Page 1

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

SUNGAI MUSI

Inspirasi dari Sungai Musi S

ekda Kabupaten Banyuasin, Firmansyah, memimpin rapat koordinasi di ruang rapat bupati pada Senin (22/10/2012). Sebelumnya di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sekdanya Yuliansyah menggelar rapat persiapan di ruang rapat bupati dihadiri perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Jumat (12/10). Itu merupakan bagian dari kegiatan masyarakat di daerah menyongsong even besar Musi Triboatton 2012. Sekitar 500 dari 750 kilometer panjang keseluruhan Sungai Musi akan dilintasi dalam ajang internasional yang pertama mengkombinasikan tiga macam lomba di atas air sungai. Dengan ‘recognition’ ini, sungai itu mendorong perluasan inspirasi untuk mengembangkan wisata yang mengefektifkan potensi sungai, yang jelas dimiliki negeri ini dengan kekayaan alam yang serba ‘menakjubkan’ bagi mata dan hati wisatawan. Ya wisman, ya wisnus.

ISI NOMOR INI Bisa 5 D-Pop Tercipta Becak untuk Wisata 8 Inspirasi Vol. 3 l No. 35 l November 2012

dan Berbagi 11 PNPM, Pengalaman Spiritual ‘Profesional’ dari River Cruise Musi 18 Angan-Angan

28 Kabar dari Sabang Istiadat ke Perda dan Pariwisata 30 Adat www.newsletter-pariwisataindonesia.com


Utama

K

ita sendiri adakalanya kurang menyadari akan potensi yang tergolong luar biasa, dari su­ngai-sungai dan danau-danau yang bertebaran di pulau-pulau besar negeri ini. Kemenparekraf sedang menarik perhatian stakeholders di daerah, dan investor, untuk segera bisa mengembangkan river cruise. Dan itu membuka pintu lebar bagi segmen konsumen peminat wisata sungai, dari seantero pelosok dunia, untuk me­ ngunjungi destinasi Indonesia dari sudut memenuhi minat yang juga termasuk sebagai special interest ini. Apalagi industri penerbangan nasional sedang melaju tak terbendung, termasuk menambah rute dan frekuensi ke manca­ negara. Wisatawan penggemar wisata sungai boleh jadi merupakan niche market, namun jika dari setiap negara bisa ditampung beberapa ratus wisman,—atau wisnus—setiap tahun, akhirnya akan mencapai ribuan juga. Musi Triboatton akan berlangsung pada 25 November—1 Desember 2012. Tiga ­kategori lomba pada setiap etape dari satu kabupaten ke kabupaten lain: lomba dayung dan perahu sepanjang sungai, kano, dragon ball alias perahu naga. Dimulai dari Kabupaten Empat Lawang, Musi Rawas, Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, dan masuk kota Palembang. Ketika para pelomba itu—dari mancanegara dan dari Indonesia—sedang seru berpacu di aliran sungai, di daratan atau pinggir sungai kesibukan melibatkan kegiatan Penanggung jawab : Sapta Nirwandar Penerbit/Pemimpin Redaksi : Arifin Hutabarat Dewan Redaksi : Sadar Pakarti Budi Faried Moertolo T. Burhanuddin Wisnu B. Sulaeman Reporter : Benito Lopulalan Alamat : Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jl. Medan Merdeka Barat No.17 Lantai 3 Jakarta 10110 Telp : 021 383 8220 Fax : 021 380 8612, Email : jurnal@indonesia.travel

Investasi di Pariwisata

M

enteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu menyambut baik tingginya minat investor untuk berinvestasi di sektor pariwisata Indonesia. Seiring dengan potensi dan pertum­ buhan perekonomian Indonesia, pertumbuhan investasi di sektor pariwisata juga tumbuh secara signifikan. Mari Pangestu menyatakan investasi akan diarahkan untuk kawasan pari- Menparekraf Mari Elka Pangestu (kiri, berdiri) menyaksikan wisata karena akan mendukung pe­ ningkatan kualitas wisatawan. Sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS) ada 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan dari 88 KSPN ada 16 akan diprioritaskan untuk 3–5 tahun ke depan. “Dengan berinvestasi untuk kawasan pariwisata maka bukan hanya hotel, tapi juga daya tarik wisata yang lain akan dibangun. Cara seperti ini efektif untuk me­ ningkatkan kualitas wisatawan karena dengan adanya kawasan pariwisata akan

transfer para petugas, sebagian penonton atau pengunjung-tentunya, dengan mobil, dari satu lokasi start etape ke lokasi start etape berikutnya. Garis finish setiap etape akan berada di sekitar satu desa. Di situ acara-acara ‘darat’ akan meramaikan, melibatkan langsung masyarakat setempat. Acara makan malam, malam kesenian masyarakat, hiburan penampilan jet ski di sungai. Semua itu terbuka untuk masyarakat bersama peserta. Peserta diperkirakan 250 orang asing untuk tiga kategori lomba tadi. Mereka datang dari Malaysia, Singapore, Hong Kong, Brunei Darussalam, Thailand, Aus-

tralia, Vietnam, Nepal, Cambodia, Myanmar hingga New Zeland, selain Indonesia. Di Kabupaten Banyuasin, misalnya, peserta nanti akan tiba pada tanggal 30 November, lalu disambut bupati dan masyarakat. Di situ dilaksanakan upacara pemberian medali per etape. Dan, jamuan makan malam tentu saja dengan menampilkan tari seni budaya. Acara itu dipersiapkan akan berlangsung di Dermaga Pengumbuk Rantau Bayur, sebagaimana diumumkan oleh Pemda setempat. Sebelumnya, pelomba melintasi Kabu­­paten Muba yang mendapat jatah dua etape dari enam etape lomba yakni pada etape III (90 km) rute Muara

www.newsletter-pariwisataindonesia.com

Jika Anda mempunyai informasi dan pendapat untuk Newsletter ini, silakan kirim ke alamat tersebut di atas.

2

Ini adalah peta ilustratif rute Musi Triboatton 2012, dasar peta dari Google Map.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Utama

penandatanganan MoU Investasi.

banyak daya tarik yang bisa mereka kunjungi. Pada akhirnya ini akan meningkatkan lama tinggal dan jumlah uang yang mereka belanjakan. Di samping itu komunitas di sekitar kawasan juga mendapat manfaat,” kata Mari Pangestu di acara Indonesia Tourism Investment Day (ITID) 2012 yang berlangsung di Jakarta (22/10-2012). Saat itu ditandatangani dua nota kesepahaman: antara PT Banten West Java (Tanjung Lesung Project) dengan Longlife Holding Co. Ltd dan Damac Holding Co. Kedua, antara PT Bali Tourism Development Corporation (Mandalika Project) dengan PDAM

­ elingi–Sekayu dan etappe IV (90 km) K rute Sekayu–­Pengumbuh. Di sini pun ­acara dan upacara akan dilaksanakan. Bayangkanlah, peserta lomba berasal dari penggemar dan penggiat penjelajah­ an sungai, komunitas dayung sekitar 15 tim terdiri dari luar negeri 10 tim dan dalam negeri lima tim. Mereka memperebutkan hadiah uang tunai keseluruhan Rp 500.000.000, piagam penghargaan, medali dan bingkisan. Inilah perpaduan wisata penjelajahan dengan lomba dayung variatif menggunakan tiga jenis perahu atau boat yaitu river boat, kayak dan traditional boat racing (TBR). Penjelajahannya melakukan penyu­ suran bersama menggunakan perahu induk sepanjang Sungai Musi hingga berakhir di kota Palembang. “Sungai Musi sebagai icon pariwisata perlu ditingkatkan nilai tambahnya. Sumsel kaya akan potensi wisata sungai, seni dan budaya termasuk special interest,“ kata Wakil Menteri Parekraf, Sapta Nirwandar ketika di Palembang membicarakan persiapan even ini. Sebagaimana setiap kegiatan promosi pariwisata, even internasional ini akan mendapat liputan pemberitaan, dan penulisan tentang destinasi, di media dalam dan luar negeri. Itu sejatinya merupakan strategi dalam penyelenggaraan setiap tourism sport event. Dampaknya justru akan terwujud pada hasil setelah terlaksananya peristiwa tersebut.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu (kanan) menerima Menteri Pariwisata Selandia Baru, Chris Tremain (tengah) membicarakan peningkatan kerja sama kedua negara di bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Gedung Sapta Pesona Jakarta, 22 Oktober 2012.

Wamen Parekaf Sapta Nirwandar (depan, tengah) bersama Gubernur Sumsel Alex Nurdin (depan kiri) menabuh gendang me­resmikan ‘launching’ penyelenggaraan Musi Triboatton 2012, di gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Ketua Bidang Teknis Musi Triboatton 2012, Effendi Sun, menuturkan, konsep kegiatan itu untuk promosi pariwisata melalui olahraga (sport dan tourism) de­ ngan even lomba dayung dan penyusuran Sungai Musi sejauh 500 kilometer dari hulu ke hilir. Lintasan yang akan dilalui peserta ber­

arus deras dan berarus tenang. Di darat, didukung sejumlah pagelaran seni dan budaya, pameran, festival kuliner, dan konser musik dengan tema lingkungan, paparnya. Kemudian Direktur Pencitraan Pariwisata Indonesia, Esthy Rekho Astuty, menjelaskan, Sungai Musi sejak lama ­sudah dikenal sebagai pusat peradaban

3


Utama Lombok Tengah dan PLN Pusat. Selain itu turut ditandatangani pula Lease Agreement antara PT Bali Tourism ­Development Corporation dengan pihak ­Novotel Lombok. Nilai investasi ketiga proyek ini diperkirakan Rp2 triliun dan terdiri dari rencana pembangunan dan pengembang­an sarana akomodasi, marina, dan senior citizen housing. ITID adalah sebuah forum yang baru diadakan untuk pertama kali dan terselenggara atas kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementerian Koordinator ­bidang Perekonomian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Kelautan dan P ­ erikanan. n

dan perdagangan di Sumatera Selatan. Sungai ini akan dikembangkan menjadi pusat wisata sungai. Menurut Esthy,kegiatan Musi ­Triboatton merupakan gagasan dari Wamen Sapta Nirwandar yang terinspirasi dari lomba triatlon yang menggabungkan tiga olahraga sekaligus (renang, lari, dan balap sepeda), sedangkan Musi Triboatton memadukan tiga balap perahu sekaligus. Lebih lanjut, kata dia, wisata sungai ini tidak hanya akan dikembangkan di

DPN = Destinasi Pariwisata Nasional KPPN = Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional

­ umatera Selatan saja, tapi juga dikemS bangkan di daerah lainnya seperti Kali­ mantan, Indonesia Timur dan lainnya. “Tergantung budaya dan evennya.

KSPN = Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Jadi bisa kami promosikan sebagai wisata su­ngai sehingga bisa berdampak pada perekonomian masyarakat setempat,” ­katanya. n

Inspirasi Daerah, Menumbuhkan ‘Embrio’

I

nspiration breeds another inspsiration. Kata-kata mutiara itu bisa diadopsi dari yang sudah banyak disebutsebut dalam manejemen: Success breeds success. Even TDS (Tour de Singkarak) di ­Sumatra Barat antara lain mendorong penciptaan ide Musi Triboatton 2012. Inspirasi itu tampak dari ide dasar yang diutarakan oleh Wamenparekraf Sapta Nirwandar, bahwa sudah saatnya bagi ­Indonesia mengembangkan produk ­wisata sungai. Kemudian sesudah itu, menciptakan dan memasarkan wisata danau. Dua kekayaan alam itu boleh dikatakan ‘luar biasa’ dimiliki Indonesia. Mengapa? Selain alam indah, hutan perawan yang menjadi aset paru-paru dunia, yang mengelilingi sungai-sungai di Indonesia, di sana juga berdiam penduduk yang merepresentasi­ kan kehidupan etnik di dunia, dengan tradisi dan kearifan lokal. Kearifan lokal bukan hanya akan menarik bagi wisnus untuk dikenali kembali, justru terutama menjadi salah satu ‘­kerinduan’ bagi umat manusia yang ­ingin menyaksikan ragam kehidupan di bumi

4

Rumah suku Asmat di Sungai Pomako, Mimika, Papua.

(Image: Google)

ini. Bukankah di Indonesia ditemui lebih 1.000 etnis dengan adat istiadat khas, dicerminkan pula dari lebih 500 bahasa daerah yang berbarengan dengan seni budaya local tradisional, masih hidup dan

merupakan living cuture? Musi Triboatton menjadi pengakuan aliran sungai itu layak bagi perlombaan profesional. Tentu juga layak bagi jalur ­untuk wisata. Dalam konteks itu Sungai

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Industri Kreatif Musi baik dkembangkan dari sekarang menjadi destinasi wisata sungai, seperti yang sudah jadi ‘embrio’ di Kalimantan Tengah. Setidak-tidaknya beberapa daerah pe­ milik sungai besar dan panjang kini memiliki peluang untuk mengarahkan prioritas pembangunannya. Yaitu, selain Musi di Sumatra Selatan, Sungai Batanghari di Jambi, Sungai Kapuas di Kalimantan ­Barat, Sungai Barito di Kalimantan Selatan, Su­ ngai Mahakam di Kalimantan Timur. Di Papua... wah, sekali pulau ini ter­ ekspose memiliki sungai-sungai yang ­‘eksotik’, manakala dilayani oleh kegiatan susur sungai dengan aman dan lancar, terbayanglah ramainya kelak permintaan dari wisman dari pesolok dunia yang akan berwisata ke sana. Di jejaring internet antara lain sudah ditemui uraian seperti ini. Fakta menunjukkan sungai-sungai di Papua memiliki potensi sangat besar untuk pembangkit listrik. Ada sekitar 52 sungai dengan potensi maksimal sebesar 22.131,6 MW (Megawatt) atau energi sebesar 135.036,8 GWH. Bagaimana pemanfaatannya? Sungai-sungai besar beserta anak su­ ngainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul yang bermula dari pedalaman Kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepan­ jang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan harian, sebagai nelayan maupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu terdapat pula beberapa danau, di antaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai. Danau Sentani boleh dikatakan telah memperoleh ‘citra’ yang baik di pasar wisata mancanegara. Tinggal melakukan augmented product terhadap even festival budayanya; terbuka peluang hingga pada pengembangan produk wisata sungai, di banyak sungai di pulau yang ‘amat ­alamiah’ ini. Adapun di Kalimantan, khususnya ­Kalimantan Tengah, seperti yang ­beberapa kali pernah kita longok sebelumnya, di sana telah lahir ‘embrio’ wisata sungai yang dibangun dan dikelola berkualitas profesional. Sebenarnya lahirnya bersama­ an dengan apa yang terjadi di Sungai Musi khususnya dalam lingkup kota Palembang. Munculnya di tahun 2008. n Lihat juga halaman 18 – 22

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

D-Pop Bisa Tercipta

T

iba-tiba diucapkan D-Pop, tentu maksudnya Daerah—Pop. Itu ­dalam asosiasi pikiran pada K-Pop. Tentu maksudnya Korea—Pop, salah satu produk industri kreatif yang belakangan ini seakan menyerbu pasar du­ nia. Paling tidak di Asia, termasuk di Indonesia sendiri. Seni pop dari beberapa negara jelas telah menunjukkan dukungan pada keberhasilan pariwisata, merupakan ekspor industri kreatif, yang dengan sendirinya berkontribusi pada pemasaran destinasi pariwisatanya. Malam itu, 30 Oktober 2012, di studio ANTV, Jakarta, sedang dilangsungkan final dalam rangka Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara 2012. Kemenparekraf mendukung kegiatan tersebut. Ajang yang ‘pertama kali diadakan’ itu, dipra­ karsai oleh Ikatan Alumni SMAN VI Yogyakarta. Lingkup kegiatannya meliputi seluruh provinsi Indonesia. Pentahapan ­kegiatan dimulai dari tingkat provinsi, dengan diminta mengirimkan lima karya lagu per provinsi. Tahap pertama, terjaring sebanyak 80 lagu yang masuk. Penjaringan peserta dan publikasi dilakukan terbuka melalui website www.cintalagudaerah. com, media elektronik, facebook, twitter, suratkabar, radio atau melalui pemda. Tahap kedua, berdasarkan hasil penilai­an tim seleksi, dipilih 33 lagu pop daerah sebagai seleksi awal. Tahap ketiga, dipilih 10 lagu terbaik, yang di dalamnya terdapat enam lagu pop daerah sebagai finalis. Yang finalis itu yang hendak disiarkan oleh saluran ANTV. Untuk itu dilaksanakan rekaman di studio ANTV, dihadiri berbagai kalang­ an termasuk dewan juri, mu­sisi, stakeholder pariwisata, industri kreatif dan pers. ­Wamenparekraf Sapta Nirwandar hadir menyaksikan, dan memberikan kata sambutan. Ketika itu Wamenparekraf melontarkan, mengapa kita tidak menuju kepada penciptaan D-Pop? Di masa lalu pelbagai provinsi pernah mencuatkan masing­masing lagu pop daerah yang kemudian terkenal ke seantero Tanah Air. Disebutkannya beberapa judul lagu. Pihak Panitia menentukan kriteria penjurian, begini: melodi lagu, harmony, lirik, komposisi, tema lagu mengangkat destinasi pariwisata, otentik dan kearifan lokal masing-masing daerah. Kemudian, keenam finalis lagu pop daerah itu, akan diproduksi dalam satu album alias CD. Membuka jalan ke arah terciptanya D-Pop Indonesia. n

Suasana final Lomba Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara 2012, di studio ANTV, Jakarta (30/10/2012).

5


Events Orientasinya ke pariwisata kian praktis. Kali ini didatangkan lebih dari 10 travel agent/tour operator (TA/TO) dari Jakarta dan Jawa Barat. Ini sekaligus dijadikan Fam Trip mengunjungi obyek wisata Sumsel. Harapannya? Tentu untuk menjual paket wisata ­untuk wisnus. n

Dari Forum Investasi Pariwisata

“S

Solo Performing Art

M

enparekraf Mari Pangestu menghadiri Solo International Performing Art (SIPA) 2012, satu kegiatan tahunan seni pertunjukan yang telah diadakan untuk keempat kalinya, tahun ini mengangkat tema save our world, better future. Tempatnya di Alun-Alun Pura Mangkunagaran, Solo, pada 28–30 September 2012. Ditampilkan disitu karya cipta seni pertunjukan dari berbagai negara: Inggris, Jepang, Taiwan, Philipina, Belanda, Brazil, dan Indonesia. Delegasi Indonesia menampilkan Independent Expression dari Solo, Mugi Dance dari Solo, Sujiwo Tedjo dari Jakarta, SuvarnaBhumi dari Jogjakarta, Teater Tetas dari Jakarta, Ully Sigar Rusadi dari Jakarta, dan Krakatau Steel dari Banten. “Penontonnya diperkirakan mencapai puluhan ribu orang. Kemenparekraf mendukung kegiatan-kegiatan seni pertunjukan bertaraf Internasional ini karena dampaknya tidak saja meningkatkan kreativitas artistik dan munculnya karya-karya baru yang berkualitas, tetapi juga membantu meningkat-kan kunjungan para wisatawan mancanegara ke Indonesia,” kata Menteri. “Pada periode Januari–Juli 2012, jumlah wisatawan mancanegara ke Solo tumbuh 10,44% dibanding periode Januari–Juli 2011,” kata Menteri selanjutnya. n

Festival Sriwijaya ke-20

S

elama ini diselenggarakan setiap tahun di Ibu Kota Provinsi Sumsel, Palembang, tahun ini pindah untuk pertama kali, yaitu di kabupaten Lahat. Jaraknya lebih 200 kilomteter dari Palembang tapi berkendara mobil memerlukan hampir lima jam perjalanan. Festivalnya berlangsung 1–6 Oktober 2012. Foto di bawah adalah momen malam pembukaan festival itu, masyarakat tampak antusias di mana puluhan ribu orang membanjiri acaranya. Selain band dan penyanyi terkenal dari ibukota, pesta kembang api, festival keesokan harinya dan seterusnya menggelar peruntjukan, pameran, dan satu seminar.

