Page 1


s y a w l a s i t i m e se osible p im il t n u done it’s

- Nelson Mandela


Dari Redaksi

MAHARADHIKA

Konperensi Asia-Afrika (KAA), peristiwa bersejarah 18 April 1955 telah berlalu sejak 52 tahun yang lalu. Namun, memori tersebut tak akan pernah lekang dimakan waktu. Sebuah peristiwa yang telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Sekelompok pemuda dari negaranegara yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka mengusung gerakan persatuan untuk saling bergandengan tangan dalam menggapai kehidupan yang aman dan sejahtera dengan mengamalkan nilai-nilai Dasasila Bandung. Diselenggarakannya KAA yang telah menghasilkan Dasasila Bandung ini telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional. Selain itu, KAA juga telah berhasil menumbuhkan semangat solidaritas di antara negara-negara Asia- Afrika, baik dalam menghadapi masalah internasional maupun regional. Kini KAA telah berlalu, dan buah dari pertemuan tersebut menjadi tanggung jawab generasi berikutnya. Pengalaman buruk yang pernah dialami oleh para pendahulu tentunya tidak ingin terulang lagi kepada kita. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus berkewajiban untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kerja sama baik dalam hal ekonomi, kebudayaan, memperjuangkan hak asasi manusia, serta memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional adalah hasil KAA yang harus kita laksanakan.

PEMIMPIN REDAKSI

Risa Gama Siregar KONTRIBUTOR

Fariz Rizky W. Gilang Nugraha Yasmin N. Chaerunissa Nur Baiti Jefri Radityo M. Rizky Yusro Audrey D. Alodia Nira Amelia A. KOORDINATOR JOURNATIVIST

Gilang Nugraha EDITOR

Beberapa upaya yang tengah dilakukan generasi Asia-Afrika, terutama bagi mahasiswa Asia-Afrika, dalam melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh KAA digambarkan dalam buletin Maharadhika edisi kali ini, demi menggapai Asia-Afrika yang satu dan baru.

Fariz Rizky W. DESAIN & TATA LETAK

Mohamad Ilman Nugraha

KONTAK

journativist

Risa Gama Siregar Pemimpin Redaksi

sahabatmkaa.com Jl. Asia Afrika No.65, Bandung

Konten FSAA : Peranan Kaum Muda | 4

Kebangkitan Kaum Muda Asia-Afrika | 10

Bermain dan Berpetualang bersama Bandung Historical Study Games | 5

Mengenal Kepala MKAA yang Baru | 12

Manfaatkan ISG untuk Mahasiswa Internasional | 7

Review Film : Sokola Rimba | 13

Sneak Peek Perayaan HUT KAA ke-62 | 8

Resensi Buku : Perempuan di Titik Nol | 15 TTS | 16

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

3


FORUM STUDI ASIA-AFRIKA

Peranan Kaum Muda oleh : Jefri Radityo

J

ika melihat lagi kebelakang kaum muda Indonesia memiliki peranan penting dalam memajukan negara dan ikut menciptakan perdamaian dunia. Kaum muda Indonesia ikut ambil bagian dalam membangun ide keindonesiaan dan merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Selain membangun ide keindonesiaan di wilayah Hindia Belanda, kaum muda Indonesia bersama kaum muda Asia dan Afrika lainnya juga ikut ambil bagian dalam membangkitkan jiwa solidaritas Asia-Afrika, kaum muda Asia-Afrika pada waktu itu berkumpul di kota Brussel pada tahun 1927 dalam sebuah pertemuan bernama “Liga Melawan Imprealisme dan Kolonialisme.� Di tempat itu kaum muda Asia-Afrika menyuarakan suara rakyat terjajah dan mengelorakan jiwa nasionalisme dan patriotisme bangsa kulit berwarna bukan terhadap sentimen asing, melainkan melawan imprealisme dan kolonialisme barat. Pertemuan itu tidak hanya menyerukan sikap anti-imprealisme dan anti-kolonialisme, tetapi juga menyerukan cita-cita solidaritas Asia-Afrika serta memberikan kesempatan kaum muda Asia-Afrika untuk mengenal satu sama lain, serta membangun jejaring diantara mereka. Semangat yang terbentuk ini kemudian tetap tinggal di dalam hati dan pikiran kaum muda Asia-Afrika, bahkan menjadi lebih kuat ketika kaum muda ini menjadi pemimpin di negaranya masing-masing. Cita-cita Solidaritas Asia-Afrika kemudian diwujudkan dalam Konperensi Asia-Afrika (KAA) pada 18 April 1955, kaum muda Asia-Afrika yang saat itu telah menjadi pemimpin negaranya berkumpul di Bandung dengan keinginan mewujudkan cita-cita solidaritas Asia-Afrika, bertujuan untuk memajukan kerjasama negara Asia dan Afrika dalam menciptakan perdamaian dunia. Harus diakui bahwa KAA tidak bisa dilepaskan dari masa muda para pemimpin negara Asia dan Afrika. Perasaan senasib sepenanggungan akibat kolonialisme, keinginan untuk merdeka dan bekerjasama dalam menghadapi tantangan-tantangan intenasional pada saat itu telah menciptakan identitas bagi terlaksananya KAA. Kini, 62 tahun telah berlalu setelah pelaksanaan KAA, k a u m m u d a t e t a p m e m i l i k i p e ra n a n p e n t i n g d a l a m pembangunan negara dan menciptakan perdamaian dunia. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, kaum muda AsiaAfrika menghadapi tantangan yang berbeda dengan para pendahulunya. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan situasi yang terjadi di negara kita dan ranah internasional. Tantangan internasional yang kita hadapi memang tidaklah sama seperti generasi terdahulu, ada beberapa perubahan sistem internasional, tetapi ada juga yang tetap.

