Skip to main content

TUBES PERKIM 1

Page 1


TUGAS AKHIR

BABIPendahuluan

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang

B. Tujuan

BABIITinjuanKebijakan

A. Tinjuan Tata Ruang

B. Tinjuan Intensitas Bangunan dan Sempadan

BABIIIAnalisis

A. Analisis Fisik Site

B. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana ( berdasarkan jumblah penduduk yang diasumsikan)

C. Analisis Kebutuhan Lahan ( hunian berdasarkan tipe ruang terbuka, sarana prasarana dll)

BABIVKonsepPerancangan

A. Pola Pemukiman

B. Zonasi ( tipe hunian, ruang terbuka hijau, sarana prasarana)

C. Desain Masterplan

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Perkembangan jumlah penduduk dan urbanisasi yang pesat di Indonesia menimbulkan tantangan besar dalam penyediaan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan. Kebutuhan akan kawasan permukiman yang tidak hanya memenuhi aspek fisik bangunan, tetapi juga aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi menjadi semakin mendesak. Permukiman sebagai elemen dasar pembentukan kota harus dirancang secara terpadu agar mampu menunjang kehidupan masyarakat yang sehat, produktif, dan harmonis dengan lingkungannya.

Di berbagai kota, kawasan permukiman sering kali tumbuh secara organik tanpa perencanaan matang, sehingga memicu berbagai permasalahan seperti kepadatan berlebih, keterbatasan ruang terbuka, buruknya sistem sirkulasi, serta minimnya akses terhadap fasilitas umum. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan perancangan yang lebih komprehensif dan responsif terhadap kondisi tapak, kebutuhan masyarakat, dan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Sebagai bagian dari tanggung jawab arsitek dalam merancang lingkungan binaan, tugas akhir ini bertujuan untuk merumuskan solusi desain kawasan permukiman yang mengutamakan kenyamanan, keterpaduan fungsi, serta kelestarian lingkungan. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan konteks lokal, potensi dan kendala tapak, serta kebutuhan pengguna yang beragam, sehingga dapat menghasilkan kawasan hunian yang inklusif, adaptif, dan berdaya guna jangka panjang.

B. Tujuan Perancangan

Tujuan dari tugas akhir ini adalah agar mahasiswa

mampu merancang kawasan permukiman yang layak

huni dan sesuai dengan standar perencanaan serta perancangan permukiman yang berlaku di Indonesia.

Gambar 1 ; Ilustrasi Pemukiman
Dikerjakan oleh Fatimah F W Ilpin

Dikerjakan oleh Fatimah F W Ilpin

BAB II Tinjauan Tata Ruang

A.Tinjauan Tata Ruang

PETA PULAU SULAWESI

PETA KABUPATEN PANGKAJANE

Pembangunan sarana dan prasarana di Kecamatan Labakkang merupakan bagian dari upaya perencanaan pembangunan wilayah yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan kawasan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Penataan ini mengacu pada kebijakan teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, guna memastikan ketersediaan fasilitas umum secara merata dan berkelanjutan.

Pasal 13 ayat (1) huruf b

Menetapkan Kawasan Perkotaan Labakkang sebagai bagian dari PKLp (Pusat Kawasan Perkotaan Lokal Perdesaan) yang diarahkan untuk pengembangan permukiman perkotaan dan skala lokal desa perikanan serta integrasi ekonomi budidaya laut dan pertanian

Pasal 25 ayat (1) huruf b Mengatur bahwa Kawasan Perkotaan Labakkang termasuk dalam Kawasan Permukiman Perkotaan dengan intensitas menengah, mendukung pola pembangunan horizontal mengarah ke vertikal secara terbatas

Pasal 29 huruf h

Labakkang ditetapkan sebagai Kawasan Budidaya – Permukiman di Kabupaten, yang sesuai untuk pemanfaatan sebagai permukiman berbasis kegiatan perikanan dan pertanian

Pasal 27 ayat (3)

Labakkang termasuk dalam Kawasan Rawan Banjir, sehingga rencana permukiman perlu memperhatikan mitigasi risiko dan tata ruang aman bencana

Pasal 41 ayat (2) huruf a Menyatakan bahwa Labakkang merupakan bagian dari Kawasan Strategis Ekonomi (Minapolitan Labakkang) yang menjadi pusat pertumbuhan cepat berbasis perikanan dan industri kelautan lokal

JL.Pangkajenebarru

B. Tinjuan Intensitas Bangunan dan Sempadan

1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

ksimum untuk kawasan permukiman padat di Kecamatan

g: 60%

uk kawasan campuran (permukiman + perdagangan/jasa skala

%

antai Bangunan (KLB)

imum untuk zona permukiman padat: 3,0

k kawasan campuran: 3,5

Bangunan

n diizinkan hingga 4 lantai atau maksimal 16 meter

wasan strategis lokal: maksimal 3 lantai, guna menjaga karakter

permukiman

padan Bangunan (GSB)

utama: min. 5 meter

lokal: min. 3 meter

s belakang: min. 1,5 meter

s samping: min. 1 meter

Khusus

a pesisir dan kawasan konservasi tepi pantai (jika berlaku di an Labakkang):

dibatasi hingga 40%

Ketinggian maksimal 2 lantai

Wajib menyediakan ruang terbuka hijau sebesar 20–30%

Bangunan pada kawasan cagar budaya wajib mengikuti ketentuan

pelestarian bentuk dan tinggi bangunan berdasarkan ketentuan RTRW

yang berlaku

BAB III Analisis

A. Analisis Fisik Site

ORIENTASI MATAHARI

SIANG

SORE

Matahari pagi langsung mengarah apak Matahari pada siang hari berada tepat di atas tapak. dan suhu panas di siang hari cukup tinggi. oleh karna itu matahari di pagi hari dan di siang hari tidak langsung ke tapak sebaiknya di kasih vegatasi sekitar apak guna pelindung pada saat matahari terik.

AKSESIBILITAS

PAGI A D C B

ARAH ANGIN

Mata angin dari barat di timur dan erbalik arah dari timur di barat

ukup stabil di karenakan tidak ada angunan tinggi yang menghalangi rea lokasi.

okasi tapak berada di Barru Sulawesi elatan, dan lokasinya bisa di akses elalui JL. Maros-Pangkep

ANALISIS VIEW

: Tapak mengarah hutan

Tapak mengarah lembang futsal

:Tapak mengarah JL.Maros-Pangkep

: Tapak mengarah rumah warga

B. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Dikerjakan oleh Fatimah F W Ilpin

C. Analisis Kebutuhan Lahan

Rencanapendudukpemukiman1.520jiwa

Perencanaan Tata Ruang:

Fasilitas umum

Ruang terbuka hijau

Ruang komersial

Analisis Infrastruktur:

Akses jalan (± 15–20% dari total luas permukiman)

Transportasi publik

Air bersih & sanitasi

Sarana pendidikan dan kesehatan

Ruang terbuka hijau (minimal 30%)

BAB IV Konsep Perancangan

A. Pola Pemukiman dan Zoning

Pola permukiman linear adalah pola persebaran rumah atau bangunan yang membentang sepanjang jalur transportasi utama, seperti jalan raya, sungai, rel kereta api, atau garis pantai. Dalam pola ini, bangunan biasanya tersusun memanjang secara sejajar dengan jalur tersebut.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook