Issuu on Google+

EDISI 02 • MEI 2012

Sepakbola untuk Perubahan Sosial

Haruskah Mengirim

Pengguna Napza ke Lapas & Rutan? Penggunaan

Napza & HIV


DAFTAR ISI

"Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal" FITUR UTAMA

ISU INTERNASIONAL

05

UNODC

Rapat Kerja Nasional PKNI Pada tanggal 14 sampai de­ngan 18 Maret 2012 ber­tempat di Hotel Desa Gu­mati, Jl. Desa Cijulang No.16. Bo­gor, Rapat Kerja Nasional PKNI di­lakukan secara bersama oleh Ba­dan Pelaksana Nasional dan 17 ke­lompok anggota dari 12 propinsi.

ISU DAERAH

11

Keadilan Bersepakbola

Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

ISU DAERAH

08

Maraknya Napza di Lapas dan Rutan Haruskah mengirim pengguna Napza ke Lapas dan Rutan??

Kondisi Harm Reduction

di Provinsi Lampung ”Seringkali penasun merasa waswas jika ingin mengakses layanan pemerintah di Puskesmas.”

Methamphetamine Melonjak di Asia Timur serta Asia Tenggara, Mengancam Keamanan dan Kesehatan GALERI

18

ISU KESEHATAN

20

Penggunaan Napza dan HIV

League of Change (LOC) atau Liga Perubahan adalah kejuaraan sepakbola nasional yang diperuntukan bagi komunitas marjinal di indonesia.

ISU NASIONAL

16

ISU HUKUM

22

Tumpang Tindih 13

Kebijakan Narkotika di Indonesia FAQ & FACT

25

HEALTHY FOOD

28

STBP 2011

31 3


CATATAN REDAKSI

Bagian dari Solusi

http://pkni.org PENANGGUNG JAWAB:

UPAYA penyelenggaran penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia sudah berjalan hampir dua dasawarsa, diawali tahun 1984 sampai sekarang cukup banyak upaya upaya yang dilakukan, baik jenis dan jumlah program, juga dalam hal memperluas cakupan wilayah. Pertumbuhan epidemi HIV di Indonesia sebagian besar disumbang melalui "dua modus", yaitu:

Edo Agustian

1. Penggunaan alat suntik tidak steril pada pengguna napza suntik, dan; 2. Hubungan seksual tidak aman

KORESPONDEN

EDITOR

Edo Wallad Suhendro Sugiharto

Hasiholan Tobing Ferdinand Bukit

Untuk menggubah jalannya epidemik cakupan populasi kunci paling sedikit mencapai 80 % dan setidaknya 60 % dari mereka terjadi perubahan prilaku ke arah yang lebih positif dengan meninggalkan perilaku yang berpotensi terjadi penularan HIV. Cakupan tersebut dapat dicapai dengan persepsi yang baik, sehingga menghasilkan aturan dan kebijakan yang mendukung penanggulangan HIV sehingga pelaksanaannya pun dapat berjalan sesuai harapan. Strategi penyuluhan dimasa lalu yang sering memberikan persepsi yang salah kepada masyarakat sehingga sampai saat ini masih meninggalkan PR besar dalam menghilangkan stigma dan diskriminasi. Perlu diperhatikan juga tahap tahap dalam berkomunikasi seperti, data dan fakta, perencanaan, cara berkomunikasi dan evaluasi perlu dilakukan secara terarah dan terencana dengan baik sehingga dapat menjawab berbagai tantangan dan persoalan yang ada. Terbitnya bulletin ini diharapkan bisa memberikan warna baru dalam berkomunikasi, memberikan wajah baru terhadap penanggulangan HIV secara umum, dan khususnya dikalangan pengguna napza. Dimana ternyata pengguna napza ternyata mampu memberikan kontribusi yang bermakna didalam menekan laju epidemik. Sebagai wakil dari suara komunitasnya dapat mengidentifikasi, memberikan masukan untuk respon efektif dan bagaimana keahlian serta dengan pengalamannya yang unik dapat digunakan saat proses konsultasi ketika merumuskan suatu kebijakan terkait penanggulangan HIV kedepannya. Karena pengguna napza dapat menjadi bagian dari solusi bukan bagian dari masalah.

Marvin Dirk Merly Yuanda Adhit Al Farisi Ari Ardiansyah Ricky Ronaldo Rusly Herru Pribadi Harry Hasman Teddy Dwi Darma Farid Satria Nicky M. Kaliey Rudhy Wedhasmara Indra Riesdianto Frederick H. A. Malada Made Petradi KONTRIBUTOR

Adhit Al Farisi Caroline Thomas Ajeng Larasati Titis Firmansyah ALAMAT REDAKSI: Sekretariat Nasional PKNI  Jl. Tebet Timur Dalam XI no.101 Kel. Tebet Timur Kec. Tebet Jakarta Selatan, Jakarta 12820

Salam,

Edo Agustian Koordinator Nasional PKNI

4

Telp : 021 - 8293213 Fax : 021 - 83795243 E-mail : media@pkni.org


FITUR UTAMA

Persaudaraan Korban Napza Indonesia

P

ada tanggal 14 sampai de­ ngan 18 Maret 2012 ber­ tempat di Hotel Desa Gu­mati, Jl. Desa Cijulang No.16. Bo­ gor, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PKNI di­lakukan secara bersama oleh Badan Pelaksana Nasional, Dewan Pengurus dan Pengawas serta 17 ke­lompok ang­go­ta dari 12 propinsi. Un­tuk me­­nyelaraskan Rencana dan Stra­tegi PKNI dan Strategi dan Ren­cana Aksi Nasional (SRAN) Pe­ nanggulangan HIV dan AIDS serta SRAN Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2010-2014.

Kegiatan yang berlangsung se­lama 5 hari ini secara nyata ber­tujuan untuk: 1. Membuat Rencana Strategis dan Rencana Aksi Nasional PKNI 2012-2015 2. Pengesahan Anggaran Rumah Tangga PKNI 3. Membuat Rencana Kerja Nasional dan daerah

Rapat kerja ini dihadiri oleh: • 5 orang Dewan Pengurus PKNI • 3 orang Dewan Pengawas PKNI • 5 orang Badan Pelaksana Nasional PKNI • Koordinator kelompok anggota PKNI Kegiatan Ra­ke­nas PKNI dibuka oleh Cathe­rine Team Leader dari HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI). Da­lam sambutannya, Catherine me­nyampaikan harapannya un­tuk bekerja bersama dalam be­be­rapa hari ke depan dan di masa yang akan datang. Dia juga me­nambahkan kepedulian PKNI dan kepedulian HCPI terhadap program diversi narkotika adalah sama dalam hal bisa memberikan alternatif di luar/selain pemenjaraan bagi pengguna napza ketika terkait kasus hukum, juga membuka kesempatan terhadap peningkatan kualitas penanggulangan HIV dan AIDS. Catherine menekankan agar

PKNI juga harus krea­tif dalam mengidentifikasi ke­sempatan dan peluang yang ada, tidak hanya berfokus pada advo­kasi tapi juga isu lain yang datang dari ko­mu­­ nitas. Pada kenyataannya se­­­karang HIV sudah dianggap se­ba­gai pe­ nyakit kronis, dan bukan pe­nya­kit "pembunuh”. Ini berarti kita yang bekerja di dunia HIV akan ber­kom­ petisi dengan kemajuan pe­nanganan dan penanggulangan pe­nyakit kronis lainnya seperi diabetes. Sementara dari Komisi Penang­ gulangan AIDS Nasional (KPAN), ibu We­nita Indrasari (selaku Asis­­ten peneliti untuk Pe­nelitian dan Pengembangan KPAN) me­ nga­­­takan isu penggunaan napza da­­lam pe­nanggulangan HIV sangat ter­kait dan memaparkan bahwa fase 2 Global Fund dievaluasi se­­­tiap dua tahun sehingga kita ha­­rus membuat argumen yang kuat bahwa kebutuhan kita di In­ do­nesia masih tinggi. Dan karena

5


FITUR UTAMA

HIV bukan lagi dianggap sebagai penyakit mematikan, maka tahun ini kita bersaing dengan perubahan iklim dan penyakit lain. Jadi kita harus memulai dari aset kita dan sementara berjalan kita harus mengembangkan kapasitas baru dan sumber daya baru. Selanjutanya setelah sambutan, sebelum kegiatan diskusi rapat yang dipandu oleh bapak Simplexius Asa, ada paparan mengenai SRAN HIV yang disampaikan oleh ibu Wenita Indrasari, dan paparan BNN yang disampaikan oleh Dr. Jodi. Acara hari kedua Rapat kerja nasional PKNI tahun 2012 diawali dengan pemaparan hasil penjajakan kebutuhan PKNI oleh Suhendro Sugiharto selaku Manajer Program Badan Pekerja Nasional. Penjajakan

6

kebutuhan anggota PKNI yang bertujuan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan kelompok dan merumuskan kebutuhan para anggota PKNI. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleg bapak Ignatius Praptorahardjo atau yang biasa dipanggil mas Gambit. Mas Gambit mengupas organisasi PKNI dari mulai sejarah, visi-misi, serta nilainilai yang diusung organisasi PKNI. Acara ini juga tetap dikawal oleh beberapa perwakilan dari HCPI seperti Bapak Agus S. Dan Risa A. Sementara itu membantu mas Gambit pak Simplex tetap ikut mengawal diskusi tersebut. Rakernas Hari ke-3 PKNI di­ mulai dengan melakukan analisa SWOT untuk merumuskan apa

yang menjadi rencana kerja PKNI. Pe­kerjaan ini dikerjakan dalam dua me­tode  yaitu pertama dengan me­tode diskusi bersama dengan fasilitator mas Gambit, kemudian selepas istirahat diteruskan dengan diskusi per kelompok. Topik yang dibahas adalah apa yang ingin di­capai PKNI dalam 4 tahun ke de­pan menghadapi 3 masalah uta­ma yaitu; Kebijakan, Akses, dan Organisasional. Rakernas Hari ke-4 PKNI 2012 dilanjutkan dengan perumusan tujuan Rencana dan Strategi  serta tu­runannya dalam rencana ke­giat­an-­ kegiatan. Dari rencana ke­giatankegiatan tersebut. Sedangkan dari rencana kegiatan-kegiatan itu maka tergambarlah beberapa implikasi dan hasil yang diharapkan untuk organisasi PKNI ke depan.


FITUR UTAMA Sedangkan hari ke-5 adalah penutupan yang secara resmi ditutup oleh Gray Sattler, selaku Regional Advisor HIV UNODC.