6

edang tumbuh minat terhadap pasar tingkat kedua dan ketiga di Indonesia, banyak pelaku pasar memperhatikan potensi besar tersebut. Stakeholder ­seperti operator hotel, investor, pengembang, konsultan perhotelan dan sektor pemerintah sedang melirik ‘hot spot’ investasi baru di Indonesia. Properti hotel skala ekonomi sampai skala medium adalah target segmen utama bagi rencana pertumbuhan ekspansi banyak stakeholder untuk tahun-tahun mendatang “, kata Ketua, HVS Global Hospitality Services untuk kawasan Cina & Asia Tenggara, David Ling, pada forum Hari Investasi Pariwisata Indonesia (ITID, I­ ndonesia Tourism Investment Day). Forum itu diselenggarakan oleh Kemenparekraf pada 22 Oktober 2012 di Jakarta. HVS Hospitality Global merupakan perusahaan multi-terampil dalam industri real estate dan hotel, resort, serviced apartments, dan properti lain yang terkait, mencakup pasar di seluruh Asia. Baru saja membuka kantor di Jakarta sebagai bagian dari HVS Asia (Asia lainnya termasuk Beijing, Hong Kong dan Shanghai terpisah dari kantor Singapura-nya), David Ling menunjuk Arief Gunawan sebagai Wakil Presiden untuk ­Indonesia. Arief, seorang senior di industri per­ hotelan dan pariwisata di Indonesia juga di Asia Tenggara, akan bertanggung jawab untuk pengembangan usaha, konsultasi strategis, penilaian dan layanan investasi di seluruh wilayah Indonesia. Arief Gunawan Menurut Arief, dia akan melayani Consulting & Valuasi termasuk: Pengembangan Studi Kelayakan, Pencarian Manajemen Hotel, Penjualan Investasi, Penilaian Properti, Penasehat untuk Reposisi Hotel, dan Penasehat untuk Pengembangan Terpadu. Banyak sekali Client HVS hingga sekarang justru dari Indonesia, kata dia. Bersama dengan kantor HVS lain di Asia, HVS ini dengan teratur mendistribusikan publikasi penting tentang Asia Hotel Valuation Index (HVI), menjadi pedoman valuasi Hotel meliputi hotel mewah dan hotel kelas atas di 13 pasar Asia. “Kami berharap kehadiran HVS di Indonesia akan memberikan kontribusi untuk menambah inisiatif, pembangunan dan peluang investasi sebagai bagian dari ­Rencana Induk Pariwisata Nasional Indonesia, di tahun-tahun mendatang”, tambah Arief ­Gunawan, ketika menghadiri ­kegiatan ITID tersebut. Forum ITID itu dihadiri oleh calon investor yang terdiri dari CEO, pe­ ngembang properti pariwisata di ­Indonesia, KADIN, Chambers of Commerce dari negara-negara ASEAN, Tiong­kok, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat. Sementara dari Indonesia hadir perwakilan dari 7 Pengelola Kawasan Pariwisata (Anggota Asosiasi Kawasan Pariwisata Indonesia/AKPI), 6 kabupaten/kota, serta 2 potensi investasi yaitu di kawasan pulau-pulau kecil dan di kawasan kehutanan. n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Events Serba Profesional

S

enja sudah larut menjelang isya, sekitar 60-an orang masih saja berlari-lari, menyelesaikan full marathon 42,2 kilometer. Masingmasing telah diberikan lampu senter mini dan dipakaikan di kening seperti layaknya lampu sorot yang biasa dikenakan pekerja di dalam gua tambang. Atau mengenakan gelang lampu kerlap­kerlip dan setiap pelari memegannya. Bukan untuk penerang jalan, itu jelas sebagai lampu keselamatan berlari di jalanan malam, seperti fungsi safety belt di kursi dalam mobil. Foto bawah ini memperlihatkan salah satu finisher sedang me­ nyelesaikan larinya di gerbang finish, jam menunjukkan pukul 11:19:27, tengah malam. Lomba bernama MetaMan ini dilaksanakan untuk pertama kali di kawasan wisata Bintan, 15 September 2012. Sangat unik, dan profesional, terdiri dari kombinasi: renang di laut 3,8 km, disambung lomba sepeda 180 km, dan full marathon 42,2 km. Tapi ada yang serba setengahnya, dan disebut Half MetaMan: renang 1,9 km, bersepeda 90 km dan half marathon 21,1 km. Total jumlah peserta mendekati 300 orang, termasuk 18 dari ­Indonesia. Jadi, sebagian besar peserta dari mancanegara, ada yang datang jauh dari Swedia, selain Eropa lainnya, Amerika, Kanada, Australia, Asia. Kemenparekraf mendukung even ini, juga tentu saja pemda Kabupaten Bintan. Pengorganisasiannya memang fully professional, semua serba tajam on schedule, tertib rapi, peralatan dan kriteria yang disiplin. Masyarakat penonton yang menikmati peristiwa ini pun terbawa rapi disiplin. Maka selain kualitas internasional ajang itu yang ‘dipercayai’ oleh para peserta, even seperti ini mendemonstrasikan pula fungsinya sebagai tourism sport event. n

Sungai dan Danau!

W

amenparekraf Sapta Nirwandar mengingatkan lagi, Indonesia selain memiliki gunung dan pantai juga danau dan sungai. Festival Danau Batur yang diseleng-garakan untuk kedua kalinya pada 19–21 Oktober 2012, mempromosikan objek wisata di kawasan danau itu, selain aktivitas di danau, spot Kintamani, meningkatkan kunjungan wisatawan ke objek wisata tersebut. Beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan dalam acara ini adalah lomba jungkung, lomba penjor, gebogan, beleganjur, kegiat­ an tracking gunung, fun bike hingga festival anjing khas Kintamani. Tidak lupa dalam acara ini juga akan menampilkan kuliner khas Kabupaten Bangli serta pagelaran tarian kolosal yang didukung 130 orang penari. Event itu atas kerja sama antara Pemda Kabupaten Bangli de­ ngan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Bali yang tidak memiiliki kawasan wisata pantai, karenanya Pemda Kabupaten itu menitikberatkan Danau Batur sebagai primadona destinasi wisata. Kedepannya Danau Batur diharapkan dapat menjadi pilihan objek wisata selain di kawasan-kawasan selatan Bali. n

Kesinambungan

P

erhatikan pulalah ini. Di Kabupaten Banyuwangi pun diciptakan penyelenggaraan festival, tak tanggung-tanggung, sekaligus berdurasi dua bulan November—Desember 2012. Sekiranya setiap unsur kegiatan dalam festival itu terkelola dengan rapi dan disiplin, memenuhi kriteria-kriteria yang sudah direncanakannya sendiri, ini tentu berpotensi menjadi festival yang meramaikan ­Indonesia’s festivities dalam kerangka promosi pariwisata. Artinya, mendatangkan wisnus, kelak juga wisman. Banyuwangi Festival menggelar antara lain balap sepeda, International Banyuwangi Tour de Ijen, Ethno Carnival, Banyuwangi Jazz Festival, Festival Anak Yatim, Parade Gandrung Sewu, Konser Band Ungu, Pagelaran Wayang Kulit, dan lain-lain. Iklannya mempromosikan even itu di media nasional, cukup waktunya, yaitu sebulan sebelum tiba hari pelaksanaan festival. Fastival semacam ini memerlukan kesinambungan, pada akhir­nya menambah ‘produk’ pariwisata Indonesia ber­sama dengan festival di banyak destinasi. n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Putra Putri Batik

W

akil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta ­Nirwandar selaku Ketua Dewan Juri mengumumkan ­Pemenang Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2012 di Balai Kartini, 2 Oktober 2012. Muhammad Ihsan Pribadi, asal DKI Jakarta (kiri) dan Indah Anggraini asal Bandung, Jawa Barat terpilih sebagai Putra-Putri ­Batik Nusantara. Ajang PPBN diselenggarakan oleh Ikatan Pecinta Batik ­Nusantara dan didukung oleh Kemenparekraf. n

Festival Raja Ampat

O

ktober 2012 Kabupaten Raja Ampat di Papua Barat menggelaar Festival Budaya Raja Ampat. “Raja Ampat itu, one of the best diving spot di dunia, untuk lebih mempopulerkan Raja Ampat, kita adakan Festival Budaya Raja Ampat,” kata Wakil Menteri Kemenparekraf, Sapta Nirwandar. n

7


Atraksi

Inspirasi Becak untuk Wisata

P

ernah dianggap sebagai kendara­ an yang tidak manusiawi namun sekarang kembali dilirik untuk berbagai keperluan, termasuk ke­ giatan pariwisata. Kata ‘becak’ berasal dari kata be chia yang dalam bahasa Hokkien artinya kereta kuda. Alat transportasi yang dirancang untuk mengangkut dua orang penumpang dan seorang pengemudi umum ditemukan di Indonesia dan sebagian Asia. Di Indonesia, ada becak dengan pengemudi di belakang penumpang, umumnya di Pulau Jawa, dan becak dengan pengemudi di samping penumpang, umumnya di Sumatra. Di antaranya, becak kayuh, yang menggunakan sepeda sebagai kemudi dan becak motor, menggunakan sepeda motor sebagai penggerak. Di Yogyakarta, bulan Juni 2012 lalu, pemberian motivasi dan pelatihan diberikan oleh pemerintah daerah. Jumlah penarik becak dan koordinator penarik becak yang mengikuti kegiatan tersebut diperkirakan sekitar 250 hingga 300 orang. Di antara mereka ada yang sepakat membuat sebuah paguyuban dengan nama Becak Jogja Adventure dan telah me­ miliki akun Facebook, Jogja Becak Adv. Pengurusan SIOKTB (Surat Izin Ope­ rasional Kendaraan Tidak Bermotor) di Yogya tidak dipungut biaya, para pengemudi becak dan andong juga proaktif mengurusnya. Di kota Solo bulan Januari lalu, Best Western Premier Hotel menyelenggarakan sales blitz dengan mengerahkan becak gathering. Jais Suyanto salah satu pengemudi becak biasa mangkal di depan Hotel tersebut. Dia bersama 22 penarik becak lain dan 60 karyawan Best Western meng­ adakan sales blitz berkeliling Kota Solo dengan becak. “Kami sering mengantar tamu hotel ke tempat-tempat wisata seperti Keraton Solo, Alun-alun Selatan, Kampung Batik Kauman, Jurug, Pasar Triwindu hingga Pura Mangkunegaran,” kata dia. Penarik becak di Makassar membentuk paguyuban di tempat dimana ­paling ba­nyak penarik becak berkumpul. Bagi yang terpilih sebagai becak wisata, diberikan pelatihanpelatihan dari pemda seperti bagaimana

8

Beca motor alias bentor di Aceh.

Pengemudi Muhdar dan becak wisatanya di Makassar.

Di kawasan Kota Lama Semarang.

Di Yogyakarta.

melayani penumpang dan sebagainya. Namanya Muhdar. Sudah menarik becak dan mengantar wisman maupun wisnus, sejak pertengahan tahun 1980-an. Dia akan menunggu di pelabuhan laut Soekarno Hatta Makassar bila kapal pesiar merapat. Terkadang dia juga dipanggil oleh biro perjalanan untuk membawa wisatawan yang akan turun dari kapal. Tapi dia pa­ ling sering menunggu di Fort Rotterdam. Tak jarang wisman yang diantarnya ingin merasakan mengayuh becak. Atau, yang pernah menyewa becaknya, saat datang kembali setelah bertahun-tahun, mendatangi Fort Rotterdam dan mencarinya lagi.

Labi-labi adalah sebutan becak motor di Aceh. Hampir tak terlihat becak yang dikayuh di daerah ini. Para penarik becak di Banda Aceh biasanya akan menawarkan untuk mengantar keliling kota jika mereka tahu penumpangnya dari luar Aceh. Mereka merangkap menjadi guide. Ah, penulis ini pun berfikir, pokoknya becak bisa berfungsi sebagai faktor ­Atraksi Pariwisata. Dan teringat akan kawasan­kawasan seperti kawasan kota tua di ­Jakarta. n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Atraksi

Menunggang Becak di Frankfurt Beca, beca Tolong bawa saya Saya naik sendiri Berkeliling-keliling kota....

L

agu di masa kanak-kanak ini sungguh jadi kenyataan di ­tengah kota Frankfurt, Jerman. Di kawas­ an Romer yang terkenal, tak jauh dari stasiun pusat keretapi Frankfurt am Main, becak tersedia tentu saja bagi wisatawan, untuk berkeliling pusat kota itu, di mana banyak berlokasi tourist spots. Niscaya tak ada wisatawan ke Frankfurt yang tidak berkeliling di wilayah ini. Becaknya riel, dikayuh alias digowes. ­Lihatlah fotonya. Dan memudahkan untuk menunggang. Jelas dipampang tarifnya: ­1 kilometer tarif Euro 3 per orang, atau Euro 4 per dua penumpang; jika berkeliling sampai 3 kilometer maka per orang Euro 9 dan Euro 12 untuk dua penumpang. ­Hitunglah jika nilai tukar Euro saat ini Rp 11.000. Disebut sebagai Velotaxi, tentu semua terdaftar rapih di administrasi pemerintahan setempat, penariknya ada laki ada perempuan, di antara mereka mungkin terdapat mahasiswa/i, seperti juga ditemui pada profesi sopir taksi biasa di banyak negeri Eropa. Di situ tampak, yang menunggang dan yang menarik becak, sama-sama ­‘happy’. Jadi penambah inspirasi untuk becak di kota Anda? n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Becanya memang digowes!

9


PENDAHULUAN

KETERKAITAN

Industri Kreatif

Kondisi Global

VISI, MISI, DAN TUJUAN Perkembangan Kepariwisataan

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Perkembangan Ekonomi Kreatif

SDM

Reformasi Birokrasi

Potensi

PENUT

Perma

Kontribusi Peran Kemenparekraf Kontribusi Peran Kemenparekraf

Peran Akhir dari Daerah

W

amenparekraf Sapta ­Nirwandar, da­tang ke Studio Epicentrum ANTV di kawasan jalan Kuning­an, Jakarta, Selasa sore 30 Oktober 2012. Ketika itu berlangsung acara final Lomba ­Cipta Lagu Pop Daerah Nusantara 2012. Maka dari Rencana Strategis (Renstra) Kemenpare­kraf 2012–2014,—yang selalu disosialisasikan sendiri langsung oleh Menteri Parekraf Mari Elka Pangestu pada setiap kesempatan—, dimakPENDAHULUAN VISI, MISI, DAN TUJUAN ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENUTUP lumi bahwa Musik merupakan bagian dalam Perkembangan Perkembangan Reformasi Potensi Permasalahan ekonomi krea­tif yang 100% kontribusi pengemKETERKAITAN Kondisi Global Kepariwisataan Ekonomi Kreatif SDM Birokrasi bangannya diperankan oleh Kemen­pare­kraf. Beberapa uraiannya ditampilkan di sini. Dengan bertitik tolak dari pengertian eko­ Industri kreatif didefinisikan Telah terjadi pergeseran era perekonomian yaitu nomi kreatif itu sendiri, aktivitasnya pun telah sebagai industri yang berasal dari dari era ekonomi pertanian menjadi era ekonomi ibarat satu sisi mata uang, ­dengan sisi lainnya pemanfaatan kreativitas, keterampilan kreatif. adalah kegiatan pariwisata. serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan Data kegiatan ekspor impor industri kreatif dengan menghasilkan dan Indonesia yang diolah Kemenparekraf ternyata memberdayakan daya kreasi dan daya telah menunjukkan ‘kinerja’ yang ‘cukup kuat’ cipta individu tersebut. Ekonomi Kreatif merupakan era ekonomi baru untuk dikembangkan, apalagi dengan arah *Kementerian Perdagangan 2009 yang mengintensifkan informasi dan kreativitas yang kian jelas, baik sumber-sumber maupun Kreatifitas tidak hanya berbasis dengan mengandalkan ide dan stock of artistik, namun bisa juga berbasis sains pasar. Dalam praktek selama ini telah dialami knowledge dari sumber daya manusianya sebagai dan injiniring promosi pariwisata, di dalam maupun di luar faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. *Kementerian Perdagangan 2009 negeri, hampir tak terpisahkan dari kandung­ an elemen industri kreatif. Renstra Kemenparekraf itu menguraikan pula perkembangan ekonomi kreatif di dae­ rah. Nah, pada bagian ini terasa bagaimana peran akhir yang menentukan terletak pada para pelaku. Para pelaku dan sumber-sumber PENDAHULUAN VISI, MISI, DAN TUJUAN ARA ekonomi kreatif tersebar di berbagai daerah PENDAHULUAN VISI, MISI, DAN TUJUAN ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENUTUP 2 PERKEMBANGAN Kondisi Perkembangan dari negeri kepulauan Indonesia. Majulah, Keterkaitan Global Kepariwisataan EKONOMI KREATIF PERKEMBANGAN Perkembangan Reformasi Potensi Permasalahan Keterkaitan daerah! n Kondisi Global Kepariwisataan EKONOMI KREATIF SDM Birokrasi

Apa itu Ekonomi Kreatif

Ekspor – Impor Industri Kreatif Indonesia (2010) Ekspor–Impor Industri Kreatif Indonesia (2012)

Perkembangan Ekonomi Krea Perkembangan Ekonomi Kreatif Daerah • Perkembangan ekonomi kreatif di daerah-daerah ditandai dengan: (1) komitmen pimpinan daerah, (2) keberadaan area publik yang dimanfaatkan untuk kawasan kreatif, (3) infrastruktur yang cukup baik sehingga dapat menunjang proses kreatif, (4) keberadaan dan aktivitas komunitas kreatif, (5) even sebagai media apresiasi industri kreatif, (6) dukungan dari pemerintah daerah, (7) keberadaan lembaga pendidikan formal yang menunjang industri kreatif, dan (8) adanya dokumen perencanaan pengembangan industri kreatif daerah. • Area publik yang dikembangkan: taman budaya, alunalun, gelanggang remaja, GOR, museum, atau tempat lainnya yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul para pelaku kreatif di sebuah kota atau kabupaten, ataupun pada level desa. • Tahun 2011, propinsi yang paling aktif menyelenggarakan even kreatif: DKI Jakarta (143 even), D.I. Yogyakarta (57 even), Jawa Barat (52 even), Bali (41 even), dan Jawa Tengah (25 even).*

Sumber: BPS dan Kemenparekraf, 2002-2010

Fesyen sektor yang berpotensi besar padabesar perdagangan dunia Fesyenmerupakan merupakan sektor yang berpotensi pada perdagangan dunia karena tertinggi pada ekspor kreatif. karenaberkontribusi berkontribusi tertinggi padaindustri ekspor industri kreatif 23

10

*) data diolah dari www.indonesiakreatif.net

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Pemasaran Destinasi

PNPM, dan Berbagi Pengalaman Spiritual Mengunjungi Aceh bulan September 2012 lalu, ada terbersit rasa sentimental. Pariwisata Aceh mungkin tetap memancing rasa itu bagi wisnus dan boleh jadi juga wisman. Tentu saja di samping tambahan pengetahuan, sejarah sampai heritage. Industri pariwisata di sana sepertinya ‘sabar’ menanti perkembangan. Tapi pertumbuhan bukankah bisa diakselerasi?

Matahari terbenam di pantai Lhoknga.

P

antai Lhoknga dan Lampuuk berada di pesisir barat masing-masing berjarak 45 menit dan 30 menit berkendara dari tengah kota Banda Aceh. Selama perjalanan ke sana terbentang luas bekas lahan sawah yang nyaris tidak bisa ditanami kembali setelah tsunami. Beberapa kali kuburan massal dalam ukuran kecil terlihat dari tepi jalan. Pantai Lhoknga berpasir hitam. Bebe­ rapa orang tampak berselancar di sore hari. Sederet warung makan dan gazebo kayu berdiri di bibir pantai. Pabrik semen Semen Andalas Indonesia (PT SAI) berdiri tidak jauh dari situ. Pohon cemara laut berdiri berbaris tegak di sisi sepanjang jalan menuju pantai Lampuuk. Namun ini pohon sekunder setelah hancur dihantam tsunami besar tahun 2004 lalu. Itu merupakan hasil penanaman kembali sebagai benteng alam. Karakter pantainya berpasir, tidak bisa ditanami mangrove. Pantai Lampuuk berpasir halus putih kekuningan dibatasi bukit batu yang di atasnya hidup hutan alami. Ombaknya cukup tinggi, di sini lebih ideal bagi peselancar daripada di pantai Lhoknga. Sebuah penginapan kecil menanti tamu, beberapa wisman tampak sedang bersantai di café bungalow itu.

