalam perjalanan tak ada yang bicara. Juga mereka tak bersua dengan orang desa. Semuanya sudah tinggal di rumah masingmasing. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah satu siang. Matahari ini rupanya juga lebih suka bersembunyi di balik awan. Tampaknya hujan akan turun tak lama lagi. Dan benar, kemudian... blas .... blas.... begitu saja. Hujan seperti dicurahkan turun dari langit. Dengan menutup kepala dengan sehelai daun pisang yang mereka ambil di tegal tak bertuan mereka mencoba menghindari curah hujan menerpa wajah. Dua sampai tiga kali Latifah terpeleset oleh licinnya jalan setapak. “Kita istirahat," kata Hian Biauw sambil mengajak Latifah berteduh di bawah sebatang pohon yang daunnya rindang sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah payung. Di bawah rindangnya daun-daun itu mereka berteduh.

193


“Latifah yang basah kuyup wajahnya sebentar-sebentar kena kilatan halilintar. Hujan tampaknya tak akan berhenti untuk jangka waktu yang pendek. Udara menjadi dingin. Latifah tampaknya mulai menggigil kedinginan. “Kau dingin?”. Tanpa menunggu jawaban Hian Biauw mendekap Latifah. Gadis ini merasakan perubahan pada wajahnya. Jika ada sorot lampu pasti tampak kalau wajahnya sekarang menjadi merah. Malu. Tapi ia tak menolak ketika pemuda itu mendekapnya. Juga ketika pemuda itu mengeringkan air hujan yang membasah mukanya dengan sapu tangan basah yang tadi melilit leher pemuda itu. “Kau cantik sekali," tiba-tiba bisik Hian Biauw. Lantas tibatiba saja terbayang pemandangan sehari-hari: Perempuan desa yang mandi telanjang di sumur yang telanjang juga. Setiap hari panorama itu dilihatnya. Mula-mula ada rasa tertarik. Tapi kemudian, ketika ia melihat seorang pejuang ditembak oleh komandan gara-gara memperkosa seorang tawanan mata-mata, ia tak punya pikiran yang gila-gila. Padahal, pemandangan seperti itu yang membuat pejuangpejuang yang lain ibarat semut yang kepanasan. Sekarang ketika ada seorang gadis di pelukannya gambaran yang sebenarnya selalu menimbulkan birahi itu muncul kembali. Tampak sebagai gambar hidup berputar di otaknya. Dan tak terasa keluarlah kata-kata yang sangat mengejutkan Latifah yang sekaligus sangat membungkam hatinya: “Kau cantik sekali” Lalu perlahan Hian Biauw menunduk. Mencari bibir yang gemetar kedinginan.dicium. Dan semuanya berlangsung dengan tibatiba. Ketika ciuman terlepas keduanya sama-sama terkejut. Tapi setelah sadar, mereka bukan melepaslan pelukannya. Mereka berciuman. Sekali lagi. Sekali lagi. Pagutan itu hanya dilepaskan,

194


sekedar masing-masing supaya bisa bernafas. Rasa birahi menyelusur seluruh darah yang ada di tubuh mereka. “Biauw...” “Latifah...” Mereka juga pada akhirnya tak sadar, bahwa mereka bergulung keluar dari daun-daun yang rindang. Sementara hujan makin keras terguyur dari langit. Mereka seolah tak merasa semuanya telah berlangsung dengan alam yang keras, hujan lebat sebagai saksi. **** Mayor Mangku rupanya mencium perundingan yang secara diam-diam dilakukan oleh anak buahnya. Ia mencium gejala-gejala untuk memberontak. Ia merasakan ada yang tidak beres dalam pasukannya. Sering ia amati, ada beberapa anak buahnya yang bergerombol, kemudian memencar kalau ia datang “nimbrung”. Padahal biasanya tidak demikian. Juga Hian Biauw sejak lama tak dilihatnya. Entah di mana. Selalu berada di perkampungan penduduk. Hendro juga. Latifah juga. Satu “klik” tampaknya. Satu hari ketika ia berpapasan jalan dengan Hian Biauw ia meminta anak buahnya untuk datang menghadap. “Kemana kau selama ini?” “Saya berada di rumah Cokro, komandan” “Sudah kubilang, jangan berada di kalangan penduduk. Banyak mata-mata Belanda dan kita tidak tahu siapa mereka” “Saya mengerti, tapi perang hampir usai” “Perang memang hampir usai...," jawab Mayor Mangku seolah pada diri sendiri. Kemudian lanjutnya: “Tapi itu berarti tugas besar dalam bentuk yang lain menanti kita” “Tugas baru komandan” “Ya. Kau akan terus di Angkatan Perang”

195


“Tidak Komandan," jawab Hian Biauw yang membuat komandannya heran. “Kau anggota pasukan yang baik” “Tapi jadi Angkatan Perang bukan jiwa saya komandan” Lalu Hian Biauw memandang ke depan lewat jendela. Ia tak berani menatap mata komandannya. Menurut firasatnya, tampaknya sang komandan ini seperti ada apa-apa yang dirahasiakan. “Ada sesuatu komandan?" tanyanya menyelidik. “Tidak. Tapi aku mencium adanya satu komplotan untuk memberontak. Aku ingin tanya: Kau terlibat di dalamnya atau tidak” Pertanyaan yang tiba-tiba. Menyerang langsung. Hian Biauw tampaknya seperti tidak diberi kesempatan untuk berpikir. Tapi secepat itu pula ia berkata: “Perang hampir usai dan buat apa kita berkomplot untuk memberontak. Laginya memberontak terhadap siapa," tanyanya. Mayor Mangku diam. Ia memang suka diam sehabis menyerang orang dengan kata-kata yang tajam. Tampaknya ia seperti ingin mengakaji sampai dimana ketulusan orang yang diajaknya berbicara itu. “Betul kau tidak terlibat," tanyanya kemudian. Juga satu pertanyaan yang tiba-tiba. “Betul komandan” “Betul?” “Betul!” Lantas semuanya diam. ****

196


41 Membentuk pasukan sendiri, itulah isu sekarang yang makin hari makin berkembang di kalangan anak buah ayor Mangku omongan Hian Biauw dulu ternyata masuk di akal Hendro. Membentuk pasukan sendiri memang satu jalan keluar. Dalam situasi seperti sekarang ini di mana-mana banyak pasukan yang keluar dari induk pasukan. Membentuk pasukan sendiri. Menepati pos-pos sendiri dan mencoba bertahan sendiri. Ini jauh lebih baik daripada diam-diam meninggalkan pasukan. Bisa dianggap desersi dan ini bahaya. Hukuman bisa berat kalau tertangkap. Karena yang melarikan diri dari pasukan bisa saja dianggap lari berpihak ke musuk. “Kusak-kusuk” Hendro ternyata berhasil. Ada sekitarlima belas orang yang ingin ikut. Problematiknya justru di sini. Antara Hendro dan Hian Biauw kemudian terjadi perselisihan paham tentang jumlah orang. “Kau terlalu gegabah," ujar Hian Biauw menunjukkan sikap marah dan tak puas dengan upaya Hendro melibatkan terlalu banyak orang untuk ikut dalam pertempuran menyergap Belanda. “Kalau dulu bilang, kita sebaiknya membentuk pasukan sendiri," jawab Hendro tak kurang berangnya. “Tapi aku tak bilang bahwa kau boleh mengajak semua teman yang ada di sini” “Mereka dengan sukarela ikut” “Itu namanya kau kurang pikir. Penyergapan ini masih tanda tanya. Kita tak bisa meramalkan, apakah kita bisa keluar bila rencana ini gagal? Sekian nyawa kau ingin korbankan untuk mendukung rencana gila kita!” “Itu bukan rencana gila” “Sejak dari awal, rencana ini sudah gila. Betul-betul gila dan kegilaan itu sekarang kau tambah lagi”

197


“Sekarang bagaimana maumu” “Kita ajak tiga orang saja. Lima dengan kau dan aku. Itu sudah lebih dari cukup. Kau kira gampang menyergap Belanda dengan pasukan besar tanpa peralatan yang memadai” “Tapi teman-teman sudah terlanjur tahu tentang rencana kita” “Dengan teman sebanyak itu, kau teruskan sendiri. Masa bodoh”. Lalu Hian Biauw meninggalkan Hendro. Hendro mengejar. “Tunggu!” “Apanya yang tunggu. Kau yang merusak segala rencana” “Aku terpaksa mendajului omong dengan teman-teman karena kau selalu ragu-ragu dalam memberikan keputusan untuk ikut serta. Aku sudah beberapa kali mengajak kau omong. Tapi kau selalu mengelak memberikan jawabanyang pasti dan ingin memutuskan sendiri untuk mengajak teman-teman yang banyak. Coba kau pikir, apa kata komandan kalau rencana ini tercium. Kau tahu, komandan sudah mencurigai kita. Aku sudah pernah ditanya," Hendro kaget. “Komandan curiga?” “Ya” Perubahan terjadi pada wajah Hendro. Masalah inilah yang paling ditakuti sebelum rencananya tersusun rapi! Mayor Mangku memang punya kharisma besar, meskipun diakui kurang berwibawa dalam menghadapi Belanda. Ia begitu tegas mengendalikan anak buah dan menghukum anak buah tanpa pandang bulu. Tanpa berpikir apakah anak buah yang melakukan kesalahan itu anak buahnya yang lama bergabung sejak dari Jombang atau yang baru seperti Hian Biauw yang ketemu sewaktu perjalanan balik dari Mojokerto. “Komandan bilang sendiripadamu?" tanyanya kemudian. “Komandan mencurigai ada yang ingin memberontak," lantas apa jawabmu.

198


“Aku bilang, tidak! Karena saat itu aku memang belum memutuskan untuk 100% bergabung dengan dirimu” “Sekarang kau sudah memutuskan untuk bergabung?” “Sekarang kau yang merusak rencana kita sendiri” “Apa kata komandan selanjutnya?" tanya Hendro sengaja mengalihkan pembicaraan yang memfokus pada kesalahan yang ada pada dirinya, karena mengajak teman-teman terlalu banyak untuk bergabung. “Aku kira komandan baru pada taraf curiga. Karena temanteman selalu menghindar kalau komandan mendekat” “Betul” “Itu perasaanku. Tapi kalau kau ingin meneruskan rencana gilamu, kau harus hati-hati," lalu Hian Biauw meninggalkan Hendro. Ia ingin menjumpai Latifah yang sejak peristiwa dulu itu, di bawah kerindangan pohon di saat hujan yang lebat selalu menjauh dari dirinya. Seolah Latifah sengaja tidak mau bertemu. Seolah sengaja menghindar. Lantas ia pun membalik berjalan ke arah lain. Ia jadi bingung. Bagaimana ia bisa mengatakan kepada dua belas yang lain kalau mereka tak boleh bergabung. Apakah ia akan mengatakan bahwa Hian Biauw cuma bilang tiga orang. Lantas apa kata orang tentang dirinya, yang terpengaruh oleh Hian Biauw. ****

199


42 Seperti yang diduga Hian Biauw, Latifah berada di rumah Cokro, sedang bermain dengan keluarga itu. Ada sembilan anak keluarga itu. Semuanya masih kecil. Anak ketiga dan keempat lahir dalam tahun yang sama. Inilah sebenarnya problem orang desa. Anak terlalu banyak. Makan yang dananya tidak pernah membengkak tiap tahun harus dibagi dengan mulut yang lebih banyak. Hingga tiap orang akhirnya cuma mendapat sesuap saja. Mereka harus merasa kenyang dengan pembagian yang kecil itu. Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dalam situasi seperti sekarang, di mana hasil panen mereka tidak bisa dijual. Keluarga Cokro ini menurut pendapatnya akan bertambah terus tiap tahun. Tak ada yang menge “rem” mereka. Alam tak sanggup. Karena nampaknya, berkumpul suami istri itu merupakan puncak kebahagiaan yang bisa mereka raih di dunia ini. Karena apa yang terjadi besok, tak seorang pun bisa meramalkan. Wajah Latifah bersemu merah ketika menatap Hian Biauw yang juga memperhatikannya. Anak-anak Cokro “semburat” lari masuk. Tinggal Latifah dan Hian Biauw yang cuma punya dua kursi dan bale-bale untuk tidur sekeluarga. “Yuk kita jalan-jalan," ujar Hian Biauw. “Ke mana? Ke Candi Jawi lagi?” Tak ada jawaban. Hian Biau kemudian cepat menarik tangan Latifah dan diajaknya keluar dari rumah. Di pelataran ia bertanya: “Mengapa kau menghindar terus” “Lantas kau mau apa?” “Aku ingin kau ikut bergabung” “Tidak Biauw. Tidak. Itu satu hal yang sebenarnya aku takut kau tanyakan. Aku tak mungkin ikut dengan kalian”

200


“Mengapa?” “Bapakku seorang pegawai negeri. Ia dokter. Ia taat pada atasan dan aku ingin mewarisi sikap bapakku. Di mana pun juga. Sesudah keadaan mapan, ayah dipindah dan ayah menurut. Bertahuntahun dipindah dari satu kota ke kota yang lain, dan ayah menurut. Menurut tradisi keluarga kami, kepatuhan adalah satu pengabdian yang luhur” Hian Biauw diam. Langkahnya satu-satu mengikuti langkah Latifah. Kepatuhan terhadap atasan. Itulah sikap priyayi. Sikap orang Jawa yang bekerja di gubernemen. “Kau tahu instruksi dari pusat yang tadi pagi diterima komandan?" tanya Latifah memecah kesunyian. “Tidak” “Komandan sebenarnya mencari kau tadi pagi. Kau menghilang terus”. “Kau tentunya tahu di mana aku berada. Aku tadi ke Trawas” “Jadi aku harus tahu di mana kau berada” “Aku cuma bilang, mestinya kau tahu. Kita sering ke sana bukan” “Tak ingin tahu apa instruksi dari pusat?" pancing Latifah bertanya. “Kalau aku boleh tahu dari kau” “Dari kau sama saja. Paling hanya himbauan agar kita tetap sabar dan memuji sikap kita yang setia pada instruksi pusat. Iya, kan” “Tidak. Kali ini bukan itu. Kali ini ada kabar gembira. Semestinya juga untuk kau” “Jadi pemerintah pusat sudah memastikan bahwa bakal ada perdamaian” “Lebih jauh dari itu” “apa”

201


“Bahwa kita-kita yang sekarang berada di front oleh pemerintah diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi kalau mau. Yang sudah pernah di HBS ujian persamaan sekolah lanjutan atas. Yang dulu di Mulo boleh persamaan dengan sekolah lanjutan pertama. Mengambil yang bagian atas pun boleh asal berani. Menurut komandan ini cuma sekedar prasyarat saja. Sebab tujuannya agar kita bisa melanjutkan di pendidikan tinggi. Prioritas diberikan kepada mereka” “Pendidikan tinggi," ujar Hian Biauw seperti pada diri sendiri. Ia kemudian duduk di bawah pohon, di tepi jalan. Patroli Belanda sudah tak mungkin lewat kalau sudah malam begini. “Kau tidak tertarik?" tanya Latifah tetap berdiri. “Tidak” “Lantas apa yang kau maui?” “Bertempur terus sampai Belanda hancur dari bumi ini. Kalau tidak, mereka pasti akan kembali lagi” “Itu bukan urusanmu” “Itu urusanku” “Bukan. Tanah air ini bukan milikmu”. “Latifah," ujar Hian Biauw tersinggung lalu berdiri dan memegang bahu Latifah. “Omonganmu menyakitkan hatiku” “Kau yang harus sadar Biauw. Jika kau ingin berbuat banyak untuk negeri ini, kau harus menurut apa yang dimaui negeri ini, pemerintah negeri ini. Bukan menurut kehendak Hendro atau kehendakmu sendiri” “Kau tidak bisa bilang begitu, Latifah," ujar Hian Biauw seolah ia benar-benar sangat menyesal akan apa yang telah diutarakan oleh Latifah. Lalu lanjutnya: “Kau mungkin tak menyadari, bahwa aku sangat mencintai negeri ini. Aku memang orang Tionghoa. Orang boleh saja bilang

202


Tiongkok adalah negara tumpah darahku. Tapi aku tak pernah mengenal negeriku itu. Aku pun tak mengenal bahasa mereka. Negeri ini, Jawa. Aku kenal dengan baik. Sejak kecil aku berada di Jalan Kapasan. Bermain dengan teman sebaya. Melihat keramaian di Klenteng Dukuh dan Bio di Kapasan. Aku sejak kecil sudah menjadi bagian dari negeri ini. Kemudian aku ikut berjuang, bertempur, dari yang semula tak punya keyakinan, sampai sekarang dengan keyakinan yang penuh bahwa aku berjuang untuk sesuatu yang luhur...” “Sampai sebulan yang lalu, Biauw. Sampai saat sebelum Hendro mengajak kau bergabung. Sesudah itu kau adalah pengkhianat perjuangan ini” “Pengkhianat? Aku Fah? Aku pengkhianat” “Ya” Semuanya kemudian diam. Tuduhan Latifah terlalu berat. Seperti dulu-dulu, ia ingin sahabatnya ini tidak melakukan sesuatu yang konyol. Yang mungkin saja merugikan kepentingan seluruh pasukan dan kepentingan pribadinya sendiri. Sebagai perempuan ia bisa memaklumi keheroikan kawan-kawan yang lain. Tapi berbuat sesuatu yang bertentangan dengan instruksi pusat adalah satu dosa besar. Bahkan mungkin bisa mengacau seluruh diplomasi yang sekarang sudah mendekati penyelesaian. Dulu iasangat mengagumi Hian Biauw. Ia yang punya pemikiran yang luas berkat banyaknya buku yang dibaca. Mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dari rata-rata kawan-kawan yang lain. Tapi sekarang, ia tidak bisa mengerti, mengapa Hian Biauw jadi latah. Mempunyai anggapan seperti yang diutarakan di candi Jawi, justru sebagai orang Tionghoa ia harus berbuat nekad. Mengapa? Mengapa? Mengapa? “Kau akan membocorkan rahasia kita kepada komandan? tanya Hian Biauw. “Tidak. Itu urusan kalian”

203


Dalam kemarahan, Latifah makin memperlihatkan wajah yang serius. Punya wibawa dengan sinar matanya yang tajam. Terbit kembali rasa sayang dalam hati Hian Biauw. Dan tiba-tiba saja terluncur kalimat: “Aku cinta padamu, Fah. Ikutlah bergabung," lalu ia berusaha memeluk Latifah. Tapi Latifah lari seraya berkata: Tidak! Tidak! Tidak.... Malam makin sunyi! **** Seperti yang dikatakan beberapa saat yang lalu, Hendro berhasil menemui Hian Biauw yang sejak lama duduk berkemul sarung. “Aku baru bertemu dengan komandan," ujarnya seraya duduk di muka Hian Biauw. “Komandan mencari kau. Ada berita dari pusat” “Aku sudah tahu” “Dari Latifah?” “Ya” Hendro diam. Ada rasa iri sebenarnya dalam hati kecilnya. Perempuan yang satu ini amat dekat dengan laki-laki yang duduk masa bodoh di mukanya. Laskar wanita memang bukan Latifah seorang. Ada empat orang. Tapi yang menarik perhatiannya cuma Latifah. Sayangnya, gadis ini lebih menyukai orang lain dan selalu menjauh kalau didekati. “Aku sudah mengajak Latifah meninjau candi Jawi.” Tibatiba Hian Biauw menyahut. Berita ini benar-benar mengejutkan Hendro. “Kau pernah menyidik kesana? Baru-baru ini?” “Ya” “Apa pendapatmu?” “Tempat itu sama sekali tidak strategis”

204


“Kau cuma sekali disana. Tapi aku sudah sering memperhatikan patroli Belanda siang hari” “Tempat itu terlalu terbuka dan dekat tempat itu banyak perumahan penduduk. Seperti dulu yang pernah kubilang, rakyat juga yang nanti akan jadi korban. Lantas dengan senjata apa kita gempur panser Belanda. Dengan granat buatan Tulungagung yang kita lempar dengan tali itu? Yang belum tentu meletusnya itu?” “Kita serang dengan persenjataan yang baru diterima komandan” “Gila. Itu artinya kita juga merampok senjata” “Lebih baik daripada disimpan di kakus penduduk” “Kalau kau mau, kita serbu Pandaan," tiba-tiba ujar Hian Biauw seraya berdiri. “Kita serbu Belanda disana dan kita hancurkan di sana. Dari sana kita lari ke Trawas dan berpencar”

205


43 Hendro kini benar-benar terkejut. Tak pernah terpikirkan untuk menyerbu markas terbesar Belanda yang ada di Pandaan. Di situ pusat Belanda sebagai tempat yang strategis untuk menyambung dengan Pasuruan, Surabaya dan Malang. Karena Hendro masih diam, Hian Biauw berkata lagi. “Karena itu jumlah kita harus kecil, tidak boleh besar.” “Kau maksud, kita akan jibaku?” “Tidak. Tapi kita susun strategi yang matang. Didi bisa kita utus untuk menyidik ke sana. Nanti berdasarkan laporan Didi kita susun kembali strategi yang baru. Yang pertama harus kita sepakati ialah: Kita serbu Belanda dan bukan menghadang Belanda. Kau setuju?” “Kita harus merundingkan strategi dengan teman-teman lain," jawab Hendro. Masalah penyerbuan Pandaan ini sungguh merupakan hal yang amat baru baginya. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Juga mungkin teman-temannya tidak pernah mempunyai pikiran untuk menyerbu markas Belanda. Hendro seperti yang diketahui memang belum pernah enghadapi peperangan yang total. Menurut pertimbangannya, Belanda cukup disergap saja. Gagasan Hian Biauw, yang sebenarnya merupakan gagasan Latifa, adalah gagasan yang luar biasa hebatnya. Tapi sanggupkah mereka lakukan? Atau? Beranikah ia melakukan hal tersebut? Ia tak berani menjawabnya. Seperti yang sering diwejangkan komandan. Semua dari kita tidak punya pengalaman tentang perang. Pahlawan dalam satu hari karena adanya kesempatan dan mukjizat. Mukjizat, karena pilihannya untuk menjadi pahlawan dan tewas terselubung tirai yang sangat tipis. Situasinya bukan lagi 50% lawan 50%, tetapi 90% tewas lawan 10% jadi pahlawan.

206


“Apakah kawan-kawan mau menyerbu Pandaan," akhirnya ia berkata. “Bukan soal mau atau tidak, tapi soal berani atau tidak” “Kau kira aku takut” “tidak” “Kalau begitu mengapa tidak kita musyawarahkan bersama kawan-kawan” “Makin banyak yang memberikan andil pemikiran, masalahnya makin menjadi kacau. Dalam situasi seperti ini, harus ada seseorang yang punya ide lalu ada yang menyokong dn kemudian saling mendukung dan saling mengisi” “Aku belum punya gagasan. Idemu terlalu mendadak” “Lantas kalau melaksanakan idemu bagaimana” “Aku cuma punya siasat untuk menyergap patroli Belanda pagi hari sesudah hujan lebat malam hari” “Kalau malam hari tidak hujan.. kita tidak akan pernah bisa menyergap Belanda. Begitu kan siasatmu? Itu siasat yang gila. Kau kira bertempur dengan Belanda bisa distrategikan secara main-main begitu. Lantas kita sergap dengan trek bom yang ditarik dengan tali.. kalau tidak meledak, kita semua yang konyol...” Sebenarnya pemikiran Hendro tidak konyol. Begitulah pejuang-pejuang itu. Mereka sebenarnya bukan tentara yang profesional. Mereka amatiran. Melalui pengalaman perang mereka menjadi dewasa. Tapi kedewasaan Hendro tidak pernah tercapai. Selama bergerilya, tidak pernah ada pertempuran yang berarti. Cuma saling senjata di malam hari, untuk membingungkan Belanda yang ada di Pandaan. Mereka memang masih anak-anak. Belanda memang meremehkan mereka. Terlalu meremehkan. Belanda sering membayar mahal untuk sikap meremehkan bocah-bocah kecil yang dikatakan seharusnya menyusu pada ibu mereka itu.

