Page 1

Acta Diurna No.26/V/2017

Problematika

Benarkah Bidikmisi Salah Sasaran? Bidikan Utama

Profil

Ide Kreatif Berujung Bisnis

Melawan Sekaligus Menggandrungi Plagiarisme

www.lpmvisi.com


EDITORIAL Kami sangat terkejut ketika naskah Bidikan Utama dan Problematika dari para reporter dalam buletin edisi ini sampai ke meja redaksi. Hal ini dikarenakan semua narasumber mahasiswa yang diwawancarai dalam kedua rubrik tersebut terang-terangan mengungkapkan agar namanya tidak disebut dalam berita. Mereka meminta ditampilkan secara anonim, atau setidaknya menggunakan nama samaran. Hal semacam ini memang bukan pertama kali terjadi. Pada beberapa edisi terdahulu, dalam isu-isu kelewat sensitif sumber berita di Acta Diurna memang beberapa kali ditampilkan secara anonim. Namun, baru kali ini ‘semua’ narasumber mahasiswa tidak berkenan jika namanya ditampilkan. Pada saat itu pula, redaksi terpaksa harus mengambil suatu kebijakan besar: antara mengganti tema atau tetap melanjutkan isu ini dengan konsekuensi tidak menyebutkan satupun nama narasumber mahasiswa. Anonimitas dalam dunia jurnalistik memang sah dan wajar, dan boleh dilakukan manakala si narasumber akan menerima risiko jika namanya disebut. Akan tetapi, harus digarisbawahi pula bahwa apabila identitas narasumber disembunyikan, maka tanggungjawab data yang diperoleh akan berpindah dari orang tersebut ke tangan si media. Keputusan sudah diambil dan oleh sebab itu VISI siap bertanggungjawab penuh terhadap seluruh konten hasil wawancara dengan mahasiswa. Kami sadar bahwa keputusan untuk tetap menyajikan pemberitaan yang penuh dengan narasumber anonim ini mungkin akan membuat beberapa pembaca meragukan validitas informasi yang ada. Akan tetapi, bagian ini akan kami anggap sebagai pendewasaan diri.

SURAT PEMBACA

Buletin Acta Diurna 25 Terbit Februari 2017

UNSecret, Kala Pesan Anonim Menjadi Tren

Dari yang aku baca selama ini, walaupun aku juga nggak terlalu mengikuti, UNSecret cukup menghibur dengan postingannya yang lucu-lucu di tengah kesibukan mahasiswa UNS yang stres gara-gara tugas. Selain itu, mereka juga membagikan banyak info seputar kampus. anonim

Belajar Memperluas Wawasan dari Loper Koran Di luar dugaan, ternyata ada sisi humanis lain dari seorang loper koran yang biasa saya temui sehari-hari. Di balik pembawaan santai, ternyata ia juga punya perjuangannya sendiri. Saya pikir saya jadi belajar bahwa setiap orang punya kisah inspiratifnya masing-masing. Larasati, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS

LPM VISI FISIP UNS Sekretariat LPM VISI Gedung 2 Lt. 2 FISIP UNS, Jl. Ir. Sutami No. 36A Surakarta 57126

redaksi@lpmvisi.com

Susunan Redaksi

Pelindung Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Editor Reporter Ilustrasi dan Tata Letak Riset

@lpmvisi @gwi5930m http://www.lpmvisi.com/ @LPM_VISI lpmvisi.com

: Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si : Iim Fathimah Timorria : Herdanang Ahmad Fauzan : Paxia Meiz Lorentz, Maran Ayu Nilawati : Herdanang Ahmad Fauzan, Iim Fathimah Timorria, Paxia Meiz Lorentz : Arif Miftah, Banyu Visandi Pangestu, Husna Nur Amalina, Ika Agustina, Mira Rahma Safirasari, Nasy’ah Mujtahidah Madani, Rachma Dhania , Widyadewi Metta Adya Irani : Diah Nur Indah Yuliana, Hernowo Prasojo, Nurmaya Sinta Permatasari : Bidang Litbang

Redaksi menerima kritik dan saran serta tulisan, artikel, informasi, ataupun karikatur. Naskah atau gambar yang dikirim menjadi hak penuh redaksi. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pengutipan pernyataan, Redaksi LPM VISI menerima hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999 pasal 1 ayat 11. Kirim ke: Sekretariat LPM VISI Gd. 2 Lt. II FISIP UNS Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126, email: redaksi@lpmvisi.com

2 Acta Diurna No.26/V/2017


BIDIKAN UTAMA

Melawan Sekaligus Menggandrungi Plagiarisme

ilustraasi: Mae

Plagiarisme merupakan tindakan terlarang dalam dunia akademik. Keputusan Rektor UNS No.487A/ J27/KM/2005 telah menegaskan bahwa mahasiswa dilarang melanggar etika akademik seperti plagiarisme, menyontek, memalsu nilai, memalsu tanda tangan, memalsu cap, memalsu ijazah, dan atau perbuatan lain yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ironisnya, peraturan tersebut tidak serta merta membuat mahasiswa UNS menjauhi praktik plagiarisme. Di lingkungan FISIP UNS misalnya, dosendosen beberapa kali telah menjumpai kasus plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa mereka, baik dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah—seperti makalah dan paper—maupun skripsi.

