Issuu on Google+

ANALISIS HURUF HELVETICA DALAM MEMBERI CITRA BERBEDA PADA LOGO PERUSAHAAN NESTLE DAN TUPPERWARE

Disusun Oleh Abdul Hafiz Hilman 200646500088

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI JAKARTA 2009


BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Masalah Huruf merupakan elemen penting dalam media visual seperti spanduk,

brosur, iklan cetak, iklan tv, billboard, dll, tidak hanya itu huruf juga dapat digunakan dan sangat penting dalam pembuatan logo suatu perusahaan. Karena dengan huruf dapat memberikan nuansa yang berbeda pada media visual yang digunakannya serta menampilkan citra pada perusahaan pada logo yang dibuat. Dalam dunia desain grafis, Ilmu yang mempelajari tentang huruf adalah TIPOGRAFI, guna mengetahui seluk beluk anatomi huruf serta perlakuan pada huruf yang harus ditaati, jadi khususnya para desainer tidak sembarangan memilih jenis huruf yang mungkin nanti akan dipakai dalam pembuatan logo atau pada media visual seperti billboard, papan jalan, poster, brosur, dll. Huruf itu terdiri dari 2 golongan jenis yaitu SERIF (yang berkait) dan yang SANS SERIF (yang tak berkait, pada bahasa prancis Sans artinya tidak memakai, sedangkan Serif (artinya berkait). Kajian pada huruf helvetica ini sangat menarik untuk dibahas, karena hampir kebanyakan logo perusahaan di dunia menggunakan huruf ini pada logo perusahaannya, Helvetica merupakan jenis huruf sans serif yang fenomenal dan sangat sering kita jumpai di sekitar kita. Helvetica juga termasuk bagian dari era modernisasi dalam dunia desain, karena huruf sans serif merupakan wujud


representasi para desainer ditahun 1975 yang kurang menyukai huruf-huruf yang berkait atau serif, untuk itulah tipe jenis huruf ini lahir. 1.2.

Identifikasi Masalah 1. Mengapa para desainer lebih memilih jenis huruf Helvetica pada logo perusahaan Nestle dan Tupperware? 2. Apakah benar huruf Helvetica dapat memberikan citra yang berbeda pada logo perusahaan Nestle dan Tupperware? 3. Bagaimana cara membuat citra yang berbeda-beda pada logo perusahaan yang berbeda ini dengan hanya menggunakan huruf Helvetica saja?

1.3.

Pembatasan Masalah Dalam penulisan makalah ini, hanya akan dibatasi masalah tentang mengapa

para desainer lebih memilih menggunakan jenis huruf Helvetica pada logo Nestle dan Tupperware, serta apakah memang benar Helvetica dapat membuat citra yang berbeda pada kedua perusahaan tersebut?


1.4.

Rumusan Masalah

Adapun pokok permasalahannya adalah: •

Mengapa kedua perusahaan terkenal di dunia ini Nestle dan Tupperware sama-sama menggunakan jenis huruf Helvetica yang merupakan golongan jenis huruf tak berkait atau sans serif dan tidak menggunakan jenis huruf lainnya yang serif atau huruf sans serif lainnya?

•

Bagaimana cara huruf helvetica dapat memberikan semacam image berbeda pada perusahaan yang berbeda dengan hanya menggunakan huruf yang sama yaitu Helvetica itu sendiri?

1.5.

Tujuan Penelitian Dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka penulisan ini

bertujuan.Untuk mengetahui huruf Helvetica ini dapat mempengaruhi citra yang berbeda-beda pada kedua logo perusahaan Nestle dan Tupperware, serta melakukan kajian mendalam tentang anatomi struktur aksara A-Z dan 0-9 pada huruf Helvetica.


1.6.

Manfaat Penelitian 1. Memberikan informasi secara benar, mendalam dan sesuai fakta tentang faktor-faktor apa saja yang ada pada huruf Helvetica hingga bisa membuat citra berbeda di kedua logo perusahaan tersebut. 2. Memberikan informasi tambahan dalam bidang akademis khususnya dalam mata kuliah Tipografi di Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Indraprasta PGRI.


BAB II LANDASAN TEORI 2.1.

Huruf

A.

Sejarah Huruf Huruf atau biasa juga dikenal dengan istilah "Font" atau "Typeface"

adalah salah satu elemen terpenting dalam Desain Grafis karena huruf merupakan sebuah bentuk yang universal untuk menghantarkan bentuk visual menjadi sebuah bentuk bahasa. Huruf (Tipo/Typeface/Type/Font) adalah bentuk visual yang dibunyikan sebagai kebutuhan komunikasi verbal. Bahasa tulis merupakan salah satu indikator yang membedakan antara masa awal sejarah dan prasejarah. Perkembangan bahasa tulis bermula sejak sebelum Masehi, di mana awalnya manusia menggunakan bahasa gambar untuk berkomunikasi. Bangsa Afrika dan Eropa mengawali pada tahun 3500-4000 sebelum Masehi dengan membuat lukisan di dinding gua. Perkembangan cara berkomunikasi melalui tanda dan gambar berkembang terus. Sekitar tahun 3100 SM, bangsa Mesir menggunakan pictograph

sebagai

simbol-simbol

yang

menggambarkan

sebuah

objek.

