Page 1

Universitas Kristen Duta Wacana

12

@onz1526y @duta_wacana

05

Kantor Humas UKDW

Alamat Redaksi: Kantor Biro 4 UKDW Jalan dr. Wahidin Sudirohusodo No. 5-25, Yogyakarta 55224 Koran Kampus UKDW

Mei 2018

korankampus@staff.ukdw.ac.id

UKDW dan KCC Sejong Gelar Pertunjukan Teater Klasik Korea

U

Profil Bulan ini:

Paulus Widiatmoko, MA

Program BioKonservasi 2018: Menebar Benih, Menyemai Kehidupan

Siraman Rohani: Ideologi Bangsa dan Sikap Diri

2

6

10

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bekerjasama dengan Korean Cultural Center (KCC) Sejong menggelar Pertunjukan Teater Klasik Korea bertajuk “Cerita Pung Dong” pada Jumat, 18 Mei 2018. Bertempat di Auditorium Koinonia UKDW, pertunjukan teater yang berisi berbagai lagu rakyat, tari-tarian, dan musik tradisional Korea ini ditampilkan oleh Tim Teater Goryeongto yang berasal dari Kabupaten Goryeonggun, Provinsi Gyeongsangnamdo, Korea Selatan. Joko Purwadi, S.Kom., M.Kom. selaku Wakil Rektor III UKDW, dalam sambutannya mengungkapkan rasa sukacita atas kehadiran Tim Teater Goryeongto serta kerja sama yang terjalin antara UKDW dan KCC Sejong. “Semoga melalui kegiatan ini, dapat meningkatkan semangat persahabatan antara Indonesia dan Korea serta memberikan manfaat tidak hanya bagi mahasiswa UKDW namun juga masyarakat Yogyakarta,” ungkapnya. Park Gi Hong, perwakilan dari KCC Sejong menjelaskan bahwa teater tradisional Korea biasanya ditampilkan di alun-alun, serta memiliki kekhasan yaitu para pemain akan berjalan memasuki panggung dengan iringiringan musik. Meskipun dipentaskan indoor, keunikan ini tetap dipertahankan dalam pertunjukan yang ditulis dan disutradarai oleh Kim Tae-Seok ini. “Cerita Pung Dong” dikemas dengan memadukan dialog, tarian, dan musik secara interaktif sehingga para penonton yang tidak menguasai bahasa Korea pun bisa memahami alur cerita dan menikmati pertunjukan secara keseluruhan. Setelah pertunjukan selesai, para penonton juga mendapat kesempatan untuk mencoba memainkan alat musik tradisional Korea serta berfoto bersama para aktor. Selain itu juga terdapat photo booth dan stand hanbok atau pakaian tradisional Korea yang

foto:dok./BIRO IV

foto:dok./BIRO IV

bisa dicoba langsung oleh para pengunjung. Acara diakhiri dengan mini konser di halaman Auditorium Koinonia. Menurut Kepala Biro Kerjasama dan Relasi Publik UKDW, Arida Susyetina, S.S., M.A., pertunjukan ini digelar untuk memperkenalkan seni dan kebudayaan Korea kepada masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta. Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari para pengunjung, terbukti dengan antusiasme mereka baik saat menyaksikan pertunjukan teater, mencoba alat musik dan pakaian tradisional, maupun saat berinteraksi dengan para pemain di luar panggung. Pada kesempatan ini UKDW juga ingin memperkenalkan Pusat Budaya dan Bahasa Korea sebagai tindak lanjut dari kerjasama UKDW dan KCC Sejong yang telah dituangkan dalam MoU dan

foto:dok./BIRO IV

ditandatangani pada 6 April 2018. KCC Sejong merupakan yayasan yang didirikan pada tahun 2007 di Yogyakarta untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Korea serta meningkatkan hubungan dan kerja sama antara Korea Selatan dan Indonesia. Layanan dari KCC Sejong meliputi kursus bahasa Korea baik untuk umum, privat, anak-anak, kelas ujian EPS-TOPIK, maupun kelas ujian TOPIK. Selain itu, yayasan ini juga memberikan informasi beasiswa baik dari pemerintah Korea, universitas-universitas di Korea, maupun dari KCC Sejong sendiri. Kerja sama antara UKDW dan KCC Sejong juga diharapkan mampu melayani, menjangkau, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. [drr] *Galeri foto di halaman 12

Dokter UKDW Dituntut Mampu Layani Masyarakat

U

niveresitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengambil sumpah dokter baru untuk 12 lulusan Fakultas Kedokteran (FK) pada hari Jumat, 27 April 2018 di Auditorium Koinonia. Dokter baru yang dilantik ini telah menyelesaikan seluruh kegiatan baik selama Pendidikan Kedokteran (S. Ked) dan juga Profesi Dokter yang ditempuh dalam waktu kurang lebih enam tahun serta Ujian Kompetensi

Mahasiswa Progam Pendidikan Dokter (UKMPPD) pada Februari lalu. Prof. Dr. Jonathan Willy Siagian, Spp.A selaku Dekan FK UKDW berharap keduabelas dokter baru tersebut mampu melayani masyarakat maupun manusia secara individu mampu menyadari keterbatasannya dan menjalin relasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. “Kami sangat bersyukur bisa kembali melantik dokter baru dari Duta

Wacana. Saya harap lulusan FK UKDW dapat menjadi dokter yang berkualitas dan senantiasa memegang teguh nilainilai Duta Wacana dalam setiap tugas yang dijalankan,” pesannya. Adapun dokter baru yang dilantik pada periode VIII yaitu dr. Detry Kala’lembang, dr. Devie Novita, dr. Enggie Corvi Bahari, dr.Eva Afifah, dr. Jeri Mulia, dr. Maria Harina Nugraheni, dr. Merliana Sari Situmeang, dr. Novita

Chandra, dr. Reinhard Nahumury, dr. Rifcha Christin Tarigan, dr. Stevan Arta Risajaya, dan dr. Viga Resfikasari. Keduabelas dokter baru ini menambah daftar dokter baru yang menjadi lulusan dari UKDW. Acara ini dihadiri kurang lebih 250 orang yang terdiri dari Dekanat, Senat, staf FK UKDW dan keluarga beserta sahabat dari masing-masing dokter baru. [Stevan]

foto:dok./FK UKDW


Profil Bulan Ini

2

Paulus Widiatmoko, MA:

Pentingnya Kemampuan Berbahasa Inggris di Era Globalisasi

foto:dok./Biro IV

B

ulan Mei kemarin, kita turut memperingati Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap tanggal 2 Mei. Peringatan tersebut terasa begitu dekat, karena kita berada dan berkarya di sebuah institusi pendidikan tinggi. Pada Profil Bulan Ini, kita akan mengenal lebih dekat, seorang pendidik yang juga berkarya di kampus kita. Dia adalah Paulus Widiatmoko, seorang dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris, baik di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris maupun program studi lainnya. Hubungan antara Paulus Widiatmoko, atau lebih kerap disapa Moko, dengan dunia pendidikan memang sudah terjalin sejak lama. Ketika menempuh pendidikan di tingkat SMA, beliau menyukai pelajaran Bahasa Inggris karena senang dengan metode pengajaran yang digunakan oleh sang guru. Bagian gramatika atau tata bahasa begitu menarik perhatiannya, karena menuntut kemampuan logika yang baik. Kala itu dirinya beranggapan jika pelajaran Bahasa Inggris dapat dipahami dengan menggunakan logika, sehingga benar dan salah bernilai mutlak. Seiring berjalannya waktu, Moko melihat bahwa tidak semua hal dalam pelajaran Bahasa Inggris melulu dipahami hanya dengan logika. “Bahasa juga bersifat tidak mutlak, karena ada sisi yang interpretatif, misalnya dalam hal memahami makna dan wacana (discourse),” imbuhnya ketika menjelaskan pandangannya dalam memahami Bahasa Inggris. Kini, setelah sekian tahun menggeluti dunia pengajaran Bahasa Inggris, Moko memaknai Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi yang jika dikuasai dengan baik dapat meningkatkan daya saing sumber daya manusia di berbagai bidang. Lahir dari orang tua yang membaktikan hidupnya di dunia pendidikan sebagai guru, tidak serta merta membuat Moko berpikir bahwa profesi yang ia geluti saat ini meneruskan apa yang telah dilakukan kedua orang tuanya. Baginya, pekerjaan ini adalah sebuah panggilan. Kehendak pribadi Moko untuk memilih belajar pendidikan Bahasa Inggris membuatnya menjadi sosok dosen yang kita kenal saat ini, tentu saja dengan rahmat dari Tuhan dan dukungan dari berbagai pihak. Tidak dapat dipungkiri, dalam hati Moko sempat ada penolakan untuk menjadi seorang pendidik. Akan tetapi, dirinya mulai menemukan bidang pekerjaan yang akhirnya menjadi passion, seperti perancangan materi, pengembangan media pengajaran, juga penelitian tentang teknologi pengajaran, sehingga ia tetap bertahan. Ketika hendak melakukan penelitian, Moko senantiasa berpikir bahwa penelitian tersebut akan membawa dampak yang baik bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