D

iah Kusumawati, dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, menceritakan kepada VISI bahwa ia kerap kali mendapati beberapa tugas mahasiswa serupa dengan tugas mahasiswa lain. Kesamaan terdapat pada kalimat, tanda baca, bahkan analisisnya. Dosen yang biasa disapa Didi ini juga pernah menjumpai plagiarisme dalam skripsi salah satu mahasiswanya yang sedang dalam tahap sidang.

“Mahasiswa saya ada yang pernah copy paste hampir satu blog (penuh—red),” jelas Didi ketika ditemui VISI di ruang dosen Ilmu Komunikasi pada Senin (27/03). Mula-mula, Didi menemukan satu paragraf yang familiar dalam skripsi tersebut. Kemudian, ia mengeceknya secara daring dan pada saat itu juga didapatinya bahwa mahasiswa yang menulis skripsi tersebut menyalin hampir seluruh isi blog temuannya.

Acta Diurna No.26/V/2017

3


Dosen yang juga mengampu mata kuliah spesialisasi periklanan tersebut lantas menggunakan perangkat lunak bernama Plagiarism Checker guna mendeteksi tingkat plagiarisme mahasiswanya. Menurut Didi, perangkat lunak ini dapat membantunya agar dapat lebih cepat mengetahui seberapa jauh mahasiswa melakukan plagiarisme. Lain halnya dengan Didi, Rino Ardhian Nugroho, salah satu dosen Prodi Administrasi Negara mengungkapkan dirinya pernah mendapati mahasiswa yang mencoba mengelabui dosen dengan menutupi praktik-praktik plagiarisme dalam salah satu tugas kuliahnya. Mahasiswa tersebut melakukannya dengan cara mengerjakan tugas pada halaman pertama dan kedua dengan pemikiran sendiri, kemudian sisa halaman yang lain menggunakan pemikiran orang lain. Pada dasarnya banyak faktor yang menyebabkan maraknya kasus plagiarisme. Beberapa mahasiswa melakukan praktik terlarang tersebut karena faktor keterbatasan pengetahuan yang berkaitan dengan tugasnya, tugas mata kuliah lain yang tak kalah menumpuk, kebiasaan menunda pekerjaan, hingga yang paling sepele yakni tidak tahu cara mengutip karya orang lain dengan benar. Fitra (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa Sosiologi 2014 yang menjadi narasumber VISI mengakui bahwa dirinya pernah melakukan plagiarisme pada saat mengerjakan tugas. Penyebabnya karena malas membaca dan terbatasnya buku yang tersedia menyangkut tugas dari mata kuliahnya. Salah seorang mahasiswa Ilmu Administrasi Negara 2014 yang sempat diwawancarai VISI juga mengakui pengalamannya melakukan plagiarisme karena murni ketidaktahuan dalam mengutip karya orang lain dengan benar. “Dulu sebelum tahu cara menyitasi karya orang lain, aku cuma asal copas aja. Tapi setelah tahu, aku mencoba untuk nggak copas secara gamblang, pakai aturan,” ungkap mahasiswa yang tidak ingin disebutkan identitasnya tersebut kepada VISI, Kamis (16/03). Setiap dosen tentu memiliki misi yang sama, yakni untuk menghilangkan tradisi plagiarisme di kalangan mahasiswa mereka, serta menciptakan budaya menggunakan pemikiran kreatif milik pribadi masing-masing. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, setiap dosen menyikapi kasus plagiarisme dengan kebijakan masing-masing. Didi misalnya, yang beranggapan plagiarisme merupakan kejahatan terbesar dalam dunia akademik. Ia mengatakan bahwa dirinya selalu memperingatkan mahasiswa untuk tidak melakukan plagiarisme dalam setiap pengerjaan tugas. Ia juga sering menegaskan kepada para mahasiswa bahwa siapapun yang melakukan plagiarisme di mata kuliah Didi, maka akan dianggap gagal menyelesaikan pengerjaan tugas yang telah diberikan. “Pertama, saya suruh dia mengulang untuk mengerjakan tugasnya. Kalau mau lebih keras lagi, saya biarkan dia tidak lulus dalam mata kuliah saya,” imbuh Didi. Lain dengan Didi, Randhi Satria, dosen Hubungan Internasional FISIP UNS memberikan perlakuan berbeda kepada mahasiswa pelaku plagiarisme. Dosen yang pernah menjumpai mahasiswanya mengerjakan tugas dengan menjiplak satu buku penuh ini menjelaskan bahwa dirinya mencoba memahami jika