207


“Terlalu resiko. Sama-sama. Punya resiko kita harus menyerbu Belanda di pusatnya. Kelak kalau kau dan aku sama-sama selamat, aku akan memberitahukan kau siapa sebenarnya yang punya ide brilyan itu� **** Deglok diputuskan bebas. Langkah awalnya sesudah keluar dari tahanan adalah mandi di pantai Kenjeran. Ada kepercayaan bahwa orang yang baru keluar dari tempat tahanan haandi di laut. Membuang semua pakaian yang dipakai. Mengganti dengan pakaian yang baru, yang dibawa dari rumah. Orang keluar dari rumah tahanan pun tidak boleh membalik ke belakang, melihat teman-teman yang mengantarkan dengan penuh isak air mata. Mereka yang ditinggalkan Deglok merasa kehilangan. Meskipun tidak lama, tapi Deglok berhasil mendapat simpatik para hukuman dan tahanan yang ada di Kalisosok. Deglok dengan semua uang sumbangannya memang banyak mentraktir teman-teman senasib. Semua itu harus ditinggalkan. Setelah mandi di pantai Kenjeran, naik perahu rakyat sampai jauh ke tengah, ia kemudian kembali ke pantai dan makan lontong balap bersama keluarga. Dari sana ia mengunjungi rumah Mayor Phe. Orang ini yang diketahui berperan banyak dalam pembebasannya. Sampai hakim kemudian berhasil memutus bebas. Mayor ini pula yang memberikan pembela yang kesohor dan terkenal mahal bayarannya Meester Grenades. Pengacara tua yang sudah pensiun yang sekarang membuka kantor advokat di Surabaya. Sebenarnya pengacara itu tidak secara resmi membuka kantor. Cuma banyak orang Tionghoa yang kaya yang meminta jasanya untuk perkara yang dihadapi mereka. Mayor Phe kenal baik dan karenanya ia pun meminta jasanya untuk membela Deglok. Tentu dengan meminta imbalannya yang banyak. Karena Deglok mestinya paling

208


sedikit dihukum 20 tahun. Kalau tidak dihukum mati. Deglok sendiri beranggapan bahwa sedikitnya ia akan mendekam di penjara sampai sepuluh tahun lebih. Bahwa ia bisa bebas, ia sangat bersyukur atas jasa baik Mayor Phe. “Maafkan, saya tak bisa membantu Baba Mayor dengan berhasil," katanya setelah memberi hormat dengan menyoja Mayor Phe. “Silakan duduk, saya yang meminta maaf karena terlalu menyusahkan Baba. Apa keluarga Baba semuanya dalam keadaan baik-baik” “Terima kasih Baba mayor terlalu memperhatikan keluarga saya. Sekarang apa yang saya dapat perbuat untuk membalas budi Baba Mayor” Ditanya begitu, Mayor Phe tidak segera memberikan jawaban. Seperti orang lain, sungguh heran, mengapa laki-laki yang cacat tubuh ini ternyata bisa begitu cekatan dalam mempergunakan senjata sehingga dalam sekejap bisa membunuh tiga orang lawannya. “Tidak ada yang perlu Baba lakukan saat ini. Saya sudah gembira Baba tidak mendapat cedera dan gangguan selama di penjara. Apa yang mau Baba lakukan sekarang ini?" tanya Mayor Phe kemudian. “Kalau tidak ada kerja di sini, saya ingin buat sementara waktu ke Batavia.” Deglok masih menyebut Batavia untuk kota yang sekarang sudah disebut Jakarta. “Baba mau kesana?" tanya mayor Phe lagi. “Iya. Ada surat kabar yang ingin memuat cerita saya sebagai cerita bersambung. Maksudnya bukan cuma yang berkenaan dengan urusan Baba Tan, melainkan riwayat hidup saya yang mereka kenal sebagai Buaya Kapasan. Rupanya gelar Buaya Kapasan itulah yang ingin mereka ketahui. Saya sendiri membutuhkan banyak waktu untuk bisa bercerita tentang semuanya”

209


44 “Mayor tahu tentang sejarah Buaya Kapasan?” Mayor Phe hanya menggelengkan kepala ia kemudian berkata: “Kau harus hati-hati di Jakarta. Sekarang jaman sedang bergolak. Kapan kau berangkat?” “Mungkin minggu depan. Banyak kawan-kawan yang ingin menitipkan modal mereka kepada saya untuk dipergunakan di Batavia. Katanya di sana memutar uang lebih gampang daripada di daerah”. “Kau mau berdagang juga di sana?” “saya sudah tua Baba mayor, saya tidak bisa jadi jagoan terus menerus. Karenanya ketika satu dua orang ada yang titip uang, saya terima. Mungkin dengan modal itu saya bisa mengembangkan kemampuan dagang saya. Baba Mayor sependapat kalau saya berdagang dan bisa berhasil ?” Mayor Phe tersenyum. Itu pertanyaan yang sering diajukan orng kepadanya. Orang Tionghoa dianggap lihai dalam berdagang. Padahal kalau disebut lihai, itu mestinya berkenaan dengan kemampuan yang mendalam tentang satu persoalan. Tapi orang tionghoa berdagang tampaknya seperti mereka itu punya kemampuan sejak lahir. Itu yang tampak dari luar sehingga orang yang punya anggapan yang salah terhadap orang Tionghoa. Semua orang Tionghoa kemudian dianggap bisa dagang. Dan lucunya, semua orang Tionghoa sendiri juga mempunyai anggapan begitu. Padahal modal utama dari orang tionghoa yang sukses dalam dagang adalah dengan modal kejujuran saja. Cuma itu. Soal keuletan, siapa saja bisa ulet kalau melihat usahanya ada hasilnya. Kalau orang melihat usahanya tak memperoleh hasil, juga akan merasa bosan dan tidak ulet lagi. Jadi modalnya cuma satu itu. Jujur. Seringkali orang

210


Tionghoa memulai usaha dagangnya dengan modal nol. Cuma berdasarkan kepercayaan saja. Barang boleh dibawa dulu, bayar kemudian. Tapi orang tionghoa kalau memperoleh kepercayaan bayar dulu, tidak kemudian lari barangnya laku. Begitu lagu, ia cepat membayar sehingga mungkin saja yang meminjamkan barang jadi kaget. Kok cepat membayarnya. Lantas si pemilik barang juga makin percaya. Barang yang boleh dibayar belakang makin banyak boleh dibawa. Si orang Tionghoa juga makin gesit dalam usaha. Ia tak ingin menyalahgunakan kepercayaan itu. Sen demi sen ia simpan dan tabung. Akhirnya kalau ia sudah punya uang kontan sendiri, ia datang kepada si pemilik barang. Ia akan membayar kontan. Kaget lagi si pemilik barang. Karena kaget itu tadi bercampur dengan kegembiraan melihat orang yang ditolongnya berhasil, ia pun memberikan potongan yang banyak untuk pembelian kontan. Si orang Tionghoa makin giat lagi dalam bekerja. Keuntungan makin banyak didapat dan begitu seterusnya. Tak ada yang menyalahgunakan kepercayaan, itulah mungkin modal utama orang dagang dalam bentuk manajemen yang bagaimana pun juga. Modal ini tampaknya akan berhasil dikembangkan oleh Deglok. Mayor Phe sudah merasakan sendiri betapa Deglok sangat mempercayai harga dirinya dan bisa menyimpan rahasia orang yang menyuruhnya dalam kasus Baba Tan. Kalau ia mau, ia tentu saja bisa melibatkan Mayor Phe. Sejak awal ia bisa berbuat demikian. Tapi semuanya itu tidak dilakukan. Karena ia menjaga nama baiknya sebagai Buaya kapasan yang kesohor bisa pegang janji. “Kau pasti berhasil dalam berdagang," kata Mayor Phe kemudian memberikan kepastian kepada Deglok. “Apakah Baba Mayor tidak perlu berpesan kepada kawankawan yang tergabung dengan Poh An Tui di jakarta," tanya Deglok. Mayor Phe terkejut. Ia sebenarnya tak punya hubungan dengan mereka. Deglok kemudian berkata dengan semangat:

211


“Saya nanti akan memberitahu kepada mereka kalau Baba Mayor sebenarnya sudah ingin membantu mereka. Bahwa Baba Mayor ditipu sesama Tionghoa. Ini semua harus mereka ketahui dan mereka akan percaya apa yang saya utarakan. Lantas Deglok berdiri. Tiba-tiba saja ia bersoja dan “kui” (berlutut) di hadapan Mayor Phe yang duduk dengan anggunnya. “Eh... eh... kenapa Baba berbuat demikian," ujar Mayor Phe kemudian ikut berdiri dan mengangkat Deglok yang terus saja “kui” di hadapannya. “Anak istri dan saya sendiri sangat berhutang budi. Banyak sumbangan yang kami terima dari teman-teman Baba Mayor yang sebelumnya tidak saya kenal. Mereka rela membantu saya, orang yang termasuk jelek dalam masyarakat pergaulan, karena baba “merekomender” diri saya sebagai laki-laki yang baik...” “Kau memang laki-laki yang ...," ujar Mayor Phe. Tak diteruskan omongannya karena kemudian ingatannya melayang jauh ke anaknya sendiri. Anaknya adalah laki-laki yang baik. Dan berani. Dari mayor Mangku ia mendengar bahwa anaknya sebelum mengungsi pernah menghancurkan pasukan Belanda di pertigaan Praban Tunjungan. Ia dulu pernah mendengar pula berita itu. Tapi tak pernah menduga bahwa yang melakukan itu adalah anaknya dan temannya Effendi. Dua-duanya sangat dikenalnya. Yang satu anaknya yang satu lagi sahabat anaknya yang sering berkunjung ke rumah. Akhirnya Mayor Phe Berkata : “Kalau kau pertahankan sifatmu seperti yang sekarang setia, kau pasti berhasil di Batavia. Tapi ada satu hal yang harus Baba ingat. Dunia sekarang sudah berubah. Kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan jangan bermimpi untuk datangnya jaman keemasan tempo dulu. Tempo dulu kita dagang dengan punya hak istimewa dari Belanda. Hak monopoli

212


candu dan garam rakyat.� Yang disebutkan terakhir ini mengingatkan Deglok kepada kenyataan sejarah. “Apakah semua hak-hak istimewa itu yang melahirkan buaya-buaya Kapasan Baba Mayor," katanya. “Bukan itu yang melahirkan Buaya Kapasan. Buaya Kapasan sudah ada sejak lama. Jauh sebelum kita memperoleh hak-hak istimewa dalam perdagangan. Hak istimewa baru saja. Tapi hak monopoli sudah lama kita pegang. Misalnya hak monopoli pembelian beras dan itu berlangsung ketika rumah sakit simpang di gubeng masih menjadi gudang beras orang Tionghoa yang kaya. Buaya Kapasan lahir karena istilah itu diberikan kepada kita oleh bangsa Belanda. Belanda saat itu selalu mempersulit keadaan gerak-gerak Tionghoa. Untuk bepergian malam hari, dari blok satu ke blok yang lainnya sering kali dipersulit. Harus ada surat pas. Untuk itu orang Tionghoa harus membayar cukup banyak. Yang tidak mau membayar mendapat perkelakuan yang tidak wajar. Dipukul dan dihajar. Banyak orang Tionghoa yang mengalami nasib sial gara-gara pas jalan itu. Terutama mereka yang berdagang “klontong," yang hidupnya memang harus keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini yang tidak dikehendaki pemerintah Belanda. Orang Tionghoa harus tinggal dalam satu kantong yang mereka beri nama Pecinan. Tempat orang Tionghoa berkumpul. Dengan demikian anggapan orang Belanda, orang Tionghoa paling gampang diurus. Untuk itu pula mereka diberi pemimpin sendiri agar mereka bisa mengurus kellompok mereka sendiri. Agar orang Tionghoa tidak menjadi beban baru pemerintah Belanda yang sudah mulai repot menghadapi semangat kebangsaan yang makin lama makin naik suhunya, kian hari kian memuncak. Meskipun dalam hal ini para pemimpin mereka, antara lain Soekarno sudah mereka tangkap dan dipindahkan ke lain pulau.

213


45 Karena perlakuan yang kasar dan tidak adil itulah timbul dan munculnya buaya-buaya Kapasan. Mereka inilah yang jadi semacam Robinhood untuk menolong orang-orang tionghoa yang mendapat perlakuan tidak enak dari orang Belanda. Juga mereka ini yang jadi pembela orang tionghoa kalau menghadapi kesulitan dalam menjalankan monopoli garam dari orang-orang Madura yang hendak berdagang nakal dan tidak mau menyetor semua hasil garam mereka kepada gubernemen. Semestinya urusan ini kalau ada yang nakal menjadi urusan pihak Belanda. Mestinya pihak Belanda yang membereskan. Tapi dalam hal ini Belanda tidak mau ikut campur. Belanda ingin sengketa itu diselesaikan oleh mereka sendiri atau berlanjut menjdai sengketa berdarah. Mulanya, hanya sebagai pedagang, orng tionghoa takut menghadapi orang Madura. Karena mereka ini terkenal garang dan suka main celurit. Tapi kemudian, ketika buaya-buaya Kapasan muncul sebagai pembela kaum pedagang dengan imbalan tertentu, orang tionghoa mulai mampu mengatasi hak monopoli garam dengan menguntungkan. Sebelumnya sama sekali tidak menguntungkan, tapi orang tionghoa tetap harus membayar pajak yang tinggi untuk monopoli garam itu. Yang menguntungkan adalah hak monopoli candu itu. Sepenuhnya sekarang perdagangan itu tergantung adri bantuan buaya Kapasan. Baik sebagai penunjuk jalan, maupun sebagai penjaga mereka, dari pemerasan orang madura ataupun dari Belanda sendiri�. Keterangan Mayor Phe tentang bagaimana asal mulanya kelahiran buaya Kapasan itu sangat berfaedah bagi Deglok. Karena ia sendiri, meskipun terlibat dalam nama itu, sama sekali tidak mengetahui bagaimana sejarah yang sebenarnya dari organisasi yang tidak punya bentuk itu. Tak punya bentuk, karena orang tak tahu siapa sebenarnya ketua dari kelompok itu. Hanya tiba-tiba saja

214


Deglok dianggap sebagai ketuanya dan semua anggotanya, terdiri dari orang-orang yang menggantungkan nasib hidupnya dengan kekuatan tangan dan kakinya, alias berkelahi, semuanya mematuhi perintahnya dan semuanya rela membayar upeti kepadanya. Sayangnya Deglok yang tidak mempunyai dasar pendidikan sekolah yang baik, karena ia sejak kecil sudah yatim piatu, tidak bisa me “rem� apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan. Secara tidak sengaja, ia bercerita tentang usaha mayor Phe dalam mencari senjata untuk kelompok Poh An Tui yang ada di Jakarta. Padahal di Jakarta dan sekitarnya baru saja terjadi insiden antara para pejuang dan kelompok Poh an tui ini, yang dituduh jadi antek Belanda. Mayor Phe yang berkat keterangan tak sengaja dari Deglok kini menjadi orang yang termasuk dalam “blacklist�. Orang yang termasuk dalam daftar hitam. Sekarang orang tahu bahwa organisasi yang masih muda itu mendapat bantuan senjata dari orang tionghoa yang ada di tempat lain. Artinya mereka mempunyai simpatisan dimana-mana. Padahal dalam soal Poh An Tui itu tadi, mayor Phe tidak tahu apa-apa. Apa yang dahulu diceritakan pada Deglok hanyalah satu alibi yang dibuat-buat untuk mengelabui Deglok. Untuk memberikan alasan yang bisa masuk akal sehat mengapa ia sampai bertengkar dengan Baba Tan. Di beberapa tempat, seperti di luar Jawa misalnya Sumatra Utara, Poh An tui memang bukan bentukan Belanda tetapi reaksi spontan dari masyarakat Tionghoa untuk menjaga kampung halaman. Dalam hal ini mereka seia sekata dengan para pejuang bahkan sangat membantu. Tapi di beberapa daerah di Jawa misalnya, memang ada bentrokan fisik dan ini sangat tidak menguntungkan Mayor Phe yang dalam hal ini oleh para pejuang dianggap sebagai antek Belanda karena membantu Poh an tui bikinan Belanda dengan senjata. Mereka tentunya tidak pernah tahu latar belakang yang sebenarnya. Juga tak pernah tahu, apakah senjata itu pernah terkirim atau tidak. Yang jelas adalah, Deglok

215


makin keras berbicara di Pers Melayu Tionghoa di Jakarta. Ia menceritakan tanpa sengaja “keheroikan� Mayor Phe membantu Poh an tui dengan senjata. Maksud Deglok sendiri baik. Ia ingin mengangkat nama Mayor Phe agar lebih terhormat lagi. Lupa bahwa di satu pihak lainnya secara tidak sadar, ia telah membuat Mayor Phe dicurigai. Dan itu harus dibayar mahal oleh Mayor Phe. Satu hari, ketika ada tiga orang pejuang yang marah karena pemberitaan pers Melayu Tionghoa yang menyebut perbuatannya membantu Poh An Tui dengan penuh semangat, datang ke rumahnya dan menembak istrinya..... Perempuan yang anaknya berjuang untuk kepentingan tanah air yang baru merdeka ini tertembak di perutnya dari jarak yang sangat dekat. Dokter berusaha menyelamatkan. Tapi dalam situasi yang gawat seperti sekarang ini, di mana bisa didapat obat-obatan, apalagi untuk keperluan operasi? Tak masuk akal memangnya. Perempuan yang begitu baik, yang merelakan anak tunggalnya berjuang untuk kepentingan negeri yang semula cuma dianggap sebagai negeri klas dua, kini harus menghadapi kenyataan melawan maut, karena ditembak pejuang yang ekstrem, karena beranggapan bahwa keluarga inilah yang jadi biang keladi pengiriman senjata ke Jakarta untuk dipergunakan Poh An Tui melawan para pejuang. Seminggu kemudian orang mendengar kabar tentang kematian Nyonya Phe. Berbondong orang datang maisong dan ketika upacara penguburannya yang diadakan hari minggu, ribuan orang melayat. Upacara ini menunjukkan pula kebesaran keluarga tersebut dalam masyarakat tionghoa. Pejabat Belanda yang masih tersisa hadir dalam upacara penghormatan terakhir. Pejabat sipil dan militer Jawa Timur hadir. Mereka ini yang paling tahu kedudukan Mayor Phe yang sesungguhnya. Mereka ini sudah mendapat laporan secara terperinci dari Mayor Mangku. Setiap orang merasa simpatik dan

216


pejabat yang ada di Jawa Timur selain hadir untuk menyatakan ikut berduka cita juga ingin meminta maaf yang sangat mendalam atas peristiwa yang terjadi hanya karena salah paham saja. Kereta jenazah yang mestinya ditarik kuda kini dilayani manusia. Pemuda-pemuda Tionghoa yang merasa simpatik dengan nasib Nyonya Phe rela menggantikan kuda untuk menarik jenazah itu. Mulai dari Jalan Kapasan sampai menuju peristirahatan yang terakhir di kuburan Kembang Kuning. Sepanjang jalan yang dilalui ribuan orang berdiri di pinggir jalan. Menurut orang yang mengetahui, upacara ini merupakan upacara yang paling besar yang pernah dilakukan oleh orang tionghoa. Upacara yang mendapat simpatik dari kalangan masyarakat pada umumnya. Semua orang boleh dikatakan keluar dari rumah masing-masing. Menuju ke jalan yang bakal dilewati oleh iring-iringan kereta jenazah. Perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam, kini sudah dua jam belum separuh perjalanan ditempuh.

217


46 Perempuan yang anggun ini, meskipun kepergiannya ke peristirahatannya yang terakhir diantar sekian ribu orang, terbaring sepi di dalam peti mati yang terbuat dari kayu cendana yang wangi. Mungkin saja, kalau ia masih bisa merasakan, ia merasa sesuatu yang belum terpenuhi dalam hidup ini. Tak ada tangis dari manusia yang bisa dikatakan sebagai anak kandungnya. Di saat ia rebah dalam sebuah peti jenazah yang mahal harganya, di saat kereta jenazah ditarik delapan pemuda Tionghoa yang kokoh tubuhnya, di saat itu pula anak kandungnya, anak tunggalnya meledakkan sebuah trek bom. Serbuan ke Pandaan ternyata benar-benar sudah dilakukan. Ada rasa tidak enak dalam hati Hian Biauw kalau ia harus meninggalkan induk pasukan secara diam-diam. Betapapun, komandannya, Mayor Mangku, adalah seorang komandan yang sangat memperhatikan dirinya. Juga terhadap semua anak buahnya yang lain. Lebih-lbih setelah ada instruksi dari Pusat agar para pejuang suka melanjutkan sekolahnya lagi. Satu per satu anak buahnya diberi nasehat agar mau mempergunakan kesempatan itu. Juga kepada Hian Biauw, nasihat yang sama diberikan: “Kau harus bisa mempergunakan kesempatan itu baik-baik," ujarnya kepada Hian Biauw yang tampak diam membisu. Rasanya seperti ada ganjalan yang besar dalam hatinya. Maju mundur. Menurut pendapatnya, ia harus bercerita hal yang sesungguhnya kepada Komandan. Biar nanti komandannya yang melapor kepada kedua orang tuanya kalau ada nasib sial yang menimpa dirinya. Karena terus terang saja, dalam hal kecilnya tak yakin bahwa mereka akan bisa lolos. Meskipun seperti laporan Didi, Belanda tampaknya kurang waspada menganggap situasi sudah tenang. Didi waktu itu melapor sebagai berikut: “Kita harus menyelundup terlebih dahulu sampai diperbatasan perumahan orang-orang jompo. Di sana kita bisa

218


berlindung dengan aman. Pemimpinnya aku kenal baik. Masih bibi ayahku.” “Bagaimana peralatan kita bawa," tanya Hendro. “Kita bawa turun satu-satu agar tidak terlalu menyolok dan kita kumpulkan di sana," jawab Didi. “Apakah kita tidak mencelakakan orang tua itu?" ujar Didi. “Rumah itu oleh Belanda sudah tidak diperhatikan lagi. Belanda hanya mengirim beras tiap akhir pekan. Lauk-pauk harus mereka cari sendiri. Pokoknya disana tidak terjangkau oleh patroli.” “Berapa orang tua yang dirawat di sana” “Ada tiga puluh lebih” “Kalau demikian terlalu riskan. Kita bisa membahayakan mereka. Iya kalau perang kemudian benar-benar cepat selesai. Kalau tidak, mereka bisa ditangkapi semua. Kita cari tempat bertemu yang lain. Ada pandangan.” “Ada, tetapi letaknya terlalu dekat dengan tangsi Belanda.” “Tangsi yang sebelah mana?" tanya Hian Biauw. “Yang sebelah timur, menuju ke Pasuruan” Keduanya, Hian Biauw dan Hendro diam. Mereka saling pandang. Didi memang sering disuruh komandan untuk menyidik tempat yang bakal diserang. Didi sudah punya pengalaman menyelundup ke daerah musuh. “Kita berangkat langsung dari Prigen. Tak perlu menginap," tiba-tiba ujar Hendro. “Kita akan kepayahan," ujar Didi. “Tidak," sahut Hian Biauw. “Usul Hendro bisa aku terima. Kita langsung saja dan besok kita kerjakan semuanya. Hubungi teman-teman yang lain. Kita berangkat besok satu-satu dan kumpul di pertigaan jalan...” Semua itu terbayang satu-satu dihadapan Hian Biauw yang sedang menghadapi komandan. Ada niat untuk pamit. Ia merasa harus pamit. Tidak bisa mengkhianati begitu saja. Orang yang jadi

219


komandannya ini harus dihormati, betapapun juga misalnya ada kelemahan yang ia tidak setuju. “Komandan...," ujarnya. Tapi suara itu rasanya terhenti di tenggorokan. Tidak bisa meneruskan. Mayor Mangku memperhatikan. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hati anak buahnya yang satu ini. “Katakan, apa yang mau kau katakan," ujarnya dengan nada penuh kebijaksanaan. Hian Biauw tetap diam. Mayor Mangku berkata lagi: “Memang tidak enak kita berpisah sesudah berjuang bersama dalam suka dan duka," Hian Biauw hanya mengangguk kepala dan berkata lirih: “Iya” Diam lagi. Akhirnya Hian Biauw memutuskan untuk tetap bercerita. Ia harus mempunyai keberanian untuk bercerita. Waktunya sangat terbatas. Besok operasi gila-gilaan itu sudah harus dilaksanakan. “Kami akan memisahkan diri komandan," katanya. Mayor Mangku tampaknya tidak terkejut. Biasa saja. Tak ada perubahan pada dirinya. Cuma bibirnya bergerak sejenak. Tanda ada kegetiran yang dirasakan dalam hatinya. Ia seperti yang pernah diutarakan kepada Hian Biauw beberapa hari yang lalu, memang sudah menduga ada apa-apa dalam pasukannya. Ia merasa bahwa ada yang mau memberontak. Cuma ia tak bisa menyebut siapa. Semula ia memang sangat mengharapkan bahwa Hian Biauw tidak ikut terlibat. Karenanya ia beberapa hari yang lalu merasa bersyukur ketika hian Biauw menyebut dirinya tidak terlibat dalam gerakan siluman tersebut. “Kau dulu bilang kau tidak terlibat," ujarnya. “Dulu, memang belum saya putuskan," jawab Hian Biauw menguatkan hatinya. “Sekarang kau sudah pasti?”

220


“Sudah pasti komandan” “Berapa yang terlibat dalam gerakan itu” “Cuma lima” “Cuma lima kau katakan. Satu nyawa sekarang ini amat berharga” “Iya cuma lima komandan” “Siapa yang jadi pemimpin” “Sudah kami putuskan tidak ada yang jadi pemimpin. Setiap orang bertanggung jawab atas jiwanya sendiri, seperti yang sering komandan pompakan kepada diri kami," jawab Hian Biauw. “Apa yang dituju” “Perang hampir usai dan kita ingin perjuangan kami punya arti. Karenanya kami ingin menyerbu Belanda...” “Di mana?” “Di Pandaan komandan," jawab Hian Biauw. Ia sudah siap menerima kritik dari komandan Mangku tentang “Keberanian Mati” strateginya. “Siapa saja yang ikut” “Saya tak ingin memberikan nama, komandan” “Lantas mengapa kau beritahukan semuanya kepadaku” “Karena saya sangat menghargai komandan. Saya beranggapan bahwa kita tidak boleh mengkhianati komandan” “Apakah dengan bercerita saja sudah cukup?” “Saya memang tidak bisa bercerita lain. Saya juga tidak bisa mengkhianati kawan-kawan saya yang sudah saya setujui untuk bergabung” “Kau yang mengajak mereka atau kau yang diajak mereka” “Mereka yang mengajak komandan. Tapi persoalannya kemudian jadi lain. Saya memang setuju dengan rencana itu. Jadi semuanya menjadi tanggung jawab saya sendiri” “Mengapa yang lain tidak menghadap”

221


“Kita sebenarnya tidak mempunyai keberanian, atau.. kita sebenarnya tidak sampai hati untuk meninggalkan komandan” “Jadi maunya pergi diam-diam begitu saja," Tak ada jawab! “Peralatannya?" tanya Mayor Mangku kemudian. “Seadanya komandan” Mayor Mangku berdiri, berjalan sambil memanggutmanggutkan kepalanya. “Itulah kelemahan kalian sebagai pejuang. Selalu ingin jadi pahlawan dan ingin mati konyol tetapi kemudian di kubur sebagai pahlawan” “Saya bukan ingin menjadi pahlawan komandan. Saya ingin memberi arti pada hidup saya” “Arti yang lebih berharga dapat kau berikan kepada negeri ini kalau kalian belajar lagi” “Kami ingin memberikan arti pada perjuangan ini sendiri komandan. Banyak di antara kawan-kawan yang tidak pernah menikmati arti bertempur yang sesungguhnya...” “Perjuangan sejak awal memang tidak ditargetkan untuk bertemu secara terbuka. Itu mestinya sudah kalian mengerti” “Kalian memang sudah mengerti komandan” Diam lagi. Hening. Di luar hujan rintik membasahi bumi dengan rata. Hawa dingin mencekam tubuh. Jika suasana terus begini, perjalanan malam nanti akan lebih punya arti. Artinya lebih banyak berhasilnya. Karena hujan rintik-rintik begini jarang ada patroli Belanda dan semua penduduk lebih senang berada di dalam rumah.

222


47 “Panggil yang lain," tiba-tiba perintah mayor Mangku mengejutkan hati Hian Biauw “Saya tidak bisa memberitahukan nama-nama mereka , komandan” “Saya bilang panggil mereka, bukan tembak mereka” “Jadi komandan memberi restu kepada rencana yang komandan anggap gila?” “Katakan semua dari kita ingin gila...," Lalu mayor Mangku diam! Hati Hian Biauw tak terbilang bunganya. Ternyata ketakutannya untuk mengutarakan hal yang sebenarnya kepada komandan berakhir dengan baik. Ada restu. Restu ini pun sebenarnya bukan restu dari komandan Mangku sendiri. Ada lampu hijau memangnya dari pusat bagi mereka yang tidak mau memenuhi panggilan untuk meneruskan pendidikan agar tetap tinggal di Angkatan Perang. Restu ini juga berarti bahwa strategi peperangan boleh ditentukan oleh komandan pasukan sendiri. Tidak terikat lagi pada instruksi pusat cuma harus melapor pada kesatuan di daerah! Soal pendidikan itu memang strategi pusat. Persoalannya pejuang jumlahnya sangat banyak. Banyak juga yang sudah memperoleh pangkat tinggi. Yang seperti Mayor Mangku banyak yang sudah barang tentu sangat menyulitkan pemerintah. Sebab pejuang-pejuang yang tadinya beasal dari pelajar-pelajar, memang sesungguhnya bukan berasal dari tentara. Mereka ini diharapkan mau belajar lagi, agar dengan demikian tidak menimbulkan masalah baru bagi pemerintah. Tapi di samping itu, pemerintah juga menghargai jasajasa mereka. Menyekolahkan mereka dengan memberikan beberapa fasilitas kemudahan itulah upaya pemerintah untuk berterima kasih. Laginya yang dari PETA dan KNIL hampir semuanya sudah berumur

223


tanggung. Niat untuk belajar lagi sudah berkurang. Mereka ini yang diharapkan mampu menjadi tenaga inti Angkatan Perang. *** Di luar dugaan Hendro, Didi, Slamet dan Teguh, Mayor Mangku bahkan memberikan nasihat yang sangat berharga. Sebuah surat dibuat dititipkan mereka jika mereka nantinya mau bergabung dengan pasukan Jarot di Bojonegoro. Ini kalau penyerbuan mereka dan masing-masing bisa meloloskan diri. Juga di luar dugaan mereka. Mereka dibekali dengan amunisi yang cukup. Masing-masing orang mendapat jatah yang kira-kira cukup untuk dibawa sendiri. Senjata yang didapat Mayor Mayor Mangku dari Mayor Phe yang sampai sejauh ini belum pernah dipergunakan secara terbuka menghadapi Belanda. Bagi hian Biauw ada kelegaan tersendiri. *** Malam terakhir setelah berbicara sampai larut malam dengan komandan, keluar dari rumah komandan Hian Biauw melihat Latifah menunggu. Tampaknya ia sudah lama menunggu di situ. Juga ia sudah merasa bahwa penyerbuan oleh kawan-kawannya akan dilakukan segera dalam beberapa hari ini. Karena itu ia menanti di rumah komandan. Ia takut tak sempat lagi menemui hian biauw. Kabar yang tersiar, dalam seminggu lagi pasukan akan turun ke kota. Ini berarti bahwa mereka akan terpencar. Masing-masing dalam waktu dekat akan pulang ke rumah masing-masing. Sendiri-sendiri mereka akan mencoba pulang ke kampung. Kalau keluarga masih ada, kalau belum tercerai-berai. “Latifah, mengapa kau di sini? Mau ketemu komandan?" tanya Hian Biauw. “Tidak. Aku mau ketemu kau� “Akhirnya semua beres," ujar Hian Biauw. Lalu ia menceritakan semuanya. Bagaimana Mayor Mangku yang begitu tegar hatinya jadi lunak ketika kawan-kawan mau menyerang pos

224


penjagaan Belanda di Pandaan. Bagaimana Mayor Mangku membekali mereka dengan amunisi antara lain dengan granat Jepang yang ampuh. Yang pasti meledak tidak seperti yang buatan Tulungagung atau Mrican. “Aku senang tak harus mengkhianati komandan," Hian Biauw gembira. “Lantas sesudah itu kapan kalian akan bergerak” “Subuh nanti. Kami harus segera bertindak. Didi sudah mendapat informasi terakhir bahwa Belanda juga sudah mengetahui sejauh mana perundingan yang dicapai” “Belanda sudah tahu bahwa perundingan sudah mendekati selesai?" tanya Latifah. “Ya. Mudah-mudahan ini bukan siasat Belanda lagi. Kita sudah terlalu sering dikhianati Belanda dengan perundingan. Sejak dari Perang Diponegoro sampai tahun-tahun terakhir, Belanda justru bergerak saat perundingan diteken. Sekarang kita yang akan bergerak. Ini yang disetujui Mayor Mangku...” “Aku tak mengira komandan akan menyetujui begitu gampang rencana kalian. Aku yakin komandan mempunyai siasat lain?” Hian Biauw terkejut. Sejeli itu pikiran Latifah. Satu hal yang ia sendiri tak pernah berpikir. Ia yang kadang berpikir terlalu lugu dan sederhana. Mungkinkah komandan mempunyai siasat tersendiri dalam menghadapi rencana kawan-kawan dan ia sendiri? Dalam hati ia berteriak. Tidak! Komandan tidak akan menyiasatinya. Komandan pasti tidak akan mengkhianatinya. Apalagi, lima orang yang tergabung itu adalah anggota pasukannya yang terbaik, meskipun kadang-kadang agak menjengkelkan karena terlalu sembrono.