Komunikasi dengan menggunakan gambar berkembang dari pictograph hingga ideograph, berupa simbol-simbol yang merepresentasikan gagasan yang lebih kompleks serta konsep abstrak yang lain.


Perpindahan yang mendasar dari bahasa gambar dan tanda yang dibunyikan (pictograph, ideograph – menunjukan benda serta gagasan) hingga bahasa tulisan yang dapat dibunyikan dan memiliki arti (Phonograph – setiap tanda atau huruf menandakan bunyi) dapat disaksikan pada sistem alfabet Phoenician pertama yang diperkenalkan pada tahun 1300 sebelum Masehi. Alfabet ini terdiri dari 23 simbol yang sangat sederhana dan terbatas hanya sebagai perwakilan unsur bunyi. Sebagai contoh, huruf pertama dari alfabet Phoenician berupa gambar sederhana dari kepala banteng, yang dalam bahasa mereka disebut Aleph, dan kemudian kata ini mewakili bunyi dari huruf ‘A’. Bangsa Yunani kemudian mengadaptasi sistem alfabet ini ke dalam struktur anatomi huruf yang lebih teratur dengan menerapkan bentuk-bentuk geometris. Perkembangan yang terpenting dari sistem alfabet ini adalah penerapan pola membaca dari arah kiri ke kanan (Alfabet Phoenician dari kanan ke kiri). Istilah Alfabet (Alphabet) berasal dari singkatan 2 huruf pertama dalam sistem alfabet Yunani, yaitu Alpha dan Beta. Sistem alfabet kemudian terus berkembang hingga akhirnya bangsa Romawi menyempurnakan ke dalam bentuk huruf yang sebagaimana kita kenal dan gunakan sekarang.

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ Huruf Roman atau yang sering kita sebut sebagai huruf latin memiliki jumlah 26 huruf yang diterapkan sejak abad pertengahan dan digunakan sebagai alfabet dalam bahasa Inggris kontemporer.


Manusia telah mengupayakan berbagai cara terbaik untuk dapat berkomunikasi lewat tulisan, melalui penggunaan berbagai perangkat dan media. Sejak masa prasejarah, lukisan dinding di gua ditorehkan dengan arang dan pictograph dibuat di atas kepingan tanah liat, hingga bangsa Mesir akhirnya menemukan kertas yang terbuat dari tanaman papyrus. Bangsa Cina memberi kontribusi yang penting dicatat yaitu pada tahun 105, dengan hadirnya Ts’ai Lun seorang ahli pembuat kertas. Sebelumnya mereka menulis di atas selembar katu dengan menggunakan pena bambu, baru pada abad ke 7 bangsa Cina menemukan teknik cetak timbul dengan menggunakan tinta. Penemuan mesin cetak dengan sistem movable type pada tahun 1450 oleh Johann Gensfleisch Gutenberg dari Jerman, telah membawa banyak perubahan yang pesat dalam sejarah tipografi, terutama dalam teknik pencetakan, pengukuran serta produksi. Melalui sistem dan subsistem yang kompleks, Johann Gutenberg mengembangkan teknik cetak yang dibuat di atas permukaan bahan metal yang diukir (engraving). Setiap huruf, angka, tanda baca, serta ruang vertikal dan horizontal yang terdapat diantara huruf-huruf dibentuk satu per satu. Guna mencapai akurasi serta mempercepat proses kerja pada saat pencetakan di atas kertas, Gutenberg memerlukan hampir 50.000 blok metal yang terdiri dari berbagai macam jenis huruf (metal type).


Pencetakan dengan movable type digunakan hampir selama 400 tahun dengan berbagai macam penyempurnaan terhadap sistem yang telah diciptakan oleh Johann Gutenberg. Pada tahun 1886, Ottmarr Mergenthaler, dari Jerman menemukan mesin typecasting yang cara kerjanya adalah dengan memasang sejumlah huruf yang disusun per baris (linecasting). Mesin temuan Mergenthaler ini disebut dengan Linotype, yang berasal dari kata “Line of Type�. Mesin teknologi cetak tinggi ini masih digunakan sampai saat ini. Generasi

selanjutnya

dari

teknologi

typecasting

adalah

phototypesetting yang menggunakan proses film sebelum naskah ditransfer ke lempeng cetakan. Mesin phototypesetting yang menggunakan proses film sebelum naskah di transfer ke lempeng cetakan. Mesin phototypesetting dari Intertype Fotosetter yang dibuat oleh Herman Freud, dikeluarkan pada tahun 1946 di Jerman. Teknologi yang dikenal dengan istilah cetak datar atau offset ini jauh lebih murah dan efisien bila dibandingkan dengan typecasting yang sebagian besar pekerjaan masih dilakukan dengan tangan. Teknik pra-cetak analog yang menggunakan lempengan (plate) sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh teknik pra-cetak digital (digital pre-press). Sedangkan perambahan teknologi digital dalam dunia tipografi dimulai pada tahun 1973 oleh perusahaan URW dari Hamburg, Jerman, dengan produknya yang bernama IKARUS. Teknologi ini berfungsi untuk membuat huruf digital sehingga dapat digunakan dalam sistem komputer.