4 Acta Diurna No.26/V/2017

sebagian mahasiswa mungkin melakukan plagiarisme karena unsur ketidaksengajaan. “Maklum, waktu masih SMA, mahasiswa tidak tahu plagiarisme. Setelah kuliah, mereka langsung dihadapkan dengan etika-etika akademik baru yang belum pernah didapatkan di sekolah,” jelas Randhi kepada VISI. Oleh karena itu, sejak tahun 2013 ia mulai melakukan coaching clinic berupa pemaparan cara penulisan karya ilmiah di kelas. Tahun berikutnya, coaching clinic mulai dijalankan dengan menggandeng Departemen Akademik Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himaters). Kemudian, merekalah yang melanjutkan memberi pelatihan kepada mahasiswa baru setiap tahunnya. Menurut Randhi, metode ini memberikan dampak yang signifikan pada mahasiswa Prodi Hubungan Internasional karena berpengaruh terhadap menurunnya jumlah mahasiswa yang melakukan plagiarisme. Namun, apabila sudah diberi perlakuan demikian dan tetap ada yang nekat melakukan plagiarisme, Randhi mengaku tidak akan segan-segan memberi sanksi yang tegas bagi mahasiswa terkait. “Karena sudah diberi tahu dan dia tetap melakukan plagiarisme, maka saya beri nilai nol. Sudah banyak yang kena,” ujar Randhi. Berbeda dengan Randhi, Rino menghindari terjadinya kasus plagiarisme dengan mengadakan masa konsultasi. Dengan diadakannya konsultasi sebelum pengumpulan tugas, Rino dapat menemukan kemungkinan-kemungkinan plagiarisme yang dilakukan mahasiswanya. “Jika pada saat konsultasi mereka sudah memperlihatkan plagiarisme, langsung saya minta untuk diperbaiki,” ungkapnya. Rino juga mengatakan bahwa ia selalu menyampaikan kepada setiap mahasiswanya untuk membaca suatu referensi berulang kali sebelum benar-benar ditulis kembali dalam karya mereka masing-masing. Selain memberikan pelatihan serta sanksi tegas bagi pelaku plagiarisme, para dosen juga terus memberi dorongan kepada mahasiswanya untuk lebih percaya pada pemikiran dan kemampuan mereka masing-masing. Dorongan tersebut dimulai dengan mengadakan sesi diskusi di kelas agar mahasiswa lebih berani berpendapat dan menyampaikan gagasan dari pemikiran mereka sendiri. Sebab, sebagian dosen pun juga memahami bahwa kasus plagiarisme turut dipengaruhi oleh rasa tidak percaya diri dalam diri mahasiswa. “Kalau mahasiswa output-nya bagus tapi hasil plagiat, sama saja. Mahasiswa harus mampu berkarya. Dihargai atau tidak, dicecar segala macam, itu adalah sebuah proses,” pungkas Randhti. Walau bagaimanapun, mahasiswa harus memiliki pemikiran kreatifnya sendiri. Orang lain dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi, tetapi sebagai kaum intelektual mahasiswa juga tetap harus menghormati dan menghargai hasil karya orang lain. Metta, Mira, Nay


PROBLEMATIKA

Benarkah Bidikmisi Salah Sasaran?

ilustraasi: Diah

Keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam masyarakat sudah tak asing lagi kita temui. Tak sedikit pelajar yang berprestasi namun harus putus sekolah gara-gara keterbatasan biaya. Pemerintah memang telah mengeluarkan program untuk mengatasi masalah terkait biaya pendidikan untuk para pelajar dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Salah satu program tersebut adalah Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidikmisi).

P

rogram Bidikmisi merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi, namun berasal dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Ironisnya, akhir-akhir ini pihak mahasiswa sendiri justru sering mengasumsikan Bidikmisi sebagai ‘program yang salah sasaran’. Tak sedikit mahasiswa yang mengasumsikan bahwa Bidikmisi di UNS banyak yang salah sasaran. Seperti yang diungkapkan Husein (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. “Kesal, banyak (mahasiswa Bidikmisi—red) yang lebih makmur daripada aku ditambah lagi mereka hidup foya-foya,” ujar Husein saat diwawancarai VISI pada Senin (20/03).

Menyikapi asumsi tersebut, sebagai akademisi kita harus berpikir panjang untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Apakah Bidikmisi secara realita memang salah sasaran? Banyak dari mahasiswa yang memandang penerima Bidikmisi hidup dalam kemewahan. Namun, terkadang mahasiswa kurang kritis terhadap keadaan sehingga hanya melihat dari suatu sudut pandang. Baju mewah, gawai keluaran terbaru, dan makan enak di restoran ternama kerap dijadikan ukuran penilaian status sosial dan prestis. Beberapa hal tersebut sering menjadi dasar asumsi yang digunakan mahasiswa saat menilai mahasiswa penerima Bidikmisi. Bermula dari persepsi tersebut muncul kecemburuan sosial antar mahasiswa reguler terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi.

