Issuu on Google+

Negeri Eksotis penduduk setempat di rumah mereka yang ma­sih tradisional. Lagi-lagi saya beruntung mendapat tum­pangan di rumah orang Newar (salah satu suku di Nepal) yang kebetulan juga berada di kawasan World Heritage, Bhaktapur. Arsitektur rumahnya masih tradisional, berbentuk persegi dengan daun pintu yang sempit (harus selalu menunduk), berlantai 4, dan tersusun dari tumpukan bata merah. Saya mendapat kamar di lantai paling bawah. Asyik, nggak perlu naik turun tangga yang sempit dan lumayan melelahkan. Tapi, ternyata, jika malam datang, kamar di lantai bawah ternyata jauh lebih dingin dibanding lantai-lantai di atasnya. Malam pertama di Bhaktapur saya nggak bisa tidur nyenyak karena menggigil kedinginan. Apalagi cuma berbekal selimut hasil comotan saat naik pesawat SilkAir pula. Dengan tinggal bersama penduduk lokal, saya ja­di tahu kalau ternyata mereka jarang mandi. Mungkin karena udaranya dingin banget dan nggak keluar keringat, sehingga nggak ada yang perlu dibersihkan. Mungkin juga karena daerah ini masih sulit air, harus mengantre di sumur atau pokhari (kolam) untuk mendapatkan air. Oleh karena itu, saya pun memilih ikutan nggak mandi sebagai bentuk toleransi.

143


Ritus Status

D

i sejumlah suku bangsa di Indonesia, kematian yang men­jadi akhir dari mata rantai kehidupan sering kali di­ tan­dai dengan upacara pelepasan arwah yang spekta­kuler, meriah, hingga menghabiskan dana puluhan bah­kan ratusan juta rupiah. Upacara besar tersebut tidak dilang­sungkan seketika setelah seseorang meninggal, namun baru beberapa tahun kemudian menunggu hari baik dan setelah keluarga mengumpulkan dana yang cukup untuk menyelenggarakan upacara. Di Toraja kita mengenal upacara Rambu Solo’, upa­ cara penghormatan terakhir kepada leluhur mereka dengan mengorbankan sejumlah kerbau. Bukan kerbau sem­barang kerbau, loh, tapi kerbau Tedong Bonga, yaitu seje­nis kerbau lumpur yang merupakan spesies endemik yang berkembang di Tana Toraja. Banyaknya kerbau yang dikorbankan dalam upacara Rambu Solo’ mengacu pada status seseorang. Semakin banyak kerbau yang disembelih, semakin tinggi pula derajatnya. Kita bisa merasakan tinggi rendahnya derajat orang Toraja dari tanduk-tanduk kerbau yang kemudian dipasang pada tongkonan, rumah adat orang Toraja. Di pedalaman Kalimantan Timur (Dayak), juga ter­da­ pat upacara pelepasan arwah yang ditandai dengan penyem­

144


belihan kerbau. Upacara ini disebut Kwangkai. Tradisi ini memang nggak sepopuler Rambu Solo’ karena jumlah kerbau yang dikorbankan nggak sebanyak di Toraja. Yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu, hanya ada 2 ekor kerbau jantan yang dikorbankan. Belakangan, hanya dengan seekor kerbau pun tak mengapa. Orang Dayak sendiri juga tidak menyimpan tanduk maupun rangka kepala kerbau tersebut di tempat yang khusus. Biasanya cuma digantungkan di salah satu tiang di bagian dalam Lamin, rumah panjang suku Dayak. Ritus kematian yang paling meriah dan jorjoran (gedegedean) yang pernah saya lihat adalah upacara Ngaben di Bali. Kebetulan saya pernah menghadiri upa­cara pembakaran jenazah dari dua kasta yang berbeda, yaitu Ngaben dari keluarga berkasta Sudra alias rakyat biasa di Gianyar dan Pelebon (istilah Ngaben untuk kaum Bangsawan Bali) keturunan Raja Ubud yang masuk dalam kasta Brahmana, kasta tertinggi di Bali. Pada 2005 undangan menghadiri upacara Ngaben itu datang dari sahabat saya, Ketut. Dia mengundang saya untuk datang pada puncak acara saja, mengingat rangkaian upacara Ngaben itu berlangsung selama beberapa hari. Persiapan Ngaben dimulai dengan pengangkatan kerangka jenazah dan pencarian air suci sejak tiga hari sebelumnya. Sementara itu, piranti upacara berupa tiruan binatang lembu dan wadah menyerupai menara berhias kain dan janur yang dinamai Bade, juga mulai dipersiapkan oleh anggota keluarga dan seluruh warga banjar sejak beberapa hari sebelumnya. Belum lagi tetek bengek upacara adat yang menurut saya rumit itu. Puncak acara Ngaben dimulai sejak pagi hari. “Pukul 6 pagi kita sudah siap-siap,” kata Ketut. Demi menyak­sikan