4

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

Dimanakah posisi bangsa Indonesia ditengah sistem internasional saat ini? Apakah kita menginginkan terbentuknya dunia baru yang berkeadilan sosial, berdasarkan kemerdekaan, persahabatan, kerjasama, hidup damai berdampingan secara damai sesuai dengan cita-cita KAA? Kerjasama internasional yang saling menghormati kedaulatan negara atau eksploitasi satu negara atas negara lain dan peperangan yang dapat mengakibatkan kehancuran? Setelah menjawab pertanyaan tersebut kita beralih ke pertanyaan berikutnya, apa yang harus kaum muda lakukan? Dari mana harus kaum muda memulainya? Kita kaum muda bisa memulainya dengan belajar mengenai sejarah KAA, situasi internasional saat dilaksanakan, tujuan dilaksanakannya, mengapa Republik Indonesia yang masih amat muda usianya bersikeras untuk mengadakan pertemuan negara-negara Asia-Afrika dan apa saja hasil KAA. Dengan memahami hal tersebut kita bisa memahami pentingnya menjaga semangat solidaritas Asia-Afrika, sebab saat ini kita tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme dan imprealisme gaya kuno. Penjajahan tidak lagi dilakukan secara ďŹ sik, saat ini kita menghadapi kolonialisme gaya baru, perlawanan terhadap kolonialisme gaya baru ini tentu tidak bisa disamakan dengan melawan koloniaisme kuno. Hanya dengan mengetahui sejarah, alasan diadakannya dan nilai-nilai yang diperjuangkannya kita bisa memahami relevansi KAA dan menerapkan nilai-nilai semangat Bandung dewasa ini. Seperti yang sudah disampakan diawal, KAA dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak muncul mendadak. Cita-cita solidaritas Asia-Afrika dapat muncul karena kaum muda Asia-Afrika merasa memiliki perasaan senasib sepenanggungan di bawah kekejaman kolonialisme dan imprealisme, perasaaan ini kemudian mempertemukan dan mempersatukan mereka. Hal ini kemudian membantu kaum muda Asia-Afrika untuk membangun jejaring Asia-Afrika, jaringan yang dapat dipergunakan untuk berinteraksi, bertukar informasi satu dengan yang lain. Kita dapat menghidupkan kembali jejaring kaum muda Asia-Afrika. Hanya setelah melakukan hal tersebutlah kita boleh berharap, suatu saat nanti, di masa yang akan datang ketika kaum muda saat ini menjadi pemimpin negerinya masing-masing, sekali lagi negara Asia dan Afrika bisa berkumpul dan menyuarakan pentingnya, hidup damai berdampingan, saling menghargai, dan bekerja sama untuk menciptakan kerjasama serta perdamaian dunia dan mewariskan Semangat Bandung kepada generasi berikutnya.


BERPETUALANG & BELA JAR BERSAMA

Bandung Historical Study Games T

ak seperti akhir pekan biasanya, kali ini Gedung Dwi Warna tampak disibuki oleh orang-orang berseragam biru dan hijau. Tepat pada hari Sabtu pukul 05.00 WIB, Gedung Dwi Warna dipadati oleh ratusan pemuda-pemudi. Mereka adalah peserta BHSG (Bandung Historical Study Games) yang sedang melakukan pendaftaran ulang serta panitia BHSG yang tampak hilir mudik mongontrol jalannya acara BHSG. Sebanyak 500 orang atau 102 kelompok bersiap untuk berkompetisi. Mereka berasal dari berbagai kalangan, dimulai dari pelajar hingga pekerja. Namun, ada yang berbeda untuk BHSG tahun ini. Tampak dua orang warga asing mengikuti kontes ini. Setelah diwawancara, mereka adalah Joe dan Jerry, siswa pertukaran pelajar dari Amerika Serikat yang kini telah menetap di Indonesia selama 10 bulan dan bersekolah di SMA N 5 Bandung dan SMA N 5 Bogor. Upacara pembukaan menandakan dimulainya BHSG. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, upacara ini dibuka secara simbolis oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Publik, Azis Nurwahyudi. Ia berharap kepada seluruh peserta untuk mengambil manfaat dari kegiatan Bandung Historical Study Games dan memperoleh pembelajaran terkait sejarah kebesaran bangsa Indonesia, sesuai dengan tujuan BHSG yang ingin mendidik masyarakat dalam berkompetisi secara sehat dan

mempelajari sejarah dengan cara yang fun. Tidak hanya berbeda dari jumlah peserta, BHSG kali ini juga berbeda pada rute atau posnya. Kali ini BHSG memiliki 9 pos yang harus dikunjungi oleh para peserta, diantaranya Stilasi di BTPN Agung, Taman Vanda, Museum Mandala Wangsit, Stilasi di BJB Naripan, Penjara Ir. Soekarno, Stilasi 3 di Jiwasraya, Rotan Lido, Hotel Savoy Homan, dan Titik 0. Tepat pada pukul 07.00 WIB, dimulai dari Gedung Dwi Warna, para peserta yang tergabung dalam 102 kelompok harus bernapak tilas dan menjawab pertanyaan di setiap posnya, yang kemudian pengumpulan jawaban dilakukan dengan cara yang berbeda pula dari BHSG sebelumnya, vlogging. Secara vlogging, peserta harus mengutarakan jawabannya bak seorang reporter. Budaya vlogging yang sedang merambah masyarakat dianggap metode yang pas untuk mengajak masyarakat mengenal sejarahnya. Berbeda dari yang lalu, kali ini kesan adventure lebih didapat peserta karena tidak adanya panduan dari panitia selain peta buta dan panduan live dari Radio Dahlia 101.5 FM dan Hits Radio 103.9 FM. Tidak adanya pemanduan langsung juga merupakan tantangan baru bagi panitia BHSG, bagaimana memastikan peserta tidak keluar dari jalur dan juga mengontrol waktu acara, dengan estimasi waktu pelaksanaan sekitar 5 jam.

