Page 1

Tim Riset HMTPWK UGM

1


2

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta


blh.jogjaprov.go.id

rth.

ruang terbuka hijau

(n.) Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Tim Riset HMTPWK UGM

3


mengapa kita butuh rth di perkotaan? 1. fungsi sosial budaya ruang interaksi sosial, sarana rekreasi, sebagai penanda (tetenger/ landmark) kawasan

2. fungsi ekologis menjaga kualitas air tanah, mencegah terjadinya banjir, mengurangi polusi udara, dan pendukung dalam pengaturan iklim mikro

3. fungsi estetika meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan kawasan

4. fungsi ekonomi sarana wisata hijau perkotaan yang dapat menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke suatu kawasan dan secara tidak langsung dapat meningkatkan kegiatan ekonomi

Selain itu, RTH dibutuhkan untuk perlindungan atau pengaman untuk fungsi-fungsi tertentu, seperti jalur hijau sempadan rel keret api, jalur hijau SUTET, sempadan sungai, sempadan pantai, dan pengaman sumber air baku/mata air.

seberapa luas rth yang dibutuhkan oleh suatu kota? min.

30%

dari total luas perkotaan

20% rth publik

10%

rth privat

4

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta

Apabila melebihi dari 30%, maka proporsi tersebut harus dipertahankan.


ragam rth perkotaan Taman Lingkungan

Taman Monumen

djangkarubumi.com

id.wikipedia.org

Jalur Hijau Jalan

Taman Bermain

Taman Kantor

architecture.uii.ac.id

jiaren.id

worldtravelserver.com

Hutan Kota

Lapangan Olahraga

Taman Kampus

pegipegi.com

dokumentasi pribadi

saint.trunojoyo.ac.id

Taman Stren (Bantaran Sungai)

Taman Rotonde (bundaran)

Makam

dream.co.id

mapio.net

poskotanews.com

Tim Riset HMTPWK UGM

5


bagaimana kondisi rth di kota yogyakarta? Luas RTH di Kota Yogyakarta

18,76%

= 6,09 km2

dari total luas Kota Yogyakarta

dengan proporsi

5,83 % 12,93 % rth publik

rth privat

Angka tersebut kurang dari standar yang ditetapkan pemerintah lewat Perda Kota Yogyakarta No. 2 Tahun 2010, yaitu 30% dengan rincian 20% merupakan RTH publik dan 10% merupakan RTH privat.

Persentase Jenis RTH di Kota Yogyakarta 0.18%

3.55% 7.40%

19.14% 0.51%

11.55% 6.45%

16.93% 34.30%

6

Halaman Perkantoran

Sempadan Rel Kereta Api

Pemakaman

Jalur Hijau

Perkarangan Rumah

Sempadan Sungai

Taman Kota

Lapangan

Hutan Kota

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta


Persentase RTH pada tiap Kecamatan di Kota Yogyakarta Jumlah RTH Publik di Kota Yogyakarta Hingga akhir 2016, terdapat:

41

rth publik yang tersebar di 33 kelurahan dari 45 kelurahan yang ada

sumber data: antara news ; BLH yang kemudian diolah oleh TIM RISET HMTPWK Tim Riset HMTPWK UGM

7


lingkunganhidup.jogjakota.go.id

apa yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi standar rth di kota yogyakarta? Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta memiliki minimal satu ruang terbuka hijau publik. Untuk memenuhi target tersebut, pemerintah Kota Yogyakarta mengeluarkan kebijakan ‘menabung tanah’, dimana mereka membeli tanah-tanah milik privat untuk kepentingan publik. Pada awalnya Pemerintah Kota Yogyakarta mencari sendiri tanahtanah yang akan dibeli, tetapi sekarang masyarakat bisa menawarkannya kepada Pemerintah Kota Yogyakata, asalkan tanah tersebut mempunyai luas lebih dari 200m2.

8

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta

Biasanya warga setempat meminta pembangunan RTH tidak didominasi taman hijau tapi juga perkerasan seperti lapangan bulu tangkis. Padahal ketentuan yang ada mengatur bahwa perkerasan fisik di RTH hanya sebesar 40%, sisanya untuk taman hijau. Maka dari itu, Pemerintah Kota Yogyakarta mengadakan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut untuk memberi pengertian dan sekaligus meminta masyarakat ikut memelihara RTH yang sudah terbangun.


bagaimana strategi agar menjaga rth suatu perkotaan dapat berkelanjutan? 1.

Mempertahankan RTH yang sudah ada dan meningkatkan kualitasnya, terutama pada kota-kota yang kompak, padat, dan terus berkembang. Dalam hal ini termasuk juga menjaga pepohonan yang ada pada tapak konstruksi saat pelaksanaan pembangunan.

2.

Memanfaatkan lahan-lahan sempit yang memungkinkan; seperti pada tepi jalan, depan bangunan, balkon, atap

3.

Memberlakukan prinsip ekologis dalam perancangan, perencanaan, dan pemanfaatan ruang perkotaan, seperti optimalisasi geometri dan konektivitas ke ruang terbuka hijau

4.

Melakukan evaluasi keberhasilan RTH dalam menjalankan fungsinya.

5.

Meningkatkan partisipasi publik dalam penyediaan RTH di lingkungannya masing-masing

6.