Dirinya senang melakukan penelitian, karena berkesempatan untuk membagikan hasil penelitiannya, baik melalui jurnal atau dipublikasikan kepada sesama pemerhati pendidikan melalui konferensi. Moko adalah salah satu anggota tim penggagas berdirinya Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Dirinya menuturkan bahwa kebutuhan peningkatan kualitas pengajaran dan kajian pendidikan Bahasa Inggris menjadi alasan utama berdirinya Prodi PBI. “Zaman yang semakin berkembang, adanya revolusi industri, serta tantangan abad ke-21, membuat kebutuhan penggunaan Bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa semakin nyata,” jelas Moko ketika membahas pentingnya pengajaran English for Specific Purposes. Seperti yang kita ketahui, di UKDW terdapat beberapa mata kuliah Bahasa Inggris yang berada setingkat di atas pelajaran Bahasa Inggris umum, misalnya Bahasa Inggris Terapan, Medical English, English for Theology, English for Job Hunting, dan TOEFL Preparation. UKDW sudah menjalankan berbagai program tersebut sejak lama, yang terbagi menjadi kelas-kelas lab bagi mata kuliah kependidikan di Prodi PBI. Selain itu ditunjang oleh peran teknologi dalam proses pembelajaran dan metode experential learning sehingga memberikan paradigma baru tentang pembelajaran Bahasa Inggris. Prodi PBI UKDW didirikan dengan tujuan meningkatkan kapasitas diri, baik untuk profesional yang telah berkarya di bidangnya masing-masing, para lulusan yang membutuhkan kompetensi Bahasa Inggris dalam melakukan tugasnya, juga untuk kebutuhan pribadi, karena adanya peluang untuk meraih kesempatan yang lebih luas dalam karier. Moko memaparkan alasan-alasan tersebut, karena saat ini persaingan yang akan kita hadapi bukan lagi sebatas tingkat nasional maupun regional, tetapi sudah merupakan persaingan global. Bangsa Indonesia juga tengah memfokuskan pembangunan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, tidak lagi melulu pembangunan infrastruktur. Ketika bicara tentang daya saing lulusan sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi, maka penguasaan Bahasa Inggris untuk tujuan profesional menjadi sangat penting. Ketika Moko dan rekan-rekan pengajar mempersiapkan berdirinya Prodi PBI di UKDW, begitu banyak tantangan yang dihadapi. Beberapa diantaranya, perumusan secara spesifik mengenai area pengajaran yang akan diambil serta adanya rencana moratorium atau penghentian sementara pendirian program studi baru. Namun, berkat kegigihan usaha, kerja keras dari seluruh anggota tim, serta dukungan dari berbagai pihak, Prodi PBI UKDW akhirnya dapat berdiri dan akan terus mendidik calon-calon profesional di bidang pendidikan Bahasa Inggris di masa depan. Selanjutnya, dalam rangka meningkatkan kemitraan dengan para pemangku kepentingan di bidang ini, para pengajar di Prodi PBI UKDW bersama para dosen Bahasa Inggris dari kampus-kampus yang ada di Yogyakarta telah menjadi mitra yang tergabung dalam sebuah kelompok bersama pembimbing para guru Bahasa Inggris di tingkat SMP, SMA, dan SMK yang dinamakan Jogja English Teacher Association (JETA). Selain itu, Prodi PBI juga turut ambil bagian dalam wadah kerja sama melalui asosiasi bernama Asosiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (APSPBI) yang bertaraf nasional. Sedangkan di kancah internasional, banyak hasil penelitian dosen PBI sudah terpublikasi baik lewat konferensi maupun jurnal. Hibah dari lembaga donor internasional juga pernah diraih untuk mendukung peningkatan kapasitas dan program. Seiring berkembangnya Prodi PBI UKDW, Moko berharap semakin banyak kegiatan akademik yang dilakukan termasuk penelitian serta kajian akademis yang sesuai dengan paradigma masa kini. Selain itu, dirinya juga berharap Prodi PBI UKDW mampu berkiprah lebih banyak dalam peningkatan kemampuan berbahasa Inggris bagi tenaga terampil. Tidak cukup sampai di situ, kepada seluruh elemen Prodi PBI UKDW, Moko memiliki harapan supaya kapasitas program studi semakin kuat. Karena usia Prodi PBI UKDW masih tergolong muda, dirinya merasa masih banyak yang perlu dilakukan seperti membangun sistem yang lebih baik, memperkuat jejaring, mendapatkan pengakuan dari lembaga akreditasi serta masyarakat, dan tentunya tidak melupakan tugas utama program studi untuk mendidik mahasiswa menjadi berprestasi dan mampu menjawab tantangan zaman yang cepat berubah ini. Kepada mahasiswa, Moko berpesan bahwa masa menjadi mahasiswa adalah masa yang menyenangkan, sehingga para mahasiswa perlu menempa diri, mencoba berbagai kegiatan positif untuk mengasah kemampuan, meningkatkan kualitas diri, serta aktif dalam aktivitas akademis maupun non akademis. “Berada di zona nyaman memang menyenangkan, namun cobalah untuk keluar dari sana supaya Anda bertumbuh,” imbuh Moko. Terakhir, beliau juga berpesan kepada calon mahasiswa supaya mampu dan jeli melihat perkembangan zaman, karena semakin banyak hal yang akan berubah di masa mendatang dalam bidang ekonomi, teknologi, sosial, dan tentunya pendidikan. [rap]

REDAKSI KORAN KAMPUS PENANGGUNG JAWAB PIMPINAN REDAKSI WAKIL PIMPINAN REDAKSI KOORDINATOR PELAKSANA

: Pdt. Robert Setio, Ph.D. : Arida Susyetina, S.S, M.A. : Christina Angelina : Yuliana Wijaya

WARTAWAN

EDITOR

SETTER

Debora, Rully

Mei, Jojo, Ester, Anti

Endri, Vinsen, Marcella

Koran Kampus bisa Anda dapatkan secara GRATIS di Pick-up Point yang sudah terpasang di 11 area publik di seluruh UKDW. Redaksi menerima tulisan dari warga kampus berupa artikel, laporan kegiatan dan foto-foto yang membangun harapan. kirim ke alamat Redaksi atau melalui email : korankampus@staff.ukdw.ac.id


Opini

3

Pancasila dan Keadilan yang Merata

I

ndonesia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat keberagaman tertinggi dibandingkan bangsa-bangsa lain di dunia. Potensi perpecahan bisa saja terjadi dan mengancam bangsa Indonesia apabila Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang beragam ini tidak dikelola dengan baik dan tepat. Indonesia merupakan rumah bagi seluruh keagamaan, budaya, ras dan golongan yang tercakup dalam sebuah ideologi yang bernama Pancasila. Dalam prinsipnya, ideologi Pancasila mendasarkan pada hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, sehingga ada pengakuan atas kebe-basan hak-hak bermasyarakat. Pancasila sebagai dasar negara memberikan arti bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan ketatanegaraan Republik Indonesia harus berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa semua peraturan yang berlaku di negara Republik Indonesia harus bersumber pada Pancasila. Dengan kata lain, Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Oleh karena itu semua tindakan kekuasaan atau kekuatan dalam masyarakat harus berdasarkan peraturan hukum. Bentuk Pancasila dalam Kehidupan Bernegara Banyak sekali aspek dalam ideologi Pancasila yang mampu kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik itu dari sektor politik, ekonomi, pendidikan, kedaulatan negara. Bentuk ini dapat dilihat dari hal kecil seperti musyawarah mufakat yang sering kita lakukan sebagai warga negara Indonesia. Dalam konteks ini tentu kita akan berbicara mengenai konsep ideologi Pancasila dari segi sosial yang terkandung dalam sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dalam menyikapi konteks tersebut, tentunya kita harus mengapresiasi kinerja dari seorang Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia saat ini. Joko Widodo yang akrab disapa dengan sebutan Jokowi ini memberikan gambaran kepada kita bahwa ketimpangan sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia masih sangat jauh dari harapan. Perbedaan taraf hidup dan ketimpangan yang terjadi di pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya sangat jauh berbeda. Hal ini lah yang tentunya menjadi perhatian khusus dari seorang Jokowi yang pada masa peme-rintahannya sangat fokus terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia.

foto:dok./Google

Pembangunan proyek infrastruktur yang Jokowi galangkan dalam periode kepemimpinannya tentu menuai pro kontra dari berbagai pihak. Hal tersebut tercermin dari bagaimana bentuk kecaman yang dialamat-kan kepada presiden Jokowi. Pihak oposisi pemerintah menganggap bahwa peme-rintahan Jokowi saat ini hanya fokus kepada proses pembangunan infrastruktur tanpa mementingkan indeks pembangunan manusia dan perekonomian negara secara utuh. Sah-sah saja jika pihak oposisi menilai bahwa program pembangunan di era Jokowi sangat menguras Anggaran Belanja Pendapatan Negara (APBN) dan mengakibatkan hutang Indonesia terhadap dunia membengkak. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi dianggap tidak mampu mengangkat nilai rupiah terhadap dolar Amerika pada saat ini yang dapat berimbas kepada naiknya harga barang pokok di Indonesia. Pihak oposisi meng-anggap pembanguan infrastruktur tidak memberikan feedback yang baik bagi perkembangan negara dan mengakibatkan deindustrialisasi. Pandangan oposisi pemerintah tentu perlu kita garis bawahi, di satu sisi memang benar, untuk jangka pendek pembangunan infrastruktur tidak memberikan efek yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian Indonesia saat ini. Tetapi di sisi lain, Jokowi ingin menyatakan pem-bangunan infrastruktur tersebut akan berdampak baik bagi perkembangan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Poin menarik yang bisa kita lihat

adalah gencarnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan memberikan gambaran bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum terealisasi dengan baik hingga saat ini. Dengan adanya tindakan dari Jokowi ini sekiranya masyarakat yang berada di pelosok Indonesia mampu merasakan hadirnya pemerintah dan keadilan sosial yang sejak dulu diidam-idamkan. Menilik dari yang telah dilakukan Jokowi pada masa pemerintahannya saat ini, tentu beliau memiliki maksud tersendiri mengapa pada periode kepemimpinannya ia sangat “jorjoran” dalam membangun infrastruktur di Indonesia, khususnya di Aceh, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Jokowi melihat bentuk Indonesia secara kon-stitusional bukan hanya sepenggal-sepenggal. Hal tersebut tercermin dari cara Jokowi memberi perhatian penuh terhadap infrastruktur yang ada di luar Pulau Jawa. Berdasarkan data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) pada tahun 2018, tercatat Jokowi telah menyelesaikan 30 proyek strategis nasional senilai Rp 94,8 triliun pada periode 2016-2017. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Pembangun infrastruktur yang dilakukan oleh Jokowi seakan terlihat hanya fokus pada bentuk fisiknya saja. Tetapi dibalik itu tentu presiden telah memikirkan bentuk nonfisik juga. Tenaga-tenaga kesehatan, pendidikan, maupun

ekonom, yang dulu belum bisa masuk ke berbagai pelosok akhirnya mampu ke sana menggunakan infrastruktur yang telah dibangun oleh Jokowi. Penyamarataan harga bahan bakar minyak (BBM) pun dilakukan Jokowi seiring dengan pembangunan infrastruktur yang ada pada saat ini. Mengutip perkataan Jokowi pada kunjungannya di Kalimantan Timur bahwa bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli BBM dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp 45.000,00. Masalahnya adalah pendistribusian BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Namun apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, maupun daerah terluar, tetaplah wilayah NKRI. Kini warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam dapat menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia. “Inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer,” tambahnya. Dalam pidatonya tersebut kita mampu melihat sikap seorang pemimpin yang dengan teguh memegang pedoman ideologi Pancasila tepatnya pada sila kelima. Jokowi paham betul dengan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia. Di setiap kunjungan Jokowi ke berbagai pelosok Indonesia, beliau tidak pernah lupa untuk menyatakan bahwa Pancasila adalah pedoman bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila Sebagai Pedoman Negara Negara Indonesia ini adalah negara yang sangat besar dengan pulau-pulau yang tersebar dengan kondisi infrastruktur berbeda-beda. Ketimpangan, kesenjangan sosial dan ekonomi memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia. Ada baiknya, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2018, kita sebagai warga negara mampu menjadikan ideologi tersebut sebagai pedoman berbangsa dan bernegara. Dengan menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila kita akan mampu menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang beradab. [Edward]