145


Mengarak menara (Bade) dalam upacara Ngaben di Gianyar, Bali

puncak upacara Ngaben secara lengkap, saya pun rela bangun pagi-pagi. Ketika saya tiba di banjar pukul 6 lewat dikit, saya lihat kesibukan warga di sepanjang jalan desa tempat patung-patung lembu dan menara Bade dile足tak足kan secara berjejer. Tiap patung lembu dan Bade mewakili Semeton atau kelompok keluarga yang kerabatnya akan dikremasi. Menjelang siang, menara Bade dan lembu yang sudah dihias dan diupacarai itu siap diarak ke Setra, pemakaman, tempat dilangsungkannya Ngaben. Sesaat kemudian, dimu足 lailah keriuhan dan kemeriahan arak-arakan menara menu足 ju Setra yang berjarak sekitar 500 meter dari banjar. Alunan musik gong mengiringi puluhan orang yang mengusung Bade yang berisi jenazah. Di atas menara Bade itu pula seorang anak/cucu lelaki tertua berdiri membawa seekor burung

146


Ritus status sebagai simbol penghantar arwah menuju tempat tertinggi. Di setiap persimpangan jalan yang dilalui, Bade dan arakarakan itu diputar ke empat penjuru mata angin sebanyak tiga kali untuk mengusir roh jahat yang dapat mengganggu jalannya upacara. Meriah banget. Setibanya di Setra, kerangka jenazah dimasukkan ke dalam badan lembu, begitu juga segala pakaian dan barang-barang kenangan almarhum. Setelah itu, diadakan sembahyang bersama yang lamanya minta ampun, sampai saya merasa kelaparan karena sejak pagi belum terisi nasi. Untung di sekitar Setra banyak penjual makanan, sehingga saya pun bisa jajan. Menjelang sore, barulah dilangsungkan prosesi pembakaran yang dilanjutkan dengan upacara (lagi). Pembakarannya sendiri berlangsung cepat, mungkin sekitar 30 menit. Tapi, upacara pascapembakaran tersebut berlangsung hampir 2 jam, sampai matahari terbenam. Abu dan tulang jenazah yang telah dikumpulkan itu kemudian dibawa ke pantai untuk dilabuh. Karena jarak banjar dengan Pantai nggak terlalu jauh, hanya sekitar 4 km, mereka pun berjalan beriringan menuju Pantai. Saya sih memilih naik mobil, meluncur duluan. Hehe ...! Setiba di pantai, abu dan tulang tersebut dibawa dengan perahu menuju tengah laut. Sementara itu, rombongan menunggu di tepi pantai untuk melangsungkan sembahyang lagi. Menjelang pukul 20.00 acara di pantai belum juga selesai, sementara saya sudah nggak tahan capeknya. Akhir足 nya, saya pun memilih pulang duluan ke hotel dengan sege足 nap kelelahan, namun puas karena bisa mendapat foto-foto yang tak ternilai. Ini baru upacara Ngaben kasta paling rendah di Bali, bagaimana pula kalau yang Ngaben ada足lah golongan

