A.
Deskripsi Singkat Jurnal
Jurnal ini membahas perubahan tata guna lahan yang terjadi di Kabupaten Garut, tepatnya di Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi. Ahli fungsi lahan yang terjadi adalah diubahnya kawasan pertanian menjadi tempat wisata, yaitu wisata Darajat karena adanya peningkatan pembangunan kawasan wisata. Terjadinya permasalahan disebabkan kawasan wisata Puncak Darajat belum memiliki izin secara legal dan memiliki tanda adanya peralihan fungsi lahan yang tidak sesuai dengan penatagunaan lahan menurut Peraturan Daerah Nomor 29 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Garut 2011 2031.
Terjadinya alih fungsi lahan kawasan pertanian ke kawasan non pertanian disebabkan oleh:
1. Sektor pertanian sebagai sistem ekonomi relative lemah dibandingkan dengan industri atau kegiatan lainnya;
2. Lemahnya kedudukan pertanian dan hukum, serta politik pendayagunaan sumber daya alam di Indonesia.
Pembangunan kawasan wisata Puncak Darajat dimaksudkan untuk meningkatkanperekonomianmasyarakat.Meski begitu,kawasanwisatayangdibangun mengalih fungsikan kawasan lainnya, yaitu kawasan pertanian. Asas LOSS (Lestari, Optimal, Serasi, dan Seimbang) mengatur perencanaan tata guna lahan untuk wilayah pedesaan. Untuk mewujudkan asas tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut telah meriliskan rencana pola ruang Kecamatan Pasirwangi. Meskipun telah diriliskan perencanaan pola ruang, asas LOSS tidak dapat terpenuhi, karena penggunaan dan pemanfaatan kawasan Darajat belum memenuhi kemampuan lahan dan pelestarian lingkungannya hingga saat ini.
Pada dasarnya, alih fungsi lahan membawa masalah di kawasan yang dialih fungsikan. Kawasan pertanian dapat memberikan berbagai manfaat dari segi ekonomi, sosial, hingga lingkungan. Akan tetapi, dengan adanya alih fungsi lahan kawasan pertanian produktif dan tidak dikendalikan, maka akan berdampak negatif bagi masyarakats sehingga alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian menjadi salah satu faktor utama berkurangnya lahan pertanian.
Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang berdampak pada pengurangan lahan pertanian sangat dapat dirasakan oleh para petani di sana. Hal tersebut mengakibatkan adanya penurunan produksi pangan yang dihasilkan. Dampak negatif lainnya adalah adanya kerusakan lingkungan, sehingga daya serap tanah menjadi berkurang karena adanya pembangunan permanen untuk pembangunan tempat wisata. Hal tersebut dapat mengakibatkan banjir bandang. Namun, dampak positifnya adalah bertumbuhnya sektor ekonomi dan sosial masyarakat dengan penambahan pendapatan warga setempat dan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Dampak negatif yang dirasakan lebih besar daripada dampak positifnya. Hal ini berhubungan terhadap dampak sosial dan budaya, serta dampak ekonomi. Meskipun perkembangan wisata mengundang banyak wisatawan, kebiasaan dan adat asing dapat membawa pengaruh terhadap masyarakat lokal, seperti yang dirasakan oleh petani di kawasan peralihan tersebut. Dengan berkurangnya lahan pertanian, berarti lapangan pekerjaan sektor pertanian berganti ke non pertanian, sehingga petani harus bersaing
dengan pendatang. Meskipun terdapat sisi positif, yaitu terdapat mata pencaharian baru yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, tidak semua petani memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dan setara, sehingga akan sulit mendapat mata pencaharian baru. Terlebih lagi, alih fungsi lahan menjadi kawasan wisata tersebut tetap berjalan meskipun belum memiliki izin secara legal, sehingga tidak terdapat kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi konsumen yang berkunjung ke sana, terlebih lagi saat terjadi bencana.
B. Critical Review
Penyampaian pembahasan dari jurnal ini sangat jelas. Jurnal ini menggambarkanpermasalahanperalihanfungsilahan pertaniankelahanwisatadiDesa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi dengan jelas. Peraturan peraturan yang dicantumkan sudah cukup baik, sehingga pembaca mengerti bahwa dalam permasalahan alih fungsi lahan memiliki dasar dalam peraturan peraturan yang dicantumkan. Namun, pada jurnal ini tidak dijelaskan gambaran kondisi Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi, seperti berapa presentasi wilayah pedesaan atau wilayah lainnya, sehingga para pembaca tidak mengetahui penggunaan lahan eksisting dari Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi.