225


48 Mayor Mangku memang punya siasat lain. Sejak awal ia memang sudah mencurigai anak buahnya. Ia merasakan itu, tapi tak tahu apa yang akan dilakukan anak buahnya. Baru setelah Hian Biauw mengutarakan secara jujur, ia mulai memperoleh gambaran. Ternyata, diam-diam tujuan anak-anak muda sejalan dengan pemikirannya yang sudah matang dikaji dari segala sudut. Ia juga ingin menyerbu. Belanda yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Membunuh banyak anggota masyarakat dengan mengikat tangan mereka dibelakang. Membungkam mulut mereka dan membariskan mereka di barisan yang paling depan. Rakyat yang ditangkapi dengan sewenang-wenang inilah yang dijadikan ujung tombak patroli Belanda. Kemudian baru barisan Cakra. Strategi Belanda ini lumayan dan serig memberikan hasil yang gemilang. Seringkali pada malam hari barisan pejuang ingin menyergap Belanda yang sedang patroli kecil-kecilan. Mereka menembaki patroli Belanda itu sesudah dekat. Belanda kemudian tak menghadapi pejuang-pejuang yang mereka katakan ekstremis itu. Dengan barisan Cakranya mereka mengelakkan pertempuran dengan barisan pejuang yang pasti mereka menerangkan karena persenjataan yang lebih lengkap. Belanda sengaja meninggalkan korban tembakan barisan pemberontak. Ditinggalkan begitu saja, karena mereka memang tidak punya kepentingan. Yang ditembaki oleh pejuang-pejuang itu adalah bangsa sendiri yang mereka tangkap dan mereka tuduh mata-mata Republik. Kadangkala sengaja diambil keluarga dari pejuang-pejuang itu kalau Belanda tahu siapa yang bergerilya di daerah seperti itu. Seperti di Prigen misalnya, Belanda tahu kalau pimpinannya bernama Mangku itu punya orang tua. Orang tua itu kemudian ditangkap dan dijadikan ujung tombak. Berhari-hari tipu muslihat itu tidak mempan. Tapi satu hari, Mayor Mangku memang menyerbu.

226


Dalam kegelapan malam memang tidak nampak. Tapi yang jelas, setelah Belanda pergi dan yang terbunuh hendak dilucuti senjatanya, ternyata yang mereka bunuh itu adalah bangsa sendiri. Orang-orang desa yang tak bersalah, dan salah satunya adalah orang tua Mangku sendiri. Hanya kekuatan dan kebulatan tekadnya yang membuat ia mampu bertahan menghadapi Belanda. Dalam hati ada dendam kesumat yang tak mudah dicairkan. Meskipun pada lahirnya ia sangat taat pada atasan Pusat, dalam hati ia ingin sekali membalas dendam. Dan semuanya itu, akan ia lakukan pada akhir peperangan ini. Kalau perlu, ia akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menyerbu Belanda. Itu dulu sudah menjadi kebulatan tekadnya. Tapi setelah ia melihat anak-anak muda, ia mempunyai strategi lain. Anak-anak muda ini harus ia dukung. Strateginya harus menyatu dengan strateginya. Karenanya ia diam-diam membantu dengan memberikan senjata yang masih bisa terbilang modern. Karena senjata-senjata itu adalah bantuan dari Surabaya, dari Mayor Phe. Senjata yang ia ketahui hasil rampasan dari Jepang. Ia sendiri juga heran, bagaimana senjata rampasan Jepang ini berada di tangan Tionghoa. Bukankah tak banyak orang Tionghoa yang ikut berjuang di Surabaya. Bukankah waktu markas tentara Jepang di Don Bosco dilucuti semuanya langsung dibagi kepada kantong-kantong republik yang ada di desa-desa yang sedang melakukan perang gerilya sesuai dengan instruksi pusat? Apa yang didapat ia ketahui betul merupakan senjata Jepang. Mengapa masih baru? Apakah Jepang yang sudah kalah, diam-diam mengirikan senjata lewat orang Tionghoa untuk kemudian kembali menjajah bumi tercinta ini? Ah, tak mungkin! Jepang sudah bertekuk lutut. Sekarang mereka mungkin sibuk membangun negerinya akibat pemboman sekutu yang banyak disiarkan pers luar negeri.

227


Strategi Mayor Mangku memang tak pernah diutarakan secara terbuka. Kepada wakilnya Sutedjo, ia hanya mengatakan bahwa pasukan besok akan kembali ke Surabaya. Turun dari Prigen lewat Pandaan lantas masuk ke Porong. Perang sudah selesai. Itu yang diutarakan oleh Mayor Mangku kepada Sutedjo. Tapi dalam hati ia mempunyai strategi lain. Besok pagi, pasti terjadi ledakan di Pandaan. Markas besar Republik yang ada di Pandaan menduga bahwa menjelang Tahun Baru ini mereka tidak akan bisa bersuka ria. Pasukannya pun nanti tidak akan mendapat perlawanan dari Belanda. Karena kalau Belanda menyerbu mereka, itu berarti Belanda sengaja memancing insiden dan perang akan berkepanjangan lagi dengan perundingan sebagai kedok, sebagaimana sifat belanda selama ini. Perundingan selalu dipakai sebagai kedok oleh Belanda. Belanda sudah dapat ejekan dari negara-negara lain mengenai sifatnya ini. Dan dalam konferensi yang sekarang hampir mencapai titik terang, Belanda sudah berjanji lahir batin akan menarik kembali semua pasukannya dan akan mentaati setiap pasal dalam perundingan yang sudah disepakati bersama. Jadi pasukan Mangku besok akan muncul di jalan seperti orang gerak jalan yang bebas. Takkan takut dengan sergapan tentara Belanda, meskipun berjalan di daerah kantong Belanda sesungguhnya satu hal yang cukup berbahaya. Apalagi jika kelompok Hendro Cs bisa melakukan serangan yang fatal terhadap tangsi Belanda. Belanda juga akan marah dan dari situ diharapkan bisa ada pertempuran yang terbuka pada pihak Belanda. Para pejuang turun karena sesuai dengan instruksi pusat untuk kembali ke daerah masing-masing. Mereka dahulu berasal dari Surabaya dan karenanya mereka akan menuju ke Surabaya. Kalau disergap Belanda, mereka tentu akan membalas. Belanda secara strategi internasional berada dalam posisi yang lemah.... ****

228


49 Jam lima pagi, mereka, Hendro dan kawan-kawan sudah berada di pusat kota Pandaan. Mereka menyamar sebagai pedagang ketela dan jagung. Tak mencurigakan karena memang banyak pedagang dari Trawas atau Prigen yang setiap hari membawa barang dagangannya turun ke Pandaan untuk dijual. Di Prigen atau Trawas sendiri jarang ada pembeli. Strategi kemudian disusun sesuai dengan penyidikan Didi. Slamet, Teguh, dan Didi mempunyai tugas menghancurkan pompa bensin, kemudian membakar tangsi militer Belanda yang menyediakan berdrum-drum bensin untuk persediaan. Keadaannya persis seperti di Praban Surabaya dulu, saat memasuki kota Surabaya, kemudian bisa merampas kota-kota lainnya. Sedangkan Hendro dan Hian Biauw sendiri akan berusaha untuk melumpuhkan tangsi militer dengan perlengkapan beratnya, tank dan panser yang berada di jalan menuju Kota Pasuruan. Jika rencana ini berhasil, maka Pandaan akan dikelilingi oleh lautan api. Penduduk tidak akan terkena getahnya, karena tangsi-tangsi dan pompa bensin berada di pinggiran. Sedangkan permukiman penduduk ada di tengah. Jadi ideal untuk menyerbu. Hian Biauw sudah tak sabar lagi. Situasinya sudah mulai gawat. Serdadu Belanda sudah mulai keluar dari kamar tangsi mereka masing-masing. Belum terdengar ledakan dari kelompok Slamet, Didi dan Teguh. Yang disepakati, yang menyerbu pompa bensin harus menyerbu terlebih dahulu. Hendro dan Hian Biauw menunggu. Kalau pasukan di tangsi luar bersiul jika ada perempuan “mracang� yang kebetulan lewat. Laki-laki di mana saja sama kalau melihat perempuan desa. Sama-sama tahu kalau perempuan desa memang ada daya tarik tersendiri. Mungkin saja betisnya yang membunting atau dadanya kenyal. Hian Biauw sebenarnya ingin serdadu-serdadu Belanda itu berada dekat garasi tank dan panser. Karena trek bom

229


sudah ditanam di situ dan setiap saat bisa diledakkan. Ia ingin ledakan itu bukan cuma merusakkan peralatan Belanda tetapi juga membunuh serdadunya. Perang memang kejam. Perang menghendaki kehancuran manusia atau sesamanya. Sudah tak ada lagi perasaan belas kasihan. Yang jadi keinginan cuma satu, membunuh sebanyak mungkin. Tiba-tiba saja dalam menunggu itu Hian Biauw mendapat akal baru. Ia nanti takkan turun ke Bojonegoro. Tapi ia akan naik ke Malang, atau kembali ke Tretes, ke Pecalukan yang dapat ditempuh dalam perjalanan ke Malang sebelum Purwosari. Hendro sendiri juga terbenam pada kegelisahan. Ia juga menunggu tanpa bisa mengerem kegelisahannya. Mengapa kawan-kawan di sebrang sana masih membungkam. Bukankah sekarang waktu yang ditentukan? Perang pada zaman itu memang tak ada jam. Langit yang jadi ukuran mereka. Mungkin juga melihat cahaya langit ini bisa ada tafsiran macammacam. Di pihak Hendro dan Hian Biauw beranggapan bahwa waktu sudah tiba. Tapi pada pihak Slamet, Didi dan Teguh ada anggapan masih belum. Tapi akhirnya tiba juga. Terdengar ldakan beruntun. Masyarakat yang sudah mulai memenuhi pasar jadi kalang kabut. Belum hilang kepanikan itu, mereka kemudian melihat kobaran api dengan asapnya yang hitam pekat. Matahari memang belum memunculkan wajahnya. Suasana masih gelap meskipun orang sudah bisa melihat terang. Kobarn api itu kemudian diselengi dengan ledakan lagi. Satu lagi. Kemudian berentetan seperti orang bermain mercon. Tentara Belanda yang ada di Tangsi Hian Biaw juga panik. Mereka saling tanya dengan suara yang berisik. Tapi cuma sejenak, kemudian mereka sudah bisa mentertibkan diri. Kepanikan dalam waktu yang relatif sangat singkat sudah bisa diatasi. Komandan tangsi segera menyiapkan pasukan yang ada untuk memberikan bantuan. Orang kemudian lari, ribut sendiri, mencari yang sudah jadi tanggung jawabnya. Barisan kuda yang

230


luput dari penyidikan Hendro dan Hian Biauw juga dipersiapkan. Ini yang mengecewakan kedua pemuda itu. Semestinya mereka bisa membuat suasana jadi ribut lagi kalau ledakan bisa mereka lakukan di kandang kuda. Binatang itu nantinya jika sudah kena ledakan di dekatnya pasti akan meringkik, mengangkat kakinya tinggi dan kemudian berlari lintang pukang tak karuan. Suasana akan menjadi tambah panik. Ini yang disayangkan Hendro dan Hian Biauw. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Tak perlu disesali lagi. Sekarang mereka sendiri yang masih menunggu. Keduanya sepertinya sepakat bahwa yang dihancurkan bukan hanya tank dan panser Belanda saja, melainkan juga serdadu mereka. Untuk ini mereka harus menunggu, sampai seluruh barisan disiapkan. Harus diakui oleh kedua pemuda itu, bahwa tentara Belanda adalah tentara yang profesional. Sepertinya mereka itu sudah terbiasa hidup dalam kepanikan, tetap tertib dalam menyusun barisan yang ada. Kedua pemuda itu masih menunggu. Sampai seluruh isi tangsi itu berbaris di muka peralatan mereka. Diam-diam Hendro jadi benci dalam hati. Sebagian dari yang disebut serdadu Belanda ini bukan terdiri dari orang kulit putih. Hampir semuanya terdiri dari orang berkulit sawo matang. Belanda memang sering memperoleh kemenangan perang gara-gara mereka ini. Karena mereka inilah yang mengenal setiap jengkal perjuangan dalam merebut daerah yang dipertahankan oleh para pejuang dengan darah dan nyawa mereka. Hati Hendro tambah mendidih, terlebih kalau ia ingat, bahwa politik adu domba antar suku inilah yang jadi kebijaksanaan Belanda. Perang di Aceh dihadapkan dengan tentara dari Solo dan Yogya. Perang Puputan di Balai dihadapkan dengan serdadu Jawa oleh pihak Belanda. Dengan demikian nama Jawa jadi jelek di mata suku lain. Seolah suku Jawa yang membantu Belanda. Politik memecah belah. Ingin rasanya Hendro maju dan berlari ke depan membawa granat untuk mematikan mereka. Tapi ia pun

231


kemudian sadar lagi, bahwa dalam perang seperti yang dipesankan Hian Biauw, kita harus sabar. Kita tak boleh panas hati meskipun semuanya terlihat dengan mata telanjang kita. Setiap pejuang jika ingin berhasil harus mentaati strategi yang sudah disetujui bersama. Tak boleh bertindak dengan menurutkan perasaan hati semata. Karena sifat menurutkan hati bisa dianggap sikap yang sembrono. Laginya, sikap seperti itu akan membahayakan seluruh kesatuan strategi yang sudah disepakati bersama. Sebenarnya ia tetap menyayangkan bahwa dalam penyerbuan kali ini tidak boleh ada tembakan senapan atau pistol. Karenanya mereka tidak mempersenjatai diri mereka dengan senapan. Mereka hanya membawa granat sebanyak mungkin. Strategi ini juga yang disetujui oleh Mayor Mangku. Mereka membawa granat sebanyak-banyaknya. Senjata mudah diketahui musuh atau mencurigakan. Tapi granat memang cukup ditaruh dalam bakul yang mereka bawa. Ketika mereka melihat komando sudah diberikan dan barisan kuda akan diberangkatkan untuk memberikan bantuan, Hian Biauw menekan trek bom. Sekali, tidak terjadi ledakan. Juga punya Hendro jadi busung ketika ditekan. Padahal tadi mereka sudah memeriksa dengan seksama. Apakah trek bom Jepang juga busung? Sama dengan trek bom dari Mrican atau Tulungagung? Sekali tak meledak. Dua kali. Dan yang ketiga baru meledak. Ledakan itu diiringi dengan lemparan tubuh manusia yang kebetulan sudah dekat dengan tank-tank yang mau diledakkan. Pemandangan jadi “indah�. Semburan api merajarela. Serdadu-serdadu Belanda di tangsi ini menjadi panik. Tanpa komando, Hendro dan Hian Biauw menyerbu mendekat. Lebih dekat lagi. Granat lalu dilemparkan. Terjadi ledakan lagi. Habis dari tempat yang satu mereka lari ke tempat yang lain. Terjadi ledakan granat di mana-mana. Belanda seolah merasa bahwa tangsi mereka diserbu dari seluruh penjuru. Korban pagi itu, tercatat dua ratus serdadu Belanda dan Cakra.

232


50 Bersamaan dengan itu, genggaman bunga ditaburkan di atas peti jenazah Nyonya Phe. Mayor Phe tampak lusuh. Wajahnya tampak seperti ada darah, beku. Ia menyalami dan menyojai setiap orang yang mengantar jenazah istrinya tanpa ucapan kata. Ia yang masih tak tahu apa sebabnya istrinya ditembak. Ia tak bisa mengerti dan ia cuma beranggapan bahwa istrinya melawan ketika ada perampok memasuki rumahnya. Perampokan memang sering terjadi! Cuma ia heran, sesudah menembaki istrinya, mengapa perampok itu tidak menyikat harta bendanya. Mengapa mereka keluar lagi tanpa mengusik sedikitpun harta benda yang terdapat di rumahnya. Seperti guci kuno, patung-patung yang antik atau mereka bisa meminta mas berlian, tanpa perlu membunuh? Sama sekali Mayor Phe tidak mengira istrinya ini bukan bermotif perampokan tetapi benar-benar bermotif politik, karena ia dituduh donatur utama dari gerakan Poh An Tui di Jakarta. Baru-baru ini memang ada bentrokan Poh An Tui dengan pejuang di luar kota Jakarta. Cuma motif serangan itu tak jelas. Mungkin juga mereka cuma ingin membela kampung halamannya. Tapi yang nyata, mereka kemudian berhadapan dengan tentara Republik dan banyak yang tewas. Di sini kemudian ada balas dendam, terutama karena dalam setiap kesempatan, bahwa Mayor Phe adalah orang Tionghoa yang baik yang setia kepada kelompoknya. Yang selalu membantu orang-orang tionghoa yang terjepit. Mayor Phe selalu berusaha untuk membantu Poh An Tui dengan kiriman senjata dari Surabaya. Luar biasa memangnya, usaha dari Deglok untuk mengangkat nama Mayor Phe. Deglok tidak sempat itu sangseng. Ia terlambat mendengar berita kematian Nyonya Phe. Ia baru mendengar sebulan kemudian. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Nyonya Phe sudah terbaring di dalam tanah sebulan. Juga Deglok tidak tahu bahwa ialah pembunuh

233


Nyonya Phe yang sebenarnya. Dia... yang sebenarnya justru ingin berterima kasih pada keluarga itu. Ketika masih di Jakarta dan menerima kabar bahwa Nyonya Phe telah meninggal dunia karena ditembak oleh tiga orang yang memasuki rumah Mayor Phe seperti kesaksian pembantu rumah, Deglok tak bisa menguasai dirinya lagi. Ia sampai membenturkan kepalanya ke lantai ketika soja kui menghadap ke langit. Mendoakan agar arwah Nyonya Phe mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan sesuai dengan amal baktinya. Deglok memang belum mengenal keluarga Mayor Phe secara dekat. Apa yang diketahui hanyalah apa yang dirasakan baru-baru ini, ketika ia berada di penjara dan mendapat bantuan dari keluarga Mayor Phe. Baik langsung maupun lewat teman-temannya. Ia sampai punya modal yang cukup dan mendapatkan kepercayaan dari kalangan orang Tionghoa di Surabaya. Yang menitipkan uangnya kepada Deglok untuk diputarkan di Jakarta. Karenanya di Jakarta, Deglok segera saja mendapat posisi yang cukup kuat dalam dunia bisnis. Semua uang dari Surabaya itu ia tanamkan pada usaha perbankan. Dari mana ia bisa beranggapan bahwa perbankan bisa sangat menguntungkan di kemudian hari, itu semua cuma intuisinya sendiri. Apakah dari sini bisa dikatakan bahwa orang Tionghoa punya bakat dagang sejak lahir? Deglok sendiri, yang sejak wal tidk pernah berkecimpung dalam dunia dagang, kini secara tiba-tiba bisa menanamkan modalnya di satu usaha yang saat itu masih asing bagi orang Tionghoa, dunia perbankan. Orang Tionghoa lebih suka membelikan mas dan menyimpannya di rumah. Tak ada yang tahu. Tapi menyimpan uang di bank? Wah, ini hal yang baru. Tapi Deglok memulai usaha ini dengan penuh keyakinan. Bahkan di Jakarta, berkat ketenaran namanya yang dipublikasikan pers Melayu Tionghoa, ia mendapat dukungan. Juga orang Jakarta ada yang mau menitipkan uang kepadanya. Sehingga kalau semula ia andil dalam

234


bank swasta yang baru buka, kini seluruh saham bank tersebut ia beli hanya dalam waktu yang relatif pendek. Sungguh, satu kegesitan yang luar biasa dari Deglok. Dengan hati yang sedih itulah Deglok berangkat pulang ke Surabaya. Anak-anaknya memang masih ada di Surabaya. Ia dan istrinya saja yang tinggal di Jakarta, sesudah ia mempunyai bisnis perbankan yang mendapat dukungan dari orang-orang Tionghoa di Jakarta dan modal dari orng Surabaya. Setibanya di Surabaya, ia tak segera menjumpai anak-anaknya. Ia langsung saja ke rumah Mayor Phe. Saat itu tampak sunyi. Semua pintu tertutup. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu, di mana pintu depan selalu terbuka semua. Seolah rumah tersebut selalu bersedia menerima siapa saja yang memerlukan bantuan penghuninya, suami istri yang dikenal sangat budiman. Kini suasana yang lain dirasakan oleh Deglok. Ketika bertemu dengan Mayor, ia melihat perubahan yang besar. Wajah yang dahulu selalu berseri sekarang tampak dalam kesedihan yang sangat mendalam. Deglok bisa merasakan. Laki-laki ini telah kehilangan anaknya, entah di mana waktu revolusi Surabaya dulu. Sekarang istrinya dibunuh perampok. Apa yang mau dikatakan dan apa yang bisa dikatakan untuk menghibur laki-laki yang sedih hati ini. Ia cuma bisa soja kui menyatakan ikut berduka cita. Cuma itu. **** Nasib Deglok sendiri tidak begitu baik setibanya di Surabaya. Karena pemberitaan pers Melayu Tionghoa di Jakarta, ia jadi orang yang terkenal. Karena fisiknya yang cacat, tak gampang ia menyembunyikan diri. Orang kenal dia sebagai simpatisan Poh An Tui dan di Surabaya itulah ia ditangkap. Poh An tui sejak saat itu memang jadi lembaran hitam. Di Pasuruan, Probolinggo, terutama di kota-kota kecil, sesudah insiden di di Tangerang. Poh An Tui

235


membubarkan diri. Surabaya juga. Yang tidak mengetahui situasi politik yang berkembang pesat di Indonesia, mungkin bisa tercerminkan dalam dalam sikap Deglok. Orang Tionghoa paling sulit untuk diajak dalam satu gerakan yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan diri sendiri. Sesudah kemerdekaan dan tahuntahun pertamanya, mereka memang menyadari, bahwa situasi mulai berbalik. Kini mereka, terutama yang ada di Surabaya, harus mengakui kebenaran pendapat Oen Tjhing Tiauw. Bahwa bagi mereka yang lahir di Indonesia, tak ada pilihan lain, selain mencintai negeri sebagai tumpah darah mereka yang baru. Yang harus mereka abdi dengan setulusnya. Sebelumnya ketika negeri ini mulai merdeka, sulit sekali untuk menyadarkan mereka. Negeri ini adalah tempat mereka mencari uang. Biarpun yang kelahiran sini, yang disebut sebagai baba, sudah tak punya lagi gambaran tentang Tiongkok yang masih diakui sebagai negeri tumpah darah mereka. Tapi itulah gambaran tentang masyarakat Indonesia yang pada akhirnya karena merasa bahwa dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka dapat dalam alam kolonial, merasa tak ada persamaan lagi. Sebagai minoritas, dahulu mereka dianakemaskan ketimbang yang pribumi. Kini mereka harus mengakui bahwa sebagai minoritas, mereka memang tidak memiliki hak-hak yang sama lagi. Kalau dulu, ketidaksamaan itu menguntungkan mereka, karena mereka dianggap warga negara kelas dua dan pribumi kelas tiga, kini sebaliknya, pribumi jadi kelas satu dan mereka menjadi kelas yang kesekian, bukan cuma kelas dua...!!

236


51 Pemahaman akan perubahan situasi seperti itu tidak gampang. Terutama sekali karena orang Tionghoa itu sendiri memang sebelumnya sudah terpecah belah. Ada kelompok yang memihak Tiongkok, yakni kelompok Sin Po (diambil dari majalah Melayu Tionghoa yang terkenal) dan yang kedua ialah kelompok Packard yang kebanyakan menempuh pendidikan Belanda dan Barat. Tampaknya kelompok yang kedua ini yang agak berat dalam penyesuaian dengan keadaan yang selalu berkembang. Deglok sendiri tampaknya dengan bisnisnya yang baru berada dalam posisi keduanya, baik dalam kelompok Sin Po maupun Packard tadi. Tak mengherankan, karena latar belakang Deglok memang serba semrawut. Dari orang yang statusnya cuma tukang pukul ia sekarang disebut sebagai tauke, tuan besar. Bisnis Deglok memang berhasil. Sayangnya ia tak mengerti tentang perkembangan situasi yang berjalan dengan cepat. Ketika ditangkap, mula-mula ia berteriak marah. Tapi kali ini ia tak bisa berbuat lain. Ia harus menurut. Karena dengan segera ia mendapat firasat, bahwa penangkapan atas dirinya ini tak wajar. Hanya atas dasar sentimen dan iri hati saja. Orang memang iri atas suksesnya yang gemilang di Jakarta, karenanya mereka memakai tangan-tangan “pemerintah� untuk meringkusnya. Meskipun sebenarnya, untuk Deglok tidak akan ada penyidikan secara resmi. Status Deglok tak menentu. Orang seperti Deglok dewasa ini banyak. Jika lain pendapat, ada iri hati dan kebetulan kita ada koneksi kita menjatuhkan orang tersebut dengan alasan macam-macam. Yang paling gampang ialah alasan politik. Lucunya soal Poh An Tui ini Deglok sama sekali tak tahu. Ia cuma tampaknya mengetahui masalah tersebut secara mendetail, karena ia sering mempublikasikan nama Mayor Phe. Selebihnya ia tak pernah tahu. Karenanya ketika ia ditangkap dengan tuduhan Poh An Tui ia jadi bengong.