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

5


Pukul 13.00 WIB seluruh peserta berkumpul dan beristirahat di Gedung Merdeka. Tampak sejumlah dari mereka tersandar kelelahan bahkan adapula yang sengaja merebahkan tubuhnya di lantai Gedung Merdeka untuk sejenak melepaskan lelahnya. Sambil beristirahat, peserta mendengarkan berbagai informasi dari panitia dan yang terpenting adalah pembahasan soal bersama-sama. Acara kemudian dilanjutkan dengan bersantap siang bersama dan diakhiri dengan pembagian sertiďŹ kat dan buku The Bandung Connection. Puncaknya adalah pengumuman pemenang. Pengumuman dilakukan pada malam hari pukul 19.00 WIB, ketika acara Festival of The Bandung Spirit-Panggung Asia Afrika berlangsung di Cikapundung River Spot. Acara yang dihadiri oleh sejumlah bintang tamu ternama ini adalah ajang yang sangat dinanti tidak hanya oleh seluruh peserta tetapi juga panitia dan masyarakat umum. Ini merupakan hadiah terbesar bagi pemenang dalam selebrasi kesuksesannya. Juara pertama tahun ini jatuh kepada Kelompok Burkinafaso, diikuti oleh juara dua dan tiga, Kelompok Fiji dan Botswana. Pemenang pertama mendapatkan troďŹ dan uang tunai sebesar Rp 2.000.000, sedangkan pemenang kedua dan ketiga mendapatkan troďŹ dan uang tunai sebesar Rp 1.500.000 dan Rp 1.000.000.

PEMENANGNYA ADALAH...

1

6

Kelompok Burkinafaso Muhamad Rizky Nugroho Mochamad Rizky Aulia Novian Reny Eka Ayuningtyas Ari Permana Muhammad Insan Tauhid

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

2

Kelompok Fiji Nana Cholisna Mochamad Arief Komarudin Dwi Putri Anggraeni Dita Amelia Putri Hanisa Sismaya Lestari

3

Kelompok Botswana Chandra Singgih Pitoyo Muhammad Fachri Guniar Muhammad Reza Tribosnia Belania Yunitasari Desy Putri Utami


