Seni Budaya
METRO RIAU MINGGU,, 20 OKTOBER 2013
Alat Musik Tradisional Melayu Riau MENDENGAR musik adalah sejenis hiburan. Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Dengan mendengar musik perasaan bisa menjadi tenang dan damai. Sejak zaman dahulu musik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, tidak terkecuali di tanah Melayu Riau. Tanah Melayu adalah salah satu daerah yang memiliki alat-alat musik yang unik. Alat musik melayu dapat
digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu: 1. Aerofons adalah alat musik tiup. 2. Cordofons adalah instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik. 3. Idiofons adalah instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipukul. 4. Membranofons adalah instrument musik yang menghasilkan suara bila dipukul Pada budaya Melayu, alat musik digunakan untuk mengiringi tarian atau lagulagu tradisional Melayu. Berikut beberapa alat musik tradisional Melayu Riau:
4. Gambus Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Riau. Paling sedikit gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Sebuah orkes memakai alat music utama berupa gam-
bus dinamakan orkes gambus atau disebut gambus saja. Orkes gambus mengiringi tari Zapin yang seluruhnya dibawakan pria untuk tari pergaulan. Lagu yang dibawakan berirama Timur Tengah. Sedangkan tema liriknya adalah keagamaan.
1. Rebana Ubi Rebana ubi sering digunakan saat upacara pernikahan, selain itu Rebana ubi juga digunakan sebagai alat komunikasi sederhana pada zaman
ORKESTRA Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) menyajikan beragam genre musik, dari musik klasik, jazz hingga Melayu, dalam konser bertajuk "Sembang Bunyi 12" di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, beberapa waktu silam. (foto/net) itu karena bunyinya yang cukup keras. Jumlah pukulan pada rebana ubi memiliki makna tersendiri yang telah dipahami oleh masyarakt saat itu.
5. Kordeon Kordeon adalah alat musik yang berasal dari Riau. Alat musik ini bisa dimainkan dengan cara dipompa. Alat music ini termasuk sulit untuk dimainkan. Tidak banyak yang dapat memainkannya. Kordeon
6. Gendang Genddan Ge ang ang Reba bana naa Ubii
2. Kompang Kompang merupakan alat musik Melayu yang paling populer karena kompang banyak digunakan dalam berbagai acara-acara sosial seperti pawai hari kemerdekaan. Selain itu
Gambus alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi lagu gambus. Kompang memiliki kemiripan dengan rebana tetapi tanpa cakram logam gemerincing di sekelilingnya.
Sap apee
Gendang adalah instrumen Riau yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis gendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut gendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama gendang gedhe biasa disebut gendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran, ladrang irama tanggung.
7. Gong Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari mengguna-
Kompang
33. SSape Sape adalah seruling tradisional masyarakat Melayu. Alat musik dibuat dengan bambu panjang yang dilubangi sehingga menghasilkan nada yang indah. Alat musik ini dapat dimainkan dengan cara ditiup. Sape digunakan untuk melengkapi musik tarian tradisional
Melayu. Selain itu, sape juga digunakan sebagai pelengkap musik pengiring dari lagu tradisional Melayu. Sampai saat ini alat musik ini masih sering digunakan. Salah satunya adalah untuk mengirinya musik dangdut (perkembangan dari musik Melayu).
kan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa
digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan. (karma/net)
Gong
Resensi Petaka Akhir Zaman MASIH ingat apa yang dikatakan Einsten tentang hukum relativitas? Orang yang berada di luar pesawat akan melihat pesawat terbang begitu cepat, tapi mereka yang berada di dalam pesawat dengan santainya duduk, makan, minum dan berjalanjalan tanpa merasa terganggu dengan kecepatan tersebut. Tahukan jika bumi kita berputar (berotasi) dengan kecepatan 1.600km/jam, tapi kita sama sekali tak terpengaruh dengan kecepatan itu, yang kita ketahui hanya perputaran waktu 24 jam sehari. Membicarakan tentang waktu. Sebenarnya juga sangatlah relatif bagi kita. Bergantung kepada apa kita membandingkannya. Berapa lama sesungguhnya kita tinggal di bumi ini? Jawabannya relatif juga. Kalau pakai ‘rasa’nya maka baru kemarin rasanya kita hidup di bumi. Kalau dihitung sejak
lahir mungkin 20 atau 30 tahun kita hidup sekarang. Kalau kita hidup hanya sampai usia 65 tahun hakikinya berapa lama sih kita hidup di dunia? Sebagai orang yang beragama (baca: islam) tentu kita beriman kepada hari akhir, hari berbangkit dimana seluruh umat manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar. Berapa lama waktu di sana nanti? Dan berapa lama waktu kita hidup di dunia jika di bandingkan dengan waktu saat itu? Tentu saja hanya sebentar. Mari coba kita hitung. Kalau umur kita rata-rata 65 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia ini jika dibandingkan dengan waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 1menit 52 detik. Mari berpikir sesaat dan merenung. Maukah kita mengantri dengan sabar selama 1 hari untuk mendapatkan sebuah mobil mewah. kita hanya
mengantri dengan sabar dan tidak boleh melanggar aturan antrian kita, maka kita pasti akan mendapatkan mobil mewah itu. Bahkan kita tidak perlu bayar untuk itu. Hanya tunggu sampai kepada giliran kita? Maukah kita? Jika mobil mewah itu tidak terlalu berharga bagi kita? Apa di dunia ini yang paling berharga bagi kita? Maukah kita menunggu 1 hari untuk memperolehnya? Apa yang Kita anggap paling berharga itu, jika dibandingkan dengan nikmat Akhirat, maka yang paling berharga di dunia ini tidak adalah nilainya kecuali hanya seujung kuku saja. Jangan sampai diri kita menyesal nanti di padang mahsyar, di pengadilan-Nya Allah SWT. Jangan sampai Menjadi mereka yang lalai kepada Allah dengan melalaikan taat kepadaNya. Akan menyatakan penyesalannya dan berharap dikembalikan ke dunia.
Padahal sudah tidak ada lagi kesempatan kedua bagi kita semua. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut. Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orangorang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Buku karya Dastaghib ini terlalu sayang kalau tidak kita dapatkan untuk membina diri dan pendamping dalam mengarungi kehidupan yang sedemikian dahsyat tantangannya. Berisi tentang dosa dosa besar yang kadang kadang tidak terasa kita lakukan, maka di padang mahsyar nanti baru terkuak semuanya. Banyak pelajaran tentang kehidupan dari buku yang cukup tebal ini, dengan bahasa yang enteng pembacanya akan terus menikmati hingga halaman akhir. (m imam bukhori)
RESENSI BUKU Judul buku Penulis Penerbit Peresensi Jumlah Halaman Cetakan 1
: 50 Dosa Besar Penghancur Amal : A H. Dasataghib : Citra, Jakarta : Imam Bukhori : 680 hlmn : Oktober 2013