Page 1

INDOHUN N UM BE R 1 4

NE WS

O C TO B ER 2 0 1 7

Health and Beyond IMP ROVI N G H E ALT H FO RAA L L P EO P L E WO RL DW I D E


Editorial Team Tim Redaksi E D I TO R/ P E N Y U NTING

Samuel Josafat Olam Alexandra Tatgyana Suatan Alessa Fahira E D I TO R/D E S I G NER

Amita Paramal Dini CO N T RI B U TO R/ KONTRIBU TOR

Ayunita Khairunnisa Vania Christiawanto

H OW TO CO N T R I BU T E

nco@indohun.org

Be the first to know about our activities and initiatives. Jadilah orang pertama yang mengetahui aktivitas dan ide baru kami. WEBSITE www.indohun.org FAC E B OOK Indonesia One Health University Network I N S TAG R AM @indohun.id T W I T TER @Indohun I N D O H U N N AT I O N A L COOR D I NAT I NG OFFI C E Kampus Baru Universitas Indonesia Faculty of Public Health, G Building 3rd Floor, Room 316 Depok, West Java, Indonesia 16424 021-29302084/ 0812-8145-0949

This newsletter is made possible by the generous support of the American people through the United States Agency for International Development (USAID). The contents are the responsibility of One Health Workforce implementing partners and do not necessarily reflect the views of USAID or the United States Government. Surat kabar ini dapat terwujud dengan bantuan warga Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID). Isi merupakan tanggung jawab mitra pelaksana One Health Workforce dan tidak merefleksikan visi USAID maupun Pemerintah Amerika Serikat.

2


Content Daftar Isi O C TO B E R 2017 • N U M B E R 1 4 • I ND OHU N NEWS

WELCOME

5 | Letter from the Coordinator ACT IV ITY

6 | From Life Styles to Life Values “This is my first time going out of my hometown and setting foot on another island,” said Miranda. [...]

11 | Transforming One Health Workforce into Global Health Advocates That afternoon in a conference room, thirty young people sat around some tables as they [...]

20 | One Health Approaches in Combating Zoonotic Diseases Zoonotic disease is currently a major issue in Indonesia, particularly its high incidence of [...]

S TORY

24 | Learning from the Neighbour “It was a bright sunny day when Putu Cri [...] 28 | Regional Training of Trainers: One Health Problem Based Book “The act of collaboration between multisectoral health professionals is the essence of [...]

SURGE

16 | Facing the Threat of Bioterrorism In 1918, over 500,000 Americans were killed during the Spanish flu epidemics, which is [...]

31 | 3

OPPORT U NI T Y


4


W E LCO M E

Letter from the Coordinator Surat dari Koordinator

Selamat datang di edisi terbaru INDOHUN News. Seperti biasa, edisi ini dan edisi-edisi berikutnya, akan diisi dengan berbagai hal menarik yang terjadi di INDOHUN dan lembaga mitra. Kami juga membagikan kesempatan dan informasi yang Anda perlukan untuk menjadi tenaga kerja One Health yang lebih baik. Surat kabar ini diisi dengan ide-ide baru dan artikel inspiratif, membawa cerita dari kegiatan INDOHUN yang melibatkan fakultas dan mahasiswa. Kami berusaha untuk membuat konten yang sesuai dengan tema, tetapi kami juga berusaha untuk terbuka terhadap siapapun yang ingin berkontribusi. Dengan diterbitkannya edisi ini, kami mengundang seluruh anggota INDOHUN untuk mengajukan artikel untuk edisi selanjutnya. Dengan hormat, kami membawakan hasil kerja keras orang-orang yang sudah begitu berkomitmen untuk surat kabar ini, dan kami senang karena Anda menikmati surat kabar ini.

Welcome to the latest edition of the INDOHUN News. As always, this issue and all those that follow, will highlight some great things going on at INDOHUN and its partner organizations. We also share opportunities and information you need to be a better One Health workforce. The newsletter is formed by new ideas and inspiring articles, telling the stories of INDOHUN programs that involve faculty and students. While we have tried to organize the content according to themes, we also tried not to place restrictions on what people wanted to contribute. With the release of this issue, we are inviting all INDOHUN members to submit your ideas on topics to be covered in the next issue. We are honored to share the work of so many committed and thoughtful people, and we are happy that you enjoy reading this newsletter. Prof. Wiku Adisasmito INDOHUN Coordinator

Prof. Wiku Adisasmito Koordinator INDOHUN

5


INDO HUN.ORG

From Life Styles to Life Values Dari Gaya Hidup ke Nilai Hidup BY /O L E H A L E X A N D R A TATGYA N A S UATAN, SAMU E L J OSAFAT OLAM

“Ini kali pertamaku keluar dari kotaku dan menginjakkan kaki di pulau yang lain,” ujar Miranda. Miranda, mahasiswa kesehatan masyarakat yang berasal dari Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, adalah salah satu dari 56 peserta pelatihan Global Health True Leaders 2.0 (GHTL 2.0). Sesuai dengan namanya, GHTL 2.0 atau GHTL generasi baru ditujukan untuk calon pemimpin masa depan yang masih mengemban pendidikan di bangku kuliah. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa semester 5 hingga mahasiswa profesi yang sedang mengejar

“This is my first time going out of my hometown and setting foot on another island,” said Miranda. Miranda, currently a public health student at Mulawarman University, East Kalimantan, is one of the 56 participants of Global Health True Leaders 2.0 Training (GHTL 2.0). As the name implies, GHTL 2.0 is the new generation of Global Health True Leaders training designed for future leaders that are still in their undergraduate education. The training welcomed third year students and above, including those undergoing professional internship in medicine, veterinary medicine, nursing, and others. For Miranda, the training was a completely new

6


ACTIVI T Y

gelar dokter atau dokter hewan atau ners dan sebagainya. GHTL 2.0 mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah didapati oleh Miranda di bangku pendidikan formalnya. Pelatihan dimulai dari pelajaran di dalam kelas yang menghabiskan 4 hari dari total 7 hari pelatihan. Materi yang disampaikan para pelatih di dalam kelas menggunakan sebuah modul yang mencakup semua topik mengenai konsep One Health. Modul ini didesain untuk membantu para peserta yang masih duduk di bangku kuliah untuk memahami berbagai prinsip dasar untuk mengahadapi ancaman global seperti wabah yang sewaktuwaktu bisa menyerang. Dalam pelatihan ini, para peserta secara khusus belajar mengenai tantangan kesehatan global, manajemen penyakit infeksi, serta epidemioogi dan analisis risiko. Peserta juga mendapat materi tentang budaya, kepercayaan, nilai, dan etika, nilai kehidupan pemimpin sejati, komunikasi, pengembangan perilaku, kolaborasi, advokasi dan kebijakan, dan lain-lain. GHTL 2.0 membangun kesadaran bahwa setiap manusia, termasuk Miranda, memiliki peran dalam menghadapi isu-isu global dan tantangan masa depan, sehingga kita perlu aktif terlibat dalam

experience that taught her things she had never learned in school. The training consists of four days of in-class sessions and three days of field work and outdoor activities. Topics were delivered in accordance to INDOHUN Global Health True Leaders training module, designed to help students understand the basic principles in facing global threats such as emerging outbreaks and pandemics. Throughout the training, participants learned about global health issues and challenges, infectious disease management, epidemiology, and risk analysis. They were also trained to develop a set soft skills in leadership, communication, behaviour modification, collaboration, advocacy, culture, trust, values, ethics, and many more. GHTL 2.0 developed the awareness that every human being, including Miranda herself, has a role in facing future global issues and challenges, so we need to take active participation in shaping national and global health policies and other activities to solve the problems. Being asked about the in-class sessions, Miranda shared her positive impressions on the topics delivered by Prof. dr. Adik Wibowo, MPH, DrPH on the pinciples of social communication. Miranda gained a valuable experience when she, as a timid introvert, was pushed beyond her boundaries to