Mempertahankan RTH informal, seperti semak-semak di lahan kosong, vegetasi yang tumbuh liar di tepi jalan, dan sebagainya. Sebuah studi yang dilakukan Rupprecht (2014) menunjukkan bahwa RTH informal memiliki peranan yang penting dalam menyediakan RTH perkotaan

Tim Riset HMTPWK UGM

9


© Tim Delschammar

© Tim Delschammar

Inovasi Penyediaan Hijauan di Lingkungan Perkotaan

© Christoph Rupprecht

© Christoph Rupprecht

Ragam RTH Informal

10

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta


dokumentasi pribadi

studi kasus partisipasi masyarakat:

kampung gambiran Kampung Gambiran merupakan wilayah permukiman yang berada di bantaran Kali Gajahwong. Kampung Gambiran adalah salah satu percontohan kampung hijau yang sukses. Penghargaan kampung hijau diberikan dari pemerintah kepada kelompok permukiman yang berhasil melakukan penghijauan di daerahnya secara efektif. Inisiasi kampung hijau bermula saat terjadinya bencana banjir pada tahun 2006 yang merusak rumah dan menimbulkan permasalahan penyakit. Kesadaran masyarakat semakin meningkat setelah diadakannya beberapa pertemuan yang kemudian menjadi modal utama untuk mewujudkan kampung hijau. Masyarakat mencoba menjaring pihak yang dapat membantu, dalam

kasus ini, WALHI adalah lembaga yang mendampingi masyarakat. Selain menyediakan RTH publik, masyarakat juga turut mendirikan IPAL komunal, pengelolaan bank sampah, berserta fasilitas lainnya yang menunjang kehidupan masyarakat Kesuksesan ini kemudian menggerakkan pemerintah kota untuk membiayai pengadaan infrastruktur di Kampung Gambiran. Karena kelengkapan fasilitasnya, harga tanah di Kampung Gambiran menjadi lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya yang cenderung lebih dekat dengan jalan raya.

Tim Riset HMTPWK UGM

11


apa tantangan yang dihadapi dalam menyediakan rth suatu perkotaan? Pada kota-kota yang terus berkembang, menjadi makin padat dan rapat, penjagaan RTH menjadi tantangan tersendiri, antara lain:

1. 2. 3.

12

Memastikan RTH yang ada memadai secara kuantitas dan kualitas.

Memastikan RTH yang ada memadai secara fungsional, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam beberapa kasus, keberadaan RTH justru memicu gentirifikasi. RTH dibuat “terlalu menarik�, menyebabkan harga lahan naik, dan membuat orang-orang berpenghasilan rendah terusir. Keadilan sosial, dalam hal ini bagaimana RTH dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai penelitian di luar negeri menunujukkan bahwa daerah dengan RTH yang rendah cenderung berasosiasi dengan proporsi penduduk berpendapatan rendah.

4.

Perspektif masyarakat akan pentingnya RTH dan pemanfaatannya.

5.

Memastikan RTH dapat menjaga keanekagaragaman hayati

6.

Hambatan institusional dalam usaha meningkatkan kuantitas dan kualitas RTH.

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta


referensi Delshammar, T. (2014). Urban greening strategies for compact areas-case study of Malmö, Sweden. Nordic Journal of Architectural Research, 26(2). Haaland, C., & van den Bosch, C. K. (2015). Challenges and strategies for urban green-space planning in cities undergoing densification: A review. Urban Forestry & Urban Greening, 14(4), 760-771. Jim, C. Y. (2013). Sustainable urban greening strategies for compact cities in developing and developed economies. Urban Ecosystems, 16(4), 741-761. Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008. Radarjogja. Pemkot Siapkan Bank Tanah. 2018. https://www.radarjogja.co.id/ pemkot-siapkan-bank-tanah/ Rupprecht, C. D., & Byrne, J. A. (2014). Informal urban green-space: comparison of quantity and characteristics in Brisbane, Australia and Sapporo, Japan. PloS one, 9(6), e99784. Rusqiyati, Eka A. 2018. Yogyakarta Siapkan Tiga Ruang Terbuka Hijau Publik . https://www.antaranews.com/berita/679312/yogyakarta-siapkan-tiga-ruang-terbuka-hijau-publik Rusqiyati, Eka A. Yogyakarta Lanjutkan Pembelian Lahan RTHP pada 2018. 2017. https://jogja.antaranews.com/berita/348951/yogyakarta-lanjutkan-pembelian-lahan-rthp-pada-2018 Samsudi. (2010). Ruang Terbuka Hijau Kebutuhan Tata Ruang Perkotaan Kota Surakarta. Jurnal of Rural and Development. 1(1):11-19 The Potential of Absence Informal Green Space and its Unexpected Legacies. http://www.mascontext.com/issues/25-26-legacy-spring-summer-15/the-potential-of-absence-informal-green-space-and-its-unexpected-legacies/ Wolch, J. R., Byrne, J., & Newell, J. P. (2014). Urban green space, public health, and environmental justice: The challenge of making cities ‘just green enough’. Landscape and Urban Planning, 125, 234-244. Tim Riset HMTPWK UGM

13


14

Hak Atas Kota: Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta

Hak Atas Kota RTH di Yogyakarta  
Hak Atas Kota RTH di Yogyakarta  
Advertisement