G S I n a k t a a f n r Ma a j a l e P k u t un asional n r e t In (I S G ) e r in g t Gath n e asing d r u t ja nal S r pela io ta t n a a ini n r n In t e rtemua Program rogram ram pe ndung. a g a ik B ro i fr p d A i kan i Asia h stud merupa perens nempu ia s n e A o m K in g n s m r da ado useu yang se dari M Ambass ang African rogram (ASAI) y g p n ia u s n o e a Y n k o s a d it ini In n n u in u merupa kom r. Tah ociation dengan enefakto g: nts Ass b e i in d r a g e (MKAA) tu a S th nt Ga KAA seb n Asian e a M d d ) n tu a A sofis, S g rinsipA (YA eskipun a n fi lo ti o n a l h naun ung; p tence. M a , tu ju n te r n a dibawa a Band u is “I il a x d k s d e a -e a a y K s o nsi ra c m n a e l a b il te acefu konfere asih b alam D ngamb , dan pe i egacy ”. sebuah ASAI m perti d a L d e n m g m s an ja a a n la d n d s u a e IS G m e d ja d A ia r an ri YAA sa As hirkan asuk m nya, ke g The B k oran da g bang ika ung dila prinsip elum m p n tu fr d b a n la A n r Revisitin u a t n g -o B u a a n g r d a a Menu ri Asia h oran pkan bis Dasasil dung y a le n d ra lu l o p a a u a a B d s ih d n i d a a ak g d terh nnya ang bera ilaksan wa asin kuskan plikasia siswa y yang d memfo anto mahasis a penga a maha al mula d ih a w m b p a le ta i i Primas u p A r d , te menja h Adhi frika, ta an ia. ga MKA u A k n n g a ju u e “Jika ia d i anggota T d d i n . in 7 u e d g t andun lai diag ISG 201 a orang iri. Saa ng kem B u u a d r y a m n e m il ia i c e e s a s h s s in ffi a a A s itu gram Dasasil al inil erensi nai Da Public O uda, h sipnya menge 2013 pro n Konp in r li n ta a u o a -p b c h g ip m s anak m in n ta jak perin n per kan ke ma, da ISG. Se enjelas kerjasa rangkaia da e dalam l, , m k n a n s e m li r a g adanya a e la a ra a b iv s d eseta g un bata k kem unnya hal yan anya se danya k meruju cara tiap tah a, ISG h eperti a sesuatu nnya, a s m ya. a , n n ). ta g a ra r r A n k a e ja a u A g p u p d k Ban tahun Afrika (K enyelen Afrika,” seperti h meru 2 p i n la a d a a a g d ja AA untu m d ti n a la ia e e Se ikan MK istence tnya m ngsa As m d x tahun k a a g e i la ja b n m a d n i r d e g ra n a fo o u m m iubah anya b emua G (ke-3 enting tan, na gatan d a ke-5 IS pada s bukan h al ini p gan y in e h n r k n peringa in e e u t m p d u h n s it la a ta li a D rinsip kan n ke m b a g sebata las. Di p -p n e a ip h k a r ra s y a a a k m c b in G ih r a tu la IS p ben it d iu g da in g . D seperti kalkan dalam ari yan a s e d ik ang as di awal membe diskusi formal r m a tn y sehari-h a n g -o r formal r ih fo n ian dan o b in a a ) p le u k m ih u r u a g b a b kehid n perd yang le AA. termas ara yan m a c K la ik a ra fo r m a t s a rang a h o n d c a a ra m g sikan orang-o i den n seja empro bahkan diaplika diakhir tidak nilai da antinya akan m nya p menam , in a g if ta ra s il n a a te n k g lu ja i e ti k , n g, tap bih in li ke n gka pa nal. Ke le awasan a n b io w k ja s m a tu n e pat n gatherin n k la r a u ka nesia a inte eka d dibuat pembe di Indo a mer ma kejasam a g a ini juga d s berupa ju li ra ja r . a e n a k e pka an k ang b n Afrik itu, ISG d ih a r a elibatk asing y n ra m Asia da Selain ngat. KAA m a s in g , A buka a i p ro g g-orang M m y n sema n n i, a g ra u d in o in p A s nilai KA s A m is a 17 K e a a i 0 il m it a n m 2 n s il a r r n sebata g d e G , Univ a nilaiAfrika unikato nsi yan Pada IS embaw jadjaran as ya kom nsi Asia s/insta d m it n a tn a s re a r it u P e k r e s p s a r u iv n a p e n Me meru iversit um Ko sia, Un 7 univ lain Un , Indone at Muse m yang egeri ja h u ra a dengan n N a s a ta m b s n u ik a a ia a S s it id secara nivers sional, ya dari Indone s Pend U . n ia a k g , a s it li n h e i s m b u r n d o u e d o interna Univ 3 Ban n Rep as Telk at Ind lu juga angan, SMAN 2 Kesatua s niversit asyarak sal. “Du n a U r a m e ra lu , h d r P a a iv g e Parahy g K d n n p e P u u Y andu mem tnya , jadi s dari N Buana untuk nologi B ya negara ang sifa bagian Sangga kan banyak titut Tek kan han suatu y utuskan s u n e m b s a In e , i, meluas tk a m ta a in d r a b a a A tapi AA jug ita meli g ,” erasal uti acara Yogyak K k b ik ini MKA in n g a s a m li g n a k u a e ju a k e g m ISG g Mus jarahny lainkan g -o r a n ng bisa n e e n s a a r a y m r a , a Dalam k o a w e sis a ke tnya s an Afrik n maha atorny an sepatu i Asia d cakupa G, tuju tralia. o m u n ik ing dar s k IS s u a A n a a a y n w a n p a, d an caku dakan mahasis tin, Erop a , t u ju ma dia a. erika La Pertam an uta A . A ju ucapny s A tu fi Y i dari Am o a s i ISG in lu Ada du a n fi lo la e ju u g m t n rapkan ing ya , dan iswi as ini diha is t r a t if tujuan /mahas a a d m in m w la is a s d a mah tratif, erekrut adminis dapat m ka. I re A e S m A ta dan i anggo d ja n e belum m

P

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

7


sneak peek Perayaan HUT KAA ke 62

Perayaan HUT KAA ke 62

8

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7


sneak peek Perayaan HUT KAA ke 62

Perayaan HUT KAA ke 62

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

9


OPINI

KEBANGKITAN GENERASI MUDA

ASIA-AFRIKA oleh :

Yasmin N. Chaerunissa sederhana. Hal sederhana yang bisa dimulai dari lingkungan kita sendiri.

Mengapa ‘Masih’ Asia-Afrika? Ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab. Mengapa Asia-Afrika? Banyak di antara negara-negara AsiaAfrika yang dikategorikan sebagai negara berkembang. Begitupun masalah yang dihadapi di wilayah berkembang di Asia dan Afrika agaknya senada. Kesamaan kondisi yang demikian tidak terlepas dari perjalanan historis kemerdekaan negara-negara tersebut. Menjadi negara yang makmur dan sejahtera adalah tujuan yang dimiliki setiap negara. Menariknya, lahir dan berkembang dalam kondisi yang serupa membuat negara-negara Asia-Afrika memiliki modal sosial berupa thewe-feeling (solidaritas). Sederhananya, ini tentang berteman, saling membantu dan kooperasi. Jadi, meskipun menjadi negara makmur dan sejahtera adalah tujuan dari masing-masing negara, namun proses bagaimana mencapainya tentu dapat dilakukan melalui kerjasama.

Ada tiga jenis corak dalam pembangunan suatu negara. Pertama, corak top-down, yang mengandalkan peran dan kekuatan dari pemerintah yang ada untuk kemudian ditanamkan kepada rakyat, misalnya melalui kebijakan. Kedua, corak bottom-up, di mana kekuatan yang muncul berasal dari peran rakyat, untuk kemudian tumbuh ke atas. Ketiga, simultan, yakni ketika kedua corak sebelumnya bekerja secara sinergis. Sementara itu, dalam konteks hubungan diplomasi formal antar negara, hubungan yang terjalin adalah government-to-government . Hubungan ini sudah jelas hanya bisa dilakukan oleh pejabat yang berwenang. Di sisi lain, ada juga hubungan diplomasi yang bisa dilakukan secara people-to-people. Karena sifatnya yang lebih luwes, ini bisa mengenai apa saja dan dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh kita.