7


INDO HUN.ORG

pengambilan kebijakan-kebijakan kesehatan dan berbagai upaya pemecahan masalah di sekitar kita. Ditanya mengenai pengalamannya mengikuti kegiatan di kelas, Miranda bercerita bahwa nilai-nilai tentang Komunikasi Sosial yang disampaikan seorang pelatih, Prof. dr. Adik Wibowo, MPH, DrPH, berhasil membuka pemikirannya. Miranda menghargai pengalaman bekerja bersama rekan-rekan yang tidak ia kenal sebelumnya untuk berpikir cepat dan cerdas dalam waktu terbatas. Sedangkan peserta lain yang bernama Dylan menyatakan bahwa salah satu hal paling menarik yang ia dapatkan adalah pengetahuan mengenai advokasi, bagaimana berbicara dengan baik, sistematis, dan meyakinkan. “Sulit sekali menjawab pertanyaan yang tidak terduga dari lawan bicara kita dan mencoba merancang beberapa skenario saat bertemu dengan pemangku kepentingan bisa terasa melelahkan.” Dylan, yang masih kuliah di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung, mengatakan bahwa kegiatan di dalam kelas sangat dinamis. Mulai dari memperhatikan pelajaran teori yang disampaikan para pelatih, tertantang untuk terus mengangkat tangan hendak menjawab ketika ada pertanyaan yang dilontarkan oleh pelatih,

confidently speak for her team in a role play. “It was a challenging yet interesting experience to work together with a group of new friends in a short time, to think fast and smart.” Another participant named Dylan shared his interesting experience of being trained in advocacy skills, how to speak well, in a systematic and convincing manner. He explained, “It was so hard to answer unexpected questions and also so tiring to make several scenarios of what we will do when meeting the stakeholder.” Dylan, currently studying at the Faculty of Pharmacy, Bandung Institute of Technology, considered the in-class sessions very dynamic. He learned a lot from attending lectures delivered by expert trainers, being challenged with mind provoking questions, working together in groups to discuss and solve the exercise problems given at the end of every lecture, and having fun in games and ice breakers prepared by the committee in-between the classes. In this new generation of Global Health True Leaders training, many topics were delivered using entertaining and engaging visual aids, such as videos. One video made a lasting impression to Dylan. That was on the Ebola outbreak in Africa, which showcased the real-life example of how a complex problem can be solved with the involvement of many sectors. He understood that, “Working in a team

8


ACTIVI T Y

berdiskusi mengerjakan latihan-latihan kelompok yang langsung diberikan oleh pelatih di akhir sesi ajar mereka, sampai mengikuti ice breaking yang disisipkan panitia di tengah-tengah kegiatan kelas yang cukup menguras otak. Materi pun tidak hanya disampaikan dengan slides, tetapi juga menggunakan video. Salah satu yang paling berkesan menurut Dylan adalah video kasus Ebola di Afrika karena membuka pandangannya bahwa beberapa persoalan baru bisa dipecahkan dengan keterlibatan banyak orang. “Ketika kita bekerja di dalam tim memang kita tidak bisa secepat saat kita bekerja sendiri, namun kita bisa mengatasi permasalahan yang lebih rumit.� Beban pelatihan yang cukup berat cukup merefleksikan bagaimana beratnya menjadi pemimpin masa depan dengan tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Belum lagi ditambah dengan tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan di luar jam pelajaran. Ditambah pula dengan tugas angkatan yang juga harus dikerjakan di luar jam pelajaran dan overlap dengan tugas kelompok. Terkadang, beban yang terlalu banyak ini membuat peserta jenuh. Akan tetapi, dengan sungguh-sungguh menerapkan prinsip kolaborasi dari pendekatan One Health dan saling memberi dukungan antar anggota kelompok, semua tugas dapat diselesaikan dengan baik. Metode belajar yang selalu berujung kepada diskusi dan kolaborasi sungguh membantu para peserta ketika melaksanakan kegiatan live-in di desa Gondosuli. Live-in adalah salah satu rangkaian GHTL 2.0, di mana para peserta tinggal dan beraktivitas bersama dengan warga desa. Kolaborasi dan kerja sama di Desa ini sungguh sangat kental, apalagi dengan mata pencaharian warganya yang sebagian besar hidup sebagai petani. Para peserta sungguh mendapatkan manfaat nyata dari hasil kerja sama ketika bertani. Mereka juga melihat secara langsung betapa disiplinnya para petani yang setiap hari bangun dini hari untuk merawat sayuran yang selama ini didapatkan dengan mudah oleh peserta. Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman tinggal di desa ini membuat para peserta merasakan hidup sederhana yang jauh dari gaya hidup mereka sebagai mahasiswa muda, di mana

means we cannot go as fast as working alone but we could cover much wider range and slowly tackle the challenges.� The tight training schedule, as well as the amount of tasks and homework one need to complete during the training set an example to the students on how difficult it is to be future global health leaders, with all the complex challenges within the health system. Participants were given individual and group tasks to work on, sometimes to the point where they got really exhausted and depleted. However, in those situations, they learned to apply the strategies of working collaboratively and provide support to each other, so they can complete all the tasks together. Implementing teaching and learning methods that lead to discussion and collaboration is one of the most important strategies of GHTL 2.0. This was shown to be very helpful when the participants had their two-night stay in Gondosuli village. There, they lived together with the locals and joined them in their daily activities. With a majority of people working as farmers, collaboration and team work are inseparable 9


INDO HUN.ORG

from the lives of people in Gondosuli. From them, GHTL 2.0 participants learned about the benefits of working together and the exemplary discipline required from the farmers to produce our foods that we often take for granted. Not only that, the experience of living in a village taught the participants about modesty and sustainable living, away from the modern lifestyles and technology. The ease of communications using smartphones and laptops was not a common thing in the village. And being there, participants like Miranda and Dylan learned to improve faceto-face conversations, and understand the values of communications and togetherness. That kind of experience is exactly what GHTL 2.0 wants to offer to the younger generations, many of them are millennials who live in the urban environment. The many life values taught during the training has made GHTL 2.0 an unforgettable experience. A supportive environment for collaboration was palpable as the training reached its end, when participants conducted their community intervention activities. They successfully worked across disciplines in the area of human, animal, and environmental health with great efficiency. Miranda, who had promised to herself not to stay in her comfort zone, successfully proved that courage will pay with a good result. Not only she discovered new places and friends, she also found valuable life values for herself. GHTL 2.0 is a story of change. It is a story about young people transforming into true leaders by changing their minds, shifting their focus from life styles to life values.

kebanyakan sudah dimajakan oleh kemajuan teknologi. Menggunakan telepon pintar dan laptop adalah hal yang mudah untuk mereka lakukan. Sementara di sini, di desa ini, Miranda, Dylan, dan peserta lainnya sungguh belajar pentingnya berkomunikasi secara langsung dan bekerja sama. Tanpa melalui telepon, tetapi melalui tatap muka. Sejatinya nilai ini sudah hampir musnah ditelan gaya hidup milenial dan sulit dilakukan oleh masyarakat urban dan anak-anak “zaman sekarang�. Banyaknya nilai kehidupan yang diterima oleh para peserta, membuat sisa hari pelatihan semakin berkesan. Suasana kolaborasi yang sangat kental mulai terasa, terutama ketika para peserta mengadakan kegiatan sosial. Kolaborasi antar peserta tanpa menyalahi kode etik masing-masing program studi sungguh memberikan manfaat yang besar terhadap penggunaan waktu yang efektif dan efisien. Miranda yang awalnya bertekad agar dirinya tidak akan terkungkung di dalam zona nyaman telah membuktikan bahwa keberanian membuahkan hasil yang manis. Tidak hanya berhasil keluar dari kota tempat Ia tinggal selama ini, Miranda juga berhasil mendapatkan banyak pelajaran hidup yang berharga. Begitu pula yang dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa lain selama mengikuti pelatihan GHTL 2.0. Metamorfosis sempurna seorang mahasiswa untuk menjadi pemimpin sejati dimulai dari mengubah nilai kehidupan yang semu menjadi nilai kehidupan yang sejati. Dari yang awalnya hanya berfokus untuk meningkatkan gaya hidup, menjadi berfokus untuk meningkatkan nilai kehidupan. Dari gaya hidup menjadi nilai hidup. Inilah GHTL 2.0.

10


ACTIVI T Y

Transforming One Health Workforce into Global Health Advocates Mendidik Tenaga One Health Menjadi Advokat Kesehatan Global BY /O L E H A MI TA PARAMAL DINI

Siang hari di ruang konferensi, tiga puluh pemuda duduk mengelilingi meja untuk membahas tiga belas agenda rapat. Meja-meja tersebut ditempelkan satu sama lain tanpa celah sehingga membentuk persegi panjang yang berlubang di tengahnya. Mikrofon, miniatur bendera, dan papan nama negara-negara anggota ASEAN diletakkan secara rapi di atas meja, tepat di depan peserta rapat yang mewakili Sekretariat ASEAN dan Negara Anggota. Salah satu peserta, yang bernama Adelina

That afternoon in a conference room, thirty young people sat around some tables as they discussed thirteen meeting agenda. The tables were placed together to form hollow rectangular without any gaps. Table top microphones, miniature flags, and acrylic name plates of ASEAN Member States were nicely set in front of the participants who represented ASEAN Secretariat and Member States. One of the attendees, named Adelina Kusuma Wardhani, took a seat with a desk name plate “Chair�. There was no flag on her table but within her reach,