Latar belakang pembangunan kawasan wisata Darajat tersebut tidak dijelaskan pada jurnal ini, begitu pula dengan kondisi eksisting dari kawasan pertanian yang menjadi wilayah penelitian. Hal tersebut menyebabkan para pembaca tidak mengetahui mengapatidak diperbolehkandibangunnya kawasanwisata di kawasan pertanian. Lalu, perlu adanya peta yang dicantumkan agar pembaca lebih mengerti bagaimana kondisi eksisting dan kondisi ideal dari wilayah penelitian. Adapun peta yang dimaksud dapat berupa seperti berikut ini
Apabila peta tersebut disajikan, kita dapat memiliki gambaran lebih mudah secara visual, titik mana saja yang mengalami alih fungsi lahan. Penulis pun tidak memberikan data data berkurangnya kawasan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan wisata di wilayah penelitian yang dapat disajikan melalui peta, tabel, maupun deskripsi
Kesimpulan yang diberikan pada jurnal ini sudah cukup jelas mengenai dampak dampak dari alih fungsi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan wisata. Namun, pada bagian kesimpulan ini tidak dijelaskan dan tidak ditekankan upaya yang harus dilakukan pemerintah selanjutnya. Lalu, terdapat pula penulisan penulisan tidak baku yang tidak sesuai denganKamus BesarBahasaIndonesia,seperti kata‘Asas’yang seharusnya ditulis dengan ‘Asas’.
C. Kesimpulan
Jurnal ini secara umum telah memberikan gambaran yang cukup jelas terhadap perubahan kawasan pertanian menjadi kawasan wisata di Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi terjadinya alih fungsi lahan tersebut adalah faktor ekonomi, dimana dengan adanya alih fungsi lahan ke kawasan wisata, dapat memberikan mata pencaharian baru yang lebih banyak, meskipun berdampak negatif, seperti berkurangnya mata pencaharian bagi petani karena kawasan pertanian yang semakin berkurang, sehingga petani harus mencari mata pencaharian baru, bahkan harus bersaing dengan masyarakat pendatang. Penulis sebaiknya memberikan beberapa visualisasi data yang bersifat mendukung, seperti peta, presentase perubahan, dan lain lainnya, sehingga pembaca dapat dengan jelas memahami dan melihat perubahan yang terjadi.
D. Lesson Learned
Alih fungsi lahan merupakan perubahan sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsi yang telah direncanakan menjadi fungsi lain yang membawa dampak terhadap lingkungannya. Alih fungsi lahan akan terus terjadi dan bertambah karena terdapat perubahan perubahan di wilayah tersebut yang dapat mempengaruhinya, seperti peningkatan jumah penduduk dan pertumbuhan ekonomi.
Pengaturan tata guna lahan harus sesuai dengan kemampuan lahannya. Apabila terjadialihfungsilahan,peralihantersebut harussesuai denganpenatagunaantanahdan perencanaan tata ruang yang telah disusun. Dari jurnal ini, didapatkan gambaran mengapa kawasan pertanian dapat dialihkan fungsi menjadi kawasan non pertanian, karena pertanian sebagai sistem ekonomi lebih lemah daripada industri atau kegiatan lainnya, serta lemahnya kedudukan pertanian.
Permasalahan yang terjadi adalah alih fungsi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan wisata ini dikelola oleh pengusaha yang masih belum memiliki izin secara legal. Meskipun tujuan dari peralihan fungsi lahan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, namun, banyak sekali dampak negatif yang dihasilkan dari peralihan tersebut. Contohnya adalah hilangnya mata pencaharian petani karena kawasan pertanian semakin menurun disebabkan oleh peralihan fungsi lahan menjadi kawasan wisata dan tidak terdapat kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi konsumen, sehingga apabila terjadi bencana alam tidak ada perlindungan hukumnya.Dampaknyabagi pemerintah adalahtidakdiperolehkeuntungan pulasecara material karena tidak adanya izin legal, sehingga tidak ada pemasukan pendapatan daerah.
Pemerintah seharusnya lebih tegas dalam mengatasi permasalahan tersebut. Pada kondisi eksistingnya, pemerintah daerah tidak memberikan aturan yang tegas dan sanksi yang tegas bagi para stakeholder yang melakukan peralihan fungsi lahan tanpa
izin secara legal. Padahal, sudah terdapat peraturan/persyaratan yang dapat menjadi pedoman para pemerintah untuk penatagunaan lahan. Kasus seperti ini seharusnya dianggap serius oleh pemerintah daerah agar tidak lagi bertambah kasus alih fungsi lahan kedepannya
DAFTAR PUSTAKA
Fauziah, L. M., Kurniati, N., & Imamulhadi, I. (2018). ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN MENJADI KAWASAN WISATA DALAM PERSPEKTIF PENERAPAN ASAS TATA GUNA TANAH. ACTA DIURNAL Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 2(1), 102 113.