• HASIL Rencana Strategi dan Rencana Aksi Nasional PKNI 2012-2015 Rencana Strategi terbentuk melalui kegiatan analisis Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Tantangan (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats/SWOT) yang dilakukan dalam kelompok kecil dan pleno. Rencana Strategi dan Rencana Kerja yang terbentuk memiliki 4 (empat) tujuan utama dan 11 (sebelas) kegiatan utama: Tujuan 1: Mendorong implementasi kebijakan napza dan HIV yang mengakomodasi pemenuhan keadilan dan hak korban napza: Bentuk Kegiatan: 1. Pendokumentasian pelanggaran HAM dan pemenuhan akses kesehatan  2. Melakukan kajian dan analisa kebijakan/UU terkait napza (termasuk litigasi dan non litigasi  Tujuan 2: Memperluas cakupan layanan perawatan dan mengurangi hambatan untuk mengakses layanan Bentuk Kegiatan: 1. Penilaian layanan kesehatan (pemetaan, penelitian,

dokumentasi, diskusi rutin, pendataan, dll) 2. Analisa anggaran penanganan Napza dan HIV (Kajian anggaran, analisis, diseminasi, advokasi) Tujuan 3: Memperkuat kemitraan dengan stakeholder dan komponen masyarakat untuk membangun perspektif yang positif terhadap korban napza Bentuk Kegiatan: 1. Melakukan pendidikan kritis tentang hak-hak korban napza kepada masyarakat 2. Mengembangan jejaring kemitraan strategis dengan elemen masyarakat lain  Tujuan 4: Memperkuat kapasitas organisasi PKNI dan anggota Bentuk Kegiatan: 1. Mengembangkan berbagai media KIE untuk anggota PKNI 2. Menyediakan berbagai media KIE untuk anggota 3. Pengelolaan pangkalan data 4. Pemantauan dan Evaluasi 5. Kegiatan penguatan lembaga

Pengesahan Anggaran Rumah Tangga PKNI 1. Surat Ketetapan Rapat Dewan Pengurus PKNI 02/ Dewan Pengurus/PKNI/III2012 mengubah Anggaran Dasar PKNI pasal 20 tentang wewenang Dewan Pengurus ayat 10 yang berbunyi: ”Dewan Pengurus memberhentikan dan mengganti Badan Pekerja

Nasional melalui mekanisme Rapat Dewan Pengurus jika diminta oleh 50%+1 dari jumlah seluruh anggota” menjadi ”Dewan Pengurus akan membekukan Badan Pekerja Nasional melalui Rapat Dewan Pengurus jika diminta 50%+1 dari seluruh jumlah anggota hingga dilakukan KLB.” 2. Surat Ketetapan Rapat Dewan Pengurus PKNI 03/Dewan Pengurus/PKNI/III-2012 mengenai perbaikan Anggaran Rumah Tangga. Adapun pasal yang berubah adalah sebagai berikut: . • Pasal 16: Mengenai keanggotaan • Pasal 25: Mengenai berakhirnya kepengurusan Dewan Pengurus • Pasal 42: Mengenai berakhirnya kepengurusan Dewan Pengawas • Pasal 43: Mengenai alat kelengkapan organisasi • Pasal 44: Mengenai mekanisme alat kelengkapan organisasi Perubahan Anggaran Rumah Tangga ini sudah disetujui oleh Dewan Pengurus dan disampaikan kepada anggota kelompok PKNI sebelum disahkan melalui Surat Ketetapan Rapat Dewan Pengurus.

Rencana Kerja Nasional dan Daerah Anggota kelompok PKNI menyesuaikan Rencana Kerja Daerah dengan Rencana Kerja Nasional melalui kerja sama dengan Divisi dan Komisi yang terkait di Sekretariat Nasional.

7


ISU NASIONAL

Maraknya Peredaran

Napza Di Lapas dan Rutan

Haruskah mengirim pengguna Napza ke Lapas dan Rutan?? Belum lama ini kabar tak sedap datang dari Lembaga Pemasyarakatan Pekanbaru, Riau. Dalam operasi sidak ke lapas ini, Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana dikabarkan menampar salah seorang petugas karena terlambat membuka pintu. Kabar ini dihembuskan pertama kali oleh Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa. Sidak itu dicederai insiden penamparan. Tapi, BNN yang ikut dalam sidak punya versi lain. Brigjen Benny Mamoto, perwakilan BNN, membantah ada pemukulan.

8

�Tidak ada pemukulan. Tidak ada juga yang menendang. Tolong informasi itu diluruskan. Kami ini sedang berantas mafia narkorba, mestinya dibantu,� kata Benny. Benny lalu mengisahkan kronologi operasi di LP Pekanbaru itu. Kedatangan tim ini ke sana, katanya, berdasarkan hasil pengembangan kasus di lapangan. Bermula dari penangkapan dua orang dengan barang bukti sabu yang datang dari Malaysia. Jadi pada dasarnya kejadian itu dipicu dengan adanya dugaan kasus peredaran Narkotika di Rutan dan Lapas. Lembaga Pemasyarakatan (disingkat LP atau LAPAS) pada hakekatnya adalah tempat untuk

melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah Lapas di Indonesia, tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman). Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ada penetapan bersalah atau tidak


ISU NASIONAL oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang menangangi pembinaan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan di sebut dengan Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih di kenal dengan istilah sipir penjara. Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962, dimana disebutkan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orangorang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat. Maraknya peredaran narkotika dan penerapan undang-undang narkotika di Indonesia juga salah satu penyebab terjadinya over kapasitas pada tingkat hunian LAPAS. Menurut data yang diambil dari Sistem Database Pemasyarakatan, yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan kementrian Hukum dan HAM RI, pada bulan April 2012 total tahanan dan Napi di Rutan dan Lapas sekarang jumlahnya adalah 146,863 dengan kapasitas 97,566. Itu tandanya tahanan dan

Napi sudah over kapasitas karena jumlahnya sudah 151%. Sementara untuk tahanan dan Napi kasus khusus narkotika, berdasarkan data bulan Februari 2012 jumlah Napi Narkotika Pengguna (berjumlah 20,530) masih lebih banyak dari Napi Narkotika Bandar (berjumlah 22,225). Baru pada bulan April 2012 jumlah Napi Narkotika Pengguna (berjumlah 9,562) lebih sedikit daripada Napi Narkotika Bandar (berjumlah 12,804). Dari jumlah diatas bisa dilihat kalau kasus pidana narkotika masih jadi penyumbang yang tinggi di angka tahanan dan Napi di Indonesia. Akan tetapi masih jadi pertanyaan bagaimanakah mekanisme dalam menentukan Napi atau warga binaan tersebut adalah Bandar atau pengguna? Apakah berdasarkan pasal di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang didapatkan dari penyidik,

saat proses registrasi di Lapas dan Rutan, berdasarkan lamanya vonis atau hanya agar kelihatan kalau pemerintah mendukung semangat dari UU 35/2009? Sedangkan menurut data Sur足veilans Terpadu Biologis dan Pe足rilaku yang merupakan kerjasama Kementerian Kesehatan

9


ISU NASIONAL RI, Kementerian Hukum dan HAM, KPA Nasional, GFATM, USAID, World Bank, dan CHAI, yang dirilis pada lembar fakta tentang Narapidana tahun 2011, Narapidana yang pernah menggunakan Narkoba suntik sebesar 6,4%, tertinggi di kota Jakarta (13,28%) dan Denpasar (8,1%), sedangkan yang terendah di Kota Semarang (2,8%). Satu dari lima (17,2%) Narapidana yang menggunakan Narkoba suntik pertama kali menggunakannya di dalam penjara dan sepertiga dari mereka menyatakan masih terus menyuntik di dalam penjara. Masih dari data STBP 2011, dalam 3 bulan terakhir mayoritas narapidana masih menggunakan Narkoba suntik (92,5%), yang menyuntik dengan menggunakan jarum bekas digunakan orang lain sebelumnya (66,7 %). Ini menunjukan kerentanan akan terjadinya penularan penyakit akibat penggunaan alat suntik bergantian yang tidak steril di dalam lapas. Belum lama ini, International Harm Reduction Association merilis sebuah dokumen tentang advokasi Jarum Suntik di Lapas. Menurut dokumen yang berdasar atas bukti di lapangan tersebut, program jarum suntik steril di Lapas adalah penting, dikarenakan penggunaan napza suntik yang tidak aman di lapas menjadi faktor penting dan potensial dalam penyebaran HIV dan HCV. Angka dari World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa diperkirakan 20–40% dari napi dan tahanan adalah pengguna

10

Napza, bahkan angka di beberapa tempat menunjukan jumlah yang lebih besar. Prevalensi HIV dan HCV di dalam Lapas secara signifikan lebih tinggi dibanding masyarakat di luar Lapas. Beberapa studi dari berbagai penjuru dunia telah melaporkan penyebaran infeksi HIV di Lapas, dan beberapa studi yang lain menyatakan hal tersebut berkaitan dengan perilaku penggunaan napza suntik. Sebagai tambahan, selain HIV, orang yang sedang dalam tahanan juga cenderung terinfeksi penyakit seperti TB dan infeksi bakteri lainnya. Dan ada data yang menunjukan perempuan di dalam Lapas punya kerentanan yang lebih tinggi terhadap enfeksi-infeksi ini. Dengan adanya kenyataan ini, penting untuk menjalankan program pengurangan dampak buruk untuk orang dalam tahanan. Ada berbagai pendapat dalam menghadapi masalah Napza di Lapas. Sejumlah ahli sudah memberi saran untuk membasmi narkotika di lingkungan penjara. Namun pada kenyataannya, banyak masalah yang ditemui para pegawai Lembaga Pemasyarakatan (LP) untuk mendeteksinya. Apa saja? Psikolog forensik Universitas Bina Nusantara, Reza Indragiri Amriel, sempat menyarankan agar Lapas dan Rutan dibekali dengan x-ray, anjing pelacak, pengacak sinyal ponsel dan program detoksifikasi bagi para pemakai. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan bisa mencegah masuknya narkotika ke dalam sel.

Dari usulan di atas, ada beberapa hal yang sudah dijalankan. Namun pada kenyataannya, ada saja kendala yang dihadapi para jajaran Ditjen Lapas. Sebagai contoh, menyoal anjing pelacak. Di Rutan Batam sempat ada anjing pelacak yang disumbang oleh jajaran Polda Kepri. Namun menurut Karutan Batam, Anak Agung Gde Krisna, baru beberapa bulan ‘dipakai’, anjing itu sudah hilang indera penciumannya untuk urusan narkotika. Alasannya, biaya perawatan yang mahal. Sementara untuk x-ray, beliau mengakui belum cukup anggaran untuk menghadirkan barang tersebut. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menggeledah sedetil mungkin dan melakukan sidak rutin serta insidentil. Sedangkan menyikapi Lapas khusus Narkotika, ada sebuah pen­dapat menarik dari seorang pakar. ”Tidak ada manfaat lapas khusus narkotika,” kata Prof. Wayne Wiebel, pakar narkotika dari AS. Dia menunjuk negaranya yang sudah menghabiskan ratusan juta dolar membangun penjara khusus untuk korban narkotika tetapi tetap tidak membuahkan hasil karena, ”Siapa yang bisa menjamin mereka tidak memakainya di penjara.” Lagi pula, menurut Dave Burrows, konsultan narkotika asal Austalia, korban narkoba memerlukan rehabilitasi dan itu tidak akan diperoleh di penjara. Jadi, dengan data dan fakta di atas masihkah kita berfikir bahwa pengguna narkotika harus dikirim ke rutan dan lapas? Dikutip dari berbagai sumber


ISU NASIONAL

Keadilan Sosial

Bersepakbola Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

L

eague of Change (LOC) atau Liga Perubahan adalah kejuaraan sepakbola nasio­nal yang diperuntukan untuk komunitas marjinal di indonesia. Di antaranya adalah Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA), Pengguna Napza, dan orang yang tidak mampu. Turnamen ini adalah inisiasi dari Rumah Cemara (RC),sebuah komunitas yang berbasis organisasi untuk ODHA dan pengguna napza di Bandung, sebagai kelanjutan dari partisipasi mereka di Homeless

World Cup 2011 Paris, Perancis. LOC bisa disebut sebagai sa­ra­na komunitas marjinal untuk men­ dapatkan kesempatan, pengalaman, kebanggaan dan kemenangan ketika mewakili daerah mereka masing-masing, dalam hal ini provinsi. Event ini juga memberikan kesempatan untuk bersatu, bukan hanya peserta, tapi juga masyarakat pada umumnya.

Rumah Cemara RC yang berdiri sejak Januari 2003 oleh lima pecandu yang

sedang dalam pemulihan dan percaya bahwa perubahan akan terjadi jika dimulai dari dalam komunitas itu sendiri. RC bervisi pada Indonesia tanpa stigma dan diskriminasi pada ODHA dan pengguna napza, dan semua anggota staf saling membantu sesama. Kegiatan utama RC adalah me­ la­kukan pelayanan dengan pen­ de­katan peer to peer untuk ODHA dan pengguna Napza dan keberdayaan individu yang berkua­litas adalah sasaran utamanya.

