Periodisasi Perkembangan Kota-Kota Abad Pertengahan I Edisi Lombok I 2021

Page 1

PERIODISASIPERKEMBANGAN KOTA-KOTAABAD PERTENGAHAN

EDISI LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT MUH. MUZAKKIR HASBI //2021

TABLE OF CONTENT

SASAK LOMBOK SEJARAH KERAJAAN MATARAM LOMBOK KOTA ABAD PERTENGAHAN AKTIVITAS YANG BERKEMBANG

SASAK LOMBOK

PROFIL

Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda

Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat

Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih

berbentuk bulat dengan semacam "ekor" di sisi barat

daya yang panjangnya kurang lebih 70 km. ( Wikipedia )

LUAS WILAYAH

Luas: 4.725 km²

Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Puncak: Gunung Rinjani

Luas wilayah: 5,435 km²

BATAS WILAYAH

Batas wilayah Lombok, 4 Kabupaten dan 1 Kota

Kota Mataram.

Kabupaten Lombok Barat.

Kabupaten Lombok Tengah.

Kabupaten Lombok Timur.

Kabupaten Lombok Utara.

01

SASAK LOMBOK

Sasak adalah sebutan untuk orang yang tinggal di Lombok. Orang Sasak biasanya menyebut Lombok dengan sebutan “Lombo”.

Makna kata Lombok yang sebenarnya adalah 'lurus’. Namanya tertulis dalam kitab Negara Kertagama yang berbunyi 'Lombok

Sasak Mirah Adi’. Kata Lombok berarti lurus, Sasak berarti orang Lombok, Mirah artinya permata, dan Adi artinya kejayaan, sehingga arti keseluruhan nama itu adalah orang Lombok memiliki hati yang lurus untuk dijadikan permata kejayaan.

SEJARAH KERAJAAN MATARAM, LOMBOK (1838-1850)

Dalam Babad Lombok, terdapat ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig dan armadanya didukung puluhan kapal dengan 10 ribu pasukan berasal dari daerah di Pulau Jawa seperti Mataram, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dan Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi.

Dari Mantaram sendiri dipimpin seseorang yang disebut Patih Mentaram. Di Lombok, setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok. Salah satu peran penting patih Mataram mendapat tugas menaklukkan semua orang di utara gunung dari Samulya (saat ini Sambelia). literatur lain menyebutkan, di masa itu, pulau Lombok diperintah para raja-raja, Raja Mataram pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan. Kemudian ibukota Kerajaan dipidahkan ke Cakranegara dengan ukiran Kawi pada nama Istana Raja.

Raja Mataram (Lombok) selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, melaksanakan sensus penduduk kerajaan dengan meminta semua penduduknya mengumpulkan jarum. Penduduk laki - laki dan perempuan menggunakan jarum untuk menandakan suatu ikatan.

Setelah raja Mataram jatuh oleh pemerintah Hindia Belanda meskipun harus dibayar mahal, yaitu dengan tewasnya Jend. P.P.H. van Ham (monumennya ada di Karang Jangkong), Cakranegara mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal berada di bawah Afdeling Bali Lombok yang berpusat di Singaraja, Bali.

Pulau Lombok dalam pemerintahan dwitunggal terbagi menjadi 3 (tiga) onder afdeling, dari pihak kolonial sebagai wakil disebut kontrolir dan dari wilayah disebut Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sampai ke tingkat Kedistrikan. Adapun ketiga wilayah administratif masih disebut West Lombok (Lombok Barat), Middle Lombok (Lombok Tengah) dan East Lombok (Lombok Timur) dipimpin oleh seorang kontrolir dan Kepala Pemerintahan Setempat (KPS).

Untuk wilayah West Lombok (Lombok Barat) membawahi 7 (tujuh) wilayah administratif yang meliputi Kedistrikan Ampenan Barat di Dasan Agung, Kedistrikan Ampenan Tmur di Narmada, Kedistrikan Bayan di Bayan Belek, Asisten Distrik Gondang di Gondang, Kedistrikan Tanjung di Tanjung, Kedistrikan Gerung di Gerung, dan Kepenggawaan Cakranegara di Mayura.

02

SEJARAH KERAJAAN MATARAM, LOMBOK (1838-1850)

Kerajaan Mataram sebagai penguasa tunggal di pulau Lombok berturut-turut pernah diperintah oleh tiga raja.

Raja yang pertama : Anak Agung Ketut Karangasem IV (1838-1850), yang mengkonsolidasikan Mataram sebagai kerajaan tunggal yang bercorak sentralistik dan represif.

Raja kedua : Anak Agung Made Karangasem (1850-1872), di bawah raja inilah dilakukan renovasi atas Taman Kelepug

menjadi Taman Mayura. Dibangun pula Pura Meru, Tamaiq Suranadi, Lingsar, dan dirintisnya pembangunan Taman Narmada yang diberi ukir kawi dan selesai tahun 1866. Kemudian Cakranegara (negara yang sudah bulat bersatu) ditata sebagai pusat pemerintahan.

Raja terakhir yang paling bungsu : Anak Agung Gede Ngurah Karangasem (1872-1894M), yang dinobatkan sebagai raja

dalam usia 70 tahun lebih. Raja Mataram mengawini Dende Aminah dan namanya diganti menjadi Dende Nawangsasih (Nawang artinya tahu, Sasihartinya bulan).