Conservation is Me: Menumbuhkan Rasa Cinta Lingkungan

C

onservation is Me adalah tema yang diangkat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bioteknologi dalam pelaksanaan program konservasi tahun 2018. Simpel namun mempunyai makna yang sangat mendalam. Dalam bahasa gaul anak zaman now dapat diartikan secara bebas ‘konservasi adalah gue’ yang mempunyai makna personifikasi diri sebagai mahasiswa bioteknologi. Biokonservasi menjadi roh, spirit, tantangan sekaligus tanggung jawab bagi mahasiswa bioteknologi dalam merespons eskalasi kerusakan lingkungan yang semakin luas. Pemilihan tema “Conservation is Me” oleh mahasiswa, juga mempunyai makna yang sangat dalam, terutama bagi Fakultas Bioteknologi yang sejak berdirinya telah memikul amanat dari para founding father UKDW untuk berperan aktif dalam upaya perlindungan lingkungan. Kedalaman maknanya terletak pada kemampuan mahasiswa menangkap dan memaknai arti dari program konservasi. Konservasi tidak semata hanya diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik, seperti menanam pohon, membersihkan sungai, restocking ikan, maupun hal-hal yang terkait dengan relasi antara manusia dengan alam, namun lebih dari itu menyangkut tata nilai yang lebih luas dan universal. Program konservasi merupakan sebuah moral knowing, moral feeling, dan moral action.

Dalam kajian bahasa, conservation (berasal dari kata “con” yang berarti together dan “servare” yang berarti save) memiliki arti upaya memelihara apa yang dipunyai secara bijaksana. Terdapat tiga aktivitas penting dalam konservasi yaitu saving, studying, dan using. Sehingga program konservasi merupakan aktivitas yang berkenaan dengan tata nilai seperti keselarasan, keserasian, dan keharmonisan. Dalam konteks demikian, maka hak dan kewajiban menjadi penyangga utama sikap dan perilaku manusia, yaitu bahwa apa yang kita peroleh haruslah seimbang dengan apa yang kita berikan. Perlu adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban, terutama dalam relasi antara manusia dengan lingkungan. Kita telah diberi anugerah untuk menghirup udara segar, sumber air dan makanan yang berlimpah, kita juga dapat leluasa menikmati keindahan panorama alam, merdunya kicauan burung yang me-nenteramkan hati. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita memberikan imbangan dengan memelihara, melindungi, dan melestarikannya. Ketika tanggung jawab, kepedulian, kecintaan, kasih sayang, kearifan, kesantunan, dapat diekspresikan oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari hari dalam membangun relasi dengan lingkungan, maka nilai-nilai yang terkandung dalam konservasi telah dihayati oleh mahasiswa Fakultas Bioteknologi. Mahasiswa telah mempunyai kesadaran kolektif

untuk berinisiatif, membangun opini, ide, dan gagasan tentang perlunya tanggung jawab dalam memelihara, melestarikan, dan memanfaatkan secara bijak potensi biodiversitas melalui program konservasi. Tentu bukan hal yang mudah dan singkat untuk dapat sampai pada tataran penghayatan nilai-nilai konservasi kepada mahasiswa. Dibutuhkan waktu, militansi dan konsistensi untuk terus menjadikan program konservasi menjadi program rutin fakultas dan kemahasiswaan. Integrasi proses perkuliahan, praktikum serta pelaksanaan program-program konservasi dengan dukungan penuh oleh pimpinan (baik tingkat fakultas maupun universitas) dan semua dosen akan menumbuhkan tradisi positif yang digerakkan oleh kebersamaan segenap sivitas akademikanya. Melalui pelaksanaan program konservasi ini mahasiswa mampu mengembangkan perencanaan, pengorganisasian, mengembangkan jejaring, membangun komunikasi, siap bekerja sama dan mempunyai komitmen tinggi terhadap upaya perlindungan lingkungan. Diharapkan dengan pelaksanaan program konservasi, nilainilai konservasi dapat termanifestasikan dalam interaksi kehidupan sehari-hari, yang bersendikan pada tiga pilar konservasi, yaitu protection, preservation, dan sustainable use. Nilai dan budaya yang terbingkai oleh tiga pilar konservasi tersebut akan memancarkan sendisendi kehidupan yang bisa dijadikan dasar

foto:dok./Panitia

pembangunan karakter mahasiswa, menjadi ciri atau trademark lulusan Fakultas Bioteknologi. Karakter tersebut akan menjadi modal penting bagi lulusan untuk tumbuh dan berkembang menjadi kader-kader konservasi yang handal, dan siap mengabdikan diri pada bangsa dengan tetap memegang teguh nilainilai konservasi yang diyakini. Yes, Conservation is Me. [DR]


Universitaria

4

UKDW dan YPKI Muntilan Jalin Kerja Sama

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menjalin kerja sama dengan Yayasan Pendidikan Kristen Indonesia (YPKI) Muntilan. Bentuk kerja sama diwujudkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara kedua belah pihak pada hari Kamis, 26 April 2018 di Ruang Rapat Rektorat UKDW. Penandatanganan dilakukan oleh Ir. Henry Feriadi, M.Sc., Ph.D selaku Rektor UKDW dan Ong Thiam Iem selaku Ketua YPKI Muntilan disaksikan oleh Wakil Dekan III Fakultas Arsitektur dan Desain, Wakil Dekan III Fakultas Bioteknologi, Wakil Dekan III Fakultas Bisnis, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Kepala Unit Admisi dan Promosi, dan Kepala Biro Kerjasama dan Relasi Publik beserta staf. Tujuan dibuatnya Nota Kesepahaman ini adalah memberikan payung hukum atas terlaksananya kerja sama operasional dalam rangka pengembangan UKDW dan YPKI Muntilan. Adapun bidang kerja sama tersebut meliputi lima kegiatan yakni promosi, perencanaan, pengembangan pendidikan, pengembangan sumber daya, dan pengembangan akademik. Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas UKDW maupun sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan YPKI Muntilan.

foto:dok./Biro IV

YPKI merupakan salah satu badan pelayanan dari Gereja Kristen Indonesia Muntilan yang mengelola beberapa sekolah diantaranya KB Bentara Wacana, TK Bentara Wacana, SD Bentara Wacana, SMP Bentara Wacana, dan SMA Bentara Wacana. Ong Thiam Iem berharap pihak UKDW nantinya dapat memberikan sosialisasi kepada orang tua murid

mengenai fasilitas, program khusus, dan beasiswa yang disediakan oleh UKDW. “Kami berharap kerja sama ini akan mempermudah para orang tua murid di sekolah dalam mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai UKDW dan memahami pentingnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” terangnya. Di sela-sela pertemuan, Ir. Henry Feriadi, M.Sc.,

Ph.D mengungkapkan bahwa perguruan tinggi harus mampu mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Beliau menyambut baik kerja sama kedua belah pihak. “Kami menyambut kerja sama ini dengan senang hati, dan MoU ini nantinya akan ditindaklanjuti oleh fakultas maupun unit terkait melalui kegiatan kerja sama seperti pelatihan maupun pendampingan,” tutur Rektor UKDW. Sementara itu, Paulus Widiatmoko, MA selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris menyampaikan bentuk kerja sama yang dapat dilakukan oleh program studinya adalah pelatihan bahasa Inggris bagi siswa-siswi dan guru di sekolah-sekolah yang dinaungi YPKI. “Selain itu, mahasiswa UKDW juga dapat melakukan kerja praktek atau magang di sekolah tersebut,” tambahnya. Drs. Djoko Rahardjo, M.Kes. selaku Wakil Dekan III Fakultas Bioteknologi mengatakan bahwa Fakultas Bioteknologi sudah menjalin kerja sama dengan YPKI dalam bentuk pendampingan siswa yang akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN). Siswa-siswi yang dipersiapkan oleh sekolah mereka perlu mendapatkan bimbingan materi OSN secara intensif agar terbiasa dalam menghadapi soalsoal yang akan diberikan. [Mei]

Pelatihan Membuat Kalung di Hari Kartini

P

erpustakaan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengadakan pelatihan membuat kalung dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari Kartini. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan UKDW dengan Petra Accesories Yogyakarta, yang diwakili oleh Ferina dan Neisya. Acara ini berlangsung pada hari Selasa, 24 April 2018 pukul 09.00-11.00 WIB bertempat di lobi perpustakaan. Para peserta yang berminat mengikuti pelatihan ini mendaftar melalui telepon ataupun langsung datang ke perpustakaan. Para peserta yang mendaftar dipungut biaya sebesar Rp. 5.000 untuk mendapatkan bahan pelatihan yang diberikan pada saat acara berlangsung. Pada hari pelaksanaan acara, setiap peserta yang melakukan pendaftaran ulang memperoleh goodie bag. Peserta yang terlibat dalam acara ini berjumlah 28 orang, terdiri dari berbagai kalangan mulai dari ibu rumah tangga, pegawai, pengajar, mahasiswa, bahkan anak-anak. Adapun tujuan dari acara ini adalah membantu para perempuan menjadi penerus Kartini yang tangguh, penuh kreatifitas dan menghasilkan karya nyata, sekaligus membuka wawasan peserta untuk dapat bersosialisasi dengan perempuan dari berbagai kalangan.

