Issuu on Google+

PIDATO PERDANA SAM RATULANGI 1 DI DEPAN VOLKSRAAD 1927 K e t u a , RATU LANGIE Ketua: Masih banyak pembicara terdaftar dan jadwal kerjanya sangat ketat, sehingga perlu sekali segera mengambil tindakan. Itu sebabnya sebaiknya malam ini diadakan rapat. Karena itu kami nanti akan berhenti jam 1 tepat dan malam ini memulai kembali jam 6.30. Rapat diskors jam 10.55 untuk sesaat, kemudian dilanjutkan. Tuan Ratu Langie: Tuan Ketua, sebenarnya saya segan sekali minta kesempatan berbicara. Untuk seorang yang bertahun-tahun hidup dalam masyarakat kecil, dalam hidup-bersama yang kecil dengan pertanyaan dan masalah-masalah kecil, sungguh sulit dalam waktu singkat berorientasi ke dalam hidup-bersama, yang pertanyaan dan masalah-masalahnya di matanya serba besar. Bertahun-tahun saya hidup di tanah, dimana irama kehidupan yang serba cepat itu hanya kedengaran gema halusnya. Sengaja saya bicara tentang gema, Tuan Ketua, karena apabila berita-berita tentang kejadian-kejadian penting di Minahasa tiba, semuanya sudah tertimpa oleh


2

yang lain. Efek psikologisnya, berkurangnya dan semakin lunturlah perhatian terhadap pertanyaan-pertanyaan besar, sampai akhirnya orang tidak mengikuti jaman lagi dan ketinggalan sama-sekali. Di tempat kami di Minahasa, daerah tempat asalku, kami pusing memikirkan beribu -ribu rupiah, tetapi disini saya dihadapkan pada suatu tawaran anggaran rekening jutaan ribu yang tak terjangkau pikiranku. Namun ketika saya meninjau persoalannya lebih lanjut dan lebih mendalam, saya temukan berbagai persamaan antara masalah kecil disana, dan masalah (besar) yang disini. Saya lalu menemukan, tuan Ketua, bahwa bila saya tinjau masalah-masalah kecil dari Minahasa, tempat saya merasa kerasan, dengan sebuah kaca pembesar, masalah-masalah kecil ini memperoleh aspek yang sama dengan aspek masalah-masalah besar, yang kini kita hadapi untuk dipecahkan. Penemuan ini memberanikan diriku disini pada tinjauan umum, untuk angkat bicara sambil mohon maaf terlebih dulu, apabila kaca pembesarku memperlihatkan kesalahankesalahan. Saya tahu sekali, Tuan Ketua, bahwa gambaran yang akan saya berikan ini, dengan


3

mudahnya akan memberi alasan untuk menentang pembicaraanku ini. Memang, tak terhitung kelucuan-kelucuan yang dapat disaksikan melalui kaca pembesar yang memperbesar berbagai penyimpangan. Namun dengan atau tanpa penyimpangan, saya akan menggunakan teori tentang pembesaran gambar, sebagai hipotese kerjaku dalam orientasiku ini. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa pada suatu tinjauan umum, keadaan politik disorot, dan menurut pendapatku memang sudah selayaknya. Bukankah anggaran itu dapat dianggap sebagai suatu pandangan umum yang skematis tentang kemampuan Negara materiel dan moril, yaitu pengorganisasian yang dibangun dari rakyat, yang mencakup pengaturan tentang penyelenggaraan kebutuhan rakyat akan lembaga-lembaga kemasyarakatan, tempat organisasi ini akan menimba segala kekuatan dari daya-daya rakyatnya. Disitulah anggaran kita sendiri harus berbanding selayaknya dengan kemampuan materiil dan moril rakyat Indonesia. Anggarannya sekaligus harus mencerminkan unsur pokok dari bagian penguasa dalam pembangunan masyarakat. Inilah program


4

pembangunan untuk tahun bersangkutan, yang sedang kita hadapi, sejauh itu menyangkut bagian penguasa. Di samping bagian penguasa ini, ada pula kekuatan-kekuatan dalam masyarakat itu sendiri, yang berpartisipasi dalam pembangunan, ya yang juga menentukan kerja sang penguasa. Karena itu jika bekerja secara aktif dalam pembangunan masyarakat, – kami hanya ikut bekerja secara pasif – perlu mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan ini; bukankah dasar karya pembangunan masyarakat tempat kita semua ikutserta, harus sesuai dengan kenyataan. Karena itu kita patut mengenal kekuatankekuatan yang hidup dalam masyarakat, sebab karya pembangunan terutama terdiri dari mengaktifkan dan memimpin kekuatan-kekuatan tsb. dan membangkitkan potensi-potensi yang ada. Namun kini tak sedikit hal yang dapat dibedakan satu dari yang lain, seperti justeru kekuatan-kekuatan masyarakat, kekuatankekuatan yang berevolusi, sebagaimana disebut dalam ‘Memorie van Antwoord’, karena seluruh hidup kita begitu dipengaruhi kekuatan-kekuatan ini, sehingga kita sebagai individu begitu sulit mempertahankan pandangan yang jernih dan