Mesjid Rahmatullah, Lampuuk.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Sore di pantai Lampuuk. Makam massal Ulee Lheu.

Tak jauh dari pantai Lampuuk tampak sebuah mesjid, itulah, satu-satunya bangun­an, yang selamat saat tsunami ta­hun 2004 menghantam wilayah ini. Mesjid Rahmatullah itu berdiri tegak dan masyarakat menggunakannya hingga saat ini. Dari luar tampak beberapa pilar di dalam mesjid roboh. Partisi dari kayu membatasi sisa reruntuhan pilar mesjid dengan umat yang beribadah di dalamnya. Menyusuri jejak tsunami di ibukota Provinsi Aceh dimulai dari makam massal Ulee Lheu di jalan Iskandar Muda. Lokasi­

nya berdekatan dengan mesjid Baiturrahim dan pelabuhan Ulee Lheu. Sebelum peristiwa tsunami, lokasi makam itu merupakan kompleks Rumah Sakit Meuraxa. Tidak ada yang tersisa dari kompleks rumah sakit tersebut kecuali sisa bangunan yang dulu merupakan lobi rumah sakit. Tak terhitung berapa yang dikubur di makam massal ini. Makamnya terbagi dua, untuk orang dewasa di sebelah kiri-kanan pintu masuk dan makam untuk anak-anak agak lebih ke dalam di sebelah kanan.

11


Pemasaran Destinasi Siapapun boleh masuk. Makam tanpa nisan, rumput hijau yang menghampar, memberi ruang kosong bagi kita yang hidup untuk merenung dan mendoakan mereka. Rumah Sakit Meuraxa sudah di­ pindahkan ke tempat lain. Setelah berdoa di makam massal Ulee Lheu, lanjut mengunjungi Tsunami Educational Park PLTD Apung di Desa Punge Jurong. Desa ini berada 2,5 km dari perair­ an Ulee Lheu tempat asli PLTD Apung ini berada. PLTD Apung I ialah sebuah kapal tongkang dengan panjang 63 meter, lebar 19 meter, tinggi 4,3 meter dan sarat tongkang sepanjang 2,85 meter. Ketika masih berfungsi power plant barge ini mampu menghasilkan daya listrik sebesar 10.860 kW. Pernah memasok kebutuhan listrik bahkan sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat; Bali, Madura dan terakhir di Banda Aceh sejak Juli 2003. Tsunami tahun 2004 telah menghempaskan tongkang berbobot kotor 2.600 ton sejauh 2,5 km dan menindih empat rumah warga. Meskipun tongkang ini juga telah me-nyelamatkan banyak orang. Dan saat ini, PT PLN telah menyerahterimakannya untuk dijadikan situs tsunami. Di dalam area situs kita masih bisa melihat reruntuhan beberapa rumah warga. Dari atas kapalnya kita melihat pelabuh­an Ulee Lheu dan perumahan yang telah memadat sekitar situs. Sebuah taman dan air mancur dibangun di dalam area dan di pojok belakang taman ada sebuah ruang ke-

PLTD APUNG I, terdampar ke daratan di tengah rumah penduduk, dari tadinya mengapung di lepas pantai.

cil yang dijadikan galeri memajang foto-foto saat bencana tsunami terjadi. Di taman ini pula pengunjung melihat langsung bunga jeumpa, bunganya orang Aceh. Masuk ke situs ini tidak dipungut biaya kecuali parkir. Sudah dibangun beberapa kios tapi tampaknya belum ­dimanfaatkan maksimal. Penjual makanan dan ­minuman ringan mendirikan tenda di tepi tempat parkir dan beberapa orang yang menjual cakram film mengenai tsunami. Ibu Abasiah namanya, dia pemilik rumah yang ‘diduduki’ kapal nelayan di Gampong Lampulo. Ketika gempa besar itu berguncang, tersebar informasi air laut naik namun tidak seorang pun berpikir itu adalah tsunami. Ibu Abasiah naik ke lantai dua rumahnya bersama seluruh keluarga dan beberapa anak yatim piatu asuhan­nya serta beberapa orang tetangga. Menurut kesaksian Ibu Abasiah di dalam buku saku Mereka Bersaksi yang disiapkan oleh Program Nasional Pember­dayaan Ma­syarakat (PNPM) Man­ diri Pariwisata Gampong Lampulo, air bah mencapai setinggi pinggang orang

Maulidar Yusuf

Kapal di atap rumah di Lampulo.

12

dewasa di lantai dua rumahnya dalam waktu 3 menit. Tiba-tiba sebuah kapal nelayan datang dari arah Tempat Pelelangan Ikan dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Di dalam kapal selintas terlihat beberapa orang dan me-nyuruh mereka naik ke kapal. Akhirnya 59 orang berada di kapal tersebut, salah satunya bayi berusia 6 bulan. Melihat arus air berputar dengan cepat, mereka di atas kapal berazan, me­ngaji dan berzikir hingga arus air melemah. Setan­ dan pisang hanyut mendekati kapal, diambil dan dimakan oleh semua penumpang. Air surut sekitar pukul setengah tiga, me­reka semua turun. Tiada yang bisa mereka lihat dan lakukan kecuali reruntuhan ba­ngunan, sampah kayu dan mayat bergelimpangan. Masih dengan perasaan takut dan panik mereka semua berlari menuju tempat yang lebih aman. Maulidar Yusuf, salah seorang local guide di situs ini bercerita saat bencana terjadi dia masih duduk di bangku SMP kelas 2. Yang dia ingat saat gelombang menerjang kampungnya, bumi ini gelap langitpun tak terlihat. Gelombang itu mungkin tingginya lebih dari 20 meter. Dia bersama keluarganya berlari sekencang-kencangnya menuju tempat yang aman. Lebih separuh kampungnya rata dengan tanah, lebih se­ tengah jumlah penduduk di kampungnya menjadi korban. Beberapa keluarga selamat termasuk dia dan keluarganya. Sejak tahun 2006 kapal nelayan yang tertambat di atas rumah beserta rumahnya sudah dijadikan situs dan obyek wisata. Maulidar Yusuf menerangkan kampungnya sekarang disebut Desa Wisata Lampulo yang terdiri dari situs kapal di atas rumah, usaha pengelolaan ikan dan usaha kreatif warga seperti kerajinan sulaman Aceh. Sebelum tsunami di sini juga sudah ada komunitas seni yang masih bertahan dan berkembang hingga sekarang. Desa ini menjadi desa wisata setelah PNPM pariwisata beroperasi pada Desember 2011. Desa Wisata Lampulo menjadi juara harapan V dalam lomba desa wisata tingkat nasional belum lama ini. Pengelolaan situs dan desa wisata dikelola oleh PNPM pariwisata dan warga Gampong Lampulo. “Yang mengelola semua ini masyarakat,

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Mesjid Baiturrahman

Roti canai isi

Mie aceh

Produk ekonomi kreatif dari Gampong Lampulo. Kiri: dendeng dari olahan ikan lubim (ikan kapas-kapas). Kanan: ikan tongkol yang telah diawetkan menjadi ikan kayu dengan proses alami telah dikemas dan siap dimasak karena sudah termasuk bumbu dan cara memasaknya.

Seorang warga, sambil merajut menjaga kios suvenir.

pemerintah hanya mendukung dari atas. Mendukung dari sisi mendapatkan dana, pemerintah kota juga mengontrol desa wisata ini setiap bulannya. Masuk ke sini tidak dipungut biaya. Kami di sini masih usaha sosial, tamu yang datang hanya bayar parkir saja,” Maulidar Yusuf mene­rangkan. Rata-rata sekitar 60 rombongan datang setiap hari, per satu rombongan biasanya lebih dari satu orang. Di hari libur pe­ngun­ jung lebih ramai dan biasanya mereka le­ bih suka datang di pagi atau sore hari. Masyarakat kampung menjaga situs bergantian. Bagi yang tidak bisa menjaga biasanya mereka akan menitipkan barang-barang untuk dijual di sini. Warga Gampong Lampulo sudah bisa meneri-

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

ma pariwisata karena warga juga turut berpartisipasi di dalamnya dan me­reka sudah merasakan dengan kedatangan wisatawan bukan hanya perekonomian mereka bangkit kembali tapi juga bisa berbagi ­penga­lam­­an spiritualnya. “Memang saat ini kami masih dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat bahwa pariwisata bukan hanya bersifat hurahura dan hiburan. Pariwisata juga bisa menjadi alat pengenang dan religi. Karena itulah situs ini juga diberi nama obyek wisata Kuasa Allah,” lanjutnya. Enam orang pemandu lokal tetap be­ kerja di sini. Warga juga bisa membantu memberikan informasi kepada para tamu yang datang. Wisatawan asing pun sudah

Pemasaran Destinasi lumayan banyak mengunjungi situs dan desa wisata ini. Terbanyak wisman dari Malaysia, selain itu dari negara-negara Eropa. Setelah dari situs kapal di atas rumah dan Desa Wisata Lampulo, kita mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman di tengah kota Banda Aceh. Nyaris tak terlihat kerusakan di mesjid raya kecuali menara yang berada di pintu depan menjadi miring sete­ lah gempa sehingga elevator di dalamnya tidak bisa difungsikan lagi sampai sekarang. Mesjid raya ini masih tetap cantik dan berdiri kokoh, mungkin dialah gambar­an masyarakat Aceh pada umumnya. Sayangnya, penulis ini (wanita) tidak bisa masuk dan melakukan shalat di dalam mesjid karena saat itu sedang me­ ngenakan celana panjang. Teman yang menemani menyusuri jejak tsunami di Banda Aceh dan sekitarnya menerangkan, bagi perempuan yang akan memasuki mesjid dan beberapa area tertentu tidak diperbolehkan memakai celana panjang karena itu masih mem-perlihatkan bentuk tubuh perempuan meskipun tidak ketat. Jikapun memakai celana panjang harus mengenakan kemeja yang panjangnya me­ lebihi lutut atau tunik. Sebagai ibukota provinsi kota Banda Aceh tidak terlalu besar. Mungkin ini hanya perasaan, masih ada tatapan selidik pada orang yang baru pertama kali datang. Tapi mulai dari sopir taksi di bandara internasional Sultan Iskandar Muda, penarik labi-labi atau becak di pelabuhan Ulee Lheu hingga penarik becak dan pang­lima laot di Sabang, semuanya ramah, bersikap hangat dan suka menolong. Menyantap Mi (Aceh) Midi di siang hari sama nikmatnya dengan menyantap canai isi dan teh tarik di Canai Mamak bersama generasi muda Banda Aceh di malam hari. Syariah Islam yang berlaku tidak menakutkan malah memberi rasa aman. Kegiatan wisata bisa seiring sejalan dengan qanun (aturan) yang berlaku. Selalu tergenang air di pelupuk mata mengingat perjalanan menyusuri jejak tsunami di Banda Aceh: sedih, haru, dan bangga. “Semoga saya benar-benar bisa belajar dari sini,” kata penulis ini di dalam hati. Bagi industri pariwisata setempat, tentu banyak landasan kini untuk mempercepat laju pertumbuhan pariwisata. Dengan karakter destinasi dan sifat obyek daya tarik, dipertemukan dengan segmen dan komunitas konsumen yang ­berkesesuaian. Operator tour dan operator penerbang­ an, didukung stakeholders lain, duduk bersama memadukan langkah, menciptakan program tur, dan berbagi dalam perhitungan biaya untuk memasarkannya. Co marketing? Why not? n

13


Pemasaran Online

Melatih Praktisi Pariwisata dan Pebisnis

M

ekanisme penjualan produk dari destinasi dan pembelian tur oleh wisatawan mancanegara mengalami perubahan revolusioner atau ‘super cepat’ dalam beberapa tahun terakhir. Cara lama yang sebagian tentu masih tetap berjalan hingga sekarang, di mana calon wisman di negerinya pertama-tama dipengaruhi oleh ‘citra umum’ tentang destinasi, kemudian mencari rincian dari produk-produk wisata dari destinasi yang diminati, untuk menentukan pilihan. Lalu dibelinya produk dan destinasi pilihan tersebut melalui Travel Agent/Tour Operator (TA/TO) berupa paket wisata lengkap. Dalam paket itu, TA/TO membelikan tiket penerbangan, kamar hotel akomodasi, transportasi dan tur lokal, dan seterusnya. Mekanisme yang baru kini, membuka peluang bagi calon wisman langsung mendapat informasi rinci melalui internet, website, social media, di mana transaksi pembelian bisa dilakukan langsung oleh calon wisman: membeli tiket penerbangan, memesan dan membayar hotel, juga tur, rental mobil, dan seterusnya. Paket wisata komplit kini telah dijual secara penjualan eceran, maka memang disebut sebagai retail business. Intinya, dari sudut pemasaran, mata rantai distribusi telah dipangkas oleh media internet. Dan social media: facebook, twitter, youtube, dan lain-lain nyatanya memasuki wilayah pemasaran ini, lalu membuka lapangan luas bagi UMKM atau Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah di sub sektor pariwisata untuk bisa langsung menerobos dan ‘bermain di pasar menjangkau langsung calon konsumen’. Revolusi ini seakan menyampaikan pesan: jika Anda tidak memanfaatkan mekanisme baru ini, dengan tidak ikut bermain menggunakan media internet, Anda tentu akan ditinggakan oleh para pesaing yang menggunakannya. Telah tiga tahun ini Kemenparekraf menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Sosiali­ sasi dan Pelatihan Promosi Online Pariwisata Melalui Blog—www.indonesiatravel.biz. Kini sudah lebih 450 peserta blogger yang masuk di dalam website resmi dari Kemenparekraf, www.kemenparekraf.go.id. Di dalamnya disediakan blog platform atau link: indonesiatravel.biz. Di situ dimaksudkan para UMKM, dengan mendaftar dan ikut serta, berpeluang menembus pasar dan memperoeh pemesanan atau pembelian melalui korespondensi email. Pada waktunya juga akan bisa melakukan transaksi langsung dengan konsumen alias wisman, tentu saja juga dengan wisnus. Tahun ini tiga kali diselenggarakan, terakhir tgl 1–2 November 2012 di kota Malang. Di situ, “target kami peserta 40 orang ternyata diikuti 52 orang. Sebelumnya di

14

Esthy Reko Astuty

Pangkalan Bun, Kalimantan, target peserta 40 orang ternyata diikuti 60 peserta,” begitu dijelaskan Esthy Reko Astuty, Direktur Promosi Citra Indonesia, Kemenparekraf. Peserta di Malang, dikirim dari Disbudpar Provinsi Jatim, Disbudpar Kota Malang, pengusaha hotel, travel agent, dan UMKM. Beberapa di antara mereka sudah punya blog, dan di pelatihan itu bisa

menambah wawasan serta pengetahuan mengelola dan mengembangkannya. Selain teori, praktek, perbandingan mutakhir di dunia social media, di hari pertama, disajikan oleh narasumber berdasarkan pengalaman dan keahlian masingmasing; di hari kedua dilakukan pelatihan cara membuat blog dan website, hingga ke media sosial, facebook, twitter, youtube.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Pemasaran Online

di Daerah Untuk Online Marketing

Sebagian peserta di Semarang. Calon Wisman

Proses informasi hingga pembelian tur selama ini :

Informasi Umum Destinasi (Citra Destinasi)

Proses informasi hingga pembelian tur fenomena baru :

Informasi Rinci Destinasi (Produk Wisata-Paket Wisata) Website—Blog– Social Media

Brosure—Iklan—Katalog Travel Agent / Tour Operator

Penerbangan

Program ini jelas sekali perlu diikuti para praktisi, terutama di bisnis yang menyangkut dengan pariwisata, di ­samping para pengelola di pemerintahan, di ­daerah-daerah. Ketika di Malang awal November ini program itu dilaksanakan, proporsi pesertanya terdiri dari: 11 orang dari ­TA/ TO, 2 orang dari Tourist Information Center (TIC), 7 orang dari hotel, 5 orang dari usaha restoran, 1 orang usaha handicraft, 2 orang seniman, 1 orang usaha rental mobil, Disbudpar Kota Malang 6 orang, Disbudpar Prov Jatim 3 orang, Disbudpar dari kota-kota lain sebanyak 7 orang yakni Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, ­Sidoarjo; dari DMO (Destination Management Organization) 8 orang, yakni lembaga desa wisata Gubuglakah, Ranupani, dan dari Bromo Tengger Semeru.

Indonesiatravel.biz

Website resmi Kemenparekraf beralamat www.kemenparekraf.go.id, isinya sarat dengan informasi-informasi up to date tentang pariwisata Indonesia. Berita, artikel, fakta dan data mengandung informasi yang sudah pasti diinginkan, atau diperlukan calon wisman ketika sedang mencari kemana destinasi hendak dikunjungi. Informasi tersebut berfungsi membangun

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Akomodasi

citra Indonesia, membentuk persepsi publik mengenai destinasi pariwisata Indonesia. Lebih dari membangun awareness. Dan ketika sang pembaca atau calon wisatawan sudah merasa ‘desire to purchase’, di halaman web itu antara lain bisa langsung dibuka satu link indonesiatravel.biz. Di dalam link ini terdaftar kini sekitar 450 usaha-usaha di bidang pariwisata yang tersebar di berbagai daerah. Setiap usaha dari peserta itu, menampilkan profil usahanya, produk atau jasa yang dijualnya. Seperti digambarkan ringkas di atas tadi, para calon wisatawan yang membacanya dapat langsung menimbang, memilih, apa dan di mana produk yang akan dibelinya. Sang calon wisatawan akan memesan kemudian, tentunya dengan menghu­ bungi si produser: usaha transportasi, perhotelan, tur, restoran atau rumah makan, rental kendaraan, jasa pramuwisata, dan seterusnya. Itu sudah berlangsung tiga tahun ini. Beberapa pembicara pada kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Promosi Online ini, terdiri dari mereka yang sudah menjalani ‘success story’. Faisal Nur, misalnya, menceritakan, tiga tahun yang lalu mencoba terjun ke bisnis tur di Malang. Dimulai dengan tenaga full timer dua orang. Satu ketika dia mengetahui tentang keberadaan

Retail Business

Tur Lokal

Rental

indonesiatravel.biz, lalu melakukan registrasi ikut serta. Blog-nya masuk jadi salah satu peserta. Dia laksanakan apa yang harus dan perlu, selalu meng-up date informasi secara teratur di blog-nya, memberikan respons yang cepat terhadap kontak dari pembaca. Dan tentu memelihara dan menjaga ‘kepercayaan’ konsumen. Agaknya website usahanya juga ‘augmented’ dengan menggunakan social media: face book dan twitter, dan seterusnya. Saat ini usahanya telah mempekerjakan 12 orang. Berkembang maju.

Pendaftar lebih 900

Sejak tahun 2010 pelatihan ini telah diselenggarakan di sembilan kota : 2010 di Bukittinggi, Padang, Jakarta, Bali dan Manado; 2011 di Lombok dan Bandung; tahun 2012 ini di Tanjung Putting, Semarang, dan terakhir di Malang. Jadi, indonesiatravel.biz tersebut merupakan salah satu media promosi pariwisata bagi industri pelaku bisnis pariwisata di Indonesia. Lebih dari itu, website Kemenparekraf ini berupaya menggerakkan para pelaku bisnis, di satu sisi, untuk menerobos pasar wisman sekaligus wisnus, dengan online marketing. Mengikuti tren pemasaran di pasar dunia. Di sisi lain

15


Pemasaran Online bersamaan dengan itu, ia menarik para UMKM, agar ikut serta dengan ‘gerakan’ ini, ya itulah, dengan memfasilitasi pelatihan bagi peserta guna merencanakan strategi pemasaran online tersebut. Mengapa tampaknya program pelatihan ini tertuju utamanya bagi UMKM di bidang pariwisata? Kendati sebenarnya bukan terbatas diperuntukkan bagi usaha-usaha tersebut, tetapi dimaklumi, bahwa perusahaan kelas besar, chain hotel misalnya, sudah memahami dan menjalankan secara luas pemasaran dan penjualan online. Demi­ kian pula TA/TO kelas big player. Sementara itu realitas di dalam negeri, pelbagai daerah destinasi dengan karakter yang masing-masing spesifik, masih relatif sempit dan pendek daya jangkau mereka dalam mempromosikan potensi dan menjual produk wisata mereka. Dalam strategi pemasaran pariwisata Indonesia, pada hampir setiap ­kegiatan mengandung aspek komunikasi pema­ saran yang mengarahkan pelaku agar mengefektifkan pendaya gunaan teknolo-

Sebagian peserta di Tanjung Puting.

gi informasi, termasuk social media. Media indonesiatravel.biz di dalam website resmi itu berarti dibawah kelola Kemenparekraf. Sebenarnya jumlah pendaftar yang

Mengundang Mereka Situs resmi Kemenparekraf pun mempromosikan perannya sendiri, sekaligus merangsang para blogger dan pengikutnya agar mengunjungi destinasi Indonesia. Saat ini kembali dilaksanakan kuis berhadiah perjalanan ke Pulau Komodo bagi 5 pemenang. Kuis ditampilkan terus menerus dari 18 Oktober–18 November 2012, pemenangnya akan diumumkan pada 23 November 2012. Kuis bahasa Inggris terbuka bagi partisipan asing di seluruh dunia, kuis Bahasa Indonesia bagi partisipan warga negara Indonesia. Pemenang akan dihadiahi perjaalanan 3 hari 2 malam mengunjungi Pulau Komodo. Diajukan 5 pertanyaan per hari. Setiap jawaban yang benar diberikan 5 poin. Tambah pula, 1 poin bagi peserta yang mengajak teman lain ikut serta. Para pemenang akan menerima tiket pesawat internasional ke Bali, dan penerbangan dalam negeri ke Labuan Bajo serta akomodasi dan makan selama perjalanan.