foto:dok./Biro IV

foto:dok./Biro IV

foto:dok./Biro IV

Perpustakaan UKDW menyampaikan kepeduliannya terhadap perempuan dan berharap bisa membantu perempuan menjadi tangguh dengan mengadakan acara ini. Acara pelatihan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dan dilanjutkan dengan sambutan dan doa oleh Kepala Perpustakaan. Sebelum acara inti panitia membagikan satu set bahan kalung beserta satu buah tang kecil sebagai alat bantu. Pelatihan membuat kalung ini dipandu instruktur dari Petra Accessories dan peserta mendapatkan penjelasan langkahlangkah yang harus dilakukan dalam merangkai tiap bagian hingga akhirnya dapat menjadi sebuah kalung etnik yang indah. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan, terlebih ketika mencoba menyatukan tiap bagian. Kepuasan tampak di wajah peserta ketika mereka dapat menyelesaikannya. Setelah selesai pelatihan, peserta bisa langsung membawa pulang hasil karyanya, dan mereka berharap agar kegiatan seperti ini diadakan lagi di lain waktu. Di akhir acara, Kepala Perpustakaan memberikan kenang-kenangan kepada instruktur dari Petra Accessories dan foto bersama dengan seluruh peserta. [DK]

Seminar “Wanita Tangguh Zaman Now”

0

Untuk memeriahkan hari Kartini tahun 2018, Perpustakaan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengadakan seminar bertemakan “Wanita Tangguh Zaman Now”. Seminar ini dilaksanakan pada hari Rabu, 25 April 2018 pukul 09.00-11.00 WIB, bertempat di Ruang Seminar Harun Gedung Hagios lantai 3. Seminar ini mengundang Khoirun Ni'mah, S. Kom.I dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Tutun Seliari, S.T., M.Sc. dari Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) UKDW sebagai narasumber, serta Lemnuela Alvita Kurniawati, S.Pd., M.Hum. dari Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UKDW sebagai moderator. Seminar yang diikuti oleh 27 orang peserta ini secara resmi dibuka oleh Ir. Henry Feriadi, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor UKDW. Khoirun Ni'mah sebagai narasumber memaparkan tentang Peran Perempuan dari Sisi Psikologis dan Sosial di Era Milenial. Ia mengatakan bahwa wanita dan pria memiliki peran yang sama dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga mereka memiliki hak akses yang sama untuk semua fasilitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menjelaskan tentang beberapa cara yang

dapat dilakukan wanita untuk mengatasi ketidakadilan gender, diantaranya dengan meningkatkan citra dan kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan dan ilmu pengetahuan, membangun intelektual diri melalui seminar maupun penelitian, memperluas cakrawala ilmu melalui bacaan, membagikan ilmu, serta mengekpresikan diri di ruang publik. Tutun Seliari sebagai narasumber kedua kemudian memaparkan tentang Perempuan Pekerja dan Ibu Rumah Tangga. Ia menjelaskan bahwa untuk mewujudkan peran ganda wanita sebagai perempuan pekerja dan ibu rumah tangga, dibutuhkan komitmen pihak suami dan istri serta penentuan skala prioritas kepentingan. Sesi tanya jawab dilakukan seusai kedua narasumber memaparkan gagasan mereka. Acara lalu dilanjutkan dengan pembagian door prize serta penyerahan sertifikat dan kenang-kenangan bagi narasumber. Peserta lalu dihibur oleh Anugraheni Aditia Widyadhana yang membawakan tembang berjudul “Melati Suci” sambil menikmati konsumsi yang disediakan panitia. [DK] foto:dok./Biro IV


Universitaria

5

Studi Banding Universitas Kristen Maranatha di UKDW

P

ada tanggal 25 April 2018, Universitas Kristen Maranatha Bandung mengunjungi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dalam rangka melakukan studi banding. Kunjungan tersebut dilakukan pada tanggal 25-26 April 2018. Program ini diikuti oleh 54 mahasiswa dan Direktur Kemahasiswaan Universitas Kristen Maranatha yang terdiri dari Lembaga Kemahasiswaan (LK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UK). Kunjungan ini bertujuan untuk saling berbagi pengalaman berorganisasi dan juga mengetahui proses pembentukan Badan Eksekutif Mahasiswa. Joko Purwadi, S.Kom, M.Kom selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Informasi, Crisna Julius selaku Kepala Biro III, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU), dan perwakilan setiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UKDW turut hadir dalam acara ini. Acara yang berlangsung dari pukul 12.00 sampai 15.00 WIB ini diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Joko Purwadi. Beliau menjelaskan tentang nilai-nilai yang ada di UKDW yaitu Obedience to God, Walking in Integrity, Striving for Excellence, dan Service to the World.

foto:dok/BEMU

foto:dok/BEMU

foto:dok/BEMU

foto:dok/BEMU

Beliau juga menyebutkan beberapa Organisasi Kemahasiswaan yang ada di UKDW seperti LK, UKKB, UKKR, dan UKM. Candra Sinuraya, SE.,M.Si. selaku Direktur Kemahasiswaan Universitas Kristen Maranatha turut menyampaikan sambutan serta permintaan untuk bimbingan dalam pembentukan BEMU dan Lembaga Kemahasiswaan

Universitas dan harapan untuk dapat terus menjalin relasi yang baik dengan UKDW. “Kami berharap agar hasil dari tukar pikiran dan sharing ini dapat bermanfaat untuk Maranatha dan menjadi pedoman ke depannya. Semoga kerja sama yang baik antara Universitas Kristen Maranatha dan UKDW bisa terus terjalin. Salam Mahasiswa!” tutur Marcellinus

Pradipta selaku Ketua BEMU UKDW 2018. Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan profil masing-masing universitas. Pada sesi ini, Ketua BEMU dan BPMU UKDW 2018 menjelaskan bentuk organisasi kemahasiswaan UKDW. Setelah makan siang, acara memasuki sesi sharing dan tanya jawab. Dalam sesi ini, Universitas Kristen Maranatha dibagi menjadi 3 kelompok yang kemudian ditempatkan di ruangan yang berbeda. Kelompok LK berada di ruang Harun sedangkan UK berada di Kapel Atas. Sharing kelompok LK dipimpin oleh ketua BEM dan BPM UKDW yaitu Marcell dan Tya sedangkan sharing dari kelompok Universitas Kristen Maranatha dipimpin oleh Charles dari Divisi Luar Negeri BEMU dan Admisi didampingi oleh Ika dari kantor Admisi dan Promosi. Dalam sharing ini, masing-masing organisasi menceritakan sistem kerja dan program kerja apa saja yang ada di kampusnya. Penutupan dilakukan dengan penyerahan kenang-kenangan dari pihak UKDW kepada Universitas Kristen Maranatha dan sebaliknya. Studi banding diakhiri dengan foto bersama oleh seluruh peserta di depan Gedung Didaktos. [Titus]

HMPSA UKDW dan UNIKA Soegijapranata Berbagi Pengalaman Organisasi

H

impunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMPSA) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menerima kunjungan HMPSA salah satu perguruan tinggi dari Semarang, yaitu Universitas Katholik (UNIKA) Soegijapranata pada Jumat, 4 Mei 2018. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjalin relasi yang baik antara HMPSA UKDW dan HMPSA UNIKA Soegijapranata . Acara diawali dengan sambutan oleh Dra. Putriana Kristanti, M.M., Ak., CA. selaku Kaprodi Akuntansi UKDW. Dalam sambutannya, beliau memberikan penjelasan tentang UKDW, khususnya Prodi Akuntansi. Melalui kegiatan ini, HMPSA UKDW

dan HMPSA UNIKA Soegijapranata dapat saling berdiskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, serta program kerja yang telah dilaksanakan di universitas masing-masing. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok sehingga diskusi bisa dilakukan lebih mendalam. Dalam forum ini, mahasiswa dapat bertanya dan mengemukakan pendapat dalam suasana yang akrab. Tak hanya menambah pengetahuan dalam berorganisasi, kegiatan ini juga bermanfaat untuk menjalin kerja sama yang baik antara kedua universitas. Dalam kesempatan ini, HMPSA UKDW juga mengajak HMPSA UNIKA Soegijapranata untuk lebih mengenal

foto:dok.Panitia

UKDW melalui campus tour. Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain Tax Center, Bursa Efek, dan Prodi Magister Manajemen. HMPSA UKDW berkomitmen untuk menjadi lembaga kemahasiswaan yang berperan penting dalam kemajuan Prodi

foto:dok.Panitia

Akuntansi serta menjadi wadah aspirasi mahasiswa Akuntansi. Kegiatan yang dilaksanakan bersama HMPSA UNIKA Soegijapranata ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran dan evaluasi untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kinerja HMPSA UKDW. [Vinny]