5

seringkali kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Meskipun demikian, kita harus berusaha mengatasi subyektivitas kita, dan membiarkan individu menyingkir demi kepentingan masyarakat. Kita harus berusaha meresapkan diri dengan pikiran bahwa sebagai manusia bermasyarakat, sebagai anggota hidup-bersama, seringkali kita harus mengesampingkan kepentingan kita, demi kepentingan umum, yang akhirnya menjadi kepentingan kita juga. Apabila kita berpangkal pada pemikiran dasar ini, akan lebih ringan bagi kita memandang masalah-masalah secara obyektif dan akan menjadi mungkin untuk mencapai kesimpulan yang cerah. Hanya apabila pikiran utama dilahirkan dari usaha menuju pengertian yang jelas dan pandangan yang obyektif, - hanya dengan begitulah, pikiran akan membawa kepada tindakan dan perbuatan aktif yang akan menjadi berkat bagi manusia dan kemanusiaan, apabila sifatnya murni dan tidak diwarnai kepetingan pribadi atau kelompok yang sempit. Saya telah berusaha bagi diriku sendiri membuat gambaran tentang hubungan antara faktor-faktor dan syarat-syarat yang mengitari


6

kita di Indonesia, berpangkal pada pandangan ini, sehingga saya sampai pada kesimpulan bahwa perkembangan kehidupan masyarakat kita, didorong oleh daya kekuatan batinnya sendiri. Saya bicara disini tentang kekuatan batin hidupbersama, karena meskipun kita dalam sintesa masalah-masalah kecil, dapat member-lakukan kehendak individual kita, kita tak dapat lagi mengubah arus perkembangan tanah dan bangsa ini yang didesak oleh kehendak masyarakat itu sendiri. Kehendak ini tampaknya selintas pandang, berasal dari sumber yang transenden, namun jika dianalisa lebih dalam, berupa hasil sublimasi dari perjuangan dan keinginan dan dari benturan-benturan kekuatan yang hidup dalam masyarakat. Itu sebabnya, perlu mengenal kekuatan-kekuatan ini, setidaknya, kecenderungan-kecenderungannya, atau kalau mau memakai istilah ‘Memorie van Antwoord’, faktor-faktor evolutifnya. Tinjauanku ini saya bagi kedalam tiga kelompok faktor untuk memudahkan pandangan umumnya: faktor ekonomi, faktor sosial dan faktor politik. Dengan sendirinya akhirnya, kelompok faktor-faktor tsb. saling terjalin dan saling mempegaruhi.


7

Faktor ekonomi – Titik lemah, locus minores resistentiae dari bangsa Hindia, adalah ekonomi. Kita dapat mendengar tese ini dinyatakan dalam berbagai nada, justeru oleh orang-orang yang tidak tergolong orang-orang yang disebut orang Indonesia, dan kebanyakan mereka mempunyai tujuan tertentu. Bangsa Indonesia secara ekonomi lemah, setidaknya secara relatif; mungkin saja ada individu-individu atau kelompok-kelompok kecil yang telah melepaskan diri dari kungkungan kelemahan ekonomi ini, namun pada umumnya, bangsa ini sangat miskin, sebagaimana yang dianggap dan yang ingin diputuskan mereka dengan ungkapan-ungkapan tentang kemalasan, ketidak-pedulian, kedangkalan seorang ‘inlander’. Saya berharap dapat menunjukkan, bahwa hal ini punya akar yang lebih dalam dan bahwa justeru karena hal inilah, persoalannya bukan tanpa harapan. Bukankah bagan memperlihatkan susunan ekonomi Indonesia, seperti yang disinggung sepintas dalam laporan bagian, bahwa orang Indonesia, adalah penghasil primitif barangbarang ekonomi, orang bukan-Indonesia adalah


8

pengolah hasil ekonomi ini, orang Indonesia pekerja proletar, orang bukan-Indonesia organisator pekerjaan, orang Indonesia konsumen barang-barang asing, orang bukanIndonesia, pembawa dan distributor barangbarang ini. Pada umumnya dapat dikatakan, bahwa orang bukan-Indonesia adalah pemimpin intelektual dari sistem produksi dan konsumsi tanah ini, dimana orang Indonesia dalam produksi dan konsumsi memainkan peranan massa secara pasif. Setiap peninjau serius atas gejala-gejala masyarakat, pernah bertanya pada dirinya sendiri apa asa-usul perkembangan seperti ini! Bagaimana mungkin, kelompok penduduk yang jumlahnya puluhan kali lipat lebih banyak dari kelompok lain, dalam proses produksi dan pertukaran barang, merosot sampai ke pekerja tanpa inisiatif dan pengguna barang belaka? Mengapa jutaan orang ini tidak berhasil meraih bagian lebih besar organisasi ekonomi?

dalam

kepemimpinan


9

Mengapa bukan bagian lebih besar dalam hasil proses itu diperuntukkan bagi mereka yang ikut-serta dalam produksi dan pertukaran barang? Kemalasan dan ketidak-pedulian bukanlah alasannya. Bukankah dalam diri setiap manusia, termasuk dalam diri manusia yang paling pimitif sekali pun, ada dorongan untuk perbaikan keadaan hidup. Orang Papua yang membangun sangkarnya di pohon, dibantu dalam usahanya ini oleh azas kehidupan yang sama, seperti Baron von Rotschild dalam oprasioperasi banknya. Keadaannya berlainan, namun saat awal, saat psikologisnya sama saja: yaitu perbaikan kehidupan berdasarkan dorongan primitif untuk bertahanhidup. Juga pada bangsa-bangsa dan suku-suku, sebagai jumlah individu-individu, hal ini demikian. Masalah dasar ekonomi tanah ini memang mempunyai sebab-musababnya yang lebih mendalam dari ‘kemalasan dan ketidakpedulian.’ Ketika Eropa-Barat dalam abad ke-16 mengembangkan sayapnya meliputi seluruh


