Kopi cs Diabetes melitus II

Page 1

LPM FORMAT

Kopi bukan sekadar minuman biasa. Siapa sangka, ternyata kopi juga dapat mengurangi risiko diabetes melitus II. Olahan biji kopi yang biasanya dicap negatif untuk kesehatan tubuh ternyata juga memiliki manfaat, loh. Seperti yang kita ketahui bersama, diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang persentase penyebarannya cukup pesat di dunia (Cole & Florez, 2020). Namun, sebenarnya penyakit seperti apakah diabetes melitus itu?

APAITUDIABETESMELITUS?

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh berkurangnya produksi insulin karena gangguan kerja pada pankreas. Penyakit kronis metabolik ini dapat ditandai dengan adanya kadar glukosa darah yang cukup tinggi.

EMPATJENISDIABETESMELITUS

Diabetes melitus dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu:

Diabetes melitus tipe 1 1.

Pada diabetes melitus tipe 1 dapat terjadi karena adanya kerusakan sel beta pankreas (reaksi autoimun). Sel beta pankreas bertugas sebagai penghasil insulin untuk mengatur kadar glukosa dalam darah. Reaksi autoimun yang terjadi pada peradangan sel beta merupakan patofisiologi dari diabetes melitus tipe 1 ini. Pada diabetes tipe tersebut, selain karena autoimun juga bisa disebabkan karena adanya virus citomegalo virus (CGV), rubella, virus cocksakie, herpes, dan lainnya. (Rustama, 2010).

2. Diabetes melitus tipe 2

Pada diabetes melitus tipe 2 terjadi karena terdapat kelainan pada sekresi insulin, cara kerja insulin, maupun terjadi kelainan pada keduanya. Hal ini dapat ditandai dengan adanya disfungsi sel beta pankreas juga resistensi insulin pada organ target akibat dari defisiensi insulin relatif. Diabetes melitus tipe 2 juga bisa dikatakan terjadi karena gangguan reseptor sel beta pankreas yang menyebabkan insulin tidak dapat memproduksi insulin dalam kualitas dan jumlah yang cukup.

3. Diabetes melitus gestasional

Diabetes gestasional merupakan tipe diabetes yang ditemukan pada wanita hamil berupa gangguan toleransi glukosa. Keadaan ini terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak terdeteksi adanya penyakit diabetes, namun selama masa kehamilan menunjukkan adanya kadar glukosa yang tinggi. Hal ini merupakan komplikasi kehamilan yang umum terjadi akibat hiperglikemia yang spontan berkembang selama masa kehamilan. Diabetes melitus gestasional biasanya dapat terdeteksi setelah memasuki usia kehamilan 20 minggu saat hormon plasenta meningkat secara substansial karena memiliki efek berlawanan dari insulin pada metabolisme glukosa.

Diabetes melitus tipe lain dapat disebabkan dari faktor-faktor yang bisa menyebabkan jumlah insulin tidak mencukupi atau kurang dari jumlah seharusnya. Berbagai faktor diabetes melitus tipe lain yaitu diantaranya disebabkan oleh endokrinopati, penyakit eksokrin pankreas, defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, akibat kerja obat atau zat kimia, infeksi, imunologi, dan sindroma genetik lain.

4. Diabetes melitus tipe lain

Di antara tipe tersebut, diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe yang paling sering ditemukan kasusnya dengan persentase sekitar 90–95% dari total penderita diabetes melitus (Power, 2019).

Sumber gambar: health direct

Penyakit diabetes melitus tipe 2 yang telah memakan banyak korban ini dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor genetik dan faktor gaya hidup seseorang. Aktivitas atau gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes melitus tipe 2 adalah kebiasaan mengonsumsi makanan yang kaya lemak, kurangnya aktivitas atau latihan fisik, stres dan tekanan mental, tidak cukupnya istirahat, banyaknya konsumsi gula dalam sehari, dan kurangnya mengonsumsi makanan yang berserat. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup yang sehat sangat berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya risiko seseorang terjangkit penyakit diabete melitus tipe 2.

Sumber data: IDF Diabetes Atlas 10th edition 2021 dan databoks

Berdasarkan data yang diperoleh dari International Diabetes Federation, pada kelompok usia 20–79 tahun terdapat sekitar 463 juta orang di dunia yang menderita penyakit diabetes melitus pada tahun 2019. Selain itu, tingkat mortalitas akibat diabetes melitus pada tahun 2019 termasuk cukup tinggi dengan kisaran 4 juta orang meninggal karena penyakit tersebut. Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan kasus terbanyak untuk diabetes melitus di urutan 7 dengan sekitar 10,7 juta orang. Prediksi terjadi di Indonesia pada tahun 2045 dengan perkiraan 28,569 juta kasus diabetes melitus.

Dalam kasus tersebut, salah satu terapi alternatif yang bisa direkomendasikan adalah rutin mengonsumsi kopi. Fakta tersebut dibuktikan oleh adanya beberapa studi kohort di Amerika Serikat, Asia, dan Eropa yang menyatakan bahwa mengonsumsi kopi bisa menurunkan risiko terkena penyakit diabetes melitus tipe 2. Mengapa bisa terjadi demikian? Hal tersebut bisa terjadi karena di dalam kopi terdapat beberapa kandungan senyawa kimia yang dapat menyerap glukosa dan metabolisme glukosa.

