l Jumat Wage l 26 Oktober 2018 TAHUN KE-33 NO: 176
Harga Eceran Rp 3.000 Harga Langganan Rp 70.000
Diterjang Angin, Ratusan Rumah Rusak GROBOGAN - Hujan disertai angin kencang porak porandakan ratusan rumah di tujuh kecamatan di Kabupaten Grobogan. Belasan rumah warga yang tersebar di lima kecamatan roboh dan ratusan rumah lainnya rusak parah. Selain merobohkan 14 rumah dan menerbangkan ribuan genteng milik ratusan rumah, bencan ini juga membuat warga tinggal di rumah tetangga. Tiga orang mengalami luka-luka dua harus dirawat intensif di puskesmas dan rumah sakit. Puting beliung juga merobohkan sejumlah pohon dan mengakibatkan seorang warga harus dirawat di RSUD Raden Soedjati Sumodihardjo, PurwoBersambung ke hal 7 kol 1 BERSIHKAN LAHAN : Warga membersihkan rumah warga yang roboh lantaran diterjang angin puting beliung kemarin.n Foto: Felek wahyu
MUI Jateng: Jangan Terprovokasi
n Menyikapi Kasus Garut SEMARANG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah memrakarsai rapat koordinasi dengan mengundang para pimpinan ormas Islam, di Kantor MUI Jateng, Komplek Masjid Baiturrahman, Kamis (25/10). Rapat membahas ketegangan di kalangan umat Islam akhir-akhir ini terkait peristiwa pembakaran bendera berkalimat Tauhid yang diduga bendera HTI di Garut, Jawa Barat.
Islam bersepakat mengimbau semua elemen untuk menahan diri dan jangan terprovokasi ataupun memprovokasi dalam situasi tersebut. Semua potensi umat Islam diharapkan mengedepankan sikap ahlakul kharimah, memperkuat ukhuwah Islamiyah serta mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Kiai Darodji menegaskan, kita harus menyadari saat ini tengah ada aktor yang sengaja ingin mengaduk-aduk, mengaBersambung ke hal 7 kol 3
PERTEMUAN ORMAS: MUI Jateng dan ormas Islam di Jateng menggelar pertemuan menyikapi kasus Garut. n Foto: M13-yan
Guru SD Tewas Tertembak Pemburu
Puber Keyakinan
Oleh: Mohammad Farid Fad
Pengasuh Ponpes Raudlatul Muta’allimin Kendal, pengurus PW Pergunu Jateng, dosen FITK UIN Walisongo Semarang. BELAKANGAN ini, kita layaknya didera fase puber keyakinan. Bila sudah merasa yakin, lalu muncul fanatisme yang berlebihan. Dampaknya, yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan pembenaran. Sejurus kemudian agresifitas verbal diumbar dengan mencari berjuta pembenaran agar keyakinannya diabsolutkan. Akibatnya, pendapatnya sendiri cenderung dimutlakkan sembari mempersalahkan yang lain. Apalagi bila didukung platform algoritma pada internet dan media sosial yang menyajikan postingan-postingan yang paling relevan dengan selera si pengguna. Efeknya, ia akan teralienasi dengan info-info yang tak serumpun. Sudut pandang lain-pun jadi tampak asing. Hingga dunia hanya diteropong lewat Bersambung ke hal 7 kol 3
KAJEN - Kejadian tragis menimpa seorang guru SD di Kabupaten Pekalongan. Kusmono (35), warga Desa Sawangan RT 03 RW 01, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, tewas tertembak pemburu di area kebun di Dukuh Petikisan, Desa Dororejo, Kecamatan Doro, Kamis (25/10) petang. Tersangka merupakan teman berburunya korban sendiri yang bernama Ilyas (35), warga Dukuh Sindang, Desa Banjarsari, Kecamatan Talun. Korban sempat dilarikan ke RSUD Karanganyar, namun saat tiba di Ruang IGD korban dinyatakan sudah meninggal dunia. Pelaku sendiri langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Doro, dan hingga Kamis malam masih menjalani pemeriksaan intensif oleh polisi. Suasana duka tampak di Ruang IGD RSUD Kajen. Istri korban dan pihak keluarga tak kuasa menahan tangis. Pasalnya, kejadian itu tak pernah terpikirkan. Korban pergi
berburu dengan temannya itu tak jauh dari kampung mereka. Korban sendiri diketahui meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Sekitar pukul 17.30 WIB, korban dan tersangka pergi berburu menggunakan dua senapan