Dampak berantai

Ada kegiatan lain. Konsepsi bahwa para bloggers memiliki komunitas masing­masing, atau yang aktif dengan facebook dan twitter membangun follower, maka kesan dan pesan di internet mereka cende­ rung bisa membangun persepsi terhadap sesuatu topik. Jika topiknya destinasi, apalagi pengalaman berkunjung, tentulah produk wisatanya terpromosikan. Contoh yang terakhir ketika diundang delapan bloger internasional. Mereka dibawa mengunjungi beberapa destinasi dari

16

tanggal 7 sampai 19 Oktober 2012 . Bloger yang berpartisipasi: Michael Pe­ nyu (Australia), Stephen Bugno (USA), Caitlin O’Neil (Canada), David Lee (USA), Juno Kim (Korea Selatan), Eunice Khong (Singapura), Anton Diaz (Filipina) dan Kirsten Alana (USA). Bloger Indonesia: Amalla Vesta Widaranti, Veny Lai, Jansen Siregar, Nila Tanzil dan Travel­ junkie. Selain itu ikut serta wisnus, Swanky dan Veny. Selebriti Olga Lidya juga bergabung dalam perjalanan ke Taman Nasional Komodo dan Bali. Mereka berkeliling ke hutan-hutan di Kalimantan Tengah melihat orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting. Melihat candi Budha terbesar, Borobudur, mengun­ jungi Yogyakarta, dan mendaki gunung sebelum fajar untuk melihat matahari terbit dari Gunung Bromo di Jawa Timur. Dilanjutkan dengan penerbangan ke Nusa Tenggara Timur, di sana melihat komodo, diakhiri dengan kunjungan ke Bali. David Lee dari New York City, Amerika Serikat, begitu tercengang ketika bertemu dengan orangutan legendaris di Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah menyusuri Sungai Sekonyer ke Camp Leakey, David terpesona melihat bagaimana primata lembut itu diangkat dan dipelihara di habitat alami mereka. Caitlin O’Neil dari Kanada menerima hadiah setelah menaiki tangga curam di Gunung Pananjakan di Bromo. Meskipun kakinya terluka, itu tidak menghentikan pendakiannya yang dimulai sejak pukul 03:30. Matahari terbit muncul dari awan

i­ ngin ikut serta di dalamnya mencapai lebih 900, kata Esthy Reko Astuty, namun tentu melalui seleksi dan hingga saat ini jumlah blog peserta yang aktif lebih dari 450. n yang bersinar di atas Gunung Bromo, megah, pemandangan dramatis Gunung Semeru di latar belakang. Caitlin benarbenar terpikat dan mendokumentasikan pengalamannya melalui video yang segera dirilis melalui media online. Kirsten Alana tidak bisa menyembunyi­ kan ketertarikannya pada air jernih dengan pasir warna merah muda yang mempesona di Pink Beach di Pulau Komodo. Belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini, membuatnya langsung melompat ke laut. Baginya kenangan yang tak terlupakan itu ada di Pink Beach. Kirsten berbagi keindahan Pink Beach dan Pantai Kanawa melalui Twitter dan Instagram. Traveljunkie dari Media Indonesia juga mengagumi pemandangan di Pink Beach, yang megah di bawah permukaan lautnya. Pulau dongeng Bali menjadi tujuan akhir dari eksplorasi 12 hari kemegahan Indonesia. Lama dikenal karena budaya yang mempesona, peserta disajikan beberapa fitur budaya. Tari Kecak di pura Uluwatu membuat semua peserta ter­ kagum-kagum. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke desa-desa Bali yang otentik. Sehari di Ubud tidaklah cukup untuk menyerap semua keindahannya. Matahari terbenam mempesona di Pantai Petinget, menjadi akhir yang indah. Potato Head Beach Club, titik pertemuan terakhir di mana para peserta berbagi pengalaman mereka antara satu sama lain. Dan kesan dan pesan yang ditulis de­ ngan sajian yang enak, di masing-masing blog, itulah yang kemudian membawa dampak berganda, dari sekian ribu pembaca ke pada sekian ribu netizen lainnya. Kalau pemerintah daerah pun punya web yang aktif, jejak www.indonesia.travel tentulah baik diikuti. n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Visit Indonesia Tourism Officer

Keinginan anak Singapura itu

Menjadi Kenyataan

Y

vonne Chu, Senior Producer, English tember (Jumat) dan pulang pada 10 SepEntertainment Productions untuk tember (Senin). Sebagai imbalan, kami akan tayang stasion TV di Singapura, akhirnya menulis surat resmi ke kantor Visit logo di kredit pada akhir episode. Kami Indonesia Tourism Officer (VITO) di kota itu. berharap dengan cara mengabulkan perIsi suratnya dengan terjemahan bebas dari mintaan Syasya di tayangan nasional, pengalaman ini akan memberi motivasi bahasa Inggris berbunyi begini. Seperti yang pernah kita bicarakan, TV kepada anak-anak yang sakit serupa dan Saluran 5 akan memulai produksi untuk kami menghargai pertolongan dan partisebuah acara berjudul Wishes Come True sipasi dalam produksi ini. Untuk selanjutnya Yvonne Chu memyang isinya pengalaman mengabulkan harapan anak-anak dan balita berumur berikan nomor kontaknya. Adapun Country Manager VITO di 3–16 yang mengidap penyakit-penyakit yang membahayakan nyawa serta kebutuh­an khusus untuk memberi sebuah pengalam­an yang akan merubah kehidupannya dan akan memberi semangat untuk hidup. Sebanyak lima episode berdurasi 30 menit akan ditayangkan setiap Selasa dari jam 21.00–21.30 dari tanggal 16 Oktober ke 13 November 2012. Salah satu anak yang telah dinominasi oleh National Kidney Foundation (NKF) di Singapura untuk ditayang di acara tersebut adalah Syasya Dalili Binte Suhaimi. Umurnya baru lima tahun tetapi hatinya sudah mulai melemah dan butuh dialisis Syasya Dalili Binte Suhaimi empat kali seminggu. Untuk sementara, Syasya sedang menunggu transplantasi hati langsung ­Singapura, Sulaiman Shehdek, setelah dari ayah kandungnya yang akan dilak- membaca surat itu melakukan kontak ke sanakan tahun depan. (Bisa di­lihat tamba- pihak-pihak yang berpotensi untuk ­bekerja han informasi lebih jauh tentang Syasya sama. Isi surat dan pembicaraan sebe­ lumnya, menurut Shehdek, sangatlah teini, sebagaimana dilampirkan di surat itu) Dengan keadaannya yang demikian, pat untuk ditanggapi cepat, tepat, dan perSyasya tidak mendapat kesempatan un- lu. Dalam kandungan misi kemanusiaan tuk bergabung dengan keluarganya setiap dari ide yang diajukan, menurut Shehdek, kali bepergian ke luar negeri. Kami ingin dia juga melihat bahwa daerah-daerah di mengabulkan keinginnanya dengan cara luar Batam, seperti Makassar, Bandung, mengantar sekeluarga untuk mengujungi Yogya, perlu diperkenalkan ­lebih banyak Makassar, Indonesia untuk mengalami kepada masyarakat Singapura. Sebelumnya, dia pun pernah diundang liburan yang spesial. Kami berharap Tim Pariwisata Indonesia akan mendukung menjadi narasumber dalam satu seminar permintaan kami untuk mensponsori promosi pariwisata yang diselenggarakan keluarga Syasya agar bisa berliburan di Makassar. Akhirnya, Shehdek mendapatkan ko­ di Makassar dan juga mengatur sebuah­ ­jadwal perjalanan yang memamerkan mitmen dari beberapa pihak. Itu memadubudaya dan daya tarik disana dan juga kan simpati kemanusiaan dengan konsep mengizinkan untuk merekam perjalanan co-marketing, kata dia. Konsep yang menjadi bagian dalam strategi pemasaran dimaksud untuk produksi ini. Untuk mengabulkan keinginan Syasya, pariwisata Indonesia. Dia mendapatkan kami ingin meminta akomodasi, trans- sponsor tiket dari satu airlines, untuk me­ portasi, pemandu wisata, dan izin untuk nerbangkan keluarga Syasya. Kalangan memasuki daerah daya tarik di Makassar. stakeholders pariwisata di Makassar meKami berencana untuk berangkat 7 Sep- nyambut lalu berkomitmen mendukung

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Sulaiman Shehdek

dengan fasilitas hotel akomodasi, transportasi dan tur lokal. Syasya dan keluarganya, sesuai jadwal yang direncanakan, diikuti kamera TV, bepergian mengalami sendiri bagaimana menyaksikan dan menikmati tur di destinasi Makassar.

Tentang Syasya

Anak berumur 5 tahun, sudah ­mulai menjalani dialisis sejak Mei 2012 di ­Children Kidney Centre, Singapura. Dia anak bungsu dari 3 bersaudara, kakaknya lelaki berumur 12 tahun dan yang perempuan berumur 8 tahun. Ketika surat itu dilayangkan, sudah mengambil istirahat dari sekolahnya untuk mempersiapkan ­transplantasi tahun depan. Bapaknya telah mengambil keputusan untuk mendonasikan hatinya sen­ diri. Ibunya seorang mantan perawat tetapi sudah berhenti bekerja untuk menjaga Syasya. Riwayatnya, di hari ke-15 setelah lahir, diketahui ada yang tidak beres dengan Syasya. Dia mengalami demam, setelah melaksanakan tes urine, dokter menemukan bahwa tingkat proteinnya terlalu tinggi. Sejak umur 3 bulan, Syasya mulai ber­ obat demi hatinya berfungsi secara biasa. Di umur 4 tahun, seringkali muntah dan mengalami demam. Setelah tes demi tes dari dokter, dipastikanlah hati Syasya mulai melemah. Dia menjalani dialysis 4 kali seminggu, 3–4 jam masing-masing. Sekarang, Syasya hanya diijinkan meng­konsumsi cairan sebanyak 800 ml setiap hari; termasuk minuman dan makanannya. Dietnya juga terbatas kepada garam dan air. Sejak Syasya mulai dialilis, keluarganya tidak mendapat kesempatan untuk bepergian ke luar negeri. Tapi, Syasya ingin menaiki pesawat karena dia tidak pernah mengalaminya. Ibunya mengusulkan liburan ke Makassar, Indonesia. Her wishes come true. Masyarakat ­Singapura menyaksikannya di TV masingmasing. n

17


Wisata Sungai

H

Sang river cruiser bernama KM Putri Kembang Dadar yang berkapasitas angkut 120 penumpang.

Angan-Angan ‘Profesional’

ari itu lebih 50 murid sekolah menengah umum tingkat atas bersama guru-guru tentunya, berlayar di wisata susur Sungai Musi, Palembang. Berangkat pukul 10 pagi dari dermaga merangkap restoran bernama River Side, dan mendarat kembali pukul 12-an siang. Sepanjang pelayaran sebagian di antara mereka menikmati duduk di dek bawah yang fully air conditioned. Ada penyanyi menghibur selang seling, ketika pramuwisata memberikan penjelasan tentang perjalanan dan apa yang terlihat di sisi kiri dan kanan kapal yang sedang menyusur sungai cukup pelahan. Sebagiannya bergembira ria di dek atas yang beratap namun terbuka di semua sisi­

nya. Di sini pengeras suara tak ­hentinya memperdengarkan suara tour guide tadi. Jembatan Ampera menghubungkan dua sisi kota Palembang, Ibu Kota Sumsel, tampak sibuk menanggung berat mobil motor yang lalu lalang. Jembatan itu sendiri kelihatan megah. Di siang hari menonjol kokohnya, di malam hari indah dimahkotai oleh lampu-lampu yang berganti warna-warni. Sepanjang pelayaran, di kiri-kanan bibir sungai rumah penduduk sambungmenyambung tiada putus. Mata tak kese­ pian. Di kejauhan, tampak anak-anak bertelanjang badan, berloncatan dan mandi di tepian sungai. Sementara itu speed boat bergantian dari arah depan dan dari belakang, kelihatan penuh penumpang

dan barang belanjaan, atau sepeda motor di atapnya, melintas. Sesekali setelah jarak tertentu tampak warung mengapung, yang dijual sebenarnya ‘minyak’ alias bahan bakar untuk perahu-perahu bermotor tempel itu. Setengah perjalanan memperlihatkan kesibukan Sungai Musi pada bagian yang membelah kota Palembang ini. Kapalkapal besar berlabuh menunggu giliran bongkar muat kargo. Di antaranya melintasi pabrik besar produsen pupuk, Pusri atau Pupuk Sriwijaya. Tujuan river cruise ini sebuah pulau mini berna-ma Pulau Kemaro. Letaknya di tengah alur sungai ke arah timur—untuk mencapai Selat Bangka. Kapal sebesar KM Putri Kembang Dadar ini tak bisa merapat

Di siang hari jembatan Ampera tampak kokoh. Di malam hari mengibur hati dengan pemandangan indah. Tak jauh dari situ adalah tempat makan dan minum yang ideal mengha

18

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Wisata Sungai

Wsatawan yang sedang hendak turun kapal usai menjalani pelayaran lebih kurang dua jam pergi dan pulang.

Dari dek atas kapal penyusur sungai di Musi, penumpang lebih leluasa menikmati pemandangan sekitar, suara pemandu wisata terdengar melalui pengeras suara menceritakan apa yang diilihat; pemandu juga akan menjawab pertanyaan Anda.

dari River Cruise Musi di pulau itu, maka penumpang yang akan ke pulau legenda ini akan ‘didaratkan’ dengan kapal-kapal ‘getek’ milik rakyat. Perahu getek itu bermotor tempel, bukan didayung. Menurut legenda, pulau mini timbul sebagai penjelmaan untuk makam seorang raja bersama seorang pengawalnya, serta seorang putri bernama Fatimah yang akan dipersunting seorang raja dari Tiongkok. Di pulau itu memang berdiri dan terpelihara satu vihara Buddha, makam, dengan taman yang rindang. Di sebelah kompleks ini, berdiam puluhan keluarga yang menarik pula untuk disambangi. Sekitar setengah jam baik bersantai di sini sambil minum air kelapa muda dari buahnya. Segar.

Bisa Setiap Hari

Wisman datang biasanya dalam kelompok kecil tiga, empat orang atau sampai 17 orang, mereka menyewa ‘getek’ dari pusat keberangkatan berlokasi di bawah salah satu pangkal jembatan Ampera. Ada yang berkapasitas maksimum lima penumpang, ada yang sampai 20 penumpang. Sewanya untuk pergi pulang antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Itu bisa dilaksanakan setiap hari setiap waktu. Adapun kapal modern KM Putri Kembang Dadar, milik Pemkot Palembang yang dioperasikan oleh Badan Usaha Milik Negara, berawak pega-wai mengenakan pakaian seragam dari Dinas Perhubungan setempat. Kapal ini bisa menaikkan 120 penumpang. Cara sewanya adalah charter

untuk satu trip pp itu Rp 6,5 juta, rutenya berlayar hingga Pulau Kemaro, mengeli­ linginya, lalu kembali menuju pangkalan. Jika penumpang memesan untuk turun ke daratan Kemaro, akan diangkut dengan penyeberangan dari kapal menggunakan perahu-perahu motor setempat. Untuk ini perlu biaya tambahan per charter kapal Rp 1,5 juta, total menjadi Rp 8 juta. Jumlah maksimum penumpang tetap 120 orang. Beroperasinya di harihari biasa Senin sampai Jumat. Khusus hari Sabtu dan Minggu, aturannya fleksibel. Kapal ini siap beroperasi dua kali sehari, berangkat pukul 10 pagi dan pukul 3 siang, asalkan untuk satu trip pesanannya berjumlah penumpang minimum 30 orang.

biskan waktu di bawah langit. Di siang hari pun wisatawan makan siang di sini, tentu dalam ruangan berdinding kaca.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

19


Wisata Sungai

‘Wajah’ Pulau Kemaro tampak indah dari sungai saat kapal mendekatinya; ketika tiba dan membaca legenda Raja Tiongkok dan Putri Melayu bernama Fatimah, di klenteng berwarna serba merah menyala, terasalah bahwa pariwisata memang mengalirkan kesenangan tersendiri bagi wisatawan pengunjung dan diam-diam menafsirkan filosofi dan makna dari setiap cerita.

Per orang tarifnya Rp 70.000. Jadi diperlukan Rp 2,1 juta saja per trip untuk di­ operasikan di hari Sabtu–Minggu. Dengan kata lain, jika rombongan Anda 10 orang, bisa juga menyewanya di mana per orang tentunya dikenakan Rp 210.000. Yang terbayang dari river cruise ini adalah program satu hari tur di kota Palembang. Pagi usai sarapan, berangkat menuju ke Jembatan Ampera. Lokasi ini mudah dicapai dari semua penjuru kota. Dari situ naik kapal sekitar pukul 10, berlayar de­ ngan rute disebutkan tadi. Setiba kembali di dermaga bernama River Side, di situ makan siang dan menikmati pemandangan Sungai Musi berlatar jembatan Ampera yang menjulang megah. Di bawahnya penduduk sibuk dengan ‘gaya’ masingmasing, menjalani kehidupan sehari-hari dan kegiatan bisnis mengendarai perahuperahu bermotor tempel, speed boat. Di tempat lunch yang teduh itu, ­suasana hening, hanya angin terasa menyapu­nyapu, sehingga bercengkerama pun menjadi mengasyikkan. Usai makan, berjalan beberapa ratus meter ke arah jembatan. Di situ pusat ­keramaian angkutan umum dari semua arah kota, menyaksikan kehidupan harian. Ke seberangnya, masuk ke pasar ­‘tradisional’ yang sudah bergedung, ­namanya Pasar Ilir 16. Oh ya, sebelum ke pasar, di situ pula ter-

letak museum Sultan Mahmud Badarud­ din II. Sebuah museum berlantai dua, apik terpelihara, selalu dijaga oleh petugas dan satu museum tourist guide. Hanya lantai atas yang berisi. Tak banyak benar barang museumnya. Namun sekelumit sejarah Sultan mudah dimengerti. Betapa dia gigih melawan penjajah yang hendak masuk, kapal-kapal pasukan Belanda dan VOC memenuhi sungai menggempurnya. Ia memang ka-

lah. Tapi tak mau menyerah menerima tawaran untuk menjadi raja di bawah pemerintah kolonial. Ia tampak gagah rela diangkut untuk diasingkan ke Ternate (kini Maluku Utara). Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara di Palembang. Dari sini kembali ke hotel, tiba sekitar pukul empat sore. Istirahat. Pukul tujuh malam siap berangkat lagi menuju Resto River Side di sisi arah barat dari jembatan Ampera. Seperti diceritakan tadi, di sini makan malam, musik menghibur, dan pemanda­ ngan yang ‘cantik’ tadi. Masih bisa berjalan kaki beberapa puluh meter, di situ taman Ampera di mana penduduk, keluarga­keluarga muda tampak berekreasi bersama putera puteri cilik mereka. Esok harinya City Tour, mengunjungi Masjid Agung, terutama bagi yang berminat ­wisata religi. Dibangun tahun 1720, direnovasi tahun 1987, merefleksikan sintesa keindahan arsitektur Cina, Jawa dan Arab, serta terpelihara dengan baik hingga mengesankan. Dan pengunjung wisman yang ke sini pun mengakuinya. n

Pelayaran river cruise Musi pergi dan pulang selama sekitar 2–2,5 jam, di sepanjang perjalanan tampaklah rumah-rumah penduduk yang sambung menyambung di tepian sungai, diseling oleh kawasan pabrik besar Pupuk Sriwijaya, dan sebagian pelabuhan bongkar muat kapal, ada pula tampak lapangan golf.

