Issuu on Google+


Pena Kampus

P

Rekadesain Cover : Revo Foto : Istimewa

Redaksi PEK A Universitas Muria Ku­dus me­­­­­­­nerima tulisan da­ri lu­­ar be­­­­rupa artikel, re­­sen­­si, opi­­­­ n i, cerpen, dan pui­si de­­­­ngan syarat me­­nyer­ ta­­­kan foto iden­ti­­tas yang leng­­­kap. Nas­­kah di­ketik de­­­ngan ra­­pi atau da­lam ben­­­tuk di­­gital maksi­mal em­­­pat ha­­­laman A4. Re­dak­ si ber­­hak mengedit tan­pa me­­­­­ngubah esen­si tuli­san. su­­rat dialamatkan me­lalui:

ers Mahasiswa (Presma) selalu mengiringi setiap berubahan di sivitas academika. Keberadaannya sering menjadi sebuah jembatan yang membentang disepanjang birokasi rumit dan mahasiswa. Sebuah tempat untuk beraspirasi mahasiswa. Presma akan selalu menjadi sebuah organisasi yang independen dan tidak terikat oleh siapapun dan apapun. Setiap organisasi akan mengalami sebuah proses. Kadang organisasi itu akan bagus, namun kadang cobaan akan selalu menghinggapi sebuah organisasi. Hal ini juga terjadi di organisasi kita. Pada penerbitan majalah Pena Kampus (Peka) ke XVI, banyak permasalah yang menimpa baik dari internal maupun eksternal. Semua itu adalah sebuah pembelajaran untuk menjadikan Peka lebih baik. Masalah akan menjadikan organisasi ini lebih baik, apabila disikapi dengan sahaja namun juga akan menjadi sebaliknya apabila disikapi dengan sebuah pesimisme. Pada edisi XVI, Peka mengangkat kota tua Kudus Jawa Tengah sebagai Laporan Utama (Laput). Kota yang konon sudah ada pada abad 15 menjadi daya tarik sendiri untuk dibahas. Kota tua memiliki banyak peninggalan yang belum tercatat dan terpub-

Dari Redaksi likasikan. Untuk itu, majalah Peka mencoba menyuguhkan sebuah kilasan sejalah yang menjadi kebanggaan kota Kudus. Pada Laporan Khusus (lapsus), kami mengangkat penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan oleh Universitas Muria Kudus (UMK) pada tahun ajaran 2010/2011. Meski tidak semua Fakultas sudah menerapkan KBK, namun 10 program jurusan yang sudah menerapkannya. Banyak kendala yang menghinggapi terlaksananya KBK di UMK. Mulai dari sarana prasarana yang menjadi hal terpenting dalam proses KBK, tidak memadai. Juga tentang Sumber Daya Manusia (SDM) dari universitas yang masih beradaptasi . Selain itu, berita-berita seputar kampus juga akan menghiasi majalah peka edisi XVI. Opini, wacana dari sivitas akademika juga memberikan warna dimajalah. Salam hangat kami sampaikan kepada semua pembaca yang sudah menantikan majalah ini terbit. Baik mahasiswa baru, lama dan sivitas akademika lainnya di UMK. ‘Tak ada gading yang tak retak’, selalu menjadi harapan agar para pembaca bisa memberikan saran dan kritik untuk membenahi majalah yang kita sayangi agar kesempurnaan itu mengiringi disetiap langkahnya.

ALAMAT REDAKSI Gedung PKM UMK Lt. II - Gondangmanis Bae PO BOX 53 Kudus 59352 Telp: (0291) 438229 e-mail: penakampus@yahoo.co.id

KHOLIDIN/PEKA

Diterbitkan Oleh: UKM JURNALISTIK divisi penerbitan Universitas Muria Kudus Periode 2010 - 2011 Pelindung Rektor UMK – Pengarah Pembantu Rektor III – Dewan Redaksi Zamhuri, S.Ag – Penanggung Jawab Ulin Nuha – Pemimpin Umum M Ulin Nuha – Sekretaris Harum Wardati – Bendahara Dina – Pemimpin Redaksi Agus Sulistianto – Sekretaris Redaksi Onik Rianasari – Redaktur Pelaksana M. Ulin Nuha – Redaktur Bahasa Nor Kholidin – Fotografer Kholidin – Reporter Imam, Niswah, Harun, Hadi, Bika, Titik, Dilla, Nana, Mila, Naili, Sri, Dwi, Jalal, Umi, Niswah, Irene. [ Edisi XVI Maret 2011 ]




D

Pena Kampus

a f t a r

I

s i

Dari Redaksi Daftar Isi Surat Pembaca

LAPORAN UTAMA Selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga memiliki banyak peningalan Benda Cagar Budaya (BCB). Pe­ninggalan-peninggalan ini, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwiasata (Disbudpar) Kudus, Hadi Sucipto, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Gapura Menyemai Nilai Pendidikan dan Sosial

............

5

Lapuran Utama Jejak Sejarah .......................................................... 7 Kudus potensi Pusat Penelitian Arkeologi Jejak Historis Kota Tua ........................................... 9 Gus Ji Gang ........................................................... 11 Rumah Adat Kudus Perpaduan Tiga Arsitektur Dunia 12 Masjid Langgar Dalem Penuh Sejarah .................. 13 Bordir Icik Tersisih di Ruamh Sendiri ...................... 14 Muria-Kudus Tiruan dari Jerussalem .......................................... 16 Laporan Khusus Perlu Perjuangan Keras ........................................ 18 Format KBK Ideal Belum Jelas .............................. 20 Mahasiswa Belum Siap KBK diterapkan ................ 22

LAPORAN KHUSUS Pada 2000 lalu, melalui surat keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) nomor 232/U/2000 disusul dengan SK yang kedua nomor 045/U/2002, menuntut perguruan tinggi (PT) harus berbenah. Terutama pada sistem pendidikan, dari semula memakai kurikulum 1994, beralih ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

TOKOH Perubahan kurikulum di Universitas Muria Kudus (UMK) dari kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) membuat semua ketua Program pendidikan (Progdi) melakukan perubahan. Salah satunya, Fitri Budi Suryani yang saat ini menjabat sebagai ketuaProdi Bahasa Inggris untuk periode 2008-2013.



[ Edisi XVI Maret 2011 ]

Opini KBK Menuntut Profesionalitas Dosen .................... 25 Tokoh KBK, Cara Belajar Seumur Hidup .......................... 26 Sudut Kampus ......................................... 29 Bahasa Makna Simbolis Tembang llir-Ilir .......................... 32 Opini Menggapai Kecerdasan Bernegara ....................... 34 Negeri Bento .......................................................... 35 Resensi Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa .................... 36 Kapasitas Masyarakat Merapi dalam Menghadapi Bencana ................................................................ 37 Kenikmatan dalam Kemiskinan ............................. 38 Wacana Memotret Kriminalitas di Kudus .............................. 39 Realisasi Pendidikan karakter, Entrepreneurship dan budaya Implementasi di Perguruan Tinggi ............ 41 Budaya Tak Ada Regenarasi Caping Kalo Warisan Budaya Terancam Punah ....................... 431 Memmoar Mengenang Siti dan Mungkid ................................. 45 Sastra Puisi ....................................................................... 46 Cerpen “Sebuah Film Berjudul Sin” ....................... 47


S

u r a t

P

e m b a c a

Pengelola Perpustakaan Harus Lebih Bijak Banyaknya tugas yang diterima mahasiswa, menuntut mereka untuk lebih kreatif dalam mencari sumber referensi. Bukan hanya berasal dari diktat atau buku acuan yang dipakai dosen pengampu, mencari bahan dari internet maupun buku alternatif lain untuk menunjang tugas juga mereka lakukan. Perpustakaan, menjadi salah satu pilihan tempat untuk mencari buku acuan tersebut, khususnya perpustakaan kampus. Karena sebagian besar mahasiswa beranggapan perpustakaan kampus menyediakan buku-buku yang dibutuhkan mahasiswa. Tapi tempat yang semula diharapkan bisa memberikan pelayanan berkaitan dengan penyediaan buku untuk mahasiswa, hanya menjadi tempat singgah yang “kadang” tak lebih ramai dari tempat fotocopy. Banyak peraturan yang kurang mendukung mahasiswa dalam membuat tugas. Bagaimana tidak? Misalnya saja, aturan yang melarang mahasiswa membawa buku ke ruang baca. Padahal dalam mengerjakan suatu tugas tidak hanya dibutuhkan satu atau dua buku saja sebagai referensi. Ruang baca perpustakaan kampus yang diharapkan bisa menjadi tempat diskusi berubah fungsi hanya menjadi tempat singgah saja. Jika diperbolehkan diskusi di sana, mahasiswa hanya boleh membawa satu lembar kertas dan alat tulis saja. Bukankah dalam membuat tugas, mahasiswa juga perlu memadupadankan antara materi pada sumber yang satu dengan sumberyang lain? Tidak logis, bagaimana mahasiswa bisa melakukan hal tersebut, jika buku mereka “anteng” di loker. Bisa dilihat dari banyaknya mahasiswa yang lebih memilih diskusi lesehan di luar perpustakaan bahkan di tangga. Hal ini menunjukkan perpustakaan belum bisa menjadi tempat diskusi yang mendukung bagi mahasiswa. Seharusnya, pengelola perpustakaan kampus lebih bijak dalam menjalankan fungsinya. Nana, Fakultas Ekonomi UMK

Di Mana Lambang Negara? Globalisasi menjadi sebuah problema di negeri ini. Dicermati bebas masuknya berbagai informasi dari luar. Tanpa disadari secara tidak lagsung informasi tersebut membawa kebudayaan dari luar. Bahayanya apabila tidak ada yang menyaring kebudayaan itu akan dapat menghilangkan kebudayaan lokal. Sebagai lembaga pendidikan, universitas dituntut untuk membantu menyaring budaya dari luar. Tak terkecuali dengan Universitas Muria Kudus (UMK). Saat ini UMK telah menjalankan tugas mulia tersebut. Hal ini dibuktikan masih adanya mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Mata kuliah tersebut banyak membahas mengenai nasionalisme. Bekal seperti itulah yang diharapkan dapat menyaring kuatnya pengaruh negatif globalisasi. Terlebih mahasiswa adalah masa memperoleh tantangan yang nyata. Artinya pada masa tersebut diri mahasiswa itu sendirilah yang dapat mengarahkan dirinya sendiri. Sangat disayangkan hal tersebut tidak dilengkapi dengan praktik nyata. Dapat diamati ruang – ruang perkuliahan di UMK tidak dilengkapi dengan lambang negara. Padahal keraberadaan lambang negara dapat membantu dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh pernah terjadi ketika salah satu dosen menjelaskan tentang Pancasila. Sambil menunjuk ke atas dinding dan melihat sekeliling ruang tidak didapatinya lambing Negara Garuda Pancasila berada. Selanjutnya dosen tersebut meralat agar mahasiswa membayangkan dan mengingat lambang negara tersebut. Jika dinalar hal tersebut tentu perkara yang tidak perlu terjadi. Apalagi universitas merupakan garda terdepan dalam membangun manusia untuk melanjutkan kehidupan negeri ini. Banyak manfaat yang didapat dengan menghiasi lambang Negara di ruang perkuliahan. Di antaranya, hasil pembelajaran mata kuliah kewarganegaraan dapat benar – benar meresap di hati mahasiswa. Akhirnya, hal tersebut akan dapat memunculkan rasa nasionalisme dalam diri mahasiswa. Selain itu, memajang lambang negara

Pena Kampus akan menambah nilai estetika. Artinya menjadi penghias ruang kelas yang sekaligus bermakna. Semoga apa yang saya sampaikan tidak menjadi perdebatan melainkan dapat menjadi perbaikan. Taufiqur Rohman, Mahasiswa FKIP semester 3

Kapan Online Membudaya Kemajuan Universitsas Muria Kudus (UMK) saat ini patut dibanggakan. Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun menunjukkan UMK menjadi salah satu perguruan tinggi yang diminati di kota Kudus. Dari segi kualitas pendidikan, saya yakin dari masing-masing fakultas terus berusaha memperbaiki diri. Salah satunya dengan perbaikan fasilitas yang sudah ada. Dengan semakin berkembangnya teknologi yang ada, seharusnya juga diikuti kemudahan untuk mahasiswa berkaitan dengan hal tersebut. Tapi sayangnya, yang terjadi tidak sepenuhnya demikian. Misalnya saja dalam hal registrasi untuk pembayaran kuliah tiap semester. Meskipun masing-masing fakultas sudah diberi jadwal terpisah untuk registrasi, hal itu tidak cukup memberikan kenyamanan bagi mahasiswa. Khususnya mahasiswa yang berasal dari luar kota. Tak jarang tiap semester mahasiswa harus menunggu hingga sore hanya untuk mendapatkan bukti pembayaran. Mengingat aktivitas mahasiswa yang tak hanya berkutat di lingkungan kampus, tak jarang pula mayoritas mahasiswa sengaja menunggu hingga batas akhir pembayaran, karena mereka tahu betapa idak nyamannya harus antre begitu lama. Sudah banyak kritik terlontar, tapi sejauh ini belum terlihat solusi yang menjanjikan pembenahan pelayanan terkait dengan hal tersebut. Alangkah baiknya, jika disediakan sistem on line khususnya dalam hal registrasi. Bukan hanya jumlah gedung saja yang terus ditambah, tetapi peningkatan fasilitas untuk mahasiswa juga perlu ditingkatkan. Hartatik, Mahasiswa FE UMK [ Edisi XVI Maret 2011 ]




SURAT PEMBACA

Pena Kampus

Seperti Surat Tanda Lahir? Dengan adanya globalisasi, perkembangan zamanpun semakin pesat. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) pun semakin canggih. Banyak fasilitas-fasilitas yang disediakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Jika tidak mengikuti perkembangan zaman, kita dianggap “jadul” atau ketinggalan zaman. Tak ubahnya dengan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang berharap teknologi dalam fasilitas kampus juga semakin meningkat dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Pernah suatu ketika saya berkumpul dengan teman yang berbeda perguruan tinggi. Dan apa yang mereka katakan ketika melihat Kartu Mahasiswa (KTM) UMK?. “Kok kaya Surat Tanda Lahir ya?” Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka katakan. Jika dibandingkan dengan KTM beberapa perguruan tinggi lain yang juga dilengkapi dengan fungsi Automatic Teller Machine (ATM), KTM UMK memang bisa dikatakan jadul. Mungkin suatu saat KTM UMK juga bisa serupa dengan universitas lain yang sekaligus memudahkan mahasiswa dalam proses registrasi. Semoga… Bunga, Aktifis Kampus

Mana Fasilitas UMK? Dari tahun ke tahun, biaya pendidikan yang dibebankan pada calon mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) ini selalu mengalami kenaikan. Namun hal itu berbanding terbalik dengan fasilitas yang didapatkan. Hal itu terlihat pada fasilitas laboratorium bahasa yang biasanya digunakan mahasiswa Program Studi (Progdi) Bahasa Inggris dalam mata kuliah listening. Kebanyakan headphone yang tersedia di dalam ruangan dalam kondisi rusak. Alhasil, mahasiswa hanya dapat menerima pelajaran listening lewat sound system yang ada di pojok-pojok ruangan saja. Padahal, seharusnya, pelajaran listening sangat memerlukan headphone agar dalam mendengarkan pelafalan Bahasa Inggris oleh orang asing asli lebih ter-



[ Edisi XVI Maret 2011 ]

S

u r a t

dengar jelas dan mahasiswa pun lebih mudah menerima pelajaran. Selain itu, masalah listrik seharusnya juga menjadi perhatian serius. Terjadinya pemadaman listrik oleh pihak PLN beberapa waktu yang lalu, seharusnya tidak menimbulkan masalah jika ada upaya mengantisipasi yang bisa dilakukan sebelumnya. Seperti pengalihan jadwal tes listening karena listrik padam. Begitu juga masalah air yang ada di masjid. Karena pemadaman listrik tersebut, tidak tersedia air di masjid yang mengakibatkan mahasiswa mengungsi mencari musala di sekitar rumah warga. Hal tersebut tentunya tidak akan terjadi jika sebelumnya pihak universitas telah menyediakan tenaga jenset untuk mengantisipasi listrik yang padam. Satu lagi, masalah sistem entry ketika pergantian semester juga selayaknya menjadi perhatian serius dari pihak kampus. Pada era teknologi yang semakin berkembang ini, sistem mengentry yang ada di UMK masih menggunakan cara manual. Mahasiswa dituntut mengeluarkan tenaga lebih untuk saling berdesakdesakan dalam mengentry. Tak jarang terjadi saling dorong yang mengakibatkan jatuhnya korban. Masih teringat dalam benak kita saat pergantian menuju semester genap awal Februari 2010 lalu, kaca gedung joglo yang biasa digunakan untuk ngentry pecah akibat baku dorong yang dilakukan mahasiswa. Seharusnya pihak universitas bisa segera mungkin untuk memperbaiki fasilitas yang rusak dan bisa mengikuti perkembangan teknologi dalam melengkapi fasilitas kampus.� agar mahasiswa bisa memperoleh ilmu yang maksimal ketika belajar di UMK. Sari, Mahasiswa FKIP Progdi Bahasa Inggris

“Kita berkarya maka kita ada”

P

e m b a c a

Tidak Selayaknya Jadi Even Organizer Judul di atas sepatutnya bisa dimaknai dengan lapang dada. Hal tersebut muncul ketika saya merasa tergelitik dengan beberapa kegiatan yang diadakan para pendidik di kampus tercinta ini. Aktifitas pendidik atau lembaga pendidikan memang sudah sepatutnya berkewajiban membuat peserta didik atau para mahasiswa menjadi manusia seutuhnya. Memberikan ilmu pengetahuan sesuai dengan kompetensinya, namun ketika mahasiswa sebagai peserta didik diarahkan dan hanya dijadikan sebagai sebuah gerakan pengerahan massa untuk memperlancar suatu kegiatan tertentu, jelas hal itu jauh dari pengertian memanusiakan manusia. Untuk lebih jelasnya dari pernyataan saya di atas, saya ingin menceritakan kembali tentang beberapa kegiatan yang notabene dibuat dan diselenggarakan oleh para pendidik di kampus ini. Sebagai contoh, ketika “Imelda” si Miss Indonesia 2010, datang ke UMK dengan memberikan kuliah umum, dengan serta merta seluruh mahasiswa BK diwajibkan mengikuti acara tersebut. Tentunya kegiatan ini tidak gratis. Kegiatan-kegiatan lainnya yang seringkali terjadi adalah acara seminar pendidikan yang diselenggarakan para pendidik. Apakah tidak sebaiknya acara semacam itu dibebaskan untuk semua mahasiswa mengikutinya, dengan tidak mewajibkan untuk ikut? Atau mungkin mereka tidak berani mengambil resiko, kalau acara tersebut tidak mampu balik modal dari target pesertanya? Selain itu, beberapa kegiatan lain yang menggunakan mahasiswa sebagai tameng untuk memperlancar kegiatan para pendidik sebaiknya tidak dilakukan. Kalau memang seperti itu adanya, apa bedanya para pendidik kita dengan event organizer (EO) yang membawa artis atau band-band Ibukota pentas di daerah-daerah dengan tiket. Di luar dari niatan baik para pendidik untuk mencer­daskan para mahasiswanya, dengan menghadirkan para pakar pendidikan setingkat Nasional tersebut. Semoga UMK menjadi lebih baik. Panji, mahasiswa Progdi Bahasa Inggris UMK


G

GAPURA

a p u r a

Pena Kampus

Menyemai Nilai Pendidikan dan Sosial Oleh Ulin Nuha Masruchin

M

anusia hidup dan menjalani kehidupan senantiasa mengharap uluran tangan orang lain. Untuk menunaikan segala hajat hidup, manusia terus berupaya menjalin hubungan sesama. Pertautan saling butuh dan ketergantungan sosial-kemasyarakatan tersebut mencerminkan manusia sebagai makluk lemah, tak bisa menutupi kebutuhan mereka sendiri. Menyembulnya hasrat social itu, oleh filsuf kebangsaan Yunani Aristoles merupakan salah satu ciri sifat manusia. Ia menyebut manusia dengan sebutan zoon policon. Yakni binatang social hanya menyukai hidup secara golongan atau mencari pertemanan hidup bersama. Tesis tersebut sebuah keniscayaan, keberadaan seseorang mewujudkan dimensi apa yang kita sebut simbiosis-mutualisme. Seringkali kita alpa ingatan. Bagaimana ketika perut terasa kenyang hingga kita dapat beraktifitas setiap hari. Tentu saja

rasa “kenyang” butuh asupan karbohidrat, nutrisi, protein terkandung makanan dan minuman. Sebut saja makanan pokok negeri ini, nasi. Sebelum menjadi “nasi”, kita menyebut dengan “beras” yang dijual segala pasar atau supermarket. Agar bisa dikonsumsi masyarakat, para tengkulak pun menyalurkan komoditas tersebut dari lumbung penyimpanan “padi”. Peran para petani pun begitu besar. Mulai penyebaran “benih”, mengairi sawah, penumpasan hama, dan menunggu waktu tiga atau empat bulan masa tanam agar padi siap dipanen. Proses nan panjang dari sebutan nasi, beras, padi, benih, urusan makan butuh banyak partisipasi manusia. Disini lah, manusia sekiranya tak pantas besar kepala di muka bumi ini. Siklus bertautan itu interelasi sebuah kehidupan. Untuk menjembatani kehidupan, dunia pendidikan sangat perlu mengenalkan nilai-nilai keterjalinan sosial. Pemahaman

Kholidin/Peka

DISKUSI: Proses pembelajara sosial yang dilakukan di UMK.

[ Edisi XVI Maret 2011 ]




Pena Kampus fenomena social pijakan dasar sebelum terjun langsung di masyarakat. Walau sebenarnya lembaga pendidikan tinggi (PT) maupun sekolah bagian masyarakat kolektif, pengenalan itu akan membawa pengaruh baik untuk masa depan mahasiswa. Setidaknya, mahasiswa maupun siswa akan memahami peran dan tanggungjawab secara pribadi dan kelompok ketika di terjun di masyarakat. Pendidikan Sosial Pendekatan kehidupan social seringkali masih sebatas tekstual, yang mengandalkan buku-buku. Para peserta didik diajarkan mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sekadar text books. Bahkan, guru cenderung lebih suka berceramah mengacu materi-materi buku, bukan bagaimana meramu pelajaran atas dasar dinamika social sesungguhnya. Definisi istilah diversifikasi social, clasifikasi social dan kohesifitas sebagainya, hanya numpang lewat dari telinga kiri ke kanan. Tak jarang pula, institusi pendidikan tinggi bak berada di menara gading dengan dinding tebal “eksklusif�. Tak jarang, darma penelitian terasa belum menyentuh pada akar persoalan. Produk penelitian, astronomi Indonesia asal ITB Bambang Hidayat (2009) menyindir bahwa banyak hasil penelitian sivitas akademika yang hanya tersimpan rapi hingga memenuhi rak serta almari. Sejatinya, pendidikan social sekolah maupun perguruan tinggi diberikan dengan bercermin pada kehidupan yang ada. Pemaparan teks dengan kenyataan konteks (situasi, kondisi) social seringkali terkesan ambilavensi. Para siswa terus dijejali setumpuk materi tanpa tahu bagaimana mereka menamkan nilai-nilai dan substansi tentang pengetahuan sosialnya. Padahal, pendidikan social sebuah pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Artinya, interaksi, komunikasi serta jalinan social melalui pertemanan secontoh membangun hubungan social. Sehingga mahasiswa dan siswa perlu diarahkan dalam menjalani pergaulan mereka agar tidak salah arah. Kegiatan bakti social, gotong royong, peduli korban bencana, mengirim relawan, setidaknya mengasah empati social paserta didik. Melalui pembelajaran yang telah dilakukan (learning to do), siswa lebih menangkap menyentuh sisi kemanusian mereka. Secontoh kecil urusan keseharian kita di jalanan, yakni lalu lintas. Kultur antri dan suka menerabas itu pertanda egoisitas bangsa telah diuji. Sikap egois tinggi itu sangat menghawatirkan bila menyembuhkan sikap asosial mengerucut sikap mementingkan diri sendiri. Apalagi era kompetisi dan globalisasi juga mendorong kultur demikian. Seakan bangsa ini kembali ketika masa rimba, siapa menang dia akan mengusai zona permainan. Mengingat homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi yang lain. Jurang pendidikan yang dicanangkan founding fouthers kita telah terempas jauh. Pendidikan humanisme, memanusiakan manusia sebuah filantropi tinggal kenangan. Lembaga pendidikan sekolah patut mengenalkan pendidikan social yang lebih membumi. Seakan ada tebing pemisah antara pendidikan dan kondisi social kian melebar. Banyak persoalan bersumber masalah social lambat laun mengurucut pada isu



[ Edisi XVI Maret 2011 ]

G

a p u r a

agama. Masyarakat mudah menghukumi dan menciptakan prejudice kepada siapa dan dari golongan mana. Pengadilan social terasa amat sering mengatasnamakan label agama, kepercayaan, suku dan ras. Kekhawatiran ini terus akan menciptakan bomerang panjang mengancam nadi social-kemasyarakatan. Karena tidak adanya saling menghargai dan toleransi. Egosentrisme, ekstrimisme beragama, dan rasial itu bak api dalam sekam setiap saat bisa meletup. Asosial Produk Kultur Me nerabas Sedang fenomena korupsi telah menggurita dari lingkungan pemerintahan hingga swasta, pejabat teras sampai pemangku desa saling kompak dan padu. Seakan tak ada dominasi lagi kata korupsi bagi kaum elit, tapi semua kalangan. Tak hentihentinya, pendapat John D Acton (1834-1902) selalu dikumandangkan melawan patologi social ini, power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely. Secontoh kecil tersebut persoalan yang baru mendera bangsa ini telah menjadi kisah cerita tentang mental dan kepribadian bangsa. Saat seseorang menduduki jabatan, terkadang mereka kurang sadar atau pura-pura tak sadar bahwa dirinya memikul sebuah tanggung jawab. Ketidakpedulian ini mencerminkan kurangnya pemahaman arti tanggung jawab social. Pantas bila sikap ketidakpedulian itu semakin lama akan menggerus kata hati nurani dan moral yang selalu mengajak kebajikan. Apa jadinya bila kata hati seseorang telah lumpuh tak mampu lagi mengontrol emosi dan budak nafsu, sudah barang tentu terjadilah sindrom egosismeasosial, bypass, dan keserakahan diri. Sekolah Sebagai Laborat Sosial Lembaga pendidikan sekolah salah satu pilar penting pembangunan SDM bangsa ini. Sedari tingkat dasar, pakar pendidikan telah mengarahkan pendidikan bangsa yang memanusiakan manusia. Pendidikan humanis segala bentuk pemerintah maupun swasta, formal maupun nonformal bahkan alternatif, perlu mendisain masa depan anak didik menjadi manusia seutuhnya. Peran sekolah hanya membekali diri bukan mengeksekusi tujuan, agar mereka bisa berkembang sesuai bakat dan minatnya. Sekolah pula menjadi dasar utama dalam membangun ketrampilan social sang anak didik. Di sinilah, segenap pemangku pendidikan perlu menyemai nilai-nilai social baik, kepedulian serta berwawasan bagi kehidupan dengan sesama. Budaya saling menghargai, berbagi dan toleransi perlu ditanamkan sejak dini. Karena peran perguruan tinggi dan sekolah mulai dosen, sekolah, guru, peraturan, serta lingkungan, akan terus terpatri di hati peserta didik dan mahasiswa. Sekolah maupun perguruan tinggi bukan menjadi simbol dikotomi kolektif, antara sang kaya dan si miskin, anak pintar dan orang bodoh. Tapi, lembaga pendidikan dimaknai sebagai laborat untuk belajar sekaligus menemukan solusi terhadap persoalan social. Lembaga pendidikan cermin sebuah miniatur indah dalam menciptakan kohesifitas social yang kini mulai memudar.


