Issuu on Google+

10

EDISI 0 1 8 TTAHUN AHUN I 01

Ketika peristiwa tersebut di atas direnungkan, maka alur pikiran kita akan terbawa ke rana hubungan antara hukum dan masyarakat. Dan sudah menjadi fenomena umum, ada saja suatu aturan hukum yang diabaikan oleh masyarakat yang diaturnya karena hukum itu tidak lagi sesuai dengan kepentingan jiwa masyarakat. Karena hukum sifatnya statis sedangkan peradaban kehidupan masyarakat berubah dari waktu ke waktu secara terus menerus. Atau hukum itu sama sekali belum cocok untuk diterapkan di suatu masyarakat tertentu.Itu pulalah sebabnya sehingga ada ungkapan�het recht hink achter defeiten aan�.Bahwa hukum akan tertatihtatih mengejar peristiwa yang seyogyanya diaturnya (Achmad Ali, 1988a: 5). Bahkan ada hukum yang

diciptakan, tapi belum penah diberlakukan sudah ditinggalkan oleh masyarakat yang mau diaturnya dengan cara diganti atau diamademen oleh masyarakatnya sendiri. Meskipun demikian, perlu juga dikemukakan bahwa dalam ilmu hukum ada banyak teori dalam kaitannya hukum dan masyarakat, ada yang melihat hukum sebagai alat control social ada pula yang melihat sebagai alat pengendali atau perubah masyarakat yang oleh Rescou Poun dikenal “a tool of social engineering�, hukum sebagai suatu alat untuk merubah masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan lampu-kuning-ijomerah di perempatan jalan bertujuan untuk mengatur masyarakat, merubah pola tingkah-laku masyarakat pengguna jalan dari yang sederhana menjadi teratur dan terkendali.

Dalam kaitanya Tinambung dan Campalagian demi kepentingankepentingan tertentu masih berpendapat belum tepat sehingga dibiarkan bagaikan singa ompong yang meraung-rauang di siang hari. Tapi fakta tersebut lampu merah-kuning-ijo di Tinambung dan Campalagian tetap bermanfaat bagi masyarakat disekitar. Setidaknya memperkenalkan kepada masyarakat awam bahwa begitulah bentuk lampu merah yang biasa dicerita orang bergulir dari merahkuning-ijo: Merah tidak bisa lewat,Kuning hati-hati,Ijo bisa lewat. Keadaan tersebut pada akhirnya bila sudah memasuki jiwa masyarakat bahwa lampu mera-ijo-kuning mampu mengatur pengguna jalan dari serampangan, tidak teratur menjadi teratur dan terkendali, akan ditaati juga. Karena bila ada segolongan masyarakat di luar lewat di lampu

merah-kuning-ijo di Campalagian dan Tinambung tersebut, maka dia akan mematuhi pergantian lampu yang tentu memberi contoh kepada masyarakat sekitar akan fungsi lampu merahkunig-ijo. Referensi:Achmad Ali, 1988a. Menguak Tabir Hukum, Pustaka Prima, Jakarta; Achmad Ali, 1988b. Perubahan Masyarakat, Perubahan Hukum dan Penemuan Hukum oleh Hakim, LEPHAS, Ujungpandang; Lili Rasjidi, 1988. Filsafat Hukum, Apakah Hukum Itu?, Remadja Karya, Bandung; Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. *Praktisi hukum dan tenaga edukatif pada Universitas Sulawesi Barat,peserta program doktor ilmu hukum pada Pasca Sarjana Universitas Muslim Indonesia Makassar


Hal 10_oke