11


ISU DAERAH

Sepakbola untuk Perubahan Sosial RC memulai program sepakbola di tahun 2007 sebagai kegiatan rekreasional yang kemudian menjadi terstruktur secara resmi di tahun 2009. Sebagai tambahan program sepakbola Rumah Cemara telah mendapatkan perhatian internasional dengan memenangkan kompetisi inovasi sosial yang diadakan Ashoka-Nike-Changemakers, Changing Lives through Football. Di tahun yang sama RC juga ditunjuk sebagai pengurus nasional untuk tim Indonesia mewakili Homeless World Cup (HWC). Walau gagal mengririmkan tim ke HWC 2010 di Brazil, sepakbola tidak pernah berhenti di Rumah Cemara. Sebagai hasil dari semangat dan kerja kerasnya, Indonesia melakukan debut di HWC 2011 Paris, Perancis. Di mana untuk pertama kalinya ODHA, pengguna napza dan orang yang tidak mampu mewakili sebuah negara dalam event internasional.

Kompetisi League of Change LOC adalah sebuah pertan­ di­ng­an 4 melawan 4 dengan tempo cepat yang didesain untuk kekuatan fisik, kerjasama tim dan semangat. Dibangun dalam lapangan 25x25 meter yang dikelilingi partisi papan, setiap tim memiliki satu orang penjaga gawang dan tiga pemain luar. Street soccer memerlukan konsentrasi penuh karena

12

hanya dua orang yang diperbolehkan memasuki daerah pertahanan. Ini adalah sebuah kompetisi unik dimana setiap tim berhadapan dengan tim lain dengan jumlah yang sama dari awal sampai akhir. Ini adalah sebuah kompetisi kolektif dengan waktu bermain yang sama bagi setiap tim. Turnamen ini dibagi menjadi dua piala utama, yaitu League of Change Cup dan City Cup dimana setiap tim, seberapa kuat mereka akan mendapatkan kesempatan yang sama, hal ini ditujukan agar tidak ada tim yang merasa tersingkir dalam kompetisi. Penghargaan tambahan juga diberikan untuk tim yang menunjukan motivasi, kerjasama tim, dan determinasi, tidak hanya di lapangan tapi juga dalam proses persiapan, juga untuk pemain terbaik yang menunjukan jiwa kepimpinan di dalam dan luar lapangan, dan terakhir juga pada penjaga gawang terbaik.

Diseminasi Nilai LOC adalah kompetisi yang ketat tapi sifat dari kompetisi ini terbentuk di jalan yang konstruktif. Nilai yang terpenting dari kompetisi ini adalah diseminasi nilai melalui tiap manajerial tim. Untuk mendapatkan ini masing-masing tim disyaratkan untuk memiliki seorang manajer yang bertanggung jawab atas prilaku tim selama turnamen. Nilai lain dari kompetisi ini adalah kesempatan berolahraga dalam kondisi kesehatan dan

ekonomi yang bagaimanapun, bukanlah berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.

Peserta Rumah Cemara sebagai komite dari LOC mengundang delapan organisasi untuk membentuk tim yang mewakili provinsinya. Pemilihan organisasi ini berdasarkan jaringan organisasi HIV/AIDS yang sudah ada. Tiap tim mewakili orang-orang dari komunitas marjinal seper­ti­ ODHA, pengguna napza, dan orang yang tidak mampu. Untuk memastikan hal tersebut peserta diharuskan menyertakan hasil Voluntary Counseling and Testing (VCT) sebagai bukti ODHA, Addiction Severi­ty Index (ASI) sebagai bukti pengguna napza, dan Surat Kete­ rangan Tidak Mampu (SKTM) seba­ gai bukti orang yang tidak mampu. Lebih jauh lagi LOC tidak menghadiahkan peserta dengan hadiah uang, tapi dengan kebanggaan dan martabat sebagai manusia.

Target Masa Depan LOC tahun 2012 adalah sebuah strategi dari Rumah Cemara untuk menyebarkan pesan perubahan sosial melalui sepakbola, selain itu juga membuka kesempatan peserta menjadi anggota tim Indonesia di Homeless World Cup Mexico mendatang . Lima belas orang terpilih untuk menjalani seleksi lanjutan untuk menjadi tim kedua Indonesia di HWC 2012 Mexico.


ISU DAERAH

Kondisi

Harm Reduction di Provinsi Lampung B

erdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan petugas penjangkau KPA Kota Bandar Lampung yang juga melibatkan rekan-rekan anggota PKNL pada bulan Agustus 2010, didapat hasil 195 penasun aktif dan beberapa kelompok populasi kunci lainnya dari 13 Kecamatan yang ada di Kota Bandar Lampung yang nantinya akan mengakses layanan Harm Reduction dengan dukungan dari GF ATM melalui PR KPA Nasional T. Karang Pusat

70

T. Karang Timur

60

60

T. Karang Barat

50

T. Kemiling

45

Rajabasa Sukarame

40 30

Sukabumi Kedaton

25

Panjang

20 10 0

7

10

9 4

11 2 2

1. Methadone menggantikan fungsi heroin dalam otak sehingga pasien dapat merasa nyaman tanpa sakaw (withdrawal) dan sugesti (cravings). 2. Efeknya dapat bertahan hingga 24-36 jam, hanya butuh minum Methadone 1x sehari. 3. Kondisi kesehatan pasien makin terkontrol dan stabil.

T. Betung Barat

10 5

Seperti yang sudah kita ketahui;

5

T. Betung Selatan T. Betung Utara Tanjung Senang

Jumlah ini diperkirakan akan bertambah jika tidak ada jaminan dan kepastian hukum dari pihak kepolisian bahwa para penasun yang akan mengakses Layanan Alat Suntik Steril (LASS) tidak akan ditangkap. Oleh karena itu program pengurangan dampak buruk dari penggunaan narkoba suntik (Harm Reduction) mutlak diperlukan. Salah satu kegiatan pendekatan Harm Reduction yang lain adalah terapi substitusi dengan methadone dalam sediaan cair, dengan cara diminum. Hal tersebut kita kenal dengan Program Terapi Rumatan Methadone (PTRM) yang dulunya dikenal dengan Program Rumatan Methadone (PRM).

Hal tersebut diatas kami (PKNL) kemukakan pada saat pertemuan stakeholder yang diadakan oleh KPA Provinsi Lampung di Hotel Indra Puri pada tanggal 21 September 2010, yang dihadiri banyak pihak baik stake holder dan dinas-dinas terkait, TOGA dan TOMA, LSM, Mahasiswa, termasuk pihak Kepolisian (POLDA LAMPUNG). Kami menyampaikan beberapa hal tentang Harm Reduction ter-

13


ISU DAERAH

masuk didalamnya Program LASS (Layanan Alat Suntik Steril) sebagai bagian dari 9 Paket Komprehensif HR yang baru; seringkali para penasun merasa was was jika ingin mengakses layanan pemerintah di Puskesmas. ”Perasaan was-was ini muncul karena para penasun takut ditangkap, diikuti dan diintimidasi oknum polisi pada saat mereka mencoba mengakses layanan alat suntik steril atau pun layanan methadone di puskesmas/RS yang telah ditunjuk”. Permasalahan inilah yang memicu kurang diminatinya puskesmas untuk didatangi penasun yang ingin mengakses layanan alat suntik steril, sehingga data pengakses layanan paket LASS yang ada di puskesmas sedikit dibandingkan dengan data dari petugas penjangkau dari KPA Kota Bandar Lampung dan dari beberapa outlet-outlet yang tersebar di beberapa titik di wilayah kota Bandar Lampung. Pada pertemuan tersebut juga sempat terjadi perdebatan me­ ngenai Program LASS dan PTRM dengan pihak Kepolisian, Toga dan Toma, namun kami (PKNL) menjelaskan dan mengutarakan manfaat, tujuan dan dasar hukum yang kuat terkait Program HR yaitu; KEPMENKES No. 567/2006, Permenkokesra No. 2 Th. 2007 Pasal 6, dan UU Kesehatan No. 36 Th. 2009 Bab III Hak dan Kewajiban Pasal 4 yang berbunyi :

14

”Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal”. Akhirnya pihak-pihak yang hadir pada pertemuan tersebut juga pihak kepolisian mendukung penuh program tersebut dan berjanji akan mempelajari program terkait dengan syarat tidak ada pelanggaran prosedur yang bersifat bertentangan dan melanggar hukum dan UU yang berlaku, seperti jika pada saat mengakses LASS atau-

rangka memutus mata rantai penularan HIV di kalangan pengguna napza suntik dan pasangannya serta meminimalisir angka over dosis, kesakitan dan kematian di kalangan penasun, baik dalam kegiatan pertemuan-pertemuan stake holder, sosialisasi dan capacity building di kalangan penasun dan masyarakat umum maupun kegiatan audiensi yang kami lakukan terhadap pihakpihak terkait, seperti Kepolisian dan Dinas-dinas terkait lainnya.

"Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal." pun Methadone (nantinya) tidak membawa jenis narkotika yang dilarang. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, baik KPA Provinsi Lampung dan KPA Kota Bandar Lampung kami pun sepakat mengambil sikap untuk terus mendukung dan mendorong pihak-pihak terkait yang terlibat dalam program penanggulangan AIDS dan program Harm Reduction (LASS dan PTRM) untuk merumuskan suatu bentuk kesepakatan bersama antara semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program Harm Reduction dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Lampung. Usaha-usaha terus kami lakukan dalam mensosialisasikan pentingnya pelaksanaan program HR dalam

Hingga akhirnya tepat pada tanggal 12 April 2010 bertempat di Aula TCC Polresta Bandar Lampung, berlangsunglah penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara: KPA Kota Bandar Lampung, Kapolresta Bandar Lampung, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, dan Plt. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung, untuk mendukung program terkait layanan Harm Reduction. Tidak sampai disitu, pada tanggal 23 Mei 2011 bertempat di Puskesmas Kedaton, kembali berlangsung Kesepakatan Lokal untuk mendukung Program HR (PTRM) antara: KPA Kota Bandar Lampung, Kepolisian Sektor Kedaton, Dinas


ISU DAERAH

Kesehatan Kota Bandar Lampung dan Puskesmas Kedaton. Sebagai tindak lanjut dari hasil kesepakatan yang dilakukan pada tanggal 12 April 2010. Kemudian pada tanggal 20 De­ sem­ber 2011 bertempat di Hotel No­votel berlangsung Penandatanganan Memorandum of Understading (MoU) antara Pemerintah Provinsi Lam­pung, Pemerintah Daerah Lam­ pung dan Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung, untuk mendukung pelaksanaan program Methadone yang dihadiri oleh pimpinan Dinas dan Instansi-instansi terkait tingkat provinsi, kota/kab, LSM dan beberapa perwakilan Populasi Kunci. Setelah adanya kesepakatankesepatan yang disetujui oleh berbagai pihak, pelaksanaan program Methadone belum juga terlaksana hingga awal tahun 2012. Kembali kami mencoba menemui pihak Dinas Kesehatan Provinsi, saat itu kami menemui Ibu Anita (Kabid P2PL) untuk menanyakan perihal kelanjutan program methadone dan mendesak agar klinik Methadone segera di set up dan dibuka, mengingat tidak ada lagi alasan untuk menunda dibukanya kinik methadone, karena tempat/klinik yang ditunjuk oleh pemerintah sudah mempunyai tenaga medis yang terlatih dan didukung oleh sarana prasarana yang cukup memadai, (tempat klinik PTRM yang ditunjuk adalah di Puskesmas Kedaton