10

dunia, dan didorong oleh perniagaan sampai ke sudut-sudut terjauh dari Asia-Timur, orang hampir tak sadar, bahwa dengan ini langkahlangkah pertama dilakukan dalam menciptakan organisasi dunia ekonomi yang titik-beratnya akan berada di Eropa-Barat. Makna produk-produk semua tanah di dunia diukur dengan penilaian yang disangkutkan pada pasar-pasar Eropa Barat padanya. Orang berproduksi untuk pasar Eropa; bila yang disana tidak berharga, tidak pula diproduksi disini; mata seluruh dunia produksi tertuju kepada Eropa. Keseluruhan sistem produksi dunia sampai kini digantungkan kepada konsumsi Eropa. Demikianlah bibit-biti pertama organisasi dunia dari produksi dan pertukaran barang sangat barat sifatnya, karena Eropa Baratlah, yang memiliki ‘kekuasaan tehnik dan pemaknaan dunia konkret,’ yang karena dorongan naluri ras yang terbentuk secara turun-temurun oleh sistem iklim akibat pergantian musim, ternyata memiliki


11

kekuasaan dan kekuatan untuk meletakkan dasar-dasar tata-susun ekonomi yang meliputi seantero dunia, yang berorientasi pada kemampuannya sendiri, pengetahuannya sendiri, hakekatnya sendiri dan kepentingannya sendiri. Seluruh tata-susun seperti ini asing bagi hakekat jiwa bangsa-bangsa Timur. Terhadap lembaga-lembaga yang berkembang kemudian seperti perbankan, perniagaan, perindustrian, pembentukan trust, dsb., dunia Timur dengan jiwa kontemplatifnya cuma dapat memandang dengan rasa takut-hormat. Tata-cara ekonomi yang serba-sederhana bangsa-bangsa Timur sendiri itu, ditambatkan dalam ribuan ikatan dan dibuat tergantung pada tata-susun dunia Eropa-Barat. Sekiranya kita berpegang pada azas bahwa setiap bangsa dalam perkembangan bebas akan menciptakan tata-susunnya sendiri, jelas bagi kita bahwa keseluruhan tata-susun modern, asing bagi jiwa Asia.


12

Disinilah letak inti penjelasannya mengapa di Indonesia puluhan juta manusia, dikelompokkan ke dalam tingkat-tingkat rendahan pada tata-susun ekonomi dan memegang peranan sebagai produsen yang tak ber-inflasi, pekerja dan pengguna belaka. Bangsa Indonesia ditempatkan di hadapan suatu tata-susun produksi-pertukaran barang yang serba asing bagi hakekatnya sendiri. Saya teringat telah membaca karya seorang sarjana Jepang Nitobe, berjudul ‘, Bushido’, Jiwa Jepang. Guru besar terhormat ini menulis tentang gagalnya perusahaan-perusahaan besar Jepang. “Jangan kita lupa,” begitu Nitobe, ‘bahwa Jepang baru dalam decennia terakhir ikut-serta dalam produksi dunia dan bahwa seluruh Bushido, keseluruhan jiwa Jepang, asing terhadap hubungan-hubungan modern.” Demikian pula halnya dengan Indonesia: jiwa bangsa Indonesia seluruhnya asing terhadap organisasi dunia produksi dan pertukaran barang. ini dengan hukum-hukum besinya tentang ‘yang kuat yang menang’, yang


13

organisasi kehidupan ekonominya menutupi organisasi serba-sederhana kehidupan ekonominya sendiri. Suatu bangsa dengan psikologi yang masih berorientasi pada struktur masyarakat patriartkal dan komunal, dipaksa ikut-serta dalam pertukaran-barang yang meliputi seluruh dunia, sementara wawasan ekonominya tidak lebih daripada sudut-pandang desanya. Herankah kita bahwa bangsa ini terdesak kembali ke bidang-bidang yang lebih rendah dalam tata-susun ekonomi? Apakah senantiasa demikian keadaannya? Saya yakin sebaliknya. Saya teringat akan katakata Dr. Meerkerk dalam sebuah jilid majalah ‘Timboel’ yang memuat tulisannya tentang Cina: “Memang , inilah argumen lama dari Timur: waktu, sekali lagi waktu. Waktu untuk mengendapkan yang baru, untuk meng-akar dan meng-aklimatisasi, sampai segala yang asli Barat menjadi nasional dan milik sendiri ……………….. Saat adalah milik kita, waktu


14

milik mereka. Dan waktu lebih berkuasa daripada saatnya.� Sungguh, apabila pengaruh timbal-balik antara masyarakat dan jiwa bangsa - dengan tata-organisasi Barat yang modern itu sudah menjadi miliknya, maka kelak akan tiba waktunya bahwa bangsa-bangsa Indonesia meraih tingkat dan kedudukan dalam tataekonomi dan bagian dalam proses produksipertukaran barang. Dalam ‘Memorie van Antwoord der Regering’ dikatakan, bahwa struktur masyarakat ini tidak akan membiarkan dirinya diubah dengan tindakan-tindakan penguasa yang langsung tertuju padanya. Tentu saja Tuan Ketua, hal itu memang saya lihat juga. Namun demikian, Pemerintah dapat mengulurkan tangannya melalui politikkesejahteran yang terarah, dengan perlindungan terhadap golongan-golongan lemah, yaitu golongan manusia berkulit sawo-matang yang sedang dalam pergulatan.