11


INDO HUN.ORG

Kusuma Wardhani, menduduki kursi di sebuah meja panjang dengan papan nama bertuliskan “Chair”. Di atas mejanya tidak ada bendera, tetapi ada palu sidang yang sering terlihat di rapat level tinggi. Bendera-bendera besar berdiri rapi di belakangnya, mewakili Sekretariat ASEAN dan Negara Anggota ASEAN yang hadir dalam rapat tersebut. Adelina, yang hari itu ditunjuk sebagai pimpinan rapat, tampak serius saat mendengarkan pernyataan salah satu peserta rapat. Mereka sedang mendiskusikan masalah kesehatan saat tiba-tiba muncul sebuah video pada layar besar di samping Adelina. Setelah video selesai ditayangkan, Ketua Delegasi Thailand keluar ruang rapat untuk memberikan pernyataan kepada media terkait situasi dalam video tersebut. Rapat tersebut merupakan simulasi ASEAN Senior Officials’ Emergency Meeting yang dilaksanakan sebagai bagian dari pelatihan Global Health Diplomacy. Pelatihan ini diciptakan untuk meningkatkan kemampuan diplomasi para tenaga kerja bidang kesehatan dan mahasiswa pascasarjana. “Indonesia membutuhkan anakanak muda yang siap mewakili negara ini untuk membangun kerjasama level internasional, terutama di bidang kesehatan. Untuk membuat

there was a wooden gavel, similar to the one that is used in meetings of a deliberative assembly. Huge flags were arranged behind the chairwoman’s seat, representing ASEAN and its member states that attended the meeting. Adelina, who occupied the central sit, put on a serious face while listening to a statement from one of the meeting attendees. They were discussing about a health issue when suddenly a breaking news video popped up on huge screens beside Adelina. After the video has ended, Head Delegates of Thailand went out of the room to give press conference on the situation in the news. The meeting was actually a simulation of ASEAN Senior Officials’ Emergency Meeting that was held as a part of Global Health Diplomacy training. This training was designed to improve diplomacy skills of One Health workforce and postgraduate students. “Indonesia needs young generation who is ready to represent this country in building international level of collaboration, especially in the health sector. Developing health policy cannot only use your knowledge about health but you have to be able to negotiate and make an effective decision,” said Prof. Wiku Adisasmito, professor in health policy at Universitas Indonesia who also serves as Coordinator of Indonesia One Health University Network

12


ACTIVI T Y

kebijakan kesehatan, tidak cukup dengan ilmu kesehatan, tetapi Anda juga harus bisa bernegosiasi dan membuat keputusan dengan cepat,� ujar Prof. Wiku Adisasmito, profesor bidang kebijakan kesehatan di Universitas Indonesia yang juga menjabat sebagai Koordinator Indonesia One Health University Network (INDOHUN). Munculnya masalah kesehatan baru seperti tuberkulosis resisten obat menjadi pemicu bagi INDOHUN untuk mengumpulkan praktisi muda dalam pelatihan ini. Bekerja sama dengan Diklat Sesparlu Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, mereka belajar untuk menyusun peraturan terkait penggunaan antibiotik, pelayanan kesehatan, kerja sama pemerintahswasta, dan bioterorisme. Dalam simulasi rapat, peserta menghasilkan rancangan kesepakatan untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan dan keamanan di wilayah ASEAN. Walaupun mayoritas peserta tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi, rapat tidak dijalankan dengan asal-asalan. Peserta tidak serta merta dijebloskan dalam simulasi rapat. Sejak dua hari sebelumnya, mereka telah dibekali materi oleh diplomat dan dosen. Salah satu pembicara adalah Prof. Makarim Wibisono yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan

(INDOHUN). New health problems such as multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) have emerged and become a trigger for INDOHUN to gather young practitioners in this training. Collaborating with Senior Diplomatic Course of Ministry of Foreign Affairs (Sesparlu Kementerian Luar Negeri), they learned to develop a policy on antibiotic, healthcare, public-private partnership, and bioterrorism. During meeting simulation, participants delivered a draft resolution to solve health and security problems in ASEAN. Although a lot of participants did not have any past experience in diplomacy, it does not mean they conducted the meeting simulation carelessly. They were not instantly thrown in the meeting. Two days prior to simulation, they have learned from ten diplomats and lecturers. One of the trainers was Prof. Makarim Wibisono who once became Indonesian Ambassador to the United Nations. He gave an explanation of the instrument of health diplomacy. His session was equipped with the other sessions, such as a session on how to write a resolution and make diplomatic speeches with Andhika Chrisnayudhanto, Director of Regional Cooperation and Multilateral Deputy III The National Agency for Combating Terrorism. Odo Manuhutu, Director of Sesparlu, also explained how to develop negotiation

11


INDO HUN.ORG

Bangsa-Bangsa. Ia menjelaskan tentang instrumen yang digunakan dalam diplomasi kesehatan. Sesi lainnya dibawakan oleh Andhika Chrisnayudhanto, Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral Kedeputian III BNPT, mengajarkan peserta untuk menyusun resolusi dan pidato diplomatik. Odo Manuhutu, Direktur Sesparlu, juga menjelaskan bagaimana cara menyusun strategi dan sikap negosiasi, serta cara mempengaruhi orang lain. Namun tetap saja, Adelina mengaku bingung saat pertama kali ditugaskan menjadi pimpinan rapat. Ia tidak familiar dengan istilah diplomasi karena tumbuh dalam lingkungan sains. Selama menjadi pimpinan rapat, ia juga harus fokus mendengarkan dan menyimpulkan setiap argumen, sembari memastikan rapat berjalan tepat waktu sesuai agenda. Setelah mengerti dinamika rapat dan mendapat nasihat dari salah satu pembicara, Artauli Tobing (yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Vietnam), ia mulai bisa mengarahkan rapat. “Bu Artauli Tobing sempat bilang pada saya bahwa menjadi pimpinan rapat itu merupakan suatu latihan, sebuah proses. Harus mengasah insting untuk menjadi orang yang bisa mengambil keputusan dan pintar mengatur waktu.” Dulu saat Adelina masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia kurang

manner and strategy as well as social influencing and cultural competence. But still, Adelina was quite confused when she was assigned as chairwoman. She was unfamiliar with diplomatic terms as she grew up learning the application of science. Moreover, being a chairwoman means she had to focus on listening and concluding every arguments, while ensuring the meeting was on schedule. After she grasped the flow of the meeting and received advices from one of the trainers, Artauli Tobing (who was Former Indonesian Ambassador to Vietnam), Adelina could manage the meeting. “Ms. Artauli Tobing once said to me that being a chairwoman was an exercise, a process. We have to sharpen our instinct to be a more decisive person and better at time management.” When Adelina was studying at the Faculty of Medicine Universitas Indonesia, she did not get much exposure to global health issues. She used to think that the issue had no direct implications on her life. As time passed, she realized that global health is a crucial topic and it requires good negotiation skill to embrace the topic as well as work in that area. Medical school taught her human anatomy, but possibly not diplomacy. That is why she is willing to take 5 days off work to attend the Global Health Diplomacy training.

14


ACTIVI T Y

Ivan Limanjaya, who recently completed a master’s in Psychiatry from Cardiff University, agreed on her statement, “As a medical workforce, the majority of education that I got only focus on the clinical knowledge and skill. Communication and diplomacy were not the main topics.” Ivan often feel awkward when giving information to patients in hospital and community health center (puskesmas). On the first day of the Global Health Diplomacy training, he was an awkward man but he was more daring to make an argument since the third day. Surprisingly, he was assigned as chairman on the last day of meeting simulation. On the other hand, Meuthika Noor Fitriyana who often works with community in the field, had some difficult times fitting herself into the training as it had formal ambience with all the attire, seating, and table manner. Her adaptation skill helped her to be able to follow the training. She was more than happy that the training successfully engaged her to actively speak because of the good discussions. What she obtained during the training could be applied to her job. Prior to training, participants had to read and explore a lot of information about the country that they represented. Those information helped them to make arguments, write press releases, and handle the media during press conference. After joining the Global Health Diplomacy training, some participants admitted that they started to shift their perspectives on diplomat. They understood how Indonesian diplomats fight for their rights in the international forum, especially in the health forum. Any reading materials, negotiation strategies, diplomatic terms, and how to create a draft resolution; now they know.

