Page 1

NG

Y

R ER

U TH

J

TOMMY F AWUY

S A L U T E

SONNY ESKA

JULY 8 - AUGUST 8, 2015 1


SALUTE JULY 8 - AUGUST 8, 2015


JERRY THUNG GADGET INTELLIGENCE

Teknologi bagaikan pedang bermata dua, disatu sisi mempermudah hidup, disisi lain bisa memperbudak hidup jika kita terlalu bergantung kepadanya. Generasi yang besar ditahun 80 an menjadi saksi begitu pesatnya perkembangan teknologi digital dalam 30 tahun terakhir. Imaginasi-imaginasi bahkan mimpi-mimpi terliar para penulis, seniman, sineas dan perancang kreatif seperti menjadi kenyataan. Teknologi komunikasi memperpendek jarak, mempersingkat ruang dan waktu. Dunia internet mulai dibuka di Indonesia, pertengahan 90 an, dengan eksternal modem sebesar buku dengan kecepatan sekian kbps, sekarang kecepatan menjadi sekian Mbps dengan modem tertanam dalam telepon genggam yang juga berkembang dari sebesar telepon rumah kemudian mengecil, menipis, kemudian melebar kembali karena ternyata kebutuhan manusia alat telepon untuk bicara menjadi alat baca, menjadi alat komunikasi utuh, audio-visual dan verbal. Dunia sekarang berada dalam genggaman. Persoalannya siapa berada dalam genggaman siapa? Teknologi dalam genggaman kita atau kita yang berada dalam genggaman teknologi? Faktanya dari mulai kita bangun tidur sampai berangkat tidur telepon genggam dengan segala kecanggihan perkembangannya (gadget) adalah hal pertama dan terakhir disentuh. Bahkan sebagian besar orang mungkin 24 jam nonstop alat itu siaga. Ya, gadget atau gawai menjadi suatu keharusan, kebutuhan hidup sekarang. Apakah betul gadget menumbuhkan, memudahkan dan mempererat komunikasi sosial? Bukankah disisi lain gadget juga menimbulkan keterasingan sosial bagi penggunanya? Apalagi bagi yang sudah menjadi pecandu gadget dengan seluruh aktivitas sosial medianya. Sibuklah ia dengan dunia genggamannya dan teralienasi dengan dunia nyata didekatnya. Setelah IQ dikembangkan menjadi SQ dan EQ, mungkin perlu pula dikembangkan GQ, kecerdasan menggunakan gadget, siapa tahu…? Berangkat dari pemikiran-pemikiran diatas maka terciptalah karya-karya lukisan saya tahun 2015 ini yang kali ini dipamerkan di Philo Art Space. Juni, 2015 Jerry T.

3

Technology is like two sides of a coin; at one side it makes life easier, at the other it enslaves those who are too dependent on it. The generation growing up on the 80’s is the witness to the extremely rapid development of digital technology in the past 30 years. The wildest dreams and most outrageous imaginations of writers, artists, film makers, and artistic designers are all came to live. Communication technology has shortened the distance, time and space. The internet universe came to Indonesia in the mid 90’s with the use of external modem the size of a book with only several kbps which now has evolved into a modem with several Mbps that is so small it is embedded in mobile phone – itself has experienced evolution from a home phone that gets smaller, thinner and then got bigger again as the human needs evolved from a mere talking device to compact communication device where we read, communicate in audio-visual as well as verbal modes. The world is indeed in our hands. But who is in whose hands, actually? Is the technology in our hands, or are we in the grip of technology? The fact is, from the moment we wake up to the moment we close our eyes, the mobile phone that has turned into a full-fledged sophisticated gadget is the one thing that we touch first and last. For some people, their gadgets never sleep and stand alert for 24 hours. Indeed, gadget or device has becomes a necessity, a life line. Is it true that gadget has grown, made easier and made social communication better? Isn’t it also true that on the other hand, gadget has made a social isolation for its user? Those who are gadget-addicts, with all their social media activities, are so engulfed in their own world in their hands that they are alienating themselves from the real world surrounding them. After IQ is evolved into SQ and EQ, would we need the development of GQ – the intelligence to utilize gadget? Who knows… Based on these conditions my creations for year 2015 emerge – those that are presented in Philo Art Space. June 2015 Jerry T.