15

Faktor kedua yang telah saya sebut, ialah faktor kemasyarakatan (sosial). Hidup-bersama di Hindia dicirikan oleh pembedaan kasar antara: Orang Barat (Westerlingan) dan Orang Timur (Oosterlingen). Memang ada juga pembedaan antara golongan-golongan Timur, namun banyak kali terjadi peresapan timbal-balik antaranya yang terjadi jauh lebih mudah, dari pelanggaran perbatasan di dinding pemisah antara bangsa Timur dan bangsa Barat. Dalam hidup-bersama orang Eropa di Hindia, dapat dilihat fakta luar-biasa, bahwa unsur-unsur yang di Eropa sendiri tidak akrab, pribadi-pribadi dari peradaban dan perkembangan yang berlainan, terdorong oleh naluri-ras bersatu satu dengan lainnya. Pribadi-pribadi dengan pendidikan Universitas, biasanya di Eropa sangat eksklusif, terlihat selingkungan pergaulan dengan orang-orang yang asalnya dari pendidikan dasar. Yang mendominasi dalam hidup-bersama Eropa, adalah golongan menengah intelektual. Tuan Ketua! Saya bicara tentang golongan


16

menengah ‘intelektual’, saya sangat menekankannya, sebab jangan sampai anggota sesamaku terhormat, Tuan Van Baalen, menarik kesimpulan yang salah. Justeru ‘blok’ (kelompok) inilah, yang juga di Eropa begitu sulit mengangkat dirinya mengatasi kepentingan-kepentingan diri yang sepele, - ternyata begitu kukuh tertambat dalam tata-norma yang sudah dianutnya. Dalam kelompok orang-orang ini, yang juga berlaku di Eropa, begitu sulit membangkitkan penghargaan terhadap pandangan-pandangan hidup dan citacita hidup yang baru, dan golongan inilah, menguasai hidup-bersama orang Eropa. Dalam hidup-bersama Timur dilihat secara global, situasi lama tentang pembagian klas dan kedudukan diabadikan, yang lagi-lagi secara sosial saling meresapi. Saya tak perlu menguraikan hal ini lebih lanjut.; hal ini sudah terkenal. Namun suatu unsur baru muncul dalam tahun-tahun belakangan ini. Terbentuklah


17

segolongan intelektual, pribadi-pribadi yang dididik secara barat sekalipun di Hindia, yang seluruh pembentukannya terarah untuk dapat bergerak secara Barat, yang menghibur diri secara Barat, pendek kata yang hidup secara Barat. Unsur-unsur inilah yang terdapat di daerah-daerah perbatasan antara hidup-bersama Barat dan Timur. Biasanya mereka masih dalam jumlah kecil untuk dapat membentuk golongan masyarakat tersendiri. Mereka menyimpang atau ke arah hidup-bersama Timur, tempat mereka tidak terlalu betah juga, atau ke arah yang Barat, tempat mereka mungkin lebih kerasan, namun dimana mereka sering ditolerir sebagai hal yanglain dari yang lain, yang akhirnya tidak menyenangkan juga. Golongan inilah yang menciptakan konflik kemasyarakatan antara kedua macam hidup- bersama itu. Golongan ini bertanya-tanya, bagaimana mepertahankan diri mereka sendiri, tanpa melepaskan tradisitradisi lama. Yang Barat berhadapan dengan pertanyaan, bagaimana menentukan sikapnya


18

terhadap golongan mengungkapkannya.

itu

dan

bagaimana

Pidato ini bermaksud mengangkat mereka, namun naluri ras menolaknya. Naluri ras ini amat sangat dapat dijelaskan; bukankah sudah menjadi lazim dimana-mana, melalui sejarah manusia dari abad ke abad, bahwa penakluk bangsa memandang rendah yang ditaklukkannya, bahwa penguasa orang yang dikuasainya, dipandang sebagai manusia dari ras yang lebih primitief dari rasnya sendiri . Kalau dipikir lebih lanjut sebagaimana telah saya kemukakan, hidup-bersama Eropa (baca Belanda) ditandai oleh kaum menengah intelektual yang tak bergerak, maka semua faktor ada untuk mengucilkan kaum intelektual Indonesia dari lingkungan kaum Eropa. Ketua: Anda tidak membedakan antara para kaum intelektual dan bukan-intelektual menengah, bukan?