Acta Diurna No.26/V/2017

5


“Bidikmisi menurutku belum digunakan dengan benar, bukannya beli buku malah beli baju. Menurut aku sih harusnya dilakukan peninjauan lebih lanjut karena kalau aku amati banyak sih penerima yang kurang tepat,” ujar Herniwati (bukan nama sebenarnya) ketika diwawancarai VISI pada Senin (20/3). Berdasarkan wawancara dengan sejumlah responden dari kalangan mahasiswa FISIP, hampir seluruhnya menyatakan bahwa Bidikmisi memang salah sasaran. Kepada VISI, Willa (bukan nama sebenarnya) juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa kesal karena banyak mahasiswa penerima Bidikmisi yang menurutnya jauh lebih mampu dari segi ekonomi jika dibandingkan dengan dirinya. Menanggapi persepsi mahasiswa tentang Bidikmisi yang sering dianggap salah sasaran, Biro Administrasi dan Kemahasiswaaan (Mawa) UNS pun akhirnya angkat bicara. “Kami menilai calon penerima Bidikmisi (layak atau tidaknya diterima—red) tidak dari baju yang dipakai, melainkan dari penghasilan orangtua,” tutur Tarno, salah satu staf Mawa UNS ketika ditemui VISI pada Rabu (29/03). Berdasarkan pedoman Bidikmisi tahun 2017, penentuan calon penerima Bidikmisi diukur dari penghasilan orang tua. Dalam hal ini, yang dimaksud penghasilan orang tua adalah total jumlah penghasilan ayah dan ibu calon mahasiswa. Seorang mahasiswa dianggap layak menerima Bidikmisi apabila jumlah penghasilan orang tuanya tidak lebih dari Rp 3.000.000,00 atau jika jumlah penghasilan tersebut tidak lebih dari Rp 750.000,00 setelah dibagi dengan jumlah tanggungan (anak) dalam keluarga. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga menjadi pertimbangkan. Faktor-faktor yang dimaksud adalah aset, rumah, kendaraan, serta sawah yang mungkin dimiliki oleh keluarga calon penerima. Dalam tahap seleksi penerima Bidikmisi, dilakukan pula survei oleh Bidang Advokasi Mawa ke rumah keluarga masingmasing calon penerima Bidikmisi. Sedangkan untuk calon penerima Bidikmisi di UNS yang berdomisili di luar Pulau Jawa, pihak Mawa melakukan wawancara kepada calon mahasiswa terkait. Proses penyeleksian sendiri dilaksanakan oleh Bidang Advokasi Mawa UNS dengan bantuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. Dalam seleksi terakhir, pada 2016 sebanyak 1.350 mahasiswa dari total 1.500 pendaftar Bidikmisi sudah dinyatakan layak menjadi penerima Bidikmisi. Namun, dalam pelaksanaan survei masih dimungkinkan terdapat unsur-unsur subjektivitas yang menimbulkan kesalahan di luar sistem. Selain subjektivitas, ada pula beberapa hambatan lain. Antara lain adalah kemungkinan tidak jujurnya pihak keluarga serta tetangga calon penerima guna memalsukan fakta terkait harta kekayaan ketika dilakukan survei dan wawancara. Pihak Mawa UNS sendiri menyatakan bahwa jika ada mahasiswa Bidikmisi yang melakukan kebohongan dalam pengisian data, maka akan ditindaklanjuti dengan cara survei ulang. Selain itu, setiap mahasiswa di UNS berhak melaporkan jika terjadi kecurigaan terhadap mahasiswa Bidikmisi yang dianggap sebenarnya tidak layak menerima program beasiswa tersebut. Selanjutnya, dari laporan mahasiswa, jika memang terbukti ada kesalahan terkait penetapan mahasiswa Bidikmisi maka Mawa UNS akan melakukan pemblokiran bantuan Bidikmisi kepada mahasiswa terlapor. Sebelum pencabutan beasiswa Bidikmisi, pihak

6 Acta Diurna No.26/V/2017

Lebih baik kalau ada kecurigaan langsung laporkan ke kita daripada isu tersebut dibicarakan ke dalam forum-forum tanpa ada penyelesaian. - Tarno, Mawa UNS