Kemajuan teknologi selanjutnya terjadi pada tahun 1984 ketika Adobe System merilis PostScript Font dan di tahun 1991 Apple Computer dan Microsoft Corporation mengeluarkan TrueType Font. PostScript Font dan TrueType Font adalah huruf elektronik atau yang disebut font. Hadirnya beragam jenis personal komputer dan perangkat lunak yang semakin canggih, serta ditambah dengan meningkatnya apresiasi dari para perancang grafis dan masyarakat umum, merupakan penyebab terjadinya lonjakan kebutuhan terhadap huruf digital. Sejak akhir tahun delapan-puluhan, para perancang huruf (type designers) di berbagai negara seperti di Amerika, Jerman, Rusia, Swiss, dan Jepang, telah menggunakan teknologi komputer sebagai perangkat kerja utama mereka. Kontribusi perancangan huruf digital bukan hanya berasal dari perorangan saja, karena saat ini banyak sekali ditemukan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bisnis perancangan serta produksi huruf digital (Type Foundry) seperti Emigre. Font Bureau, T-26 dan Agfa yang beroperasi di Amerika, serta Linotype-Hell AG, di Jerman. (Dikutip dari Wikipedia – Ensiklopedia Bebas) B.

Rupa Huruf

Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau ‘C’ dengan ‘Q’. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun


1900 memformulasikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada ‘pattern seeking’ dalam perilaku manusia. Salah satu hukum persepsi dari teori ini membuktikan bahwa untuk mengenal atau ‘membaca’ sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif yang disebut dengan figure dan ruang negative yang disebut dengan ground. (Dikutip dari Wikipedia – Ensiklopedia Bebas) C.

Anatomi Huruf Langkah awal untuk mempelajari tipografi adalah mengenali atau

memahami anatomi huruf. Gabungan seluruh komponen dari suatu huruf merupakan identifikasi visual yang dapat membedakan antar huruf yang satu dengan yang lain. Apabila kita telah memahami anatomi huruf secara baik, dengan mudah kita dapat mengenal sifat dan karakteristik dari setiap jenis huruf. Berikut adalah terminologi yang umum digunakan dalam penamaan setiap komponen visual yang terstruktur dalam fisik huruf.


Setiap individu huruf, angka, dan tanda baca dalam tipografi disebut sebagai character. Seluruh character secara optis rata dengan baseline. Tinggi dari badan huruf kecil secara optis rata dengan x-height. Setiap character apakah huruf besar atau kecil memiliki batang (stem) yang pada bagian ujung-ujungnya dapat ditemukan beberapa garis akhir sebagai penutup yang disebut terminal. Pada dasarnya setiap huruf terdiri dari kombinasi berbagai guratan garis (strokes) yang terbagi menjadi dua, yaitu guratan garis dasar (basic stroke) dan guratan garis sekunder (secondary stroke) Apabila ditinjau dari sudut geometri, maka garis dasar yang mendominasi struktur huruf dalam alfabet dapat dibagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu: 1. kelompok garis tegak-datar; EFHIL 2. kelompok garis tegak-miring; AKMNVZXYW 3. kelompok garis tegak-lengkung; BDGJPRU 4. kelompok garis lengkung; COQS Huruf memiliki dua ruang dasar bila ditinjau dalam hukum persepsi dari teori Gestalt, yaitu figure dan ground. Apabila kita menelaah keberadaan ruang negatif dari seluruh huruf maka secara garis besar dapat dipecah menjadi tiga kelompok, yaitu: 1. Ruang negatif bersudut lengkung; BCDGOPQRSU 2. Ruang negatif bersudut persegi-empat, EFHILT


3. Ruang negatif bersudut persegi-tiga, AKMNVWXYZ 4. Perhitungan tinggi fisik huruf memiliki azas optikal-matematis, dalam pengertian bahwa dalam perhitungan angka, beberapa huruf dalam alfabet memiliki tinggi yang berbeda-beda, namun secara optis keseluruhan huruf tersebut terlihat sama tinggi. Huruf yang memiliki bentuk lengkung dan segitiga lancip pada bagian teratas atau terbawah dari badan huruf akan memiliki bidang lebih dibandingkan dengan huruf yang memiliki bentuk datar. Apabila beberapa huruf tersebut dicetak secara berdampingan akan tercapai kesamaan tinggi secara optis. D.