L

a p o r a n

U

t a m a

Pena Kampus

Jejak Sejarah Kudus Potensi Pusat Penelitian Arkeologi Reporter: M. ��� Ulin ���������� Nuha

Selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga memiliki banyak peningalan Benda Cagar Bu­ daya (BCB). Pe­ninggalan-peninggalan ini, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwiasata (Disbudpar) Kudus, Hadi Sucipto, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

I

nventarisasi BCB pun terus dilakukan. “Hasil inventarisasi kemudian kami terbitkan dalam bentuk buku tentang cagar budaya Kudus pada 2008 lalu,” ujarnya melalui Sancaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah, Museum dan Purbakala (Kasi Ramuskala). Pani, panggilan akrab Sancaka Dwi Supani, menambahkan, Kudus memiliki potensi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan penelitian arkeologi. Sebab, kota di kaki Gunung Muria ini banyak terdapat benda sejarah dan kepurbakalaan. Data Disbudpar menyebutkan, sedikitnya terdapat sebanyak 185 objek BCB di wilayah Kabupaten Kudus. Dari hasil inventarisasi yang dilakukan pada 2005 dan 2008 diketahui, peninggalan tersebut terdiri dari BCB tak bergerak sebanyak 146 objek dan 39 objek BCB bergerak. “Setelah teridentifikasi semuanya, kami kemudian mengangkat juru pelihara, serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” tandasnya. Pani menambahkan, semua bukti peninggalan sejarah itu seolah mengajak kita untuk terus mau mempelajari peristiwa penting yang terjadi di Kudus pada masa lampau. Dari hasil kajian, lanjut dia, peninggalan sejarah ini di Kudus dapat dikategorikan ke dalam empat fase. Fase pertama yakni masa prasejarah. Fase ini, lanjut Pani, dibuktikan dengan ditemukannya berbagai fosil seperti gading gajah purba (stegodon), gigi geraham dan fragmen (bagian) tubuh manusia purba. Benda-benda purba itu banyak ditemukan di perbukitan Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo. Fase kedua, lanjut dia, yakni peninggalan pada masa sejarah klasik. Pada masa ini Agama Hindu dan Budha

IMAM/PEKA

KOKOH: salah satu gedung tua di kudus yang masih berdiri kokoh.

mulai masuk dan berkembang di tengah masyarakat. Diantara bukti-bukti perkembangan itu, kata Pani, ditemukannya candi kecil dari batu bata merah, di Desa Bacin, Kecamatan Bae, serta batu lumpang dan menhir disekitar Masjid Bubar

di Desa Tepasan, Kecamatan Kota. Sedangkan pada fase ketiga, menurut Pani, yakni semua pening­galan saat mulai masuknya pengaruh Agama Islam. Zaman ini juga kerap disebut zaman kasunanan, atau di Kudus disebut zaman [ Edisi XVI Maret 2011 ]




Pena Kampus

L

a p o r a n

U

t a m a

IMAM/PEKAFu

ASLI: Deretan bangunan tua yang masih terjaga bentuk aslinya Sunan Kudus. Di ���������������������������������������������� masa ini, Kabupaten Kudus mulai terbentuk, termasuk penyebutan nama Kudus itu sendiri. “Beberapa peninggalan pada masa itu diantaranya situs komplek Menara Kudus, Masjid Bubar, Gapura dan Masjid Loram Kulon, Kecamatan Jati, Gapura Masjid Jepang, Kecamatan Mejobo, dan Makam Sunan Muria,” bebernya. Dia menambahkan, fase terakhir berlangsung selama masa kolonial. Peninggalan pada masa ini menurut Pani, masih berdiri kokoh dan masih difungsikan menjadi kantor pemerintahan. “Contoh peninggalan masa kolonial itu diantaranya, rumah dinas dan Pendapa Kabupaten Kudus, gedung eks Kawedanan Kota, Cendono, dan Tenggeles, Istana Kembar Niti Semito, Waduk Wilalung Babalan, Gua Jepang, serta Masjid Agung Simpang Tujuh,” bebernya. Sayang, meski keberadaan BCB sudah dilindungi dengan UU No. 5 tahun 1992 dan PP No. 10 Tahun 1993, namun banyak BCB kondisinya memprihatinkan. Tak heran, sebab keberadaan undang-undang ini belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat. Di Masjid Bubar misalnya. Saat reporter Pena Kampus (Peka), mencoba menelusuri situs di Jalan Sunan Kudus, Dukuh Tepasan, Desa Demangan itu, kondisinya terlihat tak terawat. “Ini karena kesadaran masyarakat sekitar dalam melestraikan BCB masih rendah,” terangnya. Satu dari sekian BCB yang tetap terjaga kondisinya yakni kawasan Menara Kudus. Terjaganya kawasan ini, karena sudah

10

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

ada sebuah lembaga yayasan yang menaunginya. Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), yayasan yang menaungi kawasan Menara Kudus, Em. Najib Hassan menyebutkan, bentuk pelestarian tak hanya fisik kawasan masjid, menara, makam Sunan Kudus. “Ajaranajaran Sunan Kudus pun terus kami lestarikan dan ajarkan pada generasi muda saat ini,” ujarnya melalui Denny N��� ur Hakim, staf yayasan. Dia menambahkan, bentuk ajaran tersebut di antaranya sikap toleransi beragama, dengan tak menyembelih ternak sapi. Ini sebagai bentuk penghormatan bagi umat Hindu yang berada di sekitar kawasan Menara. “Bentuk toleransi itu tetap lestari hingga kini,” jelasnya. Beberapa tradisi seperti dandangan, pada awal Ramadhan dan ritual jamasan keris Cintaka, milik Sunan Kudus setiap akhir Muharram juga terus dilestarikan. “Kami juga bekerja sama dengan pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah untuk melestarikan kawasan situs Menara Kudus,” jelasnya. Bentuk kerjasama berupa pelestarian nilai kearifan lokal, pemeliharaan peninggalan purbakala yang ada kaitannya dengan Sunan Kudus. Selain itu, dalam pemeliharaan, pihaknya sering membersihkan bangunan dari lumut dan benalu tiap dua minggu sekali, tanpa merubah bentuk aslinya. “Kami mempunyai otonomi khusus untuk mengelola dan tidak tergantung dengan dinas,” tandasnya.


L

a p o r a n

U

t a m a

Pena Kampus

Jejak Historis Kota Tua Reporter: Dwi ��������������������������������� Purwanto dan Ulin N Masruchin

Dinding tinggi berlumut kecoklat­an menjadi sebuah pemanda­ngan. Lorong-lorong sempit me­ngi­tari rumah warga menyiratkan ra­patnya sebuah bangunan. Suasana se­pi menyeruak kala orang yang sedang me­ lewati kawasan ini. Jejak PEKA pun te­re­kam dalam catatan dan lanskap fotografi (10/10). Ketika PEKA melakukan pene­lu­suran di beberapa desa yang dianggap se­bagai Kota Tua di Kudus, Langgar Da­lem, Kauman, dan Kerjasan.

D

engan mengendarai kendaraan roda dua pengamatan kami lakukan. Dan beberapa kali masuk-keluar desa Langgardalem. Lebar jalan rata-rata 1,5 meter. Bahkan ada pula yang kurang dari 1 meter, hanya bisa dilewati pejalan kaki. Bangunan satu dan lainnya saling berhimpitan. Maklum, kepadatan penduduk 0.750 cm/warga. Di tepi jalan (sempit) itu, berdirilah sebuah rumah warga. Bangunan itu tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal para warga. Namun, simbol kultural dan legitimasi tingkat ekonomi masyarakat. Eksistensi rumah memiliki arti non fisik, ‘status social’, yakni citra kemapanan pemiliknya kala itu. Begitu tinggi tingkat ekonomi, dapat dipastikan rumah penghuni itu beratribut mewah. Biasanya, dipenuhi hiasan ukiran dan ornamen gebyok nan artistik. Di desa Langgardalem banyak terdapat bangunan rumah adat Kudus. Sebutan Omah pencu itu masih lestari. Walau konstruksi bangunan telah menua, namun ia tetap berdiri kokoh. Dinding yang berfungsi batas tanah itu menjulang tinggi bak benteng. Seniman kelahiran Langgardalem, Anief Farizi (50) mengungkapkan, secara arkeologis fungsi bangunan bak benteng itu, upaya proteksi diri dari marabahaya serta menghindari ancaman pada masa penjajahan. Benteng pula menunjukkan kelas social-ekonomi masyarakat yang mapan. Dalam tinjauan sosial-religius, masyarakat cenderung tidak melakukan aktifitas mengunjing atau ghibah. “Segi positifnya lebih istiqomah,” jelas Anief saat ditemui di rumahnya. Anief menambahkan, kebanyakan pembangunan rumah (Adat Kudus) kesan daya magis. Saat proses pembangunan biasanya sambil berpuasa (bertirakat), harapannya rumah tersebut nantinya akan terjaga dan aman. Bangunan itu hasil peninggalan dari nenek moyang diwarisi anak cucunya. Sementara itu, perangkat desa Langgardalem, Sugito (45) juga mengimbuhkan, orang-orang (tua) terdahulu lebih teliti bila membuat rumah. Kenapa bangunan adat Kudus selalu menghadap ke selatan. Filosofinya, “ketika (musim) kemarau matahari condong di sebelah utara, sedangkan musim penghujan matahari berada di sebelah selatan. Sehingga kala kemarau kondisi ruang tamu tidak terlalu panas, namun masih ada suplai sinar mahatari yang masuk,” terang Sugito.

Sumber: balai desa langgardalem

Hikayat Dukuh Ada delapan dukuh di desa Langgardalem ini. Dan masing-masing dukuh memiliki sebuah masjid. Seperti Langgardalem, Kalinyamatan, Puspitan, Balaitengahan, Nanggungan Lor, Nanggungan Kidul, Kaujon dan Jagalan. Setiap dukuh menyimpan hikayat dan filosofi sejarah sendiri. Ulama setempat KH. Khoiruzzad Tajussarof berkenan berbagi cerita kepada PEKA. Nama Langgardalem diambil dari kata “langgar” yang artinya tempat beribadah dan mengajarkan ilmu. Sedang kata “dalem” istilah keraton yang berarti rumah. Lokasi Masjid atau langgar yang berdekatan dengan rumah Sunan Kudus tersebut akhirnya dinamai Langgardalem. Pada [ Edisi XVI Maret 2011 ]

11


Pena Kampus

L

a p o r a n

U

t a m a

ULIN NUHA/PEKA

NGAJI: Kota Tua masih menjadi pusat kajian agama.

bagian depan masjid, ada prasasti yang bergambar seekor ular sedang melilit tombak. Hal ini mensiratkan tahun berapa masjid ini didirikan. Pada tempat wudlu juga terdapat empat pilar “soko” yang sampai sekarang masih berdiri tegak. Tak jauh dari lokasi masjid, ada sumur yang masyarakat menyebutnya sebagai Sumur Puter. Konon cerita atau mitos, sumur tersebut berpindah tempat, dari majapahit hingga ke Kudus dengan cara diputar. Segudang cerita tentang tempat ini teruraikan dalam aroma mistik. Bahkan, sumur ini pernah dijadikan tempat tontonan uji nyali, UkaUka program dari TPI. Namun, begitu kuatnya daya mistis dan banyaknya mahluk halus, pertunjukan uji nyali terpaksa diurungkan. Dukuh selanjutnya, Kalinyamatan, yang menghubungkan cerita Ratu Kalinyamat dari Kabupaten Jepara. Pada masa hidupnya, Ratu Kalinyamat sering melakukan silaturahim ke tempat Sunan Kudus. Sebelum menemuinya, Ratu Kalinyamat mandi dan bersolek (berdandan) terlebih dahulu di tempat ini. Di sana terdapat sendang “mbelik” yang kini diyakini sebagai bersuci sang Ratu. Kemudian sebelah utara Langgardalem bernama dukuh Puspitan. Kata Puspitan diambil dari kata “puspo” yang artinya bunga. Pada masa Sunan Kudus tempat ini sebuah pertamanan. Sementara itu, Balaitengahan menurut cerita tempat dimana musyawarah digelar. Dukuh Jagalan, dahulu dikenal sebagai tempat jagal atau tempat penyembelihan hewan. Sehingga dikenal dengan nama Jagalan. Sementara tiga dukuh Nang-

12

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

gungan Lor, Nanggungan Kidul dan Kaujon dari beberapa narasumber belum bisa bercerita asal usulnya. Sementara itu, desa Kauman yang tergolong desa terkecil seKudus. Disinilah, terdapat Menara Kudus yang menjadi simbol siarnya agama Islam. Di sebelah barat, makam Sunan Kudus santri dan keluarganya. Menara yang menjadi landmark Kudus ini diakui keunikannya. Bangunan hasil akulturasi Islam, Hindu dan Jawa sangat kental pada bangunan yang satu ini. Menurut penuturan Kepala Desa Kauman, Wafiqul Hidayat (41), nama Kauman diambil dari bahasa arab “qoum” yang artinya masyarakat. Desa ini dikenal dengan kaum santri. Disini terbilang cukup unik. Ada beberapa adat istiadat yang sampai sekarang masih berlaku dan diyakini masyarakat. Diantaranya adalah tak boleh mendirikan rumah bertingkat dan tidur di atas tempat tidur (ranjang/dipan). Karena sebagai rasa penghormatan kepada Sunan kudus. Desa Kauman yang menjadi cikal bakal Kota Kudus hanya dihuni 417 penduduk dengan 1 Rt dan 3 Rw. Warga Kauman lebih suka berwirausaha seperti berdagang, bordir dan konveksi. Itu terbukti dari 417 penduduk, hanya 10-11 orang yang menjadi PNS (guru),” ujarnya. Desa Kerjasan juga sama. Dahulu dijadikan tempat berkumpulnya orang yang rajin bekerja. Saking rajinnya, para pekerja saat itu merasa nyaman. Kenyamanan ini dalam bahasa Jawa kerasan. Sehingga kerjasan tercipta dari “pekerja yang kerasan”. Sehingga disebut kerjasan.


L

a p o r a n

U

t a m a

Pena Kampus

Gus Ji Gang Reporter: Imam Khanafi

G

US Ji Gang. Bu kan nama se­orang Chi­na, at au anak kyai (Gus). Tiga kata tersebut merupakan akronim dari bagus (gus), ngaji (ji) dan dagang (gang), salah satu ajaran Sunan Kudus yang masih lestari hingga kini. Gus berarti bagus atau terpuji tingkah laku atau budi pekerti. Ji diartikan pintar ngaji (ilmu agama), sedangkan Gang dimaksudkan pintar di bidang perdagangan (mata pencaharian). Laku Gus, ji, gang, menurut Sancaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah, Museum dan Purbakala (Kasi Ramuskala), merupakan bukti sejarah dan pengaruh Islam yang diajarkan Wali Songo secara kultural. Ajaran inilah yang kemudian mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat di Kudus.

Jauh sebelum Sunan Kudus hadir, Kota Kudus dikenal dengan sebutan Tajuk. Mengutip sebuah catatan sejarah, Supani menyebut jika Tajuk merupakan nama sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kerajaan Demak. Selanjutnya, oleh Ja’far Shodiq, nama asli Sunan Kudus, Tajuk kemudian diganti menjadi Kudus (Al Quds), yangberarti Kota Suci. Supani menggambarkan pusat pemerintahan Kudus pada masa Kerajaan Demak, sekitar abad 16, berada di areal yang saat ini berkembang menjadi Menara Kudus Disebutkan, keberadaan alun-alun Kudus tidak berada seperti sekarang, me­lainkan di dekat Menara Kudus, yang se­karang digunakan sebagai pangkalan ojek wisata Menara Kudus.

Perkiraan ini dikuatkan dengan keberadaan Pohon Be­ringin di areal yang saat ini dijadikan se­bagai pangkalan ojek wisata. “Daerah ter­sebut dulunya juga berfungsi sebagai pa­sar. Buktibukti inilah yang mencerminkan jika kawasan Menara Kudus dulunya adalah pusat pemerintahan,” jelasnya. Gambaran Kudus masa lalu bisa terlihat dengan ditemukannya beberapa temuan kebudayaan yang ada di sekitar kawasan Menara. Pani menuturkan, bukti-bukti tersebut dengan adanya Masjid Langgar Dalem di sebelah utara Menara Kudus, Masjid Bubar di sebelah selatan Menara, serta Klenteng di sebelah timur Menara. “Melihat itu semua, Kudus sangat berpotensi menjadi pusat penelitian arkeologi,” tungkasnya.

ULIN NUHA/PEKA

BERDAGANG: Sejumlah kawasan dekat menara menjadi kawasan perdagangan. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

13


L

Pena Kampus

a p o r a n

U

t a m a

Rumah Adat Kudus; Perpaduan Tiga Arsitektur Dunia Reporter: Much Harun

R

umah adat dalam bahasa Frick, penulis buku arsitektur dan lingkungan mengartikan rumah adat sebgai arsitektur yang diciptakan atau dilakukan dengan cara senantiasa sama sejak beberapa generasi. Rumah adat kudus dikenal dengan keunikan ornamen (ukiran) yang menghiasi diseluruh bagiannya. Dinding, tiang dan langit-langit semua terbuat dari kayu (jati) dengan ukiran yang cukup rumit. “Rumah adat kudus memberikan kita gambaran tentang keahlian para pemahat ukiran tembus yang dilakukan pada masa itu,” ujar Slamet Muljono, peneliti Rumah Adat Kudus. Menurut Mamik, sapaan akrab Slamet Muljono, terdapat tiga gaya ornamen (ukiran) yang menjadi satu di dalam Rumah Adat Kudus, gaya Eropa dengan motif mahkota (crown), Gaya Cina dengan motif naga serta bentuk detail yang begitu rumit dan gaya persia (Islam) dengan motif bunga). “Rumah adat Kudus terpengaruh oleh perkembangan Hindu, Islam dan barat yang menjadikan ukirannya menjadi percampuran antara tiga gaya tersebut”tambah Mamik. Dalam penelitian Mamik, Islam menjadi gaya ukiran terbanyak yang menghiasi rumah adat kudus. Ini terbukti dengan adanya sumur di depan rumah. “Ketika kita masuk ke rumah adat akan menemukan sumur. Dalam Islam sumur menunjakan te,pay sesuci,” terangnya. Di dalam Rumah Adat Kudus terdapat empat ruang yakni

jogo satru (ruang tamu), senthong (ruang tengah), gedongan (ruang belakang) dan pawon (dapur). Dan di dinding rumah adat kudus terdapat motif melati yang tumbuh di pot atau meja persembah sebagai ukiran yang dibingkai dengan motif menyerupai kubah (Persia). Menurut Mamik, melati itu putih bersih melambangkan kesucian berfikir dan Islam menganjurkan kita untuk tetap untuk berpikiran pisitif. Serta dalam ukiran tersebut, melati tidak tumbuh kesamping kanan kiri seperti dalam ukiran Hindu melainkan tumbuh ke atas yang menunjukkan bahwa harus tetap ingat pada Tuhan YME. Tidak hanya itu, bingkai yang menyerupai kubah menunjukkan bahwa masjid menjadi tempat terpenting untuk menjalankan kegiatan kepada Tuhan YME. Di saka (tiang) rumah adat kudus juga tidak kalah dengan dinding. Terdapat ukiran alif lam mim yang menjulur dari atas ke bawah, sehingga saka ini menjadi lebih memiliki seni. Diatas alif lam mim masih ada ukiran lambang yang menyerupai jari-jari tangan manusia dengan posisi seperti saat takbiratul ihram. Setelah Islam, Hindu menjadi porsi kedua gaya ukiran rumah adat Kudus seperti motif hewan seperti Burung, Ular Naga dan Gajah. Burung dalam tataran Hindu diartikan sebagai lambang roh nenek moyang yang sedang melayang naik ke surga. Sering kali hanya sayap burung yang menjadi motif di rumah adat yang melambangkan kendaraan pengantar menuju alam nirwana (keselamatan). Burung merak (phonix) melambangkan kemewahan si pemilik rumah. Ular naga diartikan sebagai dunia bawah atau gelap. Kedudukan ular sama dengan kedudukan bumi yang berartikan kesuburan. Gajah diartikan sebagai kala yang melambangkan penolak bala. Sedangkan motif Eropa hanya motif kerangkerangan yang ditemukan. Namun pembagian ruang yang disesuaikan dengan strata sosial mencerminkan pembagian dalam masa kolonial (Baca; Eropa). Ornamen ini mennjukkan keberadaan Rumah Adat Kudus sebagai Rumah Adat berkembang sejalan dengan berkembangnya fase Hindu-Budha, masuknya Islam dan datanngya masa kolonial. “Kalau sudah masuk pada tataran Rumah Adat Kudus kita tidak bisa penyebut Majapahit (Baca; Hindu), Islam dan Eropa. Karena Rumah Adat Kudus adalah gabungan IMAM/PEKA dari mereka, dan ini lagi-lagi soal kecerdasan dari BERSENI TINGGI: Arsitek Rumah Adat Kudus berseni tinggi. arsitek masa itu”terang Mamik.

14

[ Edisi XVI Maret 2011 ]


L

a p o r a n

U

t a m a

Pena Kampus

Masjid Langgar Dalem Juga Penuh Sejarah

K

Reporter: Taufiqorrohman

udus merupakan kota yang memiliki banyak benda peninggalan sejarah. Yang paling banyak adalah berupa bangunan seperti menara, dan tempat ibadah. Salah satu tempat yang menjadi pusat keberadaan benda peninggalan sejarah berada di kota tua yaitu daerah sekitar menara Kudus. Salah satunya, Masjid Langgar dalem. Masjid ini terletak di Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, tepatnya 300 meter di sebelah timur Menara Kudus. Masjid ini merupakan masjid peninggalan Sunan Kudus. Sampai saat ini masjid tersebut masih berfungsi dan berdiri kokoh. Meski tampak sederhana, namun bangunannya memiliki ciri khas tersendiri. Kendati peninggalan Sunan Kudus, ternyata hingga kini masyarakat tak tahu nama asli dari masjid ini. “Sejak dulu tidak ada yang tahu namanya dan tidak ada yang memberi nama,” kata imam masjid KH. Khoirut Tajussyarof . Diamenambahkan, masjid ini terkenal dengan nama masjid mbah Tur. Nama itu diambil lantaran dulunya KH Turaichan yang akrab dipanggil Mbah Tur merupakan orang yang mengelola sekaligus merawatnya. Selain nama tersebut, Masjid tua itu sering disebut dengan nama Masjid Langgar Dalem sebab letaknya berada di Desa Langgar Dalem. Sedangkan luas bangunan aslinya sebesar 10 meter persegi, tapi di bagian luar masjid terdapat bangunan tambahan berupa teras seluas 3 meter atau dalam bahasa jawa disebut pawastren. Pawastren dibangun sekitar 1970-an saat perluasan masjid dilakukan. “Bangunan utama masjid Langgar Dalem belum pernah direnovasi, pembangunan 1970an hanya menanambah pawastren,” tutur lelaki yang akrab disapa dengan nama Yi Zad. Seperti masjid pada umumnya, masjid Langgar Dalem memiliki 3 bagian, 1 kaki, 2 badan, dan 3 puncak bangunan. Di bagian kaki, lantai masjid berasal dari jubin atau sejenis keramik asli buatan orang kudus yang berwarna kuning. Hingga saat ini jubin tersebut belum pernah diganti. Sedangkan bagian badan berupa tembok yang sampai saat ini belum pernah dipugar. Di bagian puncak bangunan terdapat sebuah mustaka yang terlihat berbentuk seperti mahkota raja. Kekhasan masjid ini berada di bangunan kulah atau tempat wudhu yang terletak disamping masjid. Bangunan ini memilki empat buah tiang yang berada didalam dua lingkaran bak besar. Bangunan kulah masih berbentuk asli hanya saja pada saat pemugaran ditambahi keramik.selain itu, tiang yang berada didalam bak dipermanen tanpa mengubah letak. Didalam bak tempat wudhu terdapat batu bulat yang berwarna putih. Batu ini ditemukan saat proses renovasi berlangsung. Meski demikian batu ini tetap berada ditempat aslinya tanpa ada perubahan sedikit pun.