“

“

Diplomasi Publik dan Kita

Saya paham betul bahwa tidak semua hal harus kita tunggu dari pemerintah

Bagaimana kita sebagai generasi muda bisa berkontribusi dalam kebangkitan generasi muda Asia-Afrika? Selayaknya sebuah banteng yang kuat, awal mula dibangunnya pun dari bata per bata. Tidak ada perjalanan hebat yang dimulai tanpa langkah pertama. Tidak ada hal besar yang tidak dimulai dengan hal

10

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

Saya paham betul bahwa tidak semua hal harus kita tunggu dari pemerintah. Bukan bermaksud untuk menegasikan peran negara, namun sebagai individu yang baik, kita pun dapat mulai melakukan sesuatu dan berkontribusi, bermanfaat bagi sesama, termasuk dalam kebangkitan generasi muda Asia-Afrika. Kita dapat berperan pada hal terebut melalui hubungan diplomasi publik, hubungan people-to-people, dengan corak bottom-up.


SMKAA sebagai Embrio Kebangkitan Generasi Muda Asia-Afrika Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, merupakan hal yang mutlak. Bagaimana tidak? Kualitas suatu negara ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya, dan generasi manusia yang akan memegang peran penting dalam perjalanan bangsa selanjutnya adalah generasi muda. Kerjasama dalam membangun generasi muda adalah salah satu dasar utama menuju Asia-Afrika yang makmur dan sejahtera. Kuncinya? Pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dalam arti luas, bukan dalam arti sempit yang hanya dipandang sebagai sekolah. Kegiatan pengembangan diri dalam komunitas atau organisasi juga dapat digolongkan sebagai kegiatan pendidikan nonformal.

Bagaimana tidak? Kualitas suatu negara ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya, dan generasi manusia yang akan memegang peran penting dalam perjalanan bangsa selanjutnya adalah generasi muda ― Yasmin

Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA) sebagai komunitas yang bergerak berlandaskan nilai-nilai Semangat Bandung yang dihasilkan dari KAA 1955 sesungguhnya memiliki potensi luar biasa sebagai embrio kebangkitan generasi muda Asia-Afrika. Kemitraan SMKAA dengan komunitas Young African Ambassadors in Asia (YAAA) dan Asia Students Association in Indonesia (ASAI) secara otomatis telah menjaring para pelajar dari kedua benua tersebut. SMKAA perlu menempatkan kebangkitan generasi muda Asia-Afrika sebagai salah satu visi utamanya untuk kemudian dijalankan secara serius. Adapun mengoptimalkan kerjasama yang ada dalam bidang pendidikan nonformal dapat menjadi program-program prioritas. Dengan kekuatan people-to-people yang ada di antara SMKAA, YAAA dan ASAI banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama. Hal tersebut mulai dari mempromosikan negara masing-masing melalui hal ringan semisal budaya dan festival, yang bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain. Bukankah tak kenal maka tak sayang? Melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih substantif, setelah terbangun hubungan pertemanan yang lebih dekat, maka bisa dibuat kelompok belajar mengenai kajian Asia-Afrika. Dari kelompok belajar itu dapat terbangun sebuah awareness lebih mendalam mengenai keadaan di Asia dan Afrika, semisal tentang politik, ekonomi, kemanusiaan, dan lain-lain. Dari diskusi-diskusi yang ada kemudian akan lahir semangat dan ide-ide baru yang feasible (layak) untuk memajukan Asia dan Afrika. Pada segi ini, semangat untuk terus belajar sangatlah diperlukan. Tidak lupa, agar semua ini tidak dimulai dari nol, maka hasil yang telah lahir dari pemikiran-pemikiran mahasiswa Asia-Afrika pada Asian-African Students Conference (AASC) 2015 lalu perlu untuk disosialisasikan dan dapat pula dijadikan rujukan kerangka berpikir ke depannya. Hal penting lain yang harus disoroti adalah bahwa semua ini termasuk dalam upaya menanamkan the-we-feeling agar berkeseninambungan di antara generasi muda Asia-Afrika itu sendiri. Terlihat kecil? Mungkin. Namun jika dilakukan secara masif, serius, dan konsisten, tentu akan menjadi gerakan Asia-Afrika muda yang nyata bukan? Bersatu, Memimpin Bersama Saya teringat apa yang Emil Salim, tokoh Indonesia yang berperan dalam lingkungan hidup internasional, pernah sampaikan pada pembukaan AASC 2015 silam. Kurang lebih beliau mengatakan bahwa, jika AASC adalah konperensi mahasiswa Asia-Afrika, maka lakukanlah apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk Asia-Afrika, dan lakukan yang terbaik. Pun demikian dalam membangkitkan generasi muda Asia-Afrika. Lakukan yang bisa kita lakukan, dan lakukanlah yang terbaik. Memupuk solidaritas Asia-Afrika yang bersifat people-to-people, jauh dari kesan seremonial kaku dan formal, adalah hal yang patut dilakukan terus menerus. Senantiasa belajar mengembangkan kemampuan dan mengasah kesadaran peran diri sebagai generasi muda sungguh diperlukan agar di kemudian hari siap memimpin negeri, mengentaskan masalah serta membawa kemajuan di Asia dan Afrika, bahkan dunia.