Sistem Pengukuran Huruf Menurut Buku Tipografi dalam desain grafis oleh Danton Shombing,

MFA Gramedia, Apabila kita perhatikan susunan huruf-huruf pada sebuah naskah dalam majalah, buku atau pun brosur, maka akan terlihat bahwa susunan dari huruf-huruf tersebut memiliki suatu disiplin dalam pengukuran dan proporsi. Hal tersebut biasanya mencakup pengukuran tinggi huruf, panjang baris huruf, jarak antara huruf yang satu dengan yang lain, serta jarak antarbaris. •

point dan pica Tiga dasar sistem pengukuran dalam tipografi adalah: point (biasa

disingkat dengan pt), pica (dibaca: paika), dan unit. Point digunakan untuk mengukur tinggi huruf, sedangkan pica digunakan untuk mengukur panjang baris. Pengukuran dari lebar persatuan huruf serta jarak antar huruf dihitung dengan


satuan unit. Perhitungan unit hanya digunakan dalam proses yang menggunakan teknologi phototypesetting dan digital composition – teknologi yang digunakan untuk pengetikan dan pencetakan huruf agar dapat mendapatkan hasil cetak yang tajam dan presisi. Pada tahun 1737, Pierre Fournier, seorang pembuat huruf (type founder) dari Paris menemukan sistem pengukuran huruf dalam satuan point. Sistem pengukuran huruf yang lain diperkenalkan 40 tahun kemudian oleh Francois Ambroise Didot dari Perancis. Acuan yang dipakai sekarang adalah sistem Anglo-Saxon dengan perhitungan 72 pt setara dengan 1 inch atau 2,539 cm. Sistem pengukuran tipografi tersebut berawal dari teknik cetak movable type yang pada perkembangan berikutnya diciptakan standarisasi pengukuran dan satuannya. Untuk lebih memperjelas gambaran terhadap sistem pengukuran huruf, kita dapat melihat gambar potongan metal type berikut ini.:


Blok metal ini memiliki bidang permukaan cetak pada bagian teratas. Keseluruhan dari blok metal ini disebut sebagai body dan permukaan cetak disebut sebagai face. Lebar dari body adalah set-width, yang memiliki berbagai macam ukuran tergantung kepada lebarnya masing-masing huruf. Kedalaman dari body adalah dimensi yang dipakai untuk mengukur tinggi huruf yang disebut body size. Satuan pengukuran yang dipakai untuk mengukur tinggi huruf adalah point. Satu hal yang perlu diingat bahwa acuan pengukuran tinggi sebah huruf bukan dihitung dari tinggi huruf yang telah tercetak namun dihitung dari kedalaman dari body size. Sebagai gambaran, 10 pt kedalaman dari body size akan menghasilkan huruf setinggi 10 pt. •

x-height x-height bukan merupakan sistem pengukuran huruf, namun besar

kecilnya x-height dapat mempengaruhi tinggi huruf secara visual. Di samping itu, perbedaan jenis huruf serta proporsi antara x-height dan body size memiliki pengaruh terhadap ukuran ascender dan descender. Besar kecilnya x-height memiliki pengaruh terhadap jumlah huruf yang dapat terakomodasi dalam satu baris. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, berikut adalah contoh perbandingan dari tiga jenis huruf yang dicetak dalam ukuran 10 pt dan 54 pt :


•

em dan en Spasi adalah berupa interval antar elemen tipografi yang mencakup:

jarak antar huruf atau yang disebut kerning, jarak antar kata atau yang disebut word spacing dan jarak antarbaris atau yang disebut leading (dibaca:leding). Teknik tradisional yang digunakan untuk pengukuran ruang jarak antar kata adalah penyisipan potongan metal yang diletakkan di antara huruf yang satu dan yang lain. Potongan metal ini disebut quad. Sebuah quad berbentuk persegi empat yang merupakan kotak sebesar ukuran huruf. Quad memiliki satuan yang disebut sebagai em. Ukuran setengah dari em adalah en. Apabila huruf dengan ukuran 10 pt maka em-quad-nya berukuran 10 pt x 10 pt. Untuk memperjelas gambaran tentang teknik tradisional ini, berikut adalah contoh gambar sebuah em-quad.

gambar diambil dari website EMQUAD international .ltd http://www.emquad.com


Kerning Pengukuran jarak antarhuruf (kerning) dalam phototypesetting dan

digital composition dihitung dengan sistem unit. Sistem ini tidak memiliki acuan pengukuran yang tetap, dalam pengertian bahwa unit memilikinilai yang berbedabeda tergantung kepada sistem yang digunakan. Em berupa kotak seukuran besarnya huruf, kemudian bila kotak ini dibagi menjadi beberapa segmen yang sama besar, maka setiap segmen ini disebut sebagai unit. Sebuah huruf ‘U’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 12 unit, sementara huruf ‘t’ dapat memiliki lebar 6 unit. •

Leading Pengukuran jarak antarbaris (leading) dihitung dengan menggunakan

satuan point. Teknik tradisional memakai lembaran metal yang disisipkan di antara baris. Lembaran metal ini memiliki ketebalan yang beragam. ( Dikutip dari Buku Tipografi dalam desain grafis oleh Danton Shombing, MFA Gramedia). E.

Keluarga Huruf Keluarga huruf terdiri atas berbagai kembangan yang berakar dari

struktur bentuk dasar (regular) sebuah alfabet dan setiap perubahan berat huruf masih memiliki kesinambungan bentuk. Perbedaan tampilan yang pokok dalam keluarga huruf dibagi menjadi tiga bentuk pengembangan, yaitu: berat, proporsi, dan kemiringan.