237


Deglok mengalami masa penahanan tanpa pemeriksaan dalam jangka waktu yang lama. Selama itu ia tak berhasil mengontak orang luar. Tapi ia yakin bahwa usahanya berkembang dengan baik. Semula pemegang saham yang lain beranggapan bahwa Deglok sudah mati. Tapi akhirnya, setelah tahun enam puluhan situasi mulai berubah dan pengaruh RRC mulai tampak, Deglok mulai boleh dibesuk. Tadinya ia dipindahkan dari tahanan di stu kota ke kota yang lain, dengan kadang-kadang ia sama sekali tak tahu, apa nama kota tempat ia ditahan. Deglok persisnya dibebaskan pada tahun 1963. Dalam usia yang sudah di atas lima puluh, ia tiba-tiba menghadapi dunia luar yang sudah berubah. Surabaya saja sudah berubah banyak. Gedung White Away sudah berganti menjadi toko SIOLA. Bekas-bekas puing-puing pertempuran di Alun-alun Contong sudah berubah menjadi tempat bioskop. Juga Kapasan sudah berubah. Oen Tjhing Tiauw yang dulu dikenalnya dengan baik, sekarang sudah menjadi orang tua yang bertubuh gemuk. Menjadi agen berbagai surat kabar dan majalah yang terkenal, Star Weekly. Kehidupannya sudah mapan. Yang paling mengharukan Deglok setelah ia keluar menghirup udara bebas adalah kenyataan bahwa ia menjumpai anak-anaknya sudah besar. Bahkan sudah ada yang kawin dan memberinya cucu. Yang paling bungsu sudah di fakultas kedokteran tingkat empat. Sudah pasti nantinya, karena ternyata ia mahasiswi yang pandai. Ia pun jadi heran ketika mengetahui ahwa sekarang setelah keluar dari tahanan, ia merupakan orang yang kaya. Istrinya yang selama ini menggantikan kedudukan sebagai seorang pemimpin bank yang cukup tersohor di Jakarta. Sekeluarnya Deglok ia kemudian kembali memimpin bank. Sampai pada tahun 1985 Deglok masih terlihat di Jalan Kapasan Surabaya. Buaya-buaya Kapasan sekarang memang sudah tidak ada lagi. Rumah Mayor Phe juga sudah berganti dengan gedung bertingkat yang bukan milik Mayor Phe lagi, yang diketahui Deglok meninggal

238


dunia tahun 1979. Nostalgia tentang Kapasan memang mempunyai arti yang hebat pada diri Deglok. Banyak riwayat masa lalu yang sering dikenangnya. Tampaknya ia merasakan satu kehilangan dalam batinnya sekarang. Ia merindukan seorang sahabat yang baik, yang jadi tuan penolongnya, yang secara tidak langsung telah menjadikan dirinya seperti sekarang. Kapasan sekarang jadi jalan yang sempit. Jadi pusat bursa mas yang terkenal di Surabaya. Kapasan tak lenggang lagi seperti dulu. Apa yang disebut dokar tak ada lagi. *** Dan inilah akhir cerita tentang Mayor Phe. Sepeninggal istrinya tercinta, beberapa bulan kemudian Hian Biauw anaknya pulang. Ia tak sampai hati melihat kesedihan anaknya ditinggalkan ibunya. Hian Biauw sebenarnya ingin membahagiakan kedua orangtuanya, dengan mengajak mereka hidup bahagia di desa, jauh dari keramaian kota smbil berbakti kepada kepentingan rkyat di desa. Semua cita-cita ini pernah diutarakan pada Latifah, yang sejak pertempuran di Pandaan, tak pernah dijumpai lagi. Ia sudah sering bertanya kepada orang-orang di Malang. Tapi satu pun tak tahu siapa ayah Latifah. Ia pun seperti halnya yang lain, memang tak pernah bertanya tentang keluarga masing-masing. Tiap pejuang kebanyakan lebih suka menutup diri. Tidak bercerita tentang keluarga. Seolah hidup ini hanya apa yang harus mereka jalani sekarang ini saja. Soal cinta keluarga dan lainnya tidak pernah mereka utarakan. Kecuali Hian Biauw dan Latifah. Sering mereka bercerita. Tapi ini pun hanya terbatas pada diri mereka sendiri. Tak pernah ada cerita tentang keluarga. Paling-paling hanya sebagai ilustrasi saja. Sebagai pelengkap. Hidup seperti Hian Biauw memang serba mengharukan. Ia berangkat dari anak orang kaya dan ternama di Surabaya. Ikut bertempur dalam pertempuran di Surabaya. Ikut mendengarkan Bung Tomo berpidato berapi-api tiap sore hari. Pernah

239


melihat Ketut Tantri di Surabaya, perempuan Amerika yang saat itu dikagumi banyak pemuda. Setelah pertempuran di Pandaan yang bisa disebut sebagai pertempuran terakhir yang dimenangkan, ia memang benar menuju ke Malang. Dri sana ia membelok ke kiri dan naik terus sampai desa Pencalukan melalui jalan setapak. Belanda tak sempat mengejar. Beda dengan Hendro yang dlam upayanya melarikan diri ke Surabaya sempat bentrok dengan pasukan Belanda yang ada di Kasri. Terjadi tembak-menembak. Tapi apa daya Hendro. Ia kemudian tertembak perutnya. Sampai tiga jam ia menunggu ajalnya. Ia tewas di pinggir sawah. Tak ada orang yang mengenalnya atau menguburkannya. Ia termasuk dalam kelompok pahlawanpahlawan yang tidak dikenal dikemudian hari. Yang melarikan diri naik kembali ke Prigen masih selamat. Didi, Teguh, dan Slamet. Mereka ke Trawas lantas berusaha ke Bojonegoro. Tapi di tengah perjalanan mereka mendengar bahwa pertempuran benar-benar sudah usai. Belanda sudah menarik semua pasukannya. Kita sekarang sudah berdaulat penuh.

240


52 Setahun Hian Biauw berada di Pecalukan. Ia kemudian turun ke Surabaya. Sekarang ia kaget betul-betul. Rumah milik orang Belanda sekarang sudah jadi milik orang Tionghoa semuanya. Dalam luapan kegembiraan akan berjumpa dengan kedua orang tuanya ia mengalami gegar budaya ketika mengetahui kematian ibunya beberapa tahun yang lalu. Ia kemudian mengajak ayahnya ikut ke Pecalukan. Disana ayah dan anak bekerja bersama. Ayahnya mempelajari penduduk bagaimana menata perekonomian secara gotong royong yang kemudian dikenal dengan nama koperasi. Sedangkan Hian Biauw dengan bantuan keuangan orang tuanya mendirikan sebuah sekolah, sekolah dasar. Menurut pendapatnya, anak-anak desa, minimal harus mengenyam pendidikan dasar. Agar mereka bisa melek huruf dan tahu abjad. Bisa membaca dan menulis. Konflik batin yang dialami oleh Hian Biauw adalah pada sekitar tahun 1959-an. Waktu itu ada gerakan untuk mengusir semua orang tionghoa dari pedesaan. Orang tionghoa hanya diperbolehkan hidup di kota besar atau kota tingkat II saja. Agar dengan demikian mereka tidak menjadi penyaing dari kehidupan rakyat di desa, yang tingkat perekonomiannya lemah. Gerakan itu kemudian terkenal dengan nama PP 10. Mula-mula Mayor Phe sangat terkejut dengan adanya peraturan itu. Ia yang sudah belasan tahun harus melepaskan semuanya yang sudah dirintis, sekedar untuk membina rakyat di pedesaan tahu alfabetis dagang. Sekarang ia harus pergi dari desa itu. Desa di mana penduduknya sudah menganggapnya sebbagai orang sendiri dan ia juga sudah merasa sebagai bagian utuh dari mereka. Bagi Hian Biauw persoalannya lain. Ia menjadi marah. Kemudian ketika muncul peraturan lainnya, yang lebih menghina dirinya adalah berlakunya perundingan antara Chou en Lai dan Subandrio mengenai pelaksanaan dwikewarganegaraan antara dua

241


negara. Sekarang mulai diurus bahwa tidak ada oarng Tionghoa di Indonesia yang boleh punya kewarganegaraan rangkap. Mereka harus memilih, terus jadi warga negara Indonesia atau menolak warga negara Indonesia untuk kembali warga negara RRC. Ini adalah untuk keduakalinya soal kewarganegaraannya diusik. Yang pertama dulu tahun lima puluhan. Tapi waktu itu ia masih bisa menerima. Ia beranggapan dalam tertib administrasi memang harus dibenahi, soal kewarganegaraan itu. Pemerintah Indonesia memang harus tahu berapa jumlah penduduk, warga negaranya. Tapi yang sekarang, sesudah Indonesia merdeka lebih dari limabelas tahun, mengapa masalah itu masih tetap diusik? Tampaknya ia tak bisa menerima kenyataan ini. Tapi bagi Mayor Phe masalah ini mau tak mau harus dihadapi dengan penuh ketabahan. Lucu memangnya, mereka yang sudah bertahun-tahun hidup di desa terpaksa harus menandatangani banyak berkas-berkas untuk memilih kewarganegaraan Indonesia. Bagi Mayor Phe juga berarti ia harus pindah dari Pecalukan. Tak boleh lagi hidup disana. Tragis! Surabaya ternyata tak menarik lagi bagi Mayor Phe. Hawa yang panas sudah tak terbiasa lagi bagi dirinya yang sudah ada umur. Ia ingin pindah ke Malang. Di sana masih ada beberapa anggota keluarganya. Harta benda ia masih punya dan itulah yang kemudian diikutkan dalam usaha pertembakauan bersama beberapa orang yang dahulunya sudah dikenal Mayor Phe, dari orang yang punya jabatan tinggi di kalangan orang tionghoa jaman sebelum perang, kemudian hidup sebagai rakyat jelata sesudah ditinggalkan istrinya kini kembali ke lingkungan Tionghoa. Mula-mula ia merasa aneh, harus menghadapi orang-orang Jawa bukan lagi sebagai sahabat tetapi sebagai teman seperjalanan yang tidak saling sapa. Ia ingin sekali bisa memiliki watak tidak ada dendam.

242


Tapi PP 10 baginya memang cukup membuat hatinya tawar. Ia bukans aja harus meninggalkan desa, dengan kehidupan yang sangat disukai, tapi juga ia harus meninggalkan harta bendanya yang tak boleh dibawa serta ke Malang. Hampir saja terjadi insiden, ketika anaknya Hian Biauw melawan, ketika mereka tidak boleh membawa kendaraan tua Chevrolet tua tahun 1952. Satu-satunya kendaraan yang selama ini dipakai untuk kegiatan koperasi. Uang Mayor Phe yang ada di koperasi pun tidak boleh diambil. Pokoknya ia merasa tidak adil. Tapi dalam upaya pemerintahan menata kembali dunia perekonomian yang mantap, korban selalu ada. Kali ini, seperti dulu, lagi-lagi orang Tionghoa yang jadi korban. Mengapa? Apakah semua peraturan tidak bisa berjalan tanpa menyakiti kelompok lain? Bukankah peraturan dalam bidang ekonomi tujuannya adalah untuk memberikan kemakmuran kepada seluruh rakyat. Bukan kemakmuran untuk satu golongan, dan kemelaratan untuk golongan yang lain. Di Malang, dengan menyertakan semua hartanya pada spekulasi tembakau, kemapanan mulai diperoleh kembali. Mayor Phe mulai menghitung kekayaannya lagi. Apa yang selama sepuluh tahun tak pernah dipikirkan sekarang dilakukan kembali. Sekarang ia dagang lagi. Dalam situasi seperti inilah Baperki, bangkit, sebuah badan yang secara de facto membantu orang Tionghoa dalam mentaati peraturan pemerintah, terutama dalam penyelesaian masalah dwikewarganegaraan. Baperki bukan saja membantu menggampangkan prosedurnya, tetapi mereka juga memberikan pelayan gratis kepada orang-orang Tionghoa yang tidak tahu bagaimana cara mengisi formulir yang amcam-macam itu. Baperki mendapat hati dalam mata orang tionghoa. Kelompok ini merasa punya cantelan. Sesudah pada Partai Tionghoa Indonesia mereka tak bisa mendapat apa-apa lagi. Apalagi PTI ini kemudian membubarkan diri. Selesai mengurus penyelesaian

243


dwikewarganegaraan, Baperki mulai melebarkan sayapnya. Ia mulai mau menggarap dunia pendidikan. Dunia pendidikan menurut mereka sangat penting buat kelompok Tionghoa. Karena kelompok ini meskipun sudah memilih kewarganegaraan Indonesia, tetap mendapat perlakuan yang tidak sama. Ini sudah barangtentu cuma perasaan mereka saja atau sengaja dihembuskan oleh mereka yang tidak senang kepada pemerintah dan mencoba merangkul kelompok Tionghoa yang dianggap punya kemampuan penting dalam bidang perekonomian. Sayap Baperki akhirnya jadi lebar betul-betul, ketika badan tersebut mempunyai niatan untuk membuka sebuah universitas yang disebut mereka dengan nama Res Publica. Mayor Phe dalam hal ini sangat tertarik dengan tujuan yang dianggap mulia itu. Mulia menurut pendapatnya, karena pada akhirnya, pikiran dan pendapatnya juga berbeda dengan apa yang dicita-citakan dulu semasa di desa! Orang Tionghoa menurut pendapatnya tidak bisa menggantungkan nasibnya pada orang lain. Orang Tionghoa harus bisa dan mampu memecahkan masalah sendiri. Harus mandiri. Keyakinan ini sudah barang tentu merupakan keyakinan yang bagus, asal saja di balik keyakinan itu tidak ada persoalan politik. Bahwa orang Tionghoa di Indonesia hendak hidup secara menyendiri dan perlahan tapi pasti nanti meminta sebagai pulau khusus untuk orangorang Tionghoa.

244


53 Sikap semacam ini sudah barang tentu tidak betul. Sangat bertentangan dengan prinsip Sumpah Pemuda yang sudah jadi kebulatan tekad bangsa kita untuk menyebut diri satu. Sikap yang sudah dipunyai bangsa kita sejak tahun 1928. Tapi bagi orang-orang seperti Mayor Phe yang mempunyai modal dan keyakinan teguh berjuang untuk kepentingan masyarakat, tidak melihat kemungkinan dampak negatif itu dari segi politisnya. Yang mereka ketahui cumalah bahwa pendidikan itu penting bagi kelompok mereka. Sebab tanpa bersekolah kelompok itu lambat laun akan menjadi tambah bodoh. Kalau bodoh mereka gampang ditipu dan diperlakukan tidak wajar. Ini sama dengan keyakinan Hian Biauw yang diperoleh sejak ikut dalam revolusi sampai kemudian ia mengajar di sekolah dasar di tempat yang paling ujung dari Trete, Pecalukan. Yang hawanya dingin, yang tak ada sekolah desanya milik pemerintah. Yang cuma ada sekolah milik Hian Biauw. Sekarang, dengan diusirnya orangorang Tionghoa dalam kehidupan desa, sekolah itupun terlantar. Mayor Phe menyadari, bahwa akhirnya rakyat yang tidak berdosa yang jadi korban. Tak ada guru yang bisa meneruskan sekolah. Ketika Hian Biauw tidak boleh mengajar lagi. Meskipun sebenarnya ada dispensasi untuk Hian Biauw. Tapi pemuda ini yang sekarang sudah ada umur dan tetap membujang, tidak ingin ada perlakuan istimewa untuk dirinya sendiri, sekedar karena ia dulu ikut berjuang bersama pejuang. Ia tak ingin segala tindak tanduknya diukur dari perjuangan masa silamnya. Yang penting ialah masa sekarang, bukan masa lalu. Mayor Phe ikut aktif menjualkan saham-saham Baperki untuk mendirikan sebuah universitas yang nantinya bisa menampung anak-anak Tionghoa yang sudah jadi warga negara yang tidak diterima di sekolah negeri. Pada waktu itu memang agak sulit bagi orang Tionghoa untuk menempuh pendidikan nasional, yang

245


diselenggarakan oleh pemerintah. Di mana letak diskriminasi ini sulit untuk ditelusuri. Karena hitam atas putih, diskriminasi itu tidak pernah jelas tertulis. Secara hukumnya tidak ada. Dan ini menyakitkan mereka yang benar-benar ingin mengabdikan diri. Gerakan dari Baperki ini tidak mendapat restu dari Oen TjhingTiauw yang saat itu sudah berkembang menjadi seorang tokoh sosial yang nasionalistis. Ia tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh Baperki. Kesadaran tunggal harus dipompakan kepada setiap orang Tionghoa yang jadi warganegara Indonesia. Bahwa mereka tidak boleh hanya secara kertas menjadi warganegara Indonesia. Mereka harus ikut berjuang memberikan warna di alam demokrasi yang sama-sama kita tegakkan ini. Cuma apa bisa? Dengan demikian, meskipun Oen Tjhing Tiauw mendapat dukungan yang kuat dari kelompok pemuda yang sadar dan mencetuskan Piagam Asimilasi di Bandungan, Ambarawa, Baperki tetap jalan terus. Sayap tetap dibentangkan. Di beberapa tempat sudah didirikan Universitas Res Republika. Pusatnya ada di Jakarta. Tapi di Semarang, Surabaya dan Malang juga berdiri cabang-cabang dengan bantuan orang Tionghoa yang kaya. Yang tahunya cuma ingin membantu kelompok mereka sendiri yang tidak bisa melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan nasional karena sistem penimbangan yang ditentukan oleh pemerintah secara de facto. De jure tidak ada perbedaan. Tapi pada penerimaan mahasiswa baru, selalu ada ketimbangan. Jika orang Jawa dan suku lainnya diterima sebanyak 100 orang, maka untuk kelompok Tionghoa cuma diterima 10 saja. Jadi perbandingannya 1:10. Mestinya kenyataan yang diambil pemerintah itu tidak boleh membuat orang Tionghoa menjadi marah. Jika diambil perimbangan penduduk, antara penduduk pribumi dengan penduduk Tionghoa, jumlahnya tidak sebesar 1:10 tadi. Karena jumlah penduduk yang 75 juta jiwa, orang Tionghoa palingpaling cuma dua juta jiwa. Berapa perimbangannya? Bukankah apa

246


yang dilakukan pemerintah 1:10 sudah bijaksana dan kelewat bijaksana? Dunia pendidikan Baperki yang banyak disponsori oleh Mayor Phe dan kawan-kawan yang dengan telaten mereka rabuki setiap saat, di pusatnya ditaburi dengan benih benalu. Situasi politik berkembang dengan sangat cepat dalam menata kehidupan orang Tionghoa di Indonesia, mendapat tantangan yang hebat dari kalangan anak-anak muda. Mereka yang kembali dari pendidikan di luar negeri membentuk satu kelompok yang diberi nama Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa. Lembaga ini mendapat dukungan dari beberapa tokoh masyarakat, terutama dari ABRI. Karena merasa lemah menghadapi Baperki yang sudah kuat dan mapan, mereka mendapat pengayoman dari pihak militer. Lembaga ini bahkan pernah berhimpun dalam SUAD V. Tiap bentuk eksklusivisme yang dilontarkan oleh Baperki ditentang anak-anak muda. Sebenarnya bukan cuma anak-anak muda. Karena tokoh-tokoh tua seperti Oen Tjhing Tiauw dan Auwyong Peng Koen ikut serta di dalamnya. Menghadapi kekuatan angkatan muda yang mencoba menjegal programnya bersandar pada kekuatan Angkatan Darat yang anti komunis dan bermain mata. Di daerah orang tak pernah tahu lirikan ini. Situasi perpecahan antara Baperki dan Angkatan Muda Tionghoa tidak selesai, membuat Oen Tjhing Tiauw menjadi sedih. Lewat Mayor Phe ia sering mengadakan pendekatan untuk mencari persesuaian paham. Namun usaha-usaha ini tidak pernah berhasil. Karena Mayor Phe sama sekali tidak tahu menahu tentang persoalan Baperki. Ia sendiri aktif di Baperki bukan untuk mengembangkan Baperki sebagai satu organisasi sosial yang bernafaskan politik. Ia hanya duduk dalam bidang pendidikan saja. Perkembangan di bidang pendidikan ini memang tak terbendung. Mutu perguruan itu pun terjaga dengan baik. Terutama sekali, karena Hian Biauw sendiri

247


duduk memegang manajemen perguruan tinggi itu. Semua ditata dengan baik sampai... Tiba-tiba saja bagai bunyi guntur di siang hari, dari Jakarta terdengar berita bahwa komunis mengadakan “kupdeta�. Usaha mengambil alih kekuasaan dengan memberontak. Situasi ini berkembang terlalu cepat. Daerah yang tidak tahu apa-apa jadi kalang kabut. Hian Biauw dan beberapa tokoh Res Publica ditangkap. Untung mereka segera ditangkap, sebelum terkena amukan massa. Mayor oleh Koramil. Karena usianya sudah agak lanjut ia mendapat perlakuan yang tidak begitu keras. Ia masih boleh dibesuk oleh sanak keluarganya. Untung juga ia ditahan di Malang. Bertahun-tahun ia ditahan di Malang tanpa satu proses tertentu. Teman-teman yang sama-sama ditangkap banyak didengarnya kemudian diangkut ke luar pulau. Samar-samar ia mendengar pulau Buru. Sebagai orang Tionghoa yang sudah tua, Mayor Phe pasrah. Ia sama sekali tidak melawan pada nasib yang dideritanya di tahanan. Seperti dulu ia juga tidak mengeluh ketika istrinya ditembak orang. Ia bahkan cuma beranggapan bahwa istrinya ditembak perampok. Tak punya dugaan sama sekali kalau istrinya justru ditembak oleh pejuang yang fanatik. Selama di tahanan itu ia tak mengetahui bagaimana nasib anaknya. Juga familinya tak ada yang tahu. Semuanya cuma bisa mengharapkan bahwa Hian Biauw selamat. Tak lebih dari itu. Kapan mereka bisa berkumpul kembali mereka tak punya bayangan. Tak mau bermimpi untuk satu pertemuan yang entah kapan bisa terjadi...

248


54 Tahun 1975...! Rumah tahanan di Malang dibersihkan gedungnya. Yang kotor-kotor dikapur. Menurut rencana seminggu lagi bakal ada inspeksi dari luar negeri untuk melihat tahanan-tahanan politik yang ada di sana. Desas-desus beredar bahwa para tahanan politik yang terlibat dalam gerakan yang disebut G30S akan segera dibebaskan. Ini cuma desas-desus, tapi sama sekali tidak membuat Mayor Phe jadi gembira. Apa artinya sebuah kebebasan baginya yang sudah tua begini, yang tak tahu lagi kemana rimbanya Hian Biauw anak satu-satunya. Hari yang dinantikan tiba. Kunjungan peninjau dari luar negeri tiba. Dari PBB sengaja datang untuk meninjau para tahanan politik. Tiga orang kulit putih di kawal seorang tentara yang tampaknya berpangkat Mayor Jenderal. Tapi Mayor Phe tak tahu dengan pasti kepangkatan dalam tentara. Tapi ia tahu betul siapa orang itu. Tentara itu adalah Mayor Mangku yang tampaknya masih seperti dulu wajahnya. Cuma sekarang lebih gemuk bahkan agak gendut. Mayor Mangku yang melihat tahanan berbaris juga melihat orang yang berperawakan tinggi kurus dan sudah tua itu. Ia mencoba mengingat sejenak lantas keluar dari mulutnya keluar kata-kata: baba... baba. Ya, sekarang ia ingat. Laki-laki tua itu adalah Mayor Phe, orang tionghoa yang pernah memberikan senjata untuk para pejuang di tahun revolusi dulu. Ketika pandangan mata mereka bertemu, ia tak sempat menyembunyikan keharuannya. Ia segera melangkah meninggalkan utusan yang harus dikawal. Ia segera menghampiri Mayor Phe. Memeluknya dengan penuh haru. Semua yang melihat jadi bengong! ***

249


Dalam perjamuan ramah-tamah, Mayor Phe diundang satu meja dengan utusan luar negeri, kepala rumah tahanan dan Mayor Jenderal Mangku. Tidak seperti dulu, Mayor Phe kini tampak tak bersemangat. Tambah ada rasa haru dalam diri Mayor Mangku. Ia berjanji malam nanti akan kembali ke rumah tahanan ini. Dan malam harinya ia kembali. Yang dijumpai adalah kepala rumah tahanan, Letnan Hamid. “Sejak tahun berapa ia ditahan disini?" tanyanya. “Menurut catatan sejak tahun 1965 Jenderal” “Ada arsip pemeriksaan?” “Saya tahu semua mereka satu-satu Jenderal. Jenderal bisa bertanya” “Apa tuduhannya” “Anggota Baperki Jenderal” “Terlibat dalam gerakan komunis PKI?” “Ia selalu menyangkal Jenderal” “Tidak ada bukti satupun?" tandas Mayor Jenderal Mangku. “Dulu sudah sering diperiksa Jenderal” “Baperki...," ujar Mayor Jenderal Mangku seolah pada diri sendiri. Ia kemudian berjalan hilir mudik di ruang kerja komandan rumah tahanan itu. Seperti dulu, rasanya banyak rahasia yang tersimpan di benaknya. “Bawa tahanan itu kemari," katanya kemudian. “Jenderal mengenalnya dengan baik” “Ya," jawab Jendral Mangku singkat. Ia kemudian menceritakan siapa tahanan itu dan bagaimana dengan keberaniannya pernah membantu para pejuang di saat yang kritis bagi para pejuang. Saat pejuang sama sekali tidak punya senjata. “Sayang orang seperti itu kemudian jadi komunis, jenderal," kata Letnan Hamid.

250


“sehari orang memang bisa jadi pahlawan, sehari kemudian orang bisa jadi pengkhianat," jawab Mayor Jenderal Mangku. Wajahnya tetap tak berubah. Seperti tak ada emosi yang tampak. Padahal dalam hati berkecamuk macam-macam perasaan. ***

251


55 Dengan piyama lorek dan sandal jepit warna merah, Mayor Phe memasuki kantor komandan rumah tahanan. Ia sudah tahu, bahwa komandan Mangku pasti sudah menunggunya. “Duduk," Ujar Mayor Jendral Mangku mempersilakan Mayor Phe. Keduanya duduk berhadapan. Tak ada yang bicara. “Bagaimana Nyonya," tanya Mayor Jendral Mangku. Ia sama sekali tak tahu bahwa istri Mayor Phe sudah meninggal. Dulu sekali ia pernah mendatangi rumah Mayor Phe. Tapi rumah itu sudah milik orang lain. Ada memang rumah Mayor yang lainnya. Tapi rumah Mayor The. Sedangkan yang dulu rumah Mayor Phe. “Sebelum kedaulatan ia sudah meninggal," jawab Mayor Phe lirih. Seolah ia masih mengenang kenyataan tempo dulu, ketika lakilaki yang sekarang berpangkat Mayor Jendral ini datang ke rumahnya dengan pakaian yang lusuh dan keadaan yang tak teratur. Dunia memang sudah berubah. Tapi mereka pernah mengenal dalam keadaan saling mencekam ternyata tidak berubah. Mayor Jendral Mangku memejamkan matanya kemudian menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Seolah ia ingin menyembunyikan kesedihan hatinya mendengar berita yang buruk itu. Seolah ia ingin membayangkan perempuan tionghoa yang cntik dan anggun itu. Perempuan yang pernah membuatkan sendiri laukpauk sayur lodeh dengan sambel terasi yang sangat enak yang tak kalah dengan masakan orang Jawa lainnya. Hatinya lebih tertusuk, ketika ia mengetahui bahwa perempuan itu mati karena ditembak oleh “perampok”. “Apa yang bisa saya bantu sekarang," tanya Mayor Jendral Mangku kemudian setelah sesaat mereka saling bercerita. Mayor Jendral Mangku gembira bahwa Mayor Phe mendapat perlakuan yang baik dan demikian rata-rata tahanan yang lainnya.