19

Ratulangie: Yang saya maksudkan dengan kaum intelektual kaum mengengah, adalah kaum menengah yang tidak punya ciri-ciri ekonomi. Dimana pada umumnya para anggota kelompok Eropa secara ekonomi lebih baik situasi ekonominya dari yang Indonesia, disitu dengan mudah dapat tumbuh dan berkembang rasa lebih berharga (meerwaardig). Eksklusivisme hidup-bersama Eropa berakar disini. Kaum intelektual Indonesia sering tidak diperhitungkan dengan cara yang menyakitkan, hal mana dalam Laporan bagian sudah pernah dikemukakan. Bahwa sementara itu duduknya persoalan tidak sehat, tak perlu diuraikan lebih lanjut. Bahwa penghargaan rendah terhadap unsurunsur Timur dalam hidup-bersama kelak akan menghilang, sudah pasti. Berangsur-angsur bergesernya titik berat hubungan kekuasaan ekonomi dan politik, akan mengubah pula norma-nora masyarakat dan penghargaan akan ras dan prasangka akan diganti oleh perkembangan dan peradaban. Namun bahwa


20

saat ini ada jurang , yang Grossen und Ganzen sejajar dengan batas pemisahan ras, ternyata dari ungkapan beberapa anggota Afdelingsverslag. Penolakan mengena langsung para kaum intelektual namun mentalitas yang mengalir dari hal ini merembes terus ke dalam lapisan-lapisan rendah golongan-golongan pribumi, ini faktor yang amat penting. Saya tiba kini pada pembicaraan kelompok faktor-faktor terakhir yang saya sebut tadi, yaitu faktor-faktor politik. Saya tak akan menguraikan tentang bentuk-bentuk organisasi, yang telah mengejawantahkan kelahiran-kembali rohani, dengan menderetkan organisasi-organisasi berdasarkan pemikiran dan program-programnya. Hal itu berada di luar pidato orientasi ini. Saya akan menjelaskan dengan singkat dan hanya mengikhtisarkan saat-saat pokok dari kebangkitan bangsa di Indonesia. Ini bukanlah gejala yang berdiri sendiri, melainkan salah satu peristiwa besar di Asia,


21

suatu reaksi pembelaan terhadap bekerjanya tatadunia baru atas jiwa Asia. Bagi Indonesia sekurang-kurangnya dua-puluh tahun terakhir ini, kebangkitan semangat itu disadari. Gerakan itu pertama-tama suatu reaksi terhadap pengaruh berabad-abad dari suatu kemerdekaan nasionalitas asing atas kekuasaan nasional asing yaitu pembentukan hukum organisasi kemasyarakatan. Terhadap hal ini mau dikedepankan, apa yang disebut Ir. Darmawan “hak kemerdekaan sendiri’ (eigen souvereiniteitswet) yaitu hak untuk dapat menguasai bentuk organisasi kenegaraan dan kemasyarakatan, berorientasikan perasaan diri sendiri terhadap segala sesuatu. Sumber psikologisnya adalah penyadaran diri berbudaya, suatu keyakinan, bahwa nilainilai budaya sendiri, pandangan-pandangan moral sendiri, renungan-renungan agama dan sastra sendiri, pendirian-pendirian tentang hukum dan penataan hidup-bersama, pasti tidak lebih kurang berharga dari yang dimiliki barat,


22

hanya saja lain orientasinya dan diukur pada hubungan-hubungan kehidupan yang lain. Ciri utama kebangkitan ini adalah perjuangan untuk mendasarkannya pada kemerdekaan rakyat; orang tidak berusaha lagi menggapai tradisi-tradisi lama, penguasaanpenguasaan kerajaan, melainkan dipengaruhi aliran-aliran ideologi-ideologi demokrasi Barat, orang ingin mendasarkan secara moril hak keberadaan gerakan ini pada kehendak rakyat, yang konsekuensinya adalah kerinduan akan badan-badan hukum apa pun namanya yang ditunjuk rakyat. Aliran-aliran dalam hidup-bersama pribumi dapat dibagi dalam tiga golongan, yang dibedakan satu dari yang lain oleh saat utama, yang mereka tetapkan sebagai yang terpenting dalam aneka kelompok-kelompok itu. Maka pertama-tama gerakan nasional, yang dengan mengesampingkan motif-motif yang lain, mengedepankan sentimen perasaan nasional. Nasionalisme ini, dapat pula dibagi


23

dua, yaitu yang berorientasi pada provinsi dan yang mengejar suatu nasionalisme universal dengan konsekuensi lebih lanjut, permasalahan federalisme atau unitarisme. Memang, bukan tidak peduli apakah kesatuan Hindia berdasakan satu kesatuan Negara merdeka atau berdasarkan kesatuan-kesatuan Negara federal. Untuk membedakannya, aliran kedua dalam masyarakat pribumi ini dapat dikatakan , tidak mengungkapkan dirinya berkaitan dengan organisasi ekonomi. Kaum nasionalis, termasuk saya, sendiri, menerima bentuk-bentuk produksi yang ada dan dalam rangka tata-ekonomi ini, menginginkan pembentukan-pembentukan politis yang baru. Semua bentuk produksi dan pertukaran barang yang ada, tetap mereka pertahankan, hanya tata-susun kenegaraan harus memperoleh aspek yang lain, kemerdekaan pada akhirnya harus diletakkan di tangan bangsabangsa Indonesia. Dengan mempertahankan tata-ekonomi kini, kami memperjuangkan suatu pergeseran kekuasaan-politik dan perubahan ketata-