147


People, Culture, Heritage bangsawan, ya? tanya saya dalam hati sambil mentransfer foto-foto ke laptop. Konon, upacara Ngaben kaum bangsawan jauh lebih meriah. Bade atau menara yang dibuat tingginya bisa puluhan meter. Patung lembunya pun bisa setinggi rumah karena saking gedenya. Semua cerita kemegahan Ngaben bangsawan (Pelebon) Bali itu baru bisa saya buktikan tiga tahun kemudian, pada Pelebon Tjokorda Gde Agung Suyasa (anak lelaki tertua Raja Ubud ke-10, raja terakhir di Ubud), serta dua kerabat Puri Ubud, yaitu Tjokorda Gede Raka dan Gung Niang Raka. Inilah upacara Pelebon terbesar yang kembali diada足 kan Puri Ubud setelah sebelumnya pernah mengadakan Pelebon sekitar 30 tahun yang lalu. Upacara langka itu nggak mungkin saya lewatkan. Makanya, saya pun ber足usaha bisa mendapatkan Press ID dari panitia supaya bisa lebih leluasa mengambil gambar. Nggak sekadar datang sebagai wisatawan. Untunglah pihak panitia berbaik hati, sekalipun saya cuma seorang Citizen Journalist alias warta足wan blog dari situs www.matatita.com. Saya sebelumnya sudah pernah menghadiri upacara Ngaben orang Bali biasa yang menurut saya sudah super meriah, sehingga kali ini saya membekali diri dengan persiapan yang lebih cukup. Setidaknya, saya nggak akan datang dan pulang dalam waktu mepet, mengingat panjangnya prosesi. Lagian, menyaksikan rangkaian upacara dan kesibukan warga Ubud dalam rangka Pelebon dan Ngaben massal ini juga hal yang menarik. Oh ya, bersamaan dengan upacara Pelebon itu juga dilangsungkan Ngaben warga Ubud sebanyak 70 jenazah. Nah lo, ada dua kasta yang berbeda yang bakal

148


Ritus status melangsungkan prosesi kremasi secara bersamaan. Pasti unik dan menarik. Saya tiba di Ubud dua hari sebelum puncak upacara berlangsung pada 15 Juli 2008. Kepadatan Ubud sudah mulai terasa sejak memarkir mobil di Jln. Monkey Forest, tak jauh dari Puri Ubud. Lalu, saya menuju hostel lang­ganan yang berbuah kecewa, “kamarnya penuh,” kata Ibu Canderi. Saya protes karena merasa sudah menelepon untuk booking. “Iya, sih, tapi maaf ya, soalnya lagi banyak tamu.” Ya sudah, tak apa. Toh banyak penginapan di loronglorong Ubud ini. Saya pun berjalan mencari peng­i­napan sambil menggendong ransel. Dari pintu ke pin­tu penginapan saya singgahi dan semua menjawab dengan logat Bali, “Pul semua, nggak ada kamar lagi.” Saya meng­um­pat dalam hati karena mulai kehabisan ener­gi berjalan­ke sana kemari. Tapi, Dewi Fortuna masih berpihak, kok. Ada satu kamar kosong yang sebenarnya sudah di-booking orang lewat telepon. Tapi, karena si penelepon belum nongol dan tidak meninggalkan persekot, akhirnya pemilik hostel itu pun menyerahkan kamar ke saya. Horee ...! Lega rasanya. Dan saya teringat kamar pesanan saya di Canderi yang sudah dijual ke orang lain. Setelah mengaso sebentar, saya menuju Media Centre untuk meregistrasikan diri, minta Press ID, dan segala informasi terkait dengan prosesi. Begitu urusan ID beres, barulah saya bisa lebih tenang ngider di Puri Ubud dan sekitarnya. Lumayan juga bisa masuk Puri sampai ke dalam-dalam, malah ke dapur segala. Di perempatan depan Puri Ubud, sudah terdapat 2 patung lembu setinggi 7 meter. Juga 2 buah Bade dengan 9 atap setinggi 28,5 meter! Jasad para keluarga bangsawan

149


People, Culture, Heritage itu disemayamkan bersisian dengan patung naga di dalam Puri Ubud. Patung Naga itu nantinya akan diarak bersama Bade dan Lembu. Inilah salah satu yang membedakan upacara Ngaben rakyat biasa dengan keluarga bangsawan. Semewah apa pun acara Ngaben rakyat biasa yang barang­ kali sudah berkecukupan secara finansial, sehingga bisa menyelenggarakan Ngaben sebesar-besarnya, tapi nggak bakalan ditemui ada Patung Naga di sana. Hal ini karena Patung Naga tersebut hanya boleh diarak oleh keluarga bangsawan Bali. Sementara itu, di sepanjang Jln. Monkey Forest berjejer 70 Bade dan patung lembu yang berukuran jauh lebih kecil. Itulah Bade dan lembu milik warga Ubud yang prosesinya dilangsungkan bersamaan dengan kremasi ke­luarga Puri Ubud. Jasad mereka disemayamkan di sepan­jang Jln. Suweta, di sebelah Barat Puri Ubud. Pada hari-H, yaitu tanggal 15 Juli 2008, pagi hari sebelum tamu undangan berdatangan, Bade dan lembu ketujuh puluh warga Ubud itu diberangkatkan ke Setra. Acara pemberangkatannya nggak semeriah yang pernah saya lihat di Gianyar dulu mengingat dalam waktu ber­samaan juga berlangsung upacara di dalam Puri Ubud. Mereka berangkat beriringan dengan musik pengiring sekadarnya. Pemberangkatan Bade keluarga Puri baru berlang­sung sekitar pukul 14.00. Bade seberat sekitar 11 ton itu di­arak menuju Setra Dalam (pemakaman khusus keluarga Puri) yang berjarak sekitar 1 km dari Puri. Bade tersebut diusung oleh 250 orang yang mengenakan kostum kaos polo berwarna ungu. Tiap 100 meter akan digantikan oleh tim pengusung