252


“Saya ingin Mayor mencari tahu tentang anak saya” “Tiba-tiba saja Mayor Jendral Mangku teringat Hian Biauw. Nama ini sudah lama ia lupakan, karena anak buahnya termasuk mereka yang “mbandel” tetapi yang kemudian mendapat restunya. Sayangnya di antara yang “mbandel” itu cuma tiga orang yang sekarang diketahui. Yang lain, dua orang, Hian Biauw dan Hendro sama sekali tidak diketahui. “Apakah ia juga ditangkap?” Mayor Phe mengangguk perlahan. “Di mana dia” “Saya tidak tahu Mayor," Mayor Phe tetap menyebut Mayor Jendral Mangku dengan sebutan Mayor seperti dulu dan Mayor Jenderal Mangku rasanya tak keberatan. “Apakah ia terlibat dalam gerakan komunis?” Mayor Phe menggeleng lemah lagi. “Kami sekeluarga bukan komunis," katanya kemudian. Lalu lanjutnya: “Kami tak pernah tahu apa ajaran komunis itu” Mayor Jendral Mangku diam! Malam itu mereka bercengkrama sampai pukul lima pagi. Tak terasa. Saling bercerita tentang masa yang lampau. Dari lakilaki tua ini Mayor Jenderal Mangku baru tahu bahwa seusai perang, Hian Biauw memang menepati janjinya untuk menjadi guru di desa. Omongan Mayor Phe sangat tertekan perasaannya ketika laki-laki tua itu berkata: “Hian Biauw tampaknya kecewa bahwa ia harus memilih warga negara Indonesia. Ia sudah merasa menjadi bagian dari negara ini. Ia juga sudah berada di desa sejak tahun 1945. Apalagi kemudian ia karena dianggap orang Tionghoa tidak boleh berada di desa. Padahal kerjanya di sana adalah untuk kepentingan orang desa. Kami

253


rugi banyak dan tak pernah mendapat untung. Ini nasib kelompok kecil...” “Bapak menyesal?" tiba-tiba saja Mayor Jendral Mangku menyebut bapak kepada Mayor Phe. Mayor Phe menggeleng. “Tidak. Saya tidak pernah menyesal. PP 10 saya anggapan merupakan peraturan yang terpaksa diambil oleh pemerintah. Pemerintah tak punya pilihan lain. Kalau Mayor percaya, saya benarbenar rtak menyesal. Bahkan saya sudah lupa kalau saya pernah membantu perjuangan dengan senjata. Benar... saya tak pernah mengingat semua itu. Dalam penyidikan yang dilakukan, saya juga tidak pernah menceritakan bahwa saya pernah menyumbang kepada para pejuang...” “Mestinya itu dikatakan” “Saya rasa tidak perlu. Pejuang banyak yang mengorbankan nyawa. Dibandingkan dengan mereka, apa arti bantuan saya itu” “Bantuan bapak berarti banyak bagi kami saat itu” Mayor Phe senyum. Ada rasa getir dalam senyumnya. Tapi sebagai seorang bekas pemimpin orang-orang Tionghoa di Surabaya masih tampak sisa-sisa kewibawaan masa lampaunya. “Tolonglah cari tahu tentang anak saya," katanya memelas. Rasanya cuma itu harapannya. “Saya akan mencoba sebisa saya” *** Berkat bantuan Mayor Jendral Mangku, tahun 1976 Mayor Phe dibebaskan. Itu pun sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah dalam memperlakukan tahanan bagi mereka yang terlibat G30S. Bahkan yang di pulau Buru pun secara berangsur sudah dibebaskan. Belum berhasil menyidik tentang Hian Biauw. Sebab tugasnya makin menyita seluruh waktunya. Ia terlibat dalam urusan untuk

254


membebaskan semua tahanan politik serta pembinaan bagi mereka dikemudian harinya. Bukan kerja yang gampang. Mayor Phe masih sempat bertemu dengan Mayor Jendral Mangku dua kali lagi di Jakarta. Di tahun 1979 ia meninggal dunia dengan tenang di rumah sakit Sawahan, Malang. Bukan karena apaapa, tapi karena penyakit tua. Tampaknya ia meninggal dunia dengan tenang. Ingatannya masih kokoh dan ia masih menantikan anaknya pulang... *** Dengan kematian Mayor Phe, habislah tokoh pemimpin kelompok Tionghoa, sisa dari stelsel zaman penjajahan, Mayor Phe memang bergembira, sampai akhir hayatnya, ia bisa melihat negeri ini, bukan saja sudah merdeka, tapi bisa menata diri dengan baik. Selama dalam tahanan ia memang tidak melihat perkembangan yang terjadi. Tapi sejak keluar, ia melihat bahwa bangsa yang sejak masa mudanya dianggap sebagai bangsa tempe, bangsa klas tiga, ternyata merupakan bangsa yang sanggup berdiri di atas kaki sendiri. Bisa menjadi bangsa yang mandiri. Karenanya ia sering berkata kepada cucu kemenakannya agar mereka melihat contoh perkembangan bangsa, dimana sekarang mereka termasuk di dalamnya. Bangsa ini memiliki satu militansi yang luar biasa hebatnya. Ini menurut Mayor Phe yang hidup di zaman Belanda, hidup di zaman Jepang, hidup di alam perjuangan dan sekarang hidup di alam pembangunan, karena mereka berani melihat kenyataan bahwa dulu mereka melarat! Meninggalnya Mayor Phe menghapus legenda yang tragis dari kehidupan secuil kelompok dalam masyarakat Indonesia. Apakah begitu memangnya nasib kelompok yang disebut minoritas? Sering jadi korban pergolakan karena mereka memang tidak tahu apa-apa? Apakah di luar negeri juga begitu? Tampaknya jawabannya condong ya. Dalam perjuangan yang keras untuk menuntut persatuan dan kesatuan dalam berbagai bidang

255


dan persamaan hak serta kewajiban, mereka seringkali “lari� terlampau cepat. Sehingga bisa-bisa saja mereka tersandung. Apakah tersandungnya itu kemudian harus mereka bayar dengan mahal, itulah konsekuensi orang yang lari tanpa mau melihat muka belakang, kanan dan kiri. Tapi betapapun juga, kehadiran orang semacam tokoh Mayor Phe, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Laki-laki yang sbeenarnya tak punya ambisi, yang entah bagaimana bisa mendapat pangkat yang tinggi, mayor dalam stelsel masyarakat kolonial di zaman kolonial, menjadikan hidup ini flamboyan!

256


56 Warisan yang didapat berkat perjuangan yang ulet dari nenek moyangnya yang banyak jasanya kepada pihak Belanda. Apakah karena berjasa kepada Belanda ini mereka kemudian mendapat status warga negara kelas dua dan menindas kelompok kelas yang lebih rendah, yang kemudian setelah revolusi beralih kedudukannya menjadi warga negara utama? Semuanya merupakan satu teka-teki yang penuh misteri. Seperti misalnya, apakah betul orang Tionghoa itu dianakemaskan oleh pihak kolonial. Apakah bukan orang Tionghoa itu diperalat oleh Belanda untuk mencapai tujuan politiknya? Agar mereka itu tidak terlibat langsung dengan masyarakat yang mereka sebut pribumi? Karena, kalau harus berhadapan langsung dengan pribumi, bukanlah mereka akan mendapat kritikan yang tajam di dalam negeri di Belanda sendiri. Bukankah membiarkan orang Tionghoa bertarung sendiri dengan orang Jawa, jauh lebih baik ketimbang Belanda sendiri yang bertarung dengan penduduk pribumi. Bukankah Belanda lebih enak memberikan hak monopoli garam kepada orang Tionghoa daripada harus berurusan dengan orang pribumi hanya karena soal garam saja? Atau, memang orang Belanda tidak mau kerja keras seperti orang Tionghoa. Orang Belanda sebenarnya sama dengan orang Jawa saat itu. Keduanya tidak mau kerja keras. Belanda memang sudah mengebiri kemauan kerja keras itu. Raja-raja di Jawa dipupusi kekuasaannya oleh Belanda. Sebagai gantinya raja-raja di Jawa diberi upeti semacam gaji. Dengan begitu raja-raja di Jawa tidak perlu lagi kerja keras. Mereka sudah cukup. Upeti dari kompeni misalnya, bukan cuma cukup untuk hidup sehari-hari, tapi juga cukup untuk memelihara harem. Inilah kenyataan yang timbul, sebagai akibat stelsel yang memang sengaja dibuat oleh pihak Belanda. Dan orang Tionghoa, di saat orang Jawa atau pribumi lainnya termanggu

257


menikmati gemerincingnya dinar Belanda, berkeliling desa menjajakan barang dagangan. Kadang dengan kredit. Dan semua ini terjadi pada zaman Mayor Phe. Di sinilah respek Mayor Phe terhadap bangsa ini. Bangsa yang dulu cuma manja begitu saja bangun pagi minum kopi sambil “mengundang� burung perkututnya, sekarang mampu berjuang dan membentuk satu negara yang tampaknya akan melaju terus jika semangat membangun itu terus terjaga. Sentimen? Sakit hati? Perasaan ini bisa saja berkecamuk dalam hati Mayor Phe. Gelombang hidup macam-macam telah dialami. Suka duka dan tampaknya dalam usia tuanya ia harus menanggung banyak beban. Apakah ini hukum karma. Mungkin saja, sebagai orang Tionghoa ia cuma beranggapan bahwa nasib itu sudah menjadi “mia� nya. Sudah menjadi suratan takdir yang tak bisa dielakkan. Karenanya, sebagai yang diutarakan kepada Mayor Jendral Mangku, ia sama sekali tidak pernah punya perasaan sakit hati atau menyesal. Ia tak pernah menyesal pernah membantu perjuangan para pejuang. Ia menganggap semuanya sebagai satu hal yang wajar saja. Tak lebih dari itu. Karenanya juga ketika ia meninggal dunia, tak ada satu pun tanda penghargaan yang dimiliki atau diberikan. Ia tak pernah meminta. Apa yang telah dilakukan terkubur begitu saja. Sejarah tak pernah mencatat. Karena orangorang yang tahu situasinya yang sebenarnya seperti Mayor Jendral Mangku di tahun 1982 juga telah meninggal dunia karena serangan jantung. Apa yang telah diperbuat oleh Mayor Phe, apa yang telah direlakan oleh Nyonya Phe yang cantik dan anggun itu terkubur sepi bersama jenazah mereka.. Dan inilah kisah tentang Effendi. Lakon ini tampaknya cuma membayang dalam keseluruhan cerita ini. Tapi sebenarnya ia justru

258


merupakan titik penentu dalam perjuangan Hian Biauw. Sahabatnya itu merupakan teman terdekatnya. Bukan hanya di sekolah, tapi juga dalam kehidupannya sehari-hari. Karena Hian Biauw sendiri tidak mempunyai saudara, anak tunggal, Effendi bukan cuma dekat dengan Hian Biauw, melainkan juga dekat dengan keluarga Hian Biauw, kedua orang tuanya. Bergaul dengan mereka ia baru mengetahui bahwa tidak semua orang Tionghoa hidupnya jorok. Ia merasakan ketertiban menyelimuti keluarga Mayor Phe. Ketertiban dalam segala bidang, terutama dalam tatakrama kekeluargaan. Ia juga melihat bahwa orang Tionghoa tidak bersikap egosentris, artinya mau menangnya sendiri saja. Mereka juga bukan tergolong orang yang menyendiri yang mau hidup untuk diri mereka saja. Ternyata mereka juga mau mengerti kepentingan orang lain. Effendi melihat sendiri, bahwa orang yang datang ke tempat Mayor Phe untuk meminta pertolongan bukanlah hanya orang Tionghoa saja, yang hidup di kampung, tetapi juga orang Jawa dan Madura. Mereka ini sering mendapat bantuan berupa beras, ikan asin dan garam. Saat itu hidup dengan ikan asin dan garam sudah merupakan kemewahan bagi rakyat jelata. Karena itulah Effendi sangat menyayang Hian Biauw yang usianya sebaya. Keduanya memang saling menyayangi. Oleh karena itulah ketika ia tak berhasil menemui Hian Biauw di markas Surabaya, ia kemudian bergabung dengan pasukan yang mundur ke arah timur. Mula-mula ia ikut pasukan Djarot. Banyak orang menduga bahwa ia seterusnya berada dalam pasukan Mayangkara yang terkenal itu. Tapi tidak. Effendi ternyata membentuk pasukan sendiri yang diberi nama “Rajawali Sakti� dan bermarkas di Lamongan. Dengan demikian pasukannya bisa menahan pasukan Belanda yang dari Surabaya ingin bergerak ke Barat dan pasukan Djarot membendung pasukan Belanda yang berusaha memasuki kota

259


Surabaya dari arah Barat. Seolah ada dua benteng. Daerah antara Bojonegoro-Lamongan menjadi aman dari serbuan Belanda. Tampaknya seperti tiba-tiba saja. Ada perasaan lain dalam hati Effendi melihat banyak pemuda-pemuda yang masih remaja berada di sekitarnya. Dengan tubuh dada telanjang memberikan perasaan tersendiri dalam perasaannya dan akhirnya tanpa terasa ia terlibat dalam astu roman dengan teman perjuangan. Sama-sama lakinya dan itu berlangsung terus. Apakah sikapnya yang timbul dengan tiba-tiba itu merupakan sifat yang negatif atau bisa dibenarkan? Tak seorang anak buahnya yang berani menegurnya terang-terangan. Tapi yang nyata, kehidupan itu berlangsung terus. Makin mendekati hari pertempuran usai, pada diri Effendi makin ada perasaan tercekam. Rasa takut untuk menghadapi masa yang akan datang. Apakah yang bisa diperbuatnya. Kegoyahan mulai timbul. Ketidakstabilan dalam memimpin anak buahnya ini membuat pasukannya menjadi tak teratur. Mereka sering membiarkan penduduk melakukan pencurian kayu jati dengan imbalan rokok. Mula-mula cuma ini. Tapi dasar manusia. Makin lama rokok dirasakan tidak cukup. Mulailah beberapa oknum pejuang melakukan penebangan kayu jati, lantas dari sana dijual kepada penduduk dan penduduk menjualnya kepada pedagang Tionghoa yang ada di Surabaya dengan harga yang mahal. Semua itu dibiarkan Effendi. Rasanya seperti pemuda yang sedang di mabuk cinta, ia cuma melakukan tugasnya menghadang Belanda. Apa yang dilakukan anak buahnya dalam mengisi kekosongan ia tak pernah mau tahu. Karena itulah ia jadi kaget, ketika ada berita yang diterima dari Bojonegoro, bahwa aperang tak lama lagi akan usai dan para pejuang diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan damai. Seperti yang diberikan kesempatan kepada pejuang-pejuang yang tergabung dalam pasukan Mangku, pasukan yang ada di bawah

260


komando Effendi juga diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tapi tampaknya tawaran pemerintah ini tidak menarik. Kayu jati lebih menarik bagi kaum pejuang. Sebab kayu jati bisa langsung jadi duit yang sangat mereka butuhkan. ***

261


57 Sayangnya, ketika kemudian kedaulatan yang dinantikan tiba, para pejuang sering kali menghadapi dunia yang lain dari yang mereka impikan. Terutama untuk laskar yang tergabung dalam kesatuan Effendi. Bukan saja pangkat mereka harus disamakan sesuai dengan jasa dan kebutuhan pada zaman damai, sehingga karenanya banyak yang mengalami penurunan pangkat. Yang tidak bisa menerima keadaan ini sudah barang tentu menimbulkan kegoncangan. Lupa bahwa kepangkatan dulu di zaman revolusi bukanlah kepangkatan yang diatur oleh satu lembaga. Tapi kepangkatan dalam suatu revolusi. Yang bisa saja tinggi tapi bisa saja normal. Yang normal mungkin seperti Mayor Mangku dan Djarot, yang sama sekali tidak mengalami penurunan pangkat.bahkan ada kenaikan. Ketidaksesuaian dengan keadaan damai itulah yang menimbulkan apatisme dan kemudian seperti Effendi tetap berada di Lamongan. Tidak semua. Tapi Effendi adalah salah satu contoh! Ia kemudian dikenal di daerah itu sebagai “begal� modern. Istilahnya yang lebih umum mungkin perampok yang budiman yang seperti dalam cerita Robin hood, sering melakukan perampokan untuk kepentingan penduduk. Bagi Effendi kebutuhannya tidk banyak, tapi uang harus segera ada, pencurian kayu jati memang merupakan satu jalan keluar. Ia sudah puas jika kebutuhan untuk seminggu terpenuhi. Selebihnya ia serahkan dan bagikan kepada penduduk. Karenanya Effendi dan kawan-kawannya sulit ditindak oleh yang berwajib. Tampaknya Effendi seperti dibiarkan begitu saja. Padahal jelas sikap dan tindak tanduknya itu merugikan pemerintah. Bisa sering terjadi penebangan kayu yang tidak teratur, sebab dilakukan secara tergesa, takut ketahuan mantri kehutanan. Effendi yang tak bisa ditangkap karena mendapat bantuan dari masyarakat sekitarnya, terutama dari Kedungpring, kemudian

262


tumbuh menjadi legenda rakyat yang mengasyikkan. Disiarkan isu bahwa perampok lihay yang bernama Effendi itu bisa menghilang dan tak mempan peluru. Beberapa kali operasi dikerahkan untuk membasminya, tetapi sia-sia saja. Hal yang sebenarnya bukan disebabkan oleh Effendi kebal, tapi karena ia memperoleh bantuan dari masyarakat. Semua anggota masyarakat bungkam kalau ditanya di manaEffendi bersembunyi. Padahal mungkin saja, Effendi bersembunyi di rumah tak jauh dari patroli polisi dan tentara. Kejadian ini terus berlangsung. Hutan makin gundul. Kayu-kayu jati, bertruk-truk diangkut entah kemana dijual kepada pedagangpedagang. Operasi mereka bukan hanya di Lamongan. Tapi sampai jauh ke Bojonegoro, Tuban dan daerah sekitarnya. Berlangsung lama, tapi Effendi juga tidak menjadi kaya. Ia tetap merupakan seorang laki-laki, yang lusuh pakaiannya. Yang hidupnya cuma dari hari ke hari. Yang sering dilihat penduduk desa minum tuak sampai mabuk bersama anggota masyarakat. Tampaknya hidup ini sama sekali tidak punya arti bagi Effendi dan sekelompok teman-teman seperjuangannya. Tapi tidak semua anggota kelompoknya berbuat bodoh seperti Effendi. Ada yang diam-diam mengirimkan uang hasil perampokan yang dibagi rata oleh Effendi ke desa. Di sana dibelikan sapi, sawah. Kemudian ada juga yang mentas dari kehidupan yang tercela itu. Tidak lagi tinggal bersama Effendi untuk merampok. Bahkan ada juga yang kemudian, karena punya modal, kemudian jadi pedagang kayu jati. Setelah tidak ada lagi kayu jati yang dirampok, ditebang dan lain-lainnya, mereka berdagang betul-betul sebagai pedagang yang baik. Wawasan baru mulai mereka cari. Mereka mulai berdagang kayu meranti. Mendatangkan dari Kalimantan dan tempattempat lainnya. Kerja sebagai perampok memang kemudian bisa menumbuhkan mereka sebagai pedagang yang tangguh. Sedangkan Effendi tetap seperti dulu, tak punya apa-apa. Kelompok yang seperti

263


Effendi ini, sisa-sisa dari perjuangan “tempo dulu� jumlahnya tidak sedikit. Pemerintah memang berupaya keras untuk membantu mereka mentas dari kemelut yang tampaknya tidak berujung pangkal ini. Sayang memangnya, kesempatan yang baik dari pemerintah untuk melanjutkan studi tidak mereka tanggapi dengan baik. Padahal, memperdalam ilmu satu-satunya langkah positif yang bisa mereka tempuh. Sebab Indonesia yang baru merdeka, memerlukan tenaga yang terdidik untuk menggantikan tenaga-tenaga bangsa asing yang masih banyak ada di Indonesia. Tenaga-tenaga itu harus diganti dan mereka yang bisa mengganti, adalah para pejuang yang kemudian melanjutkan studi. Effendi telah menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus membayar mahal, karena ia juga tidak mempunyai rencana yang teratur tentang masa depan. Orang seperti Effendi kemudian memang harus dianggap sebagai “sampah masyarakat�. Tak ada yang mau melirik lagi kepadanya. Bagaimana orang seperti dia dan sahabat-sahabatnya bisa ditolong lagi. Karena untuk menolong diri mereka sendiri saja mereka tak mampu, apalagi menolong orang lain. Tampaknya apa yang dikatakan Mayor Jendral Mangku kepada kepala rumah tahanan di Malang itu betul. Seorang saat sekarang bisa jadi pahlawan tapi sesaat kemudian jadi pengkhianat. Dalam perjuangan 10 November di Surabaya. Effendi memang jadi lakon. Ia sebenarnya yang menulis dengan tinta mas dalam sejarah 10 November itu. Yang lain cuma terlibat saja. Sering juga cuma sekedar jadi penonton yang baik. Tapi Effendi, dia terlibat langsung. Pertempuran yang heroik di Praban, malam itu menjadi pertempuran yang membuat Belanda jadi agak ragu-ragu, bukan satu hal yang mustahil, perjuangan memperoleh bentuknya yang lain. Belanda akan main hantam saja, karena sebenarnya persenjataan Belanda yang saat itu bisa dianggap mutakhir, karena merupakan senjata sekutu yang menang perang dalam perang Dunia II yang baru lalu. Effendi juga tidak terlalu

264


menganggap kemenangannya sebagai kemenangan yang heroik. Saat itu ia merasa biasa saja. Itu merupakan satu keharusan baginya. Mencegat Belanda dan membuat Belanda tidak seenaknya maju ke Selatan dari Tanjung Perak. Hanya kadang-kadang kalau ia membaca pemberitaan pers bahwa telah terjadi korupsi, ia jadi teringat kejadian yang heroik itu. Mengapa perjuangan bangsa dinodai oleh kelompok yang sekarang sedang berkuasa. Tidakkah mereka ingat bahwa kemerdekaan ini telah direbut oleh banyak pengorbanan jiwa dan raga pejuang-pejuang yang saat itu berjuang tanpa pamrih? Tapi lupalah Effendi sendiri akan kenyataan bahwa tindakannya dengan merampok kayu jati adalah juga bertentangan dengan perjuangannya yang semula, ketika ia masih menjadi anak muda Kawatan yang baru berusia belasan tahun, belum dua puluh tahu? Lupakah ia?

265


58 Tahun 1965 di Lamongan Hari itu semestinya semuanya berjalan dengan wajar saja. Keadaan menjadi agak panik ketika rakyat mendengarkan siaran radio yang simpang siur. Tapi kesimpang siuran itu kemudian tak lama berlangsung. Rakyat segera tahu kalau komunis telah memberontak tetapi kemudian bisa diatasi oleh pihak militer. Effendi juga tertegun sesaat. Tapi secepat itu pula kemudian massa mendatangi “tempatnya” yang sebagian terdapat orang-orang yang selama ini sering dikenal. Effendi “diambil” massa dengan tuduhan dia komunis. Untungnya ia punya banyak koneksi sehingga ia benarbenar bisa diamankan dan dari Lamongan ia dibawa ke Surabaya, kira-kira pada pertengahan Oktober. Dari sana ia dibawa lagi ke Jakarta. Karena nama Effendi sebenarnya sudah cukup populer sebagai “penjahat”. Mula-mula ia memang dimasukkan ke dalam rumah tahanan yang lain. Untuk dia khusus kemudian ada interogasi. Masih muda yang menghadapinya. Ternyata seorang wartawan yang sudah lama melacak kehidupannya tapi tak penah ketemu. Sebab rakyat di Lamongan semuanya menyembunyikan dirinya. Wartawan itu ternyata pembantu sebuah surat kabar di Singapura yang bertugas menggantikan wartawan yang dahulu bertugas, untuk melacak terus kehidupan Effendi yang diketahui banyak wartawan luar negeri sebagai salah satu pemuda yang berhasil menyergap tentara Belanda sewaktu pertempuran di Surabaya. “Mengapa adik bisa ada di sini," tanya Effendi setelah pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Simon. “Saya memang mendapat bantuan dari bapak-bapak. Saya berhasil melihat daftar nama-nama yang ada di sini”.

266


“Lantas?” “Lantas saya tertarik pada nama Bapak, sebab di situ dicantumkan bahwa Bapak dari Lamongan” “Apa yang ingin adik ketahui! Sekarang keadaan saya seperti ini. Tak ada cerita yang menarik lagi," jawab Effendi ogah. Ia merasa sudah tak penting lagi bicara tentang masa lalu. “Mengapa Bapak ditangkap?” “Itu pertanyaan yang bagus” “Apa Bapak terlibat?” “Yang saya ketahui cuma ilmu maling. Anda tahu ilmu maling itu? Kalau belum, anda harus beli buku Bantaljemur. Di situ semuanya tertulis. Kalau mau maling, harus baca buku itu, supaya tahu betul ke arah mana harus lari agar tidak tertangkap” “Bapak percaya pada ilmu klenik itu?” “Itu bukan ilmu klenik. Itu perhitungan yang sangat waskita dari para leluhur kita. Sekarang kita enak. Kalau habis maling lantas lari ke arah timur sudah aman. Tapi dulu sehabis maling kalau lari ke arah Barat, bertentangan dengan yang seharusnya ditempuh, maling bisa babak belur dihantam penduduk” “Kalau boleh saya mendapat keterangan dari Bapak, mengapa Bapak pilih kehidupan yang seperti Bapak pilih itu” “Menjadi maling? Katakan saja menjadi perampok, begitu” Wartawan itu yang tampaknya masih muda memang agak “grogi” sedikit menghadapi tokoh yang berhasil diwawancarai. Lelaki usia pertengahan yang berambut gondrong, berkumis dan berjanggut lebat. Inilah lelaki yang sudah lama dicari orang. Cuma wartawan-wartawan luar negeri yang mampu mencium jejaknya selama ini, meskipun mereka tak berhasil ketemu. Ketut Tantri di Amerika yang mengumbar cerita itu dari mulut-mulut. Bahwa ada pejuang yang kemudian tetap hidup di hutan seperti Robin Hood. Cerita semacam ini memang mungkin tidak menarik bagi kita sendiri.

267


Karena betapa pun, kisah Effendi merupakan aib bagi para pejuang. Mereka yang dulu berjuang dengan keyakinan untuk kemerdekaan bangsa dan negara kemudian merusak citra itu sendiri dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. “Masyarakat ingin tahu, kalau Bapak tidak keberatan” “Keberatan tentu. Sebab bagi orng seperti saya, apa artinya cerita tentang apa yang sudah terjadi. Yang kita hadapi adalah hari ini dan besok” “Bapak masih punya keyakinan akan hari esok?” Effendi tidak segera menjawab. Ia memandang dengan pandangannya yang tajam pada wartawan muda Simon. “Kalau tak keberatan , Pak," ujar Simon kembali. Seolah ia tak perduli akan sikap Effendi. Apakah ia marah atau tidak. Baginya yang penting, kesempatan untuk bertemu dengan tokoh yang punya sifat kontroversial ini harus dipergunakan sebaik-baiknya. “Dari mana?" ujar Effendi akhirnya. Ia pun kemudian berpikir, daripada ia harus kembali ke blok di rumah tahanan, lebih baik ia mengadakan wawancara dengan pemuda ini. “Dari mana saja yang menurut Bapak penting” “Aku sendiri sudah lupa, kau yang tanya, aku yang jawab” “Kalau begitu, apa sebenarnya yang membuat Bapak berjuang tempo hari di Surabaya. Apakah Bapak berangkat dengan penuh keyakinan?” Effendi tertawa. Ia ingat masa-masa yang lalu. Berjuang pada waktu masih pakai celana pendek. “Saat itu ada keyakinan," katanya. “Lantas apa yang membawa Bapak berjuang” “Keberanian dan kemiskinan” “Dua semangat itu” “Ya”

268


Simon pun kemudian diam mencatat. “Mengapa kemiskinan Bapak angkat sebagai salah satu dalih” “Waktu itu semua orang Jawa miskin. Tak ada yang kaya. Ada memangnya, tapi sedikit. Kita bisa bilang, waktu itu kita miskin betul-betul. Bukan saja oleh penjajahan Belanda tetapi juga oleh Jepang. Sudah tak ada lagi nasi yang bisa kita makan. Beras ada dan murah. Tapi dengan apa mau dibeli. Pakaian juga begitu. Ini pakaian tahanan. Tapi masih bagus," kata Effendi, seraya memegang pakaian tahanan yang dikenakannya. “Dulu kalau pakaian dari goni, wah gatalnya bukan main. Karena dulu juga tak ada orang yang pakai celana dalam..” Simon terbelalak. Ini soal baru. Kemiskinan rupanya sudah sedemikian rupa dulu, sehingga orang sudah tidak pakai celana dalam lagi. Mungkin saja apa yang diutarakan terlalu ekstrem. Tapi begitulah kenyataan yang dialami sebagai pemuda kampung Kawatan saat itu.