ULIN NUHA/PEKA

BERSEJARAH: Masjid peninggalan Sunan Kudus yang jarang diketahui masyarakat umum.

Berdasarkan cerita Yi Zad, pada saat renovasi ada orang yang berinisiatif mengambil batu itu. Setelah batu diambil, orang tersebut tiba – tiba menjadi gila. Anehnya setelah batu itu dikembalikan ke tempat asalnya orang tersebut kembali normal. Ciri khas lainya berada di puncak bangunan kulah. Dua buah mustaka berada di puncak bangunan. Pada umumnya mustaka terletak diatas bagian tengah bangunan utama masjid. Bentuk mustaka tersebut sama persis dengan yang berada di puncak bagian tengah bangunan masjid. Selain itu, di pintu masjid terdapat prasasti, prasasti berbentuk batu putih dan terukir tulisan seperti simbol. Masjid Langgar Dalem yang sudah ada sejak masa Sunan Kudus ini belum diketahui usia pastinya. Pada masa Sunan Kudus masjid ini berfungsi sebagai tempat mengaji dan mengajar. Bahkan masjid ini juga memiliki hubungan dengan masjid Maduraksan yang pada masa Sunan Kudus berfungsi sebagai tempat perumusan masalah. Melihat sejarah masjid itu, 2000 lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menjadikan Masjid Langgar Dalem sebagai cagar budaya yang dilindungi. Hal itu dikukuhkan dengan dipasangnya pengumuman dihalaman masjid. ’’Papan pengumuman itu menunjukkan sebagai benda cagar budaya yang tak boleh dirusak,” terangnya. Sampai saat ini masjid Langgar Dalem juga masih difungsikan masyarakat sebagai tempat beribadah. Pengajian rutinan digelar dua kali seminggu pada malam ahad dan malam rabu setelah sholat maghrib. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

15


L

Pena Kampus

a p o r a n

U

t a m a

Bordir Icik, Tersisih di Rumah Sendiri Reporter : Ulin Noor Fi’ianah dan Lina Budianti

J

ika mendengar nama Kabupaten Kudus, yang terlintas dibenak mungkin hanya Rokok Kretek, Menara Kudus, atau Soto Kudus. Tak banyak yang tahu memang, selain tiga ciri warisan budaya tersebut, sebenarnya Kabupaten dengan luas wilayah terkecil di Jawa Tengah ini juga mempunyai warisan budaya di dunia fashion. Salah satunya bordir khas Kudus, Bordir Icik.

Kholidin/Peka

PROSES: Pembuatan bordir icik masih menggunakan mesin manual.

Redaksi Peka berhasil menemui salah seorang pengusaha bordir yang cukup dikenal di Kudus. Adalah Syahreza Badarul, owner Citra Istana Bordir tetap eksis mengembangkan usaha bordir Icik hingga sekarang. Pria yang lebih akrab disapa Reza ini, memang sudah cukup lama menggeluti usaha bordir. Bermula dari usaha yang telah dirintis oleh orangtuanya, lalu

16

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

beralih ke tangannya pada sekitar tahun 2000 hingga sekarang. ”Usaha bordir tersebut, dirintis orang tua saya dulu,” ujarnya. Usaha bordir icik tersebut merupakan usaha turun temurun yang dia warisi dari orang tuanya, Iskandar Rusdi. Orang tua Reza merintis usaha bordir icik tersebut dimulai sejak sekitar 1988 silam. ”Kata ‘Icik’ diambil untuk sebutan bordir ini, karena suara mesin untuk membuat bordir tersebut yang berbunyi icik... icik... icik... yang dikerjakan tanpa mesin komputer (manual, Red). Seperti halnya Rokok Kretek yang diambil dari suara ketika dihisap kretek… kretek... kretek...,” ungkapnya. Ditanya mengenai bordir Icik, lelaki berusia 32 tahun ini mengaku lebih menyukai Bordir Icik dibanding jenis bordir yang lainnya. Hal tersebut, menurutnya Bordir Icik detailnya lebih jelas serta lebih bernilai seni. ”Bordir Icik dibuat langsung dengan tangan, sehingga detail motif terlihat lebih bagus,” terang pria bertubuh sintal ini. Ditelisik lebih jauh tentang perbedaan Bordir Icik dengan jenis bordir lainnya, ia mengaku sulit bagi orang awam untuk membedakannya. Bordir lain yang diproduksi dengan mesin atau bahkan bordir dengan komputer juga dapat membuat motif yang sama dengan Bordir Icik. Menurutnya, yang membedakan hanyalah detail motif yang terlihat lebih jelas, lembut dan bertekstur jika dibuat dengan cara Icik.”Bordir Icik teksturnya lebih nyata, karena pembuatannya harus hati-hati dan teliti,” terangnya. Motif yang dihasilkan yakni motif bernuansa alam, seperti bunga, dedaunan, pepohonan, dan satwa. Saat ini, motif bordir yang paling digemari yakni motif bunga. Meski motif bunga sudah ada sejak dulu, tetapi kombinasi warna


L

a p o r a n

U

t a m a

Pena Kampus

Kholidin/Peka

ICIK: Syahreza Badarul menjukkan hasil pembuatan bodir icik.

dan motif lain tetap menjadikan motif ini banyak diminati. Tak hanya sekadar memproduksi Bordir Icik saja, Reza juga mengembangakan berbagai macam model baju yang dipadukan dengan Bordir khas Kudus ini. Seperti baju koko, baju enim, bahkan kebaya untuk remaja juga sudah mulai diproduksi. ”Ini salah satu jalan agar bordir lebih disukai dan tidak hanya identik dengan kebaya untuk kaum ibu. Selain itu, tentunya untuk membuat bordir lebih dikenal dan lebih digemari,” tuturnya. Pembuatan Bordir Icik sendiri, menurutnya, memakan waktu cukup lama. Jika bordir ������������������������� menggunakan mesin (Juki, Red), dalam satu minggu dapat menghasilkan tiga sampai empat baju. Sedangkan dengan cara Icik, satu baju dapat memakan waktu hingga satu atau dua minggu. Lama pembuatan, tergantung pada besar serta bentuk motif yang dibuat. ”Semakin rumit motif yang dibuat,

maka memakan waktu yang lebih lama,” tutur alumni Progdi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia ini. Dikatakan, hal ini yang menyebabkan harga Bordir Icik cenderung lebih mahal dibanding jenis bordir lain. Harga satu kebaya Bordir Icik berkisar Rp 400 ribu, hingga Rp 1 juta. Sedangkan kebaya dengan bordir mesin, harganya hanya antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. ”Saya kurang setuju kalau Bordir Icik dibilang mahal. Karena harga tersebut memang sebanding dengan keindahan dan lamanya proses pembuatannya,” tegasnya. Disinggung peminat Bordir produksinya ini, dia menjelaskan, penjualan Bordir Icik di Kudus kurang mendapatkan respon positif. Masyarakat Kudus kurang menghargai Bordir Icik sebagai sebuah karya seni. Mereka lebih memilih bordir mesin yang harganya lebih rendah, meski hasilnya tidak begitu bagus. Hal ini juga diperparah dengan begitu

banyaknya penghasil bordir mesin di Kudus. ”Ini tentunya menyebabkan harga bordir bersaing ketat dan Bordir Icik semakin tersingkir karena harganya cukup tinggi,” keluhnya. Karena itulah, selama ini usaha yang dikembangnya mengambil pasar di luar kota. Yogyakarta (DIY) merupakan daerah yang sering memesan bordir hand made ini. ”Bordir Icik cukup digemari di sana (DIY, Red). Sehingga pasar potensial kita selama ini memang di daerah tersebut,” ungkap pria kelahiran Kudus, 7 Februari 1978 ini. Baginya, untuk menggiatkan kembali kegemaran masyarakat Kudus terhadap Boridir Icik, perlu adanya peran pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan dengan mengadakan pameran, bantuan modal, atau dengan membentuk komunitas khusus untuk para pembuat bordir. ”Tanpa adanya dukungan dan bantuan dari pemerintah, semuanya tidak berarti apa-apa,” tuturnya dengan penuh keyakinan. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

17


O

Pena Kampus

pi n i

Muria-Kudus, Tiruan dari Jerussalem

N

Oleh: Edy Supratno

ama Kudus dan Muria sudah Saat itu, dia tidak dalam posisi menuntut sangat tidak asing bagi publik. ilmu, melainkan sedang perjalanan haji. Di Kudus dikenal sebagai nama unsaat tokoh lain angkat tangan, dia tampil tuk sebuah kabupaten, sedangkan Muria gemilang dalam mengatasi penyakit tersenama sebuah gunung. Kedua nama itu but. Atas jasa itu, Jakfar tak menghendaki kian populer ketika dikaitkan dengan wali hadiah apapun kecuali batu yang diambil (penyebar agama Islam zaman Kerajaan dari Baitul Makdis. Batu inilah yang keDemak). Dua nama yang sama-sama dimudian dibawa ke kampung halaman dan ambil dari Jerussalem. ditaruh di atas Masjid Al-Aqsha. (Solichin Jika sedang browsing internet, sambil Salam: 1994). Dari kata makdis yang beiseng cobalah cari peta Kudus, lalu lihat rada di Al Quds (Jerussalem), kemudian hasilnya. Mesin pencari (search engine) menjadi Kudus. selalu akan menampilkan peta Kota Namun, Kedutaan Besar Turki di Indonesia AGUS Yerussalem pada urutan atas. Sebuah menjelaskan, baitul makdis yang diceritakan kota di Timur Tengah yang menjadi dalam kisah Jakfar bukan yang ada di JerussaEDI SUPRATNO tempat suci bagi tiga agama, yakni Islam, lem, melainkan yang ada di Aceh. Ketika itu, Kristen, dan Yahudi. Hal ini yang memdi Bumi Serambi Mekah tersebut telah berdiri bedakan jika misalnya kita mencari peta sebuah akademi militer bernama Baitul MakKabupaten Demak, Ponorogo, atau daerah lainnya. dis. Banyak tokoh-tokoh pejuang kerajaan lain yang belajar di Beberapa penulis memang telah menjelaskan bahwa nama akademi ini. Adapun pelatihnya dari Turki. Kudus terkait erat dengan Jerussalem yang ada di Timur Tengah. Mengingat posisi Jakfar sebagai panglima perang Kerajaan Hal ini diawali dari cerita Jakfar Shodiq yang menjadi tokoh pen­ Demak, cerita ini relatif relevan. Apalagi, ketika itu antara ting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kudus. Kerajaan Demak dan Aceh melakukan kerja sama militer Memang ceritanya tidak satu versi. Baik dari setting ceritanya dalam mengusir bangsa Portugis. Jadi, sangat mungkin jika maupun roh cerita itu sendiri. Hal ini tak beda dengan banyak Jakfar bersinggungan dengan Akademi Militer Baitul Makdis cerita lain di dunia ini, satu peristiwa memiliki sejumlah jalan tersebut. Di kemudian hari, selain sebagai penyebar agama cerita yang berbeda. Jangankan di era budaya lisan, di masa Islam, Jakfar pun dikenal juga sebagai politikus. tulisan sudah menjadi budaya pun hal itu masih terjadi. Walau ada perbedaan jalan dan tempat cerita, namun, kata Diceritakan, Jakfar Shodiq yang kemudian terkenal sebagai baitul makdis itu arahnya berujung pada masjid yang ada di Sunan Kudus ketika itu sedang menuntut ilmu di Mesir. Meski Jerussalem. Kini, nama Kudus telah dipakai secara resmi cerdas, putra Sunan Ngudung itu tampil biasa saja, bahkan selama ratusan tahun. Setelah melibatkan peneliti sejarah terkesan low profile. Hal ini membuat gurunya memberi dari Universitas Gajah Mada (UGM), 1 Ramadan 956 H atau perhatian yang lebih. Ternyata, sikap sang guru membuat iri 1549 M ditetapkan sebagai hari kelahiran Kudus. Nama ini murid lainnya. Jakfar pun dijauhi temannya. Terlebih ketika lebih populer dibandingkan Tajuk, sebuah nama yang ada dia menderita penyakit kulit (korengan, kurap, dll). lebih dulu. Tidak jauh dari Tajuk juga terdapat desa tua yang Suatu ketika, tanah Mesir mengalami gunjang ganjing. dinamai Sucen yang berpengertian suci. Sekali waktu tanahnya miring ke kiri, sekali ke kanan. Tak Kota Kudus terus mengalami perkembangan. Baik dari banyak orang yang tahu, peristiwa itu terjadi karena ’ulah’ bidang sosial, budaya, maupun perekonomian. Hubungan Jakfar yang sedang bertapa. Bumi Mesir bergerak ketika dia antarpemeluk agama dan etnis secara umum baik, walaupun memainkan pecinya. Jika pecinya dimiringkan ke kiri, tanah beberapa waktu terjadi dinamika bahkan kerusuhan massal. Mesir juga mengikutinya. Hal ini membuat publik geger. Pesatnya pertumbuhan kota dapat disaksikan hingga kini Singkat cerita, Jakfar dimintai bantuan penguasa setempat melalui berbagai bangunan maupun budayanya. dan dia menurutinya. Tentu ini pekerjaan mudah baginya. Cukup dia luruskan pecinya, situasi kembali normal. Atas Muria jasa ini, Jakfar ditawari berbagai kesenangan, tapi dia tolak. Keberadaan gunung atau pegunungan menjadikan sebuah wilayah Dia hanya minta agar diberi izin menggunakan nama Kudus menjadi pemandangan menjadi sejuk. Hal ini sekaligus menjadi sebagai nama di negerinya. (Amen Budiman:1993). berbagai sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Misalnya Cerita lain menyebutkan, ketika itu memang penyakit kulit adanya hutan yang rindang, tidak saja menjadikan pemandangan sedang mewabah. Justru Jakfar yang berjasa atas musibah itu. yang elok, tapi banyak manfaat lain yang bisa diperoleh.

18

[ Edisi XVI Maret 2011 ]


O

pi n i

Seperti nama beberapa desa di Kudus yang terkait erat dengan Jakfar Shodiq, nama Gunung Muria juga begitu. Salah satu sumber mengatakan, nama ini pemberian Sunan Kudus yang lagi-lagi mengarah pada satu tempat di Jerussalem. Yakni Gunung Moriah (Amen B). Walau begitu ada yang menyebut nama Muria dari Murio, sebuah kerajaan kuno di India. Bagi orang Yahudi, Gunung Moriah (Mount Moriah) adalah tempat yang paling suci. Tempat yang kemudian dikenal dengan Temple Mount (Kuil Gunung) diklaim berada di bawah bangunan milik muslim, the Dome Of The Rock atau Kubbah As-Sakhra. Menurut kepercayaan Kabbalah, suatu tradisi mistis yahudi, batu dari Gunung Moriah yang dikenal sebagai “Even Shitiyah� the Drinking Stone adalah pusat dari alam semesta (http://harmonicagie.wordpress.com). Sebelumnya, gunung yang tingginya mencapai 1602 dari permukaan laut ini memiliki banyak sebutan. Ada yang menyebut Pau-lau-an, ada yang menyebut juga Wlahulu. Sebelum abad ke-9, gunung ini dikeliling laut. Kini semua literatur menyebut gunung yang juga masuk wilayah Pati dan Jepara tersebut sebagai Gunung Muria. Selain hal-hal yang terkait dengan Sunan Kudus dan Sunan Muria, masih banyak hal yang berhubungan Kudus sebagai kota tua. Hal ini tidak lain dari aktivitas masyarakat ketika itu yang terkait dengan kerajaan-kerajaan kuno. Harus diakui, sedikit sekali orang yang tahu jika wilayah Kudus terkait kerajaan sebelum Demak. Namun, sayangnya penelitian tentang hal itu tidak banyak dilakukan. Kecuali jika memang

Pena Kampus ditemukan benda-benda kuno secara tidak sengaja barulah dilakukan riset sederhana. Universitas Muria Kudus Kebesaran nama Sunan Kudus dan Sunan Muria menjadi sebuah inspirasi bagi penggagas berdirinya Universitas Muria Kudus (UMK). Dari nama itu diharapkan, semangat besar yang dibawa kedua tokoh tersebut bisa menular di perguruan tinggi ini. Untuk menjadi UMK seperti sekarang ini butuh proses yang panjang dan berliku. Diawali dari pendirian Akademi Pimpinan Perusahan (APP) pada 1963. Cita-cita untuk mewujudkan sebuah perguruan tinggi di Kota Kretek ini tidak mulus karena izin dari pihak terkait tak kunjung datang. Kemudian didirikan Fakultas Ekonomi Undip Cabang Kudus (1966); dan Sekolah Tinggi Ekonomi Kudus (1967). Waktu terus berganti, pejabatnya juga demikian, situasi politik juga ikut berperan. Barulah pada 1980 gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi di eks keresidenan Pati ini tidak sekadar angan-angan. Perguruan tinggi itu resmi bernama Universitas Muria Kudus (Beta: Edisi Februari 2010). Menilik sejarah nama-nama di bagian atas, terlihat bahwa nama Kudus dan Muria bersumber dari Timur Tengah. Nah, perguruan tinggi yang berada di Gondang Manis ini mengambil dua nama dari Jerussalem itu sekaligus. Tua-tua buah talas, (semoga) semakin tua semakin berkualitas. Edy Supratno, peminat bidang sejarah

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

19


Pena Kampus

L

a p o r a n

K

h u s u s

Perlu Perjuangan Keras Reporter : Much Harun

P

ada 2000 lalu, melalui surat keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) nomor 232/U/2000 disusul dengan SK yang kedua nomor 045/U/2002, menuntut perguruan tinggi (PT) harus berbenah. Terutama pada sistem pendidikan, dari semula memakai kurikulum 1994, beralih ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tak terkecuali bagi Universitas Muria Kudus (UMK). Perguruan tinggi terbesar di Pantura timur ini, juga musti melakukan penyesuaian dalam sistem pendidikannya. Menurut Ketua Lembaga Pendidikan (Lemdik) UMK Sri Murinie, menyikapi SK tersebut, UMK berusaha untuk menerapkan KBK di seluruh program studi (progdi) yang ada. Selain itu, pemerintah juga me­ nyesuaikan keputusan kurikulum yang disarankan oleh The International Bureau of Education UNESCO atau yang dikenal The International Comission on Education for the 21 st Century. UNESCO membuat empat pilar dalam pendidikan. Yakni learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. ”�������������������� Inti dari perubahan ini adalah kurikulum yang menitik beratkan pada pencapaian kompetensi lulusan,” jelas Rini. Rini menambahkan, perubahan sistem lama mempunyai dua alasan pokok. Pertama, faktor internal UMK yang berkeinginan untuk menyesuaikan dan mengembangkan kurikulum. Kedua, faktor eksternal, dengan melihat kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dan kecenderungan masa depan yang terus berubah. Terdapat perbedaan mendasar dalam kurikulum 1994 dan KBK. Pada kurikulum 1994, lulusan ditarget menguasai kemampuan minimal dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai sasaran kurikulum program studi dengan penilaian oleh PT sendiri.

20

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

kholidin/peka

PEMBELAJARAN: Proses pembelajaran KBK di Kelas.

Sedangkan pada KBK, lulusan yang di harapkan meliputi kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas, penuh tanggung jawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. Dan masyarakat sebagai penilai lulusan.

Terdapat penilaian yang berbeda antara sistem KBK dengan sistem 1994. Dalam KBK tidak ada lagi ujian tengah semester ataupun ujian semester. Namun diganti dengan beberapa tugas disetiap pertemuan. Penilaiannya menggunakan tiga komponen sebagai acuan. Meliputi, ranah kognitif (berfikir), ranah


L

a p o r a n

K

psikomotor (berbuat) dan ranah afektif (bersikap/bernilai). Kognitif berarti penilaian berorientasi pada kemampuan berpikir intelektual, mulai yang paling sederhana hingga kompleks��. Psikomotor�, penilaian berorientasi pada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota badan serta memerlukan koordinasi syaraf dan otot������������� . Sedangkan, afektif merupakan penilaian dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap�. Pelakasaaan kurikulum KBK ini bertolak dari Teori Blom. Teori tersebut, ranah kognitif akan mengarah pada create (mencipta/mendesain). Namun, sebelum sampai pada create, mahasiswa harus melalui remember (mengingat/ menyebutkan), understand (menjelaskan/menerangkan/merangkum), apply (menghitung/menggunakan) analyze (memilah/mengurai) dan evaluate (mereview/mengevaluasi). Selain teori Blom, teori Harrow tentang perkembangan sikap juga mendukung keberadaan KBK. Ranah Psikomotor dalam teori Harrow akan sampai pada naturalization (spontan) dengan melaui imitation (meniru dengan contoh), manipulation (meniru tanpa contoh), precision (lancar dan tepat) dan articulation (akurat dan cepat). Sedangkan pada ranah afektif, mahasiswa harus melalui receiving, (menerima), responding (menanggapi), valuing (menghargai), organization (mengatur diri), sehingga sampai pada pembentukan characterization (menjadikan pola hidup). Terdapat tiga kompetensi dasar yang ada di KBK. Pertama, kompetensi utama untuk mampu unjuk kerja yang memuaskan sesuai dengan program studi. Kedua, kompetensi pendukung

h u s u s kemampuan, sehingga mendukung kompetensi utama atau ciri khas PT yang bersangkutan. Ketiga, kompetensi lain yang ditambahkan, dapat membantu meningkatkan kualitas hidup, serta ditetapkan berdasarkan keadaan dan kebutuhan lingkungan PT. Dalam kurukulum ini, mahasiswa tidak lagi menggunakan TCL (Teacher Centered Learning) atau pembelajaran berpusat pada dosen. Namun, berganti SCL (Student Centered Learning) atau pembelajaran berpusat pada mahasiswa. ”Mahasiswa tidak lagi hanya mendengarkan dan mengikuti semua yang diajarkan guru, namun dengan SCL mahasiswa bisa lebih tahu dari pada dosen” terang Rini. Kurikulum ini, lanjut Rini, menuntut mahasiswa lebih aktif, seperti mencari literatur sendiri yang mungkin dosen belum tahu. ”Melalui perubahan metode pembelajaran ini, diharapkan muncul pandangan baru tentang beberapa pengertian dalam pendidikan,” imbuhnya. Dia menambahkan, dulu Pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sudah jadi, yang tinggal dipindahkan (ditransfer) dari dosen ke mahasiswa. Namun, sekarang berubah menjadi hasil konstruksi (bentukan) atau hasil transformasi seseorang yang belajar. Begitu juga dengan makna belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuan aktif dan spesifik. Sehingga, tidak lagi hanya menerima pengetahuan (pasif-reseptif ). Terpisah, menurut Pembantu Dekan (PD) I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Rismiyanto, dalam penerapan KBK di UMK dijumpai berbagai kendala. Sebut saja progdi Bahada Inggris (BI), meski pihak universitas telah mendatangkan pakar KBK dari Univer-

Pena Kampus sitas Gajah Mada (UGM), namun belum ada contoh untuk studi banding program ini. ”Ini karena di Indonesia progdi BI yang telah menggunakan KBK hanya BI UMK. Jadi kemungkinan Progdi BI UMK berpeluang menjadi percontohan penerapan KBK,” selorohnya. Pada 2010, semua progdi di UMK seharusnya telah menggunakan KBK. Namun kenyataanya, ada beberapa progdi yang belum siap atau hanya sekadar KBK sebisanya. ”Dari tiga progdi di FKIP, hanya BI yang sudah siap dan menjalankannya,” teramhmya. Hal senada dikatakan PD I Fakultas Teknik (FT) Rudi, KBK adalah kurikulum yang sulit. Terlebih dengan fasilitas yang minim yang dimiliki FT. ”Di SI (Sistem Informasi, Red) dan TI (Teknik Informatika, Red), keberadaan laboraturium komputer tidak mendukung untuk melaksanakan SCL. Padahal di FT banyak hal yang harus praktek,” ungkapnya. Hal tersebut juga diamini PD I Fakultas Ekonomi (FE), KBK itu bagus namun kadang aplikasinya terkadang masih sama dengan kurikulum lama. ”Hanya berbeda kemasannya saja,” katanya. Menurutnya, dalam sistem KBK, mahasiswa ketika diberi tugas harus selesai tepat waktu. Namun, jika ada yang belum bisa, dosen harus melatih sampai bisa. Sehingga, nantinya tidak ada mahasiswa tidak lulus (nilai D atau E) karena mereka dituntut untuk bisa. ”Untuk itu, KBK lebih mudah diterapkan di kelas kecil, agar dosen bisa memanage lima hingga sepuluh mahasiswa. Namun, bayangkan di FE, satu kelas, mencapai 40 hingga 50 mahasiswa,” tuturnya. Jika KBK ingin benar-benar berjalan, imbuhnya, usaha ���������������������������� keras musti dilakukan semua komponen di UMK.