dan Rumah Sakit Jiwa Lampung) Namun dengan alasan-alasan yang menurut kami tidak masuk diakal, pihak Dinkes Provinsi Lampung mengatakan, membuka klinik methadone masih perlu melakukan beberapa kajian-kajian, evaluasi dan juga persetujuan dari Gubernur Lampung yang juga selaku Ketua KPA Provinsi Lampung. Menurut asumsi beberapa rekanrekan di PKNL, pemerintah Provinsi Lampung (Dinkes Prov. Lampung) masih terkesan ragu dan kuatir jika nantinya klinik methadone dibuka tidak banyak yang mengaksesnya, karena terkait dengan target triwulan yang harus mereka capai. PKNL terus mendesak dan mendorong pihak Dinas Kesehatan Provinsi Lampung untuk segera mem­buka klinik Methadone, akhir­ nya tuntutan kami membuahkan hasil. Pada hari Senin tanggal 2 April 2012 Klinik Methadone RS Jiwa Lam­pung di Set Up dan mulai ber­ope­rasi, pada hari tersebut hadir dr.Heri Djoko Soebandrio (Dir. RS Jiwa Lampung), dr.Malinda (RS Fatmawati), Rika (Dinkes Provinsi Lampung), Adhit (Koordinator PKNL) dan Edwin Utomo (Koord. Div. Advokasi PKNL) dan beberapa staf RS Jiwa Lampung yang bertugas di Klinik PTRM, menyaksikan peresmian dan simulasi proses pelaksanaan pendaftaran calon pengakses layanan PTRM. Kami juga sempat melaku-

kan diskusi di sela-sela kegiatan simulasi dengan Direktur RS. Jiwa Lampung dan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengenai tarif administrasi dan biaya yang di berlakukan. Adapun biaya administrasi pendaftaran untuk pasien baru adalah ; Cek SGOT/SGPT, Narkotes, DL (Darah Lengkap), Psikotes (assesment), VCT (jika pasien setuju). Dengan total biaya Rp. 300.000,-/ pasien. Sedangkan untuk tarif harian sekali minum : Rp. 18.000 (terbagi atas Rp. 15.000,- tarif Pemda dan Rp. 3000,- untuk biaya gelas plastik dan syrup). Hal ini menurut survei yang sebelumnya kami lakukan ke beberapa teman-teman calon peng­ akses, mereka keberatan dengan biaya tersebut. Keesokan harinya kami mendapat kabar bahwa pihak Dinkes Prov Lampung sudah melakukan advokasi ke RS Jiwa Lampung terkait biaya administrasi, akhirnya biaya administrasi sekarang menjadi Rp. 84.000,- , namun untuk tarif harian sekali minum tetap sama Rp. 18.000,-. Demikian sekilas perjalanan dan perjuangan yang dilakukan PKNL untuk hak atas kesehatan bagi korban napza khususnya untuk program Harm Reduction di Provinsi Lampung.

Penulis: Adhit Al Faridzi Koord. Persaudaraan Korba Napza

15


ISU INTERNASIONAL

A

sia Timur dan Asia Tenggara adalah pusat dari produsen ilegal stimulan tipe amfetamin/Amphetamine-type stimulant (ATS). Ada ekspansi signifikan dalam pembuatan, penyelundupan, dan penggunaan metamfetamin dalam lima tahun terakhir. Ini ditambah lagi dengan campur tangan organisasi kriminal internasional dalam perdagangan ATS yang pada akhirnya mengancam keamanan dan kesehatan masyarakat di area Asia Timur dan Asia Tenggara,

seperti yang dipaparkan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). ”Masyarakat internasional telah mengalihkan pandangan mata mereka pada bola yang menggelinding dalam produksi dan penyelundupan ATS ilegal di Asia timur”. Demikian yang disampaikan oleh Gary Lewis, perwakilan regional UNODC di Asia Timur dan Pasifik. ”Angkanya menuju arah yang salah, dan kita harus pro-aktif dan maju ke depan untuk membantu negara di

area tersebut untuk menghadapi ancaman ini dan mencegah Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi pusat obat ilegal lagi.” Dalam laporan Patterns and Trends of Amphetamine-Type Stimulants and Other Drugs, Asia and the Pacific, tahun 2011, dipaparkan pola dan tren terkini dari ATS, sebuah pasar yang terdiri dari kelompok substansi amphetamine, methamphetamine, methcathinone, dan ecstasy. Laporan ini juga menyediakan pandangan secara umum dari

Methamphetamine Melonjak di Asia Timur dan Asia Tenggara, Mengancam Keamanan dan Kesehatan negara-negara tetangga di Asia Selatan dan Pasifik. Sebagai tambahan pada ancaman en­de­mik dari organisasi kelompok kriminal regional, laporan ini memperhatikan juga pada me­ luasnya jangkauan dan kehadiran organisasi kelompok kriminal transnasional di Asia yang

16


datang dari luar. Penyulundupan methampetamine oleh kelompok Afrika telah secara resmi dilaporkan oleh China, Kamboja, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Thailand dan Viet Nam. Serta percobaan kelompok Iran untuk membangun pabrik pembuatan ATS di Jepang, Malaysia dan Thailand juga telah dilaporkan. Dalam hal penggunaan obat ilegal, ATS berada di peringkat 3 teratas di lima belas negara yang disurvey. Di sepuluh ne­ ga­ra tersebut, penggunaan ATS meningkat selama tahun 2010, hanya Australia, Jepang, Selandia Baru, Filipina, dan Kor­sel dilaporkan stabil atau me­nu­run. Sebagai tambahan lagi, penggunaan methampetamine kris­tal (shabu) telah meluas ke ne­gara yang tadinya tidak terpapar seperti Kamboja, China, Laos, dan Myanmar. Pembuatan dan penggunaan ekstasi di Asia Timur dan Asia Tenggara dilaporkan menurun, hal ini konsisten dengan tren global. Karena kebanyakan dari penangkapan di daerah tersebut juga dibuat di daerah yang sama. Pelonjakan yang mengejutkan dalam penangkapan merefleksikan produksi yang berkembang. Sebagai contoh; penangkapan methamphetamine di tahun 2010 mencapai 136 juta pil, atau lebih dari 4 kali lipat dari 32 juta di tahun 2008. Dalam hal lokasi, pada tahun 2010 kebanyakan pil ditangkap di China (58.4 juta), Thailand (50.4 juta) dan Laos (24.5 juta).

"Masyarakat internasional telah mengalihkan pandangan mata mereka pada bola yang menggelinding dalam produksi dan penyelundupan ATS ilegal di Asia timur."

dan penggunaan ATS. Dengan Shabu sebagai penggunaan napza utama, telah menggantikan Ganja. Penyelundup internasional terus berusaha masuk ke Indonesia. Laporan ini juga mencatat bahwa Asia Selatan dan negara kepulauan pasifik rentan terhadap ekspansi industri ATS dan perubahan dari ephedrine atau pseudoephedrine yang digunakan farmasi, menjadi fasilitas pembuatan napza ilegal.

Lebih jauh lagi, 442 labora­ to­rium yang terkait dengan ATS digrebek di tahun 2010 di wilayah Asia Timur dan Teng­ gara, hampir lima kali lipat pe­ ningkatannya sejak tahun 2006, menurut laporan tersebut. Angka di Laos melonjak sepuluh kali dalam jangka waktu setahun dan menjadi target para penyulundup. Industri, penyelundupan, dan penggunaan napza ilegal regional menjadi ancaman untuk Laos. Laos menjadi negara lokasi pengganti dari Myanmar di area utara yang sulit terjangkau. Pil metamphitamine adalah yang utama dalam penggunaan di Laos, dan pasar dari ATS terus meluas. Secara keseluruhan China, Myanmar dan Filipina masih men­­jadi pembuat ATS ilegal ter­besar. Dan ekspansi industri ATS dilaporkan terjadi di Kamboja, In­donesia, dan Malaysia yang tadinya hanya menjadi negara transit. Indonesia secara signifikan punya masalah dengan industri

Meroketnya angka penahanan, sebagai tanda meningkatnya kebutuhan untuk perawatan Ekspansi dari penggunaan me­thamphetamine telah menjadi fak­­tor utama dalam penangkapan yang berkaitan dengan ATS. Ini juga menunjukan meningkatnya ke­butuhan akan sarana rehabilitasi yang efektif. Pada tahun 2010, ham­­pir 218,000 penahanan di daerah ini melibatkan me­ tham­­phetamine, peningkatan 19% dari tahun sebelumnya. Methamphetamine adalah 87% kasus penahanan napza di Brunei Darussalam, 83% di Jepang, 80% di Thailand, 77% di Filipina dan 70% di Korea Selatan. ”Ketergantungan terhadap napza adalah kondisi kesehatan yang kro­ nis berulang, dan harus dirawat di sektor kesehatan yang berbasis bukti sains dan setiap individu ma­singmasing membutuhkan itu,” lanjut Mr. Lewis. ”Kita butuh pen­dekatan manajemen kasus dan prilaku kognitif yang lebih memotivasi.”

17


GALERI

Gray Sattler dari UNODC menutup Rakernas PKNI 2012

Edo Agustian Koordinator Nasional PKNI berbicara di Rakernas PKNI 2012

Ignatius Praptorahardjo menjadi fasilitator di Rakernas PKNI 2012

Need Assessment PKN Makassar

Need Assessment Kopenham

Need Assessment Kipas Bengkulu

Penutupan Rakernas PKNI 2012

18

Suasana pembukaan Rakernas PKNI 2012

Dr. Jodi dari BNN memaparkan SRAN BNN


Diskusi Kelompok di Rakernas PKNI 2012

Diskusi Kelompok untuk Rencana Strategis di Rakernas PKNI 2012

Agus S. dari HCPI dan Simplexius Asa fasilitator Rakernas PKNI 2012

Need Assessment AKSI NTB

Need Assessment PKN Sulut

Ibu Catherine Barker dan Ibu Palupi dari HCPI di Rakenas PKNI

Ibu Wenita Indrasari dari KPAN di Rakernas PKNI

19


ISU KESEHATAN

Penggunaan

Napza dan HIV S

ebagian besar informasi HIV yang tersedia bagi para pengguna napza adalah mengenai penularan dan cara pencegahan penularan. Informasi ini tentunya penting untuk mencegah infeksi yang lebih lanjut. Namun, bagi para pengguna napza yang sudah terinfeksi HIV, informasi yang lebih lanjut dibutuhkan. Apa dampak penggunaan napza bagi seseorang dengan HIV? Berikut ini adalah beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengenai penggunaan napza

dan dampaknya pada HIV yang mungkin membuat beberapa orang tersenyum:

Tidak ada anjuran bahwa napza tidak boleh digunakan bersama dengan obat anti retroviral Menurut http://www.hiv-drug足 interactions.org sebagian besar obat anti retroviral memiliki interaksi potensial dengan penggunaan nap足za, mungkin membutuhkan pemantauan ketat dan mungkin memerlukan perubahan pada dosis atau

waktu menggunakan pengobatan, Beberapa obat lain tidak memiliki interaksi yang bermakna secara klinis. Namun tidak ada anjuran bahwa napza tidak boleh digunakan bersama dengan obat anti retroviral.

Penggunaan napza hanya berdampak kecil pada sel kekebalan Pada tahun 2007, Chun Chao, PhD dari departemen epidemiologi Jonsson Comprehensive Cancer Center di Universitas California di Los Angeles, AS dan rekan melaku-

Penelitian menemukan bahwa tidak ada anjuran bahwa napza tidak boleh digunakan bersama dengan terapi HIV kan tinjauan survei dan data rekam medis dan tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara penggunaan ganja, kokain, popper atau shabu pada jumlah CD4 dan CD8.

Ketahanan hidup membaik di antara Odha pengguna napza suntikan; terapi antiretroviral bukan satusatunya faktor Pada tahun 2007, para peneliti Spanyol membandingkan tingkat

20


ISU KESEHATAN

ketahanan hidup antara pengguna napza dengan dan tanpa HIV sejak 1987 hingga 2004.

Secara keseluruhan 1.209 pengguna napza diamati. Para penulis menunjukkan bahwa hanya sepertiga di antara pengguna napza dengan HIV yang menggunakan ART. Faktor lain yang berperan dalam peningkatan ketahanan hidup Odha pengguna napza adalah akses pada program metadon, profilaksis untuk infeksi oportunistik, intervensi pengurangan dampak buruk (harm reduction) termasuk juga kunjungan perawatan ke klinik secara rutin. Peneliti menekankan bahwa tingkat kematian di antara pengguna napza tetap lebih tinggi secara bermakna dibandingkan tingkat kematian pada masyarakat umum.