24

negaraan serta nasionalisasi lembaga-lembaga penguasa. Kami tidak menolak kreasi-kreasi kapitalistis; kepentingan sefihak yang beratsebelahlah yang kami tentang, terlebih karena hubungan-hubungan kini asal-usulnya modal asing. Yang perlu diprhatikan adalah ‘kepentingan sefihak yang berat-sebelah’ dari golongan yang tidak nasional itu. Kedua, saya menggabungkan aliran-aliran yang memperlihatkan sisi sosialis; yang menempatkan diri berlawanan dengan bentuk kapitilistik, yang secara prinsip menentang kreasi-kreasi akbar yang kapitalistik dan menginginkan pembaharuan tata-ekonomi, suatu pemindahan kekuasaan politik kepada golongangolongan ekonomi yang lain dari yang ada. Hal ini diusahakan pula melalui jalan politik, dan dimana kehendak parlementer bagi sejumlah kelompok tertentu tidak mungkin, disitu cabang ekstrimis ini menempuh jalan konspirasi dan mau menjungkirkan apa yang ada dan apa yang tumbuh dari suatu sejarah kapitalistik. Berguna juga untuk menggaris-


25

bawahi disini, bahwa golongan-golongan nasionalis memiliki titik-tolak yang lain terhadap hal ini. Golongan ketiga ingin saya sebut kaum agama-berpolitik; mereka mengambil sebagai saat utama pendalaman kesadaran beragama; mereka ingin agama sebagai unsur yang meresapi segalanya dalam pembangunan Negara dan dalam hidup-bersama. Kesatuan agama dan hidup-beragama yang mendalam, patut menjadi dasar dari pendirian masyarakat. Namun golongan politik mana pun, dalam garis besarnya, terbentur pada golongan kemasyarakatan yang sama yang aspirasinya berlawanan. Saya telah berusaha membagi faktorfaktor kemasyarakatan di ketiga bidang untuk memperoleh pandangan umum dari kekuatankekuatan, yang hidup dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Memang tidak selalu mungkin membedakan ketiga bidang ini secara tajam, akhirnya ketiganya saling jalin-menjalin.


26

Hubungan-hubungan ekonomi tercermin dari pergaulan masyarakat dan memproyeksikan dirinya juga dalam yang politik, atau sebaliknya. Dan inilah justeru karakteristik masalahmasalah besar Indonesia, bahwa oleh faktorfaktor ekonomi, kemasyarakatan dan politik, antitesa yang satu dan sama tercipta, yaitu rasantitese dari Timur dan Barat. Kelompok yang mendominasi dalam masyarakat, sekaligus menguasai politik dan ekonominya. Inilah tragedi yang melanda bangsa-bangsa Indonesia. Orang Barat seperti yang dilakukan Dr. Kraemer, dapat menyebutnya masalah politik yang interesan mengenai “daya tarik dan daya tolak Timur dan Barat, yang “mengobrak-abrik dan menciptakan semua bidang kehidupan�; kami bangsa Indonesia hendaknya merasakannya sebagai suatu tragedi yang menimpa diri kita. Suatu tragedi, yang hampir-hampir melumpuhkan setiap perjuangan menuju harga diri manusiawi yang lebih tinggi. Amat sangat gampang, Tuan Ketua, bila, seperti yang pernah saya dengar, orang bicara


27

dengan dingin tentang perkembangan historis sebagai penjelasan tentang masa kini, hal yang benar juga, namun apabila orang tergolong yang orang yang justeru karena ‘perkembangan historis tsb.� terdesak ke tingkat-tingkat yang lebih rendah pada tata-susun masyarakat, maka tentu orang tunduk terhadap kekuasaankekuasaan yang bekerja-sama di dalam ‘perkembangan historis’ tsb, namun tragedinya sungguh terasa! Saya memastikan adanya tragik ini, bukan untuk menjadi nabi keputus-asaan dan menengadah memandang ketiga gugusan faktorfaktor yang menindih bagaikan batu karang yang tak tergoyangkan. Namun kekuatan moral bagi mereka yang memimpin ‘masa yang bungkam’ di tanah ini dalam memperjuangkan kedudukan ekonomi, politik dan sosial yang lebih tinggi, hanya dapat memperoleh dasar yang langgeng, dalam ikut merasakan dan menghayati kesadaran mendalam akan kedudukan hidup yang tragis yang ditempati bangsa-bangsa ini.


28

Sepanjang pidato ini, telah saya tandaskan bahwa masalah tanah-tanah ini dikuasai konflik tiga-rangkap, sosial, politik dan ekonomi antara Timur dan Barat. Sebelum saya mengijinkan diriku membuat suatu sintesa, saya ingin menelusuri dulu, dasar rohani mana saja yang menjadi tempat berpijaknya konflik rangkap-tiga ini. Cara penduduk bereaksi atasnya sebagian besar tergantung pada dasar mental memroyeksikan hubungan-hubungan kehidupan. Namun amat sangat sulit membuat orang yang berdiri di tengah kehidupan yang praktis itu, mengakui pengaruh nilai-nilai rohani dari perkembangan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Hal ini sangat picik; bukankah manusia dalam tindakan kesehariannya adalah produk proses-proses jiwa mendalam yang terdorong rangsangan-rangsangan lahiriah, yang terjadi dalam dirinya. Tak ada tindakan manusia, yang tidak didahului pembentukan kehendak, dan justeru inilah ikut tergantung dari keadaan jiwanya. Demikianlah akhirnya seluruh tindakan


29

kemasyarakatan juga merupakan pantulan dari reaksi rohani milik bersama para anggota masyarakat, dari bentuk hidup-bersama kehidupan rohani, sebagaimana Bierens de Haan pernah meng-ungkapkannya. Bercampurnya aneka aliran-aliran budaya di atas dasar kebudayaan primitif Indonesia yang umum, telah menciptakan variasi dan modulasinya seperti yang disajikan staalkaart Indonesia dewasa ini; kombinasi-kombinasinya dan tingkat-tingkat intensitas yang telah bekerja pada bagian tertentu penduduknya, merupakan sebabmusabab banyaknya budaya dan tingkat-tingkat budaya, yang kini kita saksikan pada bangsabangsa sekitar kita. Indonesia memperlihatkan suatu campuran tingkat-tingkat budaya yang dalam perjalanan waktu oleh lalu-lintas rohani yang semakin meningkat, menumbuhkan suatu pertukaran pikiran dan ide-ide yang hasilnya suatu bentuk kemasyarakatan dalam pemikiran budaya, khususnya secara politis.