•

Berat Perubahan berat dari struktur bentuk dasar huruf terletak pada

perbandingan antara tinggi dari huruf yang tercetak dengan lebar stroke. Bila ditinjau dari berat huruf, maka anggota dari keluarga huruf ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok pokok, yaitu: light, regular, dan bold. Setiap anggota keluarga huruf baik light, regular, dan bold memiliki kesamaan ciri fisik, namun dengan tampilnya perbedaan berat dapat memberikan dampak visual yang berbeda. Seperti contoh, huruf bold karena ketebalannya memiliki potensi yang kuat dalam menarik perhatian mata. Biasanya kelompok huruf bold ini banyak sekali digunakan untuk judul (headline) sebuah naskah, baik untuk iklan, poster, maupun media terapan lainnya. Berikut adalah tabel perbandingan antara tinggi dari huruf yang tercetak dengan lebar stroke dari huruf tersebut:


•

Proporsi Perbandingan antara tinggi huruf yang tercetak dengan lebar dari huruf

itu sendiri dapat dibagi menjadi tiga kelompok bila ditinjau dari perbandingan proporsi terhadap bentuk dasar huruf tersebut. Pembagiannya adalah condense, regular, dan extended. Berikut adalah tabel proporsi yang ideal antara tinggi huruf yang tercetak dengan lebar huruf itu sendiri:

•

Kemiringan Huruf yang tercetak miring dalam terminologi tipografi disebut italic.

Huruf italic ini biasanya digunakan untuk memberikan penekanan pada sebuah kata. Di samping itu, huruf-huruf ini juga dipakai untuk menunjukkan istilah atau


kata yang berasal dari bahasa asing. Umumnya, huruf italic digunakan untuk teks dalam jumlah yang tidak terlalu panjang, seperti untuk keterangan gambar (caption), highlight dari naskah (copy blurb) serta kadang juga digunakan sebagai headline atau sub-head. Apabila kita perhatikan secara seksama, huruf italic dirancang dengan sudut kemiringan tertentu untuk mencapai toleransi terhadap kenyamanan mata kita dalam membacanya. Sudut kemiringan yang terbaik adalah 12 derajat. Mata kita akan sukar mengidentifikasikan huruf italic apabila sudut kemiringan lebih besar dari 12 derajat, akan mempengaruhi keseimbangan bentuk huruf. •

Set Characters Setiap alfabet memiliki berbagai character yang terdiri dari huruf

besar atau yang disebut uppercase (sering juga disebut dengan capitals atau caps) dan huruf kecil atau yang disebut lowercase. Istilah ini berasal dari subsistem teknologi mesin cetak yang awalnya ditemukan oleh Johan Gutenburg. Pada masa itu cetakan huruf yang berupa potongan-potongan blok metal disimpan dalam sebuah kotak yang disebut dengan type case. Huruf besar disimpan di dalam kotak pada bagian atas (upper case), sedangkan huruf kecil diletakkan pada bagian bawah dari kotak (lower case). Kelengkapan character dalam sebuah alfabet (set character) biasanya memiliki uppercase yang berjumlah 26 dan lowercase dalam jumlah yang sama. Selain uppercase dan lowercase masih terdapat berbagai jenis character yang melengkapi sebuah alfabet. Sebagai catatan, setiap jenis huruf digital memiliki jumlah character yang berbeda-beda, hal ini tergantung pada


seberapa banyak si perancang huruf mendesain jumlah character. Satu set characters yang lengkap biasanya terdiri dari lebih 200 jenis character. Penambahan character seperti ligatures disebut sebagai expert set characters.

Berikut adalah jenis-jenis character tambahan selain upper case dan lower case. 1. Ligatures, Dua buah character atau lebih yang digabungkan menjadi satu kesatuan unit. Seperti; fi, fl, Æ, æ, Œ 2. Modern Figures, Angka-angka yang memiliki ketinggian yang sama dengan upper case. Modern figures sering juga disebut sebagai lining figures. 3. Old Style Figures, Angka-angka yang memiliki ketinggian yang sama dengan meanline dari lower case. 4. Foreign Accents, Character yang melengkapi sebuah set characters dalam sebuah bahasa tertentu, seperti beberapa tanda baca atau huruf2 tertentu, seperti beberapa tanda baca atau huruf-huruf tertentu seperti yang terdapat dalam bahasa Jerman atau Prancis. 5. Small Caps, Upper case yang memiliki tinggi yang sama dengan lower case (x-height). 6. Fractions, Angka-angka pecahan 7. Punctuation Marks, Tanda-tanda baca


F.