Android Rules • 110 X 60Cm •

Acrylic on Canvas •

2015

4


The Last E-Supper • 140 x 90cm • acrylic on canvas •

5

2015


The Creation of Adam • 140 x 90cm • Acrylic on canvas •

2015

6


Apakah betul gadget menumbuhkan, memudahkan dan mempererat komunikasi sosial? Bukankah disisi lain gadget juga menimbulkan keterasingan sosial bagi penggunanya? Apalagi bagi yang sudah menjadi pecandu gadget dengan seluruh aktivitas sosial medianya. Sibuklah ia dengan dunia genggamannya dan teralienasi dengan dunia nyata didekatnya.

Android Rules 2 • 110 x 60cm •

7

Acrylic on canvas •

2015


Old friends • 110 x 60cm •

Acrylic on canvas •

2015

8


TOMMY F AWUY WINE Wine, minuman yang mengandung alkohol berkadar ringan, terbuat dari buah anggur, punya cerita terkait dengan mitologi. Tepatnya mitologi Yunani Kuno. Ceritanya pun boleh-boleh saja dianggap mitos teristimewa terkait dengan wacana identiknya wine dengan kehidupan. Adalah Dewa yang bernama Dionysius dikenal sebagai “dewa anggur”. Dewa ini memiliki karakter yang ogah disiplin, berbaris rapi, manut pada otoritas, dan sejenisnya. Dionysius tepatnya adalah dewa yang kegemarannya isengin para dewa-dewi, liar, dan barangkali bagi sebagian dewa menganggapnya sebagai dewa menyebalkan. Namun pada hematnya Dionysius adalah dewa yang penuh hasrat dan cinta, dewa yang anti kemapanan. Wine, khususnya red wine (anggur merah) bagi sebagian orang sekarang ini menganggap bukan hanya sebagai minuman penghangat tubuh namun “minuman hangat” dan penanda gaul bagi kelas tertentu. Apalah. Seolah pada wine kita sama-sama menemukan aku dan kamu sedang bercakap, senda gurau, saling mengadu perasaan, dan seterusnya.

Wine, a drink with low alcohol level, made out of grapes, begins their story in the mythology – ancient Greek mythology, to be precise. The story can be considered as a special myth as we have regarded wine’s relation to life itself. It was the god Dionysius that is known as the god of wine. This god has the specific traits of recklessness, issues with orders and the authorities, and the likes. To be exact, Dionysius was a god with an interest in making pranks of the other gods and goddesses and who was wild and who was considered as a nuisance by some of the other high beings. But in essence, Dionysius was a god full of passion and love; an anti-establishment god. Wine, especially the red wine, is no longer considered by some people as the drink that warms, but as a ‘warm drink’, a social marker for those circulating in a certain circle. Whatever. As if in wine we found me and you in a chat, making jokes, pouring our hearts out, and so on.

Red wine has a special place in the ten years journey of Philo Art Space. In the beginning there Red wine pun punya cerita khusus bagi perjalanan was no particular reason or meaning why the drink Philo Art Space selama sepuluh tahun ini. Pada was offered in every exhibition. Later, it became awalnya tak ada alasan atau minat tertentu mengapa a permanent necessity, something that must be minuman ini menjadi suguhan yang tak pernah absen presented, something that for those who attend the setiap pameran. Lalu secara perlahan dan pasti exhibition, an inseparable part of Philo Art Space. The menjadi suatu keharusan yang tak bisa ditawarred wine has become the marker of Philo Art Space. tawar dan sebagian pengunjung pameran yang setia terlanjur menganggap pameran di Philo Art Space Red wine seems to have become a part of Philo Art identik dengan red wine. Space breath in the last ten years. Hence it becomes a muse in reflecting my personal life into art creations Red wine pun seperti sudah menjadi bagian dari napas Philo Art Space dalam sepuluh tahun ini. (paintings). Often when planning an exhibition, I can Dengan demikianlah ia lalu menjadi sebuah inspirasi almost already see the happiness, merriment, and also utama untuk merefleksikan kehidupan pribadi saya the anxieties in the faces of our patrons, most of whom ke dalam wujud karya seni (lukis). Acap kali have already become a part of our family. merencanakan pameran terbayang suasana kegembiraan, keceriaan, juga kegelisahan dari wajah-wajah Red wine may be just a small part of a story that pengunjung yang sebagian besar darinya terasa sudah happens to touch us and may at some time be menjadi sebuah keluarga. irrelevant, but we cannot deny that at their time, they have given us warmth that we hardly can find Red wine mungkin hanya sebuah cerita kecil yang anywhere else. That warmth that is the drop of water mampir dan pada suatu waktu menjadi tidak penting that finds its way to the depth of our heart – the namun tak bisa disangkal bahwa ia pernah menaruh kehangatan yang jarang bisa kita temukan di mana- warmth that is love (philo). mana. Kehangatan yang sebut saja bahwa itu adalah setetes air yang mengalir sampai ke relung hati terdalam yang tak lain adalah cinta (philo). Tommy F Awuy Tommy F Awuy