Seminar Riset Perpajakan dan Keuangan Bantu Mahasiswa Dapatkan Topik Skripsi

P

rogram Studi Akuntansi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mengadakan seminar dengan tema “Tinjauan Terhadap Riset Perpajakan dan Keuangan” pada hari Sabtu, 28 April 2018 di Lecture Hall Pdt. Dr. Rudy Budiman. Seminar ini dimoderatori oleh Ketua Tax Center UKDW, Frista, S.H., S.E., M.S.Ak. serta mengundang Dr. Dwi Martani, CPA., CA., dosen dan peneliti perpajakan dari Universitas Indonesia yang juga merupakan anggota Komite Audit PT. Pertamina (Persero) dan PT. Unilever Indonesia, Tbk, sebagai pembicara seminar. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Bisnis UKDW, Dr. Singgih Santoso, M.M., yang dalam sambutannya mengatakan bahwa seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan Dies Natalis ke-33 Fakultas Bisnis

foto:dok.Panitia

UKDW. “Memasuki revolusi industri 4.0, mahasiswa Fakultas Bisnis harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam dunia teknologi informasi,” tambahnya. Senada dengan yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Bisnis UKDW, Dr. Dwi Martani, CPA., CA. menyampaikan bahwa dengan adanya disruptive innovation akan mengubah proses bisnis dari yang konvensial menjadi digital, pada akhirnya para akuntan harus

foto:dok.Panitia

tanggap terhadap perubahan yang cepat ini. “Dalam bidang akuntansi, para mahasiswa dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan standar akuntansi yang terbaru,” paparnya. Dwi Martani mencontohkan tentang Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) terbaru yaitu PSAK 73 tentang Sewa, yang akan berlaku efektif per 1 Januari 2019. Dengan berlakunya PSAK terbaru, terbuka peluang untuk meneliti implikasi dari pemberlakuan standar

akuntansi terbaru. Sedangkan terkait dengan riset di bidang perpajakan, dapat dilakukan melalui instrumen kuesioner atas munculnya kebijakan baru, studi eksploratoris atas fenomena perpajakan. "Misalnya tax amnesty, studi empiris tentang perbedaan laba buku dan laba fiskal (book tax differences)," pungkasnya. Menurut Ketua Panitia, Ni Putu Gita Rahmaniati, seminar riset tersebut termasuk dalam agenda kegiatan Divisi Research and Development (R&D) Kelompok Studi Pajak UKDW. Peserta kegiatan adalah mahasiswa Prodi Akuntansi Angkatan 2015 dan 2016. Harapannya setelah mengikuti seminar, mahasiswa Prodi Akuntansi tingkat akhir akan mendapatkan topik-topik penulisan skripsi. [Frista]


Program Studi

6

Bioteknologi UKDW Kembangkan Kawasan Mangrove Baros

S

ebagai tindak lanjut dari program aksi kolaborasi konservasi yang dimulai pada tahun 2017, Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bekerja sama dengan Konsorsium Mitra Bahari (KMB) RC DIY serta masyarakat pengelola mangrove, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Pemerintah Kabupaten Bantul serta Djarum Foundation berkomitmen melakukan pendampingan untuk mengembangkan kawasan mangrove di Dusun Baros baik dalam hal peningkatan luas tutupan mangrove, sistem pengelolaan, kelembagaan serta upaya untuk memberikan sumber ekonomi alternatif dari praktik pengelolaan kawasan konservasi mangrove. Dusun Baros berada di kawasan muara Sungai Opak dan sangat dekat dengan pantai sehingga sangat rentan terhadap ancaman genangan air, baik air tawar maupun laut. “Diperlukan sistem perlindungan alamiah yang mampu mengurangi atau menghilangkan permasalahannya dengan berinisiatif menanam mangrove dan tanaman pantai lainnya,” kata Drs. Djoko Rahardjo, M.Kes. selaku Wakil Dekan III Fakultas Bioteknologi. Saat ini kawasan mangrove di Dusun Baros telah menjadi salah satu ikon Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Bantul. Keberadaan kawasan mangrove telah mengantarkan kelompok pengelola mendapatkan beberapa penghargaan lingkungan di tingkat daerah, serta mampu

foto:dok.Panitia

menggerakan kreativitas masyarakat untuk mengelola kawasan menjadi kawasan ekowisata mangrove. Lebih lanjut Djoko Raharjo mengatakan bahwa program konservasi tahun ini mengambil tema “Konservasi Mangrove untuk Kesejahteraan” yang lebih fokus pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat melalui restocking bibit ikan bandeng, pelatihan dan bantuan bibit kepiting serta penanaman mangrove dan aneka tanaman buah, serta peresmian gardu pandang. Rangkaian kegiatan diawali dengan diselenggarakannya workshop pada hari Jumat, 4 Mei 2018 di Auditorium Koinonia UKDW yang menghadirkan Kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan DIY, Ketua KMB RC DIY, Ketua KP2B Dusun Baros serta Drs. Guruh Prihatmo, M.Si selaku dosen Fakultas Bioteknologi UKDW sebagai narasumber. “Melalui workshop ini diharapkan kerjasama antar stakeholder terus bersinergi dalam pengembangan kawasan ekowisata mangrove, sekaligus sebagai media edukasi pada generasi muda untuk dapat peduli serta berkontribusi dalam berbagai aksi konservasi dan pemberdayaan masyarakat,” tambah Djoko Rahardjo. Puncak konservasi dilakukan pada hari Sabtu, 5 Mei 2018 di Dusun Baros dengan acara peresmian gardu pandang oleh H. Abdul Halim Muslih selaku Wakil Bupati

Bantul serta penyerahan bantuan dan penebaran bibit ikan bandeng oleh Supartono, SE dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Dilanjutkan dengan aksi tanam mangrove dan tanaman buah oleh mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW bersama warga masyarakat Dusun Baros. Pembangunan gardu pandang bertujuan untuk memberikan fasilitas pengunjung agar dapat menikmati keindahan hamparan mangrove, keindahan pantai serta melakukan observasi keanekaragaman burung yang semakin meningkat. Selain fungsi tersebut pembangunan gardu pandang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik kawasan mangrove Baros dan menjadi ikon baru untuk berswafoto. Pembanguan gardu pandang didukung sepenuhnya oleh Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW. “Kami berharap dengan pelaksanaan program konservasi ini dapat memberikan peluang bagi warga, tidak hanya membangun relasi dengan berbagai pihak tetapi juga mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Baik itu melalui konservasi mangrove, pengelolaan kawasan dan peluang pengembangan ekonomi masyarakat. Berbagai program pengembangan yang telah dan akan terus dikembangkan, kami harap sesuai dengan arah pengembangan kawasan ekowisata mangrove yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. [dr]

Program BioKonservasi 2018: Menebar Benih, Menyemai Kehidupan

S

ebagai tindak lanjut dari program aksi kolaborasi konservasi tahun 2017, BEM Fakultas Bioteknologi sepakat untuk melanjutkan pelaksanaan program BioKonservasi 2018 di kawasan mangrove Baros dengan tema Konservasi Mangrove untuk Kesejahteraan. Program BioKonservasi 2018 yang diketuai oleh Runchly Kudubun ini fokus pada upaya peningkatan ekonomi pelaku konservasi khususnya warga Baros. Hal tersebut ditempuh melalui beberapa program yaitu penebaran bibit ikan bandeng dan kepiting, penanaman aneka tanaman buah, dan peresmian gardu pandang. Inisiatif program konservasi ini disambut baik oleh Bappeda Kabupaten Bantul. Pada tanggal 23 April, panitia BioKonservasi 2018 yang terdiri dari Runchly Kudubun, Boris M S Laoli, Tara Inastu, dan Vina Ririassa diminta untuk mempresentasikan programnya pada rapat koordinasi di Bappeda Bantul. Presentasi tersebut dihadiri oleh SKPD terkait baik dari tingkat kabupaten maupun propinsi. Dalam presentasi tersebut, disampaikan pula perkembangan pembangunan gardu pandang dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapak Drs. H. Suharsono selaku Bupati Bantul pada tanggal 21 Oktober 2017. Beliau menambahkan bahwa pembangunan sudah selesai dan berharap agar peresmiannya dapat dilakukan pada

tanggal 5 Mei. Pembangunan gardu pandang bertujuan untuk memfasilitasi pengunjung untuk menikmati keindahan hamparan mangrove dan pantai serta melakukan observasi keanekaragaman burung yang semakin berkembang. Selain itu, pembangunan gardu pandang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik kawasan mangrove Baros sebagai ikon baru untuk berfoto. Pelaksanaan program BioKonservasi dipusatkan pada tanggal 5 Mei 2018 di kawasan mangrove Baros dengan peresmian gardu pandang oleh Bapak H. Abdul Halim Muslih selaku Wakil Bupati Bantul. Acara tersebut dilanjutkan dengan penyerahan bantuan dan penebaran ikan bandeng oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan DIY. Bantuan bibit mangrove dan tanaman buah diserahkan oleh Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW dan Ketua KMB RC DIY kepada perwakilan mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW dan warga dusun Baros. Dalam sambutannya, Bapak H. Abdul Halim Muslih menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW dan segenap mitra yang terlibat atas perhatian dan bantuan sebanyak 42.000 bibit ikan bandeng, 1000 kepiting, dan 800 aneka tanaman buah kepada masyarakat Baros. Beliau berharap bantuan ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dan dapat menjadi contoh pelaksanaan

JADWAL PMB S1-2018

foto:dok.Panitia

foto:dok.Panitia

program-program konservasi lainnya. Selain itu, disampaikan juga bahwa Pemda Bantul terbuka dan siap bekerja sama dengan UKDW dalam pengembangan konservasi dan ekowisata di wilayah Bantul. Runchly Kudubun menyampaikan bahwa program konservasi 2018 diikuti oleh lebih dari 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Bioteknologi dan Teologi UKDW. Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW menggunakan kesempatan ini untuk melakukan aksi konservasi sekaligus observasi terhadap keragaman biodiversitas dan juga diskusi

JALUR TES TERTULIS BIAYA PENDAFTARAN Rp. 200.000,00 Fakultas: Teknologi Informasi, Bioteknologi, Bisnis, Arsitektur & Desain, Pendidikan Bahasa Inggris

GELOMBANG 1

4, 11, 18, 25 MEI dan 1, 8, 29 JUNI 2018 GELOMBANG 2

6, 13, 20, 27 JULI dan 3, 10 AGT 2018

FAKULTAS

KEDOKTERAN BIAYA PENDAFTARAN

Rp. 1.250.000,00

foto:dok.Panitia

dengan masyarakat lokal terkait praktek pengelolaan kawasan sebagai bagian dari tugas mata kuliah biodiversitas dan konservasi. Pelaksanaan program yang dilakukan dengan melibatkan multistakeholder ini diharapkan dapat memberikan peluang bagi warga untuk membangun relasi dengan berbagai pihak dan juga menyemai semangat dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. [Boris M.S. Laoli]