Klasifikasi Huruf Sering timbul pertanyaan yang dikaitkan dengan keberadaan ragam

jenis bentuk huruf digital yang hampir atau bahkan tidak memiliki korelasi dengan konvensi klasifikasi huruf yang telah ada. Hal ini sebaiknya diabaikan, mengingat klasifikasi huruf terakhir ditandai dengan tonggak sejarah kelahiran huruf Helvetica pada tahun 1957. Untuk lebih singkatnya, klasifikasi huruf dibuat berdasarkan atas latar belakang sejarah perkembangan tipografi yang diambil dari momentummomentum penting dalam perjalanan sejarah penciptan dan pengembangan bentuk huruf. Walaupun saat ini lahir beragam jenis bentuk huruf, dunia tipografi sekarang masih banyak mengangkat jenis huruf-huruf lama, seperti Bodoni, Century, ataupun Garamond yang direproduksi serta dimodifikasi dengan teknologi digital. Huruf-huruf lama yang direproduksi kembali (revival type) oleh type foundry biasanya dimodifikasi dengan desain yang berbeda. Selain perbedaan desain, kadang ditemui juga perbedaan ukuran x-height. Untuk mengenali perusahaan mana yang mereproduksi dapat dilihat dari kode yang tertulis di muka nama jenis huruf, seperti A Garamond (‘A’ berarti Adobe) atau ITC Century (‘ITC’ berarti International Type Corporation). Seperti halnya perbedaan desain, juga ditemukan perbedaan nama, seperti huruf Helvetica dinamakan juga Switzerland, Claro, Vega ataupun Newton. Penamaan ini tergantung kepada perusahaan mana yang mereproduksi huruf-huruf tersebut. Perbedaan standardisasi ini dapat menimbulkan masalah dalam produksi desain


cetak. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya pada saat data di-serahkan kepada biro separasi film, jangan lupa untuk menyertakan jenis-jenis huruf yang digunakan. Menurut Pupung Budi Purnama pada Blog www.designmagz.com Sans Serif melambangkan kesederhanaan, lugas, “masa kini� dan futuristik. Huruf jenis ini cocok bila didampingkan dengan grafis yang berkesan futuristis. Bila Anda ingin mendapatkan kesan sederhana atau simpel, huruf jenis ini juga cocok digunakan dengan paduan garis tipis dengan warna yang tidak terlalu mencolok. Untuk menegaskan kata atau judul dari sebuah title desain, huruf ini dapat diberikan ketebalan, lalu dari segi penggunaan berbeda dengan tipe Serif yang sering dipergunakan pada buku-buku atau surat kabar, pada huruf Sans Serif lebih banyak dipergunakan pada layar komputer, hal ini disebabkan karena huruf sans yang sederhana (tidak mempunyai kait) dan dapat lebih mudah terbaca pada huruf-huruf yang lebih kecil. Bahkan, pada layar komputer kait pada huruf Serif justru memperumit huruf tersebut hingga lebih sulit dibaca. Berikut adalah pengelompokan yang dibuat sesuai dengan urutan waktu pembuatan beserta salah satu contoh hurufnya: 1. Old style (Garamond, 1617) 2. Transitional (Baskerville, 1757) 3. Modern (Bodoni, 1788) 4. Egyptian/Slab Serif (Century Expanded, 1895)


5. Sans Serif (Helvetica, 1957) 6. Display/Script (Copperplate) ( Dikutip dari Buku Tipografi dalam desain grafis oleh Danton Shombing, MFA Gramedia).

G.

Jenis Font / Huruf Menurut buku dari Adi Kusrianto dalam bukunya HURUF DISPLAY

dengan KOMPUTER dan MANUAL. Dengan pesatnya pekembangan teknologi dalam dunia percetakan digital dan komunikasi digital, dunia teknologi font telah melakukan langkah yang besar dengan bermunculannya desain-desain huruf yang inovatif dan telah memperkaya dunia desain komunikasi visual. Diperjalanan awal dari teknologi font digital, font didesain dengan ukuran yang pasti seperti 9, 10, 12, 14, 18 dan 24 pt dengan menggunakan standar bitmap layar komputer sehingga memiliki kelemahan ketika font harus diperbesar atau diperkecil. Akan tetapi kini dengan kehadiran teknologi vektor dan antialiasing teknologi font terus berkembang dengan meninggalkan teknologi bitmap. •

Font Type 1 dan Postscript


Untuk mengatasi permasalahan pada font bitmap, Adobe membuat font menggunakan Postscript page desription language. Font ini memiliki dua bagian, satu set font bitmap berukuran pasti dan font berbasis postscript yang akan memberikan informasi outline dari bentuk font tersebut. Sistem operasi seperti Mac OS atau Windows menggunakan font bitmap untuk menggambar font di layar, dan untuk ukuran bitmap yang diperbesar atau diperkecil sistem akan menggunakan ukuran terdekat untuk menyesuaikan bentuk. Dan untuk keperluan cetak-mencetak font dengan basis postscript akan digunakan dan di download ke printer. Dengan menggunakan metode Bezier Curves dengan minimum pemakaian empat buah titik untuk menghasilkan sebuah garis lengkung yang terdiri dari dua titik akhir dan dua titik kontrol. Outline dari postscript ini dapat diperbesar dan diperkecil tanpa batas dan menjaga bentuk huruf tetap baik. Ketika printer telah menerima informasi outline vektor yang telah diskalakan, makan betuk itu akan disi oleh pixel dan menciptakan sebuah gambar bitmap dengan resolusi tinggi. Proses ini dinamakan rasterization (dari bahasa Jerman “raster� yang berarti layar). Adobe membuat ATM (Adobe Type Manager) untuk mengatasi permasalahan online viewing pada font, sehingga font bitmap tidak lagi dgunakan dan lebih menggunakan informasi outline dari font postscript untuk menciptakan bentuk huruf bitmap yang sesuai dengan resolusi layar komputer, untuk semua ukuran font. Walaupun demikian di sistem Mac OS, ATM tetap memerlukan satu


file font bitmap yang di install agar nama font bisa terbaca di menu font. Font Type 1 sekarang sudah menjadi standar dalam software digital (ISO9541), dan di dunia, lebih dari 30000 font type 1 telah didigitalisasi untuk keperluan typesetting. •