150


Bade yang digunakan dalam upacara Pelebon (Ngaben kaum bangsawan) keturunan Raja Ubud X tingginya mencapai 28,5 meter tersusun dari 9 atap dengan berat sekitar 11 ton.


Patung Naga merupakan simbol status kebangsawan seseorang. Patung ini hanya boleh digunakan dalam upacara Pelebon (Ngaben) kaum bangsawan Bali.


People, Culture, Heritage berikutnya. Jadi, totalnya ada sekitar 8.000 orang yang mengusung Bade secara bergantian. Itu baru jumlah pengangkutnya. Jumlah penonton足nya jauh lebih banyak mengingat Pelebon ini termasuk acara yang nggak mesti diadakan dalam waktu dekat lagi. Pihak panitia menyebutkan penonton yang memadati Jln. Raya Ubud, jalan yang dilalui menuju Setra Dalam, sekitar 300.000 orang. Wuih, baru kali ini saya melihat jumlah orang begitu banyak di ruas jalan selebar kurang lebih 8 meter dan sepanjang hampir 1 km itu. Belum lagi mereka yang berjubel di atas atap-atap bangunan! Dengan begitu banyaknya orang yang terlibat dan menonton, acara arak-arakan Bade dan Lembu raksasa itu nggak terkira meriahnya. Oh ya, pihak PLN sudah sejak pagi memadamkan aliran listrik dan menyingkirkan kabel yang menghalangi jalan. Bahkan beberapa pohon yang tumbuh di pinggir jalan juga ditebangi. Maklum, Bade setinggi 28,5 meter itu jadi bakal lebih tinggi ketika diusung orang yang rata-rata setinggi 165 cm. Jadi, total tingginya diperkirakan sekitar 30 meter. Sementara itu, dudukan Bade bagian bawahnya lebarnya hampir selebar ruas jalan. Itu berarti akan mepet ke kanan dan kiri badan jalan. Saat Bade diarak, orang-orang yang berdiri di bibir trotoar, termasuk saya, berlarian menghindar karena takut ketabrak. Heroik dan heboh banget, deh. Begitu semua Bade dan Lembu selesai diarak masuk Setra, saya mengikutinya dari belakang. Dan alamak, ternyata malah kegencet nggak bisa bergerak. Rupanya puluhan ribu orang juga berebut ikutan masuk Setra untuk menyaksikan prosesi pembakaran Lembu. Hampir setengah jam saya berada di antara badan-badan yang

154


Ritus status

Patung lembu yang nantinya akan dibakar sebagai puncak dari rangkaian upacara Ngaben.


menghimpit dan berkeringat menjadikan saya kekurangan oksigen. Apalagi perut juga terasa lapar. Duh, komplet sudah perjuangan mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Prosesi pembakaran itu sendiri baru berlangsung lebih dari 5 jam kemudian atau menjelang pukul 20.00 sejak Bade dan Lembu tiba di Setra Dalam. Ternyata cukup sulit juga memindahkan Lembu ke balai-balai tem­pat perapian karena terlalu berat. Butuh waktu sekitar 3 jam sampai akhirnya berhasil mengatur tempat dan me­min­dahkan Lembu ke atas. Sampai-sampai para tamu undangan wakil dari beberapa kerajaan Nusantara dan kedu­taan besar negara sahabat yang duduk di tempat khu­sus terlihat kelelahan. Beberapa ada yang memilih pulang duluan. Saya sendiri memilih mondar-mandir di dalam Setra Dalam sambil mengamati polah para juru potret dengan lensa yang segede lengan saya. Acara langka ini diliput oleh ratusan media nasional dan internasional. Saya boleh GR dong, bisa berada di antara mereka sebagai wartawan blog. Wekekeks ...!

156


TALES from the ROAD - ritus status