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

21


Pena Kampus

L

a p o r a n

K

h u s u s

Format KBK Ideal Belum Jelas Reporter: Sri Haryati dan M. Ulin Nuha

E

ra globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) semakin pesat. Mahasiswa sebagai lulusan perguruan tinggi (PT) dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi praktek dilapangan. Mereka harus dapat mengembangkan materi yang diperoleh dari PT ke dalam penerapan Iptek bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Melalui Menteri Pendidikan Nasional, Pemerintah mengharuskan Pendidikan Tinggi melakukan proses penjaminan mutu secara konsisten agar dapat menghasilkan lulusan yang baik. Lulusan baik tidak hanya dilihat dari nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), lama studi dan predikat kelulusan yang nantinya akan disandang. Namun, perlu adanya jaminan agar lulusan dapat diserap oleh pasar kerja. Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Budaya (SK Mendikbud) No. 56/U/1994, yang isinya tujuan pembelajaran adalah untuk menguasai isi ilmu pengetahuan dan penerapannya (content based). Alhasil lulusan sulit beradaptasi terhadap perubahan dalam masyarakat global. Banyak lulusan tidak terserap oleh perusahaan karena lulusan yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan pasar. Sehingga muncul SK Mendiknas No. 232/U/2000 dan 045/U/2002 yang berupaya untuk mengubah tujuan pembelajaran ke dalam kompetensi. Berdasarkan hal tersebut, menurut Endang Dewi Murrinie, Kepala Lembaga Pendidikan (Ka. Lemdik) Universitas Muria Kudus (UMK), UMK telah mengubah kurikulum lama (Kurikulum Nasional 1994) dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mulai tahun 2006. Terdapat perbedaan antara Kurikulum lama dengan KBK. Lanjutnya, KBK yang ideal mahasiswa diposisikan sebagai pusat pembelajaran. “Mahasiswa dituntut untuk dapat mencari, menyusun, membuat dan mengembangkan IPTEK baru. Dosen hanya sebagai fasilitator dengan menggunakan potensi yang ada dan memotivasi mahasiswa untuk mencapai kompetensinya sendiri,” ungkapnya. Dia menambahkan, KBK menggunakan sistem belajar tuntas satu semester. Misalnya Program Studi (Progdi) Bahasa Inggris, lulusannya diharapkan paling tidak memiliki satu dari beberapa kompetensi, antara lain kompetensi menjadi guru, peneliti, atau penerjemah. “Mata kuliah penunjang untuk jadi seorang peneliti hanya ditempuh dalam satu semester, begitu juga dengan kompetensi lain,” tuturnya.

22

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

Selain itu, Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS) bukan lagi menjadi faktor dominant dalam evaluasi belajar, sehingga prosentasi dalam penilaian menjadi lebih rendah. Hal ini, mengingat KBK lebih memprioritaskan proses dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga diharapkan dihasilkan lulusan yang berkompeten. “Namun, terkadang bagi beberapa dosen masih mendapatkan prosentase yang tinggi,” ungkapnya. Dia menambahkan, perubahan kurikulum membutuhkan proses panjang. Masih banyak kendala yang harus dihadapi seperti kesiapan sumber daya manusia (SDM) dosen, kesiapan mahasiswa, dan fasilitas. “Sampai sekarang (Desember 2010), progdi yang telah menerapkan KBK adalah Agroteknologi, Tehnik, Psikologi, Hukum dan Bahasa Inggris,” imbuhnya. Sedangkan menurut Masluri, Pembantu Rektor I (bidang kurikulum) mengatakan, semua progdi sudah melakukan KBK. Namun, porsi antar progdi berbeda, tergantung kesiapannya. Disinggung mengenai target pelaksanakan KBK secara penuh, pria yang juga dosen di Progdi Manajemen Fakultas Ekonomi ini menerangkan, belum berani menargetkan kapan karena KBK mengikuti perubahan lingkungan sekitar yang terjadi terus-menerus. Namun, minimal tahun ini telah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai faktor pendukung terciptanya KBK. SNP memiliki 8 standar meliputi isi, proses, kompetensi lulusan dan evaluasi pendidik dan tenaga pendidik, saranaprasarana (sarpras), serta pembiayaan dan pengelolaan. Menurutnya, proses menuju KBK tidak mudah. “Penyesuaian dosen terhadap metode pembelajaran baru, masih menjadi kendala,” tegasnya. Untuk itu, keterlibatkan semua civitas akademika mutlak dibutuhkan, Lemdik misalnya, mempersiapkan dosen dalam menghadapi perubahan kurikulum. Selain itu, mahasiswa yang masih terbawa dalam suasana belajar mengajar di SLTA menjadi kendala tersendiri. “Kami terus melakukan perbaikan, baik dari susunan kurikulum, pemahaman dosen dan perangkat yang mendukung proses menuju KBK,” ungkapnya. Rencananya, suasana kelas agar lebih hidup kursi ukuran besar akan diganti yang mudah untuk digeser ke segala arah. Hal ini untuk memungkinkan apabila dibuat kelompok diskusi. Selain itu, guna mempermudah akses referensi setiap kelas diberikan fasilitas internet disamping itu, fasiltas LCD dan


L

a p o r a n

K

h u s u s

Pena Kampus

KHOLIDIN/PEKA

PRAKTIK: Proses pembelajaran berbasis kompetensi.

AC juga akan ditambahkan. Hingga sekarang (Desember 2010), UMK hanya baru membuat pedoman-pedoman untuk proses belajar mengajar. Rencananuya pada 2011 akan ditingkatkan dengan melegalkan pedoman tersebut. Untuk itu, lanjut Masluri, pemantauan berbagai perkembangan yang berkaitan dengan kualitas lulusan selalu dilakukan guna memenuhi permintaan pasar. Perubahan yang terjadi berarti pula merubah kompetensi. Harapannya, kemampuan lulusan mampu menjawab kebutuhan pasar. Sehingga tercipta simbiosis mutualisme antara lulusan dan pencari tenaga kerja. Terpisah, Kepala Progdi Manajemen, Dian Wismar’ein, mengakui belum terlaksananya KBK di progdi Manajemen. Perubahan kurikulum tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Banyak kendala yang menghambat perubahan ini. Salah satunya, sulitnya duduk bersama dengan semua dosen untuk membahas perubahan kurikulum, karena mereka memiliki kesibukan berbeda,” keluhnya. KBK tidak hanya dilakukan hanya beberapa orang saja,

tetapi keseluruhan sehingga perlu menyatukan suatu pandangan mengenai KBK. Seperti penggantian nama mata kuliah, pembagian kelas, layout ruang kuliah, sampai pembuatan kurikulum perlu dibicarakan bersama agar tidak terjadi miss understanding. “Proses akreditasi yang dilaksanakan Progdi Manajemen kemarin juga menjadi faktor keterlambatan pelaksanaan KBK. Karena kita (para dosen dan staf. Red) menyiapkan segala sesuatunya dalam pengajuan akreditasi,” bebernya. Selain itu, imbuhnya, penyusunan kurikulum dan strategi pembelajaran yang sesuai KBK masih belum jelas. Ini dikarenakan belum adanya contoh penerapan KBK yang ideal di PT lain, bahkan PT yang terbilang sudah maju. Akibatnya, dosen masih menerka-nerka strategi pembelajaran yang sesuai. “KBK merupakan satu paket, tidak hanya sekedar kurikulumnya saja, tapi juga menyangkut pelaksanaannya. Sehingga saya masih mencari kurikulum dan strategi pembelajaran KBK yang pas itu seperti apa,” terangnya. Menurutnya, kurikulum lama dianggap lebih nyaman. Pasalnya, format indikator akreditasi terpicu pada format kurikulum yang lama. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

23


Pena Kampus

L

a p o r a n

K

h u s u s

Mahasiswa Belum Siap KBK Diterapkan! Oleh Tim PEKA

S

eiring tuntutan zaman, tingkat pendidikan sumber daya manusia juga ikut meningkat. Penyelenggara pendidikan khususnya perguruan tinggi (PT) saling berlomba menggapai keunggulan (excellence) dan popularitas. Berbagai upaya peningkatan mutu serta kualitas telah dilakukan masingmasing institusi PT. Segala kebutuhan pendidikan seperti fasilitas, sarpras pembelajaran, SDM sebagainya telah dipenuhi. Oleh karena itu, PT dapat mendisain output (lulusan) kompeten, cerdas, dan berdaya saing. Universitas Muria Kudus menjadi salah satu contohnya. Kampus berada di pantura timur bersolek diri. Perlahan tapi pasti, “Kampus Kebudayaan” ini mulai berbenah menatap zaman. Berbagai sarana penunjang pembelajaran mulai ia dilengkapi. Gedung-gedung beraneka warna untuk kelas maupun sarana telah dibangun. Bangunan masjid Darul Ilmi tampak megah, prodi PGSD, dan renovasi auditorium yang hingga kini belum usai. Tak hanya itu, peningkatan sumber daya manusia (SDM) kampus ini perlu digalakkan. Melalui sentuhan kegiatan ilmiah, penelitian, seminar, lokakarya serta tridarma, setidaknya membangun kultur positif di kampus. Tenaga pengajar atau dosen tak sedikit “disekolahkan” untuk menimba ilmu. Harapannya, sekembali hijrah dari tempat belajar, para dosen itu mampu memberi sumbangsih kemajuan kampus, terlebih bagi mahasiswa. Komitmen terhadap mutu dan kualitas memang mahal harganya. Keinginan baik (good will) perguruan tinggi dalam menciptakan lulusan menarik diperbincangkan. Salah satunya, penerapan standar Kurikulum Berbasis

24

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

Kompetensi (KBK) di semua program studi UMK tahun ini. Kali ini, Redaksi Pena Kampus (PEKA) bermaksud melakukan jejak pendapat atau sekedar pembacaan, bagaimana kesiapan pra-pelaksanaan sistem KBK di UMK. Kami telah menyebar sebanyak 400 koesioner di enam fakultas yakni KIP, Ekonomi, Teknik, Pertanian, Hukum dan Psikologi. Sampel yang disebar jumlahnya tidak sama di setiap fakultas. Sebab, jumlah mahasiswa berbeda. Pada item yang pertama, kami menanyakan akan diterapkannya sistem KBK di kampus ini. Sebanyak 47,25 persen

Perlahan tapi pasti, “Kampus Kebudayaan” ini mulai berbenah menatap zaman. Berbagai sarana penunjang pembelajaran mulai ia dilengkapi. responden mengaku tahu. Sementara 29,5 persen mengatakan kurang tahu dan sangat disayangkan 22,25 persen tidak tahu tentang UMK akan menerapkan KBK. Hanya 1 persen yang tak memberikan jawaban. Dilanjutkan pertanyaan kedua yang bermuara pada kesiapan mahasiswa menjalankan KBK seutuhnya. Sebanyak 55,5 persen responden menyatakan siap. Lainnya 34,75 persen responden menjawab kurang siap, dan anehnya, ada juga

8,75% menyatakan tidak siap. Sisanya 1 % yang tak memberikan jawaban. Angka 34,75 persen yang menyatakan kurang siap ini perlu perlu mendapat perhatian. Agar ketika KBK ini diterapkan bisa berjalan optimal. Kesiapan SDM khususnya mahasiswa sangat menentukan. Sebab, objek kurikulum itu sendiri termasuk bagaimana mendesain (mahasiswa) agar menjadi lulusan yang sesuai harapan. Kami teruskan dengan pertanyaan berikut, seberapa efektif kah sistem pembelajaran di UMK selama ini? Diperoleh hanya 13,5 persen responden mengatakan efektif, sebesar 66,5 persen mengaku cukup, dan sisanya 20 persen mengatakan tidak efektif. Sudah sesuaikah sistem pembelajaran saat ini dengan konsep KBK ? Hanya ada 14 persen yang menyatakan “sesuai” dan 57,25 menjawab “cukup sesuai”. Namun, ada pula berpendapat “tidak sesuai” sebanyak 28,25 persen dan sisanya 0,5 persen tidak menjawab. Dari angka memilih “cukup”, kita bisa menilai bahwa pembelajaran di UMK ini masih tergolong sedang saja. Dalam kurun waktu, kurikulum mengalami perubahan. Seperti KBK, bernuansa beda dengan kurikulum sebelumnya ketika proses pembelajaran berlangsung. Kali ini, kami menanyakan partisipasi mahasiswa dalam aktifitas belajarnya. Sudah kah Anda melaksanakan Student Centre Learning ? Hasilnya, sebanyak 42,75 persen responden menyatakan sudah melaksanakan SCL. Sementara itu, angka 34,75 persen responden yang belum dan tidak tahu sebesar 20,75 persen. Sisanya, 1,75 persen yang tidak menjawab. Angka 34,75 persen ini menunjukkan peran mahasiswa masih minim. SCL


L

a p o r a n

K

ini perlu dikenalkan kembali. Pasalnya dalam KBK, peran mahasiswa sangat penting dalam pembelajaran. Sementara itu dosen selaku fasilitator dalam belajar. Dalam kurikulum ini, peran mahasiswa yang lebih menonjol dibanding kurikulum yang lalu, seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), tahun 1994 dan seterusnya. Sehingga mahasiswa harus mampu meningkatkan ketrampilan serta kemandirian belajar. Selanjutnya, kami menanyakan tentang sarana dan prasara belajar mendukung dalam pembelajaran. Hasilnya, ada 23, 75 persen yang menyatakan sudah mendukung. Cukup mencengangkan, sebesar 70, 5 persen responden menyatakan belum. Ada 5,5 persen yang tidak tahu dan sisanya tidak menjawab. Mencermati opsi “belum�, pihak rektorat perlu meningkatkan sarana prasarana agar dalam pembelajaran di kelas menjadi lebih optimal. Masih ada keterkaitan, pertanyaan selanjutnya ini tentang pengaruh pen-

h u s u s erapan KBK terhadap hasil pembelajaran. Telah diketahui, sebagian besar menyatakan dapat memengaruhi hasil belajar sebesar 63,5 persen. Sementara 20 persen mengaku cukup memengaruhi, dan 15 persen menjawab tidak tahu. Dan sisanya 1,55 persen tidak menjawab. Walau belum diterapkan sepenuhnya, responden sudah bisa menebak bahwa KBK dirasa memberikan pengaruh terhadap hasil pembelajaran. Hal ini tercermin pada jawaban pada pertanyaan di bawahnya. Apakah penerapan KBK menjamin peningkatan mutu dan kualitas mahasiswa ? Sebanyak 58,75 persen responden yang mengatakan iya dan 13,75 persen mengatakan tidak menjamin. Sementara itu, 25,75 persen menjawab tidak tahu dan 1,75 persen yang tidak menjawab. Apa pendapat Anda, sudah mendukung kah lingkungan di UMK untuk dilaksanakan system KBK ? Cukup mengherankan, banyak mahasiswa yang tidak mendukung bila KBK

Pena Kampus diterapkannya di kampus ini. Hal ini tercatat ada 52,25 persen responden yang belum atau kurang mendukung KBK diterapkan, dan 30,25 persen yang menyatakan sudah atau mendukung. Dan 30,25 persen yang menjawab tidak tahu dan sisanya 1 persen tidak menjawab. Kebanyakan mahasiswa tidak mendukung (52,25 persen) bila KBK diterapkan. Anehnya, mereka yang tidak mendukung KBK namun menyetujui bila KBK diterapkan. Artinya, responden tidak konsisten dengan jawaban sebelumnya. Hal ini tercermin pada pertanyaan pamungkas. Setujukah Anda bila KBK diterapkan? Diperoleh hasil 64,5 persen yang menyatakan setuju, ada 17 persen yang tidak setuju, dan 18 persen yang menyatakan tidak tahu. Dan 0,5 persen tidak menjawab. Dari hasil jejak pendapat ini, memberi gambaran bahwa persiapan menuju penerapan KBK seutuhnya perlu dipikirkan. Sehingga pelaksaaan kurikulum ini bisa berjalan secara optimal. Semoga!

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

25


Pena Kampus

26

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

L

a p o r a n

K

h u s u s


O

pi n i

Pena Kampus

KBK Menuntut Profesionalitas Dosen Oleh: Latifah Nur Ahyani

D

unia yang dihadapi peserta didik termasuk mahasiswa pada saat ini, sangat kompleks. Senantiasa dibayangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan akselerasi laju yang luar biasa, yang menyebabkan terjadinya ledakan informasi. Hal ini menuntut kesiapan dan kesigapan kita semua untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Artinya kita harus mampu menghadapi masyarakat yang sangat kompleks dan global. Wajar jika secara periodik kurikulum senantiasa harus selalu ditinjau kembali, dan senantiasa ada pembaharuan di bidang kurikulum. Pendidikan dan pembelajaran berbasis kompetensi merupakan contoh hasil perubahan dengan tujuan untuk meningkatkan kulitas pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Karena itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran yang mencakup

elsa/PEKA

LATIFAH NUR AHYANI

Tugas dosen bukanlah “ mencurahkan dan menyuapi

mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi mereka hanya sebagai motivator, mediator dan fasilitator pendidikan.

’’

pemilihan materi, strategi, media, penilaian, dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai mahasiswa dapat dilihat pada kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan tugastugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar prosedur tertentu. Pada kurikulum berbasis kompetensi proses belajar mengajarnya menuntut dosen dan mahasiswa bersikap toleran, menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan keberagaman serta berpikiran terbuka. Dosen berserta mahasiswa bersamasama belajar menggali kompetensinya masing-masing dengan optimal. Dosen dituntut untuk membuktikan profesionalitasnya, mereka dituntut untuk dapat menyusun dan membuat rencana pembelajaran yang berdasarkan

kemampuan dasar yang dapat digali dan dapat dikembangkan oleh mahasiswa. Dosen juga di tuntut mampu mengolah potensi diri dan bakat mahasiswa sehingga mampu mencari dan menemukan ilmu pengetahuannya sendiri. Tugas dosen bukanlah mencurahkan dan menyuapi mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi mereka hanya sebagai motivator, mediator dan fasilitator pendidikan. Dosen juga harus mampu menyusun suatu rencana pembelajaran yang tidak saja baik tetapi juga mampu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mencari, membangun, membentuk serta mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupannya. Mahasiswa juga dituntut intu aktif, kreatif dan asertif. Mereka dituntut untuk berekplorasi, berekperimen dan melakukan discovery learning untuk menemukan ilmu pengetahuan. Mahasiswa tidak hanya duduk dan mendengarkan dosen ceramah dan jika begitu mereka hanya sebatas tahu yang kemudian akan mudah lupa. Tapi ketika mahasiswa aktif mencari, mambaca, mencoba dan bertanya, maka mereka akan lebih mengingat, memahami dan menemukan ilmu pengetahuan. Kurikulum berbasis kompetensi pada dasarnya adalah proses belajar mengajar yang berlangsung dalam rangka pengkonstruksian dan penyusunan pengetahuan oleh mahasiswa dengan cara memberi makna dan merespon ilmu pengetahuan sebelumnya. Pengkonstruksian dan penyusunan pengetahuan berlangsung dan dilakukan oleh dan untuk mahasiswa. Ketercapaian penggalian dan penemuan kompetensi, dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri sehingga mereka mampu mempraktekkan di kehidupan sehari-hari. *) Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Muria Kudus [ Edisi XVI Maret 2011 ]

27


T

Pena Kampus

o k o h

KBK, Cara Belajar Seumur Hidup Reporter: Much Harun

Perubahan kurikulum di Universitas Muria Kudus (UMK) dari kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) membuat semua ketua Program pendidikan (Progdi) melakukan perubahan. Salah satunya, Fitri Budi Suryani yang saat ini menjabat sebagai ketuaProdi Bahasa Inggris untuk periode 2008-2013. Praktis, kesibukan wanita dua anak ini bertambah, karena harus menerapkan sekaligus mengembangkan KBK untuk pertama kalinya. Apalagi dirinya hanya mendapatkan panduan dasar KBK dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Berikut hasil wawancara reporter Pena Kampus (Peka) Muhammad Harun tentang proses KBK di UMK terlebih di Progdi Bahasa Inggris. Menurut Ibu, apa yang dimaksud KBK? Pada dasarnya KBK adalah kurikulum yang menitik beratkan pada kompetensi yang didapatkan oleh mahasiswa. Selama ini, kurikulum yang ada hanya sebatas materi atau isi dari kurikulum itu sendiri. Belum mengarah kepada kemampuan mahasiswa setelah lulus. Untuk itu, keberadaan KBK bertujuan untuk memberikan arah kepada mahasiswa agar setelah lulus mampu menjalankan tugas. Sesuai dengan yang diamanahkan oleh masyarakat dan b e rg u n a b a g i masyarakat.

Apakah benar, Progdi BI UMK adalah satu-satunya Progdi di Indonesia yang sudah menerapkan KBK? Sepertinya begitu, Universitas Sanata Darma, Universitas Atmajaya dan universitas terkemuka di Semarang yang memiliki pendidikan Bahasa Inggris belum melaksanakan KBK. Apakah dasar pembuatan mata kuliah dalam KBK? Sebenarnya tidak seluruhnya ditentukan oleh dosen. Ada panduan yang dikeluarkan oleh Dikti sebagai arahan kepada universitas dalam pembuatan mata kuliah. Namun kita juga melakukan workshop untuk menyamakan persepsi tentang kurikulum KBK ini. Apa ciri KBK dalam dunia pendidikan? Pertama, profil lulusan, karena berada di jurusan Bahasa Ingris maka profil lulusan sebagai guru Bahasa Inggris, peneliti dan penerjemah. Apa perbedaan mendasar dari kurikulum 1994 dan KBK? Sebenarnya banyak perbedaan, dulu, kurikulum identik tentang ilmu pengetahuan semata. Sekarang paradigma kurikulum lebih kepada kompetensi lulusan. Soft skill dulu tidak menjadi perhatian, namun di KBK soft kill menjadi perhatian lebih meski tidak ada mata kuliah tersendiri. Karena softskill langsung masuk dalam setiap mata kuliah. Apa keunggulan KBK dari kurikulum lama? Karena KBK berdasarkan kompetensi, maka diharapkan setiap lulusan bisa diterima dimasyarakat melalui kompetensi yang dimiliki. Sehingga mahasiswa bisa menerapkan ilmunya dimasyarakat. Di SMA atau sederajat KBK telah diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kenapa universitas baru sekarang menerapkan KBK? Sebenarnya ini sudah diterapkan sejak 2002, namun tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Karena ada perbedaan persepsi, untuk itu KBK baru diterapkan pada 2008.

28

[ Edisi XVI Maret 2011 ]


T

o k o h

Pena Kampus elsa/PEKA

Bagaimana proses pengajaran dengan KBK? KBK menggunakan Student Center Learning (SCL), mahasiswa menjadi pusat dari pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. SCL mempunyai tujuan agar mahasiswa bisa belajar seumur hidup. Karena tidak mungkin dosen akan menemani mahasiswa belajar seumur hidup. Jadi KBK mendidik untuk belajar mandiri. Bagaiman penerapan dari sistem SCL? Jadi SCL diterjemahkan dalam beberapa bentuk, ada Small Group Discussion, Role-Play & Simulation, Case Study, Discovery Learning (DL) dan banyak lagi. Namun pada intinya mahasiswa merupakan sumber dari ilmu yang akan dipelajari. Mereka bisa mencari literatur dari mana saja untuk mendukung pelajaraan. Lalu, bagaimana dosen menerapkan sistem KBK dalam Kelas? KBK menggunakan tim pengajar (Team Teaching) dalam setiap mata kuliah, tim dibagi menjadi dua. Dosen menerangkan materi dan dosen mengamati proses kegiatan belajar mengajar. Namun ada sebagian dosen beranggapan tim pengajar hanya berkutat pada pembagian materi. Perbedaan pandangan tersebut, mungkin dikarenakan dosen kurang faham tentang KBK karena sudah terbiasa dengan metode lama. Sehingga sulit mengubah gaya pengajaran. Apakah fasilitas di UMK sudah memenuhi standar KBK? KBK tidak hanya terfokus pada Progdi, Universitas juga harus memfasilitasi agar tercapai dalam penerapannya. Untuk itu, sistem di UMK harus dirubah, mulai dari sistem entry mata kuliah hingga pembuatan ijazah. Sekarang penggunaan sistem dalam entry mata kuliah di UMK hanya bisa satu digit. Sehingga menyulitkan penerapan SKS yang banyak. Ketika 2007, saat memulai mata kuliah Intensive Course (IC) juga dipermasalahkan karena SKS erlalu banyak, hingga 12 SKS. Padahal hal itu merupakan hal biasa di universitas lain, dan sistem di UMK tak bisa mendukungnya. Sehingga, dipisah menjadi tiga mata kuliah dengan 4 SKS disetiap mata kuliahnya.

harun/PEKA

DATA DIRI Nama

: Fitri Budi Suryani

TTL

: Jakarta, 15 September 1977

Alamat

: Jl. Emerald IX no. 19

Semarang Pekerjaan

: Dosen

Dalam KBK setiap mata kuliah harus lulus, lalu apabila ada yang tidak lulus, solusinya seperti apa? Bagi yang tidak lulus, akan ada remedial. Jadi sebelum berakhir, mahasiswa yang belum lulus akan dibantu dengan sistem remidi sehingga dapat mengejar ketertinggalannya dalam mata kuliah yang belum lulus.

Pendidikan

: S1 Undip

Apakah sistem remidial sama dalam KBK dengan Semester Pendek? Tidak, remidial ada di dalam proses belajar. Sedangkan semester pendek ada setelah semester selesai. Namun teknis dari remidial sendiri masih kita format yang paling baik.