KOMPONENKIMIADALAMKOPI

1. Kafein

Kafein merupakan salah satu komponen utama yang dapat meningkatkan sekresi insulin. Adanya kafein dapat menghambat transportasi glukosa dari darah ke otot karena perannya sebagai antagonis reseptor adenosin sehingga kafein akan mengganggu metabolisme glukosa pada penderita diabetes.

2. Cafestol dan Kahweol

Pada cafestol dan kahweol merupakan suatu senyawa yang berperan untuk memberikan sinyal Peroxismeproliferator-activated receptors gamma (PPARℽ). PPARℽ merupakan faktor transkripsi gen yang berpengaruh terhadap fungsi insulin atau titik tumpu regulasi insulin dan sebagai reseptor ligan yang berada di dalam inti.

Asam klorogenat merupakan salah satu bahan utama dalam kopi. Berdasarkan studi telah terbukti bahwa asam klorogenat dapat merangsang produksi glukagon-like peptide 1 (GLP-1). Dapat diketahui bahwa pada GLP-1 terdapat efek yang berfungsi untuk sel beta pankreas dalam memperkuat sekresi insulin yang bergantung pada glukosa. Pada asam klorogenat meiliki risiko 33% lebih rendah terdeteksi penyakit diabetes melitus tipe 2.

4. Mikronutrien

Mikronutein yang merupakan magnesium telah terbukti dapat meningkatkan fungsi sel beta pankreas. Berdasarkan studi yang telah dilakukan bahwa adanya peningkatan eritrosit yang signifikan dan positif dapat berkorelasi dengan peningkatan sekresi insulin.

Adanya pengaruh konsumsi kopi terhadap menurunnya risiko penyakit diabetes melitus tipe 2 ini juga dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Tjahjono dan Danang pada tahun 2014. Penelitian tersebut melibatkan 16 orang penderita diabetes melitus tipe 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kadar glukosa pada darah para penderita diabetes melitus tipe 2 setelah selama seminggu rutin mengonsumsi kopi (Anwari, 2021). Hal tersebut berarti bahwa kopi dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan bagi para penderita diabetes melitus tipe 2.

Perlu diperhatikan, bahwa mengonsumsi kopi yang berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan tubuh. Takaran yang tepat sangat diperlukan dalam mengkonsumsi kopi. Berikut merupakan dampak negatif dari mengonsumsi kopi yang berlebihan yaitu, pada kopi terdapat kandungan kafein yang bersifat stimulun yang mencandu. Adanya kandungan kafein dapat mempengaruhi sistem kardiovaskuler seperti peningkatan tekanan darah dan detak jantung. Hal ini dapat terjadi jika seseorang mengonsumsi kopi secara berlebihan. Pada sebagian orang mengonsumsi kopi 2 sampai 3 cangkir kopi tidak memberikan dampak negatif. Namun, apabila dikonsumsi lebih dari takaran tersebut dapat menimbulkan efek samping seperti jantung berdebar-debar, sulit tidur, kepala pusing, dan gangguan lainnya.

Kendati demikian, pola konsumsi kopi sebagai pengobatan alternatif tentu harus diperhatikan. Sebab, terapi menggunakan kopi dengan gula yang berlebihan bukannya mengurangi risiko diabetes melitus tipe 2, melainkan malah memperparah gejalagejalanya. Konsumsi kopi yang dimaksud bisa dijadikan pengobatan alternatif diabetes melitus tipe 2 ini sebaiknya minim tambahan gula atau pemanis lainnya. Selain itu, konsumsi kopi sebagai pengobatan alternatif juga harus memiliki takaran dan batasan. Apabila konsumsi kopi dilakukan secara berlebihan, nantinya justru akan menimbulkan penyakit-penyakit lain yang dapat memicu terjadinya komplikasi kesehatan pada tubuh penderita diabetes melitus tipe 2. Oleh karena itu, mengonsumsi kopi mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh jika sesuai takaran atau dengan dosis yang pas, tidak berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu sudah pasti tidak baik.

3.
Klorogenat
Asam

DAFTARPUSTAKA

Adli, F. K. (2021). Diabetes Melitus Gestasional: Diagnosis dan Faktor Risiko. Jurnal Medika Hutama, 3(01 Oktober), 1545-1551

Anwari, R. H. (2021). Dampak Konsumsi Kopi Pada Penurunan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(3), 531-540.

Marzel, R. (2021). Terapi pada DM Tipe 1. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(1), 51-62.

Widiasari, K. R., Wijaya, I. M. K., & Suputra, P. A. (2021). Diabetes Melitus Tipe 2: Faktor Risiko, Diagnosis, Dan Tatalaksana. Ganesha Medicina, 1(2), 114-120.

Pratiwi, I. Y., & Sodik, M. A. (2018, October 19). Dampak Positif dan Negatif Meminum Kopi. https://doi.org/10.31219/osf.io/3mf9d

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.
Kopi cs Diabetes melitus II by LPM Format Unair - Issuu