269


59 “Mengapa Bapak ikut berjuang” Ini pertanyaan yang mengulang terus. Tapi karena jawaban itu yang diinginkan, Simon mengejar terus. Ia ingin sebenarnya mengetahui, apa sebabnya pemuda-pemuda dulu, yang sama sekali tidak punya ketrampilan berperang, berani angkat senjata. “Situasinya seperti sekarang lain," jawab Effendi. Ia sesaat lagi baru meneruskan. “dulu kalau kita tidak ikut perang, rasanya kita malu. Rasanya ya cuma ini saja. Kita malu kalau ada di kampung sambil mendengarkan pidato bung tomo. Lantas kita main kelereng atau egrang. Saat itu sepertinya ada pemeo, pemuda keluar kampung, gadis yang tinggal. Kita bisa diolok banci kalau tinggal di kampung. Dalam situasi seperti itu, di mana kita cuma dilandasi rasa malu, kalau tidak ikut jadi pejuang, hanya yang berani muncul ke permukaan. Yang berani tampil sebagai pemimpin. Yang paling berani biasanya yang sudah tidak punya apa-apa lagi di rumah. Yang sebatang kara. Yang sudah tak punya tanggungan apa-apa.” “Bapak sendiri saat itu kan masih punya orangtua dan adik.” “Ya. Tapi kami adalah keluarga yang miskin. Dalam benak saya, yang ingin seperti Napoleon begitu. Dari orang yang paling rendah, kemudian bisa jadi jendral dan kemudian raja.” “Jadi Bapak sebenarnya ingin jadi Presiden?” Tiba-tiba saja Effendi melotot matanya. Rasanya sudah keterlaluan pertanyaan yang satu ini. Tapi segera juga emosinya menurun. “Tidak. Saya tidak ingin jadi Presiden. Saya juga tidak ingin jadi Jendral. Tapi saya benar-benar ingin jadi Napoleon. Artinya mengangkat sendiri derajat diri sendiri dari kemiskinan ke tingkat yang atas. Saya tak ingin menyerahkan nasib saya pada orang lain.

270


Dari segi ini saja penyerbuan dari Praban harus dinilai. Waktu itu Belanda masuk Surabaya lewat Tanjung Perak. Semua orang mundur. Menurut saya, kita boleh mundur, tapi kita harus berbuat sesuatu.” “Karenanya bapak menyerbu sebelum mundur” “Ya” “Mengapa bapak cuma membawa seorang anak buah?” “Karena cuma dia yang mau dan cuma dia yang berani.” “Yang lain?” “Yang lain cuma mengikuti instruksi untuk mundur dan membumihanguskan apa yang ditinggalkan.” “Apakah Bapak mendapat restu dari komandan?” “Waktu itu saya sendiri yang menjadi komandan. Pasukan saya terdiri dari anak yang ada di Bubutan yang dikenal orang dengan nama lasjkar Kawatan. Tapi saya sendiri tak pernah menamakan lasjkar saya begitu.” “Tapi Bapak kan anak Kawatan” “Betul” “Lantas mengapa Bapak tidak melebur ke kesatuan Angkatan Perang setelah kedaulatan” Effendi diam. Rasanya banyak masalah yang masih jadi kenangan. Simon kemudian mulai bisa memahami laki-laki yang duduk di mukanya. Ada ketegangan ia rasakan. Ia kemudian berusaha untuk mengalihkan kepersoalan yang paling pokok” “Jadi apa alasan Bapak sebenarnya untuk membelot” “Saya tidak pernah mebelot," jawab Effendi cepat dan tegas. Dari nada suaranya terasakan kemantapan. “Saya benar-benar tidak merasa pernah membelot," sambungnya. “Mengapa Bapak tidak bergabung dengan Angkatan Perang Republik yang Bapak perjuangkan, setelah perang selesai”

271


“Itu cuma satu perasaan saja. Saya ingin bebas” “Dengan merampok” “Dengan merampok” “saya dikatakan merampok, OK! Saya memang merampok. Tapi yang berbuat lebih dari itu banyak. Saya tak perlu mengatakan, dengan jelas. Adik pasti sudah tahu sendiri. Saya merampok, sebagian saya berikan kepada rakyat di sekitar saya” “Masalah yang Bapak lakukan tidak memecahkan persoalan” “Saya tahu, kemiskinan memang tidak bisa diterapi dengan cara saya. Tapi yang jelas, saya masih berbuat sesuatu yang bisa dinikmati masyarakat” “Meskipun dengan cara yang salah” “Ya, dengan cara yang salah” “Bapak sadar bahwa Bapak telah melangkah salah?” “Sadar” “Mengapa Bapak lakukan” Bagi Effendi ini merupakan pertanyaan yang berat. Lama ia sudah sering merenung. Lama sudah ia ingin pertanyaan itu terjawab sendiri. Tapi ia memang tidak bisa menjawab. Ia tak tahu, mengapa ia mengambil langkah yang salah itu” “Apakah tindakan Bapak itu terpengaruh oleh perbuatan heroik Bapak di Praban dulu?" tanya Simon memecahkan keheningan suasana. “Saya kira tidak. Bagi saya peristiwa di Praban itu cuma satu epos saja. Saya tahu bahwa ia memiliki unsur kepahlawanan. Cuma itu. Habis itu, ketika saya bergabung dengan pasukan lain, saya sudah lupa, yang kita hadapi kemudian adalah soal makan, senjata dan kebulatan tekad untuk menghadang Belanda," jawab Effendi perlahan menahan emosinya. “apakah Bapak kecewa? Maafkan pertanyaan saya yang berulang ini”

272


“Tidak. Saya mencintai Republik ini. Saya cinta pada Bung Karno dulu. Dia pemimpin besar saat itu.” “Sekarang Bapak tidak cinta lagi pada bung Karno?” “Saya hargai beliau sebagai Presiden kita. Tapi persoalan yang paling penting, saya kecewa karena beliau membiarkan pembantu-pembantunya korupsi. Merampok bagi saya adalah satu perbuatan yang terang-terangan. Sekarang saya tertangkap. Saya siap untuk diadili sebagai perampok yang merampok harta milik pemerintah selama bertahun-tahun. Tapi saya tidak mau kalau saya dianggap sebagai komunis.” “Saya tak pernah mengerti tentang itu. Saya cuma tahu bahwa mereka miskin dan karenanya juga saya bantu. Uang bagi saya bukan target hidup saya.” “Lantas apa target hidup Bapak” “Berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat” Seorang petugas berpakaian seragam muncul. Dan hari itu adalah hari terakhir Effendi boleh ketemu dengan orang luar. Setelah itu tak ada lagi kesempatan. Kabar terakhir ia akan di-pulau burukan. Kenyataan memang demikian. Ia termasuk daftar hitam. *** Di pulau Buru itulah ia kemudian ketemu dengan Hian Biauw. Mereka tidak kumpul jadi satu. Terpisah lewat barak masingmasing yang tempatnya cukup jauh. Mereka bertemu untuk pertama kalinya, setelah terpisah bertahun-tahun ketika ada perayaan tujuh belas Agustus. Ada upacara. Karena tak ada wanita pertunjukan yang diadakan seperti ludruk. Pemain wanita diperankan laki-laki dan Effendi ambil bagian. Effendi tak sempat menikmati kebebasan. Karena sakit ia kemudian meninggal dunia tahun 1971. Ketika ia dimakamkan, Hian Biauw hadir. Laki-laki ini, sahabatnya, cuma bisa berlinang air mata. Tampaknya air mata itu sudah tidak ada lagi. Hian Biauw menunduk ikut menaburkan bunga kembang sepatu

273


yang dipetiknya, yang banyak tumbuh di daerah itu. Ia cuma bergumam sendiri: Selamat jalan Ef, selamat jalan...! Dan inilah kisah selanjutnya tentang Latifah. Gadis ini sempat sampai di Surabaya. Dulu, ia memang menuju ke Surabaya dari Malang bersama beberapa kawan lulusan dari sekolah Mulo Malang. Tapi ia tak sempat sampai di tempat tujuan. Pemuda-pemuda yang berjuang di Surabaya sudah diinstruksikan untuk mundur. Ia sempat berpapasan dengan mereka yang hendak ke Mojokerto. Tapi ia maju terus. Sudah sampai ke Sidoarjo. Kemudian mundur lagi. Terus mundur bersama pengungsi yang lain. Karena dari Sidoarjo ia melihat pengungsi yang keluar kota surabaya banyak yang tak terurus. Mereka juga tak tahu mau ke mana mereka sebenarnya. Hasrat yang ada dalam hati cuma satu. Tak rela di bawah penjajahan Belanda lagi yang sudah menduduki Surabaya. Padahal surabaya sebenarnya belum diduduki sepenuhnya oleh Belanda. Belanda saat itu baru di Tanjung Perak. Hanya instruksi Pusat saja yang menyebabkan para pejuang mengungsi. Padahal, kalau menurut kehendak hati, ultimatum itu mestinya dijawab dengan kekuatan senjata juga. Mereka sudah rela menyabung nyawa, membela negara baru yang baru saja diproklamirkan Soekarno-Hatta. Tapi apa mau dikata, untuk menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang merdeka yang taat pada pimpinan, maka instruksi dari Pusat itu pun harus ditaati, senang atau tidak senang.

274


60 Latifah kemudian sampai lagi di Pandaan. Dari situ pengungsi menyebar. Ada yang terus ke Malang. Ada yang kemudian mau ke Pasuruan. Tadinya mereka cuma ikut arus saja. Membentuk barisan panjang kaum pengungsi. Empat orang kawan Latifah jadi bengong, ketika mereka harus menentukan sikap. Akhirnya muncul pasukan Mayor Mangku yang datang juga dari arah Malang. Latifah memutuskan bergabung dengan pasukan ini. Di antara orang yang mengungsi banyak pemuda yang kemudian bergantian dengan pasukan yang baru datang. Lainnya ada yang ke Pasuruan bersama pasukan yang datang kemudian dari Surabaya. Semrawut pendeknya! Siapa yang bergabung dapat bergabung begitu saja. Mudah sekali. Mereka itulah yang kemudian membentuk satu pasukan. Tapi ada juga pemuda-pemuda yang tadinya ikut mengungsi ketika melihat pasukan yang dianggap mereka gagah, lantas membentuk pasukan sendiri. Mudah sekali memangnya. Tapi semuanya menunjukkan bahwa kemauan untuk merdeka, kemauan untuk mempertahankan kemerdekaan adalah kemauan yang muncul dari bawah. Dari rakyat sendiri tanpa komando-komandoan. Ini menunjukkan kebenaran Soekarno-Hatta bahwa kemerdekaan itu bukan cuma kemauan mereka berdua. Mereka memproklamirkan atas nama bangsa Indonesia dari seluruh penjuru tanah air. Latifah sendiri mula-mula oleh Mayor Mangku dianjurkan untuk membentuk pasukan sendiri. Karena banyak gadis-gadis yang sebenarnya ingin berjuang tapi tak tahu kepada siapa mereka ingin berjuang. Akhirnya cuma bergabung secara sporadis kepada pasukanpasukan yang setiap saat berdatangan dari segala penjuru dan menyusun segala siasat baru di Pandaan yang saat itu masih “merdeka," belum di bawah kekuasaan Belanda.

275


Tapi Latifah tak ingin membentuk pasukan. Ia menyadari sepenuhnya resikonya nanti. Sekarang memang semuanya mudah. Bergabung, membentuk pasukan dan kemudian menyatu dengan penduduk untuk mendapatkan makanan apa adanya. Tapi nanti, dan ini merupakan keyakinannya, bahwa segalanya akan mempunyai aturan permainan sendiri. Padahal sewaktu pamit dengan kedua orang tuanya, ia menyatakan bahwa ia ingin bergabung dengan pejuangpejuang untuk memenuhi anjuran bung tomo. Sesudah itu, ia akan pulang kembali ke Malang. Meneruskan sekolahnya dan kemudian melanjutkan belajar ke sekolah tinggi kedokteran. Itu cita-cita orang tuanya. Cita-cita bapaknya. Juga menjadi cita-citanya. Mempunyai pasukan sendiri memang tampaknya gagah. Jadi komandan. Latifah yang masih remaja punya pemikiran lain. Karenanya ia menolak anjuran Mayor Mangku dan ia rela berada di bawah komando Mayor Mangku. Kehadirannya dalam pasukannya itu membawa suasana baru. Karena tiga dari kawannya juga bergabung. Yang satu membentuk pasukan sendiri dan kembali ke Malang.di situlah ia kemudian berkenalan dengan Hendro. Di Prigen kemudian, ketika Mayor Mangku menetapkan untuk bertahan di Prigen, bergabung pula banyak pemuda yang sudah berada di sana. Di antaranya Hian Biauw, yang oleh teman-temannya dikenal dengan nama Sinyo Sipit. Orang Tionghoa pertama yang ia lihat bergabung dengan pasukan Mayor Mangku dan katanya punya reputasi hebat. Latifah harus mengakui bahwa hanya dengan Hian Biauw ia bisa bersahabat. Bukan karena budaya yang mereka bawa dari rumah yang sama, tapi ada sesuatu yang menarik dari pemuda ini. Sikapnya yang masa bodoh, yang suka menyendiri. Semuanya berkenan dalam hatinya. Rasanya pemuda yang satu ini pasrah terhadap perjuangan yang tidak berketentuan ini, yang seringkali membuat pemuda-pemuda yang lain tak tahan, lantas mencari

276


hiburan dengan perawan-perawan desa. Latifah sendiri meski orang Jawa , ia muncul dari keluarga yang berpendidikan Barat. Ayahnya dokter, yang meskipun keluaran pendidikan dokter Jawa, tetap menganut budaya modern. Itu juga sebabnya ayahnya merestui Latifah ketika anaknya ingin bergabung dengan para pejuang membantu pergerakan mempertahankan republik yang baru diproklamirkan Soekarno-Hatta. Harus diakui bahwa dalam lubuk hati Latifah ada perasaan satu dengan Hian Biauw, meskipun ia sadar juga bahwa kedua orang tuanya belum tentu setuju jika ia membawa pemuda Tionghoa pulang ke rumah. Atau sebaliknya, jika kedua orang tuanya menyetujui, kedua orang tua Hian Biauw belum tentu menyetujui. Sebab, betapapun mereka berpendirian modern, mereka tetap orang-orang Tionghoa yang konservatif. Yang masih mempunyai keterikatan pada ras. Apalagi menurut Hian Biauw, orang tuanya adalah pemuka masyarakat Tionghoa. Meskipun dipilih oleh Belanda. Justru karena dipilih oleh Belanda itu, Belanda tidak gampang memilih. Belanda pasti lebih hati-hati memilih. Tidak asal kaya, lantas dipilih. Oleh karena itu, meskipun dalam lubuk hatinya sebagai seorang gadis ada benih-benih cinta yang gampang sekali hidup subur, ia selalu menekan perasaannya. Sampai suatu hari ia tak bisa bertahan lama lagi. Hari itu ketika hujan lebat sehabis mereka menyidik ke candi Jawa. Berciuman denganmesra di bawah pohon yang rindang dan hujan turun dengan lebatnya. Saat itu ia tak bisa menipu dirinya. Tapi, setiap ia mengenang kenangan yang manis itu yang bisa membuat seluruh tubuhnya merinding, ia ingat lagi perbedaan budaya yang ada di antara keduanya. Orang-orang seperti dia, meskipun berpendidikan, oleh kelompok keluarga seperti orang tua Hian Biauw bisa dianggap cuma “gendook� saja. Pembantu rumah tangga yang harus mendengar setiap kata, yang kata Hian Biauw sering dijewer telinganya kalau berbuat salah. Untung saja hal semacam itu tidak terjadi di rumah

277


Hian Biauw. Pemuda ini pernah bilang, mengapa harus ada perbedaan antara sesama. Mengapa kita kalau kerja di kantor dihormati dan kalau berbuat kesalahan ditegur. Tukang sapu kalau di kantor tak ada yang berani memaki seenaknya. Kerja mereka juga terbatas. Dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Itupun ada waktu sela untuk istirahat. Sedangkan pembantu rumah tangga tak ada. Kerja terus sepanjang hari. Habis. Waktu tidur malam pun, kalau tuan rumah ada tamu, ia dibangunkan dan harus menyediakan kopi atau teh panas. Karenanya, sampai pada saat terakhir, sampai ia pisah dengan Hian Biauw ia menguatkan hatinya untuk tidak terbawa emosinya. Ia tak ingin kebahagiaannya, andaikata ia dan Hian Biauw menjadi suami istri, membawa kesedihan bagi kedua orang tua mereka. Mungkin saja pemikiran ini adalah pemikiran yang khas Jawa. Kebaktian terhadap orang tua lebih diagungkan daripada kebaktian diri sendiri.

278


61 Mungkin suasana berkumpul kembali dengan keluarga hanya dinikmati oleh Latifah dan sedikit lagi anggota yang lainnya. Ia disambut dengan penuh kebahagiaan oleh kedua orang tuanya. Juga saudara-saudara sepupu yang lain. Semuanya gembira, karena kini Latifah sydah kembali lagi di antara mereka. Tapi, kegembiraaan itu tak lama. Segera datang berita, bahwa dokter Sudarsono mendapat tugas baru. Kini bukan sembarang tugas. Ia ditugaskan untuk merintis jalan bersama kaum politisi mempersiapkan kehadiran di PBB, segera setelah kedaulatan tercapai. Bahkan mungkin dokter Darsono diharapkan bisa jadi perwakilan Indonesia di PBB. Semua diam ketika berita tersebut diterima. Semestinya berita tersebut jadi berita yang menggembirakan. Karena itu berarti promosi yang melonjak untuk seorang dokter yang biasanya cuma didinaskan di kota kecil. Dari kota Malang lagi. Tapi, karena saat itu merupakan puncak kegembiraan menyambut kedatangan Latifah, rasa kangen itu belum terobati dan sudah harus berpisah lagi. Tiba-tiba saja Latifah menyeletuk. “Mengapa Bapak tidak mengajak kami semuanya ke Amerika?” Ibunya setuju. Tapi ayahnya cuma diam. “Ayo pak, kita sama-sama ke sana” Lagi-lagi dokter Sudarsono diam. Tapi Latifah kemudian memberitahukan, bahwa kepada pejuang-pejuang yang masih mudah pemerintah memberikan kesempatan untuk belajar lagi. Latifah berkeyakinan bahwa ia bisa meminta perhatian pemerintah untuk belajar di Amerika Serikat. Ia mempunyai keyakinan itu. “Bapak tulislah persetujuan Bapak untuk menerima tugas yang baru itu. Cuma minta, agar bisa membawa keluarga serta. Saya di sana akan belajar sungguh-sungguh," ujar Latifah manja. Ayahnya perlahan mengangguk.

279


Dokter yang masih setengah tua ini sangat bangga dengan anak gadisnya. Dulu ia jug bercita-cita ingin berbakti kepada masyarakat. Tapi ia tak mempunyai keberanian seperti anaknya, yang berani menyatakan keinginan hatinya dengan tindakan yang tegas. Dulu, ia hanya bisa punya anggapan bahwa membantu masyarakat, tidaklah perlu dengan pidato-pidatoan. Karenanya meskipun ia sangat setuju dengan apa yang diperjuangkan oleh Soekarno, ia tidak ingin meniru cara-cara yang dilakukan oleh Soekarno. Ia akui, pendidikan politik memang penting. Tapi tidak perlu dengan hura-hura. Menurut pendapatnya, justru segi ini kelemahan orang politik. Selalu menitikkan perjuangannya dengan hura-hura sehingga akhirnya menarik perhatian polisi Belanda. Mereka kemudian, seperti Soekarno, Alisastroamidjojo dan lain-lainnya ditangkap Belanda. Diasingkan. Rakyat juga yang kemudian kesepian ditinggalkan pemimpin-pemimpin mereka dan tak tahu apa yang harus mereka perbuat. Karena dengan ditangkapnya para pemimpin, pengkaderan itu juga belum dapat dilakukan secara tuntas. Dokter Darsono punya keyakinan sendiri, bahwa selain pendidikan politik, kesejahteraan masyarakat harus dinaikkan terlebih dahulu. Orang baru bisa mapan menghadapi pendidikan politik kalau situasi rumah tangganya juga sudah mapan. Bagaimana pengetahuan politik dapat dinaikkan, kalau misalnya kesehatan masih berantakan. Soekarno memang betul. Indonesia harus merdeka dulu, baru kemudian ditata kembali secara seksama. Kalau menunggu seksama dulu, baru menata diri, bagaimana dan kapan kemerdekaan itu bisa tercapai. Karenanya dokter Soedarsono yang saat itu masih muda, memilih berjuang dari segi yang lain. Ia bekerja kepada gubernemen sebagai dokter dan dari sana dipindahkan dari satu kota ke kota lainnya. Dan secara diam-diam ia membantu pergerakan nasional dengan segala cara yang bisa dilakukan. Karenanya tak banyak yang tahu. Yang tahu hanya kelompok kecil, sahabat-

280


sahabatnya saja. Kini, sahabat-sahabatnya sudah banyak yang duduk di pemerintahan. Karena kurang tenaga mereka teringat kembali pada sahabat-sahabat yang ada di daerah. Mereka mengusulkan agar dokter Sudarsono diangkat sebagai salah satu staf di PBB. Mungkin nantinya di WHO. Ada kelegaan juga kalau keluarga ikut. Bagi dokter itu, yang selama ini cuma praktek dari satu kota kecil ke kota kecil lainnya, pergi dan dinas di Amerika merupakan hal yang besar. Jika ia tidak hati-hati, bisa terjadi benturan budaya. Tapi jika ada keluarganya, terutama Latifah yang dekat dengan dirinya, ia takkan merasa kesepian. Ia akan tetap merasa berada dalam lingkungan sendiri. Dan karenanya juga, ia akan mampu mengerjakan beban dengan tanggung jawab yang besar itu lebih baik, ketimbang misalnya ia harus seorang diri di sana. ****

281


62 Di luar dugaan, jawaban atas permintaan agar ia diperbolehkan membawa keluarganya datang dengan segera. Melalui telegram kepresidenan. Artinya presiden sendiri yang memberi izin. Telegram itu sekaligus juga untuk Latifah. Artinya untuk Latifah seluruh pembiayaan studinya akan dibebankan kepada pemerintah. Diharapkan ia melanjutkan studi di bidang kedokteran. Kehendak pemerintah ini klop dengan kehendak Latifah maupun keluarganya. Padahal pemerintah tentunya juga punya maksud lain. Tapi isi telegram itu tidak semuanya menyenangkan. Pemerintah ternyata hanya memberikan kesempatan seminggu untuk keluarga itu membenahi persiapan. Artinya seminggu lagi. Dan sesudah mengurus semua surat-surat yang diperlukan, diharapkan sebelum bulan Februari 1950 sudah tiba di pos yang baru. Orang bisa saja menuduh cara bekerja yang sedemikian itu tidak dengan “planning� yang baik. Tapi inilah ciri khas sebuah negara yang mau menata diri. Inilah yang disebut Soekarno dengan merdeka dulu, baru menata yang lain. Dan Soedarsono, sesuai dengan keyakinannya, ya saja. Juga Latifah. Baginya ini satu keuntungan. Tapi sebenarnya ada hal baru yang ingin ia tahu. Bagaimana nasib Hian Biauw dalam penyergapan di Pandaan itu? Apakah ia selamat? Karenanya sebelum berangkat ke Jakarta, ia menyempatkan diri ke Surabaya. Tapi di sana ia tak menemui siapa-siapa. Tak ada orang yang dikenalnya dan semua tak tahu siapa Hian Biauw itu. Masing-masing orang sibuk menata diri sendiri.... Latifah menyesali diri sendiri, mengapa dulu mereka tidak saling memberi alamat. Hian Biauw sendiri pastilah tak tahu di mana alamat rumahnya di Malang. Padahal Malang dan Surabaya cumalah

282


dua kota yang saling dipisahkan dengan jarak tak lebih dari seratus kilo meter. Ia cuma ingat pesan Hian Biauw dulu: “Jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu kembali, carilah aku di Prigen. Aku pasti kembali ke sini untuk menjadi guru. Jika kau kelak juga sudah menjadi dokter, berkunjunglah ke sini”. “Mengapa kau pilih Prigen” “Aku menyukai alam di sini. Begitu indah dan sangat permai. Seperti dulu aku pernah bilang, rakyat di sini sangat miskin” “Pemerintah pasti akan membangun daerah ini," jawab Latifah. “Memang pasti! Tapi pembangunan itu sendiri pasti akan sia-sia, kalau rakyat belum siap. Kalau rakyat masih bodoh, rakyat justru akan berpikir bahwa pemerintah telah berbuat hal-hal yang aneh. Misalnya kalau pemerintah mendirikan pabrik. Apa rakyat tahu tentang apa yang disebut pabrik itu. Tahu tentang mesin yang bisa berjalan sendiri dan cuma dikendalikan oleh satu orang saja. Padahal mesin itu hidup karena ada aliran listrik. Lalu listrik itu sendiri apa artinya bagi masyarakat. Jangan-jangan semuanya malah membuat masyarakat jadi bengong dan mereka berdiri sebagai barisan penonton saja menganggap klenik. Padahal mereka mesti terlibat...” “Kalau terlalu berkhayal, Biauw” “Tidak, Latifah. Pendidikan harus kita nomorsatukan. Kebodohan harus kita perangi. Lihat rakyat di sekitar kita ini. Semuanya tak bisa membaca. Anak-anak juga tak sekolah. Padahal merdeka berarti rakyat harus mendapat hak mereka yang paling utama, yakni hak mendapat pendidikan” “Lantas kalau aku tidak cari kau, kau sudah punya istri perempuan desa, yang selalu kau katakan, tubuhnya montok karena sering jalan kaki. Lain dengan kita, kemana-mana naik sepeda.