9


Sehabis-habisnya Buatmu • 120 x 150cm •

Acrylic on canvas

2015

10


Demikianlah Rindu • 130 x 175cm •

11

Acrylic on canvas

2015


Soalnya di Depan • 130 x 175cm • Acrylic on canvas • 2015

12


Red wine pun punya cerita khusus bagi perjalanan Philo Art Space selama sepuluh tahun ini. Pada awalnya tak ada alasan atau minat tertentu mengapa minuman ini menjadi suguhan yang tak pernah absen setiap pameran. Lalu secara perlahan dan pasti menjadi suatu keharusan yang tak bisa ditawartawar dan sebagian pengunjung pameran yang setia terlanjur menganggap pameran di Philo Art Space identik dengan red wine.

130 x 150 cm

13

•

Toast, Goliath • Acrylic on canvas • 2015


Pada Mulanya • 120 x 150cm •

Acrylic on canvas

2015

14


SONNY ESKA AGREEMENT

Tema ini yang saya coba ungkap dalam karyakarya saya. Ternyata kita semua memerlukan kesepakatan. Kesepakatan kita pakai dengan berbagai cara. Ada yang membungkusnya dengan kaos kaki, celana, kondom, cinta, atau bahkan dengan tidak sepakat. Hanya itu. Sepakat ?...........siapa perduli ?!

I try to unveil this theme in my arts It seems that we all need agreement Deals that we obtain through many ways Some would cover them in socks, some in pants, some in condoms, some in love, or some in disagreement. And that’s all there is to it Agree? Who cares.

Jakarta, 17 Juni 2015 sonny eska

Jakarta, 17 June 2015 Sonny Eska

15


It’s Alright Ma, I’m Only Bleeding • 90 x 120cm • Mixed Media on Canvas

• 2015

16


Love is Deal

17

• 65 x 80cm • Mixed Media on Canvas • 2015


Ternyata kita semua memerlukan kesepakatan. Kesepakatan kita pakai dengan berbagai cara.

Semboyan

30x50 cm (3 Panels) • Mixed Media on canvas •

2015

18


Psychedelic Space 19

50x140 cm • Mixed Media on canvas •

2015


There is Something About You • 30 x 30 Cm (6 Panels) • Mixed Media on Canvas • 2015

20


JERRY THUNG Jerry was born in Bogor, on July, 1962. He grad- 1996: Sketsa Australia, The Australian Embassy uated from the Faculty of Fine Arts (painting) Gallery, Jakarta at the Jakarta Institute of the Arts (Institut Kesenian Jakarta) in 1994. 1995: Solo Painting Exhibition, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Centre, Jakarta Selected solo exhibitions: 2014: “Still Got The Blues”, Cipta II Gallery, 1990: Solo Painting Exhibition, Exhibition Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Centre, JaRoom, The Jakarta Institute of the Arts karta (IKJ) 2009: “Eastern Wisdom” (The Art of Love), The National Gallery of Indonesia, Jakarta 2007: Solo Painting Exhibition, Kemang Village, Jakarta 2006: Rara Hora Rara Brevis, 678 Gallery, Kemang, Jakarta