Pulau Kemaro terletak di hilir Sungai Musi Palembang.

Sungai Musi di Palembang pun merupakan pelabuhan sungai yang sibuk dengan kepadatan kapal-kapal yang bongkar muat kargo. Ini menjadi pemandangan yang bagi banyak orang belum pernah menyaksikannya.

SUNGAI MUSI

PALEMBANG

20

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Wisata Sungai

Apa Setelah Itu?

H

arus diakui wisatawan belum menemukan banyak tourist spots jika terbatas hanya di sekitar kota Palembang belaka. Kotanya sendiri tampak demikian bersih, jalan besar sampai jalan lingkungan di balik jalanjalan protokol semuanya rapi tak ditemukan sampah, seakan setiap warga kota itu kini berkesadaran tinggi akan pemeliharaan kebersihan lingkungan. Pramuwisata ikut memberikan raut wajah yang cerah dan bangga manakala menceritakan tentang kebersihan ketertiban kota pada wisatawan. Trotoar atau pedestrian di sisi jalan bersih tampak dari warung-warung mini yang biasanya memborong hak pejalan kaki menggunakan lajur itu, sebagaimana masih dijumpai di banyak kota besar lain. “Penduduk provinsi Sumatra Selatan ini gratis untuk berobat. Kala sakit, pergi ke rumah sakit, dokter dan obat-obat semua tanpa biaya. Juga, gratis bagi saya menyekolahkan

pulang kembali. Pelayarannya ke arah timur. Jika diadakan pelayaran ke arah sebalik­ nya, terbuka kemungkinan berlayar sehari atau lebih, menginap di atas kapal, dan sepanjang pelayaran dapat singgah di satu atau dua desa. Berkunjung ke tengah penduduk. Ketika masyarakat desa sadar pariwisata dan menyambut ‘wisatawan’, boleh jadi berlangsung acara: tarian tradisional disajikan, barang suvenir khas lokal diperagakan. Tentu, dalam pengertian, setiap item itu dikategorikan sebagai ‘layak jual’. Nah, di tahap ini timbul pertanyaan: siapa yang akan memberikan pengetahuan, bahkan hingga ‘pelatihan’, untuk masyarakat setempat menyiapkan sesuatu itu menjadi ‘layak jual’? Di balik pertanyaan ini ada lagi ­perta­nya­an lain. Siapa yang akan meng­invest pada ­pengoperasian kapal boat untuk river cruise kategori ini?

Kolaborasi Investor

anak hingga tingkat menengah atas,” ujar sang pramuwisata. Lagi, satu keceriaan dan kebanggaannya yang menjadi bagian dari ‘cerita’-nya untuk wisatawan. Jadi, satu hari pertama di kota Palembang dihabiskan dengan ‘river cruise’ plus plus, hari kedua city tour ke museum hingga makan siang, lalu free program. Setengah hari acara bebas inilah yang tampak kurang menarik, kecuai bagi mereka yang mencari suvenir kain songket, atau kuliner mpek-mpek. Maka dari situ datang angan-angan. Teringat river cruise kemarin, durasinya hanya sekitar dua jam, lantaran memang hanya satu arah yang ditempuh, pergi dan

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Kapal cruise KM Putri Kembang Dadar adalah milik BUMD Pemkot Palembang. Ini mampu membawa 120 penumpang pesiar di sungai, namun untuk berlayar ke arah pedalaman, tidak bisa, lantaran bobot dan struktur kapal itu membuat bagian badan kapal sedalam empat meter ke bawah permukaan air, memerlukan jaminan tak ada rintangan di bawah, semisal bekas-bekas besi, kayu besar, yang melintang sehingga membahayakan bagi sang kapal. Petugas Humas pengelolanya, Adam menerangkan, “Apalagi untuk cruising sambil menginap di perjalanan, kapal itu dirasa terlalu besar.” Harus diakui, river cruise untuk di ­Indonesia, dengan mengambil contoh yang telah dioperasikan di pedalaman Kalimantan ­Tengah, kapal berkapasitas 5 sampai 10 kabin (kamar tidur) merupakan ukuran yang ideal. Atau bahkan yang lebih kecil dengan jumlah kabin di bawah lima kamar. Yang menarik justru jika kapal-kapal river cruise di Pulau Sumatra, ­Kalimantan sampai Papua, manakala dibentuk dari model dan gaya kapal tradisional, terbuat umumnya dari kayu, namun diisi dengan fasilitas ­modern, seperti ruang yang air conditioned, kitchen set dan seterusnya. Sekiranya investor kapal, operator tur, ­operator penerbangan, didukung oleh pemda setempat dan stakeholders lainnya,—mereka serempak menciptakan langkah bersama. Maka, terbayanglah terciptanya satu produk baru yang marketable hingga salesable.

Dari Lomba Triboatton

Lomba unik internasional Musi Triboatton 2012 telah diciptakan oleh Wamenparekraf Sapta Nirwandar, berlangsung untuk pertama kali pada 25 November—1 Desember 2012. Ini sejatinya merupakan gong yang di­ tabuh dan mencuatkan Sungai Musi sebagai satu potensi besar untuk pariwisata. Dan sebagaimana seringkali diutarakannya, even semacam ini penting artinya, stra­ tegis dampaknya, tapi “yang penting lagi adalah menciptakan kegiatan pariwisatanya setelah even tersebut usai diselenggarakan.” Terdapat aspek lain. Membangun pariwisata seperti itu, tak harus langsung berorientasi pada wisatawan mancanegara. Pasar wisata dalam negeri, atau wisnus, nyata-nyata cukup besar, sehingga memerlukan sekadar ‘pemicu’ untuk meng-generate consumers. Manakala wisnus sudah mengisi river cruiser sebagaimana layak-nya kini mampu memberikan rata-rata passenger load factor sekitar 80% pada bisnis maskapai penerbangan di dalam negeri, maka pada gilirannya pasar wisman pun bersamaan bisa terbangun. Jadi, stakeholders pariwisata setempat perlu memanfaatkan dan mengefektifkan even semacam Musi Triboatton untuk membuka cakrawala kegiatan bisnis pariwisata lebih lanjut. Sepanjang 500 kilometer Sungai Musi akan dilintasi oleh lomba internasional triboatton, melibatkan kabupaten-kabupaten Lawang, Musi Rawas, Muba, Banyuasin, dan kota Palembang. Setiap kabupaten tentu memperoleh ke­ sempatan dan titik tolak yang sama untuk mengembangkan wisata sungai lebih jauh. Itu termasuk wisata arung jeram, wisata special interest lainnya yang berhubungan de­ ngan sungai. Kendati, dalam jangka lebih pendek, kota Palembang agaknya berpeluang benar mengefektifkannya. Maklumlah, toh, sudah dimulai dengan river cruise dalam kota. Daya tarik wisata susur sungai di dalam kota, bukankah sedemikian populer dan digemari wisatawan dunia di berbagai kota di Eropa, Amsterdam, Frankfurt, dan lainnya? Justru yang rasanya spesifik mengasyikkan, wisata susur sungai di Indonesia akan menampilkan kehidupan tradisional penduduk, etnik lokal, new adventurous experience, sementara wisman telah berpenga­laman wisata susur sungai menyaksikan bangunanbangunan besar, megah, modern, walau di­ selingi bangunan tua kokoh bersejarah pe­ ninggalan abad pertengahan di Eropa. Maka, destinasi Palembang saja akan mampu menarik wisatawan berkunjung dan tinggal selama beberapa hari, dengan acara susur sungai satu atau dua malam, ke arah pedalaman. Dan masyarakat lokal di sana pun merasakan nikmatnya kemajuan pariwisata. n

21


Akomodasi

P

enerbangan nasional ibarat air ­deras tak terbendung, menambah ratusan pesawat dalam tahun­tahun mendatang ini. ­Sementara itu hotel-hotel di semua kelas sedang dibangun di banyak destinasi seakan mengikuti jejak penambahan armada maskapai penerbangan nasional. Ada yang bilang, di mana Garuda membuka rute atau meningkatkan frekuensi penerbangan, di situ hotel akan dibangunnya. Linda Haden melaporkan dari ­Economy Hotel World Asia di Singapura, 12 Septem­ber 2012 lalu, hotel ekonomi branded mendapat popularitas di kalangan orang Indonesia. Wakil Presiden Penjualan dan Pemasar­ an Aston International, Norbert Vas, ketika berbicara di forum tahunan yang keempat Economy Hotels World Asia menunjukkan, munculnya kelas menengah di Indonesia mendorong pertumbuhan hotel ekonomi (budget hotel) di negara ini. Dia mengatakan, orang Indonesia memilih budget hotel lantaran tidak merasa perlu menghabiskan terlalu banyak uang pada hotel. Pengalaman hotel ini tidak penting bagi orang Indonesia ­dibandingkan de­ ngan pasar-pasar Barat seperti Eropa. Presiden Direktur Tauzia Hotel Manage­ ment, Marc Steinmeyer, mengatakan, “Ekonomi dan budget hotel tidak ­selalu menarik low end dari pasar. Individu yang memilih untuk tinggal di ­properti ekonomi masih ingin kualitas tetapi dengan harga dan lokasi yang tepat.” “Indonesia dan Asia pada umumnya sangat brand-minded, enggan ­mengambil risiko, lebih memilih keandalan ­merek terkenal dan mapan,” tambahnya. Permintaan yang kuat untuk budget hotel bermerek juga mendorong pembangunan di luar Jakarta dan kota-kota besar lainnya. “Kami bermaksud untuk membuka hotel di mana pun Garuda (Indonesia) terbang. Namun, kami akan menyarankan pengembang untuk tidak membuka hotel di Semarang atau Solo, di mana hotel kami berjuang. Lombok—yang disebut-sebut sebagai Bali berikutnya, telah membuat kemajuan, dan itu masuk akal untuk tempat berinvestasi berikutnya,” kata Vas dari Aston Internasional. Menurut Presiden Jayakarta Hotels & Resorts, Adwien Dhanu, Karawang di Jawa Barat merupakan pasar utama ka­ rena tumbuh investasi asing dan kawasan industri besar di sana. Sementara Banjamarsin, Kalimantan Selatan merupakan pasar utama berikutnya karena perluasan bandara mendatang yang akan meningkatkan koneksi ke tingkat regional. Pengembang properti Surya Semesta Internusa (SSIA) pemilik Gran Melia Hotel, akan terjun juga ke segmen hotel ekonomi

22

Pertumbuhan dan P Akomodasi dan Pen

Bandar Udara Internasional, Singapore Changi Airport, adalah bandara internasional yang merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia.

ketika propertinya BatiQa dibuka pada 2013. Menurut Direktur Surya Internusa Hotel, Sami Miettinen, SSIA bertujuan untuk meluncurkan 35 sampai 40 budget hotel di seluruh negeri dalam lima tahun ke depan. “Setiap hotel akan memiliki 100 sampai 125 kamar, outlet F & B tunggal maupun ruang pertemuan,” katanya. Harga kamar diperkirakan berkisar dari US$ 40 sampai US$ 50 per malam, menempatkannya lebih tinggi daripada spektrum budget hotel. BatiQa akan difokuskan terutama pada pelancong bisnis dalam negeri, tambah Miettinen. “Kami akan memanfaatkan hubungan dekat kami dengan industri lokal untuk mengisi kamar.” Meskipun segmen budget hotel di Indo­ nesia berpotensi besar, Miettinen meng­ akui bahwa operator masih menghadapi banyak tantangan. “Kompetisi ini penuh dengan pemain lokal maupun internasional yang mencoba masuk. Selain itu, sulit memastikan konsistensi pelayanan yang diberikan dalam penyebaran geografis Indonesia. Sangat mudah untuk membangun sebuah hotel, namun sulit untuk tetap berada di depan.” SSIA telah memulai pembangunan lima hotel di Jakarta; Palembang, Suma­ tera Selatan; Pekanbaru, Riau; Karawang, Jawa Barat dan Surabaya, Jawa Timur. Kelimanya dijadwalkan akan dibuka pada tahun 2013. Saat ini sedang ditunggunya persetujuan dari pemerintah untuk mengembangkan budget hotel di Yogya­ karta dan Makassar, Sulsel.

Tren kenaikan harga kamar di Bali

Brian Higgs dan Linda Haden, melaporkan dari ITB Asia, Singapura: Lalu lintas inbound mendorong tarif hotel di Bali semakin meningkat, meskipun angkutan udara terbatas dan diperkirakan jumlah kamar melebihi pasar pada tahun 2014. Penelitian oleh konsultan properti Knight Frank menunjukkan bahwa Bali akan memiliki 10.466 kamar hotel baru pada tahun 2014. Sebanyak 3.922 kamar atau 37% akan beroperasi pada paruh kedua 2012. “Harga kamar hotel di Bali terus naik bahkan dengan tambahan pasokan kamar yang sedang berlangsung. Ada setidaknya 10–20% kenaikan (tarif) setiap tahun,” kata Richard Vuilleumier, Managing Director Panorama Tours Malaysia. Conrad Bali menaikkan harga kamar sebesar 8% pada tahun 2012, dan menargetkan peningkatan 10% tahun depan, menurut Direktur Penjualan Caroline Chrysdy, yang mencatat hunian rata-rata di propertinya sekitar 78% tahun ini. Demikian juga, anggota dewan The Seminyak Beach Resort & Spa, Herdy D Sayogha, mengatakan hotelnya berencana menaikkan tarif kamar US$ 308 di 2013, dari tahun ini yang mencapai US$ 270. Dia mengatakan, “Sebagian besar hotel di Bali harus mampu menaikkan tarif mereka, tetapi dalam perkembangannya tingkat hunian tidak meningkat sebanyak sebagaimana mestinya.”

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Aksesibilitas

ersaingan; erbangan

Vuilleumier dari Panorama Malaysia mengatakan lalu lintas inbound besar dari Australia, Vietnam, Cina dan Jepang menjaga permintaan yang kuat di Bali. “Harga berada di uptrend karena ada permintaan lebih dari pasokan—pemba­ ngunan akomodasi hotel membutuhkan waktu. Koneksi penerbangan langsung mungkin tidak cukup, tetapi pengunjung juga memiliki pilihan untuk terbang via Jakarta,” tambahnya. Selain itu, pasar domestik telah berkembang menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Pemesanan dalam negeri tumbuh 20% per tahun selama dua sampai tiga tahun terakhir, kata Gede ­Parmita, ­Direktur Penjualan dan Pemasaran ­Paradiso Bali Hotel. Dia menghubungkan pertumbuhan dramatis dengan booming kelas ­menengah dan ekonomi Indonesia yang kuat. “Bahkan, segmen domestik sekarang menghasilkan sekitar 40% dari pemesanan tahunan kami, dibandingkan dengan ha­ nya sekitar 10 sampai 20 persen pada lima tahun lalu,” katanya. Paradiso Bali Hotel bermaksud menaikkan harga kamar untuk tamu lokal sebesar 10% pada 2013, dibandingkan dengan hanya 8% untuk pasar luar negeri. Nyoman Santiawan, Wakil Ketua Rama Hotels & Resorts, yang mengoperasikan tujuh properti di Bali, mengatakan bahwa tarif kamarnya diperkirakan akan ­meningkat sebesar 5–10% pada tahun 2013. n

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Masalah di hadapan Maskapai Penerbangan

S

ebagai persiapan menjelang AEC (ASEAN Economic Community) 2015, Bangkok Airways akan membangun model bisnis saat ini, men­jadi maskapai pengumpan regional untuk jutaan turis dari luar negeri yang datang ke Bangkok mengingat 90% pelanggannya menggunakan ope­rator internasional kemudian transfer ke poin selanjutnya. Bisnis ini diproyeksikan akan terus tumbuh berkembang dengan AEC di tahun 2015. Bangkok Airways akan ­meningkatkan frekuensi pada rute yang ada, memperluas jaringan untuk tujuan baru dan tumbuh peluang codeshare menggunakan Thailand sebagai hub ke negaranegara AEC. Ada tiga ancaman yang berasal dari AEC: kompetisi yang lebih tinggi, kehilangan identitas nasional, dan hilangnya potensi tenaga kerja penerbangan. Sebagai tanggapannya, Bangkok airways menetapkan strateginya: maskapai harus fokus pada nilai-nilai inti dan menghormati perjanjian de­ ngan pelanggan sebagai maskapai butik. Maskapai akan menyediakan akses lounge untuk semua kelas ­penumpang; maskapai harus terus memasarkan tujuan Thailand sebagai identitas intinya untuk mengatasi potensi kehilangan identitas nasional; dan, maskapai juga harus terus berinvestasi dalam memastikan staf memiliki jenjang karir yang jelas serta memastikan keterlibatan karyawan melalui kegiatan dan kese­ jahteraan untuk mengatasi potensi kehilangan tenaga kerja. Maskapai ini akan meluncurkan pe­ nerbangan harian dari Bangkok ke Vientiane, ibukota Laos, menambah penerbangan harian ke Luang Prabang yang sudah ada saat ini. Selain itu juga akan meningkatkan frekuensi ke Yangon, Phuket dan Krabi. Tujuannya adalah untuk menjadi maskapai penerbangan regional terbaik di dunia dalam waktu lima tahun dalam peringkat Skytrax.

Brunei Airlines

RBA (Royal Brunei Airlines) meng­ hadapi persaingan regional yang mening­kat dari maskapai penerbang­ an konvensional dan operator murah, seperti maskapai penerbangan murah Indonesia Lion Air. Salah satu aspek

kunci dari restrukturisasi RBA adalah menutup semua rute ke Australia pada tahun 2011 dan diganti dengan hanya satu layanan ke Melbourne yang diluncurkan kembali pada Maret 2012. Dia mengatakan tidak ada jalan lain bagi RBA untuk bersaing melawan ­Emirates, Qatar Airways dan Etihad pada rute ­Inggris–Australia karena maskapai penerbangan negara-negara Teluk tumbuh begitu kuat di sektor ini bahkan operator dari Asia Pasifik telah mengurangi kapasitas mereka. Dalam hal rasionalisasi armada, ­seluruh armada pesawat 767ER akan diganti dengan pesawat Boeing Next Generation 787-800 Dreamliner pada tahun 2013, membuat RBA sebagai ope­ rator pertama di Asia Tenggara untuk mengoperasikannya. Sebuah terminal bandara baru akan selesai pada tahun 2014 dan kemitra­an telah dijalin dengan ­SimpliFlying (sebuah perusahaan strategi penerbang­an) untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan melalui media sosial. RBA sekarang dapat ditemukan secara aktif terlibat de­ ngan penggemarnya di Facebook, pengikutnya di Twitter dan Instagram. Akhirnya, Brunei sendiri dikenal sebagai tempat tinggal yang damai, keramahan, ketenangan dan ekowisata. RBA bekerja sama dengan Pariwisata Brunei untuk membawa lebih banyak pengunjung masuk dengan fokus pada pasar regional dan pariwisata Islami. Potensi besar di Cina juga sudah dikenali dengan baik.