283


Lantas, aku juga nanti ketemu dengan anak-anakmu yang ingusan bertelanjang dada...” Hian Biauw saat itu tertawa. “Latifah, Latifah," katanya. “Telanjang dada dan ingusan itu memang pemandangan yang ada sekarang. Mereka berbuat demikian karena mereka masih bodoh dalam segala hal. Tapi kelak, kalau pendidikan sudah masuk, kau pasti akan heran melihat bocah-bocah di sini berpakaian rapi, berseragam sekolah” “Itu impianmu?" tanya Latifah. “Ya," jawab Hian Biauw perlahan. Entah apa yang dipikirkan. Ia begitu berhasrat untuk ikut mencerdaskan rakyat desa. Kalau peperangan sudah selesai. Latifah kemudian bertanya lagi: “Lantas bagaimana aku harus menyebut istrimu orang yang desa itu... Encim?" goda Latifah. Tapi godaan itu bagi Hian Biauw berarti banyak. Bagi dia, bagi keluarganya, orang-orang di desa sebenarnya termasuk kelompok yang tak terhitung. Tak ada dalam kamus mereka untuk bicara tentang orang desa. Mereka cuma bernggapan bahwa pribumi dan bocah-bocah itu cuma layak jadi kacung. Hian Biauw ingin mengikis pendapat yang salah itu. Perbedaan yang menyolok antara apa yang disebut pribumi atau orang Jawa dengan orang Tionghoa cuma soal dalam pendidikan saja. Orang Tionghoa tak sayang mengeluarkan biaya untuk mendidik anak-anaknya. Kalau perlu ke sekolah guru gubernemen karena guru saat itu punya gaji yang besar. Tentang vitalitas, kemampuan? Oh, sama saja. Manusia di dunia ini sama saja. Dimana-mana yang bodoh ada yang pintar. Buktinya, Soekarno pintar. Orang seperti Deglok cuma jadi tukang pukul. Hatta juga pintar. Syahrir juga pintar. Bahkan mereka mungkin mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai orang Tionghoa. Mereka berani melawan Belanda. Mereka berani terus

284


terang mengutarakan isi hatinya, keingininannya untuk merdeka, meskipun untuk itu mereka harus ditangkap, lantas diasingkan. Tapi kalau Latifah mempunyai anggapan yang sinis tentang orang-orang desa, itu sungguh mengherankan. Bukankah Latifah orang Jawa dan orang-orang desa itu juga orang Jawa. Bukankah mestinya mereka yang merasa senasib lahir dan batin? Tapi ia tak ingin menyinggung perasaan gadis ini. Karenanya ia cuma menjawab: “Kalau pasti akan menjumpai diriku masih seorang. Tak ada istri dan tak ada anak yang ingusan dan bertelanjang dada” “Jadi kau tetap membujang di sini, di hawa yang dingin begini," goda Latifah. “Ya, terkecuali kau mau jadi istriku...” Kini Latifah yang bengong. Soal ini soal yang pelik. Ia tak mau menjawab. Kemudian ia berdiri dan lari meninggalkan Hian Biauw. Jadi, cuma itu saja yang diingat bahwa Hian Biauw akan kembali ke desa tempat mereka berjuang dulu. *** Dalam hari-hari yang begitu sempit, Latifah mendatangi lagi tempat mereka dulu bermarkas. Tapi juga di tempat keluarga-keluarga desa yang dulu sering didatangi Hian Biauw tak ada yang tahu lagi tentang pemuda itu. Ia sudah mencari rata. Ketika tiba di bawah pohon rindang yang dulu itu, kenangannya datang lagi. Di bawah pohon ini dulu, ia untuk pertama kalinya dicium seorang laki-laki. Apakah itu cuma laki-laki yang pertama, bukan yang terakhir? Dan ke mana ia harus mencari Hian Biauw. Apakah tewas ?! *** Pertanyaan itu terus bersembunyi dalam lubuk hati Latifah. Hampir tiga puluh tahun ia menyimpan pertanyaan itu. Selalu ada di dalam hati, tapi tak pernah ada jawaban. Sampai satu saat, setelah lama di Amerika Serikat, setelah ia lulus sebagai dokter, kemudian

285


berhasil mencapai gelar doktor, ia diperbantukan sebagai tenaga medis PBB untuk melihat keadaan mereka yang ditahan di Pulau Buru tahun 1975. Ini untuk pertama kalinya ia ikut dalam kegiatan PBB keluar negeri. Artinya, selama ini, ia cuma diperbantukan sebagai tenaga ahli di kantor pusat. Lama ia merindukan pulang kembali ke kampung halaman. Tapi niat itu terus tertunda. Bukan karena ia tak punya waktu atau ongkos, melainkan karena ia tak ingin, kenangan lama yang terpendam itu membakar kembali dadanya. Ia ingin melupakan kenangan manis masa remajanya bersama Hian Biauw. Ia tak ingin cuma sekedar mengenang kembali. Ia ingin mengetahui dengan pasti ke mana sebenarnya Hian Biauw. Sering ada beberapa teman yang dahulu tergabung dalam pasukan Mangku ia surati. Tetapi semuanya tak ada yang tahu kemana Hian Biauw sesudah serangan ke Pandaan itu. Mereka cuma mengetahui bahwa yang lain, kecuali Hendro selamat dan kemudian bekerja di Jakarta. Dengan Mayor Mangku ia juga pernah bertemu, ketika Mayor Mangku yang sudah berpangkat tinggi satu hari ikut utusan Indonesia untuk memberikan keterangan tentang tahanan G 30 S/PKI dalam rangka mengembalikan citra yang baik tentang Indonesia memang banyak sekali mendapat pemberitaan yang negatif, karena tidak tahunya mereka tentang situasi yang sebenarnya saja. Latifah sendiri memang mengetahui tentang pergolakan yang terjadi di Indonesiapada tahun 1965. Tapi sama sekali ia tak pernah menduga bahwa Hian Biauw terlibat di dalamnya, sebagai orang yang aktif dalam lembaga pendidikan Baperki. Karenanya tugas baru untuk menyertai tim PBB yang meninjau pulau Buru sangat disukai. Dengan demikian ia akan bisa meninjau kembali tanah tumpah darah yang sudah lama ditinggalkan. Tapi justru di sini ketika untuk ketiga kalinya ia sempat ke barak-barak yang ada di sana, ia berjumpa kembali dengan Hian Biauw yang akan merupakan rombongan kedua

286


yang dibebaskan. Latifah mendapat tugas untuk menilik kesehatan mereka. Laporannya selama ini, sebagai orang Indonesia sendiri yang lama bertugas di PBB dan WHO sempat berhasil memberikan penerangan yang baik tentang Indonesia. Bahwa apa yang terjadi di pulau Buru tetap merupakan sarana untuk mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat nantinya.

287


63 Latifah semula tidak mengenali Hian Biauw. Pemuda yang dulu masih bercelana pendek dengan sering menggunakan sarungnya untuk “kemul” tubuhnya, kini berubah menjadi laki-laki yang gemuk dan berjambang. Latifah mengenalnya dari daftar nama mereka yang harus diperiksa kesehatannya sebelum mendapatkan kartu bebas dari segala penyakit. Untungnya Hian Biau kebetulan berada dalam daftar yang harus diperiksa. Padahal saat itu ada tiga orang dokter yang diperbantukan WHO. Jika lewat, entah kapan mereka bisa bertemu lagi...! Saat itu Hian Biauw sudah membuka bajunya. Meletakkan di “centelan” pakaian yang tersedia. Ketika ia membalik, dia jadi heran ketika melihat dokter wanita yang tadi cuma dilihatnya sekilas, kini memandangnya tajam-tajam. Dokter ini amat sederhana. Rambutnya cuma diikat dengan gelang karet. Agak keriting. Sayupsayup rasanya wajah ini pernah ia kenal. Tapi ia lupa. “Biauw...," tiba-tiba saja dokter itu berkata perlahan. Mendengar itu Hian Biauw segera tersadar. Latifah. Ya, betul. Dokter itu adalah Latifah. Dan tiba-tiba saja air mata keluar dari peluk matanya. Seolah ia tak percaya pada takdir. Bahwa di saat ia mau dibebaskan. Ia masih sempat bertemu kembali dengan perempuan yang sering masih diimpikannya dalam tidurnya yang lelap. *** Perjumpaan. Seringkali memang seperti perpisahan, membuat orang menjadi “trenyuh” dalam hati. Ada rasa “nelongso," mengapa pertemuan itu harus terjadi di tempat yang seperti ini. Di kamp-kamp penahanan orang yang terlibat G 30 S/PKI. Mengapa bukan dalam seminar-seminar internasional ? bagi Latifah ada 2 perasaan yang berkecamuk. Ia sangat gembira melihat sahabatnya,

288


mungkin juga kekasih dalam hatinya, masih hidup dan sehat. Tapi yang membuat sedih hatinya, mengapa Hian Biauw sampai terlibat dalam gerakan yang terkutuk itu? Bukankah ia dahulu mempertaruhkan jiwa raganya untuk berjuang di barisan para pejuang. Bukankah ia dahulu yang merasa tak punya apa-apa dengan Republik yang baru diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, rela menyabung nyawa? Sekarang, apakah ia juga punya pendapat bahwa negara ini bukan lagi miliknya, sehingga karenanya ia juga ingin berontak di tahun 1965. Apalagi menurut pengetahuan Latifah, RRC terlibat dalam gerakan terkutuk itu. Dengan telanjang dada, Hian Biauw mencari kursi dan duduk di situ. Ia kemudian memandangi Latifah dengan pandangan yang penuh arti. Tapi ada rasa sayu pada pandangannya. Sepertinya ia malu bertemu dengan Latifah dalam keadaannya yang seperti sekarang. Andaikan bisa, ia ingin bertemu dengan Latifah sesudah ia lepas dan menjadi manusia yang merdeka lagi. Atau bertemu kembali setelah ia bisa berbakti kembali menjadi guru. Tapi apakah semuanya mungkin? Apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk menjadi guru? “Aku senang kau bisa segera bebas," ujar Latifah kemudian seraya mencari kursi lain, meletakkan di muka Hian Biauw duduk. Kebetulan Hian Biauw adalah orang terakhir yang harus diperiksa. Hian Biauw cuma mengangguk. “Lama kita tak bertemu," ujar Hian Biauw. Seperti dulu, omongannya perlahan. Hampir tak terdengar. Ada sesuatu yang ditahannya sehingga kalimat yang menggetarkan perasaannya hampir-hampir tak terdengar oleh Latifah. “Dulu kau polos, bersih mukamu. Mengapa sekarang pakai pelihara jambang?" tanya Latifah. “Ini tumbuh dengan sendirinya. Dulu aku setiap pagi bercukur. Di sini, apa gunanya bercukur..," dalam kata-katanya Hian Biauw tampak putus asa.

289


Baginya memang seolah masa depan merupakan satu tekateki. Apa yang harus dilakukan sesudah ia bebas. Laki-laki sering mempunyai sikap seperti ini. Jika sudah jatuh, perasaannya bercampur jadi satu tak karuan. Seolah sesudah jatuh ia tak berdaya sama sekali. Di sini kemudian berperan makhluk yang selama ini disebut sebagai makhluk lemah: wanita. Wanita tampaknya bisa kuat untuk bangkit lagi setelah mengalami sesuatu yang hebat. Tak cepat putus asa dan sering bisa menjadi pendamping laki-laki. “Kau akan pulang ke Surabaya lagi?" tanya Latifah. “Ya” “Mengapa kau baru datang?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Hian Biauw. Ia sendiri merasa heran, mengapa pertanyaan itu menyeletuk begitu saja dari mulutnya. Seolah ia menuntut kehadiran Latifah harus sudah sejak dulu-dulu. Di kala ia merasa kesepian dalam barak-barak yang terpencil di kala malam hari, kalau matahari sudah terbenam. “Aku tak tahu kau ada di sini?” “Kau memang sebaiknya tak tahu," lagi-lagi keluar omongan yang aneh dari mulut Hian Biauw. Latifah kemudian berdiri, menghampiri dinding sebelah kiri mereka dan mengambil baju seragam yang tadi dipakai Hian Biauw. “Pakailah," ujarnya kemudian seraya menyerahkan baju yang baru diambil dari “centelan” Hian Biauw menerimanya. Ada rasa enggan untuk memakainya. Tapi baju itu akhirnya dipakai juga, setelah sadar, bahwa tak sepantasnya ia berhadapan dengan seorang dokter, wakil dari WHO dengan dada telanjang. Ia lupa, bahwa Latifah hadir sekarang ini bukan sebagai sahabatnya dahulu, tetapi sebagai seorang petugas dari PBB. “Maafkan aku," katanya seraya mengancingkan baju. “Tak apa-apa," jawab Latifah, lalu duduk kembali. “Ada keluhan pada dirimu," tanyanya kemudian.

290


“Tidak. Tapi aku harus kau periksa bukan?” “Kau tampak segar-bugar seperti dulu” “Aku mesti kau periksa. Aku perlu surat keterangan untuk bisa keluar dari sini seminggu lagi.” “Akan kuberikan surat itu” Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Latifah berdiri. Dibuka, lantas muncul seorang lelaki bule. Dokter juga. Menyerahkan satu map laporan setelah memeriksa penghuni barakbarak yang lain. Latifah mengajak dokter itu masuk. Kepada Hian Biauw dikenalkan namanya sebagai Jansen, dokter dari Swedia yang juga sama-sama anggota WHO. Kepada Jansen. Latifah menyatakan bahwa ia mengenal Hian Biauw sejak mereka masih remaja, ketika sama-sama berjuang di tahun 1945 sampai 1949. Jansen manggutmanggut. Tak memberikan komentar. Sesaat ia kemudian meminta diri. Mungkin ia tahu bahwa Latifah ingin bicara banyak dengan sahabatnya itu. “Sejak dari Prigen dulu, kau ke mana?" tanya Hian Biauw. “Aku dulu mondar-mandir cari kau. Surabaya kembali Prigen. Prigen kembali Surabaya," jawab Latifah. “Tapi kau sebenarnya dimana setelah pertempuran di Pandaan?” “Aku di Pecalukan. Kau sendiri” “Aku kemudian ikut Bapak ke Amerika sampai Sekarang. Baru kali ini aku pulang. Selebihnya aku selalu di luar negeri” “Berapa anakmu sekarang," tiba-tiba tanya Hian Biauw. Gadis yang dulu selalu berkepang rambutnya itu sekarang masih tetap seperti dulu. Yang beda mungkin cuma, bahwa ia sekarang tambah gemuk dam wajahnya bersih, tidak begitu hitam seperti dulu. Mungkin pengaruh cuaca di Barat yang membuat kulitnya bersih.

291


“Anakku? Berapa ya," jawab Latifah. Kemudian ia tertawa. Wajahnya bersemu merah. “Kau sendiri berapa. Kau yang bilang dulu," ujarnya kemudian. Ganti Hian Biauw yang tertawa. “Anakku? Berapa ya. Banyak! Aku tidak menjalankan keluarga berencana. Dulu belum ada. Akhir-akhir ini saja aku tahu ada Keluarga Berencana lewat majalah yang masuk”.

292


64 Latifah sudah menduga. Laki-laki seperti Hian Biauw yang pendiam, pastilah laki-laki yang hangat. Kehangatan bisa menghasilkan anak-anak yang banyak. Seperti orang desa. Tak tahu apa-apa lagi selain menggeluti istrinya. Sampai anaknya berjumlah sebelas atau lebih. Setahun pasti punya anak. Bahkan setahun bisa dua. Satu di ujung tahun, satunya lagi di bulan Desember. Seolah melahirkan anak adalah satu kerja yang rutin. Latifah berusaha menjaga gejolak hatinya. Ia pun sudah menduga, bahwa andaikata Hian Biauw selamat, pastilah ia sudah berkeluarga. Karena menurut Hian Biauw, banyak anak bukanlah menjadi budaya orang desa saja. Orang Tionghoa juga punya keyakinan bahwa banyak anak adalah banyak rezeki. Tiap anak mempunyai rezeki sendiri-sendiri. Jadi tidak ada alasan untuk menyetop kelahiran. “Yang besar sudah umur berapa?" tanya Latifah polos. Hian Biauw hanya tersenyum. Masih mencerminkan rasa sayu seperti tadi. Rasanya memang serba salah sekarang ini. Ia harus bagaimana bersikap. Perempuan yang duduk dengan wajah yang masih seperti dulu, polos, sekarang ini punya kedudukan tinggi. Bukan cuma pada tingkat nasional tapi juga internasional. Jadi ia harus menjaga jarak. “Aku belum berkeluarga," jawabnya kemudian. Latifah yang sekarang diam. “Betul itu?� “Untuk apa aku bohong padamu? Selama ini, sebelum masuk kamp di pulau Buru aku terlalu sibuk. Aku ternyata mencintai dunia pendidikan lebih dari semuanya. Kau tahu, ketika aku pulang, mama ternyata sudah meninggal dunia. Matinya tragis. Kata papa, ditembak perampok. Tapi aku kira, mama ditembak para pejuang, yang mengira

293


papa membantu Baperki. Dari sana aku kemudian ke Pecalukan. Aku dirikan sekolah disana. Cuma aku yang melakukan tugas di sana. Ada beberapa anak muda yang pernah duduk di SMP yang kemudian mengajar di sana. Di sana pula aku kecewa. Tahun sekitar enam puluhan, papa tidak boleh berada di desa lagi. Juga aku. Kami terpaksa keluar dari sana. Meninggalkan semuanya yang kami cintai. Anak-anak desa yang selama ini sudah tidak bertelanjang dada dengan ingus di hidung, kemudian bertelanjang dada lagi. Pendidikan menjadi jauh dari mereka dan hidup mereka pasrah, sampai pendidikan pemerintah menjangkau nasib mereka. Tapi kapan? Itulah pertanyaan yang memelaskan sebenarnya. Tapi aku bisa apa? Kemudian ada perjanjian dwi kewarganegaraan Indonesia dan menaggalkan kewarganegaraan RRC. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu. Lantas ada usaha Baperki mau mendirikan sekolah sampai Fakultas. Aku bergabung membenahi tata usaha sehingga universitas itu bisa berkembang dengan baik. Kami menampung mereka yang tidak bisa ditampung di negeri. Maksudnya juga untuk membantu mengatasi ketidakmampuan pemerintah menampung semua lulusan SMA di universitas negeri. Tapi apa daya, kelanjutannya kau mungkin sudah mengetahuinya dengan jelas... kau sendiri apa betul kau tidak pernah pulang lagi sejak dulu itu?� Latifah menganggukan kepalanya. “Nasib manusia memang tidak menentu Biauw. Aku sendiri mana menduga bahwa sebagian besar dari usiaku sekarang ini bakal kulewati di luar negeri dan tampaknya aku sekarang lebih cocok dengan budaya sana daripada budaya sendiri. Dulu waktu kedua orang tuaku masih hidup, budaya yang disebut budaya Jawa itu masih kuikuti. Tapi setelah keduanya meninggal, budaya itu tampaknya tercecer di negeri orang dan aku makin intim dengan budaya orang. Orang mungki bilang, aku wanita Indonesia yang berkarir tinggi

294


sebagai diplomat. Tapi apalah arti semuanya tanpa satu kebahagiaan hidup” “Mengapa?” “Pertanyaan yang sama Biauw. Pertanyaan yang sama bisa aku ajukan pada dirimu. Mengapa kau cuma seorang diri sampai sekarang” Hian Biauw diam. Latifah diam. Keduanya saling membisu. Mencoba menekan perasaannya sendiri-sendiri. Akhirnya Hian Biauw memberanikan diri berkata, meskipun perlahan: “Aku selalu menantikan kedatanganmu. Tapi tidak pada saat seperti ini” “Mengapa tidak seperti saat ini, Biauw” “Aku impikan kau datang waktu aku mengajar. Waktu aku jadi guru. Tidak seperti ini. Apa yang bisa kau banggakan tentang aku yang sekarang seperti ini. Aku ingin kita bertemu dan kau bisa bangga bertemu aku, seperti juga sekarang aku bangga bertemu kau...” “Tidak Biauw. Dalam keadaan apa saja, pertemuan ini sebenarnya sangat membahagiakan kita. Kita jangan saling menipu diri sendiri. Saling berkukuh mempertahankan harga diri yang kita sendiri sebenarnya tak mampu sampai di mana tingginya. Terus terang saja, aku memang tidak pernah bermimpi ketemu kau di tempat ini. Tapi ini rupanya sudah suratan takdir dan kehendak Tuhan jugalah yang berlaku sekarang. Bahwa kita bertemu di saat kau mau dibebaskan, dan bukan di saat kau mau dihukum. Bukankah ini satu rahmat Tuhan yang harus kita syukuri?” ***

295


65 Hari-hari terakhir Biauw di pulau Buru merupakan kenangan tersendiri. Tiga hari lagi ia akan berangkat kembali ke Jawa, ke Jakarta dalam urutan gelombang kedua. Yang paling membahagiakannya adalah pertemuannya dengan Latifah. Begitu sederhananya perempuan itu dengan jabatan yang begitu tinggi. Tapi ia tak sempat bertemu lagi dengan Latifah, kecuali untuk kedua kalinya setelah pertemuannya yang pertama. Ketika itu ia mendapat panggilan dari kepala bagian kesehatan untuk bertemu dengan Latifah. Orang-orang di barak bagian kesehatan tahu semua, bahwa dokter wanita yang menyeleksi kesehatan mereka adalah bekas seorang pejuang wanita di tahun-tahun empat puluh lima. Pada pertemuannya yang kedua itulah ia mengetahui bahwa sejak pertemuannya yang terakhir di Prigen, Latifah masih selalu menunggu kedatangannya. Latifah ternyata sangat mencintainya. Ada rasa bangga dalam hatinya mengingat semuanya ini. Juga ada rasa haru. Tapi kemudian, ada perasaan lain yang berkecamuk dalam hatinya. Apakah ia akan meneruskan kisah cinta tempo dulunya? Apakah ia tidk akan menjadi penghalang karies Latifah? Layakkah ia seorang bekas tahanan politik mencintaidan dicintai seorang perempuan yang begitu mulia hatinya? “Apakah orang-orang seperti aku ini masih punya masa depan, Latifah?" demikian tanyanya pada pertemuan yang kedua. Latifah kemudian memandangnya serius. Lalu jawabnya. “Tentu Biauw. Pemerintah tentunya tidak hanya sekedar melepaskan. Sudah barang tentu permasalahannya tergantung kalian sendiri” “Aku cuma ingin menjadi warga negara yang baik nantinya” “Itu pun sudah cukup dan kau pasti bisa menjadi warga negara yang baik. Kemana kau akan pergi setelah sampai di Jakarta nanti?”

296


“Aku kira, aku akan terus ke Malang. Mungkin rumah ayahku masih ada di sana. Yang di Surabaya sudah dijuali semua” “Kalau rumah itu sudah tidak ada lagi” “Mudah-mudahan masih ada. Sebab kalau tidak, aku tak tahu kemana aku harus menuju dari Jakarta” “Kau tunggulah aku di Jakarta” “Lama kau disini?” “Mungkin tiga bulan. Mungkin lebih cepat, atau mungkin juga lebih lama. Persoalannya, tenaga yang dikirimkan kemari sangat terbatas, dan kami harus menyelesaikan semuanya dalam waktu yang secepatnya...” Hian Biauw diam. Ia rasanya tak tahu, apa yang harus diperbuatnya di Jawa nanti. Menurut keterangan ayahnya dulu juga ditangkap. Tapi ia tak tahu di mana ayahnya ditahan. Ia sudah mencari ke seluruh barak-barak yang ada di pulau ini, tapi tak seorang pun yang tahu tentang ayahnya. Atau, mungkin juga ayahnya tidak dikirim kemari karena ayahnya memang sudah tua saat itu. Rasanya ia seperti tidak mempunyai masa depan lagi. Rasanya ia lebih suka berada di pulau ini. Meskipun umpamanya harus sendirian. Pulau ini cantik. Laut yang membiru di pagi hari dan di saat bulan purnama, sangat indah, andai kata saja ia bukan seorang tahanan. Andai ia seorang manusia yang bebas, ia akan bisa menikmati keindahan. Tapi sebagai tahanan, keindahan itu cuma membikin hatinya sedih. Ia ingat ibu yang sudah meninggal dunia. Ibunya sangat senang pada keindahan pantai. Karenanya ibunya sering mengajaknya ke Probolinggo kalau perayaan Cap Go Meh. Ramai dulu di tepi laut kota itu. Orang samasama bercebur ke laut. Dan perawan-perawan kota turun ke laut sambil menyingsingkan roknya. Terlihat paha-paha yang putih mulus. Itu dulu ketika ia masih kecil. Anak-anak pribumi selalu mengelilingi tempat mereka duduk yang beralaskan “kloso”. Ibunya selalu membawa uang logam dan uang logam itu selalu dibagikan, dan

297


anak-anak Jawa itu berebutan. Itu dulu. Tapi sekarang keadaannya tentu berlainan. Probolinggo yang terakhir didatangi tahun 1962 sudah berubah banyak. Pantainya sudah tidak seindah dulu lagi. Terlalu banyak kantor sekarang dan tampaknya pelabuhan itu bisa berkembang jadi pelabuhan yang penting. Tidak seperti pulau ini, yang dikelilingi lautan yang biru, jauh dari kapal-kapal yang singgah. Seolah orang yang mendiami tempat ini ditakdirkan hidup menyendiri. Apakah pulau ini nantinya akan kosong kembali setelah ditinggalkan penghuninya yang sudah menggarap tanah lebih dari sepuluh tahun dengan penuh cinta kasih? “Latifah, pernahkah kau tahu bawha penghuni pulau ini ada yang diperbolehkan terus bertempat tinggal di sini?” Latifah terkejut dengan pertanyaan itu. “Apa maksudmu, Biauw?” “Rasanya aku lebih kerasan di sini daripada aku harus kembali ke Jawa. Rasanya aku lebih bisa hidup di sini daripada di Jawa. Di sini semuanya tersedia untuk makan dan sebagai manusia merdeka, pulau ini sungguh indah” “Tapi jauh dari peradaban, Biauw” “Peradaban, Latifah. Apa sebenarnya yang disebut peradaban. Dengan Amerika tentunya lain. Tapi di sini ada sesuatu yang tidak ada di sana. Di sini ada keterikatan, kesatupaduan, antara alam dan manusia. Alam yang kadang-kadang ganas kadang-kadang lemah lembut terasa satu dalam jiwa kita. Tidak sama dengan Amerika, atau juga tidak sama dengan Jawa yang hiruk pikuk. Laginya aku rasanya tidak akan memperoleh kembali hak diriku sebagai manusia yang merdeka”. “Tidak Biauw. Sering manusia memangnya mengalami benturan-benturan dalam benaknya antara terhukum dan kemerdekaan memang ada selisih budaya yang lain. Orang yang terhukum terikat pada perintah. Ia hanya menurut atau ia kena sanksi.

298


Manusia yang merdeka harus mengatur dirinya sendiri. Tidak ada perintah. Kita yang terbiasa menerima perintah akan merasa aneh dan ragu-ragu kalau harus memerintah diri kita sendiri. Lepas dari pulau ini memang bukan satu penyelesaian yang tuntas. Ia cuma satu bagian dari kehidupan yang harus kau jalani. Fase yang lain masih banyak dan untuk itu kau harus tabah dan kuat. Jangan kau terbawa pada kemelut antara kebebasan dan keterikatan di sini. Kau harus bisa membedakannya. Hidup yang ada di depan kita memang tak ada yang bisa tahu bagaimana bentuknya nanti. Tapi yang penting, hidup yang nanti itu betapa kerasnya harus kita hadapi. Di sini, kau memang akan merasa aman. Tak ada tantangan hidup. Jika hanya untuk makan, alam sudah memberimu lebih dari cukup. Tapi kehadiranmu di sini adalah merupakan yang sesungguhnya. Sadarlah, kau masih punya masa depan. Jika tidak, buat apa pemerintah repotrepot membebaskan kalian...� Hian Biauw serius mendengarkan jawaban Latifah. Tapi sedikit sekali yang masuk ke otaknya. Ia seperti yang dikatakan Latifah sudah terbiasa tidak berpikir lagi. Hidupnya penuh kerutinan dari hari ke hari. Tak ada yang harus dipikirkan lagi. Kini tiba-tiba saja ia harus berpikir tentang masa depan. Tentang apa yang harus dilakukan setelah ia bebas dan sampai ke akarta. Problematik seperti ini tampaknya bukan hanya menghantui diri Hian Biauw, juga yang lain. Dan Latifah melihat bahaya dari kehidupan orang-orang seperti ini. Mereka mudah sekali tergiur oleh ajakan orang yang tidak bertanggung jawab dan gampang sekali ditipu kembali. Latifah mengusulkan sebagai utusan dari kesehatan dunia untuk selalu melakukan pembinaan terhadap mereka yang sudah dilepas. Sebab pembinaan itu meskipun dirasakan oleh mereka sebagai satu pengawasan, tetap penting, ketimbang mereka nantinya terjerumus kembali karena situasi dan kondisi yang belum mantap.

299


Yang masih bersuratan dengan anak atau istri, memang masih lumayan, sebab mereka pulang ada yang dituju. Tapi seperti Hian Biauw, kemana ia harus pergi? Ke Malang seperti yang diharapkan dan dicita-citakan? Iya kalau orang tuanya masih ada. Kalau sudah tidak ada dan rumah sudah dijual oleh keluarga dan uangnya tak tentu rimbanya, apa yang harus dilakukan nanti. Karenanya tak heran, kalau dalam situasi seperti sekarang ini, ada macam-macam pikiran yang berkecamuk. Ada pikiran untuk tetap tinggal di pulau Buru dan tidak ikut ke Jawa kembali. Lantas ada macam-macam alasan yang membuat kacau pikiran. “Kau akan kembali ke Amerika sesudah ini?" tanya Hian Biauw. Serasa dalam pertanyaannya itu menunjukkan kemelut hatinya. Ada rasa takut untuk berpisah. Sahabat-sahabat yang senasib memang dipunyai di tempat ini, yang dihuni lebih dari sepuluh tahun. Tapi itu pun cuma terbatas pada teman-teman yang senasib. Tidak seperti Latifah, yang dulu dikenalnya di medan juang. Yang pernah dicium dan saling mengutarakan isi hati di bawah pohon yang rindang saat hujan deras menerpa bumi.