Selected group exhibitions: 2015 “Salute”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia 2013: Pameran Cinta Kasih, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Center, Jakarta

2011: 1001 Doors, Reinterpreting Tradition, Ciputra Marketing Gallery, Jakarta Indonesia Art Motoring, The National Gallery of Indonesia, Jakarta 2002: Solo Fine Arts Exhibition, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Centre, Festival Kesenian Indonesia (Indonesian Arts Festival) Jakarta Solo, Central Java. 2004: Serenude, Wien’s Cafe, Plaza Senayan, Jakarta

2001: Tranquility, Jenggala Keramik, Jimbaran, Bali 2000: Respecting the Past, Embun Gallery, Jogyakarta Sketsa Australia, Milenium Gallery, Jakarta Respecting the Past, Embun Gallery, Jakarta 1999: Sketsa Australia, The Australian Embassy Gallery, Jakarta 1998: Image of Meditating Figures, Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran, Bali 21

2010 : Artparis + Guest, Grand Palais - Paris, France. Percakapan Masa, The National Gallery of Indonesia, Jakarta Deterjen, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Center, Jakarta Tramendum, Philo Art Space, The National Gallery of Indonesia, Jakarta Here, There and Everywhere, Ars Longa Gallery, Jakarta


2009: Semarak Biennale, Ars Longa Gallery, CG Art Gallery, Jakarta Art @ Jakarta, Alumni IKJ. Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Centre, Jakarta Happiness 9, Philo Arts Space, Kemang, Jakarta Festival Kesenian Indonesia 6 (Indonesian Arts Festival), Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki - Jakarta Arts Center, Jakarta 2008 : Manifesto,The National Gallery of Indonesia, Jakarta Warna Warni Jakarta, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Center, Jakarta Dari Penjara ke Pigura, Salihara Gallery, Jakarta Ars Longa Ruang Seni, Jogjakarta

2006 : Jakarta Biennale, Milestone (Tonggak Sejarah), The National Gallery of Indonesia, Jakarta 2005: Mata Mata Jakarta, The National Gallery of Indonesia, Jakarta Ancol Golden Palette, Ancol Gallery, Jakarta CP International Biennale 05,Urban/Cultures, Kelompok Metromini, Museum of Bank of Indonesia, Jakarta Pre Bali Biennale, YDBA Gallery, Jakarta Kecil itu Indah, Edwin’s Gallery, Jakarta Music, Philo Art Space, Jakarta

2007: Pelukis Jakarta, Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Arts Center, Jakarta Share For Woman, Komnas Perempuan, National Commision On Violence Against Women. The National Gallery Of Indonesia, Jakarta

TOMMY F AWUY (Painter and Lecturer of Philosophy and Art) Tommy F. Awuy was born in Manado, South Sulawesi, July 5, 1959. As an active painter who is also a well-known Indonesian philosopher, Tommy gives lecture on social philosophy, culture philosophy, language philosophy, arts philosophy, arts critics, logic, Indonesia management, culture insight, arts insight and philosophy of science at the University of Indonesia, Jakarta Arts Institute and University of Atmajaya. Furthermore, he is also a multitalented person who has long been at the forefront of Indonesia’s philosophy, writer and art critic world. Be it as philosopher who has written many philosophy books such as Modern Philosophy Problem and Deconstruction (1993); Tragedy Discourse and Culture Deconstruction (1995); Indonesia Theatre, Concept History and Problem (2000); The Other Side of Beautiful Life, Art Thoughts and Theatre Critics (2004) and a short story book called Phalus Logic (2002) or art critics whose articles can be read in Indonesia various leading newspapers or magazines.