terpapar dengan isu kesehatan global. Saat itu ia merasa isu tersebut tidak berdampak langsung pada kehidupannya. Namun akhirnya ia sadar bahwa kesehatan global adalah isu penting dan membutuhkan kemampuan negosiasi untuk memahami topik tersebut. Sekolah kedokteran mengajarkan anatomi manusia tetapi mungkin tidak mengajarkan diplomasi. Itulah alasan Adelina rela mengambil 5 hari cuti kerja untuk mengikuti pelatihan Global Health Diplomacy. Hal serupa juga disampaikan oleh Ivan Limanjaya, yang baru saja menyelesaikan kuliah pascasarjana Jurusan Psikiatri di Cardiff University, “Sebagai seorang tenaga medis, kebanyakan pendidikan yang saya terima sebelumnya memiliki fokus utama pada keterampilan dan pengetahuan klinis. Komunikasi dan diplomasi tidak jadi topik utama.” Ivan sering merasa canggung saat memberikan penyuluhan di rumah sakit dan puskesmas. Saat hari pertama pelatihan pun, ia masih canggung. Namun memasuki hari ketiga, ia lebih berani menyampaikan argumennya, bahkan ia ditunjuk menjadi pimpinan rapat pada hari terakhir simulasi. Sementara itu, Meuthika Noor Fitriyana yang sering bekerja di lapangan dan bertemu masyarakat, justru kebingungan saat harus bersikap formal selama pelatihan ini. Namun kemampuan adaptasinya membantu ia untuk bisa mengikuti pelatihan dengan baik. Menurutnya, diskusi-diskusi dalam kegiatan ini sangat seru sehingga mau tidak mau ia aktif berpendapat. Ilmu dan pengalaman dari pelatihan ini dapat ia terapkan dalam pekerjaannya. Sebelum mengikuti pelatihan, peserta wajib membaca dan mengeksplorasi informasi terkait negara yang mereka wakili. Informasi tersebut berguna untuk menyusun argumen, menulis press release, dan menghadapi media dalam press conference. Setelah mengikuti pelatihan Global Health Diplomacy, beberapa peserta mengaku bahwa perspektifnya terhadap diplomat mulai berubah. Mereka mengerti bagaimana diplomat Indonesia memperjuangkan hak-hak kesehatan dalam forum internasional. Mulai dari bahan bacaan, strategi negosiasi, istilah diplomasi, hingga cara menyusun rancangan resolusi; kini mereka mengerti. 15


INDO HUN.ORG

Facing the Threat of Bioterrorism Menghadapi Ancaman Bioterorisme BY /O L E H VA N I A C H R I S T I AWANTO, ALE SSA FAHIRA

“Bioterrorists could one day kill hundreds of millions of people in an attack more deadly than nuclear war.” —Bill Gates

“Suatu hari nanti, bioteroris mampu membunuh ratusan juta manusia hanya dengan satu serangan yang lebih mematikan daripada perang nuklir.” —Bill Gates

Bioterrorism: An Introduction In 1918, over 500.000 Americans were killed during the Spanish flu epidemics, which is higher than the Americans that were killed in all wars fought in the 20th century. This threat has shifted the traditional definition of national security to not only address the protection of a state from physical threats, but also modern and sophisticated threats—including pandemic and biological threats. Biological emergency such as bioterrorism and pandemics pose complex threats to industry and government agencies. This issue is serious, reinforced by the fact of the availability of advanced technology and its capability to be used for producing serious biological weapons in the future. The US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) defines bioterrorism attack as “the deliberate release of viruses, bacteria, or other germs (agents) used to cause illness or death in people, animal, or plants”. The tendency of such weapon to be used by terrorist groups is high. The reason of which is because it acts as a slow and silent killer that at a certain time may disperse in a range wider than of an explosive device and have a multiplicative effect. One of the well-known case of bioterrorism is the anthrax letter attack that occurred in 2001 in the U.S.

Bioterorisme: Sebuah Pengenalan Pada tahun 1918, lebih dari 500.000 orang Amerika meninggal akibat epidemi flu Spanyol, lebih banyak dibandingkan total kematian orang Amerika akibat perang yang terjadi di abad ke-20. Ancaman ini menggeser pemahaman awal mengenai pengamanan nasional untuk tidak hanya membahas mengenai pengamanan nasional terhadap ancaman fisik, tetapi juga ancaman pandemi yang bersifat biologis. Kegawatdaruratan biologis seperti bioterorisme dan pandemi menjadi suatu ancaman kompleks tersendiri terhadap industri dan pemerintah terkait. Isu ini menjadi serius, ditambah dengan kenyataan bahwa teknologi berkembang pesat dan kapabilitas terbentuknya senjata biologis di masa depan nanti juga tinggi. US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan bioterorisme sebagai “pelepasan virus, bakteri, atau agen lainnya untuk menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia, binatang, dan tanaman”. Kecenderungan senjata biologis untuk digunakan oleh kelompok teroris sebenarnya tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan senjata biologis sebagai pembunuh diam-diam yang dapat menyebar perlahan dengan jangkauan manusia yang lebih luas, terutama apabila dibandingkan dengan peledak dan jenis

Bioterrorism: Towards the Creation of Pandemics The use of biological agents as weapons may disrupt

16


SURGE

larger urban populations. For example, if an anthrax attack took place in a crowded place such as an international airport, the cases would likely be widely distributed across nation or internationally. Biological agents may include pathogens and toxin. Yet, different from toxin that may require certain amounts to pose significant threats to larger populations, pathogens (viable living organism) are able to reproduce and thereafter impact larger population even with a small amount. The primary biological agents to be of concern include: anthrax, plague and ricin. It has been estimated that an aerosol distribution of Plague or Anthrax over Washington, DC, may lead to the death of 1–3 million people. Facing Bioterrorism: Learning from the United States The increase use of biological agents as weapons comes with an increase demand for a country to be able to asses, manage and communicate the risks of bioterrorism properly. Risk assessment includes the necessary steps in monitoring and surveillance. Epidemiological investigation following a certain confirmed case of biological exposure must be done to predict future risk of pandemics. Assessment of the location and

senjata lainnya. Salah satu kejadian bioterorisme yang tercatat oleh sejarah adalah serangan dalam bentuk surat berisi spora antraks (anthrax letter attack) yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2001. Bioterorisme: Awal Mula Terjadinya Pandemi Penggunaan senjata biologis dapat mengganggu populasi urban yang lebih luas. Sebagai contoh, apabila serangan antraks terjadi di tempat yang ramai seperti bandara internasional, agen ini dapat tersebar luas dari satu negara ke lainnya. Sebenarnya, yang termasuk sebagai agen biologi dalam kasus ini adalah patogen (organisme hidup) dan toksin. Namun, berbeda dari toksin yang membutuhkan kadar tertentu untuk menjadi ancaman yang berarti terhadap populasi, patogen dapat membelah diri sehingga nantinya dapat mempengaruhi populasi yang lebih luas, walaupun pada awalnya hanya muncul dari jumlah yang lebih sedikit. Agen biologis primer yang dinilai sebagai ancaman termasuk: antraks, pes, dan risin. Telah diestimasikan bahwa distribusi aerosol dari penyakit pes maupun antraks terhadap Washington, DC, dapat menyebabkan kematian pada 1-3 juta manusia.

Major areas of concern related to a bioterrorism threat, as stated by Oliver Grundmann in his article “The current state of bioterrorist attack surveillance and preparedness in the US�.


INDO HUN.ORG

Menghadapi Bioterorisme: Belajar dari Amerika Serikat Kecenderungan peningkatan penggunaan agen biologis sebagai senjata harus diikuti dengan peningkatan tuntutan sebuah negara untuk dapat menilai, mengelola, dan menyampaikan segala risiko dari bioterorisme secara benar. Penilaian risiko merupakan tahap yang mencakup semua hal yang diperlukan untuk pemantauan dan surveilans. Investigasi epidemiologi harus dilakukan setelah ditemukan adanya kasus akibat paparan dari agen biologis untuk melihat adanya risiko terjadinya pandemi di masa depan. Peninjauan terhadap lokasi dan kelompok dari populasi target (seperti politisi, ilmuwan, atau populasi umum) juga harus dilakukan. Semua program surveilans ini harus didampingi dengan adanya komunikasi yang baik dari pemerintah atau institusi terkait untuk mencegah terjadinya kepanikan publik. Biaya, ketersediaan dan keterjangkauan vaksin, dampak terhadap kondisi ekonomi, serta risiko adanya korban juga perlu dinilai pada tahap ini. Manajemen risiko merupakan fokus utama dalam menghadapi ancaman bioterorisme. Setelah terjadinya peristiwa anthrax letter attack di tahun 2002, Amerika Serikat telah mengalokasikan dana sebesar $856 juta yang mencakup $507 juta untuk studi dan riset, serta $348 juta untuk Departemen Pertahanan, dan pada tahun 2006, $460 juta untuk mendirikan jaringan komunikasi nasional untuk kesiapsiagaan terjadinya bioterorisme dengan bekerjasama dengan CDC. Beberapa rancangan yang termasuk dalam program tersebut adalah: (1) pelatihan staf rumah sakit untuk dapat mendeteksi dan merespon terhadap adanya potensi agen biologis dan mencegah terjadinya penyebaran lebih lanjut, (2) membangun sistem penanganan bioterorisme yang baik dengan adanya kolaborasi dan komunikasi yang cepat dari individu, unit medis, pemerintah setempat dan agen federal yang terpapar, dan (3) membangun rancangan strategis terhadap penyediaan serta alokasi vaksin dan alat kesehatan lainnya untuk mempermudah akses bagi petugas kesehatan, baik dari segi waktu maupun wilayah. Komunikasi risiko merupakan lingkup

group of the population (politicians, scientist, or general population) targets must also be done. A balance, though, has to be created between investigating and informing to prevent public distress. Costs, vaccine and treatment availability, impacts towards economic and casualty risks should also be determined and listed as part of the assessment. Risk management remains the central focus in facing the threat of bioterrorism. The US has allocated $856 million which include $507 million for research and development and $348 million for procurement to the Department of Defense, following the anthrax letters in 2002 and in the year of 2006, $460 million to establish a national preparedness and response network among hospitals in collaboration with the CDC. Some of the response plan include: (1) the training of hospital staff to be able to recognize and respond for certain potential biological agent and prevent the dissemination of the biological agent exposure and contamination, (2) building a statewide response to create rapid communication between exposed individuals, governor state, federal agencies and medical unit and (3) building a strategic stockpiling of vaccines and other respective medications that can be provided to health assistants and related individuals for a lesser time to an affected area— which is commonly in the US, will only need less than 24 hours. Risk communication is a crucial area which involves rapid trafficking between police, emergencyresponse force, public health department officials to achieve optimize response time and potential containment of the outbreak. Creating a system of rapid communication would then directly reduce morbidity and mortality caused by bioterrorism. Given those strategies and issues, national governments cannot close their eyes towards “biosafety” and “biosecurity”. As the threat of bioterrorist actions must involve several components in the healthcare system, it is essential for health professionals such as physicians, public health personnel, nurses, pharmacists, veterinarians, and environmental experts be included as an integral part to prevent bioterrorism in the future. The international coordination to prevent pandemics and bioterrorism has led to what is called