30

Bagaimana hal ini dapat kita bayangkan? Bukankah baru saja dapat diterima bahwa dalam waktu yang tak terhitung akan masuk suatu egalisering yang religius moril dari banyaknya kelompok-kelompok penduduk Indonesia? Pasti tidak. Untuk mendapat suatu gambaran tentang apa yang baru saja saya katakan, haruslah kita memperhatikan, bahwa juga dasardasar moral dari hubungan antar manusia dengan manusia, lebih-lebih dalam suatu masyarakat yang konglomeratis, dapat dibagi kedalam dua kelompok besar. Saya ingin menyebutnya ‘yang lahiriah’ dan yang rohaniah. Moral yang rohaniah menetukan hubungan para anggota dari satu kelompok yang sama, yang anggotanya mis.oleh dasar religius moral saling berhubungan satu dengan yang lain. Yang saya sebut lahiriah, ialah yang menetukan hubungan antar anggota satu kelompok dengan kelompok lain dan yang antar kelompok. Kita melihat di Hindia sini, dalam kelompokkelompok penduduk yang berbeda, suatu usaha penguatan dan pendalaman dari kesadaran


31

moral-filsafat sendiri, namun di samping itu juga suatu kehendak yang disadari untuk berorientasi pada kelompok-kelompok lain. Pers pribumi yang sedang berkembang, memainkan peranan utama yang aktif di dalamnya. Proses ganda ini sangat jelas dapat dilihat dalam hubungan dan lalu-lintas rohani dan sosial antara kaum pribumi satu dengan yang lain. Orang menerima penyatuan historis ini sebagai suatu fakta transenden yang dipaksakan di luar kehendak diri sendiri, diresapi oleh kewajiban budaya untuk pendalaman dan pembatinan dari pandangan moral-filsafah, namun disamping itu orang juga sadar akan hukum besi tentang keniscayaan, akan penyebaran pikiran kelompok, akan kehadiran dan kepentingan kelompok-kelompok lain. Sikap hidup para intelektual ini, akhirnya akan merembes ke massa oleh pers, pergaulan dan pendidikan.


32

Pada dasar mental ini dengan kecenderungan-kecenderungan tsb. bekerjalah konflik tiga-rangkap itu , secara sosial, politik dan ekonomi, maka hasilnya tidak bisa lain daripada pengukuhan sikap hidup menilai urusan-urusan kehidupan yang dianut. Ini membawa kepada pendalaman pendirian moral sendiri dan penekanan pada karakteristik budaya, namun disertai pengakuan dan hormat terhadap golongan-golongan lain. Kedalam ada pembedaan, namun dengan suatu modus vivendi bersama bagi golongan-golongan yang berlainan, yang ke luar berwujud sebagai kesatuan. Sikap hidup orang Indonesia ini sekaligus membawa kepada pembatasan dua alam rohani yang terpisah di tanah-tanah ini, yang Timur dan yang Barat, yang dari yang tertaklukkan dan yang dari yang menguasai, yang tidak dapat dihilangkan dengan frasa-frasa indah, karena berakar didalam hubungan-hubungan kehidupan individu, namun suatu kenyataan psikologis yang tercipta dan terbentuk oleh konflik hidup tiga-rangkap itu yang kita hadapi di tanah-tanah ini.


33

Disini saya ingin memastikan hal ini Tuan Ketua, karena perlu agar ada suatu kejelasan. Kita harus sepakat tentang psikologi tanah-tanah ini, karena psikologi suatu bangsa tak dapat dan tak boleh ditiadakan. Lahir dari keadaan, ini juga merupakan impuls yang dahsyat ke arah perubahan kehidupan itu sendiri. Inilah korelasi mistik antara jiwa suatu bangsa dan keadaankeadaan sekitarnya. Kini saya mau kembali kepada tinjauan Dr. Kraemer. Masalah kolonial, demikian Dr. Kraemer, dalam artikel yang sudah disebut dalam ‘Koloniale Studien’, pokoknya adalah masalah psikologis. Tuan Ketua! Sekalipun Dr. Kraemer telah meninjau masalah gerakan Pribumi dari sudut pandang yang berlainan, sekalipun beliau mendekati masalahnya dari luar dan saya dari dalam, kami pada hakekatnya telah tiba pada kesimpulan yang sama. Sepanjang pidato saya, telah saya tunjukkan pentingnya nilai-nilai rohani dalam perkembangan hidup-bersama kita. Momen-momen psikhis hampir seluruhnya