Singapore airlines

Mak Swee Wah, Executive Vice President (Commercial), Singapore Airlines, masalah utama bagi industri penerbangan adalah volatilitas berkelanjutan dalam biaya bahan bakar yang dulunya US$ 30 tapi sekarang sudah hampir mencapai US$ 100. Maskapai penerbangan biaya rendah terus tumbuh tetapi maskapai penerbangan dengan layanan penuh juga belum mundur. Bahkan SIA terus tumbuh 4%–5% per tahun. Silk Air tumbuh lebih cepat berkat penerbangan ke India dan Cina. Rute baru Silk Air ke kota-kota sekunder di India, seperti ­Visakhapatna, dan Cina akan menciptakan peluang lebih banyak lagi karena

23


Aksesibilitas populasi di Asia akan terus meningkat. Mak mengidentifikasi enam tantangan utama yang dihadapi seluruh industri pariwisata dan perjalanan dari perspektif maskapai penerbangan: Pertama, bagaimana mengelola ­bisnis dalam volatilitas yang lebih ekstrim ­karena dunia bergerak sangat cepat. Kedua, pertumbuhan akan menyebabkan krisis sumber daya manusia. Meski­ pun banyak pembicaraan tentang robotika tetapi dalam industri jasa sentuhan manusia sangat penting. Ketiga, mungkin ada banyak ­pesawat terbang di sekitar tetapi ada batasan berapa kapasitas di daratan bisa mengatasinya. SIA bekerja sama dengan pihak berwenang bandara Changi bagaimana mengelola dan memperbaiki keadaan. Ada rencana untuk ekspansi landasan pacu dan terminal tetapi sementara tekanan infrastruktur di tanah tetap. Keempat, kendala hotel di banyak bagian Asia, terutama di negara-negara berkembang. Jumlah dan kualitas pelayanannya belum merata di antara ne­ gara-negara ASEAN. Kelima, kebutuhan konsumen berubah sangat cepat dan kecepatan perubahannya luar biasa. Dan keenam, perkembangan teknologi baru sudah pasti akan menimbulkan tantangan. Sarannya kepada para agen perjalanan: Mereka harus mengikuti strategi yang sama—fokus pada faktor-faktor makro, mengambil pandangan jangka panjang, mengambil keuntungan dari pasar ne­garanegara berkembang dan ceruk pasar baru, membuat tantangan untuk membuat personalisasi dan kustomisasi produk dan jasa, dan meningkatkan pelatihan dan pendidik­ an untuk menjamin pemberian layanan.

Di Indonesia

Bagaimana perkembangan terkait pembangunan dan pengembangan industri penerbangan di Indonesia? Beberapa pemberitaan di media massa menunjukkannya. Grup Lion Air ­kembali membuat gebrakan de­ngan ­menantang dominasi AirAsia sebagai maskapai pener­ bangan berbiaya rendah di Asia Tenggara. Dengan menggandeng National Aerospace and Defense Industries (NADI), Grup Lion membentuk Malindo Airways. Pesawat ini nantinya menjadi pesawat rendah biaya yang beroperasi di kandang AirAsia. Ini merupakan gebrakan terbaru setelah pada November tahun lalu Grup Lion memborong 230 pesawat Boeing senilai US$22,4 miliar. Pesawat-pesawat ini dikirim bertahap pada 2017–2025. Sebelumnya Lion juga memesan 178 Boeing 737-900ER yang di­ antar bertahap sejak 2007 hingga 2017.

24

Dengan 71 armada saat ini, ditambah pesawat turboprop yang lebih kecil—yang dioperasikan anak perusahaannya, Wings Air—akan memungkinkan perusahaan menambah rute baru. Apalagi pasar pe­ nerbangan domestik selalu meningkat dua dijit per tahun, dan akan meningkat dua kali lipat dalam waktu lima tahun ke depan. Ini merupakan pasar yang empuk bagi Grup Lion. Hingga akhir tahun ini, total pesawat Grup Lion sudah mencapai 92 armada, ini termasuk pesawat kecil yang dioperasikan Wings. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan datangnya pesawat pesanan dari Boieng.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, yang adalah Ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), lebih luas lagi menggambarkan posisi industri penerbangan Indonesia, sekarang dan masa datang. Dalam satu pertemuan bulan April 2012 lalu di Davao City, 1st Equator Asia Air ­Access Forum and Airline CEO Summit 2012, di samping berterus terang menunjukkan problema yang dihadapi, gamblang pula diuraikannya hari esok yang demikian cerah bagi dunia bisnis aksesibilitas khususnya, dan proyeksi perekonomian Indonesia umumnya. Inilah beberapa presentasinya :

Indonesia’s economy will become more dominant in ASEAN and larger than several countries in Europe

A study by the World Economic Forum on the Quality of Air Transport Infrastructure reveals Indonesia was also still below

ASEAN Average

(source: World Economic Forum’s Global Enabling Trade Report 2010)

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


What do They Say? Market in Indonesia continues to Grow Between 2010-2015, Air Traffic in Indonesia is predicted to Grow 11% on average bringing a total number of almost 120 million passengers in 2015.

Nina dari Brazil

Challenges faced by the national airline industry in the future 1. The future of Indonesia’s civil aviation industry cannot be separated from regional and global development. 2. The readiness of the industry to anticipate the implementation of the “ASEAN Open Sky Policy” in 2015. 3. The development of efficient infrastructures across archipelago. 4. The effective use of the latest in technology is an absolute necessity for safe andefficient flight operations. 5. The necessary measurements need to be taken for the airlines to cope with the skyrocketing fuel price. 6. The need for the airlines to implement ini’a’ves to become a leaner dan greener industry. 7. The availability of skillfull and competent human capital along with development of the industry.

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Nina baru pertama kali ke Indonesia dan baru pertama kali pula menyelam di Indonesia. Dia sudah berada di Gapang, Iboih 2 malam. Selama di sini dia menginap dan menyelam di Lumbalumba Dive. Dia berencana akan menginap lagi 2 malam di Sabang. Dari sini dia berencana akan menyusuri semenanjung Malaka dan ­Singapura, lalu ke Thailand—di sana dia juga akan menyelam, setelah itu dia baru akan ke Bali. Dia sebenarnya ­traveling bareng dengan Erick. Dari Amerika mereka ke Kuala Lumpur lalu connecting dengan Airasia ke Banda Aceh baru ke Sabang. n

Erick dari Virginia, USA Meskipun traveling bareng Nina tapi Erick akan langsung kembali ke Amerika via Kuala Lumpur. Dia juga baru pertama kali menyelam di Sabang dan belum pernah menyelam di daerah lain di Indonesia. “It’s great,” katanya. Mereka ditemui di pantai Iboih, ­Sabang, Aceh pertengahan Oktober 2012. n

25


Aksesibilitas

Landasan Semakin Optimis Para operator penerbangan nasional pun bertanya pada diri sendiri, melalui tema Rapat Umum Anggota INACA (Assosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional) 2012 yang mereka laksanakan di Jakarta bulan lalu. Temanya terpampang: “Are We Ready to Cope up with the Growth?”

B

anyak masalah yang kami bahas dalam rapat INACA kemarin itu, kata Tengku Burhanuddin, Sekjen asosiasi. Masalah pilot, ASEAN open sky, perpajakan, peraturan, perizinan, dan sebagainya. Bagi perusahaan yang sudah berjalan ­bagus, keluhannya menyangkut soal per­ izinan. Dilemanya, sekarang kalau toh di­ berikan izin frekuensi baru, tapi di bandara Cengkareng tertutup lantaran over loaded, bagaimana? ­Kebanyakan feasibility sekarang tergantung pada kemampuan bandara Cengkareng. Ini juga menyangkut kemampuan air traffic c­ ontrol. Ditanya hal Lufthansa berhenti terbang ke Jakarta mulai Oktober ini, dan hanya ber­operasi sampai Singapura? Operator itu mengganti pesawatnya dengan A380 sedang­kan bandara Soekarno-Hatta belum siap menerimanya. Tapi untuk pariwisata Indonesia, menurut Burhanuddin, dari sana masih bisa bekerja sama dengan Garuda atau SQ yang berada dalam aliansi Sky Team. Yang mesti dilakukan mengarahkan Garuda membuat konsesi dengan Lufthansa supaya kita tetap bisa hidup di pasar Jerman. Artinya kalau Lufthansa hanya akan terbang sampai Singapura maka sebaiknya frekuensi terbang Garuda ke Singapura perlu ditambah. “Saat ini memang permintaan kita kepada Singapura masih belum dipenuhi, tapi setelah open sky ASEAN nanti berlaku, maka itu pasti akan dikabulkan.” Dalam open sky nanti tidak ada batasan, boleh saja menggunakan pesawat A380 de­ ngan syarat bandaranya secara teknis bisa menerima dan kursi penerbangannya terisi. Pihak Angkasa Pura cenderung enggan kalau masuk permintaan dari Singapura untuk

26

mengalihkan izin memakai A380. Mengapa? Kalau Singa­ pura bisa mendarat dengan A380 itu akan membuka permintaan yang sama dari ne­ gara lain. Sementara ground handling di ­Cengkareng belum mampu. Tidak mungkin membuatkan terminal khusus untuk ­mereka, sementara penum­ pang domestik juga membutuhkan peningkatan kemampuan terminal.

Tapi di Bali tentu tidak setuju. Karena melihat turis harus melewati Jakarta sebelum ke Bali. Nah, di lain sisi nanti warga di Sumatera dan di bagian timur Indonesia juga menyatakan ingin berkembang. Me­reka tentu akan berkata jangan hanya Jakarta dan Bali yang telah menikmatinya bertahuntahun, kami pun juga ingin menikmatinya. Jadi, pemerintah akan mendapat tekanan Tengku Burhanuddin untuk membuka semua bandara sekaligus. Sementara itu, INACA berada di posisi Penerbangan dan bagaimana mencegah agar maskapai interbisnis pariwisata Pertumbuhan industri penerbangan na- nasional tidak berkembang di dalam ne­geri. “Dasar pertimbangan kami 50-50,” ujar sional dewasa ini serasa tak terbendung. Mereka berhasil menjual seat berapa pun Tengku Burhanuddin. Kita setuju membukini ditawarkan, karena permintaannya ka penerbangan Medan–Thailand, Medan– tinggi. Orang terbang dari mana mana. Pari- Singapura atau Medan–KL, asalkan jikalau wisata merupakan tambahan produk ter­ mereka bisa memberikan 50 kita juga akan hadap produk yang dijual airline. Seat seba- berikan 50 dalam mutual agreement. Kalau melulu open sky ASEAN nanti, bisa jadi me­ gai produk primer. Tetapi sekarang timbul permintaan- reka mendapat 200 sedangkan kita hanya ­permintaan tambahan. Misalnya berupa mendapat 50. “Karena frekuensi terbang penjualan makanan di pesawat, ada yang mereka nantinya akan lebih banyak,” kata menjual iklan di pesawat, ada yang jual kar- Burhanuddin. Kita tentu tidak menginginkan mereka tu kredit, ada yang jual frequent traveler membership, dan sebagainya. Salah satunya juga mengatur pasar kita terutama oleh yang tiga adalah package tour yang termasuk dalam besar tersebut. Kalau Filipina mungkin tidak program. Sehingga orang jika mau memilih akan, untuk Vietnam juga bisa kita buka, tapi hotel akan semakin mudah, tentu itu berkat tiga negara tersebut perlu dipertimbangkan khusus. Lebih spesifik lagi, Thailand meski­ jalinan kerja sama bisnis. Namun kerja samanya bukan dengan pun besar tapi tidak seagresif ­Singapura dan agen. Airlines membikin program in-house. Malaysia. Kalau berhubungan de­ Dipasarkan melalui situsnya di internet. Jadi misalnya penumpang membeli tiket pesawat ngan pariwisata, besar dipe­ bisa sekaligus memesan hotel, bisa menemu- ngaruhi oleh Singapura kan tur sendiri. Gejala sudah mengarah ke ka­rena dari sana akan bisa sana. Jadi nantinya bisa terpenuhi hampir se- membawa turis seba­nyak mua kebutuhan dalam 1 paket. Tergantung mungkin. Contoh Cina. bagaimana mengeksposnya. Kalau jual hotel Sekarang kita lihat kendalaberarti nanti dapat komisi. Jadi demikianlah ­kendalanya. Mereka ini tambahan-tambahan pendapatan atau seka- butuh dorongan misalnya rang disebut auxiliaries income bagi airlines. dalam bentuk brosur. Untuk INACA tetap optimis untuk perkembangan Beijing itu tidak ada masalah. Mereka banyak datang ke sini yang lebih bagus dan lebih baik. Kalau bicara skala nasional, kita akan melalui Singapura ka­rena buka 5 bandara saja untuk Open Sky ASEAN. sudah ada kerja samanya. Yaitu Jakarta, Denpasar, Medan, Makassar, Kalau Guangzhou, pesawatSurabaya. Namun pelaksanaannya bertahap. nya memang sudah penuh

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Aksesibilitas

Bagaimanakah ASEAN Open Sky? dari sana, mereka kini bekerja sama dengan Hongkong. Kalau Shanghai, itu murni dari sana. Dari Guangzhou rencananya akan menambah penerbangan tapi bukan oleh ­Garuda melainkan oleh Southern China. ­Mereka akan menambah penerbangan menjadi dua kali seminggu mulai Oktober ini. Akan ada penambahan kedatangan turis dari Cina. Itu akan terjadi pada akhir tahun ini. Korea juga begitu, ingin dikembangkan pasarnya karena mereka cukup antusias. Mereka juga ingin brosur-brosur dengan sistem buy back. Di Cina meminta kita untuk mencetak brosur untuk dibagikan di sana. Tapi ­kalau hitung-hitungan ongkos cetaknya, ya jadi mahal biayanya. Menurut Burhanuddin akan lebih baik memasukkan iklan dalam brosur itu. Jadi akan dapat membantu mereka secara finansial. Agen-agen di Cina mengusulkan konsep dari Cina lalu dicetak di Indonesia. Ada pemikiran dari airlines apa yang ­baiknya dilakukan oleh praktisi pariwisata untuk membantu program mereka. Misalnya membantu Southern China dengan membuat program sehingga turis dari Cina semakin banyak yang datang ke sini, kapasitas pesawat pun akan terisi. Sekarang kita coba hitung berapa turis dari Cina yang akan datang dengan ­Southern China. Mulai bulan Oktober ini mereka terbang seminggu dua kali. Sampai dengan bulan Desember ada sembilan minggu dikalikan 2 berarti sudah ada 18, lalu dikalikan lagi 120, jadi paling tidak bisa dapat ­3.000–4.000

AIRPORT

Soekarno-Hatta, Tangerang Polonia-Medan S.M. Badaruddin II-Palembang Slt. Syarif Kasim II-Pekanbaru Minangkabau-Padang Supadio-Pontianak Halim Perdanakusumah-Jakarta Husain Sastranegara-Bandung Slt. Iskandar Muda-Banda Aceh R.H. Fisabilillah-Tanjung Pinang Sultan Taha-Jambi Depati Amir-Pangkal Pinang

orang turis. Jadi ekspektasi wisman dari Cina meningkat sampai 5.000 orang tentu memungkinkan. Dia sependapat, kita berpeluang bisa menggaet 1 juta wisman dari Cina, karena wisman Cina dari Beijing tidak ada masalah visa karena sudah bisa memanfaatkan VOA (visa on arrival). Wisman dari Cina biasanya pergi dalam grup dan membeli paket tur, terbang melalui Singapura atau KL lalu ke Indonesia. Sejatinya kita bisa membawa wisman Cina ke Medan, ke Bali, ke Yogya, dan seterusnya. Kita bawa penumpang Southern China, atau Garuda, ke daerah-daerah tersebut, sediakan penerjemah sehingga mereka bisa memberikan feedback apa yang layak dijual dari destinasi tersebut, apa mereka menyukainya dan hal-hal semacam itu. Ajaklah travel agent dan travel writer. Burhanuddin sangat mendukung ide itu. Misalnya meng­ ajak 200 orang: 5 agen dari Beijing, 5 agen lagi dari daerah-darah lainnya. Dilaksanakan setahun tiga kali, meng­ undang sebanyak mungkin agen outbound dari Cina itu. Ketika membawa mereka meng­inspeksi hotel, obyek wisata, adakan seminar untuk membahasnya. Masingmasing menilai dan memberi masukan: apa kelebihan dan kekurangan di Bali, apa kelebihan dan kekurangn di Medan, di ­Yogya, Surabaya dan seterusnya. Memang pertumbuhan turis Cina ke sini sudah cukup bagus, namun usaha tidak bisa berhenti sampai di situ. Kita harus terus mengevaluasinya. Hotel saja sudah berubah, maskapai penerbangan juga. n

TAHUN 2011 Kapasitas (juta penumpang)

Realisasi

22 1 1 0,7 1 0,875 0,17 0,35 0,55 0,1 0,25 0,35

52.446.618 7.170.107 2.598.274 2.541.431 2.270.354 2.133.545 201.348 937.849 705.719 231.386 1.014.963 1.325.522

T

erhadap rencana pelaksanaan ASEAN open sky, dari Indonesia menginginkan agar dilakukan secara bertahap, agar tidak sekaligus membuka semua bandara. Kalangan maskapai penerbangan nasio­nal, menurut Sekjen INACA (Asosiasi Perusahaan Pener­bangan Nasional Indonesia), Tengku Burhanuddin, ada perbedaan ketika kita berbicara sektor ASEAN, dan sektor internasional umumnya. Kota Solo, misalnya, itu tidak termasuk dalam ­kerangka open sky ASEAN. Tetapi penerbangan dari luar negeri bisa masuk langsung ke Solo, melalui bila­ teral agreement de­ngan negara lain termasuk anggota ­ASEAN. Dengan kata lain sebenarnya dengan ASEAN open sky pada saat free trade diterapkan tahun 2015, tidak mengalami restriction. Dengan peluang dan kelaziman bilateral agreement, di luar kebijakan ASEAN Open Sky, di bandara mana pun penerbangan langsung bisa saja dibuka, asalkan tersedia tempat dan slot time-nya. Seperti penerbangan langsung ke Solo, Pekanbaru dan beberapa kota lainnya sekarang termasuk dalam perjanjian antardua negara yang bersangkutan. Tengku Burhanuddin merasa perlu mensosiali­ sasikan kepada masyarakat tentang pengertian pener­ bangan feeder. Berkaitan dengan ASEAN open sky, terdapat dua dasar. Ada perjanjian segitiga regional, seperti antara Malaysia, Thailand dan Indonesia yang menghubungkan Sumatra–Malaysia–Thailand, ada regional Indonesia–Filipina–Malaysia menghubungkan kerja sama Sulawesi–Filipina–Malaysia. Dan ASEAN Open Sky itu sendiri. Kerja sama regional itu sudah membuka penerbang­ an langsung: antara Medan dan Bangkok, ada titik di Kalimantan yang bisa terhubung dengan Kinabalu, Malaysia. Bandara di Sulawesi bisa terhubung dengan Filipina. Jadi kini terdapat tiga region sudah dibuka untuk penerbangan di beberapa kota. Skala regional itu harus dimainkan oleh smaller carriers. Karenanya, dari sana tidak boleh terbang ke Solo, misalnya. Yang sudah ditandatangani dan dibuka itu belum dimanfaatkan maksimal lantaran pasarnya belum bangkit. Namun, kalau pasar pariwisatanya dibangkitkan, tentulah bisa dimaksimalkan. Boleh dikatakan, untuk penerapan open sky ASEAN, Indonesia akan memberikan izin terbang secara ber­ tahap. Yang sudah dipastikan adalah izin penerbang­ an capital to capital, seperti Jakarta–Singapura, ­Jakarta–KL, Jakarta–Manila, Jakarta–Bangkok, dan sebagainya. Itu akan dibuka 100%. Setelah itu akan dibuka lagi empat kota, tapi treatment-nya akan sedikit berbeda. Pihak penerbangan ­asing tidak menekan Indonesia, karena memang Indonesia berada pada posisi yang memberi, bukan mereka yang meminta. Maka kalangan penerbangan nasional Indonesia membicarakan masalahnya ke pemerintah, kemudian yang berunding ke negara-negara ASEAN tersebut tentulah pemerintah, maka pemerintah juga cukup berhati-hati. n