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

11


TOKOH

a l a p e K l a n e g Men MKAA u r a B g yan Meinarti Fauzie, atau yang biasa dipanggil Mei, memulai kariernya di Kementerian Luar Negeri pada tahun 2003, yang kemudian selama setahun ditugaskan untuk belajar guna mengambil gelar master di Bidang Diplomacy and Trade di Monash University, Australia. Sebelum menjadi Kepala Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) sekarang, ia ditugaskan di Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN pada tahun 2005. Meinarti pun pernah merasakan pengalaman di kota The Big Apple, New York pada tahun 2006 sebagai Konsul Muda Penerangan, Sosial, dan Budaya di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Pada awal tahun 2010, ia kembali ke Jakarta dan ditugaskan sebagai Sekretariat Wakil Menteri Luar Negeri. Selang tiga tahun setelahnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok. Sampai akhirnya awal tahun 2017, Meinarti kembali ke Indonesia, dan resmi dilantik sebagai Kepala MKAA pada 3 April 2017 lalu. Walaupun tidak memiliki pengalaman dalam pengelolaan museum, tidak menjadi hambatan baginya ketika harus ditugaskan di Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA). “Pada awalnya saya kaget dan excited, tetapi saya memiliki amanah baru yang dimana saya harus mempelajari sesuatu yang baru lagi dan saya senang,” ujar Meinarti. Saat pertama kali ditunjuk sebagai kepala Museum KAA, beliau belum megetahui adanya Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA). “Saat saya pertama kali ditunjuk sebagai kepala Museum KAA, saya belum tahu kalau di Museum KAA ini ada sahabat museum. Saya baru mengetahui adanya sahabat Museum KAA pada saat menghadiri Milangkala SMKAA ke-6 bersama pak direktorat jendral (ditjen),” ujar Meinarti. Menurutnya, dengan keberadaan SMKAA dan komunitas di sekitar MKAA ini berhasil menggerakkan partisipasi publik, yang membuat Museum menjadi lebih hidup dan tidak hanya lagi dipandang sebagai tempat penyimpanan barang atau benda bersejarah saja, tetapi dapat menjadi tempat berkegiatan yang positif. Di masa kepemimpinannya, Mei memiliki visi yang sama dengan MKAA, yaitu menjadikan museum KAA sebagai museum yang bertaraf internasional yang dimana nanti beliau ingin merintis ke arah museum digital dan menjadi museum yang lebih modern. Museum harus lebih heritage, berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan lebih dekat lagi dengan anak muda, apalagi profil pengunjung museum kita anak muda. Kemudian ia juga memiliki misi untuk membangkitkan solidaritas antar bangsa Asia-Afrika, mendorong kerjasama antar bangsa melalui pilar people contact, meningkatkan norma-norma nilai diplomasi Indonesia, sebagai media penelitian dan pengkajian Asia Afrika, serta mempromosikan Bandung sebagai ibu kota Asia-Afrika Mei juga memiliki harapan kepada SMKAA, “Saya ingin SMKAA menjadi agen diplomasi dan dapat menyebarluaskan nilai-nilai KAA ke masyarakat luar”, Pungkas sosok yang pernah bercita-cita menjadi wartawan ini.

12

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7


sumber foto : https://www.acmi.net.au/events/jungle-school/

REVIEW FILM

SOKOLA RIMBA

Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya. ― Butet Manurung, Sokola Rimba

P

endidikan merupakan salah satu faktor utama dalam pembangunan suatu daerah bahkan negara sekalipun. Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, tak terkecuali. Apalagi di zaman milenial saat ini. Segala sesuatunya harus didukung dengan pendidikan. Melalui pendidikan manusia akan dipermudah dalam berkegiatan. Akan tetapi, belum semua orang telah mendapatkan pendidikan, khususnya di negeri ini. Tepat di pedalaman hutan lindung di Jambi, masih ada penduduk yang belum menyentuh pendidikan. Mereka masih memegang erat adat-istiadat tradisional yang sudah turun-temurun diwariskan nenek moyang mereka, Suku Rimba. Pendidikan masih dianggap sebuah ancaman dan kutukan bagi suku mereka. Di balik kesehariannya, tak pernah mereka sadari bahwa keberadaan mereka kini terancam oleh konflik illegal loging di daerah tempat tinggal mereka. Ekspansi lahan yang terus dilakukan pemilik perkebunan kelapa sawit secara perlahan semakin menyingkirkan keberadaan mereka, melalui iming-iming imbalan berupa kebutuhan sandang-pangan. Hal ini dikarenakan tidak pernahnya mereka mengenyam pendidikan. Surat perjanjian ekspansi lahan yang selalu diberikan pihak perkebunan kelapa sawit dan Suku Rimba bahkan tak ada manfaatnya bagi mereka karena ketidaktahuan mereka akan membaca. Hadirnya seorang gadis kota yang merupakan anggota dari LSM yang fokus terhadap masalah keberadaan Suku Rimba, telah menyalakan api harapan bagi anak-anak rimba dari ketertinggalan pendidikan. Ia tergerak untuk memberikan pendidikan, seperti membaca, menulis, dan berhitung kepada anak-anak rimba. Kisah ini digambarkan dalam film Sokola Rimba. Film Sokola Rimba diangkat dari sebuah kisah nyata Saur Marlina Manurung atau biasa disapa “Butet” yang menjadi seorang guru di Hutan Lindung di daerah Jambi bagi anak-anak rimba. Dalam film ini, sosok “Butet” diperankan oleh Prisia Nasution, sedangkan murid-muridnya (suku rimba) diperankan langsung oleh penduduk rimba dan tak kalah lagi, bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah Jambi. Oleh karena itu, tak heran jika lingkungan dan suasana rimba yang tercipta dalam film ini sangat terasa kental sekali.