300


66 Ia ingin sebetulnya Latifah ada di sampingnya terus. Sayang, kemudian berkecamuk lagi ingatan yang menggelisahkan dirinya. Mungkinkah? “Aku harus kembali Biauw? Tampaknya aku sudah merupakan bagian dalam kehidupan internasional di PBB dan WHO. Tampaknya aku tidak bisa keluar dari lingkaran yang sudah kuhidupi sejak lama itu," jawab Latifah. Nada suaranya juga mencerminkan keraguan harinya. Ia tahu bahwa jawaban itu akan membuat sedih hati sahabatnya. Tapi karier yang memang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Keduanya sesaat diam. Latifah kemudian yang bicara lagi: “Bagaimana kalau kau memulai hidup yang baru di sana?” “Aku ikut kau?" tanya Hian Biauw. “Ya” “Itu satu hal yang mustahil. Rasanya tak ada yang bisa kulakukan di sana. Sekarang aku menyesal tidak mengikuti nasihat komandan kita. Mayor Mangku untuk belajar lagi. Kau pernah bertemu dengan beliau?” “Pernah sekali di PBB. Tapi beliau juga tak mengetahui di mana kau waktu kutanya dulu” “Aku memang tak pernah bertemu lagi. Seandainya beliau tahu, mungkin beliau bisa menolong diriku”. Jawaban Hian biauw ini seolah menunjukkan isi hati Hian Biauw yang paling dalam. Kekacauan yang paling dalam di benaknya. Padahal orang seperti dia, dikenal Latifah dulu , sama sekali tidak mau meminta tolong pada orang lain. Apakah kehidupan yang keras sudah mengubahnya menjadi orang yang merasa dirinya tak berdaya? “Dalam situasi seperti dirimu sekarang, kau harus menolong dirimu sendiri, Biauw. Tak ada orang yang bisa menolong dirimu.

301


Percayalah, kau sendiri yang harus menolong dirimu. Bukan orang lain.” “Aku tidak akan merengek minta dibebaskan, Latifah. Aku memang sudah pasrah. Cuma aku selama ini hanya ingin melihat orang desa berkembang maju. Menurutku, itu cuma bisa digarap melalui pendidikan. Aku cuma ingin memberitahukan, seandainya aku tak diusir dari desa, aku akan tetap jadi guru. Dan kau tahu, orang-orang seperti aku yang ikut berjuang, takkan minta perhatian lagi. Tapi mengapa aku dulu harus memilih kembali kewarganegaraan Indonesia? Negeri yang aku ikut memperjuangkan. Ah ... andaikata semuanya tidak pernah ada, aku akan tetap di Pecalukan. Kau pernah ke sana?” “Tidak” “Sayang kalau begitu. Kau sudah melihat dunia luar. Tapi kau belum melihat dunia di negerimu sendiri. Pecalukan desa yang indah dingin hawanya dan aku khawatir, satu hari kelak desa itu akan berubah menjadi Tretes. Akan banyak dibangun bungalowbungalow milik orang kaya dan penduduk akan makin terdesak” “Itulah kemajuan, Biauw” “Bukan Latifah. Itu bukan kemajuan. Rakyat yang masih bodoh dan orang-orang seperti kau yang sebenarnya harus kembali ke desa. Di sana ladang garapan masih terbentang luas. Masih banyak yang harus ditata kembali.” Jawaban Hian Biauw membuat Latifah malu. Lebih-lebih kalau ia ingat, bahwa orang yang bicara kepadanya sekarang adalah orang Tionghoa. Yang pernah sakit hati karena harus memilih kembali kewarganegaraan Indonesia, di mana sebelumnya ia sudah merasa menjadi sebagian dari negeri ini. Karena ia dulu juga yang memperjuangkan dan membela kemerdekaan negeri ini. “Mungkin kau benar, Biauw” “Dalam hal yang satu ini, Latifah, aku merasa diriku benar. Sejak dalam perjuangan dulu, aku sudah mempunyai kemantapan,

302


bahwa negara yang merdeka harus mempunyai warganegara yang maju pendidikannya. “Kau nanti mungkin bisa menjadi guru lagi, Biauw” “Aku kira jabatan itu tak mungkin boleh lagi," jawab Hian Biauw. Ia melihat jauh ke depan lewat jendela. Rasanya ia seperti ingin tahu, apa jadinya anak-anak di Pecalukan yang ia tinggalkan begitu saja, karena hatinya tersinggung ayahnya tak diperbolehkan di desa karena ada PP 10 dan ia sendiri kemudian harus memilih kewarganegaraan Indonesia. Lantas timbul andaikata lagi. Andaikata semuanya tak ada, mungkin ia sudah bisa mendirikan SMP. Karena murid-murid Sd itu harus ia tampung juga. Mereka tak boleh ke kota. Karena kalau ke kota, mereka nanti enggan untuk pulang kembali ke desa. Padahal desa sangat memerlukan tenaga mereka. Modernisasi menurut pemikirannya hanya bisa berhasil kalau dikerjakan oleh putra-putra daerah yang sudah maju pikirannya. Itu dulu, sekarang cuma tinggal bayang-bayang yang makin lama makin samar. Ia kemudian berkata dengan nada yang pasti: “Kalau kau selesai dengan tugasmu, Latifah, kau pulanglah. Bukan untukku, tetapi untuk orang-orang di sesa, yang dulu samasama kita cintai. Yang sama-sama pernah memberi kita makan dalam kesederhanaannya.” “Pulang kembali ke tanah air? Tampaknya ini sesuatu yang baru bagi Latifah. Sebab selama ini hanya usia remaja yang dilewati di tanah air. Selebihnya, sampai usianya sekarang dilewati di luar negeri. Ia sudah merasa bagian yang utuh dari kehidupan di sana. Bukan karena ia tidak mencintai bangsanya, tapi karena ia merasa di sana ia bisa berkembang dan berbuat lebih banyak untuk kemanusiaan. “Aku pasti pulang, Biauw. Tapi tidak sekarang. Masih banyak orang yang membutuhkan tenagaku.” “Tapi bangsamu juga membutuhkan.”

303


Latifah tak menjawab. Hatinya gembira kembali. Hian Biauw ternyata masih punya semangat. Cintanya kepada negeri ini masih ada. Tapi apakah ia mempunyai kesempatan untuk membaktikan dirinya kembali? Mungkin ia nanti bisa mengurus di Jakarta. Tapi sepintas ia melihat pendidikan di Indonesia sudah maju pesat. SDSD sudah didirikan di mana-mana sampai ke pelosok yang terpencil. Pecalukan mungkin sudah dijamin oleh pemerintah. Rakyat di sana mungkin sudah mendapat pendidikan yang lebih dari tingkatan SD. Latifah akhirnya berkata: “Orang seperti aku, Biauw tak banyak. Maksudku, yang lebih pandai dari aku mungkin sangat banyak. Tapi yang memperoleh kesempatan seperti aku jarang ada. Aku ini merupakan sisa-sisa zaman dulu. Hanya kebetulan ayahku berdinas di sana. Aku kemudian melanjutkan studi di sana sampai memperoleh gelar doktor. Aku berkecimpung disana dan mereka menerima aku dengan tulus. Aku bisa membuktikan bahwa sebagai warga negara satu bangsa yang baru sampai pada taraf berkembang, aku mampu bekerja dengan baik. Kehadiranku bisa menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang nomor dua. Aku minta kau mau mengerti...� Tak ada lagi yang berkata. Juga Hian Biauw diam. Inilah pertemuannya yang terakhir dengan Latifah. Karena sesudah pertemuan ini, ia harus mengikuti upacara-upacara rutin pelepasannya untuk menjadi warga negara yang merdeka. Ada tangis dan air mata. Karena yang dibebaskan, meskipun tidak tahu nasib apa yang ada di depan mereka, dianggap oleh mereka yang tinggal sebagai sudah mendapat kepastian dalam hidupnya. Lepas dan merdeka. Dan semuanya bagi mereka lebih baik daripada tidak ada kepastian. Yang tinggal memang sedih. Mereka hanya menggantungkan harapan pada pemerintah, bahwa semuanya nanti akan dibebaskan. Karena itu petugas-petugas dari PBB/WHO dikirim kesana. ***

304


67 Kesalahan, kalau itu boleh dikatakan kesalahan, Latifah lupa menanyakan dimana alamat Hian Biauw di Malang. Juga ia lupa dimana Hian Biauw harus menginap seandainya ia mau menunggui di Jakarta. Semuanya lewat begitu saja tanpa perhitungan untuk mencatat. Pertemuan yang cuma singkat itu memang mengharuskan mereka berceita banyak. Tentang cita-cita dan impian manusia. Yang menentu dan yang tidak menentu. *** Seperti yang dikatakan, pada Hian Biauw, tiga bulan lagi ia baru sempat meninggalkan pulau Buru. Sampai ia mendata semua bersama petugas yang lain untuk laporan kepada lembaga dunia, bahwa kesehatan orang-orang di pulau Buru tidak mengecewakan. Bahwa semuanya diperlakukan dengan baik oleh pemerintah. Karena jika ada kerja paksa. Jika kam-kamp itu dianggap sebagai kamp kerja paksa, maka penghuninya tidak akan sesehat sekarang. Jika toh ada yang sakit, itu masih dalam taraf yang wajar. Bahkan berdasarkan pengalamannya, keadaan di kamp ini jauh lebih baik daripada keadaan di negara berkembang lainnya. Cuma, seperti yang diutarakan oleh Hian Biauw, tak ada yang bisa menikmati keindahan dan kesuburan pulau ini sebagai orang yang tidak merdeka. Bertugas di sini, meskipun hanya beberapa bulan, ia mulai menyadari, bahwa kemerdekaan adalah satu-satunya modal manusia yang paling berharga. Ia sekarang sadar mengapa ia dulu ikut berjuang. *** Di Jakarta ia baru ingat bahwa ia harus mencari Hian Biauw. Dengan mudah ia memang bisa mendatangi lembaga yang khusus mengurusi pembebasan. Tapi Hian Biauw ternyata langsung ke

305


Malang. Tapi ketika di Malang, di sana tak ada orang yang tahu. Mereka hanya memberitahukan, bahwa Hian Biauw cuma mampir sebentar lalu pergi lagi. Kemana ia pergi, tak seorang pun yang tahu. *** Latifah memang tidak bisa lama-lama di Indonesia. Ia harus segera memberikan laporan mengenai perkembangan kesehatan selama ia bertugas di Indonesia. Meskipun dengan hati berat, ia terpaksa tidak dapat menunggu sampai berjumpa kembali dengan Hian Biauw. Ia hanya mempunyai harapan serta keyakinan bahwa Hian Biauw pasti akan mau menghubunginya, serta akan mau menceritakan jika seandainya ia mengalami hal-hal yang menyulitkan. Dalam perjalanan pulang ke Amerika dalam pesawat terbang, ia merinci kembali kenangan. Betapa hebatnya yang dulu sangat dipujanya sekarang menjadi orang yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya. Dulu ia beranggapan, andai Hian Biauw tidak meninggal dunia dalam penyerbuan ke Pandaan, pastilah ia kemudian sekolah lagi, atau andaikata ia kemudian melanjutkan karier di Angkatan Perang, pastilah ia mempunyai kedudukan yang tinggi. Atau, andaikata ia jadi pedagang, pastilah ia jadi pedagang yang berhasil. Pengalaman di zaman perang, pastilah bisa memberikan banyak fasilitas. Tapi yang terakhir ini ia yakin, takkan diperbuat oleh Hian Biauw. Dalam waktu yang singkat ia sudah mengenal baik watak pemuda ini. Meskipun banyak jasanya dalam perjuangan, jarang sekali ia bercerita tentang perjuangan yang sudah dilakukan. Tiba-tiba seorang pramugari menghampiri dirinya, menyerahkan seberkas laporan yang baru dikirim, yang mengharapkan ia tidak langsung pulang ke Amerika melainkan harus

306


ke Wina. Ada konperensi penting yang mendadak yang harus dihadiri. Tapi Latifah sudah tak punya niat lagi. Ia merasa capai setelah beberapa bulan bertugas di daerah tropis, meskipun itu tanah tumpah darahnya sendiri. Kerja selama tiga bulan itu merupakan kerja yang keras. Karena selain memeriksa kesehatan orang, ia juga harus memberikan laporan yang terinci. “Biarlah nanti saja," pikirnya. Lalu disimpan kertas catatan yang baru disampaikan. Ia kemudian melayangkan pikirannya. Perjalanan masih jauh. Diamdiam air matanya membasahi pipinya, kalau ia ingat, betapa sebenarnya ia menyadari keputusasaan sahabatnya. Hian Biauw tampaknya tak punya masa depan. Tampaknya bukan hanya Hian Biauw yang merasa demikian. Tapi ia sendiri juga merasakan hal yang sama. Bagi orang-orang seperti Hian Biauw masalah yang satu ini, mencari pekerjaan untuk membina masa depan yang baik memang harus melalui perjuangan yang amat keras. Hanya yang kuat saja nantinya yang bisa bertahan. Karena sekarang ini saja misalnya, lapangan pekerjaan sudah makin sulit. Jangankan yang tidak terpelajar. Yang terpelajar saja mengalami kesulitan. Sarjana sekarang repot mencari pekerjaan. Dengan demikian, kalau lapangan kerja itu bisa diibaratkan sebuah kue yang besar, maka kalau dulu sudah hampir habis dibagi dan diperebutkan oleh sekian orang yang sudah ada, sekarang yang memperebutkan makin banyak lagi. Karenanya orang akan sulit mencari pekerjaan. Latifah tahu, bahwa masalah ini bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja. Masalah ini sekarang juga ada di Amerika. Dengan datangnya orang dari Timur, Vietnam misalnya, lapangan pekerjaan yang tadinya terbuka untuk orang-orang sendiri, sekarang harus dibagi dengan orang lain. Kesempatan juga makin lama makin sedikit. Dan akhir cerita tentang Latifah hanya dapat diceritakan sebagai berikut. Sesampainya di Amerika, ia sudah terlibat dalam urusan rutinnya. Kariernya makin menanjak, karena ia dianggap

307


berhasil dalam menyelesaikan persoalan Tapol di Indonesia. Ia oleh Indonesia juga dianggap bisa menerangkan citra yang sesungguhnya tentang Indonesia, sehingga dengan pembebasan para tahanan politik itu, selesai juga masalah mereka. Tidak ada ekornya seperti yang sering terjadi di negara lain. Sementara itu, di saat-saat luangnya, di saat ia merenung sendiri dalam flatnya yang luas, sendirian, ia masih terus menunggu kabar dari Hian Biauw. Dari tahun 1985 ia masih mengharapkan kabar itu. Sayangnya, kabar itu tak pernah datang. Latifah tetap setia menunggu, sampai rambutnya sudah ada yang memutih. Kadang, sambil menggigit pensilnya, ia merenung untuk menulis konsep surat untuk urusan yang besar, ia masih sering melamun mengenai masa yang lalu. Rasanya tahun-tahun selanjutnya, baginya adalah tahun perjuangan mencapai puncak karier. Rasanya baru sekarang ia mengerti bahwa bagi seorang wanita, betapa tingginya karier yang berhasil dicapai, rasanya hati tetap sunyi, selama di hati itu tidak ada curahan cinta kasih.... ***

308


68 Dan inilah akhir cerita tentang Hian Biauw. Begitu sampai di Jakarta. Ia cuma menemui segala protokoler yang harus dilewati. Tak ada niatnya untuk menjenguk keluarga karena ia memang tak mau merepotkan. Ia tahu, bahwa orang-orang seperti dia, yang pernah ditahan di pulau Buru dengan tuduhan terlibat langsung pada gerakan G30 S/PKI adalah kelompok yang ingin dijauhi oleh masyarakat. Bukan karena tak etis, melainkan orang memang tak mau repot. Dari Jakarta dua hari kemudian diperbolehkan ke Malang setelah surat-suratnya beres dan ke mana di Malang ia harus melapor. Kembali nasib yang kelabu menghampar di mukanya. Apa yang diutarakan oleh Latifah, bagaimana perasaannya jika ia menjumpai rumah orang tuanya di Malang sudah tak ada, saat itu ia tak mau tahu. Sekarang baru terasakan betapa pahitnya rasanya, dalam waktu sepuluh tahun, rumah orang tuanya pasti masih ada. Apalagi, yang disuruh menjaga oleh orang tuanya dulu masih termasuk famili sendiri. Tapi kenyataan yang dialami sekarang lain. Rumah itu sudah dibongkar dan sudah berbentuk lain. Sudah tak ada bekas tentang masa lalu. Biarpun masa lalu itu pun baru terpisah sepuluh tahun saja. Dulu, setiap hari Sabtu, ia selalu datang ke rumah orang tuanya. Berkumpul bersama papa dan saudara sepupu. Dari tetangga ia kemudian mengetahui, bahwa familinya itu lima tahun yang lalu sudah menjual rumah tersebut dan kemana kemudian famili itu pergi tak ada seorang pun yang tahu. Habislah sudah harapan Hian Biauw. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dunia yang terbentang di depannya terasa begitu suram. Malam itu ia tidur di emplasemen statius kota Malang. Mencoba merenung apa yang akan diperbuat. Apakah kota Malang

309


ini yang akan menjadi tempat tinggalnya buat selamanya, atau apakah ia akan kembali ke Pecalukan, tempatnya dulu berbakti kepada rakyat desa. Mungkin saja, dan kemungkinan ini besar sekali, ia masih akan mendapat dana dari sahabat-sahabat orang tuanya. Malang memang gudang pabrik rokok. Ayahnya dulu ikut berperan dalam hal pengadaan tembakau. Mungkin mereka masih ingat. Tapi pantaskah ia meminta belas kasihan mereka? Lantas sebagai apa ia harus meminta belas kasihan dari mereka. Sebagai anak seorang Mayor Tionghoa yang kenamaan tempo dulu? Tidak, demikian jerit hatinya. Baginya pantang untuk mendapat belas kasihan, semuanya itu bisa dilakukannya pada tahun enam puluhan dulu, ketika ia “marah� karena harus memilih kewarganegaraan Indonesia dan memohon belas kasihan pemerintah agar orang tuanya tidak diusir dari desa karena adanya PP 10. Sebagai orang yang ikut berjuang di tahun 1945, mungkin saja ia bisa mendapat beberapa fasilitas dari pemerintah. Tapi tidak. Orang seperti dia tak boleh bersikap demikian. Meskipun terus terang saja, sampai saat itu ia masih tidak tahu, mengapa ia dulu berjuang. Ada beberapa orang tuna karya yang tidur di emplasemen itu. Seorang ibu dengan dua anaknya yang berbutuh kotor. Mungkin hari ini belum sempat mandi. Anak yang kecil menetek pada ibunya dan payudara itu rasanya seolah protes. Susu sudah tidak ada lagi dan anak itu pun terus dibiarkan menyusu. Mungkin dalam khayalnya, mengisap pentil susu ibunya itu membuat dirinya kenyang. Karenanya ia juga berhenti menangis dan menangis kembali begitu ibunya mencoba melepaskan. Semuanya dipandang Hian Biauw dengan perasaan yang haru. Inikah kehidupan baru yang dijumpai? Melihat kehidupan itu ia kemudian merasa mempunyai kekuatan untuk menatap hidup yang tadinya dirasakan kelabu. Ia kemudian teringat nasihat papanya: “Jangan melihat hidup ini ke

310


atas, tapi lihatlah ke bawah. Juga, yang penting dalam hidup manusia bukan mencatat berapa kali ia berhasil, melainkan berapa kali ia mampu bangkit kembali sesudah kehancurannya�. Itu dulu nasihat papanya. Nasihat yang bagus dan terasakan kebenarannya sekarang. Rasanya cuma pemandangan ibu dengan dua anaknya yang kotor tubuhnya itu saja yang membuatnya berani menghadapi hidup ini. Tapi apa yang harus diperbuatnya sekarang? Kemana ia harus melanjutkan langkahnya sesudah besok matahari bersinar terang pertanda pagi hari telah tiba. Tiba-tiba ada petugas stasiun yang menghampiri. Menanyakan kemana ia mau pergi. Hian Biauw tak bisa menjawab. Ia hanya berdiri, membawa tasnya yang di dalamnya cuma ada dua stel pakaian, pemberian pemerintah dari Jakarta dan uang kontan sebanyak duapuluh lima ribu rupiah. Juga pemberian dari pemerintah. Dengan perasaan gontai ia berjalan meninggalkan stasiun. Di emperan muka, hujan turun rintik-rintik. Inilah Malang, yang membuat sejuk dan disuka orang. Tapi bagi orang seperti Hian Biauw, hujan rintik-rintik berarti satu masalah baru. Ke mana ia harus melewatkan malam yang dingin begini? Kemelut seperti ini lah yang harus dihadapi setiap manusia. Kehidupan memang tidak selamanya di atas. Juga tidak selamanya di bawah. Persoalannya cuma: Kita mau menerimanya atau tidak, itu saja. ***

311


Sinyo Sipit 1985 Udara siang itu panas. Surabaya di musim kemarau panasnya bukan main. Di muka sebuah toko P&D Hian Biauw mangkal, pandangannya terarahkan ke stopan lampu. Hilir mudik kendaraan membuatnya teringat pada tahun-tahun yang dulu. Tahun 1945. Ketika itu malam sangat sunyi. Tak ada kendaraan. Blokade Belanda memang ada di daerah itu. Ia dan Effendi sudah menanti lama di gedung White Away, yang sekarang menjadi Siola. Tak pernah terduga sama sekali, bahwa dulu, tempat yang runtuh kena bom Inggris itu kini bisa berubah jadi toko serba ada yang begitu besar. Juga pedagang koper dan arloji. Dulu semuanya tak ada. Dan inilah yang mungkin menurut Latifah bisa dikatakan sebagai satu kemajuan. Kemajuan yang alami. Tapi apakah ini benar satu kemajuan? Akhirnya Hian Biauw tak ingin merenung lebih dalam. Ia tak ingin mempersoalkan apakah dengan kenyataan yang ia lihat dari hari ke hari makin mempertebal jurang antara si kaya atau si miskin. Di benaknya kemudian terbentang lagi kisah-kisah lamanya yang heroik, yang sebenarnya sudah lama tak pernah dipikirkan lagi. Sayup-sayup ia masih bisa melihat, betapa Belanda dulu kalang kabut mencoba menyusun strategi ketika persediaan bahan bakarnya berhasil dibakar. Waktu itu, entah bagaimana ada dorongan untuk maju. Tak ada rasa takut. Sekarang, orang menyeberang dari Siola ke Praban saja tak berani jika tak ada lampu stopan yang mengatur. Tapi dulu itu semuanya terjadi begitu saja. Ajakan Effendi tak pernah dipikirkan baik buruknya. Tak pernah terpikirkan jika seandainya mereka tertangkap Belanda. Padahal mereka berdua sudah tahu dengan pasti bahwa Belanda pasti akan menghabisi nyawa mereka tanpa ampun lagi. Dulu itu mereka merangkak, meter per meter menuju ke tempat blokade Belanda. Dan tujuannya cuma satu, menghancurkan

312


Belanda. Untuk apa, itulah yang sampai sekarang ia tak bisa menjawabnya. Untuk apa sebenarnya ia dulu berjuang? Hanya ikutikut teman-teman dan merasa malu kalau berada di Surabaya, sedangkan Bung Tomo setiap sore selalu bersuara lantang? Kalau cuma itu, mengapa nyawa rasanya begitu murah dijual? Mengapa tak ada pemikiran rasa takut. Mengapa tak ada ingatan pada orang tua yang menyayangi mereka? Mungkin untuk Effendi jawaban itu gampang! Tanah dan negeri ini memang tanah dan tumpah darahnya. Tapi untuk Hian Biauw, apa? Sekarang, meskipun sudah terpisah empat puluh tahun lamanya, pertanyaan itu belum dapat dijawabnya. Lantas kalau ia ingat orang-orang yang lalu lalang di depannya, baik yang jalan kaki maupun yang bersliweran dengan mobil yang paling baru, apakah mereka dulu juga pernah berjuang sehingga mereka sekarang menikmati hasil perjuangan orang-orang seperti dia dan Effendi. Sekarang, orang-orang seperti dia dan Effendi dan masih banyak lagi, tak menentu hidupnya. Mereka boleh bergembira jika uang seribu dua ribu bisa diperoleh hari ini. Tak ada ketentuan tentang hari depan. Tampaknya, kebahagiaan yang masih mungkin dinikmati adalah kebahagiaan seperti sekarang ini. Menikmatihasil perjuangan tahun-tahun yang silam, hidup di alam mereka dengan menikmati Rahmat Tuhan yang didapat karena keringat dan kerja keras. Tiba-tiba saja lamunannya buyar ketika dua orang remaja menyadarkannya: “Kawatan berapa,pak?” Ia menoleh, “Naiklah, berapa sajalah” Dua remaja itu dengan keras menghempaskan tubuh di atas becak. Hian Biauw mulai mendorongnya, kemudian menaiki dan mengayuhnya dengan santai. Dalam perjalanan menuju ke Kawatan itu ia masih sempat mendengar dialog penumpangnya: “Kau tadi habis belanja banyak di Ramona” “Nggak banyak”

313


“Apa yang kau beli” “Kaos, cuma lima belas ribu..” Cuma lima belas ribu? Itu berarti seminggu kerja buat Hian Biauw. Mungkin lebih. Tapi inilah memang takdir hidup. Hian Biauw tidak berpikir panjang lagi. Lampu di Praban menyala hijau. Jalan Bubutan dilalui dengan penuh ketetapan hati menatap masa depan. Orang-orang seperti dia memang harus menerima kenyataan hidup. Orang-orang seperti dia tampaknya sudah ditakdirkan untuk hidup hari ini. Makan hari ini. Tidur hari ini. Tak ada pemikiran untuk hari esok, karena memang ia tak tahu esok yang bagaimana yang harus dipikirkannya. Dan begitulah sampai sekarang Hian Biauw. Mangkal sebagai tukang becak di muka sebuah toko P&D di Jalan Praban. Ia yang menyimpan sejuta pengalaman dari awal kelahiran Republik ini sampai sekarang. ***

314


Tentang Penulis Basuki Soejatmiko terlahir sebagai Liem Hok Liong di Probolinggo tanggal 5 Oktober 1939. Sejak kecil Basuki telah menunjukkan kemauan yang keras. Meskipun tidak ditunjang oleh tersedianya kertas tulis yang baik, ia tidak kehilangan akal. Untuk mewujudkan bakat menulis kreatifnya, ia mendekati si Mbok yang membantu ibunya berjualan agar diberi kertas roti pembungkus nougat (ting-ting). Di atas kertas roti itulah ia mulai mengembangkan penulisan kreatifnya dan melahirkan puisi dan cerpen-cerpennya yang pertama. Pada awal sekolahnya ia tidak begitu bahagia karena guru tidak dapat menyelami jiwanya yang penuh imajinasi. Sampai di kelas lima SD Mater Dei ia bertemu dengan Sr. Katerin, SPM yang menghargai karangan fiksinya dan inilah yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. Kecintaannya kepada Sr.Katerin ini dikenangnya sampai wafatnya. Perjalanan kariernya dimulai di Majalah Liberty di tahun 1959. Meskipun cita-citanya menjadi pengarang, akhirnya ia berkembang sebagai kuli tinta. Karena ketajaman tulisan-tulisannya, saat berusia 20-an pernah meringkuk dalam tahanan demi menegakkan kebenaran. Setelah 25 tahun menjadi wakil pemimpin Majalah Liberty, juga dalam menegakkan kebenaran, ia keluar dan beberapa bulan kemudian bekerja di Jawa Pos (1984). Kariernya sebagai wartawan dititinya sampai akhir hidupnya di tahun 1990. Dua novel lain yang ditulisnya Nyonya Sita dan Bunga Mawar Kuning Tercinta. Ia juga menyusun buku Etnis Tionghoa yang merupakan sebuah studi tentang pemikiran-pemikiran etnis Cina seperti dicetuskan dalam Majalah Bok Tok yang terbit di Malang sebelum kemerdekaan. Ia juga dikenal sebagai ahli Hongsuinipun yang membawa ilmu ini diperhitungkan dalam dunia arsitektur Surabaya.

315

Sinyo Sipit (Novel Perjuangan)  

Sebuah novel perjuangan yang ditulis oleh Basuki Soejatmiko pada tahun 1985. Pernah dimuat secara bersambung di harian Jawa Pos tanggal 29 D...

Advertisement