FAKULTAS

TEOLOGI BIAYA PENDAFTARAN

Rp. 500.000,00

GELOMBANG 1: 9-10 FEB 2018 GELOMBANG 1: 18-19 MEI 2018 GELOMBANG 2: 4-5 MEI 2018 GELOMBANG 2: 29-30 JUNI 2018 GELOMBANG 3: 1-2 JUNI 2018 GELOMBANG 3: 20-21 JULI 2018 GELOMBANG 4: 27-28 JULI 2018 Daftar online & download formulir: pmb.ukdw.ac.id


Program Studi

7

Bedah Buku “Spiritualitas dari Berbagai Tradisi”

B

adan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teologi UKDW menyelenggarakan Bedah Buku “Spiritualitas dari Berbagai Tradisi” pada Rabu, 2 Mei 2018. Bertempat di Ruang Seminar Pdt. Harun Hadiwijono, buku yang ditulis dalam rangka merayakan 500 tahun lahirnya Gereja Reformasi ini dikupas oleh Pdt. Paulus Sugeng Widjaja, MAPS., Ph.D dan Rm. Dr. Fl. Hasto Rosariyanto, S.J. “Spiritualitas dari Berbagai Tradisi” merupakan kumpulan tulisan mengenai laku spiritualitas dari berbagai tradisi di mana masing-masing penulis tidak hendak memberikan definisi akan spiritualitas, melainkan memperlihatkan kekayaan laku spiritualitas yang dimiliki oleh berbagai tradisi yang ada. Dengan semangat oikumene dan kebinekaan, tiap orang dari berbagai tradisi spiritualitas dapat duduk bersama dan saling menghargai keberagaman tradisi spiritualitas tersebut, sehingga akhirnya dapat memperkaya dan memperdalam cara kita beriman. Buku ini menjadi teguran supaya sejarah para pengikut Kristus di Eropa yang saling menghujat, saling meng-anathema, bahkan saling membunuh di masa lampau tidak terulang kembali. Dengan semangat merayakan keberagaman, tidak ada satu tradisi pun yang mengklaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran karena Yesus Kristus sendirilah Sang Kebenaran itu. “Berbicara tentang spiritualitas itu berbicara tentang manusia

yang mengimani Yesus, yang bergulat menjawab kehendak Allah dalam perjalanan masa, dalam ruang dan waktu yang selalu berubah. Oleh karena itu berbicara soal spiritualitas tidak pernah bisa terlepas dari konteks sosialnya dan karenanya spiritualitas itu selalu memiliki dimensi komunal,” papar Rm. Hasto. Ia juga mengungkapkan bahwa suatu tradisi spiritualitas bisa saja diawali oleh seseorang, namun seiring berjalannya waktu, apa yang diawali oleh satu orang kemudian menggerakkan orang lain. Dalam bedah buku ini, Pdt. Paulus mengulas pertanyaan yang diajukan kepada Yesus dalam peziarahan spiritualitas bukan dengan kalimat “Who are you?” (ontologis) atau “What are you?” (dogmatis) melainkan “Where are you?” dan “What are you doing?” (praksis). Seseorang bisa saja mengklaim dirinya sebagai “pakar spiritualitas”, namun jika hidupnya tidak mencerminkan integritas antara iman dan praksis, maka ia tidak lebih dari seorang pakar. “Kalau ingin mengukur tingkat spiritualitas seseorang, tanyakanlah pendapat orang-orang di sekitarnya tentang dia, tentang bagaimana ia hidup, bukan tentang pengetahuan yang ia miliki atau apa yang ia ajarkan,” ungkap Pdt. Paulus. Menurutnya, spiritualitas berkaitan dengan sebuah proses perjalanan hidup yang berorientasi pada kesatuan dengan Allah, bukan kesatuan ontologis, tapi kesatuan praksis. Hal ini sesuai yang tertulis dalam 1 Yohanes 2 : 6, “Barangsiapa

mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Dalam proses perjalanan hidup, spiritualitas dilatih dalam disiplin rohani yang terus menerus serta dijalani dengan penuh sukacita. Dibutuhkan disiplin rohani yang dengan sengaja dikembangkan dengan serius oleh individu-individu Kristen maupun oleh gereja sebagai lembaga, misalnya disiplin membaca dan merenungkan Alkitab, disiplin communal discernment, disiplin sakramen Perjamuan Kudus, disiplin pelayanan diakonia lintas agama, dan sebagainya. Spiritualitas juga tidak selalu mengenai kesalehan individual melainkan juga kesalehan sosial. Pada hakikatnya spiritualitas tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada Allah ke mana kita semua, bahkan segenap jagad raya akhirnya menyatu. Oleh karena itu penekanan ekstrem terhadap politik identitas sebagaimana akhir-akhir ini dilakukan oleh umat beragama di Indonesia merupakan jalan yang bertolak belakang dari peziarahan spiritualitas. Pdt. Paulus menutup penjelasannya dengan mengutip tulisan dalam buku “Spiritualitas dari Berbagai Tradisi”, yaitu ketika ditanya bagaimana Rabi'a al-'Adawiyya bisa mendapatkan pengetahuan tentang Allah begitu mendalam, maka jawaban Rabi'a al'Adawiyya ialah, “dengan melenyapkan segala sesuatu ke dalam Dia”. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para peserta bedah

foto:dok/Jeannette

buku dan diakhiri dengan pemaparan singkat oleh Pdt. Hendri Sendjaja selaku salah satu editor buku ini. Ia megulas tentang spiritualitas Gregorius dari Nyssa yang menyatakan bahwa spiritualitas ialah peziarahan, perjalanan yang terus menerus, tahapan yang berkembang, dan menjadi sahabat Allah. [Jeannette]

Dosen dari Belgia Isi Kegiatan SETIA Bulan Mei

S

eminar Teologi dan Isu-Isu Aktual (SETIA) merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa tahun pertama dari Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), yang dilakukan setiap hari Senin pada bulan Mei. Seminar SETIA pada hari Senin, 7 Mei 2018 dibawakan oleh Professor Hans Ausloos dari Université Catholique de Louvain, Belgia dengan tema “Reading the Bible in Greek: The Septuagint and Textual Criticism of the Bible” yang disampaikan dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dibantu oleh seorang penterjemah. Seminar ini disambut hangat oleh peserta yang terdiri dari anggota jemaat, majelis jemaat dan pendeta dari berbagai gereja karena mereka tertarik untuk mendengar pembahasan tentang Septuaginta, sebuah topik yang jarang diangkat dalam seminar. “Wah, seru ya soalnya saya tidak pernah mendengar seminar mengenai Septuaginta,” ujar salah seorang peserta yang adalah jemaat dari sebuah gereja di Yogyakarta. Professor Ausloos menjelaskan sejarah penerjemahan Alkitab. Menurutnya, Septuaginta sangat perlu dipertimbangkan dalam melakukan penafsiran dengan metode kritik teks. Septuaginta merupakan terjemahan Alkitab dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, yang mulamula dilakukan dengan tujuan agar orang-orang Yahudi diaspora tetap dapat membaca Kitab Taurat. Professor Ausloos memberikan banyak contoh-contoh perbandingan penerjemahan antara teks Ibrani, teks Masoret, dan Septuaginta.

Seminar ini dilanjutkan dengan kuliah pakar yang diselenggarakan khusus untuk mahasiswa Teologi jenjang S-2 dan S-3. Pada kuliah pakar ini, Prof. Ausloos membahas lebih mendalam mengenai “The Translation Technique of the Septuagint”. Kuliah pakar ini lebih bernuansa diskusi secara mendalam dengan para mahasiswa biblical yang sedang menulis tesis atau disertasi mengenai penafsiran teks Alkitab. Seminar SETIA ini terbuka untuk umum dan dapat mendaftar langsung ke Fakultas Teologi UKDW atau dengan SMS ke nomor 085318185552. [Jeannette]

foto:dok.Panitia

foto:dok/Panitia

Mahasiswa Prodi PBI UKDW Sapu Bersih Gelar Juara di Kompetisi Essay Writing

B

adan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Lia Yogyakarta mengadakan Essay Writing Competition yang hasilnya telah diumumkan dalam acara Awarding Night pada hari Minggu, 6 Mei 2018. Dalam lomba ini, tiga mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UKDW berhasil keluar sebagai pemenang. Juara 1 diraih oleh Maximeliana Masela dari Saumlaki, Ambon dengan tulisannya yang berjudul “Millenials' Creativity: Successful People of Bukalapak, Traveloka, and Gojek”. Juara 2 diraih oleh Ira Luik dari Kupang dengan tulisannya yang berjudul “Millenials' Creativity: Millenials as the Role Model to Use Internet Effectively”. Juara 3 diraih oleh Leona Nine Angga Dewi dari Jawa Tengah dengan tulisannya yang berjudul “Technology for Millenial Creativity: Advantages and Disadvantages”. Piala, sertifikat, dan uang

pembinaan berhasil dibawa pulang oleh ketiga mahasiswa semester IV yang juga merupakan pemegang beasiswa Talenta Duta Wacana tahun 2016 ini. Menurut salah satu panitia acara, lomba yang diikuti oleh 20 peserta ini mempunyai kriteria yang spesifik dari segi persyaratan, format penulisan, dan penilaian. Secara umum, peserta diminta untuk menulis esai dengan jumlah kata minimal 500 dan mengacu pada tema “Creativity of the Millenials”. Naskah yang masuk dinilai berdasarkan kejelasan ide, ketepatan bahasa, serta kesesuaian isi dengan tema yang telah ditentukan. Para peserta hanya mempunyai waktu sekitar dua minggu untuk menyiapkan naskah dan mengkonsultasikannya dengan dosen Essay Writing, Adaninggar Septi Subekti, M.Sc., untuk mendapatkan feedback. Proses pembelajaran Essay Writing dengan vocabulary building dan

grammar sebagai mata kuliah pendukung memfasilitasi pengembangan kemampuan bahasa Inggris mereka secara signifikan. Tidak lupa, keterampilan para mahasiswa turut ditunjang dengan kerja keras masingmasing pribadi dalam menerapkan apa yang mereka dapatkan di dalam kelas. Prodi PBI UKDW memandang kompetisi seperti ini sebagai satu sarana yang efektif untuk menakar keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Kemampuan berpikir kritis dan menuangkan gagasan konstruktif baik secara lisan maupun tertulis melalui media yang tepat juga harus dipupuk secara konsisten. Hal ini tentunya juga sejalan dengan perlunya menumbuhkan semangat untuk selalu melakukan yang terbaik dan berprestasi dalam berbagai bidang seperti yang dituangkan dalam salah satu pilar UKDW, “Striving For Excellence.” [Moko] foto:dok/Moko