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

13


Dirilis tiga tahun yang lalu oleh Miles Production, film ini tidak mengeluarkan banyak dana untuk kebutuhan pemeran. Dari jajaran pemain, hanya Prisia Nasution yang terbilang tersohor. Walaupun begitu, walau hanya dengan satu pemeran populer, keberadaan artis eksotis ini menjadi daya tarik utama dalam film ini, dikarenakan kualitas acting-nya yang apik dalam film-film yang dimainkannya. Kepiawaian “Pia”, begitu ia disapa, dalam memerakan Butet pantas mendapatkan penghargaan, baik dari caranya berbahasa daerah Jambi serta penjiwaannya dalam memerankan sosok guru. Ia berhasil mendeskripsikan esensi dari perjuangan seorang guru dalam mencerdaskan anak-anak bangsa di tengah minimnya dukungan dari daerah setempat dan negara, hingga pada akhirnya ia berhasil meraih buah dari perjuangannya dengan membangun Sokola Rimba. Sementara dari barisan belakang layar, ada sineas-sineas terbaik Indonesia yang kerap kali berkolaborasi dalam menyajikan film-film terbaik, yakni Mira Lesmana sebagai produser dan Riri Riza sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Didukung sineas lainnya, mereka berhasil menggambarkan ketimpangan antara kehidupan rimba dan kehidupan masyarakat pada umumnya saat itu serta pandangan remeh orang-orang terhadap Suku Rimba. Sang sutradara memilih lokasi pengambilan gambar langsung di Hutan Lindung Jambi dimana orangorang rimba hidup, yang bertujuan untuk menghidupkan nuansa rimba pada film. Film ini adalah film terbaru Riri Riza yang bertema mirip seperti film sebelumnya, Laskar Pelangi. Melalui film ini, Riri kembali mengangkat isu-isu dan masa depan negara yang pantas untuk mendapat perhatian. Film ini mendapat perhatian dari banyak masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Kesuksesan film ini dapat dilihat dari berbagai penghargaan di setiap kategorinya, seperti Film Terbaik Piala Maya (2013), Pemeran Utama Wanita Terfavorit (Prisia Nasution) dalam ajang Indonesian Movie Awards 2014, Aktor Pendukung Terbaik dalam ajang Indonesian Movie Awards 2014 (Nyungsang Bungo), Penulis Skenario Terbaik (Riri Riza) dalam ajang FFI 2014, dan nominasi-nominasi lainnya.

Trivia

Film Sokola Rimba diangkat dari sebuah buku dan pengalaman antropolog Butet Manurung selama mengajar di Hutan Bukit Duabelas, Jambi

sumber foto : http://www.ziliun.com/sites/default/files/styles/large/public/images/20151205144526.jpg?itok=IHRp7vNJ

sumber foto : http://globalnation.inquirer.net/files/2014/08/Saur-Marlina-Manurung1.jpg

Atas dedikasinya mendirikan Sokola Rimba, Butet Manurung mendapatkan banyak penghargaan. Salah satunya, Heroes of Asia Awards 2004 oleh majalah Times.

sumber foto : http://www.muvila.com/movies/photo/601.html

14

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

Film Sokola Rimba juga menampilkan anakanak rimba dari Hutan Bukit Duabelas, Jambi


RESENSI BUKU

Perempuan di Titik Nol N

ovel Perempuan di Titik Nol adalah novel terjemahan Karya Nawal el Saadawi dari judul asli Woman at Point Zero. Diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia. Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Firdaus yang mengalami penganiayaan, pelecehan seksual, dan perlakuan tidak wajar baik dari segi fisik maupun mental dari banyak laki-laki. Setelah ayah dan ibunya meninggal, Firdaus diasuh oleh pamannya. Walaupun pamannya bersikap lebih lembut dibanding ayahnya, tetapi pamannnya tak pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati tubuh Firdaus. Firdaus kemudian dikirim oleh pamannya ke sekolah menengah. Setelah lulus dengan nilai terbaik dari sekolah menengah tersebut, Firdaus dipaksa menikah dengan seorang lelaki tua berumur 60 tahun yang kaya raya nan pelit. Dalam kehidupan rumah tangganya, Firdaus sering kali diperlakukan kasar oleh suaminya. Firdaus pun melarikan diri dari rumah karena tidak mendapatkan rasa aman. Penganiayaan dari segi fisik seringkali ia alami hingga membuat memar di pipinya dan darah keluar dari hidungnya. Pernah ketika ia pulang ke rumah pamannya, ia di usir dan disuruh kembali kepada suaminya yang renta itu oleh istri pamannya. Inilah awal mula ia menjadi perempuan jalanan. Pertama, Firdaus bertemu Bayoumi, seorang lelaki yang awalnya tampak baik. Namun ternyata, Bayoumilah yang membawa Firdaus pada sebuah profesi yang disebut pelacur, bahkan selain Bayoumi, ia juga dijamah oleh teman-teman Bayoumi. Karena Firdaus merasa tidak tahan atas semua perlakuan Bayoumi, maka ia pun melarikan diri. Setelah itu, ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang ternyata seorang germo, bernama Sharifa Salah el Dine. Dari pertemuannya dengan Sharifa, Firdaus menyadari bahwa tubuhnya memiliki harga tinggi, sehingga jika ada lelaki yang menginginkan tubuhnya maka ia harus mematok harga tinggi. Akan tetapi, selanjutnya Firdaus mengalami konflik dengan pacar Shafira dan membuatnya kembali melarikan diri. Di jalan, ia bertemu dengan seseorang untuk kemudian melakukan persetubuhan. Setelah melakukan persetubuhan, Firdaus ditinggali uang sepuluh pon. Mulai dari situlah, ia menyadari akan “harga diri”. Setelah kejadian tersebut, Firdaus mulai menjadi pelacur dengan bayaran 20 pon sekali tidur. Selanjutnya, Firdaus menjadi seorang pelacur mandiri yang berharga. Ia bisa membeli apapun yang ia inginkan. Ia bisa berdandan secantik mungkin. Dan yang paling penting, ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur.