18


SURGE

yang krusial dalam penanganan bioterorisme. Jalur komunikasi yang dimaksud mencakup pemberitahuan yang cepat antara polisi, petugas tanggap darurat, dan ahli dari departemen kesehatan masyarakat untuk mencapai waktu yang optimal dalam merespon wabah. Pembentukan sistem yang mempercepat komunikasi antarpetugas yang berwenang akan secara langsung berdampak pada penurunan angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh bioterorisme. Maka dari itu, pemerintah tidak dapat mengesampingkan isu mengenai bioterorisme karena komponen terpenting dalam penanganan bioterorisme mencakup kerjasama yang kuat dari berbagai unit dan komponen masyarakat. Koordinasi internasional dalam pencegahan pandemi dan bioterorisme merupakan bagian dari Global Health Security Agenda (GHSA). GHSA menyadari pentingnya pendekatan multilateral dan multisektoral untuk memperkuat kemampuan global dan nasional untuk mencegah, mendeteksi, dan menanggapi ancaman penyakit menular yang merupakan bagian dari ancaman bioterorisme.

the Global Health Security Agenda (GHSA). GHSA acknowledges the essential need for a multilateral and multi-sectoral approach to strengthen both the global and national capacities to prevent, detect, and respond to infectious disease threats whether it is naturally occurring, deliberate, or accidental— capacities that are once established would relieve the devastating effects of bioterrorism events. References: 1. Christian M. Biowarfare and Bioterrorism. Critical Care Clinics. 2013;29(3):717-756. 2. McKinley, W., Wesley, G.C., Sprang, M. V. and Troutman, A. (2017). Educating Health Professionals to Respond to Bioterrorism. [online] NCBI. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/PMC2569986/ [Accessed 11 Jul. 2017] 3. Middlebury Institute of International Studies at Monterey. (2017). Terrorism, Bioterrorism, and Pandemics | Middlebury Institute of International Studies at Monterey. [online] Available at: http:// www.miis.edu/academics/short/executiveeducation/options/terrorism [Accessed 11 Jul. 2017] 4. Farmer, B. (2017). Bioterrorism could kill more people than nuclear war, Bill Gates to warn world leaders. [online] The Telegraph. Available at: http://www.telegraph.co.uk/news/2017/02/17/ biological-terrorism-could-kill-people-nuclearattacks-bill/ [Accessed 11 Jul. 2017] 5. Rebmann, T. (n.d.). Infectious Disease Disasters: Bioterrorism, Emerging Infections, and Pandemics. APIC Text of Infection Control and Epidemiology. Available at: https://apic.org/Resource_/ TinyMceFileManager/Topic-specific/47901_ CH120_R1.pdf 6. Christian MD. Biowarfare and bioterrorism. Critical care clinics. 2013 Jul 1;29(3):717-56. 7. Grundmann O. The current state of bioterrorist attack surveillance and preparedness in the US. Risk Management and Healthcare Policy. 2014:177.

19


INDO HUN.ORG

One Health Approaches in Combating Zoonotic Diseases Pendekatan One Health dalam Menangani Penyakit Zoonotik BY /O L E H AY UN I TA K H A I RU NNISA, ALE SSA FAHIRA

Penyakit zoonotik merupakan sebuah masalah besar di Indonesia, terutama karena tingginya insiden penyakit zoonotik, seperti rabies, anthrax, brucellosis, dan lain-lain. Pemerintah Republik Indonesia telah memprioritaskan beberapa penyakit zoonotik untuk ditangani, yaitu avian influenza, rabies, anthrax, Japanese encheplalithis, salmonellosis, leptospirosis, bovine tuberculosis, toxoplasmosis, brucellosis, paratubercullosis, echinococosis, taeniasis, scabies, dan trichinellosis. Melihat pentingnya penyakit zoonotik untuk

Zoonotic disease is currently a major issue in Indonesia, particularly its high incidence of zoonotic diseases such as rabies, anthrax, brucellosis, and more. Zoonoses that are prioritized by the Government of Indonesia, are avian influenza, rabies, anthrax, Japanese encheplalithis, salmonellosis, leptospirosis, bovine tuberculosis, toxoplasmosis, brucellosis, paratubercullosis, echinococosis, taeniasis, scabies, dan trichinellosis. Understanding the importance of managing this issue, Indonesia has already had regular prevention and control program

20


INDO HUN.ORG

ditangani, Indonesia telah memiliki program pencegahan dan kontrol penyakit zoonotik yang diimplementasikan pada tingkat nasional, provinsi, serta kota dan kabupaten. Penanganan penyakit zoonotik memerlukan kerja sama berbagai sektor. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tetapi kementerian lain seperti Kementerian Lingkungan dan Kehutanan serta Kementerian Pertanian, bersama-sama bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah zoonosis. Maka dari itu, kolaborasi antar-institusi dengan penerapan konsep One Health menjadi penting untuk menyelesaikan masalah zoonosis di Indonesia. Indonesia One Health University Network (INDOHUN) telah mengadakan pelatihan mengenai manajemen penyakit zoonotik menggunakan pendekatan One Health sebagai upaya untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pelatihan ini didukung oleh USAID melalui One Health Workforce Project dan telah dilaksanakan dari tanggal 11 hingga 15 September 2017 di Hotel Noormans, Semarang. Pelatihan berfokus untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan manajemen penyakit zoonotik. Materi yang diberikan membahas penyakit zoonotik di Indonesia, aturan

implemented by all departments in national, province, and district level. Zoonosis is a wicked problem that needs to be solved by involving several sectors. Not only the Department of Health, but other departments, such as Department of Environment and Forestry as well as Department of Agriculture, are responsible for tackling the problem. For that reason, utilization of One Health approach in the collaboration with other institutions is an important factor in solving zoonotic disease problems in Indonesia. Holding a training on Zoonotic Disease Management Using One Health Approach, is one way to answer this problem. The training was held by Indonesia One Health University Network (INDOHUN) and was kindly supported by USAID One Health Workforce Project. It was held on September 11-15, 2017 in Noormans Hotel, Semarang. This training was focused in hard skills to manage zoonotic disease by using One Health approach. The materials given were; overview of zoonosis in Indonesia, policies regarding control and prevention of zoonotic disease, collaboration in controlling zoonosis, One Health concept, analysis and interpretation of surveillance data, and outbreak investigation. Aside from lectures, there are also exercises to improve comprehensive thinking,

21


INDO HUN.ORG

terkait pencegahan dan kontrol penyakit zoonotik, kolaborasi untuk mengontrol penyakit zoonotik, konsep One Health, analisis dan interpretasi dari data hasil surveilans, dan investigasi wabah. Di luar dari pemberian materi, peserta juga belajar langsung di lapangan untuk memperoleh pandangan yang holistik terhadap keadaan asli dan mengasah kemampuan berpikir sistematik melalui kerjasama dengan sesama peserta. Salah satu peserta, yaitu Ibu Eva yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada awalnya tidak terlalu tertarik untuk mengikuti pelatihan ini. Di kantornya, tidak terdapat divisi yang membahas mengenai penyakit zoonotik. Namun pelatihan ini menyadarkan Ibu Eva bahwa penyakit zoonotik adalah salah satu masalah yang krusial yang harus ditangani. Dengan itu, Ibu Eva berharap dapatmeningkatkan kondisi kesehatan di Kabupaten Sragen, terutama terkait penyakit zoonotik. Melalui pelatihan ini, Ibu Eva akhirnya mengetahui sektor mana saja yang bisa ia ajak kerjasama untuk menangani penyakit zoonotik. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya terkadang tidak puas dengan usaha-usaha yang telah dilakukannya untuk menanggulangi masalah zoonotis. Namun Ibu Eva paham bahwa keterlibatan tenaga kesehatan lingkungan merupakan komponen penting untuk menanggulangi penyakit zoonotik. “Saya setelah pelatihan ini akan mengajukan pembentukan pokja (kelompok kerja) tim penanggulangan zoonosis di tempat saya (Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen). Karena selama ini hanya ada pokja HIV dan tuberkulosis.” Ibu Eva juga menyatakan bahwa pelatihan mengenai penyakit zoonotik seperti ini penting untuk diikuti oleh petugas kesehatan. Bapak Ilham, salah satu peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, juga menyatakan hal yang sama. Pelatihan ini terbukti meningkatkan kolaborasi dan membuka pikiran yang lebih luas terkait penanganan suatu masalah melalui kolaborasi dan pendekatan yang lebih komprehensif. Sebagai bagian dari pelatihan, terdapat kegiatan lapangan yang secara lebih lanjut menyadarkan peserta bahwa masalah zoonosis masih menjadi masalah yang terlantar.