Truetype Disamping dominasi dari dari font Type 1, Truetype ternyata lebih

populer, Truetype adalah font berbasis informasi outline juga dan format vektor nya bisa di skala sesuai kebutuhan ukuran dengan akurasi yang tinggi. Truetype menggunakan metoda Quadratic B-spline dengan menerapkan titik-titk secara langsung pada garis dan bagian-bagian yang dilengkungkan. Kurang lebih postscript dan truetype memiliki kapabilitas yang hampir sama sebagai font berbasis outline atau scalable font. Software standar dari truetype dibuat oleh Apple, akan tetapi kini juga bisa digunakan oleh sistem operasi Windows. Kedua sistem tersebut memiliki Truetype Rasterizer yang menyediakan informasi untuk penggambaran di layar dan output cetak. Truetype di rancang sebagai file tunggal (suitcase), yang didalamnya sudah terdapat keluarga huruf dalam bentuk plain, plain italic, bold dan bold italic membuat type font ini lebih rapih dalam pendataan file dibandingkan Font Type 1. Bezier curve (postscript)


Quadratic B-Spline (TrueType) Gambar diambil dari http://www.mlab.nl

•

Multiple Master Font Multiple Master adalah jenis font Type 1 yang dibuat khusus oleh

Adobe sehingga membedakan jenis sistem ini dengan sistem yang lain. Keunikan dari Multiple Master Font adalah setiap character memiliki lebih dari satu outline digital, sepasang outline merepresentasikan titik akhir dari sebuah garis desain (design axis) dan font berbasis Multiple Master mengandung informasi titik (axes) untuk berat, style ataupun penglihatan optis dan semua terdapat dalam satu paket. Kelebihan dari Multiple Master Font adalah fleksibilitas bentuk huruf untuk di kostumisasi tanpa distorsi bentuk ketika di perbesar atau diperkecil. File dari Multiple Master Font lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya, juga dengan penamaan font sangat kompleks dan susah untuk di atur. Multiple Master Font di identifikasikan dengan MM ditambah nama pendek dari huruf tersebut contohnya ITCAvaGarMM. Dan biasanya diikuti oleh dua huruf dari informasi titik (axes) seperti BD untuk Bold, XL untuk Light, NO untuk Normal, CN untuk Condensed, dan OP untuk Optikal. Nominal angka untuk


merepresentasikan nilai axis. Dan jika kita membuat Multiple Master Font axis ini akan muncul dalam huruf kecil. •

Unicode Font Unicode adalah standard baru untuk menjabarkan characters set dalam

sebuah sistem, bekerja mirip dengan ASCII (American Standard Code for Information Interchange). Biasanya dalam ASCII terdapat 200 set characters, tetapi dalam Unicode bisa terdapat 65000 jenis characters sehingga Unicode sering digunakan dalam informasi digital multi bahasa. Unicode bukan lah sebuah font encoder (pembaca sandi-sandi font) tetapi hanya sebuah standar dimana informasi glyph (outline bentuk sebuah font) sebuah font tersimpan. •

Opentype dan Truetype Open Format font yang terbaru adalah jenis font OpenType dan TrueType

Open yang dibuat oleh dua perusahaan software raksasa yaitu Microsoft dan Adobe. Kelebihan dari format ini adalah tidak adanya perbedaan format dan kapabilitas yang tinggi untuk pertukaran basis sistem. Dan juga Opentype dan TrueType didesain sebagai single file sehingga memudahkan dalam pendataan font. Stimulus dari pembuatan format ini adalah standar Unicode yang memungkinkan sebuah font mengandung 65000 jenis characters. Termasuk expert character set seperti ligatures, smallcaps, extra accent, pecahan dan characters spesial lainnya. •

Worldtype


Worldtype adalah format font yang dibuat oleh perusahaan font AGFA Monotype, format ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan dari standar Unicode. ( Dikutip dari Buku Tipografi dalam desain grafis oleh Danton Shombing, MFA Gramedia).

2.2.

Huruf Helvetica

A.

Sejarah Helvetica Font Helvetica diciptakan oleh seorang designer Swiss pada 50 tahun

yang lalu, Helvetica adalah salah satu font yang paling sering digunakan secara luas untuk kategori typefaces sans-serif. Banyak sekali perusahaan terkenal seperti American Airlines, Lufthansa, dan Toyota yang memilih font ini untuk kebutuhan branding perusahaan. Terdapat banyak variasi Helvetica ketika pada tahun 1983, Linotype mengeluarkan font Helvetica Neue yang menghasilkan jenis Helvetica dengan gaya yang lebih tersusun secara struktural. Banyak yang menganggap bahwa Arial, yang didesain lebih dari 30 tahun setelah Helvetica, merupakan font tiruan Helvetica. Tetapi kemudian disadari bahwa Arial ternyata lebih memiliki banyak kesamaan dengan Univers dibandingkan dengan Helvetica.