Sumber : PT Angkasa Pura II

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

27


Bisnis

Kabar dari Sabang

C

ikal bakal kegiatan pariwisata di Iboih, Pulau Weh di mana terletak kota Sabang, Aceh, bisa dikatakan sudah dimulai sejak tahun 1982. Masa itu belum ada akses jalan menuju desa pesisir tersebut. Wisatawan datang dengan menyewa kapal dari kota Banda Aceh. Mereka hanya mandi-mandi dan berjemur di sini. Barulah pada tahun 1987 akses jalan me­ nuju pantai Iboih mulai dibangun meskipun kondisinya masih kurang bagus. Setelah akses jalan dibuka wisatawan pun masih belum bisa menginap karena belum mencukupi jumlah penginapan, jadi, wisatawan harus mengantri untuk mendapat tempat. Periode tahun 1990 sampai krisis mone­ ter melanda, wisman yang berkunjung ke ­Sabang kian ramai. Lalu, setelah krisis itu Iboih maupun di Pulau Rubiah semuanya Panglima laot sang penjaga kegiatan pariwisata vakum, imbas dari dijalankan oleh masyarakat setempat. Panglima Laot Lhok Iboih, Muhammad Pemerintah daerah per­situasi dan kondisi politik. Sete­ ­Abdul Gani mengatakan bahwa tugas diannya menunjang kegiatan lah peristiwa tsunami, sekitar tarinya sebagai ‘panglima laot’ adalah mengmasyarakat dengan mengikuti hun 2005, Sabang mulai dikunatur kelompok nelayan dan mengatur seper­kembangan pariwisata. Dujungi kembali. Tapi jika melihat cara teknis penyelesaian masalah-masalah kungannya berupa penyediaan kembali ke tahun 1990-an, wisantarwarga yang timbul yang berhubungan sarana jalan, listrik, paving block, man jumlahnya masih kurang. dengan laut. Biasanya masalah akan diseledan sarana umum lainnya. Sebaliknya, wisatawan nusansaikan secara kekeluargaan. Masyarakat berharap prasatara malah meningkat. Karena Iboih sudah menjadi daerah rana dan sarana umum lebih Wisman kebanyakan dari pariwisata, maka panglima turut mendudiperbanyak, agar Eropa, Jerman, Belanda, dan kung pariwisata dan programjuga membantu Perancis. Sesekali datang dari ­programnya. menata taman di Malaysia, baik yang etnis Me­ “Panglima laot di daerah lain Muhamad Nasir sepanjang pantai. layu, India maupun Cina. Selain mungkin ha­nya mengurus baMasalah yang menyelam, mereka juga suka gaimana mengembangkan neharus segera diatasi dan dianmemancing. layan tapi di sini tugas kami “Pariwisata di sini mulai terorganisasi tisipasi adalah kerusakan terbukan hanya mengurus nelayan seperti sekarang sejak sekitar tujuh tahun umbu karang di sekitar pulau dan isi di dalam lautnya saja lalu. Kegiatan kelompok wisata antara lain akibat tsunami dan bleaching. tapi juga mendukung keberKarang di sini mulai kurang menyewakan peralatan snorkeling, boat dan langsungan ekonomi pariwisata sebagainya,” kata Muhamad Nasir, Ketua bagus untuk snorkeling, namun masyarakat agar terus berlanTeupin Layeu View, Kelompok Masyarakat syukur keadaan karang-karang jut,” kata Abdul Gani. di tempat menyelam masih baPariwisata Iboih. Panglima laot dan lembaga Muhammad ­Abdul Gani Sekarang, sekitar 70% mata pencaharian gus. Karang yang bagus untuk adat laut rupanya merupakan masyarakat di desa pesisir ini bersumber dilihat bagi kegiatan snorkeling dipekirakan warisan sejak zaman Raja Iskandar Muda. dari pariwisata. Beroperasi lima dive center kini berkisar 30% dan 70%-nya hilang atau Yang diangkat Panglima ini membawahkan besar dan satu dive center kecil. Dive center rusak. wilayah pesisir dan laut yang biasanya men“Pelatihan pernah dilaksanakan, tapi besar punya investor, tiga investor asing dari cakup beberapa ­kampung. Untuk mengadaEropa dan Malaysia, dan tiga investor lokal kurang maksimal. Mengelola pariwisata di kan acara-acara di laut harus melibatkan (Indonesia). Dua dari tiga investor lokal be- sini tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Tapi panglima. Maka daerah pariwisata di sini harus berkelanjutan. Kalau hanya pelatihan rasal dari orang Sabang sendiri. juga berada di bawah panglima laot untuk Selain fasilitas pariwisata telah tersedia, sehari dua hari ya orang akan lupa. Ter­akhir memperkuatnya. juga tumbuh fasilitas lain seperti tempat kali kami mendapat pelatihan di bulan SepPeraturan-peraturan masa lampau makan terapung di Pulau Rubiah. Yang di tember kemarin di Sabang,” kata Nasir. ­dalam lembaga adat laut masih tetap ber-

28

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Bisnis laku hingga saat ini walaupun tidak tertu- lain di daratan yang mempunyai komoditi lis. Tapi peraturan-peraturan tersebut kini alternatif, komoditi di Sabang hanya terumbu karang. Itulah pemikiran yang diwa­didokumentasikan secara tertulis. Semuanya berjumlah 10 panglima laot, siatkan oleh Mahyiddin (almarhum) atau yaitu sembilan panglima laot wilayah dan Dodent kepada anak-anaknya. Dodent tinggal di Pulau Rubiah. Pernah seorang panglima laot Kabupaten Sabang. Panglima dipilih dari orang yang tinggal bekerja di Freeport dan beberapa kapal layar. Dia diajarkan cara menyelam, di lhok (wilayah) tersebut dan cara menanam karang hingga harus tinggal di pesisir karena diajak ke Maldives. mereka harus mengetahui tenMasyarakat Maldives mayo­ tang laut dan peraturan-peraritas muslim tapi kegiatan turannya. Hukum dalam lempariwisata di sana sungguh baga adat tidak tertulis namun berkembang maju dan bisa se­ seluruh Aceh mengetahuinya. iring dengan syariah Islam Jabatan panglima itu beryang mereka jalani sehingga dia laku selama tiga tahun. Ia dikemembulatkan tekadnya bahwa tahui oleh kepala desa (keuchik) pariwisata juga bisa dimajukan melalui Surat Keputusan (SK) di Sabang dan Aceh. dan disahkan oleh kepala desa. Setelah beberapa tahun be­ Lembaga adat laut ini terdiri Iskandar Dodent kerja di PT Arun dia mengumdari panglima laot, sekretaris, pulkan uang dan membeli tanah di Iboih. bendahara dan penasihat. Menjadi panglima laot juga harus men- Lalu dia mengikuti kursus diving di Wanajalani beberapa ritual dan pantangan. Per­ bakti Stingray Jakarta untuk mendapatkan aturan paling umum adalah pantangan me- sertifikat. Selesai kursus, dia membeli peralatan laut di hari Jumat, berlaku bagi semua warga menyelam second hand dan dibawa ke Iboih. dan wisatawan. Di daerah pariwisata, posisi panglima Dia mengajak bebe­rapa warga melakukan dalam struktur pemerintahan di daerah survei, menyelam ke laut tanpa menggunatermasuk dalam kelompok pengawas kan perlengkapan menyelam, mengambil masyarakat karena juga mengawasi kegiatan foto di dalam laut dan dibuat kliping. Kemudian dia mulai meng­ajak pimpinan pariwisata di lhok-nya. Peraturan yang berlaku di desa ini senantiasa diinformasikan PT Arun yang biasanya liburan ke Bali untuk berlibur ke Sabang. ­Sejak itu dia merintis kepada tamu yang datang. Ada peraturan-peraturan tersebut ditulis usaha wisata menyelam secara perlahan. “Rubiah Tirta Divers bisa dikatakan yang di papan-papan yang dipasang di tempattempat umum dan mudah terlihat. Misal- pertama menjalankan aktivitas diving di nya, jika wisatawan mengambil biota laut sini. Kami merintisnya sejak tahun 1970-an,” dan terlihat oleh masyarakat pasti akan kata Iskandar Dodent, salah seorang anak diberitahukan kepadanya peraturan yang ­Dodent yang meneruskan usahanya. Di tahun 1989, PT Arun membawa warberlaku di Iboih. “Selama ini belum pernah terjadi keke­ tawan dari Amerika berkunjung ke Sabang. rasan yang dilakukan terhadap wisatawan. Kliping yang dibuat oleh Dodent kemudian Sosialisasi peraturan-peraturan yang berlaku diminta dan dijadikan buletin internasional di sini juga sudah sampai keluar Sabang,” yang kemudian ternyata dimasukkan ke dalam program radio BBC London. Bahkata Panglima Laot Lhok Iboih. kan Sinbad yang belum lama ini singgah di ­Sabang mengatakan bahwa pulau ini adalah Wisata menyelam Praktis tiada potensi lain di Sabang ke­ the golden island. cuali potensi bahari. Berbeda dengan daerah

Iboih Inn

Iboih Inn, salah satu penginapan di kawasan wisata Iboih. Pemiliknya Saliza ­Mohamadar mengatakan prospek wisata bahari di Sabang bagus. Namun rata-rata komentar dari tamu-tamu yang menginap di tempatnya justru tidak ingin mempromosikan pulau ini besar-besaran. Alasannya, kalau terlalu banyak wisatawan mengerumuni malah akan merusak alam. Dia berpendapat masyarakat juga harus benar-benar diajak agar apa yang dibutuhkan didengar dan diketahui oleh pemda serta pemerintah dapat membuat program-

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

program yang tepat sasaran. Di daerah Sumur Tiga sampai ke Anoi Itam di sebelah timur Pulau Weh, sudah banyak berdiri fasilitas resor meskipun tidak banyak spot menyelam. Wisatawan yang ­datang biasanya lebih banyak untuk bersantai. Pasir pantainya kebanyakan berwarna hitam dan berbatu. Tidak jauh dari pantai Anoi Itam ada sebuah bunker buatan Jepang saat Perang Dunia II tapi kondisinya kurang terawat. Di bagian timur pulau ini kegiatan pariwisata relatif lebih sepi daripada di Iboih dan Gapang. Kondisi akses jalan pun tidak semulus jalan menuju Iboih dan Gapang. Masih banyak yang harus dikerjakan di daerah ini agar wisatawan juga mau berkunjung. Atraksi di Sabang sudah disediakan oleh alam berupa hutan tropis alami dan terumbu karang serta arus kuat di dalam laut yang menjadikan wisata selam di sini mempunyai karakter unik dibandingkan dengan desti­ nasi selam di daerah lain. Perjalanan dari pelabuhan penumpang di Balohan menuju kantong wisman di Gapang dan Iboih memadukan kanopi hutan alami dan laut lepas. Wisatawan merasakan semua serba genuine. Tinggal kini, bagaimana Sabang menyi­ kapi untuk mempertahankan segala yang telah disediakan alam agar wisatawan yang tak kenal musim tetap datang ke lokasi ini. n

29


Kearifan Lokal

Adat Istiadat ke Perda dan Pariwisata

L

ebih dari 1.000 tradisi adat istiadat lokal yang mengisi negeri kepulauan Indonesia ini, sesungguhnya merupakan ‘impian’ bagi calon-calon wisman di banyak negeri, untuk dikunjungi dan disaksikan. Cerita tentang ragam suku bangsa ini telah menjadi citra tentang Indonesia, sedikit ba­nyak telah diketahui sebagian warga dunia. Bagi generasi baru wisman di dunia, bahkan ‘get involved and experienced with ­local people’ merupakan salah satu phrase yang kian populer digunakan dalam memasarkan produk wisata. Ini satu catatan perkembangan dan perbandingan berkenaan dengan aspek budaya dalam pariwisata. Terkait pula secara langsung dengan ‘produk wisata setempat’ yang melibatkan unsur pemeliharaan laut dan pesisir. Adat dan pemangku adat diakui, dihormati dan dilembagakan di Aceh. Perkembangan itu dilihat dari Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 2 tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat Beserta Lembaga Adat di Pro­ vinsi Daerah Istimewa tersebut. Perda itu menimbang bahwa adat istiadat dan kebiasaan–kebiasaan masyarakat yang tumbuh dan berkembang selama berabadabad telah memberikan sumbangan yang sangat berharga terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat, perjuangan kemerdekaan dan pembangunan di provinsi ini. Karena itu dipandang merupakan se­ perangkat nilai-nilai yang tumbuh dan ber­ kembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat gampong/desa yang telah dikenal, dihayati dan diamalkan oleh warga masyarakat gampong/desa tersebut, serta telah melembaga menjadi sebuah lembaga adat. Kini di daerah pesisir Aceh disosialisasikan dan diefektifkan kembali lembaga adat laut dan apa yang selama ini disebut sebagai ‘panglima laot’. Tujuannya dinyatakan untuk meningkatkan peranan, fungsi dan melestarikan lembaga adat yang sesuai dengan perkembangan serta pertumbuhan ketata­ negaraan dan tuntunan pembangunan nasional yang selaras dengan nilai-nilai Panca­ sila. Lalu, di daerah pesisir, ini bertujuan untuk menja-ga kelestarian lingkungan laut terutama terumbu karang dan mangrove. Dalam Ketentuan Umum Pasal 1 Perda Provinsi DI Aceh Nomor 2 tahun 1990, itu, disebutkan bahwa lembaga adat adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan lainnya, serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat. Hukum

30

Pantai Iboih

adat dimaksudkan adalah hukum adat Aceh dan kebiasaan-kebiasaan yang hidup dalam masyarakat Aceh. Lembaga-lembaga adat yang masih berlaku di provinsi ini disebutkan (dalam bahasa lokal): Tuha Peut, Imeum Meunasah, ­Kjreun Blang, Panglima Laot, Petue Seuna­bok, Haria Peukan, Syahbanda dan/atau lembaga adat yang disebut dengan nama lain tapi masih mempunyai tujuan dan fungsi yang sama. Perda itu mengatur bahwa Kepala Daerah dapat menetapkan lembaga adat ini maupun lembaga adat lainnya se­suai dengan situasi dan kondisi sosial budaya serta adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat, selama tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Lembaga adat dinyatakan berkedudukan sebagai unsur pembantu keuchik/kepala desa dan kepala kelurahan dalam melaksana­kan tugasnya sehari-hari ­sepanjang yang menyangkut dengan hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Lembaga adat itu berfungsi: membantu

pemerintah dalam mengusahakan kelancaran pemerintahan, pelaksanaan pembangunan di segala bidang kemasyarakatan dan budaya; melestarikan hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat; memberi kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut dengan keperdataan adat, juga dalam hal adanya persengketaan yang menyangkut masalah adat; menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat di Aceh. Itu dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Aceh pada khususnya. Tugas lembaga adat dinyatakan untuk memelihara dan menegakkan hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat yang menunjang kelangsungan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan, pembinaan kemasyarakatan serta ketahanan nasional selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, Pancasila, kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Segala kegiatan lembaga adat yang berhubungan dengan musyawarah untuk mu­fakat dan keputusan di bidang hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dilakukan dan diputuskan di meunasah (mesjid atau musholla) atau yang disebut dengan nama lain tetapi mempunyai fungsi dan tujuan yang sama. Pembinaan dan pengembangan lembaga adat dilakukan oleh gubernur, bupati/walikota, dan camat. Kepala daerah dibantu oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA). Syarat dan tata cara pengangkatan

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Kearifan Lokal serta pemberhentian anggota lembaga adat ditetapkan oleh kepala daerah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sosial budaya serta adat istiadat dan kebiasaan masyarakat yang berlaku di daerah setempat.

Panglima Laot

Lembaga adat laut di Aceh sudah hidup sejak zaman Raja Iskandar Muda. Peraturanperaturan masa lampau masih tetap berlaku meskipun tidak tertulis. Sekarang ini sedang diupayakan untuk mendokumentasikan peraturan-peraturan tersebut secara tertulis. Yang disebut sebagai ‘panglima laot’ adalah seseorang yang memimpin adat ­istiadat, kebiasaan yang berlaku di bidang ­penangkapan ikan di lautan dalam hal ini mengatur tempat/area penangkapan ikan, penambatan perahu dan menyelesaikan seng­keta bagi hasil. Mengutip Pawang Hatta, Panglima Laot Kecamatan Lhong, Aceh Besar kepada Kompas, Jumat 2 November 2012, bahwa kesadaran nelayan di wilayahnya menjaga

terumbu karang saat ini sudah semakin membaik, juga hubungan sosial budaya serta adat istiadat dan kebiasaan masyarakat yang berlaku di daerah setempat. Sementara itu, kepada PI ini, Panglima Laot Lhok Iboih di Sabang, Muhammad Ab­ dul Gani mengatakan bahwa dirinya sebagai panglima laot bertugas mengatur kelompok nelayan, mengatur secara teknis penyele­ saian masalah-masalah yang berhubungan dengan laut yang biasanya akan diselesaikan secara kekeluargaan, serta turut mendukung keberlangsungan kegiatan ekonomi pariwisata masyarakat di sini. Panglima laot terus menerus menghimbau agar masyarakat tidak menembak burung, tidak mengambil ikan dengan pukat, dan kegiatan lain yang akan dapat merusak lingkungan laut. “Kita di sini juga turut serta dalam mengembangkan sesuatu yang berhubungan dengan laut. Selama apa yang kita lakukan juga bisa mendukung pariwisata di sini dan memberikan manfaat besar pada

masyarakat luas, ya itu yang akan kita kerjakan,” katanya kemudian. Tidak sembarang orang bisa menjadi ­panglima laot. Waktu dulu, yang bisa menjadi panglima laot haruslah orang yang benar­benar mengetahui dan mengerti mengenai hukum laut. Namun setelah peristiwa tsunami, jumlah orang yang tahu dan mengerti itu, berkurang. Peraturan-peraturan yang berlaku di Lhok Iboih senantiasa diberitahukan dan disosiali­ sasikan baik terhadap masyarakat setempat maupun wisatawan. Beberapa peraturan di­ tulis di papan-papan yang ditempatkan di tempat-tempat umum dan mudah terlihat. Misalnya ada wisatawan yang mengambil biota laut dan dilihat oleh masyarakat, “kita akan memberitahukan dulu kepada dia” ujar Gani. Makanya sampai saat ini belum pernah terjadi tindak kekerasan dilakukan terhadap wisatawan. Sosialisasi peraturan-peraturan yang berlaku di sini juga sudah sampai mencapai keluar Sabang. n

Makassar

M

Setelah Menjalani Visit Year

enurut Kepala Dinas Pariwisata Visit South Sulawesi 2012, juga dipengaruhi wisata yang diikuti dan difasilitasi oleh DiProvinsi Sulawesi Selatan, Visit oleh peningkatan intensitas penerbangan di nas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi South Sulawesi 2012 memberi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Selatan selalu menonjolkan tema Toraja sebadampak besar terhadap aktivitas yang telah ditetapkan oleh beberapa airlines gai highlight pada penampilan booth Sulawesi sebagai hub untuk penerbangan ke Indo­ ­Selatan. Termasuk juga memperjuangkan kepariwisataan di Sulawesi Selatan. pada even promosi internasional yang diMenurut dia, di antaranya semakin ber- nesia Timur. Dinyatakan, khusus untuk wisman ­telah fasilitasi oleh Kementerian ­Pariwisata dan gairahnya masyarakat dalam mendukung Ekonomi Kreatif untuk menke­pariwisataan melalui partijadikan keindah­an alam dan kesipasi pada even seni budaya unikan budaya Toraja sebagai dan peningkatan kunjung­an highlight promosi Indonesia. wisatawan mancanegara ke Pemda Sulsel dalam melakSulawesi Selatan. sanakan ke­giatan kepariwisa­ Bagi Disparda Sulsel, salah taan selalu memberi ruang satu ­indikator yang dapat diterhadap unsur pariwisata kajadikan parameter ­kunjungan bupaten/kota, terlebih kepada wisman adalah tingkat hunian Tana Toraja dan Toraja utara hotel di Makassar dan Toraja yang merupakan ikon pariwisayang mengalami peningkatan. ta Sulawesi Selatan, khususnya Selain itu aktivitas di Bandalam kegiatan promosi yang dara Internasio­nal Sultan dilaksanakan di luar Sulsel. Hasanuddin juga semakin Kadisparda Sulsel selanjutsibuk. Estimasi pihak Angkasa nya menerangkan, kemitraan Pura I tadinya memperkiraantara Dinas Kebudayaan dan kan lalu lintas penumpang Pariwisata Sulawesi Selatan melalui Bandara Sultan Hasadengan assosiasi setempat telah nuddin pada tahun 2015 akan terjalin dengan baik. mencapai angka 7 juta penPerahu-perahu yang disewakan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kantor Assosiasi Pariwisata umpang, namun pada tahun ­sejumlah pulau-pulau di sekitar wilayah Makassar dengan tarif bervariasi. Sulawesi Selatan (PHRI, ASITA 2011 saja penumpang yang keluar masuk di Bandara Hasanuddin sudah beroperasi ke Makassar direct flight dari Kua- dan HPI) difasilitasi dan berkantor bersama melebihi estimasi tersebut (7.455.408) pe­ la Lumpur–Makassar ( PP ) dan Makassar– Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Singapore (PP). Faktor lain yang berpengar- Selatan di Gedung MULO dan mungkin numpang (domestik dan mancanegara). Tingkat hunian hotel di Makassar yang uh, menurut dia, tersedianya tiga Pelabuhan satu satunya di Indonesia, dimana Kantor merupakan destinasi utama pariwisata Laut di Sulawesi Selatan yang telah dijadikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berada di bawah satu atap dengan Kantor Assosiasi ­Sulawesi Selatan rata-rata di atas 80% dari sebagai destinasi oleh operator Cruise Ship. Hampir setiap even termasuk bursa pari- Pariwisata. n 3.877 kamar. Selain karena adanya program