S2 Unnes Nama Suami : Hadi Sutrisno Jumlah Anak : 2 Nama Anak : 1. Ayra Safa Maryama Khalila

2. Farrel Khalifa Rayhan

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

29


Pena Kampus Bukan Karena Uang, Tapi Pengabdian

M

enjadi pemimpin merupakan tanggungjawab besar. Karena ditangan pemimpin itulah institusi akan dibawa. Sering kali, pemimpin hanya memburu jabatan dan institusi yang bonafit dan mentereng. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Fitri Budi Suryani yang sekarang menjadi ketua program pendidikan (Kaprogdi) Bahasa Inggris di UMK. Meski sering ditawari untuk mengajar di universitas ternama di Semarang, Fitri tetap berkomitmen untuk tetap mengajar di UMK. Karena menurut dia, universitas di pinggiran perlu mendapatkan perhatian juga. ’’Ini tentang kemanusiaan, saya ingin memajukan mahasiswa di universitas pinggiran, termasuk UMK,” jelas ibu beranak dua. Menurut Fitri, keberadaannya di UMK bukan hanya untuk mencari uang. Dia hanya menginginkan lulusan universitas di kota kecil seperti UMK juga bisa menciptakan lulusan yang kompeten. ’’Tidak hanya universitas di kota besar,” tandasnya. Fitri mengakui, banyak temannya yang sewaktu belajar di S2 memintanya untuk pindah dan mengajar ditempat mereka. Karena dia dirasa mampu untuk mengajar di universitas ternama di Semarang. Mengingat di waktu menjalani S2, Fitri diangap sebagai mahasiswi yang cerdas. ’’Kalau ada lowongan di universitas besar seperti UNNES, UNDIP saya selalu dikasih tahu, terlebih di UDINUS yang dekannya temen saya saat di S2,” jelas wanita berkerudung ini. Meski harus setiap hari bolak balik naik bus dan angkot untuk pulang kerumahnya yang berada di Semarang. Dia merasa menikmati pengabdiannya di UMK. ’’Apa pun yang kita lakukan karena rasa cinta akan membuat kita tetap semangat saat bekerja,” terangnya. Meski demikian, istri dari Hadi Sutrisno ini juga tak menampik kalau dia merasakan kelelahan. Namun menurut dia, ada resep khusus agar semua menyenangkan saat menjalani pekerjaannya. ’’Untuk menghilangkan rasa capek, kita harus mencintai pekerjaan kita,” ujarnya. Selain itu, Anak-anak juga menjadi penyemangat bagi Fitri. Karena dengan melihat anaknya yang sehat dan ceria menjadikan hatinya gembira dan rasa capek akan hilang dengan melihat mereka. Lalu, membaca dan menonton film juga menjadi hiburan tersendiri bagi Fitri. Karena membaca akan memberikan ruang tersendiri untuk berimijinasi dan memberikan wawasan luas. ’’Membaca seharusnya bisa

30

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

T

o k o h

menjadi media hiburan, Ini yang harus dimiliki mahasiswa saat ini,” imbuhnya. Meski kesibukan Fitri di UMK sebagai dosen dan Kaprogdi begitu padat, dia tidak lupa dengan keluarga di rumah. Fitri berusaha mengatur waktunya untuk menjadikan setiap waktu yang dilalui dengan keluarga selalu berkesan. ’’Suami saya seorang wiraswasta, jadi dia mempunyai waktu yang fleksibel untuk anak-anak. Meski waktu saya sedikit untuk anak, namun saya memberikan waktu yang berkualitas bagi mereka,” terangnya. Waktu berkualitas menurut fitri merupakan waktu dimana dia memberikan kasih sayang secara utuh dengan tidak mencampur adukan waktu. Ketika waktu untuk anak, maka waktu itu tidak bisa diganggu dengan pekerjaan lain dan begitu juga sebaliknya. ’’Saya suka membacakan cerita dan bermain dengan anak,” terangnya. Hal ini bisa menjadi pelajaran yang baik kepada para ibu. Karena, waktu sedikit namun berkualitas lebih baik dari waktu banyak namun tidak berkualitas. ’’Efeknya, akan memberikan kebersamaan yang berkesan bagi keluarga,” jelasnya.


S

u d u t

K

a m p u s

Pena Kampus

Walau Sulit, Harus Bisa Mengatur Waktu

Data Diri

Saya hanya ingin menjadi orang dibalik layar

D

alam bidang olahraga, bulu tangkis adalah salah satu jenis olahraga yang tak asing lagi bagi kita, baik dari kalangan tua, muda, sampai anak-anak. Di tangan Eko Kuspriyanto mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) ini, hobi bermain bulu tangkis telah menjadikan Eko menyabet juara diberbagai pertandingan. Hobi bermain bulu tangkis telah dilakoni Eko sejak kelas empat Sekolah Dasar (SD). Saat itu, dia telah mengikuti pelatihan bulu tangkis di Magelang dalam rangka lomba sirkuit dan meraih juara pertama. Dari sanalah awal karir bulu tangkisnya dimulai. Dengan kerja keras dan keuletan, dia banyak mengantongi gelar juara saat mengikuti pertandingan. Terakhir, dia menyabet juara pertama bulu tangkis kelas tunggal putra se Jawa-Bali beberapa bulan lalu. Sejak kecil, dia sering pindah sekolah supaya bisa mengikuti jadwal pelatihan yang diadakan pihak PT Djarum. “Sebenarnya sih tidak enak harus pindah-pindah sekolah tapi semua demi mengikuti pelatihan bulu tangkis,” imbuhnya. Selain kesibukanya sebagai mahasiswa jurusan Manajemen semester empat. Dia juga melatih bulu tangkis di Gedung Olah Raga (GOR) PT Djarum, Jati. Seminggu lima kali dia harus melatih anak didiknya yang berjumlah sebelas orang tiap pagi dan sore. Dia menjadi pelatih saat awal menjadi mahasiswa UMK. Saat itu, dia sering bermain bulu tangkis di GOR Bae bersama teman-temannya. Tak sengaja dia bertemu dengan pelatih bulu tangkis dari PT Djarum yang dulu juga melatih dia saat masih sekolah.

“Setelah itu ditawari Mas Rus untuk bergabung di GOR Djarum menjadi asisten untuk melatih anak-anak didiknya,” terangnya. Dengan bergabung dia menjadi pelatih di GOR Djarum, membuatnya kesulitan dalam membagi waktu antara melatih dengan kuliah. Tak jarang dia meninggalkan kuliah untuk melatih. “Walau sulit, saya berusaha agar kuliah saya tetap berjalan lancar,” terangnya. Selain itu, dia juga harus rela tinggal jauh dari keluarganya. “Bahkan saya pernah ikut Semester Pendek (SP) garagara sering meninggalkan kuliah, tetapi semua sudah menjadi resiko,” terang Eko sambil tersenyum. Kini pria yang akrab disapa dengan panggilan kacang ini, memutuskan untuk menetap di Kudus. Hal ini dilakukan agar bisa fokus antara latihan dan kuliah. “Kan capek kalau harus bolak-balik Kudus-Pati,” tambahnya. Saat ini, dia menempati rumah kosong disebelah tempat latihannya. Rumah tersebut di sediakan oleh atasanya untuk ditempati. Jadi dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk kos. “Saya biasanya pulang ke Pati empat bulan sekali atau saat tidak ada kegiatan di Kudus. Dari hasil kerja kerasnya itu, kini dia mampu membantu orang tuanya untuk membiayai kuliahnya sendiri. Tidak seperti kebanyakan atlet bulu tangkis lainnya yang ingin sekali masuk timnas dan berlaga di kancah internasional. Penggemar atlet bulu tangkis Taufik Hidayat ini, mengaku tidak ada keinginan untuk nantinya bisa bergabung di timnas. “Saya hanya ingin menjadi orang dibalik layar atau pelatih yang professio­ nal,” tambahnya. (Naili/Peka)

nOR KHOLIDIN/PEKA

Nama TTL 1991 Alamat Hobi Nongkrong Nama Ortu Makanan Fav Minuman Fav Asal Sekolah Prestasi Magelang

: Eko Kuspriyanto : Pati, 01 Januari : Ds Tlogorejo, Tlogowungu, Pati. : Bulu Tangkis dan : Supriyadi : Nasi goreng : Es teh : SD Barongan 2 SMP TD SMPN 1 Telogo Wungu SMAN 2 Pati : 1. Juara 1 bulu tangkis tunggal putra di 2. Juara 1 Bulu tangkis tunggal putra di Tegal 3. Juara Umum di Jogja, Sleman. 4. Juara 2 tunggal Putra se-JawaBali.

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

31


Pena Kampus

S

u d u t

Harapkan Mahasiswa UMK Kreatif

S

eiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan segala sesuatu yang menjadi komponen pendukung kemajuan zaman di butuhkan pula kreativitas untuk memanfatakan komponen tersebut untuk kemaslahatan bersama. Salah satu yang harus mengembangkan kreatifitas tak lain mahasiswa. Pengembangan kreativitas tidak hanya bisa diwujudkan dalam peningkatan akademik semata. Hal tersebut juga bisa dilakukan dengan mengikuti aktivitas di luar kampus, misalnya dengan mengikuti seminar dan kegiatan tertentu untuk menambah wawasan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu wadah yang bisa diikuti mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran dan gagasan mereka secara tertulis dengan

U

a m p u s

bimbing PKM. Dia menambahkan, merupakan kebanggaan tersendiri bagi Universitas Muria Kudus (UMK) bisa mengirimkan wakilnya dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIII yang bertempat di Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali akhir Juli lalu. ’’Karena dari sinilah kita dapat membuktikan diri sebagai universits yang juga punya kretifitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” terangnya. Meskipun tidak mengantongi gelar juara, dengan lolosnya wakil dari UMK ini tentu memberikan motivasi kapada mahasiswa lain untuk aktif menulis gagasan mereka dalam wadah serupa. Selain itu, hal ini merupakan pembuktian bahwa mahasiswa juga bisa memberikan kontribusi untuk masyarakat sesuai kapabilitas yang mereka miliki untuk kepentingan bersama. ’’Mereka bisa menunjukkan pemikiran dan karya mereka sebagai salah satu wujud kegiatan positif mahasiswa yang dihargai dan di apresiasi secara nyata oleh Pemerintah,” jelasnya. (Nana/Peka)

Perkenalkan Bahasa Lewat Game

ntuk mengenalkan Bahasa Inggris dan menanamkan bahwa belajar Bahasa Inggris itu menyenangkan, perlu dilakukan berbagai cara. Salah satunya seperti yang dilakukan BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK dengan menggunakan gam, bernyayi dan bermain sebagai medianya. Kegiatan yang dilakukan di MI Manafi’ul Ulum Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog dilakukan dalam kegiatan FKIP Goes to school. “Kegiatan yang dilakukan bukan hanya sekedar pengajaran biasa, tetapi melalui game-game, bernyanyi dan bermain. Sehingga ��������������� pengajaran berjalan dengan fun dan dapat mudah diterima siswa,” terang ketua panitia Wartoyo. Acara yang diikuti oleh siswa kelas empat dan lima SD ini dilakukan tidak hanya di dalam ruangan, tetapi juga di luar kelas dengan konsep game. Materi-materi yang diberikan merupakan

32

harapan hasil pemikiran tersebut bisa terealisasi dan berguna bagi masyarakat luas. Seperti yang dilakukan R.A Dina Asri Kusuma Nur Inayah, Nurmalia dan Ahmad Nurul Yaqin masing-masing dari Fakultas Pertanian UMK. Saat itu mereka mengirimkan proposal dengan tema “Alang-Alang sebagai Bahan Home Industry Kemasan Daur Ulang untuk Hantaran” yang berhasil mengantarkan mereka ke PIMNAS di Bali. PKM kewirausahaan yang mereka buat memanfatakan alang-alang sebagai bahan dasar pembuatan produk. Tidak hanya terbatas pada hantaran untuk “seserahan ” saja tetapi mereka juga mengembangkan produk lain seperti kotak kado dan aneka souvenir. “Judul PKM itu harus unik dan orisinil,” kata Endang Murrinie selaku dosen pem-

K

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

materi dasar dari Bahasa Inggris seperti pengenalan warna, hari dan bulan. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat bagus karena bisa menimbulkan semangat dalam belajar dan bermain. Sehingga siswa tak jenuh dan menganggap Bahasa Inggris itu sulit. Apalagi saat itu bahasa yang digunakan merupakan

bahasa yang digunakan setiap hari sehinggasiswa sangat kenal dengan katakata Bahasa Inggris yang digunakan. ”Kita berharap siswa lebih suka dengan pelajaran Bahasa Inggris yang sebenarnya perlu bagi mereka terkait bahasa inggris adalah bahasa Internasional,” tambahnya. (Naili/Peka).

mUHAMMAD ULIN NUHA/PEKA

BERMAIN: Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Permainan.


S

u d u t

M

K

a m p u s

Meningkatkan Speaking Skill Lewat SSG

ahasiswa Fakultas Keguruan dan Pendidikan Program Studi Sahasa Inggris Universitas Muria Kudus (FKIP-PBI) sedang asyik beramah tamah di balkon lantai atas gedung PBI dengan seorang native speaker berkebangsaan Amerika, dia adalah Juliana Shepherd. Mereka saling tutur sapa dan berbicara dalam satu kelompok obrolan kecil atau small speaking group (SSG). Dengan formasi duduk melingkar ala komunitas puritan, mereka bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris dengan santai. Topik obrolan tidaklah berat seperti mata kuliah pada umumya. Melainkan bebas dan berhubungan dengan konteks riil keseharian mahasiswa. Program ini sengaja membahas obrolan yang ringan, agar mahasiswa tidak canggung dalam berbicara dengan Bahasa Inggris. Kaprodi PBI, Fitri Budi Suryani, program ini bukan program teaching atau pengajaran melainkan gathering atau kebersamaan. Jadi, mahasiswa bebas memilih topik yang diinginkan. ’’Saat ini kami hanya membuka tujuh kelompok SSG, satu kelompok terdiri dari maksimal 12 mahasiswa,” terangnya (3/3). “Sebenarnya masih banyak mahasiswa

W

Pena Kampus

mUHAMMAD ULIN NUHA/PEKA

LESEHAN: Juliana berdiskusi dengan mahasiswa.

yang ingin bergabung dalam SSG. Namun, panitia membatasi quota maksimal agar lebih kondusif dan mudah dikontrol. Terbukti saat deadline pendaftaran di sekretariat, beberapa mahasiswa terpaksa kami tolak” jelasnya Dia menambahkan, program ini sengaja dirancang untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa. Menurutnya, program ini bermula dari kegelisahan Juliana melihat kondisi mahasiswa baru PBI. Sebelumnya, Mahasiswa Cedarville University jurusan International Rela-

tionship ini sudah menjadi membantu proses mengajar di PBI selama kurun satu semester. Dia menganggap kemampuan mahasiswanya masih relatif rendah. Khususya dalam speaking skill competence atau kemampuan berbicara. Awalnya Juliana mengadakan workshop bersama English Educatin Forum (EEF). Pesera workshop dari mahasiswa semester satu. Materi yang disampaikan meliputi listening comprehension dan reading , speaking) dan reading). (Jalal/Peka)

Menata PKL Tanpa Bentrok

alikota Solo Joko Widodo pada Senin (21/2) menyampaikan beberapa tips untuk menata Pedagang Kaki Lima (PKL) di Solo dengan tertip. Diskusi ini diadakan oleh BEM Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK) di ruang seminar. Jokowi, sapaan akrab Joko Widodosangat tertarik untuk menggarap PKL yang ada di Solo. “PKL mempunyai potensi yang sangat besar untuk perkembangan perekonomian. Namun PKL harus ditata terlebih dahulu lantaran banyak jalan yang diduduki PKL dan membuat kota ter-

lihat semprawut”terang Jokowi. Seperti yang dilakukan pada PKL di Banjarsari yang berjumlah 989 PKL. Karena PKL ini menduduki wilayah yang seharusnya menjadi area taman hijau, maka pihaknya akan merelokasi. Namun relokasi tak membutuhkan kekerasan seperti di daerah lainnya. Pihak PKL dipanggil untuk makan siang dan malam bersama hingga 54 kali. ’’Saat pertama saya panggil makan malam, saya undang sebelas paguyuban namun yang datang hingga 40 orang, karena membawa LSM dan lembaga bantuan hukum,” jelasnya. Setelah panggilan makan siang ke 54,

Jokowi baru mengatakan niatnya utnuk merelokasi 989 PKL sejauh 6 kilometer dari lokasi semula. ’’Setelah pengumuman itu, PKL diam dan setuju untuk direlokasi tanpa harus menggunakan kekerasan,” tambahnya. Namun PKL menuntut syarat, mu­lai pelebaran jalan, peminda­han trayek angkutan kota dan ja­minan omzet tak menurun dari lo­ka­si awal. Semua syarat disetu­jui olehnya, untuk jaminan omset me­mang cukup s u l i t , t a p i d i r i n y a m e­ n a w a r k a n kepadsa PKL, tempat ba­ru akan diiklankan di TV local dan media masa selama 40 hari. (Agus/Peka) [ Edisi XVI Maret 2011 ]

33


B

Pena Kampus

a h a s a

Makna Simbolis Tembang IlirIlir dan E, Dhayohe Teka Karya Sunan Kalijaga Oleh : Ahdi Riyono *)

Ilir-ilir

foto: agus

AHDI RIYONO

P

erlu diketahui bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang melegenda di masyarakat Jawa. Nama Sunan Kalijaga berasal dari kata susuhunan (orang terhormat), qadli (pelaksana, penjaga, pimpinan), dan zaka (membersihkan) (Endraswara, 2003). Maka, sangat cocock bila tugas Sunan Kalijaga sebagai wali, tak lain menjadi pimpinan untuk menjaga kebersihan umat dari perbuatan batil. Bahkan, ada yang berusaha othak-atik mathuk, kalijaga berasal dari kali (sungai) dan jaga (menjaga), artinya menjaga aliran sungai, yaitu perjalanan atau syiar agama Islam. Dalam tugas dakwah yang berat tersebut, Sunan Kalijaga ternyata mampu menggunakan teknik dakwah secara estetik-sufistik. Salah satu teknik beliau, menggunakan tembang-tembang. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga mengarang tembang menggubah tembang macapat metrum Dhandhanggula. Macapat dapat diartikan cara membaca (melagu-

34

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

Ilir-ilir 2x tandure wis sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar cah angon2x penekna blimbing kuwi lunyu-lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira dodotira2x kumitir bedhah ing pinggir dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane Suraka surak hore. (Kanjeng Sunan Kalijaga)

kan) empat-empat, yaitu perhentian nafas pada empat suku kata-empat suku kata. Macapat bisa juga berasal dari kata “macapat: = man + ca + pat = iman + panca + patokan. Dakwah Islam yang pertama harus memperhatikan rukun iman dan rukun islam (panca) sebagai patokan. Dhandanggula berasal dari dhandhang dan gula yang berarti pengharapan akan yang manis. Dakwah Islam yang dibawakan secara enak dan menyenangkan akan membawa harapan untuk menuju kebahagiaan, karena yakin dan percaya akan kebijaksanaan, kemurahan, keagungan, kekayaan, dan keadilan, maha mengetahui kebaikan yang meliputi dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah tembang ilir-ilir. Tembang lir-ilir merupakan bahan dakwah para wali pada awal perkembangan Islam. Para Wali menggunakan lagu ini sebagai simbol asosiasi penyebaran agama Islam. Melalui tembang ini, ternyata orang Jawa lebih bersimpati un-

tuk memasuki agama baru, yaitu agama Islam. Alunan tembang yang ritmis dan menarik disertai makna religiusitas, justru mampu mengetuk hati orang jawa, mulai dari rakyat jelata (Wong Cilik) sampai para penguasa kerajaan (Wong Gedhe). Adapun syair tembang lir-ilir yang saya kutip di atas, memberikan rasa optimis kepada seseorang yang sedang melakukan amal kebaikan, berguna untuk bekal di hari akhirat. Kesempatan hidup di dunia itu harus dimanfaatkan untuk berbuat kebajikan, jangan membunuh nanti akan ganti dibunuh karena semua ada balasannya. Menurut Para ahli tafsir (Hariwijaya, 2007) tembang ilir-ilir adalah sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas hingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan ajaran lainnya, sehingga terjadi apa yang disebut culture contact. Adapun makna tembang ini adalah


B

a h a s a

sebagai berikut; Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir. Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang didakwahkan oleh para wali dan mubaligh Islam. Tak ijo royo-royo taksengguh penganten anyar. Hijau adalah warna dan lambang agama Islam, bagaikan penganten baru. Maksdunya, agama Islam bagitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan dengan penganten baru. Warna Hijau sendiri pada waktu itu, juga bendera Kekhilafahan Ustmaniah (Turki Ottoman) sebagai empirium Islam pada masa itu. Cah angon-cah angon penekna blimbing kuwi, Cah angon atau penggembala, dibaratkan dengan penguasa yang menggembalakan rakyat. Para penguasa itu disarankan (dianjurkan) untuk segera masuk ke dalam agama Islam, disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi-lima sebagai lambang rukun Islam. Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotira, Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah sekuat tenaga agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot. Dodot adalah jenis pakaian yang sering dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Dodotira, dodotira, kumitir bedhah ing pinggir, pakaianmu, agamamu sudah rusak, karena dicampur dengan kepercayaan animisme. Domdomana jrumatana kanggo seba mengko sore. Agama yang sudah rusak itu jahitlah, perbaikilah sebagai bekal menghadap Tuhan. Mumpung jembar kalangane mumpung padhang rembulane. Mumpung masih hidup masih ada kesempatan untuk bertobat. Suraka Surak hore, bergembiralah, semoga kalian mendapatkan anugerah Tuhan.

Pena Kampus Ketika bulan Ramandhan tiba, agar masyarakat menyambut dengan kegembiraan, maka Sunan Kalijaga menciptakan sebuah tembang penyambutan. Hal ini berbeda dengan gaya orang sekarang dalam menyambut Bulan Ramandhan yang biasa dengan untaian kata, Marhaban ya Ramadhan atau Ahlan Wasahlan ya Ramadhan. Tembang ciptaan beliau itu berupa tembang dolanan (permainan) yang sering dilagukan anak-anak, yaitu E, Dhayohe Teka (E Tamunya Datang) (Endraswara, 2006). Adapun syair lagunya sebagai berikut; E dhayohe teka (he tamunya datang) E gelarna klasa,( he beberkan tikar) E klasane bedhah,( he tikarnya robek) E tambalen jadah, (he tambal dengan kue uli) E jadahe mambu, (he kue ulinya basi) E pakakna asu,(he berikan makan kepada anjing). E asune mati, (he anjingnya mati) E buwangen kali (he buang saja ke sungai) E kaline banjir (he sungainya banjir) E buwangen pinggir (he buang saja di pinggir) E pinggire lunyu (he pinggirnya licin) E yo goleka sangu (he carikan bekal) Tembang tersebut termasuk ke dalam jenis puisi rakyat, yang dikenal dengan sajak permainan. Lagu atau tembang ini sangat dikenal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Danandjaja, 2002) Dari sisi ajaran, tembang tersebut memberikan gambaran terhadap umat Islam bahwa dhayah identik dengan tamu (bulan Ramadhan). Lagu tersebut memberikan gambaran umat islam

diharapakan menyambut bulan suci yang penuh berkah ini dengan beberapa cara, yaitu harus siap nggelar klasa (memasang tikar) yang suci, hati suci. Saat ini mulailah membersihkan hati/ menjernihkan pikiran, perasaan, dan keinginan. Agar jangan sampai hati kita bedhah (robek) seperti tikar. Kendatipun hati terpaksa robek, harus diusahakan menambal dengan jadah. Maksudnya, jadah adalah makanan berasal dari ketan, karena jangan sampai di bulan Ramandhan ini raket (dekat) dengan setan, dekatlah dengan Allah, dengan jalan mujahadah dan mukhasabah. Dhayoh dalam padangan sufisme Jawa, juga bermakna bayi lahir. Bayi itu bersih, suci, belum ternoda. Karena itu, penyambutan bulan Ramadhan juga diharapkan seperti halnya orang sedang mendapatkan anugerah, kelahiran anak, gembira penuh harapan. Untuk itu mereka laksanakan padusan, agar suci bersih. Perasaan sedang ridla, ikhlas, selalu menyertai di dalam hati. Demikian, gambaran sekelumit cara Sunan Kalijaga mendakwahkan agama Islam dengan estetika yang membuat masyarakat pada waktu itu berduyunduyun memeluk agama Islam dengan senang hati, dan tanpa paksaan sedikitpun. Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi agar kita dalam melakukan apapun harus disesuikan dengan situasi dan kondisi kejiwaan masyarakat agar tujuan kita dapat tercapai dengan baik. Wassalam. *) Oleh Ahdi Riyono, S.S., M.Hum. Peneliti Bahasa dan Budaya, Universitas Muria Kudus

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

35


O

Pena Kampus

pi n i

Menggapai Kecerdasan Bernegara Oleh : Karmila Sari)*

Sejak kemerdekaannya 65 tahun yang lalu dari jeratan kolonialisme sampai sekarang bangsa Indonesia masih terseok-seok dalam perjalanannya menjadi negara DOK.PEKA

KARMILA SARI

N

maju. Meski Indonesia negara yang kaya dengan berlimpah Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) didalamnya.

amun sayang, keberlimpahan SDA dan keberadaan Indonesia di jalur perdagangan internasional ternyata tidak lantas mengubah status negara berkembang menjadi negara maju. Hal tersebut tidak lain karena ulah rakyat Indonesia sendiri. Sikap bangga atas kepemilikan SDA berlimpah tersebut memunculkan sifat malas dan rakus. Kedua sifat tersebut mengakar di pikiran dan hati masyarakat Indonesia dan memaksa nama Indonesia berada di jajaran negara berkembang. Tak seperti bangsa jepang yang lebih bangga ketika berhasil mencipta dari pada menikmati. Keberlimpahan SDA yang ada di tanah ibu pertiwi ini juga tak jarang menimbulkan masalah diantara warga Indonesia sendiri. Mulai dari kaum bawah hingga kaum elit berpendidikan. Golongan terpelajar yang selama ini sering menggaungkan kewaspadaan terhadap virus degradasi nilai, sedikit banyak telah terjangkiti virus itu sendiri. Hal itu terlihat mana kala didirikannya suatu perusahaan yang tidak mengindahkan adanya estetika berlingkungan yang baik. Keanekaragaman suku, budaya, dan agama di Indonesia sering terjadi bentrok. Persatuan Indonesia yang terkikis zaman tersebut, bukan tidak mungkin memberikan peluang bangsa lain untuk mengobrak-abrik negara melalui warga negaranya sendiri. Keberadaan kaum terpelajar yang menggunakan kecerdasannya untuk merugikan negara pun sekarang ini menjamur. Hal itu terlihat dengan masuknya nama Indonesia dalam analisa Political dan Economi Rick Consultancy (PERC), yang menempati peringkat 11 dari 12 negara terkorup, tahun 2008 lalu. (wawasan, 2008). Begitulah gambaran kecerdasan IQ yang tidak dibarengi dengan kecerdasan EQ dan SQ. Sistem pendidikan kita sekarang ini yang lebih menekankan pada perkembangan IQ, selayaknya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Karena sejatinya, perkembangan IQ, EQ, dan SQ itu harus pada tataran yang seimbang. Dengan begitu maka akan tercipta kecerdasan yang sejati pada diri warga negara Indonesia. Virus degradasi moral pun tak akan menjangkit. Kecerdasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diwujudkan untuk bisa membawa nama baik bangsa Indonesia

36

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

masuk kejajaran negara maju. Kecerdasan yang dimaksudkan disini merupakan kecerdasan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan alam bagi seluruh warga negara, dan kecerdasan dalam menjalankan tugas pemerintahan bagi pemegang jawabatan. Seperti pemerintahan yang nir korupsi, penghapusan mafia hukum, dan pelaksanaan kebijakan yang sesuai dengan aturan Undang-Undang. Menurut hemat penulis, kecerdasan tersebut dapat tercipta jika, pertama, dilakukan pengajaran sejarah bangsa dan pelestarian museum. Dengan begitu, generasi penerus bangsa dapat mengenang dan memetik pelajaran dari peristiwa sejarah lewat benda-benda bersejarah yang tersisa. Pemikiran generasi penerus pun berkembang menjadi lebih kritis dalam menghadapi sesuatu dan lebih tahu bagaimana menjalani kehidupan bernegara. Terlebih jika sejarah disajikan dalam bentuk film. Ini merupakan salah satu inovasi dalam pembelajaran sejarah. Bentuk nyata perjuangan para pahlawan yang dikemas dalam bentuk hiburan, setidaknya akan menarik massa lebih banyak dan pelajaran yang tersampaikan pun lebih mudah dicerna. Kedua, dilakukan pengajaran nilai dan norma sejak anak berusia dini yang dapat dijadikan pegangan untuk menghadapi masa dewasa dan hidup dengan lingkungan social yang lebih komplek sesuai perkembangan zaman. Ketiga, untuk menumbuhkan kecerdasan bernegara dalam usaha pemanfaatan dan pemeliharaan alam, hendaknya dilakukan secara continue. Pengenalan tentang manfaat dari macam-macam tanaman, cara pemeliharaannya dan kerugian jika merusaknya, setidaknya akan menumbuhkan cinta terhadap alam. Kembali pada hubungan alam dan manusia, manusia hidup karena tumbuhan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu, perlu adanya komunikasi yang selaras antara manusia dan alam agar tercipta hubungan yang harmonis. Keempat, peran serta pihak peradilan dalam mewujudkan kecerdasan bernegara pun penting. Hal itu mengingat senada dengan ungkapan yang senantiasa didengungkan di televisi. Kejahatan atau penyimpangan terjadi bukan hanya karena maksud pelaku, tetapi karena juga ada kesempatan. *Penulis adalah Mahasiswa PBI FKIP semester empat.