(http://graphic-identity-galery.blogspot.com/2007/07/16-font-ter-favorit-dalam-desainweb.html)

B.

Tokoh Typeface Designer Helvetica


- Max Miedinger Max Miedinger (24 Desember, 1910 di Zurich, Swiss - Mar 8, 1980, Zurich, Swiss) adalah seorang Swiss typeface desainer. Dia terkenal untuk membuat Helvetica di tahun 1957. Dipasarkan sebagai simbol cutting-edge teknologi Swiss, Helvetica pergi global sekaligus. Antara 1926 dan 1930, Max telah dilatih sebagai seter di Zurich, setelah mana ia menghadiri kelas-kelas sore di Kunstgewerbeschule di Zurich. Ia menjadi seter Globus untuk department store periklanan studio di Zurich, dan menjadi pelanggan konselor dan typeface perwakilan penjualan untuk Haas'sche SchriftgieĂ&#x;erei di MĂźnchenstein dekat Basle, sampai 1956, di mana ia menjadi freelance seniman grafis di Zurich. - Eduard Hoffmann Eduard Hoffmann adalah direktur Haas'sche Schriftgiesserei (Haas Type Foundry) di MĂźnchenstein, Swiss, di tahun 1950-an. Ia meminta Max Miedinger, mantan karyawan dan freelance designer, untuk merancang sebuah Diperbaharui sans-typeface berkait untuk bersaing dengan populer sans-berkait Akzidenz Grotesk. Hasilnya adalah typeface bernama Neue Haas Grotesk, kemudian diubah namanya Helvetica ketika Stempel dan Linotype mulai pemasaran font internasional pada tahun 1961.


2.3.

Logo & Pencitraan

A.

Pengertian Logo

Menurut pendapat Martadi Dosen Jurusan Seni Rupa dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni - Universitas Negeri Surabaya mengatakan, Logo merupakan representasi dari nilai-nilai ideal, yang meliputi aspek: visi dan misi, ruang lingkup kerja, serta budaya perusahaan, dan berperan sebagai wajah suatu lembaga atau perusahaan. Sebagai bahasa penanda, logo biasanya ditampilkan berupa sesuatu yang mencerminkan citra tertentu yang sengaja dibangun oleh suatu lembaga atau perusahaan. Apabila suatu perusahaan ingin membangun citra yang baru, maka perlu upaya memposisikan ulang citra yang telah terbentuk di masyarakat. Reposisi citra dapat dilakukan dengan merubah tampilan logo perusahaan. Sebagai bahasa penanda, logo dapat dijadikan alat untuk menyebarluaskan suatu ideologi tertentu. Ketika dilakukan penyeragaman penggunaan tanda-tanda dari ideologi tertentu pada semua logo lembaga atau perusahaan, maka terjadilah hegemoni ideologi melalui logo. Manakala ideologi tersebut dicitrakan kurang baik dan struktur kekuasaan tidak kuat lagi menyokong hegemoni, maka tanda-


tanda yang mewakili hegemoni tersebut berupaya dihilangkan untuk membangun citra baru.

Menurut Dendi (1999), logo diartikan sebagai segala sesuatu yang berupa lambang, gambar, tulisan, angka, atau gabungan dari berbagai hal tersebut, yang disandang oleh suatu produk, perusahaan, lembaga, organisasi, atau kegiatan, untuk mencirikan suatu eksistensinya agar dapat dibedakan dari produk atau merk lain. Membicarakan masalah logo maka tidak bisa lepas dari konteks bahasa penandaan yang menyangkut wilayah semiotika. Seorang pelopor semiotika Ferdinand Saussure, menyatakan tentang adanya hubungan tanda dengan tanda-tanda lainnya. Sebuah tanda diartikan sebagai obyek fisik, sedangkan pengertian tentang tanda tersebut diberi istilah penanda (signifier) dan petanda (signified). Keduanya merupakan aspek tanda yang tidak terpisahkan dan simultan. Penanda adalah citra dari tanda yang diterima lewat sensori indera, sedangkan petanda adalah konsep abstrak yang diperlukan oleh tanda, dipancarkan oleh penanda dan menghasilkan makna yang muncul dari hubungan antara tanda dengan tanda-tanda lainnya.


BAB III METODE PENULISAN 3.1.

Metode Penelitian Makalah ini disusun dengan menggunakan metode deskripsi analisis. Dengan metode ini, penulis menganalisa data berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan.

3.2.

Teknik Pengumpulan Data Dalam penulisan makalah ini, data yang dipakai adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada makalah ini adalah teknik studi kepustakaan, dimana data yang dikumpulkan dalam penulisan makalah ini berasal dari sumber-sumber berita di koran, majalah, internet, serta buku-buku dan undang-undang perpajakan.

3.3.

Teknik Analisa Data Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, selanjutnya dianalisa untuk diambil kesimpulan.


.


Makalah Huruf Helvetica