Program Studi

8

Millenials' Creativity to Integrate Technology into Business

M

illennials or known as Generation Y are people who were born in 1980's and 2000's. It means that now they are in the age between 17 until 37 years old. Nowadays millennials have become one of the good topics discussed everywhere because they are different from the previous generations. Millenials are considered to live with sophisticated technology that makes them think more creatively. Technology and millennials have become two things that cannot be separated. It has a big role in building their creativity by expressing ideas into something useful for everyone. In business sector there are some examples how the advancement of technology has brought positive impacts towards millennials' creativity. The first is the online shop. In this era, technology makes everything easier. In the previous years, when people wanted to buy something, they had to go to the shop and found the things that they needed. Now, through technology, people can buy something that they want via online. In Indonesia, there are so many online shops that can be found on smart phones. One of them is Bukalapak. Achmad Zaky is the founder of Bukalapak that has been successful in developing his ideas. He made

an online shop application to help people shopping. He began his business by involving small shops which had difficulties in selling their products. Bukalapak sells clothes, shoes, bag, and household stuff that people can browse easily to find what they want to buy. Besides using online shop to buy their necessities, people also can use their creativity to create their own business. Therefore, online shop application is the example of the creative idea that has created by millennials to make the activities becomes easy. Second is Traveloka. Traveloka is an application that used to buy the tickets of

airplane and train and also to book a hotel. The founder of this application is Ferry Unardy. The reason he made Traveloka was that he had a problem in finding the ticket when he wanted to go back from America to Indonesia. From his problem, he got an idea to make an application that serves people needs in travel and flights. Using technology which is the internet, he made traveloka application that can be found on the smartphone nowadays. People just need to download the application and they can use it to buy tickets or book a hotel. In short, Ferry Unardy is one of the millennials who has been successful in creating his idea by making

Traveloka application. Last but not least is online transportation. Gojek is an online transportation that created by Nadiem Makarim. He designed this online transportation because his research showed that the local drivers spent their time to wait for the passengers, it was difficult to find the parking lot, and they had limited income because of taxi preference. Based on his research, he was motivated to help drivers to get the passengers easily. He developed Gojek mobile application to enable people easily get the transportation like motorcycle, car, and boxcar that can take people to go to their destinations. This online transportation was also compatible with Google maps to find the fastest route to the passenger's destination. Therefore, online transportation is a creative idea that was designed to help people finding the transportation easily. In conclusion, technology has given the positive impact towards the creativity of millennials. Achmad Zacky as the founder of Bukalapak, Ferry Unardy as the founder of Traveloka, and Nadiem Makarim as the founder of Gojek are the millenials who have been successfull in developing their creativity using technology.[Maximeliana]

EED-UKDW Completed One Semester of Community Service at SMAK Immanuel Kalasan

A

t the end of 2017, lecturers from English Education Department of Duta Wacana Christian University (EED-UKDW) pioneered an English Club (EC) program with the intention of assisting students of SMAK Immanuel Kalasan in learning English. Partnering with Yayasan Pijar Kasih Nusantara (YPKN), the goal was to prepare the students to perform at their school's Christmas celebration. Located in the middle of a suburban area with countryside surroundings, SMAK Immanuel Kalasan, which has less than 30 students, struggles to survive. The success of the first English Club led EED UKDW to carry out another program. This program was intended for 10th - 12th-grade students and was executed during this year's even semester. In addition, this program was also meant to help promote the school.

Seven EED lecturers (Dra. Mega Wati, M.Pd., Andreas Winardi, M.A., Fransisca Endang L., M.Hum., Arida Susyetina, S.S., M.A., Lemmuela Alvita K., M.Hum., Anesti Budi Ermerawati, M.Hum., Adaninggar Septi Subekti, M.Sc.), Tim Wherrett Ph.D (a lecturer from Biotechnology Department UKDW), and Sumantyo Kartika agreed upon having a project-based learning (PBL) approach to the English Club. PBL is “a form of situated learning and it is based on constructivist finding that students gain a deeper understanding of material when they actively construct their understand(ing) by working with and using ideas.” (Krajcik & Blumenfeld, 2012). Thus, the target and the indicator of achievement of this EC program were students' performances on the farewell ceremony in May 2018. Since PBL was the approach of the program, every meeting was a

continuation of the progress made in the previous meeting. From Feb 8th, 2018 to Apr 26th, 2018, ten facilitators took turns in assisting the students every Thursday from 13.45 to 15.15. “Thankfulness in the Midst of Struggle” was selected as the core theme of the EC. In the first meeting, the students decided to prepare three plays entitled 'Say No to Drugs', 'Broken Home', and 'Broken Wings' as well as a choir that would sing 'Thank You' song. The positive dynamic and energy of the program were apparent to the facilitators and the students. Despite the condition of disadvantage, SMAK Immanuel students were very enthusiastic about the EC. At the end of the program, EED-UKDW facilitated the drama groups in recording the dramas that were shown on the farewell ceremony, on May 12th, 2018. [Endang]

foto:dok/Panitia

Experiencing Taiwan in GlobEES Program

E

xperiencing international program by joining Global Education Experiences (GlobEES) was exciting for me. It was my first time going abroad. I, along with eight students and two Office of International Affairs (OIA) staffs from Duta Wacana Christian University (DWCU) stayed in Taiwan from April 8-21, 2018. The time I spent in Taiwan, visiting its interesting places, tasting Taiwanese cuisine, and understanding the culture was an unforgettable moment. Reading this article, you might want to visit this outstanding country one day. There are many fascinating things you can find in Taiwan. First, the night markets in Taiwan are stunning. At the markets, you can find different kind of street foods like chicken steak, stinky tofu, grilled squid, sweet potato, and many more. Besides the foods, you can also find stuffs like clothes, bags, jade, cell phone accessories, socks, etc. In short, night market is a place that you definitely should not miss when visiting Taiwan.

Another interesting place I visited was Ten Drum Cultural Village. Located in Tainan City, it was an unused old sugar factory turn into a creative cultural park promoting local culture and history through music. Here, you can enjoy numerous percussions performance by the local musicians. There is also a drum instructor teaching the visitors to play a drum. In this area, there are also some restaurants and a small embankment with two ships, which the visitors can ride by themselves. The next unforgettable place was the Formosan Aboriginal Cultural Village. It is an amusement park located in Yuchi Township, Nantou County, near Sun Moon Lake. Formosan Aboriginal Cultural Village offers so many attractions and rides from the relaxing one to the most challenging one. For me, the most challenging one that I played was the roller coaster. It is an inverted roller coaster. Having the train runs under the track with the seats directly attached to the wheel carriage, makes riding this roller coaster more thrilling. We can also ride the

foto:dok/Lifia

foto:dok/Lifia

foto:dok/Lifia

foto:dok/Lifia

cable car that connects Formosan Aboriginal Cultural Village and Sun Moon Lake while enjoying the magnificent view of the lake. Moreover, we can also watch open stage aboriginal performance. Move to Taipei, standing in the Xinyi District, an area known for its financial services and vibrant shopping malls, is Taipei 101, the highest building in Taiwan. The building comprises 101 floors above ground, as well as 5 basement levels. There are shopping mall, bank and financial centers,

business offices, restaurants, indoor and outdoor viewing area, and Private VIP Club in this super high skyscraper. Two high speed elevators that can travel at a speed of 60 kilometers per hour are available to transport visitors from the 5th to the 89th floor in only 37 seconds. To sum it up, going to Taiwan through GlobEEs program was a wonderful opportunity that I will not forget. Those places I mentioned above were just few of many amusing places you can explore in Taiwan. Hopefully next year there will be more participants from DWCU as it is a wonderful program that the students should not miss. [Lifia Alex Sandra]


Siraman Rohani

10

Ideologi Bangsa dan Sikap Diri Garuda Pancasila, akulah pendukungmu Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu Pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa Pribadi bangsaku, ayo maju, maju, ayo maju, maju! (Sudarnoto, 24 Oktober 1925)