Mawa UNS akan memanggil mahasiswa tersebut untuk diberi nasehat serta diberitahu bahwa beasiswanya akan dihentikan. Pada kenyataannya, menurut data yang dihimpun VISI dari dokumen Mawa UNS, dari 1.350 mahasiswa terdaftar hanya terdapat kurang dari 10 laporan yang masuk mengenai Bidikmisi tidak layak. Padahal, dari pihak Mawa UNS sendiri juga telah mengadakan layanan pengaduan mengenai kasus terkait. Namun, antusiasme mahasiswa UNS terlihat masih kurang tinggi dalam hal mendukung layanan ini. “Lebih baik kalau ada kecurigaan langsung laporkan ke kita daripada isu tersebut dibicarakan ke dalam forum-forum tanpa ada penyelesaian,” ujar Tarno. Patut disayangkan jika mahasiswa lebih memilih menyikapi kecurigaan tersebut sebagai buah bibir yang hangat tanpa pembuktian. Sikap menuduh tanpa mau membuktikan ini tentu terkesan ‘lempar batu sembunyi tangan’. “Pernah ada kasus mahasiswa yang dilaporkan tidak layak, lalu kita segera tindaklanjuti berupa survei ulang dan hasilnya mahasiswa tersebut ternyata memang layak. Mungkin karena gengsi sehingga temannya salah sangka,” imbuh Tarno kepada VISI. Dari beberapa mahasiswa Bidikmisi yang sempat VISI wawancarai, rata-rata memang mengaku berasal dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Mahasiswa-mahasiswa tersebut pun mengungkapkan bahwa mereka merasa terbantu dengan adanya bantuan Bidikmisi dari Pemerintah. “Bila saya tidak dapat bantuan Bidikmisi, pasti sekarang saya tidak bisa kuliah. Saya merasa terbantu dan saya merasa jadi terbuka pikirannya,” Awaludin (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa FISIP penerima Bidikmisi yang sempat diwawancari VISI pada Selasa (21/03). “Aku sangat terbantu, menurutku sebagian besar sudah tepat sasaran, ya walaupun ada juga yang kelihatan dari luar mampu padahal butuh,” pungkas Kunthi (bukan nama yang sebenarnya) yang juga merupakan mahasiswa FISIP penerima beasiswa Bidikmisi. Arif, Dania, Ika


SUPLEMEN

Diolah oleh : Litbang LPM VISI

Sumber : sibea.mawa.uns.ac.id

Acta Diurna No.26/V/2017

7


PROFIL

Gilang Amy Sambada

Ide Kreatif Berujung Bisnis Semakin sempitnya lapangan kerja yang tersedia akhir-akhir ini mendorong wirausaha menjadi salah satu tren baru di kalangan kaum muda. Akibatnya, bisnis-bisnis kecil rintisan anak muda, termasuk mahasiswa, mulai menjamur di mana-mana. Berbagai motif menjadi dasar, mulai dari ingin sekedar belajar hingga obsesi meraup untung. Namun, siapa sangka jika wirausaha yang hanya bermotif coba-coba justru berhasil menjadi bisnis berprofit tinggi?

S

eperti yang dilakukan oleh Gilang Amy Sambada, salah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Di usia muda, Gilang telah berani mendirikan usaha clothing line. Clothing line sendiri merupakan salah satu bidang usaha yang mana produknya berupa desain fesyen. Menamai produknya Eleven Attire, Gilang mencoba peluang clothing line dengan menghadirkan produk-produk merchandise bercorak UNS. Ditemui VISI di sela-sela kesibukan kuliahnya, mahasiswa asli Karanganyar tersebut menuturkan salah satu alasan kenapa ia menamai produknya Eleven Attire. “Eleven itu kan artinya sebelas, sedangkan attire itu artinya pakaian. Jadi, konsumen kan bisa tau kalau yang dia beli itu merchandise-nya Universitas Sebelas Maret,” papar Gilang. Eleven Attire sendiri pada awalnya didirikan semata-mata untuk belajar berwirausaha. Dengan kemampuan desain grafis yang ia pelajari secara otodidak sejak duduk di bangku SMA, Gilang mencoba membuat produk merchandise UNS berupa baju, jaket, dan topi dengan desain-desain bercorak UNS. Uniknya, hal pertama yang dilakukan oleh Gilang setelah mendirikan Eleven Attire justru bukan membuat produk, tetapi memamerkan pamflet-pamflet dengan gambar desain-desain merchandise menarik. “Dengan modal 50 ribu, aku membuat pamflet yang isinya desain yang simpel tapi sedang ramai peminatnya,” ungkap Gilang. Ia lalu menyebarkan pemflet-pamflet tersebut di kawasan FISIP, Fakultas Hukum (FH), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dua minggu kemudian, Gilang mendapat pesanan kaos sebanyak 120 buah.