Data/Judul Buku Penulis Penerbit Penerjemah Pengantar Ketebalan Buku Cetakan KeTahu Terbit Ukuran

Karena Firdaus menginginkan hidup yang normal layaknya perempuan–perempuan lain, ia pun berkesempatan bekerja di sebuah perusahaan industri, namun pada akhirnya ia kembali ke dunia pelacuran karena patah hati dengan kesombongan lelaki bernama Ibrahim. Di sana ia bertemu dengan seorang germo, Marzouk, yang memaksa Firdaus bekerja untuknya. Akhirnya, pengalaman hidupnya yang pahit telah mengubah Firdaus menjadi perempuan yang tak lagi mau diinjak-injak kaum pria. Ia memilih untuk membunuh sang germo yang diawali dengan sebuah pertengkaran. Namun, setelah kejadian itu ia kembali melayani seorang lelaki. Kali ini lelaki itu adalah seorang pejabat/keluarga kerajaan. Di akhir hubungan ranjang, Firdaus menampar lelaki itu karena ia terus menerus menanyakan tentang perasaan Firdaus. Karena kesal, Firdaus pun merobek-robek uang dari lelaki itu seraya berkata bahwa ia pernah membunuh seorang lelaki. Lelaki itu pun ketakutan sambil berteriak sampai akhirnya polisi datang dan menangkap Firdaus. Firdaus dimasukkan ke dalam penjara dan akhirnya ia dijemput untuk menerima hukuman mati. Dalam novel Perempuan di Titik Nol, El- Sadawi mengungkapkan lewat bahasa yang vulgar dan dipenuhi dengan nuansa seks sehingga buku ini lebih cocok untuk dibaca oleh kalangan dewasa. Cover buku juga tidak banyak menggambarkan isi buku. Novel ini menempatkan laki-laki berada di pihak bersalah dan cenderung menonjolkan cerita lewat sudut pandang perempuan. Sementara itu, Novel Perempuan di Titik Nol mengajarkan perempuan untuk lebih open minded dalam menyikapi diriya sendiri terutama dalam memahami batasan-batasan yang seharusnya dilindungi oleh perempuan. Novel ini juga mengajarkan kepada setiap perempuan untuk berani membela dirinya sendiri jika memang sikap yang diambil adalah benar dan lakilaki harus menghargai kaum perempuan karena bagaimanapun baik perempuan dan laki-laki diciptakan untuk saling berdampingan. (Nur Baiti)

: Perempuan di Titik Nol : Nawal el – Saadawi : Yayasan Pustaka Obor Indonesia : Amir Sutaarga : Mochtar Lubis : xxiv + 176 hlm : 11 : April 2014 : 11 x 17 cm sumber gambar: http://obor.or.id/Perempuan-Titik-Nol-Nawal-el-saadawi

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

15


TEKA-TEKI SILANG

Topik : Pendidikan

Menguji wawasanmu tentang dunia pendidikan

Mendatar

Menurun

2 4 6 10 12 15 16 18 21 23 24 26 28 29 30 31

1 3 5 7 8 9 11 13 14 17

16

Masa orientasi siswa Penggunaan dua bahasa Organisasi eksekutif mahasiswa Pimpinan di tingkat univesitas Bulannya hari pendidikan internasional Pengawas organisasi eksekutif mahasiswa Pimpinan di tingkat fakultas Universitas tertua kedua di Indonesia Siswa yang memimpin di kelas Pendidikan tingkat dasar Nama mata pelajaran olahraga pada kurikulum 2013 Bapak Pendidikan Nasional Mata pelajaran bahasa daerah Semester 1, 3, 5, 7, dst Sin, cos, tangen Konseling di sekolah

M a h a ra d h i k a | Ju n i 2 0 1 7

19 20 22 25 27

Praktik mengajar di sekolah bagi mahasiswa prodi pendidikan Seleksi nasional tertulis masuk PTN Nama Kampus Unpad di Dipatiukur Universitas tertua di dunia Kegiatan minat dan bakat sepulang sekolah Guru yang membina sebuah kelas Pelajaran tambahan di luar sekolah menjelang UN Bantuan operasional sekolah Ujian tidak tertulis Wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap ketertiban siswa SMA tahun 1994 - 2004 Indeks prestasi kumulatif (Inggris) Unit kegiatan mahasiswa Laporan nilai siswa di setiap akhir semester Technische Hoogeschool te Bandoeng

Maharadhika Juni 2017  

Menggapai Asia-Afrika yang satu dan baru, generasi Asia-Afrika.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you