1. 2. 3. RAJA MATARAM LOMBOK

KOTA ABAD PERTENGAHAN

ABAD PERTENGAHAN

Pada awalnya, kerajaan yang berdiri adalah Laeq. Diperkirakan, posisinya berada di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya, kemudian terjadi migrasi, masyarakat Laeq berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan

Pamatan, di Aikmel, desa Sembalun sekarang. Lokasi desa ini berdekatan dengan Gunung Rinjani. Suatu ketika, Gunung Rinjani meletus, menghancurkan desa dan kerajaan yang berada di sekitarnya. Para penduduk menyebar menyelamatkan diri ke wilayah aman. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya kerajaan Pamatan.

Setelah Pamatan berakhir, muncullah kerajaan Suwung yang didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah

Perigi saat ini. Setelah kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspahit, penguasa kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang

Sebelum Abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit, dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada ke Lombok.

Pada akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17, lombok banyak dipengaruhi oleh Jawa Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh

Sunan Giri, juga dipengaruhi oleh Makassar. Hal ini yang

menyebabkan perubahan agama di suku Sasak, yang sebelumnya Hindu menjadi Islam.

Pada awal abad ke 18 M, Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali. Peninggalan Bali yang sangat mudah dilihat adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yang mendiami daerah Mataram dan Lombok Barat. Beberapa Pura besar juga gampang di temukan di kedua daerah ini.

02

KOTA ABAD PERTENGAHAN

SETELAH KEDATANGAN BELANDA KE LOMBOK

Dengan jatuhnya Kerajaan Mataram ke tangan VOC, mulai diterapkannya sistem pemerintahan dwitunggal yang berpusat di singaraja,Bali.

Pulau Lombok dalam pemerintahan dwitunggal terbagi menjadi 3 (tiga) onder afdeling, dari pihak kolonial sebagai wakil disebut kontrolir dan dari wilayah disebut Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sampai ke tingkat Kedistrikan. Adapun ketiga wilayah administratif masih disebut

West Lombok (Lombok Barat),

Middle Lombok (Lombok Tengah)

East Lombok (Lombok Timur)

Ketiga wilayah ini dipimpin oleh dipimpin oleh seorang kontrolir dan Kepala Pemerintahan Setempat (KPS).

Untuk wilayah West Lombok (Lombok Barat) membawahi 7 (tujuh) wilayah administratif yang meliputi Kedistrikan Ampenan Barat di Dasan Agung, Kedistrikan Ampenan Timur di Narmada, Kedistrikan Bayan di Bayan Belek, Asisten Distrik Gondang di Gondang, Kedistrikan Tanjung di Tanjung, Kedistrikan Gerung di Gerung, dan Kepenggawaan Cakranegara di Mayura.

KOTA ABAD PERTENGAHAN 03

ELEMEN-ELEMEN PEMBENTUK

Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya sektor di Lombok yang berkembang

pariwisata lombok meliputi wisata budaya dan kesenian yang menjadikannya sebagai peringkat ke-6 dari 25 destinasi yang sedang naik daun versi TripAdvisor, situs untuk merancang dan memesan perjalanan berbasis di Amerika Serikat (AS).

AKTIVITAS YANG BERKEMBANG

APA YANG DOMINAN?

PARIWISATA DAN SENI BUDAYA

Lombok pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Sektor Pariwisata adalah salah satu sektor yang berkembang di Lombok dan

Seni Budaya Pulau Lombok sangat terkenal merupakan suatu kebanggaan di pulau Lombok, yang berada di Prov. NTB dan salah satu yang terbesar yang berada di Prov. Nusa Tenggara Barat.

Gendang beleq/besar yang merupakan kebudayaan yang asalnya dari Lombok. Saat menari menggunakan gendang yang sangat besar dipakai untuk mengiringi dan menyambut tentara yang berangkat dan bulang dari medan perang sebagai pemberi semangat.

Tradisi presean merupakan tradisi yang berkembang di Lombok yang menontonkan pertarungan antara dua petarung yang seling

menerang sampai salah satu diantaranya meneteskan darah dan di nyatakan kalah dengan senjata berupa tongkat rotan dan prisai dari kulit binatang. Serta pada saat pertarungan di iringi oleh suara musik gambelan.

04

AKTIVITAS YANG BERKEMBANG

TRADISI BAU NYALE

Tradisi bêkayaq bau nyale dan pataq pare, adalah sebuah contoh dari realitas sosial-budaya masyarakat Sasak agraris, dimana bahasa menjadi media dalam mengekspresikannya. Bêkayaq, adalah aktivitas berbalas pantun yang dilagukan dalam masyarakat Sasak-Lombok agraris (di bagian selatan pulau Lombok) yang dilakukan dalam konteks dan tujuan tertentu. Diantaranya adalah bêkayaq dalam kegiatan menangkap nyale (bau nyale) di pantai dan mengetam padi (pataq pare) di sawah. Tradisi bau nyale ini tidak diketahui secara pasti kapan mulai ada dalam budaya orang Sasak agraris. Meskipun tradisi bau nyale berlangsung di pantai-laut dan pataq pare di sawah- darat, menariknya kedua aktivitas tersebut (dahulunya) sama-sama menggunakan bêkayaq sebagai salah satu budaya perilaku yang memediasi komunikasi selama pelaksanaannya. Lebih lanjut, masyarakat Sasak (terutama para petani di bagian selatan pulau Lombok) sangat aktif dalam setiap pelaksanaan bau nyale. Ini tampaknya tidak lepas dari ruang bebas dan ekspresi yang disediakan dalam tradisi ini, terutama ruang interaksi antara kaum muda-mudi Sasak.

04

AKTIVITAS YANG BERKEMBANG

GAMBAR TERKAIT

TERIMAKASIH TAMPIASIH

087701541486

muzakkirhasbi07@gmail.com

muzakkirhasbi

087765819613

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.