Dan berikut ini adalah beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengenai penggunaan napza dan dampaknya pada HIV yang mungkin membuat beberapa orang mengerutkan dahi: Shabu mempercepat replikasi HIV Dalam penelitian pada tabung percobaan, tim Joseph (2009) menemukan bahwa menambahkan shabu ke dalam sel kekebalan dapat mempercepat replikasi HIV secara bermakna. Secara khusus, shabu mengaktifkan sebagian kode genetik HIV yang disebut long

terminal repeat (LPR), yang memastikan sel mengeluarkan protein yang dapat merangsang alfa faktor tumor nekrosis, protein yang dikaitkan dengan pengembangan penyakit HIV yang lebih cepat.

Penggunaan napza oleh Odha meningkatkan risiko terhadap kelainan jantung tanpa gejala Pada tahun 2008, para peneliti melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) jantung pada 643 pasien dengan HIV di 7 kota di AS untuk menentukan faktor yang terkait dengan kelainan jantung tanpa gejala. Beberapa faktor risiko terhadap kondisi ini tidak dapat diubah, misalnya jenis kelamin laki-laki dan berusia di atas 46 tahun. Merokok dan penggunaan napza juga merupakan faktor penting. Merokok (pada saat ini) adalah faktor risiko yang bermakna terhadap kegagalan fungsi sistolik, memakai kokain pada bulan sebelumnya adalah faktor risiko terhadap kegagalan fungsi diastolik, dan memakai mariyuana pada enam bulan sebelumnya terhadap hipertrofi ventrikular kiri dan terhadap pembesaran atria bagian kiri. ”Kelainan fungsi jantung tanpa gejala adalah umum pada kohort pasien ini,” para peneliti menyimpulkan. Mereka mencatat bahwa kelainan tidak hanya dikaitkan dengan faktor risiko jantung yang tradisional tetapi juga terhadap ”faktor yang dapat diubah, misalnya penggunaan napza.”

Walau patuh, pengguna napza suntikan memiliki risiko resistansi HIV yang lebih tinggi Vikram Gill dan rekan meng­ analisis 2.350 orang yang baru pertama kali memulai rejimen kom­binasi tiga jenis ARV antara 1 Agustus 1996 dan 30 November 2005. Analisis ini melihat beberapa variabel sebelum dan pada waktu menggunakan pengobatan, peng­ guna napza suntikan (pe­na­sun) memiliki 70% risiko resistansi terhadap HIV yang lebih tinggi dibandingkan dengan bukan penasun. Risiko ini tetap terjadi meskipun hampir 60% memiliki tingkat kepatuhan setidaknya 95%. Hasil penelitian tentunya tidak selalu sama. Penelitian menemukan bahwa tidak ada anjuran bahwa napza tidak boleh digunakan bersama dengan terapi HIV; penggunaan napza tidak berdampak pada status kekebalan pada seseorang dengan HIV; dan tingkat ketahanan hidup pada Odha penasun semakin membaik dari tahun ke tahun. Namun, penelitian lain me­nemukan bahwa penggunaan shabu, kokain, dan mariyuana da­pat menyebabkan beberapa ma­salah seperti mempercepat per­kembangan penyakit HIV dan masalah jantung tanpa gejala dan peningkatan risiko resistansi terhadap HIV. Sebaiknya buat keputusan pribadi berdasarkan informasi yang lengkap. Knowledge is power…

21


ISU HUKUM

Tumpang Tindih

Kebijakan Narkotika

di Indonesia Oleh: Ajeng Larasati (1)

22


ISU HUKUM

D

i Indonesia, komunitas pengguna narkotika jarum suntik (penasun) berkontribusi besar dalam pe­ nyebaran HIV. Tingginya angka ini mendasari pemerintah untuk membentuk kebijakan yang ber­ fokus pada penanganan HIV melalui Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rak­yat No. 2 Tahun 2007 ten­tang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS Me­lalui Pengurangan Dampak Bu­­ruk Penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.(2) Peraturan ini mengatur serangkaian aktivitas pengurangan dam­pak buruk, diantaranya Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM), Layanan Jarum Suntik Steril (LJSS), serta serangkaian layanan pencegahan, pengobatan, dan perawatan ketergantungan narkotika.

Rehabilitasi Ketergantungan Narkotika Sebagai Bagian dari Program Pengurangan Dampak Buruk Keberadaan Permenkokesra No.2/2007 merupakan sebuah langkah maju pemerintah Indonesia dalam penanganan HIV dan AIDS. Tercatat ada semakin banyak pusat layanan untuk mengakses LJSS dan PTRM sejak tahun 2006 sampai 2011.(3) Angka penyebaran HIV yang berasal dari komunitas penasun pun berkurang.(4) Itikad baik pemerintah dalam menyediakan pengobatan dan perawatan bagi pecandu narkotika secara umum juga dapat dilihat dalam Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,

yang mewajibkan pecandu narkotika (5) menjalani rehabilitasi untuk memulihkan ketergantungannya. Walaupun pasal tersebut bukan hanya ditujukan bagi penasun yang ketergantungan, tetapi juga pecandu secara keseluruhan, namun rehabilitasi ini juga bagian dari aktivitas yang bertujuan pada pengurangan dampak buruk, sebagaimana tertera dalam Permenkoskesra No. 2/2007. Petunjuk pelaksanaan Permenkokesra No.2/2007 mengatur bahwa setiap orang yang dirujuk oleh aparat penegak hukum untuk mendapatkan pengobatan perawatan kesehatan juga termasuk dalam kategori pasien yang berhak mendapatkan serangkaian pengobatan, yang berarti pasien tersebut adalah orang yang sedang menjalani proses hukum. Mahkamah Agung juga mendukung pelaksanaan rehabilitasi bagi pecandu yang berhadapan dengan hukum, melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2010 dan No. 3 Tahun 2011. Kebutuhan untuk rehabilitasi ini semakin terakomodir dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2011 Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika.

Penasun Yang Berhadapan Dengan Hukum: Antara Peraturan dan Implementasi Esensi dari banyaknya peraturan yang mengakomodir kebutuhan penasun yang mengalami ketergantungan serta mengatur pelayanan rehabilitasi itu sendiri adalah untuk mengatasi

permasalahan narkotika secara khusus, serta permasalahan HIV di Indonesia. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa UU No.35/2009 justru memuat pengaturan yang mengesampingkan pelaksanaan dan kesuksesan program-program pengurangan dampak buruk. Ali, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penasun selama 10 tahun belakangan. Suatu malam, Ali kedapatan menguasai putauw seberat 2 gram. Penyidik menuntut Ali melakukan penguasaan narkotika dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara. Selama investigasi, Ali mengatakan bahwa putauw itu diniatkan untuk digunakan olehnya setibanya di rumah. Putusan pengadilan menempatkan Ali di penjara untuk waktu 5 tahun akibat penguasaan tersebut. Berbeda dengan Ali, Dodi adalah penasun yang sedang menjalani terapi metadon. Namun, Dodi masih terus mengkonsumsi ganja selama masa terapi tersebut. Dodi kemudian tertangkap tangan sedang membeli ganja dari seorang bandar. Selama 6 hari jangka waktu penangkapan yang dilakukan polisi, Dodi terpaksa harus putus terapi akibat tidak ada keluarga ataupun teman yang tahu keberadaannya. Akibat kebutuhan medisnya yang tidak terpenuhi karena putus terapi, Dodi kembali menjadi penasun ketika berada di dalam Rumah Tahanan (Rutan). Dari 2 contoh kasus di atas, kita bisa lihat bahwa baik Ali maupun Dodi dibuat menjadi tidak mampu me­ngakses layanan pengurangan dam­pak buruk yang diatur dalam

23


ISU HUKUM Permenkokesra No.2 Tahun 2007. Terapi metadon yang sedang Dodi jalani terpaksa harus terputus akibat kesewenangan polisi yang menangkapnya tanpa pemberitahuan kepada pihak keluarga. Penangkapan selama 6 hari, yang kemudian dapat dilanjutkan dengan penahanan untuk 20 hari dan tambahan 40 hari berikutnya ada­lah kewenangan dari penyidik, dalam hal ini polisi. Namun, ketidak­ patuhan polisi dalam melakukan upa­ya paksa seperti penangkapan se­wenang-wenang menimbulkan ke­ rugian, sekaligus pelanggaran terhadap hak atas kesehatan bagi Dodi. Kewenangan penyidik yang diatur dalam Pasal 76 UU Narkotika untuk menangkap seseorang dengan jangka waktu yang cukup panjang ditambah tingginya angka pelanggaran upaya paksa yang dilakukan oleh polisi jelas merugikan orang-orang seperti Dodi, dan berkontribusi terhadap kegagalan upaya pengurangan dampak buruk narkotika yang sedang dijalani oleh mereka. Kerugian muncul akibat belum tersedianya pelayanan PTRM di banyak tempat penahanan. Sekalipun ada, aksesnya tidak semudah mengakses dari luar tahanan. Belum lagi maraknya penyuapan demi diperbolehkan untuk mengkonsumsi metadon yang telah dibawakan oleh keluarga atau konselor mereka. Hal seperti ini tentu akan memperbesar peluang gagalnya pemulihan ketergantungan yang sedang dijalani seorang pasien. Bagi Ali, pengenaan pasal pe­ nguasaan membuatnya sulit me­ng­ akses rehabilitasi. Padahal, secara materiil Ali memenuhi kualifikasi un­tuk dikategorikan sebagai pe­

24

can­du yang membutuhkan re­ha­ bilitasi. Namun, dalam hal pem­ buk­tian dimana sering kali hakim membutuhkan lebih dari pengakuan terdakwa akan kecanduannya mem­ buat rehabilitasi seolah-olah hanya mimpi bagi terdakwa yang tidak punya riwayat pengobatan keter­ gan­tungan sebelumnya. Padahal, menempatkan mereka ke dalam pen­ jara justru semakin membuat mereka rentan terjangkit virus HIV, dengan maraknya penggunaan narkotika di dalam penjara. Ditambah lagi berada dalam penjara membuat mereka sulit menjangkau program perawatan, pengobatan, dan juga pengurangan dampak buruk narkotika. Kuasa penuh yang dimiliki polisi untuk mengenakan sebuah pasal bagi tersangka kasus narkotika juga mempersempit kemungkinan mereka untuk mendapatkan rehabilitasi. Tidak dipungkiri bahwa kesempatan terbuka lebih lebar bagi orang seperti Ali untuk mendapatkan rehabilitasi jika polisi yang menangkapnya bersedia melakukan sedikit usaha lebih untuk menggali apakah Ali benar seorang pecandu atau bukan, dan tidak hanya sekedar mengenakan pasal kepada seorang tersangka hanya berdasarkan perbuatan formilnya saat tertangkap saja. Berangkat dari dua contoh di atas, terlihat ada banyak hal yang tidak sejalan antara niat pemerintah untuk merehabilitasi di satu sisi dengan semangat penghukuman pengguna narkotika di sisi lain. Tidak sedikit petugas lapangan LSM yang bertugas menjangkau komunitas ditangkap oleh polisi atas kepemilikan jarum

sun­tik yang mereka bawa untuk di­berikan kepada komunitas yang meng­akses LJSS. Sudah waktunya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia terhadap komunitas pengguna narkotika diakhiri, dan saatnya untuk menyediakan akses pemulihan adiksi narkotika seluas-luasnya kepada pengguna narkotika. Luasnya jangkauan serta mudahnya akses rehabilitasi ketergantungan narkotika akan berkontribusi pa­da pengurangan dampak buruk nar­kotika. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada turunnya angka penggunaan narkotika dan penyebaran HIV/AIDS.