including exercise of multi-sectoral collaboration which involve systematic thinking and collaborative effort. One of the participants, Ms. Eva, was barely interested in attending the training. She originated from the Health Office of Sragen District, Central Java, where there are no zoonosis division in her office. Through the training, she was finally convinced that the management of zoonotic diseases is a crucial matter. Thus, by attending the training, she hopes she can bring improvement in the health condition of Sragen, especially in zoonotic diseases. According to Ms. Eva, she was able to recognize important stakeholders that are willing to improve activities related to zoonotic disease. In addition, she was not satisfied with her past attempts in managing this issue. However, now that she knows the importance of involving the environmental health officials in the matter of zoonotic diseases, she hopes her future plans will be more successful if she collaborates with more institutions. “After this training, I will propose to establish the working group to tackle zoonotic diseases in my office (Health Office of Sragen District). At the moment we only have working groups focusing on HIV and tuberculosis,” she promised. Ms. Eva also said that it was necessary for health-related officials to be trained in this issue. Another participant, Mr. Ilham who came from the Provincial Health Office of Central Java, also thought that it was necessary for health-related officials to be trained with zoonosis knowledge and its management. This training was proved to help them collaborate better and to be more open-minded. Besides, in this training there was also a field trip showing them the reality that zoonotic diseases are still being neglected. In the end of the training, there was a presentation from representatives of each health district official to show the conditions of each district. Knowing Indonesia has high prevalence of zoonotic diseases, it was important for us to enhance our capacities in managing the crisis. One of the instructors, drh. Pudjianto, Ph.D. who works as a Senior Veterinary Officer at the Ministry of Agriculture said, “It was a thoughtful idea to put zoonotic as part of crisis management. I hope in the

22


ACTIVI T Y

future, zoonosis will be seen as a crisis and it would be considered serious not only from health aspects, but also from disaster crisis management (known as Badan Nasional Penanggulangan Bencana)�. Overall, all the participants obtained the purpose of the training. Moreover, there were some inputs from the participants to improve the quality of the training. One of the inputs was more allocations of time in the field, which really helped them analyze the problem and compare the situation with their own region.

Di akhir pelatihan, peserta perwakilan dari setiap dinas kesehatan menjelaskan situasi kesehatan di daerahnya masing-masing. Dengan prevalensi penyakit zoonotik yang tinggi di Indonesia, menjadi hal yang penting bagi kita untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dalam manajemen masalah tersebut. Salah satu pelatih, drh. Pudjianto, Ph.D. dari Kementerian Pertanian, mengatakan, “Merupakan ide yang sangat baik untuk memasukkan zoonosis sebagai bagian dari manajemen krisis kesehatan. Saya harap ke depannya, zoonosis dapat dilihat sebagai suatu masalah penting dan dianggap serius tidak hanya dari segi kesehatan, tetapi juga dari segi manajemen krisis (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Secara keseluruhan, seluruh peserta mendapatkan manfaat dari pelatihan ini. Peserta juga memberikan beberapa masukan agar kualitas pelatihan ini dapat ditingkatkan. Mereka menyarankan agar alokasi waktu untuk kegiatan lapangan dapat ditambah karena kegiatan sesi tersebut sangat membantu peserta dalam menganalisis dan membandingkan situasi yang ada di area kerjanya masing-masing.

18


INDO HUN.ORG

Learning from the Neighbour Belajar dari Tetangga BY /O L E H A MI TA PARAMAL DINI

Doc. Album of Thailand One Health University Network (www.facebook.com/NCOTHOHUN)

Putu Cri Devsicha Gallantiswara, gadis berusia 25 tahun, tiba di Bangkok, Thailand pada suatu hari yang cerah. Biasanya ia tidak khawatir ketika bepergian seorang diri, tapi kali ini berbeda karena ini adalah pertama kali ia pergi ke luar Indonesia. Putu datang ke Thailand bukan tanpa tujuan. Ia telah terdaftar sebagai peserta International Short Course on Ecosystem Health yang diadakan

It was a bright sunny day when Putu Cri Devsicha Gallantiswara, a 25-year-old girl, arrived in Bangkok, Thailand. She is not usually anxious about traveling alone, but this one was different as this was her first time leaving Indonesia. Putu went to Thailand with a purpose. She has registered as a participant of International Short Course on Ecosystem Health that was held by Thailand One Health University Network

24


STORY

Doc. Album of Thailand One Health University Network (www.facebook.com/NCOTHOHUN)

oleh Thailand One Health University Network (THOHUN). Mengikuti kuliah di Thailand memberi banyak manfaat bagi Putu dan peserta lain yang berasal dari Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Bangladesh, dan Thailand itu sendiri. Meskipun hanya tiga minggu, Putu mengaku ia belajar banyak dengan jadwal yang cukup padat. Kuliah ini tidak dilaksanakan di kampus, melainkan di sebuah penginapan di Kanchanaburi. Di dekat penginapan, terdapat sebuah desa bernama Mao Tao yang disebut “Desa One Health”. Desa tersebut memiliki beberapa masalah kesehatan, salah satunya adalah malaria. Oleh karena itu, desa ini dijadikan lokasi untuk sesi turun ke lapangan. Desa Mao Tao berbatasan dengan hutan yang merupakan habitat gajah liar. Warga sering berburu dan mencari tanaman obat di dalam hutan tersebut. Saat musim kering, gajah sering memasuki perkebunan warga untuk memakan buah-buahan milik warga. Mereka juga meminum air dari tangki persediaan warga.

(THOHUN). Attending a short course in Thailand brought many benefits for her and the other participants from Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Bangladesh, and Thailand itself. Although the course was only three weeks, Putu said that she learned a lot with quite tight schedule. The short course was not conducted in a campus but a resort in Kanchanaburi. Near the venue, there was a village named Mao Tao that was called “One Health Village”. The village had some health problems, such as malaria, thus this village would be a place for fieldwork session. Mao Tao Village located near a forest, the habitat of wild elephants. The inhabitants of the village often go animal hunting and find herbs in the forest. During summer, the elephants approach inhabitants’ gardens to devour fruits and drink water from a village tank. As a result, there were fatal consequences because of misunderstanding between human and elephant. Even though Putu is a veterinarian, that case was a whole new thing for her. Fortunately,

25


INDO HUN.ORG

Akibatnya, selama lima tahun berturut-turut selalu ada kasus kecelakaan gajah dan manusia. Walaupun Putu adalah dokter hewan, kasus ini merupakan hal baru baginya. Beruntung, kuliah ini disusun secara sistematis, mulai dari sesi kuliah dan praktikum di dalam kelas, hingga turun ke lapangan. Sesi di dalam kelas diawali dengan materi tentang One Health yang dibawakan oleh Ong-orn Prasamphanich dari University of Minnesota. Materi lainnya, seperti konflik antara manusia dan hewan, epidemiologi, penyakit infeksi, dan pendekatan komunitas, dibawakan oleh pengajar dari universitas-universitas anggota THOHUN. Setiap sekali seminggu, peserta kuliah datang ke Desa Mao Tao untuk mempraktikkan materi yang telah didapatkan di kelas. Mereka mengidentifikasi masalah kesehatan pada minggu pertama. Setelah itu, mereka mempelajari geographic information system (GIS), menangkap dan mengidentifikasi nyamuk, menilai kualitas air, mengidentifikasi parasit, serta uji feses dan darah. Mereka juga belajar untuk menyusun alat uji dan metode analisa yang akan digunakan untuk mengumpulkan data dan spesimen dari Desa Mao Tao. Pada minggu kedua, Putu dan teman kelompoknya berpencar ke rumah-rumah untuk mewawancarai warga serta mengambil sampel feses manusia, air, dan tanaman. Setelah mendapatkan hasil uji dan analisa, para peserta mencari cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Desa Mao Tao. Mereka pun belajar tentang kewirausahaan agar solusi yang ditawarkan tidak terbatas di bidang kesehatan. Putu mengatakan, “Sesi kelas kewirausahaan dan inovasi adalah sesi paling susah untuk semua peserta karena kami mahasiswa dan tenaga kerja bidang kesehatan yang tidak punya pengalaman di bidang ekonomi.” Namun hal tersebut justru memunculkan pemahaman baru bagi mereka bahwa siapapun dengan modal kreativitas akan mampu menghasilkan uang agar proyeknya tetap berlangsung. Solusi inovatif berbasis kewirausahaan dapat menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Menurut Putu, mengikuti kuliah di luar negeri adalah kesempatan untuk merasakan budaya dan