angin. Satu senapan model kokang angin, dan satunya model pedal gas. Sesampainya di lokasi berburu, keduanya berbagi tugas. Tersangka berada di atas pohon durian untuk mengincar Bersambung ke hal 7 kol 3
SENAPAN ANGIN: Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Agung Ariyanto melihat senapan angin yang diduga digunakan oleh tersangka saat menembak korban. n Foto: Hadi Waluyo-yan
Aksi Keprihatinan ‘Labuhan’
MK Tolak Gugatan Ambang Batas Presiden
JAKARTA Mahkamah Konstitusi (MK) memutus lima perkara terkait gugatan ambang batas presiden atau presidential threshold. Kelima gugatan itu ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Ketua Majelis Hakim, Anwar Usman dalam sidang putusan itu menyebut kelima gugatan ditolak setelah me meriksa berbagai fakta dan pertimbangan dari para hakim. “Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya. Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan hakim anggota,” kata Anwar saat membacakan putusannya di Gedung MK, Jakarta Pusat, Kamis (25/10). Dalam pembacaan putusan itu, Anwar menyebut UnBersambung ke hal 7 kol 3
Sedekah Laut, Ungkapan Syukur Nelayan
Gandeng Mahasiswa
NADINE CANDRAWINATA, terus giat melakukan penyelamatan pada bumi. Kepeduliannya pada lingkungan ini dilakukan dengan sosialisasi di sejumlah daerah, termasuk menggandeng mahasiswa. “Lingkungan butuh perhatian khusus. Mengingat kondisinya makin memprihatinkan. Kerusakan laut dan terumbu karangnya, sampah plastik, dan lainnya,” katanya di Fakultas Ekonomi Unissula Semarang, Kamis (25/10). Dia mengajak mahasiswa peduli dan mulai menyelamatkan lingkungan. Mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita, misalnya mengurangi penggunaan plastik. n skh
Rapat dipimpin Ketum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji Msi, Sekum Drs KH Muhyiddin MAg, Sekretaris Prof Dr Imam Taufik MAg dan Drs Multazam Achmad MA. Pimpinan ormas yang hadir antara lain Ketua DPW LDII Jawa Tengah Prof Singgih Tri Sulistiyono, Ketua IPHI Jawa Tengah H Harsono, Ketua PW Aisyiyah Dr Hj Umul Baroroh, dan Pengurus PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jateng Drs Sardjuli SH MSI. Terhadap peristiwa tersebut MUI Jateng beserta pimpinan
Prihatin dengan pengrusakan persiapan sedekah laut di Pantai Baru pada dua pekan yang lalu, puluhan warga melaksanakan upacara labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul sore ini. Dengan labuhan tersebut, warga berharap kejadian di Pantai Baru tak terulang kembali.
Foto: kpl
MENGAWALI upacara labuhan, puluhan warga dengan mengenakan pakaian adat Jawa berkumpul di sebuah pendopo yang terletak di kompleks Cepuri Parangkusumo, Kamis (25/10). Selain itu, lima buah tumpeng dan hasil bumi
ditata dalam beberapa tampah dengan ukuran sedang berada di tengah-tengah puluhan orang itu. Adapun lima buah tumpeng dan hasil bumi tersebut nantinya dilarung ke Pantai Parangkusumo. Sebelum dilarung, seorang pria dengan mengenakan baju putih memimpin doa secara agama Islam. Tak lama setelah memanjatkan doa, puluhan orang itu melaksanakan kembul bujana atau makan bersama. “Labuhan ini bernama labuhan mantra sakti untuk nuswantoro, dan tahapannya memang doa bersama-sama dulu, kembul bujana lalu melarung tumpeng-tumpeng ke laut,” kata Ketua Pelaksana Labuhan sekaligus Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi (Gemayomi), Lestanto Budiman di sela-sela acara. Tampak mereka bersama
warga sekitar Pantai Parangkusumo menikmati nasi gurih yang terbungkus daun pisang. Tak lama kemudian, prosesi dilanjutkan dengan membawa tumpeng dan hasil bumi ke Cepuri Parangkusumo. Di tempat tersebut mereka kembali memanjatkan
doa dan dilanjutkan dengan berjalan bersama-sama menuju pinggir pantai. Selama perjalanan ke pinggir pantai, terdengar alunan gender yang mengiringi beberapa peserBersambung ke hal 7 kol 1
LABUHAN: Prosesi labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul kemarin yang diikuti warga dan budayawan. n Foto: detik