8 Acta Diurna No.26/V/2017

Hambatan dalam Berwirausaha

Layaknya kehidupan manusia normal, setiap wirausahawan pasti memiliki tantangan yang harus mereka hadapi. Tak terkecuali dengan yang harus dihadapi oleh Gilang ketika mulai merintis Eleven Attire. Kendala tersebut salah satunya adalah di mana Eleven Attire menjual produk secara online, namun pendistribusian produk kepada konsumen dilakukan secara offline dengan cara Cash on Delivery (CoD). “Jadi terkadang lama, soalnya kan mereka mahasiswa, banyak yang sibuk,” imbuh Gilang sewaktu dimintai keterangan oleh VISI. Namun, lebih lanjut Gilang juga menambahkan bahwa saat ini tantangan tersebut perlahan mulai dapat ia atasi. Kini Eleven Attire telah memiliki tim CoD yang dalam praktiknya sangat membantu proses transaksi dengan konsumen. Kendala lain yang pernah dihadapi Gilang pada masa-masa awal berdirinya Eleven Attire adalah perihal kesalahan pembuatan produk. “Pernah waktu itu, harusnya kaos itu full print ya, nah aku nyablonnya kurang, nah pas dijahit, ga full sablonannya, jadi ya buang kain banyak,” ungkap Gilang kepada VISI.

Mempertajam Bakat

Sebelum Eleven Attire berdiri, Gilang memang memiliki bakat desain dengan perangkat lunak seperti Adobe Illustrator dan Adobe Photoshop. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuatnya langsung terjun ke dunia wirausaha. Ia terlebih dahulu mengasah kemampuan desainnya, antara lain dengan


mengambil pekerjaan sebagai seorang freelance graphic designer. Dari pekerjaan tersebut, kepada VISI Gilang menceritakan bahwa kala itu ia biasa diberi upah sebesar Rp 70.000,00 untuk setiap desain yang dibuatnya. Tak hanya itu, ia juga mengambil peran dalam salah satu proyek perkuliahan di kampusnya dengan menjadi art director di Olli Advertising Agency. Usaha dan tekad belajar Gilang pun membuahkan hasil. Sejumlah prestasi berhasil ia torehkan. Prestasi-prestasi tersebut antara lain meliputi Juara 1 Entrepreneur Muda Terbaik UNS dalam Festival Ilmiah Mahasiswa versi BEM dan versi Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) tahun 2016, 1st winner in Art Directing and best team with OLLI Advertising Agency, serta best presenter in three semesters learning of Integrated Markeing Communication Plan with Granola Creations, Bali. Tak hanya itu, Gilang juga beberapa kali didaulat sebagai pembicara dalam acara-acara seminar kewirausahaan baik di level kampus maupun umum.

Jangan Lakukan Sendiri

Melakukan pembagian waktu dengan efektif merupakan salah satu hal yang sukar dilakukan oleh para wirausahawan muda yang sedang duduk di bangku kuliah. Kurang bisa membagi skala prioritas antara kuliah dan kerja merupakan penyebab

banyaknya bisnis rintisan kaum muda yang harus gulung tikar. Kepada VISI, Gilang sendiri menyampaikan bahwa kuliah tetap menjadi prioritasnya. Oleh karena itu, ia juga giat mencari orang lain yang sanggup dan mau bekerjasama dalam tim agar Eleven Attire tetap berjalan semestinya. Hal tersebut terbukti berhasil. Ia berhasil mengumpulkan setidaknya 17 anggota dari UNS, belum termasuk model. “Ada tim di sana, yang sama-sama melengkapi saat ada kekurangan. Sehingga proses jual beli tetap terjaga dan berjalan tanpa meninggalkan kuliah,” ungkap Gilang Sebelum menutup sesi wawancara dengan VISI, Gilang membagi beberapa tips untuk mahasiswa yang ingin belajar ataupun mencoba berwirausaha. Bagi Gilang, hal pertama yang harus dimiliki seorang wirausahawan adalah komitmen tinggi. “Follow your passion. Kalo ngerjain sesuatu karena passion, mesti kita ngerjainnya enak,” imbuh Gilang. Tips lain yang tak kalah penting adalah mencari keunikan diri sendiri untuk melawan kompetitor usaha yang ada. Dengan mencari nilai baru yang tentunya tidak mainstream, tentu akan menambah daya saing produk masing-masing. Banyu, Husna

KELUARGA BESAR LPM VISI 2016-2017 MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS DIWISUDANYA - Alvira Parahita, S.I.Kom (Pemimpin Kaderisasi LPM VISI 2014-2015) - Astini Mega Sari, S.I.Kom (Redpel Majalah LPM VISI 2014-2015) - Diah Harni Saputri, S.I.Kom (Redpel Terbitan Lain LPM VISI 2014-2015) - Ester Lia Amanda, S.I.Kom (Staf Bendahara Umum LPM VISI 2014-2015) - Hira Askamal, S.I.Kom (Staf Usaha LPM VISI 2014-2015)