(1) Penulis adalah Koordinator Program HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH Masyarakat). Untuk menghubungi bisa melalui alamat email alarasati@ lbhmasyarakat.org. (2) Lihat Pendahuluan pada Petunjuk Pelaksanaan Permenkokesra No. 2/2007 (3) Dalam Laporan 5 Tahunan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional 2006-2011 tercatat bahwa pada tahun 2005 hanya terdapat sekitar 17 pusat layanan LJSS dan 3 PTRM. Angka tersebut meningkat hingga 194 LJSS dan 65 PTRM se Indonesia. Ringkasan Eksekutif Laporan tersebut dapat diunduh di: http://www.aidsindonesia.or.id/ upaya-penanggulangan-hiv-dan-aids-diindonesia-2006-2011.html (4) Lihat hal. 24 Ringkasan Eksekutif Laporan 5 Tahunan KPA Nasional 2006-2011 (5) Pecandu narkotika adalah pengguna atau penyalahguna narkotika yang mengalami ketergantungan narkotika. Pasal 1 Angka 13 UU Narkotika.


FAQ & FACT

Jenis Napza

yang Berguna Dalam Dunia Medis 1. LSD: Mengobati Kecanduan, Perawatan untuk Depresi dan Menghentikan Sakit Kepala Banyak orang tahu pada tahun 50 dan 60-an, pemerintah bereksperimen dengan LSD untuk menguji agen perang, tapi hanya sedikit orang tahu bahwa ahli kejiwaan juga tertarik dengan eksperimen itu. Studi pada tahun lima puluhan menunjukkan bahwa penggunaan LSD untuk mengobati kecanduan alkohol menghasilkan 50% tingkat keberhasilan-mengejutkan dibandingkan dengan tingkat keberhasilan 10% dari Metode

Pengobatan untuk pecandu alkohol lainnya. Para ilmuwan di Baltimore baru-baru ini melakukan penelitian ini lagi untuk melihat seberapa efektif LSD untuk digunakan dalam merawat pecandu alkohol, sedatif, opium dan heroin. Dalam Spring Grove State Hospital di Maryland, para peneliti memberikan pasien kanker akut LSD untuk melihat apakah ia dapat membantu mengurangi kecemasan mereka tentang kematian. Sepertiga dari pasien mengatakan mereka merasa dramatis berkurang rasa

tegang, depresi, takut kematian dan kesakitan.Sepertiga lainnya melaporkan kondisi ini cukup berkurang dan kelompok terakhir mengatakan, kondisi mereka tidak membaik sama sekali, tapi juga tidak memburuk. LSD juga digunakan untuk psikoterapi selama tahun enam puluhan. Sebuah studi dokter di Inggris yang merawat pasien mereka dengan obat menunjukkan mayoritas dari mereka percaya substansi efektif dan aman dalam mengobati pasien. Obat ini juga terbukti menjadi pereda nyeri yang efektif untuk sakit kronis.

25


FAQ & FACT

Bahkan pada tingkat bawah dosis psikedelik, LSD ditemukan setidaknya sama efektif dengan opiat dan jauh lebih tahan lama. Baru-baru ini, Harvard Medical School mewawancarai pasien sakit kepala cluster yang menggunakan LSD untuk mengobati kondisi mereka dan tujuh dari delapan mengatakan sakit kepala mereka reda dan membantu menempatkan mereka dalam kelegaan. Melanjutkan penelitian ini, sebuah studi di McLean Hospital menemukan bahwa 53 penderita sakit kepala klaster yang mengambil LSD salah satu atau jamur ajaib dilaporkan efek yang menguntungkan dan bahwa kuantitas obat bisa jauh di bawah dosis psychedelic agar menjadi efektif.

2. Jamur Psychedelic: Mengobati Sakit Kepala Cluster dan Obsesive Compulsive Disorder (OCD) Para psyclobin ditemukan menemukan jamur ajaib yang memiliki efek yang serupa dengan LSD, terutama ketika untuk pengobatan sakit kepala menahun. Sama seperti asam, jumlah yang terlalu kecil untuk memberikan efek psikedelik masih bisa menghilangkan rasa sakit dan mengurangi frekuensi sakit kepala. Obat ini juga menjanjikan untuk mengobati OCD. Sebuah studi University of Arizona menunjukkan bahwa mereka dengan kondisi itu sakit kepala mereka bisa reda sementara dan pada satu pasien, sakit kepalanya sembuh berlangsung

26

selama enam bulan penuh. Sementara para peneliti mengakui studi ini tidak serta merta membuktikan bahwa obat itu dapat berfungsi sebagai pengobatan, mereka hanya mengatakan ini adalah cukup menjanjikan untuk dilakukan studi lebih lanjut.

3. Ekstasi: Mengurangi Kecemasan, Meringankan Gejala Parkinson dan Perawatan untuk PTSD Bahan kimia senyawa MDMA yang membuat ekstasi begitu indah untuk pemuja pesta mungkin juga berguna dalam mengobati gangguan kecemasan. Sementara studi formal belum dilakukan, psikolog dari Universitas Norwegia Sains dan Teknologi berpendapat bahwa bila dikombinasikan dengan terapi perendaman, kemampuan obat untuk melepaskan tingkat oxytocin bisa membuat MDMA obat yang ideal untuk digunakan sebagai program perawatan lengkap. Mereka mengatakan, ”MDMA memiliki kombinasi efek farma­ ko­logis itu, dalam pengaturan tera­peutik, bisa memberikan keseimbangan mengaktifkan emosi sementara, rasa aman dan terkendali.” Obat ini mungkin juga dapat untuk mengobati penyakit Parkinson melalui pelepasan kadar serotonin di otak. Sementara para peneliti masih tidak mengerti bagaimana perawatan bekerja, telah terbukti efektif dalam studi

menggunakan tikus dan satu penderita Parkinson, mantan stuntman Tim Lawrence, yang telah menunjukkan peningkatan signifikan pada kondisinya. Dia mampu melakukan jungkir balik dan berguling tak lama setelah mengambil satu dosis obat. Sebelumnya dia tak dapat bergerak sama sekali Korban Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) juga menunjukkan respons positif terhadap perawatan yang melibatkan ekstasi. Psikolog yang melakukan terapi menggunakan studi dan MDMA menemukan obat tersebut memberi mereka jendela waktu di mana pasien mengalami rasa takut sedikit tanggapan dan memadai bisa menangani terapi yang sangat penting untuk bekerja melalui kondisi mereka

4. Kokain dan Tanaman Coca: Sebuah Obat bius baru, obat pencahar, dan sebagai Obat Motion Sickness Jauh sebelum bintang rock mulai melakukan mencandu ko­ kain, zat ini pernah secara luas dipuji sebagai obat ajaib yang dapat digunakan untuk me­nyem­ buhkan segala sesuatu mulai dari sakit kepala untuk alkoholisme untuk demam akut . Sementara obat modern telah menemukan perawatan jauh lebih aman untuk sebagian besar kondisi ini, obat ini masih kadang-kadang digunakan sebagai anestesi topikal untuk mata, hidung dan operasi tenggorokan.


FAQ & FACT

Baru-baru ini juga telah digunakan sebagai pengobatan topikal diterapkan pada mereka yang menderita sakit kepala menahun yang parah. Meskipun para ilmuwan telah banyak menerima bahwa penggunaan kokain dalam bidang medis adalah sebanding dengan risiko, hal yang sama tidak berlaku untuk tanaman koka, di mana kokain berasal . Tidak seperti kokain, tanaman mengandung beberapa alkaloid (kokain dibuat dari hanya satu) dan rentan terhadap penyalahgunaan, karena itu harus dikonsumsi sesuai aturan. Penelitian tentang keperluan medis daun koka agak terbatas, namun pada kebudayaan Andean telah menggunakan daun koka untuk tujuan pengobatan selama berabad-abad. Seorang dokter Amerika, Andrew Weil, percaya budaya ini mungkin ke sesuatu dan menunjukkan bah­­wa daun koka mungkin dapat mengobati mabuk perjalanan (mo­ tion sickness), radang teng­go­rokan, sembelit dan obesitas.

5. Heroin: Satu Dari Penghilang Rasa sakit Terhebat di dunia Meskipun bahaya obat terkenal, terutama kecenderungan untuk penyalahgunaan, obat ini masih menjadi salah satu perawatan pa­ling efektif dan paling aman untuk sakit kronis yang ekstrim, seperti penderitaan yang dialami oleh pasien kanker.

Literatur medis telah menunjukkan bahwa hal itu jauh lebih aman daripada obat lain yang diberikan di tempatnya, termasuk oksikodon (candu sintetis). Sayangnya, pemerintah melakukan larangan pada obat untuk rumah sakit dan fasilitas medis lainnya untuk menggunakannya secara subtantif, meski obat itu aman sebagai penangangan untuk rasa sakit yang efektif dan hanya satu-satunya pilihan.

6. Ketamin: Perawatan Ajaib untuk Depresi Kebanyakan obat ini digunakan sebagai penenang hewan, yang biasa disebut dengan nama special K, telah terbukti cukup ampuh mengobati depresi klinis, bahkan pada orang yang tidak merespon pengobatan lain. Sebuah studi oleh Pusat Kesehatan Mental Connecticut menemukan bahwa 70% dari kelompok uji mereka, tidak ada satupun yang pernah memperoleh hasil dengan perawatan depresi tradisional, dan mereka menanggapi positif pengobatan dengan Ketamin. Yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa obat tersebut mampu memperbaiki sambungan neuron di otak yang sebelumnya telah rusak oleh stres kronis. Ronald Duman, penulis senior studi ini, mencatat Ketamine ”seperti obat ajaib - satu dosis dapat bekerja dengan cepat dan berlangsung selama 7 sampai 10 hari.”

7. Amfetamin: Perawatan Untuk narkopelasi, ADHD dan Bantuan Dalam Pemulihan Stroke: Amfetamin saat ini digunakan oleh komunitas medis untuk mengobati beberapa kondisi, termasuk narkolepsi dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). State University of New York melaporkan bahwa dalam beberapa kasus, mereka juga terbukti efektif dalam mengobati depresi dan obesitas. Salah satu penggunaan yang paling mengejutkan bagi amfetamin adalah penggunaan obat membantu korban stroke untuk pulih lebih cepat. baru - baru ini Sebuah studi oleh Institut Karolinska Swedia menunjukkan bahwa perawatan dapat sangat membantu bagi mereka yang telah lemah stroke

8. Ganja: Obat untuk kanker, AIDS, Sklerosis, Galukoma dan Epilepsi ”Pendukung mariyuana medis berpendapat bahwa hal itu dapat menjadi pengobatan yang aman dan efektif untuk gejala kanker, AIDS, multiple sclerosis, glaukoma, epilepsi, dan kondisi lain. Sementara negara mungkin melegalisasi penggunaan untuk keperluan medis, tapi ganja masih ilegal menurut undang-undang.

Sumber: http://forum.vivanews.com /aneh-dan-lucu/325543-jenisjenis-narkoba-yang-bergunadalam-dunia-medis.html

27


HEALTHY FOOD

Nutrisi Pengidap HIV

bagi

28


HEALTHY FOOD

N

utrisi yang baik membantu mempertahankan ke­kuat­an sistim kekebalan tubuh anda, sehingga anda dapat lebih baik melawan penyakit. Diet yang baik memperbaiki kualitas hidup. Kehilangan berat badan, was­ting, serta malnutrisi tetap menjadi masalah dalam HIV, walaupun de­ngan pengobatan antiretroviral yang lebih efektif, dan dapat memberi andil bagi menekan perkembangan infeksi HIV. Nutrisi yang baik membantu tubuh memproses banyaknya obatobatan yang harus dikonsumsi orang dengan HIV. Diet (dan olah raga) dapat membantu mengatasi gejala-ge­ jala seperti diare, mual-mual, dan kelelahan, serta juga dengan re­distribusi lemak dan kelainan metabolisme seperti gula darah, kolesterol, dan trigliserida tinggi.  