O

pi n i

Pena Kampus

Negeri Bento Namaku Bento rumah real estate Mobilku banyak harta berlimpah Orang memanggilku boss eksekutif Tokoh papan atas atas segalanya

M

asih ingatkah dengan lagu diatas, lagu lawas diatas adalah lagu berjudul Bento yang di populerkan oleh Iwan fals. Nama bento dilagu tersebut ibarap paara koruptor yang seenaknya saja membeli negeri ini. Jika mau meresapi lagu di atas sepertinya cocok dengan negeri ini. Aksi tipu tipu lobying dan upeti//Woow jagonya//Maling kelas teri bandit kelas coro//Itu kantong sampah. Dengan lirik tersebut Iwan fals didalam menggambarkan koruptor kelas atas yang seenaknya sajaa bermain hukum dan bisa membeli apa saja di negeri ini. Bahkan Negara seperti mainannya. Sebut saja Gayus seorang yang seenaknya keluar masuk penjara. Dia adalah salah satu bento di negeri ini. Padahal kita anggap Gayus adalah sosok koruptor yang besar, tapi saat sidang pembelaannya dia mengaku dirinya teri dan masih ada paus yang lebih besar dari pada dia. Bahkan dia berjanji bila diangkat sebagai staf ahli di beberapa bidang seperti staf ahli kapolri atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia akan mengungkap kasus-kasus korupsi sampai ke akarnya. Melihat keyataan di atas saya menyimpulkan negeri ini sebagai negeri Bento. ����� Mari melihat Negara kita sejenak. Indonesia yang merupakan negara hukum (rechstaat). Tapi hukum di negeri ini seperti jaring laba-laba, yang lemah terjerat, yang kuat terlewat. ��� Seperti para Bento yang seenaknya membeli hukum di negeri ini. Apalagi sejak mencuat skandal mafia

agus

IMAM KHANAFI pajak Gayus Tambunan seorang pegawai golongan IIIA Dirjen Pajak, sepertinya hukum di negeri ini dihina besar-besaran, Gayus dengan seenaknya keluar masuk penjara dengan uangnya, seperti yang sekarang jadi perdebatan dengan Paspor bernama Sony Laksono dia dengan enak pergi ke Makau. Dari skandal itulah makin terkuak ihwal betapa rusak supremasi hukum Indonesia. Bayangkan, meski ditahan di tempat khusus yang dijaga para Brimob, mantan pegawai negeri sipil Ditjen Pajak itu bisa ke luar-masuk berkali-kali. Penyebabnya, karena Gayus bermurah hati membagi-bagi uang kepada para petugas Rutan Mako Brimob itu. Bukan hanya plesiran ke Bali, bahkan jalan-jalan ke Singapura, Malaysia, dan China. Gayus adalah salah satu wajah Bento di negeri ini. Bento yang kaya raya

bahkan bisa membeli sagalanya. Hal tersebut terlihat betapa mudahnya dia membuat paspor dan mengelabui pihakpihak berwenang. Sungguh ironis penegakan hukum di republik ini. Lantas, apa yang harus dilakukan? Penegakan hukum harus didukung niat dan komitmen kuat dari para pemimpin ne­gara ini. Bukan hanya KPK yang harus turun langsung tapi segenap pihak yang berkait harus dengan sungguh-sungguh menyelesaikan kasus ini. Tanpa itu, supremasi hukum hanyalah wacana indah yang menghiasi perjalanan negara demokrasi baru ini. Yang mengkhawatirkan kelak muncul deviasi-deviasi seperti anarkisme massa, praktik korupsi kian mengganas, serta hancur tatanan hidup bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Pada giliran menyebabkan penghormatan atas hukum hilang. Situasi anomi seperti itu dapat berimplikasi lawlessness situation, yang niscaya memperluas efek imitasi hingga melahirkan gejala ”spiral pelanggaran hukum” yang tak berujung-pangkal. Semua koruptor berkembang seperti anak kucing yang subur. Bahkan yang baru di taangkap dan diketahui adalah bento kelas teri. Kita tunggu kapan pausnya ketangkap. Mungkinkah? Alhasil, jadilah Indonesia Negara bento. Negeri tempat para koruptor nyenyak tidurnya. Penulis adalah fans Iwan ��������� fals Mahasiswa Sistem Informasi Unibversitas Muria Kudus [ Edisi XVI Maret 2011 ]

37


R

Pena Kampus

e s e n s i

Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter bangsa Peresensi: Karmila Sari)*

K

ehadiran Islam di Pulau Jawa abad XI masehi lalu, tidak lepas dari peran Walisongo. Salah satunya Sunan Kudus. Nama Sunan Kudus tentu tak asing lagi bagi warga Kudus dan sekitarnya. Letak makam Sunan Kudus yang berada di kawasan Menara Kudus pun tak pernah sepi dari peziarah. Mulai dari orang di sekitar menara itu sendiri, luar kota, hingga turis manca negara. Dalam buku berjudul “Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa” ini, akan ditemukan dengan gamblang riwayat hidup Sunan Kudus. Sunan Kudus yang bernama asli Sayyid Ja’far Sodiq ini merupakan putera dari Raden Usman Haji atau yang akrab disebut Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Raden Usman Haji sendiri merupakan panglima dan imam pada masa Kerajaan Demak. Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus menikah dengan Dewi Rukhil, putri Raden Maqdum Ibrahim, Sunan Bonang, yang kemudian dianugrahi putra bernama Anmir Hasan. Selain itu, Sunan Kudus juga menikahi putri Pangeran Pecat Tandaterung dari Majapahit yang memberinya delapan orang putra. Melihat riwayatnya, tergambar jelas bahwa Sunan Kudus adalah keturunan orang terhormat dan kental dengan balutan agama. Meskipun demikian, dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya, Sunan Kudus menjunjung tinggi sikap toleransi dan rendah hati. Dalam bergaul, beliau tidak pernah membedakan latar belakang agama, ras ataupun tingkat kekayaan seseorang. Dalam buku ini, diceritakan tentang perjalanan Sunan Kudus saat menyebarkan agama Islam yang penuh dengan tantangan. Mulai dari tantangan dalam menghadapi Ki Ageng Pengging atau yang dikenal dengan Kebo Kenongo, yang membangkang dengan mengikuti ajaran Syekh Siti Jenar, yang dianggap menyesatkan umat. Di mana pada masa itu Sunan Kudus-lah yang bertugas menjadi eksekutor saat hukuman bagi Syekh Siti Jenar diputuskan. Sampai pada tantangan dalam menghadapi bangsa Portugis yang menyerang Indonesia, khususnya Malaka. Saat itu, disebut-sebut bahwa Adipati Unus yang dikenal sebagai pangeran Sabrang Lor itu adalah Sunan Kudus.

Hal tersebut sesuai apa yang diterangkan Prof Poerbatjaraka, di mana Adipati Unus yang merupakan sosok yang menggatikan Raden Patah dalam kedudukannya sebagai Sultan Demak II, itu sesungguhnya adalah Adipati Kudus yang tak lain adalah Sunan Kudus. Menurutnya, orang Portugis yang menyerang Malaka pada masa itulah yang keliru menyebutkan nama Adipati Kudus dengan Adipati Unus. Dalam sejarah disebutkan, Adipati Unus pada 1511 M menguasai Jepara dan menjadikannya sebagai pangkalan militer. Maka dengan mewarisi sifat keberanian ayahnya itulah, Sunan Kudus berhasil mengalahkan orang-orang yang mengusik diri dan kaumnya. Selain mempunyai sifat pemberani dan patriotis, Sunan Kudus juga dikenal sebagai orang yang populis. Karena sebagi pemimpin, Sunan Kudus begitu kharismatik dan dekat dengan rakyatnya. Dalam memimpin, Sunan Kudus tidak hanya “duduk manis” menunggu laporan dari bawahannya, tetapi juga turut serta menyatu dengan rakyat, sehingga mengerti apa yang dibutuhkan rakyatnya. Selain itu, buku ini juga membahas sejarah munculnya ragam budaya yang ada di Kudus. Misalnya budaya Dhandangan, Buka luwur, dan Pisowanan. Budaya tersebut layaknya dilestarikan. Paparan mengenai kearifan Sunan Kudus dan kelemah lembutannya dalam menyebarkan agama Islam yang menggunakan pendekatan kultural dan struktural dalam menyebarkan dakwahnya pun disinggung. Tak ketinggalan pula sejarah mengenai lahirnya Kota Kudus. Penulis juga menggambarkan dengan apik bagaimana perjalanan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam. Sifatsifat sunan kudus yang cocok untuk dijadikan teladan bagi para pemuda pun ditonjolkan dengan bagus untuk mengembalikan karakter anak bangsa yang kian luntur. Beberapa karakter Sunan Kudus yang ditonjolkan yaitu Waliyyul Ilmi, saudagar, multikulturalis, filosofis, patriotis, kreatif, populis, sufistik, dan arsitek. Keahlian sunan Kudus dalam bidang arsitek terlihat dengan megahnya Menara Kudus. Menara yang menjulang tinggi bagaikan mencakar langit tersebut merupakan menara masjid tertua di Jawa. Dengan mengadopsi budaya Hindu sebagai penghormatan terhadap masyarakat kudus yang sebelumnya kebanyakan beragama Hindu. Dari situ terlihat betapa besarnya toleransi yang tertanam dalam diri Sunan Kudus.

Judul Buku : Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter bangsa Pengarang : Nur said, S. Ag., M.A., M. Ag. Penerbit : Brillian Media Utama Cetakan : Pertama, Oktober 2010 Tebal : xxviii + 260 Halaman *) Peresensi, Mahasiswa FKIP Semester IV

38

[ Edisi XVI Maret 2011 ]


R

e s e n s i

Pena Kampus

Kapasitas Masyarakat Merapi dalam Menghadapi Bencana Peresensi: ������������ Imam Khanafi

E

RUPSI Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 lalu menyisakan banyak masalah dan kenangan. Bencana tersebut menyebabkan berbagai dampak serius baik berupa korban jiwa maupun harta benda. Perekonomian warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun terpengaruh. Hingga sampai saat ini bahaya itu pun tak kunjung usai. Lahar dingin kini bukan lagi ancaman serius namun telah terbukti keganasannya. Bagaimana masyarakat Merapi sesungguhnya ada di dalam buku ini. Letusan Gunung Merapi tahun itu terbilang letusan terbesar sepanjang sejarah letusan Merapi yang tercatat. Melihat perkembangan meletusnya Gunung Merapi, semua hal tersebut tak lepas dari ������������������������������������� persepsi dan sistem kepercayaan masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi. Ketika kita bicara Merapi maka kita akan membicarakan kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitarnya. Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di bumi Nusantara, sejarah mencatat setidaknya letusan gunung Merapi sudah terjadi sejak 1.000 tahun lalu. Karena aktivitas Merapi pulalah yang mengakibatkan berpindahnya kebudayaan kerajaan Mataram kuno ke daerah Jawa Timur. Selain itu banyak desa dan candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Hindu maupun Budha tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi. Candi-candi tersebut berada di dusun-dusun seperti Kadisoka, Kedulan, dan Sambisari (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta). Selain itu letusan Gunung Merapi merubah wujud asli Candi Borobudur yang mulanya berada di tengah-tengah danau. Tahun 1006 M, menurut Van Bemmelen (1949) Gunung Merapi pernah meletus. Akibat letusan ini sebagian puncak runtuh dan longsor ke arah barat daya, tertahan oleh Perbukitan Menoreh, kemudian membentuk gundukan-gundukan bukit yang dikenal sebagai Gendol Hills. Demikian yang telihat dari buku Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya yang di tulis Lucas Sasongko Triyoga. Buku ini ditulis dari hasil penelitian lebih dua puluh tahun silam. Namun, buku ini masih relevan dengan situasi terkini. Dalam buku ini pembaca akan dibawa pada sebuah pemahaman bersama betapa sesungJudul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

guhnya ada spirit, ada dorongan, yang membuat masyarakat masih percaya dan betah tinggal di sekitar Gunung Merapi. Buku ini membahas beberapa tema yang terkait dengan Merapi dan masyarakat Jawa. Pada bagian “Tiga Desa di Lereng Gunung Merapi”, membahas sejarah tiga desa di lereng Merapi, yaitu Desa Kawastu, Desa Korijaya, dan Desa Wukirsari. Buku ini ada pembahasan tentang penduduk di lereng Gunung Merapi mempunyai kepercayaan bahwa selain manusia, dunia alam semesta juga dihuni makhluk lain yang mereka sebut dengan bangsa atau makhluk halus. Layaknya kehidupan manusia, dalam dunia makhluk halus terdapat organisasi tersendiri yang mengatur hierarki pemerintahan dengan segala aktivitasnya. Salah satu hierarki pemerintahan makhluk halus yang erat di penduduk adalah Keraton Makhluk Halus Gunung Merapi yang menurut penduduk dari ketiga desa tersebut. Juga ������������� dibahas tempat-tempat angker, binatang-binatang sakral, serta sebab musabab letusan dan cara meramalkannya. Buku ini ditutup dengan sebuah prolog yang membahas semua fenomena yang hidup di sekitar Merapi hingga saat ini. Tentang ketiga desa yang dibahas buku ini dihantam badai pyroclastic alias wedhus gembel, yang memakan korban jiwa penduduk setempat, termasuk meninggalnya Mbah Maridjan, sang Juru Kunci Merapi. Buku ini menakjubkan karena merupakan buku pertama yang menganalisis gunung berapi di Indonesia dari segi manusia bukan dari segi ekologi fisik. Ada beberapa hal yang menarik melihat dan membaca buku ini masalah kapasitas masyarakat merapi. Kapasitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, keuangan dan lainnya). Kapasitas ini bisa merupakan kearifan lokal masyarakat yang diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu contoh kearifan lokal yang merupakan kapasitas sebuah daerah adalah, cerita tentang ciri-ciri tsunami di Pulau Simeuleu, Aceh. Masyarakat Simeulue telah mengetahui bahwa surutnya air laut pascagempa adalah ciri-ciri tsunami dari cerita yang diturunkan oleh orang tua mereka. Maka ketika terjadi gempa bumi yang diikuti surutnya air laut, mereka segera mengungsi ke tempat tinggi untuk menghindari tsunami.

: Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya : Lucas Sasongko Triyoga : Grasindo, Jakarta : Pertama, November 2010 : xxiv + 232 halaman

*) Peresensi, Tim Psikososial Fakultas Psikologi UMK di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

39


R

Pena Kampus

e s e n s i

Kenikmatan dalam Kemiskinan Peresensi: Harum Wardati

A

pa yang ada di benak anda setelah membaca judulnya? pasti anda berfikir bahwa buku ini adalah buku yang aneh atau buku yang tidak realistis. Karena miskin identik dengan kesengsaraan dan tidak akan merasakan kenikmatan sama sekali. Bahkan Semua orang setuju dengan pendapat bahwa miskin adalah penderitaan, penderitaan yang tak ada hentinya. Tidak bisa sekolah, makan makanan yang enak apalagi berbelanja. Menjadi tokoh utama dalam dunia kemiskinan tidaklah mudah, berbagai tekanan hidup dan beban mental selalu ada di sekitar. Sehingga miskin sangat dibenci oleh semua orang di seluruh dunia. Tidak sedikit diantara kita yang takut terperosok ke dalam jurang kemiskinan. Daa dengan berbagai cara kita sebisa mungkin untuk menghindarinya, dengan cara yang halal ataupun haram. Kita akan begitu panik jika harta yang kita punya dicuri ataupun terbakar. Tetapi kalau kita dapat berfikir positif, miskin tidak selamanya merugikan. Beberapa orang memanfaatkannya untuk mencetak pundi-pundi uang. Ini secara otomatis akan membantu orang-orang kaya dalam memperoleh uang lebih banyak, sungguh “mulia” kan? Semisal, pembuat program televisi membuat semacam bedah rumah, Minta Tolong, Tukar Nasib, Andai Aku Menjadi dan masih banyak lainnya. Begitu juga para politisi, mereka menjadikan kemiskinan sebagai komoditas utama untuk pendulang suara ketika masa Pemilu tiba. Mereka ramai-ramai mengaku sebagai pembela wong cilik, pro rakyat dan sebagainya. Namun, nasib kaum miskin tak juga berubah. Kemiskinan seolah-olah sengaja dipelihara agar para penguasa mempunyai kesibukan untuk mengurusi orang miskin. Mereka pun bisa membuat berbagai program pengentasan kemiskinan sehingga memancing simpati orang. Mungkin inilah salah satu tragedi kemiskinan yang dieksploitasi. Namun, rakyat miskin tidak menyadari jika mereka lah yang sebenarnya menjadi objek utama untuk memancing simpati orang demi mengeruk keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Di dalam buku The Power of Miskin, penulis mengupas persoalan hutang Indonesia dengan negara adikuasa, Amerika Serikat (AS). Dituliskan, Indonesia sejatinya akan dibuat takluk dengan cara diberi Judul Penulis Penerbit Tebal Cetakan

40

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

pinjaman oleh AS. Pinjaman tersebut dibuat sedemikian rupa, agar pada akhirnya Indonesia tak mampu membayarnya. Jika tak mampu membayar, sebagai kompensasinya Indonesia harus memberi kesempatam bagi perusahaan Amerika untuk mengerjakan proyek pembangunan di Indonesia. Menurut Rahmat H.M dan Farizal al Boncelli, penulis buku ini, strategi yang digunakan oleh negara adikuasa tersebut adalah strategi perang gaya baru. Di sisi lain, penulis menyebut adanya kenikmatan di dalam kemiskinan. Ketika kita menyukuri keadaan apapun yang ada, akan menjadi kenikmatan yang sungguh luar biasa. Dengan ������� menjadi miskin, kita justru semakin dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam karyanya ini, penulis bukan bermaksud untuk menyuruh menjadi kaum miskin. Namun, kaum miskin tidak selamanya buruk dan hina. Justru dengan menjadi miskin, dapat lebih sabar menghadapi ujian dan tidak perlu disibukkan dengan harta bendanya. Dengan miskin kita dapat mengikis kesombongan karena rasa sombong identik dengan merasa besar. Merasa diri besar biasanya terjadi pada orang-orang yang diberi kelebihan oleh tuhan, baik berupa kekayaan, kepintaran, kemenangan, ataupun kedudukan, mereka menganggap bahwa itu semua berasal dari dirinya sendiri bukan dari Tuhan semata. Janganlah berfikiran bahwa kondisi kemiskinan yang menimpa kita adalah suratan takdir. Kelemahan adalah alasan untuk berhenti berusaha. Yang menjadi inti dari permasalahan buku ini adalah miskin bukan hanya diam. Diam untuk menanti uluran tangan dan belas kasihan dari orang lain tanpa harus berusaha. Tetapi keistiqamahan kita untuk terus berjuang dan berusaha. Oleh karena itu, janganlah kita takut untuk miskin. Justru sebaliknya, kemiskinan itu seharusnya bisa membuat kita lebih bersabar, semakin khusyuk untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di sisi lain, menjadi orang kaya pun tidak ada salahnya. Apalagi, jika kekayaan tersebut dapat digunakan untuk beramal lebih banyak dibandingkan dengan si miskin. Buku yang begitu bijaknya ini juga tidak luput dari kelemahan. Buku terbitan FalsBooks ini disusun dengan menggunakan pendekatan Islami, sehingga segmen pembaca lebih terbatas pada umat agama tertentu saja. Terlebih, di dalam buku ini banyak mengupas beberapa perkataan Nabi dan firman Allah SWT.