- Maharani Krisna Handayani, S.I.Kom (Pemimpin Usaha LPM VISI 2014-2015) - R. Ahmad Reiza, S.I.Kom (Redpel Majalah LPM VISI 2014-2015) - Linda Fitria Christyas (Staf Usaha LPM VISI 2014-2015) - Radityo Kuswihatmo, S.I.Kom (Pemimpin Redaksi LPM VISI 2014-2015)

SEMOGA SUKSES DAN TERUS BERKARYA

Acta Diurna No.26/V/2017

9


RETORIKA

Mahasiswa, Antara Prestasi dan Pengalaman Oleh: Arif Sulistyo B. (Mahasiswa Hubungan Internasional 2016)

K

uliah merupakan salah satu taraf pendidikan yang dilalui para pelajar setelah lulus SMA atau SMK. Pada dasarnya, kuliah dan sekolah memiliki tujuan yang sama, yaitu menuntut ilmu. Perbedaannya terletak pada sistem pembelajaran dan status para pelaku akademiknya, yang semula disebut sebagai pelajar berganti nama menjadi mahasiswa. Dalam dunia perkuliahan, mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan proses studi mereka semester demi semester untuk dapat lulus dengan gelar tertentu. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus selalu menjadi persoalan hangat terkait bagaimana manajemen waktu masing-masing mahasiswa dalam menjalani kehidupannya. Sebagian mahasiswa berpikir untuk menjalani waktu di sela-sela kegiatan belajarnya dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi kampus seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan bahkan organisasi di luar kampus. Menurut mereka, hal ini bertujuan untuk meningkatkan sekaligus melatih soft skill dalam kehidupan sosialnya. Anggapan seperti ini dipercaya oleh sebagian mahasiswa agar dapat memiliki kemampuan praktik lapangan yang baik guna menunjang kehidupan bermasyarakat dan atau karier di kemudian hari. Namun, idealisme semacam ini juga dapat ditentang sebagian mahasiswa lain yang menganggap bahwa tujuan kuliah adalah mengejar prestasi akademik sebaik-baik mungkin serta lulus tepat waktu. Kelompok mahasiswa semacam ini lebih memfokuskan dirinya pada kegiatan formal seperti belajar di kampus, selebihnya mereka biasanya tidak memiliki antusiasme khusus terhadap kegiatan di luar kelas. Fenomena tersebut terkenal dengan sebutan mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang). Era globalisasi sekarang ini memang membuat semua orang hanyut dalam kompetisi untuk mendapatkan profesi atau karir yang diinginkan. Kenyataannya, saking ketatnya persaingan membuat kualifikasi yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan dan profesi tertentu membutuhkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Hal ini berkaitan langsung dengan prestasi akademik lulusan perguruan tinggi. Korelasi kedua fakta tersebut dapat menjadi alasan bagi kelompok mahasiswa yang hanya memprioritaskan prestasi akademik di ruang kelas saja. Fakta publik menunjukkan bahwa mahasiswa dengan idealisme seperti ini umumnya memiliki catatan prestasi yang baik di lembar akademiknya sedangkan bagi kelompok mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan organisasi malah belum tentu menorehkan prestasi yang baik. Perlu diketahui bahwa parameter masyarakat menilai hal ini didasarkan atas acuan mereka pada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Disadari atau tidak, sesungguhnya kegiatan organisasi tidak dapat diremehkan. Sebagian mahasiswa yang aktif berorgani-

10 Acta Diurna No.26/V/2017

ilustraasi: Diah

sasi di luar jam kuliah yakin bahwa itu merupakan bagian dari proses sebagai mahasiswa. Mahasiswa adalah penerus bangsa, taring-taring muda yang akan tumbuh tajam di kemudian hari. Aktif dalam berbagai kegiatan di luar jam kampus membuat mereka terbiasa dan terlatih dalam bersosialisasi, memaklumi perbedaan antar sesama, dan lain-lain. Yang lebih penting lagi yaitu bagaimana mereka dapat memobilisasi beragam unsur kesamaan dan perbedaan menjadi satu kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bersama. Alasan kuat dan logis tersebut yang dipegang teguh bagi sebagian mahasiswa. Sekedar informasi, bahwa mungkin saja sertifikasi atas keanggotaan aktif di suatu organisasi mereka dapat menjadi nilai tambah dalam meniti karir pada esok hari. Dua persoalan ini tidak akan pernah habis untuk diperdebatkan dan eksistensinya akan selalu relevan sampai kapanpun selama menjadi mahasiswa. Sebagai mahasiswa, sepatutnya kita dapat memilih dan membagi waktu dengan baik untuk memilih jalan yang paling tepat. Tidak ada salahnya kita turun langsung ke ‘medan pertempuran’ agar dapat meresapi makna bermasyarakat. Mahasiswa tetaplah mahasiswa, sesuatu yang tak berubah pada mereka adalah kenyataan bahwa hidup sebagai proses belajar itu harus terus dijalani dengan memilih satu yang pasti dari beragam pilihan yang ada. Sekiranya kita dapat mengambil yang terbaik dari yang baik.