Apa itu diet berkualitas tinggi?

Diet berkualitas tinggi me­ru­pa­ kan diet yang banyak me­ngan­dung sayur-sayuran, buah-buahan, gan­ dum-ganduman, serta biji-bijian, dengan sumber-sumber protein yang rendah lemak. Jenis makanan seperti ini padat nutrisi, dan akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda daripada kalori kosong yang diperoleh dari gula dan lemak.

Tips untuk membentuk diet berkualitas tinggi: • Makan 5-6 porsi buah-buahan dan sayur-sayuran setiap

hari, atau kira-kira 3 gelas. Makan buah dan sayuran yang beraneka warna untuk memperoleh nutrisi yang lengkap. Targetkan untuk memperoleh 50% sumber karbohidrat anda dari gandum-ganduman. Pilih makanan bersumber protein rendah seperti dada ayam tanpa kulit, ikan, potongan daging sapi rendah lemak, serta produk susu rendah lemak. Batasi penambahan gula, permen, dan soft drink; jenis makanan dan minuman seperti ini rendah dalam kandungan nutrisi dan dapat membengkakkan tingkat glukosa dalam tubuh. Perbanyak porsi biji-bijian atau kacang-kacangan dalam makanan setiap hari. Baik makan penuh atau sekedar mengudap, pastikan mengandung keseluruhan dari 3 makronutrisi: protein, karbohidrat, dan sedikit lemak.  

tubuh dan sistim kekebalannya. Jumlah asupan protein yang direkomendasikan (RDA) adalah 0.8-1.0 gram per kilogram berat badan untuk orang dewasa sehat. Lebih banyak protein dibutuhkan untuk mempertahankan atau membentuk berat badan ideal bagi orang dengan HIV, antara 1.2-2.0 g/kg berat badan. Asupan protein tidak boleh lebih dari 1520% total kalori; diet protein yang sangat tinggi dapat mengakibatkan tekanan pada ginjal. Daging sapi rendah lemak, daging unggas tanpa kulit, dan ikan merupakan sumber protein yang baik. Telur dan produk susu rendah lemak juga baik. Selain sumber protein hewani ini, anda juga dapat memperoleh protein dari biji-bijian (seperti kacang polong), dan kacang-kacangan. Sayur dan produk gandum seperti roti gandum, pasta, barley, dan beras mengandung jumlah protein yang rendah.  

PROTEIN

Karbohidrat memberi anda ener­gi. Diet yang sehat adalah yang mengandung karbohidrat kom­pleks yang tinggi (gandum, pro­duk gandum dan biji-bijian) ser­ta mengandung karbohidrat sim­pel yang rendah (gula, permen, soft drink, cake, biskuit, es krim). Dalam kategori karbohidrat kompleks, biji-bijian dan gandum seperti tepung gandum, oat, barley, dan beras coklat merupakan sumber karbohidrat yang lebih

Protein merupakan bahan dasar dari otot, organ tubuh, serta dari banyak zat yang membentuk sistim kekebalan tubuh anda. Bila anda tidak menyediakan cukup banyak kalori dan protein melalui makanan, maka tubuh anda akan menggunakan proteinnya sendiri (otot) untuk mengganti kekurangan bahan bakar tersebut. Hal ini mengakibatkan kelemahan dalam

KARBOHIDRAT

29


HEALTHY FOOD

baik daripada roti putih dan pasta, beras dan kentang. Jenis-jenis tersebut lebih tinggi kandungan nutrisi dan seratnya serta diserap lebih lamban oleh tubuh untuk menyediakan sumber glukosa yang lebih mapan, sehingga tubuh anda dapat tahan hingga saat makan berikutnya. Makanan-makanan sejenis ini dapat juga bermanfaat bagi orang dengan diabetes atau dengan kekebalan insulin.   LEMAK Lemak merupakan sumber ener­ gi utama bagi tubuh. Asupan lemak yang dianjurkan adalah kurang dari 30% (25% lebih baik) dari total asupan kalori per harinya, na­mun jenis lemak yang diasup juga berpengaruh. Lemak jenuh me­ningkatkan risiko penyakit jan­ tung (CVD). Orang dengan HIV dapat mengalami kolesterol dan tri­gliserida tinggi akibat obat-obat­ an, sehingga harus berhati-hati ter­hadap CVD. Asam lemak Omega-3 (sejenis lemak tak jenuh ganda), yang ditemukan dalam ikan dan jenis makanan lain, memberi perlindungan terhadap CVD. Lemak Jenuh: Anjuran: 7% atau kurang dari total asupan kalori. Sumber makanan: daging berlemak, daging unggas dengan kulit, butter, makanan bersumber susu, serta minyak kelapa dan kelapa sawit.   Lemak Tak Jenuh Tunggal: • Anjuran: 10% atau lebih dari

30

total asupan kalori. • Sumber makanan: biji-bijian, minyak kanola dan zaitun, alpukat, dan ikan.   Lemak Tak Jenuh Ganda: • Anjuran: 10% atau kurang dari total asupan kalori. • Sumber makanan: ikan, buah kenari, biji dan minyak flax, serta jagung, kacang kedelai, minyak bunga matahari dan safflower.  

Berapa kalori yang saya butuhkan?

Kalori merupakan energi dalam makanan. Kalori menyediakan bahan bakar bagi tubuh untuk tetap bekerja. Bila anda HIV-positif, anda perlu meningkatkan jumlah makanan yang anda konsumsi untuk mempertahankan berat badan ideal anda. Anda paling tidak membutuhkan 34-40 kalori per kilogram berat tubuh ideal. Namun kebutuhan kalori anda akan lebih meningkat pada saat infeksi dan demam. • Bila berat badan anda stabil dan tidak ada infeksi oportunistik, gunakan 34-40 kalori/kg. Contoh: Bila berat badan anda 70kg, anda mungkin membutuhkan 2,380 kalori per harinya (menggunakan 34 kalori/kg). • Bila anda memiliki infeksi oportunistik, gunakan 40 kalori/ kg. Contoh: Bila berat badan anda 70kg, anda mungkin membutuhkan 2,800 kalori/hari.

• Bila anda kehilangan berat badan, gunakan 50 kalori/kg. Contoh: Bila berat badan anda 70kg dan telah kehilangan 5kg dalam 6 bulan terakhir, anda butuhkan 3,500 kalori per hari. Ingat bahwa kalori yang berasal dari makanan yang sehat dan padat nutrisi akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda daripada kalori dari gula dan lemak.

Kesimpulan Panduan diet umum terhadap jumlah asupan harian yang dianjurkan untuk: • Protein 15-20 • Karbohidrat 50-60 • Lemak 25%   Bila anda kehilangan berat badan dan tidak memiliki sumber makanan yang memadai, bicarakan dengan dokter anda mengenai penambahan suplemen gizi. Namun sebisa mungkin mengkonsumsi makanan diet berkualitas tinggi yang padat nutrisi untuk meningkatkan berat badan. Orang dengan HIV tidak selalu makan 100% dari nutrisi yang di­anjurkan per hari. Mengkonsumsi satu atau dua tablet multivitamin/ mineral (tanpa tambahan zat besi) dapat melengkapi paling tidak 100% dari nutrisi yang dianjurkan per harinya. Selalu informasikan dokter anda me­ngenai suplemen yang anda gunakan. Sumber: http://www.odhaindonesia.org/ content/2007/03/03/nutrisi-bagi-hiv


STBP 2011

Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku 2011 pada Kelompok Beresiko Tinggi di Indonesia KEMENTERIAN Kesehatan melak­sanakan Survei Ter­pa­ du Biologis dan Perilaku (STBP) pada tahun 2011. Ke­ giat­an ini bertujuan untuk: menentukan kecenderungan pre­valensi Gonore, Klamidia, Sifilis, dan HIV di antara po­pulasi paling berisiko di beberapa kota di Indonesia me­nentukan kecenderungan tingkat pengetahuan dan per­sepsi tentang penularan dan pencegahan HIV pada populasi paling berisiko dan populasi rawan (remaja) me­ nentukan kecenderungan tingkat perilaku berisiko tertular/ me­nularkan HIV di antara populasi pa­ling berisiko di beberapa kota di Indonesia mengukur cakupan in­tervensi pengendalian HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) serta dampaknya pada kelompok sasaran program-program Ke­ men­trian Kesehatan RI Kegiatan ini me­­rupakan bagian dari kegiatan sur­veilans yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1996 dan secara ber­kala dilakukan di tahun 2002, 2004, 2007 dan 2009. STBP 2011 dilaksanakan di 11 pro­vinsi yaitu Sumatera Uta­ra, Kepulauan Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Ba­ rat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Ma­luku dan Papua. Area tersebut sama dengan area STBP 2007, kecuali Lampung dan Maluku.

METODOLOGI Berdasarkan kontribusinya terhadap epidemi HIV, po­­pu­ lasi sasaran STBP 2011 tersebut dikelompokkan men­jadi: a) Wanita Penjaja Seks Langsung (WPSL) adalah wanita yang beroperasi secara terbuka sebagai penjaja seks komersial. b) WPS Tidak Langsung (WPSTL) adalah wanita yang ber­ operasi secara terselubung sebagai penjaja seks ko­mer­ sial, yang biasanya bekerja pada bidang-bidang pe­ker­ jaan tertentu seperti bar, panti pijat dan sebagainya. c) Pria risiko tinggi (risti), ditentukan dengan pendekatan jen­­is pekerjaan dengan rincian sebagai berikut.

i. Sopir truk adalah mereka yang bekerja sebagai sopir truk antar kota. ii. Tukang ojek adalah mereka yang bekerja sebagai tukang ojek. iii. Pelaut/Anak Buah Kapal (ABK) adalah mereka yang bekerja sebagai anak buah kapal barang atau muatan. iv. Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) adalah mereka yang bekerja sebagai pekerja bongkar muat barang di pelabuhan laut. d) Wanita-pria (waria) adalah pria yang berjiwa dan bertingkah laku, serta mempunyai perasaan seperti wanita. Waria yang dicakup dalam STBP 2011 ini tidak hanya waria yang menjajakan seks saja tetapi seluruh waria termasuk waria yang bekerja di salon. e) Lelaki suka Seks dengan Lelaki (LSL) adalah pria yang mengakui dirinya sebagai orang yang biseksual/ homoseksual f) Pengguna napza suntik (Penasun) adalah orang yang memiliki ketergantungan napza dengan cara disuntikan. g) Narapidana adalah pria dan wanita yang sudah divonis menjalani hukuman dan berada di lapas/rutan yang ada di Indonesia. h) Remaja sekolah yang dicakup dalam survei ini adalah murid Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

Pengumpulan data STBP 2011 dibedakan men­jadi tiga bagian, yaitu: a) Wawancara Perilaku, yang dilakukan pada kelompok sa­­saran remaja b) Wawancara Perilaku dan Pengambilan Darah melalui Darah Vena/Perifer, yang dilakukan pada kelompok sa­saran pria risti, narapidana, sebagian WPSL dan WPSTL, serta sebagian LSL

31


STBP 2011

c) Wawancara Perilaku, pengambilan darah melalui ve­ na atau perifer, dan apusan vagina atau anus, yang di­la­ku­kan pada kelompok sasaran waria, sebagian LSL, dan sebagian WPSL dan WPSTL STBP 2011 dilakukan di ke­lompok sasaran dan metode sampling yang hampir sama dengan STBP 2007, tetapi ada beberapa per­be­ daan seperti dijelaskan pada tabel 1. Metode Sampling

Kelompok Sasaran

2007

2011

WPSL WPSTL Waria LSL Pelaut TKBM Sopir Truk Tk. Ojek Penasun Napi Remaja

Two Stage PPS Two Stage PPS Two Stage PPS RDS, TLS Two Stage PPS Two Stage PPS TLS TLS RDS, TLS Tidak ada Two Stage PPS

Two Stage PPS Two Stage PPS Two Stage PPS RDS, Web RDS Two Stage PPS Two Stage PPS TLS Two Stage PPS RDS Two Stage PPS Two Stage PPS

* PPS = Probability Proportional to Size * RDS = Respondent Driven Sampling * TLS = Time-Location Sampling

Khusus metode sampling di LSL dan Penasun pada tahun 2007 menggunakan dua metode yaitu RDS dan TLS, dengan perincian area sebagai berikut: • LSL RDS : Batam, Bandung, Malang • LSL TLS : Medan, DKI Jakarta, Surabaya • Penasun RDS : Kota Bandung, Kota Surabaya • Penasun TLS : Kota Medan, DKI Jakarta, Kota Malang Tabel 2 - Jumlah dan realisasi sampel STBP 2011 Kelompok Sasaran WPSL WPSTL Waria LSL (RDS) LSL (Web RDS) Pelaut TKBM Sopir Truk Tukang Ojek Penasun Narapidana Remaja

32

Jumlah Sampel 4,250 3,250 1,250 1,250 750 2,400 400 1,500 600 1,500 2,000 7,000

Realisasi 4,069 3,157 1,089 1,250 566 2,399 400 1,500 600 1,420 2,000 7,022

Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Januari sam­pai Maret 2011, dan bulan Mei untuk WPS di Jaya­wi­ jaya (Wamena). Jumlah dan realisasi sampel untuk setiap ke­lompok sasaran dijelaskan di tabel 2.