: The Power of Miskin! ( Kendati ��������������������������������������������������������� Miskin, Aku Sama Saja Denganmu, Sama Manusianya ) : Rahmat H.M dan Farizal al Boncelli : FalsBooks : 214 : Pertama, Agustus 2010

*) Peresensi, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Semester VI


W

a c a n a

Pena Kampus

Memotret Kriminalitas di Kudus Oleh: Mochamad Widjanarko

B

elum lama ini, di Kudus, kota kecil di Pantai Utara Jawa Tengah bagian Timur terjadi beberapa tindak kejahatan pembunuhan. Pertama, pembunuhan sadis dengan korban Kepala Urusan Umum Kesejahteraan Rakyat Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan. Kasus berikutnya pembunuhan dengan pelaku orang yang tidak dikenal di jalan Desa Jekulo, Desa Sadang Kecamatan Mejobo Jumat 15 oktober 2010. Korban tercatat sebagai mahasiswa semester 3 di Fakultas Teknik Elektro Universitas Muria Kudus (SM,17/10-2010). Penulis mencoba untuk mengurai kenapa pelaku bisa melakukan pembunuhan. Tokoh kriminologi, Sutherland (1960) menyatakan seseorang yang melakukan perbuatan kejahatan, tidak hanya dilakukan orang-orang kelas bawah. Namun kejahatan dilakukan juga oleh orang-orang kelas atas. Penjahat adalah istilah dalam ilmu kriminologi, sedangkan dalam hukum pidana istilah tersebut sesuai dengan tingkatannya. Status tersangka kalau perkaranya masih di tingkat penyidikan, terdakwa apabila telah sampai ke persidangan. Kemudian ketika jaksa penuntut umum telah mendakwanya dengan suatu pasal, dinamakan terpidana. Selanjutnya, apabila hakim berpendapat ia bersalah dan cukup alat bukti untuk membuktikan kesalahannya, dan menjadi narapidana apabila ia menjalani pidananya di lembaga pemasyarakatan. Bagaimana memprediksi terjadinya kejahatan? Perubahan sosial di negara kita memiliki pengaruh terhadap pe-

Nor Kholidin/peka

M. WIDJANARKO

Perlu pemilahan yang je­

las untuk waktu dan tema te­ levisi yang akan dikonsumsi oleh orang rumah

’’

rubahan sosial di masyarakat. Arus informasi sudah tidak bisa lagi dibendung oleh siapapun, menyeruak masuk dalam ruang-ruang pribadi. Seperti keluarga, produk-produk kekerasan yang diajarkan oleh televisi telah menanamkan pengaruhnya pada konsumen penikmat televisi secara tidak langsung. Konsumen ini tidak lagi mengenal batas, dari anak-anak sampai orang tua menikmati televisi. Benda ajaib berwajah kotak yang bisa membuat penontonnya secara tidak sadar meresapi dan mengiyakan semua “ajaran” yang ditonton. Perlu pemilahan yang jelas untuk waktu dan tema televisi yang akan dikonsumsi oleh orang rumah. Hal ini merupakan langkah awal yang bisa kita lakukan untuk mendistorsi pengaruh televisi. Kita tidak akan mengambing hitamkan televisi, karena televisi hanya salah satu faktor penting dalam memperngaruhi perilaku individu. Faktor yang terpenting lainnya adalah, adanya keinginan sifatnya instan yang dihinggapi oleh masyarakat kita. Keinginan yang langsung jadi, sak dhet sak nyet, tidak melalui proses yang mengeluarkan keringat atau aktivitas yang memaknai harus belajar sabar, menahan emosi (psikis) dan mengendalikan keinginan semata. Tindakan instan bisa jadi dikarenakan juga oleh kondisi lingkungan sekitar kita yang dilingkari oleh peran kapitalisme jual-beli. Faktor ekonomi secara psikologis memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Lihatlah, wajah konsumerisme masyarakat kita yang terjebak dengan [ Edisi XVI Maret 2011 ]

41


W

Pena Kampus budaya instan. Mau motor keluaran baru, tinggal memiliki uang Rp 500 ribu, mau televisi model baru hanya membayar Rp 500 ribu, selanjutnya terserah anda. Realitas dalam kehidupan kita, kenaikan harga pokok dan pengeluaran keluarga atau individu tidak diimbangi oleh pendapatan dan menimbulkan perilaku gali lubang tutup lubang, sehingga menyebabkan seseorang menjadi bersikap pragmatis dan instan. Tidak lagi memercayai kekuatan kesabaran dalam berkehidupan akibatnya menjadi terbetik keinginan untuk memperoleh barang, atau materi secara mudah, pintas dan tidak lagi mengenal tata krama kehidupan. Alhasil, kriminalitas menjadi salah satu muaranya. Pembunuhan atau tindakan kriminalitas merupakan mengingkaran akan kehidupan yang telah diajarkan oleh para sesepuh kita untuk selalu mengikuti proses kehidupan. Tidak ada padi jika tidak menjalani ritme: membajak, menanam, menyemai dan memanen. Tidak ada barang berwujud batik kalau tidak ada orang yang membatik, memproses menjadi baju batik. Semua lingkaran proses kehidupan ini tidak bisa dipotong menjadi instan kecuali dengan kekuatan ekonomi. Seseorang memiliki uang ke toko batik dan membeli batik, sudah selesai. Tanpa disadari proses ekonomi inipun mengenal adanya lingkaran proses alias tidak

42

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

instan. Bagaimana dia mempunyai uang, apakah dari menabung sedikitdemi sedikit atau hasil kerja kerasnya dalam bentuk gaji? Proses lingkaran kehidupan dalam bermasyarakat ini yang tidak lagi dimaknai oleh masyarakat kita. Sehingga nyawa menjadi sesuatu yang murah dibandingkan dengan hargaharga yang lain. Oleh karenanya, muncul suatu reaksi yang diberikan terhadap peristiwa kejahatan atas kejahatan yang terjadi. Masyarakat melalui lembaga penegakan hukum akan memberikan reaksi tindakan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan. Lembaga penegakan hukum sebagai suatu lembaga yang diberi mandat oleh masyarakat dalam bereaksi terhadap kejahatan tidak terlepas dari keberadaannya sebagai suatu sistem, yakni sistem peradilan pidana. Sistem peradilan pidana yang terdiri dari berbagai unsur penegak hukum yaitu kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Jika masyarakat sudah tidak lagi mengenal sistem ini maka yang terjadi adalah anarkisme, pembalasan dendam secara brutal. Menurut Dermawan (2000), aspek kejiwaan dari pelaku kejahatan, dinamakan the episodic criminals, yaitu pelaku kejahatan yang melakukan kejahatannya sebagai akibat dorongan perasaan atau emosi yang

a c a n a

mendadak tak terkendali. Dinamakan the mentally abnormal criminals, jika pelaku kejahatan yang jiwanya abnormal dan disebut the non malicious criminals, kalau pelaku kejahatan yang melakukan kejahatan karena menurut keyakinan mereka perbuatan tersebut bukan merupakan kejahatan. Kondisi ini untuk memetakan pelaku kejahatan termasuk dalam kriteria yang mana. Selain mendapatkan peta kondisi psikologis pelaku kejahatan, cara yang lain, pencegahan kejahatan bisa saja dilakukan dengan pendekatan sosial (social crime prevention. Untuk menumpas akar penyebab kejahatan dan kesempatan individu untuk melakukan pelanggaran dengan pemberian lapangan pekerjaan pada kelompok masyarakat yang memiliki resiko tinggi melakukan pelanggaran. Kemudian, melakukan pendekatan situasional, dengan mengurangi kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan pelanggaran dan pendekatan kemasyarakatan untuk memperbaiki kapasitas masyarakat dalam mengurangi kejahatan dengan jalan meningkatkan kapasitas masyarakat. Mengunakan kontrol sosial informal, contoh, menggairahkan sistem keamanan kampung atau yang kita kenal dengan nama siskamling. Oleh: Mochamad Widjanarko Staf pengajar Fakultas Psikologi di Universitas Muria Kudus dan Peneliti Sosial.


W

a c a n a

Pena Kampus

Relasi Pendidikan Karakter, Entrepreneurship dan Budaya

Implementasi di Perguruan Tinggi Oleh: Saifudin*)

P

rihatin jika kita melihat saat ini banyak terjadi kekerasan, maraknya pornografi, budaya plagiarisme dan banyaknya pengangguran intelektual yang tidak tertampung di lapangan kerja. Padahal ada agenda dari Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia saat ini yang dapat menangkal semua permasalahan di atas, yaitu implemetasi Pendidikan Karakter bagi seluruh peserta didik mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai ke jenjang Perguruan Tinggi. Bagi Perguruan Tinggi, ini merupakan implikasi dari tuntutan untuk mampu menghasilkan output lulusan yang tidak hanya menjadi job seeker (pencari kerja) tapi mampu menjadi job creator (pencipta lapangan kerja). Sebagai bahan pertimbangan saat ini telah menumpuk 1,1 juta angka pengangguran intelektual (BPS,2010). Di sisi lain, data Kemenakertrans mencatat bahwa jumlah entrepreneur di Indonesia tidak lebih dari angka 0,37 persen dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009. Idealnya menurut mUHAMMAD ULIN NUHA/PEKA ILO(Organisasi Buruh Dunia), sebuah Negara maju minimal 2 persen pen- KWIRAUSAHAAN: Praktik pembuatan kompos yang berprospek ke depan duduknya menggeluti profesi sebagai entrepreneur. Entrepeneur ini, salah sa- Kita prihatin kondisi lingkungan terce- sisi eksternal mahasiswa. Pekerjaan tunya tercipta dari proses pendidikan. mar pola hidup hedonisme, kekerasan, rumah kita adalah bagaimana mengajak Pendidikan merupakan kegiatan belajar tidak jujur dan pornografi. Hal ini ber- mahasiswa untuk dapat berpikir secara mengajar antara pendidik dengan peserta dampak pada perkembangan psikologis out of the box. didik. Akumulasi kegiatan belajar men- dan moral di masyarakat. Supaya kemandirian itu ada, mahagajar ini teraktualisasi dalam bentuk perisiswa tidak harus berpikir secara teoritis laku. Lewin (dalam Hadi Supeno, 2010) Softskill Kunci Pendidikan Karakter saja, mereka harus kita stimulasi dengan menjelaskan bahwa Perilaku merupakan Pendidikan Karakter dalam diterapkan di wacana entrepreneurship skill yang akumulasi kepribadian dan lingkungan. lingkungan perguruan tinggi, melalui mekan- menerap inovasi, opportunity creating Jika kita lihat Teori Lewin tersebut, isme melatih softskill mahasiswa. Softskill dan calculated risk taking. maka perilaku memegang peranan yang yang diberikan berupa antara lain: Inovasi disini merupakan suatu upaya penting dalam pendidikan karakter. Le1. Kemandirian, hal ini yang memi- nyata melakukan perubahan secara wat perilaku jualah budaya yang sebe- liki pengertian kemampuan mengambil revolusioner yang terarah dan mampu narnya itu benar-benar dikatakan sebagai keputusan. Melatih mahasiswa mempun- melewati target capaian yang diterapkan budaya. Halangan besar saat ini adalah yai keterampilan mengambil keputusan, dalam bidang ilmu pengetahuan, seni realitas sosial dan budaya sebagai vari- esensinya terletak pada kompetensi dan teknologi. Penulis meyakini bahwa abel lingkungan, tidak kondusif dalam untuk mampu memilih dan memilah inovasi bisa direalisasikan jika ada tools menyemaikan generasi yang berkualitas. berbagai pengaruh yang datang dari atau piranti yang mendukung, ada media [ Edisi XVI Maret 2011 ]

43


W

Pena Kampus berupa sarana dan prasarana, ada kompetisi yang mewadahi untuk berlomba dalam prestasi. Sedangkan Opportunity Creating bermakna bahwa disetiap ada celah berupa peluang harus selalu dimanfaatkan semaksimal mungkin agar terpacu diri untuk mengoptimalkan waktu dan target yang ada. Penulis meyakini bahwa disetiap peluang pasti ada jalan ikhtiar sebagai sarana mencapai hasil maksimal. Dan yang berikutnya Calculated Risk Taking berarti setiap aktivitas harus selalu dibarengi dengan perhitungan risiko secara tepat, karena setiap ativitas berimplikasi pada dua akibat, jika tidak untung ya rugi, disini parameter kesuksesan sebuah capaian menjadi pertaruhan secara nyata, tetapi sebagai insan yang beriman kita selain ikhtiar harus juga bertawakkal kepada Allah SWT dan juga harus berprinsip bahwa dibalik suatu kegagalan pasti ada hikmah berupa kesuksesan yang tertunda, yakinilah bahwa sikap apatis atau putus asa hanya merupakan sikap yang merugikan dan sudah tidak berlaku bagi setiap hamba Allah SWT yang menginginkan kemajuan dan keberhasilan. 2. Motivasi berprestasi, ini bermakna mahasiswa distimulasi untuk berprestasi dalm berbagai aktivitas yang positif. Tentu saat mereka berprestasi akan tumbuh rasa bangga bukan dari kepemilikan materi tetapi dari capaian prestasi dan menghasilkan karya-karya yang berbobot. 3. Moralitas, yang mana moralitas berperan sebagai fondasi menanamkan

44

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

sofskill mahasiswa. Dengan bekal moral yang baik, mahasiswa mampu menentukan hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Moralitas ini sangat dekat dengan budaya, yang mana budaya adalah keseluruhan gagasan, budi dan karya manusia yang dicapai lewat proses pembelajaran. Jika kita tarik benang merahnya, bahwa moral yang berbudaya adalah perilaku yang mampu memfilter pengaruh dikarenakan adanya kedewasaan dalam menyampaikan gagasan, budi dan karya melalui proses pembalajaran. Dari paparan singkat diatas, kita meyakini bahwa sudah saatnya perguruan tinggi menerapkan pendidikan karakter yang berwawasan entrepreneurship dan budaya. Kita meyakini bahwa output lulusan perguruan tinggi yang dibekali pendidikan karakter, entrepreneurship dan moral yang berbudaya, tidak akan kesulitan mencari kerja atau membuka lapangan kerja dari disiplin ilmu manapun, dan tentu di masyarakat akan dapat diterima menjadi bagian dari elemen masyarakat yang dapat diandalkan. Kunci itu semua, terletak pada cetak biru perguruan tinggi berupa kurikulum yang mengadopsi pendidikan karakter yang berwawasan entrepreneurship dan budaya. Tidak hanya berupa ketrampilan tambahan sebagai syarat kelulusan, tetapi betul-betul terdapat dalam setiap kurikulum masing-masing disiplin ilmu di lingkungan perguruan tinggi tersebut. Kurikulum yang berwawasan pada pendidikan karakter, entrepreneurship dan budaya secara kolektif selain memiliki daya tawar yang baik

a c a n a

bagi calon mahasiswa baru, juga mampu menjembatani Reality Gap (jurang fakta) antara dinamika kemajuan konseptual teori di perguruan tinggi dengan praktik hidup di laboratorium nyata di masyarakat, sehingga mahasiswa akan siap terjun di masyarakat dan tidak lagi membebani masyarakat sebagai pengangguran intelektual dengan menjadi motor penggerak pembangunan masyarakat secara nyata. Selain itu bagi institusi mitra, akan menjadi credit point untuk melanggengkan dan meningkatkan hubungan kerjasama. Dan di setiap even baik untuk akreditasi, program hibah kompetisi, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, program ini akan menjadi nilai plus atau panglima bagi kesuksesan even tersebut sebagai uniquely program atau program kekhasan yang berbeda dengan institusi lain. Pada akhirnya, kepada decision makers implementasi hal tersebut diatas dapat dimulai dan dilaksanakan di perguruan tinggi, sebagai tempat persemaian peradaban, ilmu pengetahuan, seni & teknologi dan budaya tingkat tinggi untuk membawa negeri ini menjadi Negara yang lebih maju dan beradab. *) Alumni FE Universitas Muria Kudus Tahun 2001, Dosen Belum Tetap di Jurusan Akuntansi S1 FE Universitas Muria Kudus, Alumni TOT Nasional Pendidikan Kewirausahaan bagi Dosen PTN/PTS dengan penyelenggara Ditjen Kelembagaan Dikti kerjasama dengan UCEC tahun 2009 di Yogyakarta.


B

u d a y a

Pena Kampus

Tak Ada Regenerasi Caping Kalo Warisan Budaya Terancam Punah

M

asalah klasik banyak menghinggap pada warisan budaya yakni masalah kaderisasi. Caping Kalo menjadi salah satu warisan budaya di Kudus yang sedang serius menghadapi masalah ini. Hanya tinggal satu pengrajin yang masih setia memproduksi caping khas Kudus ini. Kulit keriput nampak jelas membungkus tubus Kamsin, warga Desa Gulang, Kecamatan Mejobo. Maklum saja usianya telah senja, usianya telah berkepala delapan. Tak ada sesuatu yang istimewa dari sosoknya, bahkan terkadang memaksa harus ”dowo ususe” (sabar) pada orang yang berkomunukasi dengannya. Usia yang tak lagi muda mengurangi daya dengarnya. Tak ada yang istimewa memang, jika hanya sekilas memandang. Namun, dialah sosok satu-satunya yang masih setia

Oleh: Muhammad Ulin Nuha menekuni kerajinan membuat caping khas Kudus, Caping Kalo. Di bawah naungan atap seng disebelah timur rumah sederhananya, dia berteduh dari sengatan matahari siang yang mengganas. Sambil ditemani putranya, Kamto (37) serta beberapa tetangganya, Kamsin tak segan menunjukkan teknik pembuatan dan bercerita tentang hasil karyanya. Kerajianan pembuatan caping kalo telah puluhan tahun dilakoninya. Dia mengaku memulai pembuatan bagian dari pakaian adat khas Kudus ini sejak zaman penjajahan Jepang, sekitar tahun 40-an. ”Saya mulai membuat caping kalo kira-kira sejak usia 15 tahun. Sejak masih dijajah Jepang,” ujarnya. Keahlian membuat penutup kepala khas bagi perempuan pada pakaian adat khas Kudus tersebut dia dapatkan turun-

temurun. Satu keluarganya dulu memang pengrajin Caping Kalo. Tiap-tiap anggota keluarganya memiliki spesialisasi membuat bagian dari caping kalo. Keahlian tersebut rupanya tidak hanya dimonopoli keluarganya, dulu di Desa Gulang menjamur perajin caping ini. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah pengrajin semakin berkurang dan terus berkurang. Pada akhirnya tinggal dia seorang yang kini masih bertahan. ”Jika saya sudah tidak ada (meninggal, Reda) entah siapa yang melanjutkan, mungkin Caping Kalo akan punah,” keluhnya. Hal ini terjadi mengingat tingkat kerumitan pembuatan yang membutuhkan kesabaran lebih dan waktu tak sedikit. Satu caping dengan bisa memakan waktu hingga satu pekan. Itupun tanpa memintal ijuk sebagai pengikat pinggiran caping dan tanpa membuat bagian

mUHAMMAD ULIN NUHA/PEKA

Terumit: Kamsin menunjukkan bagian terumit Caping Kalo. Bagian ini nantinya ditempatkan paling atas pada Caping Kalo. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

45


B

Pena Kampus

u d a y a

mUHAMMAD ULIN NUHA/PEKA

Merana: Nasib pengrajin dan warisan budaya Caping Kalo sama-sama merana karena tak ada regenerasi.

penutup paling atas. Harganya pun dirasa kurang menjanjikan. Jika dengan memintal ijuk, maka waktunya lebih lama lagi. Ijuk yang dipakai tidaklah sembarangan. Hanya ijuk yang tipis dan lembut yang digunakan. Inilah yang membuatnya lama, karena harus memilah-milah ijuk yang masih campur dengan ijuk tebal dan kasar saat membeli. Selain pemilahan ijuk, proses terumit yang memakan banyak waktu yakni pembuatan bagian atap paling atas caping. Bagian ini dibuat dengan bambu yang telah raut sangat tipis. Kemudian dirajut manual dengan dengan pola bintang enam. Rajutan ini menyerupai jaring ikan, tipis namun tetap kuat. Dalam membuat caping kalo, Kamsin tidak membuat bagian paling atas ini. Dia membelinya dari Rujipah (65) yang juga warga Desa Gulang, sekaligus spesialis satu-satunya pembuat bagian ini. Disebut caping kalo karena bentuknya memang menyerupai kalo (alat dapur penyaring santan kelapa, berbentuk bulat dari bambu). Untuk mendapatkan caping yang berkualitas tinggi, bahan-bahan pilihan sangat diperhatikan. Bahan-bahannya meliputi, bambu yang ulet, ijuk

46

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

halus, dan daun sula tua. Caping kalo sendiri terdiri empat seri yang berbeda ukuran dalam satu setnya. Caping nomor satu memiliki diameter 20 cm, nomor dua 30 cm, nomor tiga 40 cm, dan nomor empat 50 cm. satu set tersebut dapat digabungkan menjadi satu dengan cara dimasukkan ke tiap serinya. Ditanya harga caping tersebut, Kamsin mengaku, caping ukuran paling besar dia jual dengan harga Rp 150 ribu. ”Harga tersebut lebih murah Rp 10 ribu untuk ukuran di bawahnya,” tuturnya. ”Caping ini jarang sekali terjual, hanya ketika ada pesanan saja. Misalnya dari Pemda Kudus dan pesanan lainnya. Makanya saya membuat saat ada pesanan saja. Namun terkadang saya membuat untuk stok, siapa tahu kalau ada yang nyari Mas…” bebernya. Pesanan banyak biasanya pada waktuwaktu menjelang wisuda perguruan tinggi. ”Saya pernah dapat pesanan dari perguruan tinggi di Wonosobo sebanyak 130 caping dan perguruan tinggi dari Temanggung sebanyak 30 caping,” kenangnya. ”Jarangnya peminat terhadap caping ini karena kaum hanya sekarang lebih memilih jilbab dan penutup kepala lain

kalau pergi ke pasar. Yang saya jumpai masih menggunakan caping ini hanya ada tiga, semuanya mbah-mbah istri warga Gulang yang berjualan sayuran,” ungkapnya. Selain membuat caping kalo, Kamsin juga membuat Caping Pereng. Namun, caping tersebut bukan khas Kudus. Caping ini bahannya sama, namun bentuk dan ukurannya berbeda. Caping ini jauh lebih lebar serta bentuknya kerucut lebar seperti caping pada umumnya. Dia menambahkan, demi melestarikan warisan budaya tersebut pihak pemerintah lewat Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) pernah melakukan pelatihan pembuatan Caping Kalo pada generasi muda. Namun pelatihan tersebut hanya isapan jempol belaka. Tak bertahan lama, peserta pelatihan pun habis. ”Pihak pemerintah juga rencananya kembali bakal membuat pelatihan lagi,” katanya. Memprihatinkannya warsisan budaya tersebut mungkin tak hanya dialami Caping Kalo jika kepedulian tak dilakukan sejak dini. Beberapa warisan budaya lain yang cukup memperihatinkan diantaranya Kentrung, Wayang Klitik, dan Selendang Toh Watu.


M

e m m o a r

Pena Kampus

Mengenang Siti dan Mungkid Oleh ����������������� Anik Nur Khaninah

S

iapa yang suka dengan bencana? siapa yang ingin Kali ini tim bermain di lapangan depan balai desa tempat tertimpa bencana? tentunya setiap orang tak ingin pengungsian. Tim Psikososial bermain Kandang Sapi, pijak merasakan peristiwa tersebut, apalagi seperti yang balon dan permainan tepuk tangan (Tepuk Monyet, Tepuk menjadi musibah bagi penduduk yang bernaung di desa-desa Badut). Anak-anak ��������������������������������������������������� tampak antusias dan senang sekali dengan sekitar Gunung Merapi. Hanya ������������������������������������� kesedihan dan air mata tertata permainan yang kami berikan. Dengan riangnya tawa seolah berjatuhan membasahi bumi yang tertutup debu vulkanik. melupakan semua kesedihan dan rasa khawatir yang mereka Rasa sedih menerenyuhkan hati kami, seakan tersambut rasakan selama di pengungsian. rasa yang amat begitu menderita ketika kami sampai di Namun dibalik tawa tersebut tersimpan kesedihan, karena posko pengungsi Kecamatan Mungkid, Kabupaten Mage- mereka tak dapat bermain dengan bebas diluar berlama-lama lang senin itu (08/11). Debu-debu vulkanik begitu derasnya yang mereka inginkan, ini semua dikarenakan abu vulkanik turun di luar, sementara dalam posko terdengar sebagian yang terus berjatuhan tanpa henti dan entah sampai kapan suara meraung-raung seakan sebagian banjir tangis. mereka harus menunggu keadaan kembali seperti dulu lagi. Namun ada senyum indah terlontar Setelah bermain, dilanjutkan dengan dari mulut gadis kecil bernama Tia, menggambar bersama untuk menghilanganak yang berumur empat tahun ini kan kejenuhan, kemudian nonton film menyambut tim kami dengan keporekaman tim selama di Posko MunSiti telah mem- hasil losannya. Tim terdiri dari satu dosen, gkid. Anak-anak dan orang tua senang sekaligus koordinator tim: M. Widjan- buat tim terenyuh, anak melihat wajah mereka yang terdapat di arko, S.Psi, M.Si dan mahasiswa, M. film. kecil yang telah diting- dalam Khasan, Nor Kholidin, Dina Wahyu Namun setelah film akhirnya kami Harini, Gunawan, Bambang Akhadi, gal ibunya sejak kecil perpisahan, seluruh ruangan yang awalSelamet Riyadi, Arie Erna Suryani, nya penuh dengan kegembiraan berubah Atik Sulistiyani, Anik Nur Khaninah, cukup tegar menghada- menjadi sepi, semua orang terdiam dan Imam Khanafi dan Nano Yulianto. sedih sampai-sampai ada yang menangis. pi cobaan dan selalu Kedatangan kami disambut dengan Semua orang dalam ruangan tersebut ceria hangat oleh mereka, tim juga melakuikut menangis dengan kepergian kami kan wawancara terhadap pengungsi meninggalkan mereka pindah ke posko mencari tahu apa yang mereka rasayang lain. Mereka seakan tak terima, kan dan mereka butuhkan selama di kenapa cuma sebentar? pengungsian. Selain itu kami yang lain mengajak anak-anak Sebenarnya tim juga tak ingin cepat-cepat meninggalkan bermain sambil melakukan pendekatan pada mereka, sebagai mereka begitu saja, apalagi meninggalkan Siti yang cukup perkenalan, kami ajak bermain Ular Tangga, Puzzle, dan Hal- mengenang dihati, membuat hati kami tergugah untuk saling ma. Dengan kepolosan yang mereka miliki, awalnya mereka berbagi, Siti telah membuat tim terenyuh, anak kecil yang telah malu-malu untuk bergabung bermain bersama, namun pada ditinggal ibunya sejak kecil cukup tegar menghadapi cobaan akhirnya mau dan malah menjadi lengket pada kami. dan selalu ceria, dapat menyesuaikan diri dengan cepat pada Malamnya kami datang lagi ke posko Mungkid, kami men- lingkungan, namun apalah daya jumlah tim terbatas, sedangkan gajak anak-anak belajar bersama,dan mengajak mereka untuk masih ada tugas lagi yang belum terselesaikan. mempunyai cita-cita dan bercerita tentang keadaan desanya Setelah dua hari berlalu, kini tugas kami untuk melanjutkan dalam bentuk tulisan atau karangan puisi. observasi ke posko pengungsian pabrik kertas Blabak dan Keesokan harinya����������������������������������� kami datang lagi ke Posko Mungkid rumah pak Budiharjo. Kami melakukan dengan metode yang 09.00 WIB, untuk meneruskan tugas tim yang belum selesai. sama seperti yang kami lakukan di Mungkid. Setidaknya, seBagi tim observasi kembali beraksi mengadakan wawancara perti refleksi yang kami lakukan, bukan masalah kita mampu pada pengungsi, sedangkan tim pendidikan popular bergabung atau tidak dalam berbuat, yang penting sudah ada tindakan dengan tim game untuk mengajak anak-anak bermain. Mereka nyata kita untuk peduli dengan kemanusiaan. kelihatan tak sabar ingin bermain dengan kami, terlihat dari pertanyaan salah satu dari mereka, Siti yang dari jauh men*) Tim Psikososial Bencana Merapi Fakultas Psikologi ghampiri tim Psikososial dengan melontarkan kata ”kita mau Universitas Muria Kudus main apa hari ini?”. di Kecamatan Mungkid, Magelang.

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

47


P

Pena Kampus P U I S I : Yu s u f A r d i a n A m r u l a h

u i s i

ISTIMEWA

Kaki Kaki Telanjang di Bukit Menoreh Manusia pasir diam, merambat tertatih ke dalam bukit-bukit iri hati Sebagai tanda para pejalang menyandarkan dagangan malam Lalu rintik hujan beranjak deras.... Menyelimuti pangkal paha di timur selat sunda Jam hidup terus berputar, siang memakan malam dan malam memperkosa siang. Tak ada yang benar!!! Kerlap-kerlip yang ada di sudut langit Sampai pada gerak-gerik birahi yang menunggu lawan di sebuah senja yang lelah Garis nasab dari sang bapak, mengitari selembar daun kering.... Kau, Menjadi gaun pengantin yang cantik Bercumbu dengan asap-asap makian tanah waktu menantang kerdilnya matahari Menjebak dalam sangkar sempit, segenggam gumam yang kau bisikkan Seperti inikah kaki-kaki telanjang di bukit Menoreh?