the short course was sistematically designed to help them understand, from in-class lecture and practical training to fieldwork training. Ong-orn Prasarnphanich from University of Minnesota started the course with a lecture on One Health. The other topics were conflicts between humans and animals, epidemiology, infectious diseases, and community approach, delivered by the mentors from university members of THOHUN. Once a week, participants of the short course went to Mao Tao Village to work on the knowledge they gained in the class. They identified health problem on the first week. Following that, they learned about geographic information system (GIS), mosquito identification, water quality assessment, parasite identification, as well as stool and blood examination. They also learned how to develop tools and analysis methods that would be used to collect data and specimen in Mao Tao Village. On the second week, Putu and her group conducted interviews with the inhabitants and collected human feces, water, and plants. After getting the result, the participants developed a solution to solve health problems in Mao Tao Village. They learned about entrepreneurship to find a way that was not precisely related to health. Putu said, “Entrepreneurship and innovation were the most difficult topics for us because we are health students and workers, no experience and background in economy.” However, that brought out an insight for them; everyone who are creative enough could earn money to make their projects more sustainable. Entrepreneurship-based innovative solution should be considered as an approach of tackling health problems. For Putu, joining a course abroad is an opportunity to experience not only a different culture but a different education system. As she study abroad, she did not only have the chance to learn new subjects, such as GIS and entrepreneurship, but also learn how education systems, grading, and participation vary around the world. These sessions did not only teach her different skills, but many would transfer back home and all sessions gave her a greater appreciation of Thailand and other participants’ country. In addition to changing her perspective, study

26


STORY

Doc. Album of Thailand One Health University Network (www.facebook.com/NCOTHOHUN)

sistem pendidikan yang berbeda. Ketika belajar di luar negeri, Putu tidak hanya berkesempatan untuk mempelajari topik baru, seperti GIS dan kewirausahaan, tetapi juga melihat perbedaan sistem pendidikan, penilaian, dan partisipasi di seluruh dunia. Kegiatan dalam perkuliahan ini tidak hanya membekalinya dengan keahlian baru, tetapi juga memberinya motivasi untuk transfer ilmu di Indonesia dan memunculkan apresiasi yang lebih besar terhadap Thailand dan negara-negara lain. Selain mengubah sudut pandangnya terhadap berbagai hal, belajar di luar negeri memberinya kesempatan langka untuk bertemu mentor dan kolega baru yang tidak ia temukan di Indonesia. Putu bahkan mendapatkan mentor di bidang yang tidak ada di kampusnya. Nantinya, mungkin saja ia dapat berkontribusi di proyek penelitian bersama dengan mentor dan kolega dari program perkuliahan ini.

abroad was a unique opportunity to connect with new colleagues and mentors she didn’t have access to in Indonesia. She even found a mentor in a field that her own school doesn’t have an expert in. In the future, it is possible that she can contribute in a research project with her colleagues and mentors from this short course.

27


INDO HUN.ORG

Regional Training of Trainers: One Health Problem Based Book BY /O L E H A L E SSA FAHIRA

Doc. Participant Report of Regional Training of Trainers One Health Problem Based Book

“Terlalu sering kita memberi jawaban untuk diingat daripada memberi masalah untuk diselesaikan anak kita.” —Roger Lewin

“Too often we give children answers to remember rather than problems to solve.” —Roger Lewin The act of collaboration between multisectoral health professionals is the essence of One Health and is needed to achieve an effective approach for preventing and handling all diseases, particularly zoonosis. Learning both theories and practice of One Health concept is not easy. It requires one’s deep understanding on both why and how to implement One Health—further showing the need for an effective method in delivering One Health topics to

Kolaborasi multisektoral antara ahli kesehatan merupakan esensi dari One Health. Kerjasama ini dibutuhkan untuk mencapai sebuah pendekatan yang efektif untuk mencegah dan menangani banyak penyakit, terutama penyakit zoonotik. Mengerti mengenai teori dan implementasi dari konsep One Health tidaklah mudah. Maka dari itu, perlu adanya metode pembelajaran yang efektif

28


STORY

students. We need to deliver One Health concept through a holistic approach, where students can discover the importance of One Health and its implementation— by themselves. Problem Based Learning (PBL), a teaching method which require students to solve problems given in groups, has been proven to increase student’s interest, teamwork, and independence towards the issue learned. This method will also give them a throughout view on how to face the problem in a real-life situation. Understanding the importance of the delivery of One Health concept, Southeast Asia One Health University Network (SEAOHUN) had deliver this year’s Regional Training of Trainers (ToT) by focusing on the delivery of One Health concept using PBL method in a student-centered learning environment. The training was held in Hilton Hotel, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia on August 9-12, 2017 and was participated by health professionals from Malaysia, Indonesia, Thailand, and Vietnam. There were four participants from Indonesia: Ansariadi, MSc, PhD (Faculty of Public Health, University of Hasanuddin), drh. Meity Marviana Laut, MSc (Faculty of Veterinary Medicine, Nusa Cendana University), dr. Kuswandewi Mutyara, MKes, MSc (Faculty of Medicine, Padjajaran University), and drh. Dordia Anindita Rotinsulu, MSi (Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University). The trainers and facilitators were: Prof. Dr. Greg Sales (University of Minnesota), Dr. Hellen Amuguni (Tufts University), Assoc. Prof. Dr. Siti Suri Arsha (University Putra Malaysia), and Assoc. Prof. Dr. Jalila Abu (University Putra Malaysia), who are all regarded excellent in providing mentorship to the participants. In this Regional ToT, participants were able to learn more about One Health and TBL; covering topics regarding its key elements, importance, preparation and implementation. The trainers introduced the steps on how to make triggers for PBL by referring to the book they had wrote—A Problem Based Learning Approach: One Health Cases. Participants were also given the chance to make their own PBL triggers by referring to the case videos showed in the training. Moreover, participants from each of their respective country were also given the opportunity to give presentation about their action

untuk penyampaian topik One Health kepada murid. Kita harus dapat menjelaskan konsep One Health secara holistik, di mana murid dapat secara mandiri memahami pentingnya konsep One Health dan implementasinya di kehidupan sehari-hari. Problem Based Learning (PBL), sebuah metode belajar yang mengharuskan murid untuk secara mandiri memecahkan pemicu dalam sebuah kelompok, telah terbukti untuk dapat meningkatkan ketertarikan, kerjasama dan kemandirian murid terhadap kasus yang dipelajari. Metode ini juga dapat memberikan suatu gambaran holistik kepada murid agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut di kehidupan asli. Menyadari betapa pentingnya proses penyampaian konsep One Health, Southeast Asia One Health University Network (SEAOHUN) telah mengadakan Regional Training of Trainers (ToT) dengan membawakan topik Proses Pembelajaran Konsep One Health melalui metode PBL. Pelatihan ini telah dilaksanakan di Hotel Hilton, KotaKinabalu, Sabah, Malaysia dari tanggal 9 hingga 12 Agustus 2017 dan dihadiri oleh ahli-ahli kesehatan dari Malaysia, Indonesia, Thailand dan Vietnam. Terdapat empat peserta perwakilan yang berasal dari Indonesia, yaitu: Ansariadi, MSc, PhD (Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin), drh. Meity Marviana Laut, MSc (Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana), dr. Kuswandewi Mutyara, MKes, MSc (Fakultas Kedokteran, Univeritas Padjajaran), dan drh. Dordia Anindita Rotinsulu, MSi (Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor). Pelatih dan fasilitator yang telah secara baik berperan di pelatihan ini adalah: Prof. Dr. Greg Sales (University of Minnesota), Dr. Hellen Amuguni (Tufts University), Assoc. Prof. Dr. Siti Suri Arsha (Universitas Putra Malaysia), and Assoc. Prof. Dr. Jalila Abu (UniversitasPutra Malaysia). Di pelatihan ini, peserta dapat belajar banyak mengenai One Health dan proses pengajarannya melalui penggunaan metode PBL; dengan mengulas topik-topik yang mencakup elemenelemen kunci, kepentingan, persiapan dan implementasi dari PBL. Dalam pelatihan, peserta

29


INDO HUN.ORG

Doc. Participant Report of Regional Training of Trainers One Health Problem Based Book

plan to implement PBL method for the teaching of one health—thoroughly into student’s curriculum. Action plan made by the Indonesian participants was considered excellent and was suggested, by the facilitators, to be shared to the Indonesia One Health University Network National Coordinating Office (INDOHUN NCO) and SEAOHUN in order to find potential funding. Overall, Regional ToT: One Health Problem Based Book was reckoned to be a very valuable experience for all of the participants, as it was able to open their minds and increase their capacity’s on how to develop an even better teaching method to deliver One Health topics to their students.