KETERBATASAN PENELITIAN STBP 2011 tidak terlepas dari kekurangan dan ke­ ter­batasan yang terjadi pada setiap tahapan survei. Be­ ri­­kut akan dijelaskan keterbatasan penelitian baik dari sisi instrumen maupun pelaksanaan di lapangan hingga ta­­hapan pengolahan dan analisis data. Penggunaan metoda sampling di LSL dan penasun yang berbeda di beberapa area untuk tahun 2007 dan 2011 membuat keterbatasan dalam analisis, sehingga saat membandingkan hasil tersebut dibutuhkan kehatihatian dalam membuat simpulan. Beberapa keterbatasan dalam kuesioner antara lain: pola loncatan pertanyaan yang salah sehingga me­ng­aki­ bat­kan adanya data yang tidak terkumpul; pertanyaan yang berbeda dari tahun sebelumnya sehingga pada saat ana­lisis tidak dapat dibandingkan; dan jumlah pertanyaan terlalu banyak yang menyebabkan kelelahan/kejenuhan responden dalam menjawab. Data listing di beberapa lokasi kurang lengkap karena tidak semua provinsi mempunyai pemetaan populasi risti ter­kini, dan alasan keamanan serta letak geografis area yang menyebakan kesulitan untuk didatangi. Hal tersebut mem­pengaruhi proses sampling. Terjadi penolakan responden, antara lain: adanya kegiatan sejenis yang dilakukan dalam waktu yang ber­de­­ katan; kurang kooperatifnya mami, mucikari, dan pe­mi­lik tempat hiburan untuk memperbolehkan tim survei me­ ma­suki lokasi terpilih; dan ketakutan responden terhadap pengambilan sampel biologis. Kesalahan teknis menempel barcode di paket pe­ngum­ pulan data biologis dan kuesioner sehingga mempersulit pro­ses penggabungan data biologis dan perilaku. Tidak semua kuesioner yang telah diisi dilakukan pengecekan dengan benar di lapangan sebelum diserahkan ke pusat, sehingga mempersulit proses manajemen data.


STBP 2011

Terkait keterbatasan penelitian ter­sebut di atas, be­be­ rapa hal yang di­lak­sanakan antara lain: Adanya keterbatasan kuesioner dan pengecekan kue­ sio­ner yang telah diisi di lapangan, sehingga dilakukan pe­­ngecekan konsistensi jawaban res­ponden untuk me­mi­ ni­malisir ke­sa­lah­an analisis. Pendekatan persuasif dengan me­libatkan tokoh kunci di­lakukan bi­la ter­jadi penolakan oleh mami/mu­ci­ka­ri/­pe­ mi­­lik tempat hiburan. Dilakukan pengecekan secara ma­nual untuk meng­ga­ bungkan da­ta bi­o­logis dan perilaku yang ber­ma­sa­lah.

Temuan Kunci 1: Dibanding STBP 2007, pola prevalensi HIV antar kelompok sasaran cenderung tetap, sedangkan prevalensi IMS mengalami perubahan

Prevalensi HIV tertinggi terdapat di kelompok penasun (36%), lalu di­­ikuti kelompok waria, WPSL, LSL, narapidana, WPSTL, dan pria risti (gambar 1). Pola tersebut ham­pir sama dengan STBP 2007. Bila di­ban­dingkan dengan 2007, pre­va­len­si HIV di WPSL, WPSTL, pria ris­ti dan waria tidak mengalami pe­r­­u­­ bahan. Peningkatan yang cu­kup sig­­nifikan terjadi di kelompok LSL yaitu meningkat 2-3 kalinya. Se­­men­tara itu, pada kelompok pe­nasun m­e­­ngalami penurunan se­be­sar 1­0% (Jakarta) sampai dengan 20% (Medan). STBP 2011 melakukan pe­ng­u­kur­­an prevalensi IMS yaitu Sifilis, Kla­midia, dan Gonore. Prevalensi Si­filis tertinggi pada kelompok Waria (25%). Dibandingkan dengan tahun 2007, prevalensi Sifilis mengalami penurunan pada kelompok WPSL dan WPSTL (4-8 kali), kelompok waria (20%) dan pria risti (3%). Penurunan tersebut ter­utama terjadi di lokasi-lokasi yang mendapatkan program Pengobatan Presumtif Ber­kala (PPB). Hal yang berbeda terjadi pada kelompok LSL dimana prevalensi Sifilis meningkat 2-5 kali dibanding tahun 2007.Prevalensi Gonore dan/atau Klamidia pada WPS adalah 56% (WPSL) dan 49% (WPSTL). Prevalensi Gonore dan/atau Klamidia rektal lebih tinggi ditemukan di waria (43%)

daripada LSL (33%). Secara keseluruhan prevalensi Go­nore dan/atau Klamidia tidak mengalami perubahan dibandingkan pada tahun 2007,termasuk di dae­rah yang mendapatkan PPB.

Temuan Kunci 2 : Tidak terjadi peningkatan perilaku peng­gu­na­an kondom secara konsisten pada seks berisiko

Penggunaan kondom secara kon­sis­ten pada seks berisiko masih rendah. Bila dibandingkan dengan seluruh kelompok sasaran, perilaku penggunaan kondom secara konsisten di waria paling tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Bila dibandingkan de­ngan tahun 2007, peng­ gu­naan kondom secara kon­sis­ten saat melakukan seks be­risiko di setiap kelompok sasaran cenderung tidak ba­ nyak mengalami perubahan, kecuali pada waria terjadi pe­nurunan dan pada WPSL terjadi peningkatan. Bila dibandingkan dengan tahun 2007 terjadi ke­ cen­derungan penurunan pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS pada kelompok sasaran, kecuali kelompok remaja. Salah satu faktor penyebabnya adalah terjadinya penurunan intensitas intervensi perubahan perilaku, yang beberapa diantaranya dapat dilihat dari menurunnya jumlah kelompok sasaran yang dijangkau oleh petugas lapangan dalam tiga bulan terakhir, serta menurunnya kelompok sasaran yang menerima lembar media cetak atau audio visual yang berkaitan dengan informasi pencegahan dan penularan HIV-AIDS.

Temuan Kunci 4 : Penggunaan napza suntik pada kelompok sasaran selain penasun cenderung tetap

Bila dibandingkan dengan data tahun 2007 di daerah yang sama, proporsi kelompok sasaran selain penasun yang per­nah menggunakan napza suntik cenderung tetap. Hal tersebut harus mendapatkan perhatian karena nap­za suntik dapat menjadi media penularan HIV yang efek­tif dan dapat melipatgandakan

33


STBP 2011

risiko terkena HIV pada kelompok risiko tinggi di luar penasun.

Temuan Kunci 5 : Perilaku berbagi jarum pada kelompok penasun cenderung turun.

Proporsi berbagi jarum tertinggi terdapat di Jakarta (27%) dan terendah di Medan (7%). Perilaku berbagi jarum dipengaruhi oleh tingkat pengetahun komprehensif tentang HIV-AIDS, dan frekuensi dikontak oleh petugas lapangan. Bila dibandingkan dengan data tahun 2004, 2007 dan 2011 di kota yang sama, proporsi penasun yang berbagi jarum cenderung turun.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kegiatan STBP dilakukan secara berkala untuk da­pat melihat kecenderungan prevalensi HIV, Sifilis, Kla­mi­­dia dan Gonore; perubahan perilaku terkait dengan pe­­ngetahuan dan persepsi tentang HIV-AIDS; tingkat pe­rilaku berisiko tertular/menularkan HIV; dan cakupan intervensi. Untuk pelaksanaan STBP di tahun berikutnya perlu dilakukan perbaikan diantaranya: • Penggunaan metode sampling, penentuan ke­lom­ pok sasaran dan lokasi survei, serta peng­gu­na­an per­ta­nya­an kunci sebaiknya konsisten antar STBP. • Jumlah pertanyaan dibuat dengan mem­per­hi­ tungkan waktu yang dibutuhkan untuk satu wa­ wan­cara; ja­ngan terlalu banyak supaya responden tidak bo­san Prevalensi HIV cenderung sama bila dibandingkan 2007. Perincian perubahan prevalensi HIV adalah sebagai berikut: • Penasun : cenderung tetap atau menurun • Waria : cenderung tetap • WPSL : cenderung tetap, tetapi meningkat di Ba­nyu­wa­ngi, Denpasar dan Jayapura

34

• WPSTL : cenderung tetap atau menurun, tetapi me­ning­kat di Jayapura • LSL : cenderung meningkat di semua lokasi pe­ne­litian • Pria Risti : cenderung meningkat, khususnya di Ja­ya­pura Dari data STBP 2011, Sifilis cenderung dapat diken­ da­likan dibandingkan dengan Klamidia dan Gonore. Oleh karena itu perlu diterapkan kembali pengobatan Sifilis de­ ngan obat pilihan pertama (Benzatin penicillin) dan pe­ ningkatan program Pencegahan penularan Melalui Trans­ misi Seksual (PMTS) Penggunaan kondom secara konsisten pada seks be­ risiko tidak mengalami perubahan, sehingga perlu ada­nya intervensi komprehensif dengan meningkatkan ak­se­si­ bilitas, kualitas penjangkauan dan strategi promosi yang efektif. Pengetahuan komprehensif masih rendah di seluruh kelompok sasaran sehingga perlu dikembangkan strategi komunikasi yang tepat. Perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan program Harm Reduction pada kelompok sasaran diluar Penasun untuk mencegah terjadinya peningkatan penggunaan napza suntik pada kelompok risiko tinggi di luar penasun. Program Harm Reduction harus tetap dijalankan, meskipun terjadi penurunan perilaku berisiko pada penasun.

Tujuan STBP: menentukan kecenderungan prevalensi Gonore, Klamidia, Sifilis, dan HIV di populasi paling berisiko di beberapa kota di Indonesia.


JARKON'S - Sumatera Utara, SUPER PM - Medan, PKN KEPRI - Kepulauan Riau , KIPAS Bengkulu, PKN Lampung, PKN Bogor, Rumah Cemara - Jawa Barat, Hak Azasi - Sukabumi, FORKON - Jakarta, MMC - Jakarta, EJA - Jawa Timur, KOPENHAM - Mojokerto, IKON - Bali, PKNPK - Kalimantan Selatan, PKN Makassar, PKN Sulawesi Utara, AKSI NTB - Nusa Tenggara Barat.


Buletin Suplai #2