34

menentukan reaksi penduduk terhadap sikap hidup dan menentukan tindakan kemasyarakatannya. Dengan suatu varian atas kesimpulan akhir Dr. Kraemer, saya ingin merumuskan tesis saya demikian: masalah politik adalah terutama suatu masalah psikhologis. Sudut-pandang politik, yang dikenakan para kaum nasionalis, adalah sudut-pandang psikologis, yang letaknya dalam sikap jiwa bangsa Indonesia; ke dalam berbeda-beda, aspirasi-aspirasinya besatu dari golongangolongan yang menjadi sadar secara politis menuju satu titik: pergeseran titik-berat dari keyakinan merdeka ke sisi ‘silent mass’ yang terdiri dari puluhan juta manusia dari kerajaankerajaan pulau-pulau ini; secara sosial dan ekonomi berjuanglah mereka kea rah emansipasi kelompok-kelompok ini, baik sosial maupun ekonomis. Pendirian ini mencakup pengakuan penuh dari antitese tiga-rangkap antara ‘kaoem sini dan ‘kaoem sana’, dari adanya dua alam-pikiran


35

terpisah, alam sini dan alam sana, ya saya berkata , dari dua jenis logika politik, sosial dan ekonomi, logika sini dan logika sana. Saya puas, Tuan Ketua, membaca pada halaman 37 dari ‘Memorie van Antwoord’, bahwa Pemerintah juga beranggapan, di tanah ini terdapat suatu struktur-kemasyarakatan yang spesifik kolonial. Jadi stuktur ini, merupakan pencerminan kemasyarakatan dari struktur mental, yang saya bicarakan tadi. ‘Memorie van Antwoord’ mengikuti pernyataan ini bahwa, jiwanya masih dikuasai oleh pengertian ‘historis’ dari penjajahan, tanpa secukupnya dinyatakan – demikian ‘Memorie van Antwoord’. Bagaimana menurut kenyataannya ‘overheersing’ semakin banyak diganti dengan leiding. Nah, Tuan Ketua, saya telah menyatakan dengan panjang-lebar bahwa dalam ‘overheersing’ berakarlah antitese rangkap tiga itu dan bahwa ini suatu realitas. Memang pengertian ‘overheersing’ ini belum sampai menjadi suatu pengertian historis yang semakin


36

mengabur dalam kabut masa lampau. Ya, bahkan kini memancarkan bayangannya kedalam relung-relung jiwa bangsa-bangsa tanah ini. Namun lepas dari hal ini, saya pun menyesali, bahwa pengertian ini hidup, itulah sebabya saya bicara tentang tragedi. Dalam pergeseran kalimat dalam ‘Memorie van Antwoord,’ saya membaca bahwa Pemerintah pun menyesalinya. Maka dari itu, Tuan Ketua, saya yakin akan keseriusan Pemerintah, agar pemerintahan tanah-tanah ini, semakin banyak menggantikan ‘overheersing’ dengan ‘leiding’ ; janji-janji dalam pidato yth. Gubernur Jenderal tentang jabatan-jabatan tertinggi di tanah ini dan tentang tinjauan kembali jumlah tak terhitungnya hubungan-hubungan nasionalis di dalam badanbadan perwakilannya, merujuk ke arah itu. Pada titik dimana Pemerintah dan kaum nasionalis sudah dapat bertemu, biarkan saya mengungkapkan harapan agar hal ini bukan titik temu yang sia-sia belaka, melainkan bertolak


37

dari titik ini garis-garis petunjuk akan berjalan sejajar. Namun biarkanlah juga Pemerintah bekerja leluasa untuk tindakan-tindakan lanjut, yang akan melemahkan daya rekat antitesenya, dengan suatu politik kesejahteraan yang terarah, agar secara tidak langsung menahan penguasaan ekonomi, dengan memberi kepercayaan tkepada kaum intelektual untuk melemahkan rasa meerderheid berdasarkan perbedaan kulit dengan tindakan dan dengan pergeseran kekuasaan secara politik, supaya secara radikal mengakhiri “historisch begrip der overheersing’ seperti yang disebut dalam ‘Memorie van Antwoord’ agar dalam kenyataan ‘overheersing’ semakin banyak digantikan dengan ‘leiding’. Tuan Roep: Tuan Ketua! Saya merasa perlu pada awal pidatoku, mengingatkan kembali sekalipun secara singkat saja, akan pidato sejumlah pendahuluku yang terhormat. Pertamatama, pidato sesama anggotaku terhormat, Tuan Meyer Ranneft, yang tertuju langsung pada praktek kehidupan dan pada pemenuhan


38

kebutuhan-kebutuhan dan peringananperinganannya, yang sebagian besar saya setujui. Kedua, pidato yang baru saja dibawakan anggota sesama kita, Tuan Ratu Langie. Tuan Ketua! Juga pidato terakhir ini telah saya ikuti dengan perhatian yang semakin meningkat. Menurut penilaian saya ini suatu pidato falsafah, yang akademis. Tentu saja saya tidak dapat menilai keuntungannya sesegera ini; dan saya tidak pula dapat mengatakan apakah saya sebagian besar menyetujuinya, sebagaimana halnya dengan pidato tuan Meyer Ranneft, namun saya percaya, bahwa terjalin didalamnya banyak pikiran mendalam, yang dapat menuntun kita dalam menilai kepentingan-kepentingan Hindia demi masa depannya.


39


PIDATO PERDANA Sam Ratulangie (1927)