RESENSI

Mengemudi Hidup Bersama Doa Ibu Oleh: Erna Wati Judul Penulis Bahasa Penerbit Tahun Terbit Tebal Buku

K

asih sayang orang tua memang tiada batas. Apapun rela mereka lakukan demi kebahagiaan anaknya. Hal itulah yang kiranya dapat menggambarkan isi cerita dalam novel Ibuk. Keluarga memang topik yang sudah begitu sering dibahas dalam masyarakat. Namun, Iwan Setyawan mampu membuatnya berbeda dengan menyajikan cerita dengan bahasa sederhana ke dalam sebuah novel. Cerita ini dimulai dengan kisah cinta Ibuk, Tinah, si gadis desa berparas cantik. Tidak lulus SD, Tinah lantas membantu menjaga kios Mbok Pah di pasar. Di sanalah ia menemukan pasangan hidupnya, Sim, sopir angkot yang dikenal sebagai playboy pasar. Kehidupan pernikahan mereka tidaklah berjalan mulus. Dengan latar belakang ekonomi yang dapat dikatakan sangat kurang, hidup dengan lima orang anak bukanlah hal yang mudah. Namun, Ibuk tak pantang menyerah. Berkat kecerdasannya dalam mengelola keuangan keluarga, kelima anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang pandai dan tidak mudah mengeluh. Penulis, yang dalam novel tersebut diceritakan sebagai Bayek (salah seorang anak Ibuk), menceritakan secara gamblang kesulitan apa saja yang dirasakan keluarganya pada kala itu, mulai dari hal makanan sampai keperluan mandi. Penulis menceritakan betapa mereka sekeluarga sangat jarang untuk makan makanan enak, seperti sedikit empal yang dibagi untuk lima orang anak ketika ayahnya mendapat rejeki lebih. Diceritakan pula cara Ibuk dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya secara bergilir dengan sistem kredit yang bergilir pula. Bahkan hal yang kita anggap sangat sepele, justru menjadi hal berharga bagi keluarga mereka, yaitu menghemat penggunaan keperluan mandi. Kehidupan yang begitu sulit tersebut menjadi semakin sulit ketika Bayek mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Tidak main-main, sang ayah bahkan rela menjual angkotnya yang baru saja lunas pengkreditannya demi membayar biaya kuiah Bayek. Mobil yang sekaligus sebagai mata pencaharian

: Ibuk : Iwan Setyawan : Indonesia : Gramedia : 2012 : 292 halaman

utama keluarga itu terpaksa dijual demi membiayai keberangkatan Bayek dan biaya hidupnya di Bandung. Harga angkot tersebut terbayar lunas. Lulus kuliah, Bayek bekerja di sebuah perusahaan di Amerika Serikat. Dari situlah Bayek mulai mengubah kehidupan keluarganya ke arah yang lebih baik. Namun, hidup di negara orang juga bukan hal mudah. Ada banyak aral melintang yang harus Bayek hadapi. Termasuk kekhawatiran terhadap kondisi Ibuk dan beberapa kemalangan yang menimpanya selama tinggal di sana. Penulis dengan apik mengemas cerita hidupnya yang sulit menjadi sebuah novel yang mengalir. Melalui tokoh Ibuk, ia menyuguhkan cerita yang mampu membukakan mata kita. Sebuah kehidupan yang membuat kita sadar bahwa kesulitan yang kita alami tidak sebanding jika dibandingkan dengan kesulitan mereka di luar sana yang sedang memperjuangkan hidup. Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Dari segi penulisan, penulis beberapa kali menyisipkan bahasa-bahasa daerah dalam kalimat yang dilontarkan Ibuk, namun tidak menyertakan arti dari kalimat-kalimat tersebut. Hal ini tidak menjadi masalah bagi saya atau mungkin para pembaca lain yang merupakan orang Jawa. Namun, bagi pembaca asal luar Jawa kemungkinan akan merasa bingung karena tidak mengerti apa yang dibicarakan. Pesan yang dapat saya petik dari novel ini adalah betapa orang tua, terutama ibu, banyak berjuang demi kebahagiaan anaknya. Penulis juga menyampaikan pesan betapa pendidikan sebenarnya mampu mengubah standar hidup seseorang, tergantung pada mau atau tidaknya orang tersebut berusaha. Satu hal yang tak kalah penting, semua orang berhak menentukan arah hidupnya tanpa memandang latar belakang ekonomi yang ada. Melalui cerita ini, Iwan juga berharap agar anak-anak sopir angkot lainnya mampu mengikuti jejak perjuangannya.

Acta Diurna No.26/V/2017

11


Baca di mana Kapan Lewat perangkat apa

SAMPAI A3

FULL

Buletin Acta Diurna Edisi 26