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

31


Persaingan

Pariwisata Mesir :

Maju Terus Pantang Mundur

T

idak akan ada larangan mengenakan bikini dan minum alkohol bagi wisatawan yang datang ke Mesir setelah Mohamed Morsi dari Ikhwa­ nul Muslimin terpilih sebagai presiden pada tanggal 24 Juni 2012, begitulah dikatakan Duta Besar Mesir untuk Rusia, Alaa El Hadidi, Jumat 29 Juni 2012, dikutip oleh harian Rossiyskaya Gazeta. Menurut koran itu, El Hadidi, mengata­ kan bahwa Mesir tidak akan membatasi wisatawan mengingat kenyataannya pariwisata menghasilkan sekitar 12 persen dari PDB negara itu. Pernyataan El Hadidi muncul setelah sekutu Morsi mengatakan selama kampanye presiden bahwa akan ada sejumlah pembatasan bagi wisatawan jika Morsi terpilih, termasuk larangan penjualan alkohol, memakai bikini di luar hotel dan akan membagi pantai menjadi zona pria dan wanita. Jadi, naiknya sebuah organisasi Islam ke puncak kekuasaan eksekutif di Mesir telah memicu harapan banyak orang, tetapi indus­tri pariwisata pada mulanya menunjukkan kekhawatiran tentang masa depannya di negara itu setelah berada pada era Mohamed Morsi. “Turki juga merupakan negara Muslim. Namun tidak ada pembagian pantai di sana. Mengapa ini harus ada di Mesir?” Diplomat tersebut mengatakan dan dikutip harian itu. Jumlah wisatawan Rusia yang bepergian ke Mesir dari Januari sampai Mei 2012 telah meningkat sebesar 82% dibandingkan de­ ngan 2011 saat negara Afrika Utara diceng­ kram oleh gejolak revolusioner, itu menurut pihak pariwisata Mesir. Badan Pariwisata Federal Rusia ­(Rosturism) memperkirakan jumlah wisatawan Rusia

32

Mereka sangat ingin untuk menggarap BRIC dan merasa puas bahwa turis Jepang mulai lagi datang kembali. yang bepergian ke Mesir pada tahun 2011 sebesar 1,4 juta orang, itu bahkan 40 persen kurang dari tahun-tahun sebelumnya. Industri pariwisata Mesir telah terpenga­ ruh secara signifikan oleh pemberontakan yang dikenal dengan nama Musim Semi Arab untuk menggulingkan Mubarak sebagai presiden terlama yang memerintah dan menempatkan negara Mesir di bawah situasi darurat. Rusia pada saat itu memperingatkan warganya untuk tidak mengunjungi Mesir. Dalam Konferensi Investasi Hotel di Arab baru-baru ini, Menteri Pariwisata Mesir mengumumkan rencana Mesir mencari pasar pariwisata lain seperti Jepang dan BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Cina) untuk lebih meningkatkan hasil pariwisata dan memenuhi rencana pendapatan sebesar USD 25 Miliar pada tahun 2017.

Rencana-rencana baru Menurut Menteri Pariwisatanya, Mounir Fakhry Abdul Noor, negara ini sudah memiliki sejumlah rencana pariwisata se­perti mengurangi biaya-biaya di bandara, meluncurkan kampanye agresif pariwisata yang didanai oleh sektor produk, dan pengenalan proyek pariwisata baru seperti Sharm Al Shaikh, proyek ekowisata untuk membantu meningkatkan jumlah wisatawan sebanyak

14,7 juta, atau menyamai rata-rata jumlah wisatawan yang datang pada periode sebelum pemberontakan tersebut. Selain itu, sang menteri menambahkan bahwa pasar tradisional pariwisata mereka telah mendekati titik jenuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Kali ini, mereka sangat ingin untuk menggarap BRIC dan merasa puas bahwa turis Jepang mulai lagi datang kembali. Sudah ada sebuah maskapai penerbangan baru untuk melayani rute Kairo–Tokyo serta rencana pembukaan rute kedua Kairo–Osaka. Saat ini, telah nyata hasil yang baik, sebagian besar disokong oleh kenaikan 32 persen kedatangan wisatawan pada kuartal pertama tahun ini. Demikian juga, wisatawan tinggal lebih lama, sekarang menghabiskan rata-rata 11,6 hari dalam periode tersebut yang mencatat masuknya wisatawan dari Rusia, Polandia, dan Ukraina. Analis Gavind Samson dari Christie & Co Mena mencatat bahwa di antara negaranegara yang mengalami pemberontakan di Arab, Mesir tampaknya pulih paling cepat. Dia juga menyebutkan bahwa untuk mencapai jumlah kedatangan wisatawan yang sama seperti pada kurun sebelum pemberontakan, kamar hotel harus ditetapkan lebih murah dari biasanya. Tetapi dengan wisatawan dari Eropa yang tetap mengunjungi resor di Laut Merah, yang terletak jauh lokasinya dari para pemrotes di Lapangan Tahrir, Kairo, bersamaan dengan proyek pariwisata yang efektif, Mesir pasti akan pulih lebih cepat dari yang diharapkan, tambahnya. Abdul Noor ingat bagaimana Mesir meng­akomodasi 14,7 juta wisatawan pada 2010 sebelum pemberontakan dan meng-

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Persaingan hasilkan USD 12 miliar dari pendapatan pariwisata. Tak lama setelah pemberontakan tahun 2011, kedatangan wisatawan menurun menjadi 9,8 juta dan pendapatan merosot menjadi USD 8,8 miliar. Hal ini mencerminkan penurunan 33 persen jumlah wisatawan yang berkunjung. Menteri Pariwisata itu juga menambahkan bahwa ada dana sektor swasta yang disediakan oleh industri pariwisata Mesir untuk membantu dana promosi pariwisata dan periklanan. Ketika ditanya apakah anggota parlemen konservatif di Mesir mungkin menimbulkan masalah bagi pemulihan industri pariwisata, ia tetap teguh dalam keyakinan bahwa pemerintah baru yang demokratis akan melarang pejabat publik yang bertanggung jawab dan akuntabel untuk membuat keputusan merusak sektor pariwisata, karena itu dapat merusak citra publik. Menurut Abdul Noor, nilai pound Mesir bisa turun hingga 10 persen namun ini tetap mencerminkan pengaruh positif terhadap industri pariwisata. Terlepas dari kenyataan bahwa terdapat kekhawatiran turunnya anggaran di negara ini, namun masih bisa membanggakan diri karena memiliki utang sedikit serta memiliki kelayakan kredit yang kuat yang memungkinkan negara itu untuk meminjam dana lebih, kata Abdul Noor.

Untuk membantu meningkatkan pariwisata setelah masalah yang timbul dari revolusi 2011, negara ini memberikan insentif kepada operator maskapai penerbangan murah dengan harapan dapat mengurangi biaya bandara di Aswan sehingga akan me­ ningkatkan jumlah penerbangan, seperti saat ini saja ada lebih dari 120 pesawat per hari pada akhir pekan di Laut Merah. Menteri juga menambahkan bahwa jumlah kedatangan wisatawan menurun 17 persen di bawah angka tahun 2010. Ia berharap ini akan meningkatkan pemahaman mengenai pariwisata yang telah menyumbang 11,3 persen pada PDB Mesir sekaligus memberikan lapangan kerja kepada 17 per­ sen orang Mesir. Pekerja di industri pariwisata Mesir, yang tergantung pada jutaan orang Eropa yang datang ke resor di Laut Merah Mesir ­setiap musim panas, takut pada pemerintahan konservatif yang baru dan mereka percaya mungkin diberlakukan hukum yang ketat yang bisa menakut-nakuti para pengunjung. Namun Ikhwanul Muslimin dan Partai ­Keadilan (FJP) telah berulang kali mem-

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

bantah memiliki rencana untuk membatasi kegiatan wisata. Janji seperti itu rupanya belum bisa sepenuhnya membungkam keraguraguan baik di media Mesir maupun dalam industri itu sendiri. “Mereka mengatakan semua hal yang be­nar, tapi ini tidak cukup. Kita masih perlu melihat kebijakannya,” kata Sami ­Mahmoud, Kepala Sektor Internasional di Departemen Pariwisata Mesir, mengutip dari Ahram Online. Meskipun keberadaan situs-situs reruntuhan fir’aun di negara itu membuatnya terkenal di dunia, tapi pariwisata pantailah yang membentuk proporsi besar kegiatan pariwisata di Mesir. Sekitar 11,1 juta orang Eropa mengunjungi negara itu pada tahun 2010, sebagian besar melalui paket wisata ke kota-kota resor di Laut Merah seperti Hurghada dan Sharm Al-Sheikh. Pihak yang skeptis merasa sulit untuk percaya bahwa Ikhwanul Muslimin dan presiden baru terpilih akan mentolerir gaya hidup turis Eropa, yang ditandai dengan pesta, alkohol berlimpah dan apa yang dilihat sebagai pakaian ‘tidak senonoh’. Pejabat FJP seperti tersengat dengan klaim bahwa mereka akan membuat perubah­ an radikal. “Orang yang bekerja di bidang pariwisata tidak memiliki alasan untuk khawatir,” kata Hazem Shawky, Kepala Komite Pariwisata partai. “Kami praktis. Kami tidak akan mengambil keputusan yang akan membahayakan mata pencaharian jutaan orang Mesir yang bekerja di industri ini.” Tapi tampaknya bukan sifat pragmatis Ikhwanul Muslimin dan FJP-nya yang dipertanyakan. Sebaliknya, dapatkah Ikhwanul Muslimin, yang sekarang berada pada puncak kekuasaannya, menahan diri dari melaksanakan apa yang dianggap sebagai perintah Tuhan? Terhadap pertanyaan ini Shawky tidak memberikan jawaban langsung. Dia, bagaimanapun, bersikeras bahwa FJP tidak akan melakukan tindakan apapun yang akan menjadi ‘melawan hukum atau kehendak rakyat.’ “Kita harus melihat keuntungan dan kerugian dari keputusan apapun, bahkan jika itu sesuai dengan Hukum Islam,” tambahnya. Shawky tidak menguraikan, akan bagaimana industri pariwisata Mesir terlihat dalam waktu sepuluh tahun yang akan datang. Dia hanya mengatakan bahwa FJP ingin ‘menambah variasi’ ke dalam industri dengan mendorong wisata non-pantai, termasuk pariwisata kesehatan dan budaya

yang berpotensi menguntungkan. Keinginan-keinginan ini dikritik oleh El­ hamy El-Zayat, Kepala Federasi Chambers Pariwisata Mesir dan pemilik sebuah agen wisata dengan kantor di Tahrir Square, Kairo. Tapi, masih saja muncul pendapat yang mengkritisi. “Bicara tentang mengganti wisata pantai dengan bentuk-bentuk lain pariwisata adalah omong kosong. Di seluruh dunia, wisata pantai adalah jenis yang paling aktif dan jauh paling menguntungkan,” kata El-Zayat. Dia menambahkan bahwa niat sejati FJP berkenaan resor pantai di Mesir masih belum jelas. Shawky dari FJP itu mengatakan: “Orangorang berubah dan partai akan mencermin­ kan kehendak rakyat. Jadi saya tidak bisa mengatakan sektor pariwisata akan terlihat seperti apa dalam jangka panjang.” Dalam jangka pendek, bagaimanapun, setiap skala perubahan besar di sektor pariwisata Mesir mungkin tidak langsung muncul. Ekonomi yang sangat terganggu berarti negara ini sangat membutuhkan mata uang asing dan lapangan kerja yang secara tradisional dihasilkan sektor ini. Pariwisata mempekerjakan sekitar satu dari delapan orang Mesir, dan 14,7 juta wisatawan yang mengunjungi negara itu pada tahun 2010 menghasilkan $ 12,5 miliar mata uang asing. Untuk mempertahankan aliran ini, ElZayat mengatakan, sangat penting bahwa ‘kebebasan wisata’ tidak akan dirusak. “Kami berada dalam persaingan sengit dengan 350 negara, dan wisatawan tidak akan datang jika kita mempersulit hidup mereka,” jelasnya. Tokoh industri lainnya menyatakan pandangan serupa, tetapi tampaknya lebih percaya diri bahwa keadaan akan kurang lebih tetap tidak berubah. “Morsi sekarang bertanggung jawab untuk seluruh negeri, dan ia tidak akan melakukan apapun untuk membahayakan perekonomian,” jelas Reda Dawood, pemilik agen wisata Lucky Tours. Abdel-Aziz El-Shoheil, juru bicara Saudi Egyptian Touristic Development Company, yang memiliki landmark ibukota Kairo, Gran Nil Tower Hotel, sama-sama yakin bahwa hanya sedikit saja yang akan berubah. “Tidak ada yang dapat menyembunyikan matahari,” kata El-Shoheil. “Melihat pengalaman negara-negara lain di mana partaipartai Islam berkuasa, pariwisata tidak terpengaruh. n

33


Indikator

Data Kependudukan Singapura Resident Population

Demographics

Population (Mid Year Estimates) SINGAPORE RESIDENTS ANNUAL GROWTH (%) SINGAPORE CITIZENS ANNUAL GROWTH (%) SINGAPORE PERMANENT RESIDENTS ANNUAL GROWTH (%) POPULATION DENSITY (per Sq Km) LAND AREA (Sq Km)

Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menurut Pintu P i n t u No.

Kebangsaan

1 Singapura 2 Malaysia 3 Jepang 4 Korea Selatan 5 Taiwan 6 China 7 India 8 Philipina 9 Hongkong 10 Thailand 11 Australia 12 Amerika 13 Inggris 14 Belanda 15 Jerman 16 Perancis 17 Rusia 18 Saudi Arabia 19 Mesir 20 Uni Emirat Arab 21 Bahrain 22 Lainnya Jumlah 2012 Jumlah 2011 (%)

SoekarnoHatta 121,793 208,500 142,973 72,602 44,146 149,057 45,610 27,249 21,656 26,735 62,720 59,636 38,479 45,478 28,954 29,192 7,066 61,053 1,833 3,754 383 307,640 1,506,509 1,423,952 5.80

Ngurah Rai 77,458 118,802 137,383 91,024 79,156 241,402 34,997 13,054 19,282 26,710 574,749 66,512 82,600 51,526 69,104 89,516 54,488 2,423 1,275 291 217 315,200 2,147,169 2,075,608 3.45

M a s u k

Utama

Polonia

Batam

Juanda

Sam Ratulangi

Entikong

8,639 96,706 1,162 926 1,723 4,386 1,350 795 1,131 1,899 3,282 2,315 2,189 5,682 2,791 1,635 220 95 24 8 14 10,777 147,749 135,055 9.40

490,352 119,559 15,590 40,129 2,868 19,289 23,900 28,475 1,683 2,933 7,588 8,514 10,810 2,739 3,203 2,551 338 199 107 28 28 97,225 878,108 835,769 5.07

12,317 29,526 5,105 2,467 5,772 9,507 2,336 1,310 3,033 2,746 1,836 4,264 1,723 2,010 2,140 1,752 156 202 38 24 2 55,166 143,432 134,876 6.34

1,507 437 1,061 241 54 566 75 276 442 189 773 1,202 681 881 1,315 555 166 1 - 1 - 3,846 14,269 14,942 -4.50

149 129 14,498 18,371 24 112 132 20 183 17 749 344 54 46 255 48 117 38 26 71 257 1,011 89 199 81 160 125 137 71 132 20 339 6 34 - 7 2 3 - - - - 1,532 1,526 18,370 22,744 18,099 21,792 1.50 4.37

Jumlah dari pintu lainnya

Minangkabau

Adi Sumarmo 699 6,053 211 85 11 99 164 21 27 195 166 256 262 342 438 4,224 11 7 17 - - 5,772 19,060 17,782 7.19

Total kunjungan wisman melalui seluruh pintu masuk

34

Vol. 3 l No. 35 l November 2012


Indikator Singapore, Age Pyramid of Resident Population of Singapore & Land Area 2011 3.789.200 0.5 3.257.200 0.8 532.000 –1.7 7.257 714.3 Source : Singapore Statistics

Masuk dan Kebangsaan (Periode Januari–September 2012) P i n t u Makassar 607 4,569 136 39 37 110 52 89 31 48 153 186 191 209 267 403 13 3 2 - - 2,761 9,906 9,989 -0.83

Mataram

Sepinggan

1,825 2,051 219 2,840 171 333 336 142 9 29 103 1,340 147 637 66 296 106 52 18 182 436 992 403 547 1,253 458 552 118 786 276 851 542 224 63 37 4 1 5 - - - - 2,966 1,757 10,509 12,664 13,238 11,763 -20.61 7.66

M a s u k

St Syarif Q-II Tanjung Priok Pknbaru 1,665 - 9,664 3 83 9 113 11 142 - 391 14 366 73 134 41 83 - 112 2 179 15 389 3 139 8 52 3 102 4 54 1 17 6 4 - 3 - - - - - 1,343 48,086 15,035 48,279 16,119 47,694 -6.72 1.23

Utama

Tanjung Pinang

Adi Sucipto

Husein Sas- Tanjung tranegara Uban

51,323 10,241 224 342 154 2,375 1,539 1,507 223 168 489 400 603 204 258 418 40 6 3 - - 6,343 76,860 76,540 0.42

4,098 16,849 13,205 81,054 669 617 225 369 81 89 466 405 485 627 300 336 97 113 646 552 641 689 889 761 909 458 712 444 900 299 1,638 317 159 30 1 108 4 12 - 11 - 13 13,060 2,171 39,185 106,324 35,995 82,624 8.86 28.68

69,262 9,803 19,278 20,227 4,446 29,443 15,627 9,389 7,319 1,003 10,299 6,246 11,254 1,542 5,083 7,061 1,683 62 17 20 4 23,097 252,165 250,621 0.62

Balai Karimun

2012

2011

Pertumbuhan (%)

25,630 886,353 891,145 49,266 793,316 733,766 49 325,190 313,780 71 229,501 221,976 156 139,073 156,612 304 460,350 371,815 910 128,995 118,678 507 84,148 74,666 101 55,534 52,115 363 64,598 57,056 123 666,398 654,601 137 152,948 141,584 121 152,379 145,655 36 112,792 121,438 62 116,185 106,789 96 141,165 133,188 13 64,733 60,781 66 64,278 64,644 - 3,346 2,465 - 4,137 3,857 - 661 618 1,735 902,003 872,396 79,746 5,548,083 5,299,625 77,167 3.34

-0.54 8.12 3.64 3.39 -11.20 23.81 8.69 12.70 6.56 13.22 1.80 8.03 4.62 -7.12 8.80 5.99 6.50 -0.57 35.74 7.26 6.96 3.39 4.69

347,205

10.36

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

Jumlah

314,613

5,895,288 5,614,238

5.01

Sumber : BPS

35


Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata

www.parekraf.go.id

www.indonesia.travel

Pertama di dunia kombinasi 3 lomba:

Triboatton di Sungai Musi, 25 November 2012–1 Desember 2012

Kunjungi dan saksikanlah. Kita sedang memasarkan produk baru destinasi pariwisata dengan salah satu kekayaan Tanah Air yang hebat: sungai-sungai besar dan keunikan alam dan budaya.

Kemenparekraf menciptakan dan mendukung Tourism Event untuk pemasaran pariwisata di dalam negeri dan di luar negeri.

29 Juni-1 Juli 2012 19–21 Oktober 2012

4–10 Juni 2012

Nopember 2012 9–12 Oktober 2012 BANDAR LAMPUNG

22–23 Juni 2012

36

Festival Budaya Lembah Baliem

18–21 Oktober 2012

Vol. 3 l No. 35 l November 2012

NewsLetter Pariwisatta Indonesia Edisi November 2012  

NewsLetter Pariwisatta Indonesia Edisi November 2012

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you