S

udharnoto, seorang dokter dan juga komponis, pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah ini mewakili generasi pejuang kemerdekaan negara Indonesia untuk mengekspresikan cara menghayati Pancasila. Lirik lagu tersebut menggambarkan kesetiaan warga negara Indonesia terhadap ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila. Untuk mempertahankan negara Indonesia dan Pancasila yang menjadi perjuangan para penggagas proklamasi (kemerdekaan), maka setiap warga negara haruslah rela berkorban. Hanya ada satu Ideologi bangsa yang dipertahankan yakni Pancasila sebagai dasar negara, tidak ada yang lain. Pancasila menjadi kepribadian bangsa yang berbhineka, dan memiliki tujuan luhur masa datang yakni mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itulah Sudharnoto, menghayati kehidupannya sebagai warga negara Indonesia melalui nyanyian yang digemakan di sekolah-sekolah, maupun dalam acara kenegaraan lainnya. Meskipun dalam perjalanan hidupnya, beliau terkena dampak politik G30S/PKI pada tahun 1969, namun demikian beliau setia menjalani baktinya pada negeri hingga akhir hayatnya sebagai pengurus makam Chairil Anwar dan Ismail Marzuki. Pada intinya, betapa pentingnya ideologi sebuah bangsa dihayati oleh seluruh warga negaranya, apalagi ditengah dinamika politik bangsa yang mengalami pasangsurut. Bagaimanakah dengan kita? Warga kampus UKDW sebagian besar adalah warga negara Indonesia. Seberapa sering kita merenungkan dan menghayati falsafah Pancasila itu dalam bekerja dan berperilaku? Jangan-jangan nyaris tidak terpikirkan karena sudah kalah dengan keasyikan dunia teknologi, sibuk dengan banyaknya pekerjaan, dan peliknya persoalan hidup personal di keseharian. Atau jangankan menggagas penghayatan Pancasila dalam hidup komunitas, menghayati perjalanan hidup iman saja kadang tidak sempat, kalah dengan mengejar target, ngoyak setoran, konsentrasi pada bisnis dan masalah keluarga. Atau malah sibuk mencari celah mendapatkan keuntungan dari pekerjaan kita. Atau mungkin, ada yang komentar “Hari gini masih ngomong Pancasila?� Jangan diteruskan jika dalam hati anda punya sikap tidak tertarik membahas Pancasila. Kalaupun tidak tertarik untuk mempercakapkan apalagi menghayati dalam hidup anda, sebaiknya tetap diam dan berdoalah bagi mereka yang mencintai Pancasila agar diberi kekuatan untuk terus mencintai sampai akhir hayatnya. Setidaknya jauhilah sikap munafik, sebab dalam kenyataannya kita hidup di Indonesia, jadi janganlah bersikap acuh terhadap landasan hidup bersama bangsa ini. Sebenarnya seberapa berfaedah dan pentingnya bagi warga kampus menghayati Ideologi Pancasila ini? Mengingat Sejenak Ideologi Pancasila Untuk sampai pada sikap diri yang menaruh rasa hormat, menghayati nilai-nilai luhur Pancasila, dan menyimpulkan bahwa

Pancasila itu penting dan berfaedah, maka haruslah mengenal dan memahami apa itu ideologi Pancasila bagi kita sebagai warga negara bangsa? Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Pancasila. Ideologi Pancasila ini dijadikan sebagai pandangan hidup bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan negara Indonesia dalam berbagai aspek. Dengan ideologi inilah bangsa Indonesia bisa mencapai kemerdekaan dan bertambah maju baik dari potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Namun seiring berjalannya waktu, semakin maju zaman dan teknologi, seolah-olah ideologi Pancasila hanya sebagai pelengkap negara agar tampak bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang merdeka dan mandiri. Banyak tingkah laku baik kalangan pejabat maupun rakyatnya bertindak tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Ada beberapa faktor mengapa bangsa kita sedikit melenceng dari ideologi Pancasila. Selain berkembangnya ideologi-ideologi luar seperti liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan ideologi berbasis agama seperti Khalifatullah yang bermuara pada upaya pendirian Negara Islam Indonesia. Bisa juga akibat globalisasi, dengan komunikasi lintas batas, transaksi lintas batas, perjumpaan lintas batas, seolah menjadikan ideologi Pancasila dikesampingkan. Akibatnya generasi jaman now nyaris tidak tahu sama sekali ideologi bangsanya. Tantangan bersama nasionalisme adalah sikap egoisme. Orang berupaya memperkaya diri sendiri dengan cara apapun. Ideologi Pancasila penting dikenal dan dihayati, sebab di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang multi kultur, multi agama, multi ras dan bahasa, serta potensi sumber daya alamnya. Supaya sadar akan visi luhur bangsa ini secara bersama-sama. Adapun nilai-nilai tersebut dijelaskan demikian: 1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung nilai spiritual, memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk berkembang di Indonesia. 2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Mengandung nilai kesamaan derajat maupun hak dan kewajiban, cinta-mencintai, hormat-menghormati, keberanian membela kebenaran dan keadilan, toleransi, dan gotong royong. 3. Sila Persatuan Indonesia Dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik mengandung nilai persatuan bangsa dan persatuan wilayah yang merupakan faktor pengikat yang menjamin keutuhan nasional atas dasar Bhineka Tunggal Ika. Nilai ini menempatkan kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. 4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan atau Perwakilan Menunjukan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang diwujudkan oleh persatuan nasional yang nyata (real) dan wajar. Nilai ini mengutamakan kepentingan Negara dan bangsa dengan mempertahankan penghargaan atas kepentingan pribadi dan golongan, musyawarah untuk mufakat, kebenaran, dan keadilan.

sumber foto: google

5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Mengandung nilai keadilan, keseimbangan antara hak dan kewajiban, penghargaan terhadap hak orang lain, gotong royong dalam suasana kekeluargaan, ringan tangan dan kerja keras untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Jika demikian halnya, maka menjadi penting setiap warga kampus menempatkan dirinya dalam bekerja, berinteraksi juga menghayati nilai-nilai Pancasila tersebut. Setidaknya senantiasa menempatkan diri sebagai warga negara yang mengikuti ideologi Pancasila, memberikan apa yang menjadi hak negara, demikian juga memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Refleksi Iman: Warga Negara dan Sikap Etis Kepada jemaat di Roma, rasul Paulus dengan jelas memberikan nasihat terkait sikap jemaat terhadap pemerintahan, sebagai warga negara. Di mana pemerintah pastilah menganut ideologi yang menjadi dasar dalam tata kelola negara. Roma 13:1-7: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintahpemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat�. Beberapa alasan yang dikemu-kakan oleh Paulus terkait dengan sikap etis warga jemaat terhadap pemerintah (wakil negara Romawi) waktu itu, antara lain:

a. Pandangan bahwa pemerintah adalah wakil Allah di bumi. Pemerintah yang diharapkan membawa keadilan, kebenaran, kedamaian dan memperhatikan warga negaranya. Pemerintah yang demikian wajib didukung. Negara yang membawa pada misi Kerajaan Allah yang demikian wajib dibela. Artinya, jika yang terjadi sebaliknya, pemerintah yang korupsi, mementingkan diri sendiri, tidak adil, rasis, mendatangkan pertikaian, maka warga negara wajib mengingatkan adeg pemerintah atas warga negaranya. Ketika yang dilakukan pemerintah merugikan warga negara, maka warga berkewajiban menegur dengan tidak perlu takut. b. Warga negara taat kepada aturan pemerintah. Asumsinya, setiap aturan dibuat untuk maksud kebaikan hidup bersama. Negara tanpa aturan, maka akan terjadi kekacauan dan pertikaian antar individu. Aturan dibuat sebagai border atau batasan sikap warga negara, atas hak dan kewajibannya sebagai pribadi, anggota komunitas dan warga negara. Sebagai contoh: aturan membayar pajak, bea cukai, dan aturan hormat-menghormati antara satu dan yang lain. c. Warga jemaat adalah warga negara yang tahu menempatkan diri melalui perbuatannya berdasarkan pertimbangan hati nuraninya. Artinya, ada konsekuensi logis jika seorang warga berbuat jahat, maka sudah sewajarnya takut kepada pemerintah. Sebaliknya, jika berbuat baik dan memperhatikan kehidupan bersama yang lain, maka tidak ada alasan untuk takut pada pemerintah. Dengan demikian, sebagai bagian dari warga bangsa Indonesia, kita menerima Pancasila sebagai dasar kehidupan bersama, batasan dan juga tujuan hidup bersama berbangsa dan bernegara, maka kewajiban kita adalah mengamalkannya. Bahwa secara teologis, hal itu tidak bertentangan dengan Alkitab. Malah sebaliknya, Alkitab memberikan landasan moralitas bagi kita, untuk menggunakan pertimbangan hati nurani dalam bersikap baik, benar, berguna dan menjalani hidup yang membangun kebersamaan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya, Pancasila menjadi bagian dari jati diri bangsa yang wajib dihayati, dan Alkitab sebagai dasar moralitas kita sebagai warga negara yang beriman Kristen untuk mendukung tegaknya negara Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kiranya, makin meneguhkan kita dalam berkarya untuk kemuliaan Allah dan kemajuan bangsa Indonesia. Amin. [NM]

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA 1 Juni 2018


Office International Affairs

12

Studying Abroad, the Experience of Indonesian Student in Taiwan

F

ederico Wijaya, usually called Fede, is one of Indonesian students currently studying at Chang Jung Christian University (CJCU), Taiwan. During the Global Education Experiences (GlobEEs), a joint program between CJCU and Duta Wacana Christian University (DWCU) that was held in April 2018, he became one of the student buddies who assist the participants. In that occasion, DWCU team got the chance to interview him about his experience as Indonesian student pursuing undergraduate degree in Taiwan. Fede comes from Medan and speaks five languages, namely Indonesian, Chinese, Taiwanese, English, and German. His passion in learning different languages is the reason why he takes Translation and Interpretation as his major. “I want to learn more about Mandarin and other languages,”

Photo Gallery

he said. Based on his experience in sudying abroad, Fede admitted that he faced several problems. The young man who was born on December 25, 1998 said that the biggest challenge was at the beginning of his staying and studying in Taiwan. Living far from home in a new environment made him felt lonely. Moreover, the differences of culture and people mindset between Taiwanese and Indonesian made it more difficult for Fede to adapt. Learning from his experience, Fede said that if we want to study abroad, we should be able to speak not only English, but also the native language of the country. For example if we study in Taiwan, it will be favorable if we can speak Taiwanese or Chinese. "We will get connections, advantages, and opportunities that may not be obtained by students who can only speak English," he explained.

The freshman who currently works parttime as a freelance translator, also encourages other students from Indonesia to come out of their comfort zone and dare to pursue higher education abroad. He said that we should not be afraid to apply for scholarships, no matter what the result is. “We could be accepted or rejected. The most important thing is to give our best. Do not give up easily!” he said. Speaking about learning foreign language, Fede said that we should not be trapped in grammar. According to him, reading some foreign-language novels and newspapers, also watching international news such as BBC UK will certainly increase our general knowledge and improve our foreign languages proficiency. [cyntia] foto: dok.Cyntia

TEATER KLASIK KOREA - CERITA PUNG DONG

Keluarga Besar UKDW Mengucapkan

Selamat Idul Fitri 1439 H Mohon Maaf Lahir & Batin

Koran Kampus UKDW Edisi Mei 2018  
Koran Kampus UKDW Edisi Mei 2018  
Advertisement