telah dikenalkan cara dan tahap pembuatan pemicu untuk PBL, di mana materi yang dijelaskan mengacu kepada buku yang telah diselesaikan oleh pelatih yang berjudul—A Problem Based Learning Approach: One Health Cases. Lebih lagi, peserta dari setiap negaranya mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi mengenai rancangan kerja implementasi metode PBL di Indonesia dalam proses pengajaran One Health di Indonesia yang telah dibuat oleh peserta sebelumnya. Rancangan kerja yang dibuat oleh peserta dari Indonesia dinilai sangat baik dan telah disarankan oleh pelatih untuk disampaikan kepada Indonesia One Health University Network National Coordinating Office (INDOHUN NCO) dan SEAOHUN untuk dicarikan pendanaan lanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan Regional ToT: One Health Problem Based Book dinilah sebagai sebuah pengalaman yang berharga oleh para peserta, karena pelatihan ini dapat membuka pikiran yang lebih luas dan meningkatkan kapasitas peserta untuk dapat membentuk dan menjalankan metode pembelajaran yang lebih baik untuk penyampaian topik One Health kepada muridmuridnya.

30


O PPORTU N I T Y

Become a Community Solutions Program Fellow! IREX membuka pendaftaran untuk Community Solutions Program (CSP) tahun 2018-2019. CSP merupakan program pengembangan diri profesional bagi seseorang yang fokus dalam peningkatan kapasitas masyarakat dengan mengangkat isu yang berhubungan dengan lingkungan, penyelesaian konflik dan toleransi, transparansi dan tanggung jawab, serta gender dan perempuan. Community Solutions Fellows akan mengikuti empat bulan pelatihan bersama organisasi nirlaba atau badan pemerintah lokal Amerika Serika.

IREX is currently accepting applications for the 2018–2019 Community Solutions Program (CSP). It is a professional development program for people who are working to improve their communities by addressing issues related to the environment, tolerance and conflict resolution, transparency and accountability, and women and gender. Community Solutions Fellows complete a four-month fellowship from August to December with a US nonprofit organization or local government agency. ELIGIB IL ITY R EQ UIR EMEN T S

• You are between the ages of 25 and 38 as of January 1, 2018. • You are a citizen of one of the eligible countries. • You are living and working in your home country. • You have at least two years of experience working on community development, either as a full-time or part-time employee or volunteer. • You are not currently participating in an academic, training, or research program in the US. • You are available to travel to the US for four months from August to December 2018.

PE RSYARATAN

• Berusia antara 25 dan 38 tahun pada 1 Januari 2018. • Warga negara salah satu negara yang terdaftar. • Tinggal dan bekerja di negara asal. • Memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun di bidang pengembangan masyarakat, baik purnawaktu maupun part-time atau relawan. • Tidak sedang mengikuti kegiatan akademik, pelatihan, atau riset di Amerika Serikat. • Bersedia tinggal di Amerika Serikat sejak Agustus hingga Desember 2018.

FIN A NC IA L SUP P O RT

• J-1 visa support • Round-trip travel from participants’ home city to the US • Monthly allowance to cover housing, meals, and other living expenses while in the US • Accident and sickness insurance

DU KU NGAN F INANSIAL

• Visa J-1 • Tiket dua arah, dari kota asal peserta ke Amerika Serikat dan sebaliknya • Uang saku bulanan untuk membiayai tempat tinggal, makan, dan keperluan lainnya selama di Amerika Serikat • Asuransi jiwa dan kesehatan

A PPLIC ATIO N DEA DL INE

October 31, 2017, at 11:59 p.m. EDT INFOR MATIO N

BATAS PE NDAF TARAN

www.irex.org/program

31 Oktober 2017, pukul 23:59 EDT INFORMASI

www.irex.org/program

31


INDO HUN.ORG

18th International Congress on Infectious Diseases (ICID) The International Society for Infectious Diseases (ISID) berkomitmen untuk mengapresiasi riset dan partisipasi global dalam melawan penyakit infeksi. Empat kategori penghargaan berikut tersedia untuk delegasi yang mengirimkan abstrak untuk memastikan riset terbaik dari seluruh dunia akan muncul di Kongres: • Sanofi Pasteur Awards for Communicable Disease Epidemiology • ProMED Awards in Emerging Infectious Diseases • ISID New Investigator Award • Professional Development Travel Grants for Early Career Investigators supported by a grant from the Bill and Melinda Gates Foundation

The International Society for Infectious Diseases (ISID) is committed to recognizing excellence in research and global participation in the fight against infectious diseases. The following four award categories are available to delegates submitting abstracts to ensure that the very best in recent research from around the world is presented at the Congress: • Sanofi Pasteur Awards for Communicable Disease Epidemiology • ProMED Awards in Emerging Infectious Diseases • ISID New Investigator Award • Professional Development Travel Grants for Early Career Investigators supported by a grant from the Bill and Melinda Gates Foundation

Dalam rangka Kongres, ISID juga mengadakan lomba foto. Kontes bertema “Global Infectious Diseases: Macro to Micro” ini fokus pada penyakit infeksi, praktik inovatif untuk meningkatkan status kesehatan, dan tenaga profesional yang menciptakan perubahan dalam skala global. Baik itu penemuan cawan Petri di lab atau kampanye vaksin di lapangan; Anda dapat mengirimkan foto yang menggambarkan pekerjaan Anda dan masyarakat yang Anda layani. Hadiah akan diumumkan selanjutnya. Pengumpulan foto akan ditutup pada 31 Desember 2017.

ISID also announces its first ever photo contest for the 18th ICID. The contest, “Global Infectious Diseases: Macro to Micro” focuses on the diverse nature of infectious diseases, the innovative practices designed to improve health, and the professionals working to make a difference on a global scale. Whether it be Petri dish discoveries in a lab or vaccine campaigns in the field; submit the image that captures your work and the people you serve. Prizes for winners will be announced in the coming months. Submissions for photo contest will close on December 31, 2017.

TANG GAL KONG RE S

1-4 Maret 2018

CONGR ESS DATE

March 1-4, 2018

LOKASI KONG RE S

Buenos Aires, Argentina

CONGR ESS LO C ATIO N

Buenos Aires, Argentina

BATAS PE NG U MPU LAN ABSTRAK

3 November 2017

A BST RAC T SUB MISSIO N D E A D LI N E

November 3, 2017

INFORMASI

www.isid.org/icid/

INFOR MATIO N

www.isid.org/icid/

32


O PPORTU N I T Y

Open Call for One Health Congress Fellowship Applications International One Health Congress Ke-5 menawarkan kesempatan menarik bagi ilmuwan muda untuk mempresentasikan karyanya, serta bertemu dan berkolaborasi dengan komunitas One Health internasional dalam kongres tingkat tinggi yang dilaksanakan selama empat hari. Peserta akan mendapatkan bantuan dana yang meliputi biaya pendaftaran, akomodasi, dan perjalanan (kelas ekonomi).

The 5th International One Health Congress offers early career scientists a unique opportunity to present their latest work, and to meet and foster collaborations with the international One Health community in a four days high-level congress. One Health Fellows will receive financial support to cover the registration fee, accommodation for the duration of the conference, and travel (economy class). ELIGIB IL ITY R EQ UIR EMEN T S

• Senior PhD students or must hold a PhD or a clinical qualification for no longer than 3 years. • Submit the completed One Health Fellowship Fund Application Form, a proof of status, and a research abstract.

PE RSYARATAN PE SE RTA

• Mahasiswa PhD senior atau telah meraih PhD atau kualifikasi klinis kurang dari 3 tahun yang lalu. • Mengumpulkan Formulir Pendaftaran One Health Fellowship Fund yang telah dilengkapi, surat keterangan institusi, dan abstrak penelitian.

IMPORTA NT NOTIC E

To qualify for an oral or poster presentation during the congress, you need to also submit your abstract via the online submission system as of November 2, 2017.

PE NG U MU MAN PE NTING

Untuk dapat mengikuti presentasi oral atau poster selama kongres, Anda wajib mengumpulkan abstrak melalui sistem pengumpulan online sebelum 2 November 2017.

DAT E

June 22-25, 2018 LOCAT IO N

TANG GAL

Saskatoon, Canada

22-25 Juni 2018

A BST RAC T SUB MISSIO N D E A D LI N E

LOKASI

December 1, 2017 (23:59 Central European Time)

Saskatoon, Kanada

INFOR MATIO N

BATAS PE NG U MPU LAN ABSTRAK

www.onehealthplatform.com

1 Desember 2017 (23:59 Waktu Eropa Tengah) INFORMASI

www.onehealthplatform.com

33


INDOHUN News No. 14  
INDOHUN News No. 14  
Advertisement