In addition to as an art critics, he was also one of the respected chosen judges along with Made Wianta, Sunaryo etc. at one of the most prestigious painting competition called Phillips Morris Indonesia painting competition in 1999. Selected solo exhibitions: 2008 “Flying”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia 2007 “Look Into The Difference”, Philosophart 2007, Auditorium IX FIB, University of Indonesia, Depok, West Java, Indonesia “Bubbles”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia 2006 “Family Love”, Cikal School, Jakarta, Indonesia 2005 “Dating in the Sea”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia

22


Selected group exhibitions: 2015 “Salute”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia 2010 “Sisi Lain”, Galeri Seni Rupa ISI Surakarta, Solo 2009 “Urban Figure”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia 2008 “Titik Langkah: 100 tahun Kebangkitan Nasional & 80 tahun Sumpah Pemuda”, Crown Plaza Hotel, Jakarta, Indonesia “Global Warming”, Gallery of Pasar Seni Ancol, Jakarta, Indonesia 2007 “The Gift”, Pasar Seni Ancol, Jakarta, Indonesia

Group Painting Exhibition for Grand Opening of Philo Art Space, Jakarta, Indonesia Group Painting Exhibition for Jogyakartan Earthquake Victims at Sanggar Merah Putih, Surabaya, East Java 2005 Group Painting Exhibition at Great World City, Singapore Auction at Maritime Affairs and Fisheries Department, Jakarta, Indonesia

2006 Group Painting Exhibition at Petulu Cultural House, Ubud, Bali, Indonesia Group Painting Exhibition at Japanese Gathering, Singapore

SONNY ESKA Selected solo exhibitions: 2011 Kredo - Srisasanti arthouse, Jakarta 2009 Mukha - Galeri Nasional Indonesia, Jakarta 2007 Encore - Taman Ismail Marzuki, Jakarta 2006 Panjarwala - Philo Art Space, Jakarta 2002 Refleksi Kehidupan - The Regent, Jakarta 2001 Boulevard of Broken Wings - GTZ Deutsche Bank, Jakarta 2000 Hitam Putih - House of Art Kemang, Jakarta Hitam Putih - Rumah Seni Bangka, Jakarta 1999 Promenade - Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran - Bali 23

1996 Promenade - Taman Ismail Marzuki, Jakarta Promenade - Deutsch Gasellschaft fur Technishe Zusammenarbeit, Jakarta 1995 192 BH no. 10 Gedung Eka Life, Jakarta 1994 Pendekatan Kearah Satu Sintesa #2 - Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung 1993 Pendekatan Kearah Satu Sintesa #1 - Balai Budaya, Jakarta Selected group exhibitions: 2015 “Salute”, Philo Art Space, Jakarta, Indonesia


This catalogue is published in conjunction with a Group Exhibition

SALUTE

JULY 8 - AUGUST 8, 2015 Š Philo Art Space Jl Kemang Timur 90 C South Jakarta 12730 Indonesia t/f: (62 21) 719 84 48 m: +62 811 10 60 47 e: info@philoartspace.com philoartspace99@gmail.com w: www.philoartspace.com Special thanks: Tommy F Awuy, Jerry Thung, Sonny Eska Photography of Artworks: Artist Design : www.arslitera.net Published by Philo Art Space 045/2015 Copy Rights Š Philo Art Space All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photography, recording or otherwise, without the written permission from Philo Art Space

24


mampir dan pada suata waktu menjadi tidak penting

namun tak bisa disangkal bahwa ia pernah menaruh

kehangatan yang jarang bisa kita temukan di mana-

mana. Kehangatan yang sebut saja bahwa itu adalah

setetes air yang mengalir sampai ke relung hati

terdalam yang tak lain adalah cinta (philo).

mampir dan pada suata waktu menjadi tidak penting

namun tak bisa disangkal bahwa ia pernah menaruh

kehangatan yang jarang bisa kita temukan di mana-

mana. Kehangatan yang sebut saja bahwa itu adalah

setetes air yang mengalir sampai ke relung hati

terdalam yang tak lain adalah cinta (philo).

terdalam yang tak lain adalah cinta (philo).

setetes air yang mengalir sampai ke relung hati

mana. Kehangatan yang sebut saja bahwa itu adalah

kehangatan yang jarang bisa kita temukan di mana-

namun tak bisa disangkal bahwa ia pernah menaruh

mampir dan pada suata waktu menjadi tidak penting

Red wine mungkin hanya sebuah cerita kecil yang

SALUTE Red wine mungkin hanya sebuah cerita kecil yang

Red wine mungkin hanya sebuah cerita kecil yang

25

Salute  
Advertisement