[Ruang Kerja, 10.24 Pagi, 15 Agustus 2009]

Ekstase Setidaknya masih ada pintu yang membuka ketika aku pulang Tak apa jika sumpah serapah... Lalu caci maki... Atau malah ludah pekat.... Iringi tembok yang endap, engkau berpijar temaram Ini tanahmu bukan? Berisi pekuburan, nisan-nisan, sampai larik-larik imaji Dan kau timbul tenggelam

[Kamar, 08.01 Pagi, 25 Februari 2010]

Setengah Enam Setengah enam, masih setengah enam. Dan sepenggal tombak masih menancap di pinggir labuh Sumpek, setapak ini kian sumpek Lantas pengap Hah!! Aku menjadi manusia yang berjejal di perutnya. Kita berjalan Mengelilingi tombak karat yang sedikit tak lurus Kau mengencangkan ikat kulit buaya di leherku Menantingku dengan nujuman sengau Senyummu palsu, dan aku sangat tahu.... Hasil perantauanmu hanya sisakan derak-derak Setengah sepuluh, masih lama menuju tengah Kita masih menjadi pendoa-pendoa kiasan Di sela-sela perkabungan, kau masih menggenggam tali dileherku “Itu pemabuk yang mati sore kemarin.� Gundukan basah.... Dan kita tiba-tiba terasing, antara gelap-gelap yang sengaja Katamu lagi, “ini hari terlalu pagi untuk memulai pora� Setengah enam, kembali setengah enam Kita mulai longgar Oleh waktu, oleh hidup, dan oleh lirih-lirih Kita mulai hancur, dan sebentar lagi malam. Saat angin menjadi sedingin mayat....

ISTIMEWA

48

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

[Kamar, 18.50 Malam, 16 November 2010]


P

u i s i

Pena Kampus

Segelas Bir yang Menemanimu Gugur daun mempunyai dendam dengan hati Sebab hati menaruh sepi, Sedang janji yang ditanam telah puluh kali terlanggar Mencintai, Menipu, Hingga beranjak mati.... Amat pelan, hanya lelah yang lahir dari menunggu Memilih untuk mati bunuh diri Lantas, mengapa dalam binar yakin kau menyiratkan ragu Memang jika cintamu tak tumbuh kau mau apa? Bukankah aku pernah mengucap, penawaranmu tidaklah dengan sebab? Terserahlah pada pijarmu.... Bersama rindu, sesal, syahwat, hingga dengan segelas bir yang kau tenggak malam itu... [Ruang Kerja, 11.29 Pagi, 30 Mei 2009]

HUJAN Kubuka buku yang kau namai biru Dengan tinta yang juga kau namai baku Haru...seperti kalam-kalam yang kau nujumkan pada bahuku Sakit! Bangsa ini sakit sayang.... Dan hujan ini tak juga bisa menunaikan tugasnya Gigil, biru, sekali lagi biru! Dan ketika kau menjual Tuhan di selangkangan Aku hanya diam, dengan kesumat yang berdialog dengan ego Maaf, jika suatu subuh nanti kau saksikan dua kelopak matamu terletak di tangan! Hujan tak menghapus dosa bukan? [Kamar, 06.25 Pagi, 21 Juni 2010]

Bermalam Bermalam di jeruji waktu, yang selalu menang melawan selisih-selisih Secara kanak-kanak masih menghitung jari Cintaku buta!! Subuh yang kusut, derak yang larut Dialog yang tertagih hanya berurai di selimut Maka tenggelamlah malam, mengalir di punggungku yang pecah Cintaku in cinta tuli juga!! Angin yang ribut, lolong tembok-tembok tua, seratap dengan jantungku yang digerogoti Perlahan membatu.....

[Kamar, 06.24 Pagi, 18 November 2010]

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

49


C

Pena Kampus

S

e r p e n

ISTIMEWA

iang ini terlihat agak mendung. Matahari tidak bersinar cerah seperti hari-hari kemarin. Aneh cuaca akhir-akhir ini. sebentar-sebentar hujan deras, tapi besoknya matahari bersinar bagaikan musim panas. Orang bilang, itu karena pemanasan global, ada juga yang tidak percaya pada pemanasan global. Kalau aku percaya-percaya saja, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Sebagai mahasiswa super sibuk, yang aku pikirkan hanyalah masalah pelajaran. Sebagai mahasiswa super sibuk, yang aku tunggu hanyalah akhir pekan! Dan sekarang adalah akhir pekan. Bukan akhir pekan biasa. Ini adalah awal dari hari libur yang berturut-turut. Besok pagi, kuliah libur. Hari minggunya sudah pasti libur. Senin, Dosen sudah bilang kalau tidak bisa datang, itu berarti libur tiga hari. Semua tugas laporan sudah kuselesaikan, makalah, praktikum, dan segala tetek-bengeknya. Three days of freedom! *** Kuliah sore ini telah berakhir, aku bergegas pulang. Berdasar rencana awal, aku ingin meminjam film di sebuah rental DVD di dekat tempat kost-ku:

50

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

Pandora DVD. Aku rasa pasti adalah ide bagus untuk menghabiskan hari libur dengan menonton film. Tok! Tok! Aku masuk ke dalam, rupanya sedang sepi, cuma Mbak Ratna yang menjaga counter. “Mas Dyan! Selamat sore!” ucapnya sambil tersenyum melihat kedatanganku. Mbak Ratna, pemilik rental Pandora cabang kota ini. Sebenarnya dia menjalankan usaha ini berdua dengan Anton, kakaknya. Walau aku selalu memanggilnya dengan sebutan “Mbak”, sebenarnya dia seumuran denganku, hanya saja entah kenapa aku merasa kalau dia lebih tua. Sedangkan Anton beberapa tahun lebih tua dariku. Mungkin dia sedang sibuk, hingga akhir-akhir ini jarang kelihatan. “Mbak, ada film yang baru nggak?” tanyaku sambil melihat-lihat rak-rak DVD dan VCD. “Ada, film horor mau?” “Selain horor?” “Hmm... Transporter 3?” “Yah, itu mah udah basi! Film Indonesia yang lain ada yang baru?” Dia tampak memeriksa katalog yang ada di tangannya. “Ada, beberapa. Yang ini nih…KCB,

Suster Keramas, Air Terjun Pengantin. Hmmm…Apa lagi ya?” “Suster Keramas?” aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan sampul film itu. “Yup, new release itu mas…Hehe.” “Ceritanya tentang apa mbak?” “Yah..., tentang horor gitu. Tapi biasalah film indo, ada gitu-gitunya dikit..” dia terlihat malu-malu, aku jadi geli sendiri. “Ah, film murahan…” seraya kuletakkan sampul filmnya kembali ke rak. “Yang lain ada nggak?” “Ada nih….thriller, SAW 5 new release juga mas. Sadis abis!!” “Ah, yang lain lagi?”” “Kalo yang ini? Judulnya Because of Love.” “Film indo tuh?” “Yup.” ”Judulnya norak ya mbak, sok kebaratan. Hahaha….” Mendingan saya nyewa film barat aja deh sekalian,” ucapku sambil beralih ke rak-rak DVD bagian sisi lainnya. Beberapa menit aku memilh-milih, akhirnya kuputuskan untuk menyewa lima judul film: dua film misteri, satu action, dan dua komedi. Kelima buatan Hollywood. Segera saja kubawa sampul-


C

e r p e n

nya ke counter. “Ini aja?” tanyanya. “Iya, ini aja.” Dia segera menginput data judulnya ke komputer dan mengambilkan beberapa piringan dari sebuah lemari besar. Dibungkusnya ke dalam kantong plastik putih berlogo Pandora DVD. Setelah kubayar, aku langsung meluncur ke kost. Sepi, karena banyak teman sekostku memilih pulang ke kotanya masing-masing. Saat itu hanya tinggal aku dan Edo, mahasiswa aktivis yang jarang pulang kost. Setelah masuk ke kamar meletakkan tas, kuambil air putih dari dispenser di ruang tamu. Lantas kurebahkan punggung di sofanya, lalu segera kuambil HP dari saku celana dan menelepon teman-temanku. “Halo? Hei, Gus. Ntar malem lo ada acara nggak nih? Gimana kalo ntar lo ajak anak-anak nonton DVD di kosan gue? Apa? Bukan, bukan film bokep cuk!. Oh, gitu. Jadi lo nggak bisa? Hah, kalo film bokep bisa? Sialan lo…. Setan!” “Halo? Oi, Dika, ntar malem lo ada acara nggak? Gue mau ngajakin anakanak nonton film di kosan gue, gimana? Oh, lo udah ada janji ama cewek lo? Ya udah, nggak apa-apa. Si Agus juga nggak mau tuh. Hah? Ngajak cewek gue aja? Males ah, kalo ketahuan Ibu Kost, bisa repot nanti.” “Halo? Ajo ya? Lagi ngapain lo? Ntar malem nonton film yo! Di kosan gue. Belom tau sih mau ngajak siapa aja, soalnya Agus sama Dika katanya nggak bisa. Lo gimana? Kerjaan? Kerjaan apaan? Besok kan libur coy….Bisnis? Bisnis apa? Oh enggak deh. Makasih bos, kayaknya gue nggak tertarik. Iya, bener. Eh sori, HP gue udah low-bat nih. Kalo misalnya gue berubah pikiran pasti gue hubungin. Eh, dikit lagi mati nih. Udah dulu ya.” “....” “Halo, Mitha. Lagi ngapain say? Oh, gitu. Nanti malem kamu ada acara nggak? Mmmm....bukan sih, aku juga lagi males keluar nih. Gimana kalo nonton film bareng-bareng aja? Bukan, bukan di bioskop, gi males jalan nih. Ya di kosan aku. Haaah....kamu jangan mikir yang jelek-jelek dulu dong, film biasa kok, film action sama komedi. Suer, bukan

Pena Kampus yang aneh-aneh. Iya, aku tau ini kosan cowok. Caranya? Ya kamu kan tinggal nyamar jadi cowok,” ... tuut... tuut..., “Halo? Mitha?” Dengan rasa kesal, aku langsung membanting HP-ku, ke atas sofa tentunya. Menyebalkan sekali kalau harus nonton film sendirian. Memang ini salahku juga, harusnya aku memastikan dulu apakah ada yang bisa diajak nonton atau tidak. Kembali ke kamar dan kubuka film yang tadi kusewa, kuperiksa satu persatu. Yang mana yang akan kutonton lebih dulu. Lho, tunggu dulu. Perhatianku teralih pada satu film. Kuperhatikan label dan bagian bawahnya. Ini bukan salah satu film yang kusewa tadi. Kalau melihat dari labelnya, ini kan DVD RW yang biasa dipakai untuk merekam. Apa ini, bajakankah? Masa’ Pandora yang

agar bisa masuk ke kamarku. Hari Selasa pun tiba. Pulang kuliah, aku berencana untuk mengembalikan film yang kusewa. Dari kelima film itu masih ada satu yang belum kutonton, film salah ambil itu. Selain karena tidak ada waktu, aku juga tidak tertarik untuk menontonnya. Buat apa menonton film yang tidak kuinginkan? Kalau kuberitahu Mbak Ratna, mungkin aku boleh menukarnya dengan film lain, soalnya ini kan murni kesalahan dia. Aku tiba di depan Pandora DVD. Tutup. Pintunya tertutup rapat, tak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Aneh sekali, tidak biasanya mereka tutup di hari kerja begini. Sedikit kecewa, tapi sudahlah. Karena ini bukan salahku, seharusnya aku tidak dikenakan denda. Akupun segera pulang, dan berniat untuk

ISTIMEWA

terkenal menyewakan film bajakan, tapi di labelnya tertulis dengan spidol hitam, “Sin”. Seingatku aku tak meminjam film berjudul “Sin”, pasti Mbak Ratna salah ambil film. Kuperiksa judul film yang lain, ternyata memang ada satu film yang kurang. Film laga berjudul “Dhoom” yang tadi kupilih tidak ada! Pasti Mbak Ratna salah ambil, makin menyebalkan. Dengan terpaksa, tiga hari ke depan kuhabiskan untuk menonton film di kamar, sendirian. Tapi untunglah, filmnya lumayan seru dan menghibur walau aku merasa kesepian. Teman-temanku hampir semuanya sudah punya acara sendiri. Sedangkan Mitha, pacarku, ngambek gara-gara kejadian di telepon, waktu aku menyuruh dia menyamar jadi laki-laki

ke sini lagi besok. Esoknya, Pandora masih tutup. Karena khawatir dikenai denda, aku mengecek tempat itu hampir setiap hari. Sampai sudah dua minggu berlalu, tak satu hari pun mereka buka. Apa mereka sudah pindah ya? Ataukah cabangnya di kota ini ditutup? Sebenarnya aku merasa tidak enak juga, tapi mau bagaimana lagi? *** Beberapa minggu kemudian, saat libur kuliah dan di luar sana sedang hujan deras, aku tidak ada kerjaan dan hanya tiduran di kamar. Rasanya bosan sekali, sambil memandangi langit kamar, aku bersenandung kecil. Tiba-tiba tak sen[ Edisi XVI Maret 2011 ]

51


Pena Kampus

ISTIMEWA

gaja tanganku menyenggol setumpuk keping DVD di samping tempat tidurku. Ah film-film itu. Kuambil salah satu film itu. Oh iya, film berjudul “Sin” ini kan belum sempat aku tonton. Apa salahnya menonton, toh juga bukan film yang anehaneh kan? Dan kuputuskan segera bangkit dan menyalakan komputer. Daripada tidak ada kerjaan, pikirku. Siapa tahu ini film pribadi milik Mbak Ratna? Aku tertawa sambil mulai berpikir ngeres. Kumasukkan kepingan itu, dan secara autoplay terhubung ke program power DVD di komputerku. Kutekan tombol play di monitor. Beberapa detik kemudian, audio visual dari keping DVD itu pun mulai muncul di hadapanku. Mataku terbelalak, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku. Jantungku berhenti berdetak, kepalaku pusing bukan main. Ini benar-benar tidak masuk akal! Segera kumatikan komputer, tak peduli dengan hujan hingga aku berlari di tengah derasnya. Rambut dan pakaianku basah kuyup, sementara tanganku berusaha melindungi sebuah kepingan film yang kubungkus kantong plastik. Aku berlari secepat mungkin, dengan ketakutan luar biasa, ke arah rental Pandora DVD. Aku harus mendapat penjelasan atas semua ini. Hal paling menakutkan yang pernah kualami dalam hidupku. TOK! TOK! TOK! Kuketuk pintu Pandora. Walau tempat itu terlihat tutup dan kosong, aku tak peduli, aku harus mencobanya dulu. Kuketuk lagi beberapa kali, tetap tak ada jawaban. “Mbak Ratna! Mas Anton!” aku berteriak sekeras mungkin, siapa tahu salah satu dari mereka ada di dalam. Tetap tak ada jawaban apapun dari dalam. Tak ada suara apapun selain suara hujan yang menghantam aspal. Tubuhku terasa lemas, nafasku terengah-engah karena berlari tadi. Kuusap wajahku yang basah oleh hujan, aku terduduk di depan pintu itu. Kutatap DVD di balik kantong plastik yang kubawa. Tatapanku

52

[ Edisi XVI Maret 2011 ]

C

e r p e n

menjadi kosong, ada air yang menetes dari kedua mataku. Apakah itu air hujan? Ataukah air mata? Kalau itu air mata, apakah artinya aku menangis? Menangis karena apa? Karena takut? Karena malu? Karena bingung? *** Sebelumnya, Sesaat setelah kutekan tombol “Play”, sesuatu yang tak pernah terbayangkan muncul di layar komputerku. Seperti dugaanku, film berjudul “Sin” itu adalah sebuah film rekaman pribadi. Saat visual pertama muncul, aku sangat meyakini kalau film itu diambil dengan menggunakan handycam, bahkan tanggal dan jam pengambilan gambarnya pun masih tercantum di layar. Tapi, kengerian yang sebenarnya baru muncul ketika aku menyadari siapa manusia yang menjadi objek di film itu. Yang pertama kali kulihat di layar adalah... aku. Ya, maksudku aku benar-benar ada di layar! Aku ada di dalam film itu! Di dalam film itu aku berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dan tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa tempat itu adalah kamar kost-ku sendiri. Bedanya, kamarku yang ada di film itu terlihat masih rapi dan agak kosong. Aku ingat! Ini adalah saat aku baru pindah ke tempat ini! Aku tinggal sendirian. Kulihat apa yang aku lakukan di dalam film itu. Aku mengambil setumpuk majalah porno yang kusembunyikan di dalam kardus, dan kuletakkan di atas lemari. Adegan berpindah, tanggal dan waktu yang tertera di layar pun ikut berubah. Kini yang aku saksikan adalah sosokku yang sedang asyik menonton film biru di depan komputer di dalam kamar, sendirian. Aku masih ingat kejadian itu, sudah agak lama juga. Film biru itu masih kusimpan sampai sekarang. Bukan saatnya mengingat hal itu! Ini menakutkan! Seseorang merekam kegiatanku di dalam kamar! Kuamati sudut pengambilan gambar di film itu, aku tahu dari mana film ini direkam. Pasti seseorang memasang kamera tersembunyi dikamar ini! Tanpa menghentikan film, aku segera melompat ke atas kasur, memeriksa sisi atas dinding yang dihimpit oleh lemari pakaian. Kalau melihat sudut pengambilan gambar di film, aku yakin di sinilah kamera tersembunyi itu seharusnya terpasang. Kuamati tempat di sekitar itu, aku tak menemukan suatu benda apapun yang mencurigakan, hanya sebuah noda hitam di dinding seperti bekas terbakar. Aku menoleh lagi ke layar komputer, ke arah film yang masih berlanjut. Tiba-tiba saja kakiku lemas, seluruh tubuhku merinding. Ternyata “pengawasan” itu bukan hanya terjadi di kamarku saja! Tampaknya seseorang mengikutiku dan merekam setiap kelakuan burukku! Adegan yang kulihat di monitor sekarang adalah aku yang berada di teras sebuah rumah. Aku tahu, ini adalah rumah Mitha. Aku duduk di sebelah Mitha dan merangkul pundaknya. Beberapa saat kemudian terlihat adegan ketika aku berusaha mencium bibir gadis itu. Mitha menolak. Ya, aku masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu. Waktuku datang ke rumah Mitha saat orangtuanya sedang tidak ada di rumah, dan aku lepas kendali, mencoba memanfaatkan keadaan. Terlihat


C

e r p e n

adegan saatku berusaha merayu Mitha. Aku terduduk lemas melihat tayangan itu. Ada bagian di dalam diriku yang merasa malu menyaksikannya. Beberapa detik kemudian, adegan berpindah lagi. Kali ini di sebuah tempat parkir yang sepi, hanya ada aku di antara barisan sepeda motor. Terlihat aku berjongkok di samping sebuah sepeda motor warna merah. Aku mengeluarkan sebuah paku besar dan menusukkannya ke ban sepeda motor itu. Aku ingat, itu adalah sepeda motor Rama. Aku cemburu padanya karena ingin merebut Mitha, maka sepulang kuliah aku mengempesi sepeda motornya. Adegan berubah lagi. Masih di tempat parkir, namun kini di tempat parkir mobil. Terlihat aku mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celanaku, lalu aku menggoreskan pisau itu ke sebuah mobil SUV warna hitam, membuat sebuah goresan yang dalam dan panjang melintasi bagian samping tubuh mobil itu. Itu adalah mobil Pak Jasin, dosen di kampusku. Waktu itu adalah akhir semester, aku marah karena dia menuduhku sering membolos, padahal aku sudah memberikan surat izin sakit, tapi dikiranya surat itu palsu. Akhirnya aku tidak lulus di mata kuliahnya, dan aku balas dendam dengan merusak mobilnya. Adegan selanjutnya memperlihatkan aku yang sedang bersama teman-temanku. Saat itu adalah malam tahun baru, aku ada di rumah Agus bersama teman-temanku yang lainnya. Di antara piring-piring yang berisi nasi dan ayam bakar, terdapat dua lima botol besar minuman yang sebagian terbungkus plastik hitam. Kuambil satu, dan kubaca merknya, Chivas Regal. Aku tertawa, kubuka tutupnya dengan gigi, lalu kuteguk langsung dari mulut botolnya, getir khas alkohol tingkat tingi. Tapi setelahnya hangat di badan. Aku ingat, malam tahun baru ketika itu adalah pesta miras di kost temanku. Gila, aku merasa sangat malu. “Cukup!!!” aku berteriak sendirian seperti orang kesetanan. Aku segera meraih mouse dan menekan tombol “Stop”. Film itu berhenti. Aku tidak tahan lagi melihat semua ini, amat menakutkan. Keringat dingin membasahi tubuhku ketika aku mengeluarkan DVD itu dan mematikan komputer. Hujan deras tak juga mau berhenti. Hujan itu amat deras, seakan merayakan ketakutan dan ketidakberdayaanku saat ini. Aku masih terduduk lemas di depan pintu Pandora yang masih juga belum menunjukkan tanda-tanda akan terbuka. Kali ini aku sudah dapat memastikan kalau yang mengalir di pipiku ini adalah air mata. Kugunakan tanganku untuk menyekanya. Aku harus tetap tenang dan berpikir rasional, pikirku. Kirakira siapa yang bisa merekam segala aktivitasku seperti itu? Apakah satelit? Tapi apa iya, satelit bisa melihat menembus tembok? Lagipula jelas-jelas kalau itu adalah rekaman handycam. Atau mungkin ada seorang mata-mata profesional yang dapat memasang kamera tersembunyi di dalam kamarku, dan mengikuti gerak-gerikku sambil menenteng handycam? Tapi untuk apa? Aku kan bukan penjahat yang harus dimata-matai? Atau mungkin... wartawan? Oh iya, mungkin paparazzi? Mustahil! Aku bukan selebritis! Setiap kemungkinan yang aku pikirkan tampak tidak masuk akal. Di tengah kebingunganku, aku teringat kata-kata ibuku

Pena Kampus ketika aku masih kecil dulu. “Nanti ya, An, di akhirat semua orang bakal dikasih liat semua perbuatan dosanya,” ucap ibu kepadaku yang waktu itu masih SD. “Dikasih liat, maksudnya gimana, Mi?” tanyaku. Aku ingat, waktu itu aku sedang persiapan ujian pelajaran agama di sekolah, ibu bercerita macam-macam. “Iya, dikasih liat. Di akhirat ada layar besar lho, kaya di bioskop. Terus orang itu bakal disuruh nonton, jadinya dia nggak bisa bohong lagi.” “Lho, kok bisa? Emangnya siapa yang ngerekam filmnya, Mi?” “Ya ampun, Dyan, gimana mau dapat nilai bagus nih ujiannya? Masa gitu aja kamu lupa? Kan udah Mama ceritain, kalau di samping kanan dan kiri setiap orang itu, ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat perbuatan kita!” JGERR!!! Sebuah suara halilintar yang amat keras memecah lamunan tentang masa kecilku. Aku kembali tersadar, kini aku ada di depan pintu Pandora yang tak juga terbuka. Hujan masih terus turun. Apakah aku duduk terdiam di sini untuk menunggu hujan sampai reda? Ataukah aku duduk terdiam karena terlalu lemas untuk berdiri? Tiba-tiba seorang ibu-ibu berpayung berhenti di depan teras bangunan itu. Tampaknya dia heran melihatku yang berada di sini dengan pakaian yang basah kuyup. “Dik, nyari siapa? Nyari Mbak Ratna ya?” Aku bangkit dan menjawab pertanyaan itu, “Iya bu. Ibu tau sekarang Mbak Ratna atau Mas Anton ada dimana?” “Saya juga nggak tau. Mereka nggak bilang pindah kemana. Kata anak-anak yang suka nongkrong di deket sini sih, rental ini udah disewa orang lain dan sebentar lagi mau dijadiin rumah makan.” Dan aku nyaris putus asa mendengarnya. Ternyata percuma saja aku bolak-balik ke tempat ini, aku tak akan menemukan mereka di sini. Beberapa menit setelah ibu itu pergi, hujan mulai reda dan hanya menyisakan gerimis. DVD “Sin” itu masih kupegang erat di balik kantong plastik yang basah. Di dalam hatiku, ada keinginan untuk mencari keberadaan Mbak Ratna dan Mas Anton. Mungkin saja mereka tahu asal-usul rekaman ini. Aku melangkah keluar ketika hujan telah berhenti dan berniat kembali ke tempat kost. Genangan air menghiasi setiap langkah kakiku. Di antara riak-riaknya, aku dapat melihat pantulan wajahku. Wajah yang kotor dan penuh dosa, dan seseorang -atau sesuatu- telah merekam dosadosa itu dalam sebuah piringan. Aku menoleh ke sebelah kanan dan kiriku, seperti orang linglung. Apakah ini perbuatan mereka? Aku menoleh ke sekelilingku, orang-orang mulai keluar dari rumahnya karena hujan telah berhenti. Ada yang menyapu halaman rumahnya dari genangan air, ada yang sekedar mengobrol di pinggir jalan sambil merokok. Apakah ini perbuatan mereka? Tiba-tiba aku teringat noda hitam bekas terbakar yang kutemukan di dinding kamarku, salah satu tempat dimana kamera itu semestinya terpasang. Dadaku masih terasa sesak. Rasa malu dan rasa takut ini baru pertama kali kurasakan. Dalam hati aku berharap, semoga saja benda ini bukan buatan manusia. [ Edisi XVI Maret 2011 ]

53


Pena Kampus

54

[ Edisi XVI Maret 2011 ]


PEKA XVI